TRILOGI ROMAN EPIK
PENGEMBARA DUA LANGIT
BUKU I: BENIH DI BAWAH FAJAR
Di setiap awal kehidupan, takdir diam-diam mulai menulis perpisahan.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Kidung Kelahiran
Lir alon angin esuk nyawang bumi,
Lair bocah nggawa lintang ing ati,
Tangise dadi tandha wiwitan dalan,
Urip lan pati wus tinulis ing jaman.
Malam itu, Desa Wringinrejo tenggelam dalam kesunyian yang tidak biasa.
Angin berembus pelan dari arah persawahan. Daun-daun padi yang mulai menguning bergesekan satu sama lain, menimbulkan suara lirih seperti bisikan panjang yang mengalun di antara gelap malam. Langit menggantung rendah di atas desa, hitam kebiruan, seolah menahan sesuatu yang belum ingin dijatuhkan ke bumi.
Di rumah kayu sederhana di pinggir desa, seorang perempuan muda tengah menggenggam erat kain sarung yang melilit pinggangnya. Napasnya terengah. Peluh membasahi dahinya. Sesekali ia menahan jerit dengan menggigit bibirnya sendiri.
Namanya Sukmawati.
Sudah berjam-jam ia menahan sakit yang datang bergelombang. Di sampingnya, seorang dukun bayi tua bernama Mbok Wiryani sibuk menyiapkan air hangat dan dedaunan yang telah direbus sejak petang.
“Tarik napas, Nduk… pelan…” ucap Mbok Wiryani lembut.
Sukmawati mengangguk, meski tubuhnya gemetar.
Di luar rumah, seorang lelaki mondar-mandir dengan wajah tegang. Kedua tangannya saling menggenggam kuat. Sesekali ia menatap langit yang semakin gelap.
Lelaki itu bernama Sastro.
Suami Sukmawati.
Calon ayah dari anak yang sebentar lagi lahir.
Namun malam itu terasa berbeda.
Tidak ada hujan.
Tidak ada angin besar.
Tetapi tiba-tiba,
kilat membelah langit.
Bukan sekali.
Melainkan tiga kali berturut-turut.
Tanpa suara petir.
Tanpa gemuruh.
Hanya cahaya putih panjang yang seolah menyayat langit menjadi dua bagian.
Sastro terpaku.
Jantungnya berdegup lebih keras.
“Ya Gusti...” bisiknya pelan.
Dari kejauhan, anjing-anjing desa mendadak melolong serempak.
Lampu-lampu minyak di rumah penduduk bergetar.
Daun-daun pisang bergemerisik tanpa disentuh angin.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sastro merasakan bulu kuduknya berdiri.
Pintu rumah terbuka sedikit.
Mbok Wiryani muncul di ambang pintu.
Wajah perempuan tua itu pucat.
“Le... masuklah,” katanya pelan.
Sastro mendekat.
“Ada apa, Mbok?”
Mbok Wiryani tidak langsung menjawab. Ia justru menatap langit sekali lagi sebelum berbisik:
“Anakmu tidak datang sendirian malam ini.”
Sastro terdiam.
“Maksud Mbok?”
Mbok Wiryani menggeleng pelan.
“Nanti kau akan mengerti sendiri.”
Belum sempat Sastro bertanya lagi, dari dalam rumah terdengar jerit panjang Sukmawati.
Lalu,
tangis bayi memecah malam.
Tangisan yang nyaring.
Panjang.
Seolah bukan sekadar suara kelahiran,
melainkan suara yang menandai awal sebuah perjalanan yang jauh.
Sastro masuk dengan langkah gemetar.
Di dalam kamar kecil itu, Sukmawati terbaring lemah. Rambutnya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, tetapi matanya penuh air mata bahagia.
Di pelukannya, seorang bayi laki-laki kecil bergerak pelan.
Tubuhnya hangat.
Matanya masih terpejam.
Tetapi anehnya,
di saat bayi itu menangis, lampu minyak yang tergantung di dinding tiba-tiba menyala lebih terang.
Mbok Wiryani menatap bayi itu lama sekali.
Lalu berbisik hampir tak terdengar:
“Matanya kelak akan melihat dua langit...”
Sastro mendengar kalimat itu.
“Mbok, apa maksudnya?”
Perempuan tua itu menoleh.
Sorot matanya dalam.
“Beberapa anak lahir hanya untuk menjalani hidup.”
Ia berhenti sejenak.
“Tapi ada anak yang lahir untuk menanggung takdir.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Jangan bicara sembarangan, Mbok...”
Mbok Wiryani tersenyum tipis.
“Aku hanya mengatakan apa yang kulihat.”
Bayi itu perlahan berhenti menangis.
Kemudian membuka matanya.
Sepasang mata kecil itu menatap lurus ke arah langit-langit rumah.
Tenang.
Dalam.
Seolah ia sudah mengenal dunia ini bahkan sebelum dilahirkan.
Sastro menelan ludah.
“Apa dia baik-baik saja?”
Mbok Wiryani mengangguk.
“Dia sehat.”
“Tapi hidupnya tidak akan biasa.”
Malam semakin larut.
Di luar rumah, suara jangkrik kembali terdengar.
Desa Wringinrejo perlahan kembali tenang.
Namun tidak ada seorang pun yang tahu bahwa malam itu,
bersamaan dengan lahirnya seorang bayi kecil,
takdir panjang telah mulai menuliskan namanya sendiri.
Sastro duduk di samping istrinya.
Menatap wajah kecil anaknya.
“Namanya...” katanya pelan.
Sukmawati menoleh.
“Kau sudah punya nama?”
Sastro mengangguk.
Ia menatap bayi itu lama, lalu berbisik:
“Arga.”
Sukmawati tersenyum lemah.
“Arga?”
“Karena matanya seperti langit.”
Sukmawati memandang bayinya lagi.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu yang sulit dijelaskan oleh kata-kata seorang ibu.
Perasaan bahwa anak yang baru dilahirkannya itu...
suatu hari nanti,
akan berjalan jauh melebihi jalan yang pernah mereka kenal.
BAB 1
MALAM YANG MEMBELAH LANGIT
Fajar belum sepenuhnya datang ketika kabut turun tipis di atas sawah-sawah Desa Wringinrejo.
Ayam jantan mulai berkokok dari kejauhan, bersahut-sahutan, seolah sedang bercerita tentang mimpi-mimpi yang mereka alami semalam. Embun menempel di daun singkong, berat, sesekali jatuh ke tanah dengan suara yang hampir tidak terdengar. Udara pagi terasa dingin menusuk kulit, dingin yang biasa dirasakan oleh mereka yang terbangun sebelum matahari sempat menyapa bumi.
Di dalam rumah kecil itu, Arga masih terlelap dalam balutan kain batik lusuh pemberian ibunya. Kain itu sudah kusam, motifnya sudah tidak jelas karena terlalu sering dicuci dan dijemur di bawah terik matahari. Tapi bagi Sukmawati, kain itu adalah yang terbaik yang bisa ia berikan untuk anak pertamanya, yang tersisa setelah anak pertamanya yang lain pergi untuk selama-lamanya.
Sukmawati menatap wajah bayinya lama sekali.
Bayi itu tidur dengan tenang. Sangat tenang. Terlalu tenang. Dadanya naik turun dengan ritme yang teratur, terlalu teratur. Bibir kecilnya kadang bergerak seperti sedang menghisap sesuatu dalam mimpi. Matanya, yang sesekali bergerak di balik kelopak tipis, seperti sedang melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang dewasa di ruangan ini.
Sampai-sampai Sukmawati harus beberapa kali meletakkan tangannya di dada kecil itu untuk memastikan putranya masih bernapas. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Setiap kali, ia menghela napas lega ketika merasakan denyut jantung kecil yang berdetak di bawah telapak tangannya yang kasar.
"Mas..." panggilnya pelan, suaranya sedikit bergetar.
Sastro yang sedang menjerang air di dapur menoleh. Wajahnya tampak lelah, bukan karena kurang tidur, tapi karena pikirannya masih penuh dengan kejadian semalam. "Kenapa?" jawabnya sambil berjalan mendekat.
Sukmawati ragu sesaat. Ia memainkan ujung kain batik yang membungkus bayinya. Jari-jarinya, yang kasar karena bertahun-tahun mencuci di sungai dan mengulek bumbu di dapur, begitu lembut saat menyentuh pipi Arga. Lembut seperti tidak pernah melakukan pekerjaan berat seumur hidupnya.
"Kau merasa tidak... aneh?" tanyanya akhirnya.
Sastro mengerutkan kening. "Aneh bagaimana?"
"Aneh... entahlah. Aku tidak tahu cara menjelaskannya." Sukmawati memandang Arga lagi. Wajah bayi itu tenang. Terlalu tenang. "Sejak semalam aku merasa seperti ada seseorang berdiri di dekat pintu."
Sastro diam. Ia berusaha tersenyum, meskipun senyum itu terasa kaku di wajahnya yang kasar. "Kau terlalu lelah. Melahirkan itu tidak mudah. Tubuhmu butuh istirahat. Pikiranmu juga."
"Tapi aku sungguh merasakannya, Mas." Sukmawati menggeleng pelan. "Bukan hanya semalam. Sejak bayi ini lahir, sejak tangis pertamanya pecah, aku merasa... aku merasa ada yang berbeda. Ada yang mengawasi. Ada yang hadir. Bukan hanya kita berdua di ruangan ini."
Sastro mendekat dan duduk di sisi istrinya. Dipan bambu itu berderit pelan menahan beban tubuhnya yang besar dan kasar karena kerja keras di sawah. Ia menggenggam tangan Sukmawati, tangan yang dingin, tangan yang gemetar.
"Sudahlah," katanya, berusaha terdengar meyakinkan. "Jangan pikirkan yang bukan-bukan. Kamu baru saja melahirkan. Hormonmu masih tidak stabil. Semua ibu mengalami hal yang sama setelah melahirkan. Perasaan was-was, perasaan takut, perasaan ada yang mengintai. Itu normal."
"Apakah ibu-ibu lain juga merasakan kilat tanpa suara di malam kelahiran anak mereka?" Sukmawati menatap suaminya tajam. "Apakah ibu-ibu lain juga mendengar anjing-anjing desa melolong serempak saat bayi mereka lahir? Apakah lampu minyak di rumah mereka juga menyala sendiri tanpa ada yang menyalakan?"
Sastro terdiam.
Ia tidak bisa menjawab.
Karena jauh di dalam hatinya, ia sendiri belum bisa melupakan langit malam tadi. Kilat yang membelah langit menjadi dua bagian. Bukan sekali, tapi tiga kali berturut-turut. Tanpa suara. Tanpa gemuruh. Hanya cahaya putih panjang yang seolah menyayat langit. Anjing-anjing yang melolong bersamaan, seperti sedang memberi tahu sesuatu, melolong dengan suara yang ia belum pernah dengar seumur hidupnya. Lampu minyak yang menyala sendiri, tepat saat Arga lahir, tepat saat tangis pertama pecah di tengah malam yang dingin.
Semua terlalu ganjil untuk dilupakan begitu saja.
Semua terlalu aneh untuk dianggap sekadar kebetulan.
"Mas," Sukmawati memanggil lagi, "kau tidak menjawab."
Sastro menghela napas panjang. Napas yang keluar dari paru-paru yang terlalu lama menyimpan kelelahan dan kekhawatiran. "Aku tidak tahu. Aku juga merasakan hal-hal aneh tadi malam. Aku juga tidak bisa tidur memikirkannya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Menangisi? Berlari? Menyalahkan takdir?"
"Kita bisa bicara."
"Bicara tentang apa?"
"Tentang anak kita. Tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Tentang apa yang kau lihat dengan matamu sendiri."
Sastro menatap istrinya. "Kau ingin aku berkata jujur?"
"Ya."
"Aku takut."
Sukmawati terkejut. Suaminya, laki-laki yang tidak pernah mengaku takut pada apa pun, laki-laki yang setiap hari pergi ke sawah meskipun hujan atau panas terik, laki-laki yang pernah melawan ular berbisa hanya dengan parang dan keberanian, kini mengatakan bahwa ia takut.
"Takut apa, Mas?"
"Aku takut anak kita berbeda." Suara Sastro pelan, nyaris seperti bisikan. "Aku takut dia akan mengalami kesulitan yang tidak pernah kita alami. Aku takut dunia tidak akan menerimanya. Aku takut kita tidak akan bisa melindunginya."
"Kenapa kau berpikir begitu?"
"Karena semua tanda itu. Kilat. Anjing. Lampu minyak. Pertanda-pertanda itu tidak datang kepada anak biasa. Pertanda-pertanda itu datang kepada anak yang... yang memiliki takdir besar. Takdir yang mungkin berat. Takdir yang mungkin menyakitkan. Takdir yang mungkin akan membawanya pergi dari kita."
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat. "Aku tidak akan membiarkan dia pergi, Mas."
"Kita tidak punya pilihan. Takdir tidak pernah meminta izin."
Dan tanpa mereka sadari, di luar jendela rumah, seorang lelaki tua sedang berdiri.
Ia adalah Mbah Jayarasa.
Tetua desa yang jarang keluar rumah.
Lelaki yang lebih sering mengurung diri di rumah tuanya yang gelap sejak istrinya meninggal puluhan tahun lalu. Lelaki yang tidak pernah ikut ronda malam. Lelaki yang tidak pernah datang ke hajatan pernikahan atau khitanan. Lelaki yang bahkan jarang berbicara dengan siapa pun, kecuali jika benar-benar diperlukan.
Tapi pagi itu, ia berdiri di depan rumah Sastro.
Bukan karena kebetulan.
Bukan karena ingin jalan-jalan pagi.
Tapi karena ia merasakan sesuatu. Sesuatu yang tidak bisa ia abaikan. Sesuatu yang telah lama ia tunggu.
Matanya, yang sudah keruh karena usia, tapi tetap tajam seperti pisau, menatap tajam ke dalam kamar. Melalui celah jendela kayu yang tidak tertutup rapat, ia bisa melihat Sukmawati yang sedang menggendong bayinya. Ia bisa melihat Sastro yang duduk di samping istrinya dengan wajah tegang.
Ia bisa melihat bayi itu.
Bayi mungil dengan kain batik lusuh.
Bayi yang tidur dengan tenang. Terlalu tenang.
Bayi yang, tanpa ia sadari, telah membuat langit terbelah, anjing melolong, dan lampu minyak menyala sendiri.
Bayi yang, tanpa ia sadari, telah membawa serta sesuatu yang lama hilang dari desa ini.
"Anak itu akhirnya datang juga," bisik Mbah Jayarasa. Suaranya lirih, hampir tidak terdengar, seperti orang yang sedang berbicara pada dirinya sendiri. Atau pada angin. Atau pada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh mata biasa.
Ia menarik napas panjang.
Napas yang terasa berat di dadanya yang renta.
"Setelah sekian lama... setelah sekian tahun... akhirnya kau kembali."
Air mata mengalir di pipinya yang keriput.
Bukan air mata kesedihan.
Tapi air mata... kelegaan.
Mungkin.
Atau mungkin air mata ketakutan.
Karena ia tahu, kehadiran anak ini akan mengubah segalanya. Desa ini. Penduduknya. Masa depan. Masa lalu. Semua.
"Tuhan," bisiknya sambil menatap langit yang mulai memucat, "berilah kekuatan pada anak itu. Dan berilah kekuatan pada kami yang akan menjaganya. Karena perjalanannya tidak akan mudah. Karena dunia tidak akan ramah padanya. Karena ia akan diuji berkali-kali. Berkali-kali. Sampai ia hampir putus asa."
Angin pagi berembus.
Membawa aroma tanah basah dan embun.
Mbah Jayarasa memejamkan mata sebentar.
Lalu membukanya lagi.
Ia menatap rumah kecil itu sekali lagi.
"Jaga anak itu, Sastro. Jaga anak itu, Sukmawati," bisiknya, meskipun ia tahu tidak ada yang bisa mendengarnya. "Karena ia bukan hanya anak kalian. Ia adalah anak desa ini. Ia adalah anak takdir. Ia adalah anak yang akan membawa perubahan, entah itu baik atau buruk, kita tidak tahu. Tapi yang pasti, ia tidak akan menjalani hidup yang biasa."
Ia berbalik.
Berjalan pelan meninggalkan rumah itu.
Tongkat kayunya mengetuk tanah setiap kali ia melangkah. Tok... tok... tok... Suara yang teratur. Suara yang sunyi. Suara yang seperti detak jantung seseorang yang sudah tua dan lelah.
Di dalam rumah, Sastro dan Sukmawati tidak menyadari kehadirannya.
Tapi Arga, bayi kecil yang masih terlelap dalam balutan kain batik lusuh, perlahan membuka matanya.
Ia menatap ke arah jendela.
Ke arah di mana Mbah Jayarasa baru saja berdiri.
Ia tersenyum kecil.
Senyum yang tidak wajar bagi bayi seusianya.
Senyum yang mengatakan, "Aku tahu kau di sana. Aku tahu kau melihatku. Aku tahu kau menungguku."
Lalu ia memejamkan mata lagi.
Kembali tidur.
Seperti tidak terjadi apa-apa.
"Mas," Sukmawati memanggil lagi.
"Iya."
"Aku merasa lega."
"Lega kenapa?"
"Karena kita sudah bicara. Karena kita sudah mengakui bahwa ada yang aneh dengan kelahiran anak kita. Karena kita tidak lagi menyembunyikan ketakutan kita satu sama lain."
Sastro menggenggam tangan istrinya. "Aku akan selalu di sini. Apa pun yang terjadi. Kita hadapi bersama."
"Janji?"
"Janji."
"Jangan tinggalkan aku, Mas. Jangan tinggalkan anak kita."
"Aku tidak akan pergi. Aku akan menjaga kalian berdua sampai akhir hayatku."
Sukmawati menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur, meskipun masa depan masih gelap, meskipun tantangan masih besar, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sastro memeluk istrinya.
Memeluk bayinya.
Memeluk keluarganya yang kecil, tapi begitu berarti.
Di luar, matahari mulai terbit.
Cahayanya masuk melalui celah jendela.
Menyinari wajah Arga.
Menyinari senyum kecil yang masih tersisa di bibirnya.
Menyinari pagi pertama dari perjalanan panjang yang akan ia tempuh.
Perjalanan yang akan membawanya ke tempat-tempat yang tidak pernah ia bayangkan. Perjalanan yang akan mempertemukannya dengan orang-orang yang tidak pernah ia duga. Perjalanan yang akan mengajarkannya tentang cinta, tentang kehilangan, tentang pengorbanan, dan tentang arti pulang.
Tapi itu semua masih panjang.
Masih jauh.
Masih menunggu di depan sana.
Sekarang, yang ada hanyalah fajar yang baru lahir, bayi yang baru lahir, dan dua orang tua yang berusaha sekuat tenaga untuk menjadi cukup, cukup baik, cukup kuat, cukup sabar, untuk anak yang Tuhan titipkan kepada mereka.
Jatmika, di alam sana, tersenyum.
Ia melihat adiknya.
Ia melihat kedua orang tuanya.
Ia melihat desa yang dulu menjadi tempatnya bermain.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa tenang.
"Kamu akan baik-baik saja, Arga," bisiknya. "Kamu akan lebih dari baik-baik saja. Kamu akan hebat. Kamu akan luar biasa. Karena kau memiliki mereka. Dan karena mereka memiliki kau."
Ia menutup mata.
Bukan mati.
Tapi menunggu.
Menunggu waktu yang tepat.
Menunggu saat yang tepat.
Untuk muncul.
Untuk bicara.
Untuk menyelesaikan apa yang belum selesai
BAB 2
Tangis Pertama
Pagi itu matahari belum sepenuhnya naik ketika kabut tipis masih menggantung di antara pematang sawah Desa Wringinrejo. Udara dingin menyelinap melalui celah-celah dinding papan rumah Sastro, membawa aroma tanah basah yang semalam menyimpan sisa embun.
Di dalam rumah kecil itu, suasana masih sunyi.
Sukmawati duduk bersandar di dipan bambu sambil memeluk Arga di dadanya. Bayi kecil itu masih terlelap, seolah dunia luar belum cukup penting untuk membangunkannya. Nafasnya kecil dan teratur. Tangannya yang mungil sesekali bergerak pelan seperti sedang meraih sesuatu di dalam mimpinya.
Sastro menambahkan kayu bakar ke tungku dapur. Api kecil menyala merah, memantulkan cahaya ke wajahnya yang belum sepenuhnya tenang.
Pikirannya masih terjebak pada lelaki tua yang berdiri di luar jendela tadi pagi.
Mbah Jayarasa.
Tetua desa yang selama ini lebih sering mengurung diri sejak istrinya meninggal bertahun-tahun lalu. Tidak pernah ikut ronda. Tidak pernah datang ke hajatan. Bahkan jarang berbicara dengan siapa pun.
Tapi tadi,
lelaki tua itu berdiri diam menatap rumah mereka.
Seolah menunggu sesuatu.
Sastro menelan ludah.
“Mas.”
Suara Sukmawati membuyarkan lamunannya.
“Ada apa?”
“Air hangatnya sudah?”
Sastro mengangguk cepat.
“Sudah. Sebentar.”
Ia menuangkan air dari panci tanah liat ke baskom kecil, lalu membawanya perlahan ke kamar.
Sukmawati menatap wajah suaminya.
“Kau dari tadi seperti memikirkan sesuatu.”
Sastro diam sejenak.
Ia ingin bercerita tentang Mbah Jayarasa.
Tentang tatapan lelaki tua itu.
Tentang perasaan tidak nyaman yang sejak tadi mengendap di dadanya.
Tapi melihat istrinya yang masih lemah setelah melahirkan, ia mengurungkan niatnya.
“Tidak apa-apa.”
Ia tersenyum tipis.
“Mungkin aku cuma kurang tidur.”
Sukmawati tidak langsung percaya, tapi ia terlalu lelah untuk bertanya lebih jauh.
Arga bergerak kecil dalam pelukannya.
Kelopak matanya bergetar.
Lalu perlahan terbuka.
Untuk pertama kalinya pagi itu, mata kecil itu menatap lurus ke arah ibunya.
Sukmawati menahan napas.
Setiap kali melihat mata putranya, ada sesuatu yang sulit ia jelaskan.
Mata itu terlalu tenang untuk seorang bayi yang baru lahir semalam.
Bukan tenang seperti anak kecil yang belum mengenal dunia.
Tapi seperti seseorang yang sudah terlalu lama mengenal kesunyian.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Lihat matanya.”
Sastro memandang putranya.
Arga diam.
Tidak menangis.
Tidak merengek.
Hanya menatap.
Lama.
Seolah sedang mengenali wajah kedua orang tuanya satu per satu.
Sastro tersenyum kecil meski hatinya tetap bergetar.
“Mungkin dia cuma mirip ibunya.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Kalau keras kepala nanti mirip ayahnya.”
Sastro hendak menjawab, ketika tiba-tiba,
Arga mulai menangis.
Tangis itu keras.
Bukan tangis kecil seperti bayi lapar.
Bukan tangis biasa.
Tangisan itu pecah begitu saja memenuhi seluruh ruangan.
Nyaring.
Panjang.
Menggetarkan.
Sukmawati langsung panik.
“Mas... kenapa ini?”
Sastro ikut gugup.
“Mungkin lapar?”
Sukmawati mencoba menenangkan, menggendong, mengayun perlahan.
Namun tangisan Arga justru semakin keras.
Suara itu terdengar berbeda.
Bukan sekadar suara bayi.
Tangis itu seperti membawa sesuatu yang tidak kasatmata ikut terbangun.
Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang.
Api tungku dapur mendadak meredup.
Daun pintu kayu bergetar pelan.
Sastro menoleh cepat.
“Anginnya dari mana?”
Jendela tertutup.
Pintu tertutup.
Tidak ada angin.
Namun suara tangisan Arga seolah memenuhi setiap sudut rumah.
Dari luar terdengar langkah tergesa.
“Le! Sastro!”
Suara Mbok Wiryani.
Sastro cepat membuka pintu.
Perempuan tua itu berdiri dengan napas memburu.
“Anakmu menangis?”
Sastro mengangguk bingung.
“Iya, dari tadi tidak berhenti.”
Mbok Wiryani masuk tanpa menunggu dipersilakan.
Begitu melihat Arga menangis dalam pelukan ibunya, wajahnya berubah.
Ia mendekat perlahan.
Lalu mengeluarkan sebuah kain kecil dari balik kebayanya.
Kain itu berisi bunga melati kering.
Mbok Wiryani meletakkannya di dekat kepala Arga sambil komat-kamit membaca doa lirih dalam bahasa Jawa halus.
“Sing adem...
sing tentrem...
sing bali marang cahyaning urip...”
Sukmawati memandang dengan cemas.
“Mbok... kenapa dia?”
Mbok Wiryani tidak langsung menjawab.
Ia menatap bayi itu lama.
Kemudian mengusap kening Arga perlahan.
Aneh.
Tangisan itu mulai mereda.
Sedikit demi sedikit.
Sampai akhirnya benar-benar berhenti.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara kayu terbakar dari dapur yang terdengar kecil.
Sastro menatap Mbok Wiryani.
“Apa yang terjadi?”
Mbok Wiryani menghela napas panjang.
“Kadang ada bayi yang menangis karena lapar.”
Ia berhenti sejenak.
“Kadang ada bayi yang menangis karena ia melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain.”
Sukmawati langsung memeluk Arga lebih erat.
“Jangan bilang begitu.”
Mbok Wiryani menatap lembut.
“Aku tidak ingin menakutimu.”
“Lalu?”
Perempuan tua itu memandang bayi kecil itu.
“Anak ini lahir membawa pintu yang belum sepenuhnya tertutup.”
Sastro mengerutkan kening.
“Pintu apa?”
Mbok Wiryani menatap ke arah jendela.
“Antara dunia yang satu dengan yang lain.”
Ruangan kembali hening.
Sukmawati menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Mbok... dia anakku.”
Mbok Wiryani tersenyum pelan.
“Dan justru karena itu kau harus menjaganya.”
Sastro mengusap wajahnya.
“Aku tidak mengerti semua ini.”
Mbok Wiryani menatapnya lama.
“Suatu hari kau akan mengerti.”
“Tapi tidak hari ini.”
Ia lalu berdiri pelan.
Merapikan selendangnya.
Sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi.
“Kalau nanti dia menangis saat tengah malam...”
jangan pernah biarkan dia sendirian.”
Sastro tercekat.
“Maksudmu?”
Namun Mbok Wiryani sudah melangkah keluar.
Pintu tertutup perlahan.
Suasana rumah kembali sunyi.
Sukmawati menatap suaminya.
“Aku takut.”
Sastro duduk di samping istrinya.
Menggenggam bahunya perlahan.
“Tidak akan terjadi apa-apa.”
Meskipun dalam hatinya,
ia sendiri tidak yakin pada kalimat yang baru saja ia ucapkan.
Arga kini diam.
Mata kecilnya terbuka.
Ia tidak lagi menangis.
Ia hanya menatap langit-langit rumah dengan tatapan yang terlalu dalam untuk seorang bayi yang baru satu hari melihat dunia.
Seolah di tempat yang tak bisa dilihat siapa pun,
ia sedang mendengarkan sesuatu.
Dan di luar rumah,
di bawah pohon asem tua dekat halaman,
Mbah Jayarasa masih berdiri.
Diam.
Menatap ke arah jendela kamar.
Lalu berbisik lirih pada dirinya sendiri.
“Tangis pertama itu...
akhirnya terdengar juga.”
BAB 3
Nama dari Sebuah Doa
Pagi di Desa Wringinrejo datang perlahan seperti napas panjang yang dilepaskan bumi setelah semalam menahan rahasia.
Kabut yang sejak subuh menggantung di pematang sawah mulai terangkat sedikit demi sedikit. Matahari muncul malu-malu dari balik perbukitan sebelah timur, menyinari atap-atap rumah kayu yang masih basah oleh embun. Suara ayam jantan bersahut-sahutan, bercampur dengan derit roda gerobak yang mulai terdengar dari jalan tanah desa.
Di dalam rumah kecil milik Sastro, suasana belum benar-benar tenang.
Tangis Arga memang sudah berhenti sejak Mbok Wiryani pergi, tetapi kata-kata perempuan tua itu masih menggantung di udara seperti asap tipis yang tak mau hilang.
“Anak ini lahir membawa pintu yang belum sepenuhnya tertutup.”
Kalimat itu terus terngiang di kepala Sastro.
Ia duduk di bangku kayu dekat jendela sambil memandangi halaman rumah yang masih sepi. Secangkir kopi hitam di tangannya sudah dingin sejak tadi, namun belum sekali pun disentuh.
Pikirannya melayang jauh.
Pada kilat semalam.
Pada lolongan anjing.
Pada lampu minyak yang menyala lebih terang saat Arga lahir.
Pada tangisan pertama yang membuat rumah seperti ikut bergetar.
Dan kini,
pada nama.
Nama yang sejak semalam sudah muncul di kepalanya, tetapi belum sempat benar-benar ia ucapkan sebagai nama seorang anak.
Di dipan bambu, Sukmawati memeluk Arga sambil menatap suaminya.
“Mas.”
Sastro menoleh pelan.
“Hm?”
“Kau dari tadi diam saja.”
Sastro tersenyum kecil, meski lelah jelas tergambar di wajahnya.
“Aku sedang berpikir.”
“Masih soal semalam?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Sukmawati menatapnya lebih dalam.
“Kau juga merasa ada yang aneh, ya?”
Sastro menghela napas.
“Entahlah.”
“Kalau memang ada yang kau rasakan, jangan kau simpan sendiri.”
Sastro memandang istrinya lama.
Lalu pelan-pelan ia berdiri dan mendekat ke dipan.
Ia duduk di tepi ranjang bambu, menatap bayi kecil yang sedang tertidur dalam pelukan ibunya.
Arga terlihat damai.
Pipinya merah.
Bibir kecilnya bergerak pelan seperti sedang mengisap udara.
Begitu kecil.
Begitu rapuh.
Namun entah mengapa, kehadirannya terasa jauh lebih besar daripada tubuh mungilnya.
Sastro mengusap kepala anak itu perlahan.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
Sukmawati menatap suaminya.
“Takut kenapa?”
Sastro tersenyum pahit.
“Takut tidak bisa menjadi ayah yang cukup baik untuk anak seperti dia.”
Mata Sukmawati melembut.
“Mas...”
“Aku ini cuma orang desa.”
Sastro menunduk.
“Tak punya apa-apa selain sawah kecil dan rumah reyot ini.”
“Mas jangan bicara begitu.”
“Tapi itu kenyataan.”
Sukmawati menggenggam tangan suaminya.
“Seorang anak tidak butuh ayah yang punya segalanya.”
Sastro menatapnya.
“Dia hanya butuh ayah yang tidak pergi.”
Kalimat itu membuat Sastro terdiam.
Untuk sesaat, hanya suara angin pagi yang terdengar dari sela-sela jendela.
Sastro menunduk menatap Arga lagi.
Lalu tersenyum tipis.
“Aku sudah memikirkan namanya.”
Sukmawati ikut tersenyum.
“Akhirnya.”
“Kau mau dengar?”
Sukmawati mengangguk.
Sastro menarik napas pelan.
“Arga.”
Sukmawati mengulang perlahan.
“Arga...”
Nama itu terdengar sederhana.
Pendek.
Namun terasa dalam.
“Kenapa Arga?” tanya Sukmawati.
Sastro menatap ke luar jendela.
Ke arah langit pagi yang mulai berubah biru.
“Karena semalam saat dia lahir...”
Sastro berhenti sejenak.
“...aku merasa seperti langit sedang melihat rumah kita.”
Sukmawati diam.
Sastro melanjutkan pelan.
“Dan matanya...”
ia menoleh pada bayi itu.
“matanya seperti menyimpan langit sendiri.”
Sukmawati menunduk memandangi anaknya.
Arga.
Dalam bahasa Jawa lama, nama itu mengandung makna:
gunung.
Tinggi.
Diam.
Kokoh.
Menyimpan banyak hal di dalam dirinya.
Sukmawati mengusap pipi bayi itu.
“Arga.”
Ia tersenyum.
“Indah.”
Sastro mengangguk.
“Tapi aku ingin menambahkan satu nama lagi.”
Sukmawati menoleh.
“Apa?”
“Arga Pranata.”
Sukmawati mengulang pelan.
“Arga Pranata...”
“Arga,” kata Sastro,
“adalah langit dan gunung.”
“Pranata,” lanjutnya,
“adalah tatanan hidup.”
Sastro menatap anaknya dengan mata yang perlahan memerah.
“Aku tidak tahu hidup akan membawanya ke mana.”
“Tapi aku ingin dia tumbuh menjadi seseorang yang bisa menata hidupnya sendiri.”
Sukmawati menahan air mata.
“Mas...”
suara perempuan itu bergetar.
“Nama itu seperti doa.”
Sastro tersenyum tipis.
“Memang begitu seharusnya.”
Di desa mereka, nama bukan sekadar panggilan.
Nama adalah harapan.
Nama adalah doa yang diulang setiap hari.
Nama adalah cara orang tua menitipkan masa depan ke dalam satu kata.
Dan pagi itu,
di rumah kecil di pinggir sawah,
sebuah doa akhirnya diucapkan untuk pertama kalinya.
Sukmawati mendekat ke telinga bayi itu.
Lalu berbisik lembut:
“Arga Pranata...”
Bayi itu bergerak kecil.
Kelopak matanya terbuka perlahan.
Seolah ia mendengar namanya.
Dan anehnya,
begitu nama itu diucapkan,
angin pagi yang semula pelan tiba-tiba masuk melalui celah jendela.
Lampu minyak di sudut ruangan bergoyang.
Tirai tipis bergerak perlahan.
Sastro dan Sukmawati saling pandang.
Jantung keduanya berdegup lebih cepat.
Di luar rumah,
burung-burung kecil yang bertengger di pohon mangga mendadak terbang serempak ke langit.
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Mas...”
Sastro menggenggam tangan istrinya.
“Tidak apa-apa.”
Namun ia tahu.
Ada sesuatu pada anak ini.
Sesuatu yang bahkan nama pun seperti ikut mengenalinya.
Tak lama kemudian terdengar langkah sandal di depan rumah.
“Assalamualaikum...”
Suara tua yang sangat dikenal.
Sastro menoleh.
“Waalaikumsalam.”
Di depan pintu berdiri Mbah Jayarasa.
Untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun,
tetua tua itu datang sendiri ke rumah orang lain.
Wajah keriputnya tenang.
Sorot matanya tajam.
Tongkat kayunya menempel di tanah.
Sastro berdiri.
“Mbah... silakan masuk.”
Mbah Jayarasa melangkah perlahan.
Tatapannya langsung tertuju pada Arga.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia bertanya dengan suara pelan.
“Sudah diberi nama?”
Sastro mengangguk.
“Sudah.”
“Apa namanya?”
Sastro menelan ludah.
“Arga Pranata.”
Mbah Jayarasa memejamkan mata sesaat.
Seolah merasakan nama itu di dalam hatinya.
Kemudian ia membuka matanya perlahan.
“Nama yang berat.”
Sukmawati menggenggam bayinya.
“Berat bagaimana, Mbah?”
Mbah Jayarasa menatap Arga.
Lalu berkata pelan:
“Karena kadang...”
“doa yang paling tulus justru mengundang takdir yang paling panjang.”
Ruangan kembali sunyi.
Sastro menatap lelaki tua itu.
“Apa maksud Mbah?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Belum waktunya kau tahu.”
Ia mendekat satu langkah.
Lalu mengulurkan tangan tuanya ke arah kepala Arga.
Jari-jari renta itu menyentuh kening bayi kecil itu dengan sangat lembut.
Arga yang sejak tadi diam,
tiba-tiba tersenyum kecil dalam tidurnya.
Mbah Jayarasa menarik tangannya cepat.
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya,
mata lelaki tua itu tampak terkejut.
“Kenapa, Mbah?” tanya Sastro.
Mbah Jayarasa mundur pelan.
Suaranya hampir berbisik.
“Dia mengingat.”
Sastro mengernyit.
“Mengingat apa?”
Tetapi Mbah Jayarasa tidak menjawab.
Ia hanya menatap Arga sekali lagi.
Lalu berbalik menuju pintu.
Sebelum keluar,
ia berkata tanpa menoleh:
“Jaga baik-baik anak itu.”
“Karena tidak semua manusia dilahirkan hanya untuk hidup.”
Pintu kayu menutup perlahan.
Sastro dan Sukmawati terdiam.
Tak satu pun dari mereka benar-benar mengerti.
Namun sejak pagi itu,
nama Arga Pranata
bukan lagi sekadar nama seorang bayi.
Ia telah menjadi awal dari doa panjang
yang suatu hari akan mengubah hidup banyak orang.
BAB 4
Rumah di Pinggir Sawah
Pagi-pagi sekali, ketika embun masih menggantung di ujung daun padi dan kabut tipis belum sepenuhnya terangkat dari tanah, rumah kecil di pinggir sawah itu selalu menjadi rumah pertama yang disapa matahari.
Rumah itu berdiri sendiri di ujung Desa Wringinrejo.
Dindingnya terbuat dari papan kayu tua yang mulai memudar warnanya. Beberapa bagian sudah melengkung dimakan musim. Atapnya dari genteng tanah yang sebagian ditumbuhi lumut tipis. Di halaman depan tumbuh pohon mangga tua yang akarnya mencuat dari tanah, seperti tangan-tangan renta yang memeluk bumi.
Di sebelah kiri rumah ada sumur kecil yang dindingnya disusun dari batu kali. Di belakang rumah terbentang sawah yang luas, hijau pada musim tanam, keemasan saat panen, lalu berubah menjadi hamparan lumpur gelap ketika hujan panjang datang.
Bagi sebagian orang, rumah itu terlalu sederhana untuk disebut tempat tinggal.
Tetapi bagi Sastro, rumah itu adalah satu-satunya warisan yang tersisa dari orang tuanya.
Dan kini,
rumah itu menjadi tempat pertama Arga mengenal dunia.
Sejak kelahiran Arga, Sukmawati mulai memandang rumah itu dengan cara berbeda.
Dulu rumah itu hanyalah tempat berteduh.
Tempat melewati hari-hari sederhana bersama suami.
Tempat menunggu musim panen.
Tempat menerima kenyataan hidup yang tidak selalu ramah.
Namun setelah ada tangis kecil yang mengisi udara di dalamnya, rumah itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Menjadi tempat pulang.
Menjadi tempat doa.
Menjadi tempat sebuah kehidupan kecil tumbuh.
Pagi itu Sukmawati membuka jendela kamar perlahan agar udara segar masuk. Cahaya matahari yang lembut jatuh di wajah Arga yang masih tertidur.
Bayi itu tampak tenang.
Wajahnya kecil.
Kulitnya halus.
Napasnya pelan.
Sukmawati tersenyum sendiri.
Tangannya mengusap pipi anak itu dengan sangat hati-hati, seolah takut membangunkan mimpi yang sedang didatangi putranya.
“Le...”
bisiknya pelan.
“Kau nanti akan jadi seperti apa ya?”
Arga tidak menjawab.
Tentu saja tidak.
Namun entah kenapa, setiap kali Sukmawati memandangi wajah itu, hatinya seperti mendengar sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga.
Seolah hidup anak itu sudah berjalan jauh,
bahkan sebelum benar-benar dimulai.
Di dapur, Sastro sedang memperbaiki kaki meja kayu yang goyah.
Suara ketukan palu kecil terdengar pelan.
Tak biasanya Sastro mengerjakan sesuatu sepagi itu. Sejak Arga lahir, ia mulai memperhatikan rumah mereka lebih sungguh-sungguh.
Retakan di dinding diperbaiki.
Pintu yang berderit diberi minyak.
Atap bocor mulai ditambal.
Pagar bambu yang miring dipasang ulang.
Sukmawati memperhatikannya dari pintu dapur sambil menggendong Arga.
“Mas.”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Kau dari tadi tidak berhenti bekerja.”
Sastro tersenyum kecil.
“Rumah ini harus lebih kuat.”
Sukmawati mengerutkan kening.
“Untuk apa?”
Sastro menatap Arga di pelukan istrinya.
“Untuk dia.”
Sukmawati diam.
Sastro meletakkan palunya.
“Aku tidak ingin anakku tumbuh di rumah yang terasa rapuh.”
“Rumah ini sudah cukup.”
“Belum.”
Sastro menunduk.
“Kalau suatu hari hujan besar datang...”
“aku ingin rumah ini tetap bisa melindunginya.”
Sukmawati menatap suaminya lama.
Ia tahu.
Yang sedang dibangun Sastro pagi itu bukan sekadar rumah kayu.
Tetapi rasa aman yang selama ini tidak pernah sempat ia miliki sendiri.
Menjelang siang, suara langkah sandal terdengar dari halaman.
“Assalamualaikum!”
Suara nyaring itu membuat Sukmawati tersenyum.
“Itu Bu Parti.”
Tetangga terdekat mereka.
Sastro membuka pintu.
Di depan berdiri seorang perempuan paruh baya bertubuh gemuk dengan kain jarik bermotif bunga dan senyum lebar yang selalu datang lebih dulu daripada kata-katanya.
“Waalaikumsalam. Wah, akhirnya aku boleh lihat bayi sakti itu.”
Sastro hampir tersedak.
“Bayi sakti?”
Bu Parti tertawa kecil.
“Lha, semalaman satu desa dengar cerita aneh dari rumahmu.”
Sastro menghela napas.
“Orang desa memang suka menambah cerita.”
Bu Parti masuk tanpa menunggu dipersilakan, seperti biasa.
Begitu melihat Arga di pelukan Sukmawati, wajahnya langsung melembut.
“Aduh... ganteng sekali.”
Sukmawati tersenyum.
“Masih merah begini.”
“Justru lucu.”
Bu Parti mendekat.
“Namanya siapa?”
Sukmawati memandang Sastro sebentar lalu menjawab,
“Arga Pranata.”
Bu Parti mengangguk pelan.
“Bagus.”
Lalu ia menatap bayi itu lebih dekat.
Namun sesaat kemudian senyumnya memudar.
“Lho...”
Sukmawati langsung tegang.
“Kenapa?”
Bu Parti mengedip beberapa kali.
“Tidak... mungkin aku salah lihat.”
“Apa?”
Bu Parti memaksakan tersenyum.
“Tidak apa-apa.”
Tapi sesungguhnya tadi, selama sesaat,
ia merasa mata bayi itu menatapnya terlalu dalam.
Bukan seperti mata bayi.
Melainkan seperti seseorang yang sedang memperhatikan.
Sukmawati menangkap perubahan wajah tetangganya.
“Ada apa sebenarnya?”
Bu Parti cepat-cepat menggeleng.
“Tidak ada. Aku cuma kurang tidur.”
Sastro yang sejak tadi diam mulai merasa tidak nyaman.
Ini sudah kedua kalinya seseorang menunjukkan reaksi aneh setelah melihat Arga.
Dan firasat buruk yang semula kecil,
mulai tumbuh sedikit demi sedikit.
Sore harinya, angin bertiup lembut dari arah sawah.
Sukmawati duduk di beranda sambil menggendong Arga.
Langit mulai berubah jingga.
Burung-burung kecil pulang ke sarang.
Suara anak-anak desa terdengar bermain dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya sejak melahirkan, Sukmawati merasa sedikit tenang.
Rumah kecil itu terasa hangat.
Sawah di belakang berkilau terkena cahaya senja.
Bau lumpur bercampur rumput basah memenuhi udara.
Arga membuka matanya perlahan.
Tatapannya lurus ke hamparan sawah.
Sukmawati tersenyum.
“Kau suka melihat sawah?”
Bayi itu diam.
Namun matanya tidak berkedip.
Ia menatap jauh.
Jauh sekali.
Seolah di balik hamparan padi itu ada sesuatu yang hanya bisa ia lihat sendiri.
Sukmawati mengusap kepalanya.
“Nanti kalau besar...”
“kau mau jadi apa, Nak?”
Sastro yang baru keluar dari belakang rumah mendengar pertanyaan itu.
Ia duduk di samping istrinya.
“Biarkan dia jadi dirinya sendiri.”
Sukmawati menoleh.
“Memangnya kau tidak punya harapan?”
Sastro tersenyum kecil.
“Aku hanya ingin dia pulang.”
“Pulang?”
Sastro menatap sawah yang perlahan gelap.
“Sejauh apa pun hidup membawanya nanti...”
“aku hanya ingin dia tahu rumahnya di mana.”
Sukmawati terdiam.
Kadang cinta seorang ayah memang sesederhana itu.
Bukan mimpi besar.
Bukan keinginan muluk.
Hanya ingin anaknya tidak kehilangan jalan pulang.
Malam datang perlahan.
Lampu minyak kembali dinyalakan.
Suara jangkrik mulai memenuhi pekarangan.
Rumah kecil di pinggir sawah itu kembali tenggelam dalam kesunyian yang lembut.
Namun tak jauh dari batas pematang,
di bawah pohon asem tua,
seseorang kembali berdiri memandang rumah itu dari kejauhan.
Mbah Jayarasa.
Matanya tak lepas dari jendela kamar tempat Arga tertidur.
Ia menggenggam tongkat kayunya erat.
Lalu berbisik pelan pada angin malam.
“Rumah kecil itu...”
“tak akan cukup lama menyimpan anak seperti dia.”
Angin malam bergerak pelan.
Daun-daun bergesekan.
Dan di dalam rumah kecil itu,
Arga yang sedang tertidur,
perlahan tersenyum dalam mimpinya.
Seolah mendengar seseorang memanggil namanya
dari tempat yang sangat jauh.
BAB 5
Pelukan Ibu
Malam di Desa Wringinrejo selalu datang dengan cara yang sama.
Pelan.
Lembut.
Seolah langit tidak pernah ingin mengejutkan siapa pun.
Suara jangkrik mulai memenuhi halaman.
Daun pisang di belakang rumah bergesekan perlahan.
Lampu minyak di dalam rumah kecil itu menebarkan cahaya kuning redup yang menempel di dinding papan seperti bayangan masa lalu yang enggan pergi.
Di dalam kamar sempit, Sukmawati duduk bersandar di dipan bambu sambil memeluk Arga di dadanya.
Bayi kecil itu baru saja terbangun.
Matanya yang bening terbuka perlahan, memandang wajah ibunya dari jarak yang begitu dekat hingga Sukmawati merasa seolah anak itu sedang mencoba menghafalnya.
Ia tersenyum.
“Apa?”
bisiknya lirih.
“Kau sedang mengenali Ibumu?”
Arga tidak menangis.
Tidak bergerak banyak.
Ia hanya menatap.
Tatapan yang tenang.
Terlalu tenang.
Sejak lahir, Arga memang jarang menangis tanpa sebab. Berbeda dengan bayi lain di desa yang sering rewel sepanjang malam, Arga justru lebih sering diam. Kadang terlalu diam hingga membuat Sukmawati berkali-kali mengecek napas kecil di dadanya.
Tetapi setiap kali berada di dalam pelukannya,
Arga selalu tenang.
Seolah tubuh ibunya adalah satu-satunya tempat di dunia yang benar-benar ia kenal.
Sukmawati mengusap lembut rambut tipis di kepala putranya.
“Kalau dunia nanti terlalu keras...”
katanya pelan,
“kau boleh pulang ke sini.”
Ia menempelkan bibirnya ke dahi Arga.
“Ke pelukan Ibu.”
Sukmawati tidak pernah membayangkan bahwa menjadi seorang ibu bisa mengubah seseorang sedemikian rupa.
Sebelum Arga lahir, ia adalah perempuan yang sederhana.
Hidupnya berputar antara sumur, dapur, sawah, dan senja.
Mencuci.
Memasak.
Menunggu.
Berdoa.
Lalu tidur.
Begitu terus setiap hari.
Namun sejak Arga lahir,
ia merasa hidupnya tidak lagi berjalan untuk dirinya sendiri.
Kini setiap napasnya seperti terikat pada napas kecil anak itu.
Setiap tangisnya terasa sampai ke dada.
Setiap geraknya membuat jantungnya ikut bergerak.
Bahkan setiap diam Arga pun kadang bisa membuat hatinya gelisah.
Malam itu, ketika ia sedang mengayun perlahan tubuh kecil putranya, Sastro masuk ke kamar membawa secangkir air jahe hangat.
“Minumlah dulu.”
Sukmawati menerima cangkir itu.
“Terima kasih.”
Sastro duduk di tepi dipan.
Matanya memandang Arga yang terbaring di pelukan ibunya.
“Kau belum tidur?”
Sukmawati tersenyum tipis.
“Belum bisa.”
“Kenapa?”
Sukmawati menatap bayi itu.
“Aku takut kalau aku tidur, dia bangun dan menangis sendirian.”
Sastro menatap istrinya lama.
“Kau harus istirahat.”
Sukmawati menggeleng pelan.
“Rasanya aku tidak ingin melewatkan satu detik pun.”
Sastro tersenyum kecil.
“Kau benar-benar berubah.”
Sukmawati menoleh.
“Berubah bagaimana?”
“Dulu kau paling cerewet kalau malam.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Lalu sekarang?”
“Sekarang kau lebih banyak diam.”
Sastro memandang Arga.
“Karena hatimu sibuk menjaga seseorang.”
Sukmawati menunduk.
Senyumnya samar.
“Begitulah rasanya jadi ibu, ya?”
Sastro tidak menjawab.
Karena sesungguhnya, bahkan sebagai ayah pun, ia belum benar-benar mengerti arti ikatan yang sedang tumbuh antara ibu dan anak itu.
Ada sesuatu yang begitu sunyi namun begitu kuat.
Sesuatu yang bahkan tidak perlu dijelaskan oleh kata-kata.
Di luar rumah, angin malam berembus sedikit lebih dingin.
Pohon mangga di depan rumah bergerak perlahan.
Bayangan rantingnya jatuh di dinding kamar seperti tangan-tangan hitam yang merayap pelan.
Sukmawati menatap jendela sebentar.
Lalu memeluk Arga lebih erat.
Entah mengapa sejak siang tadi, ada rasa tidak tenang yang tidak bisa ia usir.
Ia merasa seperti ada seseorang yang terus memperhatikan rumah mereka.
Bukan dari dalam.
Tetapi dari luar.
Dari gelap.
“Mas...”
panggilnya pelan.
Sastro yang sedang melipat kain menoleh.
“Ya?”
“Kau merasa tidak...”
ia ragu sesaat.
“...rumah kita terlalu sunyi malam ini?”
Sastro mendengarkan sejenak.
Suara jangkrik.
Daun.
Angin.
Tak ada yang aneh.
“Tidak.”
Sukmawati menunduk.
“Mungkin aku terlalu lelah.”
Namun belum sempat Sastro menjawab,
Arga tiba-tiba bergerak dalam pelukan ibunya.
Bayi itu membuka mata.
Lalu menatap lurus ke sudut kamar.
Ke tempat yang gelap.
Sukmawati ikut menoleh.
Di sana tidak ada apa-apa.
Hanya bayangan lemari kayu tua.
Tetapi Arga terus menatap ke sana.
Lama.
Sangat lama.
Sukmawati mulai merasa dingin menjalar di punggungnya.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Dia melihat sesuatu.”
Sastro memandang bayi itu.
Arga memang sedang menatap sudut ruangan tanpa berkedip.
Lalu,
perlahan bayi itu tersenyum.
Bukan senyum biasa.
Bukan senyum refleks bayi.
Tapi senyum kecil seolah ia mengenali sesuatu.
Sukmawati spontan memeluk Arga erat.
“Jangan begitu...”
bisiknya gemetar.
Sastro cepat menyalakan lampu minyak lebih terang.
Cahaya memenuhi sudut kamar.
Tak ada siapa-siapa.
Tak ada apa-apa.
Namun rasa dingin itu tetap tinggal.
Sastro berusaha terdengar tenang.
“Mungkin dia cuma melihat cahaya.”
Sukmawati menatap suaminya.
“Benarkah?”
Sastro diam sesaat.
Lalu mengangguk.
Tapi di dalam hatinya,
ia sendiri tidak percaya sepenuhnya pada kalimat itu.
Beberapa saat kemudian Arga tertidur lagi.
Tangannya yang kecil mencengkeram kain kebaya ibunya.
Seolah takut terlepas.
Sukmawati menatap jemari kecil itu dengan mata basah.
“Mas...”
“Hm?”
“Kalau suatu hari nanti dia pergi jauh...”
suara Sukmawati lirih,
“aku takut tidak bisa melepaskannya.”
Sastro memandang istrinya.
“Dia masih bayi.”
“Aku tahu.”
“Tapi entah kenapa...”
Sukmawati menunduk.
“aku merasa seperti suatu hari nanti hidup akan membawanya jauh dari rumah ini.”
Sastro terdiam.
Kalimat itu terlalu dekat dengan ketakutan yang diam-diam juga ia rasakan sendiri.
Ia menatap wajah Arga yang damai dalam pelukan ibunya.
Lalu berkata pelan:
“Kalau nanti dia pergi...”
“pelukanmu akan selalu menjadi tempat pertama yang ingin dia ingat.”
Sukmawati menahan air mata.
“Bagaimana kalau dia lupa?”
Sastro tersenyum kecil.
“Anak mungkin bisa lupa jalan.”
“Tapi tidak pernah lupa rasa pulang.”
Malam semakin larut.
Lampu minyak mulai mengecil.
Sukmawati akhirnya berbaring dengan Arga tetap di dadanya.
Bayi itu tertidur tenang mendengar detak jantung ibunya.
Denyut yang sama
yang selama berbulan-bulan menjadi suara pertama yang ia kenal sebelum lahir.
Di dalam pelukan itu,
Arga tampak benar-benar damai.
Seolah dunia luar belum punya kuasa untuk menyentuhnya.
Namun jauh di luar rumah,
di bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa masih berdiri.
Tatapannya tertuju pada jendela kamar.
Ia memejamkan mata sebentar.
Lalu berbisik lirih:
“Anak itu masih mengenali cahaya ibunya...”
Ia membuka matanya perlahan.
“Tapi suatu hari...”
“bahkan pelukan seorang ibu pun tak akan cukup menahannya.”
Angin malam berembus lebih dingin.
Dan di dalam rumah kecil di pinggir sawah itu,
Sukmawati tanpa sadar memeluk Arga sedikit lebih erat,
seolah naluri seorang ibu sudah mendengar ancaman yang belum sempat diucapkan dunia.
BAB 6
Diam Seorang Ayah
Pagi di Desa Wringinrejo selalu dimulai sebelum matahari benar-benar lahir.
Ketika sebagian besar orang masih terlelap dalam sisa mimpi, Sastro sudah berdiri di halaman rumah dengan cangkul di bahunya. Kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Udara dingin menyentuh kulit seperti embun yang belum rela jatuh.
Rumah kecil di pinggir sawah itu masih sunyi.
Lampu minyak di dalam kamar baru saja dipadamkan.
Sukmawati masih tertidur setengah sadar dengan Arga di pelukannya.
Dan di luar, dunia perlahan membuka matanya.
Sastro menatap rumah itu beberapa saat.
Dulu ia tak pernah melakukan itu.
Dulu rumah hanyalah tempat singgah.
Tempat pulang setelah seharian menanam atau memanen.
Tempat menaruh lelah.
Tempat tidur.
Lalu esok mengulang hidup yang sama.
Namun sejak Arga lahir, rumah itu terasa berbeda.
Kini ada alasan baru yang membuatnya menoleh sebelum pergi.
Ada sesuatu yang diam-diam tertinggal setiap kali ia melangkah meninggalkan pintu.
Ia berdiri memandangi jendela kamar.
Mendengarkan.
Mencari suara kecil dari dalam.
Dan ketika tak terdengar tangis,
ia baru berani berjalan menuju sawah.
Sastro bukan lelaki yang pandai mengungkapkan perasaan.
Sejak kecil ia dibesarkan oleh ayah yang percaya bahwa laki-laki tidak perlu banyak bicara. Bahwa cinta seorang ayah tidak ditunjukkan lewat kata-kata, melainkan lewat kerja keras yang membuat dapur tetap berasap.
Ayahnya jarang memeluk.
Jarang tersenyum.
Jarang bertanya.
Namun setiap pagi ia pergi ke sawah.
Setiap malam pulang membawa beras.
Setiap musim hujan memastikan atap tidak bocor.
Dan bagi lelaki generasi mereka,
itulah cinta.
Diam.
Keras.
Tapi nyata.
Sastro tumbuh dengan cara yang sama.
Maka ketika Arga lahir, ia mendapati dirinya bingung menghadapi perasaan yang belum pernah ia kenal sebelumnya.
Ia ingin memeluk anak itu.
Tapi tangannya terasa canggung.
Ia ingin menggendong.
Tapi takut salah.
Ia ingin bicara.
Tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Yang bisa ia lakukan hanyalah diam.
Dan bekerja lebih keras dari biasanya.
Pagi itu di sawah, tangan Sastro bergerak lambat mencabuti rumput liar di sela tanaman muda. Lumpur menempel sampai lutut. Matahari mulai naik sedikit demi sedikit, tapi pikirannya tidak ada di sana.
Ia terus teringat wajah kecil Arga.
Jari mungil.
Napas pelan.
Tatapan aneh yang terlalu tenang.
“Wah, sekarang kau melamun di sawah.”
Suara itu membuat Sastro menoleh.
Di sebelah pematang berdiri Pak Wiryo, tetangga sekaligus kawan lamanya, sambil memanggul sabit.
Sastro menghela napas.
“Tidak melamun.”
Pak Wiryo tertawa kecil.
“Kalau begitu sawahmu yang sedang melamun.”
Sastro menoleh.
Baru ia sadar beberapa rumpun padi yang seharusnya dibersihkan malah ikut terinjak kakinya sendiri.
Pak Wiryo turun ke pematang.
“Begitulah kalau baru jadi bapak.”
Sastro tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Pak Wiryo duduk jongkok.
“Anakmu sehat?”
Sastro mengangguk.
“Sehat.”
“Laki-laki?”
“Iya.”
Pak Wiryo tersenyum.
“Bagus.”
Ia diam sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Tapi aku dengar semalam rumahmu ramai cerita.”
Sastro berhenti bekerja.
Ia sudah menduga kabar aneh itu menyebar cepat.
“Orang kampung memang suka menambah cerita.”
Pak Wiryo menatapnya.
“Jadi tidak benar?”
Sastro diam.
Lelaki itu menunggu.
Akhirnya Sastro berkata lirih,
“Aku sendiri tidak tahu.”
Pak Wiryo menepuk bahunya.
“Kadang yang paling menakutkan bukan hal gaib.”
Sastro menoleh.
“Lalu?”
Pak Wiryo tersenyum kecil.
“Menjadi ayah.”
Kalimat itu membuat Sastro terdiam.
Pak Wiryo berdiri lagi.
“Karena sejak anak lahir...”
“hidupmu bukan milikmu sendiri lagi.”
Lalu ia berjalan pergi sambil membawa sabitnya.
Sastro memandang punggung temannya itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar ketakutan terbesar dalam dirinya bukan tentang ramalan,
bukan tentang tanda aneh,
bukan tentang langit yang terbelah.
Tetapi tentang kemungkinan gagal menjaga seseorang yang kini menjadi seluruh dunianya.
Menjelang siang Sastro pulang lebih cepat.
Kakinya penuh lumpur.
Bajunya basah oleh keringat.
Namun langkahnya lebih cepat dari biasanya.
Begitu membuka pintu, ia mendengar suara lirih Sukmawati dari dalam.
“Pelan-pelan... jangan bangun...”
Sastro masuk.
Sukmawati sedang duduk di dipan sambil mengganti kain Arga.
Bayi itu terbangun dan menatap langit-langit dengan tenang.
“Sudah pulang?”
Sastro mengangguk.
“Bagaimana dia?”
Sukmawati tersenyum.
“Sejak tadi diam saja.”
Sastro mendekat.
Memandangi Arga.
Untuk beberapa saat ia hanya berdiri.
Sukmawati menatap suaminya.
“Gendong saja.”
Sastro langsung menggeleng.
“Nanti salah.”
“Tidak akan.”
“Aku takut.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Mas takut menggendong bayi?”
Sastro tidak menjawab.
Sukmawati menggeser tubuh sedikit.
“Mari sini.”
Dengan canggung, Sastro mengulurkan tangan.
Tangannya besar.
Kasar.
Penuh bekas kerja.
Jauh berbeda dengan tubuh kecil Arga yang tampak begitu rapuh.
Pelan-pelan Sukmawati meletakkan bayi itu ke lengan suaminya.
Sastro menahan napas.
Tubuh kecil itu kini ada di tangannya.
Hangat.
Sangat ringan.
Dan anehnya,
detik itu juga jantung Sastro seperti berhenti sesaat.
Ia menatap wajah anaknya.
Arga membuka mata.
Memandang ayahnya.
Untuk pertama kalinya,
mereka saling menatap dari jarak yang sangat dekat.
Sastro tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Ia hanya diam.
Namun tangannya yang besar tanpa sadar bergerak melindungi tubuh kecil itu dengan sangat hati-hati.
Sukmawati memperhatikan dengan senyum tipis.
“Lihat?”
katanya pelan.
“Kau bisa.”
Sastro tidak menjawab.
Matanya justru mulai basah.
Ia cepat menoleh agar istrinya tidak melihat.
Namun Sukmawati sudah tahu.
Di balik diam lelaki itu,
ada cinta yang terlalu besar untuk mudah diucapkan.
“Mas.”
Sastro berdeham.
“Hm?”
“Dia mirip siapa?”
Sastro menatap Arga.
Lalu tersenyum tipis.
“Kalau keras kepala...”
“mungkin mirip ibunya.”
Sukmawati tertawa pelan.
“Kalau pendiam?”
Sastro menunduk.
“Mungkin mirip ayahnya.”
Arga bergerak kecil di pelukannya.
Jari mungil itu menggenggam salah satu jari Sastro.
Sastro membeku.
Begitu kecil.
Namun genggaman itu terasa seperti sesuatu yang langsung mengikat sampai ke dalam hati.
Sukmawati melihat perubahan wajah suaminya.
“Kenapa?”
Sastro menggeleng.
“Tidak apa-apa.”
Tapi sesungguhnya, dalam detik itu,
ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Bukan takut.
Bukan cemas.
Melainkan janji yang lahir tanpa kata-kata:
bahwa selama ia masih hidup,
ia akan melindungi anak itu.
Dengan apa pun.
Sore menjelang.
Matahari mulai turun di balik sawah.
Sastro kembali duduk di beranda rumah sambil menggendong Arga yang sudah tertidur di lengannya.
Sukmawati memandang dari pintu.
Ia tersenyum melihat suaminya yang biasanya keras kini duduk nyaris tidak bergerak karena takut membangunkan anak mereka.
“Mas.”
Sastro menoleh pelan.
“Ya?”
“Kau tahu?”
“Apa?”
Sukmawati tersenyum lembut.
“Kadang cinta seorang ayah memang tidak terdengar.”
Sastro diam.
“Tapi selalu terasa.”
Sastro menatap Arga.
Lalu memandang langit senja yang mulai berubah warna.
Ia tidak pandai merangkai kata.
Tidak pandai menunjukkan rasa.
Tidak pandai menghibur.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
diamnya bukan lagi sekadar kebiasaan.
Melainkan bentuk cinta yang paling jujur.
Di kejauhan,
dari bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa kembali melihat rumah itu.
Tatapannya jatuh pada Sastro yang sedang menggendong Arga.
Lelaki tua itu menghela napas panjang.
Lalu berbisik pada angin senja.
“Kadang...”
“yang paling sulit bukan membesarkan anak yang berbeda.”
Ia menatap Sastro lebih lama.
“Melainkan menjadi ayah yang harus rela kehilangannya.”
Angin sore berembus pelan.
Dan tanpa tahu apa yang sedang menanti,
Sastro memeluk Arga sedikit lebih erat.
BAB 7
Bayangan di Jendela
Malam turun perlahan di Desa Wringinrejo seperti kain hitam yang dibentangkan pelan-pelan di atas langit.
Suara burung petang menghilang satu per satu.
Sawah di belakang rumah berubah menjadi hamparan gelap yang nyaris tak berbentuk.
Angin malam berembus tipis melewati rumpun bambu di tepi pematang, menimbulkan suara gesekan panjang yang terdengar seperti bisikan orang-orang yang berbicara terlalu pelan untuk dipahami.
Rumah kecil di pinggir sawah itu kembali tenggelam dalam cahaya lampu minyak.
Api kecil di dalam kaca lampu menari pelan, membuat bayangan di dinding bergerak seperti makhluk hidup yang sedang bernapas.
Sukmawati sedang duduk di lantai dekat dipan sambil melipat kain-kain kecil milik Arga.
Sastro duduk di beranda memperbaiki anyaman keranjang bambu yang mulai rusak.
Dan Arga tertidur di dalam ayunan kain yang digantung di sudut kamar.
Untuk sesaat,
malam itu tampak biasa.
Terlalu biasa.
Dan justru karena itulah,
ketika sesuatu berubah,
perubahannya terasa begitu jelas.
Arga mulai gelisah lebih dulu.
Tubuh kecilnya bergerak pelan dalam ayunan.
Jari-jari mungilnya menggenggam udara.
Kelopak matanya berkedut.
Sukmawati menoleh.
Ia tersenyum kecil.
“Mau bangun ya?”
Ia berdiri, lalu mengayun perlahan kain ayunan itu.
Namun Arga tidak langsung tenang.
Malah sebaliknya.
Mata kecil itu terbuka perlahan.
Dan seperti beberapa malam sebelumnya,
Arga tidak menangis.
Ia hanya menatap.
Ke arah jendela.
Sukmawati mengikuti arah tatapan anaknya.
Jendela kayu itu setengah tertutup.
Di baliknya hanya ada gelap halaman.
Pohon mangga.
Dan langit malam yang samar.
Tidak ada siapa-siapa.
Sukmawati kembali mengayun.
“Tidur lagi, Nak...”
Namun Arga tetap menatap ke sana.
Tak berkedip.
Wajah kecilnya serius.
Seolah ada sesuatu di balik jendela yang sedang memanggil perhatiannya.
Sukmawati mulai merasa dingin merambat pelan di tengkuknya.
“Mas...”
Sastro masuk dari beranda.
“Ada apa?”
Sukmawati menoleh ke arah jendela.
“Dia lagi.”
Sastro mendekat.
Melihat Arga yang terus menatap keluar.
Sastro berusaha tersenyum.
“Mungkin dia melihat bayangan daun.”
“Tidak.”
Sukmawati menggeleng.
“Bukan seperti itu.”
Sastro hendak menjawab,
ketika tiba-tiba,
Arga tersenyum.
Pelan.
Ke arah jendela.
Sukmawati langsung mundur satu langkah.
“Mas...”
Sastro ikut membeku.
Senyum itu bukan senyum biasa.
Bukan senyum bayi dalam tidur.
Bukan gerakan refleks.
Senyum itu seperti senyum seseorang
yang mengenali wajah lama.
Dan selama beberapa detik,
tak satu pun dari mereka berani bergerak.
Angin tiba-tiba berembus dari luar.
Jendela yang semula diam bergoyang kecil.
Tok.
Tok.
Tok.
Suara kayu mengetuk pelan.
Sukmawati menggenggam lengan suaminya.
“Mas... tolong tutup.”
Sastro menelan ludah.
Ia mendekati jendela dengan langkah hati-hati.
Di luar hanya gelap.
Pohon mangga bergerak pelan.
Bayangan daunnya bergoyang di tanah.
Tidak ada siapa-siapa.
Sastro menarik napas.
Lalu menutup jendela rapat.
“Tidak ada apa-apa.”
Namun ketika ia menoleh,
Arga kini menangis.
Tangis itu tidak keras.
Justru pelan.
Lirih.
Seperti suara kehilangan.
Sukmawati segera menggendong anaknya.
“Sudah... sudah... Ibu di sini...”
Arga terus menangis kecil sambil menatap jendela yang kini tertutup.
Seolah sesuatu baru saja pergi.
Sukmawati memeluknya erat.
Wajahnya pucat.
“Mas... dia seperti sedang melihat seseorang.”
Sastro diam.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak lagi punya jawaban untuk menenangkan istrinya.
Karena di dalam dirinya sendiri,
rasa takut itu mulai tumbuh.
Perlahan.
Diam-diam.
Tapi nyata.
Malam semakin larut.
Setelah lama digendong, Arga akhirnya tertidur di pelukan ibunya.
Tangisnya berhenti.
Napasnya kembali tenang.
Namun Sukmawati tidak bisa tidur.
Ia duduk bersandar di dipan sambil memeluk anaknya.
Matanya terus memandang jendela.
Sastro duduk di dekat pintu.
Tidak tidur.
Tidak bicara.
Hanya diam.
Api lampu minyak bergerak pelan.
Membuat bayangan panjang di dinding.
Waktu terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Sampai kemudian,
tok.
Suara kecil terdengar lagi.
Sukmawati menahan napas.
Tok.
Lebih jelas kali ini.
Dari arah jendela.
Sastro langsung berdiri.
Tok.
Tok.
Seperti ada ujung jari mengetuk pelan dari luar.
Sukmawati menggigil.
“Mas...”
Sastro mengambil lampu minyak.
Lalu berjalan perlahan ke jendela.
Tangannya gemetar ketika membuka sedikit daun kayu itu.
Gelap.
Hanya halaman kosong.
Namun di kaca jendela,
sesaat sebelum ia menutupnya lagi,
Sastro melihat sesuatu.
Sebuah bayangan.
Samar.
Seperti sosok seseorang berdiri di belakang pantulan dirinya sendiri.
Sastro tersentak mundur.
Lampu minyak hampir jatuh dari tangannya.
“Mas!”
Sukmawati berdiri.
“Ada apa?”
Sastro memandang jendela dengan napas memburu.
Wajahnya pucat.
“Mas?”
Sastro menelan ludah.
Lalu berbisik pelan:
“Aku...”
“Aku seperti melihat orang.”
Sukmawati langsung memeluk Arga erat.
“Siapa?”
Sastro menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Udara seperti menebal.
Arga membuka mata perlahan.
Dan lagi-lagi,
bukan menangis.
Ia justru menatap ke arah jendela,
lalu tersenyum kecil.
Senyum yang membuat darah Sastro terasa dingin.
Pagi harinya,
tanpa menunggu matahari tinggi,
Sastro pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tetua tua itu berada di ujung desa,
tertutup semak dan pohon bambu.
Orang-orang jarang datang ke sana.
Pintu rumah terbuka sedikit.
Seolah lelaki tua itu sudah tahu siapa yang datang.
“Mbah...”
panggil Sastro.
Dari dalam terdengar suara berat.
“Masuklah.”
Sastro masuk perlahan.
Mbah Jayarasa duduk di tikar pandan.
Seolah sudah menunggu.
Tanpa menoleh,
ia berkata pelan:
“Bayangan itu datang lagi?”
Sastro membeku.
“Mbah sudah tahu?”
Mbah Jayarasa menutup matanya.
“Beberapa pintu...”
“tidak pernah benar-benar tertutup.”
Sastro melangkah mendekat.
“Siapa yang datang ke rumah saya?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya tenang.
Terlalu tenang.
“Bukan siapa.”
Sastro mengernyit.
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menatap lurus ke matanya.
“Tapi sesuatu.”
Sastro menelan ludah.
“Kenapa datang ke anak saya?”
Mbah Jayarasa menghela napas panjang.
Karena...”
ia memandang ke luar jendela,
“anakmu bisa melihat apa yang orang lain lupakan.”
Ruangan mendadak sunyi.
Sastro merasa tenggorokannya kering.
“Mbah...”
“Apa sebenarnya anak saya?”
Mbah Jayarasa menatapnya lama sekali.
Lalu berkata pelan:
“Seorang anak yang lahir dengan dua langit di matanya.”
Di rumah kecil pinggir sawah itu,
Sukmawati masih memeluk Arga.
Dan tanpa tahu apa yang baru saja didengar suaminya,
ia hanya bisa menatap wajah kecil anaknya dengan hati yang semakin gelisah.
Karena kini ia mulai sadar,
bayi itu bukan hanya membawa kehidupan baru ke rumah mereka.
Ia juga membawa sesuatu
yang sejak lama tertidur di desa itu.
Dan malam sebelumnya,
sesuatu itu
telah mulai mengetuk jendela.
BAB 8
Cerita Para Sesepuh
Pagi setelah malam yang penuh bayangan itu datang dengan langit yang tampak terlalu cerah.
Matahari naik perlahan di atas hamparan sawah.
Burung-burung kecil melintas rendah.
Kabut yang biasanya menempel di pematang menghilang lebih cepat dari biasanya.
Namun di dalam hati Sastro,
malam masih belum selesai.
Langkahnya pulang dari rumah Mbah Jayarasa terasa lebih berat daripada ketika ia datang.
Kalimat lelaki tua itu terus berputar di kepalanya.
“Anakmu lahir dengan dua langit di matanya.”
Sastro tidak sepenuhnya mengerti.
Tetapi entah mengapa,
hatinya percaya bahwa itu bukan sekadar kalimat untuk menakut-nakuti.
Ia berjalan melewati jalan tanah desa dengan pikiran kacau.
Suara orang-orang yang sedang menyapu halaman terdengar samar.
Anak-anak kecil berlari tanpa alas kaki.
Ibu-ibu menimba air di sumur umum.
Dunia berjalan seperti biasa.
Hanya hidupnya yang mulai terasa berubah.
Ketika sampai di rumah, Sukmawati sedang duduk di beranda sambil menggendong Arga yang baru selesai disusui.
Melihat wajah suaminya, ia langsung tahu ada sesuatu.
“Kau dari mana?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Ia duduk di anak tangga kayu.
Menatap sawah.
“Ke rumah Mbah Jayarasa.”
Sukmawati terdiam.
“Untuk apa?”
Sastro mengusap wajahnya.
“Aku ingin tahu tentang semalam.”
Sukmawati memeluk Arga lebih erat.
“Lalu?”
Sastro menoleh.
Matanya lelah.
“Dia bilang Arga bisa melihat sesuatu yang orang lain tidak bisa lihat.”
Sukmawati menunduk.
Seolah sebenarnya sebagian dari dirinya sudah menduga.
“Mas...”
“Dan dia bilang...”
Sastro berhenti sejenak.
“Arga lahir dengan dua langit di matanya.”
Angin pagi lewat pelan di antara mereka.
Tak ada yang bicara selama beberapa saat.
Arga membuka matanya.
Menatap wajah kedua orang tuanya bergantian.
Diam.
Sukmawati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Kalau memang benar...”
suaranya nyaris berbisik,
“apakah itu buruk?”
Sastro menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu.”
“Lalu?”
Sastro menatap anaknya.
“Yang aku tahu...”
“dia tetap anak kita.”
Mata Sukmawati mulai berkaca-kaca.
Ia mengangguk pelan.
Namun jauh di dalam hatinya,
ketakutan kecil mulai tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar.
Menjelang siang, kabar tentang kejadian di rumah Sastro rupanya mulai menyebar ke seluruh desa.
Di desa kecil seperti Wringinrejo,
rahasia jarang bertahan lama.
Apalagi jika melibatkan:
bayi,
pertanda langit,
dan cerita yang tidak biasa.
Menjelang dhuhur, satu per satu orang tua desa mulai datang.
Bukan karena ingin ikut campur.
Tetapi karena rasa ingin tahu yang dibungkus kepedulian.
Yang pertama datang adalah Mbah Kromo, lelaki tua berusia hampir delapan puluh tahun yang dikenal sebagai penjaga langgar tua di ujung desa.
Kemudian menyusul Mbah Wiranti, perempuan sepuh yang hampir tak pernah keluar rumah kecuali untuk hal penting.
Dan tak lama kemudian,
Mbah Jayarasa sendiri datang,
berjalan pelan dengan tongkat kayunya.
Sastro mempersilakan mereka duduk di ruang depan.
Suasana rumah kecil itu mendadak terasa penuh.
Penuh usia.
Penuh diam.
Penuh sesuatu yang tak terucapkan.
Sukmawati duduk di pojok sambil menggendong Arga.
Wajahnya cemas.
Tak ada yang langsung bicara.
Para sesepuh hanya menatap Arga bergantian.
Seolah sedang membaca sesuatu yang tertulis di wajah kecil itu.
Akhirnya Mbah Kromo yang membuka suara.
“Sudah lama sekali desa ini tidak melihat tanda seperti itu.”
Sastro menatapnya.
“Tanda apa, Mbah?”
Mbah Kromo menoleh ke arah jendela.
“Langit terbelah tanpa suara.”
Mbah Wiranti menimpali pelan.
“Dulu pernah terjadi.”
Sukmawati menelan ludah.
“Kapan?”
Mbah Wiranti memejamkan mata sebentar.
“Puluhan tahun lalu.”
“Waktu itu,” lanjutnya,
“seorang anak juga lahir saat malam seperti itu.”
Sastro duduk tegak.
“Siapa?”
Ruangan mendadak hening.
Tak satu pun langsung menjawab.
Lalu Mbah Jayarasa berkata pelan:
“Ayahku.”
Sastro tertegun.
Sukmawati ikut menatap lelaki tua itu.
Mbah Jayarasa melanjutkan dengan suara rendah.
“Orang-orang bilang ayahku bisa melihat apa yang tidak terlihat.”
“Bisa mendengar yang tidak terdengar.”
“Dan kadang...”
ia menatap saja,
“bisa mengetahui sesuatu sebelum terjadi.”
Sukmawati memeluk bayinya lebih erat.
“Lalu bagaimana hidupnya?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Tidak mudah.”
Mbah Kromo mengangguk.
“Orang yang melihat terlalu banyak...”
“jarang hidup tenang.”
Sastro mengerutkan kening.
“Mbah, jangan bicara seperti itu.”
Mbah Kromo menatapnya lembut.
“Kami bukan mau menakutimu.”
“Kami hanya ingin kau mengerti.”
Sastro diam.
Mbah Wiranti lalu berkata lirih:
“Tidak semua anak lahir hanya untuk menjalani hidupnya sendiri.”
“Sebagian lahir untuk menyelesaikan sesuatu yang sudah lama tertunda.”
Sukmawati menggigil.
“Maksudnya?”
Mbah Wiranti memandang Arga.
“Ada darah yang membawa ingatan.”
“Ada jiwa yang lahir membawa beban.”
Sastro menggeleng.
“Saya tidak percaya anak kecil membawa beban apa pun.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Setiap anak membawa sesuatu.”
“Sebagian membawa harapan.”
“Sebagian membawa luka.”
“Sebagian...”
ia menatap Arga lama,
“membawa keduanya.”
Arga yang sejak tadi diam,
tiba-tiba membuka mata.
Lalu menatap Mbah Jayarasa.
Untuk beberapa detik,
lelaki tua itu membeku.
Karena sekali lagi,
tatapan bayi itu tidak terasa seperti tatapan bayi.
Melainkan seperti seseorang
yang sedang mengenali.
Mbah Jayarasa menarik napas pelan.
“Dia tahu.”
Sastro langsung menoleh.
“Tahu apa?”
Namun Mbah Jayarasa tidak menjawab.
Ia hanya mengulurkan jari tuanya ke arah Arga.
Ajaibnya,
Arga mengangkat tangan kecilnya.
Lalu menggenggam jari tua itu.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Mbah Wiranti memejamkan mata.
Mbah Kromo beristigfar pelan.
Sukmawati hampir menitikkan air mata.
Mbah Jayarasa menatap bayi itu lama sekali.
Kemudian bibirnya bergetar pelan.
“Wajah yang sama...”
Sastro langsung berdiri.
“Wajah siapa?”
Mbah Jayarasa tersadar.
Ia melepaskan genggaman kecil itu.
“Tidak apa.”
“Tapi Mbah tadi bilang, ”
“Tidak semua cerita harus dibuka terlalu cepat.”
Kalimat itu membuat Sastro frustrasi.
“Kenapa semua orang bicara setengah-setengah?”
Mbah Kromo menatapnya lembut.
“Karena beberapa kebenaran...”
“lebih berat daripada ketidaktahuan.”
Siang bergeser menuju sore.
Sebelum pulang, Mbah Wiranti meletakkan seuntai benang hitam kecil di dekat bantal Arga.
“Untuk apa ini?” tanya Sukmawati.
“Bukan jimat.”
jawab perempuan tua itu.
“Hanya pengingat.”
“Pengingat apa?”
Mbah Wiranti tersenyum tipis.
“Bahwa tidak semua yang tak terlihat harus ditakuti.”
Mbah Kromo berdiri pelan.
“Jaga anakmu.”
katanya pada Sastro.
“Dan jaga rumah ini.”
Sastro mengangguk.
“Dari apa?”
Mbah Kromo menatap langit sore.
“Dari kenangan yang mungkin akan pulang.”
Satu per satu para sesepuh pergi.
Rumah kecil itu kembali sepi.
Namun suasananya tidak lagi sama.
Karena kini,
bukan hanya Sastro dan Sukmawati yang tahu bahwa Arga berbeda.
Orang-orang tua di desa itu pun mulai mengingat sesuatu
yang selama bertahun-tahun mereka pilih untuk dilupakan.
Sore turun pelan.
Sukmawati duduk di dekat jendela sambil memeluk Arga.
Memandangi sawah yang perlahan berubah keemasan.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Kalau semua yang mereka katakan benar...”
suara Sukmawati gemetar,
“apakah hidupnya akan berat?”
Sastro menatap anaknya.
Lalu berkata pelan,
“Kalau memang hidupnya berat...”
“biar aku yang memikul sebagian.”
Sukmawati menatap suaminya dengan mata basah.
Di luar,
angin sore menggerakkan padi-padi muda seperti lautan hijau.
Dan di dalam rumah kecil pinggir sawah itu,
tanpa benar-benar menyadarinya,
sebuah kisah lama mulai bangkit kembali
melalui mata seorang bayi
yang baru beberapa hari mengenal dunia.
BAB 9
Jejak Kecil di Tanah Basah
Hujan turun sejak dini hari.
Bukan hujan deras yang datang dengan amarah petir, melainkan gerimis panjang yang seolah sengaja diturunkan langit untuk membasahi desa perlahan-lahan. Atap genteng rumah Sastro meneteskan suara yang teratur. Tanah di halaman berubah lembek. Pematang sawah menjadi licin. Dan aroma lumpur basah memenuhi udara seperti kenangan lama yang baru saja dibuka kembali.
Desa Wringinrejo selalu tampak berbeda setelah hujan.
Warna daun menjadi lebih hidup.
Batang bambu tampak lebih gelap.
Kabut turun lebih rendah.
Dan suara dunia seolah lebih pelan.
Pagi itu, Sukmawati membuka pintu rumah sedikit untuk membiarkan udara dingin masuk. Ia menggendong Arga di dadanya dengan kain jarik yang diikat rapi, sementara tangan satunya memegang sapu lidi untuk membersihkan genangan kecil di beranda.
Arga terbangun sejak subuh.
Seperti biasanya,
ia tidak rewel.
Ia hanya diam dalam gendongan ibunya,
memandangi dunia di sekelilingnya dengan mata tenang yang membuat Sukmawati kadang lupa bahwa anak itu masih terlalu kecil untuk memahami apa pun.
“Lihat...”
bisik Sukmawati sambil menunjuk halaman.
“Itu hujan semalam.”
Arga memandang ke luar.
Ke tanah basah.
Ke rumput yang menunduk.
Ke tetesan air yang masih bergantung di ujung daun pisang.
Mata kecilnya berkedip perlahan.
Seolah setiap hal yang sederhana bagi orang dewasa,
terlihat berbeda di matanya.
Sastro pulang lebih cepat dari sawah pagi itu karena hujan membuat tanah terlalu becek untuk dikerjakan.
Ia masuk sambil membawa cangkul di bahu dan celana yang penuh lumpur.
Sukmawati menoleh.
“Cepat sekali pulangnya.”
“Hari ini sawah tak bisa disentuh.”
Sastro meletakkan cangkul di sudut.
“Kalau dipaksa malah rusak.”
Lalu matanya tertuju pada Arga.
Bayi itu sedang memandang keluar pintu.
Diam.
Seperti selalu.
Sastro tersenyum tipis.
“Dia suka melihat hujan?”
Sukmawati mengangguk.
“Dari tadi begitu.”
Sastro mendekat.
Untuk beberapa saat ia ikut berdiri di samping istrinya,
memandangi halaman kecil mereka yang basah.
Tidak ada suara selain tetes air dari atap.
Sastro menatap Arga.
“Anak ini aneh ya.”
Sukmawati menoleh.
“Kenapa bilang begitu?”
“Bayi lain menangis.”
“Dia malah seperti sedang berpikir.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Mungkin dia memang sedang berpikir.”
Sastro ikut tersenyum.
Namun di balik senyum itu,
ada sesuatu yang masih tersimpan:
kegelisahan yang belum pergi sejak para sesepuh datang kemarin.
Menjelang siang hujan berhenti.
Awan mulai menipis.
Cahaya matahari perlahan jatuh di tanah basah hingga halaman rumah tampak berkilau.
Sukmawati menjemur kain bayi di samping rumah.
Sastro memperbaiki pagar bambu yang sempat roboh tertiup angin malam.
Arga diletakkan di atas tikar kecil di dekat pintu agar tetap bisa diawasi.
Sesekali bayi itu menggerakkan tangan kecilnya,
menyentuh udara.
Lalu untuk pertama kalinya sejak lahir,
Arga mencoba membalikkan tubuhnya sendiri.
Sukmawati menoleh cepat.
“Mas!”
Sastro menghentikan pekerjaannya.
“Ada apa?”
“Lihat!”
Arga bergerak pelan,
miring,
lalu tubuh kecil itu berhasil bergeser sedikit.
Sukmawati tersenyum lebar.
“Dia mulai bergerak.”
Sastro mendekat.
Memandangi putranya dengan wajah tak percaya.
“Cepat sekali?”
Sukmawati tertawa bahagia.
“Memang waktunya.”
Arga menatap ayahnya.
Lalu,
dengan gerakan kecil yang kikuk,
ia mengulurkan tangan ke arah tanah di dekat tikar.
Jari mungil itu menyentuh lumpur tipis yang terbawa angin ke teras.
Menyentuh.
Meremas.
Lalu tertawa kecil.
Sukmawati langsung panik.
“Eh, jangan!”
Ia hendak membersihkan tangan anaknya,
tetapi Sastro menahan.
“Biarkan.”
Sukmawati menoleh.
“Mas?”
Sastro menatap Arga.
“Biarkan dia mengenal tanah.”
Sukmawati diam.
Arga kembali menyentuh tanah basah itu.
Pelan.
Seolah sedang merasakan sesuatu.
Mungkin bagi bayi lain itu hanya lumpur.
Tetapi bagi Arga,
seolah tanah itu menyimpan sesuatu yang bisa ia kenali.
Sore harinya, Sukmawati menggendong Arga ke halaman belakang.
Tanah masih lembek oleh hujan.
Rumput basah.
Udara dingin.
Sawah di belakang memantulkan langit kelabu.
Sukmawati ingin menjemur anaknya sebentar di bawah sinar matahari sore.
Ia duduk di bangku kayu kecil.
Lalu menurunkan kaki Arga perlahan agar menyentuh tanah.
“Hanya sebentar.”
bisiknya.
“Biar kakimu kenal bumi.”
Arga tentu belum bisa berdiri.
Namun kaki kecil itu menyentuh tanah basah dengan lembut.
Dan ketika Sukmawati mengangkatnya kembali,
sesuatu membuatnya terdiam.
Di tanah lembek itu,
tertinggal bekas kecil.
Jejak kaki Arga.
Sangat kecil.
Sangat halus.
Namun bentuknya jelas.
Sukmawati tersenyum sendiri.
Ia hendak memanggil Sastro.
Tapi langkahnya terhenti.
Karena di samping jejak kecil itu,
ada satu bekas lain.
Bekas telapak kaki.
Lebih besar.
Samar.
Seperti seseorang berdiri sangat dekat di sebelah anaknya.
Sukmawati membeku.
Napasnya tercekat.
Ia menunduk cepat.
Memandang sekeliling.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya sawah.
Angin.
Dan suara burung sore dari kejauhan.
Namun bekas itu nyata.
Jelas di tanah basah.
Sukmawati mundur cepat sambil memeluk Arga erat.
“Mas!”
Suaranya bergetar.
Sastro berlari dari depan rumah.
“Ada apa?”
Sukmawati menunjuk tanah.
“Lihat!”
Sastro mendekat.
Memandang tanah basah itu.
Jejak kecil milik Arga masih terlihat.
Dan di sampingnya,
bekas samar itu.
Wajah Sastro langsung berubah.
Ia berlutut.
Menyentuh tanah.
Masih lembek.
Bekas itu baru.
Sangat baru.
Sukmawati memeluk Arga erat.
“Siapa itu?”
Sastro menoleh pelan.
Matanya gelap.
“Aku tidak tahu.”
“Tapi tadi tidak ada siapa-siapa.”
Sastro berdiri cepat.
Memandangi sekitar rumah.
Tak ada orang.
Tak ada langkah.
Tak ada suara.
Namun rasa dingin perlahan menjalar ke seluruh tubuhnya.
Arga justru diam.
Ia menatap jejak di tanah itu.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang membuat Sukmawati semakin menggigil.
Malamnya, Sastro kembali mendatangi Mbah Jayarasa.
Begitu melihat wajah Sastro,
lelaki tua itu tidak tampak terkejut.
“Kali ini apa?”
Sastro berkata pelan:
“Jejak.”
Mbah Jayarasa mengangkat mata.
“Jejak kecil anakku...”
“dan satu jejak lain di sampingnya.”
Mbah Jayarasa menutup mata.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata pelan:
“Kadang...”
“anak yang lahir berbeda tidak pernah benar-benar berjalan sendirian.”
Sastro menggenggam tangannya.
“Mbah, siapa yang mengikuti anak saya?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya tajam.
“Mungkin bukan mengikuti.”
Sastro terdiam.
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menjawab pelan:
“Mungkin sedang menunggu.”
Malam itu,
Sastro pulang dengan hati yang jauh lebih berat.
Di rumah kecil pinggir sawah,
Sukmawati sudah tertidur sambil memeluk Arga.
Lampu minyak menyala redup.
Sastro berdiri di dekat dipan,
memandangi anaknya lama sekali.
Wajah kecil itu tampak damai.
Tak terlihat berbeda dari bayi lain.
Namun kini Sastro mulai mengerti,
bahwa kehidupan Arga tidak akan pernah benar-benar biasa.
Karena bahkan sebelum ia bisa berjalan,
sesuatu
telah meninggalkan jejak
di samping langkah pertamanya.
BAB 10
Hujan Pertama
Musim hujan datang lebih awal tahun itu.
Di Desa Wringinrejo, orang-orang tua sering mengatakan bahwa hujan tidak pernah benar-benar turun tanpa membawa pesan. Kadang ia datang sebagai berkah untuk sawah. Kadang sebagai penghapus jejak. Dan kadang, bagi mereka yang peka, hujan adalah cara langit menyampaikan sesuatu yang tak sanggup diucapkan bumi.
Sastro tidak pernah terlalu percaya pada hal-hal semacam itu.
Namun sejak Arga lahir, ia mulai percaya.
Pagi itu langit sudah mendung sejak fajar. Awan kelabu menggantung rendah di atas sawah. Angin bertiup pelan membawa aroma tanah yang belum sempat basah namun seolah sudah tahu hujan akan datang.
Di beranda rumah kecil pinggir sawah itu, Sukmawati sedang menjemur kain-kain kecil milik Arga meskipun tahu matahari mungkin tak akan muncul lama. Ia hanya ingin kain itu sempat terkena udara pagi.
Di dalam rumah, Arga terbaring di tikar pandan.
Matanya terbuka.
Ia memandang langit melalui celah jendela.
Diam.
Seperti sedang menunggu sesuatu.
Sukmawati memperhatikannya sambil tersenyum tipis.
“Sejak tadi kau melihat langit terus.”
Ia masuk, duduk di dekat anaknya, lalu mengusap lembut dahinya.
“Mau hujan ya?”
Arga berkedip pelan.
Lalu, seolah menjawab pertanyaan ibunya, tetes pertama jatuh di atap rumah.
Tok.
Disusul satu lagi.
Tok.
Lalu tiba-tiba seluruh langit seperti pecah.
Hujan turun deras.
Suara air memenuhi rumah.
Atap tanah liat berbunyi bertalu-talu.
Halaman berubah basah dalam sekejap.
Sawah di belakang tertutup tirai hujan tipis yang membuat dunia tampak samar.
Arga tidak menangis.
Ia justru tersenyum.
Sukmawati terdiam.
“Mas...”
Sastro yang sedang merapikan karung padi di dapur menoleh.
“Ada apa?”
“Lihat dia.”
Sastro mendekat.
Arga benar-benar sedang tersenyum.
Bukan sekadar gerakan bibir bayi.
Tetapi senyum kecil yang tenang.
Seolah suara hujan itu bukan sesuatu yang asing baginya.
Sastro memandangi anaknya.
Lalu jendela.
Lalu kembali pada anaknya.
“Dia suka hujan.”
Sukmawati menatap wajah kecil itu dengan heran.
“Seperti mengenal.”
Kalimat itu membuat Sastro diam.
Karena entah mengapa,
ia pun merasakan hal yang sama.
Hujan terus turun sepanjang pagi.
Tak ada orang lewat.
Tak ada suara dari jalan desa.
Hanya bunyi air,
angin,
dan sesekali gemuruh jauh dari langit yang tertahan.
Rumah kecil itu seperti terpisah dari dunia.
Sukmawati menggendong Arga dekat jendela.
“Dengar...”
bisiknya.
“Itu suara hujan.”
Arga memandang keluar.
Mata kecilnya mengikuti aliran air yang jatuh dari ujung atap.
Tangannya bergerak pelan,
seolah ingin menyentuh.
Sukmawati tertawa kecil.
“Belum bisa.”
Namun Arga tetap mengulurkan jemarinya.
Menyentuh udara.
Menyentuh suara.
Menyentuh sesuatu yang hanya ia rasakan sendiri.
Sastro memperhatikan dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang membuat dadanya sesak:
Arga tampak tenang hanya saat hujan turun.
Seolah di antara semua suara di dunia,
hanya hujan yang bisa berbicara dalam bahasa yang dipahami anak itu.
Menjelang siang, hujan belum juga reda.
Kabut tipis mulai naik dari sawah.
Udara di dalam rumah menjadi dingin.
Lampu minyak terpaksa dinyalakan lebih awal.
Sukmawati mulai merasa khawatir.
“Kalau terus begini, dia bisa masuk angin.”
Ia hendak menutup jendela.
Namun tiba-tiba Arga menangis.
Tangisnya tidak keras.
Tapi cukup membuat Sukmawati terkejut.
“Lho...”
Ia berhenti.
Tangis itu berhenti juga.
Begitu jendela dibuka kembali.
Sukmawati menatap anaknya.
Arga kembali diam.
Matanya tertuju pada hujan.
Sukmawati menelan ludah.
“Mas...”
Sastro mendekat.
“Kenapa?”
“Dia menangis waktu jendelanya kututup.”
Sastro memandang Arga.
Lalu perlahan ia mencoba menutup jendela sendiri.
Begitu kayu jendela menutupi suara hujan,
Arga menangis lagi.
Kali ini lebih jelas.
Sastro langsung membukanya.
Tangis berhenti.
Seketika.
Suasana rumah mendadak sunyi kecuali suara hujan di luar.
Sukmawati memandang suaminya.
Wajahnya pucat.
“Mas...”
Sastro tak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia melihat dengan matanya sendiri
bahwa anak mereka memang berbeda.
Sore harinya hujan mulai mereda.
Bukan berhenti.
Hanya berubah menjadi gerimis halus.
Sastro duduk di beranda sambil memangku Arga.
Sukmawati di sampingnya.
Mereka bertiga memandangi sawah yang berkilau basah diterpa sisa cahaya sore.
Arga tidak bergerak.
Ia mendengarkan.
Mendengarkan tetes-tetes kecil dari ujung daun.
Mendengarkan air yang jatuh ke tanah.
Mendengarkan suara yang tak dianggap penting oleh siapa pun.
“Mas...”
bisik Sukmawati.
“Menurutmu kenapa?”
Sastro menatap hujan.
“Aku tidak tahu.”
“Apakah dia...”
Sukmawati tak sanggup menyelesaikan kalimatnya.
Sastro menatap anaknya.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin setiap orang lahir dengan sesuatu.”
“Dan mungkin...”
“hujan adalah sesuatu miliknya.”
Sukmawati memandang Arga dengan mata basah.
“Kalau begitu...”
“apa dunia akan menerimanya?”
Sastro diam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Kalau dunia tidak mau...”
“biar rumah ini yang menerimanya.”
Sukmawati menunduk.
Tangannya menggenggam tangan suaminya.
Sementara Arga menatap hujan,
seolah di balik gerimis yang turun perlahan,
ada dunia lain
yang sedang menyapanya.
Malam datang bersama sisa rintik.
Setelah Arga tertidur,
Sastro keluar sebentar ke halaman.
Tanah masih basah.
Udara dingin.
Bulan tertutup awan.
Ia berdiri di dekat pohon mangga,
memandangi rumahnya sendiri.
Rumah kecil.
Sederhana.
Rapuh.
Tapi kini di dalamnya ada seorang anak
yang bahkan hujan pun seolah mengenalnya.
“Masih belum percaya?”
Suara itu datang dari gelap.
Sastro menoleh.
Mbah Jayarasa berdiri di batas halaman,
setengah tertutup bayangan malam.
Sastro menghela napas.
“Mbah.”
Mbah Jayarasa melangkah pelan.
“Anakmu mendengar hujan, bukan?”
Sastro terdiam.
“Bagaimana Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa tersenyum tipis.
“Karena dulu...”
“aku pernah melihat anak seperti itu.”
“Siapa?”
Mbah Jayarasa memandang langit.
“Orang yang hidupnya tidak pernah benar-benar selesai.”
Sastro merinding.
“Mbah selalu bicara seperti teka-teki.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Karena hidup anakmu sendiri adalah teka-teki.”
Sastro menggenggam tangannya.
“Apakah dia dalam bahaya?”
Mbah Jayarasa memandang jendela kamar tempat Arga tidur.
Lalu menjawab pelan:
“Belum.”
Sastro tercekat.
“Belum?”
Mbah Jayarasa mengangguk.
“Hujan pertama hanya tanda.”
Sastro menahan napas.
“Tanda apa?”
Mbah Jayarasa menatap langsung ke matanya.
“Tanda bahwa sesuatu di langit...”
“sudah mulai mengingatnya.”
Malam itu Sastro tak bisa tidur.
Di dalam rumah kecil pinggir sawah,
ia duduk di samping Arga yang tertidur tenang.
Di luar,
rintik hujan masih jatuh perlahan.
Dan setiap tetes yang menyentuh atap,
entah mengapa terdengar seperti sebuah panggilan
yang belum sepenuhnya dipahami siapa pun.
Sementara di wajah kecil Arga,
tersungging senyum samar.
Seolah dalam tidurnya,
ia sedang mendengar hujan
menceritakan sesuatu
yang pernah ia kenal
sebelum dilahirkan ke dunia.
BAB 11
Sahabat Pertama
Waktu berjalan seperti air di sungai kecil belakang desa.
Pelan.
Nyaris tak terasa.
Namun diam-diam membawa banyak hal pergi.
Musim hujan berganti kemarau.
Kemarau berganti hujan lagi.
Padi di sawah tumbuh, menguning, dipanen, lalu ditanam kembali.
Pohon mangga di depan rumah kecil itu beberapa kali berbunga dan menjatuhkan daun.
Dan tanpa benar-benar disadari Sastro maupun Sukmawati,
Arga tidak lagi hanya seorang bayi yang tidur di pelukan ibunya.
Ia mulai belajar duduk.
Mulai merangkak.
Mulai berdiri sambil berpegangan pada dinding kayu.
Dan kemudian,
pada suatu pagi yang sederhana,
ia mulai berjalan.
Langkah pertamanya tidak terjadi di depan banyak orang.
Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada perayaan.
Tidak ada saksi selain kedua orang tuanya dan cahaya pagi yang masuk dari jendela.
Namun bagi Sastro dan Sukmawati,
langkah kecil itu terasa seperti dunia baru yang sedang dibuka.
Arga melangkah dari dipan menuju pelukan ibunya.
Satu langkah.
Lalu satu lagi.
Tubuh kecil itu sempoyongan.
Tangannya terangkat menjaga keseimbangan.
Kakinya gemetar.
Sukmawati berjongkok dengan kedua tangan terbuka.
“Pelan-pelan...”
bisiknya dengan mata berkaca.
“Pelan saja, Nak.”
Arga menatap ibunya.
Lalu melangkah lagi.
Dan ketika tubuh kecil itu akhirnya jatuh ke pelukan Sukmawati,
perempuan itu langsung menangis sambil tertawa.
“Mas... dia bisa...”
Sastro yang berdiri di dekat pintu hanya tersenyum kecil.
Ia tidak banyak bicara.
Namun di dalam dadanya,
sesuatu terasa penuh.
Arga menoleh pada ayahnya.
Lalu tertawa kecil.
Sastro mengusap wajahnya cepat,
seolah takut terlihat terlalu haru.
“Ya sudah.”
katanya singkat.
“Besok pasti lari.”
Sukmawati menoleh sambil tersenyum.
“Kadang aku heran.”
“Heran apa?”
“Cara laki-laki bahagia.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Padahal matamu hampir menangis.”
Sastro berdeham.
“Debu.”
Sukmawati tertawa makin pelan.
“Di dalam rumah?”
Sastro tidak menjawab.
Kadang memang begitu cara seorang ayah mencintai:
diam,
namun dalam.
Sejak bisa berjalan, dunia Arga perlahan meluas.
Tidak lagi hanya kamar.
Tidak lagi hanya pelukan ibu.
Tidak lagi hanya suara hujan.
Kini ada halaman.
Ada rumput.
Ada ayam yang berkeliaran.
Ada daun kering yang bergerak tertiup angin.
Ada kupu-kupu kuning yang sesekali singgah di bunga liar.
Arga menyukai semuanya.
Ia bisa duduk lama hanya untuk melihat semut berjalan beriringan.
Ia bisa tertawa sendiri saat angin menggoyangkan daun.
Ia bisa menatap langit begitu lama sampai Sukmawati berkali-kali memanggil.
“Arga...”
Anak kecil itu menoleh pelan.
“Hmm?”
Sukmawati tersenyum.
“Kau melihat apa?”
Arga mengangkat jarinya ke langit.
“Awan jalan.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Iya, awan memang berjalan.”
Tapi di dalam hatinya,
ia masih sering merasa anak itu melihat lebih banyak daripada yang terlihat.
Anak-anak lain di desa mulai mengenal Arga.
Namun Arga tidak seperti anak seusianya.
Ia tidak langsung berlari mendekat.
Tidak cepat akrab.
Tidak suka berebut mainan.
Tidak suka berteriak.
Ia lebih sering diam.
Mengamati.
Mendengarkan.
Kadang terlalu tenang untuk anak kecil.
Beberapa anak menganggap Arga aneh.
Sebagian hanya malu mendekat.
Sebagian lagi merasa ia terlalu berbeda.
Dan karena itulah,
Sukmawati sempat khawatir.
Suatu sore ketika Arga duduk sendirian di bawah pohon mangga sambil memainkan daun kering, Sukmawati berkata pelan pada Sastro:
“Mas.”
“Hm?”
“Menurutmu dia kesepian?”
Sastro menoleh.
Melihat anaknya duduk sendiri.
“Kenapa?”
“Dia jarang bermain dengan anak lain.”
Sastro memperhatikan Arga lama.
Arga tampak tenang.
Tidak sedih.
Tidak murung.
Hanya sendiri.
“Tidak semua anak nyaman dengan ramai.”
Sukmawati menatap suaminya.
“Seperti ayahnya?”
Sastro tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Namun jauh di dalam hati,
ia pun bertanya-tanya:
apakah Arga memang memilih sendiri,
atau memang belum menemukan orang yang bisa memahaminya.
Jawabannya datang beberapa hari kemudian.
Pagi itu langit cerah.
Sawah di belakang rumah berkilau diterpa matahari.
Burung pipit beterbangan rendah mencari bulir padi yang tertinggal.
Arga sedang bermain di tepi halaman dengan potongan kayu kecil yang ia susun seperti rumah-rumahan.
Sukmawati sedang mencuci di sumur.
Sastro pergi ke sawah.
Suasana tenang.
Lalu terdengar suara kecil dari balik pagar bambu.
“Boleh aku ikut?”
Arga mengangkat kepala.
Di sana berdiri seorang anak perempuan kecil kira-kira sebaya dengannya.
Rambutnya dikepang dua.
Kulitnya sawo matang.
Matanya bulat jernih.
Di tangannya ada bunga liar putih yang baru dipetik.
Ia berdiri sambil menggigit bibir,
seolah takut ditolak.
Arga menatapnya beberapa saat.
Anak perempuan itu tersenyum malu.
“Namaku Ratri.”
Arga diam sebentar.
Lalu menjawab pendek:
“Arga.”
Ratri melangkah mendekat.
“Boleh main?”
Arga melihat susunan kayunya.
Lalu menggeser sedikit tempat di sampingnya.
Isyarat sederhana:
boleh.
Ratri langsung duduk.
Sukmawati yang melihat dari sumur menghentikan tangannya.
Ia memperhatikan diam-diam.
Anak itu putri Pak Lurah, rumahnya di ujung desa.
Namanya Ratri.
Pendiam juga.
Jarang bermain dengan banyak anak.
Mungkin karena itulah,
ia tidak takut pada Arga.
Mereka duduk berdampingan tanpa banyak bicara.
Ratri mengambil satu batang kecil.
“Ini rumah.”
Arga menunjuk daun.
“Ini pohon.”
Ratri tertawa kecil.
“Kalau ini?”
Ia menunjukkan batu kecil.
Arga berpikir sejenak.
“Jalan pulang.”
Ratri menatapnya.
“Jalan pulang?”
Arga mengangguk.
“Supaya rumahnya tahu.”
Ratri tertawa kecil.
“Rumah bisa tahu?”
Arga menatap rumah kecilnya.
Lalu menjawab dengan tenang:
“Kalau ditinggal terlalu lama, rumah bisa sedih.”
Sukmawati yang mendengar dari kejauhan terdiam.
Kadang Arga mengatakan hal-hal yang tidak seharusnya dipikirkan anak kecil.
Namun Ratri tidak menertawakan.
Ia justru mengangguk serius.
“Kalau begitu rumahku juga sering sedih.”
Arga menoleh.
“Kenapa?”
Ratri menunduk.
“Bapak sering pergi.”
Arga diam.
Lalu menyerahkan bunga kuning kecil yang jatuh di dekatnya.
Ratri tersenyum.
Untuk pertama kalinya,
Arga tersenyum kembali.
Sukmawati yang melihat dari jauh,
tanpa sadar ikut tersenyum.
Mungkin akhirnya,
anaknya menemukan seseorang.
Sejak hari itu,
Ratri sering datang.
Kadang pagi.
Kadang sore.
Kadang hanya duduk.
Kadang bermain.
Mereka tidak seperti anak-anak lain yang berlari sambil berteriak.
Mereka lebih sering:
duduk di bawah pohon mangga,
melihat semut,
mendengar angin,
atau membuat rumah-rumahan dari ranting.
Kadang mereka hanya diam.
Namun diam mereka tidak pernah terasa canggung.
Seolah keduanya memang saling mengerti
tanpa perlu banyak kata.
Sukmawati beberapa kali berkata heran,
“Anak itu seperti mengerti Arga.”
Sastro yang melihat dari beranda hanya menjawab,
“Mungkin karena dia juga sendiri.”
Namun di dalam hati,
ia tahu:
yang lahir antara dua anak itu bukan sekadar teman bermain.
Melainkan sesuatu yang akan tumbuh lebih lama dari yang mereka kira.
Sore itu,
ketika matahari mulai turun,
Ratri hendak pulang.
Ia berdiri di dekat pagar.
Lalu menoleh.
“Besok aku datang lagi.”
Arga mengangguk.
“Iya.”
Ratri tersenyum.
“Kamu tunggu?”
Arga menatapnya beberapa saat.
Lalu menjawab pelan:
“Iya.”
Satu kata sederhana.
Namun bagi anak sekecil itu,
itu sudah seperti janji.
Ratri pulang sambil tersenyum kecil.
Arga berdiri di halaman,
memandangi sampai bayangan kecil itu hilang di tikungan jalan.
Sukmawati keluar.
“Mengapa tidak masuk?”
Arga masih menatap jalan.
“Karena besok dia datang lagi.”
Sukmawati tersenyum.
“Jadi harus menunggu dari sekarang?”
Arga menoleh pada ibunya.
Lalu menjawab dengan polos:
“Kalau orang penting pulang...”
“harus ditunggu.”
Sukmawati terdiam.
Entah kenapa,
kalimat sederhana itu terasa seperti pertanda kecil
tentang sesuatu yang suatu hari nanti
akan jauh lebih besar dari sekadar persahabatan masa kecil.
Di kejauhan,
dari bawah pohon asem tua,
Mbah Jayarasa memperhatikan dua jejak kecil di tanah:
jejak Arga,
dan jejak Ratri.
Ia menghela napas pelan.
Lalu berbisik pada angin sore:
“Jadi akhirnya...”
“ia tidak akan berjalan sendiri.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Arga lahir,
lelaki tua itu tampak bukan hanya cemas.
Tetapi juga sedih.
BAB 12
Pohon Tua di Bukit
Sejak Ratri mulai datang ke rumah kecil di pinggir sawah itu, hari-hari Arga perlahan berubah.
Jika sebelumnya halaman rumah terasa cukup luas untuk menjadi seluruh dunianya, kini dunia itu mulai melebar sedikit demi sedikit. Tidak hanya sebatas pohon mangga, pagar bambu, dan hamparan padi yang bergoyang ditiup angin.
Kini ada langkah kecil lain yang berjalan di sampingnya.
Ada suara lain yang memanggil namanya.
Ada tawa pelan yang membuat rumah itu terasa lebih hidup.
Ratri bukan anak yang banyak bicara. Ia tidak seperti anak-anak lain di desa yang berlari sambil berteriak dari satu halaman ke halaman lain. Ia justru sering diam seperti Arga. Kadang mereka duduk berdampingan lama sekali tanpa saling bicara, hanya memperhatikan kupu-kupu atau semut yang melintas di tanah.
Namun anehnya,
diam di antara mereka tak pernah terasa kosong.
Seolah sejak pertama bertemu,
keduanya sudah saling mengenal dengan cara yang tak bisa dijelaskan.
Sukmawati beberapa kali memperhatikan mereka dari kejauhan.
“Mas,” katanya suatu sore.
Sastro yang sedang mengikat kayu bakar menoleh.
“Ya?”
“Mereka seperti bukan baru bertemu.”
Sastro memandang Arga dan Ratri yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
“Mungkin anak kecil memang cepat akrab.”
Sukmawati menggeleng pelan.
“Bukan itu.”
“Lalu?”
Sukmawati menatap dua anak itu lebih lama.
“Rasanya seperti mereka sedang melanjutkan sesuatu.”
Sastro diam.
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun cukup untuk membuat dadanya kembali dipenuhi rasa yang tak pernah benar-benar hilang:
perasaan bahwa kehidupan Arga tidak akan pernah biasa.
Suatu pagi di awal musim kemarau, udara desa terasa sangat jernih.
Langit biru tanpa awan.
Sawah mulai menguning.
Angin membawa aroma jerami yang baru dijemur.
Dan matahari masih lembut ketika Arga datang ke halaman sambil menggenggam tangan kecil Ratri.
“Aku mau mengajak Arga ke bukit.”
kata Ratri polos.
Sukmawati yang sedang menjemur kain menoleh cepat.
“Bukit mana?”
Ratri menunjuk ke arah utara desa.
Di sana, tak terlalu jauh dari sawah terakhir warga, ada sebuah bukit kecil yang ditumbuhi pohon-pohon liar. Tempat itu tidak terlalu tinggi, namun cukup sepi karena jarang didatangi anak-anak.
Orang-orang desa menyebutnya:
Bukit Watu Senja.
Sukmawati mengernyit.
“Untuk apa ke sana?”
Ratri menjawab dengan mata berbinar.
“Ada pohon besar.”
Arga mengangguk kecil.
“Pohon tua.”
Sukmawati menatap suaminya.
Sastro yang mendengar dari beranda mengangkat bahu.
“Masih dekat.”
“Tapi, ”
Sastro tersenyum tipis.
“Biarkan.”
Sukmawati ragu.
“Kalau mereka jatuh?”
Sastro menatap Arga.
“Kadang anak harus belajar menemukan tempatnya sendiri.”
Sukmawati menghela napas.
“Jangan jauh-jauh.”
Arga mengangguk.
“Iya, Bu.”
Ratri tersenyum.
“Kami pulang sebelum sore.”
Sukmawati masih ingin melarang.
Namun entah mengapa,
melihat dua anak kecil itu berdiri berdampingan,
hatinya justru terasa sulit menolak.
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Jangan lama.”
Mereka berjalan menyusuri pematang sempit.
Arga di depan.
Ratri di belakang sambil sesekali melompat menghindari genangan kecil.
Langit cerah.
Burung-burung beterbangan rendah.
Suara jangkrik siang mulai terdengar dari rerumputan.
“Arga.”
“Hm?”
“Kenapa kamu suka diam?”
Arga berpikir cukup lama sebelum menjawab.
“Karena angin suka bicara.”
Ratri menoleh heran.
“Angin bisa bicara?”
Arga mengangguk.
“Kalau terlalu ramai, suaranya hilang.”
Ratri memandangnya beberapa detik.
Lalu tersenyum.
“Aku juga suka dengar angin.”
Arga menoleh.
“Kamu dengar apa?”
Ratri mengangkat bahu.
“Kadang seperti orang memanggil.”
Arga berhenti berjalan.
Menatapnya.
“Siapa?”
Ratri menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Mereka saling diam.
Lalu berjalan lagi.
Tanpa mereka sadari,
percakapan sederhana itu seperti membuka sesuatu yang selama ini hanya diam di antara mereka.
Bukit Watu Senja tidak terlalu tinggi.
Namun bagi dua anak kecil,
jalan menanjak itu terasa seperti petualangan besar.
Semak liar tumbuh di sisi jalan.
Batu-batu kecil berserakan.
Akar pohon menjulur dari tanah seperti ular tua yang tidur.
Di puncak bukit itu,
berdiri satu pohon besar.
Sangat besar.
Batangnya berwarna gelap.
Akarnya menjalar keluar tanah.
Cabangnya melebar seperti tangan raksasa yang melindungi langit.
Pohon itu jauh lebih tua daripada rumah-rumah di desa.
Mungkin lebih tua daripada ingatan banyak orang.
Ratri tersenyum.
“Ini.”
Arga memandang pohon itu.
Diam.
Lama sekali.
Ratri mendekat.
“Kamu kenapa?”
Arga mengulurkan tangan kecilnya,
menyentuh batang pohon tua itu.
Begitu telapak tangannya menempel pada kulit kayu,
angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun bergemerisik.
Rumput bergoyang.
Burung yang bertengger di cabang tiba-tiba terbang serentak.
Ratri mundur sedikit.
“Arga...”
Namun Arga tetap diam.
Matanya menatap batang pohon seolah sedang mendengarkan sesuatu dari dalam.
“Arga?”
Ratri menyentuh lengannya.
Arga tersentak pelan.
Menoleh.
“Pohon ini sedih.”
Ratri memandangnya.
“Sedih?”
Arga mengangguk.
“Sudah lama menunggu.”
“Menunggu siapa?”
Arga menatap cabang-cabang tinggi itu.
Lalu berkata pelan:
“Orang yang pernah janji akan pulang.”
Ratri terdiam.
Meskipun belum sepenuhnya mengerti,
entah kenapa bulu kuduknya berdiri.
Di bawah pohon itu ada batu datar besar.
Mereka duduk di sana.
Dari atas bukit,
desa terlihat kecil.
Sawah tampak seperti kain hijau keemasan.
Rumah-rumah terlihat seperti titik-titik kayu.
Ratri tersenyum.
“Di sini bagus.”
Arga mengangguk.
Ratri menoleh.
“Kamu pernah ke sini?”
Arga diam sejenak.
Lalu menjawab pelan:
“Belum.”
“Tapi?”
Arga menatap pohon tua itu.
“Rasanya seperti pernah.”
Ratri memandangnya lama.
Lalu tanpa bertanya lagi,
ia menggenggam tangan Arga.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga tidak menarik tangannya.
Tak jauh dari sana,
di balik semak,
sepasang mata tua memperhatikan.
Mbah Jayarasa berdiri diam dengan tongkatnya.
Wajahnya tidak terkejut.
Seolah ia sudah tahu
suatu hari Arga akan datang ke tempat itu.
Lelaki tua itu menatap pohon besar di puncak bukit.
Lalu menunduk pelan.
“Jadi memang benar...”
bisiknya.
“Dia kembali ke tempat pertama.”
Angin bergerak pelan melewati daun-daun tua.
Dan pohon besar itu,
yang selama puluhan tahun hanya diam,
kembali bergemerisik seperti sedang mengingat sesuatu.
Menjelang sore,
Arga dan Ratri turun dari bukit.
Namun sebelum pergi,
Arga menoleh sekali lagi ke arah pohon tua itu.
Tatapannya begitu lama,
hingga Ratri ikut berhenti.
“Kamu kenapa?”
Arga menjawab tanpa menoleh:
“Pohon itu kenal aku.”
Ratri menggenggam tangannya lebih erat.
“Memang pohon bisa kenal orang?”
Arga akhirnya menoleh.
Lalu menjawab dengan tenang:
“Kadang yang diam justru paling lama mengingat.”
Ratri tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa sahabat kecilnya itu
menyimpan sesuatu yang jauh lebih besar
daripada yang bisa dipahami anak seusia mereka.
Sementara di rumah,
Sukmawati yang sejak tadi menunggu di beranda tiba-tiba merasa dadanya sesak.
Ia memegang dada.
Menatap ke arah bukit di kejauhan.
“Mas...”
Sastro keluar.
“Ada apa?”
Sukmawati memandang jauh.
“Entah kenapa...”
“Aku merasa seperti sesuatu baru saja bangun.”
Sastro mengikuti arah pandangnya.
Ke bukit kecil.
Ke pohon tua.
Ke tempat dua anak kecil itu sedang pulang dari sana.
Dan tanpa mereka tahu,
hari itu bukan sekadar hari bermain biasa.
Karena di bawah pohon tua di atas bukit,
masa lalu yang lama terkubur
telah mulai mengenali langkah kecil Arga.
BAB 13
Bisikan Angin
Sejak hari mereka datang ke Bukit Watu Senja, ada sesuatu yang berubah pada Arga.
Perubahannya tidak langsung terlihat oleh orang lain.
Tidak ada demam.
Tidak ada tangis.
Tidak ada kejadian besar yang membuat orang desa segera sadar.
Namun bagi Sukmawati, seorang ibu yang setiap hari memandangi wajah anaknya, perubahan sekecil apa pun tak pernah bisa benar-benar tersembunyi.
Arga menjadi lebih sering diam.
Bukan diam seperti biasanya.
Bukan diam seorang anak kecil yang sedang melamun.
Bukan pula diam karena lelah bermain.
Diamnya kini seperti seseorang yang sedang mendengarkan.
Sering kali ia tiba-tiba berhenti di tengah langkah.
Menoleh ke arah sawah.
Memandang pohon bambu.
Atau menatap jendela kosong.
Seolah ada suara yang memanggilnya dari tempat yang tak terlihat.
Dan yang paling membuat Sukmawati gelisah,
Arga mulai menjawab sesuatu yang tidak terdengar oleh siapa pun.
Pagi itu matahari baru naik setinggi pohon kelapa ketika Sukmawati sedang menumbuk padi di dapur belakang.
Suara alu menghantam lesung terdengar teratur.
Ayam-ayam mencari makan di halaman.
Angin pagi membawa aroma rumput basah.
Arga sedang duduk di dekat pintu sambil memainkan daun kering.
Awalnya semuanya biasa.
Sampai tiba-tiba Sukmawati mendengar suara Arga.
“Iya...”
Sukmawati menoleh.
Arga sedang menatap halaman kosong.
“Iya...”
ulangnya lagi pelan.
Sukmawati berhenti menumbuk.
“Arga?”
Anak kecil itu tidak menoleh.
Ia seperti sedang mendengarkan seseorang.
Lalu berkata lagi:
“Nanti.”
Jantung Sukmawati berdegup lebih cepat.
Ia meletakkan alu.
Mendekat perlahan.
“Arga... kamu bicara sama siapa?”
Arga menoleh pelan.
Wajahnya tenang.
“Sama angin.”
Sukmawati membeku.
“Sama apa?”
Arga menunjuk halaman.
“Angin.”
Tidak ada siapa-siapa di sana.
Hanya jemuran kain yang bergerak pelan.
Daun pisang yang bergetar.
Dan udara pagi yang melintas lembut.
Sukmawati berlutut di depan anaknya.
“Angin bilang apa?”
Arga menatap ibunya.
Lalu menjawab polos:
“Dia bilang jangan ke bukit sore ini.”
Darah Sukmawati langsung terasa dingin.
“Kenapa?”
Arga menggeleng.
“Dia belum mau bilang.”
Sore harinya Ratri datang seperti biasa.
Ia membawa bunga liar kecil yang diselipkan di belakang telinganya.
Begitu melihat Arga, ia tersenyum.
“Ayo ke bukit.”
Namun Arga menggeleng.
Ratri mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Arga menatap angin yang menggoyangkan daun mangga.
“Angin bilang jangan.”
Ratri tertawa kecil.
“Kamu lucu.”
“Aku serius.”
Ratri menatap wajah Arga.
Dan karena ia mengenal sahabatnya itu,
ia tahu Arga memang tidak sedang bercanda.
“Kenapa jangan?”
Arga menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Ratri memandang langit yang masih cerah.
“Tidak hujan.”
“Tidak gelap.”
“Tidak ada apa-apa.”
Arga menunduk.
“Pokoknya jangan.”
Ratri terdiam.
Biasanya Arga tidak pernah melarang apa pun.
Maka ketika anak itu berkata demikian,
entah mengapa Ratri ikut merasa ragu.
Akhirnya ia duduk di bawah pohon mangga.
“Ya sudah.”
“Hari ini di sini saja.”
Arga tersenyum kecil.
Dan Sukmawati yang memperhatikan dari dapur,
tanpa sadar menghembuskan napas lega.
Menjelang magrib, langit tiba-tiba berubah.
Awan hitam datang dari arah utara.
Angin yang sejak siang tenang mendadak kencang.
Daun-daun beterbangan.
Ayam berlarian masuk kandang.
Sastro yang baru pulang dari sawah menatap langit.
“Cepat sekali berubah.”
Belum sempat kalimat itu selesai,
suara keras terdengar dari kejauhan.
BRAAAKKK.
Seperti sesuatu patah.
Orang-orang desa keluar rumah.
Menoleh ke arah bukit.
Dari kejauhan terlihat debu dan ranting beterbangan.
Salah satu cabang besar dari pohon tua di Bukit Watu Senja
patah karena angin.
Cabang itu jatuh tepat di batu datar tempat Arga dan Ratri biasa duduk.
Sukmawati langsung menoleh ke Arga.
Arga hanya diam.
Matanya memandang ke arah bukit.
Tidak terkejut.
Tidak takut.
Seolah ia sudah tahu.
Ratri menggenggam tangan Arga erat.
Wajah kecilnya pucat.
“Kalau tadi kita ke sana...”
Arga menatapnya.
Lalu menjawab pelan:
“Aku tahu.”
Ratri menelan ludah.
“Dari mana?”
Arga menatap daun yang masih bergerak ditiup angin.
“Dia bilang.”
Ratri mengikuti arah pandangnya.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya angin.
Dan untuk pertama kalinya,
Ratri benar-benar percaya
bahwa Arga memang bisa mendengar sesuatu
yang tak didengar orang lain.
Malam itu rumah Sastro kembali dipenuhi kegelisahan.
Sukmawati duduk di samping Arga yang sedang makan.
Tatapannya tak lepas dari wajah anaknya.
Sastro duduk di beranda,
diam seperti biasanya.
Namun wajahnya keras.
Akhirnya Sukmawati berkata pelan:
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Dia benar.”
Sastro diam.
“Kalau tadi mereka ke bukit...”
Sastro menutup mata sebentar.
“Aku tahu.”
Sukmawati menggigit bibir.
“Mas... aku takut.”
Sastro menatap anaknya yang sedang menatap lampu minyak.
“Aku juga.”
Kalimat itu keluar begitu pelan
hingga hampir seperti bisikan.
Karena selama ini,
Sastro selalu berusaha menjadi orang paling tenang di rumah itu.
Namun malam itu,
untuk pertama kalinya,
ia mengakui ketakutannya sendiri.
Setelah Arga tertidur,
Sastro pergi lagi menemui Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu gelap seperti biasa.
Hanya ada lampu kecil di sudut ruangan.
Sastro duduk di depan lelaki tua itu.
“Dia mendengar angin.”
Mbah Jayarasa tidak tampak terkejut.
“Mulai terdengar ya.”
Sastro mengerutkan kening.
“Jadi Mbah sudah tahu ini akan terjadi?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Beberapa anak melihat.”
“Beberapa anak merasakan.”
“Dan sebagian kecil...”
ia menatap Sastro,
“mendengar.”
“Mendengar apa?”
Mbah Jayarasa memejamkan mata.
“Yang tersisa.”
Sastro menatapnya bingung.
“Apa maksudnya?”
“Kadang suatu tempat menyimpan suara.”
“Kadang angin membawanya.”
“Kadang hanya orang tertentu yang bisa menangkap.”
Sastro menggenggam lututnya erat.
“Apakah itu berbahaya?”
Mbah Jayarasa menatap lampu minyak.
Api kecil itu bergoyang pelan.
“Tidak selalu.”
“Lalu kapan berbahaya?”
Mbah Jayarasa menoleh.
Tatapannya dalam.
“Ketika yang berbisik mulai meminta jawaban.”
Ruangan tiba-tiba terasa jauh lebih dingin.
Sastro menelan ludah.
“Apa yang harus saya lakukan?”
Mbah Jayarasa terdiam lama.
Lalu berkata pelan:
“Jangan biarkan dia sendirian terlalu lama.”
Malam semakin larut.
Angin berembus melalui celah dinding rumah.
Sukmawati tertidur di samping Arga.
Lampu minyak menyala redup.
Bayangan bergerak pelan di dinding.
Arga terbangun.
Matanya terbuka dalam gelap.
Ia tidak menangis.
Ia hanya mendengar.
Suara lembut bergerak di luar jendela.
Bukan suara daun.
Bukan suara bambu.
Bukan suara hujan.
Sebuah bisikan.
Sangat pelan.
Seperti suara seseorang yang memanggil dari tempat jauh.
“Arga...”
Anak kecil itu menatap jendela.
Angin masuk melalui celah kayu.
Menyentuh wajahnya lembut.
Lalu bisikan itu datang lagi.
“Arga...”
Kali ini lebih jelas.
Arga duduk perlahan di tempat tidurnya.
Menatap kegelapan di luar.
Lalu,
dengan suara polos seorang anak kecil,
ia bertanya:
“Siapa?”
Angin berhenti.
Seluruh rumah mendadak sunyi.
Dan di luar jendela,
sesuatu bergerak pelan di antara bayangan pohon.
BAB 14
Mata yang Tak Sama
Setelah malam ketika bisikan itu pertama kali terdengar di jendela, hidup di rumah kecil pinggir sawah itu tidak lagi benar-benar tenang.
Tidak ada kejadian besar keesokan harinya.
Tidak ada suara aneh.
Tidak ada bayangan yang terlihat jelas.
Tidak ada pintu yang terbuka sendiri seperti dalam cerita-cerita seram yang biasa dibisikkan orang desa saat malam.
Namun justru karena semuanya tampak biasa,
rasa takut itu tumbuh lebih pelan.
Lebih halus.
Lebih sulit dijelaskan.
Karena kadang yang paling menakutkan bukan sesuatu yang terlihat,
melainkan sesuatu yang terasa hadir
meski tak pernah menunjukkan wajahnya.
Dan yang pertama kali menyadari perubahan itu adalah Sukmawati.
Bukan pada langkah Arga.
Bukan pada suaranya.
Bukan pada kebiasaannya.
Melainkan pada matanya.
Pagi itu matahari baru saja naik ketika Sukmawati memandikan Arga di belakang rumah.
Air sumur masih dingin.
Kabut tipis belum sepenuhnya hilang dari sawah.
Burung-burung kecil berloncatan di pagar bambu.
Arga duduk di bak mandi kecil dari tanah liat.
Kakinya bermain air.
Tangannya memercikkan tetesan kecil.
Sesekali ia tertawa pelan.
Sukmawati tersenyum melihatnya.
Untuk sesaat,
ia hampir merasa semua kegelisahannya selama ini hanya bayangan dirinya sendiri.
“Kalau begini terus, Ibu bisa tenang...”
gumamnya sambil menyiram air perlahan ke bahu kecil anaknya.
Arga mendongak.
Memandang ibunya.
Dan di saat itulah,
Sukmawati terdiam.
Mata anak itu tampak berbeda.
Bukan warnanya.
Bukan bentuknya.
Tetapi cara ia menatap.
Terlalu dalam.
Terlalu tenang.
Terlalu sadar.
Seperti bukan mata anak kecil yang baru mengenal dunia.
Melainkan mata seseorang
yang sudah lama mengenal kehilangan.
Sukmawati menahan napas.
“Arga...”
Arga masih menatapnya.
Diam.
Tanpa berkedip.
Lalu berkata pelan:
“Ibu kenapa sedih?”
Sukmawati tercekat.
Tangannya membeku memegang gayung.
“Apa?”
Arga mengulang dengan polos.
“Ibu sedih.”
Sukmawati menatap wajah kecil itu.
“Mengapa kamu bilang begitu?”
Arga mengangkat tangan kecilnya,
menyentuh pipi ibunya.
“Karena mata Ibu hujan.”
Seketika mata Sukmawati benar-benar berkaca.
Ia langsung memeluk anaknya.
Air di bak kecil bergoyang pelan.
Karena ia sadar,
anak itu bukan hanya melihat.
Ia juga membaca sesuatu
yang tak pernah diucapkan.
Sejak hari itu,
Sukmawati mulai memperhatikan mata Arga lebih sering.
Kadang saat anak itu tertawa,
tatapannya tetap menyimpan kesunyian.
Kadang saat bermain dengan Ratri,
matanya mendadak kosong seperti melihat tempat lain.
Kadang ketika memandang sawah,
sorot matanya seperti seseorang yang sedang mengingat sesuatu yang seharusnya belum pernah terjadi.
Dan semakin ia melihat,
semakin sulit ia menyangkal:
tatapan anak itu tidak sama dengan anak lain.
Beberapa hari kemudian,
hal yang sama mulai disadari orang lain.
Siang itu beberapa tetangga datang ke rumah membawa pisang rebus.
Di desa kecil seperti Wringinrejo,
bertamu tanpa alasan jelas adalah hal biasa.
Kadang sekadar berbagi hasil kebun.
Kadang hanya ingin bercakap.
Kadang hanya karena rasa ingin tahu.
Bu Partini, tetangga depan rumah, duduk sambil tersenyum melihat Arga yang bermain di lantai.
“Anaknya makin besar.”
Sukmawati tersenyum kecil.
“Iya.”
“Pendiam ya.”
Sukmawati mengangguk.
“Sejak kecil.”
Bu Partini mengulurkan tangan.
“Sini sama Bude.”
Arga menoleh.
Lalu menatap wajah perempuan itu.
Dan Bu Partini langsung terdiam.
Tangannya menggantung di udara.
Senyumnya perlahan memudar.
Sukmawati melihat perubahan itu.
“Kenapa?”
Bu Partini berkedip cepat.
“Tidak...”
“Kenapa?”
Bu Partini menelan ludah.
Matanya masih pada Arga.
“Matanya...”
Sukmawati menegang.
“Kenapa dengan matanya?”
Bu Partini menggeleng pelan.
“Tidak seperti anak kecil.”
Ruangan mendadak sunyi.
Arga masih menatap perempuan itu.
Tenang.
Diam.
Bu Partini menarik tangannya perlahan.
Lalu tertawa kecil memaksa.
“Mungkin aku saja yang terlalu perasa.”
Namun sejak itu,
ia tidak lagi berani menatap Arga terlalu lama.
Kabar di desa mulai bergerak pelan.
Seperti asap tipis dari dapur yang terbawa angin.
Tidak langsung besar.
Namun tak bisa dicegah.
Orang-orang mulai berbisik:
“Mata anak Sastro beda.”
“Kalau ditatap lama, merinding.”
“Seperti orang tua di dalam tubuh kecil.”
“Seperti tahu isi hati orang.”
Sukmawati mulai mendengar bisikan-bisikan itu di sumur.
Di jalan.
Di warung kecil.
Di sawah.
Ia mencoba mengabaikan.
Tetapi hati seorang ibu
tak pernah benar-benar kebal terhadap omongan orang.
Malam itu,
setelah Arga tidur,
Sukmawati duduk di beranda bersama Sastro.
Lampu minyak menyala kecil.
Suara jangkrik memenuhi malam.
Angin membawa aroma padi muda.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Orang-orang mulai bicara.”
Sastro diam.
“Mereka bilang matanya aneh.”
Sastro menatap gelap sawah.
“Mereka selalu bicara.”
“Tapi kali ini berbeda.”
Sastro memandang istrinya.
“Maksudmu?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Aku juga melihatnya.”
Kalimat itu membuat Sastro menoleh penuh.
“Apa?”
“Mata Arga...”
suaranya bergetar,
“kadang seperti bukan mata anak kecil.”
Sastro terdiam lama.
Sangat lama.
Lalu akhirnya ia berkata pelan:
“Aku juga melihatnya.”
Sukmawati memejamkan mata.
Air matanya jatuh.
“Mas... sebenarnya anak kita ini siapa?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Ia menatap pintu kamar tempat Arga tidur.
Lalu berbisik pelan:
“Anak kita.”
“Mas, ”
“Siapa pun dia nanti.”
Sastro menatap istrinya.
“Dia tetap anak kita.”
Sukmawati menunduk menangis pelan.
Dan untuk pertama kalinya,
Sastro menggenggam tangan istrinya erat.
Karena kadang,
yang paling dibutuhkan bukan jawaban.
Tetapi seseorang yang mau tetap tinggal
meski tak mengerti apa yang sedang dihadapi.
Keesokan sorenya,
Ratri datang seperti biasa.
Ia duduk di bawah pohon mangga bersama Arga.
Mereka menyusun batu kecil membentuk lingkaran.
Ratri memperhatikan Arga lama.
Lalu bertanya pelan:
“Boleh aku tanya?”
Arga mengangguk.
“Kenapa matamu kadang seperti orang sedih?”
Arga berhenti menyusun batu.
Menatap Ratri.
“Memangnya beda?”
Ratri mengangguk kecil.
“Iya.”
“Menakutkan?”
Ratri menggeleng.
“Tidak.”
Arga terdiam.
“Lalu?”
Ratri tersenyum kecil.
“Seperti mata orang yang tidak pernah benar-benar sendirian.”
Angin berhenti sesaat.
Arga memandang sahabat kecilnya itu.
Untuk pertama kalinya,
ia merasa ada seseorang
yang mungkin bisa melihat dirinya
tanpa takut.
Arga bertanya pelan:
“Kamu takut padaku?”
Ratri menggeleng tanpa ragu.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Ratri menjawab sederhana:
“Karena matamu tidak jahat.”
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seorang anak kecil yang mulai disadari berbeda oleh dunia,
kata-kata itu terasa seperti tempat pertama untuk pulang.
Malam itu,
Arga berdiri di dekat jendela.
Sendirian.
Langit di luar gelap.
Angin bergerak pelan di antara daun.
Pantulan wajah kecilnya terlihat samar di kaca.
Lalu perlahan,
di samping pantulan wajahnya sendiri,
muncul bayangan lain.
Sangat samar.
Hampir seperti kabut.
Namun yang membuat Arga diam bukan bayangan itu.
Melainkan matanya.
Karena di kaca jendela,
bayangan itu memiliki tatapan yang sama.
Tatapan yang tidak seperti anak kecil.
Tatapan yang seolah
telah menunggu sangat lama.
Arga mengangkat tangan kecilnya ke kaca.
Dan dari luar,
bayangan itu juga mengangkat tangan.
Menyentuh dari sisi yang berbeda.
BAB 15
Mimpi Berulang
Sejak malam ketika bayangan itu muncul di kaca jendela, tidur tidak lagi menjadi tempat istirahat bagi Arga.
Bagi anak-anak lain seusianya, malam adalah saat tubuh kecil menyerah pada lelah, lalu tenggelam ke dalam dunia polos yang hanya berisi permainan, warna, dan suara-suara lembut dari rumah. Tetapi bagi Arga, malam perlahan berubah menjadi pintu.
Pintu yang tak pernah benar-benar tertutup.
Pintu menuju sesuatu yang tak mampu ia ceritakan sepenuhnya.
Dan semuanya dimulai dari mimpi.
Malam pertama datang tanpa tanda.
Sukmawati tertidur di samping Arga seperti biasa.
Sastro tidur di dekat pintu kamar.
Lampu minyak sudah dipadamkan.
Hanya cahaya bulan samar yang masuk melalui celah jendela.
Di luar, angin bergerak pelan melewati rumpun bambu.
Arga tertidur dengan napas tenang.
Lalu perlahan,
ia bermimpi.
Dalam mimpinya,
ia berdiri sendirian di tengah sawah.
Bukan sawah yang biasa ia lihat dari rumah.
Sawah ini jauh lebih luas.
Lebih sunyi.
Lebih tua.
Langit di atasnya berwarna kelabu pucat seperti sore yang tak pernah selesai.
Tidak ada matahari.
Tidak ada bulan.
Tidak ada burung.
Tidak ada suara manusia.
Hanya angin.
Dan suara air yang sangat jauh.
Arga menoleh ke sekeliling.
Kaki kecilnya berdiri di tanah basah.
Rumput menyentuh lututnya.
Kabut tipis bergerak di atas pematang.
Di kejauhan,
ada seseorang berdiri.
Sosok tinggi.
Membelakangi dirinya.
Diam.
Arga memandang lama.
Entah mengapa,
meski wajahnya tak terlihat,
Arga merasa ia mengenal orang itu.
“Siapa?”
Suaranya kecil,
hampir hilang ditelan angin.
Sosok itu tidak menoleh.
Namun suara pelan terdengar:
“Pulang.”
Arga mengernyit.
“Aku di rumah.”
Sosok itu tetap membelakangi.
Lalu berkata lagi:
“Belum.”
Angin tiba-tiba berembus lebih kencang.
Kabut bergerak.
Sawah berdesir.
Sosok itu mulai berjalan menjauh.
Arga berlari kecil.
“Tunggu!”
Namun seberapa cepat ia berjalan,
jarak itu tak pernah mengecil.
Dan tepat sebelum Arga menangis,
ia terbangun.
Arga duduk mendadak di tempat tidurnya.
Napasnya cepat.
Dahinya basah.
Mata kecilnya terbuka lebar dalam gelap.
Sukmawati langsung terbangun.
“Arga?”
Ia memeluk anaknya.
“Kenapa?”
Arga tidak menangis.
Ia hanya menatap jendela.
Sukmawati mengusap rambutnya.
“Mimpi?”
Arga mengangguk pelan.
“Mimpi apa?”
Arga menoleh pada ibunya.
Lalu menjawab dengan suara lirih:
“Ada orang lupa pulang.”
Kalimat itu membuat Sukmawati diam.
“Apa?”
Arga memejamkan mata.
Seolah mencoba mengingat.
“Dia jalan sendiri.”
“Jauh.”
“Sendiri sekali.”
Sukmawati memeluknya lebih erat.
“Sudah... cuma mimpi.”
Namun di dalam hatinya,
ia tahu:
mimpi itu bukan mimpi biasa.
Mimpi itu datang lagi malam berikutnya.
Dan malam setelahnya.
Dan malam setelahnya lagi.
Selalu sama.
Sawah luas.
Langit pucat.
Kabut tipis.
Sosok membelakangi.
Dan suara yang sama.
“Pulang.”
Kadang sosok itu berdiri di dekat pohon.
Kadang di tepi sungai.
Kadang di antara hujan.
Namun selalu dengan satu pesan yang sama.
Pulang.
Dan setiap kali Arga terbangun,
wajahnya terlihat semakin murung.
Ia mulai lebih sering diam.
Lebih sering memandang jauh.
Lebih sering seperti membawa beban yang tak seharusnya dimiliki anak kecil.
Sukmawati mulai kehilangan tidur.
Sastro mulai kehilangan tenang.
Suatu malam setelah Arga tertidur kembali,
Sukmawati berkata pelan:
“Mas...”
Sastro yang duduk di beranda menoleh.
“Ya?”
“Ini sudah empat malam.”
Sastro memandang ke kamar.
Arga akhirnya tertidur lagi di pelukan ibunya.
“Mimpi yang sama?”
Sukmawati mengangguk.
“Selalu sama.”
Sastro menunduk.
“Apa yang dia bilang?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Orang itu terus menyuruh pulang.”
Sastro menatap gelap sawah.
Wajahnya keras.
Namun matanya penuh gelisah.
“Aku akan temui Mbah lagi.”
Keesokan paginya,
Sastro datang ke rumah Mbah Jayarasa sebelum matahari tinggi.
Rumah tua itu sunyi seperti biasa.
Seolah waktu berjalan lebih lambat di sana.
Mbah Jayarasa sedang duduk di depan tungku kecil.
Seperti sudah tahu siapa yang datang.
“Dia mulai bermimpi?”
Sastro berhenti di ambang pintu.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menatap api kecil.
“Sudah waktunya.”
Sastro duduk cepat.
“Waktunya apa?”
“Mengingat.”
Sastro menatap tajam.
“Dia masih anak-anak.”
Mbah Jayarasa mengangguk.
“Tubuhnya.”
“Lalu?”
Lelaki tua itu menoleh perlahan.
“Tapi jiwa kadang lebih tua daripada umur.”
Ruangan mendadak terasa lebih sempit.
Sastro mengepalkan tangan.
“Mimpi itu apa?”
Mbah Jayarasa diam cukup lama.
Lalu bertanya:
“Dalam mimpinya... ada sawah?”
Sastro menegang.
“Ya.”
“Langit pucat?”
Sastro menelan ludah.
“Ya.”
“Orang membelakangi?”
Sastro berdiri.
“Mbah tahu itu?”
Mbah Jayarasa menutup mata.
Suaranya sangat pelan ketika berkata:
“Karena dulu... aku juga pernah melihat tempat itu.”
Sastro membeku.
“Siapa orang itu?”
Mbah Jayarasa membuka mata.
Tatapannya berat.
“Orang yang belum selesai.”
Sastro frustasi.
“Semua jawaban Mbah selalu seperti teka-teki!”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Karena hidup anakmu sendiri adalah pertanyaan yang belum selesai dijawab langit.”
Sore itu Arga duduk di bawah pohon mangga bersama Ratri.
Ratri memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kamu capek?”
Arga mengangguk pelan.
“Kenapa?”
“Aku jalan terus.”
Ratri mengerutkan kening.
“Ke mana?”
Arga memandang tanah.
“Ke tempat yang sama.”
“Dalam mimpi?”
Arga menoleh.
“Kamu tahu?”
Ratri mengangguk.
“Matamu kelihatan sedih.”
Arga diam.
Ratri memetik rumput kecil.
“Di mimpimu ada siapa?”
Arga lama tak menjawab.
Lalu berkata:
“Aku tidak tahu.”
“Tapi dia seperti kenal aku.”
Ratri menatapnya hati-hati.
“Takut?”
Arga menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
Arga menatap langit senja.
Suaranya nyaris seperti bisikan:
“Aku kasihan.”
Ratri terdiam.
“Kenapa?”
Arga menunduk.
“Karena dia sendirian.”
Untuk beberapa saat,
tak ada suara selain angin.
Lalu Ratri menggenggam tangan Arga pelan.
“Kalau begitu...”
katanya lembut,
“bilang padanya kamu tidak akan meninggalkannya sendirian.”
Arga menatap Ratri.
Anak kecil itu mungkin tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja dikatakannya.
Namun entah kenapa,
kata-kata itu terasa penting.
Sangat penting.
Malam itu mimpi datang lagi.
Sawah yang sama.
Kabut yang sama.
Langit yang sama.
Dan sosok itu kembali berdiri membelakanginya.
Arga melangkah mendekat.
Kali ini ia tidak memanggil.
Tidak menangis.
Tidak berlari.
Ia hanya berkata pelan:
“Aku di sini.”
Angin berhenti.
Sosok itu perlahan menoleh.
Namun tepat sebelum wajahnya terlihat,
Arga terbangun.
Dengan jantung berdebar kencang.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa malam berikutnya
wajah itu akhirnya akan memperlihatkan dirinya.
Dan di sudut kamar,
jendela kayu yang tertutup rapat
bergerak sedikit oleh angin.
Tok.
Sekali.
Pelan.
Seolah sesuatu di luar sana
sedang menunggu mimpi berikutnya.
BAB 16
Sungai Kenangan
Setelah mimpi itu datang berulang-ulang, Arga mulai berubah dengan cara yang semakin sulit dijelaskan oleh orang tuanya.
Ia masih anak kecil yang sama.
Masih tertawa saat Ratri datang.
Masih diam saat mendengar hujan.
Masih suka memandangi semut berjalan di tanah.
Masih suka duduk lama di bawah pohon mangga sambil memeluk lutut kecilnya.
Namun di balik semua itu,
ada sesuatu yang perlahan tumbuh.
Sesuatu yang tak terlihat.
Sesuatu yang seperti sedang menariknya ke arah tertentu.
Dan arah itu selalu sama.
Ke belakang desa.
Ke tempat yang selama ini jarang ia datangi.
Ke sungai tua yang melintas di balik sawah.
Sungai itu tidak besar.
Airnya jernih pada musim kemarau,
keruh pada musim hujan,
dan selalu mengalir pelan seperti menyimpan waktu yang enggan pergi.
Orang-orang desa menyebutnya:
Kali Wening.
Dulu sungai itu menjadi tempat perempuan mencuci,
anak-anak mandi,
dan petani mengambil air.
Namun sejak beberapa tahun terakhir,
orang-orang mulai jarang datang.
Bukan karena airnya kotor.
Tetapi karena terlalu banyak cerita.
Konon ada yang pernah mendengar suara tangis di tepi air.
Ada yang melihat bayangan berjalan di atas permukaan sungai saat magrib.
Ada yang merasa dipanggil namanya oleh suara yang bukan manusia.
Sebagian menganggap itu hanya cerita lama.
Sebagian lain memilih tidak mendekat.
Dan justru karena itulah,
Arga tertarik.
Pagi itu matahari baru naik ketika Sukmawati sedang menumbuk bumbu di dapur.
Ratri belum datang.
Sastro sudah ke sawah.
Rumah sedang sunyi.
Sukmawati mengira Arga sedang bermain di halaman seperti biasa.
Sampai ia menoleh,
dan anak itu tidak ada.
“Arga?”
Tak ada jawaban.
Sukmawati berdiri cepat.
Keluar ke beranda.
Melihat ke bawah pohon mangga.
Kosong.
“Arga!”
Jantungnya langsung berdebar.
Ia berjalan cepat ke belakang rumah.
Lalu membeku.
Di pematang kecil menuju arah sungai,
terlihat jejak kaki kecil di tanah.
Jejak Arga.
Masih baru.
Masih basah.
Sukmawati langsung berlari.
“Arga!”
Suara napasnya bercampur panik.
Kain jariknya hampir tersangkut rumput.
Lumpur menempel di kakinya.
Dan ketika sampai di tepi Kali Wening,
ia melihat anak itu.
Arga duduk di batu besar di pinggir sungai.
Sendirian.
Memandangi air.
Tenang sekali.
Seolah ia memang seharusnya berada di sana.
“Arga!”
Sukmawati berlari memeluknya.
“Kamu bikin Ibu takut!”
Arga menoleh.
Wajahnya tenang.
Tidak merasa salah.
Tidak merasa takut.
“Aku cuma dengar.”
Sukmawati memegang bahunya.
“Mendengar apa?”
Arga menunjuk sungai.
“Air.”
Sukmawati memandang aliran itu.
Tidak ada apa-apa.
Hanya air yang bergerak di antara batu.
“Air bilang apa?”
Arga menatap permukaan sungai.
Lalu berkata pelan:
“Dia kenal aku.”
Angin berhenti sesaat.
Sukmawati memeluk anaknya erat.
Terlalu erat.
Karena semakin hari,
jawaban anak itu semakin membuat hatinya gentar.
Siang harinya,
Sastro pulang lebih cepat setelah mendengar cerita itu.
Ia duduk di beranda bersama Sukmawati.
“Dia pergi sendiri?”
Sukmawati mengangguk.
“Tanpa suara.”
Sastro memijat pelipis.
“Kenapa ke sungai?”
Sukmawati menunduk.
“Katanya air mengenalnya.”
Sastro diam lama.
Lalu menatap Arga yang sedang duduk bersama Ratri di halaman.
“Arga.”
Anak itu menoleh.
“Kenapa pergi ke sungai?”
Arga berpikir sebentar.
Lalu menjawab:
“Karena dia memanggil.”
Sastro menahan napas.
“Siapa?”
Arga menunjuk arah belakang rumah.
“Air.”
Sukmawati menggenggam kainnya erat.
Sastro berusaha tetap tenang.
“Air tidak bisa memanggil.”
Arga menatap ayahnya.
Lalu berkata dengan polos:
“Kalau Ayah mau diam... Ayah juga bisa dengar.”
Kalimat itu membuat Sastro tak mampu langsung menjawab.
Karena entah kenapa,
bagian paling dalam dari dirinya
ingin percaya.
Sore itu Ratri datang seperti biasa.
Namun kali ini ia menemukan Arga duduk sendirian,
memandangi sungai dari kejauhan.
“Aku dengar kamu ke Kali Wening.”
Arga mengangguk.
“Kenapa?”
Arga menatap sawah.
“Karena di sana ada suara.”
Ratri duduk di sampingnya.
“Suara apa?”
Arga menjawab pelan:
“Seperti orang menangis tapi tidak sedih.”
Ratri mengernyit.
“Itu bagaimana?”
Arga menunduk.
“Seperti rindu.”
Ratri terdiam.
Anak kecil seusia mereka tentu belum mengerti arti rindu sepenuhnya.
Namun cara Arga mengucapkannya
membuat kata itu terasa lebih tua dari usia mereka.
“Apa sungainya menakutkan?”
Arga menggeleng.
“Tidak.”
“Lalu?”
Arga memandang jauh.
“Sungainya seperti sedang menunggu.”
Ratri menoleh.
“Menunggu siapa?”
Arga tidak langsung menjawab.
Lalu perlahan,
seperti menjawab dirinya sendiri,
ia berkata:
“Mungkin aku.”
Keesokan paginya,
Mbah Jayarasa datang ke rumah.
Tanpa dipanggil.
Seperti biasa.
Sukmawati langsung mempersilahkannya masuk.
Wajahnya cemas.
“Mbah...”
Lelaki tua itu hanya mengangguk.
“Aku tahu.”
Sastro menatapnya.
“Mbah selalu tahu.”
Mbah Jayarasa duduk pelan.
Tongkat kayunya diletakkan di samping.
“Dia ke sungai ya?”
Sastro menahan kesal.
“Mbah, sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya?”
Mbah Jayarasa menatap Arga yang sedang bermain daun.
“Sungai sering menyimpan lebih banyak daripada air.”
Sastro mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
“Air tidak pernah lupa.”
jawab lelaki tua itu.
“Yang pernah jatuh ke dalamnya...”
“kadang tetap tinggal di sana.”
Sukmawati menggigil.
“Mbah jangan bicara seperti itu...”
Mbah Jayarasa menatap lembut.
“Aku tidak menakut-nakuti.”
“Lalu?”
Ia menoleh pada Arga.
“Anakmu tidak hanya mendengar.”
“Dia mulai diingat.”
Ruangan menjadi sunyi.
Sastro menatap tajam.
“Diingat oleh siapa?”
Mbah Jayarasa menjawab pelan:
“Oleh tempat-tempat yang pernah mengenalnya.”
Sukmawati langsung memeluk dadanya.
“Bagaimana mungkin? Dia baru lahir.”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Lalu berkata:
“Tidak semua yang lahir... benar-benar baru.”
Malam datang lebih cepat.
Langit mendung.
Angin dingin.
Daun-daun bergerak pelan di luar rumah.
Arga tidur lebih awal malam itu.
Namun tidurnya tidak tenang.
Kelopak matanya bergerak.
Jarinya menggenggam kain.
Napasnya berubah cepat.
Dan dalam tidurnya,
mimpi itu datang lagi.
Kali ini bukan sawah.
Ia berdiri di tepi sungai.
Air hitam mengalir pelan.
Kabut tipis melayang di atas permukaan.
Langit pucat tanpa warna.
Di seberang sungai,
sosok itu berdiri lagi.
Masih membelakangi.
Masih diam.
Namun kali ini,
suara air berbisik lebih jelas.
Bukan angin.
Bukan bayangan.
Air itu sendiri yang berkata:
“Ingat.”
Arga melangkah ke tepi sungai.
“Apa?”
Air beriak kecil.
Dan suara itu datang lagi:
“Ingat siapa yang kau tinggalkan.”
Arga membeku.
Dadanya kecilnya terasa sesak.
“Siapa?”
Sosok di seberang perlahan mengangkat kepala.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga melihat sesuatu di permukaan air.
Bayangan wajah.
Wajah seorang anak kecil.
Namun bukan wajahnya sendiri.
Arga terbangun dengan napas terputus.
Matanya langsung menatap jendela.
Di luar,
dari arah belakang rumah,
terdengar suara air sungai.
Padahal Kali Wening terlalu jauh
untuk terdengar sampai kamar.
Dan dari sela angin malam,
suara itu seperti berbisik:
“Kembali...”
BAB 17
Cahaya di Tengah Malam
Malam setelah mimpi tentang sungai itu terasa berbeda bahkan sebelum langit benar-benar gelap.
Sejak senja turun, udara di sekitar rumah kecil pinggir sawah itu menjadi lebih dingin daripada biasanya. Bukan dingin karena hujan. Bukan pula dingin karena angin kemarau. Melainkan dingin yang datang pelan-pelan seperti sesuatu yang merayap dari tanah, naik melalui dinding kayu, lalu berhenti tepat di dada.
Sukmawati merasakannya pertama kali saat sedang menutup jendela.
Tangannya yang memegang daun kayu mendadak berhenti.
Ia menoleh ke halaman belakang.
Gelap.
Hanya bayangan pohon pisang yang bergoyang pelan.
Namun entah mengapa,
ia merasa seperti ada seseorang
yang berdiri di sana,
memandangi rumah mereka dari kejauhan.
“Mas...”
Sastro yang sedang menyalakan lampu minyak menoleh.
“Ada apa?”
Sukmawati menatap keluar beberapa saat.
Lalu menggeleng pelan.
“Tidak apa.”
Namun wajahnya tidak benar-benar tenang.
Sastro memperhatikan.
“Ada yang kau lihat?”
Sukmawati menutup jendela rapat.
“Tidak.”
“Tapi rasanya seperti ada yang menunggu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Dan tak satu pun dari mereka mau melanjutkannya.
Arga malam itu tidur lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak banyak bicara.
Tidak bermain lama.
Tidak meminta Ratri menemaninya sampai sore.
Ia hanya makan sedikit,
lalu berbaring sambil memeluk kain kecil kesayangannya.
Namun sebelum matanya benar-benar terpejam,
ia berkata pelan:
“Jangan matikan lampu.”
Sukmawati menoleh.
“Kenapa?”
Arga menatap langit-langit.
“Kalau gelap... dia datang.”
Sukmawati membeku.
“Siapa?”
Arga memejamkan mata.
Seolah sudah terlalu lelah untuk menjawab.
“Yang dari air.”
Sastro yang berdiri di dekat pintu perlahan menegang.
Namun ia berusaha tetap tenang.
“Cuma mimpi.”
Arga tidak menjawab.
Karena beberapa detik kemudian,
ia sudah tertidur.
Tapi kata-kata itu tidak ikut tidur.
Kata-kata itu tinggal di ruangan.
Di antara dinding.
Di antara napas.
Di antara pikiran dua orang tua yang mulai kehilangan cara untuk merasa biasa.
Malam berjalan lambat.
Jangkrik berbunyi di luar.
Daun bambu bergesekan.
Lampu minyak menyala redup di sudut kamar.
Bayangan kecil menari di dinding.
Sukmawati tertidur lebih dulu.
Sastro masih terjaga.
Ia duduk bersandar di dekat pintu kamar,
memandangi anak dan istrinya.
Wajah Arga terlihat damai.
Terlalu damai.
Kadang justru ketenangan seperti itu yang paling menakutkan.
Sastro menatap lampu minyak.
Api kecilnya bergoyang pelan.
Lalu tiba-tiba,
api itu mengecil sendiri.
Sastro mengerutkan kening.
Ia mendekat.
Memeriksa sumbunya.
Belum sempat menyentuh,
api itu membesar lagi.
Lalu mengecil.
Lalu membesar.
Seperti bernapas.
Sastro menahan napas.
“Angin?”
Namun semua jendela tertutup.
Tak ada celah besar untuk udara masuk.
Lampu itu terus bergerak.
Mengecil.
Membesar.
Mengecil.
Sampai akhirnya,
padam.
Gelap memenuhi kamar.
“Mas?”
Sukmawati terbangun.
Suaranya gemetar.
“Diam.”
bisik Sastro.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Terlalu sunyi.
Bahkan jangkrik di luar mendadak berhenti.
Tak ada suara apa pun.
Dan justru karena itulah,
mereka mendengarnya.
Suara langkah kecil.
Pelan.
Di luar rumah.
Tap.
Tap.
Tap.
Sukmawati langsung memeluk Arga.
“Mas...”
Sastro berdiri perlahan.
Mata menatap pintu.
Langkah itu berhenti tepat di depan jendela.
Lalu terdengar suara sangat lembut.
Seperti kuku kecil menyentuh kayu.
Krek...
krek...
krek...
Sukmawati menutup mulutnya sendiri agar tidak menjerit.
“Jangan buka...”
bisiknya.
Sastro tidak bergerak.
Keringat dingin mengalir di pelipisnya.
Krek...
krek...
Suara itu berpindah ke dinding.
Pelan.
Mengelilingi rumah.
Seolah sesuatu sedang berjalan
mengitari rumah mereka
sambil meraba-raba kayu.
Tap.
Tap.
Tap.
Lalu berhenti.
Tepat di belakang tempat Arga tidur.
Dan kemudian,
sesuatu yang jauh lebih aneh terjadi.
Dari celah kecil di dinding bambu,
muncul cahaya.
Sangat kecil.
Seperti kunang-kunang.
Satu titik.
Lalu dua.
Lalu tiga.
Lalu puluhan.
Cahaya-cahaya kecil berwarna putih kebiruan
muncul dari luar rumah,
mengambang perlahan di udara.
Sukmawati terdiam.
Matanya membesar.
“Astaghfirullah...”
Cahaya itu melayang masuk melalui sela dinding.
Tidak cepat.
Tidak liar.
Sangat tenang.
Melayang mengitari ruangan.
Seperti bintang kecil yang kehilangan langit.
Sastro berdiri membeku.
Ia ingin percaya itu hanya serangga.
Namun tidak ada serangga
yang bergerak seperti itu.
Tidak ada cahaya
yang terasa sedingin itu.
Puluhan cahaya kecil itu berputar perlahan.
Dan semuanya,
tanpa kecuali,
bergerak menuju Arga.
Sukmawati memeluk anaknya semakin erat.
“Mas!”
Namun sebelum mereka sempat melakukan apa pun,
Arga membuka mata.
Matanya langsung terbuka.
Tidak terkejut.
Tidak takut.
Seolah ia memang sudah menunggu.
Ia memandang cahaya-cahaya kecil itu.
Lalu tersenyum.
“Datang lagi.”
Sukmawati menatap anaknya.
“Arga...?”
Arga mengangkat tangan kecilnya.
Satu cahaya kecil mendekat.
Lalu hinggap di ujung jarinya.
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Cahaya itu berdenyut lembut.
Dan dalam cahaya itu,
Sastro seperti melihat sesuatu.
Bukan bentuk.
Bukan wajah.
Tetapi perasaan.
Rindu.
Kesepian.
Dan penantian yang sangat lama.
Sastro mundur satu langkah.
Tubuhnya gemetar.
“Ya Allah...”
Tiba-tiba angin kencang masuk dari luar.
Lampu minyak menyala sendiri.
Api kembali hidup.
Dan seluruh cahaya kecil itu lenyap.
Sekejap.
Seolah tidak pernah ada.
Ruangan kembali seperti biasa.
Hanya napas panik.
Wajah pucat.
Dan suara Arga yang pelan.
“Mereka pulang.”
Sukmawati menangis.
Memeluk anaknya.
“Jangan bilang begitu... jangan...”
Arga menatap ibunya bingung.
“Kenapa?”
Sukmawati tidak bisa menjawab.
Karena tidak ada kata-kata
yang cukup untuk menjelaskan ketakutan seorang ibu
yang baru melihat dunia
tidak lagi berjalan menurut akal.
Sebelum subuh,
Sastro kembali menemui Mbah Jayarasa.
Lelaki tua itu sudah duduk di beranda seolah tahu ia akan datang.
“Ada cahaya.”
Mbah Jayarasa mengangguk kecil.
“Akhirnya muncul juga.”
Sastro tertegun.
“Mbah tahu?”
“Dulu pernah ada.”
Sastro duduk cepat.
“Itu apa?”
Mbah Jayarasa menatap gelap menjelang subuh.
“Kadang...”
“jiwa yang terlalu lama menunggu...”
“tidak datang dalam bentuk bayangan.”
“Lalu?”
Mbah Jayarasa menatapnya dalam-dalam.
“Kadang mereka datang sebagai cahaya.”
“Karena hanya itu bentuk paling lembut
agar anak kecil tidak takut.”
Sastro menelan ludah.
“Mereka mau apa dari Arga?”
Mbah Jayarasa diam lama.
Lalu menjawab:
“Mereka ingin diingat.”
Sastro merasakan tenggorokannya kering.
“Siapa mereka?”
Mbah Jayarasa memandang langit yang mulai memucat.
Dan untuk pertama kalinya,
suaranya terdengar benar-benar berat.
“Yang pernah ditinggalkan.”
Ketika Sastro pulang,
matahari belum terbit.
Rumah masih sepi.
Sukmawati tertidur sambil memeluk Arga.
Namun sebelum masuk,
Sastro berhenti di halaman.
Di tanah basah depan jendela,
ada jejak-jejak kecil.
Sangat kecil.
Seperti jejak kaki anak-anak.
Banyak.
Mengelilingi rumah.
Dan semuanya berhenti
tepat di bawah jendela kamar Arga.
BAB 18
Rahasia Ibunya
Sejak malam cahaya-cahaya kecil itu memenuhi kamar Arga, Sukmawati tidak lagi bisa menipu dirinya sendiri.
Selama ini ia selalu berusaha bertahan pada keyakinan paling sederhana:
bahwa semua akan baik-baik saja,
bahwa Arga hanya anak yang sedikit berbeda,
bahwa apa pun yang terjadi masih bisa dijelaskan,
bahwa rasa takut seorang ibu sering kali lebih besar daripada kenyataan.
Namun setelah melihat sendiri cahaya-cahaya itu melayang di sekitar tubuh anaknya,
setelah mendengar langkah-langkah kecil di luar rumah,
setelah melihat mata Arga menatap sesuatu yang tak bisa dilihat orang lain—
sesuatu di dalam dirinya mulai retak.
Dan retakan itu perlahan membuka satu rahasia lama
yang selama ini ia kubur rapat-rapat.
Rahasia yang bahkan belum pernah sepenuhnya ia ceritakan pada Sastro.
Pagi itu rumah terasa sangat sunyi.
Sastro duduk di beranda sejak subuh.
Tidak banyak bicara.
Tatapannya kosong mengarah ke sawah.
Arga masih tidur lebih lama dari biasanya.
Ratri belum datang.
Dan Sukmawati duduk sendirian di dapur,
menatap api kecil di tungku yang perlahan memakan kayu.
Tangannya memeluk lutut.
Pikirannya jauh.
Sangat jauh.
Kembali pada malam bertahun-tahun lalu,
malam ketika Arga pertama kali lahir.
Malam yang selama ini selalu ia simpan sendiri.
Saat itu hujan turun sangat pelan.
Bukan hujan deras.
Bukan badai.
Melainkan gerimis tipis yang membuat udara dingin dan tanah mengeluarkan aroma basah.
Sukmawati masih ingat betul rasa sakit yang datang menjelang subuh.
Napasnya terputus-putus.
Tubuhnya gemetar.
Keringat bercampur air mata.
Dukun beranak desa, Mbok Wirni, datang tergesa.
Lampu minyak dinyalakan.
Kain putih disiapkan.
Air hangat direbus.
Sastro mondar-mandir di luar kamar.
Dan ketika tangis bayi itu akhirnya pecah,
seluruh rumah mendadak sunyi.
Bukan karena tidak bahagia.
Tetapi karena sesuatu yang aneh terjadi.
Arga tidak langsung menangis lama seperti bayi lain.
Ia hanya menangis sekali.
Lalu diam.
Membuka mata.
Dan menatap lurus ke atas.
Mbok Wirni yang menggendongnya waktu itu langsung membeku.
Sukmawati yang masih lemah sempat melihat wajah perempuan tua itu berubah pucat.
“Kenapa?”
bisik Sukmawati.
Mbok Wirni tidak menjawab.
Ia hanya menatap bayi kecil itu.
Lalu berbisik lirih:
“Ya Gusti...”
Sukmawati memaksa bangkit.
“Kenapa anak saya?”
Mbok Wirni menoleh.
Wajahnya tegang.
“Tidak apa.”
“Tapi kenapa?”
Perempuan tua itu ragu.
Lalu berkata sangat pelan:
“Waktu lahir...”
“dia tidak langsung melihat ibunya.”
Sukmawati bingung.
“Lalu?”
Mbok Wirni menelan ludah.
“Dia melihat ke sudut kamar.”
Sukmawati menatap sudut kamar.
Kosong.
Namun Mbok Wirni terus bicara:
“Seperti ada seseorang di sana.”
Sukmawati langsung menggigil.
Ia ingin bertanya lebih jauh.
Namun saat itu tubuhnya terlalu lemah.
Dan tak lama kemudian,
semua perhatian kembali pada bayi kecil yang diletakkan di sisinya.
Namun sebelum pulang,
Mbok Wirni sempat memegang tangan Sukmawati.
Dan berkata pelan:
“Tidak semua anak datang sendirian.”
Selama bertahun-tahun,
Sukmawati tidak pernah menceritakan kalimat itu pada siapa pun.
Tidak pada tetangga.
Tidak pada Mbah Jayarasa.
Bahkan tidak pada Sastro.
Karena ia takut.
Bukan takut pada sesuatu di luar.
Tetapi takut jika kata-kata itu diucapkan keras-keras,
maka semuanya akan menjadi nyata.
Dan sekarang,
setelah semua yang terjadi,
rahasia itu tak lagi bisa disimpan.
Menjelang siang,
Sastro masih duduk di beranda ketika Sukmawati datang menghampiri.
Wajah perempuan itu pucat.
Matanya sembab.
Seolah semalaman tidak tidur.
“Mas...”
Sastro menoleh.
“Ada apa?”
Sukmawati duduk di sampingnya.
Tangannya dingin.
“Aku belum pernah cerita sesuatu.”
Sastro menatap istrinya.
“Cerita apa?”
Sukmawati menunduk.
Tentang malam kelahiran Arga.
Dan perlahan,
dengan suara yang beberapa kali bergetar,
ia menceritakan semuanya.
Tentang tatapan pertama Arga.
Tentang sudut kamar.
Tentang wajah Mbok Wirni.
Tentang kalimat yang tak pernah bisa ia lupakan.
“Tidak semua anak datang sendirian.”
Setelah selesai,
beranda menjadi sunyi.
Hanya suara angin di sawah.
Sastro tidak langsung bicara.
Ia hanya menatap lurus ke depan.
Lalu akhirnya bertanya:
“Kenapa baru sekarang?”
Air mata Sukmawati jatuh.
“Aku takut.”
Sastro menoleh.
“Takut apa?”
Sukmawati menggigit bibir.
“Takut kalau aku mengakuinya...
berarti sejak awal aku tahu
anak kita berbeda.”
Kalimat itu membuat Sastro tak sanggup marah.
Karena ia sendiri,
jauh di dalam hati,
juga sudah lama tahu.
Ia hanya belum berani mengatakannya.
Sastro menggenggam tangan istrinya.
“Kenapa kau tanggung sendiri?”
Sukmawati menangis.
“Karena aku ibunya.”
Kalimat itu sederhana.
Namun di dalamnya ada seluruh rasa bersalah seorang ibu
yang merasa seharusnya bisa melindungi anaknya,
bahkan dari sesuatu yang tak bisa dilihat.
Sore harinya,
Sastro kembali menemui Mbah Jayarasa.
Kali ini ia datang bukan dengan kebingungan.
Melainkan dengan sesuatu yang lebih berat:
kebenaran.
“Mbah...”
“waktu lahir Arga... dia melihat seseorang.”
Mbah Jayarasa menatapnya lama.
Tidak terkejut.
“Di sudut kamar?”
Sastro membeku.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Aku menduga.”
“Siapa itu?”
Mbah Jayarasa menatap halaman kosong.
Tongkatnya dipegang erat.
“Kadang...”
“ada jiwa yang terlalu mencintai seseorang.”
“hingga tak sanggup pergi saat orang itu lahir.”
Sastro mengerutkan kening.
“Maksud Mbah?”
“Kadang anak lahir.”
“Kadang kenangan ikut lahir bersamanya.”
Sastro frustrasi.
“Kenapa semua selalu seperti teka-teki?”
Mbah Jayarasa menoleh.
Karena beberapa jawaban terlalu tajam
untuk diberikan sekaligus.
Ia berkata pelan:
“Karena kalau kau tahu semuanya sekarang...”
“kau belum tentu siap menerimanya.”
Malam itu,
Sukmawati masuk ke kamar Arga.
Anak itu sedang duduk di dekat jendela,
memandangi bulan.
“Belum tidur?”
Arga menoleh.
“Ibu.”
Sukmawati duduk di sampingnya.
Mengusap rambutnya perlahan.
“Arga...”
“Ibu mau tanya.”
“Apa?”
“Waktu kamu lahir...”
“apa kamu ingat sesuatu?”
Arga terdiam.
Pertanyaan itu terlalu besar untuk anak kecil.
Namun anehnya,
ia tidak tampak bingung.
Ia justru menatap bulan lama.
Lalu berkata pelan:
“Ada perempuan.”
Sukmawati membeku.
“Perempuan?”
Arga mengangguk.
“Dia menangis.”
Dada Sukmawati langsung sesak.
“Di mana?”
Arga menunjuk sudut kamar.
“Tadi di sana.”
Sukmawati memandang sudut gelap itu.
Tidak ada siapa-siapa.
Tangannya gemetar.
“Dia bilang apa?”
Arga menoleh.
Matanya sangat tenang.
“Dia bilang...”
“jaga Ibu.”
Air mata Sukmawati langsung jatuh.
Ia memeluk Arga erat.
Sangat erat.
Karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
yang datang di sekitar anaknya
mungkin bukan semuanya ingin menyakiti.
Mungkin ada yang datang
karena tak sanggup benar-benar pergi.
Di luar rumah,
angin malam bergerak pelan melewati sawah.
Daun-daun berbisik.
Air sungai mengalir jauh.
Langit dipenuhi bintang.
Dan di jendela kamar Arga,
sesaat sebelum lampu dipadamkan,
Sukmawati melihat sesuatu.
Pantulan samar seorang perempuan.
Berdiri di belakangnya.
Memeluk Arga bersama dirinya.
Ketika ia menoleh,
tak ada siapa-siapa.
Hanya udara malam yang dingin.
Namun di dalam kamar,
aroma melati mendadak memenuhi ruangan.
Aroma yang tidak pernah ditanam
di halaman rumah mereka.
BAB 19
Pertanyaan Pertama
Setelah malam ketika Arga menyebut perempuan yang menangis di sudut kamar, rumah kecil di pinggir sawah itu berubah menjadi tempat yang dipenuhi kesunyian yang berbeda.
Bukan sunyi biasa.
Bukan sunyi karena malam.
Bukan sunyi karena tak ada percakapan.
Melainkan sunyi yang terasa seperti setiap orang di dalam rumah sedang menyimpan sesuatu yang terlalu berat untuk diucapkan.
Sastro semakin sering duduk lama di beranda.
Sukmawati semakin sering menatap Arga saat anak itu tidak melihat.
Dan Arga sendiri,
meski masih menjalani hari seperti biasa,
perlahan mulai merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rasa ingin tahu.
Bukan tentang dunia.
Bukan tentang sawah.
Bukan tentang hujan.
Bukan tentang suara angin.
Melainkan tentang dirinya sendiri.
Dan untuk pertama kalinya,
pertanyaan itu tumbuh.
Pagi itu langit cerah.
Matahari menyentuh ujung padi dengan cahaya keemasan.
Burung kecil beterbangan di antara batang bambu.
Suara alu dari rumah tetangga terdengar dari kejauhan.
Arga duduk di beranda sambil memperhatikan embun di daun talas.
Sukmawati sedang menyapu halaman.
Sastro memperbaiki pagar bambu yang mulai longgar.
Semua terlihat biasa.
Namun tiba-tiba Arga berkata:
“Ibu.”
Sukmawati menoleh.
“Ya?”
Arga menatap lurus ke depan.
Tidak menoleh.
Tidak bergerak.
“Kenapa aku beda?”
Sapu di tangan Sukmawati berhenti.
Sastro yang sedang membetulkan bambu ikut diam.
Angin pagi seolah ikut menahan napas.
Sukmawati mencoba tersenyum.
“Beda bagaimana?”
Arga menoleh perlahan.
Matanya tenang.
Terlalu tenang.
“Aku dengar yang orang lain tidak dengar.”
“Aku lihat yang orang lain tidak lihat.”
“Kenapa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sukmawati membuka mulut.
Lalu menutupnya lagi.
Sastro menunduk.
Tangannya tetap memegang bambu,
namun tak lagi bergerak.
Arga memandang mereka bergantian.
“Kenapa kalian selalu diam kalau aku tanya?”
Kalimat itu sederhana.
Namun seperti pisau kecil
yang pelan-pelan membuka luka yang selama ini mereka tutup.
Sukmawati berjalan mendekat.
Duduk di samping anaknya.
Mengusap rambutnya pelan.
“Arga...”
“Iya?”
“Kamu tidak salah.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak bilang salah.”
Sukmawati menahan napas.
“Lalu?”
Arga memandang sawah.
“Aku cuma ingin tahu.”
Kalimat itu membuat Sukmawati nyaris menangis.
Karena kadang,
yang paling sulit dijawab bukan pertanyaan besar.
Tetapi pertanyaan polos dari anak kecil
yang datang dari hati paling jujur.
Sukmawati memeluk bahunya.
“Kadang...”
“ada orang yang diberi rasa lebih.”
“Rasa?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Sukmawati menatap wajah anaknya.
Lalu berbisik:
“Mungkin karena Tuhan percaya.”
Arga terdiam.
Ia menerima jawaban itu.
Namun matanya menunjukkan sesuatu:
ia tahu itu bukan seluruhnya.
Dan anak kecil sering kali tahu
kapan orang dewasa sedang menyembunyikan sesuatu.
Siang harinya,
Ratri datang membawa bunga kenikir kuning.
Ia langsung duduk di bawah pohon mangga bersama Arga.
Namun hari itu Arga tidak seperti biasanya.
Ia lebih banyak diam.
Ratri memperhatikannya.
“Kamu sakit?”
Arga menggeleng.
“Lalu kenapa?”
Arga menunduk.
Lalu bertanya:
“Menurutmu aku aneh?”
Ratri mengerutkan kening.
“Kenapa tanya begitu?”
Arga mencabut rumput kecil.
“Karena aku beda.”
Ratri diam sejenak.
Lalu berkata:
“Semua orang beda.”
“Bukan begitu.”
“Lalu?”
Arga menatap tanah.
“Aku bisa dengar angin.”
“Aku bisa dengar air.”
“Aku lihat cahaya.”
“Aku lihat orang yang tidak ada.”
Ratri mendengarkan tanpa memotong.
“Apa itu aneh?”
Ratri berpikir cukup lama.
Lalu menjawab:
“Mungkin.”
Arga menatapnya.
Wajahnya muram.
Namun Ratri melanjutkan:
“Tapi tidak semua yang aneh itu buruk.”
Arga diam.
Ratri tersenyum kecil.
“Bunga liar juga aneh.”
“Tumbuh sendiri.”
“Tidak ditanam.”
“Tapi tetap indah.”
Arga menatap bunga kecil di tangan Ratri.
Lalu bertanya pelan:
“Kalau aku?”
Ratri menaruh bunga itu di telapak tangan Arga.
“Kamu juga.”
Untuk pertama kalinya sejak pagi,
Arga tersenyum kecil.
Namun pertanyaan itu tidak berhenti di situ.
Karena semakin hari,
rasa ingin tahu dalam diri Arga justru semakin besar.
Malam harinya,
ketika lampu minyak menyala redup,
Arga duduk di dekat Sastro.
Ayahnya sedang memperbaiki anyaman bambu.
Tangannya bekerja pelan.
Wajahnya diam seperti biasa.
Arga memandangnya cukup lama.
Lalu bertanya:
“Ayah.”
Sastro menoleh.
“Ya?”
“Waktu kecil Ayah juga dengar angin?”
Sastro terdiam.
“Tidak.”
“Lihat cahaya?”
“Tidak.”
“Lihat orang yang tidak ada?”
Tangan Sastro berhenti.
Lama sekali.
“Tidak.”
Arga memandang wajah ayahnya.
“Lalu kenapa aku bisa?”
Sastro menelan napas panjang.
Untuk pertama kalinya,
ia benar-benar tidak tahu bagaimana menjadi ayah bagi pertanyaan seperti itu.
Ia menatap anaknya.
Wajah kecil yang begitu mirip dirinya,
namun menyimpan sesuatu yang tak pernah ia pahami.
Sastro akhirnya berkata pelan:
“Karena mungkin...”
“kamu bukan datang hanya untuk hidup biasa.”
Arga mengerutkan dahi.
“Maksudnya?”
Sastro menghela napas.
“Kadang ada orang yang lahir membawa jalan sendiri.”
“Jalan ke mana?”
Sastro memandang mata anaknya.
Dan dengan suara sangat pelan,
ia menjawab:
“Ke jawaban yang belum kami mengerti.”
Arga terdiam.
Bagi anak kecil,
jawaban itu mungkin belum cukup.
Namun malam itu,
untuk pertama kalinya,
Sastro berhenti berpura-pura bahwa semuanya normal.
Beberapa hari setelah itu,
Arga mulai lebih sering bertanya.
Tentang kenapa sungai memanggil.
Tentang kenapa angin mengenalnya.
Tentang kenapa pohon tua terasa sedih.
Tentang siapa perempuan yang menangis di sudut kamar.
Tentang siapa sosok dalam mimpinya.
Tentang mengapa semua itu datang padanya.
Dan setiap pertanyaan,
sedikit demi sedikit,
membuat Sukmawati dan Sastro sadar:
anak mereka tidak hanya mulai melihat dunia.
Ia mulai mencari dirinya sendiri.
Dan pencarian itu,
suatu hari nanti,
akan membawa mereka semua
ke sesuatu yang jauh lebih besar.
Malam itu,
Arga tertidur lebih cepat.
Namun sebelum benar-benar tidur,
ia berkata pada ibunya:
“Ibu.”
“Iya?”
“Kalau aku bertemu dia lagi...”
“Siapa?”
“Orang di mimpi.”
Sukmawati menggenggam tangannya.
“Lalu?”
Arga menatap langit-langit.
Suaranya kecil sekali.
“Aku mau tanya satu hal.”
“Apa?”
Arga memejamkan mata.
Lalu berbisik:
“Apakah dia tahu siapa aku?”
Kalimat itu membuat dada Sukmawati sesak.
Karena sesungguhnya,
pertanyaan itu bukan ditujukan kepada sosok dalam mimpi.
Tetapi kepada dunia.
Dan mungkin,
kepada dirinya sendiri.
Malam semakin larut.
Angin bergerak pelan di luar jendela.
Arga tertidur.
Dan di dalam tidurnya,
ia kembali berdiri di tempat yang sama.
Sawah pucat.
Kabut tipis.
Langit tak berwarna.
Sosok itu berdiri di kejauhan.
Namun kali ini,
sebelum Arga mendekat,
sosok itu lebih dulu berbicara.
Dengan suara lembut,
suara yang seperti sudah sangat lama menunggu.
“Sudah waktunya kau bertanya.”
Arga menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya,
dengan suara kecil penuh keberanian,
ia bertanya:
“Siapa aku?”
Angin berhenti.
Kabut diam.
Dan sosok itu perlahan mulai menoleh.
BAB 20
Nama yang Dipanggil Angin
Mimpi itu tidak berakhir ketika Arga mengucapkan pertanyaan itu.
“Siapa aku?”
Kalimat kecil yang keluar dari bibir seorang anak itu seperti menjalar ke seluruh ruang sunyi di dalam mimpinya. Sawah yang sebelumnya diam tiba-tiba berdesir lebih keras. Kabut yang menggantung di atas tanah mulai bergerak perlahan seperti ditarik sesuatu yang tak terlihat. Langit pucat di atas kepalanya tampak semakin jauh.
Sosok di kejauhan itu berhenti.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak berjalan menjauh.
Ia berdiri diam,
seolah memang telah menunggu pertanyaan itu sejak lama.
Arga menahan napas.
Kaki kecilnya terasa berat.
Dadanya berdebar.
Namun bukan karena takut.
Melainkan karena sesuatu di dalam dirinya merasa:
jawaban itu akan mengubah segalanya.
Sosok itu mulai menoleh perlahan.
Sedikit demi sedikit.
Hampir.
Namun sebelum wajahnya terlihat jelas,
angin datang.
Bukan angin biasa.
Angin itu berputar dari seluruh penjuru sawah,
mengangkat rumput,
mengguncang kabut,
membuat suara seperti ribuan bisikan menyatu menjadi satu.
Arga memejamkan mata.
Dan dari dalam angin itu,
ia mendengar sebuah suara.
Suara yang sangat dekat.
Sangat pelan.
Namun begitu jelas.
Bukan memanggil “Arga.”
Bukan nama yang selama ini ia kenal.
Melainkan nama lain.
Satu nama yang asing,
namun terasa sangat akrab di dalam dadanya.
“Jatmika...”
Arga membuka mata.
Sosok itu hilang.
Sawah kosong.
Kabut lenyap.
Dan hanya suara angin yang masih berbisik:
“Jatmika...”
Arga terbangun.
Ia duduk mendadak di tempat tidurnya.
Napasnya cepat.
Dahi basah.
Jantungnya berdegup keras.
Lampu minyak masih menyala redup.
Sukmawati tertidur di sampingnya.
Di luar, malam masih pekat.
Namun Arga masih bisa mendengar suara itu.
Bukan di telinga.
Melainkan di dalam dirinya.
Jatmika.
Nama itu berputar seperti gema
yang tidak mau hilang.
Arga menoleh ke jendela.
Kain tipis yang menutupnya bergerak pelan.
Padahal semua tertutup rapat.
Lalu sekali lagi,
lebih lembut daripada napas:
“Jatmika...”
Arga menggigil.
Bukan karena takut.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
ia merasa bahwa nama itu
mungkin adalah miliknya.
Pagi datang dengan cahaya lembut.
Sukmawati sedang menyiapkan sarapan ketika Arga duduk diam di ambang pintu.
Tidak bermain.
Tidak memanggil ayam.
Tidak menunggu Ratri.
Ia hanya memandang halaman.
Sukmawati memperhatikannya.
“Kenapa diam?”
Arga menoleh pelan.
“Ibu.”
“Iya?”
“Jatmika itu siapa?”
Sendok kayu di tangan Sukmawati jatuh ke lantai.
Suara kecil itu terdengar keras di dapur.
“Apa?”
Arga mengulang dengan tenang.
“Jatmika.”
Wajah Sukmawati berubah pucat.
“ Siapa yang bilang itu?”
Arga menatap ibunya.
“Angin.”
Dunia Sukmawati seperti berhenti sesaat.
“Angin?”
Arga mengangguk.
“Tadi malam.”
“Dia panggil nama itu.”
Sukmawati duduk perlahan.
Lututnya terasa lemah.
Karena nama itu
bukan nama asing baginya.
Nama itu pernah hidup di rumah itu.
Pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Dan selama bertahun-tahun,
tak pernah lagi disebut.
Arga menatap ibunya.
“Ibu kenal?”
Sukmawati tidak langsung menjawab.
Karena bibirnya mendadak sulit digerakkan.
Siang harinya,
Sastro pulang lebih cepat.
Begitu melihat wajah istrinya,
ia tahu sesuatu terjadi.
“Ada apa?”
Sukmawati menatapnya.
Matanya penuh cemas.
“Dia menyebut satu nama.”
Sastro mengerutkan kening.
“Nama siapa?”
Sukmawati menelan ludah.
Lalu berbisik:
“Jatmika.”
Sastro langsung membeku.
Angin yang melewati beranda terasa mendadak dingin.
Beberapa detik tak ada yang bicara.
Lalu Sastro bertanya pelan:
“Dia dengar dari siapa?”
Sukmawati menutup mata.
“Dari angin.”
Sastro menatap Arga yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
Wajah kecil itu tampak tenang.
Seolah tak tahu bahwa satu nama
baru saja mengguncang rumah mereka.
“Tidak mungkin...”
bisik Sastro.
Sukmawati memandang suaminya.
“Mas...”
“Nama itu tidak pernah kita sebut.”
Sastro tidak menjawab.
Karena ia tahu.
Sukmawati benar.
Tak pernah.
Tidak satu kali pun.
Sore itu,
Ratri datang membawa mangga muda.
Ia menemukan Arga duduk sendiri.
Wajahnya murung.
“Ada apa?”
Arga menoleh.
“Boleh tanya?”
Ratri mengangguk.
“Kalau seseorang memanggil nama kita,
tapi itu bukan nama kita,
artinya apa?”
Ratri berpikir.
“Siapa yang manggil?”
“Angin.”
Ratri diam.
Ia sudah tidak lagi mudah menertawakan hal seperti itu.
“Nama apa?”
Arga menatap tanah.
“Jatmika.”
Ratri mengulang pelan.
“Jatmika.”
Arga menoleh.
“Kamu pernah dengar?”
Ratri menggeleng.
“Tidak.”
Arga memeluk lututnya.
“Kenapa rasanya aku kenal nama itu?”
Ratri duduk lebih dekat.
“Karena mungkin nama itu mencari kamu.”
Arga mengerutkan kening.
“Nama bisa mencari orang?”
Ratri mengangkat bahu kecil.
“Kalau angin saja bisa bicara,
mungkin nama juga bisa.”
Arga terdiam.
Dan untuk pertama kalinya,
nama itu terasa seperti pintu.
Pintu menuju sesuatu
yang selama ini berdiri tepat di depannya,
namun belum pernah terbuka.
Menjelang magrib,
Sastro pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Kali ini langkahnya jauh lebih berat.
Begitu melihatnya,
lelaki tua itu seperti sudah tahu.
“Dia mendengar nama ya.”
Sastro menatap tajam.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa menghela napas.
“Aku hanya menunggu.”
“Nama itu siapa?”
Mbah Jayarasa menatap sawah yang mulai gelap.
“Nama lama.”
“Nama siapa?”
Lelaki tua itu menoleh.
“Nama yang pernah hilang sebelum waktunya.”
Sastro mengepalkan tangan.
“Jangan bicara berputar-putar!”
Mbah Jayarasa memandangnya lama.
Lalu akhirnya berkata pelan:
“Jatmika adalah nama anak.”
Sastro menegang.
“Anak siapa?”
Mbah Jayarasa menunduk.
“Anak yang seharusnya tumbuh.”
“Namun tak pernah sempat dewasa.”
Jantung Sastro berdegup keras.
“Apa hubungannya dengan Arga?”
Mbah Jayarasa menatapnya tajam.
“Pertanyaan itu yang sejak awal kau takut dengar.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Sastro berbisik:
“Apakah anak saya...”
Mbah Jayarasa memotong pelan.
“Belum.”
“Jangan menyimpulkan sebelum waktunya.”
“Tapi kenapa namanya dipanggil?”
Mbah Jayarasa menatap langit sore.
“Karena kadang...”
“yang belum selesai
selalu mencari jalan pulang.”
Malam turun pelan.
Rumah kembali sunyi.
Arga berbaring.
Namun matanya belum terpejam.
Ia memandang langit-langit.
Mendengarkan angin yang masuk melalui celah dinding.
Sukmawati duduk di sampingnya.
Tangannya mengusap rambut anaknya.
“Bu.”
“Iya?”
“Jatmika itu siapa?”
Sukmawati terdiam.
Matanya basah.
Namun kali ini,
ia tidak bisa lagi menghindar.
Ia menatap anaknya lama.
Lalu berkata sangat pelan:
“Itu...”
“nama kakakmu.”
Arga berkedip.
“Kakakku?”
Sukmawati mengangguk.
Air matanya jatuh.
“Dia meninggal... sebelum kamu lahir.”
Ruangan menjadi sangat sunyi.
Arga menatap ibunya.
Lalu bertanya dengan suara hampir tak terdengar:
“Kalau begitu...”
“kenapa dia memanggilku?”
Sukmawati tidak sanggup menjawab.
Karena sesungguhnya,
pertanyaan itu
juga sedang menghancurkan hatinya sendiri.
Malam semakin larut.
Arga akhirnya tertidur.
Dan dalam tidurnya,
ia kembali berdiri di sawah yang sama.
Kabut tipis.
Langit pucat.
Angin berembus pelan.
Namun kali ini,
sebelum sosok itu muncul,
suara angin lebih dulu berbisik di telinganya.
Sangat dekat.
Sangat jelas.
“Bukan hanya nama...”
Arga menoleh.
Angin berputar di sekelilingnya.
Lalu berbisik sekali lagi:
“Itu ingatan.”
Dan dari kejauhan,
sosok itu perlahan menoleh,
menampakkan wajah seorang anak kecil
yang sangat mirip dengannya sendiri.
BAB 21
Senja yang Berubah
Waktu berjalan tanpa pernah meminta izin kepada siapa pun.
Ia tidak menunggu seseorang siap.
Ia tidak peduli seseorang masih ingin tinggal di masa yang sama.
Ia terus bergerak,
pelan namun pasti,
membawa anak-anak menuju usia yang tak bisa dihindari.
Begitu pula Arga.
Tanpa terasa,
tahun-tahun kecil yang penuh suara angin, mimpi, dan cahaya malam itu mulai bergeser menjadi sesuatu yang lain.
Tubuhnya bertambah tinggi.
Wajahnya mulai kehilangan bulat masa kanak-kanak.
Suaranya perlahan berubah.
Tatapannya semakin dalam.
Dan cara ia memandang dunia tidak lagi seperti seorang anak yang hanya bertanya,
melainkan seperti seseorang yang diam-diam mulai memahami bahwa hidup tidak selalu memberi jawaban.
Arga kini memasuki usia remaja.
Usia ketika seseorang mulai mengenal dirinya.
Dan justru karena itulah,
rahasia tentang Jatmika mulai mengubah semuanya.
Desa Wringinrejo tetap sama seperti dulu.
Sawah masih terbentang hijau saat musim tanam.
Kabut pagi masih turun di pematang.
Pohon tua di Bukit Watu Senja masih berdiri seperti penjaga yang tak pernah tidur.
Kali Wening masih mengalir tenang di belakang desa.
Dan angin masih berbisik di antara rumpun bambu.
Namun bagi Arga,
desa itu tak lagi terasa sama.
Karena setelah mengetahui bahwa Jatmika adalah nama kakaknya yang meninggal sebelum ia lahir,
setiap tempat seperti menyimpan pertanyaan baru.
Mengapa namanya dipanggil?
Mengapa wajah dalam mimpi itu menyerupainya?
Mengapa sungai mengenalnya?
Dan yang paling menyesakkan:
mengapa ia merasa kehilangan seseorang yang tak pernah ia kenal?
Pertanyaan-pertanyaan itu tumbuh bersamanya.
Diam.
Namun hidup.
Sore itu,
matahari mulai turun di ujung sawah.
Langit berwarna jingga pucat.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak kecil mulai menghilang dari jalan desa.
Arga duduk sendirian di pematang,
memandangi pantulan cahaya senja di air sawah.
Ratri datang dari belakang.
Langkahnya kini tak lagi seperti anak kecil.
Ia juga berubah.
Rambutnya lebih panjang.
Tatapannya lebih lembut.
Dan suaranya mulai memiliki ketenangan yang berbeda.
“Kamu di sini lagi.”
Arga menoleh.
Lalu tersenyum tipis.
“Iya.”
Ratri duduk di sampingnya.
“Kamu akhir-akhir ini sering sendiri.”
Arga memandang langit.
“Kadang lebih mudah mendengar kalau sendiri.”
Ratri tersenyum kecil.
“Masih bicara dengan angin?”
Arga diam sebentar.
Lalu menjawab:
“Sekarang bukan cuma angin.”
Ratri menoleh.
“Lalu?”
Arga menatap senja.
“Kadang kenangan.”
Kalimat itu membuat Ratri diam.
Karena ia tahu,
Arga bukan sedang bicara tentang hal biasa.
Beberapa minggu setelah itu,
Arga mulai sering bermimpi lebih jelas.
Bukan hanya sawah.
Bukan hanya sosok membelakangi.
Bukan hanya suara yang memanggil.
Kini mimpi itu mulai memperlihatkan potongan-potongan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.
Sebuah rumah tua.
Tangisan perempuan.
Kain putih.
Dan seorang anak kecil berdiri di dekat pintu.
Anak itu menoleh.
Wajahnya sama seperti Arga.
Namun matanya berbeda.
Mata itu penuh kesedihan yang terlalu tua untuk seorang anak.
Setiap kali Arga terbangun,
dadanya terasa berat.
Seolah mimpi itu bukan sekadar mimpi.
Melainkan ingatan.
Dan itu yang paling menakutkan.
Karena bagaimana mungkin seseorang bisa mengingat sesuatu
yang terjadi sebelum ia lahir?
Suatu malam,
Arga akhirnya memberanikan diri bertanya lagi kepada ibunya.
Sukmawati sedang melipat kain di ruang tengah ketika Arga duduk di dekatnya.
“Ibu.”
Sukmawati menoleh.
“Ya?”
“Jatmika meninggal bagaimana?”
Tangan Sukmawati berhenti.
Kain di pangkuannya jatuh perlahan.
Ia sudah tahu,
cepat atau lambat,
pertanyaan itu akan datang.
Namun mengetahui sesuatu akan datang
tidak berarti seseorang siap menghadapinya.
Sukmawati menunduk.
“Kenapa tanya itu?”
Arga menatapnya.
“Karena dia terus datang.”
Sukmawati memejamkan mata.
“Masih?”
Arga mengangguk.
“Sekarang lebih sering.”
“Dia bicara?”
“Tidak.”
Arga menunduk.
“Tapi rasanya dia ingin aku tahu sesuatu.”
Air mata tipis mulai muncul di mata Sukmawati.
“Bu...”
Arga bertanya pelan,
“dia mati kenapa?”
Lama sekali Sukmawati tidak menjawab.
Lalu dengan suara nyaris patah,
ia berkata:
“Demam.”
Arga menatapnya.
“Demam?”
Sukmawati mengangguk.
“Waktu usianya belum genap dua tahun.”
“Tubuhnya panas.”
“Tidak turun.”
“Dan pagi hari...”
suaranya pecah,
“dia pergi.”
Arga diam.
Ia memandang wajah ibunya.
Wajah yang menyimpan luka lama.
“Apakah Ibu masih sedih?”
Sukmawati tersenyum pahit.
“Seorang ibu tidak pernah benar-benar selesai kehilangan.”
Arga menunduk.
Untuk pertama kalinya,
ia tidak hanya merasa penasaran pada Jatmika.
Ia merasa ikut berduka
untuk seseorang yang tak pernah ia temui.
Malam berikutnya,
mimpi itu datang lagi.
Namun kali ini berbeda.
Arga berdiri di tepi Kali Wening.
Langit merah seperti senja.
Air sungai memantulkan cahaya seperti darah.
Di seberang,
anak kecil itu berdiri.
Wajahnya sama.
Namun kali ini,
ia tidak membelakangi.
Ia menatap langsung pada Arga.
Dan untuk pertama kalinya,
ia berbicara.
Dengan suara lembut.
“Sudah waktunya.”
Arga melangkah maju.
“Waktunya apa?”
Anak itu tersenyum sedih.
“Untuk tahu kenapa kau di sini.”
Arga menahan napas.
“Siapa kamu?”
Anak itu menatapnya lama.
Lalu menjawab:
“Aku yang tidak sempat tumbuh.”
Arga membeku.
Air sungai mendadak beriak.
Angin berputar.
Dan anak itu mengucapkan satu kalimat yang membuat seluruh mimpi terasa dingin.
“Dan kau...”
“adalah hidup yang dipinjamkan.”
Arga terbangun dengan napas terputus.
Tubuhnya basah oleh keringat.
Jantungnya seperti mau pecah.
Dan untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai,
Arga benar-benar merasa takut.
Keesokan paginya,
ia pergi sendiri ke Bukit Watu Senja.
Tanpa memberitahu siapa pun.
Ia duduk di bawah pohon tua.
Memandangi desa dari kejauhan.
Angin bergerak lembut di antara daun.
Arga menunduk.
“Siapa aku sebenarnya?”
Tak ada jawaban.
Hanya suara daun.
Namun sesaat kemudian,
angin berembus lebih dingin.
Lalu sebuah suara sangat pelan terdengar di belakangnya.
“Kadang...”
“seseorang lahir bukan untuk memulai.”
“Melainkan untuk melanjutkan.”
Arga menoleh cepat.
Di belakangnya berdiri Mbah Jayarasa.
Tongkat kayu di tangan.
Wajah tua penuh bayangan.
Arga menatapnya.
“Mbah tahu?”
Mbah Jayarasa mendekat perlahan.
Lalu duduk di sampingnya.
“Sebagian.”
“Lalu kenapa semua orang diam?”
Mbah Jayarasa menatap langit senja.
“Karena beberapa jawaban bisa mengubah hidup seseorang.”
Arga memandang lelaki tua itu.
“Hidupku memang sudah berubah.”
Mbah Jayarasa menoleh.
Dan untuk pertama kalinya,
ia melihat bahwa anak kecil yang dulu mendengar angin
kini mulai menjadi seseorang
yang siap mencari kebenaran.
Sebuah kebenaran
yang mungkin akan membawa luka.
Namun tak lagi bisa dihindari.
Senja perlahan turun.
Cahaya jingga menyelimuti sawah.
Desa berubah keemasan.
Langit tampak seperti luka yang indah.
Arga memandang matahari tenggelam.
Dan di dalam dirinya,
sesuatu ikut berubah.
Bukan karena ia akhirnya mendapat jawaban.
Tetapi karena ia sadar:
mulai hari itu,
ia tidak lagi sekadar menunggu jawaban datang.
Ia akan mencarinya sendiri.
Dan sejak senja itulah,
masa kecil Arga benar-benar berakhir.
BAB 22
Gadis di Tepi Sungai
Sejak senja di Bukit Watu berubah menjadi penanda berakhirnya masa kecilnya, Arga mulai melihat dunia dengan cara yang berbeda.
Jika dulu ia hanya merasa dunia di sekelilingnya penuh bisikan,
kini ia mulai menyadari bahwa setiap bisikan
selalu membawa seseorang menuju pertemuan.
Dan kadang,
pertemuan paling penting dalam hidup seseorang
datang saat ia tidak sedang mencarinya.
Arga tidak tahu,
bahwa hari itu,
di tepi Kali Wening yang selama ini menyimpan begitu banyak rahasia,
ia akan bertemu seseorang
yang kelak bukan hanya mengubah jalan hidupnya,
tetapi juga mengubah cara ia memahami cinta.
Musim kemarau baru saja datang.
Air sungai surut lebih jernih daripada biasanya.
Batu-batu hitam di dasar sungai tampak jelas.
Daun bambu kering jatuh satu-satu ke permukaan air.
Angin bergerak pelan membawa aroma tanah yang hangat.
Pagi itu Arga berjalan sendiri ke belakang desa.
Ia tidak sedang mencari apa pun.
Atau mungkin,
ia sedang mencari sesuatu
yang belum bisa ia beri nama.
Langkahnya pelan melewati pematang.
Menyusuri jalan setapak.
Turun ke tepian Kali Wening.
Sudah beberapa minggu ia tidak datang ke sana.
Sejak mimpi-mimpi tentang Jatmika semakin sering datang,
ia menghindari tempat itu.
Namun entah mengapa pagi itu,
hatinya justru membawanya kembali.
Sungai mengalir tenang.
Matahari pagi memantul di permukaan air seperti serpihan kaca kecil.
Suara air menyentuh batu terdengar lembut,
hampir seperti nyanyian.
Arga berdiri di tepi sungai,
menatap arus yang bergerak lambat.
Lalu ia mendengar suara.
Bukan suara angin.
Bukan bisikan gaib.
Suara manusia.
Suara perempuan.
Sangat pelan.
Seperti seseorang sedang bersenandung.
Arga menoleh.
Dan di sanalah ia melihatnya.
Di bawah pohon waru tua yang tumbuh miring ke arah sungai,
seorang gadis duduk di atas batu besar.
Kakinya menyentuh air.
Jari-jarinya memainkan riak kecil.
Rambut panjangnya jatuh sampai punggung.
Gaun sederhana warna biru muda bergerak pelan tertiup angin.
Ia sedang menyanyikan sesuatu.
Lagu lama.
Sangat pelan.
Nyaris seperti bisikan.
Namun yang membuat Arga terpaku bukan lagu itu.
Melainkan caranya duduk di sana.
Tenang.
Seolah sungai mengenalnya.
Seolah ia bukan orang asing bagi tempat itu.
Arga berdiri tanpa suara.
Tak ingin mengganggu.
Namun mungkin karena angin,
atau mungkin karena memang sudah menyadari sejak awal,
gadis itu menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Dan untuk beberapa detik,
dunia seperti diam.
Suara air menghilang.
Suara daun berhenti.
Bahkan angin seolah menahan dirinya sendiri.
Gadis itu memandang Arga.
Arga memandang gadis itu.
Dan entah mengapa,
Arga merasa seperti pernah melihat mata itu.
Bukan di desa.
Bukan di pasar.
Bukan di mimpi.
Tetapi di tempat yang jauh lebih dalam:
di bagian dirinya yang tidak pernah bisa dijelaskan.
Gadis itu tersenyum tipis.
“Kalau mau mengintip, jangan terlalu jelas.”
Arga tersentak.
Wajahnya langsung kikuk.
“Aku tidak mengintip.”
Gadis itu mengangkat alis.
“Lalu?”
Arga menatap sungai.
“Aku cuma lewat.”
Gadis itu tertawa kecil.
“Kalau begitu sungai ini memang suka mempertemukan orang yang ‘cuma lewat’.”
Suara tawanya ringan.
Namun anehnya,
bunyi itu seperti membuat sesuatu di dada Arga bergetar pelan.
Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Arga mendekat beberapa langkah.
“Namamu siapa?”
Gadis itu menatapnya beberapa saat.
Seolah mempertimbangkan sesuatu.
Lalu menjawab:
“Sekar.”
Arga mengulang pelan.
“Sekar.”
Nama itu terasa lembut saat diucapkan.
Seperti bunga yang jatuh ke air.
“Kalau kamu?”
tanya gadis itu.
“Arga.”
Sekar mengangguk kecil.
“Nama yang berat.”
Arga tersenyum tipis.
“Kenapa?”
“Karena matamu seperti orang yang terlalu banyak menyimpan langit.”
Arga terdiam.
Tak banyak orang yang bicara seperti itu.
Bahkan Ratri pun tak pernah.
“Kamu sering bicara aneh ya?”
Sekar tersenyum.
“Kamu juga.”
Arga hampir tertawa.
Untuk pertama kalinya setelah lama,
ia merasa bisa bernapas lebih ringan.
Mereka duduk di tepi sungai tanpa sadar terlalu lama.
Awalnya hanya beberapa kalimat.
Lalu menjadi percakapan.
Lalu tanpa terasa,
waktu berjalan begitu saja.
Sekar ternyata bukan berasal dari bagian utama desa.
Ia tinggal bersama neneknya di rumah tua dekat ujung kebun tebu.
“Aku jarang lihat kamu.”
kata Arga.
Sekar mengangkat bahu.
“Aku memang jarang keluar.”
“Kenapa?”
Sekar memandang air.
“Karena tidak semua orang suka hal-hal yang berbeda.”
Arga menoleh.
Kalimat itu terasa terlalu dekat dengan dirinya.
“Kamu juga?”
tanya Arga pelan.
Sekar menoleh balik.
“Apa?”
“Berbeda.”
Sekar tersenyum kecil.
Namun kali ini ada kesedihan di matanya.
“Semua orang punya sesuatu yang disembunyikan.”
Arga memandangi wajah gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasa sedang bertemu seseorang
yang mungkin mengerti kesepian
dengan cara yang sama.
Angin siang bergerak pelan.
Sekar mengambil satu daun kecil yang hanyut.
Membiarkannya mengambang di air.
“Kamu percaya sungai bisa menyimpan cerita?”
Arga terdiam.
Lalu menjawab:
“Aku percaya.”
Sekar menoleh.
“Kamu tidak menertawakanku?”
Arga menggeleng.
“Karena aku juga pernah mendengar sungai bicara.”
Sekar menatapnya lama.
Lalu untuk pertama kalinya,
wajah gadis itu berubah.
Bukan kaget.
Bukan takut.
Melainkan seperti seseorang
yang akhirnya menemukan jawaban
atas pertanyaan yang tak pernah ia ucapkan.
“Kamu juga bisa mendengar?”
Arga perlahan mengangguk.
Sekar menatap air.
Suaranya hampir berbisik.
“Berarti aku tidak sendiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
kalimat itu terasa lebih dalam daripada percakapan panjang.
Karena kadang,
kedekatan lahir bukan saat dua orang saling mengenal lama.
Tetapi saat dua orang
sama-sama merasa:
akhirnya ada yang mengerti.
Dari kejauhan,
Ratri melihat mereka.
Ia sedang membawa daun singkong dari kebun ketika langkahnya berhenti di atas pematang.
Di tepi sungai,
Arga duduk bersama seorang gadis.
Mereka tertawa kecil.
Dan untuk pertama kalinya,
Ratri melihat sesuatu di wajah Arga
yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Ketenangan.
Bukan ketenangan karena diam.
Melainkan ketenangan karena hati yang tiba-tiba menemukan tempat baru untuk berlabuh.
Ratri berdiri lama.
Lalu menunduk.
Tanpa memanggil.
Tanpa mendekat.
Ia berbalik pulang dengan langkah pelan.
Karena terkadang,
bahkan hati yang belum sempat mengerti perasaannya sendiri
sudah lebih dulu tahu
ketika seseorang mulai menjauh.
Sore menjelang.
Cahaya matahari mulai keemasan.
Sekar berdiri lebih dulu.
“Aku harus pulang.”
Arga ikut berdiri.
“Besok ke sini lagi?”
Sekar menatapnya.
Tidak langsung menjawab.
Lalu tersenyum kecil.
“Kalau sungainya mengizinkan.”
Arga mengerutkan kening.
“Sungai?”
Sekar mundur satu langkah.
“Kamu nanti akan mengerti.”
Sebelum Arga sempat bertanya,
Sekar sudah berjalan naik ke jalan kecil di antara semak.
Arga memandanginya sampai sosok itu hilang.
Dan untuk beberapa saat,
ia hanya berdiri diam.
Merasakan sesuatu yang baru.
Sesuatu yang lembut.
Membingungkan.
Namun indah.
Perasaan yang bahkan angin pun tak bisa ia jelaskan.
Ketika Arga menunduk ke permukaan air,
ia melihat pantulannya sendiri.
Namun sesaat,
di samping pantulannya,
muncul bayangan wajah lain.
Wajah anak kecil.
Jatmika.
Dan suara itu kembali datang dari arus sungai.
Pelan.
Sangat pelan.
“Hati-hati...”
Arga langsung menoleh.
Tak ada siapa-siapa.
Hanya air yang terus mengalir
membawa senja.
Dan untuk pertama kalinya,
pertemuan yang terasa indah
juga membawa firasat
yang tak sepenuhnya tenang.
BAB 23
Tatapan Pertama
Sejak pertemuan di tepi Kali Wening itu, sesuatu di dalam diri Arga berubah dengan cara yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun.
Ia masih berjalan di jalan desa yang sama.
Masih melewati pematang yang sama.
Masih mendengar suara angin yang sama.
Masih melihat senja turun di antara sawah.
Namun semuanya terasa berbeda.
Seolah dunia yang selama ini hanya berwarna tanah, hujan, dan kabut,
tiba-tiba memiliki cahaya baru
yang tidak berasal dari langit.
Dan cahaya itu bernama:
Sekar.
Hari-hari setelahnya,
Arga mulai lebih sering pergi ke sungai.
Awalnya ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri
bahwa ia datang karena ingin memahami suara air.
Karena ingin mencari jawaban tentang Jatmika.
Karena sungai memang selalu memanggilnya.
Namun jauh di dalam hati,
ia tahu alasannya jauh lebih sederhana.
Ia berharap bertemu Sekar lagi.
Dan setiap kali ia datang,
jantungnya selalu berdegup sedikit lebih cepat.
Kadang Sekar sudah duduk di batu yang sama.
Kadang ia datang belakangan.
Kadang mereka hanya bicara sebentar.
Kadang mereka diam lama sambil mendengar air.
Namun justru dalam diam itulah,
perasaan mulai tumbuh.
Pelan.
Hampir tak terasa.
Seperti embun yang mengendap
sebelum seseorang sadar pagi telah datang.
Pagi itu matahari belum terlalu tinggi saat Arga tiba di sungai.
Sekar sudah ada di sana.
Ia sedang berdiri di tengah air dangkal,
gaunnya sedikit terangkat agar tidak basah.
Tangannya memegang ranting kecil,
menggambar lingkaran-lingkaran di permukaan air.
Arga berhenti beberapa langkah.
Memperhatikannya.
Sekar menoleh.
Dan saat mata mereka bertemu,
waktu seperti melambat.
Bukan karena sesuatu yang besar terjadi.
Tidak ada petir.
Tidak ada angin.
Tidak ada suara gaib.
Hanya satu tatapan.
Namun kadang,
satu tatapan yang tepat
lebih menggetarkan daripada seribu kata.
Sekar tersenyum kecil.
“Kamu lagi.”
Arga berusaha terdengar biasa.
“Kamu juga.”
Sekar tertawa pelan.
“Kamu selalu jawab seperti itu?”
Arga mengangkat bahu.
“Aku belum punya jawaban yang lebih baik.”
Sekar menatapnya beberapa detik.
Lalu berkata:
“Mungkin memang tidak semua pertemuan butuh jawaban.”
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa,
Arga merasa seperti baru saja mendengar sesuatu
yang akan tinggal lama di dalam dirinya.
Mereka duduk di batu besar yang sama.
Air mengalir pelan di kaki mereka.
Angin menggoyang daun bambu.
Cahaya matahari jatuh di permukaan sungai seperti serpihan emas kecil.
Arga memandang arus.
Sekar memandang Arga.
“Kamu sering melamun.”
Arga menoleh.
“Aku tidak melamun.”
Sekar tersenyum.
“Kalau begitu kamu sedang pergi.”
“Pergi ke mana?”
Sekar menunjuk dada Arga.
“Ke tempat yang tidak bisa aku lihat.”
Arga terdiam.
Tidak banyak orang yang bisa membaca diamnya.
Bahkan ibunya sering hanya mengkhawatirkan.
Ayahnya memilih menghindari.
Ratri memahami sebagian.
Namun Sekar,
gadis yang baru beberapa kali ia temui,
seolah bisa melihat sesuatu
yang orang lain tak pernah benar-benar perhatikan.
Arga menunduk.
“Kadang aku memang merasa begitu.”
“Seperti apa?”
Arga berpikir lama.
Lalu menjawab:
“Seperti hidup di dua tempat sekaligus.”
Sekar tidak tertawa.
Tidak menganggapnya aneh.
Ia hanya berkata pelan:
“Aku tahu rasanya.”
Arga menoleh cepat.
“Kamu juga?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap air.
“Kadang tubuh ada di sini.”
“tapi hati terasa seperti sedang dipanggil ke tempat lain.”
Arga memandang wajah gadis itu.
Dan untuk pertama kalinya,
ia merasa:
mungkin Sekar bukan hadir secara kebetulan.
Mungkin memang ada sesuatu
yang mempertemukan mereka.
Di kejauhan,
Ratri kembali melihat mereka.
Ia berdiri di pematang dengan keranjang kecil di tangan.
Awalnya hanya ingin memanggil Arga.
Namun langkahnya berhenti.
Karena cara Arga menatap Sekar
tidak sama seperti biasanya.
Tatapan itu lembut.
Tenang.
Dan penuh perhatian
yang tak pernah Ratri lihat sebelumnya.
Ratri menunduk.
Untuk pertama kalinya,
ia merasakan sesuatu yang asing di dalam dada.
Bukan marah.
Bukan sedih.
Melainkan rasa kehilangan
atas sesuatu yang belum pernah ia miliki.
Ia tidak mendekat.
Ia hanya berdiri cukup lama,
lalu berbalik perlahan.
Sementara di sungai,
Arga tidak menyadari
bahwa sejak hari itu,
bukan hanya hatinya yang mulai berubah.
Tetapi hati orang lain juga.
Menjelang siang,
Sekar mencelupkan tangannya ke air.
Membiarkan arus mengalir di sela jarinya.
“Kamu pernah merasa takut?”
Arga menoleh.
“Takut apa?”
“Takut pada sesuatu yang indah.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa harus takut?”
Sekar tersenyum samar.
“Karena kadang yang indah tidak tinggal lama.”
Arga memandangnya.
Mata gadis itu memantulkan cahaya sungai.
Namun di balik itu,
ada kesedihan yang sulit dijelaskan.
“Kamu bicara seperti orang tua.”
Sekar tertawa kecil.
“Dan kamu mendengar seperti orang yang terlalu cepat dewasa.”
Mereka saling diam.
Lalu perlahan,
Sekar menoleh.
Tatapan mereka bertemu sekali lagi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih lama.
Lebih tenang.
Lebih dalam.
Arga tidak tahu sejak kapan ia berhenti mendengar sungai.
Berhenti mendengar angin.
Berhenti mendengar dunia.
Karena dalam beberapa detik itu,
yang ia dengar hanya detak jantungnya sendiri.
Dan mungkin,
detak jantung Sekar juga.
Sekar menunduk lebih dulu.
Pipi gadis itu sedikit merah.
Arga memandang air,
berusaha menyembunyikan senyum kecilnya sendiri.
Tanpa mereka sadari,
di antara dua remaja yang sama-sama belum paham cinta,
sesuatu mulai tumbuh.
Diam-diam.
Lembut.
Namun nyata.
Sore harinya,
Arga pulang dengan langkah yang terasa ringan.
Sukmawati yang sedang menyapu beranda menatap anaknya.
“Kamu kenapa?”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa apa?”
“Kamu senyum sendiri.”
Arga langsung menunduk.
“Tidak.”
Sukmawati tersenyum kecil.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu sedang jatuh hati?”
Arga hampir tersedak napasnya sendiri.
“Apa?”
Sukmawati tertawa pelan.
“Wajahmu beda.”
Arga berusaha menyangkal.
Namun wajahnya justru makin jelas.
Sukmawati menatap anaknya lama.
Lalu tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia melihat sesuatu selain bayangan dan ketakutan
di mata putranya.
Ia melihat cahaya.
Dan sebagai seorang ibu,
ia tahu:
cahaya seperti itu
hanya datang ketika seseorang mulai menyukai orang lain.
Malam datang.
Arga berbaring,
namun tidak langsung tidur.
Ia menatap langit-langit sambil mengingat kembali tatapan Sekar.
Cara gadis itu menoleh.
Cara ia tersenyum.
Cara matanya seolah memahami sesuatu
yang tak bisa diucapkan.
Arga menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya,
mimpi yang datang bukan tentang sungai gelap.
Bukan tentang kabut.
Bukan tentang Jatmika.
Melainkan tentang cahaya sore di tepi air
dan sepasang mata yang diam-diam tinggal di hatinya.
Namun di tengah kehangatan itu,
suara lain datang.
Pelan.
Jauh.
Nyaris seperti berasal dari dasar sungai.
“Jangan terlalu dalam...”
Arga membuka mata.
Kamar gelap.
Sunyi.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di luar jendela,
angin bergerak pelan
membawa aroma air sungai.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang baru tumbuh itu
mulai dibayangi sesuatu
yang belum ia mengerti.
BAB 24
Hati yang Bergetar
Setelah tatapan itu, Arga tidak lagi bisa membohongi dirinya sendiri.
Ada banyak hal dalam hidup yang bisa disembunyikan seseorang dari orang lain.
Kesedihan bisa disimpan di balik senyum.
Rasa takut bisa disembunyikan dalam diam.
Luka bisa ditutup oleh waktu.
Namun ada satu hal yang paling sulit disembunyikan,
bahkan dari diri sendiri:
perasaan yang mulai tumbuh di dalam hati.
Arga belum pernah mengenal cinta.
Ia belum tahu bagaimana bentuknya.
Ia tidak pernah diajari bagaimana rasanya.
Tak pernah ada yang menjelaskan seperti apa seseorang mulai jatuh pada orang lain.
Namun setiap kali mengingat Sekar,
sesuatu di dadanya bergetar pelan.
Dan semakin hari,
getaran itu semakin jelas.
Pagi-pagi sekali,
sebelum matahari benar-benar naik,
Arga sudah duduk di beranda.
Biasanya ia sulit bangun sepagi itu.
Namun hari itu,
ia terbangun bahkan sebelum ayam jantan berkokok.
Sukmawati yang keluar membawa sapu menatap anaknya heran.
“Kamu sakit?”
Arga menoleh.
“Tidak.”
“Lalu kenapa bangun pagi?”
Arga mengangkat bahu.
“Tidak bisa tidur.”
Sukmawati memperhatikan wajah anaknya.
Lalu tersenyum tipis.
“Karena mimpi?”
Arga diam.
Sukmawati menyapu pelan.
“Atau karena seseorang?”
Arga langsung menunduk.
“Ibu ini.”
Sukmawati tertawa kecil.
“Wajah orang jatuh hati susah disembunyikan.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak jatuh hati.”
“Belum?”
tanya Sukmawati lembut.
Arga tidak menjawab.
Karena diam-diam,
ia sendiri belum berani mengakui
apa yang sebenarnya mulai tumbuh.
Siang itu,
seperti beberapa hari sebelumnya,
langkah Arga kembali membawanya ke Kali Wening.
Namun kali ini,
ia datang dengan perasaan yang berbeda.
Bukan hanya menunggu.
Bukan hanya berharap.
Melainkan dengan kegelisahan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tangannya dingin.
Napasnya tidak tenang.
Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Dan ketika ia melihat Sekar sudah duduk di batu besar itu,
semua kegelisahan itu berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih aneh.
Tenang.
Sekaligus kacau.
Sekar menoleh.
Tersenyum saat melihatnya.
“Kamu lagi.”
Arga tersenyum kecil.
“Kamu juga.”
Sekar tertawa.
“Kalau begini terus, sungainya bosan.”
Arga mendekat.
“Memang sungai bisa bosan?”
Sekar menatap air.
“Bisa.”
“Kalau dua orang datang cuma untuk saling diam.”
Arga duduk di sampingnya.
“Kalau begitu hari ini kita bicara.”
Sekar menoleh.
“Bicara apa?”
Arga terdiam.
Karena mendadak,
ia sadar:
kadang seseorang datang bukan karena ingin bicara apa-apa.
Kadang seseorang datang
hanya karena ingin berada dekat.
Dan justru itu yang paling membingungkan.
Mereka akhirnya tetap duduk seperti biasa.
Sekar memainkan ujung kainnya.
Arga melempar batu kecil ke air.
Riak-riak meluas lalu hilang.
“Kamu kenapa?”
tanya Sekar.
“Apa?”
“Kamu kelihatan gelisah.”
Arga menoleh.
“Kelihatan?”
Sekar mengangguk.
“Dari tadi kamu lempar batu terus.”
Arga melihat tangannya.
Benar.
Tanpa sadar ia terus melakukannya.
Arga tertawa kecil.
“Entah.”
Sekar memandangnya.
“Karena aku?”
Arga membeku.
Jantungnya mendadak berdetak lebih keras.
Sekar tersenyum tipis.
Namun matanya serius.
“Kalau iya juga tidak apa-apa.”
Arga memandang gadis itu.
Dan untuk beberapa detik,
ia lupa cara bernapas.
Karena terkadang,
yang membuat hati seseorang bergetar
bukan sentuhan,
bukan pelukan,
bukan kata-kata indah,
melainkan keberanian seseorang
menyentuh perasaan yang belum sempat diucapkan.
Angin berembus lembut.
Membawa aroma air dan daun kering.
Sekar menunduk.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu pernah merasa dekat dengan seseorang...”
“padahal baru mengenalnya?”
Arga menjawab pelan.
“Sekarang.”
Sekar perlahan menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada yang tersenyum.
Tidak ada yang bercanda.
Tidak ada yang berpaling.
Hanya dua orang muda
yang untuk pertama kalinya
mendengar suara hati mereka sendiri.
Arga merasakan sesuatu di dadanya.
Bukan sakit.
Bukan takut.
Tetapi getaran lembut
yang terasa sampai ke ujung jarinya.
Hatinya benar-benar bergetar.
Dan di saat itulah,
ia akhirnya sadar:
ia bukan hanya ingin bertemu Sekar.
Ia mulai merindukannya
bahkan ketika mereka belum berpisah.
Namun seperti biasa,
setiap keindahan dalam hidup Arga
tidak pernah datang sendirian.
Saat Arga tanpa sadar mengulurkan tangan
untuk mengambil daun kecil yang tersangkut di rambut Sekar,
angin tiba-tiba berubah.
Dingin.
Sangat dingin.
Air sungai yang tadinya tenang
mendadak beriak sendiri.
Sekar menoleh cepat.
Arga langsung menarik tangannya.
“Ada apa?”
tanya Arga.
Sekar memandang sungai.
Wajahnya berubah.
“Dia datang.”
Arga menegang.
“Siapa?”
Sekar menatap air.
Di permukaan sungai,
di antara pantulan langit,
muncul bayangan kecil.
Seorang anak.
Berdiri diam.
Wajahnya samar,
namun Arga mengenalinya.
Jatmika.
Arga langsung berdiri.
Napasnya memburu.
Sekar ikut bangkit.
Wajahnya pucat.
“Kamu lihat juga?”
bisik Arga.
Sekar menoleh.
Matanya penuh takut.
“Selama ini...”
“aku kira cuma aku.”
Arga menatap Sekar.
“Kamu bisa melihatnya?”
Sekar mengangguk perlahan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
Sekar bukan hanya berbeda.
Sekar mungkin terhubung
dengan rahasia yang sama.
Bayangan itu hanya muncul sesaat.
Kemudian lenyap bersama riak air.
Namun udara tetap dingin.
Terlalu dingin untuk siang hari.
Sekar mundur satu langkah.
“Aku harus pulang.”
Arga menahan.
“Sekar, ”
Namun gadis itu menggeleng.
Wajahnya masih pucat.
“Besok.”
Sebelum Arga sempat bertanya,
Sekar sudah berjalan cepat meninggalkan sungai.
Arga berdiri sendiri.
Menatap air.
Dadanya masih bergetar.
Namun kini bukan hanya karena cinta.
Melainkan karena ketakutan.
Karena perasaan yang baru saja tumbuh itu
ternyata mungkin terikat
pada sesuatu yang jauh lebih besar
daripada sekadar pertemuan dua hati.
Malam itu,
Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Mendengarkan angin.
Mengingat wajah Sekar.
Mengingat bayangan di sungai.
Mengingat getaran di dadanya.
Lalu suara itu datang lagi.
Sangat pelan.
Sangat dekat.
Seperti seseorang berdiri di belakangnya.
“Jangan mencintainya...”
Arga menoleh cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun jendela terbuka sendiri.
Angin malam masuk perlahan.
Dan di luar,
di antara gelap sawah,
terlihat satu cahaya kecil
mengambang diam.
Seperti sedang mengawasi.
Arga menahan napas.
Karena untuk pertama kalinya,
ia mulai merasa bahwa perasaannya pada Sekar
bukan hanya akan mengubah hidupnya,
tetapi juga bisa membangunkan sesuatu
yang selama ini tidur.
BAB 25
Rahasia dalam Senyum
Sejak bayangan Jatmika muncul di permukaan Kali Wening di hadapan mereka berdua, sesuatu di antara Arga dan Sekar berubah.
Bukan menjadi jauh.
Justru sebaliknya.
Kadang dua orang bisa menjadi dekat karena tawa.
Kadang karena kebiasaan.
Kadang karena kesamaan.
Namun ada kedekatan yang lahir dari sesuatu yang lebih sunyi:
ketika dua orang menyadari bahwa mereka sedang memikul rahasia yang sama.
Dan sejak hari itu,
Arga tahu satu hal.
Sekar bukan sekadar gadis yang hadir di tepi sungai.
Sekar juga menyimpan sesuatu.
Sesuatu yang tersembunyi di balik senyumnya.
Keesokan harinya,
Arga kembali ke sungai lebih awal dari biasanya.
Langit masih pucat.
Kabut tipis menggantung di atas air.
Daun-daun basah oleh embun.
Ia datang dengan dada penuh pertanyaan.
Tentang Jatmika.
Tentang sungai.
Tentang Sekar.
Tentang tatapan takut yang sempat muncul di mata gadis itu kemarin.
Dan mungkin,
tentang sesuatu yang jauh lebih dalam:
mengapa hatinya tetap membawanya ke tempat itu
meski sebagian dirinya mulai takut.
Sekar sudah ada di sana.
Duduk di batu yang sama.
Memandang air seperti biasanya.
Namun hari itu,
senyumnya datang lebih lambat.
“Kamu datang.”
Arga berdiri beberapa langkah.
“Iya.”
Sekar menepuk batu di sampingnya.
“Duduk.”
Arga duduk.
Namun tidak seperti biasanya.
Ia tidak langsung bicara.
Tidak tersenyum.
Tidak memandang air.
Ia hanya menatap Sekar.
Sekar akhirnya menoleh.
“Apa?”
Arga bertanya pelan:
“Kamu melihat dia juga?”
Senyum kecil di wajah Sekar perlahan memudar.
Angin di sekitar mereka bergerak pelan.
Air sungai mengalir seperti pura-pura tidak mendengar.
Sekar menunduk.
“Sejak kapan?”
tanya Arga.
Lama sekali gadis itu tidak menjawab.
Lalu dengan suara nyaris berbisik,
ia berkata:
“Sejak aku kecil.”
Arga menatapnya.
“Kenapa tidak bilang?”
Sekar tertawa kecil.
Tapi tawa itu pahit.
“Kamu juga tidak bilang.”
Arga terdiam.
Karena Sekar benar.
Mereka sama-sama membawa sesuatu sendirian
sebelum akhirnya tak sengaja menemukan satu sama lain.
Sekar menarik napas panjang.
Matanya menatap arus sungai.
“Waktu aku kecil...”
“aku sering bicara sendiri.”
Arga diam mendengarkan.
“Nenekku bilang aku punya teman khayalan.”
“Orang desa bilang aku terlalu sering demam.”
“Beberapa bilang aku aneh.”
Sekar tersenyum kecil.
Namun senyum itu tidak sampai ke matanya.
“Tapi aku tahu.”
“Aku tidak sendiri.”
Arga bertanya pelan.
“Yang kamu lihat... anak kecil itu?”
Sekar mengangguk.
“Kadang.”
“Kadang cuma suara.”
“Kadang cuma bayangan.”
“Kadang hanya rasa sedih yang datang tiba-tiba.”
Arga menatap sungai.
“Itu sama.”
Sekar menoleh.
“Kamu juga merasakan sedih itu?”
Arga mengangguk.
“Seperti kehilangan sesuatu yang bukan milikku.”
Sekar memandangnya lama.
Dan untuk pertama kalinya,
tatapan itu bukan hanya lembut.
Tatapan itu penuh pengertian.
Karena mungkin,
untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
Sekar bertemu seseorang
yang benar-benar memahami.
Arga menatap wajah gadis itu.
“Kenapa setiap kali kamu tersenyum...”
“rasanya seperti kamu sedang menyembunyikan sesuatu?”
Sekar tertawa kecil.
“Kamu selalu bicara langsung ya.”
Arga tidak tersenyum.
“Aku serius.”
Sekar memandang air.
Lalu berkata pelan:
“Karena memang begitu.”
Arga diam.
Sekar memainkan ujung gaunnya.
“Ada orang yang belajar tersenyum
supaya orang lain tidak bertanya terlalu jauh.”
“Dan kamu seperti itu?”
Sekar mengangguk kecil.
“Kalau aku tidak tersenyum,
orang akan melihat aku sebenarnya takut.”
Arga menatapnya.
“Takut apa?”
Sekar menjawab tanpa menoleh:
“Takut kalau semua ini bukan kebetulan.”
Angin melewati mereka.
Membawa sunyi.
Arga mengerti.
Karena itulah yang juga ia rasakan.
Siang bergerak perlahan.
Matahari menyusup di sela daun.
Cahaya jatuh di wajah Sekar.
Membuat matanya terlihat lebih dalam.
Arga memandangnya diam-diam.
Dan baru saat itulah ia menyadari:
bahkan kesedihan pun bisa terlihat indah
ketika tinggal di wajah orang yang tepat.
Sekar menangkap tatapannya.
“Kamu lihat apa?”
Arga tersadar.
“Tidak apa.”
Sekar tersenyum.
“Bohong.”
Arga menunduk.
“Aku cuma...”
“Cuma?”
Arga menghela napas.
“Cuma merasa senyummu sedih.”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Arga.
Lama.
Sampai akhirnya ia bertanya:
“Kalau kamu tahu senyum seseorang sedih...”
“kenapa masih ingin melihatnya?”
Pertanyaan itu membuat Arga terdiam.
Karena ia belum pernah memikirkan jawabannya.
Namun anehnya,
jawaban itu muncul begitu saja.
“Karena...”
“aku ingin tahu alasan di baliknya.”
Sekar menatapnya.
Dan untuk sesaat,
matanya tampak berkilat.
Bukan karena cahaya.
Karena sesuatu di hatinya tersentuh.
Ia tersenyum lagi.
Namun kali ini berbeda.
Lebih lembut.
Lebih jujur.
Dan justru itu membuat Arga sadar:
di balik senyum itu,
memang ada rahasia yang belum selesai.
Dari kejauhan,
di balik rumpun bambu,
Mbah Jayarasa berdiri memandang mereka.
Wajah tuanya tenang,
namun matanya berat.
Ia tidak memanggil.
Tidak mendekat.
Hanya melihat.
Lalu berbisik sendiri:
“Takdir mulai saling mengenali.”
Angin lewat di sampingnya.
Dan lelaki tua itu tahu,
beberapa pertemuan tidak pernah benar-benar terjadi secara kebetulan.
Menjelang sore,
Sekar berdiri hendak pulang.
Namun sebelum pergi,
ia menoleh pada Arga.
“Arga.”
“Iya?”
Sekar ragu sejenak.
Lalu bertanya:
“Kalau suatu hari kamu tahu sesuatu tentang aku...”
“sesuatu yang mungkin tidak mudah diterima...”
“kamu masih mau datang ke sungai ini?”
Arga menatapnya.
Tidak tahu mengapa pertanyaan itu terdengar seperti lebih dari sekadar kata-kata biasa.
Seperti peringatan.
Seperti permintaan.
Seperti ketakutan.
Arga menjawab pelan:
“Selama kamu masih ada di sini.”
Sekar terdiam.
Lalu tersenyum.
Namun lagi-lagi,
di balik senyum itu,
Arga melihat sesuatu.
Bukan hanya sedih.
Melainkan rasa bersalah.
Dan itu membuat dadanya tiba-tiba sesak.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di dekat jendela.
Angin malam masuk pelan.
Membawa aroma sungai.
Membawa bayangan wajah Sekar.
Namun kali ini,
yang terus teringat bukan hanya tatapannya.
Melainkan senyumnya.
Senyum yang indah.
Lembut.
Namun seperti menyimpan luka.
Arga menutup mata.
Dan dalam gelap,
ia mendengar suara sangat pelan.
Suara anak kecil.
Suara yang kini terlalu familiar.
“Dia juga terluka...”
Arga membuka mata cepat.
“Sekar?”
Tak ada jawaban.
Namun suara itu kembali:
“Dan lukanya... berkaitan denganmu.”
Jantung Arga langsung berdegup keras.
Di luar jendela,
daun bambu bergerak pelan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai merasa
bahwa pertemuannya dengan Sekar
bukan hanya tentang cinta yang sedang tumbuh.
Tetapi tentang rahasia lama
yang perlahan mulai hidup kembali.
BAB 26
Surat yang Tersimpan
Ada rahasia yang disimpan lewat diam.
Ada rahasia yang disimpan lewat tatapan.
Dan ada rahasia yang selama bertahun-tahun tetap hidup
karena seseorang memilih menyelipkannya
di tempat yang tidak pernah disentuh lagi.
Arga tidak pernah menyangka,
bahwa jawaban pertama tentang Sekar dan Jatmika
tidak datang dari sungai,
bukan dari mimpi,
bukan dari angin,
melainkan dari sebuah surat lama
yang nyaris dilupakan waktu.
Beberapa hari setelah percakapan di tepi sungai itu,
rumah kecil di pinggir sawah kembali dipenuhi suasana yang aneh.
Sukmawati terlihat lebih sering melamun.
Sastro semakin banyak diam.
Dan Arga sendiri berjalan seperti seseorang
yang tubuhnya berada di rumah,
namun pikirannya tertinggal di tempat lain.
Ia masih datang ke Kali Wening.
Masih bertemu Sekar.
Masih berbincang tentang hal-hal kecil.
Namun kini,
di balik setiap tawa kecil mereka,
selalu ada pertanyaan yang diam-diam tumbuh.
Tentang siapa sebenarnya Sekar.
Tentang kenapa Jatmika muncul di antara mereka.
Dan tentang kalimat yang terus terngiang di kepala Arga:
“Lukanya berkaitan denganmu.”
Kalimat itu seperti duri kecil.
Tidak terlihat.
Namun tak pernah benar-benar hilang.
Siang itu,
Sukmawati meminta Arga mengambilkan kain lama di loteng kecil rumah mereka.
Loteng itu jarang dibuka.
Hanya ruang sempit di bawah atap kayu.
Tempat menyimpan barang-barang lama
yang tak lagi dipakai
namun tak pernah benar-benar dibuang.
Arga menaiki tangga bambu pelan-pelan.
Debu beterbangan.
Udara di atas terasa hangat.
Bau kayu tua bercampur kapur barus memenuhi ruang sempit itu.
Ia membuka peti kayu tua.
Mencari tumpukan kain yang diminta ibunya.
Namun di bawah lipatan kain batik lusuh,
ia melihat sesuatu.
Sebuah kotak kecil dari kayu jati.
Sudutnya sudah kusam.
Permukaannya penuh goresan halus.
Seolah sudah sangat lama tidak disentuh.
Arga mengangkatnya.
Kotak itu ringan.
Tidak terkunci.
Entah kenapa,
dadanya tiba-tiba berdebar.
Bukan karena rasa takut.
Melainkan karena perasaan yang familiar:
perasaan ketika sesuatu yang lama
akhirnya memilih ditemukan.
Perlahan,
Arga membuka tutup kotak itu.
Di dalamnya hanya ada beberapa benda:
sehelai kain bayi kecil,
gelang kayu usang,
dan beberapa lembar surat yang diikat pita tipis berwarna pudar.
Arga menatap surat-surat itu.
Tulisan di bagian luar tampak tua.
Huruf-huruf rapi.
Sedikit miring.
Seperti tulisan seseorang yang menulis dengan hati-hati.
Pada lembar paling atas tertulis:
Untuk Sukmawati
Arga terdiam.
Ia tahu seharusnya tidak membuka.
Ia tahu itu milik ibunya.
Ia tahu beberapa rahasia seharusnya dihormati.
Namun ada sesuatu yang mendorongnya.
Sesuatu yang lebih kuat dari rasa sungkan.
Tangan Arga gemetar saat membuka lipatan surat pertama.
Kertas itu sudah menguning.
Tinta hitamnya mulai pudar.
Namun tulisannya masih bisa dibaca.
Arga membaca perlahan.
Sukma,
Jika suatu hari anak itu kembali,
jangan takut.
Karena tidak semua yang kembali datang untuk mencelakai.
Ada jiwa yang hanya ingin menyelesaikan
apa yang tidak sempat diselesaikan.
Bila ia lahir kembali dalam darah yang sama,
maka ia akan dipanggil oleh tempat-tempat lama,
oleh air,
oleh angin,
dan oleh orang-orang
yang pernah terhubung dengannya.
Jangan menolak tanda-tanda itu.
Karena menolak takdir
hanya akan membuat luka hidup lebih lama.
— Jayarasa
Arga membeku.
Tangannya dingin.
Napasnya berhenti sesaat.
Ia membaca ulang kalimat itu.
“Jika suatu hari anak itu kembali...”
“Bila ia lahir kembali dalam darah yang sama...”
“Dipanggil oleh air...”
“oleh angin...”
Semua kalimat itu seperti menampar ingatannya sendiri.
Sungai.
Angin.
Jatmika.
Dan Sekar.
Arga membuka surat kedua.
Tulisan kali ini berbeda.
Lebih halus.
Lebih lembut.
Bukan tulisan Mbah Jayarasa.
Di bagian atas tertulis tanggal
bertahun-tahun sebelum Arga lahir.
Ia membaca dengan jantung berdebar.
Sukmawati,
Anak perempuan saya juga sering melihat anakmu.
Ia bilang anak itu berdiri di dekat sungai.
Kadang memanggil.
Kadang hanya diam.
Awalnya saya pikir itu hanya khayalan.
Tapi setiap kali ia menangis,
ia selalu menyebut satu nama yang sama.
Jatmika.
Saya tidak tahu mengapa anak saya bisa melihatnya.
Tapi mungkin,
kelak hubungan mereka belum akan selesai.
Kalau takdir mempertemukan mereka lagi,
semoga mereka tidak saling melukai.
— Raras
Arga menahan napas.
Matanya terpaku pada satu kalimat.
“Anak perempuan saya...”
Arga tahu nama itu.
Raras.
Nenek Sekar.
Tangannya mulai gemetar lebih keras.
Sekar.
Berarti sejak kecil,
bahkan sebelum mereka saling mengenal,
Sekar sudah melihat Jatmika.
Dan ibu mereka sudah tahu.
“Arga!”
Suara Sukmawati dari bawah membuat Arga tersentak.
Ia cepat melipat surat itu kembali.
Namun terlambat.
Sukmawati sudah berdiri di bawah tangga,
menatapnya.
Dan ketika matanya melihat kotak kayu di tangan Arga,
wajahnya langsung berubah.
Pucat.
“Turun.”
Suaranya pelan.
Namun kali ini tidak lembut.
Arga turun perlahan.
Kotak itu masih di tangannya.
Begitu sampai di bawah,
Sukmawati mengambilnya dengan cepat.
Memeluk kotak itu ke dada
seolah sedang melindungi sesuatu yang rapuh.
“Kamu baca?”
Arga menatap ibunya.
“Ibu tahu?”
Sukmawati menutup mata.
“Ibu tahu Sekar?”
Tak ada jawaban.
“Ibu tahu tentang Jatmika dan Sekar?”
Sukmawati duduk pelan.
Tubuhnya lemah.
Arga menatapnya.
Matanya tidak marah.
Hanya penuh luka karena merasa selama ini disisihkan dari kebenaran.
“Kenapa semua orang selalu menyembunyikan?”
Air mata mulai memenuhi mata Sukmawati.
“Karena Ibu ingin kamu hidup biasa.”
Arga menggeleng.
“Sejak awal hidupku tidak pernah biasa.”
Kalimat itu membuat Sukmawati tak sanggup menahan air mata lagi.
Sastro masuk dari luar
dan langsung merasakan ketegangan di ruangan.
“Ada apa?”
Arga menoleh.
“Ayah juga tahu?”
Sastro melihat kotak di tangan istrinya.
Dan dari situ,
ia mengerti semuanya.
Ia menghela napas panjang.
Sudah terlalu lama.
Rahasia itu memang tak mungkin terus disimpan.
Arga menatap mereka bergantian.
“Sekar siapa?”
Sukmawati memandang suaminya.
Sastro menunduk.
Lalu berkata pelan:
“Sekar...”
“mungkin bukan kebetulan.”
Arga mengepalkan tangan.
“Aku butuh jawaban, bukan diam.”
Sastro menatap anaknya.
Lama sekali.
Lalu dengan suara berat,
ia berkata:
“Karena sebelum kamu lahir...”
“Jatmika pernah memilih dia.”
Arga membeku.
“Apa maksud Ayah?”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
yang selama ini tumbuh di hatinya
mungkin berakar jauh lebih lama
daripada hidupnya sendiri.
Malam itu,
Arga duduk sendirian di luar rumah.
Surat-surat itu terus berputar di kepalanya.
Sekar.
Jatmika.
Takdir.
Kelahiran kembali.
Dan satu pertanyaan yang semakin berat:
Apakah perasaannya pada Sekar
benar-benar miliknya sendiri?
Atau hanya sisa cinta
dari seseorang yang pernah hidup sebelum dirinya?
Angin malam berembus pelan.
Membawa suara dari sawah.
Sangat lembut.
Nyaris seperti bisikan.
“Bukan semua warisan adalah luka...”
Arga menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang sedang tumbuh di hatinya
mulai bercampur
dengan ketakutan yang tak bisa lagi diabaikan.
BAB 27
Hujan Bulan Juni
Ada hujan yang datang membawa dingin.
Ada hujan yang datang membawa kenangan.
Dan ada hujan yang turun tepat pada waktunya,
saat dua hati yang sedang kebingungan
dipaksa berhenti berlari
lalu saling mendengar lebih dekat.
Bulan Juni biasanya datang dengan langit kering di Desa Wringinrejo.
Matahari panjang.
Tanah retak.
Angin hangat.
Daun-daun bambu menggantung lelah di pinggir sawah.
Namun pagi itu,
langit justru berubah muram.
Awan kelabu menggantung rendah.
Udara terasa lebih berat.
Dan sejak subuh,
Arga sudah merasakan sesuatu yang tidak tenang.
Bukan karena suara angin.
Bukan karena mimpi.
Bukan karena bayangan Jatmika.
Melainkan karena surat-surat lama itu
masih berputar di dalam kepalanya.
Tentang Sekar.
Tentang Jatmika.
Tentang kalimat yang belum selesai ia pahami.
“Jatmika pernah memilih dia.”
Kalimat itu seperti duri.
Tidak terlihat.
Namun terus menusuk.
Dan hari itu,
meski sebagian dirinya ingin menjauh,
langkahnya justru kembali menuju sungai.
Karena kadang,
semakin seseorang ingin menghindari perasaan,
semakin kuat hati membawanya ke sumbernya.
Sekar sudah ada di tepi Kali Wening.
Ia berdiri di bawah pohon waru,
memandang air yang bergerak pelan.
Gaun birunya tertiup angin lembut.
Rambut panjangnya jatuh di bahu.
Saat melihat Arga,
ia tersenyum.
Namun Arga tidak bisa langsung membalas.
Karena untuk pertama kalinya,
ia menatap gadis itu
dengan pertanyaan yang berbeda.
Bukan hanya:
siapa kamu?
Tetapi:
siapa kita sebenarnya?
Sekar mengerutkan kening kecil.
“Kamu kenapa?”
Arga mendekat.
“Tidak apa.”
Sekar menatapnya lebih lama.
“Kamu bohong.”
Arga menunduk.
Ia tidak pandai menyembunyikan hati.
Dan Sekar,
entah mengapa,
selalu bisa melihat lebih jauh dari kata-kata.
“Kamu tahu sesuatu ya?”
tanya Sekar pelan.
Arga terdiam.
Angin berembus.
Air sungai berdesir.
Awan semakin gelap.
Sekar memandang wajahnya.
Lalu berbisik:
“Dari ibumu?”
Arga menoleh cepat.
“Kamu tahu?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia hanya memandang sungai.
Seolah jawaban itu sudah lama hidup di antara mereka.
“Dulu...”
suara Sekar pelan,
“nenekku pernah melarang aku datang ke sungai.”
Arga diam mendengarkan.
“Katanya di sini ada sesuatu yang selalu mencariku.”
“Jatmika?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk kecil.
Arga menatapnya.
“Kamu tahu nama itu sejak dulu?”
Sekar tersenyum tipis.
“Lebih lama dari kamu.”
Arga menarik napas.
Dadanya terasa penuh.
“Kenapa kamu tidak bilang?”
Sekar menatapnya.
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
Sekar memandang lurus ke matanya.
“Takut kalau setelah kamu tahu...
kamu akan melihatku dengan cara berbeda.”
Arga terdiam.
Karena Sekar benar.
Ia memang sedang melihat gadis itu dengan cara berbeda.
Namun bukan karena ingin menjauh.
Justru karena ia semakin ingin mengerti.
Langit tiba-tiba bergemuruh pelan.
Mereka menoleh ke atas.
Awan hitam berkumpul cepat.
Angin berubah dingin.
Daun-daun bergetar.
“Hujan.”
bisik Sekar.
“Di bulan Juni?”
Arga mengangkat alis.
Sekar tersenyum kecil.
“Mungkin langit juga bingung.”
Belum sempat Arga menjawab,
titik-titik air pertama jatuh.
Pelan.
Satu.
Dua.
Lalu semakin banyak.
Hujan turun tiba-tiba.
Bukan deras,
melainkan lembut.
Tipis.
Seperti langit sedang menahan tangis.
Arga dan Sekar berlari kecil
menuju gubuk tua di tepi sawah
yang biasa dipakai petani berteduh.
Mereka masuk bersamaan.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka berdiri begitu dekat
di ruang kecil yang hanya cukup untuk dua orang.
Hujan turun di luar.
Bunyi air di atap jerami memenuhi keheningan.
Aroma tanah basah naik perlahan.
Angin membawa udara dingin masuk lewat sela bambu.
Sekar berdiri di sisi kanan.
Arga di sisi kiri.
Jarak mereka hanya beberapa langkah.
Namun terasa jauh lebih dekat
daripada semua pertemuan sebelumnya.
Arga bisa mendengar napas Sekar.
Bisa melihat tetes air di ujung rambutnya.
Bisa melihat tangan gadis itu sedikit gemetar karena dingin.
“Dingin?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk kecil.
Tanpa berpikir panjang,
Arga melepas kain tipis dari bahunya
lalu menyerahkannya.
Sekar menatapnya.
“Kamu nanti kedinginan.”
Arga tersenyum.
“Aku sudah biasa.”
Sekar menerima kain itu perlahan.
Tangannya tanpa sengaja menyentuh tangan Arga.
Dan hanya sentuhan singkat itu,
sesingkat embusan napas,
sudah cukup membuat dada Arga bergetar lagi.
Sekar juga menarik tangannya pelan.
Wajahnya sedikit memerah.
Di luar,
hujan terus turun.
Di dalam,
dua hati muda mulai saling mendengar
lebih jelas dari sebelumnya.
Sekar menatap hujan.
“Kadang aku berharap...”
ucapnya pelan.
“Apa?”
Sekar tersenyum samar.
“Kalau semua ini cuma kebetulan.”
Arga memandangnya.
“Kamu benar-benar percaya takdir?”
Sekar menoleh.
“Kalau tidak percaya,
kenapa kita bertemu di sungai yang sama?”
Arga tidak menjawab.
Karena pertanyaan itu
terlalu dekat dengan pikirannya sendiri.
Sekar melanjutkan,
suara lembut:
“Aku takut, Arga.”
Arga menatapnya.
“Takut padaku?”
Sekar menggeleng.
“Bukan.”
“Aku takut pada sesuatu yang terasa terlalu indah.”
“Karena biasanya...”
ia menelan napas,
“yang indah sering tidak tinggal lama.”
Kalimat itu membuat ruangan kecil itu terasa semakin sunyi.
Arga memandang gadis di depannya.
Gadis yang sejak awal datang dengan senyum lembut,
namun ternyata membawa luka yang sama sunyinya.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga ingin mengatakan sesuatu
yang bahkan ia sendiri belum pernah ucapkan.
“Aku tidak ingin pergi.”
Sekar menatapnya.
Hujan turun lebih rapat.
“Arga...”
“Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi.”
“Aku tidak tahu kenapa semuanya terasa aneh.”
“Aku tidak tahu kenapa namaku selalu dipanggil angin.”
“Aku tidak tahu kenapa Jatmika selalu ada.”
“Tapi satu hal yang aku tahu...”
Arga berhenti.
Napasnya berat.
Sekar menatapnya tanpa berkedip.
“Apa?”
Arga berkata pelan:
“Setiap kali aku di dekat kamu...
semua yang rumit itu terasa lebih tenang.”
Sekar diam.
Matanya perlahan berkaca.
Dan untuk pertama kalinya,
senyum gadis itu tidak menyembunyikan apa pun.
Karena kali ini,
yang muncul di wajahnya adalah sesuatu yang jauh lebih jujur:
perasaan yang sama.
Hujan masih turun.
Sekar menatap Arga lama sekali.
Lalu berkata sangat pelan:
“Aku juga.”
Dua kata sederhana.
Namun bagi Arga,
dua kata itu terasa seperti dunia yang berubah arah.
Jantungnya berdetak keras.
Tangannya dingin.
Dadanya penuh.
Karena kadang,
seseorang tidak membutuhkan kalimat panjang
untuk tahu bahwa hatinya tidak sendirian.
Namun saat kehangatan itu mulai memenuhi ruang kecil itu,
angin tiba-tiba masuk lebih kencang.
Lampu kecil di sudut gubuk padam sendiri.
Suhu mendadak turun.
Sekar menoleh cepat.
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
Di luar hujan,
di antara tirai air,
sesosok anak kecil berdiri di tepi sawah.
Diam.
Memandang ke arah mereka.
Wajahnya samar.
Namun Arga tahu.
Jatmika.
Sekar menggenggam lengan Arga tanpa sadar.
Arga menatap sosok itu.
Dan melalui suara hujan,
ia mendengar bisikan yang sangat pelan:
“Jangan ulangi lagi...”
Arga membeku.
Sekar menggenggam tangannya lebih erat.
Dan di tengah hujan bulan Juni yang seharusnya indah,
Arga mulai mengerti satu hal:
cinta yang tumbuh di antara mereka
mungkin bukan hanya sedang dimulai,
tetapi sedang mengulang sesuatu
yang pernah berakhir dengan luka.
BAB 28
Janji di Pohon Randu
Setelah hujan bulan Juni itu, tidak ada lagi yang benar-benar sama di antara Arga dan Sekar.
Mereka tidak pernah mengucapkan kata cinta.
Tidak ada pengakuan panjang.
Tidak ada sentuhan berlebihan.
Tidak ada kalimat manis seperti dalam cerita-cerita yang sering dibisikkan anak gadis desa saat malam.
Namun kadang,
hati justru lebih jujur ketika tidak banyak bicara.
Dan sejak hari itu,
Arga tahu:
Sekar bukan lagi sekadar seseorang yang ia temui di tepi sungai.
Sekar telah menjadi seseorang
yang diam-diam tinggal
di ruang paling sunyi dalam dirinya.
Sementara bagi Sekar,
Arga bukan lagi hanya pemuda aneh yang mendengar angin.
Arga adalah satu-satunya orang
yang tidak pernah menertawakan ketakutannya.
Dan mungkin,
untuk pertama kalinya,
mereka berdua mulai percaya
bahwa takdir tidak selalu datang untuk melukai.
Kadang takdir juga datang
untuk mempertemukan.
Tiga hari setelah hujan itu,
langit kembali cerah.
Musim kemarau seolah lupa
bahwa ia sempat menangis.
Arga berdiri di belakang rumah
saat seorang anak kecil datang membawa pesan.
“Mas Arga.”
Arga menoleh.
“Ada apa?”
Anak itu menyerahkan sehelai daun jati
yang dilipat kecil.
“Titipan Mbak Sekar.”
Jantung Arga berdetak sedikit lebih cepat.
Ia membuka daun itu perlahan.
Di dalamnya hanya ada tulisan pendek.
Datang ke pohon randu sebelum senja.
Tidak ada nama.
Tidak ada penjelasan.
Namun Arga tahu,
tulisan itu milik Sekar.
Dan sejak detik itu,
hari terasa berjalan lebih lambat dari biasanya.
Pohon randu tua itu berdiri di ujung sawah sebelah barat desa.
Pohon besar yang dulu sering dipakai anak-anak bermain.
Tempat Arga kecil dulu pernah bersembunyi.
Tempat angin selalu terasa lebih kuat.
Tempat senja terlihat paling indah.
Banyak orang desa percaya
pohon itu menyimpan cerita.
Karena batangnya tua.
Akarnya menembus tanah dalam.
Dan cabangnya seperti tangan
yang terus mencoba memeluk langit.
Arga tiba lebih dulu.
Ia berdiri di bawah pohon besar itu,
mendengar suara daun kering bergesekan.
Matahari mulai turun.
Langit perlahan berubah jingga.
Angin sore menyentuh wajahnya lembut.
Namun bukan angin yang membuat dadanya berdebar.
Melainkan langkah kecil yang terdengar dari belakang.
Arga menoleh.
Sekar datang.
Mengenakan kain sederhana warna gading.
Rambutnya tergerai.
Cahaya senja jatuh di wajahnya.
Membuatnya tampak seperti bagian dari sore itu sendiri.
Untuk sesaat,
Arga hanya diam.
Sekar tersenyum kecil.
“Kamu datang.”
Arga ikut tersenyum.
“Kamu pikir tidak?”
Sekar berjalan mendekat.
“Entahlah.”
“Mungkin kamu takut.”
Arga menatapnya.
“Takut apa?”
Sekar menoleh ke langit.
“Pada apa pun yang mulai terasa terlalu dekat.”
Arga tidak langsung menjawab.
Karena diam-diam,
ia memang takut.
Namun bukan takut pada Sekar.
Ia takut pada kenyataan
bahwa perasaan ini mulai terasa lebih besar
daripada yang bisa ia kendalikan.
Mereka duduk di akar randu yang besar.
Di depan mereka,
sawah terbentang panjang.
Langit sore mulai berwarna emas.
Burung-burung melintas pulang.
Untuk beberapa lama,
tak ada yang bicara.
Namun kali ini diam mereka tidak canggung.
Diam itu justru terasa seperti rumah.
Sekar memainkan ujung kainnya.
Lalu bertanya pelan:
“Kamu pernah ingin lari?”
Arga menoleh.
“Dari?”
“Semua ini.”
Arga berpikir.
Lalu mengangguk.
“Pernah.”
Sekar tersenyum kecil.
“Aku juga.”
“Lalu kenapa tidak?”
Sekar memandang lurus ke depan.
“Karena semakin aku lari,
semakin semuanya datang mencariku.”
Arga menghela napas.
“Itu juga yang kurasakan.”
Sekar menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga menyadari:
yang membuat ia merasa dekat dengan Sekar
bukan hanya karena ia menyukainya.
Tetapi karena mereka sama-sama hidup
dengan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Angin sore bertiup lebih lembut.
Daun randu jatuh perlahan di antara mereka.
Sekar mengambil satu daun yang jatuh di pangkuannya.
Memainkannya pelan.
“Arga.”
“Iya?”
“Kalau suatu hari semuanya menjadi lebih sulit...”
Arga menatapnya.
“Lebih sulit bagaimana?”
Sekar terdiam sebentar.
Seolah sedang memilih kata.
“Kalau suatu hari...”
“kamu tahu sesuatu tentang masa lalu
yang membuat kamu ingin menjauh dariku...”
Arga langsung memotong.
“Aku tidak akan.”
Sekar menatapnya.
“Kamu belum tahu.”
“Aku tahu satu hal.”
“Apa?”
Arga memandang matanya.
“Setiap kali aku bersama kamu,
aku merasa tidak sendirian.”
Sekar membeku.
Kalimat itu sederhana.
Namun bagi seseorang yang terlalu lama hidup dalam kesunyian,
mendengar bahwa kehadirannya membuat orang lain merasa utuh,
adalah sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kata cinta.
Mata Sekar perlahan basah.
Ia tersenyum.
Namun kali ini senyum itu rapuh.
“Jangan bicara seperti itu.”
“Kenapa?”
Sekar menunduk.
“Karena nanti aku percaya.”
Arga menatapnya lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau begitu percayalah.”
Angin berhenti sejenak.
Senja terasa lebih sunyi.
Dan di bawah pohon randu tua,
dua hati muda yang belum sepenuhnya mengerti hidup
mulai saling membuka diri
dengan cara paling sederhana.
Sekar mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu...”
“janji satu hal.”
Arga menatapnya.
“Janji apa?”
Sekar menggenggam daun randu kecil di tangannya.
Lalu berkata:
“Kalau suatu hari semuanya berubah...”
“jangan menghilang tanpa bicara.”
Arga terdiam.
Permintaan itu terdengar sederhana.
Namun ada luka lama di balik suara itu.
Seolah Sekar pernah ditinggalkan,
atau takut akan kehilangan,
jauh sebelum hari itu.
Arga mengangguk pelan.
“Baik.”
Sekar menatapnya.
“Benar?”
Arga mengulurkan tangan kecilnya.
Seperti anak-anak membuat sumpah.
“Janji.”
Sekar menatap tangan itu beberapa detik.
Lalu perlahan menaruh tangannya di atas tangan Arga.
Sentuhan itu lembut.
Hangat.
Namun cukup untuk membuat dada Arga bergetar lagi.
Mereka saling menatap.
Dan di bawah langit senja,
di bawah pohon randu yang sudah menyimpan banyak rahasia,
mereka membuat janji pertama.
Bukan janji besar.
Bukan janji cinta abadi.
Hanya janji sederhana:
untuk tidak saling pergi dalam diam.
Namun kadang,
justru janji kecil seperti itulah
yang paling sulit dipenuhi oleh waktu.
Saat tangan mereka masih saling menyentuh,
angin mendadak berembus kuat.
Daun-daun randu berguguran serempak.
Sekar menoleh cepat.
Arga juga merasakannya.
Suhu tiba-tiba turun.
Di balik batang pohon,
sesosok anak kecil berdiri diam.
Wajahnya samar.
Namun kali ini,
Arga melihat lebih jelas.
Jatmika.
Ia tidak marah.
Tidak sedih.
Tidak tersenyum.
Ia hanya memandang tangan mereka yang saling menggenggam.
Lalu berbisik pelan,
hampir seperti hembusan daun:
“Janji pernah dibuat di sini...”
Sekar menegang.
Tangannya dingin.
Arga menoleh pada sosok itu.
Namun sekejap kemudian,
ia menghilang bersama angin sore.
Yang tersisa hanya daun-daun randu
yang jatuh mengelilingi mereka.
Sekar menatap Arga.
Wajahnya pucat.
“Kamu dengar?”
Arga mengangguk.
Sekar menggigit bibirnya.
“Berarti benar...”
“Benar apa?”
Sekar menunduk.
Suaranya sangat kecil.
“Ini pernah terjadi sebelumnya.”
Dan kalimat itu,
lebih menakutkan daripada semua bisikan malam.
Matahari akhirnya tenggelam.
Langit berubah ungu.
Sawah menjadi gelap.
Burung-burung menghilang.
Namun Arga tetap duduk di bawah pohon randu,
merasakan tangan Sekar yang perlahan terlepas dari genggamannya.
Perasaan di hatinya tetap hangat.
Namun kini,
di dalam kehangatan itu,
muncul bayangan baru:
bahwa cinta yang sedang tumbuh di antara mereka
mungkin bukan awal.
Mungkin hanya kelanjutan
dari sesuatu yang belum pernah benar-benar selesai.
BAB 29
Dunia yang Indah
Setelah janji di bawah pohon randu itu, dunia Arga perlahan berubah menjadi tempat yang berbeda.
Bukan karena desa berubah.
Bukan karena sawah menjadi lebih hijau.
Bukan karena angin berhenti berbisik.
Bukan karena bayangan Jatmika benar-benar pergi.
Semua masih sama.
Pagi tetap datang dengan embun.
Siang tetap panas.
Senja tetap turun pelan di atas pematang.
Malam tetap menyimpan suara-suara yang tak semua orang bisa dengar.
Namun bagi Arga,
untuk pertama kalinya,
hidup terasa lebih ringan.
Karena di tengah semua misteri yang belum selesai,
ia menemukan satu hal sederhana
yang membuat semuanya terasa layak dijalani:
Sekar.
Dan karena itulah,
hari-hari yang datang sesudahnya
menjadi hari-hari yang bagi Arga
terasa seperti dunia yang indah.
Mereka tidak pernah secara resmi mengatakan
bahwa mereka saling memiliki.
Tidak ada pengakuan.
Tidak ada nama untuk hubungan itu.
Tidak ada janji besar selain satu janji kecil
untuk tidak saling pergi diam-diam.
Namun justru karena itulah,
kedekatan mereka terasa jujur.
Mereka bertemu di tempat yang sama,
di jam-jam yang hampir selalu sama,
seolah sungai dan angin
diam-diam sudah mengatur semuanya.
Kadang di tepi Kali Wening.
Kadang di bawah pohon randu.
Kadang di jalan kecil menuju bukit.
Kadang hanya duduk diam di pematang
menunggu matahari tenggelam.
Dan dalam kebersamaan sederhana itu,
Arga menemukan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya:
ketenangan.
Suatu pagi,
Sekar datang membawa bunga kenanga.
Ia meletakkannya di atas batu
lalu duduk di samping Arga.
“Kamu bawa bunga?”
tanya Arga.
Sekar mengangguk.
“Aku suka aromanya.”
Arga mengambil satu.
Mendekatkannya ke hidung.
Harumnya lembut.
“Kenapa kenanga?”
Sekar menatap sungai.
“Nenek bilang bunga tertentu bisa menyimpan ingatan.”
Arga tersenyum kecil.
“Kalau begitu kamu percaya semua benda punya kenangan.”
Sekar menoleh.
“Bukankah kamu juga?”
Arga terdiam.
Lalu mengangguk.
Karena di dekat Sekar,
hal-hal yang selama ini terasa aneh
mendadak menjadi sesuatu yang wajar.
Dan bagi Arga,
itu sendiri sudah terasa seperti keajaiban.
Hari demi hari,
mereka mulai saling mengenal lebih dalam.
Arga tahu Sekar suka duduk diam saat hujan.
Sekar tahu Arga selalu menatap langit lebih lama dari orang lain.
Arga tahu Sekar takut suara petir.
Sekar tahu Arga diam saat sedang memikirkan sesuatu yang berat.
Arga tahu Sekar menyukai aroma daun basah.
Sekar tahu Arga menyukai suara air saat senja.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang mungkin tak berarti bagi orang lain.
Namun justru dari hal-hal kecil itulah,
seseorang perlahan masuk ke dalam hidup orang lain
tanpa disadari.
Suatu sore,
mereka berjalan menyusuri pematang sempit.
Sekar berjalan di depan.
Arga di belakang.
Angin meniup ujung kain Sekar.
Langit berwarna keemasan.
Burung-burung rendah melintas di atas padi.
Sekar menoleh sambil berjalan mundur.
“Kamu kenapa diam terus?”
Arga tersenyum.
“Aku sedang melihat.”
“Melihat apa?”
Arga memandangnya.
“Kamu.”
Sekar berhenti berjalan.
Wajahnya langsung berubah merah.
“Kamu sekarang suka bicara begitu ya?”
Arga tertawa kecil.
“Aku cuma jujur.”
Sekar menunduk.
“Jangan terlalu jujur.”
“Kenapa?”
Sekar menatap sawah.
“Karena nanti aku semakin sulit menjaga hati.”
Arga terdiam.
Kalimat itu lembut.
Nyaris seperti bercanda.
Namun cukup membuat dadanya terasa penuh.
Dan saat itulah,
untuk pertama kalinya,
Arga sadar:
perasaan ini sudah tumbuh jauh lebih dalam
daripada yang ia kira.
Malam-malam Arga juga berubah.
Dulu,
setiap malam diisi suara angin.
Mimpi aneh.
Bayangan kabut.
Jejak Jatmika.
Kini,
meski semuanya belum benar-benar hilang,
di antara semua itu
selalu ada wajah Sekar.
Kadang ia hadir di tepi sungai.
Kadang di bawah hujan.
Kadang berdiri di tengah sawah.
Kadang hanya menoleh lalu tersenyum.
Dan anehnya,
mimpi-mimpi itu tak lagi menakutkan.
Karena untuk pertama kalinya,
di tengah dunia yang selama ini terasa asing,
Arga punya seseorang
yang membuatnya ingin tetap tinggal.
Namun kebahagiaan sering datang
tanpa memberitahu berapa lama ia akan menetap.
Dan mungkin karena itu,
kadang kebahagiaan terasa lebih rapuh.
Suatu siang,
Arga dan Sekar duduk di bawah randu tua.
Sekar menggambar sesuatu di tanah dengan ranting.
“Apa yang kamu gambar?”
tanya Arga.
Sekar tersenyum kecil.
“Rumah.”
Arga melihat bentuk sederhana itu.
“Rumah siapa?”
Sekar menatapnya.
“Rumah yang belum ada.”
Arga mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Sekar mengangkat bahu.
“Kadang aku suka membayangkan...”
“kalau suatu hari ada tempat
di mana tidak ada yang perlu disembunyikan.”
Arga menatap wajahnya.
“Tempat seperti itu ada?”
Sekar memandang langit.
“Mungkin tidak.”
“Tapi indah kalau dibayangkan.”
Arga memandang gambar itu lama.
Lalu berkata pelan:
“Kalau begitu nanti aku bantu membangunnya.”
Sekar menoleh cepat.
“Kamu serius?”
Arga tersenyum.
“Kalau rumahnya untuk kamu.”
Sekar terdiam.
Lalu tertawa kecil,
meski matanya tampak basah.
“Arga.”
“Iya?”
“Kamu tahu tidak?”
“Apa?”
“Kamu kadang membuat dunia terasa terlalu indah.”
Arga tersenyum.
“Bukankah itu bagus?”
Sekar menunduk.
Suaranya pelan.
“Kadang justru itu yang menakutkan.”
Arga belum memahami kalimat itu sepenuhnya.
Karena orang yang sedang bahagia
sering tidak melihat bayangan
yang mulai tumbuh di belakang cahaya.
Bagi Arga,
hari-hari itu terasa sempurna.
Pagi terasa lebih cerah.
Angin terdengar lebih lembut.
Sungai lebih tenang.
Senja lebih hangat.
Bahkan suara-suara gaib
yang dulu selalu membuatnya gelisah
seakan menjauh.
Dan Arga mulai percaya
bahwa mungkin,
untuk pertama kalinya,
takdir sedang berpihak padanya.
Namun sore itu,
saat Sekar pulang lebih dulu,
Arga duduk sendirian di tepi sungai.
Air mengalir tenang.
Ia memandang pantulannya sendiri.
Lalu tersenyum kecil,
mengingat semua percakapan mereka.
Tetapi senyum itu perlahan hilang.
Karena di samping pantulannya,
muncul bayangan lain.
Anak kecil itu.
Jatmika.
Kali ini wajahnya lebih jelas.
Matanya penuh sesuatu
yang tidak bisa disebut marah.
Lebih seperti sedih.
Arga menatap air.
“Apa?”
Bayangan itu memandangnya lama.
Lalu suara kecil itu muncul
dari dalam arus sungai:
“Jangan terlalu mencintai dunia yang indah...”
Arga menahan napas.
Bayangan itu melanjutkan:
“Karena yang paling indah
sering yang paling cepat hilang.”
Riak kecil menyentuh batu.
Bayangan itu lenyap.
Arga masih duduk diam,
dengan jantung yang tiba-tiba terasa berat.
Untuk pertama kalinya,
di tengah kebahagiaan yang sedang tumbuh,
ia merasakan satu hal yang dingin
masuk perlahan ke dalam dadanya:
firasat.
Dan sejak saat itu,
keindahan yang selama ini ia rasakan
tidak lagi terasa sepenuhnya tenang.
BAB 30
Cinta yang Diam-Diam
Tidak semua cinta tumbuh dengan suara.
Ada cinta yang datang dengan pengakuan.
Ada cinta yang lahir lewat keberanian.
Ada cinta yang diumumkan seperti pesta.
Namun ada juga cinta
yang justru tumbuh dalam diam.
Ia tidak diucapkan.
Tidak ditanyakan.
Tidak diumbar.
Ia hanya hidup
di cara seseorang menunggu.
Di cara seseorang memandang.
Di cara seseorang mengingat.
Dan di cara seseorang selalu kembali
ke tempat yang sama.
Itulah yang terjadi pada Arga dan Sekar.
Mereka tidak pernah menyebut apa yang ada di antara mereka.
Namun seluruh desa perlahan mulai melihatnya.
Hari-hari terus berjalan.
Arga tetap membantu ayahnya di sawah.
Sekar tetap membantu neneknya di rumah tua dekat kebun tebu.
Desa tetap hidup seperti biasanya.
Namun di sela rutinitas sederhana itu,
selalu ada satu kebiasaan baru
yang tidak bisa lagi disembunyikan:
Arga selalu mencari Sekar.
Dan Sekar selalu menunggu Arga.
Kadang hanya beberapa menit.
Kadang berjam-jam.
Kadang hanya saling diam.
Kadang hanya berjalan tanpa tujuan.
Tetapi semakin lama,
kedekatan itu mulai terlihat oleh mata orang lain.
Dan cinta,
meski disimpan rapat,
sering kali tetap punya cara
untuk terlihat.
Pagi itu,
Arga sedang membantu menjemur padi di halaman.
Sukmawati memperhatikannya dari dapur.
Anaknya itu bekerja seperti biasa,
namun sesekali ia menoleh ke jalan kecil di samping rumah.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Sukmawati tersenyum kecil.
“Kalau mau menunggu seseorang,
jangan terlalu jelas.”
Arga langsung menoleh.
“Apa?”
Sukmawati menahan tawa.
“Dari tadi matamu bukan ke padi.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku cuma lihat jalan.”
“Iya.”
kata Sukmawati ringan.
“Karena biasanya Sekar lewat sana.”
Arga langsung terdiam.
Sukmawati melipat kain di tangannya.
“Kamu pikir ibu tidak tahu?”
Arga menunduk.
Wajahnya sedikit memanas.
“Memangnya kelihatan sekali?”
Sukmawati menatapnya lembut.
“Kalau hati mulai memilih seseorang,
wajah selalu lebih dulu membocorkannya.”
Arga tak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya,
ia sadar:
mungkin cintanya memang tidak lagi serahasia yang ia kira.
Tidak lama kemudian,
Sekar benar-benar lewat di jalan kecil itu.
Membawa bakul kecil berisi daun pandan.
Saat melihat Arga,
ia hanya tersenyum kecil.
Namun hanya dari senyum singkat itu,
seluruh wajah Arga berubah.
Dan Sukmawati melihat semuanya.
Ia tidak berkata apa-apa lagi.
Hanya menatap putranya dengan campuran bahagia dan khawatir.
Karena seorang ibu tahu:
hal paling indah dalam hidup anaknya
kadang juga bisa menjadi hal
yang paling menyakitkan nanti.
Di sisi lain desa,
Ratri juga mulai melihat perubahan itu.
Suatu sore,
ia datang ke sungai dengan alasan mencari daun kelor.
Namun yang ia lihat justru Arga dan Sekar
sedang duduk di bawah pohon waru.
Mereka tidak melakukan apa-apa.
Tidak berpegangan tangan.
Tidak saling bersandar.
Tidak saling bicara banyak.
Mereka hanya duduk.
Memandang sungai.
Sesekali tersenyum kecil.
Namun justru dari kesunyian itu,
Ratri melihat sesuatu yang tidak bisa disalahartikan.
Kedekatan.
Bukan kedekatan biasa.
Bukan persahabatan masa kecil.
Tetapi sesuatu yang lebih dalam.
Ratri berdiri lama.
Tangannya menggenggam keranjang lebih erat.
Ia tidak marah.
Ia tidak menangis.
Ia tidak memanggil.
Namun untuk pertama kalinya,
ia sadar:
kadang seseorang bisa kehilangan
tanpa pernah benar-benar memiliki.
Dan rasa seperti itu
sering kali paling sunyi.
Sore itu,
Arga dan Sekar berjalan pulang menyusuri pematang.
Langit berwarna jingga.
Padi bergerak pelan diterpa angin.
Langkah mereka hampir sejajar.
Sekar memandang lurus ke depan.
Lalu bertanya:
“Kamu sadar tidak?”
“Sadar apa?”
Sekar tersenyum tipis.
“Orang-orang mulai melihat.”
Arga menoleh.
“Melihat apa?”
Sekar berhenti.
Lalu memandangnya.
“Kita.”
Arga ikut berhenti.
Untuk sesaat,
ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena sebenarnya,
ia juga mulai merasakannya.
Tatapan orang.
Bisik kecil.
Senyum samar para tetangga.
Cara ibunya memandang.
Cara Ratri menghindar.
Semua seolah berkata hal yang sama:
sesuatu sedang tumbuh di antara mereka.
Namun Arga justru bertanya:
“Kalau mereka melihat,
kamu takut?”
Sekar diam.
Ia menunduk.
Memandang ujung kakinya.
Lalu menjawab pelan:
“Bukan itu yang aku takutkan.”
Arga mengerutkan kening.
“Lalu?”
Sekar mengangkat wajah.
Matanya tenang.
Tapi ada kesedihan di dalamnya.
“Aku takut kalau yang tumbuh ini
ternyata bukan milik kita.”
Angin lewat di antara mereka.
Kalimat itu terasa jauh lebih berat
daripada yang terdengar.
Arga memandang gadis di depannya.
Dan untuk pertama kalinya,
cinta yang selama ini terasa hangat
mulai bercampur dengan sesuatu yang dingin.
Ketakutan.
Arga melangkah mendekat sedikit.
“Kalau bukan milik kita,
kenapa rasanya nyata?”
Sekar menatapnya lama.
Lalu tersenyum kecil.
Senyum yang lembut,
namun selalu menyimpan luka.
“Karena kadang...”
“hal yang paling nyata
justru yang paling sulit dipertahankan.”
Arga menggeleng pelan.
“Aku tidak suka cara kamu bicara begitu.”
“Kenapa?”
“Karena seolah kamu sudah siap kehilangan.”
Sekar tidak menjawab.
Karena diam-diam,
itulah yang selalu ia takutkan sejak awal.
Malamnya,
Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Mendengarkan suara jangkrik.
Memandang sawah gelap.
Sekar terus hadir di pikirannya.
Tatapan.
Senyum.
Kalimat-kalimatnya.
Dan satu pertanyaan yang tak mau pergi:
Apakah cinta ini benar-benar milik mereka?
Atau hanya bayangan dari masa lalu
yang sedang mencoba hidup kembali?
Arga memejamkan mata.
Lalu suara itu datang lagi.
Pelan.
Sangat dekat.
Seperti berdiri tepat di belakang bahunya.
“Cinta yang diam
kadang paling sulit diselamatkan...”
Arga membuka mata cepat.
Tak ada siapa-siapa.
Namun di kaca jendela,
sesaat ia melihat pantulan seorang anak kecil berdiri di belakangnya.
Jatmika.
Wajahnya sedih.
Tatapannya jauh.
Lalu satu kalimat terakhir terdengar:
“Karena tak semua cinta diberi kesempatan kedua.”
Pantulan itu menghilang.
Arga tetap diam.
Dan malam itu,
untuk pertama kalinya,
ia mulai mengerti:
cinta yang selama ini tumbuh diam-diam
mungkin sedang berjalan
menuju sesuatu yang tidak sederhana.
Di luar,
angin malam bergerak lembut melewati sawah.
Di rumah lain,
Sekar juga belum tidur.
Ia duduk di dekat jendela.
Memandang bulan pucat.
Memegang bunga kenanga kering di tangannya.
Lalu berbisik sangat pelan,
seolah bicara kepada dirinya sendiri:
“Kenapa harus dia?”
Tak ada jawaban.
Hanya angin yang masuk perlahan,
membawa aroma sungai.
Dan dari kejauhan,
seolah ada suara kecil menjawab:
“Karena sejak awal...
hatimu memang selalu menemukannya.”
Sekar memejamkan mata.
Air mata jatuh tanpa suara.
Karena kini,
bukan hanya Arga yang tahu.
Sekar pun mulai sadar:
cinta yang mereka simpan diam-diam itu
sudah tumbuh terlalu jauh
untuk dianggap sekadar kebetulan.
BAB 31
Bayangan Masa Lalu
Ada masa lalu yang tinggal sebagai kenangan.
Ada masa lalu yang perlahan memudar bersama waktu.
Namun ada masa lalu tertentu
yang tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya bersembunyi.
Menunggu.
Diam-diam hidup
di sela-sela hari yang tampak tenang.
Dan ketika seseorang mulai merasa bahagia,
masa lalu itu sering datang kembali,
bukan untuk dikenang,
melainkan untuk ditagih.
Itulah yang mulai terjadi
pada Arga dan Sekar.
Karena setelah cinta tumbuh di antara mereka,
bayangan yang selama ini hanya mengintai dari kejauhan
akhirnya mulai mendekat.
Pagi itu,
desa Wringinrejo terasa lebih sunyi dari biasanya.
Kabut turun lebih rendah.
Udara dingin meski matahari sudah terbit.
Burung-burung yang biasanya ramai di pohon randu
tak terdengar sejak subuh.
Sukmawati berdiri di dapur
sambil memandang keluar jendela.
Wajahnya muram.
Sastro yang sedang mengikat sabit bertanya,
“Kenapa?”
Sukmawati menjawab pelan.
“Anginnya kembali seperti dulu.”
Sastro berhenti.
Ia tahu maksud istrinya.
Karena beberapa pertanda
memang hanya dimengerti
oleh orang-orang yang pernah mengalaminya.
Dan angin pagi itu
membawa aroma lama
yang seharusnya sudah terkubur.
Arga sendiri terbangun dengan napas memburu.
Baju tidurnya basah oleh keringat.
Ia baru saja bermimpi.
Bukan mimpi biasa.
Melainkan potongan-potongan gambaran
yang terasa seperti ingatan orang lain.
Ia melihat sungai.
Ia melihat pohon randu.
Ia melihat seorang anak lelaki
berlari di pematang.
Dan di kejauhan,
seorang gadis kecil berdiri sambil menangis.
Arga tidak bisa melihat wajah anak lelaki itu dengan jelas.
Namun entah bagaimana,
ia tahu siapa itu.
Jatmika.
Dan gadis kecil itu,
meski hanya terlihat sekilas,
membuat dadanya menegang.
Karena Arga tahu siapa dia.
Sekar.
Arga duduk lama di tepi ranjang.
Tangannya gemetar.
Karena untuk pertama kalinya,
yang datang bukan suara.
Bukan bayangan.
Bukan bisikan.
Melainkan potongan masa lalu
yang terasa seperti miliknya sendiri.
Padahal seharusnya bukan.
Di siang hari,
Arga tetap pergi ke Kali Wening.
Sekar sudah menunggu di sana,
namun wajah gadis itu juga tampak pucat.
Saat melihat Arga,
ia langsung berkata pelan:
“Kamu juga?”
Arga menatapnya.
“Kamu mimpi?”
Sekar mengangguk perlahan.
Mereka saling diam beberapa detik.
Karena mereka berdua tahu:
tak mungkin itu kebetulan.
Sekar duduk di batu.
Tangannya saling menggenggam.
“Aku melihat seorang anak laki-laki.”
“Dia berdiri di tepi sungai.”
“Dia memanggil namaku.”
Arga menelan napas.
“Aku juga melihatnya.”
Sekar menatapnya.
“Kamu lihat siapa?”
Arga menjawab sangat pelan.
“Jatmika.”
Sekar menutup mata.
Wajahnya kehilangan warna.
Karena nama itu
yang selama ini hanya mereka bisikkan pelan
kini mulai masuk ke dalam mimpi mereka berdua.
Dan itu berarti
sesuatu memang sedang berubah.
Arga duduk di samping Sekar.
“Sekar...”
“siapa sebenarnya Jatmika bagimu?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap sungai lama sekali.
Seolah jawaban itu terlalu berat
untuk dikeluarkan.
Lalu dengan suara nyaris berbisik,
ia berkata:
“Waktu kecil...”
“aku sering melihat anak kecil berdiri di halaman rumah.”
Arga diam mendengar.
“Awalnya aku kira dia hanya bayangan.”
“Tapi setiap kali dia datang,
aku selalu merasa sedih tanpa alasan.”
Arga menatapnya.
Sekar melanjutkan.
“Suatu malam aku bertanya pada nenek.”
“Dan nenek bilang...”
ia menelan napas,
“dia adalah seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi.”
Arga bertanya pelan.
“Karena dia mati?”
Sekar menggeleng.
“Karena dia menunggu.”
Kalimat itu membuat udara di sekitar mereka mendadak terasa dingin.
“Menunggu siapa?”
tanya Arga.
Sekar menoleh.
Matanya berkaca.
“Katanya...”
“dia menungguku.”
Arga membeku.
Sungai tetap mengalir.
Daun tetap bergerak.
Namun bagi Arga,
dunia seperti berhenti sesaat.
“Apa maksudnya menunggumu?”
Sekar menggeleng pelan.
“Aku tidak tahu.”
“Nenek tidak pernah mau cerita lebih jauh.”
“Tapi setiap kali aku bertanya,
dia selalu bilang satu hal.”
“Apa?”
Sekar menatap air.
‘Jangan terlalu dekat dengan anak dari rumah pinggir sawah.’
Arga menahan napas.
Rumah pinggir sawah.
Rumahnya.
Sekar melanjutkan dengan suara gemetar.
“Aku baru sadar...
mungkin sejak dulu
mereka semua sudah tahu.”
Arga menunduk.
Ia teringat surat.
Ia teringat wajah ibunya.
Ia teringat diam ayahnya.
Mungkin memang benar:
orang-orang tua di sekitar mereka
telah lama menyimpan sesuatu
yang sengaja tidak diberikan pada mereka.
Matahari mulai condong ketika mereka masih duduk diam.
Tidak ada lagi kata-kata.
Karena terkadang,
beberapa kenyataan terlalu besar
untuk langsung dipahami.
Arga memandang Sekar.
Gadis yang selama ini membuat dunianya indah itu
tiba-tiba terasa seperti bagian dari teka-teki
yang jauh lebih tua dari hidup mereka sendiri.
Dan justru itu
membuat perasaannya semakin rumit.
Karena ia tidak hanya takut kehilangan Sekar.
Ia mulai takut
bahwa sejak awal
Sekar memang tidak pernah sepenuhnya datang untuk dirinya.
Menjelang sore,
Mbah Jayarasa muncul di tepi jalan kecil.
Tongkat kayunya mengetuk tanah pelan.
Sekar langsung menegang.
Arga berdiri.
Orang tua itu memandang mereka bergantian.
Matanya dalam.
Lelah.
Seolah ia sudah tahu
hari ini pasti akan datang.
“Mbah...”
kata Arga,
“siapa Jatmika sebenarnya?”
Mbah Jayarasa tidak langsung menjawab.
Ia justru memandang sungai.
Lalu berkata:
“Yang mati kadang tidak hilang.”
“Yang hidup kadang tidak benar-benar baru.”
Arga mengerutkan kening.
“Aku tidak mengerti.”
Mbah Jayarasa menatapnya.
“Karena kamu belum siap.”
Sekar berkata lirih,
“Kalau kami tidak siap,
kenapa semua ini datang sekarang?”
Orang tua itu memejamkan mata sejenak.
Lalu berkata pelan:
“Karena cinta kalian
membangunkan ingatan yang seharusnya tetap tidur.”
Arga dan Sekar saling menatap.
Jantung Arga berdetak keras.
“Maksud Mbah...”
“perasaan ini, ”
Mbah Jayarasa memotong.
“Bukan sekadar milik kalian.”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun randu di kejauhan bergetar.
Dan kalimat itu jatuh di antara mereka
seperti batu yang dilempar ke air tenang.
Menciptakan riak
yang tidak mungkin kembali seperti semula.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di halaman rumah.
Langit tanpa bintang.
Udara dingin.
Sawah sunyi.
Ia memikirkan semuanya.
Tentang Sekar.
Tentang surat.
Tentang mimpi.
Tentang Jatmika.
Tentang kalimat Mbah Jayarasa.
“Bukan sekadar milik kalian.”
Arga memejamkan mata.
Dan saat itulah,
ia melihat kilasan singkat.
Seorang anak lelaki.
Berlari di tengah hujan.
Memegang tangan seorang gadis kecil.
Lalu suara tangis.
Lalu sungai.
Lalu gelap.
Arga membuka mata cepat.
Napasnya tercekat.
Karena kali ini,
yang datang bukan sekadar bayangan.
Melainkan kenangan.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai takut bahwa
masa lalu bukan hanya sedang mengintai.
Masa lalu
sedang berusaha kembali hidup
melalui dirinya.
BAB 32
Larangan yang Tak Dimengerti
Ada larangan yang mudah dipahami.
Jangan bermain terlalu jauh.
Jangan pulang terlalu malam.
Jangan menyentuh api.
Jangan berjalan saat badai.
Semua larangan itu punya alasan
yang bisa diterima akal.
Namun yang paling menyakitkan
adalah larangan
yang datang dari orang-orang terdekat,
tanpa penjelasan,
tanpa jawaban,
hanya dengan tatapan cemas
yang justru membuat hati semakin gelisah.
Dan itulah yang mulai dialami Arga
setelah bayangan masa lalu
semakin sering muncul di antara dirinya dan Sekar.
Pagi itu,
rumah di pinggir sawah terasa lebih sunyi dari biasanya.
Sukmawati memasak tanpa banyak bicara.
Sastro duduk di beranda,
mengasah arit lebih lama dari biasanya,
meski bilahnya sudah tajam sejak tadi.
Arga keluar dari kamar
dengan wajah lelah.
Malam sebelumnya
ia hampir tidak tidur.
Bayangan dalam mimpinya masih melekat.
Suara Mbah Jayarasa masih terngiang.
Dan nama Sekar
tetap memenuhi pikirannya.
Ia hendak mengambil kendi air
saat suara ayahnya terdengar.
“Arga.”
Arga berhenti.
“Iya, Yah?”
Sastro tidak langsung menoleh.
Masih memandang tajam bilah arit di tangannya.
“Mulai hari ini…”
“jangan ke sungai dulu.”
Arga menatap ayahnya.
“Apa?”
Sastro akhirnya mengangkat wajah.
“Ayah bilang,
jangan ke Kali Wening.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Sastro diam.
Dan seperti biasanya,
diam itulah yang paling membuat Arga marah.
“Kenapa?”
ulang Arga.
Sastro menarik napas berat.
“Karena ayah minta.”
“Bukan jawaban.”
“Kadang orang tua tidak selalu harus menjelaskan semuanya.”
Arga menatap ayahnya lama.
“Kadang anak juga capek
disuruh patuh tanpa tahu alasan.”
Sukmawati yang sejak tadi diam
akhirnya menoleh.
“Arga.”
Nada suaranya lembut.
Tapi ada ketegangan di sana.
“Ikuti saja dulu.”
Arga memandang ibunya.
“Ibu juga?”
Sukmawati menunduk.
Dan dari cara ibunya menghindari matanya,
Arga tahu:
mereka memang sedang menyembunyikan sesuatu lagi.
“Ini tentang Sekar?”
tanya Arga.
Ruangan langsung sunyi.
Sastro mengepalkan rahang.
Sukmawati menutup mata sesaat.
Dan justru dari reaksi itu,
Arga mendapatkan jawabannya.
“Jadi benar.”
Sastro berdiri pelan.
“Jangan temui dia dulu.”
“Kenapa?”
“Karena tidak semua yang terasa baik
akan berakhir baik.”
Arga tertawa kecil,
namun pahit.
“Kalimat itu lagi.”
“Semua orang bicara seperti teka-teki.”
Sastro melangkah mendekat.
Tatapannya keras.
“Ayah serius.”
“Aku juga serius.”
kata Arga.
“Kalau memang ada sesuatu,
katakan.”
Sastro menatap putranya lama.
Seolah ingin bicara.
Seolah ingin membuka semuanya.
Namun pada akhirnya,
yang keluar hanya satu kalimat:
“Sekar bukan untukmu.”
Arga merasa dadanya seperti dipukul sesuatu.
“Siapa yang menentukan itu?”
“Ayah.”
“Karena takut?”
tanya Arga.
“Atau karena masa lalu yang kalian sembunyikan?”
Sastro membeku.
Dan Arga tahu,
ia telah menyentuh sesuatu
yang tidak seharusnya.
Arga pergi dari rumah
tanpa menyelesaikan sarapan.
Langkahnya cepat.
Napasnya berat.
Pikirannya kacau.
Ia marah.
Bukan hanya karena dilarang.
Tetapi karena untuk pertama kalinya,
orang tuanya tidak hanya menyembunyikan rahasia,
mereka mulai mencoba mengatur perasaannya.
Dan bagi seseorang yang baru pertama kali menemukan cinta,
larangan seperti itu
terasa seperti menutup napas.
Di sisi lain desa,
Sekar juga mengalami hal yang sama.
Neneknya, Mbok Raras,
yang biasanya lembut,
hari itu menahan tangannya
saat Sekar hendak keluar rumah.
“Mau ke mana?”
Sekar terdiam.
“Ke sungai.”
“Jangan.”
Sekar menatap neneknya.
“Kenapa?”
Mbok Raras memalingkan wajah.
“Sudah terlalu dekat.”
Sekar langsung mengerti.
“Dengan Arga?”
Mbok Raras tidak menjawab.
Namun genggaman tangannya semakin erat.
“Nduk...”
suara tua itu bergetar,
“kadang hati bisa membawa orang
ke luka yang sama dua kali.”
Sekar menahan napas.
“Nenek tahu sesuatu.”
Mbok Raras menutup mata.
“Yang tahu tidak selalu sanggup menceritakan.”
Sekar menarik tangannya pelan.
“Tapi aku yang menjalaninya.”
Mata tua Mbok Raras basah.
“Justru itu yang membuat nenek takut.”
Sore harinya,
meski dilarang,
Arga tetap pergi.
Karena ada satu hal
yang lebih kuat dari larangan:
kerinduan.
Dan semakin seseorang dilarang bertemu,
sering kali justru langkahnya
semakin pasti menuju orang yang dirindukan.
Saat tiba di Kali Wening,
Sekar sudah berdiri di sana.
Sendirian.
Mereka saling menatap.
Tidak ada yang bertanya
kenapa masing-masing datang.
Karena mereka sudah tahu jawabannya.
Sekar tersenyum tipis.
“Kamu juga dilarang?”
Arga mengangguk.
“Kamu?”
Sekar ikut mengangguk.
Arga menghela napas.
“Berarti mereka semua memang tahu sesuatu.”
Sekar menatap air.
“Dan mereka takut.”
Arga memandang wajahnya.
“Kamu takut juga?”
Sekar terdiam lama.
Lalu menjawab pelan:
“Iya.”
Arga menatapnya.
“Lalu kenapa tetap datang?”
Sekar menoleh.
Matanya lembut.
Sedih.
Jujur.
“Karena lebih takut
kalau aku tidak datang.”
Kalimat itu membuat seluruh amarah Arga
mendadak hilang.
Yang tersisa hanya satu:
perasaan yang semakin dalam.
Mereka duduk di tepi sungai seperti biasa.
Namun hari itu,
keheningan terasa berbeda.
Bukan tenang.
Bukan nyaman.
Melainkan rapuh.
Seolah mereka berdua tahu
bahwa sesuatu mulai bergerak
melawan mereka.
Arga memecah sunyi.
“Kalau semua orang melarang…”
Sekar menatapnya.
“Lalu?”
Arga memandang lurus ke sungai.
“Apakah kita harus berhenti?”
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menunduk.
Memainkan ujung kainnya.
Menarik napas pelan.
Lalu berkata:
“Aku tidak tahu.”
Arga menatapnya.
Dan jawaban itu,
yang jujur dan tanpa kepastian,
justru terasa lebih menyakitkan
daripada penolakan.
Tiba-tiba angin berembus keras.
Air sungai beriak.
Daun-daun di sekitar mereka bergerak serempak.
Sekar menegang.
Arga langsung menoleh.
Di seberang sungai,
di bawah pohon bambu,
sesosok anak kecil berdiri.
Jatmika.
Namun kali ini,
ia tidak hanya diam.
Ia mengangkat tangan kecilnya,
seolah memberi isyarat.
Kemudian suara lirih itu terdengar jelas.
“Dulu... mereka juga melarang.”
Sekar menggenggam lengan Arga.
Wajahnya pucat.
Arga menatap sosok itu.
“Apa maksudmu?”
Anak kecil itu menatap mereka berdua.
Matanya penuh kesedihan.
Lalu berbisik:
“Dan dulu...
tidak ada yang mendengarkan.”
Sesaat kemudian,
sosok itu menghilang.
Hanya angin dingin yang tertinggal.
Dan dua hati muda
yang kini mulai sadar,
bahwa larangan orang-orang tua
mungkin bukan lahir dari kebencian,
melainkan dari luka lama
yang belum pernah sembuh.
Senja turun perlahan.
Arga dan Sekar tetap duduk di sana.
Lebih dekat dari sebelumnya,
namun terasa lebih jauh dari ketenangan.
Karena kini,
cinta mereka bukan lagi hanya milik mereka.
Masa lalu mulai ikut campur.
Orang-orang tua mulai takut.
Dan bayangan lama
mulai berbicara lebih jelas.
Arga menatap Sekar.
“Kalau semua orang melarang,
aku tetap ingin mengerti.”
Sekar memandangnya.
Matanya basah.
“Kadang mengerti
justru membuat seseorang terluka.”
Arga tersenyum tipis.
“Kalau begitu biar aku yang terluka.”
Sekar menunduk.
Air matanya jatuh diam-diam.
Karena untuk pertama kalinya,
ia mulai sadar:
yang paling berbahaya dari cinta
bukan ketika dua orang saling menemukan.
Tetapi ketika mereka tetap memilih bertahan
meski dunia mulai meminta mereka berpisah.
BAB 33
Air Mata Pertama
Tidak semua kesedihan datang dengan suara.
Ada yang pecah dalam tangis keras.
Ada yang meledak dalam amarah.
Ada yang jatuh seperti hujan.
Namun ada kesedihan tertentu
yang datang perlahan,
diam,
lalu tiba-tiba menetes
tanpa bisa ditahan.
Dan justru air mata yang pertama itu—
yang jatuh tanpa rencana—
sering menjadi tanda
bahwa seseorang sudah terlalu jauh
menahan sesuatu di dalam hatinya.
Itulah yang terjadi pada Sekar.
Sore itu,
langit di atas Kali Wening tampak pucat.
Tidak jingga.
Tidak keemasan.
Seperti kehilangan warna.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya,
meski matahari belum benar-benar tenggelam.
Arga dan Sekar masih duduk di tepi sungai,
di tempat yang sama,
dengan perasaan yang tidak lagi sama.
Larangan dari orang tua,
bisikan Jatmika,
dan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab
menggantung di antara mereka.
Sekar lebih banyak diam hari itu.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum ringan.
Tidak ada candaan kecil.
Tidak ada tatapan hangat yang lama.
Yang ada hanya diam
yang terasa semakin berat.
Arga menatapnya pelan.
“Kamu kenapa?”
Sekar tidak menjawab.
Ia hanya memandang air
yang terus mengalir,
seolah berharap sungai itu
bisa membawa semua pikirannya pergi.
Arga mencoba lagi.
“Sekar…”
Sekar menarik napas panjang.
Dan saat itulah,
sesuatu di dalam dirinya
akhirnya tidak bisa ditahan lagi.
“Aku capek, Arga…”
Suara itu pelan.
Sangat pelan.
Namun cukup untuk membuat Arga membeku.
Sekar menunduk.
Tangannya menggenggam kain di pangkuannya.
“Aku capek tidak mengerti…”
“Aku capek takut…”
“Aku capek merasa semua ini
seolah bukan milikku…”
Arga menatapnya.
“Sekar, ”
Sekar menggeleng cepat.
“Jangan.”
“Jangan bilang semuanya akan baik-baik saja.”
Arga terdiam.
Karena ia memang tidak yakin
apakah semuanya akan baik-baik saja.
Sekar menggigit bibirnya.
Matanya mulai berkaca.
“Aku mencoba kuat…”
“aku mencoba berpikir ini hanya perasaan biasa…”
“aku mencoba menganggap semua ini kebetulan…”
Suaranya mulai bergetar.
“Tapi semakin aku mencoba,
semakin semuanya terasa nyata…”
Dan pada kalimat itu,
air mata pertama jatuh.
Pelan.
Tanpa suara.
Namun terasa seperti sesuatu yang runtuh
di dalam dirinya.
Arga tidak pernah melihat Sekar seperti itu sebelumnya.
Gadis yang selalu tersenyum lembut,
yang selalu menyimpan sesuatu di balik tatapannya,
yang selalu tampak tenang,
kini terlihat rapuh.
Sangat rapuh.
Dan itu membuat dada Arga terasa sesak.
“Sekar…”
Arga mendekat sedikit.
Namun ia ragu.
Ragu apakah harus menyentuhnya.
Ragu apakah kehadirannya justru akan membuat semuanya lebih berat.
Namun sebelum ia memutuskan,
Sekar berkata pelan:
“Aku takut, Arga…”
Arga menahan napas.
“Takut apa?”
Sekar mengangkat wajahnya.
Air mata masih mengalir di pipinya.
“Aku takut kalau aku mencintaimu…”
“bukan karena aku memilihmu…”
Kalimat itu membuat dunia Arga terasa berhenti.
Sekar melanjutkan,
dengan suara yang hampir hilang:
“tapi karena sesuatu dari masa lalu
memaksaku untuk tetap kembali padamu…”
Arga tidak bergerak.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Karena itu juga pertanyaan yang selama ini
diam-diam ia sembunyikan dari dirinya sendiri.
Sekar menunduk lagi.
Air matanya jatuh semakin banyak.
“Aku tidak ingin seperti itu…”
“Aku ingin perasaan ini murni…”
“Aku ingin memilihmu karena aku benar-benar ingin…”
Suaranya pecah.
“Bukan karena aku tidak punya pilihan…”
Arga akhirnya tidak tahan.
Ia mengulurkan tangan.
Pelan.
Hati-hati.
Lalu menyentuh tangan Sekar yang gemetar.
Sekar tidak menarik tangannya.
Justru genggamannya perlahan menguat.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka tidak hanya berbagi diam,
tidak hanya berbagi rahasia,
mereka berbagi luka.
“Aku juga takut.”
Suara Arga pelan,
namun jelas.
Sekar menoleh perlahan.
Arga menatapnya.
“Aku takut kalau perasaan ini
bukan milikku sepenuhnya…”
“Aku takut kalau aku hanya
mengulang sesuatu yang pernah terjadi…”
“Aku takut kalau aku hanya
mengisi tempat seseorang yang sudah pergi…”
Sekar memandangnya dengan mata basah.
Arga menggenggam tangannya lebih erat.
“Tapi satu hal yang aku tahu…”
Sekar menunggu.
Arga menarik napas.
“Setiap kali aku melihat kamu,
yang aku rasakan bukan kenangan.”
Sekar terdiam.
Arga melanjutkan:
“Yang aku rasakan… kamu.”
Sunyi.
Hanya suara air sungai yang terdengar.
Dan untuk beberapa detik,
dunia seperti berhenti memberi mereka waktu.
Sekar menatap Arga lama.
Air matanya masih ada.
Namun kini tidak lagi jatuh deras.
“Apa itu cukup?”
bisiknya.
Arga tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu,
jawaban untuk pertanyaan itu
tidak sesederhana kata “cukup”.
Namun ia berkata:
“Aku tidak tahu.”
Sekar tersenyum kecil,
meski masih basah oleh air mata.
“Setidaknya kamu jujur.”
Arga membalas senyum tipis.
“Kalau aku bilang cukup,
aku takut berbohong.”
Sekar menunduk.
“Dan kalau tidak cukup…”
Arga melanjutkan pelan:
“…kita tetap di sini sekarang.”
Sekar menatapnya lagi.
Dan untuk pertama kalinya,
di tengah air mata,
ia menemukan sesuatu yang berbeda.
Bukan kepastian.
Namun keberanian.
Angin sore berembus lembut.
Langit mulai gelap.
Sekar menghapus air matanya dengan punggung tangan.
“Ini pertama kalinya aku menangis di depanmu.”
Arga tersenyum kecil.
“Aku merasa terhormat.”
Sekar tertawa pelan.
Meski masih tersisa getar.
“Jangan bangga dulu.”
“Kenapa?”
Sekar menatapnya.
“Karena mungkin ini bukan yang terakhir.”
Arga tidak menjawab.
Karena dalam hatinya,
ia tahu:
air mata pertama
jarang menjadi yang terakhir.
Namun saat mereka mulai merasa sedikit lebih tenang,
angin kembali berubah.
Dingin.
Lebih dingin dari sebelumnya.
Sekar langsung menegang.
Arga menoleh cepat.
Di permukaan sungai,
riak kecil terbentuk sendiri.
Dan di antara pantulan langit yang mulai gelap,
muncul bayangan kecil itu lagi.
Jatmika.
Namun kali ini,
wajahnya tidak hanya sedih.
Ia terlihat… terluka.
Matanya menatap Sekar.
Lalu pada Arga.
Dan suara kecil itu terdengar,
lebih jelas dari sebelumnya:
“Air mata itu… pernah jatuh di sini…”
Sekar menggenggam tangan Arga erat.
Arga menatap sosok itu.
“Apa yang terjadi dulu?”
Jatmika tidak menjawab.
Ia hanya memandang mereka.
Lalu berbisik:
“Dan tidak ada yang menghentikannya…”
Bayangan itu perlahan memudar.
Air kembali tenang.
Namun yang tertinggal
bukan hanya dingin—
melainkan perasaan yang jauh lebih berat.
Sekar menatap Arga.
Wajahnya masih basah.
“Berarti benar…”
Arga menelan napas.
“Ini pernah terjadi.”
Sekar mengangguk perlahan.
Dan kali ini,
tidak ada yang mencoba menyangkal.
Karena air mata pertama
telah membuka sesuatu
yang selama ini tersembunyi:
bahwa cinta mereka
bukan hanya tentang sekarang—
melainkan tentang sesuatu
yang pernah berakhir
dengan luka.
Senja akhirnya hilang.
Malam mulai turun.
Namun Arga dan Sekar belum beranjak.
Karena di tempat itu,
di tepi sungai yang sama,
mereka baru saja melewati satu hal penting:
batas antara menahan
dan akhirnya merasakan.
Dan sejak saat itu,
cinta mereka tidak lagi sama.
Ia menjadi lebih jujur.
Lebih dalam.
Namun juga lebih rapuh.
BAB 34
Rahasia yang Terbuka
Ada rahasia yang disimpan karena malu.
Ada rahasia yang disimpan karena takut.
Dan ada rahasia
yang disimpan terlalu lama
hingga akhirnya berubah menjadi luka
yang diwariskan diam-diam
kepada orang-orang yang bahkan tidak pernah memintanya.
Rahasia seperti itulah
yang selama bertahun-tahun hidup
di antara rumah Arga,
rumah Sekar,
dan Kali Wening.
Dan setelah air mata pertama itu,
takdir seolah memutuskan:
tidak ada lagi yang bisa terus disembunyikan.
Malam setelah pertemuan di sungai,
Arga pulang dengan dada yang berat.
Langit tanpa bulan.
Sawah gelap.
Angin bergerak pelan seperti seseorang
yang sedang membawa kabar buruk.
Ia masuk rumah tanpa bicara.
Sukmawati yang sedang melipat kain
langsung menatap wajah anaknya.
Dan dari mata Arga,
seorang ibu bisa tahu:
anaknya telah sampai
pada pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari.
“Kamu bertemu dia lagi.”
bukan bertanya.
melainkan memastikan.
Arga berhenti.
Lalu menatap ibunya.
“Bu…”
“siapa sebenarnya Jatmika?”
Ruangan langsung sunyi.
Sastro yang sedang duduk di beranda
perlahan menoleh.
Wajah Sukmawati berubah pucat.
Untuk sesaat,
tak ada satu pun dari mereka menjawab.
Dan justru karena itulah,
Arga tahu:
malam ini
mereka tidak bisa lagi lari.
Arga melangkah masuk lebih jauh.
“Aku capek menebak.”
“Aku capek dengar setengah cerita.”
“Aku capek mencintai seseorang
tanpa tahu kenapa semua orang
terlihat ketakutan.”
Sukmawati memejamkan mata.
Tangannya gemetar.
Sastro berdiri pelan.
Wajahnya keras.
Namun matanya justru terlihat lelah.
“Arga…”
“Aku bukan anak kecil lagi.”
potong Arga.
“Kalau semua ini tentang aku,
aku berhak tahu.”
Kalimat itu menggantung lama di udara.
Sukmawati akhirnya duduk.
Seolah kakinya tidak lagi sanggup menopang tubuhnya.
Sastro menatap istrinya.
Lalu menatap putranya.
Dan dengan suara yang sangat berat,
ia berkata:
“Jatmika…
adalah anak pertama kami.”
Dunia Arga seperti berhenti.
Ia menatap ayahnya,
seolah tidak yakin ia mendengar dengan benar.
“Apa?”
Sukmawati mulai menangis pelan.
Sastro menunduk.
“Dia kakakmu.”
Arga mundur satu langkah.
Napasnya tercekat.
“Tidak…”
Sukmawati mengangguk sambil menangis.
“Dia lahir dua tahun sebelum kamu.”
Arga menatap ibunya.
Matanya membesar.
“Tapi…”
“kenapa aku tidak pernah tahu?”
Karena beberapa luka,
jawabannya terlalu berat untuk diucapkan.
Sukmawati memeluk dirinya sendiri.
Seolah mencoba menahan kenangan lama.
“Karena dia meninggal.”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Namun cukup untuk menghantam Arga.
“Meninggal… bagaimana?”
Sastro memalingkan wajah.
Rahangnya mengeras.
Dan justru dari diam ayahnya,
Arga tahu:
jawabannya tidak sederhana.
Sukmawati menangis semakin pelan.
“Waktu itu musim hujan.”
“Dia masih kecil.”
“Usianya belum genap delapan tahun.”
Arga berdiri kaku.
Sukmawati melanjutkan,
terputus-putus:
“Dia sering bermain di sungai.”
“Padahal sudah berkali-kali dilarang.”
“Tapi dia selalu bilang ada teman yang menunggunya di sana.”
Arga menelan napas.
“Teman?”
Sukmawati mengangguk.
“Anak perempuan kecil.”
Arga langsung teringat Sekar.
Tubuhnya dingin.
Sastro akhirnya berkata,
suara berat seperti menahan sesuatu bertahun-tahun.
“Anak itu adalah Sekar.”
Ruangan mendadak terasa sempit.
Arga tidak bisa bergerak.
Tidak bisa berpikir.
Tidak bisa menata napasnya.
Sekar.
Jatmika.
Sejak kecil.
Sudah saling mengenal.
Sukmawati menangis.
“Waktu itu mereka sering bermain bersama.”
“Tak ada yang tahu kenapa mereka begitu dekat.”
“Padahal usia mereka masih sangat kecil.”
Arga menatap ibunya.
“Lalu?”
Sukmawati menutup wajah.
Sastro menjawab menggantikannya.
“Suatu sore mereka pergi ke sungai.”
“Hujan turun.”
“Air naik lebih cepat dari biasanya.”
Arga merasakan dadanya mulai sesak.
Sastro melanjutkan,
pelan namun tajam:
“Sekar selamat.”
“Jatmika tidak pulang.”
Tak ada suara beberapa saat.
Hanya isak Sukmawati
dan suara angin dari luar rumah.
Arga menatap kosong ke lantai.
Semua potongan mulai menyatu.
Bisikan.
Sungai.
Tangisan.
Larangan.
Mimpi.
Semua mengarah pada satu luka lama
yang belum pernah benar-benar ditutup.
“Jatmika… tenggelam?”
tanya Arga pelan.
Sastro mengangguk.
“Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian.”
Arga memejamkan mata.
Dan entah kenapa,
dadanya terasa sakit
seolah ia sendiri
yang kehilangan napas di air itu.
“Tapi itu bukan semuanya.”
kata Sukmawati.
Arga menoleh cepat.
Ibunya menatapnya
dengan mata yang penuh rasa bersalah.
“Sejak hari itu…”
“Sekar terus memanggil namanya.”
“Dalam tidur.”
“Dalam demam.”
“Dalam tangis.”
Arga diam.
Sukmawati berkata lirih:
“Dan beberapa bulan kemudian…”
“dia mulai bilang…”
“Jatmika masih datang menemuinya.”
Arga menatap ibunya.
“Aku juga melihatnya.”
Sukmawati menangis lebih keras.
“Karena Mbah Jayarasa bilang…”
“jiwa yang pergi dengan cinta yang belum selesai
kadang tidak langsung meninggalkan dunia.”
Arga merasakan bulu kuduknya berdiri.
“Lalu aku?”
Sastro menatap putranya.
“Ketika kamu lahir…”
“Mbah Jayarasa melihat tanda yang sama.”
Arga tidak bergerak.
“Ayah bilang…”
“aku adalah dia?”
Sastro tidak menjawab.
Karena beberapa jawaban
terlalu menakutkan untuk diucapkan langsung.
Namun dari tatapan ayahnya,
Arga mengerti.
Mereka semua
sudah lama takut
bahwa Arga bukan hanya Arga.
Malam terasa semakin berat.
Arga keluar rumah.
Duduk di tangga kayu.
Memandang gelap sawah.
Sekarang semuanya mulai masuk akal.
Mengapa sungai selalu memanggilnya.
Mengapa Sekar terasa begitu dekat.
Mengapa Jatmika selalu muncul.
Mengapa semua orang takut.
Namun satu hal
justru semakin menghancurkan:
Bagaimana jika cintanya pada Sekar
bukan benar-benar miliknya?
Bagaimana jika yang ia rasakan
hanyalah sisa cinta
dari kakak yang tak pernah ia kenal?
Langkah kecil terdengar di belakangnya.
Sukmawati duduk di sampingnya.
Untuk beberapa lama,
ibu dan anak itu hanya diam.
Lalu Sukmawati berkata pelan:
“Ibu tidak pernah takut pada kamu.”
Arga menatap lurus ke depan.
“Lalu apa yang ibu takutkan?”
Air mata jatuh dari mata ibunya.
“Ibu takut kamu harus merasakan luka
yang sama dua kali.”
Arga menunduk.
Dan kalimat itu
lebih menyakitkan
daripada seluruh rahasia malam itu.
Keesokan harinya,
Arga menemui Sekar di sungai.
Sekar sudah berdiri di sana,
seolah tahu Arga pasti datang.
Saat melihat wajah Arga,
Sekar langsung tahu.
“Kamu sudah tahu.”
Arga mengangguk.
Sekar memejamkan mata.
Air matanya langsung jatuh.
“Jadi benar…”
bisik Arga.
“Dulu kalian…”
Sekar mengangguk perlahan.
“Waktu kecil…
aku selalu menunggunya di sungai.”
Arga bertanya pelan.
“Dan sekarang?”
Sekar menatap Arga
dengan mata penuh luka.
“Sekarang…”
“Aku tidak tahu
apakah aku menunggu dia…”
Ia terdiam.
Lalu suaranya pecah.
“atau menunggumu.”
Kalimat itu membuat seluruh tubuh Arga terasa kosong.
Karena akhirnya,
rahasia yang paling menakutkan
bukan bahwa masa lalu masih hidup.
Melainkan bahwa cinta mereka
mungkin tidak pernah benar-benar baru.
Angin tiba-tiba berembus keras.
Air sungai beriak.
Di permukaan air,
bayangan kecil muncul sekali lagi.
Jatmika.
Namun kali ini,
ia tidak terlihat marah.
Tidak sedih.
Ia hanya memandang mereka berdua
seolah akhirnya
mereka telah mengetahui semuanya.
Lalu suara kecil itu terdengar:
“Sekarang kalian tahu...”
Arga menatap air.
“Lalu apa yang harus kami lakukan?”
Bayangan itu menatap Sekar.
Kemudian Arga.
Dan berbisik sangat pelan:
“Pilih…”
“mengulang…”
“atau mengakhiri.”
Riak air pecah.
Bayangan itu hilang.
Dan yang tertinggal hanyalah
dua hati
yang kini tahu seluruh kebenaran,
namun justru semakin tidak tahu
harus melangkah ke mana.
BAB 35
Jalan yang Berbeda
Setelah sebuah rahasia terbuka, hidup jarang kembali seperti semula.
Ada orang yang menjadi semakin dekat karena akhirnya saling mengerti.
Namun ada juga yang justru perlahan menjauh,
bukan karena perasaannya hilang,
melainkan karena kenyataan terasa terlalu berat
untuk dipeluk dengan tangan yang sama.
Kadang yang memisahkan dua orang
bukan kebencian.
Bukan luka.
Bukan orang lain.
Melainkan rasa takut
bahwa cinta yang mereka pegang
sebenarnya bukan milik mereka sendiri.
Dan sejak rahasia tentang Jatmika terungkap,
itulah yang diam-diam tumbuh
di antara Arga dan Sekar.
Hari-hari berikutnya,
Kali Wening masih mengalir seperti biasa.
Pohon randu masih berdiri.
Sawah masih bergoyang ditiup angin.
Burung-burung masih melintas saat senja.
Semua terlihat sama.
Namun tidak dengan mereka.
Arga tetap datang ke sungai,
tetapi tidak sesering dulu.
Sekar juga masih datang,
namun tidak lagi menunggu lama.
Kadang mereka bertemu.
Kadang hanya saling melihat dari kejauhan.
Kadang salah satu datang
saat yang lain sudah pergi.
Bukan karena sengaja menghindar.
Namun karena keduanya mulai sadar:
kadang jarak tercipta
meski tak seorang pun berniat meninggalkan.
Suatu sore,
Arga berdiri di bawah pohon randu
ketika Sekar datang dari jalan kecil.
Langkah gadis itu pelan.
Mata mereka bertemu.
Dulu,
tatapan seperti itu selalu membuat dunia terasa hangat.
Kini,
yang datang justru rasa asing
yang menyelip di antara kerinduan.
Sekar berhenti beberapa langkah darinya.
“Kamu sudah lama?”
Arga menggeleng.
“Baru.”
Padahal ia sudah menunggu hampir satu jam.
Sekar mengangguk kecil.
Lalu sunyi.
Bukan sunyi yang nyaman.
Bukan sunyi yang manis.
Melainkan sunyi yang dipenuhi pertanyaan
yang tak seorang pun berani mulai.
Akhirnya Arga berkata,
“Sekar…”
Sekar menatapnya.
“Sejak malam itu…”
“kamu berubah.”
Sekar tersenyum kecil.
Senyum yang tak sampai ke mata.
“Kamu juga.”
Arga menunduk.
Karena ia tidak bisa menyangkalnya.
Ia memang berubah.
Setiap kali menatap Sekar sekarang,
yang ia lihat bukan hanya gadis yang ia cintai.
Ia juga melihat bayangan seseorang
yang hidup sebelum dirinya.
Dan itu membuat hatinya
tak lagi sesederhana dulu.
“Aku mencoba.”
kata Arga pelan.
Sekar bertanya,
“Mencoba apa?”
“Meyakinkan diriku
bahwa semua ini tetap tentang kita.”
Sekar menahan napas.
“Lalu?”
Arga memandang sungai.
“Semakin aku mencoba,
semakin aku takut.”
Sekar tertawa kecil,
namun terdengar seperti luka.
“Aku juga.”
Mereka kembali diam.
Kadang,
dua orang bisa saling mencintai
namun tetap berdiri
di sisi kesedihan yang berbeda.
Angin sore bergerak pelan.
Sekar duduk di batu besar
yang biasa mereka tempati bersama.
Namun kali ini,
Arga tidak langsung duduk di sampingnya.
Ia berdiri beberapa langkah jauhnya.
Sekar menyadarinya.
Dan jarak kecil itu
terasa lebih menyakitkan
daripada kata-kata.
“Kamu sekarang menjauh.”
ujar Sekar lirih.
Arga menatapnya.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi kamu melakukannya.”
Arga terdiam.
Karena terkadang,
yang paling jujur
bukan yang kita ucapkan,
melainkan yang tubuh kita lakukan tanpa sadar.
“Aku hanya…”
Arga berhenti sejenak.
“Mencoba mengerti.”
Sekar menunduk.
“Aku juga.”
Arga menghela napas.
“Kalau semua ini memang sisa masa lalu…”
“bagaimana kalau yang kita rasakan sekarang
bukan benar-benar milik kita?”
Sekar menutup mata.
Pertanyaan itu
adalah hal yang selama ini
ia hindari dalam pikirannya sendiri.
Namun mendengarnya dari Arga
terasa jauh lebih menyakitkan.
“Jadi menurutmu…”
suara Sekar hampir tak terdengar,
“mungkin kamu tidak benar-benar mencintaiku?”
Arga langsung menoleh.
“Aku tidak bilang begitu.”
“Tapi kamu memikirkannya.”
Arga tak bisa menjawab.
Karena itu benar.
Dan kadang,
kejujuran yang terlambat
lebih tajam daripada kebohongan.
Sekar berdiri perlahan.
Matanya mulai basah,
namun kali ini
ia menahannya.
“Arga…”
“yang paling menyakitkan bukan rahasia itu.”
Arga menatapnya.
Sekar melanjutkan dengan suara gemetar.
“Yang paling menyakitkan
adalah saat aku mulai takut
bahwa kamu melihatku
bukan sebagai aku.”
Arga merasa dadanya seperti ditarik.
“Sekar, ”
“Tapi sebagai seseorang
yang pernah dicintai orang lain sebelum kamu.”
Kalimat itu jatuh
lebih keras daripada yang terdengar.
Karena itulah ketakutan terbesar Sekar:
bukan kehilangan Arga,
melainkan menjadi bayangan
dari masa lalu orang lain.
Arga melangkah mendekat.
“Itu tidak benar.”
Sekar menatapnya.
“Lalu kenapa kamu menjauh?”
Arga membuka mulut,
namun tak ada jawaban yang keluar.
Karena ia sendiri
belum mengerti dirinya.
Ia mencintai Sekar.
Itu jelas.
Namun kini cinta itu
bercampur dengan rasa takut,
bingung,
dan bayangan yang bukan miliknya.
Dan campuran itulah
yang membuat ia tanpa sadar
mulai melangkah mundur.
Sekar tersenyum kecil.
Pahit.
“Kadang diam
sudah cukup jadi jawaban.”
Langit mulai berubah gelap.
Burung-burung pulang ke sarang.
Sekar melangkah mundur satu langkah.
Kemudian satu lagi.
“Sekar…”
Gadis itu menatap Arga lama sekali.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin kita butuh waktu.”
Arga menahan napas.
“Untuk apa?”
Sekar memandang sungai.
“Untuk tahu
apakah ini benar-benar kita…”
Ia menatap Arga.
“...atau hanya luka lama
yang sedang mencari bentuk baru.”
Arga merasa tenggorokannya kering.
Karena untuk pertama kalinya,
yang menjauh bukan jarak,
melainkan kemungkinan.
Sekar berbalik.
Dan untuk pertama kalinya
sejak mereka saling menemukan,
ia pergi lebih dulu.
Tanpa menoleh.
Tanpa menunggu.
Tanpa senyum.
Arga hanya berdiri diam,
memandang langkah Sekar
yang perlahan menjauh di pematang.
Matahari tenggelam di belakang sawah.
Bayangan memanjang.
Dan sesuatu di dalam dadanya
ikut meredup bersama cahaya sore.
Saat Sekar sudah hampir hilang dari pandangan,
angin mendadak berubah dingin.
Arga menoleh ke sungai.
Di permukaan air,
bayangan kecil itu muncul lagi.
Jatmika.
Kali ini,
ia tidak sedih.
Ia hanya memandang Arga
dengan mata yang sangat tenang.
Lalu berkata:
“Dulu…”
“aku juga melepaskannya.”
Arga menatap air.
“Kenapa?”
Bayangan itu menjawab:
“Karena aku takut.”
Arga menahan napas.
“Lalu?”
Jatmika menunduk.
Dan suara kecilnya berubah seperti bisikan yang hampir hilang:
“Dan ketakutan itu…
mengubah segalanya.”
Riak kecil memecah bayangan itu.
Air kembali tenang.
Namun kalimat itu
tertinggal di dalam dada Arga
seperti luka baru.
Malam itu,
Arga duduk sendiri di beranda rumah.
Tidak ada suara selain jangkrik.
Tidak ada cahaya selain lampu minyak kecil.
Tidak ada siapa-siapa selain pikirannya sendiri.
Ia terus mengingat
cara Sekar berjalan pergi.
Cara suaranya bergetar.
Cara matanya menahan air mata.
Cara jarak kecil di antara mereka
terasa lebih besar dari seluruh desa.
Dan untuk pertama kalinya,
Arga mulai mengerti:
cinta tidak selalu hancur
karena seseorang berhenti mencintai.
Kadang cinta mulai retak
karena dua orang yang saling mencintai
takut menghadapi hal yang sama.
Di rumahnya,
Sekar juga duduk di dekat jendela.
Menatap gelap.
Mendengar angin.
Merasakan sepi.
Tangannya menyentuh dadanya sendiri,
seolah mencoba menahan sesuatu
agar tidak runtuh.
Lalu berbisik sangat pelan:
“Kalau memang harus memilih…
kenapa rasanya sesakit ini?”
Tak ada jawaban.
Hanya angin malam
yang lewat di sela bambu.
Dan dari kejauhan,
seperti ada suara kecil
yang berkata lirih:
“Karena cinta…”
“tidak pernah benar-benar tahu
cara pergi dengan mudah.”
Sejak hari itu,
Arga dan Sekar masih saling mencintai.
Namun untuk pertama kalinya,
mereka berjalan
di jalan yang berbeda.
Bukan karena hati mereka berubah.
Melainkan karena masa lalu
mulai berdiri di tengah-tengah mereka.
Dan kadang,
yang paling sulit bukan mencintai seseorang.
Melainkan tetap tinggal
saat cinta itu mulai meminta jawaban
yang tak seorang pun siap memberi.
BAB 36
Hujan di Ujung Jalan
Tidak semua pertemuan terjadi di tempat yang direncanakan.
Ada pertemuan yang datang karena janji.
Ada yang lahir karena rindu.
Ada yang terjadi karena kebetulan.
Namun ada juga pertemuan
yang seolah sengaja dikirim oleh langit,
tepat saat dua hati sedang mencoba menjauh,
seolah semesta sendiri belum rela
membiarkan mereka benar-benar berpisah.
Dan kadang,
hujan adalah cara langit
menghentikan seseorang
yang terlalu keras berpura-pura ingin pergi.
Tiga hari setelah perpisahan di tepi sungai,
Arga tidak melihat Sekar.
Tidak di pematang.
Tidak di jalan kecil dekat kebun.
Tidak di tepi Kali Wening.
Tidak di bawah pohon randu.
Desa terasa tetap sama,
namun bagi Arga,
setiap sudut yang biasa menyimpan Sekar
mendadak terasa kosong.
Ia masih membantu ayahnya di sawah.
Masih mengangkat padi.
Masih menimba air.
Masih menebas rumput liar.
Namun semua ia lakukan
seperti tubuh tanpa suara.
Sastro memperhatikannya dari jauh.
Sukmawati juga.
Mereka tidak bertanya.
Karena beberapa luka
terlihat jelas
meski tak sepatah kata pun diucapkan.
Menjelang sore hari keempat,
langit berubah lebih cepat dari biasanya.
Awan hitam datang dari arah barat.
Angin dari sawah bergerak dingin.
Burung-burung rendah terbang pulang.
Dan aroma tanah basah
sudah terasa bahkan sebelum hujan turun.
Sastro memandang langit.
“Hujan besar.”
Arga mengangguk singkat.
Namun hatinya justru terasa gelisah.
Entah kenapa,
setiap hujan datang,
seolah ada sesuatu
yang selalu memanggilnya keluar.
Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.
Dan sore itu,
panggilan itu terasa lebih kuat.
“Aku ke jalan depan sebentar.”
kata Arga.
Sukmawati menoleh cepat.
“Mau ke mana?”
“Sebentar saja.”
Sastro menatapnya tajam,
namun kali ini tidak melarang.
Karena mungkin,
ia tahu:
ada perjalanan tertentu
yang tidak bisa dicegah
oleh seorang ayah.
Arga mengambil caping tua
dan melangkah keluar rumah.
Langit mulai menetes.
Satu.
Dua.
Tiga.
Lalu hujan turun perlahan.
Jalan tanah di ujung desa
mulai basah ketika Arga sampai di persimpangan kecil
yang memisahkan jalan menuju sungai
dan jalan menuju kebun bambu.
Ia sebenarnya tidak tahu
kenapa kakinya membawanya ke sana.
Namun kadang,
hati mengenal arah
lebih dulu daripada pikiran.
Dan tepat saat ia berhenti di tengah persimpangan,
ia melihat seseorang berdiri di seberang jalan.
Sekar.
Sendirian.
Memegang selendang tipis di atas kepala.
Berdiri di bawah hujan yang mulai rapat.
Mereka saling menatap.
Seperti dua orang
yang sama-sama tidak berniat datang,
namun diam-diam berharap
yang lain muncul.
Untuk beberapa detik,
tak ada yang bergerak.
Hujan turun di antara mereka.
Membentuk tirai tipis
yang justru membuat segalanya terasa lebih dekat.
Sekar akhirnya tersenyum kecil.
“Kamu juga tersesat?”
Arga menggeleng.
“Sepertinya tidak.”
Sekar menatapnya.
“Lalu?”
Arga menatap hujan yang jatuh di antara mereka.
“Mungkin aku memang menuju ke sini.”
Sekar terdiam.
Kalimat sederhana itu
jatuh jauh lebih dalam
daripada yang terdengar.
Hujan semakin deras.
Sekar melangkah ke bawah pohon asem besar
di tepi jalan.
Arga ikut berteduh di sisi lain batang.
Mereka berdiri dekat,
namun tetap menyisakan jarak kecil
yang beberapa hari terakhir terasa begitu besar.
Air hujan menetes dari daun.
Tanah mengeluarkan aroma basah.
Angin membawa dingin
yang membuat dunia seperti berhenti sesaat.
Arga memandang lurus ke depan.
“Aku mencarimu.”
Sekar menunduk.
“Aku tahu.”
Arga menoleh.
“Kamu tahu?”
Sekar tersenyum tipis.
“Karena aku juga mencarimu.”
Arga menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya
setelah beberapa hari yang terasa panjang,
sesuatu di dalam dadanya
mulai bernapas lagi.
“Kenapa kamu tidak datang?”
tanya Arga.
Sekar tidak langsung menjawab.
Ia menatap hujan di ujung jalan.
“Aku mencoba menjauh.”
Arga menghela napas.
“Berhasil?”
Sekar menatapnya.
Matanya lembut.
Sedih.
“Kalau berhasil,
aku tidak akan ada di sini.”
Jawaban itu sederhana.
Namun cukup membuat semua jarak
yang beberapa hari ini tumbuh
perlahan retak.
Arga memejamkan mata sesaat.
“Sekar…
aku tidak ingin kehilangan kamu
karena sesuatu yang bahkan belum kita pahami.”
Sekar menelan napas.
“Tapi aku juga tidak mau
kita saling menyakiti
karena sesuatu yang belum selesai.”
Hujan turun lebih deras.
Suara air di tanah
mengisi jeda di antara mereka.
Dan untuk pertama kalinya,
mereka tidak lagi bicara tentang takut.
Tidak lagi bicara tentang masa lalu.
Tidak lagi bicara tentang orang lain.
Mereka bicara tentang kehilangan.
Dan itu jauh lebih jujur.
Arga menatap Sekar.
“Kalau aku bertanya satu hal,
jawab jujur.”
Sekar mengangguk pelan.
Arga menarik napas.
“Kalau tidak ada Jatmika…”
“kalau tidak ada semua ini…”
Ia menatap mata Sekar.
“Apakah kamu tetap memilihku?”
Hujan seperti mendadak melambat.
Sekar memandang Arga lama sekali.
Seolah mencari jawaban
yang sudah ada di hatinya
namun sulit diucapkan.
Lalu dengan suara hampir berbisik,
ia berkata:
“Aku sudah memilihmu
bahkan sebelum aku tahu kenapa.”
Arga terdiam.
Dunia seolah sunyi.
Hanya hujan.
Hanya mereka.
Dan satu jawaban
yang selama ini tak berani mereka ucapkan.
Sekar menatapnya balik.
“Sekarang giliranku.”
Arga mengangguk.
Sekar bertanya pelan:
“Kalau ternyata semua ini memang
sisa dari masa lalu…”
Ia menggigit bibir.
Lalu melanjutkan:
“Apakah kamu tetap akan tinggal?”
Pertanyaan itu lebih berat.
Jauh lebih berat.
Karena jawaban atas pertanyaan itu
bukan hanya soal cinta—
tetapi keberanian.
Arga memandang hujan.
Lalu menatap Sekar.
“Kalau aku pergi sekarang…”
Ia tersenyum pahit.
“Aku akan menghabiskan hidupku
bertanya-tanya.”
Sekar menahan napas.
Arga melanjutkan:
“Dan aku lebih takut pada penyesalan
daripada pada masa lalu.”
Mata Sekar langsung basah.
Namun kali ini,
bukan karena luka.
Melainkan karena untuk pertama kalinya,
Arga memilih tinggal
meski tahu semuanya tidak mudah.
Hujan turun semakin deras.
Sekar tertawa kecil di tengah air matanya.
“Kita ini aneh.”
Arga mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Sekar menatapnya.
“Dua orang yang sama-sama takut,
tapi tetap saling kembali.”
Arga tersenyum tipis.
“Mungkin memang begitu cinta.”
Sekar menggeleng kecil.
“Atau mungkin kita sama-sama keras kepala.”
Arga tertawa pelan.
“Mungkin itu juga.”
Untuk pertama kalinya
setelah hari-hari yang berat,
mereka kembali tersenyum bersama.
Dan meski hanya sebentar,
dunia terasa sedikit lebih ringan.
Namun di ujung jalan,
di balik hujan,
sebuah bayangan kecil berdiri diam.
Jatmika.
Tidak jauh.
Tidak dekat.
Hanya memandang mereka
dari balik tirai air.
Kali ini wajahnya tidak sedih.
Namun matanya
menyimpan sesuatu yang sulit dibaca.
Sekar langsung menegang.
Arga menoleh cepat.
Sosok kecil itu mengangkat tangan,
seolah ingin mengatakan sesuatu.
Lalu suara lirih terdengar bersama hujan:
“Hujan dulu juga turun seperti ini…”
Arga melangkah maju.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Bayangan itu memandang mereka berdua.
Dan untuk pertama kalinya,
ada luka nyata di matanya.
“Aku tidak sempat memilih…”
Hujan mengguyur lebih keras.
Suara kecil itu kembali terdengar:
“Jangan ulangi aku.”
Lalu bayangan itu lenyap
bersama derasnya air.
Sekar menggenggam lengan Arga.
Tangannya dingin.
“Kamu dengar?”
Arga mengangguk.
Mereka berdiri diam di bawah pohon,
mendengarkan hujan,
dengan jantung yang berdetak tak tenang.
Karena kini,
masa lalu tidak lagi hanya mengintai.
Ia mulai memberi peringatan.
Dan itu berarti,
jalan yang sedang mereka pilih
mungkin akan membawa mereka
ke tempat yang jauh lebih berbahaya.
Saat hujan mulai mereda,
Arga menatap Sekar.
“Sekarang?”
Sekar menatap jalan basah di depan mereka.
Lalu menatap Arga.
“Sekarang…”
ia menarik napas pelan,
“kita berhenti lari.”
Arga mengangguk.
Untuk pertama kalinya,
mereka tidak lagi berdiri di dua arah berbeda.
Mereka belum tahu
ke mana jalan ini akan membawa.
Namun setidaknya,
di bawah hujan sore itu,
di ujung jalan kecil desa,
mereka memilih satu hal yang sama:
untuk tidak saling meninggalkan
lebih dulu.
BAB 37
Luka yang Tersembunyi
Tidak semua luka terlihat seperti darah.
Ada luka yang tidak meninggalkan bekas di kulit.
Tidak terlihat di mata.
Tidak terdengar dalam suara.
Ia hidup diam-diam
di dalam cara seseorang menatap.
Di dalam cara seseorang menghindar.
Di dalam cara seseorang terlalu cepat diam
saat sebuah nama disebutkan.
Dan luka yang disembunyikan terlalu lama
sering kali tidak benar-benar sembuh.
Ia hanya berpindah.
Dari satu hati ke hati lain.
Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Setelah hujan di ujung jalan itu,
Arga mulai menyadari:
yang menghantui dirinya dan Sekar
bukan hanya bayangan Jatmika—
melainkan luka yang selama ini
dipendam oleh orang-orang yang mereka cintai.
Sejak pertemuan di bawah pohon asem,
Arga dan Sekar memang tidak lagi saling menghindar.
Namun sesuatu telah berubah.
Mereka masih bertemu.
Masih berbicara.
Masih berjalan di jalan kecil yang sama.
Tetapi kini,
setiap kebersamaan mereka
selalu disertai kesadaran baru:
masa lalu ikut berjalan bersama mereka.
Dan semakin Arga mencoba memahami Jatmika,
semakin ia melihat
bahwa luka itu bukan hanya milik seorang anak kecil
yang tenggelam di sungai.
Luka itu hidup
di rumahnya sendiri.
Pagi itu,
Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Udara masih dingin.
Ayam belum sepenuhnya berkokok.
Kabut tipis masih menggantung di sawah.
Dari dalam kamar,
ia mendengar suara pelan dari dapur.
Suara ibunya.
Bukan berbicara.
Bukan memanggil.
Menangis.
Arga terdiam.
Ia belum pernah mendengar ibunya menangis
di pagi buta seperti itu.
Pelan-pelan,
ia mendekat ke pintu dapur.
Sukmawati duduk sendirian di bangku kayu.
Di depannya,
sebuah kotak kain tua terbuka.
Tangannya memegang baju kecil berwarna pudar.
Baju anak-anak.
Arga menahan napas.
Sukmawati menyentuh kain itu
seolah menyentuh sesuatu yang hidup.
Lalu berbisik dengan suara patah:
“Ibu masih ingat…”
“setiap lipatannya…”
Arga berdiri diam di ambang pintu.
Dan saat itu,
ia mengerti:
ibunya tidak pernah benar-benar melepas Jatmika.
Ia hanya belajar
cara menangis diam-diam.
“Bu…”
Sukmawati tersentak.
Cepat menghapus air matanya.
“Arga?”
“Kamu sudah bangun?”
Arga masuk perlahan.
Matanya tertuju pada baju kecil itu.
“Itu milik Jatmika?”
Sukmawati menunduk.
Lalu mengangguk.
“Seharusnya ibu sudah membuangnya.”
katanya lirih.
“Tapi tangan ibu tidak pernah sanggup.”
Arga duduk di depannya.
Untuk pertama kalinya,
ia melihat ibunya
bukan hanya sebagai ibu,
tetapi sebagai seseorang
yang kehilangan anak
dan tidak pernah benar-benar pulih.
“Kenapa Ibu tidak pernah cerita?”
Sukmawati tersenyum kecil.
Pahit.
“Karena ibu pikir,
kalau ibu diam,
rasa sakitnya ikut diam.”
Ia mengusap baju kecil itu.
“Ternyata tidak.”
Arga menatap wajah ibunya.
“Ayah juga begitu?”
Sukmawati menoleh ke pintu dapur,
memastikan Sastro tidak ada.
Lalu menjawab pelan:
“Ayahmu paling terluka.”
Arga terdiam.
“Padahal Ayah tidak pernah menunjukkan.”
Sukmawati mengangguk.
“Karena laki-laki sering diajari
bahwa diam adalah cara bertahan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun menampar Arga pelan.
Karena tiba-tiba
ia mulai mengerti ayahnya.
Siang hari,
Arga pergi ke lumbung belakang rumah.
Sastro sedang memperbaiki gagang cangkul.
Seperti biasa,
wajahnya keras.
Gerakannya tenang.
Tidak ada tanda-tanda luka.
Namun sekarang Arga tahu:
kadang luka terbesar
justru bersembunyi
di orang yang paling tenang.
“Ayah.”
Sastro mengangkat kepala.
“Iya?”
Arga berdiri beberapa langkah di depannya.
“Ayah masih menyalahkan diri sendiri?”
Tangan Sastro berhenti.
Lama sekali.
Lalu perlahan,
ia meletakkan cangkulnya.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Arga menjawab jujur.
“Karena aku lihat ibu masih menangis.”
“Dan aku rasa…”
“ayah juga belum pernah berhenti.”
Sastro menatap putranya.
Dan untuk pertama kalinya,
tatapan itu tidak keras.
Hanya lelah.
Sangat lelah.
“Aku yang mengizinkan dia pergi hari itu.”
Suara Sastro berat.
Serak.
Arga diam.
“Hujan belum turun.”
“Dia bilang cuma sebentar.”
“Dia bilang Sekar sudah menunggu di sungai.”
Sastro menunduk.
Rahangnya menegang.
“Kalau saja aku menahannya…”
Kalimat itu berhenti.
Namun Arga tahu
sisa kalimat itu
telah hidup bertahun-tahun
di dalam hati ayahnya.
Kalau saja aku menahannya,
mungkin semuanya berbeda.
“Ayah tidak salah.”
kata Arga pelan.
Sastro tertawa kecil.
Hambar.
“Setiap orang bilang begitu.”
Ia menatap sawah.
“Tapi setiap malam,
aku tetap mendengar
suara langkah kecil itu
lari keluar rumah.”
Arga membeku.
“Ayah juga mendengarnya?”
Sastro tidak langsung menjawab.
Lalu berkata pelan:
“Kadang.”
“Di malam tertentu.”
“Di musim tertentu.”
“Setelah hujan.”
Arga merasakan dingin merambat.
Karena itu berarti:
bukan hanya dirinya yang melihat.
Masa lalu memang belum pergi.
Sastro menatap Arga.
Tatapannya dalam.
“Itu sebabnya aku melarangmu.”
“Karena takut aku seperti dia?”
Sastro menggeleng.
“Karena takut kamu lebih dari itu.”
Arga terdiam.
Sastro melanjutkan:
“Kadang aku melihat caramu menatap sungai…”
“dan aku merasa seperti melihat dia kembali.”
Arga tidak bisa menjawab.
Karena itulah ketakutan yang selama ini
ia hindari dalam dirinya sendiri.
Sore harinya,
Arga menemui Sekar.
Mereka duduk di bawah pohon randu,
namun kali ini tanpa banyak bicara.
Arga akhirnya berkata:
“Luka ini bukan cuma tentang Jatmika.”
Sekar menatapnya.
“Aku tahu.”
Arga mengerutkan kening.
“Kamu tahu?”
Sekar mengangguk.
“Nenekku juga masih menyimpan lukanya.”
Arga diam.
Sekar memandang sungai.
“Setelah Jatmika meninggal,
orang-orang bilang aku demam tujuh hari.”
“Terus menyebut namanya.”
“Terus bilang aku ingin ikut.”
Arga menahan napas.
Sekar menunduk.
“Dan sejak hari itu,
nenek tidak pernah benar-benar memaafkan dirinya.”
“Kenapa?”
Sekar menatapnya dengan mata sendu.
“Karena yang mengizinkan aku pergi hari itu…
adalah nenek.”
Arga membeku.
Dan untuk pertama kalinya,
ia sadar:
luka itu tidak memilih rumah.
Ia tinggal di semua orang.
Mereka duduk lama tanpa bicara.
Karena kadang,
setelah mengetahui seseorang terluka,
cara kita memandang mereka ikut berubah.
Arga kini melihat ayahnya berbeda.
Sekar melihat neneknya berbeda.
Dan mereka saling memandang
dengan kesadaran baru:
mereka bukan hanya sedang menghadapi masa lalu.
Mereka sedang berjalan
di atas luka yang diwariskan.
Angin sore bergerak pelan.
Sekar berkata lirih:
“Kadang aku berpikir…”
“mungkin bukan kita yang terikat.”
Arga menatapnya.
“Lalu siapa?”
Sekar memandang rumah-rumah jauh di ujung sawah.
“Orang-orang yang kita cintai.”
Kalimat itu sederhana.
Namun terasa benar.
Karena sering kali,
yang paling sulit melepaskan
bukan yang meninggal.
Melainkan yang ditinggalkan.
Tiba-tiba angin berubah dingin.
Daun randu bergetar.
Arga dan Sekar menoleh ke arah sungai.
Di antara pantulan air,
bayangan Jatmika muncul lagi.
Namun kali ini,
ia tidak melihat mereka.
Ia justru menatap ke arah rumah-rumah desa.
Ke arah rumah Arga.
Ke arah rumah Sekar.
Wajah kecilnya penuh kesedihan.
Lalu ia berbisik:
“Aku bukan yang paling terluka…”
Arga menahan napas.
“Apa maksudmu?”
Bayangan itu perlahan menoleh.
Matanya menatap mereka berdua.
Dan suara kecil itu terdengar seperti angin yang patah:
“Yang hidup…
selalu lebih lama membawa luka.”
Riak air pecah.
Bayangan itu menghilang.
Dan kalimat itu
jatuh jauh lebih berat
daripada semua yang pernah mereka dengar sebelumnya.
Sekar menggenggam tangan Arga perlahan.
Bukan karena takut.
Tetapi karena kini mereka sama-sama tahu:
yang sedang mereka hadapi
bukan sekadar kisah cinta yang rumit.
Melainkan luka lama
yang diam-diam
telah membentuk hidup banyak orang.
Dan jika mereka tidak berhati-hati,
mereka bisa menjadi
orang berikutnya
yang mewarisi kesedihan itu.
BAB 38
KATA YANG TAK TERUCAP
Malam itu, setelah pulang dari pertemuan dengan Sekar di tepi Kali Wening, Arga tidak bisa tidur.
Bukan karena ia tidak lelah. Tubuhnya, yang sejak pagi membantu ayahnya membajak sawah, terasa berat seperti digantungi batu. Setiap sendi di tubuhnya terasa pegal. Telapak tangannya masih terasa perih karena bergesekan dengan gagang bajak kayu yang kasar. Bahkan punggungnya, yang membungkuk berjam-jam di bawah terik matahari, masih terasa panas meski malam telah datang sejak lama.
Tapi semua rasa sakit fisik itu bukan apa-apa dibandingkan dengan sesuatu yang menggelayut di dadanya.
Sesuatu yang berat.
Sesuatu yang dingin.
Samu yang terus merayap naik dari ulu hati ke tenggorokan, lalu berhenti di sana. Tidak keluar, tidak masuk. Hanya menggantung. Seperti kata-kata yang tak pernah berani diucapkan.
Arga terbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap. Lampu minyak di sudut ruangan sudah padam sejak dua jam lalu. Sukmawati sengaja memadamkannya lebih awal karena ingin menghemat minyak yang mulai menipis. Tapi Arga tahu, ibunya juga tidak bisa tidur. Dari dapur, terdengar suara gesekan kursi kayu yang dipindahkan. Sesekali, suara langkah kaki yang berjalan ke sana kemari.
Sastro juga belum tidur.
Arga bisa mendengar ayahnya mondar-mandir di beranda. Sesekali berhenti. Lalu mondar-mandir lagi. Seperti ada sesuatu yang mengusik pikirannya. Seperti ada beban yang tidak bisa ia letakkan.
Malam itu, Arga memutuskan untuk berbicara.
Bukan dengan ayahnya. Bukan dengan ibunya. Tapi dengan dirinya sendiri. Dengan pikirannya yang kacau. Dengan hatinya yang penuh.
Ia memejamkan mata. Membayangkan wajah Sekar. Membayangkan senyumnya. Membayangkan matanya yang sayu. Membayangkan tangannya yang dingin saat ia genggam.
"Kita butuh waktu," kata Sekar dalam ingatannya.
"Untuk apa?" Arga bertanya dalam hati.
"Untuk tahu apakah ini benar-benar kita, atau hanya luka lama yang sedang mencari bentuk baru."
Arga menghela napas. Panjang. Berat. Seperti membuang seluruh udara dari paru-parunya.
Tiga hari sudah sejak perpisahan di tepi sungai itu. Tiga hari sejak Sekar berjalan pergi tanpa menoleh. Tiga hari sejak jarak kecil di antara mereka terasa lebih besar dari seluruh desa.
Arga belum menemui Sekar sejak saat itu.
Bukan karena ia tidak mau. Bukan karena ia marah. Bukan karena ia sudah tidak peduli. Tapi karena ia tidak tahu harus berkata apa. Setelah semua rahasia terbuka, setelah Jatmika pergi, setelah Mbok Raras memberikan restunya di atas ranjang kematian yang masih menunggu, apa yang tersisa?
Hanya mereka.
Hanya Arga dan Sekar.
Dan pertanyaan yang belum terjawab: apakah cinta mereka cukup kuat untuk melampaui masa lalu yang telah membentuk mereka?
Di luar, angin malam berembus lembut.
Pohon mangga di depan rumah bergoyang perlahan. Daun-daunnya bergesekan, menimbulkan suara gemerisik yang nyaris seperti bisikan.
Arga teringat pada suara angin.
Dulu, ketika ia masih kecil, angin adalah teman pertamanya. Angin yang membisikkan nama Jatmika. Angin yang membawanya ke sungai. Angin yang memperkenalkannya pada Sekar.
Tapi sekarang, angin diam.
Mungkin karena ia sudah tidak perlu berbicara lagi.
Mungkin karena semua yang perlu dikatakan sudah diucapkan.
Mungkin karena giliran Arga yang harus berbicara.
"Arga," panggil Sastro dari balik pintu.
Arga membuka mata. Ayahnya berdiri di ambang pintu, hanya mengenakan sarung lusuh, rambutnya masih acak-acakan.
"Ayah pikir kau sudah tidur," kata Sastro.
"Belum bisa, Yah."
"Pikiranmu ke mana?"
Arga tidak menjawab.
"Ke Sekar lagi?"
Arga mengangguk pelan.
Sastro berjalan mendekat, lalu duduk di ujung dipan. Bobot tubuhnya membuat bambu berderit. "Ayah juga tidak bisa tidur."
"Kenapa, Yah?"
Sastro menatap gelap di luar jendela. "Ayah memikirkanmu. Dan Sekar. Dan semua yang terjadi."
"Kami baik-baik saja, Yah."
"Kamu bohong."
Arga terdiam.
"Ayah tahu," lanjut Sastro. "Setelah semua rahasia terbuka, setelah Jatmika pergi, setelah kalian tahu masa lalu... tidak mudah untuk kembali seperti biasa. Bahkan ayah dan ibumu butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa saling memandang tanpa rasa bersalah."
"Tapi ayah dan ibu tetap bersama."
"Ya. Kami tetap bersama. Bukan karena kami kuat. Tapi karena kami memilih untuk tidak pergi."
Arga menatap ayahnya. "Apa bedanya?"
"Orang kuat bisa bertahan sendirian, Le. Tapi orang yang memilih untuk tetap tinggal, dia punya alasan. Alasan yang lebih kuat dari ketakutan."
"Alasan apa, Yah?"
Sastro tersenyum tipis. "Kamu. Ibu. Jatmika. Keluarga. Masa depan. Banyak hal."
Arga diam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya.
Mungkin benar.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk merasa takut. Takut tidak cukup. Takut kehilangan. Takut disakiti. Takut mengulang kesalahan yang sama.
Tapi ia lupa bahwa Sekar juga takut.
Ia lupa bahwa mereka berdua sama-sama takut.
Dan kadang, ketakutan yang sama bisa menjadi jembatan. Bukan tembok.
"Yah," panggil Arga.
"Iya."
"Besok aku akan menemui Sekar."
Sastro menatapnya lama. Lalu mengangguk. "Bagus. Jangan lupa bawa sesuatu. Pisang goreng. Supaya suasana tidak terlalu tegang."
Arga tersenyum. "Ayah selalu bilang begitu."
"Karena itu penting, Le. Orang yang sedang bingung dan takut, kalau diberi makanan enak, hatinya sedikit lebih lapang."
"Ayah belajar dari siapa?"
"Dari hidup, Le. Dari hidup."
Keesokan paginya, Arga bangun lebih awal dari biasanya.
Matahari belum terbit. Kabut masih tebal. Udara dingin menusuk tulang.
Ia mandi, memakai baju terbaiknya, baju batik lengan panjang yang biasa ia pakai hanya untuk acara-acara penting.
Sukmawati yang melihat dari dapur tersenyum. "Dandan lagi. Mau ke mana?"
"Ke rumah Sekar."
"Mau ngapain?"
"Mau... bicara."
"Bicara tentang apa?"
Arga menghela napas. "Tentang kita, Bu. Tentang masa depan. Tentang semua yang belum selesai."
Sukmawati berjalan mendekat. Tangannya mengusap rambut Arga pelan. "Hati-hati, Le. Jangan terlalu keras pada diri sendiri. Jangan terlalu keras pada Sekar."
"Aku tidak akan, Bu."
"Dan jangan lupa," Sukmawati menyerahkan bungkusan daun pisang, "bawa pisang goreng."
Arga tertawa. "Ibu juga sama seperti Ayah."
"Kami suami istri, Le. Sudah pasti sama."
Arga menerima bungkusan itu. Tangannya hangat dari uap pisang goreng yang baru saja diangkat dari wajan. Ia mencium bau pisang dan gula jawa. Aroma yang mengingatkannya pada pagi-pagi ketika ia pertama kali datang ke rumah Sekar dengan perasaan canggung.
"Ibu, apakah semua akan baik-baik saja?" tanya Arga.
Sukmawati menatap anaknya. Matanya lembut. Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Ibu tidak tahu, Le. Tapi Ibu percaya pada kamu. Dan Ibu percaya pada Sekar."
"Apa itu cukup?"
"Kadang, kepercayaan adalah satu-satunya yang kita butuhkan untuk melangkah. Sisanya, biar waktu yang menjawab."
Arga berjalan menuju rumah Sekar dengan pisang goreng di tangan.
Langit pagi mulai terang. Matahari muncul dari balik bukit, menyinari sawah yang menguning keemasan. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Setiap langkah terasa berat.
Setiap pohon yang ia lewati seperti mengamat-amatinya.
Setiap suara angin seperti berbisik, "Kamu siap? Kamu yakin?"
Arga tidak tahu.
Ia tidak siap.
Ia tidak yakin.
Tapi ia tetap melangkah.
Karena tidak ada kata siap dalam urusan hati. Yang ada hanya keberanian untuk mencoba.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara apa pun.
Tapi Arga tahu Sekar ada di dalam.
Ia bisa merasakannya.
Seperti dulu, ketika ia pertama kali datang ke rumah ini dengan perasaan gelisah. Ketika ia tidak tahu apakah Sekar akan membukakan pintu atau memintanya pergi.
Arga berdiri di depan pagar.
Ia menarik napas dalam-dalam.
Lalu membuka pagar, berjalan melewati halaman yang ditumbuhi rumput liar, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
"Sekar! Ini Arga!"
Dari dalam terdengar langkah kaki. Pelan. Seperti orang yang berjalan dengan berat hati.
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari celah kecil.
Wajahnya pucat. Rambutnya kusut. Matanya sembab.
Dia baru saja menangis. Atau mungkin sudah berhari-hari menangis tanpa henti.
"Arga?" suaranya serak. "Kamu ke sini?"
"Aku mau bicara."
"Tentang apa?"
"Tentang kita."
Sekar terdiam. Ia tampak berpikir, antara menutup pintu atau membiarkan Arga masuk.
Arga tidak menunggu. "Aku bawa pisang goreng."
Sekar melihat bungkusan di tangan Arga. "Kamu pikir pisang goreng bisa menyelesaikan segalanya?"
"Tidak. Tapi setidaknya kita bisa bicara sambil makan."
Sekar menghela napas. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar.
"Jangan lama-lama."
"Iya."
Di dalam, rumah Sekar terasa dingin.
Tidak seperti biasanya.
Dulu, rumah ini selalu hangat karena aroma dupa dan bunga kenanga. Sekarang, yang tersisa hanya aroma kapur barus dan debu.
Sekar duduk di kursi bambu. Ia tidak mempersilakan Arga duduk, tapi Arga mengambil inisiatif untuk duduk di seberangnya.
Ia meletakkan pisang goreng di meja kayu yang sudah lapuk.
"Sekar," panggil Arga.
"Apa?"
"Aku minta maaf."
Sekar menatapnya. "Minta maaf buat apa?"
"Karena aku menjauh. Karena aku takut. Karena aku membiarkan jarak tumbuh di antara kita."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memainkan ujung kainnya.
"Aku juga minta maaf," bisiknya akhirnya.
"Kamu minta maaf buat apa?"
"Karena aku juga takut. Karena aku juga menjauh. Karena aku berpikir bahwa lebih baik pergi lebih dulu daripada ditinggalkan."
Arga menghela napas. "Kita berdua sama-sama takut."
"Iya. Kita berdua sama-sama bodoh."
"Mungkin."
Sekar tertawa kecil. Tawa pahit yang tidak sampai ke mata.
"Jatmika sudah pergi," kata Sekar. "Dia sudah menyelesaikan semua yang harus diselesaikan. Tapi kenapa kita masih begini? Kenapa kita masih takut?"
"Karena kita manusia, Sekar. Manusia butuh waktu untuk memproses semuanya."
"Sudah berapa lama? Hari? Minggu? Bulan? Kapan kita akan berhenti takut?"
Arga menggenggam tangan Sekar. Dingin. Gemetar.
"Aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin kehilangan kamu karena ketakutan."
"Kamu bisa yakin?"
"Aku bisa berusaha."
"Apakah usaha itu cukup?"
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Sekar.
Apakah usaha itu cukup?
Mungkin tidak.
Tapi lebih baik usaha daripada diam.
Lebih baik mencoba daripada menyesal.
"Kita sudah tahu semuanya, Sekar," kata Arga. "Kita tahu tentang Jatmika. Kita tahu tentang masa lalu. Kita tahu tentang luka yang diwariskan. Sekarang, satu-satunya yang tersisa adalah pilihan."
"Pilihan apa?"
"Apakah kita membiarkan masa lalu menghancurkan kita, atau kita menggunakan masa lalu untuk membangun sesuatu yang baru."
Sekar menatap Arga. Matanya basah.
"Kamu bicara seperti orang yang sudah sangat dewasa."
"Aku belajar cepat."
"Karena kamu sering mendengar angin?"
Arga tersenyum. "Mungkin."
Sekar juga tersenyum. Senyum kecil yang membuat Arga merasa sedikit lega.
Mereka berdua makan pisang goreng dalam diam.
Tidak ada yang bicara.
Tapi diam kali ini tidak canggung. Tidak dingin. Hanya tenang.
Seperti sungai di musim kemarau.
Seperti angin di pagi hari.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku masih takut."
"Aku juga."
"Tapi aku tidak ingin berhenti."
"Aku juga tidak ingin."
"Jadi?"
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Jadi kita lanjutkan."
"Lanjutkan apa?"
"Lanjutkan hidup. Lanjutkan hubungan ini. Lanjutkan mencoba. Sampai kita benar-benar yakin bahwa ini bukan hanya sisa masa lalu, tapi benar-benar milik kita."
Sekar menatap Arga.
Lama.
Sangat lama.
Lalu ia berkata:
"Baik. Aku setuju."
Matahari mulai naik ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pintu.
"Besok kapan kamu datang?" tanya Sekar.
"Pagi. Seperti biasa."
"Bawa pisang goreng lagi?"
"Tentu. Itu sudah kewajiban."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat dada Arga terasa hangat.
"Arga."
"Iya."
"Terima kasih. Karena tidak menyerah padaku."
Arga tersenyum. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu. Itu janji."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang membuat Arga merasa bahwa semua akan baik-baik saja.
Arga berjalan pulang dengan langkah lebih ringan.
Langit cerah.
Burung-burung bernyanyi.
Angin berembus lembut.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, ia merasa lega.
Bukan karena semua masalah selesai.
Bukan karena semua ketakutan hilang.
Tapi karena ia tidak lagi berjalan sendirian.
Di rumah, Sukmawati sudah menyiapkan makan siang.
"Bagaimana?" tanyanya.
"Baik, Bu. Kami bicara."
"Lalu?"
"Kami memilih untuk melanjutkan."
Sukmawati tersenyum. "Bagus. Ibu bangga sama kamu."
"Belum waktunya bangga, Bu. Masih panjang jalannya."
"Tidak apa. Ibu akan selalu bangga, selama kamu tidak menyerah."
Arga memeluk ibunya.
Untuk pertama kalinya setelah lama, ia merasa rumahnya benar-benar hangat.
Bukan karena matahari.
Tapi karena orang-orang di dalamnya.
Malam itu, Arga menulis surat untuk Sekar.
Bukan surat panjang.
Hanya beberapa kalimat.
"Untuk Sekar," tulisnya.
"Hari ini, kita bicara. Hari ini, kita memilih untuk tidak menyerah. Aku tidak tahu apakah ini keputusan yang benar. Tapi aku tahu, aku tidak ingin kehilangan kamu."
"Besok, aku akan datang lagi. Lusa. Dan seterusnya. Sampai kita benar-benar yakin bahwa ini milik kita."
"Dari Arga, yang tidak akan pergi."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyimpannya di dalam lemari, di samping bantal kecil dari kebaya Sekar.
BAB 39
SENJA YANG PUCAT
Pagi itu, langit di atas Desa Wringinrejo terlihat berbeda.
Bukan berbeda dalam arti yang buruk. Tidak ada awan hitam yang menggulung seperti amukan yang tertahan. Tidak ada angin kencang yang merobek-robek daun-daun pisang di belakang rumah. Tidak ada petir yang menyambar tanpa suara seperti malam ketika Arga dilahirkan.
Namun berbeda dalam sesuatu yang lebih halus.
Sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Sesuatu yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang yang peka.
Warna langit pagi itu pucat.
Bukan biru cerah seperti biasanya saat musim kemarau.
Bukan kelabu basah seperti saat hujan akan turun.
Tapi pucat.
Seperti kanvas yang sudah terlalu lama terpapar matahari hingga warnanya memudar.
Seperti wajah seseorang yang kehilangan harapan.
Seperti senja sebelum malam, tapi ini pagi.
Arga berdiri di ambang pintu, menatap ke atas, merasakan sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Dadanya terasa aneh.
Tidak sakit.
Tidak sesak.
Hanya seperti ada yang kurang.
Seperti ada ruang kosong di dalam dirinya yang tadinya terisi, lalu tiba-tiba saja menguap tanpa pemberitahuan.
Ia menghela napas. Uap tipis keluar dari mulutnya.
"Bangun pagi sekali."
Suara Sukmawati dari dapur memecah keheningan.
"Tidak bisa tidur," jawab Arga.
"Karena memikirkan Sekar?"
Arga tidak menjawab.
Sukmawati tidak bertanya lebih lanjut. Ia sudah terbiasa dengan diam Arga. Seperti Sastro. Seperti semua laki-laki di desa ini.
Sejak pertemuan di rumah Sekar dua hari lalu, Arga merasa ada yang berbeda.
Bukan hubungan mereka.
Tapi sesuatu di luar.
Sesuatu yang tidak bisa ia lihat, tapi bisa ia rasakan.
Seperti ada bayangan yang mengikuti langkahnya.
Seperti ada bisikan yang tidak bisa ia dengar.
Seperti ada firasat yang tidak bisa ia abaikan.
"Bu," panggil Arga.
"Iya."
"Aku mau ke rumah Mbah Jayarasa."
"Ada perlu apa?"
"Aku mau bertanya sesuatu."
"Tentang apa?"
Arga menghela napas. "Tentang firasat."
Sukmawati menatap anaknya. Matanya penuh kecemasan. Tapi ia tidak melarang.
"Ini sudah lama tidak terjadi," kata Sukmawati. "Firasatmu. Dulu, waktu kamu masih kecil, kamu sering merasakan hal-hal yang tidak dirasakan orang lain."
"Aku tahu, Bu."
"Setelah kamu dewasa, setelah Jatmika pergi, firasat itu hilang. Atau setidaknya tidak sekuat dulu."
"Tapi sekarang?"
Sukmawati menghela napas. "Sekarang, sepertinya firasat itu kembali. Dan itu membuat Ibu takut."
"Takut apa, Bu?"
"Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Takut bahwa semua kebahagiaan yang baru saja kamu dan Sekar bangun akan hancur."
Arga menggenggam tangan ibunya. "Aku tidak akan membiarkan itu terjadi, Bu."
"Kamu tidak bisa mengendalikan semuanya, Le. Kadang, takdir punya caranya sendiri."
Arga berjalan ke rumah Mbah Jayarasa.
Langkahnya cepat.
Pikirannya kacau.
Rumah tua itu masih berdiri di balik rumpun bambu. Dari kejauhan, sudah terlihat asap tipis mengepul dari cerobongnya. Tanda bahwa Mbah Jayarasa sudah bangun sejak subuh.
Arga mengetuk pintu.
"Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Ia masuk.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu, menghadap ke dapur yang gelap. Di depannya ada secangkir teh jahe yang masih mengepul.
"Mbah sehat?" tanya Arga.
"Masih diberi umur panjang sama Tuhan. Kamu ada perlu?"
Arga duduk di kursi seberangnya. "Mbah, aku mau bertanya."
"Tentang apa?"
"Tentang firasat."
Mbah Jayarasa mengangkat alis. "Firasatmu datang lagi?"
Arga mengangguk. "Sejak dua hari lalu. Setelah aku dan Sekar bicara. Aku merasa ada yang tidak beres. Aku tidak tahu apa. Tapi rasanya... berat."
Mbah Jayarasa diam sejenak. Ia menyesap teh jahenya. Matanya menyipit, seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kamu tahu, Le," kata Mbah Jayarasa, "firasat itu kadang adalah cara tubuhmu mengatakan bahwa ada yang perlu diperhatikan. Bukan karena kamu bisa melihat masa depan. Tapi karena kamu peka terhadap hal-hal yang tidak terlihat."
"Apa yang harus aku perhatikan, Mbah?"
"Aku tidak tahu. Tapi biasanya, firasat seperti ini muncul ketika sesuatu yang penting akan terjadi. Bisa baik. Bisa buruk."
"Lalu aku harus bagaimana?"
Mbah Jayarasa menatap Arga. Matanya tajam.
"Kamu harus waspada. Tapi jangan takut. Karena takut hanya akan membuatmu buta."
"Buta?"
"Iya. Ketakutan membuat seseorang tidak bisa melihat peluang. Tidak bisa melihat jalan keluar. Tidak bisa melihat hal-hal baik yang mungkin terjadi."
Arga menghela napas.
"Terima kasih, Mbah."
"Sama-sama, Le. Jaga dirimu. Jaga Sekar. Dan jangan biarkan firasat mengendalikan hidupmu."
Dari rumah Mbah Jayarasa, Arga berjalan ke Kali Wening.
Ia butuh ketenangan.
Ia butuh suara air yang mengalir.
Ia butuh angin yang berbisik.
Sungai itu sejak dulu menjadi tempatnya mencari jawaban.
Sekar sudah ada di sana.
Duduk di batu besar, memandang air yang mengalir.
Gaun birunya tertiup angin lembut.
Rambut panjangnya jatuh di bahu.
Saat melihat Arga, ia tersenyum.
"Kamu datang."
"Iya."
"Ada apa? Wajahmu tegang."
Arga duduk di sampingnya. "Aku baru saja dari rumah Mbah Jayarasa."
"Ada apa?"
"Aku cerita tentang firasatku."
Sekar mengerutkan kening. "Firasat?"
"Iya. Sejak dua hari lalu, aku merasa ada yang tidak beres."
Sekar terdiam. Ia memandang sungai. Tangannya memainkan ujung gaunnya.
"Aku juga merasakannya," bisiknya.
Arga menoleh cepat. "Kamu juga?"
Sekar mengangguk. "Sejak kemarin. Aku tidak tahu kenapa. Tapi dadaku terasa aneh. Seperti ada yang akan terjadi. Seperti ada yang mendekat."
"Apakah kamu takut?"
Sekar menatap Arga. Matanya lembut. Tapi ada kecemasan di sana.
"Aku takut, Arga. Tapi aku tidak mau ketakutan mengendalikanku."
"Itu juga yang dikatakan Mbah Jayarasa."
"Lalu?"
Arga menggenggam tangan Sekar. "Jadi kita hadapi bersama. Apa pun itu."
Mereka duduk di tepi sungai hingga matahari mulai condong ke barat.
Tidak banyak bicara.
Tidak banyak tawa.
Hanya kehadiran.
Hanya ketenangan.
Tapi di balik ketenangan itu, ada sesuatu yang mengganjal.
Seperti ada rahasia yang belum terungkap.
Seperti ada kebenaran yang belum mereka ketahui.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku ingin cerita tentang nenekku."
"Cerita apa?"
Sekar menatap sungai. "Waktu aku masih kecil, nenek sering sakit-sakitan. Tapi dia tidak pernah mau berobat ke dokter. Katanya, lebih baik uangnya ditabung untuk sekolahku."
Arga diam mendengarkan.
"Tapi beberapa bulan terakhir, sakitnya semakin parah. Dia batuk terus. Kadang batuknya keluar darah. Tapi dia tetap tidak mau berobat."
"Kenapa?"
"Karena katanya, dia sudah tua. Tidak perlu repot-repot. Lebih baik aku yang sehat."
Arga merasakan dadanya sesak. "Sekarang? Apakah dia masih batuk?"
Sekar mengangguk. "Semalam, dia batuk sangat keras. Aku terbangun. Aku masuk ke kamarnya. Dia terbaring lemah, wajahnya pucat. Aku tanya, 'Nek, kamu kenapa?' Dia bilang, 'Tidak apa-apa, Nduk. Cuma masuk angin.'"
"Tapi kamu tidak percaya?"
"Tidak. Aku melihat darah di ujung kain yang dia pakai untuk menutup mulutnya."
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Kita harus bawa dia ke dokter."
"Dia tidak mau."
"Kita paksa."
"Kamu tahu nenekku. Kalau sudah bilang tidak mau, tidak ada yang bisa memaksanya."
Arga menghela napas. "Lalu kita harus bagaimana?"
Sekar menunduk. "Aku tidak tahu, Arga. Aku tidak tahu."
Mereka duduk dalam diam.
Sungai terus mengalir.
Daun-daun terus berguguran.
Langit mulai berubah warna, dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda.
Sekar, aku takut," bisik Arga.
"Takut apa?"
"Takut kehilangan nenekmu. Takut kamu sendiri lagi."
Sekar menatapnya. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga takut, Arga. Tapi aku tidak bisa memaksa nenek untuk berobat kalau dia tidak mau."
"Kita coba bicara lagi. Mungkin kali ini dia mau."
"Kamu yakin?"
"Tidak. Tapi kita harus mencoba."
Mereka berjalan menuju rumah Sekar.
Langit sore berwarna jingga pucat.
Burung-burung pulang ke sarang.
Suara anak-anak bermain mulai menghilang.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan.
Sekar membuka pintu pelan.
"Nek," panggilnya. "Aku pulang. Aku bawa Arga."
Dari dalam, terdengar suara parau. "Masuklah."
Mereka masuk ke kamar Mbok Raras.
Perempuan tua itu terbaring di dipan bambu.
Wajahnya pucat. Bibirnya kering. Dadanya naik turun pelan.
"Nek, ini Arga," kata Sekar.
Mbok Raras memandang Arga. Matanya keruh, tapi masih bisa mengenali.
"Arga," bisiknya. "Anaknya Sastro."
"Iya, Mbok."
Mbok Raras tersenyum. "Kamu ganteng. Mirip kakakmu."
Arga tidak terkejut. Ia sudah sering mendengar kalimat itu.
"Nek," kata Sekar, "Arga mau bicara."
"Bicara apa?"
Arga duduk di samping dipan. "Mbok, Sekar cerita bahwa Mbok sedang sakit. Batuk. Kadang keluar darah."
Mbok Raras menghela napas. "Nenek sudah tua, Le. Wajar kalau sakit."
"Tapi Mbok harus berobat."
"Untuk apa? Biaya mahal. Lebih baik uangnya buat Sekar."
"Mbok, kesehatan Mbok lebih penting."
Mbok Raras menatap Arga. Matanya lembut.
"Kamu baik, Le. Tapi nenek sudah capek."
"Capek, Mbok?"
"Iya. Capek hidup. Capek sakit. Capek lihat dunia."
Sekar menangis. "Nek, jangan bilang begitu."
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. "Nduk, nenek sudah tua. Tidak lama lagi, nenek akan pergi."
"Tidak, Nek. Aku belum siap."
"Kita tidak pernah siap, Nduk. Tapi pergi adalah bagian dari hidup."
Arga menggenggam tangan Mbok Raras. "Mbok, tolong. Setidaknya Mbok mau periksa ke mantri. Biar kami tidak khawatir."
Mbok Raras terdiam. Ia memandang Arga lama. Lalu Sekar.
"Baik," katanya akhirnya. "Besok. Nenek mau periksa."
Sekar tersenyum di sela air matanya. "Terima kasih, Nek."
"Jangan berterima kasih dulu. Nenek belum berjanji akan sembuh."
"Tidak apa. Yang penting Mbok mau berusaha."
Malam itu, Arga pulang dengan hati yang lega.
Tapi lega hanya sebentar.
Karena ia tahu, perjalanan masih panjang.
Mbok Raras mungkin tidak lama lagi.
Dan ketika itu terjadi, Sekar akan sendirian.
Tapi tidak.
Sekar tidak akan sendirian.
Karena Arga akan ada di sampingnya.
Malam semakin larut.
Arga duduk di beranda rumahnya, memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia teringat pada kata-kata Mbah Jayarasa.
"Firasat itu kadang adalah cara tubuhmu mengatakan bahwa ada yang perlu diperhatikan."
Mungkin firasatnya tentang Mbok Raras.
Mungkin bukan.
Tapi yang pasti, ia harus waspada.
Ia harus siap untuk apa pun.
"Sekar," bisiknya, "aku tidak akan meninggalkanmu. Janji."
Di kejauhan, angin malam berembus lembut.
Membawa aroma sungai.
Membawa harapan.
Membawa doa.
BAB 40
PERPISAHAN PERTAMA
Pagi itu, desa Wringinrejo terbangun dalam kesunyian yang tidak biasa.
Bukan kesunyian karena belum ada yang bangun. Matahari sudah naik setinggi pohon kelapa. Ayam-ayam jantan sudah bersahut-sahutan sejak subuh. Asap dari dapur-dapur sudah mulai mengepul dari cerobong rumah penduduk. Bukan juga kesunyian karena ada yang mati. Karena di desa ini, kematian sering kali justru dirayakan dengan doa bersama, dengan tahlilan yang ramai, dengan tangis yang keras dan ratapan yang panjang.
Namun kesunyian pagi itu berbeda. Ia adalah kesunyian yang lahir dari kesadaran bahwa sesuatu telah berubah. Bahwa dunia tidak lagi sama seperti kemarin. Bahwa sebuah babak dalam kehidupan seseorang telah benar-benar berakhir dan tidak akan pernah kembali.
Tiga hari sudah sejak Arga dan Sekar memutuskan untuk melanjutkan hubungan mereka. Tiga hari sejak mereka berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Tiga hari sejak firasat Arga tentang sesuatu yang akan datang, sesuatu yang janggal, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang membuat dadanya terasa berat setiap kali memikirkan masa depan.
Tiga hari juga sejak Mbok Raras setuju untuk berobat ke mantri desa.
Arga yang mengantar dia dan Sekar saat itu. Perjalanan ke rumah mantri tidak jauh, hanya sekitar dua puluh menit berjalan kaki. Namun bagi Mbok Raras yang sudah tua dan lemah, dua puluh menit terasa seperti dua jam. Ia berjalan pelan, sesekali berhenti untuk mengatur napas. Tangannya menggenggam erat lengan Sekar. Sesekali ia memandang Arga dengan mata yang keruh namun penuh arti—seolah ia ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Mantri desa, Pak Harun, sudah berusia enam puluh tahun. Ia memeriksa Mbok Raras dengan teliti. Mendengarkan napasnya dengan stetoskop. Memeriksa tekanan darahnya. Memeriksa dahaknya yang bercampur darah.
Setelah selesai, Pak Harun memanggil Sekar ke luar kamar periksa. Wajahnya serius. Tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh senyum.
“Nduk,” katanya pelan, “nenekmu sakit parah. Paru-parunya bermasalah. Sudah lama, mungkin bertahun-tahun.”
Sekar terdiam. Tangannya gemetar. “Apa bisa disembuhkan, Pak?”
Pak Harun menghela napas. “Bisa diobati. Tapi tidak bisa disembuhkan sepenuhnya. Usianya sudah tua. Kondisinya sudah lemah. Yang bisa kita lakukan hanyalah membuatnya nyaman. Mengurangi rasa sakitnya. Memperpanjang waktunya.”
“Berapa lama lagi, Pak?”
“Aku tidak tahu, Nduk. Bisa bulan. Bisa minggu. Bisa hari. Tergantung kondisi tubuhnya. Tergantung usahanya.” Pak Harun meletakkan tangan di bahu Sekar. “Yang terpenting, jaga dia. Buat dia bahagia. Karena kebahagiaan adalah obat terbaik untuk orang yang sakit parah.”
Sekar menangis dalam pelukan Arga di teras rumah mantri.
Arga tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk Sekar. Merasakan tubuh gadis itu bergetar hebat. Merasakan air matanya membasahi bajunya.
“Aku takut, Arga,” bisik Sekar. “Aku takut kehilangan nenekku.”
“Aku di sini,” jawab Arga pelan. “Aku tidak akan pergi. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pergi.”
Pagi itu, Arga terbangun dengan perasaan yang tidak tenang.
Ia memimpikan sesuatu. Bukan mimpi buruk. Bukan mimpi aneh. Hanya mimpi tentang rumah Sekar yang kosong. Tentang pintu yang terbuka lebar. Tentang tirai bambu yang bergerak tanpa angin. Tentang kesunyian yang begitu keras di telinga.
Ia duduk di dipan bambu, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Keringat dingin membasahi dahinya.
“Le, kamu sudah bangun?” suara Sukmawati dari dapur.
“Iya, Bu.”
“Kamu makan dulu. Ibu buat bubur.”
Arga berjalan ke dapur dengan langkah berat. Sukmawati langsung menatap wajah anaknya.
“Kamu mimpi buruk?”
“Tidak, Bu. Tapi aku merasa tidak enak.”
“Firasat lagi?”
Arga mengangguk.
Sukmawati menghela napas. “Kamu habis dari rumah Sekar kemarin?”
“Iya. Kami antar Mbok Raras ke mantri.”
“Bagaimana hasilnya?”
“Parah, Bu. Paru-parunya bermasalah. Sudah bertahun-tahun mungkin. Pak Harun bilang, tidak bisa disembuhkan. Hanya bisa diobati.”
Sukmawati diam. Ia meletakkan sendok di atas meja.
“Ibu dulu juga curiga,” katanya pelan. “Mbok Raras sudah lama batuk-batuk. Tapi dia tidak pernah mau berobat. Katanya, lebih baik uangnya buat Sekar.”
“Sekar sedih sekali, Bu. Dia takut kehilangan neneknya.”
“Wajar, Le. Siapa pun pasti takut kehilangan orang yang dicintai.”
“Tapi, Bu, dia baru saja kehilangan Jatmika. Masa lalu. Kenangan. Sekarang, dia akan kehilangan neneknya. Aku takut dia tidak kuat.”
Sukmawati menggenggam tangan Arga. “Kamu harus kuat untuk dia, Le. Kamu harus menjadi sandarannya. Kamu harus menjadi tempatnya pulang.”
“Aku bisa, Bu?”
“Kamu bisa. Ibu percaya.”
Setelah sarapan, Arga pamit untuk pergi ke rumah Sekar.
“Bawa ini,” kata Sukmawati sambil menyerahkan bungkusan daun pisang. “Pisang goreng. Biar Mbok Raras bisa makan. Orang sakit kadang susah makan, tapi kalau makanannya enak, bisa sedikit lapang.”
Arga menerima bungkusan itu. “Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena itu benar, Le. Makanan enak bisa membuat hati sedikit lebih ringan. Apalagi untuk orang yang sedang sakit. Atau sedang berduka.”
Arga tersenyum. “Ibu bijak.”
“Ibu bukan bijak. Ibu hanya sudah tua.”
Arga tertawa kecil. Lalu melangkah keluar rumah.
Perjalanan menuju rumah Sekar terasa lebih berat dari biasanya.
Setiap langkah terasa seperti menginjak lumpur. Setiap pohon yang ia lewati terasa lebih sunyi. Setiap suara burung terdengar seperti isak tangis yang tertahan.
Arga melewati jalan setapak di belakang kali. Melewati semak ilalang yang mulai mengering karena musim kemarau yang panjang. Melewati kebun singkong milik Pakde Karto yang daunnya sudah dimakan ulat.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu masih tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Hanya kesunyian.
Tapi Arga melihat sesuatu yang berbeda pagi ini.
Di halaman depan, ada jejak kaki.
Bukan jejak Sekar.
Bukan jejak Mbok Raras.
Jejak kaki laki-laki. Besar. Dalam. Seperti orang yang berjalan dengan terburu-buru.
Arga mengerutkan kening.
Dia mempercepat langkahnya.
Mendekati pagar.
Mendekati pintu.
Ia mengetuk.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
“Sekar! Ini Arga!”
Dari dalam terdengar langkah kaki. Cepat. Seperti orang yang berlari.
Pintu terbuka lebar.
Sekar berdiri di ambang pintu. Wajahnya pucat. Matanya merah. Rambutnya kusut.
Tapi bukan itu yang membuat Arga terkejut.
Di belakang Sekar, di ruang tengah, berdiri seorang laki-laki.
Usia sekitar empat puluh tahun. Tinggi. Berkulit putih. Memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
Ia tidak mengenalnya.
Tapi Arga bisa menebak.
Laki-laki itu adalah utusan dari orang tuanya.
Atau mungkin, ayah Sekar sendiri?
“Arga,” kata Sekar, suaranya bergetar. “Ini, ”
“Aku tahu,” potong Arga. “Dia dari orang tuamu.”
Laki-laki itu mengangkat alis. “Kamu Arga?”
“Iya.”
“Pacar Sekar?”
“Iya.”
Laki-laki itu tersenyum. Bukan senyum ramah. Senyum sinis. Senyum yang membuat Arga ingin meninju wajahnya.
“Orang tua sekar mengutusmu?” tanya Arga kepada laki-laki itu.
“Iya. Mereka mengutusku untuk menjemput Sekar.”
Sekar menggenggam tangan Arga. Erat. Dingin. Gemetar.
“Aku tidak mau ikut,” katanya. Suaranya tegas. Tapi Arga bisa merasakan ketakutannya.
“Itu bukan pilihanmu, Nak,” kata laki-laki itu. “Kamu masih di bawah umur. Orang tuamu punya hak penuh atas dirimu.”
“Tapi, “
“Tidak ada tapi.”
Arga melangkah maju. “Pak, saya mau bicara.”
“Bicara apa?”
“Tentang Sekar. Tentang haknya. Tentang keinginannya.”
“Hak? Keinginan?” Laki-laki itu tertawa kecil. “Kamu masih muda, Nak. Dunia tidak berjalan seperti yang kamu bayangkan. Orang tua punya hak. Anak punya kewajiban. Itu hukumnya.”
“Hukum tidak selalu adil.”
“Tapi hukum tetap hukum. Dan aku hanya menjalankan tugas.”
Arga menarik Sekar ke samping. Ke dapur. Jauh dari pendengaran laki-laki itu.
“Sekar,” bisik Arga. “Kamu harus bicara dengan nenekmu.”
“Nenekku sedang tidur. Dia lemah sekali. Aku tidak tega membangunkannya.”
“Tapi ini penting. Nenekmu harus tahu.”
Sekar menggigit bibirnya. “Aku takut, Arga. Aku takut nenekku akan marah. Aku takut nenekku akan semakin sakit.”
“Nenekmu lebih takut kehilangan kamu, Sekar. Daripada marah. Daripada sakit. Kehilangan kamu adalah hal terburuk yang bisa terjadi padanya saat ini.”
Sekar menangis.
“Sudah,” kata Arga sambil mengusap air mata Sekar. “Kita hadapi bersama.”
Mereka berjalan ke kamar Mbok Raras.
Perempuan tua itu terbaring di dipan bambu. Matanya terpejam. Dadanya naik turun pelan.
“Nek,” panggil Sekar pelan. “Nek, bangun.”
Mbok Raras membuka mata perlahan. Keruh. Lelah.
“Ada apa, Nduk?” suaranya serak. Hampir tidak terdengar.
“Nek, ada utusan dari orang tuaku. Dia mau menjemput aku. Membawaku ke kota.”
Mata Mbok Raras membesar. Tiba-tiba terlihat lebih jelas. Lebih tajam.
“Apa?” Ia mencoba bangun. Tubuhnya gemetar. “Suruh dia pergi. Kamu tidak ikut.”
“Tapi, Nek—“
“Tidak ada tapi.” Mbok Raras menatap Arga. “Le, tolong suruh laki-laki itu masuk.”
Arga mengangguk. Ia berjalan ke ruang tengah.
“Pak, Mbok Raras minta Bapak masuk.”
Laki-laki itu mengangkat alis. “Mbok Raras?”
“Nenek Sekar.”
Laki-laki itu menghela napas. Lalu berjalan ke kamar.
Mbok Raras duduk di dipan bambu. Tubuhnya lemah. Tapi matanya, matanya penuh dengan api.
“Kamu suruhan siapa?” tanyanya tegas.
“Utusan dari orang tua Sekar, Bu.”
“Orang tua Sekar? Mereka sudah bertahun-tahun tidak pulang. Tidak pernah mengirim kabar. Tidak pernah mengirim uang yang cukup. Sekarang mereka mau mengambil Sekar? Untuk apa?”
“Mereka sudah membeli rumah baru di kota. Mereka mau Sekar tinggal bersama mereka.”
Mbok Raras tertawa. Tawa pahit yang membuat dadanya terasa sakit.
“Mereka tidak pernah peduli pada Sekar. Mereka tidak pernah hadir dalam hidupnya. Sekarang, ketika Sekar sudah besar, mereka mau mengambilnya? Untuk apa? Untuk pamer? Untuk mengakui bahwa mereka punya anak?”
“Bu, saya hanya, “
“Kamu bilang pada mereka,” potong Mbok Raras, “Sekar tidak akan ikut. Selama saya masih hidup, Sekar tidak akan ke mana-mana.”
“Tapi, Bu, “
“Tidak ada tapi. Sekar tinggal di sini. Bersamaku. Sampai aku mati.”
Sekar menangis. “Nek, jangan bilang begitu.”
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. “Nenek tidak akan mati, Nduk. Setidaknya, tidak sebelum memastikan bahwa kamu aman.”
Laki-laki itu menghela napas. “Bu, saya hanya utusan. Saya tidak punya wewenang untuk memutuskan apa pun. Tapi saya harus melaporkan apa yang saya lihat dan dengar.”
“Laporkan saja. Tidak masalah.”
Laki-laki itu menggeleng. Lalu berbalik. Ia berjalan ke pintu.
Sebelum keluar, ia menatap Arga. “Kamu anak yang baik. Tapi dunia tidak selalu berpihak pada orang baik.”
Arga tidak menjawab.
Laki-laki itu pergi.
Meninggalkan keheningan.
Meninggalkan ketegangan.
Meninggalkan Sekar yang menangis dalam pelukan neneknya.
Berjam-jam kemudian, Sekar masih belum tenang.
Arga duduk di sampingnya di teras rumah. Memandang langit yang mulai berubah warna—dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda.
“Arga,” panggil Sekar pelan.
“Iya.”
“Apa yang akan terjadi kalau nenekku benar-benar pergi?”
“Kamu tidak akan sendirian.”
“Tapi orang tuaku akan menjemputku.”
“Kita akan cari jalan. Kita akan bicara dengan Pak Lurah. Kita akan cari bantuan. Siapa pun yang bisa membantumu.”
“Apakah itu cukup?”
Arga menggenggam tangan Sekar. “Sekar, dengar. Aku tidak tahu apakah itu cukup. Aku tidak tahu apakah kita bisa melawan mereka. Tapi yang aku tahu, aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan membiarkan mereka mengambilmu paksa.”
“Kamu rela berperang dengan mereka?”
“Kalau perlu.”
“Kamu bisa dipenjara, Arga.”
“Aku tidak peduli.”
Sekar menatap Arga. Matanya basah. “Kamu ini... kenapa sih kamu selalu membuatku susah?”
“Maksudnya?”
“Aku susah marah sama kamu. Aku susah nolak kamu. Aku susah bilang 'jangan ikut campur' karena kamu selalu punya alasan kenapa kamu harus ikut campur.”
“Itu namanya cinta, Sekar. Cinta itu ikut campur. Cinta itu tidak bisa diam. Cinta itu peduli.”
“Kamu tahu dari mana? Kamu juga baru pertama kali pacaran.”
“Iya. Tapi aku belajar cepat.”
Sekar tersenyum. Senyum kecil di sela air matanya.
Matahari mulai tenggelam ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pagar.
“Besok kamu datang?” tanya Sekar.
“Tentu.”
“Bawa pisang goreng lagi?”
“Tentu. Itu sudah kewajiban.”
Sekar tersenyum. “Kamu baik banget, Arga.”
“Aku tidak baik. Aku hanya peduli.”
“Itu sama saja.”
“Tidak. Orang baik membantu semua orang. Aku hanya membantu kamu.”
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat Arga merasa sedikit lega.
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang gelap tanpa bintang.
Malam tanpa bintang.
Seperti dulu.
Seperti ketika firasat pertamanya muncul.
“Apa sekarang?” bisiknya pada angin. “Apa yang akan terjadi?”
Angin tidak menjawab.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara daun.
Hanya kesunyian.
Di rumah Sekar, malam juga terasa berbeda.
Sekar duduk di samping neneknya, memegang tangannya yang keriput.
“Nek,” bisiknya.
“Iya, Nduk.”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Aku takut kehilangan Nek.”
Mbok Raras mengusap rambut Sekar. “Nenek tidak akan pergi, Nduk. Setidaknya, tidak sekarang.”
“Tapi—“
“Nenek janji. Nenek akan berusaha. Untuk kamu. Untuk Arga. Untuk melihat kamu bahagia.”
Sekar menangis. Bukan tangis sedih. Tapi tangis haru. Tangis bahagia. Tangis yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa syukur, meskipun masa depan masih gelap, meskipun tantangan masih besar, meskipun mereka tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tengah malam, Sekar terbangun oleh suara batuk.
Batuk keras.
Batuk yang membuat dadanya sesak.
Ia bergegas ke kamar neneknya.
Mbok Raras terbaring lemah. Wajahnya pucat. Bibirnya biru. Dadanya naik turun dengan cepat.
“Nek!” teriak Sekar. “Nek, kamu kenapa?”
Mbok Raras tidak menjawab.
Ia hanya memandang Sekar.
Matanya lembut.
Penuh cinta.
Penuh dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
“Nduk,” bisiknya. “Nenek... nenek sayang kamu.”
“Nek, jangan bilang begitu. Kamu akan baik-baik saja.”
Mbok Raras tersenyum. “Nenek... nenek sudah tidak kuat, Nduk.”
“Tidak, Nek. Kamu kuat. Kamu selalu kuat.”
“Tidak, Nduk. Nenek sudah capek. Nenek sudah lelah.”
Sekar menangis. Ia memeluk neneknya. “Nek, jangan pergi. Aku belum siap.”
“Kita tidak pernah siap, Nduk. Tapi pergi adalah bagian dari hidup.”
“Tapi, Nek—“
“Dengar,” potong Mbok Raras. “Jagalah Arga. Jagalah hatimu. Jangan biarkan masa lalu menghancurkan masa depanmu.”
Sekar mengangguk sambil terisak.
“Dan kamu,” Mbok Raras menatap kosong ke langit-langit, seolah sedang berbicara pada seseorang yang tidak terlihat. “Jaga dia. Jaga mereka berdua.”
Sekar tidak mengerti siapa yang diajak bicara oleh neneknya.
Tapi dari kejauhan, seolah ada angin yang berputar di sekitar rumah. Seolah ada kehangatan yang masuk melalui jendela. Seolah ada suara yang berkata, “Aku akan menjaganya, Mak. Aku janji.”
Mbok Raras menghela napas terakhirnya saat fajar mulai menyingsing.
Sekar masih memeluknya.
Tidak bergerak.
Tidak berbicara.
Hanya diam.
Air matanya jatuh deras, membasahi kain yang menutupi neneknya.
Dari kejauhan, Arga yang baru saja bangun tidur merasakan sesuatu.
Firasat.
Firasat yang selama ini ia takutkan.
Ia berlari ke rumah Sekar.
Tanpa sepatu.
Tanpa baju rapi.
Tanpa pisang goreng.
Ia berlari secepat mungkin.
Dan ketika ia sampai di depan rumah Sekar, ia mendengar tangis.
Tangis yang pecah.
Tangis yang tak terbendung.
Tangis yang mengatakan bahwa sesuatu yang mengerikan telah terjadi.
Arga masuk.
Ia melihat Sekar yang masih memeluk neneknya.
Ia melihat Mbok Raras yang terbaring diam.
Ia melihat keheningan yang begitu keras di telinga.
“Sekar,” bisiknya.
Sekar menoleh. Matanya merah. Wajahnya basah.
“Nenekku... nenekku pergi, Arga.”
Arga memeluk Sekar.
Diam.
Tanpa kata.
Hanya keberadaan.
Hanya kehangatan.
Hanya kesadaran bahwa mereka tidak sendirian.
Matahari terbit di ufuk timur. Cahayanya masuk melalui jendela, menyinari wajah Mbok Raras yang tenang. Seolah ia sedang tidur. Seolah ia hanya beristirahat. Seolah ia akan bangun kapan saja dan berkata, “Nduk, masak air untuk teh.”
Tapi ia tidak akan bangun.
Tidak akan pernah.
Dan Sekar harus menerima itu.
Perlahan.
Sakit.
Tapi pasti.
“Sekar,” kata Arga.
“Iya.”
“Nenekmu sudah tenang. Dia tidak sakit lagi. Dia tidak batuk lagi. Dia sudah pergi ke tempat yang lebih baik.”
“Aku tahu. Tapi aku tetap kehilangan dia.”
“Iya. Kamu kehilangan dia. Tapi kamu tidak sendirian.”
Sekar menatap Arga. “Kamu tidak akan pergi, kan?”
“Aku tidak akan pergi. Janji.”
“Selamanya?”
“Selamanya.”
Sekar memeluk Arga.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menangis dengan tenang.
Bukan tangis histeris.
Bukan tangis putus asa.
Tapi tangis penerimaan.
Bahwa neneknya telah pergi.
Bahwa ia harus kuat.
Bahwa ia masih punya Arga.
Bahwa hidup harus terus berjalan.
Di luar, angin pagi berembus lembut.
Membawa aroma bunga kenanga.
Membawa kehangatan.
Membawa doa.
Mbok Raras telah pergi.
Tapi kenangannya akan tetap hidup.
Dalam hati Sekar.
Dalam hati Arga.
Dalam setiap senyum, setiap tawa, setiap air mata yang akan mereka bagikan di masa depan.
BAB 41
MALAM TANPA BINTANG
Tiga malam setelah pemakaman Mbok Raras, langit di atas Desa Wringinrejo menutup dirinya rapat-rapat.
Bukan mendung yang mengancam hujan. Bukan awan tebal yang biasa datang sebelum petir menyambar. Hanya kegelapan yang sempurna, kegelapan yang begitu pekat hingga bulan pun tidak berani menunjukkan wajahnya, hingga bintang-bintang memilih untuk bersembunyi di balik tabir tak terlihat, hingga seseorang yang berdiri di halaman rumahnya sendiri bisa merasa seperti sedang melayang di ruang kosong tanpa batas.
Arga berdiri di beranda, menatap ke atas. Ia mencari satu titik cahaya, satu celah kecil di mana bintang bisa menembus gelap. Tidak ada. Yang ada hanya hitam yang tak berujung, hitam yang terasa berat dan dingin, hitam yang seolah jatuh perlahan menimpa pundaknya.
"Malam tanpa bintang," gumamnya pelan. "Mbah Jayarasa bilang itu pertanda."
"Pertanda apa?"
Suara itu membuat Arga menoleh. Sastro berdiri di pintu, masih dengan sarung lusuh yang sama, masih dengan wajah datar yang sulit dibaca, masih dengan kebiasaan muncul tanpa suara di malam-malam ketika Arga sedang sendirian dengan pikirannya.
"Pertanda ada yang akan pergi," jawab Arga.
Sastro berjalan mendekat, lalu duduk di bangku kayu di samping pintu. "Mbah Jayarasa suka bicara hal-hal yang nggak jelas."
"Tapi sering terbukti."
Sastro tidak membantah. Ia hanya menghela napas, napas panjang yang sudah menjadi ciri khasnya setiap kali ia tidak tahu harus berkata apa.
"Kamu mikirin Sekar?" tanya Sastro akhirnya.
"Setiap waktu," jawab Arga jujur.
"Kamu sudah ke rumahnya?
"Belum. Sejak pemakaman, dia minta sendiri."
"Dan kamu nurut?"
Arga menoleh ke arah ayahnya. "Ayah pikir aku harus maksa?"
Sastro mengangkat bahu. "Bukan maksa. Tapi kadang orang bilang mau sendiri padahal sebenarnya butuh ditemani."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya. Mungkin benar. Mungkin Sekar hanya berpura-pura kuat. Mungkin di balik pintu rumah tua yang tertutup rapat itu, Sekar sedang menangis sendirian, memeluk bantal neneknya, berbisik pada kegelapan bahwa ia takut, bahwa ia lemah, bahwa ia butuh seseorang untuk memegang tangannya.
"Besok aku ke sana," kata Arga.
Sastro mengangguk. "Jangan lupa bawa sesuatu. Pisang goreng atau kue pasar. Orang yang lagi berduka biasanya susah makan. Tapi mereka butuh makanan."
"Ayah nggak pernah berubah," Arga tersenyum tipis. "Selalu mikirin perut."
"Hidup itu soal perut, Le. Perut kenyang, hati tenang. Perut lapar, semua masalah jadi lebih besar."
Arga tidak bisa menahan tawa kecilnya. "Ayah bicara seperti filsuf."
"Ayah cuma petani," Sastro berdiri. "Dan petani tahu satu hal: tanah yang subur butuh pupuk. Hati yang subur juga butuh sesuatu."
"Buthuh apa?"
Sastro menatap putranya. "Kehadiran."
Lalu ia masuk ke dalam, meninggalkan Arga sendirian di beranda dengan langit yang masih gelap tanpa bintang.
Keesokan harinya, Arga bangun lebih pagi dari biasanya.
Ia mandi, memakai baju terbaiknya, baju batik lengan panjang pemberian ibunya saat ulang tahun tahun lalu yang hanya ia pakai dua kali, itu pun untuk acara pernikahan tetangga dan khitanan anak Pak Lurah.
"Dandan banget," ledek Sukmawati dari dapur. "Mau ke mana?"
"Ke rumah Sekar."
Sukmawati tersenyum. "Baru kali ini aku lihat kamu sisir rambut pakai minyak."
"Apa salahnya?" Arga sedikit tersinggung.
"Nggak salah. Malah bagus. Sekar pasti senang."
"Bu, dia lagi berduka. Bukan lagi senang-senang."
"Orang berduka juga butuh sesuatu yang indah, Le," kata Sukmawati sambil membungkus pisang goreng dengan daun pisang. "Ini bawa buat dia. Pisang goreng buatan Ibu, bukan yang dari pasar."
Arga menerima bungkusan itu. Tangannya hangat dari uap pisang goreng yang baru saja diangkat dari wajan.
"Ibu nggak ikut?" tanya Arga.
"Nggak. Dua orang yang lagi muda, lagi jatuh cinta, lagi berduka. Nggak perlu ibu-ibu ikut campur."
"Ibu tahu kami jatuh cinta?"
Sukmawati tertawa. "Le, Ibu punya mata. Dan Ibu juga pernah muda."
Arga tidak bisa membantah. Ia hanya mengangguk, lalu melangkah keluar rumah sebelum wajahnya yang mulai memerah terlihat oleh ibunya.
Perjalanan menuju rumah Sekar terasa berbeda.
Setiap langkah terasa lebih berat.
Setiap pohon yang ia lewati terlihat lebih sunyi.
Setiap suara burung terdengar seperti isak tangis yang tertahan.
Ia melewati jalan setapak di belakang kali, melewati semak ilalang yang mulai mengering, melewati kebun singkong milik Pakde Karto yang daunnya sudah dimakan ulat.
Rumah Sekar terlihat dari kejauhan. Rumah tua itu berdiri sendiri di ujung desa, dikelilingi pohon jati dan semak belukar. Tirai bambu di depan pintu tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara apa pun.
Arga berhenti di depan pagar bambu yang sudah reot. Ia menggenggam bungkusan pisang goreng di tangan kirinya. Tangan kanannya gemetar.
"Kenapa sih gugup?" dia bertanya pada dirinya sendiri. "Ini cuma Sekar. Bukan monster."
Tapi hatinya tidak mendengarkan.
Hatinya terus berdebar seperti akan melompat keluar dari dadanya.
Ia menarik napas dalam-dalam tiga kali, teknik yang diajarkan ibunya untuk menenangkan diri—lalu membuka pagar, berjalan melewati halaman yang ditumbuhi rumput liar, lalu mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Sunyi.
Ia mengetuk lagi. Sedikit lebih keras.
Tok. Tok. Tok.
"Slmt pagi," katanya pelan, takut suaranya terlalu keras untuk pagi yang begitu sepi.
Tak ada jawaban.
Arga mengetuk ketiga kalinya. Kali ini lebih keras karena ia mulai khawatir.
"Sekar! Ini Arga!"
Dia mendengar langkah kaki dari dalam. Pelan. Seperti orang yang berjalan dengan malas, seperti orang yang baru bangun tidur, seperti orang yang tidak ingin ditemui tapi terpaksa karena yang mengetuk tidak berhenti-henti.
Pintu terbuka sedikit.
Sekar mengintip dari celah kecil.
Wajahnya pucat. Rambutnya kusut masai. Matanya sembab, tanda bahwa ia baru saja menangis, atau mungkin sudah berhari-hari menangis tanpa henti.
"Arga?" suaranya serak. "Kamu ke sini? Aku bilang aku mau sendiri."
"Iya, aku tahu," kata Arga cepat, takut pintu itu akan tertutup kembali. "Tapi Ibuku nyuruh aku nganterin ini."
Dia mengangkat bungkusan pisang goreng.
Sekar menatap bungkusan itu beberapa saat. "Apa itu?"
"Pisang goreng buatan Ibuku. Masih hangat."
"Nggak laper."
"Ya simpan dulu. Buat nanti."
Sekar terdiam. Ia tampak berpikir, antara menutup pintu dan membiarkan Arga masuk.
Arga tidak menunggu. "Aku boleh masuk? Nggak lama. Cuma sebentar. Antar pisang, terus aku pulang."
Sekar menghela napas. Ia membuka pintu sedikit lebih lebar, cukup untuk Arga masuk menyamping.
"Jangan lama-lama."
"Iya, iya."
Di dalam, rumah Sekar terasa berbeda dari terakhir kali Arga menginjakkan kaki di sana.
Dulu, rumah ini selalu wangi dengan aroma dupa dan bunga kenanga yang diletakkan Mbok Raras di setiap sudut ruangan. Dulu, rumah ini selalu terasa hangat meskipun dindingnya hanya dari papan kayu tipis. Dulu, rumah ini terasa seperti pelukan seorang nenek pada cucu satu-satunya.
Sekarang, rumah itu dingin.
Sekarang, rumah itu sepi.
Sekarang, rumah itu hanya sekadar rumah, dinding, atap, lantai, tanpa nyawa yang menghidupkannya.
Sekar duduk di dipan bambu, bersandar pada dinding. Ia tidak menyilakan Arga duduk, tapi Arga mengambil inisiatif untuk duduk di kursi kayu di depannya.
"Kamu makan belum?" tanya Arga.
Sekar menggeleng.
"Udah tiga hari, Sekar."
"Tiga hari apa?"
"Nggak makan. Aku hitung. Dari pemakaman, aku nggak pernah lihat kamu beli makanan. Aku nggak pernah lihat kamu makan."
"Kamu nguntit aku?" Sekar sedikit mengerutkan kening.
"Bukan nguntit. Tapi rumahmu di ujung desa. Kalau dari sawah ke rumah, lewat sini. Jadi ya aku perhatiin."
"Keperhatian banget," Sekar berkata dengan nada dingin.
Arga tidak tersinggung. "Ini bukan soal keperhatian. Ini soal kamu yang mungkin mati kelaparan sebelum sempat pulih dari kematian nenekmu."
"Kalau aku mati kelaparan, kan ketemu nenek."
"Jangan bicara gitu."
"Kenapa? Kamu takut?"
"Ya. Aku takut."
Sekar terdiam. Mungkin ia tidak menduga Arga akan menjawab sejujur itu.
"Kenapa kamu takut?" tanyanya pelan.
"Karena," Arga menggenggam tangannya sendiri, "aku nggak mau kehilangan orang lain."
"Aku nggak akan mati, Arga. Aku cuma nggak laper."
"Tiga hari nggak laper?"
"Tubuh manusia bisa bertahan tiga minggu tanpa makanan."
"Kamu baca buku apa itu?"
"Nggak baca buku. Nenekku yang bilang."
Arga tersenyum tipis. "Nenekmu orang bijak."
"Ya. Dia bijak. Tapi dia tetap mati."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Arga membuka bungkusan pisang goreng itu. Aroma pisang dan gula jawa langsung menyebar di ruangan kecil itu. Wangi hangat yang mengingatkan pada dapur ibunya. Wangi yang membuat perut keroncongan meskipun baru saja sarapan.
"Sekar," kata Arga, "aku nggak bilang kamu harus makan banyak. Tapi setidaknya coba. Satu gigit. Buat aku."
Sekar menatap pisang goreng berwarna keemasan itu. "Kamu ini aneh."
"Aneh kenapa?"
"Nggak biasanya orang desa serepot ini. Biasanya orang cuma ngomong 'ikhlasin' terus pergi. Tapi kamu malah bawa pisang goreng dan maksa aku makan."
"Aku nggak ikhlasin. Aku nggak tahu cara ikhlasin. Aku cuma tahu bahwa nenekmu pasti nggak mau kamu mati kelaparan."
Sekar tidak menjawab.
"Bayangin," lanjut Arga, "nenekmu di surga, lihat kamu kurus kering, mati karena nggak mau makan. Dia pasti sedih."
"Nenekku udah mati. Dia nggak bisa sedih lagi."
"Tapi perasaan kita tentang dia, itu masih ada. Jatmika aja masih bisa sedih setelah mati."
Sekar terdiam. Namanya Jatmika disebut lagi. Nama yang masih terlalu berat untuk didengar, meskipun rohnya sudah pergi.
"Kamu ingat kata-kata Jatmika? Dia bilang dia masih mencintai kita. Dia bilang dia nggak bisa pergi karena cinta itu masih ada. Sekarang dia udah pergi, mungkin karena dia udah ikhlas. Tapi kamu? Kamu masih di sini. Kamu masih hidup. Jangan biarkan cinta nenekmu yang udah dia kasih seumur hidup jadi sia-sia."
Sekar menggigit bibirnya. Matanya berkaca-kaca.
"Kamu nggak adil," bisiknya.
"Memang. Tapi aku nggak bisa diam lihat kamu begini."
Sekar akhirnya mengambil satu potong pisang goreng.
Ia memandangnya lama, seperti sedang berbicara pada pisang itu, seperti sedang meminta izin pada neneknya untuk makan, seperti sedang mengakui bahwa ia lemah, bahwa ia butuh bantuan, bahwa ia tidak bisa sendiri.
Ia menggigit kecil.
Satu gigitan kecil di ujung pisang.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Air matanya jatuh. Jatuh ke pisang goreng yang masih hangat itu. Jatuh ke tangannya yang gemetar. Jatuh ke kain yang melapisi pangkuannya.
"Kenapa susah banget?" isaknya. "Makan aja rasanya kayak ngunyah batu."
"Karena kamu sedih," kata Arga pelan. "Tapi nggak apa-apa. Makan sambil nangis itu boleh."
Sekar tertawa kecil di sela isaknya. "Kamu punya sumber buat omongan kayak gitu?"
"Nggak punya. Aku cuma ngomong apa yang aku rasa."
"Sok bijak."
"Nggak sok bijak. Sok peduli."
"Bedanya apa?"
"Kalau sok bijak, orang cuma ngomong. Kalau sok peduli, orang bawa pisang goreng."
Sekar tertawa lagi. Kali ini lebih keras. Air matanya masih mengalir, tapi di antara air mata itu ada senyum. Senyum kecil yang membuat hati Arga terasa lega, setidaknya untuk beberapa detik.
"Terima kasih, Arga," kata Sekar setelah cukup tenang. "Kamu baik banget."
"Nggak. Aku cuma..." Arga mencari kata-kata, "...nggak tega lihat kamu sendiri."
"Tapi aku memang sendiri."
"Ya. Tapi itu nggak berarti kamu harus terus-terusan sendiri."
Mereka duduk berdampingan dalam diam.
Sekar menghabiskan dua potong pisang goreng. Banyak untuk ukuran perutnya yang sudah tiga hari tidak diisi makanan layak.
Arga tidak bicara. Ia hanya duduk, menunggu, menjadi kehadiran yang tidak memaksa.
"Aku mau cerita tentang nenekku," kata Sekar tiba-tiba.
"Silakan."
"Soalnya, kalau nggak ada yang dengerin, cerita itu cuma akan muter di kepalaku terus dan nggak pernah selesai. Aku butuh... aku butuh seseorang."
"Aku di sini."
"Jangan potong."
"Maaf."
Sekar menarik napas panjang. "Nenekku dulu... dia perempuan yang paling cantik se-desa. Kata orang-orang. Waktu masih muda, rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya besar. Tapi dia nggak pernah nikah dengan laki-laki pilihan orang tuanya."
"Kenapa?"
"Karena dia jatuh cinta dengan laki-laki dari luar desa. Laki-laki yang cuma lewat, cuma mampir sebentar, lalu pergi dan nggak pernah kembali."
Arga diam. Ia sudah mendengar cerita ini dari bisik-bisik tetangga, tapi tentu berbeda mendengarnya langsung dari mulut Sekar.
"Tapi dia hamil. Dengan anakku itu. Anaknya laki-laki. Tapi laki-laki itu nggak pernah kembali. Nenekku ditinggal sendiri."
"Itu ayahmu?"
Sekar menggeleng. "Itu paman. Kakaknya ibuku. Ceritanya panjang. Tapi intinya, nenekku nggak pernah benar-benar bahagia. Dia selalu menunggu. Menunggu seseorang yang nggak akan pernah kembali."
"Mirip kayak Jatmika," kata Arga pelan.
"Ya. Mirip. Mungkin itu sebabnya nenekku begitu mengerti ketika aku cerita tentang Jatmika. Dia tahu rasanya menunggu seseorang yang udah pergi."
Sekar berhenti. Ia memandang keluar jendela, ke arah langit yang mulai beranjak terang, meskipun malam tanpa bintang kemarin tidak memberikan janji akan hari yang cerah.
"Dia selalu bilang padaku, 'Nduk, jangan ulangi kesalahanku. Jangan menunggu seseorang yang udah pergi. Jangan berharap pada sesuatu yang nggak akan pernah datang.' Tapi aku nggak pernah bisa dengar. Aku selalu menunggu Jatmika meskipun dia udah mati."
"Dan sekarang?"
Sekar menatap Arga. Matanya masih basah, tapi ada ketegaran di sana. Ketegaran yang perlahan mulai tumbuh, seperti tunas kecil di tanah yang retak.
"Sekarang... dia udah pergi. Beneran pergi. Dan aku harus berhenti menunggu."
"Kamu bisa?"
"Aku nggak tahu. Tapi aku harus belajar. Karena nenekku nggak akan tenang kalau aku terus-terusan begini."
Arga meraih tangan Sekar.
Gadis itu tidak menarik tangannya.
Mereka hanya duduk, tangan bertautan, tanpa kata-kata yang berarti.
"Arga," panggil Sekar pelan.
"Iya?"
"Apa kamu... apa kamu juga cuma lewat?"
"Lewat gimana?"
"Seperti laki-laki nenekku dulu. Datang, bikin hati berbunga-bunga, lalu pergi, nggak pernah kembali."
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Aku bukan laki-laki itu."
"Kamu bisa bilang apa pun."
"Ya. Tapi aku juga bisa buktiin."
"Buktiin gimana?"
"Datang lagi besok. Dan lusa. Dan seterusnya. Sampai kamu muak lihat mukaku."
Sekar tersenyum. Senyum yang, meskipun masih diliputi duka, terasa lebih hangat dari senyum-senyum sebelumnya.
"Nanti kamu yang bosan duluan."
"Coba lihat saja."
"Baik. Aku tunggu."
Matahari mulai meninggi ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pagar. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak satu langkah. Cukup dekat untuk saling mendengar napas. Cukup jauh untuk saling bertatapan tanpa merasa canggung.
"Besok jangan lupa bawa pisang goreng lagi," kata Sekar. "Yang hari ini udah habis."
"Ibu senang kalau tahu kamu suka."
"Titip salam buat Ibu."
"Iya."
"Dan... makasih, Arga."
"Makasih juga."
"Makasih buat apa?"
"Makasih karena... nggak nutup pintu di depan mukaku."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat Arga merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Besok aku buka pintu lebar-lebar," kata Sekar.
"Janji?"
"Janji."
Arga berjalan pulang dengan langkah yang lebih ringan dari ketika ia datang. Langit masih cerah. Burung-burung masih bernyanyi. Angin masih berembus lembut. Hidup, meskipun berat, tetap indah.
Malam harinya, Arga kembali duduk di beranda, menatap langit.
Bulan sudah mulai muncul. Bintang-bintang mulai berkerlap-kerlip. Malam tanpa bintang kemarin ternyata hanya berlangsung semalam.
"Akhirnya ada bintang juga," gumamnya.
"Kelihatan senang," kata Sastro yang keluar dengan segelas kopi hitam.
"Sedikit."
"Kamu habis dari rumah Sekar?"
"Iya."
"Bagaimana?"
"Lumayan. Dia mulai makan."
"Syukurlah. Itu pertanda baik."
Arga menatap ayahnya. "Ayah, boleh tanya sesuatu?"
"Tanya aja."
"Waktu Ayah pertama kali jatuh cinta sama Ibu, apa Ayah takut?"
Sastro terdiam. Ia menyesap kopinya. Pahitnya membuat wajahnya sedikit berkerut.
"Takut itu pasti, Le. Apalagi buat laki-laki desa kayak Ayah. Nggak punya apa-apa. Cuma sawah kecil, rumah reyot, dan mimpi yang mungkin nggak akan pernah kesampean."
"Lalu Ayah gimana?"
"Ayah..." Sastro tersenyum. "Ayah cuma ingat kata-kata bapak Ayah: 'Sing penting kowe usaha. Sisa, pasrah.' Yang penting kamu usaha. Sisanya, pasrah."
Arga mengangguk.
"Ayah percaya, Le," lanjut Sastro. "Kamu dan Sekar bisa melewati ini. Semua ini. Sungai. Jatmika. Kematian. Segalanya."
"Kenapa Ayah percaya?"
"Karena kalian sama-sama keras kepala. Sama-sama nggak mau kalah. Sama-sama nggak mau nyerah."
Arga tersenyum. Senyum yang menghangatkan malam yang dingin.
"Mungkin itu cukup," ujarnya pelan.
"Iya," Sastro menepuk bahu putranya. "Mungkin itu cukup."
Di lain sisi desa, di rumah tua yang mulai terasa tidak terlalu sunyi karena besok akan ada yang datang dengan pisang goreng dan senyuman canggungnya, Sekar duduk di kamar neneknya.
Ia tidak menangis.
Ia hanya memandang foto neneknya yang terbungkus pigura kayu sederhana.
"Nek," bisiknya, "aku nggak tahu kapan aku bisa berhenti sedih. Tapi... ada orang yang mau menemani. Dan dia bawa pisang goreng yang enak."
Ia tersenyum.
"Semoga Nek nggak cemburu."
Foto itu tidak menjawab. Tapi di hati Sekar, ada kehangatan kecil yang perlahan mulai tumbuh. Kehangatan yang mengingatkannya bahwa meskipun malam tanpa bintang pernah datang, bintang-bintang pada akhirnya akan kembali bersinar.
BAB 42
RUMAH YANG TERASA ASING
Seminggu setelah pemakaman Mbok Raras, Sekar masih belum bisa menyebut rumahnya sebagai "rumah".
Bukan karena rumah itu berubah. Dinding kayunya masih sama. Atap gentengnya masih sama. Pintu yang berderit itu masih berderit dengan cara yang sama setiap kali dibuka. Jendela kamar yang menghadap ke timur masih tetap membiarkan cahaya matahari pagi masuk tanpa permisi. Bahkan bau kapur barus dan bunga kenanga yang dulu identik dengan neneknya, masih tersisa di sela-sela lipatan kain dan di sudut-sudut lemari tua yang sudah berjamur.
Tapi rumah itu terasa asing.
Seperti memakai baju orang lain. Seperti tidur di tempat tidur hotel. Seperti menyentuh tangan seseorang yang sudah lama tidak berjumpa.
Semuanya familiar, tapi tidak ada yang benar-benar terasa miliknya.
Sekar duduk di kursi bambu di ruang tengah. Di depannya ada secangkir teh jahe yang sudah dingin sejak satu jam lalu. Ia tidak menyentuhnya. Tangannya hanya memegang cangkir itu, merasakan dinginnya merambat dari ujung jari ke telapak tangan, dari telapak tangan ke pergelangan, lalu berhenti di suatu tempat di antara siku dan bahu, tidak mau naik lebih jauh karena hati sudah terlalu dingin untuk merasakan dingin lagi.
"Nek," panggilnya pelan, seperti biasa.
Tidak ada jawaban. Seperti biasa.
Tapi hari ini, untuk pertama kalinya, Sekar tidak menangis ketika tidak ada yang menjawab. Ia hanya duduk. Diam. Menatap dinding di depannya yang mulai mengelupas catnya. Menatap foto neneknya yang masih tersenyum dari balik pigura kayu. Menatap kehampaan yang seolah-olah telah menjadi teman tetapnya sejak seminggu lalu.
"Seharusnya aku sudah terbiasa," gumamnya. "Sendirian. Diam. Nggak ada yang ngajak ngobrol."
Tapi kenyataannya, ia tidak terbiasa.
Dulu, ketika neneknya masih sehat, rumah ini selalu ramai dengan suara. Suara nenek yang komat-kamit membaca doa setelah salat. Suara nenek yang batuk-batuk kecil di pagi hari. Suara nenek yang berteriak memanggilnya saat sudah terlalu lama di sungai. Suara nenek yang tertawa mendengar cerita-cerita lucu dari tetangga.
Sekarang, yang ada hanya diam.
Diam yang begitu keras di telinga.
Diam yang membuatnya ingin berteriak hanya untuk memastikan bahwa pita suaranya masih berfungsi.
Tok. Tok. Tok.
Sekar menoleh ke pintu.
"Masuk aja, nggak dikunci."
Pintu terbuka. Arga masuk dengan bungkusan daun pisang di tangan kanan dan sebotol air kelapa muda di tangan kiri.
"Hari ini bawa apa?" tanya Sekar.
"Pisang goreng lagi. Ibu bilang kamu suka."
"Iya, aku suka. Tapi kalau setiap hari pisang goreng, nanti aku jadi pisang goreng."
"Nggak apa. Jadi pisang goreng yang cantik."
Sekar tersenyum tipis. "Ajarannya dari mana sih gombal-gombal gitu?"
"Nggak gombal. Jujur."
"Ya, jujur banget."
Arga duduk di kursi seberang Sekar. Ia meletakkan bungkusan dan botol itu di meja kayu yang sudah lapuk. "Minum dulu. Air kelapa. Baru dipetik pagi tadi."
"Kamu yang petik?"
"Aku. Lumayan jatuh dari pohon. Tapi nggak pecah."
"Kesannya jago banget."
"Nggak jago. Cuma beruntung."
Sekar mengambil botol itu, membuka tutupnya, lalu minum beberapa teguk. Segar. Dingin. Manis alami yang tidak perlu ditambah gula. Rasanya seperti sedang minum dari sumber air di kaki gunung, tempat yang dulu sering ia datangi bersama neneknya waktu masih kecil.
"Kamu kenapa?" tanya Arga.
"Kenapa apa?"
"Matamu sayu gitu."
"Mataku biasa aja."
"Nggak biasa. Kayak lagi mikirin sesuatu."
Sekar menaruh botol itu di meja. "Aku lagi mikirin... rasanya aneh."
"Aneh gimana?"
"Aneh tinggal di rumah sendiri. Padahal rumah ini udah aku diemin dari lahir. Tapi sekarang rasanya kayak rumah orang. Rasanya kayak aku cuma numpang. Kayak... aku nggak punya hak untuk di sini."
Arga menghela napas. "Itu wajar, Sekar."
"Wajar?"
"Iya. Soalnya rumah itu bukan cuma tembok dan genteng. Rumah itu juga suara dan kehadiran. Nenekmu udah nggak ada. Jadi wajar kalau rumah ini terasa asing."
"Lalu gimana caranya supaya nggak asing lagi?"
"Kamu harus bikin suara baru."
Sekar mengerutkan kening. "Suara baru?"
"Iya. Suara kamu sendiri. Kamu yang harus mengisi rumah ini. Bukan nenekmu."
"Nggak bisa."
"Bisa. Coba sekarang. Ajak aku ngobrol. Banyak. Biar rumah ini dengar suara kita."
Sekar terdiam. Ia memandang Arga dengan tatapan setengah bingung, setengah heran.
"Kamu ini aneh banget hari ini."
"Aku memang aneh."
"Nggak, nggak. Lebih aneh dari biasanya."
"Terima kasih."
"Itu bukan pujian."
"Aku terima sebagai pujian."
Sekar menekan pelipisnya. "Aku jadi pusing sendiri ngadepin kamu."
"Bagus. Berarti kamu lupa sama kesedihanmu."
Sekar membeku. Ia menatap Arga. "Kamu... sengaja ya?"
"Ya," Arga tersenyum. "Ibu bilang, kalau orang lagi sedih, jangan disuruh ikhlas. Suruh aja marah, bingung, atau kesel. Itu lebih bagus daripada cuma diam dan menangis."
"Jadi kamu sengaja bikin aku kesel?"
"Iya."
"Dan itu ide Ibumu?"
"Iya."
"Arga, Ibumu orang yang... unik."
"Itu istilah halus untuk bilang aneh."
"Ya. Ibu mu aneh. Dan kamu aneh. Keluarga aneh."
"Tapi kamu senang?"
Sekar tidak bisa menahan senyum. Ia menunduk, memainkan ujung kain yang melapisi pangkuannya. "Ya. Aku senang."
Sekar mengambil satu potong pisang goreng. Ia menggigitnya perlahan. Renyah di luar, lembut di dalam, manis di lidah.
"Arga."
"Iya?"
"Menurutmu, aku harus tinggal di sini atau pindah?"
"Pindah ke mana?"
"Nggak tahu. Ke mana gitu. Jauh dari desa ini."
"Kenapa mau pindah?"
"Karena di sini banyak kenangan. Nenek. Jatmika. Kamu. Sungai. Semuanya. Rasanya kayak... setiap sudut desa ini punya cerita. Cerita yang bikin aku sakit."
"Memang sakit. Tapi lari dari kenangan itu nggak akan menyembuhkan luka."
"Terus aku harus gimana?"
"Kamu harus hadapin. Sakit-sakit dikit. Pelan-pelan."
"Pelan-pelan sampai kapan?"
"Sampai nggak sakit lagi."
"Nggak akan ada rasa sakit yang berhenti, Arga. Aku udah belajar itu. Rasa sakit itu cuma... berubah bentuk. Kadang kecil, kadang besar. Tapi nggak pernah bener-bener hilang."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Sekar. Mungkin benar. Mungkin rasa sakit tidak pernah hilang. Mungkin yang hilang hanya intensitasnya. Mungkin yang berubah hanyalah cara kita membawanya—sebagai beban yang dipanggul, atau sebagai pelajaran yang disimpan, atau sebagai sesuatu yang didiamkan begitu saja sampai ia berbaur dengan napas dan darah dan tulang.
"Kalau begitu," kata Arga akhirnya, "kamu harus belajar membawanya."
"Membawa rasa sakit?"
"Iya. Seperti... seperti bawa barang bawaan. Kadang berat. Kadang ringan. Tapi nggak bisa dibuang."
"Siapa yang ngajarin kamu omongan kayak gitu?"
"Nggak ada. Aku sendiri yang mikir."
"Jago mikir."
"Terima kasih."
"Bukan pujian."
"Sudah, Sekar. Makan tuh pisang gorengnya. Jangan ditahan-tahan. Nanti aku yang habisin."
Sekar tertawa. Tawa kecil yang membuat dadanya terasa sedikit lebih ringan. Ia menghabiskan dua potong pisang goreng. Lalu mengambil air kelapa lagi. Lalu menatap Arga yang duduk santai di kursi seberang, dengan kaki disilangkan, dengan tangan dilipat di dada, dengan wajah yang tidak canggung berada di rumah orang yang sedang berduka.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya?"
"Kamu nggak takut?"
"Takut apa?"
"Takut sama duka. Takut sama kematian. Takut sama rumah yang dingin kayak gini."
"Takut," Arga mengangguk. "Tapi aku datang."
"Kenapa?"
"Karena kamu lebih penting daripada rasa takut."
Sekar menunduk. Pipinya terasa panas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Ia berusaha menyembunyikan senyumnya, tapi gagal.
"Kamu jangan ngomong kayak gitu terus," katanya pelan.
"Kenapa?"
"Nanti aku... nanti aku jadi salah tingkah."
"Nggak apa. Aku suka liat kamu salah tingkah."
"Arga!"
"Sekar."
Mereka saling tatap. Sekian lama. Lalu keduanya tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tulus. Tawa yang membuat rumah tua yang dingin itu terasa sedikit lebih hangat.
Setelah tawa mereka reda, Sekar duduk lebih dekat.
"Arga, aku mau tanya sesuatu."
"Iya."
"Apa kamu nggak pernah berpikir untuk pergi dari desa ini?"
"Pernah. Tapi nggak jadi."
"Kenapa nggak jadi?"
"Karena takut."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku pergi, kamu akan sendirian."
Sekar menelan ludah. "Kamu... kamu memikirkan aku?"
"Setiap hari."
"Kenapa?"
"Karena aku sayang sama kamu, Sekar."
Jujur. Lurus. Tanpa hiasan. Tanpa retorika. Tanpa persiapan. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Arga, seperti air yang mengalir dari mata air, seperti angin yang berembus dari arah utara, seperti sesuatu yang alami dan tidak bisa dipaksakan.
Sekar diam. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kamu nggak perlu jawab," kata Arga cepat. "Aku cuma... aku cuma mau kamu tahu. Itu aja."
"Tapi kalau aku diam, kamu nggak salah paham?"
"Nggak. Aku bisa terima."
"Mau apa pun?"
"Mau apa pun."
Sekar menggigit bibirnya. "Kamu ini... kamu ini keterlaluan, Arga."
"Kenapa?"
"Karena kamu buat aku susah. Harusnya aku sibuk mikirin nenek yang meninggal. Tapi aku malah sibuk mikirin kamu."
Air mata Sekar jatuh lagi. Tapi kali ini bukan air mata kesedihan. Bukan air mata kehilangan. Tapi air mata karena hatinya terlalu penuh. Penuh dengan rasa yang tidak bisa ia beri nama.
Arga tidak bicara. Ia hanya mengulurkan tangan. Sekar menggenggamnya. Keras. Tidak mau melepaskan.
"Arga, aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut kalau aku mulai sayang sama kamu, aku bakal kehilangan kamu."
"Kamu nggak akan kehilangan aku."
"Kamu nggak tahu masa depan."
"Memang. Tapi aku tahu hari ini. Dan hari ini, aku ada di sini."
Mereka duduk berdua dalam diam.
Tangan masih saling menggenggam.
Pisang goreng sudah habis.
Air kelapa sudah diminum sampai tetes terakhir.
Matahari mulai condong ke barat.
Cahaya sore masuk melalui jendela, membuat bayangan panjang di lantai kayu, membuat debu-debu kecil yang beterbangan terlihat seperti bintang-bintang mini di ruang sempit.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku nggak tahu cara mencintai orang dengan benar."
"Nggak ada cara yang benar."
"Tapi aku nggak mau nyakitin kamu."
"Kamu nggak akan nyakitin aku."
"Kamu bisa yakin?"
"Aku yakin."
"Bohong."
"Iya. Aku bohong. Tapi aku lebih takut kehilangan kamu daripada takut disakiti."
Sekar menatap Arga. Matanya basah. Senyumnya tipis.
"Kamu aneh."
"Iya, aku aneh."
"Tapi aku suka."
"Dengan keanehannya?"
"Dengan semuanya."
Sekar melepaskan genggaman tangannya. Ia berdiri, berjalan ke jendela, membukanya sedikit lebih lebar. Angin sore masuk, membawa aroma tanah dan rumput kering.
"Arga, kamu tahu nggak? Dulu, nenekku sering bilang, 'Rumah itu bukan tempat. Rumah itu perasaan'."
"Maksudnya?"
"Maksudnya, kamu bisa tinggal di istana sekalipun, kalau hatimu nggak tenang, ya nggak akan pernah merasa seperti di rumah."
"Lalu sekarang?"
"Sekarang... aku nggak tahu apa rumahku masih di sini. Atau rumahku sekarang ada di tempat yang berbeda."
"Di mana?"
Sekar menoleh. Tersenyum. "Mungkin rumahku ada di mana pun kamu berada."
Arga terpaku. Kata-kata itu, sederhana, tulus, tanpa hiasan, jatuh di hatinya seperti batu yang dilempar ke kolam. Riaknya menyebar ke seluruh tubuhnya. Ke ujung jari. Ke ubun-ubun. Ke telapak kaki.
"Sekar..."
"Jangan bilang apa-apa. Aku belum siap dengar jawabanmu."
"Tapi aku, "
"Belum siap, Arga. Tolong. Hormati."
Arga menutup mulutnya. Ia mengangguk.
"Baik. Aku tunggu."
"Kamu mau menunggu?"
"Kelihatannya begitu."
"Meskipun lama?"
"Meskipun selamanya."
Sore beranjak petang ketika Arga pamit pulang.
Sekar mengantarnya sampai pintu.
"Makan malam nanti kamu masak?" tanya Arga.
"Nggak ada yang dimasak."
"Aku bawakan lauk. Ibu masak ayam goreng."
"Nggak usah repot-repot."
"Nggak repot. Dari pada kamu cuma makan pisang goreng terus."
"Pisang goreng itu enak."
"Ya. Tapi nggak bisa jadi lauk seumur hidup."
Sekar tertawa. "Baik. Bawain. Tapi jangan banyak-banyak."
"Janji."
Arga melangkah turun dari teras. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berbalik.
"Sekar."
"Iya?"
"Rumah ini memang asing sekarang. Tapi suatu hari nanti, kamu akan terbiasa. Dan kalau kamu belum bisa terbiasa... kamu bisa tinggal di rumahku."
Sekar tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum yang membuat Arga tidak perlu mendengar kata-kata untuk mengerti.
Malam itu, Sekar duduk sendirian di kursi bambu.
Ia membayangkan Arga mengucapkan kata-kata itu sekali lagi. "Kamu bisa tinggal di rumahku."
Bukan lamaran. Bukan janji. Bukan komitmen. Hanya tawaran sederhana. Tawaran yang tidak memaksa. Tawaran yang memberi ruang.
"Nek," bisiknya pada foto neneknya, "aku pikir aku mulai menemukan rumah yang baru. Bukan tempat. Tapi seseorang."
Foto itu tidak menjawab.
Tapi di hati Sekar, ada suara kecil yang berkata bahwa neneknya tersenyum. Merestui. Memberkati.
"Makasih, Nek," bisiknya. "Makasih udah nunggu selama ini. Sekarang istirahatlah. Aku akan baik-baik saja. Aku punya dia."
Air matanya jatuh lagi. Tapi kali ini, ia tersenyum.
Ia tersenyum untuk pertama kalinya dengan sepenuh hati setelah seminggu penuh duka.
Di rumahnya, Arga duduk di meja makan bersama Sukmawati dan Sastro.
"Ibu, besok bawain ayam goreng buat Sekar," kata Arga.
"Lho, tadi kan Ibu udah kasih pisang goreng?"
"Sekar bilang dia suka pisang goreng. Tapi nggak bisa jadi lauk seumur hidup."
Sukmawati tertawa. "Anak itu lucu juga."
"Iya. Dia lucu."
"Dan kamu sayang sama dia?"
Arga menatap ibunya. "Iya, Bu. Aku sayang sama dia."
Sastro yang dari tadi diam tiba-tiba bersuara. "Kalau sayang, jaga baik-baik. Jangan sampai dia nangis."
"Aku nggak akan bikin dia nangis, Yah."
"Semua laki-laki bilang gitu. Tapi pada akhirnya, yang bikin perempuan nangis ya laki-laki juga."
"Tapi aku—"
"Sudah, Mak, jangan didikte anakmu terus," potong Sukmawati. "Dia sudah besar. Dia tahu mana yang baik dan mana yang tidak."
Sastro menghela napas. "Iya. Tapi ingat, Le. Perempuan yang baru kehilangan orang yang dicintai itu rapuh. Dia butuh teman, bukan kekasih. Jangan terburu-buru."
"Aku nggak terburu-buru, Yah. Aku cuma... aku cuma mau ada untuk dia."
"Itu sudah cukup," kata Sukmawati. "Menjadi 'ada' itu sudah lebih dari cukup."
Arga mengangguk. Ia menyuap nasi, mengunyah perlahan, merasakan kehangatan dari makanan buatan ibunya.
"Hidup kadang berat, Le," lanjut Sukmawati. "Tapi nggak akan pernah terlalu berat kalau ada yang menemani."
"Ibu tahu itu dari mana?"
"Dari hidup, Le. Ibu juga pernah ngerasain yang namanya hampir putus asa. Tapi kemudian Ibu ketemu ayahmu."
"Ayahmu emang nggak romantis," Sastro menyela. "Tapi ayahmu setia."
Sukmawati tertawa. "Iya, kamu setia. Setia banget sampai kadang bikin kesel."
"Tapi Ibu tetap sayang."
"Iya. Aku tetap sayang."
Arga melihat orang tuanya. Mereka tidak sempurna. Mereka miskin. Mereka sederhana. Mereka tidak pernah mengucapkan kata "cinta" secara langsung satu sama lain. Tapi mereka bertahan. Mereka tetap bersama. Mereka saling menguatkan di saat susah dan senang.
Mungkin itu cinta.
Bukan tentang kata-kata indah atau janji-janji manis.
Tapi tentang kehadiran.
Tentang bertahan.
Tentang tidak pergi meskipun banyak alasan untuk pergi.
"Makasih, Yah, Mak," kata Arga tiba-tiba.
"Makasih buat apa?" tanya Sastro.
"Makasih udah ngajarin aku apa artinya setia."
Sastro dan Sukmawati saling pandang. Lalu tersenyum. Lalu melanjutkan makan malam mereka dalam diam yang hangat.
Malam tanpa bintang seminggu lalu kini tergantikan oleh langit yang dipenuhi cahaya. Ribuan bintang berkelap-kelip di atas desa Wringinrejo, seolah-olah ikut menyaksikan kisah yang sedang berlangsung di rumah-rumah kecil di bawahnya.
Di rumah tuanya, Sekar berbaring di dipan bambu. Ia memeluk bantal neneknya. Wangi nenek masih tersisa, meskipun semakin lama semakin memudar.
Ia memejamkan mata. Dalam gelap, ia melihat wajah Arga. Bukan wajah Jatmika. Bukan wajah neneknya. Tapi wajah Arga. Dengan senyum canggungnya. Dengan tatapan polosnya. Dengan kata-kata yang kadang tidak masuk akal tapi selalu membuatnya merasa tidak sendirian.
"Arga," bisiknya. "Aku juga sayang kamu."
Kata-kata itu tidak terdengar oleh siapa pun. Hanya angin malam yang mendengarnya. Hanya bintang-bintang yang menjadi saksinya. Hanya hatinya sendiri yang tahu bahwa itu benar.
BAB 43
DOA SANG IBU
Pagi itu, Sukmawati bangun lebih awal dari biasanya.
Bukan karena ada yang istimewa. Bukan karena ada kenduri atau selamatan. Bukan karena ada tetangga yang melahirkan atau meninggal. Ia bangun lebih awal karena sejak semalam, ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu yang terus berputar di kepalanya seperti air dalam kendi yang tidak pernah berhenti bergerak meskipun sudah didiamkan berjam-jam.
Arga.
Anak laki-lakinya yang kini remaja.
Anak laki-lakinya yang mulai jatuh cinta.
Anak laki-lakinya yang mulai berbicara tentang masa depan.
Anak laki-lakinya yang, tanpa ia sadari, telah tumbuh menjadi seseorang yang tidak lagi hanya butuh pelukan ibu, tetapi butuh sesuatu yang lebih: restu, doa, dan kepercayaan bahwa ia bisa menjalani hidupnya sendiri.
Sukmawati duduk di dapur. Api di tungku belum dinyalakan. Ia hanya duduk, memandang kayu-kayu bakar yang masih tersusun rapi di pojok, memandang periuk tanah liat yang sudah menghitam karena puluhan tahun terkena jelaga, memandang cangkir-cangkir pecah yang masih ia simpan meskipun sudah tidak bisa dipakai.
"Ada apa, Bu? Masih pagi belum masak?"
Suara itu membuat Sukmawati menoleh. Arga berdiri di pintu dapur, rambut masih acak-acakan, mata masih setengah merem.
"Kamu bangun ngapain?" tanya Sukmawati.
"Mau pipis. Eh, lihat Ibu sudah bangun."
"Ya sudah, cepat pipis. Nanti masuk angin."
Arga mengangguk. Ia berbalik, berjalan ke belakang rumah. Beberapa menit kemudian ia kembali. Kali ini ia duduk di bangku kayu di samping ibunya.
"Bu, tadi malam Ibu mimpi buruk?"
"Kenapa tanya begitu?"
"Tadi aku lewat kamar Ibu, dengar Ibu bergumam."
"Tidak. Ibu tidak mimpi buruk. Ibu cuma mikirin sesuatu."
"Mikir apa?"
Sukmawati menatap anaknya. Wajah Arga, yang masih mengantuk, yang masih polos, yang masih bersih dari beban-beban dunia, mengingatkannya pada dua puluh tahun lalu, ketika ia masih muda, ketika Jatmika masih kecil, ketika hidup masih terasa sederhana meskipun sebenarnya tidak pernah sederhana.
"Ibu mikirin kamu," jawab Sukmawati jujur.
"Aku kenapa?"
"Kamu sudah besar. Kamu mulai dekat dengan Sekar. Kamu mulai berbicara tentang perasaan. Kamu mulai..."
Ia berhenti. Mencari kata-kata.
"Aku mulai apa, Bu?"
"Kamu mulai melepaskan masa lalu."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya duduk, memandang ibunya, menunggu kelanjutan kalimat yang mungkin akan mengubah cara pandangnya terhadap banyak hal.
"Kamu tahu, Le," Sukmawati mulai lagi, "dulu, setelah Jatmika meninggal, Ibu tidak pernah berpikir Ibu bisa bahagia lagi. Rasanya... rasanya dunia ini terlalu gelap. Rasanya matahari sudah berhenti bersinar untuk Ibu. Rasanya hidup cuma soal bertahan dari satu hari ke hari berikutnya, tanpa tujuan, tanpa harapan, tanpa apa pun."
"Lalu Ibu gimana?"
"Ayahmu. Ayahmulah yang membuat Ibu perlahan-lahan mulai melihat cahaya lagi."
"Kenapa Ayah?"
"Dia tidak pernah memaksa Ibu untuk bahagia. Dia tidak pernah bilang 'sudahlah ikhlasin' atau 'sudahlah lupakan' atau 'kamu harus kuat'. Dia cuma... dia cuma ada. Dia duduk di samping Ibu setiap malam. Dia memegang tangan Ibu tanpa bicara. Dia masak untuk Ibu meskipun masakannya tidak enak. Dia menjadi kuat untuk Ibu ketika Ibu tidak punya kekuatan sama sekali."
"Mungkin itu kenapa Ibu bertahan."
"Sekarang giliran kamu, Le. Sekarang giliran kamu yang harus bertahan untuk seseorang."
Arga menatap ibunya. "Maksud Ibu, buat Sekar?"
"Iya. Buat Sekar. Gadis itu baru kehilangan neneknya. Dia sendirian di rumah besar yang sunyi. Dia mungkin pura-pura kuat di depan kamu, tapi di dalam hatinya, dia hancur. Kamu harus menjadi ayahmu untuk dia. Menjadi kehadiran yang tidak memaksa. Menjadi tempat pulang yang tidak bertanya-tanya."
"Aku nggak tahu caranya, Bu."
"Nggak ada yang tahu, Le. Kamu belajar sambil berjalan. Kamu belajar sambil jatuh. Kamu belajar sambil sakit."
Arga menghela napas panjang. "Kadang aku takut, Bu."
"Takut apa?"
"Aku takut... aku takut aku tidak cukup. Buat dia. Buat Jatmika. Buat semua yang mengharapkan sesuatu dariku."
Sukmawati mengusap rambut Arga. "Kamu itu sudah lebih dari cukup, Le. Kamu tidak perlu menjadi sempurna. Kamu tidak perlu menjadi Jatmika. Kamu tidak perlu menjadi apa pun selain dirimu sendiri."
"Tapi Sekar—"
"Sekar jatuh cinta padamu, bukan pada Jatmika. Dia sendiri yang bilang begitu, kan? Di tepi sungai? Waktu Jatmika masih ada?"
Arga mengangguk pelan.
"Percaya padanya, Le. Percaya pada perasaannya. Percaya bahwa dia memilih kamu karena kamu, bukan karena siapa pun."
Arga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, memandang lantai dapur yang tanahnya sudah mengeras karena bertahun-tahun dipijak.
"Le," panggil Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Ibu mau titip pesan."
"Pesan apa?"
"Kalau suatu hari nanti kamu dan Sekar berpisah—bukan karena kamu tidak saling mencintai, tapi karena hidup membawa kalian ke arah yang berbeda—jangan pernah menyesal. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Jangan pernah menyalahkan dia. Karena cinta pertama memang tidak selalu abadi. Tapi cinta pertama selalu mengajarkan sesuatu."
"Ibu bicara seperti sudah merasakan."
Sukmawati tersenyum. Senyum yang misterius. Senyum yang menyimpan ribuan cerita yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.
"Semua orang pernah merasakan, Le. Ibu juga."
Sastro masuk ke dapur dengan langkah berat. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya masih acak-acakan, sarungnya masih melilit longgar di pinggang.
"Masak apa pagi-pagi begini? Kok belum nyalain api?" tanyanya.
"Masih ngobrol sama Arga," jawab Sukmawati.
"Ngobrol apa? Kok serius banget?"
"Tentang cinta."
Sastro mengerutkan kening. "Cinta? Jam segini?"
"Emang cinta kenapa kalau jam segini?"
"Ya nggak kenapa-kenapa. Cuma... aneh aja. Biasanya orang ngobrolin cinta malam-malam. Sambil lihat bulan."
"Kami lihat langit-langit dapur, cukup."
Sastro menggeleng. "Istriku aneh."
"Suamiku juga aneh."
Arga tersenyum melihat orang tuanya. Mereka tidak pernah mengucapkan kata cinta secara langsung. Tapi dari cara mereka bertengkar tentang hal-hal kecil, dari cara mereka saling menggoda di pagi hari, dari cara mereka duduk berdampingan tanpa bicara namun tetap terasa hangat, itulah cinta. Cinta yang sudah berumur puluhan tahun. Cinta yang sudah melewati badai dan kemarau dan banjir dan segalanya.
"Yah," panggil Arga.
"Apa?"
"Ayah sayang Ibu nggak?"
Sastro menatap istrinya. Sukmawati menatap balik. Mereka berdua tersenyum.
"Tanya yang nggak penting," jawab Sastro.
"Iya, nggak penting," timpal Sukmawati.
"Tapi Ayah jawab nggak?"
Sastro menghela napas. "Dasar anak SD."
"Sekarang sudah SMA, Yah."
"Ya sudah. SMA. Tapi pikiran masih kayak anak SD."
"Jawab dulu, Yah."
Sastro diam beberapa saat. Lalu dengan suara pelan, hampir seperti bisikan, ia berkata, "Iya. Ayah sayang Ibu. Sayang banget."
Sukmawati tersenyum. "Kamu kalau lagi ngomong jujur jangan diam-diam. Nanti anakmu kira kamu lagi marah."
"Biar. Biar dia tahu bagaimana rasanya jadi suami yang baik."
"Lalu kamu mengajari Arga jadi suami yang baik?"
"Siapa? Aku? Aku nggak bisa ngajar. Arga harus belajar sendiri."
"Tapi bisa dicontoh."
"Ya. Dia bisa lihat aku. Dan dia bisa lihat bagaimana aku memperlakukan istriku."
Arga melihat ayahnya. Laki-laki yang tidak pernah banyak bicara. Laki-laki yang keras di luar tapi lembut di dalam. Laki-laki yang memilih menunjukkan cinta melalui tindakan, bukan kata-kata.
"Makasih, Yah," kata Arga.
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah jadi contoh. Untuk aku."
Sastro tidak menjawab. Ia hanya menepuk bahu Arga. Keras. Sekali. Lalu ia pergi ke belakang rumah untuk mengambil air.
Setelah sarapan, Arga membantu ibunya mencuci piring di sumur belakang.
Airnya dingin. Sabun kelapanya berbusa tipis. Piring-piring tanah liat itu terasa berat di tangannya.
"Bu," panggil Arga sambil menggosok piring.
"Iya."
"Ibu tadi bilang, Ibu juga pernah merasakan cinta pertama. Cerita, dong."
Sukmawati tertawa. "Kepo banget, sih."
"Aku penasaran."
"Nggak ada yang menarik."
"Aku tetap mau dengar."
Sukmawati menghela napas. Ia mengambil piring yang sudah dicuci Arga, membilasnya dengan air bersih, lalu menaruhnya di rak bambu.
"Dulu, sebelum kenal ayahmu," Sukmawati mulai, "Ibu dekat dengan seorang laki-laki dari kota. Dia kesini waktu itu ikut pamannya yang berdagang. Ganteng. Pintar. Ramah. Banyak yang suka sama dia."
"Lalu?"
"Dia juga suka sama Ibu. Kita jalan beberapa bulan. Semua orang di desa ini tahu. Semua orang bilang kita cocok."
"Kenapa putus?"
"Karena dia harus kembali ke kota. Dan Ibu... Ibu nggak bisa ikut."
"Kenapa nggak bisa ikut?"
"Karena Ibu punya orang tua yang sudah tua. Karena Ibu punya tanggung jawab di sini. Karena Ibu pikir, cinta saja tidak cukup."
Arga berhenti menggosok piring. "Ibu menyesal?"
"Tidak. Awalnya iya. Ibu nangis berhari-hari. Rasanya dunia runtuh. Rasanya hidup ini nggak adil. Kenapa orang yang kita cintai harus pergi? Kenapa kita nggak bisa memilih untuk tetap bersama?"
"Tapi sekarang?"
"Sekarang Ibu bersyukur. Karena kalau Ibu ikut dia ke kota, Ibu nggak akan pernah ketemu ayahmu. Ibu nggak akan punya Jatmika. Ibu nggak akan punya kamu. Ibu nggak akan punya kehidupan yang sekarang."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ibunya. Mungkin memang benar. Mungkin kehilangan adalah cara hidup untuk mempertemukan kita dengan sesuatu yang lebih baik.
"Ibu," kata Arga lagi.
"Iya."
"Aku sayang sama Sekar, Bu. Tapi aku takut. Takut kalau aku nggak cukup. Takut kalau suatu hari dia pergi. Takut kalau hati aku hancur berkeping-keping kayak Ibu dulu."
"Maka biarkan hancur, Le. Karena dari kehancuran itulah kita belajar bahwa kita bisa bangkit lagi."
Siang itu, Arga pergi ke rumah Sekar.
Ia tidak membawa pisang goreng. Tidak membawa air kelapa. Tidak membawa apa pun selain dirinya sendiri.
Sekar membuka pintu. Matanya masih sembab, tapi senyumnya sudah sedikit lebih lebar dari kemarin.
"Hari ini bawa apa?" tanya Sekar.
"Nggak bawa apa-apa."
"Pisang gorengnya habis?"
"Bukan. Aku cuma... aku cuma mau ngobrol."
"Seriusan?"
"Serius."
Sekar mempersilakan Arga masuk. Mereka duduk di kursi bambu yang sama. Di meja yang sama. Di ruang yang sama.
"Kamu mau ngobrol tentang apa?" tanya Sekar.
"Tentang kita."
Sekar menegang. "Kita?"
"Iya. Tentang perasaan kita. Tentang masa depan. Tentang semua."
"Berat banget. Nggak ada pisang goreng sebagai pelumas?"
Arga tersenyum. "Maaf. Lupa."
"Pisang goreng itu penting, Arga. Urgensinya tinggi."
"Urgensi?"
"Iya. Pisang goreng itu simbol. Kamu bawa pisang goreng, artinya kamu peduli. Kamu nggak bawa pisang goreng, artinya kamu cuma datang buat ngomongin hal-hal berat yang bikin aku stress."
"Jadi kamu mau aku pulang ambil pisang goreng dulu?"
Sekar tertawa. "Nggak usah. Aku bercanda."
"Kamu bisa bercanda sekarang?"
"Ya. Aku belajar. Nenekku nggak suka kalau aku terlalu serius terus. Nenek bilang, 'Nduk, hidup itu butuh tawa, meskipun sedang susah'."
"Jadi kamu tertawa untuk nenekmu?"
"Sekarang? Iya. Untuk nenekku. Untuk Jatmika. Untuk diriku sendiri."
Arga menggenggam tangan Sekar. Sekar tidak menariknya.
"Sekar, aku mau bilang sesuatu."
"Jangan bilang kamu mau putus. Kita bahkan belum mulai pacaran."
"Bukan."
"Jangan bilang kamu mau pindah ke kota."
"Bukan."
"Jangan bilang kamu nggak sayang sama aku."
"Itu juga bukan."
"Lalu?"
Arga menarik napas panjang. "Aku sayang kamu, Sekar. Aku sayang banget. Dan aku nggak tahu harus ngapain dengan perasaan ini karena rasanya terlalu besar. Rasanya... rasanya seperti sungai yang meluap. Rasanya seperti hujan yang nggak berhenti-henti. Rasanya seperti angin yang nggak bisa aku lihat tapi aku rasakan di setiap bagian tubuhku."
Sekar diam. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga sayang kamu, Arga," bisiknya. "Tapi aku takut."
"Takut apa?"
"Aku takut perasaan ini berlebihan. Aku takut aku terlalu bergantung sama kamu. Aku takut suatu hari kamu lelah dan pergi, dan aku ditinggal sendiri lagi."
"Kamu nggak akan ditinggal sendiri."
"Kamu tidak tahu masa depan."
"Tapi aku tahu hari ini. Dan hari ini, aku memilih untuk bersama kamu."
Sekar menangis. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik tangannya yang gemetar. "Kamu ini... kenapa sih kamu selalu membuatku nangis?"
"Karena aku cinta, mungkin. Kata orang, cinta itu bikin nangis."
"Siapa yang bilang?"
"Aku. Baru saja."
"Kamu sok bijak lagi."
"Bukan sok bijak. Sok romantis."
Sekar tertawa di sela isaknya. Ia mengangkat wajah. Pipinya basah. Matanya merah. Tapi senyumnya—senyumnya membuat Arga merasa bahwa dunia ini tidak seburuk yang ia bayangkan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Arga terkesiap. "A—apa?"
"Kamu dengar. Aku nggak mau ulang."
"Kamu..."
"Aku nggak tahu cara yang benar untuk memulai sebuah hubungan. Tapi aku tahu, setelah nenekku meninggal, setelah Jatmika pergi, setelah semua kesedihan ini, kamu adalah satu-satunya orang yang membuat aku merasa tidak sendirian."
"Jadi?"
"Jadi, kamu mau nggak jadi pacarku? Formal. Resmi. Dengan status. Bukan cuma teman ngobrol di pinggir sungai atau teman anter pisang goreng."
Arga diam.
Ia tidak menyangka Sekar akan menjadi yang pertama mengucapkan kata-kata itu.
Ia pikir ia yang akan memulai.
Ia pikir ia yang harus berani.
Tapi ternyata Sekar—gadis yang baru kehilangan neneknya, gadis yang hatinya masih hancur berkeping-keping, gadis yang seharusnya masih dalam masa berkabung—justru lebih berani darinya.
"Kamu nggak jawab," kata Sekar. Wajahnya sedikit cemas. "Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Aku nggak maksa."
"Bukan," Arga cepat-cepat menjawab. "Bukan aku nggak mau. Tapi... kamu yakin? Kamu baru kehilangan nenekmu. Kamu masih berduka. Kamu nggak perlu terburu-buru."
"Aku tidak terburu-buru, Arga. Aku sudah memikirkan ini sejak lama. Sejak pertama kali kita bertemu di sungai. Sejak pertama kali kamu bilang bahwa angin bisa bicara."
"Itu cuma—"
"Aku tahu itu cuma guyonan. Tapi di matamu, saat itu, aku melihat sesuatu. Aku melihat bahwa kamu berbeda. Kamu tidak seperti laki-laki lain di desa ini. Kamu tidak hanya melihat fisik atau harta. Kamu melihat hatiku. Dan itu... itu membuatku jatuh cinta."
Arga tidak bisa berkata-kata.
"Jadi," Sekar tersenyum, "kamu mau jawab pertanyaanku, atau aku harus ulang?"
Arga menggenggam tangan Sekar lebih erat. "Iya. Aku mau."
"Mau apa?"
"Mau jadi pacarmu."
"Serius? Nggak batal? Nggak berubah pikiran besok?"
"Nggak. Serius. Janji."
"Janji di mana? Di atas pisang goreng?"
Arga tertawa. "Di atas semua pisang goreng yang pernah aku bawa."
Mereka berdua tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang tulus. Tawa yang membuat rumah tua yang dingin itu terasa seperti rumah lagi—bukan karena ajaib, tapi karena dua orang di dalamnya sedang berbagi kebahagiaan.
"Kita sekarang pacaran," kata Sekar seolah tidak percaya.
"Iya. Kita pacaran."
"Kelihatannya tidak nyata."
"Memang tidak nyata. Tapi ini benar-benar terjadi."
"Aku takut ini mimpi."
"Cubit aku, nanti kamu tahu."
Sekar mencubit lengan Arga. Kencang.
"Aduh!"
"Nyeri?"
"Nyeri banget. Berarti ini bukan mimpi."
"Bagus."
Arga mengusap lengannya yang memerah. "Kamu sadis, Sekar."
"Kamu yang nyuruh."
"Tapi nggak sekencang itu."
"Lain kali lebih pelan."
"Nggak usah ada lain kali. Cukup sekali."
"Kamu nggak pengalaman pacaran?"
"Belum pernah."
"Aku juga belum."
"Jadi kita belajar bareng?"
"Belajar bareng. Setuju."
Mereka berdua terdiam. Bukan diam yang canggung. Bukan diam yang dingin. Tapi diam yang hangat. Diam yang penuh dengan janji-janji yang tidak diucapkan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya?"
"Aku nggak tahu bagaimana cara menjadi pacar yang baik."
"Aku juga tidak tahu."
"Tapi kita bisa belajar, kan?"
"Iya. Kita bisa belajar."
"Kita akan sering marah?"
"Mungkin."
"Kita akan sering bertengkar?"
"Bisa jadi."
"Kita akan sering cemburu?"
"Pasti."
"Lalu kenapa kita tetap mau?"
Arga menatap Sekar. Dalam. Lama. Penuh arti.
"Karena aku memilih kamu, Sekar. Bukan karena kamu sempurna. Bukan karena kamu tidak punya kekurangan. Tapi karena aku mencintai semua bagian dirimu. Yang bahagia. Yang sedih. Yang lucu. Yang menyebalkan. Semuanya."
Sekar tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia berikan pada siapa pun.
"Kamu tahu, Arga, aku juga memilih kamu. Dengan cara yang sama."
Sore itu, Arga pulang dengan hati yang penuh.
Ia tidak sabar ingin memberi tahu ibunya bahwa ia sekarang punya pacar.
Tapi ketika ia sampai di rumah, ia melihat Sukmawati duduk di beranda sendirian. Wajahnya tenang. Damai. Seperti orang yang baru saja selesai berdoa.
"Bu," panggil Arga.
Sukmawati menoleh. "Kamu baru pulang?"
"Iya, Bu."
"Dari rumah Sekar?"
"Iya."
"Bagaimana?"
"Kami... kami pacaran, Bu."
Sukmawati tidak terkejut. Ia tersenyum. "Ibu tahu."
"Tahu? Dari mana?"
"Ibu tahu dari matamu. Waktu kamu pergi tadi pagi, matamu gelisah. Sekarang matamu bersinar. Pasti ada yang baik terjadi."
"Ibu hebat."
"Ibu doain kamu setiap hari, Le. Setiap malam. Bahkan sebelum kamu lahir, Ibu sudah berdoa untukmu."
Arga duduk di samping ibunya. "Ibu doa apa?"
"Ibu berdoa, semoga kamu tumbuh menjadi anak yang baik. Semoga kamu sehat. Semoga kamu bahagia. Semoga kamu menemukan seseorang yang mencintaimu dengan tulus."
"Sekarang Ibu lihat, doa Ibu terkabul?"
"Belum sepenuhnya. Masih ada satu doa lagi yang Ibu panjatkan setiap malam."
"Doa apa?"
Sukmawati menatap Arga. "Semoga kamu kuat."
"Kuat?"
"Iya. Kuat menghadapi apa pun yang akan terjadi. Kuat saat bahagia, kuat saat sedih. Kuat saat semuanya berjalan lancar, kuat saat semuanya terasa runtuh."
Arga menggenggam tangan ibunya. "Aku akan berusaha kuat, Bu."
"Ibu tahu. Ibu percaya."
Malam itu, di kamarnya, Arga berbaring sambil memandang langit-langit.
Ia teringat kata-kata ibunya. Doa. Kekuatan. Keberanian.
Ia teringat wajah Sekar. Senyumnya. Tangisnya. Tatapannya.
Ia teringat Jatmika. Kakak yang tidak pernah ia kenal tapi selalu ia rasakan kehadirannya.
Ia teringat semua yang terjadi, kelahiran yang aneh, masa kecil yang sunyi, pertemuan dengan Sekar, pengakuan Jatmika, kematian Mbok Raras, dan sekarang... cinta.
Cinta yang membuatnya merasa hidup.
Cinta yang membuatnya ingin bertahan.
Cinta yang membuatnya percaya bahwa segala sesuatu terjadi karena alasan.
"Semoga doa Ibu terkabul," bisiknya. "Semoga aku kuat."
Di luar, angin malam berembus lembut. Bintang-bintang bersinar terang. Dan di rumah tua di ujung desa, Sekar juga sedang berdoa—untuk dirinya sendiri, untuk Arga, untuk masa depan yang belum pasti tapi tetap ingin ia jalani bersama.
BAB 44
SURAT YANG HILANG
Tiga bulan setelah kematian Mbok Raras, rumah tua di ujung desa itu akhirnya mulai terasa seperti rumah lagi bagi Sekar.
Bukan karena dindingnya berubah. Bukan karena atapnya diperbaiki. Bukan karena halamannya ditumbuhi bunga-bunga baru. Tapi karena Sekar perlahan-lahan belajar untuk mengisi kekosongan itu dengan kehadirannya sendiri, dengan langkah kakinya yang berderit di lantai kayu setiap pagi, dengan suaranya yang sesekali bersenandung saat memasak di dapur, dengan tawanya yang mulai terdengar lagi ketika Arga datang membawa pisang goreng.
Tiga bulan.
Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun.
Tiga bulan yang penuh dengan air mata, tawa, kehilangan, dan harapan.
Arga datang hampir setiap hari. Kadang pagi. Kadang sore. Kadang hanya sebentar. Kadang berjam-jam. Ia membantu Sekar membersihkan rumah, memperbaiki pagar yang reot, menanam bunga di halaman depan, bunga kenanga, karena itu adalah bunga kesukaan Mbok Raras.
“Kamu nggak capek?” tanya Sekar suatu sore ketika mereka duduk di teras, memandang matahari yang mulai tenggelam.
“Capek apa?” jawab Arga sambil mengusap keringat di dahinya.
“Setiap hari ke sini. Bantu ini. Bantu itu. Pulang-pulang badanmu pasti pegal.”
Arga tersenyum. “Aku nggak pegal. Aku terbiasa.”
“Kamu memang aneh.”
“Kamu juga.”
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil yang hangat, yang membuat rumah tua itu terasa tidak terlalu sepi.
“Arga,” panggil Sekar setelah tawa mereka reda.
“Iya.”
“Aku mau cerita sesuatu.”
“Cerita apa?”
Sekar menarik napas panjang. “Dua minggu yang lalu, aku menerima surat dari orang tuaku.”
Arga menegang. “Surat? Isinya apa?”
“Biasa. Mereka bilang mereka baik-baik saja. Mereka bertanya kabarku. Mereka bilang mereka mengirim uang untuk biaya hidup bulan ini.”
“Pertama kali mereka bertanya kabarmu,” kata Arga pelan.
“Iya. Aku juga kaget. Biasanya mereka hanya bilang, 'Kami kirim uang. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri. Jaga kesehatan.' Itu saja. Nggak pernah lebih.”
“Tapi surat yang ini berbeda?”
Sekar mengangguk. “Mereka bertanya apakah aku baik-baik saja. Mereka bilang mereka dengar kabar tentang meninggalnya nenek. Mereka minta maaf tidak bisa pulang karena pekerjaan sedang banyak.”
“Lalu?”
“Lalu mereka bilang... mereka bilang mereka merindukanku.”
Kalimat itu sederhana. Tapi bagi Sekar, yang sudah bertahun-tahun tidak mendengar kata "rindu" dari orang tuanya, kalimat itu terasa seperti tamparan sekaligus pelukan.
Arga menggenggam tangan Sekar. “Kamu senang?”
Sekar menghela napas. “Aku tidak tahu, Arga. Aku bingung. Aku marah. Aku sedih. Aku senang. Semuanya campur aduk.”
“Kamu punya hak untuk merasa semua itu.”
“Tapi aku nggak tahu harus balas apa.”
“Kamu tidak perlu terburu-buru. Pikirkan dulu. Tulis ketika kamu sudah siap.”
Sekar menatap Arga. “Kamu selalu bilang begitu.”
“Karena itu benar. Jangan pernah memaksakan diri untuk sesuatu yang belum siap.”
Malam itu, Sekar duduk di kamar neneknya.
Ia membuka lemari tua tempat neneknya menyimpan barang-barang berharga. Di dalamnya, ada foto-foto lama, perhiasan sederhana dari perak, dan sebuah kotak kayu kecil berisi surat-surat dari orang tuanya, surat-surat yang ia terima selama bertahun-tahun, sejak mereka pergi ke kota.
Ia mengambil tumpukan surat itu.
Surat pertama, dari sepuluh tahun lalu.
“Untuk anakku, Sekar,” begitu bunyi surat itu. “Kami sudah sampai di kota. Pekerjaan masih belum jelas. Tapi kami akan berusaha. Jaga nenekmu. Jangan nakal. Kami akan pulang ketika sudah punya uang banyak.”
Surat kedua, dari sembilan tahun lalu.
“Untuk Sekar. Kami masih belum bisa pulang. Tapi kami kirim uang. Belikan baju baru untukmu. Jangan lupa sekolah yang rajin.”
Surat ketiga, keempat, kelima, semua hampir sama. Berita tentang pekerjaan, tentang uang, tentang harapan untuk pulang yang tidak pernah terwujud.
Sekar membaca satu per satu.
Air matanya mulai jatuh.
Bukan karena sedih.
Tapi karena ia baru menyadari sesuatu.
Selama bertahun-tahun, ia membenci orang tuanya. Ia merasa mereka tidak peduli. Ia merasa mereka lebih memilih uang daripada dirinya. Ia merasa mereka melupakannya.
Tapi surat-surat ini berkata lain.
Di setiap surat, selalu ada kalimat yang sama di bagian akhir:
“Kami sayang kamu, Sekar. Jaga diri baik-baik.”
Mungkin mereka benar-benar sayang.
Mungkin mereka benar-benar berusaha.
Mungkin mereka benar-benar ingin pulang, tapi tidak bisa.
Mungkin mereka benar-benar rindu.
Tapi itu tidak cukup.
Rindu tidak cukup kalau tidak dibuktikan dengan kehadiran.
Sayang tidak cukup kalau tidak dibuktikan dengan tindakan.
“Nek,” bisik Sekar pada foto neneknya yang tersenyum dari balik pigura kayu. “Aku harus balas surat ini. Tapi aku nggak tahu harus bilang apa. Aku nggak bisa bilang aku rindu, karena aku masih marah. Aku nggak bisa bilang aku sayang, karena aku masih kecewa. Aku nggak bisa bilang aku maafkan mereka, karena aku belum bisa memaafkan.”
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Seperti ada tangan tak terlihat yang mengusap kepalanya.
Seperti ada suara lembut yang berkata, “Tulis saja apa yang kamu rasa, Nduk. Jujur. Tidak perlu pura-pura baik. Tidak perlu pura-pura kuat. Menulis adalah cara untuk menyembuhkan luka.”
Sekar mengambil kertas dan pulpen.
Ia mulai menulis.
“Kepada Bapak dan Ibu,” tulisnya.
“Surat kalian saya terima. Saya turut berduka atas meninggalnya nenek, sama seperti kalian, meskipun kalian tidak ada di sini untuk merasakannya bersama saya.”
“Saya baik-baik saja. Saya masih tinggal di rumah ini. Saya masih dikelilingi oleh kenangan tentang nenek, tentang masa kecil, tentang semua yang telah saya lalui tanpa kalian.”
“Saya tidak marah kepada kalian. Tapi saya juga tidak bisa berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja. Kalian tidak ada ketika saya membutuhkan kalian. Dan sekarang, saya sudah terbiasa hidup tanpa kalian.”
“Saya punya Arga. Saya punya teman-teman. Saya punya kehidupan yang saya bangun sendiri tanpa bantuan kalian.”
“Saya tidak akan memutus hubungan. Tapi jangan harap saya akan pulang ke kota hanya karena kalian bilang ‘tidak ada masa depan di desa’. Masa depan saya ada di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Di samping orang-orang yang benar-benar peduli pada saya.”
“Sekar.”
Sekar meletakkan pulpen.
Tangannya gemetar.
Matanya basah.
Tapi dadanya terasa lega, lega seperti setelah menangis lama, lepas dari beban yang selama ini dipanggul sendirian.
Keesokan paginya, Sekar mengirim surat itu melalui Pak Pos.
Ia tidak mengatakan pada Arga.
Ia tidak mengatakan pada siapa pun.
Ia ingin menyimpannya sendiri dulu. Sebagai rahasia kecil. Sebagai langkah kecil menuju penyembuhan yang tidak perlu diketahui orang lain.
Tapi sebulan kemudian, surat balasan datang.
Sekar menerimanya dengan tangan gemetar.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Kertas di dalamnya berwarna putih, dilipat rapi, dengan tulisan tangan ibunya yang rapi, tulisan yang sudah tidak pernah ia lihat sejak bertahun-tahun lalu, karena surat-surat sebelumnya selalu diketik, bukan ditulis tangan.
“Untuk Sekar, anakku,” begitu bunyi surat itu.
“Kami menerima suratmu. Kami menangis membacanya. Bukan karena sedih. Tapi karena kami baru menyadari bahwa selama ini kami terlalu sibuk mencari uang, terlalu sibuk memikirkan masa depan, terlalu sibuk bekerja, sehingga kami lupa bahwa masa depan itu adalah kamu.”
“Kami tidak akan memaksamu pindah ke kota. Kami tidak akan menjual rumah nenekmu. Itu adalah hakmu. Itu adalah warisanmu. Kami tidak berhak mengambilnya.”
“Tapi kami ingin kamu tahu, Sekar. Kami sayang kamu. Kami rindu kamu. Kami ingin pulang. Tapi kami belum tahu caranya. Bantu kami, Nak. Bantu kami untuk kembali menjadi orang tuamu yang sesungguhnya.”
Sekar menangis.
Ia tidak bisa menahan air matanya.
Air mata yang keluar dari hati yang penuh dengan rasa, marah, sedih, kecewa, rindu, sayang—semua bercampur menjadi satu.
Siang itu, Arga datang dengan pisang goreng.
Ia langsung melihat wajah Sekar yang merah dan basah.
“Kamu nangis?” tanyanya.
Sekar mengangguk.
“Kenapa?”
Sekar menyerahkan surat itu.
Arga membacanya perlahan. Matanya bergerak dari baris pertama hingga terakhir.
Setelah selesai, ia memandang Sekar.
“Kamu senang?”
“Aku nggak tahu, Arga. Aku bingung. Aku nggak pernah menyangka mereka akan menulis seperti ini.”
“Mereka berubah.”
“Atau mungkin mereka memang begitu dari awal. Aku yang terlalu sibuk marah untuk melihatnya.”
Arga duduk di samping Sekar. “Tidak, Sekar. Kamu berhak marah. Kamu berhak kecewa. Kamu berhak merasa apa pun yang kamu rasa. Jangan salahkan diri sendiri.”
“Tapi—“
“Tidak ada tapi. Perasaanmu valid. Dan mereka juga berhak berusaha memperbaiki kesalahan. Yang terpenting, sekarang kamu tahu. Kamu tahu bahwa mereka sayang kamu. Kamu tahu bahwa mereka ingin berubah. Sekarang, tinggal keputusanmu. Apakah kamu akan memberi mereka kesempatan, atau tidak.”
Sekar menatap Arga. “Kamu selalu bijak.”
“Aku tidak bijak. Aku hanya peduli padamu.”
“Itu sama saja.”
“Tidak. Orang bijak bisa memberi nasihat untuk siapa saja. Aku hanya bisa memberi nasihat untukmu.”
Sekar tersenyum. Senyum kecil yang membuat Arga merasa lega.
Tiga minggu setelah surat itu, Sekar belum membalas.
Ia masih berpikir.
Masih merenung.
Masih berusaha memaafkan.
Tapi setiap kali ia ingin menulis, tangannya terasa berat.
Setiap kali ia ingin mengucapkan kata "maaf", mulutnya terasa kaku.
Setiap kali ia ingin mengatakan "aku sayang", hatinya terasa sesak.
“Mungkin aku belum siap,” bisiknya pada Arga suatu sore.
“Tidak apa. Jangan paksa diri.”
“Tapi mereka menunggu.”
“Biarkan mereka menunggu. Seperti dulu kamu menunggu mereka.”
Sekar terdiam.
Kata-kata Arga menusuk.
Tapi benar.
Dulu, ia menunggu bertahun-tahun.
Sekarang, giliran orang tuanya yang menunggu.
Bukan karena balas dendam.
Bukan karena sakit hati.
Tapi karena ia butuh waktu.
Ia butuh waktu untuk menyembuhkan lukanya sebelum bisa membuka pintu lagi.
Malam itu, Sekar bermimpi tentang neneknya.
Mbok Raras duduk di kursi bambu di teras rumah, tersenyum padanya.
“Nek,” panggil Sekar dalam mimpi. “Aku masih marah sama mereka. Aku belum bisa memaafkan.”
“Tidak apa, Nduk,” jawab Mbok Raras. “Memaafkan butuh waktu. Kamu tidak harus terburu-buru.”
“Tapi aku takut kalau aku terlalu lama, mereka akan pergi lagi.”
“Kalau mereka benar-benar ingin berubah, mereka akan menunggu. Kalau mereka tidak menunggu, berarti mereka tidak benar-benar berubah.”
Sekar menangis dalam mimpi. “Aku rindu kamu, Nek.”
“Nenek juga rindu kamu. Tapi nenek sudah tenang di sini. Nenek melihat kamu. Nenek melihat Arga. Nenek melihat kalian berdua bersama. Itu sudah cukup.”
Mbok Raras tersenyum.
Lalu menghilang.
Sekar terbangun dengan pipi basah.
Keesokan harinya, Sekar memutuskan untuk menulis surat balasan.
Ia mengambil kertas dan pulpen.
Ia menarik napas panjang.
Lalu mulai menulis.
“Kepada Bapak dan Ibu,” tulisnya.
“Surat kalian saya terima. Saya menangis membacanya. Bukan karena sedih. Tapi karena saya baru menyadari bahwa selama ini, saya juga terlalu sibuk marah. Terlalu sibuk kecewa. Terlalu sibuk merasa dikhianati, sehingga saya lupa bahwa kalian juga manusia. Kalian juga bisa salah. Kalian juga bisa berubah.”
“Saya belum bisa memaafkan kalian sepenuhnya. Saya masih butuh waktu. Tapi saya tidak akan menutup pintu. Saya tidak akan mengatakan bahwa saya tidak butuh kalian. Karena saya butuh. Saya butuh orang tua. Saya butuh keluarga. Saya butuh kalian, meskipun saya marah.”
“Saya tidak akan pindah ke kota. Saya akan tetap tinggal di desa ini. Di rumah ini. Di samping Arga. Di samping kenangan tentang nenek. Tapi kalian bisa datang kapan saja. Kalian bisa pulang kapan saja. Pintu ini tidak akan pernah terkunci untuk kalian.”
“Sekar.”
Sekar melipat surat itu.
Ia memasukkannya ke dalam amplop.
Ia menulis alamat orang tuanya di kota.
“Besok aku akan kirim,” bisiknya pada foto neneknya. “Doakan aku, Nek. Doakan agar aku kuat. Doakan agar aku bisa memaafkan. Doakan agar kami bisa menjadi keluarga yang utuh lagi.”
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang terbuka.
Malam itu, di rumahnya, Arga juga menulis surat.
Bukan untuk Sekar.
Tapi untuk Jatmika.
Ia tidak tahu apakah surat itu akan sampai.
Ia tidak tahu apakah Jatmika bisa membacanya.
Tapi ia harus menulis.
Ia harus mengatakan sesuatu.
“Untuk Jatmika, kakak yang tidak sempat aku kenal.”
“Hari ini, Sekar mendapat surat dari orang tuanya. Mereka bilang mereka sayang dia. Mereka bilang mereka rindu dia. Mereka bilang mereka ingin pulang.”
“Aku senang untuk Sekar. Tapi aku juga sedih. Karena aku tidak akan pernah mendapat surat seperti itu dari kamu. Kamu sudah pergi. Kamu tidak akan pernah kembali. Dan aku hanya bisa mengingatmu dari cerita orang lain, dari bayangan yang muncul di sungai, dari suara angin yang kadang memanggil namamu.”
“Tapi aku tidak marah. Aku tidak kecewa. Aku hanya merindukanmu, meskipun aku tidak pernah mengenalmu.”
“Jatmika, aku akan menjaga Sekar. Aku akan menjaga ibu dan ayah. Aku akan menjaga semua yang kamu tinggalkan. Janji.”
“Dari Arga, adikmu.”
Ia melipat surat itu.
Ia menyimpannya di dalam lemari, di samping bantal kecil dari kebaya Sekar.
Di luar, angin malam berembus lembut.
Membawa aroma sungai.
Membawa harapan.
Membawa doa.
Dan di kejauhan, seolah ada suara kecil yang berkata, “Aku tahu, Le. Aku percaya padamu.”
Arga tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa bahwa Jatmika benar-benar telah pergi.
Bukan karena ia tidak ingin diingat.
Tapi karena ia sudah tenang.
Ia sudah ikhlas.
Ia sudah siap untuk melanjutkan perjalanannya di alam sana.
Malam semakin larut.
Arga berbaring di dipan bambu, memandang langit-langit rumah yang gelap.
Ia teringat pada semua yang terjadi.
Kelahirannya yang aneh.
Masa kecilnya yang sunyi.
Pertemuan dengan Sekar.
Rahasia tentang Jatmika.
Kematian Mbok Raras.
Surat-surat dari orang tua Sekar.
Semua terasa seperti mimpi.
Mimpi yang panjang.
Mimpi yang kadang indah, kadang menyakitkan.
Tapi mimpi yang tidak ingin ia bangun.
“Tuhan,” bisiknya, “aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu apakah Sekar akan benar-benar berdamai dengan orang tuanya. Aku tidak tahu apakah kami akan bersama selamanya. Tapi aku bersyukur. Aku bersyukur atas semua yang telah terjadi. Atas semua yang telah kualami. Atas semua yang telah kulewati.”
Ia memejamkan mata.
“Dan aku berdoa,” lanjutnya, “beri aku kekuatan. Beri Sekar kekuatan. Beri kami keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan datang. Karena aku tidak ingin kehilangan dia. Aku tidak ingin kehilangan siapa pun lagi.”
Hening.
Hanya suara jangkrik.
Hanya suara angin.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Damai.
Damai yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Damai yang hanya bisa dirasakan oleh hati yang sudah berdamai dengan masa lalunya.
BAB 45
LANGKAH PERTAMA
Seminggu setelah surat itu dikirim, Sekar belum mendapat balasan dari orang tuanya.
Tidak ada kabar. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan melalui siapa pun. Hanya keheningan yang mencekam, seperti saat-saat setelah ia memberi tahu neneknya bahwa ia melihat Jatmika di pinggir sungai, seperti saat-saat setelah Jatmika meninggal dan semua orang di desa ini tiba-tiba lupa cara tersenyum.
Tapi Sekar berusaha tidak terlalu memikirkannya.
Ia sibuk. Sibuk membersihkan rumah. Sibuk merapikan kebun kecil di belakang yang dulu ditanami neneknya dengan cabai dan tomat dan terong. Sibuk belajar masak dari Sukmawati yang dengan sabar mengajarinya resep-resep sederhana. Sibuk menemani Arga ke sawah, duduk di pematang sambil membaca buku atau sekadar menatap langit.
Rutinitas.
Kesibukan.
Hal-hal kecil yang mengisi waktu.
Hal-hal kecil yang membuatnya tidak terlalu tenggelam dalam kecemasan.
Pagi itu, langit cerah. Matahari bersinar terik. Sawah di belakang rumah Arga menguning keemasan—tanda bahwa panen akan segera tiba.
Arga berdiri di beranda rumahnya, memandang ke arah timur, ke arah rumah Sekar yang terletak di ujung desa. Ia sudah janji akan menjemput Sekar untuk pergi ke pasar membeli bibit sayur. Tapi entah mengapa, dadanya terasa tidak enak sejak bangun tidur.
"Kamu kenapa, Le?" tanya Sukmawati yang keluar membawa sapu lidi.
"Enggak tahu, Bu. Dadaku sesak."
"Jangan-jangan kamu sakit."
"Bukan sakit. Lebih kayak... firasat."
Sukmawati menghentikan sapuannya. "Firasat apa?"
"Enggak tahu, Bu. Tapi rasanya tidak enak."
"Kamu doa, Le. Sebelum berangkat. Mohon perlindungan sama Tuhan."
Arga mengangguk. Ia masuk ke dalam rumah, mengambil air wudhu, lalu melaksanakan salat dua rakaat. Bukan karena ia orang yang rajin salat. Tapi karena ibunya pernah bilang, ketika hati gelisah, tidak ada yang lebih menenangkan selain bicara dengan Tuhan.
Setelah selesai, ia merasa sedikit lebih tenang.
Ia pamit pada ibunya, lalu berjalan menuju rumah Sekar.
Sekar sudah berdiri di depan pagar ketika Arga tiba. Wajahnya pucat. Matanya merah. Tangannya memegang selembar kertas yang tampak kusut—seperti sudah dibaca berulang kali, seperti sudah diremas dan dibuka lagi, seperti sudah ditangisi dan dikeringkan dan ditangisi lagi.
"Apa itu?" tanya Arga, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak.
"Surat balasan dari orang tuaku," jawab Sekar datar.
"Boleh aku baca?"
Sekar menyerahkan surat itu tanpa bicara.
Arga membacanya.
"Kepada anak kami, Sekar," begitu bunyi surat itu. "Kami menerima suratmu. Kami kecewa. Kami sudah bekerja keras bertahun-tahun untukmu. Kami mengirim uang setiap bulan. Kami memikirkan masa depanmu. Tapi kamu lebih memilih tinggal di desa itu bersama laki-laki yang tidak jelas statusnya."
"Kami tetap akan menjual tanah itu. Dengan atau tanpa persetujuanmu. Karena kami orang tuamu. Kami punya hak. Kalau kamu tidak mau pindah ke kota, setidaknya kamu harus menerima kenyataan bahwa rumah itu bukan lagi milikmu."
"Kami tidak akan datang ke pemakaman nenekmu. Kami sudah mengirim uang untuk biayanya. Itu sudah cukup. Jangan pernah menghubungi kami lagi kalau kamu tidak mau menurut."
Arga merasakan tangannya gemetar.
Surat itu dingin.
Surat itu kejam.
Surat itu seperti tamparan di wajah Sekar yang baru saja kehilangan neneknya, yang baru saja mulai menemukan kebahagiaan, yang baru saja belajar untuk tersenyum lagi.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Arga.
Sekar tertawa pahit. "Apa kamu lihat aku baik-baik saja?"
"Maaf. Aku salah nanya."
"Sudah, Arga. Aku nggak mau bahas surat itu. Aku nggak mau bahas orang tuaku. Aku mau ke pasar. Aku mau beli bibit sayur. Aku mau tanam. Aku mau sibuk."
"Tapi—"
"Sudah, Arga. Tolong. Aku nggak mau nangis lagi hari ini."
Mereka berjalan ke pasar dalam diam.
Sekar berjalan cepat, seperti ingin meninggalkan sesuatu—mungkin surat itu, mungkin masa lalu, mungkin semua kenangan pahit yang terus menghantuinya. Arga berjalan di sampingnya, tidak berani bicara, tidak berani menyentuh, hanya berusaha hadir.
Pasar desa Wringinrejo tidak besar. Hanya puluhan lapak yang terbuat dari bambu dan terpal, berjejer di sepanjang jalan tanah yang becek di musim hujan dan berdebu di musim kemarau.
Sekar berhenti di lapak nenek Somad yang menjual bibit sayur. Ia memilih bibit cabai, tomat, terong, dan bayam. Ia tawar-menawar dengan suara datar. Ia membayar dengan uang yang diambil dari saku celananya. Ia memasukkan bibit-bibit itu ke dalam keranjang bambu yang dibawanya.
Arga hanya memperhatikan dari belakang.
Ia melihat Sekar yang berusaha keras terlihat normal. Ia melihat bahu Sekar yang sesekali bergetar kecil. Ia melihat tangan Sekar yang gemetar saat memegang uang.
"Kamu nggak usah belanja banyak-banyak," kata Arga akhirnya.
"Kenapa?"
"Nanti kamu kelelahan."
"Aku sudah biasa. Nenek dulu sering mengajakku ke pasar."
"Tapi nenekmu sudah, "
"Aku tahu, Arga! Aku tahu nenekku sudah meninggal! Aku tahu aku sekarang sendirian! Aku tahu orang tuaku tidak peduli! Aku tahu semuanya! Kamu nggak perlu mengingatkanku!"
Sekar membentak.
Beberapa orang di pasar menoleh. Ada yang mengerutkan kening. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang hanya menggeleng.
Arga tidak marah. Ia hanya diam, menatap Sekar yang kini menunduk, bahunya naik turun, dadanya naik turun, seperti sedang berusaha mengatur napas yang kacau.
"Maaf," bisik Sekar. "Maaf, Arga. Aku nggak bermaksud, "
"Nggak apa-apa," potong Arga pelan. "Kamu boleh marah. Kamu boleh bentak aku. Aku nggak akan pergi."
"Tapi, "
"Kamu bilang aku aneh, kan? Iya, aku aneh. Aku aneh karena aku bisa menerima kamu dalam keadaan marah sekalipun."
Sekar menangis.
Di tengah pasar.
Di depan banyak orang.
Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. Ia menangis seperti seseorang yang sudah terlalu lama menahan semuanya sendirian.
Arga memeluknya.
Diam-diam.
Tanpa kata-kata.
Beberapa orang di pasar mendekat, ingin membantu, ingin bertanya. Tapi Arga hanya menggeleng. Ia tidak butuh bantuan. Ia hanya butuh hadir untuk Sekar. Dan Sekar hanya butuh seseorang yang tidak pergi ketika segalanya terasa hancur.
"Sudah," bisik Arga. "Sudah, Sekar. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Sekar memeluk Arga erat. Wajahnya basah. Hidungnya mampet. Suaranya parau. "Aku takut, Arga. Aku takut rumah itu benar-benar dijual. Aku takut kehilangan satu-satunya tempat yang masih terasa seperti rumah."
"Kamu tidak akan kehilangan, Sekar. Karena rumah bukan hanya tembok dan genteng. Rumah juga orang-orang yang kamu cintai."
"Tapi, "
"Aku. Ibuku. Ayahku. Mereka akan menjadi rumahmu kalau rumah ini benar-benar hilang."
"Kamu serius?"
"Aku tidak pernah main-main, Sekar. Apalagi soal kamu."
Setelah Sekar cukup tenang, mereka pulang dari pasar.
Perjalanan pulang terasa lebih lambat. Mungkin karena kaki mereka lelah. Mungkin karena hati mereka berat. Mungkin karena mereka tidak ingin segera berpisah, karena di rumah Sekar ada surat-surat dingin yang menunggu, sementara di rumah Arga ada kehangatan yang belum tentu bisa ia tawarkan pada Sekar untuk selamanya.
"Sekar," panggil Arga.
"Iya."
"Aku sudah bicara dengan Ayah dan Ibu tentang rumah ini."
"Bicara apa?"
"Mereka bilang, kalau rumah ini benar-benar dijual, kamu bisa tinggal dengan kami."
Sekar berhenti berjalan. "Apa?"
"Kamu dengar. Kamu bisa tinggal dengan kami. Kamu bisa tidur di kamar tamu. Kamu bisa makan bersama kami. Kamu bisa belajar masak dari Ibuku. Kamu bisa membantu Ayahku di sawah. Kamu bisa,"
"Arga, berhenti."
Arga berhenti bicara.
"Kamu nggak bisa seenaknya ngajak perempuan tinggal serumah. Nanti orang desa ngomong."
"Biarkan mereka ngomong."
"Kamu nggak takut?
"Takut apa? Malu? Desas-desus? Aku sudah hidup dengan desas-desus sejak lahir, Sekar. Kata orang, aku anak aneh. Kata orang, aku anak yang lahir dengan pertanda aneh. Kata orang, aku anak yang bisa melihat hal-hal yang tidak seharusnya dilihat."
"Dan?"
"Dan sekarang mereka tambah satu: Arga anak yang nekat ngajak pacarnya tinggal serumah. Biar saja. Selama kamu tidak kehilangan tempat tinggal, aku rela."
Sekar terdiam. Ia menatap Arga. Laki-laki di depannya ini, yang dulu ia kenal sebagai pemuda pendiam yang suka duduk di tepi sungai, yang dulu ia kenal sebagai seseorang yang aneh dan misterius—kini berbicara dengan penuh keyakinan. Seperti orang yang sudah tidak peduli dengan apa kata dunia.
"Sekar," kata Arga lagi.
"Iya."
"Aku nggak mau kamu menganggur. Aku nggak mau kamu cuma diam di rumah sambil memikirkan surat-surat itu. Ayo, kita tanam bibit-bibit yang kamu beli tadi."
"Di mana?"
"Di belakang rumahku. Ibu sudah menyiapkan lahan kecil. Katanya, kamu bisa gunakan untuk berkebun."
"Kenapa Ibu mau?"
"Karena Ibu sayang sama kamu."
"Masa sih?"
"Iya. Ibu bilang, 'Sekar itu gadis baik. Dia cuma butuh kesempatan.'"
Sekar tersenyum. Senyum pertama setelah membaca surat dingin dari orang tuanya. Senyum yang membuat Arga merasa bahwa usahanya tidak sia-sia.
Mereka berdua menanam bibit-bibit sayur di belakang rumah Arga.
Tanah di sana gembur, subur, karena setiap pagi Sukmawati menyiramnya dengan air bekas cucian beras. Matahari sore tidak terlalu terik. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa aroma rumput dan tanah basah.
Sekar membungkuk, membuat lubang kecil dengan jarinya, lalu memasukkan bibit tomat ke dalamnya. Arga duduk di sampingnya, kadang membantu, kadang hanya memperhatikan.
"Arga," panggil Sekar.
"Iya."
"Aku nggak tahu harus balas surat itu atau tidak."
"Jangan dibalas."
"Kenapa?"
"Karena surat itu tidak pantas mendapat jawaban. Mereka tidak bertanya kabarmu. Mereka tidak peduli perasaanmu. Mereka hanya memberi perintah. Dan perintah tidak perlu dijawab."
"Tapi mereka orang tuaku."
"Ya. Tapi mereka juga sudah memilih untuk tidak menjadi orang tua yang bertanggung jawab. Kamu tidak punya kewajiban untuk selalu patuh pada orang yang tidak pernah hadir untukmu."
Sekar berhenti menanam. Ia menatap Arga.
"Kamu bicara seperti orang yang sudah sangat dewasa."
"Aku cuma bicara jujur."
"Jujur itu kadang menyakitkan."
"Memang. Tapi lebih baik sakit karena jujur daripada sakit karena terus-terusan dibohongi."
Sekar menghela napas. "Kadang aku iri sama kamu."
"Iri kenapa?"
"Kamu punya orang tua yang selalu ada. Yang selalu peduli. Yang selalu mendukung apa pun pilihanmu."
"Iya. Aku bersyukur."
"Apa kamu bisa bayangkan kalau suatu hari mereka tiba-tiba berubah? Tiba-tiba dingin? Tiba-tiba pergi tanpa kabar?"
Arga terdiam. Ia belum pernah memikirkan itu.
"Aku nggak tahu, Sekar. Mungkin aku akan hancur."
"Tuh, kan."
"Tapi aku tidak akan berhenti mencintai mereka."
"Itu yang membuatmu berbeda. Kamu bisa mencintai seseorang meskipun mereka menyakitimu."
Mereka kembali menanam dalam diam.
Hingga akhirnya, Semua bibit sudah tertanam rapi, dari cabai hingga bayam, dari tomat hingga terong.
Sekar berdiri, menepuk-nepuk tanah dari tangan dan lututnya. "Sudah selesai."
"Iya," Arga ikut berdiri. "Sekarang kita tinggal menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu mereka tumbuh."
"Seperti kita?"
Arga tersenyum. "Iya. Seperti kita. Perlahan, tapi pasti. Tidak terlihat, tapi suatu hari nanti, kita akan lihat hasilnya."
Sekar menatap Arga. "Kamu tahu, kadang aku bertanya-tanya, apa yang membuatmu begitu yakin dengan kita?"
"Aku nggak yakin, Sekar. Aku cuma punya harapan."
"Harapan?"
"Iya. Harapan bahwa kita akan baik-baik saja. Harapan bahwa kita bisa melewati semua ini. Harapan bahwa suatu hari nanti, kita akan tertawa tentang semua kesusahan ini."
"Kamu optimis banget."
"Nggak. Aku cuma nggak mau menyerah."
Sore itu, setelah makan siang bersama keluarga Arga, Sekar pulang ke rumahnya.
Sastro dan Sukmawati tidak banyak bicara, tapi dari cara mereka memandang Sekar, dari cara Sukmawati menambahkan lauk ke piring Sekar, dari cara Sastro mengangguk kecil saat Sekar pamit pulang—itu sudah cukup. Itu sudah lebih dari cukup. Itu adalah kehangatan yang selama ini tidak pernah ia rasakan dari orang tuanya sendiri.
Di rumahnya, Sekar duduk di kursi bambu.
Ia memandang foto neneknya.
Ia memandang surat dari orang tuanya yang masih tergeletak di meja.
"Nek," bisiknya, "aku sudah memutuskan. Aku tidak akan menjual rumah ini. Aku tidak akan pergi ke kota. Aku akan tinggal di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Dengan Arga."
Foto itu tidak menjawab.
Tapi Sekar merasakan sesuatu. Kehangatan. Seperti ada senyuman.
"Aku akan baik-baik saja, Nek. Aku janji."
Malam itu, di rumah Arga, Sukmawati memanggil anaknya ke ruang tengah.
"Le," kata Sukmawati, "Ibu mau bicara."
"Tentang apa, Bu?"
"Tentang Sekar."
Ayahmu juga ikut mendengarkan. Sastro mengangguk.
"Apa yang akan kamu lakukan kalau rumah Sekar benar-benar dijual?" tanya Sukmawati.
"Aku sudah bilang, Bu. Sekar bisa tinggal dengan kita."
"Kamu sadar dengan konsekuensinya?"
"Apa konsekuensinya?"
"Orang desa akan bicara. Mereka akan bilang kamu dan Sekar sudah hidup serumah tanpa ikatan pernikahan. Itu aib, Le. Di desa ini, itu aib besar."
Arga terdiam.
"Tapi," lanjut Sukmawati, "Ibu dan ayahmu sudah berdiskusi."
"Diskusi tentang apa?"
"Tentang kemungkinan terburuk."
Sastro yang dari tadi diam akhirnya bersuara. "Ayah dan Ibu sudah sepakat. Kalau benar-benar terjadi, kita akan terima sekar tinggal di sini. Biar orang desa mau bicara apa. Yang penting kamu bahagia. Yang penting sekar tidak kehilangan tempat tinggal."
Arga menatap orang tuanya. Matanya basah. "Ayah... Ibu..."
"Jangan nangis, Le," kata Sastro. "Laki-laki jangan cengeng."
"Iya, Yah. Tapi ini... ini terlalu baik."
"Orang tua memang harus baik pada anaknya," kata Sukmawati. "Itu sudah kewajiban."
Arga memeluk ibunya. Lalu memeluk ayahnya.
Di ruang tengah yang sempit, dengan lampu minyak yang menyala redup, dengan suara jangkrik dari luar, dengan angin malam yang berembus lembut, Arga merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Rumah.
Bukan sekadar tembok dan genteng.
Tapi kehangatan.
Tapi penerimaan.
Tapi cinta tanpa syarat.
"Makasih, Yah, Mak," bisik Arga.
"Iya, sama-sama," jawab Sastro. "Sekarang tidur. Besok kamu harus ke sawah pagi-pagi."
"Iya, Yah."
Di kamarnya, Arga membuka jendela.
Langit malam dipenuhi bintang.
Ia teringat pada malam tanpa bintang beberapa minggu lalu. Malam ketika ia merasa kehilangan arah. Malam ketika ia tidak tahu harus melangkah ke mana.
Tapi sekarang, langkah pertama sudah ia ambil.
Langkah untuk tidak menyerah pada Sekar.
Langkah untuk tidak menyerah pada cinta.
Langkah untuk percaya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Jatmika," bisik Arga, "aku akan menjaga dia. Aku janji."
Hening.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Seperti ada angin yang berputar di sekitarnya.
Seperti ada tangan yang menepuk pundaknya.
Seperti ada suara yang berkata, "Aku percaya padamu."
Di lain sisi desa, di rumah tuanya, Sekar juga membuka jendela.
Ia memandang langit yang sama.
Ia memandang bintang-bintang yang sama.
Ia tersenyum.
Langkah pertama sudah ia ambil.
Langkah untuk tidak takut lagi pada masa depan.
Langkah untuk percaya bahwa ia bisa bertahan.
Langkah untuk membuka hati pada cinta yang baru.
"Nek," bisiknya, "aku akan baik-baik saja."
Dan di kejauhan, seolah-olah ada jawaban.
Angin malam berembus lebih lembut.
Seperti belaian.
Seperti restu.
Seperti doa.
BAB 46
GERBANG DESA
Tiga bulan setelah surat terakhir dari orang tuanya, Sekar belum juga menerima kabar baru.
Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada pesan melalui siapa pun. Hanya keheningan yang terus berlarut-larut, seperti luka yang tidak kunjung sembuh karena terus diusik, seperti bayangan yang tidak mau pergi meskipun matahari sudah terbit.
Tapi Sekar tidak lagi menangis setiap malam.
Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa orang tuanya mungkin tidak akan pernah kembali. Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa rumah ini—rumah peninggalan neneknya—mungkin akan diambil paksa suatu hari nanti. Ia sudah berdamai dengan kenyataan bahwa masa depannya tidak pasti, bahwa hidupnya tidak akan semudah yang ia bayangkan.
Ia berdamai, bukan karena ia sudah ikhlas. Tapi karena ia lelah. Lelah menangis. Lelah berharap. Lelah menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.
Dan di tengah semua itu, Arga tetap ada.
Setiap hari. Setiap pagi. Setiap sore. Setiap malam.
Ia datang dengan pisang goreng, dengan ubi rebus, dengan teh jahe hangat, dengan senyum canggungnya, dengan tatapan polosnya, dengan kata-kata yang kadang tidak masuk akal tapi selalu membuat Sekar merasa tidak sendirian.
“Kamu tahu, Sekar,” kata Arga suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon randu, “kadang aku berpikir, mungkin ini yang namanya dewasa.”
“Maksudmu?”
“Dewasa itu bukan tentang umur. Bukan tentang bisa kerja atau punya uang sendiri. Dewasa itu tentang... menerima bahwa hidup tidak selalu adil. Tapi tetap memilih untuk hidup.”
“Kata siapa?”
“Aku sendiri. Baru saja.”
“Sok bijak lagi.”
“Bukan sok bijak. Sok tua.”
Sekar tertawa. “Iya, kamu memang tua. Tua bangka. Tua sebelum waktunya.”
“Setidaknya aku membuatmu tertawa.”
“Iya. Itu yang membuatmu berharga.”
Pagi itu, langit cerah. Matahari baru saja naik. Embun masih menempel di daun-daun padi. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Arga terbangun lebih awal dari biasanya.
Ia tidak tahu kenapa. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada firasat aneh. Tidak ada suara-suara yang memanggilnya seperti dulu. Hanya saja, ada sesuatu di dadanya yang terasa... berbeda.
Seperti ada yang akan terjadi.
Seperti ada yang akan berubah.
Ia duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah gerbang desa yang terletak dua kilometer dari rumahnya. Gerbang kayu sederhana dengan tulisan “Desa Wringinrejo” yang sudah mulai pudar catnya. Gerbang yang selama ini hanya ia lewati ketika pergi ke pasar di kecamatan atau sesekali ke kota. Gerbang yang tidak pernah ia anggap istimewa.
Tapi pagi ini, gerbang itu terasa... berarti.
“Kamu bangun pagi sekali,” kata Sukmawati yang keluar dengan segelas kopi.
“Tidak bisa tidur, Bu.”
“Apa lagi yang kamu pikirkan?”
“Entahlah, Bu. Rasanya... hari ini akan ada sesuatu.”
“Sesuatu yang baik atau buruk?”
“Aku tidak tahu, Bu.”
Sukmawati duduk di samping Arga. “Kamu tahu, Le, hidup itu penuh kejutan. Kadang baik, kadang buruk. Tapi yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya.”
“Aku tahu, Bu. Tapi...”
“Tapi?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Takut bahwa apa yang selama ini aku bangun akan runtuh. Takut bahwa aku akan kehilangan seseorang yang aku cintai.”
Sukmawati menghela napas. “Kamu terlalu banyak mikir, Le. Coba nikmati saja hari ini. Jangan pikirkan besok. Nanti kamu sakit.”
“Iya, Bu.”
Setelah sarapan, Arga pergi ke rumah Sekar seperti biasa.
Tapi di tengah jalan, ia berhenti.
Ia melihat sesuatu di kejauhan. Di arah gerbang desa.
Debu.
Debu yang beterbangan di jalan tanah.
Tanda bahwa ada kendaraan yang melintas.
Tapi kendaraan apa yang melintas secepat itu di pagi buta? Di jam segini, biasanya hanya petani yang berjalan kaki ke sawah. Tidak ada kendaraan kecuali gerobak sapi yang melaju pelan.
Arga mengerutkan kening.
Ia meneruskan langkahnya, tapi matanya tetap tertuju pada debu itu. Debu yang semakin besar. Debu yang semakin dekat. Debu yang seolah membawa sesuatu, atau seseorang, yang tidak sabar untuk tiba.
Sekar membuka pintu ketika Arga tiba.
Ia masih mengenakan baju tidur. Rambutnya masih kusut. Matanya masih mengantuk.
“Kamu datang pagi sekali,” katanya sambil menguap.
“Maaf, aku...”
“Ada apa? Kamu kelihatan gelisah.”
“Aku... aku melihat debu di arah gerbang desa.”
“Debu? Memangnya ada apa dengan debu?”
“Ada kendaraan melintas. Cepat. Bukan gerobak sapi. Mungkin mobil.”
“Mobil? Di desa kita? Jarang ada mobil lewat sini.”
“Itulah. Aku penasaran.”
“Kamu mau ke gerbang desa?”
“Aku... aku tidak tahu.”
Sekar menatap Arga. “Aku ikut.”
“Kamu belum ganti baju.”
“Tunggu sebentar.”
Sekar berganti baju dengan cepat. Kemeja putih lengan panjang, kain jarik batik, sandal jepit karet. Tidak mewah. Tapi rapi.
Mereka berjalan berdua menuju gerbang desa.
Sekar di sebelah kanan. Arga di sebelah kiri.
Tangan mereka saling menggenggam, bukan karena mesra, tapi karena sama-sama merasa ada yang tidak beres.
“Arga,” panggil Sekar.
“Iya.”
“Kamu nggak mungkin menarik firasat seperti ini.”
“Memang. Tapi aku nggak bisa mengabaikannya.”
“Kenapa?”
“Karena dulu, setiap kali aku punya firasat seperti ini, sesuatu selalu terjadi.”
“Sesuatu yang buruk?”
“Tidak selalu. Tapi sesuatu yang mengubah hidupku.”
Mereka tiba di gerbang desa setelah berjalan sekitar dua puluh menit.
Di sana, di depan gerbang kayu sederhana itu, terparkir sebuah mobil.
Bukan mobil biasa. Mobil bagus. Hitam. Berkilat. Dengan kaca film gelap yang membuat siapa pun tidak bisa melihat ke dalam.
Beberapa orang desa sudah mulai berkerumun. Ada yang memandang dengan rasa ingin tahu. Ada yang berbisik-bisik. Ada yang hanya menggeleng, tanda bahwa mereka tidak peduli dengan urusan orang kaya yang tiba-tiba muncul di desa kecil mereka.
Arga dan Sekar berhenti di pinggir jalan.
Mereka tidak mendekat. Tapi mereka juga tidak pergi.
Pintu mobil terbuka.
Seorang laki-laki keluar. Usia sekitar empat puluh tahun. Tinggi. Berkulit putih. Memakai kemeja batik lengan panjang dan celana bahan hitam. Wajahnya tegas. Matanya tajam.
Ia memandang sekeliling. Mencari seseorang.
Lalu matanya tertuju pada Sekar.
“Kamu Sekar?” tanyanya.
Sekar mengangguk ragu. “Iya. Siapa Bapak?”
“Aku utusan dari orang tuamu.”
Dunia Sekar seperti berhenti berputar. “A—apa?”
“Orang tuamu mengutusku untuk mengambilmu. Mereka sudah menjual tanah ini. Mereka sudah membeli rumah baru di kota. Kamu akan tinggal bersama mereka.”
Sekar menggenggam tangan Arga lebih erat. “Aku tidak mau.”
“Itu bukan pilihanmu, Nak. Kamu masih di bawah umur. Orang tuamu punya hak penuh atas dirimu.”
“Tapi, “
“Tidak ada tapi. Kamu harus ikut. Sekarang.”
Arga melangkah maju. “Pak, maaf, saya mau bicara.”
Laki-laki itu menatap Arga. “Kamu siapa?”
“Arga. Teman Sekar.”
“Teman? Atau pacar?”
“Pacar.”
“Baiklah, Arga. Aku tidak peduli kamu teman atau pacar. Tugasku hanya membawa Sekar. Bukan mendengarkan cerita cinta anak muda.”
“Tapi Sekar bilang dia tidak mau.”
“Dan aku bilang itu bukan pilihan.”
“Itu tidak adil.”
“Hidup memang tidak adil, Nak. Kamu akan belajar itu cepat atau lambat.”
Arga mengepalkan tangannya. Wajahnya memerah. Dadanya naik turun. Ia ingin berteriak. Ia ingin memukul. Ia ingin melakukan sesuatu, apa pun, untuk menghentikan laki-laki ini.
Tapi ia tidak bergerak.
Karena ia tahu, kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah.
“Pak,” kata Arga lagi, “boleh saya minta waktu sebentar? Sekar butuh bicara dengan saya.”
“Berapa lama?”
“Lima belas menit.”
“Lima menit.”
“Sepuluh menit.”
“Lima menit. Kalau lebih, saya akan bawa dia paksa.”
Arga menarik Sekar ke samping, di bawah pohon beringin tua yang tumbuh tidak jauh dari gerbang desa.
Mereka berdua duduk di akar pohon yang besar.
Sekar menangis.
“Sekar,” kata Arga pelan.
“Aku tidak mau pergi, Arga. Aku tidak mau.”
“Aku tahu.”
“Mereka tidak punya hak.”
“Mereka punya hak. Sayangnya.”
“Tapi—“
“Tapi kita bisa melawan. Tidak dengan kekerasan. Tapi dengan cara lain.”
“Cara apa?”
“Kita cari bantuan. Mbah Jayarasa. Pak Lurah. Siapa pun yang bisa membantumu.”
“Apakah itu akan cukup?”
“Aku tidak tahu. Tapi setidaknya kita mencoba.”
Sekar memeluk Arga. Erat. Seperti tidak ingin melepaskan. Seperti takut bahwa detik berikutnya, ia akan ditarik paksa ke dalam mobil itu dan dibawa ke tempat yang tidak ia kenal, dengan orang-orang yang tidak ia cintai.
“Arga,” bisiknya.
“Iya.”
“Aku takut.”
“Aku juga.”
“Tapi kamu di sini.”
“Iya. Aku di sini. Aku tidak akan pergi.”
Laki-laki itu mulai berjalan mendekat.
“Waktunya habis,” katanya. “Sekar, ikut.”
Sekar belum melepaskan pelukannya.
“Sekar,” panggil laki-laki itu lebih keras.
“Dia belum siap,” kata Arga.
“Dia harus siap, Nak. Karena dunia tidak pernah menunggu kesiapan siapa pun.”
“Tapi, “
“Cukup. Aku sudah terlalu banyak buang waktu.”
Laki-laki itu meraih tangan Sekar.
Arga menghalangi. “Jangan sentuh dia.”
“Kamu mau apa? Melawan?”
“Kalau perlu.”
“Kamu bisa dipenjara, Nak.”
“Saya tidak peduli.”
Sekar melepaskan pelukannya. Ia menatap Arga. Matanya basah. Tapi ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak Arga lihat sebelumnya.
Ketegaran.
“Arga,” kata Sekar pelan.
“Iya.”
“Lepaskan.”
“Apa?”
“Lepaskan aku.”
“Tapi, “
“Aku tidak mau kamu dipenjara. Aku tidak mau kamu terluka. Aku tidak mau masalah ini semakin besar.”
“Tapi kamu, “
“Aku akan baik-baik saja. Aku janji.”
“Tapi, “
“Arga, tolong. Lepaskan.”
Arga melepaskan tangannya.
Perlahan.
Sakit.
Seperti melepaskan bagian dari dirinya sendiri.
Sekar berdiri. Ia berjalan menuju laki-laki itu. Ia tidak menangis lagi. Wajahnya datar. Matanya kosong. Seperti orang yang sudah pasrah. Seperti orang yang sudah tidak punya harapan.
“Ayo,” katanya pelan.
Laki-laki itu membukakan pintu mobil.
Sekar masuk.
Sebelum pintu tertutup, ia menoleh ke arah Arga.
“Arga,” katanya.
“Iya.”
“Tunggu aku.”
“Aku akan menunggu.”
“Selamanya?”
“Selamanya.”
Pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Mobil bergerak perlahan meninggalkan gerbang desa.
Arga berlari mengejar.
“Sekar! Sekar!”
Tapi mobil itu semakin cepat. Semakin jauh. Semakin kecil.
Hingga akhirnya lenyap di balik tikungan.
Arga berhenti berlari.
Ia jatuh berlutut di pinggir jalan.
Debu-debu beterbangan di sekitarnya.
Ia tidak menangis.
Tapi dadanya terasa kosong.
Kosong seperti rumah Sekar yang kini benar-benar sepi.
Kosong seperti gerbang desa yang kini tidak lagi memiliki arti.
Kosong seperti masa depan yang tiba-tiba terasa begitu sunyi.
Mbah Jayarasa datang dari arah desa.
Ia berjalan pelan dengan tongkat kayunya.
Ia berdiri di samping Arga, memandang ke arah mobil yang sudah tidak terlihat.
“Dia pergi, ya,” kata Mbah Jayarasa. Bukan bertanya. Memastikan.
“Iya, Mbah.”
“Kamu nggak usah sedih.”
“Kenapa?”
“Karena dia akan kembali.”
“Kapan?”
“Aku tidak tahu. Tapi dia akan kembali. Percaya pada takdir.”
“Aku tidak percaya takdir, Mbah. Aku hanya percaya pada usahaku.”
“Itu sudah cukup, Le. Kadang, usaha adalah satu-satunya yang bisa kita lakukan. Sisanya, serahkan pada yang di atas.”
Arga tidak menjawab.
Ia hanya memandang ke arah timur.
Ke arah mobil itu pergi.
Ke arah Sekar yang kini berada di tempat yang tidak ia kenal, dengan orang-orang yang tidak ia cintai.
“Sekar,” bisiknya, “aku akan menunggumu. Aku janji.”
Di dalam mobil, Sekar duduk diam.
Ia memandang ke luar jendela.
Memandang pepohonan yang berlalu cepat.
Memandang sawah yang berganti hutan.
Memandang desa yang semakin kecil—dan akhirnya hilang sama sekali.
Air matanya jatuh.
Tapi ia tidak menyentuhnya.
Ia membiarkannya mengalir.
Karena air mata adalah satu-satunya yang ia miliki sekarang.
“Nek,” bisiknya, “doakan aku. Doakan aku agar kuat. Doakan aku agar bisa kembali. Doakan aku agar tidak melupakan Arga.”
Tidak ada jawaban.
Tapi Sekar merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seolah ada tangan tak terlihat yang mengusap rambutnya.
Seolah ada suara yang berkata, “Aku akan selalu menjagamu, Nduk. Di mana pun kamu berada.”
BAB 47
JALAN PANJANG
Tiga hari setelah Sekar pergi, rumah tua di ujung desa itu benar-benar sepi.
Pintu dan jendelanya tertutup rapat. Tidak ada asap dari dapur. Tidak ada suara langkah kaki di teras. Tidak ada tirai bambu yang bergerak karena seseorang membukanya dari dalam. Hanya angin yang sesekali masuk melalui celah-celah dinding, membawa debu dan daun kering, lalu pergi lagi tanpa pernah membawa kabar.
Sekar tidak membawa banyak barang.
Hanya sekantong pakaian seadanya, foto neneknya yang terbungkus kain batik lusuh, dan kenangan-kenangan yang tidak bisa ia bawa dalam kardus atau koper.
Rumah itu kini hanya tinggal kenangan.
Tembok yang dulu hangat karena tawa neneknya, kini dingin.
Halaman yang dulu hijau karena tanaman neneknya, kini ditumbuhi rumput liar.
Sumur yang dulu airnya jernih, kini mulai keruh karena tidak pernah dipakai.
Arga berdiri di depan pagar rumah itu.
Ia sudah tiga hari tidak masuk ke dalam.
Bukan karena ia tidak berani. Bukan karena ia takut melihat foto-foto nenek Sekar yang masih terpajang di dinding. Bukan karena ia takut mencium bau nenek Sekar yang mungkin masih tersisa di lipatan kain dan di sudut-sudut kamar.
Tapi karena ia tahu, begitu ia masuk, ia akan sadar bahwa Sekar benar-benar pergi. Bahwa rumah ini benar-benar kosong. Bahwa tidak ada lagi gadis yang akan membukakan pintu untuknya dengan senyum canggung dan mata sembab.
“Kamu mau masuk, Le?” tanya Sukmawati dari belakang.
“Aku tidak tahu, Bu.”
“Rumah ini akan segera dijual, kata orang-orang. Mungkin minggu depan. Mungkin bulan depan. Tapi cepat atau lambat, akan ada yang punya baru.”
“Aku tahu, Bu.”
“Kalau kamu mau mengambil sesuatu sebagai kenang-kenangan, lakukan sekarang. Jangan sampai sudah berpindah tangan, baru kamu menyesal.”
Arga menghela napas. “Aku takut, Bu.”
“Takut apa?”
“Takut kalau aku masuk, aku tidak bisa keluar. Takut kalau aku melihat barang-barangnya, aku akan semakin sedih. Takut kalau aku menangis, aku tidak bisa berhenti.”
Sukmawati mengusap punggung anaknya. “Menangis tidak apa-apa, Le. Laki-laki juga boleh menangis. Tuhan memberi air mata bukan hanya untuk perempuan.”
“Tapi Ayah bilang, “
“Ayahmu kadang salah. Ayahmu tumbuh di zaman yang berbeda. Sekarang sudah zaman yang baru. Kamu boleh menangis. Kamu boleh sedih. Kamu boleh hancur. Asalkan setelah itu, kamu bangkit lagi.”
Arga membuka pagar.
Kayunya berderit—sama seperti dulu, ketika ia pertama kali datang ke rumah ini dengan bungkusan pisang goreng di tangan.
Ia berjalan melewati halaman. Rumput-rumput liar sudah setinggi betisnya. Ada belalang yang melompat-lompat di sela-sela rumput. Ada kupu-kupu kuning yang terbang tak tentu arah.
Ia naik ke teras.
Pintu rumah tidak dikunci.
Ia membukanya pelan.
Kreek...
Suara yang sama. Suara yang dulu selalu ia dengar ketika Sekar membukakan pintu untuknya. Tapi kali ini, tidak ada Sekar. Hanya angin yang masuk bersama debu. Hanya cahaya matahari yang jatuh di lantai kayu. Hanya keheningan yang begitu keras di telinga.
Arga masuk ke ruang tengah.
Kursi bambu tempat mereka biasa duduk masih di tempat yang sama. Meja kayu tempat Sekar biasa meletakkan teh jahenya masih di tempat yang sama. Foto nenek Sekar masih tersenyum dari balik pigura di dinding.
Tapi semuanya terasa... mati.
Seperti museum.
Seperti panggung yang sudah selesai pertunjukannya.
Seperti hati yang sudah tidak berdetak.
Arga duduk di kursi bambu itu.
Ia memejamkan mata.
Ia membayangkan Sekar duduk di seberangnya, dengan senyum tipis, dengan mata sayu, dengan tangan yang memegang cangkir teh jahe yang masih mengepul.
“Kamu datang lagi,” kata Sekar dalam bayangannya.
“Iya, aku datang lagi,” jawab Arga dalam hati.
“Kapan kamu berhenti datang?”
“Tidak akan. Selamanya.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin.”
Arga membuka mata.
Sekar tidak ada.
Hanya kursi kosong. Hanya meja kosong. Hanya hati kosong.
Ia berdiri. Berjalan ke kamar Sekar.
Kamar itu kecil. Hanya muat satu dipan bambu, satu lemari kayu jati, satu meja kecil tempat Sekar biasa menulis surat.
Bau Sekar masih terasa. Wangi sabun mandi murah, wangi bedak, wangi keringat setelah seharian berkebun, semuanya bercampur menjadi satu aroma yang tidak akan pernah ia temukan di tempat lain.
Arga membuka lemari kayu itu.
Beberapa baju masih tergantung. Kebaya putih, kain jarik batik, beberapa kemeja lengan panjang yang sudah pudar warnanya.
Ia mengambil satu kebaya.
Kain tipis berwarna krem dengan bordir bunga kecil di ujung lengan.
Ia menciumnya.
Masih ada wangi Sekar. Samar. Tapi nyata.
Air mata Arga jatuh.
Untuk pertama kalinya setelah tiga hari, ia menangis.
Bukan isak tangis yang keras. Bukan ratapan panjang. Tapi air mata yang jatuh diam-diam, seperti hujan gerimis di musim kemarau, seperti embun di pagi hari, seperti sesuatu yang tidak bisa ditahan lagi karena sudah terlalu lama dipendam.
“Sekar,” bisiknya. “Aku rindu kamu. Aku sudah rindu sejak kamu pergi. Bahkan sebelum mobil itu meninggalkan gerbang desa, aku sudah merindukanmu.”
Tidak ada jawaban.
Hanya angin yang masuk melalui jendela.
Hanya daun-daun kering yang bergesekan di halaman.
Hanya kesunyian yang menjadi satu-satunya temannya sekarang.
Arga keluar dari rumah itu dengan kebaya Sekar di tangannya.
Sukmawati masih berdiri di depan pagar, menunggu.
“Kamu ambil itu?” tanya Sukmawati.
“Iya, Bu. Untuk kenang-kenangan.”
“Ibu bisa menjahitkannya jadi bantal kecil. Supaya kamu bisa tidur sambil memeluknya.”
“Terima kasih, Bu.”
“Sudah, pulang. Di rumah sudah ada makan siang. Ayahmu pasti sudah menunggu.”
Di rumah, Sastro duduk di kursi bambu di beranda. Ia memandang Arga yang masuk dengan mata sayu, dengan langkah gontai, dengan kebaya putih di tangan.
“Kamu makan dulu,” kata Sastro.
“Tidak laper, Yah.”
“Kamu harus makan. Badanmu butuh tenaga.”
“Buat apa? Sekar sudah pergi.”
“Buat menunggunya.”
Arga menatap ayahnya. “Ayah benar-benar percaya dia akan kembali?”
Sastro menghela napas. “Ayah tidak tahu. Tapi ayah tahu satu hal: orang yang tidak makan, tidak akan punya tenaga untuk menunggu siapa pun.”
Arga terdiam. Ia masuk ke dapur. Sukmawati sudah menyiapkan nasi dengan lauk ayam goreng dan sayur asem.
Ia makan perlahan.
Setiap suapan terasa seperti menelan batu.
Tapi ia tetap makan.
Karena ayahnya benar.
Ia harus punya tenaga.
Untuk menunggu.
Sekian lama.
Sesakit apa pun.
Minggu pertama setelah Sekar pergi, Arga masih berharap ada surat.
Setiap kali anak kecil lewat di depan rumahnya dengan amplop di tangan, jantungnya berdegup kencang. Tapi amplop itu selalu untuk orang lain. Untuk tetangga, untuk kerabat, untuk siapa pun—tidak pernah untuknya.
Minggu kedua, ia mulai gelisah.
“Bu, kenapa dia tidak mengirim kabar?” tanyanya pada Sukmawati.
“Mungkin dia belum bisa. Mungkin orang tuanya melarang. Mungkin suratnya dicegat. Banyak kemungkinan, Le.”
“Tapi setidaknya dia bisa menelepon. Di kantor desa ada telepon umum. Dia bisa meneleponku.”
“Kamu tidak punya telepon, Le.”
“Tapi dia bisa menelepon kantor desa. Pak Lurah pasti akan memberitahuku.”
“Kamu yakin? Pak Lurah sibuk, Le. Bukan cuma mengurusi telepon untukmu.”
Arga tidak menjawab. Ia hanya duduk di beranda, memandang ke arah timur, ke arah gerbang desa, ke arah mobil hitam itu pergi.
Minggu ketiga, Arga mulai menulis surat.
Ia tidak tahu alamat Sekar. Tapi ia yakin, jika ia menulis surat dan menitipkannya pada Pak Pos, surat itu akan sampai. Mungkin tidak sekarang. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti.
“Untuk Sekar,” tulisnya.
“Aku di sini. Di desa ini. Di rumah ini. Di pinggir sungai ini. Di bawah pohon randu ini. Aku masih di tempat yang sama, menunggumu.”
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di sana. Aku tidak tahu apakah kamu baik-baik saja. Aku tidak tahu apakah kamu masih ingat padaku. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa aku tidak pergi. Aku masih di sini. Aku akan selalu di sini.”
“Kadang aku duduk di tepi Kali Wening, sendirian. Aku mendengar suara air, membayangkan bahwa suara itu adalah suaramu. Aku menutup mata, membayangkan bahwa kamu duduk di sampingku, memegang tanganku, berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja.”
“Aku rindu, Sekar. Aku rindu banget. Aku rindu senyummu. Aku rindu tawamu. Aku rindu cara kamu menggoda aku. Aku rindu cara kamu memandangku dengan mata sayu itu. Aku rindu semuanya.”
“Tolong kabari aku. Tolong beri tahu aku bahwa kamu baik-baik saja. Tolong jangan biarkan aku terus menunggu tanpa kepastian.”
“Aku tidak akan berhenti menulis. Surat demi surat. Sampai suatu hari kamu membalasnya.”
“Dari Arga, yang selalu menunggumu.”
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menulis: “Untuk Sekar, di rumah barunya di kota.”
Ia tidak tahu apakah surat itu akan sampai. Tapi ia harus mencoba. Karena mencoba adalah satu-satunya yang bisa ia lakukan sekarang.
Minggu keempat, Arga mulai kehilangan harapan.
Ia sudah mengirim tujuh surat. Tidak ada satu pun balasan.
Ia sudah menanyakan pada Pak Lurah apakah ada telepon untuknya. Tidak ada.
Ia sudah bertanya pada tetangga-tetangga yang sering ke kota apakah mereka melihat Sekar. Tidak ada yang tahu.
Sekar seperti lenyap. Seperti ditelan bumi. Seperti tidak pernah ada.
“Bu,” kata Arga suatu malam, “apa mungkin dia lupa padaku?”
“Tidak mungkin, Le.”
“Tapi kenapa dia tidak menghubungiku?”
“Mungkin karena orang tuanya melarang. Mungkin karena dia tidak punya akses. Mungkin karena dia sedang berusaha melindungimu.”
“Melindungi aku dari apa?”
“Dari rasa sakit. Mungkin dia pikir, jika dia menghubungimu, kamu akan semakin sulit move on.”
“Aku tidak ingin move on, Bu. Aku ingin dia kembali.”
Sukmawati memeluk anaknya. “Ibu tahu, Le. Ibu tahu.”
Malam itu, Arga tidak bisa tidur.
Ia duduk di beranda, memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia teringat pada malam-malam ketika ia dan Sekar saling mengirim pesan melalui anak-anak kecil desa.
Ia teringat pada malam-malam ketika ia memandang bintang yang sama, membayangkan bahwa Sekar juga sedang memandang bintang yang sama di tempatnya yang jauh.
“Jatmika,” bisiknya. “Kalau kamu masih di sini, tolong jaga dia. Tolong lindungi dia. Tolong sampaikan pesan ini: aku rindu dia. Aku sayang dia. Aku tidak akan pernah berhenti mencintainya.”
Hening.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Seperti ada angin yang berputar di sekelilingnya.
Seperti ada tangan yang menepuk pundaknya.
Seperti ada suara yang berkata, “Dia baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu.”
“Apakah dia akan kembali?” tanya Arga pada angin.
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu yang lain.
Harapan.
Harapan kecil yang tidak mau padam.
Harapan yang terus menyala meskipun tidak ada alasan untuk tetap menyala.
Harapan yang membuatnya tetap menulis surat, tetap menunggu, tetap percaya bahwa suatu hari nanti, Sekar akan kembali.
BAB 48
MENOLEH SEKALI LAGI
Empat bulan sudah Sekar pergi.
Empat bulan. Seratus dua puluh hari. Dua ribu delapan ratus delapan puluh jam. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang terus berlarut-larut, seperti malam tanpa bintang yang tidak pernah berakhir.
Arga masih menulis surat. Setiap minggu. Tidak pernah absen.
Surat pertama, kedua, ketiga, hingga surat yang ketujuh belas. Semua ia tulis dengan tangan gemetar, dengan hati yang semakin lama semakin berat, dengan harapan yang semakin tipis seperti kertas yang terkena air hujan.
Ia tidak tahu apakah surat-surat itu sampai. Tidak tahu apakah Sekar membacanya. Tidak tahu apakah Sekar masih ingat padanya.
Tapi ia tetap menulis. Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung dengan seseorang yang telah pergi. Karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan antara desa kecil ini dan kota besar yang telah menelannya. Karena jika ia berhenti menulis, ia takut ia akan lupa bahwa ia pernah mencintai seseorang sejauh ini.
"Kamu masih terus menulis surat?" tanya Sukmawati suatu pagi ketika melihat Arga duduk di meja makan dengan secarik kertas dan pulpen.
"Iya, Bu."
"Untuk Sekar?"
"Iya, Bu."
"Sudah berapa surat yang kamu kirim?"
"Tujuh belas, Bu."
"Dan belum ada balasan?"
"Belum."
"Kamu tidak lelah?"
Arga menghentikan tulisannya. Ia menatap ibunya. "Apa boleh lelah, Bu?"
Sukmawati menghela napas. "Boleh, Le. Sangat boleh. Tapi jangan berhenti."
"Aku tidak akan berhenti, Bu."
"Bagus. Karena kadang, apa yang kita tunggu datang tepat saat kita hampir menyerah."
Surat ketujuh belas itu berisi cerita tentang hujan.
"Untuk Sekar," tulis Arga.
"Hari ini hujan. Bukan hujan deras seperti dulu. Hujan gerimis yang dingin dan lama. Aku ingat, dulu kamu selalu bilang bahwa kau suka hujan. Katanya, hujan membuat segalanya terasa lebih tenang. Katanya, suara air yang jatuh ke tanah adalah musik terindah yang pernah kau dengar."
"Aku duduk di beranda, memandang hujan. Aku membayangkan kamu duduk di sampingku, memegang tanganku, menempelkan kepalamu di bahuku. Aku membayangkan kamu bercerita tentang nenekmu, tentang masa kecilmu, tentang semua hal yang membuatmu menjadi dirimu yang sekarang."
"Tapi kamu tidak ada. Aku hanya sendiri, dengan secangkir teh jahe yang sudah dingin, dengan sebatang rokok yang tidak pernah aku nyalakan, dengan hati yang terasa seperti hujan—dingin dan terus jatuh tanpa pernah berhenti."
"Aku rindu kamu, Sekar. Aku rindu. Maaf jika surat ini terlalu berulang. Maaf jika aku tidak bisa berkata-kata selain aku rindu. Tapi itu yang aku rasa. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detik."
"Tolong pulang. Atau setidaknya kabari aku. Aku tidak bisa terus menunggu tanpa tahu kabarmu. Ini terlalu berat untukku."
"Dari Arga, yang masih di sini."
Ia melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu berjalan ke kantor pos di kecamatan. Hujan masih turun. Ia tidak membawa payung. Rambutnya basah. Bajunya basah. Tapi ia tidak peduli.
Di kantor pos, Pak Darmo, pegawai pos yang sudah tua, menatapnya dengan mata iba.
"Surat untuk Sekar lagi, Le?" tanyanya.
"Iya, Pak."
"Kapan terakhir kamu dapat kabar darinya?"
"Tidak pernah, Pak."
Pak Darmo menghela napas. "Kamu yakin alamatnya benar?"
"Aku tidak tahu, Pak. Aku hanya menulis 'rumah barunya di kota'. Semoga suratnya sampai."
"Kamu ini, Le. Mengejar angin."
"Mungkin, Pak. Tapi ini yang bisa aku lakukan."
Pak Darmo menerima surat itu, memberi cap, lalu memasukkannya ke dalam tumpukan surat lain yang akan dikirim ke kota.
"Le," panggilnya.
"Iya, Pak."
"Aku punya kabar."
Arga menegang. "Kabar apa?"
"Dua minggu lalu, ada surat balik untukmu. Tapi tidak sampai. Entah kenapa, surat itu hilang di perjalanan. Aku baru tahu hari ini dari kurir."
Hati Arga terasa seperti dihantam palu. "A—apa?"
"Maaf, Le. Aku sudah berusaha mencari, tapi tidak ketemu. Mungkin surat itu tercecer. Mungkin jatuh dari mobil. Mungkin diambil orang."
Arga terdiam. Ia tidak tahu harus marah, sedih, atau kecewa. Yang ia tahu, ada surat dari Sekar. Surat yang mungkin berisi kabar, berisi cerita, berisi harapan. Dan surat itu hilang. Hilang seperti Sekar. Hilang seperti segala sesuatu yang pernah ia cintai.
"Pak," kata Arga dengan suara bergetar, "apa isi surat itu?"
"Aku tidak tahu, Le. Aku hanya lihat amplopnya. Tulisan tangan perempuan. Alamat pengirim dari kota."
"Apakah ada nama pengirimnya?"
"Sekar. Itu yang aku baca."
Dunia Arga terasa berhenti berputar. Sekar mengirim surat. Sekar membalas. Tapi surat itu hilang. Hilang. Tidak akan pernah ia baca. Tidak akan pernah ia tahu isinya. Tidak akan pernah ia rasakan hangatnya kata-kata Sekar di atas kertas.
"Le," Pak Darmo meletakkan tangan di bahu Arga, "maaf. Ini luar biasa. Aku akan berusaha mencari. Mungkin masih ada. Mungkin jatuh di suatu tempat."
Arga tidak menjawab. Ia hanya berjalan keluar dari kantor pos, meninggalkan Pak Darmo yang terus memanggil-manggil namanya.
Hujan masih turun.
Ia tidak merasakannya.
Ia hanya berjalan.
Lurus.
Tanpa tujuan.
Seperti orang yang kehilangan arah.
Seperti kapal tanpa kompas.
Seperti surat yang hilang di tengah jalan.
Ia sampai di Kali Wening tanpa sadar.
Air sungai sedang naik karena hujan yang terus turun sejak pagi. Airnya keruh kecoklatan, membawa lumpur dan daun-daun kering dari hulu.
Arga duduk di batu besar tempat ia dan Sekar biasa duduk.
Batu itu basah. Dingin. Tapi ia tidak peduli.
Ia memandang sungai.
Mengingat saat-saat ketika Sekar masih di sini.
Mengingat tawanya.
Mengingat senyumnya.
Mengingat mata sayunya.
Mengingat tangan yang selalu ia genggam.
Mengingat semua yang telah hilang.
"Kenapa?" bisiknya. "Kenapa surat itu harus hilang? Kenapa takdir begitu kejam padaku? Apa yang salah denganku? Apa yang salah dengan cintaku? Kenapa aku tidak pantas bahagia?"
Hujan menjawab dengan derasnya.
Air sungai menjawab dengan gemuruhnya.
Angin menjawab dengan lolongannya.
Tapi tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Arga.
Karena pertanyaan itu terlalu sulit. Bahkan untuk dewa sekalipun.
Dari kejauhan, Mbah Jayarasa berdiri di bawah pohon randu, memandang Arga yang duduk sendirian di pinggir sungai.
Ia berjalan pelan mendekat. Tongkat kayunya menusuk tanah basah, meninggalkan jejak bulat di lumpur.
"Le," panggilnya.
Arga menoleh. Matanya merah. Basah. Bukan karena hujan.
"Mbah Jayarasa."
"Aku dengar kabar tentang surat itu."
Arga menunduk. "Iya, Mbah. Surat dari Sekar. Hilang."
"Kamu sedih."
"Iya, Mbah. Aku sedih. Aku marah. Aku kecewa."
"Itu wajar, Le. Kamu manusia."
"Apa gunanya jadi manusia kalau hanya merasakan sakit?"
Mbah Jayarasa duduk di samping Arga. Batu besar itu cukup untuk dua orang, asalkan mereka berdua saling berdekatan.
"Kamu tahu, Le," kata Mbah Jayarasa, "dulu, ketika aku masih muda, aku juga pernah kehilangan seseorang."
"Siapa, Mbah?"
"Istriku."
Arga menatap lelaki tua itu. "Ibu Mbah?"
"Iya. Dia meninggal ketika melahirkan anakku. Anak itu juga tidak selamat. Aku ditinggal sendiri. Sendirian. Tanpa siapa-siapa."
"Mbah... aku tidak tahu."
"Tidak banyak yang tahu. Aku tidak pernah cerita. Tapi hari ini, aku ingin cerita padamu."
Arga diam. Ia mendengarkan.
"Waktu itu, aku juga marah. Aku marah pada Tuhan. Aku marah pada takdir. Aku marah pada dunia yang begitu kejam. Aku bertanya, kenapa? Kenapa aku? Kenapa harus istriku? Kenapa harus anakku? Apa salahku?"
"Dan apa jawabannya, Mbah?"
"Tidak ada jawaban, Le. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Hanya waktu. Hanya penerimaan. Hanya kesadaran bahwa hidup tidak selalu adil, tapi kita harus tetap hidup."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata Mbah Jayarasa.
Mungkin benar. Mungkin tidak ada jawaban untuk rasa sakit. Mungkin yang bisa kita lakukan hanyalah menerima. Menerima bahwa kita sakit. Menerima bahwa kita kehilangan. Menerima bahwa kita tidak bisa mengendalikan segalanya.
"Tapi Mbah," kata Arga, "aku tidak bisa menerima. Aku masih ingin berjuang. Aku masih ingin berusaha. Aku masih ingin percaya bahwa Sekar akan kembali."
"Itu juga tidak salah, Le. Berjuang itu baik. Berusaha itu mulia. Percaya itu indah. Tapi jangan sampai kamu lupa hidup. Jangan sampai kamu lupa bahwa masih ada hal-hal lain di dunia ini selain Sekar."
"Apa yang harus aku lakukan, Mbah?"
"Kamu harus melanjutkan hidup. Kamu harus tetap makan, tetap tidur, tetap tersenyum. Bukan karena kamu tidak setia. Tapi karena itulah yang diinginkan Sekar. Dia tidak ingin kamu hancur karena dia."
"Apa Mbah yakin?"
"Aku yakin. Karena aku dulu juga seperti kamu. Aku hancur. Tapi kemudian aku sadar bahwa istriku tidak akan bahagia melihat aku seperti itu. Jadi aku bangkit. Untuk dia. Untuk kenangannya. Untuk cinta yang tidak pernah mati."
Hujan mulai reda.
Matahari muncul dari balik awan.
Cahayanya jatuh di permukaan sungai, membuat air yang keruh itu terlihat berkilau seperti emas.
Arga memandang langit. Pelangi terbentang dari timur ke barat, melintasi desa, melintasi sawah, melintasi bukit tempat Makam Mbok Raras berada.
"Mbah," panggil Arga.
"Iya, Le."
"Aku tidak tahu apakah aku bisa sekuat Mbah."
"Kamu bisa, Le. Kamu lebih kuat dari yang kamu kira."
"Tapi rasanya... rasanya aku tidak kuat."
"Itu wajar. Perasaan tidak kuat tidak berarti kamu benar-benar tidak kuat. Perasaan hanya perasaan. Mereka datang dan pergi."
"Lalu apa yang menetap?"
"Tindakanmu, Le. Apa yang kamu lakukan meskipun kamu merasa tidak kuat. Itu yang menetap."
Arga mengangguk. Ia tidak tahu apakah ia mengerti sepenuhnya. Tapi setidaknya, ia merasa sedikit lebih tenang. Sedikit lebih ringan. Sedikit lebih berani untuk melanjutkan hidup.
Malam itu, Arga pulang dengan hati yang masih sakit, tapi tidak sehancur sebelumnya.
Sukmawati sudah menyiapkan makan malam. Ayam goreng, sayur lodeh, sambal terasi, dan nasi hangat yang mengepulkan uap.
"Kamu habis dari mana?" tanya Sukmawati.
"Dari Kali Wening, Bu."
"Sama Mbah Jayarasa?"
"Iya, Bu. Mbah banyak cerita."
"Cerita apa?"
"Tentang istrinya yang meninggal."
Sukmawati menghela napas. "Mbah Jayarasa memang jarang cerita tentang itu. Kamu harus merasa terhormat karena dia memilihmu untuk mendengarkan."
"Aku merasa terhormat, Bu. Tapi aku juga sedih. Ternyata Mbah Jayarasa juga pernah mengalami apa yang aku alami sekarang."
"Setiap orang punya lukanya masing-masing, Le. Yang membedakan adalah bagaimana mereka menyikapinya."
Arga makan malam bersama orang tuanya.
Tidak banyak bicara. Tidak banyak tawa. Tapi ada kehangatan. Kehangatan yang tidak akan pernah ia temukan di tempat lain.
Setelah makan, ia duduk di beranda bersama Sastro.
Ayahnya sedang mengisap rokok kretek. Asapnya mengepul tipis, lalu lenyap diterpa angin malam.
"Yah," panggil Arga.
"Iya."
"Ayah dulu pernah putus cinta?"
Sastro menghentikan isapannya. "Pernah."
"Cerita, dong."
"Apa yang mau diceritakan? Aku ditinggal. Dia memilih laki-laki lain. Aku sedih. Aku marah. Aku kecewa."
"Lalu? Bagaimana Ayah bisa move on?"
"Ayah tidak move on, Le. Ayah hanya belajar bahwa ada yang lebih penting dari cinta."
"Apa itu?"
"Keluarga. Tanggung jawab. Ibu. Kamu. Jatmika. Itu semua. Cinta itu penting, tapi bukan segalanya."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ayahnya.
Mungkin benar. Mungkin cinta bukan segalanya. Mungkin ada hal-hal lain yang juga perlu diperjuangkan. Mungkin hidup tidak hanya tentang Sekar. Mungkin hidup juga tentang orang-orang yang masih ada di sekitarnya. Tentang ibu yang selalu memasakkan makanan hangat. Tentang ayah yang selalu mengajarinya sabar. Tentang Mbah Jayarasa yang selalu memberinya nasihat bijak. Tentang Ratri yang selalu setia menjadi teman.
"Makasih, Yah," kata Arga.
"Makasih buat apa?"
"Makasih udah mengingatkan bahwa aku tidak sendirian."
Sastro menepuk bahu putranya. "Kamu tidak sendirian, Le. Jangan pernah merasa sendirian. Karena selama masih ada yang peduli padamu, kamu tidak sendirian."
Malam semakin larut.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka lemari. Mengambil kebaya putih pemberian Sekar—kebaya yang sudah dijahit Sukmawati menjadi bantal kecil.
Ia memeluk bantal itu.
Wanginya sudah hampir hilang.
Tersisa sedikit. Samar. Seperti kenangan yang semakin lama semakin kabur.
"Kamu di mana, Sekar?" bisiknya. "Kamu baik-baik saja? Kamu masih ingat aku? Kamu masih sayang aku?"
Hening.
Tidak ada jawaban.
Tapi Arga merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang memeluknya dari jauh.
Seperti ada tangan yang mengusap rambutnya.
Seperti ada suara yang berkata, "Aku di sini. Aku baik-baik saja. Aku masih ingat kamu. Aku masih sayang kamu. Dan aku akan pulang. Suatu hari nanti. Janji."
Air mata Arga jatuh.
Tapi kali ini, bukan air mata kesedihan.
Bukan air mata kehilangan.
Bukan air mata keputusasaan.
Tapi air mata harapan.
Harapan bahwa semua akan baik-baik saja.
Harapan bahwa ia akan melihat Sekar lagi.
Harapan bahwa cinta mereka tidak akan terkalahkan oleh jarak dan waktu dan takdir yang kejam.
"Sekar," bisiknya, "aku akan menunggumu. Aku tidak akan berhenti menulis. Aku tidak akan berhenti berharap. Aku tidak akan berhenti mencintaimu."
Dan di kejauhan, di kota yang jauh, di rumah yang asing, seorang gadis menangis sambil memeluk foto seorang pemuda desa yang tidak pernah ia lupakan.
BAB 49
FAJAR BARU
Enam bulan sudah Sekar pergi.
Enam bulan. Seratus delapan puluh hari. Empat ribu tiga ratus dua puluh jam. Tidak ada surat. Tidak ada telepon. Tidak ada kabar. Hanya keheningan yang seperti biasa, seperti angin yang terus berembus tanpa pernah membawa pesan.
Tapi Arga berubah.
Bukan perubahan yang drastis. Bukan perubahan yang terlihat dari luar. Tapi perubahan di dalam. Di ruang paling dalam hatinya yang dulu gelap dan dingin, kini mulai ada cahaya. Cahaya kecil. Samar. Tapi terus menyala. Seperti bintang timur yang muncul sebelum fajar.
Ia masih menulis surat. Setiap minggu. Tidak pernah absen. Sekarang sudah dua puluh tiga surat yang ia kirim. Dua puluh tiga surat yang tidak pernah dibalas. Tapi ia tidak berhenti. Mungkin karena ia sudah terlalu keras kepala. Mungkin karena ia tidak tahu cara berhenti. Mungkin karena ia percaya bahwa suatu hari nanti, surat-surat itu akan sampai ke tangan Sekar.
"Kamu masih menulis surat?" tanya Ratri suatu sore ketika mereka duduk di bawah pohon randu.
Arga menoleh. Ratri datang tanpa ia sadari. Wajahnya cerah, senyumnya lebar, tangannya membawa sekantong jambu air dari kebun belakang rumahnya.
"Iya, masih," jawab Arga.
"Sudah berapa?"
"Dua puluh tiga."
"Dan belum ada balasan?"
"Belum."
"Kamu tidak capek?"
Arga tersenyum. Senyum yang aneh. Senyum yang membuat Ratri mengerutkan kening. "Capek? Capek itu untuk orang yang menyerah, Rat. Aku tidak menyerah. Jadi aku tidak capek."
Ratri tertawa. "Kamu ini aneh."
"Aku tahu."
"Tapi aku suka keanehanmu."
"Itu karena kamu sudah terbiasa."
"Mungkin. Atau mungkin karena aku juga aneh."
Arga menatap Ratri. Teman masa kecilnya itu kini sudah tumbuh menjadi perempuan yang cantik. Rambutnya panjang, kulitnya putih, matanya bulat dan jernih. Banyak pemuda desa yang mengincarnya. Tapi ia tetap setia menjadi teman Arga. Tidak pernah tergoda. Tidak pernah berubah.
"Ratri," panggil Arga.
"Iya."
"Kamu tidak pernah berpikir untuk punya pacar?"
"Pernah. Tapi belum ketemu yang cocok."
"Kamu nggak mau coba sama siapa gitu?"
"Siapa misalnya?"
"Entahlah. Banyak yang suka sama kamu."
"Tapi aku tidak suka sama mereka."
"Kamu terlalu pilih-pilih."
"Ya, memang. Soalnya pacar itu bukan baju, Arga. Baju bisa ganti-ganti. Pacar nggak bisa. Kalau salah pilih, bisa sengsara seumur hidup."
Arga tertawa. "Kamu ini bijak banget."
"Nggak bijak. Realistis."
Matahari mulai condong ke barat. Langit berubah warna dari biru ke jingga, dari jingga ke merah muda, dari merah muda ke ungu.
"Ratri," panggil Arga.
"Iya."
"Aku mau cerita sesuatu."
"Apa?"
"Beberapa hari yang lalu, aku bermimpi tentang Sekar."
Ratri menegang. "Mimpi apa?"
"Aku mimpi dia berdiri di depan gerbang desa. Dia tersenyum padaku. Dia melambai. Dia bilang, 'Aku pulang, Arga. Aku pulang.'"
"Lalu?"
"Lalu aku bangun. Itu saja."
"Itu hanya mimpi, Arga."
"Aku tahu. Tapi mimpi itu terasa nyata. Sangat nyata. Sampai-sampai ketika aku bangun, aku benar-benar mencari dia di setiap sudut rumah."
Ratri tidak menjawab. Ia hanya memandang Arga. Laki-laki di depannya ini, yang dulu ia kenal sebagai anak pendiam yang suka duduk di tepi sungai, yang dulu ia kenal sebagai seseorang yang aneh dan misterius, yang dulu ia kenal sebagai anak laki-laki yang tidak pernah menangis, kini duduk di sampingnya dengan mata sayu, dengan hati yang masih terluka, dengan harapan yang masih terus menyala meskipun tidak ada alasan untuk tetap menyala.
"Arga," kata Ratri akhirnya.
"Iya."
"Kamu masih sayang sama Sekar?"
"Masih. Akan selalu."
"Kamu tidak berpikir untuk mencari yang baru?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Karena hatiku sudah terisi. Tidak ada ruang untuk yang baru."
Ratri menghela napas. "Kamu ini romantis banget."
"Nggak romantis. Setia."
"Itu sama saja."
"Tidak. Romantis itu lebay. Setia itu sederhana. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaanku sendiri dengan berpura-pura bahwa aku bisa mencintai orang lain."
Malam itu, Arga makan malam bersama keluarganya.
Sastro dan Sukmawati duduk di kursi yang sama. Di meja yang sama. Dengan menu yang sama—nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
"Le," panggil Sukmawati.
"Iya, Bu."
"Tadi siang, Pak Lurah datang ke rumah."
"Ada apa, Bu?"
"Dia bilang, ada surat untukmu dari kota."
Sendok di tangan Arga jatuh. Berbunyi keras di lantai.
"A—apa, Bu?"
"Surat, Le. Dari kota. Pengirimnya atas nama Sekar."
Dunia Arga seperti berhenti berputar. Jantungnya berdegup kencang. Tangannya gemetar. Dadanya naik turun. Ia tidak percaya. Apakah ini mimpi? Apakah ini nyata? Apakah ini benar-benar terjadi?
"Bu," suara Arga bergetar, "di mana suratnya?"
"Pak Lurah bilang, besok kamu bisa ambil di kantornya. Dia menyimpannya di brankas. Supaya tidak hilang seperti yang dulu."
"Besok? Kenapa tidak sekarang?"
"Karena kantornya sudah tutup, Le. Sudah malam. Besok pagi kita ke sana."
Arga tidak bisa tidur malam itu.
Ia gelisah. Ia bolak-balik dari kamar ke beranda, dari beranda ke kamar lagi. Ia tidak sabar menunggu pagi. Ia ingin segera ke kantor Pak Lurah. Ia ingin segera membaca surat itu. Ia ingin segera tahu kabar Sekar. Apa ia baik-baik saja? Apa ia masih ingat padanya? Apa ia masih sayang padanya?
"Kamu tenang, Le," kata Sastro yang ikut gelisah melihat anaknya mondar-mandir.
"Aku tidak bisa tenang, Yah."
"Tapi kamu harus tidur. Besok kamu harus segar."
"Aku tidak butuh segar, Yah. Aku butuh surat itu."
Sastro menghela napas. Ia tidak bisa marah. Ia juga pernah muda. Ia juga pernah mengalami apa yang dialami anaknya sekarang, degup jantung yang tidak teratur, tangan yang gemetar, pikiran yang kacau, hati yang tidak tenang. Karena surat. Karena kabar. Karena seseorang yang sangat dicintai.
"Baiklah," kata Sastro. "Kita ke kantor Pak Lurah sekarang."
"Sekarang?"
"Sekarang. Ayah akan bangunkan Ibu."
Mereka bertiga berjalan di bawah cahaya bulan.
Sastro di depan, membawa senter lampu minyak. Sukmawati di tengah. Arga di belakang.
Langkah mereka cepat. Sesekali Arga tersandung batu atau akar pohon, tapi ia tidak peduli. Ia terus berjalan. Mengejar surat. Mengejar kabar. Mengejar harapan.
Pak Lurah tinggal tidak jauh dari balai desa. Rumahnya besar, berdinding batu bata, beratap genteng keramik. Halamannya luas, ditumbuhi pohon mangga dan rambutan.
Sastro mengetuk pintu.
Tok. Tok. Tok.
Dari dalam terdengar suara Pak Lurah yang masih terjaga. "Siapa?"
"Sa stro, Pak. Sastro. Sama keluarga."
Pintu terbuka. Pak Lurah berdiri dengan kemeja lengan pendek dan sarung. Wajahnya sedikit kaget melihat Sastro dan keluarganya datang di tengah malam.
"Ada apa ini? Tengah malam begini?"
"Maaf, Pak," kata Sastro. "Anak saya tidak bisa tidur. Dia minta suratnya sekarang."
Pak Lurah memandang Arga. Matanya yang sembab, tangannya yang gemetar, bibirnya yang bergetar. "Kamu Arga?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang dulu menunggu Sekar di gerbang desa?"
"Iya, Pak."
"Kamu yang dulu mengejar mobil sampai jatuh di pinggir jalan?"
Arga menunduk. "Iya, Pak."
Pak Lurah menghela napas. "Masuk. Aku ambilkan suratnya."
Arga duduk di kursi tamu.
Tangannya masih gemetar. Dadanya masih berdebar. Pikirannya masih kacau.
Pak Lurah masuk ke dalam, ke ruang kerjanya. Beberapa menit kemudian ia keluar dengan sebuah amplop putih di tangannya.
"Ini," kata Pak Lurah sambil menyerahkan amplop itu pada Arga. "Jangan hilang. Ini satu-satunya."
Arga menerima amplop itu. Tangannya gemetar hebat. Ia memandang amplop itu sekian lama. Tulisan di atasnya: "Untuk Arga, dari Sekar."
Belum dibuka. Belum dibaca. Tapi air matanya sudah jatuh.
"Kamu tidak mau membukanya?" tanya Sukmawati pelan.
"Aku takut, Bu," bisik Arga.
"Takut apa?"
"Takut isinya... bukan yang aku harapkan."
"Tapi kamu tidak akan tahu kalau tidak membukanya."
Arga menarik napas panjang.
Ia membuka amplop itu perlahan. Tangannya masih gemetar. Kertas di dalamnya berwarna putih, dilipat rapi, dengan tulisan tangan Sekar yang rapi.
Ia membaca.
"Untuk Arga, laki-laki yang masih kutunggu di desa."
"Maaf aku tidak bisa membalas surat-suratmu sebelumnya. Orang tuaku menyembunyikan semua surat yang kau kirim. Aku baru menemukannya kemarin, di lemari kamar mereka, di dalam amplop coklat yang terkunci."
"Aku menangis membacanya. Satu per satu. Dari surat pertama hingga surat kedua puluh dua. Aku tidak tahu bahwa kau masih menungguku. Aku tidak tahu bahwa kau masih mencintaiku. Aku pikir kau sudah move on. Aku pikir kau sudah lupa padaku. Aku pikir kau sudah menemukan yang baru."
"Tapi ternyata tidak. Kau masih di sana. Di desa itu. Di rumah itu. Di pinggir sungai itu. Di bawah pohon randu itu."
"Aku juga masih di sini. Di kota ini. Di rumah orang tuaku. Di kamar yang sempit. Di hati yang masih menyimpan namamu."
"Aku ingin pulang, Arga. Tapi aku belum bisa. Orang tuaku masih mengawasiku. Mereka masih berusaha menjodohkanku dengan anak teman kantor Bapak."
"Tapi aku tidak mau. Aku hanya mau kau. Hanya kau. Selamanya."
"Doakan aku, Arga. Doakan aku agar kuat. Doakan aku agar bisa melawan. Doakan aku agar bisa pulang."
"Sekar."
Arga tidak bisa menahan tangisnya.
Ia terisak di kursi tamu Pak Lurah.
Di depan orang tuanya.
Di depan Pak Lurah yang hanya diam memandang.
Ia tidak peduli.
Ia tidak malu.
Ia hanya merasa lega. Sangat lega. Lega seperti orang yang baru saja selesai menempuh perjalanan panjang melewati badai dan hujan dan angin dan akhirnya sampai di tempat yang aman.
"Bu," isaknya, "dia masih sayang aku. Dia masih ingat aku. Dia masih mau pulang."
Sukmawati memeluk anaknya. "Ibu tahu, Le. Ibu tahu."
"Dia tidak lupa. Dia tidak lupa. Dia hanya tidak bisa."
"Iya, Le. Iya."
Sastro menepuk pundak Arga. "Sudah, Le. Jangan nangis. Ini kabar baik. Harusnya kamu senang."
"Aku senang, Yah. Tapi aku juga sedih. Aku sedih karena dia harus berjuang sendirian di sana. Aku sedih karena aku tidak bisa membantunya."
"Kamu bisa membantu, Le."
"Bagaimana, Yah?"
"Dengan terus menulis. Dengan terus mengirim surat. Dengan terus meyakinkan dia bahwa kau tidak akan pergi."
Arga mengangguk. Ia menghapus air matanya dengan lengan baju.
"Pak Lurah," katanya, "boleh saya pinjam kertas dan pulpen?"
Pak Lurah tersenyum. "Boleh, Nak. Silakan."
Arga menulis surat balasan di meja tamu Pak Lurah.
Dengan tangan yang masih gemetar. Dengan mata yang masih basah. Dengan hati yang masih penuh.
"Untuk Sekar, perempuan yang masih kutunggu di kota."
"Suratmu aku terima. Aku membacanya berulang-ulang. Setiap kata, setiap huruf, setiap tanda baca. Aku hafal semuanya sekarang."
"Aku tidak akan berhenti menunggu. Aku tidak akan berhenti mencintai. Aku tidak akan berhenti berharap."
"Kamu kuat, Sekar. Kamu lebih kuat dari yang kau kira. Kamu bisa melawan mereka. Kamu bisa memilih jalanmu sendiri."
"Karena jika tidak, aku yang akan datang menjemputmu. Akan kulewati gunung dan sungai dan lautan dan apapun untuk membawamu pulang."
"Tunggu aku. Atau biarkan aku menunggumu. Yang penting, kita tidak berhenti percaya bahwa kita akan bertemu lagi."
"Aku sayang kamu, Sekar. Lebih dari yang bisa diungkapkan kata-kata."
"Dari Arga, yang selalu di sini."
Arga melipat surat itu, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menulis alamat Sekar di kota.
"Saya akan mengirimkannya besok pagi pertama," kata Pak Lurah. "Saya sendiri yang akan mengantarnya ke kantor pos."
"Terima kasih, Pak," kata Arga.
"Sama-sama, Nak. Semoga cinta kalian diberkahi Tuhan."
Mereka bertiga berjalan pulang di bawah cahaya bulan.
Langit cerah. Bintang-bintang bersinar terang. Bulan sabit tipis menggantung rendah di langit barat.
"Bu," panggil Arga.
"Iya, Le."
"Aku merasa... ringan. Setelah sekian lama, aku merasa ringan."
"Karena bebanmu sudah berkurang, Le. Kamu tidak lagi menunggu tanpa kepastian. Kamu sekarang tahu bahwa dia masih sayang padamu."
"Iya, Bu. Dan itu cukup. Itu sudah cukup."
Sastro berjalan di samping istrinya, tidak bicara. Tapi dari cara ia menggenggam tangan Sukmawati, dari cara ia sesekali memandang Arga dengan tatapan lembut, Arga tahu bahwa ayahnya juga merasa lega.
Mereka sampai di rumah.
Arga masuk ke kamarnya.
Ia membuka jendela.
Angin malam berembus lembut.
Ia memandang langit yang dipenuhi bintang.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Senyum yang tulus.
Senyum yang tidak dipaksakan.
Senyum yang lahir dari kebahagiaan.
"Sekar," bisiknya, "aku akan terus menulis. Aku akan terus mengirim surat. Aku tidak akan berhenti. Sampai kau pulang. Atau sampai aku menjemputmu."
Dan di kejauhan, di kota yang jauh, di rumah yang asing, Sekar juga tersenyum. Ia memandang langit yang sama. Ia memandang bintang yang sama. Ia memandang bulan yang sama.
Ia merasakan sesuatu.
Kehangatan.
Kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Kehangatan yang hanya bisa dirasakan oleh dua hati yang saling terhubung meskipun terpisah jarak.
"Arga," bisiknya, "aku akan kuat. Aku janji. Dan suatu hari, aku akan pulang."
Fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Cahayanya perlahan-lahan mengusir gelap malam.
Burung-burung mulai bernyanyi.
Ayam-ayam jantan mulai berkokok.
Dan Arga berdiri di beranda rumahnya, memandang ke arah timur, ke arah mana matahari akan segera terbit.
Ia memegang bantal kecil dari kebaya Sekar di tangannya.
Ia menciumnya.
Ia tersenyum.
"Fajar baru," bisiknya. "Fajar baru untuk hari yang baru. Untuk harapan yang baru. Untuk cinta yang tidak pernah mati."
BAB 50
PENGEMBARA PERTAMA
Setahun sudah Sekar pergi.
Setahun. Tiga ratus enam puluh lima hari. Delapan ribu tujuh ratus enam puluh jam. Tidak terasa. Seperti mimpi yang terlalu panjang. Seperti hujan yang tidak pernah berhenti. Seperti sungai yang terus mengalir tanpa pernah tahu ke mana muaranya.
Tapi Arga tidak lagi menangis setiap malam.
Ia masih menulis surat. Setiap minggu. Sekarang sudah lebih dari lima puluh surat yang ia kirim. Dan setiap bulan, selalu ada surat balasan dari Sekar. Tidak pernah terlewat. Sekali sebulan. Tepat. Seperti janji. Seperti komitmen. Seperti cinta yang tidak mau mati.
Isi surat-surat itu bermacam-macam.
Kadang Sekar bercerita tentang harinya. Tentang makanan yang ia makan. Tentang buku yang ia baca. Tentang lagu yang ia dengar. Tentang bunga yang ia lihat di taman. Tentang hujan yang mengguyur kotanya. Tentang matahari yang terik membakar kulitnya.
Kadang Sekar bercerita tentang perjuangannya. Tentang pertengkaran dengan orang tuanya. Tentang tekanan untuk menikah dengan anak teman kantor Bapaknya. Tentang usahanya untuk tetap kuat. Tentang malam-malam ketika ia ingin menyerah. Tentang pagi-pagi ketika ia memilih untuk bangkit lagi.
Kadang Sekar bercerita tentang rindunya. Tentang betapa ia merindukan desa. Tentang betapa ia merindukan sungai. Tentang betapa ia merindukan pohon randu. Tentang betapa ia merindukan angin yang berembus di antara padi-padi. Tentang betapa ia merindukan Arga. Tentang betapa ia ingin segera pulang.
Dan Arga membalas semua surat itu.
Satu per satu.
Dengan tangan yang kadang gemetar.
Dengan mata yang kadang basah.
Dengan hati yang kadang sesak.
Tapi ia tetap menulis.
Karena menulis adalah satu-satunya cara untuk tetap terhubung.
Karena kata-kata adalah satu-satunya jembatan antara desa kecil ini dan kota besar yang telah menelannya.
Karena jika ia berhenti menulis, ia takut ia akan kehilangan Sekar untuk selamanya.
Pagi itu, langit cerah. Matahari baru saja terbit. Embun masih menempel di daun-daun padi. Burung-burung mulai bernyanyi dari kejauhan.
Arga duduk di beranda rumahnya, menyesap kopi hitam buatan ibunya. Pahit. Panas. Membakar tenggorokan. Tapi ia terbiasa. Setahun yang lalu, ia tidak bisa minum kopi tanpa meringis. Kini, kepahitan itu sudah menjadi teman. Seperti kepahitan hidup yang perlahan-lahan ia telan setiap hari.
"Le," panggil Sukmawati dari dapur.
"Iya, Bu."
"Kamu sudah sarapan?"
"Belum, Bu. Nanti saja."
"Jangan nanti. Nanti perutmu sakit."
"Iya, Bu. Sebentar."
Sukmawati keluar dari dapur dengan sepiring nasi dan lauk sederhana. Ia duduk di samping Arga. "Le, Ibu mau bicara."
"Tentang apa, Bu?"
"Tentang masa depanmu."
Arga menoleh. "Masa depan aku?"
"Iya. Kamu sudah tidak sekolah. Kamu hanya membantu ayahmu di sawah. Itu tidak cukup, Le. Kamu butuh sesuatu yang lebih."
"Seperti apa, Bu?"
"Seperti bekerja. Di kota. Di pabrik. Di toko. Di mana pun. Asal kamu punya penghasilan."
"Tapi, Bu, aku tidak bisa meninggalkan desa. Aku harus menunggu Sekar."
"Kamu bisa menunggu sambil bekerja, Le. Kamu tidak harus diam di sini. Sekar juga tidak akan bahagia kalau kamu hanya diam dan tidak melakukan apa-apa."
Arga terdiam. Ia memikirkan kata-kata ibunya. Mungkin benar. Mungkin ia tidak harus diam. Mungkin ia bisa bekerja. Mungkin ia bisa menghasilkan uang. Mungkin ia bisa membangun masa depan. Untuk dirinya. Untuk keluarganya. Untuk Sekar.
"Tapi, Bu, aku takut," kata Arga.
"Takut apa?"
"Aku takut kalau aku pergi, Sekar pulang, dan aku tidak ada di sini."
"Kamu bisa titip pesan pada kami. Pada Ratri. Pada Mbah Jayarasa. Pada siapa pun. Sekar akan tahu bahwa kamu bekerja. Dia akan mengerti."
"Apakah dia akan mengerti?"
"Iya, Le. Dia perempuan yang baik. Dia tidak akan marah. Dia justru akan bangga."
Siang itu, Arga pergi ke rumah Mbah Jayarasa.
Rumah tua itu masih berdiri kokoh di ujung desa, di balik rumpun bambu yang lebat. Halamannya ditumbuhi rumput liar dan semak-semak. Tapi ada sesuatu yang damai di sana. Sesuatu yang tidak ia temukan di tempat lain.
"Mbah," panggil Arga sambil mengetuk pintu.
Dari dalam terdengar suara Mbah Jayarasa yang parau. "Masuk, Le. Pintu tidak dikunci."
Arga masuk.
Mbah Jayarasa duduk di kursi bambu, menghadap ke dapur yang gelap. Di depannya ada secangkir teh jahe yang masih mengepul.
"Mbah sehat?" tanya Arga.
"Masih diberi umur panjang sama Tuhan," jawab Mbah Jayarasa. "Kamu ada perlu?"
Arga duduk di kursi seberang Mbah Jayarasa. "Mbah, aku mau minta nasihat."
"Nasihat tentang apa?"
"Tentang masa depan. Ibuku bilang, aku harus bekerja. Di kota. Tapi aku takut meninggalkan desa."
Mbah Jayarasa menghela napas. Ia menyesap teh jahenya. "Kamu tahu, Le, dulu ketika aku masih muda, aku juga pernah pergi."
"Pergi ke mana, Mbah?"
"Ke kota. bekerja. selama lima tahun."
"Lalu?"
"Aku pulang. Karena istriku sakit. Tapi dia sudah meninggal ketika aku sampai di sini."
Arga terdiam. "Maaf, Mbah. Aku tidak tahu."
"Tidak apa. Itu sudah lama sekali. Tapi satu hal yang aku pelajari dari perjalanan itu, Le. Bahwa kadang, kita harus pergi untuk bisa kembali."
"Maksud Mbah?"
"Maksudku, jangan takut pergi. Karena pergi bukan berarti meninggalkan. Pergi adalah bagian dari perjalanan pulang."
Arga memikirkan kata-kata Mbah Jayarasa.
Pergi adalah bagian dari perjalanan pulang.
Mungkin benar.
Mungkin ia harus pergi.
Bukan untuk melupakan.
Bukan untuk mencari yang baru.
Tapi untuk mempersiapkan masa depan.
Untuk Sekar.
Untuk mereka berdua.
"Mbah," kata Arga lagi.
"Iya, Le."
"Apa Mbah punya kenalan di kota? Yang bisa memberikan aku pekerjaan?"
Mbah Jayarasa tersenyum. "Ada. Keponakanku. Dia punya toko bangunan di kota. Dia selalu butuh orang jujur dan pekerja keras."
"Bolehkah aku dikenalkan?"
"Boleh. Tapi kamu harus siap, Le. Bekerja di kota tidak mudah. Hidup di kota tidak sederhana seperti di desa."
"Aku siap, Mbah."
"Kamu yakin?"
"Aku yakin."
"Baik. Aku akan tulis surat untuknya. Kamu bawa surat itu. Kasihkan padanya. Dia akan memberimu pekerjaan."
Arga pulang dengan hati yang campur aduk.
Senang. Sedih. Takut. Berani. Semuanya bercampur menjadi satu. Seperti sayur asem yang terlalu banyak bumbu.
"Bu," panggil Arga ketika sampai di rumah.
"Iya, Le."
"Aku akan bekerja di kota."
Sukmawati menghentikan sapuannya. "Serius?"
"Serius. Mbah Jayarasa punya kenalan di sana. Dia akan membantu."
"Kapan kamu berangkat?"
"Minggu depan."
Sukmawati berjalan mendekat. Ia memeluk anaknya. "Ibu tidak siap."
"Aku juga tidak siap, Bu. Tapi aku harus berani."
"Ibu bangga sama kamu, Le."
"Makasih, Bu."
Minggu depan tiba lebih cepat dari yang Arga kira.
Hari-hari terasa seperti air yang mengalir deras, tidak bisa ditahan, tidak bisa diperlambat.
Pagi itu, Arga sudah bersiap sejak subuh.
Ia membawa satu koper kecil berisi pakaian, surat-surat dari Sekar, bantal kecil dari kebaya Sekar, bekal makanan dari ibunya, dan doa dari ayahnya.
"Kamu ingat pesan Ayah?" tanya Sastro.
"Ingat, Yah. Jaga diri. Jangan mudah percaya sama orang asing. Jangan lupa salat. Jangan lupa makan. Jangan lupa pulang."
"Yang paling penting, jangan lupa pulang, Le."
"Iya, Yah. Aku tidak akan lupa."
Sukmawati menangis. Ia memeluk Arga sekian lama. "Le, Ibu titip kamu sama Tuhan. Jaga kesehatan. Jangan pelit-pelit sama diri sendiri. Kalau butuh uang, telepon Ibu. Ibu akan kirim."
"Jangan nangis, Bu. Aku cuma bekerja. Bukan perang."
"Air mata ibu itu tidak kenal waktu, Le. Bisa kapan saja."
Arga tersenyum. Ia mencium tangan ayah dan ibunya. Lalu berjalan menuju gerbang desa.
Ratri sudah menunggu di depan pagar rumahnya.
Matanya merah. Tangannya memegang sekantong jambu air.
"Untuk bekal di jalan," kata Ratri sambil menyerahkan kantong itu.
"Makasih, Rat."
"Hati-hati di sana."
"Iya."
"Jangan lupa kabari aku."
"Iya."
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Jangan lupa tidur."
"Iya."
"Jangan lupa... jangan lupa sama aku."
Arga menatap Ratri. Teman masa kecilnya. Sahabatnya. Perempuan yang selalu setia di sampingnya, bahkan ketika ia jatuh cinta pada orang lain.
"Aku tidak akan lupa, Rat. Kamu sahabat terbaikku."
Ratri tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Senyum yang menyembunyikan sesuatu. Senyum yang membuat Arga bertanya-tanya, tapi memilih untuk tidak bertanya.
"Pergilah," kata Ratri. "Sebelum aku berubah pikiran dan melarangmu pergi."
Arga tertawa. "Kamu bukan tipe orang yang melarang."
"Kamu benar. Aku bukan. Jadi pergilah."
Arga sampai di gerbang desa.
Ia menoleh ke belakang. Memandang desa Wringinrejo untuk terakhir kalinya—setidaknya untuk sementara waktu.
Desa kecil dengan sawah yang membentang luas. Dengan sungai yang mengalir tenang. Dengan pohon randu yang menjulang tinggi. Dengan rumah-rumah kayu yang sederhana. Dengan orang-orang yang ramah dan hangat.
Desa tempat ia dilahirkan. Desa tempat ia dibesarkan. Desa tempat ia jatuh cinta. Desa tempat ia patah hati. Desa tempat ia belajar tentang kehidupan.
"Desa," bisik Arga, "aku akan kembali. Suatu hari nanti. Dengan Sekar. Atau tanpa Sekar. Tapi aku akan kembali."
Ia menoleh ke depan.
Jalan panjang terbentang di hadapannya.
Jalan yang akan membawanya ke kota.
Jalan yang akan membawanya ke pekerjaan.
Jalan yang akan membawanya ke masa depan.
Jalan yang tidak akan pernah ia lalui jika Sekar tidak pergi.
"Mungkin," pikir Arga, "ini yang namanya takdir. Sekar pergi, aku menyusul. Bukan karena aku ingin. Tapi karena aku harus."
Ia melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Tidak menoleh lagi.
Tidak menangis lagi.
Hanya berjalan.
Menuju fajar baru.
Menuju harapan baru.
Menuju cinta yang tidak akan pernah mati.
Di kejauhan, di kota yang jauh, Sekar berdiri di balkon rumahnya.
Ia memandang ke arah selatan.
Ke arah desa.
Ke arah Arga.
Ia tidak tahu bahwa Arga sedang dalam perjalanan menuju kota yang sama. Ia tidak tahu bahwa takdir sedang mempertemukan mereka lagi. Ia tidak tahu bahwa hari-hari penantiannya akan segera berakhir.
Tapi ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang sedang mendekat.
Seperti ada seseorang yang sedang berusaha menjangkaunya.
Seperti ada seseorang yang sedang berjuang untuknya.
"Arga," bisiknya, "aku merindukanmu. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu lagi. Aku tidak sabar untuk memelukmu. Aku tidak sabar untuk mengatakan bahwa aku masih mencintaimu. Aku tidak sabar untuk memulai hidup baru bersamamu."
Dan di kejauhan, di jalan panjang menuju kota, Arga tersenyum.
Ia merasakan sesuatu.
Kehangatan di dadanya.
Seperti ada seseorang yang sedang memikirkannya.
Seperti ada seseorang yang sedang merindukannya.
Seperti ada seseorang yang sedang menunggunya.
"Sekar," bisiknya, "aku datang. Aku akan menjemputmu. Tunggu aku."
Lima jam kemudian, Arga tiba di kota.
Hiruk-pikuk. Mobil. Orang. Gedung-gedung tinggi. Debu. Polusi. Panas. Semuanya berbeda dengan desa.
Ia merasa asing.
Ia merasa kecil.
Ia merasa tersesat.
Tapi ia tidak menyerah.
Ia mencari alamat toko bangunan kepunyaan keponakan Mbah Jayarasa. Ia menanyakan pada orang-orang yang lewat. Ia tersesat beberapa kali. Ia hampir putus asa. Tapi akhirnya ia sampai.
Tokonya besar. Dindingnya dari batu bata merah. Atapnya dari seng. Halamannya penuh dengan pasir, batu bata, semen, dan kayu-kayu panjang.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit.
"Saya cari Pak Bondan," jawab Arga.
"Saya Bondan. Kamu siapa?"
"Saya Arga. Dikirim oleh Mbah Jayarasa."
Pak Bondan mengerutkan kening. "Mbah Jayarasa? Paman saya?"
"Iya, Pak. Mbah Jayarasa minta saya menyampaikan surat ini."
Arga menyerahkan surat itu.
Pak Bondan membacanya. Matanya bergerak dari baris pertama hingga terakhir. Lalu ia memandang Arga. "Kamu keponakan Mbah Jayarasa?"
"Bukan. Saya warga desa. Anak dari Sastro dan Sukmawati."
"Kamu mau bekerja di sini?"
"Iya, Pak."
"Kamu bisa apa?"
"Saya bisa angkat barang. Saya bisa bantu jualan. Saya bisa apa pun yang Bapak perintahkan."
Pak Bondan tersenyum. "Kamu jujur. Aku suka. Besok kamu mulai kerja. Sekarang, kamu cari kontrakan dulu. Ada kos-kosan di belakang toko. Murah. Kamu bisa tinggal di sana."
"Terima kasih, Pak."
Arga menemukan kos-kosan di belakang toko.
Ruangan kecil. Hanya muat satu dipan, satu lemari, satu meja. Lantainya dari semen. Dindingnya dari bata tanpa plester. Lampu bohlam 5 watt yang redup. Kamar mandi di luar, bersama dengan penghuni kos lainnya.
Tapi itu cukup.
Ia tidak butuh mewah.
Ia butuh tempat untuk tidur. Tempat untuk istirahat. Tempat untuk menulis surat untuk Sekar.
Arga membuka kopernya.
Ia mengeluarkan bantal kecil dari kebaya Sekar. Ia letakkan di atas dipan. Ia menciumnya.
"Aku di sini, Sekar," bisiknya. "Di kota yang sama denganmu. Di tempat yang mungkin tidak terlalu jauh dari tempatmu. Tapi aku belum tahu di mana kamu tinggal. Aku belum tahu bagaimana cara menemuimu."
Ia menghela napas.
"Tapi aku tidak akan menyerah. Aku akan mencari. Aku akan bertanya. Aku akan berusaha. Sampai aku menemukanmu."
Malam itu, di kamar kos yang sempit dan pengap, Arga menulis surat untuk Sekar.
Bukan untuk dikirim lewat kantor pos.
Tapi untuk dibaca sendiri.
Sebagai pengingat.
Sebagai harapan.
Sebagai doa.
"Untuk Sekar, perempuan yang masih kucintai."
"Hari ini, aku memulai hidup baru di kota."
"Aku takut. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan. Aku tidak tahu apakah aku bisa menemukanmu."
"Tapi satu hal yang aku tahu. Aku tidak akan menyerah. Karena kamu ada di kota ini. Kamu ada di suatu tempat. Di balik gedung-gedung tinggi ini. Di balik jalan-jalan ramai ini. Di balik jutaan orang yang lalu lalang tanpa saling mengenal."
"Dan suatu hari—mungkin tidak sekarang, mungkin tidak besok, mungkin tidak lusa—kita akan bertemu. Bukan di desa. Tapi di kota ini. Di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya."
"Doakan aku, Sekar. Seperti aku selalu mendoakanmu."
"Dari Arga, yang sekarang juga di kota."
Ia melipat surat itu.
Ia menyimpannya di dalam lemari, di sebelah bantal kecil dari kebaya Sekar.
Ia memejamkan mata.
Ia tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah setahun, ia tidur dengan tenang.
Tanpa mimpi buruk.
Tanpa air mata.
Tanpa rasa takut.
Hanya tidur.
Seperti anak kecil yang lelah bermain seharian.
Seperti petani yang selesai panen.
Seperti pengembara yang akhirnya menemukan tempat untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.
EPILOG
KIDUNG PENGEMBARA
Wanci subuh nyawang langit wiwit padhang,
Pengembara mlaku ora ngerti dalan,
Atine kebak pangarep-arep lan pitakon,
Kapan bakal ketemu karo sing tak enteni nganti ati iki garing.
Sekar isih adoh, nanging ora ilang,
Kaya lintang timur sakdurunge fajar,
Arga terus mlaku, ora tau mandeg,
Ora ngerti yen wis cedhak karo jawaban sing tak jaluk.
Dalan iku dawa, wektu iku ora ngaso,
Nanging cinta kuwi abadi, ora bisa ilang,
Sanajan bumi lan langit pisah,
Dheweke bakal nemu dalan kanggo bali.
Terjemahan:
Waktu subuh memandang langit mulai terang,
Pengembara berjalan tidak tahu jalan,
Hatinya penuh harapan dan pertanyaan,
Kapan akan bertemu dengan yang ia tunggu sampai hatinya kering.
Sekar masih jauh, tapi tidak hilang,
Seperti bintang timur sebelum fajar,
Arga terus berjalan, tidak pernah berhenti,
Tidak tahu bahwa sudah dekat dengan jawaban yang ia minta.
Jalan itu panjang, waktu itu tidak beristirahat,
Tapi cinta itu abadi, tidak bisa hilang,
Meskipun bumi dan langit terpisah,
Mereka akan menemukan jalan untuk kembali.
BUKU I: BENIH DI BAWAH FAJAR — SELESAI
Bersambung ke BUKU II: PETA DI BAWAH BINTANG
Di mana Arga akan melanjutkan pengembaraannya di kota, mencari Sekar di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang asing, bertemu dengan orang-orang baru yang akan mengubah cara pandangnya tentang cinta, tentang keluarga, tentang perjuangan, dan tentang arti pulang. Apakah ia akan menemukan Sekar? Apakah cinta mereka akan bertahan melewati ujian jarak, waktu, dan campur tangan orang tua? Ataukah takdir telah menyiapkan jalan yang berbeda untuk mereka berdua?
Semua akan terjawab di buku kedua.
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...