NOVEL ROMANSA REMAJA
PUCUK DI CINTA, ULAM TIBA
Sebuah Kisah Tentang Penantian Panjang, Cinta Tulus, dan Takdir yang Akhirnya Menyatukan Dua Hati
DISCLAIMER
Cerita ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa yang diceritakan merupakan hasil imajinasi penulis. Kemiripan dengan nama, tokoh, atau kejadian sebenarnya adalah kebetulan semata dan tidak disengaja.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
Desa Sriwidadi, Pinggiran Kota Kuala Kapuas, Sore hari, selepas hujan. Hujan baru saja reda ketika Riyadi duduk termenung di beranda rumah kayu tuanya. Genangan air masih tersisa di halaman, memantulkan cahaya senja yang mulai memudar. Burung burung keluar dari persembunyian, berkicau seolah ikut meratapi sesuatu yang tak pernah sampai ke telinga manusia. Pemuda kurus berkaus lusuh abu abu itu menggenggam secarik kertas lusuh di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk memainkan ujung kertas itu berulang ulang.
"Lima tahun," bisiknya pada angin yang membawa bau tanah basah. "Lima tahun sudah aku pendam ini, Yan. Lima tahun."
Dari dalam rumah, suara Mak Tonah memecah kesunyian. "Di! Kau masih di luar? Hari sudah sore, nanti kau masuk angin!"
Riyadi tidak menoleh. "Sebentar, Mak. Aku masih ingin menikmati angin."
Mak Tonah kemudian keluar sambil menyeka tangannya pada kain sarung batik lusuh yang melilit pinggangnya. "Menikmati angin? Hah! Anak muda sekarang suka berlagak puitis. Itu bukan angin yang kau nikmati, Di. Itu kenangan. Dan kenangan itu kalau terlalu lama dielus elus, bisa jadi luka." Ia lalu duduk di samping Riyadi tanpa diminta. "Bukan bisa baca pikiran, tapi aku ini ibumu. Aku tahu kapan anakku sedang sakit hati. Masih tentang Aryanti, ya?"
Riyadi menggenggam kertasnya lebih erat. "Mak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tanyalah."
"Pernahkah Mak merasakan mencintai seseorang dengan segenap jiwa, tapi orang itu tidak tahu? Atau mungkin ia tahu, tapi ia pura pura tidak tahu?"
Mak Tonah menghela napas panjang seperti orang yang sudah terlalu sering menjawab pertanyaan semacam itu. "Anakku, pertanyaanmu itu pertanyaan orang yang lelah berharap. Tapi biar aku balik bertanya: apa yang lebih menyakitkan, cinta yang tidak sampai, atau cinta yang sampai tapi tidak pernah diperjuangkan?"
Riyadi menatap ibunya dengan mata yang mulai berkaca kaca. "Aku tidak mengerti, Mak."
"Karena kau belum pernah kehilangan dengan cara yang benar. Kau hanya kehilangan karena kau takut mengucapkannya."
"Tapi aku takut, Mak," suara Riyadi bergetar seperti dawai kecapi yang terlalu kencang dipetik. "Bukan takut ditolak. Tapi takut kalau aku mengatakannya, lalu segalanya berubah. Persahabatan kami selama ini... aku sayang itu. Aku tidak mau kehilangan Aryanti sebagai teman."
Mak Tonah lalu menatap wajah putranya dengan tatapan yang dalam, tatapan seorang ibu yang bisa melihat menembus tulang dan daging, sampai ke jantung yang berdebar tak menentu. "Tapi sekarang kau kehilangan dia sebagai apa, Di?"
Pertanyaan itu menggantung di udara seperti kabut tipis yang mulai turun membungkus Desa Sriwidadi. Riyadi tidak bisa menjawab. Atau mungkin ia takut menjawab.
Sementara itu, di ujung desa yang sama, di rumah panggung bercat hijau muda yang mulai mengelupas di beberapa sudut, Aryanti duduk di tepi jendela kamarnya. Rambut hitam panjangnya masih basah setelah dimandikan dengan air sumur yang dingin menusuk kulit. Di pangkuannya, sebuah boneka kain usang yang jahitannya mulai lepas di sana sini. Ia menatap boneka itu seperti menatap seonggok kenangan yang tak pernah mau pergi.
"Aku bingung, Nonik. Sungguh bingung."
Boneka itu diam saja. Ia menamainya Nonik, pemberian Riyadi saat mereka masih duduk di bangku kelas tiga SD. Saat itu Riyadi masih kecil dengan sengaja di pipi dan gigi yang ompong karena jatuh dari sepeda. Boneka itu sudah usang, kainnya mulai pudar, tapi Aryanti tak pernah tega membuangnya.
"Setiap kali Riyadi dekat, jantungku terasa aneh. Tapi dia tidak pernah berkata apa apa. Malah belakangan ini dia semakin menjadi jadi. Suka menjahili aku. Memanggilku dengan nada tengil. Kadang aku kesal, Nonik. Benar benar kesal." Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan sambil menghela napas. "Tapi kenapa... kenapa ketika dia tidak datang menemuiku, aku malah merindukan kekesalan itu?"
Dari luar kamar, suara Saripah, ibunya, memanggil dengan nada yang tidak bisa ditawar. "Yan! Turunlah! Tante Mina datang membawa kue bingka!"
"Sebentar, Ma!"
"Jangan sebentar sebentar!" suara Saripah meninggi seperti air yang mulai mendidih. "Kau itu gadis, Yan. Harus tahu tata krama menerima tamu. Cepat turun! Jangan hanya berdiam diri seperti orang sedang jatuh cinta!"
Aryanti tersentak. "Jatuh cinta?" Ia menatap boneka Nonik dengan pandangan kosong. "Apa aku... jatuh cinta pada Si Tengil itu?"
Hatinya berdebar kencang seperti genderang yang dipukul terlalu keras. Jatuh cinta? Pada Riyadi? Pada pemuda kurus yang lidahnya sering kali lebih cepat dari akalnya? Pada anak kampung yang hanya bekerja serabutan di kebun karet orang? Apa itu mungkin?
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah besar di ujung desa bagian barat, rumah satu satunya yang memiliki genteng merah menyala dan pagar besi hitam yang dijaga dua ekor anjing gembala, Kadir duduk di kursi rotan sambil menggerutu. Ia gemuk, berkemeja batik lengan pendek motif parang rusak, dan di tangannya segelas es kelapa muda dengan sedotan plastik merah.
"Jadi dia masih juga nggak mau? Aryanti itu?" tanyanya pada Mamat, pria paruh baya berkumis tebal yang berdiri di depannya seperti pengawal setia.
Mamat mengangguk hormat. "Belum mau, Den. Keluarga Aryanti memang tidak menolak secara tegas. Tapi mereka juga belum memberi jawaban. Seperti menggantung."
"Menggantung? Apa apaan itu?" Kadir meletakkan gelasnya dengan kasar hingga air es tumpah sedikit di meja. "Aku ini anak orang kaya! Haji Bahar! Siapa lagi yang mau melamar gadis kampung seperti dia kalau bukan aku?"
"Mungkin dia masih ada rasa pada pemuda itu, Den. Yang Riyadi itu. Si Tengil."
Kadir tertawa. Tapi tawanya pahit seperti kulit jeruk yang digigit langsung. "Riyadi? Si miskin yang kerjanya cuma bantu bantu di kebun karet orang? Hah! Seumur hidup dia kerja, belum tentu bisa membeli satu gram emas untuk mahar."
"Tapi Aryanti dan Riyadi... mereka sahabat lama, Den. Sejak kecil."
Kadir lalu menatap Mamat dengan mata menyipit seperti ular yang melihat mangsa. "Karena itu, Mamat, aku tidak suka bersaing. Aku ingin menang. Dan untuk menang, aku tidak segan segan melakukan apa pun."
"Maksud Den?"
"Cari tahu semua kejelekan Riyadi. Atau kalau tidak ada... buatlah ada."
Mamat terdiam seperti orang yang sedang menelan ludah pahit. "Den... apa tidak keberatan? Itu namanya fitnah."
"Fitnah?" Kadir menegakkan duduknya, dadanya membusung seperti ayam jantan yang siap bertarung. "Di mana letak fitnahnya kalau akhirnya orang percaya? Percaya atau tidak, Mamat, dunia ini bukan milik orang jujur. Dunia milik orang yang tahu cara mengambil apa yang dia mau."
"Baik, Den. Aku coba cari akal."
"Bagus," Kadir kembali tersenyum, senyum yang tidak pernah mencapai matanya. "Sekarang mari kita lihat siapa yang akan bertahan. Si miskin yang sok tengil itu... atau aku."
Kembali di rumah Aryanti, gadis itu akhirnya turun juga setelah didesak berulang kali oleh ibunya. Ia mendapati Tante Mina sudah duduk manis di ruang tamu dengan sepiring kue bingka di pangkuannya. Tante Mina adalah adik dari ayah Aryanti yang sudah meninggal tiga tahun lalu. Bibi itu terkenal cerewet seperti burung beo yang tak pernah lelah berkicau.
"Yan, kau tahu?" Tante Mina langsung memulai tanpa basa basi. "Haji Bahar sudah bertanya dua kali pada ibumu. Kapan kau akan memberi jawaban untuk lamaran keponakannya, Kadir."
Aryanti mengerutkan kening. "Aku belum siap menikah, Tante."
"Belum siap? Usiamu sudah sembilan belas!" Tante Mina tertawa kecil tapi matanya serius seperti sedang berdebat di pengadilan. "Di zaman aku dulu, umur tujuh belas sudah punya dua anak! Satu laki laki, satu perempuan. Suami kerja di kantor camat, hidup serba kecukupan."
"Zaman Tante dulu berbeda dengan sekarang," jawab Aryanti pelan tapi tegas.
Saripah yang baru keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi gelas gelas dan teko teh langsung menyela. "Yan, jangan membantah. Tante Mina hanya peduli padamu."
"Tapi Ma..."
"Tapi apa?" Saripah meletakkan nampan di meja dengan bunyi berderak. "Kadir itu pemuda baik baik. Kaya. Orang tuanya terpandang. Apa yang kurang?"
Aryanti menatap ibunya dengan mata yang basah oleh perasaan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata kata. "Cinta, Ma. Yang kurang adalah cinta."
Ruangan mendadak sunyi. Bahkan jangkrik di luar ikut diam seolah ikut mendengarkan.
Tante Mina kemudian tertawa, tawa yang terkesan dipaksakan. "Cinta? Alah, Yan. Cinta itu bisa dibeli dengan emas. Biar lambat, tapi pasti datang. Yang penting kenyang perut dan terjamin masa depan. Cinta itu seperti tanam tanaman, Yan. Kalau kau siram setiap hari dengan uang, lama lama ia tumbuh juga."
Aryanti berdiri. "Maaf, Tante. Maaf, Mak. Aku tidak setuju. Cinta tidak bisa dibeli. Dan aku tidak akan menikah tanpa cinta."
Ia berbalik dan menaiki tangga kayu yang berderit di setiap anak tangganya.
Saripah berteriak ke arah punggung putrinya yang mulai menghilang di balik pintu. "Aryanti! Dengar kau! Jangan keras kepala seperti ayahmu! Ayahmu dulu juga keras kepala, lihat akhirnya! Meninggal dengan utang di mana mana!"
Tante Mina menghela napas panjang. "Ah, anak muda. Semua ingin cinta. Padahal yang namanya cinta itu hanya bumbu. Yang utama adalah perut."
Di beranda rumah Riyadi, senja mulai berganti maghrib. Langit berubah dari jingga menjadi ungu tua, dan bulan sabit mulai muncul di ufuk timur seperti senyum tipis yang penuh teka teki.
"Sudah, Di. Masuklah," kata Mak Tonah sambil berdiri dan menepuk nepuk sarungnya. "Aku sudah memasak sayur asam dan ikan patin bakar. Kau harus makan. Tidak boleh larut dalam perasaan terus menerus. Nanti kau jadi kurus kering seperti lidi."
"Mak... besok aku ingin bicara dengan Aryanti."
"Bicara tentang apa?"
"Tentang apa yang selama ini tidak berani aku katakan."
Mak Tonah menatap putranya lama, lama sekali, seperti seorang seniman yang sedang mengamati lukisannya sendiri. "Kau yakin?"
"Aku lelah menyembunyikan, Mak. Entah apa pun hasilnya, aku harus berani. Aku tidak ingin sepuluh tahun lagi duduk di beranda ini dan menyesali hari ini."
Mak Tonah lalu mengusap kepala Riyadi dengan lembut. "Anakku... akhirnya kau dewasa juga."
"Tapi aku takut, Mak. Bukan takut ditolak. Tapi takut... ternyata Aryanti sudah memilih orang lain."
"Maka kau harus tahu jawabannya besok," kata Mak Tonah sambil menarik tangan Riyadi untuk berdiri. "Sekarang, makan dulu. Tidak ada masalah sebesar apa pun yang tidak bisa diselesaikan dengan perut kenyang. Nenekmu dulu bilang, perut yang lapar membuat pikiran keruh. Pikiran yang keruh membuat hati gelap. Hati yang gelap tidak bisa mengambil keputusan yang baik."
Riyadi tersenyum untuk pertama kalinya sore itu. Senyum kecil yang tidak sampai menggerakkan bibirnya, tapi cukup untuk membuat Mak Tonah merasa lega.
Di bawah bulan yang sama, di kamar yang sama, Aryanti masih duduk di tepi jendela dengan boneka Nonik di pangkuannya. Lampu minyak tanah di samping tempat tidurnya mulai redup karena sumbu yang terlalu pendek.
"Besok aku akan mencari tahu, Nonik," bisiknya pada boneka itu seperti seorang detektif yang sedang menyusun strategi. "Aku akan memaksa Riyadi bicara jujur. Kalau dia memang tidak suka padaku, biar aku tahu. Kalau dia suka... biar aku dengar dari mulutnya sendiri."
Ia mengecup dahi boneka itu dengan lembut. "Karena aku lelah, Nonik. Lelah berasumsi sendiri. Lelah menebak nebak. Lelah bangun tidur dengan perasaan tidak tenang."
Aryanti lalu mematikan lampu minyak tanah. Ruangan menjadi gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang masuk melalui celah celah jendela kayu yang tidak pernah rapat sempurna. Kabut tipis mulai turun membungkus Desa Sriwidadi.
Desa kecil yang tak pernah tidur nyenyak karena rahasia rahasia yang disembunyikan oleh para penghuninya. Rahasia tentang cinta yang tak terucap. Rahasia tentang ambisi yang menghalalkan segala cara. Rahasia tentang perasaan yang ditolak mentah mentah oleh keadaan.
Dan di antara kabut itu, dua hati bersiap untuk dipertemukan, atau dihancurkan oleh satu kalimat yang terlambat diucapkan. Karena di desa sekecil Sriwidadi, tidak ada yang benar benar tersembunyi. Semua orang tahu segalanya. Tapi entah kenapa, tidak ada yang mau bicara terus terang.
Mungkin karena di situlah letak tragedi terbesar manusia: kita semua tahu, tapi kita semua diam.
BAB I
SENJA PERTAMA
Enam belas tahun yang lalu
Desa Sriwidadi, tepian Sungai Kapuas, sore hari menjelang maghrib
Hari itu langit Desa Sriwidadi berwarna jingga seperti kulit jeruk bali yang baru dikupas. Awan awannya tipis dan bergerak lambat, seolah malas berpindah tempat. Di tepian sungai yang airnya berwarna cokelat kehijauan karena lumut, dua orang anak duduk bersisian di atas sebuah dermaga kayu reyot yang sudah berumur entah berapa puluh tahun. Kaki mereka bergantung, sesekali menyentuh permukaan air yang dingin menusuk tulang.
Anak laki laki itu bernama Riyadi. Waktu itu usianya baru empat tahun. Badannya kurus, rambutnya hitam dan acak acakan seperti sarang burung yang baru ditinggalkan induknya. Pipinya masih chubby dengan sisa sisa bedak yang lupa dibersihkan. Ia memakai kaus oblong warna biru pudar yang terlalu besar untuk tubuh mungilnya, pemberian dari sepupunya yang tinggal di Banjarmasin. Celana pendeknya robek di bagian lutut sebelah kanan.
Anak perempuan di sampingnya bernama Aryanti. Usianya tiga tahun setengah. Rambutnya hitam legam dan diikat dua ekor dengan karet gelang merah. Wajahnya bulat dan bersih, matanya besar dengan bulu mata lentik yang membuatnya terlihat seperti boneka porselen yang dijual di toko Cina di Pasar Kuala Kapuas. Ia memakai baju tidur bermotif bunga bunga kecil warna pink, karena sebentar lagi ia akan diajak pulang dan langsung tidur.
"Riyad, lihat!" seru Aryanti kecil sambil menunjuk ke arah air yang bergerak perlahan. "Ada ikan! Besar!"
Riyadi kecil yang sedang asyik memainkan kerikil di tangannya langsung menoleh. "Mana?" tanyanya dengan mata berbinar binar.
"Itu! Di sampang tiang dermaga! Yang warna kehitaman!"
Riyadi mengerjap ngerjapkan matanya, mencoba fokus. "Ah, itu bukan ikan, Yan. Itu cuma bayang bayang kayu. Kau lihat terlalu lama, jadi matamu kabur."
"Bukan!" Aryanti menggeleng keras hingga kedua ekor rambutnya ikut bergoyang. "Aku lihat dengan jelas! Ikannya besar sekali! Sebesar lengan ayah!"
"Ayahmu larinya kurus, Yan. Mana ada ikan sebesar lengan kurus? Masa sih?"
"Bukan lengan kurus! Lengan ayahku berotot! Ayahku kuat!"
Riyadi tertawa kecil—tawa khas anak kecil yang masih polos dan tidak tahu beban. "Ayahmu itu kerjanya di sawah, Yan. Mana ada sawah yang butuh lengan berotot? Yang butuh lengan kuat itu tukang angkat pasir di banua."
Aryanti cemberut. Bibir bawahnya maju ke depan seperti ceret yang mendidih. "Kau jahat, Riyad! Ayahku kuat! Ayahku bisa mengangkat aku dengan satu tangan!"
"Satu tangan? Itu kan kau masih kecil dan ringan. Coba ayahmu angkat pedati kerbau, baru kulihat."
"Kau... kau..." Aryanti menghentakkan kaki kecilnya ke papan dermaga hingga berbunyi dug dug dug. "Kau jahat, jahat, jahat!"
Riyadi malah tertawa semakin keras. Ia suka melihat Aryanti marah. Setiap kali gadis kecil itu marah, pipinya mengembang seperti balon, dan matanya menjadi sangat bulat hingga terlihat seperti mata ikan mas koki milik Pak RT di ujung desa.
"Ya sudah, ya sudah," kata Riyadi sambil mengangkat kedua tangannya menyerah. "Aku minta maaf. Ayahmu kuat. Ayahmu paling kuat se Kuala Kapuas."
Aryanti berhenti menghentakkan kaki. "Benarkah?"
"Benar. Paling benar."
"Paling benar itu mana? Kalau benar ya benar, kalau tidak ya tidak. Masa ada paling benar?"
Riyadi menggaruk kepalanya yang gatal. "Ya sudah, aku bohong sedikit. Ayahmu kuat nomor dua setelah ayahku."
"Ah, kau lagi lagi!"
"Eits, jangan marah dulu, Yan. Aku belum selesai bicara."
Aryanti melipat kedua tangannya di dada, posisi yang membuatnya terlihat lebih lucu daripada mengancam. "Kata siapa kau boleh bicara lagi? Aku masih marah."
"Kalau kau masih marah, kau mau rugi. Karena aku mau cerita sesuatu yang lucu."
"Lucu bagaimana?"
"Lucu banget. Sampai sampai Uwak Jali yang giginya tinggal satu itu bisa tertawa terbahak bahak."
Mata Aryanti berbinar. "Cerita."
"Tapi jangan marah lagi."
"Janji."
"Janji sungguhan?"
"Janji sungguhan sungguhan."
Riyadi lalu duduk bersila di papan dermaga. Aryanti mengikutinya. Kaki kecil mereka berdua kini tidak lagi menggantung, tetapi dilipat di bawah tubuh masing masing.
"Ini cerita tentang kakek dari kakekku," mulai Riyadi dengan suara yang dibuatnya serendah mungkin—gaya seorang pendongeng cilik yang baru belajar dari buku cerita bergambar pinjaman tetangga. "Dulu, waktu Sungai Kapuas belum selebar sekarang, ada seorang nelayan tua yang setiap hari pergi mencari ikan. Suatu hari, nelayan itu dapat ikan besar. Ikan mas raksasa. Sebesar gerobak sapi!"
"Wah," Aryanti terpesona. "Benarkah ada ikan sebesar itu?"
"Kata kakekku, dulu ada. Sekarang mungkin sudah habis ditangkap orang."
"Terus?"
"Nelayan itu membawa ikannya ke rumah. Istrinya senang sekali. Lalu ia berkata pada nelayan itu, 'Pak, ini ikan besar sekali. Daripada kita makan sendiri, lebih baik kita jual di pasar. Nanti uangnya bisa buat beli beras satu minggu.'"
"Terus?"
"Tapi nelayan itu geleng geleng kepala. Katanya, 'Bu, ini ikan pemberian sungai. Kita tidak boleh menjualnya. Kita harus memakannya bersama sama dengan tetangga.'"
"Wah, baik sekali nelayan itu."
"Iya, baik sekali. Lalu mereka mengundang seluruh tetangga untuk makan bersama. Tapi... ini bagian lucunya, Yan."
"Apa? Apa?"
"Ternyata ikan itu belum dimasak. Ikan itu masih hidup! Begitu semua tetangga datang dan duduk di tikar pandan, ikan itu melompat lompat di dalam ember besar. Satu ekor, dua ekor, tiga ekor..."
"Bukannya tadi cuma satu ikan?"
"Iya, cuma satu. Tapi karena melompatnya kencang sekali, kelihatannya seperti banyak. Akhirnya tetangga tetangga itu bukannya makan ikan, malah mengejar ikan di sekeliling rumah. Ada yang jatuh ke comberan. Ada yang kepeleset di kulit pisang. Ada yang celananya robek karena kena paku."
Aryanti tertawa. Tertawanya kecil, seperti tawa boneka yang ditarik talinya pelan pelan. "Celakanya mereka, ya?"
"Iya celaka. Tapi yang paling celaka itu nelayannya sendiri. Karena ia terlalu sibuk mengejar ikan, ia lupa kalau perahunya belum ditambatkan dengan benar. Perahunya hanyut terbawa arus sungai."
"Aduh, malang sekali nasib nelayan itu!"
"Memang malang. Tapi..." Riyadi mendadak berhenti.
"Tapi apa?"
"Tapi untungnya, ikan itu akhirnya berhasil ditangkap lagi oleh anaknya nelayan yang paling kecil. Anak itu bernama... eh... aku lupa namanya."
"Namanya siapa, Riyad? Coba ingat ingat."
"Namanya... namanya..."
"Pasti namanya panjang, ya?"
"Bukan panjang. Tapi aku benar benar lupa." Riyadi menggaruk kepalanya lagi, kebiasaan buruk yang akan terus ia bawa sampai dewasa. "Yang jelas, anak itu lalu berbisik pada ikannya, 'Hai ikan, kau mau ikut aku ke sungai lagi? Atau kau mau kugoreng untuk makan malam?'"
"Trus ikan itu jawab?"
"Ikan itu diam saja, Yan. Kan ikan! Mana bisa bicara!"
Aryanti tertawa lagi, kali ini lebih keras. "Ah, kau pembohong! Dari tadi ceritanya bohong semua!"
"Memang cerita dongeng namanya bohong yang teratur," kata Riyadi dengan muka polos. "Itu kata ibu guru."
"Dari mana ibu guru tahu tentang dongeng?"
"Ya dari bukunya dong."
"Lalu dari mana buku tahu tentang dongeng?"
"Ya ditulis orang."
"Siapa orangnya?"
"Orang yang pintar."
"Pintar apa?"
"Pintar menulis cerita bohong." Riyadi tersenyum lebar, memperlihatkan dua baris gigi susu yang masih lengkap. "Jadi, tidak ada yang perlu ditanyakan lagi, Yan. Cerita dongeng memang bohong. Tapi kita tetap senang mendengarkannya, kan?"
Aryanti mengangguk pelan. "Aku suka cerita kau, Riyad. Meskipun kau sering jahil."
"Siapa yang jahil? Aku ini baik hati."
"Baik hati setan, tahu?"
"Setan itu jahat, Yan. Kalau baik hati setan namanya setan baik."
"Setan baik namanya malaikat, Riyad. Dasar tidak tahu apa apa."
"Ya sudah, aku malaikat. Apakah kau senang?"
Aryanti memandang Riyadi. Di bawah cahaya senja yang mulai meredup, wajah Riyadi yang gelap oleh terik matahari sepanjang hari itu terlihat seperti anak laki laki biasa. Tidak ganteng, tidak jelek. Hanya biasa. Tapi matanya... matanya selalu terlihat jujur. Dan untuk seorang anak perempuan seusia Aryanti, kejujuran adalah hal yang paling mudah ia kenali.
"Senang," jawab Aryanti akhirnya. "Aku senang punya teman seperti kau, Riyad. Meskipun kau tengil."
"Tengil? Aku tidak tengil. Aku hanya terus terang."
"Terus terang sekali sampai sering menyakiti hati orang."
"Kalau benar, kenapa sakit? Bukannya sakit itu muncul karena kita tidak terima kenyataan?"
Aryanti menggeleng bingung. "Aku tidak mengerti ucapan kau, Riyad. Bicaralah seperti anak normal. Jangan seperti orang dewasa."
Riyadi tertawa. "Oke, oke. Aku akan bicara normal. Jadi begini, Yan: aku suka bermain denganmu. Kau gadis paling seru di desa ini."
"Paling seru? Artinya apa?"
"Artinya... kau tidak cengeng seperti anak perempuan lain. Kau mau main ke hutan. Kau mau manjat pohon rambai. Kau tidak takut kotor. Kau tidak takut digigit semut. Kau juga tidak takut ketinggalan acara TV padahal nontonnya di rumah orang lain karena kita tidak punya TV."
Aryanti tertawa lagi. "Kau tahu, Riyad? Sebenarnya aku takut sama semut. Tapi kalau sama kau, rasanya semua ketakutan itu hilang."
"Kenapa?"
"Entahlah. Mungkin karena kau selalu melindungiku."
Riyadi terdiam. Ada sesuatu yang hangat menyebar di dadanya—perasaan yang belum bisa ia beri nama karena usianya masih terlalu kecil untuk memahami cinta. Tapi nalurinya mengatakan bahwa berada di dekat Aryanti adalah hal terbaik yang pernah ia alami dalam hidupnya yang singkat itu.
"Dengar, Yan," kata Riyadi kemudian dengan suara yang tiba tiba menjadi serius—serius untuk ukuran anak seusianya. "Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu. Sampai kapan pun. Sampai kita besar. Sampai kita tua. Sampai gigi kita copot semua."
"Kalau gigi copot, bagaimana caranya makan, Riyad?"
"Pakai ompol."
"Ompol itu bukan buat makan, ompol itu buat..."
"Ah, sudahlah, Yan. Jangan pikirkan soal gigi dulu. Yang penting, kau percaya aku?"
Aryanti mengangguk. "Aku percaya, Riyad. Karena kau tidak pernah bohong padaku. Kecuali soal dongeng tadi, itu namanya bohong hiburan."
"Lihat, kau mulai pintar sekarang."
"Memang dari dulu aku pintar. Hanya saja aku tidak ingin kau malu."
"Hei! Kau mulai tengil sekarang!"
"Karena guruku adalah Si Tengil."
Mereka berdua tertawa. Tertawa kecil, polos, dan tanpa beban. Tertawa yang hanya bisa dilakukan oleh anak anak yang belum tahu bahwa dunia ini penuh dengan luka.
Di kejauhan, suara panggilan mulai terdengar.
"Riyadiii! Riyadiii! Pulang!" Itu suara Mak Tonah—ibu Riyadi—yang dikenal punya suara paling nyaring se desa. Ia bisa memanggil anaknya dari ujung desa sambil memasak, tanpa perlu berhenti mengaduk sayur.
"Yan! Yan! Aryantiii!" Itu suara Saripah—ibu Aryanti—yang lebih halus, tapi tetap terdengar jelas karena angin sore memang sedang bertiup ke arah perkampungan.
Riyadi berdiri. "Aku harus pulang, Yan."
Aryanti juga berdiri. Kaki kecilnya sedikit gemetar karena sudah terlalu lama duduk. "Aku juga."
"Besok kita main lagi?"
"Besok aku harus ikut ibu ke pasar."
"Lusa?"
"Lusa ibu bilang kita pergi ke rumah nenek di Tamban."
"Tiga hari lagi?"
"Tiga hari lagi aku bebas."
Riyadi mengangguk. "Baik. Tiga hari lagi kita bertemu di dermaga ini. Jam yang sama. Aku tunggu."
"Janji?"
"Janji."
Aryanti mengulurkan kelingkingnya. Riyadi menyambutnya. Mereka berkelingkitan seperti anak anak desa lainnya yang belajar tradisi itu dari ibu ibu mereka.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat," ucap Aryanti dengan serius.
"Kalau mati di tempat, nggak bisa main lagi dong?" celetuk Riyadi.
"Ya tidak main lagi. Mati kan sudah jadi mayat."
"Mayat bisa diajak main nggak, Yan?"
Aryanti memukul lengan Riyadi pelan. "Jangan konyol, Riyad! Sumpah janji itu serius!"
"Iya, iya, serius. Aku sumpah demi nenekku yang sudah meninggal, aku akan datang tiga hari lagi. Puas?"
"Belum puas. Ulangi sekali lagi."
"Demi nenekku yang sudah meninggal, aku akan datang tiga hari lagi."
"Nenekmu yang mana? Yang di tanah dusun atau yang di Banjarmasin?"
"Ya ampun, Yan, banyak amat pertanyaanmu. Yang di tanah dusun!"
"Oke. Aku percaya."
Mereka berpisah. Riyadi berlari ke arah utara desa menuju rumah kayunya yang bercat biru tua. Aryanti berjalan cepat ke selatan, ke rumah panggung hijau mudanya.
Sampai di rumahnya, Riyadi disambut oleh Mak Tonah dengan tangan di pinggang dan mata melotot.
"Nak, kau dari mana saja? Hari sudah mau maghrib! Aku sudah panggil puluhan kali, tidak pernah kau dengar!"
Riyadi melepas sandal jepitnya yang tinggal satu—pasangannya hilang entah di mana. "Aku di dermaga, Mak. Main sama Aryanti."
"Aryanti? Anaknya Saripah itu?"
"Iya, Mak. Anaknya Bu Saripah."
Mak Tonah mendengus. "Kau itu lelaki, Di. Jangan terlalu dekat sama anak perempuan. Nanti orang kampung bicara."
"Bicara apa, Mak? Kami masih kecil. Aryanti baru tiga tahun. Aku baru empat tahun. Mana ada yang mau bicara?"
"Ah, kau tidak tahu. Mulut orang itu lebih tajam dari pisau. Sekarang duduk, makan. Ikan patinnya sudah dingin."
Riyadi duduk di lantai dapur yang terbuat dari papan kasar. Mak Tonah menyodorkan sepiring nasi hangat dengan ikan patin bakar dan sambal terasi.
"Mak," kata Riyadi sambil mengunyah nasi. "Menurut Mak, Aryanti itu cantik tidak?"
Mak Tonah menghentikan tangannya yang sedang mengipas ngipas api di tungku. "Kenapa kau tanya begitu?"
"Tidak kenapa kenapa. Aku hanya ingin tahu pendapat Mak."
"Semua anak kecil itu cantik di mata ibunya masing masing. Tapi kalau aku lihat, Aryanti itu... agak mirip ibunya. Saripah itu dulu juga cantik waktu masih gadis. Sekarang sudah layu karena terlalu banyak pikiran."
"Kalau Aryanti dewasa nanti, apa ia masih cantik?"
Mak Tonah menatap putranya dengan tatapan aneh—seperti orang yang menemukan sesuatu yang tidak biasa pada barang yang biasa biasa saja. "Kau itu masih kecil, Di. Jangan pikirkan perempuan dulu. Pikiran sekolah. Pikiran bagaimana nanti kau bisa bantu aku di kebun."
"Tapi Mak, aku rasa..."
"Rasa apa?"
"Rasa aku... senang kalau dekat Aryanti."
Mak Tonah terdiam beberapa saat. Lalu ia duduk di samping Riyadi dan mengusap rambut anaknya yang acak acakan. "Anakku, perasaan senang itu wajar. Tapi kau harus ingat satu hal."
"Apa, Mak?"
"Kita ini keluarga miskin, Di. Aryanti juga tidak kaya kaya amat. Tapi Saripah itu punya mimpi besar untuk anaknya. Ia ingin Aryanti menikah dengan orang kaya. Dengan orang yang bisa memberi hidup mewah. Bukan dengan anak kebun seperti kita."
Riyadi mengunyah lebih lambat. "Jadi, apa maksud Mak?"
"Maksudku, jangan terlalu berharap pada sesuatu yang mungkin tidak akan menjadi milikmu. Nikmati saja persahabatan kalian. Tapi jaga hati. Jangan sampai hatimu terlanjur tertambat pada seseorang yang tidak bisa kau raih."
Riyadi tidak menjawab. Ia hanya menatap ikan patin di piringnya yang sudah tinggal tulang. Sesuatu di dadanya terasa sedikit sakit—sakit yang pertama kali ia rasakan dalam hidupnya. Dan ironisnya, sakit itu bukan karena jatuh dari sepeda atau kaki terkena serpihan kaca. Sakit itu muncul hanya karena mendengar bahwa mungkin suatu hari nanti, Aryanti tidak akan menjadi miliknya.
Di rumah Aryanti, suasana sedikit berbeda.
Saripah sedang memandikan Aryanti di belakang rumah dengan air hangat dari cerek. Gadis kecil itu duduk di ember plastik merah sambil bermain dengan busa sabun.
"Ma," kata Aryanti sambil menyabuni lengannya. "Riyadi itu anak baik, ya?"
Saripah menuangkan air ke rambut Aryanti. "Baik atau tidaknya bukan urusan kita, Yan. Yang penting kau jaga diri. Jangan terlalu sering main sama laki laki. Nanti kena guna guna."
"Guna guna apa, Ma?"
"Guna guna cinta. Nanti kau jatuh cinta sama dia, padahal dia anak miskin. Hidupmu nanti susah."
"Tapi Riyadi baik, Ma. Ia selalu melindungiku. Hari ini ia cerita dongeng. Tentang nelayan dan ikan mas raksasa."
Saripah mendengus. "Dongeng tidak bisa bikin kenyang, Yan. Yang bisa bikin kenyang itu uang."
"Tapi Ma..."
"Tidak ada tapi. Kau masih kecil, jangan pikirkan soal laki laki. Fokus main dan belajar. Nanti kalau sudah besar, biar ibu yang pilihkan suami untukmu. Yang kaya. Yang punya mobil. Yang bisa beli emas sekuintal."
Aryanti diam. Ia tidak mengerti apa itu emas sekuintal. Yang ia mengerti, hari ini ia sangat senang bermain dengan Riyadi. Dan rasa senang itu, baginya, lebih berharga daripada emas yang tidak ia kenali bentuknya.
"Iya, Ma," jawabnya lirih. Tapi di dalam hati kecilnya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah melupakan sore itu. Sore ketika Riyadi membawanya terbang ke dunia dongeng dengan cerita cerita konyolnya.
Sore ketika cinta pertama mulai berbisik tanpa keduanya menyadari.
Malam itu, di tempat tidurnya masing masing, Riyadi dan Aryanti memandang langit yang sama melalui jendela kamar mereka. Langit Desa Sriwidadi dipenuhi bintang—jutaan titik cahaya yang berkelap kelip seperti mata mata kecil yang mengawasi mimpi setiap penduduk.
Riyadi bergumam pada langit langit rumahnya, "Aku akan membuktikan pada Mak. Bahwa meskipun miskin, aku bisa membuat Aryanti bahagia."
Aryanti, di rumahnya yang lain, memeluk boneka Nonik erat erat dan berbisik, "Aku tidak peduli kaya atau miskin, Nonik. Aku hanya ingin Riyadi selalu di sampingku."
Dan langit malam itu hanya diam menjadi saksi—seperti biasa.
BAB II
BUNGA DESA
Desa Sriwidadi, halaman sekolah dasar
Saat istirahat, di bawah pohon rambai
Empat belas tahun telah berlalu sejak sore di dermaga itu.
Riyadi kini bukan lagi anak kecil kurus dengan kaus oblong kebesaran. Ia tumbuh menjadi remaja laki laki berusia delapan belas tahun dengan bahu yang mulai melebar dan rahang yang mulai tegas. Tingginya tidak terlalu tinggi—sekitar seratus enam puluh lima sentimeter—cukup untuk membuatnya tidak kalah sorot di antara pemuda pemuda desa lainnya. Rambutnya masih hitam dan agak kasar, tidak pernah diatur rapi karena menurutnya sisir adalah benda asing yang tidak pernah ia butuhkan. Kulitnya gelap oleh terik matahari kebun karet tempat ia bekerja sepulang sekolah. Matanya masih sama seperti dulu—jujur, tajam, dan kadang kadang menyimpan perasaan yang tidak pernah ia ucapkan.
Tapi ada satu hal yang berubah: sikapnya.
Jika dulu ia dikenal sebagai anak pendiam yang hanya berbicara jika ditanya, kini ia dijuluki Si Tengil oleh hampir seluruh warga Desa Sriwidadi. Bukan karena ia jahat, bukan pula karena ia suka menyakiti hati orang. Ia hanya memiliki lidah yang lebih cepat dari pikirannya. Kata kata keluar dari mulutnya sebelum sempat ia saring. Dan sering kali, kata kata itu tajam—tajam seperti parang baru asah.
"Eh, Si Tengil! Belajarlah sopan santun sedikit! Kau itu sudah dewasa, bukan anak kecil lagi!" begitu kata tetangga tetangganya setiap kali ia melemparkan komentar pedas pada sesuatu yang menurutnya tidak masuk akal.
Riyadi hanya tersenyum dan menjawab, "Sopan santun itu untuk orang yang bisa menerima kebenaran, Pak. Kalau kebenaran saja tidak bisa diterima, sopan santun hanya akan menjadi topeng."
Dan tetangga itu hanya bisa menggeleng gelengkan kepala sambil bergumam, "Anak ini... lama lama kena batunya sendiri."
Di bawah pohon rambai yang rindang di halaman Sekolah Dasar Negeri Sriwidadi—sekolah yang sama tempat mereka dulu belajar membaca dan menulis—Riyadi duduk bersandar pada batang pohon yang kasar. Buku catatannya terbuka di pangkuan, tapi matanya tidak membaca. Matanya mengamati lapangan sekolah yang dipenuhi oleh anak anak kecil bermain kejar kejaran.
"Hari ini kelas sepi sekali," kata seorang suara di sampingnya.
Riyadi menoleh. Itu Badrun, sahabatnya sejak kecil. Badrun bertubuh tambun dengan kumis tipis yang baru mulai tumbuh. Ia terkenal sebagai anak yang paling banyak makan di desa—setidaknya itu kata ibu ibu ketika melihatnya membawa nasi dua bungkus setiap istirahat sekolah.
"Sepi karena Pak Kepala Sekolah sedang ke Banjarmasin," jawab Riyadi sambil memainkan ujung buku catatannya. "Sepuluh guru ikut. Jadi hanya guru olahraga yang tinggal. Itu pun ia lebih suka tidur di kantor daripada mengajar."
Badrun tertawa kecil sambil mengunyah kue pukis yang dibelinya dari kantin. "Kau tahu segalanya, ya, Ri?"
"Aku hanya tahu apa yang perlu diketahui."
"Dan apa yang tidak perlu kau katakan, tetap kau katakan juga."
Riyadi tersenyum. "Itu kelemahanku, Run. Aku akui."
"Bukan kelemahan, itu namanya penyakit. Penyakit mulut tajam."
"Setidaknya penyakitku tidak membuatku gemuk sepertimu."
Badrun tertawa lebih keras hingga beberapa anak kecil yang lewat menoleh. "Lihat, itu dia! Penyakitnya kambuh lagi!" Ia menepuk bahu Riyadi dengan keras. "Tapi sudahlah, aku sudah terbiasa. Sekarang, ganti topik. Kau tahu berita terbaru?"
"Berita apa?"
Badrun berhenti mengunyah. Matanya menyipit—tanda ia akan mengatakan sesuatu yang serius. "Tentang Aryanti."
Jantung Riyadi berdetak lebih cepat. Tapi wajahnya tetap datar seperti papan. "Ada apa dengan Aryanti?"
"Kau tahu kan, ia sekarang sudah kelas tiga SMA di Kuala Kapuas. Sekolahnya terkenal itu. Yang banyak anak anak orang kaya."
"Aku tahu."
"Katanya... ada anak saudagar dari desa seberang yang sering menjemputnya pulang sekolah. Mobilnya bagus. Hitam mengkilap. Mewah sekali kata orang."
Riyadi menggigit bibir bawahnya. "Siapa namanya?"
"Kadir. Anaknya Haji Bahar. Yang punya tiga pabrik karet itu. Orang tuanya kaya raya, Ri. Bukan main. Mereka punya sawah sepuluh hektar, kebun sawit dua puluh hektar, dan rumahnya di desa seberang yang paling besar. Sampai sampai Camat Kuala Kapuas saja sering main ke rumah mereka."
Riyadi tidak menjawab. Ia hanya menatap lapangan, tapi matanya kosong—tidak benar benar melihat apa pun.
Badrun melanjutkan, "Katanya lagi, Kadir itu sudah bilang pada teman temannya bahwa ia akan melamar Aryanti segera setelah Aryanti lulus SMA. Ia sudah minta restu dari Haji Bahar, dan Haji Bahar setuju. Katanya, 'Perempuan desa yang cantik dan pintar itu pantas untuk anakku. Aku tidak peduli keluarganya tidak kaya. Yang penting anaknya baik dan bisa melahirkan cucu cucu yang cerdas.' Kurang lebih begitu."
"Kau percaya semua desas desus itu, Run?"
Badrun mengangkat bahu. "Di desa ini, mana ada yang namanya desas desus murni? Semua setengah benar, setengah karangan. Tapi satu hal yang pasti: Aryanti sekarang sedang jadi perbincangan hangat. Bunga desa, kata orang. Semua pemuda desa ingin meminangnya. Tapi hanya Kadir yang punya modal untuk melamar."
Riyadi menutup buku catatannya. "Harta itu bukan segalanya, Run."
"Tapi di desa ini, harta adalah satu satunya hal yang dihargai. Kau tahu sendiri. Keluarga Haji Bahar bisa membeli setengah desa ini kalau mereka mau."
"Setengah desa ini tidak dijual."
"Tapi hati manusia bisa dibeli, Ri. Itu yang lebih menakutkan."
Riyadi terdiam. Angin sore mulai berhembus, membawa bau daun kering dan tanah basah. Di kejauhan, ia melihat sekelompok anak perempuan berlari lari kecil sambil tertawa. Salah satu dari mereka, untuk sesaat, mengingatkannya pada Aryanti. Aryanti kecil yang dulu duduk di dermaga bersamanya, mendengarkan cerita tentang nelayan dan ikan mas raksasa.
"Apa kau masih sering bertemu Aryanti sekarang?" tanya Badrun tiba tiba.
"Jarang. Ia sibuk dengan sekolahnya di Kuala Kapuas. Setiap pagi ia naik perahu motor ke kota, pulang sore. Kadang aku lihat ia lewat depan rumahku. Tapi hanya sekilas."
"Kau tidak bicara padanya?"
"Bicara. Kadang kadang. Tapi tidak seperti dulu. Dulu kami bisa berjam jam duduk di dermaga, bercerita tentang apa saja. Sekarang... rasanya ada tembok di antara kami. Tembok yang tidak kelihatan, tapi terasa."
Badrun menghela napas. "Itu namanya tumbuh dewasa, Ri. Ketika kita dewasa, persahabatan tidak semudah dulu. Setiap orang mulai punya jalannya masing masing. Ada yang ke kota, ada yang tinggal di desa. Ada yang kaya, ada yang miskin."
"Aku tidak miskin."
"Kau tidak miskin, tapi kau juga tidak kaya. Setidaknya di mata orang sekaya Kadir, kau itu miskin."
Riyadi mengepalkan tangannya. "Aku akan membuktikan bahwa ketulusan lebih berharga daripada harta."
Badrun tersenyum miris. "Aku harap kau benar, Ri. Aku benar benar harap."
Di sisi lain sekolah, di belakang gedung yang lebih sepi, Aryanti sedang duduk di atas pagar tembok rendah sambil membaca buku puisi. Rambut hitam panjangnya diikat kuncir kuda dengan pita merah. Wajahnya bersih dan berseri—tidak ada bedak, tidak ada lipstik, tidak ada polesan apa pun. Namun kecantikannya tetap menyilaukan. Matanya yang besar dengan bulu mata lentik itu bersinar seperti kaca yang baru dipoles. Hidungnya mancung dengan bentuk yang pas untuk wajah ovalnya. Bibirnya tidak tipis dan tidak tebal—pas, seperti dirancang oleh Tuhan dengan ukuran yang paling tepat.
Beberapa anak laki laki yang lewat mencuri pandang padanya. Ada yang bersiul kecil. Ada yang berbisik bisik dengan temannya sambil tertawa malu malu. Tapi Aryanti tidak peduli. Ia sudah terbiasa. Sejak duduk di bangku SMP, ia sadar bahwa ia berbeda dari gadis gadis lain di desa ini. Bukan karena ia merasa lebih cantik—ia tidak pernah menganggap dirinya cantik. Tapi karena orang lain selalu mengatakannya. Ibu ibu di pasar berbisik, "Lihat anaknya Saripah itu, cantik sekali, ya, Bu. Duh, gigi emas, nanti banyak yang ngiler." Bapak bapak di warung kopi bergumam, "Kalau sudah besar, jangan heran kalau banyak pemuda kaya rebutan."
Aryanti benci menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin menjadi gadis biasa—bisa main bola di lumpur tanpa ada yang memandang aneh, bisa tertawa keras keras tanpa takut dianggap tidak sopan, bisa jatuh cinta pada siapa pun yang ia mau tanpa tekanan dari keluarga atau masyarakat.
Tapi hidup di desa kecil tidak pernah semudah itu.
"Yan! Yan!"
Aryanti menoleh. Itu Ningsih—sahabatnya sejak SMA. Ningsih bertubuh kecil dengan kacamata tebal di hidungnya. Ia terkenal pintar, juara kelas sejak pertama masuk. Tapi sifatnya paling cerewet se desa—sehingga ia dijuluki Si Comel karena mulutnya selalu melambai lambai seperti ekor anjing yang sedang bergoyang.
"Apa, Ning?" tanya Aryanti tanpa menutup bukunya.
"Kau tahu? Tadi Badrun cerita sama Riyadi tentang Kadir. Katanya, Kadir mau melamar kau secepatnya!"
Aryanti menghela napas. "Cerita itu sudah basi, Ning. Aku dengar dari minggu lalu."
"Lalu bagaimana tanggapan kau?"
"Tidak ada tanggapan."
"Tidak ada tanggapan? Maksudmu kau tidak tertarik pada Kadir?"
Aryanti menutup bukunya. Ia menatap Ningsih dengan mata sayu. "Ning... kau tahu sendiri bagaimana aku. Aku tidak suka laki laki yang terlalu percaya diri. Apalagi yang suka pamer harta."
"Tapi Kadir itu tampan, Yan. Jujur, sedikit. Tampan. Dan kaya. Rumahnya besar. Mobilnya mewah. Masa depanmu terjamin jika kau menerima lamarannya."
"Masa depan bukan hanya soal harta, Ning."
"Lalu soal apa?"
"Tentang perasaan. Tentang cinta. Tentang apakah aku bahagia atau tidak setiap hari menjalani hidup bersama orang itu."
Ningsih mendengus. "Kau ini terlalu romantis, Yan. Di dunia nyata, cinta tidak bisa membeli beras. Cinta tidak bisa membayar biaya rumah sakit kalau kau sakit. Cinta tidak bisa menyekolahkan anak anakmu nanti."
"Tapi cinta bisa membuat semuanya terasa ringan, Ning. Penderitaan yang dijalani bersama orang yang dicintai, rasanya lebih manis daripada kesenangan yang dijalani sendirian."
Ningsih terdiam. Ia tidak punya argumen untuk melawan pernyataan itu. "Kau benar benar keras kepala, Yan."
"Bukan keras kepala. Aku hanya tahu apa yang aku inginkan."
"Dan apa yang kau inginkan?"
Aryanti tersenyum tipis. Matanya menerawang ke kejauhan, ke arah barat desa tempat rumah kayu biru tua milik keluarga Riyadi berdiri.
"Aku menginginkan seseorang yang tulus," katanya pelan. "Seseorang yang melihat aku sebagai Aryanti, bukan sebagai bunga desa. Seseorang yang mencintaiku bukan karena wajahku, tapi karena hatiku."
Ningsih menatap sahabatnya dengan ekspresi aneh—campuran antara heran, iba, dan sedikit iri. "Kau sudah memikirkan itu semua di usiamu yang baru tujuh belas?"
"Umur bukan penentu kedewasaan, Ning. Pengalamanlah yang membuat seseorang dewasa."
"Lalu kau sudah berpengalaman?"
Aryanti mengangguk pelan. "Aku sudah berpengalaman... merasakan cinta yang tidak pernah diucapkan."
Sore itu, Riyadi pulang lebih lambat dari biasanya. Ia memilih jalan memutar yang melewati rumah Aryanti. Bukan karena ia ingin mengintip—ia hanya ingin melihat sekilas bayangan gadis itu. Seperti pecandu yang membutuhkan dosis kecil untuk bertahan hidup.
Rumah Aryanti—rumah panggung hijau muda dengan cat yang mulai mengelupas—tampak sepi. Tidak ada suara TV, tidak ada suara masak memasak, tidak ada siapa pun di beranda. Riyadi memperlambat langkahnya. Ia ingin berhenti, tapi takut dianggap aneh. Ia ingin mengetuk pintu, tapi tidak punya alasan.
"Riyadi?"
Ia menoleh. Aryanti berdiri di balik pagar bambu yang mengelilingi halaman rumahnya. Ia sedang memegang ember plastik merah—mungkin baru selesai mencuci pakaian. Wajahnya sedikit sembab karena seharian di bawah sinar matahari. Tapi tetap cantik. Selalu cantik.
"Yan," Riyadi mengangguk. Suaranya terasa kaku, tidak seperti biasanya.
"Kau pulang lewat sini? Bukannya rumahmu di utara?"
"Iya, aku... aku mau ke warung Pak Darma dulu. Beli garam. Ibu minta beli garam."
"Warung Pak Darma di selatan?"
Riyadi menggaruk kepalanya—kebiasaan buruknya sejak kecil yang tak pernah hilang. "Iya. Soalnya warung dekat rumah habis garam."
Aryanti tersenyum. Senyum yang membuat jantung Riyadi berdegup seperti genderang perang.
"Kau berbohong, Riyadi."
"Bohong? Tidak. Aku serius. Warung dekat rumah benar benar habis garam. Aku sudah cek tadi."
"Aku tidak bilang kau bohong soal garam. Aku bilang kau bohong soal alasan lewat sini."
Riyadi terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Aryanti menurunkan embernya ke tanah. Ia berjalan mendekati pagar. Jarak mereka sekarang hanya tiga meter—terlalu dekat untuk kenyamanan hati Riyadi.
"Kau tahu, Riyad," kata Aryanti dengan suara yang lembut, seperti bulu ayam yang jatuh perlahan. "Aku rindu masa kecil kita dulu. Kau ingat? Kita sering duduk di dermaga, kaki digoyang goyangkan di air. Kau cerita dongeng. Aku tertawa. Cerita cerita konyol yang kau buat sendiri."
"Cerita tentang nelayan dan ikan mas raksasa?" tanya Riyadi dengan senyum kecil.
"Ya! Itu! Kau masih ingat?"
"Setiap kata. Aku ingat setiap kata yang pernah kukatakan padamu, Yan."
Aryanti menunduk. Pipinya merona—bukan karena sinar matahari, tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata kata.
"Kenapa dulu kita jadi berubah?" tanyanya pelan. "Kenapa kita jadi jarang bicara? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?"
Riyadi menggeleng cepat. "Bukan salahmu. Ini salahku."
"Salahmu bagaimana?"
"Aku... aku berubah. Aku jadi tengil. Lidahku terlalu tajam. Aku takut kalau aku bicara banyak padamu, kata kataku akan menyakitimu. Jadi lebih baik aku diam."
"Tapi dengan diam, kau malah menyakitiku, Riyad. Aku merasa kau menjauh. Aku merasa persahabatan kita hancur tanpa alasan yang jelas."
Riyadi menelan ludah. Ada yang ingin ia katakan—sesuatu yang sudah ia pendam sejak tahun tahun pertama di dermaga itu. Tapi kata katanya terasa tersangkut di tenggorokan, seperti tulang ikan yang tidak bisa naik dan tidak bisa turun.
"Yan, aku..."
"Ya?"
"Aku..."
"Ya, Riyad?"
"Garam! Aku harus cepat beli garam! Nanti ibuku marah!"
Riyadi berbalik dan berjalan cepat—hampir berlari—meninggalkan Aryanti yang masih berdiri di balik pagar dengan bingung.
"Riyadi! Belum selesai!" teriak Aryanti.
Tapi Riyadi tidak menoleh. Ia terus berjalan sampai tikungan pertama, lalu bersandar di pohon nangka dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Bodoh," umpatnya pada dirinya sendiri. "Bodoh sekali kau, Riyadi. Kesempatan emas, kau buang sia sia."
Aryanti masih berdiri di balik pagar, memegang erat jeruji bambu yang sudah lapuk. Ia menatap ke arah Riyadi menghilang, dan dadanya terasa sesak—sesak seperti orang yang ingin menangis tapi tidak bisa.
"Kenapa kau selalu lari, Riyad?" bisiknya pada angin sore. "Kenapa kau tidak pernah berani mengatakan apa yang sebenarnya kau rasakan?"
Tidak ada yang menjawab.
Hanya angin yang berhembus, membawa bau bunga desa yang mulai mekar di musim kemarau.
Di warung Pak Darma—yang benar benar ada di selatan—Riyadi duduk di bangku panjang sambil memegang bungkus garam yang baru saja ia beli. Pak Darma, pemilik warung yang sudah berusia enam puluh tahun dengan gigi ompong di bagian depan, menatapnya dengan heran.
"Nak Riyadi, kau dari tadi diam saja. Apa kau tidak pulang? Hari sudah mau maghrib."
"Sebentar, Pak. Aku mau menenangkan diri dulu."
"Menangkan diri? Ada masalah? Sama siapa? Sama orang tua? Sama teman?"
Riyadi menggeleng.
"Sama cinta?"
Riyadi menatap Pak Darma. "Pak Darma bisa baca pikiran?"
Pak Darma tertawa—tertawa khas orang tua yang sudah terlalu sering melihat anak muda datang ke warungnya dengan wajah masam karena patah hati.
"Nak, aku sudah buka warung ini tiga puluh tahun. Aku sudah melihat ribuan anak muda dengan wajah sepertimu. Mata sayu, napas berat, tangan gemetar memegang garam. Tidak ada yang lain selain cinta yang bisa membuat seseorang seperti itu."
Riyadi menghela napas. "Aku bodoh, Pak. Tadi aku punya kesempatan untuk bicara, tapi aku malah lari."
"Lari dari apa?"
"Dari perasaan sendiri. Dari ketakutan. Dari kemungkinan ditolak."
Pak Darma duduk di samping Riyadi. "Nak, coba kau dengar nasihat orang tua. Cinta itu seperti sungai. Ia mengalir dengan caranya sendiri. Kau tidak bisa memaksanya berhenti, dan kau juga tidak bisa memaksanya mengalir lebih cepat. Yang bisa kau lakukan hanyalah mengikuti arusnya, atau berenang melawannya sampai lemas."
"Aku tidak mengerti, Pak."
"Kau tidak perlu mengerti sekarang. Yang penting, kau jangan pernah lari. Lari hanya akan membuat jarak semakin jauh. Dan jarak yang terlalu jauh, kadang tidak bisa ditempuh lagi."
Riyadi terdiam merenung.
Pak Darma berdiri dan menepuk pundak pemuda itu. "Sekarang pulanglah. Ibu menunggu garammu. Dan jangan lupa, besok pagi kau temui lagi gadis itu. Kali ini jangan lari."
Riyadi mengangguk. "Terima kasih, Pak."
"Sama sama, Nak. Garamnya dua ribu rupiah."
Malam itu, Riyadi tidak bisa tidur. Ia memandang langit langit rumahnya yang berlubang di beberapa bagian—bekas kebocoran saat hujan deras minggu lalu. Di kepalanya, bayangan Aryanti terus berputar. Senyumnya. Suaranya. Kalimatnya: "Aku merasa persahabatan kita hancur tanpa alasan yang jelas."
"Ia benar," gumam Riyadi. "Aku yang menghancurkannya. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku pengecut."
Ia memejamkan mata. Lalu membukanya lagi. Memandang bulan yang bersinar terang di luar jendela—bulan yang sama yang ia lihat saat ia masih kecil di dermaga, bersama Aryanti.
"Besok," janjinya pada dirinya sendiri. "Besok aku akan bilang semuanya. Aku tidak akan lari lagi."
Di rumah yang lain, Aryanti juga tidak bisa tidur. Ia memeluk boneka Nonik—boneka kain yang kini semakin usang, dengan jahitan yang mulai lepas hampir di semua tempat. Tapi ia tidak pernah tega membuangnya.
"Nonik," bisiknya pada boneka itu. "Kenapa Riyadi selalu lari setiap kali aku mendekat? Apa aku terlalu menekannya? Apa aku membuatnya tidak nyaman? Atau mungkin... mungkin ia memang tidak pernah memiliki perasaan padaku?"
Boneka itu diam.
Aryanti menghela napas. "Atau mungkin aku terlalu bodoh untuk melihat tanda tanda. Mungkin semua ini hanya angan anganku sendiri. Mungkin ia hanya menganggapku sebagai teman biasa. Tidak lebih."
Ia menatap langit langit kamarnya yang dicat hijau pucat.
"Tapi kenapa, Nonik... kenapa setiap kali ia menatapku, aku merasakan sesuatu yang hangat di dadaku? Sesuatu yang tidak pernah aku rasakan saat laki laki lain menatapku? Apa itu cinta? Atau hanya kebodohan masa muda?"
Tidak ada jawaban.
Hanya detak jarum jam dinding di ruang tamu yang terdengar keras di tengah malam yang sunyi.
BAB III
SI TENGIL YANG BERUBAH
bulan Oktober
Desa Sriwidadi, kebun karet milik Haji Bahar
Pagi hari pukul setengah tujuh
Langit masih biru pucat. Kabut tipis menggantung. Daun daun karet berguguran menutupi tanah. Burung tekukur mulai bersahutan.
Riyadi memegang sadap. Ia mulai bekerja.
"Hei, Tengil! Masih pagi pagi sudah bekerja?" Suara Mamat muncul dari balik pohon.
"Kerja, Pak Mamat. Orang miskin begini tidak punya waktu untuk bermalas malasan seperti orang kaya."
"Nahas kau ini, Tengil. Lidahmu memang tidak kenal siapa lawan bicara, ya? Aku ini wakil majikanmu, tahu! Bisa saja kau kupecat kalau aku lapor pada Haji Bahar bahwa kau kurang ajar."
"Tapi Pak Mamat tidak akan melaporkan saya, kan? Karena kalau saya dipecat, siapa yang akan menyadap pohon pohon di bagian barat ini? Rumput rumput saja tidak mau disentuh oleh pekerja lain karena banyak lintah dan ular."
Mamat menggerutu. Ia membuang puntung rokoknya ke tanah.
"Suatu hari kau akan sadar. Kesombongan tidak akan membawamu ke mana mana. Lihat saja nanti. Orang orang seperti kau—miskin, keras kepala, tidak mau menjilat—tidak akan pernah berhasil di dunia ini."
"Maka biarlah dunia ini kalah oleh saya, Pak Mamat. Daripada saya kalah oleh dunia, lalu menjadi orang yang pahit selamanya."
Mamat pergi sambil mendengus.
Dari kejauhan, terdengar suara motor bebek dengan knalpot bolong. Semakin lama semakin dekat, lalu berhenti di tepi jalan setapak.
"Ri!" teriak Badrun sambil melambai. Tangannya memegang bungkusan daun pisang.
"Aku di sini, Run. Tidak perlu berteriak sekeras itu. Burung burung saja pada terbang semua."
"Jangan dengki, Ri! Aku ini lincah seperti kijang, tahu!" Badrun tertawa. Ia duduk di atas batu besar. "Ibu membekali nasi goreng dengan telur mata sapi dan abon sapi. Ini buat kau. Ibumu titip, katanya kau sering lupa sarapan kalau sudah terlalu fokus bekerja."
"Jangan menangis, Ri. Aku tidak bawa sapu tangan."
"Siapa yang menangis? Aku hanya terkena embun pagi, jadi mata aku berair."
"Nah, itu dia. Kalau Aryanti tidak mencintai Kadir, lalu siapa yang ia cintai?"
Pertanyaan Badrun itu menggantung di udara.
"Aku tidak tahu, Run. Yang aku tahu, aku tidak bisa diam saja. Aku harus melakukan sesuatu."
"Nah, itu dia. Itu Riyadi yang aku kenal. Sekarang, apa rencanamu?"
"Rencanaku sederhana: aku akan bekerja lebih keras. Aku akan mengumpulkan uang. Aku akan membuktikan pada Saripah bahwa orang miskin pun bisa sukses. Aku tidak perlu kaya seperti Haji Bahar. Yang aku butuhkan adalah cukup. Cukup untuk menikahi Aryanti dan memberinya hidup yang layak."
"Itu rencana jangka panjang, Ri. Tapi sementara itu, Kadir mungkin sudah menikahi Aryanti lebih dulu. Perlu kau ingat, waktu tidak menunggu siapa pun."
"Dengar, Run. Aku akan bicara pada Aryanti. Hari ini. Secepatnya. Tidak mau menunggu besok atau lusa. Aku akan mengatakannya langsung dari hati ke hati."
"Bagus. Aku dukung. Tapi ingat, jika kau ditolak, jangan bunuh diri, ya. Masih banyak ikan di sungai."
"Jangan khawatir, aku tidak segampang itu menyerah. Ayahku dulu bilang, laki laki sejati bukan yang tidak pernah jatuh, tapi yang selalu bangkit setelah jatuh."
Di ruang tamu rumah Aryanti, Saripah duduk di kursi kayu jati dengan tangan bersilang di dada. Wajahnya tegang. Matanya menyala nyala.
"Aryanti, kau tahu sendiri, Haji Bahar adalah orang terkaya di desa ini. Bahkan di Kuala Kapuas pun namanya dikenal. Kalau kau menikah dengan Kadir, hidupmu akan enak. Tidak perlu susah payah bekerja. Tidak perlu mikir besok mau makan apa."
"Ma, aku belum siap."
"Belum siap bagaimana? Kau sudah tujuh belas tahun! Ibu dulu umur enam belas sudah menikah dengan ayahmu. Hamil umur tujuh belas. Melahirkan kau umur delapan belas. Tidak ada yang namanya belum siap!"
"Tapi Ma, aku masih ingin sekolah. Aku ingin lulus SMA dulu. Aku ingin mungkin kuliah ke Banjarmasin. Aku punya mimpi, Ma."
Saripah mendengus keras.
"Mimpi? Mimpi tidak bisa mengisi perut, Yan! Mimpi tidak bisa membeli baju baru! Mimpi tidak bisa menyembuhkan penyakit! Yang bisa itu uang! Dan Kadir punya uang! Banyak!"
"Tapi aku tidak mencintainya, Ma."
"Cinta? Cinta itu omong kosong! Ayahmu dulu juga bilang cinta. Lalu apa yang terjadi? Ia meninggal! Meninggalkan aku dengan kau, hutang di mana mana, dan rumah yang hampir disita bank! Cinta tidak menyelamatkan ayahmu, Yan! Cinta tidak membayar utang utangnya!"
"Jangan bawa bawa ayah, Ma. Ayah sudah meninggal. Itu takdir. Bukan salah cinta."
Saripah berhenti berjalan. Ia menatap putrinya.
"Kau tahu, Yan, setiap malam ibu tidak bisa tidur memikirkan bagaimana caranya besok kau bisa makan. Setiap pagi ibu bangun dengan perasaan takut, takut kalau kalau kau tidak bisa lanjut sekolah karena uang habis. Ibu sudah lelah, Yan. Ibu ingin kau menikah dengan orang kaya agar ibu bisa tenang. Apakah itu salah?"
"Tidak salah, Ma. Tapi memaksaku menikah dengan orang yang tidak aku cintai, itu salah."
Saripah berjalan mendekati Aryanti lalu duduk di sampingnya.
"Anakku, ibu tidak bermaksud memaksamu. Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Aku tahu, Ma. Tapi tolong beri aku waktu. Aku ingin menyelesaikan sekolahku dulu. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa sukses tanpa harus menikah dengan orang kaya."
"Kau ini keras kepala seperti ayahmu, tahu."
"Maaf, Ma. Mungkin itu satu satunya warisan ayah yang paling berharga."
Saripah tersenyum kecil.
"Baiklah, ibu akan bicara dengan Haji Bahar. Ibu akan minta waktu. Tapi kau harus janji, setelah lulus SMA, kau harus serius mempertimbangkan lamaran Kadir. Setuju?"
"Setuju, Ma. Tapi jangan dulu membicarakan pernikahan sebelum aku lulus."
"Baik. Untuk sementara, ini hanya pertunangan. Ibu akan bilang pada Haji Bahar bahwa kau masih sekolah. Kita tunggu sampai kau lulus."
"Terima kasih, Ma."
"Jangan berterima kasih dulu. Kita lihat nanti bagaimana kelanjutannya."
Di rumah besar Haji Bahar, Kadir duduk di ruang tamu dengan sofa kulit warna cokelat tua. Di depannya, kopi arabika, rokok, dan pisang goreng.
"Ayah, kapan kita bisa menentukan hari pernikahan?"
"Sabar, Nak. Saripah minta waktu. Katanya Aryanti masih ingin menyelesaikan sekolahnya dulu."
"sekolah, sekolah, sekolah. Apa gunanya sekolah kalau akhirnya hanya akan menjadi ibu rumah tangga juga?"
"Kau jangan meremehkan pendidikan, Nak. Perempuan yang terdidik akan bisa mendidik anak anaknya dengan baik. Itu lebih penting daripada sekadar punya istri yang cantik tapi bodoh."
"Aku tidak bilang Aryanti bodoh, Ayah. Aryanti pintar. Bahkan mungkin lebih pintar dari aku. Tapi kenapa harus menunggu? Kita sudah punya semuanya. Rumah, mobil, uang, masa depan yang terjamin. Apa lagi yang ia cari?"
"Mungkin ia mencari cinta, Nak. Sesuatu yang tidak bisa kau beli dengan uang."
"Cinta? Cinta itu omong kosong, Ayah. Dulu Ayah dan Ibu juga tidak kenal cinta. Tapi lihat, Ayah dan Ibu bisa hidup rukun sampai Ibu meninggal."
"Itu dulu, Nak. Zaman sudah berubah. Sekarang anak anak muda ingin pernikahan berdasarkan cinta. Bukan berdasarkan paksaan."
"Kalau begitu, Ayah setuju aku memacarinya dulu? Biar ia jatuh cinta padaku dengan sendirinya?"
"Terserah kau. Tapi ingat, jangan pakai cara cara kotor. Aku tidak mau nama keluarga kita tercoreng karena ulahmu."
"Tenang, Ayah. Aku akan pakai cara halus. Aryanti akan jatuh cinta padaku. Aku janji."
Di sore yang sama, di dermaga kayu reyot, Riyadi duduk sendirian. Kakinya menggantung. Air sungai bergerak lambat. Langit mulai berwarna jingga.
Aryanti datang. Ia duduk di samping Riyadi.
"Riyadi, aku tahu kau akan ada di sini."
"Kau menangis."
"Karena Kadir?"
"Karena aku menolak lamarannya. Ibu bilang aku anak durhaka. Bilang aku tidak tahu terima kasih. Bilang aku hanya memikirkan diri sendiri."
"Kau tidak durhaka, Yan. Kau hanya berusaha mempertahankan apa yang kau yakini."
"Apa yang kau yakini, Riyad?"
"Aku... aku meyakini bahwa setiap orang berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Termasuk kau, Yan. Kau tidak harus menikah dengan Kadir kalau kau tidak mencintainya."
"Kau hanya bilang itu, Riyad? Hanya itu?"
"Apa lagi yang harus aku katakan?"
"Riyad, selama bertahun tahun kita berteman, kau tidak pernah jujur padaku. Kau selalu menyembunyikan sesuatu. Aku tahu itu. Aku bisa merasakannya."
"Apa yang aku sembunyikan?"
"Perasaanmu, Riyad. Aku tahu kau menyukai aku. Atau mungkin lebih dari sekadar suka. Tapi kau tidak pernah berani mengatakannya. Kau selalu lari setiap kali aku mendekat. Kau selalu bersembunyi di balik sikap tengilmu. Kenapa, Riyad? Kenapa kau takut?"
"Karena aku takut kehilanganmu, Yan."
"Kehilangan aku bagaimana?"
"Kehilangan sebagai teman. Kehilangan kesempatan untuk dekat denganmu. Aku takut jika aku mengaku, kau akan menjauh. Aku takut persahabatan kita yang sudah bertahun tahun ini hancur hanya karena aku tidak bisa menahan perasaanku sendiri."
"Riyad, kau bodoh. Kau sangat bodoh."
"Aku tahu aku bodoh. Tapi aku lebih memilih menjadi bodoh daripada menjadi pengecut. Dan selama ini aku adalah pengecut. Pengecut yang bersembunyi di balik kata kata tengil dan sikap masa bodoh."
"Tapi hari ini kau tidak lari? Hari ini kau berani duduk di sini denganku dan mengaku?"
"Hari ini aku tidak lari. Hari ini aku memilih bertahan. Meskipun aku sangat takut."
"Riyad, kau tahu, setiap kali aku melihat Kadir, aku merasa ada yang tidak beres. Bukan karena ia jahat—ia bisa sangat baik kalau mau. Tapi ada sesuatu di matanya yang membuatku tidak nyaman. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan."
"Tapi setiap kali aku melihatmu, aku merasa aman. Aku merasa seperti anak kecil yang sedang bermain di dermaga ini. Tanpa beban. Tanpa takut. Hanya kebahagiaan sederhana yang sulit aku temukan di tempat lain."
"Aryanti..."
"Biarkan aku selesai, Riyad. Aku tidak tahu apakah ini yang disebut cinta. Aku belum cukup dewasa untuk memahami itu. Tapi yang aku tahu, aku tidak ingin kehilanganmu juga. Aku tidak ingin kau pergi jauh jauh merantau hanya karena kau takut pada Kadir atau takut pada ibuku atau takut pada siapa pun."
"Kau tahu rencanaku merantau?"
"Aku tahu segalanya tentangmu, Riyad. Karena aku selalu memperhatikanmu. Sama seperti kau selalu memperhatikan aku."
"Yan, aku berjanji, apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Meskipun kau nanti menikah dengan Kadir. Meskipun kau pindah ke kota dan melupakanku. Aku tidak akan berhenti. Karena mencintaimu sudah menjadi bagian dari diriku. Seperti darah yang mengalir di tubuhku."
"Riyad, aku juga berjanji. Aku tidak akan pernah menikah dengan Kadir. Bukan karena aku benci padanya. Tapi karena hatiku sudah terisi oleh seseorang sejak aku masih kecil. Seseorang yang selalu berada di sampingku di dermaga ini. Seseorang yang mengajakku bermain di kebun karet. Seseorang yang melindungiku dari segala ketakutan masa kecilku."
"Siapa orang itu?"
"Kau, Riyad. Kau."
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berpegangan tangan. Di bawah cahaya bulan, dua hati yang tersesat dalam kebimbangan akhirnya menemukan jalannya masing masing.
Tapi mereka tidak tahu, jalan itu masih panjang. Berliku. Dan penuh duri.
BAB IV
RASA DALAM DIAM
Malam itu, setelah makan malam, Riyadi masuk ke kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Mak Tonah. Rumah kayu tua itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Hanya suara jangkrik dari balik jendela dan sesekali suara kodok dari sawah yang mengisi kesunyian. Lampu minyak tanah di meja belajar menyala redup, membuat bayangan Riyadi yang duduk di depan meja itu tampak seperti wayang kulit yang diam dan sendu.
Riyadi membuka laci meja kayu jati tua peninggalan ayahnya. Di dalam laci itu, tersimpan sebuah buku tulis tipis bersampul cokelat tua—buku yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, bahkan pada Badrun sekalipun. Sampulnya sudah sedikit lusuh karena sering dibuka dan ditutup. Sudut sudut kertasnya mulai melengkung karena sering terkena embun malam yang masuk melalui celah celah dinding.
Ia mengeluarkan buku itu perlahan, seperti seorang petani yang menggali harta karun yang telah lama ia pendam. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena isi buku itu adalah potongan potongan hatinya yang selama ini ia sembunyikan dari dunia.
"Nonik, kau tahu? Riyadi itu pemuda aneh. Ia bisa bekerja seharian di kebun karet tanpa mengeluh. Ia bisa memikul getah puluhan kilogram tanpa bantuan siapa pun. Tapi ia tidak pernah bisa memikul perasaannya sendiri. Ia selalu sembunyi. Ia selalu lari. Ia selalu memendam."
Aryanti menatap boneka itu dengan pandangan kosong.
"Nonik, kau tahu? Sebenarnya aku lelah. Lelah menjadi bunga desa. Lelah dipandang. Lelah diperebutkan. Aku hanya ingin menjadi Aryanti biasa. Aryanti yang bisa mencintai siapa pun yang ia mau tanpa tekanan siapa pun."
Boneka itu diam.
"Dan yang paling membuatku lelah, Nonik, adalah melihat Riyadi yang terus menderita dalam diam. Ia pikir aku tidak tahu. Tapi aku tahu. Aku selalu tahu. Matanya tidak bisa berbohong. Setiap kali ia menatapku, ada sesuatu di sana yang tidak pernah ia ucapkan."
Ia memeluk boneka itu erat erat.
"Nonik, besok aku akan memaksanya bicara. Aku akan datang ke dermaga. Aku akan duduk di sampingnya. Aku akan bertanya sampai ia menjawab. Karena aku tidak tahan lagi. Aku tidak tahan melihat dia seperti ini. Aku tidak tahan melihat diriku sendiri seperti ini."
Aryanti menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan.
"Nonik, ya, aku juga menyukainya. Mungkin lebih dari sekadar suka. Mungkin cinta. Tapi aku tidak yakin. Bagaimana caranya aku bisa yakin kalau ia saja tidak pernah berani mengaku?"
Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Riyadi sudah bangun. Ia tidak pergi ke kebun karet seperti biasa. Hari itu kebun karet libur karena Haji Bahar sedang mengadakan hajatan di rumahnya. Seluruh pekerja diberi libur. Tapi Riyadi tidak bisa tidur lagi. Pikirannya sudah terlalu kacau untuk bisa beristirahat.
Ia duduk di beranda dengan buku tulis cokelat tua itu di pangkuannya. Langit timur mulai memerah. Ayam ayam jantan mulai berkokok bersahutan. Kabut tipis masih membungkus desa.
Riyadi membuka buku itu ke halaman kedua. Tulisannya rapi, tidak seperti tulisannya di papan tulis sekolah yang selalu berantakan. Setiap kata ia tulis dengan hati hati, seperti seorang pelukis yang sedang melukis di atas kanvas yang sangat mahal.
"Kenangan adalah perahu yang tidak pernah berlabuh. Ia terus berlayar di samudra kepalaku, membawa serta wajahmu, tawamu, dan cara kau mengerutkan dahimu ketika kau sedang serius memikirkan sesuatu."
"Kenangan adalah dermaga tempat aku pertama kali jatuh cinta padamu. Saat itu kau masih kecil, masih suka memakai baju tidur bermotif bunga bunga merah muda, dan rambutmu selalu diikat dua ekor dengan karet gelang merah."
"Aku ingat betapa lambatnya kau berjalan karena kau takut terpeleset di papan dermaga yang licin. Aku ingat betapa kerasnya kau tertawa ketika aku bercerita tentang nelayan dan ikan mas raksasa. Aku ingat betapa manisnya kau memanggil namaku dengan logat desa yang khas: Ri yad, bukan Ri ya di. Seperti kau sedang melantunkan sebuah lagu."
Riyadi berhenti menulis. Ia membaca kembali tulisannya. Matanya mulai berkaca kaca.
"Kenangan itu, sampai sekarang, masih terasa begitu nyata. Seolah baru kemarin terjadi. Seolah waktu tidak pernah berjalan. Seolah kita masih menjadi dua anak kecil yang tidak tahu apa apa tentang cinta, tentang luka, tentang perjuangan."
Ia menutup buku itu sejenak. Dadanya terasa sesak.
"Tapi kenangan juga adalah belenggu, karena ia membuatku tidak bisa move on. Ia membuatku terus berharap pada sesuatu yang mungkin tidak pernah menjadi milikku. Ia membuatku terperangkap dalam masa lalu yang indah, sementara kenyataan di depan mata sangatlah pahit."
Riyadi menghela napas. Ia membuka buku itu lagi dan melanjutkan menulis.
"Aryanti, apakah kau masih ingat dermaga itu? Apakah kau masih ingat bagaimana kita duduk bersisian dengan kaki menggantung di atas air? Apakah kau masih ingat betapa dinginnya air sungai saat kaki kita menyentuhnya?"
"Aku masih ingat, Yan. Aku masih ingat segalanya. Seperti orang gila yang menyimpan ribuan foto dalam kepalanya, aku menyimpan setiap detik bersamamu. Termasuk detik ketika aku menyadari bahwa aku tidak hanya menyukaimu sebagai teman. Aku mencintaimu. Dengan segala konsekuensinya."
Riyadi menulis kalimat terakhir dengan tangan yang semakin gemetar.
"Aku mencintaimu, Aryanti. Sejak aku tahu apa arti cinta. Dan aku tidak akan pernah berhenti."
Mak Tonah, yang sejak tadi berdiri di balik pintu dapur, mengintai putranya dengan hati yang campur aduk. Ia tidak sengaja melihat Riyadi menulis. Tapi dari wajah anaknya yang murung dan matanya yang berkaca kaca, Mak Tonah bisa menebak apa yang sedang terjadi.
Ia berjalan mendekati Riyadi pelan pelan.
"Nak, kau tidak jadi ke kebun karet?"
Riyadi terkejut. Ia segera menutup buku tulisnya dan menyembunyikannya di balik punggung.
"Mak, kau... kau sudah dari tadi di sana?"
"Sudah, Nak. Sejak kau membuka buku itu."
"Mak, aku..."
"Tidak usah sembunyi sembunyi, Di. Ibu tahu kau sedang menulis puisi. Ibu juga tahu untuk siapa puisi itu."
Riyadi terdiam. Wajahnya memerah seperti kepiting rebus.
"Mak, maaf. Aku tidak bermaksud..."
"Tidak usah minta maaf, Nak. Menulis puisi itu bukan dosa. Bahkan ayahmu dulu juga sering menulis puisi untuk ibu. Tapi tidak pernah ia tunjukkan. Sampai ibu menemukannya secara tidak sengaja setelah ayahmu meninggal."
"Ayah menulis puisi, Mak?"
"Ayahmu, Di, adalah pemuda paling romantis se desa ini. Tapi ia tidak pernah bisa mengungkapkan perasaannya dengan kata kata lisan. Ia selalu gagap kalau sudah berhadapan langsung dengan ibu. Jadi ia menulis. Setiap malam. Puisi puisi pendek yang sederhana tapi sangat menyentuh hati."
"Mak, lalu di mana puisi puisi ayah sekarang?"
"Ibu simpan di dalam lemari, Nak. Di dalam kotak kayu tempat ayah menyimpan surat surat lamanya. Suatu hari, kalau kau sudah menikah, ibu akan berikan semuanya padamu. Sebagai warisan."
Riyadi tersenyum tipis. "Terima kasih, Mak."
"Nak, ibu tidak akan melarangmu menulis puisi. Tapi ibu hanya ingin mengingatkan satu hal."
"Apa itu, Mak?"
"Jangan hanya menulis, Nak. Kau juga harus bicara. Puisi puisi itu indah, tapi indahnya hanya kau yang tahu selama kau tidak membacakannya pada orang yang berhak mendengarnya. Aryanti berhak mendengar apa yang kau tulis. Bukan sekarang mungkin, tapi suatu hari nanti."
"Tapi Mak, aku takut."
"Takut ditolak, Nak?"
"Aku takut kehilangan dia, Mak. Sebagai teman."
"Di, dengar nasihat ibu. Orang yang benar benar mencintaimu tidak akan pergi hanya karena kau jujur tentang perasaanmu. Justru sebaliknya. Ia akan semakin menghargaimu karena keberanianmu. Dan jika ia pergi, itu artinya ia bukan jodohmu. Dan kau tidak perlu menyesal kehilangan sesuatu yang memang tidak pernah ditakdirkan untukmu."
Riyadi mengangguk pelan. "Aku mengerti, Mak."
"Bagus. Sekarang, sarapan dulu. Ibu buatkan bubur ayam kampung. Habis itu kau boleh melanjutkan puisimu."
"Mak, aku tidak lapar."
"Kata siapa tidak lapar? Perut keroncongan, suaranya sampai ke dapur. Ayo makan. Tidak ada puisi indah yang lahir dari perut kosong."
Riyadi tersenyum. Ia memasukkan buku tulisnya ke dalam saku baju, lalu mengikuti ibunya masuk ke dapur.
Setelah sarapan, Riyadi kembali ke kamarnya. Ia mengunci pintu—sesuatu yang jarang ia lakukan karena di rumah hanya ada ia dan Mak Tonah. Tapi hari ini ia butuh privasi. Ia butuh waktu sendirian dengan perasaannya.
Ia membuka laci meja kayu jati tua itu dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil. Kotak itu terbuat dari kayu ulin—kayu besi khas Kalimantan yang sangat keras dan tidak lapuk dimakan waktu. Warna hitam kecokelatannya mengilap meskipun usianya sudah puluhan tahun.
"Kotak ini pemberian ayah sebelum ia meninggal," bisik Riyadi pada dirinya sendiri. "Ayah bilang, simpan rahasiamu di sini, Nak. Nanti kalau kau sudah menemukan orang yang tepat, tunjukkan padanya."
Ia membuka kotak itu dengan hati hati. Di dalamnya, sudah ada beberapa lembar kertas—puisi puisi yang ia tulis sejak tiga tahun lalu. Puisi pertama bertahun 1993, saat ia baru berusia lima belas tahun dan baru pertama kali menyadari bahwa perasaannya pada Aryanti bukan sekadar persahabatan.
Riyadi mengeluarkan semua puisi itu dan menyusunnya di atas meja. Ada dua belas puisi. Setiap puisi mewakili satu tahun—meskipun usianya baru delapan belas, ia sudah mulai menulis sejak lima belas tahun.
Puisi pertama bertajuk "Mata Itu".
"Mata itu, oh mata itu, seperti dua bintang jatuh yang tidak pernah sampai ke tanah. Ia bersinar di malam yang paling gelap, membasuh lelahku, menghapus piluku."
"Mata itu melihatku tanpa menghakimi. Ia menerima kekuranganku dengan diam. Ia memahami ketakutanku tanpa bertanya. Ia menyayangiku tanpa syarat."
"Aku ingin terus tenggelam dalam dua samudra itu. Biarkan aku mati lemas jika harus. Karena setidaknya aku mati dalam keindahan yang tidak akan pernah aku temukan di tempat lain."
Riyadi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. "Gombal sekali, Riyad. Aryanti pasti akan tertawa melihat puisi ini."
Puisi kedua bertajuk "Senyum yang Membunuhku".
"Kau tersenyum, dan dunia berhenti berputar. Burung burung berhenti berkicau. Angin berhenti berhembus. Bahkan sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir, untuk sesaat berhenti, seolah ikut terpesona."
"Kau tersenyum, dan aku lupa bahwa aku hanyalah pemuda kampung miskin yang tidak pantas bermimpi tentangmu. Aku lupa bahwa ada tembok tinggi yang memisahkan kita: tembok status, tembok harta, tembok yang didirikan oleh mereka yang tidak percaya pada cinta."
"Kau tersenyum, dan aku rela menjadi bodoh. Aku rela menderita. Aku rela menunggu seribu tahun. Karena senyummu adalah surga yang tidak ingin aku tinggalkan."
Riyadi menghela napas. "Aku memang bodoh. Tapi setidaknya aku jujur tentang kebodohanku."
Ia melanjutkan membaca puisi ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya. Setiap puisi membawa ingatan yang berbeda. Puisi ketiga tentang tangis Aryanti saat ayahnya meninggal. Puisi keempat tentang tawa Aryanti saat Riyadi jatuh dari sepeda. Puisi kelima tentang dermaga. Puisi keenam tentang hujan. Puisi ketujuh tentang senja. Puisi kedelapan tentang bulan. Puisi kesembilan tentang kerinduan. Puisi kesepuluh tentang ketakutan. Puisi kesebelas tentang kehilangan. Puisi keduabelas tentang harapan.
Setelah selesai membaca semua puisinya, Riyadi mengambil selembar kertas kosong dari dalam kotak. Kertas itu masih bersih, tidak ada coretan sedikit pun. Ia ingin menulis puisi baru. Puisi yang paling jujur. Puisi yang tidak hanya ia simpan di dalam kotak, tapi suatu hari akan ia bacakan langsung pada Aryanti.
Ia memegang pulpen dan mulai menulis.
"Untuk Aryanti, dengan segala keberanian yang selama ini kupendam."
"Aku bukan pujangga. Aku bukan sastrawan. Aku hanya pemuda kampung yang buta huruf dalam hal cinta. Tapi aku akan belajar. Untukmu, aku akan belajar."
"Aku tidak bisa menjanjikan istana atau mobil mewah atau perhiasan emas. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: kejujuran. Aku akan selalu jujur padamu. Tentang perasaanku. Tentang ketakutanku. Tentang mimpiku. Tentang kita."
"Aku tidak tahu apakah kau akan membaca puisi ini suatu hari nanti. Aku tidak tahu apakah kau akan tersenyum atau tertawa atau bahkan menangis. Yang aku tahu, menulis puisi ini adalah satu satunya cara aku bertahan hidup. Karena tanpa menulis, aku akan gila memikirkanmu setiap detik."
"Aku mencintaimu, Aryanti. Bukan karena kau cantik. Bukan karena kau bunga desa. Bukan karena semua pemuda menginginkanmu. Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Karena kau pernah duduk di sampingku di dermaga itu, mendengarkan cerita cerita konyolku, dan tertawa seolah tidak ada yang lebih penting di dunia ini selain tawa kita."
"Sampai jumpa di dermaga itu, Yan. Suatu hari nanti. Ketika aku sudah berani."
Riyadi meletakkan pulpennya. Ia membaca kembali puisi yang baru saja ia tulis. Dadanya sesak, tapi hatinya terasa lega.
"Ini yang terbaik yang bisa aku lakukan sekarang," bisiknya. "Menulis. Menyimpan. Berharap."
Ia melipat kertas itu dengan hati hati, lalu memasukkannya ke dalam kotak kayu ulin. Kotak itu ia kunci dengan gembok kecil. Gembok itu ia simpan di saku celananya.
"Suatu hari nanti, Yan. Aku berjanji. Suatu hari nanti, aku akan buka kotak ini di depanmu. Dan aku akan membacakan semua puisi ini. Satu per satu. Tanpa takut. Tanpa malu. Tanpa lari."
Sementara itu, di rumah Aryanti, gadis itu sedang duduk di ruang tamu sambil mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi konsentrasinya buyar. Matanya terus menatap ke luar jendela, ke arah barat, ke arah rumah Riyadi yang tidak terlihat dari sini karena terhalang oleh rumpun bambu dan pohon kelapa.
"Yan, kau dari tadi melamun terus. Pekerjaan rumahmu tidak selesai selesai."
"Ma, aku sedang berpikir."
"Berpikir tentang apa? Tentang Kadir?"
"Bukan, Ma. Tentang... teman."
"Teman yang mana? Ningsih?"
"Bukan, Ma."
"Lalu siapa?"
Aryanti ragu sejenak. "Tidak siapa siapa, Ma. Lupakan."
Saripah mendekati putrinya. Ia duduk di samping Aryanti dan menatap wajah putrinya dengan saksama.
"Yan, ibu kenal kau. Kau sedang memikirkan Riyadi, kan?"
Aryanti tidak menjawab.
"Yan, ibu sudah bilang, jangan terlalu dekat dengan Riyadi. Kau dengar?"
"Ma, aku hanya memikirkannya sebagai teman. Tidak lebih."
"Kau berbohong, Yan. Ibu bisa lihat dari matamu. Matamu bersinar setiap kali kau menyebut namanya. Sama seperti dulu ibu bersinar ketika menyebut nama ayahmu."
"Ma, jangan bandingkan Riyadi dengan ayah. Mereka berbeda."
"Memang berbeda. Ayahmu tidak punya saingan sekaya Kadir. Tapi kau, Yan, kau punya saingan yang sangat berat. Jangan sia siakan kesempatan emas ini."
"Ma, aku tidak menganggap Kadir sebagai kesempatan emas. Aku menganggapnya sebagai seseorang. Sama seperti Riyadi. Mereka sama sama manusia."
"Tapi mereka tidak sama, Yan. Satu punya uang, satu tidak. Dan di dunia ini, uang adalah segalanya."
Aryanti berdiri. "Ma, aku capek mendengar ceramah tentang uang terus. Aku mau ke kamar."
"Yan, jangan pergi dulu. Ibu belum selesai bicara."
"Maaf, Ma. Aku harus menyelesaikan pekerjaan rumahku. Besok dikumpulkan."
Aryanti berjalan cepat ke kamarnya. Ia membanting pintu—sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
"Nonik," katanya pada boneka kain usang itu. "Kenapa ibu tidak bisa mengerti bahwa kebahagiaan tidak selalu diukur dengan uang? Kenapa ia selalu membanding bandingkan Riyadi dengan Kadir seolah Riyadi tidak punya harga diri?"
Boneka itu diam.
"Nonik, aku benci jadi bunga desa. Aku benci diperebutkan seperti barang di pasar. Aku benci ketika semua orang melihatku hanya sebagai objek, bukan sebagai manusia."
Ia memeluk boneka itu erat erat.
"Nonik, besok aku akan temui Riyadi. Aku akan paksa ia bicara. Aku akan tanya apakah ia punya perasaan padaku. Dan jika ia bilang tidak, setidaknya aku tahu. Aku bisa move on. Aku bisa terima lamaran Kadir tanpa rasa bersisa."
Air matanya menetes.
"Tapi Nonik, bagaimana jika ia bilang iya? Bagaimana jika ia ternyata mencintaiku sejak dulu? Apa yang harus aku lakukan? Melawan ibu? Melawan Kadir? Melawan seluruh desa?"
Boneka itu tetap diam.
Aryanti berbaring di tempat tidur dan memeluk bantalnya.
"Aku lelah, Nonik. Aku sangat lelah."
Malam itu, di tempat yang berbeda, dua hati yang sama sama lelah, sama sama bingung, sama sama takut, sama sama berharap. Riyadi di rumah kayunya yang sederhana, Aryanti di rumah panggungnya yang hijau muda. Mereka tidak bertemu, tidak bicara, tidak saling mengirim pesan karena di desa itu belum ada handphone untuk anak muda miskin seperti mereka.
Tapi mereka melihat bulan yang sama.
Riyadi berdiri di halaman belakang rumahnya, menatap bulan yang bersinar terang di antara bintang bintang yang bertaburan.
"Yan, jika kau sedang melihat bulan ini juga, tolong ketahuilah: aku sedang merindukanmu. Dengan sangat."
Aryanti, yang kebetulan juga sedang berdiri di balkon kamarnya, menatap bulan yang sama.
"Riyad, jika kau sedang melihat bulan ini juga, tolong ketahuilah: aku juga merindukanmu. Dengan sangat."
Mereka berdua tidak tahu bahwa perasaan yang sama sedang mengalir dalam diam. Seperti dua sungai yang mengalir sejajar tanpa pernah bertemu.
Tapi mereka juga tidak tahu bahwa takdir sedang merangkai pertemuan yang tidak akan terduga. Pertemuan yang akan mengubah segalanya. Pertemuan yang akan memaksa mereka untuk berani atau selamanya diam.
Di kejauhan, di rumah besar Haji Bahar, Kadir sedang duduk di kursi goyang sambil tersenyum jahat. Di tangannya, sebuah amplop tebal berisi uang dan foto foto.
"Riyadi, kau pikir kau bisa merebut Aryanti dariku? Kau salah besar. Aku punya rencana. Rencana yang akan membuatmu kapok seumur hidup."
Ia tertawa kecil.
"Dan Aryanti, kau akan menjadi milikku. Dengan atau tanpa persetujuanmu."
Malam itu, di Desa Sriwidadi yang sunyi, rahasia rahasia mulai bergerak. Rahasia yang akan meledak suatu hari nanti.
Dan ketika ledakan itu terjadi, tidak ada yang bisa menghentikannya.
BAB V
KADIR DATANG
Matahari baru saja terbit ketika Kadir sudah berdiri di depan cermin kamarnya yang besar. Kaca itu dibingkai kayu ukiran khas Kalimantan, konon didatangkan langsung dari pengrajin di Kota Banjarmasin dengan harga yang tidak pernah ia sebutkan pada siapa pun. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang motif parang rusak warna cokelat keemasan—kain yang menurut penjualnya adalah koleksi terbatas dari perajin ternama. Celana kain hitam, ikat pinggang kulit asli, dan sepatu pantofel mengkilap yang setiap pagi selalu disemir oleh Minah, pembantunya yang paling setia.
"Den, sarapan sudah siap di meja," kata Minah dari balik pintu.
"Tunggu dulu, Minah. Aku masih harus merapikan rambutku."
"Rambut Den sudah rapi. Tidak ada sehelai pun yang berantakan."
"Kau tidak mengerti, Minah. Hari ini aku akan pergi ke rumah Aryanti lagi. Kali ini bukan main main. Aku akan memastikan bahwa lamaranku diterima. Aku tidak akan pulang sebelum Saripah mengucapkan kata 'iya'."
"Apa Den tidak takut Aryanti menolak lagi?"
"Tidak akan, Minah. Kali ini aku bawa senjata pamungkas."
"Senjata pamungkas, Den?"
Kadir berbalik dan tersenyum. "Surat tanah dua hektar di pinggir jalan raya Kuala Kapuas. Sertifikatnya sudah atas nama Aryanti. Cuma perlu tanda tangan dan materai. Siapa yang bisa menolak hadiah semewah itu?"
Minah hanya mengangguk meskipun hatinya bergumam, "Aryanti bukan tipe gadis yang mudah dibeli dengan tanah." Tapi ia tidak berani mengatakan itu pada Kadir. Ia hanya pembantu. Bukan penasihat cinta.
Di ruang makan, Haji Bahar sudah duduk di kursi kepala meja panjang yang terbuat dari kayu jati solid. Di hadapannya, sepiring nasi putih, semangkuk bubur ayam kampung, ikan asin, sambal terasi, dan segelas jus jeruk peras asli—bukan yang dari kemasan. Wajahnya tampak serius pagi itu. Matanya yang kecil dan tajam itu menatap Kadir yang baru saja masuk dengan langkah penuh percaya diri.
"Nak, duduklah. Kita bicara sebelum kau pergi."
"Apa yang akan Ayah bicarakan?"
"Saripah menelepon tadi malam."
Kadir menghentikan tangannya yang baru saja meraih sendok. "Apa katanya?"
"Katanya, Aryanti masih keras kepala. Ia bilang ia belum siap menikah. Ia ingin menyelesaikan sekolahnya dulu. Bahkan Saripah sendiri sudah tidak bisa berbuat apa apa. Anaknya terlalu keras kepala."
"Ayah, aku tidak peduli Aryanti keras kepala atau tidak. Aku akan tetap meminangnya."
"Tapi Nak, memaksa bukan cara yang baik. Apalagi dengan membawa bawa uang dan tanah. Itu namanya menyuap, bukan melamar."
"Di desa ini, Ayah, menyuap dan melamar itu sama saja. Semua orang punya harga. Aryanti juga punya harga. Dan aku akan membayar harga itu, berapa pun."
Haji Bahar menghela napas panjang. "Kadir, anakku, ayah kaya. Ayah punya segalanya. Tapi ayah tidak pernah membeli cinta dengan uang. Ibu kau dulu menerima ayah karena ayah jujur, bukan karena ayah kaya."
"Itu dulu, Ayah. Zaman sudah berubah."
"Zaman tidak pernah mengubah hakikat cinta, Nak. Cinta tetap cinta. Ia tidak bisa dibeli."
Kadir meletakkan sendoknya. Ia menatap ayahnya dengan mata yang penuh ambisi. "Ayah, aku tidak mau kuliah tentang cinta dari Ayah. Ayah lulusan SD, Ayah tidak pernah membaca buku buku roman. Ayah tidak tahu apa apa tentang cinta modern."
Haji Bahar terdiam. Kata kata Kadir menusuk hatinya seperti belati. Tapi ia tidak marah. Ia hanya menggelengkan kepala pelan.
"Baiklah, Nak. Ayah tidak akan menghentikanmu. Tapi ingat, setiap perbuatan ada konsekuensinya. Jangan menyesal di kemudian hari."
"Aku tidak akan menyesal, Ayah. Aku yakin Aryanti adalah jodohku."
"Semoga Allah meridhoi."
Kadir memilih untuk tidak naik mobil mewah ayahnya kali ini. Ia ingin tampil berbeda. Ia ingin terlihat seperti pemuda desa biasa—tapi tetap dengan sentuhan kemewahan yang tidak bisa disembunyikan. Ia naik motor bebek baru yang hadiah ulang tahun dari Haji Bahar. Warna hitam, mesin 125cc, knalpot racing, dan stiker stiker keren di bodinya. Di samping kanan, Mamat duduk sebagai penumpang sambil memegang koper kecil berisi surat surat penting—termasuk sertifikat tanah dua hektar yang sudah di atasnamakan Aryanti.
"Den, apa kita tidak perlu bawa rombongan? Biasanya lamaran itu harus rame rame," kata Mamat sambil mengatur posisi duduknya di jok belakang.
"Biar beda, Mat. Aku ingin tampil sederhana. Biar Aryanti tidak merasa tertekan."
"Sederhana tapi bawa sertifikat tanah dua hektar, Den?"
"Sertifikat itu bukan untuk menekan. Itu untuk meyakinkan. Bahwa aku serius. Bahwa aku tidak main main. Bahwa aku siap memberikan segalanya untuk Aryanti."
Mamat hanya diam. Ia tahu kadang Kadir keras kepala. Tidak ada gunanya berdebat.
Perjalanan dari rumah Haji Bahar ke rumah Aryanti memakan waktu sekitar lima belas menit dengan motor. Melewati jalan tanah yang berlubang lubang, melewati kebun karet yang masih basah oleh embun pagi, melewati jembatan bambu yang melengkung di atas sungai kecil, dan melewati warung warung yang baru mulai buka.
Di sepanjang jalan, beberapa warga yang melihat Kadir melambai dan tersenyum. Kadir membalas lambaian mereka dengan anggukan kecil—sikap seorang bangsawan kecil yang sedang melintasi daerah kekuasaannya. Ia tidak tahu bahwa di balik senyum itu, beberapa warga bergumam, "Kadir datang lagi. Mungkin mau ke rumah Aryanti. Kasihan Si Tengil."
Di sebuah warung kopi sederhana, Badrun sedang duduk sambil menyesap kopi pahit. Ia melihat Kadir lewat dan langsung berdiri.
"Aduh, Riyadi harus tahu ini," bisiknya sambil meninggalkan uang dua ribu rupiah di meja.
Ia berlari menuju ke kebun karet tempat Riyadi biasanya bekerja. Tubuhnya yang tambun membuat larinya lambat dan tersendat sendat.
Di kebun karet bagian barat, Riyadi sedang menyadap pohon karet nomor tujuh—pohon yang paling besar dan paling tua di kebun itu. Getahnya paling banyak, paling putih, dan paling wangi. Banyak pekerja yang iri karena Riyadi yang selalu mendapat jatah pohon itu. Tapi tidak ada yang berani protes. Mereka tahu Riyadi pekerja keras. Ia pantas mendapat yang terbaik.
"Ri! Ri!" teriak Badrun dari kejauhan, masih terengah engah.
Riyadi tidak menoleh. "Ada apa, Run? Kenapa kau lari lari seperti orang dikejar setan?"
"Lebih gawat dari setan, Ri! Kadir! Kadir datang lagi! Ke rumah Aryanti! Dan kali ini ia bawa koper!"
Riyadi berhenti menyadap. Ia menoleh ke arah Badrun dengan wajah serius. "Koper? Koper apa?"
"Entahlah! Tapi Mamat ikut! Mamat yang biasanya jadi tangan kanan Haji Bahar! Pasti ini serius, Ri! Pasti Kadir akan melamar lagi! Dan kali ini ia tidak main main!"
Riyadi meletakkan sadap dan mangkuk getahnya di tanah. Ia berdiri dan menatap ke arah timur, ke arah rumah Aryanti.
"Run, apa kau tahu Aryanti setuju?"
"Aku tidak tahu, Ri. Tapi yang aku tahu, Saripah sudah senang setengah mati. Ia sudah siap menyambut Kadir seperti menyambut pangeran. Bahkan Tante Mina sudah datang dari rumahnya. Katanya mau jadi saksi."
"Tante Mina? Yang cerewet itu?"
"Iya, yang paling cerewet se desa. Pokoknya kacau, Ri. Kau harus ke sana. Kau harus hentikan Kadir."
"Jangan bodoh, Run. Aku tidak punya hak menghentikan lamaran orang. Aku bukan keluarga Aryanti. Aku bukan siapa siapa."
"Tapi kau mencintainya, Ri! Itu sudah cukup! Kau harus buktikan bahwa kau lebih berhak!"
"Berhak atau tidak, bukan aku yang menentukan. Aryanti yang menentukan. Dan sampai saat ini, ia belum bilang iya pada Kadir. Itu sudah cukup membuatku lega."
"Tapi Ri..."
"Sudahlah, Run. Aku akan ke rumah Aryanti. Tapi bukan untuk menghentikan lamaran. Aku hanya ingin melihat. Aku hanya ingin memastikan Aryanti baik baik saja."
Badrun menghela napas. "Baiklah. Aku ikut."
Mereka berdua berjalan cepat meninggalkan kebun karet. Riyadi lupa mengambil sadap dan mangkuk getahnya. Itu pertama kalinya dalam hidupnya ia lupa membereskan peralatan kerja.
Di rumah Aryanti, suasana sudah sibuk sejak satu jam yang lalu. Saripah menyuruh Aryanti membersihkan ruang tamu, menyapu halaman, merapikan kursi kursi, dan menyiapkan kue kue yang dibeli dari pasar. Aryanti melakukan semuanya dengan malas, tanpa semangat.
"Yan, cepat! Tamu akan datang sebentar lagi! Jangan cemberut begitu! Tersenyumlah!"
"Ma, aku tidak mau tersenyum palsu."
"Kau pikir aku juga mau tersenyum palsu? Tapi ini demi masa depanmu, Yan! Sekali lagi kau dengar? Demi masa depanmu!"
"Ma, aku sudah bilang, masa depanku bukan ditentukan oleh Kadir."
"Tapi masa depanmu akan lebih baik dengan Kadir. Itu fakta!"
"Fakta menurut siapa, Ma? Menurut ibu? Menurut Tante Mina? Menurut tetangga? Bukan menurutku. Itu bukan fakta. Itu opini."
Saripah hampir kehilangan kesabaran. Tapi ia menahan diri karena dari kejauhan ia sudah mendengar suara motor bebek dengan knalpot racing. Itu pasti Kadir.
"Yan, mereka datang. Cepat rapikan kerudungmu."
Aryanti menghela napas. Ia menarik kerudungnya sedikit ke depan, meskipun sebenarnya tidak ada yang perlu dirapikan. Ia berdiri di samping ibunya di beranda, seperti patung yang dipaksa tersenyum oleh pematungnya.
Kadir masuk ke halaman dengan langkah penuh percaya diri. Di belakangnya, Mamat membawa koper kecil. Mamat tersenyum sopan pada Saripah, lalu pada Aryanti. Tapi Aryanti tidak membalas senyumnya. Ia hanya menatap Kadir dengan tatapan datar.
"Selamat pagi, Bu Saripah. Selamat pagi, Ayanti," sapa Kadir dengan suara yang dibuatnya semanis mungkin.
"Selamat pagi, Nak Kadir. Mari masuk. Jangan berdiri di halaman saja."
"Terima kasih, Bu."
Kadir masuk ke ruang tamu. Ia duduk di kursi yang sudah disediakan—kursi kayu jati dengan bantal merah marun. Mamat duduk di sampingnya, meletakkan koper di pangkuannya.
"Bu, kali ini saya datang bukan main main," kata Kadir setelah semua duduk. "Saya serius ingin meminang Aryanti. Saya sudah siap menikah kapan saja. Tidak perlu menunggu lulus SMA. Saya akan biayai sekolahnya meskipun sudah menikah. Bahkan kalau mau, saya akan kirim Aryanti kuliah ke Banjarmasin atau Surabaya. Saya tidak masalah."
Saripah tersenyum lebar. "Wah, baik sekali Nak Kadir. Mendengar tawaran itu, saya tidak bisa berkata kata."
"Maaf, Bu. Saya belum selesai." Kadir mengambil koper dari pangkuan Mamat. Ia membukanya dan mengeluarkan sebuah map tebal berwarna merah. "Ini surat tanah dua hektar di pinggir jalan raya Kuala Kapuas. Lokasinya strategis. Harga tanah di sana sekarang sudah naik tiga kali lipat dibanding tahun lalu. Tanah ini saya hadiahkan untuk Aryanti. Sebagai mahar. Atau sebagai tanda keseriusan saya. Terserah Aryanti mau namai apa."
Aryanti tetap diam. Wajahnya tidak berubah.
Saripah hampir melompat kegirangan. "Yan, kau dengar? Tanah dua hektar! Dua hektar, Yan! Itu lebih luas dari kebun karet Haji Bahar sendiri!"
"Bu, kebun karet ayah saya lima hektar. Tanah ini dua hektar. Jadi lebih kecil. Tapi tetap mewah."
"Tentu saja mewah, Nak! Dua hektar di pinggir jalan raya? Itu harga milyaran!"
Aryanti akhirnya membuka suara. "Ma, aku tidak butuh tanah."
Ruangan mendadak sunyi.
"Kau bilang apa, Yan?" Saripah menatap putrinya dengan mata melotot.
"Aku bilang, aku tidak butuh tanah. Aku butuh cinta. Cinta yang tulus. Bukan cinta yang dibeli dengan harta."
Kadir tersenyum—senyum yang dipaksakan. "Aryanti, siapa bilang saya membeli cinta? Saya serius mencintaimu. Tanah ini hanya bonus. Karena saya sayang padamu. Karena saya ingin kau hidup nyaman."
"Den Kadir, cinta tidak perlu dibuktikan dengan tanah. Cinta cukup dibuktikan dengan ketulusan."
"Dan saya tulus, Aryanti. Sungguh. Saya tidak pernah main main dengan perasaan perempuan. Kau yang pertama."
"Pernyataan 'kau yang pertama' itu klise, Den. Semua laki laki bilang begitu."
Kadir mulai kehilangan kesabaran. Tapi ia menahannya. "Aryanti, apa yang kurang dari diri saya? Apa yang kurang dari keluarga saya? Apa yang kurang dari semua yang saya tawarkan?"
Aryanti menatap Kadir lurus lurus. "Yang kurang, Den, adalah hati saya. Hati saya belum bisa menerima Anda. Itu saja. Bukan masalah harta. Bukan masalah status. Bukan masalah penampilan. Hanya soal hati."
Saripah berdiri. "Aryanti, kau keterlaluan! Tamu datang dengan niat baik, kau tolak dengan kasar!"
"Ma, aku tidak menolak dengan kasar. Aku hanya jujur. Tidakkah lebih baik jujur sejak awal daripada memberi harapan palsu?"
Kadir meletakkan map merah itu di meja. Ia berdiri. "Bu Saripah, saya minta diri."
"Nak Kadir, jangan pergi dulu. Aryanti hanya sedang bad mood. Biar saya bicara dengannya."
"Tidak perlu, Bu. Saya mengerti. Aryanti memang belum siap. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya akan datang lagi. Dan lagi. Sampai ia bilang iya."
Kadir melangkah keluar. Mamat mengikutinya dari belakang, masih membawa koper yang belum sempat ditutup rapat.
Di halaman, Kadir hampir bertabrakan dengan Riyadi dan Badrun yang baru saja tiba. Mereka berhadapan. Halaman rumah Aryanti yang sempit itu tiba tiba terasa lebih sempit dengan kehadiran empat laki laki yang saling menatap dengan tatapan tidak ramah.
"Riyadi," sapa Kadir dengan nada dingin.
"Kadir," balas Riyadi singkat.
"Apa yang kau lakukan di sini? Ini bukan rumahmu."
"Aku hanya ingin melihat Aryanti. Tidak ada larangan untuk bertamu, kan?"
"Bertamu? Atau mengganggu lamaranku?"
"Aku tidak mengganggu apa pun. Aku hanya datang."
Badrun yang berdiri di belakang Riyadi hanya diam. Ia merasa suasana semakin panas seperti minyak goreng yang menunggu api.
Dari dalam rumah, Aryanti keluar. Ia melihat Riyadi dan Kadir berhadapan. Jantungnya berdebar kencang.
"Riyad, kau datang," kata Aryanti.
"Aku dengar ada yang datang melamar. Aku ingin memastikan kau baik baik saja."
"Aku baik baik saja. Kau tidak perlu khawatir."
Kadir tertawa kecil. "Lucu. Kau bilang tidak perlu khawatir? Bukannya kau malah lega karena lamaranku ditolak?"
"Kadir, aku tidak datang ke sini untuk membahas lamaranmu. Aku datang untuk melihat Aryanti."
"Tapi kau datang di saat yang tepat. Saat aku baru saja ditolak. Kau pasti senang, kan?"
"Aku tidak senang melihat siapa pun ditolak. Itu tidak sopan."
Kadir mendekat ke arah Riyadi. Jarak mereka tinggal setengah meter. Wajah Kadir yang gemuk dan tinggi itu mendominasi Riyadi yang lebih kurus dan pendek.
"Dengar, Riyadi. Aku tidak suka kau. Sejak dulu. Aku tidak suka cara kau menatap Aryanti. Aku tidak suka cara kau dekat dekat dengannya. Aku tidak suka kau selalu muncul di mana pun Aryanti berada."
"Itu hakku, Kadir. Aryanti temanku sejak kecil."
"Teman? Jangan sok suci, Riyadi. Aku tahu kau lebih dari sekadar teman. Aku tahu kau mencintainya. Tapi kau tidak pantas untuknya."
"Tidak pantas atau tidak, bukan kau yang menentukan."
"Memang bukan aku. Tapi kenyataan yang menentukan. Kau miskin. Kau tidak punya apa apa. Apa yang bisa kau berikan pada Aryanti? Getah karet?"
"Ketulusan. Aku bisa memberinya ketulusan. Dan itu lebih berharga daripada semua tanah di Kuala Kapuas."
Kadir tertawa lagi. "Ketulusan? Ketulusan tidak bisa membeli beras, Riyadi. Ketulusan tidak bisa membayar listrik. Ketulusan tidak bisa menyekolahkan anak anak nanti. Dasar pemuja romantisme murahan."
"Kadir, kau kaya. Tapi kau tidak tahu apa apa tentang cinta. Cinta sejati tidak bisa dibeli. Cinta sejati hanya bisa dirasakan."
"Omong kosong."
"Silakan kau anggap omong kosong. Tapi itu kebenaran."
Aryanti yang dari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. "Sudah, jangan bertengkar di depan rumahku. Pulanglah kalian berdua. Aku tidak mau tetangga lihat dan bergosip."
Kadir menatap Aryanti. "Aryanti, aku akan kembali. Aku tidak akan menyerah."
"Aku tidak akan berubah pikiran, Den. Maaf."
"Kita lihat saja nanti."
Kadir berbalik dan naik ke motornya. Mamat ikut naik di belakang. Mesin motor menyala. Mereka pergi meninggalkan halaman rumah Aryanti.
Riyadi masih berdiri di tempatnya. Badrun sudah pergi lebih dulu karena tidak kuat menahan suasana yang tegang. Kini hanya Riyadi dan Aryanti berdua di halaman rumah itu. Suasana sunyi. Hanya suara ayam dan burung yang terdengar.
"Yan, maaf aku datang tanpa kabar."
"Tidak apa apa, Riyad. Aku senang kau datang."
"Benarkah? Kau tidak marah?"
"Aku tidak marah. Aku malah lega."
"Lega karena lamaran Kadir ditolak?"
"Bukan. Lega karena kau melihat langsung bagaimana aku menolaknya. Jadi kau tahu, aku tidak berbohong. Aku sungguh sungguh tidak mau menikah dengan Kadir."
Riyadi tersenyum tipis. "Aku percaya, Yan."
"Mau masuk? Ibu sedang marah padaku. Tapi kau bisa masuk lewat pintu belakang. Ibu tidak akan lihat."
"Tidak usah, Yan. Aku tidak ingin menambah masalah. Aku hanya ingin kau tahu, aku ada di sini. Kapan pun kau butuh aku."
"Aku tahu, Riyad. Aku selalu tahu."
Mereka berdua terdiam sejenak.
"Yan, aku harus kembali ke kebun karet. Aku lupa sadap dan mangkuk getahku di sana."
"Cepatlah pergi. Nanti getahnya mengering."
"Iya. Yan, jaga dirimu baik baik."
"Kau juga, Riyad. Jangan terlalu capek bekerja."
"Untukmu, aku rela."
"Gombal lagi."
"Ini bukan gombal. Ini jujur."
Mereka berdua tersenyum. Riyadi berbalik dan berjalan pergi. Aryanti menatap punggungnya sampai menghilang di balik rumpun bambu.
Di perjalanan pulang, Kadir tidak bicara sepatah kata pun pada Mamat. Wajahnya merah. Tangannya yang memegang setang motor gemetar karena menahan amarah. Mamat diam di belakang, tidak berani mengeluarkan suara.
Setiba di rumah, Kadir langsung turun dari motor dan masuk ke kamarnya. Ia membanting pintu keras keras hingga rumah berguncang.
"Mamat! Masuk ke sini!" teriaknya dari dalam.
Mamat masuk dengan perasaan takut.
"Den, ada apa?"
"Apa? Kau tanya ada apa? Lamaranku ditolak! Di depan Riyadi lagi! Itu penghinaan!"
"Den, sabar..."
"Sabar? Kau suruh aku sabar? Sementara Si Miskin itu tersenyum puas karena lamaranku gagal?"
"Den, mungkin ini bukan rezeki Den. Mungkin Den belum jodoh dengan Aryanti."
"Jodoh? Aku tidak percaya jodoh! Aku percaya pada usaha! Dan aku akan berusaha lebih keras! Dengan cara apa pun! Halal atau haram!"
"Den, jangan nekat..."
"Aku tidak nekat, Mat. Aku serius. Mulai hari ini, cari semua informasi tentang Riyadi. Gali kuburnya. Cari kejelekannya. Kalau tidak ada, buatlah ada. Aku ingin Riyadi hancur. Aku ingin ia tidak bisa mendekati Aryanti lagi. Aku ingin ia pergi dari desa ini!"
Mamat menghela napas. "Baik, Den. Aku coba cari akal."
"Jangan coba coba. Lakukan! Atau kau yang akan kuhancurkan!"
Mamat mengangguk takut. Ia keluar dari kamar Kadir dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia takut pada Kadir. Di sisi lain, ia kasihan pada Riyadi. Tapi hidup di desa ini, siapa yang berani melawan orang kaya?
Malam itu, desa Sriwidadi terasa lebih gelap dari biasanya. Bulan tidak muncul. Bintang bintang bersembunyi di balik awan tebal. Angin bertiup kencang, membawa bau hujan yang belum turun.
Riyadi duduk di beranda rumahnya, memegang buku tulis cokelat tua itu. Ia tidak menulis. Ia hanya duduk termenung, mengingat wajah Aryanti yang tersenyum padanya sore tadi.
"Nak, masuklah. Nanti hujan turun," kata Mak Tonah dari dalam.
"Sebentar, Mak. Aku ingin menikmati angin."
"Angin ribut begitu, dinikmati? Kau aneh, Nak."
"Aneh karena cinta, Mak."
Mak Tonah tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepala dan masuk ke dalam rumah.
Riyadi membuka buku tulisnya ke halaman terakhir—puisi yang ia tulis kemarin malam. Ia membaca sekali lagi.
"Untuk Aryanti, dengan segala keberanian yang selama ini kupendam."
"Aku bukan pujangga. Aku bukan sastrawan. Aku hanya pemuda kampung yang buta huruf dalam hal cinta. Tapi aku akan belajar. Untukmu, aku akan belajar."
"Aku tidak bisa menjanjikan istana atau mobil mewah atau perhiasan emas. Tapi aku bisa menjanjikan satu hal: kejujuran. Aku akan selalu jujur padamu. Tentang perasaanku. Tentang ketakutanku. Tentang mimpiku. Tentang kita."
"Aku mencintaimu, Aryanti. Bukan karena kau cantik. Bukan karena kau bunga desa. Bukan karena semua pemuda menginginkanmu. Aku mencintaimu karena kau adalah kau."
Riyadi menutup buku itu dan menatap langit yang gelap.
"Yan, aku tidak tahu bagaimana kelanjutan cerita kita. Tapi yang aku tahu, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Sampai kapan pun."
Di rumah Aryanti, gadis itu juga duduk di balkon kamarnya, memandang ke arah rumah Riyadi yang tidak terlihat karena gelap.
"Nonik," bisiknya pada boneka kain usang itu, "hari ini aku menolak Kadir. Dan aku senang karena Riyadi melihatnya. Mungkin sekarang ia tahu bahwa aku serius. Bahwa aku tidak ingin Kadir. Bahwa yang aku inginkan hanya dia."
Boneka itu diam.
"Tapi Nonik, aku takut. Kadir tidak akan diam. Ia pasti akan melakukan sesuatu. Aku takut Riyadi yang akan terkena imbasnya."
Air matanya menetes.
"Nonik, tolong jaga Riyadi untukku. Aku tidak ingin kehilangan dia. Bukan karena cinta. Tapi karena ia adalah satu satunya orang yang membuatku merasa menjadi diri sendiri. Bukan bunga desa. Bukan piala. Bukan trofi. Tapi Aryanti. Manusia biasa yang ingin dicintai dengan tulus."
Malam itu, di desa Sriwidadi yang gelap, tiga hati bergerak dalam orbit yang berbeda. Kadir dengan amarah dan dendam. Riyadi dengan cinta dan kesabaran. Aryanti dengan harapan dan ketakutan.
Tak satu pun dari mereka tahu bahwa badai sedang mengumpulkan kekuatannya. Badai yang akan mengubah hidup mereka selamanya.
BAB VI
LAMARAN PERTAMA
"Aryanti! Bangun! Sudah jam enam, kau masih tidur?"
"Sebentar, Ma. Aku masih mengantuk."
"Mengantuk? Kau pikir ini hari libur? Ini hari penting! Haji Bahar dan rombongan akan datang jam sembilan! Kau harus siap!"
"Ma, aku sudah bilang, aku tidak mau."
"Kau tidak punya pilihan, Yan! Ibu sudah berjanji pada Haji Bahar. Lamaran ini harus berjalan lancar."
"Tapi Ma, kenapa ibu memaksa? Aku anak ibu, bukan budak yang bisa diperjualbelikan."
"Jangan bicara seperti itu, Yan! Ibu melakukan ini semua demi kebaikanmu."
"Kebaikan menurut siapa, Ma?"
"Menurut ibu! Dan menurut semua orang di desa ini! Cuma kau yang tidak mengerti!"
Aryanti keluar dari kamar dengan wajah masam. Rambutnya masih acak acakan. Bajunya masih baju tidur. Saripah langsung mendorongnya ke kamar mandi.
"Cepatan mandi! Kau mau tamu melihatmu seperti ini?"
"Biarkan mereka melihat. Aku tidak peduli."
"Yan, jangan coba coba mempermalukan ibu di depan Haji Bahar. Ibu sudah tidak punya harga diri lagi setelah ayahmu meninggal. Ini satu satunya kesempatan ibu untuk mengembalikan martabat keluarga kita."
"Ma, martabat tidak dibeli dengan menikahkan anak pada orang kaya."
"Sudahlah, jangan banyak bicara! Mandi! Sekarang!"
Setengah jam kemudian, Aryanti sudah duduk di ruang tamu dengan wajah cemberut. Rambutnya sudah disanggul rapi oleh Saripah. Ia memakai kebaya putih sederhana—baju terbaik yang ia miliki. Tapi ekspresinya tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Nah, cantik sekali kau, Yan," kata Tante Mina yang datang sejak subuh. "Dengan wajah secantik ini, Haji Bahar pasti tidak akan keberatan memberikan mahar besar."
"Tante, aku tidak peduli dengan mahar."
"Ah, anak muda. Selalu bicara soal perasaan. Nanti kalau sudah tua dan miskin, barulah kau sadar bahwa perasaan tidak bisa dimakan."
"Aku lebih baik miskin tapi bahagia daripada kaya tapi menderita."
"Menderita? Menderita apa menikah dengan Kadir? Rumah besar, mobil mewah, uang berlimpah. Itu namanya menderita?"
"Bagi Tante mungkin surga. Tapi bagi aku, itu neraka."
"Neraka? Kau belum pernah merasakan neraka yang sesungguhnya, Yan. Neraka itu ketika perutmu kosong, anak anakmu menangis kelaparan, dan suamimu tidak bisa berbuat apa apa. Itu neraka. Bukan rumah besar."
"Tante, sudahlah. Aku tidak akan berubah pikiran."
Saripah yang baru keluar dari dapur dengan membawa nampan berisi gelas dan teh langsung menyahut. "Kau tidak punya pilihan, Yan. Hari ini Haji Bahar datang. Lamaran ini akan berjalan. Setelah lamaran, segera dilanjutkan dengan pernikahan. Paling lambat bulan depan."
"Ma, apa kau tidak dengar? Aku bilang aku tidak mau!"
"Kau tidak usah bilang apa apa nanti. Biar ibu yang bicara. Cukup kau duduk manis dan tersenyum."
"Aku tidak bisa tersenyum palsu, Ma."
"Kalau tidak bisa, belajar! Tersenyumlah meskipu hatimu menangis. Itu namanya sopan santun!"
Tante Mina menambahkan, "Ibu kau benar, Yan. Kau harus belajar mengorbankan perasaan demi keluarga. Ini bukan soal kau saja. Ini soal nama baik keluarga kita."
"Nama baik keluarga? Keluarga kita sudah tidak punya nama baik sejak ayah mati dan meninggalkan utang di mana mana."
Saripah tersentak. "Aryanti! Kau jangan bawa bawa ayahmu!"
"Kenapa, Ma? Itu fakta. Ibu sendiri yang bilang. Ayah meninggalkan utang. Ibu malu karena itu. Sekarang ibu ingin menutupi rasa malu itu dengan menjual aku ke keluarga kaya."
"Jual? Siapa bilang jual? Ibu tidak menjualmu!"
"Kalau bukan menjual, namanya apa, Ma? Menerima lamaran tanpa persetujuan anak sendiri. Itu namanya memaksa. Dan memaksa itu sama saja dengan menjual."
Saripah meletakkan nampan di meja dengan kasar. Bunyi gelas gelas berdenting hampir jatuh. "Cukup, Yan! Ibu tidak mau dengar lagi! Selesaikan kau berdandan. Haji Bahar dan rombongan akan datang satu jam lagi."
Aryanti berdiri dan berjalan ke kamar. Air matanya mulai menetes.
"Minah! Kemeja batik yang mana yang paling bagus?"
"Yang warna cokelat keemasan, Den. Itu mahal."
"Bukan masalah mahal, Minah. Yang penting Aryanti suka."
"Apa Den yakin Aryanti akan suka?"
"Kenapa kau ragu? Semua perempuan suka barang mahal."
"Aryanti berbeda, Den. Ia tidak seperti perempuan lain."
"Perempuan tetaplah perempuan, Minah. Mereka semua suka hal hal mewah. Hanya saja ada yang pura pura tidak suka."
"Apa Den tidak takut lamaran kali ini ditolak lagi?"
"Tidak akan, Minah. Kali ini aku bawa senjata yang lebih dahsyat dari sebelumnya."
"Senjata apa, Den?"
"Aku bawa paman dari kepolisian. Letnan Surya. Pangkatnya tinggi. Kalau Saripah menolak, aku bisa gunakan jalur kekuasaan."
"Den, itu namanya mengancam."
"Bukan mengancam, Minah. Hukum. Di desa ini, siapa yang punya koneksi ke polisi, dialah yang menang."
Minah diam. Ia melanjutkan menyetrika kemeja batik cokelat keemasan itu tanpa bicara.
Kadir berdiri di depan cermin. Ia mengatur rambutnya, mengatur kumisnya, mengatur senyumnya. "Hari ini, Aryanti akan menjadi tunanganku. Tidak ada yang bisa menghalangi."
"Kadir, ayah ingin bicara denganmu sebelum berangkat."
"Apa lagi, Ayah? Ayah sudah bilang semua kemarin."
"Ayah hanya ingin mengingatkan. Jangan paksa Aryanti. Kalau ia belum siap, hormati keputusannya."
"Ayah, sudah berapa kali lamaran aku ditolak? Aku malu, Ayah. Seluruh desa tahu aku ditolak Aryanti."
"Lebih baik malu karena ditolak daripada malu karena memaksa. Ingat itu, Nak."
"Ayah terlalu lembut. Di zaman seperti ini, yang lembut akan dimakan. Yang kuat yang menang."
"Kehidupan bukan perang, Nak. Ini soal hati. Hati tidak bisa dipaksa."
"Hati bisa dipaksa, Ayah. Dengan uang dan kekuasaan."
Haji Bahar menghela napas. Ia menatap anaknya dengan pandangan yang penuh kekecewaan. "Ayah tidak pernah mengajarkanmu seperti itu."
"Ayah tidak perlu mengajar. Aku belajar sendiri dari dunia. Dunia yang kejam. Dunia yang tidak kenal kasihan pada orang lemah."
"Apa kau yakin Aryanti adalah orang yang tepat untukmu? Atau kau hanya ingin menang dari Riyadi?"
Kadir terdiam sejenak. "Aku mencintainya, Ayah."
"Apakah kau benar benar mencintainya, atau kau hanya ingin memiliki apa yang tidak bisa kau miliki?"
"Ayah, jangan analisislah aku terus. Aku sudah dewasa. Aku tahu apa yang aku lakukan."
"Kalau kau dewasa, kau akan tahu kapan harus berhenti. Tapi dari cara bicaramu, kau masih sangat kekanakan."
Kadir tidak menjawab. Ia mengambil kemeja batik dari tangan Minah dan memakainya dengan cepat.
"Ayo, Mamat. Kita berangkat."
Tiga motor dan satu mobil berhenti di halaman rumah Aryanti. Kadir turun dari mobil. Di belakangnya, Mamat membawa koper besar. Seorang pria berbadan tegap dengan seragam polisi—Letnan Surya—turun dari mobil yang sama. Dua orang lainnya—kerabat Haji Bahar—ikut serta.
Saripah sudah menunggu di beranda. Wajahnya berseri seri.
"Selamat datang, Nak Kadir. Selamat datang, Pak Letnan. Mari, mari masuk."
"Terima kasih, Bu Saripah. Maaf mengganggu."
"Ah, tidak mengganggu sama sekali. Ini kehormatan bagi keluarga kami."
Aryanti duduk di ruang tamu dengan wajah datar. Ia tidak berdiri menyambut. Ia hanya diam seperti patung. Kadir masuk dan duduk di kursi yang tersedia. Matanya langsung tertuju pada Aryanti.
"Selamat pagi, Aryanti."
"Selamat pagi, Den Kadir."
"Kau tampak cantik hari ini. Kebaya putih itu cocok untukmu."
"Terima kasih."
Hanya itu. Tidak ada senyum. Tidak ada basa basi. Saripah gugup melihat sikap Aryanti.
"Yan, tawarkan minum pada tamu."
"Silakan minum, Den. Ini teh manis buatan ibu."
Kadir mengambil gelas dan menyesap tehnya. "Enak. Bu Saripah memang pandai meramu teh."
"Ah, biasa saja, Nak. Yang penting tamu senang."
Letnan Surya yang dari tadi diam akhirnya bicara. "Bu Saripah, saya di sini bukan sebagai perwakilan kepolisian. Saya di sini sebagai paman dari Kadir. Jadi tidak usah tegang tegang."
"Tentu, Pak Letnan. Saya tidak tegang."
"Kelihatannya sih tegang. Wajah Aryanti juga tegang."
Aryanti menatap Letnan Surya. "Saya tidak tegang, Pak. Saya hanya tidak nyaman."
"Tidak nyaman kenapa? Karena kedatangan kami?"
"Karena saya dipaksa menerima lamaran yang tidak saya inginkan."
Suasana mendadak hening. Saripah hampir jatuh dari kursinya. Kadir menegang. Letnan Surya mengangkat alis.
"Aryanti! Kau keterlaluan!" teriak Saripah.
"Biarkan, Bu," kata Letnan Surya. "Saya ingin mendengar langsung dari Aryanti. Jadi, kau tidak ingin menerima lamaran keponakan saya?"
"Tidak, Pak. Saya belum siap menikah. Saya masih ingin sekolah. Saya ingin kuliah. Saya punya mimpi. Saya tidak ingin mimpi itu hancur hanya karena pernikahan."
"Tapi Kadir sudah berjanji akan membiayai sekolahmu. Bahkan kuliahmu."
"Maaf, Pak. Saya lebih suka membiayai diri sendiri. Saya tidak ingin hidup bergantung pada suami."
"Aryanti, kau tahu? Saya suka dengan keberanianmu. Jarang ada gadis desa yang berani bicara seperti itu di depan saya."
Saripah pucat pasi mendengar pujian Letnan Surya pada Aryanti. Ia mengira pamannya Kadir akan marah. Ternyata malah terkesan.
"Tapi Aryanti, saya juga harus jujur. Kadir benar benar sayang padamu. Ia sudah berbulan bulan memikirkanmu. Ia sudah mempersiapkan segalanya. Jangan sia siakan ketulusannya."
"Pak, ketulusan tidak bisa dipaksakan. Saya hargai ketulusan Den Kadir. Tapi saya tidak bisa membalasnya. Maaf."
Kadir yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Aryanti, apa yang kurang dari diriku? Katakan. Aku akan berikan."
"Den, bukan soal kurang atau lebih. Ini soal hati. Hati saya tidak bisa menerima Den. Itu saja."
"Apa karena Riyadi?"
Aryanti terdiam sejenak. "Jangan bawa bawa Riyadi, Den. Ini antara saya dan Den."
"Tapi aku tahu kau dekat dengan Riyadi. Aku tahu kau sering bertemu dengannya di dermaga. Aku tahu kau sudah mencintainya sejak kecil."
"Den Kadir, hidup saya bukan untuk dibahas oleh orang lain."
"Kau tidak menjawab pertanyaanku, Aryanti. Apa karena Riyadi?"
Aryanti menatap Kadir lurus lurus. "Baik. Karena Den memaksa, saya akan jawab. Ya. Saya mencintai Riyadi. Sejak kecil. Sampai sekarang. Saya tidak tahu apakah itu cinta atau bukan. Tapi yang saya tahu, setiap kali saya melihatnya, hati saya tenang. Dan setiap kali saya melihat Den, hati saya gelisah. Maaf."
Ruangan hening total. Saripah memegang dadanya seolah akan pingsan. Tante Mina cuma bisa melongo. Letnan Surya tersenyum tipis. Mamat menunduk. Kadir diam membatu.
Setelah beberapa saat, Kadir berdiri. "Bu Saripah, saya minta diri."
"Nak Kadir, jangan pergi. Aryanti hanya..."
"Tidak usah, Bu. Saya sudah dengar jawabannya. Jelas. Langsung. Tidak perlu ditafsirkan lagi."
"Aryanti masih muda, Nak. Ia belum mengerti apa yang ia katakan."
"Bu, usia bukan alasan. Orang yang masih muda pun bisa tahu apa yang ia mau. Aryanti tahu apa yang ia mau. Ia mau Riyadi."
Saripah hampir menangis. "Nak Kadir, maafkan anak saya. Saya besok akan datang ke rumah Bapak. Saya akan jelaskan semuanya."
"Tidak perlu, Bu. Saya tidak mau memaksa. Tapi ingat, Bu. Saya tidak akan menyerah. Saya akan menunggu. Sampai Aryanti sadar bahwa Riyadi tidak pantas untuknya."
Kadir melangkah keluar. Letnan Surya mengikutinya. Mamat juga. Kerabat lainnya juga. Mereka naik ke mobil dan motor, lalu pergi meninggalkan rumah Aryanti.
Di ruang tamu, Saripah langsung memeluk Aryanti dan menangis. "Yan, apa yang telah kau lakukan? Kita sudah tidak punya apa apa. Ini satu satunya kesempatan. Kenapa kau sia siakan?"
"Ma, aku tidak menyia nyiakan kesempatan. Aku memilih jalanku sendiri."
"Jalanmu sendiri? Jalanmu akan susah, Yan. Tanpa uang, tanpa suami kaya, tanpa siapa pun."
"Aku punya Riyadi, Ma."
"Riyadi? Pemuda kampung miskin yang bahkan tidak punya tanah? Apa yang bisa ia berikan padamu?"
"Dia bisa memberiku cinta, Ma. Cinta yang tulus. Cinta yang tidak bisa dibeli dengan tanah dua hektar."
Saripah melepaskan pelukannya. Ia menatap Aryanti dengan mata sembab. "Kau akan menyesal, Yan. Suatu hari nanti, kau akan menyesal."
"Biar waktu yang menjawab, Ma."
Di warung kopi, Badrun mendengar kabar dari Ningsih.
"Badrun, kau tahu? Lamaran Kadir ditolak lagi!"
"Apa? Serius, Ning?"
"Serius! Aryanti bilang di depan semua orang, ia mencintai Riyadi!"
"Wah, berani betul Aryanti!"
"Iya, Badrun. Aku kagum sama dia. Berani melawan ibu sendiri, melawan Kadir, melawan Haji Bahar, bahkan melawan paman yang polisi!"
"Apa polisi itu diam aja?"
"Diam, kata orang. Malah kayaknya terkesan sama keberanian Aryanti."
"Hebat. Aku harus kabari Riyadi."
"Cepat, Run! Kasihan Si Tengil itu pasti belum tahu."
Badrun berlari menuju kebun karet bagian barat. Tubuhnya yang tambun itu oleng ke kiri dan kanan, tapi ia tetap berlari.
"Ri! Ri! Kabar bagus!"
Riyadi yang sedang menyadap pohon karet nomor tujuh menoleh. "Ada apa, Run? Kenapa kau lari lari lagi?"
"Lamaran Kadir ditolak! Aryanti menolaknya! Di depan semua orang! Ia bilang ia mencintaimu!"
Riyadi berhenti menyadap. Tangannya gemetar. Sadap di tangannya hampir terjatuh.
"Benarkah itu, Run? Jangan kau bohongi aku."
"Sumpah, Ri! Aku dengar dari Ningsih. Ningsih dengar langsung dari Tante Mina yang ada di rumah Aryanti saat kejadian!"
"Aryanti benar benar bilang begitu?"
"Ia bilang, 'Saya mencintai Riyadi. Sejak kecil. Sampai sekarang.' Itu kata Ningsih!"
Riyadi duduk di tanah. Dadanya terasa sesak. Bahagia, sedih, haru, takut, semuanya bercampur jadi satu.
"Ri, kau kenapa? Menangis?"
"Aku tidak nangis, Run. Ini getah karet. Kena mata."
"Bohong. Mata kau merah. Itu pasti air mata."
"Biarlah. Aku tidak malu menangis hari ini."
Badrun duduk di samping Riyadi. "Selamat, Ri. Akhirnya perjuanganmu membuahkan hasil."
"Belum, Run. Ini baru awal. Masih panjang jalan yang harus kita tempuh."
"Tapi setidaknya Aryanti sudah bicara. Ia sudah memilihmu. Itu yang terpenting."
"Iya, Run. Itu yang terpenting."
Sore itu, Riyadi dan Aryanti bertemu di dermaga. Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan. Air sungai beriak tenang. Suara jangkrik mulai terdengar dari balik semak semak.
"Yan, aku dengar kau menolak Kadir."
"Iya, Riyad. Aku menolaknya."
"Aku juga dengar kau menyebut namaku di depan mereka semua."
Aryanti tersenyum. "Maaf, Riyad. Aku tidak bisa menahan diri. Mereka memaksaku. Mereka terus bertanya. Jadi aku jawab sejujurnya."
"Kau tidak takut?"
"Takut, Riyad. Sangat takut. Tapi lebih takut lagi jika aku berdusta. Aku sudah berdusta terlalu lama. Aku sudah berpura pura terlalu lama. Cukup. Aku lelah."
"Aryanti, apa kau yakin? Aku ini siapa? Aku hanya pemuda kampung miskin yang tidak punya apa apa. Tidak punya tanah. Tidak punya mobil. Tidak punya masa depan yang jelas."
"Riyad, aku tidak butuh semua itu. Aku butuh kau. Hanya kau."
"Tapi ibumu..."
"Biarlah ibu marah. Biarlah ia kecewa. Suatu hari ia akan mengerti. Atau tidak. Tapi aku tidak bisa terus hidup untuk menyenangkan orang lain."
"Dan Kadir? Ia tidak akan diam. Kau tahu itu."
"Aku tahu. Tapi aku tidak takut. Selama kau ada di sampingku, aku tidak takut pada siapa pun."
Riyadi meraih tangan Aryanti. Genggamannya hangat. Aryanti membalas genggaman itu.
"Yan, aku berjanji, aku tidak akan menyia nyiakan pilihanmu. Aku akan bekerja keras. Aku akan sukses. Aku akan membahagiakanmu."
"Riyad, aku tidak butuh janji besar. Aku hanya butuh kau menjadi dirimu sendiri. Jujur. Tengil. Keras kepala. Itu sudah cukup."
"Kau yakin?"
"Aku yakin, Riyad. Lebih yakin dari apa pun dalam hidupku."
Mereka berdua terdiam. Menikmati senja yang mulai gelap. Angin berhembus lembut. Seperti merestui mereka.
"Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
"Yan, jangan pernah pergi."
"Aku tidak akan pergi, Riyad. Kecuali kau yang mengusirku."
"Aku tidak akan pernah mengusirmu."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Seperti dulu saat masih kecil.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Kali ini, tidak ada yang tertawa. Hanya ada keyakinan. Keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan bersama.
Di balik semak semak dekat dermaga, Mamat mengintai. Ia melihat Riyadi dan Aryanti berpegangan tangan. Ia melihat mereka berkelingkitan. Ia mendengar kata kata cinta yang mereka ucapkan.
Mamat berbalik pergi. Ia berjalan cepat menuju rumah Kadir.
"Den, kabar buruk."
"Apa lagi, Mat?"
"Riyadi dan Aryanti. Mereka di dermaga. Berpegangan tangan. Mengucap cinta."
Kadir membanting gelas di tangannya. Pecahan kaca berserakan di lantai.
"Aryanti! Berani beraninya ia memilih Riyadi di depan mataku!"
"Den, sabar..."
"Sabar? Kau suruh aku sabar? Sementara orang miskin itu mencium tangan Aryanti?"
"Belum mencium, Den. Hanya berpegangan tangan."
"Sama saja! Itu sudah keterlaluan!"
"Den, apa yang akan Den lakukan?"
"Aku akan hancurkan Riyadi. Aku akan buat ia menderita. Aku akan buat ia pergi dari desa ini."
"Cara apa, Den?"
"Kau tahu, Mat. Polisi. Paman. Tuduhan palsu. Fitnah. Apa pun yang bisa membuatnya masuk penjara."
"Tapi Den, itu namanya kejahatan."
"Tidak ada yang namanya kejahatan kalau tujuannya mulia. Aku melakukan ini untuk Aryanti. Untuk menyelamatkannya dari pemuda kampung yang tidak pantas untuknya."
Mamat menghela napas. Ia tidak bisa berbuat apa apa. Ia hanya bisa menurut.
Malam itu, di desa Sriwidadi yang sunyi, rencana jahat mulai disusun. Rencana yang akan mengubah hidup Riyadi selamanya.
BAB VII
FITNAH DI PASAR
Pasar Sriwidadi mulai ramai sejak pukul enam pagi. Ibu ibu datang dengan keranjang bambu di tangan. Bapak bapak duduk di warung kopi sambil merokok dan membicarakan politik. Anak anak kecil berlarian di antara lapak lapak sayur dan ikan. Suara tawar menawar, suara ayam berkokok, suara mesin penggiling daging, semuanya bercampur menjadi satu simfoni pagi yang khas desa.
"Ayu, sayurnya segar segar ini, Bu. Ambil banyak. Nanti saya kasih diskon."
"Diskon berapa, Bang? Jangan tanggung tanggung."
"Sepuluh persen, Bu. Cukup murah."
"Sepuluh persen? Itu mah namanya bukan diskon, namanya kikir. Dua puluh persen baru saya beli."
"Ih, Bu. Dua puluh persen saya rugi. Lima belas persen, paling tinggi."
"Ya sudah, lima belas. Ambilkan kangkung dua ikat, bayam satu ikat, dan terong lima biji."
Ningsih sedang duduk di warung kopi bersama Badrun. Mereka asyik mengobrol sambil menyeruput kopi pahit.
"Ning, kau tahu kabar terbaru tentang Kadir?"
"Kabar apa, Run? Yang terakhir aku dengar, lamarannya ditolak mentah mentah sama Aryanti."
"Bukan itu. Kabar buruk. Tentang Riyadi."
Ningsih mengerutkan kening. "Apa lagi yang dilakukan Kadir? Apa ia belum kapok?"
"Kapok? Kadir itu keras kepala. Lebih keras dari kepala Mamat yang botak itu. Katanya, ia akan memfitnah Riyadi."
"Memfitnah? Dengan tuduhan apa?"
"Entahlah. Tapi yang aku tahu, Mamat sudah beberapa kali bolak balik ke rumah Kadir. Ada juga orang asing yang datang. Badannya besar. Wajahnya seram. Kayak preman."
"Wah, jangan jangan Kadir mau menyewa orang untuk menghajar Riyadi?"
"Bisa jadi. Atau bisa juga ia mau membuat tuduhan palsu. Misalnya, Riyadi dituduh mencuri ternak warga."
"Nafsu, Run. Tuduhan mencuri ternak itu berat. Bisa masuk penjara."
"Iya, Ning. Makanya aku khawatir. Aku sudah bilang Riyadi, tapi ia santai saja. Katanya, 'Biar Kadir fitnah. Selama aku tidak bersalah, tidak ada yang bisa menjeratku.'"
"Riyadi itu terlalu polos, Run. Ia tidak tahu bahwa di desa ini, kebenaran tidak selalu menang. Kadang yang menang adalah orang yang punya uang dan kuasa."
Badrun menghela napas. "Apa yang harus kita lakukan, Ning?"
"Kita harus jaga Riyadi. Kita harus kumpulkan bukti kalau Kadir bersiap siap memfitnahnya. Kita juga harus siap jadi saksi kalau suatu saat nanti ada yang menuduh Riyadi."
"Kau berani, Ning? Melawan Kadir? Melawan Haji Bahar? Melawan seluruh kekuasaan mereka?"
Ningsih diam sejenak. Tangannya menggenggam cangkir kopi erat erat. "Aku takut, Run. Tapi lebih takut lagi kalau aku diam melihat temanku dihancurkan oleh orang yang tidak bertanggung jawab."
Badrun tersenyum. "Kau hebat, Ning. Aku bangga punya teman sepertimu."
"Jangan lebay, Run. Ayo cepat habiskan kopinya. Kita harus ke kebun karet. Kita harus bicara dengan Riyadi. Kita harus buat rencana."
Di rumah besar Haji Bahar, Kadir sedang menerima tamu. Tamu itu bernama Jafar—seorang preman dari Kuala Kapuas yang terkenal kejam. Badannya besar seperti lemari. Tangannya penuh tato. Wajahnya penuh bekas luka—hadiah dari perkelahian yang sering ia menangkan.
"Jadi, Den Kadir, kau mau saya mengerjakan siapa?" tanya Jafar sambil mengisap rokok.
"Pemuda kampung. Namanya Riyadi. Orang miskin. Tidak berbahaya. Tapi ia menghalangi jalanku."
"Apa yang ia lakukan pada Den?"
"Ia merebut calon istriku. Seharusnya calon istriku itu milikku. Tapi ia campuri. Sekarang ia dekat dekatan dengannya."
"Wah, berani betul pemuda itu. Apa ia tidak tahu siapa Den Kadir?"
"Tahu. Tapi ia tetap lancang. Makanya aku butuh bantuan kau, Jafar."
"Apa yang Den mau saya lakukan? Hajar? Ancam? Culik?"
Kadir tersenyum jahat. "Tidak sejauh itu. Aku hanya mau kau buat gosip. Sebarkan isu bahwa Riyadi mencuri ternak warga."
"Wah, ringan itu, Den. Tinggal bilang ke beberapa orang, dalam sehari semua warga desa sudah tahu."
"Aku tidak mau cuma gosip. Aku mau bukti palsu."
"Bukti palsu seperti apa, Den?"
"Aku mau kau sembelih satu ekor kambing milik warga. Kambing Pak Jayus. Yang gemuk itu. Lalu kau sembunyikan beberapa potong dagingnya di rumah Riyadi. Setelah itu, kau buat sayup sayup orang melihat Riyadi sedang membawa kambing pada malam hari. Beres, kan?"
Jafar tertawa. "Den, kau ini jahat sekali. Tapi aku suka. Berapa bayaran untuk ini semua?"
"Lima juta rupiah. Selesai dalam waktu tiga hari."
"Lima juta? Kurang, Den. Ini pekerjaan berisiko. Kalau ketahuan, bisa masuk penjara."
"Sepuluh juta. Paling tinggi. Jangan lebih."
"Deal, Den. Uang muka lima juta. Sisanya setelah selesai."
Kadir mengambil uang dari laci mejanya. Ia menghitung lembaran demi lembaran lalu menyerahkannya pada Jafar.
"Ini lima juta. Selesaikan secepatnya. Aku tidak sabar melihat Riyadi masuk penjara."
"Tenang, Den. Dalam dua hari, seluruh desa akan tahu bahwa Riyadi adalah pencuri kambing. Dalam tiga hari, polisi akan datang ke rumahnya. Dalam seminggu, ia akan mendekam di sel."
"Bagus. Aku tunggu kabar baikmu, Jafar."
"Baik, Den. Saya pamit."
Jafar keluar dari rumah Kadir dengan senyum puas. Ia menggesek gesekkan jempol dan telunjuknya—tanda bahwa uang sudah berpindah tangan.
Di kebun karet bagian barat, Riyadi sedang menyadap pohon karet nomor sembilan. Hari itu cuaca cerah. Matahari bersinar terik. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Ia melepas baju dan bekerja hanya dengan singlet tipis.
"Ri! Ri!" teriak Badrun dari kejauhan.
"Ada apa lagi, Run? Kenapa kau selalu teriak teriak setiap kali datang?"
"Ada kabar buruk, Ri. Sangat buruk."
"Kabar buruk apalagi? Bukannya lamaran Kadir sudah gagal? Bukannya Aryanti sudah memilih aku?"
"Ini bukan soal Aryanti, Ri. Ini soal kau. Nyawa kau."
Riyadi berhenti menyadap. "Run, bicaralah jelas. Jangan pakai teka teki. Aku tidak suka teka teki."
"Ning tadi dengar dari Ningsih—maaf, maksudku Ningsih—tadi dengar dari seseorang bahwa Kadir akan memfitnah kau."
"Fitnah apa lagi? Sudah sering aku difitnah. Tidak mempan."
"Ini serius, Ri. Kadir menyewa preman dari Kuala Kapuas. Namanya Jafar. Badannya besar. Wajahnya seram. Ia tukang pukul dan tukang fitnah."
"Lalu, ia akan memfitnah aku sebagai apa?"
"Pencuri ternak. Ia akan menyembelih kambing milik Pak Jayus. Lalu dagingnya akan disembunyikan di rumahmu. Setelah itu ia akan menyebarkan isu ke seluruh desa. Dalam waktu singkat, kau akan dituduh sebagai pencuri."
Riyadi terdiam. Wajahnya berubah tegang.
"Kau tahu dari mana semua ini, Run?"
"Ningsih. Ia punya saudara yang bekerja di rumah Haji Bahar sebagai pembantu. Namanya Minah. Minah mendengar langsung ketika Kadir bicara dengan Jafar."
"Jadi ini serius?"
"Sangat serius, Ri. Kau harus bersiap. Aku dan Ning akan membantu. Tapi kau sendiri yang harus paling waspada."
Riyadi menghela napas panjang. Ia menatap pohon karet di depannya—pohon yang sudah menemaninya bekerja selama bertahun tahun.
"Run, aku tidak takut pada Kadir. Aku juga tidak takut pada preman. Yang aku takutkan, nama baik keluargaku tercemar. Ibuku, Mak Tonah, akan malu seumur hidup."
"Makanya, Ri, kau harus lindungi dirimu. Jangan biarkan Kadir berhasil. Laporkan pada polisi sekarang juga sebelum ia bertindak."
"Lapor polisi? Dengan bukti apa? Aku cuma punya cerita dari Minah, yang katanya pembantu di rumah Haji Bahar. Itu tidak cukup kuat, Run."
"Tapi setidaknya kau punya catatan. Polisi akan waspada."
"Polisi di sini, Run, bukan polisi yang jujur. Mereka bisa dibeli dengan uang. Siapa yang kaya, dialah yang benar. Kau tahu itu."
Badrun mengangguk pelan. "Jadi apa yang akan kau lakukan, Ri?"
"Aku akan diam. Aku akan tunggu. Aku akan buktikan bahwa aku tidak bersalah. Jika mereka menanam bukti di rumahku, aku akan tunjukkan bahwa bukti itu palsu."
"Tapi bagaimana caranya?"
"Aku akan jaga rumahku siang dan malam. Tidak akan ada orang asing yang bisa masuk tanpa sepengetahuanku."
"Kau tidak bisa sendiri, Ri. Aku akan bantu. Ning juga. Kami akan bergantian menjagamu."
Riyadi tersenyum. "Terima kasih, Run. Kau sahabat sejati."
"Sudah, jangan cengeng. Ayo selesaikan pekerjaanmu. Hari masih panjang."
Setelah pulang dari kebun karet, Badrun langsung ke rumah Ningsih. Rumah Ningsih sederhana—dinding papan, lantai tanah, atap rumbia. Tapi selalu rapi dan bersih.
"Run, kau datang. Cepat masuk. Jangan berdiri di depan saja. Nanti tetangga lihat dan bergosip."
"Biarkan mereka bergosip, Ning. Aku tidak peduli. Yang penting, kita bisa bicara dengan tenang."
Mereka duduk di ruang tamu. Ningsih menyuguhkan segelas air putih dan pisang goreng buatannya.
"Jadi, apa rencanamu, Run?"
"Aku akan jaga rumah Riyadi pada malam hari. Dari jam delapan sampai jam dua belas. Kau yang jaga dari jam dua belas sampai subuh."
"Aku sendirian? Aku takut, Run. Malam malam gelap begini. Rumah Riyadi juga jauh dari rumah warga. Sepi. Banyak hantu."
"Hantu lebih baik daripada preman, Ning. Setidaknya hantu tidak bawa pisau."
Ningsih menggigil. "Jangan bercanda, Run. Aku benar benar takut."
"Kalau kau takut, aku yang jaga semalaman. Tapi besok aku tidak bisa bekerja di kebun. Aku pasti mengantuk."
"Tidak, Run. Kita harus bergantian. Tapi jangan di rumah Riyadi. Kita jaga dari jauh. Misalnya, di kebun belakang rumahnya. Atau di pohon rambai dekat pagar."
"Kau mau naik pohon jam dua belas malam, Ning? Sepi, gelap, angin bertiup kencang. Kau tidak takut?"
Ningsih terdiam. "Aku... aku tidak tahu, Run. Aku takut. Tapi aku lebih takut jika Riyadi masuk penjara karena fitnah."
Badrun menghela napas. "Sudahlah, Ning. Kita panggil saja orang lain. Mungkin Dani, atau Norman, atau Zaenab."
"Zaenab? Perempuan juga. Sama takutnya kayak aku."
"Laki laki mana yang mau jaga malam gratis? Mereka pasti minta uang. Kita tidak punya uang."
Ningsih terdiam lama. "Run, bagaimana kalau kita lapor ke Pak RT? Mungkin Pak RT bisa membantu."
"Pak RT itu saudara jauh Haji Bahar, Ning. Jangan harap ia membantu. Ia pasti akan memihak Kadir."
"Lalu ke Pak Lurah?"
"Pak Lurah juga dekat dengan Haji Bahar. Semua pejabat di desa ini dekat dengan Haji Bahar karena mereka berutang budi padanya. Atau berutang uang."
"Jadi kita sendiri?"
"Iya, Ning. Kita sendiri. Hanya kita bertiga: kau, aku, dan Riyadi. Tidak ada yang lain."
Ningsih mengusap matanya yang mulai basah. "Run, aku takut. Tapi aku tidak akan mundur. Demi Riyadi."
Badrun menepuk bahu Ningsih. "Kau hebat, Ning. Aku bangga padamu."
Malam itu, Badrun tiba di rumah Riyadi pukul setengah sembilan. Langit gelap tanpa bulan. Bintang bintang tertutup awan. Angin bertiup kencang.
"Run, kau benar benar datang," kata Riyadi sambil membukakan pintu.
"Janji, Ri. Aku tidak akan ingkar janji."
"Mak Tonah sudah tidur. Jangan ribut. Masuklah lewat belakang."
Badrun masuk melalui pintu dapur. Ia duduk di kursi bambu dekat jendela. Matanya mengawasi halaman belakang yang gelap.
"Ri, apa kau yakin mereka akan datang malam ini?"
"Aku tidak tahu, Run. Bisa malam ini, bisa besok, bisa lusa. Yang penting kita siap."
"Kau sudah punya senjata untuk melindungi diri?"
"Aku cuma punya parang, Run. Itu pun untuk memotong dahan karet, bukan untuk melukai orang."
"Kapan kapan kau harus punya senjata yang lebih mempan. Misalnya, pentungan atau samurai."
"Samurai? Pikir aku ini samurai Jepang? Aku warga desa sederhana, Run."
"Bercanda, Ri. Santai."
Mereka berdua terdiam. Suara jangkrik dan kodok mengisi malam. Suara angin yang menerpa pepohonan kedengaran seperti nyanyian sedih.
"Run, makasih ya, kau mau jagain aku."
"Sudah, Ri. Jangan berterima kasih. Itu tugas sahabat."
"Tapi tidak semua sahabat mau melakukan ini. Banyak yang kabur kalau lihat bahaya."
"Karena mereka bukan sahabat sejati. Hanya teman biasa. Aku berbeda, Ri."
"Iya, Run. Kau berbeda."
Jam menunjukkan pukul sebelas. Badrun mulai mengantuk. Matanya sayup sayup. Kepalanya mulai terangguk angguk.
"Run, jangan tidur. Nanti kau kesurupan."
"Kesurupan apa? Hantu? Hantu di desa ini baik baik, Ri. Mereka tidak ganggu orang yang tidak ganggu mereka."
"Tetap saja, jangan tidur. Nanti preman datang, kau malah mimpi indah."
"Ya, ya. Aku usahakan tidak tidur."
Tiba tiba, dari kejauhan, terdengar suara langkah kaki. Banyak kaki. Setidaknya tiga atau empat orang. Badrun tersentak. Matanya terbuka lebar.
"Ri, ada orang!"
"Aku dengar, Run. Diam. Matikan lampu."
Riyadi mematikan lampu minyak tanah. Ruangan menjadi gelap total. Mereka berdua menekan napas. Suara langkah kaki semakin dekat. Dari balik jendela, mereka melihat bayangan beberapa orang. Mereka mondar mandir di halaman rumah Riyadi. Sesekali mereka berbisik bisik.
"Kau lihat, Run? Mereka membawa karung besar."
"Iya, Ri. Itu pasti karung berisi daging kambing. Mereka mau menanam bukti di rumahmu."
"Aku harus keluar. Aku harus hadapi mereka."
"Jangan, Ri! Mereka bisa bawa senjata! Kau bisa terluka!"
"Lebih baik aku terluka daripada nama baik keluargaku tercemar."
Riyadi meraih parang di dapur. Ia membuka pintu belakang dengan perlahan. Suara engsel pintu berdecit pelan.
"Hei! Siapa kalian?" teriak Riyadi sambil menyalakan senter.
Para preman itu terkejut. Mereka berbalik dan berlari ke arah kebun. Karung yang mereka bawa terjatuh di halaman. Isinya berserakan—daging kambing mentah, beberapa helai bulu kambing, dan pisau sembelih.
"Kalian tidak akan kabur! Aku kenali wajah kalian!" teriak Riyadi lagi.
Tapi para preman itu sudah menghilang dalam kegelapan.
Badrun keluar dari rumah. Wajahnya pucat. "Ri, kau gila! Kau bisa mati!"
"Aku tidak mati, Run. Lihat. Mereka lari tunggang langgang."
"Ini baru permulaan, Ri. Mereka pasti akan kembali. Dengan jumlah yang lebih banyak. Atau dengan cara yang lebih licik."
"Aku tahu, Run. Tapi setidaknya malam ini kita menang."
Riyadi mengambil daging kambing yang berserakan. Ia mengumpulkannya ke dalam karung. "Besok pagi, kita bawa ini ke Pak RT. Kita laporkan sebagai barang bukti percobaan fitnah."
"Kau yakin Pak RT akan percaya, Ri?"
"Aku punya bukti, Run. Daging, bulu, pisau. Ada juga sidik jari para preman itu di karung. Kita minta polisi mengambil sidik jari."
"Polisi di sini, Ri..."
"Kita coba dulu. Kalau tidak berhasil, kita bawa ke Kuala Kapuas. Ke polres. Jangan menyerah sebelum berusaha."
Badrun mengangguk. "Baik, Ri. Aku ikut. Besok pagi kita ke rumah Pak RT. Lalu ke polisi. Apa pun yang terjadi, kita lakukan bersama."
Meskipun percobaan fitnah itu gagal, isu sudah lebih dulu tersebar. Sejak pagi, warga pasar sudah berbisik bisik tentang Riyadi.
"Kau dengar, Bu? Si Tengil itu katanya mencuri kambing Pak Jayus."
"Apa? Sungguh, Bu? Siapa yang bilang?"
"Mamat. Wakilnya Haji Bahar. Ia bilang ada warga yang melihat Riyadi membawa kambing pada malam hari. Wajahnya jelas kelihatan karena terang bulan."
"Aduh, alangkah malangnya. Aku kira Riyadi anak baik."
"Anak baik belum tentu jujur, Bu. Bisa saja ia baik di depan, jahat di belakang."
"Iya juga sih, Bu. Tapi aku belum percaya sebelum ada bukti. Selama ini Riyadi rajin bekerja. Tidak pernah merugikan orang."
"Kau terlalu percaya, Bu. Orang itu bisa berubah. Apalagi terdesak kebutuhan ekonomi."
Badrun yang sedang duduk di warung kopi mendengar bisik bisik itu. Wajahnya merah menahan emosi. "Bu, Bu, jangan percaya gosip! Itu fitnah! Kadir yang menyuruh preman untuk menfitnah Riyadi!"
"Wah, Badrun, kau ini pembela Si Tengil. Kau pasti juga ikut ikutan mencuri, ya?"
Badrun berdiri. "Saya tidak mencuri, Bu! Dan Riyadi juga tidak mencuri! Coba buktikan! Jangan asal bicara!"
"Buktinya sudah ada, Nak. Mamat bilang warga melihat langsung. Itu sudah cukup."
"Warga yang mana? Siapa namanya? Mamat hanya asal bicara! Ia tidak punya bukti!"
Ibu ibu itu mulai berkerumun. Suasana pasar memanas.
"Apa yang terjadi di sini?" suara Pak RT terdengar dari belakang.
"Pak RT, Badrun membentak bentak kami. Ia bilang kami asal bicara soal Si Tengil."
Pak RT menatap Badrun. "Nak Badrun, kau jangan ribut di pasar. Bawa pulang. Bicarakan di rumah saja."
"Pak RT, tolong jangan percaya gosip. Riyadi tidak mencuri. Ini fitnah dari Kadir."
"Tapi Mamat sudah melapor ke saya. Katanya ada warga yang melihat. Saya harus memproses laporan itu."
"Warga mana, Pak? Suruh datang. Suruh bersaksi di depan saya."
Pak RT terdiam. "Nanti, Nak. Saya panggil dulu. Jangan terburu buru."
Badrun menghela napas. Ia keluar dari pasar dengan wajah kecewa.
"Fitnah sudah tersebar," gumamnya. "Dan tidak ada yang bisa menghentikannya."
Di sekolah, Aryanti mendengar kabar dari teman temannya.
"Yan, kau tahu? Kekasihmu, Si Tengil, katanya mencuri kambing Pak Jayus," kata Rina—teman sekelas Aryanti yang terkenal suka bergosip.
"Jangan asal bicara, Rina! Riyadi bukan pencuri!"
"Semua orang di pasar sudah bilang begitu, Yan. Mamat yang melapor ke Pak RT. Katanya ada warga yang melihat langsung."
"Itu fitnah! Kadir yang di balik semua ini! Karena lamarannya ditolak, ia mau menghancurkan Riyadi!"
"Kau yakin, Yan? Jangan jangan kau cuma membela dia karena kau sayang."
"Aku tahu Riyadi, Rina. Aku mengenalnya sejak kecil. Ia tidak pernah mencuri. Ia tidak pernah merugikan orang. Ia pekerja keras. Ia jujur. Lebih jujur dari orang orang yang menggosipkannya."
Rina diam. "Baiklah, Yan. Aku hanya sampaikan apa yang aku dengar. Aku tidak tahu mana yang benar."
"Yang benar adalah Riyadi tidak bersalah. Aku akan buktikan."
Setelah sekolah, Aryanti langsung bergegas ke kebun karet. Ia berlari menembus jalan setapak yang berlumpur. Tanpa peduli bajunya yang putih kena cipratan tanah. Tanpa peduli kerudungnya yang mulai longgar. Ia hanya ingin bertemu Riyadi.
"Riyad! Riyad!" teriaknya dari kejauhan.
Riyadi yang sedang menyadap pohon karet nomor sebelas langsung menoleh.
"Yan? Kenapa kau ke sini? Ini tempat kerja. Kotor. Kau bisa kena getah."
"Aku tidak peduli, Riyad! Aku dengar kabar fitnah di pasar. Aku khawatir padamu!"
"Yan, tenang. Aku baik baik saja. Fitnah itu tidak terbukti. Malam tadi para preman itu lari saat aku keluar. Mereka meninggalkan barang bukti."
"Barang bukti apa?"
"Daging kambing, bulu, pisau. Aku sudah simpan di karung. Besok pagi aku akan bawa ke Pak RT dan polisi."
"Kau yakin Pak RT akan percaya padamu?"
"Entahlah, Yan. Tapi setidaknya aku sudah berusaha."
Aryanti menangis. "Riyad, aku takut. Aku takut kau masuk penjara. Aku takut Kadir berhasil menghancurkanmu."
"Jangan menangis, Yan. Aku tidak akan masuk penjara. Aku tidak bersalah. Dan orang yang tidak bersalah tidak akan dihukum selamanya."
"Tapi di desa ini, kebenaran sering kalah, Riyad."
"Kali ini tidak, Yan. Aku akan pastikan kebenaran menang. Jika tidak dengan caraku sendiri, aku akan bawa kasus ini ke Kuala Kapuas. Ke Banjarmasin. Ke mana pun. Selama keadilan belum ditegakkan."
Aryanti memeluk Riyadi. Tanpa peduli getah karet yang menempel di baju Riyadi. Tanpa peduli seberapa kotornya kebun ini.
"Riyad, aku percaya padamu. Aku akan selalu percaya. Apa pun yang terjadi."
Riyadi membalas pelukan itu. "Terima kasih, Yan. Kepercayaanmu adalah senjataku."
Sore itu, Mamat datang ke rumah Pak RT. Ia membawa amplop cokelat berisi uang.
"Pak RT, saya punya laporan tentang pencurian kambing milik Pak Jayus."
"Laporan apa, Mat? Siapa pencurinya?"
"Riyadi, Pak. Si Tengil itu. Ada warga yang melihat. Wajahnya jelas kelihatan karena terang bulan. Ia membawa kambing dengan tangan kosong."
"Warga mana yang melihat, Mat? Panggil ke sini. Saya minta kesaksiannya."
"Maaf, Pak. Warga itu tidak mau disebut namanya. Ia takut mendapat masalah. Tapi ia bersedia bersaksi di belakang layar."
"Di belakang layar? Itu namanya saksi mahkota, Mat. Hukum mengizinkan. Tapi kesaksiannya harus kuat."
"Insya Allah kuat, Pak. Warga itu tidak bohong. Ia benar benar melihat."
Pak RT menerima amplop cokelat itu. Ia membukanya dan melihat isinya.
"Mat, apa ini?"
"Ini tanda terima kasih dari Haji Bahar, Pak. Karena Bapak mau membantu proses hukum dengan lancar."
"Mat, kau menyuap saya?"
"Bukan menyuap, Pak. Ini sedekah. Haji Bahar kaya. Ia ingin berbagi. Tidak ada yang salah dengan berbagi, kan?"
Pak RT terdiam. Ia tahu menerima amplop ini berarti ia harus memenangkan Kadir. Tapi ia juga tahu menolaknya berarti kehilangan sumber keuangan.
"Baik, Mat. Saya terima. Tapi ingat, jangan bilang siapa siapa."
"Tenang, Pak. Saya orang yang bisa menjaga rahasia."
Dua hari kemudian, dua orang polisi dari Polsek Kuala Kapuas datang ke rumah Riyadi. Mereka dipimpin oleh Aiptu Sugeng—polisi yang terkenal tegas tapi juga terkenal bisa menerima uang suap.
"Selamat pagi. Mana Riyadi?" tanya Aiptu Sugeng pada Mak Tonah.
"Ada di belakang, Pak. Ada apa? Apakah anak saya bermasalah?"
"Kami mendapat laporan bahwa Riyadi mencuri kambing milik Pak Jayus. Kami perlu memintai keterangannya."
Mak Tonah pucat. "Tidak mungkin, Pak. Anak saya bukan pencuri. Ia tidak pernah mengambil barang orang."
"Kami hanya bekerja berdasarkan laporan, Bu. Biar kami bicara dengan anak Ibu langsung."
Riyadi keluar dari belakang rumah. Wajahnya tenang. "Selamat pagi, Pak. Saya Riyadi."
"Riyadi, kau dituduh mencuri kambing Pak Jayus. Ada saksi yang melihat. Kami perlu kau ikut ke kantor polisi untuk dimintai keterangan."
"Pak, saya tidak mencuri. Itu fitnah. Saya punya barang bukti bahwa ada yang mau menanam fitnah pada saya."
"Barang bukti apa?"
"Daging kambing, bulu, dan pisau yang ditinggalkan preman di halaman rumah saya tiga malam lalu. Saya simpan semua di karung. Ini bukti bahwa mereka mau menanam daging itu di rumah saya, lalu menuduh saya sebagai pencuri."
Aiptu Sugeng mengambil karung itu dan memeriksanya. "Siapa preman yang kau maksud?"
"Saya tidak tahu namanya, Pak. Tapi saya yakin mereka suruhan Kadir. Anak Haji Bahar."
"Kau punya bukti bahwa Kadir yang menyuruh?"
"Saya hanya punya cerita dari Minah—pembantu di rumah Kadir. Ia mendengar Kadir bicara dengan preman itu."
"Cerita dari pembantu tidak cukup kuat sebagai bukti hukum, Riyadi. Kau harus punya bukti yang lebih kuat."
"Tapi setidaknya, Pak, saya sudah melaporkan percobaan fitnah ini. Saya berharap Bapak bisa menangkap preman preman itu."
"Kami akan proses, Riyadi. Tapi untuk saat ini, kau harus ikut ke kantor polisi. Laporan pencurian kambing harus kami proses dulu."
"Baik, Pak. Saya ikut. Tapi saya tidak bersalah."
"Kami tidak bilang kau bersalah. Kami hanya memintai keterangan. Setelah itu, kau boleh pulang."
Riyadi menatap Mak Tonah. "Mak, jangan khawatir. Aku akan baik baik saja. Tolong kabari Badrun dan Aryanti."
"Kau hati hati, Nak. Ibu doakan kau."
"Terima kasih, Mak."
Riyadi naik ke mobil polisi. Mobil itu perlahan meninggalkan rumah kayu tua itu.
Mak Tonah menangis di beranda.
"Ya Allah, lindungilah anakku. Ia tidak bersalah."
BAB VIII
WARGA MULAI MEMUSUHI
Matahari baru saja terbit ketika warga Desa Sriwidadi mulai beraktivitas. Tapi pagi itu berbeda dari biasanya. Suasana desa terasa lebih berat. Udara yang biasanya segar terasa pengap seperti akan turun hujan meskipun langit cerah tanpa mendung. Burung burung yang biasanya berkicau riang pagi itu terdiam entah kemana. Ayam ayam jantan pun ikut ikutan diam, seolah merasakan bahwa sesuatu yang tidak enak telah terjadi di desa mereka.
Di warung kopi milik Pak Darma, para lelaki sudah berkumpul sejak pukul enam. Mereka duduk di bangku panjang sambil memegang cangkir kopi pahit dan rokok kretek yang mengepul. Wajah wajah mereka tampak serius. Beberapa di antaranya sesekali menggelengkan kepala, yang lain mengangkat bahu tanda tidak peduli.
"Kau dengar kabar tentang Riyadi?" tanya Pak Darma sambil menyeka gelas dengan kain lap.
"Iya, Pak Darma. Saya dengar dari Mamat. Katanya Riyadi sudah dibawa ke polisi kemarin sore," jawab Pak Jayus—pemilik kambing yang katanya hilang itu.
"Benarkah itu, Pak Jayus? Kambing Bapak benar benar hilang?"
"Entahlah, Pak Darma. Saya sendiri juga bingung. Saya punya kambing lima ekor. Dua ekor jantan, tiga ekor betina. Semuanya ada di kandang ketika saya hitung kemarin pagi. Tapi Mamat bilang ada yang hilang. Saya jadi ikut ikutan bingung."
"Jadi sebenarnya kambing Bapak tidak hilang?"
"Kata istri saya, tidak. Ia bilang semua kambing ada. Tapi Mamat sudah melapor ke Pak RT. Katanya ada warga yang melihat Riyadi membawa kambing pada malam hari."
"Warga mana yang melihat, Pak Jayus?"
"Mamat tidak mau menyebut namanya, Pak Darma. Katanya saksi takut."
"Wah, aneh itu. Saksi takut, tapi mau melapor. Biasanya kalau takut, diam saja."
Pak Jayus mengangkat bahu. "Saya juga heran, Pak Darma. Tapi saya tidak mau ikut campur. Urusan polisi, biar polisi yang menyelesaikan."
"Bapak tidak menuntut Riyadi?"
"Tidak, Pak Darma. Saya tidak kehilangan apa pun. Kenapa harus menuntut?"
Pak Darma menghela napas. "Tapi Mamat sudah melapor, Pak Jayus. Laporan itu tetap berjalan meskipun Bapak tidak menuntut. Polisi punya kewajiban memproses laporan yang masuk."
"Itu urusan mereka, Pak Darma. Saya cuma petani kecil. Saya tidak mau ribut dengan Haji Bahar atau siapa pun. Yang penting keluarga saya aman."
Dari sudut warung, seorang lelaki setengah baya dengan kumis tebal—Pak RT—masuk dan duduk di kursi pojok. Wajahnya tampak lelah. Matanya sembab seperti kurang tidur.
"Pak RT, selamat pagi," sapa Pak Darma.
"Selamat pagi, Pak Darma. Minta kopi satu, ya. Yang pahit."
"Ada apa, Pak RT? Wajah Bapak kelihatan tidak segar."
"Semalam saya begadang. Di kantor polisi. Dimintai keterangan soal kasus Riyadi."
"Wah, Bapak jadi saksi?"
"Saya ketua RT, Pak Darma. Wilayah saya ada kasus pencurian. Saya wajib memberikan keterangan. Itu prosedur."
"Lalu bagaimana hasilnya? Riyadi ditahan?"
"Belum ditahan. Masih diperiksa. Tapi bukti bukti mulai mengarah padanya."
"Bukti apa, Pak RT?"
"Mamat membawa seorang saksi. Saksi itu bersumpah di depan polisi bahwa ia melihat Riyadi membawa kambing pada malam Selasa minggu lalu. Waktu itu pukul sebelas malam. Bulan terang. Saksi melihat wajah Riyadi dengan jelas."
"Wah, itu saksi kuat, Pak RT. Siapa namanya?"
"Maaf, Pak Darma. Nama saksi tidak boleh saya sebutkan. Dia dilindungi hukum."
"Jadi Riyadi pasti bersalah?"
"Belum pasti, Pak Darma. Tapi polisi cenderung percaya pada saksi daripada pada tersangka. Apalagi tersangka tidak punya alibi kuat."
"Riyadi bilang ia ada di rumah malam itu."
"Itu namanya alibi, Pak Darma. Setiap tersangka pasti bilang begitu. Polisi butuh saksi yang membenarkan bahwa ia ada di rumah. Siapa saksi Riyadi? Ibunya. Itu namanya saksi keluarga. Tidak kuat."
Pak Darma diam. Ia menuangkan kopi ke cangkir Pak RT dan menyodorkannya perlahan.
"Kasihan Riyadi, Pak RT. Anak itu baik. Rajin bekerja. Tidak pernah merugikan orang."
"Kebaikan tidak menjamin seseorang bebas dari tuduhan, Pak Darma. Hukum butuh bukti. Bukan perasaan."
Riyadi duduk di lantai semen yang dingin. Sel tahanan sementara di Polsek Kuala Kapuas berukuran dua meter kali dua meter. Dindingnya bata dicat putih abu abu oleh debu dan lumut. Lantainya becek karena bocoran dari atap seng yang bolong di beberapa bagian. Udara pengap bercampur bau pesing dan keringat. Cahaya matahari masuk melalui celah celah jeruji besi di pintu, membentuk garis garis tipis di lantai.
"Ri, kau makan?" Badrun berdiri di luar sel. Di tangannya, bungkusan daun pisang berisi nasi dan lauk. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Rambutnya acak acakan seperti tidak disisir sejak semalam.
"Aku tidak lapar, Run."
"Kau harus makan, Ri. Tubuhmu butuh tenaga untuk melawan kasus ini."
"Aku tidak bisa makan, Run. Perutku mual setiap kali memikirkan tuduhan ini."
"Aku tahu, Ri. Tapi jangan bunuh dirimu sendiri sebelum dihukum. Kau belum terbukti bersalah. Kau masih punya hak untuk hidup sehat."
Riyadi mendekati jeruji. Ia mengambil bungkusan nasi dari tangan Badrun. "Apa kabar di desa, Run?"
"Buru, Ri. Sangat buruk. Warga mulai memusuhi kau. Ibu ibu di pasar sudah berbisik bisik setiap kali nama kau disebut. Bahkan beberapa tetangga kau mulai menjaga jarak."
"Mak Tonah bagaimana?"
"Ibumu baik baik saja, Ri. Aku dan Ningsih bergantian menjaganya. Tapi ia sering menangis. Tadi pagi ia tidak mau makan."
"Tolong jaga ibuku, Run. Jangan sampai ia sakit."
"Aku janji, Ri. Kau tidak usah khawatir soal ibumu. Yang penting kau fokus membela diri. Kau harus buktikan bahwa kau tidak bersalah."
"Bagaimana caranya, Run? Polisi sudah punya saksi. Mamat membawa seseorang yang mengaku melihatku membawa kambing. Siapa pun dia, ia pasti dibayar oleh Kadir."
"Kita bisa mencari bukti bahwa saksi itu palsu, Ri. Kita bisa buktikan bahwa ia tidak mungkin melihat kau karena ia tidak ada di lokasi pada waktu itu."
"Bagaimana caranya?"
"Aku dan Ningsih sudah mulai menyelidiki. Kami mencari tahu siapa saksi itu. Ningsih punya saudara yang bekerja di kantor polisi. Ia bisa mengakses berkas perkara."
"Kalian hati hati, Run. Kadir punya mata dan telinga di mana mana. Kalau ia tahu kalian membantuku, kalian bisa menjadi sasaran berikutnya."
"Aku tidak takut, Ri. Dan Ningsih juga tidak takut. Kami siap apa pun risikonya. Demi sahabat."
Riyadi menghela napas. "Terima kasih, Run. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikan kalian."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Ri. Cukup keluar dari sini dengan selamat. Itu balasan terbaik untuk kami."
Di sekolah, Aryanti tidak bisa berkonsentrasi. Matanya terus menatap papan tulis tanpa melihat. Telinganya mendengar suara guru tanpa memahami. Pikirannya hanya tertuju pada Riyadi yang mendekam di sel tahanan.
"Yan, kau tidak dengar? Ibu guru bertanya padamu," bisik Rina dari samping.
Aryanti tersentak. "Maaf, Bu. Saya... saya tidak mendengar pertanyaan Ibu."
"Kau melamun, Aryanti. Ini sudah tiga hari kau tidak fokus belajar. Ada apa?" tanya Bu Guru Siti—guru matematika yang terkenal galak tapi baik hati.
"Saya... ada masalah keluarga, Bu."
"Masalah keluarga jangan dibawa ke sekolah. Fokus belajar. Nanti kalau nilai turun, siapa yang rugi?"
"Iya, Bu. Maaf."
Bu Guru Siti melanjutkan pelajaran. Tapi Rina terus berbisik.
"Yan, kabar tentang Riyadi sudah sampai ke telinga guru guru. Mereka tahu. Seluruh sekolah tahu."
"Aku tidak peduli, Rina. Biarkan mereka tahu. Yang penting aku tahu Riyadi tidak bersalah."
"Tapi bagaimana kau bisa membuktikannya, Yan? Hanya kau yang percaya padanya. Yang lain sudah menghakiminya."
"Aku tidak butuh orang lain percaya. Cukup aku, Badrun, Ningsih, dan Mak Tonah. Itu sudah cukup."
"Dan Kadir? Apa ia sudah berhenti mengganggumu?"
"Kadir malah semakin sering datang ke rumahku. Katanya ia ingin 'melindungi' aku dari fitnah. Katanya ia tidak mau aku terseret dalam kasus Riyadi."
"Kau percaya padanya, Yan?"
"Aku tidak percaya sedikit pun. Aku tahu ia di balik semua ini. Tapi aku belum punya bukti."
Rina menghela napas. "Yan, aku kasihan padamu. Kau harus kuat. Jangan menyerah."
"Aku tidak akan menyerah, Rina. Selama Riyadi masih berjuang, aku juga akan berjuang."
Setelah bel pulang berbunyi, Aryanti buru buru meninggalkan kelas. Ia tidak ingin bertemu dengan teman temannya yang mungkin akan mengejek atau memfitnah Riyadi lagi. Tapi di gerbang sekolah, ia dicegat oleh sekelompok anak laki laki dari kelas sebelah.
"Eh, itu dia! Pacarnya Si Pencuri!" teriak seorang anak dengan nada mengejek.
"Tengil! Si Tengil! Pacar pencuri!"
Aryanti menunduk. Ia mempercepat langkahnya.
"Ayo, Yan! Cari pacar yang lebih baik! Jangan sama pencuri kambing!"
"Atau kau juga ikut ikutan mencuri, Yan?"
Aryanti berhenti. Ia menoleh dan menatap mereka dengan mata tajam.
"Riyadi bukan pencuri! Kalian tidak tahu apa apa! Jangan bicara kalau tidak punya bukti!"
"Masa sih bukan pencuri? Wong sudah ditahan polisi, Yan!"
"Ditahan belum berarti bersalah! Itu namanya praduga tak bersalah! Kalian tidak belajar hukum?"
Anak anak itu terdiam. Aryanti berbalik dan berlari meninggalkan mereka. Air matanya mulai menetes. Ia tidak tahan. Ia tidak tahan mendengar orang orang yang tidak tahu apa api bicara seenaknya tentang orang yang dicintainya.
Di rumah kayu tua itu, Mak Tonah duduk di beranda sambil memandang ke arah jalan. Ia berharap melihat Riyadi berjalan pulang. Tapi yang ia lihat hanyalah debu yang beterbangan ditiup angin.
"Bu Tonah, Bu Tonah!" suara Ningsih terdengar dari kejauhan.
Mak Tonah tidak menoleh. Matanya tetap menerawang ke arah jalan.
"Bu Tonah, saya bawakan sayur dan lauk. Ibu harus makan."
"Terima kasih, Ning. Ibu tidak lapar."
"Bu, sudah tiga hari Ibu tidak makan banyak. Badan Ibu akan sakit."
"Biarkan saja, Ning. Ibu tidak punya selera makan sejak Riyadi ditahan."
"Tapi Bu, Riyadi pasti tidak ingin melihat Ibu sakit. Ia pasti ingin Ibu tetap sehat."
Mak Tonah menoleh. Matanya merah. "Ning, apa ibu salah mendidik Riyadi? Apa ibu terlalu keras padanya sehingga ia tumbuh menjadi pencuri?"
"Bu, Riyadi bukan pencuri! Ibu tahu itu! Ibu mengenal Riyadi lebih baik dari siapa pun!"
"Aku tahu, Ning. Tapi kenapa semua orang berkata sebaliknya? Kenapa tetangga tetangga yang dulu ramah kini menghindariku? Kenapa saudara saudaraku yang dulu sering berkunjung kini tidak pernah muncul?"
"Mereka takut, Bu. Takut dianggap bersekutu dengan pencuri. Tapi itu hanya sementara. Ketika Riyadi terbukti tidak bersalah, mereka akan kembali."
"Tapi kapan itu terjadi, Ning? Kapan kebenaran akan menang?"
"Entahlah, Bu. Tapi saya yakin suatu saat nanti. Kita tidak boleh berhenti berjuang."
Mak Tonah menangis. Ningsih memeluknya erat erat.
Di rumah Aryanti, Kadir datang lagi. Kali ini ia membawa buah buahan dan kue kue mahal yang dibungkus kertas warna warni.
"Bu Saripah, ini sedikit oleh oleh untuk keluarga."
"Nak Kadir, kau baik sekali. Masih ingat pada kami meskipun Aryanti sudah mempermalukanmu," kata Saripah sambil menerima bungkusan itu dengan mata berbinar.
"Aryanti tidak mempermalukan saya, Bu. Ia hanya jujur. Itu adalah haknya."
"Kau terlalu baik, Nak Kadir. Sungguh, aku malu pada anakku sendiri."
"Jangan malu, Bu. Aryanti masih muda. Ia belum mengerti apa yang terbaik untuk dirinya."
Dari dalam kamar, Aryanti keluar dengan wajah dingin. "Den Kadir, untuk apa kau datang lagi? Bukankah sudah jelas aku tidak ingin berhubungan denganmu?"
"Aryanti, aku datang bukan untuk melamar. Aku datang untuk menjenguk. Aku dengar kau sedang tertekan karena kasus Riyadi."
"Jangan pura pura peduli, Den. Kau tahu persis siapa dalang di balik semua ini."
"Aryanti, tuduhanmu tidak berdasar. Aku tidak tahu apa apa soal kasus ini. Aku hanya ikut prihatin karena warga desa kehilangan ternaknya."
"Omong kosong, Den. Kau yang menyuruh Mamat melapor. Kau yang membayar saksi palsu. Kau yang ingin menghancurkan Riyadi karena lamaranmu ditolak."
"Aryanti, jangan bicara sembarangan. Aku bisa laporkan kau ke polisi karena tuduhan fitnah."
"Silakan, Den. Lapor saja. Saya juga akan lapor polisi bahwa kau menyuruh preman menanam barang bukti di rumah Riyadi. Saya punya saksi. Minah, pembantumu. Ia mendengar semua rencanamu."
Kadir terdiam. Wajahnya berubah pucat. "Kau... kau bicara dengan Minah?"
"Aku tidak perlu bicara dengan Minah. Tapi Badrun dan Ningsih sudah mengantarkannya ke kantor polisi. Ia akan menjadi saksi."
Kadir berdiri. Wajahnya merah padam. "Aryanti, kau main api."
"Biar aku terbakar, Den. Asalkan api itu juga membakar dirimu."
Saripah yang dari tadi mendengar percakapan mereka mulai panik. "Yan, apa yang kau lakukan? Jangan melawan Kadir!"
"Ma, sudah saatnya kau tahu siapa Kadir sebenarnya. Ia bukan pangeran baik hati yang ibu bayangkan. Ia iblis berwajah manusia."
Kadir mengambil tasnya. "Aryanti, kau akan menyesal. Aku janji, kau akan menyesal."
"Tidak, Den. Saya sudah menyesal. Bukan karena menolak lamaran Den. Tapi karena tidak menyadari sejak awal bahwa Den adalah orang jahat."
Kadir pergi dengan wajah penuh amarah. Saripah jatuh duduk di kursi. "Yan, apa yang kau lakukan? Kau telah mempermalukan Kadir di depan mataku!"
"Ma, biarkan ia pergi. Kita tidak butuh orang seperti dia."
"Tapi hidup kita butuh uang, Yan! Kau pikir ibu bisa terus hidup tanpa bantuan siapa pun?"
"Kita akan baik baik saja, Ma. Aku akan bekerja sepulang sekolah. Aku akan membantu ibu. Kita tidak perlu Kadir."
Saripah menangis. "Kau anak durhaka, Yan. Kau tidak pernah memikirkan perasaan ibu."
"Aku memikirkan perasaan ibu, Ma. Tapi aku juga harus memikirkan perasaanku sendiri. Aku tidak bisa terus mengorbankan kebahagiaanku hanya untuk membuat ibu senang."
Di rumah Kadir, Mamat dan Jafar duduk di ruang tamu dengan wajah gelisah. Jafar mengisap rokok satu per satu. Matanya terus melihat ke arah pintu, seperti takut seseorang akan masuk dan menangkapnya.
"Den, Minah sudah ke kantor polisi. Katanya ia siap menjadi saksi," kata Mamat dengan suara bergetar.
"Apa? Minah? Pembantu saya?" Kadir terkejut.
"Iya, Den. Badrun dan Ningsih yang mengantarnya. Mereka bilang Minah mendengar semua percakapan Den dengan Jafar saat merencanakan fitnah."
"Sial!" Kadir membanting gelas di meja. "Siapa yang menyuruh Minah bicara?"
"Entahlah, Den. Mungkin mereka membayar Minah. Atau mungkin Minah memang dendam pada Den karena sering dimarahi."
"Jafar, kau harus pergi dari Kuala Kapuas sekarang! Sebelum polisi menangkapmu!"
"Tenang, Den. Saya sudah siap. Pesawat saya sore ini ke Jakarta. Saya akan menghilang. Tidak ada yang bisa menemukan saya."
"Bagaimana dengan uang yang kau janjikan untuk saksi palsu?"
"Saksi itu juga harus kabur, Den. Kalau ia tertangkap, ia akan membuka semua rahasia."
"Urus semua itu, Jafar! Jangan sampai ada jejak yang mengarah padaku!"
"Tenang, Den. Saya profesional. Tidak akan ada yang bisa membuktikan bahwa Den terlibat."
Jafar berdiri dan bersalaman dengan Kadir. "Sampai jumpa, Den. Mungkin tidak pernah."
"Semoga tidak pernah, Jafar."
Jafar keluar dari rumah Kadir dengan langkah cepat. Ia naik ke mobil dan melaju kencang menuju Kuala Kapuas.
Kadir duduk di kursi dengan wajah pucat. "Mamat, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita harus tutup semua celah, Den. Hapus semua bukti. Bayar semua orang yang tahu."
"Berapa biayanya?"
"Mungkin ratusan juta, Den."
"Tidak masalah. Ambil uang di laci. Berapa pun yang dibutuhkan. Aku tidak mau masuk penjara."
Mamat mengangguk. Ia bergegas ke kamar Kadir dan mengambil uang dari laci besi.
Di kantor polisi Kuala Kapuas, Minah duduk di kursi kayu di depan meja Aiptu Sugeng. Badrun dan Ningsih menemaninya. Wajah Minah pucat. Tangannya gemetar. Tapi matanya bertekad bulat.
"Minah, kau siap memberikan kesaksian?" tanya Aiptu Sugeng.
"Siap, Pak."
"Kau tidak takut pada Kadir?"
"Takut, Pak. Tapi saya lebih takut pada Allah. Saya tidak mau mati dalam keadaan berdusta."
"Bagus. Sekarang ceritakan apa yang kau dengar."
Minah menarik napas panjang. "Pak, pada hari Selasa dua minggu lalu, sekitar pukul delapan malam, saya sedang menyapu ruang tamu rumah Haji Bahar. Kadir sedang duduk di kursi sambil menelepon seseorang. Nama orang itu Jafar. Saya tidak tahu Jafar siapa, tapi suaranya berat dan seram."
"Lalu?"
"Mereka bicara tentang rencana memfitnah Riyadi. Kadir menyuruh Jafar mencari orang untuk menanam daging kambing di rumah Riyadi. Lalu Jafar akan menyebarkan isu bahwa Riyadi mencuri kambing milik Pak Jayus."
"Kau dengar dengan jelas?"
"Sangat jelas, Pak. Kadir bicara dengan suara keras. Ia tidak tahu saya masih ada di ruangan."
"Ada saksi lain yang mendengar?"
"Tidak, Pak. Saya sendirian."
"Kesaksian kau penting, Minah. Tapi karena kau hanya satu satunya saksi, kesaksian kau harus didukung bukti lain. Apa kau punya bukti?"
"Saya tidak punya bukti fisik, Pak. Tapi saya tahu di mana Jafar biasa menginap. Saya juga tahu nama saksi palsu yang akan dipakai Kadir."
"Siapa nama saksi palsu itu?"
"Namanya Umar. Ia preman dari Kuala Kapuas. Sering mabuk mabukan di bar dekat pasar."
"Kau tahu di mana ia tinggal?"
"Di kos dekat terminal, Pak. Kos nomor tujuh."
Aiptu Sugeng mencatat semua keterangan Minah. "Baik, Minah. Kami akan menindaklanjuti laporan ini. Untuk sementara, kau kami tempatkan di rumah aman. Kau tidak boleh pulang ke rumah Haji Bahar lagi."
"Baik, Pak. Saya siap."
Badrun dan Ningsih tersenyum lega. "Terima kasih, Minah. Kau penyelamat Riyadi."
"Jangan berterima kasih, Nak. Saya hanya melakukan yang benar."
Keesokan harinya, polisi menangkap Umar di kosnya dekat terminal. Saat itu Umar sedang tidur pulas karena mabuk. Ia tidak sempat melarikan diri.
"Umar, kau ditangkap!" teriak Aiptu Sugeng sambil memborgol tangan Umar.
"Ada apa, Pak? Saya tidak bersalah!"
"Kau ditangkap sebagai saksi palsu dalam kasus pencurian kambing di Desa Sriwidadi."
"Saya tidak tahu apa apa, Pak! Saya hanya disuruh Mamat!"
"Siapa Mamat?"
"Wakilnya Haji Bahar! Ia yang menyuruh saya bersaksi bahwa saya melihat Riyadi membawa kambing!"
"Kau dibayar?"
"Iya, Pak. Lima juta. Saya sudah terima dua juta. Sisanya tiga juta akan diberikan setelah sidang."
"Siapa yang membayar?"
"Kadir, Pak. Anak Haji Bahar."
Aiptu Sugeng mencatat semua keterangan Umar. "Kau bersedia menjadi saksi di pengadilan?"
"Saya bersedia, Pak. Asalkan saya dilindungi. Kadir bisa membunuh saya kalau tahu saya bicara."
"Kau akan dilindungi, Umar. Asalkan kau jujur."
"Saya akan jujur, Pak. Saya sudah muat menjadi preman. Saya ingin hidup bersih."
Setelah menangkap Umar, polisi segera memanggil Mamat untuk dimintai keterangan. Mamat panik. Ia tidak menyangka polisi bergerak secepat itu.
"Pak Mamat, kau tahu Umar?" tanya Aiptu Sugeng.
"Tidak, Pak. Saya tidak kenal."
"Tapi Umar mengaku disuruh oleh kau untuk menjadi saksi palsu."
"Itu fitnah, Pak! Umar hanya mencari muka!"
"Jadi kau tidak kenal Umar?"
"Tidak, Pak!"
"Lalu kenapa uang transfer ke rekening Umar berasal dari rekening kau? Bank sudah mengirim bukti transfer. Uang lima juta. Dua juta sudah cair."
Mamat terdiam. Wajahnya pucat seperti mayat.
"Ini bukti yang tidak bisa kau bantah, Pak Mamat. Kau akan kami tahan untuk proses hukum lebih lanjut."
Mamat menangis. "Pak, saya hanya disuruh Kadir! Saya tidak punya niat sendiri! Kadir yang memerintahkan semua! Kadir yang menyuruh saya mencari saksi palsu! Kadir yang menyuruh saya menyewa Jafar! Saya cuma menjalankan perintah!"
"Apa kau bersedia menjadi saksi untuk membongkar semua ini?"
"Saya bersedia, Pak! Asalkan saya diampuni!"
"Itu tergantung hakim nanti, Pak Mamat. Yang penting kau jujur sekarang."
Mamat mengangguk sambil terisak isak.
Di sel tahanan, Riyadi duduk termenung. Cahaya matahari sore masuk melalui celah celah jeruji, membentuk pola pola garis di lantai semen. Ia tidak tahu apa yang terjadi di luar. Yang ia tahu, namanya sudah tercemar. Teman temannya menjauh. Keluarganya malu. Semua karena fitnah.
"Ri! Ri!" suara Badrun terdengar dari kejauhan. Ia berlari menghampiri sel dengan napas tersengal sengal. Wajahnya berseri seri seperti orang yang baru menemukan harta karun. Keringat membasahi seluruh wajahnya, tapi ia tidak peduli.
"Ada apa, Run? Kenapa kau berlari seperti kemarin?"
"Kasus kau, Ri! Mulai terungkap! Umar dan Mamat sudah ditangkap polisi! Mereka mengaku bahwa mereka disuruh Kadir! Minah juga sudah bersaksi!"
"Benarkah itu, Run?"
"Benar, Ri! Aku baru dari kantor polisi! Aiptu Sugeng bilin kau bisa bebas dalam satu atau dua hari lagi!"
Riyadi tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam seminggu, senyum itu muncul di wajahnya. "Alhamdulillah, Run. Akhirnya."
"Kau harus bersabar, Ri. Masih ada proses hukum. Tapi setidaknya kau tidak akan ditahan lebih lama lagi."
"Terima kasih, Run. Kau sahabat sejati. Tanpa kau, aku sudah hancur."
"Jangan berterima kasih, Ri. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan sahabat."
"Sekarang, bagaimana dengan Kadir?"
"Kadir akan dipanggil polisi besok. Kemungkinan ia juga akan ditahan karena terbukti merencanakan fitnah."
"Kasihan Haji Bahar. Ia tidak tahu apa apa. Ia hanya punya anak yang durhaka."
"Ya, Ri. Tapi itu bukan urusan kita. Biar hukum yang berjalan."
Kabar bahwa Riyadi tidak bersalah dan Kadir yang menjadi dalang fitnah mulai tersebar di desa. Warga yang kemarin sibuk memfitnah, kini sibuk meminta maaf.
Di warung kopi Pak Darma, para lelaki yang kemarin yakin Riyadi bersalah, kini menggeleng gelengkan kepala.
"Jadi Riyadi benar benar tidak bersalah, ya?"
"Sudah jelas, Pak Darma. Umar dan Mamat sudah mengaku. Kadir yang merencanakan semuanya."
"Kasihan Riyadi. Anak baik difitnah. Padahal ia rajin bekerja. Tidak pernah merugikan siapa pun."
"Kita semua ikut salah, Pak Darma. Kita terlalu cepat percaya pada gosip. Kita tidak pernah bertanya pada Riyadi langsung. Kita langsung menghakiminya."
"Mulai besok, saya akan datangi rumah Mak Tonah. Saya akan minta maaf padanya."
"Saya juga, Pak Darma. Saya ikut."
"Ibu ibu di pasar juga harus minta maaf. Mereka yang paling sibuk menyebarkan fitnah."
"Iya, Pak Darma. Kita harus perbaiki kesalahan kita."
Di sisi lain pasar, Ningsih tersenyum mendengar perubahan sikap warga. "Akhirnya, Run. Mereka sadar juga."
"Ini baru awal, Ning. Masih panjang perjuangan kita. Kadir mungkin belum menyerah. Ia pasti akan mencari cara lain."
"Tapi setidaknya, Riyadi bebas. Itu yang terpenting."
"Iya, Ning. Itu yang terpenting."
Dua hari kemudian, Riyadi keluar dari kantor polisi sebagai orang bebas. Langit cerah tanpa mendung. Matahari bersinar hangat. Burung burung beterbangan di atas pohon pohon rindang di halaman kantor.
Di luar pagar, Aryanti sudah menunggu sejak pagi. Ia memakai kebaya putih—baju yang sama ketika Kadir melamar dulu. Rambutnya disanggul rapi dengan tusuk konde perak. Wajahnya segar seperti pagi hari. Matanya berbinar binar menahan bahagia.
"Riyad!" teriak Aryanti sambil melambaikan tangan.
Riyadi berjalan keluar dengan senyum lebar. Ia langsung memeluk Aryanti di depan polisi, di depan Badrun, di depan Ningsih, di depan siapa pun yang ada di sana.
"Yan, aku bebas."
"Aku tahu, Riyad. Aku tahu. Aku tidak pernah ragu."
"Mak Tonah mana?"
"Ia di rumah. Ia ingin menjemput. Tapi aku larang. Aku bilang, aku saja yang jemput. Ibu istirahat di rumah."
"Kau baik sekali, Yan."
"Bukan baik. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang... seorang..."
"Seorang apa, Yan?"
"Seorang... yang menyayangimu."
Mereka berdua tersenyum. Badrun dan Ningsih bersiul siul kecil.
"Sudah, jangan cengeng di depan umum. Ayo pulang. Mak Tonah sudah tidak sabar melihat anaknya," kata Badrun.
Mereka berlima naik ke angkutan umum menuju Desa Sriwidadi. Sepanjang perjalanan, Riyadi dan Aryanti tidak berhenti berbicara. Mereka tertawa, mereka bercanda, mereka sesekali diam dan saling menatap. Seperti dua anak kecil yang baru bertemu setelah lama berpisah.
Di desa, warga sudah berjejer di sepanjang jalan. Mereka melambaikan tangan, tersenyum, dan berteriak "Selamat pulang, Riyadi!" seperti menyambut pahlawan.
Riyadi hanya tersenyum dan membalas lambaian mereka. Tidak ada rasa dendam di hatinya. Hanya rasa syukur yang begitu dalam.
Mak Tonah menangis di beranda ketika melihat Riyadi turun dari angkutan umum. Ia berlari memeluk anaknya erat erat.
"Nak, ibu rindu kamu. Ibu takut tidak bisa melihat kamu lagi."
"Mak, aku baik baik saja. Doa Mak melindungiku."
"Ini semua karena Allah, Nak. Jangan lupa bersyukur."
"Aku tidak akan lupa, Mak. Terima kasih ya, Mak."
Malam itu, seluruh keluarga dan sahabat berkumpul di rumah kayu Mak Tonah. Badrun, Ningsih, Aryanti, Pak Darma, bahkan Pak RT dan Pak Lurah datang memberikan ucapan selamat.
Riyadi duduk di tengah tengah mereka, dikelilingi oleh cinta dan dukungan yang sempat hilang sementara.
Tapi di sudut ruangan, Aryanti menatap Riyadi dengan hati yang berbunga bunga.
"Ini baru awal, Riyad," bisiknya dalam hati. "Masih panjang perjalanan kita. Tapi aku tidak takut. Selama kau di sisiku, aku tidak akan pernah takut."
BAB IX
PERJANJIAN RAHASIA
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Riyadi duduk di beranda rumahnya sendirian. Langit dipenuhi bintang bintang yang bertaburan seperti berlian di atas beludru hitam. Bulan sabit tipis menggantung di ufuk barat, nyaris tak terlihat karena cahayanya yang redup. Angin malam berhembus lembut, membawa bau daun kering dan tanah basah dari sawah yang baru saja diairi. Sesekali terdengar suara jangkrik yang bersahutan, seolah ikut merayakan kebebasan Riyadi dari jerat fitnah.
"Tidak tidur, Nak?" Mak Tonah keluar dari pintu dapur sambil membawa dua gelas teh jahe hangat. Asap tipis mengepul dari permukaan cairan kecokelatan itu, membawa aroma rempah yang menghangatkan tenggorokan.
"Belum, Mak. Masih banyak yang aku pikirkan."
Mak Tonah duduk di samping Riyadi. Ia menyerahkan satu gelas teh pada putranya. "Pikiran apa, Nak? Tentang Kadir? Tentang masa depan? Atau tentang Aryanti?"
"Semuanya, Mak. Tapi yang paling berat adalah tentang masa depan. Aku sadar, Mak, bahwa aku tidak bisa terus begini. Aku tidak bisa terus menjadi pekerja kebun karet yang penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari hari. Aku harus punya sesuatu yang lebih. Aku harus bisa mandiri. Aku harus bisa membuktikan pada semua orang bahwa aku layak untuk Aryanti."
Mak Tonah menghela napas. "Nak, ibu mengerti keinginanmu. Tapi jangan terburu buru. Jangan sampai ambisimu membuatmu lupa diri. Ingat, rezeki itu datangnya dari Allah. Bukan dari kerasnya kerja semata."
"Aku tahu, Mak. Tapi Allah juga menyuruh hamba Nya berusaha. Bukankah begitu?"
"Benar, Nak. Tapi jangan lupa berdoa. Jangan lupa bersyukur. Jangan lupa bahwa kesuksesan sejati bukan hanya soal harta, tapi juga soal hati."
Riyadi menyesap tehnya. Hangatnya menyebar dari kerongkongan hingga ke ulu hati. "Mak, aku ingin merantau."
Mak Tonah terkejut. Gelas di tangannya hampir terjatuh. "Merantau? Ke mana, Nak?"
"Ke Banjarmasin, Mak. Aku ingin mencari peruntungan di sana. Aku dengar banyak orang desa yang sukses setelah merantau ke Banjarmasin. Ada yang jadi pedagang, ada yang jadi pengusaha, ada yang jadi kaya raya."
"Tapi Nak, merantau itu tidak mudah. Kau akan sendirian. Tidak ada saudara. Tidak ada teman. Tidak ada ibu yang memasakkanmu makan setiap hari."
"Aku sadar, Mak. Tapi aku tidak mau terus berada di zona nyaman. Aku harus keluar dari desa ini untuk mencari pengalaman. Aku harus belajar hidup mandiri."
Mak Tonah diam sejenak. Ia menatap wajah putranya yang mulai menunjukkan keteguhan seorang laki laki dewasa. "Kapan kau berencana pergi, Nak?"
"Segera, Mak. Mungkin dalam beberapa minggu ke depan. Tapi sebelum itu, aku harus bicara dulu dengan Aryanti. Aku harus minta restunya."
"Kau yakin Aryanti akan merelakanmu pergi?"
"Entahlah, Mak. Tapi aku harus jujur padanya. Aku tidak bisa pergi diam diam seperti pengecut. Aku harus bicara dari hati ke hati."
Mak Tonah mengusap kepala Riyadi. "Kau sudah dewasa, Nak. Ibu tidak bisa melarangmu. Tapi ingat, apa pun yang terjadi, desa ini dan rumah ini akan selalu menunggumu pulang."
"Terima kasih, Mak. Doakan aku."
"Ibu akan selalu mendoakanmu, Nak. Setiap malam. Setiap sujud. Setiap doa."
Di rumah Aryanti, pagi itu suasana sedikit lebih tenang. Saripah yang biasanya cerewet dan selalu membentak, pagi itu duduk diam di ruang tamu sambil memandangi dinding. Rambutnya yang mulai beruban itu dibiarkan terurai tanpa disanggul rapi seperti biasa. Wajahnya tampak lebih tua dari usianya—kerutan di sekitar mata dan mulutnya semakin dalam, tanda bahwa ia terlalu banyak memikirkan beban hidup yang tidak kunjung ringan.
"Ma, kau tidak pergi ke pasar?" tanya Aryanti sambil keluar dari kamar dengan pakaian rapi. Rambutnya diikat kuncir kuda tinggi, kerudung putih melilit lehernya dengan rapi. Wajahnya bersih tanpa riasan—kecantikan alami yang tidak perlu polesan apa pun.
"Tidak, Yan. Ibu malas. Ibu tidak ingin bertemu dengan tetangga yang kemarin sibuk memfitnah Riyadi, lalu sekarang sibuk memuji mujinya."
"Tapi Ma, pasar tetap harus berjalan. Kita butuh sayur dan lauk untuk makan hari ini."
"Biarlah. Nanti sore Ibu pergi. Sekarang Ibu ingin sendiri dulu."
Aryanti mendekati ibunya. Ia duduk di samping Saripah dan meraih tangan ibunya yang kasar karena bertahun tahun bekerja di sawah dan mencuci baju. Kulitnya kering dan mulai keriput—tanda bahwa usia telah bekerja terlalu keras padanya.
"Ma, aku tahu ibu kecewa karena lamaran Kadir gagal. Tapi percayalah, Ma, suatu hari nanti aku akan buktikan bahwa pilihanku benar. Riyadi akan sukses. Ia akan menjadi menantu yang ibu banggakan."
Saripah menatap putrinya. "Kau sangat yakin padanya, Yan?"
"Aku yakin, Ma. Sejak kecil, aku sudah melihat kegigihannya. Ia tidak mudah menyerah. Ia pekerja keras. Ia jujur. Dan yang terpenting, ia mencintaiku dengan tulus. Bukan karena wajahku, bukan karena tubuhku, tapi karena aku adalah aku."
"Kau masih muda, Yan. Kau belum tahu bahwa cinta yang tulus tidak cukup untuk hidup di dunia ini."
"Tapi Ma, cinta yang tulus adalah fondasi. Dengan fondasi yang kuat, kita bisa membangun apa pun di atasnya."
Saripah menghela napas. "Baiklah, Yan. Ibu tidak akan melarangmu lagi. Ibu sudah capek melawan. Tapi ingat, jika suatu hari nanti kau menyesal, jangan salahkan ibu."
"Aku tidak akan menyesal, Ma. Dan aku tidak akan pernah menyalahkan ibu."
Saripah tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya dalam berminggu minggu, senyum itu muncul di wajahnya. "Kau ini keras kepala seperti ayahmu."
"Aku tahu, Ma. Dan aku bangga akan hal itu."
Sore itu, sepulang sekolah, Aryanti tidak langsung pulang. Ia memutar arah menuju rumah Riyadi yang terletak di utara desa. Hatinya berdebar tidak karuan. Bukan karena takut bertemu Riyadi, tapi karena ada firasat aneh yang mengganggu pikirannya sejak bangun tidur.
"Assalamu'alaikum," ucap Aryanti sambil mengetuk pintu pagar bambu yang reyot.
Mak Tonah yang sedang menyapu halaman langsung menoleh. "Wa'alaikumsalam, Yan. Masuklah, Nak. Kamu cari Riyadi?"
"Iya, Bu. Ada yang mau saya bicarakan."
"Dia di belakang, Yan. Sedang memotong kayu untuk kayu bakar. Panggil saja. Atau kamu tunggu di ruang tamu, saya panggilkan."
"Tidak usah, Bu. Saya ke belakang saja."
Aryanti berjalan ke belakang rumah. Di halaman belakang, Riyadi sedang memotong kayu dengan parang. Badannya yang kurus itu tampak kuat saat mengayunkan parang ke batang kayu yang keras. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Wajahnya serius dan penuh konsentrasi.
"Riyad," panggil Aryanti pelan.
Riyadi menoleh. Ia meletakkan parang dan menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Yan? Kau datang? Ada apa?"
"Aku hanya ingin bicara. Kau sedang sibuk?"
"Tidak. Aku sedang istirahat sebenarnya. Mari duduk di beranda. Di sini panas."
Mereka berdua berjalan ke beranda depan. Mak Tonah sudah menyiapkan dua gelas air putih dan sepiring pisang goreng. "Nah, kalian bicara saja. Ibu mau ke dapur. Jangan malu malu, Yan. Anggap saja rumah sendiri."
"Terima kasih, Bu."
Mak Tonah masuk ke dalam, meninggalkan Riyadi dan Aryanti berdua di beranda. Suasana hening sejenak. Hanya suara ayam berkotek dan burung gereja yang berkicau yang terdengar.
"Riyad, ada yang ingin aku tanyakan padamu."
"Tanya saja, Yan. Aku akan jawab sejujurnya."
"Apa kau... apa kau berencana pergi meninggalkan desa ini?"
Riyadi terkejut. Matanya membulat. "Siapa yang bilang? Apa kau bisa membaca pikiranku sekarang?"
"Aku tidak bisa membaca pikiranmu, Riyad. Tapi aku bisa membaca gelagatmu. Akhir akhir ini kau sering melamun. Matamu menerawang ke kejauhan seolah melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Kau juga sering tidak masuk kerja. Katanya sakit, tapi aku tahu kau sedang merencanakan sesuatu."
Riyadi terdiam. Ia tidak menyangka Aryanti sepeka itu.
"Jadi, apa jawabanmu, Riyad? Benarkah kau mau pergi?"
Riyadi menghela napas panjang. Ia menatap Aryanti lurus lurus. Matanya berkaca kaca, tapi ia menahan air mata itu dengan sekuat tenaga. "Iya, Yan. Aku mau pergi. Aku mau merantau ke Banjarmasin."
"Kapan?"
"Entah. Mungkin dalam beberapa minggu ke depan. Aku belum menentukan tanggal pastinya."
"Kenapa kau tidak bilang dari dulu, Riyad? Kenapa kau sembunyikan?"
"Karena aku takut, Yan. Aku takut kau akan marah. Aku takut kau akan melarangku. Aku takut kau akan sedih."
"Tentu saja aku sedih, Riyad! Aku sangat sedih! Tapi aku lebih sedih jika kau pergi tanpa pamit. Aku lebih sedih jika kau meninggalkanku tanpa alasan yang jelas."
"Yan, ini bukan tanpa alasan. Aku pergi karena aku ingin menjadi lebih baik. Aku ingin sukses. Aku ingin bisa melamarmu dengan cara yang layak. Aku tidak ingin kau dinikahi dengan status sebagai istri orang miskin."
"Riyad, aku tidak peduli dengan status! Aku tidak peduli dengan harta! Yang aku peduli hanyalah kau! Hanya kau!"
"Tapi orang tuamu peduli, Yan. Masyarakat peduli. Dunia ini peduli. Aku tidak bisa hidup hanya dengan cinta. Aku juga butuh harta untuk membahagiakanmu."
Aryanti menangis. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulus. "Kau egois, Riyad. Kau pergi tanpa memikirkan perasaanku."
"Yan, ini justru karena aku memikirkan perasaanmu. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Dan yang terbaik itu tidak bisa aku dapatkan jika aku terus berada di desa ini."
"Kau pikir dengan merantau ke Banjarmasin, kau akan langsung sukses? Kau pikir uang akan jatuh dari langit?"
"Tidak, Yan. Aku tidak berpikir sesederhana itu. Aku tahu merantau itu berat. Aku tahu aku akan menghadapi banyak kesulitan. Tapi aku tidak akan tahu hasilnya jika aku tidak mencoba."
Mereka berdua terdiam. Suasana berubah menjadi hening yang mencekam. Angin sore yang biasanya berhembus sejuk, terasa dingin menusuk tulang.
"Riyad, aku punya usul," kata Aryanti akhirnya setelah mengusap air matanya dengan ujung kerudung. Matanya masih merah, tapi suaranya mulai tenang.
"Apa usulmu, Yan?"
"Sebelum kau pergi, kita harus membuat perjanjian."
"Perjanjian? Perjanjian apa?"
Aryanti meraih tangan Riyadi. Genggamannya erat, seperti orang yang takut kehilangan sesuatu yang sangat berharga. "Kau harus berjanji bahwa kau akan kembali. Bahwa kau tidak akan melupakanku. Bahwa kau tidak akan mencari perempuan lain di perantauan."
"Yan, apa kau tidak percaya padaku?"
"Aku percaya, Riyad. Tapi aku juga takut. Takut kalau kalau kau berubah. Takut kalau kalau kau menemukan perempuan yang lebih baik dariku."
"Tidak akan ada yang lebih baik darimu, Yan. Kau adalah yang terbaik. Satu satunya."
"Kalau begitu, buktikan dengan janji."
"Baik, Yan. Aku berjanji. Aku akan kembali. Aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan mencari perempuan lain. Aku hanya akan memikirkanmu. Setiap hari. Setiap malam. Setiap detak jantungku."
"Janji yang muluk muluk, Riyad. Tapi bagaimana aku tahu kau sungguh sungguh?"
"Apa kau mau aku bersumpah demi apa pun? Demi Al Quran? Demi hidupku? Demi nyawa ibuku?"
"Jangan, Riyad. Jangan bawa bawa ibumu. Cukup kelingking kita."
"Kelingking? Seperti waktu kita kecil dulu?"
"Iya. Seperti waktu kita kecil dulu. Di dermaga itu. Saat kau cerita dongeng tentang nelayan dan ikan mas."
Riyadi tersenyum. "Kau masih ingat itu?"
"Aku ingat semuanya, Riyad. Setiap kata. Setiap tawa. Setiap senyum. Aku menyimpannya di sini." Aryanti menunjuk dadanya. "Di dalam hati yang paling dalam."
Mereka berdua saling berkelingkitan. Jari kelingking mereka bertaut seperti dua sungai yang bertemu di muara.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat," ucap Aryanti dengan suara bergetar.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat," ulang Riyadi dengan suara yang lebih tegas.
Mereka terdiam sejenak, menikmati momen yang terasa begitu sakral. Angin sore berhembus membawa bau bunga desa yang mulai mekar di musim kemarau. Burung burung tekukur mulai pulang ke sarangnya. Matahari semakin rendah di ufuk barat, warnanya berubah dari jingga menjadi merah keemasan.
"Riyad, ada satu lagi yang harus kau janjikan."
"Apa lagi, Yan?"
"Kau harus menulis surat untukku. Setiap minggu. Ceritakan keadaanku di perantauan. Ceritakan semua suka dan dukamu. Jangan sembunyikan apa pun. Aku ingin tahu semuanya."
"Tapi Yan, aku tidak pandai menulis surat. Aku hanya lulusan SMP. Bahasa Indonesia ku berantakan. Ejaanku sering salah."
"Aku tidak peduli dengan ejaanmu, Riyad. Aku peduli dengan isi hatimu. Tulislah apa adanya. Jangan dibuat buat. Aku akan menerima apa pun yang kau tulis."
"Baik, Yan. Aku janji. Akan aku tulis surat untukmu setiap minggu. Tapi kau juga harus membalasnya."
"Tentu, Riyad. Aku akan membalas setiap suratmu. Dengan senang hati."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang campur aduk antara bahagia dan sedih. Bahagia karena saling memiliki janji. Sedih karena perpisahan sudah di depan mata.
"Yan, aku akan pergi minggu depan. Aku sudah bicara dengan Haji Bahar. Ia mengizinkanku berhenti bekerja di kebun karetnya. Ia bahkan memberikan uang pesangon dua juta rupiah."
"Wah, baik sekali Haji Bahar. Ia tidak seperti anaknya."
"Haji Bahar memang orang baik. Ia juga sudah minta maaf padaku atas perbuatan Kadir. Katanya ia sangat malu dan kecewa."
"Kadir sendiri bagaimana? Apa ia sudah ditahan?"
"Belum. Tapi polisi sudah memanggilnya dua kali. Kemungkinan besar ia akan ditahan dalam waktu dekat. Mamat dan Umar sudah jadi saksi."
"Semoga Kadir jera. Semoga ia tidak mengganggu kita lagi."
"Aamiin, Yan. Aamiin."
Keesokan harinya, Badrun dan Ningsih datang ke rumah Riyadi. Wajah mereka serius, tidak seperti biasanya yang penuh canda tawa.
"Ri, aku dengar kau mau merantau ke Banjarmasin," kata Badrun tanpa basa basi.
"Siapa yang bilang, Run?"
"Aryanti. Ia cerita pada Ningsih, Ningsih cerita padaku."
"Wah, cepat sekali kabar ini menyebar."
"Ri, apa kau yakin dengan keputusanmu? Banjarmasin bukan desa ini. Di sana keras, Ri. Hidup di kota itu tidak mudah. Orang orang di sana licik. Banyak penipu. Banyak preman."
"Aku tahu, Run. Tapi aku sudah bulatkan tekad. Aku harus pergi."
"Kalau begitu, aku ikut."
Riyadi terkejut. "Kau ikut, Run? Kau ikut merantau?"
"Iya, Ri. Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Kau butuh teman di perantauan. Aku bisa membantumu."
"Tapi Run, keluarganmu di sini? Ibumu? Ayahmu? Siapa yang akan menjaga mereka?"
"Mereka sudah setuju, Ri. Aku sudah bicara dengan mereka semalam. Mereka mengizinkanku merantau asalkan aku tidak lupa pulang."
Ningsih yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Kalian berdua jangan lupa menulis surat untuk aku dan Aryanti. Kami akan menunggu kabar dari kalian."
"Tentu, Ning. Aku akan kirim surat setiap minggu," kata Badrun.
"Jangan janji dulu, Run. Nanti kau sibuk bekerja, lupa janji."
"Janji saya, Ning. Saya tidak akan lupa. Demi cinta."
"Cinta? Cinta siapa?" Ningsih memicingkan mata.
Badrun tersenyum malu. Wajahnya yang tambun itu memerah seperti kepiting rebus. "Ya... cinta... cinta persahabatan."
"Jangan baper, Run. Aku tahu kau suka sama Ningsih," ledek Riyadi sambil tertawa kecil.
"Siapa yang suka? Aku tidak suka sama dia. Dia cerewet. Matanya juga sipit. Giginya juga maju ke depan."
"Eh, Badrun! Hati hati kau bicara!" Ningsih mengambil sandal dan mengancam akan melemparnya ke arah Badrun.
"Lihat, Ri. Gampang marah. Siapa yang mau sama perempuan gampang marah?"
"Badrun, habis kau ini!" Ningsih melempar sandal ke arah Badrun.
Badrun menghindar. Sandal itu mengenai dinding kayu dan jatuh ke lantai dengan bunyi 'bedebum'.
Mereka semua tertawa. Tawa yang menghangatkan suasana. Tawa yang mengusir sedikit kesedihan akan perpisahan yang segera datang.
"Sudah, sudah, jangan ribut," kata Riyadi sambil mengangkat kedua tangannya. "Kita harus serius. Masih banyak yang harus dipersiapkan untuk minggu depan."
"Apa saja yang harus kita siapkan, Ri?" tanya Badrun.
"Uang, Run. Uang adalah yang utama. Kita harus punya cukup modal untuk hidup di Banjarmasin setidaknya selama satu bulan. Setelah itu kita cari kerja."
"Berapa modal yang kita butuhkan?"
"Aku punya dua juta dari Haji Bahar. Aku juga punya tabungan satu juta dari hasil kerja selama ini. Total tiga juta. Kau, Run?"
"Aku punya satu setengah juta, Ri. Dari hasil jual ayam dan kambing."
"Jadi total kita empat setengah juta. Cukup untuk modal awal."
"Apa kita akan buka usaha, Ri?"
"Entahlah, Run. Kita lihat nanti. Yang penting kita cari kerja dulu. Setelah punya penghasilan tetap, baru kita pikirkan usaha."
"Setuju, Ri. Aku ikut apa pun keputusanmu."
Ningsih yang mendengar percakapan mereka ikut berkomentar. "Kalian harus hati hati. Jangan mudah percaya pada orang. Jangan mau dipekerjakan dengan iming iming gaji besar tapi ternyata penipuan."
"Aku tahu, Ning. Kami tidak setolol itu."
"Ya, untung kalian tidak setolol itu. Tapi kadang tolol itu tidak terlihat dari luar. Kadang orang pintar pun bisa tertipu."
"Kau ini pesimis, Ning. Doakan kami yang baik baik," kata Badrun.
"Aku doakan yang terbaik untuk kalian. Semoga sukses."
"Aamiin," ucap Riyadi dan Badrun bersamaan.
Malam itu, Aryanti duduk di meja belajarnya dengan secarik kertas dan sebuah pulpen. Lampu minyak tanah di sampingnya menyala redup, membuat bayangannya menari nari di dinding kamar yang bercat hijau pucat. Ia ingin menulis surat untuk Riyadi. Surat yang akan ia berikan sebelum Riyadi berangkat. Sebagai kenang kenangan. Sebagai pengingat. Sebagai janji.
Boneka Nonik duduk di pangkuannya seperti biasa. Aryanti menatap boneka itu sejenak, mencari inspirasi dari wajah kain yang sudah usang dan jahitannya mulai lepas di beberapa bagian.
"Nonik, aku harus mulai dari mana? Aku tidak pernah menulis surat cinta sebelumnya."
Boneka itu diam saja.
"Ya, aku tahu kau tidak bisa bicara. Tapi setidaknya kau bisa mendengarkan. Jadi, aku akan mencoba."
Aryanti mulai menulis.
Untuk Riyadi,
Assalamu'alaikum.
Ini adalah surat pertama yang pernah aku tulis untukmu. Mungkin juga surat terakhir jika kau tidak membalasnya. Tapi aku berharap kau membalasnya. Aku berharap kau tidak melupakanku di perantauan nanti.
Aku menulis surat ini di kamarku, ditemani boneka Nonik pemberianmu waktu kecil. Boneka itu sudah usang, jahitannya mulai lepas di mana mana. Tapi aku tidak pernah tega membuangnya. Karena setiap kali aku memeluk Nonik, aku merasa memeluk kenangan kita di dermaga itu. Kenangan yang tidak akan pernah bisa digantikan oleh apa pun.
Riyad, aku tahu keputusanmu untuk merantau sudah bulat. Aku tidak akan melarangmu. Aku hanya ingin kau tahu bahwa di desa ini, ada seseorang yang akan selalu menunggumu. Seseorang yang tidak akan pernah lelah berdoa untuk kesuksesanmu. Seseorang yang mencintaimu dengan segala keterbatasannya.
Aku tidak pintar merangkai kata kata indah seperti yang kau tulis di puisi puisi itu. Aku hanya gadis desa biasa yang ingin bahagia dengan caranya sendiri. Dan kebahagiaanku adalah kau. Hanya kau.
Jadi, pergilah, Riyad. Buktikan pada dunia bahwa cinta sejati tidak selalu kalah oleh keadaan. Buktikan pada ibuku, pada Kadir, pada semua orang yang meragukanmu, bahwa kau layak untukku. Bahwa kau mampu membuatku bahagia.
Aku akan menunggu. Berapa pun lama waktu yang kau butuhkan. Satu tahun. Dua tahun. Lima tahun. Sepuluh tahun. Selama jantung ini masih berdetak, selama napas ini masih tersisa, aku akan menunggu.
Tapi ingat janjimu, Riyad. Kau harus kembali. Kau harus menjemputku. Jangan biarkan aku menunggu sia sia.
Sampai jumpa di dermaga itu, Riyad. Di tempat pertama kali kita jatuh cinta.
Dengan segala cinta yang tidak pernah usang,
Aryanti
Aryanti membaca kembali surat itu. Air matanya menetes membasahi kertas, membuat beberapa tinta menjadi sedikit luntur. Ia tidak peduli. Biarlah air matanya menjadi bagian dari surat itu. Bukti bahwa ia benar benar tulus.
Ia melipat surat itu dengan hati hati, memasukkannya ke dalam amplop cokelat, lalu menuliskan nama Riyadi di bagian depan amplop dengan tulisan tebal.
"Nonik, besok aku akan berikan surat ini pada Riyadi. Doakan semoga ia menyimpannya baik baik."
Boneka itu diam. Tapi Aryanti merasa boneka itu tersenyum.
Di rumahnya, Riyadi juga tidak bisa tidur. Ia duduk di meja kayu jati tua peninggalan ayahnya, membuka buku tulis cokelat yang berisi puisi puisi cintanya. Ia membaca beberapa puisi lama, lalu membolak balik halaman hingga menemukan halaman kosong di bagian akhir.
"Aku harus menulis satu puisi lagi. Puisi perpisahan. Puisi janji. Puisi yang akan kuberikan pada Aryanti sebelum aku berangkat."
Ia memegang pulpen dan mulai menulis. Tangannya gemetar. Pikirannya kacau. Tapi kata kata itu mengalir begitu saja, seperti air sungai Kapuas yang tidak pernah berhenti.
Untuk Aryanti, Satu satunya Bunga di Taman Sepiku
Aku bukan pujangga yang mampu merangkai kata seindah rembulan.
Aku hanya pemuda desa yang lidahnya lebih tajam dari parang.
Tapi malam ini, biarkan aku berbicara dengan cara yang paling jujur.
Dengan tinta yang mengalir dari lukaku.
Malam ini, kuintip bintang bintang di langit desa kita.
Mereka bertaburan seperti kenangan yang tak mau pergi.
Dan di antara jutaan bintang itu, hanya satu yang paling terang.
Kau, Aryanti. Hanya kau.
Aku akan pergi, bukan karena aku takut pada Kadir atau fitnahnya.
Bukan karena aku ingin melupakanmu atau mencari yang lebih baik.
Aku pergi karena aku ingin pulang dengan cara yang lebih layak.
Aku ingin pulang sebagai pemenang, bukan sebagai pecundang yang selalu kalah oleh keadaan.
Jangan kau tanyakan berapa lama aku akan pergi.
Karena aku sendiri tidak tahu.
Bisa satu tahun, bisa dua tahun, bisa sepuluh tahun.
Tapi yang aku tahu, aku akan kembali.
Seperti burung yang bermigrasi, aku akan kembali ke sarangku.
Kembali ke desa ini. Kembali ke dermaga itu. Kembali padamu.
Jangan kau tangisi kepergianku.
Karena air matamu akan membuatku enggan melangkah.
Tetaplah tersenyum, Aryanti. Tetaplah menjadi bungga desa yang merekah di musim kemarau.
Dan ketika aku kembali nanti, aku akan petik kau dengan cara yang paling indah.
Bukan dengan paksa, bukan dengan harta, tapi dengan cinta yang tidak pernah padam.
Sampai jumpa di dermaga itu, Aryanti.
Di tempat pertama kali kau mencuri hatiku.
Tempat di mana aku belajar bahwa mencintai adalah bentuk keberanian tertinggi.
Dengan seluruh jiwa yang kuserahkan padamu,
Riyadi
Riyadi membaca puisinya berulang ulang. Matanya basah. Ia tidak tahu apakah Aryanti akan mengerti setiap kata yang ia tulis. Tapi yang ia tahu, ia sudah menuangkan seluruh isi hatinya ke dalam kertas itu.
Ia merobek halaman itu dengan hati hati, melipatnya kecil kecil, lalu memasukkannya ke dalam amplop putih yang bersih.
"Besok, akan aku berikan ini pada Aryanti. Sebagai janji. Sebagai pengingat. Sebagai cinta yang tidak akan pernah mati."
Keesokan harinya, sore harinya, Riyadi dan Aryanti bertemu di dermaga tua tempat pertama kali mereka duduk bersisian puluhan tahun lalu. Dermaga itu masih sama seperti dulu—kayu kayunya sudah lapuk, papan papannya reyot, dan beberapa bagian bahkan sudah bolong karena dimakan rayap. Tapi bagi mereka, dermaga itu adalah tempat paling sakral di seluruh desa.
Langit sore itu berwarna jingga keemasan—warna yang sama ketika mereka masih kecil dulu. Awan awan tipis bergerak lambat seperti malas meninggalkan pemandangan yang indah. Air sungai beriak tenang, sesekali dilewati oleh perahu perahu kecil milik nelayan yang pulang melaut. Angin berhembus lembut, membawa bau air sungai dan tanah liat yang khas.
"Yan, aku pamit. Besok pagi aku berangkat."
"Aku tahu, Riyad. Aku sudah siap."
"Kau sudah siap? Benarkah? Kau tidak akan menangis?"
"Aku akan menangis, Riyad. Tapi aku akan menangis di sini. Di dermaga ini. Setelah kau pergi. Aku tidak akan menangis di depanmu. Karena aku tidak ingin kau melihatku lemah."
"Kau tidak lemah, Yan. Justru sebaliknya. Kau adalah perempuan paling kuat yang pernah aku kenal."
"Jangan lebay, Riyad. Aku hanya perempuan biasa."
"Tidak, Yan. Kau luar biasa. Dan aku akan membuktikan bahwa aku layak untuk perempuan luar biasa sepertimu."
Riyadi mengeluarkan amplop putih dari saku celananya. "Ini untukmu, Yan. Puisi terakhir yang aku tulis. Jangan dibaca sekarang. Bacalah nanti, setelah aku pergi. Biarkan puisi itu menjadi temanmu saat kau merasa sendiri."
Aryanti menerima amplop itu dengan tangan gemetar. "Aku juga punya sesuatu untukmu, Riyad." Ia mengeluarkan amplop cokelat dari saku bajunya. "Ini surat untukmu. Surat pertama yang pernah aku tulis untuk siapa pun. Jangan kau buka di sini. Buka nanti, setelah kau sampai di Banjarmasin. Atau saat kau sedang sedih. Biarkan surat itu menjadi penghiburmu."
Mereka saling bertukar amplop. Seperti dua burung yang bertukar bulu sebelum terbang meninggalkan sarang.
"Riyad, aku ingin kau tahu sesuatu."
"Apa itu, Yan?"
"Aku mencintaimu. Bukan karena puisi puisi indahmu. Bukan karena keteguhan hatimu. Bukan karena semua perjuanganmu. Aku mencintaimu karena kau adalah kau. Karena kau membuatku merasa menjadi diri sendiri. Karena setiap detik bersamamu adalah detik yang tidak ingin aku lewatkan dengan siapa pun."
Riyadi meneteskan air mata. Untuk pertama kalinya, ia menangis di depan Aryanti.
"Yan, aku juga mencintaimu. Lebih dari kata kata yang bisa aku ucapkan. Lebih dari puisi yang bisa aku tulis. Lebih dari apa pun di dunia ini."
Mereka berpelukan di dermaga itu. Di bawah langit senja yang mulai gelap. Di antara suara jangkrik yang mulai bersahutan. Di tempat yang sama, di waktu yang sama, seperti puluhan tahun lalu ketika mereka masih kecil dan belum tahu apa apa tentang cinta.
"Riyad, jangan lupa janjimu."
"Aku tidak akan lupa, Yan."
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Mereka berkelingkitan lagi. Jari kelingking mereka bertaut erat. Tidak ada yang mau melepaskan. Tidak ada yang mau menjadi yang pertama melepas.
"Aku harus pulang, Yan. Masih banyak yang harus disiapkan."
"Iya, Riyad. Aku juga harus pulang. Ibu menungguku."
Mereka melepaskan kelingking mereka perlahan, seperti dua orang yang melepaskan sesuatu yang sangat berharga.
"Sampai jumpa, Yan."
"Sampai jumpa, Riyad. Di dermaga ini. Suatu hari nanti."
Riyadi berbalik dan berjalan meninggalkan dermaga. Aryanti berdiri di tempatnya, menatap punggung Riyadi yang semakin jauh, semakin kecil, semakin kabur tertelan senja.
Ketika Riyadi tidak terlihat lagi, Aryanti menangis. Ia menangis sepuas puasnya. Air matanya mengalir seperti air sungai Kapuas yang tidak pernah berhenti. Boneka Nonik ia peluk erat erat.
"Nonik, ia pergi. Ia benar benar pergi."
Boneka itu diam.
"Tapi ia akan kembali, Nonik. Aku percaya ia akan kembali."
Boneka itu tetap diam.
"Nonik, tolong jaga dia untukku. Jangan biarkan apa pun terjadi padanya."
Boneka itu hanya tersenyum dengan jahitan bibir yang mulai lepas. Tapi bagi Aryanti, senyum itu cukup. Senyum itu adalah jawaban bahwa semuanya akan baik baik saja.
Malam itu, seluruh keluarga dan sahabat berkumpul di rumah Mak Tonah untuk mengadakan doa bersama. Pak Darma datang membawa nasi tumpeng. Pak RT datang membawa kue kue. Pak Lurah datang membawa buah buahan. Ningsih datang membawa kolak pisang. Badrun datang membawa senyum dan canda tawa meskipun matanya sembab menahan tangis.
"Ri, besok kita berangkat jam berapa?" tanya Badrun sambil menyantap nasi tumpeng dengan lahap. Mulutnya penuh, pipinya mengembang seperti tupai yang sedang mengunyah biji rambutan.
"Jam enam pagi, Run. Kita naik bus ke Kuala Kapuas, lalu lanjut dengan kapal cepat ke Banjarmasin."
"Wah, kapal cepat? Aku belum pernah naik kapal cepat, Ri."
"Aku juga belum, Run. Kita belajar bersama."
"Nak, jaga jaga di perantauan," pesan Mak Tonah sambil mengusap kepala Riyadi. Wajahnya basah oleh air mata yang tak henti hentinya mengalir, tapi ia berusaha tersenyum di antara tangisnya. "Jangan makan sembarangan. Jangan bergaul dengan orang jahat. Jangan lupa sholat. Jangan lupa baca doa."
"Iya, Mak. Aku tidak akan lupa."
"Nak, kalau kau sudah sukses nanti, jangan lupa kampung halaman. Jangan lupa orang tua. Jangan lupa teman teman yang pernah membantu," pesan Pak Lurah.
"Insya Allah, Pak Lurah. Saya tidak akan lupa."
"Nak, kalau kau butuh apa apa, kabari kami. Kami akan bantu semampu kami," pesan Pak RT.
"Terima kasih, Pak RT. Maaf jika saya pernah berbuat salah."
"Ah, anak muda. Semua orang pernah berbuat salah. Yang penting mau belajar dari kesalahan."
Doa bersama dipimpin oleh Pak Darma. Semua hadirin menadahkan tangan, memohon pada Allah agar melindungi Riyadi dan Badrun di perantauan, agar dimudahkan rezekinya, agar cepat sukses, dan agar cepat kembali ke kampung halaman dengan selamat.
"Ya Allah, lindungilah anak anak kami ini. Mereka pergi dengan niat baik. Mereka pergi untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Jangan Kau biarkan mereka tersesat. Jangan Kau biarkan mereka tertimpa musibah. Berikan mereka kekuatan, kesabaran, dan kemudahan dalam setiap langkah mereka. Aamiin."
"Aamiin ya rabbal'alamin," ucap semua hadirin bersamaan.
Setelah doa, mereka makan bersama. Tawa dan canda masih terdengar di sana sini. Tapi di hati masing masing, ada kesedihan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata. Kesedihan karena akan ditinggalkan oleh orang orang yang mereka cintai.
Pukul setengah enam pagi, bus dari Kuala Kapuas tiba di depan rumah Mak Tonah. Riyadi dan Badrun sudah siap dengan koper dan ransel masing masing. Koper Riyadi hanya berisi pakaian seadanya—tiga kaus lusuh, dua celana panjang yang sudah tambal sulam di beberapa bagian, satu sarung untuk sholat, dan Al Quran peninggalan ayahnya yang sampulnya sudah robek di bagian pojok. Ransel Badrun lebih besar, tapi isinya tidak lebih banyak—kebanyakan berisi makanan bekal dari ibunya.
"Ri, aku siap," kata Badrun dengan napas tersengal karena berat ransel yang dipanggulnya.
"Aku juga siap, Run."
Mak Tonah menangis di beranda. Ia tidak kuat melepas kepergian anak satu satunya. Saripah juga menangis di sampingnya meskipun Aryanti sendiri tidak ada di sana. Aryanti memilih untuk tidak datang ke rumah Riyadi. Ia tidak ingin menangis di depan orang banyak. Ia ingin menangis sendiri di kamarnya, memeluk boneka Nonik, dan membaca puisi yang diberikan Riyadi kemarin sore.
"Nak, hati hati di jalan," pesan Mak Tonah sambil memeluk Riyadi erat erat.
"Iya, Mak. Mak jaga kesehatan. Jangan terlalu banyak pikiran."
"Ibu doakan kau sukses, Nak. Ibu bangga padamu."
"Aku juga bangga punya ibu seperti Mak."
Mereka berpelukan lama. Badrun juga berpamitan pada ibunya yang datang dari rumahnya yang jauh di selatan desa.
"Run, jangan lupa makan. Jangan lupa jaga diri," pesan ibunya sambil menangis.
"Iya, Bu. Bu jaga adik adik. Jangan sampai mereka kelaparan."
"Insya Allah, Nak. Doa ibu selalu menyertaimu."
Bus mulai membunyikan klakson. Sopirnya tidak sabar.
"Ayo, Nak. Cepat naik. Nanti ketinggalan kapal."
Riyadi dan Badrun naik ke bus. Mereka duduk di kursi dekat jendela. Riyadi membuka jendela dan melambaikan tangan pada Mak Tonah, pada Saripah, pada Pak Darma, pada Pak RT, pada Pak Lurah, pada semua warga yang datang mengantarkan.
"Mak, aku pergi dulu!"
"Hati hati, Nak!"
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam!"
Bus mulai bergerak. Perlahan lahan meninggalkan rumah kayu tua itu. Mak Tonah terus melambaikan tangan sampai bus tidak terlihat lagi. Kemudian ia jatuh duduk di kursi dan menangis sekeras kerasnya.
"Ya Allah, jagalah anakku. Ia satu satunya yang aku punya."
Di dalam bus, Riyadi juga menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya. Badrun menepuk pundaknya pelan.
"Sudah, Ri. Jangan menangis. Ini awal dari semuanya. Awal dari kesuksesan kita."
"Iya, Run. Aku tahu. Tapi aku akan merindukan desa ini. Aku akan merindukan ibuku. Aku akan merindukan Aryanti."
"Kita semua akan merindukan. Tapi itulah harga yang harus dibayar untuk masa depan yang lebih baik."
Bus melaju di jalan tanah yang berdebu. Melewati kebun karet, sawah yang menguning, sungai yang berliku, dan jembatan bambu yang melengkung. Desa Sriwidadi semakin jauh. Semakin kecil. Semakin kabur.
Di kamarnya, Aryanti membaca puisi Riyadi untuk kesekian kalinya. Air matanya membasahi kertas itu, tapi ia tidak peduli. Ia membaca setiap kata, setiap kalimat, setiap bait, berulang ulang, seperti orang haus yang meminum air dari sumur yang paling dalam.
"Aku akan menunggu, Riyad. Aku akan selalu menunggu," bisiknya sambil memeluk boneka Nonik.
Di luar, matahari mulai meninggi. Fajar telah berubah menjadi pagi yang cerah. Desa Sriwidadi tetap berjalan seperti biasa. Ibu ibu pergi ke pasar. Bapak bapak ke sawah. Anak anak ke sekolah. Tidak ada yang berubah. Tapi bagi Aryanti, segalanya telah berubah. Warna warna desa yang dulu terang, kini terasa redup. Suara suara yang dulu riang, kini terasa sayu.
"Nonik, tolong jaga dia. Jangan biarkan apa pun terjadi padanya."
Boneka itu tersenyum. Aryanti tersenyum balik. Air mata masih mengalir di pipinya, tapi senyumnya tulus. Senyum yang lahir dari keyakinan bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati meskipun terpisah oleh jarak dan waktu.
BAB X
TITIK TERENDAH
Matahari baru saja terbit ketika kapal cepat dari Kuala Kapuas merapat di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin. Riyadi dan Badrun turun dari kapal dengan koper dan ransel masing masing. Wajah mereka pucat karena mabuk perjalanan. Badrun bahkan hampir muntah dua kali selama di kapal, tapi ia tahan karena tidak ingin dianggap cengeng oleh Riyadi.
Pemandangan di depan mereka sangat berbeda dengan Desa Sriwidadi. Gedung gedung beton menjulang tinggi. Jalanan aspal mulus dipadati oleh kendaraan bermotor yang lalu lalang dengan kecepatan tinggi. Orang orang berjalan cepat seperti sedang dikejar waktu. Suara klakson, suara mesin, suara pedagang asongan, suara musik dari toko toko, semuanya bercampur menjadi satu.
"Ri, ini Banjarmasin?" tanya Badrun dengan mata terbelalak. Mulutnya terbuka setengah, seperti orang yang baru pertama kali melihat gajah.
"Iya, Run. Ini Banjarmasin."
"Gila, Ri. Besar sekali. Banyak sekali gedung. Aku belum pernah melihat gedung setinggi ini seumur hidupku."
"Aku juga, Run. Ini pertama kalinya aku ke Banjarmasin."
"Kita tersesat nanti, Ri. Kita tidak tahu jalan. Kita tidak tahu orang. Kita tidak tahu apa apa."
"Tenang, Run. Kita akan belajar. Lambat laun kita akan terbiasa."
Mereka berjalan keluar dari area pelabuhan. Di depan pintu gerbang, puluhan tukang ojek dan sopir taksi menawarkan jasa mereka.
"Dek, ojek! Ojek! Mau ke mana?" teriak seorang pria bertubuh kurus dengan jaket lusuh.
"Ke mana, Dek? Taksi! Taksi aman dan nyaman!" teriak pria lain dengan kemeja batik lengan pendek.
"Ri, kita naik apa?" tanya Badrun bingung. Matanya bolak balik melihat ke kiri dan kanan, tidak tahu harus memilih siapa.
"Kita jalan kaki dulu, Run. Cari tempat yang lebih sepi. Kita tidak kenal siapa siapa di sini. Jangan naik kendaraan orang sembarangan."
"Bagus ide itu, Ri. Aku ikut."
Mereka berjalan menyusuri trotoar yang penuh dengan pedagang kaki lima. Bau ikan asin, bau tahu bacem, bau sate, bau kemenyan, semuanya bercampur dengan asap kendaraan dan debu jalanan. Riyadi dan Badrun sesekali batuk karena tidak terbiasa dengan polusi udara kota.
"Ri, perutku lapar. Kita makan dulu, ya?" pinta Badrun sambil memegang perutnya yang berbunyi keroncongan.
"Kita cari warung yang murah, Run. Uang kita tidak banyak. Harus hemat."
Mereka menemukan warung sederhana di pinggir jalan. Seorang ibu tua dengan kerudung putih sedang menggoreng pisang di wajan besar. Di depannya, beberapa pisang goreng sudah tersusun rapi di atas tampah bambu.
"Bu, pisang gorengnya berapa?" tanya Riyadi.
"Seribu rupiah empat buah, Nak. Mau berapa?"
"Sepuluh ribu delapan buah, Bu?"
"Wah, kau ini nawarnya keterlaluan, Nak. Mana ada pisang goreng seribu dua buah. Naikkan sedikit."
"Baik, Bu. Dua belas ribu delapan buah."
"Ya sudah, Nak. Ibu kasih. Kasihan kalian kelihatan baru datang dari desa. Pasti masih bingung di kota."
"Terima kasih, Bu."
Mereka duduk di bangku panjang di depan warung itu. Badrun melahap pisang goreng dengan lahap—dua buah dalam satu gigitan. Wajahnya berseri seri seperti orang yang baru menemukan makanan terenak di dunia.
"Ri, enak banget pisang gorengnya. Bedanya jauh sama pisang goreng di desa kita."
"Yang membuat enak bukan pisangnya, Run. Perut laparmu yang membuat semuanya terasa enak."
"Ah, kau ini suka merusak suasana."
Mereka berdua tertawa kecil. Tawa pertama mereka di tanah perantauan.
Setelah makan, Riyadi dan Badrun berkeliling mencari tempat tinggal yang murah. Mereka berjalan kaki menyusuri gang gang sempit di belakang pasar. Rumah rumah petak kayu berjajar rapat dengan jarak satu sama lain sangat dekat. Pakaian jemuran bergantungan di mana mana. Anak anak kecil berlarian di gang tanpa alas kaki. Bau comberan dan bau sampah bercampur menjadi satu.
"Ri, ini tempat apa? Kotor sekali. Bau sekali. Aku tidak betah," keluh Badrun sambil menutup hidung dengan ujung baju.
"Ini kampung kota, Run. Yang namanya kampung kota ya beginilah. Tidak sebagus desa kita."
"Jadi kita akan tinggal di sini?"
"Untuk sementara, iya. Sampai kita punya uang lebih."
Mereka menemukan sebuah petak kayu kecil yang disewakan oleh seorang bapak tua. Bangunannya sederhana—dinding papan dicat putih kusam, lantai tanah, atap seng yang sudah berkarat di beberapa bagian. Di dalamnya hanya ada satu ruangan tanpa kamar mandi. Kamar mandi berada di luar dan digunakan bersama oleh beberapa penghuni lain.
"Berapa sewa per bulan, Pak?" tanya Riyadi pada bapak tua itu.
"Seratus ribu, Nak. Belum termasuk listrik dan air."
"Bisa kurang, Pak? Kami baru datang dari desa. Uang kami tidak banyak."
"Kau nawarnya jangan keterlaluan, Nak. Ini sudah murah untuk ukuran Banjarmasin."
"Tujuh puluh lima ribu, Pak. Kami bayar kontan tiga bulan."
Bapak itu menghela napas. "Delapan puluh ribu. Ambil atau tidak?"
"Delapan puluh ribu deal, Pak."
"Baik. Uang muka tiga bulan. Jadi dua ratus empat puluh ribu. Kasih sekarang."
Riyadi merogoh sakunya. Ia mengeluarkan uang kertas dengan hati hati. "Ini, Pak. Dua ratus lima puluh ribu. Sepuluh ribunya buat Bapak makan siang."
"Terima kasih, Nak. Kamu baik. Semoga betah di sini."
Mereka masuk ke petak kayu itu. Badrun meletakkan ranselnya di lantai. Ia duduk dengan wajah lesu.
"Ri, ini sangat kecil. Aku tidak bisa bergerak bebas."
"Kita bisa menyesuaikan, Run. Dulu nenek moyang kita hidup di gua yang lebih kecil dari ini. Mereka bisa bertahan, kenapa kita tidak?"
"Kau ini suka membandingkan dengan masa lalu, Ri."
"Masa lalu adalah guru terbaik, Run."
Badrun menggelengkan kepala. Ia mulai membuka ranselnya dan mengeluarkan tikar pandan yang dibawa dari desa.
"Aku tidak akan bertahan lama di sini, Ri. Aku yakin itu."
"Kita lihat saja nanti, Run. Jangan menyerah sebelum mencoba."
Keesokan harinya, Riyadi dan Badrun bangun pukul lima pagi. Mereka berdua mandi di kamar mandi umum yang becek dan bau. Antreannya panjang. Harus sabar menunggu giliran.
"Run, hari ini kita cari kerja. Kita jalan ke pasar dekat sini. Biasanya banyak yang butuh kuli angkut."
"Kuli angkut, Ri? Itu berat. Aku tidak kuat. Aku tidak sekuat kau."
"Kita tidak punya pilihan, Run. Selama tidak ada pekerjaan lain, kita harus melakukan apa pun yang halal."
Mereka berjalan ke Pasar Sudimampir—pasar tradisional terbesar di Banjarmasin. Di sana, ribuan pedagang berjualan. Sayur mayur, buah buahan, daging, ikan, pakaian, mainan anak anak, semuanya ada. Suasana sangat ramai dan bising. Pedagang saling berteriak menawarkan barang. Pembeli menawar dengan harga selangit. Anak anak kecil berlarian di antara kaki kaki orang dewasa.
"Ri, lihat! Banyak sekali durian! Aku suka durian! Tapi mahal, ya?" Badrun menunjuk ke arah lapak buah yang dipenuhi tumpukan durian montok.
"Fokus, Run. Jangan lihat durian. Lihat lowongan kerja."
Mereka berkeliling hingga menemukan seseorang yang sedang mencari kuli angkut. Pria itu bertubuh tegap dengan kumis tebal dan perut buncit. Namanya Haji Rahman—salah satu pedagang grosir beras terbesar di pasar itu.
"Kalian mau jadi kuli angkut?" tanyanya sambil mengisap rokok. Asap mengepul dari hidung dan mulutnya seperti naga kecil yang sedang marah.
"Iya, Pak. Kami berdua," jawab Riyadi tegas.
"Kalian kuat? Ini beras. Sekali angkut bisa lima puluh kilogram naik turun truk. Bayarannya tujuh puluh lima ribu per hari. Potong makan dan transport."
"Baik, Pak. Kami terima."
"Jangan bilang baik dulu. Coba dulu. Nanti sore gajian. Kalau kalian lemah, jangan harap saya bayar."
Badrun gugup. "Ri, lima puluh kilogram itu berat, Ri. Aku tidak yakin."
"Coba dulu, Run. Jangan takut sebelum mencoba."
Mereka mulai bekerja. Riyadi mengangkat beras dengan kuat. Ia terbiasa mengangkat getah karet puluhan kilogram setiap hari di kebun. Tapi Badrun tidak terbiasa. Tubuhnya yang tambun tidak terbiasa dengan kerja fisik seberat itu.
"Run, kau bisa, Run. Jangan menyerah!" semangat Riyadi.
"Berat, Ri. Berat sekali. Aku tidak... aku tidak kuat..."
Badrun menjatuhkan karung beras di lantai. Berasnya tumpah sedikit. Haji Rahman yang melihat langsung berteriak.
"Kau! Kau kenapa! Berasnya tumpah! Potong gaji lima puluh ribu!"
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja."
"Tidak sengaja? Semua orang tidak sengaja, tapi saya yang rugi! Kerja yang benar! Atau pergi sana!"
Badrun menunduk. Air matanya hampir menetes. Tapi ia menahan.
"Run, istirahat dulu. Aku saja yang angkat semuanya," kata Riyadi.
"Tidak, Ri. Aku tidak mau jadi beban. Aku akan coba lagi."
Badrun mengangkat lagi karung beras itu. Kali ini ia berhasil. Ia berjalan perlahan menuju truk. Setiap langkah terasa berat. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Wajahnya merah seperti kepiting rebus.
"Ayo, Run! Kau hebat!"
Badrun tersenyum. Untuk pertama kalinya pagi itu, ia merasa sedikit percaya diri.
Sore harinya, setelah bekerja selama sepuluh jam tanpa istirahat kecuali untuk makan siang dan sholat, Riyadi dan Badrun duduk di trotoar dekat pasar. Badrun kelelahan. Tubuhnya terasa remuk seperti diinjak injak gajah. Tangannya gemetar. Kakinya kram. Punggungnya terasa seperti terbakar.
"Ri, aku tidak bisa terus begini. Badanku tidak kuat," keluh Badrun sambil mengusap keningnya yang penuh keringat. Bajunya basah seperti habis direndam di sungai.
"Kita lihat besok, Run. Mungkin besok kita cari kerja yang lebih ringan."
"Kerja apa yang lebih ringan? Lulusan SMP seperti kita, mana ada yang mau menerima. Paling jadi kuli atau pembantu."
"Jangan pesimis, Run. Masih banyak jenis pekerjaan lain. Kita bisa jadi pedagang asongan. Atau jadi tukang ojek. Atau jadi buruh bangunan."
"Tukang ojek? Kita tidak punya motor. Buruh bangunan? Itu sama beratnya dengan kuli angkut."
"Kita bisa belajar, Run. Semua butuh proses."
Haji Rahman datang menghampiri mereka. Di tangannya, dua lembar uang lima puluh ribuan. "Ini gaji kalian. Potong makan dan transport. Masing masing lima puluh ribu."
"Tadi Bapak bilang tujuh puluh lima ribu, Pak," protes Riyadi.
"Tadi, iya. Tadi. Tapi setelah lihat kalian kerja, kayaknya tidak worth it. Lima puluh ribu sudah bagus."
"Tapi Pak, kami bekerja dari jam enam sampai jam empat. Itu sepuluh jam. Upah minimum di Banjarmasin lebih dari itu."
"Kau ini pekerja atau aktivis? Terima atau tidak? Kalau tidak, cari tempat lain."
Riyadi menghela napas. "Baik, Pak. Kami terima."
Ia mengambil uang itu. Lima puluh ribu untuk sepuluh jam kerja. Itu sangat kecil. Tapi daripada tidak dapat sama sekali.
"Ri, ini sangat kecil. Tidak cukup untuk makan sehari," bisik Badrun.
"Aku tahu, Run. Tapi lebih baik daripada mengemis."
Mereka berjalan pulang ke petak kayu sempit itu. Sepanjang jalan, mereka tidak bicara sepatah kata pun. Hanya suara langkah kaki yang terdengar di atas aspal yang panas.
Di petak kayu itu, Riyadi duduk di lantai sambil memegang amplop cokelat pemberian Aryanti. Amplop itu sudah ia buka, isinya surat yang sudah ia baca puluhan kali. Setiap kali ia membaca surat itu, ia merasa segar kembali. Seperti pohon yang layu disiram air hujan.
Untuk Riyadi,
Assalamu'alaikum.
Ini adalah surat pertama yang pernah aku tulis untukmu. Mungkin juga surat terakhir jika kau tidak membalasnya. Tapi aku berharap kau membalasnya. Aku berharap kau tidak melupakanku di perantauan nanti...
Riyadi membaca surat itu lagi. Air matanya menetes pelan.
"Yan, aku rindu kamu. Tapi aku belum bisa pulang. Aku belum mencapai apa apa."
Badrun yang sedang berbaring di sampingnya mendengar isak Riyadi.
"Ri, kau menangis?"
"Tidak, Run. Debu masuk mata."
"Jangan bohong. Aku tahu kau sedang membaca surat dari Aryanti. Aku juga menangis kalau membaca surat dari Ningsih."
"Ningsih? Kau dapat surat dari Ningsih?"
"Iya. Kemarin, sebelum berangkat, Ningsih ngasih aku surat. Tapi aku belum baca. Aku simpan dulu. Nanti kalau aku sudah benar benar putus asa, aku baca."
"Kenapa belum kau baca?"
"Karena aku takut. Takut kalau surat itu membuatku semakin rindu. Takut kalau aku tidak kuat menahan perasaan."
Riyadi menghela napas. "Aku sudah membaca surat Aryanti puluhan kali. Setiap kali aku membacanya, aku merasa dia ada di sini. Di sampingku. Menghiburku."
"Itu bagus, Ri. Berarti kau punya semangat."
"Tapi aku juga semakin rindu, Run. Rindu yang menyiksa."
"Kita harus kuat, Ri. Ini pilihan kita. Kita yang memilih merantau. Kita harus bertanggung jawab pada pilihan kita."
"Aku tahu, Run. Tapi kadang aku berpikir, apa yang aku lakukan ini benar? Apa aku tidak sebaiknya tetap di desa, menikahi Aryanti, dan hidup sederhana?"
"Kau tidak akan bahagia dengan hidup sederhana, Ri. Kau tahu itu. Kau punya mimpi besar. Kau ingin membuktikan sesuatu. Jangan biarkan rasa rindu mengalahkan mimpimu."
Riyadi diam. Badrun benar. Ia punya mimpi. Mimpi besar. Mimpi yang tidak akan tercapai jika ia terus bersembunyi di desa.
"Terima kasih, Run. Kau sahabat sejati."
"Sudah, jangan cengeng. Ayo tidur. Besok kita cari kerja lagi."
Pagi harinya, Riyadi terbangun lebih dulu. Ia bangun dan mengguncang guncangkan badan Badrun. "Run, bangun. Kita harus cari kerja."
Badrun tidak bergerak.
"Run, bangun! Jangan malas!"
Badrun tetap tidak bergerak. Riyadi menyentuh kening Badrun. Panasnya luar biasa. Demam tinggi.
"Run, kau demam! Sejak kapan?"
Badrun membuka matanya dengan susah payah. Matanya sayu, merah, tidak bercahaya seperti biasanya. "Ri, aku tidak enak badan. Semalaman aku meriang. Tenggorokanku sakit. Kepalaku pusing."
"Kenapa tidak bilang dari tadi malam?"
"Aku tidak mau mengganggu tidurmu. Kau sudah lelah."
"Diamlah, Run. Jangan bicara banyak. Aku cari obat dulu."
Riyadi keluar petak kayu itu. Ia berjalan cepat ke warung terdekat. "Pak, ada obat penurun panas?"
"Ada, Nak. Yang mana? Yang tablet atau yang bubuk?"
"Yang murah saja, Pak."
"Ini, dua ribu. Tiga butir."
Riyadi membayar dengan uang recehan yang tersisa. Ia kembali ke petak kayu dan memberikan obat itu pada Badrun.
"Minum, Run. Dua butir saja. Satu untuk nanti malam."
"Ri, uang kita tinggal berapa?"
"Jangan pikirkan uang, Run. Yang penting kau sembuh."
"Berapa, Ri. Jujur padaku."
Riyadi merogoh sakunya. Ia menghitung uang yang tersisa. "Tinggal dua ratus dua puluh ribu, Run."
"Wah, sedikit sekali, Ri. Itu tidak cukup untuk seminggu."
"Makanya kau harus cepat sembuh. Kita harus bekerja lagi."
"Aku akan coba, Ri. Tapi maaf, aku jadi beban."
"Kau bukan beban, Run. Kau sahabatku. Dan sahabat wajib ditolong."
Karena Badrun sakit, Riyadi pergi bekerja sendirian ke pasar. Ia kembali menawarkan jasanya pada Haji Rahman.
"Kau sendirian, Nak? Temanmu yang gemuk itu mana?"
"Sakit, Pak. Ia demam."
"Wah, sayang sekali. Saya butuh banyak orang hari ini. Stok beras dari Banjarbaru datang. Dua truk penuh."
"Saya bisa bekerja lebih keras, Pak. Saya bisa menggantikan dua orang."
"Kau ini sombong, Nak. Tapi baiklah. Saya kasih kau pekerjaan. Tapi upah tetap satu orang. Tidak ada tambahan."
"Tidak masalah, Pak. Yang penting saya bisa dapat uang."
Riyadi bekerja seperti mesin. Ia mengangkat karung beras satu per satu. Puluhan kilogram setiap karung. Puluhan karung setiap truk. Badannya yang kurus itu bergerak cepat seperti tidak mengenal lelah. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Wajahnya memerah. Tangannya mulai melepuh. Tapi ia tidak berhenti.
Haji Rahman yang melihat Riyadi bekerja tercengang. "Kau ini kuat juga, Nak. Padahal badanmu kurus."
"Saya terbiasa mengangkat getah karet, Pak. Puluhan kilogram setiap hari sejak kecil."
"Bagus. Besok kau kerja lagi di sini. Saya akan naikkan upahmu menjadi seratus ribu per hari."
"Terima kasih, Pak."
Riyadi tersenyum dalam hati. Seratus ribu per hari. Jika ia bekerja dua puluh lima hari sebulan, ia bisa mendapatkan dua setengah juta. Cukup untuk makan, sewa, dan mengirim uang ke Mak Tonah.
Tapi di balik senyumnya, tubuhnya mulai kelelahan. Tangannya gemetar. Kakinya kram. Punggungnya terasa seperti ditusuk tusuk.
"Jangan menyerah, Riyadi," bisiknya pada diri sendiri. "Ini perjuanganmu. Ini jalan yang kau pilih. Jangan menyerah."
Dua hari kemudian, Badrun mulai sembuh. Demamnya turun. Tenggorokannya tidak sakit lagi. Tapi badannya masih lemas. Ia belum bisa bekerja.
"Ri, uang kita tinggal berapa sekarang?"
"Sisa seratus lima puluh ribu, Run. Ini sudah termasuk biaya obat dan makan kita selama dua hari."
"Wah, sedikit sekali, Ri. Bagaimana cara kita bertahan?"
"Aku masih bekerja dengan Haji Rahman. Ia naikkan upahku menjadi seratus ribu per hari. Jadi setiap hari aku bisa dapat seratus ribu. Setelah dipotong makan dan transport, sisa sekitar tujuh puluh ribu."
"Tapi kau bekerja sendirian, Ri. Kau pasti kelelahan."
"Aku kuat, Run. Aku sudah terbiasa."
"Bohong. Aku lihat tanganmu. Melepuh semua. Kau pasti tidak tidur nyenyak karena pegal."
"Tidak masalah, Run. Yang penting kita bisa bertahan."
"Besok aku ikut bekerja, Ri. Aku sudah sembuh. Aku tidak mau kau bekerja sendirian terus."
"Kau yakin? Jangan memaksakan diri."
"Aku yakin, Ri. Aku tidak tega melihat kau menderita sendirian."
Mereka berdua menangis. Bukan menangis karena sedih, tapi menangis karena haru. Mereka sadar bahwa persahabatan mereka lebih berharga dari apa pun di dunia ini.
Di Desa Sriwidadi, dua minggu telah berlalu sejak kepergian Riyadi. Aryanti setiap hari pergi ke kantor pos desa untuk menanyakan apakah ada surat untuknya. Setiap hari ia pulang dengan tangan kosong. Hatinya semakin cemas.
"Bu, ada surat untuk saya?" tanya Aryanti pada ibu kantor pos.
"Sebentar, Nak. Saya cek dulu."
Ibu itu membuka lemari kayu berisi tumpukan surat. Wajahnya berkerut membaca satu per satu amplop yang tersusun rapi berdasarkan abjad.
"Wah, ada, Nak. Namanya Aryanti, kan?"
"Iya, Bu! Saya Aryanti!"
"Ini surat dari Banjarmasin."
Aryanti mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Ia membaca alamat pengirim: Riyadi, Petak Kayu No.7, Gang Karet, Belakang Pasar Sudimampir, Banjarmasin.
"Ini dari Riyad! Nonik, ini dari Riyad!" Aryanti memeluk boneka Nonik yang selalu ia bawa ke mana mana.
Ia berlari pulang ke rumah tanpa peduli orang orang yang melihatnya. Sampai di kamar, ia duduk di tempat tidur dan membuka amplop itu perlahan, seperti orang yang membuka peti harta karun.
Untuk Aryanti,
Assalamu'alaikum.
Yan, maaf baru sekarang aku bisa menulis surat. Dua minggu pertama di Banjarmasin sangat berat. Aku dan Badrun tinggal di petak kayu kecil di belakang pasar. Kecil sekali, Yan. Tidak lebih besar dari kandang ayam di rumahmu.
Tapi aku bersyukur masih punya tempat tinggal. Banyak orang di sini yang tidur di emperan toko. Aku lebih beruntung dari mereka.
Aku sudah bekerja sebagai kuli angkut beras. Upahnya kecil, Yan. Hanya lima puluh ribu per hari. Tapi setelah Badrun sakit dan aku bekerja sendirian, Haji Rahman naikkan upahku menjadi seratus ribu. Itu lumayan.
Badrun sekarang sudah sembuh. Ia akan bekerja lagi besok. Kami akan berhemat. Kami akan menabung. Suatu hari nanti, kami akan buka usaha sendiri.
Yan, aku rindu kampung halaman. Aku rindu ibuku. Aku rindu dermaga itu. Tapi yang paling aku rindukan adalah kau. Setiap malam, sebelum tidur, aku membaca suratmu. Surat itu membuatku kuat. Surat itu membuatku percaya bahwa apa pun yang terjadi, ada seseorang yang menungguku di kampung.
Doakan aku, Yan. Doakan aku agar sukses. Doakan aku agar cepat kaya. Doakan aku agar cepat pulang dan menjemputmu.
Salam rindu yang tak terkira,
Riyadi
Aryanti membaca surat itu berulang ulang. Air matanya mengalir deras. Bukan air mata sedih, tapi air mata haru. Air mata karena ia tahu bahwa Riyadi baik baik saja. Riyadi masih hidup. Riyadi masih ingat padanya.
"Nonik, ia baik baik saja. Ia bekerja keras di Banjarmasin. Ia masih ingat padaku. Ia masih mencintaiku."
Boneka itu tersenyum.
"Aku harus membalas suratnya. Aku harus memberitahu bahwa aku baik baik saja. Bahwa aku menunggunya. Bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintainya."
Aryanti mengambil kertas dan pulpen. Ia mulai menulis surat balasan untuk Riyadi. Surat kedua yang ia tulis untuk seorang laki laki.
Untuk Riyadi,
Assalamu'alaikum.
Riyad, suratmu sudah aku terima. Aku sangat senang. Aku sangat bahagia. Aku bahkan menangis membacanya. Jangan tertawa, ya. Air mata ini air mata bahagia. Air mata karena aku tahu kau baik baik saja.
Riyad, aku juga ingin kau tahu bahwa aku baik baik saja di sini. Kadir sudah ditahan polisi. Ia dipenjara selama satu tahun karena kasus fitnah. Ibunya menangis setiap hari. Haji Bahar datang ke rumahku dan minta maaf. Ia bilang ia sangat malu dengan perbuatan anaknya.
Ibu sudah mulai melunak. Ia tidak lagi membicarakan Kadir. Ia juga tidak lagi melarangku menunggumu. Aku pikir ibu mulai menerima kenyataan bahwa kau adalah pilihanku.
Riyad, kau jangan terlalu memaksakan diri. Jangan terlalu capek bekerja. Ingat kesehatan. Kalau kau sakit, siapa yang akan menjagamu di perantauan? Badrun mungkin, tapi Badrun juga butuh dijaga.
Aku di sini selalu mendoakanmu. Setiap habis sholat, aku panjatkan doa untuk kesuksesanmu. Juga untuk keselamatanmu. Juga untuk kesehatanmu. Juga untuk segala hal baik yang kau butuhkan.
Riyad, jangan lupa pulang. Aku menunggumu di dermaga itu. Di tempat kita dulu. Aku akan selalu ada di sana. Setiap sore. Setiap senja. Menunggumu.
Dengan segala cinta yang tidak pernah padam,
Aryanti
Aryanti melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia menulis alamat Riyadi dengan rapi. Lalu ia berjalan ke kantor pos.
"Bu, saya mau kirim surat."
"Ke mana, Nak?"
"Ke Banjarmasin."
"Wah, jauh itu, Nak. Ongkosnya tiga ribu."
Aryanti merogoh sakunya. Uangnya pas tiga ribu. Ia serahkan semuanya pada ibu kantor pos.
"Ini, Bu."
"Terima kasih, Nak. Semoga suratnya cepat sampai."
Aryanti berjalan pulang dengan hati berbunga bunga. Nonik ia peluk erat erat.
"Nonik, besok ia akan senang menerima suratku. Ia akan tahu bahwa aku baik baik saja. Ia akan tahu bahwa aku menunggunya."
Boneka itu tersenyum.
"Nonik, aku janji. Aku tidak akan pernah berhenti menulis surat untuknya. Sampai ia kembali. Sampai kita bertemu lagi. Sampai kita bersama selamanya."
Di Banjarmasin, Riyadi juga sedang menulis surat untuk Aryanti. Surat kedua. Surat yang berisi cerita tentang perjuangannya, tentang mimpinya, tentang rindunya.
Dua hati yang terpisah ribuan kilometer terus berkomunikasi melalui surat. Di atas kertas kertas murah yang dibeli di warung pinggir jalan. Dengan tinta yang kadang luntur terkena air hujan atau air mata.
Tapi cinta mereka tidak luntur. Cinta mereka tetap kuat. Cinta mereka menjadi bahan bakar untuk terus berjuang. Untuk terus bertahan. Untuk terus berharap.
BAB XI
PAKSAAN KELUARGA
Tiga bulan telah berlalu sejak Riyadi merantau ke Banjarmasin. Di Desa Sriwidadi, kehidupan berjalan seperti biasa. Sawah tetap menghijau. Karet tetap disadap. Sungai Kapuas tetap mengalir. Namun di rumah Aryanti, suasana mulai berubah. Saripah yang sebelumnya mulai melunak hatinya terhadap Riyadi, kini kembali dipengaruhi oleh bisik bisik tetangga dan keluarga.
Suatu pagi, Tante Mina datang lagi. Kali ini ia membawa seorang pria paruh baya yang tidak pernah Aryanti kenal sebelumnya. Pria itu mengenakan kemeja batik lengan panjang, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Rambutnya disisir rapi dengan minyak rambut wangi yang menyengat. Wajahnya bulat dengan kumis tipis di atas bibir yang tampak selalu tersenyum.
"Yan, ini Pak Sukirman. Beliau utusan dari keluarga Haji Dahlan di Kuala Kapuas," kata Tante Mina sambil tersenyum lebar. Senyumnya seperti buaya yang baru menemukan mangsa.
"Ada keperluan apa, Tante?" tanya Aryanti curiga. Matanya menyipit, alisnya berkerut. Ia sudah bisa menebak maksus kedatangan orang asing ini.
"Pak Sukirman di sini ingin melamarmu, Yan. Putra Haji Dahlan, namanya Husin. Anaknya ganteng, kaya, punya usaha batu bata, dan rumahnya besar di pinggir jalan raya."
Aryanti terdiam. Dadanya terasa sesak seperti diremas remas oleh tangan tak terlihat. Ia menoleh ke arah ibunya yang duduk diam di sudut ruangan dengan wajah tidak enak. "Ma, apa benar ini? Ibu setuju?"
Saripah menghela napas. Tangannya yang sedang memegang ujung sarungnya mulai gemetar. "Yan, ibu sudah pikirkan ini matang matang. Riyadi sudah tiga bulan di Banjarmasin. Katanya kerja jadi kuli angkut. Sampai kapan kau menunggu? Sampai kapan kau berharap? Hidup ini tidak bisa hanya mengandalkan surat suratan."
"Tapi Ma, aku sudah bilang. Aku akan menunggu Riyadi. Berapa pun lama waktu yang ia butuhkan."
"Kau bilang begitu sekarang, Yan. Tapi nanti kalau lima tahun belum kembali? Sepuluh tahun? Kau masih mau menunggu? Umurmu tidak akan muda selamanya. Kau lihat Tanti, teman sekelasmu dulu. Ia menunggu kekasihnya sembilan tahun, tapi sampai sekarang tidak kembali. Sekarang ia tua, tidak laku, dan hidup menderita."
"Tapi Riyadi berbeda, Ma. Ia akan kembali. Ia sudah berjanji."
"Janji laki laki di perantauan tidak bisa dipegang, Yan. Ibu sudah sering melihat contohnya. Mereka pergi dengan janji manis, lalu melupakan kampung halaman setelah sukses."
Aryanti menangis. Air matanya mengalir deras. "Ma, aku tidak akan menikah dengan Husin atau siapa pun. Aku hanya mau Riyadi. Hanya Riyadi."
Tante Mina yang mendengar itu langsung bersungut sungut. Wajahnya berubah merah seperti cabai. "Yan, kau ini anak durhaka. Ibumu sudah bersusah payah membesarkanmu sendiri setelah ayahmu mati. Dan sekarang kau melawan kehendaknya? Apa kau tidak punya rasa terima kasih?"
"Tante, saya berterima kasih pada ibu. Tapi saya tidak akan membalas kebaikan ibu dengan menikahi laki laki yang tidak saya cintai."
Pak Sukirman yang dari tadi diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya berat dan tenang, seperti orang yang terbiasa memerintah dan dipatuhi. "Bu Saripah, sepertinya kita harus membicarakan ini lain waktu. Anak Ibu masih keras kepala. Mungkin perlu pendekatan yang lebih lembut."
Saripah tersipu malu. "Maaf, Pak Sukirman. Aryanti memang sedang bad mood. Lain kali saya akan bicara lebih serius dengannya."
"Tidak masalah, Bu. Saya mengerti. Anak muda zaman sekarang memang begitu. Tapi jangan lama lama, Bu. Husin tidak sabar. Ia sudah sering dengar tentang kecantikan Aryanti dari mulut ke mulut."
"Insya Allah, Pak Sukirman. Saya akan usahakan."
Setelah Pak Sukirman dan Tante Mina pergi, Aryanti langsung masuk ke kamarnya dan mengunci pintu. Ia duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya, dan menangis sekeras kerasnya. Boneka Nonik ia campakkan ke lantai. Untuk pertama kalinya, ia merasa marah pada boneka itu. Marah karena boneka itu tidak bisa membantunya. Marah karena boneka itu diam saja melihat penderitaannya.
"Nonik, kenapa ibu tega melakukan ini? Kenapa ia tidak bisa mengerti perasaanku? Kenapa ia selalu memaksakan kehendaknya?"
Boneka itu tergeletak di lantai dengan wajah tersenyum. Jahitan bibirnya yang mulai lepas itu seolah mengejek.
"Nonik, aku capek. Aku sangat capek. Setiap hari aku harus melawan ibu. Setiap hari aku harus menolak lamaran. Setiap hari aku harus mendengar ceramah tentang uang, tentang status, tentang masa depan. Kapan ini akan berakhir?"
Saripah mengetuk pintu kamar Aryanti dari luar. "Yan, buka pintu. Ibu mau bicara."
"Pergi, Ma! Aku tidak mau bicara!"
"Yan, jangan emosi. Ibu hanya ingin kau bahagia."
"Bahagia? Memaksa aku menikah dengan orang yang tidak aku cintai, itu namanya bahagia, Ma?"
"Yan, percayalah pada ibu. Ibu lebih tahu apa yang terbaik untukmu."
"Tidak, Ma. Ibu tidak tahu apa yang terbaik untukku. Ibu hanya tahu apa yang terbaik untuk ibu. Ibu hanya ingin hidup enak dengan uang lamaran."
Terdengar suara tamparan keras. Saripah membuka pintu dengan paksa dan menampar pipi Aryanti. Wajahnya merah padam, matanya melotot, napasnya memburu seperti kerbau yang baru saja selesai membajak sawah.
"Kurang ajar kau! Berani beraninya kau bicara seperti itu pada ibumu!" teriak Saripah. Suaranya memenuhi seluruh ruangan, bahkan sampai terdengar oleh tetangga yang sedang lewat di depan rumah.
Aryanti terisak. Ia tidak menyangka ibunya akan menamparnya. Selama ini mereka bertengkar, tapi belum pernah sampai fisik. Tangannya mengusap pipinya yang terasa panas dan perih. "Ma, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud..."
"Kau sudah bermaksud, Yan! Ibu tahu kau sudah tidak menghormati ibu lagi. Sejak kau dekat dengan Riyadi, kau berubah. Dulu kau penurut, sekarang kau keras kepala. Dulu kau manis, sekarang kau galak. Itu semua pengaruh Riyadi!"
"Ma, jangan salahkan Riyadi. Ini murni pendirianku sendiri."
"Pendirianmu sendiri? Hah! Kau bahkan tidak tahu apa itu pendirian. Yang kau tahu hanya cinta buta!"
Saripah keluar dari kamar sambil membanting pintu. Aryanti jatuh tersungkur di lantai. Air matanya bercampur dengan debu. Nonik ia ambil dan ia peluk erat erat.
"Nonik, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus menyerah? Apa aku harus menerima lamaran Husin?"
Boneka itu tetap diam.
Tiga hari kemudian, Husin datang sendiri ke rumah Aryanti. Ia tidak memakai rombongan, tidak membawa seserahan, hanya seorang diri dengan sepeda motor baru warna hitam mengkilap. Rambutnya disisir rapi ke belakang, wajahnya bersih tanpa bulu, dan matanya sipit dengan senyum yang dibuat buat ramah.
"Selamat sore, Bu Saripah. Saya Husin. Putra Haji Dahlan." Ia menyalami Saripah dengan hormat, lalu memberikan sebuah kotak berlapis kertas kado berwarna merah. "Ini buah tangan untuk Ibu."
Saripah tersenyum lebar. Wajahnya yang biasanya masam itu langsung berubah cerah seperti bunga yang mekar setelah disiram hujan. "Wah, Husin, kau baik sekali. Padahal belum resmi lamaran, sudah bawa oleh oleh."
"Tidak ada salahnya, Bu. Saya ingin kenal lebih dekat dengan keluarga. Aryanti di mana?"
"Di kamar. Aku panggilkan."
Saripah memanggil Aryanti. Aryanti keluar dengan wajah cemberut. Ia duduk di kursi jauh dari Husin. Matanya tidak mau menatap.
"Selamat sore, Aryanti. Saya Husin." Husin mengulurkan tangan.
Aryanti tidak menyambut. "Selamat sore."
Husin menarik tangannya kembali. Wajahnya sedikit tersinggung, tapi ia tetap tersenyum. Saripah melihat itu dan mulai gugup. "Yan, sapa tamu dengan baik. Jangan cemberut begitu."
"Ma, aku sudah menyapa. Itu sudah cukup."
Husin tertawa kecil. Tawanya canggung, seperti orang yang dipaksa tertawa oleh situasi. "Bu, tidak apa apa. Aryanti mungkin masih malu. Itu wajar."
"Bukan malu, Den. Saya tidak berminat," kata Aryanti ketus.
Saripah hampir naik pitam. Wajahnya berubah merah lagi. "Aryanti! Jangan bicara seperti itu!"
"Ma, aku hanya jujur. Bukankah lebih baik jujur sejak awal daripada memberi harapan palsu?"
Husin menghela napas. "Aryanti, saya dengar kau sedang menunggu seseorang. Riyadi namanya. Pemuda yang merantau ke Banjarmasin. Benarkah itu?"
Aryanti terkejut. "Siapa yang bilang?"
"Semua orang di desa ini tahu, Aryanti. Tidak ada yang rahasia."
"Kalau Den sudah tahu, kenapa Den masih datang?"
"Karena saya orang yang tidak mudah menyerah. Saya percaya bahwa cinta bisa tumbuh. Mungkin awalnya kau tidak suka, tapi lama lama kau akan suka."
"Den, cinta itu bukan bibit pohon yang bisa ditanam. Cinta itu lahir dengan sendirinya."
"Kau terlalu romantis, Aryanti. Di dunia nyata, cinta bisa diusahakan."
"Silakan Den berusaha. Tapi saya tidak akan berubah."
Husin berdiri. "Baiklah, Bu Saripah. Saya minta diri. Lain kali saya datang lagi. Mudah mudahan Aryanti sudah berubah pikiran."
"Maaf, Nak Husin. Anak saya memang keras kepala. Saya akan bicara lagi dengannya."
"Tidak usah dipaksa, Bu. Biar saya yang berusaha."
Malam itu, keluarga besar Aryanti datang. Kakeknya, neneknya, pamannya, bibinya, sepupu sepupunya—semua datang ke rumah. Mereka duduk di ruang tamu dengan wajah wajah serius seperti orang yang akan menghadiri pemakaman.
"Yan, dengar kata kakek. Terima lamaran Husin. Ia anak orang kaya. Masa depanmu terjamin," kata Kakek Sarbini dengan suara berat. Matanya yang sudah rabun itu tetap menatap tajam ke arah Aryanti.
"Kakek, saya tidak butuh harta. Saya butuh cinta."
"Omon omon! Cinta itu tidak akan membuatmu kenyang, Yan!" sahut Nenek Patimah dari samping kakek. Wajahnya keriput, tapi suaranya masih lantang seperti waktu muda. "Kakekmu dulu tidak kaya, lihat sekarang kami tua hidup menderita. Rumah bocor di mana mana, makan saja kadang tidak ada."
"Tapi Nenek, saya yakin Riyadi akan sukses. Ia pekerja keras. Ia tidak akan mengecewakan saya."
"Kau hanya berharap, Yan. Belum tentu kenyataan," kata Paman Karim, adik Saripah yang paling vokal. Ia bertubuh tegap dengan wajah yang selalu merah karena terlalu banyak minum kopi. "Sudah tiga bulan ia di Banjarmasin, apa yang ia capai? Jadi kuli angkut! Itu pekerjaan rendahan!"
"Paman, tidak ada pekerjaan rendahan di mata Allah. Semua halal itu mulia."
"Aryanti, jangan sok suci. Dunia tidak semanis yang kau bayangkan," kata Bibi Yuli, yang terkenal dengan mulutnya yang paling tajam se keluarga. "Kuli angkut penghasilannya pas pasan. Tidak akan cukup untuk menghidupi istri."
"Bibi, saya bisa bekerja. Saya tidak akan jadi istri yang hanya diam di rumah."
"Kau pikir bekerja itu mudah? Di desa ini, perempuan yang bekerja dianggap rendah."
"Biarlah orang menganggap rendah, saya tidak peduli."
Suasana semakin panas. Semua anggota keluarga bergantian memberi nasihat, memaksa, bahkan mengancam. Aryanti hanya diam. Air matanya terus mengalir. Nonik ia peluk erat erat. Boneka itu satu satunya yang ia punya di tengah gempuran keluarganya sendiri.
Saripah yang melihat putrinya menangis, hatinya luluh. Tapi ia tidak bisa berbuat banyak. Ia dikepung oleh keluarga besarnya. Jika ia membela Aryanti, ia akan dianggap orang tua yang gagal mendidik anak.
"Yan, ibu mohon. Terima lamaran Husin. Ibu tidak akan memintamu lagi setelah ini."
"Ma, aku mohon. Jangan paksa aku."
"Aryanti, ibu sudah tua. Ibu tidak tahu sampai kapan hidup ibu. Ibu hanya ingin melihatmu bahagia sebelum ibu mati."
"Tapi Ma, aku tidak akan bahagia dengan Husin."
"Kau belum tahu, Yan. Coba dulu."
"Ma, memulai sesuatu dengan kepalsuan, pasti berakhir dengan kehancuran."
Paman Karim berdiri. "Sudahlah, Bu Saripah. Kalau anakmu keras kepala, biarkan. Nanti kalau ia menyesal, jangan salahkan keluarga."
"Iya, Bu Saripah. Kita sudah berusaha. Sekarang terserah Aryanti," tambah Bibi Yuli.
Para keluarga mulai pulang satu per satu. Kakek dan nenek pamit lebih dulu, diikuti oleh paman dan bibi, lalu sepupu sepupu. Rumah yang tadi ramai, sekarang sepi lagi. Hanya Saripah dan Aryanti yang tersisa.
Saripah menangis di ruang tamu. "Yan, ibu gagal jadi orang tua."
"Tidak, Ma. Ibu bukan gagal. Ibu hanya terlalu takut pada masa depan."
"Karena masa depan itu menakutkan, Yan. Ibu tidak ingin kau mengalaminya."
"Tapi Ma, masa depan juga indah. Ibu hanya perlu percaya."
Di Banjarmasin, Riyadi terus bekerja keras. Setiap malam, setelah seharian mengangkat karung beras, ia menulis surat untuk Aryanti. Surat itu berisi cerita tentang perjuangannya, tentang mimpinya, tentang rindunya. Ia menulis dengan sepenuh hati.
Untuk Aryanti, Bunga Desa yang Tak Pernah Layu
Yan, hari ini aku bekerja sangat keras. Haji Rahman memujiku. Ia bilang aku adalah kuli angkut terbaik yang pernah ia punya. Aku tersenyum mendengarnya, meskipun tubuhku remuk.
Yan, aku ingin kau tahu bahwa setiap tetes keringatku adalah untukmu. Setiap pegal di tubuhku adalah untuk masa depan kita. Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus bekerja sampai aku punya cukup uang untuk kembali ke desa dan melamarmu dengan cara yang layak.
Yan, aku rindu. Aku sangat rindu. Kadang di malam hari, ketika kota mulai sepi, aku membayangkan kau ada di sampingku. Membacakan puisi. Bercerita tentang desa. Tertawa dengan cara khasmu yang membuatku lupa pada semua kepenatan.
Sayangnya, surat ini tidak pernah sampai ke tangan Aryanti. Saripah yang pergi ke kantor pos setiap hari untuk mengambil surat sebelum Aryanti. Ia menyembunyikan surat surat Riyadi di dalam lemari kamarnya. Ia tidak ingin Aryanti terus berharap.
"Maaf, Yan. Ibu melakukan ini semua demi kebaikanmu," bisik Saripah sambil menyimpan surat Riyadi di dalam amplop besar.
Tapi Saripah tidak tahu bahwa suatu hari nanti, kebohongannya akan terbongkar. Dan ketika itu terjadi, ia akan kehilangan kepercayaan Aryanti selamanya.
Aryanti mulai curiga. Sudah sebulan ia tidak menerima surat dari Riyadi. Padahal sebelumnya, Riyadi rajin mengirim surat setiap minggu. Ia bertanya pada ibu kantor pos.
"Bu, apa ada surat untuk saya akhir akhir ini?"
Ibu kantor pos melihat daftar pengiriman. "Wah, ada beberapa, Nak. Tapi sudah diambil."
"Siapa yang mengambil, Bu?"
"Ibumu, Nak. Setiap hari ia datang ke sini. Katanya kau sibuk sekolah, jadi ia yang ambilkan."
Aryanti terkejut. "Ibu? Selama ini ibu yang ambil surat surat saya?"
"Iya, Nak. Kau tidak tahu?"
"Tidak, Bu. Sama sekali tidak tahu."
Aryanti pulang dengan perasaan campur aduk. Marah, kecewa, sedih. Ia langsung mencari ibunya.
"Ma, mana surat surat dari Riyadi?"
Saripah pucat. "Surat? Surat apa?"
"Jangan bohong, Ma. Ibu kantor pos bilang Ibu sudah mengambil beberapa surat untuk saya. Mana surat surat itu?"
Saripah terdiam. Ia tidak bisa berbohong lagi. "Maaf, Yan. Ibu menyembunyikannya."
"Kenapa, Ma? Kenapa Ibu tega melakukan ini?"
"Karena ibu tidak ingin kau terus berharap pada Riyadi. Ibu ingin kau move on. Ibu ingin kau menerima lamaran Husin."
Aryanti menangis. "Ma, Ibu telah menghancurkan kepercayaan saya. Ibu telah merusak hubungan saya dengan Riyadi."
"Ibu hanya ingin yang terbaik untukmu, Yan."
"Tapi Ma, yang terbaik menurut siapa? Menurut Ibu? Atau menurut saya? Saya yang akan menjalani hidup ini, Ma. Bukan Ibu."
Saripah menyerah. Ia mengeluarkan tumpukan surat dari lemarinya. "Ini, Yan. Surat surat dari Riyadi. Baca semuanya."
Aryanti mengambil surat surat itu dengan tangan gemetar. Satu per satu ia baca. Air matanya semakin deras.
Aryanti duduk di kamarnya. Ia membaca satu per satu surat yang selama ini disembunyikan ibunya.
Untuk Aryanti,
Yan, maaf aku belum bisa mengirim uang bulan ini. Upahku dipotong karena aku sakit tiga hari. Tapi jangan khawatir, aku sudah sembuh. Aku akan bekerja lebih keras lagi untuk mengganti kerugian.
Untuk Aryanti,
Yan, kemarin aku dan Badrun pindah ke petak kayu yang lebih besar. Sewanya lebih mahal, tapi lebih nyaman. Ada kamar mandi di dalam. Aku senang karena tidak perlu antre lagi kalau mau buang air.
Untuk Aryanti,
Yan, aku sedih. Badrun dipecat Haji Rahman karena ia menjatuhkan beras lagi. Kami harus mencari kerja lain. Hidup di Banjarmasin sangat berat. Tapi aku tidak akan menyerah. Aku janji.
Untuk Aryanti,
Yan, kemarin aku bertemu dengan seorang pengusaha kayu. Namanya Pak Harun. Ia menawari aku kerja di perusahaannya. Gajinya lebih besar. Tapi aku harus pindah ke daerah lain. Aku pikir pikir dulu.
Setiap surat berisi perjuangan, rindu, dan harapan. Aryanti menangis membacanya. Ia merasa bersalah karena selama ini ia tidak membalas surat surat itu. Padahal Riyadi pasti menunggu balasannya.
"Nonik, ia menderita di sana. Ia bekerja keras. Dan aku di sini tidak melakukan apa apa."
Boneka itu diam.
"Aku harus menulis surat untuknya. Aku harus memberitahu bahwa aku baik baik saja. Bahwa aku masih menunggunya. Bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintainya."
Aryanti mengambil kertas dan pulpen. Ia mulai menulis.
Keeseokan harinya, Husin datang lagi. Kali ini ia membawa ibunya—seorang perempuan gemuk dengan wajah bulat dan senyum lebar yang tidak pernah hilang. Ibu Husin bernama Hj. Fatimah, terkenal sebagai orang yang paling suka ikut campur urusan anaknya.
"Selamat pagi, Bu Saripah. Ini ibu saya. Beliau ingin kenalan dengan keluarga."
"Selamat pagi, Bu Fatimah. Mari masuk. Silakan duduk."
Mereka semua duduk di ruang tamu. Husin duduk di samping ibunya. Aryanti duduk di seberang mereka dengan wajah dingin. Hj. Fatimah tersenyum ramah pada Aryanti, tapi matanya seperti sedang memeriksa barang di pasar.
"Wah, cantik sekali anak Ibu, Bu Saripah. Pantas Husin jatuh hati."
"Terima kasih, Bu Fatimah. Aryanti memang cantik sejak kecil."
"Jadi, bagaimana dengan lamaran ini? Kapan kita bisa menentukan hari baik?"
Saripah gelisah. "Bu Fatimah, maaf. Aryanti masih belum bulat tekadnya. Ia masih menunggu seseorang."
"Menunggu siapa? Pemuda miskin yang merantau itu?" Hj. Fatimah tertawa kecil. Tawanya sinis, seperti pisau yang menyayat pelan. "Bu Saripah, jangan biarkan anak Ibu terjebak dalam mimpi. Laki laki di perantauan jarang yang kembali."
"Tapi Bu Fatimah..."
"Tidak ada tapi, Bu Saripah. Saya orang tua. Saya tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk anak. Husin adalah pilihan tepat untuk Aryanti. Keluarga kami kaya. Husin baik, tidak pernah main perempuan, tidak pernah mabuk, tidak pernah judi. Apa lagi yang kurang?"
Aryanti angkat bicara. "Bu Fatimah, saya hargai niat baik Ibu. Tapi saya tidak bisa menerima lamaran Husin."
Hj. Fatimah tersinggung. "Kenapa, Nak? Apa anak saya kurang?"
"Bukan kurang, Bu. Hanya saja hati saya belum bisa menerima."
"Hati bisa dilatih, Nak. Coba dulu. Nanti lama lama suka."
"Maaf, Bu. Saya tidak bisa memaksakan hati."
Hj. Fatimah berdiri. "Bu Saripah, saya rasa kita tidak perlu melanjutkan pembicaraan ini. Anak Ibu masih keras kepala. Saya tidak mau memaksa."
"Bu Fatimah, maafkan Aryanti. Ia masih muda."
"Tidak apa apa, Bu Saripah. Saya mengerti. Tapi ingat, tawaran ini tidak akan datang dua kali. Setelah ini, kami cari calon lain."
Husin menarik tangan ibunya. "Bu, jangan. Aryanti, tolong pertimbangkan lagi."
"Tidak perlu, Husin. Banyak perempuan lain di luar sana yang lebih baik dari dia."
Mereka pergi dengan wajah kesal. Saripah jatuh duduk di kursi. Wajahnya pucat. Ia menatap Aryanti dengan mata penuh kekecewaan.
"Yan, kau sudah mempermalukan keluarga."
"Ma, aku hanya mempertahankan pilihanku."
"Pilihanmu? Hanya surat surat dari Riyadi? Itu tidak cukup untuk hidup, Yan!"
"Tapi itu cukup untuk membuatku bahagia, Ma."
Tekanan dari keluarga, tekanan dari Husin, tekanan dari Aryanti—semuanya membuat Saripah stres. Ia jatuh sakit. Tubuhnya yang sudah lemah karena usia tidak kuat menahan beban pikiran. Ia terbaring di tempat tidur dengan demam tinggi, tubuhnya menggigil kedinginan meskipun selimut menutupi hingga ke dagu.
"Ma, minum obat dulu," kata Aryanti sambil memegang sendok berisi obat cair berwarna merah.
"Tidak usah, Yan. Biarkan ibu mati. Ibu sudah tidak berguna."
"Jangan bicara begitu, Ma. Ibu masih dibutuhkan."
"Siapa yang butuh ibu? Kau? Kau tidak pernah mendengarkan ibu. Kau hanya memikirkan dirimu sendiri."
"Ma, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakiti ibu."
"Kau sudah menyakiti ibu, Yan. Setiap hari. Setiap kali kau menolak lamaran, setiap kali kau membela Riyadi, setiap kali kau melawan kehendak ibu."
Aryanti menangis. "Ma, aku janji. Aku akan pertimbangkan lamaran Husin. Tapi beri aku waktu."
"Berapa lama lagi, Yan? Umur ibu tidak panjang."
"Tiga bulan, Ma. Beri aku tiga bulan. Kalau dalam tiga bulan Riyadi belum kembali atau belum ada kabar baik, aku akan terima lamaran Husin."
Saripah menghela napas. "Janji?"
"Janji, Ma. Demi Allah."
"Baik. Ibu percaya padamu. Tapi ingat, tiga bulan. Tidak lebih."
Aryanti mengangguk. Di hatinya, ia berdoa semoga Riyadi cepat kembali. Semoga Tuhan mengabulkan doanya.
Aryanti menulis surat untuk Riyadi. Surat yang paling panjang dan paling mengharukan yang pernah ia tulis.
Untuk Riyadi, Kekasih Hatiku yang Jauh di Perantauan
Riyad, aku di sini dalam tekanan. Ibu sakit. Keluarga besarku menekanku. Husin datang lagi dan lagi. Aku tidak kuat, Riyad. Aku tidak kuat terus melawan sendirian.
Aku sudah berjanji pada ibu. Tiga bulan. Jika dalam tiga bulan kau belum kembali atau belum ada kabar baik, aku harus menerima lamaran Husin.
Riyad, aku tidak tahu apakah surat ini akan sampai padamu. Ibu sering menyembunyikan surat suratmu dariku. Aku baru tahu belakangan ini. Maafkan aku jika selama ini aku tidak membalas surat suratmu. Bukan karena aku tidak peduli, tapi karena surat suratmu tidak pernah sampai ke tanganku.
Riyad, aku mohon. Pulanglah. Atau kirim kabar. Beri tahu aku bahwa kau baik baik saja. Beri tahu aku bahwa kau masih berjuang untuk kita. Aku hanya butuh harapan. Harapan bahwa semua ini tidak sia sia.
Aku mencintaimu, Riyad. Lebih dari apa pun di dunia ini. Tapi cinta saja tidak cukup. Aku butuh kepastian. Aku butuh kau di sini. Di sampingku. Menghadapi semua tekanan ini bersama sama.
Kalau kau tidak bisa pulang, setidaknya kirimkan doa untukku. Agar aku kuat. Agar aku tetap bertahan. Agar aku tidak menyerah pada keadaan.
Sampai jumpa di dermaga itu, Riyad. Atau selamat tinggal. Tergantung apa yang akan terjadi dalam tiga bulan ke depan.
Dengan cinta yang tidak pernah padam,
Aryanti
Aryanti mengirim surat itu melalui kantor pos. Ia meminta ibu kantor pos untuk merahasiakannya dari Saripah.
"Bu, tolong jangan beri tahu ibu saya kalau saya kirim surat ini."
"Iya, Nak. Saya rahasia."
"Terima kasih, Bu."
Aryanti pulang dengan hati yang sedikit lega. Setidaknya ia sudah berusaha. Sekarang ia hanya bisa berdoa dan menunggu.
BAB XII
PERGIMU, RIYADI
Dua minggu setelah Aryanti mengirim surat terakhirnya, surat itu akhirnya sampai ke tangan Riyadi. Hari itu hujan deras mengguyur Banjarmasin sejak pagi. Jalanan becek dan berlubang. Riyadi baru pulang dari bekerja sebagai kuli angkut di Pasar Sudimampir. Badannya basah kuyup, pakaiannya penuh lumpur, rambutnya menutupi dahi yang lelah.
"Ri, ada surat untuk kau!" teriak Badrun dari depan petak kayu mereka. Badrun sudah berdiri di bawah atap seng yang bocor, memegang amplop putih yang sedikit basah karena terkena tetesan hujan. Wajahnya berseri seri seperti orang yang baru menemukan uang di jalan.
Riyadi yang sedang mengganti baju basahnya langsung menoleh. "Surat dari siapa, Run?"
"Dari Aryanti! Tulisannya jelas! Aku kenal betul tulisannya! Bulat bulat kecil seperti cakar ayam!"
Riyadi meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Tangannya masih basah dan kotor, tapi ia tidak peduli. Ia segera membuka amplop itu perlahan, seperti seorang arkeolog yang membuka peti kuno berisi harta karun yang tak ternilai. Matanya membaca setiap kata dengan saksama, bibirnya bergerak gerak tanpa suara, alisnya berkerut di sana sini.
Badrun melihat wajah Riyadi berubah. Dari tegang menjadi pucat, dari pucat menjadi merah, dari merah menjadi pucat lagi. Matanya mulai berkaca kaca. Napasnya memburu.
"Ri, ada apa? Kabar buruk?" tanya Badrun cemas. Ia mendekat dan menatap surat itu dari samping, mencoba ikut membaca.
Riyadi tidak menjawab. Ia terus membaca sampai baris terakhir. Lalu ia terdiam. Surat itu jatuh dari tangannya. Ia duduk di lantai tanah yang becek, memeluk lututnya, dan menangis. Tangisnya keras, seperti tangis anak kecil yang kehilangan ibunya di tengah pasar yang ramai.
"Ri, kau menangis? Ada apa sih? Baca suratnya! Jangan diam saja!"
Badrun mengambil surat itu dan membacanya dengan suara terbata bata. "Riyad, aku di sini dalam tekanan... Ibu sakit... Keluarga besarku menekanku... Husin datang lagi dan lagi... Aku sudah berjanji pada ibu... Tiga bulan... Jika dalam tiga bulan kau belum kembali... Aku harus menerima lamaran Husin..."
Badrun terdiam. Ia menatap Riyadi dengan mata penuh iba. "Ri, ini serius. Aryanti akan dipaksa menikah dengan laki laki lain kalau kau tidak cepat pulang."
"Aku tahu, Run. Aku baca."
"Jadi apa yang akan kau lakukan?"
"Aku harus pulang, Run. Sekarang. Besok. Secepatnya."
"Kau gila, Ri? Kita tidak punya uang untuk ongkos pulang! Tiket kapal cepat saja lima ratus ribu! Ditambah ongkos bus, makan, dan lain lain! Uang kita tinggal dua ratus ribu!"
"Maka aku akan cari uang. Aku akan kerja siang malam. Aku akan kumpulkan uang sebanyak banyaknya."
"Kau tidak akan kuat, Ri. Badanmu sudah kurus. Kerja dari jam enam pagi sampai jam enam sore. Kau tidak pernah istirahat."
"Aku tidak peduli, Run. Aku akan kuat. Untuk Aryanti, aku rela mati sekalipun."
Badrun menghela napas panjang. "Baiklah, Ri. Aku akan bantu. Aku juga akan cari kerja sampingan. Kita kumpulkan uang bersama. Cepat atau lambat, kita pasti bisa pulang."
"Terima kasih, Run."
"Jangan berterima kasih. Ayo kita mulai sekarang."
Keesokan harinya, Riyadi bekerja lebih keras dari biasanya. Selain menjadi kuli angkut beras untuk Haji Rahman di pagi hingga sore hari, ia juga menjadi kuli angkut di pasar malam pada malam harinya. Badannya kurus, energinya terbatas, tapi semangatnya membara seperti api yang tidak bisa dipadamkan.
"Ri, kau gila! Kerja dua puluh jam sehari! Kau akan mati!" protes Haji Rahman ketika melihat Riyadi sudah datang pukul lima pagi, satu jam lebih awal dari biasanya.
"Saya butuh uang, Pak. Banyak uang. Saya harus cepat pulang ke kampung."
"Kampung? Di mana kampungmu?"
"Kuala Kapuas, Pak. Ada calon istri yang akan diambil orang lain kalau saya tidak cepat pulang."
Haji Rahman tertawa. "Wah, masalah cinta rupanya. Tapi hati hati, Nak. Cinta jangan sampai membunuhmu."
"Saya tidak takut mati, Pak. Saya takut kehilangan dia."
Haji Rahman menggelengkan kepala. "Anak muda. Selalu tergesa gesa."
Di pasar malam, Riyadi menjadi kuli angkut untuk pedagang ikan asin. Bau amis menyengat di seluruh penjuru. Udara panas dan lembab. Lantai becek oleh air dan darah ikan. Tapi Riyadi tidak mengeluh. Ia mengangkat karung karung ikan asin yang beratnya mencapai lima puluh kilogram lebih dari satu tempat ke tempat lain. Keringat bercucuran di sekujur tubuhnya. Wajahnya hitam oleh debu dan kotoran.
"Ri, kau tidak capek?" tanya Badrun yang ikut bekerja di pasar malam sebagai penjaga toko kelontong.
"Capek, Run. Tapi aku tidak peduli."
"Aku lihat tanganmu melepuh semua. Kau harus istirahat."
"Nanti, Run. Nanti kalau uang sudah terkumpul."
Pukul satu dini hari, Riyadi pulang ke petak kayu mereka. Tubuhnya lemas seperti kain basah. Ia merebahkan diri di lantai tanpa sempat mengganti pakaian.
"Ri, kau belum makan malam," kata Badrun sambil menyodorkan nasi bungkus yang sudah dingin.
"Aku tidak lapar, Run. Aku hanya ingin tidur."
"Kau harus makan! Badanmu butuh energi!"
"Besok saja, Run."
Riyadi tertidur dalam hitungan detik. Badrun duduk di sampingnya, menatap wajah sahabatnya yang kurus dan lelah.
"Ri, kau terlalu memaksakan diri," bisik Badrun. "Aku khawatir kau akan jatuh sakit."
Tiga minggu kemudian, setelah bekerja tanpa henti setiap hari dari pagi hingga tengah malam, tubuh Riyadi mulai menunjukkan tanda tanda kelelahan parah. Badannya semakin kurus, tulang rusuknya mulai terlihat dari balik baju. Matanya cekung, bibirnya kering dan pecah pecah. Kulitnya pucat seperti mayat yang baru dikeluarkan dari kuburan.
Pada suatu sore, ketika sedang mengangkat karung beras yang ke 50 hari itu, Riyadi tiba tiba jatuh pingsan. Karung beras di pundaknya terjatuh ke lantai dengan suara keras. Beras putih berserakan di lantai pasar yang becek dan kotor.
Haji Rahman yang melihat kejadian itu langsung berteriak. "Hei! Ada yang pingsan! Tolong! Panggil ambulan!"
Para pedagang dan pembeli berkerumun. Beberapa orang mencoba menyadarkan Riyadi dengan mengipas ngipas wajahnya dan memercikkan air. Wajah Riyadi pucat pasi, tangannya dingin, napasnya sangat lemah.
"Kasihan, anak ini. Kurus sekali, pasti kurang makan," kata seorang ibu pedagang sayur.
"Iya, Bu. Dengar dengar ia bekerja dua puluh jam sehari. Kuli angkut di siang hari, kuli angkut juga di pasar malam," sahut pedagang lain.
"Gila. Mana ada manusia yang kuat bekerja segitu."
Badrun yang mendengar kabar itu langsung berlari dari tokonya di pasar malam. Wajahnya pucat, matanya merah, napasnya tersengal sengal. Ia mendorong kerumunan dan meraih tangan Riyadi yang dingin.
"Ri! Ri! Bangun! Jangan kau mati!"
"Ri, buka matamu! Aku Badrun!"
Riyadi tidak bergerak. Badrun mulai menangis. "Tolong, bawa ke rumah sakit! Cepat!"
Mobil ambulan datang sepuluh menit kemudian. Riyadi dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Banjarmasin dengan kondisi kritis. Badrun ikut di dalam ambulan, terus berdoa dan menangis.
Di rumah sakit, dokter memeriksa Riyadi dengan saksama. Badrun duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, tangannya tidak pernah lepas dari tangan Riyadi yang dingin seperti es. Matanya sembab karena menangis, wajahnya pucat karena tidak tidur semalaman.
"Dokter, bagaimana keadaan teman saya?" tanya Badrun dengan suara bergetar. Bibirnya gemetar, dagunya bergetar.
Dokter yang memeriksa adalah seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal di hidungnya. Namanya dr. Hendra, dokter jaga malam yang sudah malas menghitung berapa banyak pasien gizi buruk yang ia tangani. Wajahnya tampak lelah, matanya sayu, tapi ekspresinya tetap profesional.
"Pasien ini mengalami kelelahan akut, dehidrasi berat, dan kekurangan gizi. Badannya sudah sangat kurus. Berat badannya hanya empat puluh lima kilogram, padahal tinggi badannya seratus enam puluh lima sentimeter. Itu sudah masuk kategori kurang berat badan tingkat parah."
"Apakah ia akan sembuh, Dok?"
"Kalau dirawat dengan baik dan diberi nutrisi yang cukup, ia bisa sembuh dalam beberapa minggu. Tapi harus istirahat total. Tidak boleh bekerja berat setidaknya selama tiga bulan."
"Tiga bulan, Dok? Itu lama sekali."
"Tiga bulan itu cepat, Nak. Kalau tidak dirawat dengan baik, bisa setahun. Atau bahkan tidak sembuh sembuh."
Badrun terdiam. Ia memandang Riyadi yang masih terbaring lemah dengan infus di tangan kirinya. Selang infus berwarna bening itu menjalar dari botol kaca ke punggung tangan Riyadi yang kurus dan penuh bekas luka melepuh.
"Berapa biaya perawatannya, Dok?"
"Untuk rawat inap seminggu, sekitar dua juta rupiah. Belum termasuk obat obatan dan konsultasi dokter."
Badrun terkejut. Matanya membulat, mulutnya terbuka. "Dua juta, Dok? Saya tidak punya uang sebanyak itu."
"Coba hubungi keluarga atau kerabat. Minta bantuan."
"Keluarga kami di desa, Dok. Jauh. Kami tidak punya banyak uang."
Dokter Hendra menghela napas. "Saya usahakan yang terbaik, Nak. Tapi kalian harus bayar. Ini rumah sakit pemerintah, memang murah dibanding swasta, tapi tetap butuh biaya."
"Baik, Dok. Saya usahakan."
Badrun pergi ke Pasar Sudimampir menemui Haji Rahman. Wajahnya masih pucat, matanya masih merah, langkahnya lesu seperti orang yang baru saja kehilangan setengah jiwanya.
"Pak Haji, saya minta tolong."
"Ada apa, Nak? Wajahmu pucat sekali."
"Teman saya, Riyadi, jatuh pingsan kemarin. Sekarang di rumah sakit. Dokter bilang ia kelelahan akut. Biaya perawatannya dua juta rupiah."
Haji Rahman mengerutkan kening. Alis tebalnya bertemu di tengah, membentuk huruf V terbalik di atas hidungnya. "Dua juta? Itu banyak, Nak. Saya punya usaha, tapi tidak sekaya itu."
"Pak Haji, saya mohon. Pinjamkan dulu. Saya akan bekerja pada Bapak sampai lunas. Saya akan kerja apa saja. Saya tidak pernah protes."
"Aku tidak butuh pekerja tambahan, Nak. Saat ini pas pasan."
"Pak Haji, tolonglah. Riyadi orang baik. Ia pekerja keras. Ia tidak pernah mencuri. Ia tidak pernah minta minta. Ia hanya butuh pertolongan."
Haji Rahman diam sejenak. Ia memandang Badrun dengan mata yang sedikit lunak. "Baiklah, Nak. Saya pinjami satu juta. Itu maksimal. Sisanya cari di tempat lain."
"Terima kasih, Pak Haji. Terima kasih banyak. Saya tidak akan lupa kebaikan Bapak."
"Jangan berterima kasih dulu. Bayar kembali pinjaman ini setelah kalian punya uang."
"Insya Allah, Pak Haji. Saya janji."
Badrun kemudian pergi ke pasar malam menemui bos tempat Riyadi bekerja sebagai kuli angkut ikan asin. Bos itu bernama Haji Udin, seorang pria gemuk dengan wajah merah dan perut buncit yang selalu tertutup kaus kutang putih.
"Pak Udin, saya minta tolong. Riyadi sakit. Biaya rumah sakit dua juta."
"Aduh, Nak. Saya juga punya utang di mana mana. Mana bisa saya pinjamkan."
"Pinjamkan lima ratus ribu saja, Pak."
"Tidak bisa, Nak. Usaha saya sedang lesu. Bulan ini saja saya rugi."
Badrun hampir menangis. "Tapi Pak Udin, Riyadi sudah bekerja keras untuk Bapak. Ia tidak pernah bolos. Ia tidak pernah protes. Ia selalu datang tepat waktu."
Haji Udin menghela napas. Wajahnya sedikit tersentuh, tapi tangannya tetap di saku celana, tidak bergerak untuk mengeluarkan uang. "Baiklah, Nak. Dua ratus lima puluh ribu. Itu pun dari uang pribadi saya. Jangan cerita cerita."
"Terima kasih, Pak Udin."
Badrun mengumpulkan uang dari sana sini. Haji Rahman satu juta, Haji Udin dua ratus lima puluh ribu, pedagang lain di pasar malam ada yang memberi lima puluh ribu, ada yang memberi seratus ribu, ada yang memberi dua puluh ribu. Total uang yang terkumpul satu juta delapan ratus ribu. Masih kurang dua ratus ribu.
"Di mana lagi aku cari uang?" gumam Badrun sambil memegang kepalanya yang pusing.
Di Desa Sriwidadi, Ningsih menerima kabar dari Badrun melalui surat yang dikirimkan dengan perantara seorang sopir truk yang sering bolak balik Banjarmasin Kuala Kapuas. Surat itu singkat, tapi isinya memilukan.
Untuk Ningsih,
Ning, Riyadi sakit. Sangat sakit. Ia di rumah sakit di Banjarmasin. Dokter bilang kelelahan akut dan kekurangan gizi. Badannya kurus kering. Aku tidak tahu harus bagaimana. Biaya rumah sakit dua juta. Aku sudah kumpulkan satu juta delapan ratus ribu. Masih kurang dua ratus ribu. Tolong bantu. Atau tolong kabari keluarga Riyadi di desa.
Badrun
Ningsih membaca surat itu berulang ulang. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang mulus. Matanya merah, hidungnya tersumbat, dadanya sesak seperti diremas remas oleh tangan tak terlihat.
"Ning, kenapa kau menangis?" tanya ibunya yang sedang menyapu halaman.
"Bu, Riyadi sakit. Ia di rumah sakit di Banjarmasin."
"Sakit apa?"
"Kelelahan akut dan kekurangan gizi. Badannya kurus kering."
"Ibu kasihan. Tapi ibu tidak punya uang untuk membantu."
"Aku akan kabari Aryanti. Mungkin ia bisa bantu."
"Jangan, Ning. Aryanti juga tidak punya uang. Keluarganya hidup pas pasan."
"Tapi Bu, ia harus tahu."
"Iya, kabari. Tapi jangan harap ia bisa bantu uang."
Ningsih bergegas ke rumah Aryanti. Langkahnya cepat, jantungnya berdebar kencang, napasnya tersengal sengal. Di kepalanya, hanya satu nama yang terbayang: Aryanti. Sahabatnya yang harus mendengar kabar buruk ini.
Aryanti sedang duduk di beranda rumahnya ketika Ningsih datang dengan wajah panik. Saripah sedang ada di dapur memasak. Wajah Aryanti masih segar pagi itu, rambutnya masih terurai, pakaiannya masih baju tidur.
"Yan, ada kabar buruk." Ningsih langsung duduk di samping Aryanti tanpa diminta. Wajahnya pucat, napasnya masih memburu karena berlari.
"Kabar apa, Ning? Kenapa wajahmu pucat?" Aryanti mengerutkan kening, jantungnya mulai berdetak lebih cepat dari biasanya.
Ningsih memberikan surat dari Badrun. "Baca sendiri, Yan."
Aryanti membaca surat itu. Wajahnya berubah pucat. Matanya membesar. Tangannya gemetar. Surat itu jatuh dari genggamannya.
"Riyad... Riyad sakit... Ia di rumah sakit..." Aryanti menangis tersedu sedu. Tangisnya keras, terdengar sampai ke dapur.
Saripah yang mendengar tangis Aryanti langsung keluar dari dapur. Wajahnya tegang, matanya cemas. "Ada apa, Yan? Kenapa kau menangis?"
"Riyadi sakit, Ma. Ia di rumah sakit di Banjarmasin. Dokter bilang kelelahan akut dan kekurangan gizi. Badannya kurus kering."
Saripah terdiam. Wajahnya yang tadinya tegang berubah menjadi masam kembali. "Sudah saya bilang, merantau itu tidak mudah. Tapi kau tidak pernah dengar."
"Ma, ini bukan waktunya menyalahkan. Riyadi butuh pertolongan."
"Pertolongan apa? Kita tidak punya uang."
"Aku akan ke Banjarmasin. Aku akan jenguk dia."
"Kau gila, Yan? Ongkos ke Banjarmasin saja berapa? Belum lagi menginap, makan, dan lain lain."
"Aku akan cari uang. Aku bisa jual boneka Nonik."
"Boneka Nonik? Itu satu satunya kenang kenangan dari ayahmu."
"Aku tidak peduli, Ma. Riyadi lebih penting."
Saripah menghela napas. "Baiklah, Yan. Ibu izinkan kau pergi. Tapi ibu tidak bisa memberi uang."
"Aku tidak minta uang, Ma. Aku akan cari sendiri."
Aryanti pergi ke pasar. Di tangannya, boneka Nonik—boneka pemberian Riyadi saat mereka masih kecil dulu. Boneka itu sudah usang, jahitannya lepas di beberapa bagian, kainnya pudar, dan kapas di dalamnya mulai menggumpal di sana sini. Tapi bagi Aryanti, boneka itu adalah benda paling berharga di dunia.
"Bu, saya mau jual boneka ini," kata Aryanti pada seorang pedagang mainan.
Pedagang itu melihat boneka Nonik dengan mata jijik. "Boneka ini sudah usang, Nak. Tidak laku."
"Tapi Bu, boneka ini masih bagus. Masih bisa dipeluk."
"Maaf, Nak. Saya cuma jual mainan baru. Boneka bekas tidak ada yang mau beli."
Aryanti hampir menangis. Ia berjalan ke pedagang lain, lalu ke pedagang lain lagi. Semua menolak.
"Nak, kau mau jual apa?" tiba tiba seorang ibu tua menghampirinya.
"Boneka ini, Bu. Saya butuh uang untuk biaya berobat teman saya."
Ibu tua itu melihat boneka Nonik dengan saksama. Matanya yang rabun itu menatap jahitan jahitan yang mulai lepas, lalu menatap mata Aryanti yang basah oleh air mata.
"Berapa kau mau, Nak?"
"Seratus ribu, Bu."
"Mahal, Nak. Boneka ini sudah usang."
"Tapi Bu, boneka ini sangat berharga bagi saya. Saya rela menjualnya karena teman saya butuh uang untuk berobat."
Ibu tua itu menghela napas. "Baiklah, Nak. Saya beli lima puluh ribu. Itu pun karena saya kasihan sama kau."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Aryanti menerima uang lima puluh ribu. Ia memeluk boneka Nonik untuk terakhir kalinya. Air matanya menetes di kepala boneka itu.
"Nonik, maafkan aku. Aku harus menjualmu."
Boneka itu tersenyum dengan jahitan bibirnya yang mulai lepas.
"Nonik, doakan Riyadi cepat sembuh. Doakan aku bisa menjenguknya."
Aryanti menyerahkan boneka Nonik pada ibu tua itu. Ia berbalik dan berlari meninggalkan pasar.
Dengan uang lima puluh ribu dari hasil jual boneka Nonik, ditambah tabungan pribadinya yang terkumpul tiga ratus ribu, Aryanti memiliki tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Uang itu cukup untuk ongkos kapal cepat ke Banjarmasin dan sedikit untuk makan.
"Ma, aku berangkat besok pagi," kata Aryanti pada Saripah malam itu.
"Kau benar benar pergi, Yan?"
"Iya, Ma. Aku harus melihat Riyadi. Aku harus memastikan ia baik baik saja."
"Ibu tidak bisa melarangmu. Hati hati di jalan."
"Ma, maafkan aku jika selama ini aku banyak melawan."
"Aku yang harus minta maaf, Yan. Ibu terlalu memaksakan kehendak."
Mereka berpelukan. Untuk pertama kalinya dalam bulan bulan terakhir, tidak ada pertengkaran di antara mereka.
Keesokan paginya, Aryanti berangkat ke Banjarmasin. Ia naik perahu motor dari Kuala Kapuas, lalu naik kapal cepat. Selama perjalanan, ia hanya diam. Matanya menerawang ke laut, pikirannya melayang ke Riyadi.
"Riyad, tunggu aku. Aku akan datang."
Setibanya di Banjarmasin, Aryanti langsung mencari Rumah Sakit Umum Daerah. Ia bertanya pada orang orang, mengikuti petunjuk jalan, berjalan kaki cukup jauh hingga kakinya terasa kebas. Akhirnya, setelah hampir satu jam berjalan, ia sampai di depan gerbang rumah sakit yang besar dengan dinding putih kusam.
Ia masuk ke ruang rawat inap kelas tiga. Di sana, puluhan pasien terbaring di tempat tidur besi yang berjajar rapat. Bau obat, bau keringat, bau pesing, semuanya bercampur menjadi satu. Udara pengap dan sumpek. Beberapa pasien batuk batuk, beberapa lainnya mengerang kesakitan.
Di sudut ruangan, di tempat tidur nomor tujuh, Aryanti melihat Riyadi. Tubuhnya kurus kering, wajahnya pucat pasi, matanya terpejam, rambutnya acak acakan. Infus masih terpasang di tangan kirinya. Selang oksigen mengalir dari tabung ke hidungnya.
"Riyad!" teriak Aryanti sambil berlari mendekat.
Badrun yang sedang duduk di samping tempat tidur terkejut. "Yan? Kau datang?"
"Bagaimana keadaannya, Run?"
"Masih kritis, Yan. Semalam ia sempat kejang kejang. Dokter sudah memberi obat, tapi belum sadarkan diri."
Aryanti meraih tangan Riyadi. Tangannya dingin, kurus, dan penuh bekas luka melepuh. Ia mencium tangan itu dan menangis.
"Riyad, aku di sini. Aku datang. Maafkan aku lama tidak menulis surat. Maafkan aku tidak bisa membantumu. Maafkan aku..."
Riyadi tidak bergerak. Matanya tetap terpejam. Napasnya naik turun dengan berat.
"Riyad, kau harus sadar. Aku tidak bisa hidup tanpa kau. Aku tidak akan menikah dengan Husin atau siapa pun. Aku hanya akan menunggumu. Sampai kapan pun. Sampai kau sembuh. Sampai kau bisa pulang. Sampai kita bersama selamanya."
Badrun menangis di samping mereka. Para pasien lain di ruangan itu ikut menangis melihat pemandangan mengharukan itu.
"Yan, kau harus kuat. Riyadi butuh doa dan semangat dari orang orang yang mencintainya."
"Aku akan kuat, Run. Demi Riyadi."
Aryanti duduk di samping tempat tidur Riyadi. Ia tidak mau pergi. Ia tidak mau makan. Ia tidak mau tidur. Ia hanya ingin berada di dekat Riyadi, memegang tangannya, berdoa untuk kesembuhannya.
"Riyad, ingat janjimu di dermaga itu? Kau bilang kau akan kembali. Kau bilang kau akan menjemputku. Sekarang aku di sini. Aku yang menjemputmu. Bangunlah, Riyad. Bawa aku pulang ke desa. Ke dermaga itu. Ke tempat kita pertama kali jatuh cinta."
Di ruangan yang sunyi itu, hanya suara mesin monitor detak jantung yang terdengar. Bip... bip... bip... Ritmis. Menenangkan. Seolah memberi harapan bahwa Riyadi masih hidup. Masih ada. Masih bisa kembali.
BAB XIII
BANJARMASIN: PERTARUHAN HIDUP
Tiga hari sudah Aryanti duduk di samping tempat tidur Riyadi tanpa henti. Ia tidak pulang ke petak kayu tempat Badrun tinggal. Ia tidak mandi. Ia tidak berganti pakaian. Ia hanya pergi ke kamar mandi umum ketika benar benar tidak bisa menahan lagi. Wajahnya pucat, matanya cekung dan merah, bibirnya kering dan pecah pecah. Ia terlihat hampir sama sakitnya dengan Riyadi.
"Yan, kau harus makan," pinta Badrun sambil membawa sepiring nasi dan lauk sederhana dari warung pinggir jalan. Nasi itu sudah dingin, lauknya hanya telur dadar tipis dan sedikit sayur kangkung.
"Aku tidak lapar, Run."
"Kau sudah tiga hari hampir tidak makan. Tubuhmu akan sakit. Kalau kau sakit, siapa yang akan jaga Riyadi?"
"Aku tidak peduli, Run. Biarkan aku mati bersama Riyadi."
"Jangan bicara begitu, Yan! Riyadi pasti tidak ingin melihatmu seperti ini! Ia pasti ingin kau sehat! Ia pasti ingin kau tersenyum!"
Aryanti menangis. "Aku tidak bisa tersenyum, Run. Aku tidak bisa makan. Aku tidak bisa tidur. Yang aku bisa hanya menangis."
Badrun menghela napas. Ia meletakkan nasi itu di meja kecil di samping tempat tidur Riyadi. "Setidaknya minum, Yan. Kau pasti haus."
Aryanti mengambil gelas air putih dan menyesapnya sedikit. Air itu terasa hambar di lidahnya, seperti menelan air sungai yang keruh. Tapi ia tetap meminumnya karena Badrun benar. Ia tidak boleh sakit. Ia harus kuat.
Tiba tiba, jari jari Riyadi bergerak. Gerakan kecil, hampir tidak terlihat. Tapi Aryanti merasakannya karena tangannya selalu memegang tangan Riyadi.
"Run! Jari Riyadi bergerak! Ia bergerak!" teriak Aryanti dengan suara parau. Matanya berbinar, pipinya yang tadinya pucat mulai memerah.
Badrun mendekat. "Benar, Yan! Ia bergerak! Cepat panggil dokter!"
Aryanti berlari ke ruang perawat. "Bu! Bu! Pasien di tempat tidur nomor tujuh tangannya bergerak! Tolong periksa!"
Seorang perawat perempuan dengan pakaian seragam putih lusuh segera mengikuti Aryanti ke ruang rawat inap. Perawat itu memeriksa tanda tanda vital Riyadi dengan alat alat sederhana—termometer, tensimeter, stetoskop. Matanya teliti, tangannya cekatan.
"Alhamdulillah, tanda tandanya mulai membaik. Denyut nadinya lebih kuat dari kemarin. Tekanan darahnya juga mulai normal."
"Apakah ia akan sadar, Bu?" tanya Aryanti dengan harap yang menggantung di ujung lidah. Jantungnya berdebar begitu kencang hingga ia bisa mendengar suaranya sendiri di telinga.
"Kemungkinan besar iya, Nak. Dalam satu atau dua hari ke depan. Tapi kita harus sabar. Jangan paksa ia bicara atau bergerak. Biarkan tubuhnya pulih dulu."
"Terima kasih, Bu."
Perawat itu pergi. Aryanti duduk kembali di samping Riyadi. Ia memegang tangan Riyadi dan menciumnya.
"Riyad, kau dengar suaraku? Kau harus sadar. Aku di sini menunggumu."
Pada hari kelima, ketika matahari mulai terbit dari balik gedung gedung beton Banjarmasin, cahaya pagi masuk melalui jendela ruang rawat inap yang kusam. Sinar keemasan itu jatuh tepat di wajah Riyadi yang pucat. Aryanti yang sedang tertidur di kursi samping tempat tidur, dengan kepala bersandar di lengan Riyadi, terbangun karena ada gerakan kecil di tangannya.
Ia mengangkat kepalanya dan melihat Riyadi membuka mata. Mata itu sayu, merah, tapi sadar. Riyadi menatap Aryanti dengan tatapan bingung, seperti orang yang terbangun dari mimpi panjang yang buruk.
"Yan?" suara Riyadi serak dan nyaris tidak terdengar. Bibirnya kering dan pecah pecah seperti tanah di musim kemarau.
"Riyad! Kau sadar!" Aryanti menangis. Ia memeluk Riyadi tanpa peduli selang infus dan selang oksigen yang masih terpasang di tubuh Riyadi.
"Kok kau di sini? Ini di mana?" Riyadi masih bingung. Matanya menjelajahi ruangan—dinding putih kusam, langit langit yang bocor di beberapa tempat, bau obat yang menyengat, suara pasien lain yang mengerang kesakitan.
"Ini rumah sakit, Riyad. Kau pingsan lima hari lalu. Badrun membawamu ke sini."
"Lima hari? Aku tidak ingat apa apa." Riyadi berusaha bangun, tapi tubuhnya terlalu lemah. Tangannya gemetar menahan beban, punggungnya terasa seperti diinjak injak gajah.
"Jangan bangun dulu, Riyad. Kau masih lemah. Istirahatlah."
"Aryanti, kau... kau menjengukku? Dari desa? Jauh sekali." Mata Riyadi berkaca kaca. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Iya, Riyad. Aku datang. Aku akan menjagamu sampai kau sembuh."
"Tapi Yan, ongkosnya mahal. Kau tidak punya uang."
"Aku jual boneka Nonik, Riyad. Laku lima puluh ribu."
Riyadi terkejut. Matanya membulat, mulutnya terbuka. "Nonik? Boneka pemberianku waktu kecil? Yang selalu kau bawa ke mana mana?"
"Iya, Riyad. Maafkan aku. Tapi aku terpaksa. Aku tidak punya uang."
Riyadi menangis. Ia menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangannya. "Yan, kau tidak boleh menjual Nonik. Boneka itu berharga bagiku."
"Kau lebih berharga, Riyad. Boneka bisa dicari lagi. Tapi kau tidak."
Mereka berdua menangis. Badrun yang baru saja masuk ke ruangan dengan membawa air minum untuk Aryanti, ikut menangis melihat mereka.
"Ya ampun, kalian berdua jadi banjir bandang nih. Aku juga jadi ikut ikutan nangis," kata Badrun sambil menyeka air matanya dengan lengan baju.
Riyadi tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam lima hari, senyum itu muncul di wajahnya yang kurus dan pucat.
"Run, makasih ya. Kau sudah menyelamatkan hidupku."
"Sudah, Ri. Jangan cengeng. Ayo cepat sembuh. Kita masih banyak kerjaan."
Setelah kondisinya mulai stabil, Riyadi bercerita pada Aryanti tentang apa yang terjadi di Banjarmasin. Aryanti mendengarkan dengan saksama sambil sesekali mengusap tangan Riyadi yang masih kurus dan penuh bekas luka.
"Yan, aku bekerja dua puluh jam sehari. Pagi sampai sore jadi kuli angkut beras untuk Haji Rahman. Malam sampai tengah malam jadi kuli angkut ikan asin untuk Haji Udin."
"Kenapa kau mau bekerja segitunya, Riyad? Kau tidak sadar itu akan membunuhmu?"
"Aku sadar, Yan. Tapi aku harus cepat mengumpulkan uang. Suratmu bilang, kau hanya diberi waktu tiga bulan. Kalau aku tidak cepat pulang, kau akan dinikahkan dengan Husin."
"Tapi Riyad, bukankah lebih baik kau hidup sehat dan pulang dalam keadaan baik, daripada kau mati di sini dan tidak pulang sama sekali?"
"Maafkan aku, Yan. Aku hanya ingin membahagiakanmu. Aku ingin pulang dengan uang banyak, melamar mu dengan cara yang layak. Aku tidak ingin kau dinikahkan dengan orang lain hanya karena aku miskin."
"Riyad, aku sudah bilang berkali kali. Aku tidak butuh uang. Aku butuh kau."
"Tapi orang tuamu butuh uang, Yan. Masyarakat butuh uang. Dunia ini butuh uang. Aku tidak bisa hidup hanya dengan cinta."
"Riyad, dengarkan aku. Ibu sudah mulai melunak. Ia tidak lagi memaksaku menikah dengan Husin. Ia bahkan mengizinkanku datang ke Banjarmasin menjengukmu."
"Benarkah itu, Yan? Jangan bohong untuk membuatku senang."
"Aku tidak bohong, Riyad. Ibu benar benar berubah. Setelah ia tahu kau sakit, ia menangis. Ia bilang, 'Ibu tidak tega melihat penderitaan kalian berdua. Ibu rela kau menikah dengan Riyadi meskipun ia miskin. Asalkan kalian bahagia.'"
Riyadi menangis lagi. "Aku tidak percaya. Saripah selama ini sangat keras padaku."
"Dia ibuku, Riyad. Setiap ibu pasti ingin anaknya bahagia. Mungkin caranya salah, tapi tujuannya baik."
"Yan, kalau begitu... apa kita bisa menikah sekarang? Setelah aku sembuh?"
"Riyad, kau jangan terburu buru. Kau harus pulih dulu. Setelah kau benar benar sehat, kita bicarakan soal pernikahan."
"Tapi aku takut. Takut ada laki laki lain yang merebutmu."
"Tidak akan ada, Riyad. Aku sudah berjanji. Hanya kau. Selamanya."
Mereka berdua saling menatap. Di ruang rawat inap kelas tiga yang pengap dan sumpek itu, di antara bau obat dan bau keringat pasien lain, cinta mereka terasa begitu nyata. Begitu kuat. Begitu murni.
Sementara Aryanti menjaga Riyadi di rumah sakit, Badrun pergi mencari kerja sampingan untuk menambah uang. Biaya rumah sakit sudah membengkak karena Riyadi harus dirawat lebih lama dari perkiraan awal.
"Run, kau tidak usah capek capek. Aku bisa menjaga Riyadi sendiri," kata Aryanti ketika Badrun pamit pergi.
"Tidak, Yan. Aku harus cari uang. Kita hampir kehabisan. Haji Rahman sudah tidak mau meminjamkan lagi."
"Coba aku pinjam pada ibu lewat telepon."
"Telepon? Mahal, Yan. Kita tidak punya pulsa."
"Iya juga sih."
"Sudahlah, Yan. Kau fokus jaga Riyadi. Aku yang urus uang."
Badrun pergi ke Pasar Sudimampir. Ia mencoba menawarkan jasanya pada pedagang pedagang di sana.
"Pak, ada kerja untuk saya? Saya bisa apa saja. Angkat barang, jaga toko, bersih bersih."
"Maaf, Nak. Lagi sepi. Tidak butuh tenaga tambahan."
"Bu, ada kerja untuk saya?"
"Tidak ada, Nak. Coba minggu depan."
Setelah berkeliling hampir dua jam tanpa hasil, Badrun hampir putus asa. Ia duduk di trotoar sambil memegang kepalanya yang pusing. Pikirannya kalut. Bayangan Riyadi yang terbaring sakit dan Aryanti yang kurus karena jarang makan terus menghantuinya.
"Nak, kau cari kerja?" seorang pria paruh baya dengan baju kumal dan topi caping mendekatinya.
"Iya, Pak. Saya butuh kerja."
"Ikut saya. Saya punya proyek bangunan di pinggir kota. Butuh kuli angkut pasir dan batu bata."
"Bayarannya berapa, Pak?"
"Lima puluh ribu per hari. Makan siang disediakan."
"Baik, Pak. Saya terima. Kapan mulai?"
"Besok pagi. Jam enam kau sudah harus di lokasi. Ini alamatnya."
Pria itu memberikan secarik kertas lusuh bertuliskan alamat di pinggiran Banjarmasin. Badrun menerima kertas itu dengan tangan gemetar—bukan karena takut, tapi karena haru. Akhirnya ada harapan.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan."
"Jangan berterima kasih dulu. Buktikan kau bisa kerja keras."
"Saya bisa, Pak. Saya sudah terbiasa."
Pada hari kedelapan, Riyadi mulai bisa duduk dengan bantuan Aryanti. Badannya masih lemas, tangannya masih gemetar, tapi semangatnya mulai bangkit kembali.
"Yan, aku ingin cepat sembuh. Aku tidak betah di sini. Bau obat ini menyengat sekali. Aku rindu udara desa yang segar."
"Sabarlah, Riyad. Dokter bilang kau harus rawat inap setidaknya dua minggu. Jangan memaksakan diri."
"Dua minggu itu lama, Yan. Siapa yang akan membayar biaya rumah sakit?"
"Badrun sedang mencari kerja. Ia bilang ada proyek bangunan di pinggir kota."
"Kasihan Badrun. Ia ikut menderita karena aku."
"Dia sahabatmu, Riyad. Ia rela melakukan apa pun untukmu."
"Aku tahu. Aku berhutang budi padanya."
"Jangan pikirkan hutang. Pikirkan kesembuhanmu. Setelah kau sehat, kita bisa bekerja bersama sama. Membayar hutang sedikit demi sedikit."
Riyadi mengangguk. Aryanti menyuapinya bubur yang dibelinya dari warung pinggir jalan. Mulut Riyadi terbuka perlahan, menerima suapan demi suapan dengan lahap.
"Enak, Yan. Siapa yang masak?"
"Aku yang masak. Aku pinjam dapur rumah sakit. Ibu perawat baik sekali, ia mengizinkanku memasak untukmu."
"Kau hebat, Yan. Aku tidak tahu kau bisa masak."
"Aku belajar dari ibu. Dulu aku sering membantu ibu di dapur."
"Kalau begitu, setelah kita menikah nanti, kau yang masak untukku setiap hari."
"Tergantung. Kalau kau nakal, aku tidak akan masakkan untukmu."
"Nakal bagaimana dulu, Yan?"
"Nakal seperti dulu waktu kecil. Suka menjahili aku."
"Itu namanya bukan nakal. Itu ekspresi cinta."
"Ekspresi cinta? Menjepit hidung dan menarik rambut itu namanya ekspresi cinta?"
"Iya, Yan. Itu cara anak kecil menunjukkan perasaan. Karena mereka belum bisa bilang 'aku suka sama kamu' dengan terus terang."
"Kau aneh, Riyad. Tapi aku suka."
Mereka berdua tertawa. Tawa kecil yang menghangatkan ruang rawat inap yang dingin dan pengap. Pasien pasien lain di ruangan itu ikut tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
Pada hari kesepuluh, sebuah surat dari Saripah sampai ke tangan Aryanti melalui seorang sopir truk yang baik hati. Sopir itu kenalan Badrun yang sering bolak balik Banjarmasin Kuala Kapuas. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang agak gemetar—tanda bahwa Saripah sudah tua dan mungkin menangis saat menulisnya.
Untuk Aryanti, Anakku Tersayang
Assalamu'alaikum.
Yan, ibu rindu padamu. Rumah ini terasa sepi tanpa kau. Ibu tidak punya siapa siapa lagi selain kau. Ayahmu sudah meninggal. Saudara saudaramu jarang berkunjung. Hanya kau yang ibu punya. Jangan tinggalkan ibu terlalu lama.
Yan, ibu sudah bicara dengan Haji Dahlan. Ibu membatalkan lamaran Husin. Ibu bilang pada mereka bahwa kau sudah punya pilihan sendiri dan ibu menghormati pilihanmu. Mereka kecewa, tapi tidak bisa berbuat apa apa. Ibu lega.
Yan, kabar tentang Riyadi? Apakah ia sudah sembuh? Ibu mendoakannya setiap hari. Ibu tidak ingin kehilangan calon menantu yang sudah ibu anggap seperti anak sendiri. Ibu sadar, selama ini ibu terlalu materialistis. Ibu terlalu mengagungkan uang. Ibu minta maaf.
Yan, cepatlah pulang. Bawa Riyadi pulang. Ibu akan sambut kalian dengan tangan terbuka. Ibu akan masak rendang kesukaan Riyadi. Ibu akan buat kue bingka untuk kalian berdua.
Ibu sayang kamu, Yan. Ibu sayang Riyadi. Ibu sayang kalian berdua.
Dengan segala cinta dan doa,
Ibumu, Saripah
Aryanti membaca surat itu berulang ulang. Air matanya mengalir deras, membasahi kertas surat hingga tintanya sedikit luntur. Ia memeluk surat itu erat erat, seperti memeluk ibunya yang sedang menangis di kejauhan.
"Riyad, ibu setuju. Ia membatalkan lamaran Husin. Ia merestui kita."
Riyadi yang sedang tidur terbangun karena mendengar tangis Aryanti. "Yan, kenapa kau menangis? Ada apa?"
"Ini surat dari ibuku, Riyad. Ia merestui kita. Ia bilang ia sudah membatalkan lamaran Husin."
Riyadi terkejut. Matanya membesar, mulutnya terbuka. "Benarkah itu, Yan? Jangan kau bohongi aku."
"Baca sendiri, Riyad."
Riyadi mengambil surat itu dan membacanya dengan saksama. Matanya berbinar binar, bibirnya tersenyum lebar, dadanya terasa lega seperti baru saja dibebaskan dari beban seribu ton.
"Alhamdulillah, Yan. Akhirnya. Doa kita dijawab Allah."
"Aku tidak percaya, Riyad. Ibu yang dulu sangat keras, sekarang berubah total."
"Orang bisa berubah, Yan. Karena doa. Karena cinta. Karena kesadaran."
Mereka berdua bersujud syukur di lantai rumah sakit yang dingin dan kotor. Pasien pasien lain memandang mereka dengan heran, tapi tidak ada yang berani bertanya. Mereka terlalu bahagia untuk peduli dengan pandangan orang lain.
Pada hari kedua belas, Badrun mengalami kecelakaan di proyek bangunan. Ia terjatuh dari perancah kayu setinggi tiga meter saat mengangkat batu bata. Kaki kirinya terkilir parah, punggungnya memar, dan kepalanya benjol. Rekan rekannya segera membawanya ke rumah sakit yang sama tempat Riyadi dirawat.
"Run, kenapa kau bisa jatuh?" tanya Riyadi ketika Badrun dibaringkan di tempat tidur di sampingnya.
"Aku kurang hati hati, Ri. Tanganku licin karena keringat. Batu batanya jatuh, aku ikut jatuh."
"Kau tidak perlu bekerja terlalu keras, Run. Aku sudah hampir sembuh. Sebentar lagi aku bisa bekerja lagi."
"Jangan, Ri. Kau masih lemah. Jangan memaksakan diri."
"Kita berdua sama sama pasien sekarang, Run. Lucu juga. Kita berdua sekamar."
Badrun tertawa meskipun kesakitan. "Iya, Ri. Kita berdua sekamar. Saling jaga. Saling kasih semangat."
Aryanti yang duduk di antara mereka berdua hanya bisa menggelengkan kepala. "Kalian berdua ini seperti anak kecil. Sakit begini masih bisa bercanda."
"Yan, bawa Badrun air minum. Ia pasti haus," kata Riyadi.
"Iya, Riyad. Aku ambilkan."
Aryanti pergi ke ruang perawat untuk meminta air minum. Badrun menatap Riyadi dengan mata sembab.
"Ri, maafkan aku. Aku gagal mencari uang. Aku malah jadi beban lagi."
"Run, kau tidak pernah menjadi beban. Kau adalah saudaraku. Saudara tidak perlu minta maaf."
"Tapi Ri, biaya rumah sakit kita sekarang dobel. Dua orang. Gila, Ri. Kita akan terlilit utang."
"Kita hadapi bersama, Run. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita bersama."
Badrun menangis. "Ri, kau sahabat terbaik yang pernah aku punya."
"Kau juga, Run. Kau juga."
Malam itu, setelah Badrun tertidur, Aryanti menulis surat untuk Saripah. Ia menulis dengan secarik kertas yang ia minta dari perawat. Kertas itu kecil dan tipis, nyaris tembus pandang. Tapi cukup untuk menyampaikan semua isi hatinya.
Untuk Ibu Tersayang, Saripah
Assalamu'alaikum.
Ma, surat Ibu sudah aku terima. Aku menangis membacanya. Aku sangat senang. Aku tidak pernah membayangkan Ibu akan berubah secepat ini.
Ma, Riyadi sudah mulai sembuh. Ia sudah bisa duduk dan makan sendiri. Dokter bilang dalam seminggu lagi ia boleh pulang.
Ma, ada kabar buruk. Badrun kecelakaan di proyek bangunan. Ia jatuh dari perancah. Kaki kirinya terkilir. Ia dirawat di rumah sakit yang sama dengan Riyadi. Mereka sekarang sekamar.
Ma, uang kami hampir habis. Biaya rumah sakit sangat mahal. Aku tidak tahu harus bagaimana. Mohon doa Ibu agar kami diberi jalan keluar.
Ma, aku rindu. Aku rindu masakan Ibu. Aku rindu rumah kita yang sederhana itu. Aku rindu desa kita yang tenang. Aku rindu dermaga itu. Tapi aku belum bisa pulang. Aku harus menjaga Riyadi dan Badrun sampai mereka sembuh.
Ma, doakan kami. Doakan Riyadi cepat sembuh. Doakan Badrun cepat pulih. Doakan aku kuat menghadapi semua ini.
Aku sayang Ibu. Sampai jumpa di rumah, Ma.
Dengan segala cinta dan rindu,
Aryanti
Aryanti menitipkan surat itu pada sopir truk yang sama yang mengantarkan surat Saripah. Sopir itu berjanji akan mengirimkannya secepat mungkin.
"Terima kasih, Pak."
"Sama sama, Nak. Semoga teman temanmu cepat sembuh."
"Aamiin."
Tiga hari kemudian, seorang tamu tak terduga datang ke rumah sakit. Ternyata Haji Bahar—ayah Kadir—datang dari Kuala Kapuas membawa bantuan.
"Assalamu'alaikum, Nak Riyadi. Apa kabar?" sapa Haji Bahar sambil memasuki ruang rawat inap yang sempit dan pengap. Wajahnya ramah, matanya jujur. Tidak ada kesombongan seperti anaknya.
Riyadi terkejut. Ia mencoba bangkit dari tempat tidur, tapi Haji Bahar melarang. "Jangan bangun, Nak. Kau masih sakit."
"Pak Haji, ada apa gerangan Bapak datang jauh jauh ke sini?"
"Saya mendengar kabar dari Saripah. Katanya kau sakit. Badrun juga sakit. Saya ingin membantu."
"Tapi Pak Haji, anak Bapak dulu..."
Haji Bahar mengangkat tangannya. "Jangan bicarakan Kadir. Anak itu sudah saya hukum. Ia sudah saya kirim ke pesantren di Jawa. Saya minta para kiai mendidiknya menjadi manusia yang lebih baik."
"Pak Haji baik sekali."
"Ini, Nak. Saya bawa uang sepuluh juta untuk biaya pengobatan kalian. Juga untuk ongkos pulang ke desa. Sisa uangnya bisa kalian pakai untuk modal usaha."
Riyadi menangis. "Pak Haji, saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Nak. Ini bentuk pertanggungjawaban saya sebagai orang tua atas kesalahan anak saya. Maafkan Kadir, Nak. Maafkan saya yang gagal mendidik anak."
"Pak Haji, saya maafkan Kadir. Saya juga maafkan Bapak. Tidak ada yang perlu disalahkan."
Haji Bahar memeluk Riyadi. Kedua pria itu menangis. Badrun yang terbaring di samping juga ikut menangis.
Aryanti yang baru datang dari ruang perawat langsung membeku melihat pemandangan itu. Air matanya mengalir tanpa suara. Ia tidak menyangka Haji Bahar setulus itu.
"Nak Aryanti, kemarilah," panggil Haji Bahar.
Aryanti mendekat. Haji Bahar memberikan sebuah amplop cokelat tebal pada Aryanti. "Ini untukmu, Nak. Sebagai mahar. Bukan dari Kadir, tapi dari saya. Saya ingin kau menikah dengan Riyadi. Saya akan menjadi saksi. Saya akan menjadi wali jika kau tidak punya wali."
"Tapi Pak Haji, saya punya ibu. Ibu bisa menjadi wali."
"Ibu bisa menjadi wali, Nak. Tapi lebih baik jika ada wali laki laki dari keluarga. Saya bersedia menjadi wali untukmu."
Aryanti menangis. "Terima kasih, Pak Haji. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan 'saya setuju' ketika Riyadi melamarmu nanti. Itu sudah cukup."
Seminggu kemudian, Riyadi dan Badrun dinyatakan cukup sehat untuk pulang. Dokter Hendra melepas mereka dengan senyum dan pesan pesan.
"Nak Riyadi, jangan bekerja terlalu keras lagi. Istirahatlah setidaknya tiga bulan. Makan yang bergizi. Jangan lupa minum obat."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Nak Badrun, kaki kirimu masih perlu perawatan. Jangan dipaksakan berjalan jauh. Gunakan tongkat dulu."
"Baik, Dok. Terima kasih."
Aryanti sudah menyiapkan semua barang barang mereka. Koper kecil berisi pakaian, obat obatan, dan amplop dari Haji Bahar yang masih tersisa tujuh juta setelah dipotong biaya rumah sakit.
"Yan, kita pulang?" tanya Riyadi.
"Kita pulang, Riyad. Ke desa. Ke rumah."
"Ke dermaga?"
"Ke dermaga itu. Ke tempat pertama kali kita jatuh cinta."
Mereka naik kapal cepat menuju Kuala Kapuas. Sepanjang perjalanan, Riyadi dan Aryanti duduk bersisian di kursi dekat jendela. Badrun duduk di sebelah mereka dengan kaki terentang di kursi.
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, seperti lukisan Tuhan yang paling indah. Air laut beriak tenang. Burung burung camar terbang mengikuti kapal, seolah ikut mengantar mereka pulang.
"Riyad, kau ingat dulu? Waktu kita kecil, kita duduk di dermaga, kaki digoyang goyangkan ke air?"
"Aku ingat, Yan. Setiap detik. Setiap senyum. Setiap tawa."
"Kita akan ke dermaga itu lagi nanti, Riyad. Setelah kita sampai di desa. Setelah kita istirahat."
"Aku tidak sabar, Yan."
"Aku juga tidak sabar, Riyad."
Badrun yang mendengar percakapan mereka langsung berseru, "Aduh, kalian berdua jangan bikin saya iri. Saya juga punya Ningsih di desa."
Riyadi dan Aryanti tertawa. Tawa yang lepas. Tawa yang ikhlas. Tawa yang lahir dari kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata kata.
Kapal cepat itu terus melaju. Meninggalkan Banjarmasin yang penuh perjuangan dan air mata. Menuju Kuala Kapuas, menuju desa, menuju rumah. Menuju dermaga yang menjadi saksi bisu cinta sejati mereka.
BAB XIV
KESEPIAN DI KOTA BESAR
Kapal cepat itu merapat di Pelabuhan Kuala Kapuas pada pukul tiga sore. Udara terasa lebih segar daripada di Banjarmasin. Angin bertiup lembut membawa bau air sungai dan pepohonan yang rindang. Riyadi, Aryanti, dan Badrun turun dari kapal dengan perasaan lega. Setelah berminggu minggu di rumah sakit yang pengap dan penuh dengan bau obat obatan, akhirnya mereka bisa menghirup udara bebas lagi.
"Yan, kita naik apa ke desa?" tanya Riyadi sambil memegang koper kecilnya. Tubuhnya masih kurus, wajahnya masih pucat, tapi matanya sudah mulai berbinar lagi.
"Naik ojek saja, Riyad. Tidak ada angkutan umum ke desa kita."
"Tapi kita bertiga. Ojek hanya bisa dua orang."
"Aku naik ojek dengan Badrun. Kau naik ojek sendiri. Atau sebaliknya."
"Aku naik ojek dengan Badrun saja, Yan. Kau naik sendiri. Kau lebih ringan."
Badrun yang mendengar itu langsung protes. "Eh, jangan gitu, Ri. Aku berat. Nanti aku malah bikin ban ojek kempes."
Mereka bertiga tertawa. Tiga ojek datang menghampiri.
"Dek, ke mana? Ke Desa Sriwidadi? Saya tahu jalan," kata seorang tukang ojek bertubuh kurus dengan kumis tipis di bibirnya.
"Iya, Pak. Tiga orang. Tiga ojek."
"Bagaimana dengan ongkosnya, Dek?"
"Berapa biasanya, Pak?"
"Tiga puluh ribu per orang, Dek. Jauh itu. Jalan tanah, banyak lubang."
"Baik, Pak. Saya bayar."
Mereka naik ojek masing masing. Perjalanan menuju desa memakan waktu hampir satu jam. Jalan tanah berlubang di sana sini. Debu beterbangan. Pepohonan di kiri kanan jalan rindang dan hijau. Sesekali mereka melewati kebun karet dan sawah yang menguning.
Sesampainya di Desa Sriwidadi, Riyadi dan Badrun turun di depan rumah Mak Tonah. Aryanti melanjutkan perjalanan ke rumahnya yang berada di selatan desa.
"Yan, besok aku ke rumahmu," kata Riyadi sambil melambaikan tangan.
"Jangan dulu, Riyad. Kau istirahat dulu. Badanmu masih lemah."
"Aku rindu padamu, Yan."
"Aku juga rindu. Tapi istirahat dulu. Besok lusa kita bertemu di dermaga."
"Baik, Yan. Hati hati di jalan."
"Kamu juga."
Aryanti melanjutkan perjalanan. Di depan rumahnya, Saripah sudah menunggu sejak tadi. Wajahnya berseri seri, matanya berkaca kaca, tangannya gemetar karena tidak sabar memeluk anak satu satunya.
"Yan!" teriak Saripah sambil berlari ke arah Aryanti. Tubuhnya yang mulai tua itu bergerak lebih cepat dari biasanya.
"Ma!" Aryanti memeluk ibunya erat erat. Air matanya mengalir deras.
"Kamu kurus, Yan. Wajahmu pucat. Pasti kamu tidak makan di sana."
"Aku makan, Ma. Tapi porsinya sedikit. Aku lebih banyak menjaga Riyadi."
"Bagaimana keadaan Riyadi?"
"Sudah mulai sembuh, Ma. Tapi masih lemah. Dokter bilang harus istirahat total selama tiga bulan."
"Syukurlah. Ibu khawatir kalian berdua."
"Ibu, terima kasih sudah mengizinkan aku pergi. Terima kasih sudah membatalkan lamaran Husin. Terima kasih sudah merestui Riyadi."
Saripah menangis. "Maafkan ibu, Yan. Ibu terlalu materialistis. Ibu terlalu mengagungkan uang. Ibu hampir kehilangan anak karena uang."
"Aku tidak pernah marah pada ibu, Ma. Aku hanya sedih karena ibu tidak mengerti perasaanku."
"Sekarang ibu mengerti, Yan. Ibu mengerti bahwa cinta sejati tidak bisa dibeli dengan uang. Bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari harta. Ibu belajar dari kalian berdua."
"Ibu hebat, Ma. Ibu mau berubah."
"Karena ibu sayang kamu, Yan. Ibu tidak ingin kehilangan kamu."
Mereka masuk ke rumah. Saripah sudah menyiapkan rendang, kue bingka, dan aneka lauk lainnya. Meja makan penuh dengan makanan.
"Ini semua untukmu, Yan. Ibu masak dari pagi."
"Wah, banyak sekali, Ma. Aku tidak bisa habiskan sendiri."
"Bawa saja untuk Riyadi dan Badrun nanti. Kasihan mereka berdua. Badrun juga sakit."
"Ibu baik sekali."
"Sudah, makan dulu. Jangan banyak bicara."
Di rumah kayu tua itu, Mak Tonah sudah menunggu sejak pagi. Ia duduk di beranda dengan mata menerawang ke arah jalan. Wajahnya tua dan keriput, matanya sayu, rambutnya semakin memutih. Ketika melihat Riyadi turun dari ojek, ia langsung berdiri dan berlari—lari yang tidak biasa dilakukan oleh perempuan seusianya.
"Nak! Anakku!" teriak Mak Tonah sambil memeluk Riyadi. Tangannya yang kasar karena bertahun tahun bekerja di sawah itu mengelus elus rambut Riyadi dengan lembut.
"Mak, aku pulang."
"Kamu kurus, Nak. Sangat kurus. Matamu cekung. Pipimu tirus. Rambutmu panjang dan acak acakan."
"Maaf, Mak. Aku sudah membuat Mak khawatir."
"Jangan minta maaf, Nak. Ibu hanya bersyukur kau masih hidup. Ibu takut kalau kalau..."
"Mak, aku baik baik saja. Aku di sini. Aku pulang."
Mak Tonah tidak bisa berkata kata lagi. Ia hanya terus memeluk Riyadi sambil menangis. Badrun yang berdiri di samping mereka ikut menangis.
"Mak, Badrun juga sakit. Kakinya terkilir. Tolong rawat juga," kata Riyadi.
"Tentu, Nak. Badrun anggota keluarga juga. Masuk, masuk. Ibu sudah masak banyak. Ibu buatkan bubur ayam untuk kalian."
Mereka masuk ke rumah. Rumah kayu tua itu masih sama seperti dulu. Dinding papan yang mulai lapuk, lantai papan yang berderit setiap kali diinjak, atap rumbia yang bocor di beberapa bagian. Tapi bagi Riyadi, ini adalah surga. Surga yang paling indah di dunia.
"Nak, ceritakan apa yang terjadi di Banjarmasin," pinta Mak Tonah sambil menyuapi Riyadi dengan bubur ayam buatannya.
"Mak, aku bekerja terlalu keras. Dua puluh jam sehari. Badanku tidak kuat. Aku jatuh pingsan di pasar. Badrun membawaku ke rumah sakit. Aryanti menjengukku. Ia bahkan menjual boneka Nonik pemberianku untuk ongkos ke Banjarmasin."
Mak Tonah menangis lagi. "Kasihan Aryanti. Ia sangat menyayangimu."
"Aku tahu, Mak. Aku tidak akan mengecewakannya."
"Lalu bagaimana dengan biaya rumah sakit? Pasti mahal."
"Haji Bahar yang membayar, Mak. Ia datang ke rumah sakit membawa uang sepuluh juta. Ia minta maaf atas perbuatan Kadir. Ia bahkan bersedia menjadi wali untuk pernikahanku dengan Aryanti."
"Wah, baik sekali Haji Bahar. Ia tidak seperti anaknya."
"Iya, Mak. Orang tua tidak bisa sepenuhnya disalahkan atas kesalahan anak."
"Benar, Nak. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri."
Badrun yang dari tadi makan dengan lahap di samping mereka ikut berkomentar. "Mak, masakan Mak enak sekali. Aku kangen masakan Mak."
"Kalau kangen, sering sering main ke sini, Nak. Ibu akan masakkan apa pun yang kamu suka."
"Terima kasih, Mak. Ibu seperti ibu kandung sendiri buat saya."
Mak Tonah tersenyum. Senyum yang paling tulus yang pernah ia tunjukkan dalam bulan bulan terakhir.
Dua hari kemudian, Aryanti dan Riyadi bertemu di dermaga tua tempat pertama kali mereka jatuh cinta. Dermaga itu masih sama seperti dulu—kayu kayunya lapuk, papan papannya reyot, dan beberapa bagian bahkan sudah bolong. Tapi bagi mereka, dermaga itu adalah tempat paling suci di seluruh desa.
Langit sore itu berwarna jingga keemasan, seperti lukisan Tuhan yang paling indah. Awan awan tipis bergerak lambat, seolah malas meninggalkan pemandangan yang indah. Air sungai beriak tenang, sesekali dilewati oleh perahu perahu kecil milik nelayan yang pulang melaut. Angin berhembus lembut, membawa bau air sungai dan tanah liat yang khas.
"Riyad, kau ingat dulu waktu kita kecil? Kita duduk di sini, kaki digoyang goyangkan ke air. Kau cerita dongeng tentang nelayan dan ikan mas raksasa."
"Aku ingat, Yan. Setiap kata. Setiap tawa. Setiap senyum."
"Aku juga ingat. Sampai sekarang. Sampai kapan pun."
Mereka berdua duduk bersisian di papan dermaga yang sama. Kaki mereka menggantung di atas permukaan air, sesekali menyentuh air yang dingin.
"Riyad, apa yang akan kita lakukan sekarang?"
"Kita akan menikah, Yan. Secepatnya. Aku tidak mau menunda lagi. Aku sudah kehilangan banyak waktu."
"Tapi kau masih sakit, Riyad. Kau masih lemah. Kau harus istirahat."
"Aku bisa istirahat sambil menikah, Yan."
"Jangan bercanda, Riyad. Ini serius."
"Aku serius, Yan. Aku tidak mau menunggu lagi. Aku takut ada laki laki lain yang merebutmu."
"Tidak akan ada, Riyad. Hanya kau. Selamanya."
"Kalau begitu, kita minta restu orang tua kita. Lalu kita siapkan pernikahan."
"Tapi Riyad, kita tidak punya uang."
"Kita punya tujuh juta dari Haji Bahar. Itu cukup untuk pernikahan sederhana."
"Kamu yakin, Riyad? Kamu tidak akan menyesal?"
"Aku yakin, Yan. Aku tidak akan pernah menyesal. Yang aku sesali adalah kenapa tidak dari dulu aku melamarmu."
Mereka berdua terdiam. Menikmati senja yang mulai gelap. Burung burung tekukur mulai pulang ke sarangnya. Matahari semakin rendah di ufuk barat, warnanya berubah dari jingga menjadi merah keemasan.
"Riyad, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Yan."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
"Riyad, jangan pernah pergi lagi."
"Aku tidak akan pergi, Yan. Kecuali kau yang mengusirku."
"Aku tidak akan pernah mengusirmu."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Seperti dulu saat masih kecil.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Kali ini, tidak ada yang tertawa. Hanya ada keyakinan. Keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, mereka akan bersama.
Keesokan harinya, Riyadi pergi ke rumah Aryanti dengan pakaian terbaik yang ia miliki—kemeja putih lengan panjang yang sedikit kusut, celana kain hitam yang sudah pudar warnanya, dan sandal jepit yang tinggal sepasang. Wajahnya masih pucat, badannya masih kurus, tapi matanya berbinar binar penuh harapan.
"Assalamu'alaikum, Bu Saripah," sapa Riyadi sambil menunduk hormat.
Saripah yang sedang menyapu halaman langsung tersenyum. "Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi. Masuk, masuk. Jangan berdiri di depan saja."
"Maaf, Bu. Saya datang tidak dengan membawa apa apa. Saya hanya ingin..."
"Kau ingin melamar Aryanti, kan?"
Riyadi terkejut. "Ibu tahu?"
"Siapa yang tidak tahu, Nak? Seluruh desa sudah tahu kalian berdua saling mencintai. Ibu juga sudah merestui. Tidak perlu sungkan sungkan."
"Tapi Bu, saya belum punya apa apa. Saya belum punya pekerjaan tetap. Saya belum punya rumah. Saya belum punya..."
"Nak Riyadi, ibu tidak butuh semua itu. Ibu hanya butuh satu hal: kebahagiaan anak ibu. Dan kau adalah sumber kebahagiaan itu."
Riyadi menangis. "Bu, saya tidak pantas. Saya orang miskin. Saya tidak bisa memberikan kehidupan mewah pada Aryanti."
"Nak, ibu dulu juga miskin. Ayah Aryanti juga miskin. Tapi kami bahagia. Hidup sederhana, tapi penuh cinta. Itu sudah cukup."
"Tapi Bu..."
"Tidak ada tapi, Nak. Ibu sudah memutuskan. Ibu merestui kalian berdua. Ibu akan menjadi wali untuk pernikahan kalian."
Riyadi sujud di kaki Saripah. "Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak. Saya tidak akan mengecewakan Ibu. Saya janji."
"Ayo bangun, Nak. Jangan cengeng. Laki laki jangan mudah menangis."
"Iya, Bu."
Dari dalam kamar, Aryanti keluar dengan wajah tersipu malu. Wajahnya merah, matanya tidak berani menatap Riyadi.
"Yan, kau dengar semuanya?" tanya Saripah.
"Iya, Ma. Aku dengar."
"Nah, sekarang kalian berdua tentukan tanggal pernikahan. Ibu yang akan mengurus segalanya."
"Ma, aku ingin pernikahan sederhana saja. Tidak perlu pesta besar besaran."
"Terserah kalian, Yan. Yang penting kalian bahagia."
Seminggu kemudian, Riyadi melamar Aryanti di rumah Saripah. Upacaranya sederhana. Hanya dihadiri oleh keluarga dekat dan sahabat. Mak Tonah datang dengan pakaian terbaiknya—kebaya lusuh warna biru tua yang sudah ia simpan sejak pernikahannya dulu. Badrun datang dengan tongkat di tangan, kakinya masih dibalut perban. Ningsih datang dengan wajah berseri seri.
"Assalamu'alaikum, Bu Saripah," sapa Mak Tonah sambil mencium tangan Saripah.
"Wa'alaikumsalam, Bu Tonah. Mari masuk, silakan duduk."
Mereka semua duduk di ruang tamu. Riyadi duduk di samping Mak Tonah. Aryanti duduk di samping Saripah. Mereka berhadapan.
"Bu Saripah, saya datang ke sini bukan dengan membawa harta yang melimpah. Saya hanya membawa ketulusan hati. Saya ingin meminang putri Ibu, Aryanti, untuk menjadi istri saya."
"Nak Riyadi, saya terima lamaranmu. Saya sudah merestui sejak lama. Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin," ucap semua hadirin bersamaan.
Riyadi memberikan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu juta rupiah. Sederhana, tapi penuh makna.
"Yan, terima kasih sudah mau menjadi istri saya," bisik Riyadi.
"Riyad, terima kasih sudah mau menjadi suami saya."
Mereka berdua tersenyum. Badrun dan Ningsih bersiul siul kecil.
"Eh, kalian jangan cemburu, ya. Giliran kalian menyusul," ledek Aryanti.
"Kami juga tidak sabar, Yan," jawab Ningsih sambil melirik Badrun.
Badrun tersenyum malu. Wajahnya yang tambun itu memerah seperti kepiting rebus.
Pernikahan ditetapkan dua minggu lagi. Seluruh warga desa membantu persiapan. Ada yang membantu memasak, ada yang membersihkan rumah, ada yang membuat hiasan, ada yang meminjamkan peralatan.
"Bu Tonah, ini saya bawa beras sepuluh kilogram untuk acara nanti," kata Pak Darma sambil meletakkan karung beras di dapur Mak Tonah.
"Terima kasih, Pak Darma. Ibu tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Ah, tidak usah dibalas, Bu. Ini bentuk kebahagiaan saya melihat Riyadi akhirnya menikah dengan Aryanti."
"Semoga Bapak juga diberi kebahagiaan."
"Aamiin."
Di rumah Aryanti, Saripah sibuk mempersiapkan busana pengantin. Aryanti akan memakai kebaya putih dengan hiasan bunga melati di rambutnya. Sederhana, tapi elegan.
"Ma, aku tidak percaya. Aku akan segera menikah dengan Riyadi."
"Ibu juga tidak percaya, Yan. Dulu ibu sangat menentang. Sekarang ibu yang mengurus semuanya."
"Ma, maafkan aku jika dulu aku sering melawan."
"Sudah, Yan. Jangan bicarakan masa lalu. Fokus pada masa depan."
"Terima kasih, Ma. Aku sayang ibu."
"Ibu juga sayang kamu, Yan. Lebih dari apa pun di dunia ini."
Mereka berpelukan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
Di sela sela persiapan pernikahan, Badrun dan Ningsih semakin dekat. Badrun sering datang ke rumah Ningsih dengan alasan meminjam ini dan itu. Ningsih sering datang ke rumah Badrun dengan alasan mengantarkan makanan.
"Run, kenapa kau sering ke rumahku? Aku jadi malu sama tetangga."
"Karena aku suka sama kamu, Ning. Aku tidak bisa menyembunyikannya lagi."
"Masa sih? Aku tidak percaya. Kau kan suka sama Aryanti dulu."
"Itu dulu, Ning. Waktu kecil. Sekarang aku sudah dewasa. Aku tahu mana yang benar dan mana yang salah."
"Terus, apa maumu?"
"Aku ingin menikah denganmu, Ning. Tapi nanti setelah Riyadi dan Aryanti menikah dulu."
"Kau ini terburu buru, Run. Kita baru kenal."
"Sudah lama kita kenal, Ning. Dari kecil. Hanya saja kita tidak pernah serius."
"Ya, karena kau sibuk ngejar Aryanti."
"Itu dulu, Ning. Sudah, jangan dibawa bawa."
Ningsih tertawa. "Kau lucu, Run. Aku suka."
"Benarkah, Ning? Kau suka padaku?"
"Iya, Run. Aku suka padamu. Sudah lama sebenarnya."
"Kenapa tidak bilang dari dulu?"
"Aku malu. Aku takut ditolak."
"Aku tidak akan pernah menolakmu, Ning. Kau terlalu baik untuk ditolak."
Mereka berdua tersenyum. Di bawah pohon rambai di halaman sekolah dasar yang dulu, mereka berdua berpegangan tangan.
"Run, kita janji. Setelah Riyadi dan Aryanti menikah, kita juga akan menikah."
"Janji, Ning. Aku tidak akan mengingkari."
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Mereka berkelingkitan. Sumpah cinta yang paling sederhana tapi paling kuat.
Hari terakhir sebelum pernikahan, Riyadi tidak bisa tidur. Ia duduk di beranda rumahnya sambil memandang bulan yang bersinar terang. Bintang bintang bertaburan di langit yang gelap, seperti berlian berlian kecil yang tersebar di atas beludru hitam.
"Nak, kenapa belum tidur?" Mak Tonah keluar dari rumah.
"Aku tidak bisa tidur, Mak. Pikiranku kacau."
"Kacau kenapa? Besok kau menikah. Seharusnya kau bahagia."
"Aku bahagia, Mak. Tapi aku juga takut."
"Takut apa, Nak?"
"Aku takut tidak bisa membahagiakan Aryanti. Aku takut tidak bisa menjadi suami yang baik. Aku takut tidak bisa mencukupi kebutuhan keluarga."
"Nak, kau tidak perlu takut. Cinta adalah fondasi yang paling kuat. Dengan cinta, semua akan terasa ringan. Dengan cinta, semua akan terasa indah. Dengan cinta, kau bisa melewati apa pun."
"Apa iya, Mak?"
"Iya, Nak. Ibu dulu juga merasakannya. Ibu tidak punya apa apa ketika menikah dengan ayahmu. Tapi ibu bahagia. Karena ibu punya cinta."
"Terima kasih, Mak. Aku jadi sedikit tenang."
"Sudah, tidur. Besok kau harus segar. Kau tidak boleh terlihat pucat di depan tamu."
"Iya, Mak. Selamat malam."
"Selamat malam, Nak. Mimpi indah."
Di rumah Aryanti, Aryanti juga tidak bisa tidur. Ia duduk di balkon kamarnya sambil memandang bulan yang sama.
"Nonik, di mana pun kau berada, doakan aku. Doakan pernikahanku dengan Riyadi lancar. Doakan kami bahagia."
Boneka Nonik sudah tidak ada lagi di pangkuannya. Ia sudah dijual untuk ongkos ke Banjarmasin. Tapi Aryanti merasa boneka itu masih bersamanya. Masih menjaganya. Masih memberinya kekuatan.
"Nonik, aku rindu kamu. Tapi aku ikhlas melepaskanmu. Kau sudah menjadi bagian dari perjuanganku. Kau sudah menjadi saksi cintaku."
Air matanya menetes.
"Nonik, besok aku akan menjadi istri Riyadi. Istri dari lelaki yang paling aku cintai di dunia ini. Doakan aku. Doakan kami berdua."
Ia masuk ke kamar dan merebahkan diri di tempat tidur. Bantalnya ia peluk erat erat.
"Besok, Riyad. Besok kita akan menjadi satu. Tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita. Tidak ada lagi yang bisa menghalangi cinta kita."
Hari yang dinanti nantikan akhirnya tiba. Matahari bersinar cerah. Langit biru tanpa mendung. Burung burung berkicau riang. Seluruh warga Desa Sriwidadi berkumpul di rumah Saripah untuk menghadiri pernikahan Riyadi dan Aryanti.
Riyadi duduk di pelaminan sederhana yang terbuat dari kayu dan kain putih. Wajahnya berseri seri, matanya berbinar binar, bibirnya tersenyum lebar. Ia mengenakan pakaian pengantin laki laki khas Kalimantan—baju takwa berwarna putih dengan songket di bahu, celana panjang hitam, dan kopiah hitam di kepala. Aryanti duduk di sampingnya dengan kebaya putih berhias bunga melati di rambutnya. Wajahnya cantik sekali. Lebih cantik dari biasanya.
"Ya Allah, cantik sekali pengantinnya," bisik ibu ibu yang hadir.
"Iya, Bu. Bunga desa memang pantas dengan pakaian pengantin."
"Lihat Riyadi. Ia tampan juga ternyata. Selama ini ia kurus dan pucat. Sekarang sudah gemukan sedikit."
"Namanya juga jatuh cinta, Bu. Jatuh cinta bikin orang jadi ganteng dan cantik."
Para hadirin tertawa kecil.
Akad nikah dilangsungkan setelah sholat zuhur. Saripah menjadi wali untuk Aryanti karena tidak ada wali laki laki dari keluarga. Haji Bahar menjadi saksi di samping Pak RT.
"Nak Riyadi, saya nikahkan kau dengan Aryanti binti Saripah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan satu juta rupiah, tunai," ucap Saripah dengan suara lantang.
"Saya terima nikahnya Aryanti binti Saripah dengan mas kawin tersebut, tunai," jawab Riyadi dengan suara tegas.
Para hadirin bersorak. "Takbir! Allahu Akbar!"
Takbir bergema di seluruh desa. Riyadi dan Aryanti resmi menjadi suami istri.
Mereka berdua saling menatap. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Yan, akhirnya. Kau menjadi istriku."
"Riyad, akhirnya. Kau menjadi suamiku."
Mereka berpelukan di depan semua tamu. Tidak ada yang berani bersiul atau bercanda. Semua terharu melihat perjuangan cinta mereka yang akhirnya membuahkan hasil.
Badrun menangis di samping Ningsih. "Ning, aku terharu."
"Aku juga, Run. Aku juga."
"Hari ini adalah hari paling bahagia dalam hidupku. Selain hari pernikahan kita nanti."
"Kapan kita menikah, Run?"
"Kapan saja kau mau, Ning. Aku siap."
"Bulan depan, Run. Aku tidak mau menunggu lama."
"Baik, Ning. Bulan depan."
Mereka berdua tersenyum.
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Riyadi dan Aryanti masuk ke kamar yang sudah dihias sederhana dengan bunga bunga dan kelambu putih. Kamar itu adalah kamar Aryanti yang dulu. Dindingnya bercat hijau pucat, tempat tidurnya terbuat dari kayu jati tua, dan di pojok kamar masih terlihat bekas boneka Nonik yang dulu selalu duduk di sana.
"Yan, akhirnya kita bersama."
"Iya, Riyad. Akhirnya."
"Kau tidak menyesal menikah denganku?"
"Aku tidak pernah menyesal, Riyad. Dari dulu. Sampai sekarang. Sampai selamanya."
"Aku juga, Yan. Aku tidak pernah menyesal. Semua perjuangan ini terbayar sudah."
"Apa yang akan kita lakukan besok, Riyad?"
"Besok kita akan bangun pagi. Kita akan sarapan bersama. Kita akan ke dermaga. Kita akan duduk di sana, kaki digoyang goyangkan ke air. Seperti dulu. Seperti waktu kita masih kecil."
"Dan kau akan cerita dongeng tentang nelayan dan ikan mas raksasa?"
"Tentu, Yan. Dongeng yang sama. Cerita yang sama. Tapi dengan akhir yang berbeda."
"Akhir yang bagaimana?"
"Akhir yang bahagia. Di mana nelayan itu tidak kehilangan perahunya. Di mana ikan mas raksasa itu tidak melompat lompat. Di mana semua tetangga makan bersama dengan gembira."
"Kau bisa mengubah akhir dongeng?"
"Kita bisa mengubah akhir cerita kita, Yan. Karena kita adalah penulis cerita kita sendiri."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang paling tulus. Senyum yang lahir dari cinta sejati yang tidak pernah padam.
Di luar, bulan bersinar terang. Bintang bintang bertaburan. Angin malam berhembus lembut. Alam semesta seolah ikut merayakan kebahagiaan mereka.
Desa Sriwidadi yang tenang itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta yang panjang. Cinta yang dimulai dari dermaga kayu reyot, ketika mereka masih kecil dan belum tahu apa apa tentang cinta. Cinta yang melewati fitnah, tekanan keluarga, perjuangan di perantauan, sakit yang hampir membunuh, dan akhirnya... akhirnya... sampai pada pelaminan.
Pucuk dicinta, ulam tiba.
BAB XV
PERTEMUAN DENGAN PAK HARUN
Matahari baru saja terbit ketika Riyadi membuka matanya. Cahaya pagi masuk melalui celah celah jendela kamar yang masih dihiasi bunga bunga sisa pernikahan kemarin. Udara pagi terasa sejuk dan segar. Di sampingnya, Aryanti masih terlelap dengan wajah tenang dan senyum tipis di bibirnya.
Riyadi menatap wajah istrinya itu lama. Wajah yang sama yang ia kenal sejak kecil. Wajah yang selalu menghiasi mimpinya di kala ia bekerja keras di Banjarmasin. Wajah yang menjadi alasan ia bertahan hidup di tengah segala penderitaan.
"Yan, sekarang kau benar benar istriku," bisik Riyadi sambil mengusap rambut Aryanti dengan lembut.
Aryanti bergerak kecil. Matanya terbuka perlahan. "Riyad, kau sudah bangun? Pagi sekali."
"Aku tidak bisa tidur lagi, Yan. Aku terlalu bahagia."
"Kita akan bahagia selalu, Riyad. Aku janji."
"Aku juga janji, Yan."
Mereka berdua duduk di tempat tidur. Aryanti menyandarkan kepalanya di bahu Riyadi. Riyadi memeluk pinggang Aryanti dengan erat.
"Riyad, kau masih ingat dulu? Waktu kita kecil, kita bangun pagi pagi lalu pergi ke dermaga. Kaki digoyang goyangkan ke air. Kau cerita dongeng. Aku tertawa."
"Aku ingat, Yan. Setiap detiknya."
"Kenapa dulu kau suka cerita dongeng yang aneh aneh? Nelayan dan ikan mas raksasa. Mana ada nelayan yang perahunya hanyut karena mengejar ikan?"
"Itu dongeng, Yan. Dongeng tidak harus logis. Yang penting menghibur."
"Kau menghiburku, Riyad. Dari kecil sampai sekarang. Kau selalu menghiburku di saat aku sedih. Kau selalu menguatkanku di saat aku lemah. Kau selalu menjadi tempatku pulang di saat aku tersesat."
"Karena kau adalah rumahku, Yan. Sejak pertama kali aku melihatmu di dermaga itu, aku tahu kau adalah rumahku. Tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Tanpa topeng. Tanpa kepalsuan. Tanpa rasa takut."
Mereka berdua terdiam. Menikmati kebersamaan di pagi yang baru.
"Riyad, aku lapar."
"Ayo kita sarapan. Ibu pasti sudah masak."
Mereka turun dari tempat tidur. Di dapur, Mak Tonah dan Saripah sudah sibuk memasak. Mak Tonah menggoreng ikan, Saripah memasak sayur asam. Wangi masakan memenuhi seluruh rumah.
"Selamat pagi, anak anak," sapa Saripah sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Mak. Selamat pagi, Bu," jawab Riyadi dan Aryanti bersamaan.
"Kalian sudah sah jadi suami istri, sekarang panggilannya harus disesuaikan," kata Mak Tonah sambil membalik ikan di wajan. "Riyadi panggil Saripah 'Ibu', panggil saya 'Mak'. Aryanti panggil saya 'Mak', panggil Saripah 'Ibu'. Jangan bingung."
"Baik, Mak. Baik, Ibu," kata Riyadi.
"Aku sudah siapkan bubur ayam untuk kalian berdua. Makan dulu. Nanti siang kita akan kenduri lagi untuk keluarga dekat," kata Saripah sambil menyodorkan dua mangkuk bubur ayam.
Mereka berdua makan dengan lahap. Bubur ayam buatan Saripah memang terkenal enak se desa. Gurih, hangat, dan penuh dengan rempah.
"Yan, setelah ini kita ke dermaga, ya?" pinta Riyadi.
"Tentu, Riyad. Aku juga ingin ke sana."
Setelah sarapan, Riyadi dan Aryanti berjalan menuju dermaga tua. Mereka berdua bergandengan tangan. Langkah mereka lambat, menikmati setiap hembusan angin pagi yang membawa bau rumput basah dan embun. Sesekali mereka berpapasan dengan warga desa yang tersenyum dan memberi salam.
"Selamat pagi, pengantin baru!" sapa Pak Darma yang sedang membuka warungnya.
"Selamat pagi, Pak Darma," jawab Riyadi.
"Semoga kalian langgeng dan bahagia selalu."
"Aamiin, Pak Darma."
Mereka melanjutkan perjalanan. Sesampainya di dermaga, mereka duduk di papan kayu yang sama seperti dulu. Kayu kayunya sudah semakin lapuk, papan papannya reyot, beberapa bagian sudah bolong. Tapi bagi mereka, dermaga ini adalah tempat paling sakral.
Kaki mereka menggantung di atas permukaan air. Air sungai beriak tenang. Ikan ikan kecil kadang melompat ke permukaan. Angin pagi berhembus sejuk.
"Riyad, ceritakan padaku tentang Banjarmasin. Yang tidak pernah kau tulis dalam surat."
"Cerita apa lagi, Yan? Semua sudah aku tulis."
"Cerita tentang penderitaanmu. Tentang kesendirianmu. Tentang bagaimana kau bisa bertahan hidup di kota besar yang keras itu."
Riyadi menghela napas. "Yan, jujur, hidup di Banjarmasin sangat berat. Aku dan Badrun tinggal di petak kayu kecil di belakang pasar. Ukurannya tidak lebih besar dari kandang ayam. Lantainya tanah, atapnya seng, dindingnya papan. Mandi di kamar mandi umum yang becek dan bau."
"Kasihan kau, Riyad."
"Tapi aku tidak menyesal. Aku belajar banyak di sana. Aku belajar bahwa hidup ini keras. Bahwa tidak semua orang baik. Bahwa uang sangat sulit dicari."
"Tapi kau juga bertemu dengan orang orang baik, kan?"
"Iya, Yan. Aku bertemu dengan Haji Rahman, majikanku. Ia memang agak pelit, tapi ia baik hati. Ia memberi upah layak dan tidak pernah memotong tanpa alasan. Aku juga bertemu dengan Haji Udin, majikanku di pasar malam. Ia sedikit keras, tapi ia sayang pada pekerjanya. Dan yang paling penting, aku bertemu dengan Pak Harun."
"Pak Harun? Siapa itu?"
"Pengusaha kayu yang aku ceritakan dalam surat. Ia menawarkan pekerjaan padaku. Gajinya besar. Tapi aku belum sempat menerimanya karena aku sakit."
"Kenapa kau tidak menerimanya saja, Riyad?"
"Karena aku harus pulang. Aku harus menikahimu. Aku tidak mau menunda lagi. Aku takut kehilanganmu."
"Riyad, kau tidak akan pernah kehilanganku. Sekarang kita sudah menikah. Kita sudah sah. Apa pun yang terjadi, kita akan bersama."
"Tapi Yan, tawaran Pak Harun bagus. Gajinya tiga juta sebulan. Itu cukup untuk hidup layak di Banjarmasin. Aku bisa mengirim uang ke desa. Aku bisa membangun rumah untuk kita."
"Kita bisa pikirkan nanti, Riyad. Sekarang fokus dulu pada pemulihan kesehatanmu. Kau masih kurus. Kau masih lemah. Jangan pikirkan kerja dulu."
"Tapi Yan, aku tidak bisa diam saja. Aku harus bekerja. Aku harus mencari nafkah untuk istriku."
"Kau bisa bekerja di sini. Di desa. Bantu Mak Tonah di kebun. Bantu ibu di sawah. Tidak perlu ke Banjarmasin lagi."
"Tapi Yan, hasilnya kecil. Tidak cukup untuk kebutuhan kita."
"Kebutuhan kita sederhana, Riyad. Kita tidak butuh mewah. Yang penting kita bersama. Yang penting kita sehat. Yang penting kita bahagia."
Riyadi diam. Ia merenungkan kata kata Aryanti.
"Baiklah, Yan. Untuk sementara aku akan tinggal di desa. Tapi suatu hari nanti, aku akan kembali ke Banjarmasin. Aku akan menghubungi Pak Harun. Aku akan bekerja padanya. Aku akan sukses."
"Aku mendukungmu, Riyad. Apa pun keputusanmu, aku akan mendukung."
Mereka berdua tersenyum. Angin pagi berhembus membawa bau bunga desa yang mulai mekar di musim kemarau.
Seminggu setelah pernikahan, sebuah surat datang ke rumah Riyadi. Surat itu dikirimkan oleh seorang kurir dari Banjarmasin. Amplopnya putih bersih dengan perangko merah di sudut kanan atas. Tulisan di amplop itu rapi dan tegas.
"Nak, ada surat untukmu," kata Mak Tonah sambil menyerahkan amplop pada Riyadi.
"Siapa yang mengirim, Mak?"
"Entahlah. Ini dari Banjarmasin."
Riyadi membuka amplop itu dengan hati hati. Surat itu ditulis dengan mesin tik, bukan tulisan tangan. Isinya singkat, tapi jelas.
Kepada Saudara Riyadi
di Desa Sriwidadi, Kuala Kapuas
Assalamu'alaikum.
Saudara Riyadi, saya Pak Harun. Saya masih ingat pertemuan kita di Banjarmasin sebulan lalu. Saya masih membutuhkan tenaga saudara untuk perusahaan kayu saya. Gaji tiga juta sebulan, plus bonus dan fasilitas mess.
Jika saudara berminat, silakan hubungi nomor telepon di bawah ini. Saya tunggu kabar baik dari saudara.
Wassalamu'alaikum.
Pak Harun
Pengusaha Kayu
Banjarmasin
Riyadi membaca surat itu berulang ululang. "Ya Allah, ini jawaban doaku."
"Ada apa, Nak?" tanya Mak Tonah.
"Pak Harun, pengusaha kayu yang aku temui di Banjarmasin, mengirim surat. Ia masih membutuhkan tenagaku. Gajinya tiga juta sebulan, Mak. Tiga juta!"
Mak Tonah terkejut. Matanya membulat, mulutnya terbuka. "Tiga juta, Nak? Itu sangat besar. Setara dengan hasil kebun karet selama tiga bulan."
"Iya, Mak. Ini peluang bagus. Aku tidak boleh melewatkannya."
"Tapi kesehatanmu, Nak. Kau masih dalam masa pemulihan."
"Aku sudah jauh lebih baik, Mak. Aku sudah bisa makan dengan lahap. Aku sudah tidak lemas lagi."
"Tapi dokternya bilang kau harus istirahat tiga bulan. Sekarang baru satu bulan."
"Mak, aku tidak mau kehilangan kesempatan ini. Berapa lama lagi aku harus menunggu pekerjaan sebaik ini?"
Mak Tonah menghela napas. "Baiklah, Nak. Itu keputusanmu. Tapi bicarakan dulu dengan Aryanti. Istrimu itu keras kepala. Jika kau pergi tanpa sepengetahuannya, kau akan kena batunya."
Riyadi tersenyum. "Aku tahu, Mak. Aku akan bicara dengan Aryanti."
Malam harinya, Riyadi memberi tahu Aryanti tentang surat dari Pak Harun. Aryanti yang sedang merapikan tempat tidur langsung berhenti. Wajahnya berubah tegang, alisnya berkerut, bibirnya mengerucut.
"Riyad, kau serius akan kembali ke Banjarmasin?"
"Aku serius, Yan. Ini peluang bagus. Gajinya tiga juta sebulan. Itu sangat besar."
"Tapi kesehatanmu, Riyad. Dokter bilang kau harus istirahat tiga bulan."
"Aku sudah jauh lebih baik, Yan."
"Belum. Tubuhmu masih kurus. Pipimu masih tirus. Matamu masih cekung. Aku bisa melihatnya."
"Tapi Yan, aku tidak mau kehilangan kesempatan ini."
"Kesempatan masih bisa datang lagi. Kesehatan tidak. Kalau kau sakit lagi, siapa yang akan menjagamu? Aku tidak bisa terus ke Banjarmasin menjengukmu. Ongkosnya mahal."
"Tapi Yan, Pak Harun bilang ia menyediakan mess. Aku akan tinggal di mess. Ada yang masak. Ada yang bersih bersih. Aku tidak akan bekerja terlalu keras."
"Kau bilang begitu, tapi kau pasti akan bekerja keras. Kau Riyadi yang aku kenal. Tidak pernah puas dengan hasil. Selalu ingin lebih. Selalu memaksakan diri."
"Yan, kenapa kau tidak mendukung keputusanku?"
"Karena aku takut kehilanganmu, Riyad. Aku baru saja mendapatmu. Aku belum puas berada di sampingmu. Aku belum puas menikmati kebersamaan kita. Aku belum puas menjadi istrimu."
Riyadi memeluk Aryanti. "Yan, kau tidak akan kehilanganku. Aku akan kembali. Aku janji."
"Kau sudah pernah janji dulu. Tapi kau hampir mati di Banjarmasin."
"Itu karena aku bekerja terlalu keras. Kali ini aku akan lebih santai. Aku tidak akan memaksakan diri."
"Kau tidak bisa menjanjikan itu, Riyad. Karena kau belum tahu bagaimana nanti."
"Yan, percayalah padaku. Sekali ini saja. Setelah aku berhasil, kita akan hidup bahagia selamanya."
Aryanti menangis. "Riyad, kau terlalu ambisius. Cinta kita sudah cukup. Kita tidak butuh harta."
"Tapi Yan, aku butuh membuktikan pada semua orang bahwa aku layak untukmu. Bahwa aku bisa memberikan kehidupan yang layak untukmu dan anak anak kita nanti."
"Anak anak? Kita belum punya anak, Riyad."
"Nanti, Yan. Suatu hari nanti. Aku ingin anak anak kita hidup berkecukupan. Tidak seperti kita yang dulu susah."
Aryanti menghela napas. "Baiklah, Riyad. Aku mengizinkanmu pergi. Tapi dengan satu syarat."
"Apa syaratnya, Yan?"
"Kau harus sehat dulu. Setelah doktermu menyatakan kau benar benar pulih, baru kau boleh pergi."
"Baik, Yan. Aku setuju."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Jari kelingking mereka bertaut erat.
Keesokan harinya, Riyadi pergi ke Puskesmas Kuala Kapuas untuk memeriksakan kesehatannya. Aryanti menemani. Dokter yang memeriksa adalah dr. Hendra—dokter yang sama yang merawat Riyadi di Banjarmasin. Kebetulan dr. Hendra sedang bertugas di Puskesmas Kuala Kapuas karena ada program pertukaran dokter.
"Wah, Nak Riyadi. Kau sudah menikah rupanya," sapa dr. Hendra sambil melihat buku status kesehatan Riyadi.
"Iya, Dok. Seminggu yang lalu."
"Selamat ya. Semoga bahagia."
"Terima kasih, Dok."
"Jadi, apa keluhanmu sekarang?"
"Aku ingin memeriksakan kesehatan, Dok. Aku ingin tahu apakah aku sudah boleh bekerja keras atau belum."
Dr. Hendra memeriksa Riyadi dengan saksama. Ia melihat mata Riyadi, mulut Riyadi, telinga Riyadi, dada Riyadi. Ia mengukur tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh. Wajahnya serius, konsentrasi.
"Wah, Nak Riyadi. Tekanan darahmu masih rendah. Denyut nadimu masih lemah. Berat badanmu masih kurang."
"Berapa berat badanku, Dok?"
"Empat puluh delapan kilogram, Nak. Idealnya untuk tinggi badan seratus enam puluh lima sentimeter minimal lima puluh lima kilogram."
"Jadi, aku belum boleh bekerja keras?"
"Belum, Nak. Harus istirahat total setidaknya satu bulan lagi."
"Tapi Dok, ada tawaran pekerjaan dari Banjarmasin. Gajinya besar. Aku tidak mau kehilangan kesempatan."
"Kesempatan bisa datang lagi, Nak. Kesehatan tidak. Kau harus mendahulukan kesehatan."
Aryanti yang mendengar itu langsung menangis. "Sudah dengar, Riyad? Dokter bilang kau belum boleh bekerja keras."
"Tapi Yan..."
"Tidak ada tapi, Riyad. Kau harus patuh pada dokter."
Dr. Hendra tersenyum. "Dengarkan istrimu, Nak. Ia hanya sayang padamu."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Ya, sama sama. Jangan lupa minum vitamin. Makan yang bergizi. Jangan begadang. Jangan stres."
"Baik, Dok."
Seminggu kemudian, seorang pria paruh baya datang ke Desa Sriwidadi. Ia mengendarai mobil Jeep warna hijau tua dengan plat nomor Banjarmasin. Wajahnya bulat, rambutnya putih, jenggotnya rapi. Ia mengenakan kemeja batik lengan panjang dan celana kain hitam. Di belakangnya, dua orang asisten membawa tas dan koper.
"Maaf, Bapak cari siapa?" tanya Pak Darma yang sedang duduk di warung kopi.
"Saya cari Riyadi. Rumahnya di mana?"
"Riyadi? Pengantin baru itu?"
"Iya, Pak. Saya Pak Harun dari Banjarmasin. Saya ada urusan dengannya."
"Duduk dulu, Pak. Saya panggilkan."
Pak Darma menyuruh anaknya yang masih kecil untuk memanggil Riyadi. Tak lama, Riyadi datang dengan wajah terkejut.
"Pak Harun? Bapak datang ke desa?"
"Nak Riyadi, maaf saya datang tanpa kabar. Saya ingin menanyakan langsung keputusanmu. Saya tidak ingin hanya mengandalkan surat."
"Pak Harun, maaf. Kesehatan saya belum memungkinkan untuk bekerja. Saya masih dalam masa pemulihan."
"Saya tahu, Nak. Saya dengar dari dokter Hendra. Saya datang bukan untuk memaksa. Saya datang untuk menawarkan solusi."
"Solusi apa, Pak?"
"Kau tidak usah ke Banjarmasin. Aku yang akan datang ke sini. Aku akan memindahkan sebagian operasional perusahaanku ke Kuala Kapuas. Aku akan membuka cabang di sini. Dan kau akan menjadi kepala cabangnya."
Riyadi tidak percaya pada apa yang ia dengar. "Apa, Pak? Bapak serius?"
"Saya serius, Nak. Saya sudah lama ingin memperluas usaha ke Kuala Kapuas. Pertemuanku denganmu adalah pertanda. Aku percaya kau orang yang jujur dan pekerja keras. Aku tidak akan salah pilih."
"Tapi Pak, saya tidak punya modal. Saya tidak punya pengalaman. Saya hanya lulusan SMP."
"Modal tidak masalah, Nak. Saya yang akan menyediakan. Pengalaman bisa dipelajari. Yang penting kemauan dan kejujuran."
Riyadi menangis. "Pak Harun, saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Kau tidak perlu membalas apa pun, Nak. Cukup kerja dengan baik. Jujur. Bertanggung jawab. Itu sudah lebih dari cukup."
Aryanti yang mendengar percakapan dari dalam rumah langsung keluar. Wajahnya berseri seri, matanya berbinar binar, bibirnya tersenyum lebar.
"Assalamu'alaikum, Pak Harun. Saya Aryanti, istri Riyadi."
"Wa'alaikumsalam, Bu. Cantik sekali istri Riyadi. Pantas ia berjuang mati matian untukmu."
Aryanti tersenyum malu. "Terima kasih, Pak. Mari masuk ke rumah. Silakan minum dulu."
"Baik, Bu. Saya terima."
Pak Harun menginap di rumah Riyadi selama tiga hari. Ia menjelaskan rencana bisnisnya secara detail. Riyadi mendengarkan dengan saksama, mencatat poin poin penting di buku tulis cokelat tua miliknya.
"Jadi, Nak, kita akan membuka cabang di Kuala Kapuas. Kantornya akan saya bangun di pinggir jalan raya, dekat pelabuhan. Lokasinya strategis. Mudah dijangkau. Transportasi barang lancar."
"Apa yang akan saya lakukan, Pak?"
"Kau akan menjadi kepala cabang. Tugasmu menerima pesanan kayu, mengatur pengiriman, memastikan kualitas barang, dan melaporkan ke Banjarmasin setiap bulan."
"Saya tidak bisa sendiri, Pak. Saya butuh tenaga pembantu."
"Tentu. Kau bisa merekrut siapa pun yang kau percaya. Aku akan menggaji mereka. Siapkan saja daftarnya."
"Aku punya teman, Pak. Namanya Badrun. Ia baru sembuh dari sakit. Kakinya masih terkilir. Tapi ia pekerja keras. Jujur. Tidak pernah mencuri."
"Bagus. Rekrut dia. Jadikan dia wakilmu."
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Sudah saya bilang, kau tidak perlu membalas apa pun. Cukup kerja dengan baik."
Riyadi dan Badrun kemudian mempersiapkan segala sesuatunya. Badrun yang kakinya masih sedikit pincang, tapi semangatnya membara. Ia senang sekali mendapatkan pekerjaan layak setelah sekian lama hanya menjadi buruh kasar.
"Ning, aku akhirnya punya pekerjaan tetap," kata Badrun pada Ningsih.
"Syukurlah, Run. Aku senang mendengarnya."
"Ning, sekarang aku berani melamarmu. Aku punya penghasilan tetap. Aku bisa membiayai pernikahan kita."
"Kapan, Run?"
"Bulan depan, Ning. Setelah persiapan selesai."
"Aku menunggumu, Run."
Mereka berdua tersenyum. Di bawah pohon rambai di halaman sekolah dasar yang dulu, mereka berdua berpegangan tangan.
Sebulan kemudian, kantor cabang perusahaan kayu Pak Harun mulai beroperasi. Bangunannya sederhana—dinding papan dicat putih, atap seng, lantai semen. Tapi bagi Riyadi, ini adalah istana. Istana yang akan mengubah hidupnya.
"Nak Riyadi, ini kunci kantornya. Saya serahkan padamu," kata Pak Harun sambil menyerahkan seikat kunci.
"Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga amanah ini sebaik baiknya."
"Saya percaya padamu, Nak. Jangan kecewakan saya."
"Saya tidak akan, Pak."
Pak Harun kembali ke Banjarmasin. Riyadi dan Badrun mulai bekerja. Mereka mengatur meja, kursi, lemari arsip, dan peralatan lainnya. Aryanti dan Ningsih membantu membersihkan ruangan.
"Yan, akhirnya aku punya pekerjaan yang layak. Aku tidak perlu merantau lagi."
"Aku senang, Riyad. Aku bisa berada di sampingmu setiap hari."
"Kita akan sukses bersama, Yan. Kau, aku, Badrun, Ningsih. Kita semua."
"Kita semua. Bersama."
Mereka berempat tersenyum. Kebahagiaan terpancar dari wajah masing masing.
Kabar tentang keberhasilan Riyadi membuka cabang perusahaan kayu dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Warga yang dulu memfitnahnya, kini memujinya. Warga yang dulu menjauhinya, kini mendekatinya. Warga yang dulu meragukannya, kini percaya padanya.
"Nak Riyadi, kau hebat. Bisa bekerja sama dengan pengusaha kayu dari Banjarmasin," puji Pak Lurah ketika bertemu Riyadi di pasar.
"Ini semua berkat doa warga, Pak Lurah. Dan bantuan Pak Harun."
"Jangan rendah hati, Nak. Kau berhasil karena kerja kerasmu sendiri."
"Terima kasih, Pak Lurah."
"Nak, kapan kau akan membangun rumah baru? Rumah kayumu yang dulu sudah tidak layak huni."
"Insya Allah, tahun depan, Pak. Setelah saya punya tabungan cukup."
"Bagus, Nak. Saya dukung."
Riyadi pulang ke rumah dengan hati yang berbunga bunga. Aryanti sedang sibuk memasak di dapur.
"Yan, apa kabar?"
"Kabar baik, Riyad. Aku baru saja membeli ikan patin di pasar. Harganya murah."
"Yan, kita akan sukses. Aku yakin."
"Aku juga yakin, Riyad. Kita akan sukses bersama."
Mereka berdua berpelukan. Di dapur yang sederhana itu, cinta mereka semakin kuat.
Tiga bulan kemudian, setelah persiapan matang, Badrun melamar Ningsih. Upacaranya sederhana. Hanya dihadiri keluarga dekat dan sahabat. Riyadi menjadi saksi. Aryanti membantu mempersiapkan segalanya.
"Ning, saya datang ke sini bukan dengan membawa harta yang melimpah. Tapi saya datang dengan ketulusan hati. Saya ingin meminangmu menjadi istri saya," ucap Badrun dengan suara agak gugup.
"Nak Badrun, saya terima lamaranmu. Semoga kalian berdua menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah," ucap ibu Ningsih.
"Aamiin," ucap semua hadirin.
Ningsih menangis. Badrun juga menangis. Mereka berdua sudah sangat lama menunggu momen ini.
"Run, akhirnya kita bertunangan."
"Iya, Ning. Sebentar lagi kita akan menikah."
"Aku tidak sabar, Run."
"Aku juga tidak sabar, Ning."
Riyadi dan Aryanti tersenyum melihat kebahagiaan sahabat mereka. Perjuangan yang panjang akhirnya membuahkan hasil untuk semuanya.
"Yan, lihat Badrun. Ia sangat bahagia."
"Aku juga bahagia, Riyad. Melihat sahabat kita bahagia."
"Kita semua akan bahagia, Yan. Kita semua."
BAB XVI
BELAJAR BERDAGANG
Pagi itu Riyadi sudah berdiri di depan kantor cabang perusahaan kayu sejak pukul setengah enam. Langit masih gelap, bintang bintang masih bertaburan, fajar belum sepenuhnya menyingsing. Udara dingin menusuk tulang. Ia membuka kunci pintu dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena kedinginan, tapi karena rasa tidak sabar. Kantor itu sederhana, dinding papan dicat putih kusam, atap seng yang sudah mulai berkarat di beberapa bagian, lantai semen yang masih terasa kasar. Tapi bagi Riyadi, ini adalah istana.
"Nak Riyadi, sudah datang? Masih pagi sekali," tegur Pak Harun yang ternyata sudah duduk di dalam kantor. Pria paruh baya dengan jenggot putih rapi itu tersenyum sambil memegang secangkir kopi hitam pekat.
"Pak Harun? Bapak sudah ada di sini dari kapan?"
"Sejak subuh, Nak. Saya ingin lihat semangat karyawan baru saya. Dan ternyata, saya tidak kecewa."
"Maaf, Pak. Saya tidak tahu Bapak sudah datang."
"Tidak usah minta maaf, Nak. Ini justru bagus. Semangatmu luar biasa."
Riyadi masuk ke kantor. Ia duduk di kursi kayu sederhana di depan meja kayu lapuk.
"Pak Harun, saya ingin belajar. Saya ingin bisa mengelola perusahaan ini dengan baik. Saya ingin membuat Bapak bangga."
"Nak Riyadi, niat baikmu sudah saya lihat. Tapi niat saja tidak cukup. Kau harus belajar. Kau harus tahu seluk beluk bisnis kayu. Dari mana kayu berasal, bagaimana cara mengolahnya, bagaimana cara memasarkannya, bagaimana cara mengatur keuangan, bagaimana cara mengelola karyawan. Semua harus kau pelajari."
"Saya siap belajar, Pak. Saya tidak takut dengan tantangan."
"Bagus. Mulai hari ini, saya akan mengajarimu. Saya tidak akan pulang ke Banjarmasin sebelum kau benar benar mengerti."
"Apa tidak merepotkan, Pak? Bapak pasti punya keluarga di Banjarmasin."
"Keluarga saya sudah dewasa semua. Anak anak saya sudah mandiri. Istri saya sudah terbiasa ditinggal. Saya lebih khawatir dengan kau yang baru menikah. Istri mudamu tidak keberatan kau sibuk?"
"Tidak, Pak. Aryanti sangat mendukung. Ia bilang, ia akan sabar menunggu."
"Istrimu baik sekali, Nak. Jangan sia siakan."
"Saya tidak akan, Pak. Saya janji."
Pak Harun memulai pelajaran pertamanya. Ia mengajak Riyadi berkeliling ke hutan hutan di sekitar Kuala Kapuas untuk melihat langsung sumber kayu.
"Nak, bisnis kayu ini bisnis yang rumit. Tidak semua kayu bisa dijual. Hanya kayu tertentu yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Misalnya kayu ulin, kayu meranti, kayu jati, kayu mahoni. Yang lainnya biasanya hanya untuk kayu bakar."
"Apa ciri ciri kayu yang bagus, Pak?"
"Kayu yang bagus itu keras, padat, tidak mudah lapuk dimakan rayap, dan memiliki serat yang rapi. Contohnya kayu ulin. Kayu ini sangat keras, warnanya hitam kecokelatan, dan sangat tahan air. Banyak digunakan untuk membuat dermaga, jembatan, dan perahu."
"Wah, saya baru tahu, Pak. Selama ini saya hanya tahu getah karet."
"Kau akan tahu banyak hal selama berguru padaku, Nak. Tapi jangan hanya tahu, kau juga harus paham. Jangan hanya paham, kau juga harus bisa mempraktikkan."
"Baik, Pak. Saya akan berusaha."
Sepanjang hari mereka berkeliling hutan. Pak Harun menunjukkan berbagai jenis kayu. Riyadi mencatat semua dengan saksama di buku tulis cokelat tua miliknya. Ia juga menggambar bentuk daun, bentuk batang, dan warna kayu setiap pohon.
"Nak, kau ternyata pintar menggambar," puji Pak Harun.
"Saya belajar otodidak, Pak. Dari kecil saya suka menggambar."
"Bakat itu harus diasah, Nak. Suatu hari nanti, gambar gambarmu mungkin berguna untuk katalog perusahaan."
"Insya Allah, Pak."
Di rumah, Aryanti tidak tinggal diam. Ia belajar memasak berbagai masakan untuk Riyadi. Ia ingin suaminya makan enak setiap pulang kerja. Ia juga belajar mengatur keuangan rumah tangga agar tidak boros.
"Yan, kau hebat. Sekarang masakanmu lebih enak dari masakan ibu," puji Saripah suatu sore ketika Aryanti selesai memasak rendang.
"Terima kasih, Ibu. Aku belajar dari ibu dan Mak Tonah."
"Ibu bangga padamu, Yan. Kau istri yang baik. Riyadi beruntung mendapatmu."
"Aku yang beruntung, Ibu. Riyadi suami yang baik. Ia bekerja keras untuk keluarga kita."
"Tapi jangan lupa kesehatanmu, Yan. Jangan terlalu lelah."
"Aku tidak lelah, Ibu. Aku senang melakukan semua ini untuk Riyadi."
Malam harinya, ketika Riyadi pulang dengan badan penuh lumpur dan keringat, Aryanti sudah menyiapkan air hangat untuk mandi. Ia juga sudah menyiapkan pakaian bersih dan makanan hangat.
"Riyad, mandi dulu. Makanannya masih hangat."
"Yan, kau baik sekali. Aku tidak pantas mendapatmu."
"Jangan bicara begitu, Riyad. Kita suami istri. Kita harus saling mendukung."
Riyadi memeluk Aryanti. "Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Yan, Pak Harun sangat baik padaku. Ia mengajariku banyak hal. Aku belajar tentang kayu, tentang bisnis, tentang mengelola keuangan."
"Kau pasti akan sukses, Riyad. Aku percaya."
"Terima kasih, Yan. Doakan aku."
"Aku akan selalu mendoakanmu, Riyad. Setiap malam. Setiap sujud."
Badrun tidak mau ketinggalan. Ia juga ingin belajar dari Pak Harun. Setiap hari ia datang ke kantor lebih awal, menyapu lantai, membersihkan meja, menyiapkan kopi.
"Pak Harun, saya juga ingin belajar," pinta Badrun suatu pagi.
"Kau juga? Bukannya kau wakil kepala cabang, Nak? Tugasmu mengatur karyawan, bukan belajar."
"Saya ingin lebih dari itu, Pak. Saya ingin menjadi pengusaha juga suatu hari nanti."
"Bagus semangatmu, Nak. Saya akan ajar. Tapi kau harus rajin. Tidak boleh malas."
"Saya tidak akan malas, Pak. Saya janji."
Pak Harun kemudian mengajari Badrun tentang administrasi. Ia mengajari cara membuat faktur, cara mencatat pemasukan dan pengeluaran, cara membuat laporan keuangan sederhana.
"Run, ini sulit," keluh Badrun.
"Memang sulit, Nak. Tapi kalau tidak belajar, selamanya akan sulit. Kalau belajar, lama lama akan terbiasa. Dan yang sudah terbiasa akan terasa mudah."
"Baik, Pak. Saya akan terus belajar."
Badrun belajar setiap malam di rumahnya. Ningsih sering datang membantunya.
"Ning, tolong ajar aku. Aku tidak paham dengan angka angka ini," pinta Badrun suatu malam.
"Aku juga tidak pandai matematika, Run. Tapi aku akan bantu sebisaku."
"Terima kasih, Ning. Kau baik sekali."
"Sudah, jangan cengeng. Ayo kita belajar."
Mereka berdua belajar sampai larut malam. Sesekali mereka tertawa ketika Badrun salah menghitung. Sesekali mereka menghela napas ketika menemui soal yang sulit. Tapi mereka tidak menyerah.
Tiga bulan kemudian, setelah Badrun dianggap cukup mengerti administrasi, ia memberanikan diri melamar Ningsih. Lamaran berlangsung lancar. Ningsih menerima dengan senang hati. Pernikahan mereka dilangsungkan sebulan kemudian.
Badrun dan Ningsih menikah di depan rumah Badrun. Dekorasinya sederhana, mirip dengan pernikahan Riyadi dan Aryanti dulu. Para tamu yang hadir sama. Riyadi menjadi saksi. Aryanti membantu mempersiapkan segala sesuatu.
"Run, selamat ya," ucap Riyadi sambil memeluk Badrun.
"Terima kasih, Ri. Ini semua berkat bantuanmu."
"Bukan bantuanku, Run. Ini hasil usahamu sendiri. Kau berjuang keras."
"Kita berjuang bersama, Ri. Kau, aku, Aryanti, Ningsih. Kita semua."
Mereka berempat tersenyum. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Ning, akhirnya kau menjadi isteriku," bisik Badrun.
"Iya, Run. Akhirnya."
"Kita akan bahagia, Ning. Aku janji."
"Aku percaya, Run."
Mereka berpelukan di depan semua tamu. Para tamu bersorak. Takbir bergema di seluruh desa.
Setelah menikah, Badrun semakin rajin belajar. Ia tidak hanya belajar administrasi, tapi juga belajar mengemudi. Pak Harun memberinya sebuah mobil pick up bekas untuk operasional cabang.
"Nak Badrun, ini kunci mobil. Aku titipkan padamu," kata Pak Harun suatu pagi.
"Pak, saya tidak bisa mengemudi. Saya belum punya SIM."
"Belajarlah, Nak. Saya akan membiayai kursus mengemudi. Dan mengurus SIM nya juga."
"Baik, Pak. Terima kasih."
Badrun belajar mengemudi selama dua minggu. Ia sering hampir menabrak pohon, hampir masuk got, hampir menabrak ayam warga. Tapi ia tidak menyerah.
"Run, kau hati hati. Aku khawatir," kata Ningsih ketika Badrun akan berangkat kursus.
"Tenang, Ning. Aku sudah mulai bisa."
"Kau bilang begitu setiap hari. Tapi setiap hari juga hampir celaka."
"Kali ini benar benar bisa. Aku janji."
Badrun berangkat dengan semangat. Hari itu ia berhasil mengemudi dengan lancar tanpa bantuan instruktur.
"Pak, saya bisa!" teriak Badrun pada instrukturnya.
"Bagus, Nak. Besok ujian praktik. Semoga lulus."
Badrun lulus ujian praktik dengan nilai baik. Ia mendapat SIM. Ia bisa mengemudi sendiri. Ia sangat bahagia.
"Ning, aku bisa mengemudi!" teriak Badrun ketika sampai di rumah.
"Syukurlah, Run. Aku bangga padamu."
"Malam ini kita pergi ke rumah Riyadi, Ning. Aku mau tunjukkan mobil baruku."
"Baik, Run. Aku ikut."
Mereka berangkat ke rumah Riyadi. Badrun mengemudi dengan hati hati. Di rumah Riyadi, Aryanti sudah menyiapkan makanan kecil.
"Wah, Run. Keren. Sekarang kau punya mobil," puji Riyadi.
"Ini milik perusahaan, Ri. Bukan milik pribadi. Tapi aku bisa menggunakannya setiap hari."
"Suatu hari nanti, kita akan punya mobil sendiri, Run. Aku yakin."
"Aamiin, Ri."
Setelah enam bulan beroperasi, bisnis kayu cabang Kuala Kapuas mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Setiap bulan, Riyadi dan Badrun berhasil menjual puluhan meter kubik kayu ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
"Pak Harun, ini laporan keuangan bulan ini," kata Riyadi sambil menyerahkan sebuah map tebal berisi dokumen dokumen.
Pak Harun memeriksa laporan itu dengan saksama. Matanya teliti, jarinya menelusuri setiap angka.
"Bagus, Nak. Laba bersih kita naik dua puluh persen dibanding bulan lalu. Kau dan Badrun kerja bagus."
"Terima kasih, Pak. Ini semua berkat bimbingan Bapak."
"Jangan rendah hati, Nak. Kau yang bekerja. Saya hanya memberi arahan."
"Pak, saya ingin mengusulkan sesuatu."
"Usul apa, Nak?"
"Saya ingin merekrut dua orang karyawan lagi. Satu untuk bagian pemasaran, satu untuk bagian pengiriman. Saat ini kami kewalahan karena pesanan terus meningkat."
"Setujui, Nak. Rekrut siapa saja yang kau percaya. Gaji mereka akan saya tanggung."
"Terima kasih, Pak."
Riyadi merekrut dua pemuda desa yang lulusan SMA. Mereka adalah anak anak petani miskin yang menganggur. Riyadi ingin memberikan kesempatan pada mereka seperti yang dulu ia dapatkan dari Pak Harun.
"Nak, terima kasih sudah mau menerima kami bekerja di sini," kata salah satu pemuda itu.
"Jangan berterima kasih padaku. Bekerjalah dengan baik. Jujur. Disiplin. Bertanggung jawab. Itu cara terbaik untuk berterima kasih."
"Baik, Nak. Kami akan bekerja sebaik mungkin."
Aryanti tidak ingin hanya diam di rumah. Ia ingin membantu ekonomi keluarga. Ia memutuskan untuk membuka usaha kecil kecilan: menjual kue dan makanan ringan.
"Yan, kau yakin? Kau tidak capek?" tanya Riyadi.
"Aku tidak capek, Riyad. Aku ingin membantu. Pengeluaran kita semakin besar. Apalagi nanti kalau punya anak."
"Kau sudah memikirkan anak? Kita baru menikah beberapa bulan."
"Aku harus memikirkan masa depan, Riyad. Tidak bisa hanya mengandalkan penghasilanmu."
"Aku setuju, Yan. Tapi jangan memaksakan diri. Kalau lelah, istirahat."
"Baik, Riyad. Aku janji."
Aryanti memulai usahanya dengan modal lima ratus ribu rupiah. Ia membuat kue bingka, kue pukis, pisang goreng, dan getuk. Ia menjajakannya di depan rumah.
"Bu, kue ini enak sekali. Harganya berapa?" tanya seorang ibu yang lewat.
"Lima ratus, Bu. Murah."
"Saya ambil sepuluh. Bawa pulang untuk anak anak."
"Terima kasih, Bu."
Dalam sehari, Aryanti bisa menjual sekitar seratus potong kue. Pendapatannya bersih sekitar lima puluh ribu rupiah per hari. Kecil, tapi konsisten.
"Yan, aku bangga padamu," kata Riyadi malam harinya.
"Aku hanya melakukan yang terbaik untuk keluarga kita, Riyad."
"Kita akan sukses, Yan. Aku yakin."
"Aku juga yakin, Riyad."
Mereka berdua berpelukan. Dalam pelukan itu, ada keyakinan bahwa masa depan mereka cerah. Ada keyakinan bahwa perjuangan mereka tidak sia sia. Ada keyakinan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.
Suatu hari, Riyadi melakukan kesalahan. Ia membeli kayu dari pemasok baru tanpa memeriksa kualitasnya terlebih dahulu. Ternyata kayu itu sudah lapuk dimakan rayap. Pak Harun sangat kecewa.
"Nak Riyadi, saya tidak menyangka kau bisa melakukan kesalahan seperti ini," kata Pak Harun dengan wajah tegang.
"Maafkan saya, Pak. Saya terlalu percaya pada pemasok itu. Ia bilang kayunya bagus."
"Dalam bisnis, Nak, kepercayaan harus dibuktikan. Jangan pernah percaya pada kata kata saja. Buktikan dengan kenyataan."
"Apa yang harus saya lakukan sekarang, Pak?"
"Kembalikan kayu itu ke pemasok. Minta uang kembali. Tolak bekerja sama lagi dengan mereka."
"Baik, Pak. Saya lakukan."
Riyadi mengembalikan kayu itu ke pemasok. Awalnya pemasok itu menolak. Tapi setelah Riyadi mengancam akan membawa kasus ini ke polisi, pemasok itu takut dan mengembalikan uang.
"Nak, saya minta maaf," kata pemasok itu.
"Maaf tidak cukup, Pak. Bapak sudah merugikan saya. Jangan ulangi lagi."
"Saya janji, Nak. Saya akan jujur mulai sekarang."
"Buktikan, Pak. Jangan hanya janji."
Riyadi pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Ia marah, kecewa, juga malu pada Pak Harun.
"Riyad, kau kenapa? Wajahmu muram," tanya Aryanti.
"Aku melakukan kesalahan, Yan. Aku membeli kayu lapuk."
"Kesalahan adalah guru terbaik, Riyad. Jangan terlalu sedih. Yang penting kau belajar."
"Aku belajar, Yan. Aku belajar untuk tidak mudah percaya."
"Bagus. Sekarang makan dulu. Aku buatkan sop ayam kesukaanmu."
Riyadi tersenyum. "Terima kasih, Yan. Kau selalu menghiburku."
"Itu tugas istri, Riyad. Menghibur suami yang sedang sedih."
Mereka berdua makan malam bersama. Sesekali Riyadi bercerita tentang pekerjaannya, Aryanti bercerita tentang dagangannya. Mereka saling mendukung, saling menguatkan.
Setelah satu tahun bekerja, Riyadi dianggap cukup mahir mengelola bisnis kayu. Pak Harun memutuskan untuk memberikan kepercayaan penuh padanya.
"Nak Riyadi, mulai bulan depan, saya tidak akan datang ke Kuala Kapuas setiap minggu. Saya hanya akan datang setiap bulan sekali. Atau bahkan dua bulan sekali."
"Apakah saya sudah dianggap mampu, Pak?"
"Kau sudah lebih dari mampu, Nak. Kau sudah matang. Kau sudah bisa mengelola tanpa pengawasan ketat."
"Terima kasih, Pak. Saya akan menjaga amanah ini."
"Jangan lupa, Nak. Kejujuran adalah kunci utama dalam bisnis. Tanpa kejujuran, bisnis apa pun akan runtuh."
"Saya ingat, Pak. Kejujuran adalah segalanya."
Pak Harun berjabat tangan dengan Riyadi. "Selamat, Nak. Kau resmi menjadi kepala cabang penuh. Gajimu naik menjadi lima juta sebulan. Bonusnya juga akan saya naikkan."
"Pak, saya tidak pantas."
"Kau pantas, Nak. Kau sudah membuktikan. Kerja kerasmu, kejujuranmu, ketekunanmu. Semua sudah saya lihat."
Riyadi menangis. "Pak Harun, saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Kau sudah membalas dengan kerja bagusmu, Nak. Itu lebih dari cukup."
Riyadi pulang ke rumah dengan hati penuh syukur. Aryanti menunggu di beranda dengan senyum lebar.
"Yan, gajiku naik. Menjadi lima juta sebulan."
Aryanti terkejut. "Lima juta, Riyad? Itu sangat besar!"
"Aku juga tidak percaya, Yan. Tapi ini nyata. Pak Harun sangat puas dengan kerjaku."
"Kita harus bersyukur, Riyad. Kita harus sujud syukur."
Mereka berdua sujud syukur di beranda rumah. Mak Tonah dan Saripah yang melihat mereka ikut sujud syukur.
"Alhamdulillah, anakku sukses," kata Mak Tonah sambil menangis.
"Ibu bangga padamu, Nak," kata Saripah sambil memeluk Riyadi.
"Terima kasih, Mak. Terima kasih, Ibu. Ini semua berkat doa kalian berdua."
Malam itu, mereka mengadakan doa bersama di rumah Riyadi. Seluruh keluarga besar datang. Tetangga tetangga juga ikut. Mereka makan bersama, doa bersama, dan bersyukur bersama.
"Ya Allah, terima kasih atas semua nikmat yang Engkau berikan. Terima kasih atas kesembuhan Riyadi. Terima kasih atas keberhasilan bisnisnya. Terima kasih atas kebahagiaan keluarga kami. Jangan pernah Engkau cabut nikmat ini dari kami. Aamiin," doa Pak Darma yang memimpin doa.
"Aamiin ya rabbal'alamin," ucap semua hadirin bersamaan.
Di sudut ruangan, Riyadi dan Aryanti berpegangan tangan. Mereka saling menatap dengan penuh cinta.
"Riyad, kita sudah melewati masa masa sulit."
"Iya, Yan. Sekarang masa masa indah telah tiba."
"Tapi jangan lupa, Riyad. Kesuksesan ini titipan dari Allah. Kita harus menjaga amanah ini."
"Aku tidak akan lupa, Yan. Aku tidak akan pernah lupa."
Mereka berdua tersenyum. Di dalam senyum itu, ada harapan. Ada keyakinan. Ada cinta. Cinta yang tidak pernah pudar. Cinta yang terus berkembang seiring waktu. Cinta yang akan menemani mereka sepanjang hayat.
BAB XVII
KABAR DARI DESA
Pagi itu Riyadi bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, warnanya masih merah keemasan seperti kuning telur yang baru pecah. Burung burung tekukur mulai bersahutan dari balik rumpun bambu di belakang rumah. Ayam ayam jantan sudah mulai berkokok bersahutan, seolah saling memberi tahu bahwa hari baru telah dimulai. Udara pagi terasa sejuk dan segar, wangi tanah basah dan embun masih tercium dari halaman yang belum tersapu.
"Riyad, kau sudah bangun? Masih pagi sekali," kata Aryanti sambil mengucek matanya. Rambutnya masih terurai, wajahnya masih segar dengan sisa sisa kantuk yang belum hilang. Ia duduk di tempat tidur sambil menguap kecil.
"Aku tidak bisa tidur lagi, Yan. Terlalu banyak pikiran."
"Pikiran apa lagi, Riyad? Bisnis sudah lancar. Gajimu sudah naik. Hidup kita sudah jauh lebih baik dari sebelumnya."
"Bukan soal bisnis, Yan. Ini soal desa. Sudah hampir dua tahun kita di sini. Aku jarang mendengar kabar dari desa tetangga. Apakah Kadir sudah bebas? Apakah Haji Bahar baik baik saja? Apakah warga desa masih memusuhi kita atau sudah berubah?"
Aryanti menghela napas. Ia meraih tangan Riyadi dan menggenggamnya erat. "Riyad, mengapa kau memikirkan orang orang yang dulu menyakiti kita? Mereka sudah meminta maaf. Kita sudah memaafkan. Bukankah itu cukup?"
"Yan, memaafkan memang sudah cukup. Tapi aku juga ingin tahu keadaan mereka. Aku tidak bisa hidup hanya dengan kebencian atau rasa acuh. Aku ingin membangun jembatan, bukan membangun tembok."
"Kau terlalu baik, Riyad. Orang sepertimu langka di dunia ini."
"Aku tidak baik, Yan. Aku hanya ingin hidup damai dengan semua orang."
Dari luar kamar, terdengar suara Mak Tonah yang sedang sibuk di dapur. Wangi kopi dan gorengan mulai tercium memenuhi seluruh rumah.
"Nak, sarapan sudah siap! Ayo makan dulu sebelum pergi kerja!" teriak Mak Tonah dengan suaranya yang khas.
"Baik, Mak! Sebentar!" jawab Riyadi sambil merapikan sarungnya.
Mereka berdua turun ke ruang makan. Mak Tonah sudah menyiapkan nasi putih, ikan asin, sambal terasi, dan sayur bening. Sederhana, tapi hangat dan penuh cinta.
"Nak, tadi pagi ada surat untukmu," kata Mak Tonah sambil menyerahkan amplop putih agak lusuh.
Riyadi menerima amplop itu dengan rasa penasaran. Ia membalik amplop itu dan membaca alamat pengirim. Matanya membulat, alisnya terangkat.
"Yan, ini dari desa tetangga! Dari Haji Bahar!"
"Wah, apa isinya? Cepat buka, Riyad!"
Riyadi membuka amplop itu dengan hati hati. Tangannya sedikit gemetar—bukan karena takut, tapi karena tidak menyangka Haji Bahar masih ingat padanya. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang rapi dan terawat, tanda bahwa Haji Bahar masih sehat dan pikirannya masih jernih.
Untuk Nak Riyadi dan keluarga di Desa Sriwidadi
Assalamu'alaikum.
Nak Riyadi, saya Haji Bahar. Bagaimana kabar kalian semua? Saya doakan semoga kalian sehat selalu dan dilimpahi rezeki yang berlimpah.
Nak, saya menulis surat ini bukan tanpa tujuan. Saya ingin mengundang kalian sekeluarga ke acara syukuran di rumah saya. Acaranya sederhana saja. Hanya doa bersama dan makan makan. Tidak ada maksud lain selain mempererat tali silaturahmi yang sempat putus.
Kadir, anak saya, sudah bebas dari penjara enam bulan lalu. Ia sudah insaf dan bertobat. Sekarang ia membantu saya mengelola kebun karet. Ia juga sudah tidak main perempuan lagi. Ia bahkan bertunangan dengan seorang gadis baik baik dari desa sebelah.
Nak, saya sangat berharap kalian bisa datang. Saya ingin Kadir minta maaf langsung pada kalian. Saya ingin keluarga kita berbaikan. Saya ingin semua dendam dan sakit hati di masa lalu sirna sudah.
Acaranya minggu depan, hari Sabtu, jam sepuluh pagi. Saya tunggu kedatangannya.
Wassalamu'alaikum.
Haji Bahar
Riyadi membaca surat itu berulang ulang. Air matanya mengalir tanpa suara. Bukan air mata sedih, tapi air mata haru. Air mata karena ia tidak menyangka Haji Bahar sebesar itu hatinya.
"Riyad, kau menangis?" tanya Aryanti sambil menyeka pipi suaminya dengan ujung kerudung.
"Aku haru, Yan. Haji Bahar mengundang kita ke acara syukuran. Ia ingin Kadir minta maaf. Ia ingin kita berbaikan."
"Kita harus datang, Riyad. Ini kesempatan baik untuk melupakan masa lalu."
"Aku setuju, Yan. Kita harus datang."
Mak Tonah yang mendengar percakapan mereka ikut berkomentar. "Nak, ibu ikut, ya. Ibu ingin bertemu Haji Bahar lagi. Terakhir kali ibu bertemu beliau waktu Kadir menfitnahmu dulu."
"Tentu, Mak. Ibu harus ikut."
"Tapi kita harus bawa oleh oleh, Riyad. Kita tidak boleh datang dengan tangan hampa," kata Aryanti.
"Kita bawa kue kue buatanmu, Yan. Itu sudah lebih dari cukup."
"Baik, Riyad. Aku akan membuat kue bingka dan kue pukis paling enak untuk mereka."
Seminggu berselang, Riyadi sekeluarga bersiap berangkat ke rumah Haji Bahar. Badrun dan Ningsih juga ikut karena mereka juga diundang. Badrun bertindak sebagai sopir karena dia yang paling mahir mengemudi di antara mereka.
"Run, kau hati hati ya. Jalan menuju desa tetangga itu rusak parah. Banyak lubang dan tanjakan terjal," pesan Ningsih sambil mengatur posisi duduknya di kursi penumpang.
"Tenang, Ning. Aku sudah terbiasa. Bukankah aku sering antar kayu ke daerah sana?" jawab Badrun dengan percaya diri.
"Iya, tapi itu dengan mobil pick up. Ini mobil penumpang. Suspensinya berbeda."
"Mobil ini juga sudah pernah aku bawa ke sana, Ning. Waktu antar ibu mertuaku belanja."
Ningsih tertawa. "Ya sudahlah, kau tahu yang terbaik. Aku percaya padamu."
Mobil berangkat pukul delapan pagi. Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam karena jalannya rusak parah. Tanah merah berlubang di sana sini. Tanjakan terjal dan turunan curam. Di kiri kanan jalan, kebun karet dan sawah yang menguning terbentang luas. Sesekali mereka melewati jembatan bambu yang melengkung dan tampak rapuh.
"Riyad, apa kau gugup?" tanya Aryanti sambil meraih tangan suaminya.
"Aku gugup, Yan. Bukan karena takut, tapi karena tidak tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana reaksi Kadir? Apakah ia sungguh insaf? Apakah ia sungguh berubah?"
"Kita akan tahu nanti, Riyad. Jangan berprasangka buruk dulu."
"Kau benar, Yan. Aku harus berprasangka baik."
"Kalau nanti Kadir minta maaf, apa kau akan memaafkannya?"
"Aku sudah memaafkannya sejak lama, Yan. Hanya saja belum ada kesempatan untuk mengatakannya langsung."
"Bagus. Itu sikap yang mulia, Riyad."
Pukul sembilan lebih, mobil Riyadi memasuki halaman rumah Haji Bahar. Rumah itu masih sama seperti dulu—besar, megah, dengan genteng merah menyala dan pagar besi hitam yang kokoh. Taman di depan rumah ditumbuhi berbagai macam bunga—mawar, melati, kamboja, dan anggrek. Tapi ada yang berbeda. Suasana rumah terasa lebih hangat. Tidak ada kesan angker seperti dulu. Mungkin karena Kadir tidak lagi tinggal di sini sendirian, atau mungkin karena hati Haji Bahar yang sudah lebih terbuka.
Haji Bahar sudah menunggu di beranda sejak tadi. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya hampir seluruhnya putih, jenggotnya panjang dan lebat. Matanya yang kecil dan tajam itu kini terlihat sayu dan redup. Tapi senyumnya hangat, senyum yang tulus dari lubuk hati paling dalam.
"Assalamu'alaikum, Nak Riyadi. Selamat datang. Selamat datang kalian semua," sapa Haji Bahar sambil turun dari beranda.
"Wa'alaikumsalam, Pak Haji. Maaf kami datang agak terlambat. Jalanan rusak parah," jawab Riyadi sambil mencium tangan Haji Bahar.
"Tidak apa apa, Nak. Yang penting kalian datang. Saya sangat senang."
Aryanti, Mak Tonah, Badrun, dan Ningsih juga mencium tangan Haji Bahar. Mereka semua dipersilakan masuk ke ruang tamu yang luas dan megah. Sofa kulit warna cokelat tua itu terasa empuk dan dingin. Lampu gantung kristal yang dulu terlihat mewah, kini terasa biasa saja.
"Silakan duduk. Saya panggilkan Kadir," kata Haji Bahar.
Tak lama, Kadir keluar dari kamarnya. Tubuhnya yang dulu gemuk, kini kurus. Wajahnya yang dulu merah, kini pucat. Matanya yang dulu tajam dan angkuh, kini sayu dan penuh penyesalan. Ia berjalan mendekati Riyadi dengan langkah gontai dan gemetar.
"Riyadi... aku... aku minta maaf. Maafkan aku atas semua fitnah dan kebohongan yang pernah aku lakukan. Maafkan aku karena telah menyakitimu dan keluargamu. Maafkan aku karena hampir merenggut kebahagiaanmu," ucap Kadir sambil menangis. Tangisnya tersedu sedu, dadanya naik turun, bahunya bergetar.
Riyadi berdiri. Ia memeluk Kadir erat erat. "Kadir, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kau masuk penjara, aku sudah memaafkanmu. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya."
"Benarkah, Riyadi? Kau sungguh memaafkanku?" Kadir masih tidak percaya.
"Benar, Kadir. Aku tidak pernah mendendam. Aku hanya ingin hidup damai dengan semua orang."
Kadir menangis semakin keras. Ia memeluk Riyadi seperti anak kecil yang memeluk ayahnya. "Riyadi, kau terlalu baik. Aku tidak pantas mendapat maaf darimu."
"Kadir, setiap orang berhak mendapat maaf. Tidak peduli sebesar apa dosanya. Selama ia sungguh sungguh bertobat, pintu maaf selalu terbuka."
Haji Bahar yang melihat pemandangan itu ikut menangis. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang keriput. "Terima kasih, Nak Riyadi. Terima kasih kau sudah memaafkan anak saya. Saya tidak tahu harus membalas kebaikanmu."
"Pak Haji, kebaikan tidak perlu dibalas. Cukup dengan keikhlasan."
Setelah semua tamu hadir, acara doa bersama dimulai. Seorang ustadz dari desa tetangga memimpin doa. Suaranya merdu, wewangian kemenyan dan minyak wangi menyebar ke seluruh ruangan.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa hamba Mu. Engkau yang Maha Pemaaf, maafkanlah segala kesalahan hamba Mu. Engkau yang Maha Pengasih, kasihanilah hamba Mu yang lemah ini. Janganlah Engkau hukum mereka di dunia dan di akhirat. Ampuni mereka, sayangi mereka, dan masukkan mereka ke dalam surga Mu yang penuh kenikmatan," doa ustadz itu dengan suara mengharu biru.
"Aamiin ya rabbal'alamin," ucap semua hadirin bersamaan.
Setelah doa, mereka makan bersama. Meja panjang yang ditutupi taplak putih bersih itu dipenuhi berbagai macam masakan. Ada rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue. Minumannya es teh manis dan es jeruk peras asli.
"Wah, banyak sekali makanannya, Pak Haji. Kami tidak akan habis," kata Mak Tonah sambil tersenyum.
"Tenang, Bu Tonah. Bisa dibawa pulang. Saya sudah siapkan rantang untuk kalian semua," jawab Haji Bahar.
"Ibu, ini rendang buatan saya. Coba cicipi," kata Kadir sambil menyodorkan sepiring rendang ke arah Mak Tonah.
Mak Tonah mencicipi rendang itu. "Wah, enak, Nak. Siapa yang masak?"
"Kadir yang masak, Bu. Ia belajar dari ibunya sebelum meninggal. Sekarang ia paling jago masak rendang se desa," kata Haji Bahar dengan bangga.
"Kadir, kau berubah, ya. Dulu kau tidak mau menyentuh dapur. Sekarang kau jago masak," ledek Badrun.
Kadir tersenyum malu. "Pesantren mengajarkanku banyak hal, Badrun. Termasuk memasak. Para kiai di sana bilang, laki laki yang baik adalah yang bisa melayani istri dan keluarganya."
Setelah makan, mereka duduk duduk santai di ruang tamu. Kadir mulai bercerita tentang masa masa di penjara.
"Riyadi, aku ingin cerita tentang penjara. Engkau mau mendengarnya?"
"Aku mau mendengar, Kadir. Ceritakan apa pun."
Kadir menghela napas panjang. Matanya menerawang ke kejauhan, seperti melihat bayangan masa lalu yang kelam. "Penjara itu... neraka, Riyadi. Sel sempit, bau pesing, panas terik di siang hari, dingin menusuk tulang di malam hari. Makanan tidak enak, air minum tidak bersih. Aku sering sakit. Aku sering menangis di malam hari. Aku merindukan ayahku. Aku merindukan rumahku. Aku merindukan kebebasan."
"Tapi di balik semua itu, aku belajar banyak hal. Aku belajar tentang kesabaran. Aku belajar tentang keikhlasan. Aku belajar tentang arti sebuah maaf. Aku juga belajar tentang agama. Banyak ustadz yang datang ke penjara untuk mengajar."
"Itulah hikmah di balik cobaan, Kadir. Kadang Allah menurunkan musibah bukan untuk menghukum, tapi untuk mendidik," kata Riyadi.
"Aku sadar, Riyadi. Selama ini aku terlalu angkuh. Aku merasa paling kaya, paling berkuasa, paling hebat. Aku lupa bahwa semua itu titipan dari Allah. Dan Allah bisa mencabutnya kapan saja."
"Apakah kau masih marah pada Umar dan Mamat? Mereka yang bersaksi melawanmu dulu?" tanya Badrun.
"Marah? Dulu iya. Sekarang tidak. Mereka hanya menjalankan tugas. Mereka tidak bersalah. Aku yang bersalah. Aku yang memerintahkan mereka."
"Kau benar benar berubah, Kadir. Aku terharu mendengarnya," kata Ningsih sambil menyeka air matanya.
"Perubahan ini tidak mudah, Ning. Butuh waktu. Butuh air mata. Butuh doa. Butuh dukungan orang orang terdekat."
"Siapa tunanganmu, Kadir?" tanya Aryanti.
"Nama dia Salma. Gadis dari desa sebelah. Ia anak yatim. Ayahnya meninggal, ibunya sakit sakitan. Ia bekerja sebagai guru ngaji di kampungnya."
"Wah, berarti kau akan menikah dengan gadis salehah. Selamat ya, Kadir."
"Terima kasih, Aryanti. Doakan semoga pernikahan kami lancar."
"Insya Allah, Kadir. Kami semua mendoakan yang terbaik untukmu."
Setelah obrolan yang cukup lama, Riyadi memberanikan diri menawarkan pekerjaan pada Kadir.
"Kadir, aku ingin menawarkan sesuatu."
"Apa itu, Riyadi?"
"Aku butuh orang yang bisa mengurus kebun kayu di hutan. Selama ini, aku dan Badrun hanya fokus di kantor. Urusan lapangan sering terbengkalai. Kau mau membantu?"
Kadir terkejut. "Aku? Kau mau mempekerjakan aku? Padahal dulu aku pernah menyakitimu?"
"Kadir, masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita lihat masa depan. Kau sudah berubah. Aku percaya kau bisa menjadi pekerja yang baik."
"Tapi Riyadi, aku tidak punya pengalaman. Aku tidak tahu soal kayu. Aku hanya tahu soal karet."
"Kau akan belajar, Kadir. Sama seperti aku dulu belajar dari Pak Harun. Tidak ada yang instan. Semua butuh proses."
Kadir menangis lagi. Ia memeluk Riyadi untuk kesekian kalinya. "Riyadi, kau terlalu baik. Aku tidak pantas mendapatkan tawaran ini."
"Kadir, jangan bilang tidak pantas. Semua orang pantas mendapat kesempatan kedua. Termasuk kau."
Haji Bahar yang mendengar percakapan mereka ikut berkomentar. "Nak Riyadi, saya tidak tahu harus membalas kebaikanmu. Kau mempekerjakan anak saya yang dulu pernah menyakitimu. Kau benar benar seorang yang mulia."
"Pak Haji, ini bukan kebaikan. Ini hanya rasa kemanusiaan. Saya tidak ingin melihat Kadir menganggur di rumah. Ia masih muda. Ia harus produktif. Ia harus berkarya."
"Terima kasih, Nak. Saya akan mengawasi Kadir. Jangan khawatir. Ia tidak akan mengulangi kesalahannya."
"Aamiin, Pak Haji."
Di tengah acara, Salma—tunangan Kadir—datang. Ia diantar oleh ibunya yang sakit sakitan, berjalan dengan tongkat dan sesekali terbatuk batuk. Salma mengenakan kerudung putih dan baju gamis merah muda. Wajahnya bulat dan bersih, matanya besar dan jujur, senyumnya manis. Ia tidak secantik Aryanti, tapi ada kesederhanaan yang memancar dari dirinya.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji. Maaf saya datang terlambat. Ibu saya tadi pusing," sapa Salma dengan suara lembut.
"Wa'alaikumsalam, Salma. Tidak apa apa. Ini teman teman Kadir dari Desa Sriwidadi. Ini Riyadi, istrinya Aryanti, ibunya Mak Tonah, dan sahabatnya Badrun dan Ningsih."
Salma menyalami mereka satu per satu. Ketika sampai pada Aryanti, ia berkata, "Kau Aryanti? Yang dulu bunga desa? Yang diperebutkan Kadir dan Riyadi?"
Aryanti tersenyum malu. "Iya, aku. Tapi itu dulu. Sekarang aku hanya istri Riyadi biasa."
"Kau cantik, Yan. Lebih cantik dari yang aku bayangkan. Pantas Kadir dulu tergila gila padamu."
"Salma, jangan bicara begitu. Aku malu."
"Tidak perlu malu, Yan. Itu fakta. Aku tidak cemburu. Aku justru bersyukur karena Kadir tidak jadi menikah denganmu. Jadi ia bisa menikah denganku."
Mereka semua tertawa. Kebahagiaan terpancar dari wajah masing masing.
"Salma, bagaimana kabar ibumu?" tanya Haji Bahar.
"Alhamdulillah, sudah mulai membaik. Dokter bilang harus rutin minum obat."
"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan sungkan bilang. Anggap saja kami keluarga."
"Terima kasih, Pak Haji. Ibu juga titip salam."
"Sampaikan salamku pada ibumu. Semoga lekas sembuh."
"Aamiin."
Menjelang sore, Riyadi sekeluarga pamit pulang. Haji Bahar dan Kadir mengantarkan sampai ke halaman. Salma juga ikut mengantarkan.
"Nak Riyadi, terima kasih sudah datang. Maaf jika ada kekurangan," kata Haji Bahar.
"Pak Haji, justru kami yang berterima kasih. Kami disambut dengan hangat. Kami dijamu dengan mewah. Kami merasa seperti keluarga."
"Ya, kalian memang keluarga. Mulai sekarang, anggap saja rumah ini rumah kalian sendiri."
"Terima kasih, Pak Haji."
"Kadir, kapan kau mulai bekerja?" tanya Riyadi.
"Besok, Riyad. Aku tidak sabar."
"Jangan lupa bawa surat lamaran. Dan fotokopi KTP. Juga pas foto."
"Baik, Riyad. Aku siapkan semuanya malam ini."
Mereka berpelukan lagi. Kadir menangis lagi. Ia tidak bisa menahan haru.
"Riyad, maafkan aku. Maafkan semua kesalahanku."
"Kadir, aku sudah memaafkan. Sudah, jangan dibawa bawa lagi. Fokus pada masa depan."
"Aamiin, Riyad."
Mobil berlahan meninggalkan halaman rumah Haji Bahar. Riyadi melihat ke belakang. Kadir masih melambaikan tangan. Salma juga. Haji Bahar juga.
"Yan, hari ini adalah hari yang indah."
"Iya, Riyad. Hari yang sangat indah."
"Dendam yang selama ini kita pendam, akhirnya sirna sudah."
"Kita lega, Riyad. Sangat lega."
"Yan, kita harus sering sering berkunjung ke sini. Jangan sampai hubungan baik ini putus lagi."
"Setuju, Riyad. Aku juga senang dengan Salma. Ia baik. Ia sederhana. Ia cocok dengan Kadir."
"Kita doakan mereka cepat menikah."
"Aamiin."
Badrun yang sedang menyetir ikut berkomentar. "Ri, aku juga lega. Aku pikir Kadir masih seperti dulu. Ternyata ia benar benar berubah."
"Orang bisa berubah, Run. Karena doa, karena kesadaran, karena lingkungan."
"Kita semua bisa berubah, Ri. Asalkan kita mau."
Keesokan harinya, Kadir datang ke kantor cabang perusahaan kayu di Kuala Kapuas. Ia memakai pakaian kerja sederhana—kemeja lengan pendek warna biru, celana kain hitam, dan sepatu boots. Wajahnya segar dan bersemangat.
"Selamat pagi, Riyad. Aku datang," sapa Kadir sambil tersenyum.
"Selamat pagi, Kadir. Mari masuk. Aku perkenalkan dengan Badrun. Kalian sudah kenal, kan?"
"Sudah, Riyad. Tapi dulu hubungan kami tidak baik."
"Sekarang mulai baru. Lupakan masa lalu."
"Baik, Riyad."
Badrun menyambut Kadir dengan hangat. "Kadir, selamat bergabung. Kita akan bekerja sama dengan baik."
"Terima kasih, Badrun. Aku akan belajar sekeras mungkin."
"Aku akan mengajarimu. Jangan sungkan sungkan bertanya."
"Baik, Badrun."
Riyadi kemudian menjelaskan tugas Kadir. Kadir akan mengurus kebun kayu di hutan. Ia harus memastikan pohon pohon tumbuh dengan baik, mencatat jumlah pohon yang siap tebang, mengatur jadwal penebangan, dan mengawasi karyawan yang bekerja di lapangan.
"Kadir, ini berat. Tapi aku yakin kau bisa."
"Aku akan berusaha, Riyad. Aku tidak akan mengecewakanmu."
"Aku percaya padamu, Kadir."
Bulan pertama Kadir bekerja, ia banyak melakukan kesalahan. Ia sering salah mencatat jumlah pohon, salah mengatur jadwal, dan salah mengawasi karyawan. Tapi ia tidak menyerah. Ia terus belajar dari Riyadi dan Badrun.
"Kadir, kau harus teliti. Jangan terburu buru," kata Riyadi ketika Kadir salah mencatat lagi.
"Maaf, Riyad. Aku akan lebih teliti."
"Tidak apa apa. Kesalahan adalah guru terbaik."
"Terima kasih, Riyad. Kau sabar sekali padaku."
"Kita semua pernah belajar, Kadir. Dulu aku juga sering salah. Tapi Pak Harun sabar membimbingku."
"Aku ingin seperti Pak Harun. Sabar, bijaksana, dan dermawan."
"Niatkan dulu, Kadir. Nanti Allah akan mudahkan."
Bulan kedua, Kadir mulai menunjukkan kemajuan. Catatannya lebih rapi, jadwalnya lebih teratur, dan karyawannya lebih disiplin. Riyadi sangat bangga.
"Kadir, kau hebat. Perkembanganmu pesat," puji Riyadi.
"Ini berkat bimbinganmu, Riyad. Aku hanya mengikuti instruksi."
"Jangan rendah hati, Kadir. Kau memang berbakat di bidang ini."
"Terima kasih, Riyad. Aku akan terus belajar."
Bulan ketiga, Kadir dianggap cukup mahir. Riyadi memberinya tanggung jawab penuh untuk mengurus kebun kayu di hutan. Kadir sangat bahagia. Ia merasa hidupnya berarti lagi. Ia tidak lagi jadi beban bagi ayahnya. Ia bisa mandiri.
"Ayah, aku berhasil!" kata Kadir pada Haji Bahar.
"Ayah bangga padamu, Nak. Ayah tahu kau pasti bisa."
"Terima kasih, Ayah. Terima kasih sudah tidak pernah berhenti mendukungku."
"Ayah akan selalu mendukungmu, Nak. Apa pun yang terjadi."
"Ayah, aku akan menikah dengan Salma bulan depan. Aku ingin ayah menjadi waliku."
"Ayah setuju, Nak. Ayah juga akan membiayai semua keperluan pernikahan."
"Terima kasih, Ayah. Ayah terlalu baik padaku."
"Kau anakku, Nak. Tidak ada yang terlalu baik untuk anak sendiri."
Kadir menangis. Haji Bahar memeluknya.
"Ayah, maafkan aku selama ini. Aku sering menyusahkan ayah."
"Sudah, Nak. Ayah sudah memaafkan sejak lama. Sekarang fokus pada masa depan."
"Aamiin, Ayah."
BAB XVIII
KADIR TERANCAM BANGKRUT
Pagi itu, suasana di rumah besar Haji Bahar terasa berbeda dari biasanya. Haji Bahar yang biasanya duduk di kursi goyang sambil membaca koran sambil tersenyum, pagi itu duduk termenung sendirian di ruang tamu. Wajahnya pucat, matanya sembab, tangannya gemetar memegang secarik kertas yang tampak telah ia baca berulang kali. Kopi di meja sampingnya sudah dingin, tidak tersentuh sejak disajikan satu jam lalu.
"Ya Allah, apa yang harus aku lakukan?" bisiknya lirih, nyaris tidak terdengar. Suaranya parau, tenggorokannya terasa kering seperti gurun pasir yang tidak pernah tersiram hujan.
Kadir yang baru turun dari kamar dengan pakaian kerja rapi langsung melihat keganjilan itu. Langkahnya terhenti di anak tangga terakhir. Matanya menyipit, alisnya berkerut. "Ayah, kenapa? Wajah Ayah pucat sekali. Ada apa?"
Haji Bahar tidak menjawab. Ia hanya menatap Kadir dengan mata kosong seperti orang yang kehilangan arah. Tangannya yang gemetar itu menyerahkan kertas yang ia pegang pada Kadir. Kertas itu agak kusut di beberapa bagian, tanda bahwa sudah sering diremas dan dibuka lagi.
"Ini surat dari bank, Nak. Mereka menarik semua pinjaman Ayah. Harus dibayar lunas dalam waktu satu bulan."
"Apa, Ayah? Bank menarik pinjaman? Kenapa?"
"Karena Ayah terlambat membayar cicilan selama enam bulan. Bisnis karet kita sedang lesu. Harga karet jatuh. Kebun sawit juga tidak produktif karena kemarau panjang. Ayah tidak punya uang untuk membayar."
Kadir membaca surat itu dengan mata membelalak. Setiap kata di surat itu seperti pukulan telak di dadanya. "Jumlahnya berapa, Ayah?"
"Tiga miliar, Nak. Tiga miliar. Itu jumlah yang sangat besar."
Kadir jatuh duduk di kursi. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar, napasnya tersengal sengal. Tangannya memegang dada, seolah menahan sesuatu agar tidak meledak. "Tiga miliar? Dari mana kita punya uang sebanyak itu, Ayah?"
"Ayah tidak tahu, Nak. Ayah bingung. Ayah tidak bisa tidur semalaman memikirkan ini. Ayah sudah menghitung semua aset. Rumah ini, kebun karet, kebun sawit, mobil mobil, perhiasan ibu yang ditinggalkan. Semua tidak akan cukup untuk menutupi utang tiga miliar."
"Tidak ada cara lain, Ayah? Ayah sudah bicara dengan pihak bank? Meminta keringanan?"
"Sudah, Nak. Ayah sudah bicara dengan kepala cabang bank kemarin. Ia bilang, peraturan sudah berubah. Tidak ada keringanan lagi. Harus bayar lunas atau aset akan disita."
Kadir menangis. Air matanya mengalir deras. Ia tidak menyangka hidupnya yang baru mulai membaik akan diuji lagi dengan cobaan sebesar ini. "Ayah, aku baru saja mulai bekerja. Aku baru saja punya penghasilan tetap. Aku baru saja mau menikah dengan Salma. Kenapa ini harus terjadi sekarang?"
Haji Bahar memeluk Kadir. Air matanya ikut mengalir. Wajahnya yang tua dan keriput itu semakin tampak tua oleh tetesan air mata yang tak terbendung. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah gagal sebagai kepala keluarga. Ayah tidak bisa menjaga harta peninggalan ibu. Ayah tidak bisa memberikan masa depan yang layak untukmu."
"Ayah jangan salahkan diri sendiri. Ini semua sudah takdir. Kita harus menerima."
"Tapi Nak, Salma dan keluarganya? Mereka pasti kecewa. Pernikahan kalian mungkin harus ditunda."
"Aku akan bicara dengan Salma, Ayah. Aku akan jelaskan semuanya. Semoga ia mengerti."
Berita tentang kebangkrutan Haji Bahar dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Dalam waktu kurang dari sehari, semua orang sudah tahu. Pasar yang biasanya ramai oleh pembicaraan tentang harga sayur dan ikan, hari itu hanya membicarakan satu hal: utang Haji Bahar tiga miliar rupiah.
"Kau dengar, Bu? Haji Bahar bangkrut. Utangnya tiga miliar ke bank," bisik seorang ibu kepada ibu lainnya di lapak sayur.
"Aduh, malang sekali nasibnya. Dulu ia orang terkaya di desa ini. Sekarang jatuh miskin."
"Iya, Bu. Harta tidak abadi. Yang abadi hanya amal."
"Tapi kasihan juga Kadir. Ia baru saja bertobat, baru saja bekerja, baru saja mau menikah. Sekarang harus menanggung utang ayahnya."
"Ya, Allah, jangan berikan cobaan yang tidak mampu kami tanggung."
Di warung kopi, Pak Darma dan beberapa warga lainnya juga membicarakan hal yang sama.
"Haji Bahar orang baik, Pak Darma. Ia sering membantu warga desa yang kesulitan. Sekarang ia yang kesulitan. Siapa yang akan membantunya?"
"Kita harus membantu, Pak. Jangan biarkan ia sendirian. Ingat dulu, ketika sawah kita kebanjiran, Haji Bahar yang memberi bantuan beras dan uang. Sekarang giliran kita membalas budi."
"Tapi kita tidak punya uang banyak, Pak Darma. Paling hanya bisa memberi sedikit."
"Sedikit dari kita semua akan menjadi banyak, Pak. Mari kita kumpulkan sumbangan. Saya akan menjadi koordinatornya."
"Baik, Pak Darma. Saya setuju."
Riyadi sedang berada di kantor ketika Badrun datang dengan wajah panik. Badrun hampir terjatuh karena terburu buru, kakinya yang dulu pernah cedera masih sedikit pincang.
"Ri, kau dengar kabar? Haji Bahar bangkrut! Utangnya tiga miliar ke bank! Rumah dan kebunnya akan disita bulan depan!" teriak Badrun tanpa mengetuk pintu.
Riyadi yang sedang menandatangani dokumen langsung mengangkat kepala. Pulpen di tangannya jatuh ke meja. "Apa, Run? Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda, Ri. Ini serius. Seluruh desa sudah membicarakannya. Haji Bahar sendiri yang mengaku pada Pak Darma."
Riyadi berdiri. Wajahnya berubah tegang. "Kita harus ke rumah Haji Bahar sekarang. Kita harus memastikan kebenarannya."
"Baik, Ri. Aku antar kau dengan mobil."
Mereka berangkat ke rumah Haji Bahar. Sepanjang perjalanan, Riyadi tidak bicara sepatah kata pun. Pikirannya kacau, dadanya sesak. Ia membayangkan bagaimana rasanya menjadi Haji Bahar—orang kaya yang dulu disegani, kini jatuh miskin dan terlilit utang.
"Ri, kau kenapa diam saja? Aku jadi takut," kata Badrun sambil sesekali menoleh ke samping.
"Aku berpikir, Run. Aku berpikir bagaimana cara membantu Haji Bahar."
"Membantu? Dengan uang apa, Ri? Kita baru saja mulai bangkit. Kantor ini belum setahun berjalan."
"Bukan dengan uang, Run. Dengan tenaga, dengan pikiran, dengan koneksi. Mungkin Pak Harun bisa membantu."
"Kau akan minta tolong Pak Harun? Ia sudah banyak membantu kita. Jangan membebaninya lagi."
"Tidak ada salahnya mencoba, Run. Kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak mencoba."
Mobil melaju kencang. Dalam hitungan menit mereka sudah sampai di halaman rumah Haji Bahar. Rumah yang dulu megah dengan taman bunga yang indah, kini terlihat murung. Beberapa jendela tertutup rapat, tanaman tanaman di taman mulai layu karena tidak disiram, dan cat pagar mulai mengelupas di sana sini.
Haji Bahar dan Kadir sedang duduk di ruang tamu ketika Riyadi dan Badrun datang. Wajah mereka pucat, mata mereka sembab, dan pakaian mereka tampak tidak terurus.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji. Maaf kami datang tanpa kabar," sapa Riyadi sambil mencium tangan Haji Bahar.
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi. Masuk, duduk. Silakan."
Riyadi dan Badrun duduk di sofa. Mereka berhadapan dengan Haji Bahar dan Kadir. Suasana hening, canggung, dan penuh dengan beban yang tidak terucapkan.
"Pak Haji, saya dengar kabar tentang utang Bapak. Benarkah itu?"
Haji Bahar menghela napas. "Benar, Nak. Utang saya tiga miliar. Bank sudah mengirim surat peringatan terakhir. Jika dalam satu bulan saya tidak bisa membayar, semua aset akan disita."
"Tidak ada solusi lain, Pak? Bank tidak mau memberikan keringanan?"
"Kepala cabangnya orang baru, Nak. Orangnya keras. Tidak mau mendengar alasan apa pun. Ia bilang peraturan sudah berubah. Harus bayar lunas atau aset disita."
"Sudahkah Bapak mencoba meminjam ke bank lain? Atau ke koperasi?"
"Sudah, Nak. Semua menolak. Reputasi saya sudah rusak. Nilai kredit saya jelek. Tidak ada yang mau meminjamkan saya uang."
Kadir yang dari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya serak, seperti orang yang terlalu banyak menangis. "Riyad, aku minta maaf. Pekerjaanku mungkin harus terhenti. Aku harus fokus membantu ayah menyelesaikan utang ini."
"Kadir, kau tidak perlu berhenti bekerja. Aku akan tetap membayarmu. Aku akan bantu semampuku."
"Riyad, kau terlalu baik. Tapi aku tidak mau membebanimu. Masalah ini terlalu besar. Ini bukan tanggung jawabmu."
"Kadir, kita sudah seperti saudara. Saudara harus saling membantu."
Haji Bahar menangis. "Nak Riyadi, saya tidak pantas mendapatkan bantuan dari kau. Dulu anak saya pernah menyakitimu. Saya juga pernah bersikap kurang baik padamu."
"Pak Haji, masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita lihat masa depan. Kita harus bersatu menghadapi masalah ini."
Di tengah percakapan, Salma dan ibunya datang. Ibu Salma berjalan dengan tongkat, tubuhnya kurus dan lemah, matanya cekung, dan napasnya berbunyi seperti orang yang sedang menahan sesak. Salma menuntun ibunya dengan hati hati, langkahnya kecil dan pelan.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji," sapa Salma.
"Wa'alaikumsalam, Salma. Silakan duduk."
Salma dan ibunya duduk di kursi yang tersedia. Ibu Salma batuk batuk kecil.
"Pak Haji, saya dan ibu datang untuk membicarakan pernikahan saya dengan Kadir."
Haji Bahar gugup. "Salma, maaf. Mungkin pernikahan kalian harus ditunda."
"Ditunda? Kenapa, Pak?"
Haji Bahar menjelaskan semuanya dengan jujur. Tentang utang tiga miliar, tentang ancaman bank, tentang kemungkinan kehilangan semua aset.
"Ayah tidak ingin Salma menikah dengan Kadir dalam keadaan miskin. Ayah tidak ingin Salma menderita."
Salma menangis. Ibu Salma juga menangis. Tapi kemudian Salma berdiri dan berkata dengan suara tegas, "Pak Haji, saya tidak peduli dengan harta. Saya mencintai Kadir karena hatinya, bukan karena hartanya. Kalau sekarang Kadir miskin, saya akan tetap menerimanya. Kalau pernikahan harus sederhana, saya setuju. Yang penting kami halal dan bahagia."
Kadir terkejut. "Salma, kau yakin? Aku mungkin tidak bisa memberikan kehidupan mewah untukmu."
"Kadir, aku tidak butuh mewah. Aku butuh kau. Hanya kau."
Kadir memeluk Salma. Air mata mereka bercampur menjadi satu.
Ibu Salma berkata dengan suara lirih tapi penuh keyakinan, "Pak Haji, jangan khawatir soal pernikahan anak anak kami. Kami keluarga sederhana. Kami tidak butuh pesta besar. Cukup akad nikah di depan penghulu, itu sudah lebih dari cukup."
Haji Bahar menangis. "Terima kasih, Bu. Terima kasih, Salma. Kalian keluarga yang baik. Kalian tidak materialistis."
Kembali di kantor, Riyadi segera menghubungi Pak Harun melalui telepon. Telepon kantor masih menggunakan sambungan kabel, suaranya kadang putus putus tapi masih bisa didengar.
"Pak Harun, saya Riyadi. Maaf mengganggu."
"Nak Riyadi, ada apa? Suaramu terdengar cemas."
"Begini, Pak. Haji Bahar—ayah dari Kadir, teman saya—sedang mengalami kesulitan keuangan. Utangnya tiga miliar ke bank. Asetnya akan disita bulan depan jika tidak bisa membayar."
"Wah, itu jumlah yang sangat besar, Nak."
"Iya, Pak. Saya sadar itu besar. Tapi saya ingin membantu, Pak."
"Kamu mau membantu dengan apa, Nak? Kantor cabang kita belum genap setahun berjalan. Laba bersih kita sebulan hanya sekitar lima puluh juta."
"Bukan dengan uang, Pak. Mungkin Bapak punya koneksi ke bank? Minta keringanan? Atau mengajukan restrukturisasi utang?"
Pak Harun diam sejenak. "Baiklah, Nak. Saya akan coba hubungi teman saya yang bekerja di bank pusat. Mungkin ada solusi."
"Terima kasih, Pak. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Kamu tidak perlu membalas apa pun, Nak. Kamu sudah seperti anak sendiri. Membantu anak itu kewajiban orang tua."
"Apa Bapak bisa datang ke Kuala Kapuas untuk membicarakan ini langsung?"
"Baik, Nak. Saya berangkat besok pagi. Saya akan bawa dokumen dokumen yang diperlukan."
"Terima kasih, Pak. Saya tunggu."
Riyadi mematikan telepon. Badrun yang mendengar percakapan itu langsung mengacungkan jempol. "Ri, kau hebat. Kau berani minta tolong pada Pak Harun untuk masalah yang sangat besar."
"Kita tidak akan pernah tahu hasilnya jika tidak mencoba, Run."
"Tapi bagaimana jika Pak Harun tidak berhasil? Bagaimana jika bank tetap bersikeras?"
"Kita cari solusi lain, Run. Yang penting kita sudah berusaha semaksimal mungkin."
Keesokan paginya, Pak Harun tiba di Kuala Kapuas. Ia datang dengan mobilnya yang masih sama—Jeep warna hijau tua dengan plat Banjarmasin. Langkahnya tegap, wajahnya serius, dan matanya berbinar penuh semangat. Ia langsung menuju ke kantor cabang.
"Assalamu'alaikum, Nak Riyadi. Kabar baik?" sapa Pak Harun sambil menyalami Riyadi hangat.
"Wa'alaikumsalam, Pak. Kabar baik, Alhamdulillah."
"Bagaimana kabar Haji Bahar? Sudah saya telepon tadi pagi. Ia sangat terharu mendengar kita mau membantu."
"Beliau sangat stres, Pak. Berat badannya turun drastis. Kadir juga tidak kalah stresnya."
"Kita harus segera bertindak, Nak. Waktu hanya tersisa tiga minggu lagi. Setelah itu, aset akan disita."
"Baik, Pak. Saya sudah siap."
"Kita temui kepala cabang bank sekarang juga. Saya sudah janjian dengannya jam sepuluh."
Mereka berangkat menuju bank. Sepanjang perjalanan, Pak Harun memberikan arahan pada Riyadi. "Nak, kau harus bicara dari hati. Ceritakan bahwa Haji Bahar adalah orang baik. Ceritakan bahwa ia pernah sukses. Ceritakan bahwa ia hanya terhalang oleh musibah."
"Baik, Pak. Saya akan bicara sejujurnya."
"Jangan membela mati matian. Jangan memohon dengan berlebihan. Bicaralah dengan tenang dan penuh hormat."
"Baik, Pak."
Pertemuan berlangsung di ruang kepala cabang bank yang dingin karena pendingin udara yang terlalu kuat. Meja kayu mahoni besar, kursi kursi kulit hitam, dan dinding berlapis kayu. Seorang pria muda dengan kemeja putih rapi dan dasi merah berdiri menyambut mereka. Wajahnya dingin, matanya tajam, dan senyumnya dibuat buat. Itulah Budi, kepala cabang baru yang terkenal keras.
"Selamat pagi, Pak Harun. Selamat pagi, Bapak Riyadi," sapa Budi dengan suara datar.
"Selamat pagi, Pak Budi. Terima kasih sudah menerima kami," jawab Pak Harun dengan ramah.
"Saya hanya punya waktu tiga puluh menit. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan."
"Baik, Pak. Kami akan efisien."
Mereka duduk berhadapan. Riyadi memulai pembicaraan dengan suara yang sedikit gemetar, tapi ia berusaha mengendalikannya.
"Pak Budi, saya datang ke sini bukan untuk meminta keringanan. Saya datang untuk meminta solusi. Haji Bahar adalah orang baik. Ia tidak pernah berniat menunggak. Ia hanya tertimpa musibah: harga karet jatuh, kebun sawitnya gagal panen karena kemarau panjang."
Pak Budi mendengarkan dengan wajah datar tanpa ekspresi. Tangannya memainkan pulpen, sesekali mencatat sesuatu di buku catatan kecil.
"Maaf, Pak Riyadi. Saya hanya menjalankan peraturan. Tidak ada keringanan untuk nasabah bermasalah."
"Tapi apakah ada opsi restrukturisasi utang, Pak? Memperpanjang jangka waktu? Atau menurunkan suku bunga?"
"Itu bukan wewenang saya, Pak. Itu wewenang pusat."
Pak Harun yang dari tadi diam, angkat bicara. Suaranya tenang tapi tegas. "Pak Budi, saya punya teman di pusat. Namanya Pak Darmawan. Beliau kepala divisi kredit. Mungkin Bapak bisa menghubungi beliau untuk meminta petunjuk?"
Pak Budi terkejut. "Bapak kenal Pak Darmawan?"
"Dia adik ipar saya, Pak. Kami saudara ipar. Rumah kami bersebelahan di Banjarmasin."
Wajah Pak Budi berubah. Dari dingin menjadi hangat. Dari kaku menjadi ramah. "Maaf, Pak Harun. Saya tidak tahu Bapak punya hubungan keluarga dengan Pak Darmawan."
"Tidak masalah, Pak. Yang penting sekarang bagaimana kita membantu Haji Bahar."
"Baik, Pak. Saya akan coba mengajukan restrukturisasi utang ke pusat. Mudah mudahan disetujui."
"Terima kasih, Pak Budi. Kami tunggu kabar baiknya."
Pertemuan selesai. Pak Harun dan Riyadi keluar dari ruangan dengan perasaan lega.
"Nak, kuncinya ada pada koneksi. Di dunia ini, tidak cukup hanya dengan kebenaran dan kejujuran. Kau juga butuh koneksi."
"Aku belajar banyak hari ini, Pak. Terima kasih atas bantuannya."
"Sama sama, Nak. Sekarang kita tunggu."
Seminggu kemudian, kabar baik datang. Pak Budi menelepon Riyadi bahwa restrukturisasi utang Haji Bahar telah disetujui oleh pusat. Jangka waktu diperpanjang menjadi lima tahun, suku bunga diturunkan, dan cicilan bulanan disesuaikan dengan kemampuan.
"Alhamdulillah, Pak Budi. Terima kasih banyak," ucap Riyadi dengan suara penuh haru.
"Ini berkat bantuan Pak Harun, Pak Riyadi. Saya hanya menjalankan perintah."
"Saya tetap berterima kasih pada Bapak. Semoga Bapak sukses selalu."
"Aamiin, Pak Riyadi."
Riyadi segera menghubungi Haji Bahar dan Kadir. Mereka datang ke kantor dengan wajah berseri seri. Senyum yang sudah lama hilang, akhirnya muncul kembali.
"Nak Riyadi, saya tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Terima kasih banyak," ucap Haji Bahar sambil menangis.
"Pak Haji, jangan berterima kasih pada saya. Berterima kasihlah pada Pak Harun. Beliau yang berjasa."
"Pak Harun adalah orang baik. Saya akan mengunjungi beliau di Banjarmasin untuk berterima kasih langsung."
"Beliau pasti senang menerima kunjungan Bapak, Pak."
Kadir memeluk Riyadi. "Riyad, kau menyelamatkan hidup ayahku."
"Kadir, kita saudara. Saudara wajib saling membantu."
"Aku tidak akan melupakan kebaikanmu, Riyad. Sampai kapan pun."
Dengan utang yang sudah direstrukturisasi, beban Haji Bahar berkurang drastis. Kadir dan Salma akhirnya bisa menikah tanpa hambatan. Pernikahan dilangsungkan sederhana, hanya akad nikah di depan penghulu dan doa bersama.
Riyadi menjadi saksi. Aryanti menjadi pendamping Salma. Badrun dan Ningsih membantu persiapan. Mak Tonah dan Saripah ikut mendoakan.
"Assalamu'alaikum, Saudara Kadir. Apakah Saudara bersedia menikahi Saudari Salma binti... dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sepuluh gram, tunai?" tanya penghulu dengan suara lantang.
"Saya terima nikahnya Salma binti... dengan mas kawin tersebut, tunai," jawab Kadir dengan suara tegas.
"Sah!" seru penghulu.
Para tamu bersorak. Takbir bergema di seluruh ruangan.
Kadir dan Salma duduk bersanding di kursi pelaminan sederhana yang terbuat dari kayu. Hiasan bunga melati dan mawar merah menghiasi sekelilingnya. Wajah mereka berseri seri, seperti bulan purnama di malam yang cerah.
"Salma, akhirnya kau menjadi istriku."
"Kadir, akhirnya kau menjadi suamiku."
"Kita akan bahagia, Salma. Aku janji."
"Aku percaya, Kadir."
Riyadi dan Aryanti menangis haru melihat kebahagiaan sahabat mereka. Badrun dan Ningsih juga tidak bisa menahan air mata.
"Run, lihat Kadir. Ia sangat bahagia," bisik Ningsih.
"Aku juga bahagia, Ning. Melihat sahabat kita bahagia."
"Kita semua akan bahagia, Run. Kita semua."
BAB XIX
KEMBALI KE SRIWIDADI
Lima tahun telah berlalu sejak Kadir dan Salma menikah. Waktu berjalan begitu cepat, seperti air sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir. Desa Sriwidadi yang dulu tenang dan terisolasi, kini mulai berubah. Jalan tanah yang dulu berlubang di sana sini, kini sudah diaspal hitam mulus oleh pemerintah desa. Jembatan bambu yang melengkung dan reyot itu kini sudah diganti dengan jembatan beton yang kokoh. Rumah rumah warga yang dulu kebanyakan berdinding papan, kini banyak yang sudah berubah menjadi tembok bata bercat cerah.
Riyadi kini bukan lagi pemuda kurus kering yang dulu bekerja sebagai kuli angkut beras di Banjarmasin. Perusahaannya—yang dulu hanya cabang kecil dari perusahaan kayu milik Pak Harun—kini telah berkembang menjadi perusahaan mandiri yang cukup besar. Ia sudah membeli saham mayoritas dari Pak Harun dua tahun lalu, setelah Pak Harun memutuskan untuk pensiun dan menikmati sisa hidupnya bersama keluarga di Banjarmasin. Kini Riyadi adalah pemilik penuh dari Riyadi Jaya Wood—perusahaan kayu yang melayani pesanan hingga ke luar Kalimantan.
Riyadi Jaya Wood, begitu nama perusahaannya. Kantornya kini tidak lagi di gedung papan sederhana di pinggir jalan. Kini berdiri megah sebuah bangunan dua lantai di pusat Kota Kuala Kapuas, dengan dinding kaca berwarna biru gelap dan lampu lampu hias yang menyala terang di malam hari. Tidak ada lagi lantai semen kasar, tidak ada lagi atap seng bocor, tidak ada lagi dinding papan lapuk. Semua sudah berubah. Riyadi telah sukses. Benar benar sukses.
"Bang, aku titip perusahaan ini sebentar. Aku mau ke desa. Ada yang ingin aku selesaikan," kata Riyadi pada Badrun yang kini menjabat sebagai manajer operasional.
Badrun yang dulu tambun dan agak lamban, kini telah berubah menjadi pria paruh baya yang lebih tegap dan berwibawa. Wajahnya masih bulat, tapi rahangnya mulai tegas. Kumisnya tebal dan terawat. Pakaiannya rapi, kemeja batik lengan panjang setiap hari, tidak pernah kusut.
"Tenang, Bang. Aku yang urus. Kau fokus urus urusanmu di desa," jawab Badrun dengan percaya diri.
"Terima kasih, Run. Kau memang sahabat sejati."
"Sudah, jangan cengeng. Ayo cepat pergi. Istri dan anakmu sudah menunggu di mobil."
Riyadi, Aryanti, dan anak semata wayang mereka—Riyan—naik ke mobil mewah berwarna hitam mengkilap. Mobil itu hadiah ulang tahun dari Aryanti dua tahun lalu. Bukan mobil sembarangan—SUV besar dengan interior kulit berwarna krem dan pendingin udara yang dinginnya bisa mengalahkan kulkas.
Riyan baru berusia empat tahun. Wajahnya bulat dan imut, rambutnya hitam dan tebal, matanya besar dan tajam seperti milik Riyadi. Tapi senyumnya manis seperti Aryanti. Sifatnya campuran antara Riyadi yang tekun dan Aryanti yang lembut.
"Ayah, kita ke mana?" tanya Riyan polos.
"Kita ke desa, Nak. Ke rumah Nenek Tonah dan Nenek Saripah."
"Seru, Ayah! Aku mau main sama sepupu sepupuku!"
"Iya, Nak. Ayah juga mau bertemu teman teman lama."
Aryanti tersenyum melihat tingkah putranya. "Riyan, duduk yang manis. Jangan banyak gerak. Nanti mabuk."
"Aku tidak mabuk, Bu. Aku kuat seperti Ayah."
Riyadi tertawa. "Hebat anak Ayah. Memang anak Ayah."
Mobil melaju meninggalkan Kota Kuala Kapuas. Jalan aspal mulus lurus ke utara. Di kiri kanan jalan, kebun karet dan sawah yang menguning terbentang luas. Sesekali mereka melewati perkampungan kecil dengan rumah rumah sederhana.
"Yan, kau ingat dulu? Waktu kita pertama kali ke Banjarmasin, kita naik perahu motor dan kapal cepat. Sekarang naik mobil. Jalan sudah bagus."
"Aku ingat, Riyad. Aku ingat bagaimana susahnya kita dulu. Tapi sekarang, syukur Alhamdulillah, kita sudah hidup berkecukupan."
"Kita tidak boleh lupa masa lalu, Yan. Masa lalu adalah guru terbaik."
"Aku tidak akan pernah lupa, Riyad. Perjuangan kita, air mata kita, sakitnya kita. Semuanya terekam jelas di sini." Aryanti menunjuk dadanya.
"Kita harus cerita pada Riyan tentang perjuangan kita, Yan. Agar ia tahu bahwa kesuksesan tidak datang dengan mudah. Bahwa ia harus berjuang untuk meraih mimpinya."
"Nanti kalau ia sudah besar, Riyad. Sekarang ia masih terlalu kecil untuk mengerti."
"Kau benar, Yan. Kita tunggu sampai ia remaja."
Mobil memasuki Desa Sriwidadi pukul sepuluh pagi. Warga yang melihat mobil mewah itu langsung berkerumun. Mereka penasaran siapa pemiliknya.
"Wah, mobil bagus sekali. Siapa yang punya ya?" bisik seorang ibu ibu.
"Kayaknya itu mobilnya Riyadi, Bu. Lihat plat nomornya. Itu mobil baru yang sering tampak di kota."
"Riyadi? Yang dulu Si Tengil itu?"
"Iya, Bu. Sekarang ia sudah sukses. Jadi pengusaha kayu."
"Wah, hebat. Dulu ia difitnah sana sini. Sekarang jadi orang kaya."
"Makanya, Bu. Jangan suka merendahkan orang. Suatu hari orang yang kau rendahkan bisa lebih sukses darimu."
"Iya, Bu. Saya ambil pelajaran."
Mobil berhenti di depan rumah Mak Tonah. Rumah kayu tua itu masih berdiri kokoh meskipun usianya sudah puluhan tahun. Dinding papan yang dulu berwarna biru tua, kini sudah pudar menjadi abu abu kehijauan karena dimakan usia. Atap rumbia yang dulu sering bocor, kini sudah diganti dengan atap seng baru pemberian Riyadi dua tahun lalu. Halaman depan yang dulu hanya tanah tandus, kini ditanami berbagai macam bunga dan tanaman hias oleh Mak Tonah yang mulai rajin berkebun.
Mak Tonah sudah menunggu di beranda. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, badannya bungkuk. Tapi matanya masih tajam dan senyumnya masih hangat. Ia memakai kebaya lusuh warna biru tua—pakaian kesukaannya yang selalu ia kenakan setiap ada acara keluarga.
"Riyad! Anakku!" teriak Mak Tonah sambil membuka tangannya lebar lebar.
Riyadi berlari memeluk Mak Tonah. "Mak, aku rindu."
"Ibu juga rindu, Nak. Sudah lama kau tidak pulang."
"Maaf, Mak. Aku sibuk dengan pekerjaan."
"Tidak apa apa, Nak. Ibu tidak marah. Ibu hanya khawatir."
Aryanti dan Riyan menyusul. Riyan langsung memeluk Mak Tonah. "Nenek! Nenek! Aku rindu!"
Mak Tonah tertawa. "Iya, Nak. Nenek juga rindu. Kau sudah besar. Wajahmu mirip Ayahmu."
"Tapi mataku mirip Ibu, Nek."
"Iya. Mata bulat, bulu mata lentik. Cantik."
"Kalau aku cantik, Nek? Aku laki laki."
"Laki laki juga boleh cantik, Nak. Yang penting hatinya cantik."
Riyan tersenyum bingung. Ia belum mengerti apa yang dimaksud neneknya.
Saripah yang baru datang dari belakang rumah ikut menyambut. Wajahnya juga sudah tua. Kerutan di sekitar mata dan mulutnya semakin dalam. Ia langsung memeluk Aryanti dan menangis.
"Yan, ibu kangen."
"Ibu, aku juga kangen. Maaf jarang pulang."
"Ibu tahu kau sibuk. Tidak apa apa. Yang penting kau sehat."
"Aku sehat, Bu. Riyad juga sehat. Riyan juga sehat."
"Syukurlah. Ibu doakan kalian selalu sehat."
Mereka masuk ke rumah. Mak Tonah sudah menyiapkan makanan—rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, dan aneka kue. Wangi masakan memenuhi seluruh ruangan, hangat dan mengundang selera.
Setelah makan siang dan beristirahat sejenak, Riyadi memutuskan untuk mengunjungi Haji Bahar. Ia membawa Aryanti dan Riyan. Mak Tonah memilih tinggal di rumah karena ingin membersihkan dapur.
"Yan, ajak Riyan. Biar ia kenal dengan kakek Haji Bahar."
"Baik, Riyad. Aku setuju."
Mereka berjalan kaki menuju rumah Haji Bahar. Rumah itu dulu megah dengan genteng merah menyala dan pagar besi hitam. Kini gentengnya sudah kusam, pagarnya berkarat, taman bunganya sudah tidak terawat. Tapi rumah itu masih berdiri kokoh.
Haji Bahar sedang duduk di beranda. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat. Matanya sayu, tapi senyumnya hangat. Badannya kurus, tapi masih tegap.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji. Maaf mengganggu," sapa Riyadi sambil mencium tangan Haji Bahar.
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi. Ini baru namanya anak baik. Masih ingat pada orang tua."
"Tentu, Pak Haji. Bapak seperti orang tua sendiri buat saya."
"Saya hanya orang biasa, Nak. Yang dulu anaknya sempat menyakiti kau."
"Sudah, Pak Haji. Jangan bicarakan masa lalu. Sekarang kita lihat masa depan."
"Kau benar, Nak. Masa lalu biarlah berlalu."
Riyan maju ke depan. "Selamat sore, Kakek. Saya Riyan."
Haji Bahar terkejut. "Wah, ini anak kau, Nak? Sudah besar. Mirip kau. Ganteng."
"Terima kasih, Kakek. Kakek juga ganteng."
Haji Bahar tertawa. "Kakek sudah tua, Nak. Tidak ganteng lagi."
"Kakek tetap ganteng. Kata Ayah, yang ganteng bukan rupa. Tapi hati."
Haji Bahar terharu. "Nak Riyadi, kau mendidik anakmu dengan baik. Ia sopan dan pintar berbicara."
"Aryanti yang lebih banyak mendidik, Pak. Saya sibuk di kantor."
"Kalian berdua hebat. Anak ini akan menjadi orang sukses suatu hari nanti."
"Aamiin, Pak Haji."
Tidak lama kemudian, Kadir dan Salma datang. Kadir sekarang sudah tidak kurus seperti dulu. Wajahnya tegas, tubuhnya berisi, dan pakaiannya rapi. Ia masih bekerja di perusahaan kayu milik Riyadi, kini menjabat sebagai kepala bagian kebun. Salma yang kini sedang hamil besar, berjalan perlahan dengan satu tangan memegang perutnya yang membuncit dan tangan lainnya digandeng oleh Kadir.
"Assalamu'alaikum, Riyad. Maaf kami datang terlambat. Salma tadi mual mual," sapa Kadir sambil menyalami Riyadi.
"Wa'alaikumsalam, Kadir. Tidak apa apa. Yang penting kalian datang."
Salma mendekati Aryanti. "Yan, kau cantik sekali hari ini."
"Kau juga, Salma. Cantik dengan perut buncitmu."
Mereka berdua tertawa. Persahabatan mereka sudah sangat erat, seperti saudara kandung.
"Kapan lahiran, Ma?" tanya Aryanti.
"Dua bulan lagi, Yan. Doakan semoga lancar."
"Aamiin. Aku doakan yang terbaik untukmu dan bayimu."
Riyan mendekati Salma. "Tante, aku boleh cium perut Tante?"
Salma tertawa. "Boleh, Nak. Ini calon adik untukmu."
Riyan mencium perut Salma. "Halo, adik. Cepat lahir ya. Aku mau main sama kamu."
Semua orang tertawa melihat tingkah Riyan.
"Riyad, anakmu ini lucu sekali," kata Kadir sambil mengelus kepala Riyan.
"Iya, Kadir. Sifatnya campuran aku dan Aryanti."
"Kau beruntung, Riyad. Punya istri cantik, anak lucu, bisnis sukses."
"Aku bersyukur, Kadir. Semua berkat doa orang orang baik di sekitarku."
"Termasuk doaku?" tanya Kadir setengah bercanda.
"Termasuk doamu, Kadir. Doa orang yang pernah menyakiti itu sangat manjur."
Kadir tersenyum. "Aku harap doaku selalu terkabul untukmu, Riyad."
Haji Bahar mengundang semua untuk makan bersama. Meja panjang yang dulu sering dipakai untuk jamuan besar, kini hanya diisi oleh beberapa orang. Tapi suasana tetap hangat dan penuh kebahagiaan.
"Nak Riyadi, saya dengar kau sekarang punya perusahaan kayu yang besar. Benarkah?"
"Iya, Pak. Riyadi Jaya Wood namanya. Tapi tidak sebesar yang orang bilang. Masih menengah."
"Jangan rendah hati, Nak. Bagi kami di desa ini, kau sudah sangat sukses."
"Ini semua berkat Pak Harun, Pak. Beliau yang membimbing saya dari nol."
"Pak Harun orang baik. Saya belum sempat berterima kasih padanya."
"Nanti jika Bapak ke Banjarmasin, singgahlah ke rumah beliau. Beliau pasti senang."
"Insya Allah, Nak. Saya akan rencanakan."
Kadir menyela. "Riyad, bagaimana rencanamu untuk ekspansi ke luar Kalimantan?"
"Aku sedang menjajaki kerja sama dengan perusahaan di Surabaya. Mereka tertarik dengan kayu ulin kita."
"Wah, hebat. Semoga berhasil."
"Kamu harus ikut membantu, Kadir. Aku butuh orang yang bisa dipercaya untuk mengurus ekspor."
"Aku siap, Riyad. Apa pun yang kau perintahkan, aku kerjakan."
"Aku tahu, Kadir. Aku percaya padamu."
Makan siang berlangsung meriah. Tawa dan canda terdengar dari kejauhan. Anak anak kecil berlarian di halaman. Burung burung tekukur berkicau di atas genteng. Matahari bersinar cerah. Hidup terasa indah.
Setelah makan siang, Aryanti mengajak Riyadi berjalan jalan ke dermaga tua. Dermaga itu masih berdiri meskipun kondisinya semakin memprihatinkan. Kayu kayunya sudah banyak yang lapuk, papan papannya reyot, dan beberapa bagian bahkan sudah bolong. Tapi bagi Aryanti, dermaga ini adalah tempat paling sakral.
"Riyad, dulu kita sering duduk di sini. Kaki digoyang goyangkan ke air. Kau cerita dongeng tentang nelayan dan ikan mas raksasa."
"Aku ingat, Yan. Setiap kata, setiap tawa, setiap senyum."
"Aku juga ingat. Sampai sekarang. Sampai kapan pun."
Mereka berdua duduk di papan dermaga yang sama. Kaki mereka menggantung di atas permukaan air. Air sungai beriak tenang. Ikan ikan kecil kadang melompat ke permukaan. Angin sore berhembus sejuk.
"Yan, apa kau bahagia menikah denganku?"
"Aku sangat bahagia, Riyad. Lebih dari apa pun di dunia ini."
"Apa kau tidak menyesal pernah menungguku bertahun tahun?"
"Aku tidak pernah menyesal, Riyad. Setiap detik penantian adalah detik yang berharga. Setiap air mata adalah bukti cinta. Setiap doa adalah kekuatan."
"Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
Mereka berdua berpelukan. Angin sore berhembus membawa bau bunga desa yang mulai mekar di musim kemarau.
"Riyad, jangan pernah tinggalkan aku lagi."
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, Yan. Sampai mati."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Jari kelingking mereka bertaut erat. Seperti dulu. Seperti saat mereka masih kecil.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Kali ini, tidak ada yang tertawa. Hanya ada keyakinan. Keyakinan bahwa mereka akan bersama selamanya.
Sementara orang tuanya bernostalgia di dermaga, Riyan bermain dengan anak anak desa di halaman rumah Mak Tonah. Mereka bermain kejar kejaran, petak umpet, dan kelereng.
"Nama kamu siapa?" tanya seorang anak laki laki seusia Riyan.
"Aku Riyan. Kamu?"
"Aku Joni. Aku anaknya Pak RT."
"Senang berkenalan denganmu, Joni."
"Kamu dari mana, Yan?"
"Aku dari Kuala Kapuas. Ayahku punya perusahaan kayu di sana."
"Wah, kaya dong, Yan?"
"Ayahku tidak kaya. Ayahku pekerja keras."
"Kata ibuku, mobil kalian mewah. Itu tanda kaya."
"Mobil itu hadiah dari ibuku untuk ayahku. Bukan karena kaya."
"Ooh, begitu."
Mereka bermain dengan riang. Riyan tidak pernah membeda bedakan teman. Ia bergaul dengan semua anak, baik yang kaya maupun yang miskin.
"Nak Riyan, ayo main kelereng!" ajak Joni.
"Ayo, Joni. Aku belum jago. Tapi aku akan belajar."
Mereka bermain kelereng di halaman yang panas. Keringat bercucuran di dahi Riyan, tapi ia tidak peduli.
Malam harinya, setelah Riyan tidur, Mak Tonah memanggil Riyadi dan Aryanti ke ruang tamu. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang ceria.
"Nak, Ibu ingin bicara."
"Ada apa, Mak? Wajah Ibu serius sekali," tanya Riyadi.
"Ibu sudah tua. Ibu tidak tahu sampai kapan hidup Ibu. Ibu hanya ingin pesan sebelum Ibu mati."
"Mak, jangan bicara begitu. Ibu masih sehat."
"Ibu sehat, Nak. Tapi siapa yang tahu kematian datang kapan? Bisa besok, bisa lusa, bisa tahun depan."
"Baik, Mak. Ibu mau pesan apa?"
"Nak, Ibu bangga dengan pencapaianmu. Dari pemuda miskin yang difitnah, sekarang kau jadi pengusaha sukses. Tapi jangan lupa, Nak. Kesuksesan itu titipan Allah. Jangan sombong. Jangan angkuh. Jangan lupa bersedekah."
"Ibu, aku tidak pernah lupa. Aku selalu bersedekah setiap bulan. Sebagian dari keuntungan perusahaanku aku salurkan untuk anak yatim dan fakir miskin."
"Ibu tahu, Nak. Ibu hanya mengingatkan."
"Terima kasih, Mak. Aku akan selalu ingat pesan Ibu."
"Nak, jaga istrimu baik baik. Ia telah berjuang keras untukmu. Ia telah menjual boneka kesayangannya untuk menjengukmu di rumah sakit. Ia setia menunggumu bertahun tahun. Jangan sia siakan pengorbanannya."
"Mak, aku tidak akan menyia nyiakan Aryanti. Ia adalah segalanya bagiku."
"Nak, didik anakmu dengan baik. Jangan hanya fokus pada bisnis. Keluarga adalah prioritas utama."
"Baik, Mak. Aku akan membagi waktu antara kerja dan keluarga."
Mak Tonah tersenyum. "Ibu sudah tenang. Ibu bisa mati kapan pun sekarang."
"Mak, jangan bicara begitu. Ibu masih panjang umur."
"Ibu hanya bercanda, Nak. Ibu masih ingin melihat Riyan besar. Ingin melihat cicit cicit Ibu."
Mereka semua tertawa.
Keesokan harinya, Riyadi sekeluarga pamit pulang ke Kuala Kapuas. Mak Tonah dan Saripah menangis di beranda. Haji Bahar dan Kadir ikut mengantarkan.
"Nak, hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut," pesan Mak Tonah.
"Baik, Mak. Ibu jaga kesehatan."
"Kapan kau pulang lagi, Nak?"
"Insya Allah, bulan depan, Mak. Aku akan rutin pulang setiap bulan."
"Jangan janji dulu, Nak. Kalau sibuk, tidak usah dipaksakan."
"Tidak, Mak. Aku akan usahakan. Janji."
Riyan mencium tangan Mak Tonah dan Saripah. "Selamat tinggal, Nenek. Aku akan kembali lagi."
"Iya, Nak. Nenek tunggu."
Mobil perlahan meninggalkan desa. Mak Tonah melambaikan tangan sampai mobil tidak terlihat.
"Yan, aku sedih meninggalkan ibu."
"Aku juga sedih, Riyad. Tapi kita harus kembali ke kota. Pekerjaan menunggu."
"Aku ingin ibu pindah ke Kuala Kapuas saja. Tinggal dengan kita."
"Ibu tidak mau, Riyad. Sudah aku tawarkan berkali kali. Ia bilang ia betah di desa. Ia tidak betah di kota."
"Kita harus sering sering pulang, Yan."
"Setuju, Riyad. Setiap bulan. Atau setiap dua minggu sekali."
"Kita usahakan, Yan."
Riyan yang duduk di kursi belakang tiba tiba berkata, "Ayah, aku suka di desa. Teman temannya asyik. Alamnya indah. Udaranya sejuk."
"Ayah juga suka, Nak. Dulu Ayah besar di sini."
"Kenapa kita tidak tinggal di sini saja, Ayah?"
"Karena Ayah harus bekerja di kota, Nak. Di kota ada kantor, ada karyawan, ada bisnis."
"Nanti kalau Ayah sudah pensiun, kita tinggal di sini lagi, ya Ayah?"
"Insya Allah, Nak. Kita rencanakan."
Aryanti tersenyum. "Kita akan kembali ke desa suatu hari nanti, Riyad. Sebagai pensiunan yang bahagia."
"Bukan sebagai pensiunan yang bahagia, Yan. Tapi sebagai orang tua yang ingin dekat dengan anak dan cucu."
"Kita lihat saja nanti, Riyad. Masa depan masih panjang."
Mobil melaju cepat meninggalkan Desa Sriwidadi. Riyadi menoleh ke belakang. Desa itu semakin kecil, semakin kabur, akhirnya hilang tertelan tikungan.
"Selamat tinggal, desaku. Aku akan kembali."
BAB XX
KEJUTAN DI PESTA PANEN
Bulan Oktober tiba. Desa Sriwidadi bersiap mengadakan pesta panen raya yang baru pertama kali diadakan setelah puluhan tahun. Panen tahun ini sangat melimpah. Sawah sawah yang menguning membentang luas sejauh mata memandang. Padi bergoyang ditiup angin seperti ombak di lautan emas. Para petani tersenyum lega setelah berbulan bulan bekerja keras membajak, menanam, menyiangi, dan merawat tanaman mereka.
Pak Lurah mengirimkan undangan resmi untuk Riyadi dan Aryanti. Surat itu ditulis dengan kertas folio bergaris dan amplop cokelat yang agak lusuh. Tulisan di dalamnya rapi dan penuh hormat.
Kepada Saudara Riyadi dan Ibu Aryanti
di Kuala Kapuas
Assalamu'alaikum.
Nak Riyadi, kami sekeluarga besar Desa Sriwidadi mengundang Saudara sekeluarga untuk hadir dalam Pesta Panen Raya yang akan dilaksanakan pada:
Hari/Tanggal : Sabtu, 15 Oktober 1999
Waktu : Pukul 10.00 WIB sampai selesai
Tempat : Lapangan Desa Sriwidadi
Acara ini akan dimeriahkan dengan berbagai pertunjukan: tarian tradisional, musik panting, wayang kulit semalam suntuk, dan kenduri makan bersama.
Kami sangat berharap Saudara sekeluarga bisa hadir. Kehadiran Saudara akan sangat berarti bagi kami semua. Tanpa bantuan dan doa Saudara, desa ini tidak akan semaju sekarang.
Wassalamu'alaikum.
Hormat kami,
Lurah Desa Sriwidadi
Bapak Rahmat
Riyadi membaca surat itu berulang ulang. Air matanya menetes. Aryanti yang melihat langsung bertanya.
"Riyad, kenapa kau menangis?"
"Aku haru, Yan. Desa kita mengundang kita ke pesta panen. Mereka bilang, tanpa bantuan dan doaku, desa tidak akan semaju sekarang."
"Kau memang banyak berjasa untuk desa, Riyad. Jalan jalan yang kau bangun, jembatan yang kau perbaiki, sumur sumur bor yang kau buat, beasiswa untuk anak anak miskin. Semua itu sangat berarti."
"Aku hanya melakukan yang terbaik, Yan. Aku tidak pernah mengharapkan pujian atau ucapan terima kasih."
"Tapi orang orang di desa tahu, Riyad. Mereka tidak buta. Mereka melihat semua kebaikanmu."
"Aku tidak ingin disebut dermawan, Yan. Aku hanya ingin berbagi. Karena dulu aku pernah susah. Aku tahu bagaimana rasanya menjadi miskin, difitnah, dijauhi, dan tidak punya harapan."
"Kau memang istimewa, Riyad. Hati emasmu tidak akan pernah pudar."
Mereka berdua memutuskan untuk hadir. Bukan untuk dipuji, tapi untuk bersilaturahmi dengan warga desa yang dulu pernah memfitnah, menjauhi, dan meragukannya. Riyadi tidak pernah dendam. Ia hanya ingin menunjukkan bahwa cinta dan kebaikan selalu lebih kuat dari kebencian dan fitnah.
Riyadi dan Aryanti sibuk mempersiapkan diri untuk pesta panen. Riyadi memilih pakaian yang sederhana—kemeja batik lengan panjang warna cokelat, celana kain hitam, dan peci hitam di kepala. Ia tidak ingin terlihat terlalu mewah. Ia ingin tampil seperti warga desa biasa.
"Yan, jangan pakai perhiasan terlalu banyak. Nanti orang desa iri."
"Baik, Riyad. Aku hanya pakai cincin kawin dan kalung tipis."
"Ajarkan Riyan untuk bersikap sopan. Jangan sampai ia merendahkan orang lain."
"Riyan anak baik, Riyad. Ia tidak akan merendahkan siapa pun."
"Kita harus membawa oleh oleh untuk warga desa. Apa yang bagus, Yan?"
"Kita bawa makanan ringan dari kota. Atau pakaian layak pakai untuk anak anak yatim."
"Bagus ide itu, Yan. Siapkan seratus bungkus makanan ringan dan lima puluh potong pakaian anak."
"Baik, Riyad. Aku akan siapkan malam ini."
Riyan yang mendengar percakapan orang tuanya langsung bertanya. "Ayah, Ibu, aku ikut ya?"
"Tentu, Nak. Kamu harus ikut. Kamu harus kenal dengan desa kelahiran Ayah dan Ibu."
"Seru, Ayah! Aku mau main sama Joni lagi!"
"Nanti, Nak. Sekarang fokus persiapan dulu."
Mobil melaju meninggalkan Kuala Kapuas pukul delapan pagi. Langit cerah tanpa mendung. Matahari bersinar hangat, tidak terlalu terik karena masih pagi. Udara segar dengan sedikit embun yang masih tersisa di dedaunan. Burung burung berkicau riang di sepanjang jalan.
"Yan, kau ingat dulu? Waktu kita pertama kali ke Banjarmasin, kita naik perahu motor dan kapal cepat. Sekarang naik mobil. Jalan sudah bagus."
"Aku ingat, Riyad. Aku ingat bagaimana perjuangan kita dulu. Sekarang, Alhamdulillah, Allah memberi kita kemudahan."
"Kita tidak boleh lupa masa lalu, Yan. Masa lalu adalah guru terbaik."
"Aku tidak akan pernah lupa, Riyad. Setiap suka dan duka, setiap tawa dan tangis, setiap air mata dan doa. Semuanya terekam jelas di sini." Aryanti menunjuk dadanya.
"Ayah, Ibu, ceritakan tentang masa lalu Ayah dan Ibu!" pinta Riyan dari kursi belakang.
"Nanti, Nak. Nanti kalau sudah sampai di desa. Ayah akan ceritakan semuanya di dermaga tua."
"Seru, Ayah! Aku tidak sabar!"
Mobil melaju cepat. Pepohonan di kiri kanan jalan berlalu cepat. Sawah sawah yang menguning terbentang luas. Sesekali mereka melewati perkampungan kecil dengan rumah rumah sederhana.
"Riyad, lihat! Itu kebun karet milik Haji Bahar dulu! Sekarang sudah jadi kebun sawit."
"Iya, Yan. Haji Bahar sudah beralih ke sawit karena harga karet jatuh. Sekarang kebunnya produktif lagi."
"Syukurlah. Ia sudah bangkit dari keterpurukan."
"Semua berkat kerja keras Kadir dan Salma. Mereka berdua sangat rajin."
Pukul setengah sepuluh, mobil Riyadi memasuki Desa Sriwidadi. Warga sudah berdatangan ke lapangan desa. Pakaian mereka bermacam macam—ada yang memakai kebaya, ada yang memakai baju adat, ada yang hanya memakai kemeja biasa. Tapi semuanya tersenyum.
"Nak Riyadi datang! Nak Riyadi datang!" teriak seorang warga yang melihat mobil mewah itu.
Warga berkerumun di sekitar mobil. Mereka ingin menyambut Riyadi yang sudah lama tidak pulang.
"Assalamu'alaikum, warga desa! Maaf kami datang agak terlambat," sapa Riyadi sambil turun dari mobil.
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi! Tidak terlambat. Acara belum dimulai," jawab Pak Lurah.
Riyadi dan Aryanti berjalan menuju panggung kehormatan. Warga bersorak sorai. Mereka bertepuk tangan. Beberapa ibu ibu menangis haru.
"Nak Riyadi, kami semua bangga padamu!" teriak Pak Darma.
"Terima kasih, Pak Darma. Ini semua berkat doa warga desa."
"Kau adalah bukti bahwa orang miskin pun bisa sukses! Asalkan mau berusaha dan tidak menyerah!"
"Aamiin, Pak Darma."
Riyan yang baru turun dari mobil langsung didekati oleh Joni dan teman temannya.
"Riyan! Kau datang!" teriak Joni sambil melambaikan tangan.
"Joni! Ayo kita main!"
Mereka bermain kejar kejaran di lapangan. Riyan tidak malu meskipun pakaiannya lebih bagus dari teman temannya.
Acara dimulai dengan sambutan dari Pak Lurah. Pria paruh baya dengan kumis tebal dan perut buncit itu naik ke panggung dengan langkah percaya diri. Kemeja batik lengan panjangnya berkibar kibar ditiup angin pagi.
"Assalamu'alaikum, warga Desa Sriwidadi yang saya banggakan. Saudara saudara sekalian, hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan pesta panen raya. Ini adalah panen terbesar dalam sepuluh tahun terakhir. Sawah kita menghasilkan padi dua kali lipat dari tahun lalu. Beras kita melimpah. Perut kita akan kenyang. Hati kita akan bahagia."
Warga bersorak. Tepuk tangan bergemuruh.
"Tapi saudara saudara, kesuksesan ini tidak akan mungkin terjadi tanpa bantuan dan doa dari saudara kita, Nak Riyadi. Beliau telah membangun jalan desa, memperbaiki jembatan, membuat sumur bor, dan memberikan beasiswa untuk anak anak miskin. Beliau juga telah memberikan bantuan modal kepada petani untuk membeli bibit unggul dan pupuk berkualitas."
Warga menoleh ke arah Riyadi. Mereka tersenyum dan bertepuk tangan.
"Nak Riyadi, kami mengundang Bapak ke atas panggung untuk memberikan sambutan."
Riyadi naik ke panggung dengan langkah gugup. Ia tidak terbiasa berbicara di depan banyak orang. Wajahnya sedikit pucat, tangannya gemetar, keringat mulai membasahi dahinya.
"Assalamu'alaikum, warga desa. Terima kasih atas sambutan yang hangat. Saya tidak menyangka akan disambut seperti ini."
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi!" jawab warga serempak.
"Saya datang ke sini bukan untuk dipuji. Saya datang untuk bersilaturahmi. Saya ingin melihat desa kita maju. Saya ingin melihat warga desa sejahtera. Saya ingin melihat anak anak desa bersekolah setinggi tingginya."
"Kami tahu, Nak Riyadi. Kami tahu niat baik Bapak."
"Jangan pernah berhenti berusaha, warga desa. Jangan pernah berhenti berdoa. Jangan pernah berhenti bermimpi. Dulu saya hanyalah pemuda miskin yang difitnah dan dijauhi. Sekarang, dengan izin Allah, saya bisa berdiri di sini. Bukan karena saya hebat, tapi karena Allah sayang pada saya."
"Aamiin!" seru warga.
"Saya tidak bisa memberikan banyak. Tapi hari ini, saya bawakan seratus bungkus makanan ringan dan lima puluh potong pakaian layak pakai untuk anak anak yatim di desa kita. Semoga bermanfaat."
Warga bersorak lagi. Pak Lurah menangis di panggung.
"Nak Riyadi, kau terlalu baik. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu."
"Aamiin, Pak Lurah."
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan pertunjukan tarian tradisional. Gadis gadis desa menari dengan gemulai mengenakan pakaian adat pengantin Banjar. Kain sasirangan yang berwarna warni melilit tubuh mereka dengan indah. Selendang sutra melambai lambai ditiup angin. Gamelan yang dimainkan oleh pemusik desa mengalun merdu, mengiringi setiap gerakan yang penuh makna.
"Wah, cantik sekali, Yan. Dulu kau juga ikut menari seperti itu," bisik Riyadi.
"Dulu, waktu aku masih gadis. Sekarang aku sudah tua."
"Kau tidak tua, Yan. Kau tetap cantik."
"Aku yakin kau bilang itu hanya untuk menyenangkan hatiku."
"Bukan, Yan. Ini jujur. Kau lebih cantik sekarang daripada dulu."
"Ah, kau ini. Sudah tua masih gombal."
"Gombal tidak mengenal usia, Yan. Selama hati masih berbunga, gombal akan selalu ada."
Mereka berdua tertawa. Aryanti menyandarkan kepalanya di bahu Riyadi.
Riyan yang melihat tarian itu sangat terkesima. Matanya membulat, mulutnya terbuka, tangannya bertepuk pelan mengikuti irama musik.
"Ayah, aku mau belajar menari seperti itu!"
"Nanti, Nak. Nanti kalau kau sudah besar."
"Aku mau sekarang, Ayah!"
"Kau masih kecil, Nak. Tangan dan kakimu belum lentur."
"Tapi aku bisa belajar, Ayah!"
"Baiklah, Nak. Nanti sepulang dari sini, Ayah carikan guru tari untukmu."
"Seru, Ayah! Aku tidak sabar!"
Pukul satu siang, acara kenduri dimulai. Warga duduk melingkar di atas tikar pandan yang dialas di tanah lapang. Hidangan disajikan dalam piring piring besar. Ada nasi putih, rendang sapi, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sayur nangka, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue.
"Warga desa, mari kita makan bersama. Doakan semoga panen kita tahun depan lebih melimpah," kata Pak Lurah.
"Aamiin!" seru warga.
Riyadi, Aryanti, dan Riyan duduk di tikar yang sama dengan Haji Bahar, Kadir, Salma, Mak Tonah, Saripah, Badrun, dan Ningsih. Mereka makan dengan lahap.
"Mak, ini rendang enak sekali. Siapa yang masak?" tanya Riyadi.
"Ibu yang masak, Nak. Resep turun temurun dari nenekmu."
"Wah, Ibu hebat. Aku rindu masakan Ibu."
"Kalau rindu, sering sering pulang, Nak. Ibu akan masakkan apa pun yang kamu mau."
"Baik, Mak. Aku akan sering pulang."
Riyan yang sedang menyantap ayam goreng tiba tiba berkata, "Nenek, masakan Nenek enak sekali! Nenek mau pindah ke Kuala Kapuas? Nenek tinggal dengan kami?"
Mak Tonah tersenyum. "Nenek tidak bisa, Nak. Nenek betah di desa. Nenek sudah tua. Nenek tidak mau jadi beban."
"Tapi Nenek tidak akan jadi beban, Nek. Aku akan menjaga Nenek."
"Nenek sayang kamu, Nak. Tapi biarkan Nenek di sini. Nenek bahagia di desa."
"Baik, Nek. Aku akan sering sering pulang ke sini."
"Itu dia anak Ayah. Baik hati."
Setelah kenduri selesai, Pak Lurah naik ke panggung lagi. Kali ini wajahnya lebih serius.
"Warga desa, sebelum acara kita tutup, ada kejutan dari kami untuk Nak Riyadi."
Riyadi terkejut. "Kejutan? Apa itu, Pak Lurah?"
"Sebentar lagi, Nak. Kau akan lihat."
Pak Lurah memanggil beberapa warga untuk naik ke panggung. Mereka membawa sebuah peti kayu kecil yang dihiasi dengan ukiran dan pita merah.
"Nak Riyadi, ini adalah hadiah dari warga Desa Sriwidadi untukmu. Kami mengumpulkan uang secara sukarela selama setahun untuk membeli hadiah ini."
Riyadi membuka peti itu. Di dalamnya, terdapat sebuah jam tangan emas bermerek Rolex. Jam itu sangat mahal, harganya bisa mencapai puluhan juta.
"Pak Lurah, apa ini? Saya tidak pantas menerima hadiah semahal ini."
"Kau pantas, Nak. Kau sudah banyak berjasa untuk desa ini. Kami tidak bisa membalas semua kebaikanmu. Setidaknya, ini sebagai tanda terima kasih kami."
"Tapi Pak Lurah, saya tidak butuh jam tangan mewah. Saya lebih baik uangnya digunakan untuk membangun desa."
"Jam ini sudah dibeli, Nak. Tidak bisa dikembalikan. Anggap saja sebagai kenang kenangan."
Riyadi menangis. "Terima kasih, warga desa. Saya tidak tahu harus berkata apa. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk desa ini. Saya tidak pernah mengharapkan imbalan."
"Kami tahu, Nak. Itu sebabnya kami menghormatimu."
Riyadi memakai jam itu di tangan kirinya. Jam itu terasa berat, tapi bukan karena logam mulianya, melainkan karena beban perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan.
"Aku tidak akan pernah melupakan kebaikan kalian, warga desa. Aku akan terus berbuat baik untuk desa ini. Sampai kapan pun."
Sore hari, setelah semua acara selesai, Riyadi mengajak Aryanti dan Riyan ke dermaga tua. Dermaga itu masih berdiri meskipun kondisinya semakin memprihatinkan. Banyak kayu yang lapuk, papan papan yang reyot, dan beberapa bagian yang bolong. Tapi bagi Riyadi, dermaga ini adalah tempat paling berarti dalam hidupnya.
"Riyan, ini dermaga tempat Ayah dan Ibu pertama kali bertemu. Waktu Ayah masih kecil, Ayah sering duduk di sini bersama Ibu. Kaki digoyang goyangkan ke air. Ayah cerita dongeng. Ibu tertawa."
"Cerita dongeng apa, Ayah?"
"Dongeng tentang nelayan dan ikan mas raksasa."
"Seru, Ayah! Ceritakan padaku!"
"Suatu hari, di sebuah desa nelayan, hiduplah seorang nelayan tua yang miskin. Setiap hari ia pergi melaut, tapi jarang mendapat ikan."
"Lalu, Ayah?"
"Suatu hari, ia mendapat ikan mas raksasa. Ikan itu sangat besar, sebesar gerobak sapi. Nelayan itu senang sekali. Ia membawa ikannya pulang."
"Trus, Ayah?"
"Istrinya senang. Tapi ia berkata, 'Pak, lebih baik kita jual ikan ini di pasar. Uangnya bisa untuk membeli beras.' Tapi nelayan itu berkata, 'Bu, ikan ini pemberian sungai. Kita tidak boleh menjualnya. Kita harus memakannya bersama tetangga.'"
"Baik sekali nelayan itu!"
"Iya, baik sekali. Lalu mereka mengundang semua tetangga untuk makan bersama. Tapi..." Riyadi berhenti sejenak.
"Tapi apa, Ayah?"
"Ternyata ikan itu belum dimasak. Ikan itu masih hidup. Begitu semua tetangga datang, ikan itu melompat lompat di dalam ember. Semua tetangga kaget. Mereka berlarian ke sana kemari mengejar ikan. Ada yang jatuh ke comberan, ada yang kepeleset di kulit pisang, ada yang celananya robek."
Riyan tertawa. "Lucu, Ayah!"
"Iya, lucu. Tapi nelayan itu tidak tertawa. Ia sedih karena perahunya hanyut terbawa arus."
"Trus, Ayah?"
"Untungnya, anak nelayan yang paling kecil berhasil menangkap ikan itu lagi. Ia lalu berbisik pada ikannya, 'Hai ikan, kau mau ikut aku ke sungai lagi? Atau kau mau kugoreng untuk makan malam?'"
"Ikan itu diam saja, Ayah. Kan ikan!"
"Iya, karena ikan tidak bisa bicara. Akhirnya, nelayan itu belajar bahwa tidak semua rezeki harus dihabiskan sendiri. Kadang kita harus berbagi dengan orang lain."
"Aku suka cerita Ayah. Ayah cerita lagi!"
"Nanti, Nak. Nanti kalau kita di rumah. Sekarang, nikmati dulu pemandangan sore di dermaga ini."
Riyan duduk di pangkuan Riyadi. Kaki kecilnya menggantung di atas permukaan air. Aryanti duduk di samping mereka. Keluarga kecil itu menikmati senja yang mulai gelap.
"Riyad, aku bahagia."
"Aku juga bahagia, Yan."
"Kita akan bersama selamanya, Riyad."
"Selamanya, Yan. Sampai mati."
Mereka berpelukan. Angin sore berhembus membawa bau bunga desa yang mulai mekar di musim kemarau.
Malam harinya, Riyadi sekeluarga pamit pulang ke Kuala Kapuas. Mak Tonah dan Saripah menangis di beranda. Haji Bahar dan Kadir ikut mengantarkan.
"Nak, hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut," pesan Mak Tonah.
"Baik, Mak. Ibu jaga kesehatan."
"Jangan lupa beri kabar kalau sudah sampai di rumah."
"Baik, Mak."
Riyan mencium tangan Mak Tonah dan Saripah. "Selamat tinggal, Nenek. Aku akan kembali lagi."
"Iya, Nak. Nenek tunggu."
Mobil perlahan meninggalkan desa. Mak Tonah melambaikan tangan sampai mobil tidak terlihat.
"Yan, kita harus sering sering pulang."
"Aku setuju, Riyad. Setiap bulan. Atau setiap dua minggu sekali."
"Kita usahakan."
"Aku akan merindukan desa ini, Riyad. Kedamaiannya, keindahannya, orang orangnya."
"Aku juga, Yan. Tapi kita harus kembali ke kota. Pekerjaan menunggu."
Riyan yang sudah mulai mengantuk tiba tiba berkata, "Ayah, Ibu, aku suka desa. Aku ingin tinggal di sini selamanya."
"Nanti kalau kau sudah besar, Nak. Kau bisa memilih tinggal di mana pun."
"Aku ingin tinggal di desa, Ayah. Bersama Nenek, Kakek, dan teman teman."
"Terserah kamu, Nak. Ayah tidak akan melarang. Yang penting kau bahagia."
"Aku akan bahagia di desa, Ayah."
Mobil melaju cepat meninggalkan Desa Sriwidadi. Riyadi menoleh ke belakang. Desa itu semakin kecil, semakin kabur, akhirnya hilang tertelan kegelapan malam.
"Selamat tinggal, desaku. Sampai jumpa lagi."
BAB XXI
MATA ARYANTI KINI
Pagi itu, Aryanti bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, warnanya masih merah keemasan seperti kuning telur yang baru pecah. Burung burung tekukur mulai bersahutan dari balik rumpun bambu di belakang rumah. Ayam ayam jantan mulai berkokok bersahutan, seolah saling memberi tahu bahwa hari baru telah dimulai. Udara pagi terasa sejuk dan segar, wangi tanah basah dan embun masih tercium dari halaman yang belum tersapu.
Tapi Aryanti tidak seperti biasanya. Pagi itu ia duduk di beranda sambil memegang secangkir teh hangat, matanya menerawang ke kejauhan, tenggelam dalam lamunan yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata kata. Ada sesuatu yang berbeda hari ini. Sesuatu yang mengganjal di hatinya.
"Bu, kenapa Ibu bangun pagi pagi?" tanya Riyan yang baru keluar dari kamar dengan mata masih sayu. Rambutnya acak acakan, pipinya masih merah karena terimpit bantal.
"Aku tidak bisa tidur, Nak. Ada yang menggangguku."
"Apa yang mengganggu Ibu?" Riyan duduk di pangkuan Aryanti. Tubuhnya yang kecil dan hangat itu membuat Aryanti sedikit merasa nyaman.
"Entahlah, Nak. Ibu tidak tahu. Ibu hanya merasa... ada yang berbeda hari ini."
"Apa Ibu sakit?"
"Aku tidak sakit, Nak. Aku hanya... galau."
"Galau itu apa, Bu?"
"Galau itu... perasaan campur aduk. Tidak sedih, tidak senang. Antara khawatir, cemas, dan bingung."
"Wah, Ibu sakit jiwa?"
Aryanti tertawa. "Kamu ini, Nak. Baru umur empat tahun sudah bisa bercanda seperti ayahmu."
Riyan juga tertawa. "Aku anak Ayah. Memang harus mirip Ayah."
Dari dalam rumah, Riyadi keluar dengan pakaian kerja rapi. Kemeja batik lengan panjang motif parang, celana kain hitam, dan sepatu pantofel mengkilap. Wajahnya segar, matanya berbinar, dan bibirnya tersenyum.
"Yan, kenapa kau sudah bangun? Masih pagi. Seharusnya kau istirahat."
"Aku tidak bisa tidur, Riyad. Ada yang mengganggu pikiranku."
"Apa itu?"
"Aku tidak tahu. Aku hanya merasa... ada yang berbeda hari ini."
Riyadi duduk di samping Aryanti. Ia meraih tangan istrinya dan menciumnya. "Mungkin karena kita akan bertemu dengan orang orang desa nanti sore. Aku juga sedikit gugup."
"Bukan itu, Riyad. Ini perasaan yang berbeda. Seperti... ada sesuatu yang akan terjadi. Sesuatu yang besar."
"Kau terlalu banyak pikiran, Yan. Santai saja. Istirahatlah. Nanti sore kita berangkat ke desa."
"Baik, Riyad. Kau juga jangan terlalu lelah bekerja."
"Aku tidak lelah, Yan. Aku sudah terbiasa."
Mereka berdua berpelukan. Riyan ikut memeluk dari samping.
"Keluarga kita bahagia, Riyad. Jangan biarkan apa pun merusaknya."
"Tidak akan ada yang bisa merusak, Yan. Aku akan menjaga kalian berdua. Sampai mati."
Sepanjang hari, Aryanti tidak bisa berkonsentrasi. Ketika memasak, ia hampir membakar sayur karena lupa mematikan api. Ketika mencuci pakaian, ia mencampur pakaian putih dengan pakaian merah sehingga semuanya berubah menjadi merah muda. Ketika menyapu halaman, ia menyapu daun kering ke arah yang salah sehingga berhamburan kembali.
"Yan, kenapa kau seperti orang linglung hari ini?" tanya Saripah yang kebetulan sedang berkunjung.
"Aku tidak tahu, Ma. Ada yang aneh dengan perasaanku."
"Kau sakit?"
"Aku tidak sakit, Ma. Badanku sehat. Tapi hatiku... gelisah."
"Gelisah karena apa?"
"Entahlah, Ma. Aku tidak tahu. Semua terasa aneh. Matahari terasa lebih panas dari biasanya. Angin terasa lebih kencang dari biasanya. Suara burung terasa lebih nyaring dari biasanya."
"Kau hanya terlalu banyak pikiran, Yan. Cobalah istirahat. Tidur siang sebentar."
"Aku sudah coba, Ma. Tapi mataku tidak bisa terpejam."
Saripah mendekati Aryanti. Ia meraba dahi putrinya. "Kau tidak demam, Yan."
"Aku tahu, Ma. Aku sehat."
"Kalau sehat, kenapa kau seperti orang kerasukan?"
"Aku tidak kerasukan, Ma. Aku hanya... was was."
"Was was tentang apa?"
"Aku tidak tahu, Ma. Aku tidak tahu."
Saripah menghela napas. "Ibu akan mendoakanmu. Mungkin ada setan yang mengganggumu."
"Aamiin, Ma. Doakan aku."
Sore harinya, Riyadi, Aryanti, dan Riyan berangkat ke desa. Mobil melaju pelan karena hujan gerimis mulai turun. Jalan aspal yang mulus menjadi licin dan berbahaya.
"Riyad, hati hati. Jalan licin."
"Aku hati hati, Yan. Jangan khawatir."
"Aku khawatir, Riyad. Firasatku tidak enak."
"Firasat kau tidak akan terjadi, Yan. Aku akan menjaga kalian."
"Aku percaya padamu, Riyad. Tapi tolong, jangan ngebut."
"Baik, Yan. Aku akan pelan."
Riyan yang duduk di kursi belakang tiba tiba berkata, "Ayah, aku takut."
"Takut apa, Nak?"
"Aku takut gelap. Di luar gelap sekali."
"Sebentar lagi sampai, Nak. Sabar."
"Kita mau ke mana, Ayah?"
"Kita mau ke desa, Nak. Ke rumah Nenek."
"Seru! Aku mau main sama Joni lagi!"
"Iya, Nak. Nanti kau bisa main dengan Joni."
Mobil terus melaju. Hujan gerimis berubah menjadi hujan sedang. Wiper mobil bekerja keras membersihkan kaca depan yang terus dibasahi air.
"Riyad, lebih baik kita berhenti dulu. Hujan semakin deras."
"Tidak bisa, Yan. Kita sudah setengah perjalanan. Lebih baik terus."
"Tapi risiko kecelakaan besar."
"Aku hati hati, Yan. Aku tidak akan membahayakan kalian."
"Aku percaya padamu, Riyad. Tapi tolong, ekstra hati hati."
Alhamdulillah, mereka tiba di desa dengan selamat. Hujan reda sesaat setelah mobil memasuki batas desa. Langit mulai cerah kembali. Pelangi muncul di ufuk timur, melengkung indah dari selatan ke utara.
"Lihat, Ayah! Pelangi!" teriak Riyan sambil menunjuk ke luar jendela.
"Iya, Nak. Cantik, ya?"
"Cantik sekali, Ayah. Warnanya macam macam. Merah, kuning, hijau, biru."
"Itu tanda bahwa hujan akan segera berhenti, Nak."
"Aku suka pelangi, Ayah. Pelangi membuatku bahagia."
"Ayah juga, Nak. Pelangi mengingatkan Ayah pada perjuangan Ayah dulu."
"Perjuangan apa, Ayah?"
"Nanti, Nak. Nanti Ayah ceritakan."
Mobil berhenti di halaman rumah Mak Tonah. Mak Tonah sudah menunggu di beranda dengan payung di tangan.
"Nak, kalian basah kuyup!" seru Mak Tonah sambil menghampiri mobil.
"Tidak basah, Mak. Kami naik mobil. Tidak kehujanan," jawab Riyadi sambil turun.
"Syukurlah. Ibu khawatir."
"Kami baik baik saja, Mak. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Mereka masuk ke rumah. Mak Tonah sudah menyiapkan makanan hangat—sayur bening, ikan goreng, sambal terasi, dan teh jahe.
"Makan dulu, Nak. Badan kalian pasti kedinginan."
"Terima kasih, Mak."
Aryanti yang masih tampak gelisah hanya makan sedikit. Mak Tonah yang melihat langsung bertanya.
"Yan, kenapa kau tidak makan? Kau sakit?"
"Aku tidak sakit, Mak. Aku hanya... gelisah."
"Gelisah kenapa?"
"Aku tidak tahu, Mak. Perasaanku aneh hari ini."
"Kau terlalu banyak pikiran, Yan. Makanlah. Makanan bisa menenangkan perasaan."
Aryanti mencoba makan. Tapi setiap suapan terasa pahit di lidahnya.
Sore harinya, setelah Riyan tidur siang, Aryanti berjalan sendirian ke dermaga tua. Ia ingin menenangkan pikirannya di tempat yang dulu menjadi saksi bisu cinta mereka.
Sesampainya di dermaga, ia duduk di papan kayu yang sama. Kaki digoyang goyangkan ke air. Air sungai beriak tenang. Ikan ikan kecil kadang melompat ke permukaan. Angin sore berhembus sejuk.
Tiba tiba, Aryanti melihat sesuatu di kejauhan. Seorang pria berdiri di tepi sungai, sekitar seratus meter dari dermaga. Pria itu memakai baju hitam dan celana hitam. Wajahnya tidak jelas karena tertutup topi caping.
Aryanti mengerjapkan matanya. Pria itu masih berdiri di sana. Tidak bergerak. Seperti patung.
"Astagfirullah, apa itu?" bisik Aryanti.
Ia menggosok matanya. Ia mengerjap ngerjap lagi. Tapi pria itu masih ada. Masih berdiri. Masih menatap ke arahnya.
Aryanti merasa merinding. Udara yang tadinya sejuk, terasa dingin menusuk tulang.
"Riyad! Riyad!" teriak Aryanti.
Tapi Riyadi tidak mendengar. Ia masih di rumah, mungkin sedang berbincang dengan Mak Tonah.
Aryanti berlari meninggalkan dermaga. Ia tidak berani menoleh. Ia terus berlari sampai ke halaman rumah Mak Tonah.
"Riyad! Riyad!" teriaknya lagi.
Riyadi yang sedang duduk di beranda langsung berdiri. "Ada apa, Yan? Kenapa kau pucat?"
"Aku... aku melihat sesuatu di dermaga."
"Melihat apa?"
"Seorang pria. Pria berbaju hitam. Ia berdiri di tepi sungai, menatapku."
"Pria? Siapa?"
"Aku tidak tahu. Wajahnya tidak kelihatan. Tertutup topi caping."
"Kita lihat ke sana, Yan. Aku akan menemani."
"Jangan, Riyad. Aku takut."
"Jangan takut. Ada aku."
Mereka berjalan kembali ke dermaga. Tapi pria itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya jejak sepatu di tanah basah.
"Yan, kau pasti salah lihat. Itu mungkin hanya bayangan pohon."
"Bukan, Riyad. Aku melihat dengan jelas. Pria itu nyata."
"Atau mungkin itu hanya warga desa yang sedang memancing?"
"Tidak ada pancing di tangannya, Riyad. Ia hanya berdiri. Menatapku."
"Yan, kau terlalu banyak pikiran. Ayo pulang. Istirahat."
Aryanti menurut. Ia pulang ke rumah dengan perasaan tidak tenang.
Keesokan harinya, Aryanti bertanya pada warga desa tentang pria berbaju hitam itu.
"Bu, apa ada warga desa yang suka memakai baju hitam dan topi caping?" tanyanya pada seorang ibu ibu.
"Wah, banyak, Bu. Di desa ini, hampir semua bapak bapak punya baju hitam dan topi caping."
"Tapi yang suka berdiri di tepi sungai?"
"Itu mah biasa, Bu. Nelayan, pemancing, atau anak anak yang sedang main."
"Bukan, Bu. Yang aku lihat bukan nelayan. Ia hanya berdiri. Tidak melakukan apa apa."
"Wah, aneh itu, Bu. Mungkin orang gila?"
"Desa kita punya orang gila, Bu?"
"Ada, Bu. Tapi biasanya ia berkeliaran di hutan. Tidak ke sungai."
Aryanti menghela napas. Ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Ia bertanya pada Pak Darma. Pak Darma juga tidak tahu.
"Nak Aryanti, mungkin itu hanya sugestimu. Kau terlalu stres. Istirahatlah yang cukup."
"Tapi Pak Darma, saya yakin melihatnya. Saya tidak salah lihat."
"Baiklah, Nak. Saya akan minta warga berpatroli di sekitar sungai. Jika ada orang mencurigakan, akan kami amankan."
"Terima kasih, Pak Darma."
Malam harinya, Aryanti bercerita pada Riyadi tentang pria berbaju hitam itu. Riyadi mendengarkan dengan saksama.
"Yan, aku percaya padamu. Tapi mungkin kau terlalu lelah. Kau perlu istirahat."
"Aku tidak lelah, Riyad. Aku sehat. Mataku juga sehat. Aku tidak salah lihat."
"Baiklah, Yan. Besok aku akan ke dermaga lagi. Aku akan mencari jejak pria itu."
"Jangan sendirian, Riyad. Aku ikut."
"Tidak, Yan. Kau di rumah saja. Aku akan ajak Badrun."
"Baik, Riyad. Tapi hati hati."
"Jangan khawatir, Yan. Aku akan baik baik saja."
Mereka berdua berpelukan. Aryanti masih merasa tidak tenang.
"Riyad, ada yang ingin aku katakan."
"Apa itu, Yan?"
"Aku mencintaimu. Lebih dari apa pun di dunia ini. Jangan pernah tinggalkan aku."
"Yan, kenapa kau bicara seperti itu? Aku tidak akan meninggalkanmu. Sampai mati."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Seperti dulu. Seperti saat mereka masih kecil.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
"Aamiin."
Keesokan paginya, Riyadi mengajak Badrun ke dermaga. Badrun yang kini sudah gemuk dan agak lamban, tetap bersemangat.
"Ri, kau yakin ada orang asing di dermaga?"
"Aryanti bilang begitu, Run. Aku percaya padanya."
"Tapi Aryanti kan perempuan. Perempuan sering khayalan."
"Kamu jangan bicara begitu. Aryanti tidak suka khayalan. Ia realistis."
"Maaf, Ri. Aku hanya bercanda."
Mereka sampai di dermaga. Tidak ada siapa pun. Hanya angin dan burung.
"Ri, sepi. Tidak ada orang."
"Coba kita cari jejak di tanah."
Mereka mencari jejak sepatu di tanah basah. Dan benar saja, ada jejak sepatu yang tidak biasa. Ukurannya besar. Jejaknya dalam. Seperti jejak orang yang berdiri lama.
"Ini jejak orang dewasa, Run. Bukan anak anak."
"Apakah ini jejak pria yang dilihat Aryanti?"
"Bisa jadi."
"Tapi jejak ini sudah tua, Ri. Kemungkinan dibuat beberapa hari lalu."
"Atau mungkin semalam. Tanah ini masih basah karena hujan."
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"
"Kita pulang, Run. Kita laporkan pada Pak Lurah. Minta warga berjaga jaga."
"Baik, Ri. Aku setuju."
Mereka pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan, Riyadi tidak bicara sepatah kata pun.
"Ri, kau kenapa diam saja? Aku jadi takut."
"Aku berpikir, Run. Siapa pria itu? Kenapa ia berdiri di dermaga? Apa tujuannya? Apa ia mengancam keselamatan keluargaku?"
"Jangan buru buru menyimpulkan, Ri. Bisa jadi itu hanya warga desa yang sedang bersemedi."
"Bersemedi di dermaga? Aneh, Run."
"Ya, aneh. Tapi apapun itu, kita harus waspada."
Malam itu, Aryanti tidak bisa tidur. Ia terus mengingat pria berbaju hitam itu. Wajahnya yang tidak kelihatan, posturnya yang tegap, tatapannya yang menusuk.
"Yan, tidurlah. Besok kita harus ke desa lagi."
"Aku tidak bisa tidur, Riyad. Mataku terasa perih, tapi pikiranku terus bekerja."
"Kau mau aku temani ke dapur? Kita minum teh hangat."
"Baik, Riyad."
Mereka berdua ke dapur. Riyadi memanaskan air. Aryanti mengambil cangkir dan teh.
"Riyad, apa kau tidak takut?"
"Takut apa, Yan?"
"Takut pada pria itu."
"Aku tidak takut, Yan. Aku hanya khawatir."
"Khawatir tentang apa?"
"Khawatir tentang keselamatanmu dan Riyan."
"Kita bisa pindah ke kota, Riyad. Jauhi desa ini."
"Tidak bisa, Yan. Desa ini adalah rumahku. Tempat aku dilahirkan. Tempat aku dibesarkan. Tempat aku bertemu denganmu. Aku tidak akan lari."
"Tapi Riyad..."
"Yan, jangan takut. Aku akan melindungimu. Apa pun yang terjadi."
Aryanti menangis. Ia memeluk Riyadi.
"Riyad, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Yan. Jangan pernah ragu."
Mereka berdua minum teh hangat di dapur yang sunyi. Hanya suara jangkrik dan kodok yang terdengar.
Satu minggu kemudian, pria berbaju hitam itu muncul lagi. Kali ini Aryanti tidak lari. Ia berani mendekat.
"Siapa kau?" tanya Aryanti dengan suara tegas.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya menatap Aryanti dengan mata tajam.
"Kuberi kau kesempatan untuk bicara. Siapa kau?"
Pria itu melepas topi capingnya. Aryanti terkejut setengah mati.
"Kadir? Kau, Kadir?"
Kadir tersenyum. "Maaf, Yan. Aku hanya ingin menguji keberanianmu."
"Kau gila, Kadir! Kenapa kau lakukan ini?"
"Salma memintaku. Ia bilang, kau terlalu kuat. Kau terlalu tegar. Kau tidak pernah takut pada apa pun. Ia ingin tahu apa yang membuatmu takut."
"Jadi, ini semua hanya sandiwara?"
"Iya, Yan. Maaf. Aku tidak bermaksud menakutimu."
Aryanti marah. Ia memukul dada Kadir berulang ulang. "Kau keterlaluan, Kadir! Aku hampir stres! Aku hampir pindah ke kota! Aku hampir melarang Riyadi ke dermaga!"
"Maaf, Yan. Maaf. Aku tidak menyangka kau akan segitu takutnya."
"Tentu saja aku takut! Aku wanita! Aku punya anak kecil! Aku takut ada orang jahat yang mengancam keluargaku!"
"Maaf, Yan. Sekali lagi aku minta maaf."
Salma yang bersembunyi di balik pohon mendekat. "Yan, maafkan Kadir. Ini ide saya. Saya hanya ingin tahu seberapa besar keberanianmu."
"Kalian berdua keterlaluan! Aku tidak akan memaafkan kalian!"
"Yan, maaf. Kami tidak akan mengulanginya lagi."
Aryanti menghela napas. "Baiklah. Aku maafkan. Tapi jangan pernah lagi!"
"Tidak akan, Yan. Kami berjanji."
Mereka bertiga berpelukan. Tertawa dan menangis bersamaan.
"Kadir, kau harus traktir aku makan."
"Baik, Yan. Besok kita makan di warung Pak Darma."
"Jangan warung. Di restoran!"
"Wah, mahal itu, Yan."
"Kau yang memulai. Kau yang tanggung."
"Baiklah, Yan. Restoran."
Mereka semua tertawa. Aryanti yang tadinya tegang, kini lega. Firasat buruknya ternyata hanya ulah Kadir dan Salma.
"Kadir, jangan pernah lagi. Aku benar benar takut."
"Iya, Yan. Aku janji."
"Kelingking janji?"
"Kelingking janji."
Mereka berkelingkitan. Persahabatan mereka semakin erat.
BAB XXII
PENGUNGKAPAN KEBOHONGAN KADIR
Pagi itu, matahari terik menyengat. Udara panas membakar kulit. Tidak ada angin. Daun daun pepohonan terlihat layu. Burung burung tidak berkicau. Ayam ayam jantan tidak berkokok. Alam seolah sedang marah.
Kadir duduk di beranda rumahnya dengan wajah pucat. Ia memegang secarik surat yang baru saja ia terima dari kurir. Tangannya gemetar, dadanya sesak, napasnya tersengal sengal.
"Ya Allah, apa ini?" bisiknya lirih.
Salma yang sedang menyusui bayinya di dalam rumah mendengar suara Kadir. Ia keluar dengan wajah cemas.
"Kadir, kenapa? Wajahmu pucat."
"Salma... aku... aku dalam masalah besar."
"Masalah apa? Ceritakan padaku."
Kadir menyerahkan surat itu pada Salma. Salma membacanya dengan saksama. Matanya membesar, mulutnya terbuka, pipinya memerah.
"Ini surat dari pengacara? Ada yang melaporkan kau ke polisi?"
"Iya, Salma. Ada orang yang melaporkan aku karena kasus lama. Kasus fitnah terhadap Riyadi dulu."
"Tapi kan itu sudah berlalu? Kau sudah dihukum? Kau sudah masuk penjara? Kenapa masih ada yang melaporkan?"
"Korbannya tidak pernah mencabut laporan, Salma. Kasus itu masih terbuka."
"Kenapa kau tidak minta Riyadi mencabut laporannya?"
"Aku malu, Salma. Aku sudah menyakiti Riyadi berkali kali. Aku tidak enak hati minta tolong lagi."
"Tapi ini menyangkut masa depanmu, Kadir! Masa depan kita! Masa depan anak kita!"
"Aku tahu, Salma. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana."
Salma menangis. "Kadir, kau harus bicara dengan Riyadi. Kau harus minta maaf. Kau harus memohon padanya untuk mencabut laporan."
"Apa ia akan mau, Salma?"
"Kita tidak akan tahu jika tidak mencoba."
Kadir memutuskan untuk pergi ke rumah Riyadi di Kuala Kapuas. Ia naik bus umum karena motornya sedang rusak. Sepanjang perjalanan, ia hanya diam. Pikirannya kacau. Ia membayangkan wajah Riyadi yang akan memarahinya, menolaknya, atau bahkan mengusirnya.
"Ya Allah, berikan aku kekuatan," bisiknya terus menerus.
Setibanya di Kuala Kapuas, Kadir berjalan kaki menuju rumah Riyadi. Rumah itu besar, berdinding bata merah, beratap genteng beton, dan berhalaman luas dengan taman bunga yang indah. Ada air mancur kecil di depan rumah dan ayunan untuk Riyan di samping taman.
"Assalamu'alaikum," ucap Kadir sambil mengetuk pintu pagar besi yang kokoh.
Seorang pembantu membukakan pintu. "Selamat pagi, Bapak cari siapa?"
"Saya cari Riyadi. Apakah ia ada?"
"Sebentar, Pak. Saya panggilkan."
Tak lama, Riyadi keluar dengan wajah ramah. "Kadir? Ada apa? Masuk, masuk."
"Maaf, Riyad. Aku datang tanpa kabar."
"Tidak apa apa. Kamu keluarga. Tidak usah sungkan."
Mereka masuk ke ruang tamu. Riyadi mempersilakan Kadir duduk di sofa kulit berwarna cokelat.
"Minum apa, Kadir? Kopi? Teh? Atau jus?"
"Kopi saja, Riyad. Hitam. Tidak pakai gula."
"Baik. Mbak, tolong buatkan kopi hitam untuk tamu."
"Baik, Pak."
Kadir gelisah. Tangannya terus memainkan ujung bajunya. Matanya tidak berani menatap Riyadi.
"Riyad, aku datang ke sini bukan tanpa tujuan."
"Aku tahu, Kadir. Ceritakan."
Kadir menghela napas. "Riyad, aku menerima surat dari pengacara. Ada yang melaporkan aku ke polisi karena kasus fitnah terhadapmu dulu."
"Laporan itu belum dicabut?"
"Belum, Riyad. Aku minta maaf. Aku seharusnya minta kau mencabutnya dari dulu. Tapi aku malu. Aku tidak enak hati."
"Kadir, kenapa kau tidak bilang dari awal?"
"Aku takut, Riyad. Aku takut kau akan marah. Aku takut kau akan mengusirku."
"Kadir, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi laporan itu memang belum aku cabut. Aku lupa."
"Bisakah kau mencabutnya sekarang, Riyad? Aku tidak mau masuk penjara lagi. Aku baru saja membangun hidup. Aku punya istri dan anak. Aku tidak bisa meninggalkan mereka."
Riyadi menghela napas. "Baik, Kadir. Aku akan ke polisi besok pagi. Aku akan mencabut laporan itu."
Kadir menangis. "Terima kasih, Riyad. Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu."
"Kadir, jangan menangis. Laki laki jangan mudah menangis."
"Aku menangis karena haru, Riyad. Kau terlalu baik padaku."
"Kita saudara, Kadir. Saudara harus saling membantu."
Mereka berpelukan. Kopi hitam yang disajikan oleh pembantu hampir terlupakan.
Keesokan paginya, Riyadi pergi ke kantor polisi. Ia ditemani oleh Badrun. Mereka naik mobil mewah berwarna hitam.
"Ri, kau yakin akan mencabut laporan terhadap Kadir?" tanya Badrun.
"Aku yakin, Run. Kadir sudah berubah. Ia sudah insaf. Ia sudah bertobat. Ia pantas mendapat kesempatan kedua."
"Tapi dulu ia sangat menyakitimu. Ia memfitnahmu, menjatuhkanmu, hampir membunuhmu."
"Itu dulu, Run. Sekarang ia sudah berbeda. Aku tidak mau terus terusan mengingat masa lalu."
"Kau memang mulia, Ri. Aku bangga jadi sahabatmu."
Setibanya di kantor polisi, Riyadi langsung menemui kepala kepolisian setempat. Ia menjelaskan maksud kedatangannya.
"Pak Kapolsek, saya ingin mencabut laporan terhadap Kadir. Kasus fitnah yang dulu."
"Benarkah, Pak Riyadi? Laporan itu sudah berjalan bertahun tahun. Kami sudah hampir menutup kasusnya."
"Saya sadar, Pak. Tapi Kadir sudah berubah. Saya sudah memaafkannya. Saya tidak ingin melanjutkan kasus ini."
"Baik, Pak. Silakan menandatangani surat pencabutan."
Riyadi menandatangani surat itu dengan tegas. Tangannya tidak gemetar. Matanya tidak berkedip. Hatinya tenang.
"Terima kasih, Pak Riyadi. Kasus ini resmi kami tutup."
"Terima kasih kembali, Pak Kapolsek."
Riyadi segera mengabarkan kabar baik itu pada Kadir melalui telepon. Kadir yang sedang duduk di beranda rumahnya langsung menangis.
"Benarkah, Riyad? Laporannya sudah dicabut?"
"Benar, Kadir. Kasusmu resmi ditutup. Kau bebas."
"Riyad, aku tidak tahu harus berkata apa. Terima kasih. Terima kasih banyak."
"Kadir, jangan berterima kasih padaku. Berterima kasihlah pada Allah. Ia yang memberi kita hidayah."
"Aku akan bersyukur, Riyad. Aku akan sholat sunah. Aku akan puasa. Aku akan sedekah."
"Bagus, Kadir. Aku dukung."
Kadir mematikan telepon. Ia sujud syukur di beranda. Salma yang melihat ikut sujud syukur.
"Kadir, kita harus merayakan ini. Kita harus mengundang Riyadi dan keluarga."
"Baik, Salma. Aku setuju."
Mereka mengundang Riyadi, Aryanti, Riyan, Mak Tonah, Saripah, Badrun, Ningsih, dan Haji Bahar untuk makan bersama di rumah mereka.
Semua undangan hadir. Rumah Kadir yang sederhana itu penuh dengan tawa dan canda. Meja panjang dipenuhi makanan: rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue.
"Nak Riyadi, saya tidak tahu harus membalas kebaikanmu pada anak saya," ucap Haji Bahar sambil menangis.
"Pak Haji, jangan dibalas. Cukup doa Bapak. Itu lebih berharga dari apa pun."
"Kami akan selalu mendoakanmu, Nak. Semoga Allah membalas semua kebaikanmu."
"Aamiin, Pak Haji."
Kadir berdiri dan mengangkat gelas. "Riyad, aku ingin bersulang untukmu. Terima kasih atas semua bantuan dan kebaikanmu. Kau tidak hanya menyelamatkan hidupku dari jerat hukum, tapi juga menyelamatkan hidupku dari kebodohan. Aku akan selalu mengingat jasamu."
"Aku hanya melakukan yang benar, Kadir. Tidak lebih."
"Tapi tidak semua orang berani melakukan yang benar. Kau istimewa, Riyad."
Mereka bersulang dengan teh manis. Tidak ada alkohol. Semua halal.
Riyan yang duduk di pangkuan Aryanti bertanya, "Ibu, kenapa om Kadir menangis?"
"Ia bahagia, Nak. Ia bahagia karena Ayahmu telah membantunya."
"Kenapa Ayah membantunya?"
"Karena Ayahmu orang baik. Ayahmu suka menolong siapa pun tanpa membedakan."
"Aku ingin jadi seperti Ayah. Baik dan suka menolong."
"Itu anak Ayah. Ayah bangga padamu."
Di tengah acara, Salma tiba tiba berdiri. Wajahnya serius, tidak seperti biasanya yang ramah dan penuh senyum.
"Riyad, ada yang ingin aku katakan."
"Katakan, Salma."
"Aku ingin mengakui sesuatu. Tentang pria berbaju hitam di dermaga dulu."
Riyadi terkejut. "Apa? Kau yang di balik itu?"
"Bukan aku, Riyad. Tapi Kadir. Kadir yang menyamar. Aku yang menyuruhnya. Aku ingin menguji keberanian Aryanti."
Aryanti yang mendengar itu langsung berdiri. Wajahnya merah, matanya melotot, napasnya memburu.
"Salma! Kau sendiri yang bilang tidak akan mengulangi! Tapi sekarang kau malah membuka aib suamimu!"
"Maaf, Yan. Aku tidak tahan menyembunyikan kebohongan ini. Aku harus jujur."
"Kau keterlaluan, Salma! Aku tidak akan memaafkanmu!"
"Yan, maaf. Aku hanya..."
"Tidak ada maaf! Kau sudah menghancurkan kepercayaanku!"
Kadir yang mendengar itu langsung pucat. "Salma, kenapa kau buka rahasia ini?"
"Aku tidak tahan, Kadir. Aku tidak bisa hidup dengan kebohongan."
Riyadi mencoba menenangkan. "Sudah, sudut. Jangan bertengkar. Ini hari bahagia. Jangan rusak dengan pertengkaran."
"Tapi Riyad, mereka sudah membohongi kita!" ujar Aryanti kesal.
"Aku tahu, Yan. Tapi marah tidak akan menyelesaikan masalah. Mari kita maafkan mereka."
"Aku tidak bisa, Riyad. Aku butuh waktu."
"Baik, Yan. Aku akan menunggumu sampai kau bisa memaafkan."
Acara makan pun buyar. Aryanti pulang ke rumah Mak Tonah dengan wajah cemberut. Riyan ikut bersama ibunya. Riyadi masih tinggal di rumah Kadir untuk membicarakan masalah ini.
"Kadir, kenapa kau lakukan itu?" tanya Riyadi dengan suara datar.
"Aku hanya bercanda, Riyad. Aku tidak bermaksud menakut nakuti Aryanti."
"Tapi Aryanti ketakutan. Ia bahkan tidak bisa tidur selama seminggu."
"Aku minta maaf, Riyad. Aku tidak menyangka Aryanti akan segitu takutnya."
"Aryanti wanita, Kadir. Wanita mudah takut. Apalagi soal keselamatan keluarga."
"Aku sadar, Riyad. Aku salah."
"Kau harus minta maaf langsung pada Aryanti. Bukan padaku."
"Baik, Riyad. Aku akan ke rumah Mak Tonah besok pagi."
"Jangan besok. Sekarang."
"Apa tidak malam?"
"Tidak masalah. Aryanti belum tidur. Aku tahu kebiasaannya."
Kadir dan Salma berjalan kaki ke rumah Mak Tonah. Haji Bahar ikut menemani.
Sesampainya di rumah Mak Tonah, Kadir langsung berlutut di depan Aryanti. Salma juga melakukan hal yang sama.
"Yan, maafkan aku. Aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin menguji keberanianmu."
"Kadir, kau keterlaluan. Aku hampir stres karenamu."
"Aku sadar, Yan. Aku salah. Aku berjanji tidak akan mengulanginya."
"Kau sudah berjanji sebelumnya. Tapi kau ingkar."
"Kali ini sungguhan, Yan. Aku tidak akan mengulangi. Demi Allah."
Salma juga memohon. "Yan, maafkan aku. Akulah yang memerintahkan Kadir. Akulah dalang di balik semua ini. Aku iri padamu. Kau cantik, kau pemberani, kau disayangi semua orang. Aku ingin tahu apakah kau punya kelemahan."
"Salma, kau iri padaku? Kenapa? Kau juga cantik. Kau juga baik. Kau juga disayangi."
"Aku tidak secantik kau, Yan. Aku tidak sepintar kau. Aku tidak sekaya kau. Aku merasa rendah di hadapanmu."
"Salma, perasaan rendah itu tidak perlu. Kita semua sama di mata Allah. Yang membedakan hanya ketakwaan."
"Kau benar, Yan. Aku belajar banyak hari ini."
Aryanti menghela napas. "Baiklah, aku maafkan kalian berdua. Tapi jangan pernah lagi. Sekali lagi, aku tidak akan memaafkan."
"Terima kasih, Yan. Kami berjanji."
Mereka berpelukan. Air mata bercampur menjadi satu.
Haji Bahar yang dari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Ia mendekati Mak Tonah yang duduk di sudut ruangan.
"Bu Tonah, saya minta maaf atas perbuatan anak saya. Saya gagal mendidiknya."
"Pak Haji, jangan salahkan diri sendiri. Anak sudah dewasa. Ia bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri."
"Tapi saya merasa bersalah, Bu. Saya terlalu memanjakan Kadir sejak kecil. Saya tidak pernah memberinya sanksi ketika ia salah."
"Sudah, Pak Haji. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita lihat masa depan."
"Kau baik sekali, Bu Tonah. Saya tidak pantas menerima kebaikanmu."
"Setiap orang pantas mendapat kebaikan, Pak Haji. Tidak peduli sebesar apa dosanya."
Haji Bahar menangis. Mak Tonah mengusap punggungnya.
"Bu Tonah, saya berhutang budi pada keluarga kalian."
"Tidak ada hutang, Pak Haji. Ini semua karena Allah."
Malam itu, semua pulang dengan hati yang lega. Kadir dan Salma berjanji tidak akan mengulangi kebohongan mereka. Aryanti belajar untuk tidak mudah marah. Riyadi belajar untuk lebih tegas pada teman.
"Yan, kau sudah memaafkan Kadir dan Salma?"
"Sudah, Riyad. Aku ikhlas."
"Kau tidak marah lagi?"
"Tidak, Riyad. Aku justru bersyukur."
"Bersyukur kenapa?"
"Bersyukur karena kebohongan itu terungkap. Sekarang aku tahu siapa Kadir dan Salma sebenarnya. Mereka tidak jahat. Mereka hanya salah memahami."
"Kau baik sekali, Yan. Aku bangga padamu."
"Aku belajar darimu, Riyad. Kau selalu memaafkan tanpa syarat."
"Kita sama sama belajar, Yan. Setiap hari. Setiap saat."
Mereka berdua berpelukan. Riyan ikut memeluk dari samping.
"Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
"Keluarga kita bahagia, Ayah."
"Iya, Nak. Keluarga kita bahagia."
BAB XXIII
KADIR RUBUH
Pagi itu, langit tampak kelabu di Desa Sriwidadi. Mendung tebal menggantung rendah, hampir menyentuh pucuk pucuk pohon kelapa. Angin bertiup kencang, menerbangkan dedaunan kering ke mana mana. Burung burung tekukur yang biasanya bersahutan riang, pagi itu diam seribu bahasa. Ayam ayam jantan tidak berkokok. Alam seperti sedang memberi tanda bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kadir terbangun dari tidurnya dengan keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. Ia baru saja bermimpi buruk—mimpi tentang dirinya yang terjatuh ke dalam jurang yang dalam dan gelap, tanpa ada yang menolong. Ia mendengar suara Salma yang sedang menyusui bayi mereka sambil menangis. Bukan menangis biasa, tapi menangis tersedu sedu seperti orang yang kehilangan arah.
"Salma, kenapa kau menangis? Ada apa?" tanya Kadir sambil beranjak dari tempat tidur. Wajahnya masih pucat, matanya sembab, rambutnya acak acakan.
Salma tidak menjawab. Ia hanya terus menangis sambil memeluk bayinya erat erat. Bayi itu ikut menangis karena merasa ibunya gelisah.
"Salma, bicara! Jangan diam saja! Aku jadi takut!"
Salma mengangkat wajahnya. Matanya merah sembab, pipinya basah oleh air mata, hidungnya tersumbat. Dengan suara terputus putus, ia berkata, "Kadir, aku... aku baru saja menerima surat dari bank. Hutang ayahmu... tiga miliar... harus dilunasi bulan ini. Bank tidak mau memberi perpanjangan lagi."
Kadir tersentak. Wajahnya yang tadinya pucat berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Matanya membulat, mulutnya terbuka, napasnya tersengal sengal. Ia hampir jatuh dari tempat tidur jika tidak segera berpegangan pada tiang.
"Apa? Tidak mungkin! Ayah bilang hutangnya sudah di restrukturisasi! Jangka waktunya diperpanjang lima tahun! Cicilannya sudah dibayar setiap bulan! Kenapa bank tiba tiba minta pelunasan?"
"Aku tidak tahu, Kadir. Yang jelas, surat ini sudah dikirim tiga hari lalu. Tapi ayahmu menyembunyikannya. Ia tidak mau kau tahu."
"Ayah menyembunyikan surat? Kenapa?"
"Karena ia tidak mau membebanimu. Ia sudah tua. Ia tidak mau anaknya menderita karena kesalahannya di masa lalu."
Kadir turun dari tempat tidur. Ia berlari ke kamar Haji Bahar yang terletak di ujung koridor. Tanpa mengetuk, ia membuka pintu dengan kasar.
Ayah! Ayah! Bangun! Ada apa ini?
Haji Bahar yang sedang terbaring lemah di tempat tidur karena sakit, terbangun dengan kaget. Wajahnya semakin tua dan keriput dari biasanya. Rambutnya hampir seluruhnya putih, jenggotnya panjang dan kusut, matanya cekung dan sayu.
"Nak, ada apa? Kenapa kau ribut pagi pagi?"
"Ayah, ini surat dari bank! Kenapa Ayah sembunyikan? Kenapa Ayah tidak bilang padaku?"
Haji Bahar menghela napas panjang. Nafasnya terdengar berat seperti orang yang kehabisan tenaga. "Maafkan Ayah, Nak. Ayah tidak mau kau ikut menanggung beban ini. Ayah sudah tua. Ayah tidak lama lagi akan mati. Biarlah Ayah yang menanggung sendiri."
"Ayah, tidak bisa! Ini tanggung jawab keluarga! Kita harus hadapi bersama!"
"Tapi Nak, jumlahnya besar. Tiga miliar. Dari mana kita punya uang sebanyak itu?"
"Kita bisa jual rumah ini, Ayah. Juga kebun sawit. Juga mobil. Juga tanah."
"Semua itu tidak akan cukup, Nak. Rumah ini laku maksimal lima ratus juta. Kebun sawit paling seratus juta. Mobil bekas hanya lima puluh juta. Tanah tanah yang lain total mungkin dua ratus juta. Kurang dari satu miliar. Masih dua miliar lagi."
Kadir menangis. Ia jatuh duduk di lantai kamar Haji Bahar. Tangisnya keras seperti anak kecil yang kehilangan mainan kesayangan. "Ayah, apa yang harus kita lakukan?"
"Ayah tidak tahu, Nak. Ayah sudah pasrah. Biarlah bank menyita semua aset kita. Kita hidup sederhana di desa. Tidak perlu rumah besar. Tidak perlu mobil mewah. Yang penting kita sekeluarga sehat dan bahagia."
"Tapi Ayah, hutangnya tetap ada! Bank akan terus menagih! Kita tidak akan bisa tenang selamanya!"
"Terserah bank. Ayah tidak punya uang. Ayah sudah miskin."
Kabar tentang kebangkrutan Haji Bahar dengan cepat menyebar ke seluruh desa. Dalam waktu kurang dari sehari, semua orang sudah tahu. Pasar yang biasanya ramai oleh pembicaraan tentang harga sayur dan ikan, hari itu hanya membicarakan satu hal: hutang Haji Bahar tiga miliar rupiah yang harus dilunasi bulan ini.
"Kau dengar, Bu? Haji Bahar bangkrut total. Hutangnya tiga miliar. Bank akan menyita semua asetnya bulan depan," bisik seorang ibu kepada ibu lainnya di lapak sayur.
"Wah, malang sekali nasibnya. Dulu ia orang terkaya di desa ini. Sekarang jatuh miskin."
"Iya, Bu. Harta tidak abadi. Yang abadi hanya amal."
"Tapi kasihan juga Kadir dan Salma. Mereka baru saja membangun rumah tangga. Anak mereka masih kecil."
"Ya, Allah, jangan berikan cobaan yang tidak mampu kami tanggung."
Di warung kopi, Pak Darma dan beberapa warga lainnya juga membicarakan hal yang sama dengan suara lirih dan penuh iba.
"Pak Darma, Haji Bahar orang baik. Ia sering membantu warga desa yang kesulitan. Sekarang ia yang kesulitan. Siapa yang akan membantunya?"
"Kita harus membantu, Pak. Jangan biarkan ia sendirian. Ingat dulu, ketika sawah kita kebanjiran, Haji Bahar yang memberi bantuan beras dan uang. Sekarang giliran kita membalas budi."
"Tapi kita tidak punya uang banyak, Pak Darma. Paling hanya bisa memberi sedikit."
"Sedikit dari kita semua akan menjadi banyak, Pak. Mari kita kumpulkan sumbangan. Saya akan menjadi koordinatornya."
"Baik, Pak Darma. Saya setuju."
Riyadi sedang di kantor ketika Badrun datang dengan wajah panik. Wajah Badrun pucat, matanya merah, napasnya tersengal sengal seperti habis berlari maraton. Tanpa mengetuk pintu, ia langsung masuk dan berteriak.
"Ri, kau dengar kabar? Haji Bahar bangkrut total! Hutangnya tiga miliar harus dilunasi bulan ini! Bank akan menyita semua asetnya!"
Riyadi yang sedang menandatangani dokumen langsung mengangkat kepala. Pulpen di tangannya jatuh ke meja dengan bunyi kecil. "Apa, Run? Jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda, Ri. Ini serius. Seluruh desa sudah membicarakannya. Haji Bahar sendiri yang mengaku pada Pak Darma."
"Kita harus ke rumah Haji Bahar sekarang. Kita harus memastikan kebenarannya."
"Baik, Ri. Aku antar kau dengan mobil."
Riyadi meninggalkan semua pekerjaannya. Ia tidak peduli ada dokumen yang belum selesai atau klien yang sedang menunggu. Yang ia pikirkan hanya Haji Bahar—orang tua yang pernah membantunya saat ia sakit di Banjarmasin, yang pernah membayar biaya rumah sakitnya, yang pernah menjadi walinya saat menikah dengan Aryanti.
Riyadi dan Badrun tiba di rumah Haji Bahar satu jam kemudian. Rumah yang dulu megah dengan genteng merah menyala dan pagar besi hitam, kini terlihat murung. Cat pagar mulai mengelupas di sana sini, beberapa genteng sudah bergeser, taman bunga di halaman depan tidak terawat dan dipenuhi rumput liar.
Haji Bahar sedang duduk di beranda dengan wajah pucat dan lesu. Tubuhnya yang dulu tegap kini bungkuk, matanya yang dulu tajam kini sayu, senyumnya yang dulu hangat kini menghilang. Kadir duduk di sampingnya dengan wajah serupa—pucat, lesu, dan penuh keputusasaan.
"Assalamu'alaikum, Pak Haji. Maaf kami datang tanpa kabar," sapa Riyadi sambil mencium tangan Haji Bahar.
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi. Masuk, duduk. Silakan."
Riyadi dan Badrun duduk di kursi rotan yang sudah agak reot. Mereka berhadapan dengan Haji Bahar dan Kadir. Suasana hening, canggung, dan penuh dengan beban yang tidak terucapkan.
"Pak Haji, saya dengar kabar tentang hutang Bapak. Benarkah itu?"
Haji Bahar menghela napas panjang. "Benar, Nak. Hutang saya tiga miliar. Bank sudah mengirim surat peringatan terakhir. Jika dalam satu bulan saya tidak bisa membayar, semua aset akan disita."
"Tidak ada solusi lain, Pak? Bank tidak mau memberikan keringanan?"
"Kepala cabangnya orang baru, Nak. Orangnya keras. Tidak mau mendengar alasan apa pun. Ia bilang peraturan sudah berubah. Harus bayar lunas atau aset disita."
"Sudahkah Bapak mencoba meminjam ke bank lain? Atau ke koperasi?"
"Sudah, Nak. Semua menolak. Reputasi saya sudah rusak. Nilai kredit saya jelek. Tidak ada yang mau meminjamkan saya uang."
Kadir yang dari tadi hanya diam, akhirnya angkat bicara. Suaranya serak, seperti orang yang terlalu banyak menangis. "Riyad, aku minta maaf. Pekerjaanku mungkin harus terhenti. Aku harus fokus membantu ayah menyelesaikan hutang ini."
"Kadir, kau tidak perlu berhenti bekerja. Aku akan tetap membayarmu. Aku akan bantu semampuku."
"Riyad, kau terlalu baik. Tapi aku tidak mau membebanimu. Masalah ini terlalu besar. Ini bukan tanggung jawabmu."
"Kadir, kita sudah seperti saudara. Saudara harus saling membantu."
Haji Bahar menangis. "Nak Riyadi, saya tidak pantas mendapatkan bantuan dari kau. Dulu anak saya pernah menyakitimu. Saya juga pernah bersikap kurang baik padamu."
"Pak Haji, masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita lihat masa depan. Kita harus bersatu menghadapi masalah ini."
Riyadi pulang ke rumah dengan perasaan campur aduk. Aryanti yang melihat wajah suaminya yang muram langsung bertanya.
"Riyad, kenapa? Wajahmu muram sekali. Ada apa?"
"Yan, Haji Bahar bangkrut. Hutangnya tiga miliar harus dilunasi bulan ini. Bank akan menyita semua asetnya."
"Wah, malang sekali nasibnya. Dulu ia orang kaya raya. Sekarang jatuh miskin."
"Aku ingin membantu, Yan. Tapi aku tidak tahu caranya."
"Apa kau bisa meminjamkan uang? Kita punya tabungan cukup banyak."
"Tabungan kita hanya satu miliar, Yan. Itu pun untuk biaya sekolah Riyan dan dana pensiun kita."
"Kita bisa gunakan setengahnya. Lima ratus juta untuk Haji Bahar. Sisanya untuk kita."
"Tapi Yan, hutangnya tiga miliar. Lima ratus juta tidak akan cukup."
"Kita bisa kumpulkan sumbangan dari warga desa. Mereka pasti mau membantu."
"Warga desa tidak punya uang banyak, Yan. Paling hanya bisa memberi sedikit."
"Sedikit dari banyak orang akan menjadi banyak, Riyad. Aku yakin."
"Baiklah, Yan. Aku akan coba."
Riyadi kemudian merancang rencana pertolongan. Ia akan menyumbang lima ratus juta dari tabungan pribadinya. Ia akan menggalang dana dari warga desa. Ia akan meminta bantuan dari Pak Harun di Banjarmasin. Ia juga akan meminta bantuan dari pengusaha pengusaha lain yang menjadi mitra bisnisnya.
"Ya Allah, mudahkanlah jalanku. Aku tidak ingin melihat keluarga Haji Bahar menderita."
Riyadi pergi ke desa untuk menggalang dana. Ia mengumpulkan warga di balai desa. Warga datang berbondong bondong karena penasaran.
"Assalamu'alaikum, warga desa. Terima kasih sudah datang."
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi. Ada apa gerangan?"
"Warga desa, kita semua tahu bahwa Haji Bahar sedang kesusahan. Hutangnya tiga miliar harus dilunasi bulan ini. Bank akan menyita semua asetnya. Saya mengajak kita semua untuk membantu. Tidak perlu besar. Sesuai kemampuan."
Warga berbisik bisik. Beberapa mengangguk setuju, beberapa menggeleng ragu, beberapa lainnya diam seribu bahasa.
"Nak Riyadi, saya akan menyumbang lima ratus ribu rupiah," kata Pak Darma dengan suara lantang.
"Saya seratus ribu, Pak," kata seorang warga lainnya.
"Saya dua ratus ribu."
"Saya lima puluh ribu."
"Saya dua puluh ribu."
Terkumpul total dua juta rupiah. Jauh dari target. Tapi Riyadi tidak putus asa.
"Terima kasih, warga desa. Semoga Allah membalas kebaikan kalian."
"Kami hanya bisa sedikit, Nak Riyadi. Maaf."
"Tidak apa apa. Setiap rupiah sangat berharga."
Riyadi juga mencoba meminjam uang dari bank untuk membantu Haji Bahar. Ia datang ke bank tempat ia biasa menyimpan uang. Kepala cabangnya adalah orang yang sama yang dulu menolak restrukturisasi hutang Haji Bahar.
"Selamat pagi, Pak Budi. Saya Riyadi, pengusaha kayu. Saya ingin meminjam uang."
"Selamat pagi, Pak Riyadi. Besarnya berapa, Pak?"
"Dua miliar, Pak."
Pak Budi terkejut. "Wah, besar sekali, Pak. Untuk keperluan apa?"
"Untuk membantu Haji Bahar. Bapak tahu sendiri, hutang beliau tiga miliar. Saya sudah punya satu miliar dari tabungan pribadi dan sumbangan warga. Saya butuh dua miliar lagi."
Pak Budi menghela napas. "Pak Riyadi, saya hormati niat baik Bapak. Tapi bank tidak bisa meminjamkan uang untuk tujuan sosial. Harus untuk tujuan produktif."
"Pak Budi, ini produktif. Haji Bahar akan menggunakan uang itu untuk melunasi hutangnya. Setelah itu, asetnya tidak disita. Ia bisa terus mengelola kebun sawit dan kebun karetnya. Itu produktif."
"Maaf, Pak. Peraturan tidak mengizinkan."
Riyadi hampir menangis. "Pak Budi, apa tidak ada celah? Apa tidak ada keringanan? Haji Bahar orang baik. Ia tidak pantas menderita seperti ini."
Pak Budi terdiam sejenak. "Baiklah, Pak. Saya akan coba ajukan ke pusat. Tapi tidak janji."
"Terima kasih, Pak Budi. Saya tunggu kabar baiknya."
Riyadi kemudian menghubungi Pak Harun di Banjarmasin. Ia bercerita tentang musibah yang menimpa Haji Bahar.
"Pak Harun, saya butuh bantuan. Haji Bahar bangkrut. Hutangnya tiga miliar. Saya sudah punya satu miliar. Kurang dua miliar lagi."
"Nak Riyadi, kau benar benar baik hati. Membantu orang yang dulu pernah menyakiti keluargamu."
"Pak Harun, itu masa lalu. Sekarang ia sudah berubah. Ia seperti keluarga bagi saya."
"Baik, Nak. Saya akan pinjamkan satu miliar. Tanpa bunga. Tanpa jaminan. Bayar kapan saja kalau sudah punya uang."
"Pak Harun, saya tidak tahu harus membalas kebaikan Bapak."
"Kau tidak perlu membalas, Nak. Cukup jadi orang baik. Itu balasan terbaik untukku."
"Terima kasih, Pak Harun. Saya tidak akan melupakan kebaikan Bapak."
"Sudah, jangan cengeng. Cepat urus. Waktu hanya tersisa dua minggu."
Dengan tambahan satu miliar dari Pak Harun, total dana yang terkumpul menjadi dua miliar. Masih kurang satu miliar lagi.
"Ya Allah, dari mana lagi aku mencari uang?" bisik Riyadi putus asa.
Tiga hari sebelum batas waktu pelunasan, seorang tamu tak terduga datang ke rumah Riyadi. Tamu itu adalah Haji Rahman—majikan Riyadi dulu di Banjarmasin yang sekarang sudah pensiun dan tinggal di Kuala Kapuas. Tubuhnya masih tegap meskipun rambutnya sudah putih semua. Wajahnya masih merah seperti dulu, tanda tekanan darah tinggi yang tidak pernah sembuh.
"Nak Riyadi, saya dengar kau sedang kesulitan membantu Haji Bahar," kata Haji Rahman sambil duduk di kursi tamu.
"Iya, Pak. Kurang satu miliar lagi. Saya sudah bingung mau cari dari mana."
"Saya akan pinjamkan satu miliar. Tanpa bunga. Tanpa jaminan. Bayar kapan saja."
Riyadi terkejut. "Pak Haji, apa benar? Bapak tidak main main?"
"Saya serius, Nak. Haji Bahar adalah teman lama saya. Kami satu angkatan waktu muda. Saya tidak tega melihatnya menderita."
"Tapi Pak Haji, satu miliar itu uang besar. Bapak tidak takut saya tidak bisa membayar?"
"Saya tidak takut, Nak. Saya tahu kau orang jujur. Saya tahu kau pekerja keras. Saya tahu kau tidak akan lari dari tanggung jawab."
Riyadi menangis. "Terima kasih, Pak Haji. Saya tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan terima kasih. Itu sudah cukup."
Dengan tambahan satu miliar dari Haji Rahman, total dana yang terkumpul menjadi tiga miliar. Pas. Tidak kurang. Tidak lebih.
Riyadi segera ke bank untuk melunasi hutang Haji Bahar. Pak Budi menerima pembayaran itu dengan wajah terkejut.
"Pak Riyadi, Bapak benar benar mengumpulkan tiga miliar dalam waktu singkat?"
"Iya, Pak. Berkat bantuan banyak orang. Haji Bahar sekarang bebas dari hutang."
"Saya salut, Pak. Bapak adalah orang paling dermawan yang pernah saya temui."
"Saya hanya melakukan yang benar, Pak. Tidak lebih."
Riyadi pulang ke rumah dengan hati lega. Aryanti, Riyan, Mak Tonah, Saripah, Badrun, Ningsih, dan semua keluarga sudah menunggu di rumah.
"Yan, hutang Haji Bahar lunas!"
Aryanti menangis. "Riyad, kau hebat!"
"Aku tidak hebat, Yan. Allah yang menolong kita semua."
Mereka sujud syukur bersama sama. Mak Tonah menangis haru. Saripah memeluk Riyadi erat erat.
"Nak, ibu bangga padamu."
"Terima kasih, Mak."
Malam itu, Kadir dan Salma datang ke rumah Riyadi. Mereka berlutut di depan Riyadi dan menangis.
"Riyad, kau menyelamatkan keluarga kami. Aku tidak tahu harus membalas kebaikanmu."
"Kadir, jangan balas. Cukup jaga keluargamu. Jaga ayahmu. Jaga istrimu. Jaga anakmu. Itu balasan terbaik untukku."
"Riyad, aku janji. Aku tidak akan mengecewakanmu lagi."
"Aku percaya, Kadir."
Mereka berpelukan. Persahabatan yang dulu retak, kini pulih kembali. Lebih kuat dari sebelumnya.
BAB XXIV
TAK MAU DIAMBIL ORANG LAIN
Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah di Desa Sriwidadi. Langit biru tanpa mendung. Burung burung tekukur berkicau riang di atas genteng. Ayam ayam jantan berkokok bersahutan seolah merayakan sesuatu. Udara segar dengan aroma bunga melati yang sedang mekar di halaman depan.
Aryanti duduk di beranda rumah Mak Tonah sambil memegang secangkir teh hangat. Wajahnya tenang, matanya berbinar, bibirnya tersenyum tipis. Ia menikmati semilir angin pagi yang membawa kesejukan.
"Yan, kau sudah bangun? Pagi sekali," tegur Saripah yang keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi pisang goreng.
"Aku tidak bisa tidur, Ma. Terlalu bahagia."
"Bahagia kenapa? Karena hutang Haji Bahar lunas?"
"Bukan itu, Ma. Aku bahagia karena Riyadi masih mencintaiku. Setelah semua yang terjadi, ia tidak pernah berubah."
"Ibu juga bahagia, Yan. Ibu bangga punya menantu seperti Riyadi."
"Aku juga bangga, Ma. Ia suami yang baik. Ayah yang baik. Pemimpin keluarga yang baik."
"Kau beruntung, Yan. Tidak semua wanita mendapatkan suami seperti Riyadi."
"Aku tahu, Ma. Aku bersyukur setiap hari."
Riyan yang baru bangun tidur keluar dari kamar dengan mata masih sayu. Rambutnya acak acakan, pipinya merah karena terimpit bantal.
"Ibu, Ayah mana?"
"Ayah masih tidur, Nak. Kemarin ia pulang larut malam. Banyak pekerjaan."
"Aku ingin main sama Ayah."
"Nanti, Nak. Ayah harus istirahat dulu."
"Tapi aku kangen Ayah."
"Ibu juga kangen, Nak. Tapi kita harus sabar."
Riyan duduk di pangkuan Aryanti. Aryanti mencium kening anaknya.
"Nak, kamu sayang Ayah?"
"Sayang, Bu. Ayah baik. Ayah selalu belikan aku mainan."
"Ayah juga sayang kamu, Nak. Ayah bekerja keras untuk kita."
"Aku ingin seperti Ayah. Kaya, baik, disayang banyak orang."
"Kamu bisa, Nak. Asalkan kamu rajin belajar dan rajin berdoa."
"Aku akan rajin, Bu. Aku janji."
Riyadi terbangun pukul sembilan pagi. Ia tidak biasa tidur selarut itu. Biasanya ia bangun pukul enam untuk pergi ke kantor. Tapi kemarin ia sangat lelah. Pekerjaan di kantor menumpuk karena ia sering bolak balik ke desa mengurus hutang Haji Bahar.
"Yan, kau sudah di sini sejak kapan?" tanyanya sambil mengucek mata.
"Sejak subuh, Riyad. Aku tidak bisa tidur."
"Kenapa? Ada yang mengganggumu?"
"Aku bahagia, Riyad. Terlalu bahagia."
"Bahagia kenapa?"
"Aku bahagia karena kau masih mencintaiku. Setelah semua yang terjadi, kau tidak pernah berubah."
"Yan, kenapa kau bicara seperti itu? Tentu saja aku mencintaimu. Sampai mati."
"Tapi kadang aku takut, Riyad. Takut kau bosan. Takut kau mencari perempuan lain."
"Yan, jangan berpikir seperti itu. Aku tidak akan pernah mencari perempuan lain. Cukup kau. Hanya kau."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Jari kelingking mereka bertaut erat.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Aryanti tertawa. "Kau sudah dewasa, masih pakai kelingking."
"Kebiasaan, Yan. Kebiasaan yang tidak bisa aku hilangkan."
"Kebiasaan yang baik, Riyad. Aku suka."
Mereka berdua tersenyum. Riyan yang melihat orang tuanya bermesraan ikut tertawa.
"Ayah, Ibu, kalian lucu."
"Kamu juga lucu, Nak."
"Aku lapar, Ayah. Ibu belum masak."
"Ayo kita sarapan di luar, Nak. Ayah traktir."
"Seru, Ayah! Aku mau bubur ayam!"
"Baik, Nak. Bubur ayam."
Riyadi, Aryanti, dan Riyan pergi ke pasar Kuala Kapuas. Mereka naik mobil mewah berwarna hitam. Sepanjang perjalanan, Riyan asyik melihat pemandangan di luar jendela.
"Ayah, lihat! Ada kerbau!"
"Iya, Nak. Itu kerbau milik Pak Dullah."
"Ayah, kenapa kerbau suka berkubang?"
"Karena kerbau suka air dingin, Nak. Tubuhnya panas."
"Aku juga suka air dingin, Ayah. Tapi Ibu tidak boleh."
"Kenapa Ibu tidak boleh?"
"Karena Ibu wanita. Wanita tidak boleh mandi di sungai."
Aryanti tertawa. "Kamu ini, Nak. Dari mana tahu begitu?"
"Dari Joni, Bu. Ia bilang, wanita mandi di sungai bisa dilihat laki laki."
"Ajaran siapa itu, Nak?"
"Ajaran orang tua, Bu. Kata Joni, orang tuanya bilang begitu."
"Orang tua Joni benar, Nak. Wanita harus menjaga auratnya."
"Apa itu aurat, Bu?"
"Aurat adalah bagian tubuh yang tidak boleh dilihat orang lain."
"Bagian tubuh apa saja, Bu?"
"Nanti kalau kau sudah besar, Nak. Ibu akan jelaskan."
"Baik, Bu. Aku sabar."
Mobil berhenti di pasar. Mereka turun dan berjalan mencari warung bubur ayam langganan.
Di warung bubur ayam, mereka bertemu dengan Salma dan bayinya yang masih berusia tiga bulan. Bayi itu lucu, pipinya tembem, rambutnya hitam legam, matanya besar.
"Salma! Kebetulan sekali!" sapa Aryanti sambil mendekat.
"Yan! Kau juga ke sini? Ajak Riyan?"
"Iya, Salma. Riyan minta bubur ayam."
"Riyan sudah besar. Sebentar lagi masuk SD."
"Iya, Salma. Waktu cepat sekali."
"Bagaimana kabar Riyadi?"
"Alhamdulillah, baik. Sibuk dengan pekerjaan."
"Kadir juga sibuk. Bantu ayahnya di kebun."
"Syukurlah. Setidaknya Kadir punya pekerjaan."
Salma mendekati Aryanti. "Yan, aku ingin bicara serius."
"Bicara apa, Salma?"
"Aku... aku iri padamu."
"Iri kenapa?"
"Kau cantik, kau kaya, kau disayangi semua orang."
"Salma, kau juga cantik. Kau juga kaya. Tidak perlu iri."
"Aku tidak kaya, Yan. Keluarga kami sederhana."
"Tapi kaya hati. Itu lebih penting."
"Kau selalu bisa menghiburku, Yan. Aku bersyukur punya sahabat seperti kau."
"Kita bersyukur bersama, Salma."
Mereka berdua tersenyum. Persahabatan yang dulu retak, kini pulih kembali.
Setelah selesai makan, Aryanti mengajak Salma berjalan jalan di sekitar pasar. Mereka meninggalkan Riyadi dan Riyan yang asyik bermain di taman.
"Salma, aku ingin jujur padamu."
"Jujur tentang apa, Yan?"
"Dulu, aku juga iri padamu."
"Iri? Kenapa?"
"Karena kau bisa menikah dengan Kadir dengan mudah. Sementara aku harus berjuang mati matian untuk Riyadi."
"Tapi sekarang kau bahagia, Yan."
"Ya, aku bahagia. Tapi perjuanganku sangat berat."
"Aku tahu, Yan. Aku dengar cerita dari Kadir."
"Kadir bercerita tentang apa?"
"Tentang fitnah, penjara, sakit, dan perjuanganmu menjenguknya di Banjarmasin."
"Kau tidak cemburu?"
"Awalnya iya. Tapi sekarang tidak. Kadir sudah berubah. Ia tidak lagi mencintaimu."
"Aku tahu, Salma. Aku tahu."
"Yan, maafkan aku. Aku sering iri padamu."
"Salma, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Sejak kejadian pria berbaju hitam di dermaga."
"Kau baik sekali, Yan."
"Kita sama sama belajar, Salma. Tentang cinta, tentang persahabatan, tentang keikhlasan."
Riyadi, Aryanti, dan Riyan pulang ke rumah Mak Tonah. Salma pulang ke rumahnya sendiri. Sebelum berpisah, mereka berpelukan.
"Yan, terima kasih sudah menjadi sahabatku."
"Salma, terima kasih sudah menjadi saudaraku."
"Kita akan bersahabat selamanya, Yan."
"Selamanya, Salma."
Mereka berdua menangis. Riyan yang melihat ibunya menangis ikut menangis.
"Ibu, kenapa Ibu menangis?"
"Aku bahagia, Nak. Aku bahagia karena punya sahabat seperti tante Salma."
"Aku juga bahagia, Bu. Aku punya teman seperti Joni."
"Bagus, Nak. Itu yang namanya bersyukur."
Malam harinya, setelah Riyan tidur, Riyadi mengajak Aryanti ke halaman belakang. Bulat purnama bersinar terang. Bintang bintang bertaburan di langit yang gelap. Angin malam berhembus sejuk.
"Yan, aku ingin bicara."
"Bicara apa, Riyad?"
"Aku ingin bilang, aku tidak mau kehilanganmu."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Riyad. Aku di sini. Selamanya."
"Tapi kadang aku takut, Yan. Takut kau diambil orang lain."
"Orang lain siapa, Riyad? Tidak ada orang lain."
"Husin dulu pernah melamarmu. Aku takut ia datang lagi."
"Husin sudah menikah, Riyad. Ia punya istri dan anak. Ia tidak akan kembali."
"Tapi laki laki lain bisa datang kapan saja. Kau cantik, Yan. Banyak yang menginginkanmu."
"Riyad, aku sudah tua. Tidak cantik lagi."
"Kau tetap cantik, Yan. Lebih cantik dari dulu."
"Kau ini, sudah tua masih gombal."
"Gombal tidak mengenal usia, Yan. Selama hati masih berbunga, gombal akan selalu ada."
Mereka berdua tertawa. Riyadi memeluk Aryanti.
"Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
"Jangan pernah pergi."
"Aku tidak akan pergi. Kecuali kau yang mengusirku."
"Aku tidak akan pernah mengusirmu."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan di bawah cahaya bulan. Dua hati yang sudah melewati berbagai badai, kini berlabuh dengan tenang.
Malam itu juga, Aryanti menulis surat cinta untuk Riyadi. Surat pertama yang ia tulis setelah bertahun tahun tidak menulis.
Untuk Riyadi, Suamiku Tercinta
Assalamu'alaikum.
Riyad, malam ini aku tidak bisa tidur. Bukan karena gelisah, tapi karena bahagia. Terlalu bahagia. Aku takut kebahagiaan ini hanya mimpi. Aku takut besok pagi aku terbang dan kau tidak ada di sampingku.
Riyad, aku ingin kau tahu bahwa aku tidak mau diambil orang lain. Aku hanya mau kau. Hanya kau. Sejak pertama kali aku melihatmu di dermaga itu, aku tahu kau adalah belahan jiwaku. Aku tidak perlu orang lain. Cukup kau.
Riyad, maafkan aku jika aku sering cemburu. Maafkan aku jika aku sering khawatir. Maafkan aku jika aku sering tidak percaya diri. Aku hanya takut kehilanganmu. Kau terlalu berharga bagiku.
Riyad, aku berjanji akan menjadi istri yang lebih baik. Aku akan lebih sabar. Aku akan lebih pengertian. Aku akan lebih mendukungmu. Aku akan selalu ada untukmu, dalam suka dan duka, dalam sakit dan sehat, dalam kaya dan miskin.
Riyad, aku mencintaimu. Lebih dari apa pun di dunia ini. Lebih dari hidupku sendiri.
Selamat malam, sayang. Mimpi indah.
Dengan segala cinta,
Aryanti
Aryanti melipat surat itu dan menyembunyikannya di bawah bantal. Besok pagi ia akan memberikannya pada Riyadi.
Keesokan paginya, ketika Aryanti sedang mandi, Riyadi membersihkan tempat tidur. Ia menemukan surat di bawah bantal. Ia membaca surat itu dengan saksama. Air matanya menetes.
"Yan... kau menulis surat untukku?"
Aryanti yang baru keluar dari kamar mandi terkejut. "Riyad, jangan baca! Itu untuk nanti!"
"Aku sudah membaca, Yan. Maaf."
"Kau... kau keterlaluan!"
"Aku minta maaf, Yan. Tapi terima kasih. Suratmu sangat indah. Aku tidak pernah membaca surat seindah ini."
"Kau pasti bercanda."
"Aku tidak bercanda, Yan. Ini jujur."
Riyadi memeluk Aryanti. "Yan, aku juga tidak mau diambil orang lain. Hanya kau. Selamanya."
Mereka berdua menangis. Bukan tangis sedih, tapi tangis haru.
Riyadi dan Aryanti duduk di beranda. Mereka berpegangan tangan. Menikmati matahari pagi yang hangat.
"Yan, aku ingin berjanji di depan orang banyak."
"Janji apa, Riyad?"
"Aku ingin mengulang janji pernikahan kita. Di depan keluarga, sahabat, dan warga desa."
"Kenapa, Riyad? Kita sudah menikah."
"Aku ingin menegaskan bahwa aku hanya mencintaimu. Tidak akan ada yang lain. Sampai mati."
"Riyad, kau sungguh sungguh?"
"Aku sungguh sungguh, Yan."
Mereka kemudian mengundang semua keluarga dan sahabat untuk datang ke rumah Mak Tonah. Acara sederhana. Hanya doa bersama dan makan makan.
Riyadi berdiri di depan semua tamu. Ia memegang mikrofon. Tangannya gemetar, tapi suaranya tegas.
"Assalamu'alaikum, semua. Terima kasih sudah datang."
"Wa'alaikumsalam!" jawab tamu serempak.
"Saya ingin mengulang janji pernikahan saya dengan Aryanti. Di depan kalian semua, saya berjanji akan setia pada Aryanti. Hanya dia. Sampai mati."
Aryanti menangis. "Riyad, aku juga berjanji akan setia padamu. Hanya kau. Sampai mati."
Mereka berpelukan. Semua tamu menangis haru.
"Takbir! Allahu Akbar!" teriak Pak Darma.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" seru semua tamu.
Riyan yang duduk di pangkuan Mak Tonah bertanya, "Nenek, kenapa Ayah dan Ibu menangis?"
"Mereka bahagia, Nak. Mereka sangat bahagia."
"Aku juga bahagia, Nek. Aku punya Ayah dan Ibu yang saling mencintai."
"Kamu anak yang beruntung, Nak."
"Iya, Nek. Aku tahu."
BAB XXV
MEMBANGUN KEMBALI
Pagi itu, matahari bersinar cerah di Desa Sriwidadi. Langit biru tanpa mendung. Burung burung tekukur berkicau riang di atas genteng rumah Haji Bahar. Ayam ayam jantan berkokok bersahutan seolah ikut bersyukur atas kehidupan yang baru. Halaman depan rumah yang dulu penuh dengan rumput liar, kini mulai dibersihkan oleh Kadir dan Salma. Daun daun kering disapu, bunga bunga mulai ditanam kembali, pagar besi yang berkarat mulai dicat ulang.
"Ayah, hari ini kita bangun kembali, Ayah. Kita tidak boleh menyerah," kata Kadir sambil menyapu halaman dengan semangat yang membara. Keringat bercucuran di dahinya, bajunya basah oleh keringat, namun matanya berbinar binar penuh harapan.
Haji Bahar yang duduk di beranda dengan kursi goyang tua, tersenyum melihat semangat anaknya. Wajahnya yang tua dan keriput itu mulai menunjukkan sedikit cahaya. "Iya, Nak. Ayah bangga padamu. Ayah kira kau akan menyerah, tapi kau terus berjuang."
"Ayah, aku belajar dari Riyadi. Ia tidak pernah menyerah, meskipun hidupnya penuh dengan rintangan. Ia selalu bangkit setiap kali jatuh."
"Itu sebabnya ia sukses, Nak. Karena ketekunannya."
"Aku juga ingin sukses, Ayah. Tidak perlu sekaya Riyadi. Cukup untuk menghidupi keluarga."
"Dengan kerja keras dan doa, kau pasti bisa, Nak. Ayah yakin."
Kadir mendekati Haji Bahar. Ia duduk di samping ayahnya. "Ayah, maafkan aku. Selama ini aku hanya menyusahkan Ayah. Aku tidak pernah membantu. Aku hanya menghabiskan uang Ayah."
"Sudah, Nak. Masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita fokus pada masa depan."
"Ayah, aku ingin membangun kembali kebun karet kita. Dengan izin Ayah, tentu."
"Kebun karet sudah tidak produktif, Nak. Harga karet jatuh. Lebih baik kita fokus pada kebun sawit."
"Baik, Ayah. Aku akan merawat kebun sawit dengan baik. Aku juga akan belajar dari penyuluh pertanian."
"Itu anak Ayah. Rajin belajar."
Kadir pergi ke kantor Riyadi di Kuala Kapuas. Ia ingin belajar tentang manajemen bisnis. Riyadi menyambutnya dengan hangat.
"Kadir, ada apa? Kau jarang ke sini."
"Aku ingin belajar, Riyad. Aku ingin membangun kembali bisnis ayahku."
"Bagus, Kadir. Semangatmu luar biasa."
"Aku tidak punya pengalaman, Riyad. Aku butuh bimbinganmu."
"Kita belajar bersama, Kadir. Aku juga masih belajar."
Riyadi mengajak Kadir berkeliling kantor. Ia menjelaskan tentang administrasi, keuangan, pemasaran, dan sumber daya manusia.
"Ini ruang administrasi. Di sini semua dokumen disimpan. Faktur, surat jalan, laporan keuangan, semuanya."
"Wah, rapi sekali, Riyad. Aku tidak pernah melihat kantor serapi ini."
"Ini berkat Badrun. Ia sangat teliti."
"Badrun hebat. Dari kuli angkut jadi manajer."
"Kita semua bisa berubah, Kadir. Asalkan ada kemauan."
"Aku ingin berubah, Riyad. Aku ingin seperti kalian."
"Kau sudah berubah, Kadir. Aku melihatnya."
Mereka kemudian ke ruang penyimpanan kayu. Tumpukan kayu ulin, kayu meranti, kayu jati tersusun rapi.
"Ini kayu ulin, Kadir. Kayu paling keras di Kalimantan. Banyak digunakan untuk dermaga dan jembatan."
"Wah, besar sekali. Harganya mahal, ya?"
"Mahal, Kadir. Tapi sepadan dengan kualitasnya."
"Aku ingin belajar tentang kayu, Riyad. Mungkin suatu hari aku bisa berbisnis kayu juga."
"Kau bisa, Kadir. Mulai dari yang kecil dulu. Jangan langsung besar."
"Baik, Riyad. Aku akan mulai dari nol."
Dengan restu Haji Bahar dan bimbingan Riyadi, Kadir memulai usaha kecil kecilan. Ia membuka bengkel kayu sederhana di belakang rumahnya. Ia memproduksi meja, kursi, lemari, dan perabot rumah tangga lainnya.
"Salma, mulai hari ini aku akan bekerja di bengkel. Tolong dukung aku."
"Aku dukung, Kadir. Apa pun yang kau lakukan, aku akan selalu ada untukmu."
"Terima kasih, Salma. Kau adalah istri yang baik."
"Kau juga suami yang baik, Kadir. Aku bangga padamu."
Kadir memulai dengan modal kecil. Ia membeli papan kayu dari Riyadi dengan harga murah. Ia juga membeli peralatan pertukangan—gergaji, palu, pahat, serut, dan alat ukur.
"Pak, saya mau pesan dua puluh kursi untuk sekolah!" pesan seorang pelanggan.
"Baik, Pak. Dua minggu selesai."
"Harganya berapa, Pak?"
"Seratus ribu per kursi, Pak. Total dua juta."
"Mahal, Pak. Bisa kurang?"
"Ini sudah murah, Pak. Bahan berkualitas. Finishing rapi. Awet bertahun tahun."
"Baiklah, Pak. Saya pesan. Tolong dikerjakan dengan baik."
"Terima kasih, Pak. Saya tidak akan mengecewakan."
Kadir bekerja dengan keras. Ia bangun pagi pagi sekali dan tidur larut malam. Tangannya penuh dengan kapalan dan luka. Tapi ia tidak pernah mengeluh.
"Kadir, tanganmu luka luka. Istirahatlah," pinta Salma.
"Tidak bisa, Salma. Banyak pesanan yang harus diselesaikan."
"Tapi kesehatanmu lebih penting."
"Aku sehat, Salma. Aku kuat."
"Kau memaksakan diri, Kadir. Aku khawatir."
"Jangan khawatir, Salma. Aku tahu batas kemampuanku."
Meskipun sudah tua dan sakit sakitan, Haji Bahar tetap ingin membantu. Ia mengawasi kualitas kayu yang dibeli Kadir. Ia juga memberi saran tentang desain dan finishing.
"Nak, kayu ini terlalu basah. Jangan dibeli. Nanti mudah lapuk."
"Baik, Ayah. Aku akan cari pemasok lain."
"Nak, kursi ini gempanya kurang pas. Perbaiki."
"Baik, Ayah. Aku akan perbaiki."
"Nak, finishingnya masih kasar. Haluskan dengan amplas."
"Baik, Ayah. Aku akan amplas ulang."
Kadir sangat terbantu dengan kehadiran Haji Bahar. Ia belajar banyak tentang kualitas kayu dan teknik pertukangan.
"Ayah, kenapa Ayah tahu banyak tentang kayu?"
"Dulu Ayah pernah jadi tukang kayu sebelum punya kebun karet, Nak. Ayah belajar dari kakekmu."
"Wah, Ayah hebat. Aku baru tahu."
"Ayah tidak pernah cerita karena malu. Tukang kayu dulu dipandang rendah."
"Tidak rendah, Ayah. Setiap pekerjaan halal itu mulia."
"Kau benar, Nak. Ayah bangga kau mau jadi tukang kayu."
"Aku tidak malu, Ayah. Aku justru bangga."
Dalam waktu tiga bulan, bengkel kayu Kadir mulai dikenal banyak orang. Pesanan datang dari berbagai desa. Bahkan dari Kuala Kapuas.
"Kadir, kau hebat! Usahamu maju pesat!" puji Riyadi ketika berkunjung.
"Ini berkat bimbinganmu, Riyad. Aku tidak akan bisa tanpa bantuanmu."
"Jangan rendah hati, Kadir. Kau yang bekerja keras. Aku hanya memberi sedikit saran."
"Aku berhutang budi padamu, Riyad. Suatu hari aku akan membayarnya."
"Jangan bicara tentang hutang, Kadir. Kita saudara."
Mereka berdua tertawa. Persahabatan yang dulu retak, kini semakin erat.
"Kadir, kau harus merekrut karyawan. Pesananmu sudah banyak. Kau tidak bisa sendiri."
"Aku sudah pikirkan itu, Riyad. Tapi aku belum punya modal untuk membayar gaji."
"Aku bisa pinjamkan dulu. Kau bayar nanti kalau sudah punya uang."
"Riyad, kau selalu membantu. Aku tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan terima kasih. Itu sudah cukup."
"Terima kasih, Riyad. Terima kasih banyak."
Dengan bantuan modal dari Riyadi, Kadir merekrut dua pemuda desa yang menganggur. Mereka adalah Joni dan Andi—teman Riyan yang dulu sering bermain bersama.
"Nak Joni, Nak Andi, mulai hari ini kalian bekerja di bengkel saya. Upahnya lima puluh ribu per hari. Mau?"
"Mau, Pak Kadir! Terima kasih!" jawab Joni dan Andi bersemangat.
"Tapi ingat, saya orangnya tegas. Tidak boleh malas. Tidak boleh mencuri. Tidak boleh bolos."
"Siap, Pak Kadir. Kami akan bekerja dengan baik."
Joni dan Andi ternyata pekerja keras. Mereka cepat belajar. Dalam sebulan, mereka sudah bisa membuat kursi dan meja sendiri.
"Kadir, anak anak ini hebat. Cepat belajar," puji Haji Bahar.
"Iya, Ayah. Mereka berbakat."
"Suatu hari mereka akan sukses, Nak."
"Aamiin, Ayah."
Salma tidak tinggal diam. Ia belajar mengelola keuangan dari Aryanti. Aryanti mengajarinya cara mencatat pemasukan dan pengeluaran, cara membuat laporan laba rugi, cara memisahkan uang pribadi dan uang usaha.
"Salma, ini buku catatan. Setiap hari kau harus mencatat semua transaksi."
"Baik, Yan. Aku akan belajar."
"Jangan takut salah. Yang penting konsisten."
"Aku akan berusaha, Yan. Demi keluarga."
Salma rajin mencatat. Setiap malam, ia menghitung uang yang masuk dan keluar. Ia juga memberi saran pada Kadir tentang harga jual dan biaya produksi.
"Kadir, harga jual kursi terlalu murah. Kita rugi."
"Tapi Salma, aku takut pelanggan kabur jika harga naik."
"Coba naikkan sepuluh persen. Jika pelanggan protes, kita tawar."
"Baik, Salma. Aku ikut sarannya."
Ternyata saran Salma tepat. Pelanggan tidak keberatan dengan kenaikan harga sepuluh persen karena kualitas produk Kadir memang bagus.
"Salma, kau hebat! Laba kita naik!" seru Kadir.
"Ini berkat kerja keras kita bersama, Kadir. Aku hanya memberi saran."
"Kau istri yang cerdas, Salma. Aku beruntung mendapatmu."
"Jangan lebay, Kadir. Ayo kita rapatkan lagi strategi ke depan."
Setelah dua tahun usahanya berjalan dengan lancar, Kadir memutuskan untuk membangun rumah baru. Tidak besar dan mewah seperti rumah Haji Bahar dulu, tapi sederhana, kokoh, dan nyaman. Dinding bata merah, atap genteng beton, lantai keramik, dan halaman yang cukup luas untuk anak anak bermain.
"Salma, ini kunci rumah barumu." Kadir menyerahkan seikat kunci pada Salma.
Salma menangis. "Kadir, kau sungguh membangun rumah untuk kita?"
"Iya, Salma. Kita tinggal di rumah kontrakan sudah terlalu lama. Saatnya kita punya rumah sendiri."
"Aku tidak percaya, Kadir. Ini seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi, Salma. Ini nyata."
Mereka masuk ke rumah baru itu. Salma memeluk Kadir erat erat.
"Kadir, aku bangga padamu. Kau suami yang hebat."
"Aku juga bangga padamu, Salma. Kau istri yang hebat."
Mereka berdoa bersama di ruang tamu yang masih kosong.
"Ya Allah, terima kasih atas rumah ini. Jadikanlah rumah ini sebagai tempat yang penuh berkah. Tempat kami membina keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin."
Haji Bahar sangat bahagia melihat keberhasilan Kadir. Ia sering datang ke rumah baru anaknya untuk bermain dengan cucunya.
"Nak, Ayah bangga padamu. Kau berhasil membangun kembali kehidupan keluarga kita."
"Ini berkat doa Ayah, juga bantuan Riyadi."
"Riyadi memang orang baik. Kita harus selalu berterima kasih padanya."
"Aku sudah sering berterima kasih, Ayah. Tapi ia selalu bilang, 'kita saudara'. Seolah semua bantuannya tidak perlu dibalas."
"Itulah keistimewaan Riyadi, Nak. Ia tulus membantu tanpa pamrih."
"Aku ingin seperti Riyadi, Ayah. Tulus membantu tanpa pamrih."
"Niatkan dulu, Nak. Nanti Allah akan mudahkan."
"Aamiin, Ayah."
Suatu sore, Kadir mengajak Salma ke dermaga tua tempat Riyadi dan Aryanti dulu sering bermain. Dermaga itu masih berdiri meskipun kondisinya semakin memprihatinkan.
"Salma, kau tahu? Dulu Riyadi dan Aryanti sering duduk di sini. Mereka berpegangan tangan, kaki digoyang goyangkan ke air."
"Aku dengar ceritanya dari Aryanti. Ia bilang dermaga ini adalah saksi cinta mereka."
"Sekarang kita yang duduk di sini, Salma. Sebagai pasangan suami istri yang bahagia."
"Aku bahagia, Kadir. Sangat bahagia."
"Aku juga bahagia, Salma. Lebih bahagia dari yang aku bayangkan."
Mereka berdua duduk di papan dermaga yang reyot. Kaki mereka menggantung di atas permukaan air. Ikan ikan kecil kadang melompat ke permukaan. Angin sore berhembus sejuk.
"Salma, maafkan aku. Dulu aku pernah mencintai Aryanti."
"Sudah, Kadir. Itu masa lalu. Sekarang kau milikku. Aku tidak cemburu."
"Kau baik sekali, Salma. Aku tidak pantas mendapatmu."
"Kau pantas, Kadir. Setiap orang pantas mendapat kebahagiaan."
Mereka berdua berpelukan. Dermaga tua yang nyaris roboh itu menjadi saksi baru bagi cinta Kadir dan Salma.
BAB XXVI
LAMARAN YANG TERTUNDA LIMA TAHUN
Pagi itu, Riyadi bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur, warna keemasannya masih lembut, belum menyilaukan mata. Burung burung tekukur mulai bersahutan dari balik rumpun bambu di belakang rumah. Ayam ayam jantan berkokok bersahutan, seolah ikut merayakan sesuatu yang istimewa. Udara pagi terasa sejuk dan segar, wangi tanah basah dan embun masih tercium dari halaman yang belum tersapu.
Riyadi berdiri di depan cermin kamarnya. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, celana kain hitam, dan kopiah hitam di kepala. Wajahnya berseri seri, matanya berbinar binar, bibirnya tersenyum lebar. Ia tampak gugup, seperti pemuda yang akan melamar kekasihnya untuk pertama kalinya.
"Yan, kau sudah siap?" tanyanya pada Aryanti yang sedang berdandan di sampingnya. Aryanti memakai kebaya putih sederhana dengan hiasan bunga melati di sanggul rambutnya. Wajahnya cantik alami tanpa polesan tebal.
"Siap, Riyad. Tapi kenapa kita harus ke desa pagi pagi begini? Ada acara apa?"
"Ini rahasia, Yan. Nanti kau tahu."
"Rahasia? Kau membuatku penasaran."
"Bersabarlah, Yan. Sebentar lagi sampai."
Riyan yang sudah bangun sejak tadi berlari lari kecil di sekitar mobil. "Ayah, Ibu, cepat! Aku tidak sabar!"
"Iya, Nak. Sebentar lagi."
Mobil melaju meninggalkan Kuala Kapuas menuju Desa Sriwidadi. Sepanjang perjalanan, Riyadi tidak bicara banyak. Aryanti semakin penasaran.
Mobil berhenti di halaman rumah Mak Tonah. Mak Tonah sudah menunggu di beranda dengan pakaian terbaiknya—kebaya lusuh warna biru tua yang sudah ia simpan sejak pernikahannya dulu. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, tapi senyumnya masih hangat seperti dulu.
"Nak, kau datang! Ibu sudah menunggu sejak subuh."
"Mak, maaf kami agak terlambat. Jalanan macet."
"Tidak apa apa, Nak. Yang penting kalian datang."
Aryanti turun dari mobil dengan wajah bingung. "Mak, ada apa? Kok semua tampak sibuk?"
"Kamu lihat nanti, Yan. Ibu tidak boleh cerita."
"Mak, jangan bikin aku penasaran."
"Ibu hanya mengikuti perintah anak ibu."
Saripah juga datang dari arah dapur. Wajahnya berseri seri. "Yan, kau cantik hari ini."
"Terima kasih, Ibu. Tapi ada acara apa? Aku tidak tahu."
"Kamu ikuti saja, Yan. Jangan banyak tanya."
Aryanti menghela napas. Ia pasrah.
Riyadi mengajak Aryanti berjalan ke dermaga tua. Sepanjang perjalanan, Aryanti terus bertanya, tapi Riyadi tidak menjawab. Sesampainya di dermaga, Aryanti terkejut setengah mati.
Dermaga itu sudah berubah total. Kayu kayu yang dulu lapuk dan reyot, kini sudah diganti dengan kayu ulin baru yang kokoh dan mengkilap. Papan papannya rapi, tidak ada yang bolong. Pagar pengaman dipasang di kedua sisi. Ada bangku panjang untuk duduk duduk. Di ujung dermaga, sebuah gapura kecil bertuliskan "Dermaga Cinta Riyadi & Aryanti".
"Riyad... ini... ini kau yang buat?" Aryanti menangis.
"Iya, Yan. Aku yang merenovasi dermaga ini. Sebagai hadiah untukmu. Sebagai tanda cintaku yang tidak pernah pudar."
"Tapi kenapa, Riyad? Kenapa sekarang?"
"Karena lima tahun yang lalu, aku berjanji akan melamar dengan cara yang layak. Tapi aku tidak bisa karena aku masih miskin."
"Lima tahun yang lalu? Waktu kita masih pacaran?"
"Iya, Yan. Waktu aku mau berangkat ke Banjarmasin. Aku berjanji akan kembali dan melamarmu. Tapi kau sudah dinikahkan dengan Kadir."
"Tapi pernikahanku dengan Kadir batal, Riyad."
"Iya, Yan. Dan hari ini, setelah lima tahun tertunda, aku ingin melamarmu lagi."
Aryanti terisak. "Riyad, kau gila! Kita sudah menikah! Kita sudah punya anak! Kenapa kau melamarku lagi?"
"Karena aku ingin mengulang janji pernikahan kita. Dengan cara yang lebih romantis. Dengan cara yang tidak akan pernah aku lupakan."
"Riyad, kau benar benar gila."
"Ya, Yan. Aku gila karenamu."
Mereka berpelukan di dermaga itu. Di tempat yang sama, di waktu yang berbeda, cinta mereka disegel kembali.
Tak lama kemudian, keluarga dan sahabat datang berbondong bondong. Mak Tonah, Saripah, Haji Bahar, Kadir, Salma, Badrun, Ningsih, dan warga desa lainnya. Mereka membawa makanan, minuman, dan kue kue. Ada yang membawa tikar pandan, ada yang membawa payung besar, ada yang membawa alat musik.
"Nak Riyadi, kami datang untuk merayakan cinta kalian!" seru Pak Darma.
"Terima kasih, Pak Darma. Silakan duduk."
Mereka semua duduk melingkar di halaman dekat dermaga. Tawa dan canda terdengar di mana mana.
Riyan yang melihat suasana ramai langsung berlari ke arah Joni dan teman temannya. "Joni! Ada apa ini?"
"Ayahmu melamar ibumu lagi, Yan!"
"Apa? Ayah dan Ibu kan sudah menikah?"
"Iya, tapi Ayahmu ingin mengulang lamaran. Katanya dulu tertunda lima tahun."
"Wah, Ayahku romantis sekali!"
"Iya, Yan. Ayahmu hebat."
Riyadi berdiri di depan semua tamu. Ia memegang mikrofon. Tangannya gemetar, suaranya sedikit bergetar, tapi matanya penuh keyakinan.
"Assalamu'alaikum, warga desa. Terima kasih sudah datang."
"Wa'alaikumsalam, Nak Riyadi!" jawab warga serempak.
"Warga desa, kalian semua tahu cerita cinta saya dan Aryanti. Bermula dari dermaga ini, ketika kami masih kecil. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama. Tapi saya terlalu miskin, terlalu pengecut, terlalu takut untuk mengaku."
Warga mendengarkan dengan saksama.
"Waktu saya berangkat ke Banjarmasin, saya berjanji akan kembali dan melamar Aryanti. Tapi saya gagal. Saya hampir mati di perantauan. Aryanti yang menjenguk saya. Aryanti yang merawat saya. Aryanti yang setia menunggu."
Aryanti menangis.
"Setelah saya sembuh, saya kembali ke desa. Tapi Aryanti sudah dijodohkan dengan Kadir. Saya hampir putus asa. Tapi Aryanti membatalkan pernikahan itu. Ia memilih saya. Orang miskin yang tidak punya apa apa."
Warga berbisik bisik. Ada yang menangis, ada yang tersenyum.
"Lima tahun kemudian, setelah saya sukses, setelah kita menikah, setelah kita punya anak, saya ingin mengulang lamaran yang tertunda. Saya ingin melamar Aryanti dengan cara yang layak. Dengan cara yang tidak akan pernah saya lupakan. Dengan cara yang akan saya ceritakan pada anak cucu saya nanti."
Riyadi berlutut di depan Aryanti. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Dibukanya kotak itu, di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang sangat cantik.
"Aryanti, maukah kau menjadi istriku? Untuk kedua kalinya? Sampai mati?"
Aryanti tidak bisa berkata kata. Ia hanya mengangguk sambil menangis. Riyadi memakaikan cincin itu di jari manis Aryanti.
"Ya, Riyad. Aku mau. Aku selalu mau. Dari dulu, sekarang, sampai selamanya."
Mereka berpelukan. Semua tamu bersorak.
"Takbir! Allahu Akbar!" seru Pak Darma.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" seru semua tamu.
Setelah lamaran, mereka mengadakan doa bersama. Pak Darma memimpin doa. Warga menadahkan tangan, memohon pada Allah agar memberkahi cinta Riyadi dan Aryanti.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Mengetahui isi hati hamba Mu. Engkau tahu bahwa Riyadi dan Aryanti saling mencintai karena Mu. Janganlah Engkau cabut cinta ini dari hati mereka. Jadikanlah cinta ini sebagai ibadah. Jadikanlah keluarga mereka sebagai keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah. Aamiin."
"Aamiin ya rabbal'alamin," ucap semua hadirin.
Riyadi dan Aryanti menangis. Mereka bersyukur atas semua yang telah Allah berikan.
"Riyad, aku tidak pernah membayangkan hari seindah ini."
"Aku juga, Yan. Ini lebih indah dari mimpiku."
"Kita akan bersama selamanya, Riyad."
"Selamanya, Yan. Sampai mati."
Setelah doa, mereka makan bersama. Meja panjang dipenuhi berbagai macam masakan. Ada rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue.
"Nak Riyadi, ini rendang buatan ibu. Ibu masak semalam," kata Mak Tonah sambil menyodorkan piring berisi rendang.
"Terima kasih, Mak. Ibu memang hebat masak rendang."
"Ibu hanya bisa masak rendang. Lainnya tidak begitu enak."
"Semua masakan Ibu enak, Mak."
"Aku, Ibu? Aku masak apa?" tanya Saripah.
"Ibu masak gulai kambing. Enak sekali, Bu. Dagingnya empuk, bumbunya meresap."
"Syukurlah kalau kau suka."
Riyan yang duduk di samping Joni asyik menyantap ayam goreng. "Joni, ayamnya enak."
"Iya, Yan. Ibumu yang masak?"
"Bukan. Nenek Saripah yang masak."
"Wah, hebat nenekmu."
"Iya, Joni. Nenekku hebat."
Kadir berdiri dan meminta perhatian. Wajahnya serius, matanya berkaca kaca, suaranya lirih.
"Warga desa, saya Kadir. Saya ingin bicara."
Warga mendengarkan. Mereka penasaran apa yang akan dikatakan Kadir.
"Saya dulu adalah orang yang paling membenci Riyadi. Saya ingin merebut Aryanti. Saya memfitnah Riyadi. Saya menyuruh preman. Saya hampir menghancurkan hidupnya."
Warga berbisik bisik.
"Tapi Riyadi tidak pernah dendam. Ia memaafkan saya. Ia memberi saya pekerjaan. Ia membantu ayah saya saat bangkrut. Ia adalah orang yang paling mulia yang pernah saya temui."
Kadir menangis. "Riyad, aku minta maaf. Maafkan semua kesalahanku."
Riyadi berdiri dan memeluk Kadir. "Kadir, aku sudah memaafkanmu sejak lama. Jangan menangis. Laki laki jangan mudah menangis."
"Riyad, kau terlalu baik. Aku tidak pantas."
"Kadir, semua orang pantas mendapat maaf. Termasuk kau."
Mereka berpelukan. Semua tamu menangis haru.
Aryanti juga berdiri. Ia memegang mikrofon dengan tangan gemetar.
"Warga desa, saya Aryanti. Saya ingin berterima kasih pada semua yang sudah mendukung cinta saya dan Riyadi."
"Terima kasih pada Mak Tonah yang telah melahirkan Riyadi. Terima kasih pada Ibu Saripah yang telah melahirkan saya. Terima kasih pada Haji Bahar dan Kadir yang pernah menjadi bagian dari hidup saya. Terima kasih pada Badrun dan Ningsih sahabat sejati. Terima kasih pada Pak Darma yang selalu memberi nasihat. Terima kasih pada semua warga desa yang telah mendoakan kami."
Aryanti menangis. "Tanpa kalian semua, kami tidak akan seperti sekarang. Kalian adalah saksi cinta kami. Kalian adalah bagian dari cerita kami."
Warga bertepuk tangan. Beberapa ibu ibu menangis.
"Yan, kau hebat," bisik Salma.
"Aku hanya melakukan yang benar, Salma."
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Riyadi dan Aryanti duduk berdua di dermaga. Bulan purnama bersinar terang. Bintang bintang bertaburan di langit yang gelap. Air sungai beriak tenang.
"Riyad, hari ini adalah hari terindah dalam hidupku."
"Aku juga, Yan. Lebih indah dari hari pernikahan kita dulu."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal? Aku jadi tidak siap."
"Kan kejutan, Yan. Kalau aku bilang dari awal, tidak seru."
"Kau ini, suka bikin kejutan."
"Agar cinta kita tidak bosan, Yan."
Mereka berdua tertawa. Riyadi memeluk Aryanti.
"Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
"Jangan pernah pergi."
"Aku tidak akan pergi. Kecuali kau yang mengusirku."
"Aku tidak akan pernah mengusirmu."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan di bawah cahaya bulan. Dua hati yang sudah melewati berbagai badai, kini berlabuh dengan tenang.
"Ayam, Ibu!" terdengar suara Riyan dari kejauhan.
"Ayo, Nak. Kemarilah."
Riyan berlari dan memeluk kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
"Keluarga kita bahagia, Ayah."
"Iya, Nak. Keluarga kita bahagia."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Malam itu, dermaga tua menjadi saksi kebahagiaan keluarga kecil itu. Dermaga yang dulu menjadi tempat Riyadi dan Aryanti jatuh cinta, kini menjadi tempat mereka mengukuhkan cinta untuk yang kedua kalinya.
BAB XXVII
RESIKO CINTA SEJATI
Pagi itu, Aryanti terbangun dengan perasaan yang tidak biasa. Dadanya terasa sesak, napasnya pendek pendek, dan kepalanya pusing seperti berputar. Ia mencoba bangun dari tempat tidur, tapi tubuhnya terasa berat seperti diinjak injak gajah. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, padahal suhu pagi itu sangat dingin karena hujan baru saja reda.
"Riyad... Riyad..." panggilnya lirih.
Riyadi yang sedang bersiap siap pergi ke kantor langsung menghampiri. Wajahnya cemas melihat Aryanti yang pucat pasi. "Yan, kenapa? Kau sakit?"
"Aku tidak tahu, Riyad. Dadaku sesak. Napasku pendek. Kepalaku pusing."
"Kita ke dokter, Yan. Sekarang."
"Tapi kau harus ke kantor, Riyad. Banyak pekerjaan."
"Pekerjaan bisa ditunda. Kesehatanku tidak."
Riyadi segera mengenakan jaket dan membantu Aryanti berdiri. Aryanti berjalan dengan sempoyongan, kakinya lemas seperti kain basah. Riyan yang melihat ibunya sakit langsung menangis.
"Ibu, kenapa Ibu pucat? Ibu sakit?"
"Ibu hanya sedikit pusing, Nak. Ibu tidak apa apa."
"Aku takut, Bu. Jangan sakit."
"Aku tidak akan sakit, Nak. Ibu kuat."
Riyadi dan Aryanti berangkat ke rumah sakit. Riyan dititipkan pada Mak Tonah yang kebetulan sedang berkunjung.
"Nak, ibu akan jaga Riyan. Kau fokus pada Aryanti."
"Terima kasih, Mak."
"Jangan khawatir, Nak. Semua akan baik baik saja."
Riyadi dan Aryanti tiba di Rumah Sakit Umum Kuala Kapuas pukul sembilan pagi. Mereka langsung menemui dr. Hendra, dokter yang sama yang merawat Riyadi saat sakit dulu di Banjarmasin. Wajah dr. Hendra sudah tua, rambutnya hampir seluruhnya putih, dan kerutan di wajahnya semakin dalam. Matanya masih tajam dan sorotnya masih penuh perhatian seperti dulu.
"Selamat pagi, Nak Riyadi. Ada apa? Wajahmu pucat sekali," sapa dr. Hendra dengan ramah.
"Istri saya sakit, Dok. Dadanya sesak. Napasnya pendek. Kepalanya pusing."
"Sudah sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi, Dok. Baru bangun tidur sudah merasa tidak enak badan."
"Baik, saya periksa."
Dr. Hendra memeriksa Aryanti dengan saksama. Ia memeriksa tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan jantung. Alat alat medis terpasang di tubuh Aryanti, bunyinya bip bip kecil terdengar di ruangan yang sunyi.
"Wah, tekanan darahnya tinggi, Nak. Denyut nadinya tidak teratur. Jantungnya juga agak bermasalah."
Aryanti terkejut. Matanya membulat, mulutnya terbuka. "Apa, Dok? Jantung saya bermasalah?"
"Tenang, Bu. Jangan panik. Panik hanya akan memperparah kondisi."
"Tapi Dok, saya tidak pernah merasakan sakit jantung sebelumnya. Saya sehat selalu."
"Mungkin karena stres, Bu. Atau karena terlalu lelah. Atau karena faktor usia."
"Usia saya baru tiga puluh tahun, Dok."
"Itu sudah termasuk risiko, Bu. Penyakit jantung tidak mengenal usia."
Riyadi yang mendengar itu langsung pucat. "Dok, apa yang harus kami lakukan?"
"Istirahat total, Nak. Jangan bekerja terlalu keras. Jangan stres. Jangan marah marah. Jangan makan makanan berlemak. Jangan minum kopi. Jangan merokok. Jangan dekat dekat dengan asap."
"Apa masih bisa disembuhkan, Dok?"
"Bisa, Nak. Asalkan disiplin menjalani pengobatan."
"Berapa lama, Dok?"
"Tergantung. Bisa berbulan bulan, bisa bertahun tahun. Atau bisa seumur hidup."
Aryanti menangis. "Riyad, aku takut."
"Jangan takut, Yan. Aku di sini. Aku akan menjagamu."
"Tapi Riyad, aku tidak ingin merepotkanmu."
"Kau tidak pernah menjadi repot, Yan. Kau adalah segalanya bagiku."
Dr. Hendra memutuskan untuk merawat Aryanti inap selama beberapa hari. Ia ingin memonitor kondisi jantung Aryanti lebih lanjut. Aryanti dimasukkan ke ruang perawatan khusus jantung. Ruangannya kecil, hanya muat untuk satu tempat tidur, satu meja kecil, dan satu kursi untuk penunggu pasien. Dindingnya putih bersih, lantainya mengkilap, dan udaranya dingin karena pendingin udara yang menyala terus.
"Yan, kau istirahat saja. Aku akan menjagamu," kata Riyadi sambil duduk di kursi samping tempat tidur.
"Kau tidak perlu menjagaku, Riyad. Kau harus ke kantor. Banyak pekerjaan."
"Pekerjaan bisa diurus Badrun. Kau lebih penting."
"Tapi Riyad..."
"Tidak ada tapi, Yan. Aku tidak akan meninggalkanmu."
Riyadi memegang tangan Aryanti. Tangannya dingin dan sedikit gemetar.
"Yan, kau tahu? Aku takut kehilanganmu."
"Kau tidak akan kehilangan aku, Riyad. Aku akan sembuh."
"Aku tahu, Yan. Tapi aku tetap takut."
"Jangan takut, Riyad. Aku di sini. Aku tidak akan pergi."
Mereka berdua menangis. Perawat yang masuk untuk mengecek tensi Aryanti ikut terharu.
"Maaf, Bu. Saya mau cek tensi."
"Silakan, Mbak."
Perawat itu memasang alat tensi di lengan Aryanti. "Wah, tensinya masih tinggi, Bu. Ibu harus tenang. Jangan banyak pikiran."
"Iya, Mbak. Saya usahakan."
"Kalau boleh saran, Ibu jangan terlalu banyak menangis. Bisa memperparah kondisi."
"Baik, Mbak. Terima kasih."
Di rumah, Riyan terus menangis. Ia merindukan ibunya.
"Nenek, kenapa Ibu sakit? Apa Ibu akan mati?" tanya Riyan pada Mak Tonah dengan mata sembab.
"Jangan bicara begitu, Nak. Ibu hanya sakit. Ibu akan sembuh."
"Aku takut, Nek. Aku tidak ingin kehilangan Ibu."
"Kamu tidak akan kehilangan Ibu, Nak. Ibu masih panjang umur."
"Tapi Nenek, temanku, Joni, ibunya juga sakit. Lalu ibunya meninggal."
"Joni berbeda, Nak. Ibunya sakit parah. Ibu kamu hanya sakit biasa."
"Apa bedanya, Nek?"
"Kalau sakit biasa, bisa sembuh. Kalau sakit parah, sulit sembuh."
"Apa Ibu akan sembuh, Nek?"
"Insya Allah, Nak. Doakan Ibu."
"Aku akan doakan, Nek. Setiap hari. Setiap malam."
"Bagus, Nak. Kamu anak yang baik."
Riyan berdoa di samping tempat tidurnya. "Ya Allah, sembuhkan Ibu. Aku sayang Ibu. Aku tidak ingin Ibu sakit."
Mak Tonah menangis melihat cucunya berdoa.
"Ya Allah, kabulkan doa anak ini. Ia masih kecil. Ia masih butuh ibunya."
Kabar tentang sakitnya Aryanti dengan cepat tersebar di desa. Kadir dan Salma segera datang ke rumah sakit. Mereka membawa buah buahan dan makanan ringan.
"Yan, kau kenapa? Kok tiba tiba sakit?" tanya Salma sambil memeluk Aryanti.
"Aku juga tidak tahu, Salma. Tiba tiba dadaku sesak, napasku pendek."
"Kau terlalu banyak pikiran, Yan. Istirahatlah yang cukup."
"Aku sudah istirahat, Salma. Tapi sakitnya tidak kunjung hilang."
"Kau harus sabar, Yan. Kesembuhan butuh proses."
Kadir mendekati Riyadi yang duduk di kursi samping tempat tidur. "Ri, kau jangan terlalu stres. Nanti kau ikut sakit."
"Aku tidak stres, Kadir. Aku hanya khawatir."
"Kita semua khawatir, Ri. Tapi Aryanti perlu orang yang tenang di sampingnya. Bukan orang yang panik."
"Kau benar, Kadir. Aku harus tenang."
"Kau harus kuat, Ri. Untuk Aryanti. Untuk Riyan. Untuk keluarga."
Mereka berdua berpelukan. Dua pria yang dulu bersaing memperebutkan Aryanti, kini saling mendukung.
Setelah tiga hari dirawat, Aryanti mulai menunjukkan perkembangan. Wajahnya tidak sepucat dulu, matanya mulai berbinar, dan senyumnya mulai muncul kembali. Tekanan darahnya turun, denyut nadinya teratur, dan sesak dadanya berkurang.
"Yan, kau sudah kelihatan segar," kata Riyadi sambil mengusap rambut Aryanti dengan lembut.
"Aku merasa lebih baik, Riyad. Dadaku tidak sesak lagi."
"Syukurlah. Aku sangat lega."
"Riyad, maafkan aku. Aku sudah membuatmu khawatir."
"Kau tidak perlu minta maaf, Yan. Ini bukan salahmu."
"Aku merasa bersalah, Riyad. Aku merepotkanmu."
"Kau tidak pernah menjadi repot, Yan. Kau adalah istriku. Aku wajib menjagamu."
"Terima kasih, Riyad. Kau suami yang baik."
"Kau juga istri yang baik, Yan."
Mereka berdua tersenyum. Dr. Hendra yang masuk untuk memeriksa ikut tersenyum.
"Wah, kelihatannya Ibu sudah lebih baik," kata dr. Hendra sambil memeriksa tensi Aryanti.
"Iya, Dok. Sudah enakan."
"Besok Ibu boleh pulang. Tapi harus kontrol rutin setiap minggu."
"Baik, Dok. Terima kasih."
"Jangan lupa minum obat. Jangan stres. Jaga pola makan."
"Baik, Dok. Saya akan disiplin."
Keesokan harinya, Aryanti pulang ke rumah. Riyadi menjemputnya dengan mobil. Riyan sudah menunggu di halaman dengan karangan bunga yang ia buat sendiri dari kertas bekas.
"Ibu! Ibu pulang!" teriak Riyan sambil berlari memeluk Aryanti.
"Iya, Nak. Ibu pulang."
"Aku kangen Ibu, Bu."
"Ibu juga kangen kamu, Nak."
"Aku tidak mau Ibu sakit lagi."
"Ibu tidak akan sakit lagi, Nak. Ibu janji."
Riyan menangis. Aryanti mencium kening anaknya.
"Nak, ini bunga untuk Ibu?"
"Iya, Bu. Aku buat sendiri."
"Wah, cantik sekali. Terima kasih, Nak."
"Ibu suka?"
"Ibu suka, Nak. Ibu sangat suka."
Mereka masuk ke rumah. Mak Tonah sudah menyiapkan makanan sehat untuk Aryanti—sayur bening, ikan bakar, dan buah buahan.
"Yan, ini untukmu. Makan sayur dan ikan. Jangan makan yang berlemak."
"Terima kasih, Mak. Aku lahap sekali hari ini."
"Syukurlah. Ibu khawatir kamu tidak mau makan."
"Aku lahap, Mak. Karena aku bahagia."
Aryanti meminta Riyadi untuk mengurangi pekerjaannya agar bisa lebih sering di rumah.
"Riyad, aku ingin kau di rumah lebih sering. Aku butuh pendamping."
"Tapi Yan, pekerjaan menumpuk. Aku harus menyelesaikannya."
"Kau bisa mendelegasikan ke Badrun. Ia sudah mampu."
"Badrun memang mampu, Yan. Tapi aku tidak enak hati membebaninya."
"Kadir juga bisa membantu. Ia sudah belajar banyak."
"Kau benar, Yan. Aku akan coba."
Riyadi kemudian mendelegasikan sebagian pekerjaannya pada Badrun dan Kadir. Badrun mengurus keuangan dan administrasi. Kadir mengurus operasional dan pemasaran.
"Run, aku titip perusahaan ini padamu."
"Tenang, Ri. Aku yang urus. Kau fokus pada Aryanti."
"Kadir, kau juga tolong bantu Badrun."
"Siap, Riyad. Aku tidak akan mengecewakan."
"Terima kasih, kalian. Aku berhutang budi."
"Kita keluarga, Ri. Keluarga tidak perlu berhutang budi."
Aryanti belajar relaksasi untuk mengatasi stres. Ia belajar meditasi, yoga, dan pernapasan. Aryanti mengajarinya.
"Salma, ini sulit. Aku tidak bisa berkonsentrasi."
"Sabarlah, Yan. Awal memang sulit. Nanti lama lama terbiasa."
"Apa manfaatnya, Salma?"
"Menurut guru yogaku, relaksasi bisa menurunkan tekanan darah, menstabilkan detak jantung, dan mengurangi stres."
"Apakah kau juga melakukan ini, Salma?"
"Ya, Yan. Aku rutin setiap pagi. Setelah subuh."
"Wah, hebat. Aku baru tahu."
"Aku tidak pernah cerita karena malu."
"Kenapa malu?"
"Orang desa sering menganggap yoga itu agama lain."
"Yoga itu olahraga, Salma. Bukan agama."
"Iya, Yan. Aku tahu. Tapi banyak yang tidak tahu."
"Kita tidak perlu peduli omongan orang. Yang penting kita sehat."
"Kau benar, Yan. Aku setuju."
Setelah beberapa bulan menjalani pengobatan dan relaksasi, Aryanti dinyatakan sembuh total oleh dr. Hendra. Tekanan darahnya normal, denyut nadinya teratur, dan jantungnya sehat.
"Selamat, Bu. Ibu sudah sembuh."
"Terima kasih, Dok. Ini berkat doa banyak orang."
"Jangan lupa jaga kesehatan. Jangan sampai kambuh lagi."
"Baik, Dok. Saya janji."
Riyadi menangis mendengar kabar itu. Ia memeluk Aryanti erat erat.
"Yan, kau sembuh. Akhirnya."
"Aku sembuh, Riyad. Berkat doamu dan doa semua orang."
"Aku tidak akan meninggalkanmu lagi, Yan."
"Aku juga tidak akan meninggalkanmu, Riyad."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan. Jari kelingking mereka bertaut erat.
"Kelingking janji, putus di jalan, kalau ingkar, mati di tempat."
Malam itu, mereka mengadakan syukuran kecil di rumah Mak Tonah. Hanya keluarga dan sahabat terdekat.
"Warga desa, terima kasih atas doa dan dukungannya. Aryanti sudah sembuh."
"Syukurlah, Nak Riyadi. Kami ikut bahagia."
"Kami tidak akan melupakan kebaikan kalian."
"Kami juga tidak akan melupakan kebaikan kalian, Nak."
Mereka makan bersama. Tawa dan canda terdengar di mana mana.
Riyan yang duduk di pangkuan Aryanti bertanya, "Ibu, apa ibu tidak akan sakit lagi?"
"Insya Allah, Nak. Ibu akan menjaga kesehatan."
"Aku akan jaga Ibu. Aku tidak mau Ibu sakit."
"Kamu anak yang baik, Nak. Ibu bangga."
"Aku sayang Ibu, Bu."
"Ibu juga sayang kamu, Nak."
BAB XXVIII
HARI YANG DINANTIKAN
Pagi itu, matahari bersinar sangat cerah di Desa Sriwidadi. Langit biru tanpa mendung, seolah alam ikut merayakan hari yang istimewa. Burung burung tekukur berkicau riang di atas genteng rumah Mak Tonah. Ayam ayam jantan berkokok bersahutan, tidak mau kalah riang dengan burung burung. Angin pagi berhembus sejuk, membawa aroma bunga melati yang sedang mekar di halaman depan.
"Nak, bangun! Hari sudah siang!" teriak Mak Tonah dari dapur sambil membalik balik dadar di wajan.
Riyadi yang masih setengah tidur langsung terjaga. Ia melihat ke samping, Aryanti sudah tidak ada di tempat tidur. Ia cepat cepat turun dan mandi. Air dingin dari sumur membuat tubuhnya segar kembali.
"Yan, di mana kau?" teriaknya dari kamar mandi.
"Aku di dapur, Riyad! Membantu Mak Tonah memasak!"
"Kau jangan capek capek! Istirahatlah!"
"Aku tidak capek, Riyad! Aku sehat!"
Riyadi selesai mandi dan berganti pakaian. Ia memilih kemeja batik lengan panjang warna biru muda, celana kain hitam, dan kopiah hitam di kepala. Ia tampak ganteng hari itu.
"Nak, kamu tampan sekali," puji Mak Tonah.
"Terima kasih, Mak."
"Seperti ayahmu dulu. Tampan, tegas, dan baik hati."
"Ayah pasti tersenyum di surga melihatku sekarang."
"Iya, Nak. Ayahmu pasti bangga."
Aryanti berdandan di kamar. Ia memilih kebaya putih dengan hiasan bunga melati di rambutnya. Wajahnya segar, matanya berbinar, bibirnya tersenyum tipis. Ia tampak cantik sekali, seperti waktu pertama kali Riyadi melamarnya dulu.
"Yan, kau cantik sekali," puji Saripah yang datang dari kamarnya.
"Terima kasih, Ibu."
"Seperti ibumu dulu. Cantik, anggun, dan menawan."
"Aku hanya bisa berdandan sederhana, Ibu. Tidak mewah."
"Kesederhanaan adalah kecantikan sejati, Yan."
"Aku belajar dari Ibu, Ma. Ibu juga sederhana, tapi tetap cantik."
"Ibu sudah tua, Yan. Tidak cantik lagi."
"Ibu tetap cantik, Ma. Di mata Allah dan di mata keluarga."
Saripah menangis. "Yan, ibu bangga padamu."
"Terima kasih, Ibu. Aku juga bangga memiliki ibu sepertimu."
Mereka berpelukan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
Riyan yang baru berusia lima tahun itu sudah siap sejak subuh. Ia memakai baju koko putih dan kopiah hitam. Wajahnya imut, pipinya tembem, matanya besar. Ia tampak lucu dan menggemaskan.
"Ibu, aku sudah siap!" teriaknya dari ruang tamu.
"Sebentar, Nak. Ibu masih berdandan."
"Ibu lama sekali. Aku sudah tidak sabar."
"Sabarlah, Nak. Acara belum dimulai."
"Apa acaranya, Bu?"
"Ini rahasia, Nak. Nanti kau tahu."
"Rahasia lagi, Bu? Ayah juga suka rahasia."
"Karena ini istimewa, Nak."
"Kalau istimewa, aku tidak sabar!"
Riyan berlari lari kecil di halaman. Ia bertemu dengan Joni yang datang bersama orang tuanya.
"Joni! Kau datang!"
"Iya, Yan. Ayah dan Ibu diundang."
"Kita main dulu, yuk! Acaranya belum mulai."
"Ayo, Yan!"
Mereka bermain kejar kejaran di halaman. Tawa mereka terdengar riang.
Pukul sembilan pagi, tamu mulai berdatangan. Mereka datang berbondong bondong dengan pakaian terbaiknya. Ada yang naik mobil, ada yang naik motor, ada yang naik becak, dan ada yang berjalan kaki. Halaman rumah Mak Tonah yang luas itu mulai penuh dengan manusia.
"Selamat pagi, Bu Tonah!" sapa Pak Lurah dengan kemeja batik cokelat.
"Selamat pagi, Pak Lurah. Silakan masuk."
"Acaranya mulai jam berapa, Bu?"
"Jam sepuluh, Pak. Silakan duduk dulu."
"Baik, Bu."
Pak Darma juga datang dengan istri dan anak anaknya. "Bu Tonah, ini sedikit oleh oleh."
"Wah, Pak Darma, jangan repot repot."
"Ini buah tangan, Bu. Anggap saja sebagai tanda syukur."
"Terima kasih, Pak Darma. Silakan duduk di dalam."
"Baik, Bu."
Haji Bahar datang dengan Kadir dan Salma. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat. Tapi matanya masih tajam dan senyumnya masih hangat.
"Bu Tonah, kami datang."
"Silakan, Pak Haji. Silakan duduk di kursi utama."
"Terima kasih, Bu."
Kadir dan Salma masuk ke dalam rumah. Mereka langsung mencari Riyadi.
"Riyad, selamat ya," ucap Kadir sambil menyalami Riyadi.
"Terima kasih, Kadir. Kau sudah datang."
"Tentu. Ini hari istimewa."
"Aku senang kau bisa hadir."
"Kita saudara, Riyad. Saudara harus hadir di hari bahagia."
Pukul sepuluh pagi, acara dimulai. Pak Darma diminta menjadi pembawa acara. Ia naik ke panggung kecil yang sudah disiapkan di halaman.
"Assalamu'alaikum, warga desa. Terima kasih sudah datang."
"Wa'alaikumsalam!" jawab warga serempak.
"Warga desa, hari ini kita berkumpul di sini untuk merayakan sesuatu yang sangat istimewa. Apakah itu?"
Warga berbisik bisik. Tidak ada yang tahu.
"Hari ini, kita akan merayakan pernikahan ulang Riyadi dan Aryanti! Mereka ingin mengulang janji pernikahan mereka. Karena lima tahun lalu, lamaran Riyadi tertunda."
Warga bersorak. Mereka bertepuk tangan.
"Takbir!" teriak Pak Darma.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" seru warga.
Riyadi dan Aryanti naik ke panggung. Mereka duduk di kursi pelaminan yang sederhana. Hanya dihiasi dengan bunga melati dan mawar merah. Sederhana, tapi elegan.
"Riyadi, kau siap mengulang janji pernikahanmu?"
"Siap, Pak Darma."
"Aryanti, kau siap?"
"Siap, Pak Darma."
"Baik, mari kita mulai."
Pak Darma membacakan akad nikah. Suaranya lantang, menggelegar di seluruh halaman. Warga mendengarkan dengan khidmat.
"Assalamu'alaikum, Saudara Riyadi. Apakah Saudara bersedia menikahi Saudari Aryanti binti Saripah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sepuluh gram?"
"Saya terima nikahnya Aryanti binti Saripah dengan mas kawin tersebut," jawab Riyadi dengan suara tegas.
"Sah!" seru Pak Darma.
Warga bersorak. Takbir kembali bergema.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Riyadi dan Aryanti saling menatap. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Yan, sekarang kau resmi menjadi istriku. Untuk kedua kalinya."
"Aku senang, Riyad. Ini seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi, Yan. Ini nyata."
Mereka berpelukan di atas panggung. Warga bertepuk tangan riuh.
Riyan yang duduk di pangkuan Mak Tonah bertanya, "Nenek, kenapa Ayah dan Ibu menikah lagi? Bukankah mereka sudah menikah?"
"Ini hanya simbol, Nak. Mereka ingin mengulang janji."
"Kenapa harus diulang? Kan sudah pernah."
"Karena cinta mereka sangat besar, Nak. Mereka ingin merayakannya lagi."
"Aku juga ingin merayakan cinta, Nek. Sama seperti Ayah dan Ibu."
"Nanti kalau kau sudah besar, Nak. Sekarang fokus belajar dulu."
"Baik, Nek. Aku akan belajar rajin."
Setelah akad nikah, mereka mengadakan doa bersama. Seorang ustadz dari desa tetangga memimpin doa. Warga menadahkan tangan, memohon pada Allah.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Pengasih. Engkau yang Maha Penyayang. Engkau yang telah mempertemukan Riyadi dan Aryanti dalam cinta Mu. Janganlah Engkau pisahkan mereka. Jadikanlah mereka pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin," ucap warga.
"Ya Allah, berilah mereka kesehatan. Berilah mereka umur yang panjang. Berilah mereka rezeki yang berlimpah. Berilah mereka keturunan yang saleh dan salehah."
"Aamiin."
"Ya Allah, lindungilah mereka dari segala mara bahaya. Jauhkan mereka dari fitnah, dari penyakit, dari kemiskinan, dari kesesatan."
"Aamiin ya rabbal'alamin."
Riyadi dan Aryanti menangis. Mereka sangat bersyukur.
"Riyad, aku tidak pernah membayangkan hari seindah ini."
"Aku juga, Yan. Ini lebih indah dari mimpiku."
"Kita akan bersama selamanya, Riyad."
"Selamanya, Yan. Sampai mati."
Setelah doa, mereka makan bersama. Meja panjang dipenuhi berbagai macam masakan. Ada rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue.
"Nak Riyadi, ini rendang buatan ibu," kata Mak Tonah sambil menyodorkan piring berisi rendang.
"Terima kasih, Mak. Ibu memang hebat masak rendang."
"Ibu hanya bisa masak rendang. Lainnya tidak begitu enak."
"Semua masakan Ibu enak, Mak."
"Kamu ini, pasti karena baru menikah lagi jadi semua terasa enak."
Bukan karena itu, Mak. Memang enak."
Mak Tonah tertawa. "Sudahlah, makan. Jangan banyak bicara."
Riyan yang duduk di samping Aryanti sibuk menyantap ayam goreng. "Ibu, ayamnya enak."
"Syukurlah, Nak. Makan yang banyak."
"Aku sudah kenyang, Bu."
"Baru sebentar makan, sudah kenyang?"
"Iya, Bu. Aku ingin main sama Joni."
"Baik, Nak. Tapi jangan kotor kotor."
"Iya, Bu. Aku janji."
Riyan berlari ke halaman. Joni sudah menunggu.
"Joni, ayo kita main petak umpet!"
"Ayo, Yan!"
Mereka bermain dengan riang. Tawa mereka terdengar di sela sela keramaian.
Kadir dan Salma memberi hadiah untuk Riyadi dan Aryanti. Hadiah itu berupa satu set meja kursi tamu dari kayu jati buatan bengkel Kadir.
"Riyad, ini hadiah dari kami. Semoga suka."
"Wah, Kadir, ini terlalu mahal. Kau tidak perlu repot repot."
"Kau telah banyak membantuku, Riyad. Ini balasanku yang kecil."
"Kadir, kau baik. Terima kasih."
"Jangan berterima kasih, Riyad. Kita saudara."
Mereka berpelukan. Salma dan Aryanti juga berpelukan.
"Salma, terima kasih sudah datang."
"Yan, aku tidak akan melewatkan hari istimewamu."
"Kau sahabat sejati, Salma."
"Kau juga, Yan."
Mereka berdua menangis. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Riyadi dan Aryanti duduk di beranda. Bulan purnama bersinar terang. Bintang bintang bertaburan di langit yang gelap. Angin malam berhembus sejuk.
"Yan, hari ini adalah hari terindah dalam hidupku."
"Aku juga, Riyad. Lebih indah dari hari pernikahan kita dulu."
"Kenapa kau tidak bilang dari awal? Aku jadi tidak siap."
"Kan kejutan, Yan. Kalau aku bilang dari awal, tidak seru."
"Kau ini, suka bikin kejutan."
"Agar cinta kita tidak bosan, Yan."
Mereka berdua tertawa. Riyadi memeluk Aryanti.
"Yan, aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu, Riyad."
"Aku cinta kamu."
"Aku juga cinta kamu."
"Jangan pernah pergi."
"Aku tidak akan pergi. Kecuali kau yang mengusirku."
"Aku tidak akan pernah mengusirmu."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkelingkitan di bawah cahaya bulan. Dua hati yang sudah melewati berbagai badai, kini berlabuh dengan tenang.
"Riyad, apa kita akan bahagia selamanya?"
"Insya Allah, Yan. Selamanya."
"Aamiin, Riyad."
Riyan yang keluar dari kamar mengantuk langsung memeluk kedua orang tuanya.
"Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
"Selamat malam, Ayah. Selamat malam, Ibu."
"Selamat malam, Nak. Mimpi indah."
Riyan masuk ke kamar. Riyadi dan Aryanti masih duduk di beranda.
"Yan, aku ingin cerita sesuatu."
"Cerita apa, Riyad?"
"Dulu, sebelum aku kenal kau, aku adalah anak yang pendiam, pemurung, dan tidak percaya diri. Ayah meninggal ketika aku masih kecil. Ibu bekerja keras membiayai hidupku. Aku sering diejek teman teman karena miskin."
"Tapi sekarang kau sukses, Riyad."
"Karena kau, Yan. Karena cintamu. Karena dukunganmu."
"Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu, Riyad."
"Kau lebih dari yang terbaik, Yan. Kau adalah segalanya bagiku."
Mereka berpelukan lagi. Malam semakin larut. Bulan semakin terang. Bintang semakin bertaburan.
"Riyad, aku harus tidur. Aku mengantuk."
"Baik, Yan. Ayo kita tidur."
Mereka masuk ke rumah. Malam itu, mereka tidur dengan nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada gangguan. Hanya kedamaian yang menyelimuti.
BAB XXIX
PUCUK DICINTA, ULAM TIBA
Pagi itu, seluruh Desa Sriwidadi terasa berbeda. Udara pagi terasa lebih segar dari biasanya. Langit biru cerah tanpa setitik awan pun. Matahari bersinar hangat, tidak terlalu terik, seperti tersenyum lembut pada dunia. Burung burung tekukur berkicau lebih merdu dari biasanya, seolah ikut menyanyikan lagu kebahagiaan. Ayam ayam jantan berkokok bersahutan, tidak mau kalah riang dengan burung burung.
Di rumah Mak Tonah, suasana sudah sibuk sejak pukul lima pagi. Mak Tonah dan Saripah sibuk memasak di dapur. Wangi rendang, gulai kambing, dan ayam bumbu kuning sudah tercium dari kejauhan. Asap mengepul dari tungku kayu, membuat dapur terasa hangat dan penuh cinta. Ibu ibu desa lainnya datang membantu. Ada yang mengupas bawang, ada yang memotong cabai, ada yang mencuci beras, ada yang menyiapkan hidangan di piring piring besar.
"Bu Tonah, ini rendangnya sudah saya cicipi. Enak sekali," puji Bu Darsih, salah satu tetangga yang terkenal dengan masakannya yang lezat.
"Terima kasih, Bu Darsih. Resep turun temurun dari nenek saya."
"Wah, resep nenek memang paling enak, Bu."
"Iya, Bu. Nenek saya dulu juru masak di istana kerajaan."
"Benarkah, Bu? Hebat sekali."
"Ya, Bu. Tapi itu dulu. Sekarang saya hanya ibu rumah tangga biasa."
Di ruang tamu, Riyadi dan Aryanti sudah berdandan sejak subuh. Riyadi mengenakan pakaian pengantin laki laki khas Kalimantan—baju takwa berwarna putih dengan songket emas di bahu, celana panjang hitam, dan kopiah hitam di kepala. Wajahnya berseri seri, matanya berbinar binar, bibirnya tersenyum lebar. Aryanti mengenakan kebaya putih dengan hiasan bunga melati di rambutnya yang disanggul rapi. Wajahnya cantik alami, tidak perlu polesan tebal. Ada glow yang memancar dari wajahnya—kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikan.
"Yan, kau cantik sekali hari ini," puji Riyadi sambil menatap istrinya dengan penuh cinta.
"Kau juga ganteng, Riyad. Aku tidak percaya kau suamiku."
"Kita sudah menikah dua kali, Yan. Ini yang kedua."
"Tapi rasanya seperti pertama. Deg degan, gemeteran, tidak percaya diri."
"Aku juga, Yan. Aku bahkan lebih gugup dari pertama."
"Kenapa, Riyad?"
"Karena aku takut tidak bisa membuatmu bahagia."
"Kau sudah membuatku bahagia, Riyad. Setiap hari. Setiap saat."
Mereka berpelukan. Saripah yang masuk ke ruang tamu ikut tersenyum.
"Sudah, jangan cengeng. Acara akan segera dimulai. Tamu sudah berdatangan."
"Baik, Ibu."
Pukul delapan pagi, tamu mulai berdatangan. Mereka datang berbondong bondong dengan pakaian terbaiknya. Ada yang naik mobil, ada yang naik motor, ada yang naik becak, dan ada yang berjalan kaki. Halaman rumah Mak Tonah yang luas itu mulai penuh dengan manusia. Anak anak kecil berlarian di antara orang dewasa, tertawa dan bercanda dengan riang.
"Selamat pagi, Bu Tonah!" sapa Pak Lurah dengan kemeja batik cokelat motif parang.
"Selamat pagi, Pak Lurah. Silakan masuk."
"Acaranya mulai jam berapa, Bu?"
"Jam sepuluh, Pak. Silakan duduk dulu. Banyak kursi di dalam."
"Baik, Bu. Terima kasih."
Pak Darma datang dengan istri dan anak anaknya. Ia membawa sepiring kue bingka buatan istrinya yang terkenal legit dan lembut.
"Bu Tonah, ini sedikit oleh oleh. Kue bingka buatan istri saya."
"Wah, Pak Darma, jangan repot repot. Ibu Anda suka kue bingka."
"Ini buah tangan, Bu. Anggap saja sebagai tanda syukur."
"Terima kasih, Pak Darma. Silakan duduk di dalam. Istri Bapak di mana?"
"Istri saya sedang menyiapkan kue kue lain di rumah. Nanti menyusul."
"Baik, Pak. Terima kasih sudah datang."
Haji Bahar datang dengan Kadir, Salma, dan bayi mereka yang sudah berusia satu tahun. Wajah Haji Bahar tua dan keriput, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat. Tapi matanya masih tajam dan senyumnya masih hangat. Badannya kurus, tapi masih tegap.
"Bu Tonah, kami datang. Maaf agak terlambat. Bayinya rewel."
"Tidak apa apa, Pak Haji. Silakan masuk. Silakan duduk di kursi utama."
"Terima kasih, Bu. Ibu sehat?"
"Sehat, Pak Haji. Alhamdulillah. Bapak sendiri bagaimana kesehatannya?"
"Alhamdulillah, sehat. Meskipun sudah tua, masih bisa jalan sendiri."
"Syukurlah, Pak Haji. Semoga panjang umur."
"Aamiin, Bu Tonah."
Kadir dan Salma langsung mencari Riyadi. Mereka berpelukan.
"Riyad, selamat. Semoga bahagia selalu."
"Terima kasih, Kadir. Kau sudah datang."
"Tentu. Ini hari istimewa. Tidak boleh dilewatkan."
"Aku senang kau bisa hadir, Kadir."
"Kita saudara, Riyad. Saudara harus hadir di hari bahagia."
Badrun dan Ningsih datang dengan mobil pick up perusahaan. Mereka membawa kue kue dan minuman ringan untuk para tamu. Badrun mengenakan kemeja batik lengan panjang warna hijau tua, Ningsih mengenakan kebaya warna kuning lembut dengan hiasan bordir di bagian dada.
"Ri, kami datang!" teriak Badrun dari kejauhan sambil melambaikan tangan.
"Run, akhirnya kau datang! Aku kira kau tidak jadi datang."
"Jangan bicara begitu, Ri. Ini hari pernikahanmu. Aku harus datang."
"Tapi kantor, Run. Siapa yang jaga?"
"Kadir yang jaga. Ia sudah siap."
"Kadir? Ia kan juga di sini."
"Istri Kadir yang jaga. Salma sudah belajar mengelola administrasi."
"Wah, hebat. Salma hebat."
Ningsih mendekati Aryanti. "Yan, kau cantik sekali hari ini."
"Terima kasih, Ning. Kau juga cantik."
"Aku sudah tua, Yan. Tidak cantik lagi."
"Kau tetap cantik, Ning. Di mataku, di mata Badrun, di mata semua orang."
Mereka berdua menangis. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
"Yan, aku bersyukur punya sahabat sepertimu."
"Aku juga, Ning. Tanpa kalian, aku tidak akan seperti sekarang."
"Kita semua berjuang bersama, Yan."
"Iya, Ning. Kita semua."
Riyan yang sudah berusia lima tahun itu ditunjuk menjadi pembawa bantal. Ia memakai baju koko putih dan kopiah hitam. Wajahnya imut, pipinya tembem, matanya besar. Ia tampak lucu dan menggemaskan. Joni—anak Pak RT—ditunjuk menjadi pembawa payung. Ia memakai baju koko putih juga. Mereka berdua tampak akrab seperti saudara.
"Joni, aku gugup," bisik Riyan sambil memegang bantal yang di atasnya diletakkan cincin kawin.
"Jangan gugup, Yan. Aku juga gugup. Tapi kita harus berani."
"Kenapa kita harus berani?"
"Karena kita anak laki laki. Anak laki laki harus berani."
"Kau benar, Joni. Aku harus berani."
"Kita berani bersama, Yan."
Mereka berdua berpegangan tangan. Tangan mereka kecil dan hangat.
"Nanti kita jalan pelan pelan, ya, Yan. Jangan terburu buru."
"Baik, Joni. Aku ikut langkahmu."
"Jangan jatuh, Yan. Nanti bantalnya jatuh."
"Aku tidak akan jatuh, Joni. Aku sudah latihan semalam."
"Bagus, Yan. Aku percaya padamu."
Mereka berdua tersenyum. Semangat anak anak itu membuat semua orang tersenyum.
Pukul sepuluh pagi, prosesi akad nikah dimulai. Pak Darma menjadi pembawa acara. Ia naik ke panggung kecil yang sudah dihias dengan bunga melati dan mawar merah. Panggung itu sederhana, hanya papan kayu yang dilapisi kain putih bersih. Tampilannya elegan, tidak berlebihan.
"Assalamu'alaikum, warga desa. Terima kasih sudah datang."
"Wa'alaikumsalam!" jawab warga serempak.
"Warga desa, hari ini kita akan menyaksikan akad nikah Riyadi dan Aryanti. Mereka sudah menikah lima tahun lalu. Tapi hari ini mereka ingin mengulang janji pernikahan mereka."
Warga berbisik bisik. Mereka terharu.
"Mengapa mereka ingin mengulang? Karena cinta mereka tidak pernah pudar. Karena perjuangan mereka tidak pernah sia sia. Karena mereka ingin mencontohkan pada anak cucu bahwa cinta sejati itu ada."
Beberapa ibu ibu menangis. Mereka terharu dengan cerita cinta Riyadi dan Aryanti.
"Baik, mari kita mulai. Saya persilakan keluarga mempelai untuk duduk di kursi yang telah disediakan."
Riyadi duduk di kursi mempelai pria. Aryanti duduk di kursi mempelai wanita. Mereka berhadapan, hanya berjarak tiga meter.
Riyan berjalan pelan pelan menuju ke arah panggung. Joni berjalan di sampingnya sambil memegang payung. Langkah mereka kecil kecil, hati hati, tidak mau terburu buru. Sesekali Riyan menoleh ke belakang untuk memastikan Joni masih di sampingnya. Joni tersenyum dan mengangguk, memberi semangat.
Sampai di depan panggung, Riyan menyerahkan bantal pada Pak Darma. Pak Darma mengambil cincin dan menyerahkannya pada Riyadi.
Riyan dan Joni duduk di pangkuan Mak Tonah. Mak Tonah tersenyum bangga.
"Nenek, aku sudah melaksanakan tugas," bisik Riyan.
"Iya, Nak. Nenek bangga padamu."
Pak Darma membacakan akad nikah. Suaranya lantang, menggelegar di seluruh halaman. Warga mendengarkan dengan khidmat, tidak ada yang berbisik, tidak ada yang bergerak. Hanya suara jangkrik dan burung yang terdengar di sela sela suara Pak Darma.
"Assalamu'alaikum, Saudara Riyadi. Apakah Saudara bersedia menikahi Saudari Aryanti binti Saripah dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas sepuluh gram yang dibayar tunai?"
Riyadi menjawab dengan suara tegas, tidak ragu, tidak gemetar. "Saya terima nikahnya Aryanti binti Saripah dengan mas kawin tersebut, tunai."
"Sah!" seru Pak Darma.
Warga bersorak. Takbir bergema di seluruh desa.
"Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!"
Riyadi dan Aryanti saling menatap. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Yan, sekarang kau resmi menjadi istriku. Untuk kedua kalinya. Tapi rasanya seperti baru pertama."
"Aku senang, Riyad. Ini seperti mimpi. Aku takut bangun."
"Ini bukan mimpi, Yan. Ini nyata. Pegang tanganku. Rasakan hangatnya."
Aryanti memegang tangan Riyadi. Tangannya hangat, kuat, penuh keyakinan.
"Ini nyata, Riyad. Aku percaya."
Mereka berpelukan di atas panggung. Warga bertepuk tangan riuh. Beberapa warga menangis haru. Anak anak kecil ikut bertepuk tangan meskipun tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah akad nikah, Haji Bahar diminta untuk memberikan petuah. Pria tua dengan jenggot putih panjang itu berdiri di depan semua tamu. Wajahnya tua dan keriput, tubuhnya kurus dan bungkuk, tapi matanya masih tajam dan suaranya masih lantang. Sorot matanya penuh kearifan, seolah ia telah melihat terlalu banyak kehidupan.
"Nak Riyadi, Nak Aryanti, dengarkan pesan orang tua."
"Baik, Pak Haji."
"Pernikahan adalah ibadah. Jangan sekali kali menganggapnya sebagai main main. Jaga amanah ini dengan sebaik baiknya."
Riyadi dan Aryanti mengangguk. Wajah mereka serius, penuh perhatian.
"Jangan biarkan cinta kalian pudar karena masalah sepele. Jangan biarkan egosai kalian menghancurkan rumah tangga. Jangan biarkan harta membuat kalian lupa pada Allah."
"Aamiin," ucap Riyadi.
"Suami, sayangilah istrimu. Sabarilah kekurangannya. Bimbinglah ia ke jalan yang benar."
"Baik, Pak Haji."
"Istri, taatilah suamimu selama tidak maksiat. Bantulah ia dalam kebaikan. Jaga nama baiknya di depan umum."
"Baik, Pak Haji."
"Jangan lupa, kunci kebahagiaan rumah tangga adalah komunikasi, saling pengertian, dan saling memaafkan. Jangan biarkan masalah semalam terbawa hingga pagi. Selesaikan sebelum tidur."
"Baik, Pak Haji."
"Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian. Memberikan kalian keturunan yang saleh dan salehah. Memasukkan kalian ke dalam surga Nya."
"Aamiin ya rabbal'alamin," ucap semua tamu bersamaan.
Setelah petuah, mereka mengadakan doa bersama. Ustadz dari desa tetangga yang sama memimpin doa. Warga menadahkan tangan, memohon pada Allah.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Pengasih. Engkau yang Maha Penyayang. Engkau yang telah mempertemukan Riyadi dan Aryanti dalam cinta Mu. Janganlah Engkau pisahkan mereka. Jadikanlah mereka pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin," ucap warga.
"Ya Allah, berilah mereka kesehatan. Berilah mereka umur yang panjang. Berilah mereka rezeki yang berlimpah. Berilah mereka keturunan yang saleh dan salehah."
"Aamiin."
"Ya Allah, lindungilah mereka dari segala mara bahaya. Jauhkan mereka dari fitnah, dari penyakit, dari kemiskinan, dari kesesatan."
"Aamiin ya rabbal'alamin."
Setelah doa, mereka makan bersama. Meja panjang yang ditutupi taplak putih bersih itu dipenuhi berbagai macam masakan. Ada rendang, gulai kambing, ayam bumbu kuning, sambal goreng hati, perkedel, krupuk, dan aneka kue. Minumannya es teh manis dan es jeruk peras asli.
"Nak Riyadi, ini rendang buatan ibu. Ibu masak semalaman," kata Mak Tonah sambil menyodorkan piring berisi rendang.
"Terima kasih, Mak. Ibu memang hebat masak rendang."
"Ibu hanya bisa masak rendang, Nak. Lainnya tidak begitu enak."
"Semua masakan Ibu enak, Mak."
"Kamu ini, pasti karena baru menikah jadi semua terasa enak."
"Bukan karena itu, Mak. Memang enak."
Mak Tonah tertawa. "Sudahlah, makan. Jangan banyak bicara."
Riyan yang duduk di samping Aryanti sibuk menyantap ayam goreng. "Ibu, ayamnya enak."
"Syukurlah, Nak. Makan yang banyak. Biar cepat besar."
"Aku sudah kenyang, Bu. Aku ingin main sama Joni."
"Sebentar lagi, Nak. Acara belum selesai."
"Tapi aku bosan, Bu."
"Sebentar lagi ada hiburan. Ada wayang kulit. Kamu suka, kan?"
"Aku suka, Bu. Tapi aku tidak paham ceritanya."
"Nanti Ayah jelaskan."
"Baik, Bu. Aku tunggu."
Malam harinya, acara dilanjutkan dengan wayang kulit semalam suntuk. Dalang terkenal dari Kuala Kapuas diundang khusus untuk memeriahkan acara. Perempuan itu bernama Dalang Siti—salah satu dalang wanita langka di Kalimantan. Setiap gerakannya indah, setiap suaranya merdu, setiap lawakannya lucu.
"Para hadirin, malam ini saya akan membawakan cerita wayang Ramayana. Cerita tentang cinta sejati Rama dan Sinta. Tentang perjuangan melawan raksasa. Tentang kesetiaan dan pengorbanan."
Warga bersorak. Mereka sangat antusias.
"Cerita ini mirip dengan kisah Riyadi dan Aryanti. Keduanya berjuang untuk cinta. Keduanya melewati berbagai rintangan. Keduanya akhirnya bersatu."
Aryanti menangis. Riyadi memeluknya.
"Riyad, itu cerita kita."
"Iya, Yan. Tapi kita belum sampai di akhir."
"Apa akhir cerita kita, Riyad?"
"Kita akan bahagia selamanya, Yan."
Dalang Siti memainkan wayang dengan lihai. Gamelan mengalun merdu. Suaranya yang khas membuat semua orang terpukau.
Wayang kulit berlangsung hingga pukul tiga dini hari. Warga tidak ada yang pulang. Mereka terpesona dengan cerita dan permainan dalang.
Setelah wayang selesai, Dalang Siti memberikan pesan pada Riyadi dan Aryanti. "Nak Riyadi, Nak Aryanti, ingatlah bahwa cinta sejati adalah cinta yang tidak mudah menyerah. Cinta sejati adalah cinta yang tetap bertahan meski dihantam badai. Cinta sejati adalah cinta yang tidak pernah padam meski diuji api."
"Terima kasih, Dalang. Pesan Bapak akan kami ingat seumur hidup."
"Semoga kalian bahagia selalu."
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Riyadi dan Aryanti duduk di beranda. Bulan purnama bersinar sangat terang, lebih terang dari biasanya. Bintang bintang bertaburan di langit yang gelap, seolah ikut merayakan kebahagiaan mereka. Angin malam berhembus sejuk, lembut, penuh cinta. Sesekali terdengar suara jangkrik yang ikut bernyanyi, seolah mengirimkan doa untuk mereka berdua.
"Yan, kau tahu arti 'pucuk dicinta, ulam tiba'?"
"Aku tahu, Riyad. Itu peribahasa. Artinya sesuatu yang sangat diinginkan akhirnya datang juga."
"Iya, Yan. Kau adalah pucuk dicintaku. Yang selama bertahun tahun aku dambakan. Yang aku perjuangkan mati matian. Yang aku doakan setiap malam."
"Dan sekarang aku tiba, Riyad. Sebagai ulam yang kau tunggu."
"Bukan sekarang, Yan. Sejak dulu. Sejak kau duduk di sampingku di dermaga itu. Sejak kau tertawa mendengar dongengku. Sejak kau memanggil namaku dengan manja."
"Riyad, aku bersyukur bertemu denganmu. Kau mengajarkanku arti cinta sejati. Kau mengajarkanku arti perjuangan. Kau mengajarkanku arti kesabaran."
"Kita sama sama belajar, Yan. Tentang cinta, tentang kehidupan, tentang pengorbanan."
Mereka berdua berpelukan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
"Riyad, apa kita akan bahagia selamanya?"
"Insya Allah, Yan. Selamanya."
"Aamiin, Riyad."
Riyan yang keluar dari kamar mengantuk langsung memeluk kedua orang tuanya. Matanya masih sayu, rambutnya acak acakan, pipinya merah karena terimpit bantal.
"Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
"Selamat malam, Ayah. Selamat malam, Ibu."
"Selamat malam, Nak. Mimpi indah."
Riyan masuk ke kamar. Riyadi dan Aryanti masih duduk di beranda.
"Yan, aku ingin cerita sesuatu."
"Cerita apa, Riyad?"
"Cerita tentang akhir yang bahagia. Di mana nelayan tidak kehilangan perahunya. Di mana ikan mas raksasa tidak melompat lompat. Di mana semua tetangga makan bersama dengan gembira."
"Kau bisa mengubah akhir dongeng, Riyad?"
"Kita bisa mengubah akhir cerita kita, Yan. Karena kita adalah penulis cerita kita sendiri."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang paling tulus. Senyum yang lahir dari cinta sejati yang tidak pernah padam.
Di luar, bulan bersinar terang. Bintang bintang bertaburan. Angin malam berhembus lembut. Alam semesta seolah ikut merayakan kebahagiaan mereka.
Desa Sriwidadi yang tenang itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta yang panjang. Cinta yang dimulai dari dermaga kayu reyot, ketika mereka masih kecil dan belum tahu apa apa tentang cinta. Cinta yang melewati fitnah, tekanan keluarga, perjuangan di perantauan, sakit yang hampir membunuh, dan akhirnya... akhirnya... sampai pada pelaminan.
Pucuk dicinta, ulam tiba.
BAB XXX
SENJA YANG MENJADI SAKSI
Senja itu berbeda dari senja senja sebelumnya di Desa Sriwidadi. Langit tidak berwarna jingga seperti biasanya, warnanya merah keemasan, seperti lukisan Tuhan yang paling indah yang pernah diciptakan. Awan awan tipis bergerak lambat, seolah malas meninggalkan pemandangan yang begitu memukau. Burung burung tekukur yang biasanya pulang ke sarangnya sebelum maghrib, sore itu masih beterbangan, seolah tidak ingin melewatkan keindahan senja yang langka. Air sungai Kapuas beriak tenang, memantulkan warna merah keemasan dari langit, seperti cermin raksasa yang menangkap keindahan alam semesta.
Riyadi dan Aryanti duduk di dermaga tua yang sudah direnovasi. Dermaga itu kini kokoh dengan kayu ulin baru, pagar pengaman di kedua sisi, dan bangku panjang untuk duduk duduk. Di ujung dermaga, sebuah gapura kecil bertuliskan "Dermaga Cinta Riyadi & Aryanti" masih terpajang dengan megah.
Riyan yang sudah berusia lima tahun itu duduk di antara mereka berdua. Kaki mungilnya menggantung di atas permukaan air, sesekali ia mengayun ayunkannya pelan. Wajahnya bulat dan imut, matanya besar dan tajam seperti milik Riyadi, tapi senyumnya manis seperti Aryanti.
"Ayah, mengapa langit berwarna merah keemasan?" tanya Riyan dengan rasa ingin tahu yang besar.
"Karena Allah sedang melukis, Nak. Setiap sore, Allah melukis langit dengan warna warna yang indah. Tidak ada yang sama. Setiap hari berbeda."
"Mengapa berbeda, Ayah?"
"Sebagai tanda kekuasaan Nya, Nak. Agar manusia tidak bosan. Agar manusia selalu bersyukur."
"Aku bersyukur, Ayah. Aku punya Ayah dan Ibu yang hebat."
Riyadi dan Aryanti tersenyum. Mereka mencium kening Riyan bersamaan.
"Yan, kau ingat dulu? Waktu kita masih kecil, kita duduk di sini. Kayu kayunya lapuk. Papan papannya reyot. Banyak bolong. Kita hampir jatuh beberapa kali," kata Riyadi sambil memegang tangan Aryanti. Tangannya hangat, kuat, penuh keyakinan. Matanya menerawang ke kejauhan, seolah melihat kembali masa lalu yang penuh kenangan.
"Aku ingat, Riyad. Aku hampir jatuh waktu itu. Kau memegang tanganku. Kau bilang, 'Hati hati, Yan. Nanti kau jatuh ke sungai. Nanti kau dimakan buaya.'"
"Aku hanya bercanda, Yan. Tidak ada buaya di sungai ini."
"Aku tahu, Riyad. Tapi aku tetap takut. Peganganmu membuatku tenang."
"Yan, kau tahu? Setelah kejadian itu, aku bermimpi. Mimpi tentang kau. Tentang kita. Tentang masa depan."
"Mimpi apa, Riyad?"
"Aku bermimpi bahwa suatu hari nanti kita akan duduk di sini lagi. Sebagai suami istri. Dengan anak kita. Menikmati senja."
"Dan sekarang mimpi itu menjadi nyata, Riyad."
"Iya, Yan. Mimpi itu menjadi nyata."
Riyan yang mendengar percakapan orang tuanya bertanya, "Ayah, Ibu, kalian sudah saling kenal sejak kecil?"
"Iya, Nak. Ayah dan Ibu sudah kenal sejak kecil. Sejak Ayah berusia empat tahun, Ibu tiga tahun."
"Wah, lama sekali, Ayah. Kok bisa?"
"Karena Allah sudah menjodohkan kami sejak lama, Nak. Kami hanya tidak menyadarinya."
"Aku juga dijodohkan sama siapa, Ayah?"
"Nanti kalau kau sudah besar, Nak. Sekarang fokus belajar dulu."
"Baik, Ayah. Aku akan belajar rajin."
Tidak lama kemudian, keluarga dan sahabat datang berbondong bondong ke dermaga. Mak Tonah datang dengan pakaian sederhana—kebaya lusuh warna biru tua yang sudah ia simpan sejak pernikahannya dulu. Saripah datang dengan kebaya putih yang sedikit kusut di bagian lengan. Haji Bahar datang dengan kursi goyangnya yang tua. Kadir dan Salma datang dengan bayi mereka yang lucu. Badrun dan Ningsih datang dengan senyum lebar.
"Nak, kami datang untuk menikmati senja bersama kalian," kata Mak Tonah sambil duduk di bangku panjang.
"Silakan, Mak. Duduk yang nyaman."
"Kau tahu, Nak? Dulu ayahmu juga sering duduk di sini. Sendirian. Merenung. Memandang sungai."
"Ayah merenung apa, Mak?"
"Ayahmu merenungkan masa depan. Ia ingin menjadi orang sukses. Ia ingin membahagiakan keluargamu. Tapi ia meninggal terlalu cepat."
"Mak, apakah Ayah kecewa padaku?"
"Tidak, Nak. Ayahmu bangga padamu. Ia melihat semua perjuanganmu dari surga. Ia pasti tersenyum sekarang."
Mak Tonah menangis. Riyadi memeluk ibunya.
"Mak, jangan menangis. Sekarang kita bahagia."
"Iya, Nak. Ibu bahagia. Ibu sangat bahagia."
Saripah juga ikut bercerita. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, badannya bungkuk. Tapi matanya masih jernih dan suaranya masih lantang.
"Yan, kau tahu? Dulu ibu tidak merestui hubunganmu dengan Riyadi."
"Aku tahu, Ibu. Ibu lebih memilih Kadir."
"Ibu salah, Yan. Ibu materialistis. Ibu mengagungkan harta. Ibu lupa bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari uang."
"Tapi sekarang Ibu sudah berubah, Ma."
"Iya, Yan. Ibu berubah karena kalian. Karena cinta kalian. Karena perjuangan kalian. Ibu belajar bahwa cinta sejati itu nyata."
"Terima kasih, Ibu. Ibu sudah merestui kami."
"Ibu minta maaf, Yan. Maafkan ibu."
"Sudah, Ma. Aku sudah memaafkan Ibu sejak lama."
Mereka berpelukan. Air mata kebahagiaan mengalir di pipi mereka.
Haji Bahar duduk di kursi goyangnya. Wajahnya tua dan keriput, rambutnya putih semua, jenggotnya panjang dan lebat. Badannya kurus dan bungkuk, tapi matanya masih tajam dan suaranya masih lantang.
"Nak Riyadi, Nak Aryanti, dengarkan pesan orang tua."
"Baik, Pak Haji."
"Jagalah cinta kalian. Jangan biarkan api cinta itu padam. Rawatlah setiap hari. Sirami dengan kasih sayang. Beri pupuk dengan pengertian."
"Baik, Pak Haji."
"Jangan biarkan masalah sepele menghancurkan rumah tangga. Duduklah bersama, bicaralah dari hati ke hati. Jangan saling menyalahkan."
"Baik, Pak Haji."
"Dan yang terpenting, jangan pernah lupa pada Allah. Dialah yang mempertemukan kalian. Dialah yang meridhoi cinta kalian. Dialah yang akan menjaga rumah tangga kalian."
"Aamiin, Pak Haji."
"Semoga kalian bahagia selalu. Sampai anak cucu kalian."
"Aamiin."
Badrun dan Ningsih duduk di bangku yang tidak jauh dari Riyadi dan Aryanti. Mereka berdua juga bernostalgia tentang masa lalu.
"Run, kau ingat dulu? Waktu kita masih kecil, kita sering bermain di sini. Kejar kejaran, petak umpet, lompat lompat di atas papan dermaga."
"Aku ingat, Ning. Aku hampir jatuh waktu itu. Kau memegangiku. Kau bilang, 'Hati hati, Run. Nanti kau masuk got.'"
"Kau berat, Run. Aku hampir tidak kuat."
"Tapi kau tetap memegangiku, Ning. Kau tidak melepaskanku."
"Karena aku sayang padamu, Run. Waktu itu aku belum sadar. Tapi sekarang aku sadar."
"Ning, terima kasih sudah menjadi isteriku."
"Jangan berterima kasih, Run. Kita suami istri. Kita harus saling mendukung."
Mereka berdua berpelukan. Ningsih menangis. Badrun mengusap air matanya.
"Ning, jangan menangis. Lihat, senjanya indah."
"Iya, Run. Senjanya indah. Seperti cinta kita."
Kadir dan Salma juga ikut bernostalgia. Kadir duduk di pangkuan Salma. Bayi mereka yang lucu tertidur pulas di pangkuan Salma.
"Salma, kau tahu? Dulu aku hampir menikah dengan Aryanti."
"Aku tahu, Kadir. Tapi gagal."
"Karena Aryanti lebih memilih Riyadi. Aku kecewa waktu itu. Sangat kecewa. Aku hampir gila."
"Tapi sekarang kau bersyukur, Kadir."
"Aku bersyukur, Salma. Karena Allah memberi ganti yang lebih baik. Yaitu kau."
"Kau gombal, Kadir."
"Ini bukan gombal, Salma. Ini jujur. Aku mencintaimu. Bukan karena wajahmu. Bukan karena hartamu. Tapi karena hatimu."
"Aku juga cinta kamu, Kadir."
Mereka berdua berpelukan. Bayi mereka terbangun dan ikut menangis.
"Lihat, Kadir. Anakmu protes."
"Dia kaget melihat orang tuanya bermesraan."
Mereka tertawa. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Riyan yang duduk di pangkuan Aryanti tiba tiba bertanya. Wajahnya polos, matanya jujur.
"Ibu, apa itu cinta?"
Aryanti tersenyum. "Cinta itu... perasaan yang membuatmu nyaman ketika bersama seseorang. Perasaan yang membuatmu rindu ketika jauh. Perasaan yang membuatmu rela berkorban."
"Seperti Ayah dan Ibu?"
"Iya, Nak. Seperti Ayah dan Ibu. Ayah dan Ibu saling mencintai sejak kecil. Tidak ada yang bisa memisahkan."
"Apa aku juga akan merasakan cinta, Bu?"
"Suatu hari nanti, Nak. Ketika kau sudah dewasa."
"Aku tidak sabar, Bu."
"Sabarlah, Nak. Cinta tidak bisa dipaksakan."
"Baik, Bu. Aku sabar."
Riyadi ikut tersenyum. "Nak, Ayah doakan kau mendapat cinta sejati seperti Ayah dan Ibu. Yang tulus. Yang setia. Yang tidak pernah pudar."
"Aamiin, Ayah."
Menjelang maghrib, mereka semua mengadakan doa bersama di dermaga. Pak Darma memimpin doa. Warga menadahkan tangan, memohon pada Allah di waktu senja yang mustajab. Angin berhembus lembut, seolah ikut mengantarkan doa doa mereka ke langit. Burung burung tekukur ikut diam, seolah ikut berdoa.
"Ya Allah, Engkau yang Maha Pengasih. Engkau yang Maha Penyayang. Engkau yang telah mempertemukan kami di dermaga ini. Janganlah Engkau pisahkan kami. Jadikanlah kami keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah."
"Aamiin," ucap semua hadirin.
"Ya Allah, berilah kami kesehatan. Berilah kami umur yang panjang. Berilah kami rezeki yang berlimpah. Berilah kami keturunan yang saleh dan salehah."
"Aamiin."
"Ya Allah, lindungilah desa kami. Lindungilah keluarga kami. Lindungilah harta kami. Lindungilah agama kami."
"Aamiin ya rabbal'alamin."
Riyadi dan Aryanti menangis. Mereka sangat bersyukur.
"Riyad, aku tidak pernah membayangkan senja seindah ini."
"Aku juga, Yan. Ini lebih indah dari mimpiku."
"Kita akan bersama selamanya, Riyad."
"Selamanya, Yan. Sampai mati."
Senja mulai berganti maghrib. Langit berubah warna dari merah keemasan menjadi ungu tua, lalu perlahan lahan menjadi gelap. Bulan sabit mulai muncul di ufuk timur, tipis, nyaris tidak terlihat. Bintang bintang mulai bermunculan satu per satu, seperti berlian berlian kecil yang tersebar di atas beludru hitam.
"Riyad, senja ini menjadi saksi cinta kita."
"Iya, Yan. Senja ini, dermaga ini, sungai ini, desa ini. Semua menjadi saksi."
"Kita akan ceritakan pada anak cucu kita. Tentang perjuangan kita. Tentang cinta kita."
"Kita akan ceritakan, Yan. Bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa cinta sejati tidak pernah mati. Bahwa cinta sejati selalu menemukan jalannya."
Mereka berdua berpelukan. Riyan memeluk mereka dari samping.
"Ayah, Ibu, aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
"Keluarga kita bahagia, Ayah."
"Iya, Nak. Keluarga kita bahagia."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Di kejauhan, suara azan maghrib mulai terdengar dari masjid desa. Suara merdu itu berkumandang di seluruh penjuru, mengajak semua orang untuk segera meninggalkan urusan dunia dan menghadap kepada Sang Pencipta.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar."
"Ashhadu alla ilaha illallah. Ashhadu alla ilaha illallah."
"Ashhadu anna muhammadar rasulullah. Ashhadu anna muhammadar rasulullah."
"Hayya'alassalah. Hayya'alassalah."
"Hayya'alalfalah. Hayya'alalfalah."
"Allahu Akbar, Allahu Akbar."
"La ilaha illallah."
Riyadi, Aryanti, dan semua yang hadir di dermaga itu segera bergegas menuju masjid desa untuk menunaikan sholat maghrib berjamaah. Mereka berjalan dengan langkah cepat, tapi tidak tergesa gesa. Hati mereka tenang, damai, penuh syukur.
"Mari kita ke masjid, Yan."
"Ayo, Riyad."
Mereka berjalan bergandengan tangan. Riyan berjalan di samping mereka. Keluarga dan sahabat mengikuti dari belakang.
Malam itu, setelah sholat isya, mereka berkumpul kembali di rumah Mak Tonah. Makan malam bersama. Tawa dan canda terdengar di mana mana.
Riyadi dan Aryanti duduk di beranda. Bulan purnama bersinar terang. Bintang bintang bertaburan.
"Riyad, akhir dari cerita kita."
"Belum, Yan. Cerita kita masih panjang. Masih banyak yang harus kita tulis."
"Apa yang akan kita tulis, Riyad?"
"Kita akan menulis tentang kebahagiaan. Tentang ketenangan. Tentang cinta yang tidak pernah pudar."
"Kita akan menulis bersama, Riyad."
"Kita akan menulis bersama, Yan. Sampai akhir hayat."
Mereka berdua tersenyum. Senyum yang paling tulus. Senyum yang lahir dari cinta sejati yang tidak pernah padam.
Desa Sriwidadi yang tenang itu menjadi saksi bisu perjalanan cinta yang panjang. Cinta yang dimulai dari dermaga kayu reyot, ketika mereka masih kecil dan belum tahu apa apa tentang cinta. Cinta yang melewati fitnah, tekanan keluarga, perjuangan di perantauan, sakit yang hampir membunuh, dan akhirnya... akhirnya... sampai pada kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.
Pucuk dicinta, ulam tiba.
EPILOG – BULAN BERJALAN
Dua tahun telah berlalu sejak senja terakhir di dermaga itu. Waktu berjalan begitu cepat, seperti air sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir. Desa Sriwidadi kini telah berubah menjadi desa yang maju dan modern. Jalan jalan desa yang dulu masih tanah dan berlubang, kini sudah diaspal hitam mulus. Jembatan bambu yang dulu melengkung dan reyot, kini sudah diganti dengan jembatan beton yang kokoh. Rumah rumah warga yang dulu kebanyakan berdinding papan, kini banyak yang sudah berubah menjadi tembok bata bercat cerah. Bahkan beberapa rumah sudah memiliki dua lantai.
Riyadi dan Aryanti kini tinggal di rumah baru yang mereka bangun di tepi sungai, tidak jauh dari dermaga tua. Rumah itu tidak besar, tidak mewah, tapi sederhana, kokoh, dan nyaman. Dinding bata merah dicat putih bersih, atap genteng beton warna merah hati, lantai keramik dingin mengkilap, dan halaman yang cukup luas untuk Riyan bermain. Di halaman depan, Aryanti menanam berbagai macam bunga—mawar, melati, kamboja, dan anggrek. Wangi semerbak tercium setiap pagi.
"Yan, aku bangun dulu. Ada yang ingin aku lakukan," kata Riyadi suatu pagi sambil beranjak dari tempat tidur. Langit masih gelap, fajar belum sepenuhnya menyingsing.
"Masih pagi, Riyad. Jam baru setengah lima."
"Aku tidak bisa tidur lagi, Yan. Terlalu banyak pikiran."
"Pikiran apa lagi, Riyad? Bisnis sudah lancar. Keluarga sehat. Anak pintar. Apa lagi yang kau pikirkan?"
"Aku ingin membuat kejutan untukmu, Yan."
"Kejutan apa lagi? Jangan jangan kau mau melamarku lagi untuk ketiga kalinya?"
Riyadi tertawa. "Bukan, Yan. Kejutan yang berbeda."
"Aku penasaran, Riyad. Ceritakan."
"Nanti, Yan. Nanti kau tahu."
Riyadi keluar kamar. Ia mandi, berganti pakaian, lalu pergi ke dermaga tua. Langit timur mulai memerah.
Di dermaga tua, Riyadi sudah menyiapkan sebuah kotak kayu kecil yang dihiasi dengan ukiran dan pita merah. Di dalam kotak itu, terdapat sebuah buku tebal bersampul kulit cokelat. Buku itu berisi kumpulan puisi yang pernah ia tulis untuk Aryanti—dari puisi pertama saat ia berusia lima belas tahun, hingga puisi terakhir yang ia tulis semalam.
"Yan, ini untukmu. Sebagai hadiah ulang tahun pernikahan kita yang kedua."
Aryanti yang baru datang dari rumah terkejut. "Riyad, ini... ini buku puisi? Untukku?"
"Iya, Yan. Aku mengumpulkan semua puisi yang pernah aku tulis untukmu. Dari yang pertama hingga yang terakhir. Ada yang sudah usang, ada yang masih baru. Ada yang jelek, ada yang lumayan bagus. Semuanya asli. Tidak ada yang palsu."
Aryanti menangis. "Riyad, kau... kau menyimpannya semua?"
"Iya, Yan. Aku menyimpannya di dalam kotak kayu ulin pemberian ayahku. Kotak itu dulu isinya puisi puisi ayah untuk ibuku. Sekarang aku ganti dengan puisi puisi aku untukmu."
"Riyad, aku tidak tahu harus berkata apa. Ini... ini sangat berharga bagiku."
"Kau tidak perlu berkata apa apa, Yan. Cukup kau terima dengan senang hati."
Mereka berdua berpelukan di dermaga. Langit timur semakin terang. Matahari mulai muncul di ufuk timur.
"Riyad, boleh aku membaca salah satu puisi sekarang?"
"Boleh, Yan. Silakan."
Aryanti membuka buku itu. Ia memilih puisi pertama yang ditulis Riyadi saat berusia lima belas tahun.
"Mata itu, oh mata itu, seperti dua bintang jatuh yang tidak pernah sampai ke tanah. Ia bersinar di malam yang paling gelap, membasuh lelahku, menghapus piluku."
"Mata itu melihatku tanpa menghakimi. Ia menerima kekuranganku dengan diam. Ia memahami ketakutanku tanpa bertanya. Ia menyayangiku tanpa syarat."
"Aku ingin terus tenggelam dalam dua samudra itu. Biarkan aku mati lemas jika harus. Karena setidaknya aku mati dalam keindahan yang tidak akan pernah aku temukan di tempat lain."
Aryanti menangis. "Riyad, kau menulis ini saat kau berusia lima belas tahun?"
"Iya, Yan. Saat itu aku baru sadar bahwa aku mencintaimu. Bukan sebagai teman, tapi sebagai sesuatu yang lebih."
"Kau terlalu dewasa untuk anak seusiamu, Riyad."
"Aku dipaksa dewasa oleh keadaan, Yan. Ayah meninggal. Iku bekerja keras. Aku harus membantu."
"Tapi kau tetap bisa menulis puisi indah."
"Karena inspirasimu, Yan. Kau adalah inspirasiku. Sumber segala keindahan dalam hidupku."
Riyan yang kini berusia tujuh tahun, mulai masuk sekolah dasar. Ia bersekolah di SD Negeri Sriwidadi—sekolah yang sama tempat Riyadi dan Aryanti dulu belajar membaca dan menulis. Gedung sekolah sudah direnovasi total oleh Riyadi. Dindingnya dicat putih bersih, atapnya genteng baru, lantainya keramik mengkilap, dan halamannya ditanami rumput hijau dan pohon pohon rindang.
"Ayah, Ibu, aku siap berangkat sekolah!" teriak Riyan dengan seragam putih merah yang baru. Tasnya merah, sepatunya hitam, topinya pas di kepala.
"Kamu jangan nakal, Nak. Dengarkan guru. Hormati teman. Jangan lupa belajar."
"Baik, Ibu. Aku akan jadi anak pintar."
"Jangan lupa bawa bekal, Nak. Ibu sudah siapkan nasi goreng dan telur dadar."
"Terima kasih, Ibu. Aku suka nasi goreng buatan Ibu."
Riyadi mengantar Riyan ke sekolah dengan mobil. Sepanjang perjalanan, Riyan asyik melihat pemandangan.
"Ayah, dulu Ayah sekolah di sini?"
"Iya, Nak. Dulu Ayah sekolah di sini. Gedungnya masih jelek. Atapnya bocor. Lantainya tanah. Belajarnya pakai lampu minyak."
"Wah, susah sekali, Ayah."
"Iya, Nak. Tapi Ayah tetap semangat. Karena Ayah ingin jadi orang sukses."
"Aku juga ingin jadi orang sukses, Ayah. Seperti Ayah."
"Kamu bisa, Nak. Asalkan rajin belajar dan rajin berdoa."
Sampai di sekolah, Riyan turun dari mobil. Ia melambaikan tangan pada Riyadi.
"Selamat belajar, Nak."
"Selamat bekerja, Ayah."
Riyadi tersenyum. Ia sangat bangga pada anaknya.
Aryanti tidak ingin hanya diam di rumah. Ia ingin berbagi ilmu dengan anak anak desa. Ia membuka taman bacaan di halaman rumahnya. Koleksi bukunya ratusan, mulai dari buku cerita anak, buku pengetahuan umum, buku agama, hingga buku buku novel.
"Nak, ayo membaca di sini. Gratis. Tidak dipungut biaya," kata Aryanti pada anak anak desa yang lewat.
"Ibu, apa benar gratis? Tidak bayar?" tanya seorang anak polos.
"Benar, Nak. Gratis. Ibu senang kalian mau membaca."
"Terima kasih, Ibu. Aku pinjam buku cerita, ya."
"Silakan, Nak. Jangan lupa dikembalikan."
"Baik, Ibu."
Anak anak desa sangat antusias dengan taman bacaan Aryanti. Setiap sore, mereka berkerumun di halaman rumah Aryanti. Ada yang membaca di kursi, ada yang duduk di tikar, ada yang bersandar di pohon.
"Salma, kau bisa bantu aku mengelola taman bacaan ini?" pinta Aryanti pada Salma yang sedang duduk duduk.
"Aku siap membantu, Yan. Aku juga suka membaca."
"Bagus. Kita bagi tugas. Kau yang mengatur jadwal. Aku yang mengelola buku."
"Baik, Yan. Aku senang bisa membantu."
Taman bacaan Aryanti kini menjadi salah satu kebanggaan Desa Sriwidadi. Warga desa dari berbagai usia datang untuk membaca. Bahkan ada yang datang dari desa tetangga.
Badrun dan Ningsih kini dikaruniai seorang anak laki laki yang diberi nama Badrun Jr. Wajahnya bulat seperti Badrun, tapi matanya sipit seperti Ningsih. Ia lucu dan menggemaskan.
"Run, anakmu mirip kau," kata Riyadi sambil menggendong bayi itu.
"Iya, Ri. Aku heran. Kenapa tidak mirip Ning?"
"Gennya kuat, Run. Kau harus bersyukur."
"Aku bersyukur, Ri. Aku sangat bersyukur."
Ningsih yang duduk di samping Badrun tersenyum. "Run, jangan lupa ganti popok. Bayimu pipis."
"Iya, Ning. Aku ganti."
Badrun mengganti popok bayinya dengan cekatan. Ia sudah terbiasa karena sering membantu Ningsih.
"Run, kau hebat. Bisa ganti popok," puji Riyadi.
"Aku belajar, Ri. Tidak sulit kok."
"Dulu waktu Riyan bayi, aku tidak berani mengganti popok. Aryanti yang melakukannya."
"Kau harus belajar, Ri. Siapa tahu nanti punya anak lagi."
"Insya Allah, Run. Aku doakan."
Mereka berdua tertawa.
Kadir dan Salma kini memiliki toko mebel sendiri di pinggir jalan raya Kuala Kapuas. Toko itu bernama "Mebel Kadir Jaya". Menjual berbagai macam perabot rumah tangga: meja, kursi, lemari, tempat tidur, bufet, dan lain lain.
"Salma, hari ini ada pelanggan dari Banjarmasin. Ia pesan seratus kursi untuk kafe," kata Kadir dengan wajah berseri seri.
"Wah, banyak sekali, Kadir. Kita harus lembur."
"Aku sudah siapkan tim. Joni dan Andi akan membantu."
"Bagus, Kadir. Aku akan bantu menyiapkan makan malam untuk tim."
"Terima kasih, Salma. Kau manajer terbaik yang pernah aku punya."
"Jangan gombal, Kadir. Cepat kerjakan pesanan."
Mereka berdua tertawa. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.
Mak Tonah dan Saripah kini semakin tua. Wajah mereka keriput, rambut mereka putih semua, badan mereka bungkuk. Tapi mereka masih sehat dan masih bisa beraktivitas.
"Mak, Ibu, jangan bekerja terlalu keras. Istirahatlah," pinta Riyadi.
"Ibu tidak bekerja keras, Nak. Ibu hanya menyapu halaman. Itu olahraga."
"Ibu juga, Yan. Ibu hanya memasak. Itu hiburan."
"Tapi Mak, Ibu, umur sudah tidak muda. Harus istirahat."
"Sudahlah, Nak. Biarkan kami menikmati sisa hidup dengan cara kami."
Riyadi menghela napas. Ia tidak bisa melarang.
"Baik, Mak. Baik, Ibu. Tapi jangan memaksakan diri."
"Baik, Nak. Ibu janji."
Mak Tonah dan Saripah sering duduk di beranda sambil bercerita tentang masa lalu. Mereka tertawa, mereka menangis, mereka bernostalgia.
"Bu Tonah, kau ingat dulu? Waktu anak anak kita masih kecil, mereka sering bermain di dermaga."
"Aku ingat, Bu Saripah. Riyadi sering menangis karena Aryanti menggoda."
"Bukan menggoda, Bu Tonah. Aryanti hanya bercanda."
"Bercanda, tapi Riyadi nangis."
Mereka berdua tertawa. Persahabatan mereka semakin erat di hari tua.
Pada suatu pagi, Haji Bahar menghembuskan napas terakhirnya di usia tujuh puluh delapan tahun. Ia meninggal dengan tenang, tanpa sakit, tanpa penderitaan. Kadir dan Salma ada di sampingnya.
"Ayah... Ayah..." tangis Kadir.
"Sudahlah, Kadir. Ayahmu sudah tenang. Ia pergi dengan damai," hibur Salma.
Jenazah Haji Bahar dimakamkan di pemakaman umum Desa Sriwidadi. Riyadi dan Aryanti ikut mengantarkan.
"Pak Haji, selamat jalan. Semoga Allah menerima semua amal ibadah Bapak," doa Riyadi.
"Aamiin," ucap semua hadirin.
Kadir menangis di pusara ayahnya. Salma memeluknya erat.
"Kadir, kau harus kuat. Ayahmu pasti tidak ingin melihatmu bersedih."
"Salma, aku kehilangan ayah. Satu satunya orang yang selalu mendukungku."
"Kau masih punya aku, Kadir. Dan anak kita. Dan keluarga kita."
"Terima kasih, Salma. Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku."
Mereka berpelukan di pusara Haji Bahar.
Riyan tumbuh menjadi anak yang pintar dan berprestasi. Ia selalu menjadi juara kelas. Ia juga aktif di berbagai kegiatan ekstrakurikuler: pramuka, sepak bola, dan seni lukis.
"Ayah, Ibu, aku juara satu lagi!" teriak Riyan sambil menunjukkan rapor.
"Wah, hebat, Nak. Ayah bangga."
"Ibu juga bangga, Nak. Terus pertahankan prestasimu."
"Aku akan belajar lebih giat, Ayah, Ibu."
"Jangan lupa ibadah, Nak. Sholat tepat waktu. Mengaji setiap hari."
"Baik, Ibu. Aku tidak akan lupa."
Riyan kemudian membaca Al Quran di depan orang tuanya. Suaranya merdu, tajwidnya bagus, makhrajnya tepat.
"Wah, Nak. Suaramu bagus. Kamu bisa jadi qari," puji Riyadi.
"Aku ingin jadi hafiz, Ayah. Menghafal Al Quran 30 juz."
"Itu cita cita mulia, Nak. Ayah dukung."
"Ibu juga dukung, Nak. Ibu akan mendampingimu."
"Terima kasih, Ayah, Ibu. Aku sayang kalian."
"Kami juga sayang kamu, Nak."
Senja itu, Riyadi dan Aryanti duduk lagi di dermaga. Langit berwarna merah keemasan, seperti lukisan Tuhan yang paling indah. Awan awan tipis bergerak lambat, seolah malas meninggalkan pemandangan yang memukau. Air sungai Kapuas beriak tenang, memantulkan warna keemasan dari langit.
"Yan, dua puluh tahun sudah kita bersama."
"Lama sekali, Riyad. Rasanya baru kemarin kita duduk di sini, masih kecil, tidak tahu apa apa tentang cinta."
"Tapi sekarang kita tahu, Yan. Cinta itu perjuangan. Cinta itu pengorbanan. Cinta itu kesabaran."
"Kita sudah melewati semuanya, Riyad. Fitnah, sakit, kemiskinan, tekanan."
"Dan kita masih di sini, Yan. Bersama. Tidak terpisahkan."
"Karena cinta kita sejati, Riyad. Cinta yang tidak pernah mati."
"Kita akan bersama selamanya, Yan."
"Selamanya, Riyad. Sampai mati."
Mereka berpelukan. Riyan yang sudah beranjak remaja duduk di samping mereka.
"Ayah, Ibu, aku juga ingin merasakan cinta seperti kalian."
"Kamu akan merasakannya, Nak. Suatu hari nanti. Ketika kau sudah dewasa. Ketika kau sudah siap."
"Aku tidak sabar, Ayah."
"Sabarlah, Nak. Cinta tidak bisa dipaksakan. Ia datang pada waktu yang tepat."
"Seperti Ayah dan Ibu?"
"Iya, Nak. Seperti Ayah dan Ibu."
Matahari mulai tenggelam. Langit berubah warna dari merah keemasan menjadi ungu tua. Bulan sabit mulai muncul di ufuk timur. Bintang bintang mulai bermunculan satu per satu.
"Riyad, apa kita akan bahagia selamanya?"
"Insya Allah, Yan. Selamanya."
"Aamiin, Riyad."
Di kejauhan, suara azan maghrib mulai terdengar dari masjid desa. Suara merdu itu berkumandang di seluruh penjuru, mengajak semua orang untuk segera meninggalkan urusan dunia dan menghadap kepada Sang Pencipta.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar. Allahu Akbar, Allahu Akbar."
"Ashhadu alla ilaha illallah. Ashhadu alla ilaha illallah."
"Ashhadu anna muhammadar rasulullah. Ashhadu anna muhammadar rasulullah."
"Hayya'alassalah. Hayya'alassalah."
"Hayya'alalfalah. Hayya'alalfalah."
"Allahu Akbar, Allahu Akbar."
"La ilaha illallah."
Riyadi, Aryanti, dan Riyan bergegas menuju masjid desa. Mereka berjalan bergandengan tangan. Hati mereka tenang, damai, penuh syukur.
Dermaga tua yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka, kini ditinggalkan sendirian. Tapi esok senja, mereka akan kembali lagi. Dan lagi. Dan lagi. Sampai waktu yang tidak ditentukan.
Pucuk dicinta, ulam tiba.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...