Tetralogi Roman Epik Surat Dari Masa Lalu Buku Pertama: Senja Di Desa Tegorejo, Cinta Pertama Bersemi
TETRALOGI ROMAN EPIK
SURAT DARI MASA LALU
BUKU PERTAMA
SENJA DI DESA TEGOREJO, CINTA PERTAMA BERSEMI
"Tentang Sepeda Ontel, Karate, dan Cinta Pertama di Ujung Senja Tegorejo"
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, peristiwa, dan dialog dalam cerita ini sebagian merupakan hasil imajinasi penulis dan sebagian terinspirasi dari dinamika kehidupan masyarakat desa, dunia pendidikan, persahabatan, percintaan, perjuangan hidup, serta kenyataan sosial yang berkembang di tengah masyarakat.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, maupun kejadian dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak ada unsur kesengajaan.
Novel ini mengandung unsur drama kehidupan, percintaan, pengkhianatan, humor, konflik sosial, perjuangan pendidikan, serta nilai-nilai persahabatan dan kemanusiaan yang disampaikan secara naratif dan emosional.
Oleh: Slamet Riyadi
PROLOG
GERHANA DI LANGIT TEGOREJO
Langit Desa Tegorejo malam itu tampak berbeda.
Angin bertiup lebih dingin dari biasanya.
Pepohonan bambu di belakang rumah-rumah warga bergesekan pelan menimbulkan suara gemerisik panjang seperti bisikan makhluk malam.
Di langit, bulan perlahan berubah warna.
Merah gelap.
Pekat.
Menyeramkan.
Gerhana bulan total menyelimuti Desa Tegorejo, Kecamatan Pegandon, Kabupaten Kendal.
Malam itu, hampir seluruh warga desa memilih menutup pintu rumah lebih awal.
Sebagian orang tua melarang anak-anak keluar rumah karena percaya gerhana membawa pertanda buruk.
Namun di sebuah rumah kayu sederhana di ujung desa…
suara jeritan seorang perempuan justru memecah kesunyian malam.
“Aduh… Ya Allah… sakit…!” teriak Bu Rosmiyati sambil menggenggam erat kain sarungnya.
“Kuat, Lastri… kuat…” suara seorang perempuan tua mencoba menenangkan.
Perempuan tua itu adalah Bu Paijem.
Dukun bayi paling terkenal di Tegorejo.
Keriput di wajahnya tampak jelas diterpa cahaya lampu minyak yang bergoyang tertiup angin malam.
Di luar rumah…
lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Beberapa warga mulai saling berbisik dari balik jendela rumah mereka.
“Gerhana kok bareng suara anjing melolong terus ya…”
“Jangan-jangan bakal ada kejadian besar…”
“Katanya kalau bayi lahir pas gerhana itu tandanya nggak biasa…”
Di dalam rumah, suasana semakin tegang.
Bu Rosmiyati menjerit keras.
“Kyaaaaahhh…!”
“Sedikit lagi, Ros! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Petir tiba-tiba menggelegar keras.
DUARRR!!!
Padahal…
tidak ada hujan sama sekali.
Lampu minyak di ruangan bergoyang hebat.
Angin mendadak masuk dari celah-celah dinding papan rumah.
Lalu…
bayi itu lahir.
Tangisnya langsung memecah ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Namun sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya bulan merah dari luar rumah tiba-tiba menyorot tepat ke wajah bayi perempuan itu.
Bu Paijem membeku.
Matanya membelalak.
Tangannya gemetar.
“Ya Gusti…”
Bu Rosmiyati yang kelelahan mencoba membuka mata.
“Bu… anak saya… kenapa, Bu…?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia menatap wajah bayi itu lama sekali.
Tatapan yang sulit dijelaskan.
Seolah melihat sesuatu yang tidak mampu dipahami manusia biasa.
Lalu perlahan ia berbisik pelan…
“Anak ini… jalan hidupnya bakal panjang…”
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Suasana rumah semakin mencekam.
“Apa maksudnya, Bu…?” tanya ayah bayi itu, Pak Salam , dengan wajah pucat.
Bu Paijem menarik napas panjang.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya tidak akan mudah…”
“Cintanya penuh luka…”
“Hatine bakal kerep disakiti…”
“Banyak lelaki datang dan pergi…”
“Tapi dia akan tetap berdiri…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara bayi kecil itu yang terdengar menangis pelan.
“Namanya siapa, Pak?” tanya Bu Paijem.
Pak Salam menatap istrinya.
Bu Rosmiyati tersenyum lemah sambil menahan air mata.
“Yanti…”
“Namanya Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
Namun sorot matanya masih menyimpan kecemasan.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia merasa bayi itu kelak akan menjalani kehidupan yang tidak biasa.
Kehidupan yang penuh cinta…
namun juga penuh kehilangan.
Tahun-tahun pun berlalu.
Yanti tumbuh menjadi gadis desa yang cantik, cerdas, dan penuh mimpi.
Tak ada yang menyangka…
bayi kecil yang lahir di malam gerhana itu kelak akan menjadi perempuan yang dicintai banyak lelaki.
Namun…
tak satu pun cinta itu datang dengan mudah.
Ada Mas Nur…
cinta pertama yang tak pernah benar-benar hilang.
Ada Raihan…
lelaki tenang yang datang membawa harapan.
Ada Ratno…
mahasiswa ambisius yang penuh strategi.
Dan ada Bang Toyib…
lelaki humoris yang akhirnya membuat Yanti percaya kembali pada cinta.
Namun takdir…
kadang terlalu kejam untuk ditebak manusia.
Karena hidup Yanti bukan hanya tentang cinta.
Melainkan tentang perjuangan panjang seorang anak desa…
yang berusaha melawan kemiskinan…
mengejar cita-cita menjadi guru…
menghadapi pengkhianatan…
menelan kehilangan…
hingga akhirnya menemukan arti sejati dari penantian di ujung senja.
Dan semua itu…
berawal dari malam gerhana di langit Tegorejo.
BAB I
GERHANA DI MALAM KELAHIRAN
Malam itu Desa Tegorejo seperti sedang memendam rahasia besar.
Langit gelap menggantung rendah di atas hamparan sawah yang membentang luas di pinggiran desa. Angin berhembus pelan melewati rumpun bambu dan pepohonan jati tua, menciptakan suara berdesir panjang yang terdengar menyeramkan di telinga warga.
Gerhana bulan total sedang berlangsung.
Bulan yang biasanya bercahaya terang kini berubah menjadi merah gelap seperti bara api yang menggantung di langit malam.
Sebagian warga desa memilih menutup pintu rumah rapat-rapat.
Beberapa orang tua bahkan melarang anak-anak mereka keluar rumah.
Konon katanya…
anak yang lahir saat gerhana akan memiliki nasib yang tidak biasa.
Di sebuah rumah kayu sederhana di ujung Desa Tegorejo, suasana tampak jauh lebih tegang dibanding rumah-rumah lain.
Lampu minyak kecil menggantung di ruang tengah, cahayanya redup bergoyang tertiup angin dari sela-sela dinding papan yang sudah mulai lapuk dimakan usia.
Di atas dipan kayu sederhana…
Bu Rosmiyati menggigit bibir menahan rasa sakit luar biasa.
“Kyaaaahhh…!”
Keringat membasahi dahinya.
Rambutnya yang panjang tampak berantakan menempel di pipi.
“Pak… Salam …” lirihnya sambil meremas kain sarung.
Pak Salam yang berdiri di samping pintu tampak panik. Lelaki sederhana berusia tiga puluhan itu mondar-mandir sambil menggigit kuku.
“Gimana ini, Bu Paijem…?” tanyanya gugup.
Bu Paijem yang duduk di dekat Bu Rosmiyati tetap terlihat tenang.
Perempuan tua itu sudah puluhan tahun menjadi dukun bayi di Desa Tegorejo. Hampir semua anak di desa lahir lewat tangannya.
Namun malam itu…
entah kenapa hatinya terasa tidak tenang.
“Tenang, Pak Salam … iki proses biasa…” ucapnya sambil mengusap perut Bu Rosmiyati perlahan.
Namun sebelum kalimatnya selesai…
DUARRR!!!
Suara petir menggelegar sangat keras.
Padahal…
langit sama sekali tidak hujan.
Pak Salam refleks menoleh keluar rumah.
“Lho… petir?”
Angin mendadak bertiup lebih kencang.
Daun-daun pisang di samping rumah bergoyang liar.
Lalu…
suara lolongan anjing terdengar bersahut-sahutan dari arah ujung desa.
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Auuuuuuuu…
Bu Rosmiyati merinding.
“Pak… aku takut…” lirihnya.
Bu Paijem mencoba tetap fokus membantu persalinan.
“Tahan, Lastri… sedikit lagi…”
Namun sorot mata perempuan tua itu mulai berubah.
Ada kegelisahan yang sulit ia jelaskan.
Sementara di luar rumah…
beberapa tetangga mulai berkumpul di bawah teras sambil berbisik pelan.
“Petir tanpa hujan…”
“Gerhana pula…”
“Anjing melolong terus…”
“Jangan-jangan pertanda aneh…”
Seorang nenek tua berbisik pelan.
“Biasanya kalau ada bayi lahir pas malam kayak gini… hidupnya nggak biasa…”
Di dalam rumah…
Bu Rosmiyati kembali menjerit keras.
“Aaaakkkhhh…!”
“Tahan! Sedikit lagi!” seru Bu Paijem.
Lampu minyak mendadak berkedip.
Angin masuk semakin kuat dari sela-sela dinding rumah.
Lalu…
tangisan bayi pecah memenuhi ruangan.
“Uwaaa… uwaaa… uwaaa…”
Semua mendadak diam.
Pak Salam membelalak lega.
“Alhamdulillah…”
Namun…
sesuatu yang aneh terjadi.
Cahaya merah dari gerhana bulan tiba-tiba masuk melalui jendela bambu yang sedikit terbuka.
Cahaya itu tepat mengenai wajah bayi perempuan kecil tersebut.
Kulit bayi itu terlihat bercahaya lembut.
Bu Paijem membeku.
Tangannya berhenti bergerak.
Matanya menatap bayi itu lama sekali.
“Ya Allah…” bisiknya lirih.
“Kenapa, Bu?” tanya Pak Salam panik.
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru memandangi langit dari celah jendela.
Petir kembali menggelegar.
DUARRR!!!
Lalu…
seekor burung gagak tiba-tiba melintas di atas rumah sambil mengeluarkan suara parau.
Kraaakkk…
Kraaakkk…
Bulu kuduk Pak Salam mulai berdiri.
“Bu… jangan bikin saya takut…”
Bu Paijem menarik napas panjang.
Perlahan ia menggendong bayi kecil itu.
Bayi itu berhenti menangis.
Aneh sekali.
Matanya justru terbuka lebar menatap wajah Bu Paijem seolah mengerti sesuatu.
Padahal bayi baru lahir biasanya masih sulit membuka mata.
“Anak ini…” gumam Bu Paijem.
“Kenapa, Bu?” tanya Bu Rosmiyati lemah.
Bu Paijem duduk perlahan.
Wajahnya serius.
“Dia bakal jadi perempuan kuat…”
“Tapi hidupnya penuh cobaan…”
Pak Salam langsung menelan ludah.
“Maksudnya apa?”
Bu Paijem menatap bayi itu lagi.
“Banyak lelaki bakal datang dalam hidupnya…”
“Tapi hatinya bakal sering terluka…”
“Dia akan kehilangan orang-orang yang dicintainya…”
Bu Rosmiyati mulai menangis pelan.
“Jangan ngomong gitu, Bu…”
“Tapi anak ini juga bakal membawa kebanggaan…”
“Dia akan sekolah tinggi…”
“Jadi orang terhormat…”
“Dan jadi cahaya bagi banyak orang…”
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara angin malam terdengar dari luar rumah.
Pak Salam duduk perlahan di kursi bambu.
Wajahnya campur aduk antara bahagia dan takut.
“Namanya siapa?” tanya Bu Paijem.
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Yanti…”
Bu Paijem mengangguk pelan.
“Nama yang bagus…”
“Semoga hidupnya benar-benar kuat…”
Malam semakin larut.
Gerhana mulai menghilang perlahan.
Namun kabar tentang kelahiran bayi aneh di rumah Pak Salam sudah menyebar ke seluruh Desa Tegorejo.
Warga mulai ramai membicarakannya.
“Katanya waktu lahir ada cahaya merah…”
“Katanya Bu Paijem sampai gemetar…”
“Pasti anak itu punya garis hidup aneh…”
Tak ada yang tahu…
bahwa bayi kecil bernama Yanti itu kelak akan menjalani kehidupan yang begitu panjang.
Penuh cinta.
Penuh air mata.
Penuh pengkhianatan.
Dan penuh penantian.
Sementara di luar rumah…
angin malam masih berhembus pelan.
Seolah langit Tegorejo sedang menyimpan rahasia besar tentang masa depan seorang bayi perempuan…
yang suatu hari nanti akan dipertemukan dengan cinta sejatinya…
tepat di ujung senja.
BAB II
RAMALAN BU PAIJEM
Pagi pertama setelah kelahiran Yanti terasa berbeda di Desa Tegorejo.
Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah ketika ayam-ayam mulai berkokok bersahutan dari belakang rumah warga. Udara desa terasa dingin, lembap, dan tenang.
Namun ketenangan itu tidak benar-benar hadir di rumah Pak Salam .
Sejak subuh tadi…
beberapa tetangga mulai berdatangan.
Ada yang membawa gula merah.
Ada yang membawa beras satu baskom kecil.
Ada pula yang hanya datang karena penasaran.
Kabar tentang bayi yang lahir saat gerhana semalam menyebar begitu cepat.
“Assalamualaikum…”
“Waalaikumsalam… monggo masuk…”
Suara sandal warga terdengar silih berganti di teras rumah kayu sederhana itu.
Di ruang tengah, Bu Rosmiyati masih berbaring lemah sambil menggendong bayi kecilnya.
Yanti tampak tertidur pulas dibalut kain batik lusuh pemberian Bu Paijem.
Sementara itu…
Bu Paijem masih duduk di kursi bambu dekat jendela.
Wajahnya terlihat lebih diam dari biasanya.
Tatapannya sesekali mengarah ke bayi kecil itu.
Seolah ada sesuatu yang terus dipikirkannya sejak tadi malam.
“Bu Paijem…” panggil Pak Salam pelan.
“Eh?”
“Sampeyan kok dari tadi melamun terus…”
Bu Paijem tersenyum tipis.
“Ndak apa-apa…”
“Tapi sampeyan semalam ngomong aneh…”
Bu Paijem terdiam.
Pak Salam duduk perlahan di sebelahnya.
“Jujur saya jadi kepikiran…”
“Anak saya sebenarnya kenapa, Bu?”
Suasana mendadak sunyi.
Dari luar terdengar suara ibu-ibu sedang bercakap pelan.
“Bayine ayu banget katanya…”
“Iya… tapi lahire kok pas gerhana…”
“Katanya ada cahaya merah masuk rumah…”
“Merinding aku…”
Bu Paijem menghela napas panjang.
“Pak Salam …”
“Iya, Bu?”
“Saya sudah puluhan tahun nolong persalinan…”
“Baru kali ini saya lihat kejadian seperti semalam…”
Pak Salam mulai tegang.
“Maksudnya?”
Bu Paijem menatap ke arah Yanti.
“Biasanya bayi lahir ya biasa saja…”
“Tapi anakmu lahir bareng tanda-tanda alam yang aneh…”
“Petir tanpa hujan…”
“Anjing melolong…”
“Gerhana bulan…”
“Dan cahaya itu…”
Pak Salam menelan ludah.
“Memangnya itu pertanda buruk?”
Bu Paijem tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil segelas teh hangat di meja kayu kecil lalu menyeruputnya perlahan.
“Tidak selalu buruk…”
“Tapi biasanya…”
“Anak yang lahir dengan tanda begitu hidupnya tidak biasa…”
Pak Salam makin serius mendengarkan.
“Tolong ngomong terus terang saja, Bu…”
Bu Paijem menghela napas.
“Anakmu bakal jadi perempuan yang kuat…”
“Dia bakal sekolah tinggi…”
“Bisa jadi guru…”
“Bisa jadi orang penting…”
Mata Pak Salam langsung berbinar.
“Alhamdulillah…”
“Tapi…”
Kalimat Bu Paijem menggantung.
“Tapi apa, Bu?”
“Hatine bakal sering disakiti…”
Ruangan mendadak terasa dingin.
Pak Salam terdiam.
“Maksudnya urusan cinta?”
Bu Paijem perlahan mengangguk.
“Dia bakal dicintai banyak lelaki…”
“Tapi jalannya nggak akan mudah…”
“Ada pengkhianatan…”
“Ada kehilangan…”
“Ada air mata…”
Di atas tempat tidur, Bu Rosmiyati yang sedari tadi diam mulai menggenggam bayi kecilnya lebih erat.
“Jangan ngomong begitu, Bu…”
“Saya takut…”
Bu Paijem mendekat perlahan.
“Lastri… hidup manusia itu Gusti Allah yang atur…”
“Saya cuma membaca tanda…”
“Tapi anakmu ini kuat…”
“Dia tidak akan gampang jatuh…”
Yanti kecil tiba-tiba terbangun.
Anehnya…
bayi itu tidak menangis.
Ia justru membuka mata perlahan sambil menatap Bu Paijem.
Perempuan tua itu langsung merinding.
“Ya Allah…”
“Kenapa lagi, Bu?” tanya Bu Rosmiyati panik.
Bu Paijem mengusap lengannya sendiri.
“Matanya…”
“Kenapa matanya?”
“Tatapannya aneh…”
Pak Salam mulai gelisah.
“Bu… jangan bikin kami takut…”
Namun sebelum Bu Paijem menjawab…
dari luar rumah tiba-tiba terdengar suara gaduh.
“Heh! Serius toh semalam ada cahaya?”
“Katanya Bu Paijem sampai pucat…”
“Jangan-jangan bayine keturunan orang sakti…”
Pak Salam langsung berdiri.
“Waduh… warga mulai ngomong macam-macam…”
Ia keluar rumah.
Di teras sudah ada beberapa lelaki desa sedang duduk sambil merokok.
Pak RT ikut datang.
“Piye, Pak Salam ? Anakmu sehat?”
“Alhamdulillah sehat, Pak…”
“Tapi kampung kok ramai ngomongin kelahiran semalam…”
Pak Salam memaksakan senyum.
“Namanya juga orang desa…”
Salah satu warga nyeletuk pelan.
“Tapi aku juga heran…”
“Petirnya keras banget padahal nggak hujan…”
“Iya…”
“Anjing sampai melolong terus…”
“Jangan-jangan anakmu nanti punya kemampuan aneh…”
Pak Salam langsung tersinggung.
“Jangan ngomong sembarangan!”
Suasana mendadak canggung.
Pak RT segera menengahi.
“Sudah… jangan bikin orang tua bayi kepikiran…”
Namun bisik-bisik warga tetap berlanjut.
Karena sejak dulu…
masyarakat Tegorejo masih percaya pada pertanda-pertanda mistis.
Menjelang siang…
rumah Pak Salam mulai sepi.
Tinggal Bu Paijem yang masih duduk dekat bayi kecil itu.
Ia memandangi wajah Yanti lama sekali.
Kulit bayi itu putih bersih.
Bibirnya merah kecil.
Dan matanya…
terlihat tajam untuk ukuran bayi yang baru lahir.
Bu Paijem perlahan berbisik sendiri.
“Hidupmu bakal panjang, Nduk…”
“Tapi juga berat…”
Tiba-tiba Bu Rosmiyati bertanya pelan.
“Bu…”
“Iya?”
“Kalau memang hidup anak saya nanti susah…”
“Apakah dia bisa bahagia?”
Bu Paijem diam cukup lama.
Lalu tersenyum tipis.
“Bahagia…”
“Itu bukan soal hidupnya mudah atau tidak…”
“Tapi soal siapa yang tetap bertahan di samping kita…”
Bu Rosmiyati menatap bayi kecilnya.
Air matanya jatuh perlahan.
“Semoga anak saya kuat…”
Bu Paijem mengangguk.
“Dia akan sangat kuat…”
“Bahkan lebih kuat dari yang kalian bayangkan…”
Angin siang berhembus pelan melewati jendela rumah.
Di luar…
langit Tegorejo mulai cerah.
Namun tak seorang pun di rumah itu tahu…
bahwa ramalan Bu Paijem suatu hari nanti benar-benar akan menjadi kenyataan.
Tentang cinta.
Tentang kehilangan.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan bernama Yanti…
yang harus menunggu puluhan tahun…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB III
ANAK PEREMPUAN DARI TEGOREJO
Waktu berjalan pelan di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berganti melewati hamparan sawah yang mengelilingi desa kecil itu. Pohon-pohon kelapa tumbuh semakin tinggi. Jalanan tanah merah yang dulu becek saat hujan perlahan mulai mengeras oleh pijakan kaki warga dan roda sepeda ontel.
Dan bayi kecil yang lahir saat malam gerhana itu…
kini mulai tumbuh menjadi anak perempuan yang lincah.
Namanya Yanti.
Usianya baru menginjak lima tahun, tetapi hampir seluruh warga desa mengenalnya.
“Yantiii… jangan lari-lari terus!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti sambil tertawa kecil.
Anak itu berlari tanpa alas kaki melewati halaman rumah. Rambut hitamnya yang sedikit ikal bergoyang tertiup angin sore.
Tangannya membawa bunga liar yang dipetik dari pinggir sawah.
“Pak! Pak! Lihat bunga!”
Pak Salam yang sedang memperbaiki cangkul tersenyum kecil.
“Wah… cantik sekali bunganya…”
“Cantik aku apa bunganya?” tanya Yanti polos.
Pak Salam tertawa keras.
“Hahaha… ya jelas anak bapak lebih cantik!”
Yanti langsung terkikik senang.
“Berarti nanti aku jadi putri kerajaan ya?”
“Lho kok putri kerajaan?”
“Iya… nanti aku tinggal di istana…”
“Terus bapak jadi apa?”
“Jadi pengawal kerajaan!”
Pak Salam tertawa semakin keras.
Sementara Bu Rosmiyati yang mendengar dari dapur hanya menggeleng sambil tersenyum.
“Dasar anak nggak ada capeknya…”
Masa kecil Yanti berjalan sederhana.
Rumah mereka tidak besar.
Dindingnya masih papan kayu.
Atapnya seng tua yang bocor saat hujan deras datang.
Namun rumah kecil itu selalu terasa hangat.
Setiap pagi…
Bu Rosmiyati memasak nasi jagung di dapur kayu sederhana.
Sementara Pak Salam berangkat ke sawah membawa cangkul di pundaknya.
Dan Yanti…
selalu mengikuti ayahnya sampai pinggir jalan desa.
“Pak… nanti pulangnya jangan malam ya…”
“Iya…”
“Janji?”
“Iya janji…”
“Kalau bohong gimana?”
Pak Salam berpikir sebentar lalu tertawa.
“Kalau bohong nanti bapak dicubit ayam.”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Ayam kok nyubit!”
“Ya habis anak bapak sukanya ngomong aneh…”
Hubungan Yanti dengan ayahnya memang sangat dekat.
Pak Salam selalu menuruti hampir semua ocehan anak semata wayangnya itu.
Bahkan kadang…
ia rela pulang lebih cepat dari sawah hanya karena Yanti menangis ingin ditemani bermain.
Namun di balik keceriaan itu…
kehidupan keluarga mereka sebenarnya tidak mudah.
Penghasilan Pak Salam sebagai buruh tani sering kali tidak cukup.
Kadang mereka harus berutang beras ke warung Bu Minah.
Kadang Bu Rosmiyati harus menahan lapar agar Yanti tetap bisa makan.
Suatu malam…
hujan turun deras sekali.
Air menetes dari atap rumah yang bocor.
Yanti kecil duduk di dekat ibunya sambil memegang piring kosong.
“Buk…”
“Iya, Nduk?”
“Kok ibu nggak makan?”
“Ibu sudah makan tadi…”
“Bohong…”
Bu Rosmiyati tersenyum kecil.
“Kok tahu?”
“Kalau ibu habis makan pasti senyum…”
Kalimat polos itu membuat Bu Rosmiyati terdiam.
Dadanya terasa sesak.
Ia lalu mengusap kepala Yanti perlahan.
“Makan dulu ya…”
“Ibu dulu…”
“Ibu nanti…”
“Enggak mau. Harus bareng.”
Pak Salam yang baru masuk rumah membawa kayu bakar langsung berhenti mendengar percakapan itu.
Lelaki itu diam beberapa detik.
Lalu perlahan duduk di lantai.
Matanya tampak berkaca-kaca.
“Mbah…” kata Yanti tiba-tiba.
“Kenapa?”
“Nanti kalau aku besar…”
“Iya?”
“Aku mau jadi orang pintar…”
Pak Salam tersenyum tipis.
“Supaya apa?”
“Supaya ibu nggak lapar lagi…”
Suasana mendadak hening.
Hanya suara hujan yang terdengar jatuh di atap seng tua.
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya erat.
Air matanya jatuh diam-diam.
Sejak kecil…
Yanti memang berbeda dibanding anak-anak lain.
Ia sangat suka belajar.
Meski belum masuk sekolah, ia sering memperhatikan tulisan-tulisan di kalender tua yang tergantung di dinding rumah.
“Pak… ini huruf apa?”
“Itu huruf A…”
“Kalau ini?”
“Itu B…”
“Kalau ini?”
“Lho kok banyak banget pertanyaannya…”
Yanti malah tertawa.
“Biar pinter!”
Pak Salam mengacak rambut anaknya pelan.
“Anak bapak memang harus pintar…”
Malam hari…
ketika anak-anak lain sudah tidur…
Yanti masih duduk dekat lampu minyak kecil.
Ia meniru tulisan dari koran bekas pembungkus tempe.
Tangannya kecil.
Tulisan tangannya masih miring-miring.
Namun matanya selalu penuh semangat.
Suatu malam Bu Rosmiyati berkata pelan kepada suaminya.
“Pak…”
“Iya?”
“Kayaknya anak kita benar-benar suka belajar…”
Pak Salam mengangguk.
“Dia beda…”
“Kalau lagi pegang buku matanya berbinar…”
Bu Rosmiyati tersenyum haru.
“Tapi sekolah itu mahal…”
Pak Salam diam.
Tatapannya kosong menembus gelap malam.
“Aku rela kerja apa saja…”
“Asal Yanti sekolah tinggi…”
Keesokan harinya…
Yanti bermain di halaman bersama anak-anak lain.
Ada Bambang si anak tengil.
Ada Dandang yang paling suka melawak.
Ada Anita yang pendiam.
Dan Yuli yang paling cerewet.
“Heh Yanti!” teriak Bambang.
“Apa?”
“Aku punya belalang!”
“Mana?”
Bambang membuka tangan perlahan.
Namun ternyata belalang itu langsung loncat ke wajah Yanti.
“Aaaaaaa!!”
Semua anak langsung tertawa ngakak.
“Hahahaha!”
“Bambang nakal!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa sandal.
“Siniaaa kamu!”
Bambang lari terbirit-birit.
“Ampun Yantiiii!”
Dandang sampai berguling-guling tertawa di tanah.
“Bambang mati nanti!”
Sementara Anita hanya tertawa kecil sambil menutup mulut.
Di tengah canda anak-anak desa itu…
tak ada yang menyangka…
bahwa persahabatan mereka kelak akan berubah menjadi kisah panjang penuh cinta, pengkhianatan, air mata, dan penyesalan.
Sore hari…
Yanti duduk sendirian di pematang sawah.
Langit mulai berwarna jingga.
Ia memandangi burung-burung kecil yang terbang pulang ke sarang.
“Yanti…”
Suara Pak Salam terdengar dari belakang.
“Lho bapak…”
“Kok sendirian?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku suka lihat langit sore…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa?”
“Cantik…”
“Memang cantik…”
Yanti lalu menoleh pelan.
“Pak…”
“Iya?”
“Kalau aku besar…”
“Aku boleh jadi guru?”
Pak Salam menatap wajah anaknya lama sekali.
Lalu tersenyum hangat.
“Bukan boleh lagi…”
“Kamu harus jadi guru…”
Mata Yanti langsung berbinar.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Karena bapak percaya…”
“Kamu akan jadi perempuan hebat.”
Angin sore berhembus lembut melewati sawah Tegorejo.
Dan matahari perlahan tenggelam di ufuk barat.
Tak ada yang tahu…
bahwa anak kecil yang sedang duduk di pematang sawah itu…
kelak akan menjalani perjalanan hidup yang sangat panjang.
Penuh cinta.
Penuh kehilangan.
Dan penuh penantian…
BAB IV
LANGIT PAGI SEKOLAH DASAR
Pagi itu Desa Tegorejo tampak lebih hidup dari biasanya. Matahari baru saja muncul dari balik hamparan sawah ketika suara ayam jantan bersahut-sahutan memecah udara pagi. Kabut tipis masih menggantung rendah di pematang sawah, sementara embun menempel di daun-daun pisang dan rerumputan liar di pinggir jalan desa.
Di sebuah rumah sederhana berdinding kayu, tinggal seorang anak perempuan bernama Yanti. Ia dikenal sebagai anak yang rajin dan ceria. Sejak kecil, Yanti sudah terbiasa bangun pagi membantu ibunya sebelum memulai hari.
Ketika Yanti berumur dua tahun, keluarganya kedatangan anggota baru. Ibunya melahirkan seorang bayi perempuan mungil yang diberi nama Ima. Sejak saat itu rumah kecil mereka menjadi semakin ramai oleh suara tangis dan tawa kedua anak itu.
Meski masih kecil, Yanti sangat sayang kepada adiknya. Ia sering membantu ibunya mengambilkan popok kain, menjaga Ima saat menangis, atau mengayun pelan tempat tidur bambu agar adiknya cepat tertidur.
Tahun demi tahun berlalu. Kini Yanti berusia tujuh tahun, sedangkan Ima lima tahun. Yanti akan segera masuk Sekolah Dasar untuk pertama kalinya. Sejak beberapa hari sebelumnya, ia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang.
Malam sebelum masuk sekolah, Yanti bahkan sulit tidur karena terlalu bersemangat.
“Bu… besok Yanti benar-benar sekolah ya?” tanyanya sambil rebahan di samping ibunya.
“Iya, Nak,” jawab Bu Rosmiyati sambil mengelus rambut anaknya. “Besok Yanti sudah jadi anak sekolah.”
Yanti tersenyum lebar sampai matanya menyipit.
“Aku mau punya banyak teman.”
“Dan harus rajin belajar,” sahut Pak Salam dari ruang depan.
“Iyaaa, Pak!” jawab Yanti cepat.
Keesokan paginya, suasana rumah Pak Salam terasa jauh lebih sibuk dari biasanya.
“Yanti! Cepat bangun! Nanti kesiangan!” teriak Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iyaaaa, Bukkk!” jawab Yanti dari dalam kamar.
Anehnya, pagi itu Yanti bangun lebih cepat dari biasanya. Padahal sehari-hari ia terkenal paling susah dibangunkan.
Di ruang depan, Pak Salam sedang sibuk menyetrika seragam SD merah putih menggunakan setrika arang. Keringat kecil tampak di dahinya.
“Asline kok susah lurus ya…” gumamnya sambil meniup bara arang.
Bu Rosmiyati tertawa kecil dari dapur.
“Namanya juga baru pertama punya anak sekolah.”
“Biarin! Anakku harus rapi!” jawab Pak Salam bangga.
Tak lama kemudian, Yanti muncul dari belakang rumah setelah mandi di sumur. Rambutnya masih basah dan pipinya tampak segar terkena air pagi.
“Ibuuuu! Bajuku mana?” teriaknya.
“Lho, itu di dekat bapakmu!”
Yanti langsung berlari kecil mendekati ayahnya. Matanya berbinar melihat seragam putih merah yang tergantung di kursi bambu.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku beneran sekolah hari ini?”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Lho iya…”
Yanti memegang seragam itu pelan, seolah sedang memegang sesuatu yang sangat berharga.
“Aku jadi anak sekolah…”
Suaranya lirih penuh takjub.
Bu Rosmiyati yang melihat itu ikut tersenyum haru.
“Iya… anak ibu sudah besar.”
Tiba-tiba Yanti memeluk ibunya erat.
“Aku janji rajin sekolah!”
“Harus!”
“Nggak boleh malas!”
“Siap, Bu Guru!” jawab Yanti sambil hormat.
Mereka langsung tertawa bersama.
Tak lama kemudian, Yanti mulai memakai seragam SD pertamanya. Meski rok merahnya sedikit kebesaran karena dijahit oleh tetangga desa, wajah Yanti tetap tampak sangat bahagia.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang kacanya mulai kusam. Dengan kedua tangan, Yanti merapikan kerah bajunya sambil memperhatikan dirinya sendiri.
“Buk…”
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Aku cantik nggak?”
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah anaknya.
“Cantik sekali…”
Yanti makin tersenyum lebar.
“Kayak putri kerajaan?”
“Iya…”
Yanti langsung menoleh ke arah ayahnya yang sedang duduk di kursi bambu.
“Kalau menurut bapak?”
Pak Salam menjawab cepat tanpa berpikir panjang.
“Paling cantik sedunia!”
Yanti tertawa ngakak.
“Hahaha! Bapak lebay!”
Pak Salam pura-pura bingung.
“Itu apa lagi lebay?”
“Katanya Dandang, kalau ngomong berlebihan itu lebay!”
“Wah… baru masuk sekolah saja bahasanya aneh-aneh,” gumam Pak Salam sambil geleng-geleng kepala.
Di sudut ruangan, Ima yang sejak tadi memperhatikan ikut mendekat sambil membawa boneka kain kecilnya.
“Kak Yanti cantik pakai baju sekolah,” katanya polos.
Yanti tersenyum lalu jongkok di depan adiknya.
“Nanti Ima juga sekolah kalau sudah besar.”
“Aku mau ikut sekarang.”
“Belum boleh,” jawab Yanti sambil tertawa kecil. “Ima masih kecil.”
Setelah berpakaian rapi, Yanti duduk di meja makan sederhana bersama keluarganya. Pagi itu Bu Rosmiyati menyiapkan nasi hangat, tempe goreng, dan telur dadar.
“Anak pintar harus sarapan dulu,” kata Pak Salam.
“Iya Pak,” jawab Yanti semangat.
Ima ikut bersuara sambil mengunyah nasi.
“Aku juga mau pintar kayak Kak Yanti.”
“Kalau begitu harus rajin makan,” goda Bu Rosmiyati.
Semua langsung tertawa.
Selesai sarapan, Yanti memakai tas kain biru pemberian ayahnya. Tas itu sederhana dan warnanya sedikit pudar, tetapi Yanti sangat menyayanginya.
Sebelum berangkat, ia mencium tangan ayah dan ibunya.
“Assalamualaikum, Bu… Pak… Yanti berangkat sekolah.”
“Waalaikumsalam. Hati-hati di jalan,” jawab keduanya hampir bersamaan.
Ima berlari kecil sampai ke depan rumah sambil melambaikan tangan.
“Kak Yanti jangan lama-lama pulangnya!”
“Iyaaa…” sahut Yanti ceria.
Dengan langkah kecil penuh semangat, Yanti berjalan menyusuri jalan desa yang masih basah oleh embun pagi. Cahaya matahari mulai menyinari sawah-sawah hijau di sepanjang jalan Tegorejo.
Di bawah langit pagi yang cerah itu, seorang anak kecil berjalan menuju sekolah pertamanya—membawa mimpi-mimpi sederhana yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
Yanti menggandeng tangan ayah dan ibunya sepanjang jalan desa.
Tas kain kecil warna biru tergantung di pundaknya.
Di jalan…
banyak anak-anak lain juga berjalan menuju sekolah.
Ada yang memakai sandal jepit.
Ada yang bahkan tidak memakai alas kaki.
“Yantiiii!”
Suara keras tiba-tiba terdengar dari belakang.
Ternyata Bambang.
Anak tengil itu berlari sambil membawa tas lusuh.
“Hahaha! Yanti pakai pita merah!”
Yanti langsung manyun.
“Kenapa?”
“Kayak antena TV!”
“Bambanggg!”
Yanti mengejar Bambang sambil membawa botol minumnya.
Pak Pak Salam hanya tertawa melihat tingkah mereka.
“Dasar anak-anak…”
Dari belakang muncul Dandang sambil membawa bekal pisang goreng.
“Heh Bambang! Jangan ganggu calon bu guru!”
“Siapa calon bu guru?”
“Yanti lah!”
Bambang langsung melirik Yanti.
“Ah masa…”
“Lho memang iya!” jawab Dandang.
Yanti tersipu malu.
“Apaan sih…”
Dandang tertawa.
“Soalnya Yanti kalau ngomong suka kayak guru!”
Mereka terus berjalan sambil bercanda.
Di sepanjang jalan desa…
suasana pagi terasa hangat.
Suara burung-burung kecil terdengar dari pepohonan.
Dan sinar matahari mulai menyinari sawah yang hijau membentang luas.
Bangunan SD Tegorejo tampak sederhana.
Dindingnya masih papan kayu.
Beberapa bagian cat sudah mengelupas.
Halamannya berupa tanah merah yang sedikit berdebu.
Namun bagi Yanti…
tempat itu terlihat sangat megah.
Ia berdiri mematung di depan gerbang sekolah.
Matanya berbinar.
“Pak…”
“Iya?”
“Sekolahku besar ya…”
Pak Pak Salam tersenyum.
“Iya…”
“Kalau aku pintar nanti…”
“Aku bisa sekolah lebih tinggi lagi?”
“Tentu bisa…”
“Setinggi apa?”
“Setinggi langit kalau kamu mau…”
Mata Yanti makin berbinar.
Di halaman sekolah…
anak-anak mulai berbaris.
Suasana sangat ramai.
Ada yang menangis mencari ibunya.
Ada yang tertawa-tawa.
Ada pula yang saling dorong.
Tiba-tiba seorang guru perempuan keluar dari ruang kantor.
Beliau memakai kebaya coklat sederhana dengan rambut disanggul rapi.
“Anak-anak… ayo baris yang rapi…”
Suaranya lembut namun tegas.
Yanti langsung memperhatikan guru itu serius sekali.
“Pak…”
“Hm?”
“Guru itu cantik…”
Pak Pak Salam tertawa kecil.
“Makanya nanti kamu juga harus jadi guru cantik.”
Yanti langsung tersenyum lebar.
Guru perempuan itu kemudian mendekat.
“Namanya siapa?” tanyanya lembut pada Yanti.
“Yanti, Bu…”
“Oh… namanya bagus…”
Yanti tersenyum malu.
“Ini ayah ibunya?”
“Iya Bu…” jawab Pak Pak Salam sopan.
Guru itu mengangguk ramah.
“Anaknya kelihatan pintar…”
Pak Pak Salam langsung tersenyum bangga.
“Semoga saja begitu, Bu Guru…”
“Namanya siapa, Pak?”
“Pak Salam …”
“Pak Pak Salam tidak usah khawatir. Kami akan mendidik anak bapak dengan baik.”
Kalimat itu membuat mata Pak Pak Salam sedikit berkaca-kaca.
Ia menunduk pelan.
“Terima kasih, Bu…”
Saat bel masuk berbunyi…
anak-anak mulai masuk kelas.
Yanti sempat memegang tangan ibunya erat.
“Ibu pulang?”
“Iya…”
“Nanti jemput aku?”
“Iya…”
“Jangan lama-lama ya…”
Bu Rosmiyati tersenyum sambil mengusap kepala anaknya.
“Iya…”
Namun saat Yanti mulai masuk kelas…
ia tiba-tiba kembali berlari memeluk ayahnya.
“Pak…”
“Iya?”
“Aku takut…”
Pak Pak Salam jongkok perlahan.
“Takut kenapa?”
“Kalau aku nggak punya teman…”
Pak Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu pasti punya banyak teman…”
“Kalau ada yang jahil?”
“Ya tinggal jahilin balik…”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Bapak ini…”
Pak Pak Salam lalu menatap mata anaknya serius.
“Dengar ya…”
“Iya…”
“Kamu harus sekolah yang rajin…”
“Kenapa?”
“Supaya hidupmu lebih baik dari bapak…”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Meski masih kecil…
ia bisa merasakan kesungguhan dalam suara ayahnya.
“Aku janji…”
“Janji apa?”
“Aku bakal jadi orang pintar…”
“Terus?”
“Biar ibu sama bapak bahagia…”
Pak Pak Salam langsung memeluk anaknya erat.
Sementara Bu Rosmiyati diam-diam menyeka air mata.
Di dalam kelas…
Yanti duduk di bangku kayu dekat jendela.
Ia melihat keluar.
Ayah dan ibunya masih berdiri di halaman sekolah sambil memandang ke arahnya.
Yanti melambaikan tangan kuat-kuat.
Pak Pak Salam membalas dengan senyum lebar.
Dan pagi itu…
di ruang kelas sederhana SD Tegorejo…
langkah pertama perjalanan panjang hidup Yanti akhirnya dimulai.
Perjalanan tentang mimpi.
Tentang persahabatan.
Tentang cinta.
Tentang pengkhianatan.
Dan tentang seorang perempuan desa…
yang kelak harus menunggu sangat lama…
untuk menemukan kebahagiaan sejatinya di ujung senja.
BAB V
BAMBANG SI ANAK TENGIL
Hari-hari pertama di SD Tegorejo menjadi masa yang sangat menyenangkan bagi Yanti.
Setiap pagi ia selalu bangun lebih awal dibanding ayam jantan milik Pak Lurah. Bahkan sebelum ibunya selesai memasak nasi jagung, Yanti sudah mandi dan memakai seragam sekolahnya sendiri.
“Buk! Cepat sisirin rambutku!”
“Lho sabar…”
“Nanti aku telat!”
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala.
“Baru juga sekolah seminggu…”
“Ya biarin! Aku suka sekolah!”
Pak Salam yang sedang minum kopi langsung tertawa.
“Dulu waktu kecil bapaknya malah sembunyi kalau disuruh sekolah…”
“Serius, Pak?”
“Iya…”
“Kenapa?”
“Takut disuruh nulis…”
Yanti langsung tertawa keras.
“Hahaha! Bapak bodoh!”
“Eh enak aja!”
Rumah kecil itu selalu dipenuhi suara tawa setiap pagi.
Namun…
semangat Yanti pergi sekolah ternyata bukan hanya karena suka belajar.
Ada satu hal lain yang diam-diam membuatnya selalu bersemangat.
Teman-temannya.
Di SD Tegorejo…
Yanti mulai akrab dengan banyak anak.
Ada Anita yang pemalu dan lembut.
Ada Dandang yang mulutnya tidak pernah berhenti bercanda.
Ada Yuli yang paling cerewet sedunia.
Dan tentu saja…
Bambang.
Anak laki-laki paling usil satu sekolah.
Tubuh Bambang kecil kurus.
Kulitnya hitam terbakar matahari.
Rambutnya selalu berdiri seperti sapu ijuk karena jarang disisir.
Namun matanya sangat jahil.
Hari itu…
suasana kelas sedang tenang.
Bu Guru Siti sedang menulis huruf di papan tulis.
“Anak-anak, sekarang kita belajar membaca…”
“Iyaaaaa Buuuu…”
Yanti duduk manis di bangku depan.
Sementara Bambang duduk di belakang sambil melirik-lirik rambut Yanti.
Ia menyenggol Dandang pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat…”
Bambang mengambil kertas kecil.
Lalu diam-diam ia membuat gambar monyet.
Setelah selesai…
kertas itu dilempar tepat ke kepala Yanti.
Tok!
Yanti menoleh cepat.
“Apa itu?!”
Dandang langsung menunduk menahan ketawa.
Sementara Bambang pura-pura serius melihat papan tulis.
Yanti membuka kertas itu perlahan.
Gambar monyet dengan tulisan besar:
“YANTI SI RAMBUT ANTENA.”
Yanti langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelas langsung menoleh.
Bu Guru Siti ikut berhenti menulis.
“Ada apa ini?”
Yanti berdiri sambil memegang kertas.
“Bambang ngejek saya!”
Bambang langsung pura-pura polos.
“Saya nggak ngapa-ngapain, Bu…”
“Bohong!”
“Buktinya mana?”
Yanti langsung menunjukkan kertas.
Bu Guru Siti membaca tulisan itu.
Lalu menatap Bambang tajam.
“Bambang…”
“Iya Bu…”
“Kamu yang bikin?”
Bambang masih mencoba mengelak.
“Bukan saya…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Bohong Bu! Tadi dia gambar monyet mirip dirinya sendiri!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang langsung berdiri.
“Heh Dandang!”
“Apaaa?”
“Kamu jangan ikut campur!”
“Ya habis monyetnya memang mirip kamu!”
Bahkan Bu Guru Siti sampai menahan senyum.
“Sudah… sudah…”
“Tapi Bambang nggak boleh mengejek teman.”
Bambang manyun.
“Iya Bu…”
“Tolong minta maaf.”
Bambang menoleh malas ke arah Yanti.
“Maaf…”
“Nggak ikhlas itu!” kata Yanti kesal.
Satu kelas kembali tertawa.
Namun meski sering jahil…
Bambang sebenarnya diam-diam suka memperhatikan Yanti.
Ia selalu mencari cara agar Yanti memperhatikannya.
Walaupun caranya sering keterlaluan.
Saat jam istirahat…
anak-anak bermain di halaman sekolah.
Ada yang bermain lompat tali.
Ada yang bermain gobak sodor.
Ada pula yang bermain kejar-kejaran.
Yanti duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
“Aku bawa tempe goreng…” kata Anita pelan.
“Aku telur dadar!” jawab Yanti bangga.
Tiba-tiba Bambang muncul entah dari mana.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yanti curiga.
Bambang duduk sembarangan di depan mereka.
“Kalian makan apa?”
“Rahasia.”
“Peliiiit…”
Yanti langsung menutup kotak makannya.
“Daripada nanti kamu isengin lagi.”
Bambang cengar-cengir.
“Aku nggak jahat kok…”
“Bohong!”
“Serius!”
“Terus kemarin siapa yang masukin belalang ke tasku?”
Bambang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Lucu banget waktu kamu teriak!”
Yanti langsung mencubit lengan Bambang.
“Awww!”
“Rasakan!”
Anita sampai tertawa kecil melihat mereka.
Namun dari kejauhan…
ada sepasang mata lain yang memperhatikan.
Namanya Lila.
Anak perempuan berambut pendek yang duduk di bangku paling belakang.
Lila sebenarnya tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa.
Namun sejak awal…
ia kurang suka melihat Yanti.
Menurutnya…
Yanti terlalu disukai guru.
Terlalu disukai teman-teman.
Dan terlalu sering jadi pusat perhatian.
“Huh…” gumam Lila pelan.
Yuli yang berdiri di dekatnya langsung bertanya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi kamu lihat nggak…”
“Apa?”
“Semua orang perhatian sama Yanti terus.”
Yuli mengangkat bahu.
“Ya karena Yanti baik…”
Lila mendecih pelan.
“Atau cari perhatian…”
Hari-hari berlalu.
Yanti semakin dikenal sebagai anak pintar di kelas.
Nilai membacanya paling bagus.
Tulisan tangannya paling rapi.
Bahkan Bu Guru Siti sering memujinya di depan kelas.
“Anak-anak, coba lihat tulisan Yanti…”
“Bagus dan rapi…”
“Harus dicontoh…”
Bambang langsung berbisik ke Dandang.
“Kalau tulisan Yanti bagus…”
“Kenapa?”
“Berarti mukanya nggak usah bagus lagi…”
Dandang langsung tertawa terbahak.
“Hahahaha!”
Yanti mendengar itu.
Ia langsung mengambil penghapus lalu melempar Bambang.
Plak!
“Kenaaa!” teriak Dandang.
Satu kelas pecah tertawa lagi.
Bu Guru Siti sampai geleng-geleng kepala.
“Kalian ini…”
Namun suatu hari…
kenakalan Bambang mulai sedikit keterlaluan.
Saat pelajaran olahraga…
anak-anak diminta berlari mengelilingi lapangan kecil sekolah.
Yanti berlari bersama Anita.
Sementara Bambang dan Dandang berlari di belakang.
“Heh lihat…” bisik Bambang.
“Apa?”
“Aku punya ide…”
“Jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang diam-diam mengikat tali sepatu Yanti saat mereka berhenti sebentar.
Ketika Yanti mulai berlari lagi…
BRUK!
Yanti jatuh tersungkur di tanah.
“Aduuuhhh!”
Anak-anak langsung kaget.
Bu Guru olahraga berlari mendekat.
“Yanti!”
Lutut Yanti lecet berdarah.
Anita panik.
“Ya Allah…”
Sementara Bambang yang awalnya tertawa…
langsung pucat melihat Yanti menangis.
“Aku… aku cuma bercanda…”
Bu Guru langsung marah besar.
“BAMBANG!”
Bambang menunduk ketakutan.
“Kamu tahu ini berbahaya?!”
“Saya nggak sengaja Bu…”
Yanti masih menangis sambil memegang lututnya.
Bu Guru segera membersihkan lukanya.
Sementara Bambang berdiri diam dengan wajah bersalah.
Untuk pertama kalinya…
ia merasa benar-benar bersalah pada Yanti.
Sepulang sekolah…
Bambang diam-diam mengikuti Yanti dari belakang.
Yanti berjalan pincang kecil sambil membawa tasnya.
“Heh…”
Yanti menoleh malas.
“Apa?”
Bambang menunduk.
“Maaf…”
Yanti diam.
“Aku nggak niat bikin kamu luka…”
“Bohong…”
“Serius…”
“Aku cuma bercanda…”
Yanti masih kesal.
“Bercandamu kebangetan.”
Bambang menggaruk kepala.
“Aku takut kamu nggak mau temenan lagi…”
Yanti melirik Bambang.
Untuk pertama kalinya…
anak tengil itu terlihat benar-benar sedih.
“Huh…”
“Maafin nggak?”
Yanti pura-pura berpikir.
“Kalau aku maafin…”
“Iya?”
“Besok traktir es lilin.”
Bambang langsung semangat.
“Siap!”
“Tapi dua!”
“Lho mahal!”
“Katanya mau minta maaf!”
Bambang langsung pasrah.
“Iya deh…”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo…
persahabatan masa kecil mereka kembali hangat.
Meski tak ada yang tahu…
bahwa kelak…
hubungan mereka akan berubah jauh lebih rumit daripada sekadar jahilan anak-anak sekolah dasar.
BAB VI
SAHABAT MASA KECIL
Musim penghujan mulai datang di Desa Tegorejo.
Langit hampir setiap sore dipenuhi awan gelap. Jalanan tanah merah berubah becek, sementara sawah-sawah tampak semakin hijau oleh guyuran air hujan yang turun hampir setiap hari.
Namun bagi anak-anak SD Tegorejo…
musim hujan justru menjadi musim paling menyenangkan.
Karena itu berarti…
banyak permainan baru.
Dan sore itu…
halaman belakang sekolah berubah menjadi arena perang lumpur.
“Heh! Lempar dia!”
“Jangaaaan!”
Plakkk!
Lumpur basah mengenai wajah Dandang.
Anak itu langsung melotot.
“Bambanggg!”
Satu kelompok anak langsung tertawa terbahak-bahak.
“Hahahahaha!”
Yanti sampai jongkok sambil memegang perut karena terlalu keras tertawa.
Dandang mengusap wajahnya penuh lumpur.
“Tunggu ya kalian…”
Ia mengambil segenggam lumpur besar.
Bambang langsung kabur.
“WOI JANGAN!”
Namun…
BRASSS!
Lumpur itu malah mengenai Anita yang berdiri diam di dekat pohon.
Suasana langsung hening.
Anita membeku.
Rambutnya penuh lumpur.
Pipinya belepotan.
Semua anak langsung menahan napas.
Dandang pucat.
“A… Anita…”
Anita perlahan menoleh.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kamu jahat…”
Dandang langsung panik.
“Eh eh eh jangan nangis!”
Namun Anita benar-benar menangis.
“Hiks…”
Yanti langsung mendekat.
“Dandang! Kamu keterlaluan!”
“Aku nggak sengaja!”
“Anita nggak pernah ganggu siapa-siapa!”
Bambang ikut mendekat sambil menahan ketawa.
“Tapi lucu sih…”
“BAMBANG!” bentak Yanti.
“Oke oke salah…”
Anita masih menangis kecil.
“Aku jadi jelek…”
Yuli yang sejak tadi berdiri sambil membawa payung langsung nyeletuk.
“Tenang aja…”
Semua menoleh.
“Kenapa?”
“Anita dari tadi juga udah jelek.”
Satu detik sunyi.
Lalu…
“HHAHAHAHAHAHA!”
Semua anak langsung tertawa keras.
Bahkan Anita ikut tertawa di sela tangisnya.
“Heh Yuliii!”
Yuli tertawa sambil kabur.
“Bercanda!”
Hari-hari mereka selalu ramai.
Persahabatan kecil itu mulai terbentuk sangat kuat.
Meski sering bertengkar…
mereka selalu kembali bermain bersama.
Yanti perlahan menjadi pusat dari lingkaran persahabatan itu.
Bukan karena paling cantik.
Bukan juga karena paling pintar.
Tetapi karena Yanti selalu bisa membuat semua orang merasa nyaman.
Kalau Anita sedih…
Yanti yang menenangkan.
Kalau Bambang bertengkar…
Yanti yang melerai.
Kalau Dandang dihukum guru…
Yanti pula yang membantu mengerjakan tugasnya.
Dan entah kenapa…
semua anak mulai bergantung pada Yanti.
Suatu pagi…
kelas SD Tegorejo sangat ribut.
Bu Guru Siti belum datang.
Anak-anak bebas bermain di dalam kelas.
Dandang berdiri di atas bangku sambil membawa penggaris kayu seperti mikrofon.
“Selamat pagi pemirsa!”
Satu kelas langsung tertawa.
“Hari ini kita akan menyaksikan…”
Dandang menunjuk Bambang.
“Kontes muka paling jelek se-Tegorejo!”
“Hahaha!”
Bambang langsung melempar kapur.
“Heh!”
Namun Dandang menghindar cepat.
“Peserta pertama…”
Ia menunjuk Bambang lagi.
“Bambang si muka sandal jepit!”
Satu kelas langsung meledak tertawa.
“Hahahahaha!”
Bambang berdiri marah.
“Muka sandal jepit apaan?!”
“Soalnya gepeng!”
Tawa makin pecah.
Bahkan Yanti sampai menepuk meja.
“Dandang jahat banget!”
“Lanjut!” teriak anak-anak.
Dandang menunjuk Yuli.
“Peserta kedua…”
“Yuli si radio rusak!”
Yuli langsung melotot.
“Aku bukan radio rusak!”
“Iya…”
“Terus?”
“Radio keliling!”
Satu kelas kembali tertawa keras.
Karena memang…
Yuli terkenal paling cerewet sedunia.
Apa pun berita di sekolah…
pasti Yuli tahu lebih dulu.
“Aku laporin Bu Guru ya!”
“Lapor aja!”
Dandang malah makin semangat.
“Nanti aku bilang Bu Guru kalau kamu suka nguping orang!”
Yuli langsung diam.
“Eh jangan…”
“Hahaha kena!”
Namun di tengah keributan itu…
Lila duduk sendiri di bangku belakang.
Matanya terus memperhatikan Yanti.
Saat Yanti tertawa…
semua ikut tertawa.
Saat Yanti bicara…
semua mendengarkan.
Lila menggigit bibir pelan.
Ia sebenarnya ingin ikut dekat.
Namun gengsi.
Dan dalam hatinya…
mulai tumbuh rasa iri kecil yang perlahan semakin besar.
“Kenapa sih semua suka Yanti…” gumamnya pelan.
Redi yang duduk dekatnya mendengar.
“Karena dia baik…”
Lila mendecih.
“Atau pura-pura baik.”
Redi mengernyit.
“Kamu aneh…”
Lila tidak menjawab.
Matanya masih tertuju pada Yanti yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Tak lama kemudian…
Bu Guru Siti masuk kelas.
“Wah… ramai sekali…”
Anak-anak langsung kembali duduk.
Kecuali Dandang yang masih berdiri di atas meja.
“Dandang…”
“Iya Bu?”
“Kamu mau jadi murid apa jemuran?”
Satu kelas langsung tertawa.
Dandang turun cepat sambil nyengir.
“Siap Bu…”
Bu Guru mulai membagikan hasil ulangan membaca.
“Yang nilainya bagus ibu kasih hadiah.”
Anak-anak langsung semangat.
“Apa hadiahnya Bu?!”
“Nanti lihat saja…”
Satu per satu nama dipanggil.
Namun nilai tertinggi kembali diraih Yanti.
“Selamat ya, Yanti.”
Yanti berdiri malu-malu.
Anak-anak langsung tepuk tangan.
Bambang malah bersiul.
“Wiuuu!”
Bu Guru menyerahkan sebuah buku tulis baru bergambar bunga.
Mata Yanti langsung berbinar.
“Terima kasih Bu…”
“Rajin terus ya…”
“Iya Bu…”
Saat kembali duduk…
Bambang berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Pinjam bukunya nanti.”
“Buat apa?”
“Biar aku pintar juga.”
Yanti tertawa kecil.
“Kamu mah maunya nyontek.”
“Kalau nyontek sama orang pintar kan ikut pintar…”
“Logika dari mana itu?”
“Logika Bambang.”
Yanti langsung geleng-geleng kepala sambil tertawa.
Jam pulang sekolah tiba.
Hujan turun cukup deras.
Anak-anak terjebak di teras sekolah.
Dandang mulai bosan.
“Heh…”
“Apa lagi?” tanya Yuli.
“Kita cerita horor yuk.”
“Jangan!” Anita langsung takut.
“Kenapa?”
“Nanti aku nggak bisa tidur…”
Bambang langsung mendekat sambil menurunkan suara.
“Katanya…”
“Apa?”
“Di belakang sekolah ada kuntilanak…”
Anita langsung pucat.
“Bohong…”
“Serius…”
“Dia suka muncul kalau hujan…”
“Hiiiii…”
Yanti langsung memukul kepala Bambang pelan.
“Jangan nakut-nakutin!”
“Tapi serius!”
“Tadi malam aku lihat…”
“Lihat apa?”
“Bayangan putih…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Itu sarung bapakmu dijemur!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa lagi.
Suasana teras sekolah terasa hangat meski hujan deras turun di luar.
Mereka duduk berdempetan sambil tertawa, bercanda, dan saling mengejek.
Tak ada yang sadar…
bahwa persahabatan kecil itu suatu hari nanti akan diuji oleh cinta.
Oleh pengkhianatan.
Oleh rasa iri.
Dan oleh waktu yang perlahan mengubah semuanya.
Namun sore itu…
mereka masih hanya sekumpulan anak kecil dari Desa Tegorejo.
Yang belum tahu…
betapa rumitnya dunia orang dewasa nanti.
BAB VII
MIMPI DI BAWAH LAMPU MINYAK
Malam di Desa Tegorejo selalu datang dengan kesunyian yang khas.
Tidak ada suara kendaraan ramai.
Tidak ada lampu jalan terang seperti di kota.
Yang terdengar hanya suara jangkrik dari balik semak, gesekan dedaunan bambu yang tertiup angin malam, dan sesekali gonggongan anjing dari kejauhan.
Di rumah kecil Pak Salam …
lampu minyak mulai dinyalakan.
Cahayanya redup kekuningan.
Bayangan dinding papan tampak bergoyang pelan terkena pantulan api kecil dari sumbu lampu.
Bu Rosmiyati sedang menanak nasi di dapur kayu.
Sementara Pak Salam baru saja pulang dari sawah dengan tubuh penuh lumpur.
“Huhhh… capek juga hari ini…”
Yanti yang sedang duduk di lantai langsung berlari menyambut ayahnya.
“Pakkk!”
“Iyaaa…”
“Kamu bau sawah!”
Pak Salam tertawa.
“Lho ya memang habis dari sawah.”
Yanti memeluk ayahnya sebentar lalu langsung mundur sambil menutup hidung.
“Ihh… kayak kerbau!”
“Eh anak ini!”
Bu Rosmiyati sampai tertawa dari dapur.
“Hahaha! Makanya mandi dulu!”
Pak Salam pura-pura kesal.
“Nanti kalau bapak kaya…”
“Iya?”
“Bapak mandi pakai minyak wangi!”
Yanti langsung tertawa ngakak.
“Bapak mah cocoknya pakai minyak kayu putih!”
“Hahaha!”
Rumah kecil itu kembali dipenuhi suara tawa hangat.
Namun malam itu…
setelah makan malam sederhana dengan lauk tempe goreng dan sambal terasi…
Yanti tidak langsung tidur seperti biasanya.
Ia justru mengambil buku tulis lusuh dan pensil pendeknya.
Lalu duduk dekat lampu minyak.
Pak Salam yang sedang memperbaiki caping menoleh heran.
“Lho…”
“Kenapa Pak?”
“Kamu belum tidur?”
“Belum.”
“Mau ngapain?”
“Belajar.”
Pak Salam dan Bu Rosmiyati saling pandang.
“Belajar malam-malam?”
“Iya…”
“Besok ada PR?”
“Nggak…”
“Terus?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen pintar.”
Suasana mendadak sedikit hening.
Pak Salam memperhatikan anaknya serius.
Di bawah cahaya lampu minyak…
wajah kecil Yanti tampak sangat sungguh-sungguh.
Ia mulai menulis huruf demi huruf dengan lidah sedikit menjulur tanda fokus.
“A…”
“B…”
“C…”
Tulisan tangannya masih belum rapi.
Kadang miring.
Kadang terlalu besar.
Namun matanya…
penuh semangat.
Beberapa menit kemudian…
Bambang tiba-tiba muncul di depan rumah.
“Yantiiii!”
“Apaaa?”
“Ayo main petak umpet!”
“Enggak!”
“Lho kenapa?”
“Aku belajar!”
Bambang langsung masuk sambil melongo.
“Hah?!”
“Aku mau pintar.”
Bambang tertawa keras.
“Hahaha! Belajar malam-malam?!”
“Iya!”
“Kamu aneh…”
Yanti langsung manyun.
“Kamu yang aneh.”
Bambang duduk di lantai sambil memperhatikan buku Yanti.
“Kamu serius suka belajar?”
“Iya.”
“Memangnya enak?”
“Enak.”
“Bagian mana yang enak?”
“Kalau aku pintar…”
“Terus?”
“Aku bisa jadi guru.”
Bambang langsung tertawa lagi.
“Hahaha! Yanti jadi guru!”
“Kenapa ketawa?!”
“Karena nanti murid-muridmu pasti disuruh nulis seribu halaman!”
“Biar pintar!”
“Kalau aku jadi muridmu aku kabur.”
Pak Salam sampai ikut tertawa mendengar percakapan mereka.
Tak lama kemudian…
Dandang dan Yuli ikut datang.
“Heh Bambang ternyata di sini…”
“Yanti lagi belajar!” jawab Bambang.
Dandang langsung melotot lebay.
“Hah?!”
“Kenapa memang?”
“Kamu sakit?”
“Hah?”
“Orang normal malam-malam ya tidur!”
Yanti langsung melempar penghapus kecil ke arah Dandang.
Plak!
“Aduhh!”
Satu rumah langsung tertawa.
Anita yang datang paling belakang hanya tersenyum kecil sambil membawa singkong rebus.
“Ibu nyuruh nganter ini…”
“Waaah singkong!” teriak Bambang.
Belum sempat diizinkan…
Bambang sudah mengambil satu.
“Heh rakus!” kata Yuli.
“Daripada basi!”
Mereka lalu duduk melingkar di lantai rumah sederhana itu.
Lampu minyak kecil di tengah mereka membuat suasana terasa hangat.
Dandang mulai memperhatikan buku Yanti.
“Kamu kalau besar beneran mau jadi guru?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti diam sebentar.
Lalu menjawab pelan.
“Karena guru itu hebat…”
“Hebat gimana?”
“Bisa bikin orang pintar…”
Suasana mendadak lebih tenang.
Bahkan Dandang yang biasanya banyak bercanda ikut diam mendengarkan.
Yanti melanjutkan.
“Kalau aku jadi guru…”
“Aku mau ngajarin anak-anak desa…”
“Supaya mereka nggak susah…”
Pak Salam yang mendengar dari sudut ruangan perlahan menunduk.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Namun di tengah suasana hangat itu…
Lila muncul di depan rumah.
Ia berdiri sambil melipat tangan.
“Kalian rame banget…”
“Oh Lila! Sini!” kata Yuli.
Lila masuk pelan.
Matanya langsung melihat buku Yanti.
“Kamu belajar lagi?”
“Iya.”
“Rajin banget…”
Nada bicara Lila terdengar aneh.
Yanti tidak menyadari.
Namun Yuli melirik sebentar.
Lila duduk perlahan.
Lalu berkata sambil tersenyum tipis.
“Kalau terlalu pintar nanti nggak punya teman lho…”
Bambang langsung nyeletuk.
“Lho Yanti temannya banyak!”
Lila tersenyum kecil.
“Iya sih…”
“Tapi biasanya anak paling pintar suka sombong…”
Suasana mendadak sedikit canggung.
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Aku nggak sombong kok…”
“Iya sekarang…”
“Lho maksudmu apa?”
“Ya siapa tahu nanti…”
Dandang mulai merasa suasana tidak enak.
Ia langsung memotong.
“Heh daripada ngomongin pintar…”
“Apa?”
“Kita ngomongin Bambang aja.”
“Kenapa aku?!”
“Soalnya mukamu lebih menarik dibahas.”
“Hahaha!”
Suasana kembali cair.
Namun diam-diam…
kalimat Lila tadi membekas di hati Yanti.
Malam semakin larut.
Satu per satu temannya pulang.
Tinggal Yanti yang masih duduk di bawah lampu minyak.
Matanya mulai mengantuk.
Namun ia tetap menulis.
Pak Salam mendekat perlahan.
“Nduk…”
“Iya Pak…”
“Capek nggak?”
“Sedikit…”
“Tidur dulu…”
“Sebentar lagi…”
Pak Salam duduk di samping anaknya.
“Kenapa sih pengen banget jadi guru?”
Yanti berpikir sebentar.
Lalu menjawab lirih.
“Karena aku nggak mau ibu sama bapak susah terus…”
Kalimat itu membuat dada Pak Pak Salam terasa sesak.
Ia mengusap kepala anaknya perlahan.
“Nggak usah mikir berat-berat…”
“Tapi aku pengen bikin bapak ibu bangga…”
Pak Salam tersenyum hangat.
“Kamu sudah bikin bangga…”
Yanti menatap ayahnya.
“Benarkah?”
“Iya…”
“Bahkan sebelum kamu jadi apa-apa…”
Air mata tipis mulai muncul di mata Yanti kecil.
Namun ia tersenyum.
Dan malam itu…
di bawah cahaya lampu minyak sederhana…
mimpi besar seorang anak desa mulai tumbuh perlahan.
Mimpi yang kelak membawanya pada perjalanan hidup panjang…
penuh cinta…
penuh luka…
dan penuh penantian hingga ujung senja.
BAB VIII
HUJAN DAN SURAT KECIL
Musim hujan semakin akrab dengan Desa Tegorejo.
Hampir setiap siang langit berubah gelap. Angin berembus lebih dingin melewati sawah dan kebun tebu di pinggir desa. Jalanan tanah berubah licin, sementara anak-anak justru semakin senang bermain air hujan.
Namun siang itu…
suasana SD Tegorejo terasa sedikit berbeda bagi Yanti.
Entah kenapa…
sejak pagi Bambang terlihat gelisah.
Biasanya anak itu paling ribut di kelas.
Paling sering bikin guru marah.
Paling banyak bicara.
Tapi hari itu…
ia malah diam.
“Heh…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Apa?”
“Kamu sakit?”
“Enggak.”
“Terus kok kayak ayam kehilangan induk?”
Bambang mendecih.
“Ganggu aja…”
Yuli yang duduk di depan langsung menoleh.
“Eh serius…”
“Apa?”
“Dari tadi Bambang nggak jahilin Yanti.”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
Bambang langsung panik.
“Heh! Jangan keras-keras!”
Dandang langsung menyipitkan mata curiga.
“Wahhh…”
“Apaan?”
“Kamu habis ngelakuin dosa ya?”
“Hah?!”
“Biasanya mulutmu kayak radio rusak…”
“Hahaha!”
Anak-anak mulai tertawa.
Bambang makin salah tingkah.
Sementara Yanti hanya bingung melihat tingkah temannya itu.
Jam pelajaran berlangsung seperti biasa.
Namun diam-diam…
Bambang terus melirik ke arah Yanti.
Di bawah meja kayunya…
tangannya menggenggam selembar kertas kecil yang sudah kusut karena diremas berkali-kali.
Ia tampak gugup luar biasa.
“Heh…” bisik Dandang.
“Apa lagi?”
“Itu apa di tanganmu?”
“Bukan apa-apa!”
“Surat ya?”
Bambang langsung menutup mulut Dandang cepat-cepat.
“Sssttt!”
Dandang langsung membelalak.
“WOOOOY!”
Yuli yang mendengar langsung mendekat.
“Surat apa?!”
“Bukan surat!”
“Bohong!”
“Serius!”
Namun wajah Bambang sudah merah sendiri.
Yuli langsung menyeringai jahil.
“Heh jangan-jangan…”
“Apa?”
“Kamu suka sama Yanti?”
BRUK!
Bambang langsung jatuh dari kursi karena kaget.
Satu kelas langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bu Guru Siti yang sedang menulis di papan sampai menoleh.
“Bambang!”
“Iya Bu!”
“Kamu kenapa jatuh?”
“Lantainya licin Bu…”
Padahal lantainya kering.
Satu kelas makin susah menahan tawa.
Jam istirahat tiba.
Anak-anak langsung berhamburan keluar kelas.
Namun Bambang masih duduk diam.
Tangannya berkeringat.
Dandang duduk di sampingnya sambil menahan senyum.
“Kamu serius mau kasih?”
Bambang mengangguk pelan.
“Takut…”
“Takut apa?”
“Nanti diketawain…”
Dandang tertawa kecil.
“Ya memang lucu sih…”
“Heh!”
“Tapi yaudah kasih aja…”
Bambang menarik napas panjang.
Lalu melihat ke arah halaman sekolah.
Yanti sedang duduk bersama Anita di bawah pohon mangga sambil makan bekal.
Rambutnya dikepang dua.
Pita merahnya sedikit miring.
Namun senyumnya…
membuat Bambang makin gugup.
“Heh…” kata Dandang pelan.
“Apa?”
“Kamu beneran suka ya?”
Bambang diam cukup lama.
Lalu menjawab lirih.
“Sedikit…”
Dandang langsung tertawa ngakak.
“Hahaha! Bambang jatuh cinta!”
“Diam!”
Hujan mulai turun pelan.
Anak-anak berlari berteduh di teras kelas.
Yanti masih duduk sambil memandangi air hujan jatuh di halaman sekolah.
“Aku suka hujan…” katanya pelan.
Anita tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Dingin…”
“Kalau aku takut petir…”
Tiba-tiba…
Bambang muncul dari belakang mereka.
Wajahnya tegang.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
Bambang langsung menyodorkan kertas kecil.
“Ini…”
“Apa?”
“Pokoknya baca nanti…”
“Hah?”
Belum sempat Yanti bertanya lagi…
Bambang langsung kabur.
“Heh Bambang!” teriak Yanti bingung.
Dari kejauhan…
Dandang tertawa sambil memukul tiang teras.
“Hahaha! Pucat banget mukanya!”
Yuli langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Entahlah…”
“Coba buka!”
Yanti membuka lipatan kertas kecil itu perlahan.
Tulisan di dalamnya miring-miring dan berantakan.
Namun masih bisa dibaca.
“Yanti jangan marah ya.
Aku suka lihat kamu ketawa.
Jangan bilang siapa-siapa.
Dari orang rahasia.”
Suasana langsung hening.
Yanti membelalak.
Anita menutup mulut menahan tawa.
Yuli langsung teriak.
“WOOOOOO!”
Satu teras langsung menoleh.
“Apa?!”
“Surat cintaaaa!”
“HAAAAAAAA?!”
Anak-anak langsung heboh.
Bambang yang masih berdiri jauh langsung pucat.
“Heh jangan keras-keras!”
Dandang sampai jongkok karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Orang rahasia katanya!”
Yuli langsung teriak lagi.
“Padahal tulisannya kayak cakar ayam Bambang!”
Satu sekolah langsung pecah tertawa.
Bambang langsung menutupi wajahnya sendiri.
“Maluuuu…”
Yanti sendiri masih memegang surat kecil itu.
Pipinya mulai merah.
“Aku nggak ngerti…”
Yuli langsung menggoda.
“Cieee…”
“Apaan sih!”
“Yanti disukai Bambang!”
Anita tertawa kecil.
“Sebenarnya lucu juga…”
Yanti langsung manyun.
“Lucu dari mana…”
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Untuk pertama kalinya…
ada anak laki-laki yang memberinya surat.
Meski tulisannya jelek.
Meski bahasanya aneh.
Tetapi entah kenapa…
surat kecil itu membuat jantung Yanti berdebar aneh.
Namun dari sudut teras sekolah…
Lila memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Matanya menatap surat di tangan Yanti.
Lalu menatap Bambang yang masih malu-malu.
“Huh…”
gumamnya pelan.
Yuli melihat ekspresi itu.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Tapi mukamu jutek banget.”
Lila tersenyum tipis.
“Menurutku itu kekanak-kanakan.”
“Ya memang kita masih anak-anak…” jawab Dandang spontan.
Satu kelompok langsung tertawa.
Lila langsung kesal sendiri.
Hujan semakin deras.
Anak-anak duduk bergerombol di teras sekolah sambil mendengar suara hujan menghantam atap seng.
Bambang akhirnya memberanikan diri mendekat lagi.
“Heh…”
Yanti menoleh.
“Apa?”
“Suratnya…”
“Kenapa?”
“Jangan dibuang ya…”
Yanti menatap Bambang beberapa detik.
Lalu tersenyum kecil.
“Iya…”
Bambang langsung nyengir lebar.
Dandang langsung berbisik ke Yuli.
“Wah bahaya…”
“Kenapa?”
“Bambang resmi jadi penyair kampung.”
“Hahaha!”
Suasana kembali dipenuhi tawa kecil anak-anak desa yang masih polos.
Namun tak ada yang sadar…
bahwa surat kecil sederhana di hari hujan itu…
adalah awal dari kisah panjang tentang cinta…
yang kelak akan tumbuh semakin rumit seiring bertambahnya usia mereka.
BAB IX
LANGIT YANG KEHILANGAN
Hari-hari di rumah kecil keluarga Pak Salam biasanya selalu dipenuhi suara tawa. Suara Ima yang berlari kecil mengejar ayam di halaman, suara Bu Rosmiyati yang memanggil dari dapur, dan suara Yanti yang membaca pelajaran sekolah dengan lantang setiap malam.
Namun beberapa bulan terakhir, suasana itu mulai berubah.
Pak Salam yang biasanya paling kuat bekerja di sawah mulai sering batuk-batuk. Tubuhnya yang dulu tegap perlahan terlihat semakin kurus. Kadang saat pulang dari sawah, ia duduk lama di kursi bambu sambil menahan sesak napas.
Suatu sore, Yanti yang baru pulang sekolah melihat ayahnya duduk termenung di depan rumah.
“Pak… belum masuk?” tanya Yanti sambil melepas tas.
Pak Salam tersenyum kecil.
“Bapak cuma capek sedikit.”
“Tapi bapak pucat.”
“Ah, nanti juga sembuh.”
Yanti mendekat lalu duduk di samping ayahnya.
“Besok Yanti bantu di sawah ya?”
Pak Salam tertawa pelan.
“Anak kecil bantu apa?”
“Bantu nemenin bapak.”
Mata Pak Salam tampak berkaca-kaca mendengar jawaban itu.
“Makasih, Nduk.”
Dari dalam rumah, Bu Rosmiyati keluar membawa segelas teh hangat.
“Masuk dulu, Pak. Anginnya dingin.”
Pak Salam mengangguk pelan.
Namun malam itu, batuk Pak Salam semakin parah.
Suara batuknya terdengar panjang sampai membuat Ima terbangun.
“Ibu… bapak kenapa?” tanya Ima dengan mata setengah menangis.
Bu Rosmiyati mengusap kepala anak kecil itu.
“Bapak cuma sakit sedikit.”
“Tapi kok batuk terus…”
Yanti yang duduk di dekat ayahnya ikut cemas.
Pak Salam mencoba tersenyum meski napasnya terdengar berat.
“Bapak nggak apa-apa.”
Keesokan harinya, Pak Salam dibawa ke puskesmas desa.
Yanti berjalan di belakang sambil memegang tangan Ima erat-erat.
Sepanjang jalan, Yanti diam.
Ia belum pernah melihat ayahnya selemah itu.
Setelah diperiksa dokter, Pak Salam diminta banyak istirahat.
“Jangan terlalu capek bekerja dulu,” kata dokter.
Pak Salam hanya mengangguk.
Tetapi keadaan tidak kunjung membaik.
Hari demi hari, tubuhnya semakin lemah.
Suatu malam hujan turun deras mengguyur Desa Tegorejo.
Lampu minyak di rumah kecil mereka bergoyang tertiup angin.
Pak Salam terbaring di kamar dengan napas tersengal.
Yanti duduk di sampingnya sambil menggenggam tangan ayahnya.
“Pak…” suaranya gemetar.
“Iya, Nduk…”
“Bapak sembuh kan?”
Pak Salam memandang wajah anak sulungnya lama.
Ia tersenyum tipis.
“Yanti harus jadi anak pintar.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Jangan ngomong begitu…”
“Kamu harus jaga ibu… jaga Ima juga.”
Yanti menggeleng kuat-kuat.
“Enggak! Bapak harus sembuh! Nanti nganter Yanti sekolah lagi…”
Bu Rosmiyati yang berdiri di dekat pintu langsung menutup mulutnya sambil menangis.
Ima yang masih kecil ikut menangis karena melihat semua orang menangis.
“Bapak jangan sakit…” katanya lirih.
Pak Salam mengangkat tangan pelan lalu mengusap kepala Ima.
“Ima anak baik ya…”
Malam semakin larut.
Hujan masih turun tanpa henti.
Tetangga mulai berdatangan setelah mendengar kondisi Pak Salam semakin buruk.
Suara doa terdengar pelan memenuhi rumah kecil itu.
Tak lama kemudian…
Napas Pak Salam mulai melemah.
Bu Rosmiyati langsung mendekat.
“Pak.…”
Yanti mengguncang tangan ayahnya perlahan.
“Pak… jangan tidur…”
Namun beberapa saat kemudian, tangan Pak Salam terkulai lemah.
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara hujan dan tangis yang terdengar.
“Innalillahi wa innailaihi rojiun…” ucap salah satu tetangga pelan.
Bu Rosmiyati langsung memeluk tubuh suaminya sambil menangis keras.
“Pak… jangan tinggalin kami…”
Yanti ikut memeluk ayahnya.
“Pak… bangun Pak… Yanti belum bikin bapak bangga…”
Ima menangis ketakutan di sudut ruangan.
“Bapak… bapaaaaak…”
Malam itu rumah kecil mereka dipenuhi duka.
Tetangga perempuan membantu menenangkan Bu Rosmiyati.
Sementara para lelaki mulai menyiapkan segala keperluan pemakaman.
Yanti duduk diam di dekat jenazah ayahnya.
Matanya sembab.
Sesekali ia masih berharap ayahnya bangun dan tersenyum seperti biasa.
Tetapi semuanya telah berubah.
Menjelang subuh, jenazah Pak Salam dimandikan.
Yanti berdiri di balik pintu sambil menangis diam-diam.
Ia melihat tubuh ayahnya yang kini terbujur kaku.
Ayah yang dulu selalu menggendongnya saat kecil. Ayah yang selalu berjalan jauh demi membelikan buku tulis. Ayah yang tertawa paling keras setiap Yanti bercanda.
Kini hanya tinggal kenangan.
Saat kain kafan mulai dibungkuskan, Yanti tak kuat menahan tangis.
“Ibu…”
Bu Rosmiyati memeluk anaknya erat.
“Kita harus ikhlas…” katanya terbata-bata.
“Tapi Yanti masih mau sama bapak…”
“Ibu juga…”
Mereka menangis bersama.
Pagi harinya, warga desa mulai memenuhi rumah.
Suasana begitu sunyi meski banyak orang datang.
Beberapa ibu terlihat mengusap air mata.
Pak Salam dikenal sebagai orang baik di desa.
Ketika keranda jenazah diangkat, tangis Yanti pecah lagi.
“Pak… jangan pergi jauh…”
Ima memeluk kaki ibunya.
“Ibu… bapak mau ke mana?”
Bu Rosmiyati tak mampu langsung menjawab.
Air matanya terus mengalir.
“Bapak pergi sama Allah, Nak…”
“Bapak pulang lagi nggak?”
Pertanyaan polos itu membuat orang-orang di sekitar ikut menunduk haru.
Bu Rosmiyati memeluk Ima erat.
“Bapak sekarang tinggal di surga…”
Yanti berjalan di belakang keranda sambil menangis.
Langkah kecilnya terasa berat.
Jalan desa yang biasa dilewati bersama ayahnya kini terasa begitu asing.
Sesampainya di pemakaman desa, langit tampak mendung.
Angin bertiup pelan melewati pepohonan bambu.
Jenazah Pak Salam perlahan diturunkan ke liang lahat.
Yanti langsung menangis keras.
“Pak… Yanti belum sempat balas kebaikan bapak…”
Seorang tetangga menenangkan bahunya.
“Sabar ya, Nduk…”
Namun Yanti terus menangis.
Ia melihat tanah mulai ditimbunkan sedikit demi sedikit.
Setiap suara cangkul terasa seperti menghantam dadanya.
Ima berdiri memeluk ibunya sambil kebingungan.
“Ibu… kenapa bapak ditutup tanah?”
Bu Rosmiyati menangis sambil mencium kepala anak kecil itu.
“Karena semua orang nanti pulang kepada Allah…”
Setelah pemakaman selesai, orang-orang mulai pulang satu per satu.
Yanti masih berdiri di dekat makam ayahnya.
Angin menggerakkan ujung jilbab kecilnya.
“Pak…” bisiknya lirih.
“Aku bakal rajin sekolah…”
“Aku bakal jaga ibu sama Ima…”
“Jadi bapak tenang ya…”
Air matanya jatuh lagi.
Bu Rosmiyati mendekat lalu merangkul kedua anaknya.
Mereka bertiga berdiri di depan makam sederhana itu dalam diam.
Hari itu, langit Desa Tegorejo terasa berbeda.
Bagi Yanti, dunia tidak lagi sama.
Namun di tengah duka yang begitu dalam, ia mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus tetap berjalan, meski hati kehilangan seseorang yang paling dicintai.
BAB X
MAS NUR DAN PANDANGAN PERTAMA
Waktu berjalan begitu cepat di Desa Tegorejo.
Musim demi musim berlalu.
Sawah-sawah tetap hijau seperti dulu. Suara ayam masih terdengar setiap pagi. Anak-anak kecil yang dulu berlarian tanpa sandal di jalan desa kini mulai tumbuh remaja.
Begitu juga dengan Yanti.
Anak perempuan yang dulu menangis di hari pertama masuk SD itu kini sudah lulus sekolah dasar. Seragam putih merahnya telah disimpan rapi di lemari kayu tua peninggalan ayahnya.
Kini…
ia akan memakai seragam putih biru.
Namun sejak Pak Salam meninggal beberapa tahun lalu, suasana rumah mereka tak pernah benar-benar sama lagi.
Rumah kecil itu masih berdiri sederhana di pinggir sawah. Tetapi kini tidak ada lagi suara tawa keras Pak Salam setiap pagi. Tidak ada lagi suara beliau menyetrika sambil bercanda.
Yang tersisa hanyalah kenangan.
Meski begitu, Bu Rosmiyati berusaha tetap kuat demi kedua anaknya.
Dan pagi itu…
langit Tegorejo tampak cerah menyambut hari pertama masuk SMP.
Di dalam kamar kecilnya, Yanti berdiri di depan cermin kusam sambil merapikan jilbab putih barunya. Tangannya tampak sedikit gemetar karena gugup.
Rambutnya kini mulai panjang.
Wajahnya semakin manis.
Tatapan matanya juga mulai berubah lebih dewasa.
Ia bukan lagi anak kecil yang suka mengejar Bambang sambil membawa sandal atau menangis karena kalah bermain gobak sodor.
Kini…
Yanti mulai tumbuh menjadi gadis remaja.
“Ibukkk…” panggilnya pelan.
“Iya?” sahut Bu Rosmiyati dari dapur.
“Jilbabku miring nggak?”
Bu Rosmiyati masuk sambil membawa sisir kecil. Ia mendekat lalu membetulkan bagian peniti di jilbab anaknya dengan hati-hati.
“Nah… sekarang cantik.”
“Beneran?”
“Iya.”
Yanti memperhatikan dirinya lagi di cermin.
Masih ada rasa tidak percaya dalam dirinya.
“Aku udah SMP ya, Bu…”
Bu Rosmiyati tersenyum tipis.
“Iya… bapakmu pasti bangga lihat kamu sekarang.”
Mendengar itu, wajah Yanti langsung sedikit berubah.
Ia diam sesaat.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba datang.
Namun sebelum suasana menjadi sedih, suara Ima terdengar dari luar kamar.
“Kak Yantiiii!”
BRAK!
Anak kecil itu masuk sambil membawa pita rambut warna merah muda.
“Kakak cantik banget!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Ima bikin kaget aja.”
Ima memperhatikan kakaknya dari atas sampai bawah dengan mata berbinar.
“Kayak anak kota…”
“Apaan sih.”
“Beneran!”
Ima lalu mendekat sambil berbisik pelan.
“Nanti pasti banyak cowok suka.”
“Ihhh!” Yanti langsung melotot malu.
Bu Rosmiyati tertawa kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Ima jangan godain kakakmu.”
“Tapi emang cantik…”
Yanti langsung menutup muka dengan kedua tangan.
“Udah ah!”
Ima malah makin semangat menggoda.
“Nanti kalau ada yang suka jangan lupa bilang Ima.”
“Kamu ngerti apa sih?”
“Aku udah gede!” jawab Ima bangga.
“Gede dari mana? Kemarin masih takut ayam.”
“Itu beda!”
Mereka langsung tertawa bersama.
Hari pertama SMP terasa jauh berbeda dibanding SD.
Bangunan sekolah lebih besar.
Muridnya lebih banyak.
Dan suasananya terasa lebih asing.
Yanti berjalan pelan bersama Anita dan Yuli memasuki gerbang sekolah.
Tas mereka masih tampak baru.
Sepatu hitam mereka masih bersih mengilap.
“Ya ampun rame banget…” kata Anita gugup.
“Aku jadi takut…” tambah Yuli.
“Takut kenapa?” tanya Yanti.
“Katanya anak SMP suka galak.”
“Tuh lihat kakak kelasnya…” bisik Anita.
“Mukanya serem-serem.”
Yanti ikut menelan ludah.
Jujur saja, ia juga gugup.
Namun tiba-tiba—
“Heh minggirrr!”
BRUK!
Dandang menabrak mereka sambil berlari.
“Aduhhh!” teriak Yuli.
“Dandanggg!” bentak Anita.
Dandang malah tertawa keras.
“Hahaha! Biar semangat hari pertama!”
“Kamu tuh bikin kaget!”
“Kalau nggak kaget bukan Dandang namanya.”
Tak lama kemudian Bambang muncul sambil membawa tas di pundaknya.
Rambutnya masih sama berantakan seperti dulu.
Namun kini tubuhnya mulai tinggi dan suaranya sedikit lebih berat.
“Heh Yanti…”
“Apa?”
“Kamu gugup ya?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Tanganmu gemetar tuh.”
Yanti langsung menyembunyikan tangannya cepat-cepat.
“Heh jangan lihat-lihat!”
Bambang tertawa kecil.
Untuk sesaat…
suasana terasa sama seperti masa SD dulu.
Masih ada candaan.
Masih ada keusilan.
Masih ada rasa nyaman karena tumbuh bersama sejak kecil.
Namun…
semuanya mulai berubah ketika seorang laki-laki berjalan melewati mereka.
Langkahnya tenang.
Seragamnya rapi.
Kulitnya sawo matang bersih.
Matanya teduh.
Anak laki-laki itu berjalan sambil membawa buku di dada.
Dan entah kenapa…
kehadirannya membuat beberapa siswi langsung memperhatikan.
“Eh…” bisik Yuli pelan.
“Apa?”
“Itu siapa?”
“Yang mana?”
“Yang lewat tadi…”
Anita ikut melirik.
“Oh…”
“Lumayan ganteng…”
Dandang langsung nyeletuk.
“Ah biasa aja.”
Namun Bambang ikut melirik sekilas.
Dan entah kenapa…
dadanya langsung terasa tidak nyaman.
Sementara Yanti…
diam.
Matanya mengikuti langkah anak laki-laki itu tanpa sadar.
Untuk pertama kalinya…
jantungnya berdegup aneh.
Di dalam kelas…
murid-murid baru mulai duduk mencari tempat.
Yanti duduk dekat jendela bersama Anita.
Sementara Yuli duduk tepat di belakang mereka.
Dandang dan Bambang duduk di pojok sambil bercanda seperti biasa.
Namun beberapa menit kemudian…
anak laki-laki tadi masuk kelas.
Dan ternyata…
ia sekelas dengan mereka.
“Heh…” bisik Yuli cepat.
“Itu lagi…”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam ia langsung salah tingkah sendiri.
Tak lama kemudian wali kelas masuk membawa buku absen.
“Selamat pagi anak-anak.”
“Pagiii Buuu…”
“Sebelum belajar, kita perkenalan dulu ya.”
Satu per satu murid mulai berdiri memperkenalkan diri.
Ada yang gugup.
Ada yang terlalu pelan.
Ada juga yang bikin satu kelas tertawa.
Hingga akhirnya giliran anak laki-laki tadi.
Ia berdiri tenang.
“Nama saya Mas Nur.”
Suaranya lembut dan tenang.
“Rumah saya di Dusun Karanganyar.”
“Senang berkenalan dengan semuanya.”
Beberapa siswi langsung saling pandang.
“Wah suaranya enak…”
“Kalem banget…”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Halah…”
Dandang menyenggol lengannya.
“Kamu kenapa?”
“Biasa aja.”
“Cemburu ya?”
“Apaan!”
Namun matanya tetap melirik ke arah Mas Nur.
Tak lama kemudian giliran Yanti.
Ia berdiri perlahan sambil menggenggam ujung bajunya karena gugup.
“Nama saya Yanti…”
Belum selesai bicara—
tiba-tiba Bambang nyeletuk keras.
“Anak paling rajin sedunia!”
Satu kelas langsung tertawa.
Yanti langsung melotot.
“Bambang!”
Guru sampai ikut tersenyum.
“Wah berarti pintar ya?”
Yanti malu-malu.
“Biasa aja Bu…”
Namun saat duduk kembali…
tanpa sengaja matanya bertemu dengan Mas Nur.
Dan anak laki-laki itu…
tersenyum kecil padanya.
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung berdebar keras.
Ia cepat-cepat membuang muka.
Yuli yang melihat langsung menyeringai jahil.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu salting ya?”
“Apaan sih!”
“Hahaha!”
Pipi Yanti mulai memerah sendiri.
Jam istirahat tiba.
Kantin sekolah penuh sesak.
Suara anak-anak bercampur dengan aroma bakso dan gorengan hangat.
Yanti duduk bersama Anita dan Yuli sambil makan bakso.
Tiba-tiba…
sebuah bola plastik menggelinding ke kaki Yanti.
“Heh ambilin!” teriak Dandang dari lapangan.
Yanti mengambil bola itu.
Namun sebelum ia melempar—
Mas Nur datang lebih dulu.
“Biar saya aja.”
“Oh…”
Mas Nur tersenyum kecil lalu mengambil bola dari tangan Yanti.
“Terima kasih.”
“Iya…”
Suasana mendadak canggung.
Yanti jadi salah tingkah sendiri.
Mas Nur lalu menoleh sebentar.
“Kamu dulu SD Tegorejo ya?”
Yanti kaget.
“Kok tahu?”
“Saya pernah lihat waktu lomba cerdas cermat kecamatan.”
“Oh…”
“Kamu juara waktu itu kan?”
Yanti tersenyum malu.
“Iya…”
“Hebat.”
Pipi Yanti langsung memerah.
Sementara dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya dengan wajah datar.
Dandang melirik sahabatnya itu sambil menyeringai.
“Heh…”
“Apa?”
“Mukamu kayak ketelan biji salak.”
“Diamlah…”
“Kamu nggak suka ya?”
“Nggak suka apaan?”
“Mas Nur ngobrol sama Yanti.”
Bambang langsung berdiri cepat.
“Aku mau main bola.”
“Padahal bolanya udah berhenti dari tadi,” gumam Dandang sambil tertawa kecil.
Sore hari…
sepulang sekolah…
Yanti berjalan pelan di jalan desa bersama Anita dan Yuli.
Langit mulai berubah jingga.
Angin sore bertiup pelan melewati sawah.
Namun pikiran Yanti terasa kacau.
Bayangan senyum Mas Nur terus muncul di kepalanya.
“Yantiiii…” goda Yuli.
“Apa…”
“Kamu senyum-senyum sendiri.”
“Enggak.”
“Bohong.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Kayaknya ada yang mulai suka seseorang…”
Yanti langsung panik.
“Eh nggak!”
“Tadi waktu Mas Nur ngomong mukamu merah.”
“Itu panas!”
“Padahal mendung…”
“Hahaha!”
Yanti langsung malu sendiri.
Sesampainya di rumah, Ima langsung menyambut di depan pintu.
“Kakak pulanggg!”
“Iya.”
“Gimana SMP?”
“Capek.”
“Terus ada cowok ganteng nggak?”
“IMAAA!”
Ima langsung lari sambil tertawa ngakak.
Bu Rosmiyati sampai geleng-geleng kepala dari dapur.
“Kamu ngajarnya apa sih, Ima?”
“Kan penasaran…”
Yanti cuma bisa menghela napas malu.
Namun diam-diam…
ia tersenyum sendiri.
Dan tanpa ia sadari…
hari itu menjadi awal dari sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Perasaan aneh.
Hangat.
Membingungkan.
Dan diam-diam membuatnya mulai menunggu hari esok datang lebih cepat.
Karena sejak hari itu…
nama Mas Nur perlahan mulai tinggal di dalam hatinya.
BAB XI
CINTA PERTAMA DI BANGKU SMP
Hari-hari di SMP mulai terasa lebih cepat bagi Yanti.
Entah kenapa…
ia jadi lebih semangat berangkat sekolah.
Kalau dulu alasannya hanya karena ingin belajar…
sekarang ada alasan lain yang diam-diam tumbuh di dalam hatinya.
Mas Nur.
Kakak kelas yang duduk di kelas tiga SMP.
Nama itu mulai sering muncul dalam pikirannya.
Saat belajar.
Saat makan.
Bahkan saat hendak tidur malam.
Dan itu membuat Yanti sendiri bingung.
Pagi itu…
langit Desa Tegorejo cerah setelah hujan semalaman.
Jalanan desa masih sedikit basah ketika Yanti berjalan menuju sekolah bersama Anita dan Yuli.
Seragam putih biru mereka tampak masih baru karena Yanti dan teman-temannya memang baru duduk di kelas satu SMP.
Namun sejak tadi…
Yuli terus memperhatikan wajah Yanti dengan senyum aneh.
“Heh…”
“Apa?” tanya Yanti curiga.
“Kamu berubah ya…”
“Berubah apa?”
“Sekarang kalau ke sekolah lebih lama dandannya.”
Yanti langsung melotot.
“Apaan sih!”
“Dulu rambutmu kayak sapu ijuk.”
“Heh!”
“Sekarang jilbabmu disetrika rapi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Dan sekarang pakai bedak.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Ini bukan bedak!”
“Terus?”
“Bedak bayi…”
“Hahahaha!”
Yuli langsung ngakak sambil memegang perut.
“Ya tetap aja bedak!”
Yanti langsung mengejar mereka sambil malu sendiri.
“Ih kalian nyebelin!”
Namun diam-diam…
ia memang mulai lebih memperhatikan penampilannya.
Semenjak sering bertemu Mas Nur di sekolah.
Sesampainya di sekolah…
suasana halaman SMP Tegorejo sudah ramai.
Anak-anak kelas satu masih tampak kikuk dan malu-malu.
Sementara kakak kelas berjalan santai seolah sudah menguasai sekolah itu sejak lama.
“Heh lihat…” bisik Anita pelan.
“Itu kakak kelas kelas tiga.”
Yanti ikut melirik sekilas.
Dan tanpa sadar…
matanya langsung mencari satu orang.
Mas Nur.
Tak lama kemudian…
ia melihat sosok itu berjalan di koridor lantai depan.
Seragamnya rapi seperti biasa.
Tas hitam tergantung di bahunya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak diam-diam memperhatikan saat Mas Nur lewat.
“Ya ampun…” bisik Yuli.
“Kalem banget ya dia.”
Anita mengangguk.
“Pantes banyak yang suka.”
Yanti pura-pura tidak peduli.
“Oh…”
Padahal diam-diam…
jantungnya mulai berdegup lagi.
Di dalam kelas…
suasana masih ramai seperti biasa.
Beberapa anak laki-laki bermain lempar kertas.
Sebagian sibuk menyalin PR pagi-pagi.
Dandang berdiri di atas kursi sambil pura-pura jadi penyiar radio.
“Selamat pagi warga kelas satu B!”
“Hahaha!”
“Hari ini cuaca diperkirakan cerah…”
“Namun hati Bambang mendung…”
Satu kelas langsung menoleh ke arah Bambang.
“Heh!” bentak Bambang.
Dandang tertawa makin keras.
“Karena seseorang sekarang sering lihat kakak kelas!”
“HOOOOOO!”
Kelas langsung heboh.
Yanti yang baru masuk langsung salah tingkah.
“Apaan sih kalian…”
Bambang langsung melempar gulungan kertas ke arah Dandang.
“Diam nggak sih!”
Namun Dandang malah makin semangat.
“Wah ada yang sensitif!”
“Hahaha!”
Yanti buru-buru duduk sambil menahan malu.
Jam istirahat tiba.
Seperti beberapa hari terakhir…
Yanti diam-diam lebih sering keluar kelas saat jam istirahat.
Alasannya sederhana.
Ia berharap bisa bertemu Mas Nur.
Meski hanya melihat sekilas.
Hari itu Yanti sedang membeli es lilin di kantin bersama Anita dan Yuli ketika tiba-tiba—
“Yanti.”
Suara itu membuat Yanti langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri tidak jauh dari mereka sambil membawa buku.
Yuli langsung melirik Anita sambil menahan senyum.
“Hai…” jawab Yanti pelan.
“Kamu kelas satu B kan?”
“Iya.”
“Udah mulai betah di SMP?”
Yanti mengangguk kecil.
“Lumayan…”
Mas Nur tersenyum hangat.
“Kalau ada apa-apa jangan takut tanya kakak kelas.”
“Iya…”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
Anita dan Yuli pura-pura sibuk minum es supaya tidak tertawa.
Mas Nur lalu menatap buku di tangan Yanti.
“Itu pelajaran Matematika?”
“Iya…”
“Kamu suka Matematika?”
“Suka sih…”
“Bagus. Dulu aku juga suka.”
Yanti diam-diam senang mendengar obrolan sederhana itu.
Karena baginya…
bicara beberapa menit dengan Mas Nur saja sudah cukup membuat harinya terasa berbeda.
Namun dari kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil makan cilok.
Wajahnya tampak datar.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apaan?”
“Itu Yanti ngobrol sama Mas Nur.”
Bambang pura-pura cuek.
“Ya terus?”
“Cemburu?”
“Najis.”
“Hahaha!”
Dandang tertawa keras.
“Kalau nggak cemburu kenapa mukamu kayak ketelan cabe?”
Bambang langsung manyun.
Padahal dalam hati…
ia memang merasa tidak nyaman.
Sejak kecil Yanti selalu dekat dengan mereka.
Tapi sekarang…
perhatian Yanti mulai berubah.
Beberapa hari kemudian…
sekolah mengadakan kerja bakti bersama.
Anak kelas satu diminta membersihkan taman depan.
Sedangkan kakak kelas membantu mengecat pagar sekolah.
Yanti sedang menyapu daun-daun kering ketika tiba-tiba angin meniup beberapa kertas tugasnya sampai berhamburan.
“Eh!”
Kertas-kertas itu beterbangan ke halaman.
Yanti langsung panik mengejarnya.
Namun seseorang lebih dulu membantu memungut satu per satu.
“Ini punya kamu?”
Yanti langsung berhenti.
Mas Nur.
“Iya… makasih.”
Mas Nur menyerahkan kertas itu sambil tersenyum kecil.
“Kamu ceroboh ya.”
Yanti langsung malu.
“Hehe…”
“Tapi tulisanmu rapi.”
“Ah biasa aja.”
“Serius.”
Pipi Yanti mulai memerah lagi.
Dari kejauhan, Yuli yang melihat langsung menahan tawa.
“Heh lihat…”
“Apa?”
“Yanti salting lagi.”
Anita ikut tertawa kecil.
“Udah parah itu.”
Hari-hari berlalu semakin cepat.
Dan tanpa disadari…
Yanti mulai hafal kebiasaan Mas Nur.
Ia tahu Mas Nur sering duduk di perpustakaan saat jam kosong.
Ia tahu kakak kelas itu suka membaca buku sejarah.
Ia tahu Mas Nur selalu datang pagi.
Dan ia tahu…
senyum Mas Nur selalu berhasil membuat jantungnya kacau.
Suatu sore…
hujan turun deras saat sekolah hampir selesai.
Anak-anak berlarian mencari tempat berteduh.
Yanti berdiri sendirian di teras kelas sambil memeluk tasnya.
Anita dan Yuli sudah dijemput lebih dulu.
Suara hujan terdengar keras di atap sekolah.
“Yanti…”
Ia menoleh.
Ternyata Mas Nur.
“Kamu belum pulang?”
“Belum…”
“Hujannya deres banget.”
Mas Nur lalu membuka tasnya dan mengeluarkan payung biru tua.
“Ayo bareng sampai pertigaan desa.”
Yanti langsung gugup.
“Hah?”
“Rumahmu arah Tegorejo kan?”
“Iya…”
“Aku lewat situ juga.”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
“Yaudah…”
Mereka berjalan berdampingan di bawah payung kecil.
Jalan desa tampak basah.
Udara terasa dingin.
Dan entah kenapa…
suasana terasa sangat berbeda.
Canggung.
Namun hangat.
“Yanti…”
“Iya?”
“Kamu suka hujan?”
Yanti tersenyum kecil.
“Suka.”
“Kenapa?”
“Karena hujan bikin dunia terasa tenang.”
Mas Nur memandang jalan di depan sambil tersenyum tipis.
“Kamu unik ya.”
“Unik gimana?”
“Cara mikirmu beda.”
Yanti menunduk malu.
Hatinya terasa aneh.
Untuk beberapa saat…
mereka berjalan dalam diam.
Hanya suara hujan yang menemani.
Lalu tiba-tiba…
Mas Nur berkata pelan.
“Aku senang kenal kamu.”
Langkah Yanti langsung melambat sedikit.
Jantungnya berdebar keras.
Pipinya terasa panas.
Dan saat itu…
Yanti sadar.
Ia benar-benar mulai jatuh cinta.
Cinta pertama.
Yang datang sederhana.
Di bangku SMP.
Saat ia masih menjadi murid kelas satu…
dan Mas Nur adalah kakak kelas kelas tiga yang diam-diam mulai mengisi hatinya.
BAB XII
KARATE, TEMAN BARU, DAN JANJI PADA IBU
Hari-hari Yanti di SMP mulai terasa semakin sibuk.
Selain pelajaran sekolah yang semakin sulit, ia juga mulai mengenal banyak hal baru di luar kelas.
Dan semua itu bermula pada suatu Minggu pagi.
Pagi itu matahari baru saja muncul di balik sawah Desa Tegorejo. Embun masih menempel di rumput-rumput halaman sekolah ketika Yanti berjalan pelan sambil membawa botol minum kecil.
Ia mengenakan baju olahraga dan celana training biru tua.
Rambutnya diikat rapi.
Di sampingnya, Ima berjalan sambil terus bertanya.
“Kak… karate itu berantem ya?”
Yanti tertawa kecil.
“Bukan.”
“Terus?”
“Olahraga.”
“Tapi kok mukul-mukul?”
“Itu latihan.”
Ima tampak berpikir serius.
“Kalau aku ikut boleh nggak?”
“Kamu masih kecil.”
“Huh… kakak jahat.”
Yanti langsung mencubit pipi adiknya pelan.
“Kalau udah gede ikut aja.”
Mereka tertawa bersama.
Beberapa hari sebelumnya, sekolah mereka membuka kegiatan ekstrakurikuler karate.
Latihannya dilaksanakan setiap Minggu pagi dan Rabu sore di aula belakang sekolah.
Awalnya Yanti tidak terlalu tertarik.
Namun Anita dan Yuli terus membujuk.
“Ayo ikut…” kata Anita.
“Biar keren,” tambah Yuli.
“Lagian katanya banyak kakak kelas ikut.”
Yanti langsung pura-pura cuek.
“Terus kenapa?”
Yuli menyeringai.
“Siapa tahu Mas Nur ikut.”
“Heh!”
Pipi Yanti langsung merah.
Dan akhirnya…
ia benar-benar mendaftar.
Hari pertama latihan karate terasa sangat ramai.
Anak-anak dari berbagai kelas berkumpul di aula sekolah.
Ada yang masih malu-malu. Ada yang terlalu semangat. Ada juga yang cuma ikut karena ingin punya banyak teman.
Yanti berdiri di barisan belakang bersama Anita dan Yuli.
“Heh…” bisik Yuli.
“Apa?”
“Lihat depan.”
Yanti menoleh.
Di depan aula berdiri dua orang pelatih karate.
Yang pertama bertubuh tinggi besar dengan kumis tebal.
Yang kedua lebih muda dan tampak tenang.
Seorang kakak kelas langsung berbisik.
“Itu Sensei Sambas.”
“Yang sebelahnya Sensei Anton.”
Tak lama kemudian Sensei Sambas maju ke depan.
Suaranya keras dan tegas.
“Karate bukan buat cari musuh!”
Suasana aula langsung diam.
“Karate buat melatih disiplin!”
“Melatih hati!”
“Melatih tanggung jawab!”
Semua murid langsung memperhatikan serius.
Sensei Anton lalu melanjutkan dengan suara lebih tenang.
“Kalau ikut karate harus saling menghormati.”
“Tidak boleh sombong.”
“Tidak boleh memakai ilmu untuk menyakiti orang.”
Yanti mendengarkan dengan serius.
Entah kenapa…
ia mulai tertarik.
Latihan pertama dimulai dengan pemanasan.
Dan di situlah kekacauan terjadi.
“SATU!” teriak Sensei Sambas.
“DUA!”
“LARI KELILING AULA!”
“Astaga…” keluh Dandang.
Bambang langsung tertawa.
“Baru juga mulai udah mau pingsan.”
“Heh kamu juga ngos-ngosan!”
Yanti yang sedang lari malah tertawa melihat mereka.
Namun beberapa menit kemudian…
ia sendiri mulai kelelahan.
“Kakiku mau copot…” bisiknya pada Anita.
“Baru awal…” jawab Anita sambil terengah.
Di tengah latihan itu, Yanti mulai mengenal banyak teman baru.
Ada Aziz.
Anak kelas dua yang suka bercanda dan paling ribut saat latihan.
“Kalau push up aku bisa seratus!” katanya sombong.
Namun baru sepuluh kali sudah roboh.
“Hahaha!”
Satu aula langsung tertawa.
Lalu ada Agus.
Tubuhnya kecil tapi gerakannya cepat.
Ia paling rajin membantu membereskan matras.
“Kalau latihan jangan malas,” katanya serius.
Dandang langsung nyeletuk.
“Ini anak kayak bapak-bapak.”
Agus cuma tertawa kecil.
Ada juga Karwan.
Anak pendiam yang jarang bicara.
Namun tendangannya paling kuat.
Sekali latihan…
suara gedebuknya bikin semua orang menoleh.
“Buset…” kata Bambang.
“Kakinya dari besi apa?”
Karwan cuma nyengir malu.
Minggu demi minggu berlalu.
Yanti mulai menikmati latihan karate.
Setiap Minggu pagi ia bangun lebih awal.
Sementara setiap Rabu sore ia langsung menuju aula sepulang sekolah.
Tubuhnya mulai lebih kuat.
Ia juga mulai lebih percaya diri.
Namun yang paling membuat Yanti senang adalah…
lingkar pertemanannya semakin luas.
Ia mulai mengenal banyak orang dari sekolah lain.
Karena ternyata latihan gabungan sering diadakan di kecamatan.
Dan di sanalah Yanti bertemu Riyadi.
Hari itu latihan gabungan dilaksanakan di gedung olahraga kecamatan.
Pesertanya datang dari berbagai SMP.
Suasananya jauh lebih ramai dibanding latihan biasa.
Yanti tampak gugup.
“Banyak banget orang…” bisiknya.
Yuli langsung menyenggol.
“Jangan malu-malu.”
Di tengah keramaian itu, seorang laki-laki menghampiri mereka.
Tubuhnya tinggi.
Kulitnya sedikit gelap karena sering latihan di luar.
Namun wajahnya terlihat ramah.
“Heh kalian dari SMP Tegorejo ya?”
“Iya,” jawab Bambang.
“Aku Riyadi.”
“Dari SMP Karanganyar.”
Ia tersenyum ramah pada semuanya.
Termasuk pada Yanti.
“Namamu siapa?”
“Yanti.”
“Oh…”
“Kamu yang tadi gerakannya bagus waktu latihan kuda-kuda ya?”
Yanti langsung salah tingkah.
“Ah nggak…”
Riyadi tertawa kecil.
“Serius.”
Sejak hari itu…
Riyadi mulai sering ikut latihan gabungan bersama mereka.
Orangnya ramah.
Sopan.
Dan paling sering membantu adik-adik latihan.
Suatu sore setelah latihan…
Riyadi mengantar Yanti sampai dekat jalan desa.
Saat itulah Bu Rosmiyati kebetulan melihat mereka.
Awalnya Yanti langsung panik.
“Waduh…” bisiknya.
Namun Riyadi langsung menunduk sopan.
“Assalamualaikum, Bu.”
“Waalaikumsalam.”
“Kamu teman Yanti?”
“Iya Bu.”
“Sama-sama latihan karate.”
Bu Rosmiyati memperhatikan Riyadi beberapa saat.
Anak itu tampak sopan.
Cara bicaranya juga halus.
“Masuk dulu.”
“Eh nggak usah Bu…”
“Nggak apa-apa.”
Akhirnya Riyadi masuk sebentar.
Ima langsung muncul dari dapur sambil penasaran.
“Heh siapa ini?”
“Teman kakak.”
“Cowok?”
“Ima!”
Riyadi langsung tertawa.
“Adiknya lucu.”
Ima malah mendekat.
“Namanya siapa?”
“Riyadi.”
“Oh…”
“Kalau kak Yanti nakal bilang ya.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Malam harinya…
setelah Riyadi pulang…
Bu Rosmiyati memanggil Yanti pelan.
“Yanti…”
“Iya Bu?”
“Kamu sekarang mulai besar.”
Yanti diam.
“Berteman boleh.”
“Tapi jangan macam-macam.”
“Iya Bu…”
Bu Rosmiyati lalu berkata pelan.
“Ibu senang kalau ada teman laki-laki yang bisa jaga kamu seperti kakak.”
“Tapi ibu nggak mau kamu pacaran dulu.”
Yanti langsung menunduk.
“Masih sekolah…” lanjut ibunya.
“Fokus belajar dulu.”
“Iya Bu.”
“Janji?”
Yanti mengangguk pelan.
“Janji.”
Sejak malam itu…
Bu Rosmiyati mulai menganggap Riyadi seperti kakak angkat bagi Yanti.
Dan Riyadi sendiri benar-benar menjaga sikap.
Ia sering mengingatkan Yanti belajar.
Kadang membantu mengantar kalau latihan terlalu sore.
Dan yang paling sering ia katakan adalah:
“Jangan pacaran dulu.”
Yanti selalu manyun mendengarnya.
“Semua orang ngomong begitu…”
Riyadi tertawa.
“Karena kamu masih kecil.”
Selain Riyadi…
Yanti juga mulai dekat dengan beberapa teman baru dari luar sekolah.
Ada Pincuk.
Anak paling jahil saat latihan.
Kerjanya mengganggu orang pemanasan.
“Heh fokus!” bentak Sensei Sambas.
“Siap Sensei!”
Namun lima menit kemudian ia bercanda lagi.
Lalu ada Munasro.
Tubuhnya besar dan suaranya keras.
Tetapi sebenarnya hatinya lembut.
Ia paling takut kalau Sensei Sambas marah.
“Kalau Sensei Sambas lihat kita ngobrol habis kita,” bisiknya suatu hari.
Dan benar saja.
“HEH! LATIHAN ATAU ARISAN?!”
Satu aula langsung diam.
“Hahaha!”
Hari-hari karate menjadi warna baru dalam hidup Yanti.
Ia belajar disiplin.
Belajar menjaga diri.
Belajar mengenal banyak orang.
Dan perlahan…
ia mulai mengerti bahwa dunia ternyata jauh lebih luas dari yang ia bayangkan.
Di antara latihan Minggu pagi yang melelahkan… Di antara sore-sore Rabu yang penuh teriakan semangat… Di antara tawa teman-teman baru…
masa remaja Yanti mulai tumbuh semakin berwarna.
Dan tanpa ia sadari…
semua pertemuan itu kelak akan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
BAB XIII
CEMBURU DI BALIK TAWA
Sejak pulang bersama di bawah payung sore itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai terasa semakin dekat.
Memang belum pernah ada kata cinta yang diucapkan secara langsung.
Belum ada status pacaran.
Belum ada janji apa pun.
Namun hampir semua orang mulai bisa melihat perubahan kecil di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti saat jam istirahat.
Cara Yanti tanpa sadar tersenyum saat melihat kakak kelas itu datang.
Dan tentu saja…
itu tidak pernah luput dari perhatian teman-teman mereka.
Hari Minggu pagi itu aula kecamatan kembali ramai oleh latihan karate gabungan.
Suara teriakan semangat memenuhi ruangan.
“KIHON!”
“SATU!”
“DUA!”
“TIGA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan wajah galak seperti biasa.
Sementara Sensei Anton berjalan mengelilingi barisan memperhatikan gerakan murid-muridnya.
Yanti berdiri di barisan tengah bersama Anita dan Yuli.
Keringat mulai membasahi dahinya.
Namun wajahnya tampak cerah.
Karena sejak ikut karate…
dunianya terasa jauh lebih ramai.
Ia punya banyak teman baru.
Ada Aziz yang selalu paling ribut.
Agus yang terlalu serius.
Karwan yang pendiam tapi kuat.
Pincuk yang kerjaannya bercanda.
Dan Munasro yang suaranya paling keras saat kiai.
“Heh Sinok!”
Yanti langsung menoleh.
Riyadi melambaikan tangan dari samping aula sambil membawa dua botol air mineral.
Yanti langsung berjalan mendekat.
“Apaan manggil Sinok terus…”
Riyadi tertawa kecil.
“Ya cocok.”
“Apanya yang cocok?”
“Kamu kan anak desa baik-baik.”
“Ih apaan sih…”
Riyadi menyerahkan botol minum itu.
“Nih.”
“Thanks… Kakang.”
Sejak beberapa bulan terakhir…
Yanti mulai memanggil Riyadi dengan sebutan “Kakang”.
Awalnya karena Bu Rosmiyati memang meminta Riyadi menjaga Yanti seperti adik sendiri.
Dan Riyadi benar-benar menjalankan itu.
Kalau latihan pulang terlalu sore, ia sering mengantar.
Kalau Yanti mulai malas belajar, ia yang cerewet mengingatkan.
Bahkan kadang Riyadi lebih galak dari ibunya sendiri.
“Heh Sinok…”
“Apa lagi?”
“Jangan dekat-dekat cowok aneh.”
Yanti langsung melotot.
“Semua cowok menurut Kakang aneh.”
“Ya memang.”
“Mas Nur juga?”
Riyadi langsung diam beberapa detik.
Lalu menyipitkan mata.
“Hm…”
Yanti langsung tertawa.
“Nah kan.”
“Kamu mulai berani sekarang.”
“Hahaha!”
Di sudut aula…
Bambang memperhatikan mereka dari jauh.
Wajahnya langsung berubah datar.
Dandang yang sedang duduk sambil makan gorengan langsung menyenggolnya.
“Heh…”
“Apa?”
“Sekarang ada Kakang Riyadi juga.”
“Terus?”
“Sainganmu banyak.”
Bambang langsung mendecih pelan.
“Siapa juga saingan.”
“Halah.”
Dandang tertawa kecil.
Padahal ia tahu…
Bambang mulai merasa Yanti semakin jauh darinya.
Dulu…
Yanti selalu bermain bersama mereka.
Sekarang…
Yanti punya dunia baru.
Punya banyak teman baru.
Dan itu membuat Bambang diam-diam tidak nyaman.
Hari Senin pagi…
kelas satu B kembali ribut seperti biasa.
Dandang sedang menggambar wajah Bambang di papan tulis dengan tambahan kumis tebal dan telinga monyet.
“Heh itu siapa?!” bentak Bambang.
Dandang pura-pura berpikir.
“Hm… mirip hansip ronda.”
Satu kelas langsung tertawa pecah.
“Hahahaha!”
“Kurang ajar!”
Bambang langsung mengejar Dandang keliling kelas.
Sementara Yuli sibuk bergosip dengan Anita.
“Heh serius…”
“Apa?”
“Semalam Mas Nur lewat depan rumah Yanti.”
Anita langsung membelalak.
“Hah?!”
“Iya!”
“Ngapain?”
“Nggak tahu…”
Yuli menurunkan suara.
“Tapi Yanti senyum-senyum terus pagi ini.”
Anita langsung melirik Yanti yang sedang membuka buku sambil tersenyum sendiri.
“Hahaha iya juga…”
Yanti langsung sadar diperhatikan.
“Heh kenapa lihat-lihat?”
“Cieeeee…”
“Apaan sih!”
“Orang lagi jatuh cinta beda auranya.”
Pipi Yanti langsung merah.
Namun belum sempat ia membalas—
Mas Nur lewat di depan kelas.
Dan seperti biasa…
matanya langsung mencari Yanti.
Saat mata mereka bertemu…
Mas Nur tersenyum kecil.
DEG.
Yanti langsung salah fokus.
Pensilnya jatuh.
BRUK.
“Aduh!”
Bambang yang terkena pensil langsung melotot.
“Kalau lihat orang jangan sambil mabuk.”
Satu kelas langsung tertawa lagi.
Jam olahraga hari itu berlangsung di lapangan belakang sekolah.
Matahari cukup terik.
Anak laki-laki bermain sepak bola.
Sementara anak perempuan bermain voli.
Yanti tertawa lepas bersama Anita dan Yuli.
Rambut-rambut kecil di dekat dahinya basah oleh keringat.
Dan entah kenapa…
Mas Nur beberapa kali diam-diam memperhatikannya dari lapangan bola.
“Heh Mas Nur!” teriak Eko.
“Hah?”
“Konsentrasi!”
BUGH!
Bola langsung mengenai kepala Mas Nur.
“Hahahaha!”
Satu lapangan langsung pecah tertawa.
Mas Nur memegang kepalanya sambil nyengir malu.
Dari lapangan voli…
Yanti ikut tertawa kecil.
Dan Mas Nur malah makin salah tingkah.
Namun siang itu…
sesuatu mulai berubah.
Saat jam istirahat…
seorang siswi baru masuk ke kelas mereka.
Namanya Rina.
Anak pindahan dari kota kecamatan.
Kulitnya putih bersih.
Rambutnya lurus.
Dan cara bicaranya lebih modern dibanding anak-anak desa lain.
“Selamat siang…”
Beberapa anak laki-laki langsung melirik.
“Cantik juga…”
“Anak kota tuh pasti.”
Yuli langsung mendekati Yanti.
“Heh…”
“Apa?”
“Saingan baru.”
“Hah?”
“Itu tuh…”
Yanti melirik sekilas.
“Oh…”
Namun beberapa menit kemudian…
Mas Nur membantu membawakan buku Rina ke bangkunya.
Dan entah kenapa…
dada Yanti langsung terasa aneh.
“Heh…” goda Anita.
“Kamu kenapa?”
“Enggak.”
“Tapi mukamu berubah.”
“Biasa aja.”
Padahal jelas tidak biasa.
Untuk pertama kalinya…
Yanti merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Cemburu.
Sore harinya latihan karate kembali diadakan.
Namun sejak tadi Yanti tampak diam.
Bahkan saat Aziz bercanda…
ia cuma tersenyum kecil.
Riyadi yang sedang membantu membereskan matras langsung sadar.
“Heh Sinok.”
“Apa…”
“Kok muka kamu kayak habis kehilangan ayam?”
Yanti langsung manyun.
“Nggak apa-apa.”
“Kamu kalau bohong jelek.”
Yanti akhirnya menghela napas panjang.
“Kakang…”
“Hm?”
“Kalau ada cowok dekat sama cewek lain tuh normal nggak?”
Riyadi langsung menatap Yanti beberapa detik.
Lalu tertawa kecil.
“Oalah…”
“Apa sih…”
“Kamu cemburu toh.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Enggak!”
“Mas Nur?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tertawa makin lebar.
“Astaga Sinok…”
“Udah gede ternyata.”
“Ih Kakang!”
Riyadi lalu duduk di samping Yanti.
“Denger ya…”
“Apa?”
“Kalau suka sama orang jangan kebanyakan cemburu.”
“Kenapa?”
“Nanti capek sendiri.”
Yanti menunduk pelan.
“Tapi aku nggak suka lihat dia dekat sama Rina…”
Riyadi mengusap kepala Yanti pelan seperti kakak sendiri.
“Itu tandanya kamu sayang.”
Yanti langsung makin malu.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil memandangi langit.
Angin malam terasa dingin.
Namun pikirannya masih kacau.
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari depan rumah.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh.
Dan jantungnya kembali berdegup cepat.
Mas Nur.
“Kamu?” tanya Yanti gugup.
Mas Nur tersenyum kecil sambil mengangkat sebuah buku.
“Mau balikin catatan.”
“Oh…”
Yanti menerima buku itu pelan.
Namun wajahnya masih sedikit jutek.
Mas Nur langsung sadar.
“Kamu marah?”
“Enggak.”
“Bohong.”
“Serius.”
“Kalau serius kenapa mukamu kayak mau mukul orang?”
Yanti hampir tertawa.
Namun ia tetap pura-pura kesal.
“Ya memang nggak kenapa-kenapa.”
Mas Nur duduk di kursi bambu teras.
“Kamu cemburu ya?”
DEG.
Yanti langsung panik.
“Hah?!”
Mas Nur malah tertawa kecil.
“Berarti benar.”
“Enggak!”
“Terus kenapa jutek?”
Yanti menggigit bibir.
Lalu akhirnya berkata pelan—
“Aku nggak suka lihat kamu dekat sama Rina.”
Suasana langsung hening beberapa detik.
Mas Nur memandang Yanti lama.
Lalu tersenyum hangat.
“Kenapa?”
“Ya… nggak suka aja.”
“Karena?”
Yanti makin salah tingkah.
“Aku nggak tahu…”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu…
kembali membuat jantung Yanti kacau.
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku cuma bantu dia cari kelas.”
“Cuma itu?”
“Iya.”
“Serius?”
“Serius.”
Yanti perlahan menatap Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
Mas Nur berkata sangat pelan—
“Aku lebih senang ngobrol sama kamu.”
Kalimat sederhana itu…
langsung membuat wajah Yanti panas.
Ia menunduk sambil tersenyum malu.
Dari balik jendela rumah…
Bu Rosmiyati memperhatikan semuanya sambil menghela napas kecil.
“Ya Allah…”
gumamnya pelan.
“Anak gadisku mulai besar…”
Sementara di ujung jalan desa…
Bambang berdiri diam sejak tadi.
Matanya menatap Yanti dan Mas Nur yang tertawa bersama di teras rumah.
Tangannya mengepal pelan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
rasa cemburu tumbuh semakin dalam di hati Bambang.
Perasaan yang perlahan…
akan membuat persahabatan mereka menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XIV
JARAK, WAKTU, DAN PERTEMUAN-PERTEMUAN KECIL
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Musim hujan berganti kemarau.
Sawah yang dulu hijau perlahan menguning.
Dan tanpa terasa…
tahun ajaran baru kembali dimulai.
Mas Nur akhirnya lulus dari SMP Pegandon.
Hari perpisahan itu berlangsung sederhana di aula sekolah.
Semua murid memakai seragam terbaik mereka.
Beberapa tertawa bahagia.
Sebagian diam-diam menangis karena harus berpisah.
Dan Yanti…
sejak pagi sudah murung sendiri.
Yuli yang duduk di sampingnya langsung menyenggol pelan.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu sedih ya?”
“Biasa aja.”
“Bohong.”
Yanti hanya diam sambil menunduk.
Matanya beberapa kali diam-diam mencari Mas Nur di keramaian.
Hari itu Mas Nur tampak berbeda.
Seragamnya rapi.
Rambutnya dipotong lebih pendek.
Dan entah kenapa…
ia terlihat lebih dewasa dibanding biasanya.
Beberapa adik kelas perempuan tampak sibuk meminta tanda tangan kenang-kenangan.
Namun perhatian Yanti hanya tertuju pada satu hal:
setelah hari ini…
Mas Nur tidak akan ada lagi di sekolah itu.
Setelah acara selesai…
halaman sekolah mulai sepi.
Anak-anak sibuk berfoto bersama teman-temannya.
Sementara Yanti berdiri sendirian dekat taman sekolah.
Angin sore meniup pelan ujung jilbabnya.
“Yanti…”
Ia langsung menoleh cepat.
Mas Nur berjalan mendekat sambil tersenyum kecil.
“Kok sendirian?”
“Enggak apa-apa…”
Mas Nur berdiri di sampingnya.
Suasana mendadak canggung.
Untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar merasa takut kehilangan seseorang.
“Kamu jadi masuk STM ya?” tanyanya pelan.
Mas Nur mengangguk.
“Iya.”
“STM Kendal.”
“Oh…”
“Lumayan jauh.”
“Iya…”
Yanti menunduk.
Dadanya terasa sesak aneh.
Mas Nur lalu tertawa kecil.
“Kamu sedih?”
“Enggak.”
“Bohong.”
Yanti langsung manyun.
“Semua orang bilang aku bohong terus.”
“Karena memang gampang ketahuan.”
Yanti akhirnya ikut tersenyum kecil.
Mas Nur memandangnya beberapa detik.
“Yanti…”
“Hm?”
“Belajar yang rajin ya.”
“Iya.”
“Jangan nakal.”
“Emang aku nakal?”
“Kadang.”
“Ihh…”
Mas Nur tertawa pelan.
Lalu suaranya berubah lebih lembut.
“Nanti kalau aku pulang… kita masih bisa ketemu.”
DEG.
Kalimat sederhana itu langsung membuat hati Yanti hangat.
Hari-hari setelah kelulusan Mas Nur terasa berbeda.
Sekolah terasa lebih sepi bagi Yanti.
Kini ia duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur sudah menjadi anak STM di Kendal.
Karena sekolahnya cukup jauh, Mas Nur tidak setiap hari pulang ke Tegorejo.
Kadang seminggu sekali.
Kadang dua minggu sekali.
Dan setiap kali Mas Nur pulang desa…
entah kenapa kabar itu selalu cepat sampai ke telinga Yanti.
“Heh Yant…” bisik Yuli suatu pagi.
“Apa?”
“Mas Nur pulang.”
“Hah? Dari mana tahu?”
“Tadi pagi aku lihat dia lewat depan warung.”
Yanti langsung salah tingkah sendiri.
“Oh…”
Padahal dalam hati…
ia langsung senang setengah mati.
Di sisi lain…
kehidupan Yanti juga semakin sibuk.
Karate masih menjadi bagian penting dalam hari-harinya.
Latihan Minggu pagi dan Rabu sore tetap berjalan.
Dan kini…
Ima juga ikut karate.
Meski masih kelas enam SD, Ima paling semangat setiap latihan.
“KIAAA!”
teriaknya terlalu keras saat latihan.
Sampai semua orang menoleh.
Pincuk langsung tertawa.
“Buset kecil-kecil suaranya kayak petasan.”
Ima malah makin bangga.
“Heh aku nanti mau jadi juara!”
Dandang langsung nyeletuk.
“Yang penting jangan nangis dulu kalau push up.”
“Heh!”
Semua langsung tertawa.
Sensei Sambas sampai geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka.
Sementara Yanti mulai semakin dekat dengan banyak teman latihan.
Aziz masih tetap paling ribut.
Agus masih paling rajin.
Karwan tetap pendiam.
Munasro masih takut kalau Sensei Sambas marah.
Dan Riyadi…
tetap menjadi “Kakang” yang selalu menjaga Yanti.
Suatu sore sepulang latihan karate…
Riyadi mengantar Yanti dan Ima pulang.
Langit mulai jingga.
Jalan desa masih sedikit basah habis hujan.
Ima berjalan di depan sambil mempraktikkan tendangan karate.
“HYA!”
“Pelan-pelan nanti jatuh,” kata Yanti.
“Enggak!”
BRAK.
Ima langsung terpeleset sendiri.
“Hahaha!”
Riyadi sampai tertawa keras.
“Karate kok kalah sama lumpur.”
Ima langsung manyun.
“Kakang jahat!”
Riyadi mengacak rambutnya.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu kok senyum terus dari tadi?”
Yanti langsung gugup.
“Enggak tuh.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Beberapa hari kemudian…
Yanti benar-benar bertemu lagi dengan Mas Nur.
Bukan di sekolah.
Melainkan di pasar kecamatan.
Hari itu Yanti membantu Bu Rosmiyati membeli kebutuhan dapur.
Ia sedang memilih cabai di salah satu kios ketika tiba-tiba mendengar suara familiar.
“Yanti?”
Ia langsung menoleh cepat.
Dan benar saja.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa kantong plastik.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi seperti dulu.
“Kamu?” katanya gugup.
Mas Nur tersenyum kecil.
“Iya.”
“Kebetulan banget.”
“Kamu pulang?”
“Iya. Libur dua hari.”
Yanti tersenyum malu.
Entah kenapa…
meski sudah lama tidak bertemu…
perasaannya tetap sama.
Mas Nur lalu melirik barang bawaan Yanti.
“Berat nggak?”
“Lumayan…”
“Sini aku bantu.”
“Nggak usah…”
Namun Mas Nur sudah lebih dulu mengambil sebagian belanjaan.
Dan seperti dulu…
Yanti kembali salah tingkah sendiri.
Mereka berjalan bersama keluar pasar.
Suasana sore cukup ramai.
Pedagang masih sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Kamu sekarang kelas dua ya?” tanya Mas Nur.
“Iya.”
“Karate masih lanjut?”
Yanti mengangguk.
“Masih.”
“Ima juga ikut sekarang.”
“Serius?”
“Iya. Berisik banget kalau latihan.”
Mas Nur tertawa kecil membayangkannya.
“Pasti lucu.”
“Lucu tapi ngeselin.”
Mereka kembali tertawa bersama.
Dan untuk beberapa saat…
jarak yang sempat muncul karena perpisahan sekolah terasa menghilang begitu saja.
Namun semua itu diam-diam tetap diperhatikan oleh Bambang.
Karena kebetulan sore itu…
ia juga berada di pasar membantu ibunya.
Dari kejauhan ia melihat Mas Nur berjalan bersama Yanti sambil tertawa.
Dan entah kenapa…
dadanya kembali terasa sesak.
Dandang yang berdiri di sampingnya langsung berbisik pelan.
“Heh…”
“Apa?”
“Lihat tuh.”
Bambang langsung mendecih.
“Diamlah.”
“Kamu masih suka ya?”
Bambang tidak menjawab.
Namun matanya tetap mengikuti langkah Yanti dan Mas Nur sampai hilang di ujung jalan pasar.
Malam harinya…
Yanti duduk di teras rumah sambil tersenyum sendiri.
Ima yang sedang belajar langsung melirik curiga.
“Heh…”
“Apa?”
“Kakak habis ketemu Mas Nur ya?”
Yanti langsung kaget.
“Kok tahu?!”
“Hahaha!”
Ima tertawa puas.
“Mukamu beda.”
“Ih sotoy.”
“Tadi pulang senyum-senyum sendiri.”
Yanti langsung melempar bantal kecil ke arah adiknya.
“Heh belajar sana!”
Namun setelah Ima tertawa dan lari masuk rumah…
Yanti kembali diam memandangi langit malam.
Angin desa terasa dingin.
Dan di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tetap tinggal di tempat yang sama.
Meski kini mereka tidak lagi berada di sekolah yang sama.
Meski waktu mulai berjalan membawa mereka ke jalan yang berbeda.
Namun setiap pertemuan kecil itu…
selalu berhasil membuat hati Yanti kembali hangat seperti pertama kali dulu.
BAB XV
MALAM PASAR DAN GENGGAMAN PERTAMA
Waktu terus berjalan di Desa Tegorejo.
Kini Yanti sudah duduk di kelas dua SMP.
Sementara Mas Nur telah menjadi siswa STM di Kendal.
Meski tidak lagi berada di sekolah yang sama…
hubungan mereka justru terasa semakin dekat.
Karena setiap Mas Nur pulang ke desa…
ia hampir selalu menyempatkan bertemu Yanti.
Kadang hanya sebentar di jalan desa.
Kadang di warung dekat lapangan.
Kadang saat Yanti selesai latihan karate.
Dan pertemuan-pertemuan kecil itu…
diam-diam menjadi hal paling ditunggu oleh Yanti.
Minggu pagi itu latihan karate berlangsung lebih ramai dari biasanya.
Lapangan balai desa dipenuhi murid-murid berbagai umur.
Anak-anak kecil berlarian memakai sabuk putih.
Sementara yang lebih senior sibuk pemanasan.
Sensei Sambas berdiri di depan sambil membawa peluit.
“BARIS YANG RAPI!”
Semua langsung panik mencari posisi.
Ima yang kini ikut karate masih tampak paling heboh sendiri.
“Kak! Sabukku lepas!”
“Ya diikat lagi!”
“Aku nggak bisa!”
Yanti sampai geleng-geleng kepala sendiri.
Sementara Riyadi tertawa melihat tingkah mereka.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu lebih rame dari pasar.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Latihan pagi itu cukup berat.
Push up.
Kuda-kuda.
Lari keliling lapangan.
Bahkan Dandang sampai tergeletak di rumput sambil megap-megap.
“Aku melihat cahaya…”
Aziz langsung menyahut.
“Itu matahari goblok.”
“Hahaha!”
Sensei Anton sampai ikut tertawa kecil melihat tingkah mereka.
Sementara Bambang sibuk latihan tendangan bersama Karwan.
BRAK!
Suara tendangan Karwan membuat semua menoleh.
“Buset…” gumam Agus.
“Itu nendang karung apa tembok?”
Karwan cuma nyengir malu.
Di tengah latihan itu…
Yanti beberapa kali tampak melamun sendiri.
Riyadi yang sedang membawa air minum langsung sadar.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Mas Nur pulang ya?”
DEG.
Yanti langsung melotot.
“Kok tahu sih!”
Riyadi tertawa puas.
“Mukamu gampang dibaca.”
“Ih Kakang…”
Dan benar saja.
Siang harinya…
saat latihan selesai…
Mas Nur datang ke lapangan desa.
Ia berdiri dekat pohon ketapang sambil tersenyum kecil melihat Yanti.
Jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Padahal mereka baru bertemu minggu lalu.
Namun perasaan itu tetap sama.
Hangat.
Membingungkan.
Dan selalu membuat Yanti salah tingkah.
“Kamu capek?” tanya Mas Nur saat Yanti mendekat.
“Lumayan…”
Mas Nur menyerahkan es teh dalam plastik.
“Nih.”
Yanti menerimanya sambil tersenyum malu.
“Terima kasih…”
Dari kejauhan…
Yuli langsung heboh sendiri.
“Heh lihat tuh…”
Anita ikut tertawa kecil.
“Romantis amat…”
Sementara Bambang hanya diam sambil mengikat tali sepatunya terlalu keras.
Malam harinya…
Desa Tegorejo tampak jauh lebih hidup dibanding biasanya.
Lampu-lampu bohlam menggantung di sekitar lapangan desa.
Musik dangdut terdengar dari pengeras suara tua yang sesekali sember.
Aroma sate ayam, jagung bakar, dan gorengan memenuhi udara malam.
Pasar malam akhirnya datang.
Dan bagi anak-anak remaja desa seperti mereka…
pasar malam selalu menjadi hiburan paling ditunggu setiap tahun.
Sejak sore…
Yanti sudah sibuk memilih baju di rumah.
“Ima…”
“Apa?”
“Bagusan biru apa putih?”
Ima pura-pura berpikir serius.
“Kalau mau ketemu Mas Nur bagusnya yang cantik.”
“Heh!”
Yanti langsung melempar bantal kecil.
Ima malah ngakak sambil kabur.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian hanya tersenyum kecil melihat tingkah kedua anaknya.
“Yang penting sopan.”
“Iya Bu…”
Akhirnya Yanti memilih baju biru muda sederhana dengan jilbab putih.
Saat berdiri di depan cermin kecil…
ia tersenyum sendiri.
Entah kenapa…
malam itu ia ingin terlihat lebih manis.
Di depan rumah Anita…
anak-anak sudah berkumpul.
Ada Dandang yang sibuk menyisir rambut pakai air ludah.
Ada Aziz yang terus bercanda.
Ada Bambang dengan jaket jeans lusuh andalannya.
Ada Yuli yang paling heboh sendiri.
Dan Riyadi yang malam itu ikut menjaga mereka.
“Heh lama banget!” teriak Bambang.
“Cewek emang ribet,” tambah Aziz.
“Kalau aku jadi cewek—”
“Kamu tetap jelek,” potong Yuli cepat.
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Tak lama kemudian…
Yanti datang.
Dan suasana mendadak sedikit berubah.
Dandang sampai melongo lebay.
“Waduh…”
“Apa?” tanya Yanti bingung.
“Kamu habis mandi parfum?”
“Hah?”
“Harum banget…”
Yanti langsung memukul lengan Dandang.
“Apaan sih!”
Namun beberapa detik kemudian…
Mas Nur datang dari ujung jalan.
Memakai kemeja kotak sederhana dan celana hitam.
Saat matanya melihat Yanti…
ia langsung diam sebentar.
Dan Yanti otomatis salah tingkah.
Riyadi yang melihat itu cuma tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Hati-hati salting di jalan.”
“Ih Kakang…”
Pasar malam benar-benar ramai.
Lampu warna-warni berputar di komidi putar.
Anak-anak kecil berlari membawa balon.
Pedagang mainan sibuk berteriak menawarkan dagangan.
“Jagung bakar!”
“Es puter!”
“Balon warna-warni!”
Yuli langsung heboh.
“Aku mau semuanya!”
Dandang melotot.
“Dompetmu siap nggak?”
“Kan ada kalian.”
“Heh enak aja!”
Mereka berjalan bergerombol sambil tertawa.
Sesekali Aziz membuat lelucon receh.
Kadang Dandang malah mempermalukan dirinya sendiri.
Sementara Ima sibuk membeli gelang lampu warna-warni.
“Kak lihat! Cantik nggak?”
“Cantik.”
“Kayak artis ya?”
“Iya iya.”
“Hahaha!”
Di tengah keramaian itu…
Mas Nur berjalan perlahan di samping Yanti.
Dan entah kenapa…
suasana terasa jauh lebih dekat dibanding sebelumnya.
“Kamu sering ke pasar malam?” tanya Mas Nur.
“Waktu kecil sering…”
“Takut naik bianglala?”
“Sedikit.”
“Kalau bareng aku?”
Yanti langsung melirik cepat.
“Kamu suka bikin orang salting ya.”
Mas Nur tertawa kecil.
Dan senyum itu lagi-lagi membuat jantung Yanti kacau.
Tak lama kemudian…
rombongan mereka memutuskan masuk rumah hantu.
Anita langsung pucat.
“Aku nggak mau…”
“Takut?” goda Yuli.
“Iya…”
Dandang langsung menyombongkan diri.
“Tenang! Ada aku!”
Lima menit kemudian…
yang paling keras teriak justru Dandang sendiri.
“AAAAAAAAAA!”
“Hahaha!”
Satu wahana penuh suara tawa.
Bahkan penjaga rumah hantu sampai ikut tertawa.
“Heh hantunya takut sama Dandang kayaknya!” teriak Aziz.
“Hahaha!”
Saat keluar…
Dandang tampak paling pucat.
“Aku hampir meninggal…”
Bambang langsung ngakak.
“Padahal hantunya cuma pakai bedak!”
Namun kejadian paling tak terlupakan malam itu terjadi saat mereka berjalan di tengah kerumunan pasar.
Suasana sangat padat.
Orang-orang saling berdesakan.
Yanti yang berjalan sambil melihat gantungan lampu kecil…
tidak sadar ada anak kecil berlari menabraknya.
“Awas!”
Refleks…
Mas Nur menarik tangan Yanti.
Dan untuk pertama kalinya…
tangan mereka saling bertaut.
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
Suara musik dangdut terasa jauh.
Lampu pasar tampak samar.
Yang ia rasakan hanya hangat tangan Mas Nur.
Jantungnya berdetak sangat keras.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Mas Nur pelan.
Yanti bahkan sulit menjawab.
“I… iya…”
Namun Mas Nur belum melepaskan tangannya.
Dan diam-diam…
Yanti juga tidak ingin genggaman itu dilepas.
Dari belakang…
Yuli langsung menutup mulut.
“ASTAGAAA…”
Anita ikut salah tingkah.
Aziz langsung menyikut Dandang.
“Lihat tuh!”
Dandang berbisik keras.
“Pegangan tangan coy!”
Riyadi yang melihat itu hanya menghela napas kecil sambil tersenyum tipis.
“Heh Sinok…”
gumamnya pelan.
“Udah mulai gede ternyata…”
Sementara Bambang…
langsung diam.
Tawa di wajahnya perlahan hilang.
Meski ia tetap berjalan bersama yang lain…
namun malam itu…
hatinya terasa semakin sesak.
Malam semakin larut.
Lampu pasar mulai redup satu per satu.
Namun hati Yanti justru terasa semakin terang.
Di perjalanan pulang…
ia terus teringat momen genggaman tangan tadi.
Bahkan saat Mas Nur berjalan di sampingnya dalam diam…
dadanya masih berdebar keras.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti…”
“Iya?”
“Aku senang malam ini.”
Yanti tersenyum malu.
“Aku juga…”
Lalu mereka sama-sama diam.
Malu.
Namun bahagia.
Dan malam pasar di Desa Tegorejo itu…
menjadi malam yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan Yanti.
Karena malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia merasa dicintai dengan sangat sederhana.
Di tengah lampu pasar malam.
Di antara suara tawa sahabat-sahabatnya.
Dan di balik genggaman tangan pertama…
yang membuat hatinya bergetar sangat lama.
BAB XVI
SURAT CINTA YANG TERBONGKAR
Sejak malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur semakin dekat.
Mereka memang belum resmi berpacaran.
Namun hampir seluruh sekolah mulai menganggap mereka sudah saling suka.
Dan tentu saja…
itu menjadi bahan gosip paling panas di SMP mereka.
Terutama bagi satu orang.
Yuli.
Pagi itu…
baru saja Yanti masuk kelas…
Yuli langsung menyeretnya ke pojok.
“Heh sini!”
“Apa sih?!”
“Cepet!”
Yanti langsung panik.
“Kamu kenapa?”
Yuli menurunkan suara dramatis.
“Kamu jangan kaget…”
“Hah?”
“Tapi semalam…”
“Kenapa?!”
“Aku lihat Mas Nur.”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdegup cepat.
“Di mana?”
“Lewat depan rumahmu.”
“Hah?!”
“Terus dia berhenti.”
“Terus?!”
“Terus… dia cuma bengong.”
Yanti langsung melotot.
“YULI!”
“Hahaha!”
Anita yang datang belakangan langsung tertawa kecil.
“Kamu jangan suka bikin orang kaget…”
“Tapi serius…” kata Yuli sambil nyengir.
“Kayaknya Mas Nur beneran suka berat sama Yanti.”
Pipi Yanti mulai merah lagi.
Dan itu membuat Yuli makin senang menggoda.
Namun pagi itu…
Mas Nur belum datang ke kelas.
Dan entah kenapa…
Yanti jadi sering melihat pintu kelas.
“Heh…” goda Anita pelan.
“Apa…”
“Nungguin ya?”
“Enggak!”
“Bohong…”
“Kenapa semua orang bilang aku bohong terus sih…”
Yuli langsung tertawa.
“Karena mukamu gampang dibaca!”
Belum sempat Yanti membalas…
tiba-tiba Bambang masuk kelas sambil membawa sesuatu di tangannya.
Wajahnya penuh senyum jahil.
“Heh heh heh…”
Dandang langsung curiga.
“Mukamu kenapa kayak maling ayam?”
“Aku nemu harta karun.”
“Hah?”
Bambang mengangkat selembar kertas warna pink.
Satu kelas langsung penasaran.
“Itu apa?!”
“Surat cinta kayaknya…”
DEG.
Entah kenapa…
jantung Yanti langsung tidak enak.
Dan benar saja.
Saat Bambang membuka lipatan surat itu…
matanya langsung membesar.
“WADUH.”
“Apa?!”
Dandang langsung mendekat.
Bambang membaca keras-keras.
“Untuk seseorang yang membuatku selalu senang datang ke sekolah…”
Satu kelas langsung heboh.
“WOOOOOO!”
“Surat cinta!”
“Lanjut! Lanjut!”
Yanti mulai pucat.
Karena ia mengenali tulisan itu.
Tulisan Mas Nur.
“Diam dulu!” teriak Bambang sok penting.
Lalu ia lanjut membaca.
“Aku nggak tahu sejak kapan mulai suka melihat senyummu…”
Yuli langsung menjerit.
“ASTAGAAAA!”
Anita menutup mulut sambil tertawa malu.
Sementara Yanti…
sudah ingin menghilang dari muka bumi.
“Itu buat siapa?!” teriak anak-anak.
Bambang membalik halaman belakang.
Dan di pojok bawah tertulis kecil:
Untuk Yanti.
“WOOOOOOOOOOOO!”
Satu kelas langsung pecah total.
Ada yang berdiri di meja.
Ada yang bersiul.
Ada yang tepuk tangan.
Yanti spontan menutupi wajahnya dengan buku.
“MATI AKU…”
Dandang sampai jatuh dari kursi karena terlalu keras tertawa.
“Hahaha! Mas Nur romantis!”
Bambang ikut tertawa meski ada rasa aneh di dadanya.
“Heh Yanti!”
“DIEM!”
“Mukamu merah kayak tomat!”
“Hahaha!”
Dan di saat paling kacau itu…
Mas Nur masuk kelas.
Begitu melihat seluruh kelas ribut…
ia langsung bingung.
“Ini kenapa?”
Semua mata langsung menoleh padanya.
Lalu serempak berteriak:
“CIEEEEEEE!”
Mas Nur langsung berhenti melangkah.
“Apa-apaan…”
Bambang mengangkat surat itu tinggi-tinggi.
“Ini punyamu ya?!”
Wajah Mas Nur langsung berubah.
“HEH!”
Ia cepat-cepat mendekat.
Namun Dandang keburu merebut surat itu.
“Waduh tulisan puitis!”
“Balikin!”
“Sebentar!”
Dandang membaca dramatis seperti pembaca puisi.
“Senyummu bikin hari-hariku jadi lebih indah…”
“HUWOOOOOO!”
Satu kelas makin heboh.
Mas Nur langsung malu setengah mati.
Sementara Yanti sudah benar-benar tidak berani mengangkat wajah.
“BALIKIN!” bentak Mas Nur sambil mengejar Dandang.
Namun Dandang malah lari keliling kelas.
“Hahaha!”
“Penyair kampung jatuh cinta!”
“Heh jangan baca keras-keras!”
Bahkan Bu Guru yang baru masuk kelas sampai terkejut.
“Lho ini kenapa?!”
Suasana langsung hening.
Dandang masih memegang surat.
Bu Guru menyipitkan mata.
“Itu apa?”
Dandang panik.
“Eh…”
Bambang langsung menunjuk Mas Nur.
“Surat cinta Bu!”
Satu kelas kembali pecah.
Mas Nur menutup wajahnya sendiri.
Sementara Bu Guru sampai geleng-geleng kepala sambil menahan tawa.
“Kalian ini…”
Namun beberapa menit kemudian…
setelah suasana agak tenang…
Bu Guru justru berkata santai.
“Sudah sudah…”
“Namanya juga remaja.”
Satu kelas langsung saling pandang.
“Eh Bu Guru ngerti juga…”
“Tapi ingat…”
“Jangan sampai pacaran bikin nilai turun.”
“Iyaaaa Buuuu…”
Yanti masih belum berani melihat Mas Nur.
Namun diam-diam…
hatinya terasa hangat.
Karena isi surat itu benar-benar tulus.
Jam pelajaran berlangsung.
Namun suasana di kelas tetap penuh godaan.
“Heh Yanti…” bisik Yuli.
“Apa…”
“Kamu simpan suratnya nggak?”
“Masih sama Bambang…”
“Wah bahaya…”
Benar saja.
Bambang diam-diam masih membaca surat itu sambil nyengir sendiri.
“Heh balikin!” bentak Mas Nur.
“Bayar dulu.”
“Apaan sih!”
“Dua bakso sama es teh.”
Dandang langsung ikut nimbrung.
“Aku saksi!”
“Hahaha!”
Akhirnya Mas Nur menyerah.
“Yaudah nanti aku traktir.”
Bambang langsung mengembalikan surat itu dengan gaya menang lelang.
“Nah gitu.”
Sepulang sekolah…
Yanti berjalan lebih pelan dari biasanya.
Mas Nur mengejarnya dari belakang.
“Yanti…”
“Iya?”
“Maaf…”
Yanti menoleh bingung.
“Kenapa minta maaf?”
“Suratnya ketahuan…”
Yanti langsung malu lagi.
“Itu salah siapa coba…”
“Aku nyimpennya di buku…”
“Terus?”
“Mungkin jatuh…”
Yanti tertawa kecil.
Untuk pertama kalinya hari itu…
mereka sama-sama tertawa tanpa rasa malu lagi.
Mas Nur lalu berkata pelan.
“Tapi isi suratnya serius.”
DEG.
Yanti kembali salah tingkah.
“Mas Nur…”
“Iya?”
“Aku juga senang…”
“Sama kamu.”
Kalimat itu membuat Mas Nur diam beberapa detik.
Lalu perlahan tersenyum sangat lebar.
Dan sore itu…
di jalan kecil Desa Tegorejo yang mulai disinari cahaya senja…
dua hati remaja mulai saling mengakui perasaan mereka.
Sederhana.
Polos.
Namun begitu tulus.
BAB XVII
RETAKNYA PERSAHABATAN
Hari-hari setelah malam pasar itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur terasa semakin dekat.
Meski belum pernah ada kata “pacaran” yang benar-benar diucapkan…
namun hampir semua orang tahu apa yang sedang terjadi di antara mereka.
Cara Mas Nur selalu mencari Yanti setiap pulang ke desa.
Cara Yanti langsung salah tingkah saat mendengar nama Mas Nur disebut.
Dan tentu saja…
teman-teman mereka tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda.
Minggu pagi itu latihan karate kembali berlangsung di lapangan balai desa.
Udara masih dingin.
Embun masih terlihat di rumput.
Namun suasana sudah ramai oleh suara anak-anak latihan.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berdiri di depan dengan peluit di leher.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan gerakan murid-murid baru.
Ima yang sekarang sudah mulai serius latihan tampak paling semangat.
“Kak lihat tendanganku!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air.
BYUR!
Aziz langsung lompat menghindar.
“Heh! Banjir woi!”
“Hahaha!”
Semua langsung tertawa.
Yanti sampai memegangi perut karena ngakak melihat adiknya panik sendiri.
Sementara Riyadi hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Adikmu kalau ikut lomba mungkin lawannya kabur duluan.”
Ima langsung melotot.
“Kakang Riyadi jahat!”
“Hahaha!”
Namun di tengah suasana ramai itu…
Bambang justru tampak lebih banyak diam.
Ia tetap ikut latihan.
Tetap bercanda seperlunya.
Namun sekarang tawanya tidak lagi sebebas dulu.
Kadang ia melamun terlalu lama.
Kadang diam-diam memperhatikan Yanti dan Mas Nur.
Dan semua perubahan kecil itu mulai disadari Dandang.
“Heh…” bisiknya saat istirahat.
“Apa?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apanya?”
“Murung terus.”
Bambang langsung minum air tanpa menjawab.
Dandang menyipitkan mata.
“Kamu masih suka sama Yanti ya?”
DEG.
Bambang langsung diam.
Lama sekali.
Sampai akhirnya ia tertawa kecil hambar.
“Aku juga nggak ngerti…”
Untuk pertama kalinya…
Dandang melihat sahabatnya benar-benar sedih.
Beberapa hari kemudian…
sekolah sedang sibuk mempersiapkan pentas seni antar kelas.
Meski Mas Nur sudah sekolah STM di Kendal…
ia beberapa kali datang membantu adik kelas karena dulu aktif di kegiatan sekolah.
Dan tentu saja…
itu membuat Yanti semakin senang.
Sore itu aula sekolah ramai oleh suara latihan.
Yuli latihan menyanyi meski nadanya sering meleset.
Dandang sibuk latihan drama komedi sambil berlebihan.
Anita membantu dekorasi panggung.
Sementara Yanti duduk di dekat jendela sambil menyalin naskah puisi.
Tak lama kemudian…
Mas Nur datang memasuki aula.
Dan seperti biasa…
mata Yanti langsung otomatis mencarinya.
“Heh tuh datang…” bisik Yuli cepat.
Pipi Yanti langsung merah.
Mas Nur berjalan mendekat sambil membawa beberapa lembar kertas.
“Ini naskah yang kemarin.”
“Oh iya…”
Saat tangan mereka bersentuhan sebentar…
jantung Yanti langsung berdebar lagi.
Dandang yang melihat itu langsung pura-pura muntah.
“Uwekkk…”
“Hahaha!”
Bu Guru lalu meminta mereka mencoba pembacaan puisi berpasangan.
“Mas Nur sama Yanti coba dulu.”
“Aseeeek…” teriak Dandang.
“Heh diam!” bentak Bu Guru.
Semua langsung tertawa.
Mas Nur berdiri di depan aula.
Suaranya tenang dan lembut.
“Jika senja adalah akhir dari hari…
maka biarlah aku menjadi langit yang tetap menunggumu…”
Suasana aula langsung hening.
Beberapa anak perempuan sampai saling melirik.
“Romantis banget…”
Yanti lalu melanjutkan dengan suara pelan.
“Dan jika cinta adalah penantian…
maka biarlah hatiku tinggal di langkahmu…”
“ASTAGAAA…” seru Dandang sambil memegang dada.
Yuli pura-pura pingsan.
“Hahaha!”
Namun di tengah tawa itu…
Bambang tiba-tiba berdiri.
“Heh aku ke belakang.”
Dandang menoleh bingung.
“Lho…”
Namun Bambang sudah keluar aula lebih dulu.
Di belakang sekolah…
Bambang duduk sendirian dekat pohon mangga tua.
Tangannya melempar batu kecil ke tanah berkali-kali.
Wajahnya kusut.
Tak lama kemudian…
Riyadi datang menghampiri.
Karena sore itu ia memang sedang mengantar dokumen karate ke sekolah.
“Heh…”
Bambang langsung menoleh.
“Oh Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Bambang tertawa kecil hambar.
Riyadi menatapnya beberapa detik.
“Kamu suka Yanti ya?”
Pertanyaan itu membuat Bambang langsung diam lama.
Lalu akhirnya ia menghela napas.
“Aku suka dia dari kecil…”
Suasana mendadak lebih sunyi.
“Dulu aku kira…” katanya pelan.
“Kira apa?”
“Kalau aku selalu ada buat dia…”
“Dia bakal suka sama aku.”
Riyadi hanya mendengarkan.
Namun tatapannya mulai iba.
“Tapi ternyata…”
“Dia sukanya Mas Nur.”
Kalimat terakhir itu terdengar sangat lirih.
Dan sore itu…
untuk pertama kalinya Bambang benar-benar merasakan patah hati.
Malam harinya…
latihan karate kembali berlangsung di balai desa.
Namun suasana hati Bambang masih kacau.
Saat latihan sparring…
gerakannya jadi terlalu keras.
BRAK!
Aziz sampai hampir jatuh.
“Heh pelan woi!”
Sensei Sambas langsung meniup peluit keras.
“BAMBANG!”
Suasana langsung diam.
“Kamu latihan atau marah-marah?!”
Bambang langsung menunduk.
“Maaf Sensei…”
Yanti yang melihat itu mulai merasa ada yang aneh.
Karena biasanya…
Bambang tidak pernah seperti itu.
Beberapa hari kemudian…
masalah akhirnya benar-benar meledak.
Sore itu anak-anak sedang berkumpul di kelas setelah latihan pentas seni selesai.
Suasana awalnya ramai seperti biasa.
Dandang kembali jadi pusat keributan.
“Heh kalau nanti aku jadi artis…”
“Apa?” tanya Aziz.
“Aku nggak bakal lupa kalian.”
Yuli langsung menyahut cepat.
“Tenang…”
“Kenapa?”
“Kamu nggak mungkin jadi artis.”
“HHAHAHAHA!”
Satu kelas langsung pecah tertawa.
Namun suasana berubah saat Rina masuk ke kelas.
“Heh Mas Nur…”
“Iya?”
“Bisa bantu aku Matematika nanti?”
Belum sempat Mas Nur menjawab—
Bambang tiba-tiba nyeletuk keras.
“Wah cocok tuh.”
Semua langsung menoleh.
“Cocok apaan?” tanya Dandang.
“Mas Nur sama Rina.”
Suasana langsung berubah canggung.
Yanti perlahan diam.
Mas Nur mengernyit.
“Heh ngomong apa sih…”
“Ya kalian sering bareng.”
Rina malah tertawa kecil.
“Boleh juga tuh.”
Darah Yanti langsung naik.
Namun ia masih mencoba tenang.
Dandang langsung sadar suasana mulai tidak enak.
“Heh Bambang jangan aneh-aneh…”
Namun Bambang malah melanjutkan.
“Daripada sama Yanti.”
DEG.
Kelas langsung sunyi.
Yanti menatap Bambang tidak percaya.
“Aku kenapa?”
Bambang berdiri perlahan.
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Tapi omonganmu tadi apa maksudnya?!”
“Ya biasa aja.”
“Biasa aja dari mana?!”
Untuk pertama kalinya…
Yanti membentak Bambang.
Suasana kelas benar-benar tegang.
Mas Nur mencoba menenangkan.
“Udah…”
Namun Yanti sudah terlanjur kecewa.
“Kalau kamu punya masalah sama aku bilang!”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Masalah?”
“Iya!”
“Aku nggak punya masalah.”
“Tapi kamu berubah!”
Bambang diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan—
“Mungkin aku capek lihat kalian.”
Suasana langsung hening total.
Yanti membeku.
“Capek?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Bambang menatap Yanti lama sekali.
Lalu akhirnya berkata jujur—
“Karena dari dulu… aku juga suka sama kamu.”
DEG.
Semua orang langsung diam.
Bahkan Dandang tidak berani bercanda lagi.
Yanti benar-benar tidak menyangka.
Mas Nur ikut terdiam.
Bambang tertawa kecil pahit.
“Lucu ya…”
“Dari kecil aku selalu jahilin kamu…”
“Padahal aku cuma pengen diperhatikan.”
Mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Sementara Bambang menatap Mas Nur.
“Tapi ya sudahlah…”
“Yang menang memang bukan aku.”
Kalimat itu membuat suasana semakin sesak.
Dan tanpa menunggu jawaban siapa pun…
Bambang langsung keluar kelas.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Meninggalkan suasana hening panjang.
Yanti perlahan duduk kembali.
Dadanya terasa berat.
Sementara Mas Nur hanya diam memandang pintu kelas.
Di luar kelas…
langit sore Desa Tegorejo mulai berubah mendung.
Dan tanpa mereka sadari…
retakan kecil dalam persahabatan mereka mulai terbentuk.
Retakan yang kelak…
akan mengubah hubungan mereka semua menjadi jauh lebih rumit dibanding sebelumnya.
BAB XVIII
HUJAN, LUKA, DAN PELUKAN PERSAHABATAN
Hari-hari setelah pengakuan Bambang di kelas…
tidak pernah benar-benar kembali sama.
Suasana yang dulu selalu penuh tawa…
perlahan berubah canggung.
Candaan Dandang tak lagi sebebas biasanya.
Yuli mulai hati-hati bicara.
Anita sering diam memperhatikan keadaan.
Dan Yanti…
jadi lebih sering melamun.
Desa Tegorejo mulai memasuki musim hujan.
Pagi-pagi udara terasa dingin.
Kabut turun lebih lama di atas sawah.
Jalan tanah menuju sekolah sering becek.
Namun yang paling terasa berubah…
adalah hubungan mereka.
Kini Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Ia jarang datang ke SMP kecuali saat pulang desa atau membantu kegiatan sekolah.
Sementara Yanti masih duduk di kelas dua SMP bersama Anita, Yuli, Bambang, Dandang, Aziz, Agus, dan Karwan.
Sedangkan Ima sekarang duduk di kelas enam SD…
dan semakin aktif ikut latihan karate.
Rabu sore itu…
latihan karate berlangsung lebih sepi dari biasanya.
Hujan gerimis turun sejak siang.
Lapangan balai desa berubah lembap.
Sensei Sambas tetap berdiri tegas di depan barisan.
“KUDA-KUDA!”
“SIAP!”
“KIAAA!”
Suara teriakan murid-murid menggema di udara dingin.
Namun sejak tadi…
Yanti tampak tidak fokus.
Gerakannya terlambat.
Pukulannya lemah.
Bahkan beberapa kali salah arah.
BRAK!
“ADUH!”
Aziz sampai kena siku Yanti.
“Heh Sinok…”
“Aduh maaf…”
Aziz langsung meringis lebay.
“Wah…”
“Hari ini pikirannya nggak di lapangan nih.”
Anak-anak langsung saling pandang.
Karwan tertawa kecil.
“Pasti mikirin Mas Nur.”
Pipi Yanti langsung merah.
“Heh nggak lucu!”
Namun Riyadi yang sejak tadi memperhatikan…
langsung tahu ada sesuatu yang tidak beres.
Saat latihan selesai…
anak-anak mulai duduk istirahat di teras balai desa.
Ima sibuk makan cilok.
Dandang dan Aziz ribut berebut es teh.
Agus sedang membantu membereskan matras.
Sementara Yanti duduk sendirian memandangi hujan kecil di depan lapangan.
Riyadi datang membawa dua gelas teh hangat.
“Nih.”
Yanti menoleh pelan.
“Terima kasih Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Heh Sinok…”
“Hm?”
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menggeleng cepat.
“Enggak.”
“Kalau bohong mukamu jelek.”
Yanti akhirnya tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian…
matanya kembali sayu.
“Kakang…”
“Apa?”
“Kalau persahabatan rusak karena cinta…”
“Bisa balik lagi nggak?”
Riyadi diam beberapa saat.
Angin dingin berembus pelan.
Suara hujan terdengar samar di atap balai desa.
“Bisa…”
“Kalau sama-sama mau menjaga.”
“Tapi…”
“Lukanya biasanya lama hilang.”
Yanti menunduk pelan.
Dan Riyadi tahu…
anak itu sedang benar-benar sedih.
Keesokan harinya…
suasana kelas terasa aneh.
Biasanya pagi-pagi Dandang sudah teriak tidak jelas.
Biasanya Bambang sudah jahil melempar kertas.
Namun sekarang…
kelas lebih banyak sunyi.
Yanti duduk dekat jendela sambil membuka buku.
Namun matanya kosong.
Anita mendekat pelan.
“Kamu belum tidur ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Semalaman kepikiran…”
“Soal Bambang?”
Yanti menunduk.
“Aku nggak nyangka…”
“Dia suka sama aku selama itu.”
Yuli yang biasanya paling cerewet ikut diam.
“Kasihan juga sih…”
Namun sebelum suasana makin sedih—
Dandang datang sambil membawa pisang goreng.
“Heh!”
“Apa…”
“Kalian jangan kayak orang habis kehilangan kambing.”
Yuli langsung melotot.
“Dandang…”
“Aku serius!”
Ia duduk lalu berkata lebih pelan.
“Persahabatan kalian jangan rusak gara-gara beginian.”
Namun bahkan Dandang sendiri sebenarnya khawatir.
Karena ia tahu…
Bambang bukan tipe orang yang gampang menunjukkan perasaannya.
Kalau sampai meledak seperti kemarin…
berarti luka itu sudah terlalu lama dipendam.
Tak lama kemudian…
Bambang masuk kelas.
Seragamnya sedikit basah karena gerimis.
Rambutnya acak-acakan.
Namun wajahnya datar.
Tak ada senyum.
Tak ada candaan.
Ia langsung duduk tanpa melihat siapa pun.
Suasana langsung makin berat.
Yanti beberapa kali ingin bicara…
namun tidak berani.
Sementara Bambang memilih diam sambil memandang meja.
Jam pelajaran berjalan lambat.
Bahkan Bu Guru sampai sadar ada yang aneh.
“Kalian habis berantem?”
Satu kelas langsung diam.
Dandang buru-buru menjawab.
“Enggak Bu…”
Padahal semua tahu itu bohong.
Saat istirahat…
suasana makin tegang.
Mas Nur yang hari itu datang ke sekolah untuk membantu persiapan lomba puisi…
akhirnya mendekati Bambang.
“Heh…”
Bambang diam.
“Kita ngobrol bentar.”
“Ngobrol apa?”
“Di luar.”
Bambang akhirnya berdiri.
Dan seluruh kelas langsung saling pandang.
“Heh…” bisik Yuli.
“Jangan-jangan berantem…”
Dandang langsung berdiri cepat.
“Aku ikut.”
“Hah?”
“Kalau ada tinju bebas aku jadi wasit.”
“Hahaha!”
Namun tidak ada yang benar-benar tertawa.
Karena semua cemas.
Di belakang sekolah…
langit tampak mendung pekat.
Pohon mangga tua bergoyang pelan tertiup angin.
Mas Nur berdiri beberapa langkah di depan Bambang.
“Aku nggak mau kita musuhan.”
Bambang tertawa hambar.
“Siapa yang musuhan?”
“Kamu jelas marah.”
“Ya mungkin.”
“Karena Yanti?”
Bambang menatap Mas Nur cukup lama.
Lalu berkata pelan—
“Kalau kamu di posisiku…”
“Gimana rasanya lihat orang yang kamu suka…”
“Dekat sama sahabatmu sendiri?”
Suasana langsung hening.
Mas Nur tidak langsung menjawab.
Karena ia tahu…
kalau berada di posisi Bambang…
mungkin ia juga akan terluka.
“Aku nggak pernah niat nyakitin kamu,” kata Mas Nur pelan.
Bambang tersenyum tipis.
“Tapi tetap sakit.”
Kalimat itu terasa berat.
Langit semakin gelap.
Angin mulai dingin.
Dan Bambang kembali bicara.
“Tahu nggak…”
“Dari kecil aku selalu mikir…”
“Kalau suatu hari…”
“Yanti bakal sadar kalau aku paling peduli sama dia.”
Mas Nur menunduk.
“Tapi ternyata…”
“Dia milih kamu.”
Mas Nur menarik napas panjang.
“Aku nggak bisa bohong…”
“Aku juga sayang sama Yanti.”
Bambang tertawa kecil pahit.
“Makanya aku kalah.”
Tiba-tiba—
suara langkah kaki terdengar mendekat.
“Heh!”
Ternyata Yanti datang menyusul.
Di belakangnya ada Dandang, Anita, Yuli, Aziz, Agus, dan Karwan.
“Kalian ngapain di sini?!” tanya Yanti panik.
Dandang langsung menjawab cepat.
“Takut ada kejuaraan silat.”
“Hahaha!”
Namun suasana tetap terasa berat.
Yanti menatap Bambang pelan.
“Aku nggak mau kita jadi begini…”
Bambang menoleh.
“Terus harus gimana?”
“Aku tetap anggap kamu sahabat.”
Bambang tertawa kecil hambar.
“Sahabat…”
“Aku pengen lebih dari itu, Yanti.”
Kalimat itu membuat mata Yanti mulai berkaca-kaca.
Dan tepat saat itu…
HUJAAANNN turun deras tiba-tiba.
BRAK!
Petir menggelegar.
Anak-anak langsung panik.
“WOY LARI!”
“HUJAN!”
Dandang yang paling depan malah terpeleset di tanah becek.
BRUK!
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Bambang ikut refleks tertawa kecil.
“Kaki gueeee!” teriak Dandang lebay.
Yuli sampai jongkok sambil tertawa keras.
“Makanya jangan sok jadi pengawal!”
Namun di tengah hujan deras itu…
Bambang tetap berdiri diam.
Air hujan membasahi wajahnya.
Yanti perlahan mendekat.
“Heh…”
Bambang menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti melihat mata sahabat kecilnya benar-benar terluka.
“Aku minta maaf…”
Bambang menggeleng kecil.
“Kamu nggak salah.”
“Tapi…”
“Cinta itu nggak bisa dipaksa kan?”
Kalimat itu membuat dada Yanti terasa sesak.
Mas Nur lalu melangkah mendekat.
Suasana kembali tegang.
Namun tak disangka…
Bambang justru mengulurkan tangan.
“Aku masih kesel sama kamu.”
Mas Nur menatap tangannya beberapa detik.
Lalu menjabatnya pelan.
“Tapi…”
“Jangan sakiti Yanti.”
Mas Nur mengangguk.
“Aku janji.”
Hujan terus turun deras.
Namun untuk sesaat…
ketegangan di antara mereka mulai mencair.
Meski luka Bambang belum sembuh…
setidaknya persahabatan mereka belum benar-benar hancur.
Malam harinya…
Yanti duduk sendirian di teras rumah.
Hujan masih turun rintik-rintik.
Ima sudah tidur lebih dulu.
Bu Rosmiyati sedang menjahit di dalam rumah.
Namun Yanti masih diam memandangi jalanan gelap desa.
Pikirannya kacau.
Tentang Bambang.
Tentang Mas Nur.
Tentang persahabatan mereka.
Dan tentang rasa bersalah yang terus mengganggu hatinya.
Tak lama kemudian…
terdengar suara motor berhenti di depan rumah.
“Klek…”
Yanti menoleh.
Ternyata Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kakang?”
“Belum tidur?”
Yanti menggeleng kecil.
Riyadi duduk di sampingnya sambil membawa kantong kecil gorengan.
“Nih.”
Yanti tersenyum tipis.
“Makasih…”
Beberapa saat mereka diam mendengarkan suara hujan.
Lalu Riyadi berkata pelan—
“Kamu jangan nyalahin diri sendiri terus.”
Yanti menunduk.
“Tapi semua jadi berubah…”
“Namanya juga hidup.”
“Kadang orang datang buat bikin bahagia…”
“Kadang buat ngajarin kita dewasa.”
Yanti memandang Riyadi pelan.
Dan entah kenapa…
setiap bersama kakak angkatnya itu…
hatinya selalu terasa lebih tenang.
Malam semakin larut.
Hujan perlahan reda.
Namun di hati mereka…
semua baru saja dimulai.
Karena cinta pertama…
ternyata bukan hanya tentang bahagia.
Tetapi juga tentang luka.
Tentang kehilangan.
Dan tentang belajar menerima bahwa…
tidak semua perasaan bisa memiliki balasan yang sama.
BAB XIX
FITNAH DAN AIR MATA DI KELAS DELAPAN
Hari-hari setelah hujan sore itu…
keadaan memang perlahan terlihat membaik.
Bambang mulai kembali bercanda meski tak sebebas dulu.
Mas Nur masih sering datang dari Kendal saat akhir pekan atau ketika ada kegiatan sekolah.
Yanti mulai bisa tersenyum lagi.
Dan latihan karate di balai desa kembali ramai seperti biasanya.
Namun…
di balik semua ketenangan itu…
sesuatu perlahan sedang tumbuh.
Sesuatu yang kecil.
Tapi panas.
Dan diam-diam bisa menghancurkan semuanya.
Iri hati.
Pagi Minggu di balai desa Tegorejo terasa ramai.
Anak-anak karate sudah memenuhi lapangan sejak matahari belum tinggi.
“KIAAA!”
“SATU!”
“DUA!”
Sensei Sambas berjalan mondar-mandir sambil memegang rotan kecil.
Sementara Sensei Anton membantu membetulkan posisi tendangan anak-anak.
Ima tampak paling semangat pagi itu.
“Kak lihat!”
BRAK!
Tendangannya malah mengenai ember air lagi.
BYUR!
Aziz langsung melompat mundur.
“Heh! Lagi-lagi banjir!”
“HHAHAHAHA!”
Semua langsung tertawa.
Dandang sampai jongkok sambil memegangi perut.
“Ini bukan karate…”
“Ini latihan tsunami!”
Ima langsung manyun.
“Kalian jahat!”
Riyadi yang sedang membantu mengatur barisan hanya tertawa kecil.
“Heh Sinok…”
“Apa Kakang?”
“Adikmu nanti sabuk hitamnya khusus penghancur ember.”
Yanti sampai tertawa keras.
Untuk sesaat…
beban di hatinya terasa hilang.
Namun di sisi lain lapangan…
Lila memperhatikan semuanya diam-diam.
Ia sebenarnya juga ikut ekstrakurikuler seni tari yang kadang latihan di balai desa.
Dan sejak dulu…
ia tidak pernah benar-benar suka pada Yanti.
Di SD dulu…
Yanti selalu jadi murid kesayangan guru.
Masuk SMP…
Yanti tetap disukai banyak teman.
Cantik.
Pintar.
Aktif karate.
Dekat dengan banyak orang.
Bahkan sekarang…
Mas Nur yang terkenal kalem dan disukai banyak siswi…
justru memilih dekat dengan Yanti.
Hal itu membuat hati Lila perlahan dipenuhi iri.
“Lihat tuh…” bisik Lila pada Rina.
“Apa?”
“Mas Nur pulang dari Kendal pasti nyari Yanti.”
Rina melirik sekilas.
“Oh…”
“Padahal banyak yang lebih cantik.”
Rina tertawa kecil.
“Kamu termasuk?”
Lila langsung tersenyum tipis.
“Minimal nggak sok alim.”
Mereka tertawa pelan.
Sementara dari kejauhan…
Yanti sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan.
Beberapa hari kemudian…
suasana sekolah makin sibuk karena pentas seni antar kelas semakin dekat.
Aula sekolah hampir tidak pernah sepi.
Ada yang latihan drama.
Ada yang latihan puisi.
Ada yang latihan tari.
Dan sebagian lagi…
hanya numpang ribut.
Dandang berdiri di atas meja sambil latihan lawakan.
“Kalau aku sukses nanti…”
“Apa?” tanya Bambang malas.
“Aku bakal punya rumah tiga tingkat.”
“Modalnya?”
“Ketampanan.”
Satu aula langsung diam.
Lalu—
“HHAHAHAHA!”
Bahkan penjaga sekolah ikut tertawa dari luar.
Yuli sampai tepuk meja.
“Kalau muka kamu modal…”
“Bangkrut dari lahir!”
“Hahaha!”
Dandang langsung tersinggung.
“Heh! Kalian nggak ngerti seni!”
Aziz nyeletuk cepat.
“Yang ada muka kamu bikin seni menderita.”
“HHAHAHAHA!”
Suasana aula pecah oleh tawa.
Bahkan Yanti sampai memegangi perut.
Dan Mas Nur yang baru datang dari Kendal hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum kecil melihat tingkah mereka.
Namun di sudut aula…
Lila mulai memainkan sesuatu.
Ia duduk bersama Rina sambil pura-pura serius melihat latihan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering jalan malam.”
Rina mengangkat alis.
“Serius?”
“Iya…”
“Anak karate juga banyak yang lihat katanya.”
Padahal itu dilebih-lebihkan.
Rina mulai tertarik.
“Terus?”
“Ya nggak baik aja dilihatnya.”
Lila tersenyum tipis.
Dan dari situlah…
fitnah kecil mulai lahir.
Awalnya hanya bisik-bisik kecil.
Lalu berubah jadi gosip.
Dan semakin lama…
ceritanya makin liar.
“Katanya Yanti sama Mas Nur sering ketemu malam-malam…”
“Serius?”
“Iya.”
“Bukannya Mas Nur sekolah STM di Kendal?”
“Makanya…”
“Kalau pulang pasti nyari Yanti.”
“Heh katanya mereka pernah pegangan tangan di pasar malam.”
“Yang itu mah semua orang lihat.”
“Tapi katanya mereka sering pergi diam-diam.”
“Wah…”
Sedikit demi sedikit…
nama Yanti mulai jadi bahan omongan.
Saat jam istirahat…
Yanti mulai merasa ada yang aneh.
Beberapa siswi melihatnya sambil berbisik.
Bahkan ada yang tertawa kecil saat ia lewat.
“Heh…” kata Anita pelan.
“Apa?”
“Kayaknya ada gosip tentang kamu.”
“Hah?”
Yuli datang tergesa-gesa.
“Gawat.”
“Ada apa lagi?”
“Anak kelas sebelah ngomongin kamu sama Mas Nur.”
Yanti langsung bingung.
“Ngomongin apa?”
Yuli ragu sebentar.
“Katanya kalian suka jalan malam berdua.”
“Hah?!”
“Dan katanya…”
Yuli makin pelan.
“Kalian udah pacaran kelewatan.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Apa-apaan itu?!”
Anita langsung ikut emosi.
“Kurang ajar banget…”
Namun sebelum mereka sempat mencari tahu—
beberapa anak laki-laki lewat sambil tertawa.
“Eh Yantiii…”
“Kalau malam jangan pulang terlalu larut ya…”
“HHAHAHAHA!”
Muka Yanti langsung merah karena malu dan marah.
Di kelas…
suasana makin tidak nyaman.
Mas Nur yang baru tahu gosip itu langsung berubah serius.
“Siapa yang nyebarin?”
Bambang ikut berdiri.
“Kalau ketemu orangnya gue tabok.”
Dandang langsung menggulung lengan baju.
“Setuju.”
Aziz ikut nimbrung.
“Aku pegangin orangnya.”
Karwan menyahut.
“Aku yang nyari bambunya.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya candaan itu akan membuat semua tertawa.
Namun kali ini…
tak ada yang benar-benar merasa lucu.
Karena Yanti mulai menahan air mata.
“Aku nggak pernah ngelakuin itu…”
Mas Nur menatapnya lembut.
“Aku tahu.”
“Tapi semua orang ngomongin…”
Suara Yanti mulai bergetar.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa harga dirinya benar-benar terluka.
Tak lama kemudian…
keadaan makin buruk.
Saat pelajaran berlangsung…
selembar kertas tiba-tiba dilempar ke meja Yanti.
PLAK.
Yuli cepat mengambilnya.
Dan saat dibuka—
wajahnya langsung berubah marah.
“Astaga…”
“Apa?” tanya Anita.
Di kertas itu tertulis:
“Anak alim ternyata suka jalan sama cowok malam-malam.”
Yanti langsung membeku.
Tangannya gemetar.
Sementara beberapa anak belakang malah cekikikan.
Mas Nur berdiri cepat.
“Siapa yang lempar?!”
Tak ada yang menjawab.
Namun matanya langsung tertuju pada kelompok Budi dan beberapa anak kelas sebelah yang sedang tertawa.
Budi menyeringai santai.
“Lho salah sendiri kalau jadi bahan gosip.”
BRAK!
Mas Nur langsung memukul meja keras.
Satu kelas kaget.
Karena selama ini…
Mas Nur dikenal paling tenang.
“Jangan sembarangan ngomong!” bentaknya.
Suasana langsung panas.
Budi berdiri sambil tersenyum menantang.
“Kenapa?”
“Takut rahasianya ketahuan?”
“Heh!” bentak Bambang.
“Mulutmu dijaga!”
Namun Budi malah tertawa.
“Wah sekarang pahlawan semua ya?”
Dandang ikut berdiri.
Meski tubuhnya paling kecil…
gayanya paling galak.
“Gue kecil begini…”
“Bisa nendang limpa lo.”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa gugup.
Namun suasana tetap tegang.
Yanti akhirnya berdiri.
“CUKUP!”
Satu kelas langsung diam.
Air matanya mulai jatuh.
“Aku nggak pernah ngelakuin apa yang kalian omongin…”
Suasana mendadak sunyi.
“Aku capek…”
“Kenapa kalian jahat banget…”
Kalimat itu membuat beberapa anak mulai merasa bersalah.
Namun Lila yang duduk di belakang…
hanya memandang datar.
Mas Nur mendekat perlahan.
“Yanti…”
Namun Yanti langsung pergi keluar kelas sambil menangis.
Anita dan Yuli buru-buru mengejar.
“Heh Yanti tunggu!”
Sementara di dalam kelas…
suasana hampir meledak.
Bambang langsung mendekati Budi.
“Kalau lo masih ngomong sembarangan…”
“Kenapa?”
“Gue hajar.”
Budi ikut maju.
“Coba aja.”
Suasana langsung ricuh.
“WOY WOY WOY!”
Dandang panik melerai.
Aziz ikut menarik Bambang.
Karwan menahan Budi.
Bahkan meja hampir jatuh karena dorong-dorongan.
Di luar kelas…
Yanti menangis di dekat taman belakang sekolah.
Dadanya sesak.
Ia tidak pernah menyangka…
namanya akan jadi bahan omongan seperti itu.
Anita memeluk pundaknya.
“Udah…”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Orang-orang emang suka ngomong sembarangan.”
“Tapi kenapa harus aku…” lirih Yanti.
Air matanya terus jatuh.
“Aku malu…”
Saat itulah—
terdengar suara motor berhenti di depan sekolah.
Ternyata Riyadi datang mengantar perlengkapan karate untuk acara pentas seni.
Ia langsung melihat Yanti menangis.
“Heh Sinok…”
Yanti cepat menghapus air mata.
Namun Riyadi sudah tahu.
“Ada apa?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Yuli mengomel panjang.
“Anak-anak nyebar gosip nggak jelas!”
“Fitnah semua!”
Mata Riyadi langsung berubah serius.
“Siapa?”
Tak lama kemudian…
Riyadi berjalan masuk ke kelas.
Suasana masih panas.
Mas Nur berdiri dengan emosi tertahan.
Bambang masih menatap tajam ke arah Budi.
Dan Dandang sibuk jadi penengah gagal.
“Heh santai woi…”
Begitu Riyadi masuk…
kelas langsung sedikit diam.
Karena hampir semua anak tahu—
Riyadi adalah senior karate yang disegani.
“Ada apa ini?” tanyanya tenang.
Tak ada yang langsung menjawab.
Sampai akhirnya Mas Nur berkata pelan—
“Yanti difitnah.”
Riyadi menatap satu per satu wajah anak di kelas.
Lalu berkata dengan nada dingin—
“Bercanda ada batasnya.”
“Kalau sampai bikin perempuan nangis…”
“Itu pengecut.”
Suasana langsung hening.
Budi yang tadi paling berani…
kini mulai salah tingkah.
Malam harinya…
Yanti duduk diam di teras rumah.
Langit mendung.
Angin malam terasa dingin.
Ima duduk di dekatnya sambil membawa buku sekolah.
“Kak…”
“Hm?”
“Jangan sedih terus.”
Yanti tersenyum kecil.
“Kamu ngerti apa?”
Ima mengangguk serius.
“Kalau Kak Yanti sedih…”
“Rumah jadi ikut sedih.”
Kalimat polos itu membuat dada Yanti menghangat.
Tak lama kemudian—
Riyadi datang membawa kantong gorengan.
“Nih.”
Yanti tertawa kecil.
“Kakang selalu bawa gorengan.”
“Karena orang sedih nggak boleh lapar.”
Untuk pertama kalinya hari itu…
Yanti tersenyum sedikit lebih lega.
Dan Riyadi kembali sadar—
betapa besar ia ingin menjaga adik angkatnya itu dari semua luka dunia.
BAB XX
TAMPARAN, RAHASIA, DAN AWAL PENGKHIANATAN
Hujan turun sejak subuh di Desa Tegorejo.
Langit tampak kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah. Jalan-jalan kecil desa berubah becek. Air menetes dari daun pisang di depan rumah-rumah warga.
Pagi itu suasana rumah Bu Rosmiyati terasa lebih sunyi dibanding biasanya.
Yanti duduk di depan cermin kecil dengan wajah pucat. Matanya sembab karena semalaman menangis memikirkan gosip yang terus menyebar di sekolah.
Di belakangnya, Ima yang kini duduk di kelas enam SD sedang mengenakan seragam olahraga karate.
“Ima berangkat latihan nanti sore ya, Mbak,” katanya pelan sambil mengepang rambut sendiri.
Yanti hanya mengangguk kecil.
Bu Rosmiyati keluar dari dapur membawa teh hangat.
“Sinok…” katanya lembut.
Yanti menoleh pelan.
“Jangan dipikir terlalu dalam.”
“Tapi orang-orang ngomong terus, Buk…”
Bu Rosmiyati duduk di samping anak gadisnya.
“Mulut orang nggak bisa ditutup.”
“Tapi hati kita bisa dijaga.”
Air mata Yanti hampir jatuh lagi.
“Aku malu…”
“Kenapa malu kalau kamu nggak salah?”
Yanti menggigit bibirnya pelan.
“Di sekolah semua lihat aku aneh sekarang…”
Ima ikut mendekat.
“Kalau ada yang nakal, bilang Kakang Riyadi aja.”
Yanti tersenyum kecil mendengar itu.
Sejak Yanti ikut karate di ranting kecamatan, Riyadi memang sering hadir sebagai sosok penenang. Lelaki yang lebih tua beberapa tahun itu sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga mereka.
Bahkan Bu Rosmiyati pernah berkata langsung padanya:
“Yadi… tolong jagain Sinok.”
Dan sejak saat itu, Riyadi selalu menjaga Yanti seperti adik kandungnya sendiri.
Di SMP Tegorejo…
suasana jauh lebih panas dibanding cuaca pagi itu.
Begitu Yanti masuk gerbang sekolah, beberapa bisik langsung terdengar.
“Itu Yanti…”
“Katanya semalam dianter Mas Nur lagi…”
“Anak alim ternyata…”
Yanti langsung menunduk.
Dadanya sesak.
Anita yang melihat cepat menggandeng tangannya.
“Udah nggak usah didengerin.”
Namun Yanti tahu…
gosip itu sudah menyebar terlalu jauh.
Di lorong kelas delapan…
Dandang sedang berdiri di atas bangku sambil pura-pura pidato.
“Saudara-saudara!”
“Negara kita sedang krisis!”
Yuli melotot.
“Krisis apaan?”
“Krisis cinta dan gosip!”
“HHAHAHAHA!”
Beberapa anak tertawa.
Namun tawa itu cepat hilang saat Yanti masuk kelas.
Suasana langsung canggung.
Bahkan Bambang yang biasanya paling ribut hanya diam sambil memainkan pulpen.
Ia melirik Yanti sekilas.
Lalu membuang muka.
Tak lama kemudian…
Budi datang dari kelas sebelah bersama dua temannya.
Anak STM biasanya terkenal lebih urakan.
Dan meski Budi masih SMP, tingkahnya sering seperti anak jalanan.
“Heh…” katanya sambil menyeringai.
“Pagi Yanti…”
Tak ada jawaban.
Budi malah tertawa kecil.
“Mas Nur mana?”
Suasana kelas langsung berubah tegang.
Mas Nur memang sudah lulus SMP Tegorejo beberapa bulan lalu dan kini sekolah di STM Kendal.
Namun karena rumahnya masih satu desa dan sering pulang sore melewati Tegorejo, ia kadang masih menemui Yanti sepulang sekolah atau saat latihan karate selesai.
Itulah yang kemudian jadi bahan gosip.
“Heh Bud…” kata Bambang pelan.
“Mulutmu dijaga.”
Budi malah tertawa.
“Kenapa?”
“Emang salah?”
Dandang langsung berdiri.
“Kalau nyari ribut bilang dari awal.”
“Hahaha… si pelawak ikut marah.”
Dandang menunjuk dirinya sendiri.
“Aku ini artis masa depan.”
“Bukan satpam cinta.”
Beberapa anak tertawa kecil.
Namun suasana tetap panas.
Saat pelajaran berlangsung…
Yanti benar-benar tidak bisa fokus.
Tangannya dingin.
Pikirannya kacau.
Bahkan tulisan di papan terasa kabur.
Bu Ratna yang sedang mengajar Bahasa Indonesia sampai memperhatikan.
“Yanti?”
Yanti kaget.
“Iya Bu?”
“Kamu sakit?”
“Enggak…”
“Kamu pucat.”
Seluruh kelas langsung melihat ke arahnya.
Dan itu membuat Yanti makin tidak nyaman.
Saat istirahat…
keributan besar akhirnya pecah.
Semua bermula ketika Budi duduk di depan kelas sambil bercanda keras bersama anak-anak lain.
“Heh katanya Mas Nur anak STM sekarang ya?”
“Iya.”
“Wah anak STM terkenal berani tuh.”
“Hahaha!”
Lalu tiba-tiba…
Budi berkata keras sengaja agar Yanti mendengar.
“Pantes aja Yanti suka.”
“Habis anak STM lebih keren daripada anak SMP.”
Beberapa anak langsung saling pandang.
Yanti mengepalkan tangan.
Namun Budi belum berhenti.
“Kalau malam dianter pulang naik motor pasti romantis tuh.”
PLAK!
Suara tamparan keras menggema satu kelas.
Semua membeku.
Yanti berdiri dengan napas gemetar.
Tangannya masih terangkat.
Ia benar-benar menampar Budi.
Anita sampai menutup mulut.
“Ya Allah…”
Bambang langsung berdiri cepat.
Dandang melongo.
“Heh…”
Budi memegang pipinya perlahan.
Matanya membelalak tak percaya.
“Kamu nampar gue?”
Air mata Yanti jatuh.
“Jangan hina aku…”
Suaranya bergetar.
“Aku nggak pernah bikin malu siapa pun…”
Kelas benar-benar sunyi.
Tak ada yang berani bicara.
Namun masalah belum selesai.
Karena siang itu…
berita tamparan itu langsung menyebar ke seluruh sekolah.
“Yanti nampar Budi!”
“Serius?!”
“Gara-gara Mas Nur katanya!”
“Waduh…”
Dan seperti api kena bensin…
gosip itu makin membesar.
Sore harinya…
langit masih mendung ketika latihan karate dimulai di balai desa kecamatan.
Suara teriakan kiai karate menggema.
“HIAAAAT!”
Anak-anak berbaris memakai seragam putih.
Sensei Sambas berjalan mengawasi satu per satu.
“Posisi kaki yang benar!”
“Karwan jangan melamun!”
“Hahaha!”
Agus langsung tertawa.
Karwan nyengir malu.
Di sudut aula…
Yanti tampak murung sejak datang.
Bahkan gerakannya kacau.
Sensei Anton sampai mengernyit.
“Sinok!”
Yanti kaget.
“Iya Sensei…”
“Konsentrasi!”
“Siap…”
Namun jelas pikirannya tidak ada di tempat itu.
Saat istirahat latihan…
Riyadi datang membawa teh hangat plastik dari warung depan.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Kakang…”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Aku dengar soal sekolah.”
Yanti langsung diam.
“Aku malu, Kang…”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kenapa?”
“Semua orang ngomongin aku.”
“Memangnya mereka yang nentuin hidupmu?”
Yanti menunduk.
“Tapi capek…”
Riyadi mengacak pelan kepala Yanti seperti kakak sendiri.
“Kamu itu terlalu mikirin omongan orang.”
“Tapi aku takut ibu sedih…”
Riyadi menatapnya lembut.
“Bu Rosmiyati justru bangga punya anak kayak kamu.”
Yanti perlahan mulai menangis lagi.
Dan seperti biasa…
Riyadi hanya diam menemani.
Tidak banyak bertanya.
Tidak menghakimi.
Hanya hadir.
Dan itu cukup membuat hati Yanti lebih tenang.
Namun dari kejauhan…
seseorang memperhatikan mereka.
Lila.
Ia datang menjemput sepupunya yang ikut karate.
Dan ketika melihat Riyadi duduk dekat Yanti…
matanya langsung menyipit.
“Hm…”
Pikirannya mulai berjalan lagi.
“Jadi bukan cuma Mas Nur…”
gumamnya pelan.
Dan untuk pertama kalinya…
ia mulai menyusun fitnah yang lebih besar.
Malam harinya…
Mas Nur datang ke rumah Yanti.
Bukan memakai seragam SMP lagi.
Melainkan jaket abu-abu STM Kendal dengan tas teknik di pundaknya.
Suara motor tuanya berhenti pelan di depan rumah.
Ima langsung berlari keluar.
“Kak Mas Nuuur!”
Mas Nur tersenyum kecil.
“Heh Ima…”
Bu Rosmiyati keluar dari dalam rumah.
“Mari masuk, Nur.”
“Iya Buk…”
Namun saat melihat Yanti keluar dengan mata sembab…
senyum Mas Nur perlahan hilang.
“Kamu nangis lagi?”
Yanti diam.
Mas Nur mengepalkan tangan pelan.
“Budi keterlaluan.”
“Kamu jangan cari ribut lagi…”
“Aku nggak suka lihat kamu disakitin.”
Suasana teras rumah terasa hangat namun penuh tekanan.
Lampu minyak kecil bergoyang diterpa angin malam.
Dan di tengah suara jangkrik desa…
hubungan mereka perlahan memasuki fase baru.
Fase yang lebih rumit.
Lebih dewasa.
Dan lebih menyakitkan.
Karena kini…
yang mereka hadapi bukan lagi sekadar rasa suka masa SMP.
Melainkan omongan orang.
Harga diri.
Kecemburuan.
Dan pengkhianatan yang mulai tumbuh dari lingkaran pertemanan mereka sendiri.
BAB XXI
MALAM PENTAS SENI DAN HATI YANG MULAI TERPECAH
Waktu berjalan cepat di Desa Tegorejo.
Sawah-sawah masih hijau seperti dulu. Jalan desa masih dipenuhi suara sepeda ontel dan motor tua setiap pagi. Namun anak-anak yang dulu berlarian di halaman SD kini mulai tumbuh semakin dewasa.
Yanti sekarang duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Ima, adiknya, akhirnya resmi masuk SMP yang sama sebagai murid kelas tujuh.
Dan Mas Nur…
kini sudah menjadi siswa STM Kendal tingkat dua.
Ia tidak lagi memakai seragam putih biru.
Sekarang ia lebih sering terlihat memakai seragam abu-abu khas STM dengan sepatu hitam penuh debu bengkel dan tas teknik yang berat.
Namun meski sekolah mereka berbeda…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin rumit.
Karena semakin hari…
rasa sayang mereka mulai bercampur dengan rasa cemburu.
Pagi itu SMP Tegorejo sudah ramai luar biasa.
Hari pentas seni tahunan akhirnya tiba.
Anak-anak sibuk menghias panggung sederhana di lapangan sekolah. Bendera warna-warni dipasang miring di sana-sini. Kursi plastik dipinjam dari rumah warga. Speaker tua milik balai desa dipasang dekat panggung hingga suaranya kadang mendengung.
“TESSS… TESSS…”
“Masuk nggak suaranya?!”
“Masuk kuping doang!”
“HHAHAHAHA!”
Suasana sekolah benar-benar heboh.
Di belakang panggung…
Dandang menjadi orang paling ribut sedunia.
Ia muncul memakai jas cokelat kebesaran milik pamannya.
Lengannya sampai menutupi telapak tangan.
Celananya menggantung setengah betis.
Dan rambutnya penuh minyak sampai mengilap seperti penggorengan bakwan.
Yuli langsung memekik.
“YA AMPUN!”
Anita sampai duduk sambil tertawa.
“Dang… kamu kayak penyanyi organ tunggal gagal!”
Dandang tersinggung.
“Heh! Ini style anak kota!”
Bambang langsung nyeletuk sambil makan gorengan.
“Kota mana?”
“Kendal!”
“Lebih tepatnya pasar Kendal.”
“HHAHAHAHA!”
Satu ruangan langsung pecah.
Bahkan Ima yang baru pertama ikut pentas seni SMP sampai tertawa sambil memegang perut.
“Kak Dandang lucu banget…”
Dandang langsung bangga.
“Nah dengar tuh! Adiknya Yanti aja ngerti fashion!”
“Fashion apaan?!” teriak Yuli.
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti justru terlihat murung.
Ia duduk di depan cermin kecil sambil membetulkan jilbab putihnya perlahan.
Anita memperhatikan sahabatnya itu cukup lama.
“Kamu kenapa?”
“Enggak…”
“Bohong.”
Yuli ikut duduk di sampingnya.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu menghela napas pelan.
“Semalam kita berantem lagi…”
Anita langsung mengernyit.
“Gara-gara apa?”
“Karena Riyadi.”
Yuli spontan melotot.
“Hah?”
Masalah itu memang mulai sering muncul beberapa bulan terakhir.
Sejak Yanti makin aktif di karate dan organisasi sekolah…
pergaulannya semakin luas.
Ia dekat dengan banyak teman.
Ada Agus, Aziz, Karwan, Munasro, bahkan anak-anak ranting karate dari desa lain.
Dan yang paling dekat tentu saja Riyadi.
Kakang Riyadi.
Lelaki yang sudah dianggap kakak sendiri oleh keluarga Yanti.
Namun Mas Nur…
tidak pernah benar-benar nyaman dengan semua itu.
Flashback malam sebelumnya…
Di depan rumah Bu Rosmiyati…
Mas Nur duduk diam di kursi bambu.
Wajahnya dingin.
Sementara Yanti mulai kesal.
“Kamu kenapa sih?”
“Biasa aja.”
“Kalau biasa aja nggak mungkin diem dari tadi.”
Mas Nur menatap jalan desa gelap di depan rumah.
“Tadi sore kamu pulang sama Riyadi lagi.”
Yanti langsung menghela napas.
“Ya karena habis latihan karate bareng.”
“Tapi kenapa harus berdua terus?”
“Lho yang lain juga ada!”
“Yang aku lihat cuma kamu sama dia.”
Nada suara Mas Nur mulai berubah.
Yanti ikut naik emosi.
“Kakang Riyadi itu kayak kakakku sendiri!”
“Tapi dia bukan kakak kandungmu.”
DEG.
Kalimat itu langsung membuat Yanti terluka.
“Kamu nggak percaya sama aku?”
“Bukan gitu…”
“Terus apa?!”
Suasana langsung tegang.
Dari dalam rumah…
Bu Rosmiyati hanya bisa saling pandang dengan Ima.
Ima sampai berbisik kecil.
“Mbak sama Mas Nur berantem lagi…”
Bu Rosmiyati menghela napas panjang.
Kembali ke hari pentas seni…
Yanti masih terlihat memikirkan pertengkaran itu.
Sampai tiba-tiba…
suara motor terdengar memasuki halaman sekolah.
BRRRRMMM…
Beberapa siswi langsung menoleh.
“Itu anak STM Kendal ya?”
“Kayaknya Mas Nur…”
Dan benar saja.
Mas Nur datang bersama dua temannya sesama STM.
Memakai jaket abu-abu bengkel dan celana hitam.
Begitu turun dari motor…
beberapa siswi langsung salah tingkah.
“Anak STM emang auranya beda ya…”
“Ih serem tapi keren…”
Namun Mas Nur tidak memperhatikan siapa pun.
Matanya langsung mencari Yanti.
Dan saat melihat Yanti tertawa bersama Aziz dan Karwan dekat panggung…
wajahnya langsung berubah sedikit dingin.
Aziz sedang membantu memasang lampu.
“Heh Yanti pegang bawahnya!”
“Iya iya!”
Karwan ikut bercanda.
“Kalau lampunya jatuh kita pura-pura mati aja.”
“HHAHAHA!”
Yanti tertawa kecil.
Namun tawanya perlahan hilang saat melihat Mas Nur datang.
“Mas…”
Mas Nur mendekat pelan.
“Kamu sibuk.”
“Iya ini bantu dekorasi.”
Mas Nur melirik Aziz dan Karwan sekilas.
Lalu berkata datar.
“Rame ya temen cowokmu sekarang.”
Suasana langsung berubah canggung.
Aziz cepat-cepat turun dari kursi.
“Heh aku ke depan dulu.”
Karwan ikut kabur.
“Hahaha iya gue juga.”
Begitu mereka pergi…
Yanti langsung menatap Mas Nur kesal.
“Kamu mulai lagi?”
“Aku ngomong salah?”
“Iya!”
“Aku cuma bantu acara sekolah!”
“Tapi kamu terlalu dekat sama mereka.”
Yanti mulai emosi.
“Semua orang juga temenan!”
“Tapi nggak semua orang ketawa terus sama cowok lain.”
Kalimat itu menusuk hati Yanti.
“Kamu posesif banget sekarang…”
Mas Nur diam.
Namun jelas wajahnya penuh cemburu.
Di kejauhan…
Bambang memperhatikan semuanya sambil duduk di pagar sekolah.
Dandang datang membawa es lilin.
“Heh…”
“Apa?”
“Mereka berantem lagi.”
Bambang mengangguk kecil.
“Mas Nur terlalu takut kehilangan.”
Dandang ikut duduk.
“Kalau kamu jadi dia gimana?”
Bambang tertawa hambar.
“Kalau aku jadi dia…”
“Aku juga bakal takut.”
Acara pentas seni akhirnya dimulai malam hari.
Lapangan sekolah penuh warga desa.
Anak-anak kecil berlarian membawa balon.
Pedagang cilok dan jagung bakar memenuhi pinggir lapangan.
Lampu panggung berkedip-kedip tidak jelas.
Dan seperti biasa…
MC paling rusuh sedunia adalah Dandang.
“SELAMAT MALAM WARGA TEGOREJOOO!”
“WOOOO!”
“Kalau ada yang kehilangan sandal harap jangan nuduh saya!”
“HHAHAHAHA!”
Kepala sekolah sampai geleng-geleng kepala.
Penampilan demi penampilan berlangsung meriah.
Ima ikut tampil tari tradisional bersama anak kelas tujuh.
Yanti tersenyum bangga melihat adiknya.
“Kamu bagus tadi.”
Ima langsung senyum lebar.
“Beneran?”
“Iya.”
Namun sebelum suasana hangat itu lama…
Mas Nur datang lagi.
Dan wajahnya masih terlihat dingin.
“Kamu habis ngobrol sama siapa tadi belakang panggung?”
Yanti langsung lelah sendiri.
“Mas…”
“Aziz lagi?”
“Ya Allah…”
“Kamu kenapa sih?”
“Aku cuma nggak suka.”
“Kenapa harus nggak suka?!”
Karena emosi mulai menumpuk…
suara Yanti ikut meninggi.
Beberapa anak mulai melirik.
Yuli langsung panik.
“Heh jangan ribut di sini…”
Namun pertengkaran mereka terus berlanjut.
“Aku capek dicurigain terus!” bentak Yanti.
“Aku juga capek lihat kamu dekat sama banyak cowok!”
“Itu temen!”
“Tapi kamu terlalu nyaman sama mereka!”
Yanti benar-benar sakit hati.
“Kalau gitu sekalian aja aku nggak usah punya temen!”
Mas Nur langsung diam.
Namun emosinya juga belum reda.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Kalimat itu membuat suasana mendadak sunyi.
Yanti menatap Mas Nur dengan mata berkaca-kaca.
“Tapi cara kamu bikin aku sesak…”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Yanti berjalan pergi meninggalkan Mas Nur di tengah keramaian pentas seni.
Air matanya jatuh.
Ia terus berjalan sampai keluar gerbang sekolah.
Melewati jalan desa yang gelap dan dingin.
Sampai akhirnya…
suara motor pelan berhenti di sampingnya.
“Sinok…”
Yanti menoleh.
“Kakang…”
Ternyata Riyadi.
Wajah lelaki itu langsung berubah khawatir melihat Yanti menangis.
“Heh…”
“Kenapa lagi?”
Yanti langsung menangis lebih keras.
“Capek Kang…”
Riyadi menghela napas pelan.
“Mas Nur lagi?”
Yanti mengangguk.
“Dia nggak suka aku punya banyak temen…”
Riyadi diam beberapa saat.
Lalu membuka helmnya.
“Naik dulu.”
Yanti menurut pelan.
Dan malam itu…
di tengah angin dingin Desa Tegorejo…
Riyadi kembali menjadi tempat Yanti menenangkan hati.
Mereka berhenti di warung kopi kecil dekat jembatan desa.
Lampu temaram.
Suara jangkrik terdengar jelas.
Riyadi membeli teh hangat.
“Nih.”
Yanti menerima gelas plastik itu pelan.
“Kakang…”
“Hm?”
“Aku salah nggak sih?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Kalau soal hati…”
“Nggak selalu ada yang salah.”
“Tapi Mas Nur terlalu cemburu…”
“Karena dia sayang.”
“Kalau sayang harus bikin sesak ya?”
Pertanyaan itu membuat Riyadi diam cukup lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Cinta pertama itu biasanya memang berisik.”
Yanti tertawa kecil di sela tangisnya.
“Berisik gimana?”
“Ya begini.”
“Sedikit-sedikit cemburu.”
“Sedikit-sedikit takut kehilangan.”
“Sedikit-sedikit putus.”
Yanti tersenyum tipis.
“Terus nyambung lagi?”
“Nah itu…”
“Hahaha…”
Untuk pertama kalinya malam itu…
Yanti kembali tertawa kecil.
Dan Riyadi merasa lega melihatnya.
Sementara di sekolah…
Mas Nur masih berdiri diam dekat panggung.
Bambang mendekat perlahan.
“Kamu keterlaluan tadi.”
Mas Nur mengusap wajahnya kasar.
“Aku takut kehilangan dia.”
Bambang menatap keramaian lapangan cukup lama.
Lalu berkata lirih.
“Kalau terlalu dikekang…”
“Perempuan juga bisa capek.”
Angin malam berembus dingin melewati lapangan SMP Tegorejo.
Lampu panggung masih berkedip.
Suara tawa masih terdengar.
Namun di balik meriahnya pentas seni malam itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur mulai retak perlahan.
Bukan karena tidak saling sayang.
Melainkan karena rasa takut kehilangan…
yang diam-diam mulai tumbuh terlalu besar di hati mereka masing-masing.
BAB XXII
FOTO, CEMBURU, DAN MALAM YANG MENGUBAH SEGALANYA
Musim penghujan mulai benar-benar turun di Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis di sawah.
Jalanan desa berubah becek.
Parit-parit kecil di pinggir rumah mulai penuh air.
Dan suara kodok bersahutan hampir setiap malam.
Namun di tengah udara dingin itu…
hubungan Yanti dan Mas Nur justru semakin panas.
Waktu terus berjalan.
Kini Yanti sudah duduk di kelas sembilan SMP Tegorejo.
Ima, adik Yanti, baru masuk kelas tujuh di sekolah yang sama.
Sementara Mas Nur…
sudah bukan siswa SMP lagi.
Ia kini menjadi siswa STM di Kendal.
Seragamnya bukan lagi putih biru.
Melainkan putih abu-abu dengan jaket praktik warna abu tua yang sering berbau oli bengkel.
Dan sejak masuk STM…
Mas Nur mulai jarang datang ke Tegorejo.
Ia lebih sibuk.
Kadang pulang sore.
Kadang malah hampir magrib karena kegiatan praktik.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
hubungannya dengan Yanti makin sering dipenuhi salah paham.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang sibuk latihan untuk persiapan ujian praktik seni.
Di lapangan belakang sekolah…
terdengar suara anak-anak karate sedang latihan.
“HIYAAAT!”
“KUDA-KUDA YANG BENAR!”
Sensei Sambas berdiri sambil membawa peluit.
Sementara Ima terlihat serius mengikuti gerakan dasar bersama anak-anak baru.
“Heh Ima!” teriak Dandang dari pinggir lapangan.
Ima menoleh.
“Kakakmu mana?”
“Di aula!”
“Bilang jangan galak terus!”
Ima langsung melotot kecil.
“Situ aja yang nggak usah ganggu Kak Yanti!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Di aula sekolah…
Yanti sedang membantu Anita menghias mading kelas.
Namun sejak tadi…
wajahnya tampak murung.
Anita melirik pelan.
“Kamu berantem lagi?”
Yanti diam.
“Mas Nur?”
Yanti menghela napas panjang.
“Semalam.”
“Lagi?”
“Iya…”
Yuli yang baru datang sambil membawa gunting langsung ikut nimbrung.
“Sekarang masalahnya apa?”
Yanti tampak kesal sendiri.
“Dia marah karena aku latihan karate sampai sore.”
“Hah?”
“Katanya aku terlalu dekat sama anak-anak cowok.”
Yuli langsung melongo.
“Lho memangnya salah?”
“Katanya aku sekarang beda…”
Kilatan kejadian semalam langsung teringat di kepala Yanti.
Malam sebelumnya…
Yanti baru pulang latihan karate hari Rabu sore.
Lapangan balai desa masih ramai waktu itu.
Aziz dan Agus sedang bercanda sambil membereskan matras.
Karwan—yang sedang pulang sebentar dari Tangerang—ikut datang melihat latihan.
“Heh Sinok!” panggil Riyadi sambil tertawa kecil.
Yanti menoleh.
“Apa Kakang?”
“Besok jangan lupa latihan fisik.”
“Iya…”
Riyadi memang selalu begitu.
Tenang.
Tidak banyak bicara.
Namun selalu hadir saat Yanti sedang kacau.
Dan sejak dulu…
atas permintaan Bu Rosmiyati…
Riyadi memang dianggap seperti kakak sendiri bagi Yanti.
Bahkan Ima juga memanggilnya “Kakang Riyadi”.
Namun malam itu…
saat Yanti pulang…
Mas Nur ternyata sudah menunggu di depan rumah.
Wajahnya dingin.
“Kamu dari mana?”
“Latihan karate…”
“Sampai malam?”
Yanti langsung tahu nada bicara itu.
Nada cemburu.
“Nggak malam juga…”
Mas Nur menatap tajam.
“Tadi aku lihat kamu ketawa-ketawa sama Riyadi.”
DEG.
Yanti langsung kesal.
“Lho Kakang Riyadi itu kayak kakak sendiri!”
“Tapi kalian dekat banget.”
“Karena dari dulu memang dekat!”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Sekarang cowok di sekitarmu banyak banget ya.”
Kalimat itu langsung menusuk hati Yanti.
Kembali ke aula sekolah…
Yanti memejamkan mata sebentar mengingat semuanya.
Anita memegang bahunya pelan.
“Kamu capek ya?”
Yanti mengangguk kecil.
“Aku bingung…”
“Mas Nur sekarang gampang marah.”
Di sisi lain…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara besi.
TING!
TRANG!
Mesin bubut berdengung.
Anak-anak STM sibuk praktik.
Namun sejak tadi…
Mas Nur malah melamun sambil memegang kunci inggris.
“Heh Nur!”
Ternyata Aris—teman sekelasnya.
“Apa?”
“Kamu dari tadi bengong.”
“Enggak.”
“Boong.”
Aris tertawa kecil.
“Masalah cewek ya?”
Mas Nur langsung diam.
Dan diamnya sudah cukup menjawab.
Sementara itu…
sepulang sekolah…
Yanti ikut latihan karate Minggu pagi pengganti jadwal yang sempat libur hujan.
Lapangan balai desa cukup ramai.
Sensei Anton memimpin pemanasan.
“Satu!”
“Dua!”
“Tiga!”
Anak-anak mengikuti gerakan bersama.
Ima bahkan mulai terlihat lebih percaya diri.
“Heh Ima!” goda Agus.
“Sekarang tendanganmu lumayan.”
Ima langsung bangga.
“Tentu dong!”
“Hahaha!”
Sementara Yanti duduk sebentar di pinggir lapangan sambil minum.
Riyadi datang membawa es teh plastik.
“Nih.”
Yanti menoleh.
“Makasih Kakang.”
Riyadi duduk di sampingnya.
“Kamu habis nangis?”
Yanti langsung menunduk.
“Kelihatan ya?”
“Lumayan.”
Riyadi tersenyum tipis.
“Mas Nur lagi?”
Yanti diam cukup lama.
Lalu mengangguk kecil.
Riyadi memandang lapangan karate.
Anak-anak masih berteriak latihan kuda-kuda.
Angin pagi bertiup pelan membawa bau rumput basah.
“Kamu tahu nggak kenapa cowok gampang cemburu?”
“Kenapa?”
“Karena takut kehilangan.”
Yanti menatap Riyadi pelan.
“Tapi aku capek kalau dicurigai terus…”
Riyadi menghela napas.
“Cinta pertama memang paling ribet.”
Yanti malah tertawa kecil.
“Kakang sok tua.”
“Hahaha!”
“Padahal Kakang sendiri galau.”
Riyadi langsung nyengir hambar.
“Eh jangan bongkar aib.”
Memang…
belakangan Riyadi juga sedang bingung soal hidupnya sendiri.
Ia baru lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon beberapa bulan lalu.
Namun sampai sekarang…
belum tahu harus kerja di mana.
Kadang ia ikut membantu pamannya di bengkel.
Kadang membantu di sawah.
Kadang hanya nongkrong di pos ronda sambil memikirkan masa depan.
Sementara Karwan…
teman sepermainannya dulu…
sudah bekerja di Tangerang.
Kadang Karwan mengirim surat atau titipan kabar lewat orang kampung.
“Di sini kerja capek…” katanya suatu waktu.
“Tapi lumayan buat bantu keluarga.”
Dan diam-diam…
Riyadi mulai berpikir ingin merantau juga.
Namun siang itu…
konflik Yanti dan Mas Nur justru makin membesar.
Semuanya bermula dari sebuah foto.
Hari itu anak-anak karate foto bersama setelah latihan.
Sensei Sambas berdiri di tengah.
Anak-anak berjejer.
Aziz iseng mengangkat sabuk tinggi-tinggi.
Agus malah gaya seperti jagoan film.
“Hahaha!”
Suasana ramai penuh tawa.
Dan tanpa sadar…
Riyadi berdiri cukup dekat di samping Yanti.
Klik.
Foto pun jadi.
Sore harinya…
entah bagaimana…
foto itu sampai ke tangan Mas Nur.
Kemungkinan dari teman STM yang masih kenal anak-anak Tegorejo.
Dan saat melihat foto itu…
hati Mas Nur langsung panas.
Malamnya…
ia datang ke rumah Yanti dengan wajah tegang.
“Kamu sekarang nyaman banget ya dekat sama Riyadi.”
Yanti yang sejak tadi sudah lelah langsung tersulut emosi.
“Mas Nur cukup!”
“Aku capek dicurigai terus!”
“Karena aku sayang sama kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Suasana teras rumah langsung hening.
Ima yang sedang belajar di dalam sampai mengintip pelan.
Bu Rosmiyati juga mulai cemas mendengar suara mereka meninggi.
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Yanti menahan air mata.
“Aku nggak pernah ninggalin kamu…”
“Tapi kamu berubah.”
“Aku berubah gimana?!”
“Sekarang kamu lebih sering sama teman-teman karate.”
“Karena aku punya hidup sendiri!”
Kalimat itu langsung membuat Mas Nur diam.
Dan untuk pertama kalinya…
ia merasa jarak di antara mereka mulai benar-benar nyata.
Tak lama kemudian…
Riyadi muncul dari ujung jalan setelah mengantar Karwan ke rumah pamannya.
Melihat suasana tegang…
ia langsung berhenti.
“Heh…”
Mas Nur menoleh.
Dan entah kenapa…
tatapan keduanya langsung panas.
Yanti cepat berkata:
“Kakang jangan ikut-ikut…”
Namun Mas Nur sudah terlanjur emosi.
“Kalau bukan karena dia…”
Riyadi langsung memotong tenang.
“Jangan nyalahin orang lain kalau hubungan kalian lagi kacau.”
DEG.
Suasana makin tegang.
Mas Nur mendekat sedikit.
“Kamu nggak usah ikut campur.”
Riyadi tetap tenang.
“Aku cuma nggak suka lihat Sinok nangis terus.”
Kalimat itu justru makin membuat Mas Nur cemburu.
“Sinok… Sinok…”
“Dekat banget ya panggilannya.”
Yanti langsung panik.
“Mas Nur udah!”
Namun emosinya sudah terlalu tinggi.
Di tengah ketegangan itu…
tiba-tiba hujan turun deras.
BRAK!
Petir menyambar jauh di langit desa.
Angin malam meniup pohon bambu keras-keras.
Namun tak satu pun dari mereka bergerak.
Yanti akhirnya menangis.
“Aku capek…”
Suasana langsung berubah hening.
Air mata Yanti jatuh deras.
“Aku sayang sama kamu…”
“Tapi aku juga capek terus dicurigai…”
Mas Nur membeku.
Sementara Riyadi hanya diam memandang hujan.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
Mas Nur pulang tanpa berpamitan.
Ia berjalan sendiri menembus hujan menuju jalan raya.
Meninggalkan Yanti yang masih menangis di teras rumah.
Meninggalkan hati yang mulai retak perlahan.
Riyadi mendekat pelan.
“Sinok…”
Yanti menunduk.
“Aku salah ya Kang?”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalian cuma sama-sama takut kehilangan.”
Ima ikut duduk di samping kakaknya.
“Kak Yanti jangan nangis…”
Yanti langsung memeluk adiknya erat.
Dan di tengah suara hujan malam Desa Tegorejo…
mereka semua mulai sadar…
bahwa cinta pertama tidak selalu tumbuh semakin indah.
Kadang…
semakin dewasa perasaan itu…
semakin banyak pula luka yang ikut tumbuh bersamanya.
BAB XXIII
CEMBURU YANG MULAI MEMBAKAR
Musim hujan belum benar-benar pergi dari Desa Tegorejo.
Pagi sering datang bersama kabut tipis yang menggantung di atas sawah.
Jalan-jalan kecil desa masih lembap.
Daun bambu basah oleh embun.
Dan langit kelabu seolah ikut menyimpan sesuatu yang berat.
Begitu juga hati Yanti.
Sejak pertengkaran malam di teras rumahnya…
hubungannya dengan Mas Nur tidak pernah benar-benar kembali seperti dulu.
Mereka masih saling bertemu.
Masih saling menyapa.
Namun rasa hangat itu perlahan menghilang.
Digantikan diam yang panjang.
Digantikan curiga.
Dan perlahan…
digantikan luka.
Kini Yanti sudah kelas sembilan SMP Tegorejo.
Sementara Mas Nur sudah menjadi siswa STM di Kendal.
Jarak sekolah yang berbeda membuat mereka makin jarang bertemu.
Mas Nur berangkat pagi buta naik bus kecil jurusan Kendal.
Pulang sore dengan tubuh lelah dan tangan kadang masih bau oli bengkel.
Sedangkan Yanti…
masih sibuk dengan sekolah, kegiatan karate, dan persiapan ujian akhir.
Namun justru karena jarang bertemu itulah…
rasa takut kehilangan di antara mereka tumbuh semakin besar.
Pagi itu…
suasana SMP Tegorejo cukup ramai.
Anak-anak kelas sembilan sedang latihan baris-berbaris untuk acara perpisahan sekolah.
“Heh lurus woi!” teriak Dandang.
“Kakimu jangan kayak kepiting!”
“Hahaha!”
Anak-anak langsung tertawa.
Sensei Sambas yang kebetulan lewat menuju aula sampai geleng-geleng kepala.
“Kalau mulutmu ikut lomba pasti juara.”
“Hahaha!”
Namun di tengah keramaian itu…
Yanti tampak jauh lebih diam.
Ia berdiri sambil memegang buku.
Tatapannya kosong.
Ima yang kini mulai akrab dengan kakak-kakak kelas mendekat pelan.
“Kak…”
Yanti menoleh.
“Iya?”
“Kakak habis nangis lagi ya?”
DEG.
Yanti langsung memalingkan wajah.
“Enggak.”
“Bohong…”
Ima menggenggam tangan kakaknya perlahan.
“Kalau Kak Yanti sedih terus… Ima juga ikut sedih.”
Kalimat itu langsung membuat dada Yanti sesak.
Sementara itu…
di STM Kendal…
Mas Nur juga sedang tidak tenang.
Suasana bengkel praktik pagi itu ramai suara mesin.
TRANG!
TING!
Anak-anak STM sibuk mengelas dan membongkar mesin motor.
Namun sejak tadi…
Mas Nur hanya duduk diam sambil memandangi foto kecil di dompetnya.
Foto Yanti.
“Heh Nur!”
Aris datang sambil membawa obeng.
“Kamu kenapa?”
“Enggak kenapa-kenapa.”
“Boong.”
Aris duduk di sampingnya.
“Masalah cewek lagi?”
Mas Nur tertawa kecil hambar.
“Kayaknya aku capek.”
“Capek pacaran?”
Mas Nur diam.
Lalu berkata lirih:
“Aku takut kehilangan dia…”
Sore harinya…
latihan karate kembali digelar di balai desa.
Lapangan cukup ramai.
Agus sibuk bercanda dengan Aziz.
Pincuk sedang membantu menggulung matras.
Munasro latihan tendangan sambil teriak terlalu keras sampai Dandang yang numpang lewat tertawa ngakak.
“Heh Nasro!”
“Apa?!”
“Tendanganmu kayak ayam masuk angin!”
“Hahaha!”
Suasana sempat ramai oleh tawa.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Riyadi yang sejak tadi duduk di gardu pinggir lapangan memperhatikannya diam-diam.
“Heh Sinok…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa Kang…”
“Kamu latihan nggak fokus.”
Yanti tersenyum kecil hambar.
“Iya ya…”
Riyadi berjalan mendekat.
“Kalian berantem lagi?”
Yanti diam beberapa detik.
Lalu mengangguk pelan.
Angin sore bertiup pelan melewati pohon jati di pinggir lapangan.
Anak-anak masih latihan di belakang mereka.
“Heh…” kata Riyadi pelan.
“Kamu tahu nggak…”
“Apa?”
“Kadang orang yang terlalu takut kehilangan…”
“Justru bikin semuanya rusak sendiri.”
Yanti menunduk.
“Aku juga salah Kang…”
“Kenapa?”
“Aku capek dicurigai terus…”
Air matanya mulai menggenang.
“Tapi aku juga nggak bisa jauh dari dia…”
Malamnya…
pertengkaran besar akhirnya benar-benar terjadi.
Mas Nur datang ke rumah Yanti dengan wajah dingin.
Tidak seperti biasanya.
Tidak ada senyum.
Tidak ada candaan kecil.
Hanya wajah lelah penuh emosi.
Bu Rosmiyati yang sedang melipat pakaian langsung merasa suasana tidak enak.
“Ibu ke belakang dulu ya…”
Yanti hanya mengangguk kecil.
Di teras rumah…
suasana langsung hening.
Lampu bohlam kuning menggantung redup.
Suara jangkrik terdengar dari sawah belakang rumah.
Dan malam terasa sangat panjang.
“Kamu sekarang dekat banget sama Riyadi.”
Kalimat pertama Mas Nur langsung membuat Yanti lelah.
“Mas Nur…”
“Aku capek dengar itu terus.”
“Tapi memang begitu kenyataannya.”
“Dia itu Kakangku!”
“Tapi kalian terlalu dekat.”
Yanti langsung berdiri.
“Terus maumu apa?!”
Mas Nur ikut berdiri.
“Aku cuma pengen kamu ngerti perasaanku!”
“Aku juga pengen kamu ngerti aku!”
Suasana langsung memanas.
“Aku nggak pernah selingkuh!”
“Aku nggak bilang kamu selingkuh!”
“Tapi kamu selalu nuduh!”
“Karena aku takut kehilangan kamu!”
“Tapi caramu bikin aku sesak!”
Kalimat itu langsung menghantam dada Mas Nur.
Dan untuk pertama kalinya…
ia benar-benar terlihat lelah.
Beberapa detik mereka hanya saling diam.
Lalu Mas Nur berkata sangat pelan.
“Mungkin…”
“Kita memang harus jauh dulu.”
DEG.
Dunia Yanti seperti berhenti.
“Apa?”
Mas Nur memalingkan wajah.
“Aku capek curiga terus…”
“Aku capek cemburu…”
“Aku capek takut kehilangan kamu setiap hari.”
Air mata Yanti langsung jatuh.
“Kamu mau putus?”
Mas Nur diam.
Namun diamnya itu…
sudah cukup menjadi jawaban.
Yanti mulai menangis.
“Jadi segampang itu?”
“Enggak gampang…”
“Terus kenapa?”
Mas Nur mengepalkan tangan.
“Karena aku ngerasa aku makin nyakitin kamu.”
Kalimat itu membuat Yanti makin hancur.
“Aku sayang sama kamu…”
Suara Yanti bergetar hebat.
“Kenapa kita jadi begini…”
Mas Nur menatapnya lama sekali.
Matanya juga mulai merah.
Namun ia hanya berkata lirih:
“Maaf…”
Malam itu…
Mas Nur pulang tanpa banyak kata lagi.
Dan sejak malam itu…
hubungan mereka benar-benar retak.
Hari-hari setelahnya terasa sangat berat.
Yanti tetap sekolah.
Tetap ikut karate.
Tetap membantu ibunya di rumah.
Namun semuanya terasa kosong.
Ia jadi lebih sering diam.
Lebih sering melamun.
Dan lebih sering menangis diam-diam malam hari.
Ima sampai beberapa kali ikut menangis melihat kakaknya seperti itu.
Suatu sore…
Yanti duduk sendirian di pinggir sawah dekat jalan bambu.
Langit mendung.
Angin dingin bertiup pelan.
Dan matanya kosong memandang jauh.
Tiba-tiba suara langkah terdengar.
“Heh Sinok…”
Ternyata Riyadi.
Yanti langsung menghapus air matanya cepat.
“Kakang…”
“Kamu nangis lagi.”
“Enggak.”
“Matamu bohong.”
Riyadi duduk di sampingnya.
Beberapa saat mereka diam.
“Aku masih sayang banget sama dia Kang…”
Kalimat itu akhirnya keluar juga.
Dan setelah mengatakannya…
Yanti justru menangis semakin keras.
“Aku nggak ngerti kenapa jadi begini…”
Riyadi memandang sawah di depan.
“Aku tahu…”
“Tahu apa?”
“Cinta pertama memang paling susah dilupain.”
Yanti memeluk lututnya.
“Aku ngerasa kehilangan separuh hidupku…”
Riyadi tersenyum kecil hambar.
“Kamu tahu…”
“Dulu aku juga pernah ngerasain begitu.”
Yanti menoleh.
“Kakang pernah patah hati?”
“Ya pernah lah…”
“Hahaha…”
Meski tertawa kecil…
air mata Yanti tetap jatuh.
Namun luka terbesar belum datang.
Karena tiga hari kemudian…
kabar itu akhirnya terdengar.
Mas Nur pergi ke Jakarta.
Awalnya Yanti tahu dari Bambang.
Sore itu Bambang datang tergesa ke rumah.
“Heh Yanti!”
Yanti yang sedang menyapu langsung menoleh.
“Apa?”
“Mas Nur…”
DEG.
Jantung Yanti langsung berdebar.
“Kenapa?”
“Dia berangkat ke Jakarta.”
Dunia Yanti langsung terasa runtuh.
“Hah…?”
“Kata Eko… dia ikut omnya kerja.”
Yanti membeku.
“Berangkat kapan?”
“Tadi pagi.”
Air mata langsung jatuh begitu saja.
“Tapi…”
“Dia nggak pamit?”
Bambang perlahan menunduk.
“Nggak…”
Kalimat itu menghancurkan semuanya.
Mas Nur pergi.
Tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa pelukan terakhir.
Tanpa ucapan selamat tinggal.
Malam itu…
Yanti menangis paling keras sepanjang hidupnya.
Di kamar kecilnya…
ia memeluk surat lama dari Mas Nur sambil sesenggukan.
Ima ikut menangis di sampingnya.
Bu Rosmiyati hanya bisa memeluk anak gadisnya erat.
“Udah Nduk…”
“Tapi sakit banget Buk…”
Kalimat itu membuat hati ibunya ikut hancur.
Hari-hari berikutnya menjadi masa paling gelap bagi Yanti.
Ia kehilangan semangat.
Di sekolah ia sering melamun.
Di latihan karate gerakannya kosong.
Bahkan Sensei Anton sampai bertanya:
“Kamu sakit?”
Yanti hanya tersenyum kecil.
“Enggak Sensei…”
Padahal hatinya benar-benar sakit.
Dan di titik terendah itu…
Riyadi selalu hadir.
Kadang mengajaknya jalan sore ke pematang sawah.
Kadang membawakan cilok favoritnya.
Kadang hanya duduk diam menemaninya menangis.
“Heh Sinok…”
“Apa…”
“Kalau mau nangis… nangis aja.”
Yanti langsung menunduk.
“Aku bodoh ya Kang…”
“Kenapa?”
“Aku masih nunggu dia pulang…”
Riyadi tersenyum tipis.
“Itu bukan bodoh.”
“Terus?”
“Itu namanya cinta.”
Air mata Yanti kembali jatuh.
Malam demi malam berlalu.
Dan perlahan…
Yanti mulai belajar satu hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
bahwa cinta pertama…
tidak selalu berakhir bersama.
Kadang…
ia hanya datang untuk meninggalkan kenangan.
Kenangan yang begitu indah…
namun juga meninggalkan luka paling dalam.
BAB XXIV
AIR MATA DI BAWAH POHON TREMBESI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak muram.
Awan kelabu menggantung rendah di atas hamparan sawah yang mulai menguning. Udara dingin turun sejak subuh. Jalan-jalan kecil desa masih basah oleh gerimis malam tadi.
Dan pagi itu…
hati Yanti jauh lebih dingin daripada cuaca desa.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur menghilang.
Bukan sekadar menjauh.
Bukan sekadar marah.
Tetapi benar-benar pergi dari hidupnya.
Mas Nur sudah tidak sekolah lagi.
Setelah beberapa bulan masuk STM di Kendal…
ia memilih berhenti.
Keadaan ekonomi keluarganya yang semakin sulit membuatnya tidak bisa melanjutkan sekolah.
Dan tanpa banyak cerita…
ia memutuskan merantau ke Jakarta mengikuti temannya bekerja di proyek bangunan.
Keputusan itu datang begitu cepat.
Bahkan Yanti tidak sempat benar-benar memahami semuanya.
Yang paling menyakitkan…
Mas Nur pergi tanpa pamit baik-baik.
Tanpa penjelasan panjang.
Tanpa perpisahan yang layak.
Hanya meninggalkan luka yang menggantung di hati Yanti.
Pagi itu…
Yanti duduk diam di depan jendela kamarnya.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun matanya kosong.
Di luar rumah…
suara ibu-ibu desa mulai terdengar sibuk menyapu halaman.
Motor lewat sesekali.
Ayam berkokok.
Hidup tetap berjalan seperti biasa.
Namun tidak bagi Yanti.
Di tangannya…
masih ada surat kecil lusuh dari Mas Nur beberapa bulan lalu.
Tulisan tangan itu mulai pudar.
“Aku nggak akan ninggalin kamu.”
Air mata Yanti jatuh perlahan.
“Kenapa sekarang malah pergi…”
gumamnya lirih.
Bu Rosmiyati yang sejak tadi memperhatikan dari dapur mulai khawatir.
“Nduk…”
Yanti buru-buru menghapus air matanya.
“Iya Bu…”
“Kamu akhir-akhir ini kurusan.”
“Enggak kok…”
“Kamu habis nangis lagi ya?”
Yanti memaksa tersenyum.
Sulit menjelaskan pada ibunya…
bahwa yang hancur sekarang bukan tubuhnya.
Melainkan hatinya.
Di SMP…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Namun Yanti justru semakin sering melamun.
Anita sampai berkali-kali menyenggol lengannya.
“Heh…”
“Hm?”
“Kamu nggak nyatet.”
Yanti tersadar.
“Oh…”
Yuli yang duduk di belakang ikut menghela napas.
“Masih kepikiran Mas Nur?”
Kelas mendadak terasa sunyi bagi Yanti.
Ia menunduk pelan.
“Dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti langsung bergetar.
“Aku bahkan nggak tahu sekarang dia tinggal di mana…”
Anita menggenggam tangannya pelan.
“Dia pasti balik…”
Namun Yanti menggeleng.
“Perasaanku nggak enak…”
Sementara itu…
di Jakarta…
Mas Nur duduk di atas tumpukan semen proyek bangunan.
Tangannya penuh debu.
Bajunya lusuh.
Suara mesin molen bercampur klakson kendaraan kota terdengar bising.
Jakarta jauh berbeda dari Tegorejo.
Tidak ada sawah.
Tidak ada jalan kecil desa.
Tidak ada suara jangkrik malam.
Dan yang paling terasa…
tidak ada Yanti.
“Heh Nur!”
Seorang pekerja memanggil.
“Apa Bang?”
“Melamun terus. Lagi mikirin cewek ya?”
Beberapa pekerja langsung tertawa.
Mas Nur hanya tersenyum hambar.
Namun malam-malamnya memang selalu dipenuhi bayangan Yanti.
Ia pergi karena merasa gagal.
Merasa tidak pantas lagi mendampingi Yanti.
Apalagi setelah pertengkaran mereka semakin sering terjadi.
Cemburu.
Salah paham.
Tangisan.
Dan surat fitnah itu…
masih menghantuinya.
Di Desa Tegorejo…
latihan karate justru semakin padat.
Ujian kenaikan tingkat akan dilaksanakan di Semarang.
Semua peserta sibuk berlatih setiap sore.
Ima yang kini sudah masuk SMP tampak semangat luar biasa.
“Kak Yantiii!”
“Apa?”
“Nanti kalau aku sabuk coklat keren nggak?”
Dandang langsung nyeletuk.
“Kamu sabuk jemuran aja belum kuat.”
“HHAHAHA!”
Suasana balai desa kembali ramai.
Namun Yanti tetap terlihat murung.
Kakang Riyadi yang sejak tadi memperhatikan hanya diam.
Riyadi kini sudah lulus dari SMA Negeri 1 Pegandon.
Namun hidupnya sendiri masih penuh kebingungan.
Kuliah belum jelas.
Kerja juga belum pasti.
Temannya, Karwan, bahkan sudah bekerja di Tangerang sejak tahun lalu.
Mereka masih sering surat-suratan soal pekerjaan.
Tetapi Riyadi tetap lebih sering berada di desa.
Dan akhir-akhir ini…
ia selalu hadir setiap Yanti mulai runtuh.
Sore itu…
latihan lari pemanasan dilakukan mengelilingi lapangan desa.
Aspal terasa panas.
Dan seperti biasa…
karena terlalu melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh.”
Yanti menoleh.
Riyadi berdiri sambil membawa sandal jepitnya.
“Pakai.”
“Hah?”
“Kakimu merah.”
“Nggak usah…”
“Pakai aja Sinok.”
Nada suaranya lembut sekali.
Yanti akhirnya memakai sandal itu perlahan.
Dan entah kenapa…
dadanya terasa sedikit tenang.
Malam hari setelah latihan…
anak-anak karate masih duduk bergerombol di depan balai desa.
Dandang sibuk makan gorengan lagi.
“Heh Dang…”
“Apa?”
“Kamu latihan karate apa latihan ngabisin warung?”
“HHAHAHA!”
Ima sampai tertawa terbahak-bahak.
Namun Yanti hanya tersenyum kecil.
Riyadi duduk di sampingnya.
“Masih sedih?”
Yanti diam beberapa detik.
“Aku tuh bingung…”
“Kenapa?”
“Kenapa orang yang bilang sayang…”
“Bisa pergi begitu aja.”
Angin malam bertiup pelan.
Riyadi memandang jalan desa yang mulai sepi.
Lalu berkata pelan.
“Kadang orang pergi bukan karena nggak sayang.”
“Tapi karena merasa dirinya nggak cukup baik.”
Kalimat itu membuat Yanti perlahan menoleh.
Karena itulah yang paling ia rasakan dari Mas Nur sebelum pergi.
Beberapa minggu kemudian…
rombongan karate berangkat ke Semarang untuk ujian kenaikan tingkat.
Mereka naik truk dan bus kecil sejak dini hari.
Perjalanan penuh keributan.
Dandang muntah dua kali.
“Huek!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai pindah tempat duduk.
“Bau banget sumpah!”
Ima malah sibuk melihat lampu kota dengan mata berbinar.
“Keren banget…”
Sementara Yanti duduk dekat jendela.
Diam memandang jalan.
Jakarta terasa jauh sekali.
Dan entah kenapa…
ia terus bertanya dalam hati:
“Mas Nur sekarang lagi apa ya…”
Mereka menginap di Asrama Haji Semarang.
Malamnya…
anak-anak sempat jalan-jalan ke Mall Matahari Simpang Lima.
Lampu kota Semarang terlihat indah.
Ramai.
Penuh kendaraan.
Berbeda jauh dengan Tegorejo yang tenang.
Dandang langsung norak melihat eskalator.
“WOY TANGGANYA GERAK SENDIRI!”
“HHAHAHA!”
Bambang sampai menarik kerah bajunya.
“Jangan malu-maluin cabang Kendal!”
Di lantai atas mall…
Yanti berdiri dekat pagar kaca memandang lampu kota.
Angin malam terasa lembut.
Riyadi berdiri di sampingnya.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Masih mikirin dia?”
Yanti tersenyum pahit.
“Kalau cinta pertama…”
“Susah dilupain ya.”
Riyadi diam.
Lalu Yanti berkata lirih:
“Merpati tak pernah ingkar janji…”
“Itu kata-kata Mas Nur dulu.”
Matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Namun Riyadi tetap mendengarkan tanpa memotong sedikit pun.
Karena ia tahu…
kadang luka tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
Hari ujian kenaikan tingkat akhirnya tiba.
Pagi-pagi sekali…
peserta dibangunkan untuk pemanasan lari.
Dan lagi-lagi…
karena melamun…
Yanti lupa memakai sandal.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ini pakai lagi.”
Riyadi kembali menyerahkan sandalnya.
Yanti langsung tertawa kecil.
“Kakang nggak capek nyelametin aku terus?”
“Kalau kamu nggak nangis terus mungkin nggak capek.”
Yanti akhirnya benar-benar tertawa.
Dan itu pertama kalinya sejak Mas Nur pergi…
tawanya terdengar tulus.
Ujian berlangsung sangat berat.
Kihon.
Kata.
Kumite.
Push-up.
Lari.
Semua peserta kelelahan luar biasa.
Ima bahkan hampir menangis saat push-up terakhir.
“Kak… tanganku mau copot…”
“Hahaha…”
Namun Yanti justru tampil sangat kuat hari itu.
Semua rasa sakit di hatinya…
seolah berubah menjadi tenaga.
Dan saat pengumuman kelulusan dibacakan…
“Yanti lulus sabuk coklat!”
“WOOOO!”
Semua langsung bersorak.
Riyadi ikut tersenyum bangga.
“Nah gitu dong Sinok.”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena patah hati.
Melainkan karena untuk pertama kalinya…
ia merasa masih bisa bangkit.
Namun perjalanan pulang justru menjadi kejadian paling lucu.
Karena setelah seluruh peserta cabang Kendal pulang…
mereka baru sadar satu hal.
“HEH!”
“Apa?!”
“Kakang Riyadi mana?!”
Semua langsung panik.
Ternyata Riyadi masih tertidur sendirian di kamar Asrama Haji.
“HHAHAHAHA!”
Dandang sampai jatuh terguling.
“DITINGGAL WOY!”
Riyadi akhirnya bangun dalam asrama yang sudah sepi total.
“Heh…?”
Sunyi.
Tak ada siapa-siapa.
“ASTAGAAA…”
Akhirnya ia pulang sendiri dari Semarang naik bus kecil menuju Kaliwungu.
Lalu menumpang bus karyawan PT KLI sampai dekat Desa Tegorejo.
Saat sampai desa sore hari…
anak-anak langsung menertawakannya habis-habisan.
“PAHLAWAN TERTINGGAL!”
“HHAHAHAHA!”
Bahkan Yanti sampai tertawa sambil memegang perut.
Dan melihat tawa itu…
Riyadi akhirnya ikut tertawa juga.
Karena baginya…
asal Sinok bisa tersenyum lagi…
itu sudah cukup.
Namun malam harinya…
saat semua kembali sepi…
Yanti duduk sendiri di bawah pohon trembesi depan rumahnya.
Angin malam bertiup dingin.
Dan meski ia mulai bisa tertawa lagi…
di dalam hatinya…
nama Mas Nur masih tinggal sangat dalam.
Cinta pertamanya belum benar-benar pergi.
Dan luka itu…
masih hidup di sana.
BAB XXV
MALAM YANG MEMECAHKAN HATI
Kepergian Mas Nur ke Jakarta menjadi luka paling dalam dalam hidup Yanti.
Bukan hanya karena laki-laki itu pergi tanpa pamit…
tetapi karena semua terjadi saat hubungan mereka sedang retak-retaknya.
Dan yang paling menyakitkan…
Yanti bahkan tidak sempat memperbaiki semuanya.
Sudah hampir dua minggu Mas Nur tidak memberi kabar.
Tak ada surat.
Tak ada pesan titipan.
Tak ada salam lewat teman STM Kendal.
Seolah laki-laki itu benar-benar menghilang begitu saja dari hidupnya.
Dan setiap malam…
Sinok hanya bisa menangis diam-diam di kamar.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti embun tipis.
Ayam berkokok bersahutan dari belakang rumah-rumah warga.
Jalan tanah desa masih sedikit becek karena hujan semalam.
Namun suasana hati Yanti jauh lebih kacau daripada langit pagi.
Ia duduk di depan rumah sambil memandangi jalan kecil menuju arah Kaliwungu.
Jalan yang dulu sering dilewati Mas Nur saat pulang dari STM Kendal.
Sekarang…
jalan itu terasa kosong.
Ima yang kini sudah masuk SMP yang sama berjalan keluar sambil membawa tas.
“Mbak…”
Yanti menoleh pelan.
“Apa?”
“Mau berangkat latihan karate jam berapa?”
“Nanti siang.”
Ima duduk di samping kakaknya.
“Mbak masih mikirin Mas Nur ya?”
Pertanyaan itu langsung menusuk hati Yanti.
Namun ia hanya tersenyum kecil.
“Udah sana siap-siap sekolah.”
Ima menghela napas.
Sejak Mas Nur pergi…
rumah mereka memang terasa berubah.
Yanti jauh lebih pendiam.
Jarang tertawa.
Bahkan suara radionya yang dulu sering diputar tiap sore kini hampir tidak pernah terdengar lagi.
Di sekolah…
suasana kelas sembilan mulai sibuk menghadapi ujian akhir.
Guru-guru makin galak.
Jam tambahan mulai bermunculan.
Namun di tengah kesibukan itu…
nama Yanti justru makin terkenal karena karate.
Sejak berhasil juara satu Kejurda Jawa Tengah…
ia resmi terpilih masuk Tim Karate Jawa Tengah untuk Kejurnas di Padang.
Dan itu membuat seluruh sekolah bangga.
“Heh Sinok!”
teriak Dandang dari belakang kelas.
“Apa?”
“Nanti kalau udah masuk TV jangan lupa sama rakyat kecil.”
“Hahaha!”
Yuli langsung nyeletuk.
“Rakyat kecil apanya…”
“Muka kamu aja kayak anggota DPR gagal.”
“HHAHAHAHA!”
Kelas langsung pecah tertawa.
Namun Yanti hanya tersenyum tipis.
Tawanya kini tidak lagi sebebas dulu.
Sensei Sambas masuk ke kelas siang itu bersama Sensei Anton.
Keduanya memang sering datang ke sekolah untuk memantau atlet-atlet karate.
“Heh Yanti,” panggil Sensei Sambas.
“Iya Sensei.”
“Besok kumpul di dojo jam tujuh pagi.”
“Ada apa Sensei?”
“Persiapan TC.”
Kelas langsung heboh.
“WOOOO!”
“Padang woooy!”
Dandang sampai berdiri di atas bangku.
“Heh kalau ketemu artis Padang jangan lupa foto!”
Sensei Anton langsung menatap tajam.
“Kamu ikut latihan juga nggak pernah.”
Dandang langsung duduk lagi.
“Hidup saya memang penuh penolakan Sensei…”
“HHAHAHAHA!”
Namun di balik kebanggaan itu…
hati Yanti tetap kosong.
Karena setiap ada kabar bahagia…
orang pertama yang ingin ia ceritakan justru sudah pergi jauh.
Sore harinya dojo Desa Tegorejo ramai.
Suara pukulan dan tendangan memenuhi ruangan.
Anak-anak berlatih keras.
“KIYAA!”
“Lagi!” bentak Sensei Anton.
Keringat membasahi lantai dojo.
Namun Yanti berlatih jauh lebih keras dari biasanya.
Seolah ia sedang melampiaskan semua rasa sakitnya lewat latihan.
“Heh Sinok…”
Anita yang ikut latihan mendekat.
“Kamu nggak capek?”
Yanti menggeleng.
“Kalau berhenti…”
“Aku malah kepikiran.”
Anita langsung diam.
Ia tahu…
yang dimaksud Yanti bukan latihan.
Melainkan Mas Nur.
Di luar dojo…
Riyadi duduk sendirian di atas motor bututnya.
Sejak lulus SMA Negeri 1 Pegandon…
ia memang lebih sering melamun.
Teman-temannya satu per satu mulai bekerja.
Karwan bahkan sudah hampir setahun merantau di Tangerang.
Dan hampir tiap minggu…
Karwan mengirim surat atau menelepon wartel Kaliwungu.
“Heh Di,” suara Karwan dari telepon beberapa hari lalu masih teringat jelas.
“Apa?”
“Kalau serius mau kerja sini aja.”
“Kerja apa?”
“Pabrik dulu.”
Riyadi diam waktu itu.
“Sambil cari jalan.”
Dan sejak percakapan itu…
kepala Riyadi terus penuh pikiran.
Ia ingin merantau.
Ingin membantu ekonomi keluarga.
Namun ada satu hal yang membuatnya berat pergi.
Sinok.
Sejak Mas Nur pergi…
Yanti memang sering terlihat rapuh.
Dan entah sejak kapan…
Riyadi selalu merasa ingin menjaganya.
Bukan sebagai pacar.
Bukan pula sebagai pengganti siapa-siapa.
Tetapi sebagai seseorang yang tidak tega melihat Sinok terus menangis sendirian.
Latihan selesai menjelang magrib.
Anak-anak duduk kelelahan di teras dojo.
Sensei Sambas membagikan jadwal TC.
“TC di Cepu tiga bulan.”
“WOOO!”
Beberapa anak langsung mengeluh.
“Tiga bulan jauh dari rumah…”
“Bisa kurus gue.”
“Hahaha!”
Namun kemudian Sensei Anton berkata pelan.
“Yang berangkat cuma Yanti.”
Suasana langsung hening.
“Hah?”
“Yang lain belum lolos seleksi akhir.”
Wajah beberapa anak langsung kecewa.
Termasuk Bambang.
Namun ia tetap tersenyum kecil pada Yanti.
“Hebat lo, Nok.”
Yanti justru terlihat sedih.
Karena ia tahu…
perjalanan ini akan makin sepi.
Malam itu…
Riyadi mengantar Yanti pulang naik motor.
Jalan desa gelap.
Hanya lampu-lampu rumah yang redup menemani perjalanan mereka.
Angin malam terasa dingin.
Namun suasana di antara mereka justru tenang.
“Heh Nok…”
“Apa Kang?”
“Kamu masih nangis tiap malam ya?”
Yanti langsung diam.
Riyadi tersenyum kecil.
“Ketahuan.”
Air mata Yanti perlahan jatuh lagi.
“Aku nggak ngerti…”
“Kenapa dia pergi tanpa pamit…”
Suara Yanti bergetar.
Riyadi hanya mendengarkan.
Karena kadang…
orang sedih tidak butuh nasihat.
Hanya butuh ditemani.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau orang pergi…”
“Bukan berarti kenangannya ikut hilang.”
Yanti menunduk.
“Tapi sakit Kang…”
“Iya.”
“Banget.”
Riyadi tersenyum kecil pahit.
“Namanya juga cinta pertama.”
Kalimat itu membuat Yanti menangis lebih keras.
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya…
ia menangis di bahu Riyadi.
Hari keberangkatan TC akhirnya tiba.
Terminal kecil Kaliwungu ramai oleh atlet karate.
Tas besar berserakan.
Suara ibu-ibu terdengar saling mengingatkan.
“Jangan telat makan!”
“Jaga kesehatan!”
“Belajar juga!”
“Hahaha!”
Namun Yanti justru tampak murung.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia berharap Mas Nur tiba-tiba datang.
Minimal untuk mengucapkan selamat.
Namun sampai bus berangkat…
orang itu tidak pernah muncul.
Perjalanan menuju Cepu terasa panjang.
Hutan jati membentang di sepanjang jalan.
Udara panas khas Cepu langsung menyambut mereka.
Asrama sederhana tempat TC dipenuhi atlet dari seluruh Jawa Tengah.
Dan di situlah…
hari-hari berat Yanti dimulai.
Latihan dimulai sejak subuh.
Lari pagi.
Fisik.
Kata.
Kumite.
Sparring.
Dan semuanya benar-benar melelahkan.
“Heh Sinok!”
teriak salah satu atlet Semarang.
“Ayo larinya dipercepat!”
“KIYAA!”
Yanti terus memaksa dirinya kuat.
Meski malam hari…
ia sering diam-diam menangis di kamar asrama.
Suatu malam…
setelah latihan berat…
Yanti duduk sendirian di belakang asrama.
Langit Cepu penuh bintang.
Namun matanya kosong.
Tiba-tiba…
telepon wartel asrama dipanggil penjaga.
“Yanti! Ada telepon!”
Yanti buru-buru masuk.
Dan saat mengangkat gagang telepon…
suara itu terdengar.
“Heh Nok…”
DEG.
“Kang Riyadi?”
“Iya.”
Air mata Yanti langsung jatuh lagi.
“Kenapa nangis terus sih…”
“Aku capek…”
Riyadi tertawa kecil.
“Jagoan kok capek.”
“Aku kangen rumah…”
Dan sebenarnya…
yang paling ia rindukan bukan rumah.
Melainkan seseorang yang telah pergi.
TC berjalan tiga bulan penuh.
Dan perlahan…
Yanti mulai berubah.
Ia menjadi jauh lebih kuat.
Lebih dewasa.
Meski luka di hatinya belum benar-benar sembuh.
Hingga akhirnya…
hari keberangkatan menuju Padang tiba.
Tim Jawa Tengah berangkat penuh semangat.
Bandara menjadi pengalaman pertama bagi sebagian besar atlet.
“Heh ini pesawat gede banget…”
“Kalau jatuh gimana?”
“Mulutmu Dandang banget.”
“HHAHAHAHA!”
Kejurnas berlangsung sangat keras.
Atlet dari seluruh Indonesia datang.
Suasana GOR Padang penuh teriakan supporter.
Sensei Sambas berdiri tegang di pinggir arena.
“Fokus Yanti!”
“Jangan takut!”
Pertandingan demi pertandingan berjalan berat.
Namun Yanti bertarung seperti orang yang membawa seluruh rasa sakitnya ke arena.
Dan akhirnya…
BRAK!
Pukulan terakhirnya membuat lawan jatuh.
“IPPON!”
Suasana langsung meledak.
“WOOOOOO!”
Sensei Anton sampai melompat kegirangan.
“JUARA!”
Air mata Yanti jatuh.
Namun kali ini…
bukan karena sedih.
Malam kemenangan itu…
ia duduk sendirian di balkon penginapan.
Angin Padang terasa dingin.
Lalu ia berbisik pelan.
“Mas Nur…”
“Aku juara…”
Namun orang yang paling ingin mendengar kabar itu…
tetap tidak ada.
Sekembalinya dari Padang…
Desa Tegorejo menyambut Yanti bak pahlawan kecil.
Spanduk sederhana dipasang di depan sekolah.
Guru-guru bangga.
Tetangga datang memberi selamat.
Namun di balik semua kebahagiaan itu…
Riyadi justru makin gelisah.
Karena ia tahu…
sebentar lagi ia juga akan pergi.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Dan ia belum tahu…
bagaimana cara mengatakan itu pada Sinok.
BAB XXVI
HARI-HARI YANG TERASA TERLALU SINGKAT
Sepulang dari Kejurnas Padang…
hidup Yanti perlahan mulai berubah lagi.
Luka karena kepergian Mas Nur memang belum benar-benar hilang.
Kadang…
saat malam terlalu sunyi…
atau ketika melihat jalan menuju Kaliwungu…
dadanya masih terasa nyeri.
Namun kini…
ada seseorang yang selalu hadir mengisi hari-harinya.
Kakang Riyadi.
Tidak pernah dengan kata-kata berlebihan.
Tidak pernah memaksa.
Tidak pernah meminta Yanti melupakan siapa pun.
Tetapi entah kenapa…
setiap ada Riyadi…
hati Sinok terasa jauh lebih tenang.
Pagi itu Desa Tegorejo masih diselimuti kabut tipis.
Udara dingin khas selepas hujan membuat jalan desa tampak basah mengilap.
Dari kejauhan…
suara sepeda onthel tua terdengar berdecit.
Ciiit… ciiit…
“Heh Sinok!”
teriak Riyadi dari depan rumah.
Yanti yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.
Dan seperti biasa…
ia langsung tersenyum kecil.
Riyadi datang memakai jaket coklat lusuh kesayangannya.
Celana training biru.
Dan rambut berantakan kena angin pagi.
Namun entah kenapa…
di mata Yanti…
laki-laki itu selalu terlihat menenangkan.
Bu Rosmiyati keluar sambil membawa tampah singkong.
“Heh Riyadi…”
“Iya Buk.”
“Mampir dulu.”
“Kalau mampir terus nanti saya nggak pulang-pulang.”
Bu Rosmiyati langsung tertawa kecil.
“Saya malah senang.”
Yanti langsung malu sendiri.
“Ibuuu…”
Riyadi duduk santai di kursi bambu.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Hari ini latihan Cepiring jadi?”
“Jadi.”
“Boncenganku masih kuat?”
Yanti langsung melirik sepeda onthel tua warna hijau itu.
“Kalau jalannya nggak nanjak.”
“Hahaha!”
Sejak pulang dari Padang…
hubungan Yanti dan Riyadi memang makin dekat.
Hampir setiap sore mereka latihan bersama.
Kadang di dojo Tegorejo.
Kadang latihan gabungan di Cepiring.
Kadang cuma jogging sore menyusuri pematang sawah.
Dan tanpa sadar…
orang-orang mulai menganggap mereka pasangan.
“Heh lihat tuh…”
bisik Aziz suatu sore di dojo Cepiring.
“Apa?”
“Itu Sinok sama Riyadi.”
Pincuk langsung menoleh.
“Wah…”
“Lengket terus kayak perangko.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti yang mendengar langsung melotot.
“Heh kalian apaan sih!”
Aziz malah makin semangat.
“Cieeee…”
“Naik onthel berdua lagi.”
Pincuk ikut nyeletuk.
“Kalau pulang jangan lewat sawah gelap-gelap ya!”
“HHAHAHAHA!”
Riyadi cuma geleng-geleng kepala sambil ketawa kecil.
Namun Yanti sudah merah padam.
Sore itu latihan berlangsung keras.
Sensei Sambas datang langsung memimpin.
“Yanti!”
“Iya Sensei!”
“Kamu jangan kendor habis juara.”
“Siap!”
“Riyadi!”
“Apa Sensei?”
“Kamu meski nggak tanding tetap bantu sparring.”
“Siap!”
Suara pukulan memenuhi dojo.
“KIAAA!”
Keringat bercucuran.
Namun di sela latihan…
tatapan Riyadi pada Yanti selalu berbeda.
Tenang.
Hangat.
Dan penuh perhatian kecil yang sederhana.
Saat istirahat…
Yanti duduk kelelahan di teras dojo.
Napasnya ngos-ngosan.
“Kamu minum dulu.”
Riyadi menyodorkan botol air.
“Makasih.”
“Capek?”
“Banget.”
Riyadi tertawa kecil.
“Juara nasional kok ngeluh.”
“Juara juga manusia.”
“Hahaha!”
Tak lama kemudian…
seorang perempuan datang ke dojo Cepiring.
“Heh Riyadi!”
Riyadi menoleh.
“Oh Ev!”
Ternyata Evianti.
Teman lama Riyadi dari sekolah.
Yanti langsung memperhatikan diam-diam.
Evianti tersenyum lebar.
“Lama nggak ketemu!”
“Iya.”
“Katanya mau merantau?”
Riyadi langsung sedikit kikuk.
“Eh… belum tahu.”
Namun Yanti langsung diam.
Hatinya mendadak tidak enak.
Evianti lalu melirik Yanti.
“Heh ini siapa?”
“Oh…”
Riyadi tampak salah tingkah.
“Ini Yanti.”
Evianti tersenyum jahil.
“Ohhh…”
“Pacarnya ya?”
DEG.
Wajah Yanti langsung panas.
“Bukan!”
jawab Yanti terlalu cepat.
Aziz yang mendengar langsung tertawa keras.
“HHAHAHAHA!”
“Kalau bukan ngapain tiap hari boncengan!”
Pincuk ikut tepuk tangan.
“Cocok banget itu!”
Riyadi cuma tertawa malu sambil garuk kepala.
Namun diam-diam…
hati Yanti terasa hangat.
Sepulang latihan…
langit mulai jingga.
Sawah-sawah Cepiring terlihat indah terkena cahaya matahari sore.
Yanti duduk di boncengan sepeda onthel Riyadi.
Tangannya memegang sisi belakang jok.
Sementara Riyadi mengayuh pelan.
Angin sore meniup rambut-rambut kecil di wajah Yanti.
“Heh Nok…”
“Hm?”
“Kamu capek?”
“Lumayan.”
“Kalau jatuh jangan salahin sepeda ya.”
“Hahaha!”
Jalan desa sore itu ramai anak-anak kecil bermain layangan.
Beberapa ibu pulang dari pasar.
Dan seperti biasa…
orang-orang mulai menggoda.
“Heh Riyadi!”
teriak Pak Darto dari gardu ronda.
“Apa Pak?”
“Pelan-pelan bawanya!”
“Hahaha!”
Yanti langsung menunduk malu.
Riyadi malah santai.
“Siap Pak!”
Di tengah perjalanan…
rantai sepeda tiba-tiba lepas.
“Lho…”
Riyadi langsung turun.
“Rusak?”
“Tua memang begini.”
“Hahaha!”
Yanti ikut turun sambil menahan tawa melihat Riyadi belepotan oli.
Aziz dan Pincuk yang kebetulan lewat naik motor langsung berhenti.
“HHAHAHAHA!”
“Romantis-romantis rantainya putus!”
Pincuk sampai tepuk paha.
Aziz langsung nyeletuk.
“Ini pertanda hubungan kalian diuji!”
“Mulutmu…”
kata Yanti sambil melempar daun.
Riyadi akhirnya berhasil memasang rantai lagi.
Namun tangannya hitam semua kena oli.
“Heh Nok…”
“Apa?”
“Lap dong.”
“Hah?”
“Teman kok tega.”
Yanti akhirnya mengambil sapu tangan kecilnya.
Lalu membersihkan tangan Riyadi pelan-pelan.
Dan beberapa detik…
mereka saling diam.
Aziz langsung memekik.
“WOOOO!”
“MESRAAA!”
Yanti langsung sadar lalu buru-buru menjauh.
“Hahaha!”
Hari-hari seperti itu terus berjalan.
Sederhana.
Namun hangat.
Kadang mereka belajar bersama.
Kadang latihan sampai malam.
Kadang cuma duduk di pinggir sawah sambil makan gorengan.
Dan tanpa sadar…
Yanti mulai takut kehilangan lagi.
Karena setiap bersama Riyadi…
ia merasa nyaman.
Terlalu nyaman.
Suatu malam…
mereka duduk di jembatan kecil dekat sungai.
Suara air terdengar pelan.
Langit penuh bintang.
“Heh Kang…”
“Apa Nok?”
“Kamu pernah takut kehilangan seseorang nggak?”
Riyadi diam sebentar.
“Pernah.”
“Siapa?”
Riyadi tersenyum kecil.
“Rahasia.”
Yanti langsung manyun.
“Ah pelit.”
“Hahaha!”
Namun beberapa detik kemudian…
Riyadi berkata pelan.
“Nok…”
“Hm?”
“Kalau suatu hari aku pergi…”
“Hah?”
“Kamu jangan nangis ya.”
DEG.
Hati Yanti langsung tidak enak.
“Pergi ke mana?”
Riyadi menatap sungai cukup lama.
Belum menjawab.
Dan entah kenapa…
angin malam tiba-tiba terasa lebih dingin.
Hari berikutnya…
Riyadi mulai sering terlihat melamun.
Kadang saat latihan.
Kadang saat nongkrong.
Kadang saat mengantar Yanti pulang.
Yanti mulai sadar ada sesuatu yang disembunyikan.
“Heh Kang…”
“Apa?”
“Kamu kenapa akhir-akhir ini aneh.”
“Apanya?”
“Sering bengong.”
Riyadi tertawa kecil.
“Mikir masa depan.”
Kalimat itu membuat Yanti diam.
Karena ia tahu…
Riyadi memang sedang bingung menentukan arah hidupnya.
Sementara itu…
Karwan kembali menghubungi Riyadi lewat wartel Kaliwungu.
“Di…”
“Apa?”
“Kalau jadi berangkat bulan depan masih bisa.”
Riyadi menunduk.
“Kerjanya berat nggak?”
“Namanya kerja ya berat.”
“Gajinya?”
“Lumayan buat bantu keluarga.”
Riyadi diam lama.
Dan sejak malam itu…
keputusan dalam hatinya mulai bulat.
Namun justru itulah yang membuatnya makin takut dekat dengan Yanti.
Karena semakin hari…
ia makin sulit pergi.
Sore terakhir sebelum semuanya berubah…
mereka kembali latihan di Cepiring.
Suasana dojo ramai.
Aziz dan Pincuk masih seperti biasa menggoda.
“Heh Riyadi!”
“Apa?”
“Kalau nikah undang kami ya.”
“HHAHAHAHA!”
Yanti langsung melempar handuk ke arah mereka.
Namun di balik semua tawa itu…
Riyadi justru memandang Yanti cukup lama.
Seolah sedang menyimpan sesuatu.
Malamnya…
Riyadi duduk sendirian di depan rumah.
Tas kecil sudah mulai ia siapkan diam-diam.
Beberapa baju dilipat rapi.
Alamat Karwan di Tangerang terselip di dompetnya.
Dan untuk pertama kalinya…
dadanya terasa sesak.
Karena kini ia sadar…
hari-hari bersama Sinok…
mungkin tinggal menghitung waktu.
BAB XXVII
PERGI TANPA PAMIT
Langit Desa Tegorejo sore itu berwarna jingga pucat.
Angin dari arah persawahan bertiup pelan membawa bau tanah basah selepas hujan siang.
Di depan rumahnya…
Riyadi duduk diam di atas tas ransel hitam lusuh.
Matanya memandang jauh ke arah jalan desa.
Sepi.
Namun justru terlalu banyak hal berputar di kepalanya.
Di dalam rumah…
suara ibunya terdengar pelan.
“Di…”
“Iya Buk…”
“Kamu yakin mau berangkat?”
Riyadi menghela napas panjang.
“Kalau tetap di rumah terus…”
“Aku nggak bantu apa-apa.”
Ibunya diam beberapa detik.
Lalu berkata lirih.
“Jaga diri di perantauan.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cukup membuat dada Riyadi terasa berat.
Sudah hampir seminggu ia memikirkan keputusan ini.
Menyusul Karwan ke Tangerang.
Bekerja di pabrik.
Meninggalkan desa.
Meninggalkan dojo.
Meninggalkan semua kebiasaan yang selama ini menjadi bagian hidupnya.
Dan yang paling sulit…
meninggalkan Sinok.
Sebenarnya…
berkali-kali Riyadi ingin berpamitan pada Yanti.
Ingin bilang baik-baik.
Ingin melihat wajah gadis itu sekali lagi sebelum pergi.
Namun setiap kali mencoba…
hatinya justru makin tidak kuat.
Karena ia tahu…
kalau Sinok menangis…
mungkin ia tidak jadi berangkat.
Sore itu…
Aziz datang naik motor bututnya.
“Heh Di!”
“Apa?”
“Jadi berangkat hari ini?”
Riyadi mengangguk pelan.
Aziz langsung diam.
Biasanya mulutnya paling ramai sedunia.
Namun kali ini…
ia ikut merasa berat.
“Heh…”
kata Aziz sambil duduk di samping Riyadi.
“Kamu udah pamit sama Sinok?”
Riyadi langsung menunduk.
“Belum.”
“Lho kok belum?”
“Aku nggak bisa.”
Aziz menghela napas panjang.
“Kasihan dia nanti.”
Riyadi tersenyum pahit.
“Aku tahu.”
Dan justru karena tahu itulah…
ia memilih pergi diam-diam.
Menjelang magrib…
langit mulai gelap.
Suara azan dari mushola desa terdengar samar.
Riyadi akhirnya berdiri pelan sambil membawa tasnya.
Ibunya menatap dengan mata berkaca-kaca.
“Hati-hati ya Nduk…”
“Iya Buk.”
Ayahnya hanya menepuk bahunya pelan.
Namun tepukan sederhana itu terasa lebih berat daripada seribu nasihat.
Motor Aziz melaju pelan meninggalkan Desa Tegorejo.
Melewati jalan kecil yang biasa dilewati Riyadi dan Yanti sepulang latihan.
Melewati jembatan kecil tempat mereka sering duduk malam-malam.
Melewati sawah tempat Sinok pernah tertawa sampai menangis karena rantai sepeda putus.
Semua kenangan itu terasa menghantam dadanya satu per satu.
“Heh Di…”
“Apa?”
“Masih mau balik?”
Aziz setengah bercanda.
Namun Riyadi justru diam lama.
Sampai akhirnya berkata pelan.
“Kalau aku lihat Sinok sekarang…”
“Mungkin aku nggak jadi pergi.”
Angin sore bertiup dingin.
Motor terus melaju menuju perempatan Patebon.
Sementara itu…
di rumah Yanti…
gadis itu justru sedang belajar untuk ujian nasional.
Buku Matematika terbuka di depannya.
Namun pikirannya melayang ke mana-mana.
Ima yang duduk di lantai memperhatikan kakaknya.
“Mbak…”
“Hm?”
“Kakang Riyadi nggak datang lagi ya hari ini?”
Yanti tersenyum kecil.
“Mungkin sibuk.”
Padahal entah kenapa…
hatinya sejak siang terasa tidak tenang.
Di perempatan Patebon…
lampu-lampu kendaraan mulai menyala.
Warung kopi pinggir jalan ramai sopir dan penumpang bus.
Riyadi berdiri sambil memegang tasnya erat.
Sementara Aziz menemani di samping.
“Heh…”
kata Aziz pelan.
“Apa?”
“Kalau nanti sukses…”
“Jangan lupa traktir.”
Riyadi tertawa kecil.
“Pasti.”
Namun beberapa detik kemudian…
senyumnya hilang lagi.
Karena bus tujuan Jakarta mulai terlihat dari kejauhan.
Lampunya menyala terang menembus gelap.
DEG.
Dadanya langsung sesak.
Aziz menepuk pundaknya.
“Masih ada waktu buat batal.”
Riyadi menggeleng pelan.
“Kalau nggak sekarang…”
“Aku nggak bakal pernah berani pergi.”
Bus berhenti perlahan.
Suara kernet langsung terdengar keras.
“JAKARTAAA! TANGERANG!”
Riyadi menarik napas panjang.
Lalu naik ke dalam bus.
Namun sebelum masuk…
ia menoleh sekali lagi ke arah jalan desa yang gelap di kejauhan.
Dan di dalam hatinya…
hanya ada satu nama.
Sinok.
Malam itu…
Yanti tidak bisa tidur.
Entah kenapa dadanya terasa gelisah.
Ia keluar rumah sebentar.
Duduk di bawah langit malam yang dingin.
Dan tanpa sadar…
ia memandangi jalan desa berharap Riyadi muncul seperti biasa.
Namun sampai larut malam…
tak ada suara sepeda onthel.
Tak ada suara tawa Aziz.
Tak ada suara Riyadi memanggilnya.
“Heh Nok…”
Tidak ada.
Keesokan paginya…
Yanti baru tahu semuanya.
Saat datang ke dojo.
Pincuk yang melihatnya langsung mendekat.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Kamu belum tahu?”
“Tahu apa?”
“Riyadi berangkat ke Tangerang semalam.”
DEG.
Wajah Yanti langsung pucat.
“Hah?”
“Pergi kerja.”
Dunia Yanti seperti berhenti beberapa detik.
“Bo… bohong…”
Aziz yang baru datang hanya diam menunduk.
Dan diamnya…
sudah cukup menjadi jawaban.
“Heh Aziz…”
suara Yanti mulai gemetar.
“Kakang pergi?”
Aziz mengangguk pelan.
“Kenapa nggak pamit sama aku…”
Tak ada yang bisa menjawab.
Karena bahkan Aziz sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan semuanya.
Air mata Yanti langsung jatuh.
Dadanya terasa kosong luar biasa.
Bukan hanya sedih.
Tetapi seperti kehilangan tempat pulang.
Hari itu…
Sinok pulang lebih cepat dari dojo.
Dan sepanjang jalan…
ia menangis sendirian.
Semua tempat mendadak terasa penuh kenangan.
Jembatan kecil.
Jalan sawah.
Warung es.
Lapangan tempat latihan lari.
Semua mengingatkannya pada Riyadi.
Malamnya…
Yanti duduk di kamar sambil memegang sapu tangan kecil milik Riyadi yang pernah tertinggal di sepedanya.
Tangisnya pecah lagi.
“Kenapa semua orang pergi…”
Suara itu lirih sekali.
Namun cukup membuat Bu Rosmiyati ikut sedih dari luar kamar.
Hari-hari setelah kepergian Riyadi terasa sangat hampa.
Yanti kembali sering melamun.
Di sekolah…
ia jadi lebih diam.
Yuli sampai bingung sendiri.
“Heh…”
“Apa?”
“Kamu habis ditinggal dua orang sekaligus ya?”
Yanti langsung menunduk.
Anita cepat menyikut Yuli.
“Heh jangan gitu.”
“Aku cuma bercanda…”
Namun Yuli akhirnya ikut diam.
Karena kali ini…
bahkan candaan terasa tidak lucu lagi.
Ujian nasional semakin dekat.
Guru-guru mulai serius.
Jam tambahan terus bertambah.
Namun Yanti belajar seperti orang kehilangan arah.
Kadang ia menatap buku lama sekali tanpa benar-benar membaca.
Kadang tiba-tiba menangis sendiri.
Kadang diam memandangi kursi kosong di dojo.
Suatu sore…
Aziz datang ke rumah.
“Heh Sinok…”
“Apa?”
“Ada titipan.”
Yanti langsung menoleh cepat.
Aziz menyerahkan kertas kecil.
“Tadi Karwan nelepon wartel.”
“Tulisannya Riyadi.”
Tangan Yanti langsung gemetar membuka kertas itu.
Tulisan tangan Riyadi tampak berantakan.
“Nok…
maaf aku pergi tanpa pamit.
Aku takut nggak jadi berangkat kalau lihat kamu nangis.
Jaga diri baik-baik.
Belajar yang rajin.
Jangan suka ngelamun terus.
Dan jangan lupa makan.”
Air mata Yanti langsung jatuh membasahi kertas itu.
“Dia jahat…”
gumam Yanti sambil menangis.
Aziz tersenyum kecil pahit.
“Dia cuma terlalu sayang sama kamu.”
Kalimat itu membuat hati Yanti makin sesak.
Waktu terus berjalan.
Dan perlahan…
ujian nasional akhirnya tiba.
Hari pertama ujian…
langit Tegorejo cerah.
Yanti duduk di kelas dengan tangan dingin.
Namun sebelum mulai mengerjakan soal…
ia teringat satu kalimat Riyadi.
“Jangan suka ngelamun terus.”
Tanpa sadar…
ia tersenyum kecil.
Hari-hari ujian berlalu melelahkan.
Dan akhirnya…
pengumuman kelulusan tiba.
Sekolah ramai luar biasa.
Anak-anak berteriak histeris.
Ada yang menangis.
Ada yang lompat-lompat.
Dan saat nama Yanti dinyatakan lulus…
Bu Rosmiyati langsung memeluk anaknya bangga.
“Nduk…”
“Iya Bu…”
“Kamu berhasil.”
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
Yanti tetap merasa ada yang kurang.
Karena dua orang yang paling mengubah hidupnya…
tidak ada di sampingnya.
Mas Nur.
Dan Riyadi.
Beberapa minggu kemudian…
Yanti akhirnya memutuskan melanjutkan sekolah ke STM Tekstil Pedan di Klaten.
Keputusan yang membuat banyak temannya kaget.
“Heh jauh banget…”
kata Yuli.
“Iya.”
“Yakin?”
Yanti mengangguk pelan.
“Aku pengen mulai hidup baru.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Namun sebenarnya…
ia sedang mencoba lari dari semua kenangan yang terlalu menyakitkan di Desa Tegorejo.
Malam sebelum berangkat ke Klaten…
Yanti kembali duduk di bawah langit desa.
Angin malam bertiup pelan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
ia berbisik lirih sambil tersenyum kecil.
“Kakang…”
“Aku bakal lanjut jalan…”
Meski hatinya masih penuh luka…
Sinok akhirnya mulai belajar satu hal penting.
Bahwa hidup…
tetap harus berjalan.
Meski orang-orang yang pernah membuat kita bahagia…
tidak lagi berjalan di samping kita.
BAB XXVIII
HARI-HARI SUNYI TANPA MAS NUR DAN KAKANG RIYADI
Langit Desa Tegorejo pagi itu tampak pucat.
Musim kemarau mulai datang perlahan, namun udara justru terasa dingin bagi Yanti.
Atau mungkin…
yang dingin sebenarnya bukan udara pagi.
Melainkan hatinya.
Sudah hampir dua bulan Mas Nur pergi ke Jakarta.
Dan hampir tiga minggu Kakang Riyadi menyusul Karwan ke Tangerang.
Dua orang yang selama ini paling mengisi hari-harinya…
hilang dalam waktu berdekatan.
Meninggalkan ruang kosong yang sulit dijelaskan.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sibuk di dapur menanak nasi.
Suara kayu terbakar terdengar pelan dari tungku belakang rumah.
Sementara Yanti duduk diam di kursi bambu teras depan.
Seragam SMP-nya sudah rapi.
Namun wajahnya kosong.
Tatapannya hanya lurus ke jalan desa.
Jalan kecil yang dulu sering dilewati Mas Nur.
Dan jalan yang sama…
tempat Riyadi biasa muncul naik sepeda ontelnya sambil tersenyum.
“Heh Sinok…”
“Berangkat sekolah yuk.”
Kini…
jalan itu terasa sepi sekali.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati dari dapur.
“Iya Bu…”
“Kok belum berangkat?”
“Sebentar…”
Ibunya keluar sambil membawa teh panas.
Lalu duduk di samping Yanti.
“Kamu masih kepikiran Riyadi sama Mas Nur?”
Yanti tersenyum kecil.
Namun matanya langsung basah.
“Sedikit…”
Bu Rosmiyati mengusap kepala anaknya perlahan.
“Hidup itu memang begitu…”
“Kadang orang yang bikin kita nyaman…”
“Belum tentu bisa terus tinggal.”
Kalimat itu membuat dada Yanti kembali sesak.
Di sekolah…
suasana SMP Negeri tempat Yanti belajar mulai sibuk menghadapi Ujian Nasional.
Spanduk motivasi dipasang di depan kelas.
“SEMANGAT UNAS!”
“LULUS 100%!”
Namun bagi Yanti…
semuanya terasa hambar.
Saat masuk kelas…
Yuli langsung mendekat.
“Heh…”
“Apa…”
“Kamu makin kurus.”
Dandang ikut datang sambil membawa buku.
“Ini bukan kurus…”
“Ini gagal move on.”
“HHAHAHAHA!”
Biasanya…
Yanti akan ikut tertawa.
Namun kali ini…
ia hanya tersenyum kecil.
Dan itu membuat Dandang langsung diam.
Bambang yang duduk di dekat jendela memperhatikan Yanti cukup lama.
Kini…
bahkan Bambang tak lagi banyak bercanda.
Karena semua tahu…
Sinok benar-benar sedang kehilangan.
Jam pelajaran berlangsung lambat.
Pak Guru Matematika menerangkan rumus di papan tulis.
Namun pikiran Yanti entah ke mana.
Kadang ia teringat Mas Nur.
Kadang teringat Riyadi.
Kadang ingin menangis tiba-tiba.
“Heh Yanti!”
Suara Pak Guru membuat satu kelas menoleh.
“Iya Pak…”
“Kalau melamun terus nanti UN jawabannya pakai perasaan?”
Satu kelas tertawa kecil.
“Hahaha…”
Yanti langsung menunduk malu.
Namun bahkan tawanya terasa lemah.
Saat istirahat…
anak-anak ramai membahas sekolah lanjutan.
“Aku mau ke STM Kendal.”
“Aku ke SMA Boja.”
“Aku ikut bapakku dagang aja.”
Suasana kantin penuh obrolan masa depan.
Namun Yanti justru diam.
Anita menatapnya pelan.
“Kamu jadi ke STM Pedan?”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya…”
“Jauh juga…”
“Biar suasana baru.”
Padahal…
alasan sebenarnya bukan hanya itu.
Yanti ingin pergi dari semua kenangan.
Sepulang sekolah…
langit mulai mendung.
Yanti berjalan sendirian melewati jalan dekat sawah.
Angin sore bertiup pelan.
Dan tanpa sadar…
kakinya berhenti di bawah pohon trembesi depan sekolah.
Pohon yang dulu jadi saksi begitu banyak cerita.
Tempat ia menangis karena Mas Nur.
Tempat Riyadi pernah menenangkannya diam-diam.
Tempat Bambang pernah memarahinya karena terlalu keras menangis.
Semua terasa dekat.
Namun orang-orangnya sudah pergi.
Yanti duduk pelan di bawah pohon itu.
Lalu mengeluarkan sebuah benda dari tasnya.
Pita cokelat kecil.
Pemberian Riyadi waktu latihan karate di Cepiring.
“Heh Sinok…”
“Kalau rambutmu berantakan…”
“Kamu tetap cantik.”
Yanti langsung menunduk sambil tersenyum sedih.
“Kenapa semua pergi sih…”
gumamnya lirih.
Tak terasa…
air matanya jatuh lagi.
Dan saat itulah…
suara langkah kaki terdengar.
“Heh…”
Ternyata Bambang.
“Kamu di sini lagi.”
Yanti buru-buru menghapus air mata.
“Kok tahu?”
“Dari dulu…”
“Kalau sedih kamu pasti ke sini.”
Bambang duduk di sampingnya.
Beberapa detik mereka diam.
“Masih kangen mereka ya?” tanya Bambang pelan.
Yanti tertawa hambar.
“Kelihatan banget?”
“Lumayan.”
Angin sore bertiup pelan.
Sawah di depan mereka mulai menguning.
Suasana desa terasa sunyi.
“Aku tuh bingung…” kata Yanti lirih.
“Kenapa?”
“Apa aku kurang baik…”
“Sampai semua orang pergi.”
Bambang langsung menoleh cepat.
“Heh jangan ngomong gitu.”
“Tapi kenyataannya begitu.”
“Mas Nur pergi.”
“Kakang Riyadi juga pergi.”
Suara Yanti mulai pecah.
Dan Bambang tahu…
luka ini jauh lebih besar dari sekadar cinta remaja biasa.
“Kadang…” kata Bambang pelan.
“Orang pergi bukan karena kita nggak cukup baik.”
“Terus?”
“Karena hidup mereka memang harus jalan.”
Yanti diam mendengarkan.
Bambang tersenyum tipis.
“Walaupun nyakitin.”
Kalimat itu membuat Yanti kembali menangis kecil.
Malam harinya…
Yanti belajar untuk try out terakhir.
Namun pikirannya tetap kacau.
Ia membuka buku IPA.
Lalu tiba-tiba teringat Riyadi.
“Heh Sinok…”
“Kalau capek belajar…”
“Jangan dipaksa.”
Ia membuka buku Bahasa Indonesia.
Lalu teringat Mas Nur.
“Kalau kamu lulus…”
“Aku traktir bakso.”
Yanti langsung menutup bukunya pelan.
Dadanya sesak lagi.
Di luar rumah…
suara kentongan ronda terdengar.
Anjing menggonggong jauh di ujung desa.
Dan malam terasa panjang sekali.
Hari ujian nasional akhirnya tiba.
Satu sekolah tampak tegang.
Anak-anak membawa kartu ujian.
Ada yang belajar sampai detik terakhir.
Ada yang malah bercanda panik.
Dandang bahkan salah membawa pensil.
“Heh gue bawa sendok!”
“HHAHAHAHA!”
Yuli sampai memukul kepalanya sendiri.
“Kamu ini gimana sih!”
Namun Yanti tetap diam.
Ia duduk memandangi lembar soal.
Dan untuk sesaat…
ia merasa benar-benar sendiri.
Biasanya ada Riyadi yang menyemangati.
Biasanya ada Mas Nur yang diam-diam menunggu di luar sekolah.
Kini…
tak ada siapa-siapa.
Hari-hari ujian berjalan melelahkan.
Namun perlahan…
Yanti mulai bertahan.
Karena ia sadar…
hidup tidak mungkin berhenti hanya karena kehilangan.
Pengumuman kelulusan tiba di awal siang yang panas.
Seluruh sekolah ramai.
Anak-anak berdesakan melihat papan pengumuman.
Dandang bahkan hampir jatuh karena terlalu semangat.
“Heh minggir!”
“Nama gue mana?!”
“HHAHAHAHA!”
Dan beberapa detik kemudian…
teriakan pecah.
“LULUSSSS!”
Satu sekolah langsung ramai.
Ada yang menangis.
Ada yang loncat-loncat.
Ada yang saling siram air.
Yuli langsung memeluk Yanti.
“Kita lulus!”
Anita ikut menangis haru.
Bahkan Bambang tersenyum lega.
Namun di tengah semua kebahagiaan itu…
hati Yanti justru terasa kosong.
Karena orang-orang yang paling ingin ia lihat hari itu…
tidak ada.
Tak ada Mas Nur.
Tak ada Kakang Riyadi.
Sore harinya…
anak-anak berkumpul di lapangan sekolah untuk perpisahan sederhana.
Mereka saling tanda tangan di seragam.
Menulis pesan.
Dan saling bercanda untuk terakhir kalinya sebagai anak SMP.
“Heh jangan lupa gue kalau udah sukses!” teriak Dandang.
Yuli langsung menjawab cepat.
“Kamu sukses dulu baru ngomong!”
“HHAHAHAHA!”
Namun tawa itu terasa berbeda sekarang.
Karena semua sadar…
masa kecil mereka benar-benar selesai.
Saat matahari mulai turun…
Yanti berdiri sendirian memandang sekolahnya.
Bangunan sederhana itu menyimpan terlalu banyak kenangan.
Tentang cinta pertama.
Tentang sahabat.
Tentang air mata.
Tentang kehilangan.
Dan untuk pertama kalinya…
Yanti benar-benar mengerti satu hal:
bahwa menjadi dewasa ternyata dimulai
dari belajar kehilangan orang-orang yang paling kita sayangi.
Angin sore berembus pelan melewati halaman SMP itu.
Membawa pergi suara tawa masa kecil mereka.
Dan di bawah langit Desa Tegorejo yang mulai temaram…
Sinok melangkah perlahan menuju hidup baru.
Dengan hati yang belum sembuh sepenuhnya.
Namun diam-diam…
mulai belajar kuat sendiri.
BAB XXIX
BANGKIT DARI KETERPURUKAN
Pagi di Desa Tegorejo terasa berbeda setelah pengumuman kelulusan SMP itu.
Tidak ada lagi suara anak-anak berseragam biru putih berangkat sekolah bersama.
Tidak ada lagi keributan Dandang di depan kelas.
Tidak ada lagi candaan Yuli yang memenuhi kantin.
Dan tidak ada lagi alasan bagi Yanti untuk diam-diam berharap melihat Mas Nur lewat di jalan desa.
Semuanya telah selesai.
Masa SMP mereka benar-benar berakhir.
Namun justru setelah semua kehilangan itu…
perlahan sesuatu mulai tumbuh di hati Yanti.
Bukan lagi kesedihan yang menghancurkan.
Melainkan tekad.
Tekad untuk bangkit.
Pagi itu…
Bu Rosmiyati sedang menjemur pakaian di halaman belakang rumah.
Sementara Yanti membantu melipat seragam SMP-nya yang sudah mulai kekecilan.
Seragam itu penuh coretan tanda tangan teman-temannya.
Ada tulisan dari Yuli:
“Jangan galau terus, nanti cepat tua!”
Ada tulisan Dandang:
“Kalau sukses jangan lupa traktir bakso!”
Dan ada tulisan kecil dari Bambang:
“Jangan nangis terus, Sinok.”
Yanti tersenyum kecil membaca semuanya.
Namun kali ini…
senyumnya tidak lagi terlalu sedih.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati.
“Iya Bu?”
“Kamu jadi daftar sekolah ke Klaten?”
Yanti mengangguk pelan.
“Iya…”
Ibunya lalu duduk di sampingnya.
“STM Tekstil Pedan itu bagus.”
“Katanya lulusannya gampang kerja.”
Yanti menunduk memandangi seragamnya.
“Aku pengen hidup berubah, Bu…”
Kalimat itu membuat Bu Rosmiyati menatap anaknya cukup lama.
Sejak kecil…
Bu Rosmiyati tahu Yanti anak yang lembut.
Terlalu lembut bahkan.
Mudah memikirkan orang lain.
Mudah terluka.
Dan terlalu dalam mencintai.
Namun setelah semua yang terjadi…
ia mulai melihat sesuatu yang berbeda di mata anaknya.
Ada luka.
Tetapi juga ada kekuatan baru.
“Kamu harus sekolah tinggi,” kata Bu Rosmiyati pelan.
“Biar hidupmu nggak susah kayak ibu.”
Yanti langsung memeluk ibunya perlahan.
“Aku bakal bikin ibu bangga.”
Di sisi lain rumah…
Ima yang masih memakai seragam SMP tertawa sambil makan pisang goreng.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti sekolah di Klaten…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti langsung mencubit pipinya pelan.
“Bawel.”
Ima tertawa keras.
“Hahaha!”
Meski masih SMP…
Ima mulai tumbuh jadi anak yang ceria dan cantik seperti kakaknya.
Bahkan beberapa tetangga mulai sering berkata:
“Adiknya Yanti sekarang mulai gede ya.”
Dan itu sering membuat Yanti tersenyum kecil.
Hari-hari setelah kelulusan mulai terasa lebih sibuk.
Yanti membantu ibunya di rumah.
Kadang membantu mencuci.
Kadang ikut ke pasar.
Kadang membantu Ima belajar.
Namun di sela-sela kesibukan itu…
ia mulai mencoba melupakan luka lama.
Meski tetap saja…
kadang malam masih terasa berat.
Terutama ketika angin malam bertiup pelan melewati jendela kamarnya.
Karena di saat seperti itu…
kenangan tentang Mas Nur dan Riyadi sering datang tiba-tiba.
“Heh Sinok…”
“Ayo latihan karate.”
“Heh Sinok…”
“Jangan nangis terus.”
“Heh Sinok…”
“Kamu cantik kalau senyum.”
Suara-suara itu masih tinggal di kepalanya.
Namun kini…
Yanti mulai belajar menerima.
Bahwa tidak semua orang yang singgah akan menetap.
Suatu sore…
Bambang datang ke rumah membawa brosur sekolah.
“Heh!”
“Apa?”
“Ini sekolah STM yang di Kendal.”
Yanti menerima brosur itu pelan.
Namun ia menggeleng kecil.
“Aku tetap ke Pedan.”
“Serius sejauh itu?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Yanti tersenyum kecil.
“Aku pengen suasana baru.”
Bambang langsung diam.
Karena ia tahu…
Yanti memang ingin pergi dari terlalu banyak kenangan.
“Tapi…” kata Bambang pelan.
“Kamu pasti kangen Tegorejo.”
Yanti tertawa kecil.
“Ya jelas.”
“Terutama sama aku?”
“Hahaha!”
Bambang langsung cengengesan.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti bisa tertawa tanpa terasa dipaksa.
Malam harinya…
Yanti duduk belajar sendiri di kamar.
Kali ini bukan belajar UN lagi.
Melainkan mulai membaca buku-buku tentang tekstil.
Tentang mesin tenun.
Tentang dunia industri.
Tentang kehidupan baru yang sama sekali asing baginya.
Namun anehnya…
ia mulai bersemangat.
“Aku nggak boleh terus sedih…”
gumamnya pelan.
“Aku harus punya masa depan.”
Dan malam itu…
untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti tidur tanpa menangis.
Hari pendaftaran STM Tekstil Pedan akhirnya tiba.
Subuh-subuh sekali…
Bu Rosmiyati sudah sibuk menyiapkan bekal nasi bungkus.
Bu Rosmiyati meminjam motor tetangga untuk mengantar mereka ke terminal.
Sementara Ima ribut sendiri di rumah.
“Heh Mbak…”
“Nanti kalau udah sekolah jauh…”
“Bawain aku oleh-oleh.”
“Emang aku mau ke luar negeri?”
“Hahaha!”
Perjalanan menuju Klaten terasa panjang.
Bus tua yang mereka naiki berguncang terus sepanjang jalan.
Namun Yanti justru menikmati semuanya.
Ia duduk dekat jendela.
Memandangi sawah.
Gunung di kejauhan.
Dan kota-kota kecil yang mereka lewati.
Seolah hidupnya benar-benar sedang bergerak menuju sesuatu yang baru.
Saat tiba di STM Tekstil Pedan…
mata Yanti langsung membesar kagum.
Bangunan sekolah itu jauh lebih besar dibanding SMP-nya dulu.
Banyak siswa memakai seragam abu-abu putih.
Ada bengkel praktik.
Ada ruang mesin tekstil.
Dan suasananya terasa sangat berbeda.
Degup jantungnya langsung cepat.
“Aku bakal sekolah di sini…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati tersenyum melihat wajah anaknya.
“Takut?”
“Sedikit…”
“Tapi semangat?”
Yanti mengangguk.
“Iya.”
Saat proses pendaftaran berlangsung…
Yanti melihat banyak siswa dari berbagai daerah.
Ada yang dari Solo.
Ada yang dari Boyolali.
Ada yang dari Klaten kota.
Dan untuk pertama kalinya…
ia sadar dunia ternyata jauh lebih luas dari Desa Tegorejo.
Sepulang dari Pedan…
senyum Yanti mulai kembali muncul.
Tidak sepenuhnya bahagia memang.
Luka lama masih ada.
Namun kini…
ia punya tujuan baru.
Malam itu…
ia berdiri di depan rumah memandangi langit.
Angin desa bertiup lembut.
Dan entah kenapa…
hatinya terasa lebih ringan.
“Heh Mas Nur…”
gumamnya lirih.
“Heh Kakang Riyadi…”
“Aku nggak akan terus nangis.”
Air matanya memang masih jatuh sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Karena di balik air mata itu…
mulai tumbuh harapan.
Di dalam rumah…
Ima masih ribut sendiri belajar pelajaran SMP.
“Mbak!”
“Apa lagi?”
“Kalau nanti aku lulus…”
“Aku ikut Mbak sekolah di kota juga!”
Yanti langsung tertawa kecil.
“Belajar dulu yang bener.”
“Hahaha!”
Suara tawa kecil itu memenuhi rumah sederhana mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehilangan besar itu…
rumah Yanti kembali terasa hangat.
Malam semakin larut.
Lampu minyak mulai redup.
Namun di hati Yanti…
perlahan muncul cahaya baru.
Bukan lagi tentang cinta pertama.
Bukan lagi tentang kehilangan.
Melainkan tentang masa depan.
Tentang bangkit.
Dan tentang seorang gadis desa bernama Sinok…
yang akhirnya mulai belajar berdiri dengan kekuatannya sendiri.
EPILOG
MENUJU HARI ESOK
Subuh masih gelap ketika Desa Tegorejo mulai terbangun perlahan.
Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan.
Kabut tipis turun di antara sawah-sawah yang membentang panjang.
Dan di rumah sederhana di pinggir desa itu…
lampu dapur sudah menyala sejak dini hari.
Bu Rosmiyati sibuk menyiapkan bekal.
Nasi hangat dibungkus daun pisang.
Tempe goreng dimasukkan ke rantang kecil.
Sesekali ia mengusap matanya sendiri.
Entah karena asap tungku…
atau karena hatinya mulai berat melepas anak gadisnya pergi sekolah jauh.
Sementara itu…
di kamar kecil dekat ruang tengah…
Yanti duduk di tepi ranjang sambil memandangi koper biru tuanya.
Tidak banyak isi koper itu.
Beberapa baju.
Seragam baru abu-abu putih.
Mukena.
Buku tulis.
Dan sebuah pita cokelat kecil yang masih ia simpan rapi di sela buku.
Pemberian Riyadi dulu.
Yanti tersenyum kecil.
Begitu banyak hal sudah terjadi dalam hidupnya.
Tentang cinta pertama yang kandas.
Tentang kehilangan.
Tentang air mata di bawah pohon trembesi.
Tentang malam-malam panjang yang terasa sunyi.
Dan tentang orang-orang yang pernah mengisi hatinya…
lalu pergi meninggalkan kenangan.
Mas Nur.
Kakang Riyadi.
Semua pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Dan meski luka itu belum benar-benar hilang…
kini Yanti mulai mengerti satu hal:
bahwa hidup harus terus berjalan.
“Nduk…” panggil Bu Rosmiyati lembut dari luar kamar.
“Iya Bu…”
“Sudah siap?”
Yanti menarik napas panjang.
Lalu mengangguk kecil.
“Sudah.”
Di ruang depan…
Ima sudah duduk sambil mengunyah singkong goreng.
Matanya masih setengah mengantuk.
“Heh Mbak…”
“Apa?”
“Kalau nanti punya teman baru…”
“Jangan lupa sama aku.”
Yanti tertawa kecil.
“Bawel.”
Ima langsung memeluk kakaknya erat.
Dan untuk sesaat…
Yanti merasa hangat sekali.
Tak lama kemudian…
ibunya memanggil dari depan rumah.
“Bus pagi nanti lewat cepat.”
“Iya bu!”
Suasana rumah mendadak sibuk.
Tetangga dekat mulai berdatangan untuk berpamitan.
“Wah Yanti sekarang sekolah di Klaten.”
“Pinter ya…”
“Jangan lupa pulang.”
Yanti hanya tersenyum malu.
Namun jauh di dalam hatinya…
ia sedang berjanji pada dirinya sendiri.
Bahwa ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
Perjalanan menuju Klaten dimulai saat matahari mulai muncul dari balik persawahan.
Bus tua yang mereka naiki bergerak perlahan meninggalkan Tegorejo.
Yanti duduk dekat jendela.
Memandangi desa yang perlahan menjauh.
Warung kecil dekat pertigaan.
Lapangan tempat mereka sering latihan karate.
Jalan menuju sekolah SMP.
Pohon trembesi itu…
semuanya perlahan tertinggal di belakang.
Dan anehnya…
kali ini Yanti tidak menangis.
Ia hanya diam.
Menikmati setiap kenangan yang lewat di kepalanya.
Ia teringat Dandang yang selalu membuat semua orang tertawa.
Teringat Yuli yang cerewet tapi perhatian.
Teringat Anita yang selalu menenangkan.
Teringat Bambang yang diam-diam selalu menjaganya.
Teringat Mas Nur…
cinta pertamanya yang mengajarkan rasa rindu dan kehilangan.
Dan teringat Riyadi…
yang selalu hadir saat hatinya runtuh.
Semua kenangan itu…
tidak lagi terasa seperti luka.
Melainkan bagian dari perjalanan hidup yang membuatnya tumbuh dewasa.
Bus terus melaju.
Melewati kota demi kota.
Sawah demi sawah.
Hingga akhirnya…
bangunan STM Tekstil Pedan mulai terlihat dari kejauhan.
Jantung Yanti berdegup pelan.
Ada gugup.
Ada takut.
Namun juga ada semangat baru yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Inilah hidup baruku…”
gumamnya pelan.
Bu Rosmiyati menatap anaknya sambil tersenyum bangga.
“Kamu pasti bisa.”
Yanti mengangguk kecil.
“Iya Bu.”
Angin pagi berembus lembut saat ia turun dari bus.
Suasana sekolah baru itu terasa asing.
Namun langit pagi tampak begitu cerah.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…
Yanti merasa masa depan tidak lagi menakutkan.
Karena kini…
ia bukan lagi gadis kecil yang hanya menangisi kehilangan.
Ia telah menjadi seseorang yang belajar bangkit dari luka.
Belajar menerima perpisahan.
Dan belajar berjalan menuju hidup yang lebih besar.
Di bawah langit Klaten yang biru…
Sinok melangkah perlahan memasuki gerbang STM Tekstil Pedan.
Meninggalkan masa SMP yang penuh cinta dan air mata.
Menuju hari esok yang belum ia kenal.
Namun kali ini…
dengan hati yang jauh lebih kuat.
Dan sebuah keyakinan kecil di dalam dirinya:
bahwa setiap kehilangan
selalu membawa seseorang menuju versi terbaik dari dirinya sendiri.
Bersambung ke Buku Kedua
TETRALOGI ROMAN EPIK
SURAT DARI MASA LALU
BUKU KEDUA
RINDU DI BANGKU STM TEKSTIL PEDAN
"Tentang Seragam Putih Abu-Abu, Ruang Praktik yang Dingin, dan Seorang Gadis Desa yang Belajar Merajut Harapan di Antara Pelajaran dan Perasaan"
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...