ROMAN EPIK
DI BAWAH LANGIT KAPUAS AKU MENANTI
Sebuah Roman Epik Cinta yang Berawal dari Perjodohan, Terpisah oleh Waktu dan Jarak, lalu Bertemu Kembali di Taman Simpang Adipura
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
*Kisah ini adalah fiksi semata. Tidak ada satupun tokoh, peristiwa, atau dialog yang dimaksudkan untuk merujuk pada individu atau kelompok tertentu. Nama, nama tempat seperti Kuala Kapuas, Sungai Kapuas, Universitas Gadjah Mada, Taman Simpang Adipura, Dermaga KP3, Dermaga Danau Mare, dan lain, lain digunakan semata, mata sebagai latar fiktif untuk mendukung cerita. Semua kemiripan dengan nama, peristiwa, atau kisah nyata adalah kebetulan semata.*
Penulis juga tidak bermaksud menyinggung suku, agama, ras, atau golongan manapun. Roman ini adalah karya imajinasi yang lahir dari kecintaan penulis terhadap cerita, cerita cinta yang berliku namun berakhir bahagia.
PROLOG
Di bawah langit Kapuas yang luas, seorang lelaki tengil dan seorang perempuan pemalu berjanji untuk saling menunggu. Bukan karena takut pada jarak yang akan memisahkan, tapi karena mereka percaya bahwa cinta sejati tak akan pernah kehilangan arah pulang.
Langit Kapuas selalu punya cara sendiri untuk bercerita. Warnanya berubah dari biru keemasan saat senja, lalu perlahan, lahan menjadi ungu tua sebelum gelap menyelimuti. Di tepian sungai terpanjang di Indonesia itu, ribuan kisah lahir dan mati setiap harinya. Ada nelayan yang pulang dengan hasil tangkapan, ada anak, anak yang mandi sore sambil tertawa, dan ada pula sepasang kekasih yang duduk diam, menatap aliran air yang tak pernah berhenti mengalir, seperti perasaan yang kadang sulit diungkapkan.
Kisah ini bukan tentang pahlawan super atau putri kerajaan. Ini tentang Joko Prayitno, seorang anak laki, laki biasa dengan kenakalan yang luar biasa. Dan Siti Nurjanah, seorang anak perempuan biasa dengan kesabaran yang luar biasa. Mereka lahir di tanah yang sama, di bawah langit yang sama, dan, tanpa mereka sadari, telah dipertemukan oleh sebuah janji dua orang ibu yang sedang mengandung.
Mereka tumbuh bersama, bermain lumpur di halaman rumah panggung, berlarian di pematang sawah, dan berbagi permen jaman dulu yang harganya cuma seratus rupiah. Namun hidup tak pernah semanis gula jawa. Waktu dan jarak akhirnya memisahkan mereka, seperti sungai Kapuas yang terbelah oleh pulau, pulau kecil di tengahnya. Janah, panggilan sayang untuk Siti Nurjanah, harus terbang ke tanah Jawa mengejar mimpi. Sementara Si Tengil, julukan abadi untuk Joko Prayitno, tetap bertahan di tanah kelahiran, bekerja dengan tangannya sendiri.
Mereka berpisah, jatuh cinta pada orang lain, dan hancur. Lalu, seperti takdir yang sedang main-main, mereka dipertemukan kembali di tempat yang sama: Taman Simpang Adipura. Tepat di mana dulu mereka berjanji.
Ini adalah cerita tentang perjodohan yang gagal, cinta jarak jauh yang berantakan, perselingkuhan, pengkhianatan sahabat, dan pada akhirnya... tentang pulang.
Maka, sebelum kisah ini benar-benar dimulai, izinkan saya mengajak Anda untuk duduk nyaman. Bayangkan langit Kapuas yang luas, hiruk, pikuk Pasar Sari Mulya, aroma pahit kopi tubruk di pagi hari, dan suara perahu motor yang menderu di sungai Murung. Sebab di sinilah segalanya bermula.
Selamat membaca.
BAB 1
DI TEPIAN SUNGAI KAPUAS, JANJI DUA PEREMPUAN HAMIL
Hujan mulai turun di Kuala Kapuas pada pukul tiga sore. Awalnya hanya rintik-rintik kecil yang jatuh perlahan, seperti jari-jari gemulai seorang penari yang menyentuh tanah. Tapi kemudian hujan berubah menjadi deras. Air jatuh dari langit dengan suara gemuruh, menghantam atap seng maupun asbes rumah- rumah panggung yang berjejer di sepanjang Jalan Selat Tengah.
Di salah satu rumah panggung yang dicat hijau muda, dua orang perempuan sedang duduk di beranda. Mereka adalah Siti Aminah dan Khodijah. Siti Aminah, yang biasa dipanggil Mak Amin, sedang hamil tujuh bulan. Perutnya sudah besar, hampir seperti bola voli yang disembunyikan di balik kain sarung motif kotak, kotak. Khodijah, yang biasa dipanggil Mak Dhijah, hamil delapan bulan. Perutnya lebih besar. Kadang, kadang dia mengeluh sesak napas.
“Aduh, panas juga siang tadi, sekarang ujan deres gini,” kata Mak Amin sambil mengelap keringat di lehernya. Bukan karena panas, tapi karena kelembaban udara yang meninggi.
Mak Dhijah duduk di kursi bambu di sebelahnya. Tangannya memegang segelas teh manis hangat. “Iya. Tapi lumayan lah, adem. Yang penting anak-anak kita nggak kehujanan. Joko katanya main di sawah.”
“Joko? Ih, anak itu. Dari kecil udah bandel, Mak. Nggak bisa diem. Janah gimana?”
Mak Dhijah tersenyum. “Janah lagi tidur di dalam. Digendong embaknya. Alhamdulillah, anaknya penurut. Cuma ya itu... kalau lagi rewel, susah juga.”
Mereka berdua terdiam sejenak. Hujan makin deras. Air sungai Kapuas di depan rumah mereka mulai naik. Perahu, perahu kayu yang biasanya tertambat rapi kini terombang, ambing. Kadang terdengar suara klakson dari kapal motor yang melintas.
“Mak Amin,” kata Mak Dhijah tiba, tiba.
“Apa, Mak?”
“Kita udah bersahabat lama, ya?”
Mak Amin mengangguk. “Udah belasan tahun, Dhijah. Sejak kita masih tinggal di Pasar Sari Mulya dulu.”
“Iya. Dulu kita jualan bareng, dagangan ikan asin. Kamu jualan, aku jualan. Suami-sami kita kerja di bengkel. Hidup susah, tapi kita senang.”
Kenangan itu terasa begitu dekat. Dulu mereka berdua adalah dua perempuan muda yang baru menikah. Mereka tinggal di kontrakan kecil di belakang pasar. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, mereka sudah bangun untuk membuka lapak. Siti Aminah menjual ikan asin jambal roti, sementara Khodijah menjual teri medan dan petai. Mereka berbagi cerita tentang suami, tentang mertua, tentang hutang yang menumpuk, dan tentang mimpi, mimpi kecil: punya rumah sendiri, punya anak yang pintar, dan bisa pergi haji suatu hari nanti.
“Sekarang kita udah punya rumah,” kata Mak Dhijah sambil menunjuk rumah panggungnya yang berwarna biru. “Rumahnya bersebelahan lagi.”
“Itu rezeki, Mak. Tuhan itu baik.”
Mak Dhijah menghirup tehnya. Bibirnya sedikit bergetar. “Mak Amin, aku mau bilang sesuatu.”
“Bilang saja.”
“Kalau... anak kita nanti laki-laki semua, kita jodohkan dengan anak orang lain. Tapi kalau anak kita perempuan semua, juga sama. Tapi kalau...” Mak Dhijah berhenti. Matanya berkaca, kaca. “Kalau anakku laki-laki, anakmu perempuan, atau sebaliknya... gimana kalau kita jodohkan?”
Mak Amin menatap sahabatnya. Matanya juga ikut basah. Pertanyaan ini sebenarnya selalu ada di benaknya. Setiap kali dia melihat janinnya bergerak di dalam perut, setiap kali dia merasakan tendangan kecil yang begitu hidup, dia bertanya, tanya: siapa nanti anak ini? Dan bukankah akan indah jika dia bisa bersatu dengan anak Khodijah? Dua sahabat yang sudah melewati banyak hal, kini akan dipertemukan lagi oleh ikatan pernikahan anak, anak mereka?
“Kamu serius, Mak?” tanya Mak Amin.
“Serius. Aku sudah pikirkan ini lama.”
“Tapi... kalau nanti mereka nggak cocok?”
Mak Dhijah tersenyum. “Kita nggak maksa, Mak. Kita hanya... memudahkan jalan. Kita kenalkan mereka sejak kecil, biar mereka tumbuh bersama. Siapa tahu hati mereka saling tertarik. Kan orang tua hanya bisa berusaha. Tuhan yang menentukan.”
Angin bertiup kencang. Beberapa tetes air hujan masuk ke beranda dan membasahi lantai kayu. Mak Amin mengusap perutnya yang membulat.
“Baiklah, Mak,” katanya akhirnya. “Kalau anakmu laki-laki dan anakku perempuan, atau sebaliknya... insya Allah kita jodohkan.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berpelukan. Perut mereka yang besar bersentuhan. Keduanya tertawa. Di dalam perut Mak Amin, janin perempuan, yang kelak bernama Siti Nurjanah, bergerak seperti sedang menari. Di dalam perut Mak Dhijah, janin laki-laki, yang kelak bernama Joko Prayitno, menendang keras, seperti sedang protes atau mungkin... menyetujui.
Hujan mulai reda. Matahari sore muncul dari balik awan. Langit Kapuas berubah menjadi jingga.
Tiga minggu kemudian, Khodijah melahirkan.
Saat itu tengah malam. Suasana di rumah panggung biru itu tegang. Suami Khodijah, Bapak Sarimin, mondar, mandir di halaman sambil merokok kretek. Lampu minyak masih menyala karena listrik sedang mati. Mak Amin datang tergopoh, gopoh meskipun perutnya sudah sembilan bulan. Dia membawa kain batik, minyak kayu putih, dan air hangat.
“Mak Dhijah! Tahan, Mak, tahan!” teriak Mak Amin dari luar kamar.
Terdengar suara Khodijah yang menjerit kesakitan. Bidan desa yang dipanggil, seorang perempuan tua ramah bernama Bidan Midah, sudah ada di dalam kamar.
“Anaknya sungsang, Bu,” kata Bidan Midah dengan suara tenang. “Harus sedikit diputar.”
“Aduh, Tuhan!” jerit Khodijah lagi.
Mak Amin memegang tangan sahabatnya. “Bismillah, Mak, bismillah. Kamu kuat. Kita udah lewati banyak hal. Ini juga pasti bisa.”
Proses persalinan itu berlangsung selama tiga jam. Saat azan subuh berkumandang dari masjid di ujung jalan, terdengar suara tangis bayi yang keras.
“Laki, laki!” seru Bidan Midah.
Khodijah lemas. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Wajahnya pucat, tapi matanya bersinar. Dia menatap bayi kecil yang dibungkus kain putih itu. Bayi itu tidak merah seperti kebanyakan bayi baru lahir. Dia sudah putih kemerahan, dengan rambut hitam tipis yang basah.
“Joko Prayitno,” bisik Khodijah. “Namanya Joko Prayitno.”
Mak Amin menangis bahagia. “Dia kuat, Mak. Suaranya keras. Pertanda anaknya bakal pemberani.”
“Atau bakal bandel,” sahut Bapak Sarimin yang sudah masuk ke dalam kamar, matanya berkaca, kaca.
“Bandel juga nggak apa, apa, asalkan baik hati,” kata Mak Amin.
Bayi Joko terus menangis. Tangisnya terdengar hingga ke rumah sebelah. Anjing, anjing di sekitar perkampungan ikut menggonggong.
Sepuluh hari setelah kelahiran Joko, giliran Mak Amin yang merasakan sakit.
Saat itu siang hari. Matahari terik di atas langit Kapuas. Air sungai surut, memperlihatkan tepian lumpur yang hitam. Ikan, ikan kecil melompat, lompat di permukaan.
Mak Dhijah sudah bisa berjalan meskipun masih lemas. Dia menjaga Joko di rumahnya, sementara Mak Amin dibantu oleh Bidan Midah yang sama. Kali ini persalinan lebih cepat. Hanya dua jam.
“Perempuan!” seru Bidan Midah dengan suara girang. “Cantik. Mirip ibunya.”
Siti Nurjanah, begitu namanya, tidak menangis keras seperti Joko. Tangisnya lembut, seperti suara aliran sungai di pagi hari. Dia membuka matanya sebentar, melihat ke atas, lalu menutupnya lagi seolah berkata, “Aku sudah sampai. Sekarang biarkan aku tidur.”
Mak Amin menggendong bayinya. Air mata mengalir di pipinya. “Janah. Siti Nurjanah. Semoga menjadi anak yang sholehah, pintar, dan berbakti pada orang tua.”
Bapak Jayadi, suami Mak Amin, masuk ke kamar sambil membawa sekuntum bunga kertas yang dia petik dari halaman. “Ini untukmu, Nak. Dan untuk Janah.”
“Papinya cengeng,” kata Mak Amin sambil tersenyum.
“Bukan cengeng. Ini haru.”
Kabar kelahiran Janah segera sampai ke rumah Mak Dhijah. Mak Dhijah langsung menangis haru. Dia menggendong Joko, lalu berbisik ke telinga bayinya, “Kamu punya calon istri, Nak. Jaga dia baik, baik ya.”
Bayi Joko hanya menguap.
Rumah Mak Amin dan Mak Dhijah bersebelahan. Hanya dipisahkan oleh pagar kayu yang sudah lapuk. Mak Amin sengaja meminta suaminya membuat pintu kecil di pagar itu. “Supaya kita bisa lewat tanpa harus mutar,” katanya.
Dari situlah kehidupan dua bayi itu dimulai.
Saat Joko menangis tengah malam, Janah sering terbangun. Atau sebaliknya. Kadang Mak Amin dan Mak Dhijah saling bertukar anak untuk menenangkan. Mereka bilang, “Anak ini lebih tenang kalau digendong Mak Dhijah,” atau “Joko diam kalau tidur di dekat Janah.”
Ketika usia mereka genap empat puluh hari, diadakan selametan bersama. Selametan itu digelar di halaman rumah panggung hijau. Ada nasi tumpeng, ayam ingkung, dan jajanan pasar. Seluruh tetangga diundang. Mereka makan, bernyanyi, dan mendoakan kedua bayi.
“Jodoh ya, Mak?” tanya salah satu tetangga.
“Insya Allah,” kata Mak Dhijah.
“Doain aja dulu,” tambah Mak Amin.
Mereka tersenyum. Tak ada yang tahu bahwa di masa depan, jalan menuju pernikahan itu tidak akan semulus yang dibayangkan.
Mak Dhijah – malam hari, setelah menyusui Joko
“Aku kadang takut. Apa keputusanku menjodohkan mereka sejak dalam kandungan ini terlalu egois? Tapi aku melihat sendiri bagaimana Mak Amin. Dia sahabat terbaikku. Dia ada saat aku susah, saat suamiku sakit, saat aku nggak punya beras untuk dimasak. Bukankah menikahkan anak dengan anak sahabat adalah cara terbaik untuk menjaga persahabatan itu tetap abadi? Atau... aku hanya takut kehilangan Mak Amin? Aku takut jika anak, anak kami tidak bersama, kami akan berjauhan. Rumah kami memang bersebelahan, tapi hati bisa saja menjauh. Aku tidak mau itu terjadi. Joko, Nak... ibumu ini mungkin terlalu berharap. Tapi percayalah, suatu hari nanti, ketika kau besar dan kau lihat Janah yang cantik dan baik hati, kau akan berterima kasih pada ibumu.”
Mak Amin – saat hujan, sambil menimang Janah
“Janah... kau tahu? Dunia ini keras untuk perempuan. Tapi kalau kau punya suami yang baik, setengah dari kerasnya dunia akan terasa ringan. Aku mengenal keluarga Khodijah. Mereka orang baik. Joko mungkin kecil sekarang, tapi aku percaya dia akan tumbuh menjadi laki, laki yang bertanggung jawab. Atau setidaknya, aku berdoa begitu. Maafkan ibu yang sudah menjodohkanmu sejak kau masih di perut ini. Ibu hanya ingin kau bahagia. Dan kadang, kebahagiaan tidak datang dari cinta yang hebat di awal, tapi dari proses saling mengenal dan belajar menerima.”
Sungai Kapuas Murung di Kuala Kapuas tidak pernah tidur. Siang hari, dia ramai oleh lalu, lalang kapal barang dan perahu motor. Warung, warung terapung berjejer di tepian. Bau ikan asin, kopi, dan minyak tanah bercampur menjadi satu. Laki, laki dengan kaus oblong basah kuyup melempar jala. Perempuan, perempuan mencuci pakaian di papan-papan kayu yang terhampar di tepi sungai.
Saat malam, sungai itu berubah. Tenang tapi mencekam. Lampu, lampu dari rumah panggung memantul di permukaan air seperti bintang, bintang jatuh. Kadang terdengar suara ikan arwana yang melompat, atau suara buaya yang menyusuri tepian. Jangkrik dan katak bergantian menyanyikan lagu malam.
Rumah, rumah panggung di Selat Tengah dibangun dari kayu ulin yang hitam legam. Rumah Mak Amin dicat hijau lumut, sementara rumah Mak Dhijah biru langit. Di antara kedua rumah itu, ada pohon rambutan tua yang usianya mungkin sudah puluhan tahun. Daunnya rindang. Burung, burung pipit suka bersarang di sana.
Lantai rumah panggung biasanya terbuat dari papan kayu yang sudah dihaluskan. Kalau berjalan di atasnya, terdengar bunyi kriyek, kriyek. Makamin dulu pernah bilang, “Bunyi itu seperti suara rumah yang sedang berbicara.” Dan rumah itu biasanya bicara tentang kehangatan, tentang keluarga, tentang cinta yang sederhana namun dalam.
Di akhir bulan, kedua keluarga mengadakan kenduri kecil. Mereka memotong kambing yang dibeli dari Pedagang hewan kambing. Semua tetangga datang membawa rantang berisi nasi dan lauk.
Joko yang baru berusia dua bulan digendong oleh Mak Dhijah. Janah yang baru berusia tiga minggu digendong Mak Amin. Mereka duduk berdampingan.
“Mari kita doakan,” kata seorang tokoh agama setempat, Kiai Mansyur.
Semua menunduk.
“Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim. Kau pertemukan dua anak ini dalam rahim persahabatan. Jangan Kau pisahkan mereka dengan kebencian. Jangan Kau pisahkan mereka dengan kesombongan. Jika memang mereka adalah jodoh yang Engkau takdirkan, mudahkanlah jalannya. Tapi jika tidak, berikanlah mereka pasangan yang lebih baik. Lindungi mereka dari maksiat, dari cinta yang salah, dari putus asa. Dan satukanlah kedua keluarga ini dalam kebaikan, dunia dan akhirat. Aamiin.”
“Aamiin,” sahut semua orang.
Bayi Joko tiba, tiba berhenti menangis. Bayi Janah tertidur pulas.
Langit malam di atas Kapuas terlihat begitu dalam. Bintang, bintang bersinar terang, seolah menjadi saksi dari sebuah janji yang belum sepenuhnya mereka mengerti.
BAB 2
SI TENGIL MULAI BERKELAHI DENGAN DUNIA
“TIDAAAAAAAAK AKU NGGAK MAUUUUU!”
Suara itu terdengar hingga ke rumah Mak Amin. Saat itu Mak Amin sedang menyuapi Janah bubur. Janah yang baru berusia dua setengah tahun langsung menoleh ke arah suara. Matanya membulat.
“Mak, suara Joko?” tanya Janah polos.
Mak Amin tersenyum sambil menyeka mulut Janah. “Iya, Nak. Kayaknya Joko lagi ngambek lagi.”
“Joko nakal.”
“Kadang-kadang. Tapi dia baik kok.”
Di rumah sebelah, Joko berguling, guling di lantai. Wajahnya sudah basah oleh air mata dan ingus. Kakinya menendang, nendang udara. Mak Dhijah berdiri di sampingnya dengan tangan di pinggang, ekspresi campuran antara kesal dan geli.
“Joko, kamu mau nggak makan sayur?” tanya Mak Dhijah.
“NGGAK MAU!”
“Sayur bayam, Jok. Enak. Dimasak sama ikan asin.”
“NGGAK MAU! JOKO MAU MIE!”
Mak Dhijah menghela napas. Ini sudah yang kelima kalinya hari ini. Joko menolak makan sayur, menolak mandi, menolak tidur siang, menolak memakai baju, dan menolak disuruh berhenti mengejar ayam tetangga. Dia bocah laki, laki dengan tenaga yang luar biasa dan kemauan yang keras.
“Kamu itu keterlaluan, Nak,” kata Mak Dhijah sambil menggendong Joko paksa. “Ayo makan.”
Joko berontak. Tangannya memukul bahu ibunya. Tapi Mak Dhijah tidak melepaskan. Dia terus berjalan ke meja makan sambil menggendong Joko yang menjerit, jerit seperti akan disembelih.
“MAK! JOKO NGGAK MAUUUU!”
Di rumah sebelah, Janah bertanya lagi, “Mak, Joko kenapa?”
Mak Amin menutup telinga Janah. “Nggak usah didengerin, Nak. Yang penting kamu habisin buburnya ya.”
“Janah habisin,” kata Janah patuh. Lalu dia membuka mulut. Sendok bubur masuk dengan mulus.
Mak Amin membandingkan dalam hati: Janah, perempuan kecil yang lembut, penurut, dan tidak pernah rewel. Sementara Joko... astaga. “Semoga kelak mereka saling melengkapi,” bisik Mak Amin dalam hati.
PAUD Pembina adalah tempat pertama Joko dan Janah bersekolah. Lokasinya tidak jauh dari rumah, hanya sekitar dua ratus meter ke arah timur. PAUD itu berbentuk bangunan setengah permanen, dengan cat dinding warna, warni yang sudah mulai mengelupas. Halamannya sempit, hanya muat satu ayunan dan satu perosotan besi yang sudah berkarat.
Hari pertama masuk PAUD, Joko sudah membuat ulah.
Saat guru menyuruh anak, anak duduk melingkar, Joko tidak mau duduk. Dia berdiri di tengah lingkaran, menatap semua temannya dengan mata menyelidik.
“Kamu siapa?” tanya seorang anak laki-laki berbadan besar dan berotot. Namanya Umar.
“Joko,” jawab Joko singkat.
“Joko apa?”
“Joko Prayitno.”
“Kamu mau duduk nggak?”
“Nggak.”
“Kenapa?”
“Karena gue nggak suka disuruh-suruh.”
Guru PAUD, Bu Ratna, yang baru lulus dari SPG di jamannya, menghela napas. Dia sudah mendengar tentang Joko dari ibunya. “Joko, ayo duduk. Nanti kita main tebak-tebakan.”
Joko menatap Bu Ratna. “Tebak-tebakan apa?”
“Tebak gambar.”
“Bosan.”
“Ayo duduk,” Bu Ratna sedikit menaikkan intonasi.
Akhirnya Joko duduk. Tapi dia duduk tepat di samping Janah. Janah yang saat itu sedang asyik mewarnai gambar bunga, mendadak merasa terganggu.
“Joko, kamu duduk di sana,” kata Janah sambil menunjuk tempat kosong di sebelah.
“Nggak. Gue duduk di sini.”
“Pindah.”
“Nggak mau.”
“Joko!”
“Janah!”
Bu Ratna melihat ke arah mereka. “Ada masalah?”
“Joko nggak mau pindah, Bu!” lapor Janah.
“Gue nggak ganggu, Bu. Gue cuma duduk,” kata Joko.
“Tapi kamu bikin Janah nggak fokus,” Bu Ratna berkata.
Joko mendengus. Tapi dia tidak pindah. Sepanjang pelajaran menggambar, Joko terus mengganggu Janah. Dia mengambil krayon Janah tanpa izin. Dia membuat gambar kocak yang membuat Janah malu: dia menggambar Janah dengan kumis. Dan yang paling parah, saat istirahat, Joko menyembunyikan tempat pensil Janah.
“Mak!” Janah menangis saat pulang. “Joko jail!”
Mak Amin sudah menunggu di depan pagar sekolah. “Jail gimana, Nak?”
“Dia sembunyiin tempat pensil Janah. Dia gambar Janah pake kumis. Dia nggak mau duduk di tempat yang disuruh Bu Guru!”
Mak Amin tersenyum sambil mengusap kepala Janah. “Sudah, Nak. Besok ibu bilangin Mak Dhijah. Joko itu cuma mau perhatian.”
“Janah benci Joko!”
“Jangan benci, Nak. Coba besok kalau Joko jail, kamu bilang sama Bu Guru.”
“Janah takut.”
“Kenapa takut?”
“Nanti Joko marah. Joko suka mukul.”
Mak Amin menghela napas. Ini masalah.
Di rumah Mak Dhijah, lain cerita. Joko pulang dengan wajah sumringah. Dia langsung melempar tasnya ke lantai dan melompat ke pangkuan Mak Dhijah.
“Mak! Hari ini seru!”
“Seru gimana?”
“Janah nangis!”
Mak Dhijah mengerutkan kening. “Kamu buat Janah nangis?”
“Iya. Gue sembunyiin tempat pensilnya. Lucu, Mak. Mukanya merah, terus dia jerit-jerit, ‘Joko! Joko!’”
“Joko, itu nggak baik,” Mak Dhijah menegur. “Janah itu calon istri kamu.”
“Hah? Istri? Apaan tuh?”
Mak Dhijah tertawa. “Kamu nanti kalau besar kawin sama Janah.”
Joko mengerutkan dahi. Wajahnya terlihat sangat bingung. “Kawin? Kayak ayam?”
“Bukan. Kayak... Bapak sama Ibu.”
“Bapak? Ibu? Bapak suka marah-marah. Ibu suka masak. Aku nggak mau kawin!”
Mak Dhijah tertawa terbahak, bahak. “Belum saatnya kamu ngerti, Nak. Tapi pokoknya, jangan jail sama Janah. Dia perempuan. Perempuan itu harus dilindungi.”
Joko diam sejenak. Lalu dia berkata, “Kalau gitu, gue jailin Janah tapi gue lindungi dia juga. Boleh, Mak?”
Mak Dhijah menatap putranya. Dia tidak tahu apakah harus bangga atau khawatir. “Pokoknya jangan bikin dia nangis terus.”
“Tapi lucu, Mak!”
“Joko!”
“Iya, iya. Nggak bakal gue bikin nangis.”
(Padahal keesokan harinya, Joko kembali membuat Janah menangis.)
Hari kelima Joko di PAUD, Bu Ratna sudah kehabisan akal. Joko tidak bisa diam. Dia suka mengganggu teman, temannya. Dia suka memotong pembicaraan guru. Dia suka membuat keributan di luar jam pelajaran.
Suatu hari, saat anak, anak sedang antre untuk mencuci tangan, Joko tiba, tiba mendorong Umar ke depan. Umar jatuh dan lututnya berdarah.
“Joko!” bentak Bu Ratna. “Kamu kenapa sih?!”
Joko tidak menjawab. Dia hanya tertawa. “Lucu, Bu. Mukanya Umar kayak kepiting rebus.”
Umar menangis. Anak, anak lain diam ketakutan.
Bu Ratna menarik Joko ke pojok ruangan. “Kamu itu nakal, Joko. Nakal sekali.”
“Joko nggak nakal. Joko cuma iseng.”
“Iseng namanya nyakitin orang lain itu namanya nakal! Dari sekarang, Ibu panggil kamu... Si Tengil! Karena kamu tengil sekali!”
“Si Tengil?” Joko mengulang. “Keren tuh.”
Bu Ratna hampir terjungkal mendengar jawaban itu.
Mulai hari itu, semua anak di PAUD memanggil Joko dengan sebutan “Si Tengil”. Bahkan Janah ikut- ikutan memanggilnya begitu. Awalnya Joko marah. Tapi lama, lama dia malah bangga.
“Gue Si Tengil,” katanya di depan cermin. “Gue paling tengil se, Kuala Kapuas.”
Mak Dhijah hanya menggeleng.
“Kenapa sih semua orang bilang gue nakal? Gue cuma pengen diperhatiin. Gue cuma pengen mereka pada ketawa. Ketawa itu enak. Gue suka liat muka orang ketawa. Tapi... kenapa Janah malah nangis? Gue bukannya pengen bikin dia nangis. Cuma... gue suka liat wajahnya. Wajah Janah lucu kalau dia kesel. Matanya melotot. Pipinya merah. Rambutnya kusut. Tapi... kenapa ya setiap dia nangis, dada gue rasanya sakit? Aneh. Mungkin gue sakit. Mungkin karena gue belum makan.”
Meskipun Joko sering membuat Janah menangis, Janah tidak pernah benar, benar membenci Joko. Ada sesuatu yang aneh dalam hatinya. Saat Joko dimarahi Bu Ratna, Janah merasa kasihan. Saat Joko jatuh saat berlari, Janah yang pertama datang membantunya.
Suatu hari, sekelompok anak laki, laki dari kelas lain mencoba mengeroyok Joko di halaman sekolah. “Kamu si Tengil, ya? Kamu nakal ya?” ejek mereka.
Joko berdiri tegak. Matanya tidak berkedip. “Iya, gue Si Tengil. Mau apa lu?”
“Kami mau ajarin kamu supaya nggak nakal lagi.”
Mereka mendorong Joko. Joko jatuh. Tapi dia bangkit lagi. “Coba aja,” katanya dengan suara serak.
Tepat saat mereka akan memukul, Janah menerobos kerumunan. “STOP!” teriak Janah dengan suara yang tidak pernah didengar sebelumnya. Suaranya nyaring. Matanya tajam.
Anak, anak itu terkejut.
“Janah? Ngapain lu ikut campur?” tanya salah satu dari mereka.
“Joko itu teman aku. Siapa yang berani ganggu Joko, aku laporin Bu Guru!”
“Cih, cewe. Nggak takut.”
“Coba aja!”
Janah mendekat. Tangannya mengepal. Meskipun tubuhnya kecil, aura keberaniannya membuat anak, anak itu mundur.
“Awasin aja, Tengil!” kata mereka lalu pergi.
Joko menatap Janah. Matanya berkaca, kaca. Untuk pertama kalinya, dia tidak berbicara.
“Kamuuu...” Joko tercekat.
“Apa?”
“Kenapa lu bela gue?”
Janah mengangkat bahu. “Nggak tahu. Pokoknya gue nggak suka liat lu diganggu orang lain.”
“Tapi gue suka ganggu lu.”
“Iya. Tapi itu beda. Lu ganggu gue, tapi lu nggak pernah mukul gue. Mereka mau mukul lu. Nggak boleh.”
Joko terdiam. Lalu dia tersenyum. Senyum yang pertama kali tidak mengandung kenakalan. Senyum yang tulus.
“Jan... makasih.”
“Sama-sama, Tengil.”
BAB 3
SDN SELAT I – PRAMUKA, PERMEN, DAN TANGIS
Hari pertama masuk Sekolah Dasar Negeri Selat I selalu menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi setiap anak di Kuala Kapuas. Pagi itu, matahari belum sepenuhnya muncul dari balik pohon karet di timur. Embun masih menempel di dedaunan. Burung, burung pipit mulai ribut di pohon rambutan tua.
Joko Prayitno, Si Tengil, bangun pukul lima pagi. Bukan karena semangat sekolah, tapi karena Mak Dhijah sudah mengguncang, guncang tubuhnya sejak pukul setengah lima.
“Joko! Bangun! Hari pertama sekolah!” teriak Mak Dhijah sambil membuka jendela kayu kamar.
Joko berguling di atas kasam. Matanya masih rapat. “Mak, masih gelap. Bentar lagi.”
“Nggak bisa! Kamu harus mandi. Baju sudah ibu siapin.”
“Joko ngantuk, Mak.”
“Janah udah bangun dari tadi. Kamu nggak malu sama Janah?”
Mendengar nama Janah, Joko membuka matanya sekejap. “Janah udah bangun?”
“Udah. Tadi ibu lihat dia udah pakai baju seragam. Biru putih. Lagi sarapan.”
Joko duduk dengan gerakan malas. Rambutnya acak, acakan seperti sarang burung. Matanya masih sayu. Tapi begitu mendengar bahwa Janah sudah siap, sesuatu dalam dirinya bergerak. Dia tidak mau kalah. Tidak mau terlihat lebih lambat dari Janah.
“Oke, Mak. Joko mandi.”
Dia melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi di belakang rumah. Kamar mandi itu sederhana: dinding anyaman bambu, lantai semen, dan sebuah ember besar yang selalu diisi air sungai. Joko menyiram kepalanya dengan air dingin. “BRRR!” Dia menggigil, tapi itu justru membuatnya segar.
Sepuluh menit kemudian, Joko keluar dengan seragam biru putih yang terlalu besar untuk tubuhnya. Celananya longgar, hampir melorot. Bajunya seperti kantung goni. Mak Dhijah tersenyum geli.
“Mak, bajunya gede banget,” protes Joko.
“Itu sengaja, Nak. Biar bisa dipakai sampai kelas tiga. Nanti kalau kebesaran, ibu jahit sedikit.”
“Tapi Joko kaya orang kekurangan gini, Mak.”
“Nggak apa, apa. Yang penting sekolah. Ayo sarapan.”
Joko duduk di meja makan. Mak Dhijah menyajikan nasi putih, telur dadar, dan secangkir teh manis hangat. Joko makan dengan lahap. Mulutnya penuh, tapi dia tetap bicara.
“Mak, Janah makan apa?”
“Janah makan bubur.”
“Bubur? Dasar perempuan. Makanan bayi.”
“Joko, jangan bicara begitu. Janah itu perempuan. Perempuan biasanya suka yang lembut, lembut.”
“Cih. Perempuan.”
Meskipun begitu, Joko diam, diam melirik ke arah rumah Mak Amin. Dia ingin melihat Janah. Janah sedang duduk di beranda, berseragam biru putih yang pas di tubuhnya. Rambutnya diikat dua. Dia terlihat rapi dan cantik. Joko merasakan sesuatu yang aneh di perutnya, tapi dia tidak mengerti apa itu.
SDN Selat I terletak sekitar lima ratus meter dari rumah. Jalan menuju sekolah tidak terlalu jauh. Biasanya anak, anak berjalan kaki atau diantar orang tua. Tapi Joko dan Janah punya kebiasaan sendiri: mereka berangkat bersama setiap pagi, ditemani Mak Dhijah atau Mak Amin secara bergantian.
Pagi itu, Mak Amin yang mengantar. Janah memegang tangan kanan ibunya. Joko berjalan di samping Janah, sesekali melompat, lompat seperti katak.
“Jan, lo takut nggak hari pertama?” tanya Joko.
“Takut kenapa?” jawab Janah sambil menatap lurus ke depan.
“Takut dimarahin guru. Takut nggak punya teman.”
Janah tersenyum. “Nggak. Kan ada kamu.”
Joko berhenti melompat. Matanya membelalak. “Maksud lo?”
“Ya, kamu kan teman aku. Dari PAUD sampai sekarang. Jadi aku nggak sendiri.”
Joko merasa dadanya berdebar. Tapi dia tidak mau menunjukkan perasaan itu. Dia segera memasang wajah tengilnya. “Ya iya lah. Lo harus bersyukur punya teman sekeren gue.”
“Keren? Kamu sih tengil,” ledek Janah.
“Tengil itu keren.”
“Nggak.”
“Iya!”
“Nggak!”
“DEBAT!”
Mak Amin yang mendengar geleng, geleng kepala. “Sudah, jangan bertengkar. Nanti kalian satu kelas. Harus saling jaga ya.”
“Jaga gimana, Mak?” tanya Janah.
“Jaga kalau ada yang ganggu. Joko harus lindungi Janah. Janah harus ingetin Joko kalau dia nakal.”
“Mana bisa, Mak? Joko mah bandel,” kata Janah.
“Gue nggak bandel. Gue cuma... aktif.”
Mak Amin tertawa. “Ya sudah. Pokoknya janji ya, kalian berdua saling jaga.”
Joko dan Janah saling pandang. Lalu Joko mengulurkan tangan kelingkingnya. “Janji, nih.”
Janah ragu sejenak. Tapi kemudian dia juga mengulurkan kelingkingnya. Mereka berkait.
“Janji,” kata Joko.
“Janji,” kata Janah.
Mereka berdua tidak tahu bahwa janji kecil di pagi hari itu akan menjadi fondasi dari segala sesuatu yang akan terjadi di masa depan.
SDN Selat I memiliki tiga kelas paralel untuk setiap tingkat. Joko dan Janah dimasukkan ke kelas 1A. Guru kelasnya adalah Bu Sri, seorang perempuan muda dengan kumis tipis di atas bibirnya dan suara yang sangat keras. Katanya, Bu Sri lulusan PGA (Pendidikan Guru Agama) dari Palangkaraya dan terkenal disiplin.
Ruangan kelas 1A cukup besar. Dindingnya dicat putih dengan hiasan gambar, gambar hewan dari kertas origami. Ada papan tulis hitam yang sudah retak di bagian pojok kanan. Meja dan kursi terbuat dari kayu ulin, keras dan dingin saat disentuh.
Bu Sri membagikan tempat duduk berdasarkan tinggi badan. Joko dan Janah termasuk yang paling pendek di kelas, sehingga mereka duduk di barisan depan, tepat di depan meja guru.
Dan kebetulan, atau mungkin sudah diatur takdir, mereka duduk sebangku.
“Kamu sama Joko satu bangku,” kata Bu Sri sambil menunjuk Janah.
Janah melongo. “Satu bangku, Bu? Dengan... dia?”
“Ada masalah?”
Janah menoleh ke Joko yang sudah duduk dengan santai, menyandarkan badan ke dinding, dan tersenyum lebar.
“Hai, teman sebangku,” kata Joko.
“Hai... Tengil,” jawab Janah lesu.
Dia duduk di samping Joko. Jarak antara mereka hanya sekitar tiga puluh sentimeter. Janah bisa mencium bau sabun mandi Joko, sabun colek warna hijau yang dijual di warung depan pasar.
“Lo pakai sabun apa sih, Tengil? Wanginya nyengat,” komplain Janah.
“Sabun gajah. Katanya buat kulit tebal kayak gajah.”
“Lo mah kulit badak.”
“Iya. Biar tahan banting.”
Bu Sri mengetuk meja dengan penggaris kayu. “Anak, anak, jangan bicara! Sekarang perkenalan. Mulai dari barisan depan.”
Perkenalan berlangsung selama setengah jam. Kebanyakan anak, anak malu, malu. Ada yang bicara dengan suara seperti nyamuk, ada yang sampai menangis karena tidak berani bicara. Giliran Joko tiba, dia berdiri.
“Nama saya Joko Prayitno. Panggil saya Joko. Atau Si Tengil. Terserah. Saya anak pertama dari dua bersaudara. Rumah saya di Selat Tengah nomor 12, samping rumah Janah. Hobi saya... jailin orang.”
Semua anak tertawa. Bahkan Bu Sri ikut tersenyum.
“Joko, itu bukan hobi yang baik,” kata Bu Sri.
“Tapi itu keahlian saya, Bu.”
Bu Sri menghela napas. “Duduk, Joko.”
Giliran Janah. Dia berdiri dengan gemetar. Wajahnya pucat. Suaranya kecil.
“Nama saya... Siti Nurjanah. Panggil Janah. Saya... anak pertama dari... tiga bersaudara. Rumah saya di Selat Tengah nomor 11... sebelah rumah Joko. Hobi saya... membaca.”
“Bagus, Janah. Hobi yang baik,” puji Bu Sri.
Joko mencolek pinggang Janah dari samping. “Baca komik ya?” bisiknya.
Janah tidak menjawab. Tapi saat duduk, dia menyenggol Joko dengan sikunya. Keras.
“Aduh!” pekik Joko.
Bu Sri menoleh. “Ada apa?”
“Nggak apa, apa, Bu. Hanya sedikit senggolan.”
Jam istirahat pertama SD selalu menjadi ajang kekacauan. Anak, anak berlarian ke kantin, berebut jajanan, dan bermain kejar, kejaran di lapangan. Di SDN Selat I, kantin berada di bawah pohon beringin besar di samping lapangan upacara. Kantin itu hanya meja panjang dengan aneka jajanan: permen, kerupuk, cilok, es buah, dan mie instan rebus.
Joko membawa uang saku seribu rupiah. Dia langsung membeli permen rasa jeruk lima biji. Janah membawa bekal dari rumah: nasi goreng bungkus daun pisang.
Mereka duduk di bawah pohon beringin. Joko mengunyah permen dengan suara keras. Janah makan perlahan.
“Jan, lo mau permen?” tawar Joko.
“Nggak. Lagi makan.”
“Ini permen enak. Rasa jeruk. Asem manis.”
“Nggak, ah.”
“Sok suci.”
Janah mendengus. Dia tetap fokus pada nasi gorengnya. Tapi tiba, tiba, sekelompok anak laki, laki dari kelas 1B mendekat. Mereka dipimpin oleh seorang anak gemuk bernama Irul. Irul terkenal suka memalak jajanan anak kecil.
“Eh, lo Joko ya? Si Tengil?” kata Irul sambil menyunggingkan senyum sinis.
Joko mengangkat muka. “Iya. Kenapa?”
“Kasih dong permen lo.”
“Nggak.”
“Nggak?” Irul mendekat. Dua temannya ikut mendekat. “Lo baru masuk SD. Lo belum tahu aturan. Di sini, yang gede yang berkuasa. Gue kelas 1B, lahir bulan Januari. Lo lahir kapan?”
“Oktober.”
“Nah, berarti gue lebih tua. Jadi lo harus hormat sama gue.”
Joko berdiri. Matanya tidak berkedip meskipun tubuh Irul hampir dua kali lipat lebih besar darinya. “Gue nggak hormat sama siapa pun. Apalagi sama pemalak.”
Irul tertawa. “Berani lo, Tengil?”
“Biarin.”
Irul mendorong bahu Joko. Joko mundur selangkah tapi tidak jatuh. “Gue bilang, kasih permen lo!”
“Gue bilang, nggak!”
Irul menggeram. Dia mengangkat tangan hendak memukul. Tapi sebelum tangannya mendarat, Janah berdiri dan berteriak, “STOP!”
Semua orang menoleh. Janah berdiri di antara Joko dan Irul. Tangannya direntangkan seperti perisai. Wajahnya merah padam, tapi matanya tajam.
“Jangan ganggu Joko!” teriak Janah.
Irul tertawa. “Cewe caper.”
“Awas lo, kalau sampai mukul Joko, aku lapor Bu Sri! Dan ayahku polisi! Kalian bisa ditangkap!”
Kebetulan ayah Janah memang anggota Polisi Air (Polair) yang bertugas di Sungai Kapuas Murung. Meskipun tidak berkewenangan menangkap anak SD, ancaman itu cukup membuat Irul dan teman, temannya ciut.
“Cih, main laporan,” gerutu Irul. “Nanti juga kita beresin.”
Mereka pergi sambil mendorong, dorong Joko sedikit. Joko berdiri diam. Dia menatap Janah.
“Jan...”
“Apa?”
“Lo... tadi bela gue lagi?”
Janah menunduk. Pipinya merah. “Iya. Tapi jangan seneng dulu. Aku bela lo karena lo teman sebangku aku. Bukan karena yang lain.”
“Tapi...”
“Diem!” Janah duduk kembali dan menyelesaikan nasi gorengnya.
Joko juga duduk. Dia tidak bicara. Tapi hatinya berdebar lebih kencang dari biasanya. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa perlu menjadi jagoan. Cukup dengan memiliki Janah di sampingnya.
“Kenapa sih setiap Janah bela gue, dada gue rasanya kayak ada yang terbang? Kayak ada kupu, kupu di dalam perut. Aneh. Gue nggak suka perasaan ini. Gue suka jadi orang yang kuat, yang nggak butuh siapa, siapa. Tapi kok... rasanya enak juga punya Janah. Dia kecil. Dia cengeng. Dia suka nangis kalau gue jailin. Tapi dia berani banget lawan Irul yang gede. Dia bilang ayahnya polisi. Padahal ayahnya cuma polisi air, tugasnya jaga sungai. Tapi gue suka. Gue suka banget. Jangan sampai ada yang tahu perasaan ini. Ntar gue malu. Gue Si Tengil. Gue nggak boleh cinta, cintaan. Cinta itu buat orang dewasa. Tapi... kalau begini terus, gue bisa gila.”
“Aku benci Joko. Benci sekali. Tapi kenapa setiap dia dalam bahaya, aku yang pertama maju? Kenapa tanganku sendiri yang bergerak tanpa perintah otak? Aku takut. Aku takut pada Irul. Tapi lebih takut melihat Joko terluka. Joko itu mengganggu. Dia suka sembunyiin tempat pensilku, suka gambar kumis di bukuku, suka menarik, narik rambutku. Tapi... dia juga lucu. Aku suka cara dia tertawa. Aku suka cara dia memanggilku ‘Jan’. Aku suka saat dia diam, diam melindungiku dari belakang. Dia pikir aku tidak tahu, tapi aku tahu. Setiap kali ada anak lelaki yang ganggu aku, pasti besoknya anak itu ketakutan karena Joko sudah mengancam. Aku tahu itu. Tapi aku tidak akan pernah bilang. Biarlah Joko tetap jadi Si Tengil. Dan biarlah aku... hanya Janah yang cerewet.”
Bulan ketiga di SD, Bu Sri mengadakan ulangan harian pertama untuk mata pelajaran Matematika. Materinya penjumlahan dan pengurangan sederhana dari angka 1 sampai 20.
Janah belajar semalaman. Dia sudah hafal semua penjumlahan di luar kepala. Sementara Joko? Dia tidur. Dia tidak belajar sama sekali.
Saat lembar soal dibagikan, Joko melihat ke kertasnya. Matanya mengerjap. Soal pertama: 7 + 8 = ...
“Apaan sih ini,” gumam Joko.
Dia menoleh ke Janah. Janah sudah dengan cepat menulis jawaban. Joko mencoba mengintip.
“Tengil, ngintip nggak boleh,” bisik Janah.
“Sekali aja, Jan. Gue kesusahan.”
“Nggak. Itu namanya nyontek. Dosa.”
“Dosa? Gue mah nggak takut dosa. Yang penting nilai bagus.”
“Tapi Bu Sri bisa lihat!”
Joko menghela napas. Dia memutar otak. Lalu dia punya ide: dia akan menulis jawaban asal, asalan, tapi kemudian dia akan menyogok Janah dengan permen setelah ulangan.
Janah menolak. Joko terus merengek. Suara mereka mulai terdengar oleh Bu Sri.
“Ada masalah?” tanya Bu Sri dari depan.
“Tidak, Bu. Joko cuma minta penghapus,” kata Janah cepat.
“Ya sudah, lanjutkan.”
Joko menghela napas lega. Tapi setelah Bu Sri tidak melihat, dia kembali merengek. Akhirnya Janah mengalah. Dia menulis jawaban di sobekan kertas kecil, lalu menyelipkannya ke bawah meja.
Joko mengambil kertas itu. Wajahnya berseri. Dia menyalin semua jawaban dengan cepat.
Ketika ulangan selesai, Bu Sri mengoreksi langsung di kelas. Nilai Janah: 100. Nilai Joko: 95. Satu jawaban salah karena Joko kurang teliti menyalin.
“Bagus, Joko. Kamu meningkat,” puji Bu Sri.
Joko tersenyum miring. “Terima kasih, Bu. Saya memang jenius.”
Janah hanya bisa menggeleng.
Saat pulang, Joko membelikan Janah dua bungkus permen rasa stroberi. “Ini bayaran.”
“Jangan nyontek lagi,” kata Janah.
“Nggak janji.”
“Joko!”
“Iya, iya. Nggak nyontek lagi. Nanti kalau perlu, gue belajar sama lo.”
“Serius?”
“Serius... kalau lo mau.”
Janah tersenyum. “Ajarin lo mah kena bayaran.”
“Apa? Gue kan sudah kasih permen.”
“Itu untuk yang tadi. Kalau mau les privat, bayarnya lebih mahal.”
“Janah, lo pedagang kali?”
“Anak pedagang emang.”
Janah tertawa. Joko tertawa. Mereka berjalan pulang bersamaan di bawah terik matahari Kuala Kapuas. Langit begitu biru. Sungai Kapuas mengalir tenang.
Suatu hari, seorang anak pindahan dari Palangkaraya masuk ke kelas 1A. Namanya Andi. Anaknya tampan untuk ukuran SD. Kulitnya putih, rambutnya ikal, dan suaranya lembut. Andi langsung menarik perhatian semua anak perempuan, termasuk Janah.
Joko tidak suka. Sejak pertama melihat Andi, Joko sudah merasa ada yang tidak beres.
“Itu anak norak,” kata Joko pada Janah.
“Norak gimana? Dia keren,” jawab Janah.
“Keren? Rambutnya kayak domba. Pake kacamata lagi. Kuper.”
“Dia pintar, Tengil. Nilai matematikanya 100.”
“Gue juga 95.”
“Itu karena contekkan.”
Joko terdiam. Dia tidak bisa membantah.
Andi duduk di bangku belakang, tepat di belakang Joko dan Janah. Dalam waktu seminggu, Andi sudah akrab dengan Janah. Mereka sering bicara tentang buku cerita. Andi suka baca. Janah juga suka baca. Sementara Joko? Joko lebih suka baca buku komik petualangan.
“Jan, lo pinjem buku cerita ini deh,” kata Andi suatu hari sambil memberikan buku dongeng anak.
“Wah, Pinokio! Aku suka!” Janah menerima buku itu dengan senang.
Joko melotot. “Pinokio? Cerita boneka hidung panjang? Norak.”
“Diam, Tengil. Kamu nggak tahu apa, apa soal buku,” kata Janah.
“Gue tahu! Cerita yang bagus itu petualangan, kayak Tarzan atau si Buta dari Goa Hantu.”
“Itu bacaan kakak kelas. Kamu masih kecil.”
“Gue lebih dewasa dari lo.”
“Dewasa? Kamu sih paling tengil.”
Mereka bertengkar. Andi hanya tersenyum dan berkata, “Jangan bertengkar, teman, teman. Kita bisa baca buku bersama.”
Joko melirik Andi dengan tatapan curiga. “Lo jangan dekat, dekat sama Janah, ya. Dia... dia... dia punya siapa gitu.”
“Punya siapa?” tanya Andi polos.
Joko bingung. “Ya... punya... punya orang tuanya dong. Jadi jangan sembarangan.”
Janah tertawa. “Joko, kamu aneh.”
Joko hanya bisa menggerutu. Dia tidak mengerti kenapa dia merasa begitu terganggu dengan kehadiran Andi. Yang dia tahu, perasaan itu menggelitik dan tidak nyaman.
Puncak kecemburuan Joko terjadi saat acara Pramuka. Setiap hari Sabtu, siswa kelas 1, 3 SDN Selat I mengadakan kegiatan Pramuka siaga di halaman sekolah. Mereka memakai baju cokelat, topi rimba, dan mengikatkan tongkat di punggung.
Joko sangat menikmati Pramuka. Dia suka baris, berbaris, suka menyanyikan lagu, lagu perjuangan, dan suka bermain simpul tali. Janah juga ikut Pramuka, meskipun dia lebih suka bagian memasak.
Suatu hari, Kak Santo, pembina Pramuka, mengadakan lomba merangkai tali untuk membuat tandu darurat. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Joko, Janah, dan Andi tergabung dalam satu kelompok.
Joko protes. “Kenapa sih Andi ikut kelompok kita?”
“Dia anggota kita, Joko. Dan dia pintar,” kata Kak Santo.
Joko mendengus. Selama lomba, Andi dan Janah terus berbisik, bisik. Joko merasa diabaikan.
“Eh, Jan! Lo dengerin gue dong!” seru Joko.
“Sebentar, Tengil. Andi lagi jelasin soal simpul mati.”
“Simpul mati? Gue jago itu.”
Joko mencoba menarik perhatian Janah dengan membuat simpul yang salah. Janah kesal. “Itu simpul hidup, Tengil! Bukan simpul mati!”
“Ah, sama aja.”
“Beda!”
Andi dengan sabar memperbaiki simpul Joko. “Begini, Joko. Tarik ke kiri, lalu putar ke kanan.”
Joko mengikuti dengan kesal. Kelompok mereka akhirnya juara kedua. Juara pertama diraih kelompok Irul.
“Kalau Joko nggak usah ikut, mungkin kita juara satu,” kata Janah.
Joko tersinggung. Dia diam sepanjang perjalanan pulang. Janah heran. Biasanya Joko cerewet.
“Tengil, kenapa diem?”
“Nggak kenapa, kenapa.”
“Pasti ada. Kamu sakit?”
“Nggak. Gue cuma capek.”
Janah tidak mempedulikan. Tapi saat mereka sampai di depan rumah, Joko berhenti.
“Jan.”
“Apa?”
“Lo... lo suka Andi?”
Janah terkejut. “Apa?”
“Jawab aja. Lo suka Andi?”
Janah diam sejenak. Lalu dia tertawa. “Joko, kamu ini aneh. Andi itu teman. Aku suka dia sebagai teman. Kayak aku suka kamu.”
“Tapi beda?”
“Beda gimana? Sama saja.”
Joko tidak puas. “Kalau sama, kenapa lo lebih sering senyum ke dia?”
“Aku juga sering senyum ke kamu, Tengil. Cuma kamu nggak sadar karena kamu sibuk bikin wajah tengil mulu.”
Joko terdiam. Rasanya ada yang mengganjal di dadanya. Dia belum mengerti itu cemburu. Dia hanya tahu bahwa perasaan ini mengganggu.
“Yang penting,” kata Joko akhirnya, “lo jangan suka sama Andi.”
“Kenapa?”
“Karena... karena... gue nggak suka.”
“Aneh, kamu.”
Janah masuk ke rumahnya. Joko berdiri di depan pagar, memandang rumah Janah. Langit senja di Kapuas berwarna jingga. Angin membawa bau ikan asin dari pasar.
“Gue benci perasaan ini,” bisik Joko pada dirinya sendiri.
Bulan ketujuh di SD, Janah jatuh sakit. Demam berdarah. Wajahnya pucat. Badannya panas. Mak Amin membawanya ke Puskesmas terdekat. Janah harus dirawat inap selama tiga hari.
Joko tidak masuk sekolah selama dua hari berturut, turut.
“Kamu kenapa nggak masuk?” tanya Bu Sri.
“Sakit,” jawab Joko singkat.
Tapi sebenarnya Joko tidak sakit. Dia hanya tidak semangat. Kelas terasa hampa tanpa Janah di sampingnya. Bangku di sebelahnya kosong. Meja Janah dibersihkan oleh petugas kebersihan karena sudah tiga hari tidak dipakai. Joko merasa ada yang hilang.
Saat istirahat, Joko tidak pergi ke kantin. Dia hanya duduk di bangku, memandangi tempat duduk Janah.
Andi mendekat. “Joko, kamu baik, baik saja?”
“Iya.”
“Janah kabarnya sakit. Aku mau besuk dia nanti sore. Kamu ikut?”
Joko menoleh. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa terganggu dengan Andi. “Boleh.”
Sore itu, Joko dan Andi pergi ke Puskesmas bersama. Joko membawa rantang berisi bubur ayam buatan Mak Dhijah. Andi membawa buku cerita baru.
Janah terbaring lemah di tempat tidur. Tangan kirinya dipasang infus. Wajahnya masih pucat, tapi matanya berbinar saat melihat Joko.
“Tengil, lo datang,” bisik Janah.
“Iya. Lo kenapa sih sakit? Makanan lo nggak dijaga,” kata Joko sambil meletakkan rantang di meja samping.
“Udah sembuh, kok. Bentar lagi pulang.”
“Jangan sakit lagi. Ntar gue yang repot.”
“Repot kenapa?”
“Ya... lo nggak ada di sekolah, gue jadi nggak bisa nyontek.”
Janah tertawa lemas. “Dasar Tengil.”
Andi memberikan buku ceritanya. “Ini buat kamu, Jan. Biar nggak bosan.”
“Makasih, Andi.”
Joko melihat interaksi itu. Dadanya terasa sesak lagi. Tapi kali ini dia menahan diri. Dia tidak ingin bertengkar di depan Janah yang sedang sakit.
Sebelum pulang, Joko berbisik di telinga Janah.
“Cepet sembuh, Jan. Gue kangen.”
Janah membelalakkan mata. “Apa?”
“Apa?” Joko pura, pura bodoh.
“Lo tadi bilang kangen?”
“Nggak. Gue bilang... bawa... bawa... bawa permen. Iya, bawa permen.”
“Bohong.”
“Pokoknya cepet sembuh.”
Joko berlari keluar. Janah tersenyum. Andi hanya tersenyum tipis, seolah mengerti sesuatu.
Tiga hari kemudian, Janah kembali masuk sekolah. Badannya masih kurusan, tapi matanya sudah segar. Semua anak menyambutnya dengan sorak, sorai.
Joko duduk di bangkunya, berusaha terlihat cuek. Tapi saat Janah duduk di sampingnya, dia tidak bisa menahan senyum.
“Lo udah sembuh?” tanya Joko.
“Udah. Makasih buburnya. Mak Dhijah hebat masaknya.”
“Ya iyalah. Mak gue jago masak.”
“Tapi besok, besok jangan panggil gue ‘Jan’.”
“Kenapa?”
“Karena ‘Jan’ itu panggilan sayang. Nanti orang ngira kita pacaran.”
Joko tertawa. “Pacaran? Di SD? Norak.”
“Iya. Norak.”
Mereka tertawa bersama. Bu Sri yang melihat dari depan hanya tersenyum.
Pelajaran dimulai. Janah dengan semangat mencatat. Joko mencatat juga, meskipun tulisannya jelek seperti cakar ayam. Di tengah pelajaran, Joko menyelipkan selembar kertas ke meja Janah.
Janah membukanya. Isinya: “Jan, gue seneng lo sehat lagi. Jangan sakit, sakit ya.”
Janah tersenyum. Dia menulis balasan: “Makasih, Tengil. Kamu juga jangan sakit. Kalau kamu sakit, aku juga... nggak bisa nyontek.”
Joko membaca balasan itu. Dia tersenyum lebar.
Di akhir semester pertama, Joko menyelipkan surat lagi ke dalam buku Janah. Surat itu ditulis dengan tulisan anak SD yang masih kacau, tapi isinya menggelitik.
“Janah.
Gue punya rahasia. Tapi gue belum bisa bilang. Nanti kalau kita gede, gue bilang. Yang penting, lo jangan deket, deket sama Andi. Lo juga jangan suka sama orang lain. Gue cuma mau lo jadi teman gue. Cuma gue. Nggak boleh ada yang lain. Nanti kalau lo nggak mau, gue jahilin lo terus seumur hidup. Tapi gue janji, gue bakal lindungin lo dari apapun.
Dari:
Joko Prayitno (Si Tengil)
P.S. Tolong balas surat ini. Tapi jangan bilang siapa, siapa.”
Janah membaca surat itu berulang kali. Wajahnya memerah. Dia tidak yakin apa yang dirasakan. Tapi dia tahu, ada sesuatu yang istimewa dari bocah tengil yang duduk di sampingnya.
Janah tidak membalas surat itu. Tapi dia menyimpannya di dalam tempat pensilnya. Sampai bertahun, tahun kemudian.
BAB 4
JANJIAN DI JEMBATAN KAPUAS
Usai kenaikan kelas dari 1 ke 2 SD, sesuatu berubah dalam diri Joko Prayitno. Bukan perubahan fisik, dia tetap kurus kering dengan rambut acak, acakan. Bukan pula perubahan perilaku, dia masih tengil, masih suka menjahili teman, temannya, masih suka berkelahi. Tapi ada sesuatu yang berbeda di dalam hatinya. Seperti ada kunci kecil yang tiba, tiba terbuka, dan dari celah itu mengalir perasaan aneh yang tidak bisa dia beri nama.
Perasaan itu selalu muncul ketika dia melihat Janah.
Setiap pagi, ketika Janah keluar dari rumahnya dengan seragam biru putih yang mulai sempit di bagian dada, meskipun Janah masih kurus seperti lidi, Joko merasa dadanya berdebar. Setiap kali Janah tertawa, Joko merasa ingin ikut tertawa meskipun dia tidak tahu apa yang lucu. Setiap kali Janah menangis karena dijailinya, Joko merasa bersalah dan ingin memeluknya, meskipun gengsinya terlalu tinggi untuk melakukannya.
“Tengil, lo kenapa sih melongo terus?” tanya Janah suatu pagi saat mereka berjalan ke sekolah.
Joko tersadar dari lamunannya. “Ah, nggak. Gue cuma ngantuk.”
“Ngantuk? Udah minum kopi belum?”
“Belum. Mak gue nggak bolehin minum kopi. Katanya ntar jadi kerdil.”
“Lo mah dari sononya udah kerdil.”
“Siapa yang kerdil? Lo sendiri juga pendek.”
“Iya, tapi aku cantik.”
Joko tertawa. “Cantik? Lo kayak monyet yang dikasih jilbab.”
Janah mencubit lengan Joko. Keras. “Awas lo!”
“Aduh! Bercanda, Jan. Lo cantik. Paling cantik se, Kuala Kapuas.”
“Pura-pura.”
“Serius. Gue nggak bohong.”
Janah tersenyum meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara. Tapi Joko bisa merasakan kehangatan dari sisi kirinya, tempat Janah berjalan.
Di kelas 2 SD, Joko semakin menjadi, jadi dalam “menjaga” Janah. Caranya unik: dia menjahili semua anak laki, laki yang mendekati Janah.
Suatu hari, seorang anak laki, laki dari kelas 2B bernama Rian mengirimkan surat cinta untuk Janah. Surat itu ditulis di kertas folio bergambar hati dan dibungkus amplop merah muda. Rian menitipkan surat itu melalui teman Janah, seorang anak perempuan bernama Siska.
Joko yang kebetulan melihat langsung merampas surat itu.
“Itu surat buat Janah!” teriak Siska.
“Janah nggak butuh surat kayak gini,” kata Joko.
Dia membuka surat itu dan membacanya dengan suara keras di depan kelas.
“Untuk Janah yang cantik. Aku suka sama kamu. Maukah kamu jadi pacarku? Dari Rian kelas 2B.”
Seluruh kelas tertawa. Janah malu setengah mati. Wajahnya merah padam seperti tomat.
“Joko! Kamu jahat!” teriak Janah sambil mengejar Joko.
Joko lari keluar kelas. Janah mengejarnya hingga ke lapangan. Mereka berlarian seperti anak kecil, yang memang masih anak, anak.
“Kembalikan surat itu!” teriak Janah.
“Nggak mau! Surat kayak gini nggak pantas buat lo!”
“Itu hak aku! Bukan hak lo!”
“Gue yang lebih tahu apa yang baik buat lo!”
Akhirnya Joko berhenti di dekat pohon beringin. Dia merobek surat itu menjadi empat bagian lalu melemparkannya ke udara. Kertas, kertas kecil itu terbang diterbangkan angin.
Janah berhenti di depannya. Matanya berkaca, kaca.
“Joko, aku benci kamu,” katanya dengan suara bergetar.
Joko tersenyum tipis. “Lo nggak benci gue, Jan. Lo cuma kesel.”
“Aku benci!” Janah berbalik dan lari ke kelas.
Joko berdiri di bawah pohon beringin, memandangi punggung Janah yang menjauh. Hatinya sakit. Tapi dia lebih sakit membayangkan Janah menerima surat cinta dari anak lain.
“Gue nggak mau kehilangan lo, Jan,” bisiknya. “Biar lo benci gue sekarang. Tapi suatu hari lo bakal ngerti.”
Sementara Joko bergulat dengan perasaan canggungnya, Janah juga mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Setiap kali Joko menjailinya, dia marah. Tapi setiap kali Joko tidak muncul karena sakit, dia justru gelisah.
Suatu malam, Janah tidak bisa tidur. Dia berbaring di tempat tidurnya, memandangi langit, langit rumah yang terbuat dari papan kayu. Dari kejauhan, terdengar suara jangkrik dan sesekali suara perahu motor di sungai.
“Mak, Janah nggak bisa tidur,” kata Janah pada Mak Amin yang sedang menjahit baju di sampingnya.
“Kenapa, Nak?”
“Janah kepikiran sesuatu.”
“Kepikiran apa?”
Janah diam sejenak. Dia tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia bertanya, “Mak, kalau seseorang suka gangguin kita terus, apa artinya?”
Mak Amin berhenti menjahit. Dia menatap putrinya dengan mata penuh arti. “Siapa yang gangguin kamu? Joko?”
Janah mengangguk malu, malu.
Mak Amin tersenyum. “Itu namanya perhatian, Nak. Anak laki, laki kalau suka sama perempuan, kadang mereka bingung cara ngungkapinnya. Ada yang ngasih bunga, ada yang nulis puisi, ada yang ngajak makan. Tapi ada juga yang... jail. Karena mereka nggak berani bilang apa yang mereka rasa.”
“Jadi Joko suka sama Janah?”
“Mungkin. Atau mungkin juga belum tahu. Dia masih kecil. Kamu juga masih kecil. Tapi satu yang pasti, dia nggak pernah tega liat kamu diganggu orang lain, kan?”
Janah mengingat, ingat. Iya, setiap kali ada yang mengganggunya, Joko selalu datang meskipun dengan cara yang khas: main pukul dulu, baru tanya belakangan.
“Janah, Nak,” Mak Amin melanjutkan, “perasaan itu sesuatu yang rumit. Jangan buru, buru dipikirin. Nikmati aja masa kecilmu. Nanti kalau sudah dewasa, semuanya akan jelas.”
“Tapi Janah bingung, Mak. Kadang Janah sebel sama Joko. Tapi kadang Janah kangen kalau nggak ketemu.”
“Itu wajar. Namanya juga sayang.”
“Sayang?”
“Iya. Sayang itu tidak selalu harus romantis. Bisa juga sayang sebagai sahabat.”
Janah mengangguk. Meskipun belum sepenuhnya mengerti, kata, kata ibunya membuatnya sedikit lega.
Jembatan Kapuas di Kuala Kapuas bukanlah jembatan besar seperti Jembatan Tayan atau Jembatan Barito. Jembatan ini terbuat dari besi dan kayu, menghubungkan Kelurahan Selat Tengah dengan Pasar Sari Mulya. Di siang hari, jembatan ini ramai oleh kendaraan roda dua, pedagang asongan, dan anak, anak yang memancing. Di sore hari, jembatan ini berubah menjadi tempat favorit untuk duduk, duduk sambil menikmati angin sungai.
Suatu sore di penghujung kelas 2 SD, Joko mengajak Janah pergi ke Jembatan Kapuas. Bukan ajakan resmi, karena Joko tidak pernah resmi. Dia hanya mampir ke rumah Janah sambil berkata, “Jan, ikut gue ke jembatan. Ada yang mau gue tunjukin.”
Janah yang sedang membaca buku menoleh. “Tunjukin apa?”
“Rahasia. Ayo.”
“Nggak ah. Nanti lo jahilin lagi.”
“Janji nggak.”
Janah menatap Joko lama. Matanya mencari, cari kebohongan. Tapi kali ini, mata Joko berbeda. Ada ketulusan di sana. Janah akhirnya mengangguk.
Mereka berjalan kaki menuju jembatan. Langit sore berwarna jingga keemasan. Bayangan mereka memanjang di aspal. Angin bertiup sepoi, sepoi, membawa bau sungai yang khas: bau lumpur, bau ikan, dan sedikit bau solar dari perahu motor.
Sesampainya di jembatan, Joko membawa Janah ke bagian tengah. Di sana, ada bangku kayu yang biasa dipakai para pemancing. Mereka duduk berdampingan.
“Nah, liat ke bawah,” kata Joko sambil menunjuk ke permukaan sungai.
Janah menunduk. Air Sungai Kapuas yang keruh cokelat bergerak perlahan. Ikan, ikan kecil melompat. “Apa yang harus aku lihat?”
“Bayangan lo.”
“Bayangan aku?”
“Iya. Bayangan lo di air itu. Cantik, kan?”
Janah tersentak. Wajahnya memerah. “Joko, lo ngapain sih?”
“Gue cuma bilang fakta.” Joko mengambil napas panjang. “Jan, gue mau bilang sesuatu.”
“Bilang apa?” Janah mulai gugup.
“Gue... gue suka sama lo.”
Janah membeku. Matanya terbelalak. “Apa?”
“Gue suka sama lo, Jan. Bukan sebagai teman. Tapi lebih dari itu. Gue... gue nggak tahu namanya apa. Tapi setiap kali gue liat lo, dada gue rasanya kayak ada yang terbang. Kupu, kupu, katanya. Gue suka lo.”
Janah terdiam. Hatinya berdebar kencang. Ini pertama kalinya seorang laki-laki, meskipun baru kelas 2 SD, menyatakan perasaan seperti ini. Dia tidak tahu harus berkata apa.
“Joko, kita masih kecil,” katanya akhirnya.
“Gue tahu. Tapi gue nggak mau nunggu sampe gede buat bilang. Siapa tahu ntar lo diambil orang lain.”
“Kita masih SD, Tengil.”
“SD juga boleh suka.”
Janah menggeleng. “Aku nggak mau pacaran. Ibu bilang, pacaran itu dosa kalau belum cukup umur.”
“Gue nggak ngajak pacaran. Gue cuma... ngasih tahu aja.”
Mereka berdua diam. Angin bertiup lebih kencang. Rambut Janah yang diikat dua terurai sedikit. Joko menatap Janah dengan tatapan yang tidak biasa, tatapan yang lembut.
“Jan,” kata Joko lagi.
“Apa?”
“Lo mau nggak... jadi... sesuatu buat gue?”
“Sesuatu apa?”
“Gue nggak tahu. Yang penting, lo jangan jadi milik orang lain.”
Janah tersenyum. “Kamu aneh, Joko.”
“Gue tahu.”
“Tapi... aku nggak benci perasaan itu.”
Joko menoleh cepat. “Maksud lo?”
“Maksudnya, aku nggak tahu apa yang aku rasa. Tapi kalau kamu nggak ada di sampingku, rasanya sepi.”
Joko tersenyum lebar. “Berarti kita sama.”
Mereka berdua tertawa. Anak, anak seusia mereka belum mengerti apa itu cinta. Tapi di atas Jembatan Kapuas sore itu, sesuatu telah dimulai. Sebuah ikatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata, kata.
“Gila. Gue baru sadar setelah bilang gitu. Jantung gue kayak mau copot. Keringet dingin. Tapi lega. Lega banget. Akhirnya gue bilang juga. Gue nggak tahu apakah Janah bakal nolak atau nerima. Tapi gue nggak peduli. Yang penting dia tahu. Dia tahu kalau di dunia ini ada seseorang yang selalu mikirin dia setiap detik. Bahkan saat gue tidur, mimpi gue sering tentang dia. Gue suka bayangin wajahnya, senyumnya, caranya ngejek gue ‘Tengil’. Janah... lo mungkin nggak akan baca surat, surat gue. Tapi gue harap lo tahu, bahwa di jembatan ini, gue mulai jatuh cinta pada lo. Dan gue akan terus mencintai lo, meskipun lo nggak mau. Meskipun dunia bilang kita masih kecil. Gue akan buktikan.”
“Aku harus bilang apa? Joko baru saja mengaku suka. Aku kaget. Tapi... kenapa perasaan ini aneh? Bukan jijik. Bukan marah. Tapi justru... senang. Aku senang. Aku senang dia bilang begitu. Aku senang dia berani. Meskipun dia tengil, meskipun dia jail, meskipun dia sering bikin aku nangis, tapi dia juga selalu ada saat aku butuh. Aku ingat waktu aku sakit, dia datang dengan bubur ayam buatan Mak Dhijah. Aku ingat waktu aku diganggu Irul, dia lawan meskipun badannya kalah besar. Joko... mungkin kamu tidak tahu, tapi aku juga merasakan hal yang sama. Aku hanya belum siap mengaku. Aku masih kecil. Tapi perasaan ini... aku yakin tidak akan hilang. Aku akan simpan dulu. Sampai saatnya nanti.”
Seusai pernyataan cinta yang canggung itu, Joko dan Janah masih duduk di bangku kayu. Kaki mereka menggantung, sesekali menyentuh air. Ikan, ikan kecil berenang di sekitar mereka.
“Jan, lo janji sesuatu sama gue,” kata Joko.
“Apa?”
“Janji kalau lo nggak akan pergi ke mana, mana. Janji kalau lo akan tetap di sini, di Kuala Kapuas, sampai kita gede.”
Janah tersenyum. “Kamu mau ngunci aku di sini?”
“Bukan ngunci. Cuma... gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut suatu hari nanti lo ninggalin gue. Lo kan pinter. Mungkin lo bisa kuliah di kota besar. Sementara gue... gue mungkin cuma jadi montir kayak Bapak. Gue takut lo nanti malu sama gue.”
Janah menatap Joko dalam, dalam. Bocah tengil di depannya ini jarang sekali menunjukkan sisi lemah seperti ini. Biasanya dia selalu berlagak kuat, selalu berlagak tidak peduli. Tapi sore itu, di bawah langit Kapuas yang mulai gelap, Joko terlihat rapuh.
“Joko, aku nggak akan pernah malu sama kamu,” kata Janah perlahan. “Kamu itu... kamu itu orang yang baik. Meskipun kamu suka jail, tapi hatimu baik. Aku tahu itu.”
“Janji?”
“Janji.”
Joko mengulurkan kelingkingnya. “Janji sumpah di atas sungai Kapuas. Siapa yang ingkar, dia jadi buaya.”
Janah tertawa. “Kamu aneh, Tengil.”
“Ayo, janji!”
Janah mengulurkan kelingkingnya. Mereka berkait. Tiga kali.
“Janji,” kata Joko.
“Janji,” kata Janah.
Mereka tidak tahu bahwa janji itu akan diuji berkali, kali di masa depan. Bahwa waktu dan jarak akan mencoba memisahkan mereka. Bahwa ada orang lain yang akan masuk dan keluar dari hidup mereka. Tapi saat itu, di Jembatan Kapuas, mereka hanya dua anak kecil yang saling berjanji dengan polosnya.
Mereka berjalan pulang saat senja mulai berganti malam. Lampu, lampu jalan mulai menyala. Pedagang, pedagang sore mulai bertebaran. Bau sate ayam dan ikan bakar tercium dari arah Pasar Sari Mulya.
Sepanjang perjalanan, mereka tidak bicara. Tapi kaki mereka berjalan seirama. Joko di sebelah kiri, Janah di sebelah kanan. Kadang bahu mereka bersentuhan. Setiap kali itu terjadi, Joko merasakan aliran listrik kecil di sekujur tubuhnya.
Sesampainya di depan rumah, Janah berhenti.
“Tengil.”
“Apa?”
“Besok kita sekolah. Jangan aneh, aneh ya.”
“Maksud lo?”
“Jangan bilang, bilang kalau kita... kamu tahu. Nanti orang pada tahu.”
Joko mengangguk. “Rahasia.”
“Rahasia,” ulang Janah.
Janah masuk ke rumahnya. Joko berdiri di depan pagar cukup lama, sampai lampu kamar Janah menyala. Kemudian dia tersenyum sendiri dan melompat, lompat kecil menuju rumahnya.
Mak Dhijah yang melihat dari jendela hanya bisa geleng, geleng kepala.
“Kamu kenapa, Joko? Kayak orang kesurupan.”
“Nggak, Mak. Joko senang aja.”
“Senang kenapa?”
“Rahasia.”
Joko masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di kasur, memandangi langit, langit kamar. Senyumnya tidak bisa hilang.
Memasuki kelas 3 SD, Joko dan Janah masih duduk sebangku. Tapi Joko menjadi semakin posesif. Setiap kali ada anak laki, laki yang bicara dengan Janah lebih dari lima menit, Joko langsung mendekat dan ikut bergabung, atau lebih tepatnya, mengganggu.
Suatu hari, seorang anak pindahan dari Banjarmasin bernama Reza duduk di belakang Janah. Reza anaknya pintar, baik, dan suka membantu. Janah sering bertanya padanya soal matematika.
Joko tidak suka.
“Jan, kenapa lo suka tanya, tanya sama Reza?” tanya Joko suatu hari.
“Dia pintar. Lagian kamu sendiri kalau ditanya nggak bisa jawab.”
“Gue bisa!”
“Coba, 7 x 8 berapa?”
Joko berpikir keras. “...56?”
“Itu 7 x 8. Kalau 8 x 7?”
“Sama aja, 56.”
“Kalau 9 x 6?”
“...54.”
“Itu jawabannya lama. Reza bisa jawab dalam satu detik.”
Joko cemberut. “Gue nggak suka sama Reza.”
“Karena dia lebih pintar?”
“Bukan. Karena lo terlalu sering senyum sama dia.”
Janah menghela napas. “Joko, kamu ini cemburu buta. Reza itu teman. Aku nggak suka sama dia.”
“Janji?”
“Janji.”
Joko sedikit lega. Tapi tetap saja, setiap kali Janah bicara dengan Reza, dia akan berdiri di antara mereka. Reza hanya bisa tersenyum geli.
Meskipun Joko dikenal sebagai Si Tengil, dia memiliki bakat tersembunyi: melawak dan membuat puisi dadakan. Dia bisa membuat orang tertawa hanya dengan satu kalimat. Dia juga bisa membuat puisi cengeng yang membuat teman, temannya merinding.
Suatu hari, saat pelajaran Bahasa Indonesia, Bu Sri menyuruh setiap anak membuat puisi tentang alam. Joko yang biasanya malas, kali ini menulis dengan serius. Puisi itu berjudul “Sungai Kapuas”.
Sungai Kapuas, engkau mengalir tenang
Membawa perahu dan kenangan
Di tepianmu aku berjanji
Pada seorang perempuan yang menanti
Bukan janji sembarangan
Tapi janji yang terikat kelingking
Biarlah dunia tertawa
Karena cinta tak pandai usia
Bu Sri membaca puisi itu di depan kelas. Semua anak tercengang. Tidak menyangka Joko yang tengil bisa membuat puisi sebagus itu.
“Joko, ini puisi buatanmu sendiri?” tanya Bu Sri.
“Iya, Bu.”
“Tentang siapa?”
“Tentang... sungai.”
Bu Sri tersenyum curiga. Matanya melirik ke Janah yang sedang menunduk malu. “Bagus, Joko. Kamu berbakat jadi pujangga.”
Joko tersenyum bangga. Sepanjang sisa pelajaran, dia tidak bisa berhenti tersenyum. Janah menyenggol sikunya.
“Puisi itu buat aku, ya?” bisik Janah.
“Buat sungai,” jawab Joko.
“Bohong.”
“Buat ikan-ikan di sungai.”
“Joko!”
“Iya, buat lo. Puas?”
Janah tersenyum. “Puisi jelek.”
“Tapi lo seneng.”
“Nggak.”
“Iya.”
Mereka berbisik, bisik sampai Bu Sri menegur.
Di kelas 3 SD, ada seorang anak perempuan bernama Rina yang iri pada Janah. Rina suka pada Joko. Tapi Joko tidak pernah memperhatikannya. Joko hanya fokus pada Janah.
Rina mulai menyebarkan gosip. “Janah itu anak manja. Suka minta dilindungi Joko. Joko itu cuma temannya karena dijodohin orang tua.”
Gosip itu sampai ke telinga Janah. Janah sedih dan menangis di kamar mandi sekolah.
Joko yang mendengar dari temannya langsung mencari Rina.
“Rina, lo bilang apa soal Janah?” tanya Joko dengan mata menyala.
Rina takut. “Aku nggak bilang apa, apa.”
“Bohong! Lo bilang Janah manja. Lo bilang Joko cuma teman karena dijodohin. Itu semua nggak benar!”
“Aku cuma... aku cuma...”
“Dengerin, Rina. Janah itu bukan siapa, siapa gue. Tapi dia teman gue. Dan gue nggak suka ada yang ngomongin dia. Kalau lo berani ngomong lagi, gue laporin ke Bu Sri dan gue bilang ayah gue preman. Lo bisa digebukin.”
Ancaman itu tidak benar, ayah Joko bukan preman, hanya tukang bengkel. Tapi Rina percaya. Sejak saat itu, gosip berhenti.
Janah tahu bahwa Joko yang membelanya. Tapi Joko tidak pernah mengaku.
“Tengil, kamu yang bilangin Rina, ya?” tanya Janah.
“Rina siapa? Gue nggak kenal.”
“Bohong.”
“Terserah.”
Janah tersenyum. “Makasih.”
“Makasih buat apa? Gue nggak ngapa, ngapain.”
Joko berjalan cepat meninggalkan Janah. Tapi di dalam hatinya, dia merasa lega. Janah sudah tidak menangis lagi.
Suatu malam, saat mereka berdua sedang duduk di beranda rumah Mak Amin, Janah berbicara tentang mimpinya.
“Tengil, aku mau jadi sarjana.”
“Sarjana apa?”
“Sarjana Komunikasi. Aku mau bisa bicara di depan banyak orang. Aku mau bisa bikin perubahan.”
“Kok komunikasi?”
“Karena aku suka cerita. Aku suka nulis. Dan aku ingin menyuarakan hal, hal yang penting.”
Joko mendengarkan dengan saksama. “Kamu pasti bisa, Jan. Lo kan pinter.”
“Kamu juga pinter. Tapi kenapa kamu malas belajar?”
“Gue pinter di lapangan. Nggak harus di sekolah.”
“Tapi kalau kamu nggak kuliah, kita bakal beda.”
Joko terdiam. Kata, kata Janah menusuk hatinya. “Maksud lo?”
“Maksudku, aku nanti mungkin kuliah di luar. Sementara kamu di sini. Kita akan terpisah.”
“Nggak usah kuliah di luar. Kuliah aja di Palangkaraya.”
“Tidak. Aku mau kuliah di Jawa. Di UGM.”
“UGM? Universitas Gajah Mada? Itu jauh, Jan.”
“Iya. Tapi itu mimpiku.”
Joko tidak bicara. Dia hanya menatap langit malam di atas Kapuas. Bintang, bintang bertaburan, seolah menertawakannya.
“Kalau itu mimpimu, gue dukung,” kata Joko akhirnya.
“Serius?”
“Serius. Tapi janji, lo balik ke sini. Jangan lupa sama gue.”
“Janji, Tengil. Aku nggak akan lupa.”
Mereka berpelukan. Pelukan anak kecil yang canggung, tapi begitu hangat.
Di akhir kelas 3 SD, suatu sore hujan deras mengguyur Kuala Kapuas. Joko dan Janah terjebak di sekolah karena tidak membawa payung.
Mereka duduk di teras kelas, menunggu hujan reda.
“Tengil, kamu nggak bawa payung?”
“Nggak. Kamu?”
“Nggak.”
“Dasar perempuan, nggak siap.”
“Dasar laki, laki, nyalahin perempuan.”
Mereka tertawa. Hujan terus mengguyur. Deras sekali. Air mulai menggenang di halaman.
“Jan, gue mau bilang sesuatu.”
“Apa lagi?”
“Gue bersyukur dijodohin sama lo.”
Janah terkejut. “Kita dijodohin?”
“Iya. Kata Mak Dhijah, dari perut udah dijodohin.”
“Aku nggak tahu.”
“Sekarang lo tahu. Apa lo nggak masalah?”
Janah berpikir sejenak. “Dulu mungkin masalah. Tapi sekarang... aku nggak masalah.”
“Kenapa?”
“Karena kamu... kamu bukan cowok yang jelek. Kamu tengil, tapi kamu baik.”
Joko tersenyum. Dia mengambil payung tua yang tergantung di dinding kelas. Payung itu bolong di beberapa bagian, tapi masih bisa dipakai.
“Ayo, pulang. Lo bisa nebeng gue.”
“Payungnya bolong.”
“Nggak apa, apa. Yang penting kita basah bareng.”
Janah tertawa. Mereka berdua berlari di bawah hujan dengan payung bolong. Air hujan membasahi seragam mereka. Rambut mereka basah kuyup. Tapi mereka tertawa sepanjang jalan.
Mak Amin dan Mak Dhijah yang melihat dari jendela hanya bisa menggeleng.
“Anak, anak zaman sekarang,” gumam Mak Amin.
“Tapi bahagia, Mak,” sahut Mak Dhijah.
“Iya. Bahagia.”
BAB 5
MASA TRANSISI – SMPN 1 KUALA KAPUAS
Selesai sudah enam tahun masa Sekolah Dasar. Joko dan Janah lulus dengan perasaan yang campur aduk. Joko lulus dengan nilai pas, pasan, cukup untuk naik ke SMP, tidak lebih. Janah lulus sebagai peringkat ketiga di SDN Selat I, dengan nilai rata, rata 8,7.
Upacara perpisahan diadakan di halaman sekolah. Semua anak kelas enam berdiri di bawah terik matahari, memakai baju bebas terbaik mereka. Joko memakai kemeja putih lengan panjang yang agak kusut. Janah memakai baju batik kotak, kotak dan rok panjang.
Bu Sri, guru kelas mereka selama tiga tahun terakhir, berdiri di mimbar. Matanya berkaca, kaca.
“Anak, anakku,” katanya dengan suara bergetar, “kalian sekarang sudah lulus SD. Kalian akan melangkah ke jenjang yang lebih tinggi. Ada yang akan ke SMPN 1, ada yang ke MTsN, ada juga yang ke pondok pesantren. Apapun pilihan kalian, ingatlah bahwa kalian adalah generasi penerus. Jangan pernah menyerah pada mimpi kalian.”
Joko melirik ke arah Janah. Janah sedang menunduk, matanya tampak basah. Joko tahu, Janah selalu mudah menangis dalam situasi seperti ini.
Setelah upacara selesai, semua anak bersalam, salaman dengan guru. Saat giliran Joko, Bu Sri memeluknya.
“Joko, kamu anak yang pintar. Tapi kamu terlalu sering main, main. Di SMP nanti, belajarlah yang sungguh, sungguh.”
“Iya, Bu,” jawab Joko.
“Dan jaga Janah baik, baik,” bisik Bu Sri di telinga Joko.
Joko terperanjat. “Apa, Bu?”
Bu Sri tersenyum. “Ibu bukan buta. Ibu tahu kalian dekat. Dan ibu juga tahu bahwa orang tua kalian sudah menjodohkan kalian. Itu bukan dosa. Tapi ingat, jangan sampai kalian melakukan hal, hal yang dilarang agama. Jaga batasan.”
Joko mengangguk malu, malu. Ini pertama kalinya seorang guru bicara terus terang seperti itu.
Janah juga mendapat pesan serupa dari Bu Sri. “Janah, kamu anak yang baik. Pertahankan itu. Jangan biarkan siapa pun merusak masa depanmu. Termasuk... Joko.”
Janah tersenyum tipis. “Joko tidak akan merusak masa depan saya, Bu. Dia justru melindungi saya.”
Bu Sri mengusap kepala Janah. “Semoga kalian selalu diberkahi.”
SMPN 1 Kuala Kapuas terletak sekitar satu kilometer dari rumah mereka. Bangunannya lebih besar dari SD, dengan dua lantai, laboratorium IPA, perpustakaan, dan lapangan basket. Dindingnya dicat putih kebiruan, dengan papan nama besar di pintu gerbang.
Hari pertama masuk SMP, Joko dan Janah datang bersama seperti biasa. Tapi kali ini ada yang berbeda: mereka tidak sekelas.
Joko masuk ke kelas 1A, sementara Janah masuk ke kelas 1B.
“Kenapa bisa beda kelas?” protes Joko saat melihat pengumuman pembagian kelas.
“Mungkin karena nilai kita beda,” kata Janah diplomatis.
“Nilai gue juga lumayan.”
“Lumayan untuk lulus SD. Tapi untuk masuk 1A, mereka ambil nilai tertinggi. Kamu mungkin masuk urutan kedua.”
“Siapa yang urutan pertama?”
“Aku.”
Joko terdiam. Dia tidak bisa membantah. Janah memang lebih pintar.
“Jadi kita nggak sekelas,” kata Joko dengan nada kecewa.
“Tenang saja. Sekolah kita masih sama. Kita masih bisa ketemu saat istirahat.”
“Tapi nggak setiap saat.”
“Joko, kita sudah besar. Kita nggak bisa selalu bersama setiap waktu. Itu namanya dewasa.”
Joko tidak suka mendengar kata "dewasa". Dewasa baginya berarti berpisah. Dan dia tidak ingin berpisah dari Janah.
Memasuki SMP, perubahan fisik mulai terjadi pada Joko dan Janah. Joko yang dulu kurus kering mulai berisi. Bahunya mulai melebar. Suaranya yang dulu melengking sekarang mulai pecah menjadi lebih berat. Kadang, kadang, saat bicara, suaranya seperti ayam jantan yang baru belajar berkokok.
Janah juga berubah. Tubuhnya mulai berkembang. Pipinya yang dulu chubby sekarang mulai tirus. Rambutnya yang dulu diikat dua sekarang sering dibiarkan tergerai sebahu. Banyak anak laki, laki di sekolah yang mulai meliriknya.
Joko tidak suka dengan perubahan itu. Bukan karena dia tidak suka Janah yang semakin cantik—justru sebaliknya. Dia terlalu suka. Dan rasa suka itu mulai berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih intens, dan lebih berbahaya.
“Tengil, kamu kok diem melulu?” tanya Janah suatu hari saat istirahat.
Mereka sedang duduk di kantin. Joko memegang segelas es teh, Janah memegang risoles.
“Nggak. Gue lagi mikir.”
“Mikir apa?”
“Kok lo makin cantik.”
Janah hampir tersedak. “Apa?”
“Iya. Gue nggak suka. Sekarang banyak cowok yang suka sama lo. Itu bahaya.”
“Bahaya kenapa?”
“Bahaya buat gue.”
Janah menatap Joko dengan mata setengah menyipit. “Joko, kamu aneh.”
“Gue tahu. Tapi gue serius. Gue nggak suka kalau ada cowok lain yang deket, deket sama lo.”
“Kita bukan siapa, siapa, Tengil. Kita cuma teman.”
“Tapi orang tua kita sudah menjodohkan kita.”
“Itu urusan mereka. Kita belum tentu setuju.”
Joko terdiam mendengar itu. Kata, kata Janah seperti pisau yang menusuk dadanya.
“Lo nggak setuju?” tanyanya lirih.
Janah tidak menjawab. Dia hanya memandang ke arah lapangan basket, tempat anak, anak lain bermain.
“Aku belum tahu, Tengil. Aku masih bingung. Aku masih kecil.”
“Kita sudah SMP, Jan. Kita bukan anak kecil lagi.”
“Tapi kita belum dewasa. Aku belum siap memikirkan perjodohan dan pernikahan.”
Joko menghela napas. “Baiklah. Gue nggak maksa. Tapi jangan pernah lupa, Jan. Gue di sini. Selalu.”
“Gila. SMP ternyata nggak seperti yang gue bayangkan. Dulu di SD, semuanya sederhana. Gue jailin Janah, dia nangis, gue lindungi dia, dia seneng. Sekarang? Semua rumit. Tubuh gue berubah. Suara gue aneh. Gue kadang mimpi basah—Maaf, Tuhan. Tapi itu benar. Dan yang lebih parah, gue mulai ngeliat Janah dengan cara yang berbeda. Dulu gue cuma suka karena dia lucu. Sekarang... gue suka karena dia cantik. Gue suka cara dia berjalan, cara dia tersenyum, bahkan cara dia melipat tangan saat mikir. Gue tahu ini mungkin bukan saatnya. Tapi hati gue udah terlanjur. Gue nggak bisa mundur. Gue nggak mau mundur. Janah... lo mungkin belum siap. Tapi gue akan nunggu. Sampai kapan pun.”
“Aku takut. Bukan takut sama Joko. Tapi takut sama perasaanku sendiri. Setiap kali dia memandangku, aku merasakan sesuatu yang hangat di dadaku. Setiap kali dia berkata, ‘Gue di sini, selalu,’ aku ingin menangis bahagia. Tapi aku juga tahu bahwa kami masih terlalu muda. Aku punya mimpi besar. Aku ingin kuliah, aku ingin menjadi sarjana, aku ingin membuat orang tuaku bangga. Aku takut jika aku terlarut dalam perasaan ini, aku akan kehilangan fokus. Joko... maafkan aku jika kadang aku bersikap dingin. Aku hanya berusaha melindungi hatiku. Dan juga hatimu. Karena jika kita memulai sesuatu yang tidak bisa kita selesaikan, kita berdua yang akan terluka.”
SMP adalah masa di mana Joko mulai terlibat dalam "premanisme remaja". Bukan preman sungguhan—dia tidak merampok atau memalak, tapi dia mulai dikenal sebagai anak yang "ngerii" di lingkungan sekolah.
Semuanya bermula ketika seorang kakak kelas dari 2C mencoba menggoda Janah. Kakak kelas itu bernama Boy, anaknya gede, suka ngerokok di belakang kelas, dan terkenal suka gonta, ganti pacar.
Suatu hari, Boy mendekati Janah saat jam istirahat. “Cantik, namanya siapa?” tanya Boy dengan senyum miring.
Janah yang sedang membaca buku di perpustakaan tidak mengangkat muka. “Siti Nurjanah. Ada perlu?”
“Nggak. Cuma pengen kenalan. Kamu kelas 1B ya?”
“Iya.”
“Kamu pacar siapa?”
“Tidak punya pacar.”
“Bagus dong. Mau jadi pacarku?”
Sebelum Janah menjawab, Joko yang kebetulan lewat dan mendengar percakapan itu langsung masuk ke perpustakaan.
“Eh, Bang Boy. Janah itu punya siapa,” kata Joko.
Boy menoleh. Matanya menyipit. “Kamu siapa? Bocah 1A?”
“Iya. Gue Joko.”
“Kenalan Janah?”
“Lebih dari itu.”
Boy tertawa. “Lebih dari itu apanya? Pacar?”
“Bukan. Tapi gue yang jagain dia.”
“Jagain? Badan lo kayak lidi. Mau jagain apa?”
Joko tidak terpancing. “Bang Boy, gue hormat sama abang. Tapi jangan coba, coba deketin Janah. Gue nggak mau ribut.”
Boy berdiri. Badannya jauh lebih besar dari Joko. “Lo ngancem gue, Bocah?”
“Bukan ngancem. Gue cuma ngasih tahu.”
Semua anak di perpustakaan terdiam. Suasana tegang.
Janah menarik tangan Joko. “Tengil, sudah. Jangan ribut.”
Joko menatap Boy beberapa detik, lalu berbalik dan pergi. Boy cuma tertawa.
Tapi kejadian itu tidak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya, Boy dan teman, temannya menunggu Joko di belakang sekolah. Mereka mengeroyok Joko. Joko melawan meskipun babak belur. Dia tidak menang, tapi dia juga tidak menyerah.
Setelah kejadian itu, Joko dikenal sebagai "anak keras kepala". Boy dan gengnya tidak pernah lagi mendekati Janah. Bukan karena takut pada Joko, tapi karena mereka malas berurusan dengan bocah gila yang tidak takut mati itu.
Janah menjenguk Joko di rumah setelah kejadian itu. Wajah Joko lebam, bibirnya pecah, dan matanya bengkak.
“Tengil, kamu bodoh,” kata Janah sambil membersihkan luka di pipi Joko dengan kapas.
“Nggak apa, apa. Yang penting Boy nggak bakal ganggu lo lagi.”
“Aku nggak minta kamu berkelahi demi aku.”
“Gue nggak berkelahi demi lo. Gue berkelahi demi prinsip.”
“Prinsip apaan?”
“Prinsip bahwa gue nggak suka ada yang ganggu orang yang gue sayang.”
Janah terdiam. Tangannya bergetar saat menyentuh luka Joko.
“Sakit, nggak?” tanyanya lirih.
“Sakit. Tapi nggak sesakit saat lo ngomong kita cuma teman.”
Janah tidak menjawab. Dia terus membersihkan luka Joko dengan air mata yang mulai mengalir.
Seiring berjalannya waktu, Janah semakin populer di sekolah. Dia cantik, pintar, dan baik hati. Banyak anak laki, laki yang ingin dekat dengannya. Ada yang menyatakan suka lewat surat, ada yang langsung di depan kelas, ada juga yang mengirimkan hadiah melalui teman.
Joko membaca semua surat itu. Dia merampasnya dari tas Janah setiap kali ada kesempatan. Janah marah, tapi Joko tidak peduli.
“Itu hak aku, Tengil! Surat, surat itu untuk aku!”
“Lo nggak butuh surat kayak gini. Isinya nggak penting.”
“Itu tetap hak aku!”
“Gue lebih tahu apa yang baik buat lo.”
“Kamu bukan ayahku!”
Pertengkaran itu terjadi di lorong sekolah. Banyak anak yang melihat. Joko dan Janah bertengkar hebat untuk pertama kalinya sejak mereka kecil.
“Janah, lo pikir gue seneng jadi kayak gini? Lo pikir gue seneng baca surat, surat itu dan ngerasa makin nggak percaya diri? Tiap ada cowok yang deketin lo, rasanya kayak ada yang nyekik jantung gue.”
“Itu masalah kamu, bukan masalah aku. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan orang lain.”
“Tapi lo bisa ngendaliin diri lo sendiri! Tolong dong, Jan, jangan terlalu ramah sama mereka. Kasih batasan.”
“Aku sudah kasih batasan! Tapi aku tidak bisa bersikap kasar seperti kamu.”
“Jadi gue yang salah?”
“Kamu salah karena posesif!”
Joko membanting salah satu surat ke lantai. “Baiklah. Kalau gitu, gue nggak peduli lagi. Suka, suka lo mau deket sama siapa. Gue nggak peduli.”
Dia pergi meninggalkan Janah. Janah berdiri di lorong, menangis.
Tapi keesokan harinya, Joko kembali ke kantin dengan membawa dua bungkus nasi goreng. Dia meletakkan satu di depan Janah.
“Maaf,” katanya singkat.
“Maaf buat apa?”
“Maaf karena marah, marah.”
“Kamu masih cemburu?”
“Iya. Tapi gue belajar untuk... mengendalikan.”
Janah tersenyum. Dia mengambil nasi goreng itu dan mulai makan. “Nasi gorengnya enak.”
“Dari kantin Bu Yati. Lo suka kan?”
“Suka.”
Mereka makan bersama. Tidak banyak bicara. Tapi di antara mereka, ada kedamaian yang sudah lama tidak dirasakan.
Rudi adalah sahabat dekat Joko sejak SD. Mereka satu geng, sering berkelahi bersama, sering nongkrong di warung kopi, dan sering berbagi cerita tentang cinta. Rudi tahu semua perasaan Joko pada Janah. Joko cerita semuanya: dari janji di Jembatan Kapuas, hingga rasa cemburu butanya.
Tapi suatu hari, Joko menemukan sesuatu yang menghancurkannya.
Saat jam istirahat, Joko sedang berjalan menuju perpustakaan untuk mencari Janah. Dia ingin mengajak Janah makan siang. Tapi saat melewati lorong belakang laboratorium, dia melihat dua orang yang sedang berbisik, bisik.
Rudi dan Janah.
Joko berhenti di balik tembok. Dia mendengar pembicaraan mereka.
“Janah, aku suka sama kamu,” kata Rudi.
“Apa?” Janah terkejut.
“Aku suka sama kamu. Sudah lama. Tapi aku nggak berani bilang karena Joko.”
“Rudi, kamu tahu Joko suka sama aku. Kamu sahabatnya.”
“Aku tahu. Tapi aku nggak bisa nahan perasaan ini. Joko belum tentu jadi apa, apa buat kamu. Orang tua kalian mungkin menjodohkan, tapi itu nggak mengikat.”
“Rudi, aku minta maaf. Tapi aku tidak bisa membalas perasaanmu.”
“Karena Joko?”
“Bukan hanya karena Joko. Tapi karena aku juga belum siap. Aku fokus pada pelajaran.”
Joko mendengar semuanya. Dadanya terasa seperti dihantam palu. Sahabatnya sendiri mengkhianatinya.
Dia keluar dari persembunyiannya. “Rudi.”
Rudi dan Janah menoleh. Wajah Rudi pucat pasi.
“Jok... gue...”
“Lo sahabat gue. Gue cerita semuanya ke lo. Tentang Janah, tentang perasaan gue. Dan lo melakukan ini di belakang gue?”
“Jok, gue minta maaf...”
Joko mengepalkan tangannya. Dia ingin memukul Rudi. Tapi Janah berdiri di antara mereka.
“Tengil, jangan!”
“Jan, minggir! Ini urusan gue sama dia!”
“Bukan! Ini juga urusanku! Rudi salah, tapi kekerasan tidak akan menyelesaikan apapun!”
Joko terdiam. Dia menatap Janah, lalu menatap Rudi. Akhirnya dia berbalik dan pergi.
Sejak saat itu, persahabatan Joko dan Rudi hancur. Mereka tidak pernah bicara lagi. Rudi pindah sekolah di semester berikutnya.
Meskipun Joko selalu menganggap dirinya pelindung Janah, pada kenyataannya Janah juga sering melindungi Joko. Terutama saat Joko mulai terlibat masalah dengan geng, geng sekolah.
Suatu hari, Joko terlibat tawuran dengan geng dari SMPN 2. Bukan karena masalah besar—hanya karena salah paham di lapangan futsal. Tapi tawuran itu cukup serius. Joko dan teman, temannya kalah jumlah. Mereka terdesak di gang dekat pasar.
Janah yang kebetulan lewat melihat keributan itu. Tanpa pikir panjang, dia berlari ke tengah kerumunan.
“BERHENTI!” teriak Janah dengan suara yang menggelegar.
Semua orang berhenti. Mereka terkejut melihat seorang perempuan berdiri di antara anak laki, laki yang siap berkelahi.
“Janah! Lo ngapain?” teriak Joko.
“Aku menyelamatkan kamu, bodoh!”
Janah menatap ketua geng dari SMPN 2. “Kalian cari masalah? Aku lapor polisi! Ayahku polisi! Kalian bisa ditahan!”
Ancaman itu bekerja. Geng dari SMPN 2 mundur sambil mengumpat. Joko dan teman, temannya selamat.
Di perjalanan pulang, Joko berjalan di belakang Janah. Dia tidak bicara.
“Tengil,” kata Janah.
“Apa?”
“Kamu itu bandel. Tapi aku nggak tega liat kamu babak belur.”
“Gue nggak minta lo tolong.”
“Tapi aku tetap tolong. Karena aku sayang sama kamu.”
Joko berhenti melangkah. “Lo bilang apa?”
Janah juga berhenti. Dia tidak menoleh. “Aku bilang, aku sayang sama kamu. Sebagai teman. Atau mungkin lebih. Aku nggak tahu. Tapi aku nggak mau kehilangan kamu.”
Joko mendekat. Dia ingin memeluk Janah dari belakang. Tapi tangannya ragu.
“Jan,” bisiknya.
“Apa?”
“Makasih.”
“Sama, sama, Tengil.”
Mereka berjalan pulang berdampingan. Langit sore berwarna oranye. Angin dari sungai membawa kesejukan.
Memasuki kelas 2 SMP, perasaan Joko dan Janah semakin rumit. Mereka seperti dua kutub magnet yang saling tarik, menarik, tapi juga kadang tolak, menolak.
Joko sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya. Dia sering mengirim puisi, puisi cengeng ke Janah, ditulis di kertas buku tulis, dilipat rapi, lalu diselipkan di buku catatan Janah.
Janah membaca semua puisi itu. Dia menyimpannya di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya. Tapi dia tidak pernah membalas.
“Kenapa lo nggak pernah balas puisi gue?” tanya Joko suatu hari.
“Karena aku nggak pandai menulis puisi.”
“Lo nggak usah nulis puisi. Cukup bilang ‘aku juga’.”
Janah tertawa. “Kamu itu aneh, Tengil.”
“Gue serius.”
“Aku tahu. Tapi aku belum bisa bilang ‘aku juga’. Bukan karena aku tidak merasakan apa, apa. Tapi karena aku belum siap.”
“Kapan lo siap?”
“Nanti. Saat kita sudah lebih dewasa. Saat kita sudah tahu apa yang kita inginkan.”
Joko terdiam. Dia tidak suka menunggu. Tapi untuk Janah, dia rela.
Suatu malam, keluarga Janah mengadakan acara syukuran di rumah. Mak Amin mengundang keluarga Joko. Mereka makan bersama, bercerita, dan bernyanyi lagu, lagu lama.
Di sela, sela acara, Janah membawa Joko ke halaman belakang. Mereka duduk di kursi kayu di bawah pohon rambutan.
“Tengil, aku dapat informasi tentang program Bidik Misi,” kata Janah.
“Bidik Misi apa?”
“Program dari pemerintah untuk anak, anak kurang mampu agar bisa kuliah di perguruan tinggi negeri. Biayanya gratis. Aku ingin coba daftar setelah SMP nanti.”
“Di mana?”
“Di Jawa. Universitas Gadjah Mada.”
Joko terdiam. Dia sudah mendengar tentang UGM dari gurunya. Itu universitas terbaik di Indonesia, katanya.
“Jauh sekali, Jan.”
“Iya. Tapi itu kesempatan bagus. Keluarganya tidak mampu membiayai kuliahku. Ini satu, satunya jalan.”
“Lo yakin?”
“Yakin. Aku sudah bicara dengan Ibu. Ibu mendukung.”
Joko memandang langit malam. Bintang, bintang terlihat begitu jauh, seperti masa depan yang tidak pasti.
“Kalau itu yang terbaik buat lo, gue dukung,” kata Joko akhirnya.
“Makasih, Tengil.”
“Tapi janji, lo nggak lupa sama gue.”
“Janji.”
Mereka berpelukan di bawah pohon rambutan. Pelukan yang hangat, namun terasa pahit.
Menjelang akhir kelas 2 SMP, Joko mengajak Janah ke Jembatan Kapuas lagi. Tempat yang sama. Suasana yang sama. Langit senja yang sama.
Mereka duduk di bangku kayu yang dulu. Kaki mereka menggantung di atas air.
“Jan, inget dulu kita di sini pertama kali?” tanya Joko.
“Inget. Kamu bilang suka sama aku.”
“Iya. Dan sekarang, gue minta janji lagi.”
“Janji apa?”
“Janji kalau lo lulus nanti, lo akan kuliah. Tapi setelah lulus, lo balik ke sini. Ke Kapuas. Ke gue.”
Janah menatap Joko. Matanya berkaca, kaca. “Joko, aku nggak tahu masa depan. Aku nggak tahu apakah aku akan lulus Bidik Misi. Aku nggak tahu apakah aku akan kuliah di UGM. Tapi satu yang aku tahu: aku akan selalu ingat tempat ini. Aku akan selalu ingat kamu.”
“Itu belum janji.”
“Baiklah. Aku janji. Setelah lulus kuliah, aku akan kembali ke Kapuas. Dan kita akan bertemu di sini lagi. Di Jembatan Kapuas ini. Di tempat yang sama.”
Joko tersenyum. Dia mengulurkan kelingkingnya.
“Janji sumpah di atas sungai Kapuas.”
“Siapa ingkar jadi buaya.”
Mereka berkait kelingking. Tiga kali.
Langit Kapuas sore itu berwarna ungu keemasan. Sungai mengalir tenang. Burung, burung terbang berpasangan.
Mereka tidak tahu bahwa perjalanan masih panjang. Bahwa ujian sesungguhnya belum datang. Bahwa jarak dan waktu akan mencoba meruntuhkan semua janji.
Tapi saat itu, di atas Jembatan Kapuas, dua anak remaja berjanji dengan segenap hati.
Dan langit Kapuas menjadi saksi bisu.
BAB 6
COWOK TENGIL JATUH CINTA
Memasuki kelas 3 SMP, Joko Prayitno berusia lima belas tahun. Tubuhnya tidak lagi kurus kering seperti di SD. Dia mulai berisi, tidak gemuk, tapi lebih berotot. Bahunya melebar. Wajahnya yang dulu bulat kini mulai tirus, dengan garis rahang yang mulai terbentuk. Dia masih tergolong pendek untuk ukuran anak seusianya, tapi posturnya tegap.
Namun perubahan fisik itu tidak sebanding dengan perubahan di dalam hatinya.
Joko jatuh cinta. Bukan cinta anak, anak seperti dulu. Tapi cinta yang sesungguhnya. Cinta yang membuatnya terjaga di malam hari. Cinta yang membuatnya menulis puisi dengan keringat dingin. Cinta yang membuatnya rela melakukan apapun, termasuk berkelahi, termasuk mempermalukan dirinya sendiri, termasuk mengorbankan harga dirinya, asalkan Janah tersenyum.
“Lo kenapa sih, Tengil? Melengos terus,” kata Janah suatu pagi saat mereka berjalan ke sekolah.
Mereka masih berangkat bersama, meskipun sekarang sudah kelas 3 SMP dan punya banyak teman. Kebiasaan itu tidak pernah berubah. Setiap pagi, pukul setengah enam, Joko sudah berdiri di depan pagar rumah Janah. Kadang sambil bersiul, kadang sambil memainkan batu dengan kakinya.
“Gue nggak melengos. Gue lagi mikir,” jawab Joko.
“Mikir apa?”
“Mikir... masa depan.”
Janah tertawa. “Kamu? Mikir masa depan? Biasanya kamu mikirnya besok mau jahilin siapa.”
“Itu dulu. Sekarang gue serius.”
“Serius sama siapa?”
Joko berhenti melangkah. Dia menatap Janah. Matanya serius. “Sama lo.”
Janah merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Dia sudah sering mendengar pernyataan seperti ini dari Joko. Tapi setiap kali, rasanya tetap sama: campuran antara gugup, bahagia, dan takut.
“Joko, kita masih SMP,” katanya akhirnya.
“Gue tahu. Tapi perasaan gue nggak peduli dengan status SMP atau SMA atau kuliah. Gue cinta lo, Jan. Itu fakta.”
“Kamu sudah bilang itu berkali, kali.”
“Dan gue akan bilang itu setiap hari sampai lo percaya.”
Janah menghela napas. Dia melanjutkan berjalan. Joko mengikuti di sampingnya.
“Tengil,” kata Janah tanpa menoleh.
“Apa?”
“Aku percaya kok. Aku percaya kamu cinta sama aku. Tapi...”
“Tapi apa?”
“Tapi cinta saja tidak cukup. Ada banyak hal yang harus kita pikirkan. Sekolah, masa depan, keluarga, mimpi, mimpi kita.”
“Itu semua nanti. Yang penting sekarang kita bersama.”
Janah berhenti. Dia menatap Joko. “Kita belum bersama, Tengil. Kita berteman.”
“Tapi lo sayang gue, kan?”
Janah tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan melanjutkan berjalan.
Joko mengikuti dari belakang. Di dalam hatinya, dia berkata, “Lo sayang gue, Jan. Gue tahu itu. Lo cuma belum siap ngaku.”
Janah berulang tahun yang ke, 15 pada bulan Maret. Dia tidak pernah merayakan ulang tahun secara besar, besaran. Biasanya hanya makan bersama keluarga, dapat kue bolu dari Mak Amin, dan mungkin dapat ucapan dari beberapa teman.
Tapi tahun ini berbeda. Joko menyiapkan kejutan.
Dia tidak punya uang banyak. Uang jajannya hanya Rp5.000 per hari. Tapi dia menabung selama tiga bulan. Dia tidak pernah jajan di kantin, tidak pernah beli permen, tidak pernah beli rokok (meskipun sudah mulai coba, coba). Semua uangnya dia simpan dalam celengan bambu di kamarnya.
Tiga bulan kemudian, saat celengannya penuh, dia memecahkannya. Uangnya terkumpul Rp150.000.
Dengan uang itu, dia membeli hadiah: sebuah buku diary berwarna biru muda dengan gembok kecil, dan sebuah gelang tali persahabatan yang dibuat sendiri.
Dia juga membeli kue bolu kecil di toko kue langganan Mak Dhijah. Bolu pandan dengan krim mentega.
Sore itu, setelah pulang sekolah, Joko meminta bantuan Mak Dhijah untuk menghias ruang tamu dengan balon, balon bekas yang masih tersisa dari ulang tahun adiknya.
“Buat apa ini, Joko?” tanya Mak Dhijah.
“Buat kejutan, Mak. Janah ultah.”
Mak Dhijah tersenyum. “Kamu sayang sama Janah, ya?”
Joko tersenyum malu. “Iya, Mak.”
“Sudah bilang?”
“Sudah. Tapi dia belum mau.”
“Sabarlah, Nak. Wanita itu butuh waktu. Janah anaknya baik. Dia nggak akan main, main dengan perasaan.”
“Joko tahu, Mak. Itu sebabnya Joko nunggu.”
Mak Dhijah mengusap kepala Joko. “Anak ibu sekarang sudah dewasa.”
Ketika Janah pulang, dia terkejut melihat rumah Joko terang dengan balon, balon warna, warni. Mak Dhijah memintanya masuk.
“Ada apa, Mak Dhijah?” tanya Janah bingung.
“Masuk saja, Nak.”
Janah masuk ke ruang tamu. Lampu mati. Hanya ada lilin, lilin kecil yang menyala di atas meja. Di tengah ruangan, Joko berdiri sambil memegang kue bolu dengan satu lilin menyala di atasnya.
“Selamat ulang tahun, Jan,” kata Joko dengan suara serak.
Janah terperangah. Matanya berkaca, kaca. “Tengil... kamu...”
“Jangan nangis. Ntar kuenya kebasahan.”
“Kamu repot-repot begini buat aku?”
“Iya. Lo berharga buat gue.”
Janah memeluk Joko. Tanpa berpikir. Tanpa gengsi. Tanpa ketakutan. Dia hanya memeluknya erat, erat.
Joko terkejut. Badannya kaku. Ini pertama kalinya Janah memeluknya dengan inisiatif sendiri.
“Jan...”
“Diam. Jangan bicara. Biarkan aku memelukmu sebentar.”
Joko diam. Dia merasakan hangatnya tubuh Janah. Dia merasakan detak jantung Janah yang berdebar kencang. Dia merasakan rambut Janah yang wangi karena sampo.
Saat itu, dia ingin waktu berhenti.
“Gue nggak tahu harus bilang apa. Janah memeluk gue. Dengan inisiatif sendiri. Itu pertama kali dalam sejarah. Biasanya gue yang harus memulai. Tapi malam ini, dia yang memeluk gue. Rasanya... gila. Kayak ada listrik mengalir ke seluruh tubuh gue. Gue nggak bisa tidur. Gue masih merasakan hangatnya pelukannya. Gue masih mencium wangi rambutnya. Jan... lo mungkin nggak tahu. Tapi malam ini, lo bikin gue makin yakin. Bahwa gue nggak salah pilih. Bahwa gue akan berjuang untuk lo. Sampai kapan pun.”
“Aku memeluknya. Tanpa berpikir. Begitu melihat kue dan lilin dan balon, balon itu, hatiku terasa begitu hangat. Joko... dia tidak pernah berhenti membuatku terkejut. Dia sering jail, sering bikin aku marah, sering bikin aku nangis. Tapi dia juga selalu ada saat aku butuh. Aku tidak tahu apakah ini cinta. Tapi satu yang aku tahu: dunia terasa lebih indah saat dia ada di sampingku. Aku takut. Aku takut jika aku mengakui perasaanku, semuanya akan berubah. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, aku tidak ingin berpikir. Aku hanya ingin merasakan.”
Setelah kejutan ulang tahun itu, Joko semakin rajin menulis puisi. Setiap malam, setelah membantu Mak Dhijah membersihkan rumah dan mencuci piring, dia duduk di meja belajarnya, meja kayu lapuk yang dulunya milik kakaknya dan menulis.
Dia menulis tentang Janah. Tentang matanya yang hitam pekat. Tentang senyumnya yang manis. Tentang caranya melipat tangan ketika sedang berpikir. Tentang caranya mengucapkan kata "Tengil" dengan nada setengah kesal setengah sayang.
Dia menyimpan semua puisi itu di dalam map plastik di bawah kasurnya. Tidak berani memberikannya pada Janah. Hanya untuk dibaca sendiri di malam hari, sebelum tidur.
Suatu malam, Mak Dhijah masuk ke kamar Joko tanpa mengetuk.
“Joko, ibu mau ambil jemuran di belakang, pinjam senter...”
Mak Dhijah berhenti. Dia melihat Joko sedang menulis sesuatu.
“Kamu nulis apa, Nak?”
Joko buru, buru menyembunyikan kertasnya. “Nggak apa, apa, Mak.”
“Jangan bohong. Ibu lihat.”
“Cuma... puisi, Mak.”
“Puisi? Buat siapa?”
Joko tersenyum malu. “Buat Janah.”
Mak Dhijah mendekat. Dia duduk di tepi tempat tidur Joko. “Boleh Ibu baca?”
Joko ragu. Tapi akhirnya dia memberikan kertas itu.
Mak Dhijah membaca puisi Joko dengan seksama. Matanya berbinar.
Janah...
Namamu seperti aliran sungai Kapuas
Mengalir tenang namun tak pernah berhenti
Membawa perahuku yang rapuh
Ke pelabuhan yang bernama hatimu
Janah...
Aku bukan pujangga
Hanya bocah tengil yang tak tahu malu
Tapi cintaku padamu
Sejuta kali lebih nyata dari puisi mana pun
Mak Dhijah menangis. “Joko, ini indah sekali.”
“Mak nangis?”
“Iya. Ibu bangga. Kamu bukan hanya tengil. Kamu juga peka.”
Joko tersipu. “Jangan bilang Janah, ya, Mak.”
“Kenapa? Seharusnya dia tahu.”
“Nanti dulu, Mak. Belum waktunya.”
Mak Dhijah mengangguk. “Baiklah. Tapi suatu hari, berikan puisi, puisi ini padanya. Dia akan menghargainya.”
Di SMP, memiliki "pacarku" adalah status sosial. Semua anak ingin punya pasangan. Mereka yang tidak punya sering diejek "kesepian" atau "ndeso".
Joko dan Janah adalah bahan gunjingan favorit. Semua teman tahu bahwa Joko suka pada Janah. Dan semua teman juga tahu bahwa Janah sebenarnya juga suka pada Joko, meskipun dia tidak pernah mengaku.
Suatu hari, sekelompok teman Janah, Siska, Mira, dan Dewi, membuat konspirasi. Mereka ingin "memaksa" Janah mengakui perasaannya pada Joko.
Caranya: mereka membuat surat kaleng. Surat itu ditulis seolah, olah dari seorang anak laki, laki anonim yang menyatakan cinta pada Janah. Isinya dibuat bombastis, romantis, dan sedikit berlebihan.
Surat itu mereka letakkan di dalam buku Janah saat jam olahraga.
Janah menemukan surat itu saat pelajaran terakhir. Dia membacanya. Wajahnya merah padam.
“Siapa yang kirim ini?” tanyanya pada Siska.
“Nggak tahu, Jan. Mungkin Joko?”
“Joko tidak akan menulis seperti ini. Joko menulis puisi, bukan surat kayak gini.”
“Coba tanya saja.”
Saat pulang sekolah, Janah menghampiri Joko. “Tengil, ini surat dari kamu?”
Joko membaca surat itu. Isinya: “Untuk Janah yang cantik bagai bidadari. Aku rahasia yang mencintaimu dari kejauhan. Jikalau kau mau, temui aku di belakang laboratorium besok sore. Aku akan menunggumu.”
“Bukan,” kata Joko singkat. “Gue nggak nulis kayak gini. Bahasanya norak.”
“Lalu siapa?”
“Nggak tahu. Tapi lo jangan datang. Bisa jebakan.”
Janah mengangguk. Tapi keesokan harinya, karena penasaran, dia tetap datang ke belakang laboratorium.
Joko yang curiga mengikuti dari kejauhan.
Ternyata, yang menunggu bukan anak laki, laki. Tapi Siska, Mira, dan Dewi.
“Selamat! Kamu berhasil lulus ujian!” teriak mereka.
Janah bingung. “Ujian apa?”
“Ujian kejujuran. Kamu ternyata nggak datang karena Joko. Kamu datang karena penasaran sendiri. Itu artinya... kamu nggak tergantung sama Joko.”
Janah menghela napas. “Kalian ini aneh.”
“Tapi yang lebih aneh,” kata Siska sambil tersenyum misterius, “kenapa Joko ikut, ikutan datang?”
Joko yang sedang bersembunyi di balik pohon nangka langsung terkejut. Dia keluar dari persembunyiannya. Wajahnya merah.
“Gue... gue cuma lewat,” katanya.
“Lewat? Belakang laboratorium? Saat jam pelajaran? Bohong!”
Semua tertawa. Joko dan Janah saling pandang. Wajah mereka sama, sama merah.
“Kalian jodoh deh,” kata Mira.
“Iya, cepet pacaran aja,” tambah Dewi.
Joko dan Janah tidak menjawab. Tapi di dalam hati, mereka tahu: teman, teman mereka tidak sepenuhnya salah.
Memasuki semester akhir kelas 3 SMP, suasana berubah. Ujian Nasional (UN) tinggal tiga bulan lagi. Semua anak sibuk belajar. Bimbingan belajar diadakan di sekolah setiap sore. Buku, buku latihan soal laris manis di toko buku.
Janah belajar mati, matian. Targetnya: nilai UN tertinggi di kecamatan. Dia ingin masuk SMA favorit, dan kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi negeri lewat Bidik Misi.
Joko? Dia belajar sebisanya. Tapi hatinya tidak tenang. Dia tahu, jika Janah lulus dengan nilai bagus, peluang Janah untuk meninggalkan Kapuas semakin besar. Dan itu artinya, mereka akan berpisah.
“Jan, lo yakin nggak mau ambil SMA di sini aja?” tanya Joko suatu hari.
Mereka sedang belajar bersama di perpustakaan sekolah. Buku matematika terbuka di depan mereka. Tapi pikiran Joko bukan pada rumus aljabar.
“Aku mau ambil SMAN 1 Kuala Kapuas. Itu kan di sini,” jawab Janah.
“Iya. Tapi setelah SMA? Lo bilang mau Bidik Misi.”
“Itu masih lama, Tengil. Dua setengah tahun lagi.”
“Tapi cepat atau lambat, lo bakal pergi.”
Janah menutup bukunya. Dia menatap Joko. “Kamu takut?”
Joko mengangguk. “Gue takut. Gue takut lo lupa sama gue. Gue takut lo ketemu cowok Jawa yang lebih pinter, lebih kaya, lebih tampan. Gue takut lo sadar kalau gue cuma anak Kapuas yang biasa aja.”
Janah menggenggam tangan Joko. Tangan mereka bertaut di atas meja perpustakaan.
“Joko, dengarkan aku. Aku tidak akan pernah lupa sama kamu. Kamu adalah bagian terpenting dalam hidupku. Kamu adalah orang yang membuat masa kecilku berwarna. Kamu adalah... kamulah Joko Prayitno. Si Tengil. Tidak ada yang bisa menggantikanmu.”
“Itu sekarang, Jan. Tapi masa depan nggak pasti.”
“Masa depan tidak pasti, itu benar. Tapi perasaanku padamu... itu pasti.”
Joko menatap Janah. Matanya berkaca, kaca. “Lo serius?”
“Aku serius.”
“Jadi lo cinta sama gue?”
Janah tersenyum. “Aku belum bilang cinta. Tapi aku... aku sayang. Lebih dari teman. Tapi aku belum siap pacaran. Belum siap untuk status. Yang aku tahu, saat ini, kamu adalah orang yang paling berarti dalam hidupku.”
Joko tersenyum. Senyum terbesarnya. “Itu sudah cukup, Jan. Itu sudah lebih dari cukup.”
Minggu, minggu terakhir sebelum UN, Joko melakukan sesuatu yang tidak pernah diduga siapa pun: dia belajar dengan gila, gilaan.
Setiap malam, dia duduk di meja belajarnya hingga jam sepuluh. Dia meminta bantuan Janah untuk mengajarinya matematika dan IPA. Dia menghafal rumus, rumus fisika dengan suara keras sampai Mak Dhijah protes.
“Kamu kenapa, Joko? Demam?” tanya Mak Dhijah.
“Nggak, Mak. Joko mau nilainya bagus.”
“Untuk apa?”
“Untuk... sesuatu.”
Joko tidak bilang. Tapi Janah tahu. Joko ingin membuktikan bahwa dia tidak bodoh. Bahwa dia layak untuk Janah. Bahwa meskipun dia hanya anak bengkel, dia punya potensi.
Saat pengumuman UN keluar, semua orang terkejut.
Joko Prayitno mendapat nilai 8,2 untuk matematika, 8,0 untuk IPA, dan 7,8 untuk Bahasa Indonesia. Nilai tertinggi di kelasnya untuk matematika dan IPA.
“Joko! Kamu hebat!” teriak Janah sambil melompat, lompat.
Joko tersenyum tipis. “Ini karena lo.”
“Karena aku?”
“Iya. Lo yang ngajarin gue. Lo yang nggak pernah bosan walau gue bego.”
“Kamu nggak bego. Kamu cuma malas.”
“Sekarang gue nggak malas lagi.”
Mereka berpelukan di depan papan pengumuman. Semua teman bersorak. Pak Darmawan, guru matematika, menghampiri Joko dan menjabat tangannya.
“Joko, saya bangga sama kamu. Kamu membuktikan bahwa anak nakal sekalipun bisa berprestasi.”
“Terima kasih, Pak.”
Pak Darmawan menatap Joko dan Janah bergantian. “Jangan sia, siakan masa depanmu. Kalian berdua punya potensi besar.”
Upacara perpisahan kelas 3 SMPN 1 Kuala Kapuas diadakan di Aula sekolah. Semua anak memakai baju terbaik. Joko memakai kemeja batik lengan panjang pinjaman dari Bapak Sarimin. Janah memakai baju warna kuning gading dengan rok panjang.
Ada sambutan dari kepala sekolah, perwakilan orang tua, dan perwakilan siswa.
Janah terpilih sebagai perwakilan siswa. Dia berdiri di mimbar dengan suara bergetar.
“Bapak, Ibu guru, teman, teman yang saya cintai. Tiga tahun di SMPN 1 bukanlah waktu yang singkat. Kita telah melewati suka dan duka bersama. Kita belajar, kita bermain, kita bertengkar, kita berdamai. Dan hari ini, kita akan berpisah.”
Mata Janah berkaca, kaca.
“Saya tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi di masa depan. Tapi satu yang saya tahu: kenangan tentang kalian akan selalu hidup di hati saya. Terima kasih untuk semuanya. Terima kasih untuk guru, guru yang sabar. Terima kasih untuk teman, teman yang selalu mendukung. Dan terima kasih khusus untuk seseorang yang telah membuat tiga tahun ini begitu berwarna. Kamu tahu siapa dirimu.”
Semua mata menoleh ke Joko. Joko menunduk malu.
Setelah upacara selesai, Janah menghampiri Joko. Matanya sudah basah.
“Tengil, kenapa aku nangis terus sih?”
“Karena lo cengeng.”
“Kamu tengil.”
“Iya. Dan lo cengeng. Kita cocok.”
Janah tertawa sambil menyeka air matanya. “Kamu jago bikin aku tertawa.”
“Itu keahlian gue.”
Mereka berdiri di halaman sekolah, di bawah pohon rindang yang selama tiga tahun menjadi tempat mereka berteduh saat istirahat.
“Jan,” kata Joko.
“Apa?”
“Aku sayang kamu.”
Janah menatap Joko. Kali ini, dia tidak menghindar. “Aku juga sayang kamu, Tengil.”
“Jadi sekarang kita resmi?”
“Resmi apa?”
“Resmi... jadi sesuatu.”
Janah tersenyum. “Kita sudah jadi sesuatu sejak lama. Kita hanya tidak memberinya nama.”
“Nama apa yang pas?”
“Teman spesial. Sampai nanti, saat kita siap untuk lebih.”
Joko mengangguk. “Baik. Aku akan tunggu.”
Malam perpisahan, Joko dan Janah berjalan ke Jembatan Kapuas lagi. Kebiasaan lama yang tidak pernah ditinggalkan. Tempat itu sudah seperti rumah kedua bagi mereka.
Langit malam di atas Kapuas terlihat begitu dalam. Bintang, bintang bersinar terang. Angin bertiup sepoi, sepoi.
“Tengil, kamu ingat tiga tahun lalu kita di sini?” tanya Janah.
“Ingat. Waktu gue bilang suka sama lo.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang gue bilang... gue cinta sama lo. Dengan sepenuh hati.”
Janah menatap Joko. Untuk pertama kalinya, dia tidak merasa takut. “Aku juga cinta kamu, Joko.”
Joko terperanjat. “Lo bilang apa?”
“Aku cinta kamu.”
“Cinta? Bukan sayang?”
“Cinta. Aku cinta kamu, Joko Prayitno. Si Tengil yang paling tengil se, Kuala Kapuas.”
Joko tersenyum. Dia tidak bisa berkata, kata. Hatinya terlalu penuh.
Mereka berpelukan di atas Jembatan Kapuas. Di bawah langit yang sama. Di tempat yang sama. Dengan perasaan yang sama.
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak menyembunyikan apa yang mereka rasa.
BAB 7
DRAMA REMAJA – PENGKHIANATAN SAHABAT
Lulus dari SMPN 1 Kuala Kapuas dengan nilai yang cukup baik, Joko dan Janah melanjutkan pendidikan ke jenjang yang berbeda harapan. Joko memilih SMKN 1 Kuala Kapuas, jurusan Teknik Mesin. Janah juga memilih sekolah yang sama, tapi jurusan Pemasaran.
Keputusan Janah untuk tetap di SMK, bukan SMA, sempat menjadi perdebatan kecil di keluarganya. Mak Amin ingin Janah masuk SMA agar lebih mudah melanjutkan ke perguruan tinggi. Tapi Janah punya alasan tersendiri.
“Mak, SMK juga bisa lanjut kuliah. Tapi aku juga punya keahlian. Kalau nanti Bidik Misinya gagal, aku masih bisa kerja.”
Mak Amin akhirnya setuju. Lagipula, SMKN 1 Kuala Kapuas adalah salah satu SMK terbaik di Kalimantan Tengah.
Hari pertama masuk SMK, suasana berbeda dari SMP. Gedungnya lebih besar. Ada bengkel, bengkel dengan peralatan berat. Ada laboratorium komputer yang lengkap. Anak, anaknya juga lebih beragam: ada yang dari berbagai pelosok Kapuas, bahkan dari luar kota.
Joko dan Janah masih berangkat bersama. Tapi kini, setelah resmi “teman spesial”, cara mereka berdua sedikit berubah.
Joko menjadi lebih perhatian. Dia membawakan tas Janah setiap pagi. Dia membelikan jajan kesukaan Janah tanpa diminta. Dia lebih sering tersenyum, dan lebih jarang jail, setidaknya pada Janah.
Janah menjadi lebih terbuka. Dia tidak lagi malu, malu jika Joko memegang tangannya. Dia lebih sering memanggil Joko dengan “kamu” bukan “Tengil”. Kadang, kadang, bahkan dia yang memulai percakapan tentang perasaan.
Tapi kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Sebab di SMK ini, akan hadir seseorang yang akan menguji segalanya.
Di minggu pertama masa orientasi siswa (MOS), Janah bertemu dengan seorang gadis bernama Mirna. Mirna adalah anak pindahan dari Palangka Raya. Ayahnya pegawai bank yang ditugaskan di Kuala Kapuas. Mirna cantik, modis, dan percaya diri. Dia cepat akrab dengan siapa saja.
Mirna duduk di bangku sebelah Janah di kelas Pemasaran. Awalnya, Janah senang. Dia akhirnya punya teman perempuan yang bisa diajak bicara tentang hal, hal yang tidak bisa dia bicarakan dengan Joko—tentang make, up, tentang baju, tentang cowok, cowok.
“Jan, kamu pacar siapa?” tanya Mirna suatu hari.
“Belum punya pacar,” jawab Janah diplomatis.
“Masa? Kamu cantik. Pasti banyak yang naksir.”
“Ada sih. Tapi aku belum mau pacaran.”
“Siapa namanya?”
Janah ragu. Tapi karena Mirna terlihat ramah, akhirnya dia menjawab, “Joko. Dari jurusan Teknik Mesin.”
Mirna matanya berbinar. “Joko? Yang duduk di kelas depan? Yang tingginya segitu? Rambutnya agak ikal?”
“Iya. Kamu kenal?”
“Belum. Tapi aku sering lihat. Dia... cool.”
Janah tersenyum bangga. “Dia memang cool. Tapi dia juga tengil.”
“Tengil gimana?”
“Suka jail. Suka bikin aku kesel.”
“Tapi kamu sayang?”
Janah tersenyum malu. “Iya.”
Percakapan itu tampak biasa. Tapi Janah tidak tahu bahwa di dalam hati Mirna, ada rasa iri yang mulai tumbuh. Mirna sudah jatuh hati pada Joko sejak pertama kali melihatnya di upacara bendera. Joko terlihat berbeda dari cowok, cowok lain di sekolah. Dia tidak tampan dalam arti konvensional, tapi ada aura macho dan “bad boy” yang membuat Mirna tertarik.
Dan sekarang, Mirna tahu bahwa Joko adalah milik Janah.
Tapi Mirna bukan tipe orang yang mudah menyerah.
Mirna mulai mendekati Joko dengan alasan “ingin kenalan dengan temannya Janah”. Setiap istirahat, dia datang ke kelas Teknik Mesin dengan membawa makanan.
“Joko, ini aku beliin gorengan. Kamu suka kan?”
Joko yang sedang mengobrol dengan teman, temannya menoleh. “Lho, Mirna? Kenapa?”
“Ya, sekalian. Aku ke kantin, kebetulan lihat kamu.”
“Makasih. Tapi nggak usah repot, repot.”
“Nggak repot. Lagipula, kamu kan temannya Janah. Berarti teman aku juga.”
Joko mengambil gorengan itu. Dia tidak curiga. Mirna terlihat baik dan ramah.
Hari, hari berikutnya, Mirna semakin sering muncul. Dia membawakan Joko minuman dingin saat Joko kepanasan usai praktik di bengkel. Dia memberikan Joko contekan saat ada ulangan. Dia bahkan ikut menonton saat Joko bermain futsal di lapangan belakang sekolah.
Janah mulai merasa tidak nyaman.
“Tengil, kamu kok dekat banget sama Mirna?” tanya Janah suatu hari.
“Dekat? Biasa aja. Dia kan teman lo.”
“Tapi dia sering banget cari, cari kamu.”
“Ya namanya juga anak baru. Mau akrab.”
Janah tidak puas dengan jawaban itu. Tapi dia tidak ingin terlihat cemburu. Dia memendam perasaannya.
“Aku tahu ini salah. Aku tahu Janah temanku. Tapi aku tidak bisa mengendalikan hatiku. Setiap kali melihat Joko, rasanya ada yang bergetar di dadaku. Dia berbeda. Dia tidak seperti cowok, cowok lain yang matre dan sok romantis. Dia tulus. Aku bisa melihat bagaimana dia melindungi Janah. Betapa dia sayang pada Janah. Dan aku iri. Aku iri pada Janah. Kenapa dia yang mendapatkan Joko? Kenapa bukan aku? Aku lebih cantik. Aku lebih modis. Aku lebih percaya diri. Tapi Joko tidak pernah melihatku seperti itu. Dia hanya melihatku sebagai teman. Itu tidak cukup. Aku harus melakukan sesuatu.”
Mirna mulai menyusun rencana. Dia tahu kelemahan Joko dan Janah: komunikasi mereka yang masih lugu dan penuh kepercayaan.
Suatu hari, Mirna mendatangi Janah dengan wajah khawatir.
“Jan, aku mau kasih tahu sesuatu. Tapi kamu janji jangan marah.”
“Apa?”
“Aku lihat Joko jalan sama cewek dari kelas lain. Mereka berduaan di belakang bengkel.”
Janah terkejut. “Kamu serius?”
“Serius. Aku nggak bohong. Aku lihat dengan mataku sendiri.”
Janah berusaha tetap tenang. “Mungkin itu hanya temannya.”
“Temannya? Berduaan? Sambil pegangan tangan?”
Janah terdiam. Hatinya terasa seperti diiris.
Mirna melanjutkan, “Maaf, Jan. Aku cuma nggak tega liat kamu dibohongin.”
Janah tidak menjawab. Dia pergi meninggalkan Mirna. Sepanjang hari, dia tidak bisa fokus belajar.
Sore itu, saat Joko menjemputnya seperti biasa, Janah memilih diam.
“Jan, kenapa diem aja?” tanya Joko.
“Nggak kenapa, kenapa.”
“Pasti ada. Cerita.”
“Tengil, kamu selingkuh?”
Joko terperanjat. “Apa?”
“Kamu selingkuh. Aku tahu. Ada cewek lain.”
“Apaan sih, Jan! Nggak ada!”
“Mirna lihat kamu berduaan sama cewek di belakang bengkel.”
Joko menghela napas panjang. “Itu Siti. Teman sekelas gue. Kita lagi ngerjain tugas praktik. Bukan berduaan.”
“Mirna bilang kalian pegangan tangan.”
“PE, GANG TA, NGAN? Siti aja gue nggak pernah sentuh! Ini fitnah!”
“Aku percaya Mirna. Dia temanku.”
“Dan gue bukan siapa, siapa?”
Janah diam. Joko memutar badan dan pergi. Dia sakit hati. Bukan karena dituduh selingkuh, tapi karena Janah lebih percaya pada orang baru daripada padanya.
Tiga hari berikutnya, Joko dan Janah tidak bertegur sapa. Joko tidak menjemput Janah di pagi hari. Janah berangkat sendiri dengan perasaan campur aduk.
Di sekolah, suasana terasa kaku. Joko yang biasanya ramah menjadi pendiam. Janah yang biasanya ceria menjadi murung.
Mirna memanfaatkan situasi. Dia semakin dekat dengan Joko. Setiap istirahat, dia duduk di samping Joko di kantin. Dia membawakan Joko makanan kesukaannya. Dia mendengarkan keluhan Joko tentang Janah.
“Joko, maaf ya kalau aku yang membuat masalah,” kata Mirna dengan wajah bersalah.
“Bukan salah kamu. Kamu cuma bilang apa yang kamu lihat.”
“Aku nggak nyangka Janah marah besar gitu.”
“Dia cemburu. Tapi dia terlalu percaya sama kamu daripada gue.”
Mirna tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia puas.
Sementara itu, Janah mulai merasa tidak enak. Dia melihat sendiri bagaimana Mirna semakin akrab dengan Joko. Hati kecilnya berbisik: mungkin dia terlalu terburu, buru marah.
Tapi gengsinya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
Mak Amin dan Mak Dhijah yang melihat anak, anak mereka cemberut terus mulai curiga. Mereka bertanya pada Joko dan Janah, tapi keduanya enggan bercerita.
Akhirnya Mak Dhijah mengambil inisiatif. Dia mengundang Mak Amin dan kedua anaknya untuk makan malam bersama di rumahnya.
Suasana makan malam itu tegang. Joko dan Janah duduk berseberangan, tidak saling menatap.
“Joko, Janah, apa yang terjadi?” tanya Mak Dhijah.
“Nggak apa, apa, Mak,” jawab Joko singkat.
“Bohong. Ibu tahu kalian berdua sedang bertengkar. Ini pertama kali kalian bertengkar lama begini.”
Janah menunduk. Air matanya menetes.
“Joko, kamu bicara,” pinta Mak Dhijah.
Joko menghela napas. “Janah nggak percaya sama gue, Mak. Dia lebih percaya sama teman barunya, Mirna. Mirna bilang gue selingkuh. Padahal nggak.”
Mak Amin menoleh pada Janah. “Benar, Nak?”
Janah mengangguk. “Aku minta maaf, Mak. Aku salah.”
“Bukan minta maaf sama ibu. Minta maaf sama Joko,” kata Mak Amin.
Janah menatap Joko. Matanya basah. “Tengil... maaf.”
Joko masih diam.
“Joko,” panggil Mak Dhijah.
Joko menghela napas. “Gue maafin. Tapi janji, lain kali jangan gampang percaya sama orang lain.”
“Aku janji.”
Mereka berpelukan. Mak Amin dan Mak Dhijah tersenyum lega.
Keesokan harinya, Joko mencari Mirna di kelas Pemasaran.
“Mirna, lo bisa bicara sebentar?”
Mirna keluar kelas dengan senyum manis. “Ada apa, Joko?”
“Lo bilang ke Janah kalau gue selingkuh. Itu fitnah.”
Mirna pura, pura terkejut. “Aku nggak bilang selingkuh. Aku cuma bilang aku lihat kamu sama cewek berduaan.”
“Dan lo bilang pegangan tangan?”
“Aku... aku mungkin salah lihat.”
“Salah lihat? Atau sengaja?”
Mirna diam. Joko mendekat. Matanya tajam.
“Gue tahu lo suka sama gue, Mirna. Tapi gue nggak suka sama lo. Dan gue nggak suka cara lo yang manipulatif. Jangan deket, deket lagi sama gue. Jangan rusak hubungan gue sama Janah. Kalau lo berani macam, macam lagi, gue nggak segan, segan buat keras sama perempuan.”
Mirna pucat. “Joko, aku...”
“Diam. Udah. Selesai.”
Joko berbalik pergi. Mirna berdiri di lorong, menahan air mata.
Janah yang melihat dari kejauhan menghampiri Mirna. “Mir, kamu baik, baik saja?”
Mirna menatap Janah dengan tatapan aneh, campuran antara marah, iri, dan malu.
“Kamu beruntung, Jan. Kamu punya Joko. Jangan sia, siakan.”
Mirna pergi. Sejak saat itu, dia tidak pernah lagi mendekati Joko. Dan perlahan, persahabatannya dengan Janah juga renggang.
Malam itu, Janah tidak bisa tidur. Dia memandangi langit, langit kamarnya, mengingat semua yang terjadi.
“Aku salah. Aku terlalu mudah percaya pada Mirna. Aku terlalu cepat marah pada Joko. Padahal Joko tidak pernah memberi alasan untuk tidak percaya. Selama ini dia selalu ada untukku. Selalu melindungiku. Selalu setia. Lalu kenapa aku begitu bodoh?”
Janah mengambil ponselnya, ponsel jadul yang hanya bisa SMS dan telepon. Dia mengetik pesan untuk Joko.
“Tengil, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi. Aku sayang kamu.”
Beberapa detik kemudian, balasan masuk.
“Maaf sudah gue terima, Jan. Gue juga sayang lo. Besok jemput lo ya.”
Janah tersenyum. Air matanya menetes lagi, tapi kali ini karena bahagia.
Esok harinya, Joko sudah berdiri di depan pagar rumah Janah pukul setengah enam. Seperti biasa. Seperti tidak pernah ada yang salah.
Janah keluar dengan senyum cerah. “Pagi, Tengil.”
“Pagi, Jan. Kamu cantik pagi ini.”
“Kamu juga... eh, kamu ganteng.”
Mereka tertawa. Berjalan berdampingan menuju sekolah.
“Jan,” kata Joko di tengah jalan.
“Apa?”
“Gue belajar sesuatu dari kejadian ini.”
“Apa?”
“Bahwa kepercayaan itu rapuh. Sekali pecah, susah direkatkan. Tapi kalau direkatkan dengan tulus, dia bisa lebih kuat dari sebelumnya.”
Janah menggenggam tangan Joko. “Aku nggak akan pecah lagi. Aku janji.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berkait kelingking. Di bawah langit pagi yang cerah.
Setelah kejadian itu, nama Mirna menjadi buah bibir di sekolah. Beberapa anak yang selama ini merasa terganggu dengan sikap Mirna mulai buka suara.
“Mirna itu sukanya fitnah,” kata seorang anak.
“Dulu dia juga pernah fitnah temannya di Palangka Raya,” kata yang lain.
Mirna menjadi terisolasi. Tidak ada yang mau berteman dengannya. Dia sering terlihat duduk sendiri di kantin atau di perpustakaan.
Janah merasa kasihan. “Tengil, aku kasihan sama Mirna.”
“Jangan. Dia sendiri yang memulai.”
“Tapi dia manusia. Dia juga punya hati.”
“Hati yang hitam.”
“Joko!”
Joko menghela napas. “Lo mau ngapain?”
“Aku mau memaafkannya.”
“Terserah lo. Tapi jangan terlalu dekat.”
Janah mendekati Mirna suatu sore. Mirna sedang duduk di bangku taman sekolah, sendirian.
“Mir, boleh duduk?”
Mirna menoleh. Matanya sembab. “Kamu mau apa, Jan? Mengejekku?”
“Aku datang untuk memaafkanmu.”
Mirna terperanjat. “Memaafkanku? Aku sudah hampir menghancurkan hubunganmu dengan Joko.”
“Iya. Tapi aku juga belajar banyak dari kejadian itu. Dan aku tidak mau menyimpan dendam.”
Mirna menangis. “Maaf, Jan. Maaf. Aku cemburu. Aku iri. Aku suka sama Joko. Tapi dia tidak pernah melihatku.”
“Itu bukan salahku, Mir. Dan juga bukan salahmu. Cinta tidak bisa dipaksakan.”
Mirna mengangguk. “Aku tahu. Aku sudah belajar.”
Janah memeluk Mirna. “Kita berteman lagi, ya? Tapi jangan macam, macam lagi.”
Mirna tersenyum sambil menyeka air mata. “Aku janji.”
Kejadian dengan Mirna menjadi titik balik bagi Joko dan Janah. Mereka belajar bahwa cinta tidak hanya tentang perasaan. Tapi juga tentang kepercayaan, komunikasi, dan kemampuan untuk memaafkan.
Malam itu, mereka berdua duduk di tepi Sungai Kapuas. Air sungai mengalir tenang di bawah sinar bulan.
“Tengil, kamu takut nggak kalau suatu hari nanti kita dipisahkan?” tanya Janah.
“Takut. Tapi gue lebih takut kalau kita dipisahkan oleh ketidakpercayaan.”
“Kita sudah melewati ujian pertama. Dan kita masih bersama.”
“Iya. Dan kita akan terus bersama. Sampai kapan pun.”
Janah menyandarkan kepalanya di bahu Joko. Joko memeluknya.
Di kejauhan, suara perahu motor terdengar menderu. Burung malam terbang melintasi langit.
Mereka berdua diam, menikmati kebersamaan yang begitu berharga.
Karena mereka tahu, ke depan masih ada ujian yang lebih berat.
Tapi untuk malam ini, biarlah cinta itu menjadi perisai.
BAB 8
PERANG DINGIN DI LANGIT KAPUAS
Memasuki semester dua di kelas 10 SMK, Joko dan Janah merasa hubungan mereka semakin kuat. Kejadian dengan Mirna telah membuat mereka belajar banyak tentang kepercayaan. Namun, takdir berkata lain. Badai belum benar, benar berlalu. Hanya berganti bentuk.
Suatu sore, Janah sedang berada di perpustakaan sekolah. Dia sedang membaca buku tentang teknik komunikasi pemasaran—buku yang dipinjamkannya dari Bu Anita, gurunya. Janah sangat menikmati pelajaran pemasaran. Dia merasa ini adalah bidang yang cocok dengan minatnya.
Di tengah kesibukannya membaca, seseorang duduk di depannya.
“Halo, Janah.”
Janah mengangkat muka. Di depannya duduk seorang laki, laki yang tidak dikenalnya. Wajahnya tampan, kulitnya putih bersih, rambutnya rapi disisir ke samping. Dia memakai kemeja putih lengan panjang—bukan seragam SMK. Itu artinya dia bukan siswa SMKN 1 Kuala Kapuas.
“Maaf, saya kenal?” tanya Janah bingung.
“Belum. Nama saya Arya. Saya dari SMA Budi Luhur. Saya tahu kamu dari teman saya, Rian. Rian yang dulu satu SD dengan kamu.”
Janah mengingat, ingat. Oh, Rian. Anak kelas 2B yang dulu mengirim surat cinta untuknya, yang suratnya dirobek Joko di depan kelas. Janah tersenyum kecil mengingat kejadian itu.
“Oh, Rian. Iya, saya ingat. Ada perlu?”
“Rian cerita banyak tentang kamu. Katanya kamu pinter, cantik, dan baik. Saya jadi penasaran.”
Janah sedikit gugup. Pujian dari laki, laki tampan selalu membuatnya tidak nyaman. “Terima kasih. Tapi saya sedang sibuk baca.”
“Saya tidak akan lama. Hanya ingin kenalan. Dan mungkin... minta nomor telepon?”
Janah ragu. Di satu sisi, tidak sopan jika dia langsung menolak kasar. Di sisi lain, dia tahu Joko akan marah besar jika tahu ada laki, laki lain meminta nomornya.
“Maaf, saya tidak bisa memberikan nomor saya pada orang yang belum saya kenal dengan baik,” kata Janah diplomatis.
Arya tersenyum. “Baiklah. Lain kali, ya. Saya harap kita bisa berteman.”
Dia berdiri dan pergi, meninggalkan secarik kertas berisi nomor teleponnya.
Janah mengambil kertas itu. Dia berpikir sejenak, lalu memasukkannya ke dalam saku seragam. Bukan karena dia tertarik pada Arya, tapi karena dia tidak tega membuangnya begitu saja.
Dia tidak tahu bahwa saat itu, seseorang sedang memperhatikan dari balik rak buku.
Orang yang memperhatikan dari balik rak buku itu adalah Budi, teman sekelas Joko. Budi sedang mencari buku tentang las listrik untuk tugas praktik. Dia tidak sengaja melihat Arya yang mendekati Janah dan memberikan secarik kertas.
Budi tahu Joko dan Janah sedang dekat. Dia juga tahu Joko adalah tipe orang yang cemburuan. Tanpa pikir panjang, Budi langsung menghampiri Joko di kantin.
“Jok, tadi gue liat di perpustakaan. Janah dikasih kertas sama cowok ganteng. Kertas itu dimasukin ke saku.”
Joko yang sedang makan bakso langsung berhenti mengunyah. “Apa?”
“Iya. Cowok dari SMA sebelah, kayaknya. Janah nerima kertas itu.”
Joko meletakkan sendoknya. Wajahnya berubah.
“Lo yakin?”
“Gue liat dengan mata kepala gue sendiri.”
Joko berdiri. Dia ingin langsung ke perpustakaan. Tapi dia sadar, jika dia marah sekarang, dia akan terlihat seperti cowok posesif yang tidak dewasa.
“Gue cari tahu dulu,” katanya.
Tapi sepanjang hari, pikiran Joko tidak tenang. Siapa cowok itu? Apa isi kertas itu? Kenapa Janah menerimanya?
Saat pulang sekolah, Joko memutuskan untuk bertanya langsung.
“Jan, siapa cowok yang tadi nemuin lo di perpustakaan?”
Janah terkejut. “Kamu tahu?”
“Teman gue liat.”
“Oh, itu Arya. Temannya Rian. Dia cuma... mau kenalan.”
“Kenalan? Terus ngasih apa?”
Janah menghela napas. Dia tahu Joko akan marah. Tapi dia juga tahu dia tidak bersalah.
“Dia ngasih nomor teleponnya. Aku nggak minta. Dia yang ngasih.”
“Terus kertasnya mana?”
“Di saku.”
“Kasih gue.”
“Joko!”
“Kasih gue!”
Janah mengeluarkan kertas itu dengan kesal. Joko merampasnya dan merobek, robeknya. Dia melemparkan sobekan kertas itu ke got.
“Sudah puas?” tanya Janah dingin.
“Belum. Lo kenapa sih nerima kertas dari cowok lain?”
“Aku nggak minta! Dia yang ngasih! Aku nggak tega nolak kasar.”
“Karena dia ganteng?”
Janah terdiam. Kata, kata Joko menusuk hatinya. “Kamu bilang apa?”
“Gue bilang, lo nerima kertas itu karena dia ganteng. Lo suka sama dia.”
“Joko Prayitno! Kamu gila!”
“Gue nggak gila. Gue cuma nggak buta.”
Janah mengepalkan tangannya. Matanya berkaca, kaca. “Setelah semua yang kita lewati, kamu masih gampang cemburu seperti anak SD?”
“Ini bukan cemburu. Ini kenyataan.”
“Kenyataan apa? Tidak ada apa, apa antara aku dan Arya. Dia cuma kenalan.”
“Tapi lo nerima kertasnya!”
“Karena aku tidak ingin terlihat sombong!”
Mereka berdua diam. Suasana tegang.
“Pokoknya, lo jangan ketemu lagi sama dia,” kata Joko akhirnya.
“Kamu tidak bisa mengatur hidupku, Joko.”
“Gue nggak ngatur. Gue cuma minta.”
“Minta atau perintah?”
“Terserah lo mau bilang apa.”
Janah menggeleng. “Kamu tidak berubah, Joko. Kamu masih sama seperti waktu SD. Posesif. Cemburuan. Tidak dewasa.”
Kata, kata Janah seperti pukulan bertubi, tubi. Joko terdiam. Dia tidak menyangka Janah akan berkata sekeras itu.
“Baiklah. Kalau gitu, kita istirahat dulu,” kata Joko.
“Istirahat apa?”
“Istirahat dari hubungan ini. Lo butuh waktu, gue juga butuh waktu.”
Janah terkejut. “Kamu serius?”
“Gue serius.”
“Jadi kita putus?”
“Bukan putus. Istirahat. Kita nggak akan komunikasi untuk sementara waktu.”
Janah menangis. “Joko, jangan...”
“Ini yang terbaik, Jan. Gue nggak mau terus, terusan cemburu. Lo juga nggak mau terus, terusan diatur. Kita butuh jarak.”
Joko berbalik dan pergi. Janah berdiri di tempatnya, menangis.
Di bawah langit Kapuas yang mulai mendung, perang dingin dimulai.
“Gue benci perasaan ini. Gue benci cemburu. Gue benci melihat Janah menerima kertas dari cowok lain. Tapi gue juga benci pada diri gue sendiri karena gue terlalu posesif. Gue tahu Janah bukan tipe orang yang selingkuh. Tapi kenapa gue tetap merasa tidak percaya? Mungkin karena gue takut. Takut kehilangan. Takut bahwa suatu hari nanti Janah sadar bahwa dia terlalu baik untuk gue. Bahwa dia pantas mendapatkan laki, laki yang lebih baik. Seperti Arya. Cowok ganteng, pinter, dari SMA favorit. Sementara gue... cuma anak SMK jurusan mesin. Bau oli. Tangan kotor. Masa depan nggak jelas. Janah... maaf. Gue nggak bermaksud menyakiti lo. Tapi gue butuh waktu. Untuk menjadi laki, laki yang pantas untuk lo.”
“Aku marah. Bukan pada Arya, tapi pada Joko. Kenapa dia tidak percaya padaku? Apa yang harus aku lakukan untuk membuatnya yakin bahwa dia satu, satunya? Aku tidak pernah melihat laki, laki lain. Arya hanya lewat, tidak penting. Tapi Joko melihatnya sebagai ancaman. Mungkin dia insecure. Mungkin dia merasa tidak cukup baik untukku. Padahal dia lebih dari cukup. Joko... kamu tidak tahu betapa berartinya kamu bagiku. Setiap pagi aku bangun dengan semangat karena tahu kamu akan menjemputku. Setiap malam aku tidur dengan senyum karena tahu kamu menyayangiku. Tapi sekarang... kamu memilih untuk pergi. Kamu bilang istirahat. Tapi istirahat itu seperti luka yang tidak diobati. Aku takut luka itu akan semakin parah. Aku takut kita tidak akan kembali lagi seperti sedia kala.”
Tiga minggu berlalu tanpa komunikasi antara Joko dan Janah.
Di sekolah, mereka sengaja menghindari satu sama lain. Jika berpapasan di lorong, mereka saling menunduk. Jika kebetulan di kantin bersamaan, mereka memilih bangku yang berjauhan.
Teman, teman mereka heran.
“Joko, kenapa kamu dan Janah cemberutan?” tanya Budi.
“Nggak apa, apa. Cuma butuh jarak.”
“Jangan, jangan kamu putus?”
“Bukan putus. Istirahat.”
“Sama aja.”
Joko tidak menjawab. Dia sibuk dengan praktik di bengkel. Mengelas. Membubut. Memperbaiki mesin. Kesibukan itu membuatnya lupa, setidaknya untuk sementara.
Sementara itu, Janah semakin rajin ke perpustakaan. Dia membaca buku, buku tentang komunikasi, pemasaran, dan psikologi. Dia ingin mengalihkan pikirannya dari Joko.
Tapi malam hari adalah waktu yang paling berat.
Janah sering terbangun di tengah malam dan menatap ponselnya. Tidak ada pesan dari Joko. Tidak ada panggilan tak terjawab. Nama Joko tidak muncul di layar ponselnya selama tiga minggu.
Pernah beberapa kali jari Janah hampir menekan tombol panggil. Tapi urung. Gengsinya terlalu tinggi. “Dia yang minta istirahat. Dia yang harus memulai duluan,” pikirnya.
Di minggu keempat perang dingin, Joko mulai sering terlihat bersama seorang gadis dari kelas sebelah. Namanya Maya. Maya adalah anak pindahan dari Banjarmasin. Dia cantik, ekspresif, dan sangat berbeda dengan Janah.
Jika Janah pendiam dan pemalu, Maya cerewet dan percaya diri. Jika Janah suka membaca buku, Maya suka joget di acara sekolah. Jika Janah memakai baju yang sederhana, Maya selalu tampil modis dengan aksesoris.
Joko tidak mencari Maya. Maya, lah yang mendekati Joko.
“Hai, kamu Joko? Panggilannya Si Tengil?” tanya Maya suatu hari di kantin.
“Iya. Kenapa?”
“Nggak. Penasaran aja. Katanya kamu anak paling tengil se, Kuala Kapuas.”
“Siapa yang bilang?”
“Semua orang.”
Joko tersenyum. “Itu gue.”
“Gue Maya. Salam kenal.”
Mereka berkenalan. Maya ternyata anak yang asyik diajak bicara. Dia tidak canggung, tidak pemalu. Dia bisa diajak bercanda kasar seperti anak laki, laki.
Joko merasa nyaman dengan Maya. Tidak ada beban. Tidak ada drama. Tidak ada cemburu.
Maya mulai sering mengajak Joko jalan. Ke kantin. Ke perpustakaan (meskipun Maya tidak suka baca). Ke lapangan futsal.
“Jok, kamu putus sama Janah?” tanya Maya suatu hari.
“Bukan putus. Istirahat.”
“Istirahat itu alasan cowok buat selingkuh.”
Joko tersinggung. “Gue bukan tipe cowok kayak gitu.”
“Tapi kamu deket sama gue. Janah tahu?”
“Nggak tahu. Lagipula, gue butuh teman.”
Maya tersenyum. “Teman? Atau pelarian?”
Joko tidak menjawab.
Kabar tentang kedekatan Joko dan Maya sampai ke telinga Janah melalui Siska, teman SMP, nya yang juga satu SMK.
“Jan, kamu tahu nggak? Joko sekarang deket sama Maya dari kelas 10 Pemasaran B.”
Janah pura, pura tenang. “Oh, Maya? Teman sekelasku. Mereka deket gimana?”
“Sering bareng. Ke kantin bareng. Pulang kadang bareng. Kata temanku, mereka sering SMS, an.”
Janah menahan air mata. “Mereka boleh dekat. Joko bebas.”
“Kamu nggak cemburu?”
“Aku nggak berhak cemburu. Kita lagi istirahat.”
Tapi malam itu, Janah menangis sejadi, jadinya di kamar. Dia menggigit bantal supaya suaranya tidak terdengar Mak Amin.
“Joko, kamu bilang istirahat. Tapi kenapa kamu mendekati Maya? Apa aku semudah itu dilupakan? Apa tiga belas tahun kebersamaan tidak berarti apa, apa? Aku sakit, Joko. Sakit sekali.”
Mak Amin yang mendengar isakan dari kamar Janah masuk tanpa mengetuk.
“Janah, kenapa, Nak?”
Janah memeluk ibunya. “Mak, Joko... Joko dekat sama perempuan lain.”
Mak Amin menghela napas. “Sudah, Nak. Mungkin hanya salah paham.”
“Tidak, Mak. Ini bukan salah paham. Ini kenyataan.”
Mak Amin mengusap kepala Janah. “Coba bicarakan baik, baik.”
“Aku tidak bisa, Mak. Genggiku terlalu tinggi.”
“Gengsi tidak akan menyelesaikan masalah, Nak. Kalau kamu sayang dia, kamu harus berjuang.”
Janah terdiam.
Di balik sikapnya yang santai, Maya sebenarnya mulai jatuh hati pada Joko. Bukan karena Joko ganteng—secara fisik, Joko biasa saja. Tapi karena Joko berbeda.
Dia tidak sok romantis. Tidak suka mengumbar kata, kata manis. Tapi perhatiannya nyata.
Ketika Maya sedang sakit perut di kantin, Joko yang membelikan minyak kayu putih dan teh hangat. Ketika Maya sedang pusing dengan tugas matematika, Joko yang membantu meskipun dia sendiri kesulitan. Ketika Maya sedang sedih karena masalah keluarga, Joko yang mendengarkan tanpa menghakimi.
“Jok, kamu baik banget,” kata Maya suatu hari.
“Biasa aja.”
“Serius. Kenapa kamu nggak pacaran sama Janah lagi?”
“Bukan nggak pacaran lagi. Kita istirahat.”
“Tapi kamu dekat sama aku. Janah pasti sakit hati.”
Joko menghela napas. “Mungkin.”
“Kamu sayang Janah?”
“Sayang. Tapi gue capek.”
“Capek apa?”
“Capek cemburu. Capek takut kehilangan. Capek jadi cowok yang nggak cukup baik buat dia.”
Maya menatap Joko. Matanya lembut. “Kamu itu cukup baik, Jok. Mungkin kamu tidak se, ganteng cowok iklan, tidak sepintar anak IPA, tapi kamu tulus. Dan itu lebih berharga.”
Joko tersenyum. “Makasih, Maya.”
“Sama, sama. Tapi jangan salah, ya. Aku mulai suka sama kamu.”
Joko terperanjat. “Apa?”
“Aku mulai suka sama kamu. Tapi aku tahu kamu masih sayang Janah. Jadi aku nggak akan maksa. Aku hanya jujur.”
Joko terdiam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Suatu sore, Janah sedang duduk sendirian di Taman Simpang Adipura. Tempat yang dulu menjadi saksi janji mereka. Dia sengaja ke sana, merindukan kenangan.
Dia duduk di bangku taman, memandangi air mancur yang tidak pernah berhenti menyemburkan air. Angin sore bertiup sejuk.
Tiba, tiba, seseorang duduk di sampingnya.
Janah menoleh. Joko.
Mereka berdua diam beberapa saat.
“Jan,” kata Joko akhirnya.
“Apa?”
“Gue rindu.”
Janah tidak menjawab. Matanya menatap lurus ke depan.
“Gue tahu gue salah. Gue cemburu buta. Gue posesif. Tapi gue nggak bisa bohong. Gue takut kehilangan lo.”
“Lalu kenapa kamu dekat dengan Maya?” suara Janah bergetar.
“Dia hanya teman, Jan.”
“Teman? Semua orang bilang kalian lebih dari teman.”
“Maya memang bilang dia suka sama gue. Tapi gue nggak suka sama dia. Bukan seperti gue suka sama lo.”
Janah menoleh. Matanya berkaca, kaca. “Kamu serius?”
“Serius. Gue cinta lo, Jan. Hanya lo. Selalu lo.”
“Tapi kamu yang minta istirahat.”
“Gue bodoh. Gue minta maaf.”
“Kamu menyakitiku, Joko. Sangat.”
Joko menunduk. “Gue tahu. Dan gue nggak akan berhenti minta maaf sampai lo maafin gue.”
Janah menangis. Joko ingin memeluknya, tapi takut ditolak.
“Lo mau nggak kita mulai lagi?” tanya Joko lirih.
Janah tidak menjawab. Tapi dia tidak pergi. Itu sudah cukup bagi Joko.
Setelah pertemuan di Taman Simpang Adipura, Janah butuh waktu untuk berpikir. Hatinya berkata untuk memaafkan. Tapi akalnya berkata untuk berhati, hati.
Dua hari kemudian, Janah mengirim pesan panjang pada Joko.
“Tengil, aku memaafkanmu. Tapi aku juga perlu waktu untuk menyembuhkan lukaku. Jangan terlalu dekat dulu. Jangan harap semuanya kembali seperti dulu. Kita bisa ngobrol, kita bisa berteman. Tapi untuk hubungan seperti dulu, aku belum siap. Maaf. Ini bukan hukuman untukmu. Ini perlindungan untuk hatiku.”
Joko membaca pesan itu berulang kali. Hatinya hancur. Tapi dia tahu, Janah benar.
“Baik, Jan. Gue akan tunggu. Gue akan buktikan bahwa gue layak dipercaya.”
Perang dingin yang berkepanjangan membawa hikmah bagi Joko. Dia mulai menyadari bahwa cinta bukan hanya tentang memiliki. Tapi juga tentang memberi ruang. Bukan hanya tentang menjaga, tapi juga tentang mempercayai.
Dia mengurangi intensitas bertemu dengan Maya. Bukan karena Maya jahat, tapi karena Joko tidak ingin memberi harapan palsu.
“Maaf, Maya. Gue nggak bisa,” kata Joko suatu hari.
“Karena Janah?”
“Karena gue masih cinta Janah. Dan gue nggak mau menyakiti lo dengan memberi harapan.”
Maya tersenyum pahit. “Aku sudah duga. Semoga kamu berhasil mendapatkan Janah kembali.”
“Makasih, Maya. Kamu baik.”
“Aku baik, tapi kamu nggak milih aku.”
“Bukan soal baik atau tidak. Tapi soal siapa yang ada di hati.”
Maya mengangguk. Mereka berpisah sebagai teman.
Joko juga mulai belajar mengendalikan cemburunya. Setiap kali rasa cemburu itu muncul, dia mencoba bernapas panjang dan berpikir jernih. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Janah bukan milik gue. Dia manusia bebas. Dia memilih gue karena dia mau. Bukan karena gue memaksanya.”
Perang dingin berakhir, tapi luka masih terasa. Joko dan Janah mulai bicara lagi, tapi tidak seperti dulu. Mereka masih menjaga jarak, masih belum kembali ke status “teman spesial”.
Tapi mereka belajar satu hal: cinta sejati tidak pernah mudah. Ada ujian. Ada air mata. Ada jarak. Dan kadang, kadang, untuk menemukan jalan kembali, kita harus tersesat dulu.
Suatu malam, setelah berminggu, minggu menjaga jarak, Joko mengirimkan sebuah puisi untuk Janah. Puisi yang ditulisnya saat dia sendirian di bengkel, di tengah bau oli dan suara mesin.
Janah...
Seperti sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir
Begitu pula cintaku padamu
Meski badai datang, meski air pasang surut
Aku tetap mengalir... kembali ke pangkuanmu
Janah...
Maafkan aku yang terlalu takut kehilangan
Hingga lupa bahwa kepercayaan
Adalah jembatan yang menghubungkan dua hati
Aku akan membangun jembatan itu lagi
Bata demi bata
Dengan kesabaran dan ketulusan
Janah membaca puisi itu berkali, kali. Air matanya menetes. Dia menyimpan puisi itu di dalam kotak sepatu di bawah tempat tidurnya, tempat dia menyimpan semua puisi Joko sejak SMP.
“Aku juga masih sayang kamu, Tengil,” bisiknya. “Tapi beri aku waktu.”
Dan di bawah langit Kapuas yang sama, dua hati yang pernah terpisah kini mulai berdetak seirama lagi. Perlahan. Hati, hati. Namun pasti.
BAB 9
BIDIK MISI – MIMPI JANAH KE UGM
Jam dinding di ruang tamu rumah Mak Amin menunjukkan pukul 02.30 dini hari. Seluruh rumah sudah gelap. Hanya lampu kamar Janah yang masih menyala redup.
Janah duduk di depan meja belajarnya yang sempit. Buku, buku berserakan di mana, mana. Ada buku Matematika, Bahasa Inggris, Tes Potensi Skolastik (TPS), dan buku catatan tebal berisi rangkuman materi pelajaran selama tiga tahun SMK.
Matanya sembab. Bukan karena belum tidur, tapi karena habis menangis.
Tadi malam, dia mendapat kabar bahwa Mak Amin harus dirawat di puskesmas karena tekanan darah tinggi yang kambuh. Jantung Mak Amin bermasalah. Dokter bilang, Mak Amin tidak boleh bekerja terlalu keras, tidak boleh stres, dan harus istirahat total setidaknya satu bulan.
Itu berarti, Mak Amin tidak bisa lagi berjualan ikan asin di Pasar Sari Mulya. Penghasilan keluarga yang tadinya pas, pasan, sekarang akan semakin sulit.
Janah menatap formulir pendaftaran Bidik Misi yang sudah dia cetak dari warnet semalam. Di atas kertas itu, ada kolom "Penghasilan Orang Tua" dan "Kondisi Kesehatan Orang Tua".
Dia mengisi dengan jujur. Penghasilan orang tua: Rp 800.000 per bulan (tidak tetap). Kondisi kesehatan orang tua: ibu sakit jantung.
Janah menangis lagi. Bukan karena sedih, tapi karena haru. Dia ingat pesan Mak Amin sebelum tidur tadi.
“Janah, jangan khawatirin ibu. Ibu baik, baik saja. Kamu fokus sekolah. Kamu harus lulus. Kamu harus dapat Bidik Misi. Itu satu, satunya jalan.”
“Tapi Mak sakit,” Janah membantah.
“Mak sakit, tapi Mak punya mimpi. Mimpi Mak melihat anak Mak jadi sarjana.”
Janah memeluk ibunya. “Janah tidak akan mengecewakan Mak.”
Mak Amin tersenyum lemah. “Ibu tahu, Nak. Ibu tahu.”
Sekarang, di hadapan formulir itu, Janah berjanji pada dirinya sendiri. Apapun yang terjadi, dia harus lulus. Dia harus mendapatkan Bidik Misi. Dia harus kuliah di UGM.
Dan di tengah semua itu, ada satu nama yang selalu hadir di kepalanya: Joko.
Sementara Janah bergulat dengan mimpinya, Joko hidup dalam ketidaktahuan yang nyaman. Baginya, hidup hanya tentang tiga hal: sekolah (yang tidak terlalu dia minati), bengkel (tempat dia menghabiskan sebagian besar waktu), dan Janah (yang kini jaraknya masih terasa setelah perang dingin usai).
Mereka sudah mulai bicara lagi. Tapi tidak sering seperti dulu. Janah sering terlihat lelah. Wajahnya pucat. Ada lingkaran hitam di bawah matanya.
“Jan, lo sehat?” tanya Joko suatu pagi saat mereka berpapasan di gerbang sekolah.
“Iya. Kok?”
“Kayaknya lo kurusan. Makannya kurang?”
“Banyak tugas, Tengil. Sibuk.”
“Lo bisa cerita sama gue.”
Janah tersenyum tipis. “Nanti, ya. Sekarang aku mau ke kelas dulu.”
Joko melihat punggung Janah yang menjauh. Hatinya terasa tidak enak. Ada sesuatu yang Janah sembunyikan.
Dia coba bertanya pada Siska.
“Sis, Janah kenapa sih? Kok kayak orang lesu?”
Siska menghela napas. “Kamu nggak tahu? Mak Amin sakit. Jantungnya. Sekarang nggak bisa kerja. Janah harus nyari tambahan uang buat keluarga.”
Joko terperanjat. “Mak Amin sakit? Janah nggak bilang apa, apa ke gue.”
“Mungkin dia nggak mau merepotkan kamu.”
“Merepotkan? Gue temannya. Gue harus tahu.”
Sore itu, Joko langsung ke rumah Janah. Mak Amin terbaring di tempat tidur, pucat dan lemah. Joko duduk di sampingnya.
“Mak, kenapa nggak bilang Joko?”
Mak Amin tersenyum. “Nggak enak, Nak. Kamu juga sibuk.”
“Joko nggak sibuk, Mak. Joko punya waktu. Apa yang bisa Joko bantu?”
“Bantu Janah. Dia sekarang terlalu keras pada dirinya sendiri.”
Joko mengangguk. “Joko janji, Mak. Joko akan jagain Janah.”
Mak Amin menggenggam tangan Joko. “Makasih, Nak. Mak cuma berharap, kalian berdua nanti bisa bersama. Seperti yang sudah Mak janjikan sama Mak Dhijah dulu.”
Joko menunduk malu. Tapi di dalam hatinya, tekadnya menguat.
Beberapa minggu kemudian, guru BK SMKN 1 Kuala Kapuas, Ibu Dewi, mengadakan sosialisasi tentang program Bidik Misi. Semua siswa kelas 12 dikumpulkan di aula.
“Anak, anak, program Bidik Misi adalah program pemerintah yang memberikan beasiswa penuh bagi siswa kurang mampu secara ekonomi namun berprestasi. Kalian bisa kuliah di perguruan tinggi negeri pilihan tanpa membayar uang pangkal atau SPP. Bahkan, kalian akan mendapat uang saku setiap bulan.”
Semua siswa berbisik. Mata mereka berbinar.
“Syaratnya? Nilai kalian harus bagus. Orang tua kalian harus benar, benar tidak mampu. Dan kalian harus lulus seleksi yang ketat. Pendaftaran dimulai bulan depan. Siapa yang berminat, silakan ambil formulir di meja saya.”
Janah adalah orang pertama yang berdiri.
Temannya, Siska, menarik tangannya. “Jan, kamu serius? Kamu mau daftar? Tapi Bidik Misi itu biasanya untuk yang mau kuliah di Jawa.”
“Aku tahu.”
“Itu jauh, Jan. Jauh dari keluarga. Jauh dari Joko.”
Janah tersenyum pahit. “Kadang, untuk menggapai mimpi, kita harus rela berpisah dulu.”
Siska terdiam. Dia tidak bisa membantah.
Janah mengambil formulir itu. Di atas meja, dia menulis dengan mantap: Universitas Gadjah Mada, Jurusan Ilmu Komunikasi.
Dia tahu, ini adalah jendelanya. Jendela menuju kehidupan yang lebih baik. Tapi di balik jendela itu, ada harga yang harus dibayar: meninggalkan Kapuas. Meninggalkan keluarganya. Meninggalkan Joko.
Joko tahu tentang rencana Janah dari Budi, yang mendengar dari Siska.
“Jok, Janah mau daftar Bidik Misi. Katanya mau ke UGM. Di Jawa. Jauh banget.”
Joko yang sedang memperbaiki mesin motor di bengkel sekolah langsung berhenti. Tangannya hitam oleh oli.
“Serius?”
“Serius. Dia udah ambil formulir.”
Joko tidak bicara. Dia mencuci tangannya di wastafel, mengeringkannya dengan kain lap, lalu berjalan keluar bengkel.
Dia mencari Janah. Janah sedang di perpustakaan, membaca buku persiapan ujian masuk perguruan tinggi.
Joko duduk di depannya tanpa bicara.
Janah mengangkat muka. “Tengil? Ada apa?”
“Lo mau daftar Bidik Misi?”
Janah menghela napas. Dia tahu ini akan terjadi. “Iya.”
“Ke UGM? Di Jawa?”
“Iya.”
“Kenapa nggak bilang gue?”
“Aku takut.”
“Takut apa?”
“Takut kamu marah. Takut kamu melarang. Takut kamu sedih.”
Joko tertawa pahit. “Lo benar. Gue marah. Gue sedih. Tapi gue nggak akan melarang. Gue nggak punya hak.”
“Tengil...”
“Lo boleh pergi, Jan. Tapi janji, lo balik.”
Janah menggenggam tangan Joko. Tangan Joko yang masih hitam oleh oli. “Aku janji. Setelah lulus, aku akan kembali ke Kapuas.”
“Janji di mana?”
“Di sini. Di perpustakaan ini. Di bawah langit Kapuas.”
Joko tidak puas. “Bawa gue ke Jembatan Kapuas.”
Janah mengangguk.
Sore itu, langit Kapuas berwarna jingga kemerahan. Seperti lukisan yang dilukis oleh tangan Tuhan yang paling berbakat. Joko dan Janah duduk di bangku kayu yang sama. Tempat yang sama. Seperti bertahun, tahun lalu ketika mereka masih anak, anak.
“Inget nggak, pertama kali kita ke sini?” tanya Joko.
“Inget. Kamu bilang suka sama aku.”
“Sekarang gue bilang lagi: gue cinta sama lo.”
Janah tersenyum. “Aku juga cinta kamu, Tengil.”
“Tapi lo tetap pergi?”
“Harus. Ini kesempatan yang tidak akan datang dua kali.”
Joko menghela napas. “Gue tahu. Tapi gue takut, Jan. Gue takut lo lupa sama gue.”
“Aku tidak akan lupa.”
“Gue takut lo ketemu cowok Jawa yang lebih pinter, lebih kaya, lebih ganteng.”
“Tidak ada yang lebih ganteng dari kamu.”
“Bohong.”
“Janji. Kamu ganteng dengan caramu sendiri.”
Joko tersenyum. “Gue minta satu janji lagi.”
“Apa?”
“Setelah lo lulus, kita bertemu di sini lagi. Di tempat ini. Di bangku ini. Kapan pun itu. Kita akan melanjutkan semuanya.”
Janah menangis. “Janji.”
Mereka berpelukan. Pelukan yang begitu erat, seolah ingin mengunci kenangan agar tidak pernah hilang.
Di kejauhan, perahu, perahu motor melintas. Suara khasnya terdengar sayup, sayup. Air Sungai Kapuas mengalir tenang, seolah menjadi saksi bisu dari janji dua anak muda yang akan diuji oleh waktu dan jarak.
“Besok aku akan mengirim formulir pendaftaran Bidik Misi ke Jakarta. Aku takut. Bukan takut tidak lolos. Tapi takut pada ketidakpastian. Bagaimana jika aku lolos? Aku harus meninggalkan Kapuas. Meninggalkan ibu yang sakit. Meninggalkan Joko. Tapi bagaimana jika aku tidak lolos? Aku akan kehilangan satu, satunya kesempatan untuk mengubah nasib keluargaku. Aku bimbang. Aku takut. Tapi aku ingat pesan ibu: 'Jangan takut gagal. Yang menakutkan adalah tidak pernah mencoba.' Baiklah. Aku akan mencoba. Dan apapun hasilnya, aku tidak akan menyesal.”
“Gue nggak tahu harus gimana. Di satu sisi, gue bangga sama Janah. Dia punya mimpi. Dia berani. Dia nggak kayak gue yang cuma bisa di sini, nggak punya mimpi besar. Tapi di sisi lain, gue sakit hati. Kenapa hidup ini harus memisahkan kita? Kenapa cinta nggak cukup untuk membuat seseorang bertahan di tempatnya? Gue nggak akan menghalangi. Tapi gue nggak akan berhenti menunggu. Sampai kapan pun. Janah... pergi lah. Gapai mimpimu. Tapi ingat, di Kapuas ini, ada gue. Selalu gue.”
Minggu, minggu berikutnya adalah masa yang paling mendebarkan dalam hidup Janah.
Dia harus mengumpulkan semua dokumen: rapor dari SMP hingga SMK, surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, surat keterangan sakit Mak Amin dari puskesmas, surat rekomendasi dari kepala sekolah, dan esai tentang motivasinya kuliah.
Janah menghabiskan tiga malam hanya untuk menulis esai. Judulnya: "Dari Tepian Kapuas Menuju Mimpi".
Dia menulis tentang masa kecilnya di tepi sungai. Tentang ibunya yang berjualan ikan asin. Tentang ayahnya yang bekerja serabutan. Tentang mimpinya untuk menjadi sarjana komunikasi agar bisa menyuarakan nasib orang, orang kecil seperti keluarganya.
Setelah esai selesai, dia mengirimkan semua dokumen melalui pos kilat ke alamat Pusat Prestasi Nasional di Jakarta.
Lalu, menunggu.
Menunggu adalah hal yang paling menyiksa.
Setiap hari, Janah mengecek pos. Setiap hari, dia bertanya pada guru BK apakah ada kabar.
Dan setiap malam, dia berdoa.
“Ya Allah, jika ini jalan terbaik untukku, mudahkanlah. Jika bukan, berikanlah aku ketabahan.”
Bulan ketiga setelah pengiriman dokumen, pengumuman hasil seleksi Bidik Misi akhirnya keluar.
Janah sedang berada di kelas saat ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ibu Dewi: “Selamat, Siti Nurjanah. Kamu lolos seleksi administrasi Bidik Misi. Selanjutnya, kamu akan mengikuti tes tulis dan wawancara di UGM.”
Janah berteriak. Semua teman sekelasnya menoleh.
“Ada apa, Jan?” tanya Siska.
“Aku lolos! Aku lolos seleksi administrasi!”
Teman, temannya bersorak. Mereka memeluk Janah. Ada yang menangis haru.
Sore itu, Janah berlari ke rumah Joko. Joko sedang membantu Bapak Sarimin membersihkan bengkel.
“Tengil! Aku lolos!” teriak Janah dari depan pagar.
Joko menghampiri. “Lolos apa?”
“Bidik Misi! Aku lolos seleksi administrasi. Tinggal tes tulis dan wawancara.”
Joko tersenyum. Senyum terbesarnya. “Gue bangga sama lo, Jan.”
Janah memeluk Joko. “Doain aku ya, Tengil. Doain aku supaya lancar.”
“Lo pasti bisa. Lo kan Janah. Perempuan paling pinter se, Kuala Kapuas.”
“Kamu paling tengil se, Kuala Kapuas.”
“Iya. Kita berdua juara.”
Mereka tertawa. Tapi di balik tawa itu, ada kesedihan yang tidak diucapkan. Setiap langkah Janah menuju UGM, berarti satu langkah menjauh dari Joko.
Dua minggu kemudian, Janah berangkat ke Yogyakarta untuk mengikuti tes tulis dan wawancara. Ini pertama kalinya Janah naik pesawat. Joko mengantarnya ke Bandara Tjilik Riwut di Palangka Raya.
Perjalanan dari Kuala Kapuas ke Palangka Raya memakan waktu empat jam dengan bus. Mereka berdua duduk berdampingan. Janah menggenggam tangan Joko sepanjang perjalanan.
“Tengil, kamu nggak papa sendirian di Kapuas?”
“Gue biasa. Yang penting lo fokus tes.”
“Aku pasti kangen.”
“Gue juga.”
Di bandara, Joko membantu Janah memeriksa tiket dan bagasi. Janah memegang koper kecil berisi pakaian dan dokumen.
“Penerbangan ke Jogja via Jakarta, ya?” tanya Joko.
“Iya. Transit di Jakarta tiga jam.”
“Hati, hati, Jan. Jangan ngobrol sama orang asing. Jangan terima makanan dari siapa pun. Jaga barang, barang.”
“Kaya bapak, bapak aja,” canda Janah.
“Gue serius.”
“Iya, iya. Aku janji.”
Pengumuman boarding untuk penerbangan Janah terdengar. Janah berdiri. Joko juga berdiri.
“Tengil, aku pamit dulu.”
Joko memeluk Janah. Pelukan yang lama. “Jan, sukses ya.”
“Makasih, Tengil.”
Janah berjalan menuju pintu boarding. Dia menoleh satu kali. Joko masih berdiri di tempatnya, tersenyum meskipun matanya basah.
Janah tersenyum, lalu masuk.
Begitu Janah menghilang di balik pintu, Joko tidak bisa menahan air matanya. Dia menangis di bandara. Seorang bapak, bapak menghampirinya.
“Kamu kenapa, Nak?” tanya bapak itu.
“Nggak papa, Pak. Cuma... ngelepasin orang yang disayang.”
“Kekasihmu?”
Joko mengangguk.
“Dia pergi ke mana?”
“Ke Jogja. Untuk tes kuliah.”
“Berdoalah. Jika dia jodohmu, dia akan kembali.”
Joko mengusap air matanya. “Terima kasih, Pak.”
Di Yogyakarta, Janah menghadapi dunia yang sama sekali baru.
Kota ini berbeda dengan Kapuas. Dingin. Berdebu. Ramai. Dan penuh dengan gedung, gedung tinggi.
UGM sendiri sangat luas. Janah hampir tersesat saat mencari gedung tempat tes. Dia harus bertanya pada satpam, pada mahasiswa, pada pedagang kaki lima.
Tes tulis berlangsung selama empat jam. Soalnya sulit. Janah harus mengerjakan matematika dasar, bahasa Inggris, logika, dan pengetahuan umum.
Dia ingat pesan Joko: “Lo pasti bisa.”
Dia ingat pesan Mak Amin: “Ibu percaya sama kamu.”
Dia ingat mimpinya.
Janah mengerjakan soal demi soal dengan tekun. Ketika waktu habis, dia sudah menjawab semua pertanyaan.
Keesokan harinya, wawancara.
Dia berdiri di depan tiga pewawancara: seorang profesor komunikasi, seorang psikolog, dan seorang perwakilan dari Bidik Misi.
“Siti Nurjanah, kenapa kamu memilih Ilmu Komunikasi?” tanya profesor.
“Karena saya ingin menjadi suara bagi mereka yang tidak memiliki suara. Di kampung saya, banyak orang tua yang tidak bisa menyekolahkan anaknya karena miskin. Saya ingin mengubah itu, sedikit demi sedikit, dengan kemampuan saya berkomunikasi.”
“Kenapa UGM?”
“Karena UGM adalah universitas terbaik. Saya ingin belajar dari yang terbaik, agar saya bisa memberikan yang terbaik untuk kampung saya.”
Para pewawancara saling berpandangan. Mereka terkesan.
“Satu pertanyaan terakhir,” kata psikolog. “Apa hal yang paling kamu takutkan?”
Janah berpikir sejenak. “Saya takut mengecewakan orang, orang yang sudah percaya pada saya. Ibu saya yang sakit. Bapak saya yang bekerja keras. Dan seseorang yang telah menunggu saya di Kapuas. Mereka adalah alasan saya ada di sini.”
Psikolog tersenyum. “Terima kasih, Siti Nurjanah. Hasilnya akan kami informasikan dalam waktu dua minggu.”
Janah keluar dari ruang wawancara dengan perasaan lega sekaligus tegang. Dia sudah melakukan yang terbaik. Sekarang, tinggal menunggu takdir.
Dua minggu yang terasa seperti dua tahun. Janah tidak bisa tidur. Dia tidak bisa makan dengan tenang. Setiap kali ponselnya bergetar, jantungnya hampir copot.
Suatu pagi, ponselnya berdering. Nomor dari Jakarta.
“Halo, dengan Siti Nurjanah?”
“Iya, ini saya.”
“Selamat! Anda dinyatakan lolos seleksi program Bidik Misi di Universitas Gadjah Mada, jurusan Ilmu Komunikasi. Surat resmi akan kami kirimkan ke alamat Anda.”
Janah tidak bisa bicara. Air matanya mengalir.
“Halo? Mbak Siti? Masih di sana?”
“I... iya. Terima kasih. Terima kasih banyak.”
Setelah telepon ditutup, Janah berteriak sekeras, kerasnya.
“AKU LOLOS! AKU LOLOS!”
Mak Amin yang sedang terbaring di tempat tidur langsung bangun. “Apa, Nak?”
“Mak, Janah lolos Bidik Misi! Janah kuliah di UGM!”
Mak Amin menangis. Dia memeluk anaknya. “Ibu bangga, Nak. Ibu bangga sekali.”
Kabar itu menyebar seperti api di padang rumput kering. Seluruh Kelurahan Selat Tengah tahu. Pak Lurah datang untuk mengucapkan selamat. Guru, guru di SMK juga bangga.
Joko datang ke rumah Janah. Wajahnya sumringah tapi matanya sembab, tanda dia habis menangis.
“Selamat, Jan.”
Janah memeluk Joko. “Makasih, Tengil.”
“Kapan lo berangkat?”
“Dua minggu lagi.”
Joko menghela napas. “Waktu yang singkat.”
“Masih dua minggu. Kita bisa habiskan waktu bersama.”
Joko tersenyum. “Jan, janji lo ya. Janji akan kembali.”
“Janji.”
Mereka berpelukan di halaman rumah Janah. Di bawah langit Kapuas yang biru cerah.
Dua minggu terasa begitu cepat. Janah sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk keberangkatannya ke Jogja.
Dia membeli koper baru di Pasar Sari Mulya. Koper murah berwarna merah muda. Dia juga membeli beberapa baju baru untuk kuliah—baju yang lebih pantas daripada seragam SMK, nya.
Setiap malam, Mak Amin mengajarinya masak. “Nanti di Jogja kamu tinggal sendiri. Kamu harus bisa masak.”
“Janah sudah bisa, Mak.”
“Kamu bisa masak nasi goreng. Itu belum cukup. Kamu harus bisa masak sayur, masak ikan, masak daging.”
Janah belajar dengan tekun. Tapi di sela, sela kesibukannya, dia selalu menyempatkan diri untuk bertemu Joko.
Mereka berjalan, jalan ke tempat, tempat favorit mereka. Ke Jembatan Kapuas. Ke Taman Simpang Adipura. Ke Dermaga KP3. Ke Pasar Sari Mulya. Ke Danau Mare (yang jaraknya agak jauh, mereka naik ojek).
Mereka makan sate kelinci di Dermaga KP3. Mereka makan es kelapa muda di Bundaran Besar. Mereka duduk berdua di Taman Hutan Kota, bercerita tentang masa lalu dan berfantasi tentang masa depan.
“Tengil, nanti kalau aku sudah lulus, kita akan menikah ya?” tanya Janah suatu sore.
Joko tersenyum. “Lo melamar gue?”
“Bukan. Aku hanya memastikan.”
“Jan, gue nggak akan pergi ke mana, mana. Gue ada di sini. Untuk lo. Selalu.”
Janah menyandarkan kepalanya di bahu Joko. “Aku rindu kamu sekarang, padahal aku belum pergi.”
Joko mengusap rambut Janah. “Gue juga.”
Malam sebelum keberangkatan Janah, keluarga Mak Amin mengadakan syukuran kecil. Mereka mengundang keluarga Joko. Hanya keluarga inti. Tidak banyak makanan, hanya nasi tumpeng, ayam goreng, dan sayur, sayuran.
Tapi suasana hangat.
Mak Amin memeluk Joko. “Joko, titip Janah ya. Jaga dia di perantauan meskipun dari jauh.”
“Joko akan jaga, Mak. Joko janji.”
Bapak Sarimin menjabat tangan Janah. “Janah, kamu anak yang hebat. Kami semua bangga.”
“Terima kasih, Pak.”
Mak Dhijah menangis. “Janah, hati, hati ya. Jangan lupa makan. Jangan lupa minum vitamin. Jangan terlalu capek.”
“Iya, Mak Dhijah.”
Malam itu, setelah semua tamu pulang, Joko dan Janah duduk di halaman belakang. Sendirian. Hanya ditemani cahaya bulan dan suara jangkrik.
“Jan,” kata Joko.
“Apa?”
“Gue punya sesuatu buat lo.”
Joko mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Terbuat dari kayu, diukir sederhana. Di dalamnya ada sebuah gelang dari tali kur, buatan tangan Joko sendiri.
“Gue buat ini tiga hari. Tali kur warna biru, kesukaan lo. Biar lo ingat sama gue setiap kali lo lihat gelang ini.”
Janah menerima gelang itu dengan tangan gemetar. Dia langsung memakainya di pergelangan tangan kirinya. “Aku tidak akan pernah melepasnya.”
“Kalau putus, lo buat lagi sendiri. Tali kur sisa ada di dalam kotak.”
Janah tertawa sambil menangis. “Kamu perhatian banget.”
“Hanya sama lo.”
Mereka berpelukan. Lama. Dalam diam.
Keesokan paginya, Joko mengantar Janah ke bandara lagi. Kali ini untuk keberangkatan yang sesungguhnya.
Sepanjang perjalanan dari Kuala Kapuas ke Banjarmasin, mereka tidak banyak bicara. Tapi tangan mereka tidak pernah lepas. Joko menggenggam tangan Janah erat, erat, seolah takut Janah akan melayang jika dilepaskan.
Di bandara, Janah check, in sendiri. Joko membantu membawakan kopernya.
“Tengil, aku harus masuk sekarang.”
“Iya.”
“Jangan nangis.”
“Gue nggak nangis.” (Joko berbohong. Matanya sudah merah.)
Janah memeluk Joko untuk terakhir kali.
“Aku sayang kamu, Joko Prayitno.”
“Gue juga sayang lo, Siti Nurjanah. Sampai kapan pun.”
Janah melepaskan pelukan, lalu berjalan menuju pintu keberangkatan.
Dia menoleh sekali lagi.
Joko masih berdiri di tempat yang sama. Tersenyum. Melambaikan tangan.
Janah tersenyum, lalu menghilang di balik pintu.
Joko berdiri di bandara, memandangi pesawat yang akan membawa Janah meninggalkannya.
Pesawat itu lepas landas, membelah langit biru Kalimantan, menuju ke selatan. Menuju Jawa. Menuju mimpi.
Di darat, Joko masih berdiri. Air matanya tidak lagi bisa ditahan.
“Selamat jalan, Jan. Sampai jumpa lagi di Kapuas.”
Langit Kapuas yang luas menjadi saksi bisu perpisahan yang mengharukan itu.
BAB 10
JARAK YANG MENYAKITKAN
Jam menunjukkan pukul 05.30 pagi. Joko berdiri di depan pagar rumah Janah seperti biasa. Sudah menjadi kebiasaan selama bertahun, tahun. Dia akan bersiul kecil, lalu pintu akan terbuka, dan Janah akan keluar dengan senyum cerahnya, siap berangkat sekolah bersama.
Tapi pagi itu berbeda.
Pintu rumah Janah tertutup rapat. Tidak ada suara. Tidak ada senyum. Yang ada hanya sepi.
Joko berdiri di sana selama sepuluh menit, berharap ada keajaiban. Berharap Janah akan keluar dan berkata, "Tengil, aku cuma bercanda. Aku tidak jadi pergi."
Tapi tidak ada keajaiban. Janah benar, benar pergi. Kemarin dia sudah terbang ke Yogyakarta. Kini dia berada ribuan kilometer jauhnya.
Joko berjalan sendiri ke sekolah. Setiap langkah terasa berat. Tasnya terasa kosong meskipun isinya sama. Udara pagi yang biasanya terasa segar, kini terasa dingin dan menusuk.
Di sekolah, Budi menyapanya. "Jok, lo sendirian? Mana Janah?"
"Janah udah berangkat ke Jogja. Kuliah."
"Wah, berarti lo sekarang jomblo?"
Joko tidak menjawab. Dia langsung masuk ke kelas tanpa menyapa siapa pun.
Sepanjang hari, Joko tidak fokus. Gurunya menerangkan tentang teknik las listrik, tapi pikirannya melayang ke Yogyakarta. Dia membayangkan Janah sedang apa sekarang. Mungkin sedang orientasi mahasiswa baru. Mungkin sedang berkenalan dengan teman, teman barunya. Mungkin sedang berjalan di antara gedung, gedung tinggi UGM.
Dan mungkin, sedang tersenyum pada cowok, cowok Jawa yang ganteng dan pintar.
Rasa cemburu itu muncul lagi. Joko mencoba mengusirnya dari kepalanya. "Janah bukan tipe orang yang mudah tergoda," katanya pada dirinya sendiri. Tapi perasaan itu tetap ada, menggerogoti hatinya seperti rayap.
Malam harinya, Joko menunggu telepon dari Janah. Janah berjanji akan menelepon setelah tiba di Jogja dan selesai urusan pendaftaran ulang.
Jam menunjukkan pukul 20.00. Belum ada telepon. Pukul 21.00. Belum ada. Joko mulai gelisah. Dia mondar, mandir di ruang tamu. Mak Dhijah yang sedang menonton televisi menatapnya heran.
"Kamu kenapa, Joko?"
"Nunggu telepon, Mak."
"Dari siapa?"
"Janah."
"Janah belum telepon?"
"Belum."
"Sabarlah, Nak. Mungkin dia sibuk."
Joko duduk di kursi. Tangannya memainkan ponsel jadulnya. Lima menit kemudian, ponsel itu berdering. Nama "Janah" muncul di layar.
Joko langsung mengangkat. "Jan!"
"Tengil!" suara Janah terdengar ceria, tapi sedikit lelah. "Maaf baru telepon. Tadi sibuk banget. Pendaftaran ulang antreannya panjang. Terus cari kosan juga susah."
"Lo udah dapet kosan?"
"Iya. Kos putri di daerah Pogung. Deket kampus. Kecil sih, tapi lumayan."
"Kamar lo gimana?"
"Kos, kosan biasa. Cuma ada kasur, meja belajar, dan lemari. Kamar mandi di luar."
"Jauh dari kampus?"
"Jalan kaki sekitar lima belas menit."
Joko terdiam. Dia membayangkan Janah berjalan sendirian di kota yang asing. Jauh dari keluarga. Jauh darinya.
"Jan, lo hati, hati ya."
"Iya, Tengil. Kamu juga. Kamu makan?"
"Udah."
"Kamu jangan lupa makan. Jangan lupa minum vitamin."
"Lo yang jangan lupa makan. Lo sekarang sendiri di sana."
"Aku nggak sendiri. Ada teman, teman baru."
Joko diam. Kata, kata "teman, teman baru" itu menusuk hatinya.
"Tengil? Kamu masih di sana?"
"Iya. Jan..."
"Apa?"
"Gue kangen."
Janah di seberang sana tersenyum. "Aku juga kangen, Tengil. Banyak."
"Lo janji telepon gue setiap hari."
"Nggak bisa setiap hari. Tapi seminggu sekali pasti."
"Tiap hari lah."
"Tengil, nanti tagihan teleponmu gede."
"Gue nggak peduli."
Janah tertawa. "Kamu aneh."
"Iya. Gue aneh. Tapi gue cinta sama lo."
"Tengil..."
"Apa?"
"Aku juga."
Mereka berdua diam. Hanya suara napas yang terdengar.
"Aku harus tidur, Tengil. Besok ada acara orientasi lagi."
"Baiklah. Selamat malam, Jan."
"Selamat malam, Tengil. Jaga diri."
Telepon ditutup. Joko masih memegang ponselnya, memandangi layar yang sudah gelap.
Mak Dhijah tersenyum. "Sudah? Lega?"
"Iya, Mak."
"Janah bilang apa?"
"Katanya dia kangen."
"Sudah. Sekarang tidur. Besok sekolah."
Joko masuk ke kamarnya. Dia merebahkan diri di kasur, memandangi langit, langit kamar. Kenangan tentang Janah berputar di kepalanya seperti film. Dia tersenyum sendiri, lalu menangis.
Minggu pertama Janah di Jogja adalah masa yang berat bagi Joko. Dia terbiasa melihat Janah setiap hari. Kini, dia hanya bisa mendengar suaranya lewat telepon seminggu sekali.
Dia mencoba mengisi kekosongan dengan bekerja di bengkel Bapak Sarimin sepulang sekolah. Bapak Sarimin, ayah Joko, memiliki bengkel kecil di belakang rumah. Spesialisasi tambal ban dan ganti oli.
"Joko, kamu kok rajin banget akhir, akhir ini?" tanya Bapak Sarimin suatu sore.
"Niatnya mau nabung, Pak."
"Buat apa?"
"Buat... sesuatu."
Bapak Sarimin tersenyum tahu. "Buat Janah?"
Joko tersenyum malu. "Iya, Pak."
"Bagus. Kamu harus jadi laki, laki yang bertanggung jawab. Janah sekarang kuliah di Jawa. Dia butuh dukungan, bukan cuma omongan."
"Iya, Pak. Joko akan buktikan."
Setiap malam, setelah membantu Bapak Sarimin di bengkel, Joko menulis surat untuk Janah. Surat, surat panjang, tulisan tangannya yang jelek, berisi cerita tentang kesehariannya di Kapuas. Tentang sungai. Tentang teman, teman. Tentang rasa rindunya.
Dia tidak mengirim surat, surat itu. Dia hanya menyimpannya di dalam map plastik di bawah kasur. Mungkin suatu hari, ketika Janah pulang, dia akan membacakannya.
Sementara Joko bergulat dengan kesepian di Kapuas, Janah menghadapi tantangannya sendiri di Jogja.
Dunia kampus sangat berbeda dengan dunia SMK di Kuala Kapuas. Gedung, gedung tinggi. Dosen, dosen dengan gelar profesor. Mahasiswa, mahasiswa dari seluruh Indonesia dengan latar belakang yang beragam.
Janah merasa kecil. Dia anak kampung. Dia tidak terbiasa dengan gaya bicara mahasiswa kota yang kritis dan percaya diri. Aksen Kapuasnya yang kental kadang menjadi bahan tertawaan.
Tapi Janah tidak menyerah. Dia belajar. Dia beradaptasi. Dia mengikuti semua kegiatan orientasi dengan antusias.
Di minggu kedua, dia bertemu dengan sekelompok mahasiswa baru dari berbagai daerah. Ada yang dari Papua, dari Sumatera, dari Sulawesi, dan dari Jawa. Mereka membentuk kelompok belajar.
Salah satu dari mereka bernama Dimas. Dimas dari Surabaya. Anaknya tampan, pintar, dan sangat ramah. Dia adalah mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi juga, satu angkatan dengan Janah.
Dimas yang pertama kali menyapa Janah.
"Halo, kamu Siti Nurjanah? Dari Kalimantan?"
"Iya. Panggil Janah aja."
"Janah. Nama yang indah. Saya Dimas. Dari Surabaya."
"Senang berkenalan."
"Kamu udah adaptasi? Jogja beda ya sama Kalimantan?"
"Beda banget. Dingin. Dan jalannya macet."
Dimas tertawa. "Kamu lucu."
Janah tersenyum. Dia tidak merasa ada yang aneh dengan pujian itu. Dimas hanya teman. Tidak lebih.
Tapi lambat laun, Dimas mulai sering mendekati Janah. Dia membantu Janah memahami materi kuliah yang sulit. Dia menemani Janah makan siang di kantin. Dia bahkan pernah mengantar Janah pulang ke kosan saat hujan deras dan Janah tidak membawa payung.
Janah tahu, Dimas mungkin punya perasaan lebih dari sekadar teman. Tapi dia tidak ingin berprasangka. Dia masih ingat janjinya pada Joko.
Panggilan telepon minggu ketiga.
"Jan, gimana kuliahnya?"
"Seru, Tengil. Dosen-dosennya baik. Teman, temannya juga ramah."
"Ada yang deket sama lo?"
Janah ragu sejenak. "Ada sih. Teman sekelompok belajar. Namanya Dimas."
Joko mengepalkan tangannya. "Dimas? Cowok?"
"Iya. Tapi dia baik. Dia bantuin aku belajar."
"Lo jangan terlalu deket sama dia."
"Tengil..."
"Gue serius, Jan. Gue nggak percaya sama cowok, cowok Jawa."
"Kamu ini masih cemburu buta."
"Ini bukan cemburu. Ini realitas."
Janah menghela napas. Dia lelah dengan sikap Joko yang posesif. "Joko, aku di sini sendirian. Aku butuh teman. Dimas hanya teman. Tidak lebih."
"Lo yakin?"
"Yakin. Aku cinta sama kamu. Hanya kamu."
Joko sedikit lega. Tapi di dalam hatinya, rasa tidak percaya itu masih bersarang.
"Baiklah. Tapi janji, lo jaga jarak sama Dimas."
"Janji."
Telepon ditutup. Joko masih belum tenang.
"Gue tahu gue posesif. Gue tahu gue cemburu buta. Tapi gue nggak bisa mengendalikan perasaan ini. Setiap kali Janah cerita tentang Dimas, perut gue mules. Dada gue sesak. Gue bayangin Janah tertawa bareng cowok itu. Janah makan bareng cowok itu. Janah pulang bareng cowok itu. Gue jadi sakit. Janah bilang dia cuma teman. Tapi bagaimana jika suatu hari nanti, dia sadar bahwa Dimas lebih baik dari gue? Dimas kuliah di UGM. Dia pinter. Dia tampan. Dia dari kota besar. Sementara gue? Cuma anak SMK jurusan mesin. Kuliah aja nggak. Masa depan nggak jelas. Gue nggak pantas buat Janah. Mungkin dia akan sadar sendiri."
"Aku sayang Joko. Tapi kadang dia terlalu posesif. Setiap kali aku cerita tentang teman laki, laki, dia langsung cemburu. Dia tidak percaya padaku. Padahal aku tidak pernah memberinya alasan untuk tidak percaya. Aku lelah. Lelah di cemburui terus. Lelah harus membela diri. Aku juga punya hak untuk berteman dengan siapa pun. Tapi kenapa dia selalu curiga? Mungkin karena dia insecure. Mungkin dia merasa tidak cukup baik untukku. Padahal dia lebih dari cukup. Joko... kamu tidak perlu cemburu. Karena hanya kamu yang ada di hatiku. Tapi jika kamu terus begini, aku bisa... lelah."
Suatu malam, Joko menerima SMS dari nomor yang tidak dikenal.
"Halo, ini Joko? Saya Dimas, temannya Janah. Janah cerita banyak tentang kamu. Saya hanya ingin bilang, Janah anak yang baik. Jaga dia baik, baik ya meskipun dari jauh."
Joko membaca SMS itu berulang kali. Matanya panas. Bukan karena terharu, tapi karena marah.
"Kenapa Dimas punya nomor gue? Kenapa Janah kasih nomor gue ke dia? Apa maksudnya dia mengirim SMS kayak gini? Apakah dia ingin menunjukkan bahwa dia lebih dekat dengan Janah? Bahwa dia lebih tahu tentang Janah?"
Joko tidak membalas SMS itu. Tapi dia langsung menelepon Janah. Sudah larut malam, Janah sudah tidur.
"Tengil? Ada apa? Jam segini..." suara Janah mengantuk.
"Lo kasih nomor gue ke Dimas?"
Janah terdiam. "Iya. Dia minta. Kata dia, dia ingin kenalan dengan kamu."
"Kenalan? Atau mau pamer kalau dia lebih dekat sama lo?"
"Joko, kamu kenapa sih? Dia cuma ingin berteman."
"Gue nggak butuh teman kayak dia."
"Joko, tolong jangan bikin masalah."
"Gue nggak bikin masalah. Dia yang bikin masalah."
Janah menghela napas panjang. "Aku capek, Joko. Capek dengan sikap kamu."
"Lo capek sama gue?"
"Aku capek di cemburui terus. Aku nggak melakukan apa, apa."
"Jadi lo pilih dia?"
"Aku nggak pilih siapa, siapa! Aku cuma mau kamu percaya sama aku!"
Mereka bertengkar lewat telepon. Suara mereka keras, bahkan Mak Dhijah yang di ruang tamu bisa mendengar.
"Joko, sudah malam. Istirahat dulu. Besok kalau sudah tenang, bicara lagi," pinta Mak Dhijah.
Joko menutup telepon tanpa mengucap salam.
Itu pertama kalinya mereka bertengkar lewat jarak ribuan kilometer. Dan rasanya, luka yang ditimbulkan lebih dalam daripada bertengkar langsung.
Setelah pertengkaran itu, Joko menjadi pendiam. Dia tidak menelepon Janah lagi. Ketika Janah yang menelepon, dia sering tidak mengangkat. Jika pun mengangkat, jawabannya singkat dan dingin.
"Tengil, kamu kenapa sih? Diam terus?" tanya Janah suatu hari.
"Nggak kenapa, kenapa."
"Kamu marah sama aku?"
"Nggak."
"Berbohong."
"Terserah lo mau bilang apa."
Janah menangis di seberang sana. "Joko, aku nggak kuat kalau kamu begini. Aku di sini sendirian. Aku butuh kamu. Tapi kamu malah menjauh."
"Lo nggak sendirian. Lo punya Dimas."
Itu kalimat pembunuh. Janah terdiam. Dia tidak menyangka Joko akan berkata sekejam itu.
"Joko, kamu tahu apa yang kamu katakan? Kamu sengaja menyakiti aku?"
"Gue cuma bilang fakta."
"Fakta? Tidak ada apa, apa antara aku dan Dimas! Dan kamu tahu itu!"
"Gue nggak tahu apa, apa. Gue di sini. Lo di sana. Jauh. Gue nggak tahu apa yang lo lakukan di sana."
"Jadi kamu tidak percaya padaku?"
"Gue nggak tahu."
Janah menutup telepon. Dia menangis tersedu, sedu di kamar kosnya.
Joko di Kapuas juga menangis. Tapi dia terlalu keras kepala untuk meminta maaf.
Waktu berlalu. Minggu berganti bulan. Janah sibuk dengan kuliahnya. Joko sibuk dengan sekolah dan bengkel. Komunikasi mereka semakin jarang. Dari seminggu sekali, menjadi dua minggu sekali. Kemudian sebulan sekali.
Saat mereka bicara pun, rasanya tidak seperti dulu. Ada jarak yang tidak hanya fisik, tapi juga emosional. Mereka berbicara seperti orang asing yang baru kenal. Tidak ada lagi candaan. Tidak ada lagi panggilan "Tengil" yang hangat. Tidak ada lagi "Jan" yang penuh kasih.
Joko menyadari ada yang salah. Tapi dia tidak tahu bagaimana memperbaikinya.
Janah juga menyadari. Tapi dia lelah menjadi satu, satunya yang berusaha.
Suatu malam, Janah mengirim pesan panjang untuk Joko.
"Tengil, aku sayang kamu. Tapi aku tidak bisa terus, terusan berjuang sendirian. Kamu juga harus berusaha. Kamu juga harus percaya padaku. Tanpa kepercayaan, hubungan jarak jauh seperti ini tidak akan pernah berhasil. Aku ingin kita baik, baik saja. Tapi aku tidak tahu harus bagaimana lagi."
Joko membaca pesan itu berulang kali. Air matanya menetes.
Dia ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa dia minta maaf. Ingin mengatakan bahwa dia akan berubah.
Tapi gengsinya terlalu tinggi.
Dia hanya membalas singkat: "Gue juga sayang lo. Tapi gue butuh waktu."
Janah membaca balasan itu. Hatinya hancur. "Butuh waktu untuk apa? Untuk menjauh? Atau untuk kembali?"
Dia tidak membalas.
Saat hubungan Joko dan Janah merenggang, Dimas semakin dekat.
Dia tahu Janah sedang bermasalah dengan Joko. Dia tahu Janah sering menangis di kamar kosnya. Dan sebagai teman, dia ingin membantu.
"Jan, kamu baik, baik saja?" tanya Dimas suatu hari di kantin.
"Iya. Kok?"
"Matamu sembab. Kamu habis nangis?"
Janah tersenyum pahit. "Joko dan aku bertengkar lagi."
"Tentang apa?"
"Tentang kamu."
Dimas terkejut. "Tentang aku? Kenapa?"
"Dia cemburu. Dia pikir kita punya hubungan spesial."
Dimas menghela napas. "Joko salah. Kita hanya teman. Tidak lebih."
"Aku tahu. Tapi dia tidak percaya."
"Sudah, Jan. Jangan sedih. Yang penting kamu tahu batasan. Dan aku juga tahu batasan. Aku tidak akan pernah mengambil hak orang lain."
Janah menatap Dimas. Matanya lembut. "Kamu baik, Mas."
"Bukan baik. Saya hanya menghormati perasaan orang."
Sejak saat itu, Dimas menjadi tempat curhat Janah. Bukan karena Janah jatuh cinta, tapi karena dia butuh teman. Dan Dimas selalu ada. Selalu mendengarkan. Selalu memberi nasihat yang bijak.
Tapi hati kecil Janah tahu: perasaan Dimas tidak lagi sekadar teman.
Di Kapuas, Joko semakin tenggelam dalam kesendirian. Dia jarang keluar rumah. Jarang bertemu teman, teman. Kalaupun ada yang mengajak nongkrong, dia lebih memilih diam di kamar.
Mak Dhijah khawatir.
"Joko, kamu kenapa? Kurus banget. Apakah kamu sakit?"
"Joko sehat, Mak."
"Kamu sedih karena Janah?"
Joko tidak menjawab.
"Sudah, Nak. Coba telepon Janah. Baikan."
"Janah yang harus telepon Joko."
"Kenapa?"
"Karena dia yang membuat Joko sedih."
Mak Dhijah menghela napas. "Anak muda zaman sekarang. Gengsi mulu."
Bapak Sarimin yang mendengar dari dapur ikut bicara. "Joko, kamu itu laki, laki. Jangan cengeng. Kalau sayang sama Janah, perjuangkan. Jangan cuma diem."
Joko masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Dia mengeluarkan map plastik berisi puisi, puisi yang pernah dia tulis untuk Janah. Dia membacanya satu per satu. Puisi, puisi itu terasa begitu indah dulu. Tapi kini, setiap bait terasa seperti pisau yang menusuk jantungnya.
"Gue benci perasaan ini," bisiknya. "Gue benci cinta."
Tiga bulan setelah Janah berangkat ke Jogja, Joko mengambil keputusan yang paling berat dalam hidupnya.
Suatu malam, dia menelepon Janah. Ini pertama kalinya dia menelepon duluan setelah berminggu, minggu.
"Jan."
"Tengil?" suara Janah terdengar terkejut sekaligus lega. "Kamu menelepon? Aku kira kamu sudah lupa nomorku."
"Jan, gue mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Gue lelah."
"Lelah apa?"
"Lelah cemburu. Lelah takut kehilangan. Lelah jadi cowok yang nggak cukup baik buat lo."
"Apa maksudmu?"
"Mungkin kita harus... berhenti."
Janah terdiam seperti disambar petir. "Apa?"
"Gue rasa ini yang terbaik. Lo di sana. Gue di sini. Kita berbeda dunia."
"Joko, jangan. Tolong jangan."
"Maaf, Jan."
"Jangan putusin hubungan ini lewat telepon! Joko!" teriak Janah dengan suara parau. "Kamu cowok pengecut!"
Joko tidak menjawab. Dia menutup telepon dan mematikan ponselnya.
Janah menelepon berkali, kali. Tidak ada jawaban. Dia mengirim puluhan pesan. Tidak ada balasan.
Di kamar kosnya di Jogja, Janah menangis sejadi, jadinya. Dia menggigit bantal supaya tidak terdengar oleh tetangga kos.
Dimas yang mendengar suara tangisan itu mengetuk pintu kamarnya.
"Jan, kamu baik, baik saja? Jan! Buka pintunya!"
Janah tidak membuka. Dia hanya terus menangis, memeluk gelang pemberian Joko, dan merasakan hatinya hancur berkeping, keping.
Tiga hari berikutnya, Joko tidak masuk sekolah. Dia tidak keluar kamar. Mak Dhijah mencoba membujuknya, tapi Joko hanya diam.
"Joko, makan, Nak. Ibu buatkan bubur."
"Joko nggak lapar, Mak."
"Kamu sudah tiga hari nggak makan. Kamu mau mati?"
"Biarkan."
Mak Dhijah menangis. "Joko, Ibu nggak tega lihat kamu kayak gini. Janah bukan satu, satunya perempuan di dunia."
"Tapi Janah satu, satunya di hati Joko."
Mak Dhijah memeluk anaknya. "Kalau begitu, jangan menyerah. Kalau kamu sayang dia, perjuangkan. Jangan cuma diam dan pasrah."
Joko terdiam.
Janah akhirnya menerima kenyataan. Joko sudah memutuskan untuk berhenti. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain melanjutkan hidup.
Dia melepas gelang pemberian Joko dari pergelangan tangannya. Bukan karena dia tidak sayang lagi. Tapi karena setiap kali melihat gelang itu, dia sakit.
Dia menyimpan gelang itu di dalam laci mejanya, bersama dengan surat, surat dan puisi, puisi dari Joko.
"Suatu hari nanti, mungkin aku akan membukanya lagi," bisiknya. "Tapi sekarang, aku harus sembuh dulu."
Dimas menjadi sandarannya. Dia tidak mengambil keuntungan dari kerapuhan Janah. Dia hanya menjadi teman yang baik. Mendengarkan. Menghibur. Menemani.
Di Kapuas, Joko kembali ke bengkel. Dia bekerja dari pagi hingga malam. Keringat dan oli menjadi pelupanya. Dia tidak menulis puisi lagi. Tidak mengenang lagi.
Tapi setiap malam, sebelum tidur, dia menatap langit, langit kamarnya dan bertanya pada bintang, bintang.
"Apakah dia baik, baik saja di sana? Apakah dia sudah bahagia tanpa gue? Apakah dia sudah menemukan seseorang yang lebih baik?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menusuk.
Langit Kapuas tetap sama seperti dulu. Luas. Tenang. Tapi kali ini, terasa begitu sepi.
BAB 11
SI TENGIL TERGODA LOKAL
Tiga bulan telah berlalu sejak Joko memutuskan hubungan jarak jauh dengan Janah. Tiga bulan yang terasa seperti tiga tahun. Tiga bulan yang diisi dengan rutinitas membosankan: bangun, mandi, makan, sekolah atau kerja di bengkel, tidur. Tidak ada lagi panggilan telepon di malam hari. Tidak ada lagi SMS ceria di pagi hari. Tidak ada lagi senyum Janah yang menyambutnya di depan pagar.
Joko berubah. Teman, temannya mulai merasakan perbedaan. Dulu dia dikenal sebagai Si Tengil yang suka bercanda dan membuat suasana menjadi hidup. Kini dia pendiam. Matanya sayu. Senyumnya jarang muncul. Bahkan ketika diajak nongkrong bareng teman, teman lama, dia lebih banyak diam.
“Jok, lo kenapa sih akhir, akhir ini?” tanya Budi suatu sore. Mereka sedang duduk di warung kopi langganan di dekat Pasar Sari Mulya. Budi mengisap rokok kreteknya dalam, dalam, sementara Joko hanya memainkan gelas kopi hitam di tangannya.
“Nggak kenapa, napa.”
“Bohong. Lo kayak mayat hidup. Kayak orang kehilangan semangat hidup.”
Joko tidak menjawab. Dia menyesap kopinya yang sudah dingin. Pahit. Tapi tidak sepahit hatinya.
“Ini soal Janah, kan?” tebak Budi. “Karena kalian putus?”
Joko menghela napas panjang. “Gue yang putusin.”
“Terus kenapa lo yang menderita?”
“Karena gue masih sayang sama dia. Tapi gue nggak kuat hubungan jarak jauh. Gue cemburu. Gue insecure. Gue nggak pantas buat dia.”
Budi menggeleng, gelengkan kepala. “Lo itu aneh, Jok. Lo sayang, tapi lo lepas. Lo sakit, tapi lo nggak mau berjuang.”
“Kadang cinta bukan tentang berjuang bersama. Tapi tentang melepaskan demi kebaikan orang yang kita cinta.”
“Omong kosong. Itu alasan cowok pengecut.”
Joko menatap Budi. Ada amarah di matanya. Tapi dia menahannya. Budi adalah temannya. Dia tidak ingin bertengkar.
“Terserah lo mau bilang apa,” kata Joko singkat. Dia berdiri, membayar kopinya, lalu pergi.
Budi hanya bisa menggeleng. “Dasar keras kepala.”
Beberapa minggu kemudian, Joko bertemu Maya di sebuah acara tujuh belasan di desa tetangga. Maya sudah lulus SMK dan sekarang bekerja di sebuah toko pakaian di pusat kota. Penampilannya berubah. Lebih modis. Lebih percaya diri. Rambutnya diwarnai cokelat kemerahan. Make, up, nya tipis tapi membuatnya terlihat lebih dewasa.
“Joko! Lama nggak ketemu!” sapa Maya dengan wajah sumringah. Dia langsung memeluk Joko tanpa canggung.
Joko terkejut. Badannya kaku. Tapi pelukan Maya terasa hangat. Berbeda dengan pelukan Janah yang lembut dan penuh perasaan, pelukan Maya terasa enerjik dan penuh percaya diri.
“Maya? Lo di sini?” tanya Joko setelah melepaskan pelukan.
“Iya. Aku ikut teman. Kamu sendiri? Mana Janah?”
Joko menggeleng. “Putus.”
Maya mengernyitkan dahi. “Putus? Kapan?”
“Beberapa bulan lalu. Janah kuliah di Jogja. Hubungan jarak jauh. Nggak kuat.”
Maya mengangguk pelan. Di matanya, ada sesuatu yang berbinar. Bukan simpati semata. Tapi juga... harapan.
“Maaf ya, Jok. Aku tahu kamu sayang banget sama dia,” kata Maya dengan nada lembut.
“Udahlah. Nggak usah dibahas.”
Sepanjang acara, Maya tidak pernah meninggalkan Joko. Mereka makan bareng, ikut lomba panjat pinang bareng (meskipun Maya hanya penonton), dan duduk, duduk di pinggir lapangan sambil menikmati kembang api.
Maya cerewet. Dia bercerita tentang pekerjaannya di toko pakaian. Tentang pelanggan, pelanggan yang menyebalkan. Tentang gajinya yang pas, pasan. Tentang mimpinya untuk membuka toko sendiri suatu hari nanti.
Joko mendengarkan. Biasanya, dia tidak tertarik dengan cerita seperti ini. Tapi entah mengapa, malam itu dia merasa nyaman. Mungkin karena Maya tidak membicarakan masa lalu. Mungkin karena Maya hadir di sini, di Kapuas, bukan di tempat yang jauh seperti Janah.
“Jok, kamu nggak bicara banyak,” kata Maya di tengah percakapan.
“Gue lagi dengerin lo.”
“Aku suka. Kamu pendengar yang baik.”
Joko tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Maya tersenyum balik. Senyum yang membuat jantung Joko berdegup sedikit lebih kencang. Dia segera mengusir perasaan itu. “Jangan,” katanya dalam hati. “Kamu masih sayang Janah.”
Tapi malam itu, saat mengantar Maya pulang, Joko tidak bisa mengelak saat Maya mencium pipinya.
“Selamat malam, Jok. Senang bertemu denganmu lagi.”
Maya berlari ke pintu rumahnya, meninggalkan Joko yang berdiri di depan pagar dengan perasaan campur aduk.
“Apa yang gue lakukan? Gue baru saja berduaan dengan Maya. Maya mencium pipi gue. Dan gue... nggak menolak. Apa gue sudah gila? Bukankah gue masih sayang Janah? Bukankah gue masih ingat janji di Jembatan Kapuas? Tapi kenapa perasaan ini nyaman? Kenapa kehadiran Maya seperti oase di tengah padang pasir yang gersang? Mungkin gue butuh pelarian. Mungkin gue butuh seseorang yang mengingatkan gue bahwa gue masih hidup. Tapi apakah ini adil untuk Maya? Apakah ini adil untuk Janah? Gue nggak tahu. Gue bingung. Yang gue tahu, malam ini gue nggak merasa sendirian untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir.”
Setelah malam tujuh belasan itu, Maya dan Joko semakin sering bertemu. Maya yang inisiatif. Dia sering mampir ke bengkel Joko dengan alasan “sekadar lewat” atau “kebetulan ada di sekitar”. Kadang dia membawa makanan, nasi bungkus atau gorengan dari pasar.
Bapak Sarimir yang melihat mulai curiga.
“Joko, siapa perempuan itu?” tanyanya suatu sore.
“Maya, Pak. Teman sekolah dulu.”
“Dia sering banget ke sini. Apa dia suka sama kamu?”
Joko malu. “Nggak tahu, Pak.”
Bapak Sarimir tersenyum. “Bapak tidak melarang kamu dekat dengan perempuan lain. Tapi ingat, kamu masih punya Janah.”
“Tapi Joko sudah putus, Pak.”
“Putus atau tidak, hati itu tidak bisa bohong. Coba kamu tanya hatimu, siapa yang masih di sana?”
Joko tidak menjawab. Dia melanjutkan pekerjaannya, membongkar mesin motor yang bermasalah. Tapi pikirannya kemana, mana.
Sementara itu, Janah di Jogja masih menjalani hidupnya. Dia belum tahu bahwa Joko mulai dekat dengan Maya. Dan mungkin lebih baik begitu. Setidaknya, dia tidak perlu menambah beban pikirannya.
Di Jogja, Janah mulai bisa bernapas lebih lega. Lukanya atas putusnya hubungan dengan Joko masih terasa. Tapi perlahan, dia belajar untuk tidak terlalu memikirkannya.
Dimas menjadi bagian penting dalam proses penyembuhannya. Setiap hari, mereka belajar bersama di perpustakaan fakultas. Setiap sore, jika tidak ada jadwal kuliah, mereka sering berjalan, jalan di sekitar kampus, membeli jajanan di kaki lima, atau sekadar duduk, duduk di taman sambil membahas tugas kuliah.
Dimas tidak pernah memaksa. Dia tahu Janah masih dalam masa pemulihan. Dia tidak pernah menyatakan cinta secara gamblang, meskipun perasaannya sudah jelas.
Suatu hari, saat hujan deras, Janah dan Dimas terjebak di emperan toko dekat kampus. Mereka hanya berdua. Dingin menggigit.
“Jan, kamu mau aku belikan minuman hangat?” tanya Dimas.
“Nggak usah, Mas. Nggak apa, apa.”
“Kamu menggigil.”
“Biasa. Aku dari Kapuas. Nggak biasa sama dingin.”
Dimas melepas jaketnya dan memberikan pada Janah. “Pakai ini.”
Janah menerima jaket itu. Jaket Dimas masih hangat. Wangi parfumnya yang khas, wangi kayu cendana.
“Makasih, Mas.”
“Sama, sama.”
Mereka diam beberapa saat. Hujan semakin deras. Genangan air mulai terbentuk di jalan.
“Jan,” kata Dimas tiba, tiba.
“Apa?”
“Aku suka sama kamu.”
Janah membeku. Ini yang dia takutkan. Dimas akhirnya menyatakan perasaan.
“Mas Dimas...”
“Jawab nanti saja. Aku tidak minta jawaban sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu. Aku sayang sama kamu. Sebagai teman. Mungkin lebih. Terserah kamu mau memberi label apa.”
Janah menunduk. “Aku belum siap, Mas.”
“Aku tahu. Dan aku akan menunggu. Tidak apa, apa.”
Hujan mulai reda. Mereka berjalan pulang dalam diam. Tidak ada yang bicara. Tapi ada sesuatu yang berubah di antara mereka.
“Dimas menyatakan perasaannya. Aku sudah menduga. Tapi mendengarnya langsung tetap saja membuatku bingung. Aku suka Dimas sebagai teman. Dia baik. Dia perhatian. Dia pintar. Tapi apakah aku cinta? Aku tidak tahu. Hatiku masih berantakan karena Joko. Meskipun sudah putus, bayangannya masih selalu ada. Setiap kali aku melihat langit Jogja yang mendung, aku teringat langit Kapuas yang biru. Setiap kali aku makan nasi goreng, aku teringat Joko yang suka membelikannya untukku. Joko... kenapa kamu memutuskan untuk pergi? Apa kamu sudah bahagia di sana? Apa kamu sudah menemukan penggantiku?”
Dua bulan berlalu. Joko dan Maya semakin sering bersama. Mereka sudah tidak bisa disebut “teman” lagi. Ada sesuatu di antara mereka yang lebih dari itu.
Suatu malam, mereka berdua duduk di Dermaga KP3. Angin sungai bertiup kencang. Perahu, perahu motor bersandar di dermaga, bergoyang pelan.
“Jok, kita ini apa?” tanya Maya sambil menatap Joko.
“Maksud lo?”
“Aku sering sama kamu. Kamu sering sama aku. Kita berduaan. Tapi kita nggak punya status.”
Joko menghela napas. Dia tahu pertanyaan ini akan datang suatu saat.
“Lo mau status apa?”
“Terserah kamu. Yang jelas, aku sayang sama kamu. Aku udah bilang dari dulu.”
Joko diam. Dia menatap air sungai yang hitam legam. Gelombang kecil berkejaran.
“Maya, gue masih sayang Janah.”
“Aku tahu.”
“Tapi gue juga nyaman sama lo.”
“Itu sudah cukup.”
“Belum cukup buat status pacaran.”
Maya tersenyum pahit. “Jadi kita apa? Teman yang suka berduaan?”
“Gue nggak tahu.”
“Joko, aku tidak ingin menjadi pelarianmu. Kalau kamu belum siap, katakan saja. Aku akan pergi.”
Joko menatap Maya. Wajahnya lembut di bawah sinar lampu dermaga. Ada ketulusan di matanya. Dan untuk pertama kalinya, Joko tidak bisa berkata jujur.
“Gue siap,” katanya, lebih pada dirinya sendiri daripada pada Maya. “Tapi perlahan.”
Maya tersenyum. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Joko. Joko tidak menolak. Dia membiarkan Maya ada di sana, di sampingnya, mengisi kekosongan yang ditinggalkan Janah.
Seminggu kemudian, Joko mengambil keputusan. Dia akan menjajal hubungan dengan Maya. Bukan karena dia sudah tidak cinta pada Janah. Tapi karena dia lelah sendirian. Lelah merindukan seseorang yang mungkin tidak akan pernah kembali.
Maya menerima dengan senang hati. Dia tahu Joko masih mencintai Janah. Tapi dia yakin, dengan waktu, Joko akan melupakan masa lalunya.
“Pokoknya kamu harus setia ya, Jok,” kata Maya saat mereka resmi menjadi pacar.
“Gue usahain.”
“Usahain? Bukan janji?”
“Gue nggak bisa janji apa, apa. Tapi gue akan coba jadi yang terbaik buat lo.”
Maya memeluk Joko. “Itu sudah cukup.”
Mereka mulai terlihat bersama di mana, mana. Di pasar. Di kafe. Di acara, acara kampung. Gosip cepat menyebar.
“Joko pacaran sama Maya.”
“Katanya dulu dekat sama Janah?”
“Sudah putus. Janah kuliah di Jawa. Joko ditinggal.”
“Wajar lah. Laki-laki mana yang tahan sendiri?”
Mak Dhijah mendengar gosip itu. Beliau tidak senang. “Joko, kamu pacaran sama Maya?”
“Iya, Mak.”
“Lalu Janah?”
“Sudah putus, Mak. Sudah lama.”
“Tapi Ibu masih berharap kalian berdua bersama. Ibu dan Mak Amin sudah menjodohkan kalian sejak dalam kandungan.”
“Maaf, Mak. Joko tidak bisa menunggu. Janah terlalu jauh. Joko butuh seseorang di sini.”
Mak Dhijah menghela napas. “Terserah kamu, Nak. Tapi ingat, jangan sampai kamu menyakiti Maya. Dan jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari.”
Joko mengangguk. Tapi di dalam hatinya, dia sudah menyesal. Bukan karena memilih Maya. Tapi karena harus melepaskan Janah.
Kabar tentang Joko dan Maya sampai ke telinga Janah melalui Siska, sahabatnya yang masih di Kapuas.
Siska mengirim pesan panjang di Facebook.
“Jan, maaf aku harus bilang ini. Joko sekarang dekat sama Maya. Mereka sudah resmi pacaran. Aku nggak tahu apakah kamu sudah move on atau belum. Tapi aku pikir kamu berhak tahu.”
Janah membaca pesan itu di kamar kosnya. Jari, jarinya gemetar. Matanya kabur.
“Joko sudah punya pacar baru. Dia sudah move on. Sementara aku? Masih di sini, berusaha menyembuhkan luka yang dia buat.”
Janah tidak menangis. Aneh. Biasanya dia mudah menangis. Tapi kali ini, dia hanya merasa hampa. Seperti ada bagian dari dirinya yang mati.
Dia membuka laci mejanya. Gelang pemberian Joko masih ada di sana, terbungkus rapi dalam plastik bening. Dia mengeluarkannya, memandanginya lama.
Lalu dia mengembalikannya ke dalam laci. Tidak menangis. Tidak marah. Hanya diam.
Dia membuka ponselnya, membuka kontak nama "Joko", dan menekan tombol hapus. Tanpa berpikir dua kali.
“Selamat tinggal, Tengil. Semoga kamu bahagia dengan pilihanmu.”
Dia mematikan lampu. Merebahkan diri di kasur. Dan untuk pertama kalinya, dia tidak memikirkan Joko sebelum tidur.
“Aku sudah menduga ini akan terjadi. Joko bukan tipe laki, laki yang bisa sendiri. Dia butuh seseorang di sampingnya. Di Kapuas, aku tidak bisa memberikannya. Maya bisa. Dan itu bukan salah Maya. Bukan salah Joko juga. Mungkin memang sudah takdirnya begitu. Aku hanya... kecewa. Kecewa karena dia tidak menunggu. Kecewa karena janji di Jembatan Kapuas ternyata hanya omong kosong. Tapi tidak apa, apa. Aku akan buktikan bahwa aku bisa hidup tanpanya. Aku akan fokus pada kuliah. Aku akan wujudkan mimpiku. Dan suatu hari nanti, ketika kita bertemu lagi, dia akan menyesal telah kehilangan aku.”
Sebulan pertama hubungan Joko dan Maya berjalan cukup mulus. Mereka sering pergi bersama, makan bersama, dan kadang menghabiskan waktu di rumah Maya ketika orang tuanya sedang tidak ada.
Tapi Joko merasa ada yang tidak beres.
Setiap kali dia bersama Maya, pikirannya sering melayang ke Janah. Setiap kali Maya tertawa, dia membayangkan tawa Janah yang lebih lembut. Setiap kali Maya memeluknya, dia merindukan pelukan Janah yang lebih hangat.
Dia tidak mencintai Maya. Dia hanya menggunakan Maya sebagai pelarian. Dan itu tidak adil.
Suatu malam, saat mereka sedang berduaan di rumah Maya, Maya bertanya sesuatu yang membuat Joko tersentak.
“Jok, kamu pernah bercinta?”
Joko terperanjat. “Apa?”
“Bercinta. Seks. Kamu tahu maksudku.”
“Maya, kita masih baru pacaran. Belum saatnya.”
“Kamu nggak mau?”
“Bukan nggak mau. Tapi ini terlalu cepat.”
Maya mendekat. Wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari Joko. “Aku siap, Jok. Aku percaya sama kamu.”
Joko mundur. “Maaf, Maya. Gue belum siap.”
Maya kecewa. “Kamu masih memikirkan Janah, ya?”
“Gue selalu memikirkan Janah. Gue nggak bisa bohong.”
“Jadi selama ini aku hanya pelarian?”
Joko diam. Itu adalah jawaban yang paling jujur.
Maya menangis. “Joko, kamu tega. Aku sayang sama kamu. Tapi kamu masih mencintai mantanmu.”
“Maaf, Maya. Gue nggak bermaksud menyakiti lo.”
“Pergi!”
Joko berdiri dan pergi. Di perjalanan pulang, dia menyesali semuanya. Dia seharusnya tidak memulai hubungan dengan Maya jika hatinya masih belum bersih.
Setelah malam itu, hubungan Joko dan Maya menjadi renggang. Mereka masih bertemu, tapi suasana berbeda. Maya menjadi dingin. Joko menjadi canggung.
Suatu hari, Maya mengajak Joko bicara di taman kota.
“Jok, kita putus aja,” kata Maya tanpa basa, basi.
Joko tidak terkejut. Dia sudah menduga. “Maaf, Maya. Gue tahu gue salah.”
“Kamu salah karena masih mencintai Janah. Bukan karena tidak mau bercinta denganku.”
“Gue nggak bisa memaksakan hati.”
“Aku tahu. Makanya aku melepasmu.”
Maya tersenyum pahit. “Joko, kamu orang yang baik. Tapi kamu belum sembuh dari luka masa lalu. Jangan cari pelarian. Hadapi saja rasa sakitmu. Nanti kalau sudah benar, benar sembuh, baru cari yang baru.”
“Makasih, Maya.”
“Sama, sama. Semoga kamu bisa mendapatkan Janah kembali suatu hari nanti.”
Joko menghela napas. “Itu tidak mungkin. Dia sudah jauh. Dan dia mungkin sudah benci padaku.”
“Cinta tidak mengenal jarak, Jok. Dan benci kadang hanyalah cinta yang kecewa.”
Maya pergi. Joko berdiri di taman, sendirian, dengan perasaan yang lebih campur aduk dari sebelumnya.
Setelah putus dengan Maya, Joko kembali ke kesendirian. Tapi kali ini, dia tidak lagi mencari pelarian. Dia mulai menerima bahwa dia masih mencintai Janah. Dan bahwa cinta itu mungkin tidak akan pernah hilang.
Dia kembali menulis puisi. Bukan untuk dikirim, hanya untuk dibaca sendiri.
Janah...
Aku telah tersesat
Mencari pelarian di pelukan yang salah
Kini aku sadar
Bahwa tak ada tempat berpulang selain dirimu
Dia menyimpan puisi itu di bawah kasurnya, bersama dengan puisi, puisi lama.
Dia juga mulai fokus pada bengkel. Bapak Sarimin bangga melihat semangat Joko yang kembali.
“Kamu sudah baikan, Joko?” tanya Bapak Sarimin.
“Sudah, Pak. Joko sadar, hidup harus terus berjalan. Tapi hati tetap bisa memilih untuk menunggu.”
Bapak Sarimin tersenyum. “Kamu sudah dewasa, Nak.”
Sementara Joko kembali ke titik nol, Janah mulai membuka hatinya untuk Dimas. Bukan sepenuhnya, masih ada luka yang belum sembuh. Tapi perlahan, dia mulai menerima kehadiran Dimas sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar teman.
Dimas tidak pernah memaksa. Dia sabar. Dia mengerti bahwa Janah butuh waktu.
Suatu malam, saat mereka sedang menonton film di bioskop kampus, Dimas menggenggam tangan Janah. Janah tidak melepaskan. Dia membiarkan tangannya tergenggam.
Setelah film selesai, Dimas berkata, “Jan, aku tahu kamu masih sakit. Tapi aku akan ada di sini. Sampai kapan pun.”
Janah menatap Dimas. “Kamu yakin mau menunggu seseorang yang hatinya mungkin masih milik orang lain?”
“Aku yakin. Karena aku percaya, pada waktunya, kamu akan sembuh. Dan kamu akan melihat aku sebagai pilihan.”
Janah tersenyum. “Kamu aneh, Dimas.”
“Aku tahu. Tapi aku aneh yang mencintaimu.”
Itu pertama kalinya Dimas mengucapkan kata "cinta" secara langsung. Janah tidak menjawab. Tapi senyumnya sudah menjadi jawaban.
Hubungan Joko, Maya kandas setelah hanya tiga bulan. Joko kembali sendiri, dengan pelajaran berharga: bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, dan pelarian hanya akan menyakiti semua pihak.
Janah, di Jogja, mulai membuka pintu hatinya untuk Dimas. Bukan karena dia sudah tidak cinta pada Joko. Tapi karena dia belajar bahwa hidup harus terus berjalan, dan kebahagiaan bisa datang dari arah yang tidak disangka, sangka.
Dua insan yang pernah saling berjanji di Jembatan Kapuas kini berjalan di jalurnya masing, masing. Jauh. Terpisah. Namun di kedalaman hati mereka, masih ada secuil harapan: bahwa suatu hari nanti, takdir akan mempertemukan mereka lagi.
Di Kapuas, langit tetap biru. Sungai tetap mengalir.
Dan Joko tetap menanti.
BAB 12
JANAH DAN DIMAS – DEKAT TANPA STATUS
Bulan, bulan berlalu di Yogyakarta. Janah kini sudah memasuki semester empat kuliahnya di Jurusan Ilmu Komunikasi UGM. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Dari mahasiswa baru yang bingung dengan peta kampus, kini dia sudah hafal setiap sudut Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Dia sudah punya lingkaran pertemanan yang solid, beberapa dari program Bidik Misi seperti dirinya, beberapa dari jalur mandiri, dan beberapa dari berbagai daerah di Indonesia.
Tapi ada satu orang yang paling sering berada di sisinya: Dimas.
Dimas dan Janah sudah tidak bisa dipisahkan. Mereka selalu bersama di kelas, di perpustakaan, di kantin, bahkan di luar kampus. Teman, teman mereka mulai bertanya, tanya.
“Jan, kalian itu pacaran nggak sih?” tanya Nimas, sahabat Janah dari Padang.
Janah tersenyum malu. “Nggak, Nimas. Kita temenan.”
“Temenan? Masa sih? Dimas anter jemput kamu setiap hari. Dia beliin makan. Dia temenin kamu belajar sampe malam. Itu bukan teman, itu pacar.”
“Dimas baik. Dia bantuin aku karena aku bukan orang Jogja.”
Nimas terkekeh. “Alasan. Aku juga bukan orang Jogja. Aku dari Padang. Tapi Dimas nggak pernah anter jemput aku.”
Janah tidak bisa menjawab. Nimas benar. Dimas memang lebih dari sekadar teman. Tapi Janah belum siap memberi label. Hatinya masih terbelah antara masa lalu yang bernama Joko dan masa kini yang bernama Dimas.
Dia ingat pesan terakhir dari Siska beberapa bulan lalu: “Joko sudah putus dengan Maya. Sekarang dia sendiri lagi. Katanya dia masih sayang sama kamu.”
Pesan itu mengacaukan segalanya. Saat Janah mulai merasa nyaman dengan Dimas, bayangan Joko kembali menghantuinya.
Suatu sore, Janah dan Dimas sedang berjalan di kawasan Benteng Vredeburg. Udara Jogja sore itu terasa sejuk setelah seharian diguyur hujan. Genangan air masih ada di beberapa tempat. Mereka berdua berbagi payung biru, payung lipat milik Dimas yang selalu dia bawa kemana, mana.
“Jan, kamu pernah nggak kepikiran... kita ini sebenarnya apa?” tanya Dimas sambil menatap lurus ke depan.
Janah menunduk. Pertanyaan itu sudah sering dia dengar, baik dari Dimas maupun dari teman, teman. Tapi kali ini, Dimas bertanya dengan nada yang lebih serius.
“Aku nggak tahu, Mas. Kita teman yang dekat. Sangat dekat.”
“Tapi aku tidak ingin hanya jadi teman dekatmu selamanya.”
Janah berhenti melangkah. Payung biru itu masih menaungi kepala mereka. Dari bawah tenda payung, dunia terasa lebih kecil dan lebih privat.
“Mas Dimas, aku suka sama kamu. Tapi aku belum bisa bilang cinta.”
Dimas menghela napas. “Karena Joko?”
Janah mengangguk pelan. “Joko adalah bagian terbesar dari masa laluku. Kami tumbuh bersama sejak kecil. Kami dijodohkan oleh orang tua. Kami berjanji di Jembatan Kapuas. Tapi kami juga terluka. Aku tidak bisa melupakannya begitu saja.”
“Aku tidak minta kamu melupakannya, Jan. Aku hanya minta kesempatan.”
Janah menatap Dimas. Wajahnya teduh. Matanya jujur. Tidak ada kepalsuan di sana.
“Aku belum bisa memberi status, Mas. Tapi aku berjanji tidak akan menutup hati.”
Dimas tersenyum. “Itu sudah cukup. Aku akan terus di sini. Sampai kamu siap.”
Mereka melanjutkan perjalanan. Tangan mereka tidak bergandengan. Tapi bahu mereka nyaris bersentuhan. Dan bagi Janah, itu adalah tingkat kedekatan yang masih aman, tidak terlalu jauh, tidak terlalu dekat.
“Aku mencintai Joko. Tapi Joko sudah pergi. Dia sudah punya Maya, meskipun putus, tetap saja dia sudah memilih orang lain. Sementara Dimas ada di sini. Setiap hari. Setiap waktu. Dia sabar. Dia tidak pernah memaksa. Dia menerima aku apa adanya, termasuk kebingunganku. Tapi kenapa aku masih ragu? Mungkin karena aku belum benar, benar move on. Mungkin karena setiap kali Dimas mendekat, aku teringat pada Joko. Aku tidak adil pada Dimas. Dia pantas mendapatkan seseorang yang bisa mencintainya sepenuhnya. Bukan setengah, setengah seperti ini.”
“Aku tahu Janah masih mencintai cowoknya di Kapuas. Aku tahu aku hanya nomor dua. Tapi aku tidak peduli. Aku yakin, pada waktunya, Janah akan melihatku. Aku akan menunjukkan bahwa cinta tidak harus selalu tentang masa lalu yang epik. Cinta juga bisa tentang masa kini yang sederhana: berbagi payung di saat hujan, menemani belajar hingga malam, mendengarkan cerita tanpa menghakimi. Aku akan sabar. Karena Janah berharga untuk ditunggu.”
Di mata teman, teman, Janah dan Dimas sudah seperti sepasang kekasih. Mereka sering terlihat berdua. Mereka sering saling bertukar pesan di sela, sela kuliah. Dimas selalu mengingatkan Janah untuk makan. Janah selalu mengingatkan Dimas untuk istirahat.
Suatu hari, teman sekelas mereka, Ayu, mengadakan pesta ulang tahun di sebuah kafe di kawasan Demangan. Ayu mengundang seluruh teman sekelas, sekitar tiga puluh orang. Janah dan Dimas datang bersama.
Sepanjang acara, mereka duduk berdampingan. Dimas mengambilkan makanan untuk Janah. Janah menyuapi Dimas dengan kue ulang tahun. Mereka tertawa bersama. Tidak ada yang aneh, bagi mereka.
Tapi bagi yang lain, itu sudah lebih dari sekadar pertemanan.
“Jan, aku serius tanya,” kata Nimas sambil menarik Janah ke sudut ruangan. “Kamu dan Dimas itu pacar nggak sih? Jangan bilang teman lagi. Teman nggak saling nyuap kayak gitu.”
Janah tertawa geli. “Iya, kami teman.”
“Janah, aku ini teman kamu. Jangan bohong.”
“Aku nggak bohong. Sungguh, kami belum pacaran.”
“Belum? Artinya kamu akan?”
Janah menghela napas. “Aku tidak tahu. Aku masih bingung.”
Nimas menggeleng. “Kamu itu, Jan. Jangan main, main dengan perasaan Dimas. Dia orang baik. Dia serius sama kamu.”
“Aku tahu. Tapi aku juga tidak mau memaksakan diri kalau aku belum siap.”
“Lalu kapan siap? Tunggu Joko datang menjemput? Joko sudah punya pacar baru, Jan. Sudah putus pun, dia sudah pernah selingkuh.”
Janah terdiam. Kata, kata Nimas menusuk jantungnya. “Joko sudah punya pacar baru.” Itu fakta yang tidak bisa dia hindari.
“Aku akan pikirkan, Nimas. Janji.”
Malam itu, setelah pesta ulang tahun, Janah tidak bisa tidur. Dia duduk di meja belajarnya, membuka laptop, lalu membuka aplikasi notes. Jari, jarinya menari di atas keyboard. Dia menulis surat untuk Joko, surat yang tidak akan pernah dia kirim.
“Tengil,
Masih ingat aku? Mungkin tidak. Mungkin kamu sudah sibuk dengan Maya atau perempuan lain di Kapuas. Itu tidak masalah. Aku hanya ingin bercerita.
Di sini, di Jogja, aku bertemu seseorang. Namanya Dimas. Dia baik. Sangat baik. Dia selalu ada untukku. Dia tidak pernah memaksa. Dia sabar menungguku sembuh dari lukamu.
Tapi kenapa hatiku masih terasa berat? Kenapa setiap kali dia memegang tanganku, yang terbayang adalah tangan kasarmu? Kenapa setiap kali dia tertawa, aku merindukan tawamu yang tengil itu?
Aku benci kamu, Joko. Benci karena kamu pergi. Benci karena kamu memilih Maya. Tapi aku juga masih sayang kamu. Dan rasa sayang itu yang membuatku tidak bisa sepenuhnya menerima Dimas.
Mungkin ini egois. Mungkin aku tidak pantas untuk Dimas. Tapi aku juga tidak pantas untukmu.
Joko, apa kabar di Kapuas? Apakah sungai masih tenang? Apakah pohon rambutan di belakang rumahmu masih berbuah lebat? Apakah kau masih sering ke Jembatan Kapuas?
Aku rindu. Bukan hanya pada dirimu. Tapi pada masa lalu yang tidak akan pernah kembali.
Selamat malam, Tengil.
Janah.”
Janah membaca surat itu berulang kali. Lalu dia menghapusnya. Tidak disimpan. Tidak dikirim. Hanya dihapus.
Karena beberapa hal memang lebih baik tidak pernah dikatakan.
Meskipun Dimas berusaha sabar, kegelisahan mulai menyelimuti hatinya. Sudah berbulan, bulan dia dekat dengan Janah, tapi status mereka masih menggantung. Dia tidak pernah bisa memeluk Janah dengan leluasa. Tidak pernah bisa mencium keningnya saat berpamitan. Tidak pernah bisa menyebutnya "pacarku" di depan orang lain.
Semua temannya sudah tahu dia suka Janah. Beberapa mendukung, beberapa memperingatkan.
“Mas Dimas, kamu yakin sama Janah? Dia kan masih patah hati,” kata teman sekelasnya, Raka.
“Aku yakin.”
“Tapi dia belum move on, Mas. Kasihan kamu. Jadi cadangan.”
Dimas tersinggung. “Janah tidak memperlakukanku sebagai cadangan.”
“Dia belum memberi status. Itu artinya dia masih ragu. Dan keraguan itu muncul karena dia masih memikirkan cowok lamanya.”
Dimas tidak bisa membantah. Raka benar. Dan fakta itu menyakitkan.
Suatu malam, Dimas memutuskan untuk bicara jujur pada Janah.
“Jan, aku tidak bisa terus seperti ini.”
“Seperti apa, Mas?”
“Dekat tanpa status. Aku sayang kamu. Tapi aku juga manusia. Aku punya perasaan. Aku tidak bisa terus menerus menjadi seseorang yang tidak jelas.”
Janah menunduk. “Aku minta maaf, Mas. Aku belum siap.”
“Kapan kamu siap?”
“Aku tidak tahu.”
“Kalau aku memberi waktu seminggu? Dua minggu? Sebulan?”
Janah menggeleng. “Aku tidak bisa dipaksa, Mas.”
Dimas menghela napas. “Baiklah. Aku akan mundur dulu. Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku butuh menjaga hatiku.”
Janah terkejut. “Maksudmu? Kita tidak akan bertemu lagi?”
“Kita tetap teman. Tapi aku tidak akan lagi mengantarmu, menemanimu belajar, atau melakukan hal, hal yang biasanya pacar lakukan. Aku akan menjaga jarak. Untuk kebaikan kita berdua.”
Air mata Janah menetes. “Aku tidak mau kehilangan kamu, Mas.”
“Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku hanya mundur selangkah.”
Dimas berdiri dan pergi. Janah hanya bisa memandang punggungnya yang menjauh.
Seminggu tanpa Dimas adalah masa tersulit bagi Janah sejak pindah ke Jogja. Dia sadar bahwa selama ini dia terlalu bergantung pada Dimas. Dimas yang mengingatkannya untuk makan. Dimas yang menemaninya ke perpustakaan. Dimas yang menjadi tempat curhatnya. Tanpa Dimas, Janah merasa kehilangan.
Dia mencoba mengisi kekosongan dengan belajar lebih giat. Dia mengerjakan tugas, tugas yang sempat tertunda. Dia membaca buku, buku di perpustakaan hingga larut malam.
Tapi di sela, sela kesibukannya, dia selalu memikirkan Dimas.
“Apakah dia baik, baik saja? Apakah dia marah padaku? Apakah dia sudah menemukan penggantiku?”
Dia juga memikirkan Joko. Tapi anehnya, pikirannya tentang Joko mulai berkurang. Yang lebih sering hadir adalah bayangan Dimas.
Suatu malam, Janah mengirim pesan pada Dimas.
“Mas, aku kangen.”
Dimas membalas beberapa menit kemudian. “Kangen apa? Kita masih teman.”
“Kangen seperti biasanya. Kangen ngobrol. Kangen ketawa bareng.”
“Jan, aku sudah bilang. Aku mundur. Jangan buat aku bingung.”
“Aku tidak bermaksud membuatmu bingung. Aku hanya jujur.”
Dimas tidak membalas. Janah mematikan ponselnya. Dia menangis dalam diam.
Tiga hari kemudian, Janah memutuskan untuk menemui Dimas di kosannya. Ini pertama kalinya dia datang ke kos Dimas tanpa diantar atau tanpa janji sebelumnya.
Dimas terkejut saat membuka pintu. “Jan? Jam segini? Ada apa?”
“Aku mau bicara, Mas.”
Dimas mempersilakan Janah masuk. Kosannya kecil, hanya kamar dengan kasur, lemari, dan meja belajar. Tapi rapi. Ada wangi pengharum ruangan yang membuatnya terasa nyaman.
Mereka duduk di lantai beralaskan karpet. Jarak mereka cukup dekat.
“Mas Dimas, aku sudah berpikir,” kata Janah.
“Tentang apa?”
“Tentang kita.”
Dimas terdiam. Dia menunggu.
“Aku tidak bisa menjanjikan cinta sebesar yang kamu berikan. Tapi aku ingin mencoba. Aku ingin memberi kesempatan pada kita.”
“Maksudmu?”
“Maksudku... aku mau jadi pacarmu.”
Dimas terperanjat. Dia tidak menyangka. “Kamu serius?”
“Serius. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Jangan sakiti aku. Dan... bersabarlah kalau aku kadang masih teringat masa lalu.”
Dimas tersenyum. Senyum terbesarnya. “Jan, aku tidak pernah berniat menyakiti kamu. Dan aku akan bersabar. Sampai kapan pun.”
Dia menggenggam tangan Janah. Janah tidak melepaskan.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka berdua mengakui di hadapan satu sama lain bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Tidak ada kembang api. Tidak ada orkestra. Hanya dua hati yang lelah sendiri dan memilih untuk bersama.
Kabar bahwa Janah dan Dimas resmi berpacaran menyebar cepat di kalangan teman, teman. Mayoritas mendukung.
“Akhirnya! Gue udah dari dulu bilang kalian cocok,” kata Nimas sambil memeluk Janah.
“Dimas orang baik, Jan. Jangan sia, siakan,” pesan Raka.
Tapi ada juga yang mengkhawatirkan. “Janah masih patah hati dari cowok di Kapuas. Jangan, jangan dia menjadikan Dimas pelarian,” bisik seseorang.
Janah mendengar bisikan itu. Dia berusaha tidak peduli. Tapi di dalam hatinya, dia bertanya, tanya. Apakah dia benar, benar mencintai Dimas? Atau hanya butuh kehadiran seseorang?
Dia memutuskan untuk tidak terlalu dipikirkan. Yang penting saat ini, dia bahagia. Atau setidaknya, dia mencoba untuk bahagia.
Dimas menjadi pacar yang sempurna. Dia perhatian tanpa berlebihan. Dia romantis tanpa membuat Janah merasa tertekan. Dia memberi ruang, tapi juga selalu ada saat Janah butuh.
Janah perlahan mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar nyaman. Dia mulai merasakan... cinta. Mungkin tidak sebesar cintanya pada Joko. Tapi cinta yang berbeda. Cinta yang dewasa. Cinta yang tidak dibumbui drama dan cemburu buta.
Bulan, bulan pertama pacaran berjalan dengan indah. Janah dan Dimas melakukan hal, hal yang biasanya dilakukan pasangan kekasih. Mereka jalan, jalan ke Malioboro di minggu pagi. Mereka naik bus kota bersama. Mereka mencoba kuliner Jogja yang legendaris, gudeg, bakpia, sate klathak, angkringan.
Dimas mengenalkan Janah pada teman, teman lamanya dari SMA di Surabaya. Janah memperkenalkan Dimas pada teman, teman sesama Bidik Misi.
Dimas juga mulai belajar tentang Kapuas. Dia penasaran dengan kampung halaman Janah.
“Cerita dong tentang Kapuas,” pinta Dimas suatu malam saat mereka sedang duduk di Taman Pintu Air.
Janah tersenyum. Matanya menerawang jauh.
“Kapuas itu indah, Mas. Sungainya besar. Rumah, rumah panggung di tepian. Pasar Sari Mulya yang ramai. Dan orang-orangnya... hangat.”
“Kangen?”
Janah mengangguk. “Kangen kampung. Kangen ibu.”
“Kangen Joko juga?”
Janah terdiam. Dimas tidak sengaja menyebut nama itu.
“Maaf. Aku tidak bermaksud...”
“Tidak apa, apa, Mas. Joko adalah bagian dari masa laluku. Aku tidak bisa menghapusnya. Tapi dia sudah berlalu. Dan aku memilih kamu.”
Dimas memegang tangan Janah. “Aku tidak akan menanyakan Joko lagi. Janji.”
“Terima kasih, Mas.”
Malam itu, untuk pertama kalinya, Janah benar, benar merasa bahwa dia bisa move on. Mungkin tidak sepenuhnya. Tapi setidaknya, dia sudah berada di jalan yang benar.
“Dimas berbeda dengan Joko. Joko itu keras, tengil, dan penuh drama. Dimas tenang, lembut, dan dewasa. Awalnya aku pikir aku tidak akan pernah bisa mencintai tipe cowok seperti Dimas. Tapi ternyata... cinta bisa tumbuh di tempat yang tidak kita duga. Aku tidak tahu apakah ini cinta yang sebenarnya atau hanya kenyamanan. Tapi yang aku tahu, saat ini, aku bahagia. Dan untuk seseorang yang baru saja patah hati, kebahagiaan adalah hal yang sangat berharga.”
Semakin hari, Janah semakin jarang memikirkan Joko. Ingatan tentang masa lalu mulai memudar, digantikan oleh ingatan baru bersama Dimas.
Dia tidak lagi menangis saat mendengar lagu, lagu yang dulu sering mereka dengarkan berdua. Dia tidak lagi sedih saat melewati Jembatan Kapuas dalam ingatannya, meskipun jembatan itu tetap menjadi simbol yang kuat.
Dia bahkan sudah bisa membuka laci yang berisi gelang pemberian Joko tanpa menangis. Dia mengeluarkan gelang itu, memandanginya, lalu memasukkannya kembali. Tidak ada air mata. Hanya kenangan.
“Aku sudah ikhlas, Joko. Semoga kamu juga.”
Suatu malam, saat Janah sedang belajar di kamar kosnya, ponselnya berdering. Nomor asing dengan kode area Kapuas.
Janah mengangkat. “Halo?”
“Janah? Ini Mak Dhijah.”
Janah terperanjat. Mak Dhijah? Ibu Joko? Kenapa beliau menelepon?
“Mak Dhijah? Ada apa, Mak?”
“Janah, anak ibu mau minta tolong.” Suara Mak Dhijah terdengar parau. Seperti orang yang baru saja menangis.
“Ada apa, Mak? Joko kenapa?”
“Joko... dia kecelakaan, Nak. Jatuh dari motor minggu lalu. Kakinya patah. Sekarang masih di rumah sakit.”
Janah terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
“Dia sadar, Mak?”
“Sadar. Tapi dia... dia nggak mau makan. Nggak mau bicara. Setiap ditanya, dia cuma diem. Ibu curiga dia sedih karena... karena kamu. Ibu minta tolong, telepon dia, Jan. Bujuk dia. Kasih semangat.”
Janah bingung. “Mak, saya sudah punya pacar. Saya tidak mau membuat Joko semakin sakit hati.”
“Janah, Ibu nggak minta kamu balik sama Joko. Ibu cuma minta kamu bantu Joko sembuh. Dia perlu seseorang yang dia sayang. Dan orang itu cuma kamu.”
Janah menangis. “Baik, Mak. Saya akan telepon Joko.”
Setelah telepon ditutup, Janah terdiam lama. Dia memandangi ponselnya. Jari, jarinya gemetar.
Dia tahu ini salah. Dia tahu Dimas akan sakit hati jika tahu. Tapi bagaimana mungkin dia mengabaikan Joko yang sedang terbaring sakit?
Akhirnya, dia menekan tombol panggil.
Telepon diangkat setelah beberapa kali dering. Suara Joko terdengar lemah.
“Halo?”
“Tengil...”
Diam panjang.
“Jan? Lo telepon?”
“Iya. Mak Dhijah cerita. Kamu kecelakaan?”
“Iya. Nggak parah. Patah kaki doang.”
“Jangan bohong. Mak Dhijah bilang kamu nggak mau makan. Nggak mau bicara.”
Joko terdiam. “Gue nggak kenapa, napa.”
“Joko, aku sayang sama kamu. Sebagai teman lama. Tolong jaga diri kamu. Makan yang banyak. Minum obat. Ikuti terapi.”
“Lo sayang sama gue? Tapi lo punya pacar baru.”
Janah terdiam. Joko tahu.
“Siapa yang bilang?”
“Semua orang tahu. Bahkan di Kapuas. Cerita lo sama Dimas.”
“Joko, maaf...”
“Nggak usah minta maaf. Lo bebas. Gue yang putusin duluan. Gue yang deket sama Maya duluan. Lo berhak bahagia.”
“Joko...”
“Gue ikhlas, Jan. Lo pantas dapat yang lebih baik dari gue. Dimas pasti orang baik.”
Janah menangis tersedu, sedu. “Jangan kayak gini, Tengil. Aku nggak tega.”
“Lo nggak perlu tega. Lo perlu hidup. Lanjutkan kuliah lo. Gapai mimpi lo. Jangan pusingin gue.”
“Tapi aku masih sayang sama kamu, Tengil. Sebagai teman. Jangan hilang.”
“Gue nggak akan hilang. Gue akan tetap ada di Kapuas. Sampai kapan pun. Tapi lo harus lanjutkan hidup lo di sana.”
Telepon ditutup. Janah tidak bisa berhenti menangis. Dia memeluk bantalnya, membayangkan Joko yang terbaring di rumah sakit, sendirian, kesakitan, dan mungkin hancur hati.
Panggilan telepon dari Joko menjadi titik balik bagi Janah. Dia sadar bahwa dia tidak bisa sepenuhnya menghapus Joko dari hidupnya. Joko akan selalu menjadi bagian dari dirinya, sebagai kenangan, sebagai teman lama, sebagai seseorang yang pernah sangat dia cintai.
Tapi dia juga sadar bahwa masa lalunya tidak boleh menghancurkan masa depannya. Dia memilih Dimas. Bukan karena Dimas lebih baik dari Joko. Tapi karena Dimas ada di sini, di Jogja, bersamanya. Sementara Joko memilih untuk tinggal di Kapuas, dengan dunianya sendiri.
Malam itu, Janah mengirim pesan pada Dimas.
“Mas, aku sayang kamu. Maaf kalau aku belum bisa menjadi yang terbaik untukmu. Tapi aku akan berusaha.”
Dimas membalas cepat. “Kamu sudah yang terbaik, Jan. Aku tidak minta lebih.”
Di Kapuas, Joko terbaring di rumah sakit dengan kaki yang digips. Dia memandangi langit, langit ruang perawatan yang kusam. Di samping tempat tidurnya, Mak Dhijah tertidur di kursi.
Joko tersenyum pahit. Dia sudah melepaskan Janah untuk kedua kalinya. Kali ini, untuk selamanya.
Atau tidak?
Karena takdir sering kali berkata lain.
BAB 13
KANDASNYA CINTA JARAK JAUH
Waktu terus berjalan. Seperti air Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir, begitu pula kehidupan Joko dan Janah yang terus mengalir di porosnya masing, masing. Joko di Kapuas, Janah di Jogja. Jarak yang memisahkan bukan hanya ribuan kilometer, tapi juga perbedaan dunia yang semakin melebar.
Joko kini sudah lulus dari SMKN 1 Kuala Kapuas. Ijazahnya disimpan rapi di dalam map plastik, ditemani sedikit rasa bangga dan banyak rasa kehilangan. Setelah lulus, dia tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukan karena tidak mampu secara akademis, tapi karena memang tidak ada biaya. Juga karena hatinya sudah tidak di sana. Motivasi untuk belajar dulu datang dari Janah dari keinginannya untuk menjadi pantas di sampingnya. Kini Janah sudah pergi, dan Joko merasa tidak perlu lagi membuktikan apa pun.
Dia bekerja di bengkel Bapak Sarimin sambil terus belajar otodidak tentang mesin. Bapak Sarimin bangga melihat kegigihan putranya.
“Joko, kamu punya bakat. Kamu bisa jadi montir handal. Buka bengkel sendiri nanti,” kata Bapak Sarimin sambil mengelap keringat di dahinya.
“Iya, Pak. Joko akan buktikan.”
Namun di malam hari, saat bengkel tutup dan semua orang tidur, Joko sering duduk sendirian di beranda. Dia memandangi langit Kapuas yang bertabur bintang, langit yang sama yang dulu sering dia nikmati bersama Janah.
“Di sana langitnya seperti apa, Jan? Apakah bintang, bintang di Jogja seindah di Kapuas?”
Dia tak pernah tahu jawabannya. Dan dia tak pernah bertanya, karena mereka sudah jarang berkomunikasi. Hanya sesekali, ketika Mak Dhijah memintanya, dia menelepon Janah. Tapi percakapan mereka singkat, canggung, dan penuh dengan kata, kata yang tidak terucap.
Sementara Joko hidup dalam kesederhanaan di Kapuas, Janah tengah menapaki jalan yang semakin terang di Jogja. Dia kini sudah berada di semester akhir kuliahnya. Tugas akhir (skripsi) sudah di tangan. Dosen pembimbingnya, Prof. Dr. Larasati, seorang perempuan tangguh yang menjadi idola banyak mahasiswi komunikasi, sangat mendukung penelitian Janah.
Judul skripsinya: “Komunikasi Antarbudaya dalam Hubungan Jarak Jauh: Studi Fenomenologi pada Pasangan Muda di Kalimantan Tengah dan Yogyakarta.”
Prof. Larasati tertarik dengan judul itu. “Mengapa kau pilih tema ini, Siti?” tanyanya dalam bimbingan pertama.
Janah tersenyum malu. “Karena saya mengalaminya sendiri, Bu. Hubungan jarak jauh itu sulit. Saya ingin meneliti bagaimana pasangan lain menghadapinya. Mungkin ada pelajaran yang bisa diambil.”
Prof. Larasati menatap Janah dengan mata penuh arti. “Kau masih terikat dengan masa lalu, Nak? Masih dengan pemuda di Kapuas itu?”
Janah terdiam. Kemudian dia mengangguk pelan.
“Tidak apa, apa. Tuliskan saja semua yang kau rasakan dalam skripsimu. Biarlah akademisi menjadi jalanmu untuk menyembuhkan luka.”
Janah mengerjakan skripsinya dengan tekun. Dia mewawancarai lima pasangan yang menjalani hubungan jarak jauh, ada yang berhasil, ada yang gagal. Dia membaca puluhan jurnal tentang komunikasi jarak jauh, tentang kepercayaan, tentang kesetiaan, tentang patah hati.
Dari penelitiannya, dia menemukan satu hal yang mengganggu pikirannya: Hampir semua hubungan jarak jauh yang gagal disebabkan oleh kurangnya komunikasi yang efektif dan ketidakmampuan mengelola rasa cemburu.
“Seperti kami,” bisiknya dalam hati. “Joko cemburu. Aku frustasi. Kami tidak bisa mengelolanya. Lalu kami hancur.”
Selama masa, masa sulit pengerjaan skripsi, Dimas tetap menjadi sandaran Janah. Dia membantu mencari jurnal, menemani wawancara narasumber, dan mengoreksi draft skripsi Janah dengan sabar.
Dimas sendiri sudah lulus setahun lebih awal. Kini dia bekerja di sebuah biro iklan di Jogja sebagai copywriter. Penghasilannya tidak besar, tapi cukup untuk hidup mandiri dan sesekali mentraktir Janah makan enak.
“Jan, skripsimu kapan sidang?” tanya Dimas suatu sore.
Mereka sedang duduk di sebuah kafe kecil di dekat kampus. Dimas memesan es kopi susu, Janah memesan teh tarik.
“Bulan depan, Mas. Aku deg, degan.”
“Kamu pasti bisa. Aku tahu kamu hebat.”
Janah tersenyum. “Makasih, Mas. Kamu selalu mendukungku.”
Dimas menggenggam tangan Janah. “Jan, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Setelah lulus, kamu akan kembali ke Kapuas?”
Janah terdiam. Itu pertanyaan yang selama ini dia hindari.
“Aku harus kembali, Mas. Ibu sakit. Keluargaku di sana. Dan aku... aku sudah berjanji.”
“Janji pada siapa?”
Janah tidak menjawab. Tapi Dimas tahu. Janji pada Joko. Janji di Jembatan Kapuas. Janji yang bahkan setelah mereka putus pun, Janah masih berusaha menepati.
“Aku tidak melarangmu pulang, Jan. Itu kampung halamanmu. Tapi bagaimana dengan kita?”
Janah menunduk. “Aku belum tahu, Mas. Aku masih bingung.”
Dimas menghela napas. Rasa frustasi mulai memuncak. Selama dua tahun lebih mereka berpacaran, Janah masih belum bisa sepenuhnya membuka hati. Dia masih menyimpan Joko di sudut hatinya yang paling dalam. Dan Dimas, meskipun penuh cinta, mulai lelah menjadi nomor dua.
“Jan, aku sayang kamu. Tapi aku tidak bisa terus menerus berjuang sendiri. Kamu juga harus memutuskan. Apakah kamu ingin melanjutkan hubungan ini setelah lulus, atau kita harus berpisah?”
Janah terkejut. “Kamu serius, Mas? Kamu mengancamku?”
“Bukan ancaman. Ini realita. Hubungan jarak jauh itu sulit. Aku sudah melihat bagaimana kamu dan Joko gagal karenanya. Aku tidak ingin kita mengalami hal yang sama. Jadi aku perlu kepastian.”
Janah terdiam. Dia tidak bisa memberikan kepastian. Hatinya masih terbelah.
“Aku minta waktu, Mas.”
“Berapa lama?”
“Sampai aku lulus. Setelah sidang, aku akan memberi jawaban.”
Dimas mengangguk. “Baik. Aku tunggu.”
“Aku sayang Dimas. Dia baik, perhatian, setia. Tapi kenapa hatiku masih belum bisa sepenuhnya menjadi miliknya? Mungkin karena aku masih ingat janji di Jembatan Kapuas. Janji bahwa aku akan kembali. Bukan untuk Joko lagi, tapi untuk janji itu sendiri. Aku harus menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Aku harus kembali ke Kapuas, setidaknya untuk melihat ibu, untuk merasakan tanah kelahiranku. Setelah itu, mungkin aku akan tahu ke mana arah hatiku sebenarnya.”
“Aku tahu Janah masih mencintai Joko. Mungkin tidak seperti dulu, tapi sisa cinta itu masih ada. Dan selama sisa cinta itu ada, aku tidak akan pernah menjadi yang utama. Apakah aku rela? Awalnya aku pikir aku rela. Tapi semakin lama, semakin sakit. Aku tidak ingin menjadi cadangan. Aku juga ingin dicintai sepenuh hati. Jika Janah tidak bisa memberikannya, lebih baik kita berpisah dengan hormat.”
Bulan berikutnya, Janah menjalani sidang skripsinya. Ruang sidang Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM terasa dingin, meskipun di luar matahari bersinar terik. Janah duduk di kursi panjang di hadapan tiga penguji: Prof. Larasati (pembimbing), Dr. Budiman (penguji ahli komunikasi antarbudaya), dan Dr. Ratna (penguji metodologi).
Janah mempresentasikan penelitiannya dengan suara bergetar. Dia menunjukkan data, data wawancara, analisis tematik, dan kesimpulan bahwa komunikasi yang efektif dan manajemen kecemasan adalah kunci keberhasilan hubungan jarak jauh.
Dr. Budiman bertanya, “Dari penelitianmu, Siti, apakah ada rekomendasi praktis untuk pasangan jarak jauh?”
Janah menjawab, “Saran saya, mereka harus membangun rutinitas komunikasi yang konsisten, belajar mengelola kecemasan dan cemburu, serta memiliki kepastian tentang kapan akan bersatu kembali. Tanpa itu, hubungan jarak jauh cenderung gagal.”
Dr. Ratna menambahkan, “Apakah penelitianmu ini bersifat otobiografis, Siti? Sepertinya kau menulis dari pengalaman pribadi.”
Janah tersenyum malu. “Ada sedikit, Bu. Saya sendiri pernah gagal dalam hubungan jarak jauh. Tema ini menjadi sangat personal bagi saya.”
Prof. Larasati tersenyum bangga. “Itu tidak masalah. Penelitian yang lahir dari pengalaman pribadi seringkali menjadi penelitian yang paling otentik. Saya nilai skripsimu sangat baik. Selamat, Siti Nurjanah, kamu lulus dengan predikat cumlaude.”
Janah terperanjat. “Cumlaude, Bu?”
“Iya. Nilai A. Dan karena IPK, mu di atas 3,8, kamu resmi lulus sebagai sarjana komunikasi dengan predikat cumlaude.”
Janah menangis. Dia tidak menyangka. Dua puluh menit kemudian, dia keluar dari ruang sidang dengan senyum terlebar dalam hidupnya. Dimas sudah menunggu di luar dengan setangkai bunga matahari.
“Selamat, Jan. Kamu hebat.”
Janah memeluk Dimas erat, erat. “Makasih, Mas. Aku tidak akan bisa sampai di sini tanpa kamu.”
Dimas tersenyum. Tapi di matanya, ada kesedihan. Karena dia tahu, setelah ini, Janah akan kembali ke Kapuas. Dan dia tidak tahu apakah hubungan mereka akan bertahan.
Teman, teman Janah mengadakan pesta kelulusan kecil, kecilan di sebuah kafe di kawasan Prawirotaman. Hadir Nimas, Ayu, Raka, dan beberapa teman lainnya. Dimas juga datang, dengan kado berupa jam tangan sederhana.
“Jan, dari kita semua,” kata Nimas sambil memberikan kotak kado.
Janah membuka kado itu. Jam tangan berwarna perak. Ada ukiran kecil di bagian belakang: “Janah, sukses selalu. Love, geng Bidik Misi.”
Janah menangis haru. “Makasih, teman, teman. Kalian sudah menjadi keluarga keduaku di Jogja.”
Malam itu, mereka bernyanyi, bercerita, dan bernostalgia tentang masa, masa kuliah yang penuh suka dan duka. Janah bercerita tentang pertama kali dia tersesat di kampus, tentang ujian yang nyaris gagal karena demam, tentang tugas lapangan yang membuatnya hampir menangis karena narasumber tidak kooperatif.
Nimas bercerita tentang pengalaman KKN, nya di Gunungkidul yang penu dengan tikus dan ular. Ayu bercerita tentang cintanya yang kandas pada senior. Raka bercerita tentang mimpinya menjadi jurnalis.
Pukul sepuluh malam, pesta usai. Janah dan Dimas berjalan pulang bersama. Jalanan Prawirotaman sepi. Lampu, lampu jalan menerangi trotoar yang basah karena hujan sore tadi.
“Mas,” kata Janah.
“Apa?”
“Aku harus kembali ke Kapuas minggu depan.”
Dimas menghela napas. “Aku tahu.”
“Aku belum bisa memberi jawaban yang kamu minta.”
Dimas berhenti melangkah. Dia menatap Janah. “Artinya?”
“Artinya, aku butuh waktu di Kapuas. Untuk merenung. Untuk memutuskan apa yang sebenarnya aku inginkan.”
Dimas tersenyum pahit. “Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Tapi Jan, aku tidak akan menunggu selamanya.”
Janah menunduk. “Aku tahu. Itu hakmu.”
Mereka berpelukan untuk terakhir kalinya, setidaknya untuk saat ini. Tidak ada ciuman. Tidak ada janji. Hanya pelukan yang hangat, namun terasa begitu dingin karena kepastian yang tidak ada.
Pesawat mendarat di Bandara Samsudin Noor Banjarmasin. Janah turun dengan langkah gontai. Koper merah mudanya terasa berat, padahal isinya tidak banyak, hanya pakaian, buku, dan kenangan.
Mak Amin dan Bapak Jayadi sudah menunggu di ruang kedatangan. Wajah Mak Amin terlihat lebih tua. Rambutnya semakin memutih. Tapi matanya tetap sama: penuh kasih.
“Janah! Nak, ibu kangen sekali!” Mak Amin langsung memeluk Janah, menangis.
Janah juga menangis. “Mak, Janah juga kangen.”
Bapak Jayadi hanya tersenyum sambil mengusap air matanya. “Sudah, jangan nangis. Pulang dulu.”
Perjalanan dari Banjarmasin ke Kuala Kapuas memakan waktu dua jam. Mobil angkutan umum yang mereka tumpangi terasa panas dan sempit. Tapi Janah tidak peduli. Dia membuka jendela, menghirup udara Kalimantan yang lembab dan berbau tanah.
“Aku pulang, Kapuas. Aku sudah menepati janjiku.”
Sesampainya di rumah, Janah disambut oleh tetangga, tetangga yang penasaran. “O, Janah sudah pulang! Sarjana lho! Cumlaude pula!”
“Cumlaude itu apa, Bu?” tanya salah satu tetangga.
“Itu lulusan terbaik, Bu,” jawab yang lain.
Janah hanya tersenyum malu. Dia masuk ke rumahnya, membuka kamar yang sudah lama tidak dijamah. Tempat tidurnya masih sama. Meja belajarnya masih berantakan dengan buku, buku lama. Dan di pojok lemari, masih ada baju, baju SMK yang sudah tidak muat.
Dia merebahkan diri di kasur, memandangi langit, langit kamar yang sama sejak kecil.
“Aku sudah pulang, Tuhan. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?”
Sementara Janah menyesuaikan diri dengan kehidupan di Kapuas, Joko sudah lebih dulu menetap dalam rutinitasnya. Setiap pagi, dia bangun pukul lima, membantu Bapak Sarimin membuka bengkel, lalu bekerja hingga sore. Kadang, jika ada pelanggan yang minta perbaikan darurat, dia bekerja hingga malam.
Joko kini sudah cukup terampil. Dia bisa membongkar dan memasang mesin motor sendiri. Bahkan beberapa pelanggan mulai mempercayakan perbaikan mobil kecil padanya. Bapak Sarimin berencana menyerahkan bengkel itu kepada Joko dalam beberapa tahun ke depan.
Namun di sela, sela kesibukannya, Joko sering melamun. Matanya akan kosong menatap jalan, tangannya berhenti bergerak, dan pikirannya melayang entah ke mana.
“Jok, lo kenapa sih? Melamun mulu?” tegur Budi, sahabatnya yang sering mampir ke bengkel.
“Nggak kenapa, napa. Capek aja.”
“Capek atau galau? Gue dengar Janah sudah pulang.”
Joko terkejut. “Janah pulang? Kapan?”
“Minggu lalu. Katanya lulus cumlaude dari UGM.”
Joko terdiam. Dadanya sesak. Janah sudah pulang. Janah sudah menepati janjinya. Tapi apakah itu berarti apa, apa lagi bagi mereka?
“Lo nggak mau nemuin dia?” tanya Budi.
“Buat apa? Dia sudah punya pacar. Cowok Jawa yang lebih baik dari gue.”
“Lo masih sakit hati, Jok.”
“Bukan sakit hati. Gue sudah ikhlas.”
Budi menggeleng. “Ikhlas tapi galau. Ikhlas tapi melamun. Ikhlas tapi nggak mau makan. Ikhlas batang hidung.”
Joko tidak menjawab. Dia kembali ke pekerjaannya, mencoba mengubur perasaannya di balik suara mesin dan bau oli.
“Janah sudah pulang. Dia di sini, di Kapuas. Jarak kami sekarang hanya beberapa ratus meter. Tapi rasanya lebih jauh dari sebelumnya. Dia sarjana komunikasi cumlaude. Aku cuma montir. Dia punya masa depan cerah. Aku hanya akan di sini selamanya. Apa pantas aku mendekatinya lagi? Apa pantas aku mengharapkan apa pun darinya? Gue sudah melepaskannya sekali. Mungkin gue harus melepaskannya untuk selamanya.”
Suatu pagi, Mak Dhijah meminta Joko untuk membeli ikan di Pasar Sari Mulya. “Ibu mau masak asam pedas, Joko. Beli ikan patin dua kilo.”
Joko mengangguk malas. Dia naik motornya,motor tua Honda Supra yang sudah puluhan tahun menemani keluarganya dan melaju ke pasar.
Pasar Sari Mulya pagi itu ramai. Pedagang sayur, ikan, daging, dan bumbu berteriak menawarkan dagangan. Bau amis ikan bercampur dengan bau pete dan terasi. Joko berjalan di antara kerumunan, mencari penjual ikan patin langganan Mak Dhijah.
Di tengah keramaian, dia melihat sosok yang sangat dikenalnya.
Janah.
Janah sedang berdiri di depan lapak sayur, memilih kangkung. Rambutnya diikat sederhana. Dia memakai kaus lengan panjang dan jeans, penampilan yang sangat berbeda dengan gaya Jogjanya yang lebih modis. Tapi bagaimanapun, Janah tetaplah Janah. Cantik. Sederhana. Menyayat hati.
Joko ingin berbalik. Ingin lari. Tapi kakinya tidak bergerak. Dia hanya berdiri di tempat, menatap Janah seperti patung.
Janah seperti merasakan tatapan itu. Dia menoleh.
Mata mereka bertemu.
Dunia terasa berhenti.
“Te... Tengil?” suara Janah bergetar.
“Jan...” Joko hanya bisa berkata itu.
Mereka berdiri saling menatap. Keramaian pasar seolah mereda. Hanya ada mereka berdua.
Janah mendekati Joko. Langkahnya pelan, ragu.
“Kamu... kamu baik, baik saja?” tanyanya.
“Iya. Lo?”
“Iya. Aku baru pulang minggu lalu.”
“Gue tahu.”
Janah mengernyit. “Kamu tahu?”
“Kata Budi. Cerita dari mana gitu.”
“Oh.”
Diam.
“Kamu belanja?” tanya Joko canggung.
“Iya. Buat sayur.”
“Gue juga. Beli ikan patin buat Mak Dhijah.”
“Oh.”
Diam lagi.
“Jan...”
“Apa?”
“Lo... lo sekarang sarjana, ya? Cumlaude lagi.”
Janah tersenyum malu. “Iya. Alhamdulillah.”
“Gue bangga sama lo.”
“Makasih.”
Mereka diam lagi. Ada seribu kata yang ingin diucapkan, tapi semuanya terasa salah.
“Jan, gue harus pergi. Mak Dhijah nunggu ikan.”
“Oh, iya. Aku juga harus... menyelesaikan belanja.”
“Ya sudah.”
“Ya sudah.”
Joko berbalik dan pergi. Janah memandangi punggungnya yang menjauh. Punggung yang sama yang dulu sering dia lihat saat mereka berjalan pulang sekolah bersama. Kini, punggung itu terasa begitu jauh.
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Dia berguling, guling di tempat tidurnya, memandangi langit, langit kamar yang gelap. Wajah Janah terus menghantuinya.
“Dia masih cantik. Bahkan lebih cantik dari yang gue ingat. Mata hitamnya masih sama. Senyumnya masih sama. Tapi ada yang berbeda. Dia lebih dewasa. Lebih tenang. Dan mungkin... lebih jauh.”
Di rumah sebelah, Janah juga tidak bisa tidur. Dia duduk di beranda, memandangi langit Kapuas yang bertabur bintang. Dingin malam menusuk kulitnya, tapi dia tidak merasa.
“Dia masih sama. Joko yang dulu. Tengil, kasar, tapi polos. Tapi kenapa dia menjaga jarak? Kenapa dia tidak bertanya lebih jauh? Apakah dia sudah benar, benar move on? Apakah dia tidak ingin lagi ada hubungan apa pun denganku?”
Janah teringat pada Dimas. Ponselnya sudah beberapa kali bergetar—pesan dari Dimas menanyakan kabar. Tapi Janah belum membalas.
“Maaf, Mas. Aku sedang bingung. Aku perlu waktu.”
Beberapa minggu setelah kepulangannya, Janah diterima bekerja di Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Kapuas. Jabatannya sebagai staf humas, mengelola media sosial pemerintah kabupaten, menulis rilis pers, dan mengadakan sosialisasi program, program pemerintah.
Kerja pertamanya di ruang dinas yang sederhana. Meja kayu, komputer tua, dan tumpukan dokumen. Tapi Janah tidak mengeluh. Ini adalah awal dari mimpinya: mengabdi pada kampung halaman.
Rekan, rekannya di kantor ramah, ramah. Ada Pak Heri, kepala bidang humas yang berusia empat puluhan. Ada Mba Dewi, staf senior yang suka becanda. Dan ada Rendy, staf muda yang baru dua tahun bekerja. Rendy lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Palangka Raya. Dia tampan, enerjik, dan suka melirik Janah.
“Jan, kamu dari UGM, ya? Hebat. Kenapa balik ke Kapuas?” tanya Rendy suatu hari di kantin.
“Ini kampung halaman saya, Mas. Saya ingin membangun di sini.”
Rendy tersenyum. “Keren. Kita butuh orang, orang seperti kamu.”
Janah tersenyum sopan. Dia tahu Rendy tertarik padanya. Tapi dia belum siap untuk memikirkan hal itu. Masih ada Joko. Masih ada Dimas. Dan masih ada luka yang belum sembuh.
Sementara Janah memulai karirnya di dunia birokrasi, Joko mendapatkan tawaran pekerjaan dari Dealer Honda di Jalan Pemuda. Seorang teman lama Bapak Sarimin yang membuka dealer membutuhkan montir handal.
“Joko, kamu mau kerja di dealer? Gajinya lebih besar dari bengkel,” tawar Bapak Sarimin.
“Joko boleh, Pak. Tapi bengkel ini? Siapa yang bantu Bapak?”
Bapak Sarimin tersenyum. “Bapak masih kuat. Kamu jangan khawatir. Ini kesempatan bagus buat masa depanmu.”
Joko menerima tawaran itu. Kini dia bekerja dari pagi hingga sore di dealer, melayani servis motor pelanggan. Pekerjaannya lebih terstruktur. Ada seragam. Ada gaji tetap. Ada tunjangan.
Tapi tetap saja, di sela, sela kesibukannya, dia memikirkan Janah.
Setiap kali dia melintas di Jalan Pemuda, dia melewati Dinas Kominfo. Setiap kali itu, dia menoleh ke arah gedung itu, berharap melihat sosok Janah di jendela.
Tapi dia tidak pernah berhenti. Dia hanya lewat. Seperti biasa. Seperti orang asing.
Cinta jarak jauh antara Joko dan Janah telah kandas. Bukan karena jarak fisik yang memisahkan—karena kini mereka hanya berjarak beberapa kilometer. Tapi karena luka masa lalu, perbedaan dunia, dan ketidakmampuan untuk memulai lagi.
Janah kini memiliki pekerjaan, status sarjana, dan dua pilihan: Dimas yang setia menunggu di Jogja, atau Rendy yang mulai dekat dengannya di kantor. Dan Joko? Joko hanya seorang montir biasa yang hatinya masih tertambat pada Janah, tapi terlalu takut dan tidak percaya diri untuk melangkah.
Mereka berdua masih di Kapuas. Masih di bawah langit yang sama. Tapi rasanya seperti berada di galaksi yang berbeda.
Dan seperti yang sering terjadi dalam kisah cinta, ketika semua tampak berakhir, justru di situlah keajaiban mulai bersiap datang. Namun untuk sampai ke sana, masih ada berliku jalan yang harus ditempuh.
BAB 14
MAYA PERGI, DIMAS PUN PERGI
Tahun berganti. Kapuas tetap seperti dulu, sungai yang tenang, pasar yang ramai, dan langit yang luas. Namun kehidupan Joko dan Janah terus berubah, meskipun perubahan itu kadang tidak mereka sadari.
Joko kini sudah bekerja di Dealer Honda selama satu tahun. Dia menjadi montir andalan di sana. Pelanggan sering memintanya secara khusus karena dia teliti, cepat, dan ramah. Bosnya, Pak Rahmat, seorang pengusaha keturunan Tionghoa yang keras tapi adil, sangat puas dengan kinerja Joko.
“Joko, kamu punya bakat. Nanti kalau dealer ini buka cabang di Palangka Raya, aku mau bawa kamu ke sana,” kata Pak Rahmat suatu hari.
Joko tersenyum. “Makasih, Pak. Saya pikir, pikir dulu.”
Sejujurnya, Joko tidak ingin meninggalkan Kapuas. Bukan karena dia tidak ambisius, tapi karena ada seseorang yang masih membuatnya betah di sini: Janah. Meskipun mereka jarang bertemu, meskipun mereka tidak pernah bicara lagi setelah pertemuan canggung di pasar, Joko tetap merasa nyaman berada di kota yang sama dengan Janah.
Sementara Janah, di Dinas Kominfo, mulai menunjukkan prestasi. Kampanye media sosial yang dia rintis berhasil meningkatkan interaksi warga dengan pemerintah kabupaten. Bupati bahkan memanggilnya secara pribadi untuk memberikan apresiasi.
“Siti Nurjanah, kamu ini aset berharga bagi Kabupaten Kapuas. Jangan pindah ke tempat lain ya,” kata Bupati sambil tersenyum.
Janah tersenyum malu. “Terima kasih, Pak. Saya akan mengabdi di sini selama mungkin.”
Namun di balik senyum dan prestasinya, Janah masih belum menemukan kedamaian. Hatinya masih terbelah antara kenangan dan kenyataan.
Sekitar enam bulan setelah Janah kembali ke Kapuas, Maya muncul lagi dalam kehidupan Joko. Bukan karena Maya masih berharap, dia sudah move on dan punya pacar baru, seorang wiraswasta dari Banjarmasin. Maya datang ke bengkel Dealer Honda untuk servis motornya.
“Jok? Kamu di sini?” Maya terkejut saat melihat Joko.
“Maya? Motor lo kenapa?”
“Bocor ban. Kamu yang kerjain dong.”
Joko mengerjakan motor Maya dengan profesional. Tidak ada obrolan mesra. Tidak ada nostalgia. Hanya basa, basi biasa.
Saat motor selesai, Maya membayar dan pamit. Tapi sebelum pergi, dia berkata sesuatu yang membuat Joko merenung.
“Jok, aku dengar Janah sudah pulang. Dan kalian belum baikan?”
“Belum.”
“Kenapa? Kamu masih takut? Masih ngerasa nggak pantas?”
Joko diam. Maya tersenyum.
“Jok, aku dulu pernah marah sama kamu. Karena kamu masih mencintai Janah saat bersama aku. Tapi sekarang aku malah bersyukur. Kamu setia pada perasaanmu. Itu langka. Jangan sia, siakan. Kalau kamu masih sayang Janah, kejar dia. Jangan cuma diem.”
Maya pergi dengan motornya. Joko berdiri di tempatnya, memandangi punggung Maya yang menjauh.
“Maya pergi. Untuk selamanya. Dan kali ini, aku benar, benar melepaskannya.”
Joko merasa lega. Bukan karena dia tidak sayang pada Maya, tapi karena akhirnya ada titik terang. Maya bahagia dengan pilihannya. Dan Joko bebas dari utang perasaan.
Kini, yang tersisa hanyalah Janah.
Tiga bulan kemudian, tanpa sepengetahuan Janah, Dimas datang ke Kapuas.
Dimas sudah lelah menunggu. Janah sudah empat bulan di Kapuas, tapi belum pernah memberi kepastian. Dia hanya sesekali menelepon, sesekali membalas pesan, tapi jawabannya selalu sama: “Aku masih bingung, Mas. Beri aku waktu.”
Dimas mengambil cuti seminggu. Dia membeli tiket pesawat dari Jogja ke Palangka Raya, lalu naik bus ke Kuala Kapuas. Dia tidak memberi tahu Janah. Dia ingin memberi kejutan.
Sesampainya di Kapuas, Dimas terkesima. Sungai Kapuas yang besar. Rumah, rumah panggung. Pasar Sari Mulya yang ramai. Udara yang lembab dan hangat. Ini sangat berbeda dengan Jogja.
Dimas membuka peta di ponselnya, mencari alamat Dinas Kominfo. Dia naik ojek ke sana.
Saat dia tiba di kantor Janah, hujan mulai turun. Dimas berdiri di emperan, menunggu. Dia melihat Janah melalui jendela kaca. Janah sedang serius menatap layar komputernya. Rambutnya diikat. Wajahnya terlihat lelah, tapi tetap cantik.
Dimas masuk. “Jan.”
Janah menoleh. Matanya membelalak. “Mas Dimas?! Kamu ngapain di sini?”
“Aku datang untuk menjemputmu. Atau... untuk mendapat jawaban.”
Rekan, rekan Janah di kantor mulai memperhatikan. Rendy yang duduk di meja sebelah mengernyitkan dahi. “Siapa cowok ini?”
Janah berdiri. Wajahnya pucat. “Mas, ini bukan tempatnya. Ayo kita bicara di luar.”
Mereka keluar. Hujan masih turun. Mereka berdiri di emperan, basah oleh percikan air.
“Mas Dimas, kamu nggak bilang, bilang mau ke sini.”
“Aku sengaja. Aku ingin melihat duniamu, Jan. Tempat kamu dilahirkan. Tempat kamu tumbuh. Tempat yang membuatmu selalu rindu.”
“Tapi...”
“Jan, aku minta jawaban. Apakah kamu masih ingin melanjutkan hubungan dengan aku atau tidak? Aku sudah menunggu empat bulan. Aku capek.”
Janah menunduk. Air matanya bercampur air hujan. “Mas, aku...”
“Kamu masih sayang Joko?”
Janah tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.
Dimas tersenyum pahit. “Aku tahu. Sejak awal aku tahu. Tapi aku memilih untuk berharap. Sekarang... aku sadar. Aku tidak bisa melawan kenangan kalian yang sudah bertahun, tahun.”
“Mas, maaf...”
“Jangan minta maaf. Kamu tidak bersalah. Kamu hanya... belum bisa move on. Dan aku tidak bisa terus menunggu.”
Dimas memeluk Janah. Pelukan yang hangat, tapi terasa seperti perpisahan.
“Selamat tinggal, Jan. Jaga dirimu.”
Dimas berbalik dan berjalan ke arah jalan raya. Dia menghentikan ojek dan pergi. Janah hanya bisa berdiri, menangis, membiarkan hujan membasahi seluruh tubuhnya.
“Aku sudah mencintai Janah sepenuh hatiku. Tapi cinta saja tidak cukup. Dia harus mencintaiku kembali. Dan dia tidak bisa. Bukan karena aku tidak cukup baik, tapi karena hatinya sudah terisi oleh orang lain sejak lama. Aku tidak akan menyesali perjalananku ke Kapuas. Setidaknya, aku sudah melihat dunianya. Aku sudah memahami mengapa dia begitu sulit melupakan Joko. Kapuas ini... seperti pelukan yang hangat. Dan Joko adalah bagian dari pelukan itu. Aku akan kembali ke Jogja. Aku akan sembuh. Dan suatu hari, aku akan menemukan seseorang yang bisa mencintaiku seutuhnya, seperti Janah mencintai Joko.”
Setelah Dimas pergi, Janah tidak bisa bekerja dengan tenang. Dia izin pulang lebih awal. Mak Amin melihat wajah pucat Janah.
“Janah, kenapa, Nak? Sakit?”
“Dimas datang, Mak. Dia minta jawaban. Dan aku... aku belum bisa memberikannya.”
Mak Amin memeluk anaknya. “Kamu masih sayang Joko?”
Janah menangis. “Aku nggak tahu, Mak. Aku bingung. Aku sayang Dimas, tapi kenapa hatiku masih tertambat pada Joko?”
“Karena Joko adalah cinta pertamamu, Nak. Cinta pertama tidak pernah benar, benar hilang. Ia hanya terpendam. Suatu hari, kamu harus memilih. Antara masa lalu yang nyaman, atau masa depan yang tidak pasti.”
Janah menangis di pangkuan ibunya. Mak Amin mengelus rambutnya, seperti saat Janah masih kecil dulu.
Di bengkel Dealer Honda, Joko tidak tahu apa yang terjadi. Dia terus bekerja, mengganti oli, menambal ban, membongkar mesin. Tidak ada yang memberitahunya bahwa Janah sedang hancur. Tidak ada yang memberitahunya bahwa Dimas sudah datang dan pergi.
Tapi mungkin, takdir punya caranya sendiri.
Di tengah kekosongan yang ditinggalkan Dimas, Rendy mulai lebih sering mendekati Janah. Dia menawarkan diri untuk menemani Janah makan siang. Dia mengirim pesan, pesan lucu di sela, sela jam kerja. Dia bahkan pernah mengajak Janah nonton film di bioskop, satu, satunya bioskop di Kuala Kapuas yang ada di pusat perbelanjaan.
“Jan, kamu baik, baik saja akhir, akhir ini? Kayaknya kamu murung,” tanya Rendy suatu hari.
“Aku baik, baik saja, Mas. Cuma ada sedikit masalah pribadi.”
“Cerita dong. Aku pendengar yang baik.”
Janah ragu. Tapi akhirnya dia bercerita tentang Dimas—tentang hubungan jarak jauhnya yang kandas. Tidak tentang Joko. Itu terlalu dalam untuk diceritakan pada orang baru.
“Wajar, Jan. Hubungan jarak jauh itu sulit. Aku juga pernah mengalaminya. Pacarku dulu di Banjarmasin, akhirnya putus.”
“Terus kamu bagaimana?”
“Ya, sedih. Tapi hidup terus berjalan. Dan sekarang aku ketemu sama orang yang lebih cocok.”
Rendy menatap Janah dengan mata berbinar. Janah tahu maksudnya. Dia tersenyum tipis, tapi tidak merespon lebih jauh.
“Aku belum siap, Mas. Jangan buru, buru.”
Tapi Rendy tidak menyerah. Hari, hari berikutnya, dia semakin sering mengajak Janah. Kadang hanya sekadar minum kopi di warung dekat kantor. Kadang berjalan, jalan di Taman Simpang Adipura sepulang kerja. Kadang ikut acara pengajian bersama.
Janah mulai merasa nyaman. Rendy tidak memaksa. Dia tidak cemburuan seperti Joko. Dia tidak terlalu perhatian seperti Dimas. Dia ada di sana, di tempat yang sama, di kota yang sama. Dan itu cukup untuk mengisi kekosongan.
Tapi apakah itu cinta? Janah tidak tahu.
Kabar tentang kedekatan Janah dan Rendy cepat menyebar di lingkungan kantor. Dan dari lingkungan kantor, kabar itu merembet ke lingkungan pergaulan yang lebih luas.
Budi, sahabat Joko, yang bekerja sebagai satpam di salah satu pertokoan dekat Dinas Kominfo, sering melihat Rendy dan Janah keluar bersama.
“Jok, gue liat Janah sering jalan sama cowok dari kantornya. Namanya Rendy. Katanya mereka dekat.”
Joko yang sedang membongkar mesin motor langsung berhenti. “Rendy? Siapa itu?”
“Staf di Dinas Kominfo. Katanya orangnya baik, ganteng. Kuliahnya di Palangka Raya.”
Joko merasa dadanya sesak lagi. Perasaan yang dulu pernah dia rasakan saat Dimas muncul, kini kembali lagi. Tapi kali ini, dia tidak bisa marah. Dia tidak punya hak.
“Sudahlah, Bi. Biarkan Janah bahagia. Dia pantas dapat yang lebih baik dari gue.”
“Tapi lo sendiri gimana? Lo masih sayang dia kan?”
Joko tidak menjawab. Dia melanjutkan pekerjaannya.
“Lagi. Janah dekat dengan cowok lain lagi. Dulu Dimas, sekarang Rendy. Dan gue? Gue hanya penonton. Gue tidak bisa marah karena gue yang memutuskan hubungan dulu. Gue tidak bisa melarang karena gue bukan siapa, siapa. Tapi kenapa sakit? Kenapa setiap kali mendengar nama Janah dekat dengan laki, laki lain, perut gue mules dan kepala gue pusing? Apa gue masih cinta? Mungkin. Tapi cinta tanpa keberanian hanya akan menjadi penyesatan.”
Suatu sore, Joko sedang duduk sendirian di Taman Simpang Adipura. Tempat ini sudah lama tidak dia kunjungi. Terlalu banyak kenangan. Tapi malam itu, dia butuh ketenangan. Dia butuh mengingat masa lalu—untuk meyakinkan dirinya bahwa dia sudah ikhlas.
Tapi takdir berkata lain.
Saat dia duduk di bangku taman yang sama, bangku yang dulu menjadi saksi janji mereka—dia melihat dua orang berjalan mendekat.
Janah dan Rendy.
Mereka tertawa bersama. Janah memegang es kelapa. Rendy memegang dua bungkus jajanan.
Joko ingin menghilang. Tapi sudah terlambat. Janah melihatnya.
“Te... Tengil?” Janah berhenti melangkah.
Rendy menatap Joko dengan rasa penasaran. “Kamu kenal, Jan?”
Janah tidak menjawab. Dia hanya menatap Joko dengan mata yang sulit diartikan.
Joko berdiri. “Halo, Jan. Halo, Mas...?”
“Rendy. Saya Rendy.”
“Joko. Salam kenal.”
Mereka berjabat tangan. Joko merasakan tangan Rendy yang lembut dan rapi—sangat berbeda dengan tangannya yang kasar karena oli.
“Kamu duduk di sini sendirian?” tanya Rendy.
“Iya. Lagi... mikir.”
“Jan, kenapa kamu nggak kenalin temanmu dulu?” Rendy menoleh pada Janah.
Janah masih diam. Dia tidak tahu harus berkata apa.
Joko yang merasakan kecanggungan segera mengambil inisiatif. “Sudahlah, gue mau pulang. Makasih.”
Dia berjalan cepat meninggalkan taman. Janah ingin memanggilnya, tapi tidak bisa. Suaranya seperti tercekat di tenggorokan.
“Jan, siapa dia sebenarnya?” tanya Rendy.
“Teman lama,” jawab Janah lirih.
“Lebih dari itu, ya? Aku bisa lihat dari matamu.”
Janah tidak menjawab. Dia hanya memandangi punggung Joko yang menjauh.
Sejak pertemuan di Taman Simpang Adipura, Joko dan Rendy sama, sama tahu bahwa mereka berada di posisi yang saling bersaing, meskipun tidak pernah diucapkan.
Rendy mulai bertanya, tanya tentang Joko pada teman, teman di kantor. “Siapa sih Joko itu? Kok Janah kelihatan canggung banget waktu ketemu dia?”
“Joko itu mantan Janah, Mas. Waktu kecil mereka sudah dijodohkan. Tapi kandas karena Janah kuliah di Jawa,” cerita Mba Dewi.
“Oh, jadi itu dia.”
“Iya. Katanya Joko masih sayang sama Janah. Tapi dia minder karena Janah sarjana, dia cuma montir.”
Rendy mengangguk. Dia tidak merasa terancam. Tapi dia juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa setiap kali nama Joko disebut, mata Janah berubah.
Sementara itu, Joko berusaha fokus pada pekerjaannya. Dia tidak ingin terlibat drama. Dia sudah melepaskan Janah. Dia sudah ikhlas. Atau setidaknya, dia berusaha meyakinkan dirinya seperti itu.
Tapi setiap kali dia melihat Rendy, yang kini sering terlihat di sekitar Pasar Sari Mulya atau di Bundaran Besar, dadanya tetap sesak.
“Dia ganteng. Dia punya pekerjaan tetap. Dia selevel dengan Janah. Mereka cocok. Gue cuma montir. Gue nggak pantas.”
Janah sadar bahwa Rendy mulai serius. Dia sering diberi hadiah kecil,bunga, cokelat, atau buku. Dia sering diajak ke tempat, tempat yang romantic ke Dermaga KP3 saat matahari terbenam, ke Taman Hutan Kota saat malam, ke Danau Mare saat akhir pekan.
Rendy belum menyatakan cinta secara gamblang. Tapi isyaratnya jelas.
Janah bingung. Dia suka pada Rendy, sebagai teman. Tapi apakah dia bisa mencintai Rendy seperti dia mencintai Joko dulu? Atau seperti dia nyaris mencintai Dimas?
Dia juga masih memikirkan Joko. Setiap kali melihat Joko—meskipun hanya sekilas di jalan—hatinya berdebar. Tapi Joko tidak pernah mendekat. Joko hanya lewat. Seperti orang asing.
“Apakah dia sudah tidak peduli lagi padaku? Apakah dia sudah move on? Atau dia hanya takut?”
Suatu malam, Janah memberanikan diri mengirim pesan ke Joko. Pertama kalinya setelah bertahun, tahun.
“Tengil, apa kabar? Lama tidak bicara.”
Pesan itu dibalas beberapa menit kemudian.
“Baik. Lo?”
“Baik. Kerjaanmu gimana?”
“Lumayan. Lo?”
“Juga. Tengil, aku rindu masa lalu.”
Joko tidak membalas.
Janah menunggu satu jam. Dua jam. Tidak ada balasan.
Dia menangis.
Joko membaca pesan Janah berulang kali. “Aku rindu masa lalu.”
“Apa maksudnya? Dia rindu kenangan? Atau dia rindu aku? Atau dia hanya nostalgia sebentar lalu besok dia akan kembali ke Rendy?”
Joko ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa dia juga rindu. Tapi dia takut. Takut dianggap menggantungkan harapan. Takut ditolak. Takut dijadikan pelarian karena Rendy belum menyatakan keseriusannya.
Dia mematikan ponselnya. Dia tidur dengan perasaan campur aduk.
Besoknya, dia membuka ponsel. Tidak ada pesan lagi dari Janah.
“Sudahlah. Mungkin dia hanya sedang galau. Mungkin besok dia sudah lupa.”
Tapi Joko salah. Janah tidak melupakan pesan itu. Janah hanya kecewa karena tidak dibalas.
Suatu malam, setelah acara dinas di Pendopo Kabupaten, Rendy mengantar Janah pulang. Di depan rumah Janah, Rendy mematikan motornya. Mereka berdiri di halaman, di bawah sinar lampu jalan yang temaram.
“Jan, aku mau bilang sesuatu.”
“Apa, Mas?”
“Aku suka sama kamu. Bukan sebagai teman kerja. Lebih dari itu.”
Janah tidak terkejut. Dia sudah menduga. Tapi mendengarnya langsung tetap membuatnya bingung.
“Mas Rendy, aku...”
“Jangan jawab sekarang. Pikirkan dulu. Aku akan menunggu.”
Rendy tersenyum, lalu pergi. Janah berdiri di halaman, memandangi langit malam.
“Rendy menyatakan cinta. Dimas sudah pergi. Joko diam. Aku harus memilih.”
“Aku sudah kehilangan Dimas. Aku tidak ingin kehilangan Rendy juga. Tapi apakah aku cukup mencintainya? Atau aku hanya takut sendiri? Dulu aku memilih Dimas karena dia ada di Jogja. Sekarang aku mempertimbangkan Rendy karena dia ada di Kapuas. Apakah aku hanya memilih yang dekat? Lalu bagaimana dengan Joko? Dia juga di Kapuas. Tapi dia diam. Dia tidak pernah memperjuangkanku. Mungkin memang sudah saatnya aku melupakan Joko untuk selamanya.”
Tiga hari kemudian, Janah memberi jawaban pada Rendy.
“Mas Rendy, aku belum bisa bilang iya. Tapi aku juga belum bisa bilang tidak.”
“Artinya?”
“Artinya, aku butuh waktu. Bukan untuk memikirkan orang lain. Tapi untuk memastikan perasaanku sendiri.”
Rendy tersenyum. “Aku akan tunggu. Tidak apa, apa.”
Janah lega. Rendy tidak memaksa. Tapi di dalam hatinya, dia tahu bahwa dia hanya menunda keputusan. Dan keputusan itu suatu hari harus diambil.
Maya telah pergi, ke dalam pelukan orang lain. Dimas telah pergi, kembali ke Jogja dengan hati yang terluka. Rendy masih ada, tapi statusnya menggantung.
Janah dan Joko masih berada di Kapuas. Masih di bawah langit yang sama. Masih berjarak beberapa kilometer. Tapi hati mereka, entah mengapa, terasa semakin jauh.
Joko terus bekerja. Janah terus bekerja. Mereka jarang bertemu. Jika pun bertemu, hanya saling berpandangan sekilas lalu berpaling.
“Apakah ini yang disebut takdir? Mempertemukan kita, lalu memisahkan, lalu membiarkan kita hanyut dalam keraguan?”
Langit Kapuas tetap luas. Sungai tetap mengalir. Tapi di hati Joko dan Janah, ada badai yang tidak kunjung reda.
BAB 15
LULUS, PULANG, DAN SUNYI
Upacara wisuda Universitas Gadjah Mada berlangsung di Grha Sabha Pramana. Udara Jogja pagi itu dingin menusuk tulang, tapi Janah tidak merasakannya. Badannya hangat oleh kebanggaan yang membara. Dia duduk di barisan peserta wisuda, memakai toga berwarna biru tua dengan selempang kuning, warna fakultasnya. Rambutnya ditata rapi, disanggul sederhana. Wajahnya berseri, meskipu di matanya ada sedikit sembab karena kurang tidur.
Mak Amin dan Bapak Jayadi datang dari Kapuas. Ini pertama kalinya mereka naik pesawat. Mak Amin masih sering batuk, batuk, jantungnya belum sepenuhnya pulih, tapi dia bersikeras datang.
“Ibu tidak mau ketinggalan momen anak ibu jadi sarjana,” katanya saat Janah menelepon seminggu sebelumnya.
Janah memandang ke arah kursi tamu. Mak Amin duduk di sana, matanya berkaca, kaca. Bapak Jayadi memegang kamera saku tua, hadiah dari tetangga yang sudah tidak terpakai, dan berusaha memotret dengan tangan gemetar.
“Mak... Pak... ini untuk kalian,” bisik Janah dalam hati.
Prosesi wisuda berlangsung khidmat. Nama Siti Nurjanah, S.I.Kom., dipanggil. Janah berjalan ke panggung, menerima ijazah dari Rektor, lalu berpose sejenak di depan fotografer. Senyumnya lebar. Tapi di balik senyum itu, ada kesedihan yang tidak bisa dia ungkapkan.
“Dimas seharusnya ada di sini. Dia yang paling berjasa membantuku menyelesaikan skripsi. Tapi dia tidak datang. Dia memilih menghilang setelah kepergiannya dari Kapuas.”
Dan Joko? Joko tidak mungkin datang. Dia tidak diundang, bukan karena Janah tidak mau, tapi karena dia tahu Joko tidak akan datang. Joko mungkin hanya akan tersenyum pahit di Kapuas, lalu bekerja seperti biasa.
“Selamat, Jan. Kamu berhasil.”
Janah membayangkan Joko mengucapkan itu. Tapi itu hanya imajinasi.
Setelah upacara wisuda, Janah mengadakan pesta kecil di kosannya. Hanya dihadiri oleh teman, teman dekatnya, Nimas, Ayu, Raka, dan beberapa teman Bidik Misi lainnya. Mak Amin dan Bapak Jayadi ikut bergabung, duduk di sudut ruangan dengan senyum bangga.
Mereka makan nasi kotak, minum teh hangat, dan bernostalgia tentang masa, masa kuliah. Nimas menangis, Ayu tertawa, Raka bercerita tentang skripsinya yang masih tertunda.
“Jan, kamu paling cepet lulus di antara kita. Aku iri,” kata Nimas sambil memeluk Janah.
“Kamu juga bisa, Nimas. Semangat.”
“Tapi kamu akan kembali ke Kapuas, ya? Kita jadi jarang ketemu.”
Janah menghela napas. “Iya. Aku harus kembali. Tapi kita bisa tetap berkomunikasi. Zaman sekarang.”
“Beda, Jan. Beda.”
Mereka berpelukan. Air mata bercampur tawa.
Malam itu, saat semua tamu pulang, Janah duduk sendirian di kamarnya. Dia membuka ijazahnya, memandangi nama dan gelar yang tertera di sana.
“Siti Nurjanah, Sarjana Ilmu Komunikasi.”
Dia tersenyum. Tapi senyum itu sirna ketika dia membuka laci kecil di samping tempat tidurnya. Di dalam laci itu, terbungkus plastik bening, masih ada gelang pemberian Joko. Juga surat, surat dan puisi, puisi yang dulu dia simpan.
Janah mengeluarkan gelang itu. Tali kur biru sudah mulai pudar warnanya. Ada yang putus di bagian ujung. Tapi dia tidak pernah tega membuangnya.
“Joko... aku lulus. Aku sudah kembali ke Kapuas. Tapi apakah kau masih ada di sana? Apakah kau masih sama? Apakah kau masih menunggu?”
Dia memeluk gelang itu, lalu menangis dalam diam.
Pesawat mendarat di Bandara Samsudin Noor. Langit Banjarmasin sedang cerah. Janah turun dengan langkah mantap. Kali ini, dia tidak lagi membawa koper merah muda yang dulu. Sekarang dia membawa koper baru, hadiah dari Dimas untuk kelulusannya. Koper berwarna abu, abu, lebih besar, lebih kokoh. Seperti dirinya sekarang: lebih dewasa, lebih kokoh, tapi juga lebih berat.
Mak Amin dan Bapak Jayadi sudah menunggu. Mereka memeluk Janah erat, erat.
“Nak, ibu bangga. Ibu tidak bisa berkata, kata,” Mak Amin menangis.
“Janah juga bangga punya ibu seperti Mak.”
Perjalanan dari Palangka Raya ke Kuala Kapuas terasa berbeda. Janah membuka jendela mobil angkutan, menghirup udara Kalimantan. Bau tanah basah, bau rumput, bau sungai. Bau yang selama empat tahun dia rindukan.
“Kapuas... aku pulang.”
Sesampainya di rumah, Janah disambut oleh tetangga, tetangga yang sudah menyiapkan spanduk kecil. “Selamat Datang, Siti Nurjanah, S.I.Kom.”
Janah tersenyu malu. Dia masuk ke rumahnya. Kamarnya masih seperti dulu—meja belajar, tempat tidur, lemari. Hanya bedanya, sekarang ada rak buku baru berisi koleksi buku kuliahnya.
Dia merebahkan diri di kasur. Matanya menatap langit, langit kamar yang sama sejak kecil.
“Aku sudah pulang. Sekarang, apa yang harus aku lakukan?”
Kabar tentang kepulangan Janah menyebar cepat di lingkungan Selat Tengah. Tetangga kanan kiri sudah tahu. Bahkan Mak Dhijah memberitahu Joko saat makan malam.
“Joko, Janah sudah pulang. Ibu lihat dia tadi sore di rumah Mak Amin.”
Joko yang sedang menyuap nasi berhenti. “Oh.”
“Kamu nggak mau main ke sana? Sekalian silaturahmi.”
“Nggak, Mak. Biasa aja. Janah pasti sibuk.”
Mak Dhijah menghela napas. “Joko, kapan kamu berani? Kapan kamu mau mengakui perasaanmu?”
“Joko nggak punya perasaan apa, apa, Mak.”
“Bohong. Ibu tahu kamu masih sayang Janah. Ibu tahu kamu nggak pernah benar, benar move on.”
Joko berdiri. “Joko kenyang, Mak. Makasih.”
Dia masuk ke kamarnya dan membanting pintu.
Mak Dhijah hanya bisa menggeleng.
Beberapa minggu pertama kepulangan Janah diisi dengan kesibukan mengurus administrasi, melapor ke kelurahan, mengurus ijazah, melamar pekerjaan, dan membantu Mak Amin berjualan ikan asin lagi.
Janah juga sempat berkunjung ke rumah Mak Dhijah untuk bersilaturahmi. Mak Dhijah menyambutnya dengan hangat, memeluknya erat, dan menangis.
“Janah, kamu sekarang sarjana. Mak Dhijah bangga.”
“Makasih, Mak Dhijah. Joko ada?”
“Joko lagi kerja. Kamu mau ditungguin?”
“Nggak, Mak. Aku hanya bertanya.”
Janah berbasa, basi sebentar, lalu pulang. Dia lega karena tidak bertemu Joko. Tapi di sisi lain, dia kecewa.
“Dia tidak berusaha menemuiku. Apakah dia benar, benar tidak peduli lagi?”
Sementara Joko, setelah pulang kerja dan mendengar bahwa Janah datang ke rumahnya, hanya terdiam.
“Dia datang. Tapi aku tidak di sana. Mungkin itu sudah takdir. Mungkin kita memang tidak perlu bertemu.”
Kesunyian menyiksa keduanya. Mereka berada di kota yang sama. Di kampung yang sama. Bahkan di jalan yang sama. Tapi mereka seperti dua kutub yang tidak pernah bertemu.
Bulan berikutnya, Janah resmi bekerja di Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kapuas. Posisinya sebagai staf humas. Ruangannya kecil, tapi cukup nyaman. Rekan, rekannya ramah. Gajinya tidak besar, tapi cukup untuk membantu ekonomi keluarga.
Setiap pagi, Janah berangkat kerja dengan sepeda motor butut milik Bapak Jayadi. Setiap sore, dia pulang saat matahari mulai turun. Rutinitasnya membosankan, tapi dia tidak mengeluh.
Hanya satu yang mengganggunya: jalannya bekerja melewati Dealer Honda di Jalan Pemuda. Setiap kali lewat, matanya selalu mencari, cari sosok Joko.
Kadang dia melihat Joko, sedang membongkar mesin motor, sedang melayani pelanggan, atau sedang merokok di depan bengkel. Kadang tidak.
Setiap kali melihat Joko, jantungnya berdebar. Tapi dia tidak pernah berhenti. Dia hanya lewat. Seperti orang asing.
Sementara Janah menapaki dunia barunya, Joko mulai bangkit dari keterpurukannya. Bukan karena dia sudah move on, tapi karena dia sadar bahwa hidup tidak bisa berhenti hanya karena cinta tak sampai.
Dia bekerja lebih giat di Dealer Honda. Pelanggan semakin percaya padanya. Pak Rahmat, bosnya, bahkan mengajaknya menjadi kepala bengkel untuk cabang baru di Palangka Raya.
“Joko, kamu punya potensi. Jangan sia, siakan. Aku tawarkan posisi kepala bengkel dengan gaji dua kali lipat.”
Joko berpikir. “Saya pikir, pikir dulu, Pak.”
“Kenapa? Kamu masih betah di Kapuas?”
Joko tersenyum. “Ada urusan yang belum selesai, Pak.”
Pak Rahmat mengangguk mengerti. “Urusan hati?”
Joko tidak menjawab. Tapi matanya berbicara.
Suatu pagi, Janah diminta Mak Amin untuk membeli bumbu dapur di Pasar Sari Mulya. Mak Amin sedang tidak enak badan, tekanan darahnya naik lagi.
Janah pergi ke pasar dengan malas. Dia tidak suka keramaian. Tapi karena untuk ibu, dia rela.
Di pasar, dia bertemu Joko. Lagi. Untuk kedua kalinya sejak dia pulang.
Joko sedang membeli ikan patin—sama seperti dulu. Mereka berpapasan di depan lapak sayur.
“Jan?” Joko terkejut.
“Tengil?” Janah juga terkejut.
Mereka berdiri saling menatap. Keramaian pasar terasa mereda.
“Lo belanja?” tanya Joko.
“Iya. Bu, ibu. Mak Amin sakit.”
“Oh. Mak Amin sakit lagi? Gue doain cepet sembuh.”
“Makasih.”
Diam.
“Jan...”
“Apa?”
“Lo... lo sekarang kerja di Dinas Kominfo, ya?”
“Iya. Lo di dealer, kan?”
“Iya.”
Diam lagi.
“Jan, gue mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Gue... gue kangen.”
Janah terkejut. Matanya membelalak.
Joko melanjutkan, “Gue tahu gue nggak berhak bilang gitu. Lo sudah punya Rendy. Gue cuma mantan yang gagal. Tapi gue nggak bisa bohong. Gue kangen.”
Janah terdiam. Air matanya mengalir.
“Tengil, aku...”
“Jawab nanti. Jangan di sini. Jangan di pasar. Nanti lo malu dilihat orang.”
Janah tertawa kecil sambil menangis. “Kamu masih tengil.”
“Iya. Gue masih Si Tengil. Dan lo masih cengeng.”
Mereka tertawa bersama. Untuk pertama kalinya setelah bertahun, tahun, mereka tertawa bersama.
Sepulang dari pasar, Joko dan Janah berjalan ke tepian sungai—bukan ke Jembatan Kapuas, tapi ke dermaga kecil di belakang rumah Mak Dhijah. Mereka duduk di atas perahu kayu yang sudah tidak terpakai.
“Jan, gue mau minta maaf,” kata Joko.
“Maaf buat apa?”
“Maaf karena dulu gue cemburu buta. Maaf karena gue nggak cukup dewasa. Maaf karena gue memutuskan hubungan lewat telepon. Maaf karena gue pengecut.”
Janah menunduk. “Aku juga minta maaf, Tengil. Maaf karena aku belum bisa memaafkanmu dengan cepat. Maaf karena aku dekat dengan Dimas. Maaf karena aku membuatmu cemburu.”
“Lo nggak perlu minta maaf. Lo bebas.”
“Aku juga bebas, bukan berarti aku harus menyakitimu.”
Mereka diam. Angin sungai bertiup sepoi, sepoi.
“Jan,” kata Joko lagi.
“Apa?”
“Lo masih sayang sama Rendy?”
Janah menghela napas. “Aku sayang Rendy sebagai teman. Tapi aku belum bisa mencintainya. Belum.”
“Berarti masih ada harapan buat gue?”
Janah menatap Joko. Matanya dalam. “Tengil, jangan berharap. Aku masih bingung. Aku belum tahu apa yang aku mau.”
“Gue akan tunggu. Seperti dulu. Gue akan tunggu sampai lo siap.”
“Kamu bisa saja menunggu selamanya.”
“Gue nggak apa, apa. Yang penting gue nunggu.”
Janah tersenyum. “Kamu aneh, Tengil.”
“Iya. Gue aneh. Aneh yang mencintai lo.”
“Joko bilang dia kangen. Joko bilang dia akan menunggu. Hatiku bergetar mendengarnya. Tapi aku juga takut. Takut jika aku kembali padanya, semuakan berulang? Takut jika aku memilihnya, aku akan menyia, nyiakan Rendy. Takut jika aku salah memilih, aku akan kehilangan keduanya. Aku butuh waktu. Banyak waktu. Tapi apakah dia akan sabar? Apakah dunia akan sabar?”
“Akhirnya gue bilang juga. Gue bilang kangen. Gue bilang gue akan menunggu. Janah tidak menolak. Dia tidak mengatakan tidak. Itu sudah cukup untuk membuat gue bertahan. Gue tidak tahu apakah dia akan kembali padaku. Tapi setidaknya, dia tahu bahwa gue masih ada di sini. Menunggu. Seperti janji di Jembatan Kapuas dulu.”
Kabar tentang pertemuan Joko dan Janah di pasar cepat sampai ke telinga Rendy. Kecilan, Kapuas memang. Semua orang tahu semua hal.
Rendy mulai merasa terancam. Dia tahu Joko adalah mantan Janah. Dia tahu hubungan mereka tidak biasa, mereka tumbuh bersama sejak kecil. Dan dia tahu, ketika berbicara tentang masa lalu, dia tidak akan pernah bisa mengalahkan Joko.
“Jan, aku dengar kamu ketemu Joko di pasar,” kata Rendy suatu sore di kantor.
“Iya. Kebetulan.”
“Bukan kebetulan, Jan. Tidak ada yang kebetulan di kota kecil ini.”
Janah menghela napas. “Mas Rendy, jangan cemburu.”
“Aku tidak cemburu. Aku hanya... ingin kamu jujur.”
“Jujur tentang apa?”
“Tentang perasaanmu. Apakah kamu masih mencintainya?”
Janah terdiam. Itu pertanyaan yang tidak bisa dia jawab dengan mudah.
“Mas, aku butuh waktu.”
“Kamu selalu bilang butuh waktu. Sudah berapa bulan? Berapa tahun?”
Janah tidak menjawab. Rendy berdiri dan pergi.
Suatu malam, secara kebetulan, Joko dan Rendy bertemu di Taman Simpang Adipura. Joko sedang duduk sendirian di bangku taman. Rendy sedang berjalan, jalan untuk menenangkan pikirannya setelah cekcok dengan Janah.
Mereka saling menatap.
“Joko?” Rendy mendekat.
“Mas Rendy? Sendirian?”
“Iya. Janah lagi sibuk.”
Diam. Canggung.
“Mas Rendy, gue mau bilang sesuatu,” kata Joko.
“Apa?”
“Gue sayang Janah. Sejak kecil. Sampai sekarang. Gue nggak akan pernah berhenti menyayanginya. Tapi gue juga nggak akan merebutnya dari lo. Karena itu bukan hak gue.”
Rendy terkejut. “Lalu kenapa kamu bilang begitu?”
“Karena gue ingin lo tahu bahwa ada orang lain yang juga sayang Janah. Jadi jangan sia, siakan dia.”
Rendy tersenyum. “Kamu aneh, Joko.”
“Sering dibilang gitu.”
“Tapi aku hargai kejujuranmu.”
Mereka berjabat tangan. Untuk pertama kalinya, dua pria yang mencintai perempuan yang sama bisa saling menghormati.
Rendy makin intens mendekati Janah, sementara Joko semakin terlihat di tempat, tempat yang biasa Janah singgahi. Bukan sengaja, atau mungkin sengaja, siapa yang tahu.
Janah bingung. Tekanan dari dua arah membuatnya stres.
Suatu malam, dia memutuskan untuk bicara pada Mak Amin.
“Mak, Janah bingung.”
“Bingung kenapa?”
“Rendy suka sama Janah. Joko juga masih sayang. Janah harus memilih siapa?”
Mak Amin mengelus rambut Janah. “Nak, kamu tidak harus memilih sekarang. Fokus dulu pada pekerjaanmu. Fokus pada dirimu sendiri. Nanti, ketika hatimu sudah tenang, kamu akan tahu jawabannya.”
“Tapi kalau Janah terus begini, Janah akan kehilangan keduanya.”
“Kalau mereka benar, benar sayang, mereka tidak akan pergi. Mereka akan menunggu. Seperti Joko yang sudah menunggu bertahun, tahun.”
Janah memeluk ibunya. “Mak, Janah sayang Mak.”
“Ibu juga sayang Janah.”
Minggu, minggu berlalu. Janah mulai bisa bernapas lebih lega. Dia tidak lagi terlalu memikirkan Rendy atau Joko. Dia fokus pada pekerjaannya. Dia belajar menulis rilis pers, membuat konten media sosial, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Prestasinya di kantor diakui. Bupati mempromosikannya menjadi koordinator humas untuk program, program prioritas. Janah senang, tapi tidak sombong.
Di sela, sela kesibukannya, dia kadang masih bertemu Joko, di pasar, di jalan, atau di acara, acara kampung. Mereka tidak lagi canggung. Mereka bisa tersenyum, menyapa, bahkan bercanda sedikit.
Tapi belum ada yang berani melangkah lebih jauh.
Joko masih menunggu. Rendy masih berusaha. Janah masih bingung.
Tapi setidaknya, sunyi yang dulu menyiksa mulai terobati oleh kehadiran satu sama lain—meskipun hanya sebagai teman.
Langit Kapuas sore itu berwarna jingga keemasan. Janah berdiri di beranda rumahnya, memandangi sungai yang mengalir tenang. Joko, tanpa sengaja, sedang duduk di dermaga seberang, memandang ke arah rumah Janah.
Mereka tidak saling melambai. Tidak saling bersiul. Hanya saling memandang.
Dan dalam pandangan itu, ada harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, setelah semua luka sembuh, setelah semua kebingungan sirna, mereka akan dipertemukan lagi. Bukan sebagai mantan yang canggung, bukan sebagai teman yang menjaga jarak, tapi sebagai dua insan yang akhirnya siap untuk memulai kembali.
“Di bawah langit Kapuas, aku masih menanti,” bisik Joko dalam hati.
“Di bawah langit Kapuas, aku belum tahu harus menanti siapa,” bisik Janah dalam hati.
Tapi setidaknya, mereka masih di bawah langit yang sama. Dan itu sudah cukup untuk hari ini.
BAB 16
TAMAN SIMPANG ADIPURA – TANPA SENGAJA
Matahari pagi di Kuala Kapuas terbit seperti biasa. Perlahan, merah keemasan, menyembul dari balik pepohonan karet di timur. Ayam, ayam berkokok bersahutan. Asap dapur mulai mengepul dari rumah, rumah panggung. Sungai Kapuas mengalir tenang, airnya yang cokelat kehijauan memantulkan sinar matahari pagi seperti ribuan berlian kecil yang terapung.
Janah bangun pukul setengah enam. Dia mandi dengan air sumur yang dingin menusuk tulang, lalu memakai pakaian kerjanya, kemeja putih lengan panjang dan rok hitam. Rambutnya diikat rapi. Sedikit bedak dan lipstik, itu saja. Janah bukan tipe perempuan yang suka berdandan berlebihan.
Mak Amin sudah menyiapkan sarapan: nasi goreng dengan telur ceplok dan segelas teh manis hangat.
“Mak, Janah berangkat dulu,” kata Janah sambil mencomot telur ceplok dengan tangan.
“Hati, hati, Nak. Jangan kebut, kebutan.”
“Iya, Mak.”
Janah naik ke motornya, Honda Beat tua berwarna merah marun yang dia beli bekas dari temannya yang pindah ke Banjarmasin. Motor itu tidak terlalu kencang, tidak terlalu cantik, tapi cukup untuk membawanya ke kantor setiap hari.
Perjalanan dari Selat Hilir ke Dinas Kominfo melewati Jalan Tambun Bungai. Janah melaju dengan kecepatan sedang. Di kiri kanan jalan, pedagang kaki lima mulai membuka lapak. Bau nasi uduk, bau gorengan, bau kopi tubruk bercampur menjadi satu.
Di Dealer Honda, Joko juga memulai hari. Dia datang lebih pagi dari karyawan lain. Kebiasaan yang dia bawa sejak membantu Bapak Sarimin di bengkel. Dia suka ketenangan pagi, saat belum ada pelanggan, saat suara mesin belum menderu, saat dia bisa merapikan peralatan bengkel dengan tenang.
“Jok, pagi, pagi sudah datang? Lo nggak pernah telat, ya?” sapa Pak Rahmat, bosnya.
“Biasa, Pak. Pagi itu berkah.”
Pak Rahmat tertawa. “Anak muda sekarang jarang yang kayak kamu. Rajin, disiplin. Sayangnya, kurang ambisius. Lo nggak mau pindah ke Palangka Raya?”
“Belum, Pak. Masih ada urusan di sini.”
“Urusan hati lagi?”
Joko tersenyum malu. “Iya, Pak.”
Pak Rahmat menggeleng, geleng. “Dasar anak muda.”
Siang harinya, Janah mendapat tugas dari Pak Heri, kepala bidang humas. Dinas Kominfo akan mengadakan acara di Taman Simpang Adipura. Acaranya: sosialisasi program pemerintah tentang literasi digital untuk masyarakat umum. Janah diminta untuk melakukan survei lokasi, mempersiapkan panggung kecil, sound system, dan konsumsi.
“Jan, kamu ke Taman Simpang Adipura siang ini. Cek lokasi. Foto, foto. Catat apa yang perlu dipersiapkan,” kata Pak Heri.
“Baik, Pak.”
Janah menghela napas. Taman Simpang Adipura. Tempat itu punya banyak kenangan. Dulu, saat masih SMP, dia dan Joko sering ke sana. Mereka duduk di bangku taman, makan jagung bakar, dan bercerita tentang masa depan. Di taman itulah, dulu, mereka berjanji akan bertemu lagi setelah Janah lulus kuliah.
“Suatu hari nanti, setelah lo lulus, kita ketemu di sini lagi. Di tempat yang sama. Di bangku yang sama.”
Janah tersenyum mengingatnya. Itu dulu. Saat mereka masih polos. Saat cinta masih sederhana. Saat Joko belum menjadi montir dan dia belum menjadi sarjana. Saat jarak belum merenggut segalanya.
“Apakah Joko masih ingat janji itu? Atau dia sudah lupa, seperti dia lupa padaku?”
Jam menunjukkan pukul satu siang. Janah menyelesaikan makan siangnya di kantin Dinas Kominfo—nasi campur dengan lauk tempe orek dan ayam goreng. Rendy duduk di depannya.
“Jan, aku ikut ya ke taman? Biar bantuin foto, foto,” tawar Rendy.
“Nggak usah, Mas. Aku bisa sendiri.”
“Sayang kan, kamu sendirian.”
“Biarin. Aku butuh waktu sendiri.”
Rendy tersinggung sedikit, tapi tidak menunjukkan. “Baiklah. Hati, hati.”
Janah berangkat seorang diri.
Sementara Janah meluncur ke Taman Simpang Adipura, Joko sedang asyik memperbaiki motor bebek yang mogok karena busi kotor. Tiba, tiba ponselnya bergetar.
Pesan dari Budi: “Jok, lo di bengkel? Janah sendirian di Taman Simpang Adipura. Kayaknya lagi kerja. Lo kesana lah.”
Joko mengerutkan dahi. “Buat apa gue ke sana? Biasa aja.”
Budi membalas cepat: “Lo masih sayang dia kan? Ini kesempatan. Jangan sia, siakan.”
Joko berpikir sejenak. Setelah sekian lama menjaga jarak, setelah sekian lama hanya berpapasan di jalan dan saling tersenyum canggung, mungkin ini saatnya. Mungkin ini saatnya dia tidak lagi menjadi pengecut.
Dia mencuci tangannya, melepas sarung tangan karet, dan berkata pada Pak Rahmat, “Pak, saya izin sebentar. Ada urusan.”
“Urusan apa?”
“Urusan hati, Pak.”
Pak Rahmat tertawa. “Pergi, Jok. Tapi jangan lama, lama.”
Joko naik ke motornya, Honda Supra tua yang sudah puluhan tahun menemani keluarganya—dan melaju ke Taman Simpang Adipura.
Taman Simpang Adipura terletak di pusat Kota Kuala Kapuas, tepat di simpang lima antara Jalan Pemuda, Jalan Tambun Bungai, Jalan Cilik Kriwut, dan Jalan ke Rutan. Taman ini tidak besar, hanya sekitar setengah hektar. Ada air mancur kecil di tengah, beberapa bangku taman yang tersebar di bawah pohon rindang, dan sebuah panggung terbuka untuk acara, acara seremonial.
Janah berjalan di sekitar taman, membuka catatan di ponselnya, dan mulai menulis:
- Panggung: perlu perbaikan di bagian papan tengah (retak)
- Sound system: perlu sewa, milik Dinas tidak memadai
- Konsumsi: 200 kotak
- *Papan umbul, umbul: 4 buah*
- Kursi plastik: 100 buah
Dia juga memotret beberapa sudut taman. Dari panggung, dari air mancur, dari pohon, pohon rindang yang menjadi tempat favorit warga duduk santai.
Saat asyik memotret, dia tidak sadar bahwa dia sudah mendekati bangku taman di pojok timur, bangku yang dulu menjadi tempat favoritnya dan Joko.
Janah berhenti. Matanya menatap bangku itu.
“Bangku ini. Masih sama. Catnya sudah mulai mengelupas. Kayunya tampak rapuh. Tapi bentuknya masih sama. Dulu, kami sering duduk di sini. Joko di kanan, aku di kiri. Kadang dia menggangguku, kadang aku marah, kadang kami hanya diam menikmati angin sore.”
Janah teringat pada janji terakhir mereka sebelum dia berangkat ke Jogja.
“Setelah lo lulus, kita bertemu di sini lagi. Di tempat ini. Di bangku ini.”
“Janji.”
Janah tidak bisa menahan air matanya. Dia duduk di bangku itu, menyandarkan punggungnya, dan memandangi langit siang yang biru cerah.
“Aku sudah lulus, Joko. Aku sudah kembali. Tapi kenapa kita tidak pernah duduk di sini bersama lagi? Apa janji itu hanya tinggal janji?”
Joko sampai di Taman Simpang Adipura sekitar pukul dua siang. Panas matahari cukup terik. Dia memarkir motornya di pinggir jalan, lalu berjalan masuk ke taman.
Dia mencari, cari Janah dengan mata. Beberapa saat, dia tidak menemukannya. Taman tidak terlalu besar, tapi banyak sudut yang tertutup pohon.
Lalu dia melihatnya.
Janah sedang duduk di bangku pojok timur. Bangku itu. Bangku kenangan. Bangku janji.
Joko berdiri di kejauhan, memperhatikan Janah. Janah sedang menunduk, memegang ponselnya. Dari bahasa tubuhnya, Joko bisa menebak: Janah sedang tidak baik, baik saja. Dia mungkin sedang menangis.
Joko ingin mendekat. Tapi kakinya terasa berat. Rasa takut kembali menghantuinya.
“Apa yang harus gue katakan? Halo? Apa kabar? Gue kangen? Semuanya terdengar salah.”
Tapi kemudian dia mengingat kata, kata Maya: “Kalau kamu masih sayang, kejar. Jangan cuma diem.”
Dan kata, kata Budi: “Ini kesempatan. Jangan sia, siakan.”
Dan kata, kata hatinya sendiri: “Gue nggak akan pernah berhenti menyayanginya.”
Joko mengambil napas panjang, lalu melangkah.
Joko berjalan pelan mendekati Janah. Langkahnya tidak terdengar di atas rumput taman yang agak kering. Saat jarak mereka hanya sekitar tiga meter, dia berhenti.
“Jan...”
Janah terkejut. Dia menoleh. Matanya yang masih basah bertemu dengan mata Joko.
“Te... Tengil? Kamu ngapain di sini?”
“Gue... lewat.”
“Lewat? Di taman? Jam dua siang? Panas-panas begini?”
Joko tersenyum canggung. “Iya. Kebetulan.”
Janah tahu itu bukan kebetulan. Dia bisa membaca Joko seperti membaca buku yang sudah dibaca ratusan kali.
“Kamu tahu aku di sini, ya?”
Joko tidak bisa berbohong. “Iya. Budi bilang. Katanya lo sendirian.”
“Budi? Kok Budi tahu?”
“Kecil, Jan. Kapuas itu kecil. Semua orang tahu semua hal.”
Janah menghela napas. “Kamu ini, Tengil...”
“Boleh gue duduk?”
Janah menggeser sedikit badannya. Memberi ruang di bangku itu.
Joko duduk di samping Janah. Jarak mereka hanya sekitar setengah meter. Joko bisa mencium wangi sampo Janah, sampo yang sama seperti dulu, merek lokal dengan aroma melati.
“Jan...”
“Apa?”
“Lo nangis?”
Janah mengusap matanya. “Nggak. Hanya kena debu.”
“Bohong. Mata lo merah.”
“Panas.”
“Jan...”
“Apa sih, Tengil? Banyak tanya.”
Joko tersenyum. “Gue kangen liat lo kesal.”
Janah tersenyum tipis. “Kamu masih tengil.”
“Iya. Dan lo masih cengeng.”
Mereka tertawa kecil. Di bawah terik matahari siang, di atas bangku tua di pojok Taman Simpang Adipura.
Mereka diam beberapa saat. Suara angin, suara burung pipit yang beterbangan di pohon rindang, dan suara klakson mobil dari jalan raya menjadi latar yang sunyi.
“Jan, inget nggak waktu pertama kali kita duduk di bangku ini?”
Janah mengangguk. “Kelas 2 SMP. Kamu ngajak ke sini setelah pulang sekolah. Katanya mau beliin jagung bakar.”
“Iya. Dan lo nolak karena lo lagi diet.”
“Aku nggak diet. Aku cuma nggak suka jagung bakar lo yang item.”
“Itu bukan item. Itu gosong dikit.”
“Gosong banyak.”
Mereka tertawa.
“Tengil, inget waktu kita janjian di sini sebelum aku berangkat ke Jogja?”
Joko terdiam. “Iya. Lo janji akan kembali. Dan kita akan bertemu di sini lagi.”
“Dan sekarang aku sudah kembali. Dan kita sudah di sini lagi. Di bangku yang sama.”
“Tapi kita bukan kita yang dulu.”
Janah menunduk. “Iya. Kita sudah berubah. Banyak yang terjadi.”
“Tapi perasaan gue nggak berubah, Jan.”
Janah mengangkat muka. Matanya bertemu dengan mata Joko.
“Apa maksudmu?”
“Maksud gue, gue masih sayang sama lo. Seperti dulu. Mungkin lebih.”
Janah terdiam. Hatinya berdebar kencang. Dia sudah mendengar Joko mengatakan itu sebelumnya, di tempat ini, bertahun, tahun lalu. Tapi kali ini, rasanya berbeda. Lebih berat. Lebih dewasa. Lebih... nyata.
“Tengil, aku...”
“Lo nggak usah jawab sekarang. Gue cuma ingin lo tahu.”
Janah menggigit bibirnya. Air matanya mengalir lagi.
“Akhirnya gue bilang juga. Setelah bertahun, tahun memendam, setelah melalui Maya, setelah melalui kecemburuan buta, setelah melalui kesendirian yang panjang. Gue bilang. ‘Gue masih sayang sama lo.’ Janah tidak menjawab. Tapi dia juga tidak menolak. Dia menangis. Dan itu sudah cukup. Setidaknya, lo tahu, Jan. Di dunia yang sibuk berubah ini, ada satu hal yang tidak berubah: perasaan gue terhadap lo.”
“Joko bilang dia masih sayang. Aku sudah tahu. Tapi mendengarnya langsung tetap membuat hatiku bergetar. Selama ini aku berpura, pura tidak peduli. Aku sibuk dengan pekerjaan, dengan Rendy, dengan segala hal untuk melupakannya. Tapi kenyataannya, aku tidak pernah bisa melupakan Joko. Dia terlalu dalam di hatiku. Tapi apakah aku berani memulai lagi? Apakah aku cukup kuat untuk melalui semua drama yang mungkin akan terulang? Aku takut, Tengil. Aku takut.”
Untuk mengubah suasana yang terlalu serius, Joko berdiri.
“Jan, lo mau jagung bakar? Gue traktir.”
Janah terkejut. “Sekarang? Jam gini? Pedagangnya belum buka.”
“Di ujung taman ada. Buka dari siang. Lo lupa? Dulu kita sering beli di sana.”
Janah tersenyum. Dia ingat. Pedagang jagung bakar langganan mereka, Namanya Pak Komar. Sudah berjualan di sana sejak mereka masih SD.
“Baiklah. Tapi jangan yang gosong.”
“Gue pesenin yang gosong sedikit, biar ada rasanya.”
“Tengil!”
“Bercanda.”
Joko berjalan ke arah pedagang jagung bakar di ujung taman. Janah memperhatikan punggungnya. Punggung yang sama yang dulu sering dia lihat saat mereka berjalan pulang sekolah. Kini, punggung itu lebih lebar, lebih tegap. Tanda Joko sudah menjadi laki, laki dewasa.
Beberapa menit kemudian, Joko kembali dengan dua bungkus jagung bakar dan dua gelas es kelapa muda.
“Pesanan lo, Nyonya.”
Janah tertawa. “Nyonya? Siapa nyonya?”
“Ya, lo. Kan sarjana. Pantes dipanggil nyonya.”
“Sarjana bukan nyonya, Tengil. Sarjana ya sarjana.”
“Sama aja.”
“Beda.”
Mereka makan jagung bakar dan minum es kelapa muda seperti anak, anak kecil yang tidak punya beban. Untuk beberapa saat, mereka melupakan segalanya: tentang Rendy, tentang Dimas, tentang masa lalu yang rumit, tentang masa depan yang tidak pasti.
Hanya ada jagung bakar, es kelapa muda, angin sore, dan kebersamaan yang sudah lama tidak mereka rasakan.
Setelah jagung bakar habis, Janah bercerita tentang Jogja. Tentang dinginnya malam. Tentang Malioboro yang ramai. Tentang gudeg yang manis. Tentang teman, teman Bidik Misi yang seperti keluarga. Tentang Dimas.
Ketika menyebut nama Dimas, dia menatap Joko.
“Kamu nggak marah?”
“Marah kenapa?”
“Aku cerita tentang Dimas.”
“Dimas sudah pergi. Dia sudah memilih mundur. Itu artinya dia bukan jodoh lo.”
“Kamu nggak cemburu?”
Joko tersenyum. “Dulu, gue cemburu buta. Sekarang, gue belajar. Cemburu tidak menyelesaikan masalah. Yang penting, pada akhirnya, lo yang memilih.”
Janah terkesan. “Kamu berubah, Tengil.”
“Berubah jadi lebih baik?”
“Iya. Jauh lebih baik.”
“Lo juga berubah.”
“Menjadi apa?”
“Menjadi lebih cantik.”
Janah tersenyum malu. “Joko, kamu ini.”
“Apa? Gue serius.”
Giliran Joko bercerita. Tentang Dealer Honda. Tentang Pak Rahmat yang ingin mempromosikannya ke Palangka Raya. Tentang bengkel Bapak Sarimin yang sekarang dikelola adik sepupunya. Tentang Budi yang masih setia menjadi sahabatnya.
“Tengil, kenapa kamu nggak mau pindah ke Palangka Raya? Itu kan kesempatan bagus.”
Joko menatap Janah. “Karena gue masih ingin di sini. Di Kapuas.”
“Kenapa?”
“Karena lo di sini.”
Janah terdiam. Joko begitu terus terang. Tidak ada basa, basi. Tidak ada permainan.
“Tengil, jangan menunggu aku. Aku belum tahu...”
“Gue tahu. Lo belum tahu mau pilih siapa. Terserah. Yang penting, gue di sini. Lo tahu di mana gue.”
Janah tidak bisa berkata, kata. Hatinya terasa begitu hangat, tapi juga begitu berat.
Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Langit mulai berwarna jingga. Suhu udara mulai turun. Angin bertiup lebih kencang.
“Jan, gue harus balik ke dealer. Ada servis motor yang belum selesai.”
“Iya. Aku juga harus balik ke kantor. Laporan survei lokasi belum aku tulis.”
Mereka berdiri bersamaan. Untuk beberapa detik, mereka saling menatap.
“Jan, gue seneng hari ini.”
“Seneng kenapa?”
“Kita bisa duduk di sini lagi. Kayak dulu. Makan jagung bakar. Minum es kelapa. Ngobrol.”
Janah tersenyum. “Aku juga seneng.”
“Jan...”
“Apa?”
“Boleh gue minta sesuatu?”
“Apa?”
“Boleh gue... peluk lo? Sebentar saja.”
Janah ragu. Tapi kemudian dia mengangguk.
Joko mendekat. Dia memeluk Janah. Pelukan yang hangat. Pelukan yang lama tidak mereka rasakan. Joko memejamkan matanya, menghirup wangi rambut Janah, merasakan detak jantungnya.
“Aku rindu ini. Aku rindu banget,” bisik Joko dalam hati.
Janah juga memejamkan mata. Pelukan ini terasa seperti rumah. Seperti pulang. Seperti semua luka mulai terobati.
Tapi pelukan itu tidak berlangsung lama. Janah melepaskannya lebih dulu.
“Tengil, kita harus pelan, pelan.”
“Gue tahu.”
“Jangan harap terlalu banyak.”
“Gue tahu.”
“Tapi... makasih. Untuk hari ini.”
Joko tersenyum. “Sama, sama, Jan.”
Mereka berpisah. Joko berjalan ke motornya. Janah berjalan ke motornya. Mereka melaju ke arah yang berlawanan.
Tapi di dalam hati, mereka berdua tahu: sesuatu telah dimulai lagi hari ini. Sesuatu yang dulu sempat mati, kini mulai tumbuh kembali.
Kabar tentang Joko dan Janah yang duduk berdua di Taman Simpang Adipura cepat menyebar. Kapuas memang kecil. Tidak ada yang bisa dirahasiakan.
Mba Dewi, rekan Janah di kantor, yang kebetulan lewat melihat mereka. Mba Dewi cerita pada Pak Heri. Pak Heri cerita pada Bu Sri (guru SD Janah dulu). Bu Sri cerita pada tetangganya. Tetangganya cerita pada Mak Dhijah.
Dan pada akhirnya, Rendy mendengar.
Rendy tidak marah. Tapi dia kecewa. Janah tidak pernah bercerita bahwa dia bertemu Joko. Janah hanya bilang dia ke taman untuk survei lokasi, sendirian.
“Kenapa dia tidak jujur? Apakah dia sengaja menyembunyikan? Apakah ada yang lebih dari sekadar pertemuan biasa?”
Rendy memutuskan untuk tidak langsung bertanya. Dia akan menunggu. Dia akan lihat perkembangan ke depan.
Mak Dhijah mendengar kabar itu dari tetangganya, Bu RT.
“Bu Dhijah, anak ibu, Joko, katanya ketemuan sama Janah di Taman Simpang Adipura. Mereka berduaan. Makan jagung bakar. Katanya Joko sempat memeluk Janah.”
Mak Dhijah tersenyum. “Ah, biarlah. Mereka sudah dewasa. Mereka tahu mana yang baik.”
“Tapi Janah kan sudah dekat sama Rendy. Kasihan Rendy.”
“Rendy belum jadi apa, apa. Janah bebas memilih.”
Mak Dhijah segera menelepon Mak Amin.
“Mak Amin, dengar kabar? Anak, anak kita bertemu di taman.”
“Iya, Mak Dhijah. Aku sudah dengar.”
“Kamu senang?”
“Senang. Tapi aku juga khawatir.”
“Khawatir kenapa?”
“Khawatir mereka salah memilih. Khawatir mereka terluka lagi.”
Mak Dhijah menghela napas. “Doakan saja yang terbaik, Mak Amin. Kita sudah berusaha menjodohkan mereka sejak dalam kandungan. Sekarang, biarlah Tuhan yang menentukan.”
“Aamiin.”
Malam itu, Joko tidak bisa tidur. Dia masih merasakan hangatnya pelukan Janah. Masih merasakan detak jantung Janah yang berdegup kencang saat mereka berpelukan.
“Dia masih sayang. Gue tahu. Tapi dia takut. Takut untuk memulai lagi. Mungkin karena dia masih sakit hati. Mungkin karena dia belum siap. Tapi tidak apa, apa. Gue akan tunggu. Seperti dulu. Gue akan buktikan bahwa gue layak dipercaya.”
Di rumah sebelah, Janah juga tidak bisa tidur. Dia memeluk bantalnya, membayangkan pelukan Joko.
“Aku masih sayang. Aku tidak bisa memungkiri. Tapi aku takut. Takut jika memulai lagi, semuanya akan berulang. Takut jika memilih Joko, aku menyakiti Rendy. Takut jika memilih Rendy, aku menyesal selamanya. Tuhan, tunjukkan jalan.”
Di luar, langit Kapuas bertabur bintang. Sungai mengalir tenang. Dan di Taman Simpang Adipura, bangku tua di pojok timur itu, masih kosong. Menunggu dua insan yang berjanji akan kembali.
BAB 17
CLBK (CINTA LAMA KEMBALI BERSEMI)
Seminggu berlalu sejak pertemuan tak sengaja di Taman Simpang Adipura. Bagi Joko, seminggu itu terasa seperti sekejap mata sekaligus selamanya. Setiap hari dia bekerja seperti biasa, membongkar mesin, mengganti oli, menambal ban, tapi pikirannya tidak pernah jauh dari Janah. Setiap kali ada motor berwarna merah marun melintas di depan dealer, jantungnya berdegup kencang. Kadang itu Janah, kadang bukan. Tapi setiap harinya, dia tetap berharap.
Janah juga tidak bisa melupakan pertemuan itu. Pelukan Joko masih terasa hangat di sekujur tubuhnya. Kata, katanya masih terngiang di telinga. “Gue masih sayang sama lo. Seperti dulu. Mungkin lebih.”
Tapi Janah juga tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa Rendy masih ada. Rendy belum menyerah. Rendy masih sering mengajaknya makan siang, masih sering mengirim pesan di malam hari, masih sering tersenyum manis setiap kali bertemu di kantor.
Janah terjebak di antara dua dunia. Dunia masa lalu yang nyaman tapi penuh luka, dan dunia masa kini yang aman tapi belum tentu bahagia.
Suatu sore, sepulang kerja, Janah memutuskan untuk tidak langsung pulang. Dia memarkir motornya di pinggir Jalan Pemuda, lalu berjalan kaki menuju Dealer Honda. Dia tidak tahu persis apa yang akan dia lakukan di sana. Mungkin hanya ingin melihat Joko. Mungkin hanya ingin memastikan bahwa pertemuan di taman bukanlah mimpi.
Dealer Honda tampak sepi. Hanya ada beberapa motor yang terparkir rapi di area servis. Joko sedang duduk di kursi plastik di depan bengkel, memegang segelas kopi hitam. Wajahnya tampak lelah, tapi matanya berbinar begitu melihat Janah.
“Jan? Lo ke sini?” Joko berdiri, tidak percaya.
“Iya. Aku... pulang kerja. Kebetulan lewat.”
“Kebetulan lagi?” Joko tersenyum. “Kamu sering banget kebetulan.”
Janah tersenyum malu. “Boleh aku duduk?”
“Silakan. Tapi bangkunya nggak sebagus bangku di taman.”
“Nggak apa, apa.”
Janah duduk di kursi plastik di samping Joko. Jarak mereka hanya beberapa senti. Joko menawarkan kopinya, Janah menolak.
“Kamu lagi apa di sini? Sendirian?” tanya Janah.
“Lagi istirahat. Servis motor terakhir sudah selesai. Besok pagi baru ada pelanggan.”
“Jadi kamu bisa pulang lebih awal?”
“Bisa. Tapi aku sering betah di sini. Sepi. Tenang.”
Janah memandangi sekitar. Dealer Honda itu tidak besar. Dindingnya dicat putih, lantainya semen, dan ada beberapa poster motor terbaru yang ditempel di dinding. Bau oli dan karet terbakar masih terasa menyengat.
“Tengil, aku mau tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Kamu... kamu serius dengan apa yang kamu bilang di taman? Bahwa kamu masih sayang?”
Joko menatap Janah. Matanya serius. “Seratus persen serius, Jan. Gue nggak pernah berhenti sayang sama lo. Meskipun lo di Jogja, meskipun lo punya Dimas, meskipun lo dekat sama Rendy. Gue tetap sayang.”
“Tapi kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak pernah berusaha?”
“Karena gue takut, Jan. Takut ditolak. Takut lo nggak mau. Takut gue cuma buang, buang waktu.”
“Kamu nggak akan tahu kalau kamu nggak mencoba.”
“Sekarang gue sedang mencoba.”
Janah terdiam. Joko benar. Dia sedang mencoba. Dengan datang ke taman. Dengan memeluknya. Dengan mengatakan bahwa dia masih sayang. Itu semua adalah usaha. Usaha yang selama ini tidak pernah dilakukan Dimas atau Rendy, karena mereka tidak perlu berusaha. Janah sudah ada di depan mata.
“Tengil, aku sayang kamu. Tapi aku juga sayang Rendy, sebagai teman. Aku tidak ingin menyakitinya.”
“Lo nggak perlu memilih sekarang. Tapi jangan biarkan gue menggantung terus.”
Janah menghela napas. “Aku akan bicara dengan Rendy.”
“Kapan?”
“Segera.”
Keesokan harinya, di sela, sela jam kerja, Janah memanggil Rendy ke kantin. Suasana kantin sedang sepi, hanya ada beberapa orang yang duduk di sudut. Janah memilih meja di pojok, dekat jendela.
“Mas Rendy, aku mau bicara.”
Rendy duduk di depan Janah. Wajahnya tampak tegang. Dia sudah menduga bahwa suatu saat Janah akan membawa topik ini.
“Tentang Joko?” tebak Rendy.
Janah mengangguk. “Maaf, Mas. Aku tidak bermaksud menyembunyikan. Aku dan Joko... kami punya sejarah panjang.”
“Aku tahu. Semua orang di kantor ini tahu.”
“Joko masih sayang sama aku. Dan aku... aku juga masih ada perasaan.”
Rendy menunduk. Tangannya memegang gelas kopi, tapi tidak diminum.
“Jadi kamu memilih dia?”
“Aku belum memilih. Tapi aku tidak bisa berbohong padamu. Kalau aku terus dekat denganmu sementara hatiku masih terbelah, itu tidak adil buatmu.”
Rendy tersenyum pahit. “Kamu orang baik, Jan. Kamu jujur. Itu aku hargai.”
“Maaf, Mas.”
“Jangan minta maaf. Kamu tidak bersalah. Kamu hanya... belum siap. Dan aku mungkin terlalu cepat.”
Mereka diam beberapa saat.
“Jan, aku mundur,” kata Rendy akhirnya. “Bukan karena aku tidak sayang. Tapi karena aku tidak ingin menjadi penghalang. Kalau memang Joko adalah jodohmu, aku tidak akan menghalangi.”
“Mas Rendy...”
“Kita tetap berteman, ya? Seperti biasa. Tidak ada yang berubah.”
Janah menangis. “Makasih, Mas. Kamu baik sekali.”
Rendy mengusap air matanya sendiri. “Teman, ya?”
“Teman.”
Mereka berjabat tangan. Rendy pergi meninggalkan Janah yang masih duduk di kantin, menangis dan lega pada saat yang bersamaan.
Kabar bahwa Janah dan Rendy sudah tidak lagi “dekat” menyebar cepat. Rendy sendiri yang menyebarkannya—bukan untuk menyakiti Janah, tapi untuk membersihkan nama baiknya. Dia tidak ingin dibilang sebagai cowok yang cemberut karena ditolak.
Budi memberi tahu Joko lewat telepon.
“Jok, lo dengar? Janah dan Rendy putus. Janah yang memilih mundur.”
Joko terperanjat. “Serius?”
“Serius. Gue dengar dari Mba Dewi. Katanya Janah yang bicara duluan. Dia jujur kalau masih ada perasaan sama lo.”
Joko tidak bisa berkata, kata. Dadanya terasa meledak oleh kebahagiaan. “Makasih, Bi. Makasih.”
“Jangan makasih gue. Sekarang yang penting, lo jangan sia, siakan kesempatan ini. Lo buktikan bahwa lo pantas untuk Janah.”
“Gue akan buktikan.”
Joko menutup telepon. Dia berdiri di depan bengkel, memandangi langit Kapuas yang biru cerah.
“Janah memilih untuk mundur dari Rendy. Dia belum memilih gue. Tapi setidaknya, dia memberi ruang. Dia memberi kesempatan. Itu sudah lebih dari cukup.”
Joko ingin segera menemui Janah. Tapi dia sadar, tidak bisa terburu, buru. Janah butuh waktu. Janah butuh dipeluk perlahan, bukan dikejar kencang.
“Aku sudah bicara dengan Rendy. Aku sudah jujur. Sekarang, aku merasa lega. Tidak ada beban. Tapi juga ada kekosongan. Rendy pergi dari hidupku—tidak sepenuhnya, tapi setidaknya dia tidak lagi mengejarku. Sekarang, yang tersisa hanya Joko. Apakah ini yang aku inginkan? Apakah ini yang terbaik? Aku belum tahu. Tapi setidaknya, aku sudah mengambil langkah. Aku tidak lagi menggantungkan dua orang sekaligus. Itu tidak adil. Sekarang, waktuku untuk merenung. Untuk memastikan apakah Joko benar, benar yang aku inginkan, atau hanya kenangan masa lalu yang sulit kulupakan.”
“Rendy mundur. Janah sendiri lagi. Ini kesempatan gue. Tapi gue nggak bisa buru, buru. Janah butuh waktu. Dia butuh dipeluk, bukan dikejar. Gue harus jadi laki, laki yang lebih dewasa. Bukan Joko yang dulu—cemburu, posesif, insecure. Tapi Joko yang baru. Yang bisa dipercaya. Yang bisa menjadi sandaran. Gue akan buktikan, Jan. Gue akan buktikan bahwa gue layak untuk lo.”
Janah dan Joko sepakat untuk bertemu lagi di Taman Simpang Adipura. Kali ini, bukan karena kebetulan. Bukan karena tugas kantor. Tapi karena mereka sengaja ingin bertemu. Untuk bicara. Untuk memulai sesuatu yang baru, atau melanjutkan sesuatu yang lama.
Mereka memilih sore hari, saat matahari mulai meredup dan angin bertiup sepoi, sepoi. Janah datang lebih dulu. Dia duduk di bangku pojok timur, bangku kenangan, sambil memegang dua gelas es kelapa muda.
Joko datang beberapa menit kemudian. Dia mengenakan kaus putih lengan panjang dan celana jeans—penampilan yang sederhana tapi rapi.
“Lo duluan?” tanya Joko sambil duduk.
“Iya. Aku bawain es kelapa.”
“Makasih. Lo masih ingat kesukaanku.”
“Kamu suka es kelapa muda dengan tambahan gula merah, kan?”
“Iya. Lo masih ingat.”
Mereka minum es kelapa muda dalam diam. Suasana tidak canggung seperti sebelumnya. Ada kenyamanan yang perlahan kembali.
“Jan,” kata Joko.
“Apa?”
“Gue dengar lo sudah bicara sama Rendy.”
Janah mengangguk. “Iya. Kami sudah tidak dekat lagi. Tidak ada status apa pun. Hanya teman kantor.”
“Kenapa lo lakukan itu?”
“Karena tidak adil buat dia. Aku belum bisa memberikan hati sepenuhnya. Masih ada kamu di sana.”
Joko tersenyum. “Jadi gue yang jadi biang kerok?”
“Bukan biang kerok. Tapi... kamu adalah alasan mengapa aku belum bisa move on.”
“Maaf, Jan.”
“Jangan minta maaf. Aku juga tidak minta maaf. Ini semua sudah terjadi. Yang penting sekarang, kita mau ke mana?”
Joko menatap Janah. Matanya serius. “Jan, gue nggak akan minta lo jadi pacar gue sekarang. Itu terlalu cepat. Tapi gue minta kesempatan. Buat mendekati lo lagi. Buat membuktikan bahwa gue sudah berubah. Bahwa gue bukan Joko yang dulu.”
Janah tersenyum. “Kesempatan sudah kamu punya dari dulu, Tengil. Kamu tidak pernah kehilangannya.”
“Jadi, gue boleh... merayu lo?”
“Merayu? Kayak cowok, cowok kampung?”
“Iya. Merayu ala Si Tengil.”
Janah tertawa. “Ayo buktikan.”
Joko memulai “merayu” Janah dengan cara yang sederhana. Setiap pagi, dia mengirim pesan singkat: “Selamat pagi, Jan. Semoga harimu indah.”
Setiap Janah melewati Dealer Honda, Joko melambai dari kejauhan—bukan lambai yang genit, tapi lambai yang hangat.
Setiap Janah pulang kerja, kadang dia menemukan jajanan favoritnya tergantung di pagar rumah—bakwan jagung, atau pisang goreng, atau kue cucur. Tanpa nama pengirim. Tapi Janah tahu dari siapa.
Suatu hari, Janah bertanya langsung pada Joko.
“Tengil, jajanan di pagar rumahku itu dari kamu, kan?”
“Jajanan apa? Gue nggak tahu.”
“Bohong. Kamu yang beli, kan?”
“Mungkin. Mungkin juga bukan.”
“Tengil, kamu ini.”
“Apa? Gue cinta sama lo. Apa salahnya gue kasih jajanan?”
Janah tersenyum. “Kamu tidak perlu membeli perasaanku dengan jajanan.”
“Gue tahu. Tapi gue seneng lihat lo seneng.”
Janah tidak bisa marah. Hatinya terasa hangat.
Minggu, minggu berlalu. Joko dan Janah mulai sering menghabiskan waktu bersama. Setiap akhir pekan, mereka pergi ke tempat, tempat favorit mereka dulu.
Ke Dermaga KP3, duduk di tepian sambil makan sate kelinci dan es kelapa muda. Joko bercerita tentang pekerjaannya di dealer. Janah bercerita tentang kampanye literasi digital yang dia kelola.
Ke Dermaga Danau Mare, naik perahu kecil bersama, menyusuri sungai yang airnya tenang dan dikelilingi perumahan. Joko mencoba memegang tangan Janah. Janah tidak melepaskan.
Ke Pasar Sari Mulya, berburu oleh, oleh khas Kapuas—amplang, kerupuk basah, ikan asin. Joko membawakan belanjaan Janah seperti pacar sungguhan. Janah tersenyum, senyum sendiri.
Ke Pertokoan Sanjaya, Janah membeli HP baru karena HP lamanya rusak. Joko ikut mendampingi, memberi saran meskipun tidak tahu banyak tentang teknologi. Janah akhirnya membeli HP yang direkomendasikan Joko—bukan karena itu yang terbaik, tapi karena Joko yang memilihkan.
Ke Taman Hutan Kota, duduk di bangku taman sambil menikmati angin sore, bercerita tentang mimpi, mimpi mereka. Janah bermimpi menjadi humas yang bisa membawa nama Kapuas ke tingkat nasional. Joko bermimpi membuka bengkel sendiri.
“Jan, doain gue ya. Semoga suatu hari gue punya bengkel sendiri.”
“Kamu pasti bisa, Tengil. Kamu hebat.”
“Lo yang hebat. Sarjana cumlaude.”
“Iya. Tapi aku nggak sombong.”
“Lo sombong dikit gapapa. Gue bangga.”
Janah tersenyum.
Yang paling membuat Janah terkesan adalah perubahan Joko. Dia tidak lagi cemburu buta. Ketika Janah bercerita tentang teman laki, laki di kantor, Joko mendengarkan dengan tenang. Dia tidak marah, tidak melarang, tidak memasang wajah cemberut.
Dia juga tidak lagi insecure. Dia tidak pernah lagi menyebut, nyebut perbedaan status sosial antara dia dan Janah. Dia tidak lagi mengatakan “gue cuma montir” dengan nada rendah diri. Dia justru bangga dengan pekerjaannya.
“Jan, gue sekarang kepala bengkel di dealer cabang Kapuas,” cerita Joko suatu hari.
“Serius? Kapan?”
“Minggu lalu. Pak Rahmat promosiin gue.”
“Selamat, Tengil! Aku bangga!”
“Iya. Sekarang gaji gue lumayan. Mungkin tahun depan gue bisa buka bengkel sendiri.”
Janah memeluk Joko. “Kamu hebat, Tengil. Aku tahu kamu bisa.”
Joko tersenyum. Pelukan Janah terasa hangat. “Ini yang aku tunggu. Dia bangga padaku. Bukan karena status, tapi karena usahaku.”
“Joko berubah. Dia tidak lagi insecure. Tidak lagi cemburu buta. Dia menjadi laki, laki dewasa yang bisa diajak bicara, yang bisa diandalkan, yang tidak takut menunjukkan perasaan tapi juga tidak posesif. Aku suka Joko yang sekarang. Mungkin lebih dari aku suka Joko yang dulu. Tapi apakah ini cukup? Apakah aku siap untuk memulai lagi? Aku takut. Tapi aku juga tidak ingin kehilangan kesempatan. Joko mungkin tidak akan menunggu selamanya.”
Suatu malam, setelah berjalan, jalan di Bundaran Besar Kapuas, Joko mengajak Janah duduk di taman di tengah bundaran. Lampu, lampu warna, warni menerangi area sekitar. Anak, anak bermain kejar, kejaran. Pasangan, pasangan muda duduk berdua di bangku, bangku taman.
“Jan, gue mau tanya serius.”
“Apa?”
“Lo masih suka sama gue?”
Janah menghela napas. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya rumit.
“Aku suka sama kamu, Tengil. Tapi...”
“Tapi apa?”
“Tapi aku takut. Takut kalau kita memulai lagi, semuanya akan berulang. Takut kamu masih cemburu. Takut aku masih belum bisa sepenuhnya percaya.”
Joko menggenggam tangan Janah. “Jan, gue nggak akan mengulangi kesalahan yang sama. Gue sudah belajar. Gue sudah berubah. Lo lihat sendiri, kan?”
“Aku lihat. Tapi perubahan butuh waktu untuk benar, benar terbukti.”
“Maka dari itu, gue minta lo kasih waktu. Biarkan gue buktikan. Pelan, pelan. Tanpa tekanan.”
Janah tersenyum. “Kamu yakin tidak akan bosan? Merayu mantan itu melelahkan, lho.”
“Bosan? Merayu lo adalah hal paling menyenangkan dalam hidup gue.”
Janah tertawa. “Kamu ini, Tengil...”
“Apa? Gue serius.”
Perlahan tapi pasti, Janah mulai meluluh. Bukan karena jajanan di pagar rumah. Bukan karena kata, kata manis. Tapi karena konsistensi. Joko tidak pernah absen. Setiap hari, dia menunjukkan bahwa dia ada. Setiap hari, dia menunjukkan perhatian tanpa berlebihan. Setiap hari, dia membuktikan bahwa dia bisa dipercaya.
Janah mulai merindukan Joko saat mereka tidak bertemu. Setiap kali ponselnya bergetar, dia berharap itu pesan dari Joko. Setiap kali dia melewati Dealer Honda, dia selalu melambat, berharap bisa melihat sekilas senyum Joko.
Suatu hari, saat mereka sedang duduk di Dermaga KP3, Janah berkata, “Tengil, aku mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Aku kangen.”
Joko tersenyum. “Kangen siapa?”
“Kangen kamu. Kangen kita. Kangen masa lalu. Tapi juga... kangen masa depan.”
“Maksud lo?”
“Maksudku, aku ingin kita mencoba lagi. Pelan, pelan. Tanpa target. Tanpa status yang mengikat. Tapi kita berjalan bersama. Menuju arah yang sama.”
Joko tidak bisa berkata, kata. Dia hanya memeluk Janah erat, erat.
“Akhirnya. Setelah sekian lama. Setelah semua air mata dan luka. Janah mau mencoba lagi.”
Kabar bahwa Joko dan Janah “kembali menjalin hubungan” (meskipun tanpa status resmi) menyebar cepat.
Rendy menerimanya dengan lapang dada. Dia sudah ikhlas sejak Janah bicara jujur padanya. “Semoga kamu bahagia, Jan. Joko orang baik,” katanya saat berpapasan di kantor.
Janah tersenyum. “Makasih, Mas. Kamu juga akan menemukan seseorang yang tepat.”
Di Jogja, Dimas mendengar kabar itu dari Nimas. Dia tersenyum pahit, tapi juga lega.
“Akhirnya Janah mendapatkan kebahagiaannya. Meskipun bukan dengan aku, aku tetap senang untuknya. Joko, jaga dia baik, baik. Dia perempuan hebat. Jangan sia, siakan.”
Dimas membuka galeri ponselnya, melihat foto, foto lamanya bersama Janah. Dia tidak menghapusnya. Itu kenangan indah yang akan selalu dia simpan. Tapi dia memutuskan untuk tidak lagi menyentuh masa lalu. Dia akan fokus pada masa depannya.
Mak Amin dan Mak Dhijah sangat bahagia mendengar bahwa Joko dan Janah kembali dekat. Mereka sudah lama menunggu momen ini.
“Mak Dhijah, doa kita selama ini terjawab,” kata Mak Amin sambil menangis bahagia.
“Iya, Mak Amin. Tapi jangan terburu, buru. Biarkan mereka menjalani dengan ritmenya sendiri.”
“Setuju. Yang penting mereka bersama. Status bisa menyusul.”
Mak Dhijah tersenyum. “Mereka sudah dijodohkan sejak dalam kandungan. Tidak mungkin Tuhan memisahkan mereka selamanya.”
Bapak Sarimin dan Bapak Jayadi juga ikut bahagia. Mereka sudah sering bertukar pikiran tentang bagaimana menyatukan dua keluarga jika Joko dan Janah akhirnya menikah.
“Tanah di belakang rumah bisa untuk mereka,” kata Bapak Sarimin.
“Iya. Kita bisa bangun rumah kecil untuk mereka,” tambah Bapak Jayadi.
Para orang tua sudah merencanakan masa depan. Tapi Joko dan Janah belum tahu. Biarlah mereka menikmati prosesnya dulu.
Dua bulan setelah mereka memutuskan untuk “mencoba lagi”, Joko memberanikan diri untuk mengajak Janah bicara serius. Mereka duduk di bangku taman favorit mereka—bangku pojok timur di Taman Simpang Adipura.
“Jan, gue mau nanya sesuatu.”
“Apa?”
“Setelah dua bulan ini, apa lo masih ragu?”
Janah berpikir sejenak. “Aku tidak ragu lagi, Tengil. Aku yakin.”
“Yakin sama apa?”
“Yakin bahwa kamu adalah orang yang aku inginkan. Bukan karena masa lalu. Bukan karena kenangan. Tapi karena kamu yang sekarang. Kamu yang sudah berubah. Kamu yang dewasa. Kamu yang bisa aku andalkan.”
Joko tersenyum. “Jadi, apa artinya?”
“Artinya, aku mau jadi pacar kamu. Resmi. Dengan status. Bukan coba, coba.”
Joko tidak bisa menahan kebahagiaannya. Dia memeluk Janah erat, erat. “Makasih, Jan. Makasih sudah memberi gue kesempatan kedua.”
“Jangan sia, siakan, Tengil.”
“Gue tidak akan. Janji.”
Mereka berpelukan lama. Di bawah langit Kapuas yang mulai gelap. Di bangku yang sama, di tempat yang sama, seperti janji mereka dulu.
“Di bawah langit Kapuas, aku menanti. Dan kini, kau datang.”
Cinta lama akhirnya bersemi kembali. Bukan karena paksaan. Bukan karena takdir semata. Tapi karena dua insan yang sama, sama belajar dari kesalahan. Yang sama, sama mau berubah. Yang sama, sama memilih untuk tidak menyerah.
Joko dan Janah kini resmi menjadi sepasang kekasih. Mereka tidak lagi malu, malu. Mereka bergandengan tangan saat berjalan di pasar. Mereka saling melempar senyum saat berpapasan di jalan. Mereka bercerita tentang masa depan—tentang pernikahan, tentang anak, tentang rumah.
Tapi mereka juga tidak terburu, buru. Mereka menikmati setiap prosesnya. Karena mereka tahu, perjalanan cinta sejati tidak pernah mudah. Ada lika, liku. Ada air mata. Ada jarak dan waktu. Tapi pada akhirnya, cinta sejati akan menemukan jalannya pulang.
BAB 18
SI TENGIL HARUS DARI NOL
Menjadi pacar Janah lagi adalah satu hal. Tapi mempertahankannya, membuatnya yakin, dan membuktikan bahwa dirinya layak adalah hal yang jauh lebih sulit. Joko menyadari bahwa dia tidak bisa hanya mengandalkan kenangan masa lalu. Dia tidak bisa hanya mengandalkan janji di Jembatan Kapuas. Dia harus membangun segalanya dari nol.
Ini bukan tentang memenangkan hati Janah lagi. Janah sudah memberinya hati. Ini tentang menjadi laki, laki yang pantas untuk hati itu.
Malam pertama setelah mereka resmi berpacaran, Joko tidak bisa tidur. Bukan karena kebahagiaan yang berlebihan—meskipun itu juga ada. Tapi karena kegelisahan. Dia duduk di beranda rumahnya, memandangi langit malam yang bertabur bintang, dan berpikir.
“Apa yang bisa gue tawarkan pada Janah? Dia sarjana. Dia punya karir. Dia punya masa depan cerah. Sementara gue? Montir. Ijazah SMK. Gaji pas, pasan. Apa gue pantas?”
Suara langkah kaki dari dalam rumah mengagetkannya. Mak Dhijah keluar dengan membawa segelas susu hangat.
“Joko, belum tidur?”
“Belum, Mak. Masih mikir.”
“Mikir apa?”
“Janah, Mak. Joko nggak yakin Joko pantas buat dia.”
Mak Dhijah duduk di samping Joko. Beliau menatap putranya dengan mata penuh kasih.
“Nak, laki, laki itu bukan dinilai dari gelarnya. Bukan dari pekerjaannya. Tapi dari hatinya. Janah sudah kembali padamu. Itu artinya dia melihat sesuatu yang berharga dalam dirimu. Jangan sia, siakan dengan keraguan.”
“Tapi Mak, Joko nggak punya apa, apa.”
“Kamu punya hati yang tulus. Kamu punya kemauan untuk berubah. Kamu punya kerja keras. Itu lebih berharga daripada harta. Janah anak yang baik. Dia tidak akan memilihmu karena uang atau status. Dia memilihmu karena kamu adalah kamu.”
Joko memeluk Mak Dhijah. “Makasih, Mak. Mak selalu menjadi penyemangat Joko.”
“Sudah, minum susunya, lalu tidur. Besok kamu harus kerja. Buktikan pada Janah bahwa kamu laki, laki yang bertanggung jawab.”
Joko mengangguk. Dia minum susu hangat itu, lalu masuk ke kamarnya. Tapi kegelisahan itu tidak sepenuhnya hilang. Hanya tertidur untuk sementara.
Di sisi lain, Janah juga memiliki ekspektasi yang berbeda dari dulu. Dulu, saat masih SMP dan SMA, dia mudah terkesan dengan hal, hal sederhana: puisi, permen, atau sekadar ditemani jalan pulang. Tapi kini, sebagai perempuan dewasa yang sudah bekerja dan memiliki pengalaman hidup lebih banyak, Janah tidak semudah dulu dirayu.
Dia tidak tertarik dengan kata, kata manis yang basi. Tidak tertarik dengan puisi, puisi cengeng yang tidak substansial. Tidak tertarik dengan janji, janji tanpa bukti.
Yang Janah butuhkan adalah konsistensi. Kehadiran. Dan bukti nyata bahwa Joko serius dengan hubungan ini.
“Tengil, aku tidak minta kamu jadi kaya raya. Aku tidak minta kamu jadi sarjana. Aku hanya minta kamu jadi laki, laki yang bisa diandalkan. Yang tidak kabur saat masalah datang. Yang tidak cemburu buta. Yang bisa menjadi partner, bukan beban.”
Itulah pesan Janah pada Joko di awal, awal mereka menjalani hubungan sebagai pacar.
Joko menerima tantangan itu. Dia tahu, Janah tidak salah. Janah hanya dewasa.
Joko memulai perubahannya dari hal, hal kecil.
Pertama, dia belajar mengelola keuangan. Dulu, uangnya habis untuk rokok, kopi, dan jajan. Kini, dia mulai menabung. Setiap gajian, dia menyisihkan 30 persen untuk tabungan masa depan, 20 persen untuk membantu Mak Dhijah, 30 persen untuk kebutuhan sehari, hari, dan 20 persen untuk kencan dengan Janah (yang tidak pernah boros, Janah bukan tipe perempuan yang suka di traktir mewah).
Kedua, dia berhenti merokok. Bukan karena Janah memintanya, Janah tidak pernah meminta. Tapi karena Joko sadar, rokok adalah pemborosan dan merusak kesehatan. Jika dia ingin panjang umur bersama Janah, dia harus menjaga tubuhnya.
Ketiga, dia mulai rajin beribadah. Dulu, Joko termasuk anak yang jarang sholat. Kini, dia berusaha untuk tidak meninggalkan sholat lima waktu. Kadang masih bolong, bolong, tapi usahanya nyata. Mak Dhijah bangga melihat perubahan ini.
“Joko, kamu sekarang rajin sholat. Ibu senang.”
“Janah bilang, laki, laki yang baik adalah yang bertanggung jawab pada Tuhan sebelum bertanggung jawab pada pasangannya.”
“Janah baik. Dia membimbingmu ke jalan yang benar.”
“Iya, Mak. Joko bersyukur punya Janah.”
Keempat, dia mulai belajar lagi. Bukan belajar untuk kuliah—itu sudah lewat waktunya. Tapi belajar tentang bisnis. Dia membaca buku, buku tentang manajemen bengkel, tentang cara melayani pelanggan, tentang strategi pemasaran. Janah sering meminjamkan buku dari perpustakaan kantornya.
“Kamu rajin membaca, Tengil. Aku kagum.”
“Gue nggak mau jadi montir biasa selamanya. Gue mau punya bengkel sendiri.”
“Aku dukung. Apa pun yang kamu butuh, bilang.”
“Makasih, Jan.”
Tabungan Joko mulai terlihat. Setelah setahun bekerja di dealer dengan posisi kepala bengkel, dia berhasil mengumpulkan uang cukup banyak. Bukan untuk foya, foya, tapi untuk modal membuka bengkel sendiri.
Dia juga mulai belajar investasi sederhana—membeli emas batangan kecil setiap bulan. Bukan karena dia paham investasi, tapi karena Janah yang mengajarinya.
“Jan, kok lo pinter banget soal uang?” tanya Joko suatu hari.
“Aku kuliah komunikasi, bukan ekonomi. Tapi aku belajar dari internet. Kamu juga bisa.”
“Ajari gue.”
“Mau?”
“Mau. Gue nggak mau bodoh soal uang.”
Janah tersenyum. Dia senang melihat kesungguhan Joko.
Setiap akhir pekan, mereka meluangkan waktu untuk belajar bersama. Janah mengajarkan Joko tentang mengelola keuangan, tentang investasi, tentang perencanaan masa depan. Joko mendengarkan dengan saksama, mencatat di buku kecil, dan bertanya saat tidak mengerti.
“Tengil, kamu cepat belajar.”
“Karena guru yang baik.”
“Jangan merayu. Ini serius.”
“Gue serius. Lo guru yang baik.”
Janah tertawa. Joko tersenyum.
“Gue sadar, gue harus dari nol. Bukan karena gue memulai dari awal, tapi karena gue ingin menjadi versi terbaik dari diri gue. Bukan untuk Janah—tapi untuk diri gue sendiri. Karena hanya dengan menjadi lebih baik, gue bisa membuat Janah bahagia. Dan kebahagiaan Janah adalah prioritas gue sekarang. Dulu, gue egois. Gue ingin Janah hanya untuk gue. Sekarang, gue ingin menjadi untuk Janah. Berbeda. Tapi lebih benar.”
“Aku melihat perubahan pada Joko. Bukan perubahan kecil yang temporer, tapi perubahan fundamental. Dia sungguh, sungguh ingin menjadi lebih baik. Dan itu membuatku semakin yakin bahwa aku tidak salah memilih. Dulu, aku ragu karena dia insecure dan cemburu. Kini, dia tumbuh menjadi laki, laki yang percaya diri tanpa menjadi sombong. Aku bangga padanya. Dan aku ingin membantunya terus berkembang.”
Setelah dua tahun bekerja di Dealer Honda, Joko memutuskan untuk mundur. Bukan karena dia tidak betah, tapi karena dia ingin memulai usahanya sendiri. Pak Rahmat kecewa, tapi dia mengerti.
“Joko, kamu punya potensi. Aku yakin kamu bisa sukses. Kalau suatu hari kamu butuh bantuan, hubungi aku.”
“Makasih, Pak. Jasa Pak Rahmat tidak akan Joko lupakan.”
Joko membuka bengkel kecil di belakang rumahnya—tepat di samping bengkel Bapak Sarimin. Nama bengkelnya: "Bengkel Tengil Jaya".
Janah yang mendengar nama itu tertawa terbahak, bahak.
“Tengil Jaya? Kamu serius?”
“Serius. Biar orang ingat gue. Si Tengil.”
“Kamu itu aneh.”
“Tapi lo suka.”
“Iya. Aku suka.”
Janah membantu mendesain spanduk bengkel dan membuat pamflet promosi. Dengan keahlian komunikasinya, dia menyebarkan informasi tentang bengkel baru Joko melalui media sosial dan grup, grup WhatsApp warga Kapuas.
Dalam sebulan pertama, pelanggan mulai berdatangan. Tidak banyak—rata, rata lima motor per hari. Tapi itu sudah cukup untuk membuat Joko optimis.
Joko tidak lagi bekerja sendirian. Dia merekrut dua orang mekanik—Budi (sahabatnya) dan Anto (teman SMK dulu). Bengkelnya buka dari jam delapan pagi hingga jam lima sore. Kadang, jika ada pelanggan yang minta perbaikan darurat, dia buka hingga malam.
Janah sering mampir setelah pulang kantor. Kadang hanya sebentar, membawakan makan malam untuk Joko dan para mekanik. Kadang lebih lama, membantu Joko membuat catatan keuangan atau melayani pelanggan yang datang.
“Jan, lo repot banget. Nggak usah repot, repot.”
“Aku pacar kamu. Ini sudah tugas aku.”
“Tugas pacar bukan jadi sekretaris.”
“Tugas pacar adalah membantu pasangan menjadi lebih baik. Dan aku sedang melakukannya.”
Joko tersenyum. Dia mencium kening Janah—untuk pertama kalinya setelah sekian lama.
Janah tersenyum malu.
Tidak semua orang mendukung Joko dan Janah. Masih ada tetangga yang bergosip.
“Sarjana masa pacaran sama montir.”
“Janah mau rugi. Joko tidak selevel.”
“Dulu mereka sudah putus. Sekarang balikan lagi. Cinta lama bersemi.”
“Bisa, bisa nanti Janah dimadu. Laki, laki bengkel suka main.”
Gosip, gosip itu sampai ke telinga Joko. Dia sakit hati. Tapi dia tidak marah. Dia tidak mau terprovokasi.
“Jan, lo nggak dengar gosip tetangga?” tanya Joko suatu hari.
“Dengar. Tapi aku tidak peduli.”
“Lo nggak malu sama gue?”
“Malu kenapa? Kamu kerja halal. Kamu baik. Kamu sayang sama aku. Itu yang penting.”
“Tapi mereka bilang gue tidak selevel.”
“Level itu bukan soal pekerjaan atau ijazah. Level itu soal hati. Dan hati kamu, Tengil, lebih tinggi dari mereka yang bergosip.”
Joko memeluk Janah. “Makasih, Jan. Lo selalu membela gue.”
“Sudah kewajiban pacar.”
Suatu hari, di acara arisan RT, salah satu tetangga bernama Bu Lastri secara terang, terangan menanyakan status Janah.
“Janah, kamu kok pacaran sama Joko? Bukannya kamu sarjana? Joko kan hanya montir.”
Janah tersenyum tipis. “Bu Lastri, sarjana atau bukan, tidak menentukan kualitas seseorang sebagai pasangan. Joko baik, pekerja keras, dan sayang sama saya. Itu yang penting.”
“Tapi masa depan? Joko bisa jamin masa depan kamu?”
“Masa depan bukan hanya soal uang, Bu. Masa depan juga soal kebahagiaan. Dan saya bahagia dengan Joko.”
Bu Lastri terdiam. Tetangga lain yang mendengar mulai membela Janah.
“Iya, Bu Lastri. Jangan ikut campur urusan orang. Janah dewasa. Dia tahu apa yang dia lakukan.”
“Joko juga anak baik. Rajin. Tidak pernah buat onar.”
Gosip perlahan mereda. Janah pulang dengan perasaan lega.
Seiring dengan kesuksesan bengkelnya, Joko mulai dilirik oleh perempuan lain. Ada pelanggan yang genit, ada tetangga yang mencoba menjodohkan, ada mantan teman sekolah yang tiba, tiba muncul dan mengaku dulu suka padanya.
Tapi Joko tidak tergoda. Dia konsisten. Dia tidak ingin mengulangi kesalahan masa lalu.
Suatu hari, Maya datang ke bengkel untuk servis motor. Maya sekarang sudah menikah dan punya satu anak. Dia datang bersama suaminya.
“Jok, bengkelmu maju pesat ya. Aku bangga.”
“Makasih, Maya. Kamu juga, sekarang sudah berkeluarga.”
“Iya. Suamiku baik. Aku bahagia.”
“Baguslah.”
“Jok, kamu masih sama Janah?”
“Iya. Masih.”
“Kapan nikah?”
“Tunggu waktu yang tepat.”
Maya tersenyum. “Jangan lama, lama. Janah perempuan baik. Jangan sampai kehilangan lagi.”
“Gue tidak akan.”
Maya dan suaminya pergi. Joko kembali bekerja.
Di sisi lain, Janah juga mendapat tekanan dari keluarganya. Bukan dari Mak Amin—Mak Amin sepenuhnya mendukung. Tapi dari paman dan bibinya yang merasa Joko tidak pantas.
“Janah, kamu anak UGM. Masa mau sama anak SMK?”
“Kamu bisa dapat yang lebih baik. Banyak laki, laki sukses di sini.”
“Joko itu tidak punya masa depan. Bengkel kecil. Omong kosong.”
Janah lelah mendengar komentar seperti itu. Suatu hari, dia berkumpul dengan seluruh keluarga besarnya di rumah kakeknya. Dia memanfaatkan momen itu untuk bicara.
“Om, Tante, saya ingin meluruskan. Joko bukan laki, laki sembarangan. Dia pekerja keras. Dia telah membuktikan bahwa dia bisa membangun bisnis dari nol. Dia setia. Dia bertanggung jawab. Saya tidak peduli dengan ijazah atau status sosial. Yang saya pedulikan adalah hatinya. Dan hati Joko, menurut saya, lebih mulia dari banyak laki, laki yang punya gelar.”
Semua terdiam. Kakek Janah, yang selama ini tidak banyak bicara, akhirnya bersuara.
“Janah benar. Kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja. Kita lihat bagaimana Joko memperlakukan Janah. Kita lihat bagaimana Joko berusaha. Itu yang penting. Saya merestui kalian berdua.”
Dengan restu kakek, tekanan dari keluarga besar perlahan mereda.
Setelah melewati berbagai rintangan, hubungan Joko dan Janah semakin matang. Mereka tidak lagi cemburuan. Mereka tidak lagi mudah tersulut emosi. Mereka belajar untuk saling mendengarkan, saling menghargai, dan saling mendukung.
Setiap malam, sebelum tidur, mereka saling mengirim pesan. Bukan pesan panjang dan romantis, tapi sederhana: “Selamat malam, semoga mimpi indah.”
Setiap pagi, Joko menjemput Janah—kebiasaan lama yang mereka hidupkan kembali. Joko datang dengan motornya, Janah naik di belakang, dan mereka berangkat bersama—Joko ke bengkel, Janah ke kantor.
Perjalanan singkat itu menjadi momen berharga bagi mereka. Kadang mereka bicara banyak, kadang hanya diam. Tapi kehadiran satu sama lain sudah cukup.
Setelah setahun berpacaran (lagi), Joko mulai berani membicarakan masa depan. Bukan tentang pernikahan—belum. Tapi tentang hal, hal yang lebih dekat: rumah, tabungan, dan rencana bisnis.
“Jan, gue punya target. Tahun depan, gue mau perluas bengkel. Gue mau beli peralatan yang lebih lengkap.”
“Bagus. Aku dukung.”
“Dan gue juga mau... mulai nyicil rumah. Kecil, kecilan dulu. Buat kita nanti.”
Janah tersenyum. “Kita? Maksudnya?”
“Maksudnya... buat masa depan. Buat... kita berdua.”
Janah menggenggam tangan Joko. “Kamu serius?”
“Serius. Gue nggak main, main. Gue ingin masa depan bersama lo.”
“Kamu belum lamar aku.”
“Belum. Tapi gue minta doa. Semoga usaha gue lancar, dan suatu hari gue bisa melamar lo dengan layak.”
Janah menangis. Bukan sedih, tapi haru.
“Gue tidak akan mengulang kesalahan. Dulu, gue terlalu cepat berjanji tanpa persiapan. Sekarang, gue ingin semuanya matang. Gue ingin menikahi Janah dengan persiapan yang cukup. Bukan hanya mental, tapi juga materi. Gue ingin dia tidak malu memiliki suami montir. Gue ingin dia hidup nyaman. Tidak mewah, tapi cukup. Itu target gue. Dan gue yakin, dengan kerja keras dan doa, gue bisa.”
“Joko sudah berubah. Dia tidak lagi menjadi laki, laki yang dulu—insekur, cemburu, dan mudah menyerah. Kini, dia adalah laki, laki yang dewasa, bertanggung jawab, dan memiliki visi ke depan. Aku tidak sabar untuk melangkah ke jenjang berikutnya bersamanya. Tapi aku juga tidak mau terburu, buru. Biarlah cinta ini berjalan pada ritmenya sendiri. Yang penting, kita berdua bergerak ke arah yang sama.”
Joko memulai semuanya dari nol. Bukan dari nol dalam arti melupakan masa lalu, tapi dari nol dalam arti membangun fondasi yang lebih kokoh. Dia tidak ingin hubungannya dengan Janah hanya berdiri di atas kenangan. Dia ingin berdiri di atas usaha, kerja keras, dan komitmen.
Janah melihat semua itu. Dan dia semakin yakin bahwa Joko adalah pilihan yang tepat.
Mereka tidak lagi muda belia seperti dulu. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah melalui banyak badai. Dan kini, mereka siap untuk berlayar bersama—menuju masa depan yang tidak pasti, tapi terasa lebih cerah karena mereka melakukannya berdua.
BAB 19
PERSAINGAN BARU – COWOK KANTOR
Dua tahun telah berlalu sejak Joko dan Janah memutuskan untuk memulai kembali hubungan mereka. Dua tahun yang penuh dengan kerja keras, air mata, tawa, dan pertumbuhan. Kini, kehidupan mereka mulai mapan, setidaknya lebih mapan dari sebelumnya.
Bengkel "Tengil Jaya" yang dulu hanya berupa satu petak kecil di belakang rumah Joko, kini telah berkembang. Joko memperluas bangunannya menjadi dua petak. Dia membeli peralatan modern—kompresor angin berkapasitas besar, mesin cuci injeksi, alat diagnosa elektronik untuk motor terbaru, dan dongkrak hidrolik. Pelanggannya tidak hanya dari Selat Tengah, tapi juga dari kecamatan lain di Kuala Kapuas. Bahkan, beberapa pelanggan dari luar kota datang karena rekomendasi mulut ke mulut.
Joko mempekerjakan empat mekanik sekarang. Budi menjadi tangan kanannya. Anto masih setia membantu. Dua mekanik baru bernaman Slamet dan Ridho, lulusan SMK yang fresh dan enerjik.
“Bos, hari ini ada dua belas motor servis. Semuanya berat,” lapor Budi suatu pagi.
“Kerjakan yang rapi, Bi. Jangan asal jadi. Pelanggan harus puas.”
“Siap, Bos.”
Joko tidak lagi memanggil Budi dengan "gue, loe". Dia belajar menjadi pemimpin yang profesional. Janah yang mengajarinya. “Kalau kamu sudah punya karyawan, jaga jarak. Bukan berarti tidak akrab, tapi tetap profesional. Mereka harus hormat sama kamu sebagai bos.”
Joko mengikuti nasihat itu. Dan itu berhasil. Para mekanik menghormatinya bukan karena takut, tapi karena dia adil dan pekerja keras.
Sementara itu, Janah juga mengalami kemajuan di kariernya. Dia kini menjadi Kepala Seksi Hubungan Masyarakat di Dinas Kominfo Kabupaten Kapuas, promosi yang didapat setelah tiga tahun bekerja dengan dedikasi tinggi. Ruang kerjanya kini lebih besar. Mejanya terbuat dari kayu mahoni. Ada komputer baru, printer, dan rak berisi puluhan buku tentang komunikasi dan manajemen.
Janah sering diminta menjadi pembicara di acara, acara literasi digital dan humas pemerintah. Namanya mulai dikenal di kalangan ASN se, Kalimantan Tengah.
“Siti Nurjanah, kamu ini bintang kami,” kata Pak Heri, mantan kepala bidang yang kini sudah pensiun.
“Terima kasih, Pak. Semua karena bimbingan Bapak.”
“Jangan rendah hati. Kamu memang hebat. Jaga terus integritasmu.”
Janah tersenyum. Tapi di balik kesuksesannya, ada satu hal yang mengusik pikirannya: persaingan.
Beberapa bulan lalu, Dinas Kominfo menerima staf baru. Namanya Aldiansyah, biasa dipanggil Aldi. Dia lulusan Ilmu Komunikasi dari Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Aldi tampan, tinggi, kulit putih, rambut lurus hitam yang selalu tertata rapi, dan senyum yang bisa membuat siapa pun meleleh. Dia juga pintar berbicara, percaya diri, dan memiliki cara berpakaian yang stylish, kemeja slim fit, celana chino, sepatu pantofel mengkilap.
Aldi ditempatkan di seksi yang sama dengan Janah: Humas. Mereka sering bekerja sama dalam proyek, proyek besar—sosialisasi program pemerintah, peliputan kegiatan bupati, dan pengelolaan media sosial.
Di minggu pertama Aldi bekerja, dia sudah menjadi perbincangan di seluruh kantor. Para staf perempuan berbisik, bisik setiap kali Aldi lewat. Para staf laki, laki sedikit iri, tapi tidak bisa menyangkal bahwa Aldi memang kompeten.
“Jan, kamu lihat Aldi? Ganteng banget, ya,” celetuk Mba Dewi suatu hari di kantin.
“Biasa saja,” jawab Janah dingin.
“Biasa? Matanya aja bisa bikin leleh.”
“Mba Dewi sudah punya suami. Jangan melirik yang lain.”
“Ah, melirik bukan berarti berbuat. Lagipula, Aldi lebih cocok sama kamu daripada Joko.”
Janah menghela napas. “Mba Dewi, tolong jangan bahas itu. Saya sudah punya pacar. Saya bahagia.”
Mba Dewi tersenyum. “Aku hanya bercanda. Tapi hati, hati, Jan. Cowok kayak Aldi itu biasanya suka mendekati perempuan yang sudah punya status. Tantangan.”
Janah tidak mempedulikan peringatan itu. Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Aldi memang berbeda dari staf baru biasanya. Dia tidak canggung. Dia cepat akrab dengan siapa saja. Dan dalam sebulan, dia sudah menjadi pusat perhatian di kantor.
Aldi mulai sering mendekati Janah dengan alasan pekerjaan. “Jan, tolong bantu aku menyunting rilis pers ini.” “Jan, bagaimana pendapatmu tentang konsep konten media sosial untuk bulan depan?” “Jan, aku butuh saran untuk wawancara dengan media.”
Setiap kali, Janah membantu dengan profesional. Dia tidak merasa ada yang aneh. Aldi hanya rekan kerja. Tidak lebih.
Tapi Aldi mulai melebihi batas rekan kerja. Dia sering mengajak Janah makan siang berdua. Kadang di kantin, kadang di luar—di warung makan dekat kantor atau di kafe kecil di Jalan Pemuda.
“Jan, kamu suka makan apa? Aku traktir.”
“Nggak usah, Mas. Aku bisa bayar sendiri.”
“Ini rezeki. Jangan ditolak.”
Janah sering tidak enak hati. Aldi memang baik dan tidak pernah bermaksud buruk—setidaknya itu yang dia yakini. Tapi dia mulai merasa tidak nyaman.
Suatu hari, Aldi mengirim pesan di luar jam kerja.
“Jan, kamu lagi apa? Aku lagi di kafe dekat Bundaran Besar. Sendirian. Kamu ikut yuk.”
Janah membaca pesan itu. Dia sedang bersama Joko di bengkel. Joko sedang memperbaiki motor seorang pelanggan.
“Maaf, Mas. Aku sedang bersama pacar. Lain kali.”
Aldi membalas cepat. “Pacar? Siapa namanya? Joko? Aku belum pernah bertemu. Kenalkan dong.”
“Suatu saat.”
Janah mematikan ponselnya. Joko yang melihat Janah mengetik pesan dengan ekspresi serius bertanya, “Siapa, Jan?”
“Rekan kantor. Aldi. Ngajak makan.”
“Aldi? Yang ganteng itu?”
Janah terkejut. “Kamu tahu?”
“Seluruh Kapuas tahu. Cowok baru di Dinas Kominfo, katanya ganteng, baik, dan masih single.”
Janah menghela napas. “Tengil, jangan cemburu.”
“Gue nggak cemburu. Gue hanya... waspada.”
Joko memang berusaha tidak cemburu. Tapi dadanya terasa sesak. Cowok baru itu mengancam. Bukan karena Joko tidak percaya pada Janah, tapi karena dia tahu, laki, laki seperti Aldi—tampan, berpendidikan, berkarir cemerlang—biasanya menjadi incaran banyak perempuan. Dan Janah, meskipun sudah berpacaran dengannya, adalah perempuan yang juga berhak memilih.
“Gue harus lebih baik. Gue harus menunjukkan bahwa gue pantas.”
“Aldi. Namanya sudah gue dengar dari Budi. Cowok baru di kantor Janah. Ganteng, pinter, karir bagus. Lawan yang berat. Tapi gue nggak boleh kalah. Bukan karena gue ingin menang dari dia, tapi karena gue ingin menjadi yang terbaik untuk Janah. Dulu gue kehilangan Janah karena gue cemburu dan insecure. Sekarang gue tidak akan mengulanginya. Gue akan bertahan dengan caraku sendiri: kerja keras, kesetiaan, dan ketulusan.”
“Aldi memang menarik. Tapi aku tidak tertarik padanya. Bukan karena dia tidak baik—dia baik. Tapi karena hatiku sudah terisi oleh Joko. Joko mungkin tidak setampan Aldi, tidak sepintar Aldi, tidak berkarir secemerlang Aldi. Tapi Joko adalah Joko. Dia yang memilihku ketika aku belum menjadi siapa, siapa. Dia yang menungguku bertahun, tahun. Dia yang berusaha berubah demi aku. Aku tidak akan mengkhianatinya.”
Suatu hari, Janah mengadakan acara kecil untuk merayakan promosinya menjadi kepala seksi. Acaranya sederhana, makan siang bersama di sebuah kafe di Jalan Pemuda. Dia mengundang rekan, rekan kerjanya, termasuk Aldi. Dia juga mengundang Joko.
Ini adalah pertama kalinya Joko dan Aldi bertemu.
Aldi datang dengan penampilan rapi—kemeja putih, celana hitam, jam tangan bermerek. Joko datang dengan kaus polos dan jeans—penampilannya yang biasa. Aldi menyapa Joko dengan ramah.
“Anda Joko? Saya Aldi. Rekan Janah. Senang berkenalan.”
“Joko. Pacar Janah. Senang juga.”
Mereka berjabat tangan. Aldi menggenggam erat, Joko membalas. Tidak ada permusuhan. Tapi ada ketegangan yang tidak terucap.
Sepanjang acara, Aldi duduk di sebelah Janah. Joko duduk di seberang. Aldi sering tertawa dan bercanda dengan Janah. Joko diam, hanya tersenyum tipis.
Janah merasakan kecanggungan. Dia berusaha melibatkan Joko dalam percakapan.
“Tengil, kamu cerita dong tentang bengkelmu. Aldi juga suka otomotif.”
“Oh, iya? Motor lo apa?” tanya Joko.
“Beat. Tua. Sering mogok,” jawab Aldi.
“Bawa ke bengkel gue. Gue kasih diskon.”
“Makasih. Akan saya ingat.”
Percakapan itu berjalan biasa. Tapi Mba Dewi yang duduk di sudut ruangan memperhatikan semuanya.
“Wah, persaingan. Aldi vs Joko. Siapa yang akan menang?”
Setelah acara selesai, Joko mengantar Janah pulang. Di perjalanan, mereka tidak banyak bicara.
“Tengil, kamu kenapa diem aja? Marah?”
“Nggak. Gue hanya... mikir.”
“Mikir apa?”
“Aldi orang baik. Lo cocok sama dia.”
Janah menyetop motor Joko. “Apa katamu?”
“Gue bilang, Aldi orang baik. Lo cocok sama dia.”
Janah turun dari motor. Wajahnya marah. “Joko, kamu serius?”
“Serius.”
“Setelah semua yang kita lewati, kamu masih insecure? Kamu masih merasa tidak pantas?”
“Gue bukan insecure. Gue realistis.”
“Realistis atau menyerah?” Janah hampir menangis. “Joko, aku memilih kamu. Bukan Aldi. Bukan Rendy. Bukan Dimas. Kamu. Kenapa kamu tidak percaya bahwa aku benar, benar ingin bersama kamu?”
Joko terdiam. Dia menunduk.
“Maaf, Jan. Gue... gue hanya takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan lo. Lagi.”
Janah memeluk Joko. “Kamu tidak akan kehilangan aku, asalkan kamu tidak menyerah. Janji?”
“Janji.”
Mereka berpelukan lama di pinggir jalan.
Aldi tidak menyerah begitu saja. Dia semakin sering mendekati Janah. Dia membawakan kopi setiap pagi—kopi dari kedai langganan yang Janah sukai. Dia memberi hadiah kecil di hari, hari tertentu—buku yang Janah ingin baca, atau camilan yang Janah suka.
Janah selalu menolak. “Mas Aldi, jangan repot, repot.”
“Tidak repot. Ini untuk teman.”
“Saya sudah punya pacar.”
“Saya tahu. Tapi pacar bukan suami. Janah masih bebas memilih.”
Janah terdiam. Dia tidak suka dengan pernyataan itu. “Mas Aldi, saya menghormati Anda sebagai rekan kerja. Tapi tolong jangan melebihi batas.”
Aldi tersenyum. “Baiklah. Saya akan menjaga jarak. Tapi saya tidak bisa mengendalikan perasaan saya.”
Dia pergi. Janah menghela napas. Ini masalah.
Joko mendengar dari Budi bahwa Aldi semakin dekat dengan Janah. Bukan karena Budi sengaja mencari informasi, tapi karena memang kantor Janah dekat dengan bengkel, dan banyak pelanggan yang juga bekerja di Dinas Kominfo.
“Jok, lo harus waspada. Aldi itu serius. Dia sering banget ngajak Janah makan siang.”
Joko menghela napas. “Gue tahu.”
“Lo nggak marah?”
“Marah. Tapi gue nggak bisa melarang Janah berteman dengan rekan kerjanya. Itu namanya posesif.”
“Tapi kalau sampai Janah terpengaruh? Lo rugi.”
“Gue percaya sama Janah.”
Tapi di dalam hatinya, Joko gelisah. Dia mulai meragukan dirinya sendiri lagi. Apakah dia cukup baik untuk Janah? Apakah dia bisa bersaing dengan Aldi? Aldi punya segalanya: pendidikan, karir, penampilan. Sementara Joko hanya montir dengan bengkel kecil.
Suatu malam, Joko datang ke rumah Janah tanpa kabar. Wajahnya tampak lesu.
“Tengil? Kamu kenapa?”
“Jan, gue mau tanya jujur.”
“Apa?”
“Lo masih sayang sama gue?”
Janah terkejut. “Apa maksudmu?”
“Gue hanya perlu kepastian. Lo sering bersama Aldi. Aldi lebih baik dari gue. Gue takut lo berubah pikiran.”
Janah menatap Joko lama. “Joko, dengar. Aku sayang kamu. Aku memilih kamu. Aldi tidak akan pernah bisa menggantikanmu. Tapi kalau kamu terus insecure dan mempertanyakan perasaanku, lama, lama aku bisa lelah.”
“Maaf, Jan. Gue hanya...”
“Kamu hanya takut. Aku tahu. Tapi kamu harus percaya padaku. Seperti aku percaya padamu.”
Joko memeluk Janah. “Gue akan coba.”
“Jangan coba. Lakukan.”
“Aldi baik. Tapi dia tidak bisa menggantikan Joko. Bukan karena Joko lebih baik, tapi karena Joko adalah pilihanku. Kenapa Joko tidak bisa melihat itu? Kenapa dia masih insecure? Aku lelah meyakinkan. Tapi aku juga tidak bisa marah karena aku tahu rasa takutnya berasal dari cinta. Aku hanya berharap, suatu hari dia benar, benar percaya bahwa aku tidak akan pergi.”
Joko sadar, kata, katanya tidak cukup. Dia harus membuktikan bahwa dia layak dipercaya. Bukan dengan merayu Janah lebih gencar atau melarangnya bertemu Aldi. Tapi dengan menjadi laki, laki yang lebih baik.
Dia fokus pada bengkelnya. Dia bekerja lebih keras. Dia memperluas usahanya. Dia membuka layanan servis mobil, mobil kecil dan menengah. Modal awalnya dari tabungan yang dia kumpulkan selama dua tahun.
Dia juga mulai belajar bahasa Inggris. Janah terkejut saat Joko berbicara sedikit, sedikit dalam bahasa Inggris.
“Tengil, kamu bisa bahasa Inggris?”
“Sedikit. Gue belajar dari YouTube. Biar gue bisa baca manual book motor impor.”
Janah tersenyum. “Kamu hebat.”
“Iya. Gue hebat.”
Joko juga mulai menjaga penampilan. Dia tidak lagi memakai kaus kumal dan jeans robek. Dia membeli beberapa kemeja lengan panjang, murah, tapi rapi. Dia memotong rambutnya secara teratur. Dia bahkan mulai memakai parfum, yang dulu dia anggap "cowok norak".
“Lo ganti parfum?” tanya Janah suatu hari.
“Iya. Lo suka?”
“Wanginya enak.”
“Buat lo.”
Janah tersenyum.
Suatu hari, Janah berbicara empat mata dengan Aldi di ruang rapat kecil.
“Mas Aldi, saya harus jujur. Saya tidak nyaman dengan perhatian Anda yang berlebihan.”
Aldi terkejut. “Saya hanya...”
“Saya tahu. Anda baik. Tapi saya sudah punya pacar. Dan saya serius dengan hubungan ini. Saya tidak ingin ada yang merusaknya.”
Aldi menunduk. “Maaf, Jan. Saya tidak bermaksud merusak. Saya hanya...”
“Anda hanya suka sama saya. Saya tahu. Tapi perasaan itu tidak bisa saya balas. Saya sudah punya Joko. Dan dia adalah pilihan saya.”
Aldi menghela napas. “Saya mengerti. Saya akan menjauh. Maaf jika selama ini saya membuat Anda tidak nyaman.”
“Tidak apa, apa. Kita tetap rekan kerja. Tapi tolong jaga jarak.”
Aldi mengangguk. Sejak saat itu, dia tidak lagi mendekati Janah. Mereka hanya berinteraksi jika ada urusan pekerjaan. Tidak lebih.
Persaingan dengan Aldi menjadi ujian bagi Joko dan Janah. Ujian yang membuat mereka semakin kuat. Joko belajar untuk percaya bahwa dia layak dicintai. Janah belajar untuk tegas dalam mempertahankan pilihannya.
Mereka tidak lagi muda belia. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah melalui banyak badai. Dan setiap badai yang berlalu, membuat kapal cinta mereka semakin kokoh.
Suatu malam, di Taman Simpang Adipura, mereka duduk di bangku favorit mereka.
“Jan, makasih ya.”
“Makasih buat apa?”
“Makasih sudah memilih gue. Di antara Aldi, Rendy, Dimas, dan mungkin cowok, cowok lain yang lebih baik dari gue. Lo tetap milih gue.”
Janah menyandarkan kepalanya di bahu Joko. “Karena kamu adalah kamu, Tengil. Tidak ada yang bisa menggantikan.”
“Gue cinta lo, Jan.”
“Aku juga cinta kamu.”
Mereka berpelukan. Di bawah langit Kapuas yang bertabur bintang.
Aldi akhirnya pindah ke Dinas lain di Palangka Raya setelah beberapa bulan. Bukan karena dia tidak betah, tapi karena ada promosi jabatan. Sebelum pergi, dia berpamitan pada Janah.
“Jan, terima kasih untuk semuanya. Dan maaf jika selama ini saya merepotkan.”
“Tidak apa, apa, Mas. Sukses di tempat baru.”
“Saya titip salam untuk Joko. Dia laki, laki beruntung.”
Janah tersenyum. “Saya yang beruntung.”
Aldi pergi. Persaingan usai. Joko lega, tapi tidak sombong. Dia tahu, ke depan mungkin akan ada Aldi, Aldi lain. Tapi dia tidak takut. Karena dia percaya pada Janah, dan percaya pada dirinya sendiri.
BAB 20
KONFLIK SOSIAL – "PANDAI TAK PANTAS DENGAN TUKANG"
Sejak Joko dan Janah memutuskan untuk kembali bersama, bisikan, bisikan miring dari tetangga dan masyarakat luas tidak pernah benar, benar berhenti. Seperti lalat yang beterbangan di sekitar makanan, mereka terus berdengung, kadang pelan, kadang keras. Mengganggu. Menyakitkan. Namun tak pernah cukup berani untuk datang langsung ke depan mata.
Di Kelurahan Selat Tengah, tempat di mana rumah, rumah panggung berjajar rapi di sepanjang sungai, gossip adalah makanan sehari, hari. Ibu, ibu arisan, bapak, bapak yang ngopi di warung, bahkan anak, anak muda yang nongkrong di pinggir jalan, semua punya opini tentang hubungan Joko dan Janah.
“Janah itu sarjana, anak UGM lagi. Masa mau sama montir?”
“Joko hanya lulusan SMK. Bengkelnya kecil. Mana bisa menjamin masa depan Janah?”
“Orang tuanya sih sudah menjodohkan sejak kecil. Tapi zaman sekarang, jodoh bukan segalanya. Janah harus realistis.”
“Kasihan Janah. Nanti kalau sudah menikah, dia yang menanggung hidup. Laki, lakinya hanya tukang.”
Kata “tukang” itu yang paling menyakitkan. Bukan karena Joko malu menjadi tukang—dia bangga dengan pekerjaannya. Tapi karena kata itu diucapkan dengan nada merendahkan, seolah, olah seorang montir tidak pantas berdampingan dengan seorang sarjana.
Joko mendengar bisikan, bisikan itu. Setiap hari, dari pelanggan yang datang ke bengkel, dari teman, teman lamanya, bahkan dari tetangga yang dulu ramah tapi kini mulai menjaga jarak.
Dia tidak marah. Dia hanya sedih.
“Apakah benar gue tidak pantas? Apakah benar Janah akan menderita jika bersama gue?”
Tapi dia tidak menyerah. Dia akan buktikan bahwa dia pantas. Bukan dengan kata, kata, tapi dengan aksi.
Jika tetangga hanya berbisik, keluarga jauh Janah lebih berani bersuara. Terutama pamannya dari pihak ayah, Paman Rahman, yang tinggal di Palangka Raya. Paman Rahman adalah seorang pegawai bank dengan gaji besar dan mobil mewah. Dia merasa punya otoritas untuk mengatur kehidupan keponakannya.
Suatu hari, Paman Rahman datang ke Kapuas untuk menghadiri acara keluarga. Dia meminta Janah untuk menemuinya di rumah kakek.
“Janah, Om dengar kamu pacaran lagi sama Joko.”
“Iya, Om.”
“Joko itu siapa? Montir, kan? Lulusan SMK?”
“Iya, Om. Tapi dia baik. Dia pekerja keras. Dia sayang sama Janah.”
Paman Rahman tertawa kecil. “Sayang? Sayang tidak bisa membayar listrik, Janah. Sayang tidak bisa membeli beras. Kamu sarjana. Masa depanmu cerah. Jangan sia, siakan dengan orang yang tidak selevel.”
Janah menahan emosi. “Om, level itu bukan soal ijazah atau pekerjaan. Joko sudah membuktikan bahwa dia bisa membangun usaha sendiri. Bengkelnya maju. Dia juga sekarang punya karyawan.”
“Bengkel? Kecil, kecilan. Tidak sebanding dengan potensimu. Kamu bisa dapat laki, laki yang lebih baik. Yang punya mobil, punya rumah, punya masa depan mapan.”
“Joko juga punya masa depan, Om. Dan Janah tidak mencari laki, laki kaya. Janah mencari laki, laki yang mencintai Janah apa adanya.”
Paman Rahman menghela napas. “Kamu masih muda. Kamu belum tahu arti hidup yang sebenarnya. Om hanya tidak ingin kamu menyesal di kemudian hari.”
“Janah tidak akan menyesal, Om. Janah yakin.”
Paman Rahman pergi dengan wajah cemberut. Janah menangis di pelukan Mak Amin.
“Mak, kenapa orang, orang tidak bisa menerima pilihanku?”
Mak Amin mengelus rambut Janah. “Nak, orang selalu punya pendapat. Biarkan mereka bicara. Yang penting kamu bahagia. Ibu mendukungmu. Ayah juga. Kakek juga. Itu yang utama.”
“Tapi Om Rahman...”
“Om Rahman bukan ayahmu. Dia tidak berhak memaksakan kehendaknya.”
Janah mengangguk. Dia berusaha tegar.
Tidak hanya keluarga Janah yang memberi tekanan. Beberapa anggota keluarga Joko juga mulai menunjukkan sikap dingin pada Janah, bukan karena mereka tidak suka, tapi karena mereka merasa Janah “terlalu tinggi” untuk Joko.
Sepupu Joko, yang bernama Hendra, seorang sarjana hukum yang bekerja di pengadilan, sering melontarkan sindiran ketika bertemu Janah.
“Janah, kamu kok betah sama Joko? Dia kan cuma montir. Kamu bisa cari yang lebih baik.”
Joko yang mendengar langsung marah. “Hendra, urusi urusanmu sendiri.”
“Aku hanya mengingatkan. Joko, kamu itu saudaraku. Aku tidak mau kamu dimanfaatkan. Janah sarjana, mungkin dia hanya membutuhkan pelarian. Nanti setelah dapat laki, laki yang lebih baik, kamu ditinggal.”
Joko mengepalkan tangannya. “Diam, Hendra! Jangan bicara seperti itu tentang Janah!”
Hendra tertawa. “Cemburu? Sudahlah, Joko. Terima kenyataan. Dunia ini tidak seindah yang kamu bayangkan. Cinta tidak cukup.”
Joko ingin memukul Hendra. Tapi Janah menarik tangannya.
“Tengil, jangan. Biarkan saja.”
Mereka pergi meninggalkan Hendra. Sepanjang jalan, Joko tidak bicara. Janah menggenggam tangannya erat.
“Tengil, jangan dengarkan mereka.”
“Gue sakit hati, Jan. Bukan karena mereka merendahkan gue. Tapi karena mereka merendahkan lo. Mereka bilang lo cari pelarian. Mereka bilang lo nanti ninggalin gue. Itu tidak benar, kan, Jan?”
Janah menatap Joko. “Tidak benar. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu.”
Joko menghela napas. “Gue percaya.”
Tapi di dalam hatinya, ada keraguan kecil yang bersarang. Keraguan yang dipupuk oleh kata, kata Hendra.
“Semua orang bilang gue tidak pantas. Tetangga, keluarga jauh Janah, bahkan sepupu gue sendiri. Mereka bilang sarjana tidak pantas sama tukang. Apakah mereka benar? Apakah gue egois jika tetap mempertahankan Janah? Mungkin Janah akan lebih bahagia dengan laki, laki lain. Laki, laki yang selevel dengannya. Yang bisa memberinya hidup mewah. Yang tidak hanya bengkel kecil. Gue hanya montir. Gelar gue cuma SMK. Apa yang bisa gue banggakan?”
“Kenapa semua orang sibuk dengan hidupku? Kenapa mereka tidak bisa membiarkanku bahagia dengan pilihanku? Joko bukan hanya montir. Dia lebih dari itu. Dia pekerja keras. Dia setia. Dia mencintaiku dengan tulus. Apa yang lebih penting dari itu? Harta? Status? Itu semua tidak kekal. Yang kekal adalah hati. Dan hati Joko, menurutku, lebih berharga dari segalanya.”
Di tengah badai tekanan sosial, Mak Dhijah dan Mak Amin menjadi benteng terakhir yang kokoh bagi Joko dan Janah. Mereka tidak pernah goyah. Mereka tidak pernah terpengaruh oleh omongan orang.
Suatu hari, Mak Dhijah dan Mak Amin pergi ke rumah kakek Janah. Mereka sengaja menemui Paman Rahman yang masih di Kapuas.
“Pak Rahman, saya ingin bicara,” kata Mak Dhijah dengan tegas.
“Silakan, Bu Dhijah.”
“Saya dengar Bapak tidak merestui hubungan Joko dan Janah.”
Paman Rahman mengangguk. “Joko tidak pantas untuk Janah.”
“Kenapa Bapak bilang begitu?”
“Joko hanya montir. Penghasilannya tidak seberapa. Masa depan Janah akan suram jika bersamanya.”
Mak Dhijah tersenyum. “Pak Rahman, saya ibu Joko. Saya tahu persis bagaimana anak saya. Joko mungkin tidak kaya. Tapi dia pekerja keras. Dia sudah membuktikan bahwa dia bisa membangun usaha dari nol. Bengkelnya sekarang maju. Dia punya tabungan. Dia bahkan sudah membeli sebidang tanah untuk masa depan.”
Paman Rahman terdiam.
Mak Amin menambahkan, “Pak Rahman, saya sebagai ibu Janah, saya tahu apa yang terbaik untuk anak saya. Janah bahagia dengan Joko. Dan kebahagiaan itu lebih berharga dari uang atau status. Saya merestui mereka. Ayah Janah juga. Kakek Janah juga. Saya berharap Bapak juga bisa merestui.”
Paman Rahman menghela napas. “Saya hanya ingin yang terbaik untuk keponakan saya.”
“Dan yang terbaik untuk Janah adalah kebahagiaannya. Bukan apa yang Bapak anggap terbaik.”
Paman Rahman akhirnya mengangguk. “Baiklah. Saya tidak akan menghalangi. Tapi saya masih belum yakin.”
Mak Dhijah tersenyum. “Waktu yang akan membuktikan, Pak Rahman.”
Dua bulan setelah percakapan itu, Joko mendapat kabar baik. Dealer Honda pusat di Banjarmasin menawarinya menjadi kepala bengkel untuk cabang baru di Palangka Raya. Gajinya dua kali lipat dari penghasilannya sekarang. Ada fasilitas rumah dinas, kendaraan operasional, dan bonus tahunan.
Joko berpikir keras. Pindah ke Palangka Raya berarti meninggalkan Kapuas. Meninggalkan bengkelnya. Meninggalkan Mak Dhijah. Meninggalkan Janah—meskipun Janah bisa menyusul suatu hari nanti.
Dia memutuskan untuk menolak.
“Joko, kamu gila? Itu kesempatan besar!” kata Budi.
“Gue tahu. Tapi gue tidak bisa meninggalkan Janah. Dia baru saja stabil di kantornya. Dia tidak mungkin pindah ke Palangka Raya sekarang.”
“Tapi ini masa depanmu!”
“Masa depanku ada di sini. Bersama Janah.”
Janah yang mendengar keputusan Joko menangis haru. “Tengil, kamu tidak usah mengorbankan masa depanmu untukku.”
“Ini bukan pengorbanan. Ini pilihan. Aku memilih kamu, Jan. Di mana pun. Kapan pun.”
Namun, takdir berkata lain. Sebulan kemudian, Dinas Kominfo Kabupaten Kapuas membuka kerja sama dengan Dinas Kominfo Provinsi Kalimantan Tengah di Palangka Raya. Janah diminta menjadi koordinator humas untuk program provinsi. Tugasnya mengharuskannya bolak, balik Kapuas, Palangka Raya.
“Jan, ini kesempatanmu,” kata Joko.
“Tapi aku tidak mau jauh darimu.”
“Kita sudah pernah terpisah jarak. Kita bisa melewatinya lagi. Dan kali ini, kita lebih siap.”
Janah memeluk Joko. “Kamu yakin?”
“Yakin. Terima tawaran itu. Gue akan tetap di sini. Tapi gue juga akan memperluas bengkel. Suatu hari, gue akan menyusul ke Palangka Raya.”
Joko dan Janah menjalani hubungan jarak jauh lagi. Tapi kali ini berbeda. Mereka sudah dewasa. Mereka sudah punya pengalaman. Mereka sudah punya kepercayaan.
Setiap akhir pekan, Joko naik bus ke Palangka Raya. Atau Janah pulang ke Kapuas. Mereka menghabiskan waktu bersama—meskipun hanya satu atau dua hari.
Setiap malam, mereka video call. Bercerita tentang kegiatan masing, masing. Tertawa. Kadang bertengkar kecil, lalu berdamai.
“Tengil, aku kangen.”
“Gue juga, Jan. Tahan dulu. Kita sedang membangun masa depan.”
“Iya. Aku tahu.”
LDR kali ini tidak menyakitkan seperti dulu. Karena mereka tahu, ini hanya sementara. Dan mereka berdua bergerak menuju tujuan yang sama.
Setelah dua tahun menjalani hubungan jarak jauh yang sukses, Joko memutuskan untuk melamar Janah. Dia membeli cincin sederhana, emas putih, berlian kecil. Bukan yang mahal, tapi yang terbaik yang bisa dia beli.
Dia melamar Janah di Taman Simpang Adipura. Di bangku yang sama. Di tempat yang sama. Di bawah langit yang sama.
“Jan, gue cinta lo. Gue ingin menghabiskan sisa hidup gue bersama lo. Maukah lo menjadi istri gue?”
Janah menangis. “Iya, Tengil. Aku mau.”
Mereka berpelukan. Taman itu menjadi saksi kebahagiaan mereka.
Tapi kabar pertunangan mereka tidak disambut baik oleh semua orang. Keluarga jauh Janah masih ada yang menentang. Beberapa tetangga masih bergosip.
Paman Rahman yang kini sudah pensiun, masih bersikukuh bahwa Joko tidak pantas.
“Janah, kamu masih mau menikah dengan montir? Kamu sarjana! Kamu bisa dapat yang lebih baik!”
“Om, Joko bukan montir biasa. Dia punya bengkel. Dia punya karyawan. Dia sudah membeli tanah. Dia mampu.”
“Kemampuan tidak hanya soal uang! Status sosial! Nanti anak, anakmu akan malu punya ayah tukang!”
Janah marah. “Om, Janah tidak akan pernah malu dengan Joko. Dan jika Om terus menghina calon suami Janah, Janah tidak akan mengundang Om ke pernikahan.”
Paman Rahman terdiam. Dia tidak menyangka Janah akan sekeras itu.
Pada acara lamaran resmi yang digelar di rumah Mak Amin, Joko berdiri di depan keluarga besar Janah. Dia tidak gentar meskipun banyak pasang mata yang memandangnya dengan ragu.
“Assalamu'alaikum. Saya Joko Prayitno. Saya laki, laki biasa. Bukan sarjana. Bukan pejabat. Saya hanya montir. Tapi saya ingin menyampaikan beberapa hal.”
Semua terdiam.
“Satu, saya mencintai Janah. Bukan karena statusnya. Bukan karena gelarnya. Tapi karena dia adalah dia. Dua, saya mampu membahagiakan Janah. Mungkin tidak dengan kemewahan. Tapi dengan kesetiaan, kerja keras, dan cinta. Tiga, saya tidak akan pernah menyia, nyiakan Janah. Saya akan menjaganya. Melindunginya. Menghormatinya. Sampai maut memisahkan.”
Paman Rahman yang tadinya cemberut, mulai melunak.
“Pak Rahman, Om Janah. Saya tahu Om meragukan saya. Saya tidak akan meminta Om percaya sekarang. Tapi saya akan buktikan. Om boleh menilai saya lima tahun lagi. Sepuluh tahun lagi. Saya tidak akan kabur.”
Paman Rahman menghela napas. “Baiklah, Joko. Saya beri kamu kesempatan. Tapi jika kamu menyakiti Janah, saya yang akan datang menghajar kamu.”
Joko tersenyum. “Terima kasih, Om. Saya tidak akan mengecewakan.”
“Gue sudah melalui banyak rintangan. Hinaan. Bisikan. Tekanan. Tapi gue tidak menyerah. Karena Janah berharga. Cinta kami berharga. Dunia boleh bicara apa pun. Yang penting, kami berdua yakin. Dan kami tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaan kami.”
“Joko berdiri di depan keluargaku. Dia tidak gentar. Dia bicara dengan tegas. Aku bangga padanya. Dia bukan lagi Joko yang dulu—insecure, cemburu, mudah menyerah. Dia adalah laki, laki dewasa yang tahu apa yang dia inginkan. Dan dia menginginkanku. Aku tidak sabar untuk menjadi istrinya.”
Setelah lamaran diterima, persiapan pernikahan dimulai. Joko dan Janah memutuskan untuk tidak mengadakan pesta besar, besaran. Mereka menginginkan acara yang sederhana, khidmat, dan dihadiri oleh orang, orang terdekat.
Mak Amin dan Mak Dhijah sibuk mempersiapkan segalanya. Dari katering, dekorasi, undangan, hingga busana pengantin.
Joko membeli baju pernikahan di Palangka Raya—jas hitam dengan dasi kupu, kupu. Janah memilih kebaya putih dengan kain batik khas Kapuas.
“Jan, lo cantik banget.”
“Kamu ganteng.”
“Bohong.”
“Bener.”
Mereka tertawa.
Janah mengirim undangan pernikahan kepada semua orang yang pernah meragukan hubungannya dengan Joko. Termasuk Paman Rahman, sepupu Hendra, dan tetangga, tetangga yang suka bergosip.
“Mereka pantas datang. Mereka saksi bahwa kami berhasil melewati semua rintangan,” kata Janah.
Joko setuju. “Biarkan mereka lihat bahwa cinta kami nyata. Bukan sekadar drama remaja.”
Konflik sosial telah mereka lewati. Bukan tanpa luka. Bukan tanpa air mata. Tapi mereka melewatinya bersama. Dan itu yang terpenting.
Joko dan Janah kini berada di ambang pernikahan. Sebuah pernikahan yang tidak mudah mereka capai. Butuh waktu bertahun, tahun. Butuh perpisahan. Butuh air mata. Butuh orang lain yang masuk dan keluar dari hidup mereka. Tapi pada akhirnya, mereka berdua yang bertahan.
Di bawah langit Kapuas, cinta mereka akhirnya menemukan jalannya.
BAB 21
MERESTART CINTA DI DERMAGA KP3
Tiga bulan menjelang pernikahan, Joko dan Janah sibuk dengan berbagai persiapan. Tapi di tengah kesibukan itu, mereka merasa kehilangan sesuatu. Bukan materi. Bukan persiapan teknis. Tapi kedekatan emosional yang sempat mengendur karena rutinitas.
Persiapan pernikahan memang melelahkan. Mulai dari mengurus surat nikah di KUA, memesan katering, mendesain undangan, memilih busana pengantin, hingga menentukan konsep resepsi. Joko dan Janah sering bertengkar kecil karena perbedaan pendapat. Joko menginginkan acara yang sangat sederhana—hanya keluarga inti dan beberapa teman dekat. Janah menginginkan acara yang lebih meriah—mengundang rekan kerja, tetangga, dan kerabat jauh.
“Jan, kenapa harus banyak orang? Biaya membengkak.”
“Tengil, ini pernikahan kita. Sekali seumur hidup. Aku ingin dikelilingi orang, orang yang sayang sama kita.”
“Orang yang sayang atau orang yang sekadar datang karena gengsi?”
Janah menghela napas. “Kamu ini. Kenapa selalu negatif?”
“Gue nggak negatif. Gue realistis.”
“Realistis atau pelit?”
“Pelit? Gue nggak pelit. Tapi gue tidak mau utang untuk pesta.”
Janah menangis. Joko menyesal. Dia memeluk Janah.
“Maaf, Jan. Gue hanya... gue masih ingat bagaimana dulu banyak orang meragukan kita. Gue tidak ingin mereka datang hanya untuk melihat, lihat, lalu pulang sambil bergosip.”
Janah mengusap air matanya. “Aku mengerti. Tapi aku ingin membuktikan pada mereka bahwa kita baik, baik saja. Bahwa pernikahan kita bukan karena paksaan, tapi karena cinta.”
Joko mengangguk. “Baiklah. Terserah lo. Yang penting, kita tidak berutang.”
“Janji.”
Mereka berdamai. Tapi ketegangan masih terasa.
Sebulan menjelang pernikahan, Joko dan Janah mulai kelelahan. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Tekanan dari segala sisi, keluarga, pekerjaan, persiapan pernikahan, membuat mereka jarang memiliki waktu berkualitas berdua.
Dulu, setiap akhir pekan mereka selalu jalan, jalan. Ke Dermaga KP3, ke Taman Simpang Adipura, ke Bundaran Besar, atau sekadar duduk, duduk di tepian sungai. Kini, akhir pekan mereka habis untuk mengurus undangan, cek lokasi resepsi, atau belanja keperluan pernikahan.
Mereka masih bertemu setiap hari. Tapi pertemuan itu terasa kering. Hanya membahas daftar tamu, anggaran, dan jadwal.
“Tengil, kapan terakhir kali kita pergi berdua tanpa memikirkan pernikahan?” tanya Janah suatu malam.
Joko berpikir. “Gue nggak ingat.”
“Aku juga. Kita kehilangan kita.”
Joko tersenyum tipis. “Mungkin kita perlu... merestart semuanya.”
“Maksudmu?”
“Besok, kita libur. Nggak usah mikirin persiapan. Nggak usah mikirin kerja. Kita pergi ke Dermaga KP3. Seperti dulu. Makan sate kelinci. Minum es kelapa. Lupa semua masalah.”
Janah tersenyum. “Kamu yakin? Banyak yang harus kita siapkan.”
“Besok masih ada. Dan lusa. Dan seterusnya. Tapi momen hari ini tidak akan terulang.”
Janah memeluk Joko. “Setuju. Ayo kita merestart cinta kita.”
Dermaga KP3 (Kantor Pelabuhan Perikanan Pantai Pangkalan Kapuas III) di Kuala Kapuas bukanlah dermaga mewah. Tidak ada kapal pesiar. Tidak ada restoran mahal. Hanya dermaga kayu yang sudah tua, catnya mengelupas, beberapa perahu nelayan bersandar di sekitarnya, dan warung, warung kecil yang menjual makanan laut segar.
Tapi bagi Joko dan Janah, tempat ini menyimpan ribuan kenangan.
Dulu, saat masih duduk di bangku SMP, mereka sering ke sini. Joko membawa Janah sepulang sekolah. Mereka membeli sate kelinci di warung Mak Yati, sate yang dagingnya empuk, bumbunya gurih, dan sambalnya pedas. Mereka duduk di tepi dermaga, kaki menggantung di atas air, bercerita tentang masa depan.
“Jan, lo mau jadi apa nanti?” tanya Joko suatu sore.
“Aku mau jadi sarjana komunikasi. Mau bisa bicara di depan banyak orang.”
“Gue yakin lo bisa.”
“Lo sendiri? Mau jadi apa?”
“Gue... gue nggak tahu. Mungkin bengkel. Atau dealer motor. Yang penting, gue bisa bahagiain lo.”
Janah tersenyum. “Kamu bisa, Tengil. Kamu pasti bisa.”
Mereka juga pernah ke sini saat Janah sedih karena dimarahi guru. Joko membawanya ke dermaga, membelikan es kelapa muda, dan mendengarkan semua keluh kesahnya tanpa memotong.
Dan yang paling berkesan, di dermaga ini juga Joko untuk pertama kalinya memegang tangan Janah. Tangannya gemetar. Janah tidak melepaskan.
“Tengil, kamu gugup?”
“Nggak. Gue dingin.”
“Bohong. Tangannya gemetar.”
“Iya. Gue gugup.”
Janah tertawa. Joko tersenyum.
Kini, bertahun, tahun kemudian, mereka kembali ke tempat yang sama. Bukan lagi sebagai anak SMP yang polos, tapi sebagai calon pengantin yang akan segera menyatukan hidup.
Matahari sore masih cukup terik saat Joko dan Janah tiba di Dermaga KP3. Mereka sengaja datang jam empat sore, waktu yang dulu menjadi favorit mereka. Sinar matahari tidak terlalu panas, angin bertiup sepoi, sepoi, dan suasana dermaga lebih tenang.
Dermaga KP3 tidak banyak berubah. Warung Mak Yati masih ada, meskipun Mak Yati sendiri sudah tua dan jarang melayani langsung. Sekarang anaknya, Yuni, yang berjualan. Bangku, bangku kayu di tepi dermaga masih sama, kayaknya, catnya berganti warna beberapa kali. Perahu, perahu nelayan masih bersandar, sesekali bergoyang karena ombak kecil.
“Yati masih jualan sate kelinci?” tanya Janah.
“Coba kita lihat.”
Mereka mendekati warung. Yuni menyambut dengan senyum ramah. “Kak Janah? Kak Joko? Lama tidak berkunjung.”
“Kamu kenal kami?” tanya Joko heran.
“Ibu sering cerita. Katanya dulu ada sepasang anak muda yang selalu ke sini. Namanya Joko dan Janah. Ibu bilang, kalian pasti akan menikah.”
Janah tersenyum malu. “Mak Yati masih ingat?”
“Ibu sudah tua, tapi ingatannya masih tajam. Ayo, duduk. Sate kelinci pesanan biasa?”
“Iya. Sepuluh tusuk. Sambal tambah pedas. Dan dua es kelapa muda.”
Mereka duduk di bangku favorit—di ujung dermaga, tepat di mana dulu mereka pertama kali memegang tangan. Air sungai Kapuas yang cokelat kehijauan bergerak lambat. Sesekali ikan kecil melompat.
Sate kelinci datang. Masih hangat, masih dengan bumbu kacang yang gurih dan sambal yang pedas. Joko mengambil satu tusuk, memberikannya pada Janah.
“Silakan, Nyonya.”
“Masih suka panggil nyonya? Kita belum menikah.”
“Biar. Gue latihan.”
Janah tertawa. Dia menggigit sate itu. Rasanya sama seperti dulu. Enak. Khas. Membawa kenangan.
“Tengil, inget nggak pertama kali kita ke sini?”
“Inget. Waktu lo nangis karena dimarahin Bu Sri.”
“Bukan dimarahin. Ditegur.”
“Sama aja.”
“Beda. Tegur itu halus. Marah itu keras.”
“Terserah lo. Yang penting, lo nangis. Gue beliin es kelapa. Lo berhenti nangis.”
Janah tersenyum. “Kamu selalu tahu caranya membuatku tenang.”
“Karena gue tahu lo.”
“Sekarang kamu masih tahu aku?”
Joko menatap Janah. Matanya serius. “Lo berubah, Jan. Lo lebih dewasa. Lebih tegas. Lebih... kuat. Tapi inti lo tetap sama. Lo masih Janah yang dulu. Yang cengeng kalau lihat film sedih. Yang suka marah kalau gue jail. Yang sayang sama ibu.”
Janah tersenyum. “Kamu juga berubah. Dulu kamu cemburu buta. Sekarang kamu lebih tenang. Dulu kamu insecure. Sekarang kamu percaya diri. Tapi inti kamu tetap sama. Kamu masih Joko yang dulu. Tengil. Baik hati. Setia.”
Mereka saling menatap. Untuk beberapa detik, dunia terasa hanya berdua.
Setelah sate kelinci habis dan es kelapa muda tinggal setengah, Joko membuka topik yang selama ini mungkin mereka hindari.
“Jan, gue mau bicara serius.”
“Apa?”
“Tentang masa lalu. Tentang luka yang mungkin belum sepenuhnya sembuh.”
Janah menghela napas. “Tengil, kita sudah memaafkan satu sama lain.”
“Gue tahu. Tapi gue merasa, kita belum benar, benar melepaskan. Masih ada ganjalan. Masih ada ketakutan.”
Janah terdiam. Joko benar. Meskipun mereka sudah bersama lagi, meskipun sudah bertunangan, kadang Janah masih takut Joko akan mengulangi kesalahan dulu—cemburu, insecure, dan mudah menyerah. Dan Joko masih takut Janah akan pergi lagi—meninggalkannya untuk laki, laki lain yang lebih baik.
“Tengil, aku takut,” Janah mengakui.
“Takut apa?”
“Aku takut kamu berubah lagi. Takut setelah menikah, kamu jadi posesif. Takut kamu membatasi aku.”
Joko menggenggam tangan Janah. “Jan, gue sudah berubah. Dan gue tidak akan kembali ke Joko yang dulu. Tapi gue juga butuh lo percaya. Jangan membandingkan gue dengan masa lalu terus.”
“Aku tidak membandingkan. Aku hanya...”
“Hanya apa?”
“Hanya ingin memastikan bahwa kita benar, benar siap. Bahwa luka masa lalu sudah tertutup.”
Joko mengangguk. “Gue setuju. Mungkin kita perlu... melepaskannya. Di sini. Di tempat ini.”
“Maksudmu?”
“Setiap kali gue merasa cemburu, atau insecure, atau takut kehilangan lo, gue akan mengingat saat ini. Dan gue akan melepaskan semua itu ke sungai. Biar air Kapuas yang membawanya pergi.”
Janah tersenyum. “Aku juga. Setiap kali aku merasa takut kamu akan berubah, atau takut kamu tidak sepenuhnya mencintaiku, aku akan mengingat momen ini. Dan melepaskannya.”
Mereka berdiri. Berdiri di tepi dermaga. Saling berhadapan.
“Jan, aku memaafkan diriku sendiri karena dulu terlalu cemburu.”
“Tengil, aku memaafkan diriku sendiri karena dulu terlalu mudah ragu.”
“Jan, aku melepaskan semua ketakutanku.”
“Tengil, aku melepaskan semua keraguanku.”
Mereka berpelukan. Air mata mengalir di pipi masing, masing.
“Akhirnya, gue bisa bicara. Tentang luka. Tentang ketakutan. Janah mendengarkan. Dia tidak marah. Dia tidak menyalahkan. Dia hanya... ada. Di sini, di dermaga ini, gue merasa bahwa kami benar, benar memulai dari awal. Bukan karena kami melupakan masa lalu, tapi karena kami memilih untuk tidak lagi terikat olehnya. Masa lalu adalah pelajaran. Bukan penjara.”
“Joko bicara tentang ketakutannya. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa terbebani. Aku justru lega. Karena dia jujur. Dia tidak menyembunyikan. Kami berdua sama, sama takut. Tapi kami memilih untuk saling menguatkan. Di dermaga ini, di bawah langit Kapuas yang sama, aku merasa bahwa kami benar, benar siap. Siap untuk menikah. Siap untuk menghadapi masa depan. Siap untuk apa pun.”
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Langit berubah warna—dari biru terang menjadi jingga keemasan, lalu perlahan ungu kemerahan. Burung, burung terbang berpasangan, kembali ke sarangnya. Perahu, perahu nelayan mulai berlabuh.
Joko dan Janah masih duduk di tepi dermaga. Kaki mereka menggantung di atas air. Seperti dulu.
“Tengil, indah sekali.”
“Iya. Cantik. Tapi tidak secantik lo.”
“Jangan merayu.”
“Bukan merayu. Fakta.”
Janah tertawa. “Kamu ini.”
“Apa? Gue serius.”
Mereka diam menikmati pemandangan. Angin sore membawa bau air sungai yang khas—bau lumpur, bau ikan, bau kehidupan.
“Jan, gue janji, setelah kita menikah, kita akan sering ke sini. Setiap kali ada masalah, setiap kali butuh ketenangan, kita ke sini. Seperti dulu.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berkait kelingking. Tiga kali.
Dari kejauhan, Yuni, anak Mak Yati, memperhatikan Joko dan Janah. Dia tersenyum. Dia teringat cerita ibunya.
“Ibu, dulu cerita tentang sepasang anak muda yang sering ke sini. Itu mereka, ya?” tanya Yuni.
“Iya. Joko dan Janah. Dulu ibu bilang, mereka pasti akan menikah. Dan lihat sekarang, mereka sudah bertunangan.”
“Ibu hebat. Bisa meramal.”
“Bukan meramal. Itu namanya cinta sejati. Cinta sejati tidak akan pernah gagal. Meski terpisah jarak dan waktu, mereka akan tetap menemukan jalannya kembali.”
Yuni mengangguk. “Semoga aku juga bisa seperti mereka.”
“Kamu akan menemukan. Suatu hari. Di tempat yang tepat. Dengan orang yang tepat.”
Yuni tersenyum.
Saat langit mulai gelap, Joko dan Janah pamit pada Yuni.
“Yun, makasih ya. Sate kelincinya enak.”
“Sama, sama, Kak. Doain saya ya. Semoga warung ini terus maju.”
“Aamiin. Titip salam untuk Mak Yati.”
Joko dan Janah berjalan ke tempat parkir. Motor Joko, Honda Supra tua yang masih setia—terparkir di bawah pohon rindang. Janah naik di belakang, memeluk pinggang Joko.
“Pelan, pelan, Tengil. Jangan ngebut.”
“Siap, Nyonya.”
Mereka melaju perlahan meninggalkan Dermaga KP3. Di belakang mereka, lampu, lampu dermaga mulai menyala. Air sungai berwarna hitam legam, hanya diterangi oleh pantulan sinar bulan dan bintang.
Sesampainya di rumah, Joko tidak langsung turun dari motor. Dia mematikan mesin, tapi tetap duduk.
“Jan.”
“Apa?”
“Hari ini berarti buat gue.”
“Berarti kenapa?”
“Kita berdua buka hati. Bicara tentang luka. Melepaskan ketakutan. Itu... menyembuhkan.”
Janah mengangguk. “Aku juga merasa lebih ringan.”
“Jan, gue tidak sabar menikahi lo.”
“Aku juga. Tapi jangan buru, buru. Sebentar lagi.”
“Iya. Gue tahu.”
Mereka berpelukan di atas motor. Mak Amin yang melihat dari jendela tersenyum.
Joko dan Janah pulang ke rumah masing, masing dengan hati yang lebih ringan. Malam itu, mereka tidur lebih nyenyak dari biasanya. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada gelisah.
Mereka sadar, merestart cinta bukan berarti memutar ulang masa lalu. Bukan berarti mengulang kebiasaan lama. Merestart berarti memulai dari awal dengan pelajaran yang sudah dipetik. Dengan luka yang sudah sembuh. Dengan komitmen yang lebih matang.
Dan mereka memulai semua itu di Dermaga KP3. Di tempat yang penuh kenangan. Di bawah langit Kapuas yang menjadi saksi perjalanan cinta mereka.
BAB 22
DERMAGA DANAU MARE – BUKAN SEKADAR KENANGAN
Sejak pertemuan di Dermaga KP3, Joko dan Janah merasa ada energi baru dalam hubungan mereka. Mereka tidak lagi membicarakan masa lalu dengan beban. Mereka mulai berbicara tentang masa depan dengan lebih ringan. Namun, ada satu tempat yang masih mengganjal di hati Janah: Dermaga Danau Mare.
Dermaga Danau Mare adalah dermaga kecil yang terletak di pusat Kota Kuala Kapuas. Dermaga ini terbuat dari kayu ulin yang sudah menghitam karena usia, menjorok ke tengah danau dengan panjang sekitar tiga puluh meter. Air sungai di sekitarnya tenang, berwarna hijau kebiruan, dikelilingi oleh perumahan . Perahu-perahu kayu bersandar di kedua sisi dermaga, sementara di ujung dermaga terdapat bangku kayu panjang tempat pengunjung biasa duduk sambil menikmati pemandangan.
Dulu, saat mereka masih duduk di bangku SMA, Joko sering membawa Janah ke dermaga ini. Mereka menyewa perahu kecil dari Mang Udin, berkeliling sungai, lalu kembali ke dermaga untuk duduk-duduk di bangku kayu sambil bercerita tentang mimpi-mimpi mereka.
Janah menyimpan banyak kenangan di Dermaga Danau Mare. Kenangan indah, tapi juga kenangan pahit. Di bangku kayu di ujung dermaga itulah, dulu, Janah menangis untuk pertama kalinya karena Joko, bukan karena dijaili, tapi karena Joko dengan ceroboh mengatakan bahwa dia tidak yakin bisa mempertahankan Janah.
Kata-kata Joko saat itu: "Jan, gue takut gue tidak cukup baik buat lo. Suatu hari lo pasti akan pergi dengan laki-laki yang lebih baik."
Janah tersinggung. Dia merasa Joko meragukan cintanya. Dia menangis di bangku kayu itu, di ujung dermaga yang sunyi. Joko hanya bisa diam, tidak tahu harus berkata apa.
Kini, setelah bertahun-tahun, luka itu masih tersisa. Bukan luka yang menganga, tapi bekas yang kadang terasa perih jika diingat.
"Tengil, aku mau ke Dermaga Danau Mare," kata Janah suatu malam.
Joko terkejut. "Dermaga Danau Mare? Sekarang? Malam-malam?"
"Bukan sekarang. Minggu depan. Akhir pekan. Aku ingin... menyelesaikan sesuatu di sana."
Joko mengerti. Dia tahu apa yang dimaksud Janah. "Baik. Aku akan siapkan semuanya."
Akhir pekan tiba. Joko dan Janah berangkat pagi-pagi sekali. Udara masih dingin, embun masih menempel di dedaunan. Mereka naik motor Joko, Honda Supra tua yang sudah setia menemani perjalanan mereka sejak remaja.
Jalan menuju Dermaga Danau Mare sangat bagus . Tapi hari itu cerah. Matahari bersinar hangat, tidak terlalu terik.
Janah duduk di belakang Joko, memeluk pinggangnya. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Joko yang lebar. Wangi sabun Joko, sabun colek warna hijau yang dulu dia benci, kini terasa menenangkan.
"Tengil, kamu ingat pertama kali kita ke sini?"
"Inget. Lo hampir jatuh dari perahu. Gue yang nyelametin."
"Bukan nyelametin. Lo malah narik tanganku terlalu keras, aku hampir kecebur."
"Tapi lo selamat, kan?"
"Ya, selamat. Karena aku bisa berenang."
"Terserah lo."
Mereka tertawa. Kenangan-kenangan lucu terputar di kepala mereka.
Dermaga Danau Mare masih seperti dulu. Kayu ulinnya yang hitam legam kini semakin gelap oleh usia. Beberapa papan terlihat baru, tanda pernah diganti. Tapi bentuknya masih sama, menjorok ke tengah danau, dengan bangku kayu panjang di ujungnya.
Air danau di sekitarnya tenang, berwarna hijau kebiruan. Tidak ada ombak. Hanya riak-riak kecil saat angin bertiup atau saat ikan melompat. Beberapa perahu kayu bersandar di dermaga, ditambatkan dengan tali tambang yang sudah lusuh.
Sekelompok anak-anak sedang mandi di tepi dekat dermaga, tertawa-tawa. Beberapa nelayan sedang memperbaiki jala di atas perahu mereka. Di kejauhan, tampak sebuah warung sederhana beratap rumbia yang menjual kopi, mie instan, dan jajanan ringan.
Janah turun dari motor. Dia berjalan ke dermaga, mengambil napas panjang. Udara di sini berbeda, lebih segar, lebih bersih, bebas dari polusi kota.
"Tengil, aku kangen tempat ini."
"Gue juga. Dulu kita sering ke sini, ya? Sampai-sampai Mang Udin hafal nama kita."
"Iya. Mang Udin. Masih ada?"
"Coba kita lihat."
Mereka berjalan ke dermaga. Mang Udin, laki-laki tua dengan kulit hitam keriput karena panas matahari dan air danau, masih ada. Dia sedang duduk di perahunya yang tertambat di sisi dermaga, merokok kretek.
"Mang Udin!" teriak Joko.
Mang Udin menoleh. Matanya menyipit. Wajahnya butuh beberapa detik untuk mengenali. Lalu dia tersenyum lebar.
"Oh, Joko! Janah! Anak muda yang dulu sering sewa perahu. Lama tidak berkunjung. Kalian sekarang sudah gede. Janah makin cantik. Joko makin tegap."
Janah tersenyum malu. "Mang Udin masih sehat?"
"Sehat, Nak. Meskipun sudah tua. Ayo, naik perahu. Mang Udin antar kalian berkeliling."
Mereka menaiki perahu kayu Mang Udin. Perahu itu sempit, hanya cukup untuk tiga orang. Mang Udin duduk di belakang, mengayuh dengan dayung kayu yang sudah aus.
Perahu melaju perlahan. Air sungai yang tenang pecah oleh dayung Mang Udin. Bunyi air yang terbelah terdengar ritmis, seperti musik pengantar tidur.
Joko dan Janah duduk berdampingan. Kadang mereka bicara, kadang diam menikmati pemandangan. Di kiri kanan, pohon-pohon nipah menjulang tinggi. Burung-burung beterbangan, sesekali menyambar ikan di permukaan.
"Jan, inget waktu kita ke sini dan lo bawa bekal nasi goreng?"
"Inget. Lo habisin semua. Aku cuma dapat sedikit."
"Karena lo masaknya enak."
"Bohong."
"Serius. Gue kangen masakan lo."
"Kamu bisa minta Mak Dhijah masakkan."
"Beda. Masakan lo beda."
Janah tersenyum. "Nanti setelah menikah, aku masak untukmu setiap hari."
"Janji?"
"Janji."
Mereka tersenyum. Mang Udin yang mendengar hanya tersenyum tipis.
Setelah setengah jam berkeliling, Mang Udin menghentikan perahu di tengah sungai. Air di sini lebih dalam. Warna airnya lebih gelap, biru kehitaman. Dari tengah danau, Dermaga Danau Mare terlihat kecil di kejauhan, seperti garis tipis kayu di atas permukaan air.
"Mang Udin, berhenti di sini dulu. Kami mau bicara," kata Joko.
"Baik, Nak. Mang Udin akan merokok dulu. Kalian bicara."
Mang Udin menyalakan kreteknya dan berpaling, memberi Joko dan Janah privasi.
"Jan," kata Joko.
"Apa?"
"Gue minta maaf."
"Maaf buat apa?"
"Untuk waktu itu. Di bangku ujung dermaga. Waktu gue bilang gue takut tidak cukup baik buat lo, dan lo nangis."
Janah menunduk. "Aku sudah memaafkanmu, Tengil."
"Gue tahu. Tapi gue perlu mengatakannya. Di sini. Di tempat yang berhubungan dengan kenangan itu."
Joko mengambil napas panjang.
"Gue dulu bodoh. Gue tidak percaya diri. Gue pikir gue tidak pantas. Tapi sekarang gue tahu. Pantas atau tidak bukan ditentukan oleh gelar atau harta. Tapi oleh usaha dan ketulusan. Dan gue akan berusaha setiap hari untuk menjadi pantas di samping lo."
Janah menatap Joko. Matanya basah.
"Tengil, waktu itu aku menangis bukan karena aku marah. Tapi karena aku sedih. Sedih kamu tidak percaya pada cintaku. Sedih kamu menganggap aku perempuan yang gampang pergi."
"Gue tahu sekarang. Dan gue minta maaf."
"Maaf diterima."
Mereka berpelukan di tengah danau. Di perahu kayu yang sempit. Di bawah langit yang biru cerah. Air di sekitar mereka beriak pelan, seolah ikut merestui.
"Akhirnya gue bisa minta maaf di tempat yang berhubungan dengan kenangan itu. Beban yang selama ini menggantung di hati gue, sekarang terlepas. Janah memaafkan gue. Dia tidak menyalahkan. Dia hanya ingin gue mengakui kesalahan. Dan gue sudah melakukannya. Dermaga ini—danau ini—telah menjadi saksi kebodohanku dulu. Kini, danau yang sama menjadi saksi pertobatanku."
"Joko minta maaf. Di tempat yang sama—atau setidaknya di perairan yang sama, di bawah langit yang sama. Aku tidak menyangka. Selama ini aku pikir dia lupa. Tapi dia ingat. Dia menyimpan penyesalan itu selama bertahun-tahun. Dan sekarang, dia melepaskannya. Aku lega. Bukan karena dendamku terbayar, tapi karena aku tahu dia sungguh-sungguh menyesal. Aku memaafkannya. Bukan karena dia memintanya, tapi karena aku sudah lama ingin memaafkannya. Aku hanya butuh dia mengaku."
Perahu mulai bergerak lagi. Mang Udin mengarahkan kembali ke dermaga. Di sisi lain danau, tampak sebuah pulau kecil dengan beberapa pohon beringin tua.
"Jan, dulu di pulau itu kita pernah berhenti, ya?" tanya Joko.
"Iya. Aku bercerita tentang mimpiku kuliah di UGM. Kamu bilang kamu akan mendukung."
"Dan sekarang lo sudah mewujudkannya."
"Iya. Tapi kamu juga sudah mewujudkan mimpimu. Bengkel sendiri. Aku bangga."
Joko tersenyum. "Dulu gue nggak punya mimpi. Gue hanya ingin lo bahagia. Dan gue pikir, untuk membuat lo bahagia, gue harus kaya atau sukses. Tapi sekarang gue tahu, lo bahagia bukan karena harta. Tapi karena kita bersama."
Janah menggenggam tangan Joko. "Kamu benar. Aku bahagia bukan karena kamu kaya. Tapi karena kamu ada."
Mang Udin yang mendengar hanya tersenyum.
Setelah puas berkeliling, mereka kembali ke dermaga. Joko membayar Mang Udin lebih dari harga sewa.
"Mang, ini untuk Mang Udin. Lebihnya buat beli rokok."
"Terima kasih, Nak. Semoga kalian langgeng."
"Aamiin."
Mereka berjalan ke warung sederhana di tepi dekat dermaga. Warung itu beratap rumbia dan berdinding anyaman bambu. Dari tempat mereka duduk, mereka bisa melihat seluruh dermaga, perahu-perahu yang bersandar, bangku kayu di ujung, dan air danau yang tenang.
Janah memesan mie rebus dan kopi. Joko memesan nasi goreng dan es teh.
"Jan, makanan di sini sederhana, tapi rasanya beda."
"Iya. Karena kita makannya dengan hati yang tenang."
Mereka makan dengan lahap. Kadang saling menyuapi. Kadang tertawa karena Joko berceceran.
"Kamu itu, Tengil. Makan kayak anak kecil."
"Gue lapar."
"Kan tadi sudah sarapan."
"Lapar lagi."
Janah menggeleng. Tapi matanya berbinar.
Sore mulai turun. Joko dan Janah memutuskan untuk tidak buru-buru pulang. Mereka berjalan menyusuri dermaga, melewati perahu-perahu yang bersandar, melewati beberapa nelayan yang sedang membersihkan jala, hingga sampai di ujung dermaga.
Di ujung dermaga, ada bangku kayu panjang. Bangku yang sama. Bangku tempat Janah menangis dulu.
Janah duduk. Joko duduk di sampingnya. Kaki mereka menggantung di atas air.
"Tengil, ini bangku yang sama."
"Iya. Gue ingat."
"Lo ingat apa yang lo bilang?"
"Gue bilang, gue takut tidak cukup baik."
"Sekarang? Apa yang akan lo katakan?"
Joko menatap Janah. Matanya lembut. "Sekarang gue bilang, gue akan menjadi yang terbaik untuk lo. Bukan karena gue takut tidak cukup. Tapi karena lo layak mendapatkan yang terbaik."
Janah tersenyum. "Kamu sudah menjadi yang terbaik, Tengil."
Mereka berpelukan di bangku kayu tua itu. Di ujung dermaga. Di bawah langit sore yang mulai berwarna jingga. Air danau di bawah kaki mereka beriak pelan, seolah ikut merasakan kebahagiaan yang pulih.
Mang Udin yang kebetulan lewat membawa jala berhenti sejenak di tengah dermaga. Dia melihat Joko dan Janah berpelukan di bangku ujung. Dia tersenyum.
"Dulu waktu mereka masih kecil, Joko sering buat Janah nangis di bangku itu. Sekarang mereka saling memeluk di bangku yang sama. Cinta itu memang lucu."
Dia melanjutkan jalannya. Tidak mengganggu.
Matahari mulai tenggelam. Joko dan Janah memutuskan untuk pulang sebelum gelap. Jalan menuju Kuala Kapuas tidak bagus. Berbahaya jika gelap.
Mereka berpamitan pada Mang Udin dan pengelola warung.
"Terima kasih, Mang. Doakan kami ya."
"Mang Udin doakan semoga kalian bahagia. Sampai jumpa lagi."
Perjalanan pulang terasa lebih ringan. Beban-beban lama yang tersisa kini benar-benar terlepas. Dermaga Danau Mare bukan lagi tempat kenangan pahit bagi Janah. Kini, dia menyimpan kenangan baru di sana. Kenangan tentang pengampunan. Tentang permintaan maaf. Tentang cinta yang diperbaiki.
Sesampainya di rumah, Janah langsung merebahkan diri di tempat tidur. Tubuhnya lelah, tapi hatinya damai.
Mak Amin masuk ke kamar.
"Janah, bagaimana perjalanannya?"
"Damai, Mak. Janah merasa lega."
"Ada apa? Cerita pada ibu."
Janah bercerita tentang Joko yang minta maaf di tengah danau. Tentang mereka yang berpelukan di bangku ujung dermaga. Tentang janji-janji baru yang mereka buat.
Mak Amin tersenyum. "Joko anak baik. Dia bertanggung jawab. Ibu tidak salah memilihkan calon suami untukmu."
"Mak, dulu Mak menjodohkan kami sejak dalam kandungan. Apakah Mak tidak takut kalau Janah tidak cocok dengan Joko?"
Mak Amin mengelus rambut Janah. "Ibu percaya pada takdir. Ibu dan Mak Dhijah sudah bersahabat puluhan tahun. Ibu tahu keluarga mereka baik. Joko tumbuh menjadi laki-laki yang baik. Itu yang penting. Jodoh bukan hanya soal cocok di awal, tapi soal kemauan untuk saling menyesuaikan."
Janah memeluk ibunya. "Mak, Janah sayang Mak."
"Ibu juga sayang Janah."
Di rumah sebelah, Joko juga bercerita pada Mak Dhijah tentang perjalanannya ke Dermaga Danau Mare.
"Mak, Joko minta maaf pada Janah di tengah danau. Di tempat yang dulu menjadi kenangan buruk."
"Bagus, Nak. Ibu bangga. Kamu sudah dewasa."
"Mak, Joko dulu sering bandel. Sering bikin Janah nangis di bangku ujung dermaga itu. Sekarang Joko ingin menjadi laki-laki yang baik buat Janah."
Mak Dhijah tersenyum. "Kamu sudah menjadi laki-laki yang baik, Nak. Ibu lihat perjuanganmu. Ibu lihat usahamu. Janah juga melihatnya. Itu sebabnya dia bertahan."
"Makasih, Mak. Mak selalu mendukung Joko."
"Ibu hanya ingin kamu bahagia, Nak. Seperti yang sudah ibu janjikan pada Mak Amin sejak kalian masih dalam kandungan."
Malam itu, sebelum tidur, Joko mengirim pesan pada Janah.
"Jan, Dermaga Danau Mare bukan lagi tempat yang menyedihkan. Bangku di ujung dermaga itu bukan lagi saksi air matamu. Kini, semuanya menjadi tempat kita memulai lagi. Terima kasih sudah memaafkanku."
Janah membalas.
"Aku yang berterima kasih. Kamu sudah berani mengakui kesalahan. Itu lebih berharga dari apa pun. Selamat malam, Tengil. Besok kita siapkan pernikahan lagi."
"Selamat malam, Jan. Aku sayang kamu."
"Aku juga sayang kamu."
Dermaga Danau Mare kini bukan sekadar tempat wisata atau tempat kenangan masa lalu. Dermaga ini telah menjadi saksi bisu dari pengampunan dan awal yang baru. Joko dan Janah pergi ke sana dengan hati yang berat, dan pulang dengan hati yang ringan.
Mereka belajar bahwa memaafkan tidak selalu mudah. Tapi memaafkan adalah kunci untuk melangkah maju. Mereka belajar bahwa cinta sejati tidak akan pernah mati. Ia hanya perlu dipupuk, disirami dengan kejujuran, dan diberi sinar dengan pengampunan.
Kini, dengan hati yang lebih bersih dan komitmen yang lebih kuat, Joko dan Janah siap melangkah ke babak berikutnya: persiapan pernikahan yang sesungguhnya. Tanpa beban. Tanpa keraguan. Hanya cinta.
BAB 23
RESIKO – LAMARAN DAN HAMBATAN
Setelah perjalanan spiritual ke Danau Mare dan Dermaga KP3, Joko dan Janah merasa lebih siap dari sebelumnya. Beban masa lalu telah mereka lepaskan. Keraguan telah mereka kubur di dasar danau. Kini, yang tersisa hanya persiapan menuju pernikahan yang sesungguhnya.
Tiga bulan. Itulah jarak waktu menuju hari yang mereka nantikan. Tiga bulan terasa seperti tiga detik jika kebahagiaan yang dirasakan begitu besar. Tiga bulan juga terasa seperti tiga tahun jika hambatan terus berdatangan.
Janah kini semakin sering menghabiskan waktu di bengkel Joko sepulang kerja. Bukan untuk membantu, meskipun kadang dia ikut melayani pelanggan, tapi untuk sekadar berada di dekatnya. Dulu, dia selalu sibuk dengan urusan kantor. Kini, dia belajar untuk melambat.
"Tengil, aku bantu amplas bodi motor ini, ya?"
"Nggak usah. Tangan lo nanti kasar."
"Biarin. Aku nggak masalah."
"Jan, lo itu calon pengantin. Tangan lo harus mulus buat pake cincin."
Janah tertawa. "Kamu perhatian banget."
"Iya. Gue perhatian. Karena lo berharga."
Mereka tertawa bersama. Budi dan para mekanik lain yang melihat hanya menggeleng, geleng.
"Bos lagi. Mesra, mesraan terus," celetuk Budi.
"Kenapa? Lo iri?" balas Joko.
"Iri boleh, kan?"
"Silakan. Tapi jangan sampai ganggu kerja."
Mereka tertawa. Suasana bengkel yang biasanya penuh dengan suara mesin dan deburan oli, kini juga diisi dengan tawa dan canda.
Sementara itu, di Dinas Kominfo, Janah mulai mengurangi lembur. Dia menyelesaikan pekerjaannya tepat waktu agar bisa cepat pulang dan bertemu Joko. Rekan, rekannya mulai heran.
"Jan, akhir, akhir ini kamu nggak pernah lembur. Ada yang ditunggu di rumah?" tanya Mba Dewi sambil tersenyum nakal.
"Iya, Mba. Ditunggu calon suami."
"Wah, sudah tidak sabar, ya? Tinggal hitungan hari."
"Masih tiga bulan, Mba."
"Tiga bulan itu cepat. Nikmati saja masa persiapan. Itu adalah masa, masa indah yang tidak akan terulang."
Janah mengangguk. Mba Dewi benar. Masa persiapan pernikahan adalah masa yang indah. Penuh harap. Penuh mimpi. Penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan dengan kata, kata.
Lamaran Joko kepada Janah sebenarnya sudah dilakukan setahun lalu. Tapi karena berbagai alasan—termasuk pandemi dan kesibukan masing, masing, resepsi pernikahan mereka mundur. Namun, dalam tradisi setempat, lamaran tetap dianggap sebagai ikatan resmi antara dua keluarga.
Paman Rahman, setelah pertemuan dengan Mak Dhijah dan Mak Amin, akhirnya merestui. Meskipun tidak sepenuhnya ikhlas, setidaknya dia tidak lagi menghalang.
"Joko, Om tidak akan menghalangi lagi. Tapi Om minta satu hal."
"Apa, Om?"
"Janah harus tetap bisa mengembangkan kariernya. Jangan sampai setelah menikah, Janah hanya di rumah, jadi ibu rumah tangga biasa. Dia punya potensi. Jangan sia, siakan."
Joko mengangguk. "Saya tidak akan pernah melarang Janah bekerja atau mengembangkan diri. Janah bebas memilih jalannya. Yang penting, kita berdua bahagia."
Paman Rahman terdiam. Dia tidak menyangka Joko akan se, dewasa itu. "Baiklah. Om restui."
Janah yang mendengar dari samping menangis bahagia. Dia memeluk pamannya.
"Makasih, Om. Doakan Janah dan Joko ya."
"Om doakan yang terbaik."
Dengan restu dari keluarga besar, lamaran resmi digelar. Acaranya sederhana—hanya keluarga inti dan beberapa kerabat dekat. Joko datang dengan membawa seserahan: Al, Qur'an, perlengkapan sholat, cincin emas, pakaian, makanan tradisional, dan uang belanja (maskawin). Janah menerima dengan senyum haru.
"Saya terima lamaran Joko Prayitno," kata Janah dengan suara bergetar.
"Alhamdulillah," sahut semua yang hadir.
Mak Amin dan Mak Dhijah menangis haru. Perjodohan yang mereka rencanakan sejak kedua anak masih dalam kandungan, akhirnya menemukan jalannya. Meskipun berliku, meskipun sempat gagal, pada akhirnya takdir berkata lain.
Kebahagiaan tidak berlangsung lama. Beberapa minggu setelah lamaran, Joko dan Janah menghadapi hambatan administratif yang cukup serius.
Ketika mengurus surat nikah di Kantor Urusan Agama (KUA) Kuala Kapuas, petugas menemukan kejanggalan pada data kependudukan Joko. Ternyata, akta kelahirannya berbeda dengan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Nama di akta kelahiran adalah "Joko Prayitno", sedangkan di KTP tertulis "Joko Prayitno Bin Sarimin" , tambahan "Bin Sarimin" dianggap sebagai perbedaan formal.
"Kami tidak bisa memproses pernikahan ini sebelum data KTP dan akta kelahiran disamakan," kata petugas KUA, Pak Makmur, seorang laki, laki separuh baya dengan kumis tebal dan kacamata.
"Harus bagaimana, Pak?" tanya Joko panik.
"Bapak harus mengurus perubahan data kependudukan di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil. Prosesnya bisa satu hingga dua bulan."
Joko dan Janah saling pandang. Satu hingga dua bulan? Padahal persiapan pernikahan sudah hampir rampung. Undangan sudah dicetak. Catering sudah dipesan. Gedung sudah dibooking.
"Apakah tidak ada cara yang lebih cepat, Pak?" tanya Janah.
"Maaf, Mbak. Ini prosedur. Saya hanya menjalankan aturan."
Janah hampir menangis. Joko menggenggam tangannya erat.
"Tenang, Jan. Kita akan urus. Satu atau dua bulan bukan masalah. Yang penting kita tetap bisa menikah."
Mereka keluar dari KUA dengan perasaan campur aduk. Haru karena lamaran sudah berjalan, tapi kecewa karena harus menunggu lebih lama.
Proses pengurusan administrasi ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Joko harus bolak, balik ke Dinas Dukcapil di Kapuas. Itu berarti perjalanan empat jam sekali jalan. Kadang dia berangkat pagi, pulang malam. Kadang dia menginap di rumah saudaranya di dekat Dukcapil.
Janah tidak bisa ikut karena pekerjaannya di Dinas Kominfo tidak bisa ditinggal lama. Jadi Joko berjuang sendiri.
Selama beberapa hari, Joko pergi ke Dukcapil setiap hari. Dia mengumpulkan dokumen, mengisi formulir, mengikuti prosedur. Pegawai Dukcapil kadang ramah, kadang cuek. Ada yang membantu, ada yang membuatnya berputar, putar.
"Pak, ini sudah berkas lengkap. Kapan bisa selesai?" tanya Joko suatu hari.
"Tunggu saja, Pak. Prosesnya tidak bisa dipercepat."
Joko menahan emosi. Dia ingat kata Janah: "Kesabaran adalah kunci."
Dia menunggu. Beberapa jam.
Akhirnya, setelah hampir satu hari, berkasnya selesai. KTP Joko sekarang sudah sesuai dengan akta kelahirannya. Nama di KTP: "Joko Prayitno". Tidak ada tambahan.
Joko pulang ke rumah dengan perasaan lega. Dia langsung menemui Janah.
"Jan, beres!"
Janah memeluk Joko. "Akhirnya! Kamu hebat, Tengil. Aku tahu kamu bisa."
"Gue hampir menyerah. Tapi gue ingat kata lo. Kesabaran."
"Maaf, ya, Tengil. Aku nggak bisa bantu banyak."
"Lo sudah bantu dengan doa. Dan dengan sabar nunggu."
Mereka berpelukan. Di belakang mereka, Mak Amin dan Mak Dhijah tersenyum.
Ketika masalah administrasi selesai, masalah baru muncul. Keluarga jauh Janah dari pihak ibunya, yang tinggal di Banjarmasin, mulai angkat bicara. Mereka tidak setuju Janah menikah dengan Joko.
Keluarga dari pihak ibu Janah adalah keturunan pedagang sukses di Banjarmasin. Beberapa dari mereka bahkan tinggal di Jakarta dan Surabaya. Mereka merasa bahwa Joko, montir dengan bengkel kecil di Kapuas, tidak setara dengan Janah, apalagi dengan status sosial keluarga.
Bibi Janah dari Banjarmasin, Bibi Fatimah, datang ke Kapuas secara khusus. Dia seorang janda kaya yang sudah terbiasa dengan gaya hidup mewah.
"Janah, bibi dengar kamu mau nikah."
"Iya, Bi. Bulan depan."
"Dengan siapa?"
"Joko Prayitno."
"Joko? Itu montir?"
"Iya, Bi."
Bibi Fatimah menghela napas. "Janah, kamu sarjana. Kamu bisa dapat yang lebih baik. Bisa bawa kamu ke Banjarmasin, atau bahkan ke Jakarta. Jangan buang masa depanmu dengan orang selevel itu."
Janah menahan emosi. "Bibi, level bukan soal harta. Joko baik, pekerja keras, dan sayang sama saya."
"Sayang tidak cukup, Janah. Pernikahan itu butuh materi. Bagaimana nanti kalian punya anak? Joko bisa biayai?"
"Joko punya bengkel, Bi. Bengkelnya maju. Dia bahkan sudah punya karyawan."
"Bengkel kecil. Tidak seberapa. Bibi bisa carikan kamu laki, laki yang punya usaha besar. Atau PNS golongan tinggi."
Janah marah. "Bibi, saya tidak butuh laki, laki dengan usaha besar atau golongan tinggi. Saya butuh Joko. Hanya Joko. Tolong jangan merendahkan pilihan saya."
Bibi Fatimah tersinggung. "Kurang ajar kamu, Janah. Bibi hanya ingin yang terbaik untukmu."
"Maafkan saya, Bi. Tapi yang terbaik menurut saya adalah Joko."
Bibi Fatimah pergi dengan wajah merah padam.
Joko mendengar dari Mak Amin bahwa Bibi Fatimah datang dan menentang pernikahan mereka. Dia tidak marah pada Bibi Fatimah. Dia justru marah pada dirinya sendiri.
"Kenapa setiap kali orang melihatku, mereka selalu bilang tidak pantas? Apa benar gue tidak pantas? Apa gue harus menjadi orang lain untuk bisa diterima?"
Malam itu, Joko minum sendirian di bengkel setelah semua karyawan pulang. Janah datang dan menemukannya tengah termenung dengan botol bir di tangannya.
"Tengil, kamu minum?"
"Sedikit."
"Kamu tahu aku tidak suka."
"Maaf. Tapi gue butuh."
Janah duduk di samping Joko. "Karena Bibi Fatimah?"
Joko mengangguk. "Setiap kali ada yang bilang gue tidak pantas, rasanya kayak ditusuk. Berapa lama lagi gue harus mendengar ini? Berapa kali lagi gue harus membuktikan diri?"
Janah menggenggam tangan Joko. "Tengil, dengar. Kamu tidak perlu membuktikan apa pun pada mereka. Yang penting kamu sudah membuktikan pada diriku. Dan aku percaya."
Joko menatap Janah. "Lo yakin nggak akan menyesal?"
"Yakin. Seratus persen."
Joko menangis. Janah memeluknya. Mereka berdua menangis.
Malam itu, Joko berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi peduli dengan omongan orang. Cukup Janah yang bahagia. Cukup Janah yang percaya.
"Setiap kali ada yang bilang gue tidak pantas, luka lama kembali terbuka. Gue pikir gue sudah kuat. Tapi ternyata luka itu masih ada. Hanya tertutup, tidak hilang. Tapi malam ini, Janah datang. Dia memelukku. Dia bilang dia percaya. Dan untuk beberapa saat, semua luka itu terasa lebih ringan. Mungkin gue tidak perlu menjadi yang terbaik di mata semua orang. Cukup di mata Janah."
"Aku marah pada Bibi Fatimah. Bukan karena dia merendahkan Joko, tapi karena dia merendahkan pilihanku. Aku sudah dewasa. Aku tahu apa yang aku inginkan. Aku tidak butuh orang lain menentukan siapa yang pantas untukku. Joko pantas. Bukan karena dia kaya atau sukses. Tapi karena dia tulus. Dan ketulusan adalah hal paling langka di dunia ini."
Beberapa hari setelah kedatangan Bibi Fatimah, Janah mengumpulkan keluarga besarnya—baik dari pihak ayah maupun ibu—di rumah kakeknya di Kapuas. Dia ingin menyampaikan pendiriannya secara terbuka.
"Om, Tante, Bibi, semua. Saya Siti Nurjanah. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Saya sudah dewasa. Saya sudah bekerja. Saya juga sudah bertunangan dengan Joko Prayitno, laki, laki pilihan saya."
Semua terdiam.
"Saya tahu, banyak dari kalian yang tidak setuju. Banyak yang bilang Joko tidak pantas. Tapi dengan hormat, saya tidak peduli. Saya yang menjalani hidup saya. Saya yang akan bertanggung jawab atas pilihan saya. Joko adalah pilihan saya. Bukan karena paksaan. Bukan karena perjodohan. Tapi karena saya mencintainya, dan dia mencintai saya. Tolong hargai itu."
Bibi Fatimah mau angkat bicara, tapi kakek Janah menahan.
"Sudah, Fatimah. Janah sudah dewasa. Biarkan dia memilih jalannya sendiri. Kita hanya bisa mendoakan."
Bibi Fatimah terdiam.
Sejak pertemuan itu, tidak ada lagi yang berani menentang secara terang, terangan. Gosip masih ada. Tapi setidaknya, tidak ada lagi konfrontasi langsung.
Setelah hambatan, hambatan itu terlewati, Joko mulai serius menyusun rencana masa depan. Dia tidak ingin Janah menyesal menikah dengannya. Dia ingin menjadi suami yang bisa memberikan kehidupan yang layak.
Joko memutuskan untuk memperluas bengkelnya. Dia menambah satu petak lagi, sehingga total bengkelnya menjadi tiga petak. Dia juga membeli peralatan baru—mesin diagnosa elektronik, alat timbangan ban digital, dan kompresor angin bertekanan tinggi.
Dia juga mulai memikirkan tentang rumah. Tanah yang sudah dibelinya di belakang rumah Mak Dhijah akan dibangun rumah sederhana. Dia sudah mendesain sendiri denahnya, dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi.
Janah melihat desain rumah itu. "Tengil, rumahnya kecil."
"Untuk awal. Nanti kalau punya anak, kita perluas."
"Kamu sudah pikirkan anak?"
"Iya. Gue sudah pikirkan semuanya."
Janah tersenyum. "Kamu hebat, Tengil."
"Gue hanya berusaha menjadi yang terbaik untuk lo."
Joko juga berusaha memperbaiki hubungan dengan keluarganya yang pernah meragukan—khususnya Hendra, sepupunya yang dulu pernah menghina Janah.
Suatu hari, Joko mengundang Hendra makan di rumahnya. Mak Dhijah memasak makanan favorit Hendra—ayam bakar dan sambal terasi.
"He, Jok. Kok tiba, tiba mengundang? Ada apa?" tanya Hendra curiga.
"Nggak ada apa, apa. Gue hanya ingin... berdamai."
"Damaikan apa?"
"Hendra, lo sepupu gue. Kita saudara. Dulu, lo pernah bilang Janah akan meninggalkan gue. Lo bilang Janah tidak pantas. Itu menyakitkan."
Hendra menunduk. "Maaf, Jok. Gue dulu... gue hanya iri. Iri karena lo punya perempuan yang setia. Sementara gue gagal terus dalam hubungan."
Joko terkejut. "Iri?"
"Iya. Gue iri. Maaf, Jok."
Joko menghela napas. "Gue maafin lo. Tapi jangan ulangi lagi."
"Janji."
Mereka berjabat tangan. Makan bersama. Tawa kembali hadir.
Sebagai seorang ASN, Janah harus mengurus izin menikah dari atasan. Pak Heri, mantan kepala bidang yang kini menjabat sebagai Sekretaris Dinas, menerima surat izin Janah dengan senyum bangga.
"Janah, akhirnya kamu menikah. Saya sudah dengar cerita tentang perjuanganmu dan Joko. Selamat ya."
"Terima kasih, Pak."
"Jangan lupa, setelah menikah, kamu tetap harus bekerja. Pemerintah Kabupaten Kapuas butuh orang seperti kamu."
"Iya, Pak. Janah akan tetap mengabdi."
Pak Heri menandatangani surat izin. Janah keluar dari ruangannya dengan perasaan lega. Satu hambatan lagi terlewati.
Setelah semua berkas lengkap dan semua izin terpenuhi, Joko dan Janah kembali ke KUA. Pak Makmur, petugas yang dulu menolak berkas mereka, tersenyum ramah.
"Selamat, Bapak dan Ibu. Akhirnya berkas lengkap."
"Terima kasih, Pak. Berkat kesabaran," kata Joko.
"Mau melaksanakan akad nikah kapan?"
Joko dan Janah saling pandang. Mereka sudah sepakat: tanggal 17 Agustus. Hari kemerdekaan Republik Indonesia. Janah bilang, "Aku ingin menjadi istri merdeka. Merdeka untuk memilih. Merdeka untuk bahagia."
Pak Makmur tertawa. "Tanggal yang baik. Saya catat ya."
Surat nikah diserahkan. Joko memegangnya dengan tangan gemetar. Janah menangis haru.
Lamaran yang sempat tertunda, administrasi yang berbelit, konflik dengan keluarga besar, dan tekanan sosial—semua itu adalah resiko yang harus mereka hadapi. Tapi bagi Joko dan Janah, semua resiko itu sebanding dengan kebahagiaan yang akan mereka raih.
Mereka belajar bahwa pernikahan bukan hanya tentang cinta. Tapi juga tentang kesabaran, pengorbanan, dan kerja keras. Mereka belajar bahwa tidak semua orang akan mendukung. Tapi yang penting adalah mereka saling mendukung.
Kini, dengan surat nikah di tangan dan hati yang penuh harap, mereka siap melangkah ke babak berikutnya: menuju pelaminan.
BAB 24
BUNDARAN BESAR – CEMBURU LAMA KEMBALI
Surat nikah sudah di tangan. Izin dari atasan sudah keluar. Keluarga besar, meskipun tidak sepenuhnya ikhlas, setidaknya tidak lagi menghalang. Joko dan Janah kini hanya menunggu hari, H, 17 Agustus, hari kemerdekaan yang akan menjadi hari kemerdekaan mereka juga sebagai pasangan suami istri.
Tiga pekan sebelum pernikahan, suasana seharusnya bahagia. Tapi tidak untuk Joko. Sesuatu mengusik hatinya. Bukan sesuatu yang besar. Hanya sesuatu yang kecil. Tapi bagi Joko yang dulu pernah kehilangan Janah karena cemburu, hal kecil bisa menjadi malapetaka.
Bermula dari sebuah unggahan foto di media sosial.
Janah mengunggah foto di Instagram, foto lama, saat dia masih kuliah di Jogja. Dalam foto itu, Janah berdiri di depan sebuah kafe di kawasan Prawirotaman. Di sampingnya, ada Dimas. Mereka tersenyum bahagia. Lengan Dimas melingkar di pinggang Janah. Foto itu bukan foto baru. Foto itu sudah berusia tiga tahun. Janah mengunggahnya karena dia sedang bernostalgia. Dia menulis caption: “Throwback to Jogja. Rindu masa, masa kuliah.”
Joko melihat foto itu. Dadanya sesak. Matanya panas.
“Kenapa dia masih menyimpan foto dengan Dimas? Kenapa dia unggah? Apakah dia masih merindukan Dimas? Apakah dia tidak bahagia dengan aku?”
Joko tidak langsung bereaksi. Dia mencoba berpikir jernih. Dia ingat janjinya pada Janah: tidak akan cemburu buta lagi. Dia ingat kata, katanya di Danau Mare: “Gue sudah berubah.”
Tapi perasaan itu tetap ada. Menggerogoti. Menggigit. Menggoda untuk marah.
Janah tidak menyangka bahwa unggahan fotonya akan menjadi masalah. Baginya, itu hanya foto lama. Kenangan indah bersama teman, teman kuliah, termasuk Dimas. Dia tidak pernah berpikir bahwa Joko akan cemburu. Karena Joko sudah berubah. Joko sudah dewasa. Joko tidak lagi cemburu buta.
Tapi Janah salah.
Malam itu, Joko tidak mengirim pesan seperti biasa. Tidak ada “Selamat malam, Jan. Mimpi indah.” Janah menunggu hingga jam sebelas. Tidak ada kabar.
Dia menelepon. Tidak diangkat. Dia menelepon lagi. Tidak diangkat. Dia menelepon Budi.
“Bi, Joko kenapa? Aku telepon nggak diangkat.”
Budi ragu. “Jan, Joko... dia minum. Sendirian di bengkel.”
“Minum? Jam segini? Ada apa?”
“Kayaknya dia lihat foto Instagram lo. Sama Dimas.”
Janah terperanjat. “Itu foto lama! Hanya kenangan!”
“Gue tahu. Tapi Joko... lo tahu sendiri dia dulu pernah kehilangan lo karena Dimas. Mungkin luka itu belum sembuh.”
Janah menutup telepon. Dia segera bangkit. Dia pamit pada Mak Amin.
“Mak, Janah mau ke bengkel Joko. Ada yang harus Janah bicarakan.”
“Malam, malam begini? Tidak baik, Nak.”
“Ini penting, Mak. Janah tidak mau hubungan Janah dengan Joko rusak karena hal sepele.”
Mak Amin menghela napas. “Hati, hati, Nak.”
Janah naik motornya. Dia melaju ke bengkel Joko.
Joko duduk di kursi plastik di depan bengkelnya. Lampu bengkel hanya satu yang menyala. Suasana temaram. Di tangannya, botol bir yang sudah setengah habis.
Joko tidak pernah minum banyak. Tapi malam ini, dia merasa perlu. “Untuk melupakan. Melupakan perasaan sakit ini.”
Dia mendengar suara motor. Dia tahu itu Janah.
“Tengil!” Janah turun dari motor. Wajahnya cemas sekaligus marah.
Joko tidak menoleh. “Lo ngapain ke sini? Malam, malam.”
“Aku yang bertanya. Kamu ngapain minum sendirian?”
“Gue lagi... berpikir.”
“Berpikir sambil minum? Sejak kapan?”
Joko tidak menjawab.
Janah duduk di samping Joko. Dia merebut botol bir dari tangan Joko.
“Tengil, lihat aku.”
Joko menoleh. Matanya merah—bukan karena minum, tapi karena menahan tangis.
“Karena foto itu?” tanya Janah.
Joko mengangguk. “Kenapa lo masih simpan foto lo sama Dimas? Kenapa lo unggah?”
“Itu foto lama, Tengil. Tiga tahun lalu. Aku unggah karena aku rindu masa kuliah. Bukan karena Dimas. Dimas hanya bagian dari kenangan itu.”
“Tapi lo berduaan. Dia pegang pinggang lo.”
“Kami dulu pernah dekat. Itu fakta. Aku tidak bisa menghapus masa lalu. Tapi itu masa lalu. Sekarang, aku milik kamu.”
Joko terdiam. Air matanya menetes.
“Jan, gue takut.”
“Takut apa?”
“Takut lo masih sayang Dimas. Takut suatu hari lo sadar dan pergi.”
Janah menggenggam tangan Joko. “Tengil, dengar. Aku sayang kamu. Hanya kamu. Dimas sudah lama pergi. Dia tidak ada dalam hidupku sekarang. Kenangan mungkin masih ada, tapi tidak lebih dari itu. Jangan biarkan cemburu merusak kita lagi.”
“Tapi gue sakit, Jan. Setiap kali gue lihat lo sama laki, laki lain, rasanya kayak ditusuk.”
“Itu wajar. Tapi kamu harus belajar mengendalikannya. Kamu sudah berubah, kan? Jangan kembali ke Joko yang dulu.”
Joko menghela napas. “Gue akan coba.”
“Jangan coba. Lakukan.”
Janah membuka ponselnya. Di depan Joko, dia membuka Instagram, mencari foto itu, lalu menekan tombol hapus.
“Sudah. Foto itu tidak ada lagi. Puas?”
Joko terkejut. “Lo nggak usah hapus. Gue percaya lo.”
“Tapi kamu masih sakit. Aku lebih memilih menghapus foto daripada melihat kamu sakit.”
Joko memeluk Janah. “Maaf, Jan. Gue ... gue malu. Gue seharusnya tidak cemburu.”
“Kamu manusia, Tengil. Manusia boleh cemburu. Tapi jangan biarkan cemburu menguasaimu.”
Mereka berpelukan di depan bengkel. Malam semakin larut. Angin bertiup sepoi, sepoi.
“Gue malu. Baru saja gue berjanji tidak akan cemburu buta, tapi gue sudah kambuh. Hanya karena foto lama. Janah tidak marah. Dia justru menghapus fotonya. Dia mengalah. Aku yang seharusnya malu. Cemburu adalah musuh. Dan aku hampir dikalahkannya. Tapi Janah menyelamatkanku. Lagi. Dia selalu menjadi penyelamatku. Aku harus lebih kuat. Untuk dia.”
“Aku kecewa. Tapi aku juga mengerti. Joko pernah kehilangan aku karena Dimas. Luka itu dalam. Meskipun dia sudah berusaha, luka itu tidak mudah hilang. Aku tidak akan marah. Aku akan sabar. Karena aku juga pernah menyakitinya dulu. Sekarang giliranku untuk bersabar.”
Pagi harinya, Joko dan Janah bertemu di depan rumah Janah. Seperti biasa, Joko menjemput Janah untuk berangkat kerja. Tapi suasana berbeda. Mereka kikuk. Tidak seperti biasanya.
“Tengil, kamu masih marah?”
“Nggak. Gue malu.”
“Malu kenapa?”
“Malu karena gue cemburu. Malu karena gue mabuk. Malu karena lo lihat sisi buruk gue.”
Janah tersenyum. “Kamu manusia. Manusia punya sisi buruk. Yang penting kamu mau memperbaikinya.”
“Lo nggak marah?”
“Awalnya marah. Tapi sekarang tidak. Aku lebih sedih.”
“Sedih kenapa?”
“Sedih karena kamu belum percaya sepenuhnya padaku. Padahal aku sudah berusaha.”
Joko menunduk. “Maaf, Jan. Gue akan berusaha lebih keras.”
“Jangan berusaha. Lakukan.”
Mereka berangkat kerja bersama. Sepanjang perjalanan, mereka tidak banyak bicara. Tapi tangan Janah memeluk pinggang Joko erat, erat.
Malam harinya, Joko bercerita pada Mak Dhijah tentang kejadian semalam.
“Mak, Joko gagal. Joko cemburu lagi.”
Mak Dhijah menghela napas. “Tengil (begitu Mak Dhijah memanggilnya dengan sayang), cemburu itu wajar. Tapi jangan sampai berlebihan. Apa yang membuatmu cemburu?”
“Janah unggah foto lama sama mantannya.”
“Foto itu sudah lama. Janah hanya bernostalgia. Kamu tidak perlu cemburu.”
“Tapi Mak, Joko takut kehilangan Janah.”
“Nak, kalau Janah mau pergi, dia sudah pergi dari dulu. Tapi dia bertahan. Dia memilihmu. Itu artinya dia sayang. Jangan sia, siakan kepercayaannya dengan cemburu buta.”
Joko menangis di pangkuan Mak Dhijah. “Joko bingung, Mak. Joko sayang Janah, tapi Joko juga takut.”
“Kamu harus percaya pada Janah. Dan percaya pada dirimu sendiri. Kamu laki, laki baik. Kamu pantas. Jangan biarkan masa lalu menghantuimu.”
Joko mengangguk. “Makasih, Mak.”
Di rumah sebelah, Janah juga bercerita pada Mak Amin.
“Mak, Joko cemburu. Karena foto lama Janah dengan Dimas.”
“Wajar, Nak. Joko dulu kehilangan kamu karena Dimas. Luka itu tidak mudah hilang.”
“Janah sudah hapus fotonya. Tapi Janah khawatir. Apakah cemburu Joko akan terus berulang?”
“Tidak, Nak. Joko sedang belajar. Beri dia waktu. Sabar.”
“Janah capek, Mak. Capek meyakinkan terus.”
“Ibu tahu. Tapi itu risiko memilih pasangan yang pernah terluka. Kamu juga pernah menyakiti Joko dulu. Ingat? Kamu dekat dengan Dimas saat Joko di sini sendiri.”
Janah menunduk. Mak Amin benar. Dulu dia juga bersalah.
“Jadi Janah harus sabar?”
“Iya. Sabar. Dan percaya. Percaya bahwa Joko akan berubah. Percaya bahwa cinta kalian cukup kuat untuk melewati ini semua.”
Janah memeluk Mak Amin. “Makasih, Mak.”
Beberapa hari setelah kejadian, suasana antara Joko dan Janah mulai kembali normal. Tapi belum sepenuhnya. Masih ada kecanggungan. Joko masih sering diam. Janah masih sering berpikir.
Suatu malam, Joko mengajak Janah ke Bundaran Besar Kapuas. Tempat itu adalah pusat kota. Ada air mancur, taman kecil, dan beberapa warung makan yang buka hingga malam. Banyak pasangan muda yang nongkrong di sana.
Mereka duduk di bangku taman. Di depan mereka, air mancur menyemburkan air dengan lampu, lampu warna, warni.
“Jan,” kata Joko.
“Apa?”
“Gue minta maaf. Untuk semuanya.”
“Sudah berlalu.”
“Tapi gue masih merasa bersalah.”
Janah menggenggam tangan Joko. “Tengil, kita akan menghadapi banyak masalah setelah menikah. Bukan hanya cemburu. Tapi masalah keuangan, anak, keluarga, pekerjaan. Kalau sekarang kita sudah goyah, bagaimana nanti?”
Joko menatap Janah. “Lo benar. Gue harus kuat.”
“Kita harus kuat. Bersama.”
Mereka berpelukan di Bundaran Besar. Lampu, lampu air mancur berubah warna dari merah ke biru, dari biru ke kuning. Indah.
“Jan, gue mau janji lagi.”
“Janji apa?”
“Mulai sekarang, gue tidak akan cemburu. Jika gue cemburu, gue akan bicara. Bukan diam dan minum.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berkait kelingking.
“Tengil, aku juga janji. Aku tidak akan mengunggah foto dengan mantan lagi. Aku tidak akan melakukan hal yang membuatmu cemburu.”
“Lo nggak perlu janji begitu. Lo bebas.”
“Aku bebas, tapi aku memilih untuk tidak. Karena aku sayang kamu.”
Mereka tersenyum.
Budi kebetulan juga sedang di Bundaran Besar bersama teman, temannya. Dia melihat Joko dan Janah dari kejauhan.
“Bos lagi, mesra, mesraan,” celetuk Budi.
“Itu bos lo?” tanya temannya.
“Iya. Dan calon istrinya. Cantik, kan?”
“Cantik. Kok mau sama montir?”
Budi menatap temannya. “Jangan bicara begitu. Bos lo itu hebat. Dia membangun bengkel dari nol. Dia juga sayang sama istrinya. Itu lebih penting dari status.”
Temannya terdiam.
Kejadian cemburu di Bundaran Besar menjadi pelajaran berharga bagi Joko dan Janah. Mereka belajar bahwa:
- Cemburu adalah wajar, tapi tidak boleh berlebihan.
- Komunikasi adalah kunci. Jangan diam dan minum. Bicaralah.
- Masa lalu tidak bisa dihapus, tapi bisa dikelola.
- Kepercayaan harus dibangun setiap hari.
- Cinta bukan hanya tentang perasaan, tapi juga tentang pilihan.
Joko menyadari bahwa dia tidak bisa terus, menerus membawa luka masa lalu ke dalam hubungannya dengan Janah. Dia harus melepaskannya. Dia harus percaya bahwa Janah telah berubah, sama seperti dia telah berubah.
Janah menyadari bahwa Joko membutuhkan waktu. Luka tidak sembuh dalam semalam. Dia akan sabar. Dia akan terus meyakinkan.
Jam menunjukkan pukul 10 malam. Pengunjung Bundaran Besar mulai pulang. Pedagang kaki lima mulai membereskan dagangan.
“Jan, kita pulang, yuk,” kata Joko.
“Iya. Besok kerja.”
Mereka berjalan ke tempat parkir. Joko naik motor, Janah di belakang.
“Pelan, pelan, Tengil.”
“Siap.”
Mereka melaju perlahan. Angin malam membawa kesejukan. Janah memeluk pinggang Joko erat, erat.
“Tengil.”
“Apa?”
“Aku sayang kamu.”
“Gue juga sayang lo. Lebih dari yang lo bayangkan.”
Cemburu lama sempat kembali. Tapi kali ini, tidak berakhir dengan pertengkaran besar. Tidak berakhir dengan perpisahan. Berakhir dengan komunikasi. Berakhir dengan saling mengerti. Berakhir dengan kedewasaan.
Joko dan Janah belajar bahwa cinta sejati bukan tentang tidak pernah cemburu. Tapi tentang bagaimana mengelola cemburu itu menjadi energi positif untuk saling menghargai.
Kini, dengan perasaan yang lebih lega dan komitmen yang lebih kuat, mereka siap melangkah ke babak berikutnya: menuju pelaminan.
BAB 25
SAHABAT LAMA, PENGKHIANATAN TERSELUBUNG
Dua pekan menjelang pernikahan, Joko dan Janah seharusnya berada di puncak kebahagiaan. Undangan sudah tersebar. Gedung sudah di, book. Katering sudah siap. Busana pengantin sudah selesai dijahit. Semua tampak sempurna, setidaknya di permukaan.
Tapi di balik layar, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang gelap. Sesuatu yang datang dari orang yang paling tidak mereka duga.
Mirna.
Dulu, Mirna adalah sahabat Janah di SMK. Mirna juga pernah menjadi "saingan" yang hampir menghancurkan hubungan Joko dan Janah dengan fitnah. Setelah kejadian itu, Mirna menghilang. Dia pindah sekolah, lalu pindah ke Banjarmasin bersama keluarganya. Janah dan Mirna sempat berkomunikasi di awal, awal, tapi lama, lama renggang.
Kabar terakhir yang Janah dengar, Mirna menikah dengan seorang pengusaha sukses di Banjarmasin. Dikabarkan hidupnya mewah. Rumah besar. Mobil mewah. Anak dua. Janah bahagia mendengar kabar itu. Dia tidak menyimpan dendam.
Tapi Janah tidak tahu bahwa Mirna menyimpan dendam.
Dendam yang selama bertahun, tahun dipendam. Dendam karena Joko tidak memilihnya. Dendam karena Janah "mengalahkannya". Dendam yang kini, di saat, saat terakhir menjelang pernikahan Joko dan Janah, mulai mencari celah untuk meledak.
Suatu siang, saat Janah sedang asyik bekerja di kantor, ponselnya berdering. Nomor asing dari Banjarmasin.
“Halo?”
“Janah? Ini Mirna!”
Janah terkejut. “Mirna? Lama tidak dengar kabar. Kamu di mana?”
“Aku di Banjarmasin. Jan, aku dengar kamu mau nikah. Dengan Joko, ya?”
“Iya. Dua minggu lagi.”
“Selamat ya, Jan. Aku senang untuk kalian.”
“Makasih, Mir. Kamu sendiri gimana? Kabar suami dan anak, anak?”
“Baik. Aku juga sedang hamil anak ketiga.”
“Wah, selamat!”
“Jan, aku mau ke Kapuas minggu depan. Ada urusan keluarga. Boleh aku mampir ke rumahmu?”
“Boleh. Senang bisa bertemu lagi setelah sekian lama.”
Telepon ditutup. Janah tersenyum. Dia senang Mirna masih mengingatnya. Mereka pernah berselisih, tapi itu sudah lama. Janah sudah memaafkan. Dia pikir Mirna juga sudah berubah.
Tapi Janah tidak tahu bahwa kedatangan Mirna bukan untuk bersilaturahmi. Tapi untuk menghancurkan.
Joko mendengar dari Janah bahwa Mirna akan datang. Wajahnya berubah.
“Mirna? Yang dulu suka fitnah itu?”
“Iya, Tengil. Tapi itu sudah lama. Mungkin dia sudah berubah.”
“Jan, lo percaya orang kayak gitu bisa berubah?”
“Kita juga berubah, kan? Kenapa dia tidak?”
Joko tidak bisa membantah. Tapi hatinya tidak tenang. Ada firasat buruk.
Minggu berikutnya, Mirna datang ke Kapuas. Dia menginap di sebuah hotel kecil di pusat kota, bukan di rumah keluarganya karena rumah orang tuanya sudah dijual.
Mirna datang ke rumah Janah dengan membawa oleh, oleh—kue lapis khas Banjarmasin. Penampilannya mewah. Baju mahal. Perhiasan mencolok. Rambut disanggul rapi. Wajahnya masih cantik, bahkan mungkin lebih cantik dari dulu.
“Janah! Kamu makin cantik!” Mirna memeluk Janah erat.
“Kamu juga, Mir. Makin cantik.”
Mereka bicara banyak. Mirna bercerita tentang hidupnya di Banjarmasin. Tentang suaminya yang kaya. Tentang anak, anaknya yang lucu. Tentang bisnis keluarganya.
Janah mendengarkan dengan antusias. Dia benar, benar mengira Mirna sudah berubah. Dia tidak melihat sedikit pun niat jahat di balik senyum manis Mirna.
“Jan, aku mau lihat persiapan pernikahanmu. Boleh?”
“Boleh. Ayo.”
Janah membawa Mirna melihat gedung pernikahan, melihat dekorasi, melihat gaun pengantin. Mirna memuji semuanya. “Cantik, Jan. Kamu pasti akan menjadi pengantin yang cantik.”
Mirna juga minta diajak ke bengkel Joko.
“Aku mau lihat bengkel Joko. Katanya maju pesat?”
“Iya. Ayo.”
Mereka pergi ke bengkel Tengil Jaya. Joko sedang bekerja. Wajahnya kaku begitu melihat Mirna.
“Halo, Joko. Lama tidak bertemu,” sapa Mirna ramah.
“Halo.”
“Kamu sekarang sukses, ya. Bengkel besar.”
“Berkat doa banyak orang.”
Mirna tersenyum. Tapi di matanya, Joko melihat sesuatu. Sesuatu yang tidak dia sukai.
Mirna dengan cerdik memilih waktu. Dia datang ke rumah Janah saat Joko sedang tidak ada. Dia mengajak Janah bicara berdua.
“Jan, aku mau bicara serius.”
“Apa, Mir?”
Mirna mengambil napas panjang. “Jan, kamu yakin menikah dengan Joko?”
Janah terkejut. “Maksudmu?”
“Joko itu dulu pernah dekat dengan Maya. Kamu tahu itu. Tapi apakah kamu tahu bahwa mereka lebih dari sekadar dekat?”
Janah terdiam. “Apa maksudmu?”
“Maksudku, Joko dan Maya sudah... melakukan hal, hal yang tidak seharusnya dilakukan sebelum menikah. Aku tidak mau bilang detail, tapi kamu berhak tahu.”
Janah pucat. “Kamu bohong.”
“Aku tidak bohong. Aku punya bukti.”
Mirna membuka ponselnya. Dia menunjukkan screenshot percakapan—yang sebenarnya sudah dia rekayasa. Dalam percakapan itu, "Joko" mengirim pesan mesra pada "Maya". Pesan, pesan yang tidak pantas.
Janah membaca percakapan itu. Tangannya gemetar. Air matanya mengalir.
“Dari mana kamu dapat ini?”
“Dari Maya sendiri. Dia masih menyimpan semua percakapan mereka.”
Janah tidak bisa berkata, kata. Dunia terasa runtuh.
Malam itu, Janah tidak keluar kamar. Dia tidak menjawab telepon Joko. Dia tidak membalas pesan.
Joko bingung. Dia menelepon berkali, kali. Tidak diangkat. Dia menelepon Mak Amin.
“Mak, Janah kenapa? Dari tadi nggak angkat telepon.”
Mak Amin masuk ke kamar Janah. Janah sedang duduk di sudut kamar, menangis.
“Janah, kenapa, Nak?”
“Tanyakan pada Joko, Mak. Tanyakan apa yang dia lakukan dengan Maya dulu.”
Mak Amin terkejut. Dia keluar kamar. “Joko, Janah bilang tanya tentang Maya. Ada apa?”
Joko terdiam. Dadanya sesak.
“Mak, itu masa lalu. Sudah lama. Joko sudah minta maaf. Janah sudah memaafkan.”
“Tapi sekarang dia menangis. Seperti baru tahu.”
Joko berpikir keras. Siapa yang membuka luka lama ini? Lalu dia ingat. Mirna.
Meskipun sudah malam, Joko pergi ke rumah Janah. Dia mengetuk pintu kamar Janah.
“Jan, buka pintu.”
“Pergi, Joko.”
“Jan, ini tentang Mirna, kan? Dia yang kasih tahu?”
Janah membuka pintu. Matanya merah, basah.
“Kamu selingkuh dengan Maya, Tengil. Aku tahu kalian dekat. Tapi aku tidak tahu kalian sudah... melakukan itu.”
Joko menghela napas. “Jan, itu tidak benar. Mirna bohong.”
“Dia punya bukti. Screenshot chat kamu dengan Maya.”
“Chat itu palsu, Jan! Mirna merekayasa semuanya.”
“Kamu bisa saja bilang begitu.”
Joko menatap Janah. Matanya serius. “Jan, gue tidak pernah selingkuh secara fisik dengan Maya. Iya, gue dekat. Iya, gue sempat pacaran. Tapi tidak pernah ada yang melampaui batas. Gue janji. Demi apa pun.”
Janah terdiam. Air matanya terus mengalir.
“Jan, lo percaya sama gue, kan?”
“Aku... aku bingung, Tengil. Aku ingin percaya. Tapi bukti ada di depan mata.”
Joko meraih tangan Janah. “Jan, itu bukti palsu. Lo cek siapa nama kontak itu. Nomornya bukan nomor gue. Lo cek. Jangan percaya begitu saja.”
Janah terdiam. Mungkin Joko benar. Dia belum pernah mengecek.
Janah membuka ponselnya. Dia membandingkan screenshot chat yang diberikan Mirna dengan kontak asli Joko di ponselnya.
Ternyata, nama kontak di screenshot itu adalah "Jokooo" (dengan tiga huruf o). Sementara kontak asli Joko di ponsel Janah adalah "Joko" (satu o).
Juga nomornya berbeda. Nomor di screenshot itu bukan nomor Joko. Nomor asing.
Janah tersenyum pahit. Dia tertipu.
“Maaf, Tengil. Aku ... aku terlalu cepat percaya.”
“Karena Mirna manipulatif, Jan. Dia sudah melakukan ini dulu, saat SMP. Ingat? Dia memfitnah gue selingkuh.”
Janah menangis lagi. Kali ini karena marah pada dirinya sendiri. “Kenapa aku mudah percaya? Kenapa aku lupa masa lalu?”
“Karena lo baik, Jan. Lo selalu melihat sisi baik orang. Tapi tidak semua orang punya sisi baik.”
Mereka berpelukan.
Keesokan harinya, Joko dan Janah mendatangi hotel tempat Mirna menginap. Mirna terkejut melihat mereka berdua.
“Jan? Joko? Ada apa?”
“Mirna, kamu membuat screenshot palsu,” kata Janah dingin.
Mirna pucat. “Apa maksudmu?”
“Kamu buat chat palsu antara Joko dan Maya. Nomornya bukan nomor Joko.”
Mirna terdiam. Wajahnya berubah.
“Kenapa kamu lakukan ini, Mir? Kenapa?” tanya Janah dengan suara bergetar.
Mirna tertawa pahit. “Kenapa? Karena aku iri, Jan. Aku iri sama kamu.”
“Iri? Kamu hidup mewah. Suamimu kaya. Kamu punya segalanya.”
“Tapi aku tidak punya Joko.”
Joko terkejut. Janah juga.
“Aku cinta Joko, Jan. Sejak SMK. Tapi dia tidak pernah melihatku. Dia hanya melihat kamu. Dan setelah semua yang aku lakukan, dia tetap memilih kamu. Aku sakit. Aku sakit hati.”
“Jadi kamu ingin menghancurkan pernikahan kami?” tanya Joko.
“Aku ingin kamu menderita seperti aku menderita.”
Janah menghela napas. “Mirna, aku kasihan sama kamu. Tapi apa yang kamu lakukan tidak akan membuatmu bahagia. Dendam hanya akan membakar dirimu sendiri.”
“Jangan mengajari aku, Janah! Kamu tidak pernah merasakan ditolak oleh orang yang kamu cintai!”
“Saya pernah, Mir. Saya pernah ditinggal Joko. Saya pernah patah hati. Tapi saya tidak memilih dendam. Saya memilih untuk memperbaiki diri. Dan lihat, kami sekarang bersama.”
Mirna menangis. “Aku hanya ingin ... dia melihatku. Sekali saja.”
Joko berbicara. “Mirna, gue hargai perasaan lo. Tapi gue tidak pernah cinta sama lo. Bukan karena lo tidak baik. Tapi karena hati gue sudah untuk Janah. Sejak kecil. Sampai sekarang. Maaf.”
Mirna menangis tersedu, sedu. Janah memeluknya.
“Mir, mari perbaiki hubungan. Kita bersahabat. Jangan biarkan dendam menghancurkan persahabatan kita.”
Mirna terdiam. Dia tidak menjawab.
Beberapa jam kemudian, Mirna check out dari hotel. Dia tidak pamit pada Janah. Dia hanya mengirim pesan singkat.
“Jan, maaf. Aku pergi. Aku akan berusaha melupakan semua ini. Maafkan aku.”
Janah membalas. “Saya maafkan. Jaga dirimu. Semoga kamu bahagia.”
Mirna tidak membalas.
Kejadian dengan Mirna membuat Joko dan Janah semakin dekat. Mereka belajar bahwa:
- Dengki dan iri bisa datang dari orang terdekat.
- Bukan semua orang senang dengan kebahagiaan orang lain.
- Percaya pada pasangan adalah kunci. Jangan mudah percaya pada fitnah.
- Maafkan, tapi jangan lupa. Jadikan pengalaman sebagai pelajaran.
Janah sadar bahwa dia terlalu mudah percaya pada Mirna. Dia berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Joko sadar bahwa dia harus lebih terbuka pada Janah tentang masa lalunya. Jika sejak awal dia cerita detail tentang Maya, mungkin Janah tidak mudah terpengaruh.
“Aku hampir kehilangan Joko karena kebohongan Mirna. Aku malu pada diriku sendiri. Kenapa aku begitu mudah percaya? Apakah aku masih menyimpan keraguan pada Joko? Mungkin. Mungkin luka masa lalu belum sepenuhnya sembuh. Tapi kejadian ini menjadi pelajaran. Aku harus percaya pada Joko. Dan percaya pada diriku sendiri bahwa aku mampu mempertahankan cinta ini.”
“Mirna hampir berhasil. Hampir. Tapi Janah memilih untuk percaya padaku. Akhirnya. Setelah sekian lama, Janah akhirnya benar, benar percaya. Ini adalah titik balik. Mulai sekarang, tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi cemburu buta. Hanya saling percaya.”
Di malam sebelum pernikahan, Janah mengirim pesan terakhir untuk Mirna.
“Mir, apa pun yang terjadi, kamu tetap sahabatku. Suatu hari, jika kamu sudah ikhlas, datanglah ke rumahku. Aku akan menyambutmu dengan senyum. Maafkan aku jika selama ini aku tidak peka dengan perasaanmu. Maafkan aku karena tanpa sengaja menyakitimu. Semoga kita bisa berteman lagi suatu saat.”
Mirna membaca pesan itu. Dia menangis.
“Maafkan aku, Jan. Maafkan aku.”
Dia tidak membalas. Tapi di dalam hatinya, dia berjanji untuk berubah.
Pengkhianatan Mirna menjadi ujian terakhir sebelum pernikahan. Ujian yang hampir menggagalkan segalanya. Tapi Joko dan Janah melewatinya. Bukan dengan kebencian, tapi dengan cinta dan pengampunan.
Mereka belajar bahwa tidak semua orang yang tersenyum padamu adalah teman. Tapi mereka juga belajar bahwa cinta sejati akan bertahan, meskipun badai datang dari arah mana pun.
Kini, dengan hati yang lebih bersih dan kepercayaan yang lebih kuat, mereka siap melangkah ke pelaminan.
BAB 26
MENUJU PELAMINAN – TAMAN HUTAN KOTA
Hari, hari terakhir sebelum pernikahan terasa seperti mimpi bagi Joko dan Janah. Semua persiapan hampir rampung. Undangan sudah terkirim. Gedung sudah dihias. Katering sudah siap. Busana pengantin sudah tergantung rapi di lemari, masih terbungkus plastik, menunggu saatnya dikenakan.
Tapi di tengah kesibukan itu, Joko merasa perlu melakukan sesuatu yang istimewa. Sesuatu yang hanya untuk mereka berdua. Bukan untuk keluarga, bukan untuk tamu, bukan untuk memenuhi tradisi. Tapi untuk mengukir kenangan terakhir sebagai sepasang kekasih sebelum resmi menjadi suami istri.
“Jan, besok kita pergi ke Taman Hutan Kota,” kata Joko suatu malam.
“Taman Hutan Kota? Sekarang? Bukannya kita masih banyak persiapan?”
“Tepatnya besok sore. Sebentar saja. Aku ingin... menghabiskan waktu berdua denganmu. Sebagai pacar terakhir kali.”
Janah tersenyum. “Kamu romantis juga, ya.”
“Gue memang romantis. Cuma kadang lo nggak sadar.”
“Iya, iya. Besok jam berapa?”
“Jam empat sore. Aku jemput.”
Taman Hutan Kota Kuala Kapuas terletak di Jalan Kartini, tidak jauh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kapuas. Tempat ini sebenarnya adalah hutan kota, area hijau di tengah pemukiman padat yang sengaja dilestarikan untuk menjadi paru, paru kota. Ada pohon, pohon besar yang usianya mungkin puluhan tahun, jalur setapak untuk berjalan kaki, beberapa bangku taman, dan sebuah gazebo kecil di tengah.
Tidak banyak orang yang datang ke sini pada sore hari. Kebanyakan hanya warga sekitar yang ingin olahraga atau sekadar duduk, duduk. Suasananya tenang, sunyi, dan damai, sangat kontras dengan hiruk, pikuk persiapan pernikahan yang melibatkan banyak orang.
Joko memilih tempat ini karena dia ingin ketenangan. Dia ingin berbicara dengan Janah dari hati ke hati, tanpa gangguan. Dia ingin mengucapkan sesuatu yang mungkin tidak akan pernah dia ucapkan di depan banyak orang.
Janah datang tepat waktu. Jam menunjukkan pukul empat sore. Matahari masih cukup terik, tapi tidak seperti siang hari. Angin bertiup sepoi, sepoi, membawa bau daun kering dan tanah basah.
Joko sudah menunggu di pintu masuk taman. Dia memakai kaus putih polos dan celana jeans—penampilan sederhana yang membuatnya terlihat muda kembali.
“Kamu sudah lama?” tanya Janah.
“Baru saja.”
Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri jalur setapak. Pepohonan besar menaungi mereka. Sesekali terdengar suara burung atau suara daun yang bergesekan.
“Tengil, kenapa kamu pilih tempat ini?”
“Karena tempat ini tenang. Dan kita butuh ketenangan sebelum hari besar.”
Janah tersenyum. “Kamu benar. Aku juga butuh ini. Lepas dari semua keramaian.”
Mereka berjalan hingga ke gazebo kecil di tengah taman. Gazebo itu terbuat dari kayu, atapnya dari rumbia yang sudah mulai rapuh. Tapi masih kokoh. Masih layak untuk tempat berteduh.
Mereka duduk di bangku kayu di dalam gazebo.
“Jan, gue mau cerita sesuatu.”
“Apa?”
“Tentang perasaan gue. Selama ini.”
Janah menatap Joko. Matanya penuh perhatian.
“Dulu, gue sering insecure. Gue takut lo meninggalkan gue. Gue takut gue tidak pantas. Tapi sekarang, setelah semua yang kita lewati, gue sadar sesuatu.”
“Apa?”
“Gue pantas. Bukan karena gue kaya atau sukses. Tapi karena gue berusaha. Setiap hari. Untuk menjadi lebih baik. Untuk lo.”
Janah menggenggam tangan Joko. “Kamu memang pantas, Tengil. Aku tidak pernah ragu.”
“Tapi dulu lo ragu. Waktu kita LDR. Waktu lo kenal Dimas.”
Janah menunduk. “Aku minta maaf. Aku dulu juga insecure. Aku takut kamu tidak serius. Aku takut kamu akan selingkuh dengan Maya.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku percaya. Sepenuhnya.”
Joko tersenyum. “Itu yang ingin gue dengar.”
Giliran Janah yang bercerita.
“Tengil, aku juga punya ketakutan.”
“Takut apa?”
“Aku takut setelah menikah, kita berubah. Kita tidak lagi seperti sekarang. Sibuk dengan urusan masing, masing. Lupa untuk saling memperhatikan.”
“Kenapa lo berpikir begitu?”
“Karena banyak pernikahan yang gagal seperti itu. Awalnya romantis, lalu lama, lama hambar. Aku tidak ingin itu terjadi pada kita.”
Joko menggenggam kedua tangan Janah. “Jan, pernikahan itu kerja keras. Bukan hanya cinta. Tapi komitmen. Dan kita sudah membuktikan bahwa kita bisa melewati masa, masa sulit. Masa LDR, masa cemburu, masa fitnah. Kita masih bertahan. Itu artinya kita kuat.”
“Tapi aku takut...”
“Jangan takut. Kita hadapi bersama. Janji?”
Janah mengangguk. “Janji.”
Joko mengeluarkan selembar kertas dari saku celananya. Kertas itu sudah agak kusut, lipatannya tidak rapi. Tapi tulisannya rapi,jelas dia sudah berlatih.
“Jan, gue buatkan puisi. Untuk lo. Sebagai hadiah terakhir sebelum kita menikah.”
Janah terkejut. “Kamu masih suka menulis puisi?”
“Kadang. Cuma untuk lo.”
Joko membacakan puisi itu dengan suara lirih, kadang terbata, bata karena emosi.
Di Bawah Langit Kapuas, Aku Berjanji
Di bawah langit Kapuas yang luas
Aku berjanji pada bintang, bintang
Bahwa cintaku padamu
Takkan pernah redup oleh waktu
Meski dulu kita terpisah jarak
Meski dulu kita disakiti oleh takdir
Kita kembali lagi
Karena cinta tak pernah mati
Kini, di ambang pelaminan
Aku menggenggam tanganmu erat
Bukan hanya sebagai kekasih
Tapi sebagai imam bagimu selamanya
Janah, engkaulah rumahku
Tempatku pulang setelah lelah berlayar
Dan aku akan menjadi kapal yang setia
Membawamu ke pelabuhan bernama bahagia
Janah menangis. Air matanya mengalir deras.
“Tengil... itu indah sekali.”
“Lo suka?”
“Aku suka. Sangat.”
Mereka berpelukan di gazebo kecil itu. Angin sore bertiup lebih kencang. Daun, daun berguguran.
“Akhirnya gue bacakan puisi untuk Janah. Bukan puisi sembarangan. Tapi puisi yang gue tulis dari hati. Janah menangis. Gue senang. Bukan karena dia menangis, tapi karena dia terharu. Ini adalah momen yang akan gue ingat selamanya. Di gazebo ini, di Taman Hutan Kota ini, gue mengatakan bahwa dia adalah rumahku. Dan itu benar. Janah adalah rumahku. Tempatku pulang.”
“Joko membacakan puisi. Aku tidak menyangka. Dia masih menyimpan sisi romantisnya. Selama ini, dia lebih banyak menunjukkan sisi tegas dan pekerja kerasnya. Tapi malam ini, dia menunjukkan sisi lembutnya. Aku jatuh cinta lagi. Jatuh cinta pada Joko yang sama, tapi juga pada Joko yang baru. Dia telah dewasa. Dia telah berubah. Dan aku bangga menjadi calon istrinya.”
Setelah puisi, mereka berjalan, jalan mengelilingi taman. Tidak terburu, buru. Menikmati setiap sudut. Setiap pohon. Setiap hembusan angin.
“Tengil, kamu tahu? Aku tidak pernah membayangkan kita akan sampai di sini.”
“Sampai di mana?”
“Sampai di ambang pernikahan. Dulu, saat kita putus, aku pikir kita tidak akan pernah kembali.”
“Gue juga. Tapi takdir berkata lain.”
“Apakah kita ditakdirkan bersama?”
Joko berpikir sejenak. “Gue percaya takdir. Tapi gue juga percaya usaha. Takdir tanpa usaha hanya mimpi. Usaha tanpa takdir hanya perjuangan sia, sia. Kita berdua berusaha. Dan takdir mengizinkan.”
Janah tersenyum. “Kamu bijak.”
“Karena gue banyak belajar dari kesalahan.”
Di tengah perjalanan, mereka bertemu seorang anak kecil laki, laki, sekitar lima tahun, sedang bermain sendirian di dekat pohon besar. Wajahnya kotor, rambutnya acak, acakan, tapi matanya cemerlang.
“Kak, Kak!” teriak anak itu pada Janah.
“Iya, adik. Ada apa?”
“Cantik. Kakak cantik.”
Janah tersenyum. “Makasih, adik. Adik sendirian?”
“Ibu ke warung. Adik tunggu di sini.”
Joko mengamati anak itu. “Adik, kakak cowok ini ganteng nggak?”
Anak itu menatap Joko, lalu menggeleng. “Nggak. Item.”
Joko tertawa. “Item itu ganteng, dik.”
“Nggak. Item kayak arang.”
Janah tertawa terbahak, bahak. “Dik, jangan begitu. Nanti kakak ini marah.”
“Nggak marah. Adik jujur.”
Mereka bertiga tertawa. Tak lama kemudian, ibu anak itu datang. Seorang perempuan sederhana dengan kain sarung dan kerudung.
“Maaf, ya, Nak. Anak saya suka bicara seenaknya.”
“Nggak apa, apa, Bu. Lucu.”
Mereka berpamitan. Sepanjang jalan, Joko masih cemberut pura, pura.
“Item kayak arang, kata anak itu.”
Janah tertawa. “Kamu memang item. Tapi itemmu ganteng.”
“Bohong.”
“Bener. Aku suka itemmu.”
Joko tersenyum. “Jan, nanti kalau kita punya anak, semoga item kayak gue.”
“Amin. Tapi jangan tengil seperti kamu.”
“Tengil itu lucu.”
“Untuk ukuran anak kecil, tengil itu menggemaskan. Untuk ukuran suami, tengil itu menyebalkan.”
“Jadi gue menyebalkan?”
“Kadang. Tapi aku suka.”
Mereka tertawa.
Saat matahari mulai tenggelam, Joko mengajak Janah berdiri di bawah pohon beringin besar yang berada di tengah taman. Pohon itu usianya mungkin sudah puluhan tahun, batangnya besar, akarnya menjalar ke mana, mana.
“Jan, gue mau minta sesuatu.”
“Apa?”
“Berdiri di sini. Tutup mata.”
Janah menutup matanya.
“Sekarang, berdoa. Berdoa untuk pernikahan kita. Minta restu dari alam. Dari Tuhan.”
Janah berdoa dalam hati. Dia memohon agar pernikahannya dengan Joko diberkahi. Dijauhkan dari segala mara bahaya. Diberi keturunan yang sholeh dan sholehah. Diberi rezeki yang berkah.
Joko juga berdoa. Dengan mata terbuka, dia memandang Janah. Wajahnya terlihat begitu damai. Rambutnya yang tertiup angin terlihat indah.
“Tuhan, jaga dia. Jaga dia untukku. Dan jagalah aku untuknya.”
Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit berwarna jingga keemasan. Burung, burung terbang berpasangan.
Saat mereka duduk di bangku taman, menikmati senja, Janah teringat pada masa lalunya.
“Tengil, kamu ingat saat kita masih kecil? Kita sering bermain di halaman rumah, kejar, kejaran. Kamu selalu menang karena kamu cepat.”
“Gue ingat. Dan lo selalu nangis kalau kalah.”
“Karena kamu curang.”
“Gue nggak curang. Gue memang cepat.”
“Bohong. Kamu curang.”
“Terserah lo.”
Mereka tertawa.
“Tengil, apa kita akan bahagia?”
“Insya Allah, Jan. Kita akan bahagia. Karena kita sudah melewati masa, masa sulit. Dan kita bertahan.”
“Aku percaya.”
“Jan, gue minta janji lagi.”
“Apa lagi?”
“Setelah kita menikah, setiap tahun, kita harus kembali ke sini. Ke Taman Hutan Kota. Mengingat momen ini. Mengingat mengapa kita memilih satu sama lain.”
“Kenapa tempat ini? Kenapa tidak Jembatan Kapuas?”
“Karena Jembatan Kapuas adalah tempat kita berjanji dulu. Taman Hutan Kota adalah tempat kita berjanji untuk selamanya.”
Janah tersenyum. “Janji. Setiap tahun. Di sini.”
Mereka berkait kelingking. Tiga kali.
Lampu, lampu taman mulai menyala satu per satu. Joko dan Janah masih duduk di bangku taman, enggan pulang.
“Jan, kita pulang, yuk. Besok masih banyak persiapan.”
“Sebentar lagi. Aku masih ingin menikmati malam ini.”
“Takut setelah menikanti tidak bisa begini lagi?”
“Bukan. Tapi aku ingin mengingat momen ini. Momen ketika kita masih pacar. Momen ketika kita masih bisa duduk berdua tanpa beban.”
Joko menggenggam tangan Janah. “Setelah menikah, kita tetap bisa begini. Mungkin lebih sering. Karena kita akan tinggal serumah.”
“Kamu janji?”
“Janji.”
Jam menunjukkan pukul tujuh malam. Joko dan Janah akhirnya memutuskan untuk pulang. Mereka berjalan keluar taman bergandengan tangan. Sesekali saling berpandangan, tersenyum.
Di tempat parkir, Joko menyalakan motornya. Janah naik di belakang, memeluk pinggangnya.
“Tengil.”
“Apa?”
“Aku sayang kamu.”
“Gue juga sayang lo. Sampai kapan pun.”
Mereka melaju perlahan meninggalkan Taman Hutan Kota. Di belakang mereka, lampu, lampu taman terus menyala. Pepohonan besar berdiri kokoh, menjadi saksi bisu dari janji dua insan yang akan segera bersatu.
Taman Hutan Kota Kuala Kapuas bukanlah tempat wisata yang terkenal. Bukan tempat yang ramai dikunjungi. Tapi bagi Joko dan Janah, tempat ini akan selalu memiliki makna khusus. Di sinilah mereka mengucapkan janji terakhir sebagai sepasang kekasih. Di sinilah mereka berdoa untuk masa depan. Di sinilah mereka merasakan bahwa cinta sejati tidak selalu tentang tempat yang megah, tapi tentang ketulusan dua hati yang saling berlabuh.
Keesokan harinya, mereka akan sibuk dengan persiapan terakhir. Lusa, mereka akan menjadi suami istri. Tapi malam ini, malam ini adalah milik mereka berdua. Milik kenangan yang akan terus mereka simpan seumur hidup.
BAB 27
PERNIKAHAN DI BAWAH LANGIT KAPUAS
Tanggal 17 Agustus. Hari kemerdekaan Republik Indonesia. Joko sengaja memilih tanggal ini karena baginya, menikahi Janah adalah bentuk kemerdekaan, bebas dari masa lalu yang kelam, bebas dari keraguan, bebas untuk memulai lembaran baru.
Pagi itu, Joko bangun pukul empat. Tidak seperti biasanya yang malas, malasan, hari ini dia bersemangat. Dia mandi dengan air dingin, menggosok badannya hingga bersih. Mak Dhijah sudah menyiapkan pakaiannya, jas hitam dengan kupu, kupu merah, warna kebanggaan Janah.
“Joko, hari ini kamu akan menikah. Ibu bangga,” kata Mak Dhijah sambil menangis.
“Mak, jangan nangis. Nanti Joko ikut nangis.”
“Ini tangis bahagia, Nak. Ibu sudah menanti momen ini sejak kamu masih dalam kandungan. Akhirnya... akhirnya.”
Joko memeluk ibunya. “Makasih, Mak. Untuk semuanya.”
Mak Dhijah mengusap air matanya. “Jangan lupa sarapan. Kamu harus kuat hari ini.”
Joko makan dengan lahap, nasi putih, telur dadar, dan sambal terasi. Sesederhana itu. Tapi baginya, ini adalah sarapan paling istimewa dalam hidupnya.
Di rumah sebelah, Janah juga sudah siap. Mba Dewi dan beberapa teman kantornya datang untuk membantu merias. Janah memilih riasan yang sederhana, tidak terlalu tebal, tidak terlalu tipis. Dia ingin terlihat seperti dirinya sendiri.
“Jan, kamu cantik banget. Joko pasti terpana,” kata Mba Dewi.
“Makasih, Mba. Deg, degan.”
“Wajar. Semua calon pengantin deg, degan. Tapi kamu sudah melewati banyak ujian. Pernikahan ini hanya formalitas. Sebenarnya kalian sudah menjadi suami istri dari hati.”
Janah tersenyum. Dia benar. Hubungan mereka sudah terlalu matang untuk hanya sekadar pesta. Tapi tetap saja, hari ini terasa berbeda.
Mak Amin masuk ke kamar. Dia memeluk Janah.
“Nak, ibu titip pesan. Jadilah istri yang sholehah. Hormati suamimu. Tapi jangan kehilangan jati dirimu. Joko laki, laki baik. Dia akan menjagamu. Ibu yakin.”
“Mak, Janah akan merindukan Mak.”
“Ibu di sini. Rumah kita bersebelahan. Setiap hari bisa ketemu.”
Mereka tertawa. Rumah yang bersebelahan memang menjadi berkah tersendiri.
Akad nikah dilangsungkan di Masjid Agung Kuala Kapuas. Masjid itu dipilih karena Joko dan Janah ingin pernikahan mereka diberkahi oleh Allah. Juga karena masjid adalah tempat yang sakral, jauh dari gemerlap pesta yang sementara.
Pukul sembilan pagi, Joko sudah duduk di kursi pengantin di depan penghulu. Wajahnya tegang. Tangannya sedikit gemetar.
“Joko, kenapa gemetar?” bisik Budi yang bertugas sebagai saksi.
“Gue gugup, Bi. Ini pertama kalinya gue menikah.”
“Ya iya, cuma sekali seumur hidup. Kecuali kamu mau poligami.”
“Diam, lo.”
Janah masuk didampingi oleh Bapak Jayadi. Wajahnya tertutup kerudung putih. Joko tidak bisa melihat ekspresinya, tapi dia tahu Janah juga gugup.
Penghulu, Pak Makmur (orang yang sama yang dulu menolak berkas mereka), tersenyum ramah.
“Bapak Joko Prayitno, apakah Bapak bersedia menikahi Siti Nurjanah binti Jayadi dengan maskawin berupa seperangkat alat sholat dan uang tunai sebesar satu juta rupiah, dibayar tunai?”
Joko mengambil napas panjang. “Saya terima nikahnya Siti Nurjanah binti Jayadi dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.”
“Sah” Kata para saksi
“Sah,” kata Pak Makmur.
Para saksi lain yang hadir mengamini. Keluarga yang hadir mengucapkan takbir.
Janah menangis di balik kerudungnya.
Joko juga menangis.
Setelah akad, Joko dan Janah saling berpandangan. Kerudung Janah sudah disingkap. Wajahnya basah oleh air mata.
“Jan, lo nangis lagi.”
“Kamu juga.”
“Gue nangis bahagia.”
“Aku juga.”
Mereka tertawa sambil menangis.
Mak Amin dan Mak Dhijah memeluk mereka bergantian.
“Selamat, Nak. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warahmah.”
“Aamiin,” jawab semua yang hadir.
Paman Rahman yang hadir—meskipun awalnya menentang—kini tersenyum. Dia mendekati Joko.
“Joko, Om minta maaf. Dulu Om meragukanmu. Ternyata Om salah. Kamu laki, laki yang bertanggung jawab.”
“Om, Joko tidak menyimpan dendam. Joko justru berterima kasih. Karena Om, Joko termotivasi untuk menjadi lebih baik.”
Mereka berpelukan.
Resepsi pernikahan digelar di halaman rumah Mak Amin. Sederhana. Tidak ada gedung mewah, tidak ada dekorasi berlebihan. Hanya tenda putih, kursi plastik, dan katering sederhana, nasi kuning, ayam goreng, sambal goreng ati, dan sayur labu.
Tapi suasana meriah.
Tetangga, tetangga datang. Teman, teman SMA, SMP, SD, bahkan guru, guru lama. Pak Darmawan, guru matematika yang dulu bangga pada Joko, hadir dengan membawa kado.
“Joko, saya bangga. Kamu membuktikan bahwa anak nakal sekalipun bisa sukses. Baik dalam karier maupun cinta.”
“Terima kasih, Pak.”
Bu Sri, guru SD yang dulu menjodohkan mereka dalam doa, juga hadir. Dia memeluk Joko dan Janah.
“Ibu tidak pernah salah. Kalian memang jodoh.”
Janah menangis lagi. “Makasih, Bu. Doa Bu Sri selalu menyertai kami.”
Joko dan Janah duduk di pelaminan sederhana, kursi kayu yang dihias dengan kain batik dan bunga kertas. Tidak seperti pelaminan kebanyakan yang megah dan mewah, pelaminan ini sederhana. Tapi bagi mereka, itu adalah singgasana cinta yang paling berharga.
Satu per satu tamu datang memberikan ucapan selamat. Ada yang memberikan amplop, ada yang memberikan kado, ada yang hanya memberikan doa.
Saat giliran Budi, dia memeluk Joko erat.
“Jok, gue seneng banget. Lo akhirnya menikah sama Janah.”
“Makasih, Bi. Lo sahabat terbaik.”
“Lo juga. Jangan lupa traktir gue nanti.”
“Siap.”
Mba Dewi juga datang. “Jan, semoga langgeng. Jangan lupa, kalau Joko jail, lapor sama aku. Aku palak dia.”
Janah tertawa. “Siap, Mba.”
Di tengah resepsi, Joko meminta mikrofon. Semua tamu terdiam.
“Assalamu'alaikum. Saya Joko. Calon suami, eh, sudah jadi suami Janah. Saya mau membacakan puisi. Untuk istri saya.”
Janah terkejut. “Tengil, ini di depan banyak orang!”
“Biarkan. Ini momen sekali seumur hidup.”
Joko membacakan puisi yang sama seperti di Taman Hutan Kota, dengan sedikit tambahan.
Di bawah langit Kapuas yang luas
Kini kau resmi menjadi istriku
Bukan hanya dalam mimpi
Tapi dalam nyata yang nyata
Janah, engkaulah hadiah terindah
Yang Tuhan berikan untukku
Setelah sekian lama tersesat
Kau menjadi kompas yang membawaku pulang
Mari kita bangun istana
Bukan dari batu dan besi
Tapi dari cinta dan pengampunan
Dari tawa dan air mata yang kita bagi bersama
Selamat datang di hidupku, istriku
Dan selamat tinggal, masa lajangku
Karena bersamamu
Setiap hari adalah kemerdekaan
Semua tamu bertepuk tangan. Beberapa perempuan menangis terharu.
Janah berdiri. Dia memeluk Joko di depan semua orang.
“Aku sayang kamu, Tengil. Sampai mati.”
“Gue juga. Sampah... eh, sampai mati.”
Semua tertawa.
Janah tidak mau kalah. Dia juga meminta mikrofon.
“Saya juga mau bacakan sesuatu. Bukan puisi, karena saya tidak pandai membuat puisi. Tapi surat. Surat untuk suami saya.”
Joko terkejut.
Janah membuka selembar kertas. Tangannya gemetar.
“Untuk Joko, suamiku.
Aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Waktu itu kita masih bayi. Ibu kita sudah menjodohkan kita sejak dalam kandungan. Aku tidak tahu apakah itu cinta pada pandangan pertama—karena bayi tidak tahu apa, apa. Tapi yang aku tahu, seiring waktu, aku jatuh cinta padamu.
Kamu tengil. Kamu suka jail. Kamu sering bikin aku nangis. Tapi kamu juga selalu melindungiku. Kamu adalah orang pertama yang membelaku saat aku diganggu. Kamu adalah orang yang membuat masa kecilku berwarna.
Kita pernah berpisah. Kita pernah terluka. Kita pernah mencintai orang lain. Tapi pada akhirnya, kita kembali. Bukan karena terpaksa, tapi karena memilih.
Aku memilih kamu, Joko. Bukan karena kamu sempurna. Tapi karena kamu adalah kamu. Dan aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kamu.
Selamat datang di hidupku, suamiku. Mari kita jalani sisa hidup ini bersama. Suka dan duka. Sehat dan sakit. Kaya dan miskin. Sampai maut memisahkan.
Aku sayang kamu. Selamanya.
Janah, istrimu.”
Semua tamu menangis. Joko juga. Dia memeluk Janah erat, erat.
“Janah, lo... lo hebat.”
“Aku belajar dari kamu.”
Mereka berpelukan di pelaminan.
“Janah membacakan surat. Surat yang tidak pernah gue duga. Dia bilang dia memilih gue. Bukan karena terpaksa. Tapi karena memilih. Itu adalah kata, kata yang paling indah yang pernah gue dengar. Selama ini gue merasa tidak pantas. Tapi Janah bilang, dia memilih gue. Bukan karena gue sempurna. Tapi karena gue adalah gue. Sekarang gue mengerti. Cinta bukan tentang menjadi yang terbaik. Tapi tentang menjadi diri sendiri, dan diterima apa adanya. Terima kasih, Jan. Terima kasih sudah memilihku.”
“Joko membacakan puisi. Aku membacakan surat. Kami berdua menangis. Semua orang menangis. Ini adalah pernikahan yang tidak akan pernah aku lupakan. Bukan karena pestanya mewah. Tapi karena cintanya nyata. Aku tidak pernah membayangkan bisa sebahagia ini. Setelah semua luka, setelah semua air mata, akhirnya kami sampai di sini. Sebagai suami istri. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mempertemukanku dengan Joko.”
Setelah acara inti selesai, sesi foto bersama dimulai. Joko dan Janah berpose dengan keluarga inti: Mak Dhijah, Bapak Sarimin, Mak Amin, Bapak Jayadi, dan saudara, saudara.
Mak Dhijah dan Mak Amin berdiri di samping Joko dan Janah. Wajah mereka berseri, seri.
“Akhirnya, kita besan,” kata Mak Dhijah.
“Iya, Mak Dhijah. Perjodohan yang kita rencanakan sejak tiga puluh tahun lalu, akhirnya terwujud.”
“Ini bukan perjodohan, Mak Amin. Ini takdir.”
Mereka berpelukan.
Budi, Mba Dewi, dan teman, teman lainnya bergantian berfoto dengan pengantin. Ada yang serius, ada yang lucu.
“Jok, cium dong istrimu! Biar ada yang buat story!” teriak Budi.
Joko tersipu. “Nanti aja. Di rumah.”
“Apaan. Di sini aja.”
Janah tertawa. “Biar aku yang cium.”
Janah mencium pipi Joko. Semua bersorak.
Malam pertama. Joko dan Janah meninggalkan resepsi sekitar pukul sembilan malam. Mereka lelah, tapi bahagia.
Rumah yang akan mereka tempati, rumah sederhana di belakang rumah Mak Dhijah, telah siap. Rumah itu kecil. Hanya dua kamar, ruang tamu, dapur, dan satu kamar mandi. Tapi itu milik mereka.
Joko membuka pintu. Janah masuk terlebih dahulu.
“Selamat datang di rumah kita, Istriku.”
“Terima kasih, Suamiku.”
Mereka berpelukan di ruang tamu yang masih kosong—belum ada sofa, hanya ada karpet dan beberapa bantal.
“Tengil, apa kita akan bahagia di sini?”
“Kita akan membuatnya bahagia, Jan. Rumah bukan tentang mewah atau tidak. Tapi tentang cinta yang menghuninya.”
Janah tersenyum. “Kamu bijak.”
“Karena punya istri bijak.”
Mereka tertawa. Malam itu, mereka bercerita tentang mimpi, mimpi mereka. Tentang anak, anak yang akan lahir. Tentang hari tua nanti. Tentang segala hal.
Dan ketika Janah tertidur di pelukan Joko, dia tersenyum. Akhirnya, setelah perjalanan panjang yang berliku, dia ada di tempat yang tepat. Di pelukan laki, laki yang tepat.
Pagi harinya, Joko bangun lebih dulu. Dia melihat Janah yang masih tidur. Wajahnya damai. Rambutnya berantakan.
“Dia cantik. Bahkan saat tidur sekalipun.”
Joko pergi ke dapur. Dia membuat kopi dan menggoreng telur. Sarapan sederhana.
Janah terbangun oleh aroma kopi.
“Tengil? Kamu masak?”
“Iya. Selamat pagi, Istriku.”
“Selamat pagi, Suamiku.”
Mereka sarapan bersama di dapur kecil. Tidak mewah. Tapi hangat.
Setelah sarapan, mereka berkeliling kompleks untuk bersilaturahmi dengan tetangga. Tradisi ini disebut "nyebar" atau "ngunduh mantu"—pengantin baru mengunjungi tetangga untuk memperkenalkan diri.
Tetangga, tetangga menyambut mereka dengan hangat. Ada yang memberi beras, ada yang memberi gula, ada yang memberi doa.
“Semoga cepat punya momongan,” doa Bu RT.
“Aamiin,” jawab Joko dan Janah serempak.
Mereka tertawa.
Beberapa hari setelah pernikahan, Joko dan Janah mulai mengatur kehidupan baru mereka. Joko tetap mengelola bengkel. Janah tetap bekerja di Dinas Kominfo. Tidak banyak yang berubah dari rutinitas mereka—kecuali mereka pulang ke rumah yang sama.
Setiap malam, mereka makan bersama. Kadang di rumah mereka, kadang di rumah Mak Dhijah atau Mak Amin.
Setiap pagi, mereka berangkat kerja bersama. Joko mengantar Janah ke kantor, lalu melanjutkan ke bengkel.
Setiap akhir pekan, mereka melakukan sesuatu yang istimewa. Kadang ke Dermaga KP3, kadang ke Danau Mare, kadang ke Taman Simpang Adipura.
Taman Hutan Kota juga sering mereka kunjungi. Tempat itu menjadi pengingat akan janji mereka untuk selalu kembali.
Tiga bulan setelah pernikahan, Janah merasa mual setiap pagi. Mak Amin yang curiga membawanya ke bidan.
Hasilnya? Janah positif hamil.
Joko menangis saat mendengar kabar itu.
“Jan, gue akan jadi ayah?”
“Iya, Tengil. Kamu akan jadi ayah.”
“Gue nggak percaya.”
“Kamu harus percaya. Ini nyata.”
Mereka berpelukan.
Joko dan Janah mulai mempersiapkan kamar untuk calon buah hati. Joko membuatkan tempat tidur bayi dengan tangannya sendiri. Janah memilih cat berwarna kuning, netral, karena mereka belum tahu jenis kelamin bayinya.
Mak Dhijah dan Mak Amin sibuk membantu. Membelikan baju bayi, popok, perlengkapan mandi.
“Ini cucu pertama saya,” kata Mak Dhijah bangga.
“Juga cucu pertama saya,” timpal Mak Amin.
Mereka bersaing untuk memanjakan calon cucu.
Langit Kapuas tetap seperti dulu. Luas. Biru. Tenang. Tapi bagi Joko dan Janah, langit itu terasa berbeda. Karena kini, mereka melihatnya bersama. Sebagai suami istri. Sebagai calon ayah dan ibu.
Perjalanan cinta mereka panjang dan berliku. Ada air mata. Ada pengkhianatan. Ada perpisahan. Ada keraguan. Tapi pada akhirnya, cinta yang tulus selalu menemukan jalannya.
Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Pasti akan ada tantangan baru. Pasti akan ada badai baru. Tapi mereka tidak takut. Karena mereka akan menghadapinya bersama.
Di bawah langit Kapuas, mereka berdua tersenyum. Bukan lagi sebagai sepasang kekasih yang bimbang. Tapi sebagai suami istri yang siap mengarungi bahtera rumah tangga.
Akhirnya, setelah sekian lama menanti, cinta itu pulang ke rumah.
BAB 28
BUAH CINTA – PUTRA SADEWA DAN DIAH PITALOKA
Tiga bulan pertama kehamilan Janah adalah masa yang penuh dengan adaptasi. Tubuhnya berubah. Mood, nya naik turun. Kadang dia bersemangat luar biasa, kadang dia menangis tanpa alasan yang jelas. Joko yang awalnya bingung, akhirnya belajar untuk bersabar.
“Jan, lo kenapa nangis? Ada apa?”
“Aku nggak tahu. Aku cuma nangis.”
“Tapi nggak ada masalah?”
“Nggak ada. Aku cuma... senang.”
Joko menghela napas. “Senang kok nangis?”
“Aku juga bingung.”
Joko tersenyum. Dia memeluk Janah. “Nggak apa, apa. Gue akan selalu ada untuk lo. Nangis atau ketawa. Senang atau sedih.”
Janah tersenyum di sela, sela tangisnya. “Makasih, Tengil. Kamu sabar banget.”
“Gue belajar. Dulu gue nggak sabaran. Sekarang gue harus sabar karena lo lagi hamil.”
Mereka tertawa. Kebersamaan mereka semakin erat sejak kehamilan ini.
Di bengkel, Joko mulai membagi tugas dengan Budi. Dia tidak bisa bekerja terlalu larut karena harus menemani Janah. Para pelanggan memahami.
“Bos, lo sekarang jadi ayah. Wajar kalau pulang lebih awal,” kata Budi.
“Makasih, Bi. Lo jadi tangan kanan gue.”
“Ya iyalah. Siapa lagi?”
Memasuki bulan ketujuh, Janah mulai cuti hamil. Dinas Kominfo memberinya cuti tiga bulan sebelum melahirkan dan tiga bulan setelahnya. Janah menghabiskan waktu di rumah dengan mempersiapkan segala sesuatu untuk calon bayinya.
Joko membangun kamar bayi di rumah mereka. Dindingnya dicat kuning lembut. Ada gambar, gambar hewan lucu yang ditempel. Tempat tidur bayi yang Joko buat sendiri sudah terpasang. Lemari kecil berisi baju, baju bayi yang baru dibeli.
Mak Dhijah dan Mak Amin bergantian datang membantu. Mak Dhijah sibuk dengan masakan untuk Janah, makanan bergizi untuk ibu hamil. Mak Amin sibuk dengan jahitan, selimut, bantal, dan gendongan bayi.
“Mak Dhijah, kamu jahitnya rapi banget,” puji Janah.
“Iya, ini untuk cucuku. Harus rapi.”
“Kamu sudah tahu jenis kelaminnya?”
“Belum. Nanti saja, biar surprise.”
Mereka tertawa.
Menjelang kelahiran anak pertama mereka, Joko berubah. Dia tidak lagi terlihat sebagai "Si Tengil" yang dulu dikenal suka jail dan bercanda. Kini, dia adalah seorang calon ayah yang serius dan bertanggung jawab.
Setiap pagi, dia menyiapkan sarapan untuk Janah sebelum berangkat ke bengkel. Setiap malam, dia memijat kaki Janah yang mulai bengkak. Dia juga rajin membaca buku tentang kehamilan dan perawatan bayi—buku yang dipinjamkan dari perpustakaan Dinas Kominfo.
“Tengil, kamu baca buku itu serius banget,” komentar Janah.
“Gue harus tahu. Ini anak pertama kita. Gue nggak mau gagal.”
“Kamu nggak akan gagal. Kamu ayah yang baik.”
Joko tersenyum. “Makasih, Jan.”
“Gue akan menjadi ayah. Gue nggak pernah membayangkan hal ini. Dulu, waktu gue masih anak, anak, gue cuma mikir bagaimana cara menjahili Janah. Sekarang, gue mikir bagaimana menjadi ayah yang baik untuk anak kami. Gue takut. Tapi gue juga siap. Karena Janah ada di samping gue. Dia akan membantuku. Kita akan belajar bersama.”
“Aku akan melahirkan anak pertama kami. Aku takut. Tapi aku juga bahagia. Joko berubah menjadi laki, laki yang dewasa. Dia sabar. Dia perhatian. Dia tidak lagi cemburu buta. Aku yakin dia akan menjadi ayah yang baik. Dan aku akan menjadi ibu yang baik untuk anak kita.”
Pada suatu malam di bulan Februari, hujan turun deras di Kuala Kapuas. Janah terbangun pukul dua dini hari karena merasakan kontraksi yang kuat.
“Tengil! Tengil! Aku... kayaknya aku mau melahirkan!”
Joko yang tertidur di sampingnya langsung bangun. Matanya masih sayu, tapi dia segera sadar.
“Sekarang? Lo yakin?”
“Yakin! Cepat panggil bidan!”
Joko bergegas ke rumah Mak Dhijah. Mak Dhijah sudah terbangun karena suara hujan. Begitu mendengar kabar itu, dia langsung sigap.
“Joko, bawa Janah ke puskesmas. Ibu nyusul.”
Joko menggendong Janah, perutnya yang besar membuatnya agak kesulitan, tapi dia berhasil membawanya ke motor. Mereka melaju pelan tapi pasti menuju puskesmas.
Proses persalinan berlangsung selama empat jam. Janah menjerit kesakitan. Joko menunggu di luar dengan gelisah. Dia berdoa. Dia mondar, mandir. Dia menggigit kuku.
Mak Dhijah dan Mak Amin datang menyusul. Mereka menemani Joko.
“Joko, sabar. Semua akan baik, baik saja,” kata Mak Dhijah.
“Joko takut, Mak. Takut kenapa, kenapa dengan Janah.”
“Janah kuat. Dia anak yang kuat.”
Pada pukul enam pagi, terdengar suara tangis bayi dari dalam ruang bersalin.
Joko tersentak. “Itu... itu suara bayi?”
“Iya, Nak. Itu suara cucuku,” kata Mak Amin sambil menangis.
Bidan keluar dengan senyum lebar. “Selamat, Bapak. Ibu dan bayi sehat. Bayi laki, laki. Berat 3,2 kilogram.”
Joko lemas. Dia hampir jatuh, tapi Mak Dhijah menahannya.
“Joko, kamu sekarang jadi ayah.”
Joko masuk ke ruang bersalin. Janah terbaring lemas, tapi matanya bersinar. Di sampingnya, terbaring seorang bayi mungil dengan wajah merah keriput.
“Jan, lo hebat.”
“Kamu lihat anak kita, Tengil? Dia mirip kamu.”
“Iya. Item kayak gue.”
Janah tertawa lemas. “Kamu ini.”
Joko menggendong bayinya untuk pertama kalinya. Tangannya gemetar.
“Halo, Nak. Ayo Bapakmu. Bapakmu Joko. Ini Ibumu Janah. Kami sudah lama menunggumu.”
Bayi itu menangis. Joko ikut menangis.
Tujuh hari setelah kelahiran, diadakan acara tasmiyah atau pemberian nama. Keluarga besar berkumpul di rumah Joko dan Janah.
Joko berdiri di depan semua tamu. “Kami beri nama anak kami: Putra Sadewa.”
“Putra Sadewa,” ulang Mak Amin. “Nama yang bagus. Artinya anak lelaki yang setia.”
“Semoga dia menjadi anak yang sholeh, setia pada agama, orang tua, dan kelak pada pasangannya,” tambah Mak Dhijah.
Semua hadirin mengucapkan aamiin.
Putra Sadewa—si kecil dengan rambut hitam tipis dan kulit sawo matang—hanya menangis sebentar lalu tidur. Seolah dia setuju dengan namanya.
Menjadi ayah adalah peran baru bagi Joko. Dia tidak punya pengalaman. Dulu, dia hanya membantu Bapak Sarimin di bengkel. Kini, dia harus mengganti popok, menyusui (meskipun hanya membantu menyiapkan botol), dan begadang saat bayi menangis.
Awalnya, Joko kewalahan.
“Jan, kenapa dia nangis terus?”
“Mungkin lapar. Atau popoknya basah. Atau kedinginan. Atau kepanasan. Atau hanya ingin digendong.”
“Banyak amat penyebabnya.”
Janah tertawa. “Itulah bayi, Tengil. Mereka belum bisa bicara. Jadi kita harus belajar memahami.”
Joko belajar dengan sabar. Setiap kali Putra Sadewa menangis, dia mencoba satu per satu kemungkinan.
Apakah popoknya basah? Cek. Kering.
Apakah dia lapar? Coba beri susu. Tidak mau.
Apakah dia kedinginan? Selimuti. Masih nangis.
Apakah dia kepanasan? Buka selimut. Masih nangis.
Apakah dia ingin digendong? Joko menggendongnya. Putra Sadewa diam.
“Jadi cuma ingin digendong? Dasar tengil, kayak bapaknya.”
Janah tertawa. “Dia mirip kamu banget.”
“Yang baik dong.”
“Iya. Yang baik.”
Ketika Putra Sadewa berusia dua tahun, Janah hamil lagi. Kali ini, Joko lebih siap. Dia tidak lagi panik seperti dulu. Dia sudah punya pengalaman sebagai ayah.
Kehamilan kedua berjalan lebih lancar. Janah tidak sepusing dulu. Mungkin karena tubuhnya sudah terbiasa.
Pada bulan Desember, Diah Pitaloka lahir. Bayi perempuan dengan berat 3 kilogram. Wajahnya mirip Janah, kuning langsat, hidung mancung, bibir tipis.
Joko menggendongnya dengan hati, hati. “Diah Pitaloka. Cantik namanya.”
“Artinya bunga yang harum,” kata Janah.
“Semoga dia menjadi perempuan yang harum akhlaknya, seperti ibunya.”
Janah tersenyum. “Kamu romantis kalau lagi begitu.”
“Gue memang romantis. Cuma kadang lo nggak sadar.”
Putra Sadewa awalnya cemburu pada adik perempuannya. Dia tidak terbiasa berbagi perhatian. Setiap kali Joko atau Janah menggendong Diah, dia merengek dan minta digendong juga.
“Sade, ini adikmu. Kamu harus sayang sama dia,” kata Joko.
“Nggak mau. Adek nggak lucu.”
“Tapi dia adikmu. Darah dagingmu.”
Putra Sadewa diam. Dia menatap adiknya. Diah Pitaloka yang masih merah membalas tatapannya dengan polos.
Lalu, tiba, tiba, Putra Sadewa mencium pipi adiknya.
“Adek lucu juga.”
Janah menangis haru. “Dia mulai sayang sama adiknya.”
Joko tersenyum. “Keluarga kita semakin lengkap.”
Dengan dua anak, kehidupan Joko dan Janah semakin sibuk. Joko masih mengelola bengkel. Janah kembali bekerja di Dinas Kominfo setelah cuti melahirkan usai. Mereka harus pandai, pandai membagi waktu.
Setiap pagi, Joko mengantar Putra Sadewa ke PAUD. Janah mengurus Diah Pitaloka yang masih bayi, dibantu oleh Mak Dhijah atau Mak Amin. Sore harinya, mereka bergantian menjemput anak.
Malam adalah waktu keluarga. Mereka makan bersama, bermain bersama, dan sesekali menonton televisi bersama.
“Tengil, kita sibuk banget. Aku kadang kangen waktu kita masih pacaran, bisa jalan, jalan kapan saja.”
“Iya. Tapi sekarang kita punya anak. Tanggung jawab kita bertambah. Itu artinya kebahagiaan kita juga bertambah.”
Janah tersenyum. “Kamu benar.”
“Gue kan selalu benar.”
“Kadang.”
Mereka tertawa.
“Dulu, gue takut menikah. Gue takut tidak bisa menjadi suami yang baik. Lalu gue takut menjadi ayah. Gue takut tidak bisa menjadi panutan bagi anak, anak gue. Tapi sekarang, gue sadar. Ketakutan itu wajar. Semua orang tua baru pasti mengalaminya. Yang penting, gue belajar setiap hari. Belajar dari kesalahan. Belajar dari Janah. Belajar dari anak, anak. Dan yang terpenting, gue tidak sendirian. Kami sekeluarga. Bersama.”
“Joko adalah suami yang baik. Dia juga ayah yang baik. Dia sabar menghadapi Putra Sadewa yang tengil. Dia juga lembut pada Diah Pitaloka. Aku tidak salah memilihnya. Dulu, banyak yang meragukan. Tapi Joko membuktikan bahwa dia pantas. Bukan pantas di mata dunia, tapi pantas di mata Tuhan dan di hatiku.”
Joko dan Janah sepakat untuk mendidik anak, anak mereka dengan nilai, nilai Kapuas. Sederhana. Jujur. Kerja keras. Cinta tanah air.
Setiap akhir pekan, mereka membawa anak, anak ke tempat, tempat yang dulu menjadi saksi perjuangan cinta mereka: Jembatan Kapuas, Dermaga KP3, Dermaga Danau Mare, Taman Simpang Adipura, dan Taman Hutan Kota.
“Sade, ini tempat Bapak dan Ibu dulu berjanji. Waktu masih kecil.”
“Janji apa?”
“Janji untuk saling menunggu.”
“Kenapa harus nunggu? Kenapa nggak langsung bersama?”
Joko tersenyum. “Karena takdir belum mengizinkan. Kita harus sabar. Seperti Bapak dulu sabar menunggu Ibu.”
Putra Sadewa mengangguk meskipun belum sepenuhnya mengerti.
Diah Pitaloka tumbuh menjadi anak yang manja. Dia selalu ingin digendong. Dia selalu ingin dekat dengan Joko.
“Bapak, Diah mau gendong.”
“Sebentar, Nak. Bapak sedang sibuk.”
“Nggak mau. Sekarang.”
Joko menghela napas. Tapi dia tetap menggendong Diah sambil bekerja. Diah tertawa senang.
Janah melihat dari kejauhan. “Diah, jangan ganggu Bapak.”
“Nggak ganggu. Diah bantu Bapak.”
“Bantu apa?”
“Bantu... duduk.”
Semua tertawa. Diah memang memiliki bakat melawak seperti Joko.
Putra Sadewa mulai menunjukkan sifat tengil—warisan dari Joko. Di PAUD, dia sering mengganggu teman, temannya. Menyembunyikan mainan, menarik rambut anak perempuan, dan berbicara seenaknya.
Janah dipanggil guru PAUD.
“Bu Janah, Putra Sadewa sering mengganggu teman, temannya.”
Janah menghela napas. “Saya minta maaf, Bu. Saya akan bicara dengan suami.”
Di rumah, Janah melaporkan pada Joko.
“Tengil, anakmu mulai tengil.”
“Anak kita.”
“Iya, tapi sifat tengilnya dari kamu.”
Joko tertawa. “Biarkan. Nanti akan tumbuh menjadi baik seperti bapaknya.”
“Kamu tidak baik. Kamu tengil.”
“Tapi lo tetap menikah dengan gue.”
Janah tidak bisa membantah.
Meskipun Putra Sadewa tengil, dia sangat mengagumi Joko. Setiap kali Joko pulang kerja, dia berlari menyambut.
“Bapak pulang! Bapak bawain apa?”
“Bapak bawain pelukan.”
“Pelukan doang?”
“Kamu kurang?”
“Kurang. Bapak harus bawain mainan.”
Joko tertawa. “Kamu tengil, ya.”
“Dari Bapak.”
Joko tidak bisa marah. Dia justru bangga. Dia berusaha menjadi panutan yang baik. Tidak dengan omongan, tapi dengan keteladanan.
Dia mengajarkan Putra Sadewa tentang kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab. Setiap malam, dia membacakan cerita sebelum tidur.
“Bapak, cerita tentang Bapak dan Ibu dulu.”
“Mau dengar?”
“Mau.”
Joko bercerita tentang masa kecilnya dengan Janah. Tentang dijodohkan sejak dalam kandungan. Tentang perpisahan saat Janah kuliah di Jawa. Tentang pertemuan kembali di Taman Simpang Adipura.
Putra Sadewa mendengarkan dengan mata berbinar. “Bapak sabar ya, nunggu Ibu lama.”
“Iya. Karena Bapak sayang sama Ibu.”
“Diah juga sayang sama Bapak.”
“Bapak juga sayang sama Diah.”
Mereka berpelukan.
Diah Pitaloka mulai berbicara lebih cepat dari anak seusianya. Pada usia satu setengah tahun, dia sudah bisa merangkai kalimat.
“Bapak, Diah mau es kelapa.”
“Kamu tahu es kelapa?”
“Ibu sering cerita. Ibu bilang, Bapak suka es kelapa.”
Joko tersenyum. “Ibu cerita tentang Bapak?”
“Iya. Ibu cerita Bapak baik. Bapak suka jagung bakar. Bapak suka sate kelinci. Bapak suka Diah.”
Joko memeluk Diah. “Ibu benar. Bapak suka Diah. Paling suka.”
Lima tahun berlalu. Putra Sadewa kini berusia tujuh tahun, duduk di kelas 1 SD. Diah Pitaloka berusia lima tahun, masuk TK.
Kehidupan Joko dan Janah semakin mapan. Bengkel "Tengil Jaya" telah berkembang menjadi bengkel terbesar di Kuala Kapuas, dengan sepuluh mekanik dan dua cabang. Joko kini lebih banyak mengelola manajemen, sementara operasional sehari, hari dipercayakan pada Budi.
Janah naik jabatan menjadi Kepala Bidang Humas di Dinas Kominfo Kabupaten Kapuas. Namanya dikenal sebagai pejabat yang integritas dan inovatif.
Mereka membangun rumah baru, lebih besar dari sebelumnya. Bukan rumah mewah, tapi cukup nyaman untuk keluarga kecil mereka. Ada halaman untuk anak, anak bermain, ada taman kecil dengan bunga, bunga yang ditanam Janah, dan ada gazebo untuk bersantai.
Setiap malam minggu, mereka makan malam bersama. Kadang di rumah, kadang di Dermaga KP3, kadang di tempat lain.
Setiap tahun, mereka kembali ke Taman Hutan Kota. Mengenang janji yang mereka buat dulu. Bersyukur atas semua yang telah Tuhan berikan.
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka adalah buah cinta dari perjalanan panjang yang berliku. Mereka bukan hanya anak biologis Joko dan Janah, tapi juga simbol dari perjuangan, kesabaran, dan ketulusan.
Joko sering berkata pada anak, anaknya, “Kalian ada di dunia ini karena Bapak dan Ibu tidak pernah menyerah. Meski terpisah jarak, meski banyak yang meragukan, meski kadang ingin menyerah, Bapak dan Ibu tetap bertahan. Karena cinta.”
Janah menambahkan, “Dan karena Tuhan menghendaki kita bersama.”
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka tumbuh dengan penuh cinta. Mereka belajar dari orang tua mereka bahwa cinta sejati itu ada. Tidak mudah. Tapi ada.
Dan di bawah langit Kapuas yang luas, keluarga kecil itu terus melangkah. Menatap masa depan dengan senyum. Karena mereka tahu, apa pun yang terjadi, mereka akan selalu bersama.
BAB 29
USIA SENJA – MENGENANG KEMBALI
Waktu berjalan tanpa permisi. Seperti air Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir, begitu pula kehidupan Joko dan Janah. Kini, mereka berdua sudah memasuki usia senja. Rambut Joko yang dulu hitam legam kini berubah menjadi putih di bagian pelipis. Janah yang dulu rambutnya panjang hitam terurai, kini lebih sering disanggul pendek dengan sedikit uban yang mulai bermunculan.
Joko telah pensiun dari mengelola bengkel. Usaha yang dirintis dari nol itu kini diteruskan oleh Putra Sadewa, anak pertama mereka. Putra Sadewa, yang dulu kecil tengil seperti ayahnya, kini telah tumbuh menjadi laki, laki dewasa yang bertanggung jawab. Dia lulusan teknik mesin dari Universitas Palangka Raya dan berhasil mengembangkan bengkel keluarga menjadi lebih besar.
Sementara Diah Pitaloka, si bungsu yang manja, kini menjadi seorang dokter gigi. Dia membuka praktik di Kuala Kapuas, dekat dengan orang tuanya. Diah menikah dengan seorang pemuda Kapuas asli bernama Renal, seorang guru SMA yang baik hati dan sabar.
Joko dan Janah kini tinggal berdua di rumah yang sama—rumah yang mereka bangun puluhan tahun lalu. Rumah itu telah beberapa kali direnovasi, tapi bentuk dasarnya masih sama. Masih ada gazebo di belakang, tempat Joko sering duduk membaca koran atau sekadar menikmati angin sore. Masih ada taman kecil dengan bunga, bunga yang Janah tanam sendiri.
“Jan, kopi sudah gue buat,” kata Joko suatu pagi. Suaranya serak karena usia, tapi masih tegas.
“Sebentar, aku lagi nyiram bunga.”
Janah masih segar untuk seusianya. Matanya masih bening. Senyumnya masih manis. Keriput di wajahnya tidak mengurangi kecantikannya. Justru menambah kewibawaan.
Mereka sarapan di gazebo. Sederhana: nasi, telur dadar, tempe goreng, dan sambal terasi. Joko masih suka sambal pedas meskipun perutnya sudah tidak sekenceng dulu.
“Jan, hari ini kita ke Taman Simpang Adipura, yuk.”
“Taman Simpang Adipura? Sekarang?”
“Iya. Gue mau kenang, kenangan.”
Janah tersenyum. “Kamu ini, sudah tua masih romantis.”
“Romantis itu bukan soal usia.”
Taman Simpang Adipura sudah banyak berubah. Bangku, bangku kayu yang dulu menjadi saksi bisu janji mereka, kini telah diganti dengan bangku beton yang lebih modern. Air mancur yang dulu kecil, kini diperbesar dengan lampu, lampu warna, warni yang menyala di malam hari. Ada juga jogging track dan taman bermain anak.
Tapi esensinya masih sama. Tempat ini tetap menjadi jantung kota Kuala Kapuas. Tempat di mana warga berkumpul, tempat di mana kenangan tercipta.
Joko dan Janah duduk di bangku beton yang menghadap ke air mancur. Joko memegang tangan Janah. Tangannya keriput, tapi genggamannya masih kuat.
“Jan, inget nggak kita pertama kali duduk di sini?”
“Inget. Kelas 2 SMP. Kamu bilang suka sama aku.”
“Dan lo nangis.”
“Aku nggak nangis.”
“Iya. Lo nangis.”
Janah tertawa. “Kamu ini. Masih suka mengingat masa lalu.”
“Masa lalu yang indah harus diingat. Yang buruk dilupakan.”
“Apakah ada masa lalu yang buruk?”
Joko berpikir. “Ada. Waktu kita putus. Waktu gue cemburu buta. Waktu lo dekat sama Dimas. Itu masa lalu yang buruk.”
“Tapi kita sudah melupakannya?”
“Gue sudah. Lo?”
“Aku juga. Sekarang hanya kenangan manis yang tersisa.”
Mereka berdua tersenyum. Angin sore bertiup sepoi, sepoi.
Sore itu, mereka bercerita tentang perjalanan cinta mereka. Dari awal bertemu sebagai bayi, tumbuh bersama sebagai anak, anak, remaja yang mulai jatuh cinta, dewasa yang terpisah jarak, hingga akhirnya bersatu kembali.
“Jan, apa lo nggak pernah menyesal memilih gue?”
“Tidak pernah. Kamu?”
“Tidak pernah. Meskipun dulu banyak yang bilang gue tidak pantas.”
“Kamu lebih dari pantas, Tengil. Kamu adalah suami terbaik yang pernah aku minta.”
Joko tersenyum. Dia mencium kening Janah. Seperti dulu.
“Jan, gue mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Makasih. Makasih sudah bertahan. Makasih sudah sabar. Makasih sudah memilih gue.”
Janah menangis. “Aku yang berterima kasih. Kamu sudah berubah menjadi laki, laki yang hebat. Kamu adalah ayah yang baik. Kamu adalah suami yang setia.”
Mereka berpelukan di bangku beton itu. Beberapa orang yang lewat tersenyum melihat mereka. Sepasang kakek, nenek yang masih romantis.
“Gue dulu takut menjadi tua. Takut kehilangan segalanya. Tapi sekarang, di usia senja ini, gue justru merasa damai. Bukan karena gue kaya atau sukses. Tapi karena Janah masih ada di samping gue. Anak, anak kami sudah dewasa dan bahagia. Cucu, cucu kami lucu, lucu. Apa lagi yang gue minta? Hidup ini sudah lengkap. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan Janah.”
“Aku dulu takut menikah dengan Joko. Takut dia tidak berubah. Takut pernikahan kami gagal seperti dulu. Tapi ternyata, Joko berubah. Dia menjadi laki, laki yang dewasa. Dia menjadi ayah yang baik. Dia menjadi suami yang setia. Aku bersyukur setiap hari karena Tuhan mempertemukanku dengan Joko. Bukan dengan Dimas. Bukan dengan Rendy. Tapi dengan Joko. Laki, laki tengil dari Kapuas yang menjadi cinta sejatiku.”
Malam harinya, Putra Sadewa dan Diah Pitaloka datang ke rumah orang tua mereka. Mereka membawa serta pasangan dan anak, anak masing, masing.
Putra Sadewa menikah dengan seorang perempuan bernama Rani, guru SD. Mereka dikaruniai dua orang anak: Joko Pratama (7 tahun) dan Siti Nurani (4 tahun). Joko Pratama diberi nama sesuai nama kakeknya. Siti Nurani diambil dari nama neneknya (Siti Nurjanah) dan kata "nurani" yang berarti hati nurani.
Diah Pitaloka menikah dengan Renal, guru SMA. Mereka baru dikaruniai satu anak, seorang bayi laki, laki bernama Muhammad Rafa (1 tahun).
Rumah Joko dan Janah yang biasanya sunyi, kini ramai oleh suara cucu, cucu.
“Kakek! Kakek! Joko punya mainan baru!” teriak Joko Pratama.
“Ayo, Kakek lihat.”
Joko menggendong cucunya. Dia merasa muda kembali.
“Nenek! Nenek! Nurani mau es kelapa!” teriak Siti Nurani.
Janah tertawa. “Kamu tahu es kelapa dari siapa?”
“Dari Kakek. Kakek cerita, dulu Kakek suka es kelapa sama Nenek.”
Janah melirik Joko. “Kamu cerita, cerita soal itu ke cucu?”
“Masa lalu indah harus diwariskan.”
Janah menggeleng, tapi tersenyum.
Setelah makan malam, Joko mengajak cucu, cucunya duduk di gazebo. Mereka duduk melingkar di lantai kayu.
“Anak, anak, Kakek mau cerita.”
“Cerita apa, Kek?” tanya Joko Pratama.
“Cerita tentang Kakek dan Nenek.”
“Cerita cinta?” tanya Siti Nurani.
“Iya. Cerita cinta.”
Joko mulai bercerita. Tentang dijodohkan sejak dalam kandungan. Tentang tumbuh bersama sebagai anak, anak. Tentang perpisahan saat Nenek kuliah di Jawa. Tentang pertemuan kembali di Taman Simpang Adipura. Tentang pernikahan. Tentang kelahiran Putra Sadewa dan Diah Pitaloka.
Cucu, cucunya mendengarkan dengan mata berbinar.
“Kakek, apa Kakek nggak pernah menyerah?” tanya Joko Pratama.
“Pernah. Kakek sempat menyerah. Tapi Nenek yang membuat Kakek kembali bersemangat.”
“Nenek hebat,” kata Siti Nurani.
“Kakek juga hebat,” tambah Muhammad Rafa yang belum bisa bicara—diwakili oleh ibunya, Diah.
Semua tertawa.
Setelah cucu, cucunya tidur, Diah Pitaloka duduk di samping Janah.
“Bu, aku mau tanya.”
“Apa, Nak?”
“Apa Ibu tidak pernah menyesal memilih Bapak? Dulu kan banyak yang meragukan. Kakek dari Banjarmasin, Bibi Fatimah, bahkan beberapa saudara kita.”
Janah tersenyum. “Tidak pernah. Ibu yakin dengan pilihan Ibu.”
“Kenapa Ibu yakin?”
“Karena Ibu melihat potensi dalam diri Bapak. Bapak mungkin tidak kaya, tidak berpendidikan tinggi, tidak punya status sosial tinggi. Tapi dia pekerja keras. Dia setia. Dia sayang pada Ibu. Dan yang terpenting, dia mau berubah menjadi lebih baik.”
Diah memeluk Janah. “Ibu hebat.”
“Bukan ibu yang hebat. Tuhan yang mempertemukan kami.”
Di sisi lain, Putra Sadewa duduk di samping Joko di teras.
“Pak, aku ingin bertanya.”
“Apa, Nak?”
“Dulu, ketika Ibu kuliah di Jogja dan dekat dengan Dimas, apa Bapak tidak ingin menyerah?”
Joko menghela napas. “Pernah. Sering. Tapi setiap kali ingin menyerah, Bapak ingat janji di Jembatan Kapuas.”
“Janji apa?”
“Janji untuk saling menunggu. Janji bahwa setelah Ibu lulus, kami akan bertemu lagi di Taman Simpang Adipura.”
“Dan akhirnya Ibu kembali.”
“Iya. Ibu kembali. Dan kami bersama sampai sekarang.”
Putra Sadewa mengangguk. “Aku belajar banyak dari Bapak dan Ibu. Bahwa cinta sejati tidak mudah. Butuh perjuangan. Butuh air mata. Tapi hasilnya indah.”
Joko menepuk bahu putranya. “Kamu sudah dewasa, Nak. Bapak bangga.”
Keesokan harinya, Joko mengajak Janah ke Jembatan Kapuas. Tempat paling bersejarah dalam perjalanan cinta mereka.
Jembatan itu masih berdiri kokoh meskipun usianya sudah tua. Beberapa bagian sudah diganti dengan besi baru. Tapi bentuknya masih sama. Pemandangan dari jembatan masih sama indahnya.
Mereka berdua berdiri di tengah jembatan, memandangi sungai yang mengalir tenang.
“Jan, dulu kita di sini, ya?”
“Iya. Kamu bilang suka sama aku.”
“Dan lo nangis.”
“Aku nggak nangis. Cuma terharu.”
“Sama saja.”
Mereka tertawa.
“Jan, gue mau bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Gue sayang lo. Sampai sekarang. Sampai kapan pun.”
Janah memeluk Joko. “Aku juga sayang kamu. Sampai mati.”
Angin sore bertiup. Daun, daun berguguran. Sungai Kapuas mengalir tenang, seolah menjadi saksi bisu dari cinta yang tak pernah pudar.
Di perjalanan pulang, Janah teringat pada Mak Amin dan Mak Dhijah. Keduanya telah tiada. Mak Amin meninggal sepuluh tahun lalu karena komplikasi jantung. Mak Dhijah menyusul lima tahun kemudian karena penyakit tua.
“Tengil, aku kangen sama Mak Amin.”
“Gue juga kangen sama Mak Dhijah.”
“Mereka yang menjodohkan kita sejak dalam kandungan.”
“Iya. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan pernah bersama.”
“Kita harus berterima kasih pada mereka.”
“Kita sudah berterima kasih. Dengan membuktikan bahwa jodoh yang mereka pilih tepat.”
Mereka berdua menangis. Bukan karena sedih, tapi karena haru.
Sore itu, mereka berdua pergi ke pemakaman umum di Selat Tengah. Makam Mak Amin dan Mak Dhijah bersebelahan. Sesuai wasiat mereka, mereka ingin dimakamkan dekat agar bisa bertetangga di alam kubur.
Joko dan Janah membersihkan makam. Membaca Yasin. Mendoakan.
“Mak Amin, Mak Dhijah, doakan kami. Doakan anak, cucu kami. Semoga kami bisa berkumpul kembali di surga kelak.”
Mereka berdoa dengan khusyuk. Air mata mengalir.
Seorang penjaga makam mendekat. “Pak, Bu, ini makam orang tua?”
“Iya, Pak. Ibu kami.”
“Almarhumah orang baik. Semasa hidup sering memberi sedekah ke sini.”
Joko tersenyum. “Mak Dhijah memang orang baik.”
“Mak Amin juga. Suka berbagi dengan tetangga.”
Mereka berterima kasih pada penjaga makam, lalu pulang.
Malam itu, Joko dan Janah duduk di gazebo. Teh hangat menemani mereka. Di kejauhan, suara jangkrik terdengar sayup, sayup.
“Jan, gue merasa hidup kita sudah lengkap.”
“Lengkap gimana?”
“Anak, anak sudah dewasa dan berkeluarga. Cucu, cucu lucu, lucu. Kita masih sehat. Apa lagi yang kurang?”
“Kita masih kurang sering ke Danau Mare.”
Joko tertawa. “Besok kita ke sana.”
“Janji?”
“Janji.”
Mereka berkait kelingking. Tradisi yang tidak pernah mereka tinggalkan.
Sebelum tidur, Joko menulis surat. Surat untuk anak, anak dan cucu, cucunya. Surat itu akan disimpan, dan akan diberikan saat waktunya tiba.
“Anak, anakku, cucu, cucuku,
Kakek menulis surat ini di usia senja. Bukan karena kakek ingin meninggal. Tapi karena kakek ingin kalian tahu, bahwa cinta sejati itu ada.
Kakek dan Nenek bukan pasangan sempurna. Kami pernah bertengkar. Kami pernah berpisah. Kami pernah menyakiti satu sama lain. Tapi kami tidak pernah berhenti mencintai.
Kami belajar bahwa cinta bukan tentang memiliki. Tapi tentang memberi. Bukan tentang menuntut. Tapi tentang mengalah. Bukan tentang siapa yang benar. Tapi tentang bagaimana tetap bersama meskipun salah.
Jangan takut jatuh cinta. Jangan takut gagal. Karena dari kegagalan, kalian akan belajar. Dan dari pembelajaran, kalian akan tumbuh.
Kakek berpesan, jaga keluarga kalian. Jaga pasangan kalian. Jaga anak, anak kalian. Karena mereka adalah anugerah terindah dari Tuhan.
Dengan cinta,
Kakek Joko.”
Janah juga menulis surat.
“Anak, anakku, cucu, cucuku,
Nenek ingin kalian tahu, bahwa perjuangan itu penting. Nenek dan Kakek berjuang untuk bersama. Bukan mudah. Tapi hasilnya sepadan.
Nenek belajar bahwa cinta tidak butuh kesempurnaan. Cinta butuh komitmen. Komitmen untuk tetap bertahan saat badai datang. Komitmen untuk saling memaafkan. Komitmen untuk terus berusaha.
Jangan pernah menyerah pada cinta. Karena cinta adalah hal terindah di dunia ini.
Peluk dan cium,
Nenek Janah.”
Keesokan harinya, Joko dan Janah pergi ke Danau Mare. Tempat yang sama, dengan kenangan yang sama.
Danau Mare sekarang lebih ramai dari dulu. Ada beberapa warung baru. Ada perahu, perahu wisata yang bisa disewa. Banyak pengunjung dari luar kota.
Tapi Mang Udin sudah tiada. Warungnya diteruskan oleh anaknya.
Joko menyewa perahu. Mereka berdua berkeliling danau, seperti dulu.
“Jan, inget waktu kita ke sini dan gue minta maaf?”
“Inget. Di tengah danau. Lo minta maaf karena dulu lo insecure.”
“Dan lo memaafkan gue.”
“Iya. Aku memaafkanmu.”
Mereka tersenyum.
Saat sedang asyik menikmati pemandangan, Joko tersedak. Batuk, batuk hebat. Wajahnya memerah.
Janah panik. “Tengil! Tengil! Kamu kenapa?”
Joko tidak bisa menjawab. Dia terus batuk.
Janah memukul, mukul punggung Joko. “Tengil! Jangan buat aku takut!”
Setelah beberapa saat, Joko berhenti batuk. Dia menarik napas panjang.
“Gue... gue nggak apa, apa.”
“Kamu bikin aku takut!”
“Maaf. Cuma kesedak.”
Janah menangis. Joko memeluknya.
“Jan, jangan nangis. Gue sehat.”
“Aku takut kehilangan kamu.”
“Kita masih punya waktu. Masih banyak waktu.”
Mereka berpelukan di tengah danau.
Setelah insiden itu, Janah memegang tangan Joko.
“Tengil, dengar. Aku ingin berpesan.”
“Pesan apa?”
“Suatu hari, ketika aku pergi lebih dulu, kamu jangan sedih.”
“Jan, jangan bicara begitu.”
“Dengar. Aku ingin kamu tetap bahagia. Jangan larut dalam kesedihan. Rawat anak, anak kita. Rawat cucu, cucu kita. Dan kalau kamu bertemu perempuan lain yang bisa membuatmu bahagia, jangan ragu.”
Joko menangis. “Jan, gue nggak akan mencari perempuan lain. Cuma lo.”
“Kamu belum tahu. Mungkin nanti kamu kesepian.”
“Gue lebih takut kehilangan lo daripada kesepian.”
Janah memeluk Joko. “Kita nikmati dulu sisa waktu kita.”
“Janah bicara tentang kematian. Gue nggak siap. Gue belum siap kehilangan dia. Tapi gue tahu, pada akhirnya, salah satu dari kami akan pergi lebih dulu. Itu takdir. Gue hanya berharap, jika itu terjadi, gue bisa menjadi kuat. Seperti Janah yang kuat dulu saat gue meninggalkannya. Gue akan berusaha. Tapi untuk sekarang, gue akan menikmati setiap detik bersama Janah. Karena waktu adalah hadiah paling berharga.”
“Joko menangis saat aku bicara tentang kematian. Aku tahu dia belum siap. Aku juga belum siap. Tapi sebagai perempuan, aku harus realistis. Usia kami tidak muda lagi. Kematian bisa datang kapan saja. Aku hanya ingin Joko tahu, bahwa aku tidak takut mati. Yang aku takutkan adalah meninggalkan Joko sendirian. Tapi aku percaya, dia kuat. Dia sudah berubah menjadi laki, laki yang kuat. Dan aku akan selalu mencintainya, bahkan setelah aku tiada.”
Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit Kapuas berwarna jingga keemasan. Joko dan Janah duduk di gazebo rumah mereka, menikmati secangkir teh hangat.
“Jan, indah sekali.”
“Iya. Langit Kapuas selalu indah.”
“Seperti cinta kita.”
Janah tersenyum. “Cinta kita lebih indah.”
Mereka berdua diam. Menikmati senja. Menikmati kebersamaan. Tanpa kata, kata. Karena setelah puluhan tahun bersama, mereka sudah bisa saling mengerti tanpa bicara.
Di kejauhan, suara anak, anak bermain. Suara azan Magrib mulai berkumandang.
Joko dan Janah beranjak untuk salat.
Di bawah langit Kapuas yang luas, cinta mereka terus bersemi. Meskipun rambut telah memutih, meskipun kulit mulai keriput, meskipun tubuh mulai rapuh—cinta mereka tidak pernah tua. Cinta mereka abadi.
BAB 30
AKU TELAH MENANTI, DAN KAU DATANG
Waktu berjalan tanpa permisi. Seperti air Sungai Kapuas yang tak pernah berhenti mengalir, begitu pula kehidupan Joko dan Janah. Kini, mereka berdua sudah memasuki usia senja. Rambut Joko yang dulu hitam legam kini berubah menjadi putih di bagian pelipis. Janah yang dulu rambutnya panjang hitam terurai, kini lebih sering disanggul pendek dengan sedikit uban yang mulai bermunculan.
Joko telah pensiun dari mengelola bengkel. Usaha yang dirintis dari nol itu kini diteruskan oleh Putra Sadewa, anak pertama mereka. Putra Sadewa, yang dulu kecil tengil seperti ayahnya, kini telah tumbuh menjadi laki, laki dewasa yang bertanggung jawab. Dia lulusan teknik mesin dari Universitas Palangka Raya dan berhasil mengembangkan bengkel keluarga menjadi lebih besar.
Sementara Diah Pitaloka, si bungsu yang manja, kini menjadi seorang dokter gigi. Dia membuka praktik di Kuala Kapuas, dekat dengan orang tuanya. Diah menikah dengan seorang pemuda Kapuas asli bernama Renal, seorang guru SMA yang baik hati dan sabar.
Joko dan Janah kini tinggal berdua di rumah yang sama—rumah yang mereka bangun puluhan tahun lalu. Rumah itu telah beberapa kali direnovasi, tapi bentuk dasarnya masih sama. Masih ada gazebo di belakang, tempat Joko sering duduk membaca koran atau sekadar menikmati angin sore. Masih ada taman kecil dengan bunga, bunga yang Janah tanam sendiri.
"Jan, kopi sudah gue buat," kata Joko suatu pagi. Suaranya serak karena usia, tapi masih tegas.
"Sebentar, aku lagi nyiram bunga."
Janah masih segar untuk seusianya. Matanya masih bening. Senyumnya masih manis. Keriput di wajahnya tidak mengurangi kecantikannya. Justru menambah kewibawaan.
Mereka sarapan di gazebo. Sederhana: nasi, telur dadar, tempe goreng, dan sambal terasi. Joko masih suka sambal pedas meskipun perutnya sudah tidak sekenceng dulu.
"Jan, hari ini kita ke Taman Simpang Adipura, yuk."
"Taman Simpang Adipura? Sekarang?"
"Iya. Gue mau kenang, kenangan."
Janah tersenyum. "Kamu ini, sudah tua masih romantis."
"Romantis itu bukan soal usia."
Taman Simpang Adipura sudah banyak berubah. Bangku, bangku kayu yang dulu menjadi saksi bisu janji mereka, kini telah diganti dengan bangku beton yang lebih modern. Air mancur yang dulu kecil, kini diperbesar dengan lampu, lampu warna, warni yang menyala di malam hari. Ada juga jogging track dan taman bermain anak.
Tapi esensinya masih sama. Tempat ini tetap menjadi jantung kota Kuala Kapuas. Tempat di mana warga berkumpul, tempat di mana kenangan tercipta.
Joko dan Janah duduk di bangku beton yang menghadap ke air mancur. Joko memegang tangan Janah. Tangannya keriput, tapi genggamannya masih kuat.
"Jan, inget nggak kita pertama kali duduk di sini?"
"Inget. Kelas 2 SMP. Kamu bilang suka sama aku."
"Dan lo nangis."
"Aku nggak nangis."
"Iya. Lo nangis."
Janah tertawa. "Kamu ini. Masih suka mengingat masa lalu."
"Masa lalu yang indah harus diingat. Yang buruk dilupakan."
"Apakah ada masa lalu yang buruk?"
Joko berpikir. "Ada. Waktu kita putus. Waktu gue cemburu buta. Waktu lo dekat sama Dimas. Itu masa lalu yang buruk."
"Tapi kita sudah melupakannya?"
"Gue sudah. Lo?"
"Aku juga. Sekarang hanya kenangan manis yang tersisa."
Mereka berdua tersenyum. Angin sore bertiup sepoi, sepoi.
Sore itu, mereka bercerita tentang perjalanan cinta mereka. Dari awal bertemu sebagai bayi, tumbuh bersama sebagai anak, anak, remaja yang mulai jatuh cinta, dewasa yang terpisah jarak, hingga akhirnya bersatu kembali.
"Jan, apa lo nggak pernah menyesal memilih gue?"
"Tidak pernah. Kamu?"
"Tidak pernah. Meskipun dulu banyak yang bilang gue tidak pantas."
"Kamu lebih dari pantas, Tengil. Kamu adalah suami terbaik yang pernah aku minta."
Joko tersenyum. Dia mencium kening Janah. Seperti dulu.
"Jan, gue mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Makasih. Makasih sudah bertahan. Makasih sudah sabar. Makasih sudah memilih gue."
Janah menangis. "Aku yang berterima kasih. Kamu sudah berubah menjadi laki, laki yang hebat. Kamu adalah ayah yang baik. Kamu adalah suami yang setia."
Mereka berpelukan di bangku beton itu. Beberapa orang yang lewat tersenyum melihat mereka. Sepasang kakek, nenek yang masih romantis.
"Gue dulu takut menjadi tua. Takut kehilangan segalanya. Tapi sekarang, di usia senja ini, gue justru merasa damai. Bukan karena gue kaya atau sukses. Tapi karena Janah masih ada di samping gue. Anak, anak kami sudah dewasa dan bahagia. Cucu, cucu kami lucu, lucu. Apa lagi yang gue minta? Hidup ini sudah lengkap. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih sudah mempertemukan aku dengan Janah."
"Aku dulu takut menikah dengan Joko. Takut dia tidak berubah. Takut pernikahan kami gagal seperti dulu. Tapi ternyata, Joko berubah. Dia menjadi laki, laki yang dewasa. Dia menjadi ayah yang baik. Dia menjadi suami yang setia. Aku bersyukur setiap hari karena Tuhan mempertemukanku dengan Joko. Bukan dengan Dimas. Bukan dengan Rendy. Tapi dengan Joko. Laki, laki tengil dari Kapuas yang menjadi cinta sejatiku."
Malam harinya, Putra Sadewa dan Diah Pitaloka datang ke rumah orang tua mereka. Mereka membawa serta pasangan dan anak, anak masing, masing.
Putra Sadewa menikah dengan seorang perempuan bernama Rani, guru SD. Mereka dikaruniai dua orang anak: Joko Pratama (7 tahun) dan Siti Nurani (4 tahun). Joko Pratama diberi nama sesuai nama kakeknya. Siti Nurani diambil dari nama neneknya (Siti Nurjanah) dan kata "nurani" yang berarti hati nurani.
Diah Pitaloka menikah dengan Renal, guru SMA. Mereka baru dikaruniai satu anak, seorang bayi laki, laki bernama Muhammad Rafa (1 tahun).
Rumah Joko dan Janah yang biasanya sunyi, kini ramai oleh suara cucu, cucu.
"Kakek! Kakek! Joko punya mainan baru!" teriak Joko Pratama.
"Ayo, Kakek lihat."
Joko menggendong cucunya. Dia merasa muda kembali.
"Nenek! Nenek! Nurani mau es kelapa!" teriak Siti Nurani.
Janah tertawa. "Kamu tahu es kelapa dari siapa?"
"Dari Kakek. Kakek cerita, dulu Kakek suka es kelapa sama Nenek."
Janah melirik Joko. "Kamu cerita, cerita soal itu ke cucu?"
"Masa lalu indah harus diwariskan."
Janah menggeleng, tapi tersenyum.
Setelah makan malam, Joko mengajak cucu, cucunya duduk di gazebo. Mereka duduk melingkar di lantai kayu.
"Anak, anak, Kakek mau cerita."
"Cerita apa, Kek?" tanya Joko Pratama.
"Cerita tentang Kakek dan Nenek."
"Cerita cinta?" tanya Siti Nurani.
"Iya. Cerita cinta."
Joko mulai bercerita. Tentang dijodohkan sejak dalam kandungan. Tentang tumbuh bersama sebagai anak, anak. Tentang perpisahan saat Nenek kuliah di Jawa. Tentang pertemuan kembali di Taman Simpang Adipura. Tentang pernikahan. Tentang kelahiran Putra Sadewa dan Diah Pitaloka.
Cucu, cucunya mendengarkan dengan mata berbinar.
"Kakek, apa Kakek nggak pernah menyerah?" tanya Joko Pratama.
"Pernah. Kakek sempat menyerah. Tapi Nenek yang membuat Kakek kembali bersemangat."
"Nenek hebat," kata Siti Nurani.
"Kakek juga hebat," tambah Muhammad Rafa yang belum bisa bicara—diwakili oleh ibunya, Diah.
Semua tertawa.
Setelah cucu, cucunya tidur, Diah Pitaloka duduk di samping Janah.
"Bu, aku mau tanya."
"Apa, Nak?"
"Apa Ibu tidak pernah menyesal memilih Bapak? Dulu kan banyak yang meragukan. Kakek dari Banjarmasin, Bibi Fatimah, bahkan beberapa saudara kita."
Janah tersenyum. "Tidak pernah. Ibu yakin dengan pilihan Ibu."
"Kenapa Ibu yakin?"
"Karena Ibu melihat potensi dalam diri Bapak. Bapak mungkin tidak kaya, tidak berpendidikan tinggi, tidak punya status sosial tinggi. Tapi dia pekerja keras. Dia setia. Dia sayang pada Ibu. Dan yang terpenting, dia mau berubah menjadi lebih baik."
Diah memeluk Janah. "Ibu hebat."
"Bukan ibu yang hebat. Tuhan yang mempertemukan kami."
Di sisi lain, Putra Sadewa duduk di samping Joko di teras.
"Pak, aku ingin bertanya."
"Apa, Nak?"
"Dulu, ketika Ibu kuliah di Jogja dan dekat dengan Dimas, apa Bapak tidak ingin menyerah?"
Joko menghela napas. "Pernah. Sering. Tapi setiap kali ingin menyerah, Bapak ingat janji di Jembatan Kapuas."
"Janji apa?"
"Janji untuk saling menunggu. Janji bahwa setelah Ibu lulus, kami akan bertemu lagi di Taman Simpang Adipura."
"Dan akhirnya Ibu kembali."
"Iya. Ibu kembali. Dan kami bersama sampai sekarang."
Putra Sadewa mengangguk. "Aku belajar banyak dari Bapak dan Ibu. Bahwa cinta sejati tidak mudah. Butuh perjuangan. Butuh air mata. Tapi hasilnya indah."
Joko menepuk bahu putranya. "Kamu sudah dewasa, Nak. Bapak bangga."
Keesokan harinya, Joko mengajak Janah ke Jembatan Kapuas. Tempat paling bersejarah dalam perjalanan cinta mereka.
Jembatan itu masih berdiri kokoh meskipun usianya sudah tua. Beberapa bagian sudah diganti dengan besi baru. Tapi bentuknya masih sama. Pemandangan dari jembatan masih sama indahnya.
Mereka berdua berdiri di tengah jembatan, memandangi sungai yang mengalir tenang.
"Jan, dulu kita di sini, ya?"
"Iya. Kamu bilang suka sama aku."
"Dan lo nangis."
"Aku nggak nangis. Cuma terharu."
"Sama saja."
Mereka tertawa.
"Jan, gue mau bilang sesuatu."
"Apa?"
"Gue sayang lo. Sampai sekarang. Sampai kapan pun."
Janah memeluk Joko. "Aku juga sayang kamu. Sampai mati."
Angin sore bertiup. Daun, daun berguguran. Sungai Kapuas mengalir tenang, seolah menjadi saksi bisu dari cinta yang tak pernah pudar.
Di perjalanan pulang, Janah teringat pada Mak Amin dan Mak Dhijah. Keduanya telah tiada. Mak Amin meninggal sepuluh tahun lalu karena komplikasi jantung. Mak Dhijah menyusul lima tahun kemudian karena penyakit tua.
"Tengil, aku kangen sama Mak Amin."
"Gue juga kangen sama Mak Dhijah."
"Mereka yang menjodohkan kita sejak dalam kandungan."
"Iya. Tanpa mereka, mungkin kita tidak akan pernah bersama."
"Kita harus berterima kasih pada mereka."
"Kita sudah berterima kasih. Dengan membuktikan bahwa jodoh yang mereka pilih tepat."
Mereka berdua menangis. Bukan karena sedih, tapi karena haru.
Sore itu, mereka berdua pergi ke pemakaman umum di Selat Tengah. Makam Mak Amin dan Mak Dhijah bersebelahan. Sesuai wasiat mereka, mereka ingin dimakamkan dekat agar bisa bertetangga di alam kubur.
Joko dan Janah membersihkan makam. Membaca Yasin. Mendoakan.
"Mak Amin, Mak Dhijah, doakan kami. Doakan anak, cucu kami. Semoga kami bisa berkumpul kembali di surga kelak."
Mereka berdoa dengan khusyuk. Air mata mengalir.
Seorang penjaga makam mendekat. "Pak, Bu, ini makam orang tua?"
"Iya, Pak. Ibu kami."
"Almarhumah orang baik. Semasa hidup sering memberi sedekah ke sini."
Joko tersenyum. "Mak Dhijah memang orang baik."
"Mak Amin juga. Suka berbagi dengan tetangga."
Mereka berterima kasih pada penjaga makam, lalu pulang.
Malam itu, Joko dan Janah duduk di gazebo. Teh hangat menemani mereka. Di kejauhan, suara jangkrik terdengar sayup, sayup.
"Jan, gue merasa hidup kita sudah lengkap."
"Lengkap gimana?"
"Anak, anak sudah dewasa dan berkeluarga. Cucu, cucu lucu, lucu. Kita masih sehat. Apa lagi yang kurang?"
"Kita masih kurang sering ke Danau Mare."
Joko tertawa. "Besok kita ke sana."
"Janji?"
"Janji."
Mereka berkait kelingking. Tradisi yang tidak pernah mereka tinggalkan.
Sebelum tidur, Joko menulis surat. Surat untuk anak, anak dan cucu, cucunya. Surat itu akan disimpan, dan akan diberikan saat waktunya tiba.
"Anak, anakku, cucu, cucuku,
Kakek menulis surat ini di usia senja. Bukan karena kakek ingin meninggal. Tapi karena kakek ingin kalian tahu, bahwa cinta sejati itu ada.
Kakek dan Nenek bukan pasangan sempurna. Kami pernah bertengkar. Kami pernah berpisah. Kami pernah menyakiti satu sama lain. Tapi kami tidak pernah berhenti mencintai.
Kami belajar bahwa cinta bukan tentang memiliki. Tapi tentang memberi. Bukan tentang menuntut. Tapi tentang mengalah. Bukan tentang siapa yang benar. Tapi tentang bagaimana tetap bersama meskipun salah.
Jangan takut jatuh cinta. Jangan takut gagal. Karena dari kegagalan, kalian akan belajar. Dan dari pembelajaran, kalian akan tumbuh.
Kakek berpesan, jaga keluarga kalian. Jaga pasangan kalian. Jaga anak, anak kalian. Karena mereka adalah anugerah terindah dari Tuhan.
Dengan cinta,
Kakek Joko."
Janah juga menulis surat.
"Anak, anakku, cucu, cucuku,
Nenek ingin kalian tahu, bahwa perjuangan itu penting. Nenek dan Kakek berjuang untuk bersama. Bukan mudah. Tapi hasilnya sepadan.
Nenek belajar bahwa cinta tidak butuh kesempurnaan. Cinta butuh komitmen. Komitmen untuk tetap bertahan saat badai datang. Komitmen untuk saling memaafkan. Komitmen untuk terus berusaha.
Jangan pernah menyerah pada cinta. Karena cinta adalah hal terindah di dunia ini.
Peluk dan cium,
Nenek Janah."
Keesokan harinya, Joko dan Janah pergi ke Danau Mare. Tempat yang sama, dengan kenangan yang sama.
Dermaga Danau Mare sekarang lebih ramai dari dulu. Ada beberapa warung baru. Ada perahu, perahu wisata yang bisa disewa. Banyak pengunjung dari luar kota.
Tapi Mang Udin sudah tiada. Warungnya diteruskan oleh anaknya.
Joko menyewa perahu. Mereka berdua berkeliling danau, seperti dulu.
"Jan, inget waktu kita ke sini dan gue minta maaf?"
"Inget. Di tengah danau. Lo minta maaf karena dulu lo insecure."
"Dan lo memaafkan gue."
"Iya. Aku memaafkanmu."
Mereka tersenyum.
Saat sedang asyik menikmati pemandangan, Joko tersedak. Batuk, batuk hebat. Wajahnya memerah.
Janah panik. "Tengil! Tengil! Kamu kenapa?"
Joko tidak bisa menjawab. Dia terus batuk.
Janah memukul, mukul punggung Joko. "Tengil! Jangan buat aku takut!"
Setelah beberapa saat, Joko berhenti batuk. Dia menarik napas panjang.
"Gue... gue nggak apa, apa."
"Kamu bikin aku takut!"
"Maaf. Cuma kesedak."
Janah menangis. Joko memeluknya.
"Jan, jangan nangis. Gue sehat."
"Aku takut kehilangan kamu."
"Kita masih punya waktu. Masih banyak waktu."
Mereka berpelukan di tengah danau.
Setelah insiden itu, Janah memegang tangan Joko.
"Tengil, dengar. Aku ingin berpesan."
"Pesan apa?"
"Suatu hari, ketika aku pergi lebih dulu, kamu jangan sedih."
"Jan, jangan bicara begitu."
"Dengar. Aku ingin kamu tetap bahagia. Jangan larut dalam kesedihan. Rawat anak, anak kita. Rawat cucu, cucu kita. Dan kalau kamu bertemu perempuan lain yang bisa membuatmu bahagia, jangan ragu."
Joko menangis. "Jan, gue nggak akan mencari perempuan lain. Cuma lo."
"Kamu belum tahu. Mungkin nanti kamu kesepian."
"Gue lebih takut kehilangan lo daripada kesepian."
Janah memeluk Joko. "Kita nikmati dulu sisa waktu kita."
"Janah bicara tentang kematian. Gue nggak siap. Gue belum siap kehilangan dia. Tapi gue tahu, pada akhirnya, salah satu dari kami akan pergi lebih dulu. Itu takdir. Gue hanya berharap, jika itu terjadi, gue bisa menjadi kuat. Seperti Janah yang kuat dulu saat gue meninggalkannya. Gue akan berusaha. Tapi untuk sekarang, gue akan menikmati setiap detik bersama Janah. Karena waktu adalah hadiah paling berharga."
"Joko menangis saat aku bicara tentang kematian. Aku tahu dia belum siap. Aku juga belum siap. Tapi sebagai perempuan, aku harus realistis. Usia kami tidak muda lagi. Kematian bisa datang kapan saja. Aku hanya ingin Joko tahu, bahwa aku tidak takut mati. Yang aku takutkan adalah meninggalkan Joko sendirian. Tapi aku percaya, dia kuat. Dia sudah berubah menjadi laki, laki yang kuat. Dan aku akan selalu mencintainya, bahkan setelah aku tiada."
Matahari tenggelam di ufuk barat. Langit Kapuas berwarna jingga keemasan. Joko dan Janah duduk di gazebo rumah mereka, menikmati secangkir teh hangat.
"Jan, indah sekali."
"Iya. Langit Kapuas selalu indah."
"Seperti cinta kita."
Janah tersenyum. "Cinta kita lebih indah."
Mereka berdua diam. Menikmati senja. Menikmati kebersamaan. Tanpa kata, kata. Karena setelah puluhan tahun bersama, mereka sudah bisa saling mengerti tanpa bicara.
Di kejauhan, suara anak, anak bermain. Suara azan Magrib mulai berkumandang.
Joko dan Janah beranjak untuk salat.
Di bawah langit Kapuas yang luas, cinta mereka terus bersemi. Meskipun rambut telah memutih, meskipun kulit mulai keriput, meskipun tubuh mulai rapuh—cinta mereka tidak pernah tua. Cinta mereka abadi.
Pagi itu, Joko bangun lebih awal dari biasanya. Matahari baru saja muncul di ufuk timur. Ayam, ayam belum berkokok. Suasana masih hening.
Dia memandang Janah yang masih tidur di sampingnya. Wajahnya tenang. Dadanya naik turun perlahan.
"Dia masih cantik. Meskipun sudah tua. Meskipun rambutnya putih. Meskipun kulitnya keriput. Dia tetap cantik."
Joko mencium kening Janah. Perlahan. Takut membangunkannya.
Tapi Janah terbangun. Matanya masih sayu.
"Tengil? Kamu sudah bangun?"
"Iya. Gue nggak bisa tidur."
"Kenapa? Mimpi buruk?"
"Bukan. Gue hanya... ingin melihat lo."
Janah tersenyum. "Aku di sini. Tidak kemana, mana."
Mereka berpelukan. Hangat.
Beberapa minggu terakhir, Janah sering mengeluh lelah. Nafsu makannya berkurang. Kadang dia batuk, batuk kecil.
Joko khawatir. "Jan, kita periksa ke dokter, yuk."
"Nggak usah. Aku cuma capek."
"Jan, lo sudah tidak muda. Kita harus rutin periksa."
Janah menghela napas. "Baiklah. Besok kita ke puskesmas."
Di puskesmas, dokter memeriksa Janah dengan saksama. Dokter itu masih muda, lulusan baru, tapi teliti.
"Bu Janah, tensinya rendah. Jantungnya juga agak lemah. Saran saya, istirahat total. Jangan banyak aktivitas. Dan jangan stres."
Joko memegang tangan Janah. "Jan, lo dengar?"
"Iya. Aku dengar."
Janah tidak takut. Dia sudah siap.
Sejak saat itu, Joko merawat Janah dengan penuh kasih. Dia memasak. Dia mencuci. Dia menemani Janah ke mana pun.
Dia tidak lagi ke bengkel. Urusan bengkel sepenuhnya diserahkan pada Putra Sadewa.
"Pak, aku bisa mengurus bengkel. Bapak fokus merawat Ibu," kata Putra Sadewa.
"Makasih, Nak."
Joko mengatur jadwal kunjungan anak, anak dan cucu, cucu. Dia tidak ingin mereka terlalu sering datang karena bisa membuat Janah lelah. Tapi dia juga tidak ingin Janah kesepian.
Setiap pagi, Joko dan Janah duduk di gazebo. Bercerita tentang apa pun. Kadang tentang masa lalu. Kadang tentang masa depan yang tidak pasti.
"Jan, lo takut?"
"Takut apa?"
"Takut... pergi."
Janah tersenyum. "Aku tidak takut mati, Tengil. Aku hanya takut meninggalkan kamu."
"Lo jangan pergi. Gue belum siap."
"Kita tidak pernah siap. Tapi pada akhirnya, kita harus menerima."
Joko menangis. Janah memeluknya.
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka bergantian menjaga orang tua mereka. Mereka membagi tugas dengan Joko.
"Pak, Ibu perlu istirahat. Jangan terlalu banyak bicara."
"Iya, Nak. Bapak tahu."
Diah Pitaloka yang berprofesi sebagai dokter gigi—meskipun bukan spesialis jantung—tetap bisa memberikan perawatan dasar. Dia mengatur pola makan Janah. Dia memantau tensi setiap hari.
"Bu, tensinya turun lagi. Ibu harus banyak makan."
"Aku tidak nafsu makan, Nak."
"Tapi Ibu harus makan. Untuk Ibu. Untuk Bapak."
Janah menatap Joko. Joko mengangguk. Janah makan dengan susah payah.
Suatu sore, Janah meminta Joko mengajaknya ke Taman Simpang Adipura.
"Tengil, antar aku ke taman. Sekali lagi."
"Jan, lo sedang lemah."
"Sebentar saja. Aku ingin melihat tempat itu lagi. Untuk terakhir kali."
Joko tidak tega menolak. Dia memanggil Putra Sadewa.
"Sadewa, anter Ibu dan Bapak ke Taman Simpang Adipura."
"Sekarang, Pak?"
"Iya. Ibu ingin."
Putra Sadewa mengantar mereka dengan mobil. Joko dan Janah duduk di bangku beton yang sama. Yang menghadap ke air mancur.
"Jan, lo ingat?"
"Ingat. Setiap sudut taman ini menyimpan kenangan."
"Tempat ini saksi bisu cinta kita."
Janah tersenyum. Dia mencium pipi Joko.
"Tengil, makasih. Untuk semuanya."
"Jan, jangan bicara seperti akan pergi."
"Aku hanya... ingin berterima kasih sebelum terlambat."
Joko menangis. Janah tidak.
Malam itu, Janah meminta Joko mengumpulkan semua anak dan cucu. Rumah yang biasanya sunyi, kini ramai.
"Anak, anakku, cucu, cucuku, Nenek sayang kalian semua."
"Nenek kenapa bicara seperti ini?" tanya Joko Pratama.
"Nenek hanya ingin kalian tahu, bahwa Nenek bahagia memiliki keluarga seperti ini."
Diah Pitaloka menangis. "Bu, jangan bicara begitu. Ibu masih sehat."
"Ibu sehat, Nak. Ibu hanya... bersyukur."
Janah memeluk semua anak dan cucunya satu per satu. Joko Pratama yang masih kecil ikut menangis meskipun tidak sepenuhnya mengerti.
"Nenek, jangan pergi," pintanya.
"Nenek tidak akan pergi. Nenek akan selalu ada di hati kalian."
Setelah semua anak dan cucu pulang, Joko dan Janah duduk di gazebo. Teh hangat menemani mereka. Malam semakin larut.
"Jan, apa lo sudah ikhlas?"
"Ikhlas dengan apa?"
"Ikhlas kalau... kalau Tuhan memanggil lo lebih dulu."
Janah memegang tangan Joko. "Aku ikhlas, Tengil. Yang penting, kita sudah bersama sampai di sini. Kita sudah membesarkan anak, anak. Kita sudah melihat cucu, cucu. Apa lagi yang kurang?"
"Gue yang belum ikhlas."
"Kamu harus ikhlas. Pada waktunya."
"Gue belum siap."
"Tuhan akan memberi kekuatan."
Mereka berpelukan di gazebo. Angin malam bertiup sejuk.
Pagi itu, Joko bangun seperti biasa. Dia mencium kening Janah.
Tapi Janah tidak bergerak.
Joko mencium lagi. Janah masih diam.
"Jan... Jan!"
Janah tidak menjawab. Dadanya tidak bergerak.
Joko memegang tangan Janah. Dingin.
"JAN!"
Joko berteriak. Seluruh rumah terbangun.
Putra Sadewa berlari masuk. "Pak, ada apa?"
"IBU... IBU..."
Putra Sadewa memeriksa Janah. Tidak ada denyut nadi. Tidak ada napas.
"Pak... Ibu sudah pergi."
Joko jatuh terduduk. Dia tidak menangis. Dia hanya diam.
Janah meninggal dalam tidurnya. Tenang. Tanpa rasa sakit. Wajahnya masih tersenyum. Seolah dia bahagia.
Dokter yang datang mengatakan bahwa jantung Janah berhenti karena kelelahan. Tidak ada yang bisa dilakukan.
Joko masih diam. Dia duduk di samping Janah, memegang tangannya.
"Jan... lo ninggalin gue."
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka menangis di samping.
"Pak, Bapak harus kuat."
"Bapak tidak kuat."
Joko menangis. Tersedu, sedu.
Diah Pitaloka memeluk Joko. "Pak, Ibu sudah tenang. Ibu sudah tidak sakit lagi."
Joko tidak menjawab. Dia terus memegang tangan Janah.
Pemakaman Janah digelar di siang hari. Langit Kapuas sedang cerah. Tidak mendung. Seolah alam ikut berbahagia untuk kepergian Janah.
Seluruh keluarga datang. Tetangga, tetangga juga. Banyak yang menangis.
Joko berdiri di samping makam. Dia tidak menangis. Dia hanya diam.
"Bu Janah adalah orang baik. Semasa hidup, dia selalu membantu siapa pun," kata Pak RT dalam sambutannya.
Joko teringat pada semua kebaikan Janah. Janah yang sabar. Janah yang setia. Janah yang selalu menerima Joko apa adanya.
"Jan... gue akan selalu ingat lo."
Jenazah Janah dimasukkan ke liang lahat. Tanah mulai ditimbun.
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka menangis histeris.
Joko tetap diam.
Hari, hari setelah kepergian Janah, Joko seperti mayat hidup. Dia tidak mau makan. Tidak mau bicara. Hanya duduk di gazebo, memandangi taman kecil yang biasa Janah siram.
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka bergantian menjaganya.
"Pak, Bapak harus makan," kata Putra Sadewa.
"Bapak tidak lapar."
"Untuk Ibu, Pak. Ibu pasti tidak ingin melihat Bapak seperti ini."
Joko menangis. "Ibu... Ibu..."
Putra Sadewa memeluk Joko. "Pak, Ibu sudah pergi. Tapi Bapak masih punya kami. Masih punya cucu, cucu."
Joko mengangguk. Dia makan sedikit.
Beberapa hari setelah pemakaman, Joko menemukan surat Janah di bawah bantal. Surat yang mungkin ditulis Janah beberapa minggu sebelum meninggal.
"Tengil,
Jika kamu membaca surat ini, artinya aku sudah pergi. Jangan sedih. Aku bahagia di sana.
Aku ingin kamu tahu, bahwa hidupku bersama kamu adalah hidup terbaik yang pernah aku jalani. Kamu adalah suami terbaik. Ayah terbaik. Kakek terbaik.
Jangan pernah menyesal memilihku. Karena aku tidak pernah menyesal memilihmu.
Jaga anak, anak kita. Jaga cucu, cucu kita. Jaga dirimu.
Dan suatu hari, kita akan bertemu lagi. Di surga. Di taman yang lebih indah dari taman mana pun.
Aku cinta kamu. Sampai kapan pun.
Janah."
Joko menangis tersedu, sedu. Dia memeluk surat itu.
"Jan... Jan... gue akan selalu mengingat lo."
"Janah pergi. Meninggalkan gue sendirian. Tapi gue tidak benar, benar sendirian. Ada anak, anak. Ada cucu, cucu. Ada kenangan. Ribuan kenangan tentang Janah. Tentang cinta kita. Gue akan terus hidup. Bukan karena gue kuat. Tapi karena Janah ingin gue hidup. Dia ingin gue bahagia. Dan gue akan berusaha. Untuk Janah."
Joko mulai menulis. Bukan puisi. Tapi catatan harian. Tentang Janah. Tentang setiap momen yang mereka lalui.
Dia menulis tentang pertemuan pertama mereka sebagai bayi. Tentang kenakalannya di SD. Tentang cemburu di SMP. Tentang perpisahan di SMA. Tentang LDR yang menyakitkan. Tentang pertemuan kembali di Taman Simpang Adipura. Tentang pernikahan. Tentang kelahiran anak, anak. Tentang hari tua yang mereka lalui bersama.
"Suatu hari, cucu, cucuku akan membaca ini. Mereka akan tahu bahwa kakek, nenek mereka memiliki cinta yang luar biasa."
Setiap hari Minggu, Joko pergi ke Taman Simpang Adipura. Sendirian. Dia duduk di bangku yang sama. Bangku yang dulu menjadi saksi janji mereka.
Dia membawa dua gelas es kelapa muda. Satu untuknya. Satu untuk Janah—meskipun tidak diminum.
"Jan, gue datang."
Dia membayangkan Janah duduk di sampingnya. Tersenyum.
"Jan, gue kangen."
Angin bertiup. Daun, daun berguguran.
"Jan, lo pasti sudah bahagia di sana, ya. Di surga. Bersama Mak Amin dan Mak Dhijah. Gue iri."
Dia tersenyum pahit.
Suatu hari, Diah Pitaloka ikut dengan Joko ke taman.
"Pak, Bapak masih ingat kenangan dengan Ibu di sini?"
"Ingat, Nak. Setiap sudut taman ini."
Diah memegang tangan Joko. "Pak, Ibu pasti senang melihat Bapak masih setia datang ke sini."
"Bapak janji sama Ibu. Setiap tahun harus ke sini. Mengingat momen."
"Bapak hebat."
"Bukan hebat. Bapak hanya... mencintai Ibu."
Joko Pratama dan Siti Nurani sering bertanya tentang nenek mereka.
"Kakek, Nenek cantik, ya?"
"Cantik, Nak. Nenek paling cantik se, Kapuas."
"Nenek baik?"
"Baik. Nenek paling baik se, dunia."
"Kakek sayang Nenek?"
"Kakek sayang Nenek. Sampai kapan pun."
Joko Pratama memeluk Joko. "Kakek, aku juga sayang Kakek."
Joko tersenyum. Air matanya menetes.
Beberapa bulan setelah Janah meninggal, Joko jatuh sakit. Tubuhnya yang dulu tegap, kini semakin lemah. Dia tidak lagi ke taman. Hanya berbaring di tempat tidur.
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka memanggil dokter. Dokter bilang, Joko terkena stroke ringan. Jantungnya juga mulai melemah.
"Bapak harus istirahat total. Tidak boleh stres," kata dokter.
Joko tersenyum. "Bapak tidak stres. Bapak hanya... kangen Ibu."
Putra Sadewa menangis. "Pak, jangan bicara begitu."
"Bapak hanya jujur."
Suatu malam, Joko meminta Diah Pitaloka membacakan surat Janah untuknya.
"Diah, bacakan surat Ibu."
Diah membacakan surat itu. Suaranya bergetar.
"Tengil, jika kamu membaca surat ini, artinya aku sudah pergi. Jangan sedih..."
Diah tidak bisa melanjutkan. Joko yang terbaring lemah tersenyum.
"Jan, gue menyusul lo."
Diah terkejut. "Pak, apa maksud Bapak?"
Joko tidak menjawab. Dia memejamkan mata. Tangannya menggenggam surat Janah.
Diah memegang tangan Joko. Masih hangat.
Lalu, perlahan, tangan itu menjadi dingin.
"PAK! PAK!"
Joko pergi. Tenang. Tersenyum.
Joko dan Janah dimakamkan bersebelahan. Seperti Mak Amin dan Mak Dhijah. Sesuai permintaan mereka.
Di batu nisan Joko tertulis: "Joko Prayitno – Si Tengil yang Setia Menanti"
Di batu nisan Janah tertulis: "Siti Nurjanah – Perempuan yang Datang Tepat Waktu"
Putra Sadewa dan Diah Pitaloka berdiri di depan makam orang tua mereka. Menangis. Berdoa.
"Pak, Bu, kalian sekarang bersama. Tidak ada yang memisahkan lagi."
Joko Pratama dan Siti Nurani juga datang. Mereka meletakkan bunga di makam.
"Kakek, Nenek, aku sayang kalian."
Matahari sore bersinar hangat. Langit Kapuas berwarna jingga keemasan. Burung, burung terbang berpasangan.
Di bawah langit Kapuas yang luas, cinta Joko dan Janah telah mencapai akhir yang sempurna. Bukan akhir yang menyedihkan, tapi akhir yang indah. Akhir di mana dua insan yang saling mencintai akhirnya bersatu kembali. Bukan di dunia. Tapi di keabadian.
Dan pesan mereka untuk generasi penerus: "Cinta sejati tidak pernah mati. Ia hanya berpindah tempat."
EPILOG
*Langit Kapuas masih seperti dulu. Luas. Biru. Tenang. Sungainya masih mengalir. Perahu, perahu motor masih melintas. Warung, warung di Dermaga KP3 masih buka. Sate kelinci masih enak. Es kelapa masih segar.*
Taman Simpang Adipura masih ramai dikunjungi warga. Air mancur masih menyemburkan air. Lampu, lampu taman masih menyala di malam hari. Bangku, bangku beton masih ditempati oleh pasangan, pasangan muda yang mungkin sedang berjanji, seperti Joko dan Janah dulu.
Putra Sadewa kini mengelola bengkel "Tengil Jaya" dengan sukses. Bengkel itu semakin besar. Cabangnya ada di tiga kota. Dia sering bercerita pada karyawannya tentang ayahnya, Joko—Si Tengil yang memulai segalanya dari nol.
Diah Pitaloka masih membuka praktik dokter gigi di Kuala Kapuas. Dia juga aktif di kegiatan sosial. Dia sering berkunjung ke panti asuhan dan memberikan perawatan gigi gratis. Dia mengatakan, ibunya—Janah—yang mengajarkannya untuk berbagi.
Joko Pratama, cucu pertama, kini sudah remaja. Dia suka mendengar cerita kakek, neneknya dari orang tuanya. Dia berjanji akan menjadi laki, laki sejati seperti kakeknya.
Siti Nurani, si bungsu, masih polos. Tapi dia sering bertanya, "Kakek dan Nenek sekarang di mana?"
Dan jawaban yang selalu diberikan: "Mereka di surga. Bahagia. Bersama."
Maka, berakhirlah roman epik ini. Sebuah kisah tentang cinta yang berawal dari perjodohan, terpisah oleh waktu dan jarak, lalu bertemu kembali di bawah langit Kapuas.
Cerita ini bukan hanya milik Joko dan Janah. Tapi juga milik semua orang yang percaya bahwa cinta sejati itu ada. Bahwa perjuangan tidak pernah mengkhianati hasil. Bahwa di bawah langit mana pun, selama ada dua hati yang saling menanti, cinta akan selalu menemukan jalannya pulang.
Selamat tinggal, Joko dan Janah. Kisah kalian akan hidup selama, lamanya.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...