NOVEL
SI TENGIL JADI INSINYUR
Gebrakan Bintang, Kilatan Petir, dan Cinta yang Datang pada Pandangan
Keseribu
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan peristiwa yang diceritakan adalah hasil imajinasi penulis. Kemiripan dengan nama, tokoh, atau kejadian nyata di masa lalu, sekarang, maupun masa depan hanyalah kebetulan belaka. Sifat tengil tokoh utama tidak dimaksudkan untuk meniru perilaku negatif siapa pun.
PROLOG
Sawah dan Bintang yang Tak Pernah Diam
Desa Sawahan tidak pernah mengenal kata sepi. Bukan karena penduduknya ramai, melainkan karena sawah-sawahnya selalu berbisik setiap kali angin turun dari lereng Gunung Kidul. Tapi pada malam bulan September tahun 1985, desa itu benar-benar hening. Hening yang aneh. Hening yang membuat ayam-ayam enggan bertengger dan sapi-sapi di kandang gelisah menggoyangkan ekor.
Mbah Waginem, dukun beranak satu-satunya di desa, sedang berjalan cepat menyusuri pematang sawah dengan lampu senter bekas baterai kering yang redup. Usianya sudah tujuh puluh lebih, namun langkahnya masih setangguh akar pohon randu. Di belakangnya, Prapto Wiryodiningrat, seorang petani yang wajahnya lebih tua dari usianya karena terik matahari, hampir berlari sambil memegangi kain sarungnya.
“Mbah, kuat?” tanya Prapto setengah berteriak karena angin malam mulai meninggi.
“Kuat, Le. Saya sudah menolong lahir lima generasi di desa ini. Tapi baru kali ini saya merasa ada yang berbeda,” jawab Mbah Waginem tanpa menoleh.
“Berbeda bagaimana, Mbah?”
“Langit.”
Prapto mendongak. Langit malam itu memang aneh. Biasanya, bulan September adalah musim kemarau puncak, langit bersih tanpa awan, panas terik di siang hari dan dingin menusuk tulang di malam hari. Tapi malam itu, meskipun tidak ada satu pun awan hitam, langat seperti berdengung. Kilatan-kilatan cahaya muncul di ufuk timur, lalu barat, lalu selatan, seperti ada yang sedang bermain petir di kejauhan. Tapi tidak ada suara. Tidak ada gemuruh. Hanya cahaya.
“Petir tanpa hujan,” gumam Prapto.
“Bukan petir biasa,” balas Mbah Waginem. “Itu tanda.”
Prapto tidak berani bertanya tanda apa. Dia hanya mempercepat langkah karena bayangan rumahnya sudah mulai kelihatan dari balok pohon pisang di halaman.
Di dalam rumah, Mariyem, istrinya, sudah terbaring di atas kasur tipis beralaskan anyaman bambu. Keringat membasahi seluruh wajahnya. Dia tidak berteriak, tapi giginya menggigit bibir bawah sampai hampir berdarah. Kakak iparnya, Turinem, sudah sibuk menyiapkan air hangat dan kain bersih.
“Cepetan, Le!” teriak Turinem saat melihat Prapto masuk.
Mbah Waginem langsung mengambil posisi. Dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala, beliau memeriksa Mariyem, meraba perutnya, mendengarkan detak jantung calon bayi dengan kuping yang ditempelkan langsung ke dinding perut.
“Sudah waktunya,” kata Mbah Waginem. “Tapi bayi ini... dia tidak mau diam.”
“Maksudnya, Mbah?” tanya Prapto cemas.
“Bayi normal kalau mau lahir, dia akan berputar sedikit demi sedikit. Tapi bayi ini... dia seperti sedang berkelahi dari dalam.”
Prapto ingin membantu, tapi tidak tahu harus berbuat apa. Dia hanya bisa memegang tangan Mariyem yang dingin dan gemetar.
Proses persalinan berlangsung sekitar dua jam. Itu terbilang cepat untuk ukuran desa. Tapi setiap menit di dalam dua jam itu terasa seperti setahun bagi Prapto. Dan sepanjang waktu itu, kilatan-kilatan cahaya tak berhenti dari langit. Turinem sempat berbisik ke Prapto, “Lik, di luar terang seperti siang, padahal tengah malam.”
Akhirnya, pada pukul 23.47, tangisan bayi yang keras memecah keheningan.
Bukan tangisan biasa. Tangisan itu keras, lantang, dan anehnya, seperti disertai semacam nada protes. Tangisan yang seolah-olah mengatakan, “Dunia, aku di sini. Dan aku tidak akan diam.”
Cahaya di langit tiba-tiba berhenti. Kilatan-kilatan itu padam bersamaan. Langit kembali gelap seperti semula, hanya dihiasi ribuan bintang yang bersinar terang, lebih terang dari biasanya, menurut Prapto.
Mbah Waginem menggendong bayi itu dan... terdiam.
“Kenapa, Mbah?” tanya Prapto ketakutan.
Mbah Waginem tidak menjawab. Beliau memandangi bayi laki-laki mungil dengan rambut tipis hitam legam itu dengan tatapan aneh. Tatapan antara takjub dan gelisah.
“Mbah...” desak Prapto lagi.
“Lihat tangannya,” kata Mbah Waginem akhirnya.
Prapto mendekat. Bayi itu tidak hanya menangis. Tangannya yang mungil bergerak ke atas dan ke bawah, meraba-raba ke udara, lalu, ini yang paling aneh, tangannya meraih ke arah wajah Mbah Waginem. Bukan sembarang meraih. Bayi itu meraba-raba bagian dagu Mbah Waginem, tepat di area yang biasanya berjanggut. Tapi Mbah Waginem tidak punya janggut. Beliau perempuan.
“Dia mencari janggut,” kata Mbah Waginem, suaranya hampir berbisik. “Anak ini mencari janggut untuk ditarik.”
Prapto mengerjap. “Maksud Mbah? Bayi baru lahir mana tahu soal janggut.”
Mbah Waginem menghela napas panjang. Beliau kemudian menyerahkan bayi itu ke pangkuan Prapto dengan hati-hati. Begitu Prapto menggendongnya, tangan mungil itu langsung meraba-raba ke wajah Prapto. Dan begitu ujung jari mungil itu menyentuh kumis tipis Prapto, kumis yang memang sengaja Prapto pelihara sejak muda, bayi itu menariknya.
Prapto menjerit kecil. Bukan karena sakit, tapi karena kaget.
“Dia menarik kumis saya, Mbah!”
Mariyem, meskipun lelah, mencibir dari kasurnya. “Apa-apaan ini? Baru lahir sudah usil?”
Turinem yang dari tadi diam, hanya bisa geleng-geleng kepala.
Mbah Waginem mengambil senter dan menyorotkan ke wajah bayi itu. Bayi itu menutup matanya karena silau, lalu membukanya lagi, lalu, anehnya, tersenyum. Sebuah senyuman yang tidak biasa untuk bayi baru lahir. Senyuman itu tidak polos. Ada kelicikan di dalamnya. Mata hitamnya berbinar seperti dua titik minyak di genangan air.
“Dengar, Prapto,” kata Mbah Waginem akhirnya. “Saya sudah menolong lahir ratusan bayi dalam hidup saya. Saya tahu mana bayi biasa dan mana yang tidak. Anak laki-lakimu ini lahir dengan tiga tanda.”
“Tanda apa, Mbah?”
“Pertama, kilatan petir tanpa hujan dari segala penjuru mata angin. Kedua, langit yang tiba-tiba dipenuhi bintang lebih terang dari biasanya. Ketiga, bayi yang baru keluar dari rahim sudah mencari kumis dan janggut untuk ditarik.”
“Itu tanda apa, Mbah?” tanya Prapto lagi dengan suara bergetar.
Mbah Waginem memandang Prapto tajam. “Tanda bahwa anak ini akan menjadi orang yang membuat heboh desa ini. Dia akan menarik perhatian semua orang. Dia akan dicaci, dibenci, dikagumi, dan pada akhirnya, dirindukan. Karena anak sepertinya hanya lahir sekali dalam seratus tahun.”
Prapto memandangi bayi di pangkuannya. Bayi itu sekarang sudah berhenti menangis. Matanya yang hitam itu melihat sekeliling ruangan, melihat lampu minyak tanah, melihat Turinem, melihat Mariyem, lalu kembali ke wajah Prapto. Dan lagi-lagi, tangan mungil itu terangkat, meraba-raba, dan menarik kumis Prapto. Kali ini lebih keras.
“Aduh,” Prapto mengaduh.
Mariyem tertawa lelah. “Beritahu saya, Mas, apakah saya melahirkan anak atau monyet?”
“Dia tidak monyet, Yem,” kata Prapto sambil memperbaiki posisi kumisnya yang tertarik. “Dia... dia Lintang.”
“Apa?”
“Namanya Lintang. Seperti bintang di langit tadi malam. Karena dia lahir di bawah bintang-bintang yang tak pernah diam.”
Mbah Waginem mengangguk-angguk. “Nama yang tepat. Tapi ingat, Prapto. Nama bukanlah doa. Nama adalah peta. Dan peta anakmu ini... penuh dengan teka-teki.”
Malam itu, Prapto tidak bisa tidur. Dia duduk di kursi bambu di teras, menggendong Lintang kecil yang kini tertidur pulas, seolah dia tidak baru saja membuat kekacauan kecil di ruangan.
Angin malam bertiup lembut. Prapto mendongak ke langit. Bintang-bintang masih bersinar terang, seperti ikut menjaga bayi aneh di pangkuannya.
“Kau akan jadi apa, Nak?” bisik Prapto kepada bintang-bintang. “Kau akan jadi petani sepertiku? Atau kau akan jadi sesuatu yang lebih?”
Bayi itu tidak menjawab. Tapi dalam tidurnya, tangannya kembali bergerak, meraba-raba, mencari kumis yang tidak ada di udara.
Dan dari kejauhan, meskipun langit sudah gelap sempurna, satu kilatan cahaya kecil muncul di ujung Desa Sawahan, lalu menghilang.
Itulah awal dari segalanya.
Tiga puluh tahun kemudian, desa itu akan mengingat malam itu sebagai malam ketika tengil lahir ke dunia. Bukan tengil yang jahat. Bukan tengil yang merusak. Tapi tengil yang membuat orang tertawa, menangis, marah, dan pada akhirnya bersyukur karena pernah bertemu dengannya.
Namun itu semua masih sangat panjang.
Yang jelas malam itu, di gubuk kecil di pinggir sawah, seorang petani miskin menggendong masa depan desanya di tangan kirinya, sambil tangan kanannya waspada menjaga kumis dari serangan bayi.
“Selamat datang, Lintang,” bisik Prapto. “Semoga kau tidak terlalu menyulitkan.”
Bayi itu menguap.
Dan itu adalah jawaban yang paling mengkhawatirkan.
BAB 1
Bayi dengan Kumis Khayalan
Kilatan Petir dan Tarikan Pertama
Tiga minggu setelah kelahiran Lintang, Desa Sawahan masih belum berhenti membicarakannya.
Pagi itu, di warung kopi milik Kasuri yang terbuat dari anyaman bambu dan atap rumbia, para lelaki desa duduk bersila di kursi pendek sambil menyeruput kopi hitam pekat. Asap rokok kretek mengepul tipis bercampur uap kopi panas. Bau tembakau dan gula jawa menyatu menjadi aroma khas warung desa yang tidak pernah berubah sejak zaman penjajahan.
“Jadi, benar kata orang?” tanya Parman, paman dari desa tetangga yang kebetulan sedang bertamu. Parman adalah laki-laki tambun dengan kumis tebal melintang di bibir atasnya, persis seperti kumis komandan Jepang di film-film perjuangan. “Bayi Prapto itu dari lahir sudah punya kebiasaan aneh?”
Kasuri, pemilik warung, mengusap gelas kopi yang baru saja ia cuci dengan kain lap lusuh. “Anu, Le Parman. Aku saksi mata. Pekan lalu, anakku Karimin main ke rumah Prapto. Baru sedepa masuk, bayi itu sudah pegang muka Karimin.”
“Memegang muka?” Parman mengerutkan dahi.
“Bukan memegang, Le. Mencari. Seperti ini.” Kasuri memperagakan dengan tangannya sendiri. Tekel, pelanggan setia yang duduk di pojok, menyemburkan kopi dari mulutnya.
“Jangan bercanda, Kasuri,” sahut Tekel sambil menyeka dagu.
“Sumpah demi Allah, Tekel. Bayi itu tidak nangis, tidak minta susu, tidak minta digendong. Dia hanya meraba-raba. Dan kalau tangannya nemu kumis atau janggut... brebet!” Kasuri menarik rambut di lengannya sendiri sebagai ilustrasi.
Parman tanpa sadar memegang kumis tebalnya. “Jangan-jangan karena sering melihat Prapto yang berkumis tipis itu.”
“Prapto?” Kasuri tertawa kecil. “Kumis Prapto itu bulu ketek, bukan kumis. Mana cukup untuk ditiru anak bayi. Ini beda, Le Parman. Ini... firasat aneh. Mbah Waginem sendiri yang bilang.”
Mendengar nama dukun beranak itu, semua lelaki di warung mendadak serius. Parman mencondongkan badan. “Apa kata Mbah Waginem?”
Kasuri mengecek ke kiri dan kanan meski hanya mereka berempat yang ada, ia bersama Tekel, Parman, dan Kromong, lelaki tua yang biasanya hanya diam. Baru setelah yakin tidak ada telinga lain, Kasuri berbisik, “Mbah Waginem bilang, bayi itu lahir dengan tiga tanda. Petir tanpa hujan. Bintang terang seperti mau jatuh. Dan bayi yang lahir sudah ingin menarik kumis. Kata Mbah, itu pertanda desa ini akan heboh karena dia.”
“Heboh bagaimana? Positif atau negatif?”
“Belum tahu. Tapi satu yang pasti, Le Parman. Bayi itu... tengil.”
Parman menghela napas. “Bayi tengil. Aku baru dengar istilah itu.”
“Kau akan sering mendengarnya, Le. Mulai sekarang sampai anak itu besar nanti,” kata Kasuri sambil menuang kopi panas ke cangkir tamu baru yang datang, Pak Bramono, aparatur desa yang wajahnya selalu tegang seperti sedang menghadapi rapat.
Pak Bramono menerima kopinya tanpa berkata apa-apa, lalu setelah seteguk pertama, ia menyalakan rokok dan berkata, “Kalian membicarakan bayi Prapto lagi?”
“Maaf, Pak Bramono,” kata Kasuri cepat. Tangan Bramono melambai.
“Tidak usah minta maaf. Aku sendiri baru dari rumah Prapto tadi pagi.”
Semua mata tertuju pada Bramono. Parman menarik kursinya lebih dekat.
“Ada apa, Pak Bramono?” tanya Tekel penasaran.
Bramono menghela napas panjang. Lalu ia mulai bercerita.
“Aku datang ke rumah Prapto sekitar pukul tujuh. Biasanya, kalau ada bayi baru, aku datang untuk mencatat administrasi kependudukan. Nama, tempat tanggal lahir, orang tua, saksi. Tapi baru masuk pintu, aku sudah dilarang oleh Mariyem.”
“Dilarang?”
“Mariyem bilang, ‘Maaf, Pak Bramono, jangan terlalu dekat-dekat dulu. Lintang sedang aktif mencari sasaran.’ Aku pikir dia bercanda. Tapi begitu aku duduk di kursi bambu, Prapto menggendong bayi itu dan mendekat. Bayinya masih merah, rambutnya tipis, tapi matanya sudah terbuka lebar. ‘Ini Lintang, Pak,’ kata Prapto. Aku tersenyum. Aku ulurkan jari telunjukku untuk menyentuh pipinya. Kau tahu apa yang terjadi?”
Adeg-adegan macam wayang orang, Bramono memperagakan. “Bayi itu tidak menggigit jariku. Dia malah meraih tanganku dan... perlahan-lahan... meraba lengan bajuku, naik ke bahu, lalu... berhenti di daguku.”
Parman menelan ludah. “Dagu Bapak kan... bersih. Tidak ada janggut.”
“Justru itu yang aneh!” Bramono meninggikan suara. “Dia raba daguku yang licin itu seperti mencari sesuatu. Matanya... ada kekecewaan. Aku bersumpah, Le Parman, bayi itu menatapku dengan tatapan kecewa. Lalu dia meraih ke samping, ke arah Prapto dan... brebet! Kumis Prapto dia tarik!”
Kasuri dan Tekel tertawa terbahak-bahak. Tapi Bramono tidak tertawa. Wajahnya serius.
“Itu belum selesai. Setelah menarik kumis Prapto, bayi itu kembali menatapku. Matanya berkata, ‘Kamu tidak punya kumis atau janggut, Pak. Kamu tidak berguna bagiku.’ Aku yakin bayi itu berpikir seperti itu, karena setelah itu dia menangis keras dan memalingkan muka.”
“Anu, Pak Bramono,” kata Tekel sambil menahan tawa. “Maaf, tapi sepertinya Bapak dicuekin sama bayi.”
Bramono meneguk kopinya sampai habis. “Kau boleh tertawa, Tekel. Tapi aku sudah menjabat sebagai aparatur desa selama dua belas tahun. Aku sudah mencatat lebih dari tiga ratus bayi lahir di desa ini. Tidak pernah, aku katakan tidak pernah, aku dicuekin oleh bayi. Semua bayi yang aku datangi, mereka takut padaku karena wajahku tegang. Tapi bayi Prapto itu tidak takut. Dia malah menilai aku.”
Kasuri menggeser kopi panas kedua ke hadapan Bramono. “Lalu, bagaimana Bapak mencatat administrasinya?”
“Prapto yang memegang bayi itu dari jarak satu meter. Prapto yang menyebutkan nama, tempat, tanggal. Saya tulis dari kejauhan. Dan sepanjang saya menulis, bayi itu tidak berhenti menatap saya seperti saya ini seorang penjual jamu kecewa yang tidak laku.”
Parman menggaruk kepalanya yang botak. “Ini aneh. Aku sudah punya tujuh keponakan dan dua anak sendiri. Baru kali ini aku mendengar bayi seperti itu.”
“Karena bayi seperti itu cuma satu di desa ini, Le Parman,” kata Bramono sambil menyambar rokok kedua. “Dan aku takut... dia baru permulaan.”
Sementara para lelaki gempar di warung Kasuri, di rumah Prapto yang hanya berjarak seratus meter ke arah timur, suasana tidak kalah heboh.
Prapto duduk di lantai anyaman bambu sambil memangku Lintang yang sedang tidak mau diam. Bayi itu meronta-ronta kecil, bukan karena lapar atau sakit, tapi karena, seperti yang mulai dipahami Prapto, Lintang sedang bosan. Bayi yang baru berusia tiga minggu itu bosan.
“Mas, coba gendong dia jalan-jalan ke belakang rumah,” usul Mariyem dari dapur sambil menyiapkan bubur untuk sarapan. Wajahnya masih pucat karena proses melahirkan tiga minggu lalu, tapi ia sudah mulai berani beraktivitas.
“Ke belakang?” tanya Prapto. “Di belakang cuma ada pohon pisang dan sumur.”
“Ya setidaknya ada pemandangan baru untuk dia.”
“Yem, anak ini masih tiga minggu. Matanya belum fokus melihat.”
Tapi Lintang sudah merengek. Tangannya meraba-raba ke udara lagi. Prapto cepat-cepat menundukkan kepala agar kumisnya tidak terjangkau.
“Kamu lucu, Mas,” ledek Mariyem sambil mengaduk bubur. “Seumur-umur baru kali ini aku lihat petani takut sama bayinya sendiri.”
“Ini bukan takut, Yem. Ini strategi. Anak ini punya radar kumis. Kalau dia bisa bicara, mungkin dia akan minta jadwal siapa yang berkumis tebal datang ke rumah.”
Mariyem tertawa. Prapto menghela napas.
“Sejak lahir, aku tidak punya hari tenang,” keluh Prapto. “Dulu, sebelum Lintang lahir, anak bayi mah cuma menangis kalau lapar atau popok basah. Anak kita? Menangis kalau tidak ada kumis yang bisa ditarik. Itu sakit, Yem. Kumisku mulai bolong-bolong.”
“Sudah kubilang, cukur saja.”
“Cukur? Tidak bisa. Kumis ini satu-satunya kebanggaanku. Aku dapat kumis ini dari bapakku. Bapakku dapat dari kakekku. Ini pusaka, Yem.”
“Pusaka yang setiap hari ditarik-tarik bayi namanya bukan pusaka lagi, Mas. Itu namanya siksaan.”
Dari luar, terdengar suara panggilan. “Sri Prapto! Mariyem!”
Prapto menoleh. Di pintu, Karsinah, tetangga samping yang terkenal bawel dan suka ikut campur urusan orang, sudah masuk tanpa izin. Tangannya membawa rantang anyaman.
“Aku bawakan nasi urap untuk kalian,” kata Karsinah, lalu matanya langsung tertuju pada Lintang. “Wah, ini dia bayinya? Boleh aku gendong?”
Prapto ragu. “Bu Karsinah... agaknya...”
“Ah, Prapto pelit amat. Cuma aku gendong sebentar.” Tanpa menungu jawaban, Karsinah sudah meraih Lintang dari pangkuan Prapto.
Teriakan Prapto dan Mariyem bersamaan. “BU, KUMIS BAPAKNYA TIDAK PERLU DITARIK, TAPI KUMIS BU KARSINAH JUGA TIDAK ADA!”
Karsinah mengerjap. “Lho, maksudmu apa?”
Tapi sebelum ada yang bisa menjelaskan, Lintang sudah bergerak. Tangan mungilnya yang gemuk itu meraba dada Karsinah, lalu naik ke leher, lalu ke dagu, yang juga licin karena Karsinah perempuan. Begitu tahu tidak ada kumis atau janggut, Lintang merengut. Bibir bawahnya maju. Matanya berkaca-kaca. Lalu...
“HUAAAAAAAA!”
Tangis Lintang memecah ketenangan pagi.
Karsinah kaget setengah mati. “Astaga, kenapa dia nangis? Aku tidak apa-apakan dia, lho!”
“Itu, Bu,” kata Mariyem sambil meraih Lintang kembali. “Anak saya kalau tidak nemu kumis atau janggut yang bisa ditarik, dia frustrasi. Maaf, Bu.”
Karsinah terdiam. Rantang nasi urapnya nyaris jatuh. “Frustrasi? Bayi tiga minggu frustrasi karena tidak nemu kumis? Ini bayi atau tukang cukur keliling?”
“Kami juga masih bingung, Bu,” kata Prapto sambil mengusap pelipis. “Tapi begini keadaannya. Maaf merepotkan.”
Karsinah meletakkan rantang di meja, lalu mundur dua langkah. Matanya tidak lepas dari Lintang yang kini sudah berhenti menangis karena Mariyem dengan cerdik mengarahkan tangannya ke kumis Prapto, yang lagi-lagi harus rela menjadi korban.
“Demi apa,” gumam Karsinah. “Aku sudah 45 tahun hidup di desa ini. Aku sudah lihat ular sawah sebesar paha, aku sudah lihat banjir bandang tahun 78, aku sudah lihat Pak Lurah ketiduran di upacara 17 Agustusan. Tapi bayi tengil kayak gini? Belum pernah.”
“Ya, kami minta maaf, Bu,” kata Mariyem dengan nada lelah. “Kami juga tidak mendidik dia seperti ini dari lahir.”
“Tidak usah minta maaf,” kata Karsinah sambil mengatur kembali konde rambutnya yang sedikit berantakan karena kaget. “Tapi Prapto, Mariyem, mulai sekarang kalau kalian mau berkunjung ke rumah orang, sebaiknya... bawakan korban.”
“Korban?”
“Ya. Laki-laki yang berkumis atau berjanggut. Supaya bayi kalian ada yang bisa ditarik. Jangan sampai jadi kayak tadi, saya dicegat di depan pintu dan disambut tangis keras. Nanti tetangga kira saya yang nangisin bayi.”
Prapto dan Mariyem hanya bisa melongo.
Siang harinya, desa Sawahan kembali digegerkan oleh insiden baru.
Tumini, kerabat jauh Prapto dari dusun sebelah, datang berkunjung bersama suaminya yang bernama Kasturi, yang memiliki janggut lebat seperti kambing etawa. Janggut itu sudah sampai hampir sejengkal dari dagu, dirawat dengan minyak kelapa setiap malam Jumat.
“Ini, Prapto, aku bawakan telur asin dan bandeng presto,” kata Tumini sambil menyodorkan keranjang bambu besar. “Kabar dengar anakmu unik. Aku penasaran.”
Prapto yang sedang mencangkul di kebun langsung menghentikan pekerjaannya. “Jangan, Lek Kasturi,” katanya cepat. “Jangan terlalu dekat dulu dengan Lintang.”
Kasturi yang berjanggut lebat itu hanya tertawa. “Ah, Prapto, aku ini sudah pengalaman. Arahkan saja bayi itu padaku. Aku tidak takut.”
Mariyem yang mendengar dari dalam rumah segera keluar sambil memangku Lintang yang baru bangun tidur. “Lek Kasturi, Bapak yakin?”
“Yakin, Yem. Masa aku takut sama bayi umur tiga minggu. Janggutku ini tidak akan goyah.”
Mariyem menatap suaminya. Prapto mengangguk lesu. “Ya sudah, coba saja. Tapi jangan bilang kami tidak pernah memperingatkan.”
Mariyem mendekatkan Lintang ke wajah Kasturi. Bayi itu membuka mata. Matanya yang hitam berbinar. Dan untuk pertama kalinya, Lintang tidak menangis. Dia tersenyum.
Senyuman yang membuat bulu kuduk Prapto merinding.
“Astaga, dia senyum,” kata Tumini takjub. “Manis sekali.”
“Bukan manis, Tin,” potong Prapto. “Itu senyum predator.”
Kasturi tertawa lebar. Janggutnya bergoyang-goyang. Lintang mengamati gerakan itu seperti anak kucing yang melihat benang wol bergerak.
“Nah, Nak Lintang,” kata Kasturi dengan suara lembut yang dibuat-buat, “kamu mau main dengan janggut Paman?”
Lintang mengangkat tangan kanannya. Perlahan. Sangat perlahan. Seperti ular kobra yang hendak menyerang.
“Lihat, Tin, dia mau,” kata Kasturi bangga.
Tangan Lintang meraba dada Kasuri, lalu naik ke leher, lalu, sampailah di janggut lebat itu.
Prapto menutup mata.
Mariyem memalingkan muka.
Tumini masih tersenyum polos.
Lintang menarik.
Bukan satu tarikan biasa. Ini tarikan yang sungguh-sungguh. Bayi mungil itu menggenggam beberapa helai janggut Kasturi dengan erat, lalu menariknya ke bawah dengan seluruh kekuatan tangannya yang kecil tapi luar biasa kuat.
Kasuri menjerit.
“AADUUUHHH!”
Janggutnya tidak lepas, syukurlah, tapi tarikan itu cukup membuat kepalanya ikut tertarik ke depan. Lehernya hampir terkilir. Matanya melotot.
“LEPAS, LEK! BAYINYA LEPAS!” teriak Tumini panik.
Mariyem berusaha membuka genggaman Lintang, tapi tangan mungil itu menggenggam seperti capit kepiting. Jari-jari Lintang menekan erat.
“MAS PRAPTO, BANTU!” teriak Mariyem.
Prapto yang sebenarnya bisa membantu, tapi entah kenapa dia berdiri membeku dengan ekspresi antara kasihan dan jengkel. “Sudah kuperingatkan, Lek Kasturi. Tapi Pak Lek, bilang janggut Pak Lek tidak akan goyah.”
“PRAPTO, INI BUKAN SAATNYA BERCANDA!”
Akhirnya Prapto bertindak. Dengan teknik yang sudah mulai ia kuasai dalam tiga minggu terakhir, ia mengelus-elus jari Lintang sambil bersiul pelan. Konon, itu cara yang ampuh untuk membuat Lintang mengendurkan genggamannya. Dan memang benar. Setelah beberapa detik, jari-jari Lintang mengendur, dan Kasturi bisa menarik wajahnya ke belakang.
Kasuri terengah-engah. Janggutnya basah oleh keringat dingin. “Anak ini... anak ini punya kekuatan yang tidak wajar.”
“Maaf, Lek Kasturi,” kata Mariyem dengan wajah semburat merah karena malu. “Setiap hari kami lalui seperti ini.”
Tumini yang masih syok, bisik ke Prapto, “Berapa kali kumismu ditarik dalam sehari, Lek?”
“Rata-rata 47 kali. Lebih kalau Lintang sedang tidak mood.”
Kasturi bangkit berdiri, tangannya masih memegangi kepala karena lehernya terasa nyeri. “Prapto, aku minta maaf sudah meremehkan peringatanmu. Aku tidak akan pernah... tidak akan pernah... meremehkanmu lagi. Tapi untuk urusan besok, kalau kalian mau bertamu ke rumahku, tolong jangan bawa anak ini.”
“Tapi Lek Kasturi, mau bagaimana lagi? Dia anak kami.”
“Anak kalian adalah senjata pemusnah janggut. Aku tidak rela janggutku rontok sebelum waktunya.”
Kasturi pun pergi meninggalkan rumah Prapto dengan langkah cepat, tanpa menoleh ke belakang. Tumini hanya bisa mengangkat tangan pamit sambil memasang senyum canggung.
Prapto menatap Lintang yang kini, puas setelah menarik janggut, tertidur pulas di pangkuan Mariyem.
“Kita sudah kehilangan banyak kerabat, Yem,” kata Prapto lirih. “Kerabat kita berkurang satu per satu karena anak ini.”
Mariyem menghela napas. “Atau kita bisa panggil mereka yang tidak punya kumis atau janggut?”
“Siapa? Cuma perempuan. Itu pun kalau Lintang tidak bosan karena mereka tidak punya janggut.”
“Kalau gitu... kita suruh Mbah Waginem datang. Beliau tidak punya kumis. Tapi setidaknya beliau tahu cara mengatasi Lintang.”
Prapto mengangguk. “Kita minta beliau datang besok. Sekarang aku ingin istirahat. Kumisku sudah perih.”
Tapi malangnya, Prapto bahkan tidak bisa istirahat. Karena lima menit kemudian, ada ketukan pintu. Dan di balik pintu berdiri Sutik, anak tetangga yang masih berusia 7 tahun, dengan mata bengkak karena menangis.
“Pak Prapto... adik bayinya... Lintang, Pak...”
“Ada apa, Tik?”
“Beberapa hari lalu, aku iseng-iseng main ke rumah, pas Lintang lagi tidur. Aku lihat pipinya gemes. Aku cubit pelan, Pak.”
Prapto menghela napas panjang. “Lalu?”
“Tadi siang, Lintang merangkak ke rumahku. Maaf, Pak, ibu bilang jangan lapor, tapi aku takut. Lintang menarik rambutku, Pak. Dua helai. Sampai botak di sini.” Sutik menunjuk ubun-ubunnya yang memang tampak sedikit menipis.
Prapto ingin marah, tapi melihat muka Sutik yang polos dan ketakutan, ia hanya bisa berkata, “Tik, pelajaran untukmu: jangan cubit bayi orang kalau tidak mau rambutmu rontok.”
“Tapi dia bayi, Pak. Masak balas dendam?”
“Bayi orang mungkin tidak. Tapi bayi saya... punya ingatan panjang.”
Sutik pun pulang dengan semakin takut, sambil terus memegangi rambutnya yang tersisa.
Mariyem yang mendengar percakapan itu hanya geleng-geleng. “Mas, ini tidak bisa dibiarkan. Anak kita ini sudah punya track record kriminal di usia tiga minggu. Nanti dia besar jadi apa?”
“Kita bawa ke Mbah Waginem, Yem. Besok pagi.”
“Tapi berani kita jalan sama dia?”
Prapto melihat Lintang yang tertidur dengan senyum puas. “Kita bawa jam yang ada kumis, Yem. Siapa tahu perjalanan aman.”
“Jam yang ada kumis? Di mana nyari jam yang ada kumis?”
“Aku maksudnya... kita bawa kambing.”
“Kambing?”
“Kambing punya janggut. Mungkin Lintang puas kalau main sama janggut kambing.”
Mariyem menatap suaminya seperti melihat orang gila. “Jadi kita akan jalan ke rumah Mbah Waginem sambil menuntun kambing, hanya untuk mengalihkan perhatian Lintang dari kumis manusia?”
“Itu rencananya.”
“Mas Prapto,” kata Mariyem sambil menggendong Lintang lebih erat. “Kadang aku bingung, apakah anak kita yang tengil atau suamiku yang tolol.”
“Tidak keduanya, Yem. Kita hanya keluarga yang berusaha bertahan hidup.”
Malam harinya, ketika desa Sawahan mulai gelap dan lampu minyak tanah dinyalakan satu per satu, Prapto duduk di teras bersama Lintang. Mariyem sudah tertidur di dalam.
Angin malam berhembus. Lintang tidak tidur. Matanya terbuka lebar menatap langit.
“Kau lihat bintang-bintang itu, Nak?” bisik Prapto. “Kau lahir di bawah bintang yang sama.”
Lintang tidak menjawab. Tapi tangannya meraba-raba ke udara, bukan mencari kumis kali ini, tapi menunjuk ke langit.
Prapto mengikuti arah jari mungil itu. “Kau tunjuk bintang yang mana? Yang paling terang? Atau yang paling jauh?”
Lintang menggerakkan tangannya, seperti sedang menggambar sesuatu di udara.
“Kau mau jadi bintang, Nak? Supaya semua orang melihatmu?”
Lintang menguap. Lalu tangannya kembali mencari kumis Prapto dan menariknya.
“Aduh,” Prapto mengaduh. Tapi kali ini dia tidak melepaskan. Dia membiarkan Lintang menarik kumisnya sambil terus menatap bintang-bintang.
“Kau akan jadi sesuatu, Lintang,” bisik Prapto. “Tapi aku tidak tahu itu baik atau buruk. Yang aku tahu, kumisku akan botak sebelum umurku 50 tahun. Syukurlah aku tidak punya janggut.”
Lintang melepas kumis itu. Lalu untuk pertama kalinya, dia tidak menangis, tidak merengek, tidak meraba-raba. Dia hanya menatap Prapto.
Mata hitam itu terang oleh cahaya bintang.
Dan Prapto merasa, meskipun anaknya baru tiga minggu, ada kesadaran di dalamnya. Kesadaran bahwa dia berbeda.
Tapi apakah berbeda itu anugerah atau kutukan?
Belum ada yang tahu.
Yang jelas, malam itu, di teras rumah bambu yang sederhana, seorang petani dan bayinya duduk bersama dalam diam yang anehnya damai.
Hingga dari kejauhan, samar-samar terdengar suara Mbah Waginem berdoa di rumahnya, seperti sudah tahu bahwa besok pagi akan ada tamu spesial dengan seekor kambing dan satu bayi tengil yang mencari janggut.
BAB 2
Kumis, Janggut, dan Rambut Korban Pertama
Kegilaan Masa Balita
Empat tahun berlalu sejak malam bintang itu.
Desa Sawahan kini memiliki aturan tidak tertulis baru: Jika melihat Lintang kecil mendekat, segera tutup wajah bagian bawah dengan kedua tangan. Aturan ini tidak pernah diumumkan secara resmi, tapi menyebar dari mulut ke mulut lebih cepat daripada wabah flu burung.
Pagi itu, di langgar desa, suara anak-anak mengaji terdengar sumbang karena ketakutan kolektif. Bu Kasiyati, guru ngaji yang wajahnya selalu tersenyum meski hati kadang benci, sedang mencoba mengajar huruf hijaiyah. Dua belas anak duduk bersila di karpet hijau. Lintang duduk paling depan, bukan karena rajin, tapi karena Bu Kasiyati ingin mengawasinya.
“Baik, anak-anak. Sekarang ulangi setelah saya: Alif, ba, ta, tsa...” ucap Bu Kasiyati dengan suara lantang.
Anak-anak mengulangi. Semua kompak kecuali satu suara yang mengikuti setengah detik kemudian seperti kaset karet.
“Alif, ba, ta, tsa...” suara itu sengaja dibuat cempreng.
Bu Kasiyati menoleh. Lintang tersenyum dengan mata licik.
“Lintang, kenapa suaramu beda sendiri?”
“Biar merdu, Bu,” jawab Lintang polos.
“Ini ngaji, bukan ajang pencarian bakat.”
“Saya tahu, Bu. Tapi kan kalau merdu, Allah lebih senang dengar.”
Seorang anak bernama Marni terkikik. Anak-anak lain mulai ikut terkikik. Bu Kasiyati menghela napas panjang. Dia sudah dua tahun mengajar Lintang, terhitung sejak Lintang bisa berjalan dan setiap hari selalu ada drama baru. Tapi hari ini dia sudah siap.
“Lintang, kamu duduk di samping saya.”
“Iya, Bu.”
Lintang memindahkan tempat duduknya. Bu Kasiyati mengajarkan huruf selanjutnya. Lima menit berjalan lancar. Anak-anak fokus. Matahari pagi masuk lewat celah-celah anyaman bambu. Udara langgar yang bau dupa dan kertas tua mulai terasa menenangkan.
Tapi ketenangan itu pecah ketika Bu Kasiyati berdiri untuk mengambil kapur tulis.
“Coba kalian baca sendiri dulu. Nun, wau, ha, hamzah...”
Bu Kasiyati berjalan ke papan tulis yang terbuat dari triplek bekas. Punggungnya membelakangi anak-anak.
Lintang melihat kesempatan.
Matanya bergerak cepat mengamati sekeliling. Jarot, anak Rojikin preman desa, sedang sibuk mengorek hidung. Bejo, anak tengkulak beras, sibuk menggambar mobil di karpet. Marni, si cengeng kesayangan semua guru, sedang membaca dengan bibir komat-kamit.
Tapi target Lintang bukan mereka.
Targetnya adalah Bu Kasiyati.
Guru ngaji berusia 55 tahun itu tidak punya kumis. Tidak punya janggut. Tapi dia punya sesuatu yang lebih menarik: rambut. Rambut Bu Kasiyati disanggul rapi dengan tusuk konde dari kayu. Beberapa helai rambut putih mulai muncul di pelipis.
Belum pernah Lintang menarik rambut. Biasanya dia puas dengan kumis dan janggut. Tapi hari ini, diam-diam dia penasaran: apakah rambut sama fungsinya seperti kumis? Apakah rambut juga bisa "berbicara" ketika ditarik?
“Assalamualaikum...”
Semua anak menoleh ke pintu. Pak Darmo, tetangga desa yang terkenal dengan kumis lebatnya, lebih lebat dari semua kumis yang pernah ditarik Lintang, masuk dengan wajah berseri. Di tangannya, sekantong plastik berisi jajanan.
“Bu Kasiyati, saya titip uang infaq untuk pembangunan langgar,” kata Pak Darmo sambil mengulurkan kantong.
Bu Kasiyati berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Lintang tidak membuang waktu. Dia melesat seperti anak panah. Dengan kecepatan yang tidak wajar untuk anak usia empat tahun, ia sudah berada tepat di belakang Bu Kasiyati.
Dan dalam satu gerakan cepat, tangan kanannya menarik tiga helai rambut Bu Kasiyati dari sanggul bagian belakang.
“Awas...!”
Bu Kasiyati menjerit. Tangannya refleks memegang kepala. Sanggulnya terlepas. Rambut panjangnya yang diikat rapi tiba-tiba buyar seperti air terjun kecil.
Tusuk konde jatuh ke lantai dengan bunyi kretek.
Anak-anak serentak berhenti mengaji. Suasana langgar yang tadinya tenang berubah menjadi tegang.
Pak Darmo, yang dari tadi masih berdiri di pintu, membelalakkan mata. “Nak Lintang, kamu tarik rambut Bu Guru?”
Lintang mengangkat bahu. “Saya mau lihat, Pak. Apanya yang bikin Bu Guru cantik.”
Bu Kasiyati mengatur napas. Dengan gerakan yang dibuat lambat, dia menunduk mengambil tusuk konde, lalu menyanggul rambutnya kembali. Wajahnya merah padam, bukan karena sakit, tapi karena malu. Di depan Pak Darmo, di depan dua belas anak murid, seorang guru diganggu oleh bocah tengil berusia empat tahun.
“Lintang,” kata Bu Kasiyati dengan suara bergetar. “Kamu tahu aku bisa melaporkanmu ke orang tuamu?”
“Tahu, Bu.”
“Kamu tidak takut?”
“Saya takut, Bu. Tapi lebih takut kalau tidak tahu jawabannya.”
“Jawaban apa?”
“Apa yang membuat Bu Guru cantik,” kata Lintang polos. “Sekarang saya tahu itu rambutnya. Terima kasih, Bu.”
Bu Kasiyati terdiam. Dia tidak tahu harus marah atau tertawa. Pak Darmo, di sisi lain, sudah tertawa terbahak-bahak.
“Anak ini luar biasa, Bu Kasiyati,” kata Pak Darmo sambil mengusap-usap kumis tebalnya. “Dulu aku belum percaya cerita orang tentang dia. Tapi sekarang... aku percaya.”
Lintang yang mendengar kata "kumis" langsung menoleh ke arah Pak Darmo.
Matanya berbinar.
“Oh, Bapak punya kumis,” kata Lintang dengan nada seperti seorang kolektor yang menemukan benda langka.
“Hati-hati, Pak Darmo,” potong Bu Kasiyati cepat. “Kumis Bapak dalam bahaya.”
Pak Darmo hanya tertawa. “Kumisku ini sudah berumur dua puluh tahun, Bu. Sudah ditarik istriku ribuan kali saat marah. Masa aku takut sama bocah sebesar ini?”
Dia lalu berjongkok di depan Lintang. Wajahnya sejajar. Kumisnya kini hanya berjarak beberapa senti dari tangan Lintang.
“Nak Lintang, kamu mau menarik kumis paman?”
Lintang mengangguk.
“Silakan. Tapi hati-hati, ya. Jangan terlalu keras.”
Lintang mengulurkan tangan. Perlahan, jari-jari mungilnya meraba ujung kumis kiri Pak Darmo. Lalu kedua tangan menggenggam masing-masing sisi.
Bu Kasiyati menutup mata.
Anak-anak berbisik heboh.
Pak Darmo tersenyum percaya diri.
Lintang menarik.
Bukan satu tarikan biasa. Tarikan ini menggunakan seluruh tenaga. Badan Lintang mundur ke belakang, kakinya menjejak lantai, punggungnya melengkung seperti sedang tarik tambang.
Kumis Pak Darmo tidak lepas, terima kasih Tuhan, tapi wajah Pak Darmo ikut tertarik ke depan. Lehernya tertarik sekitar lima senti. Matanya terbeliak.
“Nah... Nak...” suara Pak Darmo bergetar. “Perlahan... Paman bilang perlahan...”
“Ini sudah perlahan, Pak,” kata Lintang tanpa melepas genggaman. “Baru lima persen kekuatan saya.”
Pak Darmo ingin tertawa, tapi sakitnya luar biasa. Air matanya mulai menggenang.
“Oke, oke... Paman menyerah... lepas, Nak... lepas...”
Lintang tidak melepas.
“Lepas, Nak, Paman belikan es lilin.”
Mendengar kata "es lilin", Lintang melepas genggamannya seketika. Dia tersenyum lebar. “Janji, Pak?”
“Janji. Sumpah demi kumisku sendiri.”
Pak Darmo berdiri dengan wajah pucat. Tangan kirinya mengusap-usap leher yang terasa nyeri. Tangan kanannya memegang kumis yang masih utuh, syukurlah, tapi terasa seperti baru saja dicabut dari akarnya.
Bu Kasiyati mendekat. “Sudah saya bilang, Pak Darmo.”
“Saya kira... saya kuat... ternyata... saya lemah,” kata Pak Darmo terengah-engah.
“Silakan duduk dulu, Pak. Saya ambilkan air putih.”
“Jangan repot-repot, Bu. Lebih baik saya segera pulang. Dan mulai hari ini, saya akan mencukur kumis saya.”
Lintang yang mendengar itu langsung protes. “JANGAN, PAK! KUMIS BAPAK ITU PUSAKA!”
Pak Darmo menoleh. “Kamu barusan bilang apa? Pusaka?”
“Iya. Saya perlu kumis itu untuk latihan. Kalau Bapak cukur, dari mana saya dapat kumis lagi?”
Bu Kasiyati mengusap wajahnya dengan rasa lelah yang tak terkira. “Ini anak ini. Baru empat tahun, sudah punya agenda pribadi soal kumis warga.”
Pak Darmo tidak jadi pulang. Dia duduk di kursi bambu yang terletak di samping mimbar. Wajahnya masih pucat. Sementara Lintang kembali ke tempat duduknya dengan senyum puas, menunggu janji es lilin di sore hari.
Jam sepuluh pagi, rombongan ibu-ibu PKK mulai berdatangan ke langgar. Mereka hendak membersihkan area sekitar untuk peringatan Isra Miraj minggu depan. Terdengar suara-suara riuh dari sepuluh perempuan dengan sapu, kain pel, dan ember.
Ada Romlah, penjual jamu keliling yang terkenal cerewet. Ada Suryani, istri Pak Darmo yang baru saja mendengar suami barunya ditaklukkan oleh bocah empat tahun. Ada Karsinah, yang sudah lama punya pengalaman pahit dengan Lintang. Ada Mbah Waginem yang datang untuk mengawasi karena penasaran. Dan ada Piah, gadis remaja keponakan Bu Kasiyati yang sedang libur sekolah.
“Mana anak sialan itu?” Suryani langsung berteriak dari pintu.
Bu Kasiyati menegur. “Jangan kasar, Bu Suryani. Dia masih anak-anak.”
“Anak-anak? Suami saya hampir patah leher karena anak-anak ini!”
Lintang yang sedang sibuk menyusun balok kayu dari mainan hasil utak-atik, menoleh. “Bentar, Bu. Siapa yang hampir patah leher?”
“Bapakmu, Lintang! Suamiku! Pak Darmo! Yang punya kumis tebal itu!”
“Oh, itu,” kata Lintang dengan nada biasa. “Itu bukan salah saya, Bu. Bapak yang ngotot menyuruh saya tarik.”
“Pak Darmo menyuruh Lintang menarik?” tanya Romlah penjual jamu dengan gelas jamu masih di tangan.
Lintang mengangguk mantap. “Iya, Bu. Bapak bilang, ‘Silakan.’ Dan saya hanya mematuhi orang tua. Kan orang tua harus dihormati.”
Suryani terdiam. Dia tidak bisa membantah argumen itu karena memang suaminya terkenal sok pemberani.
“Tapi kamu menariknya keras sekali,” Suryani bersikeras.
“Lho, Bu, namanya juga menarik. Kalau pelan-pelan namanya mengelus. Bapak minta ditarik, bukan dielus.”
Romlah tertawa terbahak-bahak sampai jamunya tumpah. “Anak ini... dasar tengil! TAPI TENGAIL YANG PINTAR! Aku suka!”
Suryani menggerutu. Matanya mencari suaminya yang masih duduk di kursi bambu. “Mas Darmo! Pulang! Malu-maluin!”
Pak Darmo tersenyum canggung pada para ibu-ibu. “Istriku marah. Aku duluan, ya, Bu Kasiyati.”
“Hati-hati di jalan, Pak Darmo. Jaga kumisnya.”
“Kumisnya? Lehernya yang lebih penting.”
Pak Darmo pun keluar diikuti Suryani yang masih mengomel sepanjang jalan. Lintang melambaikan tangan. “Dadah, Pak! Es lilinya nanti sore ya!”
Pak Darmo tidak menjawab.
Bu Kasiyati menghela napas. “Lintang, kamu tahu bahwa kamu sudah membuat satu keluarga hampir cerai?”
“Kok bisa, Bu?”
“Karena istri Pak Darmo marah pada suaminya gara-gara kamu.”
“Itu bukan salah saya, Bu. Itu salah Bapak. Bapak tidak tahu kemampuan diri. Kan sudah saya peringatkan: ‘Baru lima persen kekuatan saya.’ Tapi Bapak tetap maksa.”
Romlah menepuk pundak Bu Kasiyati. “Bu, jangan diladeni. Anak ini memang sudah terlahir untuk jadi pengacau. Biarkan saja. Toh tidak ada korban jiwa.”
“Belum ada korban jiwa,” sahut Mbah Waginem yang dari tadi duduk di pojok sambil mengamati. “Tapi dia baru empat tahun. Masih panjang perjalanannya.”
Lintang menoleh ke Mbah Waginem. “Mbah, Mbah punya janggut?”
Mbah Waginem tersenyum. “Tidak, Le. Aku perempuan.”
“Tapi Mbah punya ilmu. Ilmu itu lebih kuat daripada kumis dan janggut, kan?”
Seluruh ibu-ibu terdiam. Mbah Waginem terkejut. “Kamu tahu soal ilmu saya?”
“Semua orang tahu, Mbah. Mereka bilang Mbah bisa lihat masa depan. Masa depan saya bagaimana, Mbah?”
Mbah Waginem mengamati Lintang. Matanya seperti menyelam ke dalam jiwa bocah itu. Lama. Sangat lama. Kemudian dia berkata, “Masa depanmu penuh kumis dan janggut, Le. Tapi bukan yang kau tarik. Yang kau temui.”
Lintang mengerjap. “Artinya?”
“Artinya? Aku tidak mau bilang. Biar menjadi kejutan.”
Lintang merengut. Romlah tertawa lagi. “Mbah Waginem juga kena pengaruh anak ini. Mulai bicara pakai teka-teki.”
“Bukan teka-teki, Romlah. Itu namanya menjaga takdir,” kata Mbah Waginem sambil berdiri. “Sekarang aku pulang. Ada yang mau kusirik.” Beliau melangkah keluar namun berhenti di pintu. “Oh iya, Bu Kasiyati. Esok kalau mengajar Lintang, lebih baik bawa suamimu yang berkumis tebal sebagai umpan. Biar Lintang puas.”
“Suami saya berkumis tipis, Mbah.”
“Ya sudah. Pakai sapu lidi. Ikat beberapa helai, tempelkan di dagu. Mungkin Lintang tertipu.”
Bu Kasiyati bengong. Itu saran paling absurd yang pernah dia dengar.
Siang harinya, Lintang pulang ke rumahnya dengan langkah kegirangan. Bibirnya basah oleh sisa es lilin yang dibelikan Pak Darmo, suami Suryani yang akhirnya tetap menepati janji meski malu setengah mati.
Prapto sedang duduk di teras sambil memperbaiki cangkul. Mariyem di dapur menanak nasi dengan kendil tanah liat.
“Pa, aku pulang!” teriak Lintang dari depan pintu sebelum masuk.
“Iya. Duduk di sini, Le,” kata Prapto sambil menepuk kursi bambu di sampingnya.
Lintang langsung duduk. Matanya menatap kumis Prapto yang sudah mulai tipis di beberapa bagian. Selama empat tahun, kumis itu sudah ditarik ribuan kali. Akibatnya, beberapa helai tidak tumbuh lagi. Kumis Prapto sekarang tampak seperti sawah yang baru dibajak, bolong-bolong.
“Pa, tadi Bu Kasiyati cerita tentang surga neraka,” kata Lintang.
“Oh ya? Terus?”
“Bu Kasiyati bilang, surga itu penuh bidadari. Tapi aku tanya, apa ada kumisnya? Bu Kasiyati marah.”
Prapto menahan tawa. “Kamu memang beda, Le. Anak lain dengar surga langsung kepikiran istana, sungai susu, madu. Kamu malah kepikiran kumis.”
“Karena kumis itu penting, Pa. Tanpa kumis, dunia ini hambar.”
“Kata siapa?”
“Kata aku. Aku yang punya selera.”
Mariyem yang mendengar dari dapur langsung menyodorkan wajah ke pintu. “Lintang, kamu jangan membual! Kamu itu kecil, masih banyak yang belum kamu tahu.”
“Aku tahu banyak, Ma. Misalnya, aku tahu kalau Ibu sebenarnya iri.”
“Iri sama apa?”
“Ibu tidak punya kumis.”
Mariyem keluar dari dapur dengan sendok kayu di tangan. “Kamu mau kena sendok, Nak?”
Lintang mengangkat tangan. “Maaf, Ma. Aku bercanda. Ibu cantik meski tanpa kumis.”
“Kamu memang tengil,” Mariyem menggerutu sambil kembali ke dapur.
Prapto mengusap kepala Lintang. “Kamu jangan terlalu sering bikin ibumu marah, Le. Nanti dia stres.”
“Pa, sebenarnya kenapa sih aku suka kumis dan janggut? Anak lain suka main bola atau mobil-mobilan.”
Prapto berpikir sejenak. Mungkin ini saatnya menjelaskan secara ilmiah, meski dia tidak punya ilmu. “Mungkin karena kamu suka tekstur.”
“Tekstur?”
“Iya. Rambut itu lembut tapi kadang kasar. Mungkin otakmu suka sensasi sentuhan itu.”
Lintang mengerjap. “Pa, Tekstur tahu kata ‘tekstur’ dari mana?”
“Dari radio. Ada program dokter-dokteran.”
“Ini pendapat yang paling masuk akal yang pernah aku dengar, Pa. Tapi ada satu lagi.”
“Apa?”
“Mungkin aku juga suka reaksi orangnya. Wajah mereka lucu kalau kaget.”
Prapto menghela napas. “Itu yang paling jujur dari kamu. Kamu suka melihat orang kaget, Le. Kamu suka perhatian.”
Lintang diam. Dia tidak bisa membantah. Karena memang benar.
“Tapi hati-hati, Le,” lanjut Prapto. “Terlalu banyak perhatian itu tidak baik. Nanti kamu jadi sombong. Orang sombong itu jatuhnya sakit.”
“Tapi kalau aku tidak menarik kumis, tidak ada yang peduli padaku, Pa. Aku hanya anak desa biasa.”
“Jadi kamu menarik kumis supaya dilihat orang?”
Lintang mengangguk pelan.
Prapto menatap anaknya. Matanya lembut. “Le, kamu tidak perlu menarik kumis orang untuk dilihat. Kamu sudah terlihat sejak lahir. Bintang-bintang itu ikut menyaksikan kelahiranmu. Kamu istimewa tanpa harus menarik apa pun.”
Lintang tidak menjawab. Matanya berkaca-kaca. Tapi dia cepat-cepat mengusapnya dengan tangan.
“Aku tidak nangis, Pa. Hanya ada debu.”
Prapto tertawa. “Iya, debu. Debu yang keluar dari matamu.”
Sore harinya, Lintang bermain di lapangan desa bersama anak-anak lain. Ada sekitar lima belas anak usia 3-7 tahun. Mereka bermain gobak sodor, lompat tali, dan petak umpet.
Tapi Lintang tidak ikut bermain. Dia duduk di pinggir lapangan sambil mengamati.
Matanya bergerak dari satu wajah ke wajah lain. Mencari.
Dan dia menemukannya.
Di sudut lapangan, seorang bapak-bapak berdiri sambil memegang bambu. Bapak itu tidak dikenal. Wajahnya asing. Pakaiannya rapi, kemeja putih lengan panjang yang digulung sedikit. Itu bukan pakaian orang desa biasa.
“Itu siapa?” tanya Lintang pada Jarot yang sedang duduk di sampingnya mengorek hidung.
Jarot menoleh. “Itu? Namanya Pak Teguh Santoso. Kata bapakku, dia dari kecamatan. Mau ngukur-ngukur tanah untuk proyek.”
“Dia punya janggut?”
Jarot mengamati. “Iya. Sedikit. Tipis. Tapi ada.”
Lintang tersenyum. Target baru.
Dia berjalan mendekati Pak Teguh Santoso. Dengan langkah pelan, tidak mencolok. Seperti kucing mendekati burung.
Pak Teguh sedang sibuk melihat peta dan mengukur tanah. Tiga orang desa berdiri di sampingnya: lurah desa bernama Pak Karyono, sekretaris desa, dan Rojikin, preman desa yang ingin proyeknya masuk.
“...jadi titik selatan ini akan kita bangun saluran irigasi baru,” kata Pak Teguh sambil menunjuk peta.
Lintang sudah tepat di belakangnya. Dia mengangkat tangan.
“Assalamualaikum, Pak.”
Pak Teguh menoleh. Melihat Lintang, dia tersenyum ramah. “Waalaikumsalam. Kamu anak siapa, Nak?”
“Anak Prapto. Petani.”
“Oh, Prapto yang sering kena musibah panen itu?”
“Bukan musibah, Pak. Itu namanya gagal teknologi. Tapi nanti kalau saya besar, saya perbaiki.”
Pak Teguh tertawa. “Anak ini lucu. Kamu umur berapa?”
“Empat tahun, Pak. Tapi jiwa saya 40 tahun.”
Pak Karyono, lurah desa, yang tahu reputasi Lintang, segera mendekat. “Pak Teguh, hati-hati. Anak ini...”
“Ada apa, Pak Karyono? Anak empat tahun apa yang perlu diwaspadai?”
“Dia... suka menarik janggut.”
Pak Teguh mengusap janggut tipisnya. Janggut yang baru tumbuh beberapa minggu, masih rapi dan belum pernah ditarik siapa pun.
“Janggut saya ini sudah sering ditarik istri saya, Pak Lurah. Saya tidak takut.”
Lintang mendengar itu dan tersenyum. “Bapak yakin?”
“Yakin, dong. Kamu coba saja.”
Lintang menoleh ke Pak Karyono. Pak Karyono menggeleng kecil, memberi isyarat "jangan". Tapi Lintang mengabaikan.
Dengan kedua tangannya, Lintang meraih janggut tipis Pak Teguh. Satu di kiri, satu di kanan. Lalu dia menarik.
Tidak terlalu keras. Karena janggutnya tipis dan masih pendek, tarikan itu cukup membuat Pak Teguh mengernyit.
“Pelankan, Nak,” kata Pak Teguh masih tersenyum.
Lintang menarik lebih keras. Kaki Pak Teguh mundur selangkah. “Waduh... kok keras...”
“Ini masih pelan, Pak,” kata Lintang seperti biasa.
Pak Teguh mulai panik. “Lepas, Nak... saya kasih uang.”
“Berapa?”
“Lima ribu.”
Lintang menarik lebih keras. Janggut tipis itu mulai terlihat meregang.
“Sepuluh ribu!”
Lintang menarik lagi.
“Dua puluh ribu! LEPAS!”
Lintang melepas. Pak Teguh mundur tiga langkah sampai punggungnya menabrak pohon randu. Tangannya memegang janggutnya yang kini terasa perih.
Anak-anak yang melihat dari kejauhan bersorak. Bu Kasiyati yang kebetulan lewat hanya bisa geleng-geleng.
Pak Karyono mendekati Pak Teguh. “Saya sudah bilang, Pak. Anak ini bukan anak biasa.”
“Ini bukan anak, Pak Karyono,” kata Pak Teguh masih terengah-engah. “Ini monster. Tapi monster yang cerdas. Dia tahu cara tawar-menawar.”
Lintang mengulurkan tangan. “Dua puluh ribu, Pak. Janji.”
Pak Teguh mengeluarkan dompet, merogoh selembar dua puluhan, dan memberikannya pada Lintang. “Ini. Tapi jangan cerita ke siapa pun. Malu saya, pegawai kecamatan ditodong anak SD.”
“Saya belum SD, Pak. Masih balita.”
“Itu lebih memalukan lagi.”
Lintang memasukkan uang ke saku celana pendeknya. “Terima kasih, Pak. Janggut Bapak tipis, tapi enak ditarik. Lain kali kalau sudah lebat, hubungi saya lagi. Saya kasih harga promo.”
Pak Teguh hanya bisa menghela napas. Pak Karyono memegang pundaknya. “Selamat datang di Desa Sawahan, Pak Teguh. Resmilah jadi penduduk tidak resmi di daftar korban Lintang.”
Malam harinya, Prapto mendapat tamu tak diundang. Rojikin, preman desa yang juga ayah dari Jarot, datang dengan wajah merah padam.
“Prapto, anakmu lancang!” teriak Rojikin dari pintu.
Prapto yang sedang makan malam langsung menaruh sendok. “Ada apa, Kin?”
“Anakmu Pak Teguh tawar-menawar janggut! Itu pejabat kecamatan, Prapto! Bisa-bisa proyek desa kita batal karena malu!”
Lintang yang duduk di samping Prapto langsung angkat bicara. “Pak Rojikin, itu bukan salah saya. Pak Teguh yang nawar duluan. Saya cuma follow up.”
“Kamu masih kecil, jangan banyak gaya!”
“Saya tidak gaya, Pak. Saya hanya jujur. Mau saya panggil Pak Teguh sekarang buat klarifikasi?”
Rojikin terdiam. Dia tidak menyangka Lintang seberani itu.
Prapto mengusap kumis bolongnya. “Kin, duduk dulu. Makan malam bersama. Nasi ya begini adanya. Kita bicara baik-baik.”
Rojikin duduk dengan geram. Lintang menyodorkan piring berisi ikan asin. “Makan, Pak. Biar tenang.”
Rojikin melongo. Dia preman desa yang ditakuti orang sekampung, tapi sekarang diladeni bocah seperti teman akrab.
“Anakmu ini keterlaluan, Prapto.”
“Iya, aku tahu.”
“Kamu tidak bisa mendidik?”
“Aku sudah berusaha. Tapi sepertinya dia sudah punya jalan hidup sendiri.”
Rojikin menghela napas. “Makan dulu. Besok aku bicara sama Pak Lurah. Urusan proyek jangan sampai gagal karena janggut.”
Lintang menyelak. “Pak Rojikin, Bapak punya kumis?”
Refleks, Rojikin memegang kumisnya. “Tidak ada! Kumisku sudah habis dicabut karena stres mikirin anak macam kamu!”
“Sayang sekali. Padahal kalau ada, bisa barter. Saya bantu proyek desa, Bapak kasih kumis saya tarik.”
Prapto hampir tersedak. Mariyem yang dari dapur hanya bisa berdoa dalam hati. Rojikin bangkit berdiri.
“Lebih baik aku pulang. Darah tinggi."
“Hati-hati di jalan, Pak!” teriak Lintang.
Rojikin tidak menjawab. Dia keluar dengan langkah cepat, hampir joging.
Prapto menatap anaknya. “Le, suatu hari nanti, seluruh desa akan benci padamu.”
Lintang mengunyah ikan asin dengan tenang. “Tapi mereka tidak akan melupakan aku, Pa.”
“Itu yang aku takutkan."
“Jangan takut, Pa. Aku akan jadi insinyur. Aku akan bangun desa ini. Setelah itu, mereka akan tersenyum setiap kali ingat aku.”
Prapto tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengelus kepala Lintang sambil menatap langit malam yang penuh bintang.
Bintang-bintang itu, seolah setuju, berkedip lebih terang dari biasanya.
BAB 3
Sultan Jahil Kampung Sawahan
Gigitan Ramah Tamah dan Tangisan Massal
Tiga tahun kemudian. Lintang genap berusia tujuh tahun.
Desa Sawahan kini tidak hanya membicarakan Lintang sebagai "bayi aneh" atau "balita tengil". Mereka memberinya gelar baru: Sultan Jahil Kampung Sawahan.
Gelar itu bukan pemberian orang dewasa, melainkan dari anak-anak sebayanya yang sudah kehabisan akal menghadapi Lintang. Kata "Sultan" karena Lintang bertindak seperti raja kecil yang seenaknya sendiri. Kata "Jahil" karena semua ulahnya selalu menyusahkan orang lain. Dan "Kampung Sawahan" biar tidak salah alamat.
Pagi itu, pukul setengah tujuh. Empat anak laki-laki, Karli, Jarot, Bejo, dan Rojak, berdiri di depan rumah Prapto. Wajah mereka pucat. Bukan karena sakit, tapi karena takut. Mereka ditugasi oleh orang tua masing-masing untuk memanggil Lintang ikut kerja bakti membersihkan selokan desa.
“Kalian yang masuk,” bisik Karli, anaknya Bu Sanipah yang terkenal penakut.
“Kenapa aku?” tanya Jarot, anaknya Rojikin preman desa. “Bapakku preman, tapi aku takut sama Lintang.”
“Aku juga takut,” sahut Bejo, anak tengkulak Bejo senior. “Dua minggu lalu Lintang gigit tanganku cuma karena aku pinjam pensilnya tanpa izin.”
Rojak, anak kuli panggul, menghela napas. “Sudah, biar aku saja yang masuk. Paling parah apa yang bisa dia lakukan? Gigit? Aku sudah biasa digigit kutu anjing.”
Rojak melangkah masuk ke pekarangan. Matanya mengamati. Rumah Prapto sederhana: tiga ruang, dinding anyaman bambu, atap rumbia yang sudah mulai bolong di beberapa sisi. Di teras, Lintang sedang duduk bersila, memegang buku gambar. Dia sedang asyik menggambar.
“Lintang... bangun, Tang. Kerja bakti,” sapa Rojak dengan suara sehalus mungkin.
Lintang tidak menoleh. “Kerja bakti buat apa?”
“Buat bersihin selokan. Biar tidak banjir.”
“Selokan itu urusan orang dewasa, bukan anak-anak.”
“Lho, tapi peraturan desa, semua warga wajib ikut.”
“Aku bukan warga.”
Rojak mengerjap. “Maksudmu, kamu bukan warga Desa Sawahan?”
“Aku warga. Tapi aku bukan warga biasa. Aku Sultan Jahil. Sultan tidak ikut kerja bakti. Sultan menyuruh rakyatnya kerja bakti.”
Rojak ingin marah, tapi dia ingat pesan ibunya: Jangan pernah marah sama Lintang. Nanti kamu yang rugi.
“Lintang, aku tidak bawa uang jajan. Jadi jangan minta imbalan.”
“Siapa minta imbalan? Aku tidak butuh uang. Aku butuh...”
“Jangan bilang kumis atau janggut. Kita anak-anak, belum punya itu.”
Lintang menoleh. Matanya menyipit. “Kamu pintar, Ro. Aku suka. Baiklah, aku ikut kerja bakti. Tapi dengan dua syarat.”
“Apa?”
“Pertama, aku jadi komandan. Bukan peserta.”
“Kedua?”
“Kedua, setiap orang yang lewat di dekat selokan harus membayar pajak janggut.”
“Pajak janggut? Itu apa lagi?”
“Mereka yang punya janggut atau kumis, saya tarik satu kali gratis. Yang tidak punya, bayar seratus rupiah.”
Rojak mengusap wajahnya. “Lintang, ini kerja bakti, bukan bisnis.”
“Di tanganku, semua bisa jadi bisnis.”
Dari luar pagar, Karli yang tidak sabar berteriak, “Jadi ikut, tidak? Orang tua kita sudah di selokan!”
Lintang berdiri. Dia merapikan kaos oblongnya yang kebesaran, pemberian dari tetangga yang sudah tidak terpakai. “Ayo. Tapi ingat, kalian semua anak buahku sekarang.”
“Anak buah?” Jarot memekik.
“Iya. Komandan Lintang. Hormat.”
Lima anak itu saling pandang. Dengan enggan, mereka mengangkat tangan sebatas dahi.
Lintang tersenyum puas. “Bagus. Sekarang, jalan!”
Selokan desa terletak di sisi timur, membentang sepanjang 500 meter dari ujung utara ke selatan. Sudah sebulan tidak dibersihkan. Daun-daun kering, sampah plastik, dan lumpur hitam menumpuk di beberapa titik. Bau menyengat sudah tercium dari jarak 50 meter.
Para orang tua, sekitar 30 orang, sudah mulai bekerja. Ada yang mencangkul, ada yang mengorek sampah dengan tangan beralut sarung, ada yang membawa keranjang bambu untuk mengangkut kotoran.
Tapi yang mencolok adalah sekelompok ibu-ibu yang berdiri di pinggir selokan sambil memegang hidung. Mereka tidak bekerja. Mereka hanya mengawasi dan mengeluh.
“Bau amis, taik kucing campur daun busuk,” kata Tumirah, pemilik warung sembako.
“Makanya jangan buang sampah di selokan,” sahut Sumiati, guru SD yang baru setahun bertugas.
“Lho, saya tidak pernah buang sampah di selokan, Bu. Saya buang di belakang rumah.”
“Di belakang rumah juga selokan, Bu Tumirah.”
“Itu beda. Selokan depan rumah saya, selokan belakang juga saya. Tapi sampah saya di belakang, bukan di depan.”
Sumiati menghela napas. Dia menyerah.
Di ujung selokan, Lintang tiba bersama rombongan kecilnya. Para orang tua langsung menghentikan aktivitas saat melihat bocah bertangan mungil itu.
“Oh, tidak. Dia datang,” gumam Gumati, emaknya Ratmi, anak perempuan yang paling sering jadi korban Lintang.
“Tenang, Bu,” bisik Sanipah. “Mungkin dia hanya lewat.”
Lintang tidak lewat. Dia berdiri tepat di tengah kerumunan. Tangannya di pinggang. Matanya menatap satu per satu wajah orang dewasa.
“Assalamualaikum, warga Desa Sawahan!” teriak Lintang dengan suara lantang.
Semua orang menjawab dengan ragu-ragu. Bahkan yang bukan Islam pun ikut menjawab karena takut.
“Hari ini, saya, Lintang, Sultan Jahil Kampung Sawahan, memimpin kerja bakti ini.”
Mendengar itu, Pak Sarip, suaminya Gumati dan bapaknya Ratmi, langsung protes. “Lintang, kamu masih kecil. Jangan sok jadi pemimpin. Ini urusan orang dewasa.”
Lintang menatap Pak Sarip. Matanya tajam. “Pak Sarip, boleh saya bertanya?”
“Tanya apa?”
“Kenapa kerja bakti ini belum selesai-selesai? Padahal saya lihat Bapak hanya berdiri sambil megang cangkul dari tadi tidak digerakkan? Apakah cangkulnya sedang tidur?”
Beberapa orang terkekeh. Pak Sarip muka merah. “Saya hanya istirahat, Le.”
“Istirahat sebelum kerja? Itu namanya malas, Pak. Istirahat itu setelah kerja. Bapak ini bekerja di dunia, bukan di surga. Di surga boleh istirahat sebelum bekerja karena tidak ada kerja. Di dunia? Kerja dulu, baru istirahat.”
Pak Sarip tidak bisa menjawab. Dia hanya bergumam dan membalikkan badan.
Lintang bertepuk tangan tiga kali. “Baik, kita bagi tugas. Ibu-ibu, ambil keranjang sampah dan kumpulkan di pinggir. Bapak-bapak, yang berkumis atau berjanggut, maju ke depan.”
Mendengar kata "berkumis atau berjanggut", semua bapak-bapak mundur tiga langkah serempak. Itu refleks yang sudah terbentuk selama tiga tahun terakhir.
“Jangan takut,” kata Lintang. “Saya tidak akan menarik semuanya. Saya butuh asisten. Tiga orang. Yang punya kumis terpanjang dan janggut terlebat.”
Dari kerumunan, seorang lelaki besar dengan kumis tebal dan janggut lebat bernama Jenggot, panggilan asli namahnya Jenggot, karena memang hanya itu identitasnya, maju selangkah. Dia preman dari desa sebelah yang baru pindah sebulan lalu. Dia belum tahu reputasi Lintang.
“Aku mau jadi asisten,” kata Jenggot dengan dada membusung. “Aku paling kuat di sini.”
Lintang mengamati Jenggot dari ujung rambut sampai ujung kaki. Matanya berhenti di bagian kumis dan janggut. “Wow. Ini kumis dan janggut terbaik yang pernah saya lihat dalam tujuh tahun hidup saya.”
Jenggot tersenyum bangga. “Terima kasih. Aku rawat setiap hari dengan minyak rambut.”
“Boleh saya... uji kualitasnya?”
“Uji? Bagaimana?”
“Seperti ini.”
Lintang maju selangkah lalu tanpa basa-basi, tangannya langsung meraih kumis kiri Jenggot dan menariknya kuat-kuat ke bawah.
Jenggot menjerit. Bukan jeritan biasa. Jeritan yang mirip suara kambing disembelih.
“LEPAS! LEPAS, TOLONG!”
Lintang melepas setelah tiga detik. Jenggot memegang kumisnya yang terasa seperti dicabut dari akarnya. Air matanya mengalir deras. Preman besar yang ditakuti di tiga desa itu kini menangis seperti anak kecil di depan puluhan orang.
“Kumisku... kumisku... kenapa sakit sekali?”
Lintang mengusap-usap janggut Jenggot dengan lembut. “Maaf, Pak. Saya hanya perlu tahu seberapa elastisnya. Ternyata... cukup elastis. Selamat, Pak Jenggot lulus uji kualitas. Bapak akan jadi asisten kepala saya.”
Jenggot ingin marah, tapi tangannya masih gemetar. Dia baru menyadari bahwa bocah di depannya bukan bocah biasa. Ini iblis cilik berkulit sawo matang.
“Siapa lagi?” tanya Lintang.
Mintarjo, orang kaya desa yang pelit dan baru pulang dari merantau, maju dengan percaya diri. Dia punya janggut panjang, palsu. Janggut itu terbuat dari bulu kambing yang direkatkan dengan lem.
“Saya mau, Nak. Tapi syaratnya, jangan tarik janggut saya. Itu mahal.”
Lintang mengamati janggut Mintarjo. Matanya menyipit. Dia mendekat, mengendus. “Ini janggut palsu, Pak.”
Mintarjo kaget. “Kamu tahu?”
“Wangi lem kambing. Janggut asli tidak pakai lem. Maaf, Pak, Bapak tidak lulus seleksi. Janggut palsu di mata saya sama dengan niat palsu.”
Mintarjo malu setengah mati. Dia mundur ke belakang sambil melepas janggut palsunya dengan gerakan cepat.
Semua orang tertawa. Tawa itu campur lega karena yang jadi korban bukan mereka.
Akhirnya Lintang memilih dua asisten lagi: Kasijan, suami Mardiyem tetangga baru yang masih polos dan belum tahu apa-apa, serta Pak Karli, bapaknya Karli, yang sudah pasrah karena anaknya juga sudah terlanjur jadi anak buah Lintang.
“Baik, kita mulai kerja. Pak Jenggot, Bapak angkat sampah besar. Pak Kasijan, Bapak korek lumpur. Pak Karli, Bapak catat siapa yang tidak bekerja.”
“Catat? Buat apa?” tanya Pak Karli.
“Buat data siapa yang harus membayar denda berupa satu tarikan kumis atau janggut.”
Pak Karli menghela napas panjang. Dia sudah menyerah pada takdir.
Pukul sembilan pagi. Matahari mulai naik. Panas terik menyengat kulit.
Kerja bakti berlangsung alot. Para warga yang tadinya malas-malasan kini bekerja seperti kesurupan. Bukan karena semangat gotong royong, tapi karena takut dicatet Pak Karli sebagai "warga nakal" yang nantinya harus membayar denda tarikan kumis oleh Lintang.
Pak Jenggot, meski kumisnya masih perih, bekerja paling keras. Dia mengangkat karung-karung sampah besar sendirian tanpa mengeluh. Sesekali dia mencuri pandang ke arah Lintang yang duduk santai di kursi bambu yang dibawa khusus oleh Jarot dan Bejo.
“Komandan Lintang,” panggil Pak Jenggot dengan suara terbata. “Saya haus. Boleh minta minum?”
Lintang menoleh. “Tenggorokan Bapak kering?”
“Iya.”
“Sudah saya duga. Itu karena Bapak terlalu banyak teriak saat kumisnya saya tarik. Lain kali jangan teriak-teriak. Nanti boros energi.”
“Jadi... apakah saya boleh minum?”
“Boleh. Tapi setiap seteguk, saya tarik kumis Bapak sekali.”
Pak Jenggot terdiam. Dia lebih memilih haus sampai kering daripada kumisnya ditarik lagi.
“Saya tidak haus,” kata Pak Jenggot cepat.
“Pintar,” kata Lintang sambil tersenyum.
Di sudut lain, para ibu-ibu mulai memberontak. Mereka dipimpin oleh Gumati, yang sejak tadi mencari-cari kesalahan Lintang.
“Ini tidak adil!” teriak Gumati. “Anak kecil jadi komandan. Bapak-bapak jadi kuli. Ibu-ibu jadi tukang angkut sampah. Ini kerja paksa namanya!”
Lintang berdiri dari kursinya. Dia berjalan mendekati Gumati dengan langkah pelan.
“Bu Gumati, Bapak Sarip suaminya Ibu, kan?”
“Ya. Terus?”
“Sudah berapa lama menikah?"
“15 tahun.”
“15 tahun, dan Ibu tidak pernah sekali pun menarik kumis suami Ibu?”
Gumati terperangah. “Apa hubungannya?”
“Hubungannya, Ibu tidak tahu bagaimana rasanya jadi korban tarikan kumis. Tapi suami Ibu tahu. Pak Sarip sudah beberapa kali saya tarik kumisnya. Setiap kali, dia mengeluh sakit. Tapi dia tetap bekerja. Dia tidak protes. Dia tidak ngambek. Dia laki-laki sejati.”
Pak Sarip yang mendengar itu tiba-tiba berdiri lebih tegap. Dada membusung.
Gumati tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya mendengus dan kembali memunguti sampah.
Lintang kembali ke kursinya. Jarot berbisik, “Kamu hebat, Lin. Bu Gumati itu ditakuti sekampung. Suaminya saja takut. Kamu bisa bungkam dia.”
“Bukan karena hebat, Jo. Tapi karena aku tahu kelemahan orang. Kelemahan Bu Gumati adalah harga diri suaminya. Sentuh itu, dia akan diam.”
Jarot mengangguk. “Aku belajar banyak darimu, Lin.”
“Jangan belajar tengil. Belajar cerdas. Dua hal itu beda.”
Tepat pukul sebelas, kerja bakti selesai. Selokan bersih. Sampah terkumpul di pinggir menunggu truk desa. Para warga berkumpul di bawah pohon rindang sambil minum teh dan kopi yang disediakan Tumirah.
Lintang berdiri di depan mereka. Satu per satu matanya menatap wajah penduduk. Ada yang masih marah, ada yang kagum, ada yang takut, ada yang bingung.
“Warga Desa Sawahan,” Lintang memulai pidato. “Hari ini kita berhasil membersihkan selokan dalam waktu tiga jam. Padahal kerja bakti sebelumnya bisa setengah hari karena banyak yang malas-malasan. Kenapa bisa cepat? Karena ada komandan yang tegas. Karena ada sanksi yang jelas. Karena ada ketakutan yang sehat.”
“Kami tidak takut padamu, Lintang!” teriak Ratmi, gadis kecil yang sudah tiga tahun jadi korban Lintang.
Lintang menatap Ratmi. “Benarkah kamu tidak takut, Mi?”
Ratmi mundur selangkah. “T-tidak!”
“Kenapa suaramu gagal?”
“Karena... karena aku batuk!”
Semua tertawa. Ratmi menangis. Gumati memeluk anaknya sambil menatap Lintang dengan mata menyala.
“Lintang, kamu jangan bikin anakku nangis!”
“Dia sudah nangis sebelum saya bicara, Bu. Saya hanya melanjutkan.”
Gumati menghela napas frustrasi. Sarip menarik tangan istrinya. “Sudah, Yu. Jangan diladeni. Kamu tidak akan pernah menang lawan dia.”
“Tapi dia anak kecil, Mas!”
“Anak kecil yang otaknya lebih cerdas dari separuh desa ini. Ayo pulang. Aku masak bakmi buat kamu.”
Mendengar kata bakmi, Gumati sedikit melunak. Mereka pun pulang.
Lintang melanjutkan pidato. “Baik, sebagai hadiah karena kalian bekerja keras, hari ini saya tidak akan menarik kumis atau janggut siapa pun. Kecuali satu orang.”
Semua warga tegang.
“Siapa?”
Lintang tersenyum. “Pak Kasijan.”
Kasijan, suami Mardiyem yang masih polos, langsung memegang kumis tipisnya. “Kenapa saya?”
“Karena Bapak yang paling polos. Saya suka orang polos.”
Kasijan ingin lari, tapi tubuhnya gemetar. “Satu kali saja, ya, Le. Jangan keras-keras.”
Lintang mendekat. Dengan lembut, sangat lembut untuk ukurannya, dia meraih ujung kumis Kasijan dan menariknya pelan. Kasijan mengerang pelan, tapi tidak menjerit.
“Selesai,” kata Lintang. “Terima kasih, Pak Kasijan. Bapak adalah korban terakhir hari ini.”
Semua warga bersorak lega. Mereka tidak tahu bahwa hari-hari ke depan masih banyak cerita tentang Lintang. Tapi untuk hari itu, mereka selamat.
Sore harinya, Prapto duduk di teras sambil merokok. Dia tidak ikut kerja bakti karena masuk shift jaga malam di kebun. Tapi dia sudah mendengar semua cerita dari Mul, tetangganya yang suka kepo.
“Anakmu jadi komandan, Lek Prapto,” kata Mul sambil mengunyah sirih. “Anak-anak sebayanya jadi anak buah. Bapak-bapak ditakuti. Ibu-ibu dibungkam. Ini tidak normal.”
“Aku tahu, Mul.”
“Kamu tidak bisa didik?”
“Aku sudah coba. Tapi setiap kali aku marah, dia bilang, ‘Pa, marah itu tidak menyelesaikan masalah. Yang menyelesaikan masalah adalah solusi. Sekarang, apa solusi kita?’ Lalu aku bingung.”
Mul meludah. “Anakmu itu pintar. Terlalu pintar. Kadang pintar itu petaka.”
Prapto menghela napas. “Bukan petaka, Mul. Tapi mungkin... ujian.”
Dari dalam rumah, terdengar suara Mariyem berteriak. “Mas! Lintang gigit lagi!”
Prapto dan Mul serempak berdiri. Mereka masuk ke rumah. Di dapur, Mariyem sedang memegang tangannya yang tampak bekas gigitan.
“Gigit di mana, Yem?”
“Di lengan. Aku marah karena dia tidak mau makan sayur. Lalu dia gigit.”
Mul membelalak. “Dia menggigit ibunya sendiri?”
“Bukan menggigit, Mul,” Lintang muncul dari balik pintu. “Itu gigitan ramah. Saya tidak pakai tenaga. Hanya tempel.”
“Tempel?” Mariyem menggerutu. “Ini bekasnya merah, Le!”
“Itu karena tangan Ibu sensitif. Lain kali pakai sarung tangan kalau mau marah-marah ke saya.”
Mul menatap Prapto. Prapto menatap Mul. Mereka sama-sama bingung.
“Saya pulang dulu, Le Prapto,” kata Mul cepat. “Takut anakmu gigit saya juga.”
“Dia hanya gigit yang dia sayang, Mul.”
“Kalau begitu, lebih baik saya tidak disayang.”
Mul pergi tergesa-gesa. Prapto duduk di kursi bambu di depan Lintang. “Le, kamu tidak boleh menggigit siapa pun. Apalagi ibumu sendiri. Itu durhaka namanya.”
Lintang diam. Dia menunduk. “Maaf, Pa. Tapi aku tidak tahan kalau Ibu marah-marah terus.”
“Ibu marah karena sayang. Dia ingin kamu makan sayur biar sehat.”
“Aku tahu. Tapi caranya salah. Marah itu tidak membuat orang mau makan sayur. Yang membuat orang mau makan sayur adalah... wortel.”
“Wortel? Maksudmu...?”
“Beri aku imbalan. Setiap habis makan sayur, aku minta satu tarikan kumis Bapak.”
Prapto menggaruk kepalanya. Dia tidak tahu harus marah atau tertawa.
“Jadi, kamu mau makan sayur kalau setiap habis makan, kamu bisa tarik kumisku?”
“Iya.”
“Satu kali tarikan per sayur?”
“Dua kali. Karena sayur pahit.”
“Satu setengah.”
“Deal.”
Prapto mengulurkan tangan. Lintang menjabatnya. Mariyem yang mendengar dari kejauhan hanya bisa menggeleng-geleng. “Suami saya negosiasi dengan anak sendiri soal tarikan kumis. Ini dunia terbalik.”
Malam harinya, setelah makan malam yang penuh tawa dan dua kali tarikan kumis untuk Lintang, Prapto memangku anaknya di teras. Langit malam cerah. Bintang-bintang bersinar.
“Le, tadi kamu bilang ke warga bahwa kamu akan jadi insinyur. Serius?”
Lintang mengangguk. “Serius, Pa. Aku akan belajar pertanian. Aku akan bangun sawah-sawah ini. Biar panen tidak gagal terus.”
“Kamu belajar dari mana soal insinyur pertanian?”
“Dari buku-buku peninggalan Mbah Kakung. Ada di lemari.”
Prapto terkejut. Buku-buku ayahnya sudah berdebu puluhan tahun. Tidak pernah ada yang membuka. Tapi anaknya, yang masih tujuh tahun, membacanya?
“Kamu paham?”
“Beberapa. Tentang irigasi, tentang hama, tentang pupuk. Tapi masih banyak yang tidak aku mengerti. Nanti kalau aku besar, aku akan kuliah. Aku akan belajar sungguh-sungguh.”
Prapto menahan air mata. “Kamu bukan hanya tengil, Le. Kamu juga punya mimpi.”
“Mimpi tanpa tengil itu hambar, Pa. Tengil itu bumbu.”
“Bumbu apa?”
“Bumbu penyemangat. Supaya orang tidak menganggap remeh aku.”
Prapto memeluk Lintang. “Kamu anak yang aneh, Le. Tapi aku bangga.”
Lintang diam dalam pelukan ayahnya. Tangannya meraba kumis Prapto, tapi kali ini tidak menarik. Hanya mengusap.
“Pa, kumis Bapak sudah mulai tipis.”
“Iya. Karena kamu.”
“Maaf, Pa.”
“Jangan minta maaf. Ini konsekuensi menjadi ayah dari calon insinyur tengil.”
Mereka tertawa bersama. Angin malam berhembus. Bintang-bintang berkedip seperti turut tersenyum.
Dan di kejauhan, Mbah Waginem yang sedang berdoa di rumahnya, tiba-tiba menghentikan doanya. Dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan datang dari desa kecil ini.
“Sabar, Le Lintang,” bisik Mbah Waginem pada angin. “Perjalananmu masih panjang. Jangan habiskan semua kumis di desa ini. Karena suatu hari nanti, kau akan membutuhkan mereka untuk melihat kelembutanmu.”
BAB 4
Sekolah Dasar Pertamanya
Neraka Kejeniusan yang Tertutup Tengil
Hari pertama masuk SD adalah hari yang paling dinanti-nanti oleh anak-anak desa. Seragam putih merah yang baru dibeli dari pasar mingguan, sepatu hitam yang masih mengkilap, tas anyaman dari plastik atau kain, semua dipersiapkan dengan penuh harap. Tapi tidak untuk anak-anak Desa Sawahan yang akan satu sekolah dengan Lintang. Bagi mereka, hari pertama SD adalah hari berkabung.
Pukul 06.30 pagi, halaman SDN Sawahan 01 mulai dipenuhi oleh orang tua yang mengantarkan anaknya. Suara tangis anak-anak yang takut ditinggal bersaing dengan suara ayam berkokok dan bedug subuh yang masih terdengar sayup.
Lintang datang dengan langkah pede. Seragam putih merahnya kebesaran dua nomor karena Prapto membelikan untuk jangka panjang. Celana merahnya menggantung longgar, hampir seperti rok. Rambutnya tidak disisir rapi. Ikat pinggangnya bahkan tidak pakai karena lupa.
“Le, kamu rapiin bajunya!” teriak Mariyem dari pintu gerbang.
“Ini sudah rapi, Ma. Rapi versi saya.”
“Versi kamu itu namanya kumuh.”
“Ah, Ibu terlalu memperhatikan penampilan. Yang penting kan ilmu di kepala.”
Mariyem menghela napas. Dia sudah lelah berdebat dengan anaknya sejak subuh tadi. Lintang menolak mandi karena "airnya dingin", menolak sarapan karena "takut muntah di depan teman baru", dan menolak membawa bekal karena "nanti dibagi-bagi sama anak lain".
“Pokoknya kamu jangan buat onar, Le!” pesan Mariyem terakhir.
Lintang melambaikan tangan tanpa menoleh. “Doakan yang terbaik, Ma!”
Mariyem tidak tega mengatakan bahwa dia tidak berdoa untuk yang terbaik. Dia berdoa untuk yang paling tidak merusak.
Di dalam kelas satu, dua puluh lima anak duduk bersila di lantai karena meja dan kursi belum datang. Gedung sekolah ini baru selesai direnovasi sebagian, jadi fasilitas masih seadanya.
Bu Sri, guru kelas yang berusia 28 tahun dengan rambut sebahu dan kacamata tebal, tersenyum ramah pada murid-murid barunya. Dia baru bertugas satu tahun di SD ini setelah pindah dari kota. Wajahnya masih fresh, belum terkontaminasi oleh keputus-asaan mengajar di desa.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Sri dengan suara ceria.
“Selamat pagi, Bu!” serempak anak-anak, kecuali satu suara yang mengucapkannya dua detak kemudian, mirip kaset karet seperti yang dulu terjadi di ngaji.
Bu Sri mencari sumber suara. Matanya berhenti pada seorang anak laki-laki dengan seragam kebesaran dan rambut acak-acakan. Dia tersenyum.
“Kamu siapa, Nak?”
“Lintang, Bu. Anak Prapto petani.”
“Lintang namanya indah. Seperti bintang ya?”
“Iya, Bu. Tapi yang ini beda. Saya bintang jatuh.”
“Bintang jatuh? Bukannya bintang jatuh artinya malapetaka?”
“Tergantung sudut pandang, Bu. Kadang malapetaka bagi orang lain, tapi keajaiban bagi diri sendiri.”
Bu Sri tertegun. Anak baru pertama yang dia temui di desa ini sudah bisa berfilsafat. “Kamu kelihatan pintar, Lintang.”
“Bukan pintar, Bu. Saya hanya tidak suka membuang waktu dengan omong kosong.”
Tuminem, anak perempuan yang duduk di sebelah Lintang, langsung bergeser menjauh setengah meter. Aura Lintang terlalu kuat untuk ukuran anak kelas satu.
Bu Sri memulai pelajaran dengan perkenalan. Satu per satu anak diminta maju ke depan, menyebutkan nama, hobi, dan cita-cita.
Giliran pertama: Sukinah, anak perempuan dengan kuncir dua dan suara lirih seperti nyamuk. “Nama saya Sukinah. Hobi masak. Cita-cita jadi ibu rumah tangga.”
Bu Sri tersenyum. “Bagus, Sukinah.”
Giliran kedua: Paijo, anak Pak Lurah. Dia maju dengan dada membusung. “Nama saya Paijo. Hobi main layangan. Cita-cita jadi lurah kayak bapak saya.”
Anak-anak bertepuk tangan. Paijo tersenyum sombong.
Giliran ketiga: Lamidi, anak pengusaha sukses dari desa sebelah. “Nama saya Lamidi. Hobi baca. Cita-cita jadi presiden.”
Suasana sedikit tegang. Paijo mendengus.
Giliran keempat: Kartini, siswi populer yang sudah dikenal karena paras cantiknya. “Nama saya Kartini. Hobi berdandan. Cita-cita jadi artis.” Dia tersenyum manis. Anak laki-laki di kelas mulai berdebar-debar.
Giliran kelima: Lintang.
Dia berdiri dengan santai. Tangannya dimasukkan ke saku celana yang kebesaran. “Nama saya Lintang. Hobi menarik kumis dan janggut. Cita-cita jadi insinyur pertanian sekaligus pensiunan dini umur 30 tahun.”
Bu Sri berkedip. “Pensiunan dini? Kamu baru kelas satu, Nak.”
“Saya tahu, Bu. Tapi kenapa harus menunggu tua untuk pensiun? Bukankah lebih baik pensiun muda lalu nikmati hidup?”
“Lalu siapa yang bekerja?”
“Orang lain. Saya sudah bekerja keras di masa kecil dengan belajar banyak hal. Itu investasi untuk pensiun dini.”
Bu Sri tidak tahu harus menjawab apa. Dia hanya menulis catatan kecil di buku: Lintang, murid yang harus diawasi ketat.
Tuminem bergeser setengah meter lagi. Sekarang jaraknya sudah satu meter dari Lintang.
Pelajaran dimulai dengan membaca dan menulis huruf. Bu Sri membagikan kapur tulis dan papan tulis kecil dari kayu triplek.
“Anak-anak, sekarang tulis huruf ‘A’ di papan kalian masing-masing.”
Anak-anak mulai menulis. Ada yang rapi, ada yang belepotan, ada yang salah tulis jadi huruf ‘O’.
Bu Sri berkeliling. Ketika sampai di bangku Lintang, dia melihat tulisan Lintang. Bukan huruf ‘A’, melainkan sebuah kalimat panjang:
“Alif itu huruf pertama dalam bahasa Arab, bukan bahasa Indonesia. Tapi di Indonesia, ‘A’ adalah vokal pertama dalam alfabet. Pertanyaan saya: siapa yang menentukan urutan alfabet? Kenapa ‘B’ harus setelah ‘A’, bukan setelah ‘Z’?”
Bu Sri membaca tiga kali. “Lintang, ini pelajaran menulis, bukan pelajaran filsafat.”
“Saya menulis, Bu. Itu tulisan.”
“Tapi kamu tidak menulis huruf ‘A’.”
“Saya menulis tentang huruf ‘A’. Itu lebih mendalam.”
Bu Sri menghela napas. Dia menulis catatan kedua di buku: Lintang, murid plus-plus-plus yang merepotkan.
Jam istirahat tiba. Anak-anak berhamburan ke kantin. Lintang tidak punya uang jajan karena dia menolak dibawakan bekal. Tapi dia juga tidak kelaparan karena sejak tadi matanya sudah mengamati sasaran: Pak Dullah, penjaga sekolah yang sudah sepuh dengan kumis putih panjang menjuntai.
Pak Dullah sedang duduk di kursi kayu dekat pintu gerbang, menghisap rokok kretek sambil membaca koran bekas. Kumis putihnya bergoyang-goyang setiap kali batuk.
Lintang mendekati dengan langkah pelan. Seperti biasa, seperti kucing mendekati burung.
“Pak Dullah.”
Pak Dullah menurunkan koran. Melihat Lintang, dia tersenyum. “Ada apa, Le? Kamu murid baru ya? Anak siapa?”
“Anak Prapto. Petani. Saya Lintang.”
“Lintang... nama bagus. Kamu mau apa? Mau minta tolong dibelikan jajan?”
“Bukan, Pak. Saya mau tanya.”
“Tanya apa?”
“Kumis Bapak sudah berapa lama tumbuh?”
Pak Dullah mengusap kumisnya dengan bangga. “Oh, ini? Sudah empat puluh tahun, Le. Aku pelihara sejak umur dua puluh. Belum pernah dicukur.”
Lintang matanya berbinar. “Belum pernah dicukur? Berarti ini asli semua?”
“Asli. Setiap helai tumbuh dari akar.” Pak Dullah terkekeh bangga. “Kamu kok tertarik sama kumis? Anak-anak seumuranmu biasanya tertarik sama mainan atau makanan.”
“Saya anak yang berbeda, Pak. Boleh saya... menyentuh?”
“Silakan. Asal jangan ditarik.”
Lintang mengangguk polos. Dia mengulurkan tangan. Jari-jarinya menyentuh ujung kumis Pak Dullah. Lembut. Halus. Pak Dullah tersenyum bangga.
Lalu Lintang menarik.
Sekali tarikan keras dari akar.
Pak Dullah menjerit. Koran di tangannya robek. Rokok kretek di mulutnya jatuh ke pangkuan dan membakar celana.
“ADUH! KUMISKU!”
Lintang melepas. “Maaf, Pak. Refleks.”
“REFLEKS? ANAK KURANG AJAR!”
Pak Dullah bangkit berdiri. Celananya sudah bolong sedikit karena terbakar rokok. Kumisnya terasa perih. Tiga helai lepas dan tersisa di tangan Lintang.
“KAMU AKU LAPORKAN KE KEPALA SEKOLAH!”
“Laporkan, Pak. Tapi tolong Bapak jelaskan: kenapa orang dewasa memberikan izin menyentuh lalu marah ketika disentuh? Itu namanya jebakan batman.”
“Jebakan apa?”
“Jebakan batman. Istilah baru. Artinya memancing orang lain untuk salah.”
Pak Dullah tidak paham setengah dari apa yang dikatakan Lintang. Yang dia paham, kumisnya berkurang tiga helai dan celananya bolong. Dia menggenggam tangan Lintang dan menyeretnya ke ruang kepala sekolah.
Sepanjang perjalanan, Lintang tersenyum pada anak-anak yang melihat. “Selamat siang, teman-teman. Mohon maaf mengganggu. Ini hanya insiden kecil.”
Tuminem yang melihat itu hanya bisa berbisik pada Sukinah, “Aku tidak mau satu sekolah dengan anak itu.”
Sukinah mengangguk. “Aku pindah ke SDN Sawahan 02 aja besok.”
Ruang kepala sekolah berukuran 3x4 meter. Meja kayu jati tua dengan tumpukan buku dan formulir. Dindingnya dipajang foto para kepala sekolah dari masa ke masa. Di sudut, lemari kaca berisi piala-piala lomba.
Pak Kusumo, kepala sekolah berusia 55 tahun dengan kacamata setengah lingkaran dan kumis tipis yang mulai memutih, sedang menyesap kopi saat pintu terbuka keras.
“PAK KUSUMO! ANAK INI! ANAK INI MENARIK KUMISKU!”
Pak Kusumo hampir tersedak. “Tenang, Pak Dullah. Duduk dulu. Ceritakan pelan-pelan.”
Pak Dullah duduk di kursi tamu dengan wajah merah padam. Lintang berdiri di sampingnya dengan wajah polos.
“Begini, Pak Kusumo. Anak ini, Lintang namanya, mendekati saya waktu istirahat. Minta izin menyentuh kumis saya. Saya izinkan asal tidak ditarik. Dia bilang iya. Tapi begitu tangannya menyentuh, DITARIK! KERAS!”
Pak Kusumo menatap Lintang. “Benar, Nak?”
“Benar, Pak.”
“Kenapa kamu melakukan itu?”
“Karena saya sudah janji sama diri sendiri untuk menarik minimal satu kumis per hari. Kalau tidak, hari saya tidak lengkap.”
Pak Kusumo mengerjap. Dia sudah menjabat sebagai kepala sekolah selama 12 tahun, baru kali ini mendengar alasan seperti itu.
“Jadi, kamu punya target harian menarik kumis?”
“Iya, Pak. Sejak umur empat tahun. Rekor saya 47 kali tarikan dalam satu hari. Tapi itu dulu. Sekarang sudah berkurang karena banyak kumis yang habis atau pemiliknya kabur kalau melihat saya.”
Pak Dullah memukul meja. “Dengar sendiri, Pak Kusumo! Anak ini tidak punya rasa bersalah!”
“Saya punya rasa bersalah, Pak Dullah,” potong Lintang. “Tapi rasa bersalah saya lebih kecil daripada rasa ingin tahu saya. Saya hanya ingin tahu seberapa elastis kumis Bapak setelah 40 tahun tidak dicukur.”
“LALU?”
“Hasilnya: cukup elastis, tapi rapuh di bagian ujung.”
Pak Dullah ingin memukul Lintang, tapi Pak Kusumo menahan.
“Cukup, cukup. Pak Dullah, tenangkan diri. Saya akan menangani anak ini.”
“Jangan hanya ditangani, Pak Kusumo. HUKUM! Biar jera!”
“Saya akan panggil orang tuanya. Sekarang, Bapak istirahat dulu. Ganti celana juga. Ada bolong.”
Pak Dullah melihat celananya yang hangus. Dia mendengus dan keluar sambil menggerutu.
Pak Kusumo menatap Lintang. “Kamu tahu, Nak, kamu sudah membuat pelanggaran di hari pertama sekolah. Itu rekor baru untuk sekolah ini. Biasanya anak-anak baru berulah di minggu kedua.”
“Saya suka memecahkan rekor, Pak.”
“Kamu suka dipanggil orang tuanya?”
“Orang tua saya tidak akan marah. Bapak saya sudah terbiasa. Ibunya juga. Rumah kami seperti kantor polisi, setiap hari ada laporan tentang saya.”
Pak Kusumo menghela napas. Dia mengambil secarik kertas dan menulis surat pemanggilan untuk Prapto.
“Kamu tunggu di sini sampai orang tuamu datang.”
“Boleh saya baca buku sambil nunggu, Pak?”
“Buku apa yang kamu mau baca? Di sini cuma ada buku administrasi.”
“Boleh saya baca buku administrasi? Saya penasaran berapa banyak murid yang sudah dipanggil karena masalah kumis.”
Pak Kusumo terdiam. Dia mulai menyadari bahwa anak di hadapannya bukan anak biasa. Anak ini terlalu cerdas untuk usianya.
“Kamu duduk diam, tidak usah baca apa-apa.”
“Baik, Pak. Saya akan duduk diam sambil memikirkan arti kehidupan.”
“Itu juga tidak usah.”
“Baik, Pak. Saya akan duduk diam sambil tidak memikirkan apa pun. Meskipun itu tidak mungkin karena otak manusia selalu berpikir, kecuali sudah mati. Saya belum mati. Jadi saya tetap berpikir. Maaf.”
Pak Kusumo menekan pelipisnya. Darahnya mulai naik.
“Lintang.”
“Ya, Pak?”
“Kamu jangan banyak bicara.”
“Banyak bicara itu relatif, Pak. Bagi Bapak, mungkin saya banyak bicara. Tapi bagi saya yang biasa bicara seribu kata per menit, ini termasuk lambat.”
“DIAM!”
Lintang diam.
Pak Kusumo menghela napas lega.
Tiga detik kemudian, Lintang angkat bicara lagi. “Pak, kalau diam itu tidak termasuk bernapas?”
Pak Kusumo meletakkan kepalanya di meja. Dia pasrah.
Prapto datang satu jam kemudian. Wajahnya tidak kaget. Dia sudah terbiasa mendapat surat panggilan dari sekolah, meskipun baru hari pertama.
“Maaf, Pak Kusumo. Anak saya merepotkan.”
“Pak Prapto, ini baru hari pertama. Hari PERTAMA. Anak Bapak sudah menarik kumis penjaga sekolah, membuat celana penjaga sekolah bolong karena rokok jatuh, dan berdebat dengan saya tentang definisi diam.”
Prapto menghela napas. “Itu standar, Pak. Kemarin di pengajian, dia menarik rambut Bu Kasiyati. Minggu lalu di lapangan, dia menjahili anak-anak perempuan sampai menangis tujuh orang. Bulan lalu...”
“Cukup, Pak Prapto. Saya tidak perlu detail. Yang saya butuhkan adalah solusi. Bagaimana cara membuat anak Bapak ini tidak mengganggu warga sekolah?”
“Jujur, Pak Kusumo, saya sudah mencoba segalanya. Mulai dari nasihat, dimarahi, sampai dihukum tidak dikasih jajan. Tidak mempan. Satu-satunya cara adalah... memenuhi kebutuhannya.”
“Kebutuhannya? Memenuhi kebutuhannya menarik kumis?”
“Iya, Pak. Kalau beliau tidak menarik kumis atau janggut minimal satu kali dalam sehari, stres. Dunia rasanya kiamat.”
Pak Kusumo menatap Prapto. “Bapak serius?”
“Saya serius, Pak. Lihat buku catatan saya.” Prapto mengeluarkan buku kecil dari saku celananya. “Setiap hari, Lintang wajib menarik kumis saya minimal 20 kali. Kalau kurang, dia akan mencari korban lain. Kemarin karena saya sedang tidak di rumah, dia cari korban ke tetangga. Hasilnya, tiga orang laporan polisi desa.”
Pak Kusumo membaca buku catatan itu. Tangannya gemetar. “Ini... ini sudah seperti laporan eksperimen.”
“Iya, Pak. Saya catat setiap hari untuk keperluan penelitian suatu hari nanti.”
“Penelitian apa?”
“Penelitian tentang hubungan antara kenakalan anak dan tingkat kecerdasan.”
Lintang yang dari tadi diam ikut nimbrung. “Itu ide saya, Pak. Bapak hanya mencatat.”
“Kamu diam, Le!” Prapto menegur.
Lintang diam lagi.
Pak Kusumo mengembalikan buku catatan itu. “Pak Prapto, saya tidak bisa menerima alasan bahwa anak bapak perlu menarik kumis setiap hari. Ini sekolah, bukan kebun binatang.”
“Ini lebih parah dari kebun binatang, Pak. Di kebun binatang, hewan di dalam kandang. Di sini, Lintang bebas.”
Pak Kusumo tidak tahu harus berkata apa. Akhirnya dia memutuskan: “Pak Prapto, anak Bapak tetap harus dihukum. Mulai besok, Lintang membersihkan kelas setiap pulang sekolah selama satu minggu.”
“Baik, Pak. Terima kasih.”
Lintang protes. “Pak Kusumo, membersihkan kelas itu membosankan. Saya usul hukuman yang lebih mendidik: beri saya soal matematika tingkat SMP. Kalau saya gagal, saya terima hukumannya. Tapi kalau saya lulus, Bapak yang harus saya tarik kumisnya.”
Pak Kusumo dan Prapto saling pandang.
“Kamu minta soal matematika tingkat SMP?” tanya Pak Kusumo.
“Iya, Pak. Saya sudah belajar sampai persamaan linear dua variabel. Itu kelas 8 seingat saya.”
Pak Kusumo mengeluarkan buku matematika kelas 2 SMP milik anaknya yang tersimpan di lemari. Dia membuka halaman tentang sistem persamaan linear.
Dia menulis satu soal: *Tentukan nilai x dan y dari persamaan 2x + 3y = 12 dan 4x - y = 10.*
Lintang melihat soal itu, tersenyum, lalu tanpa menulis apa pun dia langsung menjawab: “x = 3, y = 2, Pak. Solusi unik. Mau saya buktikan?”
Pak Kusumo memeriksa. Benar. Dia menulis soal kedua, lebih sulit. Soal cerita tentang kecepatan dan jarak. Lintang menjawab dalam waktu 10 detik. Benar lagi. Soal ketiga tentang fungsi kuadrat. Lintang menjawab sambil terkantuk-kantuk.
Pak Kusumo meletakkan kapur. “Anak ini... jenius.”
“Saya sudah bilang, Pak,” kata Prapto dengan nada lelah. “Tapi jeniusnya tertutup tengil.”
Lintang mengangkat tangan. “Pak Kusumo, sekarang giliran Bapak. Saya harus tarik kumis bapak.”
“Tarik kumisku? Bapak tidak punya kumis!”
“Tarik saja rambut . Saya anggap kumis.”
Pak Kusumo menatap Prapto. Prapto mengangguk. “Lakukan saja, Pak. Itu perjanjian. Kalau tidak, besok dia akan lebih sulit diatur.”
Pak Kusumo dengan hati-hati meraih sehelai rambut Lintang lalu menariknya pelan.
Lintang mengerang kecil. “Terima kasih, Pak. Saya puas. Sekarang saya siap membersihkan kelas selama seminggu.”
Pak Kusumo hanya bisa geleng-geleng. Dia tidak pernah membayangkan bahwa menjadi kepala sekolah akan semenyiksa ini.
Sepulang sekolah, Prapto dan Lintang berjalan kaki pulang. Matahari sore mulai miring. Bayangan mereka memanjang di tanah becek.
“Le,” kata Prapto.
“Ya, Pa?”
“Kamu jangan terlalu sering pamer kepintaran. Nanti orang iri.”
“Iri itu bagus, Pa. Artinya mereka terinspirasi.”
“Atau mereka benci.”
“Bencinya karena iri itu tidak tahan lama. Cepat habis. Tapi rasa penasaran karena iri itu lama.”
Prapto menghela napas. Dia tidak pernah menang debat dengan anaknya. “Kamu tahu, Le, suatu hari nanti kamu akan menemui orang yang lebih pintar darimu. Lalu kamu akan sadar bahwa dunia ini luas.”
“Aku tahu, Pa. Itu sebabnya aku ingin cepat jadi insinyur. Mau lihat dunia yang lebih luas. Tapi aku tidak akan pernah lupa desa ini.”
“Kamu janji?”
“Janji, Pa. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Setiap kali aku pulang, kumis Bapak tidak boleh dicukur. Saya butuh hiburan.”
Prapto tertawa. “Kumisku sudah hampir botak, Le. Kamu mau menarik apa? Bulu hidung?”
“Bulu hidung juga boleh. Asal ada.”
Prapto menggeleng-gelengkan kepala. Mereka berdua tertawa sepanjang jalan pulang, melewati sawah-sawah yang mulai menguning.
Di kejauhan, Mbah Waginem yang sedang memetik daun singkong di kebunnya, melihat mereka berdua dan tersenyum.
“Lintang,” bisiknya. “Kamu memang bintang jatuh. Tapi bintang jatuh itu tidak pernah merusak. Dia hanya lewat dan meninggalkan cahaya.”
Malam tiba.
Lintang duduk di teras sambil mengerjakan soal matematika dari Pak Kusumo, bukan hukuman, tapi bonus. Dia mengerjakannya dengan cepat, tanpa berpikir lama. Setiap soal seperti teman lama yang sudah dikenal sejak kecil.
Mariyem membawakan segelas susu hangat. “Le, minum dulu.”
“Terima kasih, Ma.”
“Kamu bagaimana di sekolah tadi?”
“Baik, Ma. Aku sudah menarik kumis Pak Dullah.” Lintang meminum susunya.
“KUMIS PAK DULLAH? KAMU APAIN?”
“Menarik, Ma. Tapi hanya tiga helai. Itu hemat. Biasanya lima.”
Mariyem hampir menjatuhkan gelas. “Lintang, Bapakmu sudah dipanggil kepala sekolah!”
“Iya, Ma. Dan kepala sekolah sudah menarik rambutku sebagai gantinya. Itu adil.”
“Adil? Apa adilnya?”
“Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Ini rambut ganti rambut. Pak Dullah kehilangan tiga helai, kepala sekolah menarik satu helai dari saya. Saya masih untung dua.”
Mariyem menatap suaminya yang masuk dari dapur. “Mas, anak ini tidak bisa diselamatkan.”
Prapto mengambil susu dari tangan Lintang dan meminumnya. “Yem, anak ini tidak perlu diselamatkan. Dia hanya perlu diarahkan. Seperti sungai yang deras. Jangan dibendung, tapi dialirkan ke sawah.”
“Kamu ini terlalu tenang, Mas.”
“Karena aku sudah pasrah. Sejak dia lahir dengan tangan meraba-raba, aku sudah tahu. Anak ini bukan anakku seutuhnya. Dia anak desa ini. Dia milik semua orang. Tugas kita hanya menjaga dia sampai dia bisa menjaga dirinya sendiri.”
Lintang mendengar itu. Untuk pertama kalinya, dia tidak berkata apa-apa. Hanya diam. Dan dalam diam itu, untuk pertama kalinya juga, air matanya menetes.
Bukan karena sedih. Tapi karena sadar.
Prapto memeluknya.
Dan di langit malam itu, bintang-bintang bersinar seperti ikut menangis.
BAB 5
Sekolah Menengah Pertama dan Koridor Ketakutan
Panggilan ke Ruang Guru Gaya Langganan
Enam tahun berlalu sejak Lintang pertama kali menginjakkan kaki di SD. Kini, di usia tiga belas tahun, ia berdiri di gerbang SMPN 2 Sawahan dengan seragam biru putih yang, sekali lagi, kebesaran dua nomor. Rambutnya tidak pernah berubah: tetap acak-acakan seperti baru bangun tidur. Ikat pinggang tetap tidak pernah dipakai. Sepatu masih kotor meskipun baru dicuci semalam.
“Kamu nggak pernah berubah, Lin,” kata Paiman sahabat baru yang diperoleh Lintang di bangku SD akhir. Paiman, adalah anak pengusaha tempe dari desa tetangga. Tubuhnya gempal, wajahnya bulat, dan sifatnya polos, sempurna untuk menjadi sahabat Lintang.
“Orang hebat tidak perlu mengubah penampilan,” jawab Lintang sambil menguap. “Yang perlu diubah itu cara berpikir orang lain tentang penampilan.”
“Filosofis banget jam segini. Padahal baru jam enam pagi.”
“Belajar, Met. Itu namanya kebiasaan orang jenius.”
Di belakang mereka, Mas'ud, teman sekelas sejak SD yang tubuhnya kurus seperti lidi, berjalan tergopoh-gopop sambil membawa tas ransel yang hampir sebesar badannya. “Tungguin, Lin! Men! Jalan kalian cepat amat, kayak dikejar setan.”
Lintang menoleh. “Bukan setan, Ud. Dikejar waktu. Kita sudah terlambat tiga menit. Ini hari pertama, kita tidak boleh terlambat.”
“Lho, terus kenapa jalannya santai banget?”
“Karena aku tidak suka berlari. Berlari itu membuat keringat. Keringat itu membuat bau. Bau itu membuat orang menjauh. Aku butuh orang dekat untuk kumis dan janggut mereka.”
Mas'ud menghela napas. “Dasar tengil. Dari SD sampai SMP, nggak berubah.”
“Kenapa harus berubah? Formula ini sudah terbukti berhasil.”
Paiman menimpali. “Berhasil bikin kita sering dipanggil BK? Berhasil bikin orang tua kita malu? Berhasil bikin separuh warga desa benci?”
“Itu semua efek samping, Met. Obat yang manjur pasti ada efek sampingnya.”
Mereka bertiga masuk ke gerbang sekolah. SMPN 2 Sawahan adalah gedung baru dua lantai dengan cat biru muda yang mulai luntur terkena panas dan hujan. Halamannya cukup luas, ditumbuhi rumput ilalang di beberapa sudut. Pohon mangga besar berdiri di tengah lapangan, menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sekolah dari masa ke masa.
Begitu Lintang melangkahkan kaki ke koridor utama, suasana langsung berubah. Para siswa baru yang tadinya ramai bicara tiba-tiba hening. Bukan karena Lintang tampak menakutkan, penampilannya biasa saja, bahkan sedikit kumuh. Tapi reputasinya sudah berjalan lebih dulu dari tubuhnya.
“Itu dia Lintang?” bisik seorang siswi berkuncir dua pada temannya.
“Iya, katanya dari SDN Sawahan 01. Paling tengil se-desa.”
“Awas kumis atau janggutnya kalau punya. Katanya suka narik.”
“Untung aku cewek, nggak punya kumis.”
“Kumis cewek ada, Nam. Kecil-kecil. Lihat nanti, bisa-bisa dia tarik juga.”
Lintang yang mendengar bisikan itu menoleh dan tersenyum. Kedua siswi itu menjerit kecil dan lari tunggang-langgang.
“Lin, kamu udah bikin onar sebelum masuk kelas,” kata Paiman.
“Itu bukan onar, Met. Itu salam perkenalan.”
Kelas 7A berlokasi di lantai dua, ujung koridor paling selatan. Ruangannya cukup luas untuk 30 siswa. Meja dan kursi sudah tersusun rapi. Di papan tulis, tertulis: Selamat Datang Siswa Baru Kelas 7A. Guru Wali: Bu Rahmi.
Lintang duduk di bangku paling belakang dekat jendela. Paiman mengambil tempat di samping kirinya, Mas'ud di samping kanan. Formasi ini sudah terbentuk sejak SD, semacam benteng pertahanan untuk menghadapi amarah guru-guru yang biasanya tertuju pada Lintang.
Tutik, ketua kelas terpilih karena suaranya paling keras dan sifatnya paling galak, berdiri di depan kelas. Dia perempuan dengan kacamata tebal dan rambut pendek model army. “Perhatian! Semua harus tertib! Tidak boleh ribut! Tidak boleh telat! Tidak boleh...”
“Tidak boleh apa, Tik?” tanya Lintang dari belakang.
Tutik menatap Lintang dengan tajam. “Kamu siapa? Berani-beraninya panggil aku Tik. Panggil Ketua Kelas.”
“Baik, Ketua Kelas Tik.”
“TIK ITU BUKAN PANGGILAN RESMI!”
“Baik, Ketua Kelas Bukan Tik. Nanti saya kepanjangan.”
Tutik menghela napas frustrasi. Dia sudah mendengar reputasi Lintang dari kakak kelasnya. Tapi dia tidak menyangka akan se-ekstrim ini di hari pertama.
Meja guru di depan masih kosong. Bu Rahmi, guru wali sekaligus guru bahasa Indonesia, belum datang. Konon, beliau terkenal disiplin dan tidak suka basa-basi. Tapi beliau juga punya satu kelemahan besar: janggut suaminya lebat dan sering jadi bahan cerita di ruang guru.
Lintang sudah mengantongi informasi itu dari jaringan intel-nya, yang tidak lain adalah Mbah Waginem yang punya sanak saudara di mana-mana.
“Lin, jangan cari masalah di kelas ini,” bisik Paiman.
“Aku tidak pernah mencari masalah, Man. Masalah yang datang padaku.”
“Itu kalimat yang sama persis seperti yang kamu ucapkan waktu SD, saat kamu dilarang buang air kecil di selokan.”
“Dan itu benar. Masalah datang padaku saat itu. Aku hanya buang air kecil, kok direpotkan?”
Mereka berdebat pelan sampai akhirnya pintu kelas terbuka. Bu Rahmi masuk.
Bu Rahmi adalah perempuan usia 35 tahun dengan tubuh tambun dan wajah bulat. Dia memakai baju batik lengan panjang dan rok kain hitam. Rambutnya disanggul rapi, dan yang paling penting tidak ada kumis, tidak ada janggut, tidak ada rambut panjang yang bisa dijangkau karena sanggul terlalu tinggi.
Lintang kecewa.
“Selamat pagi, anak-anak,” sapa Bu Rahmi dengan suara lantang.
“Selamat pagi, Bu!” serempak siswa.
“Perkenalkan, saya Bu Rahmi, guru wali kalian selama tiga tahun ke depan. Saya akan mengajar Bahasa Indonesia. Saya terkenal galak, tidak kenal kompromi, dan tidak suka murid macam-macam. Ada pertanyaan?”
Lintang mengangkat tangan.
Bu Rahmi menatapnya. “Kamu siapa?”
“Lintang, Bu. Yang paling belakang.”
“Pertanyaanmu apa, Lintang?”
“Bu Rahmi, suami Ibu punya janggut, kan?”
Seluruh kelas terdiam. Bu Rahmi memicingkan mata. “Dari mana kamu tahu?”
“Mbah Waginem cerita, Bu. Katanya janggut suami Ibu lebat dan dirawat dengan minyak zaitun setiap malam Jumat.”
Suasana semakin tegang. Tutik menunduk malu. Paiman menyembunyikan wajah di balik buku. Mas'ud bersiap-siap lari.
Bu Rahmi berjalan perlahan menuju bangku Lintang. Sepatu hak rendahnya beradu dengan lantai keramik berwarna krem. Bunyi tak-tak-tak bergema di kelas yang tiba-tiba menjadi sangat sunyi.
Dia berhenti tepat di depan Lintang. “Kamu bermaksud apa, Nak?”
“Tidak ada, Bu. Saya hanya ingin tahu apakah saya bisa berkenalan dengan suami Ibu suatu hari nanti. Saya suka orang yang punya janggut lebat.”
“SUAMI SAYA TUKANG BAKSO, BUKAN KOLEKSI JANGGUT!”
“Tukang bakso punya janggut lebat itu kombinasi sempurna, Bu. Saya bisa makan bakso sambil…”
“CUKUP!”
Bu Rahmi memukul meja Lintang dengan penggaris plastik yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Lintang tidak terganggu. Dia tersenyum.
“Anak ini udah keterlaluan di hari pertama,” gerutu Bu Rahmi. “Kamu akan saya antarkan ke ruang BK setelah pelajaran pertama selesai.”
“Baik, Bu. Ruang BK adalah rumah kedua saya. Waktu SD, saya hampir setiap minggu ke sana. Saya bahkan punya tempat duduk favorit.”
Bu Rahmi tidak menjawab. Dia kembali ke depan dan memulai pelajaran dengan gemas.
Pelajaran pertama berjalan tidak seperti yang diharapkan Bu Rahmi. Dia mencoba mengajarkan puisi, tapi Lintang terus menyela dengan pertanyaan-pertanyaan nyeleneh.
“Bu, kenapa puisi harus pakai ritma? Kenapa tidak pakai irama gamelan saja?”
“Bu, kalau saya buat puisi tentang kumis, apakah itu termasuk sastra tinggi?”
“Bu, kata 'cinta' itu abstrak. Kenapa tidak pakai kata 'kumis' saja? Lebih konkret.”
Bu Rahmi mengabaikan. Tapi Lintang tidak menyerah. Dia terus bertanya sampai akhirnya Bu Rahmi melempar kapur ke arahnya. Lintang menangkap kapur itu dengan satu tangan tanpa melihat.
Seluruh kelas terkesima. Bu Rahmi pun terkesima.
“Kamu bisa menangkap kapur?”
“Refleks, Bu. Saya sudah terbiasa dilempar benda kecil sejak umur 7 tahun. Mulai dari kapur, penghapus, sendok, sampai sandal jepit.”
“Sandal jepit siapa yang melempar?”
“Ibu saya, Bu. Setiap kali saya menarik janggut tamu yang datang ke rumah.”
Bu Rahmi menghela napas panjang. Dia menulis catatan di buku: Lintang kelas 7A, perlu penanganan khusus.
Pukul sembilan pagi, Lintang sudah duduk manis di ruang Bimbingan Konseling. Ruangan ini lebih kecil dari ruang kepala sekolah SD dulu, tapi lebih nyaman. Ada sofa bekas warna coklat, lemari arsip, dan meja kayu dengan komputer jadul yang masih pakai windows 98.
Pak Budi, guru BK yang terkenal tegas tapi juga bijaksana, duduk di kursi empuk sambil menatap Lintang dengan tatapan campuran antara penasaran dan waspada.
“Lintang, baru jam sembilan pagi, hari pertama, kamu sudah dikirim ke saya. Itu rekor.”
“Saya suka memecahkan rekor, Pak.”
“Kamu tahu kenapa kamu dikirim ke sini?”
“Karena saya bertanya tentang janggut suami Bu Rahmi.”
“Itu pertanyaan yang tidak pantas.”
“Kenapa tidak pantas, Pak? Janggut adalah bagian dari tubuh manusia. Tidak ada yang vulgar dari janggut. Bu Rahmi saja yang terlalu sensitif.”
Pak Budi menyandarkan badannya di kursi. “Kamu selalu punya alasan untuk setiap tindakanmu, ya?”
“Bukan alasan, Pak. Tapi penjelasan logis. Alasan itu untuk membenarkan kesalahan. Penjelasan logis itu untuk memahami sebuah peristiwa.”
Pak Budi terdiam. Dia sudah membaca berkas Lintang dari SD. Hasil tes IQ-nya 145. Nilai rapor selalu sempurna untuk mata pelajaran eksak, tapi untuk perilaku selalu ada catatan khusus. Dari 20 guru yang pernah mengajar Lintang, 18 di antaranya merekomendasikan "pendampingan psikologi intensif", sementara 2 guru lainnya malah merekomendasikan "percepatan kelas karena kebosanan".
“Lintang, saya tawarkan sesuatu.”
“Apa itu, Pak?”
“Jadi anggota OSIS.”
Lintang tertawa. “Saya? OSIS? Pak Budi, saya ini biang kerok kelas. Saya suka mengganggu teman perempuan. Saya suka bertanya nyeleneh. Saya suka menarik kumis dan janggut guru.”
“Itu sebabnya saya ingin kamu jadi OSIS. Supaya energi kamu tersalurkan ke hal yang positif.”
“Dengan jadi OSIS, saya tidak boleh menarik kumis guru, kan?”
“Tentu tidak.”
“Lalu buat apa? Saya kehilangan satu-satunya hiburan di sekolah.”
Pak Budi mengusap wajahnya. Dia merasa seperti sedang bernegosiasi dengan diplomat ulung, bukan anak umur 13 tahun.
“Bagaimana kalau saya buat perjanjian denganmu?”
“Perjanjian seperti apa, Pak?”
“Setiap kali kamu tidak membuat masalah selama satu minggu penuh, kamu boleh menarik kumis saya satu kali.”
Lintang matanya berbinar. “Beneran, Pak? Bapak punya kumis?”
Pak Budi mengusap kumis tipisnya, kumis yang memang sengaja ia pelihara sejak muda meskipun tidak terlalu lebat. “Ini kumis asli, bukan tempelan. Tapi syaratnya: kamu tidak boleh menarik keras-keras.”
“Deal, Pak. Tapi satu syarat tambahan.”
“Apa?”
“Saya tidak mau jadi OSIS.”
“Kenapa?”
“Karena OSIS itu membosankan. Cuma rapat, rapat, rapat. Saya lebih suka jadi pengawas tidak resmi. Mengawasi jalannya sekolah dengan cara saya sendiri.”
“Cara kamu sendiri itu maksudnya menarik janggut orang yang melanggar aturan?”
“Ide bagus, Pak! Jadi setiap siswa yang melanggar aturan, hukumannya janggutnya saya tarik.”
Pak Budi hampir terbahak. “Lintang, sebagian besar siswa kita tidak punya janggut.”
“Ya sudah, kumis. Kalau tidak punya kumis juga, rambut. Kalau tidak punya rambut, bulu ketiak.”
“KAMU GILA!”
“Itu sudah saya ketahui sejak lahir, Pak.”
Setelah negosiasi alot yang berlangsung 45 menit, Pak Budi dan Lintang sepakat: Lintang tidak harus jadi OSIS, tapi wajib mengikuti ekstrakurikuler debat untuk menyalurkan bakat argumentasinya. Lintang setuju dengan satu syarat: setiap kali ia memenangkan lomba debat, ia berhak menarik kumis Pak Budi.
Pak Budi menjabat tangan Lintang sambil bergumam, “Aku baru sadar, menjadi guru BK itu tidak ada matinya.”
Lintang tersenyum. “Selamat bergabung dengan klub korban saya, Pak. Manfaatkan fasilitas dengan baik.”
Istirahat pertama. Lintang, Paiman dan Mas'ud duduk di kantin. Mereka memesan tiga gelas es teh dan sepiring pisang goreng.
“Lin, tadi kamu di BK ngapain aja?” tanya Paimansambil mengunyah pisang goreng.
“Negosiasi perjanjian damai.”
“Damai sama siapa?”
“Sama Pak Budi. Mulai sekarang, saya tidak akan menarik kumis dan janggut guru di sekolah.”
Mas'ud hampir tersedak. “Hah? Janji? Kamu bisa?”
“Janji. Tapi ada pengecualian.”
“Pengecualian apa?”
“Guru yang kumis atau janggutnya digerak-gerakkan ke arah saya dengan sengaja. Itu berarti provokasi. Itu tidak terikat perjanjian.”
Paiman geleng-geleng kepala. “Kamu memang jenius nyari celah.”
“Bukan celah, Man. Itu zona abu-abu. Kehidupan itu tidak hitam putih. Begitu juga perjanjian.”
Tiba-tiba, sekelompok kakak kelas laki-laki mendekati meja mereka. Yang paling depan adalah Yoyok, siswa kelas 9 yang terkenal suka berkelahi. Badannya besar, wajahnya culun, dan yang paling membuat Lintang focus, janggutnya lebat meskipun masih berseragam putih abu-abu.
“Kamu Lintang?” tanya Yoyok dengan nada merendahkan.
Lintang meneguk es teh pelan-pelan. “Tergantung. Siapa yang tanya?”
“Gue Yoyok. Kelas 9. Udah dengar reputasi elu. Katanya suka narik janggut.”
“Informasi Bapak tepat.”
“Jangan panggil gue Bapak. Gue masih pelajar.”
“Baik, Kakak Yoyok.”
Yoyok mendekat. Jarak wajahnya dengan Lintang hanya beberapa senti. “Gue kasih tahu, Lin. Di sekolah ini, gue yang paling berkuasa. Bukan elu.”
“Saya tidak pernah mengaku paling berkuasa, Kak. Saya hanya mengaku paling tengil.”
“Itu sama saja.”
“Tidak, Kak. Berkuasa itu menggunakan kekuatan. Tengil itu menggunakan akal.”
Yoyok terdiam. Dia tidak pintar berdebat. Keahliannya hanya otot. “Gue ga suka sama cara elu bicara.”
“Itu hak Bapak, maaf, Kakak. Tapi Bapak, Kakak, tidak bisa melarang saya bicara, kan? Itu namanya pelanggaran HAM.”
“HMP?”
“HAM. Hak Asasi Manusia. Kelas 9 belum dapat itu? Biasanya dapat di kelas 8.”
Teman-teman Yoyok mulai terkekeh. Yoyok makin merah mukanya. “Gue ga peduli HAM atau HMP. Pokoknya elu harus hormat sama gue.”
“Saya hormat, Kak. Saya panggil Bapak, Kakak, terus. Itu tanda hormat. Kalau tidak hormat, saya panggil ‘Hei, janggut’.”
Yoyok spontan memegang janggutnya. “Jangan berani-berani kamu panggil gitu!”
Lintang mengangkat kedua tangan. “Saya tidak panggil, Kak. Saya hanya kasih contoh. Jangan emosi dulu. Emosi itu tidak baik untuk kesehatan janggut.”
Yoyok mengepalkan tangan. Paiman dan Mas'ud mundur selangkah. Tapi Lintang tetap duduk santai.
“Kamu berani, Lin. Gue suka. Tapi gue tetap benci.”
“Itu juga hak Kakak. Silakan benci. Tapi jangan sampai kebencian merusak janggut. Janggut itu aset.”
Yoyok tidak tahu harus marah atau bingung. Dia akhirnya memilih pergi sambil menggumam, “Suatu hari gue balas!”
Lintang melambaikan tangan. “Saya tunggu, Kak. Bawa janggut dalam kondisi prima ya!”
Paiman menghembuskan napas lega. “Lin, kamu hampir saja dihajar.”
“Dia tidak akan menghajar.”
“Kenapa yakin?”
“Karena orang yang janggutnya lebat tapi tidak dirawat dengan baik itu biasanya punya rasa percaya diri rendah. Dia cari perhatian dengan kekerasan. Tapi ketika dihadapi dengan ketenangan, dia akan mundur.”
Mas'ud mengangguk-angguk. “Selain jenius tengil, kamu juga jenius psikologi.”
“Bukan psikologi, Ud. Itu pengamatan. Semua orang bisa melakukannya. Tapi kebanyakan orang sibuk dengan diri sendiri sehingga lupa mengamati orang lain.”
Sore harinya, sepulang sekolah, Lintang berjalan pulang sendirian karena Paiman dan Mas'ud harus ikut ekstrakurikuler pramuka. Jalan setapak di pinggir sawah sudah biasa ia lalui. Bulir-bulir padi mulai menguning. Beberapa petani sedang menyemprot hama.
Di tengah jalan, Lintang bertemu dengan Kastubi, guru honorer yang mengajar seni budaya di SMP. Kastubi adalah laki-laki kurus dengan janggut tipis yang selalu ia cukur rapi karena takut ditarik Lintang. Hari ini, entah kenapa, janggutnya dibiarkan tumbuh sedikit lebih panjang.
“Selamat sore, Pak Kastubi,” sapa Lintang.
Kastubi reflek memegang janggutnya. “S-sore, Lintang. Kamu pulang?”
“Iya, Pak. Bapak janggutnya dibiarin tumbuh? Biasanya dicukur rapi.”
“I-i-ini... cuma lupa cukur.”
“Jangan takut, Pak. Saya sekarang sudah punya perjanjian dengan Pak Budi. Tidak akan menarik janggut guru.”
Kastubi lega. “Alhamdulillah. Aku dengar-dengar kabar itu tadi dari Bu Rahmi.”
“Tapi berita itu belum resmi. Karena perjanjian itu baru berlaku besok. Hari ini masih boleh.”
Kastubi wajahnya pucat. “MAKSUDMU?”
Lintang tersenyum. “Bercanda, Pak. Tenang. Janggut Bapak aman.”
Kastubi menghela napas panjang. “Kamu ini, Lintang, bisa bikin orang tua kena jantung.”
“Itu artinya saya berhasil, Pak. Tugas seorang penghibur adalah membuat penontonnya terkejut, tertawa, atau kaget. Saya sudah memenuhi salah satunya.”
Kastubi hanya bisa geleng-geleng. Mereka berpisah di perempatan jalan. Kastubi mengambil jalan memutar yang lebih jauh karena tidak percaya diri berjalan terlalu lama di samping Lintang.
Di rumah, Prapto sedang duduk di teras sambil merokok. Dia sudah mendengar kabar dari tetangga bahwa Lintang dipanggil BK di hari pertama sekolah.
“Le, kamu dipanggil BK lagi?”
“Iya, Pa.”
“Udah janji nggak akan ngulang?”
“Udah. Aku janji nggak akan menarik janggut guru.”
Prapto lega. “Bagus. Akhirnya kamu sadar juga.”
“Tapi aku nggak janji nggak akan jahilin teman perempuan.”
Prapto rokoknya hampir jatuh. “LINTANG!”
“Aku bercanda, Pa. Aku juga nggak akan jahilin teman perempuan. Kecuali mereka minta.”
“Mereka minta jahilin?”
“Iya. Kadang ada yang minta diperhatiin dengan cara dijahili.”
Prapto menghela napas panjang. “Aku nggak tahu harus bangga atau malu sama caramu berpikir.”
“Bangga aja, Pa. Karena malu itu hanya akan membuat bapak stres.”
Mariyem keluar dari dapur dengan wajah yang sudah pasrah. “Mas, biarkan. Anak ini sudah tidak bisa diubah. Yang bisa kita lakukan hanya berdoa semoga dia tidak masuk penjara.”
“Aku nggak akan masuk penjara, Ma. Penjara itu buat orang bego yang ketangkap. Aku pintar, pasti nggak ketangkap.”
“ITU LEBIH PARAH!”
Lintang tertawa. Paiman yang tiba-tiba datang dari balik pohon pisang ikut tertawa. “Mau main ke rumah, Man?”
“Iya, Lin. Bapakmu nggak marah-marah ‘kan lihat aku?”
Prapto menggeleng. “Kamu anak baik, Man. Nggak kayak anakku ini.”
“Bapak jangan salah sangka, Pak. Saking sukanya aku sama Lintang, kadang aku ikut-ikutan tengil juga.”
“Ya ampun, ada dua sekarang.”
Paiman masuk ke rumah ditemani Lintang. Mereka duduk di ruang tengah. Mariyem menyuguhkan kopi untuk Paiman, kebiasaan aneh karena Paimaan masih 13 tahun, tapi sudah doyan kopi seperti orang dewasa.
“Man, besok kita mulai ekstra debat,” kata Lintang sambil memainkan sendok kopi.
“Iya. Kamu udah siap?”
“Udah. Materi debat pertama: mengapa kumis dan janggut harus dilindungi oleh undang-undang.”
Paiman hampir tersedak. “SERIUS? Itu topik debat?”
“Serius. Aku sudah siapin argumen. Kumis dan janggut adalah aset nasional yang harus dilindungi karena berkontribusi terhadap pendapatan daerah melalui pariwisata.”
“Pariwisata kumis? Apa pula itu?”
“Bayangkan, Man. Desa Sawahan bisa jadi desa wisata kumis. Setiap warga yang punya kumis lebat jadi objek wisata. Turis foto dengan mereka, bayar. Sebagian hasilnya buat pembangunan desa.”
Paiman menggaruk kepalanya yang gatal karena bingung. “Itu gila. Tapi kalau dipikir-pikir, bisa juga ya?”
“Bisa. Asal dikemas dengan baik. Aku sudah bicara dengan Mbah Waginem. Beliau dukung.”
“Mbah Waginem dukung desa wisata kumis?”
“Beliau bilang, ‘Le, apa pun asal desa kita maju, aku dukung. Asal nggak maksa aku pakai kumis palsu.”
Mereka tertawa bersama. Suara tawa itu terdengar sampai ke dapur. Mariyem mendengarkan sambil tersenyum tipis.
“Suami kita ini aneh, Yem,” bisik Prapto.
“Bukan suami kita yang aneh, Mas. Anak kita yang aneh. Tapi aneh yang membahagiakan.”
“Aneh yang membahagiakan? Apa itu?”
“Yaitu aneh yang bikin kita lelah, tapi setiap malam sebelum tidur kita masih bisa tertawa memikirkannya.”
Prapto memegang tangan Mariyem. “Kamu hebat, Yem. Bisa bertahan dengan anak kayak gitu.”
“Mas juga hebat. Kumis bolong-bolong masih mau untung-untungan.”
Mereka tertawa pelan. Di ruang tengah, Lintang dan Paiman sudah berdebat seru tentang posisi kumis dalam tata surya.
“Kumis tidak ada di tata surya, Lin. Itu konyol.”
“Man, kamu kurang imajinasi. Apa nama bintang yang berekor? Komet. Komet mirip kumis kalau dipotret dari jarak jauh. Jadi sebenarnya alam semesta ini penuh dengan kumis. Kita tinggal mencarinya.”
“Itu analogi yang paling aneh yang pernah aku dengar.”
“Tapi kamu tidak bisa membantah, kan?”
Paiman diam. Dia memang tidak bisa membantah. Dan itu yang membuat Lintang selalu menang.
Malam tiba. Lintang duduk di teras seperti biasa, menatap bintang-bintang.
“Pa,” panggilnya.
Prapto keluar dengan segelas susu hangat. “Ya, Le?”
“Aku kangen SD. SD itu sederhana. Hanya tarik kumis. Sekarang di SMP, lebih kompleks. Ada aturan, ada perjanjian, ada konsekuensi.”
“Itu namanya dewasa, Le.”
“Aku belum dewasa. Aku baru 13 tahun.”
“Tapi cara berpikirmu sudah dewasa. Terlalu dewasa. Dan itu yang membuatmu selalu bentrok dengan aturan.”
Lintang menyesap susu hangatnya. “Apa salahnya berpikir dewasa di usia muda?”
“Tidak salah. Tapi jangan sampai membuatmu lupa bahwa kamu masih anak-anak.”
“Aku tidak lupa, Pa. Aku masih suka main bola, meskipun lebih suka main pikiran orang.”
Prapto tertawa. Dia mengusap kepala Lintang. “Suatu hari, kamu akan menjadi insinyur. Dan aku akan berdiri di depan pintu rumah, menunggu kamu pulang dengan segudang cerita.”
“Janji, Pa.”
“Janji.”
Lintang menatap bintang-bintang. “Pa, lihat bintang paling terang di sana.”
“Aku lihat.”
“Saat aku besar nanti, aku ingin desa ini seterang bintang itu. Tidak gelap, tidak miskin, tidak tertinggal. Aku akan pulang dan membangun.”
Prapto meneteskan air mata. “Aku tunggu, Le. Aku tunggu.”
Di dalam rumah, Mariyem menangis mendengar percakapan itu. Dia bersyukur memiliki anak yang aneh. Karena aneh berarti tidak biasa. Tidak biasa berarti istimewa.
Dan istimewa berarti tak terlupakan.
BAB 6
Remaja Paling Dibenci, Paling Dibutuhkan
Juara Lomba, Tapi Tidak Tahu Diri
Usia Lintang menginjak lima belas tahun. Dua tahun sudah ia berkutat di bangku SMP. Dua tahun pula ia membangun reputasi yang unik: paling dibenci, tetapi paling dibutuhkan.
Para siswi memiliki grup rahasia di WhatsApp bernama "Anti-Tengil Squad". Grup itu beranggotakan 47 dari 60 siswi di sekolah. Dua belas siswi sisanya tidak bergabung karena tidak punya HP, satu siswi lagi tidak bergabung karena diam-diam suka pada Lintang, tapi itu rahasia yang baru akan terungkap nanti.
Pagi itu, di halaman sekolah, upacara bendera tengah berlangsung. Lintang berdiri di barisan paling belakang dengan tangan di saku celana, sebuah pelanggaran protokol yang sudah menjadi langganan.
Pak Hartono, kepala sekolah yang baru setahun menjabat, menyampaikan amanat. Beliau adalah pria tambun dengan kumis tebal yang dirawat seperti taman nasional. Lintang sudah beberapa kali mencoba "bernegosiasi" dengan kumis itu, tapi Pak Hartono selalu waspada.
“...dan anak-anak, sebentar lagi kita akan mengirimkan tim debat ke lomba tingkat kabupaten. Saya berharap tim kita bisa meraih prestasi.”
Lintang menguap keras di barisan belakang. Suara uapannya terdengar sampai ke panggung. Pak Hartono menghentikan pidatonya.
“Lintang, apakah pidato saya membosankan?”
“Tidak, Pak. Pidato Bapak sangat menginspirasi. Saya hanya kurang tidur semalam.”
“Kenapa kurang tidur?”
“Membaca buku tentang retorika, Pak. Untuk lomba debat.”
Pak Hartono tersenyum. Itu adalah jawaban yang tidak bisa dimarahi. Lintang sudah ahli dalam hal itu.
“Baik, semoga kamar tidurmu tidak mengganggu konsentrasimu.”
“Aman, Pak. Kamar saya ditemani nyamuk-nyamuk yang juga suka debat. Mereka debat soal darah siapa yang paling enak.”
Seluruh siswa tertawa. Guru-guru geleng-geleng kepala. Pak Hartono hanya menghela napas dan melanjutkan pidato.
Usai upacara, Lintang berjalan ke kantin bersama Paiman dan Mas'ud. Di perjalanan, mereka berpapasan dengan rombongan "Anti-Tengil Squad" yang dipimpin langsung oleh Ratna, siswi kelas 9 dengan kumis tipis di bibir atasnya (kumis yang menurut doktor di Puskesmas disebabkan hormon tidak seimbang). Ratna paling membenci Lintang karena bertahun-tahun lalu, ketika mereka masih SD, Lintang pernah berkata, "Kamu cantik, Rat. Tapi kalau kumismu dicabut, tambah cantik."
Ratna tidak pernah melupakan itu.
“Lintang, dasar tengil!” sergah Ratna be gitu berpapasan.
Lintang menoleh. “Selamat pagi, Rat. Kumismu tumbuh lagi? Tumbuhannya cepat, ya. Pakai pupuk apa?”
Wati dan Endang, teman-teman Ratna, langsung memegang bahu Ratna agar tidak melompat.
“Jangan diladeni, Rat,” bisik Wati.
“Dia memang sudah terlahir untuk menyebalkan,” timpal Endang.
Lintang tersenyum. “Saya terlahir untuk jujur, End. Kalau kejujuran itu menyebalkan, itu bukan salah saya. Itu salah sistem yang terbiasa dibohongi.”
Ratna mendengus dan berlalu. Sedangkan Wati dan Endang mengikuti dengan muka masam.
Paiman bersiur kecil. “Lin, kamu tahu grup Anti-Tengil Squad? Katanya mereka setiap malam ngomongin kamu.”
“Aku tahu. Aku bahkan punya mata-mata di grup itu.”
“MATA-MATA? SIAPA?”
“Rahasia. Tapi yang jelas, dia kasih laporan setiap hari. Jadi aku tahu persis apa yang mereka bicarakan. Minggu lalu mereka protes karena aku pinjam pulpen Retno tanpa izin.”
“Memangnya kamu pinjam izin?”
“Tidak. Itu sebabnya mereka protes.”
Mas'ud yang dari tadi diam ikut nimbrung. “Lin, kamu itu sadar nggak sih kalau kamu pria paling dibenci di sekolah ini?”
“Sadar, Ud. Dan aku bangga. Karena dibenci itu artinya diperhatikan. Tidak ada orang yang membenci orang yang tidak penting.”
“Filosofi lagi.”
“Hidup butuh filosofi, Ud. Tanpa filosofi, hidup hanya sekadar hidup. Tidak ada makna.”
Jam pertama, pelajaran IPS dengan Bu Endah. Bu Endah adalah guru galak berusia 50 tahun yang tidak punya kumis atau janggut, sehingga Lintang tidak tertarik menggodanya. Tapi hari ini Bu Endah membahas tentang kegiatan ekonomi.
“Anak-anak, siapa yang bisa menjelaskan hukum permintaan dan penawaran?”
Lintang mengangkat tangan. Bu Endah menghela napas. Tidak ada yang bisa menghalangi Lintang untuk berbicara.
“Baik, Lintang.”
“Hukum permintaan dan penawaran, Bu, adalah ketika kita punya sesuatu yang langka, harganya mahal. Contoh: kumis Pak Hartono. Karena hanya beliau yang punya kumis selebat itu di sekolah ini, maka nilainya tinggi. Saya rela membayar Rp5.000 untuk sekali tarikan.”
Bu Endah memicingkan mata. “Apa hubungannya kumis Pak Hartono dengan IPS?”
“Hubungannya, Bu, ini contoh nyata kelangkaan dan permintaan. Saya butuh barang langka itu. Saya penawar. Dan Bapak Hartono sebagai pemilik barang, bisa menentukan harga. Itu transaksi ekonomi.”
“TAPI ITU BUKAN MATERI!”
“Tapi itu ilustrasi yang hidup, Bu. Siswa lebih mudah paham kalau diberi contoh yang dekat dengan keseharian.”
Bu Endah mengusap wajahnya. “Lintang, kamu ini siswa paling jenius sekaligus paling menyebalkan yang pernah saya ajar.”
“Terima kasih, Bu. Itu pujian terbaik yang pernah saya terima hari ini.”
Kelas tertawa. Bu Endah memutuskan untuk mengabaikan Lintang dan melanjutkan pelajaran. Tapi kerusakan sudah terjadi. Siswa-siswa sekarang jadi penasaran dengan "ekonomi kumis".
Jam istirahat kedua. Lintang duduk di kantin. Tiba-tiba, Retno, adik kelas yang selama ini diam-diam suka pada Lintang, mendekat. Wajahnya merah padam. Di tangannya, sebungkus nasi bungkus.
“L-Lintang... ini buat kamu.”
Lintang menatap Retno. “Retno, saya nggak pesan apa-apa.”
“Ini... pemberian.”
“Pemberian? Kenapa?”
Retno semakin merah. “Ka-ka-karena kamu... kamu...”
“Karena saya tengil dan kamu kasihan?”
“BUKAN! Karena aku suka sama kamu!”
Keheningan menyeruak di kantin. Paiman dan Mas'ud membeku. Beberapa siswa lain menoleh. Ratna yang sedang makan di pojok langsung meletakkan sendok.
Lintang terdiam beberapa detik. Kemudian dia berkata, “Retno, kamu tahu saya suka menarik kumis?”
“A-aku tahu. Aku nggak punya kumis.”
“Kamu tahu saya suka jahilin teman perempuan?”
“Aku tahu. Tapi... tapi aku siap.”
“Kamu tahu saya orang paling dibenci di sekolah ini?”
“T-tidak bagi aku.”
Lintang menghela napas. Dia menatap Retno dengan mata yang, untuk pertama kalinya, tidak tengil. “Retno, kamu baik. Tapi saya bukan tipe laki-laki untuk kamu. Saya belum siap punya pacar. Saya masih sibuk jadi biang kerok.”
Retno hampir menangis. “T-tapi...”
“Tapi kalau kamu mau berteman, dengan senang hati. Asal jangan bawa nasi bungkus. Nanti teman-temanmu ngira aku menerima suap.”
Retno tidak jadi nangis. Dia malah tersenyum kecil. “Kamu aneh, Lintang.”
“Itu sudah pengetahuan umum, Retno. Sekarang, cepat makan nasinya. Nanti dingin.”
Retno pergi dengan langkah gembira meskipun ditolak. Paiman menepuk pundak Lintang.
“Lin, kamu baru saja nolak cewek yang mau suka sama kamu.”
“Aku tahu, Man.”
“Kenapa? Dia cantik.”
“Karena nolak itu lebih baik daripada nerima tapi setengah hati. Aku nggak mau main-main dengan perasaan orang.”
Mas'ud mengangguk-angguk. “Kamu tengil, tapi punya prinsip.”
“Prinsip itu penting, Ud. Tanpa prinsip, tengil cuma anarkis.”
Pukul dua siang, tim debat sekolah mengadakan latihan intensif untuk lomba tingkat kabupaten. Ruang serbaguna sekolah yang lantainya terbuat dari semen dan dindingnya bercat putih pudar, menjadi saksi panasnya adu argumentasi.
Tim debat SMPN 2 Sawahan terdiri dari Lintang (pembicara utama), Paiman(pembicara kedua), dan Ratna (pembicara ketiga). Ya, Ratna, si ketua Anti-Tengil Squad, terpaksa satu tim dengan Lintang karena tidak ada siswa lain yang sepintar mereka berdua. Sekolah memaksakan. Pak Budi yang menjadi pembimbing langsung menyatukan mereka.
“Ini tidak adil!” protes Ratna di awal latihan. “Saya tidak mau satu tim dengan orang itu!”
Lintang menimpali. “Saya juga tidak mau satu tim dengan orang yang kumisnya lebih tebal dari saya.”
“AKU TIDAK PUNYA KUMIS!”
“Itu yang membuatmu lebih berbahaya, Rat. Orang tanpa kumis itu tidak bisa diprediksi.”
Pak Budi memukul meja. “CUKUP! Kalian berdua harus bekerja sama. Ini lomba tingkat kabupaten. Lawan kita tim dari SMPN 1 Sawahan yang sudah juara bertahun-tahun. Kalian nggak punya pilihan selain kompak.”
Ratna mendengus. Lintang mengangkat bahu.
Latihan dimulai dengan topik: "Pembangunan industri lebih penting daripada pelestarian lingkungan."
Lintang sebagai pembicara pertama dari tim afirmasi (setuju dengan topik). Ratna sebagai pembicara ketiga dari tim yang sama. Ironisnya, mereka harus satu kubu meskipun di kehidupan nyata saling benci.
“Baik, Lintang, mulai,” perintah Pak Budi.
Lintang berdiri. “Yang terhormat juri, lawan debat, dan teman-teman yang berbahagia. Saya berdiri di sini hari ini untuk meyakinkan Anda bahwa pembangunan industri lebih penting daripada pelestarian lingkungan. Mengapa? Karena tanpa industri, manusia tidak punya pekerjaan. Tanpa pekerjaan, manusia tidak punya uang. Tanpa uang, manusia tidak bisa membeli makanan. Tanpa makanan, manusia mati. Manusia mati, lingkungan juga ikut rusak karena tidak ada yang merawat. Jadi, dengan membangun industri, kita sebenarnya juga melestarikan lingkungan secara tidak langsung.”
Pak Budi mengangguk. “Bagus. Paiman lanjutkan.”
Paimanberdiri dengan gemetar. “S-saya setuju dengan Lintang. Karena... karena... lingkungan yang tidak ada industrinya itu seperti... seperti...”
“Seperti kumis tanpa wajah,” bisik Lintang.
Paiman panik. “IYA! SEPERTI KUMIS TANPA WAJAH! Tidak berguna!”
Pak Budi menunduk. Ratna menutup wajah. Lintang tersenyum puas.
Ratna berdiri untuk gilirannya. “Saya akan menyempurnakan argumen tim kami. Pembangunan industri memang penting, tetapi tidak dengan mengorbankan lingkungan. Kita perlu keseimbangan. Saudara Lintang tadi bilang manusia mati kalau tidak ada industri. Itu salah! Manusia mati kalau lingkungan rusak. Coba bayangkan, kalau lingkungan rusak, tidak ada air bersih. Manusia butuh air. Jadi kesimpulannya? LINTANG SALAH!”
Lintang langsung bangkit. “Rat, kita satu tim. Jangan serang pembicara sendiri.”
“KAMU SALAH TETAP SALAH MESKIPUN SATU TIM!”
Pak Budi menghela napas panjang. “Saya lihat kerjasama tim kita masih perlu banyak perbaikan.”
Latihan debat berlangsung tiga jam penuh dengan panas dan dingin yang bergantian. Lintang dan Ratna terus berselisih; Paimanmenjadi penengah yang tidak efektif; Pak Budi pusing tujuh keliling.
Tepat pukul lima sore, latihan bubar. Ratna pergi dengan kesal tanpa pamit. Paimanikut Lintang pulang.
“Lin, kita nggak bakal menang kalau kalian terus bertengkar.”
“Aku tahu, Man. Tapi Ratna itu keras kepala. Sama sepertiku.”
“Terus gimana dong?”
“Aku butuh taktik baru. Aku harus membuatnya setuju dengan caraku tanpa dia sadar.”
“Caranya?”
“Manipulasi.”
“Manipulasi? Itu tidak etis.”
“Etis atau tidak, yang penting menang. Tapi nggak perlu khawatir. Manipulasiku halus. Dia bahkan nggak akan sadar.”
Paiman tidak bisa tidur malam itu. Dia membayangkan pertandingan debat yang akan datang. Membayangkan Lintang dan Ratna bertarung di atas panggung. Membayangkan kekacauan yang mungkin terjadi. Dan dia berdoa semoga sekolahnya tidak hancur.
Tiga minggu berlalu. Latihan debat terus berlangsung. Lintang menjalankan taktik manipulasi halusnya: dia mulai memuji Ratna di depan umum.
“Ratna itu pembicara yang brilian,” kata Lintang kepada Wati di kantin. “Argumennya tajam seperti silet.”
Wati melapor ke Ratna. Ratna awalnya curiga, tapi setelah Lintang memujinya beberapa kali lagi di depan guru-guru, hatinya mulai luluh.
“Kamu benar-benar berpikir aku brilian?” tanya Ratna suatu hari.
“Benar. Kamu satu-satunya lawan debat yang membuatku harus berpikir keras. Itu jarang terjadi.”
Ratna tersenyum kecil, senyuman pertama yang pernah ia tunjukkan pada Lintang selama bertahun-tahun.
“Kamu juga... lumayan,” kata Ratna pelan.
Pak Budi yang mendengar itu hampir menangis. Akhirnya, setelah berminggu-minggu, kedua siswa paling keras kepala di sekolah itu mulai berdamai.
Hari perlombaan tiba. Gedung pertemuan Kabupaten Sawahan dipenuhi oleh sepuluh tim dari berbagai SMP. Suasana tegang. Juri terdiri dari tiga akademisi dan satu perwakilan Dinas Pendidikan.
Lintang, Paiman dan Ratna duduk di kursi peserta dengan seragam biru putih rapi. Ratna bahkan memakai sedikit bedak, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya. Lintang menyisir rambutnya, sesuatu yang juga tidak pernah ia lakukan sebelumnya.
“Kalian siap?” tanya Pak Budi.
“Siap,” jawab mereka bertiga.
Babak pertama, mereka melawan SMPN 3 Sawahan. Topik: "Teknologi membuat manusia semakin malas." Lintang menjadi pembicara pertama tim kontra (tidak setuju). Dia memukau juri dengan argumen-argumen cerdas dan selipan humor yang membuat penonton tertawa.
“Teknologi tidak membuat manusia malas. Teknologi membuat manusia efisien. Dulu, orang harus berjalan kaki 5 kilometer untuk membeli garam. Sekarang, dengan HP, garam diantar ke rumah. Apakah itu malas? Tidak. Itu cerdas.”
Mereka menang telak.
Babak kedua, melawan SMPN 5 Sawahan. Topik: "Pendidikan karakter lebih penting daripada pendidikan akademik." Ratna yang menjadi pembicara utama. Dia tampil mengesankan. Argumennya kuat, datanya akurat, dan, yang mengejutkan, dia menyisipkan pujian pada Lintang di akhir pidatonya.
“...dan sebagai bukti bahwa pendidikan karakter itu penting, lihatlah teman saya, Lintang. Dia jenius secara akademik, tapi karena kurang pendidikan karakter, dia suka menarik kumis guru. Itu contoh nyata!”
Hadirin tertawa. Lintang tersenyum kecut tapi tetap tepuk tangan.
Mereka menang lagi.
Babak final. Lawan mereka SMPN 1 Sawahan, debitur terkuat yang dipimpin oleh Ferdi, juara debat nasional tahun lalu. Topik: "Kesenian tradisional lebih berharga daripada kesenian modern."
Lintang tampil gemilang. Tapi Ferdi tidak kalah hebat. Adu argumentasi berlangsung sengit. Juri sampai tiga kali meminta waktu tambahan untuk memutuskan.
Di menit-menit akhir, Ratna berdiri untuk closing statement timnya. Dia menatap Lintang sebentar, lalu berkata, “Yang terhormat juri, lawan debat, dan hadirin sekalian. Saya ingin mengakhiri debat ini dengan sebuah pertanyaan sederhana: apakah kalian lebih suka mendengar musik gamelan yang menenangkan jiwa, atau musik remix yang memecahkan gendang telinga?”
Penonton tertawa.
“Kesenian tradisional adalah akar kita. Tanpa akar, pohon tumbang. Tapi kesenian modern adalah daun baru yang segar. Kita butuh keduanya. Jadi, jangan pilih. Rawat keduanya. Terima kasih.”
Juri berbisik-bisik. Beberapa menit kemudian, ketua juri berdiri.
“Pemenang lomba debat tingkat kabupaten tahun ini adalah... SMPN 2 Sawahan!”
Paiman menjerit kegirangan. Ratna menangis. Lintang tersenyum lebar, senyum yang paling tulus sepanjang hidupnya.
Pak Budi memeluk mereka bertiga. “Kalian hebat! Luar biasa!”
Ferdi mendekati Lintang. “Kamu hebat, Lin. Aku mengakui kemampuanmu.”
“Terima kasih, Ferdi. Kumismu bagus, by the way. Lain kali aku tarik ya?”
Ferdi tertawa. “Kamu memang tengil.”
“Itu sudah merek dagang saya.”
Malam harinya, rombongan SMPN 2 Sawahan tiba di desa dengan piala bergilir. Seluruh warga berkumpul di balai desa. Pak Hartono menyambut mereka dengan pidato haru.
“Anak-anak ini telah mengharumkan nama desa kita,” kata Pak Hartono dengan suara bergetar. “Mereka membawa pulang piala untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah kita.”
Warga bertepuk tangan. Sanipah, ibunya Karli, menangis haru. Tumirah pemilik warung sembako menyumbangkan nasi tumpeng untuk perayaan.
Tapi di tengah keramaian, Lintang menarik lengan Pak Hartono.
“Pak, janji Bapak.”
“Janji apa?”
“Kalau kami menang, Bapak mengizinkan saya menarik kumis Bapak sekali.”
Pak Hartono menghela napas. Dengan berat hati, ia menundukkan kepalanya. “Satu kali. Jangan keras.”
Lintang mengulurkan tangan. Perlahan, jari-jarinya menyentuh kumis Pak Hartono, kumis tebal yang sudah ia idam-idamkan sejak hari pertama masuk SMP. Dia menariknya pelan.
Pak Hartono mengerang kecil.
Lintang melepas. “Terima kasih, Pak. Ini hadiah terbaik dalam hidup saya.”
Pak Hartono mengusap kumisnya. “Kamu ini anak aneh, Lintang.”
“Saya tahu, Pak. Tapi aneh yang berprestasi.”
Seluruh warga tertawa.
Di sudut, Prapto memegang tangan Mariyem. “Anak kita menang, Yem.”
“Iya, Mas. Tapi besok pasti ada masalah baru. Selalu begitu.”
“Biarkan. Hari ini kita bangga dulu.”
Mariyem tersenyum. Air matanya menetes. Bangga.
Sepekan setelah kemenangan, Lintang kembali ke sekolah dengan semangat baru. Reputasinya meningkat. Dia tidak hanya dikenal sebagai "anak tengil", tapi juga "anak tengil yang juara".
Tapi grup Anti-Tengil Squad belum bubar. Ratna, meskipun sudah berdamai dengan Lintang di atas panggung debat, tetap memimpin gerakan bawah tanah untuk "menghentikan kejahilan Lintang". Namun anggotanya mulai berkurang. Banyak siswi yang diam-diam mengagumi Lintang setelah melihat kepintarannya di lomba.
“Rat, grup kita mulai sepi,” lapor Wati suatu hari.
“Biarkan. Yang bertahan adalah yang paling loyal.”
“Tapi Endang sudah keluar. Dia bilang dia suka sama Lintang.”
Ratna menghela napas. “Pengkhianat. Fokus saja. Kita masih punya misi.”
“Misi apa?”
“Memastikan Lintang tidak pernah menjahili siswi lagi.”
“Tapi dia sudah jarang menjahili, Rat. Setelah jadi juara debat, dia berubah sedikit.”
Ratna terdiam. Dia tidak mau mengakui, tapi Lintang memang sudah berubah. Tidak sepenuhnya, masih suka komentar pedas, masih suka menarik kumis guru, masih suka bikin onar. Tapi intensitasnya berkurang. Seperti ada sesuatu yang sedang ia pikirkan.
Dan Ratna benar. Lintang memang sedang sibuk memikirkan sesuatu. Bukan tentang kumis. Bukan tentang janggut. Bukan tentang debat.
Tentang masa depan.
Malam itu, di teras rumahnya, Lintang berbincang dengan Prapto.
“Pa, aku ingin kuliah di UGM.”
Prapto hampir jatuh dari kursi. “UGM? Di Jogja?”
“Iya. Jurusan pertanian. Seperti yang aku cita-citakan sejak kecil.”
“Kamu tahu biayanya? Uangnya dari mana?”
“Aku akan cari beasiswa. Prestasi debatku bisa jadi modal.”
Prapto mengusap kumis bolongnya. “Kamu yakin?”
“Yakin, Pa. Aku ingin jadi insinyur pertanian. Aku ingin membangun desa ini. Bukan hanya sawah, tapi juga pikiran petaninya. Aku akan ajarkan mereka cara bertani modern. Supaya tidak gagal panen terus.”
Prapto menangis. Dia memeluk Lintang.
“Anakku... kamu memang berbeda. Sejak lahir, aku sudah tahu. Kamu tidak akan jadi petani biasa.”
“Aku tidak ingin jadi biasa, Pa. Aku ingin jadi insinyur yang biasa. Maksudku, insinyur yang membumi. Tidak sombong. Tapi tetap tengil.”
Prapto tertawa di sela tangisnya. “Tengil itu jangan dihilangkan, Le. Itu senjatamu.”
“Aku tidak akan menghilangkannya, Pa. Aku hanya akan mengarahkannya ke hal yang lebih positif.”
Mariyem yang mendengar dari pintu ikut menangis. “Anak saya... akan kuliah... di UGM...”
“Belum tentu keterima, Ma. Jangan nangis dulu.”
“Saya nangis karena bangga, bukan karena yakin kamu keterima.”
“Itu lebih menyakitkan, Ma.”
Mariyem tertawa sambil menyeka air mata.
Bintang-bintang di langit malam itu bersinar terang. Seperti ikut merestui mimpi seorang anak tengil dari desa kecil yang ingin mengubah dunia atau setidaknya mengubah sawah-sawah di kampung halamannya.
BAB 7
SMA dan Debat Nasional yang Mengguncang
Piala Juara dan Satu Ruang BK Lagi
Lima belas tahun setelah kelahiran Lintang di malam berbintang, dia kini berdiri di gerbang SMA Negeri 1 Sawahan. Seragam putih abu-abunya baru, sekali lagi kebesaran satu nomor karena Prapto masih menggunakan strategi "beli untuk jangka panjang". Rambutnya masih acak-acakan. Ikat pinggang tetap tidak pernah dipakai.
Tapi ada yang berbeda dari Lintang kali ini. Matanya tidak lagi mencari-cari kumis atau janggut di sekitar gerbang. Matanya malah mencari satu hal: papan pengumuman.
“Kamu nyari apa, Lin?” tanya Paiman, sahabat setia yang lagi-lagi satu sekolah dengannya berkat nilai ujian yang cukup berkat bimbingan Lintang.
“Papan pengumuman ekskul debat, Man. Aku dengar SMA ini punya tim debat nasional. Juara dua tahun lalu.”
“Kok tahu?”
“Mata-mataku di grup Anti-Tengil Squad kasih laporan. Ternyata kakak kelas kita dulu, Ratna, sekarang jadi wakil ketua tim debat putri.”
Paiman mengerjap. “Ratna? Yang dulu musuh bebuyutanmu?”
“Satu. Tapi sekarang dia sudah luluh. Setelah kita juara kabupaten dulu, dia ngaku kalau dia kagum sama aku.”
“Jadi kalian sekarang...?”
“Teman. Bukan musuh. Tapi kadang masih debat soal rempah tempe.”
Mas'ud yang dari tadi diam, kini berseragam SMA yang sama, menimpali, “Yang penting kita bertiga masih bareng. Itu yang paling penting.”
“Ud, kamu sentimentsal banget jam segini. Padahal baru jam enam pagi.”
“Jam enam pagi adalah waktu paling jujur, Lin. Karena orang belum sempat berbohong sama dirinya sendiri.”
Lintang menepuk pundak Mas'ud. “Kamu belajar filsafat dari mana?”
“Dari kamu. Setiap kali kamu ngomong, aku catat. Aku punya buku khusus.”
Paiman tertawa. “Kalian berdua aneh. Tapi aku senang.”
Mereka bertiga masuk ke gerbang SMA.
Ekskul debat SMA Negeri 1 Sawahan bertempat di ruang serbaguna lantai dua. Ruangan itu cukup besar untuk 50 orang, dengan papan tulis putih, meja panjang, kursi-kursi lipat, dan satu lemari trofi berisi piala-piala hasil kejuaraan dari masa ke masa.
Pembina ekskul debat adalah Cak Eko, pria berusia 35 tahun dengan kumis tipis model tentara dan logat Jawa Timur yang kental. Beliau terkenal keras, disiplin, dan tidak suka basa-basi. Tapi beliau juga cerdas dan sangat menghargai bakat.
“Mas Lintang, aku sudah dengar tentang kamu,” kata Cak Eko begitu Lintang masuk ruangan. “Dari Pak Budi, guru BK-mu di SMP. Katanya kamu debatuer berbakat tapi nakal.”
Lintang mengangkat bahu. “Bakat dan kenakalan itu saudara kembar, Pak. Satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain.”
“Di sini, kamu harus bisa memisahkan. Saat debat, kamu harus fokus. Tidak boleh ada godaan untuk menarik kumis lawan atau juri.”
“Saya janji, Pak. Tidak akan menarik kumis saat debat.”
“Kapan kamu boleh menarik?”
“Setelah debat selesai. Sebagai ucapan selamat.”
Cak Eko menghela napas. “Aku akan awasi kamu, Lintang.”
“Silakan, Pak. Saya tidak keberatan diawasi. Asal tidak diawasi saat tidur. Itu namanya melanggar privasi.”
Lutfi, kapten tim debat yang sudah kelas 12, mendekati Lintang. Dia adalah siswa bertubuh tinggi, berkacamata, dengan suara bariton yang cocok untuk pidato. “Kamu Lintang? Yang juara kabupaten tahun lalu?”
“Satu. Diri saya yang tidak sempurna ini.”
“Aku dengar argumenmu bagus. Tapi aku juga dengar kamu suka... menarik janggut?”
“Itu hobi sampingan. Hobi utama saya belajar.”
Lutfi tersenyum. “Aku suka kamu. Tapi jangan coba-coba tarik janggutku. Janggutku baru tumbuh tipis. Kalau ditarik, bisa habis.”
“Tenang, Bang. Janggut Bapak, maaf, Bang, masih aman. Belum masuk target saya.”
Lutfi tertawa. Dia lalu memperkenalkan Lintang pada anggota tim lain: Nadya (kelas 11, perempuan pendiam dengan kemampuan analisis luar biasa), dan dua anggota cadangan.
Nadya menatap Lintang lama. “Kamu Lintang?”
“Sudah dua orang yang nanya hari ini. Apakah wajahku selebar itu?”
“Bukan wajahmu. Reputasimu. Katanya kamu paling tengil se-Sawahan.”
“Reputasi itu tidak selalu mencerminkan realita, Nadya.”
“Lalu realitanya?”
“Realitanya, saya lebih tengil dari reputasi saya.”
Nadya tersenyum kecil, senyuman yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapapun. “Aku suka kejujuranmu.”
“Terima kasih. Tapi jangan suka dulu. Nanti kecewa.”
Cak Eko bertepuk tangan. “Baik, kita mulai latihan. Topik hari ini: Pemerintah seharusnya mensubsidi kendaraan listrik daripada kendaraan BBM. Lintang, kamu jadi pembicara pertama tim afirmasi. Nadya, kamu tim oposisi. Mulai.”
Lintang berdiri. Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu memulai argumennya dengan gaya yang sudah terlatih.
“Yang terhormat Cak Eko, teman-teman debatuer, dan hadirin sekalian. Saya berdiri di sini untuk meyakinkan Anda bahwa subsidi kendaraan listrik adalah langkah maju bagi bangsa ini. Mengapa? Pertama, karena kendaraan listrik ramah lingkungan. Kedua, karena kita tidak perlu impor BBM lagi. Ketiga, karena kendaraan listrik itu senyap. Bayangkan, kalau semua kendaraan listrik, polusi suara hilang. Kita bisa tidur nyenyak tanpa dibangunkan suara knalpot bising. Tidur itu penting, karena tidur adalah investasi kesehatan.”
Penonton latihan, terdiri dari 15 anggota ekskul, tertawa.
Cak Eko mengangguk. “Bagus. Tapi kamu terlalu banyak bercanda. Debat resmi tidak boleh terlalu banyak humor.”
“Humor adalah senjata, Pak. Orang lebih mudah menerima argumen kalau mereka tertawa duluan.”
“Teori siapa itu?”
“Teori Lintang, Pak. Saya kembangkan sendiri berdasarkan pengamatan terhadap interaksi sosial di Desa Sawahan.”
Cak Eko tidak bisa membantah. Dia hanya menulis catatan di buku: Lintang, potensial, tapi perlu kontrol.
Tiga bulan berlalu. Latihan debat terus berlangsung. Lintang semakin menunjukkan taringnya. Dia menjadi andalan tim untuk lomba-lomba lokal. Hampir setiap lomba, tim debat SMA Negeri 1 Sawahan pulang membawa piala.
Tapi di sisi lain, Lintang juga mulai memenuhi ruang BK lagi.
Bu Dewi, guru BK yang baru setahun bertugas, sudah tidak asing dengan nama Lintang. Dalam tiga bulan, Lintang sudah dipanggil ke ruang BK sebanyak 12 kali. Itu rata-rata 4 kali sebulan, lebih baik dari SMP (yang mencapai 8 kali sebulan), tapi tetap mengkhawatirkan.
“Lintang, ini sudah yang ke-12 kalinya,” kata Bu Dewi dengan suara lembut sambil menatap berkas di depannya. Bu Dewi adalah perempuan berusia 28 tahun, berjilbab, dengan wajah yang selalu tersenyum, bahkan saat marah.
“Apakah ada rekor, Bu? Saya ingin memecahkan rekor.”
“Rekor siswa paling sering masuk BK atas namamu, Lintang. Kamu sendiri yang memegangnya.”
“Berapa?”
“24 kali dalam satu semester. Itu dipegang oleh kakak kelasmu, Bang Anton, yang sekarang pindah sekolah di SMA Purnama Bangsa.”
“Saya akan pecahkan, Bu. Semester ini target saya 25.”
“LINTANG! ITU BUKAN LOMBA!”
“Semua bisa jadi lomba, Bu. Dengan semangat lomba, hidup lebih bersemangat.”
Bu Dewi menghela napas. Dia sudah belajar bahwa tidak ada gunanya marah pada Lintang. Lintang tidak akan berubah. Yang bisa dilakukan hanya mengarahkan.
“Kali ini karena apa kamu dipanggil?”
“Saya menarik rambut Mbak Rini, Bu.”
“Penjaga perpustakaan?”
“Iya, Bu. Rambutnya panjang dan wangi. Saya hanya penasaran apakah rambut yang wangi elastisitasnya sama dengan rambut yang tidak wangi. Ternyata sama.”
“Jadi kamu melakukan eksperimen rambut di perpustakaan?”
“Laporan penelitian, Bu. Saya bahkan mencatat hasilnya. Mau saya bacakan?”
“TIDAK PERLU!”
Lintang diam. Bu Dewi mengatur napas.
“Lintang, kamu di SMA sekarang. Bukan SD atau SMP lagi. Kamu harus lebih dewasa.”
“Saya sudah dewasa, Bu. Dewasa itu bukan tentang umur. Dewasa itu tentang kemampuan bertanggung jawab.”
“Lalu kenapa kamu menarik rambut Mbak Rini?”
“Itu adalah... kegagalan dalam mengendalikan impuls. Saya akui itu. Tapi bukankah mengakui kesalahan adalah tanda kedewasaan?”
Bu Dewi terdiam. Lintang selalu punya jawaban untuk segalanya.
“Baik, Lintang. Untuk hukuman kali ini, kamu harus membersihkan perpustakaan setiap pulang sekolah selama dua minggu.”
“Bolehkah saya sambil menarik rambut Mbak Rini?”
“TIDAK!”
“Baik, Bu. Saya bersihkan tanpa menarik rambut siapapun.”
“Termasuk kumis dan janggut.”
“Itu sudah termasuk dalam siapapun, Bu. Tapi kalau ada yang sengaja mendekatkan kumisnya ke tangan saya, itu di luar tanggung jawab saya.”
Bu Dewi meletakkan kepalanya di meja. Dia pasrah.
Lomba debat tingkat provinsi diadakan di Semarang, ibu kota Jawa Tengah. Tim debat SMA Negeri 1 Sawahan berangkat sehari sebelumnya. Mereka menginap di hotel melati sederhana dekat lokasi lomba.
Cak Eko memanggil seluruh anggota tim di ruang pertemuan kecil hotel. Ada Lintang, Lutfi, Nadya, dan dua anggota cadangan. Mereka duduk melingkar di karpet tipis beralas semen.
“Besok kita bertemu lawan terberat,” kata Cak Eko serius. “SMA Purnama Bangsa dari Semarang. Mereka juara nasional dua tahun berturut-turut. Kapten tim mereka, Anton, adalah mantan siswa SMA kita yang pindah karena ikut orang tuanya. Dia tahu persis kekuatan dan kelemahan kita.”
Lutfi menghela napas. “Anton itu teman lamaku. Dia hebat. Argumennya tajam, datanya kuat, dan dia tidak pernah grogi.”
“Tidak ada yang sempurna, Bang,” kata Lintang. “Setiap orang punya kelemahan. Anton pasti punya.”
“Kamu yakin bisa baca kelemahan orang?”
“Saya punya pengalaman. Sepanjang hidup saya, saya sudah menarik kumis 347 orang. Dari situ, saya belajar bahwa setiap orang punya titik lemah. Kumis hanyalah simbol.”
Nadya menatap Lintang. “Titik lemah Anton apa menurutmu?”
“Aku belum tahu. Tapi besok saat debat, aku akan cari.”
Cak Eko mengamati Lintang. “Kamu jangan terlalu fokus mencari kelemahan lawan sampai lupa argumenmu sendiri.”
“Argumen ada di kepala saya, Pak. Sudah hafal. Yang belum hafal adalah psikologi lawan. Itu selalu berubah setiap detik.”
Malam itu, Lintang tidak bisa tidur. Dia duduk di balkon hotel sambil menatap langit Semarang yang tidak sebening langit Sawahan. Polusi cahaya membuat bintang-bintang redup.
Nadya keluar dari kamarnya. Dia mendekati Lintang dengan selimut di bahu.
“Tidak tidur?”
“Tidak. Kamu juga?”
“Aku gelisah. Besok lomba besar. Ini pertama kalinya aku tampil di tingkat provinsi.”
“Kamu pasti bisa, Nad. Kamu hebat. Argumenmu tentang data statistik kemarin menghancurkan lawan.”
Nadya tersenyum. “Itu karena kamu yang kasih ide.”
“Aku cuma kasih kerangka. Kamu yang mengisi daging.”
Mereka diam beberapa saat. Udara malam Semarang dingin.
Nadya memberanikan diri. “Lintang, aku ingin tanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Kenapa kamu suka menarik kumis dan janggut? Apa maknanya?”
Lintang berpikir sejenak. “Jawaban pendek: karena aku suka reaksi orang. Jawaban panjang: karena itu caraku memastikan bahwa aku ada. Bahwa aku tidak dilupakan. Bahwa aku berarti bagi orang lain.”
“Kamu takut dilupakan?”
“Bukankah semua orang takut itu?”
Nadya tidak menjawab. Dia hanya memandang Lintang dengan mata yang, untuk pertama kalinya, melihat sisi lain dari si tengil. Sisi yang rapuh. Sisi yang manusiawi.
“Aku tidak akan melupakanmu, Lintang,” bisik Nadya.
Lintang menoleh. “Jangan janji dulu. Kamu belum tahu seberapa menyebalkannya aku.”
“Aku sudah tahu. Dan aku tetap tidak akan melupakanmu.”
Lintang tersenyum kecil. “Kamu aneh, Nad.”
“Kamu lebih aneh, Lin.”
Mereka tertawa pelan. Dan untuk pertama kalinya, Lintang merasa ada seseorang yang melihat dirinya bukan sebagai "si tengil", tapi sebagai Lintang, manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya.
Pagi hari. Gedung lomba debat tingkat provinsi dipenuhi oleh 15 tim dari berbagai kota. Suasana tegang. Juri terdiri dari akademisi dan praktisi komunikasi.
SMA Negeri 1 Sawahan melawan SMA Purnama Bangsa di babak semifinal. Topik: "Penghapusan ujian nasional lebih merugikan daripada menguntungkan."
Lintang menjadi pembicara pertama tim afirmasi (setuju penghapusan ujian nasional merugikan). Lawannya adalah Anton, kapten tim yang sudah dinanti-nanti.
Debat dimulai.
Lintang berdiri dengan percaya diri. “Yang terhormat juri, lawan debat, dan hadirin sekalian. Saya berdiri di sini untuk meyakinkan Anda bahwa penghapusan ujian nasional lebih merugikan daripada menguntungkan. Mengapa? Karena ujian nasional adalah satu-satunya standarisasi yang adil bagi seluruh siswa Indonesia. Tanpa ujian nasional, bagaimana kita bisa membandingkan kualitas siswa dari Sabang sampai Merauke? Apakah kita akan menggunakan nilai rapor? Nilai rapor bisa direkayasa. Apakah kita akan menggunakan portofolio? Portofolio bisa dibeli. Ujian nasional, meskipun tidak sempurna, adalah sistem yang paling tidak buruk.”
Penonton bertepuk tangan. Anton tersenyum, dia mengakui kualitas Lintang.
Giliran Anton berbicara. “Yang terhormat juri, lawan debat, hadirin. Lawan saya mengatakan bahwa ujian nasional adalah standarisasi yang adil. Apakah benar adil? Apakah adil bagi siswa di Papua yang gurunya tidak hadir selama 3 bulan? Apakah adil bagi siswa di pedalaman Kalimantan yang listriknya mati setiap hari? Ujian nasional hanya menguntungkan siswa di kota besar dengan fasilitas lengkap. Itu bukan keadilan. Itu diskriminasi.”
Lintang langsung berdiri untuk sanggahan. “Lawan saya lupa satu fakta: ketidakadilan bukan terletak pada ujian nasionalnya, tapi pada infrastruktur. Solusinya bukan menghapus ujian nasional, tapi membangun infrastruktur. Kalau kita hapus ujian nasional, kita tidak menyelesaikan masalah. Kita hanya menutup mata.”
Debat berlangsung seru hingga waktu habis. Juri berdiskusi selama 20 menit, waktu terlama di babak itu.
Pengumuman: Pemenang babak semifinal adalah... SMA Purnama Bangsa dengan skor tipis 51-49.
Tim Lintang kalah.
Paiman hampir menangis. Mas'ud menunduk lesu. Nadya menggigit bibir. Lutfi menghela napas panjang.
Tapi Lintang tersenyum.
Dia berjalan mendekati Anton dan mengulurkan tangan. “Kamu hebat, Bang. Saya belajar banyak.”
Anton menjabat tangan Lintang. “Kamu juga hebat, Lin. Sayang waktu tidak cukup.”
“Besok kita akan balas, Bang. Di tingkat nasional.”
“Aku tunggu.”
Lintang kemudian menatap kumis Anton yang tipis tapi rapi. “Bang, kumismu bagus. Boleh saya tarik sekali? Sebagai kenang-kenangan?”
Anton tertawa. “Kamu memang tengil. Tapi baiklah, sekali.”
Lintang menarik kumis Anton pelan. Anton mengerang kecil. Mereka tertawa bersama.
Cak Eko mendekati timnya. “Kalian hebat. Kalah tipis dari juara nasional itu sudah prestasi. Aku bangga.”
“Kami kecewa, Pak,” kata Nadya.
“Kekecewaan adalah bahan bakar, Nad. Gunakan untuk latihan lebih keras lagi.”
Lintang mengangguk. “Pak, saya janji. Tahun depan kita juara.”
“Janji?”
“Janji. Saya akan tarik kumis Anton di panggung nasional nanti.”
Cak Eko tertawa. “Itu motivasi yang unik. Tapi aku dukung.”
Perjalanan pulang ke Sawahan terasa sunyi. Bus wisata yang mereka tumpangi hanya berisi 10 orang, rombongan tim debat plus Cak Eko.
Lintang duduk di kursi dekat jendela. Nadya di sampingnya. Paiman dan Mas'ud di belakang.
“Lin, kamu tidak sedih?” tanya Nadya.
“Sedih. Tapi sedih tidak akan mengubah hasil. Yang bisa mengubah hasil adalah latihan. Jadi aku akan salurkan kesedihanku menjadi energi latihan.”
“Kamu selalu rasional.”
“Tidak selalu. Kadang aku juga emosional. Tapi aku belajar mengendalikannya.”
“Dari mana?”
“Dari Mbah Waginem. Beliau bilang, 'Le, emosi itu seperti kuda liar. Kamu tidak bisa menghentikannya. Tapi kamu bisa mengendalikan arahnya.'”
Nadya tersenyum. “Mbah Waginem orang bijak.”
“Beliau yang menolong ibuku melahirkan aku. Beliau tahu aku akan jadi tengil sejak aku masih dalam kandungan.”
“Beliau peramal?”
“Beliau dukun beranak yang punya pengalaman puluhan tahun. Dan pengalaman tidak pernah berbohong.”
Bus melewati sawah-sawah hijau yang terbentang luas. Lintang menatapnya dengan mata berbinar.
“Nad, kamu tahu kenapa aku mau jadi insinyur pertanian?”
“Kenapa?”
“Karena sawah-sawah ini. Karena petani-petani ini. Karena mereka butuh seseorang yang tidak hanya pintar, tapi juga tengil. Pintar saja tidak cukup untuk mengubah sistem. Harus ada keberanian untuk melawan arus. Dan keberanian itu lahir dari ketengilan.”
Nadya memandang Lintang dengan kagum. “Kamu tidak hanya tengil, Lin. Kamu juga punya hati.”
“Hati saya juga tengil, Nad. Suka menarik orang-orang yang lewat.”
Nadya tertawa. “Dasar aneh.”
Malam harinya, setelah tiba di Sawahan, Lintang langsung menuju rumah Mbah Waginem. Beliau sudah tua, 80 tahun lebih, tapi masih sehat. Masih bisa memetik daun singkong. Masih bisa menasehati orang.
“Mbah, saya kalah,” kata Lintang sambil duduk di kursi bambu teras rumah Mbah Waginem.
“Kalah itu biasa, Le. Yang tidak biasa itu berhenti setelah kalah.”
“Saya tidak berhenti, Mbah. Saya hanya capek.”
Mbah Waginem mengelus kepala Lintang. “Kamu capek karena kamu memikirkan terlalu banyak hal. Istirahatlah. Besok lanjutkan lagi.”
“Mbah, apakah saya akan sukses?”
“Sukses itu tidak pasti, Le. Tapi bahagia itu pilihan.”
“Apakah saya pantas bahagia?”
“Setiap orang pantas bahagia. Termasuk kamu. Termasuk orang-orang yang kamu sakiti dengan ketengilanmu.”
Lintang diam. Dia mengusap matanya yang tiba-tiba basah.
“Mbah, saya minta maaf.”
“Minta maaf sama siapa?”
“Sama Mbah. Karena selama ini saya sering repotin Mbah dengan pertanyaan-pertanyaan saya.”
“Pertanyaanmu itu membuatku tetap muda, Le. Aku berterima kasih.”
Lintang menangis. Mbah Waginem memeluknya.
“Kamu anak yang baik, Le. Hanya caramu berbeda. Dan berbeda itu tidak salah.”
Lintang pulang ke rumah dengan hati yang lebih lega. Prapto dan Mariyem sudah menunggu di teras.
“Le, kamu makan malam dulu,” kata Mariyem.
“Tidak, Ma. Aku mau tidur. Capek.”
“Kamu nangis?” tanya Prapto.
“Hidungku cuma pilek, Pa.”
Prapto tersenyum. Dia tahu anaknya sedang menyembunyikan perasaan. Tapi dia tidak memaksa.
“Selamat malam, Le.”
“Selamat malam, Pa, Ma.”
Lintang masuk ke kamarnya. Dia merebahkan tubuh di kasur tipis. Matanya menatap langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu.
Bintang-bintang tidak terlihat dari dalam kamar. Tapi Lintang tahu mereka ada. Selalu ada.
Seperti mimpinya. Selalu ada. Tidak pernah padam.
BAB 8
Mimpi Sang Insinyur Pertanian
Pesan Orang Tua dan Sawah yang Menanti
Tiga hari setelah kekalahan di lomba debat provinsi, Lintang masih belum sepenuhnya pulih. Bukan karena kalah, dia sudah terima itu. Tapi karena sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengganjal di dadanya. Sesuatu yang membuatnya terbangun jam dua pagi dan tidak bisa tidur lagi.
Pagi itu, pukul setengah enam, Lintang sudah duduk di pinggir sawah milik keluarganya. Sawah seluas setengah hektar itu terletak di timur desa, diairi oleh saluran irigasi sederhana dari bendungan desa. Padi-padi mulai menguning. Dua minggu lagi panen.
Anjas, teman tani seusia Lintang yang sudah tidak sekolah, datang dengan cangkul di pundak. Wajahnya hitam oleh terik matahari. Giginya putih bersih karena rajin menggosok dengan arang.
“Lin, tumben pagi-pagi udah di sawah. Biasanya kan kau bangun siang kalau libur.”
“Insomnia, Jas.”
“Insomnia itu apa? Penyakit?”
“Susah tidur.”
“Oh. Makan apa tadi malam? Nasi goreng? Aku kalau makan nasi goreng malam-malam juga susah tidur.”
“Bukan karena nasi goreng, Jas. Karena pikiran.”
Anjas duduk di samping Lintang. Dia meletakkan cangkul di tanah becek. “Pikiran apa? Cewek?”
“Bukan.”
“Kumis? Janggut?”
“Juga bukan.”
“Lalu apa?”
Lintang mengambil setangkai padi, lalu mengamatinya dengan saksama. Bulir-bulir padi itu penuh dan berisi. Tapi ada beberapa yang hampa, hanya kulit tanpa isi.
“Lihat ini, Jas. Padi yang hampa. Kenapa bisa begitu?”
Anjas menggaruk kepalanya. “Ya karena kurang nutrisi, kurang air, atau diserang hama. Biasa itu.”
“Nah, itu masalahnya. Para petani di desa kita setiap tahun menghadapi masalah yang sama. Hama, irigasi, pupuk mahal, harga gabah jatuh saat panen raya. Itu terus berulang. Tidak ada perubahan.”
“Ya memang sudah begitu dari zaman kakek kita, Lin. Namanya juga bertani. Nasib, gitu.”
“Aku tidak percaya nasib, Jas. Manusia yang membuat nasibnya sendiri.”
Anjas tertawa. “Kamu ini aneh. Tapi aku suka. Kau mau jadi insinyur pertanian kan?”
“Iya.”
“Nanti kalau sudah jadi insinyur, kau akan perbaiki sawah-sawah ini?”
Lintang mengangguk. “Itu janjiku pada bapakku. Juga pada diriku sendiri.”
“Aku tunggu, Lin. Tapi jangan lama-lama. Nanti aku sudah tua, tidak bisa menikmati hasilnya.”
“Doakan aku keterima di UGM, Jas.”
“Aku tidak bisa doa panjang-panjang. Cuma bisa bilang: 'Muga-muga kau berhasil, Lin.' Itu saja.”
Lintang tersenyum. Doa sederhana Anjas lebih tulus daripada doa-doa panjang yang dibaca dengan riya.
Jam tujuh pagi, Lintang pulang ke rumah. Di teras, Prapto sudah duduk dengan segelas kopi hitam dan sebatang rokok kretek.
“Le, dari sawah?”
“Iya, Pa. Lagi melihat-lihat padi. Dua minggu lagi panen.”
“Kamu jadi anak tani sejati. Padahal nanti kamu jadi insinyur.”
“Insinyur pertanian, Pa. Berdiri di sawah, bukan di kantor ber-AC.”
Prapto mengusap kumis bolongnya. “Kamu tahu, Le, dulu kakekmu, Mbah Kakung, juga bercita-cita jadi insinyur pertanian.”
Lintang terkejut. “Mbah Kakung? Tidak pernah cerita.”
“Karena beliau tidak pernah jadi. Beliau hanya petani biasa. Tapi beliau punya banyak buku tentang pertanian. Buku-buku yang kamu baca itu peninggalan beliau.”
Lintang mengingat lemari kayu jati di sudut rumah yang berisi tumpukan buku tua berdebu. “Aku kira buku-buku itu punya bapak.”
“Bukan. Buku-buku itu milik Mbah Kakung. Beliau membelinya dari uang hasil panen, sedikit demi sedikit. Setiap bulan, beliau sisihkan uang untuk beli buku. Ibumu sering marah karena lebih baik beli buku daripada perbaiki atap bocor.”
Lintang tertawa. “Mbah Kakung pasti orang yang unik.”
“Dia mirip kamu, Le. Tengil. Tapi tengilnya pendiam. Tidak banyak bicara. Lebih banyak tindakan.”
“Ceritakan lebih banyak, Pa. Aku ingin tahu.”
Prapto menyesap kopinya. Matanya menerawang ke kejauhan, seperti melihat masa lalu yang sudah puluhan tahun berlalu.
“Mbah Kakung itu pendek, Le. Tubuhnya tidak sampai 150 senti. Tapi kekuatannya luar biasa. Dia bisa mencangkul satu hektar sendirian. Dia juga sangat keras kepala. Ketika tetangga bilang tidak bisa menanam padi di musim kemarau, dia buktikan dengan membuat sistem irigasi sederhana dari bambu. Hasilnya, sawahnya tetap basah meskipun sumur-sumur desa kering.”
“Lalu kenapa beliau tidak jadi insinyur?”
Prapto menghela napas. “Karena tidak ada biaya. Sekolah itu mahal, Le. Dulu, untuk sekolah ke kota saja sudah sulit. Apalagi kuliah. Mbah Kakung harus memilih: membiayai adik-adiknya sekolah atau kuliah sendiri. Beliau memilih yang pertama.”
Lintang diam. Dia merasakan beban sejarah yang tiba-tiba hinggap di pundaknya.
“Pa, aku akan kuliah untuk Mbah Kakung. Juga untuk bapak. Juga untuk desa ini.”
Prapto menepuk pundak anaknya. “Jangan terlalu banyak beban, Le. Nikmati prosesnya. Belajar yang sungguh-sungguh. Dan jangan lupa... tetap tengil. Tapi tengil yang bermanfaat.”
“Tengil yang bermanfaat itu apa, Pa?”
“Ya seperti yang kamu lakukan sekarang. Mengganggu orang bukan untuk menyakiti, tapi untuk membuat mereka sadar. Mengganggu sistem yang beku agar bergerak. Itu tengil positif.”
Lintang tersenyum. “Kapan bapak jadi sefilsafat ini?”
“Sejak punya anak tengil. Kehidupan memaksaku untuk berpikir keras setiap hari.”
Siang harinya, Lintang diundang ke rumah Pak Lurah Karyono. Pak Karyono sudah uzur. Rambutnya putih semua. Kumisnya juga putih dan lebat. Selama ini Lintang tidak pernah menariknya karena hormat. Tapi hari ini, Pak Karyono memintanya datang.
“Le Lintang, duduk sini,” kata Pak Karyono dengan suara parau. Tangannya gemetar memegang tongkat.
Lintang duduk di kursi bambu di samping Pak Karyono. Mereka berada di teras rumah yang menghadap ke sawah.
“Pak Lurah, sehat?”
“Sehat-sehat saja. Tua begini ya sudah, tinggal menunggu waktu.”
“Jangan bilang begitu, Pak. Desa masih butuh Bapak.”
Pak Karyono tertawa kecil. “Desa tidak butuh aku, Le. Desa butuh orang muda seperti kamu. Yang punya mimpi. Yang punya keberanian. Yang punya ketengilan.”
Lintang menggaruk kepalanya. “Omongan Bapak mirip bapakku.”
“Karena kami satu generasi. Kami sudah tua. Kami sudah lelah. Giliran kalian yang muda yang bekerja.”
Lintang tidak tahu harus menjawab apa. Pak Karyono melanjutkan.
“Le, aku dengar kamu mau kuliah pertanian di UGM.”
“Iya, Pak.”
“Bagus. Desa butuh insinyur pertanian. Tapi jangan kuliah lalu lupa desa, ya. Banyak anak desa yang kuliah di kota lalu tidak pernah pulang. Mereka malu disebut anak desa. Mereka ganti nama jadi Indo banget. Mereka lupa bahwa sawah-sawah inilah yang membiayai hidup mereka.”
“Saya tidak akan lupa, Pak. Janji.”
“Janji itu mudah diucapkan, Le. Tapi sulit ditepati. Aku tidak minta janji. Aku minta bukti suatu hari nanti.”
“Bapak akan lihat buktinya.”
“Ya. Aku akan lihat dari atas sana kalau aku sudah mati nanti.”
“Pak Lurah, jangan bicara mati-mati terus. Bikin saya sedih.”
Pak Karyono tertawa keras sampai batuk-batuk. “Kamu sedih? Yang bisa bikin kamu sedih apa cuma kumis yang putus?”
Lintang ikut tertawa. “Bapak ini, sudah tua masih suka bergurau.”
“Tertawa adalah obat, Le. Kalau tidak bisa tertawa, hidup ini terasa berat.”
Pak Karyono kemudian memanggil istrinya, Bu Karyono, untuk membawakan makanan kecil. Mereka makan bersama sambil bercerita tentang masa lalu desa, tentang Mbah Kakung, tentang Prapto kecil, tentang Mariyem muda, dan tentang Lintang bayi yang lahir di malam berbintang.
Sore harinya, Lintang berjalan ke balai desa. Ada pertemuan warga yang diadakan mendadak. Pak Lurah Karyono sudah uzur, tapi masih memimpin pertemuan dengan dibantu sekretaris desa.
Topik pertemuan: Pengelolaan sawah desa yang akan dijual oleh Haji Rasyid.
Haji Rasyid adalah pengusaha sawah dari kota. Beberapa tahun terakhir, dia membeli sawah-sawah warga yang terlilit hutang. Kini, dia berniat menjual sawah tersebut ke pengembang perumahan.
Warga desa panik. Sawah adalah sumber kehidupan mereka. Tanpa sawah, mereka tidak punya penghasilan.
“Pak Lurah, kita harus stop penjualan ini!” teriak Wagiman, petani tua dengan janggut putih menjuntai.
“Sudah saya usahakan,” jawab Pak Karyono dengan suara lemah. “Tapi Haji Rasyid punya dokumen sah. Tanah itu miliknya. Dia bebas menjual ke siapa pun.”
“Itu tanah warisan orang tua kita! Kenapa jadi milik dia?”
“Karena kalian dulu menjualnya waktu butuh uang. Sekarang menyesal, tapi sudah terlambat.”
Suasana makin panas. Wagiman hampir memukul meja. Tukimin, anak buah Haji Rasyid yang licik, tersenyum dari pojok ruangan.
Lintang yang sejak tadi mendengarkan dari belakang, berdiri.
“Pak Wagiman, tenang dulu. Marah tidak akan menyelesaikan masalah.”
Wagiman menoleh. “Kamu anak Prapto? Masih kecil. Belum punya hak bicara di sini.”
“Hak bicara tidak diukur dari umur, Pak. Tapi dari kualitas argumen.”
“KAMU SOK!”
Lintang tidak terpancing. “Pak Wagiman, berapa hektar sawah yang Bapak jual dulu ke Haji Rasyid?”
Wagiman terdiam. “Setengah hektar.”
“Dengan harga berapa?”
“Dua puluh juta.”
“Sekarang, harga pasaran sawah di desa kita berapa per hektar?”
“Seratus juta. Mungkin lebih.”
“Jadi Bapak rugi delapan puluh juta?”
Wagiman menggerutu. “Itu sudah dulu. Sekarang aku sudah sadar.”
“Kesadaran tanpa tindakan hanya penyesalan, Pak. Sekarang, tindakan apa yang Bapak usulkan?”
“Kita rampas saja tanah itu!”
“Rampas? Itu namanya kriminal. Bapak mau masuk penjara?”
Wagiman terdiam lagi. Tukimin tertawa dari pojok.
Lintang menatap Tukimin. “Pak Tukimin, tolong sampaikan ke Haji Rasyid, warga desa Sawahan ingin bernegosiasi. Beli kembali sawah-sawah itu dengan harga wajar.”
Tukimin tertawa. “Haji Rasyid tidak akan menjual. Dia sudah dapat untung besar dari pengembang.”
“Kalau begitu, sampaikan bahwa warga Sawahan akan menggunakan hak prioritas pembelian. Sesuai undang-undang, warga desa punya hak membeli tanah yang dijual di desanya sendiri dengan harga yang sama dengan penawar lain.”
Tukimin terdiam. Dia tidak tahu soal undang-undang itu.
Pak Karyono mengangguk. “Lintang benar. Itu ada di undang-undang agraria.”
Wagiman memandang Lintang dengan mata baru. “Kamu belajar hukum juga?”
“Saya belajar banyak hal, Pak. Untuk berdebat. Dan debat tidak hanya tentang argumen lisan, tapi juga tentang pengetahuan.”
Pertemuan berakhir dengan kesepakatan: warga akan menggalang dana untuk membeli kembali sawah-sawah itu. Lintang ditunjuk sebagai juru bicara untuk bernegosiasi dengan Haji Rasyid.
Wagiman menggumam, “Anak ini... ternyata tidak hanya tengil. Ada isi juga.”
Lintang tersenyum. “Ada isi, Pak. Isinya tekad untuk membangun desa ini.”
Malam harinya, Lintang pulang dengan kepala penuh. Mariyem sudah menyiapkan makan malam: nasi, sayur asem, tempe goreng, dan sambal terasi kesukaan Lintang.
“Le, tadi pertemuan bagaimana?” tanya Mariyem sambil menyendok nasi ke piring Lintang.
“Alot, Ma. Tapi akhirnya warga sepakat membeli kembali sawah-sawah itu.”
“Duitnya dari mana?”
“Kita kumpulkan bersama. Yang punya banyak nyumbang banyak. Yang punya sedikit nyumbang sedikit.”
Prapto yang ikut makan ikut nimbrung. “Itu ide bagus. Tapi Haji Rasyid orangnya keras. Tidak mudah bernegosiasi dengan dia.”
“Aku punya strategi, Pa.”
“Strategi apa?”
“Aku akan kirim surat resmi, dilanjutkan dengan negosiasi langsung. Pakai gaya tengil.”
“Gaya tengil itu bagaimana dalam negosiasi bisnis?”
“Membuat lawan tidak nyaman dengan pertanyaan-pertanyaan cerdas, lalu di pojokkan sampai dia tidak punya pilihan selain menerima tawaran kita.”
Prapto tertawa. “Jadi kamu akan berdebat dengan Haji Rasyid?”
“Bukan berdebat, Pa. Bernegosiasi. Debat itu mencari siapa yang benar. Negosiasi itu mencari solusi yang menguntungkan kedua belah pihak. Tapi dalam prosesnya, saya akan tetap menggunakan senjata debat: argumen yang tajam.”
Mariyem mengelus kepala Lintang. “Anakku sudah besar. Tidak hanya menarik kumis, tapi juga menyelamatkan desa.”
“Belum menyelamatkan, Ma. Masih proses.”
“Proses itu penting. Nikmati saja.”
Lintang makan malam dengan lahap. Setelah selesai, dia pamit ke kamar. Bukan tidur, tapi membaca. Buku tentang negosiasi dan hukum agraria yang dia pinjam dari perpustakaan sekolah.
Di kamar, lampu minyak tanah menyala redup. Lintang membaca dengan fokus. Kadang mencatat, kadang menggaruk kepala, kadang tersenyum sendiri.
Pukul sepuluh malam, Mariyem mengintip. “Le, tidur. Besok pagi kamu sekolah.”
“Sebentar lagi, Ma. Satu bab lagi.”
“Janji?”
“Janji. Kalau saya tidak tidur, kumis bapak boleh saya tarik sepuluh kali besok pagi.”
Mariyem menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu dan kumis bapakmu. Itu hubungan paling aneh yang pernah aku lihat.”
“Itu hubungan simbiosis mutualisme, Ma. Aku dapat hiburan. Bapak dapat kasih sayang.”
Mariyem tertawa kecil lalu pergi. Lintang melanjutkan membaca hingga matanya terpejam sendiri di atas buku.
Pagi berikutnya, Lintang tiba di sekolah dengan semangat baru. Paiman dan Mas'ud yang sudah menunggu di gerbang langsung menyambutnya.
“Lin, wajahmu beda hari ini,” kata Paiman.
“Beda bagaimana?”
“Kayak orang yang baru dapat mimpi basah.”
“MET! SENSOR!”
“Maksudku... mimpi indah.”
Lintang tertawa. “Aku baru saja dapat misi besar, Man. Aku ditunjuk jadi juru bicara warga untuk negosiasi dengan Haji Rasyid.”
“Haji Rasyid? Pengusaha sawah yang serakah itu?” tanya Mas'ud.
“Iya.”
“Berani kamu?”
“Berani. Aku sudah biasa berdebat dengan orang-orang sulit. Haji Rasyid tidak akan lebih sulit dari Bu Dewi yang berusaha membuatku baik.”
Paiman bersiul. “Semangat, Lin. Kami dukung dari belakang.”
“Dari belakang saja? Ikut negosiasi, Man. Aku butuh pendukung.”
“Aku nggak pintar debat kayak kamu.”
“Kamu tidak perlu debat. Kamu perlu manggut-manggut setiap kali aku bicara. Itu sudah cukup untuk membuat Haji Rasyid gugup.”
Mas'ud menawarkan diri. “Aku ikut, Lin. Aku bisa jadi notulen.”
“Ud, kamu jadi notulen? Tulisanmu kayak cakar ayam.”
“Tidak apa-apa. Yang penting ada bukti hitam di atas putih. Walaupun hitamnya dominan.”
Mereka bertiga tertawa sepanjang jalan menuju kelas.
Jam istirahat, Lintang tidak pergi ke kantin. Dia malah ke perpustakaan untuk mencari lebih banyak referensi tentang hukum agraria. Di perpustakaan, dia bertemu Nadya yang sedang membaca novel.
“Lin? Kamu ke perpustakaan? Baru pertama kali aku lihat.”
“Aku sering ke perpustakaan, Nad. Cuma kamu yang tidak pernah melihat.”
“Berarti kamu sengaja menghindar?”
Lintang tersenyum. “Kenapa aku harus menghindar?”
Nadya menutup bukunya. “Tidak tahu. Tanya sama hatimu.”
Lintang tidak menjawab. Dia mengambil beberapa buku dari rak, lalu duduk di meja seberang Nadya. Mereka membaca dalam diam selama beberapa menit.
Nadya memecah keheningan. “Lin, aku dengar kamu jadi juru bicara warga buat negosiasi sama Haji Rasyid.”
“Kabar cepat sekali.”
“Desa ini kecil. Setiap orang tahu apa yang dilakukan orang lain.”
“Termasuk kamu?”
“Termasuk aku. Itu sebabnya aku tahu kamu tidak hanya tengil. Kamu juga peduli.”
Lintang mengangkat bahu. “Peduli tidak harus ditunjukkan dengan wajah lembut. Bisa juga dengan ketengilan.”
Nadya tersenyum. “Kamu selalu punya cara unik untuk mendefinisikan dirimu.”
“Karena saya orang yang unik, Nad. Tidak bisa didefinisikan dengan istilah biasa.”
“Aku tidak akan mencoba mendefinisikanmu. Cukup mengamati.”
“Hati-hati mengamati. Bisa-bisa kamu tertarik lebih jauh.”
Nadya tersenyum tanpa menjawab. Lintang kembali ke bukunya. Tapi halaman yang sama tidak pernah berpindah selama sepuluh menit.
Selepas sekolah, Lintang, Paiman Mas'ud, dan perwakilan warga, termasuk Wagiman dan Anjas, berkumpul di balai desa untuk menyusun strategi negosiasi.
Pak Karyono sudah tidak hadir karena sakit. Sekretaris desa, Pak Kasan, yang memimpin pertemuan.
“Baik, kita akan menghadap Haji Rasyid besok pagi di kantornya di kota,” kata Pak Kasan. “Lintang akan menjadi juru bicara. Yang lain mendukung.”
Wagiman mengangkat tangan. “Aku ikut.”
“Bapak ikut? Bapak kan emosian. Nanti malah merusak negosiasi.”
“Aku janji tidak emosi. Aku hanya duduk. Tidak bicara.”
Lintang menatap Wagiman. “Pak Wagiman, Bapak boleh ikut. Tapi dengan satu syarat: janggut Bapak harus saya pegang selama negosiasi berlangsung.”
“APA? JANGGUTKU?”
“Sebagai jaminan. Setiap kali Bapak mau emosi, saya akan tarik sedikit. Itu akan mengingatkan Bapak untuk tenang.”
Wagiman menggerutu. Tapi akhirnya setuju. Lintang tersenyum puas. Senjata tradisionalnya masih ampuh.
Besok paginya, rombongan desa Sawahan berangkat ke kota dengan dua truk terbuka. Lintang, Paiman Mas'ud, Wagiman, Pak Kasan, Anjas, dan perwakilan warga lainnya duduk di kursi kayu yang dipasang di bak truk.
Perjalanan memakan waktu satu jam. Lintang menghabiskan waktu dengan membaca catatannya berulang-ulang.
Paiman menyikutnya. “Lin, kamu grogi?”
“Tidak. Aku hanya fokus.”
“Kelihatannya sih grogi.”
“Itu namanya konsentrasi, Man. Wajah grogi dan wajah konsentrasi itu mirip.”
Mas'ud menimpali. “Aku yang grogi. Jantungku berdebar-debar.”
“Tenang, Ud. Kamu hanya jadi notulen. Paling buruk, tulisanmu makin jelek.”
“Tidak lucu, Lin.”
Lintang tertawa. Truk terus melaju melewati sawah-sawah hijau yang terbentang luas. Lintang menatapnya dengan mata berbinar.
“Suatu hari, sawah-sawah ini akan lebih produktif,” bisik Lintang.
“Apa katamu?” tanya Paiman.
“Tidak ada. Aku bicara sama diriku sendiri.”
Kantor Haji Rasyid terletak di pusat kota. bangunan dua lantai dengan kaca besar. Di depan kantor, sebuah papan bertuliskan: CV Rasyid Makmur Sentosa , Jual Beli Tanah dan Properti.
Rombongan desa Sawahan turun dari truk. Lintang mengatur napas. Dia merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut.
“Kita masuk,” kata Lintang.
Mereka memasuki kantor. Seorang resepsionis menyambut dengan senyum tipis. “Ada yang bisa dibantu?”
“Kami dari Desa Sawahan. Ada janji dengan Haji Rasyid jam sembilan.”
“Silakan tunggu. Bapak masih ada tamu.”
Lintang dan rombongan duduk di kursi tunggu. Wagiman gelisah. Tangannya terus memegang janggutnya yang dipegang Lintang.
“Pak Wagiman, tenang,” bisik Lintang.
“Janggutku pegangannya terlalu kencang, Le.”
“Itu sengaja. Supaya Bapak tidak emosi.”
Wagiman menghela napas.
Lima belas menit kemudian, seorang pria tambun dengan setelan jas hitam dan peci keluar dari ruangan. Wajahnya bulat, kumisnya tebal, matanya licin. Itu Haji Rasyid.
“Ah, rombongan dari Sawahan. Mari masuk.”
Mereka masuk ke ruang tamu yang mewah. Sofa kulit, lampu kristal, karpet tebal. Lintang duduk di kursi paling depan. Paimandan Mas'ud di sampingnya. Wagiman, Pak Kasan, dan Anjas di belakang.
Haji Rasyid duduk di kursi kebesarannya. “Jadi, kalian mau apa?”
Lintang memulai. “Haji Rasyid, kami mewakili warga Desa Sawahan. Kami ingin membeli kembali tanah-tanah sawah yang Bapak beli dari warga kami beberapa tahun lalu.”
Haji Rasyid tertawa. “Membeli kembali? Sawah-sawah itu sudah menjadi hak milik saya. Saya bebas menjualnya ke pengembang perumahan. Harganya sudah naik tiga kali lipat.”
“Kami tahu. Tapi kami punya hak prioritas pembelian. Sesuai UUPA Pasal 9 ayat 2, warga desa berhak membeli tanah di desanya sendiri dengan harga yang sama dengan penawar lain.”
Haji Rasyid mengerjap. Dia tidak menyangka bocah SMA ini tahu undang-undang. “Kamu anak siapa? Pintar sekali.”
“Anak Prapto, petani. Terima kasih atas pujiannya. Tapi kita tidak sedang berkumpul untuk memuji-muji. Kita untuk negosiasi.”
Tukimin yang berdiri di samping Haji Rasyid, maju selangkah. “Jangan sok, kamu anak kecil. Belum pantas bicara dengan Haji Rasyid.”
Lintang tidak goyah. “Pak Tukimin, umur tidak menentukan pantas tidaknya seseorang bicara. Yang menentukan adalah substansi bicaranya. Sekarang, apakah Haji Rasyid mau bernegosiasi dengan baik, atau kami harus membawa kasus ini ke pengadilan agraria?”
Haji Rasyid dan Tukimin saling pandang.
“Kamu tahu prosedur pengadilan agraria?” tanya Haji Rasyid.
“Saya tahu. Prosesnya lama, biayanya mahal, dan hasilnya tidak pasti. Untuk Bapak, lebih baik menerima tawaran kami. Kami akan beli sawah-sawah itu dengan harga pasar wajar. Bapak tetap untung. Tidak perlu repot-repot berurusan dengan pengadilan.”
Haji Rasyid terdiam. Dia mulai menghitung untung-rugi.
“Berapa harga yang kalian tawarkan?”
“Seratus dua puluh juta per hektar. Itu lima belas persen di atas harga pasar saat ini.”
“Kurang. Aku punya penawar dari pengembang seratus tiga puluh juta.”
“Pengembang tidak akan membayar tunai. Mereka biasanya mencicil. Kami bayar tunai. Sekarang juga.”
Haji Rasyid terkejut. “Kalian punya uang sebanyak itu?”
“Kami kumpulkan dari seluruh warga. Bapak bisa periksa rekening kami di bank. Uangnya sudah siap.”
Haji Rasyid berunding sebentar dengan Tukimin. Kemudian dia berkata, “Seratus dua puluh lima juta per hektar. Cash. Sekarang.”
“Seratus dua puluh dua juta. Deal.”
“Seratus dua puluh tiga juta.”
“Seratus dua puluh dua juta lima ratus ribu.”
Haji Rasyid tertawa. “Kamu ini negosiator ulung. Baiklah, seratus dua puluh dua juta lima ratus ribu. Deal.”
Lintang mengulurkan tangan. Haji Rasyid menjabatnya.
Wagiman yang dari tadi diam, hampir menangis. Janggutnya masih dipegang Lintang, tapi kali ini dia tidak merasa sakit. Dia merasa lega.
Paiman memeluk Lintang. “Kamu hebat, Lin!”
Mas'ud menulis dengan tergesa-gesa di notulensinya. Tangannya gemetar karena terharu.
Pak Kasan berbisik, “Lintang, kau menyelamatkan desa ini.”
Lintang tersenyum. “Belum selesai, Pak. Masih banyak yang harus diperbaiki. Sawah-sawah ini baru permulaan.”
Perjalanan pulang dari kota terasa lebih ringan. Truk terbuka melaju pelan di jalan beraspal. Angin sore menerpa wajah-wajah gembira.
Wagiman duduk di samping Lintang. “Le, aku minta maaf.”
“Minta maaf kenapa, Pak?”
“Dulu aku meremehkanmu. Aku pikir kamu cuma anak tengil yang suka narik janggut. Ternyata kamu lebih dari itu.”
Lintang menepuk pundak Wagiman. “Pak Wagiman, saya tetap anak tengil yang suka menarik janggut. Tapi sekarang janggut Bapak aman. Tidak perlu ditarik lagi.”
Wagiman tertawa. “Kamu boleh tarik janggutku kapan saja, Le. Sebagai rasa terima kasih.”
“Saya simpan tawaran Bapak. Nanti kalau saya stres menghadapi ujian, saya tarik. Meredakan stres.”
Wagiman tertawa keras.
Paimandan Mas'ud ikut tertawa. Seluruh rombongan tertawa.
Di kejauhan, matahari mulai tenggelam. Langit jingga kemerahan. Sawah-sawah yang mereka lewati mulai menguning. Bulir-bulir padi bergoyang tertiup angin.
Lintang menatap pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca.
“Pa, Ma, Mbah Kakung, Pak Lurah,” bisiknya. “Aku akan pulang. Aku akan jadi insinyur. Aku akan membangun desa ini. Tunggu aku.”
Air matanya menetes. Tapi dia cepat-cepat menyekanya.
Paiman melihat. “Lin, kamu nangis?”
“Pilek lagi.”
“Pilek terus. Kapan sembuhnya?”
“Nanti kalau desa ini sudah maju.”
Mereka tertawa bersama. Truk terus melaju meninggalkan senja di belakangnya.
Malam harinya, Lintang duduk di teras rumahnya. Prapto dan Mariyem di sampingnya. Mereka bertiga menatap langit berbintang.
“Le, kamu hebat hari ini,” kata Prapto.
“Aku hanya melakukan tugas, Pa. Tugas anak desa yang cinta desanya.”
“Tapi kamu melakukannya dengan cara yang luar biasa. Tidak semua orang bisa.”
“Tidak semua orang punya ketengilan seperti saya, Pa.”
Mariyem tertawa. “Kamu dan ketengilanmu. Itu aset terbesarmu.”
“Dan beban terbesar juga, Ma. Kadang aku capek.”
“Capek itu wajar, Le. Istirahatlah. Besok lanjutkan lagi.”
“Ibu selalu bilang begitu.”
“Karena itu benar. Hidup adalah rangkaian hari yang panjang. Kadang naik, kadang turun. Yang penting jangan berhenti.”
Lintang memeluk Mariyem. “Makasih, Ma. Makasih sudah melahirkan anak tengil seperti aku.”
“Sama-sama, Le. Meskipun waktu melahirkan dulu aku ingin membuangmu karena kumis khayalanmu.”
Mereka bertiga tertawa. Tawa itu bergema di malam yang sepi. Bintang-bintang berkedip dari jauh, seperti ikut tersenyum.
BAB 9
UGM, Jogjakarta, dan Awal Petualangan Baru
Merantau dengan Tengil yang Tetap Utuh
Lima bulan setelah negosiasi dengan Haji Rasyid, Lintang menerima kabar yang mengubah hidupnya. Surat tebal berwarna putih dengan logo UGM di pojok kiri atas itu datang pada hari Selasa sore, saat hujan gerimis mengguyur Desa Sawahan.
Prapto yang pertama kali melihat surat itu. Tangannya gemetar. Mariyem yang sedang memasak di dapur langsung keluar dengan sendok di tangan.
“Itu apa, Mas?”
“Surat dari UGM, Yem.”
“BUKA CEPETAN!”
Prapto membuka amplop itu dengan hati-hati, seperti sedang membedah bom. Di dalamnya, selembar kertas resmi dengan kepala surat Direktorat Penerimaan Mahasiswa Baru UGM.
Lintang yang baru pulang dari rumah Paiman langsung dihadang oleh wajah tegang kedua orang tuanya.
“Pa, Ma, kenapa? Ada apa? Apakah Haji Rasyid datang lagi?”
“BACA INI, Le!”
Lintang mengambil surat itu. Matanya membaca dari baris pertama hingga terakhir. Lima detik. Sepuluh detik. Lima belas detik.
Dia tersenyum. Lalu tertawa. Lalu menangis. Lalu tertawa lagi.
“Le, kamu diterima atau tidak?” tanya Mariyem panik.
“Diterima, Ma. Insya Allah mulai Agustus nanti saya jadi mahasiswa Fakultas Pertanian UGM.”
Mariyem menjatuhkan sendoknya. Prapto memeluk Lintang. Di luar, hujan gerimis berubah menjadi deras, seolah ikut merayakan.
“Bapakmu dulu tidak bisa kuliah,” kata Prapto sambil menangis. “Sekarang giliran anak bapak. Bapak bangga, Le.”
“Terima kasih, Pa. Terima kasih sudah tidak menikahkan saya dengan sapi kesayangan Pak Wagiman.”
Mariyem tertawa keras. “Kamu ini, selamanya tengil.”
“Itu warisan keluarga, Ma.”
Kabar diterimanya Lintang di UGM menyebar ke seluruh desa dalam waktu kurang dari 24 jam. Warung Kasuri menjadi pusat informasi. Para lelaki desa yang biasanya membahas harga gabah sekarang membahas Lintang.
“Anak Prapto itu keterima di UGM, Lek Parman! UGM, lho! Universitas Gadjah Mada!” seru Kasuri sambil mengusap gelas kopi.
Parman, yang sekarang kumisnya sudah tipis karena sering ditarik Lintang, mengangguk-angguk. “Aku dengar dari Mbah Waginem. Beliau sudah ramal sejak Lintang lahir.”
“Ramal apa?”
“Bahwa anak ini akan membawa perubahan besar bagi desa kita. Ternyata ramalannya mulai terbukti.”
Pak Dullah, mantan penjaga SD yang pernah kumisnya ditarik Lintang, ikut nimbrung. “Aku dulu benci sama anak itu. Sekarang aku salut. Dia punya pendirian.”
Tekel menimpali. “Pendirian atau ketengilan?”
“Itu sama, Tekel. Anak tengil yang sukses adalah orang yang punya pendirian. Anak tengil yang gagal adalah preman.”
Kasuri tertawa. “Mas Dullah ini sudah jadi filsuf sejak pensiun.”
“Pensiun memberi waktu untuk berpikir, Kasuri. Dan berpikir memberi kebijaksanaan.”
Mbah Waginem yang sudah berusia 85 tahun, masih sehat walafiat. Beliau dipanggil oleh Mariyem untuk memberi doa restu sebelum Lintang berangkat ke Jogja.
Malam itu, di teras rumah Prapto, Mbah Waginem duduk di kursi bambu kesayangannya. Di depannya, Lintang bersimpuh.
“Le Lintang, kamu akan merantau ke tanah yang jauh. Jogja itu kota budaya, kota ilmu, kota yang penuh dengan orang-orang pintar. Kamu harus bisa menyesuaikan diri.”
“Saya akan coba, Mbah.”
“Jangan coba-coba. Kerjakan. Mencoba itu tanda keraguan. Mengerjakan itu tanda keyakinan.”
Lintang tersenyum. “Mbah, nasehat Mbah selalu pendek tapi menusuk.”
“Itu karena umurku sudah pendek. Tidak ada waktu untuk bicara panjang-panjang.”
Mbah Waginem lalu meletakkan tangannya di kepala Lintang. Beliau berdoa dalam bahasa Jawa kuno yang nyaris tidak bisa dipahami oleh Lintang. Tapi Lintang merasakan getaran hangat dari telapak tangan keriput itu.
“Kamu akan bertemu dengan seseorang di Jogja,” bisik Mbah Waginem setelah doa selesai.
“Siapa, Mbah?”
“Seseorang yang akan membuatmu berubah. Seseorang yang tidak akan takut dengan ketengilanmu. Seseorang yang akan menaklukkanmu.”
Lintang mengerjap. “Apakah maksud Mbah orang yang punya kumis lebat?”
Mbah Waginem tertawa. “Kamu dan kumis. Tidak, Le. Bukan kumis. Kali ini bukan kumis.”
“Lalu apa?”
“Cinta.”
Mbah Waginem beranjak pulang. Lintang duduk terdiam. Kata "cinta" terasa asing di telinganya. Sepanjang 18 tahun hidupnya, dia hanya mengenal kumis, janggut, dan debat. Cinta? Itu bahasa asing.
Tapi Mbah Waginem tidak pernah salah dalam ramalan.
Pukul empat pagi, Lintang sudah berdiri di depan rumahnya dengan satu tas ransel besar dan satu koper kecil. Prapto dan Mariyem sudah siap mengantarkan ke terminal bus.
Paiman Mas'ud, dan Anjas ikut mengantar. Mereka datang dengan sepeda ontel yang lampunya redup.
“Lin, aku akan kangen sama ketengilanmu,” kata Paiman sambil memeluk Lintang.
“Aku juga akan kangen sama ketololanmu, Man.”
“KAMU!”
“Bercanda. Aku akan kangen sama kalian semua. enam tahun kita bersama dari SMP sampai SMA. Kenangan kita banyak.”
Mas'ud menangis. “Lin, kamu janji akan sering pulang?”
“Janji. Setiap liburan, aku pulang. Dan setiap pulang, aku akan tarik kumis kalian semua.”
“KAMI TIDAK PUNYA KUMIS!”
“Ya sudah, rambut. Atau alis.”
Mas'ud semakin menangis. Lintang memeluknya.
Anjas menghampiri. “Lin, titip sawah-sawah ini. Kami jaga. Kamu fokus kuliah. Jadi insinyur yang hebat.”
“Aku akan, Jas. Doakan aku.”
“Selalu.”
Prapto memegang pundak Lintang. “Le, bapak tidak punya banyak pesan. Hanya satu: jangan lupa asalmu. Kamu anak sawahan. Anak petani. Jangan malu dengan itu.”
“Aku tidak akan pernah malu, Pa. Aku bangga.”
“Bagus. Sekarang, berangkat. Jangan sampai ketinggalan bus.”
Mariyem memeluk Lintang paling lama. Air matanya membasahi bahu kemeja Lintang.
“Ma, jangan nangis. Nanti bapak ikutan nangis.”
“Bapakmu sudah nangis dari tadi, cuma dia sembunyi di belakang pohon pisang.”
Prapto yang kedapatan, mencoba menyangkal. “Aku tidak nangis! Hanya kena embun pagi!”
Mereka semua tertawa.
Lintang melangkahkan kaki menuju bus. Dia menoleh sekali lagi, melambaikan tangan.
Prapto, Mariyem, Paiman Mas'ud, Anjas, gambaran itu membekas di matanya. Sawah-sawah di belakang rumah, pohon pisang di halaman, langit pagi yang masih gelap dengan bintang-bintang yang enggan pergi.
“Sampai jumpa, Desa Sawahan,” bisik Lintang.
Bus bergerak perlahan. Lintang duduk di kursi dekat jendela. Desa Sawahan mulai menghilang dari pandangan, tergantikan oleh hamparan sawah dan bukit-bukit hijau.
Paiman dan Mas'ud berlari kecil mengikuti bus sampai perbatasan desa. Lintang melambai terus sampai mereka tidak terlihat lagi.
Air matanya menetes. Kali ini bukan pilek.
Perjalanan dari Sawahan ke Jogja memakan waktu lima jam. Bus melintasi kota-kota kecil, sawah-sawah luas, dan perbukitan. Lintang tidak tidur sedetik pun. Dia menghabiskan waktu dengan mengamati pemandangan di luar jendala sambil membayangkan kehidupan barunya.
Pukul dua belas siang, bus memasuki kota Jogja. Lintang langsung disambut oleh pemandangan yang sangat berbeda dari Sawahan: gedung-gedung tinggi, jalanan macet, becak dan andong berseliweran dengan motor dan mobil, serta ribuan orang yang lalu lalang dengan kecepatan masing-masing.
“Selamat datang di Jogja, Le,” bisik Lintang pada dirinya sendiri.
Turun dari bus di terminal Giwangan, Lintang bingung. Dia tidak tahu harus ke mana. Kampus UGM letaknya di Sleman, katanya. Tapi bagaimana cara ke sana? Naik apa?
Seorang lelaki paruh baya dengan kumis tebal, Lintang langsung focus, mendekatinya. “Mas, mau ke mana? Butuh taksi?”
Lintang mengamati kumis itu. “Pak, kumis Bapak tebal sekali. Asli atau tempelan?”
Pak taksi itu terkejut. “A-asli, Mas. Ini kumis turun-temurun.”
“Boleh saya tarik sebentar? Sebagai bukti keaslian.”
“Mas, ini saya lagi nawarin taksi, bukan nawarin kumis!”
Lintang tertawa. “Maaf, Pak. Saya hanya bercanda. Saya ingin ke UGM. Kira-kira naik apa?”
“Naik trans Jogja saja. Lebih murah. Nanti turun di halte UGM. Ikuti mahasiswa lain. Mereka pasti pada turun di sana.”
Lintang berterima kasih. Dia menuju halte bus yang tidak jauh dari terminal. Di halte, dia bertemu dengan seorang mahasiswa baru lainnya, Rizki, dari Solo, yang juga akan kuliah di UGM.
“Kamu juga baru?” tanya Rizki. Wajahnya bulat, kacamata tebal, rambut keriting.
“Iya. Lintang. Dari Sawahan. Kamu?”
“Rizki, dari Solo. Jurusan Teknik.”
“Teknik apa?”
“Teknik Mesin. Kamu?”
“Pertanian.”
Rizki tertawa. “Pertanian? Jadi kamu akan jadi insinyur sawah?”
“Insinyur pertanian. Bukan hanya sawah, tapi juga sistem irigasi, teknologi pascapanen, dan pemberdayaan petani.”
“Wah, keren juga. Aku kira pertanian itu cuma nanam padi.”
“Itu persepsi yang keliru, Riz. Pertanian itu luas. Bahkan menarik kumis termasuk dalam ranah pertanian.”
Rizki mengerjap. “Menarik kumis? Apa hubungannya?”
“Tidak ada. Aku hanya bercanda. Tapi serius, suatu hari nanti saya akan buktikan pentingnya pertanian bagi bangsa ini.”
Bus datang. Mereka naik bersama dan duduk di bangku belakang. Sepanjang perjalanan, Rizki terus bercerita tentang keluarganya, tentang pacarnya yang masih di Solo, tentang rencananya kuliah sambil berorganisasi. Lintang mendengarkan sambil tersenyum. Dia tidak banyak bicara, sebuah anomali untuk ukuran dirinya.
Kampus UGM begitu luas. Pintu gerbangnya megah dengan tulisan "Universitas Gadjah Mada" dalam logam. Pohon-pohon besar berdiri di sepanjang jalan. Mahasiswa hilir mudik dengan sepeda atau berjalan kaki. Suasananya hidup, muda, dan penuh energi.
Lintang dan Rizki berpisah di depan Gedung Pusat. Rizki menuju fakultas teknik, Lintang menuju fakultas pertanian yang letaknya tidak terlalu jauh.
Di Fakultas Pertanian, Lintang disambut oleh Mas Wawan, kakak tingkat yang bertugas sebagai panitia orientasi mahasiswa baru. Mas Wawan adalah laki-laki bertubuh kurus, berkulit sawo matang, dengan kumis tipis yang sengaja ditumbuhkan meskipun terlihat memprihatinkan.
“Mas Lintang, selamat datang di Fakultas Pertanian UGM,” sapa Mas Wawan sambil mengulurkan tangan.
Lintang menjabat. “Terima kasih, Mas. Kumis Mas tipis sekali. Apakah ini sengaja?”
Mas Wawan mengerjap. “I-iya. Kenapa?”
“Tidak. Saya hanya mengamati. Sebagai mahasiswa pertanian, saya harus teliti.”
“Tapi... kok ngomongin kumis?”
“Saya punya hobi mengamati kumis, Mas. Maaf kalau aneh.”
Mas Wawan tertawa canggung. “Kamu anak yang unik, Lintang. Aku suka.”
“Jangan suka dulu, Mas. Nanti bisa-bisa kumis Mas jadi korban.”
Mas Wawan tidak mengerti maksudnya. Tapi dia tidak bertanya lebih lanjut.
Orientasi mahasiswa baru berlangsung selama tiga hari. Lintang ditempatkan di kelompok bernama "Kelompok 12" bersama 15 mahasiswa baru lainnya dari berbagai jurusan di fakultas pertanian.
Di kelompok itu, Lintang bertemu dengan Bima, lelaki dari Magelang dengan tubuh tambun dan suara keras dan Cici, perempuan dari Jakarta yang centil dan suka bergosip. Juga beberapa mahasiswa lain yang belum sempat Lintang hafal namanya.
“Kita harus kompak, ya!” teriak Bima di awal orientasi.
“Kompak itu penting,” kata Cici. “Tapi jangan kompak untuk hal negatif.”
Lintang menyela. “Kompak itu relatif. Bisa kompak untuk hal positif, bisa juga kompak untuk hal negatif. Yang penting tujuannya jelas.”
Bima menatap Lintang. “Kamu siapa? Kelihatannya pintar.”
“Lintang. Dari Sawahan. Desa kecil di pinggir Gunung Kidul.”
“Desa? Berarti kamu anak desa asli?”
“Asli. Saya bahkan punya sawah satu hektar di belakang rumah.”
Bima terkagum-kagum. “Wah, keren! Anak desa yang kuliah di UGM. Itu perjuangan luar biasa.”
Lintang mengangkat bahu. “Bukan perjuangan. Ini panggilan.”
Cici mendekat. “Panggilan apa?”
“Panggilan untuk membangun desa saya. Juga untuk membuktikan bahwa anak desa tidak kalah dengan anak kota.”
Cici tersenyum. “Aku suka semangatmu, Lintang. Jangan berubah, ya.”
“Saya tidak akan berubah, Cici. Saya akan selalu tengil.”
“Tengil?”
“Iya. Itu identitas saya.”
Hari kedua orientasi, Lintang mulai menunjukkan taringnya. Sebuah sesi diskusi tentang "Kontribusi Mahasiswa Pertanian terhadap Ketahanan Pangan Nasional" berlangsung di ruang seminar. Pesertanya adalah 120 mahasiswa baru.
Faisal, mahasiswa senior dari pengurus BEM fakultas, menjadi moderator. Dia adalah lelaki tampan dengan kemeja rapi dan rambut klimis. Ketika dia memperkenalkan diri, salah satu mahasiswa baru bertanya, “Mas Faisal, kamu punya kumis?”
Faisal tersenyum. “Tidak. Aku bers bersih.”
Lintang yang duduk di barisan depan langsung berdiri. “Mas Faisal, boleh saya mengajukan pertanyaan?”
“Silakan. Sebutkan nama dan asal dulu.”
“Lintang, dari Desa Sawahan, Gunung Kidul. Pertanyaan saya: bagaimana kita bisa berkontribusi terhadap ketahanan pangan jika kita tidak tahu soal tekstur kumis petani?”
Seluruh ruangan hening. Faisal mengerjap. “Maksudmu?”
“Maksud saya, Mas, seorang petani itu memiliki kumis atau janggut yang kering karena kurang perhatian. Itu simbol bahwa mereka bekerja keras di bawah terik matahari tanpa perlindungan yang layak. Jika kita sebagai calon insinyur pertanian tidak peka terhadap hal-hal kecil seperti itu, bagaimana kita bisa peka terhadap kebutuhan mereka yang lebih besar?”
Faisal terdiam. Dia tidak menyangka pertanyaan kritis seperti itu muncul dari mahasiswa baru.
“Itu... sudut pandang yang unik, Mas Lintang. Tapi mungkin bisa ditempatkan di posisi yang lebih...”
“Relevan? Baik, saya akan buat relevan. Petani dengan kumis kering biasanya juga mengalami dehidrasi saat bekerja. Dehidrasi menurunkan produktivitas. Jadi, jika kita mengusulkan sistem irigasi tetes yang juga menyediakan air minum di pinggir sawah, itu akan meningkatkan produktivitas petani. Itu kontribusi nyata.”
Beberapa mahasiswa bertepuk tangan. Cici tersenyum lebar. Bima mengacungkan jempol.
Faisal hanya bisa menghela napas. “Baik, terima kasih Mas Lintang. Pertanyaan dan sekaligus jawaban yang... menggelitik.”
Lintang duduk kembali. Dia tidak tahu bahwa diskusi sederhana itu akan membuatnya dikenal sebagai "mahasiswa baru tengil yang bicara soal kumis petani".
Hari ketiga orientasi, Lintang dan kelompoknya diajak berkeliling kampus. Mereka mengunjungi laboratorium, perpustakaan, kebun percobaan, dan ruang dosen.
Di kebun percobaan, mereka bertemu Pak Heru, kepala laboratorium agronomi. Pak Heru adalah pria separuh baya dengan janggut lebat yang dirawat mirip seperti janggut kambing etawa. Lintang langsung jatuh cinta pada janggut itu, dalam artian penasaran.
“Selamat datang di kebun percobaan kami,” kata Pak Heru ramah. “Di sini, kalian akan belajar tentang budidaya tanaman, dari persiapan lahan hingga panen.”
Lintang tidak bisa menahan diri. “Pak Heru, janggut Bapak luar biasa. Sudah berapa tahun dipelihara?”
Seluruh kelompok menoleh. Beberapa terkikik.
Pak Heru tersenyum. “Sudah 25 tahun, Mas. Ini saya pelihara sejak masih mahasiswa.”
“Boleh saya... menyentuh? Sebagai penghormatan.”
“Menghormati janggut dengan menyentuh? Itu tradisi baru.”
“Tradisi baru harus dimulai, Pak. Kalau tidak dimulai, tidak akan pernah ada tradisi.”
Pak Heru tertawa. Dia mendekatkan janggutnya ke Lintang. Lintang mengulurkan tangan, menyentuh ujung janggut itu dengan lembut, lalu, tanpa bisa mengendalikan diri, menariknya sedikit.
SEKALI TARIKAN PELAN.
Pak Heru terperanjat. “Mas! Itu bukan menyentuh! Itu menarik!”
Lintang melepas. “Maaf, Pak. Refleks. Kekuatan otot tangan saya tidak bisa membedakan antara menyentuh dan menarik.”
Pak Heru menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu ini aneh, Mas Lintang. Tapi aku suka kejujuranmu. Lain kali, minta izin dulu sebelum menarik.”
“Maaf, Pak. Saya janji tidak akan mengulangi. Setidaknya tidak di kebun percobaan.”
“Kalau di mana?”
“Di laboratorium? Di ruang dosen? Di kantin?”
Pak Heru tertawa keras. “Kamu keterlaluan! Aku akan ingat namamu, Lintang dari Sawahan.”
“Terima kasih, Pak. Itu tujuan saya.”
Bima dan Cici hanya bisa geleng-geleng. Mereka baru tiga hari mengenal Lintang, tapi sudah sadar bahwa dia bukan mahasiswa biasa.
Selesai orientasi, Lintang mencari tempat kos di sekitar kampus. Dia berjalan kaki menyusuri jalan yang dipenuhi oleh petak-petak kos-kosan. Nyaris setengah jam, akhirnya dia menemukan satu yang cocok: kamar sederhana 3x4 meter dengan jendela menghadap ke timur, dihargai Rp350.000 per bulan sudah termasuk air dan listrik.
Pemilik kos adalah Mbok Darmi, perempuan usia 60 tahun dengan rambut sudah memutih dan, sayangnya, tanpa kumis dan janggut.
“Kamu anak mana, Le?” tanya Mbok Darmi sambil mengelap lantai teras.
“Dari Gunung Kidul, Mbok. Desa Sawahan.”
“Jauh juga. Orang tua di sana?”
“Ayah dan ibu. Petani.”
“Anak petani yang kuliah di UGM. Hebat. Kamu pasti anak yang rajin.”
“Rajin sih tidak, Mbok. Tapi tengil.”
Mbok Darmi tertawa. “Tengil? Baru pertama kali ada anak kos yang mengaku tengil.”
“Saya suka jujur, Mbok. Karena kejujuran adalah investasi jangka panjang.”
“Investasi? Kamu belajar apa di UGM?”
“Pertanian, Mbok.”
“Kamu cocok jadi petani. Ciri-cirinya sudah kelihatan.”
“Maksud Mbok, karena saya jujur?”
“Bukan. Karena kamu hitam.”
Lintang tertawa. “Terima kasih, Mbok. Hitam itu sehat. Buktinya saya bisa kuliah di UGM.”
Mbok Darmi tertawa lagi. Dia merasa senang punya anak kos yang lucu.
Malam pertama di Jogja, Lintang duduk di teras kosnya. Langit Jogja tidak sebening langit Sawahan, tapi bintang-bintang masih bisa dilihat beberapa. Dia menatapnya sambil tersenyum.
“Bintang-bintang di sini tidak secerah di rumah,” bisik Lintang. “Tapi mereka tetap bersinar.”
Rizki yang kebetulan kos di sebelahnya keluar dengan segelas teh panas. “Lintang, kenapa sendiri?”
“Menikmati malam, Riz.”
“Nggak kangen rumah?”
“Kangen. Tapi kangen itu harus dikelola. Jangan sampai mengganggu fokus.”
Rizki duduk di samping Lintang. “Kamu orang yang aneh, Lin. Orang baru merantau biasanya nangis-nangis, telepon ortu tiap jam. Kamu malah duduk tenang memandang bintang.”
“Aku sudah nangis, Riz. Di bus. Sekarang sudah selesai. Aku fokus pada tujuan.”
“Tujuanmu apa?”
“Menjadi insinyur pertanian. Membangun desaku. Membagikan ketengilan positif kepada sebanyak mungkin orang.”
Rizki tertawa. “Ketengilan positif? Apa itu?”
“Menjadi pengganggu yang mengganggu sistem yang beku. Mengganggu birokrasi yang lamban. Mengganggu pemikiran yang kolot. Dengan cara yang cerdas dan tidak merugikan.”
“Itu berat, Lin. Apakah kamu sanggup?”
“Saya tidak tahu. Tapi saya akan coba.”
“Mencoba atau mengerjakan? Kamu sendiri yang bilang tidak boleh coba-coba.”
Lintang tersenyum. “Kamu ternyata mendengarkan omonganku.”
“Selalu. Karena omonganmu itu nyeleneh tapi menarik.”
Mereka berbincang hingga larut malam. Tentang kuliah, tentang mimpi, tentang masa depan, tentang desa, tentang kota, tentang kumis, tentang janggut, dan tentang cinta yang belum pernah Lintang rasakan.
Besok paginya, Lintang memulai hari pertama kuliah. Dia mengenakan kemeja lengan panjang putih dan celana bahan hitam, seragam yang sudah disetrika rapi oleh Mariyem sebelum berangkat. Rambut acak-acakannya dia sisir sedikit, meskipun hasilnya tidak berbeda jauh.
Kuliah pertama: Pengantar Ilmu Pertanian dengan Pak Sumarno. Pak Sumarno adalah dosen senior berusia 55 tahun, berkacamata tebal, dan, kabar baik bagi Lintang, tidak punya kumis.
Lintang kecewa. Tapi dia tidak berkecil hati. Masih banyak dosen lain yang akan dia temui.
Pak Sumarno memulai kuliah dengan pertanyaan pembuka. “Anak-anak, apa itu pertanian? Siapa yang bisa menjawab?”
Lintang mengangkat tangan tanpa menunggu dua detik.
“Lintang? Coba jawab.”
“Pertanian adalah seni dan ilmu bercocok tanam, Pak. Tapi bagi saya, pertanian juga seni menarik kumis.”
Seluruh kelas, kurang lebih 50 mahasiswa, tertawa. Pak Sumarno mengerjap. “Menarik kumis? Hubungannya dengan pertanian?”
“Pak, petani yang saya kenal rata-rata punya kumis atau janggut. Mereka cenderung menarik kumis atau jenggot ketika sedang memikirkan cara meningkatkan hasil panen. Jadi menarik kumis adalah refleksi dari problem solving.”
Pak Sumarno tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya mencatat di buku: Lintang, mahasiswa dengan pendekatan unik.
Cici yang duduk di sebelah Lintang berbisik, “Kamu keterlaluan, Lin. Baru kuliah pertama sudah bikin dosen bingung.”
“Itu tujuanku, Ci. Supaya dosen ingat aku.”
“Pasti ingat. Sampai tua.”
Lintang tersenyum. Dia mengeluarkan buku catatan dan mulai menulis dengan rapi. Di sampul buku, dia menulis: Catatan Perjalanan Menjadi Insinyur Tengil.
Kuliah kedua: Sosiologi Pertanian dengan Bu Ken. Bu Ken adalah dosen muda, baru berusia 32 tahun, dengan rambut panjang disanggul rapi dan wajahnya selalu tersenyum. Dia punya suami, kata kabar burung, yang berkumis tebal.
Lintang sudah menyiapkan strategi. Begitu Bu Ken masuk kelas dan memperkenalkan diri, Lintang langsung angkat tangan.
“Bu Ken, suami Ibu punya kumis, ya?”
Bu Ken terkejut. “Kamu tahu dari mana?”
“Dari mata-mata saya. Maksud saya, informasi dari kakak tingkat.”
Bu Ken tersenyum. “Suamiku memang punya kumis. Kenapa kamu tanya?”
“Saya hanya penasaran. Saya punya hobi mengamati kumis orang. Sebagai calon insinyur pertanian, saya harus memiliki ketelitian tinggi. Mengamati kumis adalah salah satu latihannya.”
Bu Ken tertawa. “Kamu mahasiswa yang aneh. Tapi aku suka keunikanmu. Hanya saja, hobi mengamati kumis suami orang mungkin bisa disimpan untuk waktu senggang, bukan di kelas sosiologi.”
“Baik, Bu. Saya simpan.”
Kelas tertawa lagi. Cici menutup wajahnya. Bima geleng-geleng.
Sepekan berlalu. Lintang mulai dikenal di fakultas sebagai "mahasiswa baru tengil yang suka nanya soal kumis". Sebagian dosen terganggu, sebagian malah terhibur. Tapi semua setuju: Lintang punya potensi akademik yang besar. Nilai-nilai kuisnya selalu sempurna. Argumen-argumennya di diskusi kelas sering membuat dosen terkesan.
Suatu siang di kantin fakultas, Lintang sedang makan siang dengan Bima, Rizki, dan Cici. Mereka duduk di meja bundar dekat jendela. Udara Jogja yang panas membuat mereka banyak minum es teh.
“Lin, kamu sudah punya target? Seperti, kamu mau nembak cewek atau apa?” tanya Cici dengan mata berbinar.
Lintang mengangkat bahu. “Aku punya target: wisuda cumlaude dalam empat tahun.”
“Cuma itu? Nggak mau pacaran?”
“Pacaran menghabiskan waktu, Ci. Waktu bisa digunakan untuk belajar, berorganisasi, dan menarik kumis dosen.”
“Kamu ini... cewek nggak menarik buatmu?”
Lintang berpikir sejenak. “Sejujurnya, Cici, aku belum pernah jatuh cinta. Aku lebih sering jatuh cinta pada kumis dan janggut. Tapi itu bukan cinta sejati. Itu kecanduan.”
Cici tertawa. “Kamu sadar diri, Lin. Itu bagus. Tapi suatu hari nanti, kamu akan jatuh cinta juga. Dan orang yang kamu cintai mungkin tidak punya kumis sama sekali.”
“Kalau begitu dia harus rela ditumbuhi kumis demi aku.”
“GILA!”
Mereka tertawa bersama. Suara tawa itu terdengar sampai ke meja dosen di seberang kantin. Pak Sumarno menoleh dan tersenyum.
“Mahasiswa baru yang dulu tanya soal kumis,” bisik Pak Sumarno pada rekannya. “Dia punya energi luar biasa.”
“Positif atau negatif?” tanya rekannya.
“Positif. Meskipun caranya tidak biasa.”
Malam itu, Lintang menelepon Prapto dan Mariyem menggunakan HP seken yang baru dibelinya dari uang tabungan. Suara Prapto terdengar parau di ujung sana.
“Le, kabar apa? Betah di Jogja?”
“Betah, Pa. Mataku sudah mulai terbiasa dengan polusi.”
Prapto tertawa. “Jangan bercanda. Kamu makan yang teratur, ya. Jangan jajan sembarangan.”
“Iya, Pa. Aku makan di warung langganan. Murah dan bersih.”
“Kuliahmu bagaimana?”
“Baik, Pa. Dosen-dosen baik. Ada satu dosen yang suaminya punya kumis tebal. Aku belum ketemu suaminya, tapi aku penasaran.”
“LINTANG! JANGAN! KAMU DI JOGJA UNTUK KULIAH, BUKAN UNTUK MENCARI KUMIS!”
“Aku bercanda, Pa. Tenang. Kumis akan kucari setelah lulus.”
Prapto menghela napas. “Kamu ini, selamanya tidak bisa lepas dari kumis.”
“Itu warisan Mbah Kakung, Pa. Mbah Kakung juga hobi kumis, kan?”
“Mbah Kakung hobi kumis karena dia petani dan kumisnya tebal. Bukan karena dia suka menarik kumis orang.”
“Ya sudah sama saja, Pa.”
Mariyem mengambil alih telepon. “Le, kamu jangan buat onar, ya. Jaga nama baik keluarga. Anak petani dari desa jangan sampai dikeluarkan dari kampus karena menarik kumis dosen.”
“Maaf, Ma. Itu sudah terlambat.”
“APA?”
“Aku sudah menarik janggut Pak Heru, kepala laboratorium. Tapi pelan. Beliau tidak marah. Malah ketawa.”
Mariyem hampir menjatuhkan HP. “LINTANG! KAMU ANAK APA SIH!”
“Anak tengil, Ma. Seperti yang Ibu lahirkan.”
Mariyem menghela napas panjang. Dia meletakkan HP di meja dan berjalan keluar rumah. Prapto mengambil alih.
“Le, ibumu stres.”
“Maaf, Pa.”
“Sudah, sudah. Kamu istirahat. Besok kuliah lagi.”
“Pa.”
“Ya?”
“Aku kangen kalian.”
Prapto terdiam beberapa detik. “Kami juga kangen kamu, Le. Pulanglah kalau ada libur.”
“Iya, Pa. Aku akan pulang. Dan akan tarik kumis bapak seratus kali.”
“ITU BUKAN HADIAH!”
“Itu hadiah untuk saya, Pa. Bukan untuk Bapak.”
Prapto tertawa getir. Mereka berdua tertawa di ujung telepon masing-masing, di dua tempat yang berjarak ratusan kilometer.
Di kamar kosnya yang sempit, Lintang menutup telepon lalu merebahkan diri di kasur. Matanya menatap langit-langit yang retak-retak.
“Mbah Waginem bilang aku akan bertemu seseorang di Jogja,” bisik Lintang. “Seseorang yang akan menaklukkan aku. Siapa dia? Apa dia punya kumis? Atau janggut? Atau setidaknya rambut panjang yang bisa aku tarik?”
Dia tersenyum sendiri.
“Tapi Mbah bilang itu cinta. Cinta tidak butuh kumis. Cinta butuh hati.”
Dia memejamkan mata. Perlahan, tidur menghampirinya.
Di luar jendela, langit Jogja gelap pekat. Tidak ada bintang yang terlihat malam itu. Tapi di dalam hati Lintang, ada satu bintang yang mulai menyala. Bintang kecil yang tidak dia sadari.
Bintang yang akan menuntunnya pada pandangan keseribu.
BAB 10
Mahasiswi Sastra yang Super Sabar
Imelda Yuliana dan Dinding Tak Tersentuh
Tiga bulan Lintang menjalani perkuliahan di Fakultas Pertanian UGM. Selama tiga bulan itu, dia berhasil membuat tujuh dosen bertanya-tanya tentang kewarasannya, tiga belas mahasiswi melaporkannya ke BEM karena komentar-komentarnya yang nyeleneh, dan satu laboran hampir pensiun dini karena stres.
Tapi ada satu tempat yang belum pernah dijamah oleh ketengilan Lintang: Fakultas Ilmu Budaya.
“Lin, kenapa kamu nggak pernah ke fakultas sebelah?” tanya Bima suatu sore di kantin. “Katanya di sana banyak cewek cantik. Mungkin juga ada yang punya kumis cantik.”
“Kumis cewek? Bima, kamu keterlaluan,” potong Cici.
“Bercanda, Ci. Tapi serius, Lin. Kamu harus keluar dari fakultas pertanian sesekali. Dunia tidak hanya sawah dan kumis.”
Lintang mengunyah pisang gorengnya pelan-pelan. “Aku tidak butuh cewek. Aku butuh nilai A.”
“Nilai A bisa sambil cari cewek,” kata Rizki.
“Kalian ini. Kayak tidak ada kerjaan lain. Aku sibuk.”
“Sibuk apa? Nontonin kumis dosen?”
“Itu penelitian, Riz. Tidak bisa sembarangan.”
Mereka bertengkar ramah hingga matahari sore mulai tenggelam di ufuk barat. Lintang pamit pulang. Dia berjalan menyusuri trotoar kampus yang dipenuhi oleh mahasiswa yang lalu lalang.
Sampai di perempatan dekat Fakultas Ilmu Budaya, Lintang berhenti. Bukan karena dia tertarik dengan gedungnya yang bergaya joglo modern. Tapi karena ada sesuatu atau seseorang, yang menarik perhatiannya.
Seorang perempuan duduk di bangku taman dekat pintu masuk fakultas. Dia sedang membaca buku, buku tebal dengan sampul berwarna biru tua. Rambutnya panjang sebahu, tidak disanggul, hanya dibiarkan tergerai tertiup angin sore. Wajahnya tidak cantik dalam arti mencolok, tapi ada ketenangan di sana. Ketenangan yang membuat Lintang, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak bisa berkata-kata.
“Kok diam?” tanya suara hati Lintang. “Biasanya kamu langsung mendekati dan mencari kumis.”
Diam. Tidak ada suara.
“Lin, kamu kenapa?”
Lintang menggelengkan kepalanya sendiri. Dia berusaha mengabaikan perasaan aneh itu dan melanjutkan langkah pulang.
Tapi langkahnya tidak berjalan. Kakinya terpaku di tempat.
“Ah, dasar bodoh. Kamu laki-laki. Jangan penakut.”
Lintang memberanikan diri. Dia berjalan mendekati bangku taman itu dengan gaya percaya diri, gaya yang biasa dia gunakan saat hendak menarik kumis seseorang.
Perempuan itu tidak menoleh. Matanya tetap fokus pada buku.
Lintang duduk di ujung bangku, berjarak satu meter darinya. “Selamat sore.”
Perempuan itu menoleh. Matanya, hitam pekat seperti biji saga, menatap Lintang dengan tenang. “Selamat sore. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya... mau nanya. Itu buku apa yang Anda baca?”
“Buku puisi. Karya Sapardi Djoko Damono.”
Lintang mengerjap. “Puisi? Saya kurang suka puisi. Terlalu banyak makna tersirat. Saya lebih suka makna tersurat. Seperti kumis.”
Perempuan itu tersenyum kecil. “Kumis? Maksudmu kumis yang tumbuh di wajah laki-laki?”
“Iya. Saya punya hobi mengamati kumis.”
“Mengamati? Atau menarik?”
Lintang terkejut. “Anda tahu?”
“Saya dengar kabar dari teman-teman Fakultas Pertanian. Ada mahasiswa baru tengil yang suka menarik kumis dan janggut. Katanya namanya Lintang.”
“Itu saya. Betul sekali. Senang berkenalan.” Lintang mengulurkan tangan.
Perempuan itu menjabat tangan Lintang dengan santai. “Imelda Yuliana. Fakultas Ilmu Budaya, jurusan Sastra Indonesia.”
“Imelda. Nama yang indah. Seperti puisi.”
“Terima kasih. Lintang juga indah. Seperti bintang.”
Lintang tersenyum lebar. Biasanya dia yang memulai pujian, tapi kali ini dia yang menerima. Rasanya aneh. Tapi tidak tidak enak.
“Imelda, saya boleh bertanya sesuatu yang sedikit pribadi?”
“Tergantung. Seberapa pribadi?”
“Anda punya kumis?”
Imelda tertawa. Bukan tertawa sinis, bukan tertawa marah, tapi tertawa tulus yang membuat matanya berbinar. “Tidak, Lintang. Saya perempuan. Perempuan normal tidak punya kumis. Kecuali yang hormonal, tapi saya tidak termasuk.”
“Sayang sekali. Saya suka menarik kumis. Tapi mungkin saya bisa membuat pengecualian untuk Anda.”
“Pengecualian seperti apa?”
“Tidak menarik apa pun dari diri Anda. Karena Anda tampak... sempurna tanpa perlu ditarik.”
Imelda mengangkat alis. “Gombal. Tapi gombal yang kreatif. Peringatan untukmu, Lintang: Saya tidak mudah terpengaruh oleh kata-kata manis.”
“Saya tidak akan memberi kata-kata manis. Saya hanya akan memberi kejujuran. Dan kejujuran saya: Anda adalah mahasiswi paling menarik yang pernah saya temui dalam tiga bulan di Jogja.”
Imelda tersenyum lagi. “Terima kasih. Tapi jangan terlalu cepat menyimpulkan. Anda belum kenal saya.”
“Maka saya ingin mengenal Anda.”
“Dan saya tidak punya keberatan. Asal Anda tidak mencoba menarik sesuatu dari wajah saya.”
Mereka berdua tertawa. Sore itu, di bangku taman depan Fakultas Ilmu Budaya, percakapan panjang mengalir. Lintang yang biasanya mendominasi pembicaraan, kali ini lebih banyak mendengarkan. Imelda bercerita tentang kecintaannya pada sastra, tentang puisi-puisi yang membuatnya menangis, tentang novel-novel yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia.
Lintang mendengarkan dengan seksama. Matanya tidak lepas dari wajah Imelda. Bukan karena menilai, tapi karena terpesona.
“...dan itu sebabnya aku suka puisi,” Imelda menyelesaikan ceritanya. “Karena puisi mengajarkan bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di hal-hal kecil. Seperti hujan sore, seperti kopi hangat, seperti senyum orang asing di jalan.”
Lintang mengangguk. “Aku baru paham. Selama ini aku pikir puisi hanya omong kosong yang dibuat oleh orang-orang yang tidak bisa bicara lugas.”
“Itu karena kamu belum jatuh cinta, Lin. Orang yang jatuh cinta biasanya tiba-tiba bisa menulis puisi.”
“Kamu yakin? Aku sudah 18 tahun tidak pernah jatuh cinta. Kalaupun bisa menulis puisi, puisinya pasti tentang kumis.”
Imelda tertawa keras. “Kamu ini sangat lucu. Aku baru pertama kali bertemu laki-laki dengan hobi menarik kumis. Dan aku baru pertama kali bertemu laki-laki yang membuatku tertawa sebanyak ini dalam satu sore.”
“Aku anggap itu pujian.”
“Anggap saja begitu.”
Matahari benar-benar tenggelam. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu. Lintang dan Imelda masih duduk di bangku yang sama, berbincang tentang segala hal.
“Lin, sudah malam. Aku harus pulang,” kata Imelda sambil membereskan bukunya.
“Aku antar.”
“Tidak usah. Kosku dekat. Kamu juga istirahat.”
“Tapi...”
“Sudah. Besok jika kita bertemu lagi, kita bisa bicara lagi.”
Imelda berdiri dan melangkah pergi. Lintang hanya bisa memandang dari belakang. Sesosok perempuan dengan rambut tergerai, langkah tegap, dan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Imelda,” panggil Lintang.
Imelda menoleh. “Ya?”
“Kamu benar. Aku belum jatuh cinta. Tapi aku mulai penasaran dengan apa itu jatuh cinta.”
Imelda tersenyum. “Itu awal yang baik. Selamat malam, Lintang.”
“Selamat malam, Imelda.”
Sepanjang malam, Lintang tidak bisa tidur. Bukan karena insomnia seperti biasa. Tapi karena pikirannya dipenuhi oleh satu nama: Imelda. Wajahnya. Suaranya. Tawanya. Cara dia menjelaskan puisi. Cara dia menatap Lintang tanpa rasa takut, sesuatu yang langka.
“Aku kenapa sih?” gumam Lintang di kegelapan kamar kosnya. “Dia cuma perempuan biasa. Tidak punya kumis. Tidak punya janggut. Tidak punya rambut panjang yang bisa ditarik. Kenapa dia begitu... menarik?”
Dia membolak-balik badan. Jam menunjukkan pukul satu dini hari. Lintang masih terjaga.
“Mbah Waginem bilang aku akan bertemu seseorang. Seseorang yang akan menaklukkanku. Apa dia itu?”
Jantung Lintang berdetak lebih cepat. Dia tidak tahu apakah itu tanda jatuh cinta. Yang dia tahu, dia ingin bertemu Imelda lagi. Besok. Lusa. Setiap hari.
Pagi berikutnya, Lintang datang ke Fakultas Ilmu Budaya dengan membawa segelas kopi susu hangat. Dia berdiri di depan gerbang, menunggu. Puluhan mahasiswa lalu lalang, tapi tidak ada Imelda.
“Mencari seseorang, Mas?” tanya seorang perempuan yang Lintang kenali sebagai Sari, teman Imelda yang kebetulan lewat.
“Iya. Imelda. Apakah dia sudah datang?”
Sari tersenyum jenaka. “Baru sehari kenalan, sudah nyari-nyari. Cepet amat jatuh cintanya.”
“Siapa bilang jatuh cinta? Aku hanya ingin... mengembalikan pulpennya.”
“Pulpen? Kemarin dia bawa pulpen?”
“Ya. Saya pinjam. Lupa mengembalikan.”
Sari terkekeh. “Kamu bohong, Mas Lintang. Aku tahu. Imelda cerita tentang kamu semalam. Katanya ada mahasiswa pertanian yang tengil dan suka narik kumis.”
“Cerita baik atau buruk?”
“Dia bilang kamu menarik. Menarik dalam artian unik.”
Lintang tersenyum lega. “Itu baik.”
“Tapi dia juga bilang kamu terlalu percaya diri. Dan itu bisa menjadi kelemahan.”
“Semua orang punya kelemahan. Kelemahanku adalah kumis. Kelemahan Imelda mungkin ...?”
“Tidak akan aku kasih tahu. Cari sendiri.”
Sari pun berlalu, masih dengan senyum jenakanya. Lintang memutuskan untuk duduk di bangku taman yang sama seperti kemarin. Dia menunggu.
Setengah jam kemudian, Imelda datang. Dia memakai kemeja putih lengan panjang dan rok batik. Rambutnya diikat kuncir kuda. Wajahnya segar seperti baru selesai mandi.
“Lintang? Kamu dari tadi di sini?”
“Iya. Aku bawakan ini.” Lintang menyodorkan kopi susu hangat.
Imelda menerimanya dengan hati-hati. “Kopi? Untukku?”
“Untukmu. Sebagai terima kasih karena sudah mau diajak ngobrol kemarin.”
Imelda menyesap kopinya. “Manis. Sesuai seleraku. Kamu tahu dari mana?”
“Tebakan. Perempuan yang suka puisi biasanya suka yang manis-manis. Karena puisi itu manis.”
Imelda tertawa. “Kamu mulai belajar puisi rupanya.”
“Sedikit. Semalam aku baca puisi Sapardi. Yang 'Aku ingin mencintaimu dengan sederhana'. Itu bagus. Tapi menurutku terlalu sederhana. Mestinya 'Aku ingin menarik kumismu dengan sederhana, seperti jarum jam yang tak pernah lelah bergerak.'”
Imelda hampir menyemburkan kopinya. “LINTANG! JANGAN MERUSAK PUISI!”
“Aku tidak merusak. Aku memodifikasi. Itu namanya apresiasi sastra.”
“Itu namanya penistaan sastra!”
Mereka tertawa bersama. Mahasiswa lain yang lewat menoleh heran. Dua orang dari dua fakultas berbeda, pertanian dan sastra, tertawa seperti sudah bersahabat sejak lama.
Pertemuan kedua berlanjut menjadi pertemuan ketiga, keempat, kelima. Lintang mulai rutin menjemput Imelda setiap pagi di depan Fakultas Ilmu Budaya. Kadang dengan kopi, kadang dengan jajanan pasar, kadang hanya dengan senyuman.
Suatu hari, Lintang memutuskan untuk melakukan aksi kejahilan seperti biasanya.
Dia menyembunyikan buku catatan Imelda di rak paling atas perpustakaan. Dia memindahkan gelas minuman Imelda ke meja sebelah. Dia menyelipkan daun jati ke dalam tas Imelda.
Tapi Imelda tidak bereaksi seperti perempuan lain yang pernah Lintang jahili.
Dia tersenyum. Lalu menggelengkan kepala dengan tenang. “Lucu juga kamu, Mas Lintang.”
Lintang terkejut. “Kamu tidak marah?”
“Marah kenapa? Buku catatanku sudah aku temukan di rak atas. Gelas minumanku sudah aku ambil kembali. Daun jati di tasku aku jadikan penanda buku. Semua masalah selesai.”
“Tapi biasanya orang marah kalau dijaili.”
“Aku tidak biasa, Lin. Aku Imelda.”
Lintang terdiam. Dia tidak pernah menemui perempuan seperti ini. Perempuan yang tidak goyah oleh usilnya. Perempuan yang justru terhibur oleh kekonyolannya.
“Imelda, kamu tidak takut aku semakin menjadi-jadi?”
“Silakan menjadi-jadi. Aku penasaran sejauh mana kreativitasmu dalam menjahili orang. Selama ini, pacarku, maaf, mantan pacarku, hanya biasa-biasa saja. Tidak kreatif. Membosankan.”
Lintang merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Cemburu? Dia baru kenal Imelda. Tidak mungkin cemburu.
“Kamu punya mantan?”
“Semua orang punya masa lalu, Lin. Termasuk kamu. Masa lalumu adalah kumis-kumis yang sudah kamu tarik.”
“Itu bukan masa lalu. Itu koleksi.”
Imelda tertawa. “Kamu dan kumismu. Kapan kamu akan berhenti?”
“Sampai saya jadi insinyur. Setelah itu, saya kurangi.”
“Kurangi? Tidak berhenti total?”
“Berhenti total itu tidak sehat. Kecanduan harus dikurangi secara bertahap. Itu anjuran psikolog.”
“Kamu ke psikolog?”
“Tidak. Tapi aku baca-baca soal itu.”
Imelda menggeleng-gelengkan kepala. “Kamu memang aneh, Lintang. Tapi aneh yang menyenangkan.”
Minggu kedua pertemuan, Lintang mulai menyadari sesuatu. Setiap kali dia bersama Imelda, dia tidak lagi memikirkan kumis. Tidak lagi memikirkan janggut. Tidak lagi memikirkan cara menjahili orang.
Yang dia pikirkan hanya satu: bagaimana membuat Imelda tersenyum.
“Man, aku kena batunya,” kata Lintang pada Paiman saat telepon malam.
“Kena batunya? Maksudmu?”
“Aku suka sama seseorang.”
Paiman di ujung telepon terkesiap. “APA? KAMU? SUKA SAMA ORANG? ITU KALI PERTAMA DALAM SEJARAH!”
“Jangan teriak-teriak. Nanti didengar orang.”
“Siapa? Siapa perempuan berani yang bisa menaklukkan si tengil?”
“Imelda. Mahasiswi Sastra. Fakultas Ilmu Budaya.”
“Imelda? Namanya indah. Dia cantik?”
“Cantik. Tapi bukan karena rupa. Karena... ketenangannya. Dia tidak goyah. Apa pun yang aku lakukan, dia tetap tenang. Bahkan dia menikmati kejahilanku.”
“Lin, itu pertanda. Dia mungkin jodohmu.”
“Jodoh? Aku tidak percaya jodoh.”
“Sekarang percaya?”
Lintang terdiam. “Aku tidak tahu, Man. Yang aku tahu, aku tidak bisa berhenti memikirkannya. Setiap malam, sebelum tidur, yang muncul di pikiranku bukan kumis. Tapi wajahnya. Tawanya. Matanya.”
Paiman bersiul. “Ini serius. Kamu benar-benar jatuh cinta.”
“Apa itu jatuh cinta?”
“Kamu tanya saya? Saya juga belum pernah jatuh cinta.”
“Terus bagaimana kita tahu?”
“Kita tidak tahu. Tapi yang pasti, rasanya enak. Enak tapi nyeri. Seperti kumis yang ditarik terus-menerus.”
Lintang tertawa. “Metaforamu aneh, Man. Tapi aku paham.”
“Lin, kalau kamu benar-benar suka sama dia. Jangan main-main. Jangan jahilin dia terus. Tunjukkan sisi seriusmu.”
“Sisi seriusku? Apa aku punya sisi serius?”
“Tentu punya. Saat kamu berdebat, saat kamu negosiasi sama Haji Rasyid, saat kamu bicara soal sawah dan masa depan desa. Itu sisi seriusmu. Tunjukkan itu padanya.”
Lintang merenung. “Kau benar, Man. Aku terlalu lama bersembunyi di balik ketengilan. Mungkin ini saatnya menjadi Lintang yang sebenarnya.”
Besok harinya, Lintang menjemput Imelda dengan wajah lebih serius dari biasanya. Tidak ada kopi, tidak ada jajanan, tidak ada senyum lebar. Hanya dia dan ketulusan.
“Kamu kenapa, Lin? Wajahmu tegang,” tanya Imelda.
“Aku mau ngomong serius.”
“Silakan. Aku dengar.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri taman kampus. Pagi itu matahari bersinar cerah. Burung-burung berkicau di pohon-pohon rindang.
“Imelda, aku suka sama kamu.”
Imelda berhenti berjalan. Dia menatap Lintang dengan mata yang sulit diartikan.
“Lintang, baru dua minggu kita kenal.”
“Aku tahu.”
“Dua minggu itu terlalu singkat untuk mengatakan suka.”
“Aku tahu itu juga. Tapi perasaan tidak kenal waktu. Perasaan datang begitu saja. Tidak bisa direncanakan. Tidak bisa diatur.”
Imelda tersenyum kecil. “Kamu memang jago berdebat. Tapi cinta bukan debat. Cinta tidak bisa dimenangkan dengan argumen.”
“Aku tidak ingin menang, Imelda. Aku hanya ingin kamu tahu. Selebihnya, terserah kamu.”
Imelda terdiam. Dia menatap Lintang lama. Kemudian dia berkata, “Aku suka kejujuranmu, Lintang. Tapi aku belum bisa membalas perasaanmu. Aku perlu waktu. Banyak waktu.”
“Aku akan tunggu. Selama yang kamu butuhkan.”
“Kamu tidak akan bosan?”
“Bosan? Aku bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan hanya untuk mengamati kumis. Apalagi menunggu kamu? Itu ringan.”
Imelda tertawa. “Kamu bicara soal kumis lagi. Apa tidak ada topik lain?”
“Ada. Misalnya, bagaimana caranya menjadi insinyur pertanian yang baik.”
“Itu topik bagus. Ceritakan.”
Mereka berjalan lagi. Lintang bercerita tentang mimpinya, tentang sawah-sawah di desanya, tentang petani-petani yang butuh pendampingan, tentang sistem irigasi yang ingin dia bangun. Imelda mendengarkan dengan saksama. Matanya berbinar setiap kali Lintang berbicara dengan penuh semangat.
“Kamu berbeda saat bicara soal pertanian,” kata Imelda.
“Beda bagaimana?”
“Biasanya kamu bicara seenaknya, banyak bercanda. Tapi saat bicara soal pertanian, matamu serius. Suaramu mantap. Kamu terlihat seperti orang yang punya tujuan jelas.”
“Karena itu mimpiku, Imelda. Mimpi tidak boleh dipermainkan dengan bercanda.”
Imelda mengangguk. “Aku suka Lintang yang ini. Lintang yang serius.”
“Aku juga suka Imelda yang selalu tenang. Tidak peduli seberapa usil aku.”
“Kita jadi saling memuji.”
“Itu awal yang baik untuk sebuah hubungan.”
“Belum hubungan, Lin. Masih perkenalan.”
“Baik. Perkenalan yang terus berlanjut.”
Hari-hari berlalu. Lintang dan Imelda semakin sering bertemu. Kadang di kantin, kadang di perpustakaan, kadang di taman kampus. Mereka membahas banyak hal: dari puisi hingga irigasi, dari novel hingga pupuk organik, dari drama Korea hingga hama wereng.
Bima dan Cici yang melihat kedekatan mereka mulai bergosip.
“Lin, kamu dan Imelda jadian ya?” tanya Cici suatu hari.
“Belum. Masih proses.”
“Proses apa? Proses pendekatan? Proses pdkt?”
“Proses penaklukan.”
Cici tertawa. “Kamu yang ngalah atau dia yang ngalah?”
“Kami sama-sama kuat. Tidak ada yang mau mengalah. Jadi kami hanya... berjalan beriringan.”
Bima menimpali. “Itu hubungan paling sehat. Tidak ada yang dominan. Saling menghormati.”
Lintang tersenyum. “Kamu bijak, Bim. Biasanya kamu hanya bicara soal makanan.”
“Cinta membuatku bijak, Lin. Meskipun aku sendiri belum pernah jatuh cinta.”
Mereka tertawa bertiga.
Suatu malam, Lintang dan Imelda duduk di bangku taman yang sama seperti pertemuan pertama mereka. Langit malam itu cerah. Bintang-bintang terlihat meskipun tidak sebening di Sawahan.
“Lin, kamu tahu hari ini aku bertemu seseorang yang menarik,” kata Imelda.
“Siapa?”
“Dosenku, Bu Tuti. Beliau bercerita tentang mahasiswanya dulu yang suka menarik kumis dosen.”
Lintang tertawa. “Itu aku versi lain. Aku belum pernah ketemu Bu Tuti.”
“Tapi mirip. Katanya mahasiswa itu juga tengil, juga pintar, juga suka debat. Tapi akhirnya dia lulus cumlaude dan jadi dosen di UI.”
“Jadi akhir bahagia?”
“Tergantung sudut pandang. Istrinya mengeluh karena dia masih suka menarik kumis dosen sampai sekarang.”
Lintang tertawa keras. “Semoga aku tidak seperti itu. Aku berencana berhenti menarik kumis setelah lulus nanti.”
“Kamu sudah bilang dari dulu. Tapi buktinya masih belum berhenti.”
“Kemarin aku menarik kumis Pak Herman. Dosen ekologi. Kumisnya lebat sekali. Aku tidak tahan.”
Imelda menggeleng-geleng. “Kamu ini tidak bisa dipercaya.”
“Tapi aku bisa dipercaya dalam hal lain.”
“Seperti?”
“Seperti... aku tidak akan pernah menyakiti hatimu. Itu janji.”
Imelda terdiam. Udara malam yang dingin membuat napas mereka beruap tipis.
“Janji itu berat, Lin. Apakah kamu sanggup?”
“Sanggup. Karena hatimu tidak berkumis. Tidak perlu aku tarik.”
Imelda tertawa. “Kamu benar-benar tidak bisa lepas dari kumis. Dalam janji cinta pun kumis yang dibawa-bawa.”
“Itu identitasku, Im. Aku Lintang, si tengil pencari kumis. Tapi untukmu, aku Lintang biasa. Tidak perlu mencari apa-apa.”
Imelda menggenggam tangan Lintang. Genggaman itu hangat. Sederhana. Tapi terasa begitu bermakna.
“Lintang, aku belum bisa bilang iya. Tapi aku tidak akan bilang tidak.”
“Itu sudah cukup bagiku.”
Mereka duduk diam memandang bintang. Di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara azan isya' dari masjid kampus.
“Imelda.”
“Ya?”
“Aku senang kamu lahir di dunia ini.”
“Aku juga senang kamu lahir, Lintang. Meskipun saat lahir dulu kamu sudah mencari-cari kumis.”
Lintang tertawa. “Itu cerita ibuku. Ternyata cerita itu sudah sampai ke telingamu.”
“Dunia itu kecil, Lin. Kabar tentang bayi pencari kumis menyebar cepat.”
Mereka tertawa bersama. Suara tawa mereka mengisi malam yang sunyi. Bintang-bintang berkedip, seolah ikut tersenyum melihat dua anak muda yang mulai saling jatuh cinta.
Ribuan kilometer dari Jogja, di Desa Sawahan, Mbah Waginem terbangun dari tidurnya. Beliau tersenyum sendiri.
“Sudah mulai,” bisik Mbah Waginem. “Seperti yang kukatakan. Cinta akan datang pada pandangan keseribu.”
BAB 11
Seribu Pandangan yang Tak Membosankan
Kejar-kejaran Cinta ala Si Tengil
Dua bulan sudah Lintang dan Imelda dalam masa "perkenalan yang terus berlanjut". Dua bulan itu terasa seperti dua hari bagi Lintang. Setiap detik bersama Imelda adalah kenangan yang tidak ingin ia hapus dari memorinya. Tapi ada satu masalah kecil: Imelda belum mau disebut sebagai pacarnya.
"Kita masih dalam proses pengenalan, Lin," kata Imelda setiap kali Lintang mencoba menaikkan status.
"Proses pengenalan itu batasnya kapan? Sampai kita tahu nomor darah masing-masing?"
"Bisa jadi. Atau sampai kamu berhenti menarik kumis orang."
"Im, itu syarat yang tidak realistis. Kumis ada di mana-mana. Di kampus, di jalan, di angkringan. Aku tidak bisa menghindar. Seperti kamu tidak bisa menghindar dari puisi."
Imelda tertawa. "Kamu selalu punya argumen. Tapi kali ini aku tidak akan kalah. Aku akan tunggu sampai kamu sadar bahwa cinta tidak butuh syarat."
"Jadi aku boleh menarik kumis selamanya?"
"Tidak. Kamu harus berhenti. Tapi bukan karena aku minta. Karena kamu sendiri sadar."
Lintang menghela napas. Wanita ini terlalu pintar untuk ukuran seorang sastrawan.
Suatu pagi, Lintang memutuskan untuk melakukan pendekatan yang berbeda. Jika menjahili Imelda tidak membuatnya goyah, mungkin menjahili Imelda dengan cara yang lebih kreatif akan membuatnya... apa? Tidak goyah juga? Lintang tidak tahu. Tapi dia akan coba.
Aksi pertama: Menyembunyikan sepatu Imelda.
Lintang datang ke Fakultas Ilmu Budaya lebih awal, sebelum Imelda tiba. Dia tahu Imelda biasa melepas sepatu di depan pintu gerbang karena kelelahan berjalan dari kos (kebiasaan aneh yang tidak pernah Lintang pahami). Sepatu itu, sepatu converse biru lusuh, disembunyikan Lintang di balik pot bunga besar dekat pintu.
Pukul tujuh, Imelda datang. Dia berjalan tanpa suara, seperti biasa. Begitu sampai di pintu gerbang, dia mencari-cari sepatunya.
"Hilang," gumam Imelda.
Kemudian, tanpa panik, dia berjalan ke pot bunga besar, mengambil sepatunya yang tersembunyi, lalu memakainya seperti biasa.
Lintang yang mengamati dari balok tiang bergidik. "Kamu tahu dari mana?" tanyanya, keluar dari persembunyian.
Imelda menoleh. "Dari bau minyak tanah. Pot itu biasa dipakai untuk bersih-bersih. Ada bau minyak tanah. Sepatuku jadi ikut bau."
"Jadi... kamu mencium bau minyak tanah?"
"Aku punya hidung, Lin. Hidung itu fungsinya mencium."
Lintang menggaruk kepalanya. Gagal total.
Aksi kedua: Mengganti pulpen Imelda dengan pulpen tak bertinta.
Suatu siang di perpustakaan, Lintang melihat Imelda sedang menulis esai. Pulpennya terlihat biasa saja. Diam-diam, Lintang mengganti pulpen itu dengan pulpen yang sudah ia kosongkan tintanya.
Imelda menulis. Tidak ada tinta yang keluar. Dia melihat pulpennya, lalu tersenyum.
"Lin, kamu yang ganti, kan?"
"A-apa? Tidak. Aku tidak."
"Pulpen ini punya bekas gigitan di ujungnya. Itu bekas gigitanku waktu aku marah tiga bulan lalu. Pulpen cadanganku tidak punya bekas gigitan. Jadi ini pulpen asliku yang sudah kamu kosongkan tintanya."
Lintang terdiam. "Kamu mengingat bekas gigitan di pulpen?"
"Aku Mahasiswa Sastra, Lin. Detail itu penting."
"Apa hubungannya sastra dengan bekas gigitan pulpen?"
"Hubungannya, sastra mengajarkanku untuk peka terhadap hal-hal kecil. Dan hal kecil itu bisa menjadi bukti dalam kasus kejahilan seperti ini."
Lintang pasrah. Dia berjanji akan berpikir lebih kreatif minggu depan.
Aksi ketiga: Menyamar jadi kurir kampus.
Lintang meminjam seragam kurir dari kakak tingkatnya, Mas Pri. Wajahnya ditutupi topi dan masker. Dia membawa satu paket palsu yang di dalamnya berisi batu bata dibungkus kertas kado.
"Bu Imelda Yuliana?" tanya Lintang dengan suara dibuat serak.
Imelda yang sedang duduk di taman bersama Melly dan Sari, menoleh. "Iya, saya."
"Ada paket untuk Ibu. Tolong tanda tangan di sini."
Imelda mengambil pulpen, menandatangani kertas, lalu menerima paket. Dia membukanya di tempat. Batu bata muncul dari dalam kertas kado.
"LINTANG!" teriak Imelda.
Lintang melepas topi dan masker. "Ya?"
"APA INI?"
"Batu bata. Simbol bahwa cintaku padamu kokoh sekuat bata."
"BATU BATA COKLAT TIDAK ADA GUNANYA!"
"Ingat, Im. Batu bata bisa dibangun jadi rumah. Rumah adalah tempat tinggal. Kita butuh tempat tinggal jika suatu saat..."
"CUKUP!"
Imelda melemparkan batu bata itu ke arah Lintang. Lintang menangkapnya dengan mudah, seperti menangkap kapur dulu.
"Reaksi cepat. Latihan dari SD," kata Lintang bangga.
Melly dan Sari tertawa terpingkal-pingkal. Imelda menghela napas panjang, tapi sudut bibirnya tersenyum.
"Kamu tidak pernah menyerah, ya, Lin?"
"Tidak. Selama jantungku masih berdetak, aku akan terus berusaha membuatmu tersenyum."
"Kamu bikin aku stres, bukan tersenyum."
"Itu awal dari tersenyum. Stres dulu, lalu lega, lalu tersenyum."
Imelda hanya bisa geleng-geleng.
Aksi keempat: Memesan kopi pahit untuk Imelda.
Suatu sore di kantin Fakultas Ilmu Budaya, Lintang memesan segelas kopi hitam tanpa gula untuk Imelda. Dia tahu Imelda suka kopi susu manis. Ini aksi provokasi murni.
Imelda menerima kopi itu, menyesapnya, lalu berkata, "Pahit."
"Iya. Aku sengaja. Karena pahitnya hidup itu harus kamu rasakan supaya kamu menghargai manisnya."
Imelda menatap Lintang lama. "Kamu belajar filsafat dari mana?"
"Dari kopi. Setiap hari aku minum kopi pahit. Dan setiap hari aku merenungkan hidup."
"Hasil renunganmu?"
"Bahwa cinta itu seperti kopi pahit. Pada awalnya tidak enak. Tapi lama-lama kecanduan."
Imelda tersenyum. Dia meminum kopi pahit itu sampai habis. "Kamu beruntung aku suka kopi apa pun. Termasuk yang pahit."
Lintang tersenyum puas. "Jadi gagal lagi?"
"Gagal. Karena aku tidak marah. Aku hanya... terhibur."
Lintang menunduk. "Aku harus berpikir lebih keras."
"Jangan terlalu keras. Nanti pusing. Aku tidak mau mengantar kamu ke UKS."
"Kamu akan mengantar aku?"
"Mungkin. Tergantung situasi."
Lintang mengartikan "mungkin" itu sebagai " pasti". Tapi dia tidak mengatakan itu dengan lantang.
Aksi kelima: Menyamar jadi tukang bakso keliling.
Ini aksi paling ekstrem yang pernah Lintang lakukan. Dia menyewa gerobak bakso dari Pak Miskun, tukang bakso langganan di dekat kosnya. Dia belajar membuat bakso selama tiga hari. Hasilnya? Dagingnya keras seperti karet, kuahnya terlalu asin, dan pentolnya ada yang hangus.
Tapi Lintang tidak peduli. Yang penting, dia bisa mendekati Imelda dengan cara yang tidak terduga.
Suatu siang, di depan Fakultas Ilmu Budaya, Lintang berjualan bakso dengan gerobak yang dihias spanduk: "Bakso Cinta Lintang , Dijamin Bikin Jatuh Hati, Bukan Jatuh Sakit."
Imelda yang keluar dari perpustakaan bersama Melly langsung mengerjap melihat spanduk itu.
"Lintang? Itu kamu?"
Lintang mengangkat topi koki palsunya. "Selamat siang, Bu Imelda. Mau pesan bakso? Spesial cinta. Harga: satu senyuman."
Melly tertawa keras. "Imel, kamu lihat sendiri. Cowok ini nggak ada obatnya."
Imelda berjalan mendekati gerobak. Dia melihat bakso-bakso yang tidak menarik itu. "Kamu bisa masak?"
"Bisa. Hasil belajar tiga hari."
"Dagingnya kenapa keras?"
"Itu karena... proteinnya padat. Bagus untuk otot."
"Warnanya kenapa pucat?"
"Itu karena... aku tidak pakai pewarna. Alami lebih sehat."
"Kuahnya kenapa terlalu asin?"
"Itu karena... aku ingin kamu ingat bahwa cinta itu asin. Seperti air mata."
Imelda tertawa. "Semua bisa kamu kaitkan dengan cinta."
"Karena yang aku jual bukan bakso. Tapi cinta."
Imelda mengambil satu mangkuk meskipun sudah makan siang. Dia mencicipi. "Asin."
"Sudah kuduga."
"Tapi aku habiskan. Karena kamu sudah capek-capek bikin."
Lintang hampir menangis. Bukan karena terharu. Tapi karena dagangan lain tidak ada yang laku. Hanya Imelda yang membeli.
"Terima kasih, Im."
"Sama-sama. Besar? Jangan jualan bakso lagi. Fokus kuliah."
"Tapi ini caraku mendekatimu."
"Mendekatiku tidak perlu pakai gerobak. Cukup dengan kamu sendiri. Lintang yang biasa. Lintang yang suka debat. Lintang yang suka narik kumis. Lintang yang otaknya encer."
Lintang tersenyum. "Jadi aku tidak perlu repot-repot?"
"Tidak perlu."
"Baik. Mulai besok aku kembali ke Lintang versi original. Tapi aku tidak janji tidak akan menjahilimu."
Imelda mengangkat bahu. "Silakan. Aku sudah menyiapkan diri."
Malam itu, Lintang merebahkan diri di kasur kosnya. Udin, teman kost barunya yang berasal dari Bantul, masuk ke kamar tanpa mengetuk.
"Lin, aku dengar kamu jualan bakso di kampus."
"Berita cepat."
"Kampus itu kecil, Lin. Apalagi fakultasmu dengan fakultas sastra itu dekat."
"Jadi?"
"Jadi semua orang tahu kamu sedang jatuh cinta."
Lintang tertawa. "Itu bukan rahasia. Aku tidak pernah menyembunyikannya."
"Baguslah. Tapi cinta itu tidak cukup dengan aksi-aksi konyol, Lin."
"Terus apa yang cukup?"
"Ketulusan. Konsistensi. Dan sedikit keberuntungan."
Udin keluar dari kamar. Lintang memandang langit-langit kamarnya yang retak.
"Ketulusan. Konsistensi. Keberuntungan," ulang Lintang.
Dia sudah punya dua di antaranya. Tinggal satu lagi. Dan dia tidak bisa mengontrol keberuntungan.
Aksi keenam: Menulis puisi untuk Imelda.
Setelah gagal dengan berbagai aksi fisik, Lintang memutuskan untuk mencoba aksi yang lebih... sastrawi.
Dia membeli buku puisi Sapardi di toko buku bekas dekat kos. Dia membacanya semalaman. Dia mencatat kata-kata indah. Rima. Metafora. Personifikasi.
Lalu dia menulis puisinya sendiri.
Judul: "Kumis Khayalan"
Di malam kelahiranku,
aku mencari kumis yang tak pernah ada.
Lalu aku tumbuh dewasa,
mencari kumis di setiap wajah.
Tapi sejak bertemu bibirmu yang tak berkumis,
aku sadar: yang kucari bukanlah kumis.
Yang kucari adalah ketenangan.
Dan ketenangan itu bernama Imelda.
Dia mengirim puisi itu lewat pesan pendek. Tiga menit kemudian, Imelda membalas:
*"Puisi yang sangat aneh. Tapi jujur. Aku suka pada bagian 'ketenangan itu bernama Imelda'. Nilai: 7/10."*
Lintang tersenyum. Nilai 7 dari mahasiswi sastra adalah nilai yang lumayan. Dia akan tingkatkan menjadi 8 minggu depan.
Aksi ketujuh: Mengundang Imelda ke kebun percobaan fakultas.
Ini aksi yang tidak mengandung kejahilan sama sekali. Lintang serius. Dia ingin menunjukkan dunianya pada Imelda.
Sabtu pagi, Lintang menjemput Imelda di depan kosnya. Mereka berjalan ke kebun percobaan Fakultas Pertanian yang terletak di belakang kampus.
Di kebun itu, berbagai tanaman tumbuh subur. Ada padi, jagung, kedelai, kacang tanah, dan sayur-sayuran. Beberapa mahasiswa sedang melakukan penelitian. Ada yang mengukur pH tanah, ada yang menyemprot pupuk, ada yang mencatat pertumbuhan tanaman.
"Ini duniamu, Lin," kata Imelda sambil memandangi hamparan hijau.
"Iya. Ini tempat aku belajar. Bukan hanya teori, tapi juga praktek."
"Apa yang kamu tanam di sini?"
"Aku punya plot sendiri di ujung sana. Aku tanam padi varietas lokal yang tahan kekeringan."
Imelda ikut Lintang ke plot itu. Padi-padi yang ditanam Lintang tumbuh subur. Bulirnya mulai berisi.
"Ini hasil kerjamu?"
"Aku dan tim. Tiga orang. Kami uji coba sistem irigasi hemat air."
"Untuk apa?"
"Untuk sawah-sawah di desaku. Sawah tadah hujan. Hanya mengandalkan air hujan. Saat kemarau, padi bisa gagal panen."
Imelda menatap Lintang dengan mata yang berbeda. Mata yang melihat Lintang bukan sebagai si tengil, tapi sebagai seseorang yang punya misi besar.
"Kamu sungguh serius dengan mimpimu, ya, Lin?"
"Sejak kecil. Aku tidak pernah bercanda soal itu."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku... suka padamu."
Lintang terkejut. "Kamu bilang apa?"
"Aku suka padamu. Bukan karena kamu lucu atau tengil. Tapi karena kamu punya mimpi dan kamu berjuang mewujudkannya."
Lintang terdiam. Angin pagi berhembus lembut, menggerakkan bulir-bulir padi. Di kejauhan, burung-burung berkicau.
"Im, aku suka kamu. Sudah dari dulu."
"Aku tahu. Aku hanya butuh waktu untuk memastikan perasaanku. Dan sekarang, di kebun ini, di antara padi-padimu, aku yakin."
Mereka berdiri berhadapan. Jarak hanya satu meter. Lintang tidak tahu harus berkata apa. Ini pertama kalinya dalam hidupnya dia kehabisan kata-kata.
"Kita resmi jadi pacar, Lin?" tanya Imelda.
"Boleh? Apa tidak terlalu cepat?"
"Setelah tujuh aksi konyol yang kamu lakukan? Menyembunyikan sepatu, mengganti pulpen, menyamar jadi kurir, pesan kopi pahit, jualan bakso, nulis puisi aneh, dan ngajak ke kebun percobaan? Aku rasa sudah cukup untuk jadi bukti ketulusanmu."
Lintang tertawa. "Jadi aksi-aksi konyol itu berguna?"
"Sangat berguna. Kamu membuktikan bahwa kamu tidak mudah menyerah."
"Karena kamu berharga, Im. Tidak mudah menyerah pada hal yang berharga."
Imelda maju selangkah. Dia menggenggam tangan Lintang. Genggaman itu hangat. Sederhana. Tapi terasa begitu bermakna.
"Selamat, Lintang. Kamu berhasil menaklukkanku."
"Bukan aku yang menaklukkan, Im. Kamu yang membiarkan dirimu ditaklukkan."
"Dasar tengil. Menang aja bisa filosofis."
Mereka tertawa bersama di tengah kebun percobaan. Bulir-bulir padi bergoyang seolah ikut menari.
Sore harinya, Lintang dan Imelda berjalan bergandengan tangan di sepanjang jalan depan kampus. Bima dan Cici yang melihat dari kejauhan langsung berteriak.
"LIN! I MEL! KALIAN JADIAN?" teriak Bima.
"Sudah resmi?" teriak Cici.
Lintang mengacungkan jempol. Bima dan Cici berlari mendekat, memeluk mereka berdua.
"Akhirnya! Setelah sekian lama kamu ngejar-ngejar, Lin!" kata Bima.
"Sabar ya, Lin," kata Cici. "Imelda itu orangnya sabar. Kamu jangan bikin dia capek dengan ketengilanmu."
"Aku janji akan kurangi ketengilanku," kata Lintang.
"Kurangi? Tidak berhenti?" tanya Imelda.
"Berhenti total itu tidak mungkin, Im. Tapi akan aku kurangi 50 persen. 25 persen untuk situasi darurat. 25 persen sisanya untuk hiburan."
Imelda menghela napas. "Cukup 25 persen untuk hiburan. 75 persen untuk hal-hal serius."
"Deal."
Mereka berjabat tangan. Bima dan Cici tertawa.
"Kalian ini aneh. Negosiasi takaran ketengilan kayak negosiasi bisnis," kata Bima.
"Ini adalah hubungan yang sehat, Bim," kata Imelda. "Saling terbuka. Saling memahami batasan."
Lintang mengangguk. "Pokoknya, aku senang. Imelda senang. Semua senang. Kecuali mungkin para pemilik kumis di fakultas ini. Mereka akan sedikit lega karena ketengilanku berkurang."
"Kamu masih akan menarik kumis?" tanya Cici.
"Sekali-sekali. Untuk menjaga skill. Jangan sampai tumpul."
Imelda mencubit lengan Lintang. "AWAS! Jangan berlebihan!"
"Aku berjanji, Im. Aku akan tanya izin dulu sebelum menarik. Tidak akan sembunyi-sembunyi."
"Itu lebih baik."
Mereka berlima, Lintang, Imelda, Bima, Cici, dan kemudian menyusul Rizki, pergi ke angkringan langganan untuk merayakan.
Di angkringan, Lintang duduk di samping Imelda. Mereka berbagi satu gelas wedang jahe dan satu piring nasi kucing.
"Ini pertama kalinya aku bahagia seperti ini," bisik Lintang.
"Kenapa? Karena punya pacar?"
"Bukan. Karena aku bisa berbagi kebahagiaan dengan seseorang."
Imelda menyandarkan kepalanya di bahu Lintang. "Aku juga bahagia. Kamu orang yang aneh tapi menyenangkan."
"Aneh tapi menyenangkan. Itu bio terbaik yang pernah aku terima."
"Terima kasih sudah tidak menyerah padaku, Lin."
"Aku tidak akan pernah menyerah, Im. Sampai kapan pun."
Malam itu, di angkringan pinggir jalan yang sederhana, dua anak muda yang baru saja resmi menjadi pasangan, tertawa bersama teman-teman mereka. Lampu minyak tanah di meja mereka berkedip-kedip, seolah ikut merayakan.
Di kejauhan, dari arah Fakultas Ilmu Budaya, Imelda bisa mendengar sayup-sayup suara orang membaca puisi. Mungkin itu mahasiswa lain yang sedang jatuh cinta. Atau mungkin itu puisi untuk mereka.
Lintang tidak mendengar suara itu. Tapi dia merasakan sesuatu. Sesuatu yang hangat di dadanya. Sesuatu yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.
"Im, apakah ini yang disebut cinta?"
"Menurutmu bagaimana rasanya?"
"Rasanya seperti... menarik kumis yang paling sempurna. Tapi tanpa perlu menarik. Cukup melihatnya saja sudah bahagia."
Imelda tertawa. "Kamu tetap menghubungkan semuanya dengan kumis."
"Karena itu identitasku, Im. Tapi untukmu, aku rela melepaskan identitas itu."
"Jangan lepaskan. Cukup modifikasi."
"Baik. Aku akan modifikasi. Dari Lintang pencari kumis menjadi Lintang pencari kebahagiaan. Dan kebahagiaanku adalah kamu."
Imelda tersenyum. Dia mengecup pipi Lintang pelan. Lintang membeku. Wajahnya merah.
"Itu pertama kalinya aku dicium," bisik Lintang.
"Simpan baik-baik ingatan itu. Karena tidak akan terulang kalau kamu nakal."
"Aku akan berusaha tidak nakal."
"Berusaha?"
"Baik, aku tidak akan nakal. Setidaknya di depanmu."
Mereka tertawa bersama. Suara tawa itu bergema di malam Jogja yang dingin.
Malam harinya, di kamar kos, Lintang menelepon Prapto.
"Pa, aku punya kabar."
"Kabar apa, Le? Kamu dikeluarkan dari kampus?"
"Bukan, Pa. Aku punya pacar."
Keheningan di ujung telepon selama lima detik.
"KAMU PUNYA PACAR? LINTANG PUNYA PACAR? ANAK TENGIL ITU PUNYA PACAR?" teriak Prapto keras sampai Mariyem yang sedang tidur terbangun.
"Mas, kenapa berisik?"
"Anak kita punya pacar, Yem!"
Mariyem meraih HP dari tangan Prapto. "Le, serius? Kamu punya pacar? Perempuan? Orangnya baik? Tidak sedang jadi korban kejahilanmu?"
"Baik, Ma. Orangnya sabar. Namanya Imelda. Mahasiswi Sastra."
"Sastra? Berarti dia bisa baca puisi?"
"Iya, Ma. Dia suka puisi."
"Wah, cocok. Kamu kan tidak suka puisi. Dia bisa melengkapi kekuranganmu."
"Ma, itu bukan kekurangan. Itu perbedaan."
"Maksudku... ya sudahlah. Yang penting kamu bahagia."
"Aku bahagia, Ma. Sangat bahagia."
Mariyem menangis. Prapto merebut HP kembali.
"Le, bapak bangga. Tapi jangan lupa kuliah. Pacar itu nomor dua. Kuliah nomor satu. Jangan sampai kamu gagal kuliah karena pacaran."
"Aman, Pa. Nilai-nilaiku bagus. Kok belum pernah turun."
"Bagus. Kalau kamu bisa mempertahankan nilai bagus sambil pacaran, berarti kamu hebat."
"Aku sudah hebat sejak lahir, Pa. Buktinya aku bisa kuliah di UGM."
Prapto tertawa. "Iya, Le. Kamu hebat. Tetaplah hebat. Dan jangan lupa... tetap tengil."
"Aku tidak akan pernah lupa, Pa. Tengil itu darahku."
Mereka menutup telepon dengan tawa.
Lintang merebahkan diri di kasur. Dia membuka HP-nya. Ada pesan dari Imelda.
"Selamat malam, Mas Lintang. Jangan lupa tidur. Besok kita ketemu lagi. Aku sudah rindu."
Lintang membalas: "Selamat malam, Mbak Imelda. Aku juga sudah rindu. Tapi rindu itu harus ditahan. Karena besok kita bisa bertemu."
"Kamu bijak. Aku suka."
"Aku juga suka kamu. Selamat malam, Im."
"Selamat malam, Lin. Mimpi indah."
Lintang memejamkan mata. Mimpi indah tidak datang. Yang datang adalah wajah Imelda di sela-sela tidurnya. Itu lebih indah dari mimpi apa pun.
BAB 12
Takluknya Calon Insinyur oleh Calon Sastrawan
Cinta yang Lebih Cerdas dari Tengil
Seminggu sudah Lintang dan Imelda resmi berpacaran. Seminggu itu terasa seperti setahun bagi Lintang, setahun kebahagiaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Setiap pagi ia jemput Imelda di depan kosnya, setiap sore mereka berdua di taman kampus atau di perpustakaan, setiap malam mereka berkirim pesan hingga mata mengantuk.
Tapi ada yang mengganjal di hati Lintang. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang membuatnya terbangun jam dua pagi dan hanya bisa menatap langit-langit kamar.
"Lin, kamu kenapa?" tanya Udin suatu malam saat melihat Lintang duduk di teras kos sendirian.
"Aku mikir, Din."
"Mikir apa?"
"Tentang Imelda."
"Udah jadi pacar, masih dipikirin? Bukannya harusnya senang?"
"Justru karena udah jadi pacar, aku malah mikir. Apa aku layak untuk dia?"
Udin duduk di samping Lintang. "Kenapa kamu merasa tidak layak?"
"Aku cuma anak desa. Orangtuaku petani. Hidup sederhana. Sedangkan Imelda... dia anak guru. Tinggal di kota. Lebih modern. Lebih berwawasan. Dia suka puisi, sastra, hal-hal yang tidak aku pahami."
"Kamu lulusan SMA, bisa kuliah di UGM, punya nilai bagus, juara debat, pintar negosiasi. Itu tidak cukup?"
Lintang menghela napas. "Mungkin tidak cukup untuk seorang sastrawan."
Udin tertawa. "Lin, cinta itu tidak butuh kualifikasi. Cinta itu butuh ketulusan. Dan kamu tulus. Itu sudah cukup."
Lintang tidak menjawab. Dia hanya menatap langit malam yang gelap, berharap bintang-bintang bisa memberinya jawaban.
Esok harinya, Imelda mengajak Lintang menghadiri diskusi sastra malam yang diadakan oleh komunitas sastra kampus. Lokasinya di sebuah warung kopi sederhana di belakang Pasar Bringharjo.
"Lin, kamu mau ikut, kan?" tanya Imelda saat mereka sarapan pagi di kantin fakultas.
"Diskusi sastra? Aku orang pertanian. Aku tahu tentang pupuk, hama, irigasi, dan kumis. Sastra? Aku tidak paham."
"Kamu tidak harus paham. Cukup datang dan mendengarkan."
"Tapi nanti aku akan bosan. Dan kalau bosan, aku bisa melakukan hal-hal yang tidak terkontrol, seperti menarik kumis orang."
Imelda menatap Lintang tajam. "Lin, di diskusi itu tidak akan ada orang berkumis. Semuanya sastrawan. Sastrawan itu rata-rata bersih, tidak punya kumis atau janggut, karena mereka sibuk memikirkan diksi daripada merawat rambut wajah."
Lintang terdiam. "Itu argumen yang kuat. Baiklah, aku ikut."
"Janji tidak akan menarik apa pun dari siapapun?"
"Janji. Tapi kalau ada yang sengaja mendekatkan dagunya ke tanganku, itu di luar tanggung jawabku."
Imelda menghela napas. "Kamu dan disclaimer-mu. Ayo."
Malam itu, Lintang dan Imelda berjalan kaki menuju warung kopi tempat diskusi sastra berlangsung. Warung itu bernama "Kopi Sastra" , papan namanya ditulis dengan kuas cat minyak, bergaya abstrak, sulit dibaca orang awam seperti Lintang.
Di dalam, sekitar dua puluh orang sudah duduk bersila di lantai beralas tikar plastik. Suasana remang-remang dengan lampu bohlam kuning. Bau kopi dan rokok kretek menyatu menjadi aroma khas.
Pak Ridwan, dosen sastra yang menjadi fasilitator diskusi, duduk di depan dengan segelas kopi hitam. Beliau adalah pria paruh baya dengan kumis tipis, sangat tipis, hampir tidak terlihat, yang membuat Lintang kecewa.
"Selamat malam, kawan-kawan," sapa Pak Ridwan. "Malam ini kita akan berdiskusi tentang puisi. Topiknya: 'Puisi sebagai Ruang Perlawanan dan Cinta'."
Lintang berbisik pada Imelda, "Ruang perlawanan? Puisi bisa melawan? Melawan apa?"
"Diam dulu," bisik Imelda.
Pak Ridwan membacakan satu puisi karya Wiji Thukul. Suaranya lantang, penuh penghayatan, kadang berteriak, kadang berbisik. Lintang yang tidak terbiasa dengan seni baca puisi, ikut-ikutan terhanyut meskipun tidak paham setengah dari yang dibacakan.
Setelah pembacaan puisi, giliran peserta diskusi. Mereka saling berargumen tentang makna puisi, tentang konteks sejarah, tentang relevansinya dengan masa kini. Lintang mendengarkan dengan saksama, kadang mengangguk, kadang mengerutkan dahi.
Imelda angkat bicara. "Menurut saya, puisi tidak harus selalu keras. Puisi juga bisa lembut. Seperti puisi Sapardi tentang hujan di bulan Juni. Itu juga bentuk perlawanan, perlawanan terhadap hegemoni sastra yang selalu mengedepankan kemarahan."
Pak Ridwan mengangguk. "Bagus, Mbak Imelda. Mas Lintang, bagaimana pendapat Anda? Sebagai mahasiswa pertanian, tentu Anda punya perspektif berbeda."
Lintang tersentak. Dia tidak menyangka akan ditunjuk. "M-maksud saya, Pak... puisi itu seperti... pupuk?"
Seluruh peserta menoleh. Imelda menutup wajahnya.
"Pupuk?" tanya Pak Ridwan dengan alis terangkat.
"Iya, Pak. Pupuk yang baik adalah pupuk yang tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran. Kalau kelebihan, tanaman keracunan. Kalau kekurangan, tanaman kerdil. Saya kira puisi juga begitu. Tidak boleh kelebihan diksi sampai kehilangan makna. Tidak boleh kekurangan emosi sampai hambar. Harus pas. Seperti pupuk."
Pak Ridwan terdiam. Beberapa peserta mulai tersenyum. Seorang mahasiswa bernama Bayu dengan rambut panjang dan anting, berkata, "Itu analogi paling nyeleneh yang pernah saya dengar. Tapi saya suka. Puisi itu memang harus 'tepat dosis'. Setuju!"
Diskusi berlangsung hangat. Lintang mulai percaya diri. Dia memberi contoh-contoh dari dunia pertanian yang dia hubungkan dengan sastra. Peserta yang tadinya skeptis, mulai tertarik. Pak Ridwan bahkan tertawa beberapa kali.
"Mas Lintang, Anda pintar. Meskipun cara berpikir Anda tidak biasa, tapi Anda mampu membuat analogi yang fresh. Silakan sering-sering ikut diskusi sastra."
"Terima kasih, Pak. Tapi saya tidak janji akan sering. Karena kumis Bapak terlalu tipis, kurang menarik perhatian."
Pak Ridwan bingung. Imelda menarik tangan Lintang. "Lin, jangan!"
"Aku bercanda, Pak. Maaf."
Pak Ridwan tertawa. "Anda ini aneh. Tapi aneh yang menyenangkan. Silakan datang kapan saja."
Usai diskusi, Lintang dan Imelda berjalan pulang menyusuri trotoar yang sepi. Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Lampu jalan menerangi langkah mereka.
"Kamu tadi luar biasa, Lin," kata Imelda sambil menggandeng tangan Lintang.
"Luar biasa karena hampir bilang ke Pak Ridwan soal kumisnya?"
"Bukan. Karena kamu berani bicara di forum yang tidak kamu kuasai. Itu keberanian."
"Aku selalu berani, Im. Sejak lahir."
"Tapi keberanianmu dulu hanya untuk menarik kumis. Sekarang keberanianmu untuk belajar hal baru."
"Karena kamu, Im. Kamu membuatku ingin jadi lebih baik."
Imelda tersenyum. Dia menggenggam tangan Lintang lebih erat.
"Lin, aku mau bacakan puisi untukmu."
"Sekarang? Di tengah jalan?"
"Iya. Puisi pendek. Buatanku sendiri."
Imelda berhenti berjalan. Dia menatap Lintang lama. Lalu dia membaca:
"Dulu kamu mencari kumis di setiap wajah,
karena kumis adalah caramu mengatakan aku ada.
Sekarang kamu berhenti mencari
karena kamu sudah menemukan
seseorang yang melihatmu
bukan karena kumismu yang tidak ada,
tapi karena hatimu yang selalu ada."
Lintang terdiam. Udara malam terasa hangat meskipun dingin. Air matanya menetes, untuk kedua kalinya di depan orang lain (pertama kali adalah saat Imelda membacakan puisi di diskusi sastra beberapa pekan lalu, yang membuatnya menangis).
"Im, aku..."
"Jangan bilang apa-apa. Cukup rasakan."
Lintang memeluk Imelda. Pelukan yang lama. Pelukan yang tidak ingin dilepaskan. Pelukan yang membuat semua kegelisahan tentang kelayakan diri sirna.
"Aku cinta kamu, Im."
"Aku juga cinta kamu, Lin. Dengan segala ketengilanmu."
Mereka berpelukan di tengah trotoar sepi, diterangi lampu jalan yang remang. Tidak ada saksi kecuali bulan yang bersembunyi di balik awan dan bintang-bintang yang ikut tersenyum.
Pagi berikutnya, Lintang tiba di fakultas dengan langkah lebih ringan. Bima, Cici, dan Rizki langsung mengerumuninya.
"Lin, kabarnya kamu ikut diskusi sastra semalam?" tanya Bima.
"Kabar cepat sekali."
"Istri Mas Pri tahu dari Mbak Endang pegawai perpustakaan yang pacarnya tukang fotokopi yang adiknya temannya sepupunya Lita yang ikut diskusi itu."
"Aku tidak paham dengan alur informasimu, Bim. Tapi intinya: iya, aku ikut."
"GILA! Kamu anak pertanian ikut diskusi sastra! Dunia kiamat!" teriak Cici.
"Tenang, Ci. Aku hanya mendengarkan. Tidak banyak bicara."
"Tidak banyak bicara? Kamu?" Rizki tertawa.
"Oke, aku bicara. Tapi cuma sedikit. Analogi pupuk."
"Apa itu analogi pupuk?" tanya Bima.
"Cerita panjang. Nanti saja. Sekarang aku mau kuliah."
Lintang meninggalkan mereka yang masih bengong.
Di sela-sela perkuliahan, Lintang mendapat pesan dari Imelda: "Lin, sore ini ada acara baca puisi terbuka di taman budaya. Aku akan tampil. Kamu mau datang?"
Lintang membalas: "Mau. Aku akan datang. Jangan lupa puisi untukku."
"Rahasia. Nanti lihat sendiri."
Lintang tersenyum sendiri di kelas. Bu Ken yang sedang menjelaskan sosiologi pertanian sampai berhenti bicara.
"Mas Lintang, ada yang lucu?"
"Tidak, Bu. Saya hanya senang."
"Senang karena? Karena nilai ujian bagus?"
"Lebih dari itu, Bu. Senang karena hidup ini indah."
Bu Ken mengerjap. "Kamu benar-benar berbeda hari ini. Dulu kamu hanya bicara soal kumis. Sekarang bicara soal keindahan hidup. Ada apa?"
"Aku jatuh cinta, Bu."
Seluruh kelas berdecak. Bima bersiul. Cici bertepuk tangan. Bu Ken tersenyum.
"Selamat, Mas Lintang. Semoga cintamu membawa kebaikan."
"Terima kasih, Bu. Doakan saya."
Sore harinya, Lintang tiba di taman budaya. Taman itu terletak di pusat kota Jogja, dikelilingi oleh pepohonan rindang dan bangku-bangku taman. Sebuah panggung kecil didirikan di tengah, dengan mikrofon dan sound system sederhana.
Sekitar lima puluh orang hadir. Ada mahasiswa, seniman, sastrawan, dan masyarakat umum. Lintang duduk di barisan depan, dekat panggung.
Imelda tampil sebagai pembaca puisi ketiga. Dia naik ke panggung dengan tenang, membawa buku puisi kecil di tangannya. Dia melihat ke arah Lintang, tersenyum, lalu mulai membaca.
Judul puisi: "Untuk Insinyur Pencari Kumis"
Kumis bukanlah tujuan,
tapi cara untuk mengukur seberapa jauh engkau berlari
menjauhi rasa takutmu sendiri.
Engkau pikir dengan menarik kumis,
orang akan melihatmu.
Padahal engkau hanya ingin dilihat
sebagai seseorang yang berarti.
Sekarang, berhentilah menarik.
Karena aku sudah melihatmu.
Bukan kumisku, karena aku tak punya.
Tapi hatimu yang selama ini engkau sembunyikan
di balik tawa dan kejahilan.
Lintang, engkau sudah cukup kuat.
Engkau tidak perlu terus menjadi si tengil
untuk dilindungi.
Aku di sini.
Akan selalu di sini.
Bersama segala ketengilanmu,
atau tanpanya.
Lintang menangis. Untuk ketiga kalinya di depan umum, tapi kali ini tidak ada yang menertawakannya. Beberapa penonton lain juga menangis. Seorang ibu-ibu di sampingnya menyodorkan tisu.
"Kamu pacarnya, Mas?" bisik ibu itu.
"Iya, Bu."
"Puisi itu untukmu?"
"Iya, Bu."
"Beruntung sekali kamu. Perempuan ini tulus."
Lintang mengangguk. Dia tidak bisa berkata-kata.
Imelda turun dari panggung. Dia berjalan mendekati Lintang. Wajahnya berseri, matanya berkaca-kaca.
"Bagaimana?" tanya Imelda.
Lintang memeluknya di depan semua orang. "Aku tidak tahu harus bilang apa. Aku hanya... terima kasih, Im."
"Terima kasih untuk apa?"
"Untuk melihat aku. Bukan si tengil. Tapi Lintang."
Mereka berpelukan lama. Beberapa orang bertepuk tangan. Ibu-ibu tadi menangis lagi.
Malam harinya, di warung angkringan langganan, Lintang dan Imelda duduk berdua. Segelas wedang jahe dan sepiring nasi kucing menemani obrolan mereka.
"Im, aku ingin berubah," kata Lintang.
"Berubah menjadi apa?"
"Menjadi Lintang yang lebih baik. Tidak terlalu tengil. Tidak terlalu usil. Lebih serius. Lebih dewasa."
Imelda menyesap wedang jahenya. "Kamu tidak perlu berubah drastis, Lin. Cukup kurangi sisi negatifnya, pertahankan sisi positifnya. Tengil yang positif itu lucu dan menginspirasi. Tengil yang negatif itu menyebalkan."
"Apa bedanya?"
"Tengil positif: menjahili orang dengan cara yang tidak merugikan, bahkan bisa membuat mereka tersenyum. Contoh: menyembunyikan pulpen lalu mengembalikan dengan coklat. Tengil negatif: menjahili orang sampai mereka menangis. Contoh: menarik rambut Bu Kasiyati zaman SD dulu."
"Kalau menarik kumis?"
"Itu tergantung. Kalau menarik pelan dan minta izin, masih bisa ditolerir. Kalau menarik keras tanpa izin, itu negatif."
Lintang mengangguk. "Aku catat."
"Kamu sungguh akan berubah?"
"Aku akan mencoba. Tapi bantu aku, Im."
"Aku akan bantu. Tapi ingat, perubahan butuh proses. Jangan paksakan diri. Lakukan secara alami."
"Baik. Mulai besok, aku akan menjadi Lintang versi 2.0."
"Versi apa itu?"
"Lintang yang lebih tenang, lebih bijak, lebih tidak terlalu sering menarik kumis."
"Setiap hari kumis?"
"Setiap dua hari sekali."
Imelda tertawa. "Kamu benar-benar tidak bisa lepas dari kumis, ya?"
"Itu sudah jadi DNA-ku, Im. Susah dihilangkan."
Mereka tertawa bersama. Angkringan yang ramai dengan pengunjung lain menjadi saksi kebahagiaan sederhana mereka.
Dua minggu berlalu. Lintang mulai menunjukkan perubahan. Dia tidak lagi mencari-cari kumis di setiap kesempatan. Dia lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Dia lebih sering tersenyum daripada mencibir.
Bima dan Cici terkejut.
"Lin, kamu kenapa? Kok baik banget belakangan ini?" tanya Bima.
"Aku sedang dalam proses perbaikan diri."
"Perbaikan diri? Kamu mau jadi robot?"
"Bukan. Aku mau jadi manusia yang lebih baik. Untuk Imelda."
Cici tersenyum. "Cinta memang mengubah seseorang. Kamu bukti nyata."
"Aku tidak berubah total, Ci. Aku masih suka menarik kumis. Tapi sekarang minta izin dulu."
"Kalau dapat izin?"
"Ya saya tarik."
"Kalau ditolak?"
"Saya cari kumis lain."
"Jadi tidak berubah, dong."
"Berubah dikit. Yang penting niat."
Bima dan Cici tertawa.
Suatu sore, Lintang dan Imelda berjalan di sepanjang jalan Kaliurang yang teduh. Pepohonan besar di kiri kanan membuat udara terasa sejuk. Beberapa mahasiswa bersepeda santai.
"Lin, aku senang dengan perubahanmu," kata Imelda.
"Aku juga senang. Rasanya lega."
"Lega karena?"
"Karena aku tidak perlu berpura-pura menjadi orang yang aku tidak ingin menjadi."
"Selama ini kamu berpura-pura?"
"Sedikit. Aku pikir dengan menjadi tengil, aku akan diingat. Ternyata, menjadi diri sendiri lebih mudah."
Imelda menggenggam tangan Lintang. "Kamu hebat, Lin. Tidak semua orang bisa introspeksi seperti kamu."
"Aku belajar dari puisi-puisimu. Puisi itu mengajarkanku untuk jujur pada diri sendiri."
"Puisi hanya alat. Yang utama adalah hatimu."
Lintang berhenti berjalan. Dia menatap Imelda dengan mata yang serius, seserius saat dia berdebat di lomba nasional dulu.
"Im, aku ingin bilang sesuatu."
"Silakan."
"Aku mencintaimu. Bukan karena kamu cantik atau pintar. Tapi karena kamu membuatku ingin menjadi versi terbaik dari diriku."
Imelda tersenyum. "Aku juga mencintaimu, Lin. Bukan karena kamu jenius atau lucu. Tapi karena kamu berani berubah demi orang yang kamu cintai."
Mereka berpelukan di tengah jalan yang sepi. Daun-daun berguguran tertiup angin sore. Di kejauhan, Gunung Merapi tampak gagah dengan awan putih di puncaknya.
Malam harinya, Lintang menelepon Mbah Waginem. Beliau sudah sangat tua, tapi suaranya masih jelas.
"Mbah, saya Lintang."
"Le Lintang. Kabar apa? Masih suka menarik kumis?"
"Masih, Mbah. Tapi sekarang minta izin dulu."
Mbah Waginem tertawa. "Bagus. Ada perkembangan."
"Mbah, saya sudah bertemu dengan orang yang Mbah maksud dulu."
"Siapa?"
"Imelda. Mahasiswi Sastra."
"Itu dia. Apakah dia menaklukkanmu?"
"Iya, Mbah. Saya takluk."
"Bagaimana rasanya takluk?"
"Enak, Mbah. Aku tidak perlu berpura-pura kuat."
Mbah Waginem terdiam beberapa saat. Kemudian beliau berkata, "Kamu sudah dewasa, Le. Aku bangga."
"Terima kasih, Mbah. Doakan saya."
"Selalu. Sekarang, tidurlah. Besok kuliah lagi."
"Iya, Mbah. Selamat malam."
"Selamat malam, Le Lintang. Jangan lupa, jaga Imelda baik-baik. Perempuan seperti dia langka."
"Aku akan menjaga, Mbah. Janji."
Telepon ditutup. Lintang merebahkan diri di kasur. Dia membuka pesan dari Imelda.
"Lin, terima kasih untuk hari ini. Aku bahagia."
"Aku juga bahagia, Im. Tidur yang nyenyak."
"Kamu juga. Mimpi indah."
"Mimpiku adalah kamu. Jadi pasti indah."
"Gombal. Tapi aku suka. Selamat malam, Lin."
"Selamat malam, Im. I love you."
"I love you too, my tengil engineer."
Lintang tersenyum. Dia memejamkan mata. Wajah Imelda muncul di sela-sela kelopaknya.
"Imelda Yuliana," bisik Lintang. "Kau berhasil menaklukkan si tengil. Selamat."
Dia tertawa kecil, lalu tertidur dengan damai.
BAB 13
Gaya Tengil Positif ala Lintang
Tertawa, Membantu, dan Tak Merugikan
Dua bulan sudah Lintang dan Imelda berpacaran. Dua bulan juga Lintang menjalani "program perubahan diri" dari Lintang versi 1.0 (tengil negatif) menjadi Lintang versi 2.0 (tengil positif). Hasilnya? Cukup memuaskan. Dia tidak lagi dipanggil ke ruang BK. Catatan pelanggarannya di fakultas kosong melompong. Dosen-dosen mulai melihatnya sebagai mahasiswa berprestasi, bukan biang kerok.
Tapi Imelda masih belum sepenuhnya puas.
“Lin, kamu masih suka nyelipin kata 'kumis' di setiap kesempatan,” kata Imelda suatu pagi di kantin Fakultas Ilmu Budaya.
“Itu bumbu, Im. Tanpa kata 'kumis', hidupku hambar.”
“Hidupmu tidak akan hambar. Kamu masih punya aku. Aku lebih manis dari kumis.”
Lintang tertawa. “Kamu membandingkan diri dengan kumis? Itu aneh.”
“Kamu yang lebih aneh. Siapa lagi yang punya pacar tapi masih terobsesi dengan kumis?”
“Banyak. Di desaku, hampir semua laki-laki dewasa punya kumis. Istri-istri mereka juga terobsesi. Tapi dalam bentuk lain.”
“Bentuk apa?”
“Mereka suka merapikan kumis suami. Itu bentuk obsesi yang halus.”
Imelda menggeleng-geleng. “Aku tidak akan pernah merapikan kumismu.”
“Aku juga tidak punya kumis, Im.”
“Itu lebih parah. Kamu terobsesi pada sesuatu yang tidak kamu miliki.”
Lintang mengerjap. “Itu... argumen yang bagus. Aku kalah.”
“Ini bukan debat, Lin. Ini diskusi santai.”
“Bagiku, semua percakapan adalah debat. Tapi kali ini aku mengaku kalah.”
Imelda tersenyum puas. Dia berhasil membuat Lintang mengaku kalah, sesuatu yang tidak mudah.
Selesai kuliah, Lintang diajak oleh Bima dan Rizki untuk ikut kegiatan pengabdian masyarakat. Fakultas Pertanian mengirim beberapa mahasiswa ke desa di daerah Kaliurang untuk mengajarkan teknik pertanian modern.
“Lin, kamu ikut, kan?” tanya Bima.
“Ikut. Aku sudah lama tidak turun ke sawah. Kangen.”
“Kamu kangen sawah? Atau kangen menarik kumis petani?”
“Dua-duanya, Bim. Sawah adalah rumah keduaku. Kumis adalah koleksiku.”
Bima tertawa. Rizki hanya geleng-geleng.
Di desa Kaliurang, Lintang dan rombongan disambut oleh Pak Kades Paiman kepala desa setempat yang ramah dan memiliki kumis tebal model komandan. Lintang langsung fokus.
“Selamat datang, Mas-Mas dari Fakultas Pertanian,” sapa Pak Salam.
Lintang mengulurkan tangan. “Terima kasih, Pak. Saya Lintang. Maaf sebelumnya, kumis Bapak sangat menarik.”
Pak Paiman mengerjap. “Menarik? Maksudmu?”
“Secara visual. Sangat rapi. Apakah Bapak merawatnya dengan minyak khusus?”
Bima menarik lengan Lintang. “Lin, jangan!”
Pak Paiman tertawa. “Anak ini lucu. Ya, saya pakai minyak kelapa setiap malam. Itu warisan orang tua.”
“Boleh saya... menyentuh? Sebagai apresiasi?”
“Silakan.”
Lintang mengulurkan tangan. Imelda yang kebetulan ikut (dia ingin melihat langsung kegiatan Lintang di desa) langsung menepis tangan Lintang. “Lin! Jangan!”
“Aku hanya menyentuh, Im. Janji tidak menarik.”
“PEGANGAN JANGAN!”
Lintang menghela napas. “Baik. Saya cukup melihat dari kejauhan.”
Pak Paiman tertawa lagi. “Calon istri Mas Lintang ini tegas ya.”
“Belum calon istri, Pak. Masih calon sesuatu,” kata Imelda.
“Calon apa?”
“Calon yang sabar menghadapi ketengilan dia.”
Semua tertawa. Suasana menjadi hangat.
Kegiatan dimulai. Lintang dan timnya mengunjungi sawah-sawah warga yang menggunakan sistem irigasi tradisional. Mereka memberi penyuluhan tentang sistem irigasi tetes yang hemat air.
Mbah Joyo, petani tua berusia 70 tahun dengan janggut putih panjang, skeptis dengan metode baru.
“Mas Lintang, saya sudah bertani 50 tahun dengan cara turun-temurun. Tidak perlu teknologi-teknologi baru.”
Lintang tidak marah. Dia mendekati Mbah Joyo dengan sabar.
“Mbah, saya petani juga. Orang tua saya petani. Kakek saya petani. Saya tahu persis bagaimana rasanya gagal panen karena kemarau panjang. Saya tidak ingin Mbah mengalami itu lagi.”
“Tapi sistem ini rumit. Pipa-pipa, selang-selang. Saya tidak paham.”
“Mbah tidak perlu paham. Mardi, anak Mbah, yang akan mengoperasikan. Mbah cukup panen dan tersenyum.”
Mbah Joyo menatap Lintang lama. “Kamu yakin ini berhasil?”
“Saya sudah uji coba di kebun percobaan kampus. Hasilnya, produksi padi naik 30 persen dengan air yang sama.”
“30 persen? Besar sekali.”
“Iya, Mbah. Coba dulu di satu petak. Kalau gagal, saya yang ganti rugi.”
Mbah Joyo terkejut. “Berani kamu jamin?”
“Berani. Saya anak petani. Saya tidak akan merugikan petani lain.”
Mardi, anak Mbah Joyo yang lebih muda dan terbuka, mendukung Lintang. “Bapak, saya setuju dicoba. Saya sudah dengar sistem ini berhasil di desa lain.”
Mbah Joyo menghela napas. “Baiklah. Satu petak. Tapi kalau gagal, Mas Lintang yang bertanggung jawab.”
“Siap, Mbah. Janggut Mbah juga saya jamin tidak akan saya tarik selama proses uji coba.”
Mbah Joyo bingung. “Apa hubungannya janggutku dengan irigasi?”
“Tidak ada, Mbah. Itu hanya bonus.”
Sepanjang hari, Lintang dan timnya memasang sistem irigasi tetes sederhana di sawah milik Mbah Joyo. Mereka menggunakan selang-selang kecil yang dilubangi dengan jarak tertentu, lalu dialiri air dari bak penampung.
Imelda membantu mencatat data dan mendokumentasikan proses. Dia tidak mengerti teknisnya, tapi dia senang melihat Lintang bekerja dengan penuh dedikasi.
“Lin, kamu serius banget kalau sudah di sawah,” kata Imelda sambil menyeka keringat.
“Ini panggilanku, Im. Aku tidak akan main-main.”
“Aku suka melihatmu seperti ini.”
“Aku juga suka melihatmu seperti ini.”
“Seperti apa?”
“Telaten. Sabar. Mau membantu meskipun tidak paham.”
Imelda tersenyum. “Itu namanya pacar yang baik.”
“Kamu lebih dari pacar. Kamu partner.”
Mereka berdua tersenyum meskipun tubuh penuh lumpur dan keringat.
Sore harinya, instalasi selesai. Air mulai mengalir melalui selang-selang kecil ke akar tanaman padi. Mbah Joyo mengamati dengan seksama.
“Airnya merata,” kata Mbah Joyo takjub. “Tidak ada yang terbuang.”
“Iya, Mbah. Ini yang namanya irigasi tetes. Air langsung ke akar. Tidak menguap. Tidak menggenangi sawah.”
“Ini luar biasa. Aku baru lihat.”
“Masih banyak yang akan Mbah lihat. Sistem ini bisa dikombinasikan dengan pupuk cair. Pupuk juga langsung ke akar. Efisien.”
Mbah Joyo memandang Lintang dengan mata yang berbeda. Mata hormat. Mata yang dulu hanya ia berikan pada tokoh-tokoh besar.
“Mas Lintang, kamu ini hebat. Masih muda, sudah punya pengetahuan.”
“Pengetahuan tanpa praktek hanya teori, Mbah. Saya belajar dari kakek saya, dari ayah saya, dari para petani seperti Mbah.”
Mbah Joyo tersenyum. Dia mengulurkan tangan. Lintang menjabat.
“Kalau sistem ini berhasil, saya akan ajak seluruh desa menggunakannya.”
“Saya bantu, Mbah. Gratis. Saya senang bisa berkontribusi.”
Mardi yang mendengar itu hampir menangis. Dia sudah lama ingin mengubah cara bertani keluarganya, tapi tidak punya keberanian. Lintang datang dan memberi solusi.
Pada malam harinya, rombongan Fakultas Pertanian menginap di rumah Pak Kades. Mereka berkumpul di ruang tamu yang sederhana, bercerita tentang berbagai hal.
Pak Kades mengeluarkan kopi dan pisang goreng buatan istrinya, Bu Hesti.
“Mas Lintang, saya dengar dari Mbah Joyo bahwa Anda anak petani dari Gunung Kidul,” kata Pak Kades.
“Iya, Pak. Desa Sawahan. Kecil. Jauh dari mana-mana.”
“Tapi Anda bisa kuliah di UGM. Itu prestasi luar biasa.”
“Bukan prestasi, Pak. Itu perjuangan orang tua. Saya hanya menjalankan amanah.”
Bu Hesti yang mendengar ikut nimbrung. “Mas Lintang, Anda sudah punya pacar? Yang tadi siang ikut ke sawah? Cantik itu.”
Lintang tersenyum. “Iya, Bu. Itu Imelda.”
“Wah, cocok. Sampe-sama baik hati.”
“Terima kasih, Bu.”
Imelda yang duduk di samping Lintang hanya tersenyum malu.
Pak Kades kemudian bercerita tentang desanya, tentang masalah irigasi yang sudah puluhan tahun tidak terselesaikan, tentang sawah-sawah yang mengering setiap kemarau, tentang petani-petani yang pindah profesi karena putus asa.
Lintang mendengarkan dengan saksama. Matanya serius.
“Pak Kades, saya ingin membantu. Saya sedang mengerjakan skripsi tentang sistem irigasi hemat air untuk lahan tadah hujan. Desa Bapak bisa jadi lokasi penelitian saya. Tentu dengan izin warga.”
Pak Kades terkejut. “Serius, Mas?”
“Serius. Saya sudah berbicara dengan dosen pembimbing. Beliau mendukung.”
“Ini luar biasa. Desa kami akan sangat terbantu.”
“Tapi ada satu syarat, Pak.”
“Syarat apa?”
Lintang tersenyum tengil, tengil positif versi terbarunya. “Bapak harus mengizinkan saya menarik kumis Bapak sekali, sebagai tanda jadi.”
Pak Kades tertawa keras. Bu Hesti ikut tertawa. Imelda mencubit lengan Lintang.
“LIN!”
“Bercanda, Pak. Tenang. Saya tidak akan menarik kumis Bapak. Itu hanya bumbu.”
Pak Kades masih tertawa. “Anak ini lucu. Saya setuju. Kumis saya boleh ditarik kapan saja.”
“Tidak usah, Pak. Saya sudah berjanji pada Imelda untuk mengurangi kebiasaan itu.”
Imelda tersenyum lega. Dia menggenggam tangan Lintang di bawah meja.
Minggu berikutnya, di kampus, Lintang mulai dikenal sebagai "mahasiswa pertanian yang suka nolong petani dengan cara kocak". Video Lintang memasang sistem irigasi sambil bercanda dengan Mbah Joyo direkam oleh mahasiswa lain dan viral di media sosial kampus.
Dimas Adi, mahasiswa ilmu komunikasi yang kebetulan ikut dokumentasi, mengunggah video itu dengan judul: "Insinyur Tengil dan Kakek Janggut: Irigasi Tetes Jadi Lucu" .
Video itu ditonton ribuan kali. Komentar berdatangan.
"Ini dosen atau mahasiswa? Kocak banget."
"Baru pertama kali lihat penyuluhan pertanian sambil bercanda."
"Gue jadi tertarik belajar pertanian."
"Si tengil ini jenius. Cara edukasinya nyentrik tapi efektif."
"Kumis dan janggut jadi alat edukasi. Kreatif."
Mas Wawan, pengelola media sosial fakultas, menghubungi Lintang.
“Lin, video kamu viral. Banyak yang minta kamu bikin konten edukasi pertanian dengan gaya yang sama.”
Lintang mengerjap. “Konten? Aku bukan youtuber, Mas.”
“Tapi kamu punya bakat. Kamu bisa membuat orang tertawa sambil belajar. Itu langka.”
“Aku hanya menjadi diriku sendiri, Mas.”
“Itu yang membuatmu unik. Coba pikirkan. Konten pertanian yang membosankan bisa kamu sulap jadi menarik.”
Lintang berpikir. Dia lalu menatap Imelda yang duduk di sampingnya.
“Im, apa pendapatmu?”
“Coba saja, Lin. Tapi jangan terlalu fokus pada kumis. Kumis hanya bumbu, bukan bahan utama.”
“Bahan utamanya pertanian. Bumbunya humor. Di dalam humor itu ada ketengilan.”
“Kendalikan.”
“Akan kukendalikan.”
Lintang pun memulai konten pertamanya. Durasi tiga menit. Dia berdiri di kebun percobaan sambil memegang selang irigasi.
"Halo, saya Lintang, mahasiswa pertanian UGM. Hari ini saya akan menunjukkan cara memasang irigasi tetes. Irigasi tetes itu seperti... memberi minum kumis. Kumis itu kalau dikasih air sedikit, dia tetap tebal. Kalau kebanyakan, dia lembek. Sama seperti tanaman. Jangan kebanyakan air. Nanti lembek. Jadi, ikuti caranya: lubangi selang dengan jarak seperti jarak kumis ke kumis. Jangan terlalu rapat, nanti rebutan air. Jangan terlalu renggang, nanti ada yang haus."
Video itu viral lagi. Fakultas Pertanian mendapat pujian dari rektor. Dinas Pertanian Kabupaten Sleman meminta Lintang menjadi narasumber di acara penyuluhan.
Imelda yang melihat perkembangan itu bangga sekaligus khawatir.
“Lin, kamu terkenal. Jangan lupa diri.”
“Aku tidak akan lupa diri, Im. Aku tetap Lintang dari Sawahan. Anak petani. Pencari kumis.”
“Sekarang bukan pencari kumis lagi. Pencari solusi pertanian.”
“Itu sekaligus. Soal kumis dan solusi bisa berjalan beriringan.”
Imelda menghela napas. “Kamu tidak pernah berubah, ya?”
“Berubah dikit. Dulu aku menarik kumis tanpa izin. Sekarang minta izin dulu. Itu perubahan besar.”
“Perubahan besar lainnya?”
“Aku jadi punya pacar. Sebelumnya tidak.”
Imelda tersenyum. “Itu perubahan paling besar. Selamat.”
“Terima kasih. Kamu juga selamat sudah berhasil menaklukkan si tengil.”
Mereka tertawa bersama.
Di sela-sela kesibukan kuliah dan konten, Lintang tetap menjalani rutinitas sebagai mahasiswa biasa. Dia belajar, mengerjakan tugas, dan sesekali menjahili Imelda dengan cara yang tidak merugikan.
Suatu hari, dia menyembunyikan coklat di dalam buku puisi yang sedang Imelda baca.
Imelda menemukan coklat itu saat membuka halaman tengah. “Lin, ini kamu?”
“Iya. Coklat kesukaanmu.”
“Kamu tahu aku suka coklat?”
“Aku tahu segalanya tentang kamu. Termasuk ukuran sepatu, merek sampo, dan lagu favoritmu waktu SMA.”
“Lagu favoritku waktu SMA apa?”
“'Kisah Romantis' oleh Glenn Fredly.”
Imelda terkejut. “Kamu benar. Dari mana kamu tahu?”
“Dari Sari. Temanmu. Aku minta info. Sari minta bayaran satu bakso.”
“LINTANG! Kamu menyogok temanku?”
“Bukan menyogok. Itu transaksi informasi. Sari butuh bakso. Aku butuh data. Win-win solution.”
Imelda menggeleng-geleng. “Kamu benar-benar tidak bisa lepas dari cara-caramu yang aneh.”
“Tapi kamu tetap suka, kan?”
Imelda tersenyum. “Iya. Aku tetap suka.”
Konten Lintang semakin dikenal. Bukan hanya di lingkungan kampus, tapi juga di kalangan petani. Banyak petani dari berbagai daerah menghubunginya melalui media sosial, meminta saran tentang masalah pertanian mereka.
Lintang membantu semampunya. Jika tidak tahu jawabannya, dia bertanya pada dosen atau mencari di jurnal ilmiah.
Pak Kuswanto, petani milenial dari Temanggung, datang ke Jogja khusus untuk bertemu Lintang.
“Mas Lintang, saya penggemar konten Bapak. Saya ingin belajar lebih banyak tentang hidroponik.”
Lintang menerima Pak Kuswanto dengan hangat. Mereka ngobrol di kantin fakultas selama dua jam. Lintang menjelaskan dasar-dasar hidroponik dengan gaya sederhana dan lucu.
“Pak Kuswanto, hidroponik itu seperti... merawat kumis. Tidak pakai tanah. Pakai air. Kalau kumis butuh minyak rambut, tanaman hidroponik butuh nutrisi. Sama-sama butuh perawatan. Bedanya, kumis tidak bisa panen. Tanaman bisa.”
Pak Kuswanto tertawa. “Kiasan Bapak selalu unik.”
“Itu cara saya agar orang mudah ingat.”
“Saya akan praktekkan di kebun saya. Terima kasih, Mas Lintang.”
“Sama-sama. Tolong sebarkan ke petani lain. Saya tidak bisa ke mana-mana sendirian. Butuh banyak tangan untuk memajukan pertanian kita.”
Pak Kuswanto mengangguk mantap. “Saya bantu sebarkan.”
Di sisi lain, keberhasilan Lintang menarik perhatian tidak hanya positif. Rama, mahasiswa dari fakultas lain, mencoba meniru gaya Lintang. Tapi dia tidak paham esensinya. Dia hanya meniru bagian luar: bicara kocak, membuat konten, dan, yang paling parah, menarik kumis orang tanpa izin.
Rama viral karena dia menarik kumis dosennya di tengah kuliah. Bukan karena edukasi, tapi karena iseng. Akibatnya, Rama dipanggil BK, diskors dua minggu, dan diminta membuat video permintaan maaf.
Lintang mendengar kabar itu dari Bima.
“Lin, ada mahasiswa yang nyoba jadi sepertimu. Gagal total.”
“Siapa?”
“Rama. Fakultas Ekonomi.”
“Kenapa gagal?”
“Dia menarik kumis dosen tanpa izin. Alasannya: 'Ikut-ikutan Lintang.'”
Lintang menghela napas. “Itu bukan meniru. Itu memfitnah. Aku tidak pernah merekomendasikan menarik kumis tanpa izin.”
“Tapi reputasimu jadi tercemar sedikit. Banyak orang yang tidak tahu bedanya antara gayamu dengan gaya Rama.”
Lintang berpikir. Ini masalah serius. Reputasi yang sudah dibangun dengan susah payah bisa rusak dalam sekejap.
Dia memutuskan untuk membuat konten klarifikasi.
Video itu berjudul: "Tengil Positif vs Tengil Negatif: Bedanya?"
Di video itu, Lintang menjelaskan perbedaannya dengan gamblang.
“Tengil positif: membuat orang tertawa tanpa membuat mereka sakit. Tengil negatif: membuat orang sakit lalu tertawa sendiri. Aku Lintang, tengil positif. Rama dan siapa pun yang meniru gaya menarik kumis tanpa izin, itu tengil negatif. Jangan samakan. Juga, aku tidak pernah mengajak siapa pun untuk menarik kumis dosen. Itu bunuh diri akademik. Jadi, yang mau belajar pertanian dengan gaya kocak, silakan subscribe channel ini. Yang mau menarik kumis tanpa izin, silakan siap-siap dipanggil BK.”
Video itu ditonton 50 ribu kali dalam waktu 24 jam. Komentar mendukung Lintang hampir semua.
"Luruskan yang bengkok, Lin."
"Tetap jadi diri sendiri. Jangan dirusak oleh peniru."
"Tengil positif FTW!"
"Rama minta maaf saja, sana."
Rama akhirnya meminta maaf secara terbuka. Lintang menerima permintaan maaf itu.
“Rama, tidak apa-apa. Silakan belajar dari kesalahan. Tapi jangan ulangi. Kumis orang itu bukan mainan.”
Rama mengangguk malu-malu. “Maaf, Lin. Aku salah mengartikan gayamu.”
“Gayaku bukan soal menarik kumis. Gayaku adalah mengedukasi dengan cara yang tidak membosankan. Itu esensinya. Paham?”
“Paham. Terima kasih.”
Lintang dan Rama berjabat tangan. Konflik selesai dengan damai.
Dosen-dosen Fakultas Pertanian semakin menghargai Lintang. Bu Titi, dosen pembimbing skripsinya nanti, bahkan memuji Lintang di depan kelas.
“Mas Lintang adalah contoh mahasiswa yang mampu mempopulerkan ilmu pertanian dengan cara yang kreatif. Dia tidak hanya pintar, tapi juga peduli. Saya berharap kalian semua bisa terinspirasi.”
Lintang tersenyum malu. Bima bersiul. Cici bertepuk tangan. Rizki mengacungkan jempol.
Malam itu, Lintang dan Imelda berjalan di taman kampus. Langit cerah dengan bintang-bintang yang terlihat jelas.
“Lin, kamu hebat. Kamu berhasil mengubah ketengilan menjadi kekuatan.”
“Aku hanya menjadi diriku sendiri, Im. Tidak lebih.”
“Tapi dirimu itu istimewa. Tidak banyak orang yang bisa seperti kamu.”
Lintang berhenti berjalan. Dia menatap Imelda.
“Kamu juga istimewa, Im. Tanpa kamu, aku mungkin masih menjadi Lintang versi 1.0. Tengil negatif yang menyebalkan.”
“Kamu yang memilih berubah. Aku hanya memberikan sedikit dorongan.”
“Dorongan yang sangat berarti.”
Imelda tersenyum. Dia mengecup pipi Lintang.
“Aku sayang kamu, Lin.”
“Aku juga sayang kamu, Im. Sampai kapan pun.”
Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang. Angin malam berhembus lembut, membawa wangi bunga dari taman kampus.
Di kejauhan, dari arah Fakultas Ilmu Budaya, terdengar suara sayup-sayup orang membaca puisi. Mungkin puisi tentang cinta. Mungkin puisi tentang perjuangan. Atau mungkin puisi tentang seorang insinyur tengil yang jatuh cinta pada seorang sastrawan sabar.
Apapun itu, Lintang tidak peduli.
Yang dia peduli hanya satu: Imelda ada di sampingnya. Dan itu cukup.
BAB 14
Mengejar Cinta Imelda Yuliana
Kisah Gombal Tengil yang Tak Biasa
Tiga bulan sudah Lintang dan Imelda berpacaran. Tiga bulan itu terasa seperti tiga hari bagi Lintang, terlalu cepat, terlalu indah, terlalu banyak hal yang ingin ia abadikan. Tapi ada satu masalah kecil: Lintang merasa bahwa selama ini Imelda-lah yang selalu memberi. Imelda yang sabar menghadapi ketengilannya. Imelda yang membacakan puisi untuknya. Imelda yang setia menemani ke sawah, ke kebun percobaan, ke berbagai tempat yang bahkan tidak menarik bagi seorang sastrawan sepertinya.
“Aku harus membalas semua kebaikannya,” gumam Lintang suatu malam di kamar kos.
Udin yang sedang rebahan di kasurnya langsung bangkit. “Balas kebaikan? Kamu mau putus?”
“Bukan! Aku mau lebih baik lagi. Aku mau mengejar cintanya. Bukan cuma menerima.”
“Bukannya kalian sudah pacaran? Kenapa masih dikejar?”
“Pacaran itu status, Din. Mengejar itu proses. Cinta tidak berhenti di status. Cinta terus bergerak.”
Udin mengerjap. “Filosofis amat. Kamu habis baca buku apa?”
“Buku puisi. Pemberian Imelda.”
“Ya sudah. Kalau mau mengejar cintanya, lakukan hal-hal yang dia suka. Bukan hal-hal yang kamu suka.”
Lintang berpikir. Imelda suka puisi, sastra, hal-hal yang berbau seni. Lintang tidak paham puisi, tidak paham sastra, dan satu-satunya seni yang dia kuasai adalah seni menarik kumis.
“Ini sulit, Din. Aku tidak punya bakat seni.”
“Kamu punya bakat lain. Kreativitas. Gunakan itu.”
Lintang mengangguk. Kreativitas. Itu yang dia punya. Dan dia akan gunakan habis-habisan.
Aksi pertama: Belajar puisi diam-diam.
Lintang meminjam buku-buku puisi dari perpustakaan fakultas. Dia membaca di kamar kos setiap malam, kadang sambil mencatat kata-kata indah, kadang sambil menguap karena bosan.
Puisi Sapardi: “Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.” Lintang menulis catatan di pinggir: Cinta sederhana itu seperti irigasi tetes. Tidak berlebihan. Tepat sasaran.
Puisi Chairil Anwar: “Aku ini binatang jalang dari kumpulannya terbuang.” Lintang mencatat: Aku ini mahasiswa tengil dari kumpulannya yang dicaci. Tapi sekarang aku sudah punya Imelda, jadi tidak terbuang lagi.
Puisi W.S. Rendra: “Perjuangan bagaikan nafas kehidupan.” Lintang mencatat: Mengejar cinta Imelda bagaikan nafas kehidupan, kalau berhenti, mati.
Setelah sepekan belajar, Lintang merasa sudah cukup. Dia akan menulis puisi untuk Imelda. Puisi asli buatannya sendiri. Tanpa copas. Tanpa plagiat. Full kreativitas tengil.
Aksi kedua: Membaca puisi di depan umum.
Suatu sore, di taman budaya yang sama tempat Imelda dulu membacakan puisi untuknya, Lintang mendaftar sebagai peserta acara baca puisi terbuka.
Imelda tidak tahu. Lintang ingin memberi kejutan.
Sampai gilirannya, Lintang naik ke panggung dengan gemetar. Bukan gemetar karena takut, dia sudah biasa bicara di depan ratusan orang. Tapi gemetar karena ini berbeda. Ini bukan debat. Ini bukan pidato. Ini puisi. Dan puisi adalah bahasa cinta yang tidak pernah dia kuasai.
“Selamat sore,” sapanya. “Saya Lintang. Mahasiswa Pertanian. Biasanya saya bicara soal pupuk, irigasi, dan kumis. Tapi sore ini, saya akan bicara soal cinta. Cinta saya pada seorang perempuan bernama Imelda.”
Penonton berdecak. Beberapa bertepuk tangan.
Lintang membaca puisinya.
“Untuk Imelda, dari Lintang”
Aku tidak tahu cara merangkai kata
seperti kamu merangkai puisi.
Aku hanya tahu cara merangkai pipa irigasi
agar air sampai ke akar.
Kamu adalah air itu.
Kamu sampai ke akar hatiku
yang dulu kering
karena terlalu sibuk menarik kumis.
Sekarang, aku tidak perlu lagi menarik.
Karena kamu sudah mengairi seluruh hidupku
dengan ketenangan
yang tidak pernah aku temukan
dalam helaian kumis siapa pun.
Imelda,
aku tidak pandai berkata-kata manis.
Tapi aku pandai berjanji:
aku akan menjadi irigasi yang tidak pernah berhenti mengalir
untuk kebahagiaanmu.
Penonton terdiam. Lalu bertepuk tangan. Beberapa perempuan menangis. Seorang bapak-bapak dengan kumis tebal berteriak, “KEREN, MAS!”
Imelda yang duduk di barisan belakang dia tahu dari Sari bahwa Lintang akan tampil, menangis haru. Dia tidak menyangka Lintang akan belajar puisi. Dia tidak menyangka Lintang akan sejauh itu.
Setelah acara, Imelda mendekati Lintang. “Lin, itu... luar biasa.”
“Biasa saja. Puisi anak pertanian yang belajar seminggu.”
“Tapi jujur. Dan kejujuran itu lebih berharga daripada diksi yang rumit.”
Lintang tersenyum. “Aku senang kamu suka.”
“Aku lebih dari suka. Aku bangga.”
Mereka berpelukan di tengah taman budaya. Beberapa orang yang masih tersisa bertepuk tangan lagi.
Aksi ketiga: Ikut seminar sastra.
Lintang tidak cukup dengan puisi. Dia ingin lebih dekat dengan dunia Imelda. Maka ketika Imelda mengajaknya ikut seminar sastra tentang “Puisi dan Politik Identitas”, Lintang langsung setuju.
Imelda terkejut. “Serius, Lin? Kamu mau ikut seminar sastra? Biasanya kamu bilang sastra itu membosankan.”
“Sekarang berbeda. Aku punya motivasi baru.”
“Motivasi apa?”
“Mendekatimu dengan cara yang kamu suka.”
Imelda tersenyum. “Kamu sungguh luar biasa. Tidak semua laki-laki mau keluar dari zona nyaman untuk pacarnya.”
“Aku bukan semua laki-laki. Aku Lintang.”
“Tengil?”
“Tengil yang jatuh cinta.”
Seminar itu diadakan di gedung serbaguna Fakultas Ilmu Budaya. Pesertanya sekitar seratus orang, mayoritas mahasiswa sastra dan seni. Lintang duduk di samping Imelda, membawa buku catatan dan pulpen, seperti mahasiswa serius.
Pembicara pertama adalah seorang akademisi perempuan bernama Bu Dewi (bukan guru BK, ini dosen sastra yang berbeda). Beliau berbicara tentang “Puisi sebagai Ruang Ekspresi Politik”.
Lintang mendengarkan dengan saksama. Kadang mencatat, kadang mengangguk, kadang mengerutkan dahi.
Sesi tanya jawab tiba. Lintang mengangkat tangan.
Bu Dewi terkejut. “Ada yang bertanya? Silakan.”
“Bu Dewi, saya Lintang dari Fakultas Pertanian. Pertanyaan saya: apakah puisi politik bisa disamakan dengan pupuk? Maksud saya, pupuk yang tepat bisa menyuburkan tanaman. Puisi yang tepat bisa menyuburkan kesadaran politik. Apakah itu analogi yang tepat?”
Seluruh peserta tertawa. Bu Dewi tersenyum.
“Mas Lintang, analogi Bapak unik. Tapi ada benarnya juga. Puisi memang bisa menjadi 'pupuk' bagi kesadaran kolektif. Terima kasih atas perspektif segarnya.”
Lintang duduk kembali. Imelda berbisik, “Kamu tidak bisa lepas dari pertanian, ya?”
“Itu identitasku, Im. Saya tidak perlu berpura-pura jadi sastrawan. Cukup jadi petani yang belajar sastra.”
“Itu lebih baik. Jujur pada diri sendiri.”
Aksi keempat: Membelikan buku puisi langka.
Lintang tahu Imelda sedang mencari buku puisi terbitan lama karya penyair asal Sumatera bernama Hamid Jabbar. Buku itu sudah tidak dicetak lagi. Hanya bisa ditemukan di toko buku bekas atau perpustakaan.
Lintang berkeliling ke toko-toko buku bekas di Jogja. Dari Pasar Bringharjo sampai ke losmen-losmen kecil di kawasan Kotagede. Dia bertanya pada Mbak Anna, pemilik toko buku bekas langganan Imelda.
“Mbak, ada buku puisi Hamid Jabbar? Yang terbitan 1985?”
Mbak Anna menggeleng. “Sudah lama tidak ada, Lin. Itu buku langka. Kolektor banyak yang cari.”
“Tolong kasih tahu kalau ada. Saya butuh untuk pacar saya.”
“Pacar kamu Imelda, kan?”
“Iya.”
“Wah, dia beruntung punya pacar sebaik kamu. Mau repot-repot cari buku langka.”
“Saya yang beruntung punya dia.”
Mbak Anna tersenyum. “Aku akan kabari kalau ada.”
Sepekan kemudian, Mbak Anna menelepon. “Lin, ada! Pak Gino, penjual puisi keliling, punya satu eksemplar. Tapi harganya mahal. Dua ratus ribu.”
“Saya beli, Mbak. Tolong tahan.”
Lintang mengeluarkan uang tabungannya. Dua ratus ribu adalah uang yang cukup besar untuk ukuran mahasiswa. Tapi dia tidak peduli. Ini untuk Imelda.
Saat menyerahkan buku itu ke Imelda, mata Imelda membesar.
“Hamid Jabbar? Edisi pertama? KAMU DAPAT DARI MANA?”
“Rahasia. Yang penting bukunya asli. Bukan bajakan.”
Imelda memeluk buku itu seperti memeluk bayi. “Lin, kamu tidak tahu seberapa berharganya buku ini bagiku.”
“Aku tahu. Itu sebabnya aku cari.”
Imelda menangis. “Terima kasih, Lin. Kamu sungguh... luar biasa.”
“Ini belum luar biasa. Nanti kalau aku bisa membuatkanmu perpustakaan pribadi, itu baru luar biasa.”
“Jangan janji muluk-muluk. Aku cukup dengan buku ini.”
Mereka berpelukan. Buku puisi Hamid Jabbar terjepit di antara mereka, seolah ikut merasakan kebahagiaan.
Aksi kelima: Mengajak Imelda ke sawah. Ini bukan aksi biasa. Ini aksi spesial. Lintang membawa Imelda ke sawah percobaan Fakultas Pertanian di malam hari. Padi-padi mulai menguning. Bulan purnama bersinar terang. Kunang-kunang beterbangan di antara tanaman.
“Ini pemandangan yang tidak akan kamu dapatkan di seminar sastra,” kata Lintang.
Imelda memandang sekeliling dengan takjub. “Cantik. Aku belum pernah ke sawah malam-malam.”
“Kamu harus sesekali. Sawah mengajarkan ketenangan. Sawah mengajarkan kesabaran. Sawah mengajarkan bahwa hasil tidak datang instan.”
Imelda menatap Lintang. “Kamu mengajarkan aku banyak hal, Lin. Tentang kesederhanaan, tentang kerja keras, tentang menghargai proses.”
“Aku hanya membawamu ke dunia aku. Kamu yang memilih untuk menikmatinya.”
Mereka duduk di pematang sawah. Bulan purnama terpantul di air irigasi. Kunang-kunang terus beterbangan, seperti bintang kecil yang jatuh ke bumi.
“Lin, aku ingin bertanya sesuatu.”
“Tanya.”
“Kenapa kamu mau repot-repot belajar puisi, ikut seminar sastra, cari buku langka, padahal itu semua di luar minatmu?”
Lintang berpikir sejenak. “Karena cinta, Im. Cinta membuat orang mau keluar dari zona nyaman. Cinta membuat orang mau belajar hal baru. Cinta membuat orang mau menjadi lebih baik.”
“Apakah kamu lelah?”
“Lelah? Lelah itu fisik. Tapi hati saya tidak pernah lelah. Hati saya selalu bersemangat setiap kali melihatmu tersenyum.”
Imelda menggenggam tangan Lintang. “Aku tidak pernah bertemu laki-laki sepertimu, Lin. Laki-laki yang tengil tapi tulus. Laki-laki yang keras kepala tapi lembut hati.”
“Kamu juga tidak pernah bertemu perempuan sepertimu, Im. Perempuan yang sabar menghadapi ketengilanku. Perempuan yang tidak goyah meskipun aku usil.”
“Kita memang dibuat untuk satu sama lain, ya?”
“Sepertinya begitu.”
Mereka berdua tersenyum. Bulan purnama menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
Aksi keenam: Mengirim gombal tengil setiap pagi. Lintang punya kebiasaan baru: mengirim pesan gombal ke Imelda setiap pagi sebelum memulai aktivitas. Gombalnya tidak biasa. Gombal bertema pertanian dan kumis.
Hari pertama: “Im, kamu lebih menyegarkan daripada air irigasi di musim kemarau.”
Hari kedua: “Kalau aku petani, kamu adalah hujan yang selalu aku nantikan. Jangan pernah berhenti turun.”
Hari ketiga: “Cintaku padamu sekuat akar pohon beringin. Tidak bisa dicabut oleh siapa pun. Kecuali jika kamu sendiri yang cabut. Tapi tolong jangan.”
Hari keempat: “Im, kamu tahu bedanya kamu dengan kumis? Kumis bisa ditarik. Kamu tidak bisa. Karena kamu sudah berada di hatiku, tidak perlu ditarik lagi.”
Imelda selalu membalas dengan emoji tertawa atau pujian kecil. Tapi suatu hari, dia membalas panjang.
“Lin, gombalanmu aneh. Tapi aku suka. Karena gombalanmu itu autentik. Tidak dibuat-buat. Itu yang membuatku semakin yakin bahwa kamu benar-benar tulus.”
“Aku tidak pernah gombal tanpa dasar, Im. Semua yang aku tulis adalah perasaanku yang sebenarnya, dibumbui sedikit kreativitas.”
“Itu yang aku suka. Kamu tidak berlebihan. Kamu proporsional.”
“Terima kasih. Kamu juga proporsional. Proporsional dalam kesabaran menghadapi aku.”
Mereka terus berkirim pesan sepanjang hari. Tidak ada yang bosan. Tidak ada yang merasa berlebihan.
Aksi ketujuh: Membuat scrapbook kenangan. Lintang mengumpulkan foto-foto mereka selama berpacaran. Foto pertama saat mereka di bangku taman depan Fakultas Ilmu Budaya. Foto kedua saat di kebun percobaan. Foto ketiga saat di acara baca puisi. Foto keempat saat di sawah malam. Foto kelima, keenam, ketujuh, dan seterusnya.
Dia mencetak foto-foto itu di tukang cetak langganan (Cak Rahman yang ramah). Lalu dia membeli album kosong di toko alat tulis. Dia menempel foto satu per satu, menulis keterangan di sampingnya dengan gaya khasnya—gombal tengil.
Foto pertama: "Pertemuan pertama. Saat aku masih terlalu fokus pada kumismu—yang ternyata tidak ada."
Foto kedua: "Kamu mau ikut ke kebun percobaan meskipun tidak suka lumpur. Itu cinta."
Foto ketiga: "Kamu membaca puisi untukku. Aku menangis. Aku tidak tahu kenapa. Ternyata itu namanya cinta."
Foto keempat: "Di sawah malam, di bawah bulan purnama. Kamu bilang sawah itu indah. Aku bilang kamu lebih indah."
Setelah selesai, dia membungkus scrapbook itu dengan kertas kado warna biru, warna kesukaan Imelda. Dia memberikannya saat mereka bertemu di taman kampus.
Imelda membuka bungkusan itu perlahan. Matanya berkaca-kaca saat melihat isinya.
“Lin, ini... kamu buat sendiri?”
“Sendiri. Semalam sampai tidak tidur.”
“Kenapa tidak tidur?”
“Karena terlalu asyik. Terlalu banyak kenangan yang ingin aku abadikan.”
Imelda memeluk scrapbook itu erat. “Ini hadiah terindah yang pernah aku terima.”
“Lebih indah dari buku puisi Hamid Jabbar?”
“Buku itu indah. Tapi ini lebih indah karena ini adalah cerita kita.”
Lintang tersenyum. Dia tidak perlu puisi, tidak perlu seminar sastra, tidak perlu buku langka. Yang dia butuhkan hanyalah menjadi dirinya sendiri, Lintang yang tulus, Lintang yang berusaha, Lintang yang tidak pernah menyerah untuk membahagiakan Imelda.
Edwin, mantan gebetan Imelda, datang ke Jogja untuk urusan pekerjaan. Dia adalah laki-laki tampan, berkulit putih, berjas rapi, dan, yang paling menyebalkan, pintar merangkai kata.
Dia mengajak Imelda bertemu di sebuah kafe di pusat kota. Imelda memberitahu Lintang sebelumnya.
“Lin, Edwin mau ketemu aku.”
“Edwin? Siapa itu?”
“Mantan gebetanku dulu. Waktu SMA.”
Lintang mengerjap. “Mantan gebetan? Kenapa mau ketemu?”
“Dia mau minta maaf karena dulu putus komunikasi tanpa kabar.”
“Oke. Aku ikut?”
“Tidak usah. Aku sendiri.”
“Tapi...”
“Lin, percaya padaku. Aku pacarmu. Edwin masa lalu. Tidak akan ada apa-apa.”
Lintang menghela napas. “Baik. Tapi aku akan tunggu di luar kafe.”
“Kamu tidak perlu.”
“Aku butuh.”
Imelda tersenyum. “Cemburu, ya?”
“Sedikit. Wajar, kan?”
“Wajar. Tapi jangan berlebihan.”
“Aku akan kendalikan.”
Di kafe, Imelda duduk berhadapan dengan Edwin. Edwin tersenyum manis, senyum yang dulu pernah membuat Imelda berdebar. Tapi sekarang, senyum itu tidak berpengaruh apa-apa.
“Mel, kamu cantik sekali. Semakin dewasa.”
“Terima kasih, Edwin.”
“Aku minta maaf karena dulu tiba-tiba menghilang. Orang tuaku pindah ke luar negeri. Aku ikut.”
“Tidak apa-apa. Itu sudah lama.”
“Kamu sendiri bagaimana? Ada yang spesial?”
Imelda tersenyum. “Ada. Namanya Lintang.”
Edwin mengangkat alis. “Lintang? Namanya unik. Dia kuliah di mana?”
“UGM. Pertanian.”
“Pertanian? Maksudmu dia belajar soal sawah dan pupuk?”
“Iya. Dia calon insinyur pertanian.”
Edwin tersenyum tipis, senyum yang sedikit merendahkan. “Wah, berbeda ya dengan duniamu yang penuh puisi dan sastra.”
“Perbedaan itu indah, Edwin. Kami saling melengkapi. Dia belajar pertanian. Aku belajar sastra. Kami bertemu di tengah.”
“Apakah dia mengerti puisimu?”
“Dia belajar. Seminggu yang lalu dia membacakan puisi untukku di depan umum. Puisi buatannya sendiri. Jujur, menyentuh.”
Edwin terdiam. Dia tidak menyangka Lintang akan sejauh itu.
“Mel, aku jujur. Aku masih punya perasaan padamu.”
Imelda menatap Edwin dengan mata tenang. “Edwin, aku sudah move on. Sudah lama. Aku bahagia dengan Lintang. Dia tidak sempurna. Dia tengil, usil, suka menarik kumis, dan kadang bikin aku stres. Tapi dia tulus. Itu yang tidak bisa kamu berikan dulu.”
Edwin menghela napas. “Baiklah. Aku terima. Aku hanya ingin kamu bahagia.”
“Aku bahagia. Terima kasih sudah datang dan minta maaf.”
Mereka berjabat tangan. Edwin pergi lebih dulu. Imelda menatap ke luar kafe. Lintang sedang duduk di bangku taman, tidak sabar menunggu.
Imelda keluar. Lintang langsung berdiri.
“Bagaimana?”
“Baik. Dia cuma minta maaf. Tidak lebih.”
“Dia tidak coba-coba merayu?”
“Dia coba. Tapi gagal.”
Lintang tersenyum lega. “Aku senang.”
“Kamu cemburu, ya?”
“Iya. Tapi sekarang sudah tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu masih di sini. Bersamaku.”
Mereka bergandengan tangan, berjalan meninggalkan kafe. Matahari sore mulai tenggelam. Langit jingga kemerahan.
“Im, terima kasih sudah memilih aku.”
“Aku tidak memilih, Lin. Aku yakin. Sejak awal, aku sudah yakin bahwa kamulah orangnya.”
“Apa yang membuatmu yakin?”
“Karena kamu tidak pernah menyerah mengejarku. Padahal aku sudah bilang 'tunggu' berkali-kali.”
Lintang tertawa. “Aku memang tidak mudah menyerah. Apalagi pada hal yang berharga.”
Imelda menggenggam tangannya lebih erat. “Aku juga tidak akan meninggalkanmu. Janji.”
“Janji.”
Malam itu, Lintang menelepon Prapto.
“Pa, aku semakin yakin. Imelda adalah orang yang tepat.”
“Kok yakin?”
“Dia menolak mantan gebetannya yang tampan kaya raya. Dia memilih aku. Anak petani tengil.”
Prapto tertawa. “Itu bukti cinta sejati, Le. Bukan karena harta atau tampang. Tapi karena ketulusan.”
“Aku tahu, Pa. Aku akan menjaga dia baik-baik.”
“Jangan lupa belajar juga. Nilai jangan turun.”
“Aman, Pa. Nilai Jogja bagus. IPK di atas 3,8.”
Prapto bersiul. “Hebat anak bapak. Lanjutkan.”
“Iya, Pa. Doakan aku dan Imelda.”
“Selalu. Mbah Waginem juga sudah tahu. Beliau senang.”
“Mbah tahu dari mana?”
“Beliau tahu segalanya. Itu Mbah Waginem.”
Lintang tersenyum. “Sampaikan salam untuk Mbah.”
“Iya. Sekarang tidur, Le. Besok kuliah lagi.”
“Selamat malam, Pa.”
“Selamat malam, Le.”
Lintang menutup telepon. Dia membuka pesan dari Imelda.
"Lin, terima kasih untuk hari ini. Aku makin sayang sama kamu."
"Aku juga makin sayang sama kamu, Im. Tidur yang nyenyak."
"Kamu juga. Mimpi indah."
"Mimpiku adalah kamu. Jadi pasti indah."
"Gombal. Tapi aku suka."
"Itu kejujuran, bukan gombal."
"Baik. Kejujuran. Selamat malam, kekasihku."
"Selamat malam, kekasihku."
Lintang merebahkan diri. Dia memejamkan mata. Wajah Imelda muncul seperti biasa. Tapi kali ini ada senyum di wajah itu. Senyum yang membuat Lintang yakin: dia tidak akan pernah berhenti mengejar cinta Imelda. Sampai kapan pun.
BAB 15
Kuliah Final, Tengil Bermakna
Skripsi, Tawa, dan Janji Pulang
Empat tahun sudah Lintang menghirup udara Jogja. Empat tahun yang terasa seperti empat bulan karena terlalu banyak kenangan yang tercipta. Kini, di semester akhir, Lintang menghadapi tantangan terbesar dalam perjalanan akademiknya: skripsi.
Tapi Lintang tidak sendiri. Di sampingnya ada Imelda yang setia menemani. Di belakangnya ada Bima, Cici, Rizki, dan Udin yang selalu memberi semangat. Dan di jauh sana, di Desa Sawahan, ada Prapto dan Mariyem yang tak pernah berhenti berdoa.
“Lin, kamu sudah dapat judul skripsi?” tanya Bima suatu pagi di kantin fakultas.
“Sudah. 'Sistem Irigasi Tetes Hemat Air untuk Lahan Tadah Hujan di Desa Sawahan, Gunung Kidul'.”
Bima bersiul. “Ndeso banget judulnya. Kenapa tidak ambil yang lebih modern? Hidroponik atau aeroponik?”
“Karena aku anak desa, Bim. Aku pulang ke desa. Sawah-sawah di sana butuh solusi, bukan teknologi canggih yang tidak terjangkau.”
Cici mengangguk. “Lin, kamu ini langka. Lulus kuliah biasanya cari kerja di kota. Kamu malah balik ke desa.”
“Desaku butuh aku, Ci. Insinyur pertanian di desa itu lebih berguna daripada di kota.”
Rizki menimpali. “Aku dukung. Tapi skripsinya harus bagus. Dosen pembimbingnya siapa?”
“Prof. Dr. Sudjono.”
Seluruh meja mendadak hening.
“Prof. Sudjono? Yang killer itu?” tanya Bima dengan mata melotot.
“Setuju.”
“KAMU GILA, LIN! Beliau terkenal galak, tidak pernah memberi nilai A, dan suka nanya-nanya rumit di sidang!”
“Aku tahu. Tapi beliau juga ahli irigasi. Aku butuh ilmu beliau. Nilai A itu bonus.”
Cici menghela napas. “Kamu benar-benar tidak pernah takut, ya?”
“Takut itu wajar. Takut yang tidak beralasan itu namanya fobia. Aku punya fobia? Tidak.”
Bima hanya bisa geleng-geleng. Rizki mendoakan yang terbaik.
Pertemuan pertama Lintang dengan Prof. Sudjono berlangsung di ruang dosen lantai dua. Ruangan itu sederhana: meja kayu penuh tumpukan jurnal, lemari kaca berisi arsip, dan satu papan tulis putih yang sudah mulai kotor.
Prof. Sudjono adalah pria tua berusia 60 tahun, berbadan kurus, berkacamata tebal, dan, yang paling penting bagi Lintang, berkumis tipis model kumis komandan PETA. Kumis itu tidak lebat, tapi sangat rapi.
“Mas Lintang, duduk,” kata Prof. Sudjono tanpa basa-basi.
Lintang duduk di kursi di hadapan meja dosen.
“Skripsi Anda tentang apa?”
“Sistem irigasi tetes hemat air untuk lahan tadah hujan di Desa Sawahan, Gunung Kidul, Pak.”
Prof. Sudjono mengangkat alis. “Desa Anda sendiri?”
“Iya, Pak. Orang tua saya petani di sana. Sawah-sawahnya sering gagal panen karena kemarau panjang.”
“Anda ingin membantu mereka?”
“Bukan hanya membantu, Pak. Saya ingin membangun sistem yang bisa bertahan lama. Bukan sekadar proyek skripsi.”
Prof. Sudjono terdiam beberapa saat. Matanya menatap Lintang dengan tajam. “Anda berbeda dengan mahasiswa lain. Mereka biasanya ambil topik yang mudah, data gampang, tidak perlu turun ke lapangan. Anda malah ambil yang sulit.”
“Sulit itu tantangan, Pak. Tantangan itu menarik.”
“Anda tidak takut gagal?”
“Gagal itu biasa. Yang tidak biasa adalah tidak mencoba.”
Prof. Sudjono tersenyum, untuk pertama kalinya. “Saya suka mental Anda. Saya akan bimbing. Tapi ingat, saya orang keras. Saya tidak akan memberi toleransi untuk kesalahan teknis. Skripsi Anda harus sempurna.”
“Siap, Pak. Saya kerja keras.”
“Kerja keras tidak cukup. Kerja cerdas.”
“Saya kombinasikan, Pak. Kerja keras plus kerja cerdas.”
Prof. Sudjono mengangguk. “Baik. Minggu depan bawa proposal. Jangan telat.”
“Siap, Pak.”
Lintang keluar ruangan dengan lega. Di luar, Imelda sudah menunggu.
“Bagaimana?” tanya Imelda.
“Baik. Beliau setuju.”
“Killer-nya?”
“Tidak kegilaan. Cuma bilang saya harus kerja cerdas.”
“Kamu pasti bisa, Lin. Aku percaya.”
“Terima kasih, Im. Doakan aku.”
“Selalu.”
Tiga bulan pertama skripsi adalah medan perang. Lintang bolak-balik Jogja-Sawahan untuk mengambil data. Dia mengukur topografi sawah, menganalisis tanah, menghitung kebutuhan air, dan merancang jaringan irigasi.
Prapto dan Mariyem senang karena anaknya sering pulang. Tapi mereka juga khawatir melihat Lintang yang kelihatan lelah.
“Le, kamu istirahat. Jangan memforsir diri,” kata Mariyem suatu malam saat Lintang duduk di teras sambil mengolah data.
“Aku tidak bisa istirahat, Ma. Targetku sidang bulan depan.”
“Kamu sudah berusaha maksimal. Tuhan pasti membantu.”
“Aku percaya itu, Ma. Tapi Tuhan membantu orang yang berusaha. Jadi aku harus terus berusaha.”
Prapto yang duduk di sampingnya menimpali. “Kumis bapak sudah botak dari stress lihat kamu kerja terus. Itu bukti kamu kurang istirahat.”
Lintang tertawa. “Maaf, Pa. Kumis Bapak bisa tumbuh lagi. Skripsiku tidak bisa diulang.”
Prapto menghela napas. “Anak ini, selamanya keras kepala.”
“Itu warisan Bapak, Pa.”
“Warisan bapak itu kegigihan. Bukan keras kepala.”
“Sama saja.”
Mariyem tertawa. “Kalian ini, kalau sudah berdua, selalu debat.”
“Itu cara kami berkomunikasi, Ma. Debat sehat.”
Di Jogja, Lintang juga sibuk dengan analisis data di laboratorium. Pak Danu, kepala laboratorium tanah, membantu Lintang menganalisis sampel-sampel yang dibawa dari Sawahan.
“Mas Lintang, sampel tanah di desa Anda miskin unsur hara. Perlu pemupukan yang intensif.”
“Iya, Pak. Itu sebabnya saya kombinasikan irigasi tetes dengan pupuk cair. Pupuk langsung ke akar. Efisien.”
Pak Danu mengangguk. “Ide bagus. Tapi biayanya mahal. Petani di desa Anda mampu?”
“Saya akan cari sponsor. Mungkin Dinas Pertanian atau perusahaan CSR. Saya sudah mulai komunikasi.”
“Anda sungguh serius. Bukan hanya skripsi, tapi juga proyek jangka panjang.”
“Skripsi hanya awal, Pak. Setelah lulus, saya pulang ke desa. Saya akan terapkan sistem ini di sawah-sawah sana.”
Pak Danu menepuk pundak Lintang. “Saya salut. Orang muda sekarang kebanyakan pengen kerja enak di kota. Anda beda.”
“Saya anak petani, Pak. Sawah adalah rumah saya.”
Di sisi lain, Imelda juga sibuk dengan skripsinya. Dia mengambil topik tentang “Puisi sebagai Media Kritik Sosial dalam Karya-karya WS Rendra”. Tapi meskipun sibuk, dia tetap menyempatkan diri menemani Lintang di laboratorium.
Suatu malam, Lintang sedang asyik menghitung data. Imelda duduk di sampingnya, membaca jurnal.
“Lin, kamu sudah makan?”
“Belum.”
“Makan dulu. Nanti sakit.”
“Sebentar lagi. Lima menit.”
Lima menit berlalu. Imelda bertanya lagi. “Sudah?”
“Belum. Lima menit lagi.”
Demikian seterusnya sampai Imelda kesal.
“LINTANG! SEKARANG! KALAU TIDAK, AKU TARIK KUMISMU!”
Lintang menoleh. “Aku tidak punya kumis, Im.”
“Ya sudah, aku tarik rambutmu!”
Lintang tertawa. “Baik, baik. Aku makan. Tenang.”
Dia menyimpan laptop, lalu mereka berjalan ke warung nasi langganan Bu Tari. Bu Tari sudah hafal pesanan mereka.
“Mas Lintang, nasi telur dadar, sayur asem, sambal terasi. Mbak Imelda, nasi sayur lodeh, tempe goreng. Kan?”
“Betul, Bu,” kata Imelda.
“Kalian ini sudah kayak suami istri. Hapal pesanan masing-masing.”
Lintang tersenyum. “Belum, Bu. Masih calon.”
“Ya sudah calon. Tapi kelakuannya sudah kayak suami istri.”
Imelda tersenyum malu. Lintang tertawa.
Semester akhir, Lintang harus menghadapi ujian seminar proposal skripsi di depan tiga dosen: Prof. Sudjono (pembimbing), Bu Woro (dosen penguji yang terkenal galak), dan Pak Joko (dosen penguji yang nyentrik).
Lintang sudah mempersiapkan presentasi dengan matang. Slide Power Point-nya sederhana tapi informatif. Dia sudah hafal setiap data yang dia kumpulkan.
Hari H tiba. Ruang sidang dipenuhi oleh mahasiswa yang ingin menyaksikan. Bima, Cici, Rizki, Udin, dan Imelda duduk di barisan belakang.
Lintang memulai presentasi dengan tenang. Suaranya mantap, argumennya kuat, data-data disajikan dengan jelas.
Bu Woro memotong di tengah presentasi. “Mas Lintang, mengapa Anda memilih sistem irigasi tetes? Bukankah sistem sprinkler lebih efisien untuk lahan yang luas?”
Lintang menjawab dengan percaya diri. “Irigasi sprinkler memang efisien, Bu. Tapi biaya investasinya tinggi. Petani di desa saya tidak mampu. Irigasi tetes lebih murah, lebih hemat air, dan bisa dikombinasikan dengan pupuk cair. Juga lebih mudah perawatannya.”
Pak Joko bertanya. “Bagaimana dengan kebocoran? Selang-selang kecil itu rawan bocor.”
“Saya akan menggunakan selang berkualitas dengan ketebalan tertentu. Juga akan ada pelatihan rutin untuk petani cara menambal selang bocor. Skema perawatan sudah saya siapkan di bab 4.”
Bu Woro terlihat terkesan. Pak Joko mengangguk-angguk.
Prof. Sudjono yang dari tadi diam, akhirnya bicara. “Mas Lintang, saya tidak punya pertanyaan. Lanjutkan presentasi.”
Lintang melanjutkan. Tiga puluh menit kemudian, presentasi selesai.
Bu Woro berkata, “Mas Lintang, ini adalah salah satu seminar proposal terbaik yang saya hadiri. Data Anda lengkap, argumen Anda tajam, dan Anda tahu betul apa yang Anda bicarakan. Pertahankan kualitas ini untuk skripsi akhir.”
“Terima kasih, Bu.”
Pak Joko menimpali. “Saya setuju. Nilai seminar: A.”
Bu Woro mengangguk. “A.”
Prof. Sudjono tersenyum. “A.”
Lintang keluar ruangan dengan senyum lebar. Imelda memeluknya. Bima berteriak kegirangan. Cici menangis. Rizki mengacungkan jempol.
“Kamu hebat, Lin!” teriak Bima.
“In baru permulaan. Skripsi akhir yang lebih berat.”
“Tapi kamu bisa. Kami yakin.”
Hari-hari menjelang sidang akhir skripsi. Lintang bekerja seperti orang kesurupan. Dia tidur hanya 3-4 jam per hari. Kadang lupa makan. Imelda sampai harus mengingatkan setiap waktu.
“Lin, kamu akan jatuh sakit kalau terus begini.”
“Aku tidak bisa, Im. Waktu mepet.”
“Tubuhmu butuh istirahat.”
“Skripsiku juga butuh selesai.”
Imelda menghela napas. Dia kemudian memberi ultimatum. “Lintang, kalau kamu tidak istirahat, aku tidak akan datang ke sidangmu.”
Lintang terkejut. “Serius?”
“Serius.”
Lintang terdiam. Dia tidak bisa membayangkan sidang skripsi tanpa Imelda di barisan penonton.
“Baik. Mulai sekarang, aku akan tidur minimal 6 jam per hari. Janji.”
“Tepati.”
“Aku tepati.”
Imelda tersenyum. “Itu pacarku.”
Seminggu sebelum sidang, Lintang mendapat kabar buruk. Dina, mahasiswi dari fakultas lain yang iri dengan keberhasilan Lintang, menyebarkan rumor bahwa skripsi Lintang adalah hasil plagiat. Dia mengirim email anonim ke fakultas, menuduh Lintang menjiplak jurnal asing tanpa mencantumkan sumber.
Lintang dipanggil oleh Prof. Sudjono.
“Mas Lintang, ada tuduhan plagiat terhadap skripsi Anda.”
“Saya tidak plagiat, Pak. Semua sumber saya cantumkan. Saya bahkan membuat catatan kaki yang detail.”
“Saya percaya Anda. Tapi fakultas harus melakukan investigasi. Siapkan bukti-bukti.”
Lintang keluar ruangan dengan wajah tegang. Imelda yang menunggu di luar langsung bertanya.
“Ada apa, Lin?”
“Ada yang menuduhku plagiat.”
“APA? SIAPA?”
“Tidak tahu. Anonim.”
“Tapi kamu tidak plagiat, kan?”
“Tidak! Aku kerja keras. Aku turun ke lapangan. Aku analisis data sendiri.”
Imelda memegang tangan Lintang. “Tenang, Lin. Kita buktikan. Aku bantu kumpulkan bukti.”
Lintang dan Imelda menghabiskan dua hari untuk mengumpulkan semua bukti: jurnal yang dikutip, catatan kaki, email diskusi dengan Prof. Sudjono, data mentah dari laboratorium, foto-foto kegiatan lapangan, dan testimoni dari warga Desa Sawahan yang membantunya.
Di hari investigasi, Lintang menyodorkan bukti-bukti itu ke fakultas. Tim investigasi memeriksa dengan saksama. Lima jam kemudian, mereka memanggil Lintang.
“Mas Lintang, setelah kami periksa, skripsi Anda asli. Tidak ada plagiat. Kami akan membersihkan nama Anda.”
Lintang menghela napas lega. “Terima kasih, Pak. Siapa yang menuduh saya?”
“Kami tidak bisa menyebutkan nama. Tapi orang tersebut sudah kami beri sanksi.”
Lintang tidak menuntut lebih. Dia hanya bersyukur nama baiknya kembali.
Imelda memeluknya erat. “Aku tahu kamu tidak bersalah, Lin.”
“Terima kasih sudah percaya, Im.”
“Aku akan selalu percaya padamu.”
Hari sidang akhir skripsi tiba. Ruangan lebih besar dari sidang proposal. Juri terdiri dari Prof. Sudjono (pembimbing), Bu Woro (penguji), Pak Joko (penguji), dan seorang penguji eksternal dari Dinas Pertanian Propinsi bernama Pak Kusno, seorang birokrat yang terkenal suka mencari-cari kesalahan.
Lintang memulai presentasi dengan lebih percaya diri. Dia sudah mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan pertanyaan.
Selama satu jam, dia memaparkan hasil penelitiannya: sistem irigasi tetes yang diujicobakan di Desa Sawahan berhasil meningkatkan produksi padi sebesar 35 persen dengan konsumsi air 40 persen lebih hemat.
Bu Woro tersenyum. “Hasil yang mengesankan, Mas Lintang.”
Pak Joko mengangguk. “Metodologi Anda solid.”
Pak Kusno, si penguji eksternal, mengangkat tangan. “Mas Lintang, bagaimana dengan keberlanjutan? Setelah Anda lulus dan tidak lagi di desa, siapa yang menjamin sistem ini tetap berjalan?”
Lintang menjawab dengan tenang. “Saya sudah melatih tiga petani lokal sebagai teknisi. Mereka sudah bisa merawat sistem ini secara mandiri. Juga ada koperasi desa yang mengelola dana perawatan. Saya tinggal sebagai konsultan jika ada masalah. Tidak perlu setiap hari di desa.”
Pak Kusno mengangguk meskipun enggan. “Cukup. Saya puas.”
Prof. Sudjono berdiri. “Rapatkan. Juri akan berdiskusi.”
Lintang keluar ruangan. Enam puluh menit yang terasa seperti enam puluh tahun. Jantungnya berdebar. Imelda memegang tangannya.
“Tenang, Lin. Kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Bima, Cici, dan Rizki juga memberi semangat.
Akhirnya, Prof. Sudjono membuka pintu. “Mas Lintang, silakan masuk.”
Lintang masuk. Keempat dosen duduk dengan wajah tegas.
Prof. Sudjono berkata, “Setelah diskusi, kami sepakat bahwa skripsi Anda... LULUS DENGAN PREDIKAT CUM LAUDE.”
Lintang terpaku. Imelda yang mendengar dari pintu yang tidak tertutup rapat, langsung menangis. Bima berteriak. Cici melompat kegirangan. Rizki mengacungkan dua jempol.
“Selamat, Mas Lintang. Anda adalah sarjana cum laude pertama dari bimbingan saya dalam 10 tahun terakhir,” kata Prof. Sudjono dengan mata berkaca-kaca.
Lintang membungkuk. “Terima kasih, Pak. Terima kasih atas bimbingan dan kesabarannya.”
Bu Woro berkata, “Jaga nama baik almamater. Terapkan ilmunya di masyarakat.”
“Siap, Bu.”
Pak Joko menepuk pundaknya. “Anda hebat, Mas. Saya bangga.”
Pak Kusno hanya mengacungkan jempol.
Selesai sidang, Lintang keluar ruangan. Teman-temannya langsung mengerubunginya. Imelda memeluknya paling erat.
“KAMU LULUS CUM LAUDE, LIN!” teriak Bima.
“Ini aneh. Anak tengil lulus cum laude. Dunia kiamat!” teriak Cici sambil menangis.
“Kamu hebat, Lin. Aku bangga jadi temanmu,” kata Rizki.
Lintang tersenyum. Air matanya menetes. “Terima kasih, teman-teman. Terima kasih sudah mendukungku selama ini.”
Imelda mengusap air mata Lintang. “Kamu pantas dapat ini, Lin. Kamu bekerja keras. Kamu tidak pernah menyerah.”
“Aku tidak akan bisa tanpa kamu, Im.”
“Kamu bisa. Tapi aku senang bisa menjadi bagian dari perjalananmu.”
Mereka berpelukan di tengah keramaian mahasiswa yang lalu lalang.
Malamnya, Lintang menelepon Prapto dan Mariyem.
“Pa, Ma, aku lulus. Cum laude.”
Prapto di ujung telepon terdiam beberapa detik. Lalu suaranya parau. “Le, bapak... bapak bangga.”
Mariyem merebut HP. “Le, kamu lulus? Cum laude? Benar?”
“Benar, Ma. Ijazahnya menyusul. Tapi nilai sudah keluar.”
Mariyem menangis. “Anakku... anakku lulus cum laude... Tuhan... terima kasih...”
Prapto mengambil alih lagi. “Le, kapan kamu pulang?”
“Minggu depan, Pa. Setelah wisuda.”
“Bapak akan siapkan sambutan. Seluruh desa akan datang.”
“Jangan terlalu ribut, Pa. Aku bukan artis.”
“Buat bapak, kamu lebih dari artis. Kamu pahlawan desa.”
Lintang menangis. “Pa, jangan bikin aku nangis.”
“Biarkan. Menangis itu manusiawi.”
“Terima kasih, Pa. Terima kasih, Ma. Untuk semuanya.”
Ini adalah keringat dan air mata yang tidak pernah kalian tunjukkan, tapi selalu kalian berikan untukku.”
Prapto dan Mariyem menangis di ujung telepon. Lintang juga menangis. Di sampingnya, Imelda ikut menangis.
Sepekan kemudian, Lintang menjalani wisuda di Gedung Grha Sabha Purnama, UGM. Gedung megah itu dipenuhi oleh ribuan wisudawan dan keluarga. Lintang duduk di barisan paling depan karena predikat cum laude.
Prapto dan Mariyem datang dari Sawahan. Mereka tidak pernah membayangkan akan duduk di gedung semegah ini, menyaksikan anak laki-laki satu-satunya mereka diwisuda sebagai insinyur pertanian cum laude.
Paiman Mas'ud, dan Anjas juga datang. Mereka nebeng truk sayur dari Sawahan ke Jogja. Perjalanan 4 jam tidak terasa karena kegembiraan.
“Pak Prapto, anak Bapak jadi insinyur!” teriak Paiman.
Prapto tersenyum. “Iya, Le. Akhirnya.”
Mariyem tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menangis.
Prof. Sudjono membacakan nama-nama wisudawan. “Lintang Prapto Wiryodiningrat, Fakultas Pertanian, predikat Cum Laude.”
Lintang berjalan ke panggung. Rektor menyematkan toga. Lintang tersenyum ke arah keluarganya. Prapto mengacungkan jempol. Mariyem menangis keras. Paimanbersiul. Mas'ud memeluk Anjas.
Imelda, yang duduk di barisan keluarga karena diundang khusus oleh Lintang, menangis bahagia.
Setelah wisuda, mereka berkumpul di halaman gedung. Foto bersama. Tawa. Tangis. Pelukan.
“Le, kamu sekarang insinyur,” kata Prapto sambil memegang pundak Lintang.
“Iya, Pa. Insinyur pertanian. Insinyur yang tetap tengil.”
“Tengilnya jangan dihilangkan. Itu kekuatanmu.”
“Aku tidak akan menghilangkannya, Pa. Aku hanya akan mengarahkannya ke hal-hal positif.”
Mariyem memeluk Lintang. “Anakku, ibu bangga. Dari bayi yang mencari kumis, sekarang jadi insinyur.”
“Itu karomah, Ma. Bayi pencari kumis jadi insinyur.”
Semua tertawa.
Imelda mendekati Prapto dan Mariyem. “Pak, Bu, perkenalkan. Saya Imelda, pacar Lintang.”
Mariyem memeluk Imelda. “Kamu cantik, Nak. Terima kasih sudah menjaga Lintang selama di Jogja.”
“Sama-sama, Bu. Lintang anak baik. Cuma agak tengil.”
“Itu sudah bawaan lahir. Tidak bisa diubah.”
“Tidak apa-apa, Bu. Justru itu yang membuatnya unik.”
Prapto tersenyum. “Kamu cocok dengan anak kami, Mbak Imelda. Kamu sabar. Dia tengil. Keseimbangan sempurna.”
“Terima kasih, Pak. Saya senang bisa menjadi bagian dari keluarga Lintang.”
Lintang menggenggam tangan Imelda. “Kamu lebih dari bagian. Kamu adalah... tujuan.”
Imelda tersenyum. Semua tersenyum.
Malam harinya, di teras kos Lintang yang sudah beres-beres karena besok akan ditinggal, Lintang dan Imelda duduk berdua. Langit Jogja cerah. Bintang-bintang terlihat setelah sekian lama tersembunyi polusi.
“Lin, besok kamu pulang.”
“Iya. Desa Sawahan menungguku.”
“Kapan kita ketemu lagi?”
“Kamu bisa datang ke Sawahan kapan saja. Desaku indah. Sawahnya hijau. Udaranya sejuk. Dan ada banyak kumis dan janggut yang bisa kamu lihat.”
Imelda tertawa. “Aku tidak datang untuk kumis. Aku datang untuk kamu.”
“Aku tahu. Itu sebabnya aku sayang kamu.”
Mereka berpelukan di teras kos yang sepi. Angin malam berhembus lembut.
“Lin, apa rencanamu setelah pulang?”
“Pertama, terapkan sistem irigasi tetes di sawah desa. Kedua, ajari petani cara modern bertani. Ketiga, bangun koperasi tani. Keempat, jadikan Desa Sawahan desa percontohan pertanian nasional.”
“Itu mimpi besar.”
“Mimpi tanpa eksekusi hanya angan-angan. Aku akan eksekusi.”
“Aku yakin kamu bisa. Kamu orang yang tidak pernah menyerah.”
“Karena aku punya kamu yang selalu mendukung.”
Imelda tersenyum. Dia mencium pipi Lintang. “Aku akan menyusul. Setelah skripsiku selesai, aku akan datang ke Sawahan. Aku ingin melihat desamu. Aku ingin bertemu petani-petanimu. Aku ingin menulis puisi tentang sawah-sawah yang kamu banggakan.”
“Aku tunggu, Im. Dan aku akan sambut kamu dengan sawah yang menguning dan kumis yang siap tarik.”
“Kumis siapa?”
“Kumisku. Aku akan memelihara kumis khusus untukmu.”
“Kamu tidak punya kumis, Lin.”
“Aku akan menumbuhkan.”
Imelda tertawa. “Kamu gila.”
“Tapi kamu suka.”
“Iya. Aku suka.”
Mereka tertawa bersama. Suara tawa itu mengisi malam yang sunyi. Bintang-bintang berkedip, seolah merestui perjalanan Lintang yang akan pulang ke desa, membawa segudang ilmu, segudang mimpi, dan satu cinta yang setia menunggu.
BAB 16
Pulang ke Sawahan Bergelar Insinyur
Nama Baru, Jiwa Lama, Tawa Baru
Perjalanan dari Jogja ke Sawahan terasa sangat berbeda kali ini. Lintang tidak duduk di kursi bus seperti biasa. Ia berdiri di bak truk terbuka milik Pak Wagiman, petani tua yang janggutnya dulu sering ia jadikan korban, ditemani oleh dua koper besar berisi pakaian, buku-buku, dan satu set alat irigasi tetes racikannya sendiri.
Angin sore menerpa wajah Lintang. Sawah-sawah yang ia lewati mulai menguning. Bulir-bulir padi bergoyang-goyang seolah menyambut kepulangannya.
“Mas Lintang, sudah sampai perbatasan desa!” teriak Pak Wagiman dari belakang kemudi.
Lintang mendongak. Di kejauhan, papan bertuliskan “SELAMAT DATANG DI DESA SAWAHAN” menyambutnya. Papan itu baru. Catnya masih mengkilap. Mungkin sengaja dicat ulang untuk menyambutnya, atau kebetulan saja. Lintang memilih percaya yang pertama.
Truk memasuki jalan desa. Rumah-rumah mulai terlihat. Beberapa anak kecil berlari-lari kecil di pinggir jalan, melambai pada Lintang. Lintang melambai balik.
“Lintang pulang! Lintang pulang!” teriak anak-anak.
Seorang ibu yang sedang menjemur pakaian di halaman menoleh. Matanya membulat. “LINTANG? LINTANG JADI INSINYUR?” teriaknya.
Lintang tersenyum dan melambai. “Iya, Bu. Saya pulang.”
Kabar menyebar lebih cepat dari api di musim kemarau. Dalam waktu sepuluh menit, hampir separuh warga Desa Sawahan sudah berkumpul di depan rumah Prapto. Mereka ingin melihat langsung Lintang, anak tengil yang dulu suka menarik kumis dan janggut mereka, kini bergelar insinyur pertanian dari UGM.
Truk berhenti di depan rumah. Prapto dan Mariyem sudah berdiri di teras. Mata mereka basah. Prapto memakai kemeja putih lengan panjang, pakaian terbaik yang ia miliki. Mariyem memakai kebaya batik pemberian tetangga.
Lintang turun dari truk. Ia berjalan mendekati orang tuanya. Lalu ia berlutut di hadapan mereka.
“Saya pulang, Pa, Ma. Maaf sudah lama meninggalkan desa. Maaf sudah merepotkan dengan ketengilan saya selama ini. Maaf untuk semua kesalahan yang pernah saya buat.”
Prapto menangis. Mariyem menangis lebih keras. Mereka memeluk Lintang di depan seluruh warga.
“Kamu pulang, Le. Kamu pulang jadi insinyur,” isak Prapto.
“Iya, Pa. Insinyur pertanian. Insinyur yang tetap tengil.”
Mariyem tertawa di sela tangisnya. “Kamu tidak pernah berubah.”
“Berubah dikit, Ma. Sekarang saya minta izin sebelum menarik kumis.”
Seluruh warga yang hadir tertawa.
Pak Wagiman yang dari tadi manggut-manggut dari balik kemudi, turun dan berkata, “Kumis saya boleh ditarik kapan saja, Mas Lintang. Sebagai hadiah kelulusan.”
“Terima kasih, Pak. Tapi nanti dulu. Ada acara resmi yang harus saya selesaikan.”
“Acara apa?”
“Sambutan warga,” kata Lintang sambil tersenyum.
Balai desa dipenuhi oleh warga yang duduk bersila di lantai anyaman bambu. Pak Eko, lurah baru yang masih berusia 35 tahun, duduk di kursi paling depan. Ia menggantikan Pak Karyono yang wafat enam bulan lalu karena sakit tua. Pak Eko dikenal sebagai pemimpin muda yang progresif. Kumisnya tipis tapi rapi. Lintang sudah mencatat itu dalam daftar mentalnya.
“Selamat datang, Mas Lintang,” sapa Pak Eko. “Desa kami bangga memiliki insinyur pertanian lulusan UGM.”
“Terima kasih, Pak Lurah. Tapi gelar insinyur tidak membuat saya lebih tinggi dari warga lain. Saya tetaplah Lintang. Anak Prapto. Petani. Warga Sawahan biasa.”
Mbah Giman, sesepuh desa yang sudah berusia 90 tahun, berdiri dengan tongkatnya. Suaranya parau, tapi masih terdengar jelas.
“Le Lintang, aku ingat kamu lahir di malam berbintang. Kilatan petir tanpa hujan. Mbah Waginem bilang kamu akan jadi orang besar. Sekarang ramalannya terbukti.”
Lintang membungkuk hormat. “Mbah, Mbah Waginem sudah tiada. Tapi nasihat beliau selalu saya ingat. Saya tidak akan melupakan desa ini.”
Mbah Giman mengangguk. “Bagus. Sekarang tunjukkan buktinya.”
Lintang berdiri di depan podium sederhana, meja kayu yang dilapisi kain batik. Ia memandang satu per satu wajah warga. Ada yang masih setengah takut, ada yang sudah bangga, ada yang masih skeptis.
“Warga Desa Sawahan yang saya hormati,” Lintang memulai. “Saya pulang ke desa ini bukan untuk menjadi pejabat. Bukan untuk menjadi tuan tanah. Saya pulang untuk menjadi petani. Petani yang menggunakan ilmu yang saya pelajari di bangku kuliah. Petani yang ingin mengajak kita semua bertani dengan cara yang lebih baik.”
“Cara yang lebih baik bagaimana?” teriak Kasmin, petani tua yang terkenal keras kepala.
Lintang tersenyum. “Pak Kasmin, Bapak punya sawah setengah hektar di timur desa, kan?”
“Iya. Terus?”
“Setiap kemarau, sawah Bapak kering. Hasil panen menurun drastis. Saya punya solusi: sistem irigasi tetes. Air langsung ke akar. Tidak terbuang percuma.”
“Saya tidak punya uang untuk beli pipa-pipa itu!”
“Tidak perlu beli, Pak. Saya yang menyediakan. Saya sudah bawa contohnya dari Jogja. Ini hasil karya saya sendiri.”
Lintang mengeluarkan satu set selang kecil berlubang-lubang dari kopernya. Ia menunjukkan ke warga.
“Ini sederhana. Murah. Dan bisa dibuat sendiri dengan bahan-bahan yang ada di desa. Saya akan mengajarkan. Gratis. Tidak dipungut biaya.”
Kasmin mengamati selang itu dari jarak dekat. “Ini tidak bocor?”
“Tidak bocor, Pak. Karena lubangnya dibuat dengan pola tertentu. Tekanan airnya diatur. Saya sudah mengujicobakan di sawah Mbah Joyo di Kaliurang. Hasilnya, produksi padi naik 35 persen.”
Kerumunan warga bergumam. Ada yang terkesan, ada yang masih ragu.
Prapto berdiri. “Warga, saya percaya pada anak saya. Dia memang tengil. Tapi dia tidak pernah berbohong. Sistem ini sudah dia ceritakan pada saya saat masih kuliah. Saya sudah lihat sendiri hasil uji cobanya di kebun percobaan kampus. Ini nyata.”
Mariyem ikut berdiri. “Saya hanya ibu rumah tangga yang tidak paham soal irigasi. Tapi saya tahu anak saya tidak akan pulang hanya untuk membual. Dia akan bekerja. Saksikan.”
Pak Wagiman ikut nimbrung. “Saya setuju! Janggut saya siap jadi taruhan. Kalau sistem ini gagal, silakan cabuti janggut saya satu per satu.”
Warga tertawa. Kasmin menggeleng-geleng. “Baiklah. Saya coba. Tapi satu petak dulu. Kalau gagal, saya tidak akan ikut-ikutan lagi.”
Lintang mengangguk. “Siap, Pak. Satu petak dulu. Nanti Bapak akan minta tambah sendiri.”
Sepekan pertama Lintang di desa dihabiskan dengan berkeliling ke sawah-sawah warga. Ia mengukur, mencatat, dan memberi saran. Tidak hanya soal irigasi, tapi juga soal pemupukan, pengendalian hama, dan pascapanen.
Karjo, pemuda desa yang dulu benci Lintang karena pernah dijaili waktu SD, kini menjadi asisten sukarela. Ia membawa buku catatan dan mengikuti Lintang ke mana-mana.
“Lin, dulu aku benci kamu. Sekarang aku ingin belajar sama kamu.”
“Kenapa berubah hati?”
“Karena kamu berubah. Kamu tidak lagi menarik kumis tanpa izin. Kamu serius membantu warga.”
Lintang menepuk pundak Karjo. “Orang boleh berubah, Jo. Yang penting niatnya baik. Sekarang bantu aku catat data sawah Pak Kasmin. PH tanahnya berapa?”
Karjo mengeluarkan alat pengukur PH tanah pinjaman dari Lintang. “6,5. Agak asam.”
“Tambahkan kapur dolomit. Setengah ton per hektar. Nanti aku bantu cari.”
Marni, anak perempuan Karjo yang berusia 7 tahun, ikut-ikutan. Rambutnya diikat dua. Matanya besar dan polos. “Mas Lintang, aku tahu kamu dulu suka narik kumis. Sekarang masih?”
Lintang tertawa. “Masih, Marni. Tapi kalau minta izin dulu. Kamu punya kumis?”
“Tidak. Aku perempuan!”
“Ya sudah. Kumismu aman.”
Marni tertawa. Karjo menggeleng-geleng, tapi tersenyum.
Pekan kedua, Lintang memulai instalasi sistem irigasi tetes di sawah Pak Kasmin. Ia dibantu oleh Karjo, Tukul (pemuda desa yang melek teknologi), dan beberapa warga lain yang mulai penasaran.
Pak Kasmin mengawasi dari pinggir sawah. Tangannya memegang cangkul, sesekali diayun-ayunkan seperti ingin membantu tapi tidak tahu caranya.
“Mas Lintang, selang ini tidak terlalu kecil? Airnya pasti sedikit.”
“Tidak sedikit, Pak. Airnya merata. Satu tetes per detik. Selama 24 jam, sudah 86 liter per titik. Kali ada 200 titik, total 17.000 liter per hari. Cukup untuk tanaman padi seluas setengah hektar.”
Pak Kasmin mengerjap. “Kamu hitung cepat sekali.”
“Saya insinyur, Pak. Hitungan cepat adalah keharusan.”
Tukul yang memasang selang, menyela. “Lin, konektor ini agak longgar.”
“Ganti yang lebih besar. Di koper warna biru ada stok.”
Tukul mengangguk. Ia mengambil konektor baru dan memasangnya dengan rapi.
Setelah tiga hari, instalasi selesai. Air mulai mengalir melalui selang-selang kecil ke akar tanaman padi. Pak Kasmin duduk di pematang sawah, mengamati.
“Ini... ini sungguh bekerja,” gumamnya.
Lintang duduk di sampingnya. “Pak Kasmin, saya tidak akan pernah menawarkan sesuatu yang belum saya uji. Saya petani juga. Saya tahu pahitnya gagal panen.”
Pak Kasmin menatap Lintang. Matanya berkaca-kaca. “Maaf, Mas Lintang. Saya dulu sering nyepelekan kamu. Saya pikir kamu cuma anak tengil yang suka cari perhatian.”
“Tidak apa-apa, Pak. Saya memang dulu tengil. Tapi sekarang tengil saya bermanfaat, kan?”
“Sangat bermanfaat. Terima kasih.”
Mereka berjabat tangan. Di kejauhan, Karjo dan Tukul tersenyum. Marni melompat-lompat kegirangan.
Kabar keberhasilan sistem irigasi tetes di sawah Pak Kasmin menyebar ke seluruh desa. Petani-petani yang tadinya skeptis, mulai berdatangan ke rumah Prapto. Mereka ingin sistem yang sama dipasang di sawah mereka.
Lintang tidak bisa sendirian. Ia melatih Karjo, Tukul, dan tiga pemuda lain menjadi teknisi irigasi. Mereka belajar cara mengukur, memotong, dan menyambung selang. Cara menghitung kebutuhan air. Cara merawat sistem agar tahan lama.
“Kalian ini adalah garda terdepan revolusi pertanian desa,” kata Lintang di akhir pelatihan.
“Revolusi?” tanya Karjo.
“Revolusi dari cara bertani tradisional ke cara modern. Tapi jangan tinggalkan kearifan lokal. Padukan.”
Tukul mengangguk. “Siap, Lin. Kami tidak akan mengecewakan.”
Maryam, istri Tukul, datang membawa nasi bungkus untuk para pekerja. “Mas Lintang, makan dulu. Nanti kedinginan.”
“Terima kasih, Mbak. Wangi sekali nasinya.”
“Ini nasi wangi karena pakai beras dari sawah Tamrin yang sudah panen. Katanya berkat saran Mas Lintang soal pupuk, hasilnya meningkat.”
Lintang tersenyum. “Itu karena Tamrin yang rajin. Saya hanya memberikan saran.”
“Tetap saja, Mas Lintang jasanya besar.”
Lintang makan dengan lahap. Ia sudah terbiasa dengan nasi desa yang sederhana tapi mengenyangkan.
Prapto dan Mariyem mengamati perubahan desa dari teras rumah mereka. Anak-anak desa yang dulu takut pada Lintang, kini mengelilinginya setiap saat. Petani-petani yang dulu memaki-maki, kini datang meminta saran. Para ibu-ibu yang dulu resah dengan kejahilan Lintang, kini memasakkan makanan untuknya.
“Mas, anak kita berhasil mengubah citranya,” kata Mariyem.
“Dia tidak mengubah citra, Yem. Dia mengubah perilaku. Citra mengikuti perilaku.”
“Kamu jadi bijak sejak tua.”
“Bukan bijak. Capek. Capek melihat anak kita kerja keras tanpa istirahat.”
Mariyem tertawa. “Itu warisanmu, Mas. Kamu dulu juga begitu.”
“Makanya aku capek. Warisan itu melelahkan.”
Satu bulan setelah Lintang pulang, Haji Sodik datang ke Desa Sawahan. Pengusaha tambun dengan jas hitam dan peci itu dikenal sebagai "pembeli sawah" di beberapa desa tetangga. Ia datang bersama Bambang , anak buahnya yang licik dan suka mengancam.
Mereka menemui Pak Eko di balai desa.
“Pak Lurah, saya ingin membeli sawah-sawah di timur desa. Harga bagus. Saya akan bayar tunai.”
Pak Eko mengerutkan dahi. “Sawah-sawah itu sumber kehidupan warga saya, Pak Haji. Mereka tidak akan menjual.”
“Setiap orang punya harga. Tolong sampaikan ke warga. Saya beri waktu seminggu.”
Pak Eko tegas. “Tidak perlu, Pak Haji. Desa Sawahan tidak menjual sawahnya. Silakan cari desa lain.”
Haji Sodik tersenyum sinis. “Kita lihat saja nanti, Pak Lurah.”
Mereka pergi. Pak Eko segera memanggil Lintang.
“Mas Lintang, Haji Sodik mau beli sawah kita. Saya tolak. Tapi dia orangnya gigih. Bisa-bisa dia coba pendekatan ke warga satu per satu.”
Lintang tenang. “Kita harus bersiap, Pak. Saya akan ajak warga berkumpul. Kita buat pernyataan bersama: Desa Sawahan tidak akan menjual sawahnya.”
“Anda yakin warga akan sepakat?”
“Saya yakin. Sawah adalah identitas kita. Tanpa sawah, kita bukan petani lagi.”
Pak Eko mengangguk. “Baik. Saya serahkan pada Anda.”
Malam itu, Lintang mengumpulkan warga di balai desa. Suasana tegang. Haji Sodik sudah mengirim utusan ke beberapa petani menawarkan harga tinggi.
“Warga, saya tidak akan bicara panjang,” kata Lintang. “Saya hanya ingin mengingatkan: sawah adalah warisan leluhur. Sawah adalah sumber kehidupan. Sawah adalah identitas kita. Jika kita jual, kita kehilangan segalanya. Uang habis, sawah hilang, kita jadi orang tak punya.”
Kasmin berdiri. “Tapi tawarannya tinggi, Mas Lintang. Sepuluh kali lipat harga pasar.”
“Pak Kasmin, uang bisa habis. Sawah tidak. Sawah bisa terus menghasilkan. Untuk anak cucu kita.”
Pak Kasmin terdiam.
Mbah Giman berdiri dengan tongkatnya. “Aku sudah hidup 90 tahun. Aku melihat desa ini dibangun dari sawah. Aku melihat generasi demi generasi lahir dari hasil sawah. Siapa pun yang berani menjual sawah, berarti mengkhianati leluhur.”
Warga berbisik-bisik. Suasana makin tegang.
Karjo berdiri. “Saya setuju dengan Mas Lintang. Jangan jual sawah. Saya rela hidup sederhana asal masih punya tanah untuk dikerjakan.”
Tukul juga berdiri. “Saya setuju. Sistem irigasi Mas Lintang baru mulai. Jangan sampai putus di tengah jalan gara-gara sawah dijual.”
Satu per satu warga berdiri. Mereka menyatakan setuju untuk tidak menjual sawah.
Pak Eko tersenyum lega. “Kita buat pernyataan tertulis. Tanda tangan semua. Kita kirimkan ke Haji Sodik. Juga ke kecamatan, kabupaten, dan gubernur.”
Lintang membantu menyusun pernyataan itu. Dua jam kemudian, semua warga dewasa di Desa Sawahan, 130 orang, menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak akan menjual sawah kepada siapa pun.
Haji Sodik menerima surat itu keesokan harinya. Ia tersenyum sinis di hadapan Bambang.
“Anak itu, Lintang, pantas jadi lawan. Tapi saya tidak akan menyerah. Saya punya cara lain.”
Bambang mengangguk. “Saya siap, Pak Haji.”
Tiga hari kemudian, Haji Sodik mengirim surat ke BPN (Badan Pertanahan Nasional) yang menyatakan bahwa beberapa sawah di Desa Sawahan memiliki status hukum yang tidak jelas. Tuduhan itu membuat proses pensertifikatan tanah warga terhambat.
Lintang tidak tinggal diam. Ia pergi ke kantor BPN di kabupaten bersama Pak Eko dan beberapa warga. Mereka membawa bukti-bukti kepemilikan sawah yang sudah turun-temurun.
“Kami punya bukti, Pak. Surat girik, bukti pembayaran pajak, dan saksi-saksi yang bisa dihadirkan.”
Kepala BPN, seorang pria paruh baya bernama Pak Suwito, memeriksa berkas-berkas itu. “Ini lengkap, Mas. Saya tidak menemukan masalah. Siapa yang melaporkan?”
“Haji Sodik. Dia ingin membeli sawah kami dengan harga murah lalu menjualnya ke pengembang.”
Pak Suwito menghela napas. “Saya kenal Haji Sodik. Dia sudah beberapa kali melakukan ini di desa lain. Kami akan proses cepat sertifikat tanah warga Anda. Sebagai perlindungan hukum.”
Lintang mengucapkan terima kasih. Pak Eko menghela napas lega.
Malam harinya, Lintang merebahkan diri di kasur lamanya di rumah Prapto. Langit-langit rumah yang terbuat dari anyaman bambu masih sama seperti 10 tahun lalu. Hanya ada beberapa bolong baru akibat rayap.
“Pa, aku capek,” kata Lintang.
“Capek itu wajar, Le. Kamu bekerja keras.”
“Bukan hanya kerja fisik. Juga kerja pikiran. Dan kerja hati.”
Prapto duduk di samping tempat tidur. “Kamu menanggung beban desa ini di pundakmu. Tidak perlu sendirian. Ayo libatkan warga.”
“Aku sudah libatkan, Pa. Tapi keputusan akhir tetap di aku. Warga percaya padaku. Aku tidak boleh mengecewakan.”
“Kamu tidak akan mengecewakan, Le. Kamu sudah membuktikan.”
Lintang tersenyum. “Pa, aku kangen Imelda.”
Prapto tertawa. “Telepon dia. Jangan cuma dipendam.”
“Besok. Sekarang sudah malam. Dia pasti tidur.”
“Kamu baik. Menghargai waktu istirahat orang.”
“Itu pelajaran dari Imelda. Dulu aku tidak pernah menghargai itu.”
Prapto mengusap kepala Lintang. “Tidurlah, Le. Besok masih banyak kerja.”
“Selamat malam, Pa.”
“Selamat malam. Jangan lupa mimpi indah.”
“Mimpiku adalah Imelda. Jadi pasti indah.”
Prapto tertawa kecil lalu keluar kamar. Lintang memejamkan mata. Wajah Imelda muncul di sela-sela kelopaknya. Ia tersenyum.
BAB 17
Revolusi Padi Gaya Lintang
Meningkatkan Produksi, Merendahkan Stres Warga
Tiga bulan sudah Lintang kembali ke Desa Sawahan. Tiga bulan yang mengubah banyak hal. Sawah-sawah yang tadinya kering dan tandus kini menghijau. Petani-petani yang tadinya putus asa kini kembali bersemangat. Dan yang paling penting, sistem irigasi tetes buatan Lintang sudah terpasang di 20 hektar sawah, hampir separuh total lahan pertanian desa.
Tapi Lintang tidak berhenti di situ. Dia punya ide gila lainnya: revolusi padi dengan metode tanam baru yang disertai joget.
“Joget? Di sawah?” tanya Pak Wagiman dengan mata melotot.
“Iya, Pak. Joget. Tapi bukan joget sembarangan. Joget dengan irama tertentu yang membantu proses penyerapan pupuk.”
“Itu ilmu apa? Ilmu dukun?”
“Ilmu pertanian modern yang dikombinasikan dengan kebahagiaan petani, Pak. Petani yang bahagia kerjanya lebih produktif. Joget membuat bahagia. Jadi, joget di sawah meningkatkan produktivitas.”
Pak Wagiman menggaruk janggutnya yang sudah mulai lebat lagi. “Kamu ini, Mas Lintang, selalu punya ide gila. Tapi ide gilamu sebelumnya terbukti berhasil. Jadi aku percaya.”
“Terima kasih, Pak. Janggut Bapak akan saya jaga. Tidak akan saya tarik tanpa izin.”
“Boleh ditarik kapan saja, asal hasil panen meningkat.”
Mereka berdua tertawa.
Ide joget di sawah berawal dari pengamatan Lintang terhadap petani-petani di desanya. Mereka bekerja dengan wajah tegang, kaku, dan jarang tersenyum. Beban hidup, utang, dan ketidakpastian hasil panen membuat mereka stres. Lintang ingin mengubah itu.
“Kalau petani stres, tanamannya juga stres,” kata Lintang pada Karjo dan Tukul saat mereka sedang merawat sistem irigasi.
“Tanaman stres? Tanaman punya perasaan?” tanya Karjo.
“Tanaman tidak punya perasaan seperti manusia. Tapi mereka merespons lingkungan. Lingkungan yang tegang, banyak teriakan, banyak kemarahan, banyak energi negative, bisa mempengaruhi pertumbuhan. Itu sudah dibuktikan oleh penelitian.”
“Penelitian siapa?”
“Penelitianku. Di kebun percobaan kampus.”
Tukul tertawa. “Kamu selalu punya penelitian untuk setiap ide gilamu.”
“Karena ide gila tanpa data namanya omong kosong. Aku tidak suka omong kosong.”
Lintang mulai menyusun "protokol joget sawah". Dia membuat tiga gerakan sederhana yang mudah diikuti oleh siapa saja, bahkan oleh Mbah Tumin yang sudah berusia 80 tahun dan jalannya pincang.
Gerakan pertama: "Tanan-menanam" – tangan direntangkan ke depan seperti sedang menanam bibit, lalu ditarik ke dada seperti memeluk padi.
Gerakan kedua: "Nyiram-nyiram" – tangan kanan memegang gayung imajiner, mengangkat ke atas lalu menurunkan ke samping seperti sedang menyiram tanaman.
Gerakan ketiga: "Panen-panen" – kedua tangan direntangkan ke samping lalu disatukan di depan dada seperti sedang memotong padi.
Lintang mendemonstrasikan di depan balai desa. Puluhan warga menonton. Ada yang tertawa, ada yang malu-malu, ada yang langsung ikut.
“Mas Lintang, ini joget atau senam?” tanya Bu Sami, ketua RT yang awalnya skeptis.
“Ini joget terapi, Bu. Joget yang menyehatkan jiwa dan raga. Juga menyuburkan padi.”
“Hubungannya dengan padi apa?”
“Bu Sami, coba bayangkan. Kalau Bapak-bapak petani pulang ke rumah dalam keadaan bahagia, istri-istri mereka akan senang. Anak-anak mereka akan senang. Suasana rumah menjadi harmonis. Petani yang harmonis akan merawat sawahnya dengan lebih baik. Itu hubungannya.”
Bu Sami mengerjap. “Kamu ini pintar merangkai kata. Aku tidak bisa membantah.”
“Ikut, Bu. Jogetnya sederhana. Tidak perlu bakat. Yang perlu kemauan.”
Bu Sami menghela napas, lalu mulai mengikuti gerakan. Perlahan, warga lain mulai ikut. Mbah Tumin gerakannya paling lucu, karena badannya bungkuk, tangannya tidak bisa lurus sempurna. Tapi dia tersenyum lebar.
“Mbah Tumin, keren!” teriak Lintang.
Mbah Tumin mengacungkan jempol. “Aku dulu penari jaipong, Le. Ini mah kecil.”
Lasmiati, istrinya, langsung menyahut. “Jaipong apa? Yang kau lakukan dulu cuma goyang-goyang tidak karuan!”
Warga tertawa. Suasana menjadi hangat.
Lintang merekam joget itu dengan ponselnya. Sutikno, pemuda desa yang hobi videografi, membantu pengambilan gambar. Mereka membuat tiga video pendek: satu video demonstrasi gerakan, satu video joget massal di balai desa, dan satu video joget di sawah dengan latar belakang padi yang menguning.
Mbak Yuli, pemilik warnet desa, membantu mengunggah video itu ke berbagai platform. Judulnya: "Joget Sawahan – Cara Baru Bertani ala Insinyur Tengil".
Dalam waktu seminggu, video itu ditonton 500 ribu kali. Petani-petani dari berbagai daerah mulai meniru gerakan joget itu. Bahkan Dinas Pertanian Kabupaten menelepon Lintang untuk meminta izin menggunakan video itu sebagai materi penyuluhan.
“Mas Lintang, ini luar biasa,” kata Pak Rudi, Camat yang dulu sempat meragukan Lintang. “Para petani di kecamatan lain jadi semangat lagi. Mereka bilang bertani itu tidak harus membosankan.”
“Itu tujuan saya, Pak. Membuat petani bahagia. Hasilnya akan mengikuti.”
“Saya setuju. Saya akan rekomendasikan program ini ke bupati.”
Lintang tersenyum. Bukan karena pujian, tapi karena dampaknya nyata dirasakan oleh petani-petani kecil.
Di sawah, Lintang menerapkan joget itu setiap pagi sebelum memulai kerja. Para petani berkumpul di pematang sawah, melakukan gerakan bersama selama lima menit. Setelah itu, mereka bekerja dengan senyum di wajah.
Pak Kasmin, mantan skeptis yang kini jadi pengikut setia Lintang, mengakui manfaat joget itu.
“Aku dulu selalu tegang. Pikiran soal utang, soal hama, soal irigasi. Sekarang, setelah joget, rasanya lega. Pikiran lebih jernih. Dan hasil panenku meningkat 30 persen.”
“Pak Kasmin, itu bukan karena jogetnya. Itu karena Bapak lebih rileks dalam bekerja. Joget hanya alat.”
“Ya terserah. Yang penting hasilnya bagus.”
Tukul yang mendengar ikut nimbrung. “Istriku sekarang tidak takut lagi kalau aku pulang ke rumah. Dulu aku sering marah-marah karena stres. Sekarang aku pulang sambil bersiul.”
Lintang menepuk pundak Tukul. “Itu perubahan yang paling berharga, Kul. Rumah tangga harmonis, sawah produktif. Itu siklus positif.”
Maryam, istri Tukul, datang membawa minuman untuk para pekerja. “Mas Lintang, terima kasih. Suamiku dulu pemarah. Sekarang jadi penyanyi dadakan. Setiap mandi selalu bersiul.”
“Itu karena bahagia, Mbak. Petani yang bahagia mandinya juga bersiul.”
Semua tertawa.
Video joget sawah Lintang tidak hanya viral di kalangan petani. Anak-anak muda juga ikut meniru. Bahkan beberapa artis ibu kota membuat video joget versi mereka dengan latar belakang mal dan pusat perbelanjaan. Lintang tidak keberatan. Selama pesan tentang kebahagiaan petani tersampaikan, dia senang.
Bu Titi, guru SD setempat, menggunakan video joget itu sebagai materi seni budaya. Anak-anak diajari gerakan "tanam, siram, panen" dengan iringan angklung sederhana.
“Bu Titi, anak-anak senang sekali. Mereka jadi tahu profesi petani itu keren,” kata Lintang saat berkunjung ke SD.
“Terima kasih, Mas Lintang. Dulu anak-anak malu bilang orang tuanya petani. Sekarang mereka bangga.”
“Itu perubahan pola pikir yang saya inginkan. Petani itu pahlawan. Harus dihormati.”
Bu Titi tersenyum. “Mas Lintang, saya dengar cerita tentang Bapak dulu. Katanya Bapak paling tengil se-desa. Saya tidak percaya.”
“Itu benar, Bu. Saya dulu tengil. Tapi sekarang tengil positif. Saya ganggu sistem yang beku. Saya ganggu kebiasaan buruk. Saya ganggu kemalasan.”
“Tenaga Bapak luar biasa. Desa ini beruntung.”
Lintang tersenyum malu. Dia tidak terbiasa dipuji berlebihan.
Heru, petani milenial dari desa tetangga, datang ke Sawahan untuk belajar langsung dari Lintang. Dia seorang sarjana pertanian yang lebih memilih mengelola kebun orang tuanya daripada kerja di perusahaan.
“Mas Lintang, saya kagum dengan sistem Bapak. Bukan hanya teknisnya, tapi juga pendekatan sosialnya.”
“Pendekatan sosial itu penting, Heru. Teknologi tanpa diterima oleh masyarakat hanya akan menjadi pajangan. Saya harus membuat warga percaya dulu. Setelah percaya, baru teknologi bisa masuk.”
“Bagaimana cara membuat warga percaya?”
“Tunjukkan bukti. Jangan janji muluk-muluk. Kerja dulu. Nanti hasilnya bicara. Juga... buat mereka tertawa. Orang yang tertawa lebih mudah menerima hal baru.”
Heru mencatat semua nasihat Lintang. Dia akan terapkan di desanya.
Parmin, wiraswasta yang tertarik investasi, datang ke Sawahan dengan setelan jas rapi dan mobil mewah. Dia ingin menginvestasikan modalnya untuk memperluas sistem irigasi Lintang ke desa-desa lain.
“Mas Lintang, saya lihat potensi besar di sini. Saya mau danai. Saya ambil keuntungan 30 persen. Setuju?”
Lintang mengamati Parmin dengan saksama. “Pak Parmin saya tidak anti-investor. Tapi keuntungan 30 persen terlalu tinggi. Petani tidak akan mampu.”
“Saya tidak minta dari petani. Dari hasil panen.”
“Tetap saja. Mari kita hitung ulang. Maksimal 15 persen.”
“20 persen.”
“17 persen. Deal atau tidak?”
Parmin tertawa. “Anda negosiator ulung, Mas Lintang. Baik, 17 persen. Tapi sistemnya harus berjalan di 10 desa dalam setahun.”
“Target ambisius. Saya suka. Siap.”
Mereka berjabat tangan. Pak Wagiman yang menyaksikan hanya geleng-geleng. “Anak ini, negosiasinya cepat. Kayak lagi jual kumis.”
“Kumis tidak bisa dijual, Pak. Tapi sistem irigasi bisa.”
Di sela-sela kesibukan, Lintang masih menyempatkan diri menelepon Imelda setiap malam. Jarak bukan halangan. Mereka bercerita tentang aktivitas masing-masing, tentang rindu yang tidak pernah berkurang.
“Lin, skripsiku sudah setengah jalan. Dosen pembimbingku bilang ini salah satu skripsi terbaik yang pernah dia bimbing.”
Lintang tersenyum mendengar kabar itu. “Kamu hebat, Im. Aku bangga.”
“Kamu juga hebat. Videomu tentang joget sawah viral di kampus. Teman-teman sastra jadi tertarik meneliti fenomena itu.”
“Penelitian apa? Pengaruh joget terhadap produktivitas petani?”
“Bukan. Pengaruh joget terhadap kebahagiaan petani. Itu ranah sastra. Puisi-puisi tentang petani yang joget di sawah.”
Lintang tertawa. “Kalau jadi buku, saya minta satu eksemplar. Tanda tangan.”
“Pasti. Akan aku beri tanda tangan khusus untuk insinyur tengil kesayanganku.”
“Im, kapan kamu ke Sawahan?”
“Setelah sidang skripsi. Mungkin dua bulan lagi.”
“Saya tunggu. Sawah-sawah di sini sudah mulai menguning. Indah.”
“Aku tidak sabar melihatnya.”
“Aku juga tidak sabar melihatmu.”
Mereka berdua terdiam. Rindu yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Sore itu, Lintang berjalan sendirian di pematang sawah. Padi-padi mulai menguning. Bulir-bulirnya berisi dan berat. Hasil panen nanti diprediksi akan meningkat drastis.
Bu Sami yang sedang memetik sayur di kebun dekat sawah, memanggilnya. “Mas Lintang, sebentar.”
Lintang menghampiri. “Ada apa, Bu?”
“Aku mau minta maaf.”
“Minta maaf kenapa?”
“Dulu aku selalu bergosip tentang kamu. Bilang kamu anak tengil yang tidak punya masa depan. Ternyata aku salah. Kamu bukan hanya punya masa depan, tapi juga membawa masa depan untuk desa ini.”
Lintang tersenyum. “Bu Sami, semua orang pernah salah. Yang penting mau mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Saya juga dulu banyak salah. Sekarang saya perbaiki.”
“Kamu baik hati, Mas. Tidak pendendam.”
“Tidak ada gunanya dendam, Bu. Dendam hanya menyita energi. Energi itu lebih baik saya gunakan untuk membangun desa.”
Bu Sami mengangguk-angguk. Dia kemudian mengambil beberapa terong dari kebunnya. “Ini untuk kamu. Terong ungu. Enak buat sayur.”
“Terima kasih, Bu. Saya suka terong.”
“Itu juga karena kamu suka. Biasanya aku tidak mau kasih ke siapa pun. Pelit katanya.”
Lintang tertawa. “Bu Sami yang dulu pelit. Sekarang dermawan.”
“Karena kamu mengubah desa ini, Mas. Aku jadi ikut berubah.”
Malam harinya, Lintang berkumpul dengan Karjo, Tukul, dan teknisi muda lainnya di rumah Prapto. Mereka mengevaluasi progres sistem irigasi yang sudah berjalan.
“Lin, sawah di utara desa sudah selesai semua. Sekarang tinggal selatan. Tapi masalahnya, sumber air di selatan lebih kecil,” lapor Karjo.
“Kita gunakan pompa tenaga surya. Saya sudah menghubungi supplier. Mereka bersedia memberi dengan harga miring karena ini proyek pemberdayaan petani.”
Tukul mengangkat alis. “Pompa tenaga surya? Mahal itu, Lin.”
“Tidak terlalu mahal. Sekali beli, tidak perlu biaya listrik. Matahari gratis. Petani kita hanya perlu perawatan rutin.”
“Kapan kita pasang?”
“Minggu depan. Saya pesan tiga unit. Satu untuk selatan, satu untuk barat, satu cadangan.”
Para teknisi itu mengangguk. Mereka semakin percaya dengan visi Lintang.
Keesokan harinya, Lintang kedatangan tamu tak terduga. Mak Comblang, julukan untuk Bu Sami yang kini jadi pendukung fanatik Lintang, membawa rombongan ibu-ibu PKK. Mereka ingin belajar membuat pupuk organik dari limbah rumah tangga.
“Mas Lintang, kami ingin desa ini mandiri. Tidak bergantung pada pupuk kimia mahal,” kata Bu Sami.
“Bagus, Bu. Saya dukung. Pupuk organik lebih ramah lingkungan, lebih murah, dan hasilnya tidak kalah dengan pupuk kimia.”
Lintang mengajarkan cara membuat pupuk kompos dari sisa sayuran, kotoran ternak, dan dedaunan kering. Para ibu-ibu itu mencatat dengan saksama.
“Cara ini sudah saya praktekkan di kebun percobaan kampus. Hasilnya, sayuran tumbuh subur, tanah juga jadi lebih gembur.”
Mbak Yuli, pemilik warnet, menawarkan diri untuk mengunggah video tutorial itu. “Saya kasih judul 'Pupuk Kompos: Investasi Emas untuk Petani'.”
“Bagus, Yul. Tapi jangan lupa bubuhi disclaimer: jangan dimakan. Ini pupuk, bukan bubur.”
Ibu-ibu itu tertawa.
Minggu keempat program joget sawah, Lintang mengadakan "Panen Raya dengan Joget Massal". Sawah Pak Kasmin yang pertama kali menerapkan sistem irigasi tetes, kini panen raya. Hasilnya: produksi padi meningkat 40 persen dari sebelumnya.
Seluruh warga desa berkumpul di pinggir sawah. Mereka membawa hasil bumi masing-masing untuk ditukarkan. Suasana seperti pesta.
Lintang berdiri di pematang sawah dengan mikrofon sederhana. “Warga yang saya banggakan, hari ini kita panen raya. Hasilnya luar biasa. Membuktikan bahwa sistem irigasi tetes dan joget sawah kita berhasil.”
“JOGET! JOGET! JOGET!” teriak warga.
Lintang tertawa. “Baik, kita joget dulu sebelum panen. Siapa yang tidak ikut joget, tidak boleh panen.”
Bu Sami langsung memimpin gerakan. Warga mengikuti dengan semangat. Anak-anak kecil ikut-ikutan. Mbah Tumin yang jalannya pincang tetap ikut gerak sebisanya. Wajahnya berseri-seri.
Usai joget, Lintang memotong padi pertama menggunakan sabit. Karjo, Tukul, dan para petani lain ikut memotong. Suasana haru bercampur bahagia.
Pak Kasmin menangis. “Aku tidak pernah menyangka sawahku bisa seproduktif ini. Terima kasih, Mas Lintang.”
“Jangan terima kasih pada saya, Pak. Terima kasih pada diri Bapak sendiri. Bapak yang mau berubah. Bapak yang mau mencoba hal baru. Saya hanya memberi alat.”
Pak Wagiman yang mendengar, ikut berkomentar. “Mas Lintang ini orangnya rendah hati. Padahal jasanya besar. Desanya berubah karena dia.”
“Desa berubah karena kita semua, Pak. Bukan karena saya sendiri.”
Prapto yang berdiri di pinggir sawah bersama Mariyem, tersenyum bangga. “Anak kita, Yem.”
“Anak kita, Mas. Bayi yang dulu mencari kumis. Sekarang mencari solusi.”
“Kumis dan solusi itu berjalan beriringan.”
Mariyem tertawa. “Kamu selalu bisa membuatku tertawa, Mas.”
“Itu tugas suami, Yem. Membuat istri tertawa.”
Mereka berdua menggandeng tangan, menyaksikan pesta panen yang meriah.
Media lokal datang meliput. Wartawan dari harian daerah mewawancarai Lintang.
“Mas Lintang, apa kunci sukses program pertanian di Desa Sawahan?”
“Kuncinya sederhana: percaya pada petani, libatkan mereka dalam setiap proses, dan buat mereka bahagia. Petani yang bahagia sawahnya subur.”
“Apakah joget sawah bagian dari strategi membuat petani bahagia?”
“Iya. Joget itu media. Sebenarnya yang saya lakukan adalah mengubah mindset bahwa bertani itu mulia, menyenangkan, dan tidak harus membosankan.”
“Terima kasih, Mas Lintang. Inspiratif sekali.”
Lintang tersenyum. “Sama-sama. Tolong beritakan juga bahwa petani Indonesia butuh perhatian. Jangan hanya saat harga beras naik.”
Wartawan itu mencatat dengan saksama.
Malam harinya, setelah pesta panen usai, Lintang duduk di teras rumahnya. Tubuhnya lelah, tapi hatinya bahagia. Imelda menelepon.
“Lin, aku lihat videonya. Panen raya dengan joget. Lucu sekali.”
“Kamu tertawa?”
“Sampai nangis. Mbah Tumin jogetnya kocak banget.”
“Dia patah tulang jatuh dari pohon kelapa 20 tahun lalu. Tapi semangatnya tidak pernah patah.”
“Aku jadi semakin penasaran dengan desamu. Orang-orangnya unik.”
“Kamu juga unik. Mau pacaran dengan insinyur tengil.”
“Aku tidak menyesal. Jadi kapan aku ke sana?”
“Kapan saja kamu mau. Sawah-sawah di sini sudah menguning. Bulir padinya berisi. Kamu bisa lihat langsung hasil kerja keras para petani.”
“Aku datang setelah sidang. Janji.”
“Aku tunggu, Im. Aku siapkan kamar khusus untukmu. Tidak ada kumis di dindingnya.”
“Itu kamar paling aman di desa, ya?”
“Iya. Karena tidak ada yang bisa aku tarik.”
Mereka tertawa bersama.
Lintang menutup telepon. Dia memandang langit malam. Bintang-bintang bersinar terang, lebih terang dari biasanya. Seperti saat dia lahir dulu.
“Sawah, bintang, dan ketengilan,” bisik Lintang. “Mereka selalu bersamaku.”
Angin malam berhembus lembut, membawa wangi padi dari sawah yang baru dipanen. Lintang tersenyum. Dia tidak pernah membayangkan bahwa menjadi insinyur akan semenyenangkan ini. Dan perjalanannya masih panjang.
BAB 18
Lamaran Gila di Tengah Sawah
Seribu Tengil Berakhir Satu Pelukan
Dua bulan sudah Lintang mempersiapkan ini. Dua bulan penuh strategi, taktik, dan yang paling penting, keriaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Lintang akan melamar Imelda. Bukan di restoran mewah, bukan di gedung megah, bukan di panggung romantis dengan biola dan bunga mawar. Lintang akan melamar Imelda di tengah sawah yang sedang menguning.
“Kenapa sawah?” tanya Karjo ketika Lintang membagi tugas persiapan.
“Karena sawah adalah rumahku. Sawah adalah tempat aku dibesarkan. Sawah adalah sumber kehidupanku. Dan Imelda adalah sumber kebahagiaanku. Tidak ada tempat yang lebih pantas.”
Tukul yang sedang memasang hiasan bambu menyahut. “Tapi Lin, lamaran di sawah? Lalu lintasnya bagaimana? Nanti ada kerbau lewat.”
“Kerbau tidak akan lewat. Kerbau sudah saya pindahkan ke kandang Pak Wagiman. Cuma satu masalah: Pak Wagiman keberatan karena kerbau-kerbaunya rewel.”
“Kasih uang jajan saja. Nanti diam,” saran Karjo.
Lintang tertawa. “Karjo, kamu jadi pintar. Dulu kamu hanya bisa mencabut rambut teman.”
“Itu karena pengaruhmu, Lin. Aku belajar menjadi tengil positif.”
“Bagus. Teruskan estafet ketengilan positif ini.”
Spanduk lamaran dibuat oleh para pemuda desa. Ukurannya empat meter. Ditulis dengan cat biru dan putih. Bunyinya:
"IMELDA YULIANA, AKU SUDAH TAKLUK PADA PANDANGAN KESERIBUKU. MAUKAH KAU JADI INSINYUR HATI KU? – LINTANG, INSINYUR TENGIL"
Tukul memeriksa spanduk itu. “Lin, kok ditulis 'insinyur hati'? Bukan 'insinyur pertanian'?”
“Itu metafora, Kul. Aku insinyur pertanian untuk sawah-sawah ini. Tapi untuk Imelda, aku insinyur hati. Tugasnya membuat dia bahagia.”
Marni, anak perempuan Karjo yang berusia 7 tahun, ikut membaca. “Mas Lintang, tulisannya bagus. Tapi ada huruf 'N' yang terbalik.”
Lintang melihat spanduk itu. Benar. Huruf 'N' di kata 'INSINYUR' terbalik.
“Biarkan,” kata Lintang. “Itu ciri khas. Lamaran gila di tengah sawah tidak perlu sempurna.”
Karjo menggeleng-geleng. “Kamu benar-benar gila, Lin.”
“Gila tapi berani. Itu yang terpenting.”
Pak Eko, lurah desa, meminjamkan balai desa untuk acara lamaran. Tapi Lintang menolak. “Maaf, Pak Lurah. Acaranya di sawah. Di pematang.”
“Di pematang? Nanti tamu duduk di mana?”
“Di pematang juga. Bawa tikar sendiri.”
Pak Eko tertawa keras. “Mas Lintang, Anda ini sungguh unik. Belum pernah ada lamaran di pematang sawah sepanjang sejarah Desa Sawahan.”
“Itu sebabnya saya membuat sejarah baru, Pak.”
“Baiklah. Saya dukung. Apa pun yang Bapak butuhkan, silakan minta.”
“Satu, Pak. Tolong kumis Bapak jangan dicukur sampai acara selesai. Saya butuh properti.”
“Properti?”
“Iya. Untuk foto. Pengantin biasanya pegang bunga. Saya pegang kumis.”
Pak Eko tertawa lagi. “Anda keterlaluan, Mas Lintang. Tapi saya izinkan.”
Hari lamaran tiba. Sawah yang dipilih adalah sawah pertama yang menerapkan sistem irigasi tetes, sawah Pak Kasmin. Padi-padi sudah menguning sempurna. Bulir-bulirnya berisi, bergoyang lembut tertiup angin pagi.
Pematang sawah dihiasi dengan bambu-bambu yang diikat daun kelapa muda. Umbul-umbul dari kain perca warna-warni dipasang di setiap sudut. Suasana meriah tapi tetap sederhana.
Para tamu mulai berdatangan. Warga desa membawa tikar pandan dan duduk di pematang sawah. Ada yang membawa makanan untuk ditukar. Ada yang membawa angklung untuk mengiringi acara.
Prapto memakai kemeja putih lengan panjang, yang sama saat Lintang wisuda. Mariyem memakai kebaya batik pemberian Bu Sami. Wajah mereka berseri-seri.
“Mas, anak kita lamaran. Di sawah,” bisik Mariyem.
“Aku tahu, Yem. Aku yang mengizinkan.”
“Kenapa di sawah?”
“Karena anak kita anak petani. Petani lamaran di sawah itu wajar.”
Mariyem tertawa. “Semua yang dilakukan Lintang selalu kamu dukung.”
“Karena dia anak kita. Dan dia tidak pernah salah dalam memilih.”
Mariyem menggenggam tangan Prapto. “Aku setuju. Imelda gadis yang baik. Dia sabar. Cocok dengan Lintang yang tengil.”
Mereka berdua tersenyum.
Imelda datang bersama rombongan kecil dari Jogja. Ada kedua orang tuanya, yang baru pertama kali ke Sawahan, Bu Lik dan Pak Lik (bibi dan pamannya yang cerewet), serta dua temannya, Tono dan Lia.
Mobil yang mereka tumpangi berhenti di pinggir jalan. Mereka harus berjalan kaki ke sawah karena mobil tidak bisa masuk ke pematang.
“Wah, masih sawah?” kata Bu Lik dengan nada sedikit kecewa. “Saya kira di gedung atau restoran.”
Imelda tersenyum. “Bu Lik, Lintang itu anak desa. Sawah adalah dunianya. Akan aneh kalau dia melamar di restoran.”
Bu Lik menghela napas. “Terserah kamu. Yang penting kamu bahagia.”
“Saya bahagia, Bu Lik. Percayalah.”
Mereka berjalan menyusuri pematang sawah. Pemandangan padi menguning di kiri kanan. Udara pagi yang sejuk. Suara burung-burung berkicau.
Pak Lik yang pemalu, tiba-tiba bicara. “Indah juga sawah ini. Tenang. Jauh dari kebisingan kota.”
Imelda tersenyum. “Iya, Pak Lik. Sawah itu indah jika kita mau melihatnya.”
Lintang berdiri di tengah pematang dengan setelan jas hitam, satu-satunya jas yang ia miliki, dibeli dari uang tabungan selama kuliah. Jas itu sedikit kekecilan karena Lintang agak gemuk setelah sering makan di rumah.
Karjo dan Tukul berdiri di sampingnya sebagai saksi. Marni memegang baki berisi cincin lamaran sederhana, cincin perak yang diukir tangan oleh pengrajin desa.
“Lin, tangan kamu gemetar,” bisik Karjo.
“Aku tidak gemetar. Hanya... detak jantungku yang terlalu keras.”
“Itu namanya grogi. Insinyur tengil grogi. Ini pemandangan langka.”
Lintang menarik napas dalam-dalam. “Aku tidak grogi. Aku... deg-degan.”
“Sama saja.”
“Beda.”
Tukul memotong. “Sudah, jangan debat. Dia sudah datang.”
Imelda muncul dari balok padi yang tinggi. Rambutnya dibiarkan tergerai, hanya diberi jepit bunga sederhana. Dia memakai kebaya putih dan kain batik, penampilan sederhana tapi memikat.
Lintang terdiam. Untuk kesekian kalinya, Imelda membuatnya kehilangan kata-kata.
Imelda berjalan mendekat. Parasnya berseri-seri. Matanya berbinar.
“Lin, aku datang.”
Lintang tersenyum. “Aku lihat. Kamu cantik.”
“Kamu juga ganteng. Jasmu sedikit kekecilan.”
“Itu sengaja. Supaya kamu ingat bahwa aku berusaha keras untuk acara ini.”
Imelda tertawa. “Kamu selalu punya alasan.”
Acara dimulai. Pak Eko menjadi pemimpin acara dadakan, karena tidak ada pembawa acara profesional yang mau panggilannya di sawah.
“Yang terhormat warga Desa Sawahan, keluarga mempelai, dan tamu undangan. Hari ini kita berkumpul di sawah yang menguning ini untuk menyaksikan lamaran Mas Lintang, insinyur pertanian kita, kepada Mbak Imelda Yuliana, mahasiswi sastra dari Jogja.”
Warga bertepuk tangan. Pak Lik bertepuk paling keras.
Pak Eko melanjutkan. “Acara pertama, pembacaan ikrar lamaran oleh Mas Lintang. Silakan.”
Lintang maju selangkah. Lututnya hampir tertekuk karena pematang sawah sempit. Dia mengatur napas.
“Imelda Yuliana, perempuan yang sabar menghadapi ketengilanku.”
Warga tertawa. Imelda tersenyum.
“Aku tidak pandai merangkai kata seperti kamu. Aku hanya pandai merangkai pipa irigasi. Tapi hari ini, aku akan mencoba merangkai kata yang paling tulus dari hatiku.”
Lintang mengeluarkan secarik kertas dari saku jasnya. Tangannya gemetar membacanya.
“Imelda, sejak pertama kali aku melihatmu di bangku taman depan Fakultas Ilmu Budaya, aku tahu ada yang berbeda. Biasanya, aku hanya tertarik pada kumis dan janggut. Tapi kamu tidak punya keduanya. Namun aku tetap tertarik. Dan itu aneh.”
Imelda tertawa. Suaranya pecah.
“Aku butuh seribu pandangan untuk menyadari bahwa yang aku cari bukanlah kumis. Yang aku cari adalah ketenangan. Dan ketenangan itu bernama Imilda Yuliana.”
Lintang mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Imelda.
“Imelda, aku sudah takluk pada pandangan keseribuku. Aku tidak ingin mencari lagi. Aku sudah menemukan. Maukah kamu menjadi insinyur hatiku? Menjadi partnerku dalam membangun desa ini, membangun masa depan, membangun keluarga, tentu saja jika kamu mau.”
Imelda menangis. Bu Lik ikut menangis. Mariyem menangis. Prapto mengusap matanya.
Pak Eko bertanya, “Mbak Imelda, apa jawaban Anda?”
Imelda menarik napas. Suaranya bergetar. “Lintang, sejak pertama kali kamu menyembunyikan sepatuku, aku sudah tahu kamu anak yang aneh. Tapi aneh yang tulus. Aku butuh waktu untuk jatuh cinta padamu. Bukan karena kamu tidak menarik. Tapi karena aku ingin memastikan bahwa cintaku nyata, bukan hanya karena terpesona oleh ketengilanmu.”
“Dan sekarang?” tanya Lintang.
“Sekarang, setelah seribu pandangan, setelah berbulan-bulan bersama, setelah kamu belajar puisi, ikut seminar sastra, mencari buku langka, dan membawaku ke sawah-sawahmu... aku yakin. Kamu adalah orang yang tepat.”
Imelda maju selangkah. Tangannya menggenggam tangan Lintang.
“Ya, Lintang. Aku mau menjadi insinyur hatimu.”
Warga bersorak. Karjo melepas petasan bambu. Tukul meniup terompet mainan. Marni menangis, tidak tahu kenapa, ikut-ikutan saja.
Lintang memeluk Imelda di tengah sawah. Padi-padi bergoyang seolah ikut menari.
Acara lamaran lancar. Tidak ada keributan. Tapi tidak ada cerita tanpa sedikit drama. Surti, mantan naksir Lintang yang cemburu buta datang bersama temannya Joko. Wajahnya masam.
“Lamaran di sawah? Kampungan,” bisik Surti.
Joko menimpali. “Iya. Mending di hotel bintang lima.”
Bu Sami yang mendengar langsung menegur. “Surti, kamu kalau tidak ikut senang, lebih baik pulang. Jangan merusak acara orang.”
Surti mendengus. Joko menarik lengannya. “Ayo pulang, Ti. Orang sini tidak ramah.”
“Bukan tidak ramah, Mas,” potong Lintang yang kebetulan lewat. “Tapi tidak suka dengan orang yang iri hati. Silakan pulang. Jangan sampai terpeleset di pematang sawah.”
Surti dan Joko pergi dengan muka merah. Warga tertawa.
Setelah acara, Lintang dan Imelda berjalan berdua di pematang sawah. Tamu-tamu sudah mulai pulang. Hanya keluarga dekat yang masih berkumpul di balai desa untuk makan bersama.
“Lin, aku tidak menyangka lamaranmu akan se-ekstrim ini.”
“Tidak percaya kamu mau.”
“Aku percaya pada cinta kita. Tempat tidak penting. Yang penting ketulusan.”
Lintang menggenggam tangan Imelda. “Im, terima kasih sudah mau hidup denganku. Aku tidak kaya. Aku hanya insinyur desa. Sawah-sawah ini adalah hartaku.”
“Sawah itu harta yang berharga, Lin. Lebih berharga daripada emas. Emas tidak bisa menghasilkan beras. Sawah bisa.”
“Kamu sastrawan sejati. Selalu melihat keindahan di balik kesederhanaan.”
“Karena kamu mengajarkanku, Lin. Dulu aku hanya melihat puisi di buku. Sekarang aku melihat puisi di sawah.”
Mereka berdua tersenyum. Matahari mulai naik. Sinar keemasan menyinari padi-padi yang siap panen.
Prapto, Mariyem, Pak Eko, dan warga desa makan bersama di balai desa. Menu sederhana: nasi liwet, ayam ingkung, sayur asem, tempe goreng, dan sambal terasi. Minumannya wedang jahe dan teh hangat.
Bu Lik yang tadinya kecewa, kini sudah luluh. “Mas Lintang, saya minta maaf sudah meremehkan desa Anda. Ternyata sawah-sawah ini indah. Orang-orangnya ramah. Makanannya enak.”
“Terima kasih, Bu Lik. Silakan datang kapan saja. Sawah selalu hijau. Kecuali saat kemarau panjang. Itu juga hijau, tapi tanamannya berbeda.”
Bu Lik tertawa. “Anda lucu, Mas Lintang. Imelda beruntung.”
Imelda tersenyum malu. “Bu Lik, Mas Lintang itu bukan hanya lucu. Dia juga bertanggung jawab. Lihatlah sistem irigasi ini, buatan dia. Sawah-sawah yang dulu kering sekarang produktif.”
Pak Lik yang pemalu ikut bicara. “Saya dengar dari berita. Desa Sawahan sekarang jadi percontohan pertanian nasional.”
Lintang mengangguk. “Alhamdulillah, Pak Lik. Tapi ini kerja bersama. Bukan saya sendiri.”
Pak Eko menimpali. “Mas Lintang ini orangnya rendah hati. Padahal dia yang memulai segalanya.”
Prapto yang dari tadi diam, angkat bicara. “Anak saya memang tengil. Dulu suka narik kumis. Sekarang narik kumis juga, tapi minta izin dulu. Itu perubahan besar.”
Warga tertawa. Mariyem mencubit lengan Prapto. “Mas, jangan cerita itu di depan calon besan!”
“Tidak apa-apa, Bu,” kata Imelda. “Saya sudah tahu cerita Lintang dari kecil. Dari Mbah Waginem dulu.”
“Mbah Waginem sudah tiada,” kata Prapto. “Tapi beliau sempat berpesan sebelum meninggal. Beliau bilang, 'Le Lintang akan menikah dengan perempuan yang sabar. Jangan sia-siakan.'”
Imelda menunduk malu. Lintang menggenggam tangannya di bawah meja.
Sore harinya, setelah rombongan Imelda pulang ke Jogja, Lintang duduk di teras rumah. Tubuhnya lelah, tapi hatinya bahagia. Imelda sudah setuju. Tinggal menunggu hari pernikahan.
“Le, kamu bahagia?” tanya Prapto sambil duduk di sampingnya.
“Sangat bahagia, Pa. Lebih dari ketika aku lulus cum laude.”
“Cinta memang lebih membahagiakan daripada gelar.”
“Pa, dulu Bapak melamar ibu di mana?”
Prapto tersenyum. “Di sawah juga. Tepat di pematang yang sama waktu kita lamaran tadi. Bedanya, dulu tidak ada spanduk, tidak ada hiburan. Hanya aku, ibumu, dan seorang penghulu.”
“Itu lebih romantis, Pa. Sederhana.”
“Romantis itu tidak harus mewah, Le. Romantis itu tulus. Dan ketulusanmu sudah sampai ke Imelda. Buktinya dia mau.”
Lintang memeluk Prapto. “Terima kasih, Pa. Untuk semuanya.”
“Sama-sama, Le. Tugas bapak belum selesai. Masih ada pernikahan. Masih ada cucu. Insya Allah.”
Mariyem yang mendengar dari dalam rumah, ikut keluar. “Bicara apa kalian?”
“Bicara soal pernikahan, Ma. Bapak janji akan membiayai.”
“Siapa bilang? Bapakmu tidak punya uang. Sawah saja masih gadai.”
Lintang tertawa. “Aku bercanda, Ma. Aku tidak minta biaya. Aku sudah menabung dari hasil konsultan pertanian.”
Mariyem mengelus kepala Lintang. “Anakku sudah dewasa. Tidak merepotkan lagi.”
“Aku tetap merepotkan, Ma. Cuma sekarang merepotkannya dengan cara berbeda.”
“Merepotkan bagaimana?”
“Minta disediakan sayur asem setiap hari. Kalau tidak, aku mogok makan.”
Mariyem tertawa. “Kamu ini, selamanya tengil.”
Malam harinya, Lintang menelepon Imelda. Suaranya lelah tapi bahagia.
“Im, hari ini hari terindah dalam hidupku.”
“Hari terindah? Lebih indah dari saat lulus cum laude?”
“Jauh lebih indah. Karena hari ini kamu resmi jadi calon istriku.”
Imelda tertawa di ujung telepon. “Kita belum menikah, Lin. Masih proses.”
“Proses yang sudah resmi. Orang tuamu sudah restu. Keluarga besarku sudah setuju. Tinggal kita jalanin.”
“Lin, aku takut.”
“Takut apa?”
“Apa aku bisa menjadi istri yang baik? Aku bukan perempuan desa. Aku tidak bisa masak. Aku tidak bisa membersihkan sawah. Aku hanya bisa membaca puisi.”
Lintang terdiam beberapa saat. “Im, aku tidak butuh istri yang bisa masak atau membersihkan sawah. Aku butuh istri yang bisa menemani aku, mendukung aku, dan sesekali membacakan puisi untukku. Itu sudah lebih dari cukup.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin. Sejak aku melihatmu di bangku taman depan Fakultas Ilmu Budaya, aku sudah yakin. Kamu adalah orangnya.”
Imelda menangis di ujung telepon. “Aku sayang kamu, Lin.”
“Aku sayang kamu juga, Im. Sampai kapan pun.”
Mereka berdua terdiam. Hanya suara napas yang terdengar.
“Lin, besok aku kembali ke Jogja. Menyelesaikan skripsi. Doakan aku.”
“Aku selalu mendoakanmu, Im. Setiap malam. Setelah shalat. Sebelum tidur.”
“Kamu rajin shalat?”
“Semenjak di Sawahan. Desaku mengajarkanku kedisiplinan.”
“Bagus. Aku bangga.”
“Kamu tidur sekarang. Besok perjalanan jauh.”
“Iya. Selamat malam, calon suamiku.”
“Selamat malam, calon istriku. Mimpi indah.”
“Mimpiku adalah kamu. Jadi pasti indah.”
Lintang tertawa. “Mencuri gombalku.”
“Aku sastrawan. Aku bisa membuat gombal lebih indah dari kamu.”
“Aku kalah. Selamat malam, Im.”
“Selamat malam, Lin.”
Lintang menutup telepon. Dia merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit kamar yang retak-retak. Mimpinya dulu: menjadi insinyur. Ternyata setelah menjadi insinyur, ada mimpi baru: membahagiakan Imelda. Dan mimpi itu lebih besar dari gelar apa pun.
Angin malam berembus dari celah-celah dinding bambu. Lintang tersenyum. Dia memejamkan mata.
Di kejauhan, langit malam berbintang. Tanpa hujan, sebuah kilat tegas menyambar di ujung desa. Lintang tidak melihatnya. Dia sudah terlelap. Bermimpi tentang Imelda di tengah sawah yang menguning, tersenyum padanya, dan berkata, “Aku mau, Lin. Aku mau.”
BAB 19
Pernikahan dan Doa Tanpa Tengil
Saat Si Tengil Jadi Suami
Tiga bulan setelah lamaran gila di tengah sawah, Lintang dan Imelda bersiap menikah. Persiapan berlangsung ala desa: sederhana, gotong royong, dan penuh tawa. Tidak ada wedding organizer, tidak ada dekorasi mewah, tidak ada katering besar. Yang ada adalah warga desa yang bahu-membahu membantu tetangganya.
Karjo dan Tukul bertanggung jawab mendirikan tenda di halaman rumah Prapto. Tenda sederhana dari anyaman bambu dan terpal warna-warni. Kursi-kursi plastik pinjaman dari tetangga ditata berjajar. Pelaminan dibuat dari panggung kayu setinggi setengah meter, dihiasi dengan kain batik dan janur kuning.
“Lin, ini pelaminannya terlalu sederhana. Imelda orang kota. Apa dia tidak kecewa?” tanya Karjo sambil memaku panggung.
“Imelda bukan orang kota yang materialistis, Jo. Dia sastrawan. Dia lebih suka keindahan sederhana.”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin. Dia sudah lihat lamaran di sawah. Dia masih mau. Jadi ini mah biasa.”
Tukul yang sedang memasang lampu hias ikut nimbrung. “Lin, besok tamu dari desa lain mungkin mencemooh. Mereka biasa lihat pernikahan mewah.”
“Biarkan. Aku tidak menikah untuk mereka. Aku menikah untuk Imelda. Dan Imelda tidak minta mewah.”
Marni yang membantu membersihkan dedaunan di halaman, tiba-tiba bicara. “Mas Lintang, aku jadi pengiring pengantin, ya?”
“Kamu mau?”
“Mau. Aku sudah punya gaun putih. Pinjaman dari Mbak Yuyun.”
“Bagus. Kamu akan jadi pengiring pengantin termungil.”
Marni tersenyum lebar. Karjo mengelus kepala anaknya.
Penghulu yang memimpin pernikahan adalah Pak Mansur, pria setengah baya dengan kumis tebal model prajurit. Beliau terkenal lantang dan humoris. Setiap kali memimpin akad nikah, beliau selalu menyelipkan lelucon agar suasana tidak tegang.
“Mas Lintang, saya dengar Anda suka menarik kumis,” kata Pak Mansur saat bertemu Lintang untuk rapat persiapan.
“Benar, Pak. Tapi sekarang sudah berkurang.”
“Kumis saya ini tebal. Apakah aman?”
Lintang tertawa. “Aman, Pak. Saya tidak akan menarik kumis penghulu saat ijab kabul. Itu namanya bunuh diri pernikahan.”
“Bagus. Kalau begitu, saya siap memimpin.”
“Tapi Pak, ada satu permintaan.”
“Apa?”
“Tolong jangan tanya saya berapa mahar. Nanti saya jawab 'satu tarikan kumis'.”
Pak Mansur tertawa keras. “Anda benar-benar tengil, Mas Lintang. Tapi saya suka. Saya janji tidak akan tanya soal mahar di depan umum.”
Prapto dan Mariyem sibuk menyiapkan konsumsi. Mereka dibantu oleh ibu-ibu PKK yang dipimpin oleh Bu Sami. Menu pernikahan sangat desa: nasi liwet dengan lauk ayam ingkung, sambal goreng ati, sayur asem, tempe bacem, dan tahu goreng. Minumannya es teh manis dan wedang jahe.
“Bu Sami, tolong pastikan sambalnya tidak terlalu pedas,” pesan Mariyem. “Imelda kurang suka pedas.”
“Siap, Bu. Saya buat dua versi. Pedas dan tidak pedas. Kasih label.”
“Labelnya apa?”
“Yang pedas: 'Versi Lintang'. Yang tidak pedas: 'Versi Imelda'.”
Mariyem tertawa. “Bu Sami ini kreatif.”
“Belajar dari Mas Lintang, Bu. Beliau kreatif.”
Imelda datang ke Sawahan tiga hari sebelum pernikahan. Ia didampingi kedua orang tuanya, Bapak Yulianto dan Ibu Yuliana, serta Bu Lik dan Pak Lik. Mereka menginap di rumah Pak Eko, lurah desa, karena rumah Prapto sudah penuh dengan persiapan.
“Im, desa ini indah,” kata Ibu Yuliana sambil memandang sawah dari teras rumah Pak Eko.
“Iya, Bu. Dulu saya ragu waktu pertama diajak Lintang ke sini. Sekarang saya betah.”
“Kamu yakin memilih Lintang? Dia anak desa. Hidup sederhana. Kamu anak guru yang biasa hidup di kota.”
Imelda menggenggam tangan ibunya. “Bu, cinta tidak memilih latar belakang. Lintang baik hati. Dia bertanggung jawab. Dia punya visi. Itu yang saya cari.”
Ibu Yuliana tersenyum. “Kamu dewasa, Im. Ibu bangga.”
Bapak Yulianto menimpali. “Jangan khawatir, Bu. Saya sudah bicara dengan Lintang beberapa kali. Dia anak yang cerdas. Sopan. Meskipun agak tengil. Tapi tengilnya positif.”
“Bapak setuju?” tanya Imelda.
“Setuju. Dari awal. Kalau tidak setuju, sudah saya larang sejak lamaran.”
Imelda memeluk ayahnya.
Dua hari sebelum pernikahan, Lintang mulai gelisah. Bukan karena persiapan yang kurang, semua sudah matang. Tapi karena perasaan campur aduk: senang, cemas, bahagia, takut, semua jadi satu.
“Pa, aku takut,” kata Lintang suatu malam di teras.
Prapto yang sedang merokok, menoleh. “Takut apa, Le?”
“Takut menjadi suami yang buruk. Takut tidak bisa membahagiakan Imelda. Takut…”
“Cukup. Jangan terlalu banyak takut. Kamu laki-laki. Laki-laki harus berani. Berani mengambil tanggung jawab.”
“Aku berani, Pa. Tapi perasaan ini tidak bisa aku kendalikan.”
Prapto mematikan rokoknya. “Le, dulu bapak juga takut waktu mau nikahi ibumu. Tapi bapak ingat pesan Mbah Kakung: 'Cinta itu seperti mencangkul. Kalau tidak dimulai, tidak akan pernah selesai.'”
“Mbah Kakung bicara soal cinta?”
“Beliau memang tidak banyak bicara. Tapi setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah mutiara.”
Lintang tersenyum. “Terima kasih, Pa. Aku jadi sedikit tenang.”
“Kamu tidak perlu tenang sempurna. Cukup yakin. Yakin bahwa Imelda adalah pilihan tepat. Yakin bahwa kamu bisa membuatnya bahagia.”
“Aku yakin, Pa.”
“Sudah. Tidur. Besok malam pengajian. Besoknya lagi pernikahan. Kamu butuh energi.”
Lintang mengangguk. Ia masuk ke kamarnya, merebahkan diri, dan berusaha tidur. Tapi matanya tidak juga terpejam. Wajah Imelda terus melayang di pikirannya. Rasa bahagia bercampur cemas. Tak sabar menunggu hari-H.
Malam sebelum pernikahan, diadakan pengajian di rumah Prapto. Seluruh warga desa hadir. Mereka duduk bersila di tikar pandan yang dibentangkan di halaman. Lampu minyak dan lampu bohlam menerangi suasana.
Pak Mansur memimpin doa. Suaranya lantang menggema di malam yang sunyi.
“Ya Allah, berkahilah calon mempelai. Lintang dan Imelda. Satukan hati mereka dalam cinta-Mu. Jadikan pernikahan mereka ibadah. Jauhkan dari segala fitnah dan godaan.”
Imelda yang duduk di barisan perempuan, menangis haru. Lintang di barisan laki-laki, berusaha tegar. Tapi air matanya juga menetes.
Usai pengajian, Mbah Tumin berdiri dengan tongkatnya. Wajahnya keriput tapi matanya bersinar.
“Le Lintang, aku tahu kamu dulu tengil. Tapi sekarang kamu berubah. Kamu jadi pemimpin desa. Kamu membawa keberkahan. Jangan lupakan desa ini setelah menikah.”
“Saya tidak akan lupa, Mbah. Sawahan adalah rumah saya.”
Lasmiati, istri Mbah Tumin, ikut berpesan. “Jaga Imelda baik-baik. Perempuan itu lembut. Jangan disakiti.”
“Saya tidak akan menyakiti, Bu. Janji.”
Bu Kasiyati, guru ngaji Lintang zaman dulu yang rambutnya pernah ditarik, datang menghampiri. “Lintang, Ndek, aku minta maaf. Dulu aku sering marah-marah sama kamu. Ternyata kamu anak baik.”
“Bu Kasiyati, saya yang minta maaf. Saya sudah menarik rambut Ibu.”
“Sudah lupa. Yang penting sekarang kamu jadi insinyur. Menikah. Ibu senang.”
Mereka berpelukan. Warga desa tersenyum melihat rekonsiliasi itu.
Hari pernikahan tiba. Matahari baru saja terbit, tapi suasana sudah ramai. Para tamu mulai berdatangan dengan pakaian terbaik mereka. Ada yang naik sepeda motor, ada yang naik becak desa, ada yang berjalan kaki.
Lintang duduk di pelaminan dengan setelan jas hitam yang sama saat lamaran, kali ini sedikit longgar karena ia sengaja tidak makan nasi selama tiga hari agar jasnya muat.
“Lin, kamu pucat,” bisik Karjo.
“Aku tidak makan nasi tiga hari.”
“GILA! Buat apa?”
“Biar jasnya muat.”
“Kan sudah diubah penjahit.”
“Penjahitnya lupa mengambil ukuran ulang. Jadi ya sudah. Biar konsekuensi.”
Karjo menggeleng-geleng. “Dasar tengil. Mau menikah saja masih ribet.”
Imelda datang dengan rombongan pengiring. Ia memakai kebaya putih dengan sulaman bunga melati. Rambutnya disanggul rapi oleh Mbak Yuyun, tata rias dadakan yang baru belajar rias pengantin seminggu sebelumnya.
Marni, pengiring pengantin cilik, berjalan di depan Imelda sambil menaburkan bunga. Wajahnya serius, tidak mau salah langkah.
Mariyem menangis melihat Imelda. “Cantik, Nak. Kamu cantik.”
“Terima kasih, Bu.”
Prapto memegang pundak Mariyem. “Jangan nangis, Yem. Nanti make-up-mu luntur.”
“Aku tidak pakai make-up, Mas. Ini air mata.”
“Ya sudah. Nangis saja. Tapi jangan keras-keras. Nanti mengganggu akad.”
Mariyem tersenyum sambil menangis.
Akad nikah dimulai. Pak Mansur berdiri di depan dengan suara lantang.
“Hadirin sekalian, kita akan melaksanakan akad nikah antara Insinyur Lintang Prapto Wiryodiningrat dengan Imelda Yuliana. Mohon kesediaan wali dari pihak mempelai perempuan.”
Bapak Yulianto berdiri. “Saya bersedia menjadi wali.”
“Baik. Mas Lintang, silakan ucapkan ijab kabul.”
Lintang berdiri. Tubuhnya sedikit gemetar. Dia menarik napas dalam-dalam.
“Saya terima nikahnya Imelda Yuliana binti Yulianto dengan mahar seperangkat alat shalat dan... satu tarikan kumis dari penghulu.”
Suasana hening. Semua menoleh ke Pak Mansur.
Pak Mansur tertawa. “Mas Lintang, bercanda ya?”
Lintang tersenyum. “Maaf, Pak. Refleks. Saya terima nikahnya Imelda Yuliana binti Yulianto dengan mahar seperangkat alat shalat dan satu set cincin. Tunai.”
Pak Mansur menghela napas lega. “Sah. Alhamdulillah.”
Imelda dari balik tabir, tersenyum. Dia tahu Lintang tidak akan pernah bisa lepas dari ketengilannya. Bahkan di saat sakral seperti ijab kabul.
Warga bersorak. Karjo melepas petasan lagi. Marni bersorak kegirangan.
Usai akad, resepsi dimulai. Para tamu menikmati hidangan sambil berbincang-bincang. Bu Sami sibuk melayani tamu dengan senyum ramah.
Pak Kades desa tetangga, Pak Darto, datang dengan istri. Wajahnya cemberut. “Acara sederhana sekali. Tidak ada hiburan. Tidak ada organ tunggal.”
Bu Darto mencubit lengannya. “Pak, jangan iri. Yang penting sakral.”
“Bukan iri. Cuma kasihan.”
Bu Darto tidak menggubris. Ia malah memuji dekorasi. “Kreatif, Bu Sami. Bambu dan janur. Sederhana tapi elegan.”
“Terima kasih, Bu. Semua hasil karya pemuda desa.”
Pak Darto hanya mendengus.
Di sudut halaman, Lintang dan Imelda duduk di pelaminan. Para tamu bergantian mengucapkan selamat dan berfoto. Dimas, fotografer desa yang baru punya kamera, sibuk mengatur pose.
“Mas Lintang, pegang kumisnya, Bu. Eh, maksudnya pegang tangannya.”
Imelda tertawa. Lintang menjalankan perintah.
Bu Lik menghampiri. “Selamat, Mas Lintang. Semoga abadi.”
“Terima kasih, Bu Lik. Doakan kami.”
“Kamu jangan nakal. Jangan sampai Imelda pulang ke rumah orang tuanya.”
“Saya tidak akan, Bu Lik. Jika pulang, pasti pulang berdua.”
Bu Lik tertawa. “Janji.”
“Janji.”
Mbah Tumin ingin joget di panggung kehormatan. Tanpa panggung, dia joget di atas tikar. Gerakannya lucu, tidak karuan. Tapi semua tertawa.
“Ini joget sawahan, versi Mbah Tumin!” teriak Mbah Tumin.
Lasmiati menutup wajah. “Malu, Mbah. Malu.”
“Tidak malu. Ini pesta. Pesta harus joget.”
Lintang turun dari pelaminan dan joget bersama Mbah Tumin. Karjo dan Tukul ikut. Beberapa pemuda desa lain bergabung. Suasana semakin meriah.
Imelda tersenyum dari pelaminan. Matanya berkaca-kaca. Ia tidak pernah membayangkan pernikahannya akan semeriah ini. Sederhana, tapi penuh cinta.
Sore hari, acara mulai usai. Tamu-tamu pulang. Para pemuda desa membersihkan halaman. Lintang dan Imelda beristirahat di kamar yang baru dirapikan.
Kamarnya sederhana: dinding anyaman bambu, lantai tanah, satu dipan aluminium, satu lemari kayu jati tua, dan satu jendela kecil menghadap ke timur.
“Lin, ini kamar kita?” tanya Imelda.
“Iya. Sederhana. Tapi bersih.”
“Aku suka. Jendelanya menghadap timur. Besok pagi bisa lihat matahari terbit.”
“Aku sengaja memilih kamar yang ini untukmu.”
Imelda memeluk Lintang. “Terima kasih, Lin. Untuk segala ketulusanmu.”
“Im, aku yang berterima kasih. Mau hidup sederhana denganku. Tidak minta mewah.”
“Cukup kamu sudah lebih dari cukup.”
Malam pertama. Suasana hening. Lampu minyak tanah menyala redup.
“Im, aku bersumpah tidak akan menarik kumis di dalam kamar.”
“Kamu tidak punya kumis, Lin.”
“Bukan kumisku. Kumismu.”
“Aku juga tidak punya kumis.”
“Ya sudah. Titik. Tidak ada kumis. Mari kita tidur.”
Imelda tertawa. “Dasar tengil. Malam pertama masih bicara kumis.”
“Ini warisan Mbah Kakung, Im. Susah dihilangkan.”
Mereka berdua tertawa. Kemudian diam. Saling menatap.
“Im, aku sayang kamu.”
“Aku sayang kamu juga, Lin. Selamanya.”
Minggu pertama pernikahan, Lintang dan Imelda menjalani adaptasi. Imelda belajar masak dari Mariyem. Hasilnya? Kadang terlalu asin, kadang terlalu hambar, kadang gosong. Tapi Lintang selalu menghabiskannya.
“Im, ini enak. Lain kali kurangi garam sedikit.”
“Ini keasinan?”
“Sedikit. Tapi aku suka. Buktinya habis.”
Imelda tersenyum. “Kamu baik. Tidak pernah mengeluh.”
“Aku tidak bisa mengeluh. Kamu sudah mau hidup denganku. Minta apa lagi.”
Mariyem yang mendengar, ikut senang. “Imelda, kamu cepat belajar. Dulu saya juga begitu. Sekarang sudah bisa masak sepuluh menu.”
“Terima kasih, Bu. Tolong bimbing saya.”
“Dengan senang hati.”
Tidak semua mulus. Surti, mantan naksir Lintang, masih iri. Datang ke rumah Prapto pura-pura bertamu, tapi hatinya ingin cari gara-gara.
“Imelda, kamu bisa masak?” tanya Surti dengan nada merendahkan.
“Sedikit. Masih belajar.”
“Lintang anak desa asli. Dia terbiasa dengan masakan desa. Kamu orang kota. Bisa-bisa dia bosan.”
Lintang yang mendengar langsung menyahut. “Surti, saya tidak bosan. Imelda masak apa pun, saya suka. Karena yang saya nikmati bukan makanannya. Tapi ketulusannya.”
Surti terdiam. Joko menarik tangannya. “Ayo pulang, Ti. Malu.”
Surti pergi dengan muka masam. Imelda memeluk Lintang. “Kamu hebat. Tidak marah.”
“Tidak perlu marah. Orang iri tidak butuh amarah. Mereka butuh kasih sayang.”
“Kamu bijak.”
“Aku belajar dari Mbah Waginem. Beliau selalu sabar menghadapi ketengilanku.”
Bulan madu Lintang dan Imelda tidak ke luar negeri. Bahkan tidak ke Bali. Mereka berbulan madu di sawah. Setiap pagi, mereka berjalan berdua di pematang, memeriksa irigasi, berbincang tentang masa depan.
“Im, maaf bulan madunya tidak mewah.”
“Bulan madu tidak harus di tempat mewah, Lin. Yang penting kita bersama. Dan ini, sawah, udara segar, kicau burung, ini sudah mewah bagiku.”
“Kamu benar-benar sastrawan. Selalu melihat keindahan.”
“Karena kamu mengajarkanku, Lin. Dulu aku terlalu sibuk dengan buku. Sekarang aku belajar dari alam.”
Mereka duduk di pematang sawah. Padi-padi mulai menguning. Panen raya tinggal beberapa minggu lagi.
“Lin, kamu akan terus menjadi insinyur pertanian? Tidak ingin kerja di kota dengan gaji besar?”
“Tidak. Kota bukan rumahku. Desa ini rumahku. Kalau aku pergi, siapa yang akan melanjutkan?”
“Aku setuju. Aku akan di sini menemanimu. Menulis puisi tentang sawah, tentang petani, tentang cinta kita.”
Lintang mencium kening Imelda. “Aku tidak pantas untukmu, Im. Tapi aku akan berusaha pantas.”
“Kamu sudah pantas, Lin. Sejak awal.”
Satu bulan setelah pernikahan, Lintang dan Imelda menerima kabar baik: sistem irigasi tetes di Desa Sawahan mendapat penghargaan dari Pemerintah Daerah sebagai inovasi pertanian terbaik. Lintang diminta menerima penghargaan di kantor bupati.
Lintang tidak pergi sendirian. Dia mengajak Karjo, Tukul, dan Pak Kasmin, petani yang sawahnya pertama kali menggunakan sistem itu.
“Penghargaan ini bukan untuk saya, tapi untuk kita semua,” kata Lintang di depan para pejabat.
Bupati tersenyum. “Mas Lintang, Anda adalah contoh nyata bahwa anak desa bisa berprestasi. Teruslah berkarya.”
“Terima kasih, Pak. Tapi saya ingin satu hal.”
“Apa?”
“Tolong jangan potong kumis Bapak. Saya butuh inspirasi.”
Bupati tertawa. Semua hadirin tertawa. Imelda di barisan penonton menutup wajahnya.
Malam harinya, setelah pulang dari acara penghargaan, Lintang duduk di teras bersama Imelda. Langit malam cerah. Bintang-bintang bersinar.
“Im, hari ini aku bahagia.”
“Aku juga. Kamu hebat.”
“Aku tidak hebat. Aku hanya tidak menyerah.”
Imelda menyandarkan kepalanya di bahu Lintang. “Lin, aku rindu masa-masa pacaran dulu. Kamu sering mengirim gombal setiap pagi. Sekarang jarang.”
“Kamu mau gombal? Sekarang ya?”
“Silakan.”
Lintang membersihkan tenggorokan. “Im, kamu lebih terang dari lampu minyak tanah. Lebih wangi dari pupuk kandang. Lebih merata dari irigasi tetes.”
Imelda tertawa. “Gombalmu aneh. Tapi aku suka.”
“Ini gombal tengil versi insinyur.”
“Simpan gombal ini untuk esok pagi. Sekarang kita tidur.”
Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Lampu minyak tanah dimatikan.
Di luar, angin malam berhembus lembut. Bulan sabit tersenyum dari langit.
BAB 20
Bayi Kecil Pengguncang Rumah Tangga
Muhammad Ramadan dan Kembalinya Firasat
Sembilan bulan sudah Lintang dan Imelda menikah. Sembilan bulan yang penuh dengan tawa, tangis, perdebatan kecil, dan cinta yang terus tumbuh. Kini, mereka menanti kehadiran anggota baru. Imelda hamil delapan bulan. Perutnya sudah besar. Langkahnya mulai lambat. Tapi senyumnya tidak pernah pudar.
“Lin, anakmu ini aktif sekali. Tendangannya keras,” kata Imelda sambil mengelus perutnya.
Mereka sedang duduk di teras rumah. Sore hari. Angin sepoi-sepoi. Lintang baru pulang dari sawah.
“Tendangan keras? Berarti dia anak sehat. Mungkin dia akan jadi atlet.”
“Atau jadi insinyur seperti kamu.”
“Atau jadi sastrawan seperti kamu.”
“Atau jadi pencari kumis,” canda Imelda.
Lintang tertawa. “Jangan. Satu pencari kumis di keluarga ini cukup.”
“Takut saingan?”
“Bukan. Takut stok kumis desa habis.”
Mereka tertawa bersama. Imelda meremas tangan Lintang.
Bidan Ros, bidan desa yang baru bertugas, memeriksa kehamilan Imelda setiap minggu. Beliau adalah perempuan berusia 40 tahun dengan rambut pendek dan kumis halus di bibir atas, kumis yang membuat Lintang harus ekstra sabar menahan diri.
“Mbak Imelda, semuanya sehat. Bayinya kuat. Denyut jantungnya bagus.”
“Terima kasih, Bidan.”
“Tapi Mbak jangan banyak kerja. Istirahat yang cukup. Jangan stres.”
Lintang menyela. “Bidan, apakah stres bisa mempengaruhi kumis bayi?”
Bidan Ros mengerjap. “Kumis bayi? Bayi tidak punya kumis, Mas Lintang.”
“Nanti kalau besar.”
“Itu tergantung genetik. Kalau Bapaknya berambut lebat, mungkin nanti punya kumis.”
“Saya tidak punya kumis, Bidan.”
“Itu berarti bayi Anda mungkin juga tidak punya kumis.”
Lintang menghela napas. “Sedih. Padahal saya sudah siap mengajari cara merawat kumis sejak kecil.”
Imelda mencubit lengan Lintang. “Lin, jangan bikin Bidan bingung.”
Bidan Ros tertawa. “Pasangan ini lucu.”
Mariyem sibuk mempersiapkan segala keperluan kelahiran. Ia membuatkan bedong dari kain halus, menyiapkan minyak telon, dan membersihkan kamar khusus untuk bayi.
“Imelda, ini kamarnya. Sederhana. Tapi bersih.”
“Terima kasih, Bu. Ibu repot-repot.”
“Tidak repot. Ini cucu pertama saya. Saya bahagia.”
Prapto dari balik pintu menyahut. “Saya juga bahagia. Tapi saya waspada.”
“Waspada kenapa, Mas?” tanya Mariyem.
“Ingat Lintang waktu bayi? Dia mencari kumis sejak lahir. Siapa tahu cucu kita mewarisi sifat itu.”
Imelda tertawa. “Pak, kalau cucu Bapak mencari kumis, Bapak yang jadi korban. Karena Bapak punya kumis.”
Prapto memegang kumis tipisnya yang sudah mulai memutih. “Jangan, Mbak. Kumis saya sudah rapuh.”
Lintang muncul dari belakang. “Tenang, Pa. Saya sudah siapkan kumis palsu untuk jaga-jaga.”
“Kumis palsu? Dari apa?”
“Dari sabut kelapa. Saya pesan sama Karjo. Dia ahli membuat kumis palsu sejak saya latih dulu.”
Prapto menghela napas. “Anak ini, punya anak saja sudah siap dengan kumis cadangan.”
Malam-malam menjelang kelahiran, Imelda sering terbangun. Bukan karena sakit, tapi karena bayi di dalam perutnya sangat aktif. Tendangan-tendangan kecil terasa hingga ke tulang rusuk.
“Im, kamu tidak tidur?” bisik Lintang.
“Bayimu tidak mau diam.”
“Mungkin dia sedang latihan tarik kumis dari dalam perut.”
Imelda tertawa pelan. “Jangan bercanda. Nanti aku susah tidur lagi.”
“Maaf. Aku coba diam.”
Tiga menit kemudian, Lintang bicara lagi. “Im, kalau bayinya laki-laki, saya ingin kasih nama Muhammad Ramadan.”
“Kenapa Ramadan?”
“Karena dia lahir di bulan Ramadan. Insya Allah.”
Imelda tersenyum. “Nama yang bagus. Berkah.”
“Kalau perempuan?”
“Kamu yang pilih.”
“Aisyah. Aisyah Lintang.”
“Aisyah Lintang. Aisyah sebagai nama nabi, Lintang sebagai pengingat bahwa dia lahir di malam berbintang.”
“Setuju?”
“Setuju.”
Mereka berdua tersenyum dalam gelap.
Dini hari, tiga hari sebelum perkiraan kelahiran, Imelda merasakan kontraksi keras. Lintang yang terbangun, langsung panik.
“Ros! Bidan Ros! CEPET!” teriak Lintang berlari ke rumah Bidan Ros yang jaraknya hanya 200 meter.
Bidan Ros datang dengan tas bersalin. Mariyem menyiapkan air hangat. Prapto sibuk mencari kain bersih. Karjo dan Tukul yang kebetulan sedang ronda, ikut membantu menerangi halaman dengan lampu senter.
Proses persalinan berlangsung alot. Imelda menjerit kesakitan. Lintang memegang tangannya dengan gemetar.
“Im, sabar. Aku di sini.”
“Lin, sakit sekali!”
“Kamu kuat. Kamu perempuan hebat.”
Bidan Ros tenang. “Mbak Imelda, terima kasih. Sebentar lagi.”
Setelah dua jam perjuangan, tangisan bayi memecah keheningan dini hari. Laki-laki. Berat 3,2 kilogram. Panjang 49 sentimeter. Rambut hitam tipis. Mata sudah bisa terbuka meskipun belum fokus.
Mariyem menangis. Prapto memeluk Mariyem. Karjo dan Tukul bersorak pelan.
Lintang menggendong bayi itu dengan hati-hati. Tangannya gemetar.
“Muhammad Ramadan,” bisik Lintang. “Anakku.”
Imelda tersenyum lelah. “Kumisnya mana, Lin?”
Lintang tertawa. “Belum tumbuh. Nanti mungkin.”
Tapi tiba-tiba, bayi itu menangis keras. Tangannya meraba-raba ke udara, ke arah wajah Prapto yang sedang mendekat. Dan dengan gerakan cepat yang tidak lazim untuk bayi baru lahir, tangan mungil itu meraih kumis Prapto dan menariknya.
Prapto menjerit kecil. “YA ALLAH! INI TANDA YANG SAMA!”
Lintang terpaku. Imelda membelalakkan mata.
Mariyem berkata pelan, “Lintang waktu lahir dulu juga begitu. Mencari kumis.”
Prapto memegang kumisnya yang terasa perih. “Ini... ini karma.”
Lintang menatap bayinya, Muhammad Ramadan, yang setelah berhasil menarik kumis kakeknya, kini tersenyum puas lalu tertidur.
“Pa, saya minta maaf,” bisik Lintang.
“Minta maaf kenapa?”
“Saya mewariskan ketengilan ini ke anak saya.”
Prapto menghela napas panjang. “Kita doakan saja semoga dia tidak setengil kamu.”
Imelda tertawa dari tempat tidurnya. “Pak, mustahil. Bapak lihat sendiri. Baru lahir sudah tarik kumis. Ini tanda.”
Mariyem memeluk Prapto. “Selamat, Mas. Kita punya cucu yang mirip Lintang.”
“Selamat? Ini bukan selamat. Ini peringatan.”
Semua tertawa. Kecuali Prapto yang masih memegang kumisnya dengan waspada.
Sepekan setelah kelahiran, warga desa bergantian datang menjenguk. Mereka membawa telur, beras, gula, dan berbagai keperluan lainnya. Tradisi desa yang masih dijaga.
Bu Sami datang dengan rantang berisi sayur asem dan ikan asin. “Mbak Imelda, ini untuk menambah ASI. Biar bayinya gemuk.”
“Terima kasih, Bu.”
“Namanya siapa?”
“Muhammad Ramadan.”
“Wah, nama bagus. Berkah. Mudah-mudahan tidak tengil seperti bapaknya.”
Lintang yang ada di samping langsung protes. “Bu Sami, saya sudah tidak tengil.”
“Tidak tengil? Barusan kamu lihat kumis Bidan Ros?”
“Itu hanya observasi.”
“Observasi sambil menjilat bibir?”
Lintang diam. Imelda tertawa.
Mbah Giman, sesepuh desa yang sudah berusia 90 tahun lebih, datang dengan tongkatnya. Beliau sudah hampir buta, tapi pendengarannya masih tajam.
“Le Lintang, ini anakmu?”
“Iya, Mbah. Muhammad Ramadan.”
“Coba dekatkan ke aku.”
Lintang mendekatkan bayi itu ke Mbah Giman. Mbah Giman meraba wajah bayi itu dengan tangannya yang keriput. Bayi itu diam. Tidak menangis.
“Dia tenang. Tidak mencari-cari kumis.”
“Belum cukup umur, Mbah. Nanti kalau sudah besar.”
Mbah Giman tertawa. “Sama seperti kamu dulu. Mbah Waginem sudah bilang, ketengilan itu turun-temurun.”
“Mbah Waginem meramal itu?”
“Beliau bilang, 'Lintang akan punya anak yang mewarisi sifatnya. Doakan saja semoga tidak lebih parah.'”
Lintang menelan ludah. “Doakan, Mbah. Saya tidak ingin desa ini punya dua pengacau.”
Mbah Giman mengelus kepala Lintang. “Kamu bukan pengacau. Kamu pembaharu. Bedanya tipis. Tapi beda.”
Malam harinya, setelah semua tamu pulang, Lintang dan Imelda duduk di teras sambil memangku Muhammad Ramadan yang tertidur pulas.
“Lin, kamu takut anakmu jadi tengil seperti kamu?”
“Takut. Tapi tidak bisa saya cegah. Yang bisa saya lakukan adalah mengarahkan.”
“Dulu orang tuamu juga mengarahkan kamu.”
“Mereka gagal. Mereka malah punya anak tengil.”
“Tapi kamu sekarang berhasil. Kamu mengarahkan dirimu sendiri.”
Lintang tersenyum. “Kamu hebat, Im. Selalu bisa melihat sisi positif.”
“Karena aku sastrawan. Sastrawan terbiasa mencari keindahan di balik kekacauan.”
Muhammad Ramadan terbangun. Matanya yang hitam menatap Lintang. Tangannya meraba-raba wajah Lintang.
“Dia mencari kumismu, Lin.”
“Aku tidak punya kumis.”
“Dia kecewa.”
Bayi itu merengut, lalu menangis.
Lintang tertawa. “Sama persis seperti aku dulu.”
Minggu keempat setelah kelahiran. Imelda sudah bisa berjalan dan mulai aktif lagi. Lintang membantunya dengan sabar. Muhammad Ramadan tumbuh sehat. Beratnya naik. Senyumnya mulai sering muncul. Tapi satu hal yang membuat Lintang waspada: setiap kali ada laki-laki berkumis atau berjanggut mendekat, bayi itu akan terjaga dan tangannya mulai meraba-raba.
“Ini genetika, Lin,” kata Imelda. “Tidak bisa dihindari.”
“Aku tahu. Tapi aku harus melindungi kumis-kumis desa.”
“Kamu sekarang jadi satpam kumis?”
“Bisa dibilang begitu.”
Pak Wagiman yang datang dengan janggut lebatnya langsung dihadang Lintang di pintu.
“Maaf, Pak. Jangan terlalu dekat dengan bayi.”
“Kenapa?”
“Janggut Bapak dalam bahaya.”
Pak Wagiman tertawa. “Biarkan dia tarik. Saya ikhlas.”
“Tidak bisa. Saya harus melatihnya agar minta izin dulu. Tidak langsung menarik.”
“Kamu dulu bagaimana?”
“Saya dulu langsung menarik. Itu salah. Saya tidak mau anak saya mengulangi kesalahan saya.”
Pak Wagiman mengangguk. “Anda orang tua yang baik, Mas Lintang.”
Lintang tersenyum. “Masih belajar.”
Muhammad Ramadan berusia 40 hari. Acara selamatan digelar di rumah Lintang. Warga desa datang dengan membawa nasi tumpeng dan doa. Suasana meriah.
Mbah Tumin joget meskipun tanpa panggung. Lasmiati istrinya hanya bisa geleng-geleng. Marni yang sudah beranjak remaja membantu Imelda menyajikan makanan.
“Mas Lintang, adiknya gemas,” kata Marni sambil menggendong Muhammad Ramadan.
“Kamu mau gendong? Hati-hati, dia suka narik rambut.”
“Rambutku pendek. Tidak bisa ditarik.”
“Alismu panjang?”
Marni langsung menutup alisnya. “Jangan, Mas!”
Lintang tertawa. “Bercanda. Tenang saja.”
Bayi itu malah tersenyum melihat gelak tawa. Tangannya meraih ke udara, tidak kena sasaran.
Pak Tirto, tetangga yang iri dengan kesuksesan Lintang, datang dengan kumis tebal palsu, sengaja untuk menguji apakah bayi itu akan menariknya.
“Mas Lintang, saya mau gendong.”
Lintang curiga. “Pak Tirto, kumis Bapak kelihatan aneh hari ini.”
“Aneh bagaimana?”
“Terlalu mengkilap. Apa Bapak pakai minyak rambut?”
“I-iya. Sedikit.”
Lintang mendekat. Dia menyentuh kumis Pak Tirto. “Ini palsu, Pak.”
Pak Tirto muka merah. “Tidak!”
“Ini dari sabut kelapa. Saya tahu karena saya yang membuatkan untuk Karjo. Bapak mencuri?” Lintang mengangkat alis.
Karjo yang ada di dekat situ langsung mendekat. “Itu kumis saya yang hilang! Pak Tirto, kenapa Bapak ambil?”
Pak Tirto buru-buru melepas kumis palsu itu. “Maaf, maaf. Saya hanya iseng.”
Lintang menghela napas. “Pak, lain kali kalau mau memakai kumis palsu, izin dulu. Jangan mencuri. Apalagi mau dipakai untuk menguji bayi saya.”
Pak Tirto pergi dengan malu. Karjo memasang kembali kumisnya.
Imelda yang melihat dari kejauhan hanya geleng-geleng. “Suamiku aneh. Tapi aneh yang menyenangkan.”
Malam itu, setelah selamatan usai, Lintang dan Imelda berbincang di kamar. Muhammad Ramadan tidur di ayunan bambu buatan Prapto.
“Lin, kita sudah punya anak. Rumah tangga kita lengkap.”
“Belum lengkap, Im. Masih kurang satu.”
“Kurang apa?”
“Kumis di dinding.”
Imelda tertawa. “Kamu dan kumismu. Tidak bisa lepas.”
“Ini warisan. Nanti akan saya turunkan ke Muhammad.”
“Jangan. Biar dia memilih jalannya sendiri.”
“Setuju. Tapi kalau dia memilih jadi pencari kumis, saya tidak bisa melarang.”
“Kamu bisa mengarahkan.”
“Saya akan coba. Tapi pengalaman saya, orang tua saya gagal mengarahkan saya.”
“Tapi kamu berhasil mengarahkan diri sendiri. Itu yang lebih penting.”
Lintang memeluk Imelda. “Terima kasih sudah menjadi istri yang sabar.”
“Kamu juga suami yang baik. Meskipun tengil.”
Mereka terdiam. Mendengar suara ayunan bambu yang berdecit pelan.
“Lin, aku yakin anak kita tidak akan setengil kamu.”
“Kenapa yakin?”
“Karena kamu akan mengajarinya dengan pengalamanmu. Kamu akan menjadi ayah yang baik.”
Lintang tersenyum. “Aku berusaha.”
Muhammad Ramadan berusia tiga bulan. Lintang menggendongnya berjalan di pematang sawah. Padi-padi mulai berisi. Bulir-bulirnya hijau segar.
“Le, ini sawah. Ini tempat Bapak bekerja. Suatu hari, kalau kamu mau, kamu bisa lanjutkan.”
Bayi itu menatap sawah dengan mata berbinar. Tangannya meraih ke arah padi.
“Kamu suka sawah? Bagus. Kamu anak desa sejati.”
Pak Kasmin yang sedang memupuk sawahnya, menghampiri. Janggutnya sudah lebat lagi.
“Mas Lintang, anaknya ganteng.”
“Terima kasih, Pak.”
Muhammad Ramadan melihat janggut Pak Kasmin. Pandangannya terpaku.
“Jangan, Le. Jangan,” bisik Lintang.
Bayi itu mengulurkan tangan. Lintang cepat-cepat menjauh. “Maaf, Pak. Belum waktunya.”
Pak Kasmin tertawa. “Biarkan saja. Janggut saya sudah siap.”
“Belum, Pak. Saya tidak ingin anak saya mengulangi kesalahan saya. Harus minta izin dulu.”
“Baik. Saya izinkan. Tariklah, Nak.”
Muhammad Ramadan yang tidak mengerti bahasa, tetap meraih. Tangannya yang mungil menggenggam beberapa helai janggut Pak Kasmin, lalu menariknya, pelan. Tidak keras. Hanya pelan.
Pak Kasmin mengerang kecil. “Wah, sudah bisa.”
Lintang terkejut. Baru tiga bulan sudah mulai menunjukkan tanda.
“Ini... ini tidak normal.”
“Tidak normal? Kamu dulu lebih parah. Umur tiga minggu sudah narik.”
Lintang menghela napas. “Genetika memang tidak bisa dilawan.”
Malam harinya, Lintang mengingat Mbah Waginem, meskipun sudah berpulang, Lintang merasa masih bisa berkomunikasi dalam doa.
Di samping makam Mbah Waginem di pemakaman desa, Lintang duduk bersimpuh.
“Mbah, anak saya mewarisi sifat saya. Mohon doa restu agar saya bisa membimbingnya menjadi pribadi yang baik. Tidak hanya tengil, tapi juga bermanfaat.”
Angin malam berhembus. Daun-daun pohon randu bergemerisik.
Lintang menangis. “Saya rindu Mbah. Nasihat Mbah selalu saya ingat.”
Tak ada jawaban. Tapi Lintang merasa ada kehangatan di sekitarnya. Mungkin itu Mbah Waginem, atau mungkin hanya perasaan.
Lintang mengusap air matanya, lalu pulang.
EPILOG
Sawah, Bintang, dan Tengil yang Tak Lekang Waktu
Tiga puluh tahun telah berlalu sejak Muhammad Ramadan lahir di malam berbintang. Desa Sawahan yang dulu hanya dikenal sebagai desa kecil di pinggir Gunung Kidul, kini menjadi desa percontohan pertanian nasional. Sawah-sawahnya terawat rapi dengan sistem irigasi modern yang menjadi warisan Lintang. Petani-petannya sejahtera. Anak-anak mudanya tidak lagi malu mengaku sebagai petani.
Tapi ada satu hal yang paling membedakan Desa Sawahan dari desa-desa lain: sebuah patung kecil di pinggir sawah.
Patung itu tidak megah. Tingginya hanya satu meter, terbuat dari perunggu, dipahat menyerupai seorang laki-laki dengan kumis tebal, kumis yang tidak pernah dimilikinya semasa hidup. Patung itu berlaci, bercelana pendek, dan sedang menarik kumisnya sendiri dengan ekspresi licik khas.
Di bawah patung itu, tertulis:
LINTANG
Insinyur Pertanian, Penggerak Desa, Pencari Kumis Abadi
"Tengil itu bumbu. Cinta itu utama."
Patung itu didirikan oleh warga desa secara gotong royong pada peringatan 25 tahun sistem irigasi tetes diterapkan. Lintang sendiri (yang saat itu masih hidup) sempat heran. “Patung saya? Saya belum mati!”
Bu Sami, yang sudah sangat tua, menjawab, “Ini patung kenang-kenangan, bukan patung kuburan. Santai saja.”
Lintang menghela napas. “Ya sudah. Tapi kumisnya jangan terlalu tebal. Saya tidak pernah punya kumis.”
“Itu kumis simbolis, Mas. Orang desa butuh simbol.”
“Simbol kesalahan?”
“Simbol perjuangan.”
Lintang diam. Imelda yang sudah beruban di pelipisnya, memegang tangannya. “Diamkan saja, Lin. Rakyat sudah berkehendak.”
“Kamu selalu membela mereka.”
“Karena mereka benar.”
Tiga puluh tahun kemudian , Lintang kini berusia lanjut. Rambutnya mulai memutih di bagian pelipis. Kumisnya, yang tidak pernah tumbuh sepanjang hidupnya, tetap tidak ada. Tapi janggut tipis mulai muncul di dagu. Itu pun karena Imelda melarangnya mencukur. “Kamu jadi kelihatan bijak,” katanya.
Lintang tidak merasa bijak. Dia merasa tua. Persendiannya mulai sakit. Pandangannya mulai kabur. Tapi semangatnya tidak pernah pudar.
Pagi itu, dia duduk di beranda rumah, rumah yang sudah direnovasi menjadi lebih kokoh, tapi tetap mempertahankan dinding anyaman bambu di bagian depan sebagai kenangan. Imelda di sampingnya dengan segelas kopi hitam pahit, kebiasaan yang diwarisinya dari Lintang.
“Lin, hari ini anak kita pulang.”
“Muhammad? Dari Jakarta?”
“Iya. Dia bilang mau ngajar petani muda tentang sistem hidroponik.”
Lintang tersenyum getir. “Dulu dia nolak jadi insinyur pertanian. Kuliah ekonomi. Sekarang malah ngajar pertanian.”
“Dia sadar, Lin. Warisan orang tua tidak bisa dielakkan.”
“Dia sadar karena istrinya.”
Imelda tertawa. “Iya. Dita orang yang baik. Dia yang membuka mata Muhammad.”
Jam sepuluh pagi, mobil hitam berhenti di depan rumah. Muhammad Ramadan, usia 30 tahun, tinggi, berkacamata, berjanggut tipis, turun bersama istrinya, Dita, dan anak laki-laki mereka yang berusia 5 tahun, Arkana.
“Pa, Ma!” sapa Muhammad sambil membungkuk.
Lintang berdiri. “Kamu pulang. Lama tidak kelihatan.”
“Sibuk, Pa. Proyek di Bandung.”
“Sekarang sibuk apa?”
“Pelatihan petani muda. Dinas Pertanian minta saya jadi instruktur.”
Lintang tertawa. “Dulu kamu kuliah ekonomi. Sekarang jadi instruktur pertanian. Ibu kamu yang meramal.”
Imelda memeluk Muhammad. “Kamu sudah dewasa. Ibu bangga.”
Dita menyalami Lintang dan Imelda. “Bapak, Ibu, maaf baru bisa kesini. Anak saya, Arkana, minta ketemu kakek.”
Arkana yang masih malu-malu, bersembunyi di balik kaki Dita.
“Arkana, sini sama Kakek,” panggil Lintang.
Anak itu mendekat. Matanya besar. Rambutnya ikal. Dan yang paling membuat Lintang terkesiap, anak itu sudah memakai kumis palsu dari kain hitam yang diikat dengan benang.
“Kakek, aku punya kumis! Seperti Kakek di patung!” seru Arkana.
Lintang menahan tawa. “Itu palsu, Nak.”
“Tidak apa-apa. Nanti kalau besar, aku buat kumis asli.”
“Optimis. Bagus.”
Muhammad menggeleng-geleng. “Pa, anak ini mewarisi sifat Bapak. Tengil. Di sekolah suka jahilin teman perempuan.”
Lintang tersenyum. “Itu genetika. Tidak bisa dilawan.”
“Tapi Bu Imelda bisa melawan Bapak dulu.”
Imelda tertawa. “Aku tidak melawan. Aku sabar. Kesabaran mengalahkan ketengilan.”
Arkana berlari ke dalam rumah. Dita mengikuti. Muhammad duduk di samping Lintang.
“Pa, desa ini sudah berubah. Sawah-sawahnya terawat. Petaninya sejahtera. Bapak berhasil.”
“Bukan aku sendiri. Semua warga. Kamu juga bagian dari ini?”
“Awalnya aku tidak sadar. Sekarang aku bangga jadi anak Sawahan.”
Lintang menepuk pundak anaknya. “Bagus.”
Sore harinya, Muhammad mengajar petani muda di balai desa. Topiknya: hidroponik sederhana untuk lahan sempit. Yang hadir puluhan orang, bukan hanya dari Sawahan, tapi juga dari desa tetangga.
Lintang duduk di barisan belakang, menyimak. Imelda di sampingnya.
“Anak kita pintar berbicara, Lin. Mirip kamu dulu.”
“Dulu aku bicara soal kumis. Dia bicara soal hidroponik. Beda.”
“Beda, tapi sama-sama menginspirasi.”
Sepulang mengajar, Muhammad berkumpul dengan keluarga di rumah. Arkana sudah akrab dengan Lintang. Anak itu duduk di pangkuan kakeknya sambil memegang kumis palsu yang mulai reot.
“Kakek, besok aku ikut lomba 'Jadi Lintang Sehari'.”
Lintang mengerjap. “Lomba apa itu?”
“Lomba jadi tengil kayak Kakek. Setiap panen raya, anak-anak desa berlomba-lomba menjadi Kakek. Mereka pakai kumis palsu, menarik kumis bapak-bapak yang bersedia, dan bikin onar tapi positif.”
Lintang menoleh ke Imelda. “Ini ada tradisi baru?”
Imelda tersenyum. “Sudah lima tahun, Lin. Warga membuatnya untuk mengenang perjuanganmu. Anak-anak belajar bahwa tengil bisa positif.”
Lintang menghela napas. “Aku tidak tahu. Tidak pernah bilang.”
“Kamu kan sudah pensiun dari keaktifan desa. Warga tidak mau merepotkan.”
“Pensiun? Aku tidak pernah pensiun. Hanya istirahat.”
“Ya sudah. Besok lihat langsung.”
Pagi hari, lapangan desa dipenuhi oleh anak-anak usia 5-12 tahun. Mereka memakai kumis palsu dari berbagai bahan: ada yang dari sabut kelapa, ada yang dari kain hitam, ada yang dari bulu ayam, ada yang dari sedotan plastik. Lucu-lucu.
Mbak Yuyun, yang dulu tata rias dadakan, kini juri lomba, memeriksa satu per satu peserta.
“Kumisnya harus rapi. Tidak boleh copot selama lomba. Tugas kalian: menarik kumis bapak-bapak yang sudah bersedia, tapi harus minta izin dulu. Kalau menarik tanpa izin, didiskualifikasi.”
Bocah-bocah itu bersemangat. Arkana ikut, dengan kumis palsu baru yang dibuatkan Dita semalam. Di tangannya, secarik kertas berisi daftar bapak-bapak yang boleh menjadi sasaran.
Lintang duduk di kursi kehormatan. Imelda di sampingnya. Di sebelahnya ada patung Lintang, yang sengaja dipindahkan ke lapangan untuk acara.
“Ini aneh, Im. Aku lihat patungku sendiri.”
“Itu kehormatan, Lin.”
“Kehormatan atau ejekan?”
“Tanya warga.”
Karjo, yang sudah tua, janggutnya putih semua, menghampiri. “Mas Lintang, ini tradisi baru. Warga ingin mengenang jasa Bapak. Jangan protes.”
“Aku tidak protes. Hanya heran.”
“Heran itu wajar. Tapi terima kasih sudah menginspirasi.”
Lintang tersenyum.
Lomba dimulai. Arkana berhasil menarik kumis Pak Kasmin (yang masih hidup di usia 90 tahun, janggutnya sudah putih semua) dengan izin. Pak Kasmin tertawa.
“Nak Arkana, kamu hebat. Kakek dulu juga pernah jadi korban bapakmu.”
“Kakek kesakitan?”
“Tidak. Kakek senang. Karena dengan begitu, desa ini berubah.”
Arkana tidak sepenuhnya mengerti, tapi dia tersenyum.
Bocah lain ada yang gagal karena menarik tanpa izin. Didiskualifikasi. Dia menangis. Ibunya menghiburnya. “Besok minta izin dulu, ya. Itu pelajaran penting.”
Di sudut lapangan, Lintang mengamati. “Im, tradisi ini bagus. Mengajarkan anak-anak untuk meminta izin sebelum bertindak.”
“Kamu dulu tidak meminta izin.”
“Itu sebabnya tradisi ini penting. Agar generasi berikut lebih baik.”
Muhammad yang ada di samping Lintang, ikut berkomentar. “Pa, Arkana ikut lomba. Saya tidak menyangka.”
“Dia cucuku. Wajar kalau mewarisi ketengilan.”
“Tapi dia juga mewarisi ketulusan Bapak.”
Lintang menepuk pundak Muhammad. “Kamu juga mewarisi itu.”
Lomba usai. Arkana tidak menjadi juara. Dia juara ketiga. Tapi dia tetap tersenyum.
“Kakek, aku dapat pita!”
“Bagus. Nanti pajang di rumah.”
“Kakek, kenapa di patung Kakek ada kumis? Kakek kan tidak punya kumis.”
Lintang tertawa. “Itu simbol, Nak. Simbol bahwa Kakek dulu suka menarik kumis orang.”
“Aku juga mau kayak Kakek.”
“Kamu mau jadi insinyur?”
“Insinyur apa?”
“Terserah. Yang penting jadi orang bermanfaat.”
Arkana mengangguk. Lalu dia berlari bermain dengan teman-temannya.
Malam harinya, Lintang dan Imelda berjalan di pematang sawah. Bulan purnama bersinar terang. Padi-padi mulai menguning. Bulir-bulirnya berisi, bergoyang lembut tertiup angin.
“Im, 30 tahun sudah kita menikah.”
“Cepat ya, rasanya.”
“Kamu tidak bosan dengan tengilku?”
“Tidak. Tengilmu sudah menjadi bumbu kehidupan. Tanpa itu, hambar.”
Lintang tersenyum. “Kamu bilang dulu bahwa cinta datang pada pandangan keseribu.”
“Dan itu benar. Aku butuh seribu pandangan untuk yakin bahwa kamu orangnya.”
“Sekarang?”
“Sekarang, setelah jutaan pandangan, aku semakin yakin.”
Mereka berdua tertawa. Lalu diam. Menikmati malam.
Dari kejauhan, terlihat Muhammad, Dita, dan Arkana sedang bermain di halaman rumah. Arkana berlarian dengan kumis palsu yang masih menempel.
“Im, kita sudah tua.”
“Kita sudah tua, Lin. Tapi cinta kita tidak.”
Lintang mengecup kening Imelda. “Terima kasih untuk segalanya.”
“Sama-sama. Terima kasih juga sudah menjadi suami yang baik.”
“Meskipun tengil?”
“Justru karena tengil.”
Malam semakin larut. Lintang dan Imelda kembali ke rumah. Muhammad dan keluarganya sudah tidur di kamar tamu.
Lintang duduk di beranda sendirian. Matanya menatap langit berbintang.
“Pa, Ma, Mbah Kakung, Mbah Waginem,” bisik Lintang. “Aku sudah tua. Aku sudah lakukan apa yang aku bisa. Desa ini sekarang maju. Petaninya sejahtera. Anakku baik. Cucuku juga baik, meskipun tengil. Saya tenang.”
Angin malam berhembus. Daun-daun pohon randu bergemerisik.
Lintang tersenyum. “Saya siap kapan pun. Tapi tolong beri saya waktu sedikit lagi. Saya masih ingin melihat Arkana besar.”
Tidak ada jawaban. Tapi Lintang merasa ada kehangatan di sekitarnya.
Keesokan paginya, Lintang ditemukan tidur di kursi beranda dengan selimut tipis. Imelda tidak membangunkannya. Dia hanya menambahkan selimut.
“Lin, istirahatlah. Kamu sudah lelah.”
Muhammad mendekat. “Ma, Bapak kenapa?”
“Dia tidur. Jangan dibangunkan. Dia butuh istirahat.”
Muhammad mengangguk. Lalu dia memandang wajah ayahnya yang mulai keriput, rambut yang hampir seluruhnya putih, janggut tipis yang tidak pernah dicukur karena pesan Imelda.
“Pa, terima kasih untuk semuanya,” bisik Muhammad.
Arkana yang terbangun, ikut mendekat. “Kakek kenapa?”
“Kakek tidur. Jangan dibangunkan.”
“Tapi kumis Kakek tidak ada.” Arkana memegang wajah Lintang. “Kakek tidak punya kumis.”
Imelda tersenyum. “Kakek memang tidak punya kumis. Tapi Kakek punya hati yang besar.”
Lintang terbangun pukul sembilan. Dia kaget karena sudah siang.
“Im, kenapa tidak dibangunkan?”
“Kamu butuh tidur.”
“Ada acara di balai desa!”
“Acara sudah selesai. Panen raya sudah berlangsung. Semua berjalan lancar.”
Lintang menghela napas. “Kamu selalu mengatur hidupku.”
“Aku istrimu. Tugasku mengatur agar kamu tidak kelelahan.”
Lintang tersenyum. “Baik. Aku menyerah.”
Setelah sarapan sederhana, Lintang berjalan ke sawah. Padi-padi sudah dipanen oleh para petani. Hanya tersisa jerami yang mengering. Beberapa anak kecil bermain di sawah, mencari belalang atau keong.
Lintang duduk di pematang sawah. Tempat yang sama saat dulu dia melamar Imelda. Sawah itu sekarang milik Pak Kasmin yang sudah diwariskan pada anaknya. Irigasi tetes masih berjalan lancar. Air mengalir dari selang-selang kecil.
“Le Lintang, masih suka merenung di sini?” tegur Mbah Giman yang tiba-tiba muncul. Usianya sudah lebih dari 120 tahun, tapi masih bisa berjalan dengan tongkat.
“Mbah Giman? Masih hidup?”
Mbah Giman tertawa. “Belum dipanggil Tuhan. Mungkin lupa.”
“Mbah, saya senang Mbah masih ada.”
“Aku juga senang kamu masih ada. Desa ini butuh kamu.”
“Desa ini sudah mandiri, Mbah. Tidak butuh saya lagi.”
“Salah. Desa ini butuh inspirasimu. Meskipun kamu tidak melakukan apa-apa, keberadaanmu mengingatkan warga pada perjuangan.”
Lintang diam. Mbah Giman duduk di sampingnya.
“Le, aku sudah tua. Hampir mati. Tapi ada satu pesan yang ingin aku sampaikan.”
“Apa, Mbah?”
“Ketengilanmu adalah berkah. Jangan pernah minta maaf untuk itu.”
Lintang menangis. “Terima kasih, Mbah.”
Mbah Giman mengelus kepala Lintang. “Kamu anak baik. Sekarang, temani aku berjalan pulang.”
Lintang membantu Mbah Giman berdiri. Mereka berjalan perlahan menyusuri pematang sawah. Di kejauhan, terlihat Imelda dan Muhammad sedang berbincang dengan petani muda.
“Le, lihat itu,” kata Mbah Giman sambil menunjuk ke arah patung Lintang di pinggir sawah.
“Aku lihat, Mbah. Aneh rasanya melihat patung diri sendiri.”
“Itu pertanda bahwa perjuanganmu diabadikan. Tidak semua orang mendapat kehormatan itu.”
“Saya tidak butuh kehormatan, Mbah. Saya butuh desa ini maju.”
“Dan desa ini maju. Itu berkatmu.”
“Berkat kita semua, Mbah.”
Mbah Giman tersenyum. “Kamu tetap rendah hati. Itu yang membuatmu istimewa.”
Mereka sampai di rumah Mbah Giman. Lasmiati—yang sudah sangat tua, tapi masih bisa memasak—menyambut.
“Mas Lintang, makan dulu. Saya masak sayur asem.”
“Terima kasih, Bu. Nanti saya kabari Imelda.”
Sore harinya, Lintang berkumpul dengan keluarga di rumah. Arkana bermain dengan Marni—anak Karjo yang sudah dewasa dan menjadi perawat di puskesmas desa.
“Arkana, kamu mau jadi perawat?” tanya Marni.
“Tidak. Aku mau jadi insinyur kayak Kakek.”
Lintang tersenyum mendengar itu. “Kakek insinyur pertanian. Kamu mau insinyur apa?”
“Insinyur yang bisa bikin kumis tumbuh di wajah orang yang tidak punya kumis.”
Muhammad dan Dita tertawa. Imelda menggeleng-geleng. Lintang hanya bisa mengusap kepalanya.
“Kamu aneh, Nak. Tapi aneh yang baik.”
“Seperti Kakek?”
“Seperti Kakek.”
Malam terakhir Muhammad dan keluarganya di Sawahan. Besok mereka akan kembali ke Jakarta. Lintang dan Imelda mengantarkan sampai pintu gerbang desa.
“Pa, Ma, jaga kesehatan. Saya akan sering pulang,” kata Muhammad.
“Kamu sibuk. Tidak usah terlalu sering. Cukup telepon,” kata Lintang.
“Tapi Arkana kangen Kakek.”
“Arkana bisa telepon. Kakek juga akan buat video joget sawah untuk dia.”
Arkana melambaikan tangan. “Dadah, Kakek! Dadah, Nenek!”
Imelda menangis. Lintang memeluknya.
“Jangan nangis, Im. Mereka akan kembali.”
“Aku tahu. Tapi aku sedih.”
“Sedih itu wajar. Tapi ingat, kita masih punya satu sama lain.”
Imelda tersenyum di sela tangisnya.
Mobil hitam itu melaju meninggalkan desa. Lintang dan Imelda berdiri di pinggir jalan sampai tidak terlihat lagi.
“Pulang, Lin. Malam sudah mulai dingin.”
Mereka berjalan berdua menyusuri jalan desa. Lampu jalan yang terpasang berkat usulan Lintang dulu, menerangi langkah mereka.
“Im, 30 tahun yang lalu, aku datang ke desa ini sebagai insinyur. Sekarang, aku hanya Lintang tua yang tidak punya kumis.”
“Tapi kamu punya warisan. Sawah-sawah ini, petani-petani ini, anak-anak ini. Mereka adalah kumismu.”
Lintang tertawa. “Metafora yang bagus. Kamu tetap sastrawan ulung.”
“Dan kamu tetap insinyur tengil.”
Di kejauhan, langit malam berbintang. Tanpa hujan, sebuah kilat tegas menyambar di ujung desa. Lintang melihatnya.
“Im, lihat. Petir tanpa hujan.”
“Tanda apa itu?”
“Tanda bahwa sejarah baru akan dimulai. Mungkin dari Arkana. Mungkin dari anak-anak desa yang lain.”
Imelda menggenggam tangan Lintang. “Terserah. Yang penting kita sudah berjuang.”
Mereka berdua masuk ke rumah. Lampu minyak tanah, yang masih mereka pertahankan sebagai pengingat masa lalu, dinyalakan.
“Im, aku ingin kamu bacakan puisi untukku.”
“Puisi apa?”
“Puisi yang dulu kamu bacakan di diskusi sastra. Tentang insinyur pencari kumis.”
Imelda tersenyum. Dia mengambil buku puisi lamanya, buku yang sudah lusuh. Dia membuka halaman tertentu, lalu membaca dengan suara lirih.
Kumis bukanlah tujuan,
tapi cara untuk mengukur seberapa jauh engkau berlari
menjauhi rasa takutmu sendiri.
Engkau pikir dengan menarik kumis,
orang akan melihatmu.
Padahal engkau hanya ingin dilihat
sebagai seseorang yang berarti.
Sekarang, berhentilah menarik.
Karena aku sudah melihatmu.
Bukan kumismu—karena aku tak punya.
Tapi hatimu yang selama ini engkau sembunyikan
di balik tawa dan kejahilan.
Lintang, engkau sudah cukup kuat.
Engkau tidak perlu terus menjadi si tengil
untuk dilindungi.
Aku di sini.
Akan selalu di sini.
Bersama segala ketengilanmu,
atau tanpanya.
Lintang menangis. Imelda juga menangis.
Mereka berpelukan di ruang tamu yang sederhana, diterangi lampu minyak tanah yang berkedip-kedip.
Di luar, langit malam terus berbintang. Sawah-sawah yang baru dipanen mulai digenangi air untuk persiapan tanam berikutnya. Petani-petani muda sudah mempersiapkan benih. Anak-anak desa masih terjaga, bermimpi tentang masa depan.
Dan di pinggir sawah, patung kecil seorang insinyur pencari kumis berdiri tegak. Matanya yang perunggu menatap ke timur, ke arah matahari yang akan terbit beberapa jam lagi.
Menyambut hari baru.
Menyambut sejarah baru.
Menyambut generasi baru yang akan melanjutkan apa yang telah dimulai.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...