SENJA DI BUNDARAN BESAR KAPUAS, DI SINI RINDU MENANTI
Sebuah Kisah Cinta yang Tumbuh di Persimpangan Jalan, Bertahan di Tengah
Rintangan, dan Berakhir di Bawah Langit Senja Kuala Kapuas
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER:
Novel ini adalah karya fiksi. Semua nama, tokoh, tempat, dan peristiwa merupakan hasil imajinasi penulis atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama, tokoh, atau peristiwa tertentu di dunia nyata hanyalah kebetulan semata. Cerita ini didedikasikan untuk siapa pun yang percaya bahwa cinta sejati tetap indah meski tak sempurna.
PROLOG
Bundaran Besar Kapuas. Senja.
Angin dari Sungai Kapuas membawa aroma tanah basah bercampur wangi gorengan dari angkringan Mbok Darmi. Lampu-lampu taman mulai menyala satu per satu, seperti kunang-kunang yang enggan pergi. Di bangku kayu, di seberang Tugu ikonik bundaran besar Kapuas, seorang laki-laki muda duduk sendiri. Kemeja lusuhnya basah di bagian ketiak. Wajahnya menatap lurus ke perempatan besar di depannya , timur menuju Banjarmasin, selatan ke kota Kapuas, barat ke Pulang Pisau dan Palangkaraya, utara ke Mantangai.
Itulah persimpangan hidupnya.
Namanya Andika. Pemilik bengkel motor di Jalan Tambun Bungai. Dua tahun terakhir ini, setiap akhir pekan, ia selalu berada di bangku yang sama. Membawa kopi hitam yang cepat dingin, dan harapan yang tak pernah padam.
Seorang pengamen tua mendekat. Gitar bututnya digantung di bahu.
"Mas, mau dangdut koplo atau lagu cinta galau? Biar nyambung sama wajah mas yang kayak bulan purnama kesiangan," kata pengamen itu.
"Lagu apa pun yang bisa mengembalikan seseorang, Pak," jawab Andika pelan.
"Wah, itu mah bukan lagu, mas. Itu namanya keajaiban. Dan keajaiban itu… biasanya datang pas kita nggak sengaja nunggu. Tapi mas di sini sengaja banget nunggunya," ujar pengamen sambil menyelipkan gitar.
"Saya berutang rindu sama senja ini, Pak," kata Andika tanpa menoleh.
Pengamen itu menggeleng. Lalu pergi sambil bersenandung lirih lagu Rindu Berat.
Andika menyesap kopinya. Pahit. Seperti dua tahun yang ia lalui sendirian.
Di sudut lain taman, Empat Sekawan , Amilia, Susan, dan Susi tanpa Reni, duduk di bangku berbeda. Mereka tak melihat Andika. Mereka datang untuk bernostalgia dengan tempat yang dulu sering menjadi saksi tawa Reni. Tapi Reni tak lagi datang ke bundaran.
"Susi, lo yakin liat Andika?" tanya Amilia.
"Yakin. Tadi gue lihat dia beli gorengan sendiri. Mengerikan banget mukanya," jawab Susi.
"Kasihan. Dua tahun nungguin Reni yang ngunci diri di rumah," kata Susan lirih.
"Yang lebih kasihan itu Reni. Bukan cuma kakinya yang patah gara-gara kecelakaan di Simpang Adipura, tapi hatinya juga. Dia merasa nggak layak dicintai lagi," ujar Amilia.
Mereka terdiam.
Di bangku yang sama, Andika memejamkan mata. Ia mengingat pertama kali jatuh cinta di bundaran ini. Bukan karena senja. Bukan karena angkringan. Tapi karena seorang gadis bernama Reni Ayu Wulandari yang jatuh tersenggol olehnya, lalu tersenyum meski sakit.
"Reni… aku masih di sini. Di persimpangan yang sama. Senja yang sama. Di sini rindu menanti," bisik Andika pada angin.
Angin tak menjawab.
Tapi di rumah Reni, lima kilometer dari bundaran, seorang perempuan dengan kruk di ketiaknya menatap lemari pakaian lamanya. Di dalamnya tergantung baju berwarna krem , baju yang dulu ia kenakan saat pertama kali Andika memperkenalkan diri.
"Apa kamu masih menunggu, Dika?" bisik Reni pada bayangannya sendiri.
Telepon genggamnya mati. Rasanya mati. Tapi di balik matinya itu, ada satu nomor yang tak pernah dihapus. Nomor Andika.
Dan di Bundaran Besar Kapuas, senja tak pernah berhenti datang. Seperti rindu yang tak pernah berhenti menanti.
BAB 1
“Akhir Pekan di Perempatan Takdir”
Bundaran Besar Kapuas. Dua tahun yang lalu. Jumat sore, pukul 16.30.
Langit masih biru muda, tapi matahari mulai condong ke barat. Bundaran Besar Kapuas ramai oleh kendaraan yang melintasi perempatan. Di taman kota, sekelompok anak muda duduk melingkar di atas rumput. Sebuah tikar plastik bermotif kotak-kotak menjadi alas mereka.
Di atas tikar itu ada enam orang: Pajar, Andika, Edi, Rano, Leni, dan Siska.
Sebuah gitar bekas tergeletak di samping Pajar. Tumpukan gorengan dan gelas plastik berisi es teh berserakan di tengah.
"Rano, berapa banyak udah lo makan? Itu gorengan pesanan gue, tau!" seru Andika sambil menunjuk ke arah temannya yang paling gemuk.
"Lah, ditaruh di tengah-tengah ya buat makan bareng. Kalau lo mau punya sendiri, simpan di saku," jawab Rano santai sambil mengunyah.
"Saku celana jeans? Lo ngaco, No," kata Andika setengah kesal.
"Diamlah. Yang penting kita kumpul lagi setelah dua tahun nggak kompak," potong Pajar sambil memetik gitar asal-asalan.
"Iya nih. Terakhir kali kita kumpul di sini waktu masih pakai seragam SMA. Sekarang kita udah pada kerja," ujar Leni sambil menyandarkan punggung ke pohon palem mini di belakangnya.
"Leni sekarang udah PNS, Siska juga. Keren banget sih. Gue masih jadi teknisi keliling kadang dipanggil jam 2 malam cuma gara-gara internet lemot," keluh Pajar.
"Namanya juga kerja, Jar. Gue dan Rano juga di konsultan gini. Kerjaannya bikin laporan, bolak-balik cetak, bolak-balik revisi," kata Edi.
"Yang paling enak sih Andika. Punya bengkel sendiri di Jalan Tambun Bungai. Bos bagi dirinya sendiri," timpal Siska sambil tersenyum.
"Bos apa kuli. Setiap hari bau oli, tangan item, punggung pegel. Tapi ya gimana, ini pilihan," jawab Andika sambil memutar gelas es teh di tangannya.
Rano mengelap mulutnya dengan punggung tangan. "Yang penting sekarang kita semua punya kerja, punya duit, bisa beli gorengan tanpa minta-minta ortu."
"Lo jangan bicara soal duit, No. Lo tadi lima menit habis dua puluh ribu cuma untuk gorengan dan es teh. Hemat dikit, nanti kena diabetes," sindir Leni.
"Biarin. Aku ikhlas mau kena diabetes asal bahagia," jawab Rano sambil menepuk perutnya.
Semua tertawa.
Pajar berhenti memetik gitar. "Tapi serius, Dika. Dari tadi elo diem banget. Kayak ada yang dipikirin. Ada masalah di bengkel?"
Andika menggeleng. "Nggak ada masalah. Bengkel lancar. Cuma…"
"Cuma apa?" tanya Edi cepat.
"Cuma gue ngerasa ada yang beda di bundaran hari ini," jawab Andika sambil menatap lurus ke arah perempatan.
"Mobil nambah? Macet? Polisi lalu lintas lagi ngatur?" tebak Siska.
"Bukan. Bukan itu," kata Andika masih dengan tatapan kosong.
Rano menyelak dengan mulut penuh. "Jangan-jangan lo ngerasa Bundaran Besar ini rumah hantu? Udah sore gini, wajar kalau start ada yang serem."
"Rano, lo kalau makan jangan sambil ngomong. Berantakan," kata Siska.
"Coba lihat ke arah selatan," kata Andika tiba-tiba, menunjuk ke arah jalan pemuda menuju bundaran.
Semua menoleh. Di sana, empat remaja putri sedang berjalan beriringan. Mereka tampak asyik tertawa. Seragam SMA dan SMK masih melekat di tubuh mereka. Tapi ada satu yang paling menonjol , seorang gadis dengan tinggi sedang, rambut sebahu, wajah cerah tanpa riasan, dan senyum yang terlihat dari jarak puluhan meter.
"Itu Empat Sekawan, Dika. Mereka anak-anak SMA dan SMK kelas XII. Sering ke sini tiap akhir pekan. Gue kenal mereka dari adik sepupu gue," jelas Leni.
"Siapa namanya?" tanya Andika cepat.
Leni tersenyum curiga. "Ada empat. Yang paling tinggi itu Amilia, yang pendek dan enerjik itu Susi, yang pemalu dan jarang bicara itu Susan, dan yang… yang lo lihat dari tadi itu namanya Reni. Reni Ayu Wulandari."
"Reni," ulang Andika pelan.
"Nah mulai tuh," kata Edi sambil menyikut Pajar.
"Mulai apa?" pinta Rano yang masih asyik mengunyah.
"Mulai jatuh cinta. Kayak sinetron jam 8 malam," ledek Edi.
Andika tersentak. "Jatuh cinta apanya? Belum kenal juga. Jangan ngaco."
"Lo tadi tanya namanya. Itu tanda-tanda awal," kata Siska sambil tertawa kecil.
"Saya tanya karena penasaran. Biasa. Lagian mereka juga masih sekolah. Masa gue pacaran sama anak SMA? Gue udah 21 tahun," bantah Andika.
"Umur 21 sama kelas 12 itu bedanya 3-4 tahun. Masih wajar, Dika," komentar Pajar.
"Sudah, sudah. Jangan bahas yang nggak-nggak. Nikmati sore," tutup Andika dengan nada sedikit kesal.
Tapi matanya tak bisa lepas dari arah Empat Sekawan yang kini sudah duduk di bangku taman seberang.
Reni duduk paling pinggir. Ia membuka tas kecilnya dan mengeluarkan ponsel. Sesekali ia melihat ke layar, lalu menatap ke arah bundaran, lalu kembali ke ponsel.
"Gue haus. Gue beli es teh lagi," kata Andika tiba-tiba sambil berdiri.
"Baru juga habis, Dika. Es teh lo masih setengah, tuh," protes Rano.
"Panas. Perlu tambah es," jawab Andika cepat.
"Panas atau kepengen ngintip?" tanya Pajar dengan senyum jahil.
Andika tak menjawab. Ia berjalan cepat ke arah lapak Mbok Darmi , lapak yang letaknya persis di dekat bangku taman Empat Sekawan.
"Oi, Andika! Ambilkan gue gorengan satu bungkus lagi!" teriak Rano dari belakang.
"Kebanyakan lo, No!" balas Andika tanpa menoleh.
Di lapak Mbok Darmi, Andika mengantre. Hanya ada dua orang di depannya. Tapi matanya terus melirik ke arah bangku Empat Sekawan. Reni sedang berbicara dengan Amilia. Sesekali ia tertawa. Suaranya pelan, tapi bagi Andika, itu seperti musik yang tak pernah ia dengar sebelumnya.
"Mas mau pesan apa?" tanya Mbok Darmi dari balik lapaknya.
"Eh… eh… es teh satu. Dan… gorengan… gorengan satu porsi, Bu," jawab Andika gagap.
"Wajah mas ini kayak orang kebingungan. Ada yang dicari?" tanya Mbok Darmi sambil menuang teh ke gelas.
"Nggak, Bu. Nggak cari apa-apa. Cuma… saya penasaran sama sekelompok remaja putri di sana," jawab Andika jujur.
"Ooh, Empat Sekawan. Itu anak-anak SMA. Sering ke sini. Cantik-cantik. Mas tertarik sama yang mana?" tanya Mbok Darmi sambil tersenyum.
"Yang… yang…"
"Yang nama Reni?" potong Mbok Darmi.
Andika mengangguk pelan. Pipinya merona.
"Wajar, Mas. Reni itu anaknya baik. Sopan. Tapi katanya orang tuanya galak. Nggak boleh pacaran sampai kuliah," cerita Mbok Darmi sambil membungkus gorengan.
"Saya tahu," jawab Andika.
"Lho, kok tahu? Tadi bilang belum kenal," selidik Mbok Darmi.
"Saya… cuma merasa," jawab Andika ragu.
Mbok Darmi tertawa kecil. "Ya sudah, Mas. Ini es teh dan gorengannya. Bayar di depan."
Andika membayar. Saat berbalik, ia tak sengaja mundur selangkah karena menepis nyamuk di dekat matanya. Dan tepat saat itu, Reni berdiri dari bangku dan berjalan menuju lapak yang sama. Ia ingin membeli es cincau susu.
Bahu kanan Andika menyenggok bahu kiri Reni.
Reni kehilangan keseimbangan. Sandal jepitnya tersangkut di celah paving block. Ia jatuh terduduk di tanah. Gelas plastik yang ia pegang, belum diisi, terpental ke samping.
"Aduh!" pekik Reni.
Andika membeku. Jantungnya berdegup kencang.
"Maaf! Maaf! Saya nggak lihat! Saya… saya nggak sengaja!" ucap Andika panik sambil membungkuk.
Susi, yang paling blak-blakan dari Empat Sekawan, langsung berdiri dan menghampiri.
"Liat tuh depan mata! Ada orang, mas! Mata mas buat apa?" seru Susi dengan tangan di pinggang.
"Tenang, Sus. Nggak sakit kok," kata Reni sambil mengucek sikunya.
"Nggak sakit? Lo jatuh, Ren! Bisa memar! Eh, mas, lo harus tanggung jawab!" desak Susi.
"Saya tanggung jawab. Sumpah, saya minta maaf. Nggak sengaja. Saya mau mundur karena ada nyamuk," kata Andika sambil menawarkan tangan pada Reni.
"Nyamuk atau hantu mas, kok sampe mundur kayak orang keseleo?" kata Reni sambil tersenyum kecil.
Andika terpana. Wajah Reni di bawah cahaya sore itu begitu alami. Tanpa bedak. Tanpa lipstik. Hanya senyum tipis yang muncul entah karena gemas atau sungguh-sungguh memaafkan.
"Saya… saya Andika," ucap Andika tiba-tiba.
Susi menyela. "Yang pantes dikasih tahu itu nama lo jadi perlu? Lo tuh minta maaf atau ngasih kartu nama?"
"Pelan-pelan, Susi," kata Amilia yang kini ikut mendekat.
"Dia panik, kali," tambah Susan pelan.
Reni menepuk-nepuk rok sekolahnya yang sedikit terkena debu. "Nggak papa, mas. Lain kali kalau mau mundur, liat dulu belakangnya."
"Pasti. Saya janji," jawab Andika.
"Janji liat belakang atau janji mau traktir? Soalnya tadi waktu jatuh, es cincaunya tumpah. Padahal belum kebeli," ledek Amilia.
"Iya, itu gelas kosong. Jadi jatuhnya sia-sia," kata Susi.
"Iya, sia-sia banget," sahut Susan.
Andika menghela napas. "Saya traktir semuanya. Sekalian permintaan maaf."
"Serius, Mas? Kita empat orang," tanya Amilia dengan mata berbinar.
"Serius. Mbok Darmi, pesan empat es cincau susu dan tambah gorengan dua porsi!" seru Andika ke arah lapak.
Dari kejauhan, Rano datang berlari kecil. Perutnya bergoyang. Napasnya tersengal-sengal.
"Nah, baru gue kenal Dika. Dulu pelit banget, sekarang tiba-tiba royal. Ini pantes diselidiki," kata Rano sambil mengatur napas.
"Lo ngapain ikut-ikut, No?" tanya Andika kesal.
"Pajar nyuruh gue liatin lo. Katanya jangan sampai lo ngelamun sendirian di lapak," jawab Rano.
Rano lalu menatap Reni. Matanya mengernyit.
"Lo cantik, Neng. Makanya dia lupa diri. Gue kenal Andika dari SMA, dia nggak pernah royal kayak gini," kata Rano sambil menyeringai.
"Aduh, jangan gitu. Bapak-bapak ini," kata Reni sambil tersipu.
Rano tampak tersinggung. "Bapak?! Gue baru dua puluh satu tahun, Neng!"
Dua puluh satu keliatan empat puluh. Karena perut," ledek Susi sambil tertawa.
Semua tertawa. Amilia sampai memegang perut. Susan tersenyum malu-malu. Reni juga tertawa, meskipun matanya sesekali melirik ke arah Andika.
"Mas Andika, nggak usah traktir. Saya cuma minta maafnya aja," kata Reni pelan setelah tawa mereda.
"Bukan cuma maaf. Saya juga minta izin… boleh kenalan?" tanya Andika.
Reni menggigit bibir bawahnya. "Reni. Reni Ayu Wulandari. Salam kenal, Mas."
"Salam kenal, Reni. Saya Andika. Andika Pratama," jawab Andika sambil tersenyum lebar.
Dari kejauhan, Pajar berdiri di atas tikar sambil berteriak.
"Wah, Tuh Andika! Lo bener! Dika jatuh cinta!" teriak Pajar.
"Gue bilang apa? Bundaran Besar itu pusat jodoh!" balas Edi yang juga berdiri di samping Pajar.
Leni dan Siska hanya tertawa. Mereka melambaikan tangan ke arah Empat Sekawan.
Reni menunduk. Pipinya merona.
"Maaf, Mas. Teman saya suka norak," kata Andika.
"Tidak apa-apa. Tapi saya harus segera pulang. Nanti Mama marah," kata Reni.
"Saya antar," tawar Andika.
"Jangan. Nanti dilihat tetangga. Lagipula kita baru kenal," tolak Reni.
"Setidaknya izinkan saya mengantarkan pesanan ini. Es cincau dan gorengan untuk Empat Sekawan," kata Andika sambil mengangkat kantong plastik dari Mbok Darmi.
"Baiklah. Tapi itu saja," kata Reni.
Mereka berjalan beriringan, Andika di depan membawa pesanan, Reni di samping kanannya, diikuti Amilia, Susan, dan Susi yang berbisik-bisik di belakang.
"Lo liat tadi? Andika tuh kayak kena hipnotis," bisik Susi.
"Iya. Matanya nggak berkedip waktu liat Reni," sahut Amilia.
"Kasihan. Cowok dewasa kena pukau anak SMA," kata Susan pelan.
"Diam kalian. Jangan bikin Reni makin malu," desis Amilia.
Sampai di bangku Empat Sekawan, Andika meletakkan pesanan. Reni duduk. Amilia segera membagikan es cincau.
"Ren, cobain. Enak, kan?" kata Amilia.
Reni mencicipi. "Enak."
"Mas Andika, mau duduk sebentar?" tawar Susi tiba-tiba.
Andika menoleh ke arah kelompoknya. Pajar dan Edi melambai-lambaikan tangan seperti menyuruhnya pulang.
"Iya , Nggak apa . Sebentar," kata Andika lalu duduk di ujung bangku, memberi jarak dengan Reni.
"Kamu tadi bilang baru lulus SMA? Sekarang kerja apa?" tanya Susi memulai obrolan.
"Saya punya bengkel motor di Jalan Tambun Bungai. Baru buka setahun lalu," jawab Andika.
"Kerja sendiri? Keren juga," komentar Amilia.
"Itu mah karena nggak diterima di mana-mana. Jadi buka usaha sendiri," canda Andika.
"Reni, tuh. Kerja keras, Masnya. Jangan cuma buka bengkel, tapi jago jatuhin orang," ledek Susi lagi.
Reni menatap Susi tajam. "Susi!"
"Maaf, maaf. Bercanda," kata Susi sambil angkat tangan.
Andika tertawa kecil. "Nggak apa. Saya memang ceroboh. Tapi mulai sekarang saya janji akan lebih hati-hati."
"Janji sama siapa?" tanya Reni tiba-tiba.
Andika menatap Reni. "Janji sama kamu."
Sunyi sesaat.
Amilia memecah kesunyian. "Reni tuh anaknya susah didekati, Mas. Orang tuanya nggak boleh pacaran sampai kuliah atau kerja. Jadi kalau Mas punya niat lain, mending urungkan."
"Siapa yang punya niat lain?" tanya Andika pura-pura tidak tahu.
"Senyum lo dari tadi nggak wajar, Mas," kata Susan tiba-tiba.
Semua tertawa.
Matahari semakin rendah. Warna jingga mulai menyebar di langit barat.
"Reni, kita pulang. Hari sudah sore," kata Amilia sambil berdiri.
"Iya. Nanti Mamamu bikin geger," kata Susi.
"Andika, terima kasih es cincaunya. Lain kali kalau mau traktir lagi, jangan karena jatuhin orang. Cukup karena baik," kata Reni sambil berdiri.
"Baik. Es cincau lain kali? Saya tahu tempatnya," jawab Andika.
"Nanti saya kabari lewat… lewat…" Reni bingung.
"Lewat teman saya Leni. Dia kenal kalian," potong Andika.
"Baiklah. Hati-hati di jalan, Mas. Dan terima kasih sudah minta maaf," kata Reni.
Mereka berempat berjalan ke arah selatan, menuju jalan pemuda , Simpang Camuh lalu ke jalan Jalan Cilik Kriwut.
Andika masih duduk di bangku. Ia menatap punggung Reni hingga hilang ditelan keramaian bundaran.
Rano datang dari belakang. "Dika, gue bawa sisa gorengan buat lo. Ini cuma tinggal dua, tapi gue udah gigit satu. Jadi sisanya satu."
"Nggak usah, No. Gue kenyang," kata Andika.
"Kenyang karena apa? Karena es teh atau karena liat senyum anak SMA?" tanya Rano.
Andika tak menjawab. Ia menatap ke arah barat, tempat langit mulai memerah.
"Tahu nggak, No? Aku belum pernah sebahagia ini dalam setahun terakhir," kata Andika pelan.
"Bahagia karena gorengan?" tanya Rano.
"Bukan. Karena dia bilang salam kenal," jawab Andika.
BAB 2
“Tatapan yang Tak Sengaja”
Bundaran Besar Kapuas. Satu minggu setelah kejadian jatuh di lapak Mbok Darmi. Jumat sore, pukul 16.45.
Langit sore itu berbeda. Lebih jingga dari biasanya. Atau mungkin hanya karena Andika datang sendirian.
Ya, sendirian.
Pajar lembur kantor. Edi ada proyek di luar kota. Rano sakit perut, kata dokter karena kebanyakan gorengan. Leni dan Siska menghadiri pengajian keluarga.
Jadi Andika duduk sendirian di bangku taman yang dulu. Tikar plastik tak terbentang. Gorengan hanya satu porsi kecil. Es teh satu gelas.
Matanya tak lepas dari arah Jalan Pemuda.
Dia datang.
Reni.
Sendirian pula.
Gadis itu berjalan perlahan, sesekali melihat ponsel, lalu menatap ke arah bundaran. Jaket almamater SMA-nya melambung tipis ditiup angin sore. Rambut sebahuannya tertiup ke kanan, tapi ia tak menggubris. Ia terus berjalan ke bangku taman favorit Empat Sekawan, bangku kayu di dekat replica rumah betang salah satu taman ikonik di bundaran.
Tapi kali ini, tak ada Amilia. Tak ada Susan. Tak ada Susi.
Andika menelan ludah.
“Ini saatnya,” bisiknya pelan.
Ia berdiri. Kopi hitam di tangannya ia tinggalkan di bangku. Ia berjalan perlahan menuju bangku Reni. Jaraknya lima meter. Empat meter. Tiga meter.
Reni menoleh.
“Mas Andika?” tanya Reni dengan alis sedikit naik.
“Reni. Sendirian?” tanya Andika sambil berdiri di depan bangku.
“Iya. Susi belum bangun katanya. Amilia masih di pasar bantu ibunya. Susan jagain adik yang lagi demam. Aku nggak puas kalau nggak jadi ke sini,” jawab Reni sambil menepuk-nepuk bangku di sampingnya.
“Boleh duduk?” tanya Andika.
“Silakan. Ini taman umum,” jawab Reni sambil tersenyum tipis.
Andika duduk. Jarak antara mereka hanya satu jengkal.
“Kamu sendiri juga?” tanya Reni.
“Iya. Pajar lembur. Edi proyek. Rano sakit perut. Leni dan Siska pengajian,” jawab Andika sambil menghitung dengan jari.
Reni tertawa kecil. “Sakit perut karena gorengan minggu lalu?”
“Tebakan tepat. Rano habis dua porsi sendiri. Sisanya dia bawa pulang. Paginya langsung mules,” kata Andika.
“Kasihan. Tapi lucu juga. Temanmu semua kocak,” kata Reni.
“Mereka memang begitu. Itu sebabnya aku betah. Mereka nggak pernah bosenin,” jawab Andika.
Sunyi sesaat.
Angin membawa suara azan Magrib dari masjid di seberang bundaran.
“Kamu kenapa suka ke bundaran, Ren?” tanya Andika tiba-tiba.
Reni menatap lurus ke perempatan. “Karena di sini senjanya cantik. Dan angkringannya murah.”
“Cuma itu?”
“Apa kurang?”
“Nggak kurang. Tapi aku curiga ada alasan lain.”
Reni menoleh. Wajahnya setengah tertutup bayangan lampu taman yang mulai menyala. “Aku suka tempat yang ramai. Biar nggak merasa sendirian. Di rumah… kadang sepi.”
“Orang tuamu?”
“Mama dan Papa kerja. Papa di dinas pekerjaan umum. Mama guru. Pulang sore. Jadi aku biasa sendiri dari pulang sekolah sampai magrib,” cerita Reni.
Andika mengangguk. “Aku juga dulu begitu. Waktu SMA, orang tua bercerai. Aku tinggal sama nenek. Sore-sore aku ke bengkel teman. Belajar motor. Biar nggak sendiri.”
Reni menatap Andika lama. “Berat ya?”
“Dulu. Sekarang udah biasa,” jawab Andika singkat.
Mereka terdiam lagi. Tapi kali bukan sunyi yang canggung. Sunyi yang nyaman.
“Andika…” panggil Reni pelan.
“Hmm?”
“Kenapa kamu minggu lalu sampai traktir kami berempat?”
“Karena aku salah. Aku buat kamu jatuh.”
“Cuma karena itu?”
Andika menghela napas. “Jujur?”
“Jujur.”
“Aku traktir karena mau lihat kamu senyum. Waktu kamu jatuh, aku panik. Tapi waktu kamu tersenyum dan bilang ‘nggak papa’… aku merasa ada sesuatu yang beda,” kata Andika.
“Beda bagaimana?”
“Kayak aku baru kenal seseorang yang nggak pelit senyum. Padahal dia yang jatuh.”
Reni menunduk. Rambutnya menutupi pipinya yang merona. “Aku nggak biasa dapat pujian, Dika.”
“Itu bukan pujian. Itu fakta.”
“Sok tahu,” ujar Reni sambil tertawa kecil.
“Bukan sok tahu. Aku mekanik. Aku biasa lihat detail. Satu baut lepas sedikit saja, aku tahu. Satu kabel putus, aku tahu. Dan kamu… kamu orang yang baik. Itu detail yang nggak bisa aku bohongi,” kata Andika serius.
Reni mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca? Atau hanya pantulan lampu taman? Andika tak yakin.
“Kamu selalu sepuitis ini kalau habis baca status Facebook?” tanya Reni bergurau.
“Bukan. Aku jadi puitis kalau lagi duduk di samping cewek yang membuatku gugup,” jawab Andika.
“Kamu gugup?”
“Gila-gilaan.”
Reni tertawa lepas. Suaranya ringan. Seperti es batu yang jatuh ke gelas kaca.
Dari kejauhan, mobil Avansa melaju dari perempatan timur. Klakson berbunyi keras. Keduanya menoleh sekilas, lalu kembali saling menatap.
“Reni, aku mau tanya. Serius,” kata Andika.
“Tanya saja.”
“Orang tuamu benar-benar nggak boleh pacaran sampai kuliah? Atau sampai kerja?”
Reni menghela napas panjang. “Itu aturan main di rumah. Papa bilang, pacaran itu bikin lupa tujuan. Anak muda pikirannya kemana-mana. Nggak fokus.”
“Kalau tujuannya jelas?”
“Apa maksudmu?”
“Maksudku, kalau seseorang sudah tahu mau jadi apa, sudah punya pekerjaan, sudah punya cita-cita… bukannya pacaran bisa jadi pendorong? Bukan penghalang?”
Reni terdiam. Ia memainkan ujung jaketnya.
“Kamu bicara tentang dirimu?” tanya Reni akhirnya.
“Aku bicara tentang siapa pun yang serius. Termasuk aku,” kata Andika.
Reni menoleh. “Kamu serius sama aku? Padahal baru kenal seminggu? Itu gila, Dika.”
“Apa hubungan waktu dengan keseriusan? Orang bisa pacaran lima tahun tapi ujungnya putus. Orang lain kenal sebulan lalu menikah dan bahagia. Waktu bukan jaminan,” kata Andika.
“Kamu keras kepala,” kata Reni.
“Kamu baru sadar?”
Mereka tertawa bersama. Tawa itu terdengar tulus. Tanpa beban.
Tiba-tiba ponsel Reni bergetar.
“Aduh, Mama nelpon,” ucap Reni panik.
Ia mengangkat ponsel.
“Halo, Ma… Iya, aku di bundaran… Sendiri? Nggak sendiri, ada… ada teman… Iya, cewek… Tidak, Mama. Nggak ada cowok… Iya, Ma. Nanti pulang.”
Reni menutup telepon. Napasnya memburu.
“Mama dan Papamu marah?” tanya Andika.
“Belum. Tapi kalau dia tahu aku di sini sama kamu, bisa ribut,” kata Reni.
“Kita nggak pacaran. Kita baru ngobrol.”
“Papa nggak tahu itu. Yang dia lihat cuma anak perempuannya duduk berduaan dengan laki-laki di taman saat magrib. Itu sudah dosa besar di matanya.”
Andika mengangguk paham.
“Aku anter kamu pulang,” katanya.
“Jangan. Nanti dilihat tetangga.”
“Aku antar pakai motor. Helm gelap. Jaket tertutup. Nggak ada yang tahu.”
“Papa punya mata-mata di mana-mana, Dika.”
“Mata-mata atau tetangga kepo?”
“Dua-duanya.”
Andika tertawa. “Baiklah. Aku akan jalan di belakangmu. Jarak sepuluh meter. Biar aman.”
“Dua puluh meter.”
“Sepuluh.”
“Lima belas.”
“Sepuluh. Final.”
Reni menghela napas kesal, tapi senyumnya muncul. “Aneh kamu, Mas Andika.”
“Biar aneh, yang penting kamu sampai rumah selamat.”
Mereka berdiri bersamaan. Reni mengambil tas kecilnya. Andika merapikan jaketnya.
“Kamu datang lagi minggu depan?” tanya Andika.
“Mungkin. Tergantung Amilia.”
“Aku akan tetap datang. Meskipun kamu nggak datang.”
“Kenapa?”
“Karena aku janji sama bundaran ini.”
“Janji apa?”
“Janji kalau suatu hari aku akan punya cerita indah untuk diceritakan ke anak cucuku. Dan cerita itu dimulai dari bangku ini.”
Reni menatap Andika dengan mata berbinar.
“Kamu terlalu romantis, Dika. Itu berbahaya.”
“Berbahaya untuk siapa?”
“Untuk hatiku.”
Andika terdiam. Angin bertiup lebih kencang.
“Ayo pulang, Ren. Sebelum Papa-mu datang sendiri menjemput.”
Mereka berjalan. Reni di depan. Andika di belakang. Jarak sepuluh meter.
Sesekali Reni menoleh ke belakang.
“Mas, itu jaraknya cuma lima meter, bukan sepuluh!” teriak Reni kecil.
“Sudah, lima meter juga aman. Asal jangan dua meter. Nanti kusangka kamu pacar,” balas Andika.
“Awas ya, orang tua saya bisa marah.”
“Kalau mereka marah, suruh mereka marah ke aku. Bukan ke kamu.”
“Sok jagoan.”
“Bukan sok jagoan. Aku rela.”
Reni berhenti berjalan. Ia berbalik.
“Andika, kamu benar-benar nggak kenal aku. Kamu nggak tahu sifat burukku. Aku pemarah kalau lapar. Aku suka ngambek kalau nggak dituruti. Aku juga kadang malas belajar. Aku nggak sesempurna yang kamu lihat,” katanya cepat.
“Aku juga nggak sempurna, Ren. Aku telat bangun, suka lupa janji, punya bengkel yang kadang sepi pelanggan, dan aku masih tinggal di rumah kontrakan sempit di belakang bengkel. Kalau kita berdua nggak sempurna, kenapa nggak coba jadi nggak sempurna bersama?” jawab Andika.
Reni membuang muka. Ia menarik napas panjang.
“Kamu menyebalkan,” katanya.
“Terima kasih,” jawab Andika sambil tersenyum.
Reni melanjutkan berjalan. Andika tetap di belakang. Jarak sepuluh meter kembali terjaga.
Di perempatan Jalan Cilik Kriwut, Reni berhenti.
“Sampai di sini saja, Dika. Dari sini aku belok kiri. Rumahku lima puluh meter lagi.”
“Aku tunggu sampai kamu masuk ke halaman.”
“Nggak usah.”
“Aku tunggu.”
“Kepala batu.”
“Kamu sudah bilang itu tadi.”
Reni menggeleng. Ia berjalan meninggalkan Andika. Sampai di depan gerbang rumahnya, ia menoleh.
Andika masih berdiri di perempatan. Tangan kanannya terangkat, lambang lambaian pelan.
Reni tersenyum. Lalu masuk ke dalam.
Andika masih berdiri di tempat itu. Matanya menatap pintu rumah Reni hingga benar-benar tertutup.
“Reni Ayu Wulandari,” bisiknya.
Ia menepuk dadanya sendiri.
“Apa yang kamu lakukan pada hatiku?”
Dari kejauhan, Rano mengirim pesan suara di WhatsApp.
Andika memencet play.
Suara Rano terdengar parau: “Dika, gue sakit perut parah. Tolong besok beliin obat di apotek. Jangan lupa. Udah ah, gue mau pup lagi.”
Andika tertawa sendiri.
Ia membalas pesan suara: “No, lo jangan mati dulu. Gue butuh lo buat jadi saksi kalau suatu hari gue nikah sama Reni.”
Tak lama, balasan masuk. Suara Rano terdengar kaget sekaligus lucu: “kampret, LO SERIUS?! GUE MAU JADI SAKSI, TOLONG JANGAN NIKAH SEBELUM GUE SEMBUH.”
Andika menyimpan ponsel. Ia menatap langit malam yang mulai gelap.
“Nanti, No. Nanti. Masih panjang jalannya,” bisiknya.
BAB 3
“Larangan yang Menyakitkan”
Bundaran Besar Kapuas. Dua minggu setelah kejadian jatuh di lapak. Sabtu sore, pukul 16.30. Cuaca mendung di ujung barat.
Hari itu Bundaran ramai. Benar-benar ramai.
Bukan hanya karena akhir pekan, tapi karena ada bazar makanan di area timur bundaran. Tenda-tenda warna-warni berjejer. Aroma sate, bakso, dan jagung bakar bercampur jadi satu. Bocah-bocah berlarian dengan balon di tangan.
Andika datang bersama rombongan lengkap: Pajar, Edi, Rano, Leni, dan Siska.
Rano sudah sembuh dari sakit perut. Buktinya, ia langsung melesat ke lapak gorengan dalam waktu tiga puluh detik setelah turun dari motor.
“Itu Rano. Nggak pernah belajar dari pengalaman,” kata Siska sambil menggeleng.
“Biarkan saja. Kalau dia sakit lagi, kita yang diuntungkan. Jatah gorengan kita banyak,” canda Edi.
“Kamu jahat, Edi,” timpal Leni.
Pajar membawa gitar kesayangannya. Ia memetik asal-asalan. “Dika, hari ini lo kelihatan beda. Deg-degan?”
“Deg-degan apaan, Jar?” jawab Andika sambil melepas jaket.
“Deg-degan ketemu Reni. Jangan bohong. Lo udah dua minggu nggak ketemu dia. Katanya satu minggu lalu dia pamit mau ujian semester,” kata Pajar.
“Iya, Andika. Lo tuh tiap akhir pekan nanya terus, ‘Reni datang nggak?’ Itu udah kayak pengumuman arus mudik Lebaran,” tambah Leni.
“Sudahlah, kalian ini. Saya hanya penasaran,” bantah Andika.
“Penasaran tingkat dewa,” sahut Rano yang tiba-tiba kembali dengan dua bungkus gorengan.
“Lo cepat banget baliknya, No. Beli di mana tadi?” tanya Edi.
“Di lapak Mbok Darmi. Eh, ngomong-ngomong, tadi gue lihat Empat Sekawan lagi jalan ke arah sini. Dari selatan jalan pemuda,” lapor Rano sambil mengunyah.
Andika langsung berdiri. Matanya menyapu arah selatan.
“Nah, mulai deh,” kata Siska sambil tersenyum.
“Diam, Siska,” ujar Andika tanpa menoleh.
Benar saja. Dari arah jalan pemuda, empat sosok remaja putri berjalan beriringan. Amilia di depan dengan tas ransel pink. Susi di samping kanan dengan kaos hitam bertuliskan “No Drama”. Susan di belakang dengan muka malu-malu. Dan Reni, Reni di paling pinggir kiri, memakai baju krem yang sama saat pertama kali Andika memperkenalkan diri.
“Baju krem. Itu baju favoritnya,” bisik Andika.
“Lo hafal baju favoritnya? Parah banget sih lo, Dika,” komentar Pajar.
“Mekanik hafal, Jar. Itu keahlian,” jawab Andika lalu berjalan menuju arah Empat Sekawan.
Pajar, Edi, Leni, Siska, dan Rano hanya bisa memandang dari kejauhan.
“Dia benar-benar jatuh cinta,” kata Siska.
“Atau jatuh terperosok,” tambah Rano.
“Sama saja,” timpal Edi.
Andika mendekati Empat Sekawan saat mereka baru sampai di bangku taman dekat Replika Rumah Betang.
“Reni!” panggil Andika sambil melambaikan tangan.
Amilia, Susi, dan Susan saling pandang. Reni tersenyum kecil.
“Mas Andika. Lama nggak lihat,” sapa Reni.
“Satu minggu. Kamu bilang mau ujian,” jawab Andika.
“Iya. Baru selesai kemarin. Hasilnya belum keluar,” kata Reni.
“Pokoknya lulus. Saya yakin,” kata Andika.
Susi menyelak. “Mas Andika, lo tuh dari tadi cuma sapa Reni doang. Kita juga ada di sini, lho. Masa nggak dibilangin apa-apa?”
Andika tersenyum malu. “Eh, maaf. Hai Amilia, hai Susi, hai Susan.”
“Kurang greget,” kata Susi.
Amilia tertawa. “Biarin, Sus. Itu tandanya dia serius sama Reni.”
“Amil, jangan ngaco,” potong Reni setengah malu.
“Ayo duduk dulu. Kita pesan minum,” ajak Amilia.
Mereka duduk di bangku panjang kayu. Andika duduk di ujung kanan. Reni di sampingnya. Jarak satu telapak tangan.
Susi duduk di depan mereka di atas rumput. Amilia di samping Susi. Susan paling ujung kiri, diam sambil memegang ponsel.
“Mas Andika, teman-teman mas di mana?” tanya Amilia.
“Di sana. Dekat lapak gorengan. Mereka lagi pada makan,” jawab Andika sambil menunjuk.
“Kok nggak ikut?”
“Saya pilih ke sini.”
“Jelas. Ada Reni, mana mau ikut teman yang begajulan,” ledek Susi.
Reni mencolok lengan Susi. “Susi! Jangan sembarangan ngomong!”
“Ampun, Ren. Ini namanya mendukung cinta sejati,” kata Susi sambil mengangkat kedua tangan.
“Cinta sejati apanya? Kita baru kenal dua minggu. Itu belum pacaran juga. Malah belum temenan. Hanya sebatas biasa,” kata Reni cepat.
Andika mendadak kaku.
“Eh, maksudku… belum resmi apa-apa, Reni. Mas Andika juga belum pasti suka atau nggak. Jangan baper duluan,” sambung Reni.
“Saya suka,” potong Andika.
Semua terdiam.
Empat Sekawan menatap Andika bergantian.
“Saya suka sama Reni. Jujur. Saya nggak tahu ini cinta atau bukan, tapi saya suka melihatnya, suka ngobrol dengannya, suka cara dia tersenyum meskipun lagi kesel. Itu sudah cukup buat saya untuk mencoba,” lanjut Andika.
Reni menunduk. Wajahnya merah padam.
Susi bersiul kecil. “Gila, Mas. Lo jujur banget.”
“Saya tidak suka basa-basi,” kata Andika.
“Tapi masalahnya… orang tua Reni galak, Mas,” kata Amilia perlahan.
“Saya tahu. Reni sudah cerita,” jawab Andika.
“Belum cukup cerita, Mas. Maksudnya galak itu bukan galak biasa. Papa Reni itu bekas anggota kepolisian. Sekarang pensiun. Masuk partai. Punya pengaruh. Dia nggak main-main soal aturan,” jelas Amilia.
“Dia pernah marah-marah cuma karena ada anak laki-laki main ke rumah waktu Reni kelas satu SMA. Padahal cuma minta tugas,” tambah Susi.
“Bahkan ketua kelas cowok dulu sampai tidak berani datang sendiri. Selalu bawa tiga teman biar aman,” kata Susan tiba-tiba. Semua menatap Susan kaget.
“Susan buka suara! Luar biasa!” seru Susi.
Susan tersenyum malu. “Aku cuma bantu jelasin.”
Andika menghela napas. “Saya nggak takut.”
“Itu karena mas belum ketemu langsung, Mas,” kata Reni akhirnya.
Dia mengangkat wajah. Matanya berkaca-kaca.
“Minggu lalu, Papa lihat chat WA aku dengan Amilia. Ada nama Mas Andika disebut. Cuma nama! Nggak ada isi chat aneh. Cuma ‘Mas Andika traktir es cincau’. Papa langsung marah besar,” cerita Reni.
“Marahnya gimana?” tanya Andika.
“Dia tanya siapa Andika. Kerja apa. Tinggal di mana. Punya motor? Punya rumah? Kenalan dari mana? Aku bilang, ‘cuma teman yang kutemu di bundaran’. Dia langsung meledak,” kata Reni dengan suara bergetar.
“‘Teman di bundaran?’ Katanya. ‘Kamu kenalan sama laki-laki di jalan? Itu tidak sopan, Reni. Kamu anak sekolah. Fokus belajar. Jangan pacaran sebelum kuliah atau kerja. Itu harga mati’,” tiru Reni dengan suara berat, menirukan suara ayahnya.
Amilia memegang pundak Reni. “Tenang, Ren.”
Reni menarik napas. “Belum selesai. Papa juga bilang, kalau aku ketahuan dekat sama laki-laki lagi, dia akan pindahkan aku ke sekolah asrama di Palangkaraya.”
Andika terdiam.
“Kamu mau dipindahkan, Ren?” tanyanya pelan.
“Tentu tidak. Di sini temanku semua. Aku mau lulus SMA di sini,” jawab Reni.
“Maka kita harus hati-hati,” kata Andika.
“Hati-hati gimana, Mas?” tanya Susi.
“Kita tetap berteman. Tapi tidak ada chat WA. Tidak ada telepon. Tidak ada ketemuan di luar bundaran. Hanya di sini. Di akhir pekan. Itu saja,” usul Andika.
“Kok kayak perselingkuhan diam-diam, Mas?” ledek Susi.
“Biarin. Yang penting Reni aman,” jawab Andika.
Reni menatap Andika lama. “Kamu rela? Cuma ketemu di akhir pekan? Itu pun kalau aku bisa keluar?”
“Aku rela. Karena aku tidak ingin kamu dipindahkan,” kata Andika.
“Tapi kalau Papa tahu kita tetap ketemuan di sini, dia bisa marah lagi. Dia punya banyak teman di bundaran. Banyak yang kenal dia,” kata Reni.
“Maka kita tidak akan duduk berdua. Kita akan duduk rombongan. Saya bersama teman-teman. Kamu bersama Empat Sekawan. Tapi kita satu area. Itu tidak mencolok,” usul Andika lagi.
Susi bertepuk tangan. “Ini strategi perang dingin. Aku suka.”
“Kamu jangan antusias, Sus. Ini serius,” tegur Amilia.
“Aku serius juga, Amil. Coba pikir. Reni punya papa galak. Andika punya niat baik. Kalau mereka mau dekat tanpa papa tahu, butuh strategi. Dan Empat Sekawan siap jadi mata-mata,” kata Susi.
“Kita jadi mata-mata? Bukan teman?” tanya Susan heran.
“Kita jadi teman sekaligus mata-mata. Mata-mata yang baik,” jelas Susi.
Reni tersenyum kecil. “Kalian memang sahabatku.”
Dari kejauhan, Rano berjalan tergopoh-gopoh.
“Dika! Dika! Leni suruh lo balik. Ada Pajar yang mau ngomongin rencana hunting kuliner ke Pasar Malam,” teriak Rano sambil mengatur napas.
Rano baru sadar Empat Sekawan ada di dekat Andika.
“Oh, lagi ngumpul sama … empat sekawan? Aku ganggu?” tanya Rano.
“Sedikit, No,” jawab Andika.
“Maaf. Lanjut. Aku cuma titip pesan. Nanti kabari lewat WA,” kata Rano lalu pergi.
Reni menatap Andika. “Sahabatmu lucu-lucu.”
“Tapi setia,” jawab Andika.
Sore berganti senja. Warna jingga mulai dominan di langit barat.
Amilia berdiri. “Aku pesan minum dulu. Susi, temenin.”
“Baik,” jawab Susi.
Susan ikut. “Aku mau ke toilet.”
Tinggal Andika dan Reni di bangku. Hanya berdua. Jarak satu telapak tangan.
“Akhirnya kita berdua juga,” kata Andika.
“Jangan senang dulu. Mereka cuma sebentar,” kata Reni.
“Reni, aku harus tanya sesuatu.”
“Apa?”
“Apa kamu suka sama aku? Atau setidaknya ada rasa?”
Reni terdiam lama. Matanya menatap jalanan.
“Aku nggak tahu, Dika. Aku belum pernah pacaran. Aku juga dilarang keras. Jadi aku nggak pernah membayangkan punya perasaan sama laki-laki.”
“Tapi sekarang?”
“Sekarang… aku suka ngobrol sama kamu. Aku suka cara kamu bicara. Jujur. Nggak banyak gaya. Dan aku suka kamu tidak takut sama papa.”
“Itu artinya suka?”
“Aku tidak tahu. Yang aku tahu… aku jadi deg-degan setiap akhir pekan. Takut kamu tidak datang. Tapi kalau kamu datang… aku senang. Senang sekali. Sampai terkadang aku tidak bisa diam di rumah,” curhat Reni.
Andika tersenyum. “Itu sudah cukup.”
“Tapi jangan berharap banyak, Dika. Papa bisa kapan saja mengirimku ke asrama. Satu kesalahan kecil saja, aku bisa hilang dari Kuala Kapuas,” kata Reni.
“Maka kita tidak akan membuat kesalahan,” ujar Andika.
“Kenapa kamu begitu yakin?”
“Karena aku sudah jatuh cinta. Dan orang yang jatuh cinta tidak akan mengambil risiko kehilangan.”
Reni menunduk. Air matanya jatuh. Tetes. Satu. Dua.
“Kenapa kamu menangis?” tanya Andika.
“Karena aku takut. Aku takut papa tahu. Tapi aku juga takut kehilangan kamu,” jawab Reni.
“Kamu tidak akan kehilangan aku. Aku akan tetap di bundaran ini. Setiap akhir pekan. Sampai kamu lulus SMA. Sampai kamu kuliah. Sampai papa kamu memberi restu,” kata Andika.
“Itu bisa bertahun-tahun.”
“Aku tidak masalah.”
“Tapi kamu bisa dapat pacar lain.”
“Aku tidak akan mencari.”
“Janji?”
“Janji.”
Reni mengangkat jari kelingkingnya. Andika menyambutnya.
“Janji setia di bundaran,” kata Reni.
“Janji setia di bundaran,” ulang Andika.
Tiba-tiba, dari arah selatan, sebuah mobil Avansa hitam melaju pelan. Mobil itu berhenti di pinggir taman. Kaca depan setengah terbuka.
Seorang laki-laki paruh baya dengan kumis tebal menatap ke arah bangku Andika dan Reni.
Reni pucat.
“Papa…” bisiknya.
Andika menoleh ke arah mobil.
“Itu papa kamu?” tanyanya pelan.
Reni mengangguk cepat. “Dia lihat kita. Kita berdua.”
“Kita belum pacaran. Kita cuma ngobrol.”
“Papa tidak peduli. Baginya, aku duduk berduaan dengan laki-laki adalah dosa.”
Pintu mobil terbuka. Pak Wulandari mantan anggota kepolisian keluar dengan langkah tegap. Jaket hitamnya masih melekat. Wajahnya dingin. Matanya tajam.
“Reni,” panggilnya dengan suara rendah tapi tegas.
“Ya, Pa,” jawab Reni gemetar.
“Naik mobil. Sekarang.”
“Tapi Pa, ini teman aku. Namanya Andi.”
“Saya tidak minta perkenalan. Naik mobil,” potong Pak Wulandari.
Reni berdiri. Ia melirik Andika sekilas. Matanya berkaca-kaca.
“Maaf, Dika,” bisiknya.
Reni berjalan ke mobil. Pak Wulandari masih berdiri di tempat. Menatap Andika dari ujung kepala sampai ujung kaki.
“Kamu Andika?” tanya Pak Wulandari.
“Iya, Pak. Andika Pratama,” jawab Andika tegap.
“Kerja apa?”
“Mekanik. Punya bengkel motor di Jalan Tambun Bungai, Pak.”
“Umur?”
“Dua puluh satu tahun, Pak.”
“Kamu dekat sama anak saya?”
Andika menghela napas. Ia menatap mata Pak Wulandari tanpa berkedip.
“Kami berteman, Pak. Tidak lebih dari itu,” jawab Andika.
“Teman? Berduaan di bangku taman saat magrib? Itu bukan teman, Nak. Itu pendekatan.”
“Kalau pendekatan pun, izin saya jujur, Pak. Saya suka sama Reni.”
Reni dari dalam mobil mendengar. Ia menutup mulut dengan tangan.
Pak Wulandari mendekat satu langkah. “Kamu berani?”
“Saya berani karena saya serius, Pak. Saya tidak main-main. Saya hanya ingin dekat dengan Reni secara baik-baik. Patuh pada aturan Bapak. Tidak mengganggu sekolahnya.”
“Aturan saya jelas: tidak pacaran sampai kuliah atau kerja. Itu harga mati.”
“Saya tahu, Pak. Itu sebabnya saya tidak akan mengajak Reni pacaran. Saya hanya ingin tetap berteman. Di tempat umum. Di bundaran ini. Dengan teman-teman rombongan. Tidak berduaan lagi.”
Pak Wulandari mengamati Andika lama.
“Kamu bicara seperti anak yang sudah dewasa. Tapi hati-hati. Orang dewasa tahu batas. Jika kamu melewati batas, saya akan pindahkan Reni. Tidak hanya ke asrama Palangkaraya. Bisa ke Jawa. Saya punya saudara di Surabaya,” ancam Pak Wulandari.
“Saya paham, Pak. Saya tidak akan membuat Bapak kecewa.”
“Bagus. Karena saya akan mengawasi. Setiap akhir pekan. Setiap sudut bundaran ini,” kata Pak Wulandari lalu membalikkan badan dan masuk ke mobil.
Mobil Avansa hitam itu melaju ke arah selatan, meninggalkan Andika yang masih berdiri di tempat.
Dari kejauhan, Pajar, Edi, Rano, Leni, dan Siska menghampiri.
“Dika, lo kenapa? Kok pucat?” tanya Pajar.
“Itu mobil Avansa hitam. Siapa yang di dalam?” tanya Leni.
“Papa Reni,” jawab Andika.
“Apa yang dia bilang?” tanya Siska.
“Dia bilang akan awasi kita setiap akhir pekan. Dan kalau aku melewati batas, Reni akan dipindahkan ke Surabaya.”
“Surabaya? Jauh banget!” seru Rano.
“Itu namanya ancaman tingkat dewa, Dika. Lo harus hati-hati,” kata Edi.
Andika duduk di atas rumput. Ia menunduk.
“Apa lo menyerah, Dika?” tanya Pajar.
Andika mengangkat wajah. Matanya merah. Bukan karena nangis. Karena marah. Marah pada takdir.
“Menyerah? Tidak. Aku baru mulai,” katanya.
“Tapi lo dilarang keras sama orang tuanya,” kata Leni.
“Aku tidak akan pacaran dengan Reni. Aku hanya akan berteman. Sampai dia lulus SMA. Sampai dia kuliah. Sampai restu itu datang,” kata Andika.
“Itu perjuangan panjang, Dika. Bertahun-tahun,” kata Siska.
“Aku punya waktu. Aku punya kesabaran. Dan aku punya kalian,” kata Andika sambil menatap sahabatnya satu per satu.
Rano mengelap keringat di dahi. “Gue dukung asal jangan minta gue jadi kurir cinta. Gue gampang gemuk kalau banyak jalan.”
Semua tertawa. Tawa kecil. Tapi cukup untuk menghangatkan Andika di senja yang dingin.
Di dalam mobil Avansa hitam, Reni duduk diam di kursi belakang.
“Pa,” panggilnya pelan.
“Apa?”
“Andika orang baik, Pa. Dia tidak pernah maksa aku. Dia cuma mau teman.”
“Teman laki-laki untuk anak perempuan? Tidak ada yang namanya teman laki-laki, Ren. Semuanya punya niat.”
“Tapi Papa belum kenal dia.”
“Aku tidak perlu kenal. Yang aku tahu, dia mekanik. Tidak punya masa depan jelas. Dan kamu masih SMA. Fokus sekolah.”
Reni menangis diam-diam. Air matanya jatuh ke pangkuan.
“Aku hanya ingin bahagia, Pa,” bisiknya.
Pak Wulandari tidak menjawab.
Mobil terus melaju. Senja di belakang mereka mulai memudar.
BAB 4
“Persaingan di Persimpangan”
Bundaran Besar Kapuas. Tiga minggu setelah kejadian dengan Pak Wulandari. Minggu sore, pukul 15.30. Cuaca panas, tapi angin dari sungai cukup kencang.
Andika duduk di bangku taman bersama rombongan. Tikar plastik kali ini lebih besar. Leni membawa kue camilan buatan sendiri. Siska membawa botol air mineral besar. Pajar membawa gitar seperti biasa. Rano membawa bantal kecil, katanya untuk sandaran punggung. Edi membawa payung besar untuk melindungi dari panas.
“Kita kayak piknik keluarga, bukan kumpul anak muda,” canda Leni sambil mengatur kue di atas piring plastik.
“Biarin. Yang penting kita kenyang dan bahagia,” jawab Rano sambil sudah menyantap kue.
“Rano, itu kue buatan Leni, jangan dihabisin sendirian!” seru Siska.
“Tenang. Aku sisakan satu untuk Andika,” jawab Rano tanpa menoleh.
Andika tidak memperhatikan. Matanya terus mengarah ke jalam Pemuda.
“Dika, lo dari tadi kayak patung. Ke mana aja matanya?” tanya Pajar sambil memetik gitar.
“Nunggu Reni,” jawab Andika jujur.
“Setiap minggu begitu. Lo nggak capek?” tanya Edi.
“Capek. Tapi ini pilihan.”
“Pilihan yang menyiksa diri sendiri,” timpal Leni.
“Biarin dia, Leni. Cinta itu memang menyiksa,” kata Siska filosofis.
“Siska, lo belum pernah pacaran. Kok ngomong soal cinta kayak orang berpengalaman?” ledek Pajar.
“Aku baca novel, Jar. Pengetahuan teoritis itu penting,” jawab Siska sambil tertawa kecil.
Dari kejauhan, terlihat empat sosok berjalan dari selatan. Tapi kali ini, di belakang mereka, ada dua anak laki-laki, satu berbadan tegap dengan rambut klimis, satu lagi lebih kurus dengan kacamata hitam.
“Itu Empat Sekawan. Tapi ada dua cowok di belakang mereka,” kata Rano sambil mengunyah.
“Siapa itu?” tanya Andika cepat.
“Coba gue liat. Yang tegap pake jaket jeans itu… sepertinya Rahmat. Anak SMA terkenal jago basket. Yang kurus pake kacamata hitam itu Bondan. Anak ekskul debat. Mereka sekelas sama Reni,” jelas Leni.
“Kenalan dari mana?” tanya Andika mulai cemas.
“Teman sekolah, Dika. Biasa. Jangan keburu cemburu,” kata Siska.
“Siapa yang cemburu? Aku hanya bertanya.”
“Suara lo naik satu oktaf, Dika. Itu tanda cemburu,” timpal Pajar.
Andika berdiri. Ia ingin mendekat, tapi Rano menarik bajunya.
“Duduk dulu, jagoan. Jangan bikin adegan. Papa Reni bisa nyelonong kapan saja,” ujar Rano.
Andika duduk kembali. Tapi matanya tetap memantau.
Empat Sekawan tiba di area taman. Amilia memandu mereka ke bangku dekat pohon beringin kecil. Rahmat dan Bondan ikut duduk di samping Reni.
“Kok mereka duduk di situ? Itu bangku langganan kita,” keluh Andika.
“Itu bangku umum, Dika. Nggak ada yang punya,” kata Edi.
“Tapi biasanya Empat Sekawan duduk di bangku dekat Replika Rumah Betang. Bukan di pohon beringin,” bantah Andika.
“Mungkin mereka coba suasana baru. Tenang,” kata Leni.
“Kata siapa aku tidak tenang?” balas Andika cepat.
“Kata wajah lo. Kerut di dahi lo itu daleman banget,” komentar Siska.
Di bangku pohon beringin, Rahmat duduk sangat dekat dengan Reni. Hanya satu jengkal. Bondan di samping Amilia.
“Ren, kita jarang ketemu akhir pekan. Lo sibuk apa?” tanya Rahmat dengan suara agak mendayu.
“Biasa. Nugas di rumah,” jawab Reni singkat.
“Jangan tugas terus dong. Masa muda cuma buat tugas? Sekali-kali santai bareng kita. Ke Pasar Malam, misalnya,” ajak Rahmat.
“Kasihan, Ren. Rahmat udah bela-belain parkir motor jauh biar bisa jalan bareng kita,” tambah Bondan.
“Aku belum tentu bisa. Papa lagi ketat banget,” jawab Reni.
“Soal pacar?” tanya Rahmat.
“Bukan. Soal… laki-laki pada umumnya,” jawab Reni diplomatis.
Susi menyela. “Rahmat, lo tuh mau jemput bola amat sih? Reni baru ketemu, langsung ngajak ke Pasar Malam.”
“Bukan jemput bola. Namanya pendekatan. Wajar dong kalau suka,” kata Rahmat tanpa malu.
“Lo suka sama Reni?” tanya Susi langsung.
“Iya. Jujur. Suka. Sejak kelas X. Cuma baru berani ngomong sekarang,” jawab Rahmat.
Reni menunduk. Wajahnya merah.
“Rahmat, aku hargai keberanianmu. Tapi kamu tahu aturan papaku. Nggak boleh pacaran sampai kuliah,” kata Reni.
“Aku tahu. Makanya aku nggak minta jadi pacar. Aku minta jadi teman dekat. Itu boleh kan?” tanya Rahmat.
“Teman dekat bedanya apa dengan pacar?” tanya Susi lagi.
“Pacar ada status. Teman dekat tidak. Jadi tidak melanggar aturan,” jelas Rahmat.
“Lo belibet, Mat. Awas nanti ditembak pakai laras panjang sama papa Reni,” ledek Bondan.
Semua tertawa. Reni hanya tersenyum kecil. Matanya sesekali melirik ke arah bangku Andika.
Andika melihat lirikan itu.
“Dia liat ke sini. Tadi,” kata Andika.
“Siapa yang liat?” tanya Pajar pura-pura tidak tahu.
“Reni. Dia liat ke arah kita,” jawab Andika.
“Ya elah, Dika. Lo tuh kebanyakan analisa. Mungkin dia cuma liat langit. Atau liat pohon. Atau liat awan,” kata Rano.
“Bukan. Dia liat ke arahku,” desak Andika.
“Kalau begitu, lo balas liat. Angkat tangan. Atau lambai. Atau kirim kode Morse lewat kedipan mata,” usul Edi serius tapi sarkas.
“Edi, lo jangan bikin dia makin paranoid,” kata Siska.
Andika berdiri. “Gue ke sana.”
“Dika, jangan. Papa Reni bisa lihat,” cegah Leni.
“Reni di tempat umum. Di bundaran. Siapa pun boleh mendekat. Termasuk gue,” kata Andika.
“Tapi Rahmat di situ. Lo mau bikin suasana jadi tegang?” tanya Pajar.
“Biar gue yang atur.”
Andika berjalan ke arah bangku pohon beringin. Langkahnya tegap. Tangannya di saku celana. Wajahnya datar.
“Halo, Empat Sekawan,” sapa Andika sambil tersenyum ke arah Amilia, Susi, Susan, dan akhirnya ke Reni.
“Mas Andika!” seru Amilia. “Lama nggak lihat. Minggu lalu kenapa nggak datang?”
“Ada pelanggan bengkel yang mogok di jalan. Gue bantu derek,” jawab Andika.
“Gue kira Mas Andika kabur, setelah diomelin papa Reni,” ledek Susi.
“Susi!” pekik Reni.
“Maaf, maaf. Maksudku, gue kira mas trauma,” kata Susi cepat.
Andika tertawa kecil. “Nggak trauma. Gue sering diomelin orang. Sudah biasa.”
Rahmat dan Bondan saling pandang.
“Eh, ini siapa?” tanya Rahmat dengan nada sedikit tidak ramah.
“Ini Mas Andika. Teman kami. Sering ngumpul di bundaran,” jawab Amilia.
“Teman atau apa?” tanya Bondan.
“Teman, ya teman. Bukan apa-apa,” jawab Susi.
Rahmat berdiri. Tingginya sedikit di atas Andika. Badannya lebih berisi.
“Andika, ya?” sapa Rahmat.
“Iya. Andika Pratama. Dan kamu?”
“Rahmat. Teman sekelas Reni.”
“Oh, teman sekelas. Senang bertemu,” kata Andika sambil mengulurkan tangan.
Rahmat menjabat. Jabatannya keras. Sengaja.
Andika tidak bereaksi. Ia hanya tersenyum.
“Andika kerja apa?” tanya Rahmat.
“Mekanik. Punya bengkel motor di Jalan Tambun Bungai.”
“Oh, mekanik. Berarti kerja kasar ya?” tanya Rahmat dengan nada merendahkan.
Andika menghela napas. “Kalau memperbaiki motor dan membuat orang bisa melanjutkan perjalanan disebut kerja kasar, ya. Saya kasar.”
“Bukan maksudku begitu. Maksudku, kerja fisik. Bukan kantoran. Capek, kan?”
“Capek itu biasa. Yang nggak biasa itu kalau nggak punya kerja,” jawab Andika santai.
Amilia dan Susi saling pandang. Mereka merasakan ketegangan.
“Rahmat, jangan banyak tanya. Ayo kita pesan minum,” ajak Amilia.
“Nanti. Gue masih ingin kenalan sama Mas Andika,” kata Rahmat.
Dia duduk kembali di samping Reni. Kali ini lebih dekat. Hampir menempel.
Andika tidak duduk. Ia berdiri di depan mereka.
“Reni, nanti malam ada acara keluarga di rumahku. Mau ikut?” tiba-tiba Rahmat mengajak.
“Acara apa?” tanya Reni canggung.
“Syukuran kecil. Adikku dapat juara lomba matematika. Orang tuaku mengundang teman-teman dekat. Kamu datang, ya.”
“Aku belum bisa jawab. Nanti minta izin Papa dulu,” jawab Reni.
“Papa kamu kenal baik sama papaku. Mereka satu partai. Pasti diizinkan,” desak Rahmat.
Susan yang sedari tadi diam tiba-tiba bicara. “Tapi Reni kalau ke acara Rahmat, otomatis dilihat orang. Nanti Papa Reni marah.”
“Marah kenapa? Acara keluarga. Tidak ada yang salah,” kata Rahmat.
“Papa Reni marah kalau Reni dekat dengan laki-laki. Titik,” tegas Susi.
“Laki-laki yang mana? Gue? Gue teman sekelas. Wajar dong,” kata Rahmat.
“Tapi kamu suka sama Reni. Kamu bilang tadi,” potong Susi.
Semua terdiam.
Rahmat terdiam. Bondan menepuk jidatnya sendiri.
“Susi, lo tuh mulutnya nggak bisa dikasih aman,” keluh Bondan.
“Aku cuma jujur. Kan kalau suka ya ngaku. Nggak usah pakai acara keluarga segala,” kata Susi.
Andika tersenyum kecil. “Susi itu mulutnya emang pedas. Tapi isi hatinya baik.”
“Mas Andika, jangan puji saya. Nanti saya minta traktir,” kata Susi.
“Nanti saya traktir. Tapi sekarang, saya pamit dulu. Teman-teman saya di bangku sana sudah melambai-lambai,” kata Andika.
Sebelum pergi, Andika menatap Reni.
“Reni, hati-hati di jalan kalau pulang. Soalnya banyak mobil Avansa hitam berkeliaran,” kata Andika sambil tersenyum.
Reni tersenyum kecil. Ia paham maksudnya.
Rahmat tidak paham. “Mobil Avansa hitam kenapa?”
“Tidak kenapa-kenapa. Cuma pengingat,” jawab Andika lalu berbalik dan berjalan ke kelompoknya.
Di bangku rombongan, Pajar langsung menyambut Andika dengan siulan.
“Dika, lo baru saja perang dingin sama anak SMA,” kata Pajar.
“Perang dingin? Enggak. Gue coba basa-basi,” jawab Andika.
“Basa-basi sambil nahan emosi. Tangan lo gemetar, tuh,” kata Edi sambil menunjuk tangan Andika.
Andika melihat tangannya. Iya, sedikit gemetar.
“Itu efek kopi,” bantahnya.
“Kopi yang belum lo minum? Kopi masih di gelas, Dika. Nggak pernah lo sentuh,” timpal Leni.
“Sudahlah. Yang jelas, si Rahmat itu jelas-jelas mau mendekati Reni. Dan dia punya akses ke orang tua Reni. Itu bahaya,” kata Andika.
“Kenapa bahaya?” tanya Siska.
“Karena kalau orang tua sudah kenal dekat, aturan bisa dilonggarkan. Apalagi papanya satu partai. Itu nilai plus,” jelas Andika.
“Lo cemburu, Dika. Akui saja,” kata Pajar.
“Ya, gue cemburu. Puas?” jawab Andika kesal.
“Nah, baru jujur,” kata Edi.
Rano yang sedari tadi diam sambil mengunyah kue akhirnya bicara. “Dika, gue lihat dari tadi. Lo itu bukan cuma cemburu. Lo takut. Takut kehilangan Reni. Tapi itu wajar. Karena lo sayang.”
“Terima kasih, No. Itu mungkin kata-kata paling bijak yang pernah lo ucapkan sepanjang gue kenal lo,” kata Andika.
“Jangan sok kagum. Sekarang lo harus punya strategi. Kalau si Rahmat bisa dekat sama Reni lewat orang tua, lo harus dekat lewat hati Reni. Beda jalur, tapi tujuan sama,” kata Rano sambil mengunyah.
Pajar menepuk bahu Rano. “Lo luar biasa, No. Filsuf gorengan.”
“Filsuf buncit, lebih tepatnya,” timpal Edi.
Semua tertawa.
Tapi tawa mereka terhenti saat melihat Rahmat tiba-tiba memegang pundak Reni.
“Lihat itu!” kata Andika dengan suara tertahan.
“Tenang, Dika. Mungkin hanya kebetulan,” kata Leni.
“Kebetulan? Dia memegang pundak Reni. Itu bukan kebetulan. Itu pelecehan halus,” desis Andika.
“Kamu mau ke sana lagi?” tanya Siska.
“Tidak. Gue mau pulang. Sebelum gue melakukan sesuatu yang bodoh,” kata Andika sambil berdiri.
“Dika, jangan kabur. Itu yang dia mau. Dia mau lo keluar dari arena,” kata Pajar.
“Arena? Ini bukan pertandingan tinju, Jar. Ini soal perasaan. Dan perasaan gue sakit. Sakit banget,” kata Andika.
“Duduk. Tarik napas. Minum kopi. Gue yakin Reni juga nggak nyaman dengan sentuhan itu,” kata Siska.
Andika duduk kembali. Ia menutup mata. Menarik napas dalam.
Di bangku pohon beringin, Reni cepat-cepat menggeser bahunya. Sentuhan Rahmat membuatnya geli sekaligus tidak nyaman.
“Rahmat, jangan pegang-pegang. Nggak sopan,” kata Reni.
“Maaf. Gue kebablasan,” kata Rahmat sambil menarik tangan.
“Reni, lo suka sama Mas Andika?” tiba-tiba Bondan bertanya.
Reni menatap Bondan. “Kenapa lo tanya begitu?”
“Soalnya dari tadi lo liatin bangku mereka terus. Mata lo kayak kompas yang selalu ngarah ke timur,” jawab Bondan.
“Bondan, lo jangan sok detektif,” potong Amilia.
“Aku detektif amatir. Itu beda,” kata Bondan.
Reni tidak menjawab. Ia memegang ponselnya. Ada notifikasi masuk dari nomor tidak dikenal.
Dia membuka.
“Reni, ini Andika. Aku pinjam HP Pajar sebentar. Jangan khawatir. Aku hanya mau bilang: aku masih di sini. Di bundaran. Jangan biarkan siapa pun membuatmu lupa kalau ada yang menunggumu di bangku taman dekat kolam. Sampai kapan pun. Dika.”
Reni tersenyum. Senyum kecil yang coba disembunyikan.
“Siapa yang chat? Kok senyum-senyum?” tanya Susi curiga.
“Tidak siapa-siapa. Promo operator,” jawab Reni sambil menyimpan ponsel.
“Promo operator bikin senyum? Itu promo cinta, kali,” ledek Susi.
Reni memukul lengan Susi pelan. “Kamu diam, Sus.”
Di bangku rombongan, Andika mengembalikan HP Pajar.
“Udah, Jar. Terima kasih.”
“Lo chat apa? Jangan-jangan lo kirim puisi,” kata Pajar.
“Bukan. Gue cuma ingetin dia kalau gue masih ada,” jawab Andika.
“Lo lebay, Dika. Chatting padahal jaraknya cuma lima puluh meter,” kata Edi.
“Jarak lima puluh meter tapi di antara mereka ada dua teman sekelas, papanya galak, dan aturan tidak tertulis yang melarang kami bicara empat mata,” kata Andika.
“Itu namanya cinta di zaman Siti Nurbaya,” komentar Rano.
“Zaman Siti Nurbaya? Rano, lo kayak sejarawan sekarang,” timpal Siska.
“Sejarawan gorengan. Itu gue,” jawab Rano.
Mereka tertawa lagi. Tapi Andika hanya tersenyum kecil. Matanya tetap ke arah Reni.
Senja mulai muncul. Warna jingga merambat dari barat.
Rahmat dan Bondan akhirnya pamit duluan karena ada les tambahan.
“Ren, jangan lupa acara syukuran di rumahku. Minggu depan. Aku tunggu ya,” kata Rahmat sambil melambai.
“Nanti aku kabari,” jawab Reni singkat.
Setelah Rahmat dan Bondan pergi, suasana di bangku pohon beringin lebih longgar.
“Akhirnya mereka pergi juga. Berisik,” keluh Susi.
“Jangan bicara begitu, Sus. Mereka teman sekelas kita,” kata Amilia.
“Teman sekelas bukan berarti harus nempel terus,” bantah Susi.
Reni tidak mendengar debat mereka. Ia menatap ke arah bangku Andika. Andika sedang duduk dengan teman-temannya. Tapi matanya juga ke arah Reni.
Mereka bertatapan.
Hanya beberapa detik. Tapi terasa lama.
Reni mengangkat tangan kanannya sedikit, hanya sebatas pergelangan, lalu menunjuk ke arah jam tangannya. Maksudnya: sudah sore, aku harus pulang.
Andika mengangguk. Ia mengangkat tangan kanannya juga, dan mengepalkan tinjunya di depan dada. Maksudnya: kamu kuat.
Reni tersenyum.
“Reni, ayo pulang. Hari sudah sore,” kata Amilia.
“Iya. Kita pulang,” jawab Reni.
Mereka berempat berjalan ke arah selatan. Reni berjalan paling pinggir. Sesekali ia menoleh.
Andika masih duduk. Masih menatap.
“Dika, mereka udah pergi. Lo nggak usah tatap terus. Nanti mata lo jadi juling,” ledek Rano.
“Diam, No. Aku sedang mengantarkan dia pulang lewat mata,” kata Andika.
“Lebay. Terlalu lebay,” sahut Edi.
Tapi mereka semua tersenyum.
Di tengah perjalanan pulang, Reni membuka ponselnya. Pesan dari Andika tadi masih ada di chat.
Dia membalas: “Aku lihat kamu dari jauh. Dan kamu masih sama seperti pertama kali kita bertemu. Membuatku tersenyum meski sedang takut. R.”
Tak lama, balasan masuk: “Aku tidak akan pergi. Biar dunia ramai dengan Rahmat-Rahmat lain. Aku tetap di sini. Di bundaran. Di bangku kolam patung. Di sini rindu menanti. D.”
Reni menutup ponsel. Dadanya sesak. Tapi perasaan itu campur aduk antara bahagia, takut, dan rindu.
Rindu yang belum waktunya diungkapkan.
Rindu yang harus menunggu.
BAB 5
“Provokasi di Bundaran”
Bundaran Besar Kapuas. Empat minggu setelah kejadian dengan Pak Wulandari. Sabtu sore, pukul 16.00. Langit cerah, matahari masih terik.
Hari itu berbeda.
Andika datang lebih awal. Sendirian. Pajar sedang ada dinas ke luar kota. Edi dan Rano masih di kantor konsultan, ada laporan yang harus diselesaikan. Leni dan Siska mengikuti pelatihan PNS di Palangkaraya.
Jadi Andika memilih duduk di bangku favoritnya, bangku kayu di sebrang Tungu ikonik bundaran. Sepi. Hanya beberapa orang tua yang duduk di bangku lain sambil mengawasi cucu mereka bermain.
Andika memesan kopi hitam dari Mbok Darmi. Satu gelas. Tidak pakai gula. Pahit. Biar sesuai dengan perasaannya yang sedang waspada.
Dari kejauhan, ia melihat Rahmat datang. Sendirian juga. Tanpa Bondan. Tanpa Empat Sekawan. Tanpa siapa pun.
Rahmat berjalan langsung ke arah Andika.
"Mas Andika. Sendirian?" sapa Rahmat sambil berdiri di depan Andika.
"Sendirian. Kamu juga?" jawab Andika tanpa bangkit.
"Iya. Reni belum datang. Biasanya dia datang jam setengah lima," kata Rahmat sambil melihat jam tangannya.
Andika menatap Rahmat tajam. "Kamu hafal jadwal Reni?"
"Teman sekelas. Wajar. Lagi pula, rumah kami berdekatan. Saya tahu kapan dia berangkat, kapan dia pulang," jawab Rahmat sambil tersenyum.
Andika menahan emosinya. "Duduk, Mat. Nanti sakit berdiri terus."
Rahmat duduk di bangku yang sama , tepat di samping Andika. Jarak hanya satu telapak tangan.
"Aku boleh jujur, Mas?" tiba-tiba Rahmat.
"Silakan."
"Aku nggak suka sama kamu," kata Rahmat.
Andika tersenyum kecil. "Terima kasih. Aku juga nggak suka sama kamu. Kita sama-sama jujur."
"Kamu tahu kenapa aku nggak suka?" tanya Rahmat.
"Karena aku dekat sama Reni?"
"Itu salah satu. Tapi lebih dari itu. Aku nggak suka karena kamu orang luar. Bukan dari lingkungan kami. Bukan dari sekolah yang sama. Bukan dari pergaulan yang sama. Kamu cuma mekanik dadakan yang kebetulan buka bengkel di Jalan Tambun Bungai. Sementara aku, keluarga kami kenal dekat dengan keluarga Reni. Papaku satu partai dengan papanya. Rumahku lima rumah dari rumah Reni. Aku punya akses. Kamu tidak," kata Rahmat panjang lebar.
Andika diam. Ia menyesap kopinya.
"Sudah selesai?" tanya Andika.
"Belum. Faktanya, seminggu yang lalu papaku dan papa Reni ngobrol soal masa depan. Papa Reni bilang, dia ingin Reni menikah dengan laki-laki dari keluarga yang jelas. Bukan orang sembarangan," lanjut Rahmat.
"Jadi? Kamu mau lamar Reni sekarang? Dia masih SMA, Mat. Masih anak-anak," kata Andika.
"Bukan lamar. Tapi jodoh itu bisa diatur sejak dini. Papa Reni sudah memberi sinyal. Dan aku akan berusaha," kata Rahmat.
Andika meletakkan gelas kopinya. Ia menoleh ke arah Rahmat.
"Mat, aku nggak ingin bermusuhan sama kamu. Tapi kalau kamu terus memprovokasi aku, kita akan punya masalah," kata Andika dengan suara rendah.
"Masalah apa? Kamu mau pukul aku? Lakukan saja. Di sini banyak saksi. Nanti aku lapor polisi. Kamu yang rugi. Punya bengkel kecil, berurusan dengan hukum. Habis itu," kata Rahmat sambil tersenyum.
Andika mengepalkan tangan. Rahangnya naik turun.
"Kamu anak SMA, Mat. Tapi cara bicaramu sudah seperti politikus," kata Andika.
"Terima kasih. Papa politikus. Bapakku mengajari banyak hal. Termasuk cara menyingkirkan pesaing tanpa harus berantem," jawab Rahmat.
Dari kejauhan, Empat Sekawan muncul dari arah jalan pemuda. Mereka berempat. Tapi kali ini, Reni berjalan paling depan.
"Mereka datang," kata Rahmat sambil berdiri.
"Tenang. Aku juga lihat," kata Andika.
"Kamu jangan ikut ke sana. Biar aku yang temani mereka dulu," kata Rahmat.
"Bundaran ini milik siapa pun, Mat. Aku bisa ke mana pun aku mau," kata Andika sambil berdiri.
Mereka berdua berjalan berdampingan menuju arah Empat Sekawan. Orang-orang di bundaran mulai melirik , dua laki-laki dengan wajah tegang berjalan menuju sekelompok remaja putri.
"Ren!" sapa Rahmat dengan suara ceria. "Aku dari tadi nungguin kamu."
"Kok kamu sendirian, Mat? Bondan mana?" tanya Reni.
"Bondan ada les. Aku memutuskan datang sendiri. Biar bisa fokus," kata Rahmat.
"Fokus apa?" tanya Susi curiga.
"Fokus nemenin kamu, Ren," jawab Rahmat tanpa malu.
Andika yang berdiri di samping Rahmat hanya bisa menahan napas.
"Mas Andika juga datang," kata Amilia sambal tersenyum.
"Iya. Saya datang sejak jam tiga," jawab Andika.
"Kok sendirian? Teman-teman mas mana?" tanya Susan.
"Mereka semua sibuk. Ada yang dinas, ada yang lembur, ada yang pelatihan," jawab Andika.
"Berarti kalian sama-sama kumpul yang tidak lengkap hari ini," kata Amilia.
Reni menatap Andika. Ada rasa iba di matanya.
"Mas Andika, duduk di sini," kata Reni sambil menepuk bangku di sampingnya.
Sebelum Andika sempat bergerak, Rahmat sudah duduk terlebih dahulu.
"Wah, keburu aku yang duduk. Maaf, Mas Andika. Kaki saya cepat," kata Rahmat sambil tersenyum jahil.
Andika mengepalkan tangan lagi. Susi melihatnya.
"Mas Andika, duduk di samping aku saja. Sini," kata Susi sambil menepuk bangku di sebelahnya.
Andika menghela napas. Ia duduk di samping Susi. Jaraknya dengan Reni terhalang oleh Rahmat dan Amilia.
"Ini seperti permainan kursi musik," gumam Andika.
"Apa?" tanya Susi.
"Tidak ada. Hanya berpikir keras," jawab Andika.
Rahmat langsung mengambil inisiatif.
"Ren, minggu depan syukuran di rumahku. Kamu jadi datang, kan?" tanya Rahmat.
"Aku belum minta izin. Papa lagi sibuk," jawab Reni.
"Papa kamu sudah konfirmasi ke papaku. Katanya, Reni boleh datang asal pulang sebelum magrib," kata Rahmat.
Reni terkejut. "Papa sudah bilang? Kenapa dia tidak bilang ke aku?"
"Mungkin lupa. Tapi yang penting kamu sudah dapat izin," kata Rahmat.
Amilia yang duduk di samping Reni mulai curiga. "Rahmat, kamu jangan main-main. Papa Reni galak. Kalau dia tahu ini rekayasa, kamu bisa kena batunya."
"Rekayasa? Apa maksudmu?" tanya Rahmat pura-pura tidak tahu.
"Maksudku, jangan memanfaatkan kedekatan orang tua untuk mendekati Reni," tegas Amilia.
"Amil, kamu terlalu berlebihan. Aku cinta dengan cara yang wajar. Bukan memaksa," kata Rahmat.
"Rahmat, kamu bilang cinta?" tanya Susi ikut campur.
"Iya. Aku cinta Reni. Sejak kelas X. Aku diam-diam menyukainya. Tapi sekarang aku tidak mau diam lagi. Aku ingin Reni tahu," kata Rahmat.
Reni menunduk. Wajahnya merah padam.
"Rahmat, jangan di sini. Jangan di depan umum," pinta Reni.
"Kenapa tidak di sini? Biar semua tahu kalau aku serius. Biar Mas Andika tahu," kata Rahmat sambil melirik ke arah Andika.
Andika tidak bergerak. Diam. Tapi di dalam dadanya, ada api yang menyala.
"Saya sudah tahu dari dulu, Mat. Kamu serius. Tapi perasaan tidak bisa dipaksakan," kata Andika pelan.
"Kamu siapa? Bisa tahu perasaan Reni?" tanya Rahmat dengan nada menantang.
"Saya bukan siapa-siapa. Tapi saya juga punya perasaan yang sama. Saya cinta Reni. Beda kalau saya tidak dengan cara mengintimidasi atau memanfaatkan orang tua," jawab Andika.
Rahmat berdiri. "Kamu bilang saya mengintimidasi?"
"Duduk, Mat. Jangan buat onar di tempat umum," kata Amilia.
"Biarin. Aku ingin selesaikan di sini. Sekarang juga," kata Rahmat.
Andika juga berdiri. Tinggi mereka hampir sama. Rahmat sedikit lebih berisi.
"Jangan berantem di sini! Ada anak kecil!" teriak Susi.
"Kami tidak akan berantem. Kan, Mas?" kata Rahmat sambil tersenyum, tapi matanya tidak tersenyum.
"Benar. Saya tidak akan berantem dengan anak SMA. Tidak bangga," kata Andika.
"Anak SMA? Toh suatu hari nanti saya jadi sarjana. Kamu? Mekanik seumur hidup," ejek Rahmat.
Andika tersenyum. "Menjadi mekanik bukan aib. Saya bangga bisa membantu orang yang motornya mogok di jalan. Sementara kamu? Kamu belum apa-apa. Masih numpang sama papamu."
Rahmat melangkah maju. Tangannya sudah mengepal.
"Rahmat, stop!" teriak Reni sambil berdiri.
Ia berdiri di antara Andika dan Rahmat.
"Awas. Kamu bisa terkena, Ren," kata Rahmat.
"Aku nggak peduli. Kalian berdua dewasa. Tapi bertingkah seperti anak SD. Aku malu," kata Reni dengan suara bergetar.
"Ren, minggir. Ini urusan aku sama dia," kata Rahmat.
"Tidak. Ini urusan aku juga. Karena perdebatan kalian tentang aku. Tapi kalian tidak pernah bertanya pendapat aku," kata Reni.
Andika mundur selangkah. "Maaf, Ren. Aku tidak bermaksud membuatmu berada di posisi sulit."
Rahmat tidak mau kalah. "Ren, aku cinta sama kamu. Aku serius. Aku bisa memberikan masa depan yang jelas. Bukan seperti dia yang hidupnya hanya bengkel dan oli."
"Hei, cukup!" bentak Reni.
Semua terdiam. Orang-orang di sekitar mulai menonton.
"Papa melarang aku pacaran. Tapi kalian berdu malah pacaran sama ego kalian sendiri. Aku capek. Capek didekati dengan cara yang membuatku tertekan," kata Reni dengan mata berkaca-kaca.
"Ren, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud. Aku hanya ingin kamu tahu perasaanku," kata Rahmat mulai melunak.
"Perasaanmu? Apa kamu tahu perasaanku? Aku nggak nyaman, Mat. Kamu terlalu memaksa. Kamu pakai papa, kamu pakai acara keluarga, kamu pakai segala macam. Itu bukan cinta. Itu obsesi," kata Reni.
Rahmat terdiam. Susi menepuk punggung Reni pelan.
"Ren, tenang. Tarik napas," kata Amilia.
Reni menarik napas panjang. Ia menatap Andika.
"Dan kamu, Mas Andika," kata Reni.
"Ya?"
"Kamu juga jangan sok pahlawan. Kamu datang ke sini dengan niat baik, tapi kamu siap berkelahi di tempat umum. Itu bodoh."
Andika menunduk. "Maaf. Aku emosi."
"Kalian berdua emosi. Dan aku yang jadi bulan-bulanan," kata Reni.
Rahmat menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ren, jadi kamu nggak datang ke syukuran?"
Reni menghela napas. "Aku akan datang. Tapi bukan karena kamu. Karena aku sayang sama adikmu yang juara matematika. Dan aku akan pulang sebelum magrib. Begitu."
"Baik. Aku tunggu," kata Rahmat.
Lalu Rahmat menatap Andika. "Belum selesai, Mas."
"Terserah kamu," jawab Andika datar.
Rahmat pergi. Meninggalkan Empat Sekawan dan Andika di bangku taman.
"Mas Andika, duduk. Jangan berdiri terus. Nanti dipanggil satpam," kata Susi.
Andika duduk di bangku. Kali ini jaraknya dengan Reni hanya satu orang, Amilia di antaranya.
"Maafkan aku, Ren. Aku tidak seharusnya terpancing," kata Andika.
"Sudah. Aku juga salah. Aku tahu kalian berdua sama-sama punya perasaan. Tapi caranya berbeda. Rahmat memaksa. Kamu terlalu melindungi. Dua-duanya membuatku sesak," kata Reni.
"Jadi, siapa yang kamu pilih, Ren?" tanya Susi polos.
"Susi! Jangan tanya begitu!" pekik Amilia.
"Biarin. Aku juga ingin tahu," kata Susan tiba-tiba.
Semua menatap Susan. Lagi-lagi si pendiam bicara di saat krusial.
Renin tidak menjawab. Ia berdiri.
"Aku ke toilet dulu. Kepalaku pusing," kata Reni lalu berjalan ke arah toilet umum di timur bundaran.
Tinggallah Andika bersama Amilia, Susi, dan Susan.
"Mas Andika, jujur. Kamu benar-benar cinta sama Reni?" tanya Amilia.
"Saya tidak tahu ini cinta atau bukan. Tapi saya merasa dia berbeda. Saya merasa damai saat di sampingnya. Saya merasa kehilangan saat dia tidak ada. Itu namanya apa kalau bukan cinta?" jawab Andika.
"Itu namanya cinta tingkat dewa," kata Susi.
"Lebay," gumam Andika.
"Apa?!" teriak Susi.
"Maksudku, Kendalikan… ini. Jaga perasaan. Yang tidak bisa dikendalikan," kata Andika cepat memperbaiki.
Amilia dan Susan tertawa. Susi masih cemberut.
Di toilet umum, Reni menangis. Air matanya jatuh. Ia membayangkan perdebatan tadi, Rahmat yang terlalu memaksa, Andika yang hampir memukul, dan dirinya yang terjepit di antara dua ego laki-laki.
Ia mengeluarkan ponsel. Mengetik pesan ke Andika.
“Dika, aku capek. Aku ingin semuanya sederhana. Aku tidak ingin kalian berkelahi. Aku hanya ingin senja dan angkringan. Tanpa tekanan.”
Tak lama, balasan dari Andika masuk: “Maaf. Aku akan belajar. Aku tidak akan terpancing lagi. Janji.”
Reni tersenyum kecil. Ia mengelap air matanya.
Saat keluar dari toilet, ia melihat Rahmat ternyata tidak pergi. Ia berdiri di dekat pohon beringin sambil memegang ponsel.
"Ren!" panggil Rahmat.
"Kamu belum pulang?" tanya Reni.
"Belum. Aku mau bicara. Serius."
Reni mendekat. "Bicara cepat. Tangan aku sudah mau kram karena kesal."
Rahmat tertawa kecil. "Maaf tadi. Aku keterlaluan."
"Kamu sadar?"
"Iya. Aku sadar. Tapi aku tidak bisa mengubah perasaanku. Aku cinta kamu, Ren. Tapi aku akan coba dengan cara yang lebih sabar. Tanpa memaksa. Tanpa bawa-bawa papa," kata Rahmat.
"Janji?"
"Janji. Tapi jangan larang aku untuk tetap dekat dengan kamu. Sebagai teman."
Reni menghela napas. "Sebagai teman, aku terima. Tapi jangan pernah lagi membuat adegan seperti tadi."
"Deal."
Mereka berjabat tangan dengan gaya canggung.
Reni kembali ke bangku taman. Rahmat tidak ikut. Ia memilih pulang.
"Rahmat cabut?" tanya Susi.
"Iya. Dia pulang. Kita lanjutkan senja," jawab Reni.
"Jadi, Mas Andika, lo balik ke bangku rombongan atau lo ikut kita di sini?" tanya Amilia.
"Teman-teman saya tidak ada yang datang. Jadi saya ikut di sini saja. Tapi saya duduk agak jauh. Biar tidak membuat masalah," kata Andika.
"Jangan jauh-jauh. Duduk saja di samping Susan. Dia paling tidak banyak komentar," kata Susi.
Susan tersenyum malu.
Andika duduk di samping Susan. Jaraknya dengan Reni kini hanya dua orang, Susan dan Amilia.
"Ren, tadi kamu bilang di toilet. Kamu capek sama kami berdua," kata Andika.
"Iya. Tapi itu sudah lewat. Sekarang saya ingin nikmati gorengan dan senja. Tanpa drama," kata Reni.
"Saya traktir," kata Andika.
"Jangan. Mama bilang jangan pernah terima traktiran dari laki-laki. Nanti punya hutang budi," kata Reni.
"Itu gorengan, Ren. Bukan mahar," kata Andika.
Semua tertawa.
Susan tertawa paling keras, membuat semua orang terkejut karena biasanya dia hanya tersenyum kecil.
"Susan, lo tertawa, ya ampun. Langka banget!" seru Susi.
"Lucu sih. Mas Andika bilang gorengan bukan mahar. Itu lucu," kata Susan.
"Kapan-kapan saya traktir kamu khusus, Susan," kata Andika.
"Jangan. Nanti saya dikira pesaing Reni," jawaban Susan cepat.
Semua tertawa lagi. Termasuk Reni.
Senja mulai datang. Jingga menyebar di langit barat.
Angin dari Sungai Kapuas semakin kencang. Membawa bau tanah basah, pertanda akan turun hujan sebentar lagi.
"Kayaknya mau hujan, Ren. Ayo pulang," kata Amilia.
"Iya. Sebentar lagi magrib," tambah Susi.
Mereka berdiri. Reni mengusap debu dari roknya.
"Andika, kamu pulang dengan siapa?" tanya Reni.
"Sendirian. Tapi tidak apa. Saya terbiasa," jawab Andika.
"Hati-hati di jalan. Dan jangan berantem lagi dengan Rahmat."
"Saya janji. Saya akan jadi mekanik yang sabar."
Reni tersenyum. "Kamu bukan mekanik. Kamu orang baik."
"Itu pujian pertama darimu."
"Jangan diingat-ingat. Nanti aku malu."
Mereka berpandangan. Susi menarik lengan Reni.
"Ayo, Ren. Jangan saling tatap terlalu lama. Nanti jadi patung cinta."
"Diam, Sus. Mulutmu bawaannya nyebelin," kata Reni sambil berjalan.
Empat Sekawan berjalan ke selatan. Reni menoleh sekali lagi. Andika masih berdiri di tempat.
Angkat tangan. Lambaian kecil.
Reni tersenyum. Lalu pergi.
Andika masih berdiri di bundaran. Langit mulai gelap. Hujan rintik mulai turun.
"Itu namanya orang yang sedang jatuh cinta," bisik Mbok Darmi dari lapaknya.
Andika tersenyum. "Saya tidak jatuh, Bu. Saya terpeleset sengaja."
Mbok Darmi tertawa. "Sini masuk lapak. Nanti lo basah. Gue kasih kopi asal jangan nangis-nangis di sini."
Andika masuk ke lapak. Hujan mulai deras.
Tapi di hatinya, cerah.
BAB 6
“Rumah Menjadi Penjara”
Rumah Reni di Jalan Cilik Kriwut, samping gang sempit di belakang pertokoan. Minggu malam, pukul 19.30. Hujan deras sejak sore.
Reni duduk di ruang tamu. Di depannya, Pak Wulandari duduk dengan kaki bersila di sofa besar. Rokok kreteknya mengepul tipis. Ibu Reni duduk di samping suaminya, diam dengan wajah tegang.
Di atas meja, ponsel Reni tergeletak. Layarnya masih menyala, ada chat dari Amilia yang belum sempat dibaca.
"Ren, Papa tanya. Kamu jawab jujur," kata Pak Wulandari dengan suara berat.
"Iya, Pa," jawab Reni pelan.
"Tadi sore di bundaran. Kamu ketemu siapa saja?" tanya Pak Wulandari.
"Ketemu Amilia, Susi, Susan. Empat Sekawan lengkap, Pa," jawab Reni.
"Laki-laki?"
Reni terdiam sejenak. "Ada Rahmat dan Bondan, Pa. Teman sekelas."
"Rahmat? Anaknya Pak RT?" tanya Ibu Reni.
"Iya, Bu. Anak Pak RT," jawab Reni.
"Rahmat itu bagus. Orang tuanya baik. Tapi kenapa dia ke bundaran? Biasanya dia main basket," kata Ibu Reni.
"Papa tidak tanya soal Rahmat. Papa tanya soal laki-laki yang lain," potong Pak Wulandari dengan nada tajam.
Reni menelan ludah. "Ada Mas Andika, Pa."
Pak Wulandari mengambil rokok dari mulutnya. "Andika? Mekanik yang kemarin?"
"Iya, Pa. Dia ada di sana. Tapi tidak sendiri. Ada teman-temannya juga," jawab Reni cepat.
"Tidak sendiri? Saya lihat dia duduk di bangku yang sama dengan kamu. Hampir sebelahan," kata Pak Wulandari.
"Amilia ada di antara kami, Pa. Tidak berduaan. Saya tidak melanggar janji," kata Reni.
"Janji?" Pak Wulandari berdiri. Rokoknya ia matikan di asbak.
"Janji kamu tidak akan pacaran. Janji kamu tidak akan dekat-dekat dengan laki-laki. Tapi kamu masih saja nekat ke bundaran. Setiap akhir pekan. Ketemu laki-laki itu."
"Pa, dia hanya teman. Dia tidak pernah memaksa. Dia baik," kata Reni dengan suara bergetar.
"Baik? Laki-laki seusia dia mendekati anak SMA? Tidak ada yang namanya laki-laki baik, Ren. Semua punya niat. Kalau tidak sekarang, nanti. Kalau tidak secara fisik, secara mental. Kamu masih polos. Kamu tidak tahu," kata Pak Wulandari.
Ibu Reni ikut berdiri. "Ren, Mama dukung Papa. Kamu masih sekolah. Masih anak-anak. Belum waktunya dekat-dekat dengan laki-laki. Apalagi yang sudah bekerja. Beda dunianya."
"Tapi Bu, Mas Andika juga baru 21 tahun. Masih muda. Dia tidak tua," kata Reni.
"Beda satu tahun aja beda, apalagi beberapa tahun. Kamu kelas XII. Dia sudah kerja. Punya uang sendiri. Punya kendaraan. Itu yang berbahaya. Kamu bisa terbuai," kata Ibu Reni.
Reni menunduk. Air matanya mulai menetes.
"Pa, aku mohon. Jangan larang aku ke bundaran. Bundaran itu satu-satunya tempat aku bisa bernapas setelah sepekan di sekolah. Aku bisa lihat teman-teman. Bisa beli gorengan. Bisa nikmati senja. Itu saja. Tidak lebih."
Pak Wulandari berjalan ke jendela. Hujan deras masih mengguyur. Genangan air mulai terbentuk di halaman.
"Mulai minggu depan, kamu tidak boleh ke bundaran," kata Pak Wulandari tanpa menoleh.
Reni tersentak. "Pa?! Kenapa?!"
"Karena Papa tidak percaya kamu bisa jaga jarak dengan laki-laki itu. Papa lihat cara kamu memandanginya. Beda. Beda dengan cara kamu memandang Rahmat atau Bondan. Ada rasa di matamu. Dan itu berbahaya," kata Pak Wulandari.
"Pa, aku tidak —"
"Jangan membantah!" bentak Pak Wulandari.
Reni diam. Air matanya mengalir deras.
Ibu Reni mendekati anaknya. Ia mengusap rambut Reni. "Ren, Papa sayang sama kamu. Itu sebabnya Papa melindungi. Suatu hari nanti kamu akan mengerti. Laki-laki itu hanya memanfaatkan. Begitu kamu lulus SMA, begitu kamu punya masa depan cerah, mereka akan datang. Tapi sekarang, fokus sekolah."
"Bu, Mas Andika tidak seperti itu. Dia tidak pernah minta foto. Tidak pernah minta chat malam-malam. Tidak pernah mengajak ke tempat gelap. Dia cuma ajak ngobrol di bundaran. Itu saja. Itu saja, Bu," isak Reni.
"Untuk sekarang, itu saja. Tapi nanti lama-lama dia minta lebih. Itu pola. Mama sudah tua, tahu pola laki-laki," kata Ibu Reni.
"Reni," panggil Pak Wulandari dari jendela.
"Ya, Pa."
"Kamu punya ponsel. Kamu bisa chat teman-temanmu. Tapi akhir pekan, kamu di rumah. Bantu Mama bersih-bersih. Belajar. Atau kalau bosan, baca buku. Tidak perlu ke bundaran."
"Pa, bundaran tidak hanya untuk laki-laki itu. Ada Amilia, Susi, Susan. Mereka temanku. Aku butuh mereka," kata Reni.
"Amilia, Susi, Susan bisa ke sini. Mereka bisa main ke rumah. Papa tidak melarang teman perempuan. Tapi laki-laki itu, tidak," kata Pak Wulandari.
"Kalau Rahmat datang?" tanya Reni.
"Rahmat berbeda. Orang tuanya jelas. Latar belakangnya jelas. Darahnya biru. Laki-laki itu mekanik. Tidak punya masa depan," kata Pak Wulandari.
"Pa, itu tidak adil," kata Reni.
"Tidak adil? Apa yang tidak adil? Papa kerja keras biar kamu sekolah bagus. Papa kenal banyak orang biar kamu punya masa depan cerah. Tiba-tiba datang laki-laki tidak dikenal, dekat-dekat dengan anak Papa. Itu yang tidak adil," kata Pak Wulandari.
Reni tidak bisa membalas. Ia hanya bisa menangis.
Ibu Reni mengajaknya berdiri. "Sudah, Ren. Kamu ke kamar. Istirahat. Pikiranmu masih panas. Nanti malam kita bicara lagi."
Reni berdiri. Ia mengambil ponsel dari meja.
"Ponselnya tinggal di sini," kata Pak Wulandari.
"Pa, aku perlu ."
"Tinggal di sini."
Reni meletakkan ponselnya dengan berat hati. Ia berjalan ke kamar. Pintu kamarnya ia tutup pelan.
Di balik pintu, ia duduk di lantai. Menangis sesenggukan.
Di kamar yang gelap, Reni mendengar suara hujan masih deras. Ia membayangkan Andika di bundaran — apakah dia tahu bahwa hari ini adalah pertemuan terakhir mereka di bangku kayu dekat patung?
Ia tidak bisa SMS. Tidak bisa telepon. Tidak bisa WA.
Ponselnya ada di tangan Papa.
"Putus asa," bisiknya.
Dari kejauhan, ia mendengar suara Papa menelepon seseorang.
"Halo, Pak Rahmat? Iya, saya Pak Wulandari. Maaf mengganggu malam Minggu. Iya, saya hanya mau memastikan. Anak saya, Reni, diundang ke acara syukuran minggu depan? Iya? Baik. Saya izinkan asal pulang sebelum magrib. Tolong antar-jemput ya, Pak. Jangan sampai dia jalan sendiri. Iya, terima kasih."
Reni mendengar. Hatinya semakin hancur.
Papa justru mengizinkan dia pergi ke acara rumah Rahmat, keluarga yang "darahnya biru", tapi melarangnya ke bundaran yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumah.
"Tidak adil," bisiknya lagi.
Ia membuka lemari. Baju krem yang dulu ia kenakan saat pertama kali bertemu Andika masih tergantung rapi.
"Apa aku akan memakainya lagi? Untuk apa? Tidak ada yang akan melihat," bisiknya.
Ia meremas baju itu lalu meletakkannya kembali.
Rumah kontrakan Andika di belakang bengkel, Jalan Tambun Bungai. Senin malam, pukul 20.00.
Andika sedang duduk di teras. Hujan sudah reda. Genangan air di halaman bengkel mulai surut.
Ponselnya berdering. Amilia.
"Andika, lo bisa bicara?" suara Amilia terdengar tergesa-gesa.
"Iya, Amil. Ada apa?"
"Reni dilarang ke bundaran. Papa-nya ngamuk habis-habisan tadi malam. Ponselnya disita. Dia nggak bisa dihubungi siapa pun."
Andika terdiam. Dadanya sesak.
"Kenapa bisa? Minggu kemarin kami baik-baik saja. Tidak ada yang aneh," kata Andika.
"Papa-nya lihat cara kamu lihat Reni. Katanya ada rasa. Dan itu berbahaya," kata Amilia.
"Ada rasa? Memang ada rasa. Saya tidak sembunyi-sembunyi. Tapi saya tidak pernah melakukan sesuatu yang melanggar aturan."
"Papanya nggak peduli aturan. Yang penting Reni jangan sampai pacaran sebelum kuliah. Dan kamu dianggap ancaman."
"Jadi Reni sekarang? Apa kabarnya?"
"Nangis terus, kata Susan yang tadi mampir ke rumahnya. Tapi pintu kamar dikunci. Susan cuma bisa ngobrol lewat pintu."
Andika menghela napas panjang. "Aku harus ke rumahnya."
"Jangan, Dika. Nanti papanya makin marah. Lo bisa kena laporan polisi."
"Laporan polisi dengan alasan apa? Saya cuma mau jenguk teman."
"Alasan mengganggu ketenangan. Atau mendekati anak di bawah umur. Lo tahu sendiri papanya mantan polisi. Punya koneksi."
Andika diam. Pikirannya kacau.
"Jadi aku harus diam?"
"Untuk sementara. Biarkan waktu berlalu. Mungkin papanya akan luluh setelah beberapa minggu," kata Amilia.
"Amil, kamu kenal orang tuanya. Apakah dia akan luluh?"
Amilia terdiam lama. "Jujur? Tidak. Papanya keras kepala. Kayak batu karang."
Andika tertawa kecil, tawa pahit. "Seperti aku."
"Ya. Itu sebabnya kalian mungkin akan terus berbenturan."
"Amil, tolong sampaikan ke Reni. Lewat Susan atau siapa pun. Bilang aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di bundaran. Setiap akhir pekan. Meskipun dia tidak datang."
"Baik, Dika. Aku coba kabarin lewat Susan. Tapi jangan berharap banyak. Komunikasi sekarang sulit."
"Terima kasih, Amil."
"Ya. Jaga diri."
Telepon ditutup.
Andika masih duduk di teras. Lampu bengkel mati. Hanya lampu jalan dari depan kontrakan yang menyala redup.
"Dilarang ke bundaran," bisiknya.
Ia membayangkan bundaran tanpa Reni. Sepi. Membosankan. Tidak ada artinya.
"Tapi aku akan tetap datang," katanya pada dirinya sendiri.
Bundaran Besar Kapuas. Sabtu sore, pukul 16.30. Dua pekan setelah larangan.
Andika duduk di bangku kayu yang sama seperti biasanya. Sendirian.
Pajar, Edi, Rano, Leni, dan Siska datang semua. Mereka duduk melingkar di tikar plastik. Tapi suasana tidak seperti biasa. Sunyi. Tidak ada tawa.
"Mana Reni?" tanya Pajar.
"Larangan," jawab Andika singkat.
"Larangan total?" tanya Leni.
"Total. Ponsel disita. Tidak boleh ke bundaran. Hanya sekolah dan rumah," kata Andika.
"Parah," kata Siska.
"Sudah dua minggu. Lo masih setia nunggu?" tanya Rano.
"Aku akan setia sampai kapan pun," jawab Andika.
"Lo rela buang-buang waktu? Belum tentu dia bisa kembali," kata Edi.
"Bukan waktu yang aku buang. Tapi kesempatan. Kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bukan laki-laki yang akan pergi hanya karena dilarang," kata Andika.
Pajar memetik gitarnya pelan. "Dika, gue salut. Tapi kasihan lo."
"Kasihan kenapa?"
"Kasihan karena lo nunggu sesuatu yang belum pasti."
"Tidak ada yang pasti di dunia ini, Jar. Termasuk cinta. Tapi aku memilih untuk percaya."
Leni mengusap pundak Andika. "Kamu baik, Dika. Reni beruntung punya kamu."
"Tapi dia tidak tahu. Karena dia tidak bisa lihat aku di sini. Setiap minggu. Setiap senja," kata Andika.
"Kita yang tahu," kata Siska.
"Kalian saksi. Dan suatu hari nanti, kalau Reni kembali, tolong saksi bahwa aku tidak pernah pergi dari bangku ini."
Rano yang jarang serius tiba-tiba bicara. "Dika, gue kadang iri sama lo. Gue nggak pernah punya keberanian kayak lo. Nunggu cewek tanpa jaminan. Gue kalau ceweknya sudah dilarang, langsung cari yang lain. Tapi lo beda. Lo kayak monyet yang nggak mau turun dari pohon meskipun pohonnya mau ditebang."
Itu mungkin pujian paling aneh yang pernah Andika terima.
"Terima kasih, No. Gue simpan itu."
Semua tertawa kecil. Tawa yang menghangatkan.
Rumah Reni, Sabtu sore, jam yang sama. Pukul 16.30.
Reni duduk di kamar. Jendela kamarnya menghadap ke selatan, ke arah perempatan yang menuju Simpag Adipura. Ia tidak bisa melihat bundaran dari sini. Tapi ia bisa membayangkannya.
Ia membayangkan Andika duduk di bangku kayu. Sendirian. Atau bersama teman-temannya. Ia membayangkan Andika memesan kopi hitam dari Mbok Darmi. Tidak pakai gula. Pahit.
"Ingin rasanya aku ada di sana," bisiknya.
Pintu kamar diketuk. Ibu Reni masuk.
"Ren, makan malam sudah siap. Turun," kata Ibu Reni.
"Tidak lapar, Bu."
"Kamu harus makan. Badanmu kurus."
"Bu, aku rindu bundaran," kata Reni tiba-tiba.
Ibu Reni duduk di tepi ranjang. "Mama tahu. Tapi demi kebaikanmu, ren, kamu harus menjauh dulu. Sampai lulus SMA."
"Sampai lulus SMA? Itu masih berbulan-bulan, Bu."
"Berbulan-bulan bukan apa-apa dibandingkan masa depanmu."
"Bu, apa Mama percaya kalau aku bisa jaga diri? Apa Mama percaya kalau Andika orang baik?"
Ibu Reni menghela napas. "Mama tidak tahu Andika. Mama tidak pernah kenal dia. Yang Mama lihat, dia laki-laki dewasa yang mendekati anak SMA. Itu sudah cukup buat Mama khawatir."
"Tapi Bu, dia tidak pernah ."
"Reni, stop," potong Ibu Reni dengan lembut tapi tegas.
"Kamu masih anak-anak. Perasaanmu masih labil. Kamu belum tahu mana yang baik dan mana yang hanya manis di awal. Biar Mama dan Papa yang lindungi kamu sekarang. Nanti kalau sudah dewasa, kamu bebas memilih."
Reni menangis. Ibu Reni memeluknya.
"Sudah, jangan nangis. Ini semua karena kami sayang."
"Tapi sayang Papa dan Mama menyakitkan, Bu."
"Memang. Cinta kadang menyakitkan. Tapi itu lebih baik daripada cinta yang menghancurkan masa depan."
Reni tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menangis di pelukan ibunya.
Bundaran Besar Kapuas. Sabtu sore, tiga minggu setelah larangan. Pukul 17.00.
Andika masih duduk di bangku yang sama. Sendirian kali ini karena teman-temannya ada yang sibuk.
Mbok Darmi mendekat. "Mas, kok sendirian? Teman-temannya mana? Yang biasa ramai itu?"
"Sibuk semua, Bu."
"Kalau Reni? Yang cantik itu?"
Andika tersenyum pahit. "Dilarang keluar, Bu."
Mbok Darmi menggeleng. "Sudah saya duga. Orang tuanya terkenal keras. Tapi Mas masih setia nunggu?"
"Sampai kapan pun, Bu."
Mbok Darmi duduk di samping Andika. "Mas, saya sudah jualan di bundaran ini sejak dua puluh tahun lalu. Saya sudah lihat banyak pasangan datang dan pergi. Ada yang berhasil. Ada yang gagal. Yang berhasil biasanya yang sabar. Yang gagal biasanya yang gampang menyerah. Mas termasuk yang mana?"
"Yang sabar, Bu."
"Bagus. Tapi kesabaran harus diimbangi dengan tindakan. Duduk diam di sini setiap minggu itu baik, tapi tidak cukup. Mas harus cari cara untuk tetap terhubung tanpa melanggar aturan orang tuanya."
"Ada punya saran, Bu?"
Mbok Darmi tersenyum. "Kirim surat. Lewat temannya. Surat tulisan tangan. Bukan chat atau WA. Surat itu lebih berkesan. Dan tidak bisa dilacak oleh orang tua yang galak."
Andika terdiam. "Surat?"
"Iya. Surat cinta zaman dulu. Romantis. Dan aman."
Andika tersenyum. "Terima kasih, Bu. Saya coba."
"Jangan lupa di surat itu bilang, Mas masih di sini. Di bundaran. Menunggu."
"Baik, Bu."
Mbok Darmi berdiri dan kembali ke lapaknya. Andika memandang senja.
"Ini belum berakhir," bisiknya.
BAB 7
“Surat dari Bundaran”
Kontrakan Andika di belakang bengkel, Jalan Tambun Bungai. Kamis malam, pukul 21.00. Hujan gerimis.
Andika duduk di meja kayu bekas yang ia gunakan untuk menyusun sparepart motor. Kali ini, di atas meja tidak ada kabel atau busi. Ada secarik kertas HVS, sebuah pulpen murah, dan secangkir kopi pahit yang sudah setengah habis.
Pajar duduk di sampingnya. Kedatangan Pajar malam itu tidak direncanakan. Ia cuma mampir karena ingin meminjam kunci ring.
“Lo nulis surat? Zaman sekarang masih pakai surat?” tanya Pajar sambil menyandarkan punggung ke dinding.
“Mbok Darmi bilang, surat lebih berkesan. Dan aman. Tidak bisa dilacak,” jawab Andika tanpa menoleh.
“Aman dari siapa?”
“Dari papa Reni. Ponselnya disita. Dia nggak bisa dihubungi lewat mana pun kecuali lewat teman.”
Pajar mengangguk. “Lo mau kirim lewat siapa?”
“Susan. Dia paling pendiam. Paling kecil kemungkinannya dicurigai.”
“Susan? Yang polos itu?”
“Iya. Dia sudah setuju. Amilia yang menghubungkannya.”
Pajar mengambil kertas kosong dari tumpukan di meja. “Lo mau gue bantu tulis? Tulisan lo kayak cakar ayam. Nanti Susan nggak bisa baca.”
“Biar jelek. Itu asli. Cinta sejati nggak perlu tulisan rapi,” jawab Andika.
“Sok filosof. Gue bacain nanti ke Rano, ya?”
“Jangan. Ini rahasia.”
Andika mulai menulis. Tangannya agak gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena gugup. Sudah lima tahun dia tidak menulis surat cinta. Terakhir kali waktu SMA, dan itu pun hanya surat Valentine darurat yang ditulis dalam lima menit.
“Untuk Reni,
Di bundaran ini, senja masih sama seperti dulu. Jingganya tak berubah, anginnya tak berhenti, dan aku… aku masih di bangku kayu dekat kolam. Yang berubah hanya satu: kamu tidak ada. Dan itu membuat bundaran terasa lebih sepi dari biasanya.
Susan bilang, kamu dilarang keluar. Ponsel disita. Pintu kamar sering terkunci. Aku tidak tahu persis bagaimana rasanya, tapi aku bisa bayangkan. Kamu pasti marah. Sedih. Merasa tidak adil. Aku juga marah. Tapi bukan pada papa kamu. Aku marah pada keadaan.
Tapi aku tidak akan menyerah. Aku tidak akan pergi. Mbok Darmi bilang, orang yang sabar biasanya berhasil. Aku ingin jadi orang yang sabar. Biar waktu yang berbicara.
Reni, aku tidak minta kamu balas surat ini. Aku tidak minta kamu kabur dari rumah. Aku hanya minta satu: jangan lupa bahwa ada orang di bundaran yang setiap akhir pekan menatap perempatan selatan, berharap kamu muncul di ujung jalan.
Aku di sini. Sampai kapan pun.
— Andika.”
Andika melipat kertas itu menjadi empat bagian. Tidak dimasukkan amplop. Hanya dilipat rapi.
“Ini kayak surat zaman perang,” komentar Pajar.
“Ini memang perang. Perang batin,” jawab Andika.
“Lo yakin surat ini nggak akan dicegat papa Reni?”
“Susan sudah punya rencana. Dia akan masukkan ke celah pintu kamar Reni saat besok pagi Reni ke sekolah. Papa dan ibu Reni berangkat kerja lebih awal.”
“Susan itu pintar juga ternyata. Padahal diem aja.”
“Orang pendiam biasanya paling jago jadi mata-mata,” kata Andika sambil tersenyum.
Pajar menepuk bahu Andika. “Gue pulang dulu. Semoga suratnya nyampai. Jangan lupa, kalau Reni balas surat, tunjukin ke gue. Gue mau lihat tulisan cewek yang bikin lo jadi lebay begini.”
“Dasar kurang ajar. Pergi sana.”
Pajar tertawa lalu keluar kontrakan. Hujan gerimis mulai reda.
Andika masih duduk di meja. Kopinya sudah habis. Ia menatap surat yang sudah terlipat rapi di atas meja.
“Sampai ke dia, Tuhan,” bisiknya.
Halaman depan rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut. Jumat pagi, pukul 06.30. Matahari baru saja terbit.
Susan datang dengan sepeda ontel kesayangan ayahnya. Ia memarkir sepeda di depan pagar rumah Reni. Matanya mengamati sekeliling. Rumah Pak Wulandari tampak sepi. Mobil Avansa hitam sudah tidak ada di garasi. Artinya, Pak Wulandari sudah berangkat kerja.
Ibu Reni juga sudah pergi. Reni masih di dalam, mungkin sedang mandi atau sarapan.
Susan membuka pagar pelan-pelan. Tidak ada yang melihat. Ia berjalan ke samping rumah, menuju kamar Reni yang jendelanya menghadap ke timur.
Jendela itu tidak tertutup rapat. Susan menyelipkan surat di sela-sela kusen.
Tapi sebelum ia sempat pergi, pintu belakang rumah terbuka. Reni keluar, mengenakan seragam SMA, rambut masih basah.
“Susan? Kamu ngapain di sini? Jam segitu?” tanya Reni kaget.
“Su… Susan mau nitip barang,” jawab Susan gagap.
“Nitip apa? Di sela jendela?”
Susan menghela napas. Ia meraih surat itu dari kusen lalu menyerahkannya ke Reni.
“Ini dari Mas Andika. Baca nanti di kamar. Jangan di sini,” bisik Susan cepat.
Reni memegang surat itu. Tangannya gemetar.
“Andika? Dia kirim surat? Lewat kamu?”
“Iya. Dia nggak bisa hubungi kamu lewat HP. Jadi surat. Dia minta maaf nggak bisa datang sendiri. Tapi dia janji tetap di bundaran setiap minggu.”
Mata Reni mulai berkaca-kaca. “Dia masih datang?”
“Setiap minggu. Kata teman-temannya, dia duduk di bangku kayu dekat Kolam dari sore sampai magrib. Sendirian. Nggak pernah bolong.”
Reni menekan surat itu ke dadanya. “Dasar lelaki bodoh. Kenapa dia nggak menyerah saja?”
“Karena dia sayang sama kamu, Ren. Dan dia keras kepala. Kayak papa kamu.”
Reni tersenyum pahit. “Iya. Sama-sama keras kepala.”
“Ren, aku harus pergi. Nanti ada yang lihat. Baca suratnya di kamar. Dan kalau mau balas, bilang Amilia. Amilia yang akan jadi kurir. Aku cuma bagian eksekusi lapangan,” kata Susan.
“Susan, kamu baik sekali. Maaf selama ini aku kurang perhatian sama kamu.”
Susan tersenyum malu. “Nggak apa. Aku terbiasa diem-dieman. Tapi sekarang, aku pergi dulu.”
Susan berjalan cepat ke pagar, naik sepeda ontelnya, lalu pergi.
Reni masuk kembali ke dalam rumah. Ia menutup pintu kamarnya. Mengunci. Membuka lipatan surat itu.
Matanya membaca perlahan. Setiap kata. Setiap spasi. Setiap tanda baca.
Air matanya jatuh di baris terakhir: “Aku di sini. Sampai kapan pun.”
“Andika, kamu benar-benar bodoh,” bisiknya sambil menangis.
Ia mengambil buku tulis lama dari meja belajarnya. Merobek satu halaman kosong. Menulis dengan pulpen biru, tulisannya rapi, sedikit miring ke kanan.
“Untuk Andika,
Suratmu aku terima pagi ini. Susan yang menyelipkannya di jendela kamar. Papa sudah berangkat. Ibu sudah berangkat. Hanya aku dan pembantu di rumah. Tapi pintu kamar tetap terkunci. Aku takut Papa tiba-tiba pulang.
Aku marah padamu. Kenapa kamu tidak menyerah? Kenapa kamu masih datang ke bundaran setiap minggu? Itu hanya menyiksamu. Papaku tidak akan berubah. Aturannya tetap sama: tidak dekat laki-laki sampai kuliah. Dan itu masih berbulan-bulan lagi.
Tapi di balik kemarahanku, ada rasa lain. Rasa yang tidak bisa aku jelaskan. Aku senang. Senang sekali. Bahwa ada orang yang rela menunggu tanpa jaminan. Itu gila. Itu tidak masuk akal. Dan itu membuatku menangis setiap malam.
Andika, aku juga rindu. Aku rindu bundaran, rindu gorengan Mbok Darmi, rindu suara gitarnya Pajar, rindu ledekan Susi, rindu Amilia yang selalu nawarin es cincau. Tapi yang paling aku rindu… adalah kamu. Duduk di sampingmu. Meskipun diam-diaman. Meskipun diawasi papa.
Tapi aku tidak bisa kemana-mana. Papa mengunci aku di sini. Bukan secara fisik, tapi secara psikologis. Aku merasa bersalah kalau bahagia tanpa izinnya.
Jangan berhenti datang ke bundaran. Meskipun aku tidak ada di sana, bayangkan aku duduk di sampingmu. Bayangkan aku tertawa melihat Rano yang gendut itu. Bayangkan aku menggenggam tanganmu saat angin terlalu kencang.
Tahun depan, setelah ujian, aku akan bicara dengan Papa. Aku akan buktikan bahwa kamu orang baik. Tapi sekarang… sabar dulu, ya?
Ditunggu suratmu berikutnya.
— Reni.”
Reni melipat surat itu. Tidak seperti Andika , ia melipatnya rapi seperti amplop, lalu menulis kecil di sudut kertas: “Untuk Andika, dari Reni.”
Ia menyembunyikan surat itu di balik buku cetak Matematika. Tempat yang tidak akan pernah Papa lihat karena Papa benci matematika.
Bengkel Andika, Jalan Tambun Bungai. Sabtu sore, pukul 15.00. Sebelum Andika berangkat ke bundaran.
Amilia datang ke bengkel. Dengan motor bebek merahnya yang berisik.
“Mas Andika!” teriak Amilia dari depan.
Andika keluar dari balik motor yang sedang diperbaiki. Tangannya penuh oli.
“Amil? Kamu ke sini? Bukannya kamu biasanya di bundaran?”
“Aku ke sini dulu. Ada titipan,” kata Amilia sambil membuka tas kecilnya.
Ia mengeluarkan secarik kertas yang sudah dilipat rapi. Sampulnya bertuliskan: “Untuk Andika, dari Reni.”
Andika membeku. Tangannya yang penuh oli ia usap ke lap kerja.
“Ini dari Reni?” tanyanya suaranya parau.
“Iya. Susan yang mengantarkan suratmu. Reni baca. Dia nangis. Lalu dia tulis balasan. Nggak pakai amplop. Nggak pakai perangko. Cuma kertas HVS bekas.”
Andika mengambil surat itu dengan hati-hati. Seperti barang antik yang tak boleh rusak.
“Aku boleh baca sekarang?”
“Terserah lo. Tapi jangan nangis di sini. Nanti pelanggan lo kabur. Takut bengkelnya banjir air mata.”
Andika tertawa kecil. Ia membuka lipatan itu. Matanya bergerak cepat dari baris pertama sampai terakhir.
Diam.
Matanya merah.
“Amil, dia bilang jangan berhenti datang ke bundaran,” kata Andika.
“Iya. Dia bilang bayangkan dia ada di samping lo. Imajinasi, gitu.”
“Dia juga bilang tahun depan dia akan bicara sama papanya.”
“Semoga. Tapi jangan berharap banyak, Mas. Papa Reni itu keras. Kayak baja.”
“Baja bisa dilumerkan dengan api. Aku akan jadi apinya.”
“Kamu mau bikin rumahnya kebakaran, Mas?” ledek Amilia.
“Bukan. Maksudku, aku akan sabar. Terus menerus sampai baja itu lumer.”
Amilia menggeleng. “Lo berdua sama-sama keras kepala. Cocok, sih.”
Andika melipat surat itu dengan hati-hati. Ia menyimpannya di saku dalam jaketnya, dekat dengan jantung.
“Amil, tolong sampaikan ke Reni: suratnya sudah sampai. Dan aku akan jawab nanti malam. Lewat Susan lagi.”
“Baik, Mas. Aku pamit. Aku ke bundaran dulu. Ada Susi yang udah ngeluh laper.”
Amilia pergi dengan motor bebeknya. Andika masih berdiri di depan bengkel. Tangannya sudah bersih dari oli, tapi hatinu bersih dari rasa.
“Dia membalas,” bisiknya. “Dia membalas!”
Bundaran Besar Kapuas. Sabtu sore, pukul 17.30.
Andika datang ke bundaran. Bukan untuk duduk diam seperti biasa. Tapi untuk menulis surat balasan.
Ia meminjam pulpen dari Mbok Darmi.
“Bu, pinjam pulpen. Yang tintanya hitam,” kata Andika.
“Buat nulis surat cinta lagi?” tanya Mbok Darmi sambil tersenyum.
“Iya, Bu. Surat balasan. Dia membalas.”
“Bagus. Anak itu masih ingat Mas. Kasih saya satu gorengan, deh, sebagai ucapan terima kasih.”
Andika tertawa. “Nanti saya bayar dua.”
Ia duduk di bangku kayu dekat patung. Meletakkan kertas di atas paha. Menulis dengan cepat. Matanya berbinar.
“Untuk Reni,
Suratmu aku terima. Amilia yang mengantarkannya ke bengkel. Aku baca di sela-sela memperbaiki motor. Oli di tanganku belum sempat aku bersihkan. Tapi suratmu lebih penting daripada motor mana pun.
Kamu bilang, kamu marah karena aku tidak menyerah. Maaf, aku tidak bisa menyerah. Bukan karena aku sombong atau keras kepala. Tapi karena aku sudah terlanjur sayang. Dan sayang tidak bisa berhenti hanya karena ada larangan.
Kamu bilang, papa kamu tidak akan berubah. Mungkin benar. Tapi manusia bisa berubah. Waktu bisa mengubah. Dan aku percaya, suatu hari nanti, papa kamu akan melihat bahwa aku bukan laki-laki yang akan merusak masa depanmu. Aku laki-laki yang ingin membangun masa depan bersamamu.
Kamu bilang, bayangkan kamu ada di sampingku. Baik. Akan aku bayangkan. Setiap senja. Setiap angin berhembus. Setiap kali Mbok Darmi tertawa keras.
Tapi jangan lama-lama hanya bayangan. Aku ingin yang sungguhan. Suatu hari nanti.
Jangan lupa makan. Jangan lupa belajar. Jangan lupa tersenyum meskipun hati sedang berat.
Aku di sini. Sampai kapan pun.
— Andika.”
Andika melipat surat itu. Tidak terlalu rapi, karena tangannya masih gemetar.
Ia berjalan ke lapak Mbok Darmi. “Bu, besok Susan akan ke sini. Tolong kasih surat ini ke Susan ya, Bu.”
“Siap, Mas. Jangan lupa dua gorengan yang Mas janjikan.”
“Besok saya bayar, Bu. Bersama dengan es teh untuk Susan.”
“Baik. Semoga lancar.”
Rumah Reni. Minggu sore, pukul 16.00.
Susan datang lagi dengan sepeda ontelnya. Kali ini lebih berani, ia parkir sepeda di depan pagar, lalu berjalan ke samping rumah Reni. Jendela kamar Reni setengah terbuka.
“Ren!” bisik Susan.
Reni muncul di balik jendela. “Susan! Ada surat lagi?”
“Iya. Dari Mas Andika. Ini.”
Susan menyelipkan surat itu ke sela kusen. Reni mengambilnya dengan cepat.
“Dia bilang apa?”
“Baca sendiri, Ren. Aku nggak baca. Itu rahasia kalian.”
Reni tersenyum. “Kamu baik sekali, Susan. Suatu hari nanti aku akan balas jasa.”
“Balas jasa dengan traktir gorengan aja. Cukup.”
Reni tertawa kecil. Lalu ia membuka surat itu. Membacanya di balik jendela.
Matanya berbinar. Pipinya merona.
“Dia bilang, dia tidak bisa menyerah,” bisiknya.
“Ya, itu Andika. Keras kepala,” kata Susan dari balik jendela.
“Susan, tolong sampaikan ke dia… aku juga tidak akan menyerah.”
“Sampaikan sendiri lewat surat, Ren. Aku cuma kurir.”
“Baik. Nanti malam aku tulis. Besok pagi kamu ambil lagi di jendela.”
“Siap, komandan.”
Susan pergi dengan sepedanya. Reni masih berdiri di balik jendela. Surat itu ia tempelkan di dadanya.
“Andika, kamu benar-benar mengacaukanku,” bisiknya.
Bundaran Besar Kapuas. Minggu sore, pukul 17.00. Hari yang sama.
Rahmat datang. Ia tidak tahu soal surat. Tidak tahu soal Susan. Tapi ia mencium sesuatu.
“Mas Andika,” sapa Rahmat dengan nada dingin.
Andika sedang duduk sendiri di bangku kayu, menunggu Mbok Darmi menggoreng pesanannya.
“Rahmat. Sendirian? Bondan mana?” tanya Andika.
“Bondan ada urusan keluarga. Aku ingin bicara denganmu. Serius.”
Andika menepuk bangku di sampingnya. “Duduk.”
Rahmat duduk. Tidak seperti biasa, kali ini tidak ada provokasi di matanya. Hanya kegelisahan.
“Andika, aku tahu kamu masih dekat dengan Reni. Mungkin tidak secara langsung, tapi lewat perantara,” kata Rahmat.
Andika tidak menjawab. Ia menatap lurus ke perempatan selatan.
“Reni tidak bisa datang ke bundaran. Ponselnya disita. Tapi dia bisa kirim surat. Lewat Susan atau Amilia. Jangan bohong, Mas. Aku punya informasi,” lanjut Rahmat.
“Kalau kamu sudah punya informasi, kenapa kamu tanya saya?” jawab Andika datar.
“Karena aku ingin kamu berhenti.”
“Berhenti apa?”
“Berhenti mengirim surat. Berhenti mengharapkan Reni. Berhenti datang ke bundaran hanya untuk menunggunya.”
Andika menoleh. Matanya tajam. “Kamu siapa, Mat? Kamu teman sekelasnya. Bukan walinya. Bukan papanya. Bukan siapa-siapa.”
“Tapi aku orang yang akan berada di sisinya setelah lulus. Papaku sudah bicara dengan papanya. Ada rencana ke sana.”
“Rencana ke sana? Lamaran? Reni masih SMA, Mat. Jangan gila.”
“Bukan lamaran. Tapi penjajakan. Dan itu lebih maju daripada kamu yang cuma bisa kirim surat cinta diam-diam.”
Andika tersenyum pahit. “Mat, cinta itu bukan lomba. Bukan siapa yang lebih cepat, siapa yang punya akses ke orang tua. Cinta itu tentang perasaan. Dan perasaan Reni ke kamu? Apa dia pernah bilang suka sama kamu?”
Rahmat terdiam.
“Itu jawabannya,” kata Andika.
Rahmat berdiri. Pipinya memerah. Bukan karena malu, tapi karena marah.
“Awas, Mas. Kamu jangan terlalu percaya diri. Orang tua itu punya kuasa. Dan papa Reni lebih percaya keluarga saya daripada mekanik bengkel pinggir jalan.”
“Silakan, Mat. Tapi ingat. Di bundaran ini, semua orang setara. Semua hanya menunggu senja.”
Rahmat mengepalkan tangan. Lalu pergi.
Andika masih duduk. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Pesan dari Amilia: “Mas, Rahmat baru saja nelpon Susan. Dia marah-marah. Susan nangis. Dia tahu soal surat. Hati-hati.”
Andika menghela napas. “Mulai runyam,” bisiknya.
BAB 8
“Pengaduan dari Rahmat”
Rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut. Senin malam, pukul 19.30. Hujan turun sejak sore.
Reni sedang belajar di kamar. Buku Matematika terbuka di halaman 47. Tapi matanya tidak fokus. Pikirannya melayang ke surat Andika yang kini ia sembunyikan di balik kasur, lipatan kertas tipis yang terasa lebih berat dari ribuan halaman buku.
Pintu rumah diketuk dari luar. Keras. Berkali-kali.
“Sebentar!” teriak Ibu Reni dari dapur.
Ia membuka pintu. Di luar berdiri Rahmat, basah kuyup. Jaket almamater SMA-nya meneteskan air ke lantai teras.
“Selamat malam, Bu. Maaf mengganggu,” kata Rahmat.
“Rahmat? Jam segini? Ada apa, Nak?” tanya Ibu Reni heran.
“Saya ingin bicara dengan Papa dan Mama Reni. Penting.”
Ibu Reni memandang Rahmat curiga. “Tunggu sebentar. Papa Reni di ruang tamu.”
Ia masuk ke dalam. Pak Wulandari sedang membaca koran sambil minum kopi.
“Pak, Rahmat datang. Mau bicara penting,” kata Ibu Reni.
Pak Wulandari meletakkan koran. “Rahmat? Anak Pak RT? Suruh masuk.”
Rahmat masuk. Rambutnya basah. Ia menyeka wajah dengan lengan jaket.
“Selamat malam, Pak. Maaf mengganggu,” kata Rahmat dengan hormat.
“Duduk. Ada apa?” tanya Pak Wulandari.
Rahmat duduk di sofa. Matanya melirik ke lorong yang menuju kamar Reni.
“Pak, saya mau melaporkan sesuatu. Tentang anak Bapak. Tentang Reni.”
Ibu Reni ikut duduk. Wajahnya tegang.
“Reni? Ada apa dengan Reni?” tanya Ibu Reni.
“Reni masih berkomunikasi dengan laki-laki itu. Andika. Mekanik dari Jalan Tambun Bungai. Melalui surat,” kata Rahmat.
Pak Wulandari meletakkan cangkir kopinya dengan keras.
“Surat? Kamu yakin?” tanyanya.
“Yakin, Pak. Saya punya informasi dari teman. Susan yang menjadi kurir. Surat dikirim dari Andika ke Reni melalui Susan. Bolak-balik. Sudah beberapa minggu.”
Ibu Reni menutup mulut dengan tangan.
“Pak, saya tidak ingin Reni terjerumus. Saya sayang sama Reni. Saya hanya ingin yang terbaik untuk dia. Dan laki-laki itu tidak pantas untuk Reni,” lanjut Rahmat.
Pak Wulandari berdiri. Wajahnya merah padam.
“Kamu tahu isi suratnya?” tanyanya.
“Saya tidak membaca, Pak. Tapi saya dengar dari Susan, Susan cerita ke Amilia, Amilia cerita ke temannya, dan temannya cerita ke saya. Intinya, Andika berjanji akan setia menunggu Reni di bundaran. Tidak mau menyerah. Meskipun dilarang,” kata Rahmat.
“Kurang ajar,” desis Pak Wulandari.
“Pak, saya hanya melapor karena saya khawatir. Saya tidak ingin Bapak menyalahkan saya di kemudian hari. Saya sudah berusaha mendekati Reni dengan cara baik. Tapi Andika terus mengganggu,” kata Rahmat.
“Baik, Rahmat. Terima kasih informasinya. Kamu pulang dulu. Hujan masih deras. Nanti saya antar,” kata Pak Wulandari.
“Tidak usah, Pak. Saya bawa motor,” kata Rahmat.
“Hati-hati di jalan.”
Rahmat pamit. Setelah pintu tertutup, suasana di ruang tamu berubah mencekam.
“RENI! KELUAR SEKARANG!” bentak Pak Wulandari.
Suaranya mengguncang seluruh rumah.
Pintu kamar Reni terbuka pelan. Reni keluar dengan wajah pucat. Ia sudah mendengar semuanya dari balik pintu.
“Pa…” bisiknya.
“Ke sini! Duduk!” perintah Pak Wulandari.
Reni mendekat. Ia duduk di kursi kecil di hadapan ayahnya. Ibu Reni duduk di samping suaminya, diam, wajahnya tegang.
“Rahmat bilang, kamu masih kirim surat dengan laki-laki itu. Benar?” tanya Pak Wulandari.
Reni menunduk. Diam.
“JAWAB!” bentak Pak Wulandari.
“Benar, Pa,” jawab Reni dengan suara bergetar.
“Suratnya mana?”
“Di kamar, Pa.”
“Ambil!”
Reni berdiri. Ia berjalan ke kamar dengan langkah berat. Dari balik kasur, ia mengambil dua lembar surat, satu dari Andika, satu balasannya. Keduanya sudah agak kusut karena sering dibaca.
Ia membawanya ke ruang tamu. Menyerahkan ke ayahnya.
Pak Wulandari membaca surat pertama. Matanya bergerak cepat. Wajahnya semakin merah.
“Aku di sini. Sampai kapan pun?” ulangnya dengan nada sinis.
“Bacakan, Bu,” katanya pada istrinya.
Ibu Reni mengambil surat kedua — balasan Reni.
Ia membaca pelan.
“Jangan berhenti datang ke bundaran. Meskipun aku tidak ada di sana, bayangkan aku duduk di sampingmu…”
Ibu Reni berhenti. Matanya berkaca-kaca. Tapi bukan karena haru, karena kecewa.
“Ren, kamu menulis ini?” tanya Ibu Reni.
“Iya, Bu,” jawab Reni menangis.
“Kamu minta dia bayangkan kamu di sampingnya? Kamu sadar tidak, ini namanya pacaran diam-diam? Ini melanggar aturan Papa!” suara Ibu Reni meninggi.
“Bu, aku tidak pacaran. Aku hanya .”
“Hanya apa? Hanya bertukar surat cinta? Hanya berjanji setia menunggu? Itu pacaran, Ren! Itu namanya pacaran jarak jauh!” potong Ibu Reni.
Pak Wulandari meremas surat itu. Ia berjalan ke dapur dan mengambil korek api.
“Pa, jangan! Jangan dibakar!” teriak Reni.
Pak Wulandari menyalakan korek api. Ia membakar ujung surat Andika. Api merambat perlahan. Kertas itu menguning, menggulung, lalu berubah menjadi abu hitam yang jatuh ke lantai.
Reni menjerit. Ia berlutut di lantai, mencoba memadamkan api dengan tangannya, tapi hanya abu yang tersisa.
“Pa… pa kenapa?” isaknya.
“Karena itu surat dari laki-laki yang tidak akan pernah Papa izinkan mendekati kamu,” kata Pak Wulandari dingin.
“Rahmat benar. Kamu masih berkomunikasi diam-diam. Kamu berbohong pada Papa.”
“Pa, aku tidak berbohong. Aku hanya tidak bilang. Itu beda,” kata Reni.
“Beda? Sama saja. Kamu sembunyi-sembunyi. Berarti kamu tahu itu salah.”
“Tidak salah, Pa! Tidak ada yang salah dari mencintai dan dicintai!”
Pak Wulandari menampar meja. Gelas kopi jatuh dan pecah.
“CINTA? Kamu masih SMA! Kamu belum tahu apa itu cinta! Yang kamu rasakan itu hanya kegandrungan! Sementara laki-laki itu memanfaatkan kepolosanmu!”
“Andika tidak pernah memanfaatkan aku, Pa! Dia selalu menjaga jarak! Dia tidak pernah memegang tanganku! Tidak pernah minta foto! Tidak pernah mengajak ke tempat gelap! Dia hanya duduk di sampingku di bundaran dan mengobrol! Itu saja!” teriak Reni dengan suara parau.
“Untuk sekarang! Nanti lama-lama dia minta lebih! Itu pola, Ren! Itu sudah terjadi ribuan kali pada ribuan perempuan!” bentak Pak Wulandari.
“Andika berbeda!”
“Tidak ada laki-laki yang berbeda!”
Reni terdiam. Ia menangis tersedu-sedu.
Ibu Reni mendekati, mencoba memeluknya. Tapi Reni menepis.
“Jangan, Bu. Kalau Mama dan Papa tidak percaya sama aku, percuma.”
“Ren, jangan bicara begitu. Mama dan Papa sayang kamu,” kata Ibu Reni.
“Sayang tapi tidak percaya. Sayang tapi mengurung. Sayang tapi membakar surat orang yang membuatku tersenyum setelah sekian lama merasa sendiri,” kata Reni sambil berdiri.
“Kamu ke mana?” tanya Pak Wulandari.
“Ke kamar. Tidak usah khawatir. Saya tidak akan kabur. Di luar hujan. Dan saya tidak punya tempat tujuan. Sekalipun punya, pasti akan segera ditemukan oleh Pak Polisi hebat seperti Papa,” kata Reni sarkastis.
Itu pertama kalinya Reni bicara dengan nada sinis pada ayahnya.
Pak Wulandari terdiam.
Reni masuk ke kamar dan mengunci pintu.
Bengkel Andika, Selasa pagi, pukul 09.00.
Andika sedang memperbaiki motor Beat yang macet karburatornya. Tiba-tiba dua orang laki-laki masuk ke bengkel. Postur tegap. Wajah tidak ramah. Bukan pelanggan.
“Andika Pratama?” tanya salah satu.
“Iya. Saya. Ada yang bisa dibantu?” jawab Andika cuek.
“Kami dari kepolisian. Bukan urusan pidana. Tapi ada laporan dari warga tentang gangguan ketertiban. Kami hanya menyampaikan pesan. Bapak Wulandari meminta Anda datang ke rumahnya. Hari ini. Jam dua siang.”
Andika meletakkan obeng. “Ada masalah apa?”
“Itu urusan Bapak dengan Bapak Wulandari. Kami hanya kurir.”
Andika menghela napas. “Baik. Saya datang.”
Kedua orang itu pergi. Andika memandangi langit-langit bengkel.
“Dimulai lagi,” bisiknya.
Rumah Reni. Selasa siang, pukul 14.00.
Andika datang dengan motor bebek kesayangannya. Jaket lusuh. Jeans kotor kena oli. Rambut tidak rapi.
Rahmat sudah ada di sana. Duduk di ruang tamu, di samping Pak Wulandari. Bondan di samping Rahmat. Ibu Reni di dapur, sengaja tidak ikut. Reni dikunci di kamar.
“Silakan duduk,” kata Pak Wulandari dingin.
Andika duduk di kursi yang telah disediakan. Wajahnya tenang. Tidak takut. Tidak gugup. Hanya lelah.
“Kamu tahu kenapa kamu dipanggil?” tanya Pak Wulandari.
“Tahu, Pak. Soal surat,” jawab Andika.
“Surat itu saya bakar. Kemarin malam.”
Andika diam sesaat. “Itu hak Bapak. Karena surat itu dikirim ke rumah Bapak.”
“Kamu tidak marah?”
“Marah, Pak. Jujur, marah. Tapi surat itu sudah saya tulis dari hati. Isinya tidak pernah saya minta Reni untuk melanggar aturan Bapak. Saya hanya minta dia jangan lupa bahwa ada yang menunggu,” kata Andika.
Rahmat menyela. “Jangan bohong, Mas. Isi surat Anda penuh dengan janji setia dan harapan untuk masa depan. Itu namanya rayuan. Dan Reni terpengaruh.”
Andika menatap Rahmat. “Kamu baca surat saya?”
“Saya tidak baca. Tapi saya dengar.”
“Dengar dari siapa?”
“Dari teman. Itu tidak penting.”
“Penting. Karena kalau kamu tidak membaca langsung, kamu tidak punya hak menafsirkan isinya,” kata Andika tegas.
“Andika, jangan berdebat dengan Rahmat. Dia hanya membantu,” potong Pak Wulandari.
“Bapak, saya minta maaf. Saya tidak bermaksud tidak hormat. Tapi saya merasa diadili di sini tanpa diberi kesempatan membela diri,” kata Andika.
“Kamu mau membela diri? Baik. Katakan. Kenapa kamu mendekati anak saya?” tanya Pak Wulandari.
“Karena saya suka sama Reni, Pak.”
“Suka? Atau cinta? Atau hanya nafsu?”
Andika menegakkan punggungnya. “Saya belum tahu itu cinta atau bukan. Tapi saya tahu, setiap kali saya melihat dia tersenyum, semua masalah saya di bengkel terasa ringan. Setiap kali dia tertawa, dunia terasa lebih berwarna. Setiap kali dia tidak datang ke bundaran, senja terasa hambar.”
“Itu namanya cinta. Tapi cinta anak muda yang masih labil,” kata Pak Wulandari.
“Bapak boleh bilang begitu. Tapi saya tidak akan berhenti menyukai Reni hanya karena Bapak melarang. Saya akan berhenti jika Reni sendiri yang berkata tidak suka,” kata Andika.
“Kamu berani?”
“Saya berani.”
Pak Wulandari berdiri. Ia berjalan ke kamar Reni. Membuka pintu dengan kunci cadangan.
“Reni, keluar!” perintahnya.
Reni keluar. Matanya sembab. Wajahnya pucat. Ia menatap Andika sekilas, lalu menunduk.
“Reni, Papa tanya. Kamu suka sama laki-laki ini?” tanya Pak Wulandari sambil menunjuk Andika.
Reni diam.
“Jawab!”
Reni mengangkat wajah. Air matanya mengalir. “Iya, Pa. Aku suka.”
Rahmat terpekik. Bondan menunduk.
“Sampai sejauh mana?” tanya Pak Wulandari.
“Tidak sejauh mana pun, Pa. Kami hanya berteman. Belum pernah pacaran. Belum pernah pegang tangan. Belum pernah berduaan di tempat sepi. Semua di bundaran. Dengan teman-teman,” jawab Reni dengan suara bergetar.
“Tapi kamu kirim surat. Kamu minta dia bayangkan kamu di sampingnya. Itu sudah melebihi batas.”
“Maafkan aku, Pa. Aku tidak bisa mengendalikan perasaan.”
Pak Wulandari berjalan ke tengah ruangan. Ia menatap Andika.
“Andika, saya kasih dua pilihan. Pertama, kamu berhenti total. Tidak datang ke bundaran. Tidak mengirim surat. Tidak menghubungi Reni dengan cara apa pun. Atau kedua, saya akan pindahkan Reni ke Surabaya. Besok. Saya tidak main-main.”
Andika menoleh ke Reni. Reni menggeleng pelan, isyarat jangan menyerah.
“Pak, saya pilih yang ketiga,” kata Andika.
“Tidak ada pilihan ketiga.”
“Ada. Saya akan menjauh. Tapi tidak berhenti. Saya tidak akan datang ke bundaran untuk sementara waktu. Saya tidak akan mengirim surat. Tapi saya tidak akan berhenti menyayangi Reni. Sampai suatu hari Bapak memberi kesempatan pada saya untuk membuktikan diri.”
Pak Wulandari tertawa sinis. “Kamu pikir kamu bisa mengatur-atur saya?”
“Saya tidak mengatur. Saya hanya menjelaskan.”
Ibu Reni yang dari dapur akhirnya muncul. “Pak, cukup. Ini sudah terlalu panas.”
“Diam, Bu. Ini urusan saya dengan laki-laki ini.”
“Ini juga urusan anak kita! Reni menangis semalaman! Apakah itu yang Bapak inginkan?” teriak Ibu Reni.
Semua terdiam.
“Ibu benar. Maaf, Pak. Saya tidak ingin Reni menangis. Tapi saya juga tidak ingin aturan dilanggar. Andika, kamu sudah dengar pilihan saya. Putuskan sekarang. Kalau tidak, saya akan bawa Reni ke Surabaya besok pagi.”
Andika berdiri. Ia menatap Reni untuk terakhir kalinya.
“Reni, maafkan aku. Aku cinta kamu. Tapi aku tidak mau kamu dipindahkan.”
Lalu ia menatap Pak Wulandari. “Saya berhenti, Pak. Saya tidak akan datang ke bundaran. Saya tidak akan kirim surat. Saya tidak akan hubungi Reni. Tapi saya belum menyerah. Saya hanya menunggu waktu yang tepat.”
Andika berjalan ke pintu. Sebelum keluar, ia menoleh.
“Ren, jangan lupa makan. Jangan lupa belajar. Dan jangan pernah berhenti tersenyum. Meskipun aku tidak ada di bangku itu.”
Andika pergi.
Reni jatuh terduduk di lantai. Ia menangis histeris.
Rahmat bangkit. “Pak, saya pulang dulu. Terima kasih sudah mendengarkan.”
Pak Wulandari hanya mengangguk.
Di luar rumah, hujan baru saja reda. Andika duduk di atas motornya. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia menatap rumah Reni dari kejauhan.
“Sampai jumpa, Ren. Bukan sekarang. Tapi suatu hari nanti,” bisiknya.
Ia menyalakan motor dan pergi meninggalkan Jalan Cilik Kriwut.
Bundaran Besar Kapuas. Sabtu sore, dua minggu kemudian.
Andika tidak datang.
Bangku kayu dekat patung kosong.
Mbok Darmi memandangi bangku itu dari lapaknya. “Mas Andika tidak datang minggu ini,” bisiknya.
Rano, Pajar, Edi, Leni, dan Siska duduk di tikar plastik. Sepi.
“Dika benar-benar berhenti,” kata Rano.
“Bukan berhenti. Dia mundur sementara. Itu beda,” kata Pajar.
“Sama saja. Hasilnya sama. Reni tidak bisa dihubungi. Andika tidak datang. Surat berhenti. Semuanya berhenti,” ujar Leni.
Siska menangis pelan. “Mereka berdua harusnya bahagia. Kenapa jadi begini?”
“Karena cinta tidak selalu mudah. Kadang cinta harus berdarah-darah dulu sebelum bahagia,” kata Edi.
Pajar memetik gitar. Lagu perlahan. Sendu.
Di kamar Reni, Sabtu sore pukul 17.00:
Reni duduk di dekat jendela. Ia menatap ke selatan , ke arah bundaran yang tidak bisa ia lihat.
“Kamu tidak datang, Dika,” bisiknya.
Ia membuka buku tulis. Menulis satu kalimat kecil di halaman paling belakang:
“Bundaran tanpa Andika, seperti senja tanpa warna.”
Ia menutup buku. Menangis. Lalu tidur. Mimpi buruk tentang surat yang terbakar dan Andika yang pergi.
BAB 9
“Rahasia di Balik Kelulusan”
Rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut. Tiga bulan kemudian. Maret, pukul 06.00 pagi. Musim kemarau mulai menyapa.
Reni bangun lebih awal dari biasanya. Hari ini adalah hari terakhir ujian sekolah. Setelah ini , kelulusan. Tiga bulan sudah ia tidak ke bundaran. Tiga bulan sudah ia tidak menerima surat. Tiga bulan sudah ia tidak mendengar nama Andika disebut oleh siapa pun.
Tiga bulan yang terasa seperti tiga abad.
Ia duduk di meja belajarnya. Di atas meja, buku catatan Matematika masih terbuka di halaman 72 , halaman yang sama sejak tiga bulan lalu. Reni tidak pernah melewati halaman itu. Bukan karena materinya sulit. Tapi karena di balik buku itu, terselip secarik kertas kosong.
Kertas yang sedianya akan ia gunakan untuk menulis surat balasan terakhir untuk Andika. Surat yang tidak pernah ia kirim karena kurirnya Susan , juga ikut dilarang main ke rumah setelah Pak Wulandari mengetahui perannya.
“Ren, sarapan!” teriak Ibu Reni dari dapur.
Reni tidak menjawab. Ia masih menatap kertas kosong itu.
“Reni Ayu Wulandari! Jangan membuat Mama memanggil sampai tiga kali!” suara Ibu Reni meninggi.
“Iya, Bu. Sebentar,” jawab Reni malas.
Ia berjalan ke dapur. Ibu Reni menyajikan nasi goreng dengan telur ceplok. Kesukaannya. Tapi hari ini Reni tidak merasa lapar.
“Makan. Jangan banyak pikir. Besok pengumuman kelulusan,” kata Ibu Reni.
“Iya, Bu.”
“Doain biar lulus. Amilia, Susi, Susan, kalian satu angkatan. Semoga semuanya lulus.”
“Bu, boleh tanya?”
“Apa?”
“Andika… apa masih sering ke bundaran?”
Ibu Reni berhenti mengaduk nasi. Wajahnya berubah tegang.
“Ren, sudah tiga bulan. Papa melarang. Kamu juga sudah berjanji tidak akan mencari tahu soal dia. Kenapa sekarang kamu tanya lagi?”
“Karena aku ingin tahu, Bu. Hanya tahu. Tidak bertemu. Tidak kirim surat. Hanya tahu apakah dia baik-baik saja,” kata Reni.
Ibu Reni menghela napas. “Mama tidak tahu, Ren. Mama juga tidak mau tahu. Yang penting kamu fokus ujian dulu. Lulus SMA, urusan nanti.”
Reni menunduk. Ia mengambil sendok dan mulai makan. Seteguk. Dua teguk. Lalu berhenti.
“Aku kenyang, Bu.”
“Kamu belum habis setengah.”
“Aku kenyang. Izin ke kamar.”
Reni bangkit dan meninggalkan piringnya. Ibu Reni hanya bisa menggeleng.
Bengkel Andika, Jalan Tambun Bungai. Maret, pukul 10.00.
Andika sedang memperbaiki motor Vixion milik seorang pemuda desa. Tangannya hitam oleh oli. Wajahnya kusam. Kurang tidur. Pajar berdiri di sampingnya sambil memegang obeng.
“Dika, lo sudah tiga bulan nggak ke bundaran. Kapan lo mau balik?” tanya Pajar.
“Belum tahu, Jar. Papa Reni masih panas.”
“Panas terus? Kayak setrika listrik?”
“Lebih panas dari itu.”
Edi yang sedang duduk di kursi plastik ikut nimbrung. “Lo nggak kangen sama Reni?”
Andika berhenti memutar baut. Ia mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan.
“Kangen, Edi. Tapi apa gunanya kangen kalau aku muncul, dia malah dipindah ke Surabaya? Aku lebih baik diam di sini daripada dia menderita.”
“Lo rela kehilangan dia?” tanya Edi.
“Aku tidak kehilangan. Aku hanya memberi jarak. Berbeda.”
Rano datang dengan bungkusan nasi pecel. “Gue beli makan siang. Buat semua. Udah pada laper, kan?”
“Lo baru ingat teman kalau perut lo udah terisi duluan, ya, No?” ledek Pajar.
“Yang penting kalian dapet jatah. Jangan banyak komentar.”
Mereka makan bersama di teras bengkel. Sunyi. Tidak seperti biasanya. Dulu, saat Andika masih semangat, setiap makan selalu diwarnai tawa dan ledekan tentang Reni. Sekarang, nama itu seperti buah terlarang yang tidak boleh disebut.
“Dika,” panggil Rano tiba-tiba.
“Apa?”
“Lo tahu nggak? Lusa pengumuman kelulusan SMA. Reni dan teman-temannya akan lulus.”
Andika berhenti mengunyah. “Iya. Amilia bilang lewat WA minggu lalu. Tapi Amilia juga bilang, Reni belum bisa main ke bundaran. Orang tuanya masih ketat.”
“Tapi setelah lulus, aturannya mungkin berubah. Kan sudah tidak SMA lagi. Bisa kuliah atau kerja. Aturan ‘tidak pacaran sampai kuliah’ itu mulai goyah,” kata Rano.
“Lo tiba-tiba jadi ahli hukum keluarga, No?” ledek Pajar.
“Gue tidak ahli. Tapi gue logika. Orang tua melarang karena anaknya masih sekolah. Begitu anaknya lulus, larangan itu seharusnya longgar. Apalagi kalau anaknya sudah punya rencana kuliah atau kerja,” jelas Rano.
Andika menatap Rano lama. “Lo yakin?”
“Yakin? Tidak. Tapi gue optimis. Dan lo butuh optimisme, Dika. Lo sudah tiga bulan jadi pesimis. Bengkel lo mulai sepi karena muka lo kayak orang lagi puasa sunnah terus. Nggak ramah,” kata Rano.
Edi dan Pajar tertawa. Andika tersenyum kecil , senyum pertama dalam tiga bulan.
“Baik. Lusa, setelah pengumuman kelulusan, aku akan ke rumah Reni. Bukan untuk menemui dia. Tapi untuk menemui papanya. Saya akan bicara sebagai laki-laki ke laki-laki,” kata Andika.
“Lo berani, Dika? Papa Reni itu mantan polisi. Bisa saja lo ditembak dengan kata-kata atau dengan tangan kosong,” kata Pajar.
“Aku tidak takut. Karena aku tidak salah.”
Rano mengacungkan jempol. “Itu dia Dika yang gue kenal.”
SMA Negeri 1 Kuala Kapuas. Kamis pagi, pukul 08.00. Pengumuman kelulusan.
Halaman sekolah dipenuhi orang tua dan siswa. Ada yang tertawa, ada yang menangis. Reni berdiri di barisan depan bersama Amilia, Susi, dan Susan. Mereka berempat kompak memakai baju bebas, batik warna cerah.
“Deg-degan, Ren. Lo gugup nggak?” tanya Amilia.
“Gugup. Tapi lebih gugup memikirkan masa depan daripada nilai,” jawab Reni.
“Masa depan lo jelas. Kuliah di Palangkaraya. Papa sudah urus semuanya,” kata Susi.
“Belum tentu. Aku belum setuju.”
“Apa? Lo belum setuju? Papa lo sudah daftarkan lo ke Universitas Palangkaraya jurusan Ekonomi. Lo bilang belum setuju?” tanya Susi kaget.
Reni menghela napas. “Aku mau kuliah di Banjarmasin. Di Universitas Lambung Mangkurat. Jurusan Psikologi. Itu impianku sejak SMA.”
“Banjarmasin? Jauh, Ren. Dan papa lo pasti tidak setuju. Terlalu jauh. Tidak bisa diawasi,” kata Susan pelan.
“Itu sebabnya aku mau diawasi. Karena kalau terlalu dekat, papa akan terus mengatur hidupku. Aku mau belajar mandiri,” kata Reni.
Kepala sekolah naik ke panggung. Pidato singkat. Lalu pengumuman kelulusan dibacakan satu per satu.
Reni lulus. Amilia lulus. Susi lulus. Susan lulus.
Semua menangis. Termasuk Reni.
“Kita lulus!” teriak Susi sambil melompat.
“Dua belas tahun sekolah, selesai sudah!” tambah Amilia.
Mereka berpelukan. Reni memeluk sahabat-sahabatnya erat-erat.
“Teman-teman, aku ingin kalian tahu sesuatu,” kata Reni tiba-tiba.
“Apa?” tanya Amilia.
“Aku tidak akan kuliah di Palangkaraya. Aku sudah mendaftar mandiri ke Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Dua minggu lalu. Tanpa sepengetahuan papa.”
Amilia, Susi, dan Susan membeku.
“Lo gila, Ren! Papa lo pasti marah besar!” kata Susi.
“Biar marah. Aku sudah lulus SMA. Aku bukan anak kecil lagi. Aku berhak menentukan masa depanku sendiri,” kata Reni.
“Tapi papa lo bisa potong biaya. Lo nggak punya uang sendiri,” kata Amilia.
“Aku sudah kerja paruh waktu di toko buku sejak dua bulan lalu. Papa tidak tahu. Uangnya aku tabung. Cukup untuk daftar ulang dan hidup beberapa bulan di Banjarmasin sambil mencari kerja paruh waktu di sana,” kata Reni.
“Kamu hebat, Ren. Tapi ini gila,” kata Susan.
“Gila atau berani. Aku belum tahu. Tapi aku tidak bisa terus-terusan hidup dalam kotak yang papa buat. Aku bukan boneka,” kata Reni.
Dari kejauhan, Pak Wulandari dan Ibu Reni berjalan mendekat. Wajah Pak Wulandari ceria jarang sekali.
“Ren! Kamu lulus! Papa bangga!” seru Pak Wulandari sambil membuka tangan.
Reni memeluk ayahnya, tapi tidak lama.
“Pa, aku ingin bicara.”
“Nanti di rumah. Sekarang kita foto dulu.”
“Tidak, Pa. Sekarang. Di sini.”
Pak Wulandari mengernyit. “Serius?”
“Serius.”
Mereka berjalan ke sudut halaman yang lebih sepi. Ibu Reni ikut. Amilia, Susi, dan Susan menunggu di kejauhan dengan waswas.
“Ada apa, Ren?” tanya Ibu Reni.
“Pa, Bu, aku tidak akan kuliah di Palangkaraya. Aku sudah mendaftar ke Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Jurusan Psikologi. Aku sudah diterima. Suratnya datang minggu lalu.”
Pak Wulandari terdiam. Wajahnya berubah dari ceria menjadi tegang, lalu merah padam.
“Kamu daftar tanpa izin Papa?”
“Iya, Pa.”
“Pakai uang siapa?”
“Uang tabungan aku dari kerja paruh waktu.”
“Kerja paruh waktu? Di mana? Kapan? Papa tidak tahu apa-apa!” suara Pak Wulandari mulai meninggi.
“Karena Papa tidak pernah bertanya. Papa hanya sibuk mengatur. Papa tidak pernah duduk dan bertanya, ‘Ren, kamu sebenarnya mau apa? Cita-citamu apa? Kamu bahagia nggak dengan hidup yang papa atur?’”
“Kamu kurang ajar!” bentak Pak Wulandari.
“Bukan kurang ajar. Ini keberanian. Keberanian yang selama ini papa matikan dengan aturan-aturan keras,” kata Reni dengan suara bergetar tapi tegas.
Ibu Reni mencoba menengahi. “Ren, bicaralah baik-baik dengan Papa. Jangan pakai nada begitu.”
“Bu, aku sudah tiga bulan diam. Tiga puluh tahun lagi pun aku akan diam kalau tidak berani. Tapi aku tidak mau. Aku lulus SMA. Aku sudah dewasa. Aku berhak memilih.”
Pak Wulandari menghela napas panjang. Ia menatap anaknya dengan sorot mata yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya campuran antara marah, kecewa, dan sedikit... bangga?
“Banjarmasin jauh, Ren. Papa tidak bisa mengawasi kamu.”
“Itu sebabnya aku ke Banjarmasin, Pa. Karena aku ingin belajar mandiri. Bukan karena ingin menjauhi Papa. Tapi karena ingin menjadi pribadi yang tidak selalu bergantung.”
“Kamu putuskan ini setelah kenal Andika?” tiba-tiba Pak Wulandari bertanya.
Reni terdiam. Nama itu seperti silet di tenggorokan.
“Keputusanku kuliah di Banjarmasin tidak ada hubungannya dengan Andika, Pa. Aku sudah memikirkan ini sejak kelas XI. Jauh sebelum Andika muncul di bundaran.”
“Papa tidak percaya.”
“Terserah Papa. Tapi itu fakta.”
Pak Wulandari membalikkan badan. Ia berjalan ke arah mobil. Ibu Reni mengejar.
“Pak! Tunggu! Jangan marah dulu!”
“Saya tidak marah, Bu. Saya kecewa.”
Mobil Avansa hitam itu melaju meninggalkan halaman sekolah.
Reni berdiri di tempat. Air matanya mengalir. Tapi ia tidak mengejar.
“Lo hebat, Ren,” kata Susi dari belakang.
“Aku tidak hebat. Aku hanya lelah.”
Bundaran Besar Kapuas. Kamis sore, pukul 16.00. Hari pengumuman kelulusan.
Andika datang. Pertama kalinya dalam tiga bulan.
Ia duduk di bangku kayu dekat patung. Hanya sendirian. Pajar, Edi, Rano, Leni, Siska semuanya sibuk. Tapi Andika memutuskan datang. Bukan untuk menunggu Reni. Tapi untuk menepati janjinya sendiri: bahwa bundaran ini tetap menjadi tempatnya, meski tanpa Reni.
Mbok Darmi menghampiri. “Mas Andika, lama tidak lihat. Tiga bulan, ya?”
“Iya, Bu. Sibuk bengkel.”
“Jangan bohong. Saya tahu soal surat, soal papa Reni, soal larangan. Seluruh bundaran tahu. Coba lihat sekeliling. Semua orang di sini kenal Mas. Mereka juga kenal Reni. Dan mereka tahu cerita kalian.”
Andika menunduk. “Maaf, Bu. Saya tidak tahu kalau bundaran sedramatis itu.”
“Bundaran ini tempatnya orang-orang yang punya cerita. Dan cerita Mas dan Reni adalah yang paling menarik sepanjang dua puluh tahun saya jualan di sini,” kata Mbok Darmi sambil tertawa.
“Jadi, sekarang saya harus apa, Bu?”
“Duduk. Nikmati senja. Tunggu. Karena waktu tidak akan mengkhianati orang yang setia menunggu.”
Mbok Darmi kembali ke lapaknya.
Andika menatap langit. Matahari mulai bergeser ke barat. Warna jingga mulai muncul.
Tiba-tiba, dari perempatan selatan, sebuah motor bebek merah berhenti. Amilia turun. Wajahnya memerah bukan karena senja, tapi karena terburu-buru.
“Mas Andika!” teriak Amilia sambil berlari kecil.
Andika berdiri. “Amil? Ada apa? Kenapa kamu ke sini? Bukannya hari ini pengumuman kelulusan?”
“Iya! Kita semua lulus! Tapi itu bukan yang utama. Mas, Reni mendaftar kuliah di Banjarmasin! Tanpa sepengetahuan orang tuanya! Dia sudah diterima! Hari ini dia mengumumkan ke papanya! Papanya marah besar! Tapi Reni tidak mundur!”
Andika terdiam. Dadanya berdebar.
“Banjarmasin? Dia kuliah di Banjarmasin?”
“Iya! Universitas Lambung Mangkurat! Jurusan Psikologi! Dia kerja paruh waktu diam-diam selama dua bulan buat nabung biaya daftar ulang! Dia hebat, Mas!”
Andika tersenyum. Senyum yang sungguh-sungguh.
“Dia memang hebat. Sejak awal aku sudah bilang.”
“Tapi Mas, ada yang lebih penting. Reni minta aku sampaikan sesuatu. Dia bilang… dia akan ke Banjarmasin. Tapi sebelum berangkat, dia ingin ke bundaran. Satu kali saja. Untuk mengucapkan selamat tinggal.”
Andika menelan ludah. “Kapan?”
“Besok. Jumat sore. Jam empat. Papa dan ibunya sedang sibuk ngurus administrasi pindahan ke Banjarmasin mereka akhirnya setuju setengah hati. Rumah akan kosong. Reni bisa keluar diam-diam. Tapi hanya satu jam. Dia minta kamu datang.”
“Aku pasti datang. Aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan terakhir.”
“Bukan kesempatan terakhir, Mas. Ini awal yang baru. Tapi aku harus pergi sekarang. Sampaikan salam ke teman-teman yang lain.”
Amilia naik motor bebeknya dan pergi.
Andika masih berdiri. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Tapi karena harapan yang selama tiga bulan terkubur, kini mulai tumbuh lagi.
“Besok,” bisiknya.
Ia memandang ke arah barat. Matahari hampir tenggelam. Sempurna.
Rumah Reni. Kamis malam, pukul 20.00.
Reni duduk di kamarnya. Koper kecil sudah setengah penuh. Baju, buku catatan, dan di sudut koper secarik kertas yang dulu ia sisipkan di buku Matematika.
Kertas itu kini sudah tidak kosong. Ia sudah menulis. Surat untuk Andika. Surat yang tidak akan ia kirimkan, tapi akan ia berikan langsung.
Ia membaca ulang tulisannya:
“Andika, besok aku akan ke bundaran. Untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke Banjarmasin. Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi setelah ini. Tapi satu hal yang aku tahu: tiga bulan tanpa kamu, rasanya seperti tiga puluh tahun.
Kamu bilang dulu, cinta tidak butuh waktu lama untuk tumbuh. Aku baru percaya sekarang. Aku cinta kamu, Andika. Mungkin sudah sejak pertama kali kamu menyenggol bahuku sampai aku jatuh.
Besok, aku ingin melihat matamu. Sekali lagi. Untuk terakhir kalinya. Dan setelah itu, aku akan pergi. Bukan karena aku berhenti mencintai. Tapi karena aku harus menjadi dewasa. Dan orang dewasa kadang harus memilih jalan sendiri sebelum bisa berjalan bersama.
Tunggu aku di bangku kayu dekat patung. Seperti biasa. Aku akan datang. Janji.
— Reni.”
Reni melipat surat itu rapi. Ia letakkan di saku celananya. Besok akan ia berikan.
“Besok, Dika. Besok,” bisiknya.
Ia memejamkan mata. Membayangkan bundaran. Membayangkan senja. Membayangkan Andika yang duduk di bangku kayu, tersenyum padanya.
“Aku tidak akan pernah melupakanmu. Sampai kapan pun.”
BAB 10
“Senja Itu Bernama Reni”
Bundaran Besar Kapuas. Jumat sore, pukul 15.30. Satu hari setelah pengumuman kelulusan.
Andika datang dua jam lebih awal.
Ia tidak bisa diam di rumah. Tidak bisa diam di bengkel. Tidak bisa diam di mana pun. Pikirannya hanya satu: Reni akan datang. Hari ini. Setelah tiga bulan. Setelah seratus delapan puluh hari tidak melihat wajahnya. Setelah ribuan jam memikirkan namanya dalam diam.
Ia duduk di bangku kayu dekat Kolam. Bangku yang sama. Posisi yang sama. Seperti pertama kali mereka bertemu. Tapi kali ini, Andika membawa sesuatu.
Sebuah kotak kecil.
Isinya? Ia sendiri belum yakin apakah akan memberikannya. Tapi ia membawanya. Untuk jaga-jaga.
“Mas Andika? Sudah dari tadi?” sapa Mbok Darmi dari lapaknya.
“Iya, Bu. Hari ini spesial,” jawab Andika sambil tersenyum.
“Reni datang?”
“Insyaallah.”
“Bagus. Saya siapkan es cincau susu untuk kalian berdua. Gratis. Hadiah dari saya untuk pasangan yang bertahan di tengah badai.”
Andika tersenyum. “Terima kasih, Bu. Tapi kami bukan pasangan. Belum.”
“Bentar lagi jadi. Saya lihat dari mata Mas. Tidak ada keraguan. Hanya keyakinan.”
Mbok Darmi kembali ke lapaknya. Andika menghela napas. Ia memandang ke perempatan selatan arah Jalan Cilik Kriwut. Sama seperti dulu. Setiap akhir pekan. Hanya kali ini, ia tidak perlu menunggu lama.
Pukul 16.00.
Sebuah motor bebek merah berhenti di pinggir taman. Amilia turun. Di belakangnya, Susi. Di boncengan motor lain, Susan.
Tapi Reni? Tidak terlihat.
Andika berdiri. Cemas.
“Mas Andika!” teriak Amilia sambil berlari.
“Reni mana?” tanya Andika cepat.
“Tenang. Dia sedang jalan kaki dari perempatan depan. Dia minta turun di sana biar tidak terlalu mencolok. Katanya mau menikmati jalan sendiri,” kata Amilia.
“Sendiri? Aman?”
“Aman. Rumahnya sepi. Papa dan ibunya ke kantor urusan pindahan. Reni punya waktu satu jam. Maksimal. Dia harus kembali sebelum magrib,” kata Susi.
Susan menambahkan pelan, “Dia sudah berubah, Mas. Lebih tegas. Lebih dewasa. Tiga bulan tidak bertemu siapa pun membuatnya banyak berpikir.”
Andika mengangguk. “Aku tahu. Aku juga berubah.”
Dari ujung selatan jalan pemuda, sosok perempuan berjalan perlahan.
Rambutnya lebih panjang dari tiga bulan lalu. Tidak diikat, hanya terurai sebahu. Baju krem baju yang sama saat pertama kali Andika menjatuhkannya. Jaket almamater SMA melambung tipis. Wajahnya tidak merona, tapi tidak pucat. Ada kematangan di matanya.
Dan kakinya? Tidak pincang. Berjalan normal.
Andika tersentak. “Tunggu. Kakinya sembuh?”
Amilia tersenyum. “Iya, Mas. Kecelakaan dulu? Itu hanya memar parah. Bukan patah. Reni melebih-lebihkan waktu itu supaya papa-nya tidak terlalu marah. Tapi ternyata papa-nya malah tambah khawatir. Jadi bumerang.”
Andika menggeleng. “Dasar perempuan. Suka dramatis.”
“Kata siapa hanya perempuan? Laki-laki juga,” ledek Susi.
Reni semakin dekat. Jarak lima puluh meter. Empat puluh. Tiga puluh.
Andika tidak bisa diam. Ia berjalan menyambut.
Langkahnya cepat. Hampir berlari. Ia berhenti dua meter di depan Reni.
Mereka saling menatap.
“Reni,” panggil Andika dengan suara parau.
“Andika,” balas Reni pelan.
“Kamu baik-baik saja?”
“Aku yang harus tanya itu. Wajahmu kusam. Matamu cekung. Apa kamu tidak makan?”
“Aku makan. Tapi tidak nafsu. Sebab yang aku rindukan bukan nasi, tapi senyumanmu.”
Reni tertawa kecil. “Masih sok romantis. Tidak berubah.”
“Tidak berubah. Karena aku tidak ingin berubah. Aku ingin tetap menjadi orang yang menunggumu di bangku ini.”
Reni menunduk. Matanya berkaca-kaca. “Andika, aku mau minta maaf.”
“Minta maaf untuk apa?”
“Untuk tiga bulan ini. Aku tidak bisa hubungi kamu. Aku tidak bisa bales suratmu yang terakhir. Aku tidak bisa bela kamu di depan papa.”
“Kamu tidak perlu minta maaf. Itu bukan salahmu. Itu situasi.”
“Tapi aku merasa bersalah. Karena aku terlalu takut,” kata Reni.
Andika mendekat. Jaraknya kini hanya setengah meter.
“Reni, lihat aku.”
Reni mengangkat wajah. Matanya merah.
“Aku tidak pernah menyalahkanmu. Satu hari pun tidak. Yang aku rasakan hanya rindu. Rindu yang tidak bisa aku ungkapkan lewat surat, karena surat itu terbakar. Rindu yang tidak bisa aku sampaikan lewat telepon, karena ponselmu disita. Rindu yang hanya bisa aku tumpahkan dengan datang ke bundaran setiap minggu meskipun kau dan aku tidak datang lagi setelah dipanggil papamu. Tapi setiap minggu, bayanganmu selalu ada di bangku ini. Selalu.”
Reni tidak bisa menahan tangis. Ia menangis. Bukan isak tangis sedih, tapi tangis lega.
“Aku kira kamu sudah melupakanku,” isaknya.
“Melupakanmu? Mustahil. Aku lebih mudah melupakan cara mengganti kopling motor daripada melupakan namamu,” kata Andika sambil tersenyum.
Amilia, Susi, dan Susan yang menonton dari kejauhan ikut menangis.
“Mereka berdua lucu banget,” kata Susi sambil mengelus mata.
“Bukan lucu. Ini romantis tingkat dewa,” kata Amilia.
“Diam kalian. Jangan ganggu,” bisik Susan.
Andika menunjuk ke bangku kayu. “Duduk dulu. Mbok Darmi sudah menyiapkan es cincau susu untuk kita berdua.”
Reni tersenyum. “Mbok Darmi masih ingat aku?”
“Seluruh bundaran ingat kamu. Kamu itu legenda di sini.”
“Legenda apa? Legenda anak SMA yang dilarang pacaran?”
“Legenda cinta yang bertahan meski dilarang.”
Mereka duduk di bangku yang sama. Jarak satu telapak tangan. Tidak lebih dekat, tidak lebih jauh. Sama seperti dulu.
Mbok Darmi datang membawa dua gelas es cincau susu dan sepiring gorengan.
“Ini, Neng. Khusus untuk kamu dan Mas Andika. Gratis. Jangan lupa doakan dagang saya laris,” kata Mbok Darmi.
“Terima kasih, Bu. Tapi jangan gratis terus. Nanti Mas Andika kebiasaan,” kata Reni sambil melirik Andika.
“Sudah saya bilang tadi, ini hadiah. Untuk pasangan yang bertahan di tengah badai.”
“Bu, kami bukan pasangan,” kata Reni.
“Bentar lagi. Saya lihat dari mata Mas Andika. Tidak ada keraguan. Hanya keyakinan. Begitu juga dari mata Neng. Sama.”
Mbok Darmi pergi. Reni menunduk. Pipinya merona.
“Dia tahu-tahu amat,” gumam Reni.
“Dia sudah dua puluh tahun di bundaran. Dia lebih tahu soal cinta daripada kita,” kata Andika.
Mereka minum es cincau susu dalam diam. Nikmat. Dingin. Melegakan.
“Andika, aku punya sesuatu untukmu,” kata Reni tiba-tiba.
Ia mengeluarkan secarik kertas dari saku celananya. Kertas lipat. Tidak rapi, tapi jelas dibaca berkali-kali.
“Apa ini?” tanya Andika.
“Baca nanti setelah aku pulang. Jangan sekarang.”
“Kenapa?”
“Karena aku malu.”
Andika tersenyum. Ia mengambil kertas itu dan menyimpannya di saku dalam jaketnya dekat dengan jantung. Tepat di samping kotak kecil yang ia bawa sejak tadi.
“Aku juga punya sesuatu untukmu,” kata Andika.
Ia mengeluarkan kotak kecil itu. Tidak dibungkus kado. Hanya kotak kayu kecil berwarna coklat tua.
Reni menatap kotak itu. “Apa itu? Jangan kado pernikahan. Kita baru ketemu lagi.”
Andika tertawa. “Bukan. Ini… kenang-kenangan. Untuk kamu bawa ke Banjarmasin.”
Reni membuka kotak itu pelan-pelan.
Di dalamnya, sebuah gelang tali kulit sederhana dengan gantungan mini berbentuk motor dan buku.
“Motor untuk kenangan aku yang mekanik. Buku untuk kenangan kamu yang mau jadi psikolog,” kata Andika.
Reni memegang gelang itu. Tangannya gemetar.
“Andika… kamu buat ini sendiri?”
“Iya. Gelang talinya aku rajut sendiri di bengkel. Motornya aku pesan sama pengrajin tembaga di Pasar Kapuas. Bukunya aku beli di toko buku bekas, gantungannya aku lepas dari gantungan kunci.”
Reni tidak bisa berkata-kata. Air matanya jatuh lagi.
“Kamu menangis lagi. Hari ini kedua kalinya,” kata Andika.
“Karena kamu membuatku menangis. Bahagia sekaligus sedih.”
“Kenapa sedih?”
“Karena aku akan pergi ke Banjarmasin. Jauh. Dan aku tidak tahu kapan kita bisa bertemu lagi.”
Andika mengambil gelang itu dari kotak. Ia meraih tangan kanan Reni perlahan, dengan hormat lalu mengenakan gelang itu di pergelangan tangannya.
“Nah. Sekarang kamu bawa aku ke Banjarmasin lewat gelang ini. Setiap kamu lihat gelang ini, kamu ingat, ada mekanik kampung yang menunggumu di Bundaran Besar Kapuas,” kata Andika.
Reni menatap gelang di tangannya. Lalu menatap Andika.
“Andika, aku cinta kamu,” kata Reni.
Andika terdiam. Jantungnya berdegup kencang.
“Apa?” tanyanya, seolah tidak percaya.
“Aku bilang, aku cinta kamu. Mungkin sudah sejak pertama kali kamu menyenggol bahuku sampai aku jatuh. Mungkin sudah sejak kamu traktir kami es cincau susu. Mungkin sudah sejak kamu bilang ‘aku di sini, sampai kapan pun’. Tapi aku baru berani bilang sekarang,” kata Reni.
Andika tidak menjawab. Ia hanya tersenyum. Senyum terlebar dalam hidupnya.
“Kenapa kamu diam?” tanya Reni cemas.
“Karena aku sedang menikmati kalimat yang sudah delapan bulan aku tunggu. ‘Aku cinta kamu.’ Tiga kata. Sederhana. Tapi rasanya seperti seluruh senja di dunia ini menyala di dadaku.”
“Jadi kamu balas apa?”
Andika menggenggam tangan Reni. “Aku juga cinta kamu, Reni. Sejak kamu bilang ‘nggak papa’ waktu aku buat kamu jatuh. Sejak kamu tersenyum meskipun sandal jepitmu lepas. Sejak kamu bilang ‘salam kenal, Mas.’ Aku cinta kamu. Tidak akan berubah. Sampai kapan pun.”
Mereka berpegangan tangan. Di bangku kayu dekat Kolam. Di tepi bundaran yang ramai. Di bawah langit yang mulai jingga.
Dari kejauhan, Amilia, Susi, dan Susan berteriak kegirangan.
“Mereka pacaran! Mereka pacaran!” teriak Susi.
“Diam, Sus! Jangan teriak! Nanti papa Reni dengar!” cegah Amilia.
“Papa Reni lagi di kantor, Amil. Aman.”
Susan hanya tersenyum. Ia memfoto mereka berdua dari kejauhan.
“Reni, aku mau janji sama kamu,” kata Andika.
“Apa?”
“Kamu kuliah di Banjarmasin. Fokus. Belajar yang baik. Raih gelar psikologmu. Aku di sini akan mengurus bengkel. Mengumpulkan uang. Membangun masa depan. Dan ketika kamu lulus, ketika kamu sudah menjadi sarjana, ketika kamu sudah siap aku akan datang ke rumahmu. Bukan sebagai mekanik yang ditolak papamu. Tapi sebagai laki-laki yang sudah punya usaha mapan, yang siap meminangmu.”
Reni menangis lagi. “Kamu yakin bisa tunggu setidaknya empat tahun?”
“Empat tahun? Aku sudah menunggumu delapan bulan dalam situasi yang tidak jelas. Empat tahun dengan kepastian bahwa kamu akan kembali? Itu mudah.”
“Kamu gila, Andika.”
“Gila karena cinta. Itu penyakit paling indah.”
Reni tertawa. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu Andika. Hanya sebentar. Lima detik. Tapi terasa lama.
“Aku harus pulang, Dika. Magrib sebentar lagi.”
“Aku antar.”
“Jangan. Nanti dilihat orang. Aku akan jalan sendiri. Amilia sudah menunggu di pertigaan.”
Andika melepas genggamannya. “Baik. Hati-hati di jalan.”
Reni berdiri. Ia menatap Andika untuk terakhir kalinya hari itu.
“Gelang ini tidak akan aku lepas. Sampai kapan pun,” katanya.
“Kalau sudah lulus, ganti dengan cincin,” kata Andika.
Reni tersenyum. Ia berjalan ke arah selatan. Sekali lagi, ia menoleh. Andika masih berdiri di bangku kayu. Tangan kanannya terangkat lambaian pelan.
Reni membalas lambaian itu. Lalu pergi.
Andika duduk kembali. Ia mengeluarkan surat dari saku dalam jaketnya. Surat yang diberikan Reni.
Ia membuka lipatan itu. Membaca perlahan.
“Andika, besok aku akan ke bundaran. Untuk terakhir kalinya sebelum aku berangkat ke Banjarmasin...”
Dibaca sampai habis.
Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya setelah tiga bulan, Andika menangis.
“Reni Ayu Wulandari. Kamu benar-benar membuatku jatuh cinta berkali-kali,” bisiknya.
Rumah Reni, Jumat sore pukul 17.45. Magrib.
Reni masuk ke kamarnya. Koper masih setengah penuh. Ia membuka kotak kayu pemberian Andika dan mengeluarkan gelang itu.
Ia kenakan di pergelangan tangan kanannya. Lapisan kulitnya lembut. Gantungan motor dan buku beradu pelan.
“Aku akan bawa kamu ke Banjarmasin, Dika. Di tanganku. Di hatiku. Selalu,” bisiknya.
Dari kejauhan, suara azan Magrib berkumandang.
Bengkel Andika, Jumat malam.
Andika duduk di teras. Pajar, Edi, Rano, Leni, Siska datang semua. Mereka merayakan sesuatu bukan keberhasilan bisnis, tapi keberhasilan hati.
“Dika, lo sekarang resmi punya pacar jarak jauh. Banjarmasin-Kapuas. Lumayan strategis,” kata Rano sambil mengunyah gorengan.
“Bukan jarak jauh. Ini investasi jangka panjang,” kata Andika.
“Investasi apa?” tanya Leni.
“Investasi hidup. Empat tahun dari sekarang, dia lulus, aku nikahi.”
“Jangan ngaret, Dika. Empat tahun itu lama. Bisa saja ada Rahmat-Rahmat lain di Banjarmasin,” ledek Pajar.
“Aku percaya sama Reni. Dan dia sudah punya gelang dari aku. Itu lebih kuat daripada cincin,” kata Andika.
Siska memeluk Andika dari samping. “Kamu hebat, Dika. Jarang ada laki-laki sekuat kamu.”
“Bukan kuat. Ini cinta.”
Mereka tertawa. Minum kopi. Makan gorengan sisa Rano.
Dan di kejauhan, bundaran tetap ramai. Senja telah pergi, digantikan malam. Tapi janji tetap ada.
BAB 11
“Jarak Bukan Penghalang”
Terminal kecil Kuala Kapuas. Minggu pagi, pukul 06.00. Sehari setelah pertemuan di bundaran.
Matahari baru saja naik. Embun masih menempel di rumput pinggir terminal. Suara mesin bis tua meraung-raung, bersaing dengan teriakan kernet yang menawarkan kursi.
“Banjarmasin! Banjarmasin! Berangkat jam tujuh! Sisa lima kursi!” teriak seorang Calo Mobil Trvel jurusan Banjarmasin sambil memegang daftar penumpang.
Reni berdiri di dekat pintu masuk terminal. Koper kecil di tangan kanannya. Tas ransel di punggung. Dan di pergelangan tangan kanannya gelang kulit pemberian Andika. Tidak pernah lepas. Bahkan saat mandi.
Ibu Reni menangis di sampingnya. Pak Wulandari berdiri tegap di belakang tidak menangis, tapi matanya sembab.
“Ren, kamu yakin tidak jadi diantar? Papa bisa cuti,” kata Ibu Reni sambil mengusap air mata.
“Tidak usah, Bu. Aku sudah dewasa. Bisa sendiri. Lagipula, di Banjarmasin nanti ada Amilia. Dia juga kuliah di ULM. Kita cari kos-kosan bareng.”
“Tapi Amilia belum berangkat. Masih minggu depan,” kata Ibu Reni.
“Aku bisa sendirian dulu, Bu. Aku sudah cari kos-kosan dekat kampus. Via online. Ibu kosnya baik. Saya sudah video call dengan beliau.”
Pak Wulandari berjalan mendekat. “Ren, Papa titip pesan.”
“Iya, Pa.”
“Kamu kuliah yang bener. Jangan malas-malasan. Jangan main-main sama laki-laki. Fokus. Empat tahun, selesai, kamu bisa apa saja.”
“Tapi Pa, soal laki-laki…”
“Tidak ada tapi. Belum waktunya. Fokus kuliah,” potong Pak Wulandari tegas.
Reni menelan ludah. Ia memandang gelang di tangannya. Membayangkan Andika. Membayangkan janji mereka empat tahun ke depan.
“Baik, Pa. Aku janji fokus kuliah.”
“Papa titip lagi. Kalau ada masalah, telepon. Jangan malu-malu. Papa dan Mama selalu buka pintu untuk kamu.”
“Iya, Pa.”
Pak Wulandari memeluk Reni. Pelukan pertama dalam sekian tahun yang tidak kaku. Ada kelembutan di sana.
“Papa bangga sama kamu, Ren. Kamu berani mengambil keputusan besar. Itu ciri-ciri anak yang dewasa,” bisik Pak Wulandari.
Reni terisak di bahu ayahnya. “Maafin aku, Pa, kalau aku sering melawan.”
“Sudah, sudah. Tidak usah maaf-maafan. Yang penting kuliah. Pulang dengan gelar.”
Bis berangkat pukul 07.00. Penumpang mulai naik.
Reni mengambil koper dan ranselnya. Sebelum masuk, ia menoleh sekali lagi.
“Pa, Bu, jaga kesehatan.”
“Kamu juga, Ren. Jangan lupa makan,” kata Ibu Reni.
Reni masuk ke dalam Mobil Travel. Ia memilih kursi dekat jendela sisi kanan, agar bisa melihat bundaran saat bis melewati Jalan Simpag Adipura.
Bis mulai bergerak. Pelan. Keluar terminal, belok kanan, melewati pasar, lalu memasuki Jalan Tambun Bungai, jalan pemuda.
Dari kejauhan, Bundaran Besar Kapuas mulai terlihat. Taman. Tugu yang berdiri megah di tengah-tengan Bundaran Besar yang Ikonik. Bangku kayu. Dan di bangku kayu itu ,Andika.
Andika datang. Ia duduk di bangku favoritnya. Jaket lusuh, rambut sedikit berantakan. Tangannya memegang kopi hitam.
Ia tidak melambai. Tidak berteriak. Hanya duduk. Menatap Mobil Travel yang lewat.
Reni menekan telapak tangannya ke kaca jendela.
“Andika,” bisiknya.
Dari kejauhan, Andika mengangkat tangan kanannya lambaian pelan. Sama seperti dulu.
Reni tersenyum. Air matanya jatuh.
Ia menarik gelang di pergelangan tangannya. Gelang itu terasa hangat. Seperti pelukan.
Mobil Travel Avansa melaju ke timur , menuju Banjarmasin. Meninggalkan Bundaran Besar Kapuas yang masih setia dengan senjanya.
Kos-kosan Reni di Banjarmasin, Jalan Pramuka, dekat Universitas Lambung Mangkurat. Hari pertama, pukul 14.00.
Kos-kosan itu sederhana. Kamar berukuran 3x4 meter. Kasur single, meja belajar kayu, lemari plastik, dan jendela kecil menghadap ke timur , ke arah Sungai Martapura.
Ibu kos, Bu Sartika, perempuan paruh baya ramah dengan rambut ikal pendek, sudah menunggu di depan pintu.
“Reni, ya? Selamat datang. Kamarnya di ujung lorong. Paling enak, karena jendelanya gak kena sinar matahari langsung,” kata Bu Sartika.
“Terima kasih, Bu. Maaf mengganggu.”
“Tidak mengganggu. Saya senang ada mahasiswi baru. Bulan lalu kosong tiga kamar. Sepi.”
Reni masuk ke kamarnya. Ia meletakkan koper di sudut. Menggantung jaket di belakang pintu.
Lalu ia duduk di tepi kasur. Memandangi sekeliling.
“Ini rumah baruku untuk empat tahun ke depan,” bisiknya.
Ia mengeluarkan ponsel. Mengetik pesan ke Andika. Tiga bulan terakhir, ponselnya tidak bisa digunakan untuk chat dengan Andika — selalu diawasi. Tapi sekarang, di Banjarmasin, ia bebas.
“Dika, aku sudah sampai. Kos-kosan dekat kampus. Kamar kecil tapi nyaman. Jendelanya menghadap timur. Setiap pagi aku akan lihat matahari terbit dan ingat kalau di barat, ada kamu.”
Tak sampai semenit, balasan masuk.
“Reni, selamat memulai hidup baru. Aku di bengkel, lagi ganti oli motor pelanggan. Tanganku hitam. Tapi hatiku cerah karena kamu sudah sampai dengan selamat. Jangan lupa makan. Jangan lupa solat. Jangan lupa aku. — Dika.”
Reni tersenyum. Ia membalas dengan stiker cium.
Lalu ia merebahkan diri di kasur. Sepi. Tapi tidak sendiri.
Bengkel Andika, Jalan Tambun Bungai. Dua bulan kemudian, Mei, pukul 10.00. Menjelang musim kemarau.
Bengkel Andika berkembang. Tidak cepat, tapi pasti. Pelanggan mulai percaya karena Andika jujur , tidak pernah menipu soal sparepart, tidak pernah membebani biaya tambahan.
Rano datang hampir setiap sore. Membantu bersih-bersih, atau sekedar duduk-duduk sambil makan gorengan.
“Dika, lo sekarang mulai banyak pelanggan. Baru dua bulan setelah Reni berangkat, bengkel lo maju. Apa ini efek jatuh cinta?” tanya Rano sambil mengunyah pisang goreng.
“Bukan. Ini efek fokus. Dulu aku habiskan waktu ngelamun di bundaran. Sekarang, daripada ngelamun, aku kerja,” jawab Andika sambil mengencangkan baut.
“Jadi Reni bagaikan malaikat yang membawa berkah?”
“Boleh bilang begitu.”
Pajar datang dengan motor bebeknya. Matanya bengkak kurang tidur.
“Jar, lo kenapa? Kayak habis nangis semalaman,” tanya Rano.
“Lembur, No. Proyek konsultan minta revisi terus. Pantat rasanya mau copot karena duduk di kursi kantor terus.”
“Itu tanda-tanda lo butuh pacar, Jar. Biar stres terbagi dua,” ledek Rano.
“Pacar? Saya masih trauma sama mantan.”
“Mantan lo yang merantau ke Balikpapan itu? Sudah lama, Jar. Move on.”
Pajar menghela napas. “Belum bisa. Dia masih update story Instagram. Bahagia banget dengan cowok barunya. Sakit, tahu.”
“Stop ngomongin cinta. Aku belum sarapan,” potong Andika.
Pajar dan Rano tertawa.
“Dika, kapan terakhir lo chat sama Reni?” tanya Pajar.
“Kemarin malam. Dia sibuk dengan orientasi mahasiswa baru. Katanya ada ratusan peserta. Capenya bukan main.”
“Dia masih pakai gelang pemberian lo?”
“Masih. Dia kirim foto semalam. Gelang itu masih di tangan kanannya. Tidak pernah dilepas.”
“Itu namanya setia tingkat dewa,” kata Rano.
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin. Kampus Psikologi, ruang kuliah 203. Pertengahan semester ganjil.
Reni duduk di bangku paling depan. Buku catatan terbuka. Pena di tangan. Wajahnya fokus , tidak seperti saat SMA, yang sering melamun memikirkan Andika.
Kali ini, ia serius.
“Mahasiswa, minggu depan ujian tengah semester. Materi dari pertemuan satu sampai sepuluh. Jangan remehkan,” kata dosen, Pak Raharjo, laki-laki paruh baya dengan kacamata tebal.
“Pak, apakah ada tugas kelompok?” tanya seorang mahasiswa di belakang.
“Ada. Satu minggu setelah ujian. Saya akan bagikan kelompoknya minggu depan.”
Kuliah selesai. Reni mengemas bukunya. Amilia, yang satu fakultas tapi beda jurusan (Manajemen), sudah menunggu di depan pintu.
“Ren, makan siang yuk. Kantin kampus ramai hari ini,” ajak Amilia.
“Iya. Aku laper.”
Mereka berjalan ke kantin. Suasana ramai. Mahasiswa antre di depan lapak nasi campur dan bakso.
Tiba-tiba, seseorang menyentuh pundak Reni dari belakang.
“Reni?”
Reni menoleh. Jantungnya berdegup kencang.
Ternyata Bondan. Teman sekelas SMA dulu. Yang juga teman Rahmat.
“Bondan? Kamu kuliah di sini?” tanya Reni kaget.
“Iya. Fakultas Hukum. Baru transfer dari Palangkaraya bulan lalu. Orang tua pindah ke Banjarmasin,” jelas Bondan.
“Wah, senang bertemu teman lama,” kata Amilia sambil tersenyum.
Bondan tersenyum. Tapi matanya terus tertuju ke pergelangan tangan Reni ke gelang kulit dengan gantungan motor dan buku.
“Gelang itu dari Andika?” tanya Bondan.
Reni memegang gelangnya refleks. “Iya. Kamu tahu?”
“Seluruh angkatan tahu. Rahmat cerita ke semua orang. Katanya lo pacaran jarak jauh dengan mekanik Kapuas. Heboh.”
“Dasar Rahmat. Mulut tidak ada rem,” gerutu Reni.
“Dia masih suka sama lo, Ren. Sampai sekarang,” kata Bondan.
“Dia buang-buang waktu. Aku sudah punya Andika. Dan Andika tidak akan pernah aku ganti dengan siapa pun.”
Bondan mengangkat tangan. “Santai. Aku cuma penyampai fakta. Bukan tim Rahmat. Aku netral.”
Amilia menarik lengan Reni. “Ayo, Ren. Makan. Udah laper. Jangan pusingin Rahmat.”
Mereka meninggalkan Bondan. Tapi bayangan Rahmat masih membayangi.
Rumah Rahmat di Banjarmasin (pindahan), Jalan Veteran, jauh dari kampus Unlam. Malam hari, pukul 20.00.
Rahmat duduk di kamar barunya. Ponsel di tangan. Ia membuka Instagram Reni akun yang jarang diupdate. Tapi di setiap foto, selalu ada gelang itu. Gelang dari Andika.
“Dasar,” gerutunya.
Ia membuka chat dengan seseorang. Kontak bernama “Bondan (Unlam)”.
“Bon, tolong pantau terus. Andika dan Reni masih komunikasi intens. Aku perlu tahu setiap gerak-gerik mereka.”
Bondan membalas: “Mat, lo jangan keterlaluan. Reni sudah jelas bilang dia punya Andika. Lo buang-buang energi.”
Rahmat mengetik lagi: “Energi saya tidak terbatas. Saya tidak akan menyerah.”
Bondan: “Terserah lo. Tapi saya tidak akan membantu. Cari mata-mata lain.”
Rahmat melempar ponsel ke kasur. Wajahnya merah padam.
“Andika, lo pikir lo hebat? Kita lihat saja. Jarak bukan penghalang. Tapi juga bukan jaminan,” bisiknya.
Kos-kosan Reni, Banjarmasin. Sabtu malam, pukul 21.00. Video call dengan Andika.
Layar ponsel menampilkan wajah Andika yang kusam kena oli. Di belakangnya, bengkel masih terang , tanda ia baru selesai kerja.
“Dika, kamu belum mandi? Wajahmu item banget,” kata Reni sambil tertawa.
“Baru selesai ganti kopling motor bebek. Susahnya minta ampun. Koplingnya udah seperti kerupuk,” jawab Andika.
“Kamu jangan lupa makan. Jangan sampai sakit.”
“Kamu juga. Kata Amilia, kamu sering skip makan siang karena sibuk baca jurnal.”
Reni tersenyum. “Amilia tukang ngadu ya.”
“Bukan tukang ngadu. Dia peduli. Aku juga peduli.”
“Baik, besok aku makan siang. Nasi padang plus rendang.”
“Dua porsi. Biar gemoy.”
“Kamu pengen aku gemuk? Nanti jelek.”
“Tetap cantik. Di mataku, kamu tidak berubah.”
Reni tersipu. “Mulai lagi. Sok romantis.”
“Serius. Ini bicara dari hati. Bukan copy-paste status Facebook.”
Mereka tertawa.
“Dika, aku kangen kamu.”
“Aku juga kangen. Tunggu empat tahun, Ren. Aku kejar kamu di Banjarmasin.”
“Jangan empat tahun. Setiap liburan semester, aku pulang ke Kapuas. Kita ketemu di bundaran.”
“Setiap liburan? Janji?”
“Janji. Sumpah pakai gelang ini.”
Reni mengangkat pergelangan tangannya. Gantungan motor dan buku beradu. Andika tersenyum lebar.
Bundaran Besar Kapuas. Minggu sore. Liburan semester pertama Reni. Desember, pukul 16.00.
Reni pulang. Pertama kalinya setelah lima bulan di Banjarmasin.
Ia langsung melesat ke bundaran tanpa bilang siapa pun. Tanpa Amilia. Tanpa Susi. Tanpa Susan. Hanya dia dan bayangan Andika.
Andika sudah ada di bangku kayu. Jaket tebal karena angin mendingin. Rambutnya lebih rapi dari biasanya.
“Dika!” teriak Reni dari kejauhan.
Andika berdiri. Ia tidak berlari. Ia berjalan santai tapi matanya berbinar.
Mereka bertemu di tengah taman. Tidak berpelukan. Tidak berpegangan tangan. Hanya saling menatap.
“Kamu tidak berubah,” kata Andika.
“Kamu juga. Masih item kena oli,” balas Reni.
“Ini wangi, tahu. Wd 40. Parfum khas mekanik.”
Reni tertawa. “Aku kangen suara tawamu.”
“Aku kangen senyummu.”
Mbok Darmi dari lapak berteriak. “Mas Andika, es cincau pesanan Mas sudah siap dua gelas! Reni juga punya!
“Mbok Darmi luar biasa. Selalu tahu,” kata Reni.
Mereka duduk di bangku kayu , posisi yang sama. Gelas es cincau susu di tangan. Gorengan di piring plastik.
“Bagaimana kuliahmu, Ren? Serius, aku mau dengar,” kata Andika.
“Berat. Tapi menyenangkan. Aku suka Psikologi. Apalagi mata kuliah Psikologi Perkembangan. Jadi ingat masa SMA, saat aku masih labil dan takut sama papa.”
“Sekarang sudah tidak takut?”
“Masih. Tapi tidak sebanyak dulu.”
Andika mengangguk. “Bagus. Itu namanya dewasa.”
Mereka mengobrol hingga senja berganti magrib. Tidak ada Rahmat. Tidak ada papa yang marah. Hanya mereka. Hanya bundaran. Hanya senja.
“Aku harus pulang, Dika. Papa sudah WA tiga kali,” kata Reni.
“Aku antar.”
“Tidak usah. Aku naik ojek online. Sudah pesan dari tadi.”
Andika menghela napas. “Baik. Hati-hati di jalan.”
Reni berdiri. Ia menatap Andika. Tangannya bergerak ingin memegang pipinya. Tapi ditahannya.
“Dika, terima kasih sudah setia menunggu.”
“Tidak perlu terima kasih. Ini sukarela.”
Reni tersenyum. Lalu ia pergi. Ojek online sudah menunggu di perempatan.
Andika masih duduk. Memandangi langit yang mulai gelap.
“Empat tahun lagi, Ren. Empat tahun lagi,” bisiknya.
Rumah Reni, Kapuas. Malam hari, pukul 20.00.
Reni masuk ke rumah. Pak Wulandari sedang membaca koran di ruang tamu. Ibu Reni di dapur.
“Dari mana, Ren?” tanya Pak Wulandari tanpa menoleh.
“Bundaran, Pa.”
“Sendirian?”
“Bersama teman.”
“Teman itu Andika?”
Reni terdiam sejenak. “Iya, Pa.”
Pak Wulandari meletakkan koran. Ia menatap anaknya. Tidak marah. Tidak tegang. Hanya lelah.
“Papa tahu kamu masih dekat dengan dia. Rahmat sudah lapor beberapa kali.”
“Pa, Rahmat itu suka mengada-ada. Dia cenderung membesar-besarkan.”
“Mungkin. Tapi Papa tidak butuh Rahmat untuk tahu. Papa lihat gelang di tangan kamu. Itu punya dia, kan?”
Reni memegang gelangnya. “Iya, Pa.”
“Nantikan, Papa tidak suka. Tapi Papa tidak akan larang lagi. Kamu sudah dewasa. Kuliah. Tapi ingat, fokus. Jangan sampai laki-laki itu merusak masa depanmu.”
“Dia tidak akan merusak, Pa. Dia selalu mendukung.”
“Papa harap begitu.”
Pak Wulandari mengambil koran lagi. Tidak melanjutkan percakapan.
Reni masuk ke kamarnya. Ia memeluk bantal. Tersenyum.
“Papa mulai melunak,” bisiknya.
Ia mengetik pesan ke Andika: “Dika, Papa tahu soal gelang. Dia tidak marah. Hanya bilang, fokus kuliah. Itu pertanda baik, kan?”
Balasan datang cepat: “Itu pertanda bahwa waktu memihak kita, Ren. Teruslah berjuang. Aku juga. Sampai kita benar-benar bersama.”
Reni menatap gelang di tangannya. Lampu kamar redup. Tapi hatinya terang benderang.
BAB 12
“Langit Masih Berpihak pada Kita”
Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin , Fakultas Psikologi. Ruang kuliah 305. Jumat pagi, pukul 09.00. Tiga setengah tahun setelah Reni meninggalkan Kapuas.
Musim hujan. Langit mendung. Hujan turun sejak subuh. Genangan air di halaman kampus setinggi mata kaki. Mahasiswa berhamburan dengan payung warna-warni.
Reni duduk di bangku paling depan , kebiasaannya sejak semester satu. Buku catatan tebal di atas meja. Pena di tangan. Gelang kulit di pergelangan kanan masih setia, meskipun kulitnya sudah mulai rapuh dan gantungan motor hampir lepas karena sering tersangkut.
Profesor Widya , dosen pembimbing skripsinya , berdiri di depan kelas. Wajahnya serius.
“Mahasiswa, hari ini kita akan bahas bab terakhir metodologi penelitian. Bagi yang sidang bulan depan, persiapkan diri. Jangan sampai ada yang mundur karena tidak siap.”
Reni menggigit bibir bawahnya. Sidang skripsi. Bulan depan. Tiga setengah tahun terasa begitu cepat. Dari mahasiswa baru yang gugup, kini ia hampir menyandang gelar S.Psi.
Setelah kuliah, Reni berjalan ke kantin. Amilia sudah menunggu dengan dua porsi nasi goreng.
“Ren, gue dengar lo sidang bulan depan. Siap?” tanya Amilia sambil mengunyah.
“Siap enggak siap harus siap. Skripsiku soal dukungan sosial pada mahasiswa perantau. Nggak siap mental habis wawancara dua puluh orang,” jawab Reni.
“Dukungan sosial dari Andika termasuk? Kan dia sering video call lo ria malam.”
Reni tersenyum. “Termasuk. Dia sumber motivasi nomor satu. Nomor dua Mama dan Papa.”
“Papa lo sekarang sudah lunak, Ren. Dulu keras kayak batu karang. Sekarang jadi kerikil.”
“Iya. Tiga setengah tahun berpisah mengajarkan banyak hal. Papa sadar bahwa aku bisa bertahan tanpa dia, tapi juga tidak pernah melupakan dia.”
Amilia menghela napas. “Lo berdua kuat. Jarak ratusan kilometer. Komunikasi via panggilan video. Jarang ketemu. Tapi bertahan. Gue salut.”
“Bukan kuat, Amil. Ini cinta. Dan cinta tidak membutuhkan jarak. Cinta hanya butuh kepercayaan.”
Tiba-tiba, ponsel Reni bergetar. Pesan dari Bondan.
“Ren, hati-hati. Rahmat ke Banjarmasin minggu depan. Katanya mau ‘menjemput’ kelulusan lo. Aku tidak tahu maksudnya apa. Tapi siap-siap. — Bondan.”
Reni menunjukan pesan itu ke Amilia.
“Rahmat? Dia masih saja tidak menyerah? Sudah tiga setengah tahun!” kesal Amilia.
“Dia lulus hukum tahun lalu. Sekarang kerja di firma hukum Banjarmasin. Punya uang. Punya koneksi. Dia merasa lebih pantas untukku daripada Andika,” kata Reni.
“Lo harus bilang ke Andika.”
“Belum. Nanti dulu. Aku mau lihat dulu Rahmat mau apa.”
Bengkel Andika di Jalan Tambun Bungai, Kapuas. Tiga setengah tahun kemudian.
Bengkel Andika sekarang bukan lagi bengkel kecil dulu. Sekarang namanya “Andika Motor Sport” , papan namanya besar, cat biru-putih, dan memiliki dua ruang servis serta satu ruang tunggu ber-AC.
Andika tidak sendiri. Ia punya tiga karyawan. Satu bagian servis ringan, satu bagian servis berat, satu bagian administrasi.
Rano sering datang , sekarang bukan hanya untuk makan gorengan, tapi sebagai teman diskusi bisnis.
“Dika, lo buka bengkel kedua di Palangkaraya bulan depan. Lo yakin?” tanya Rano sambil duduk di ruang tunggu.
“Yakin. Palangkaraya pasar motor besar. Apalagi motor trail dan matic. Kita siap,” jawab Andika sambil membersihkan tangan dengan lap.
“Terus perasaan lo ke Reni? Setelah tiga setengah tahun, apa masih sama?”
Andika berhenti bergerak. “Apa maksud lo, No? Maksudnya apa?”
“Maksud gue, setelah sukses, apakah lo masih mau sama perempuan yang dulu? Atau lo udah liat cewek lain yang lebih... sepadan?”
Andika melemparkan lap ke arah Rano. Rano menghindar.
“Rano, gue tidak akan pernah berubah. Reni adalah alasan gue bangun pagi. Reni adalah motivasi gue buka bengkel. Kalau bukan karena janji gue padanya di bundaran dulu, gue mungkin cuma mekanik keliling yang nongkrong di warung setiap malam. Jadi jangan pernah tanya apakah gue masih mau sama dia. Jawabannya: sampai mati.”
Rano tersenyum. “Gue cuma testing, Dika. Lo lulus.”
“Dasar Rano, tukang test mulu.”
Pajar datang dari pintu masuk. Wajahnya tegang.
“Dika, lo lihat ini belum?”
Pajar menunjukkan ponselnya. Akun Instagram Rahmat baru saja mengunggah foto: foto Rahmat dan Reni! Kapan? Di mana?
Andika merebut ponsel Pajar. Foto itu diambil di kantin kampus Unlam. Rahmat tersenyum lebar, tangannya memegang pundak Reni. Reni tampak kaget tidak siap difoto.
Keterangan foto: “Menjemput masa depan. Semoga bulan depan jadi bulan yang penuh berkah. #RahmatDanReni #Kanjengan”
Andika memegang ponsel itu erat-erat.
“Ini kapan?” tanyanya suaranya bergetar.
“Baru diunggah sepuluh menit lalu. Sudah banyak like. Komentar netizen pada heboh. Banyak yang mengira mereka pacaran,” kata Pajar.
“Ren mana mungkin pacaran sama Rahmat. Dia setia sama gue. Tiga setengah tahun tidak pernah ada masalah.”
“Tapi foto ini tidak bohong. Mereka memang pernah difoto bareng di kantin. Reni tidak mungkin menghindar kalau Rahmat tiba-tiba duduk di sampingnya,” kata Pajar.
Andika mengetik pesan ke Reni.
“Ren, foto kamu dan Rahmat di Instagram. Dia pegang pundakmu. Aku perlu penjelasan.”
Dua menit kemudian, Reni membalas.
“Dika, itu foto lama. Dua minggu lalu. Aku sedang makan siang di kantin. Rahmat datang tiba-tiba, duduk di sampingku, minta foto untuk dokumentasi ‘reuni kecil’. Aku tidak tahu dia akan unggah. Maafkan aku.”
Andika menghela napas. Jari jarinya mengetik lagi.
“Kamu kenapa tidak bilang aku dari dulu?”
“Karena aku anggap itu tidak penting. Aku tidak mau membuatmu cemburu. Tapi sekarang dia unggah. Aku minta maaf.”
“Foto itu sudah dilihat ribuan orang. Banyak yang mengira kalian pasangan.”
“Aku tidak peduli omongan orang. Yang penting kamu percaya aku.”
Andika menutup ponsel. Wajahnya merah. Pajar dan Rano diam.
“Dika, lo percaya Reni?” tanya Pajar.
“Percaya. Tapi aku tidak percaya Rahmat.”
Kos-kosan Reni, Banjarmasin. Sabtu malam, pukul 20.00. Hujan deras.
Reni duduk di depan meja belajarnya. Skripsi sudah hampir rampung. Tiga bab lagi, baru selesai.
Pintu kamarnya diketok tiga kali.
“Reni, ini Bondan. Buka, penting.”
Reni membuka pintu. Bondan berdiri dengan payung basah. Wajahnya tegang.
“Ren, Rahmat akan melamar kamu. Bulan depan. Setelah sidang skripsimu.”
Reni terkesiap. “Apa? Dia gila?”
“Dia sudah bicara dengan papamu. Secara pribadi. Papamu tidak bilang apa-apa ke kamu?”
“Papa tidak bilang apa pun! Astaga, Bondan, ini serius?”
“Serius. Rahmat sudah beli cincin. Sudah booking gedung untuk resepsi kecil-kecilan. Dia ingin semuanya berjalan cepat sebelum Andika sempat melamar.”
Reni memegang gelang di tangannya. Kulitnya sudah rapuh. Tapi masih setia.
“Aku harus pulang ke Kapuas. Sekarang juga.”
“Malam ini? Hujan deras, Ren. Tidak ada bis malam.”
“Maka besok pagi. Subuh. Tolong antar aku ke terminal, Bon.”
Bondan mengangguk. “Baik. Tapi hati-hati. Rahmat itu licik. Dia bisa melakukan apa pun untuk mendapatkanmu.”
Terminal Bis Banjarmasin. Minggu pagi, pukul 05.00. Hujan reda, tapi langit masih gelap.
Reni naik bis paling pagi. Koper kecil. Ransel. Dan gelang di tangan kanan.
Ia mengetik pesan ke Andika.
“Dika, aku pulang ke Kapuas. Hari ini. Ada sesuatu yang harus kita bicarakan. Aku naik bis Pahala Kencana. Perkiraan sampai jam 12 siang. Jemput aku di bundaran.”
Balasan dari Andika: “Ada apa? Kamu baik-baik saja?”
“Aku baik. Tapi Rahmat mau melamarku bulan depan. Aku harus mencegah sebelum semuanya terlambat.”
“Apa??? Aku ke bundaran jam 12. Jangan turun sebelum aku datang.”
Minggu siang, pukul 12.15. Matahari terik.
Bis Pahala Kencana memasuki bundaran besar . Reni turun dengan koper dan ransel. Andika sudah berdiri di depan trotoar. Jaket hitam, rambut sedikit panjang. Matanya sembab , kurang tidur.
“Ren!” seru Andika sambil berlari.
Mereka bertemu di pinggir trotoar. Tidak berpelukan. Hanya saling menatap.
“Rahmat mau melamar kamu?” tanya Andika.
“Iya. Bondan yang memberitahu. Dia sudah bicara dengan papa. Papa belum bilang apa-apa ke aku. Aku kaget.”
“Dan kamu pulang ke sini untuk mencegah?”
“Aku pulang untuk memastikan bahwa tidak ada lamaran yang terjadi sebelum kita bersama.”
Andika menggenggam tangan Reni. “Kita harus bicara dengan papa kamu. Sekarang.”
“Sekarang? Papa di rumah?”
“Telepon dulu. Bilang kita mau datang.”
Reni mengangguk. Ia mengangkat ponsel. Menelepon Pak Wulandari.
“Pa, aku sudah di bundaran besar kapuas. Aku mau pulang. Tapi Andika ikut. Kita mau bicara sesuatu.”
Suara Pak Wulandari di seberang terdengar berat. “Bicara apa?”
“Soal lamaran Rahmat, Pa. Aku tidak setuju.”
Diam sebentar. “Baik. Datang. Tapi jangan berdua. Papa tidak suka dilihat tetangga.”
“Baik, Pa. Aku duluan. Andika menyusul nanti.”
Telepon ditutup.
Rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut. Minggu siang, pukul 13.00.
Reni masuk ke rumah. Pak Wulandari duduk di ruang tamu. Ibu Reni di dapur.
“Pa, Andika di luar. Dia menunggu panggilan Papa.”
“Suruh masuk. Sekarang juga.”
Reni membuka pintu. Andika masuk dengan langkah tegap. Tidak seperti dulu , sekarang ia lebih percaya diri. Badan lebih berisi. Pakaian rapi.
“Selamat siang, Pak. Bu,” sapa Andika hormat.
“Duduk,” kata Pak Wulandari dingin.
Andika duduk.
“Rahmat sudah bicara dengan saya. Dia ingin melamar Reni bulan depan. Katanya dia sudah punya pekerjaan tetap, penghasilan besar, dan siap membangun keluarga. Papa setuju,” kata Pak Wulandari.
“Pa, aku tidak setuju!” potong Reni.
“Diam dulu, Ren. Papa sedang bicara dengan Andika.”
Andika menegakkan punggungnya. “Pak, saya mengerti bahwa Rahmat punya kualitas. Tapi Reni bukan barang yang bisa dipilih berdasarkan kualitas. Reni punya hati. Dan hati Reni sudah memilih saya.”
“Kamu punya apa, Andika? Dulu kamu hanya mekanik bengkel kecil. Sekarang?”
“Sekarang saya punya bengkel sendiri di Jalan Tambun Bungai. Nama Andika Motor Sport. Dan bulan depan, saya akan buka cabang kedua di Palangkaraya. Saya punya tiga karyawan. Usaha saya berkembang, Pak.”
Pak Wulandari mengernyit. “Kamu buka cabang di Palangkaraya?”
“Iya, Pak. Reni kuliah di Banjarmasin. Palangkaraya memang lebih jauh ke Banjarmasin daripada Kapuas. Saya ingin lebih leluasa mengembangkannya. Saya ingin membuktikan bahwa saya bisa menjadi laki-laki yang layak untuk Reni.”
Ibu Reni dari dapur mendekat. “Andika, Ibu tidak tahu kalau kamu sudah sampai sejauh ini.”
“Berkat doa Ibu dan Bapak, meskipun dulu belum merestui. Saya tidak pernah berhenti berusaha.”
Pak Wulandari terdiam. Matanya menatap Andika dari ujung kepala ke ujung kaki.
“Andika, Papa minta maaf. Dulu Papa menganggap remeh kamu.”
Andika terkejut. “Pak, saya tidak .”
“Biarkan Papa selesai. Dulu Papa pikir, kamu hanya mekanik kampung yang tidak punya masa depan. Papa pikir, Reni akan menderita kalau bersamamu. Tapi lihat sekarang. Kamu berhasil. Kamu buktikan bahwa papa salah,” kata Pak Wulandari.
Reni menangis. Ibu Reni juga.
“Pa, jadi Papa tidak jadi memberikan Reni ke Rahmat?” tanya Reni.
“Papa tidak pernah memberikan kamu ke siapa pun, Ren. Papa hanya setuju kalau ada yang melamar. Tapi keputusan akhir tetap di tangan kamu. Kamu yang memilih.”
“Aku sudah memilih, Pa. Sejak tiga setengah tahun lalu. Sejak Andika menyenggol bahuku sampai aku jatuh di bundaran. Sejak dia traktir kami es cincau susu. Sejak dia menulis surat ‘aku di sini, sampai kapan pun’. Aku memilih Andika.”
Pak Wulandari menghela napas. “Baik. Papa restui. Tapi dengan satu syarat.”
“Syarat apa, Pa?”
“Andika harus datang melamar secara resmi. Bukan hari ini. Tapi setelah Reni sidang skripsi. Setelah dia resmi menyandang gelar sarjana. Papa tidak ingin ada yang bilang bahwa Reni menikah sebelum lulus.”
Andika berdiri. “Saya setuju, Pak. Saya tunggu sidang skripsi Reni. Setelah itu, saya datang melamar. Saya siap.”
“Bagus. Tapi Papa punya pesan satu lagi.”
“Apa, Pak?”
“Jangan sakiti anak saya. Kalau kamu menyakitinya, Papa akan kejar kamu sampai ke ujung dunia. Papa mantan polisi. Papa punya cara.”
Andika tersenyum. “Saya tidak akan menyakitinya, Pak. Saya lebih mungkin memilh mati daripada melihat Reni menangis karena saya.”
Pak Wulandari tertawa kecil. “Kamu berani. Papa suka.”
Halaman rumah Reni. Sore harinya, pukul 16.00.
Andika dan Reni duduk di teras. Angin sore dari sungai Kapuas membawa bau tanah basah.
“Reni, kamu tahu? Aku hampir putus asa ketika papa mu melarang kita dulu,” kata Andika.
“Tapi kamu tidak putus asa.”
“Karena aku ingat kata-kata mu di surat. ‘Jangan berhenti datang ke bundaran. Bayangkan aku di sampingmu.’ Itu membuatku bertahan.”
Reni menyandarkan kepalanya ke bahu Andika. “Dan sekarang? Sekarang kamu tidak perlu membayangkan lagi. Aku benar-benar di sini.”
“Tapi sebentar lagi kamu kembali ke Banjarmasin. Sidang skripsi. Setelah itu lamaran.”
“Setelah lamaran, kita akan sering bertemu. Kamu buka cabang di Palangkaraya. Aku cari kerja di Banjarmasin atau Palangkaraya. Jarak tidak akan terasa.”
Andika menggenggam tangan Reni. “Ren, aku janji. Hidup kita akan lebih baik dari ini.”
“Aku percaya.”
Rumah Rahmat di Banjarmasin. Minggu malam, pukul 21.00.
Rahmat menerima telepon dari Bondan.
“Mat, rencana lamaranmu gagal. Reni sudah bicara dengan papanya. Andika sudah datang ke rumah. Pak Wulandari merestui mereka,” kata Bondan.
Rahmat terdiam. Tangannya gemetar.
“Apa? Tidak mungkin. Papa Reni sudah setuju dengan aku.”
“Dulu. Tapi setelah melihat usaha Andika, Pak Wulandari berubah pikiran. Maaf, Mat. Kamu harus terima.”
Rahmat melempar ponsel ke kasur. Ia menendang meja. Lampu meja jatuh.
“Andika! Lo pikir lo menang? Belum selesai!” teriaknya di dalam kamar.
Bundaran Besar Kapuas. Minggu sore, pukul 17.30. Sebelum Reni kembali ke Banjarmasin.
Reni dan Andika duduk di bangku kayu dekat patung. Mbok Darmi sudah menyiapkan es cincau susu. Tempat itu tidak berubah. Taman. Lampu. Perempatan. Hanya mereka yang sekarang lebih dewasa.
“Andika, tiga setengah tahun lalu kita duduk di bangku ini sebagai dua orang yang dilarang. Sekarang kita duduk sebagai dua orang yang direstui,” kata Reni.
“Dan suatu hari, kita akan duduk di sini sebagai suami istri.”
“Kamu yakin?”
“Yakin. Karena bundaran ini adalah saksi. Dan senja tidak pernah ingkar janji.”
Mereka berpegangan tangan. Senja di barat berwarna jingga. Sempurna.
BAB 13
“Sidang, Skripsi, dan Sabotase”
Kos-kosan Reni di Banjarmasin, Jalan Pramuka. Senin malam, pukul 21.00. Dua minggu setelah pertemuan di rumah Pak Wulandari.
Reni duduk di meja belajarnya. Di depannya, tumpukan kertas skripsi setebal jempol orang dewasa bab satu sampai bab lima lengkap. Tinggal satu langkah lagi: sidang meja hijau.
Amilia duduk di kasur Reni, memangku laptop, membantu menyusun slide presentasi.
“Ren, besok lo simulasi sidang sama Prof. Widya. Lo udah hafal materi?” tanya Amilia.
“Belum hafal luar kepala. Tapi prinsipnya aku paham. Skripsiku tentang dukungan sosial pada mahasiswa perantau. Aku wawancara dua puluh orang. Data kualitatif. Analisisnya tematik,” jawab Reni sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Lo mending istirahat. Besok lo harus fresh.”
“Aku tidak bisa tidur, Amil. Perutku mules. Deg-degan.”
Amilia tertawa. “Itu namanya sindrom sidang. Semua mahasiswa mengalaminya. Nanti setelah sidang, perut kamu akan berhenti mules.”
Ponsel Reni bergetar. Pesan dari Andika.
“Ren, besok sidang simulasi ya? Aku doain lancar. Jangan lupa sarapan. Jangan lupa bawa minum air putih yang banyak. Jangan lupa bawa gelang pemberianku. Itu jimat keberuntunganmu.”
Reni tersenyum membaca pesan itu. Ia membalas: “Gelang ini tidak pernah lepas dari tanganku, Dika. Sejak tiga setengah tahun lalu. Besok aku pakai. Semoga jadi pembawa keberuntungan.”
“Andika?” tanya Amilia.
“Iya. Dia selalu punya cara untuk membuatku tenang.”
“Cowok lo itu luar biasa, Ren. Jarak jauh, tapi perhatiannya nggak kalah sama cowok yang tiap hari ketemu.”
Reni memegang gelang di pergelangan tangannya. Kulitnya makin rapuh. Gantungan motor sudah lepas dua minggu lalu ia simpan di dalam dompet. Gantungan buku masih bertahan, tapi longgar.
“Gelang ini saksi perjuangan kita,” bisiknya.
Kampus Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Psikologi, Ruang Sidang 1. Selasa pagi, pukul 09.00. Simulasi sidang.
Prof. Widya duduk di kursi tengah. Dua dosen lain di sampingnya , pembimbing dan penguji. Reni berdiri di depan papan tulis. Ponselnya diletakkan di atas meja , merekam suaranya sendiri untuk evaluasi nanti. Gelang di tangan kanan terlihat jelas di sela blus putihnya.
“Silakan presentasikan penelitian Anda dalam waktu lima belas menit,” kata Prof. Widya.
Reni menarik napas dalam-dalam. Ia mulai.
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi, Ibu Profesor, Ibu dan Bapak dosen penguji. Perkenalkan, saya Reni Ayu Wulandari, NIM 191012312, dari jurusan Psikologi, konsentrasi Psikologi Sosial. Judul skripsi saya: Dukungan Sosial dan Penyesuaian Diri pada Mahasiswa Perantau di Universitas Lambung Mangkurat...”
Reni berbicara. Lancar. Tidak gugup. Tangannya bergerak mengikuti slide. Matanya berpindah dari satu dosen ke dosen lain. Sepuluh menit berlalu. Dua belas. Lima belas.
“...demikian presentasi dari saya. Kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih,” tutup Reni.
Prof. Widya tersenyum. “Bagus. Lancar. Sekarang giliran tanya jawab. Siap?”
Reni mengangguk. “Siap, Ibu.”
Sesi tanya jawab berlangsung tiga puluh menit. Ada pertanyaan sulit tentang metode sampling. Ada koreksi kecil tentang sitasi jurnal. Tapi secara umum, Prof. Widya mengangguk-angguk.
“Baik, Reni. Simulasi hari ini cukup. Untuk sidang sebenarnya minggu depan, perhatikan saran-saran Ibu dan Bapak dosen. Perbaiki sitasi. Perkuat analisis tematik pada bab empat. Dan satu lagi: bawa air putih. Suaramu sedikit serak di menit ketiga belas.”
Reni tersenyum lega. “Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Bapak-bapak.”
Ia keluar ruangan. Amilia sudah menunggu di lorong.
“Gimana?” tanya Amilia.
“Lancar. Ada sedikit catatan. Tapi secara umum aman.”
“Wah, selamat! Makan siang di kantin, yuk! Gue traktir.”
“Kamu baik banget, Amil.”
Mereka berjalan ke kantin. Di kantin, Bondan sudah duduk di meja pojok. Ia melambai.
“Ren, Amil, ke sini! Aku sudah ambilkan nasi padang,” kata Bondan.
“Wah, Bondan jadi tukang traktir sekarang?” ledek Amilia.
“Bukan. Ini sebagai ucapan selamat atas simulasi sidang Reni. Aku dengar dari Amilia semalam.”
Reni duduk. Ia mengambil sendok, tapi belum sempat makan. Ponselnya bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal.
“Selamat atas simulasi sidangmu, Ren. Aku bangga padamu. Tapi ingat, aku belum menyerah. Lamaran mungkin gagal, tapi cintaku tidak. Sampai jumpa di sidangmu nanti. — R.”
Reni pucat.
“Siapa, Ren?” tanya Amilia.
“Rahmat.”
Amilia merebut ponsel Reni. Membaca pesan itu. Matanya melebar.
“Dia gila. Dia benar-benar gila. Dia mau datang ke sidangmu?”
“Sepertinya begitu.”
Bondan menghela napas. “Aku sudah bilang, Ren. Rahmat itu licik. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Apalagi setelah kalah dari Andika di depan orang tuamu. Harga dirinya jatuh. Dan orang yang harga dirinya jatuh biasanya berbahaya.”
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Reni.
“Bilang ke Andika. Dan minta Andika ke Banjarmasin. Minimal satu hari, saat sidangmu,” saran Bondan.
“Tapi Andika sibuk. Dia baru buka cabang di Palangkaraya.”
“Ini urusan hidup mati perasaan, Ren. Bukan urusan bisnis.”
Reni mengangguk. Ia mengetik pesan ke Andika.
“Dika, aku butuh kamu di Banjarmasin. Pada hari sidangku. Minggu depan. Rahmat mengancam akan datang. Aku takut.”
Balasan dari Andika datang dua menit kemudian.
“Aku akan datang. Apapun yang terjadi. Aku tidak akan biarkan Rahmat mengganggumu. Kirimkan jadwal sidangmu. Aku booking tiket sekarang.”
Reni tersenyum. Tangannya bergetar , bukan karena takut lagi, tapi karena haru.
“Andika datang,” katanya.
“Bagus. Kalau dia datang, Rahmat tidak akan berani macam-macam,” kata Bondan.
“Atau malah bertambah heboh,” timpal Amilia.
Bengkel Andika Motor Sport, Kapuas. Rabu pagi, pukul 08.00. Seminggu sebelum sidang Reni.
Andika sedang membereskan administrasi bengkel. Pajar datang dengan secarik kertas.
“Dika, ini tiket bis Banjarmasin untuk Sabtu minggu depan. Keberangkatan jam 7 malam, sampai Banjarmasin jam 9 malaam, sempat istirahat. Sidang Reni jam 9. Pas.”
“Terima kasih, Jar. Lo bayarin dulu, ya? Nanti gue ganti.”
“Udah gue anggap sumbangan untuk cinta sejati. Nggak usah diganti.”
Rano menyelak. “Dika, gue ikut?”
“Lo ikut buat apa, No? Cuma bikin rame. Nanti malah jadi tontonan.”
“Gue ikut buat jaga-jaga kalau Rahmat bawa preman. Gue kan gendut. Gue bisa jadi tameng.”
Andika tertawa. “Tidak usah. Gue cukup sendirian. Ditambah Bondan dan Amilia di sana, cukup.”
“Tapi Dika, lo harus hati-hati. Rahmat itu anak orang kaya. Punya koneksi. Bisa saja dia bawa orang,” kata Pajar serius.
“Gue tidak takut. Selama gue benar, tidak ada yang bisa menggoyahkan gue.”
Kantor Rahmat, Firma Hukum “Rahmat & Associates”, Banjarmasin. Kamis sore, pukul 16.00.
Rahmat duduk di kursi direktur. Di depannya, tiga orang preman berdiri. Tubuh kekar. Wajah dingin.
“Kalian tugasnya gampang. Di hari sidang Reni , Sabtu minggu depan, jam 8 pagi sampai 12 siang . kalian jaga di sekitar kampus. Fokus di fakultas Psikologi. Kalau lihat laki-laki bernama Andika, jangan biarkan dia masuk ke ruang sidang. Hentikan dengan cara apapun. Tapi jangan sampai berantem di depan umum. Lakukan dengan halus,” kata Rahmat.
“Bayarannya, Bang?” tanya preman bernama Joni.
“Dua juta per orang. Setengah di muka. Setengah setelah selesai.”
“Siap, Bang.”
Mereka pergi. Rahmat tersenyum jahat.
“Andika, lo pikir lo bisa hadir di sidang Reni? Tidak akan. Saya tidak akan biarkan.”
Kos-kosan Reni, Banjarmasin. Jumat malam, sehari sebelum sidang. Pukul 22.00.
Reni tidak bisa tidur. Skripsinya sudah siap. Pakaian untuk sidang sudah tergantung di lemari: blus putih, rok hitam panjang, sepatu pantofel hitam. Gelang masih di tangan. Ditempel.
Ponsel berdering. Video call dari Andika.
“Dika, kamu sudah berangkat?”
“Belum. Nanti malam jam 7. Bis malam. Sampai Banjarmasin jam 9 malam. Aku akan langsung ke kampus. Kita ketemu di depan gerbang fakultas Psikologi jam 8.”
“Kamu pasti datang, kan?” suara Reni bergetar.
“Pasti. Tidak akan ada yang bisa menghentikan aku. Bukan Rahmat, bukan siapa pun.”
“Aku takut, Dika. Aku takut Rahmat melakukan sesuatu.”
“Tenang. Bawa gelang itu. Pegang erat-erat. Itu adalah aku berada di sampingmu.”
Reni memegang gelangnya. “Baik. Aku percaya sama kamu.”
“Istirahat, Ren. Besok kamu harus tampil maksimal. Lupakan Rahmat. Lupakan ancaman. Fokus pada sidang.”
“Iya. Kamu juga istirahat di bis. Jangan lupa bawa bantal leher.”
“Siap, komandan.”
Video call ditutup. Reni merebahkan tubuh. Matanya terpejam. Membayangkan besok.
Terminal Bis Kuala Kapuas. Sabtu malam hari, pukul 00.19. Perjalanan Andika ke Banjarmasin.
Andika duduk di kursi dekat jendela. Tas kecil di pangkuan. Di dalam tas: satu set pakaian ganti, dompet, ponsel, dan kotak kecil berwarna coklat.
Kotak yang tiga setengah tahun lalu hampir ia berikan pada Reni saat pertemuan di bundaran. Tapi ia urungkan. Diam-diam, ia simpan. Sekarang, ia bawa ke Banjarmasin.
Bukan untuk lamaran. Belum. Tapi untuk sesuatu yang lain.
“Andika, nggak tidur?” tanya penumpang di sampingnya.
“Enggak bisa, Pak. Ada yang harus dipikirin.”
“Urusan cinta?”
“Iya, Pak.”
“Pikirin saja. Tapi nanti jangan lupa tidur. Besok masih panjang.”
Andika tersenyum. Ia menatap ke luar jendela. Gelap. Hanya lampu jalan sesekali menyapa.
“Reni, tunggu aku,” bisiknya.
Universitas Lambung Mangkurat, Fakultas Psikologi. Sabtu pagi, pukul 07.30.
Reni sudah tiba. Amilia menemani. Susan ya, Susan juga datang. Siapa sangka, Susan kuliah di Banjarmasin juga? Jurusan Perpustakaan. Sepi-sepi dia, ternyata dia pindah semester lalu tanpa bilang siapa pun.
“Susan, lo kagetin banget,” kata Amilia.
“Aku ingin kasih kejutan untuk sidang Reni,” kata Susan pelan sambil tersenyum.
“Kamu anak paling misterius sepanjang masa,” timpal Amilia.
Reni memeluk Susan. “Makasih, Sus. Aku senang banget kamu di sini.”
“Jangan nangis. Nanti makeup lo belepotan,” kata Susan.
Mereka tertawa.
Reni melihat ke arah gerbang fakultas. Belum ada Andika.
“Jam 7.30. Dia bilang jam 8,” gumamnya.
“Tenang, Ren. Pasti dia datang,” kata Amilia.
Gerbang Fakultas Psikologi, pukul 07.45.
Andika turun dari angkutan kota. Rambut sedikit berantakan, tapi wajahnya segar , ia sempat mencuci muka di toilet kampus. Jaket hitamnya rapih. Sepatu kerja masih sama, tapi dibersihkan semalam.
Ia berjalan ke gerbang.
Tiba-tiba, tiga laki-laki menghalangi jalannya.
“Mas Andika?” tanya Joni.
“Iya. Siapa kalian?”
“Kami disuruh Rahmat. Mas tidak boleh masuk ke fakultas Psikologi hari ini.”
Andika tersenyum. “Rahmat? Suruh saya tidak boleh menemui pacar saya sendiri? Di kampus? Di tempat umum? Ini Indonesia. Bukan negara komunis.”
“Maaf, Mas. Kami hanya menjalankan tugas.”
“Kalian preman bayaran. Saya tahu. Tapi coba lihat sekeliling. Ada satpam kampus. Ada CCTV. Kalau kalian berani menyentuh saya, kalian yang masuk penjara. Bukan saya.”
Joni terdiam. Ia menoleh ke temannya.
“Bang, ini agak rumit,” bisik temannya.
“Saya tidak akan ribut. Saya hanya akan berjalan ke gedung Psikologi. Kalau kalian berani menghentikan saya dengan kekerasan, silakan. Tapi ingat, saya juga punya hak untuk lapor polisi. Dan polisi sekarang mudah dihubungi. Lewat HP. Saya tinggal pencet 110,” kata Andika tegas.
Joni menghela napas. “Mas, kami tidak ada masalah sama Mas. Kami hanya butuh duit. Kami tidak butuh penjara. Silakan jalan. Tapi kami lapor ke Rahmat bahwa kami sudah berusaha.”
“Terserah kalian.”
Andika melangkah melewati mereka. Preman-preman itu hanya bisa diam.
Depan ruang sidang, Fakultas Psikologi, pukul 08.15.
Reni berdiri di depan pintu. Wajahnya cemas. Belum ada Andika.
Tiba-tiba, dari ujung lorong, sesosok laki-laki berjalan cepat.
“Reni!”
Andika.
Reni berlari. Ia berhenti satu meter di depan Andika. Tidak menangis. Tidak tersenyum lebar. Hanya lega.
“Kamu datang,” katanya.
“Aku bilang, aku akan datang.”
“Ada preman? Amilia bilang tadi ada yang menghalangi gerbang.”
“Ada. Tapi mereka mundur setelah saya bilang saya akan lapor polisi.”
Reni tertawa. “Kamu berani banget.”
“Biar preman, biar Rahmat, biar siapa pun. Tidak akan ada yang bisa menghentikan aku untuk berada di sampingmu pada hari pentingmu.”
Amilia, Susan, dan Bondan yang menonton dari kejauhan bertepuk tangan kecil.
“Masuk, Ren. Sidangmu jam 9. Saya akan menunggu di luar,” kata Andika.
“Kamu tidak mau ikut masuk?”
“Tidak bisa. Hanya dosen dan mahasiswa yang boleh. Tapi doaku untuk kamu dari luar.”
Reni menggenggam tangan Andika sebentar. Lalu masuk ke ruang sidang.
Ruang sidang, pukul 09.00.
Reni berdiri di depan tiga dosen penguji. Prof. Widya sebagai ketua. Dua dosen lain: Prof. Haris (psikologi klinis) dan Dr. Murni (psikologi pendidikan).
“Selamat pagi, Ibu dan Bapak. Perkenalkan, saya Reni Ayu Wulandari,” katanya.
Ia mempresentasikan skripsinya. Tidak gugup. Tidak ada rasa takut. Tangannya memegang gelang di sela-sela. Rasanya seperti Andika ada di sampingnya.
Tanya jawab berlangsung alot. Ada perdebatan kecil tentang metode analisis. Ada koreksi tentang sitasi jurnal internasional. Tapi Reni menjawab dengan tenang.
Prof. Widya tersenyum di akhir sidang.
“Baik, Reni. Kami akan musyawarah sebentar. Silakan tunggu di luar.”
Reni keluar. Amilia, Susan, Bondan, dan Andika berdiri di lorong.
“Gimana?” tanya Andika.
“Aku sudah jawab semua. Tapi belum tahu hasilnya.”
“Pasti lulus,” kata Andika.
“Kamu yakin?”
“Yakin. Karena kamu sudah melewati hal yang lebih sulit dari sidang. Kamu melewati larangan papa. Kamu melewati fitnah Rahmat. Kamu melewati jarak ratusan kilometer. Sidang ini hanya formalitas.”
Lorong fakultas, pukul 11.30.
Pintu ruang sidang terbuka. Prof. Widya memanggil.
“Reni Ayu Wulandari, silakan masuk.”
Reni masuk. Andika menahan napas.
Di dalam ruangan, Prof. Widya berdiri.
“Reni, dengan hasil musyawarah kami, dinyatakan bahwa skripsi saudari LAYAK dengan revisi kecil. Selamat. Anda lulus.”
Reni terpaku. Lalu menangis. Tangis bahagia.
“Selamat ya, Reni. Ibu bangga,” kata Prof. Widya sambil memeluknya.
Reni keluar ruangan dengan raut wajah sumringah. Amilia sudah berlari menghampiri.
“LULUS?!”
“LULUS!”
Mereka berpelukan. Susan ikut. Bondan menepuk punggung Reni.
Andika hanya berdiri di ujung lorong. Tersenyum. Matanya berkaca-kaca.
Reni melepas pelukan dari Amilia. Ia berjalan ke arah Andika.
Mereka berdua di tengah lorong. Dosen-dosen berlalu lalang. Mahasiswa lain berteriak-teriak. Tapi rasanya hanya mereka berdua.
“Selamat, Sarjana Psikologi,” kata Andika.
“Terima kasih sudah datang, Dika. Tanpa kamu, aku mungkin tidak sekuat ini.”
“Kamu sudah kuat dari awal. Aku hanya pengingat.”
Reni memegang gelang di tangannya. “Gelang ini sudah hampir putus.”
“Waktunya diganti,” kata Andika.
Ia merogoh tas kecilnya. Mengeluarkan kotak coklat , kotak yang sama dari tiga setengah tahun lalu.
“Apa itu?” tanya Reni.
Andika membuka kotak itu. Di dalamnya, bukan cincin. Tapi gelang baru. Tali kulit baru, lebih tebal. Dengan dua gantungan: satu motor (baru), dan satu cincin kecil perak , bukan cincin pertunangan, tapi cincin biasa.
“Cincin itu sebagai janji. Bahwa suatu hari nanti, akan aku ganti dengan cincin sungguhan,” kata Andika.
Reni tidak bisa berkata-kata. Ia menangis.
Andika mengambil gelang baru itu. Ia melepas gelang lama yang nyaris putus dari tangan Reni, lalu mengenakan gelang yang baru.
“Nah. Sekarang kamu siap menyambut masa depan,” kata Andika.
Reni menatap gelang barunya. Lalu menatap Andika.
“Andika, aku cinta kamu.”
“Aku juga cinta kamu, Reni. Lebih dari kata-kata.”
Mereka berpegangan tangan. Di lorong fakultas. Di antara mahasiswa yang berlalu. Di bawah lampu neon yang redup.
Dari kejauhan, di sudut lorong, Rahmat berdiri. Ia melihat semuanya.
Tangannya mengepal. Wajahnya merah padam.
“Belum selesai,” bisiknya.
Ia berbalik dan pergi.
Kos-kosan Reni, Sabtu malam, pukul 20.00. Perayaan kecil.
Amilia, Susan, Bondan, dan Andika berkumpul di kamar Reni. Kue tart kecil dari toko langganan. Lilin. Lagu selamat dari ponsel.
“Reni, selamat ya. Sekarang lo resmi S.Psi. Lamaran Andika tinggal menunggu waktu,” kata Amilia.
“Iya. Doain lancar.”
Susan yang jarang bicara tiba-tiba buka suara. “Ren, aku lihat Rahmat tadi di lorong saat lo lulus.”
Semua terdiam.
“Apa? Dia datang?” tanya Reni.
“Iya. Dia berdiri di sudut, melihat lo dan Andika berdua. Wajahnya merah. Tangannya mengepal. Dia pergi setelah kalian berpegangan tangan.”
Andika menghela napas. “Dia tidak akan berhenti.”
“Tapi setidaknya dia tidak mengganggu sidang lo,” kata Bondan.
“Belum. Tapi bisa kapan saja,” kata Andika.
Reni memegang gelang barunya. “Aku tidak takut. Aku punya kalian semua. Aku punya Andika.”
“Dan kita semua akan jaga lo, Ren,” kata Amilia.
Malam itu, mereka tertawa, makan kue, dan bercerita tentang masa depan. Tapi di balik tawa, ada kegelisahan yang tidak diucapkan. Rahmat belum selesai. Dan orang yang putus asa dalam cinta bisa melakukan hal-hal gila.
BAB 14
“Tabrakan di Simpang Adipura”
Kos-kosan Reni, Banjarmasin. Minggu pagi, pukul 09.00. Sehari setelah sidang skripsi.
Matahari cerah. Burung-burung berkicau di pohon pinggir jalan. Reni sedang berkemas , koper kecilnya dibuka, beberapa baju dimasukkan. Besok ia harus kembali ke Kapuas. Ada yang harus dirayakan bersama keluarga. Kelulusan. Dan mungkin... lamaran?
Amilia duduk di kasur sambil memainkan ponsel.
“Ren, lo yakin nggak mau nginep seminggu lagi? Kita bisa cari kerja bareng di Banjarmasin,” kata Amilia.
“Nggak bisa, Amil. Papa sudah minta pulang. Katanya mau bicara soal masa depan. Aku curiga dia mau bahas lamaran.”
“Lamaran dari Andika?”
“Siapa lagi?”
Amilia tersenyum. “Akhirnya. Setelah empat tahun berjuang, lo akan resmi jadi calon istri mekanik sukses.”
Reni tertawa. “Belum resmi. Masih proses.”
“Proses tinggal satu langkah lagi.”
Ponsel Reni bergetar. Pesan dari Andika.
“Ren, aku sudah di Banjarmasin. Nggak pulang bareng bis malam ini. Aku mau anter kamu naik bus besok pagi. Kita ketemu siang ini? Di kampus? Atau di mana?”
Reni membalas: “Di kampus aja. Jam 1 siang. Kita makan siang di kantin. Aku traktir sebagai ucapan terima kasih sudah datang ke sidangku.”
“Siap. Aku datang. Jangan lama-lama, nanti aku laper.”
Reni tersenyum membaca balasan itu.
“Andika?” tanya Amilia.
“Iya. Kita ketemu siang ini di kampus.”
“Aku ikut ya. Nggak mau ketinggalan momen romantis.”
“Bukan romantis. Cuma makan siang.”
“Makan siang dengan pacar yang baru saja menyelamatkan sidang lo dari preman bayaran? Itu romantis tingkat dewa.”
Reni menggeleng. Tapi senyumnya tidak bisa hilang.
Simpang empat Jalan Hasan Basri. persimpangan besar di Banjarmasin, dekat kampus Unlam. Minggu siang, pukul 12.30.
Reni mengendarai motor bebek biru milik Amilia. Ia meminjam karena motornya sendiri rusak seminggu lalu. Helm setengah muka, jaket tipis, dan gelang baru di tangan kanan.
Lampu merah menyala di simpang Hasan Basri. Reni berhenti. Tiga detik. Lima detik. Sepuluh detik.
Tiba-tiba, dari arah barat dari jalam Perintis Kemerdekaan Pasar Lama, sebuah mobil Avansa hitam melaju dengan kecepatan tinggi. Lampu merah masih menyala. Mobil itu menerobos.
Bukan karena ceroboh. Tapi karena sedang dikejar.
Dua motor polisi di belakang mobil Avansa itu dengan sirine menyala.
“Tahan mobil itu! Tabrak lari di Jalan Jendral Yani!” teriak polisi dengan pengeras suara.
Pengemudi Avansa panik. Ia berusaha membelok ke kanan, menghindari kejaran. Setirnya terkunci. Mobil oleng. Ban belakang selip.
Reni melihat dari jarak tiga puluh meter. Ia tidak bisa bergerak. Lampu masih merah. Kendaraan di sampingnya juga berhenti. Tidak ada ruang untuk menghindar.
“YA ALLAH!” teriak Reni.
Mobil Avansa itu menghantam motor Reni dari samping kiri.
Reni terlempar. Tubuhnya membentur aspal dua meter dari motornya. Kaki kanannya terjepit di antara bodi mobil dan motor yang ringsek.
Suara besi bergesekan. Kaca pecah. Orang-orang berteriak.
“TABRAKAN! TABRAKAN!”
“CEPAT PANGGIL AMBULANS!”
Reni masih sadar. Tapi kakinya... kakinya terasa hancur. Ia melihat ke bawah. Celana jeansnya robek. Tulang kering kanan terlihat salah satu , patah. Darah mengalir deras.
“Andika... Andika...” bisiknya.
Ia memegang gelang di tangannya. Gelang itu masih utuh. Tidak rusak. Gantungan motor dan cincin perak masih tergantung.
“Aku... janji... sama kamu...” isaknya.
Lalu ia pingsan.
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin, Ruang IGD. Minggu siang, pukul 13.15.
Suara bising. Mesin monitor detak jantung. Perawat berlari-lari. Dokter bedah memakai masker biru.
Reni terbaring di atas ranjang dorong. Kaki kanannya telah dipasang bidai darurat. Wajahnya pucat. Matanya terpejam.
“Pasien perempuan, usia 22 tahun. Kecelakaan lalu lintas di Simpang Hasan Basri. Korban tabrakan dengan mobil Avansa yang menerobos lampu merah. Patah tulang kaki kanan terbuka. Ada kemungkinan cedera kepala ringan. Segera operasi,” kata dokter jaga, dr. Rizky.
“Dok, keluarga pasien belum ada yang datang,” kata seorang perawat.
“Hubungi nomor darurat di ponselnya. Cari kontak ‘Papa’ atau ‘Mama’ atau ‘Andika’.”
Perawat mengambil ponsel Reni dari tas kecilnya yang masih tersangkut di motor ringsek. Layar ponsel retak, tapi masih menyala.
Ia menemukan kontak “Andika ❤️”. Menekan tombol panggil.
Kantin Universitas Lambung Mangkurat, pukul 13.15. Andika sedang menunggu Reni.
Andika duduk di meja pojok. Dua porsi nasi goreng sudah dingin. Ia memesan sejak jam 12.30. Sekarang sudah jam 13.15. Reni belum datang.
Ponselnya bergetar. Nomor tidak dikenal.
“Halo?”
“Selamat siang, apakah dengan Andika Pratama?”
“Iya. Saya Andika.”
“Pak Andika, saya perawat dari RSUD Ulin Banjarmasin. Pasien bernama Reni Ayu Wulandari masuk IGD. Kecelakaan di Simpang Hadsan Basri. Kondisi kritis. Mohon segera datang.”
Ponsel Andika jatuh. Suara nasi goreng di meja tidak ia hiraukan. Ia berlari ke luar kantin. Menumpang ojek online. Tidak peduli harganya berapa pun.
“Cepat, Pak. Tolong cepat,” katanya kepada pengemudi ojek.
RSUD Banjarmasin, Ruang IGD, pukul 13.40.
Andika masuk ke area IGD. Wajahnya pucat. Keringat di dahi.
“RENI! RENI!” teriaknya.
Seorang perawat menghampiri. “Pak Andika? Tenang. Pasien sedang di ruang operasi. Kaki kanannya patah tulang terbuka. Tidak mengancam jiwa. Tapi pemulihan butuh waktu lama.”
“Apa yang terjadi?”
“Mobil Avansa menerobos lampu merah di Simpang Hasan Basri. Sedang dikejar polisi karena kasus tabrak lari di Jalan Jendral Yani. Pengemudinya sudah diamankan. Korban lain dua orang, luka ringan. Hanya Reni yang paling parah.”
Andika duduk di kursi plastik ruang tunggu. Tangannya gemetar. Ia menunduk. Menangis.
“Reni... aku janji akan jaga kamu. Tapi kenapa ini terjadi?” isaknya.
Dari kejauhan, Bondan dan Amilia datang berlari. Amilia menangis.
“RENI! Reni gimana?!” teriak Amilia.
“Masih di operasi,” jawab Andika datar.
Bondan memegang pundak Andika. “Kuat, Mas.”
“Aku sudah janji akan jaga dia. Tapi malah kecelakaan,” kata Andika.
“Ini bukan salah Mas. Ini kecelakaan.”
RSUD Banjarmasin, dua jam kemudian, pukul 15.30.
Dokter Rizky keluar dari ruang operasi. Wajahnya lelah.
“Reni Ayu Wulandari?”
“Iya, Dok!” Andika berdiri.
“Operasi berjalan lancar. Tulang kakinya kami pasang pen. Tapi karena patah tulang terbuka, ada risiko infeksi. Pasien perlu rawat inap minimal dua minggu. Dan setelah itu, terapi fisik. Kembali berjalan normal? Kemungkinan besar bisa. Tapi butuh waktu. Dan kesabaran.”
“Bisakah dia berjalan normal seperti dulu?” tanya Amilia.
“Dengan terapi rutin, bisa. Tapi tidak instan. Mungkin tiga sampai enam bulan.”
Andika menghela napas. “Itu sudah cukup.”
Reni dipindahkan ke ruang rawat inap. Masih tersadar sedikit-sedikit. Matanya setengah terbuka.
“Dika...” bisiknya.
Andika memegang tangannya. Tangan yang sama yang memegang gelang.
“Aku di sini, Ren. Aku tidak akan pergi.”
“Kakiku... sakit sekali.”
“Kamu kuat. Kamu akan sembuh.”
“Gelangku... masih ada?”
Andika melihat gelang di pergelangan tangan kanan Reni. Masih utuh. Gantungan motor dan cincin perak masih ada.
“Masih. Utuh.”
Reni tersenyum tipis. Lalu tertidur lagi.
Rumah Pak Wulandari di Kapuas. Minggu sore, pukul 16.00.
Pak Wulandari menerima telepon dari Andika.
“Pak, Reni kecelakaan di Banjarmasin. Kaki kanannya patah. Sekarang di RSUD Ulin Banjarmasin. Operasi selesai. Reni sadar.”
Pak Wulandari terdiam. Rokok di tangannya jatuh.
“Apa? KECELAKAAN?!”
“Iya, Pak. Mobil Avansa tabrak lari, terobos lampu merah. Reni tertabrak.”
“AVANSA? Mobil warna hitam?”
“Iya, Pak.”
Pak Wulandari menggepalkan tangan. Wajahnya merah padam.
“Papa berangkat sekarang. Tolong jaga Reni.”
Telepon ditutup.
Ibu Reni menangis di dapur.
“Pak, kita harus ke Banjarmasin sekarang!”
“Siapkan barang, Bu. Kita naik mobil pribadi.”
RSUD Banjarmasin. Minggu malam, pukul 20.00.
Pak Wulandari dan Ibu Reni tiba. Andika masih setia di samping Reni. Belum makan. Belum minum. Hanya duduk. Memegang tangan Reni.
“Andika,” sapa Pak Wulandari.
“Pak, Bu. Maaf, saya tidak bisa menjaga Reni.”
“Ini bukan salah kamu. Papa tahu.”
Pak Wulandari mendekati Reni. Reni masih tertidur. Wajahnya pucat, tapi masih bernapas lega.
“Ren, Papa di sini,” bisik Pak Wulandari.
Reni terbangun perlahan. “Pa... kakiku...”
“Papa tahu. Kamu akan sembuh. Papa janji.”
“Andika... di mana?”
“Di samping kamu.”
Reni menoleh. Andika tersenyum.
“Aku tidak pergi, Ren,” kata Andika.
Reni menangis. Bukan karena sakit. Tapi karena lega.
RSUD Banjarmasin, dua minggu kemudian. Reni diperbolehkan pulang ke Kapuas, tapi masih menggunakan kursi roda.
Andika datang ke rumah sakit setiap hari. Bolak-balik bengkel - rumah sakit - bengkel. Lelah, tapi tidak mengeluh.
Reni sudah bisa duduk. Tapi kakinya masih diperban tebal. Belum boleh digerakkan. Dokter mengatakan terapi akan dimulai setelah tiga minggu pasca operasi.
“Dika, kamu tidak usah setiap hari ke sini. Bengkelmu bisa sepi,” kata Reni.
“Aku rela. Aku sudah janji setia.”
“Tapi aku akan lama sembuh. Mungkin setengah tahun.”
“Setengah tahun? Aku sudah menunggu empat tahun. Setengah tahun tidak ada apa-apanya.”
Reni tersenyum , senyum pertama setelah kecelakaan.
“Kamu benar-benar keras kepala.”
“Kamu baru sadar?”
Pak Wulandari yang mendengar dari balik pintu tersenyum kecil. Ia masuk ke ruangan.
“Andika, Papa titip Reni ya. Besok kita pulang ke Kapuas. Papa akan cari fisioterapis terbaik untuk Reni.”
“Saya ikut membantu, Pak. Apapun yang diperlukan.”
“Papa tahu. Terima kasih, Andika.”
Rumah Reni, Kapuas. Dua bulan setelah kecelakaan, Januari.
Reni sudah bisa berdiri dengan kruk. Tapi masih pincang. Terapi jalan dilakukan setiap pagi di halaman rumah. Pak Wulandari yang memandu. Ibu Reni menyiapkan minuman.
Andika datang setiap akhir pekan. Dari bengkel di Jalan Tambun Bungai, ia naik motor menuju Jalan Cilik Kriwut. Hanya untuk menemani Reni terapi.
“Dika, aku capek. Hari ini tidak bisa,” kata Reni sambil duduk di kursi teras.
“Coba satu langkah lagi, Ren. Satu langkah saja.”
“Tidak bisa. Sakit.”
Andika duduk di samping Reni. “Ingat waktu kita di bundaran dulu? Kamu jatuh karena aku senggol. Kamu tidak marah. Kamu malah tersenyum. Saat itu aku berpikir, perempuan ini luar biasa. Kuat. Sekarang juga, kamu kuat. Coba satu langkah lagi.”
Reni menatap Andika. Lalu berdiri dengan kruk. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah.
“Aku bisa,” bisiknya.
“Iya, kamu bisa.”
Dari kejauhan, Pak Wulandari mengamati. Matanya berkaca-kaca.
Bengkel Andika, Jalan Tambun Bungai. Malam hari. Andika sendirian.
Ponsel berdering. Pajar.
“Dika, gue dengar Reni sudah bisa jalan dengan kruk. Bagus, kan?”
“Iya. Masih pincang. Tapi lebih baik dari dua bulan lalu.”
“Kapan lo akan lamar?”
“Aku tunggu dia benar-benar sembuh. Aku tidak ingin dia merasa dipaksa.”
“Lo baik banget, Dika. Gue iri sama Reni.”
“Jangan iri. Cari pacar sendiri.”
“Susah, Dika. Cewek sekarang maunya yang ganteng, kaya, dan romantis. Gue cuma ganteng.”
Andika tertawa. “Gila lo, Jar. Banyak cewek yang mau sama lo asal lo kurangi sarkasme.”
Pajar tertawa panjang.
Rumah Reni, Kapuas. Tiga bulan setelah kecelakaan, Februari.
Reni sudah bisa berjalan tanpa kruk. Masih pincang sedikit. Tapi tidak terlalu terlihat. Dokter mengatakan proses pemulihan berjalan baik.
Andika datang. Membawa sekantung gorengan dari Mbok Darmi.
“Mbok Darmi titip salam. Katanya, ‘Semoga Reni cepat sembuh. Bangku kayu di bundaran sepi tanpa dia’,” kata Andika.
Reni tersenyum. “Aku rindu bundaran.”
“Minggu depan kita ke sana. Saya anter.”
“Janji?”
“Janji. Sumpah pakai gelang.”
Andika mengangkat gelang di tangannya , ya, ia juga memakai gelang yang sama sejak Reni memberikan satu untuknya di hari pertemuan setelah sidang dulu.
Reni melihat gelang itu. “Kamu masih pakai?”
“Tidak pernah lepas. Sama seperti kamu.”
Mereka berpegangan tangan. Sore itu, angin dari Sungai Kapuas membawa bau tanah basah. Pertanda akan turun hujan.
Tapi di hati mereka, cerah.
BAB 15
“Mobil Avansa Hitam”
Rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut, Kapuas. Empat bulan setelah kecelakaan. Maret, pukul 16.00. Sore yang cerah.
Reni berjalan di halaman rumah tanpa kruk. Masih pincang sedikit , sangat sedikit. Hampir tidak terlihat kecuali jika orang memperhatikan dengan saksama. Dokter fisioterapi bilang, dalam dua bulan lagi dia bisa berjalan normal sepenuhnya.
Ia memegang gelang di pergelangan tangannya. Gelang baru yang diberikan Andika saat kelulusan sidang dulu. Gantungan motor dan cincin perak itu masih melekat erat.
"Dag dig dug," bisiknya.
Hari ini Andika datang. Bukan hanya untuk menjenguk seperti biasa. Tapi untuk sesuatu yang lebih serius.
Ruang tamu rumah Reni, pukul 16.30.
Pak Wulandari duduk di sofa utama. Ibu Reni di sampingnya. Reni duduk di kursi di hadapan mereka. Wajahnya tegang. Tangan kanannya menggenggam erat ujung baju.
Bel pintu berbunyi.
Pak Wulandari berdiri, membuka pintu. Di luar, Andika berdiri dengan kemeja putih lengan panjang , pertama kalinya Andika memakai kemeja. Biasanya ia hanya memakai kaos oblong longgar yang penuh noda oli.
Bawahan celana bahan hitam. Sepatu pantofel , pinjaman dari Pajar yang ukurannya kebesaran setengah sentimeter.
"Selamat sore, Pak. Bu," sapa Andika dengan suara yang sedikit bergetar.
"Masuk, Andika," kata Pak Wulandari.
Andika masuk. Ia membawa sebuah kotak kado berwarna emas , tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Di tangannya juga ada sebuah amplop putih bersih.
Ia duduk di kursi yang telah disediakan. Reni menatapnya dari seberang.
"Ada apa, Andika? Serius banget," tanya Ibu Reni sambil tersenyum kecil.
Andika menegakkan punggungnya. Matanya menatap Pak Wulandari, lalu Ibu Reni, lalu akhirnya Reni.
"Pak, Bu, saya datang ke sini bukan sebagai mekanik bengkel yang dulu dianggap remeh. Saya datang sebagai laki-laki yang sudah berusaha selama empat tahun lebih untuk membuktikan bahwa saya layak untuk Reni."
Pak Wulandari tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
"Empat tahun lalu, Bapak bilang , saya tidak punya masa depan. Sekarang, izinkan saya melaporkan: Saya punya bengkel sendiri di Jalan Tambun Bungai, nama Andika Motor Sport. Bulan depan, cabang kedua di Palangkaraya akan resmi buka. Saya punya tiga karyawan tetap. Penghasilan bersih per bulan rata-rata belasan juta. Saya tidak kaya, tapi saya cukup. Dan saya akan terus berusaha."
Ibu Reni mengusap air mata. "Andika, Ibu tidak tahu kamu sudah sejauh ini."
"Saya tidak pernah berhenti berusaha, Bu. Karena saya berjanji pada diri sendiri , dan pada Reni , bahwa suatu hari nanti saya akan datang ke rumah ini bukan sebagai orang asing yang dimarahi, tapi sebagai calon keluarga."
Andika mengambil amplop putih. Ia serahkan ke Pak Wulandari.
"Apa ini?" tanya Pak Wulandari.
"Surat lamaran, Pak. Bukan untuk hari ini , karena Reni masih dalam masa pemulihan. Tapi untuk bulan depan. Setelah dia benar-benar sembuh. Saya mohon izin untuk meminang Reni Ayu Wulandari."
Pak Wulandari membuka amplop itu. Membaca surat lamaran yang ditulis tangan oleh Andika , tulisan masih cakar ayam, tapi isinya jelas dan penuh hormat.
"Reni," panggil Pak Wulandari.
"Iya, Pa."
"Kamu mau?"
Reni menangis. Ia tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Hanya mengangguk berkali-kali.
"Papa tanya sekali lagi. Kamu mau menikah dengan Andika Pratama?"
"Aku mau, Pa. Aku sudah mau dari empat tahun lalu," jawab Reni dengan suara parau.
Pak Wulandari meletakkan surat itu di meja. Ia berdiri, berjalan ke arah Andika.
Andika ikut berdiri.
Pak Wulandari menggenggam tangan Andika. "Andika, Papa terima lamaran kamu. Tapi dengan satu syarat."
"Apa, Pak?"
"Jangan buat anak Papa menangis. Jangan buat dia menderita. Dia sudah cukup menderita dengan kecelakaan itu."
"Saya berjanji, Pak. Saya tidak akan pernah membuat Reni menangis , kecuali air mata bahagia."
Pak Wulandari memeluk Andika. Pelukan yang lama. Seperti pelukan ayah kepada anak laki-lakinya sendiri.
Ibu Reni ikut memeluk Andika dari samping.
Reni hanya bisa menangis di kursinya. Bahagia. Lega. Setelah empat tahun, akhirnya restu itu datang. Bukan setengah-setengah, tapi restu penuh.
Halaman belakang rumah Reni, satu jam kemudian. Pukul 17.30. Sore menjelang senja.
Andika dan Reni duduk di kursi taman belakang. Di samping mereka, pohon rambutan tua yang berbuah lebat.
"Akhirnya," kata Reni.
"Akhirnya," jawab Andika.
"Aku tidak menyangka papa akan selembut itu."
"Aku juga. Dulu dia mau bakar suratku. Sekarang dia peluk aku."
"Itu karena kamu berhasil membuktikan diri, Dika. Kamu berubah dari mekanik kecil jadi pengusaha. Papa menghormati itu."
Andika menggenggam tangan Reni. "Bukan karena harta, Ren. Tapi karena aku tidak pernah berhenti. Itu yang papa lihat."
Matahari mulai bergeser ke barat. Warna jingga mulai menyebar.
"Dika, aku mau tanya sesuatu yang serius."
"Apa?"
"Mobil Avansa yang menabrak aku... Rencananya memang mau kabur karena tabrak lari di Jalan Jendral Yani. Tapi polisi bilang... pengemudinya masih di bawah umur. Dibawa kabur orang tuanya. Kabur ke luar negeri."
Andika mengernyit. "Lalu?"
"Polisi juga bilang... mobil itu atas nama perusahaan keluarga... Rahmat."
Andika terdiam. Wajahnya berubah tegang.
"Apa?"
"Mobil Avansa hitam itu... mobil keluarga Rahmat. Yang menyetir adiknya yang masih SMP. Tapi yang menyuruh kabur... Rahmat sendiri."
Andika berdiri. "Kamu yakin?"
"Bondan yang cerita. Dia dapat info dari temannya di kepolisian. Rahmat sudah keluar negeri. Ke Malaysia. Sejak sebulan lalu."
"Jadi dia kabur? Biar adiknya yang kena?"
"Sepertinya begitu. Polisi masih mencari."
Andika duduk kembali. Ia menutup muka dengan kedua tangan.
"Dia nyaris membunuhmu, Ren. Jika mobilnya sedikit ke kanan, kepalamu yang kena. Bukan kaki."
"Aku tahu. Tapi aku sudah memaafkan."
"Kamu memaafkan? Dia sudah nyaris membunuhmu!"
"Memaafkan bukan karena aku lemah, Dika. Memaafkan karena aku tidak ingin membawa beban marah seumur hidup. Biar Tuhan yang membalas."
Andika menghela napas panjang. Ia menatap Reni. "Kamu luar biasa. Aku tidak bisa sememaafkan itu."
"Kamu bisa. Nanti. Setelah kamu menikah denganku, hatimu akan lebih lembut."
Andika tersenyum. "Kamu mulai jadi psikolog sungguhan."
Reni tertawa kecil. "Iya. Gelar S.Psi-ku sudah berguna bahkan sebelum aku dapat kerja."
Polres Kapuas, seminggu kemudian. Senin pagi, pukul 10.00.
Andika dipanggil untuk memberikan keterangan sebagai saksi. Bukan saksi kecelakaan Reni , tapi saksi kasus tabrak lari yang melibatkan keluarga Rahmat.
"Pak Andika, apa hubungan Anda dengan Rahmat bin Hermansyah?" tanya penyidik, Ipda Budi.
"Rahmat adalah teman sekelas Reni , pacar saya , dulu. Dia juga saingan saya dalam memperebutkan Reni."
"Apakah Anda tahu bahwa Rahmat memerintahkan adiknya , yang masih di bawah umur , untuk kabur dengan mobil Avansa hitam setelah menabrak lari seorang pejalan kaki di Jalan Jendral Yani, Banjarmasin?"
"Saya baru tahu, Pak. Baru seminggu yang lalu."
"Mobil itu juga yang menabrak pacar Anda, Reni, di Simpang Hasan Basri?"
"Iya, Pak. Sama persis. Avansa hitam."
Ipda Budi menghela napas. "Kami sudah berkoordinasi dengan kepolisian Malaysia. Rahmat diduga berada di Kuala Lumpur. Kami akan segera melakukan penangkapan."
"Terima kasih, Pak. Saya harap keadilan ditegakkan."
"Bukan hanya untuk Reni, Pak Andika. Tapi juga untuk korban tabrak lari di Banjarmasin. Orang itu meninggal. Keluarganya hancur."
Andika menunduk. "Saya doakan semoga pelaku segera ditangkap."
Bundaran Besar Kapuas. Sabtu sore, pukul 16.30. Dua minggu setelah lamaran diterima.
Reni sudah bisa berjalan normal. Pincangnya hampir hilang. Dokter bilang, karena kemauan keras untuk sembuh, proses terapi berjalan lebih cepat dari perkiraan.
Ini pertama kalinya Reni kembali ke bundaran setelah kecelakaan.
Andika sudah menunggu di bangku kayu dekat patung. Mbok Darmi sudah menyiapkan es cincau susu dan gorengan.
"RENI! Neng Reni!" teriak Mbok Darmi dari lapaknya.
Reni tersenyum lebar. Ia melambaikan tangan. Kini ia tidak perlu lagi duduk di bangku yang sama dengan jarak satu telapak tangan. Kini ia boleh duduk di samping Andika. Dekat. Bebas.
"Akhirnya aku bisa ke bundaran lagi," kata Reni sambil meregangkan tangan.
"Empat bulan kamu tidak ke sini. Sepi banget," kata Andika.
"Mbok Darmi, gorengan masih enak kayak dulu?"
"Enak, Neng. Malah lebih enak. Soalnya saya tambah bumbu rahasia."
"Bumbu apa, Bu?"
"Bumbu rindu. Soalnya pembeli pada nanya terus, 'Reni mana? Reni mana?'"
Reni tertawa. Air matanya hampir keluar , tapi ditahannya.
"Dika, terima kasih ya. Kamu setia nunggu sampai kapan pun."
"Sudah janji. Masih ada tiga kata yang belum aku ucapkan, tapi akan aku ucapkan di waktu yang tepat."
"Tiga kata? Aku cinta kamu?"
"Bukan itu. Sudah sering aku ucapkan."
"Apa?"
"Nanti. Tunggu setelah nikah."
Reni memukul lengan Andika pelan. "Kamu nakal."
"Bukan nakal. Romantis."
Mbok Darmi datang membawa nampan. "Ini pesanan khusus. Es cincau susu dua, gorengan satu porsi besar. Plus pisang goreng gratis."
"Wah, Bu. Jangan gratis terus. Nanti Mas Andika makin keras kepala," kata Reni.
"Biarin. Saya senang lihat kalian berdua. Ingatkan saya sama suami saya dulu."
"Suami Ibu?"
"Iya. Dulu kami pacaran di bundaran ini juga. Tapi beda bangku. Sekarang suami saya sudah di surga. Tapi setiap kali saya lihat pasangan muda seperti kalian, saya ingat dia."
Reni dan Andika diam. Menghormati.
"Pokoknya, kalian jangan putus ya. Saya sudah investasi gorengan gratis."
"Tidak akan putus, Bu. Sampai mati," kata Andika.
"Janji?"
"Janji."
Mbok Darmi tersenyum puas lalu kembali ke lapaknya.
Rumah Reni, malam harinya. Pukul 20.00.
Pak Wulandari memanggil Andika dan Reni ke ruang tamu.
"Anak-anak, Papa mau bilang sesuatu."
"Ada apa, Pa?" tanya Reni.
"Papa baru dapat kabar dari kepolisian. Rahmat sudah ditangkap di Malaysia dua hari lalu. Sekarang dalam proses ekstradisi. Adiknya juga sudah menyerahkan diri. Kasus tabrak lari dan kecelakaan kalian akan segera disidangkan."
Reni menunduk. "Pa, meskipun dia menyakitiku, aku sudah memaafkan."
"Papa tahu. Tapi memaafkan tidak menghapus tanggung jawab pidana, Ren. Biar hukum yang berjalan. Kamu fokus sembuh dan persiapan pernikahan."
Andika menggenggam tangan Reni. "Apapun keputusannya, saya ikut, Pak. Yang penting Reni bahagia."
Pak Wulandari mengangguk. "Kamu laki-laki baik, Andika. Papa bangga."
Bengkel Andika, Jalan Tambun Bungai. Seminggu kemudian.
Andika sedang membereskan administrasi cabang baru di Palangkaraya. Pajar, Rano, Edi, Leni, dan Siska datang membawa kue dan minuman.
"Dika, kita rayain lamaran lo!" teriak Rano sambil membuka kotak kue.
"Belum nikah, No. Masih lamaran," kata Andika.
"Sama saja. Bentar lagi sih. Bulan depan kan pernikahan?"
"Rencananya bulan depan. Kalau Reni sudah benar-benar sembuh total."
"Dia sudah hampir normal, Dika. Lo nggak lihat dia senyum-senyum terus?" kata Leni.
"Iya. Aku lihat. Itu yang membuatku bahagia."
Pajar membuka gitar di sudut bengkel. "Gue kasih lagu buat kalian. Ini lagu khusus."
"Jangan lagu galau, Jar. Nanti bengkel jadi banjir," ledek Edi.
Pajar mulai memetik gitar. Lagu "Rindu Sendiri" , tapi diubah liriknya jadi versi bahagia.
Mereka tertawa. Bernyanyi tidak jelas. Makan kue sampai habis. Oli berceceran di lantai bengkel.
Tapi Andika tidak peduli.
Tiga minggu lagi, ia akan menikahi Reni.
Tiga minggu lagi, semua perjuangan akan terbayar.
Dan bundaran akan menjadi saksi bisu kebahagiaan mereka.
BAB 16
“Pelaminan di Bawah Senja”
Rumah Reni, Jalan Cilik Kriwut, Kapuas. Dua minggu jelang pernikahan. Jumat sore, pukul 15.00. Cuaca terik, tapi ada angin dari sungai.
Reni duduk di kursi teras. Di pangkuannya, sebuah album pernikahan sampel , kumpulan foto prewedding yang baru saja selesai dua hari lalu. Foto-foto itu diambil di Bundaran Besar Kapuas. Di bangku kayu yang sama. Di lapak Mbok Darmi yang sama. Di perempatan yang sama.
Andika berdiri di sampingnya, ikut melihat.
"Reni, lihat ini. Foto lo jatuh ketawa waktu Mbok Darmi nimpuk gue pakai sendok," kata Andika sambil menunjuk satu foto.
"Itu karena lo ngomong kalau lo pacaran sama Mbok Darmi sebelum kenal aku. Siapa yang nggak ketawa?" jawab Reni sambil tertawa.
"Mbok Darmi marah-marah. Katanya, 'Mas Andika, jaga mulut. Nanti Neng Reni batal nikah!'"
"Untung nggak batal. Kalau batal, gue rugi. Sudah investasi empat tahun," kata Andika.
Reni memukul lengan Andika pelan. "Kamu investasi apa? Cinta."
"Iya. Cinta dengan bunga yang sangat besar. Bunganya kamu."
"Kamu kalau musim kawin begini bahasanya makin menjadi-jadi."
Pajar, Rano, Edi, Leni, Siska datang bersama Amilia, Susi, dan Susan. Mereka membawa kardus-kardus berisi dekorasi pernikahan. Balon. Rumbai. Huruf-huruf timbul untuk papan nama.
"KITA SIAP DEKORASI!" teriak Susi dari depan pagar.
"Kalian jangan bikin berantakan rumah gue!" teriak Ibu Reni dari dalam rumah.
"Tidak, Bu. Nanti kami bereskan," jawab Amilia manis.
Halaman rumah Reni. Dua jam kemudian. Pukul 17.00. Sore mulai jingga.
Halaman rumah Reni berubah. Tenda putih biru terpasang di halaman depan. Kursi-kursi plastik putih disusun rapi. Pelaminan sederhana di teras rumah , bukan pelaminan megah, karena Reni dan Andika menginginkan yang sederhana. Tapi sederhana yang indah.
Andika memanjat tangga untuk menggantungkan hiasan huruf "R & A" di atas pintu masuk.
"Hati-hati, Dika! Nanti jatuh, patah kaki. Batal nikah," teriak Rano dari bawah.
"Rano, lo jangan ngomong gitu. Bawa sial," timpal Leni.
"Bawa sial atau bawa gorengan? Gue bawa gorengan, nih. Mau?" Rano mengangkat bungkusan plastik.
"Lo kerja, jangan makan mulu!" seru Siska.
Reni mengamati dari kursi teras. Kakinya sudah normal. Tidak pincang. Dokter fisioterapi memberi kabar baik kemarin: "Selamat, Anda sembuh total. Jalan Anda sudah simetris."
Ia memegang gelang di pergelangan tangannya. Gelang itu sudah diganti lagi , Andika memberinya gelang baru seminggu yang lalu. Khusus untuk persiapan pernikahan. Tali kulit merah, dengan gantungan mini berbentuk dua cincin menyatu.
"Ini gelang terakhir sebelum cincin asli," kata Andika waktu itu.
Reni tersenyum mengingatnya.
"Ren, lo ngelamun?" Amilia duduk di sampingnya.
"Iya. Aku ingat dulu, di bangku bundaran, Andika bilang, 'Suatu hari akan kuganti gelang ini dengan cincin.' Sekarang tinggal dua minggu lagi."
"Kamu siap?"
"Siap, sih. Tapi deg-degan. Soalnya banyak yang harus diurus."
"Jangan deg-degan. Kita semua bantu. Ada Pajar yang jago administrasi, ada Rano yang jago makan, ada Susi yang jago teriak-teriak."
"Dasar Amil, kamu keterlaluan," kata Susi yang mendengar dari kejauhan.
Mereka tertawa bersama.
Rumah Andika (kontrakan baru di belakang bengkel yang sudah diperbesar). Sabtu pagi, pukul 09.00. Seminggu jelang pernikahan.
Andika tidak sendiri. Pajar, Edi, Rano, dan Bondan datang membantu merapikan rumah , yang akan menjadi rumah pertama Andika dan Reni setelah menikah.
Rumah kontrakan itu sederhana: satu kamar tidur, satu ruang tamu sekaligus ruang keluarga, dapur kecil, dan kamar mandi. Tapi Andika sudah mengecat ulang tembok dengan warna biru muda , warna favorit Reni.
"Lo cat tembok sendiri, Dika? Padahal bisa panggil tukang," kata Edi sambil menggeser sofa ke sudut.
"Biar ada kesan personal. Nanti kalau Reni nanya, 'Siapa yang ngecat tembok?', gue bisa jawab, 'Aku, sayang. Dengan penuh cinta.'"
"Sweet level dewa," kata Bondan sambil mengacungkan jempol.
"Gue jadi mual," timpal Rano sambil memegang perut.
"Perut lo sakit atau mual karena baper?" tanya Pajar.
"Dua-duanya. Tapi karena gue habis makan dua porsi nasi goreng, mualnya lebih dominan."
Mereka melanjutkan merapikan. Andika menggantung foto prewedding di dinding ruang tamu , foto mereka berdua di bundaran, senja di belakang, tersenyum tidak peduli dunia.
"Bagus itu," kata Pajar.
"Fotonya atau modelnya?" tanya Andika.
"Dua-duanya."
"Terima kasih. Gue doakan lo cepet dapet pacar, Jar."
"Gue sudah pasrah. Nikah aja sama kerjaan."
Rumah Reni, Minggu sore, pukul 16.00. Tiga hari jelang pernikahan.
Busana pernikahan sudah tiba. Kebaya putih dengan sedikit payet, kain batik Kapuas warna biru tua. Reni mencobanya di kamar. Susan yang membantu.
"Susan, ini terlalu ketat di bagian pinggang. Aku takut nggak bisa bernapas nanti saat akad," kata Reni sambil memandang cermin.
"Tidak ketat. Ini pas. Kamu hanya belum terbiasa pakai kebaya. Nanti setelah sejam, longgar sendiri."
"Kata siapa?"
"Kata ibu kostku dulu. Dia tukang jahit."
Reni menarik napas. "Baiklah. Aku percaya."
Amilia masuk tanpa mengetuk. "WOOW! RENI! LO CANTIK BANGET!"
"Amil, jangan teriak-teriak. Nanti tetangga pada dengar."
"Biar dengar. Biar mereka tahu bahwa calon istri Andika itu secantik bidadari."
Reni tersipu. "Kamu melebih-lebihkan."
"Sumpah. Andika pasti terpana pas lihat lo nanti."
"Semoga dia tidak pingsan di pelaminan."
"Kalau dia pingsan, kita siram air aerox." ledek Amilia.
Rumah Andika, Senin malam, pukul 20.00. Sehari jelang pernikahan. Malam senggahan , tradisi malam sebelum akad nikah.
Menurut adat Kapuas, malam sebelum pernikahan, calon pengantin pria akan dikunjungi keluarga, teman, dan tetangga untuk mendoakan. Dan biasanya, dimeriahkan dengan nasi tumpeng dan doa bersama.
Tapi Andika meminta yang sederhana. Nasi kotak untuk semua tamu. Tidak ada tumpeng besar. Tidak ada orkes dangdut. Hanya doa dan tawa.
"Teman-teman, makasih udah datang," kata Andika di teras kontrakannya.
"Ya iyalah, Dika. Kita ini sahabat. Apalah arti sahabat kalau nggak datang di malam senggahan?" kata Edi.
"Makan dulu, gue laper," kata Rano yang sudah menyantap nasi kotak tanpa izin.
"Rano, beri sedikit kesopanan. Ini acara doa, bukan acara makan," tegur Leni.
"Doa dan makan bisa beriringan, Leni. Gue doa sambil makan. Nggak ada larangan."
Pajar membuka gitar. "Gue kasih lagu buat Andika. Ini lagu terakhir masa lajang."
Andika menyiapkan telinga.
Pajar mulai bernyanyi. Lagu "Masa Lajang" versi parodi , liriknya diubah tentang perjuangan Andika mengejar Reni, tentang surat yang dibakar, tentang larangan Pak Wulandari, tentang kecelakaan, tentang gelang yang tak pernah lepas.
Semua tertawa. Beberapa menangis , termasuk Siska.
"Dasar Pajar, bikin kita nangis," isak Siska.
"Ini spesial. Untuk sahabat yang paling gigih," kata Pajar.
Andika memeluk Pajar. "Makasih, Jar. Lo sahabat terbaik."
Rumah Reni, malam senggahan , waktu yang sama.
Reni duduk di kamar. Ibu Reni, Amilia, Susi, Susan, dan beberapa tetangga datang. Mereka membawa seserahan , tapi sederhana. Karena Reni meminta tidak berlebihan.
"Ren, besok pagi lo akan dinikahi Andika. Apa perasaan lo?" tanya Susi.
"Aku bahagia. Tapi aku juga takut."
"Takut apa?"
"Takut tidak bisa menjadi istri yang baik. Takut mengecewakan."
Ibu Reni memegang tangan anaknya. "Ren, tidak ada istri yang sempurna. Yang penting kamu dan Andika saling mengerti. Papa dan Mama dulu juga banyak bertengkar. Tapi kami saling memaafkan. Itu kuncinya."
"Aku kangen Papa," kata Reni.
"Iya. Papa di ruang tamu. Sibuk mengatur akad nikah besok."
"Sampai sekarang Papa masih overprotektif."
"Sudah menjadi tugasnya," kata Ibu Reni sambil tersenyum.
Rumah Reni, Selasa pagi , HARI PERNIKAHAN. Pukul 07.00.
Matahari baru saja terbit. Langit cerah biru. Burung gereja berkicau di pohon rambutan.
Reni sudah mandi. Kebaya sudah dipasang oleh Susan dan Amilia. Kain batik Kapuas melilit anggun di pinggangnya. Rambut disanggul sederhana , tidak banyak aksesoris. Wajah dihias make-up tipis — natural. Hanya sedikit lipstik pink.
"Reni, lo cantik banget. Aku nggak bohong," kata Amilia sambil memeluk dari belakang.
"Terima kasih, Amil. Kamu sudah menjadi sahabat terbaik sepanjang masa."
Susi ikut memeluk. "Lo beruntung punya Andika. Dan Andika beruntung punya lo."
Susan hanya tersenyum sambil mengusap air mata.
Rumah Andika, pukul 07.30.
Andika sudah menggunakan setelan jas hitam , sederhana, tanpa dasi. Kemeja putih di dalamnya. Sepatu pantofel , sekarang sudah pas, bukan pinjaman lagi. Ia membeli sendiri seminggu lalu.
Rambut disisir rapi. Wajah dicukur bersih , untuk pertama kalinya tanpa janggut tipis.
"Lo kayak orang lain, Dika," kata Rano.
"Bukan orang lain. Ini Andika versi pesta."
"Ganteng. Reni pasti klepek-klepek."
"Semoga tidak klepek-klepek sampai pingsan. Gue tidak kuat mengangkat dia. Kakinya baru sembuh."
Mereka tertawa.
Mobil pengantin , bukan mobil mewah. Hanya Avanza putih pinjaman tetangga. Tapi dihiasi pita bunga sederhana. Cukup.
Rumah Reni, pukul 09.00. Akad nikah.
Pelaminan sederhana di teras. Penghulu sudah datang. Saksi: Pajar (dari pihak Andika) dan Bondan (dari pihak Reni).
Pak Wulandari duduk di kursi utama. Wajahnya tegang. Tangannya gemetar.
"Pak, tenang. Ini bukan peperangan," bisik Ibu Reni.
"Ini lebih menegangkan daripada peperangan, Bu. Saya akan memberikan anak satu-satunya ke laki-laki yang dulu saya usir."
"Tapi sekarang Bapak terima dia."
"Iya. Karena dia sudah buktikan keteguhannya."
Andika memasuki area akad. Ia berjalan dari pintu pagar ke teras. Setiap langkah diiringi doa dari tamu undangan.
Ia duduk di hadapan penghulu. Reni belum terlihat , masih di dalam kamar.
"Mohon hadirkan mempelai wanita," kata penghulu.
Amilia masuk ke kamar, memandu Reni keluar.
Reni berjalan pelan. Kebayanya berkibar tipis. Wajahnya tertunduk malu.
Seluruh tamu undangan terdiam.
Andika menatap Reni. Tidak berkedip.
Reni sampai di samping Andika. Mereka duduk bersebelahan di pelaminan.
"Sekarang, prosesi ijab kabul. Bapak Wulandari, silakan," kata penghulu.
Pak Wulandari berdiri. Suaranya bergetar.
"Putri saya, Reni Ayu Wulandari, saya nikahkan dengan Andika Pratama dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai sebesar... dua juta rupiah... dibayar tunai."
Andika menarik napas panjang. Tangannya sedikit gemetar. Ia menatap Reni. Reni menatap balik , matanya berkaca-kaca. Dengan cepat menjawab ijab kobul
"Saya terima nikahnya Reni Ayu Wulandari binti Sasongko Wulandari dengan mas kawin seperangkat alat salat dan uang tunai dua juta rupiah... dibayar tunai," ucap Andika dengan suara jelas. Tidak gagap. Satu kali.
"Sah!" kata kedua saksi
“ Sah” kata Pengulu melanjutkan dari para saksi, hadirin pun berteriak “ SAH”..
Pak Wulandari menangis. Ibu Reni juga.
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan.
Reni tidak bisa menahan tangis. Air matanya jatuh. Andika menyeka air mata Reni dengan ujung jarinya.
"Jangan nangis, Ren. Nanti makeup lo luntur," bisik Andika.
"Biar luntur. Aku bahagia," jawab Reni.
Lokasi: Bundaran Besar Kapuas, pukul 17.30. Sesi foto prewedding ulang , kali ini dengan busana pernikahan, setelah akad nikah.
Andika dan Reni berdiri di bangku kayu dekat patung. Mbok Darmi keluar dari lapaknya, membawa nampan berisi es cincau susu.
"Ini hadiah dari saya. Untuk pengantin baru. Selamat ya, Mas Andika, Neng Reni."
"Terima kasih, Bu. Ibu sudah menjadi saksi perjuangan kami," kata Andika.
"Perjuangan yang luar biasa. Dari surat dibakar, Mau dipanggilkan polisi, dilarang pacaran, sampai kecelakaan. Tapi kalian bertahan."
"Itu karena kami saling percaya," kata Reni.
Mbok Darmi mengusap air mata. "Saya bangga. Kalian seperti anak sendiri buat saya."
Mereka berfoto. Di bangku kayu yang sama. Di bawah senja jingga. Dengan gelang di tangan , dan kini, cincin kawin di jari manis.
Reni memegang gelang merah dengan dua gantungan cincin. "Akhirnya, gelang ini menjadi kenyataan," katanya.
"Tunggu sepuluh tahun lagi. Aku ganti dengan gelang yang lebih kuat," kata Andika.
"Jangan sepuluh tahun. Cukup lima tahun. Kita beli gelang couple baru setiap anniversary."
"Deal."
Mereka berpegangan tangan.
Di kejauhan, Pajar memetik gitar. Lagu "Kisah Romantis" , versi akustik.
Leni dan Siska , susan. Amilia dan bondan ikut menangis.
Rano bertepuk tangan sambil mengunyah gorengan.
Susi berteriak, "LO BERDUA KEREN BANGET!"
Susan tersenyum, lalu memfoto mereka dengan ponselnya.
Pak Wulandari berdiri di pinggir bundaran, ditemani Ibu Reni. Wajahnya masih tegang, tapi ada senyum kecil di sudut bibirnya.
"Andika laki-laki baik, Bu," bisiknya.
"Iya. Bapak pilih yang tepat."
"Bukan Bapak yang memilih. Reni yang memilih. Bapak hanya merestui setelah sekian lama."
"Itu sudah lebih dari cukup."
Reni menyandarkan kepalanya di pundak Andika. Senja di barat masih setia menjadi saksi.
"Dika, akhirnya kita di sini. Setelah semua."
"Akhirnya. Tapi ini bukan akhir. Ini awal."
"Iya. Awal dari cerita yang lebih panjang."
"Dan kita akan tulis cerita itu bersama. Di rumah sederhana kita. Di bengkel. Di bundaran ini. Di setiap senja yang datang."
Reni mendongak. "Aku cinta kamu, Andika Pratama."
Andika mencium kening Reni pelan , di depan umum, tidak peduli dilihat orang.
"Aku juga cinta kamu, Reni Ayu Wulandari. Sekarang Reni Pratama."
Mereka tersenyum.
Di Bundaran Besar Kapuas, senja tak pernah berhenti menjadi saksi.
Dan rindu yang dulu hanya tinggal bisikan, kini telah berubah menjadi kebahagiaan yang nyata.
BAB 17
“Rumah Kecil, Cinta Besar”
Rumah kontrakan Andika dan Reni di belakang bengkel, Jalan Tambun Bungai, Kapuas. Satu bulan setelah pernikahan. Sabtu pagi, pukul 07.00. Matahari baru saja naik.
Reni bangun lebih dulu. Kebiasaan baru sebagai istri: membangunkan Andika untuk salat subuh berjamaah. Tapi pagi ini, Andika sudah tidak di sampingnya. Hanya bekas tubuh di kasur dan bantal yang sedikit penyok.
"Mas?" panggil Reni sambil mengucek mata.
Tidak ada jawaban.
Reni turun dari kasur. Kaki kanannya sudah normal seratus persen , tidak pincang, tidak sakit. Dokter fisioterapi di Banjarmasin terkejut saat kunjungan terakhir. "Percepatan pemulihan Anda luar biasa, Reni. Mungkin karena Anda bahagia," kata dokter itu.
Reni tersenyum mengingatnya.
Ia keluar kamar. Bau kopi tercium dari dapur kecil.
Andika berdiri di depan kompor. Tangannya memegang teko kopi. Wajahnya masih ngantuk, tapi ia tersenyum begitu melihat Reni.
"Kok sudah bangun, Ren? Subuh masih setengah jam lagi," kata Andika.
"Aku kaget kamu nggak ada di sampingku. Biasanya kamu yang bangun terakhir."
"Ini hari istimewa. Tepat satu bulan kita menikah. Aku mau buatkan kopi untuk istriku tercinta."
Reni mendekat. Ia memeluk Andika dari belakang. Menyandarkan wajah di punggung suaminya.
"Andika, kamu tahu? Aku bahagia sekali sebulan ini."
"Aku juga. Tapi jangan peluk-peluk terus. Kopinya bisa tumpah."
Reni melepas pelukan, tapi masih berdiri di samping Andika. "Mas, kita sarapan di bundaran yuk. Seperti dulu."
"Sekarang? Jam segitu Mbok Darmi belum buka."
"Jam 8 nanti. Sekarang kita sarapan di rumah dulu. Nanti jam 8 ke bundaran untuk sarapan kedua."
"Anda istri gila. Sarapan dua kali."
"Biarin. Ini hak saya sebagai istri baru."
Andika tertawa. Ia menuang kopi ke dua cangkir , cangkir merah untuk Reni, cangkir biru untuk dirinya.
Bundaran Besar Kapuas, pukul 08.30. Minggu pagi, akhir pekan.
Mbok Darmi baru saja membuka lapak. Gorengan masih digoreng setengah matang. Es batu baru dikeluarkan dari termos.
"Andika, Reni! Baru juga sebulan nikah, tapi sudah kelihatan seperti pasangan tua," sapa Mbok Darmi dari lapaknya.
"Tua apanya, Bu. Kami masih bulan madu," kata Andika.
"Masa bulan madu ke bundaran? Biasanya bulan madu ke pantai atau ke gunung."
"Bundaran ini pantai kami, Bu. Sungai Kapuas itulah lautnya."
Reni tertawa. "Mas, sok puitis."
"Biarin. Ini serius."
Mbok Darmi menyiapkan dua gelas es cincau susu dan sepiring gorengan. "Ini spesial. Untuk memperingati satu bulan pernikahan kalian."
"Terima kasih, Bu. Nanti kami bayar," kata Reni.
"Jangan. Saya yang traktir. Ini hadiah dari saya karena kalian tidak putus di tengah jalan."
Mereka duduk di bangku kayu yang sama. Persis di bangku dulu. Di tempat pertama kali Andika jatuh cinta.
"Mas, ingat waktu pertama kali kita duduk di sini?" tanya Reni.
"Ingat. Kamu pakai baju krem. Rambutmu panjang sebahu. Wajahmu tanpa make-up."
"Dan kamu bau oli."
"Sekarang juga masih bau oli. Tapi kamu tetap mau menikahiku."
"Iya. Karena itu keaslianmu."
Mereka tersenyum.
Bengkel Andika Motor Sport, siang harinya, pukul 12.00.
Andika sedang memperbaiki motor bebek milik seorang petani. Reni duduk di ruang tunggu , yang sekarang sudah diberi AC dan sofa kecil. Reni membawa laptop, mengedit jurnal untuk publikasi , ia sudah menjadi asisten dosen honorer di Universitas Palangkaraya (cabang Kapuas), sejak sebulan lalu.
"Ren, lo betah di bengkel? Bau bensin nggak bikin pusing?" tanya Rano yang datang dengan bungkusan nasi.
"Nggak. Aku sudah terbiasa sejak pacaran dulu."
"Dulu waktu lo masih dilarang papa, lo nggak pernah ke bengkel. Sekarang setiap hari di sini. Aneh."
"Dulu dilarang. Sekarang sudah sah. Beda."
Rano membagikan nasi bungkus ke semua orang. "Makan siang. Biar nggak pada keriting."
"Lo jangan beliin terus, No. Nanti gue ganti," kata Andika dari kolong motor.
"Nggak usah. Anggap saja sumbangan untuk pasangan baru."
Edi dan Pajar datang bersama. Mereka duduk di sofa.
"Dika, bengkel lo makin maju, ya. Sekarang punya ruang tunggu ber-AC," kata Edi.
"Itu ide Reni. Katanya, biar pelanggan betah."
"Ide bagus. Istri lo pinter."
"Iya. Saya pilih yang pinter," kata Andika.
Reni memukul lengan suaminya pelan. "Jangan membual."
Rumah Reni dan Andika, malam harinya, pukul 20.00. Reni sedang membaca buku. Andika masuk dari dapur. Wajahnya tegang.
"Ren, aku mau bilang sesuatu."
"Apa, Mas?"
"Rahmat dipenjara. Lima tahun untuk kasus tabrak lari di Banjarmasin. Adiknya masuk rumah tahanan anak. Keluarganya jatuh. Kabarnya papanya dipecat dari partai."
Reni meletakkan buku. "Aku tahu. Bondan WA aku tadi. Aku tidak tahu harus merasa apa."
"Kamu tidak usah merasa apa-apa. Hukum sudah berjalan. Biar dia bertanggung jawab."
"Tapi aku kasihan sama keluarganya."
"Kamu terlalu baik, Ren."
"Bukan baik. Ini empati. Aku psikolog, ingat?"
Andika tersenyum. "Iya. Istri saya psikolog. Hati-hati kalau marah-marah nanti dianalisis."
"Sudah saya analisis dari dulu. Anda orangnya keras kepala, setia, dan suka membeli gorengan untuk teman yang gendut."
"Rano?"
"Iya. Rano."
Mereka tertawa.
Bengkel Andika, tiga bulan setelah pernikahan. Juni, pukul 09.00.
Reni sedang membuka praktik konseling kecil-kecilan di ruang belakang bengkel. Izin dari suami karena ruang itu tadinya gudang. Sekarang disulap menjadi ruang konseling sederhana: satu meja, dua kursi, lampu hangat, dan tanaman hias di sudut.
"Istri saya psikolog. Saya mekanik. Kombinasi aneh," kata Andika kepada Pajar yang sedang menunggu servis motornya.
"Tapi cocok, Dika. Lo perbaiki motor. Dia perbaiki orang. Sama-sama bikin yang rusak jadi normal."
"Lo puitis hari ini, Jar. Lagi jatuh cinta?"
"Lagi galau. Mantan nikah."
"Wah, turut berduka."
"Jangan ngeledek. Nanti gue nangis di bengkel lo."
Reni keluar dari ruang konseling. Wajahnya sedikit lelah.
"Ada klien, Mas. Ibu-ibu rumah tangga yang stres karena suami kurang perhatian."
"Apa kata kamu?"
"Aku bilang, bawa suaminya ke sini. Konseling keluarga."
"Berani kamu. Nanti suaminya marah."
"Biar marah. Itu bagian dari proses."
Andika mengacungkan jempol. "Pertahankan."
Rumah Reni dan Andika, dua bulan kemudian (lima bulan setelah pernikahan). Agustus, Sabtu malam, pukul 19.00.
Reni tiba-tiba mual saat makan malam. Ikan goreng yang biasanya disukainya, sekarang baunya membuatnya ingin muntah.
"Ren, kamu kenapa?" tanya Andika panik.
"Aku... mual. Mungkin karena ikan."
"Tapi ini ikan favoritmu. Kemarin kamu bilang enak sekali."
"Tiba-tiba enggak doyan."
Andika mengernyit. Matanya bergerak ke perut Reni , yang belum terlihat berubah. Tapi Andika punya firasat.
"Ren... jangan-jangan..."
"Apa?"
"Jangan-jangan kamu hamil?"
Reni terdiam. Ia menghitung dalam hati. Haidnya sudah telat dua minggu. Tapi ia pikir karena stres.
"Belum tentu, Mas. Bisa jadi karena kelelahan."
"Coba test. Besok pagi kita beli test pack."
"Baik."
Malam itu, Reni tidak bisa tidur. Ia memegang perutnya. "Apa benar ada kehidupan di sini?" bisiknya.
Apotek dekat bengkel, Minggu pagi, pukul 08.00.
Andika membeli test pack. Wajahnya tegang. Ibu apotek tersenyum tahu-tahu.
"Untuk istri, Mas?" tanya ibu apotek.
"Iya, Bu. Istri saya mual-mual."
"Selamat ya. Mudah-mudahan positif."
Andika tersenyum canggung. Ia bayar dan segera pulang.
Reni sudah menunggu di kamar mandi.
"Mas, serahkan. Aku akan lakukan sendiri."
"Aku tunggu di luar."
Reni masuk ke kamar mandi. Lima menit , terasa seperti lima jam.
Pintu kamar mandi terbuka. Reni keluar dengan test pack di tangan. Matanya basah.
"Mas... dua garis."
"APA? DUA GARIS? ARTINYA?"
"Positif, Mas. Aku hamil."
Andika terdiam. Lalu ia berlutut di depan Reni. Memeluk perut Reni yang masih datar.
"Kita akan punya anak, Ren. Kita akan punya anak!"
"Mas, jangan peluk-peluk. Nanti aku jatuh."
Andika berdiri. Ia menangis. Tangis haru.
"Aku tidak pernah membayangkan akan sebahagia ini."
"Kamu pantas bahagia, Mas. Kamu sudah berjuang terlalu keras."
Rumah Pak Wulandari, Jalan Cilik Kriwut, siang harinya. Reni dan Andika datang untuk memberi kabar.
Pak Wulandari duduk di ruang tamu. Ibu Reni di sampingnya.
"Pa, Bu... aku hamil," kata Reni.
Ibu Reni berteriak kegirangan. "APA? RENI HAMIL? ASTAGA!"
"Bu, jangan teriak-teriak. Nanti tetangga dengar."
"BIAR DENGAR! SAYA AKAN PUNYA CUCI!"
Pak Wulandari terdiam. Lalu ia berdiri. Mendekati Andika.
"Andika, Papa titip pesan."
"Iya, Pak."
"Jaga anak Papa. Jaga calon cucu Papa. Jangan sampai mereka sakit. Jangan sampai mereka kekurangan. Dan jangan sampai mereka menangis."
"Saya janji, Pak."
Pak Wulandari memeluk Andika. "Kamu sekarang bukan menantu. Kamu anak Papa."
Andika tidak bisa berkata-kata.
Bundaran Besar Kapuas, Sabtu sore, pukul 16.30. Satu minggu setelah kabar kehamilan.
Andika dan Reni duduk di bangku kayu. Reni memegang perutnya yang mulai sedikit membuncit — masih tipis, tapi terasa beda.
"Mas, kita belum pilih nama anak."
"Aku sudah punya ide."
"Apa?"
"Kalau laki-laki: Andika Renanta. Artinya pemberian Tuhan yang dinanti. Kalau perempuan: Renita Andika. Gabungan nama kita."
Reni tersenyum. "Kamu sudah pikirkan dari kapan?"
"Sejak kamu bilang dua garis."
"Kamu luar biasa."
"Tidak. Kamu yang luar biasa. Kamu sembuh dari kecelakaan, kuliah selesai, nikah, hamil. Semua dalam satu tahun."
"Berkat doa Mas dan semua orang."
Mbok Darmi datang dengan nampan. "Ini spesial. Gorengan khusus untuk ibu hamil. Tidak pakai penyedap. Sehat."
"Terima kasih, Bu. Ibu tahu dari mana?"
"Seluruh bundaran tahu, Neng. Kabar kehamilan istri mekanik paling setia itu sudah menyebar seperti api."
Reni tersipu.
"Pokoknya nanti kalau anaknya lahir, saya ingin jadi mboknya juga," kata Mbok Darmi.
"Jadi apa, Bu?" tanya Andika.
"Jadi mbok yang merundung anaknya. Nanti sering-sering dibawa ke bundaran. Biar kami kenalan."
"Baik, Bu. Janji."
Bengkel Andika, dua bulan kemudian. Oktober, pukul 10.00. Reni sedang hamil 4 bulan. Perutnya sudah terlihat, tapi masih kecil.
Rano datang dengan bungkusan besar.
"Ini untuk calon anak Dika dan Reni. Buku cerita anak. Bantal lucu. Dan celana bayi."
"Rano, lo luar biasa. Ini mahal," kata Reni.
"Nggak apa. Gue jadi om buat anak ini. Udah gue rencanakan dari dulu."
"Lo memang sahabat terbaik, No," kata Andika.
"Iya. Gue tahu."
Pajar dan Edi datang bersama. Mereka membawa kardus mainan anak.
"Kami juga nyumbang," kata Pajar.
"Kalian jangan banjirin kami dengan barang. Rumah kontrakan tidak besar," kata Andika.
"Nanti pindah rumah. Rumah yang lebih besar. Udah waktunya lo upgrade," kata Edi.
"Pelan-pelan. Yang penting berkah."
Reni memegang perutnya. Ia merasakan tendangan kecil , pertama kalinya.
"Mas... dia bergerak," bisiknya.
"Apa?"
"Dia menendang. Anak kita bergerak."
Andika menyentuh perut Reni. Tak lama, ada tendangan kecil lagi.
"Wah, dia sepak bola," kata Andika.
"Atau balet," kata Reni.
"Sepak bola. Karena saya mekanik."
"Balet. Karena saya psikolog."
"Nanti kita lihat. Yang penting sehat."
Rano, Pajar, Edi ikut menyentuh perut Reni , tapi Andika menghalau.
"Jangan pegang-pegang. Itu milik saya."
"Pelit, Dika," ledek Rano.
"Pelit karena sayang."
Mereka tertawa.
Rumah kontrakan Andika dan Reni, malam hari setelah kejadian tendangan pertama.
Andika dan Reni duduk di teras. Langit penuh bintang. Angin dari Sungai Kapuas sejuk.
"Ren, terima kasih ya."
"Terima kasih untuk apa?"
"Terima kasih sudah mau sama saya. Seorang mekanik yang bau oli. Yang dulu ditolak papa kamu. Yang nyaris putus asa karena surat dibakar. Tapi kamu tetap bertahan."
"Mas, saya bukan bertahan. Saya memilih. Dan pilihan saya tidak salah."
"Apa kamu tidak menyesal?"
"Mikirin itu dulu di awal, iya. Tapi setiap kali mas Andika datang ke bundaran, setiap kali mas Andika mengirim surat meskipun surat itu dibakar, setiap kali mas Andika tetap setia meskipun saya dilarang saya tahu, ini laki-laki yang tepat."
Andika menggenggam tangan Reni. "Saya tidak akan menyia-nyiakan pilihan itu."
"Saya tahu. Itu sebabnya saya tenang."
Malam itu, mereka tidur lebih awal. Reni memegang perutnya. Andika memeluknya dari samping tangan di atas tangan Reni.
Tiga kata terucap sebelum tidur: "Saya cinta kamu."
Dan dunia terasa sempurna.
BAB 18
“Buah Hati dari Bundaran”
Rumah kontrakan Andika dan Reni, Jalan Tambun Bungai, Kapuas. Januari, pukul 04.00 dini hari. Tiga bulan setelah kabar kehamilan. Reni kini hamil 7 bulan.
Reni terbangun karena rasa sakit di perut bagian bawah. Bukan kontraksi biasa. Ini berbeda. Lebih teratur. Lebih menusuk.
"Mas... Mas Andika..." bisik Reni sambil mengguncang suaminya yang tidur pulas.
Andika tidak bergerak.
"ANDIKA PRATAMA!" teriak Reni.
Andika tersentak. Jatuh dari kasur. "ADA APA? ADA MALING?"
"Bukan maling. Aku... aku rasa aku akan melahirkan."
"Melahirkan? TAPI BULAN DEPAN KAN HPL-NYA?"
"Bayi itu tidak peduli HPL, Mas. Dia mau kapan saja."
Andika berdiri. Wajahnya pucat. Tangannya gemetar. "SAYA PANGGIL AMBULANS!"
"Tidak usah. Antar pakai motor. Lebih cepat."
"PAKAI MOTOR? KAMU HAMIL 7 BULAN! MEMBAHAYAKAN!"
"Mas, aku sudah tidak tahan. Cepat."
Andika mengambil jaket. Membantu Reni berdiri. Reni berjalan pelan, menahan sakit.
Mereka naik motor. Andika berkendara pelan tidak seperti biasanya yang ngebut. Hati-hati. Takut Reni terjatuh.
"Ren, kamu pegang aku erat-erat. Jangan lepas."
"Iya, Mas. Aku pegang."
Motor melaju di Jalan Tambun Bungai menuju Puskesmas terdekat. Jalan masih gelap. Lampu jalan hanya sedikit.
Puskesmas Melati Kuala Kapuas, pukul 04.30.
Andika memarkir motor. Ia menuntun Reni masuk ke UGD.
"TOLONG! ISTRI SAYA AKAN MELAHIRKAN!" teriak Andika.
Perawat segera menghampiri. Mereka membopong Reni ke ruang bersalin.
"Mas Andika, tunggu di luar. Kami akan periksa," kata perawat.
"Saya tidak bisa diam di luar!"
"Harus. Ini ruang bersalin. Hanya ibu hamil dan petugas yang boleh masuk."
Andika duduk di kursi plastik. Tangannya gemetar. Ia mengeluarkan ponsel. Menelepon Pajar.
"JAR! RENI AKAN MELAHIRKAN! DOAIN!"
"APA? SEKARANG? BULAN DEPAN KAN HPL-NYA?"
"BAYINYA NGGAK SABAR, JAR! TOLONG KABARI RANO, EDI, LENI, SISKA!"
"Iya. Saya kabari. Tenang, Dika. Reni kuat."
Telepon ditutup. Andika masih gemetar.
Ruang bersalin, pukul 05.30.
Reni menjerit. Sakitnya luar biasa. Kontraksi setiap dua menit.
"Bu, pembukaan baru 4. Masih lama," kata bidan.
"BIDAN, SAYA TIDAK KUAT!"
"Bisa. Ibu kuat. Tarik napas. Hembuskan pelan-pelan."
Reni mengikuti instruksi. Tapi rasa sakitnya tidak berkurang.
"SAYA MAU ANDIKA! PANGGIL SUAMI SAYA!"
"Tidak bisa, Bu. Suami tidak boleh masuk."
"SAYA MAU! INI HAK SAYA! SAYA BUTUH DIA!"
Bidan melihat ke dokter jaga.
"Dokter, bagaimana?"
Dokter menghela napas. "Panggil suami. Tapi dia harus pakai hazmat suit."
Ruang bersalin, pukul 05.45.
Andika masuk dengan hazmat suit biru kelihatan aneh, seperti astronot yang tersesat.
"Ren!" teriaknya.
Andika memegang tangan Reni. Reni yang sudah lemas langsung menggenggam erat.
"Mas... jangan lepas."
"Saya tidak akan lepas."
"Mas, aku takut."
"Takut apa? Kamu kuat, Ren. Kamu sudah melewati larangan papa, kecelakaan, terapi kaki, dan masih banyak lagi. Melahirkan itu mudah dibandingkan semua itu."
"Kata siapa mudah? Sakitnya luar biasa."
"Saya tahu. Tapi kamu hebat. Istri saya hebat. Sekarang dorong."
Para bidan dan dokter tersenyum melihat Andika yang sok tahu.
"Pak, jangan langsung suruh dorong. Kami yang atur," kata bidan.
"Maaf. Saya terlalu bersemangat."
Ruang bersalin, pukul 06.15.
Matahari mulai terbit di luar jendela. Sinar kuning masuk, menyinari wajah Reni yang basah oleh keringat dan air mata.
"Sekarang dorong, Bu. Pelan-pelan. Sesuai kontraksi," kata dokter.
Reni mengejan. Andika memegang tangannya erat-erat.
"Ren, ingat bundaran. Ingat senja. Ingat bangku kayu. Ingat saat pertama kali kita bertemu. Kamu jatuh karena aku senggol."
"Masa sekarang masih ngomongin jatuh?" kata Reni sambil setengah tertawa.
"Itu momen terindah dalam hidupku. Karena setelah itu, aku bertemu kamu."
Reni mengejan sekali lagi.
"KEPALANYA SUDAH KELUAR, BU! TERUSKAN!" teriak bidan.
Reni menjerit. Kemudian , tangisan bayi.
SUARA TANGISAN KERAS.
“ HUUUAAA,”.
Seorang bayi perempuan.
"SELAMAT! BAYI PEREMPUAN! SEHAT!" kata dokter.
Reni lemas. Ia tersenyum — senyum paling bahagia dalam hidupnya.
Andika menangis. Ia mencium kening Reni.
"Kita punya anak, Ren. Kita punya anak perempuan."
"Aku tahu, Mas. Aku tahu."
Ruang rawat inap Puskesmas, pukul 09.00.
Andika duduk di samping tempat tidur Reni. Bayi mungil berbungkus selimut putih berada di pangkuan Reni. Wajahnya merah, hidung mungil, rambut tipis hitam.
"Mas, dia mirip kamu," kata Reni.
"Mirip? Mana? Wajahnya seperti kismis, bukan seperti manusia."
"Dia baru lahir, Mas. Nanti setelah bulan pertama, dia akan mirip kamu. Dahi lebar, hidung mancung."
"Telinganya mirip kamu. Kecil."
"Dia sempurna," kata Reni sambil mencium kening bayinya.
Pintu ruangan terbuka. Pajar, Rano, Edi, Leni, Siska, Amilia, Susi, Susan, Bondan, dan Mbok Darmi masuk bersama.
Kamar rawat inap yang kecil tiba-tiba padat.
"WOOW! BAYINYA CANTIK!" teriak Susi.
"Jangan teriak-teriak, Susi. Bayinya kaget," cegah Amilia.
"Tadi saya lahir, sudah berisik di ruang bersalin. Bayi ini sudah terbiasa," canda Andika.
Mbok Darmi mendekat. Ia membawa baju bayi kecil , warna kuning lembut. "Ini untuk cucu saya," katanya.
"Bu, anak kami bukan cucu Ibu," kata Reni.
"Bagi saya, semua anak yang lahir dari pasangan yang bertahan di bundaran adalah cucu saya. Terima kasih sudah membuat lapak saya jadi saksi cinta kalian."
Rano mendekat. Ia membawa gorengan , tapi sendiri yang makan.
"Rano, lo nggak bawa kado?" tanya Leni.
"Kadonya gorengan. Tapi gue lapar, jadi gue makan dulu. Nanti gue beli lagi untuk bayinya."
"Dasar Rano, egois," kata Edi.
Mereka tertawa. Bayi perempuan Andika dan Reni terbangun. Matanya yang masih buram menatap ke arah suara tawa.
"Nama anak kita," kata Andika tiba-tiba.
Semua terdiam.
"Aku sudah janji pakai nama Renita Andika. Tapi aku tambahkan satu kata: Renita Ayu Andika. Ayu diambil dari nama tengah Reni. Renita berarti 'hadiah yang dinanti'. Karena dia hadiah setelah perjuangan panjang."
Reni menangis. "Terima kasih, Mas. Aku setuju."
Renita Ayu Andika. Nama itu disambut tepuk tangan oleh semua sahabat.
Rumah kontrakan Andika dan Reni, satu minggu setelah kelahiran. Reni dan bayinya diperbolehkan pulang.
Andika sibuk bukan di bengkel, tapi di rumah. Ia belajar mengganti popok, menyusui ya, meskipun Andika tidak punya ASI, ia berusaha membantu dengan memanaskan air untuk menyedot ASI perah.
"Mas, kamu sudah mengganti popok tiga kali hari ini. Itu cukup," kata Reni dari kasur.
"Biarkan saya belajar, Ren. Saya ingin menjadi ayah yang terlibat."
"Anda ayah yang luar biasa. Tapi jangan sampai lupa bengkel."
"Bengkel aman. Karyawan bisa handle. Sekarang prioritas saya keluarga."
Malam itu, Renita menangis. Andika menggendongnya. Ia berjalan mondar-mandir di ruang tamu. Menyanyikan lagu , lagu tentang bundaran, tentang senja, tentang janji setia.
Reni mendengar dari kamar. Ia tersenyum.
"Bayi itu tidak mengerti lagu puitis, Mas," teriaknya.
"Tidak apa. Biar dia terbiasa dengan puisi sejak kecil."
Bundaran Besar Kapuas, Sabtu sore, pukul 16.00. Renita berusia satu bulan.
Andika dan Reni datang dengan stroller bayi. Renita tidur nyenyak di dalamnya.
Mbok Darmi sudah menyiapkan meja khusus di dekat lapaknya. Ada payung besar untuk melindungi bayi dari sinar matahari.
"Akhirnya cucu saya datang juga," kata Mbok Darmi sambil menggendong Renita.
"Bu, jangan dibangunkan. Dia baru tidur," kata Reni.
"Biarin. Saya tidak akan bangunkan. Saya hanya ingin lihat wajahnya."
Pak Wulandari dan Ibu Reni datang. Mereka melihat cucu pertama mereka dengan mata berkaca-kaca.
"Ren, dia mirip kamu," kata Ibu Reni.
"Hidungnya mirip Andika," kata Pak Wulandari. "Cakep."
"Pa, hidung cakep itu dari mana?"
"Dari Papa. Papa punya hidung mancung dulu sebelum tua."
Reni tertawa. Andika ikut.
Pajar, Rano, Edi, Leni, Siska datang beramai-ramai. Mereka membawa balon dan hadiah.
"RENITA AYU ANDIKA! BIBI SISKA SAYANG SAMA KAMU!" teriak Siska.
"Diam, Siska. Nanti dia bangun," tegur Leni.
Bayi itu tetap tidur. Tidak peduli dengan keramaian.
"Anak ini tenang, ya. Kayak Reni," kata Pajar.
"Jangan dulu. Nanti setelah besar baru kelihatan aslinya," kata Andika.
"Jadi seperti Andika? Berisik? Keras kepala? Bau oli?" tanya Rano.
"Bau oli enak. Itu wangi maskulin."
Mereka tertawa. Renita terbangun.
Matanya yang bulat menatap kerumunan di sekelilingnya. Lalu , tersenyum.
"DIA TERSENYUM! RENITA TERSENYUM!" teriak Susi.
"Iya, kami lihat," kata Amilia.
"Senyum pertamanya di bundaran. Ini pertanda baik," kata Andika.
"Apa pertandanya?" tanya Reni.
"Dia akan tumbuh menjadi anak yang mencintai senja. Seperti orang tuanya."
Rumah kontrakan Andika dan Reni, malam harinya. Pukul 20.00.
Renita sudah tidur. Andika dan Reni duduk di teras. Langit malam penuh bintang.
"Mas, cerita ini hampir berakhir," kata Reni.
"Belum, Ren. Ini baru awal."
"Awal dari apa?"
"Awal dari petualangan baru. Menjadi orang tua."
Reni menyandarkan kepalanya di bahu Andika. "Aku tidak percaya kita bisa sampai sejauh ini."
"Aku juga. Kadang aku bangun di pagi hari, melihat kamu di sampingku, lalu ke kamar sebelah melihat Renita tidur , aku merasa seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi, Mas. Ini nyata. Kita hidup di dalamnya."
Andika menggenggam tangan Reni. "Aku janji akan terus menjagamu. Sampai Renita besar, sampai kita tua, sampai rambut kita putih."
"Janji?"
"Janji. Sumpah pakai cincin ini."
Andika menunjukkan cincin kawinnya. Reni tersenyum.
"Aku cinta kamu, Andika Pratama."
"Aku cinta kamu, Reni Ayu Andika."
Mereka berpelukan. Di teras rumah kontrakan sederhana. Di bawah langit Kapuas yang lekat dengan kenangan.
Dan dari kamar sebelah, Renita Ayu Andika tertidur dengan senyum seolah ikut bermimpi tentang bundaran, tentang senja, dan tentang cinta dua orang tuanya yang tidak pernah padam.
BAB 19
“Renita dan Cerita Bundaran”
Rumah baru Andika dan Reni di Jalan Tambun Bungai (sebelah bengkel, sekarang bukan kontrakan lagi). Lima tahun setelah pernikahan. Renita berusia 5 tahun. .
Rumah itu sederhana, tapi cukup. Dua kamar tidur. Ruang tamu yang nyaman. Dapur kecil yang selalu harum karena Ibu Reni sering masak di sini saat berkunjung. Di dinding ruang tamu, tergantung foto besar foto Andika dan Reni di bundaran saat prewedding. Di sampingnya, foto Renita saat ulang tahun pertama.
Renita berlarian di halaman depan mengejar kupu-kupu. Rambutnya sebahu, diikat dua ekor kuda. Wajahnya kombinasi Andika dan Reni hidung mancung ala Andika, mata bulat ala Reni.
"Renita, jangan ke pinggir jalan! Nanti jatuh ke selokan!" teriak Reni dari pintu dapur.
"Enggak, Bu. Renita hati-hati."
Dari dalam bengkel yang sudah lebih besar (sekarang namanya "Andika Motor Sport Group" , ada cabang di Palangkaraya dan Banjarmasin), Andika keluar dengan kemeja lengan pendek rapi, tidak kena oli karena sekarang ia lebih banyak mengurus manajemen.
"Ren, lihat itu mobil siapa?" tanya Andika sambil menunjuk ke arah jalan.
Sebuah mobil Avanza putih berhenti di depan pagar. Pak Wulandari dan Ibu Reni turun. Mereka rutin datang setiap akhir pekan untuk melihat cucu.
"KAKA RENITA! KAKA RENITA!" teriak Pak Wulandari sambil berlari ya, mantan polisi yang dulu galak itu sekarang menjadi kakek paling manja se-Jalan Cilik Kriwut.
"KAKA! Kakek datang!" Renita berlari ke arah Pak Wulandari.
Pak Wulandari menggendong Renita meskipun usianya sudah mendekati 60 tahun, punggungnya masih kuat.
"Kakek, Renita punya cerita. Renita kemarin ke bundaran sama Mama dan Papa."
"Cerita apa?"
"Renita lihat bangku kayu. Kata Papa, di bangku itu Papa jatuh cinta sama Mama."
Pak Wulandari tertawa. "Benar. Mama kamu jatuh karena disenggol Papa."
"Kakek dulu juga jatuh cinta sama Nenek dengan cara disenggol?"
"Bukan. Kakek dulu mengantar Nenek pulang sekolah. Setiap hari. Sampai Nenek tidak tahan dan bilang, 'Kapan kamu berhenti mengantar? Rumahku hanya seratus meter dari sekolah.'"
"Nenek galak?"
"Galak. Tapi baik. Mirip Mama kamu."
Renita tertawa kecil, tidak sepenuhnya mengerti, tapi bahagia.
Bundaran Besar Kapuas, sore harinya, pukul 16.30. Reni mengajak Renita ke bundaran tradisi keluarga setiap akhir pekan.
Mbok Darmi masih setia di lapaknya. Sekarang lapaknya lebih besar, ada dua tenda, dan tiga karyawan. Tapi Mbok Darmi tetap melayani sendiri pelanggan lama terutama keluarga Andika dan Reni.
"Mbok Darmi! Renita datang!" teriak bocah 5 tahun itu sambil berlari ke arah lapak.
"Neng Renita! Cantik sekali. Mbok belikan es cincau ya?"
"Mbok, Renita belum boleh minum es. Nanti sakit perut. Kata Mama."
"Minum susu jahe? Hangat."
"Boleh."
Mbok Darmi menyiapkan susu jahe hangat untuk Renita, es cincau susu untuk Reni dan Andika.
Mereka duduk di bangku kayu yang sama. Bangku itu sekarang diberi plakat kecil oleh Pemkab Kapuas "Bangku Cinta Andika & Reni, Peraih Kisah Cinta Terinspiratif 2026". Ya, kisah mereka sempat viral setelah sebuah majalah nasional menulis profil tentang "Mekanik dan Psikolog yang Bertahan di Tengah Badai".
"Bu, kenapa banyak orang duduk di bangku itu?" tanya Renita sambil menunjuk ke bangku sebelah.
"Itu bangku umum, Sayang. Siapa pun boleh duduk."
"Tapi kok senyum-senyum sendiri? Kayak orang gila."
Reni tertawa. "Itu namanya sedang jatuh cinta, Ren. Sama seperti Papa dan Mama dulu."
"Mama jatuh cinta setelah disenggol?"
"Iya."
"Berarti kalau Renita mau jatuh cinta, Renita harus disenggol dulu?"
"Bukan. Kamu jatuh cinta kalau sudah besar. Sekarang fokus main dan belajar dulu."
Renita mengangguk. Ia lalu turun dari bangku, berlari ke arah taman. Meniup gelembung sabun yang dibawanya dari rumah.
Andika menatap putrinya dari kejauhan. "Dia mirip kamu, Ren. Aktif. Banyak bicara."
"Dia mirip kamu, Mas. Keras kepala. Kalau sudah bilang 'tidak mau', tidak bisa dibujuk."
"Genetik."
"Genetik apa? Cengeng?"
"Genetik pejuang."
Mereka tersenyum.
Rumah Andika dan Reni, malam harinya. Renita sudah tidur. Andika dan Reni duduk di ruang tamu, menonton TV, tapi matak dan pikiran tidak fokus.
"Mas, besok Renita masuk TK. Saya deg-degan."
"Deg-degan kenapa? Dia anak pemberani."
"Takut dia tidak bisa beradaptasi. Takut dia diganggu teman. Takut dia menangis."
"Ren, dia anak kita. Anak pejuang. Dia akan baik-baik saja."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Sama yakinnya ketika aku yakin bahwa kamu akan sembuh dari kecelakaan dulu."
Reni memeluk bantal. "Mas, apakah kita sudah menjadi orang tua yang baik?"
Andika menghela napas. "Kita belum sempurna. Ayah yang baik adalah ayah yang terus belajar. Sama seperti mekanik. Setiap hari ada kerusakan baru. Setiap hari harus belajar memperbaikinya."
"Kamu masih suka pakai analogi bengkel."
"Itu keahlian saya."
Mereka tertawa.
TK Ceria Kapuas, pagi harinya, pukul 07.30. Hari pertama Renita bersekolah.
Renita memakai seragam merah putih. Rambut diikat dua. Tas ransel kecil di punggung bergambar Doraemon.
Reni menurunkan Renita dari motor. Andika tidak bisa mengantar karena ada rapat dengan investor cabang Palangkaraya.
"Bu, Renita tidak mau. Renita mau pulang!" Renita mulai merengek.
"Renita, sayang, ini sekolah. Tempatnya seru. Ada mainan, ada teman, ada ibu guru yang baik."
"TAPI RENITA TIDAK MAU!"
"Renita, lihat Mama."
Renita menangis. Tapi Reni tenang. Ia mengingat nasihat Andika: "Ren, dia anak pejuang."
"Renita, Mama cerita. Dulu Mama di bundaran. Mama jatuh karena disenggol Papa. Sakit. Tapi Mama tidak menangis. Mama tersenyum. Karena Mama tahu, dari jatuh itu akan ada kebahagiaan."
Renita berhenti menangis. "Cerita Mama bohong. Jatuh pasti sakit."
"Sakit. Tapi Mama kuat."
"Apa Renita harus kuat?"
"Iya. Renita harus kuat. Seperti Mama. Seperti Papa. Karena Renita anak pejuang."
Renita menghela napas panjang , persis seperti Andika saat sedang berpikir. "Baik, Bu. Renita masuk. Tapi jangan pergi dulu."
"Renita, nanti setelah jam 10, Mama jemput."
"Janji?"
"Janji. Sumpah pakai gelang."
Reni menunjukkan gelang di pergelangan tangannya gelang itu sudah diganti beberapa kali, tapi modelnya sama: tali kulit, gantungan cincin kecil.
Renita masuk ke kelas. Reni menunggu di luar sampai putrinya benar-benar duduk di kursi.
Ibu guru mendekat. "Mama Renita, jangan khawatir. Renita akan baik-baik saja."
"Saya tahu, Bu. Tapi ini pertama kalinya dia jauh dari saya."
"Ibu guru akan jaga."
Reni mengangguk. Ia pulang dengan perasaan campur aduk.
Bengkel Andika Motor Sport, siang harinya. Reni datang menjemput Andika untuk makan siang di rumah.
"Dika, Renita masuk TK. Dia menangis. Tapi akhirnya mau."
"Pasti karena nasihat kamu."
"Aku cerita soal bundaran. Soal jatuh. Soal kuat."
Andika tersenyum. "Bagus. Mulai sekarang, bundaran bukan hanya tempat cinta kita. Tapi juga tempat pelajaran hidup untuk Renita."
"Mereka bilang, cerita cinta orang tua adalah dongeng pertama untuk anak-anak."
"Kita harus buat dongeng yang indah."
Mereka berpegangan tangan. Reni menyandarkan kepala di bahu Andika.
Rumah Pak Wulandari, Jalan Cilik Kriwut. Minggu pagi, kunjungan mingguan.
Renita berlarian di halaman rumah kakeknya , sama seperti dulu Reni saat kecil. Pak Wulandari duduk di teras sambil mengawasi cucunya.
"Kakek, cerita Kakek waktu masih jadi polisi. Cerita yang seru."
"Kakek dulu pernah kejar mobil Avansa hitam. Di Banjarmasin."
"Mobilnya cepet?"
"Cepet. Tapi akhirnya kena. Penumpangnya ditangkap. Namanya Rahmat."
"Rahmat jahat?"
"Rahmat jahat. Dia buat Mama kamu celaka. Tapi dia sudah dihukum."
"Renita nggak boleh jahat kayak Rahmat."
"Jangan. Renita harus baik. Seperti Papa. Seperti Mama."
"Papa baik?"
"Sangat baik. Dia menunggu Mama selama empat tahun. Meskipun dilarang Kakek."
Renita manggut-manggut. Ia tidak paham konsep larangan pacaran, tapi ia paham bahwa kakeknya dulu tidak suka sama papanya.
"Tapi sekarang Kakek suka sama Papa?"
"Sekarang Kakek sayang sama Papa. Papa sudah buktikan kalau dia laki-laki baik."
Renita memeluk kakeknya. "Renita juga sayang Kakek."
Pak Wulandari menangis. Setetes. Dua tetes. Diam-diam.
Bundaran Besar Kapuas, sore hari di akhir pekan yang sama.
Andika, Reni, Renita, Pajar, Rano, Edi, Leni, Siska, Amilia, Susi, Susan, Bondan, dan Mbok Darmi , berkumpul semua. Ini bukan reuni. Ini kebiasaan baru: setiap bulan mereka berkumpul di bundaran, duduk di tikar plastik yang sama, makan gorengan yang sama, tertawa dengan candaan yang sama.
Renita bermain dengan anak kecil lain di taman , ada anaknya Pajar? Ya, Pajar akhirnya menikah dua tahun lalu, sekarang punya anak laki-laki berusia 1 tahun, namanya Bima.
"Wah, Dika, anak lo sekarang sudah segede ini. Sebentar lagi sekolah SD," kata Rano sambil mengunyah gorengan.
"Lo sendiri kapan nyusul, No? Udah umur 30," ledek Edi.
"Gue masih mencari jodoh. Jodoh gue mungkin masih SD."
"Jangan gila, No. Itu namanya predator," timpal Leni.
Gua bercanda. Tapi serius, gue capek sendiri."
Siska memukul pundak Rano. "Kamu jangan makan terus. Cari cewek."
"Mencari cewek butuh energi. Energi dari makanan."
"Alasan."
Mereka tertawa.
Reni memandang bundaran. Senja mulai jingga. Sama seperti lima belas tahun lalu , saat ia pertama kali bertemu Andika.
"Mas, kita sudah sekeliling matahari."
"Apa?"
"Waktu. Lima belas tahun sejak pertama kali kita bertemu. Tiga tahun pacaran jarak jauh. Sudah tujuh tahun menikah. Renita hampir menginjak SD. Rasanya cepat."
"Tapi penuh makna."
"Iya. Penuh perjuangan."
Andika menggenggam tangan Reni. "Aku tidak akan menukar perjuangan ini dengan apa pun."
"Aku juga."
Mbok Darmi datang dengan nampan besar. "Ini gorengan spesial! Untuk perayaan ulang tahun pertemuan kalian yang ke-15!"
"Bu, Mbok ingat?"
"Saya ingat semuanya. Saya juga yang menjual es cincau waktu kalian pertama kali bertemu."
"Waktu itu saya disenggol sampai jatuh," kata Reni.
"Dan Mas Andika bengong kayak patung," sambung Mbok Darmi.
"Bukan bengong. Memandang dengan penuh arti."
"Alasan."
Mereka semua tertawa. Renita ikut meskipun tidak paham.
Rumah Andika dan Reni, malam harinya. Renita sudah tidur.
Andika dan Reni duduk di teras. Langit malam cerah. Bintang-bintang tampak.
"Mas, cerita ini akan segera berakhir."
"Setiap cerita punya akhir, Ren. Tapi perjalanan kita belum selesai."
"Apa yang akan kita lakukan setelah ini?"
"Kita akan lanjutkan hidup. Renita sekolah, kita dukung. Renita besar, kita bimbing. Renita menikah nanti, kita restui. Dan kita akan tetap ke bundaran. Setiap akhir pekan. Sampai kita tua. Sampai tidak bisa jalan. Kita akan datang."
"Aku setuju."
Andika menggeleng. "Ren, aku tidak pernah bilang ini mudah. Tapi aku tidak pernah menyesal."
"Aku juga. Tidak pernah."
Mereka berpelukan.
Dari dalam rumah, suara Renita terbangun. "Mama! Papa!" teriaknya.
"Minta susu," kata Reni sambil tersenyum.
"Atau minta cerita."
Reni berdiri. "Ayo kita berdua masuk. Ceritakan bundaran untuk kesekian kalinya."
"Kali ini libatkan Pajar dan Rano. Biar lucu."
Reni tertawa. Mereka masuk ke dalam rumah.
Di ruang tamu, Renita sudah duduk di sofa kecilnya. "Mama, cerita tentang bundaran. Tentang Papa yang senggol Mama waktu jualan es cincau."
"Iya, sayang. Mama cerita. Tapi kali ini Mama minta Papa yang cerita."
Andika duduk di samping Renita. "Dulu, Papa mekanik biasa. Bengkel kecil. Papa suka ke bundaran setiap akhir pekan. Sampai suatu hari, Papa lihat Mama. Mama cantik. Papa gagap."
"Papa kenapa gagap?"
"Karena Papa takut.”
"Takut apa?"
"Takut ditolak."
"Tapi akhirnya Papa berani?"
"Akhirnya Papa berani. Karena Papa tahu, kalau tidak berani, Papa akan kehilangan Mama selamanya."
Renita mengangguk , meskipun tidak paham sepenuhnya.
"Renita, kalau nanti besar, Renita harus berani. Seperti Papa. Jangan takut gagal. Jangan takut jatuh. Karena dari jatuh, Renita akan belajar berdiri."
"Seperti Mama yang jatuh disenggol Papa?"
"Iya. Seperti itu."
Renita menguap. "Renita ngantuk."
Reni menggendong Renita, membawanya ke kamar. Andika mengikuti dari belakang.
Mereka menidurkan Renita. Sama seperti dulu , ketika mereka hanya berdua, tanpa anak. Sekarang ada Renita. Ada tanggung jawab. Ada cinta yang lebih besar.
"Mas, kurasa ini akhir yang bahagia."
"Ini bukan akhir, Ren. Ini istirahat sebentar sebelum babak selanjutnya."
"Babak selanjutnya apa?"
"Merawat Renita. Mengajarinya tentang cinta. Tentang kehidupan. Tentang bundaran."
Reni tersenyum. "Aku siap."
"Aku juga."
Mereka berpegangan tangan. Di kamar yang sunyi. Dengan Renita yang tertidur pulas.
Dan di luar, Bundaran Besar Kapuas tetap berdiri. Tidak berubah. Senja akan datang lagi besok. Dan lusa. Dan seterusnya.
Karena senja tidak pernah ingkar janji.
BAB 20
“Di Sini Rindu Menanti”
Bundaran Besar Kapuas. Dua puluh tahun setelah pertemuan pertama Andika dan Reni. Renita berusia 25 tahun, sudah lulus S2 Psikologi dari Universitas Gadjah Mada. Andika (55 tahun), Reni (52 tahun), rambut mereka mulai beruban, tapi mata mereka masih sama , sama-sama berbinar saat melihat satu sama lain.
Matahari sore mulai condong ke barat. Warna jingga merambat perlahan di langit Kapuas. Angin dari sungai masih setia membawa bau tanah basah dan gorengan hangat.
Mbok Darmi? Ia sudah pensiun. Lapaknya kini diurus oleh anaknya, Darmi Jr., yang dipanggil "Mbok Darmi Muda". Tapi resep gorengan dan es cincau susu masih sama , turun temurun.
Andika dan Reni duduk di bangku kayu yang sama , bangku yang sekarang sudah menjadi ikon wisata Kapuas, dengan plakat: "Bangku Cinta Andika & Reni , Saksi Perjuangan Cinta Sejati".
"Mbok Darmi Muda, pesanan es cincau susu dua, gorengan satu porsi!" panggil Andika.
"Siap, Om! Mbok Darmi senior sudah titip pesan: 'Jangan lupa taburi cinta'."
Mereka tertawa. Reni menyandarkan kepalanya di bahu Andika , kebiasaan yang tidak pernah berubah selama puluhan tahun.
"Mas, dua puluh tahun sudah kita menikah. Renita sudah lulus S2. Sebentar lagi mungkin dia menikah. Apa perasaan Mas?"
"Bangga. Tapi juga sedikit sedih. Karena dia akan meninggalkan kita."
"Tidak meninggalkan, Mas. Dia akan memulai hidupnya sendiri. Seperti kita dulu."
"Iya. Tapi dulu kita memulai dari nol. Renita sekarang sudah punya modal: ilmu, pengalaman, dan cinta dari kita."
"Mudah-mudahan dia bahagia."
"Pasti. Karena dia anak pejuang."
Dari kejauhan, Renita berjalan bersama seorang laki-laki muda , tampan, berkacamata, rambut ikal. Namanya Dimas, dosen muda Fakultas Psikologi UGM yang kini pindah ke Universitas Palangkaraya. Mereka berteman saat S2, lalu jatuh cinta. Sudah setahun pacaran, dan hari ini Dimas pertama kali bertemu orang tua Renita secara resmi di bundaran.
"Ma, Pa, ini Dimas. Dimas, ini Mama dan Papa saya," kata Renita dengan sedikit gugup.
"Selamat sore, Om. Selamat sore, Tante. Renita sudah banyak cerita tentang Oma dan Tante. Terima kasih sudah menerima saya," kata Dimas hormat.
Andika berdiri, menjabat tangan Dimas. Jabatan kuat, tapi ramah.
"Dimas, kamu dosen psikologi? Berarti bisa membaca pikiran saya?"
"Tidak bisa, Om. Itu kemampuan supernatural. Psikologi hanya mempelajari perilaku."
"Bagus. Jujur. Saya suka."
Reni tersenyum. "Silakan duduk, Dimas. Renita, pesankan es cincau untuk Dimas."
Mereka duduk bersama. Renita di samping Dimas. Andika dan Reni di seberang.
Bangku kayu yang dulu hanya untuk dua orang, kini menjadi saksi pertemuan keluarga baru.
Bangku kayu yang sama, satu jam kemudian. Dimas dan Renita berjalan ke taman, meninggalkan Andika dan Reni berdua.
"Mas, bagaimana pendapat Mas tentang Dimas?"
"Baik. Sopan. Jujur. Tidak banyak gaya. Mirip saya dulu."
"Mirip apa? Sama-sama keras kepala?"
"Bukan. Sama-sama tulus."
Reni tersenyum. "Dulu Mas juga begitu waktu pertama kali ketemu Papa. Sopan, jujur, dan sedikit gagap."
"Kamu ingat?"
"Ingat. Setiap detik. Sampai sekarang."
"Mbok Darmi , yang dulu , pernah bilang, cinta sejati tidak butuh waktu lama untuk tumbuh, tapi butuh waktu lama untuk dibuktikan. Kita sudah buktikan."
"Iya. Kita sudah."
Matahari semakin rendah. Warna jingga berubah menjadi oranye tua. Bundaran mulai ramai seperti biasa, setiap akhir pekan.
Rumah Andika dan Reni, malam harinya. Renita dan Dimas sudah pamit pulang ke kos masing-masing. Andika dan Reni duduk di ruang tamu.
"Ren, aku mau baca sesuatu."
"Apa?"
Andika mengambil album foto lama , album yang berisi foto-foto mereka sejak pertama kali kenal. Ada foto di bundaran, foto di dermaga KP3, foto di pelabuhan Danau Mare, foto saat sidang skripsi, foto pernikahan, foto Renita kecil, foto Renita wisuda S1, foto Renita wisuda S2.
Ada juga foto mereka bertiga saat ultah Andika yang ke-50.
"Mas, kamu simpan ini semua?"
"Iya. Untuk kenangan. Untuk Renita nanti kalau kami tidak ada."
"Jangan bicara tidak ada. Kita masih panjang."
"Tidak ada yang tahu, Ren. Tapi yang pasti, cinta kita sudah terukir di sini."
Andika menunjuk dadanya.
Reni memeluk Andika. "Terima kasih sudah tidak pernah menyerah. Terima kasih sudah setia. Terima kasih sudah menjadi suami dan ayah yang luar biasa."
"Anda istri yang hebat, Reni Ayu Andika. Saya yang berterima kasih."
Mereka berpelukan lama. Sepi. Hangat.
Bundaran Besar Kapuas, keesokan harinya, Minggu sore, pukul 16.30.
Andika datang sendiri. Reni sedang menyiapkan kue untuk acara arisan ibu-ibu. Renita sedang bersama Dimas.
Andika duduk di bangku kayu , sendiri.
Ia memandang perempatan selatan , arah Jalan Pemuda. Sama seperti dulu. Dua puluh lima tahun lalu.
Seorang pengamen tua mendekat. Bukan pengamen yang dulu , yang dulu sudah meninggal lima tahun lalu. Ini pengamen baru, masih muda.
"Om, mau dangdut koplo atau lagu cinta galau?"
Andika tersenyum. "Lagu apa pun yang bisa mengembalikan seseorang."
"Wah, itu mah bukan lagu, Om. Itu namanya keajaiban."
"Tapi keajaiban itu nyata. Saya sudah membuktikannya."
Pengamen itu tidak mengerti. Tapi ia bernyanyi lagu "Rindu Berat" , lagu yang sama dengan yang dulu dinyanyikan pengamen tua.
Andika teringat masa lalu.
Ia teringat surat yang dibakar. Teringat larangan Pak Wulandari. Teringat panggilan polisi. Teringat kecelakaan. Teringat perjuangan Reni untuk sembuh.
Dan ia teringat janjinya: "Aku di sini. Sampai kapan pun."
Janji itu ia tepati.
Dari kejauhan, Reni datang. Dengan kain batik, rambut disanggul sederhana. Wajahnya masih cantik , tua, tapi tetap cantik. Reni membawa dua gelas es cincau susu.
"Mas, saya bawakan minuman."
"Kamu datang. Aku kira kamu sibuk arisan."
"Arisan batal. Ibu-ibu pada sibuk. Aku memilih ke bundaran. Karena di sini rindu menanti."
Andika tersenyum. "Kamu ingat judul itu?"
"Ingat. Itu judul cerita kita. 'Senja di Bundaran Besar Kapuas, Di Sini Rindu Menanti'."
"Mbok Darmi , yang dulu , yang memberi ide judul itu."
"Almarhum Mbok Darmi orang baik."
"Iya. Dia saksi cinta kita."
Mereka menikmati es cincau susu. Dingin. Manis. Lega.
Bangku kayu, senja mulai berganti malam.
"Dua puluh lima tahun, Ren."
"Iya. Masih terasa seperti kemarin."
"Apa kamu bahagia?"
"Bahagia? Lebih dari itu. Aku merasa diberkati."
"Kita sama-sama diberkati."
Tiba-tiba, dari arah selatan, Renita dan Dimas datang. Mereka berdua membawa kue kecil , kue ultah untuk Reni yang sebenarnya masih seminggu lagi.
"Ma! Selamat ulang tahun! Maaf, kami tidak bisa datang minggu depan karena ada seminar di Lombok. Jadi kami rayakan sekarang," kata Renita.
"Wah, kejutan!" teriak Reni.
Mereka berempat duduk di bangku kayu. Kue dinyalakan lilin. Andika memegang ponsel, merekam.
"Mama, tiup lilinnya. Jangan lupa minta doa," kata Dimas.
Reni menarik napas. Meniup lilin. Semua bertepuk tangan.
"Doa Mama: semoga Renita dan Dimas langgeng seperti Mama dan Papa. Semoga Dimas betah di keluarga kita. Dan semoga kita semua sehat selalu."
"AMIN!" seru mereka.
Malam mulai gelap. Lampu taman menyala satu per satu.
Renita dan Dimas berpamitan. Mereka berdua ingin ke mal.
Tinggal Andika dan Reni.
"Mas, kita pulang?"
"Sebentar lagi. Nikmati dulu malam di bundaran."
Malam di bundaran berbeda. Tidak sesepi dulu. Sekarang ada lampu hias warna-warni. Ada mushola baru. Ada air mancur kecil.
Tapi satu hal tidak berubah: bangku kayu itu. Sederhana. Tidak berhias. Tapi penuh cerita.
"Mas, dua puluh lima tahun dari sekarang, kita sudah tua. Mungkin sudah tidak bisa jalan. Apa kita masih akan ke bundaran?"
"Kalau sudah tidak bisa jalan, saya akan belikan kursi roda. Saya dorong. Kita tetap ke bundaran. Kita lihat senja. Kita ingat masa lalu."
"Kamu yakin?"
"Yakin. Sumpah pakai gelang ini."
Andika menunjukkan gelang di pergelangan tangannya , gelang yang sama modelnya dengan yang Reni pakai. Tali kulit hitam, gantungan cincin perak.
Gelang itu sudah yang ke-7 dalam pernikahan mereka. Setiap lima tahun, mereka ganti gelang baru. Tapi modelnya selalu sama. Dan cincin kecil itu tidak pernah diganti , cincin dari pertama kali Andika menyatakan cinta di lorong fakultas.
"Cincin ini saksi cinta kita."
"Dan gelang ini saksi kesetiaan."
Mereka berpegangan tangan. Di bangku kayu. Di bawah lampu taman yang redup.
Di Bundaran Besar Kapuas.
Di mana semuanya dimulai.
EPILOG
“Hari Berjalan, Senja Tetap Sama”
Bundaran Besar Kapuas. Hari Minggu, akhir pekan. Tahun 2026. Pukul 16.30. Musim kemarau, langit cerah, matahari mulai condong ke barat. Warna jingga perlahan merambat di langit Kapuas, sama seperti dua puluh lima tahun lalu saat Andika pertama kali menyenggol bahu Reni hingga jatuh.
Andika (55 tahun) dan Reni (52 tahun) duduk di bangku kayu yang sama. Bangku itu kini telah diberi plakat kecil oleh Pemerintah Kabupaten Kapuas: “Bangku Cinta Andika & Reni — Saksi Perjuangan Cinta Sejati — Diresmikan 2025”.
Rambut Andika mulai beruban di pelipis. Reni masih sama , wajahnya berisi, senyumnya masih hangat. Hanya ada beberapa kerutan halus di sudut matanya. Tapi mata mereka masih sama: berbinar saat saling memandang.
Renita (25 tahun), putri mereka, duduk di samping Reni. Ia baru saja lulus S2 Psikologi dari Universitas Gadjah Mada. Di samping Renita, ada Dimas (27 tahun) , dosen muda Fakultas Psikologi Universitas Palangkaraya, pacar Renita yang sudah setahun berjalan. Wajahnya tampan, berkacamata, rambut ikal tipis.
Dari kejauhan, tiga anak kecil berlarian di taman. Mereka adalah anak dari Pajar (yang kini menikah dengan Mira, seorang guru SD). Dan anak dari Edi. Dan anak dari Leni. Rano , yang memilih tetap melajang — duduk di tikar plastik sambil mengunyah gorengan, setia dengan kebiasaannya sejak muda.
Mbok Darmi sudah pensiun dua tahun lalu. Lapaknya kini diurus oleh putrinya, Darmi Jr., yang akrab dipanggil “Mbok Darmi Muda”. Resep gorengan dan es cincau susu masih sama , turun temurun, tidak berubah.
“Mbok Darmi Muda, pesanan es cincau susu tiga, gorengan dua porsi!” teriak Andika dari bangku kayu.
“Siap, Om! Mbok Darmi senior titip pesan: ‘Jangan lupa yang manis-manis, biar cintanya awet’!”
Reni tertawa kecil. “Mbok Darmi senior selalu punya cara.”
“Dia saksi cinta kita, Ren. Dari awal sampai akhir,” kata Andika.
“Tidak ada akhir, Mas. Ini masih berjalan.”
Renita menyandarkan kepalanya di bahu Reni. “Ma, Pa, ceritain dong lagi. Waktu pertama kali Pa senggol Ma sampai jatuh. Renita mau dengar sekali lagi.”
“Sudah ribuan kali kamu dengar, Ren,” kata Reni.
“Tapi tetap seru.”
Andika menghela napas, lalu mulai bercerita dengan gaya khasnya , setengah serius, setengah bercanda.
“Dulu, Papa masih mekanik biasa. Bengkel kecil di Jalan Tambun Bungai. Suatu hari, Papa ke bundaran. Mama lagi jalan sama Empat Sekawan , Amilia, Susi, Susan. Papa mau beli gorengan. Tiba-tiba ada nyamuk. Papa mundur. Bahu Papa nyenggol bahu Mama. Mama jatuh.”
“Dan Papa tidak minta maaf?” tanya Dimas.
“Papa minta maaf. Tapi juga langsung jatuh cinta.”
“Jatuhnya karena nyamuk atau karena Mama?” ledek Renita.
“Karena Mama. Nyamuk hanya dalih.”
Semua tertawa.
Reni menambahkan, “Mama tidak marah waktu itu. Mama tersenyum. Karena Mama melihat sesuatu di mata Papa. Ketulusan.”
“Dan sekarang, setelah dua puluh lima tahun, apa yang Mama lihat di mata Papa?” tanya Renita.
Reni menatap Andika lama. Matanya berkaca-kaca.
“Mama masih melihat hal yang sama. Ketulusan. Ditambah kerutan dan uban.”
“Hey, uban itu wibawa,” sahut Andika.
Mereka tertawa lagi. Dimas menggenggam tangan Renita. Renita tersenyum.
Dari kejauhan, Pak Wulandari (78 tahun) dan Ibu Reni (75 tahun) berjalan pelan menuju bangku kayu. Pak Wulandari sudah menggunakan tongkat. Ibu Reni masih tegap, rambutnya diwarnai hitam.
“Kakek! Nenek!” teriak Renita sambil melambaikan tangan.
“Cucu Kakek yang paling cantik!” sapa Pak Wulandari.
“Kakek, sekarang Kakek tidak galak lagi sama Papa, kan?”
“Dulu Kakek galak karena Kakek sayang sama Mama kamu. Sekarang Kakek sayang sama Papa kamu juga. Papa kamu sudah buktikan diri.”
Andika berdiri, membantu Pak Wulandari duduk di bangku.
“Terima kasih, Pak. Dulu saya pernah diusir dari rumah Bapak. Sekarang Bapak yang datang ke bundaran menemui saya.”
“Waktu berubah, Andika. Orang juga berubah. Yang tidak berubah hanya bundaran ini.”
Reni memeluk ayahnya. “Pa, terima kasih sudah merestui kami.”
“Papa yang berterima kasih. Kamu memilih laki-laki yang tepat.”
Ibu Reni mengusap air mata. “Jangan bikin Ibu nangis. Nanti makeup luntur.”
“Ibu pakai makeup?” tanya Renita.
“Sedikit. Biar kelihatan muda.”
Semua tertawa.
Bangku kayu, satu jam kemudian. Matahari semakin rendah. Warna jingga berubah menjadi oranye tua.
Renita dan Dimas berjalan ke taman, meninggalkan Andika dan Reni berdua di bangku.
“Mas, sekarang tahun 2026. Dua puluh lima tahun sejak kita pertama kali bertemu. Dua puluh tahun menikah. Renita sudah lulus S2. Sebentar lagi mungkin dia menikah. Apa perasaan Mas?”
“Bangga. Tentu bangga. Tapi juga sedikit takut.”
“Takut apa?”
“Takut kehilangan momen. Takut waktu berjalan terlalu cepat.”
“Tapi kita masih di sini, Mas. Masih bersama. Masih sehat. Masih bisa ke bundaran setiap akhir pekan.”
“Itu yang membuatku bersyukur.”
Angin dari Sungai Kapuas bertiup pelan. Membawa bau tanah basah , pertanda akan turun hujan sebentar lagi. Andika memegang tangan Reni. Tangannya masih hangat, sama seperti dulu.
“Ren, ingat tidak waktu kita pertama kali ke bundaran setelah kamu kecelakaan? Kamu masih pakai kruk. Kamu bilang, ‘Aku tidak akan pernah bisa jalan normal lagi.’”
“Aku ingat. Dan kamu bilang, ‘Kamu akan jalan normal. Aku akan temani setiap terapi. Sampai kamu lari lagi.’ Dan aku lari. Meski hanya sampai gerbang rumah.”
“Tapi kamu lari. Itu yang penting.”
Mereka terdiam. Menikmati senja. Menikmati kebersamaan.
Dari kejauhan, Pajar (55 tahun) berjalan mendekat. Istrinya, Mira, dan anak-anaknya ikut. Mereka berdiri di depan bangku kayu.
“Dika, Ren, kita pamit dulu. Anak-anak sudah mulai ngantuk,” kata Pajar.
“Iya, Jar. Hati-hati di jalan. Makasih sudah datang.”
“Pasti dong. Ini acara keluarga. Nggak akan kami lewatkan.”
Rano (53 tahun) ikut berdiri. Perutnya masih besar, rambutnya mulai tipis di bagian atas.
“Dika, gue pamit juga. Gorengannya gue bawa pulang ya? Masih dua bungkus.”
“Bawa, No. Tapi jangan dimakan sekaligus. Nanti sakit perut.”
“Gue sudah kebal.”
Rano pergi sambil mengunyah. Khas Rano.
Leni, Siska, Edi, Amilia, Susi, Susan, Bondan , mereka semua datang bergantian, berpamitan satu per satu.
Hingga akhirnya hanya Andika, Reni, Pak Wulandari, dan Ibu Reni yang tersisa.
“Pa, Bu, kami antar pulang,” kata Reni.
“Tidak usah. Naik ojek online saja. Masih banyak.”
“Tidak, Pa. Kami antar. Ini sudah kewajiban anak.”
Mereka berjalan menuju parkiran motor. Andika membonceng Reni. Renita dan Dimas menyusul di belakang.
Pak Wulandari dan Ibu Reni naik ojek online yang sudah dipesan.
Sebelum berangkat, Pak Wulandari menepuk pundak Andika.
“Andika, Papa bangga sama kamu.”
“Terima kasih, Pak.”
“Jaga anak Papa. Jaga Cucu Papa.”
“Saya janji, Pak.”
Ojek melaju pelan. Pak Wulandari melambai. Renita dan Dimas juga melambai.
Andika menyalakan motor. Reni memeluk erat dari belakang.
“Ren, pegang aku erat-erat. Jangan lepas.”
“Seperti dulu?”
“Seperti dulu.”
Motor melaju meninggalkan bundaran. Lampu taman mulai menyala satu per satu. Di langit barat, senja masih setia , oranye keemasan, seperti janji yang tak pernah ingkar.
Rumah Andika dan Reni, malam hari, pukul 20.00.
Renita dan Dimas sudah pulang ke kos masing-masing. Pak Wulandari dan Ibu Reni sudah di rumah mereka. Andika dan Reni duduk di teras. Langit malam cerah. Bintang-bintang terlihat.
“Mas, tahun ini kita sudah genap dua puluh tahun menikah.”
“Dua puluh tahun. Rasanya baru kemarin.”
“Apa rahasia pernikahan kita, Mas?”
Andika berpikir sejenak.
“Tidak ada rahasia. Hanya tiga hal: percaya, sabar, dan tidak pernah berhenti memilih satu sama lain setiap hari.”
Reni tersenyum. “Itu sudah lebih dari cukup.”
“Reni, aku ingin bilang sesuatu.”
“Apa?”
“Dua puluh lima tahun yang lalu, di bundaran, aku tidak tahu bahwa menyenggol bahumu akan mengubah seluruh hidupku. Aku tidak tahu bahwa dari jatuh itu akan lahir cinta, keluarga, dan kebahagiaan yang tidak terduga. Tapi sekarang aku tahu. Takdir itu nyata. Kamu adalah takdirku.”
Reni menangis. “Andika, kamu masih bisa bikin aku nangis setelah dua puluh tahun.”
“Itu keahlian khusus.”
Mereka berpelukan. Di teras rumah. Di bawah langit malam. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang terus berjalan.
Tapi yang tidak berjalan adalah cinta mereka.
Cinta itu diam. Setia. Dan terus tumbuh.
Seperti pohon rambutan di halaman rumah , yang setiap tahun berbuah lebat.
Seperti Sungai Kapuas , yang mengalir tenang, tapi dalam.
Seperti Bundaran Besar Kapuas , yang tetap berdiri, menjadi saksi, dari generasi ke generasi.
Karena di sinilah cinta itu dimulai.
Dan di sinilah rindu menanti.
Dan rindu itu , akhirnya , selalu terjawab.
SELESAI.
"Di sinilah cinta itu dimulai. Dan di sinilah rindu menanti. Dan rindu itu akhirnya selalu terjawab."
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...