NOVEL ROMANSA REMAJA
KETIKA AKU DATANG, KAU TELAH PERGI
"Aku datang saat kau sudah tidak lagi menungguku. Dan kau pergi di saat aku baru mulai mencintaimu."
Novel oleh Slamet Riyadi
DISKLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama, tokoh, tempat, dan peristiwa yang digambarkan di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis, atau digunakan secara fiktif. Kesamaan dengan nama, tempat, atau peristiwa nyata hanyalah kebetulan belaka.
"Cinta tidak pernah datang di waktu yang tepat. Dan kehilangan tidak pernah datang di waktu yang salah. Keduanya adalah guru yang sama, mengajarkan kita bahwa waktu tidak pernah berpihak pada siapa pun."
— Slamet Riyadi
PROLOG
Sebelum Semua Dimulai
Aku menulis ini di kamar yang sama. Kamar yang dulu menjadi tempatku bersembunyi dari dunia. Di sini, aku menulis puisi tentang ibu yang pergi, tentang ayah yang sibuk, tentang sepi yang menjadi teman setiaku. Dan di sini juga, aku menulis tentang dia. Lelaki yang datang dengan cokelat panas dan senyuman, lalu pergi tanpa pernah mendengar jawaban yang kusimpan terlalu lama.
Namanya Angga.
Dan ini adalah kisah tentang kedatangannya yang tidak kusadari, dan kepergiannya yang tidak bisa kuhentikan.
Aku tidak pernah percaya pada keajaiban. Bagiku, dunia adalah ruang kelas yang penuh dengan suara-suara asing yang tidak pernah memanggil namaku. Aku adalah gadis yang duduk di pojok belakang, dengan rambut panjang yang selalu menutupi setengah wajah, dan buku catatan yang lebih banyak dihiasi puisi daripada rumus matematika.
Setiap hari aku datang, menulis, dan pulang. Seperti hujan gerimis di tengah kota. Kehadiranku diakui, tetapi tidak pernah dirindukan.
Aku terbiasa dengan itu. Aku terbiasa dengan keheningan yang menjadi teman setiaku sejak ibu pergi meninggalkanku dan ayahku tenggelam dalam kerja. Aku belajar bahwa lebih aman untuk tidak berharap daripada kecewa. Cinta, bagiku, adalah kata yang indah di atas kertas, tetapi berbahaya jika diucapkan.
Lalu Angga datang.
Angga Wijaya adalah kebalikan dari segala sesuatu yang aku kenal. Ia adalah anak yang selalu dikelilingi orang. Suaranya terdengar di setiap sudut sekolah. Senyumnya terang seperti lampu panggung yang tidak pernah padam. Kami tidak mungkin bertemu. Kami tidak mungkin bersinggungan.
Hingga suatu hari di perpustakaan yang sepi.
Angga mengambil buku puisiku yang jatuh dan berkata dengan nada penasaran, "Ini tentang siapa?"
Aku tidak menjawab.
Tapi sejak hari itu, Angga mulai datang.
Ia datang dengan secangkir cokelat panas yang diletakkan diam-diam di mejaku setiap pagi. Ia datang dengan cerita-cerita konyol yang membuatku terkekeh pelan. Ia datang dengan kehadiran yang hangat, cukup untuk membuatku mulai percaya bahwa mungkin, mungkin, dunia tidak selalu kejam.
Dan Angga menunggu.
Ia menunggu aku membuka hatiku. Ia menunggu aku berani berkata bahwa aku juga merasakan hal yang sama. Ia datang dan menunggu, tanpa pernah memaksa, tanpa pernah mengeluh.
Tapi aku tidak bisa.
Luka masa laluku terlalu dalam. Aku takut. Aku memilih diam ketika Angga bertanya, "Kamu suka aku, kan?" Aku memilih mundur ketika Angga melangkah maju. Aku memilih menyimpan cinta itu di dalam puisi-puisiku. Tertulis, tetapi tidak pernah terucap.
Dan saat aku akhirnya siap, saat hatiku berdetak dengan satu nama, Angga, dan aku memutuskan untuk berkata "aku juga", takdir justru berkata lain.
Angga pergi.
Bukan karena ia berhenti mencintai. Bukan karena ia marah. Tapi karena kehidupan menawarinya beasiswa ke luar negeri, dan ia harus pergi sebelum kelulusan. Ia pergi dengan mata yang masih mencari jawaban. Ia pergi dengan pertanyaan yang tidak pernah kujawab.
Di stasiun kereta, di hari keberangkatan Angga, aku datang. Berlari, dengan puisi terakhir di tanganku. Tapi kereta sudah melaju. Angga tidak melihatku. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangis bukan karena ditinggal, tetapi karena aku menyadari bahwa cinta yang aku takut-takuti justru adalah satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup.
"Aku datang saat kau sudah tidak lagi menungguku. Dan kau pergi di saat aku baru mulai mencintaimu."
Sejak itu, aku menulis. Bukan lagi tentang kehilangan ibuku, bukan tentang kesendirianku, tetapi tentang seorang lelaki yang datang dengan cokelat panas dan senyuman, yang mengajariku bahwa cinta itu nyata, meskipun aku datang terlambat untuk menjawabnya.
Kini, di kamarku yang sunyi, aku menyelesaikan buku puisi terakhirku. Judulnya sederhana.
Ketika Aku Datang, Kau Telah Pergi.
Sebuah buku tentang kedatangan yang tidak aku sadari, dan kepergian yang tidak bisa aku hentikan. Tentang seorang gadis yang terlalu takut untuk mencintai, dan seorang lelaki yang pergi karena waktu tidak pernah menunggu.
Kisah ini bukan tentang akhir yang bahagia. Ini tentang penerimaan. Bahwa cinta tidak selalu berarti bersama. Bahwa kadang, cinta adalah tentang berani datang, dan belajar melepaskan.
Ini bukan kisah tentang cinta yang bahagia. Ini tentang cinta yang datang terlambat, dan bagaimana aku belajar untuk tetap hidup setelah kehilangan.
— Novi, dari buku puisi "Ketika Aku Datang, Kau Telah Pergi"
BAB I
Gadis di Pojok Belakang
Pagi hari pertama semester genap datang seperti tamu yang tidak diundang. Novi terbangun dari tidurnya sebelum alarm berbunyi, seperti biasa. Ia berbaring beberapa saat di atas kasur tipisnya, mendengar suara ayam berkokok dari kejauhan dan deru kendaraan yang mulai memadati jalan di depan rumah. Langit di luar jendela masih berwarna kelabu, seperti selimut yang belum siap diangkat dari malam.
Novi menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu yang mengganjal di dadanya, semacam rasa cemas yang tidak bisa ia jelaskan. Mungkin itu hanya perasaan biasa di awal semester. Mungkin hanya kelelahan karena liburan yang terlalu singkat. Atau mungkin, jauh di dalam hatinya, ia tahu bahwa sesuatu akan berubah tahun ini. Sesuatu yang besar. Sesuatu yang akan mengguncang dunia kecil yang telah ia bangun dengan susah payah.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi kecil di belakang rumah. Air dingin menyegarkan wajahnya, tetapi tidak bisa menghilangkan rasa cemas itu. Ia menatap bayangannya di cermin yang sudah retak di sudut kanan. Gadis di hadapannya memiliki wajah pucat dengan lingkaran hitam di bawah mata. Rambut panjangnya yang hitam pekat tergerai liar, beberapa helai menutupi pipi kirinya. Kacamata tebal dengan bingkai hitam duduk manis di pangkal hidungnya. Ia tidak cantik. Ia tidak jelek. Ia hanya biasa. Seperti ribuan gadis lain di SMA ini.
Novi menghela napas dan mulai bersiap. Seragam putih abu-abunya sedikit longgar di tubuhnya, tetapi ia tidak peduli. Ia sudah tidak peduli pada penampilannya sejak lama. Sejak ibunya pergi, sejak ayahnya mulai pulang larut malam, sejak dunia mengajarinya bahwa tidak ada yang benar-benar peduli padanya.
Ia memasukkan buku catatan lusuh dengan sampul cokelat tua ke dalam tas. Buku itu lebih tebal dari buku pelajaran mana pun. Isinya bukan catatan sekolah, melainkan puisi-puisi yang ia tulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur. Puisi tentang kehilangan, tentang kesepian, tentang seorang gadis yang tumbuh tanpa pelukan. Buku itu adalah satu-satunya tempat di mana Novi bisa menjadi dirinya sendiri.
SMA Nusantara terletak di sebuah kota kecil di pinggiran Jakarta. Sekolah itu tidak besar, tetapi juga tidak kecil. Cukup untuk menampung enam ratus siswa dari berbagai latar belakang. Pagi itu, gerbang sekolah sudah ramai dengan siswa yang datang dengan berbagai kendaraan. Ada yang naik mobil mewah, ada yang naik sepeda motor butut, ada juga yang berjalan kaki seperti Novi.
Novi melewati gerbang sekolah dengan langkah cepat, menunduk, berusaha untuk tidak menarik perhatian siapa pun. Ia sudah hafal jalan ini. Setiap pagi, ia mengambil rute yang sama: melewati lapangan basket yang masih kosong, melewati kantin yang belum buka, lalu naik tangga ke lantai dua di mana kelasnya berada. Ia selalu datang paling awal, sebelum siapa pun, karena ia tidak suka keramaian saat jam masuk.
Kelas 11 IPA 2 berada di ujung koridor lantai dua. Novi membuka pintu dan masuk ke ruangan yang masih sunyi. Matanya langsung tertuju pada kursi pojok belakang dekat jendela, kursi yang selalu ia tempati sejak kelas sepuluh. Kursi itu strategis. Dari sana, ia bisa melihat seluruh ruangan tanpa harus dilihat oleh siapa pun. Jendela di sebelahnya memberikan pemandangan pohon mangga tua yang rindang, dan di bawah pohon itu, sering ia melihat burung-burung kecil bermain.
Novi duduk dan mengeluarkan buku catatannya. Ia membuka halaman terakhir yang berisi puisi yang ia tulis tadi malam. Tentang seorang gadis yang terjebak dalam tubuh yang tidak ia kenali. Tentang perasaan melayang di antara langit dan bumi, tidak pernah menyentuh apa pun. Ia membaca puisinya sendiri, menggerakkan bibirnya pelan, merasakan setiap kata yang ia tulis.
"Aku adalah sepi yang berjalan.
Aku adalah hujan yang tidak pernah sampai ke tanah.
Aku adalah bayangan di dinding yang retak.
Aku adalah nama yang tidak pernah dipanggil."
Novi menutup buku itu dan menatap keluar jendela. Pohon mangga itu bergoyang pelan ditiup angin pagi. Daun-daunnya berbisik, seperti berbagi rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain. Novi ingin menjadi seperti pohon itu. Kokoh, tenang, dan tidak peduli pada siapa yang melihatnya.
Satu per satu, teman-teman sekelasnya mulai berdatangan. Suara-suara riuh memenuhi ruangan. Ada yang saling berteriak dari ujung ruangan ke ujung ruangan, ada yang tertawa lepas, ada yang membicarakan liburan mereka dengan penuh semangat. Novi mengamati mereka dari balik kacamatanya, seperti seorang antropolog yang mempelajari spesies asing.
Dua gadis di depannya, Sarah dan Nita, sedang bercerita tentang liburan ke Bali. Mereka menunjukkan foto-foto di ponsel mereka dengan bangga.
"Aku naik banana boat di Kuta, seru banget!" kata Sarah.
"Liburan kamu pasti lebih seru, Nita. Ke Lombok, kan?" sahut gadis lain.
Novi menunduk kembali ke buku catatannya. Ia tidak punya cerita liburan. Liburannya dihabiskan di rumah, membaca puisi, menulis, dan kadang membantu ayahnya di toko kelontong kecil mereka. Tidak ada yang menarik untuk diceritakan.
Tiga anak laki-laki di sampingnya sedang tertawa lepas karena sesuatu yang tidak ia mengerti. Mungkin lelucon kotor, mungkin cerita tentang gadis yang mereka sukai, mungkin hanya hal-hal remeh yang hanya mereka pahami. Novi tidak peduli. Ia sudah terbiasa berada di luar lingkaran mereka.
Ia sudah terbiasa menjadi hantu. Hadir tetapi tidak terlihat.
Novi mengingat pertama kali ia menyadari bahwa ia berbeda. Saat itu kelas 5 SD. Ibunya baru saja pergi, dan Novi datang ke sekolah dengan mata bengkak. Guru bertanya apa yang terjadi, dan Novi tidak menjawab. Ia hanya diam. Sejak hari itu, teman-temannya mulai menjauh. Mereka tidak tahu harus berkata apa pada gadis yang ibunya pergi tanpa pamit. Jadi mereka memilih untuk tidak berkata apa pun.
Novi belajar bahwa jika ia tidak berbicara, orang-orang tidak akan bertanya. Jika ia tidak menarik perhatian, orang-orang tidak akan menyakitinya. Ia menarik diri ke dalam dirinya sendiri, membangun tembok yang tebal, dan tinggal di dalamnya.
Pukul tujuh lewat lima belas, bel masuk berbunyi. Semua siswa bergegas ke tempat duduk masing-masing. Suara riuh mereda, digantikan oleh desis bisikan yang masih terdengar di sana-sini.
Novi menatap papan tulis yang masih kosong. Di luar jendela, awan mulai menggantung rendah, menandakan hujan akan turun nanti siang. Ia menyukai hujan. Suara hujan selalu membuatnya merasa tidak sendirian, seolah alam sedang berbicara dengannya.
Bu Dewi, guru Bahasa Indonesia, masuk dengan langkah tergesa. Bu Dewi adalah wanita paruh baya dengan kacamata setengah lingkaran dan rambut keriting yang selalu ia ikat dengan jepit besar. Beliau adalah salah satu guru favorit Novi, meskipun Novi tidak pernah mengatakannya. Bu Dewi selalu memberi nilai bagus pada puisi-puisinya, dan pernah berkata bahwa Novi memiliki bakat menulis.
"Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru," kata Bu Dewi dengan suara ceria. "Dia pindahan dari Jakarta. Tolong sambut dia dengan baik."
Pintu kelas terbuka. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Ia bukan guru. Ia terlalu muda, terlalu tinggi, dan terlalu percaya diri untuk menjadi guru. Ia mengenakan seragam baru yang masih rapi dengan lipatan yang masih terlihat, tas selempang di pundak, dan senyum di wajah. Senyum yang lebar, tulus, dan seolah mampu menerangi seluruh ruangan.
"Anak-anak, perkenalkan. Ini Angga Wijaya."
Semua gadis di kelas berbisik. Mata mereka berbinar. Nama Angga Wijaya terdengar seperti nama tokoh utama dalam novel remaja, seperti seseorang yang lahir untuk menjadi pusat perhatian.
Angga tersenyum kepada semua orang. Senyum yang tidak dibuat-buat, yang datang dengan alami, yang membuat orang yang melihatnya ingin tersenyum balik. Ia berjalan ke depan kelas, membungkuk sopan, lalu memperkenalkan diri.
"Halo, aku Angga. Aku dari SMA Budi Luhur Jakarta. Aku senang bisa bergabung di sini. Semoga kita bisa saling mengenal."
Novi menatapnya sekilas lalu menunduk. Ada sesuatu di dadanya, semacam sensasi aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Ia tidak menyukai anak baru itu. Ia terlalu terang. Terlalu percaya diri. Terlalu… sempurna.
Dan orang-orang yang sempurna tidak pernah memperhatikan orang-orang seperti Novi.
Angga memilih bangku di depan, dekat jendela yang berseberangan dengan Novi. Ia jauh dari Novi, dan Novi lega. Ia tidak ingin berhadapan dengan anak baru yang terlalu populer itu. Ia sudah cukup dengan kesendiriannya.
Jam pelajaran pertama berlangsung seperti biasa. Bu Dewi menjelaskan tentang puisi angkatan 45, tentang Chairil Anwar dan "Aku" yang legendaris itu. Novi mendengarkan dengan penuh perhatian, mencatat poin-poin penting dengan rapi. Ini adalah satu-satunya pelajaran yang benar-benar ia nikmati.
Di sela-sela penjelasan Bu Dewi, suara bisikan dari depan mengganggu konsentrasinya. Novi mendongak. Angga sedang berbicara dengan teman sebangkunya, Bima. Mereka tertawa pelan, saling mengolok. Angga terlihat sangat nyaman, seolah ia sudah berada di kelas ini bertahun-tahun, bukan baru pertama kali.
Novi menggelengkan kepala. Ia kembali fokus pada catatannya.
Saat jam istirahat pertama, semua gadis mengerumuni Angga. Mereka ingin tahu darimana ia berasal, mengapa ia pindah, apakah ia punya pacar. Pertanyaan-pertanyaan yang tidak penting, menurut Novi, tetapi Angga menjawab semuanya dengan ramah. Ia tertawa kecil, kadang menggaruk kepala dengan malu, dan sesekali melirik ke arah belakang kelas.
Novi tidak tahu apakah ia sedang melihatnya atau hanya melihat ke luar jendela. Dan ia tidak peduli.
Ia keluar dari kelas dan berjalan ke perpustakaan. Di sana, ia bisa membaca puisi, menulis puisi, dan menjadi dirinya sendiri. Di perpustakaan, tidak ada yang peduli siapa ia atau bagaimana ia terlihat.
Perpustakaan SMA Nusantara tidak besar, tetapi cukup nyaman. Dindingnya dicat hijau muda, ada beberapa rak buku yang penuh sesak, dan meja-meja kayu panjang dengan kursi yang sedikit goyang. Di sudut ruangan, dekat jendela yang menghadap lapangan, ada kursi favorit Novi. Di sanalah ia biasanya duduk, membaca buku, dan menulis.
Novi berjalan ke rak puisi dan mengambil antologi puisi Chairil Anwar. Ia sudah membaca buku itu berkali-kali, tetapi setiap kali ia membacanya, ia menemukan makna baru. Chairil Anwar menulis dengan darah, dengan api, dengan kemarahan dan cinta yang tidak pernah ia pahami sepenuhnya. Novi ingin bisa menulis seperti itu.
Ia duduk di kursi favoritnya dan membuka buku itu. Di luar jendela, awan mulai menebal. Hujan akan turun sebentar lagi. Novi tersenyum kecil. Ia suka hujan.
Ia mulai membaca.
"Kalau sampai waktuku, 'ku mau tak seorang 'kan merayu. Tidak juga kau."
Baris itu selalu membuatnya merenung. Tentang kematian. Tentang kepergian. Tentang bagaimana seseorang bisa pergi tanpa pamit, seperti ibunya.
Novi menarik buku catatannya dan mulai menulis puisi baru.
"Jika sampai waktuku pergi, aku tidak mau ada yang menangis. Biarkan aku pergi seperti angin. Tanpa jejak. Tanpa nama. Tanpa saksi."
Ia tidak sadar bahwa ada seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Ini tentang siapa?"
Novi terlonjak kaget. Buku catatannya hampir terlepas dari tangannya. Ia menoleh dan melihat Angga berdiri di sampingnya, menatap tulisannya dengan penuh rasa ingin tahu.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Novi dengan suara yang lebih tajam dari yang ia inginkan.
Angga tidak terlihat tersinggung. Ia malah tersenyum. "Aku mencari buku. Tapi aku tersesat."
"Perpustakaan bukan tempat untuk tersesat."
"Kadang kita tersesat di tempat yang paling kita kenal," kata Angga. "Dan kadang kita menemukan hal-hal yang tidak kita cari."
Novi tidak menjawab. Ia menutup buku catatannya dengan kasar.
"Puisi itu tentang apa?" tanya Angga lagi.
"Tidak ada," kata Novi datar. "Hanya tulisan sembarangan."
Angga menggeleng. "Itu tidak sembarangan. Aku bisa merasakannya. Ada kesedihan di sana. Kesedihan yang sangat dalam."
Novi menatap Angga. Siapa anak ini? Kenapa ia berbicara seperti orang yang mengerti puisi, padahal ia adalah anak populer yang baru saja pindah?
"Kau tidak bisa merasakan apa yang tidak kau ketahui," kata Novi dingin.
"Kadang kita bisa merasakan tanpa memahami," kata Angga. "Aku tidak mengerti puisi. Tapi aku mengerti kesedihan."
Novi terdiam. Kata-kata Angga menusuk tepat di hatinya. Ia tidak suka itu. Ia tidak suka bahwa orang asing ini bisa melihatnya begitu jelas.
"Aku harus pergi," kata Novi, berdiri dan memasukkan bukunya ke dalam tas.
"Tunggu," panggil Angga. "Aku tidak bermaksud mengusirmu. Aku hanya penasaran."
"Kau tidak perlu penasaran padaku," kata Novi. "Aku bukan hal yang menarik untuk diketahui."
Novi berjalan keluar dari perpustakaan. Di koridor, ia berhenti sejenak. Dadanya berdebar kencang. Ia marah pada dirinya sendiri. Kenapa ia tidak bisa bersikap biasa? Kenapa ia selalu membangun tembok di sekelilingnya?
Ia pulang ke rumah dengan perasaan yang aneh. Sepanjang jalan, ia terus memikirkan Angga. Mata Angga. Suara Angga. Kata-kata Angga yang begitu tajam. Dan yang paling membuatnya kesal, Angga tidak terlihat marah atau tersinggung dengan sikapnya. Angga hanya tersenyum, seolah memahami.
Novi tidak suka itu. Seolah Angga bisa melihat menembus tembok yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Malam harinya, Novi duduk di kamarnya. Hujan mulai turun di luar, mengetuk-ngetuk genteng dengan ritme yang menenangkan. Ia membuka buku catatannya dan membaca puisi yang baru ia tulis.
"Jika sampai waktuku pergi, aku tidak mau ada yang menangis. Biarkan aku pergi seperti angin. Tanpa jejak. Tanpa nama. Tanpa saksi."
Ia membaca baris itu berulang-ulang. Lalu ia menulis baris baru di bawahnya.
"Tapi angin selalu meninggalkan guncangan pada daun-daun."
Novi menutup buku itu. Ia memikirkan tentang seorang anak baru dengan senyum yang terlalu terang. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Novi menulis puisi bukan tentang kehilangan, tetapi tentang sebuah pertemuan.
"Seorang anak baru dengan senyum yang terlalu terang. Yang membaca puisiku dan berkata itu indah. Yang membuatku merasa, untuk sesaat, bahwa aku terlihat."
Novi menuliskan sebuah nama di bawah puisinya. Sebuah nama yang tidak pernah ia duga akan ia tulis.
Angga.
Ia menatap nama itu lama. Lalu ia mencoretnya dengan keras. Ia tidak boleh. Ia tidak boleh membiarkan siapa pun masuk ke dalam tembok yang sudah ia bangun.
Tetapi jauh di dalam hatinya, Novi tahu bahwa sesuatu telah berubah. Bahwa ada celah kecil di tembok itu. Dan celah itu bernama Angga.
BAB II
Anak Baru yang Terlalu Terang
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mendengar suara hujan yang masih setia mengguyur atap rumahnya. Pikirannya terus berputar pada satu nama yang tidak ia inginkan: Angga.
Ia membalikkan badan ke kiri, lalu ke kanan, lalu ke kiri lagi. Bantalnya terasa panas. Selimutnya terasa terlalu berat. Udara di kamarnya terasa sesak, seolah-olah kata-kata Angga masih melayang di ruang itu.
"Aku tidak mengerti puisi. Tapi aku mengerti kesedihan."
Novi menutup matanya rapat-rapat, tetapi bayangan Angga tetap muncul. Senyumnya yang terlalu terang. Matanya yang seolah bisa menembus tembok yang ia bangun bertahun-tahun. Suaranya yang lembut tetapi tajam, seperti pisau yang bisa membelah lapisan-lapisan yang ia kenakan untuk melindungi dirinya.
"Berhenti," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Berhenti memikirkannya. Dia hanya anak baru. Dia tidak penting."
Tetapi hatinya tidak mendengarkan.
Novi ingat bagaimana ibunya dulu juga bisa menembus temboknya. Ibunya tahu kapan Novi sedih, kapan Novi takut, kapan Novi membutuhkan pelukan tanpa harus mengatakan apa pun. Tapi kemudian ibunya pergi. Dan sejak itu, Novi belajar bahwa orang yang bisa menembus temboknya adalah orang yang paling berbahaya. Karena merekalah yang bisa menyakitinya paling dalam.
Novi menggigit bibirnya. Ia tidak akan membiarkan itu terjadi lagi. Ia tidak akan membiarkan siapa pun masuk.
Keesokan paginya, Novi bangun dengan perasaan yang tidak biasa. Ada semacam getaran di dadanya, semacam harapan yang ia takut akui. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari kemarin. Rambutnya kusut, seragamnya kusut, semuanya terlihat kusut.
Novi menghela napas dan mulai bersiap. Ia menyisir rambutnya dengan malas, mengikatnya menjadi ekor kuda rendah yang tidak rapi. Ia mengenakan seragamnya, memakai kacamatanya, dan berjalan keluar kamar tanpa sarapan. Ia tidak lapar. Perutnya terasa penuh oleh sesuatu yang lain. Sesuatu yang tidak bisa ia beri nama.
Ia berjalan ke sekolah dengan langkah yang lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu mengapa. Mungkin ia ingin segera sampai. Mungkin ia ingin melihat apakah Angga akan ada di sana. Mungkin ia ingin menghindari Angga. Ia bahkan tidak tahu apa yang ia inginkan.
Di gerbang sekolah, Novi berhenti sejenak. Matanya menyapu lapangan, koridor, dan area parkir. Tidak ada Angga. Ia lega. Dan pada saat yang sama, kecewa.
Novi menggelengkan kepala. "Apa yang kau lakukan, Novi?" tanyanya pada dirinya sendiri. "Berhentilah mencari seseorang yang tidak penting."
Ia masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Pohon mangga di luar jendela masih bergoyang pelan, daun-daunnya basah oleh sisa hujan semalam. Burung-burung kecil mulai bermunculan, melompat dari cabang ke cabang dengan ceria. Novi mengamati mereka dan tersenyum kecil. Burung-burung itu tidak takut. Mereka tidak membangun tembok. Mereka hanya hidup, terbang, dan bernyanyi.
Novi ingin menjadi seperti mereka. Tapi ia terlalu takut.
Kelas mulai penuh. Suara-suara riuh memenuhi ruangan. Novi duduk diam di sudutnya, menatap buku catatan yang sudah ia buka di atas meja. Ia menulis puisi pendek tentang burung-burung di luar jendela, tentang kebebasan yang ia rindukan tetapi tidak pernah ia miliki.
Kemudian pintu kelas terbuka.
Angga masuk dengan langkah percaya diri. Seragamnya rapi, rambutnya tertata, dan senyumnya masih sama seperti kemarin: terang, tulus, dan seolah mampu menerangi seluruh ruangan. Ia menyapa beberapa teman sekelas dengan ramah, tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Bima, dan berjalan ke bangkunya di depan.
Tetapi sebelum ia duduk, ia menoleh ke belakang.
Matanya bertemu dengan mata Novi.
Angga tersenyum.
Novi segera menunduk. Dadanya berdebar kencang. Ia berpura-pura sibuk menulis di buku catatannya, tetapi tulisannya hanya coretan-coretan tidak jelas. Tangannya gemetar.
"Kenapa ia tersenyum padaku?" pikir Novi. "Kenapa ia melihatku? Aku tidak ingin dilihat. Aku tidak ingin diperhatikan."
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik, "Kau berbohong."
Guru masuk dan pelajaran dimulai. Novi berusaha fokus, tetapi pikirannya terus melayang ke depan kelas, ke arah Angga. Ia mendengar suara Angga yang kadang bertanya pada guru, kadang bercanda dengan Bima. Suara Angga terdengar ringan dan percaya diri, seperti orang yang tidak pernah ragu dengan dirinya sendiri.
Novi iri. Ia ingin memiliki keberanian seperti itu. Ia ingin bisa berbicara dengan orang lain tanpa merasa takut, tanpa merasa bahwa kata-katanya akan dihakimi, tanpa merasa bahwa ia tidak layak didengar.
Sepanjang pelajaran pertama, Novi tidak mencatat apa pun. Buku catatannya tetap kosong. Pikirannya terlalu sibuk memikirkan Angga.
Saat jam istirahat, Novi bergegas keluar kelas. Ia ingin pergi ke perpustakaan. Tempat amannya. Tempat di mana ia tidak perlu berpikir tentang Angga atau siapa pun.
Tetapi di koridor, ia berpapasan dengan Angga.
Mereka berdua berhenti sejenak. Angga tersenyum. "Hai, Novi."
Novi tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan dan terus berjalan.
"Novi," panggil Angga.
Novi berhenti. Ia menoleh setengah.
"Kamu selalu ke perpustakaan, kan?" tanya Angga. "Aku suka perpustakaan. Tempat yang tenang. Aku butuh ketenangan akhir-akhir ini."
Novi menatap Angga dengan tatapan bingung. Angga terlihat seperti orang yang selalu tenang, selalu bahagia. Ia tidak terlihat seperti seseorang yang butuh ketenangan.
"Kenapa?" tanya Novi pelan.
Angga tersenyum miring. "Kadang orang yang paling terlihat bahagia adalah yang paling kesepian."
Novi terdiam. Kata-kata itu menusuk hatinya. Karena ia mengenal perasaan itu. Ia mengenal bagaimana rasanya tersenyum di luar sementara di dalam, segalanya hancur.
"Mungkin lain kali aku bisa ikut ke perpustakaan," kata Angga. "Kalau kamu tidak keberatan."
Novi tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya mengangguk lagi, lalu berjalan cepat ke perpustakaan. Ia tidak berani menoleh ke belakang.
Di perpustakaan, Novi duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai cerah. Sisa-sisa hujan semalam masih menetes dari daun-daun pohon mangga. Novi membuka buku puisinya, tetapi ia tidak bisa membaca. Pikirannya masih di koridor, masih pada kata-kata Angga.
"Kadang orang yang paling terlihat bahagia adalah yang paling kesepian."
Apakah itu benar? Apakah Angga yang populer dan selalu tersenyum itu juga kesepian? Apakah ia juga membangun tembok seperti Novi, tetapi dengan cara yang berbeda?
Novi menggelengkan kepala. Ia tidak peduli. Ia tidak harus peduli.
Tetapi pikirannya tidak bisa berhenti memikirkan Angga. Sepanjang jam istirahat, ia tidak menulis satu kata pun. Ia hanya duduk dan menatap halaman kosong.
Bel masuk berbunyi. Novi kembali ke kelas. Sepanjang sisa pelajaran, ia tidak bisa berkonsentrasi. Kata-kata Angga terngiang di kepalanya. "Mungkin lain kali aku bisa ikut." Apa maksudnya? Apakah Angga benar-benar tertarik padanya? Atau hanya basa-basi? Novi tidak tahu. Ia terlalu lama hidup dalam kesendirian untuk memahami bahasa orang lain.
Pulang sekolah, Novi berjalan sendirian ke halte bus. Hujan mulai turun lagi, gerimis tipis yang membasahi rambut dan seragamnya. Ia membuka payung tua yang ia bawa dan berjalan pelan, menikmati dinginnya udara. Gerimis selalu membuatnya merasa tenang.
Di halte bus, Novi berdiri di sudut, menjauh dari keramaian. Beberapa siswa lain menunggu bus yang sama, tetapi tidak ada yang menghampirinya. Mereka sibuk dengan ponsel mereka, dengan obrolan mereka, dengan dunia mereka sendiri. Novi terbiasa dengan itu.
Kemudian, sebuah mobil berhenti di depan halte. Jendela mobil diturunkan. Angga tersenyum dari balik kemudi.
"Novi, mau tumpang?" tanya Angga. "Aku lewat rumahmu."
Novi terkejut. "Kamu tahu rumahku?"
Angga tersenyum malu. "Aku tanya Rina. Dia bilang rumahmu di perumahan dekat stasiun. Aku lewat situ."
Novi tidak tahu harus merasa senang atau waspada. Angga bertanya tentang rumahnya. Angga mencari tahu di mana ia tinggal. Itu adalah perhatian yang tidak pernah ia dapatkan dari siapa pun. Tetapi itu juga menakutkan. Karena perhatian selalu berakhir dengan kepergian.
"Ayo, Novi," kata Angga. "Hujan semakin deras. Aku antar."
Novi ragu. Ia tidak terbiasa menerima bantuan dari orang lain. Ia tidak terbiasa naik mobil orang yang baru ia kenal. Tetapi hujan mulai deras, dan bus yang ia tunggu tidak kunjung datang.
"Baiklah," kata Novi pelan.
Ia menutup payung dan masuk ke mobil Angga. Di dalam mobil, ada aroma pengharum ruangan yang segar, campuran kayu dan vanilla. Musik klasik mengalun pelan dari radio, sebuah karya Chopin yang membuat suasana terasa tenang dan elegan. Angga mengemudi dengan tenang, sesekali melirik ke arah Novi.
"Kamu tidak banyak bicara," kata Angga.
"Kamu tidak perlu banyak bicara untuk merasa nyaman," jawab Novi pelan.
Angga tersenyum. "Itu benar. Aku suka orang yang tidak banyak bicara. Mereka biasanya lebih jujur."
Novi tidak menjawab. Ia menatap ke luar jendela, melihat hujan yang mengguyur kota. Di dalam mobil ini, ia merasa aman. Ia merasa hangat. Dan itu membuatnya takut.
"Novi," kata Angga setelah beberapa saat hening. "Aku ingin bertanya sesuatu."
Novi menoleh. "Apa?"
"Apa yang membuatmu begitu sedih?"
Novi terkejut. Pertanyaan itu begitu langsung, begitu tulus, dan begitu tidak terduga. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Aku tidak sedih," katanya akhirnya.
Angga menggeleng. "Aku bisa melihatnya. Di matamu. Di caramu menulis. Di caramu menghindari orang. Ada sesuatu yang menyakitimu."
Novi terdiam. Ia tidak suka bahwa Angga bisa melihatnya begitu jelas. Ia tidak suka bahwa Angga bertanya tentang hal-hal yang tidak ingin ia bicarakan.
"Aku tidak ingin membicarakannya," kata Novi dingin.
Angga tidak terlihat tersinggung. Ia hanya mengangguk. "Baik. Aku tidak akan memaksa. Tapi jika suatu hari kau mau bicara, aku di sini."
Novi tidak menjawab. Ia hanya menatap ke luar jendela, melihat hujan yang semakin deras.
Mobil berhenti di depan rumah Novi. Rumah itu kecil dan sederhana, dengan pagar putih yang sudah mulai mengelupas. Rumput di halaman tidak terawat, dan teras rumah dipenuhi dengan barang-barang bekas yang tidak terpakai.
Novi membuka pintu mobil. "Terima kasih."
"Novi," panggil Angga.
Novi menoleh.
"Aku serius," kata Angga. "Aku ingin berteman denganmu. Aku tidak tahu mengapa, tapi ada sesuatu tentang dirimu yang membuatku penasaran. Dan aku tidak akan menyerah."
Novi tidak menjawab. Ia hanya menatap Angga lama, lalu menutup pintu mobil dan berjalan masuk ke rumah.
Di dalam kamarnya, Novi menutup pintu dan bersandar di dinding. Dadanya berdebar kencang. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Mengapa Angga begitu tertarik padanya? Mengapa Angga tidak menyerah padahal ia sudah jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak ingin berteman?
Novi membuka buku catatan dan menulis puisi baru.
"Tentang seorang anak baru. Yang membawaku pulang saat hujan. Yang ingin berteman denganku. Dan membuatku merasa bahwa mungkin, aku tidak selalu harus sendirian."
Novi memandang puisi itu lama. Tangannya gemetar. Ia tidak tahu apakah ia harus senang atau ketakutan. Ada sesuatu yang tumbuh di dalam hatinya. Sesuatu yang sudah lama ia kubur.
Novi takut. Jika ia membiarkan dirinya merasakan ini, ia akan terluka. Dan ia tidak tahu apakah ia bisa bertahan lagi.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik.
Mungkin kali ini berbeda. Mungkin kali ini, ia tidak akan pergi. Mungkin.
Malam itu, Angga juga tidak bisa tidur.
Ia duduk di kamarnya yang besar dan mewah. Kamar itu dilengkapi dengan perabot mahal, tempat tidur king-size, dan sistem suara canggih. Tetapi Angga tidak peduli pada semua itu. Baginya, kamar ini hanyalah sebuah ruangan. Kosong. Sepi. Tanpa suara.
Ayahnya sedang di luar kota untuk urusan bisnis. Ibunya sedang bepergian ke luar negeri bersama teman-temannya. Angga terbiasa dengan keheningan ini. Rumahnya besar, tetapi tidak pernah terasa seperti rumah. Hanya bangunan. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluknya.
Angga menghela napas dan membuka ponselnya. Ia melihat foto Novi yang diambilnya diam-diam di perpustakaan. Novi sedang menulis, dengan ekspresi serius di wajahnya. Rambutnya menutupi setengah wajahnya, tetapi Angga masih bisa melihat matanya yang penuh dengan luka.
Ia menyukai Novi. Bukan karena ia cantik. Bukan karena ia populer. Tetapi karena ia berbeda. Ia nyata. Ia tidak berpura-pura. Ia tidak berusaha menyenangkan siapa pun. Ia hanya menjadi dirinya sendiri.
Dan di dalam dirinya, Angga melihat sesuatu yang ia kenali. Kesepian. Sama seperti yang ia rasakan setiap hari.
Angga ingin menjadi orang yang membuat Novi percaya bahwa ia layak dicintai. Ia ingin menjadi orang yang membuat Novi tersenyum.
Tetapi Angga juga takut. Ia tahu bahwa suatu hari nanti, ia mungkin harus pergi. Beasiswa ke Jepang yang ia lamar diam-diam masih menggantung di kepalanya. Jika ia diterima, ia harus meninggalkan semua ini. Ia harus meninggalkan Novi.
Angga menutup matanya. Ia tidak ingin memikirkan itu sekarang. Untuk saat ini, ia hanya ingin menikmati setiap momen bersama Novi.
Keesokan harinya, Novi datang ke sekolah dengan tekad bulat. Ia tidak akan memikirkan Angga. Ia tidak akan membiarkan Angga masuk ke dalam hidupnya. Ia akan kembali ke rutinitasnya yang aman.
Tetapi ketika ia masuk ke kelas, ia melihat sesuatu di mejanya.
Sebuah gelas berisi cokelat panas.
Uap tipis masih mengepul dari permukaan minuman itu. Aroma cokelat yang manis dan hangat menyebar di sekitarnya. Ada selembar kertas kecil di samping gelas, dengan tulisan tangan yang rapi.
"Untuk pagi yang lebih hangat. — A."
Novi menatap gelas itu dengan perasaan campur aduk. Ia tidak ingin menerima ini. Ia tidak ingin berutang budi pada siapa pun. Tetapi aromanya begitu menggoda, dan pagi itu dingin.
Ia meminum cokelat itu perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan.
Novi tersenyum kecil. Rasanya menyenangkan. Rasanya seperti ada seseorang yang peduli.
Sepanjang hari, Novi bertanya-tanya siapa yang memberi cokelat itu. Rina? Tidak mungkin. Rina tidak pernah memberi cokelat. Ayahnya? Tidak mungkin juga. Ayahnya sudah pergi sebelum Novi bangun.
Lalu Novi teringat pada Angga.
Mungkinkah Angga yang meletakkan cokelat itu?
Novi memutuskan untuk mencari tahu.
Keesokan harinya, Novi datang lebih awal. Ia bersembunyi di balik pintu kelas, menunggu. Beberapa menit kemudian, ia melihat sesosok pria masuk ke kelas. Pria itu berjalan ke meja Novi dan meletakkan sesuatu di atasnya.
Angga.
Novi menahan napas. Angga meletakkan gelas berisi cokelat panas di mejanya, lalu berjalan keluar dengan tenang. Ia tidak tahu bahwa Novi melihatnya.
Novi masuk ke kelas setelah Angga pergi. Cokelat panas itu masih hangat. Ia meminumnya dengan perasaan yang aneh. Ada kehangatan di dadanya yang tidak ia kenali.
"Angga," bisiknya pelan.
Ia tidak tahu harus merasa apa. Marah? Senang? Takut?
Novi memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun. Ia akan menerima cokelat itu tanpa mengakui bahwa ia tahu siapa pemberinya. Itu lebih aman.
Tetapi setiap pagi, cokelat itu tetap datang. Dan setiap pagi, Novi meminumnya dengan senyum kecil.
Tiga minggu berlalu. Cokelat panas menjadi rutinitas pagi Novi. Ia terbiasa dengan aroma cokelat yang menyambutnya setiap kali ia masuk kelas. Ia terbiasa dengan kehangatan yang mengalir di tenggorokannya. Ia terbiasa dengan perasaan bahwa ada seseorang yang peduli padanya.
Tetapi ia belum pernah berbicara dengan Angga tentang cokelat itu. Mereka masih bertemu di koridor, masih saling menyapa, tetapi Novi selalu menjaga jarak. Ia tidak ingin terlalu dekat. Ia tidak ingin terluka.
Rina mulai curiga. "Novi, ngaku," kata Rina dengan tatapan tajam saat jam istirahat. "Kau dan Angga?"
Novi memerah. "Tidak ada apa-apa."
"Bohong!" seru Rina. "Aku lihat kalian sering bicara. Dan cokelat panas itu, siapa yang memberinya?"
Novi tidak menjawab.
"Angga, kan?" Rina tersenyum lebar. "Aku tahu! Dia pasti suka padamu."
"Tidak mungkin," kata Novi cepat. "Orang seperti dia tidak akan suka padaku."
"Kenapa tidak?" tanya Rina. "Kau cantik, Nov. Cerdas. Dan punya bakat menulis puisi. Kau pantas dicintai."
Novi terdiam. Ia tidak terbiasa mendengar kata-kata seperti itu.
"Aku takut," kata Novi akhirnya. "Takut kehilangan."
"Novi," kata Rina dengan nada serius. "Aku tahu kau punya luka masa lalu. Tapi tidak semua orang akan meninggalkanmu. Angga berbeda. Aku bisa melihatnya."
"Kau yakin?"
"Aku yakin," kata Rina. "Tapi jika kau terus takut dan diam, suatu hari kau akan menyesal. Jangan biarkan ketakutanmu merampas kebahagiaanmu, Novi."
Novi hanya diam. Kata-kata Rina meresap ke dalam hatinya.
Malam itu, Novi tidak bisa tidur lagi. Ia memikirkan kata-kata Rina. Ia memikirkan Angga. Ia memikirkan cokelat panas yang selalu datang setiap pagi.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Tetapi sebuah surat.
"Untuk Angga,
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak terbiasa dengan perhatian seperti ini. Selama ini, aku hanya tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menerima.
Kau datang dengan cokelat panas dan kesabaran yang tidak pernah kuminta. Kau datang dengan senyum dan perhatian yang membuatku bingung. Aku tidak tahu apakah aku pantas menerima semua itu.
Tapi aku tahu satu hal. Saat kau berkata kau ingin berteman denganku, hatiku berdebar. Saat kau bilang kau tidak akan menyerah, ada bagian dari diriku yang ingin percaya.
Aku takut. Aku sangat takut. Tetapi mungkin, mungkin rasa takut itu tidak sebesar rasa ingin tahu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tidak sendirian.
Terima kasih telah datang. Terima kasih telah menunggu. Aku tidak bisa berjanji apa pun sekarang. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencoba.
Novi"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Tangannya gemetar. Ia belum pernah sejujur ini pada siapa pun.
Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Besok, ia akan memberikannya pada Angga.
BAB III
Perpustakaan dan Buku Puisi yang Jatuh
Malam itu, Novi tidur dengan surat di bawah bantalnya. Ia memeluknya erat-erat, seolah-olah surat itu bisa melindunginya dari semua ketakutan yang menghantuinya. Ia bermimpi tentang Angga. Tentang senyumnya yang terlalu terang. Tentang cokelat panas yang selalu hangat. Tentang kata-katanya yang seolah bisa menembus tembok yang sudah ia bangun bertahun-tahun.
Dalam mimpinya, Novi berdiri di tengah padang rumput yang luas. Angga berdiri di kejauhan, memanggil namanya. Novi berlari mendekatinya, tetapi semakin ia berlari, semakin jauh Angga. Ia berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Angga terus memanggilnya, tetapi ia tidak bisa mendekat.
Novi terbangun dengan keringat dingin. Dadanya berdebar kencang. Ia duduk di tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya.
"Aku harus memberikan surat ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku tidak bisa terus seperti ini."
Ia bangkit dan bersiap. Pagi itu, ia memakai seragamnya dengan lebih rapi. Ia menyisir rambutnya dengan lebih baik. Ia bahkan memakai sedikit lipstik yang sudah lama menganggur di lemari. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat berani.
Di sekolah, Novi langsung mencari Angga. Ia melihat Angga di koridor, sedang berbicara dengan Bima. Novi berjalan mendekat, tetapi langkahnya terhenti. Ia takut.
Rina melihatnya dari kejauhan. "Novi, kau mau apa?"
"Aku... aku ingin memberikan sesuatu pada Angga," kata Novi pelan.
Rina tersenyum. "Akhirnya! Ayo, aku temani."
Rina mendorong Novi ke arah Angga. Novi hampir tersandung. Angga menoleh dan tersenyum.
"Novi," sapa Angga. "Ada apa?"
Novi menyerahkan amplop itu dengan tangan gemetar. "Ini untukmu. Baca nanti."
Angga menerima amplop itu dengan hati-hati, seolah-olah itu adalah benda berharga. "Apa ini?"
"Surat," kata Novi pelan. "Aku... aku menulis sesuatu untukmu. Tapi jangan baca di sini."
Angga mengangguk. "Baik. Aku akan membacanya nanti."
Novi pergi dengan perasaan lega. Ia sudah memberikan surat itu. Sekarang tinggal menunggu.
Sepanjang sisa pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan apa yang akan Angga pikirkan setelah membaca suratnya. Apakah Angga akan tersenyum? Apakah ia akan kecewa? Apakah ia akan merasa iba?
Novi menggigit kukunya, kebiasaan buruk yang muncul saat ia gugup. Ia menatap ke depan kelas, ke arah Angga. Angga sedang duduk dengan tenang, menulis sesuatu di buku catatannya. Ia tidak terlihat gelisah. Ia tidak terlihat sedang membaca surat Novi.
"Sudah dibacanya belum?" pikir Novi. "Atau ia menunggu sampai pulang?"
Novi tidak tahu. Dan ia tidak berani bertanya.
Saat jam istirahat, Novi berjalan ke perpustakaan. Ia butuh ketenangan. Ia butuh menjauh dari semua orang.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Tidak ada hujan hari ini. Hanya sinar matahari yang hangat dan angin sepoi-sepoi.
Novi membuka buku puisinya, tetapi ia tidak bisa membaca. Pikirannya masih pada surat itu. Pada Angga.
Kemudian pintu perpustakaan terbuka.
Novi mendongak. Angga berdiri di ambang pintu, dengan amplop di tangannya. Amplop itu sudah terbuka.
Angga berjalan mendekati Novi. Wajahnya tidak bisa dibaca. Apakah ia marah? Apakah ia senang? Novi tidak tahu.
"Novi," kata Angga pelan. "Aku sudah membaca suratmu."
Novi menunduk. "Aku... aku minta maaf jika..."
"Kenapa kau minta maaf?" potong Angga. "Ini adalah hal paling jujur yang pernah seseorang katakan padaku."
Novi mengangkat kepala. "Kau... kau tidak marah?"
"Marah?" Angga tertawa kecil. "Kenapa aku harus marah? Kau berkata jujur tentang perasaanmu. Itu adalah hal yang berani."
Novi tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menatap Angga dengan mata berkaca-kaca.
"Novi," kata Angga, duduk di depan Novi. "Aku juga takut. Aku takut bahwa suatu hari nanti aku akan kehilangan orang yang aku sayangi. Aku takut bahwa aku tidak cukup baik. Aku takut bahwa aku akan sendirian."
"Tapi kau selalu terlihat begitu percaya diri," kata Novi pelan.
"Penampilan bisa menipu," kata Angga. "Aku belajar tersenyum agar orang tidak bertanya. Aku belajar menjadi populer agar orang mengelilingiku. Tetapi di dalam, aku sama kesepiannya seperti dirimu."
Novi terdiam. Ia tidak pernah membayangkan bahwa Angga bisa merasakan hal yang sama dengannya.
"Kenapa kau memberitahuku ini?" tanya Novi akhirnya.
"Karena kau jujur padaku," kata Angga. "Dan aku ingin jujur padamu. Aku ingin kau tahu bahwa kau tidak sendirian. Aku juga di sini."
Mereka duduk diam beberapa saat. Suara halaman buku yang berdesir dan langkah kaki siswa di luar perpustakaan menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
"Aku tidak percaya pada cinta," kata Novi tiba-tiba.
Angga menatapnya. "Kenapa?"
"Karena cinta selalu berakhir dengan kepergian," kata Novi. "Ibuku pergi. Ayahku pergi meskipun ia masih di rumah. Semua orang pergi pada akhirnya."
"Tapi aku di sini," kata Angga. "Aku belum pergi."
"Belum," kata Novi. "Tapi suatu hari kau akan pergi. Semua orang pergi."
Angga tidak menjawab. Ia hanya menatap Novi dengan mata yang lembut.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Hidup tidak pasti. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu. Aku akan selalu ada di sisimu."
Novi menangis. Air mata mengalir di pipinya. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa tidak sendirian.
Angga memegang tangannya. Tangannya hangat, lembut, dan penuh kepastian.
"Kau tidak perlu takut," kata Angga. "Aku di sini."
Sore itu, Angga dan Novi berjalan pulang bersama. Angga memutuskan untuk tidak naik mobil, tetapi berjalan kaki bersama Novi. Mereka melewati jalanan yang sepi, melewati toko-toko kecil yang mulai tutup, melewati pohon-pohon rindang yang daunnya mulai menguning.
"Aku tidak pernah berjalan sejauh ini," kata Angga. "Tapi aku suka. Rasanya tenang."
"Aku selalu berjalan," kata Novi. "Aku suka melihat hal-hal kecil di sepanjang jalan. Daun yang jatuh. Burung yang terbang. Anak-anak yang bermain."
"Kau melihat hal-hal yang tidak dilihat orang lain," kata Angga. "Itu sebabnya puisimu indah."
Novi tersenyum kecil. "Kau terlalu memujiku."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Puisimu membuatku merasa sesuatu. Aku tidak tahu apa namanya. Tapi itu nyata."
Mereka berhenti di depan rumah Novi. Rumah itu sama seperti biasanya, kecil dan sederhana, dengan pagar yang mulai mengelupas.
"Novi," kata Angga. "Aku senang kita berteman."
"Aku juga," kata Novi pelan.
"Besok aku akan datang dengan cokelat panas," kata Angga. "Seperti biasa."
Novi tersenyum. "Aku akan menunggu."
Angga pergi. Novi berdiri di depan pintu rumahnya, memandang kepergian Angga. Dadanya terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai.
Malam itu, Novi menulis puisi baru. Puisi tentang seseorang yang datang dengan cokelat panas dan kejujuran. Puisi tentang seorang anak baru yang melihatnya ketika yang lain tidak.
"Aku tidak percaya pada keajaiban. Tapi kau datang. Dengan cokelat panas dan kesabaran. Dengan kata-kata yang tidak pernah kudengar dari siapa pun. Aku tidak tahu apakah ini cinta. Tapi aku tahu bahwa aku tidak ingin kau pergi."
Novi membaca puisi itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Bukan air mata sedih. Tetapi air mata harapan.
Ia memeluk buku catatannya dan tidur dengan senyum di wajahnya.
Hari-hari berikutnya terasa lebih ringan bagi Novi. Ia datang ke sekolah dengan senyum kecil di wajahnya. Cokelat panas masih menunggu di mejanya setiap pagi. Dan Angga selalu menyapanya dengan ramah.
Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan. Angga membaca buku-buku yang tidak pernah ia sentuh sebelumnya. Novi menulis puisi-puisi baru yang lebih cerah dari sebelumnya.
Rina melihat perubahan itu. "Kau berbeda, Novi," kata Rina suatu hari. "Kau lebih... hidup."
"Aku merasa lebih hidup," kata Novi. "Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Tapi aku merasa seperti ada sesuatu yang berubah."
"Angga?" tanya Rina dengan senyum nakal.
Novi memerah. "Mungkin."
"Kau jatuh cinta," kata Rina. "Aku tahu."
Novi tidak menjawab. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa Rina benar. Ia jatuh cinta. Dan itu menakutkan. Tetapi juga indah.
Suatu sore, Novi dan Angga duduk di taman sekolah. Matahari mulai terbenam, menciptakan gradasi warna yang indah di langit. Angin berhembus pelan, membawa aroma rumput dan bunga.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Kenapa kau selalu menulis puisi tentang kepergian?" tanya Angga. "Kenapa tidak tentang hal-hal yang indah?"
Novi terdiam. Ia menatap rumput di depannya.
"Karena aku tidak tahu hal-hal yang indah," kata Novi akhirnya. "Yang aku tahu hanya kepergian. Hanya kehilangan."
"Tapi sekarang kau tahu hal-hal yang indah," kata Angga. "Kau tahu cokelat panas. Kau tahu senja. Kau tahu persahabatan. Kenapa tidak kau tulis tentang itu?"
Novi tersenyum. "Mungkin aku akan mencoba."
"Janji?" tanya Angga.
"Janji," jawab Novi.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang hal-hal yang indah. Tentang senja yang berwarna jingga dan merah. Tentang cokelat panas yang hangat dan manis. Tentang seorang teman yang datang tanpa diminta.
"Aku tidak tahu bahwa dunia bisa seindah ini. Aku tidak tahu bahwa senja bisa terasa hangat. Aku tidak tahu bahwa cokelat panas bisa menyembuhkan. Aku tidak tahu bahwa persahabatan bisa datang dari seseorang yang tidak kukenal. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata bahagia.
Ia tidur dengan senyum di wajahnya.
Beberapa minggu berlalu. Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di atap sekolah. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Malam itu, Novi menulis surat untuk ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan.
"Ibu,
Aku tidak tahu apakah kau membaca ini. Mungkin tidak. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Aku tidak bisa melupakan apa yang kau lakukan. Tapi aku memaafkanmu.
Aku belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Aku belajar bahwa orang bisa pergi karena alasan yang tidak kita pahami. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan meskipun tanpa kau.
Ada seseorang yang datang ke hidupku. Dia membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Dia membuatku percaya bahwa aku bisa bahagia.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan pergi seperti kau. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya. Aku memilih untuk bahagia.
Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan. Meskipun aku belajar dengan cara yang sulit.
Novi"
Novi melipat surat itu dan menyimpannya di laci. Ia tidak akan mengirimkannya. Tetapi menulisnya terasa melegakan.
Novi mulai percaya bahwa ia bisa bahagia. Ia mulai percaya bahwa ia layak dicintai. Ia mulai percaya bahwa Angga mungkin benar-benar berbeda.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi. Seperti ibunya. Seperti semua orang.
Novi berusaha mengabaikan ketakutan itu. Ia berusaha menikmati setiap momen bersama Angga. Ia berusaha hidup.
Tetapi ketakutan itu selalu ada. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke atap sekolah. Ini adalah pertama kalinya Novi naik ke atap. Dari atas, mereka bisa melihat seluruh kota. Senja mulai turun, menciptakan gradasi warna yang indah.
"Aku suka di sini," kata Angga. "Karena dari sini, aku bisa melihat semuanya. Tapi tidak ada yang bisa melihatku."
Novi duduk di samping Angga. Angin berhembus pelan, menggerakkan rambutnya.
"Aku mengerti," kata Novi. "Terkadang kita butuh tempat untuk bersembunyi. Bahkan dari diri kita sendiri."
Angga menatap Novi. "Kau selalu tahu kata-kata yang tepat."
"Tidak selalu," kata Novi. "Hanya saat aku menulis."
"Ceritakan tentang mimpimu," kata Angga. "Apa yang ingin kau lakukan setelah lulus?"
Novi berpikir sejenak. "Aku ingin menjadi penulis puisi. Mungkin menerbitkan buku suatu hari nanti. Tapi itu hanya mimpi."
"Tidak ada yang terlalu kecil untuk diimpikan, Novi," kata Angga. "Dan menurutku, kau bisa mewujudkannya. Puisimu indah."
Novi tersenyum. "Kau terlalu baik."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Mimpiku juga sederhana. Aku ingin kuliah di luar negeri. Jepang. Aku ingin belajar tentang teknologi dan membawa pulang ilmu untuk negaraku."
"Jepang?" Novi terkejut. "Jauh sekali."
"Ya," kata Angga. "Tapi itu impianku sejak kecil."
Mereka diam sejenak. Novi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Jika Angga pergi ke Jepang, ia akan pergi jauh. Mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Aku suka bersamamu. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali aku bersamamu, aku merasa seperti diriku sendiri."
"Aku juga," kata Novi pelan.
Angga menatap Novi. Matanya lembut. "Suatu hari, aku akan membeli buku puisimu. Dan aku akan membacanya di Jepang, mengingatmu."
Novi tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak. "Aku akan menulis puisi untukmu."
"Janji?" tanya Angga.
"Janji," jawab Novi.
Mereka berjabat tangan kecil, seperti anak-anak yang membuat perjanjian rahasia. Di bawah langit senja, di atap sekolah, ada sesuatu yang baru lahir di antara mereka.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang atap sekolah dan langit senja. Tentang seorang anak baru yang mengajarinya untuk bermimpi. Tentang janji yang mereka buat di bawah langit yang berwarna jingga.
"Di atap sekolah, kita berbicara tentang mimpi. Tentang buku yang akan kutulis dan tentang Jepang yang akan kau datangi. Kita berjanji untuk tidak melupakan. Kita berjanji untuk selalu mengingat. Aku tidak tahu apakah janji itu akan bertahan. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis tentang kehilangan. Ia menulis tentang harapan.
Minggu berikutnya, Angga mengajak Novi ke rumahnya. Rumah Angga besar dan mewah, dengan taman yang indah dan kolam renang di belakang. Tetapi ketika Novi masuk ke dalam, ia merasakan keheningan yang aneh. Rumah itu terasa kosong. Tidak ada suara. Tidak ada tawa. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluk siapa pun.
"Aku tinggal sendiri sebagian besar waktu," kata Angga. "Ayahku sibuk dengan bisnis. Ibuku sering bepergian. Jadi aku terbiasa dengan keheningan."
Novi menatap Angga. Ia melihat kesepian di matanya. Kesepian yang sama yang ia rasakan setiap hari.
"Aku mengerti," kata Novi. "Aku juga tinggal sendirian sebagian besar waktu."
Angga tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Novi.
Mereka duduk di ruang tamu yang besar. Angga membuat teh untuk mereka berdua. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa kecil. Tentang mimpi. Tentang ketakutan.
"Aku takut suatu hari kau akan pergi seperti yang lain," kata Novi tiba-tiba.
Angga menatapnya. "Aku tidak akan pergi, Novi."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Semua orang pergi pada akhirnya."
Angga memegang tangan Novi. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai tanpa takut.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik.
"Jangan terlalu berharap. Semua orang pergi pada akhirnya."
Novi mengabaikan suara itu. Untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia.
Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
BAB IV
Cokelat Panas Pertama
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam getaran di dadanya, semacam kegembiraan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya lebih berbinar. Senyumnya lebih mudah muncul. Bahkan rambutnya yang kusut terlihat lebih bercahaya.
Novi tersenyum pada bayangannya. "Kau terlihat bahagia," bisiknya. "Apa kau sadar?"
Ia tidak menunggu jawaban. Ia segera bersiap, memakai seragamnya dengan lebih rapi dari biasanya, menyisir rambutnya dengan lebih teliti, dan bahkan memakai sedikit lipstik yang sudah lama menganggur di lemari. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah lebih ringan. Ia menyapa Rina dengan senyum lebar, membuat Rina terkejut.
"Novi, kau kenapa?" tanya Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia," kata Novi. "Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku bahagia."
Rina tersenyum. "Pasti karena Angga."
Novi memerah. "Mungkin."
"Aku senang melihatmu seperti ini," kata Rina. "Kau pantas bahagia, Novi."
Novi tersenyum. Ia masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Aroma cokelat yang manis dan hangat menyebar di sekitarnya.
Novi meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, berbicara dengan Bima. Angga tidak menatapnya. Ia tidak mencari perhatian. Ia hanya datang, memberi, dan pergi. Tanpa menuntut balasan.
Novi merasakan dadanya hangat. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menulis pesan singkat.
"Terima kasih untuk cokelatnya. — N"
Ia melipat kertas itu dan memberikannya pada Rina untuk diteruskan ke Angga. Beberapa menit kemudian, Angga menoleh dan tersenyum padanya. Novi membalas senyumnya.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa berhenti tersenyum. Ia merasa seperti sedang melayang di atas awan. Semua tampak lebih indah. Suara guru yang biasanya membosankan terdengar seperti musik. Coretan di papan tulis tampak seperti puisi. Bahkan hujan yang mulai turun di luar jendela terasa seperti sesuatu yang indah.
Novi menulis puisi baru di buku catatannya. Puisi tentang cokelat panas dan senyum yang tidak pernah padam. Puisi tentang seorang anak baru yang mengajarinya bahwa dunia tidak selalu kejam.
"Aku tidak tahu bahwa cokelat panas bisa terasa seperti pelukan. Aku tidak tahu bahwa senyum bisa terasa seperti kehangatan. Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa datang dan membuatku merasa hidup. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata bahagia.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis lebih banyak puisi. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, hujan masih turun dengan tenang. Suara tetesan air di atap dan dedaunan menciptakan irama yang menenangkan.
Novi mulai menulis. Kata-kata mengalir seperti air. Ia menulis tentang Angga. Tentang senyumnya. Tentang cokelat panasnya. Tentang caranya datang tanpa pernah meminta balasan.
Kemudian pintu perpustakaan terbuka. Novi mendongak. Angga berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar.
"Hai, Novi," sapa Angga. "Boleh aku duduk di sini?"
Novi mengangguk. "Tentu."
Angga duduk di depan Novi. Ia membawa sebuah buku, tetapi ia tidak membacanya. Ia hanya menatap Novi dengan mata yang lembut.
"Kau menulis?" tanya Angga.
Novi mengangguk. "Puisi."
"Boleh aku baca?"
Novi ragu. Tidak ada yang pernah membaca tulisannya selain gurunya. Ia tidak terbiasa menunjukkan puisinya kepada orang lain. Tetapi Angga menatapnya dengan mata yang tulus.
"Baiklah," kata Novi pelan.
Ia menyerahkan buku catatannya pada Angga. Angga menerimanya dengan hati-hati, seolah buku itu adalah benda berharga. Ia membaca puisi yang baru saja ditulis Novi.
Angga membacanya dengan serius. Matanya bergerak dari baris ke baris. Ketika selesai, ia menatap Novi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ini indah, Novi," kata Angga. "Sungguh. Aku merasakan kebahagiaan di sini. Kebahagiaan yang tulus."
Novi tersenyum. "Kau benar-benar bisa merasakannya?"
"Aku tidak paham puisi," kata Angga. "Tapi aku paham perasaan. Dan puisimu... ini berbicara tentang seseorang yang mulai percaya pada kebahagiaan."
Novi terdiam. Angga benar. Puisi itu memang tentang kebahagiaan yang mulai ia rasakan.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku senang melihatmu tersenyum. Kau terlihat cantik saat tersenyum."
Novi memerah. "Kau terlalu memujiku."
"Aku hanya jujur," kata Angga.
Mereka berdua diam sejenak. Suara hujan di luar jendela menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Setelah sekolah. Mau?"
Novi terkejut. "Ke mana?"
"Ke suatu tempat yang indah," kata Angga. "Kau akan menyukainya."
Novi ragu. Ia tidak terbiasa pergi ke mana pun dengan siapa pun. Tetapi Angga menatapnya dengan mata yang penuh harap.
"Baiklah," kata Novi akhirnya. "Aku mau."
Angga tersenyum lebar. "Bagus. Aku akan menjemputmu setelah sekolah."
Sore itu, Angga menjemput Novi di depan gerbang sekolah. Ia naik sepeda motor tua yang masih terawat. Novi tidak pernah naik sepeda motor sebelumnya. Ia sedikit takut.
"Ayo, Novi," kata Angga. "Aku akan mengendarai dengan pelan."
Novi ragu. "Aku tidak pernah naik sepeda motor."
"Tenang," kata Angga. "Aku akan menjaga keselamatanmu. Percaya padaku."
Novi mengangguk. Ia naik ke belakang Angga dan memegang bahunya dengan gemetar.
Angga tersenyum. "Pegang lebih erat. Aku tidak mau kau jatuh."
Novi memegang lebih erat. Angga mulai mengendarai sepeda motor dengan pelan. Angin berhembus di wajah Novi, membawa aroma tanah basah dan rumput. Rasanya menyenangkan. Rasanya bebas.
Mereka melewati jalanan kota yang mulai sepi. Melewati pasar yang mulai tutup. Melewati sawah yang menghijau. Novi tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Ia selalu berjalan kaki ke sekolah dan pulang. Ia tidak pernah menjelajah.
"Kita hampir sampai," teriak Angga di atas suara angin.
Mereka berhenti di sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Dari atas bukit, mereka bisa melihat seluruh kota. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan gradasi warna yang indah. Jingga, merah, ungu, dan emas bercampur menjadi satu.
"Aku suka tempat ini," kata Angga. "Aku sering ke sini saat aku merasa sendirian. Dari sini, aku bisa melihat semuanya. Dan aku merasa bahwa dunia ini luas. Bahwa aku tidak perlu terjebak dalam kesepian."
Novi menatap pemandangan di depannya. Ia tidak pernah melihat sesuatu yang seindah ini sebelumnya. Matanya berbinar.
"Ini indah, Angga," kata Novi. "Sungguh indah."
"Kau tahu," kata Angga. "Aku membawamu ke sini karena aku ingin kau melihat bahwa dunia ini indah. Bahwa ada banyak hal yang bisa dinikmati. Bahwa kau tidak perlu terjebak dalam kesedihan."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih," kata Novi pelan. "Kau adalah orang pertama yang membawaku ke tempat seperti ini."
Angga tersenyum. "Aku akan membawamu ke banyak tempat indah lainnya. Jika kau mau."
Novi mengangguk. "Aku mau."
Mereka duduk di atas bukit, menikmati pemandangan senja. Novi merasa seperti sedang bermimpi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan berada di tempat seperti ini, bersama seseorang yang peduli padanya.
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih hidup. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin, ia bisa bahagia.
Di kamarnya, ia menulis puisi tentang bukit dan senja. Tentang seorang anak baru yang membawanya melihat dunia yang indah. Tentang kebebasan yang ia rasakan untuk pertama kalinya.
"Di atas bukit, kita melihat dunia dari ketinggian. Matahari terbenam seperti lukisan di langit. Angin berhembus, membawa aroma rumput dan tanah. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bebas. Bebas dari ketakutan. Bebas dari kesedihan. Bebas untuk menjadi diriku sendiri."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Bukan air mata sedih. Tetapi air mata bahagia.
Hari-hari berikutnya, Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering pergi ke bukit setelah sekolah. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa lalu. Tentang mimpi. Tentang ketakutan.
Novi mulai menceritakan tentang ibunya. Tentang kepergian yang tidak pernah ia pahami. Tentang rasa sakit yang ia simpan bertahun-tahun.
"Aku masih tidak mengerti kenapa ia pergi," kata Novi suatu hari. "Apa yang salah denganku? Apa yang kulakukan sehingga ia meninggalkanku?"
Angga memegang tangannya. "Tidak ada yang salah denganmu, Novi. Kepergian ibumu bukan salahmu. Ia pergi karena alasannya sendiri. Bukan karena kau tidak cukup baik."
"Tapi rasanya seperti itu," kata Novi. "Rasanya seperti aku tidak layak dicintai."
"Kau layak dicintai," kata Angga. "Kau lebih dari layak. Aku di sini, bukan?"
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca. "Kenapa kau peduli padaku?"
Angga tersenyum. "Karena kau istimewa, Novi. Kau tidak melihatnya. Tapi aku melihatnya. Aku melihat kebaikan di hatimu. Aku melihat kekuatan di balik ketakutanmu. Aku melihat seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Minggu berikutnya, Novi mulai terbuka pada teman-temannya. Ia mulai berbicara lebih banyak di kelas. Ia mulai tersenyum lebih sering. Ia mulai merasa bahwa ia adalah bagian dari sesuatu.
Rina melihat perubahan itu. "Kau berbeda, Novi," kata Rina. "Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa berbeda," kata Novi. "Aku merasa seperti aku bisa menjadi diriku sendiri."
"Semua karena Angga, ya?" tanya Rina dengan senyum nakal.
Novi memerah. "Mungkin."
"Kau jatuh cinta," kata Rina. "Aku tahu."
Novi tidak menjawab. Tetapi di dalam hatinya, ia tahu bahwa Rina benar. Ia jatuh cinta. Dan itu menakutkan. Tetapi juga indah.
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke rumahnya. Rumah Angga besar dan mewah, tetapi terasa kosong. Tidak ada suara. Tidak ada tawa. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluk siapa pun.
"Aku tinggal sendiri sebagian besar waktu," kata Angga. "Ayahku sibuk dengan bisnis. Ibuku sering bepergian. Jadi aku terbiasa dengan keheningan."
Novi menatap Angga. Ia melihat kesepian di matanya. Kesepian yang sama yang ia rasakan setiap hari.
"Aku mengerti," kata Novi. "Aku juga tinggal sendirian sebagian besar waktu."
Angga tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Novi.
Mereka duduk di ruang tamu yang besar. Angga membuat teh untuk mereka berdua. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa kecil. Tentang mimpi. Tentang ketakutan.
"Aku takut suatu hari kau akan pergi seperti yang lain," kata Novi tiba-tiba.
Angga menatapnya. "Aku tidak akan pergi, Novi."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Semua orang pergi pada akhirnya."
Angga memegang tangan Novi. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai tanpa takut.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik.
"Jangan terlalu berharap. Semua orang pergi pada akhirnya."
Novi mengabaikan suara itu. Untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia.
Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
Beberapa minggu berlalu. Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di bukit. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Malam itu, Novi menulis surat untuk ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan.
"Ibu,
Aku tidak tahu apakah kau membaca ini. Mungkin tidak. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Aku tidak bisa melupakan apa yang kau lakukan. Tapi aku memaafkanmu.
Aku belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Aku belajar bahwa orang bisa pergi karena alasan yang tidak kita pahami. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan meskipun tanpa kau.
Ada seseorang yang datang ke hidupku. Dia membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Dia membuatku percaya bahwa aku bisa bahagia.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan pergi seperti kau. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya. Aku memilih untuk bahagia.
Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan. Meskipun aku belajar dengan cara yang sulit.
Novi"
Novi melipat surat itu dan menyimpannya di laci. Ia tidak akan mengirimkannya. Tetapi menulisnya terasa melegakan.
Novi mulai percaya bahwa ia bisa bahagia. Ia mulai percaya bahwa ia layak dicintai. Ia mulai percaya bahwa Angga mungkin benar-benar berbeda.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi. Seperti ibunya. Seperti semua orang.
Novi berusaha mengabaikan ketakutan itu. Ia berusaha menikmati setiap momen bersama Angga. Ia berusaha hidup.
Tetapi ketakutan itu selalu ada. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke atap sekolah. Ini adalah pertama kalinya Novi naik ke atap. Dari atas, mereka bisa melihat seluruh kota. Senja mulai turun, menciptakan gradasi warna yang indah.
"Aku suka di sini," kata Angga. "Karena dari sini, aku bisa melihat semuanya. Tapi tidak ada yang bisa melihatku."
Novi duduk di samping Angga. Angin berhembus pelan, menggerakkan rambutnya.
"Aku mengerti," kata Novi. "Terkadang kita butuh tempat untuk bersembunyi. Bahkan dari diri kita sendiri."
Angga menatap Novi. "Kau selalu tahu kata-kata yang tepat."
"Tidak selalu," kata Novi. "Hanya saat aku menulis."
"Ceritakan tentang mimpimu," kata Angga. "Apa yang ingin kau lakukan setelah lulus?"
Novi berpikir sejenak. "Aku ingin menjadi penulis puisi. Mungkin menerbitkan buku suatu hari nanti. Tapi itu hanya mimpi."
"Tidak ada yang terlalu kecil untuk diimpikan, Novi," kata Angga. "Dan menurutku, kau bisa mewujudkannya. Puisimu indah."
Novi tersenyum. "Kau terlalu baik."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Mimpiku juga sederhana. Aku ingin kuliah di luar negeri. Jepang. Aku ingin belajar tentang teknologi dan membawa pulang ilmu untuk negaraku."
"Jepang?" Novi terkejut. "Jauh sekali."
"Ya," kata Angga. "Tapi itu impianku sejak kecil."
Mereka diam sejenak. Novi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Jika Angga pergi ke Jepang, ia akan pergi jauh. Mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Aku suka bersamamu. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali aku bersamamu, aku merasa seperti diriku sendiri."
"Aku juga," kata Novi pelan.
Angga menatap Novi. Matanya lembut. "Suatu hari, aku akan membeli buku puisimu. Dan aku akan membacanya di Jepang, mengingatmu."
Novi tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak. "Aku akan menulis puisi untukmu."
"Janji?" tanya Angga.
"Janji," jawab Novi.
Mereka berjabat tangan kecil, seperti anak-anak yang membuat perjanjian rahasia. Di bawah langit senja, di atap sekolah, ada sesuatu yang baru lahir di antara mereka.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang atap sekolah dan langit senja. Tentang seorang anak baru yang mengajarinya untuk bermimpi. Tentang janji yang mereka buat di bawah langit yang berwarna jingga.
"Di atap sekolah, kita berbicara tentang mimpi. Tentang buku yang akan kutulis dan tentang Jepang yang akan kau datangi. Kita berjanji untuk tidak melupakan. Kita berjanji untuk selalu mengingat. Aku tidak tahu apakah janji itu akan bertahan. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis tentang kehilangan. Ia menulis tentang harapan.
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam getaran di dadanya, semacam kegembiraan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya lebih berbinar. Senyumnya lebih mudah muncul. Bahkan rambutnya yang kusut terlihat lebih bercahaya.
Novi tersenyum pada bayangannya. "Kau terlihat bahagia," bisiknya. "Apa kau sadar?"
Ia tidak menunggu jawaban. Ia segera bersiap, memakai seragamnya dengan lebih rapi dari biasanya, menyisir rambutnya dengan lebih teliti, dan bahkan memakai sedikit lipstik yang sudah lama menganggur di lemari. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah lebih ringan. Ia menyapa Rina dengan senyum lebar, membuat Rina terkejut.
"Novi, kau kenapa?" tanya Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia," kata Novi. "Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku bahagia."
Rina tersenyum. "Pasti karena Angga."
Novi memerah. "Mungkin."
"Aku senang melihatmu seperti ini," kata Rina. "Kau pantas bahagia, Novi."
Novi tersenyum. Ia masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Aroma cokelat yang manis dan hangat menyebar di sekitarnya.
Novi meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, berbicara dengan Bima. Angga tidak menatapnya. Ia tidak mencari perhatian. Ia hanya datang, memberi, dan pergi. Tanpa menuntut balasan.
Novi merasakan dadanya hangat. Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya dan menulis pesan singkat.
"Terima kasih untuk cokelatnya. — N"
Ia melipat kertas itu dan memberikannya pada Rina untuk diteruskan ke Angga. Beberapa menit kemudian, Angga menoleh dan tersenyum padanya. Novi membalas senyumnya.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Novi merasa bahwa ia benar-benar hidup. Bahwa ia benar-benar ada. Bahwa ia benar-benar dicintai.
Dan itu terasa indah.
BAB V
Percakapan Pertama
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam keberanian yang tumbuh di dadanya, semacam tekad yang tidak bisa ia abaikan. Ia sudah menerima cokelat panas dari Angga selama berminggu-minggu. Ia sudah menerima perhatiannya, kebaikannya, kesabarannya. Tetapi ia belum pernah benar-benar berbicara dengan Angga tentang apa yang terjadi di antara mereka.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. "Hari ini," bisiknya. "Hari ini aku akan bicara dengannya."
Ia bersiap dengan lebih teliti dari biasanya. Ia memakai seragamnya dengan rapi, menyisir rambutnya, dan bahkan memakai sedikit lipstik. Ia ingin terlihat berani. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang siap untuk percaya.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah tegas. Ia melewati gerbang, melewati lapangan, melewati koridor, dan masuk ke kelas. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.
Novi meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti keberanian yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, membaca buku. Novi menarik napas dalam-dalam dan berjalan mendekatinya.
"Angga," panggil Novi pelan.
Angga mengangkat kepala. Matanya berbinar melihat Novi. "Novi. Ada apa?"
"Aku... aku ingin bicara denganmu," kata Novi. "Setelah sekolah. Bisa?"
Angga tersenyum. "Tentu. Aku akan menunggumu di gerbang."
Novi mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Dadanya berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang akan ia katakan nanti. Tetapi ia tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang pada percakapan yang akan ia lakukan dengan Angga. Ia memikirkan kata-kata yang akan ia ucapkan. Ia memikirkan reaksi Angga. Ia memikirkan semua kemungkinan yang bisa terjadi.
"Apa yang harus kukatakan?" pikir Novi. "Apa yang harus kulakukan?"
Ia menggigit kukunya, kebiasaan buruk yang muncul saat ia gugup. Rina melihatnya dari samping dan tersenyum.
"Novi, kau gugup?" bisik Rina.
Novi mengangguk. "Aku akan bicara dengan Angga setelah sekolah."
"Tentang apa?"
"Tentang... perasaanku," kata Novi pelan. "Aku tidak tahu harus berkata apa."
Rina tersenyum. "Katakan saja yang sejujurnya. Itu yang terbaik."
Novi menghela napas. Ia tahu Rina benar. Tetapi mengatakan yang sejujurnya adalah hal yang paling sulit baginya. Ia sudah terlalu lama menyembunyikan perasaannya. Ia tidak tahu bagaimana cara mengungkapkannya.
Bel pulang berbunyi. Novi mengemas tasnya dengan perlahan, berusaha menunda waktu. Ia takut. Ia sangat takut.
Tetapi ia tahu bahwa ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus berani. Ia harus berbicara.
Novi berjalan ke gerbang sekolah. Angga sudah menunggunya di sana, bersandar pada tiang pagar dengan senyum di wajahnya.
"Novi," sapa Angga. "Kau siap?"
Novi mengangguk. "Kita jalan saja?"
"Baik," kata Angga.
Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah, melewati jalanan yang mulai sepi. Matahari mulai turun di ufuk barat, menciptakan bayangan panjang di jalan. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan.
Mereka berjalan diam beberapa saat. Novi berusaha mengumpulkan keberanian untuk berbicara.
"Angga," kata Novi akhirnya.
Angga menoleh. "Ya?"
"Aku... aku ingin berterima kasih padamu," kata Novi. "Untuk semua yang kau lakukan untukku. Untuk cokelat panasnya. Untuk kesabaranmu. Untuk... semuanya."
Angga tersenyum. "Kau tidak perlu berterima kasih, Novi. Aku melakukan semua itu karena aku ingin."
"Tapi kenapa?" tanya Novi. "Kenapa kau peduli padaku? Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya gadis pendiam di pojok belakang yang tidak pernah berbicara dengan siapa pun."
Angga berhenti berjalan. Ia menatap Novi dengan mata yang serius.
"Karena kau istimewa, Novi," kata Angga. "Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihatnya. Aku melihat kebaikan di hatimu. Aku melihat kekuatan di balik ketakutanmu. Aku melihat seseorang yang pantas dicintai."
Novi menunduk. Air mata menggenang di matanya.
"Tapi aku takut," kata Novi pelan. "Aku takut jika aku terlalu dekat denganmu, suatu hari kau akan pergi. Seperti ibuku. Seperti semua orang."
Angga memegang tangan Novi. Tangannya hangat dan lembut.
"Aku tidak akan pergi, Novi," kata Angga. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu."
Novi mengangkat kepala. Matanya bertemu dengan mata Angga.
"Kau benar-benar mau menungguku?" tanya Novi.
"Selamanya," kata Angga.
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Mereka berjalan lagi, kali ini dalam diam yang nyaman. Novi merasa lebih ringan. Ia sudah mengatakan apa yang ingin ia katakan. Dan Angga menerimanya.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa yang membuatmu begitu takut untuk percaya pada orang lain?" tanya Angga. "Aku tahu tentang ibumu. Tapi ada sesuatu yang lain, bukan?"
Novi terdiam. Ia menatap jalan di depannya, berpikir tentang masa lalunya.
"Ketika ibuku pergi," kata Novi pelan. "Aku merasa bahwa itu salahku. Bahwa aku tidak cukup baik untuk membuatnya tinggal. Dan sejak itu, aku selalu merasa bahwa jika aku membiarkan seseorang masuk ke dalam hidupku, mereka akan pergi pada akhirnya. Karena aku tidak layak dicintai."
Angga menggeleng. "Itu tidak benar, Novi. Kepergian ibumu bukan salahmu. Kau layak dicintai. Kau lebih dari layak."
"Tapi bagaimana aku bisa percaya itu?" tanya Novi. "Bagaimana aku bisa percaya bahwa kau tidak akan pergi seperti yang lain?"
Angga berhenti berjalan. Ia menatap Novi dengan mata yang lembut.
"Karena aku di sini, Novi," kata Angga. "Aku di sini, dan aku tidak akan pergi. Aku akan membuktikannya padamu. Setiap hari. Sampai kau percaya."
Novi menatap Angga. Air mata mengalir di pipinya.
"Kau benar-benar akan melakukan itu?" tanya Novi.
"Sungguh," kata Angga.
Novi tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa percaya.
Mereka berjalan ke taman kota dan duduk di bangku dekat kolam air mancur. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah sinar matahari sore.
"Aku suka di sini," kata Novi. "Tempat ini tenang."
"Aku juga," kata Angga. "Aku sering ke sini saat aku merasa bingung."
"Kau merasa bingung?" tanya Novi. "Kau selalu terlihat begitu percaya diri."
Angga tersenyum. "Penampilan bisa menipu. Di dalam, aku sering bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan hidupku. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan perasaanku."
"Perasaan apa?" tanya Novi.
Angga menatap Novi. Matanya serius.
"Perasaanku padamu, Novi," kata Angga. "Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku hanya tahu bahwa aku suka berada di dekatmu. Dan itu membuatku bingung."
Novi memerah. "Kenapa bingung?"
"Karena aku takut," kata Angga. "Aku takut jika aku terlalu dekat denganmu, aku akan menyakitimu. Atau kau akan menyakitiku. Atau segalanya akan berantakan."
"Tapi kau bilang kau akan menungguku," kata Novi.
"Aku akan," kata Angga. "Aku hanya takut. Tapi aku akan tetap menunggu."
Novi tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Angga.
Mereka tertawa kecil. Di bawah langit sore yang cerah, di tepi kolam air mancur, mereka merasa bahwa mereka tidak sendirian.
Sore itu, Angga mengantar Novi pulang. Mereka berjalan pelan, menikmati setiap momen bersama.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Minggu depan. Mau?"
"Ke mana?" tanya Novi.
"Ke museum," kata Angga. "Aku mendengar ada pameran puisi di sana. Aku pikir kau akan menyukainya."
Novi tersenyum. "Aku belum pernah ke museum."
"Kalau begitu, ini pertama kalinya," kata Angga. "Aku akan menemanimu."
"Baik," kata Novi. "Aku mau."
Mereka berhenti di depan rumah Novi. Rumah itu kecil dan sederhana, dengan pagar putih yang mulai mengelupas.
"Novi," kata Angga. "Aku senang kita bicara hari ini."
"Aku juga," kata Novi.
"Besok aku akan datang dengan cokelat panas," kata Angga. "Seperti biasa."
Novi tersenyum. "Aku akan menunggu."
Angga pergi. Novi berdiri di depan pintu rumahnya, memandang kepergian Angga. Dadanya terasa hangat.
Untuk pertama kalinya, Novi merasa bahwa ia tidak sendirian.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang percakapan pertama mereka. Tentang keberanian yang ia temukan di dalam dirinya. Tentang kata-kata Angga yang membuatnya percaya bahwa ia layak dicintai.
"Aku tidak tahu bahwa berbicara bisa terasa seperti terbang. Aku tidak tahu bahwa kata-kata bisa terasa seperti pelukan. Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa mendengarku tanpa menghakimi. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Minggu berikutnya, Angga dan Novi pergi ke museum. Museum itu besar dan tua, dengan arsitektur kolonial yang indah. Di dalamnya, ada banyak lukisan dan patung dari berbagai zaman.
Novi terpesona. Ia belum pernah melihat benda-benda seindah ini sebelumnya. Ia berjalan perlahan, mengamati setiap detail dengan penuh kekaguman.
"Ini indah," kata Novi. "Sungguh indah."
"Aku tahu kau akan menyukainya," kata Angga.
Mereka berjalan ke ruang pameran puisi. Di sana, ada puisi-puisi yang dipajang di dinding, ditulis dengan tinta emas di atas kertas kuno.
Novi membaca satu per satu. Matanya berbinar.
"Aku ingin menulis seperti ini," kata Novi. "Puisi yang bertahan selamanya."
"Kau bisa," kata Angga. "Aku percaya padamu."
Novi tersenyum. "Kau selalu mengatakan itu."
"Karena itu benar," kata Angga.
Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di museum. Novi tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia merasa seperti sedang bermimpi.
Di perjalanan pulang, Novi dan Angga berjalan berdampingan. Matahari mulai terbenam, menciptakan gradasi warna yang indah di langit.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau mau menjadi... lebih dari teman?" tanya Angga. "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi."
Novi terkejut. Dadanya berdebar kencang.
"Aku... aku tidak tahu," kata Novi. "Aku takut."
"Aku tahu," kata Angga. "Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada takut mencoba."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga takut kehilanganmu," kata Novi pelan. "Tapi aku akan mencoba. Untukmu."
Angga tersenyum. "Terima kasih, Novi."
Mereka berpelukan. Di bawah langit senja, di tengah jalan yang sepi, mereka memulai sesuatu yang baru.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang museum dan senja. Tentang seorang anak baru yang mengajarinya bahwa cinta itu mungkin. Tentang keberanian untuk mencoba meskipun takut.
"Di museum, kita melihat keindahan yang bertahan. Di senja, kita melihat warna yang memudar. Tapi di antara kita, ada sesuatu yang abadi. Sesuatu yang tidak akan pernah pudar. Sesuatu yang kita sebut cinta."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa ia bisa mencintai tanpa takut.
Hari-hari berikutnya, Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di bukit. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke rumahnya. Rumah Angga besar dan mewah, tetapi terasa kosong. Tidak ada suara. Tidak ada tawa. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluk siapa pun.
"Aku tinggal sendiri sebagian besar waktu," kata Angga. "Ayahku sibuk dengan bisnis. Ibuku sering bepergian. Jadi aku terbiasa dengan keheningan."
Novi menatap Angga. Ia melihat kesepian di matanya. Kesepian yang sama yang ia rasakan setiap hari.
"Aku mengerti," kata Novi. "Aku juga tinggal sendirian sebagian besar waktu."
Angga tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Novi.
Mereka duduk di ruang tamu yang besar. Angga membuat teh untuk mereka berdua. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa kecil. Tentang mimpi. Tentang ketakutan.
"Aku takut suatu hari kau akan pergi seperti yang lain," kata Novi tiba-tiba.
Angga menatapnya. "Aku tidak akan pergi, Novi."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Semua orang pergi pada akhirnya."
Angga memegang tangan Novi. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai tanpa takut.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik.
"Jangan terlalu berharap. Semua orang pergi pada akhirnya."
Novi mengabaikan suara itu. Untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia.
Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
Beberapa minggu berlalu. Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di bukit. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Malam itu, Novi menulis surat untuk ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan.
"Ibu,
Aku tidak tahu apakah kau membaca ini. Mungkin tidak. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Aku tidak bisa melupakan apa yang kau lakukan. Tapi aku memaafkanmu.
Aku belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Aku belajar bahwa orang bisa pergi karena alasan yang tidak kita pahami. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan meskipun tanpa kau.
Ada seseorang yang datang ke hidupku. Dia membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Dia membuatku percaya bahwa aku bisa bahagia.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan pergi seperti kau. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya. Aku memilih untuk bahagia.
Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan. Meskipun aku belajar dengan cara yang sulit.
Novi"
Novi melipat surat itu dan menyimpannya di laci. Ia tidak akan mengirimkannya. Tetapi menulisnya terasa melegakan.
Novi mulai percaya bahwa ia bisa bahagia. Ia mulai percaya bahwa ia layak dicintai. Ia mulai percaya bahwa Angga mungkin benar-benar berbeda.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi. Seperti ibunya. Seperti semua orang.
Novi berusaha mengabaikan ketakutan itu. Ia berusaha menikmati setiap momen bersama Angga. Ia berusaha hidup.
Tetapi ketakutan itu selalu ada. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Dan Novi tahu bahwa suatu hari nanti, ia harus menghadapinya.
BAB VI
Rahasia di Balik Senyum Angga
Malam itu, Angga duduk di kamarnya yang luas dan sunyi. Lampu kamar hanya menyala satu, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang bergoyang-goyang tertiup angin dari celah jendela. Di luar, langit malam bertabur bintang, tetapi Angga tidak memperhatikannya. Pikirannya jauh melayang, pada seorang gadis dengan rambut panjang dan kacamata tebal yang selalu menunduk. Pada Novi.
Ia memegang ponselnya, melihat foto Novi yang diambilnya diam-diam di perpustakaan beberapa minggu lalu. Novi sedang menulis, dengan ekspresi serius di wajahnya. Rambutnya menutupi setengah wajahnya, tetapi Angga masih bisa melihat matanya yang penuh dengan luka. Matanya seperti dua danau dalam yang menyimpan rahasia yang tidak ingin ia bagikan.
"Kenapa kau begitu takut, Novi?" bisik Angga pada dirinya sendiri, jarinya menyentuh layar ponsel seolah-olah ia bisa menyentuh pipi Novi. "Kenapa kau tidak bisa percaya bahwa kau layak dicintai?"
Angga menghela napas panjang dan meletakkan ponselnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke jendela. Di luar, kota kecil itu mulai sepi. Lampu-lampu rumah berkedip satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Dari kejauhan, ia mendengar suara tawa anak-anak yang masih bermain di halaman tetangga. Ia menatap ke arah suara itu dan merasakan sesuatu yang menusuk dadanya.
Angga merasakan kesepian yang sama yang selalu ia rasakan. Rumah ini besar, tetapi tidak pernah terasa seperti rumah. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluknya. Hanya ruang-ruang kosong yang tidak pernah diisi dengan tawa. Meja makan di lantai bawah cukup untuk delapan orang, tetapi setiap malam hanya satu piring yang diletakkan di salah satu ujungnya. Ia bisa mendengar gema langkahnya sendiri saat ia berjalan dari kamar ke dapur.
Ia ingat masa kecilnya. Ingat bagaimana ia terbiasa bermain sendiri di taman belakang yang luas, dengan boneka robot kesayangannya sebagai satu-satunya teman. Ingat bagaimana ia terbiasa makan malam sendirian di meja panjang yang hanya diisi oleh satu piring dan satu gelas. Ingat bagaimana ia terbiasa tidur dengan lampu menyala karena ia takut pada kegelapan dan kesunyian yang menyelimuti rumah besar itu.
Suatu malam, ketika ia berusia tujuh tahun, ia mencoba menelepon ibunya yang sedang dalam perjalanan bisnis. Telepon berdering, tetapi tidak ada yang menjawab. Ia mendengar suara rekaman otomatis, dan ia menangis di kamarnya sampai tertidur.
Namun ada satu kenangan yang selalu ia simpan dengan lembut di dalam hatinya. Kenangan tentang cokelat panas.
Angga masih ingat dengan jelas bagaimana ibunya dulu membuatkan cokelat panas untuknya. Ibunya akan menuangkan susu ke dalam panci kecil, menambahkan bubuk cokelat, dan mengaduknya dengan sendok kayu sambil tersenyum padanya. Ibunya akan menyanyikan lagu-lagu kecil yang tidak pernah ia dengar di tempat lain, dan aroma cokelat akan memenuhi seluruh dapur. Cokelat panas itu terasa seperti pelukan. Terasa seperti kehangatan. Terasa seperti seseorang yang peduli.
"Minumlah, Nak," ibunya akan berkata sambil menyodorkan gelas itu padanya. "Ini akan menghangatkanmu."
Dan Angga akan meminumnya perlahan, merasakan kehangatan yang menyebar dari tenggorokannya ke seluruh tubuhnya. Pada saat-saat itu, ia merasa aman. Ia merasa dicintai. Ia merasa bahwa dunia ini baik-baik saja.
Tetapi kemudian ibunya mulai sering bepergian. Perjalanan bisnis yang awalnya hanya seminggu, menjadi dua minggu, menjadi sebulan. Dan ketika ibunya di rumah, ia tidak lagi membuat cokelat panas. Ia terlalu lelah, terlalu sibuk, terlalu jauh. Suatu hari, Angga mencoba membuat cokelat panas sendiri. Ia menuangkan susu ke dalam panci, menambahkan bubuk cokelat, dan mengaduknya dengan sendok kayu. Tetapi hasilnya tidak sama. Rasanya hambar. Rasanya dingin. Rasanya seperti kehilangan.
Sejak saat itu, Angga tidak pernah minum cokelat panas lagi. Sampai ia bertemu Novi.
Angga teringat pada hari pertamanya di SMA Nusantara. Pagi itu, ia berdiri di depan cermin selama hampir satu jam, melatih senyum yang sempurna. Ia menggerakkan sudut bibirnya ke atas, memastikan tidak terlalu lebar atau terlalu tipis. Senyum yang akan membuat orang merasa nyaman. Senyum yang tidak akan membuat orang bertanya-tanya apa yang terjadi di belakangnya.
Ia datang dengan senyum lebar, dengan percaya diri yang ia pelajari untuk dipakai seperti topeng—topeng yang begitu melekat sehingga ia kadang lupa bahwa itu bukanlah wajah aslinya. Ia disambut dengan hangat oleh teman-teman sekelasnya. Mereka tertarik padanya. Mereka ingin berteman dengannya. Mereka melihat anak populer yang selalu tersenyum, yang selalu ramah, yang selalu siap membantu. Mereka tidak melihat anak laki-laki yang setiap malam tidur sendirian di rumah besar yang hampa.
Tetapi di antara semua wajah yang tersenyum padanya, ada satu wajah yang tidak. Seorang gadis di pojok belakang, dengan rambut panjang yang menutupi setengah wajahnya, dengan kacamata tebal dan buku catatan lusuh. Gadis itu tidak menatapnya. Gadis itu tidak tersenyum padanya. Gadis itu hanya duduk diam dan menulis, seolah-olah ia berada di dunia yang sama sekali berbeda, dunia yang tidak membutuhkan siapa pun di dalamnya.
Angga penasaran. Ada sesuatu tentang gadis itu yang membuatnya tidak bisa mengalihkan pandangan. Mungkin karena ia tidak berpura-pura. Mungkin karena ia tidak peduli untuk menjadi seperti yang orang lain inginkan. Mungkin karena—dan ini yang paling mengusik pikirannya—ia melihat kesepian yang sama di matanya. Kesepian yang tidak bisa ia sembunyikan di balik buku catatan dan kacamata tebal.
Ia bertanya pada Rina tentang gadis itu. "Siapa gadis di pojok belakang itu?"
Rina tersenyum. "Oh, itu Novi. Dia pendiam. Tidak pernah bicara dengan siapa pun. Tapi dia pintar menulis puisi."
"Puisi?" Angga terkejut. "Aku tidak pernah melihatnya menulis."
"Karena kau tidak pernah melihatnya," kata Rina, dengan nada yang sedikit misterius. "Novi seperti hantu. Hadir tetapi tidak terlihat."
Angga tidak bisa melupakan kata-kata Rina. Hadir tetapi tidak terlihat. Ia tahu bagaimana rasanya. Ia juga hadir tetapi tidak terlihat. Orang-orang melihat senyumnya, tetapi tidak melihat kesepian di baliknya. Orang-orang melihat popularitasnya, tetapi tidak melihat kekosongan di dalam hatinya. Orang-orang melihat anak laki-laki yang selalu tersenyum, tetapi tidak melihat anak laki-laki yang menangis di kamarnya di malam hari.
Ia ingin mengenal Novi. Ia ingin tahu apakah Novi merasakan hal yang sama dengannya. Ia ingin tahu apakah ada orang lain di dunia ini yang mengerti bagaimana rasanya menjadi hantu di antara orang-orang yang hidup.
Pertemuan pertama mereka di perpustakaan adalah kebetulan. Angga benar-benar mencari buku tugas untuk pelajaran sejarah. Tetapi ketika ia melihat Novi duduk di sudut ruangan, menulis dengan serius di buku catatannya, ia tidak bisa menahan diri untuk mendekat. Kaki-kakinya bergerak sendiri, membawanya ke meja di mana Novi duduk, seolah-olah ada benang yang tidak terlihat menghubungkannya dengan gadis itu.
Ia melihat puisi yang ditulis Novi. Tentang kehilangan, tentang kesedihan, tentang seorang gadis yang tumbuh tanpa pelukan. Kata-kata itu menusuk hatinya seperti pisau yang tajam, karena ia mengenal perasaan itu. Ia mengenal bagaimana rasanya tumbuh tanpa pelukan. Angga merasakan sesuatu di dadanya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan. Sesuatu yang terasa seperti pengakuan, seperti ia sedang melihat cermin yang memperlihatkan jiwanya sendiri.
"Ini tentang siapa?" tanyanya, suaranya lebih lembut dari yang ia inginkan.
Novi terkejut. Ia menutup buku catatannya dengan kasar, seolah-olah buku itu adalah rahasia yang tidak boleh diketahui siapa pun. "Tidak ada. Hanya tulisan sembarangan."
"Tapi itu bagus," kata Angga, dan ia benar-benar bermaksud itu. "Aku tidak terlalu paham puisi, tapi itu membuatku merasa... sedih. Dengan cara yang indah." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang hampir berbisik, "Aku juga sering merasa seperti itu. Seperti kehilangan sesuatu yang tidak pernah benar-benar aku miliki."
Novi menatapnya. Untuk sesaat, Angga melihat keraguan di matanya, seolah-olah ia sedang mempertimbangkan untuk mengatakan sesuatu. Tetapi kemudian ia hanya memasukkan buku catatannya ke dalam tas dan pergi. Angga tidak mengejarnya. Ia tahu bahwa ia harus sabar. Orang-orang seperti Novi—dan seperti dirinya—tidak terbuka dengan mudah. Mereka membutuhkan waktu. Mereka membutuhkan kepercayaan. Mereka membutuhkan seseorang yang bersedia menunggu.
Tetapi sejak hari itu, Angga tidak bisa berhenti memikirkan Novi. Ia ingin tahu lebih banyak tentangnya. Ia ingin tahu apa yang membuatnya sedih. Ia ingin tahu apa yang membuatnya takut. Ia ingin tahu apakah ia juga tidur dengan lampu menyala karena takut pada kegelapan.
Angga mulai mencari tahu tentang Novi. Ia bertanya pada Rina, pada teman-teman sekelas, pada siapa pun yang mungkin tahu. Ia belajar bahwa ibu Novi pergi ketika Novi masih kecil. Ia belajar bahwa ayah Novi sibuk bekerja, sering pulang larut malam. Ia belajar bahwa Novi tumbuh sendirian, tanpa siapa pun yang benar-benar peduli padanya. Ia belajar bahwa Novi menulis puisi untuk mengisi kekosongan, untuk menciptakan dunia di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.
Angga merasa sedih mendengarnya. Ia tahu bagaimana rasanya tumbuh sendirian. Ia tahu bagaimana rasanya merasa tidak dicintai. Ia tahu bagaimana rasanya menciptakan dunia sendiri karena dunia nyata tidak cukup ramah.
Ia memutuskan untuk melakukan sesuatu. Sesuatu yang kecil, tetapi bermakna. Sesuatu yang akan membuat Novi tahu bahwa ada seseorang yang melihatnya, yang memikirkannya, yang peduli padanya meskipun ia tidak memintanya.
Malam itu, Angga berdiri di dapur rumahnya yang besar dan sunyi. Ia membuka lemari dan menemukan sekaleng bubuk cokelat yang sudah lama tidak tersentuh. Tangannya gemetar saat ia mengambilnya. Sudah bertahun-tahun ia tidak membuat cokelat panas. Sudah bertahun-tahun ia tidak ingin mengingat rasa itu.
Ia menuangkan susu ke dalam panci kecil—sama seperti yang dulu dilakukan ibunya. Ia menambahkan bubuk cokelat, mengaduknya dengan sendok kayu, dan menunggu sampai mendidih. Aroma cokelat mulai memenuhi dapur, dan untuk sesaat, Angga merasa seperti kembali ke masa kecil. Seperti ibunya masih ada, menyanyikan lagu-lagu kecil di dapur.
Ia menuangkan cokelat panas itu ke dalam gelas termal. Tangannya masih gemetar. Ia menatap gelas itu lama, merasakan kehangatan yang merambat dari dinding gelas ke telapak tangannya.
"Ini untuk Novi," bisiknya. "Ini adalah bagian dari diriku yang ingin aku bagikan."
Ia tidak tahu apakah Novi akan menyukainya. Ia tidak tahu apakah Novi akan tahu siapa pemberinya. Tetapi ia harus mencoba. Karena ini adalah satu-satunya cara ia bisa mengatakan apa yang tidak bisa ia katakan dengan kata-kata.
Setiap pagi, Angga datang lebih awal ke sekolah. Ia bangun satu jam lebih awal, menyiapkan cokelat panas di dapur rumahnya yang sunyi, menuangkannya ke dalam gelas termal, dan berjalan ke sekolah saat langit masih gelap.
Tetapi setiap pagi, ada momen ketika ia berhenti di depan pintu kelas. Ia memegang gelas termal di tangannya, merasakan kehangatan yang merambat dari dinding gelas ke telapak tangannya. Ia menatap meja Novi yang masih kosong di pojok belakang kelas. Dan ia ragu.
"Apa ini terlalu berlebihan?" pikirnya. "Apa ini akan membuatnya tidak nyaman? Apa ia akan menganggapku aneh?"
Beberapa kali, ia hampir berbalik dan pergi. Ia hampir membawa cokelat itu pulang dan meminumnya sendiri. Tetapi kemudian ia membayangkan wajah Novi. Senyum kecilnya yang jarang muncul. Matanya yang penuh luka. Dan ia tahu bahwa ia harus melakukannya. Karena Novi layak mendapat kehangatan. Novi layak tahu bahwa ada seseorang yang peduli padanya.
Ia berjalan ke meja Novi dan meletakkan gelas termal itu dengan hati-hati. Ia tidak meninggalkan pesan. Ia tidak meninggalkan nama. Ia hanya meninggalkan cokelat panas, dengan uap tipis yang mengepul di udara pagi yang dingin. Lalu ia pergi, sebelum siapa pun datang, sebelum ia bisa berubah pikiran lagi.
Ia melakukannya setiap pagi. Tanpa lelah. Selama berminggu-minggu. Bahkan ketika ia sendiri mulai lelah, ketika ia bangun dengan mata sembab karena kurang tidur, ia tetap melakukannya. Karena ini adalah satu-satunya cara ia bisa mengatakan apa yang tidak bisa ia katakan dengan kata-kata.
Suatu hari, Novi menemuinya di lorong. Matanya tajam, tetapi Angga bisa melihat keraguan di baliknya. "Kenapa kau melakukan itu?" tanyanya, suaranya lebih dingin dari yang seharusnya, tetapi Angga bisa mendengar getaran di baliknya.
Angga tersenyum. Senyum yang tulus, yang tidak perlu ia latih di depan cermin. "Karena kau terlihat sangat butuh kehangatan."
Novi tidak menjawab. Ia hanya menatap Angga dengan mata yang tidak bisa ia baca. Tetapi Angga melihat sesuatu di matanya. Sesuatu yang membuatnya tahu bahwa ia melakukan hal yang benar. Sesuatu seperti celah kecil di dinding yang selama ini ia bangun.
Untuk pertama kalinya, Angga merasa bahwa ia mungkin bisa menjadi orang yang membuat Novi percaya bahwa ia layak dicintai. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, mungkin, ia juga bisa belajar untuk percaya bahwa ia layak dicintai.
Angga mulai sering bertemu Novi di perpustakaan. Ia tidak benar-benar membaca buku. Ia hanya ingin berada di dekat Novi. Ia ingin melihat Novi menulis. Ia ingin mendengar Novi berbicara. Ia ingin menjadi bagian dari dunia Novi, dunia yang ia ciptakan dari kata-kata dan puisi dan keheningan.
Novi tidak banyak bicara. Tetapi ketika ia bicara, setiap kata terasa penting. Ia tidak membuang waktu dengan basa-basi. Ia tidak berbicara tentang cuaca atau gosip atau hal-hal kecil yang mengisi percakapan orang lain. Ketika ia bicara, ia berbicara tentang hal-hal yang nyata—tentang perasaan, tentang mimpi, tentang ketakutan. Angga menyukai itu. Ia menyukai kejujuran Novi. Ia menyukai caranya tidak berpura-pura. Ia menyukai bahwa di hadapan Novi, ia tidak perlu memakai topeng.
"Novi," kata Angga suatu hari, ketika mereka duduk di perpustakaan. "Aku suka bicara denganmu. Kamu tidak banyak bicara, tetapi ketika kamu bicara, setiap kata terasa penting. Aku tidak menemukan itu pada orang lain. Kebanyakan orang berbicara untuk mengisi kekosongan. Tapi kamu berbicara hanya ketika ada sesuatu yang benar-benar berarti."
Novi menatapnya. "Kenapa kau peduli padaku?" tanyanya, dan Angga bisa mendengar keraguan di balik kata-katanya. Keraguan yang sama yang ia rasakan setiap hari. Keraguan yang bertanya, "Apakah aku cukup baik? Apakah aku layak?"
"Karena kau istimewa," kata Angga. Dan ia benar-benar bermaksud itu. "Kau mungkin tidak melihatnya. Tapi aku melihatnya. Aku melihat seseorang yang berjuang, yang bertahan, yang masih mencintai meskipun ia takut. Dan itu membuatmu lebih kuat dari siapa pun yang aku kenal."
Angga mulai membuka diri pada Novi. Perlahan, sepotong demi sepotong, ia mulai menceritakan tentang masa kecilnya. Tentang rumah besar yang terasa seperti penjara. Tentang ayahnya yang sibuk, yang bahkan tidak ingat ulang tahunnya. Tentang ibunya yang sering bepergian, yang lebih sering ia lihat di foto daripada di kehidupan nyata. Tentang malam-malam ketika ia menangis di kamarnya, bertanya-tanya apakah ada orang yang benar-benar melihatnya.
"Aku belajar tersenyum agar orang tidak bertanya," kata Angga, suaranya hampir berbisik. "Aku belajar menjadi populer agar orang mengelilingiku. Tapi di dalam, aku sama kesepiannya seperti dirimu. Mungkin lebih. Karena setidaknya kau jujur tentang kesepianmu. Aku menyembunyikannya di balik topeng yang bahkan aku sendiri kadang lupa bahwa itu topeng."
Novi menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku tidak pernah membayangkan bahwa kau bisa merasakan hal yang sama," katanya, dan Angga bisa mendengar kejutan dalam suaranya. Kejutan bahwa orang yang tampak begitu sempurna di luar bisa begitu hancur di dalam.
"Semua orang bisa merasakan kesepian, Novi," kata Angga, meraih tangannya dengan hati-hati, seolah-olah ia memegang sesuatu yang rapuh. "Tidak peduli seberapa bahagia mereka terlihat di luar. Aku belajar itu dengan cara yang sulit."
Untuk pertama kalinya, Angga merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang mengerti. Seseorang yang tidak akan menilai. Seseorang yang bisa melihat topeng yang ia kenakan dan tetap tidak pergi.
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke bukit. Dari atas bukit, mereka bisa melihat seluruh kota—rumah-rumah kecil yang tampak seperti mainan, jalanan yang meliuk seperti pita, lampu-lampu yang mulai menyala satu per satu saat matahari mulai terbenam. Langit berubah dari biru menjadi oranye, lalu merah, lalu ungu, menciptakan gradasi warna yang begitu indah sehingga Angga hampir tidak bisa bernapas.
"Aku suka tempat ini," kata Angga, suaranya lembut. "Aku sering ke sini saat aku merasa sendirian. Dari sini, aku bisa melihat semuanya. Dan aku merasa bahwa dunia ini luas. Bahwa aku tidak perlu terjebak dalam kesepian. Bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari rasa sakit yang aku rasakan."
Novi menatap pemandangan di depannya, matanya berbinar. "Ini indah, Angga. Sungguh indah." Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan, "Aku tidak pernah melihat sesuatu yang seindah ini sebelumnya."
"Kau tahu," kata Angga, menatap Novi dengan mata yang lembut. "Aku membawamu ke sini karena aku ingin kau melihat bahwa dunia ini indah. Bahwa ada banyak hal yang bisa dinikmati. Bahwa kau tidak perlu terjebak dalam kesedihan. Bahwa ada cahaya di ujung terowongan, meskipun kadang sulit untuk melihatnya."
Novi menatapnya. Air mata menggenang di matanya, tetapi kali ini Angga bisa melihat bahwa itu bukan air mata kesedihan. "Terima kasih, Angga," bisiknya. "Kau adalah orang pertama yang membawaku ke tempat seperti ini. Orang pertama yang menunjukkan padaku bahwa dunia ini mungkin tidak seburuk yang aku pikirkan."
Angga tersenyum. "Aku akan membawamu ke banyak tempat indah lainnya. Jika kau mau."
Dan untuk pertama kalinya, Angga melihat Novi tersenyum—bukan senyum kecil yang malu-malu, tetapi senyum yang tulus, yang datang dari tempat yang dalam di hatinya. Dan Angga tahu bahwa ia akan melakukan apa pun untuk melihat senyum itu lagi.
Angga mulai merasakan sesuatu yang lebih dari sekadar persahabatan. Ia mulai jatuh cinta pada Novi. Ia menyukai caranya menulis puisi dengan hati yang terbuka, menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata yang begitu indah dan menyakitkan sekaligus. Ia menyukai caranya tersenyum kecil saat meminum cokelat panas, seolah-olah itu adalah hadiah paling berharga yang pernah ia terima. Ia menyukai caranya menatapnya dengan mata yang penuh pertanyaan, seolah ia tidak percaya bahwa ada seseorang yang benar-benar memperhatikannya, seolah-olah ia sedang menunggu Angga untuk pergi seperti semua orang lain.
Angga ingin menjadi orang itu. Orang yang tidak pergi. Orang yang membuat Novi percaya bahwa ia layak dicintai. Orang yang akan menunjukkan padanya bahwa tidak semua orang meninggalkan.
Tetapi Angga juga takut. Ia tahu bahwa suatu hari nanti, ia mungkin harus pergi. Beasiswa ke Jepang yang ia lamar diam-diam masih menggantung di kepalanya seperti pedang Damocles. Jika ia diterima, ia harus meninggalkan semua ini. Ia harus meninggalkan Novi. Ia harus memilih antara impiannya dan cintanya. Dan ia tidak tahu apakah ia cukup kuat untuk membuat pilihan itu.
Suatu malam, Angga berbicara dengan Bima tentang perasaannya. Mereka duduk di taman belakang rumah Angga yang luas dan sepi, di bawah bintang-bintang yang bersinar redup.
"Bi, aku jatuh cinta pada Novi," kata Angga, suaranya hampir berbisik.
Bima terkejut. "Serius? Gadis pendiam itu?" Ia menatap Angga dengan mata yang tidak percaya. "Aku pikir kau akan jatuh cinta pada Sarah atau Nita. Mereka gadis populer, cantik, dan—"
"Mereka tidak nyata," potong Angga. "Mereka seperti semua orang lain. Mereka berbicara untuk mengisi kekosongan. Mereka tersenyum tanpa benar-benar bahagia. Tapi Novi berbeda, Bi. Dia tidak berpura-pura. Dia hanya menjadi dirinya sendiri. Dan itu membuatnya lebih cantik dari siapa pun yang aku kenal."
Bima diam sejenak, merenungkan kata-kata Angga. "Tapi kau tahu, kan, bahwa kau mungkin pergi ke Jepang?" tanyanya akhirnya. "Beasiswa yang kau lamar, itu akan mengubah segalanya."
"Aku tahu," kata Angga, dan suaranya dipenuhi dengan kesedihan yang mendalam. "Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa mimpiku."
"Kau harus jujur padanya," kata Bima, dengan nada yang tegas. "Kau tidak bisa menyembunyikan ini selamanya. Semakin lama kau menunggu, semakin sulit itu akan menjadi. Kau akan kehilangan kepercayaannya jika kau tidak jujur."
Angga menghela napas, merasakan beban di dadanya. "Aku tahu. Tapi aku takut, Bi. Aku takut kehilangannya. Aku takut jika aku jujur, ia akan menjauh. Aku takut ia akan memutuskan bahwa aku tidak layak untuk dicintai."
"Kau akan kehilangannya jika kau tidak jujur," kata Bima. "Percayalah padaku. Aku sudah melihat ini terjadi. Kejujuran adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan hubungan. Kau harus percaya bahwa cintanya cukup kuat untuk menerima kebenaran."
Angga memutuskan untuk jujur pada Novi. Ia mengajaknya ke taman kota dan duduk di bangku dekat kolam air mancur. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah cahaya bulan. Tetapi Angga tidak memperhatikan keindahan itu. Matanya hanya pada Novi.
"Novi," kata Angga, suaranya lebih lembut dari biasanya. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi, dan Angga bisa melihat kegelisahan di matanya.
"Aku suka kamu," kata Angga. Dan ketika kata-kata itu keluar, ia merasakan beban yang selama ini ia pikul mulai terangkat. "Aku suka sejak pertama kali aku melihatmu di perpustakaan. Sejak aku membaca puisimu dan merasakan sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Aku tidak butuh kau membalasnya. Aku hanya ingin kau tahu."
Novi menatapnya dengan mata yang penuh dengan perasaan yang sulit dijelaskan. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa," bisiknya. "Aku tidak pernah... tidak ada yang pernah..."
"Kau tidak perlu berkata apa pun," kata Angga, meraih tangannya dengan lembut. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku di sini. Dan aku akan menunggu, sampai kau siap. Satu hari, satu minggu, satu bulan—aku akan menunggu selama yang kau butuhkan."
Angga menunggu. Ia menunggu Novi membuka hatinya. Ia menunggu Novi berani berkata bahwa ia juga merasakan hal yang sama. Ia datang dengan cokelat panas setiap pagi, dengan kesabaran yang tidak pernah ia tuntut, dengan cinta yang tidak pernah ia paksakan. Ia menunggu tanpa pernah memaksa, tanpa pernah mengeluh, tanpa pernah menunjukkan betapa ia sendiri mulai lelah.
Tapi Novi tidak bisa. Luka masa lalunya terlalu dalam. Ia takut. Ia memilih diam ketika Angga bertanya, "Kamu suka aku, kan?" Ia memilih mundur ketika Angga melangkah maju. Ia memilih menyimpan cinta itu di dalam puisi-puisinya. Tertulis, tetapi tidak pernah terucap.
Angga mulai kelelahan. Ia sudah menunggu berbulan-bulan. Ia sudah datang dengan cokelat panas setiap hari. Ia sudah menyatakan perasaannya. Tetapi Novi masih belum memberi jawaban. Dan untuk pertama kalinya, Angga mulai bertanya-tanya apakah ia menunggu sesuatu yang hanya ada di dalam kepalanya.
"Aku mulai lelah," kata Angga pada Bima, suaranya lelah dan putus asa. "Aku tidak tahu apakah aku menunggu sesuatu yang nyata atau hanya mimpi. Aku merasa seperti aku sedang jatuh cinta pada bayangan. Pada seseorang yang tidak benar-benar ada."
"Kau harus bicara padanya," kata Bima. "Katakan bahwa kau butuh kepastian. Kau tidak bisa terus seperti ini. Untuk kebaikanmu sendiri, dan untuk kebaikannya."
Angga mengajak Novi ke taman kota. Malam itu, bulan purnama bersinar terang, menerangi wajah Novi dengan cahaya keperakan. Angga menatapnya, mencoba mengingat setiap detail—cara ia menggigit bibirnya saat gugup, cara ia memainkan ujung rambutnya, cara ia menghindari tatapan matanya.
"Novi," kata Angga, dan suaranya lebih tegas dari sebelumnya. "Aku tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian. Aku hanya ingin tahu, apakah kau punya perasaan yang sama? Ya atau tidak. Aku tidak bisa terus hidup di antara dua jawaban."
Novi terdiam. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku... aku tidak tahu. Aku takut."
"Takut apa?" tanya Angga, dan suaranya lembut meskipun hatinya hancur.
"Takut kehilanganmu," kata Novi, suaranya pecah. "Seperti aku kehilangan ibuku. Seperti aku kehilangan semua orang yang aku cintai. Aku tidak bisa melalui itu lagi, Angga. Aku tidak cukup kuat."
Angga memegang tangan Novi, merasakan dinginnya kulitnya. "Aku bukan ibumu, Novi. Aku tidak akan pergi. Aku di sini. Dan aku akan selalu di sini."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Semua orang bisa pergi. Semua orang meninggalkan pada akhirnya."
Angga menatap Novi, dan untuk pertama kalinya, ia membiarkan topengnya benar-benar jatuh. Matanya berkaca-kaca, suaranya bergetar. "Aku tidak bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah pergi. Hidup itu tidak pasti. Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu. Aku akan selalu ada di sisimu. Aku akan selalu mencintaimu. Dan itu adalah satu-satunya hal yang bisa aku tawarkan."
Novi menangis. Angga memeluknya, merasakan tubuhnya yang gemetar. Ia merasakan kehangatan di pelukannya. Ia merasakan bahwa Novi mulai percaya—perlahan, dengan ragu-ragu, tetapi ia mulai percaya.
"Berikan aku waktu," bisik Novi. "Aku butuh waktu."
"Baik," kata Angga, dan ia merasakan harapan yang mulai tumbuh di dadanya. "Aku akan menunggumu. Tapi tolong, jangan terlalu lama. Karena aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan."
Angga pulang dengan hati yang berat. Ia berharap Novi akan segera siap. Ia berharap mereka bisa bersama. Ia berharap bahwa semua rasa sakit ini akan sepadan.
Tetapi ia tidak tahu bahwa waktu tidak berpihak padanya.
Malam itu, Angga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang luas dan kosong. Pikirannya terus pada Novi, tetapi juga pada ibunya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke lemari di sudut kamar. Di dalamnya, tersimpan sebuah kotak tua yang sudah lama tidak ia buka. Ia membukanya dengan hati-hati. Di dalamnya, ada foto-foto lama. Foto ibunya ketika ia masih kecil. Foto ibunya sedang membuat cokelat panas di dapur. Foto ibunya tersenyum padanya.
Angga mengambil satu foto dan menatapnya lama. Di foto itu, ibunya masih muda. Rambutnya panjang, senyumnya lebar. Ia memegang gelas cokelat panas di tangannya, mengulurkannya pada Angga kecil yang berdiri di depannya.
"Ibu," bisik Angga. "Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak pernah di sini?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Tetapi ia teringat pada sesuatu. Sesuatu yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia teringat bahwa ibunya juga pernah kesepian. Ibunya juga pernah merasa tidak dicintai. Ibunya juga pernah menangis di kamarnya, sama seperti yang ia lakukan sekarang.
Dan untuk pertama kalinya, Angga merasakan sesuatu yang aneh. Bukan kemarahan. Bukan kesedihan. Tetapi semacam pengertian. Mungkin ibunya pergi karena ia juga tidak tahu bagaimana cara bertahan. Mungkin ibunya pergi karena ia juga takut.
"Maafkan aku, Ibu," bisik Angga. "Maafkan aku karena marah padamu. Aku juga takut. Aku juga tidak tahu bagaimana cara bertahan."
Ia meletakkan foto itu kembali ke dalam kotak. Ia menutup kotak itu dan menyimpannya di lemari.
"Aku akan bertahan," bisik Angga. "Aku akan bertahan untuk Novi. Untuk diriku sendiri. Untuk Ibu."
Keesokan paginya, Angga bangun dengan tekad bulat. Ia akan tetap jujur pada Novi. Ia akan memberitahunya tentang beasiswa itu. Ia tidak akan menyembunyikan apa pun lagi.
Ia mengambil ponselnya dan menulis pesan panjang untuk Novi. Tetapi sebelum ia mengirimkannya, ia berhenti. Ia menatap pesan itu lama, membaca setiap kata, memikirkan setiap kemungkinan.
"Apa ini akan membuatnya takut? Apa ini akan membuatnya menjauh? Apa ini akan menghancurkan semua yang telah kita bangun?"
Angga menggigit bibirnya. Ia hampir menghapus pesan itu. Ia hampir memutuskan untuk tidak jujur.
Tetapi kemudian ia teringat pada kata-kata Bima. "Kejujuran adalah satu-satunya hal yang bisa menyelamatkan hubungan."
Ia menghela napas panjang. Ia menekan tombol kirim.
Pesan itu terkirim.
Angga menatap layar ponselnya, menunggu balasan. Jantungnya berdebar kencang.
"Maafkan aku, Novi," bisiknya. "Aku hanya ingin jujur padamu."
Novi membalas pesan Angga beberapa jam kemudian. Balasannya singkat, tetapi penuh makna.
"Angga, aku mengerti. Aku tahu ini penting bagimu. Aku tidak akan menghalangimu. Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa ini tidak menyakitkan. Aku butuh waktu untuk memproses semuanya. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu."
Angga membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya.
"Ia mengerti," bisiknya. "Ia tidak marah. Ia tidak pergi. Ia mengerti."
Ia merasakan kelegaan yang luar biasa di dadanya. Tetapi ia juga merasakan rasa sakit. Karena ia tahu bahwa ini adalah awal dari perpisahan mereka. Bahwa ia akan pergi. Bahwa ia akan meninggalkan Novi.
Tetapi ia juga tahu bahwa ia akan kembali. Suatu hari nanti. Ia berjanji pada dirinya sendiri.
"Aku akan kembali, Novi," bisiknya. "Aku berjanji. Aku akan kembali padamu."
Malam itu, Angga duduk di kamarnya. Ia memandang foto Novi yang ia simpan di ponselnya. Novi sedang menulis, dengan ekspresi serius di wajahnya.
"Aku akan menulis surat untukmu," bisik Angga. "Surat yang akan kuberikan padamu sebelum aku pergi. Surat yang akan mengingatkanmu bahwa aku mencintaimu. Bahwa aku akan kembali."
Ia mulai menulis. Tangannya bergerak di atas kertas, menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata.
"Novi tersayang,
Aku menulis surat ini dengan hati yang penuh. Aku tidak tahu apakah aku akan memberikannya padamu sekarang atau nanti. Tapi aku ingin menulisnya. Aku ingin menuangkan semua perasaanku ke dalam kata-kata..."
Ia menulis selama berjam-jam. Kata-kata mengalir dengan lancar, seperti air yang tidak bisa dihentikan. Ia menulis tentang cintanya. Tentang ketakutannya. Tentang semua yang ia rasakan untuk Novi.
Ketika ia selesai, ia membaca surat itu sekali lagi. Air mata mengalir di pipinya.
"Ini adalah surat cinta terakhirku untukmu," bisiknya. "Sebelum aku pergi. Sebelum aku kembali."
Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia menulis nama Novi di bagian depan amplop.
"Besok," bisiknya. "Besok aku akan memberikannya padamu."
BAB VII
Puisi untuk Angga
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mendengar suara jangkrik di luar jendela. Pikirannya terus berputar pada satu nama yang tidak bisa ia lupakan: Angga.
Ia memikirkan percakapan mereka di taman kota. Kata-kata Angga masih terngiang di telinganya.
"Aku suka kamu. Aku suka sejak pertama kali aku melihatmu di perpustakaan."
"Aku akan menunggu, sampai kau siap."
Novi memeluk bantalnya erat-erat. Dadanya berdebar kencang. Ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ada seseorang yang benar-benar menyukainya. Bukan karena kasihan. Bukan karena iba. Tetapi karena ia melihat Novi sebagai dirinya sendiri.
Tetapi di sisi lain, ada ketakutan yang masih menghantuinya. Ia ingat ibunya. Ibunya juga pernah berkata bahwa ia mencintai Novi. Tapi kemudian ibunya pergi. Tidak ada janji yang bertahan selamanya.
"Kenapa aku selalu takut?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Kenapa aku tidak bisa percaya bahwa ada orang yang benar-benar peduli padaku?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Novi bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke meja tulisnya. Ia membuka buku catatan baru. Buku catatan lama yang berisi puisi-puisi tentang Angga sudah ia bakar. Tetapi kali ini, ia tidak menulis puisi.
Ia menulis surat.
"Untuk Angga,
Aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tidak terbiasa dengan perasaan ini. Selama ini aku hanya tahu bagaimana rasanya kehilangan. Aku tidak tahu bagaimana rasanya menerima.
Kau datang dengan cokelat panas dan kesabaran yang tidak pernah kuminta. Kau datang dengan senyum dan perhatian yang membuatku bingung. Aku tidak tahu apakah aku pantas menerima semua itu.
Tapi aku tahu satu hal. Saat kau berkata kau suka padaku, hatiku berdebar. Saat kau bilang kau akan menunggu, ada bagian dari diriku yang ingin percaya.
Aku takut. Aku sangat takut. Tetapi mungkin, mungkin rasa takut itu tidak sebesar rasa ingin tahu. Aku ingin tahu bagaimana rasanya dicintai tanpa syarat. Aku ingin tahu bagaimana rasanya tidak sendirian.
Terima kasih telah datang. Terima kasih telah menunggu. Aku tidak bisa berjanji apa pun sekarang. Tapi aku berjanji pada diriku sendiri untuk mencoba."
Novi membaca ulang surat itu. Tangannya gemetar. Ia belum pernah sejujur ini pada siapa pun.
Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Besok, ia akan memberikannya pada Angga.
Namun, sebelum tidur, Novi membuka buku catatan lamanya. Buku yang berisi puisi-puisi yang ia bakar. Ia membuka halaman terakhir dan melihat sisa-sisa puisi yang tidak terbakar sempurna. Ia membaca baris-baris yang masih terbaca.
"Untuk Angga, yang datang dengan cokelat panas. Yang berkata ia kesepian. Yang melihatku saat yang lain tidak."
Novi menangis. Ia menyesal membakar puisi-puisi itu. Puisi-puisi itu adalah bagian dari dirinya. Bagian dari perasaannya. Dan ia telah menghancurkannya.
"Maafkan aku, Angga," bisik Novi. "Maafkan aku karena takut."
Ia memutuskan untuk menulis puisi baru. Puisi yang lebih jujur. Puisi yang lebih berani.
Novi mengambil pena dan mulai menulis. Kata-kata mengalir seperti air dari matanya.
"Untuk Angga,
Aku tidak tahu namanya,
Perasaan ini.
Tapi aku takut.
Takut jika aku membiarkannya tumbuh,
kau akan pergi seperti yang lain.
Tapi kau di sini.
Kau datang setiap pagi.
Kau menungguku.
Dan aku mulai percaya.
Mungkin.
Mungkin kau berbeda.
Aku tidak tahu harus berkata apa.
Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Aku hanya tahu bahwa hatiku berdebar,
setiap kali kau tersenyum padaku.
Aku takut.
Aku sangat takut.
Tapi aku juga ingin mencoba.
Untukmu.
Untuk kami."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ini adalah puisi paling jujur yang pernah ia tulis.
Keesokan paginya, Novi datang ke sekolah dengan surat di sakunya. Ia gugup. Tangannya berkeringat. Ia tidak tahu bagaimana ia akan memberikan surat itu pada Angga.
Tetapi ketika ia masuk ke kelas, ia melihat sesuatu yang membuatnya terkejut.
Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Aroma cokelat yang manis dan hangat menyebar di sekitarnya.
Novi menatap gelas itu dengan perasaan campur aduk. Angga masih memberinya cokelat. Meskipun Novi sudah berkata bahwa ia tidak suka cokelat, Angga tetap datang dengan cokelat yang sama.
Novi meminum cokelat itu perlahan. Hangat. Manis. Seperti perhatian Angga yang tidak pernah surut.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, berbicara dengan Bima. Angga tidak menatapnya. Ia tidak mencari perhatian. Ia hanya datang, memberi, dan pergi. Tanpa menuntut balasan.
Novi merasakan dadanya hangat. Ia mengeluarkan surat dari sakunya dan memandanginya. Ia harus memberikannya pada Angga.
Saat jam istirahat, Novi berjalan menuju meja Angga. Angga sedang membaca buku. Ia mengangkat kepala ketika Novi mendekat.
"Novi," sapa Angga dengan senyum lembut. "Ada apa?"
Novi menyerahkan amplop itu pada Angga. "Ini untukmu. Baca nanti."
Angga menerima amplop itu dengan hati-hati. "Apa ini?"
"Surat," kata Novi pelan. "Aku... aku menulis sesuatu untukmu. Tapi jangan baca di sini."
Angga mengangguk. "Baik. Aku akan membacanya nanti."
Novi pergi dengan perasaan lega. Ia sudah memberikan surat itu. Sekarang tinggal menunggu.
Sepanjang sisa pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan apa yang akan Angga pikirkan setelah membaca suratnya. Apakah Angga akan tersenyum? Ataukah ia akan kecewa karena Novi masih ragu?
Pulang sekolah, Novi berjalan ke halte bus. Di tengah perjalanan, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Angga.
"Aku sudah membaca suratmu. Aku akan menjawabnya nanti malam. Tunggu aku."
Novi menatap ponselnya dengan jantung berdebar. Ia tidak sabar menunggu malam.
Malam itu, Novi duduk di kamarnya menunggu. Ponselnya berada di genggamannya. Setiap kali bergetar, ia langsung melihatnya. Tetapi belum ada pesan dari Angga.
Jam menunjukkan pukul delapan malam. Ponsel Novi bergetar lagi. Kali ini, itu dari Angga.
"Novi, aku sudah membaca suratmu. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku sangat terharu. Aku tidak menyangka kau akan sejujur itu padaku.
Aku mengerti ketakutanmu. Aku juga takut. Tapi aku percaya bahwa cinta yang tulus layak diperjuangkan.
Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar siap. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Selalu.
Besok, aku akan datang dengan cokelat panas seperti biasa. Dan jika kau mau, kita bisa bicara lebih banyak.
Angga"
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata kesedihan. Ini adalah air mata harapan.
Ia membalas pesan Angga.
"Terima kasih, Angga. Untuk semua. Untuk kesabaranmu. Untuk cokelat panasmu. Untuk tidak pernah menyerah padaku.
Besok, aku akan menunggu cokelatmu.
Novi"
Novi mematikan ponselnya dan berbaring di tempat tidur. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia tidur dengan senyum di wajahnya.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kegembiraan di dadanya, semacam harapan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya berbinar. Senyumnya lebih mudah muncul.
Novi tersenyum pada bayangannya. "Kau terlihat bahagia," bisiknya. "Apa kau sadar?"
Ia tidak menunggu jawaban. Ia segera bersiap, memakai seragamnya dengan rapi, menyisir rambutnya, dan memakai sedikit lipstik. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah lebih ringan. Ia menyapa Rina dengan senyum lebar.
"Novi, kau kenapa?" tanya Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia," kata Novi. "Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku bahagia."
Rina tersenyum. "Pasti karena Angga."
Novi memerah. "Mungkin."
"Aku senang melihatmu seperti ini," kata Rina. "Kau pantas bahagia, Novi."
Di kelas, Novi duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Aroma cokelat yang manis dan hangat menyebar di sekitarnya.
Novi meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, menatapnya dengan senyum. Novi membalas senyumnya.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa berhenti tersenyum. Ia merasa seperti sedang melayang di atas awan. Semua tampak lebih indah. Suara guru yang biasanya membosankan terdengar seperti musik. Coretan di papan tulis tampak seperti puisi. Bahkan hujan yang mulai turun di luar jendela terasa seperti sesuatu yang indah.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis lebih banyak puisi. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, hujan masih turun dengan tenang. Suara tetesan air di atap dan dedaunan menciptakan irama yang menenangkan.
Novi mulai menulis. Kata-kata mengalir seperti air. Ia menulis tentang Angga. Tentang senyumnya. Tentang cokelat panasnya. Tentang caranya datang tanpa pernah meminta balasan.
Kemudian pintu perpustakaan terbuka. Novi mendongak. Angga berdiri di ambang pintu dengan senyum lebar.
"Hai, Novi," sapa Angga. "Boleh aku duduk di sini?"
Novi mengangguk. "Tentu."
Angga duduk di depan Novi. Ia membawa sebuah buku, tetapi ia tidak membacanya. Ia hanya menatap Novi dengan mata yang lembut.
"Kau menulis?" tanya Angga.
Novi mengangguk. "Puisi."
"Boleh aku baca?"
Novi ragu. Tidak ada yang pernah membaca tulisannya selain gurunya. Ia tidak terbiasa menunjukkan puisinya kepada orang lain. Tetapi Angga menatapnya dengan mata yang tulus.
"Baiklah," kata Novi pelan.
Ia menyerahkan buku catatannya pada Angga. Angga menerimanya dengan hati-hati, seolah buku itu adalah benda berharga. Ia membaca puisi yang baru saja ditulis Novi.
Angga membacanya dengan serius. Matanya bergerak dari baris ke baris. Ketika selesai, ia menatap Novi dengan ekspresi yang sulit dibaca.
"Ini indah, Novi," kata Angga. "Sungguh. Aku merasakan kebahagiaan di sini. Kebahagiaan yang tulus."
Novi tersenyum. "Kau benar-benar bisa merasakannya?"
"Aku tidak paham puisi," kata Angga. "Tapi aku paham perasaan. Dan puisimu... ini berbicara tentang seseorang yang mulai percaya pada kebahagiaan."
Novi terdiam. Angga benar. Puisi itu memang tentang kebahagiaan yang mulai ia rasakan.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku senang melihatmu tersenyum. Kau terlihat cantik saat tersenyum."
Novi memerah. "Kau terlalu memujiku."
"Aku hanya jujur," kata Angga.
Mereka berdua diam sejenak. Suara hujan di luar jendela menjadi satu-satunya suara yang terdengar.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Setelah sekolah. Mau?"
Novi terkejut. "Ke mana?"
"Ke suatu tempat yang indah," kata Angga. "Kau akan menyukainya."
Novi ragu. Ia tidak terbiasa pergi ke mana pun dengan siapa pun. Tetapi Angga menatapnya dengan mata yang penuh harap.
"Baiklah," kata Novi akhirnya. "Aku mau."
Angga tersenyum lebar. "Bagus. Aku akan menjemputmu setelah sekolah."
Sore itu, Angga menjemput Novi di depan gerbang sekolah. Ia naik sepeda motor tua yang masih terawat. Novi tidak pernah naik sepeda motor sebelumnya. Ia sedikit takut.
"Ayo, Novi," kata Angga. "Aku akan mengendarai dengan pelan."
Novi ragu. "Aku tidak pernah naik sepeda motor."
"Tenang," kata Angga. "Aku akan menjaga keselamatanmu. Percaya padaku."
Novi mengangguk. Ia naik ke belakang Angga dan memegang bahunya dengan gemetar.
Angga tersenyum. "Pegang lebih erat. Aku tidak mau kau jatuh."
Novi memegang lebih erat. Angga mulai mengendarai sepeda motor dengan pelan. Angin berhembus di wajah Novi, membawa aroma tanah basah dan rumput. Rasanya menyenangkan. Rasanya bebas.
Mereka melewati jalanan kota yang mulai sepi. Melewati pasar yang mulai tutup. Melewati sawah yang menghijau. Novi tidak pernah melihat pemandangan seperti ini sebelumnya. Ia selalu berjalan kaki ke sekolah dan pulang. Ia tidak pernah menjelajah.
"Kita hampir sampai," teriak Angga di atas suara angin.
Mereka berhenti di sebuah bukit kecil di pinggiran kota. Dari atas bukit, mereka bisa melihat seluruh kota. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan gradasi warna yang indah. Jingga, merah, ungu, dan emas bercampur menjadi satu.
"Aku suka tempat ini," kata Angga. "Aku sering ke sini saat aku merasa sendirian. Dari sini, aku bisa melihat semuanya. Dan aku merasa bahwa dunia ini luas. Bahwa aku tidak perlu terjebak dalam kesepian."
Novi menatap pemandangan di depannya. Ia tidak pernah melihat sesuatu yang seindah ini sebelumnya. Matanya berbinar.
"Ini indah, Angga," kata Novi. "Sungguh indah."
"Kau tahu," kata Angga. "Aku membawamu ke sini karena aku ingin kau melihat bahwa dunia ini indah. Bahwa ada banyak hal yang bisa dinikmati. Bahwa kau tidak perlu terjebak dalam kesedihan."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Terima kasih," kata Novi pelan. "Kau adalah orang pertama yang membawaku ke tempat seperti ini."
Angga tersenyum. "Aku akan membawamu ke banyak tempat indah lainnya. Jika kau mau."
Novi mengangguk. "Aku mau."
Mereka duduk di atas bukit, menikmati pemandangan senja. Novi merasa seperti sedang bermimpi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan berada di tempat seperti ini, bersama seseorang yang peduli padanya.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau mau menjadi pacarku?" tanya Angga. "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan perasaanku lagi."
Novi terkejut. Dadanya berdebar kencang.
"Aku... aku tidak tahu," kata Novi. "Aku takut."
"Aku tahu," kata Angga. "Aku juga takut. Tapi aku lebih takut kehilanganmu daripada takut mencoba."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga takut kehilanganmu," kata Novi pelan. "Tapi aku akan mencoba. Untukmu."
Angga tersenyum. "Terima kasih, Novi."
Mereka berpelukan. Di bawah langit senja, di atas bukit yang indah, mereka memulai sesuatu yang baru.
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai tanpa takut.
Di kamarnya, ia menulis puisi tentang bukit dan senja. Tentang seorang anak baru yang mengajarinya bahwa cinta itu mungkin. Tentang keberanian untuk mencoba meskipun takut.
"Di atas bukit, kita berbicara tentang cinta.
Tentang ketakutan yang kita bagi bersama.
Tentang keberanian untuk mencoba.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya.
Aku memilih untuk mencintai."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia tidur dengan senyum di wajahnya.
BAB VIII
Sahabat Rina
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda dari biasanya. Ada semacam getaran di dadanya, semacam kegembiraan yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia tersenyum sebelum membuka mata. Ia tersenyum saat mandi. Ia tersenyum saat memakai seragamnya. Ia tersenyum saat berjalan ke sekolah.
Novi merasa seperti sedang berjalan di atas awan. Semua tampak lebih indah. Langit tampak lebih biru. Burung-burung bernyanyi lebih merdu. Bahkan jalanan yang biasa ia lewati terasa lebih cerah.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan kemarin. Tentang bukit. Tentang senja. Tentang kata-kata Angga yang membuat jantungnya berdebar.
"Novi, apa kau mau menjadi pacarku?"
Novi tersenyum lagi. Ia masih tidak percaya bahwa itu benar-benar terjadi. Bahwa ada seseorang yang benar-benar menginginkannya. Bahwa ada seseorang yang melihatnya sebagai seseorang yang berharga.
Di gerbang sekolah, Novi melihat Rina sedang menunggunya dengan senyum lebar. Rina melambai-lambaikan tangannya.
"Novi! Ke sini!" teriak Rina.
Novi berjalan mendekat. Rina langsung menariknya ke sudut yang lebih sepi.
"Aku dengar kabar dari Bima," kata Rina dengan mata berbinar. "Kau dan Angga? Benar?"
Novi memerah. "Aku... aku tidak tahu harus berkata apa."
"Jadi benar?" Rina hampir berteriak. "Aku tahu! Aku sudah bilang! Aku sudah bilang bahwa Angga menyukaimu!"
"Rin, pelan-pelan," kata Novi tertawa kecil. "Orang-orang melihat."
Rina menutup mulutnya dengan tangannya, tetapi matanya tetap berbinar. "Maaf, maaf. Tapi aku sangat senang, Novi. Kau pantas bahagia."
Novi tersenyum. "Terima kasih, Rin."
"Tapi ceritakan semuanya!" desak Rina. "Bagaimana dia mengatakannya? Di mana? Kapan?"
Novi tertawa. Ia mulai menceritakan semuanya. Tentang bukit. Tentang senja. Tentang kata-kata Angga. Tentang bagaimana ia merasa seperti sedang bermimpi.
Rina mendengarkan dengan penuh perhatian. Kadang ia tertawa, kadang ia terkesima, kadang ia menepuk pundak Novi dengan antusias.
"Aku sangat bahagia untukmu, Novi," kata Rina ketika Novi selesai bercerita. "Kau benar-benar pantas mendapatkan kebahagiaan."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
Rina memeluk Novi erat-erat. "Kau juga sahabat terbaikku, Nov. Jangan lupa itu."
Sepanjang hari, Novi tidak bisa berhenti tersenyum. Ia tersenyum saat guru menjelaskan pelajaran. Ia tersenyum saat menulis catatan. Ia tersenyum saat makan siang. Bahkan Rina mulai merasa heran.
"Novi, kau tidak bisa berhenti tersenyum, ya?" tanya Rina sambil tertawa.
"Aku tidak bisa," kata Novi. "Rasanya seperti ada kupu-kupu di perutku. Terus terbang."
Rina tertawa. "Itu namanya jatuh cinta, Nov. Nikmati saja."
Novi tersenyum. Ia memang menikmatinya. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa bahwa ia benar-benar hidup.
Di jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Tidak ada hujan hari ini. Hanya sinar matahari yang hangat dan angin sepoi-sepoi.
Novi membuka buku catatannya dan mulai menulis.
"Aku tidak tahu bahwa bahagia bisa terasa seperti ini. Seperti terbang. Seperti melayang. Seperti semua beban di pundakku tiba-tiba hilang. Aku tidak tahu bahwa seseorang bisa membuatku merasa seperti ini. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya."
Ia membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Ini adalah puisi paling bahagia yang pernah ia tulis.
Saat pulang sekolah, Novi berjalan keluar gerbang. Angga sudah menunggunya di sana, bersandar pada tiang pagar dengan senyum di wajahnya.
"Hai, Novi," sapa Angga. "Mau jalan bersama?"
Novi mengangguk. "Tentu."
Mereka berjalan berdampingan melewati jalanan yang mulai sepi. Matahari masih tinggi di langit, tetapi sinarnya tidak lagi terik. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan.
"Kau terlihat bahagia hari ini," kata Angga.
"Aku bahagia," kata Novi. "Aku tidak tahu kenapa. Tapi aku bahagia."
Angga tersenyum. "Aku juga bahagia. Karena kau bahagia."
Novi memerah. "Kau selalu mengatakan hal-hal manis seperti itu."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Aku tidak bisa berbohong padamu."
Mereka berjalan dalam diam yang nyaman. Kadang mereka berbicara tentang hal-hal kecil. Kadang mereka hanya diam menikmati kebersamaan.
Novi merasakan tangan Angga yang secara perlahan meraih tangannya. Jari-jari mereka saling bertaut. Novi merasa jantungnya berdebar lebih kencang. Ia tidak pernah memegang tangan siapa pun sebelumnya, setidaknya tidak seperti ini. Tidak dengan cara yang membuatnya merasa begitu aman.
Angga menggenggam tangannya dengan lembut, tidak memaksa, hanya menawarkan kehangatan. Novi menunduk, melihat tangan mereka yang bergandengan, dan tersenyum kecil. Ini terasa benar. Ini terasa seperti milik.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat. Akhir pekan ini. Mau?"
"Ke mana?" tanya Novi.
"Ke rumahku," kata Angga. "Aku ingin kau melihat di mana aku tinggal. Aku ingin kau mengenal keluargaku. Meskipun... mereka jarang ada di rumah."
Novi ragu. Ia tidak pernah pergi ke rumah pacarnya sebelumnya. Ia tidak pernah bertemu orang tua pacar sebelumnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Apa yang akan mereka pikirkan tentangku?" pikir Novi. "Apa mereka akan melihatku sebagai gadis yang tidak cukup baik?"
"Kau tidak perlu takut," kata Angga, seolah membaca pikirannya. "Hanya aku dan kau. Tidak ada orang lain."
Novi mengangguk. "Baik. Aku mau."
Angga tersenyum. "Bagus. Aku akan menjemputmu."
Akhir pekan tiba. Novi bersiap dengan lebih teliti dari biasanya. Ia memakai baju terbaiknya, menyisir rambutnya, dan bahkan memakai sedikit lipstik. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai.
Namun di dalam hatinya, ada suara kecil yang meragukan. Suara yang selalu ada sejak ibunya pergi. Suara yang berbisik, "Kau tidak cukup baik. Kau tidak pantas."
Novi menggigit bibirnya. Ia menatap bayangannya di cermin. "Berhenti," bisiknya pada suara itu. "Aku bisa melakukan ini. Aku pantas."
Angga menjemputnya di depan rumah. Ia datang dengan sepeda motor tua yang masih terawat.
"Naiklah," kata Angga sambil tersenyum.
Novi naik ke belakang Angga dan memegang bahunya. Sepeda motor melaju pelan melewati jalanan kota. Angin berhembus di wajah Novi, membawa aroma kebebasan.
Untuk pertama kalinya, Novi merasakan bahwa ia benar-benar bebas. Bebas dari ketakutan. Bebas dari keraguan. Bebas untuk menikmati momen ini.
Rumah Angga besar dan mewah. Ada taman yang indah di depan, dengan bunga-bunga berwarna-warni dan pohon-pohon rindang. Di belakang, ada kolam renang yang berkilau di bawah sinar matahari.
"Ini rumahmu?" tanya Novi terkejut.
Angga mengangguk. "Ya. Rumah ini terlalu besar untuk satu orang. Tapi ini rumahku."
Novi masuk ke dalam rumah. Di dalam, semuanya mewah dan indah. Tetapi ada sesuatu yang aneh. Rumah ini terasa kosong. Tidak ada suara. Tidak ada tawa. Hanya dinding-dinding dingin yang tidak pernah memeluk siapa pun.
"Aku tinggal sendiri sebagian besar waktu," kata Angga. "Ayahku sibuk dengan bisnis. Ibuku sering bepergian. Jadi aku terbiasa dengan keheningan."
Novi menatap Angga. Ia melihat kesepian di matanya. Kesepian yang sama yang ia rasakan setiap hari.
"Aku mengerti," kata Novi. "Aku juga tinggal sendirian sebagian besar waktu."
Angga tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Novi.
Mereka duduk di ruang tamu yang besar. Angga membuat teh untuk mereka berdua. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang masa kecil. Tentang mimpi. Tentang ketakutan.
"Dulu, saat aku masih kecil," kata Angga pelan. "Aku sering duduk di sini sendirian. Menunggu ayahku pulang. Atau ibuku. Tapi mereka jarang datang. Aku belajar bahwa jika aku tidak menunggu, aku tidak akan kecewa."
Novi mendengarkan dengan saksama. Ia merasa bahwa Angga sedang membuka bagian dirinya yang paling rentan.
"Aku takut suatu hari kau akan pergi seperti yang lain," kata Novi tiba-tiba.
Angga menatapnya. "Aku tidak akan pergi, Novi."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Semua orang pergi pada akhirnya."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi aku bisa berjanji bahwa selama aku ada, aku akan selalu datang untukmu. Aku akan selalu berusaha."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Sore itu, Angga mengantar Novi pulang. Mereka berjalan pelan, menikmati setiap momen bersama.
"Novi," kata Angga. "Aku senang kau mau datang ke rumahku."
"Aku juga senang," kata Novi. "Sekarang aku tahu lebih banyak tentangmu."
"Dan kau masih mau bersamaku?" tanya Angga setengah bercanda.
Novi tersenyum. "Mungkin. Tergantung."
Angga tertawa. "Aku suka saat kau bercanda seperti itu."
Mereka berhenti di depan rumah Novi. Rumah itu kecil dan sederhana, dengan pagar putih yang mulai mengelupas.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Tapi aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku mencintaimu."
Novi terkejut. Dadanya berdebar kencang. Kata-kata itu terasa seperti gelombang yang menghantam dirinya, membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Aku... aku juga mencintaimu," kata Novi pelan. "Meskipun aku masih takut. Tapi aku mencintaimu."
Angga tersenyum. "Terima kasih, Novi. Itu semua yang ingin kudengar."
Mereka berpelukan. Di depan rumah Novi yang sederhana, di bawah langit senja yang indah, mereka saling mengucapkan kata-kata yang paling indah di dunia.
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kata-kata Angga.
"Aku mencintaimu."
Novi memeluk bantalnya erat-erat. Dadanya berdebar kencang. Ia belum pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Tidak dari ayahnya. Tidak dari ibunya. Tidak dari siapa pun.
"Aku mencintaimu."
Novi menangis. Bukan air mata sedih. Tetapi air mata bahagia. Ia merasa bahwa untuk pertama kalinya, ia benar-benar dicintai. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar berharga.
Ia membuka buku catatannya dan menulis puisi.
"Aku tidak pernah mendengar kata-kata itu sebelumnya. Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu. Aku mencintaimu."
Novi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia percaya bahwa cinta itu nyata. Bahwa ia layak dicintai. Bahwa ia bisa bahagia.
Namun di sudut hatinya yang paling dalam, ketakutan itu masih ada. Seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar pergi. "Apakah ini nyata? Apakah ia benar-benar mencintaiku? Atau suatu hari nanti ia akan pergi seperti yang lain?"
Novi menggigit bibirnya. Ia mencoba mengabaikan suara itu. Ia mencoba mempercayai apa yang baru saja terjadi. Tapi ketakutan itu tetap ada, menunggu saat yang tepat untuk muncul kembali.
Keesokan harinya di sekolah, Rina langsung menghampiri Novi.
"Novi! Bagaimana? Bagaimana kunjunganmu ke rumah Angga?" tanya Rina bersemangat.
Novi tersenyum. "Indah, Rin. Rumahnya besar dan mewah. Tapi terasa kosong."
"Kenapa kosong?" tanya Rina.
"Orang tuanya jarang di rumah," kata Novi. "Angga tinggal sendiri sebagian besar waktu."
Rina mengangguk. "Aku mengerti. Tapi yang penting, bagaimana hubungan kalian?"
Novi memerah. "Dia... dia mengatakan sesuatu padaku."
"Apa?" tanya Rina penasaran.
"Dia bilang dia mencintaiku," kata Novi pelan.
Rina hampir berteriak. "Apa? Serius? Dia bilang dia mencintaimu?"
Novi mengangguk. "Aku juga mengatakan hal yang sama padanya."
Rina memeluk Novi erat-erat. "Aku sangat bahagia untukmu, Novi! Kau benar-benar pantas mendapatkan ini!"
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki."
"Tapi," lanjut Rina, melepaskan pelukannya dan menatap Novi dengan serius. "Aku bisa melihat ada sesuatu di matamu. Kau masih takut, bukan?"
Novi terdiam. Ia tidak bisa berbohong pada Rina.
"Aku takut, Rin," kata Novi akhirnya. "Aku takut bahwa ini semua terlalu indah untuk menjadi kenyataan. Aku takut bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi seperti yang lain."
Rina memegang kedua tangan Novi. "Dengar, Novi. Aku tahu rasa takut itu. Aku juga pernah merasakannya. Tapi kau tidak bisa membiarkan ketakutan mengendalikan hidupmu. Angga berbeda. Aku bisa melihatnya. Dia benar-benar mencintaimu."
"Bagaimana kau bisa yakin?" tanya Novi.
"Karena aku melihat cara dia menatapmu," kata Rina. "Cara dia memperhatikanmu. Cara dia tersenyum saat kau tersenyum. Aku tidak pernah melihatnya seperti itu pada siapa pun sebelumnya."
Novi menangis. "Terima kasih, Rin. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
"Kau tidak perlu memikirkannya," kata Rina. "Aku akan selalu ada untukmu. Selamanya."
Sepanjang hari, Novi dan Rina tidak bisa berhenti berbicara tentang Angga. Rina ingin tahu semua detail. Bagaimana Angga mengatakannya. Di mana. Kapan. Apa yang Novi rasakan.
Novi menceritakan semuanya dengan senang hati. Ia merasa lega bisa berbagi dengan Rina. Rina adalah satu-satunya orang yang benar-benar ia percayai.
"Kau tahu, Novi," kata Rina. "Aku selalu percaya bahwa suatu hari kau akan menemukan seseorang yang menghargaimu. Dan sekarang, itu terjadi. Aku sangat bahagia untukmu."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
"Kau tidak perlu memikirkannya," kata Rina. "Aku akan selalu ada untukmu. Selamanya."
Novi menatap Rina dengan penuh rasa syukur. Rina adalah sahabat yang selalu ada, bahkan saat Novi mencoba menjauh. Rina adalah orang yang tidak pernah meninggalkannya, bahkan saat semua orang lain pergi.
"Rin," kata Novi. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?"
"Kenapa kau selalu ada untukku? Kenapa kau tidak pernah pergi?"
Rina tersenyum lembut. "Karena kau adalah sahabatku, Novi. Dan sahabat tidak pernah pergi. Tidak peduli seberapa sulit keadaan. Tidak peduli seberapa gelap malam. Aku akan selalu ada."
Novi memeluk Rina erat-erat. "Aku mencintaimu, Rin."
"Aku juga mencintaimu, Nov," kata Rina. "Selamanya."
Minggu berikutnya, Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di bukit. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Novi memejamkan mata di pelukan Angga. Untuk sesaat, ia merasa aman. Ia merasa bahwa mungkin, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia bisa benar-benar percaya. Bahwa ada seseorang yang tidak akan meninggalkannya.
Malam itu, Novi menulis surat untuk ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan.
"Ibu,
Aku tidak tahu apakah kau membaca ini. Mungkin tidak. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Aku tidak bisa melupakan apa yang kau lakukan. Tapi aku memaafkanmu.
Aku belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Aku belajar bahwa orang bisa pergi karena alasan yang tidak kita pahami. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan meskipun tanpa kau.
Ada seseorang yang datang ke hidupku. Dia membuatku percaya bahwa aku layak dicintai. Dia membuatku percaya bahwa aku bisa bahagia.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti ia akan pergi seperti kau. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya. Aku memilih untuk bahagia.
Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan. Meskipun aku belajar dengan cara yang sulit.
Novi"
Novi melipat surat itu dan menyimpannya di laci. Ia tidak akan mengirimkannya. Tetapi menulisnya terasa melegakan.
Novi mulai percaya bahwa ia bisa bahagia. Ia mulai percaya bahwa ia layak dicintai. Ia mulai percaya bahwa Angga mungkin benar-benar berbeda.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi. Seperti ibunya. Seperti semua orang.
Novi berusaha mengabaikan ketakutan itu. Ia berusaha menikmati setiap momen bersama Angga. Ia berusaha hidup.
Tetapi ketakutan itu selalu ada. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Suatu hari, Rina mengajak Novi ke kantin. Mereka duduk di sudut, menikmati es krim.
"Novi," kata Rina. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Kau benar-benar percaya pada Angga?" tanya Rina. "Aku tahu dia baik. Tapi aku ingin tahu apakah kau benar-benar percaya padanya."
Novi terdiam. Ia memikirkan pertanyaan itu.
"Aku... aku mencoba," kata Novi akhirnya. "Aku mencoba untuk percaya. Tapi kadang, ketakutan itu datang lagi. Ketakutan bahwa ia akan pergi seperti yang lain."
Rina memegang tangan Novi. "Novi, aku tahu ketakutanmu. Tapi kau harus percaya. Angga berbeda. Aku bisa melihatnya. Dia benar-benar mencintaimu."
"Kau yakin?" tanya Novi.
"Aku yakin," kata Rina. "Dan aku akan selalu ada untukmu. Apapun yang terjadi."
Novi tersenyum. "Terima kasih, Rin. Kau sahabat terbaik."
Rina menggenggam tangan Novi erat-erat. "Novi, dengarkan aku. Aku tidak pernah melihatmu sebahagia ini. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya, termasuk dirimu sendiri. Kau pantas bahagia. Kau pantas dicintai. Jadi berhentilah meragukan dirimu sendiri."
Novi menangis. "Aku mencoba, Rin. Aku benar-benar mencoba."
"Aku tahu," kata Rina. "Dan aku akan selalu ada untuk mengingatkanmu ketika kau lupa."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang Rina. Tentang sahabat yang selalu ada untuknya. Tentang orang yang tidak pernah meninggalkannya.
"Ada orang yang datang dan pergi. Ada orang yang tinggal selamanya. Kau adalah salah satu yang tinggal. Kau adalah sahabat yang selalu ada. Terima kasih untuk semua. Untuk tawa. Untuk tangis. Untuk kebersamaan. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Novi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Ia bersyukur memiliki Rina dalam hidupnya.
Ia memejamkan mata dan berdoa. Bukan doa kepada Tuhan yang tidak ia yakini, tetapi doa kepada semesta, kepada takdir, kepada apa pun yang mendengarkan. "Tolong jangan ambil Rina dariku. Tolong jangan ambil Angga dariku. Aku tidak bisa kehilangan mereka."
Hari-hari berlalu. Novi, Angga, dan Rina semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, bertiga, tertawa, bercerita, dan berbagi mimpi.
Novi merasa bahwa ia memiliki keluarga baru. Keluarga yang tidak pernah ia miliki sebelumnya. Keluarga yang tidak akan pernah meninggalkannya.
Tetapi di dalam hatinya, Novi tahu bahwa suatu hari nanti, semuanya akan berubah. Bahwa suatu hari nanti, ia harus menghadapi kenyataan yang lebih sulit.
Tetapi untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia. Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
BAB IX
Proyek Kelompok yang Mengubah Segalanya
Hari itu, Novi datang ke sekolah dengan perasaan yang ringan. Matanya berbinar, senyumnya mengembang, dan langkahnya terasa melayang. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Angga. Tentang kemarin sore ketika mereka berjalan pulang bersama. Tentang kata-kata manis yang diucapkan Angga di depan rumahnya. Tentang pelukan hangat yang terasa seperti rumah.
Novi masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas dengan uap tipis yang masih mengepul. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi membuka kertas itu dengan hati-hati. Tulisan tangan Angga yang rapi terbaca:
"Untuk Novi, yang membuat pagi lebih cerah. — A"
Novi tersenyum. Ia meminum cokelat itu perlahan, menikmati kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya. Rasanya manis. Rasanya seperti kebahagiaan.
Ia menoleh ke depan. Angga sedang duduk di bangkunya, berbicara dengan Bima. Angga menoleh dan tersenyum padanya. Novi membalas senyumnya.
Rina yang duduk di samping Novi melihat interaksi itu dan tersenyum licik.
"Kalian berdua benar-benar membuatku mual," kata Rina bercanda. "Tapi aku senang melihatmu bahagia, Novi."
Novi memerah. "Maaf, Rin. Aku tidak bisa menahan diri."
"Kau tidak perlu minta maaf," kata Rina. "Nikmati saja."
Bel masuk berbunyi. Bu Dewi, guru Bahasa Indonesia, masuk dengan langkah bersemangat. Hari ini, wajahnya terlihat lebih cerah dari biasanya.
"Anak-anak," kata Bu Dewi dengan suara ceria. "Hari ini kita akan memulai proyek besar. Kalian akan bekerja dalam kelompok untuk membuat antologi puisi. Setiap kelompok akan mengumpulkan puisi-puisi terbaik dan mempresentasikannya di depan kelas."
Semua siswa mulai bergumam. Beberapa terlihat bersemangat, beberapa terlihat malas.
"Kalian akan bekerja dalam kelompok yang sudah saya tentukan," lanjut Bu Dewi. "Saya sudah memikirkan komposisi terbaik agar kerja sama kalian berjalan lancar."
Bu Dewi mulai membaca daftar kelompok. Novi duduk tegang. Ia berharap bisa satu kelompok dengan Rina. Atau dengan Angga.
"Kelompok satu: Sarah, Nita, Bima, dan Andi."
"Kelompok dua: Rina, Dika, Sinta, dan Fajar."
Novi menahan napas. Rina tidak satu kelompok dengannya.
"Kelompok tiga: Novi, Angga, Rama, dan Lina."
Novi hampir tidak percaya. Ia satu kelompok dengan Angga. Jantungnya berdebar kencang. Ia menoleh ke depan. Angga menoleh ke belakang dan tersenyum padanya. Ia mengangkat ibu jarinya.
Rina yang di kelompok lain menepuk pundak Novi. "Beruntung sekali kau, Novi. Satu kelompok dengan Angga."
Novi memerah. "Tidak ada yang istimewa."
"Bohong," kata Rina tertawa. "Aku tahu kau senang."
Setelah pelajaran selesai, Angga mendekati meja Novi.
"Novi, kita satu kelompok," kata Angga dengan senyum lebar. "Aku senang."
"Aku juga," kata Novi pelan.
"Bagaimana kalau kita bertemu setelah sekolah untuk mengerjakan proyek?" tanya Angga. "Di rumah Bima, mungkin? Aku sudah bicara dengannya. Dia setuju."
Novi mengangguk. "Baik. Aku bisa."
"Bagus," kata Angga. "Aku akan menjemputmu."
Sore itu, Angga menjemput Novi di depan rumahnya. Ia datang dengan sepeda motor tua yang masih terawat. Novi naik ke belakang dan memegang bahu Angga. Sepeda motor melaju pelan melewati jalanan kota.
Rumah Bima tidak terlalu besar, tetapi nyaman. Halamannya dipenuhi dengan tanaman hijau dan bunga-bunga berwarna-warni. Di teras, ada ayunan kayu yang terlihat sering digunakan.
Novi dan Angga masuk ke dalam rumah. Bima sudah menunggu di ruang tamu dengan buku-buku berserakan di atas meja. Rama dan Lina, dua anggota kelompok lainnya, juga sudah datang.
"Novi!" sapa Bima ramah. "Ayo, masuk. Kita sudah siap."
Mereka duduk melingkar di ruang tamu. Bima membuka buku catatannya.
"Oke," kata Bima. "Kita perlu mengumpulkan puisi-puisi tentang cinta dan kehilangan. Menurutku, kita bagi tugas. Novi, kau yang ahli puisi. Kau bisa cari contoh puisi dan menulis beberapa puisi asli. Angga, kau yang paling vokal, kau yang presentasi. Rama dan Lina, kalian bisa membantu Novi mencari puisi dan mengedit."
Novi mengangguk. Angga duduk di sampingnya, sangat dekat. Novi bisa mencium aroma parfum Angga yang segar. Ia berusaha fokus pada buku di depannya, tetapi sulit.
"Novi," bisik Angga. "Kau baik-baik saja?"
Novi mengangguk cepat. "Ya. Aku hanya fokus."
Angga tersenyum. "Kau tahu, kau sangat lucu saat gugup."
Novi memerah. Ia menunduk lebih dalam ke bukunya.
Sepanjang diskusi, Angga dan Novi sering bertukar pandang. Ada semacam percakapan diam di antara mereka, sesuatu yang hanya mereka berdua yang mengerti. Bima, Rama, dan Lina saling melirik dengan senyum tahu.
"Baiklah," kata Bima akhirnya. "Aku rasa cukup untuk hari ini. Besok kita lanjut lagi."
Angga berdiri dan menawarkan tangan pada Novi. "Aku antar kau pulang."
Novi ragu, tetapi akhirnya menerima tangannya. Saat tangan mereka bersentuhan, ada aliran hangat yang menjalar ke seluruh tubuh Novi.
Di perjalanan pulang, Angga dan Novi berjalan berdampingan. Matahari mulai terbenam, menciptakan bayangan panjang di jalan.
"Novi," kata Angga. "Aku senang kita satu kelompok."
"Aku juga," kata Novi pelan.
"Kau tahu, aku suka saat kita bersama," kata Angga. "Aku merasa... tenang. Seolah semua masalah hilang."
Novi tersenyum. "Aku juga merasakan hal yang sama."
Mereka berhenti di depan rumah Novi. Angga menatap Novi dengan mata yang lembut.
"Besok aku akan datang dengan cokelat panas," kata Angga. "Seperti biasa."
"Terima kasih," kata Novi.
Angga tersenyum, lalu pergi. Novi berdiri di depan pintu rumahnya, memandang Angga pergi. Dadanya terasa hangat.
Malam itu, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka buku catatan dan mulai menulis puisi untuk proyek kelompok.
"Cinta datang seperti angin. Tanpa permisi. Tanpa aba-aba. Ia meniup lembut, membawa kehangatan. Dan ketika ia pergi, ia meninggalkan jejak. Jejak yang tidak pernah bisa dihapus. Jejak yang mengingatkan kita bahwa kita pernah hidup."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Puisi ini adalah tentang Angga. Tentang bagaimana ia datang ke hidupnya tanpa diduga. Tentang bagaimana ia meninggalkan jejak yang tidak akan pernah ia lupakan.
Keesokan harinya, Novi, Angga, dan kelompok mereka bertemu lagi di rumah Bima. Kali ini, mereka mulai mengerjakan proyek dengan lebih serius.
"Novi, puisi yang kau tulis kemarin sangat bagus," kata Bima. "Aku sudah membacanya."
Novi terkejut. "Kau sudah membacanya?"
"Aku minta ijin pada Angga," kata Bima. "Dia bilang boleh."
Novi menatap Angga. Angga tersenyum malu.
"Maaf, Novi," kata Angga. "Aku tidak bisa menahan diri. Aku ingin menunjukkan karyamu pada Bima. Puisimu indah."
Novi memerah. "Kau terlalu memujiku."
"Tidak," kata Bima. "Angga benar. Puisimu memang indah. Kita harus memasukkannya ke dalam antologi."
Novi tersenyum. Ia merasa bangga. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa tulisannya dihargai.
Minggu berikutnya, kelompok Novi dan Angga semakin kompak. Mereka sering bertemu di rumah Bima atau di perpustakaan. Novi menulis puisi-puisi baru. Angga mulai belajar membacakan puisi dengan intonasi yang tepat. Bima, Rama, dan Lina membantu mengedit dan mengatur antologi.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Kau tahu, aku tidak pernah tertarik pada puisi sebelumnya. Tapi sekarang, karena kau, aku mulai menyukainya."
Novi tersenyum. "Aku senang bisa membuatmu menyukai puisi."
"Puisimu membuatku ingin memahami perasaan," kata Angga. "Perasaan yang selama ini aku abaikan."
Mereka saling menatap. Ada kehangatan di antara mereka yang tidak perlu diucapkan.
Suatu sore, ketika mereka sedang mengerjakan proyek di rumah Bima, Angga tiba-tiba mengajak Novi ke atap rumah Bima. Dari atas, mereka bisa melihat seluruh lingkungan sekitar.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku tahu kita baru saja memulai hubungan ini," kata Angga. "Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku tidak ingin ini hanya hubungan sementara. Aku ingin ini menjadi sesuatu yang nyata."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga serius," kata Novi pelan. "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa memiliki hubungan seperti ini. Tapi denganmu, aku merasa aman. Aku merasa dicintai."
Angga memegang tangan Novi. "Aku akan selalu melindungimu, Novi. Aku akan selalu ada untukmu."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Proyek kelompok akhirnya selesai. Mereka mengumpulkan antologi puisi dengan judul "Cinta dan Kehilangan." Puisi-puisi Novi menjadi pusat dari antologi itu.
Hari presentasi tiba. Angga berdiri di depan kelas dengan percaya diri. Ia membacakan puisi-puisi Novi dengan intonasi yang tepat, dengan perasaan yang mendalam. Semua siswa terpesona. Bahkan Bu Dewi terlihat terharu.
"Luar biasa," kata Bu Dewi. "Ini adalah presentasi terbaik yang pernah saya lihat."
Novi tersenyum. Ia merasa bangga. Dan lebih dari itu, ia merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang berharga. Bukan hanya bakat menulisnya. Tetapi juga seseorang yang menghargainya.
Setelah presentasi, Angga dan Novi berjalan keluar dari kelas. Mereka berdua tersenyum.
"Kau hebat," kata Novi. "Aku tidak tahu kau bisa membaca puisi sebaik itu."
"Kau mengajariku," kata Angga. "Aku belajar dari cara kau menulis."
Novi memerah. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau melakukan segalanya," kata Angga. "Kau membuatku melihat dunia dengan cara yang berbeda."
Mereka berjalan bergandengan tangan. Tidak ada yang perlu diucapkan. Kebahagiaan mereka terasa seperti puisi yang tidak pernah selesai ditulis.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang proyek kelompok dan presentasi. Tentang bagaimana ia merasa dihargai untuk pertama kalinya. Tentang bagaimana Angga membuatnya percaya bahwa ia bisa menjadi siapa pun yang ia inginkan.
"Aku tidak pernah berpikir bahwa tulisanku akan dibaca orang lain. Aku tidak pernah berpikir bahwa kata-kataku akan berarti. Tapi kau datang. Dan kau membuatku percaya. Bahwa aku bisa menjadi penyair. Bahwa aku bisa menjadi diriku sendiri."
Novi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah menemukan jati dirinya.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga menghabiskan waktu bersama di bukit. Dari atas bukit, mereka bisa melihat seluruh kota. Matahari mulai terbenam, menciptakan gradasi warna yang indah.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa yang kau rasakan saat kau menulis?" tanya Angga. "Aku ingin memahami. Aku ingin merasakan apa yang kau rasakan."
Novi berpikir sejenak. "Saat aku menulis, aku merasa bebas. Aku bisa mengatakan apa pun yang aku inginkan. Aku bisa menjadi siapa pun yang aku inginkan. Tidak ada yang menghakimiku."
Angga mengangguk. "Aku ingin bisa merasakan itu."
"Kau bisa," kata Novi. "Cobalah. Tulis sesuatu. Apa pun."
Angga mengeluarkan selembar kertas dari sakunya dan mulai menulis. Novi menunggu dengan sabar.
Setelah beberapa saat, Angga menyerahkan kertas itu pada Novi.
"Aku tidak tahu cara menulis puisi. Tapi aku tahu cara mencintai. Dan aku mencintaimu, Novi. Dengan sepenuh hatiku."
Novi membaca tulisan Angga. Air mata mengalir di pipinya.
"Ini indah, Angga," kata Novi. "Ini adalah puisi terindah yang pernah kubaca."
Angga tersenyum. "Kau mengajariku. Kau membuatku menjadi penyair."
Mereka berpelukan. Di atas bukit yang indah, di bawah langit senja, mereka merasa bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang abadi.
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan puisi Angga. Kata-kata sederhana itu begitu berarti baginya.
"Aku tidak tahu cara menulis puisi. Tapi aku tahu cara mencintai."
Novi menangis. Bukan air mata sedih. Tetapi air mata bahagia. Ia merasa bahwa ia telah menemukan seseorang yang benar-benar mencintainya. Seseorang yang tidak akan pernah meninggalkannya.
Ia membuka buku catatannya dan menulis.
"Aku tidak tahu bahwa cinta bisa terasa seperti ini. Seperti puisi yang tidak pernah berakhir. Seperti senja yang tidak pernah pudar. Seperti pelukan yang tidak pernah lepas. Terima kasih, Angga. Karena telah mengajariku mencintai."
Keesokan harinya, Novi dan Angga bertemu di sekolah. Mereka tersenyum satu sama lain. Tidak ada yang perlu diucapkan. Semua sudah terasa sempurna.
Rina melihat mereka dan tersenyum. "Kalian berdua benar-benar membuatku iri," kata Rina bercanda. "Aku ingin cinta seperti itu."
"Kau akan menemukannya, Rin," kata Novi. "Suatu hari nanti."
Rina tersenyum. "Semoga."
Novi dan Angga bergandengan tangan. Mereka berjalan ke kelas bersama. Hari itu, semuanya terasa indah. Semuanya terasa mungkin.
Tetapi Novi tidak tahu bahwa di balik kebahagiaan ini, ada badai yang mulai mendekat. Bahwa suatu hari nanti, semuanya akan berubah. Bahwa ia harus menghadapi kehilangan yang lebih besar dari yang pernah ia bayangkan.
Tetapi untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia. Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
BAB X
Momen di Atap Sekolah
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kegembiraan di dadanya, semacam antisipasi yang tidak bisa ia sembunyikan. Hari ini adalah hari Jumat. Dan setelah sekolah, Angga berjanji akan mengajaknya ke suatu tempat. Ia tidak tahu ke mana, tetapi ia percaya pada Angga.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya berbinar. Senyumnya lebih mudah muncul. Bahkan rambutnya yang kusut terlihat lebih bercahaya.
"Kau terlihat bahagia," bisik Novi pada bayangannya. "Apa kau sadar?"
Ia tidak menunggu jawaban. Ia segera bersiap, memakai seragamnya dengan rapi, menyisir rambutnya, dan memakai sedikit lipstik. Ia ingin terlihat berbeda. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah ringan. Ia menyapa Rina dengan senyum lebar.
"Novi, kau kenapa?" tanya Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia," kata Novi. "Angga akan mengajakku ke suatu tempat setelah sekolah."
Rina tersenyum licik. "Oh? Ke mana?"
"Aku tidak tahu," kata Novi. "Dia bilang itu kejutan."
"Wah, romantis sekali," kata Rina. "Aku iri."
Novi tertawa. "Kau akan menemukan seseorang, Rin. Suatu hari nanti."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang pada Angga dan kejutan yang akan ia berikan. Ia membayangkan berbagai kemungkinan. Mungkin ke bukit lagi. Mungkin ke museum. Mungkin ke tempat yang belum pernah ia kunjungi.
Novi menggigit kukunya, kebiasaan buruk yang muncul saat ia gugup. Rina melihatnya dari samping dan tersenyum.
"Novi, kau gugup?" bisik Rina.
Novi mengangguk. "Aku tidak sabar menunggu."
"Tenang," kata Rina. "Waktu akan berlalu dengan cepat."
Novi menghela napas. Ia berusaha fokus pada pelajaran, tetapi pikirannya terus melayang.
Bel pulang berbunyi. Novi segera mengemas tasnya dan berjalan ke gerbang sekolah. Angga sudah menunggunya di sana, bersandar pada tiang pagar dengan senyum di wajahnya.
"Novi," sapa Angga. "Kau siap?"
Novi mengangguk. "Siap. Ke mana kita?"
"Kau akan lihat," kata Angga. "Ikuti aku."
Mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah. Angga membawa Novi melewati jalanan yang tidak pernah ia lewati sebelumnya. Mereka melewati pasar yang mulai sepi, melewati gang-gang kecil, melewati rumah-rumah tua dengan arsitektur kuno.
"Di mana kita?" tanya Novi penasaran.
"Kita hampir sampai," kata Angga.
Mereka berhenti di depan sebuah bangunan tua yang tampak seperti gedung kosong. Bangunan itu memiliki arsitektur kolonial dengan dinding yang mulai mengelupas dan jendela-jendela besar yang berdebu.
"Ini tempatnya?" tanya Novi bingung.
Angga tersenyum. "Ini adalah atap sekolah. Sekolah lama yang sudah tidak digunakan lagi. Aku menemukannya beberapa minggu lalu. Dari sini, pemandangannya indah."
Mereka masuk ke dalam gedung melalui pintu samping yang tidak terkunci. Tangga kayu berderit di bawah kaki mereka. Debu berterbangan di udara. Novi sedikit takut, tetapi Angga memegang tangannya dengan erat.
"Hati-hati," kata Angga. "Tangganya agak rusak."
Mereka naik ke lantai paling atas. Angga membuka pintu yang menuju ke atap. Cahaya matahari sore menyinari mereka.
Novi terkesima. Dari atas, mereka bisa melihat seluruh kota. Rumah-rumah tampak kecil seperti mainan. Pohon-pohon tampak seperti semak-semak. Jalanan tampak seperti pita-pita kecil yang meliuk-liuk. Dan di kejauhan, gunung-gunung tampak seperti lukisan.
"Ini... indah," kata Novi. "Sungguh indah."
"Aku tahu kau akan menyukainya," kata Angga. "Aku sering ke sini saat aku merasa bingung. Dari sini, aku bisa melihat semuanya. Dan aku merasa bahwa dunia ini luas. Bahwa aku tidak perlu terjebak dalam kesepian."
Novi menatap Angga. "Kau selalu membawa aku ke tempat-tempat indah."
"Karena kau pantas melihat hal-hal indah," kata Angga. "Kau pantas bahagia."
Mereka duduk di tepi atap, kaki mereka menggantung di udara. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan gradasi warna yang indah. Jingga, merah, ungu, dan emas bercampur menjadi satu.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku tahu kita baru saja mulai," kata Angga. "Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku tidak ingin ini hanya hubungan sementara. Aku ingin ini menjadi sesuatu yang nyata."
Novi menatap Angga. Matanya berkaca-kaca.
"Aku juga serius," kata Novi pelan. "Aku tidak pernah berpikir bahwa aku bisa memiliki hubungan seperti ini. Tapi denganmu, aku merasa aman. Aku merasa dicintai."
Angga memegang tangan Novi. "Aku akan selalu melindungimu, Novi. Aku akan selalu ada untukmu."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
Mereka duduk diam beberapa saat, menikmati pemandangan senja. Burung-burung mulai pulang ke sarang mereka. Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Apa kau percaya pada takdir?"
Novi berpikir sejenak. "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah berpikir tentang takdir."
"Aku percaya," kata Angga. "Aku percaya bahwa kita bertemu karena suatu alasan. Bahwa ada yang merencanakan pertemuan kita."
Novi tersenyum. "Mungkin. Atau mungkin kita hanya beruntung."
"Mungkin keduanya," kata Angga.
Mereka tertawa kecil. Di bawah langit senja yang indah, mereka merasa bahwa mereka telah menemukan sesuatu yang abadi.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Ceritakan tentang mimpimu," kata Angga. "Apa yang ingin kau lakukan setelah lulus?"
Novi berpikir sejenak. "Aku ingin menjadi penulis puisi. Mungkin menerbitkan buku suatu hari nanti. Tapi itu hanya mimpi."
"Tidak ada yang terlalu kecil untuk diimpikan, Novi," kata Angga. "Dan menurutku, kau bisa mewujudkannya. Puisimu indah."
Novi tersenyum. "Kau terlalu baik."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Mimpiku juga sederhana. Aku ingin kuliah di luar negeri. Jepang. Aku ingin belajar tentang teknologi dan membawa pulang ilmu untuk negaraku."
"Jepang?" Novi terkejut. "Jauh sekali."
"Ya," kata Angga. "Tapi itu impianku sejak kecil."
Mereka diam sejenak. Novi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Jika Angga pergi ke Jepang, ia akan pergi jauh. Mereka mungkin tidak akan bertemu lagi.
"Novi," kata Angga tiba-tiba. "Aku suka bersamamu. Aku tidak tahu mengapa, tapi setiap kali aku bersamamu, aku merasa seperti diriku sendiri."
"Aku juga," kata Novi pelan.
Angga menatap Novi. Matanya lembut. "Suatu hari, aku akan membeli buku puisimu. Dan aku akan membacanya di Jepang, mengingatmu."
Novi tersenyum, meskipun hatinya terasa sesak. "Aku akan menulis puisi untukmu."
"Janji?" tanya Angga.
"Janji," jawab Novi.
Mereka berjabat tangan kecil, seperti anak-anak yang membuat perjanjian rahasia. Di bawah langit senja, di atap sekolah tua, ada sesuatu yang baru lahir di antara mereka.
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih berani. Ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa mencintai tanpa takut.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada suara kecil yang berbisik.
"Jangan terlalu berharap. Semua orang pergi pada akhirnya."
Novi mengabaikan suara itu. Untuk saat ini, ia memilih untuk bahagia.
Untuk saat ini, ia memilih untuk percaya.
Di kamarnya, Novi menulis puisi tentang atap sekolah dan langit senja. Tentang seorang anak baru yang mengajarinya untuk bermimpi. Tentang janji yang mereka buat di bawah langit yang berwarna jingga.
"Di atap sekolah tua, kita berbicara tentang mimpi. Tentang buku yang akan kutulis. Tentang Jepang yang akan kau datangi. Kita berjanji untuk tidak melupakan. Kita berjanji untuk selalu mengingat. Aku tidak tahu apakah janji itu akan bertahan. Tapi untuk saat ini, aku memilih untuk percaya."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya, ia tidak menulis tentang kehilangan. Ia menulis tentang harapan.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di perpustakaan, di taman, atau di atap sekolah tua. Novi mulai terbuka tentang masa lalunya. Tentang ibunya yang pergi. Tentang ayahnya yang sibuk. Tentang kesepian yang ia rasakan bertahun-tahun.
Angga mendengarkan dengan sabar. Ia tidak menghakimi. Ia tidak memberi nasihat. Ia hanya mendengarkan.
"Kenapa kau tidak pergi?" tanya Novi suatu hari. "Aku sudah menceritakan semua hal buruk tentang diriku. Kenapa kau masih di sini?"
Angga tersenyum. "Karena aku tidak peduli dengan masa lalumu. Aku peduli dengan siapa dirimu sekarang. Dan siapa dirimu sekarang adalah seseorang yang berani, seseorang yang jujur, seseorang yang pantas dicintai."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Kau tidak perlu takut," bisik Angga. "Aku di sini."
Suatu sore, Angga mengajak Novi ke atap sekolah tua lagi. Kali ini, ia membawa sesuatu. Sebuah buku catatan baru, masih kosong, dengan sampul berwarna biru laut.
"Ini untukmu," kata Angga. "Untuk menulis puisi-puisi baru. Puisi tentang kebahagiaan."
Novi menerima buku itu dengan hati-hati. "Terima kasih, Angga. Ini sangat berarti."
"Kau pantas memiliki buku yang indah," kata Angga. "Untuk menulis hal-hal yang indah."
Novi membuka buku itu dan menulis baris pertama.
"Aku tidak tahu bahwa kebahagiaan bisa terasa seperti ini. Tapi sekarang aku tahu. Dan aku tidak ingin melupakannya."
Angga membaca tulisan Novi dan tersenyum.
"Itu indah, Novi. Aku bangga padamu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang buku catatan biru yang diberikan Angga. Tentang seorang anak baru yang memberinya harapan. Tentang kebahagiaan yang mulai ia rasakan.
"Ada buku biru di tanganku. Kosong, menunggu kata-kata. Kata-kata tentang kebahagiaan. Kata-kata tentang cinta. Kata-kata tentang kau. Aku akan mengisinya dengan cerita kita. Cerita tentang pertemuan. Cerita tentang janji. Cerita tentang cinta yang tidak pernah berakhir."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Bukan air mata sedih. Tetapi air mata bahagia.
Hari-hari berlalu. Novi dan Angga semakin dekat. Mereka sering menghabiskan waktu bersama di atap sekolah tua, berbicara tentang mimpi dan harapan. Novi mulai percaya bahwa ia bisa bahagia. Ia mulai percaya bahwa ia layak dicintai.
Tetapi di dalam hatinya yang paling dalam, ada ketakutan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ketakutan bahwa suatu hari nanti, Angga akan pergi. Seperti ibunya. Seperti semua orang.
Novi berusaha mengabaikan ketakutan itu. Ia berusaha menikmati setiap momen bersama Angga. Ia berusaha hidup.
Tetapi ketakutan itu selalu ada. Seperti bayangan yang tidak pernah pergi.
Suatu hari, Angga mengajak Novi ke atap sekolah tua untuk terakhir kalinya. Ia terlihat berbeda. Ada kesedihan di matanya yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Novi," kata Angga. "Aku harus mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?" tanya Novi. Dadanya berdebar kencang.
"Aku... aku mendapat beasiswa," kata Angga. "Ke Jepang. Aku akan pergi dalam tiga bulan."
Novi terkejut. Dunianya terasa berhenti berputar.
"Tiga bulan?" bisik Novi. "Itu terlalu cepat."
"Aku tidak bisa menolaknya, Novi," kata Angga. "Ini impianku sejak kecil."
"Aku tahu," kata Novi. "Tapi..."
Novi ingin berkata, "Tapi aku tidak mau kau pergi." Ia ingin berkata, "Tapi aku mencintaimu." Ia ingin berkata, "Tapi aku belum siap kehilanganmu."
Tetapi kata-kata itu tidak keluar. Mulutnya terkunci. Air mata mengalir di pipinya.
Angga menatapnya dengan lembut. "Apa yang ingin kau katakan, Novi?"
Novi hanya diam. Ia terlalu takut untuk mengucapkan kata-kata itu.
"Kau tidak perlu berkata apa pun," kata Angga. "Aku sudah tahu perasaanmu. Tapi aku tidak bisa terus menunggu, Novi. Aku harus pergi."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku akan kembali," bisik Angga. "Aku berjanji. Aku akan kembali untukmu."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi aku akan mencoba. Aku akan berusaha kembali padamu."
Novi memeluk Angga erat-erat. Ia tidak ingin melepaskannya. Ia tidak ingin kehilangannya.
"Aku mencintaimu," bisik Novi. "Aku mencintaimu, Angga."
"Aku juga mencintaimu," bisik Angga. "Aku selalu mencintaimu."
Di atas atap sekolah tua, di bawah langit yang mulai gelap, mereka berpelukan. Mereka berjanji pada satu sama lain. Mereka berjanji bahwa mereka akan tetap bersama, meskipun jarak memisahkan mereka.
Tetapi Novi tidak tahu bahwa janji itu tidak akan mudah ditepati.
BAB XI
Kenangan Ibu
Malam itu, Novi tidak bisa tidur.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mendengar suara jangkrik di luar jendela yang bernyanyi tanpa lelah. Biasanya, suara itu menenangkannya. Tapi malam ini, suara itu hanya mengingatkannya pada kesunyian yang semakin dalam di dalam dadanya. Pikirannya terus berputar pada satu hal: kepergian Angga.
"Tiga bulan," bisik Novi pada dirinya sendiri, suaranya hampir tidak terdengar di kegelapan. "Tiga bulan lagi ia akan pergi."
Ia memeluk bantalnya erat-erat, seolah-olah bantal itu bisa menggantikan kehangatan yang akan hilang. Air mata mengalir di pipinya, membasahi sarung bantal yang sudah usang. Ia tidak bisa membayangkan hidup tanpa Angga. Angga yang datang dengan cokelat panas setiap pagi, seolah-olah itu adalah ritual yang tidak pernah boleh terlewat. Angga yang selalu tersenyum padanya, senyum yang terlalu terang, senyum yang membuatnya percaya bahwa dunia ini mungkin tidak seburuk yang ia kira. Angga yang membuatnya percaya bahwa ia layak dicintai, bahwa ada seseorang yang benar-benar melihatnya—bukan bayangan di pojok kelas, tetapi dirinya yang sebenarnya.
"Kenapa harus pergi?" bisik Novi, suaranya pecah. "Kenapa semua orang selalu pergi?"
Ia teringat pada ibunya. Ibunya juga pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Suatu hari, ibunya ada. Dan keesokan harinya, ia hanya tinggal kenangan. Ibunya hanya menghilang dari hidupnya, meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh. Luka yang ia pikir sudah mulai mengering, tetapi ternyata masih berdarah setiap kali ia mengingatnya.
Novi menangis semakin keras. Tangisnya pecah, tidak terkendali. Ia merasa seperti anak kecil yang kehilangan ibunya lagi. Ia merasa seperti ditinggalkan. Tidak diinginkan. Tidak dicintai. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan dirinya, sesuatu yang membuat orang-orang pergi. Sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki, tidak peduli seberapa keras ia mencoba.
"Kenapa?" isak Novi. "Kenapa aku selalu ditinggalkan?"
Tidak ada yang menjawab. Hanya suara jangkrik yang terus bernyanyi, tidak peduli dengan air matanya.
Novi bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang lambat dan berat, seolah-olah tubuhnya terbuat dari timah. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu kacau, terlalu penuh dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab. Ia berjalan ke ruang tamu dan duduk di sofa tua yang sudah kusam, yang kenopnya sudah lepas dan kainnya sudah luntur dimakan usia. Rumahnya gelap dan sunyi. Ayahnya belum pulang dari kerja. Seperti biasa. Seperti selalu.
Ia menatap foto-foto di dinding. Foto keluarganya saat masih utuh—masa ketika rumah ini masih dipenuhi tawa, ketika meja makan masih diisi lebih dari satu piring, ketika ada seseorang yang menunggunya pulang sekolah. Foto ibunya yang tersenyum, dengan rambut panjang yang tergerai dan mata yang berbinar. Foto dirinya sendiri saat masih kecil, dengan rambut diikat dua dan senyum lebar yang memperlihatkan gigi susunya yang ompong. Novi kecil yang tidak tahu bahwa dunia akan berubah. Novi kecil yang tidak tahu bahwa suatu hari nanti, senyum itu akan hilang.
Novi meraih foto itu dan memeluknya erat-erat. Bingkai fotonya dingin di tangannya, tetapi ia tidak peduli.
"Kenapa kau pergi, Bu?" bisik Novi, suaranya pecah di tengah keheningan. "Kenapa kau meninggalkanku? Apa yang salah denganku? Apa yang aku lakukan?"
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti rumah itu. Keheningan yang begitu pekat sehingga ia bisa mendengar debu-debu beterbangan di udara. Keheningan yang mengingatkannya bahwa ia sendirian. Bahwa ia selalu sendirian.
Novi teringat pada hari ketika ibunya pergi. Saat itu, ia baru berusia sepuluh tahun. Hari itu seperti hari-hari biasa lainnya—ia pulang sekolah dengan tas yang berat di pundaknya, perut keroncongan menunggu makan siang buatan ibu. Tetapi ketika ia membuka pintu rumah, yang ia temui bukanlah aroma masakan ibu atau suara ibu yang memanggilnya dari dapur. Hanya keheningan. Keheningan yang aneh, yang tidak seperti biasanya.
Biasanya, ibunya selalu menunggunya di depan pintu dengan senyum dan pertanyaan tentang bagaimana harinya. Ibu akan membantu melepas tasnya, mengusap rambutnya yang kusut, dan bertanya apakah ia sudah makan siang. Tetapi hari itu, tidak ada siapa pun.
Novi mencari ibunya di seluruh rumah. Di dapur, panci-panci masih tergantung di raknya, tetapi kompor dingin. Di kamar tidur, tempat tidur sudah dirapikan, tetapi lemari pakaian terbuka dan beberapa gantungan kosong. Di belakang rumah, jemuran masih tergantung, tetapi tidak ada suara ibu yang menyapu halaman. Tidak ada jejak ibunya sama sekali. Seolah-olah ia telah menghilang begitu saja.
Ia menunggu sampai malam. Menunggu di teras depan dengan dagu bertumpu pada tangannya, matanya menatap ujung jalan tempat ibunya biasanya muncul. Setiap kali ada suara langkah kaki, hatinya berdebar. Setiap kali ada bayangan di kejauhan, ia berharap itu adalah ibunya. Tetapi malam semakin larut, dan ibunya tidak datang.
Ayahnya pulang dengan wajah pucat. Wajah yang biasanya tenang dan tegas, kini tampak seperti orang yang baru saja kehilangan segalanya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia tidak memberi penjelasan. Ia hanya memeluk Novi dan menangis—menangis seperti orang yang kehilangan separuh dirinya.
Sejak hari itu, ibunya tidak pernah kembali.
Novi tidak pernah tahu mengapa ibunya pergi. Ia tidak pernah mendapat penjelasan. Ia hanya tahu bahwa ibunya meninggalkannya. Dan sejak itu, ia belajar bahwa cinta adalah hal yang berbahaya. Bahwa jika ia mencintai seseorang, orang itu akan pergi. Bahwa semakin dalam ia mencintai, semakin besar rasa sakit yang akan ia rasakan saat orang itu meninggalkannya.
Novi meletakkan foto itu dengan hati-hati, seolah-olah ia takut merusaknya, dan berjalan ke kamar ibunya. Kamar itu sudah tidak digunakan sejak ibunya pergi—selama sepuluh tahun, pintunya selalu tertutup, seolah-olah menyegel semua kenangan di dalamnya. Debu menutupi semua permukaan, menciptakan lapisan abu-abu yang tebal di atas meja rias, lemari, dan tempat tidur yang sudah tidak terpakai. Bau apek memenuhi ruangan, bau waktu yang berlalu tanpa kehadiran.
Novi membuka lemari ibunya. Pakaian-pakaian ibu masih tergantung di sana—gaun-gaun sederhana yang dulu sering ia lihat, jaket yang masih menggantung di gantungannya, selendang yang dulu sering ia pinjam untuk bermain peran. Novi menciumnya, berharap masih ada aroma ibunya—aroma bunga melati yang selalu melekat di pakaian ibu. Tetapi yang ia rasakan hanyalah bau debu dan waktu. Bau kehilangan yang sudah terlalu lama.
Ia menemukan sebuah kotak kecil di sudut lemari, tersembunyi di balik tumpukan selimut tua yang tidak pernah digunakan. Kotak itu terbuat dari kayu jati, dengan ukiran bunga-bunga kecil di permukaannya—ukiran yang tampak dibuat dengan tangan, dengan ketidaksempurnaan yang menunjukkan kerajinan tangan yang penuh cinta. Novi membukanya dengan hati-hati, seolah-olah ia takut apa yang akan ia temukan di dalamnya.
Di dalam kotak, ada surat-surat tua. Surat-surat yang ditulis oleh ibunya. Kertasnya sudah menguning dan rapuh, tintanya sudah mulai pudar. Tetapi kata-kata di dalamnya masih jelas. Novi membacanya satu per satu, jari-jarinya gemetar.
"Untuk Novi, putriku yang tercinta..."
Novi menangis. Ia membaca surat-surat itu dengan hati yang hancur, dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Ibunya menulis tentang cinta. Tentang harapan. Tentang kebahagiaan. Tentang bagaimana ia ingin Novi tumbuh menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Tentang semua mimpi yang ia miliki untuk putrinya.
"Saat kau lahir, aku menangis. Bukan karena sakit, tetapi karena aku tidak percaya bahwa aku bisa menciptakan sesuatu yang begitu sempurna. Aku memegangmu di tanganku, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan melindungimu dari segala kejahatan dunia. Aku tidak tahu bahwa kejahatan terbesar yang akan kau hadapi adalah kepergianku sendiri."
Novi memeluk surat itu erat-erat, seolah-olah dengan memeluknya, ia bisa memeluk ibunya.
"Aku tidak tahu apakah aku akan selalu ada untukmu, Novi. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku selalu mencintaimu. Tidak peduli seberapa jauh aku dari mu, cintaku tidak akan pernah pudar. Tidak peduli berapa tahun berlalu, kau akan selalu menjadi putriku. Dan aku akan selalu bangga padamu."
"Aku juga mencintaimu, Bu," bisik Novi, suaranya pecah. "Aku selalu mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, meskipun aku marah. Meskipun aku kecewa. Meskipun aku merasa ditinggalkan."
Novi menghabiskan malam itu membaca surat-surat ibunya. Satu per satu, ia membuka amplop yang sudah menguning, membaca kata-kata yang ditulis bertahun-tahun lalu. Ia belajar banyak hal tentang ibunya yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.
Ibunya juga pernah merasa kesepian. Dalam salah satu suratnya, ibunya menulis tentang bagaimana ia merasa asing di rumahnya sendiri setelah menikah, tentang bagaimana ia merindukan kampung halamannya, tentang bagaimana ia kadang menangis di kamar mandi karena ia tidak tahu bagaimana menjadi istri dan ibu yang baik.
Ibunya juga pernah merasa tidak dicintai. Ia menulis tentang bagaimana ayahnya sering pulang larut dan jarang berbicara dengannya, tentang bagaimana ia merasa bahwa ia adalah penghuni kedua di rumahnya sendiri.
Ibunya juga pernah takut. Takut bahwa ia tidak cukup baik. Takut bahwa ia akan gagal sebagai ibu. Takut bahwa Novi akan tumbuh dan membencinya.
"Aku sering merasa bahwa aku tidak cukup baik untuk menjadi ibumu, Novi. Aku sering merasa bahwa aku tidak pantas memiliki anak sebaik kau. Tapi aku mencoba. Aku selalu mencoba. Dan aku harap suatu hari nanti, kau akan memaafkanku. Bukan karena aku layak dimaafkan, tetapi karena kau pantas untuk melepaskan beban ini."
Novi menangis. Ia menangis untuk ibunya. Ia menangis untuk dirinya sendiri. Ia menangis untuk semua tahun yang hilang, untuk semua kata yang tidak pernah terucap, untuk semua pelukan yang tidak pernah diberikan.
Ia memaafkan ibunya. Ia memaafkan ibunya karena pergi. Ia memaafkan ibunya karena meninggalkannya. Ia memaafkan ibunya karena tidak pernah memberi penjelasan. Ia memaafkan ibunya karena semua hal yang tidak ia berikan padanya.
"Kau cukup baik, Bu," bisik Novi, suaranya bergetar tetapi penuh keyakinan. "Kau selalu cukup baik. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Ia memeluk surat-surat itu erat-erat, merasakan kehangatan yang aneh di dadanya. Kehangatan yang mungkin adalah awal dari penyembuhan.
Keesokan paginya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kelegaan di dadanya, semacam beban yang mulai terangkat. Ia telah membaca surat-surat ibunya. Ia telah memaafkan ibunya. Ia telah belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Ibunya pergi karena ia sakit—bukan karena Novi tidak cukup baik, bukan karena Novi tidak layak dicintai, tetapi karena ibunya sedang berjuang melawan iblis yang tidak bisa ia kalahkan.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu. Ia menatap bayangannya sendiri—rambutnya yang kusut, matanya yang sembab karena menangis, pipinya yang masih basah oleh air mata. Tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ada semacam kedamaian yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada semacam penerimaan yang mulai tumbuh di dalam hatinya.
"Aku memaafkanmu, Bu," kata Novi pada bayangannya, suaranya tenang dan pasti. "Aku memaafkanmu karena pergi. Aku memaafkanmu karena tidak pernah memberi tahu aku mengapa. Aku memaafkanmu karena semua hal yang tidak kau berikan padaku. Dan aku memaafkan diriku sendiri karena selama ini aku menyalahkan diriku sendiri. Aku akan melanjutkan hidupku. Aku akan kuat. Aku akan bahagia. Itu yang kau inginkan untukku, bukan?"
Ia menatap bayangannya yang mulai tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Novi merasa bahwa ia mungkin bisa baik-baik saja.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Angga di koridor. Angga tersenyum padanya, tetapi Novi bisa melihat kesedihan di balik senyum itu. Matanya yang biasanya berbinar, kini terlihat sayu. Senyumnya yang biasanya lebar, kini hanya sedikit mengangkat sudut bibirnya. Angga juga takut. Angga juga cemas. Angga juga tidak ingin berpisah.
"Novi," sapa Angga, suaranya lembut. "Kau baik-baik saja? Kau terlihat lelah."
"Aku baik-baik saja," kata Novi, dan kali ini, ia hampir percaya pada kata-katanya sendiri. "Aku hanya tidak bisa tidur semalam. Aku menemukan surat-surat ibuku."
Angga memegang tangan Novi, dan kehangatan tangannya menyebar ke seluruh tubuh Novi. "Aku juga tidak bisa tidur. Aku tidak bisa berhenti memikirkan kepergianku."
"Angga," kata Novi, dan kali ini, ada keberanian dalam suaranya. "Aku ingin bicara denganmu. Aku ingin menceritakan sesuatu."
"Tentu," kata Angga. "Setelah sekolah?"
Novi mengangguk. "Setelah sekolah. Aku akan menunggumu di taman."
Sore itu, Novi dan Angga pergi ke taman kota. Mereka duduk di bangku dekat kolam air mancur, tempat yang sama yang selalu mereka kunjungi. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah sinar matahari sore yang mulai meredup. Burung-burung berkicau di pepohonan, dan angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan rumput yang baru disiram.
"Angga," kata Novi, setelah beberapa saat hening. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Angga, menatapnya dengan penuh perhatian.
"Aku memaafkan ibuku," kata Novi, dan ketika kata-kata itu keluar, ia merasa seperti ada beban yang terangkat dari pundaknya. "Aku membaca surat-suratnya semalam. Dan aku memaafkannya."
Angga terkejut, matanya melebar. "Apa yang membuatmu berubah pikiran? Kau bilang kau belum siap untuk itu."
"Aku menyadari bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai," kata Novi, dan ia merasakan keyakinan yang tumbuh di dalam dirinya. "Ibuku pergi karena alasannya sendiri. Tapi ia tetap mencintaiku. Aku tahu itu sekarang. Aku membacanya dalam kata-katanya. Ia menulis tentang bagaimana ia memelukku saat aku lahir, tentang bagaimana ia berjanji untuk melindungiku, tentang bagaimana ia menangis setiap kali ia memikirkan aku. Ia tidak pergi karena aku tidak cukup baik. Ia pergi karena ia sedang berjuang melawan penyakitnya."
Angga memegang tangan Novi, menggenggamnya erat-erat. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar. Kau baru saja melakukan sesuatu yang sangat sulit."
"Aku juga ingin memaafkan diriku sendiri," kata Novi, dan air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku ingin berhenti menyalahkan diriku sendiri atas kepergiannya. Aku ingin berhenti takut bahwa semua orang akan pergi. Aku ingin berhenti menjadi bayangan yang takut pada cahaya."
Angga menatap Novi dengan mata yang dalam. "Dan bagaimana dengan aku? Apakah kau masih takut aku akan pergi?"
Novi terdiam. Ia menatap air mancur di depannya, melihat bagaimana air memancar ke atas lalu jatuh kembali ke kolam, membentuk lingkaran-lingkaran yang semakin melebar. Seperti cinta, pikirnya. Seperti kepergian. Seperti semua yang ia takuti.
"Aku masih takut," kata Novi akhirnya, dan ia merasakan kejujuran yang membebaskannya. "Tapi aku mencoba untuk percaya. Aku mencoba untuk percaya bahwa kau akan kembali. Aku mencoba untuk percaya bahwa tidak semua orang pergi. Aku mencoba untuk percaya bahwa aku layak untuk dicintai."
Angga tersenyum, dan kali ini, senyumnya mencapai matanya. "Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji. Dan aku akan membuktikan padamu bahwa tidak semua orang pergi."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang ibunya. Tentang kepergian yang tidak pernah ia pahami. Tentang maaf yang akhirnya ia berikan. Tentang cinta yang tidak pernah pudar meskipun jarak memisahkan. Ia menulis dengan pena yang sama yang ia gunakan untuk menulis puisi-puisi sedihnya, tetapi kali ini, kata-katanya berbeda. Ada kelegaan di dalamnya. Ada penerimaan. Ada harapan.
"Ibu pergi tanpa pamit.
Tanpa penjelasan.
Tanpa kabar.
Aku tumbuh dengan luka di hati.
Bertanya-tanya apa yang salah denganku.
Bertanya-tanya mengapa aku tidak cukup baik untuk membuatmu tinggal.
Tapi sekarang aku tahu.
Kepergian bukan karena aku.
Kepergian karena kau sakit.
Karena kau berjuang melawan iblis yang tidak bisa kau kalahkan.
Karena kau mencintaiku terlalu dalam untuk membiarkanku melihatmu hancur.
Dan aku memaafkanmu.
Aku memaafkan ibu.
Aku memaafkan diriku sendiri.
Aku memaafkan semua yang telah pergi.
Karena aku tahu bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi.
Cinta hanya berubah bentuk.
Dari kehadiran menjadi kenangan.
Dari pelukan menjadi doa.
Dari kata-kata menjadi perasaan yang tidak pernah pudar.
Aku mencintaimu, Bu.
Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata pelepasan. Air mata yang mengatakan bahwa ia akhirnya bisa melepaskan beban yang ia pikul selama sepuluh tahun. Air mata yang mengatakan bahwa ia sudah siap untuk melanjutkan hidup.
Minggu berikutnya, Novi mulai lebih terbuka tentang masa lalunya. Ia menceritakan pada Angga tentang ibunya—tentang kepergian yang tidak pernah ia pahami, tentang rasa sakit yang ia simpan bertahun-tahun, tentang bagaimana ia belajar bahwa cinta adalah hal yang berbahaya.
"Setelah ibuku pergi, aku merasa bahwa aku tidak layak dicintai," kata Novi, dan untuk pertama kalinya, ia mengatakan kata-kata itu tanpa menangis. "Aku merasa bahwa jika ibuku saja bisa pergi, orang lain pasti lebih mudah melakukannya. Aku merasa bahwa ada sesuatu yang salah denganku, sesuatu yang membuat orang-orang pergi."
Angga memegang tangan Novi, menggenggamnya erat-erat. "Itu tidak benar, Novi. Kau layak dicintai. Kau lebih dari layak. Ibumu pergi karena ia sakit, bukan karena kau tidak cukup baik."
"Bagaimana aku bisa percaya itu?" tanya Novi. "Setelah semua yang terjadi? Setelah bertahun-tahun berpikir bahwa aku adalah penyebabnya?"
"Karena aku di sini," kata Angga, dan matanya berbinar dengan keyakinan. "Aku di sini, dan aku tidak akan pergi. Aku akan membuktikannya padamu, hari demi hari, sampai kau benar-benar percaya."
Novi tersenyum, dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa percaya. "Terima kasih, Angga. Kau selalu membuatku merasa lebih baik. Kau selalu membuatku percaya bahwa mungkin, mungkin aku layak untuk dicintai."
Suatu hari, Novi dan Angga pergi ke rumah Novi. Rumah itu kecil dan sederhana, dengan pagar putih yang mulai mengelupas dan cat dinding yang sudah kusam. Halaman depannya tidak terawat, dengan rumput liar yang tumbuh di antara bebatuan. Tetapi bagi Novi, ini adalah rumahnya. Satu-satunya rumah yang ia kenal.
Novi memperkenalkan Angga pada ayahnya. Ayahnya adalah pria yang pendiam dan sibuk, dengan rambut yang mulai memutih dan kerutan di wajahnya yang menunjukkan kelelahan bertahun-tahun. Tetapi ketika ia melihat Angga, ia tersenyum—senyum yang jarang muncul di wajahnya.
"Kau Angga?" tanya ayah Novi, dengan suara yang lebih hangat dari biasanya. "Novi sering bercerita tentangmu."
Angga tersenyum, dan untuk pertama kalinya, ia terlihat sedikit gugup. "Senang bertemu dengan Bapak. Novi sering bercerita tentang Bapak juga."
"Terima kasih telah membuat Novi bahagia," kata ayah Novi, dan suaranya bergetar sedikit. "Aku sudah lama tidak melihatnya tersenyum seperti ini. Sudah lama sejak ibunya pergi."
Novi memerah, merasakan hangat di pipinya. "Ayah!"
Ayah Novi tertawa—tawa yang jarang ia dengar. "Apa? Aku hanya jujur."
Mereka duduk di ruang tamu yang sederhana, dengan sofa tua yang sudah kusam dan meja kayu yang tergores-gores. Ayah Novi membuat teh untuk mereka—teh hangat yang rasanya sederhana tetapi mengingatkan Novi pada masa kecilnya. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan. Tentang semua yang telah terjadi dan semua yang akan terjadi.
"Kau akan pergi ke Jepang?" tanya ayah Novi pada Angga, dengan nada yang lebih serius.
Angga mengangguk. "Ya, Pak. Aku mendapat beasiswa. Aku akan pergi setelah kelulusan."
"Wah, hebat," kata ayah Novi, tetapi ada kesedihan di matanya. "Novi pasti akan merindukanmu."
Novi menunduk, merasakan dadanya sesak. Ia tidak ingin memikirkan kepergian Angga. Ia tidak ingin memikirkan bagaimana rasanya bangun pagi tanpa cokelat panas di mejanya.
"Novi akan baik-baik saja," kata ayah Novi, dan ia menatap putrinya dengan mata yang penuh keyakinan. "Dia gadis yang kuat. Aku percaya padanya. Aku selalu percaya padanya."
Novi menatap ayahnya. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ayahnya benar-benar melihatnya. Benar-benar menghargainya. Benar-benar percaya padanya.
"Terima kasih, Ayah," bisik Novi. "Aku tidak tahu bahwa Ayah percaya padaku."
"Aku selalu percaya padamu, Nak," kata ayahnya. "Aku hanya tidak pandai mengatakannya. Tapi aku selalu percaya padamu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang ayahnya. Tentang pria yang sibuk tetapi menyayanginya dengan caranya sendiri. Tentang kata-kata yang akhirnya ia dengar setelah bertahun-tahun menunggu. Tentang cinta yang tidak pernah ia sadari selalu ada di sekitarnya.
"Ayah tidak banyak bicara.
Tapi ketika ia bicara, kata-katanya bermakna.
Ia bilang aku kuat.
Ia bilang aku bisa.
Ia bilang ia percaya padaku.
Dan untuk pertama kalinya, aku percaya padanya.
Aku percaya bahwa ia benar-benar melihatku.
Aku percaya bahwa ia benar-benar bangga padaku.
Aku percaya bahwa ia benar-benar mencintaiku.
Terima kasih, Ayah.
Untuk semua yang tidak pernah kau katakan.
Untuk semua yang selalu kau lakukan.
Untuk semua cinta yang tidak pernah kau ucapkan dengan kata-kata.
Tapi selalu kau tunjukkan dengan tindakan.
Aku mencintaimu, Ayah.
Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kedamaian. Kedamaian yang selama ini ia cari. Kedamaian yang ternyata selalu ada di sekitarnya—dalam kata-kata ayahnya, dalam senyum Angga, dalam surat-surat ibunya yang akhirnya ia baca.
Beberapa hari kemudian, Novi mengunjungi makam ibunya. Ini adalah pertama kalinya ia datang ke makam ibunya sejak ibunya pergi sepuluh tahun lalu. Makam itu sederhana, dengan batu nisan putih yang sudah mulai kusam dan bunga-bunga yang mulai layu di atasnya. Novi membawa bunga segar—bunga mawar putih, favorit ibunya dulu.
Novi duduk di samping makam itu, di atas rumput yang sudah kering. Ia menatap batu nisan yang bertuliskan nama ibunya, membaca setiap huruf dengan perlahan, seolah-olah ia sedang belajar mengenal ibunya untuk pertama kalinya.
"Halo, Bu," kata Novi pelan, suaranya lembut di udara sore yang tenang. "Aku datang untuk mengunjungimu. Aku maafkan kau. Aku maafkan kau karena pergi. Aku maafkan kau karena meninggalkanku. Aku maafkan kau karena semua yang tidak kau berikan padaku. Aku tahu kau mencintaiku. Dan aku juga mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini, ia tidak menangis karena sedih. Ia menangis karena lega. Karena bahagia. Karena ia akhirnya bisa melepaskan semua beban yang ia pikul selama sepuluh tahun.
"Aku akan baik-baik saja, Bu," kata Novi, dan kali ini, ia benar-benar percaya pada kata-katanya sendiri. "Aku akan kuat. Aku akan bahagia. Aku akan terus hidup. Itu yang kau inginkan untukku, bukan?"
Angin berhembus pelan, membawa aroma bunga dan tanah. Novi merasa bahwa angin itu adalah jawaban dari ibunya. Jawaban yang mengatakan bahwa ia diizinkan untuk bahagia. Bahwa ia diizinkan untuk melanjutkan hidup.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang makam ibunya. Tentang kunjungan terakhir yang memberinya kedamaian. Tentang maaf yang akhirnya ia berikan.
"Di makam ibu, aku duduk sendiri.
Bunga-bunga mulai layu.
Batu nisan putih yang dingin.
Tapi hatiku hangat.
Karena aku akhirnya memaafkan.
Aku akhirnya melepaskan.
Aku akhirnya percaya bahwa cinta tidak pernah benar-benar pergi.
Cinta hanya berubah bentuk.
Dari pelukan menjadi kenangan.
Dari kehadiran menjadi doa.
Dari kata-kata menjadi perasaan yang tidak pernah pudar.
Di makam ibu, aku menemukan kedamaian.
Kedamaian yang selama ini aku cari.
Kedamaian yang ternyata selalu ada di dalam diriku.
Menunggu untuk ditemukan.
Menunggu untuk diterima.
Menunggu untuk dicintai."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia telah menemukan kedamaian yang sejati. Kedamaian yang tidak bergantung pada orang lain. Kedamaian yang datang dari dalam dirinya sendiri.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga duduk di taman kota. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan gradasi warna yang indah di langit—jingga, merah, ungu, dan emas bercampur menjadi satu lukisan yang begitu sempurna. Angin berhembus pelan, membawa aroma rumput dan bunga yang baru mekar.
"Novi," kata Angga, suaranya lembut. "Aku bangga padamu. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang kuat. Dari gadis yang takut bicara di pojok kelas, menjadi wanita yang berani menghadapi masa lalunya."
"Terima kasih," kata Novi, dan ia merasakan kehangatan di dadanya. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Tanpa kau yang selalu percaya padaku. Tanpa kau yang selalu ada untukku."
"Kau bisa," kata Angga, dan matanya berbinar dengan keyakinan. "Kau selalu bisa. Aku hanya membantu kau melihatnya. Aku hanya membantu kau menemukan kekuatan yang sudah ada di dalam dirimu."
Novi tersenyum. "Aku akan merindukanmu saat kau pergi. Aku sudah merindukanmu, dan kau bahkan belum pergi."
Angga memeluk Novi, merasakan kehangatan tubuhnya. "Aku juga akan merindukanmu, Novi. Tapi kita akan bertemu lagi. Aku berjanji. Aku akan kembali padamu. Aku akan menulis setiap hari. Aku akan menelepon setiap minggu. Dan aku akan kembali secepat mungkin."
Mereka berpelukan di bawah langit senja yang indah. Novi merasakan kehangatan pelukan Angga, merasakan detak jantungnya yang berdebar seirama dengan jantungnya sendiri.
Novi telah memaafkan ibunya. Ia telah memaafkan dirinya sendiri. Ia telah belajar bahwa kepergian tidak selalu berarti berhenti mencintai. Ia telah belajar bahwa ia layak untuk dicintai. Ia telah belajar bahwa ia cukup baik. Ia telah belajar bahwa ia bisa bahagia.
Dan untuk pertama kalinya, ia siap menghadapi masa depan. Apa pun yang akan terjadi. Siapa pun yang akan pergi. Siapa pun yang akan tinggal. Ia siap.
BAB XII
Novi Menjauh
Pagi itu, Novi bangun dengan tekad bulat di dalam hatinya. Ia sudah memutuskan. Ia akan menjauh dari Angga. Bukan karena ia tidak mencintainya. Justru karena ia terlalu mencintainya. Dan ia tidak bisa menahan rasa sakit yang akan datang ketika Angga pergi.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari biasanya. Matanya sembab karena menangis semalaman.
"Aku harus melakukan ini," bisik Novi pada bayangannya. "Aku harus melindungi diriku sendiri."
Ia memakai seragamnya dengan malas. Tidak ada lipstik hari ini. Tidak ada senyum. Hanya wajah kosong yang mencerminkan hatinya yang hancur.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah berat. Ia menghindari semua orang. Ia menghindari Rina. Ia menghindari Angga. Ia masuk ke kelas dan duduk di tempatnya tanpa menatap siapa pun.
Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi mengambil kertas itu dan membacanya.
"Untuk Novi, semoga harimu cerah. — A"
Novi menahan air mata yang ingin jatuh. Ia meletakkan kertas itu kembali di atas meja. Ia tidak meminum cokelat itu. Ia membiarkannya dingin.
Angga memperhatikan Novi dari kejauhan. Ia melihat Novi tidak meminum cokelatnya. Ia melihat Novi tidak tersenyum. Ia melihat Novi menghindari tatapannya.
Ada sesuatu yang salah.
Angga mendekati Novi saat jam istirahat. "Novi, ada apa? Kau tidak meminum cokelatmu."
Novi tidak menatapnya. "Aku tidak suka cokelat."
"Kau selalu meminumnya sebelumnya," kata Angga bingung.
"Aku berubah pikiran," kata Novi datar. "Tolong jangan memberiku lagi."
Angga terkejut. "Apa? Kenapa?"
"Karena aku tidak mau," kata Novi. "Aku tidak mau menerima apa pun darimu."
Angga terdiam. Ia menatap Novi dengan mata yang penuh kebingungan dan rasa sakit.
"Novi, apa yang terjadi?" tanya Angga pelan. "Apa yang salah?"
"Tidak ada yang salah," kata Novi. "Aku hanya tidak mau berteman denganmu lagi."
Novi berjalan pergi, meninggalkan Angga yang terdiam di tempatnya.
Sepanjang hari, Novi menghindari Angga. Ia tidak pergi ke perpustakaan. Ia tidak pergi ke taman. Ia makan siang sendirian di sudut kantin, menjauh dari semua orang.
Rina mendekatinya dengan wajah khawatir. "Novi, ada apa denganmu? Kau menghindari Angga."
"Aku tidak menghindari siapa pun," kata Novi.
"Bohong!" seru Rina. "Aku tahu kau menyukainya. Kenapa kau tiba-tiba menjauh?"
"Aku takut," kata Novi akhirnya. "Aku takut kehilangan. Jika aku terlalu dekat dengannya, aku akan terluka. Seperti saat ibuku pergi."
Rina menghela napas. "Novi, ibumu pergi bukan salahmu. Dan Angga berbeda. Dia tidak akan pergi."
"Kau tidak tahu itu," kata Novi. "Semua orang bisa pergi."
Novi pergi dari kantin, meninggalkan Rina dengan wajah prihatin.
Angga tidak bisa berkonsentrasi sepanjang hari. Pikirannya terus pada Novi. Pada sikap dinginnya. Pada kata-katanya yang tajam.
"Aku hanya tidak mau berteman denganmu lagi."
Angga merasakan sakit di dadanya. Ia tidak mengerti apa yang terjadi. Kemarin, Novi masih tersenyum padanya. Kemarin, mereka masih berpegangan tangan. Kemarin, Novi masih mengatakan bahwa ia mencintainya.
Dan hari ini, semuanya berubah.
Angga mencari Novi di setiap sudut sekolah. Di perpustakaan, ia tidak ada. Di taman, ia tidak ada. Di atap sekolah, ia tidak ada.
Akhirnya, Angga menemukan Novi di belakang gedung sekolah. Novi sedang duduk sendiri, menatap langit dengan mata kosong.
"Novi," panggil Angga pelan.
Novi tidak menoleh. "Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin bicara denganmu," kata Angga. "Aku ingin tahu apa yang terjadi."
"Tidak ada yang terjadi," kata Novi. "Aku hanya tidak mau berteman denganmu lagi."
"Kenapa?" tanya Angga. "Apa yang kulakukan?"
"Kau tidak melakukan apa-apa," kata Novi. "Kau akan pergi. Dan aku tidak mau terluka."
Angga duduk di samping Novi. "Novi, aku sudah bilang. Aku akan kembali."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi aku akan mencoba. Aku akan berusaha kembali padamu."
"Tapi bagaimana jika kau tidak bisa?" tanya Novi. "Bagaimana jika kau bertemu orang lain? Bagaimana jika kau lupa padaku? Bagaimana jika kau tidak pernah kembali?"
Angga memegang tangan Novi. "Aku tidak akan melupakanmu, Novi. Aku tidak akan bertemu orang lain. Aku akan kembali padamu. Aku berjanji."
"Kau tidak bisa berjanji itu," kata Novi. "Kau tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Tapi aku bisa berjanji bahwa aku akan mencoba," kata Angga. "Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali padamu."
Novi menangis. "Aku takut, Angga. Aku sangat takut."
"Aku juga takut," kata Angga. "Tapi kita harus berani. Kita harus percaya bahwa cinta kita cukup kuat untuk melewati segalanya."
Novi memeluk Angga erat-erat. Ia menangis di pelukannya.
"Aku tidak mau kehilanganmu," isak Novi. "Aku tidak mau kau pergi."
"Aku juga tidak mau kehilanganmu," kata Angga. "Tapi aku harus pergi. Ini adalah kesempatan yang tidak bisa aku lewatkan."
"Aku tahu," kata Novi. "Aku hanya... aku hanya takut."
"Kau tidak perlu takut," kata Angga. "Aku akan kembali. Aku berjanji."
Mereka berpelukan lama. Di bawah langit yang mulai gelap, mereka berjanji pada satu sama lain bahwa mereka akan tetap bersama, meskipun jarak memisahkan mereka.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang ketakutannya. Tentang kepergian yang ia takuti. Tentang cinta yang ia pertahankan meskipun takut.
"Aku takut kehilangan. Aku takut ditinggalkan. Aku takut cinta yang kuberikan tidak cukup untuk membuatmu tinggal. Tapi aku juga takut kehilanganmu. Jadi aku memilih untuk berani. Aku memilih untuk percaya. Aku memilih untuk mencintaimu, meskipun takut."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia masih takut. Tetapi ia memilih untuk berani. Ia memilih untuk percaya.
Keesokan harinya, Novi datang ke sekolah dengan tekad baru. Ia akan mencoba. Ia akan berusaha. Ia akan percaya bahwa Angga akan kembali.
Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi membuka kertas itu dan membaca.
"Aku mencintaimu, Novi. Aku akan selalu mencintaimu. — A"
Novi tersenyum. Ia meminum cokelat itu perlahan. Hangat. Manis. Seperti cinta yang tidak pernah pudar.
Angga melihat Novi meminum cokelatnya. Ia tersenyum lega. Novi tidak menjauh lagi. Novi masih di sini.
Angga mendekati Novi. "Selamat pagi, Novi."
"Selamat pagi, Angga," kata Novi dengan senyum.
"Kau baik-baik saja?" tanya Angga.
"Aku baik-baik saja," kata Novi. "Aku hanya... aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya."
"Aku mengerti," kata Angga. "Aku juga butuh waktu."
Mereka tersenyum satu sama lain. Tidak ada yang perlu diucapkan. Mereka saling mengerti.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga semakin dekat. Mereka menghabiskan setiap momen bersama. Mereka pergi ke bukit, ke museum, ke atap sekolah tua. Mereka berbicara tentang masa depan. Tentang mimpi. Tentang cinta.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Aku ingin membuat kenangan bersama mu. Kenangan yang akan kita ingat selamanya."
"Aku juga," kata Novi. "Aku ingin mengingat setiap momen bersamamu."
"Ayo kita buat daftar," kata Angga. "Daftar hal-hal yang ingin kita lakukan bersama sebelum aku pergi."
Novi tersenyum. "Ide yang bagus."
Mereka mengambil selembar kertas dan mulai menulis.
"1. Naik ke atap sekolah tua dan melihat senja.
2. Pergi ke pantai dan bermain air.
3. Menulis puisi bersama.
4. Berjalan di bawah hujan.
5. Menonton film di bioskop.
6. Makan es krim bersama.
7. Membaca buku bersama di perpustakaan.
8. Berpelukan di bawah bintang-bintang.
9. Mengucapkan selamat tinggal dengan senyum."
Novi menatap daftar itu. Air mata mengalir di pipinya.
"Aku akan merindukanmu," kata Novi.
"Aku juga akan merindukanmu," kata Angga. "Tapi kita akan membuat kenangan yang tidak akan pernah kita lupakan."
Mereka mulai melakukan semua yang ada di daftar. Mereka naik ke atap sekolah tua dan melihat senja. Mereka pergi ke pantai dan bermain air. Mereka menulis puisi bersama. Mereka berjalan di bawah hujan, tertawa dan basah kuyup. Mereka menonton film di bioskop, berpegangan tangan di dalam gelap. Mereka makan es krim bersama, saling berbagi rasa. Mereka membaca buku bersama di perpustakaan, bersandar satu sama lain. Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang, menghitung bintang yang jatuh.
Setiap momen terasa berharga. Setiap momen terasa seperti kenangan yang akan bertahan selamanya.
Suatu malam, Novi dan Angga duduk di atap sekolah tua. Langit bertabur bintang. Angin berhembus pelan.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku tidak pernah mencintai siapa pun sebelumnya. Tapi aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Angga. Aku sangat mencintaimu."
Mereka berpelukan. Di bawah langit berbintang, mereka merasakan cinta yang tidak pernah pudar.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang daftar kenangan mereka. Tentang setiap momen yang mereka lalui bersama. Tentang cinta yang abadi meskipun jarak memisahkan.
"Kita membuat daftar kenangan. Hal-hal yang ingin kita lakukan bersama. Senja di atap sekolah. Pantai dan ombak. Hujan dan tawa. Film dan es krim. Bintang dan pelukan. Setiap momen terasa berharga. Setiap momen terasa abadi. Aku akan mengingat semuanya. Sampai kau kembali padaku."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Hari-hari berlalu semakin cepat. Waktu terasa seperti pasir yang mengalir di antara jari-jari. Novi dan Angga menghabiskan setiap momen bersama, berusaha mengisi setiap detik dengan kenangan.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Aku ingin membuat sesuatu untukmu."
"Apa?" tanya Novi.
Angga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kotak itu terbuat dari kayu, dengan ukiran bunga-bunga kecil di permukaannya.
"Ini untukmu," kata Angga. "Sebagai kenangan."
Novi membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah gelang sederhana dengan liontin berbentuk hati. Di bagian belakang liontin itu, terukir kata-kata kecil.
"Selamanya, A & N"
Novi menangis. "Ini indah, Angga. Terima kasih."
"Kau adalah cinta pertamaku," kata Angga. "Dan kau akan menjadi cinta terakhirku."
Novi memeluk Angga erat-erat. "Aku akan menyimpannya selamanya."
Malam sebelum keberangkatan Angga, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Gelang yang diberikan Angga melingkar di pergelangan tangannya.
Ia menatap gelang itu lama. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memeluk gelang itu erat-erat. Air mata mengalir di pipinya. Besok, Angga akan pergi. Besok, ia harus mengucapkan selamat tinggal.
Tapi ia tidak akan menangis. Ia akan tersenyum. Ia akan mengucapkan selamat tinggal dengan senyum. Seperti yang mereka janjikan.
Pagi itu, Novi bangun dengan tekad bulat. Ia akan mengantar Angga ke stasiun. Ia akan mengucapkan selamat tinggal dengan senyum. Ia akan berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi.
Novi memakai seragam terbaiknya. Ia memakai lipstik. Ia memakai gelang yang diberikan Angga. Ia tersenyum di depan cermin.
"Kau bisa melakukan ini," bisik Novi pada bayangannya. "Kau kuat. Kau berani. Kau bisa."
Ia berjalan ke stasiun dengan langkah tegas. Angga sudah menunggu di sana, dengan koper di tangannya.
"Novi," sapa Angga dengan senyum.
"Angga," sapa Novi dengan senyum.
Mereka berpelukan. Tidak ada air mata. Hanya pelukan yang hangat.
"Aku akan kembali," bisik Angga. "Aku berjanji."
"Aku akan menunggu," bisik Novi. "Aku berjanji."
Mereka melepaskan pelukan. Angga naik ke kereta. Kereta mulai bergerak. Novi melambaikan tangan dengan senyum.
"Sampai jumpa, Angga!" teriak Novi.
"Sampai jumpa, Novi!" teriak Angga.
Kereta menghilang di kejauhan. Novi tetap berdiri di peron, melambaikan tangan dengan senyum.
Dan ketika kereta benar-benar menghilang, Novi menangis. Tetapi ia menangis dengan senyum. Karena ia tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar.
BAB XIII
Malam Hujan dan Novel yang Terbakar
Malam itu, hujan turun dengan derasnya. Air mengguyur atap rumah seperti ribuan tangan yang mengetuk dengan keras, menciptakan suara yang mengganggu ketenangan yang biasanya Novi temukan dalam hujan. Angin menderu di luar, menerpa dinding-dinding rumah yang sudah tua, membuat jendela-jendela bergetar pelan, seolah-olah rumah itu sendiri sedang gemetar ketakutan. Novi duduk di kamarnya, memeluk lutut, menatap gelapnya langit di luar jendela. Biasanya, hujan membawa ketenangan. Tapi malam ini, hujan terasa seperti tangisan alam yang ikut meratapi kepergian Angga.
Sudah seminggu sejak Angga pergi. Seminggu sejak kereta itu membawanya pergi dari hidup Novi. Seminggu sejak ia mengucapkan selamat tinggal dengan senyum palsu di wajahnya—senyum yang ia latih di depan cermin pagi itu, senyum yang ia paksakan agar Angga tidak melihat bagaimana hatinya benar-benar hancur. Dan selama seminggu itu, Novi telah berusaha untuk tetap kuat. Ia telah berusaha untuk tidak menangis di depan orang lain. Ia telah berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanya sementara, bahwa Angga akan kembali, bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi malam ini, di kamarnya yang gelap, dengan hujan yang mengguyur di luar dan angin yang menderu seperti suara isak tangis, semua usaha itu runtuh.
Novi menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak, seolah ada beban berat yang menekan tulang rusuknya, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang meremas jantungnya perlahan. Ia mencoba mengingat wajah Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Tetapi semakin ia mencoba mengingat, semakin kabur bayangan itu. Seperti mimpi yang mulai pudar di pagi hari, seperti foto yang terkena air, perlahan-lahan menghilang, seperti pasir yang mengalir di antara jari-jarinya.
"Apa aku sudah mulai melupakanmu?" bisik Novi pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tidak terdengar di atas deru hujan. "Apa ini yang namanya kehilangan? Bukan hanya kehilangan orangnya, tapi juga kehilangan ingatan tentangnya?"
Ia memegang gelang di pergelangan tangannya—gelang yang diberikan Angga sebelum ia pergi, gelang yang menjadi satu-satunya bukti fisik bahwa cinta mereka pernah nyata. Liontin berbentuk hati itu masih berkilau meskipun dalam gelap, memantulkan cahaya petir yang sesekali menyambar di kejauhan. "Selamanya, A & N." Novi membaca ukiran itu dengan ujung jarinya, mengikuti lekukan huruf-huruf itu seolah-olah ia bisa merasakan Angga melalui goresan logam itu. Air mata mengalir di pipinya, jatuh satu per satu ke atas gelang itu, membasahi logam yang dingin.
"Apakah kau juga merindukanku, Angga?" bisik Novi pada kegelapan, pada hujan, pada angin yang menderu. "Apakah kau juga menangis di malam hujan seperti ini? Apakah kau juga merasa bahwa ada bagian dari dirimu yang hilang, yang tidak akan pernah bisa digantikan?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang semakin deras, seolah-olah alam sendiri menolak untuk menjawab pertanyaannya.
Novi bangkit dari tempat tidur dengan gerakan yang lambat dan berat, seolah-olah tubuhnya terbuat dari batu. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terlalu kacau, terlalu penuh dengan kenangan yang tidak mau pergi. Matanya perih karena menangis—matanya sudah bengkak dan merah, dan kelopak matanya terasa seperti amplas setiap kali ia mengedip—tetapi air mata terus mengalir seolah-olah ada sumber yang tidak pernah kering, seolah-olah ada lautan di dalam dirinya yang tidak pernah bisa surut.
Ia berjalan ke meja tulisnya dan menyalakan lampu kecil. Cahaya kuning menerangi ruangan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di dinding yang bergoyang-goyang tertiup angin dari celah jendela. Bayangan-bayangan itu menari seperti hantu-hantu masa lalu, seperti kenangan-kenangan yang tidak mau pergi.
Ia membuka laci meja tulisnya. Di sana, tersimpan buku catatan lamanya—buku catatan dengan sampul cokelat tua yang sudah usang di sudut-sudutnya, buku yang sudah ia pegang selama berbulan-bulan, buku yang berisi puisi-puisi tentang Angga. Puisi-puisi yang ia tulis saat ia masih takut. Saat ia masih ragu. Saat ia masih belum berani mengakui perasaannya. Buku itu terasa berat di tangannya, seolah-olah berisi semua beban yang tidak bisa ia pikul, semua rahasia yang tidak bisa ia ucapkan, semua cinta yang tidak bisa ia pertahankan.
Novi membuka buku itu. Jari-jarinya gemetar, dan ia harus berhenti sejenak untuk menghembuskan napas yang panjang sebelum ia bisa melanjutkan. Ia membaca puisi-puisi lamanya, kata-kata yang ia tulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur, kata-kata yang menjadi satu-satunya cara ia bisa mengungkapkan apa yang ia rasakan.
"Untuk Angga, yang datang dengan cokelat panas.
Yang berkata ia kesepian.
Yang melihatku saat yang lain tidak...
Yang membuatku percaya bahwa aku layak dicintai.
Yang membuatku percaya bahwa cinta itu nyata.
Dan yang sekarang telah pergi.
Meninggalkanku dengan semua puisi ini.
Meninggalkanku dengan semua perasaan ini.
Meninggalkanku sendirian."
Air mata Novi jatuh membasahi halaman itu, membuat tinta sedikit luntur, menciptakan lingkaran-lingkaran biru yang kabur di sekitar kata-kata. Ia ingat saat-saat itu. Saat ia masih takut untuk mencintai. Saat ia masih membangun tembok di sekeliling hatinya, tembok yang begitu tebal sehingga ia sendiri hampir tidak bisa melihat dunia di luar. Tetapi Angga datang. Angga merobohkan semua tembok itu. Angga mengajarinya bahwa cinta itu nyata. Angga membuatnya percaya bahwa ia layak untuk dicintai.
Dan sekarang, Angga telah pergi.
"Apa gunanya semua itu?" bisik Novi, suaranya serak dan pecah. "Apa gunanya mencintai jika pada akhirnya ia tetap pergi? Apa gunanya membuka hati jika pada akhirnya ia tetap dihancurkan? Apa gunanya percaya jika pada akhirnya ia tetap dikhianati?"
Novi terus membuka halaman demi halaman. Ia membaca semua puisi yang pernah ia tulis tentang Angga—setiap kata, setiap baris, setiap bait. Tentang cokelat panas yang selalu menunggunya di pagi hari. Tentang senyum Angga yang terlalu terang, yang selalu membuat jantungnya berdebar. Tentang bukit tempat mereka pertama kali melihat senja bersama. Tentang atap sekolah tua tempat mereka berjanji untuk saling menunggu. Tentang semua kenangan yang mereka bagi bersama, kenangan yang sekarang terasa seperti mimpi yang terlalu indah untuk menjadi kenyataan.
Setiap kata terasa seperti pisau yang menusuk hatinya, seperti belati yang diputar perlahan di dadanya. Setiap baris mengingatkannya pada saat-saat bahagia yang kini terasa begitu jauh, begitu asing, seperti cerita tentang orang lain yang tidak ia kenal. Tetapi ia tidak bisa berhenti membaca. Ia ingin merasakan sakit itu. Ia ingin mengingat semua yang telah terjadi. Seolah-olah jika ia berhenti membaca, jika ia menutup buku itu dan meletakkannya di laci, ia akan benar-benar kehilangan Angga selamanya—bukan hanya kehilangan orangnya, tetapi juga kehilangan semua bukti bahwa ia pernah ada.
"Kenapa aku melakukan ini pada diriku sendiri?" tanya Novi dalam hati, tetapi ia sudah tahu jawabannya. Karena rasa sakit ini adalah satu-satunya hal yang membuatnya merasa bahwa Angga masih nyata. Bahwa semua yang terjadi bukanlah mimpi. Bahwa cinta mereka benar-benar ada. Bahwa ia tidak membayangkan semuanya.
Di halaman terakhir, Novi menemukan puisi yang ia tulis sebelum Angga pergi—puisi yang ia tulis malam sebelum mengantar Angga ke stasiun, ketika ia masih berpikir bahwa mereka akan baik-baik saja, ketika ia masih percaya bahwa janji "aku akan kembali" adalah sesuatu yang bisa dipegang.
"Kita membuat daftar kenangan.
Hal-hal yang ingin kita lakukan bersama.
Senja di atap sekolah.
Pantai dan ombak.
Hujan dan tawa.
Film dan es krim.
Bintang dan pelukan.
Kita berjanji untuk melakukan semuanya.
Kita berjanji untuk tidak melupakan.
Kita berjanji untuk selalu mengingat.
Tapi aku tidak tahu bahwa daftar itu adalah perpisahan.
Bahwa setiap kenangan adalah selamat tinggal.
Bahwa setiap janji adalah ilusi."
Novi tidak bisa melanjutkan membaca. Ia menutup buku itu dan memeluknya erat-erat, seolah-olah buku itu adalah satu-satunya bagian dari Angga yang tersisa, satu-satunya bukti bahwa ia pernah dicintai.
"Kenapa kau pergi, Angga?" bisik Novi, suaranya pecah menjadi isak tangis. "Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tidak menepati janjimu? Kenapa kau membuatku percaya bahwa cinta itu nyata jika pada akhirnya kau hanya akan pergi?"
Tidak ada jawaban. Hanya suara hujan yang semakin deras, seolah-olah alam sendiri menangis bersamanya.
Novi meletakkan buku itu di atas meja dengan hati-hati, seolah-olah buku itu adalah benda yang rapuh yang bisa hancur jika ia tidak berhati-hati. Ia menatapnya lama, matanya yang sembab meneliti setiap lekukan sampul yang sudah usang, setiap sudut yang sudah tumpul karena sering dipegang. Buku itu adalah saksi bisu dari semua perasaannya—semua ketakutannya, semua cintanya, semua harapannya yang hancur. Buku itu berisi semua yang ia rasakan selama berbulan-bulan, semua yang ia tulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur, semua yang ia simpan karena tidak berani mengatakannya langsung, semua yang sekarang terasa seperti beban yang menghancurkannya.
Lalu, sebuah pikiran aneh muncul di benaknya. Sebuah pikiran yang gelap dan menghancurkan, yang datang seperti bisikan dari sudut tergelap hatinya.
"Apa yang harus kulakukan dengan semua ini?" bisik Novi pada dirinya sendiri, suaranya hampir tidak terdengar di atas deru hujan. "Apa yang harus kulakukan dengan semua perasaan ini? Dengan semua cinta ini yang sekarang terasa seperti racun? Dengan semua kenangan ini yang sekarang terasa seperti luka?"
Ia teringat pada ibunya. Ibunya pergi tanpa pamit, tanpa penjelasan, tanpa kabar. Ibunya meninggalkan semua kenangan di belakangnya—foto-foto, pakaian-pakaian, barang-barang kecil yang masih tersebar di seluruh rumah. Dan Novi ditinggalkan dengan luka yang tidak pernah sembuh, dengan pertanyaan yang tidak pernah terjawab, dengan cinta yang tidak pernah terbalas.
"Apakah aku seperti ibuku?" pikir Novi, dan pikiran itu membuatnya menggigil. "Apakah aku akan pergi dan meninggalkan semua ini? Apakah aku akan menghilang dan membuat orang lain menderita seperti yang ia lakukan padaku?"
Novi tidak ingin seperti ibunya. Ia tidak ingin meninggalkan kenangan yang menyakitkan. Ia tidak ingin meninggalkan luka yang tidak pernah sembuh. Ia tidak ingin menjadi orang yang pergi.
Tetapi ia juga tidak bisa terus menyimpan semua ini. Semua puisi ini. Semua perasaan ini. Semua cinta ini yang sekarang terasa seperti beban yang menghancurkannya, seperti batu yang mengikat kakinya dan menenggelamkannya ke dasar lautan.
"Aku tidak bisa terus seperti ini," pikir Novi, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan kejelasan yang aneh di tengah kekacauan pikirannya. "Aku harus melepaskan semua ini. Aku harus membiarkannya pergi. Aku harus membebaskan diriku sendiri."
Novi mengambil buku catatan itu dengan tangan yang gemetar. Ia membuka halaman pertama. Puisi pertama yang ia tulis tentang Angga—puisi yang ia tulis di perpustakaan, ketika ia masih tidak tahu apa yang ia rasakan, ketika ia masih mencoba memahami mengapa anak baru dengan senyum yang terlalu terang itu membuat jantungnya berdebar.
"Seorang anak baru dengan senyum yang terlalu terang.
Yang membaca puisiku dan berkata itu indah.
Yang membuatku merasa, untuk sesaat, bahwa aku terlihat.
Bahwa aku ada.
Bahwa aku tidak hanya bayangan di pojok kelas.
Bahwa aku tidak hanya hantu yang tidak pernah dilihat siapa pun.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku hidup.
Dan itu menakutkan.
Karena aku tahu bahwa semua yang terang pada akhirnya akan padam.
Dan aku takut bahwa ketika ia padam, aku akan kembali menjadi gelap."
Novi menangis. Air mata mengalir deras di pipinya, jatuh membasahi halaman itu, membuat tinta luntur. Ia merobek halaman itu. Perlahan. Dengan sengaja. Dengan setiap tarikan, ia merasakan sesuatu yang putus di dalam dirinya. Suara kertas robek terdengar seperti suara hatinya yang hancur, seperti jeritan yang tidak bisa ia keluarkan.
Ia merobek semua kenangan yang ia tulis. Semua perasaan yang ia simpan. Semua cinta yang ia rasakan. Halaman demi halaman. Puisi demi puisi. Kenangan demi kenangan. Kata demi kata.
Robek. Tentang cokelat panas pertama.
Robek. Tentang senyum Angga yang membuatnya lupa bernapas.
Robek. Tentang bukit dan senja yang mereka saksikan bersama.
Robek. Tentang atap sekolah tempat mereka berjanji.
Robek. Tentang semua yang telah hilang.
"Maafkan aku, Angga," bisik Novi di sela-sela tangisnya, suaranya pecah dan serak. "Aku tidak bisa menyimpan ini. Aku tidak bisa terus mengingat. Ini terlalu menyakitkan. Ini terlalu berat. Aku tidak cukup kuat untuk membawa semua ini."
Ketika semua halaman telah robek, Novi mengumpulkannya di lantai dengan tangan yang masih gemetar. Ia menatap tumpukan kertas itu—kertas-kertas yang berserakan seperti puing-puing hatinya, seperti sisa-sisa reruntuhan cinta yang pernah ia bangun dengan susah payah. Semua perasaannya. Semua cintanya. Semua kenangannya. Semua yang ia tulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur.
"Aku tidak bisa terus seperti ini," bisik Novi, suaranya serak dan putus asa. "Aku tidak bisa terus menyimpan semua ini. Aku tidak bisa terus membawa semua ini. Aku harus melepaskannya. Aku harus membiarkan semuanya pergi."
Novi mengambil korek api dari laci—korek api yang sudah lama tidak ia gunakan, yang ia simpan untuk berjaga-jaga jika listrik padam di malam hari. Tangannya gemetar hebat, begitu hebat sehingga ia hampir menjatuhkan kotak korek itu dua kali. Ia membuka kotak itu dengan jari-jari yang kaku, mengambil sebatang korek api, dan menggesekkannya ke sisi kotak.
Ssstt.
Nyala api kecil berwarna jingga menerangi wajahnya, menari-nari seperti sesuatu yang hidup, seperti sesuatu yang haus akan kehancuran. Cahayanya berkedip-kedip di matanya, menciptakan bayangan-bayangan yang bergerak di dinding seperti hantu-hantu yang menari.
"Maafkan aku, Angga," bisik Novi, suaranya pecah dan bergetar. "Maafkan aku karena melakukan ini. Maafkan aku karena tidak bisa menyimpan kenangan kita. Maafkan aku karena terlalu lemah untuk menahan semua ini. Maafkan aku karena melepaskanmu."
Ia menjatuhkan korek api itu ke tumpukan kertas. Api mulai menjalar. Perlahan. Dengan rakus. Seperti binatang buas yang kelaparan, seperti monster yang haus akan kehancuran, api mulai membakar semua puisi. Semua kenangan. Semua cinta. Semua yang pernah ia tulis tentang Angga.
Novi menatap api yang membakar buku catatannya, dan untuk beberapa saat, ia tidak bisa bergerak. Cahaya jingga menerangi wajahnya yang basah oleh air mata, menari-nari di matanya yang kosong. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya—sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata, sakit yang membuatnya ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar, sakit yang terasa seperti jantungnya sendiri sedang terbakar bersama kertas-kertas itu.
Tetapi ia juga merasakan sesuatu yang lain. Sesuatu yang aneh. Sesuatu yang seperti... kelegaan. Seolah-olah dengan membakar semua kenangan itu, ia juga membakar sebagian rasa sakitnya. Seolah-olah dengan melepaskan semua puisi itu, ia juga melepaskan sebagian cintanya. Seolah-olah dengan menghancurkan semua bukti itu, ia juga menghancurkan sebagian harapannya—dan sebagian dari harapan yang hancur itu adalah beban yang selama ini ia pikul.
"Aku melepaskanmu, Angga," bisik Novi, suaranya tenang di antara deru api. "Aku melepaskan semua perasaan ini. Aku melepaskan semua harapan ini. Aku melepaskan semua mimpi ini. Aku tidak bisa terus menyimpannya. Aku tidak bisa terus menggenggamnya. Aku harus melepaskanmu."
Api membakar semakin besar. Nyala-nyala merah dan oranye menjulang tinggi, memakan kertas demi kertas, kata demi kata, kenangan demi kenangan. Asap mulai mengepul, memenuhi ruangan dengan bau bakar yang menyengat, dengan aroma kertas yang terbakar dan tinta yang meleleh. Novi tidak bergerak. Ia hanya menatap api yang membakar semua kenangannya, matanya kosong, pikirannya hampa, hatinya hancur.
"Apakah ini yang kau rasakan saat kau pergi, Ibu?" bisik Novi, dan suaranya adalah bisikan kosong di tengah gemuruh api. "Apakah ini yang kau rasakan saat kau meninggalkan semua kenangan di belakangmu? Saat kau membakar semua jembatan yang menghubungkanmu dengan masa lalu? Saat kau memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan melepaskan segalanya?"
Asap semakin tebal. Mata Novi perih, tetapi ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari api. Ia seperti terhipnotis oleh nyala-nyala yang melahap semua yang ia tulis, semua yang ia rasakan, semua yang ia cintai.
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dengan keras, membentur dinding dengan suara yang menggelegar. Ayah Novi berdiri di ambang pintu, wajahnya pucat pasi, matanya melebar dengan ketakutan yang tidak pernah Novi lihat sebelumnya.
"Novi! Apa yang kau lakukan?" teriak ayahnya, suaranya memecah keheningan yang hanya diisi oleh deru api dan hujan.
Ayah Novi tidak menunggu jawaban. Dalam sekejap, ia bergerak dengan kecepatan yang tidak pernah Novi lihat sebelumnya—kecepatan yang lahir dari kepanikan murni, dari ketakutan seorang ayah yang melihat putrinya dalam bahaya. Ia meraih selimut dari tempat tidur dan memukul-mukul api dengan panik, dengan gerakan yang liar dan putus asa. Ia memadamkan api dengan cepat, tetapi tidak sebelum nyala-nyala itu meninggalkan bekasnya di lantai kayu dan di dinding yang hitam oleh jelaga.
Ketika api padam, ayahnya menatap Novi dengan wajah cemas, napasnya terengah-engah, dadanya naik turun dengan cepat. Matanya yang biasanya tenang dan tegas, kini dipenuhi dengan ketakutan dan kekhawatiran yang mendalam.
"Novi, apa yang terjadi?" tanya ayahnya, suaranya bergetar antara kemarahan dan kekhawatiran, antara ketakutan dan cinta. "Kenapa kau membakar buku catatanmu? Kenapa kau melakukan ini pada dirimu sendiri?"
Novi tidak menjawab. Ia hanya menangis. Tubuhnya gemetar, air mata mengalir deras, dan ia tidak bisa menghentikannya. Ia tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa menjelaskan. Ia hanya bisa menangis.
Ayahnya memeluk Novi erat-erat, tangannya menggenggam bahu Novi dengan kuat seolah-olah takut ia akan menghilang, seolah-olah jika ia melepaskannya, ia akan kehilangan putrinya selamanya.
"Katakan padaku, Nak. Apa yang terjadi? Aku di sini. Aku tidak akan pergi. Aku selalu di sini. Tolong katakan padaku apa yang terjadi."
"Aku tidak bisa, Ayah," isak Novi, suaranya tercekik oleh tangis. "Aku tidak bisa terus menyimpan semua ini. Semua kenangan. Semua perasaan. Semua cinta. Angga telah pergi. Dan aku ditinggalkan sendirian. Aku tidak bisa terus membawa semua ini. Aku tidak cukup kuat."
Ayahnya memeluk Novi lebih erat, merasakan tubuh putrinya yang gemetar di pelukannya. Dadanya naik turun dengan cepat, seolah-olah ia juga berusaha menahan emosinya sendiri, menahan tangis yang ingin keluar.
"Aku di sini, Novi," bisik ayahnya, suaranya lembut tetapi penuh keyakinan. "Aku tidak akan pergi. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu di sini untukmu. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli seberapa sulit keadaannya. Aku akan selalu ada."
Novi menangis di pelukan ayahnya—menangis seperti anak kecil yang kehilangan segalanya, seperti gadis yang hatinya hancur berkeping-keping. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ada seseorang yang benar-benar memahaminya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa mungkin, mungkin ia bisa bertahan.
Setelah api padam, Novi dan ayahnya membersihkan sisa-sisa kertas yang terbakar dalam diam. Lantai kamar Novi hitam oleh jelaga, meninggalkan bekas yang tidak akan mudah hilang. Aroma asap masih tercium di udara, menempel di dinding dan pakaian mereka, menempel di rambut dan kulit mereka. Sisa-sisa kertas yang hangus berserakan di lantai—puing-puing kecil dari semua puisi yang pernah ia tulis, semua kenangan yang pernah ia simpan, semua cinta yang pernah ia rasakan.
"Novi," kata ayahnya pelan ketika mereka selesai membersihkan, suaranya lembut tetapi tegas, seperti orang yang tahu bahwa ia harus mengatakan sesuatu yang sulit. "Aku tahu kau sedang merasakan sakit yang luar biasa. Aku tahu kau kehilangan seseorang yang sangat kau cintai. Aku tahu kau merasa bahwa dunia ini runtuh di sekitarmu. Tapi membakar kenangan tidak akan menghilangkan rasa sakit itu. Api tidak bisa membakar apa yang ada di dalam hati."
"Aku tahu, Ayah," kata Novi, suaranya serak dan lelah. "Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku tidak tahu bagaimana cara menghilangkan rasa sakit ini. Aku tidak tahu bagaimana cara berhenti merasakan ini."
"Kau tidak perlu menghilangkannya," kata ayahnya, duduk di sampingnya di lantai yang masih kotor, di antara sisa-sisa kertas yang hangus. "Kau tidak perlu berhenti merasakannya. Kau hanya perlu belajar hidup dengannya. Rasa sakit itu adalah bagian dari cinta. Dan cinta tidak pernah sia-sia. Tidak peduli seberapa menyakitkan akhirnya, cinta selalu berharga."
Novi menatap ayahnya. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini, ia tidak mencoba menghentikannya. Ayahnya terlihat lelah—lebih lelah dari yang pernah ia lihat sebelumnya—tetapi matanya penuh dengan cinta. Cinta yang selama ini ia rasa telah hilang. Cinta yang selama ini ia pikir tidak ada. Cinta yang ternyata selalu ada di sekitarnya.
"Apa kau juga pernah merasakan hal yang sama, Ayah?" tanya Novi, suaranya bergetar. "Saat Ibu pergi? Saat kau kehilangan seseorang yang kau cintai?"
Ayahnya terdiam. Ia menatap ke luar jendela, melihat hujan yang masih turun deras di luar. Matanya menerawang jauh, seolah melihat masa lalu yang tidak pernah benar-benar hilang, seolah mengingat kembali momen-momen yang ia kubur dalam-dalam.
"Aku merasakan sakit yang luar biasa," kata ayahnya akhirnya, suaranya rendah dan berat. "Rasa sakit yang membuatku ingin berhenti hidup. Rasa sakit yang membuatku bertanya-tanya apakah ada gunanya terus melangkah. Tapi aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun orang yang kita cintai pergi, meskipun mereka meninggalkan kita, cinta itu tetap ada. Cinta itu tetap berharga. Cinta itu tetap menjadi bagian dari kita."
"Bagaimana kau bisa bertahan?" tanya Novi, dan pertanyaan itu keluar seperti bisikan dari tempat tergelap di hatinya. "Bagaimana kau bisa terus hidup? Bagaimana kau bisa terus melangkah ketika rasanya seperti dunia ini runtuh?"
Ayahnya menatap Novi. Ada sesuatu di matanya—sesuatu yang membuat Novi merasa bahwa ia tidak sendirian, bahwa ada orang lain yang memahami apa yang ia rasakan.
"Karena aku punya kau, Novi," kata ayahnya, dan suaranya penuh dengan keyakinan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Aku punya kau. Dan kau adalah alasan aku terus hidup. Kau adalah alasan aku terus berjuang. Kau adalah alasan aku tidak pernah menyerah. Dan sekarang, kau juga harus menemukan alasanmu. Bukan untukku, tetapi untuk dirimu sendiri."
Novi menangis. Ia memeluk ayahnya erat-erat, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan, kehangatan yang selama ini ia pikir tidak akan pernah ia rasakan lagi.
"Terima kasih, Ayah," bisik Novi, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, kata-kata itu terasa tulus. "Aku mencintaimu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Aku hanya lupa bagaimana rasanya dicintai."
"Aku juga mencintaimu, Nak," kata ayahnya, dan suaranya penuh dengan air mata yang tidak ia tumpahkan. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi."
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang masih berbau asap—bau yang mengingatkannya pada apa yang telah ia lakukan, pada apa yang hampir ia hancurkan. Hujan masih turun di luar, tetapi lebih tenang sekarang, seperti tangisan yang mulai mereda setelah badai berlalu. Gelang di pergelangan tangannya terasa hangat—tidak seperti api yang membakar, tetapi seperti api kecil yang tidak pernah padam, seperti secercah harapan yang masih tersisa di sudut tergelap hatinya.
Ia menatap gelang itu. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu yang redup, memantulkan cahaya yang lembut dan hangat. "Selamanya, A & N." Ukiran itu masih sama seperti pertama kali ia menerimanya—masih jelas, masih dalam, masih terukir dengan tangan yang penuh cinta. Tapi sekarang, ukiran itu terasa berbeda. Bukan lagi janji yang menyakitkan, tetapi kenangan yang manis. Bukan lagi beban yang menghancurkannya, tetapi pelajaran yang mengajarkannya.
"Selamanya, A & N," bisik Novi, dan untuk pertama kalinya, kata-kata itu tidak terasa seperti luka. "Selamanya."
Ia teringat pada kata-kata ayahnya. "Cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun orang yang kita cintai pergi, cinta itu tetap ada."
Novi tersenyum kecil—senyum pertama yang tulus dalam seminggu. Ayahnya benar. Cintanya pada Angga tidak sia-sia. Cintanya pada Angga telah mengajarinya banyak hal. Tentang keberanian untuk membuka hati. Tentang kepercayaan untuk percaya pada orang lain. Tentang bagaimana rasanya dicintai dengan tulus. Tentang bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat berarti. Tentang bagaimana rasanya bertahan meskipun hati hancur.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi, dan kali ini, tidak ada air mata yang mengalir. "Terima kasih untuk semua kenangan. Terima kasih untuk semua cinta. Terima kasih untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku tidak akan melupakanmu. Aku tidak akan melupakan apa yang kita miliki. Aku akan membawamu di dalam hatiku, selamanya."
Ia menutup matanya, dan untuk pertama kalinya dalam seminggu, ia tidak menangis. Ia hanya merasakan kehangatan di dadanya—kehangatan yang tidak bisa ia jelaskan, kehangatan yang mungkin adalah awal dari penyembuhan. Bukan penyembuhan yang berarti melupakan, tetapi penyembuhan yang berarti menerima. Bukan penyembuhan yang berarti berhenti merasakan, tetapi penyembuhan yang berarti belajar hidup dengan rasa sakit.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kelegaan di dadanya, semacam beban yang mulai terangkat. Api yang membakar buku catatannya juga membakar sebagian rasa sakitnya—bukan semua, tetapi cukup untuk membuatnya bisa bernapas lagi, cukup untuk membuatnya bisa melihat cahaya di ujung terowongan.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu. Ia menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah—lebih lelah dari yang pernah ia lihat sebelumnya—tetapi ada semacam ketenangan di matanya. Ada semacam penerimaan di hatinya. Ada semacam keyakinan yang mulai tumbuh di tempat yang paling gelap.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi pada bayangannya, dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya pada kata-katanya sendiri. "Aku akan kuat. Aku akan melanjutkan hidupku. Aku akan bangkit dari abu ini. Dan suatu hari nanti, aku akan tersenyum lagi. Bukan senyum palsu, tetapi senyum yang tulus. Senyum yang datang dari tempat yang dalam di hatiku."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Hari itu, ia tidak mencari cokelat panas di mejanya. Ia tidak mencari Angga di koridor. Ia hanya menjalani hari seperti biasa—berbicara dengan Rina, mendengarkan guru, menulis catatan. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa hari itu mungkin tidak terlalu buruk. Bahwa mungkin, mungkin, ia bisa melalui ini.
Rina mendekatinya dengan wajah khawatir, matanya meneliti wajah Novi dengan cemas. "Novi, kau baik-baik saja? Kau terlihat... berbeda. Kau terlihat lebih tenang."
"Aku baik-baik saja, Rin," kata Novi, dan kali ini, ia benar-benar bermaksud itu. "Aku hanya... aku hanya butuh waktu. Tapi aku akan baik-baik saja."
Rina memeluk Novi, dan untuk pertama kalinya, pelukan itu terasa seperti penghiburan, bukan seperti beban. "Aku di sini, Novi. Aku selalu di sini."
"Terima kasih, Rin," kata Novi, dan ia merasakan kehangatan di dadanya. "Kau sahabat terbaik. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Minggu berikutnya, Novi mulai menulis lagi—bukan puisi tentang Angga, tetapi puisi tentang dirinya sendiri. Tentang proses penyembuhan. Tentang bagaimana ia belajar untuk melanjutkan hidup. Tentang bagaimana ia belajar bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya.
"Aku terbakar dan bangkit dari abu.
Seperti burung phoenix yang lahir kembali dari api.
Aku menangis dan belajar tersenyum lagi.
Bukan senyum yang dipaksakan, tetapi senyum yang tulus.
Aku kehilangan dan menemukan diriku sendiri.
Bukan versi diriku yang dulu, tetapi versi yang baru.
Versi yang lebih kuat.
Versi yang lebih bijaksana.
Versi yang tahu bahwa cinta tidak pernah sia-sia.
Meskipun ia pergi, cinta itu tetap ada.
Di dalam hatiku.
Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan—air mata yang mengatakan bahwa ia telah menemukan kembali dirinya sendiri, air mata yang mengatakan bahwa ia bisa bertahan, air mata yang mengatakan bahwa ia akan baik-baik saja.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi, dan kali ini, tidak ada keraguan dalam suaranya. "Aku bisa bangkit. Aku bisa melanjutkan hidup. Aku bisa bahagia lagi."
Suatu hari, Novi menerima surat dari Angga—surat pertama sejak ia pergi, surat yang dikirim dari Jepang. Novi membukanya dengan tangan gemetar, jantungnya berdebar kencang.
"Novi tersayang,
Aku sudah tiba di Jepang dengan selamat. Aku merindukanmu setiap hari. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan tawamu. Aku merindukan caramu memanggil namaku. Aku merindukan semua yang kita bagi bersama.
Tapi aku tahu bahwa kita harus kuat. Kita harus percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Kita harus percaya bahwa cinta kita cukup kuat untuk melewati jarak dan waktu.
Jangan pernah berhenti menulis, Novi. Puisimu indah. Puisimu adalah hadiah untuk dunia. Puisimu adalah cahaya yang akan selalu kau bawa, di mana pun kau berada.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang, merasakan setiap kata, setiap kalimat, setiap janji. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih—ini adalah air mata yang mengatakan bahwa ia tidak sendirian, air mata yang mengatakan bahwa cinta mereka masih ada, air mata yang mengatakan bahwa ada harapan.
"Aku juga mencintaimu, Angga," bisik Novi, dan untuk pertama kalinya, kata-kata itu terasa seperti janji, bukan seperti luka. "Selamanya."
Novi mulai menulis balasan untuk Angga—surat yang panjang dan jujur, surat yang menceritakan tentang kehidupannya, tentang sekolah, tentang Rina, tentang ayahnya, tentang bagaimana ia belajar untuk melanjutkan hidup, tentang bagaimana ia belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia.
"Angga tersayang,
Aku baik-baik saja. Aku mulai menulis lagi. Aku mulai tersenyum lagi. Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun kau pergi, meskipun jarak memisahkan kita, cinta itu tetap ada. Cinta itu tetap menjadi bagian dari diriku.
Aku merindukanmu. Setiap hari. Tapi aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi. Aku percaya pada cinta kita. Aku percaya pada janji kita.
Jangan lupa padaku. Jangan lupa pada kita. Jangan lupa bahwa aku di sini, menunggumu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu, dan untuk pertama kalinya, ia merasa lega—lega karena ia telah melakukan sesuatu yang benar, lega karena ia telah mengatakan apa yang ia rasakan, lega karena ia telah memilih untuk percaya, meskipun rasa sakit itu masih ada.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis—puisi tentang cinta dan kehilangan, tentang harapan dan penerimaan, tentang bagaimana ia belajar untuk melanjutkan hidup, tentang bagaimana ia belajar bahwa rasa sakit bukanlah akhir dari segalanya.
Ia juga terus menerima surat dari Angga—surat-surat yang datang secara teratur, surat-surat yang menceritakan tentang kehidupannya di Jepang, tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang bagaimana ia merindukan Novi, tentang bagaimana ia berjanji untuk kembali.
Novi membaca setiap surat dengan hati-hati, menyimpan semuanya di dalam kotak kayu yang diberikan Angga—kotak yang sekarang penuh dengan surat-surat cinta, surat-surat yang menjadi bukti bahwa cinta mereka masih ada, bahwa mereka masih terhubung, bahwa mereka masih saling mencintai meskipun jarak memisahkan mereka.
"Setiap surat adalah bukti bahwa cinta kita masih ada," pikir Novi, dan untuk pertama kalinya, pikiran itu tidak terasa menyakitkan. "Setiap kata adalah bukti bahwa kita masih terhubung. Setiap janji adalah bukti bahwa kita masih percaya."
Malam itu, Novi duduk di kamarnya. Hujan turun lagi di luar—hujan yang tenang, hujan yang menenangkan, bukan hujan badai yang mengamuk seperti malam ketika ia membakar buku catatannya. Ia menatap kotak kayu yang penuh dengan surat-surat—surat-surat dari Angga, surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan, surat-surat yang mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia tidak lagi merasa putus asa. Ia merasa bersyukur—bersyukur karena ia telah mencintai, bersyukur karena ia telah dicintai, bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia, bersyukur karena ia telah belajar untuk bertahan.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya—gelang yang hampir ia bakar bersama buku catatannya, gelang yang ia selamatkan dari api, gelang yang menjadi satu-satunya bukti fisik bahwa cinta mereka pernah nyata. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu, memantulkan cahaya yang hangat dan lembut.
"Selamanya, A & N," bisik Novi, dan untuk pertama kalinya, kata-kata itu tidak terasa seperti beban. "Selamanya."
Ia memejamkan mata. Ia membayangkan Angga—senyumnya, matanya, caranya memanggil namanya dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya, bayangan itu tidak lagi kabur. Sebaliknya, bayangan itu menjadi lebih jelas—lebih nyata, lebih dekat, lebih hidup.
Novi tersenyum. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak kehilangan Angga. Ia hanya menunggunya. Dan menunggu bukanlah hal yang menyakitkan. Menunggu adalah hal yang penuh harapan. Menunggu adalah hal yang membuatnya terus melangkah. Menunggu adalah hal yang mengajarkannya bahwa cinta sejati selalu layak untuk ditunggu.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi, dan kali ini, tidak ada keraguan dalam suaranya. "Aku akan selalu menunggumu. Bukan karena aku tidak bisa hidup tanpamu, tetapi karena aku memilih untuk menunggumu. Karena aku percaya pada cinta kita. Karena aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi."
BAB IV
Pengakuan Angga ke Bima
Di sebuah kamar kos di Tokyo, Angga duduk di depan meja kecil yang penuh dengan buku-buku kuliah—buku-buku tebal dengan sampul keras yang ia beli dengan susah payah, yang sekarang terasa seperti benda asing yang tidak ada hubungannya dengan kehidupannya yang sebenarnya. Di luar jendela, salju mulai turun perlahan, menutupi kota dengan selimut putih yang dingin dan sunyi. Angga menatap salju itu dengan mata kosong—mata yang tidak benar-benar melihat apa pun, mata yang hanya menatap tanpa fokus, tanpa tujuan. Pikirannya jauh melayang, melintasi lautan, melintasi benua, pada seorang gadis di seberang lautan. Pada Novi.
Sudah tiga bulan sejak ia meninggalkan Indonesia. Tiga bulan sejak ia mengucapkan selamat tinggal pada Novi di stasiun—selamat tinggal yang ia paksakan dengan senyum di wajahnya, padahal hatinya hancur berkeping-keping. Tiga bulan sejak ia berjanji untuk kembali—janji yang ia ucapkan dengan keyakinan palsu, karena ia sendiri tidak tahu apakah ia bisa menepatinya. Dan selama tiga bulan itu, ia telah mencoba untuk fokus pada kuliahnya, mencoba untuk menenggelamkan dirinya dalam buku-buku dan tugas-tugas, mencoba untuk tidak terlalu sering memikirkan Novi. Tetapi setiap malam, ketika ia menutup matanya, yang ia lihat adalah wajah Novi.
Angga menghela napas panjang, napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh energi yang tersisa di tubuhnya. Ia membuka laci mejanya—laci yang sudah lama tidak ia buka karena isinya terlalu menyakitkan—dan mengambil sebuah foto yang sudah usang di sudut-sudutnya karena sering dipegang. Foto Novi yang diambilnya diam-diam di perpustakaan, ketika ia masih berani mendekatinya dengan alasan mencari buku. Novi sedang menulis di foto itu, dengan ekspresi serius di wajahnya, bibirnya sedikit mengerucut seperti yang selalu ia lakukan saat berkonsentrasi. Rambutnya menutupi setengah wajahnya, tetapi Angga masih bisa melihat matanya—matanya yang penuh dengan luka, matanya yang menyimpan rahasia yang tidak ingin ia bagikan, matanya yang membuat Angga jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Aku merindukanmu, Novi," bisik Angga, suaranya nyaris tidak terdengar di atas deru pemanas ruangan. Jari-jarinya menyentuh foto itu, mengikuti garis wajah Novi, seolah-olah ia bisa merasakan kulitnya melalui kertas. "Aku sangat merindukanmu. Lebih dari yang bisa aku katakan. Lebih dari yang bisa aku tulis dalam surat apa pun."
Ia meletakkan foto itu di atas meja dengan hati-hati, seolah-olah foto itu adalah benda yang rapuh yang bisa hancur jika ia tidak berhati-hati. Ia menatapnya lama, mengingat semua kenangan bersama Novi—cokelat panas yang selalu menunggunya di pagi hari, percakapan panjang mereka di perpustakaan tentang puisi dan kehidupan, senja di bukit yang mereka saksikan bersama dalam diam, pelukan di atap sekolah tua ketika mereka berjanji untuk saling menunggu. Semua kenangan itu terasa seperti mimpi yang indah—mimpi yang sekarang terasa semakin jauh, semakin kabur, seperti gambar yang perlahan-lahan memudar karena waktu.
Ponsel Angga bergetar di atas meja, mengganggu keheningan yang menyelimuti ruangan. Sebuah pesan masuk dari Bima—Bima, sahabatnya yang selalu ada, yang selalu memberinya perspektif ketika ia kehilangan arah, yang selalu mengingatkannya bahwa ada dunia di luar penderitaannya.
"Angga, apa kabar? Aku kangen banget sama kamu. Gimana kuliahmu di Jepang? Jangan lupa makan yang teratur, ya. — Bima"
Angga tersenyum kecil, senyum pertama yang tulus dalam beberapa hari. Ia membalas pesan Bima dengan jari-jari yang sedikit kaku karena dingin.
"Kabar baik, Bi. Kuliahku lancar, walau kadang bikin pusing. Tapi aku kangen Indonesia. Aku kangen kalian semua. Aku kangen nasi goreng pinggir jalan. Aku kangen... semuanya. — Angga"
Tidak lama kemudian, ponselnya bergetar lagi. Kali itu, Bima menelepon—tidak repot-repot dengan pesan, langsung menelepon. Angga mengangkat telepon dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Angga!" sapa Bima dengan suara ceria yang langsung mengingatkan Angga pada masa-masa indah di Indonesia—masa-masa ketika mereka masih remaja yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. "Akhirnya aku bisa dengar suaramu! Aku sudah mencoba meneleponmu berkali-kali, tapi kau selalu sibuk."
"Bima!" Angga tersenyum, merasakan kehangatan yang menyebar di dadanya. "Aku juga senang mendengar suaramu. Maaf aku jarang angkat telepon. Kuliahku... banyak sekali tugas. Aku hampir tenggelam di antara buku-buku."
"Gimana kabarmu di sana?" tanya Bima. "Cocok sama Jepang? Musim dinginnya gimana? Kau kedinginan?"
"Cocok, Bi," kata Angga, dan ia hampir percaya pada kata-katanya sendiri. "Jepang itu... indah. Teratur. Orang-orangnya disiplin. Tapi aku kangen rumah. Aku kangen Indonesia. Aku kangen... semuanya. Aku kangen suara ibu-ibu di pasar. Aku kangen bau kopi di pagi hari. Aku kangen... Novi."
Bima terdiam sejenak, dan dalam keheningan itu, Angga bisa mendengar kekhawatiran di seberang telepon. "Aku tahu, Angga. Aku tahu kau pasti merindukannya. Aku juga merindukan kalian berdua."
"Bagaimana kabar Novi?" tanya Angga, dan ia tidak bisa menyembunyikan kerinduan dalam suaranya. "Apa dia baik-baik saja? Apa dia... apa dia masih menungguku? Apa dia masih mengingatku?"
"Novi baik-baik saja," kata Bima, dan Angga bisa mendengar kehati-hatian dalam suaranya—kehati-hatian seseorang yang tidak ingin mengatakan hal yang salah. "Dia mulai menulis lagi. Puisinya semakin bagus, katanya. Rina bilang dia mulai tersenyum lagi. Tapi Angga..."
"Tapi apa?" tanya Angga, dadanya berdebar kencang.
"Novi... dia terlihat baik-baik saja di luar. Tapi Rina bilang dia masih belum sepenuhnya pulih. Dia masih memikirkanmu. Dia masih menunggumu. Tapi dia juga... dia berusaha untuk bangkit. Dia berusaha untuk melanjutkan hidup."
Angga merasa lega—lega karena Novi masih menunggunya, tetapi juga cemas karena ia tahu bahwa Novi berusaha untuk melanjutkan hidup. Apa artinya itu? Apakah itu berarti Novi mulai melupakannya? Apakah itu berarti Novi mulai berpikir bahwa mereka tidak akan pernah bersama?
"Aku senang mendengarnya," kata Angga akhirnya, meskipun kata-kata itu terasa seperti kebohongan di mulutnya. "Aku senang dia mulai tersenyum lagi. Aku senang dia mulai menulis lagi."
"Tapi Angga," kata Bima dengan nada serius yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu. Sesuatu yang penting."
"Apa?" tanya Angga, dan ia merasakan ketakutan yang mulai tumbuh di dadanya.
"Aku tahu kau mencintai Novi. Aku tahu kau berjuang untuk hubungan ini. Aku tahu kau melakukan yang terbaik yang kau bisa. Tapi kau juga harus tahu bahwa jarak bisa mengubah segalanya. Aku tidak mau kau terlalu berharap. Aku tidak mau kau... hancur jika sesuatu terjadi."
Angga terdiam. Kata-kata Bima menusuk hatinya seperti pisau, seperti belati yang ia tancapkan sendiri.
"Aku tahu, Bi," kata Angga akhirnya, suaranya bergetar. "Tapi aku percaya pada cinta kami. Aku percaya bahwa kami akan bertemu lagi. Aku percaya bahwa cinta kami cukup kuat untuk melewati jarak dan waktu."
"Semoga," kata Bima, dan Angga bisa mendengar keraguan dalam suaranya—keraguan yang mencerminkan ketakutannya sendiri. "Aku hanya tidak mau kau kecewa. Aku hanya tidak mau kau terluka."
"Terima kasih, Bi," kata Angga. "Aku menghargai perhatianmu. Aku benar-benar menghargainya."
Setelah menutup telepon, Angga duduk termenung, ponsel masih tergenggam di tangannya yang dingin. Kata-kata Bima terus berputar di kepalanya, seperti mantra yang tidak bisa ia hentikan.
"Jarak bisa mengubah segalanya. Aku tidak mau kau terlalu berharap."
Angga menghela napas panjang, napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ia tahu Bima benar. Ia sudah merasakannya sendiri—surat-surat Novi yang semakin jarang, panggilan telepon yang semakin singkat, pesan-pesan yang semakin pendek dan datar. Kadang, ia merasa bahwa Novi mulai menjauh, bahwa Novi mulai bosan menunggu, bahwa Novi mulai mempertimbangkan untuk melepaskan semua ini.
Tetapi Angga tidak mau menyerah. Ia mencintai Novi—mencintainya dengan seluruh hatinya, dengan seluruh jiwanya, dengan seluruh dirinya. Ia akan berjuang untuk Novi. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali padanya. Ia akan melakukan apa pun untuk membuat hubungan ini bertahan.
"Tapi bagaimana?" bisik Angga pada dirinya sendiri, pada kegelapan yang menyelimuti ruangan. "Bagaimana aku bisa berjuang ketika aku berada di sini, ribuan kilometer dari dia? Bagaimana aku bisa mempertahankan cinta ketika jarak terus merenggutnya?"
Malam itu, Angga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya yang sempit—tempat tidur yang terlalu keras, yang selalu membuat punggungnya sakit—dan memandang langit-langit kamar yang asing, yang tidak memiliki kenangan apa pun tentang dirinya. Pikirannya terus pada Novi—pada senyumnya, pada matanya, pada caranya memanggil namanya dengan lembut, pada semua yang ia rindukan.
Ia membuka ponselnya dan melihat foto-foto Novi—foto-foto yang ia simpan dengan hati-hati, yang ia lihat setiap malam sebelum tidur, yang menjadi satu-satunya pengingat bahwa cinta mereka nyata. Foto-foto itu mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka—cokelat panas di pagi hari, percakapan di perpustakaan, senja di bukit, pelukan di atap sekolah tua. Semua kenangan yang sekarang terasa seperti mimpi yang semakin jauh.
"Aku merindukanmu, Novi," bisik Angga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan air mata yang mengalir di pipinya—air mata yang ia tahan selama berbulan-bulan, air mata yang akhirnya keluar ketika ia sendirian di malam yang dingin ini. "Aku merindukanmu lebih dari yang bisa aku katakan. Aku merindukanmu lebih dari yang bisa aku tulis. Aku merindukanmu sampai rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang."
Ia memutuskan untuk menulis surat untuk Novi—surat yang panjang, surat yang jujur, surat yang akan mengungkapkan semua yang ia rasakan, semua yang ia takutkan, semua yang ia harapkan. Ia mengambil pena dan kertas, dan mulai menulis dengan tangan yang gemetar.
"Novi tersayang,
Malam ini, salju turun di Tokyo. Dingin sekali—dingin yang menusuk tulang, dingin yang membuatku ingat bahwa aku jauh dari rumah, jauh dari semua yang aku cintai, jauh darimu. Tapi hatiku hangat karena aku memikirkanmu. Aku memikirkan senyummu yang selalu membuatku lupa bernapas. Aku memikirkan tawamu yang selalu membuatku ingin tertawa bersamamu. Aku memikirkan caramu memanggil namaku, dengan suara yang lembut dan penuh cinta, seolah-olah namaku adalah kata yang paling indah di dunia.
Aku merindukanmu, Novi. Aku merindukan setiap momen bersama mu—bahkan momen-momen yang paling sederhana, paling biasa, yang sekarang terasa seperti harta yang tidak bisa aku gantikan. Aku merindukan caramu menunduk saat kau malu. Aku merindukan caramu menggigit bibir saat kau berpikir. Aku merindukan caramu menatapku dengan mata yang penuh pertanyaan, seolah-olah kau bertanya-tanya mengapa aku masih di sini.
Tapi aku tahu bahwa kita harus kuat. Kita harus percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Aku akan kembali padamu, Novi. Aku berjanji. Bukan karena aku ingin, tetapi karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.
Jangan pernah berhenti menulis, Novi. Puisimu adalah cahaya di hidupku—cahaya yang membantuku melewati malam-malam yang gelap, cahaya yang mengingatkanku bahwa ada sesuatu yang indah di dunia ini, cahaya yang membuatku percaya bahwa cinta itu nyata.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Angga mengirimkan surat itu keesokan harinya, dengan perasaan lega yang aneh—lega karena ia telah mengatakan apa yang ia rasakan, tetapi juga cemas karena ia tidak tahu bagaimana Novi akan merespons. Ia berjalan ke kantor pos di tengah salju yang masih turun, dan ketika ia memasukkan surat itu ke dalam kotak pos, ia merasakan sesuatu yang putus di dalam dirinya—seperti ia melepaskan sebagian dari hatinya.
Tetapi di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap ada, tidak bisa ia hilangkan. Ia takut—takut bahwa jarak akan mengubah segalanya, takut bahwa Novi akan melupakannya, takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi. Ia takut bahwa semua perjuangannya akan sia-sia, bahwa semua cintanya tidak akan cukup, bahwa semua yang ia korbankan akan berakhir dengan kehancuran.
Ia memutuskan untuk berbicara dengan teman sekelasnya, Yuki—seorang gadis Jepang yang ramah dan bijaksana, yang selalu tersenyum padanya di kelas, yang selalu menawarkan bantuan ketika ia kesulitan dengan bahasa. Yuki adalah satu-satunya orang di Tokyo yang ia rasa bisa diajak bicara tentang hal-hal yang serius.
"Yuki," kata Angga, ketika mereka duduk di kafe kampus yang kecil dan hangat. "Aku ingin bertanya sesuatu. Sesuatu yang penting."
"Tentu, Angga," kata Yuki, menatapnya dengan mata yang penuh perhatian. "Ada apa? Kau terlihat sangat serius hari ini."
"Bagaimana kau menjaga hubungan jarak jauh?" tanya Angga, dan ia tidak bisa menyembunyikan keputusasaan dalam suaranya. "Aku memiliki pacar di Indonesia. Dan aku takut jarak akan mengubah segalanya. Aku takut bahwa suatu hari nanti, aku akan bangun dan menyadari bahwa aku telah kehilangannya."
Yuki tersenyum—senyum yang bijaksana, yang membuat Angga merasa bahwa ia dipahami. "Hubungan jarak jauh memang sulit, Angga. Sangat sulit. Aku pernah mengalaminya sendiri. Tapi jika cinta itu nyata, ia akan bertahan. Ia akan menemukan jalannya."
"Tapi bagaimana caranya?" tanya Angga, merasakan keputusasaan yang mulai merayap di hatinya. "Bagaimana cara menjaga agar cinta itu tetap hidup, ketika kau tidak bisa melihatnya, tidak bisa menyentuhnya, tidak bisa merasakannya?"
"Kau harus terus berkomunikasi," kata Yuki, dengan suara yang tenang dan pasti. "Tulis surat. Telepon. Video call. Bagikan cerita tentang hidupmu—hal-hal kecil yang membuatmu tersenyum, hal-hal kecil yang membuatmu marah, hal-hal kecil yang membuatmu merasa hidup. Biarkan dia merasa bahwa kau masih ada di sisinya, meskipun jarak memisahkan kalian. Biarkan dia merasa bahwa kau masih memikirkannya, bahkan ketika kau tidak sedang bersama."
Angga mengangguk, merasakan kelegaan yang kecil. "Terima kasih, Yuki. Aku akan mencoba. Aku akan melakukan yang terbaik yang aku bisa."
Angga mulai lebih sering menghubungi Novi. Ia menulis surat setiap minggu—surat-surat panjang yang ia tulis di malam hari, ketika semua orang sudah tidur dan ia sendirian dengan pikirannya. Ia menelepon setiap akhir pekan, meskipun panggilan itu hanya berlangsung beberapa menit karena biaya yang mahal. Ia mengirim pesan setiap hari, meskipun ia tahu bahwa Novi mungkin tidak akan membalasnya dengan segera.
Ia menceritakan tentang kehidupannya di Jepang—tentang kuliahnya yang sibuk, tentang teman-temannya yang baik hati, tentang makanan yang ia coba (beberapa enak, beberapa aneh), tentang salju yang turun di musim dingin dan membuat semuanya terlihat seperti dunia yang berbeda. Ia berbagi semua hal kecil yang membuatnya tersenyum, semua hal kecil yang membuatnya mengingat Novi, semua hal kecil yang membuatnya merasa bahwa hidup masih berharga.
Dan Novi membalas surat-suratnya—surat-surat yang datang secara teratur, surat-surat yang menceritakan tentang kehidupannya di Indonesia, tentang sekolah yang masih sama seperti dulu, tentang Rina yang masih menjadi sahabat terbaiknya, tentang ayahnya yang mulai lebih sering di rumah, tentang puisi-puisi yang ia tulis di malam-malam ketika ia tidak bisa tidur.
Mereka saling berbagi. Mereka saling mendukung. Mereka saling mencintai, meskipun jarak membentang di antara mereka seperti lautan yang tidak bisa mereka seberangi.
Suatu malam, Angga dan Novi melakukan video call—pertama kalinya mereka melihat wajah satu sama lain setelah berbulan-bulan. Ketika layar ponselnya menyala dan menampilkan wajah Novi, Angga merasakan jantungnya berdebar begitu kencang sehingga ia hampir tidak bisa bernapas.
"Novi!" sapa Angga, dan ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dalam suaranya. "Kau terlihat cantik! Aku hampir tidak percaya bahwa ini kau!"
"Angga!" Novi tersenyum—senyum yang sama yang selalu membuat hatinya meleleh. "Kau terlihat... berbeda. Rambutmu lebih panjang dari yang aku ingat. Kau terlihat lebih... dewasa."
Angga tertawa—tawa yang pertama kali ia rasakan dalam beberapa minggu. "Aku malas potong rambut di sini. Mahal. Dan aku tidak percaya dengan tukang cukur Jepang—aku takut rambutku akan menjadi seperti samurai atau sesuatu."
Mereka tertawa bersama, dan untuk beberapa saat, mereka melupakan jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya menikmati kebersamaan—kebersamaan yang tercipta dari suara dan senyum, dari tawa dan cerita, dari cinta yang tidak bisa dipadamkan oleh jarak.
"Aku merindukanmu, Novi," kata Angga, dan ia merasakan air mata yang menggenang di matanya. "Aku sangat merindukanmu. Lebih dari yang bisa aku katakan."
"Aku juga merindukanmu," kata Novi, dan Angga bisa melihat air mata yang mengalir di pipinya. "Aku merindukan cokelat panasmu di pagi hari. Aku merindukan senyummu yang selalu membuatku merasa aman. Aku merindukan pelukanmu yang membuatku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Tunggu aku, Novi," kata Angga, dan ia merasakan tekad yang menguat di dadanya. "Aku akan kembali. Aku berjanji. Aku akan menyelesaikan kuliahku, dan kemudian aku akan kembali padamu."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Setelah video call, Angga merasa lebih baik—lebih ringan, lebih berharap, lebih percaya bahwa hubungan mereka masih kuat, bahwa cinta mereka masih nyata. Tetapi di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap ada, tidak bisa ia hilangkan. Ia takut—takut bahwa suatu hari nanti, Novi akan berhenti menunggu, takut bahwa Novi akan menemukan orang lain, takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia memutuskan untuk berbicara dengan Bima lagi—Bima, sahabatnya yang selalu tahu apa yang harus dikatakan, yang selalu bisa memberikan perspektif yang ia butuhkan.
"Bi," kata Angga melalui telepon, dan ia tidak bisa menyembunyikan kekhawatiran dalam suaranya. "Aku takut."
"Takut apa?" tanya Bima, dan Angga bisa mendengar kekhawatiran dalam suaranya.
"Takut kehilangan Novi," kata Angga. "Aku takut jarak akan mengubah segalanya—bahwa suatu hari nanti, ia akan bangun dan menyadari bahwa ia tidak lagi mencintaiku, bahwa ia telah menemukan seseorang yang lebih baik, bahwa ia telah memutuskan untuk melupakanku."
Bima terdiam sejenak, dan dalam keheningan itu, Angga bisa mendengar pikirannya yang berputar. "Angga, aku tidak bisa berbohong padamu. Jarak memang sulit. Aku tidak akan mengatakan bahwa itu mudah. Tapi jika cinta itu nyata, ia akan bertahan. Kau harus percaya pada Novi. Kau harus percaya pada cinta kalian."
"Aku mencoba," kata Angga, dan ia merasakan putus asa yang mulai merayap di hatinya. "Tapi kadang, aku merasa bahwa Novi mulai menjauh. Bahwa ada jarak yang semakin lebar di antara kami, meskipun kami masih berkomunikasi."
"Mungkin kau hanya terlalu cemas," kata Bima. "Mungkin kau terlalu banyak berpikir. Novi mencintaimu, Angga. Aku bisa melihatnya. Aku bisa mendengarnya setiap kali ia berbicara tentangmu. Dia akan menunggumu, Angga. Aku yakin."
Angga menghela napas, merasakan kelegaan yang kecil. "Aku harap kau benar, Bi. Aku benar-benar harap."
"Aku yakin," kata Bima, dan Angga bisa mendengar keyakinan dalam suaranya. "Percayalah padaku. Percayalah pada Novi. Percayalah pada cinta kalian."
Minggu berikutnya, Angga menerima surat dari Novi—surat yang berbeda dari biasanya, surat yang dipenuhi dengan kesedihan dan keraguan, surat yang membuat hatinya hancur ketika ia membacanya.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini dengan hati yang berat. Aku merindukanmu—aku sangat merindukanmu. Tapi kadang, aku merasa bahwa jarak ini terlalu jauh. Kadang, aku merasa bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi. Kadang, aku merasa bahwa semua ini adalah mimpi yang akan segera berakhir.
Aku takut, Angga. Aku takut bahwa kau akan melupakanku di sana, di antara orang-orang baru dan pengalaman-pengalaman baru. Aku takut bahwa kau akan menemukan orang lain, seseorang yang lebih baik, seseorang yang lebih dekat, seseorang yang tidak membuatmu menunggu. Aku takut bahwa cinta kita tidak cukup kuat untuk melewati jarak ini—bahwa pada akhirnya, kita hanya akan menjadi kenangan bagi satu sama lain.
Tapi aku juga tahu bahwa aku mencintaimu. Aku mencintaimu dengan segenap hatiku, dengan seluruh jiwaku, dengan semua yang aku miliki. Dan aku tidak ingin kehilanganmu. Aku tidak ingin kehilangan apa yang kita miliki.
Tolong katakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tolong katakan padaku bahwa kita akan bertemu lagi. Tolong katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku, bahwa kau masih menungguku, bahwa kau masih percaya pada kita.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Angga membaca surat itu berulang-ulang, merasakan setiap kata seperti pisau yang menusuk hatinya. Air mata mengalir di pipinya—air mata yang tidak bisa ia tahan, air mata yang keluar dengan sendirinya. Ia merasakan sakit yang sama dengan Novi—sakit yang datang dari cinta yang tidak bisa ia raih, dari jarak yang tidak bisa ia seberangi, dari keraguan yang tidak bisa ia hilangkan.
Ia segera menulis balasan—balasan yang panjang, balasan yang jujur, balasan yang akan meyakinkan Novi bahwa cintanya nyata, bahwa cintanya kuat, bahwa cintanya akan bertahan.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan sakit yang sama denganmu—sakit yang datang dari jarak yang memisahkan kita, dari waktu yang terasa begitu lambat, dari keraguan yang kadang merayap di dalam hati.
Tapi aku percaya pada cinta kita. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Aku akan kembali padamu, Novi—bukan karena aku harus, tetapi karena aku ingin. Karena aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Karena kau adalah segalanya bagiku.
Jangan pernah ragu pada cintaku, Novi. Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu, sampai kapan pun. Sampai akhir waktu. Sampai semua bintang padam di langit. Sampai aku tidak lagi bisa bernapas.
Tunggu aku. Aku akan kembali. Aku berjanji.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Angga mengirimkan surat itu dengan perasaan lega—lega karena ia telah mengatakan apa yang ia rasakan, lega karena ia telah meyakinkan Novi bahwa cintanya nyata, lega karena ia telah berjanji untuk kembali. Tetapi di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap ada, tidak bisa ia hilangkan. Ia takut—takut bahwa suratnya tidak cukup, takut bahwa kata-katanya tidak cukup, takut bahwa cintanya tidak cukup.
Beberapa minggu kemudian, Angga menerima kabar dari Bima yang membuatnya terkejut, yang membuat dunianya berhenti berputar sejenak.
"Angga," kata Bima dengan nada serius yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. "Aku harus mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya."
"Apa?" tanya Angga, dan ia merasakan ketakutan yang mulai tumbuh di dadanya—ketakutan yang sudah ia rasakan sejak lama, ketakutan yang ia coba abaikan, ketakutan yang sekarang menjadi kenyataan.
"Novi... Novi mulai dekat dengan seseorang," kata Bima, dan setiap kata terasa seperti pukulan di wajah Angga. "Aku tidak tahu detailnya—aku tidak tahu siapa orangnya atau seberapa dekat mereka. Tapi Rina bilang ada seorang cowok yang sering mendekati Novi di sekolah. Dia bilang mereka sering terlihat bersama."
Angga terdiam. Dadanya terasa sesak, seperti ada tangan yang meremas jantungnya. Pikirannya kacau, berputar seperti angin puyuh, tidak bisa berhenti pada satu pemikiran.
"Apa maksudmu?" tanya Angga akhirnya, dan suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—suara yang hampa, yang putus asa, yang hancur.
"Mungkin hanya teman," kata Bima cepat, dan Angga bisa mendengar kepanikan dalam suaranya. "Mungkin tidak ada apa-apa. Aku hanya pikir kau harus tahu. Aku tidak mau kau terkejut jika sesuatu terjadi."
Angga tidak menjawab. Ia hanya diam, tenggelam dalam lautan pikirannya yang kacau.
"Angga?" panggil Bima. "Kau masih di sana? Angga, tolong katakan sesuatu."
"Ya," kata Angga pelan, dan suaranya terdengar seperti bisikan hantu. "Aku masih di sini."
"Kau baik-baik saja?" tanya Bima, dan Angga bisa mendengar kekhawatiran yang mendalam dalam suaranya.
"Aku... aku tidak tahu," kata Angga. "Aku tidak tahu harus berpikir apa. Aku tidak tahu harus merasa apa. Aku hanya... aku hanya tidak percaya."
"Angga," kata Bima, dan suaranya menjadi lebih lembut. "Aku tidak ingin kau terlalu khawatir. Mungkin hanya teman. Mungkin hanya orang yang peduli padanya. Mungkin tidak ada apa-apa. Aku hanya pikir kau harus tahu, untuk berjaga-jaga."
"Aku tahu," kata Angga, dan ia merasakan air mata yang mulai mengalir di pipinya. "Tapi... aku takut, Bi. Aku sangat takut. Aku takut bahwa ini adalah awal dari akhir. Bahwa aku akan kehilangannya. Bahwa aku akan kehilangan segalanya."
"Aku mengerti," kata Bima. "Tapi kau harus percaya pada Novi. Kau harus percaya pada cinta kalian. Dia mencintaimu, Angga. Dia selalu mencintaimu. Dan aku yakin dia tidak akan melakukan apa pun untuk menyakitimu."
Angga menghela napas—napas yang terasa seperti mengeluarkan seluruh isi hatinya. "Aku akan mencoba. Aku akan mencoba untuk percaya."
Setelah menutup telepon, Angga duduk termenung, ponsel masih tergenggam di tangannya yang gemetar. Pikirannya kacau—kacau seperti lautan yang dilanda badai, kacau seperti angin yang tidak bisa berhenti. Ia tidak bisa berhenti memikirkan kata-kata Bima.
"Novi mulai dekat dengan seseorang."
Angga merasakan sakit yang luar biasa di dadanya—sakit yang membuatnya sulit bernapas, sakit yang membuatnya ingin berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia takut—takut bahwa Novi akan melupakannya, takut bahwa Novi akan menemukan orang lain, takut bahwa cinta mereka tidak cukup kuat, takut bahwa semua yang ia perjuangkan akan berakhir dengan kehancuran.
Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Novi. Telepon berdering beberapa kali, tetapi tidak ada yang menjawab. Ia mencoba lagi. Tetapi tetap tidak ada jawaban.
Ia meletakkan ponselnya dengan perasaan cemas—cemas yang semakin dalam, cemas yang terus tumbuh, cemas yang tidak bisa ia hilangkan. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak tahu harus berpikir apa. Ia hanya tahu bahwa ia takut—takut kehilangan Novi, takut kehilangan cinta mereka, takut kehilangan segalanya.
Malam itu, Angga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya yang sempit, memandang langit-langit kamar yang asing, dan pikirannya terus pada Novi, pada kata-kata Bima, pada semua ketakutannya. Salju masih turun di luar, menutupi kota dengan kesunyian yang dingin, tetapi Angga tidak memperhatikannya. Yang ia rasakan hanyalah rasa sakit yang luar biasa di dadanya—rasa sakit yang tidak bisa ia jelaskan, rasa sakit yang membuatnya ingin menyerah.
Ia memutuskan untuk menulis surat untuk Novi—surat yang panjang, surat yang jujur, surat yang akan mengungkapkan semua yang ia rasakan, semua yang ia takutkan, semua yang ia harapkan.
"Novi tersayang,
Aku mendengar kabar bahwa kau mulai dekat dengan seseorang. Aku mendengar kabar bahwa ada orang lain yang memperhatikanmu, yang mendekatimu, yang mungkin membuatmu tersenyum. Aku tidak tahu apakah itu benar. Aku tidak tahu seberapa dekat kalian. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu—tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita.
Jika kau menemukan kebahagiaan dengan orang lain—jika kau menemukan seseorang yang membuatmu merasa lebih dicintai, lebih dihargai, lebih bahagia—aku akan menerimanya. Aku akan melepaskanmu, meskipun itu akan menghancurkanku. Karena yang terpenting bagiku adalah kebahagiaanmu—bukan kebahagiaanku, tetapi kebahagiaanmu.
Tapi jika kau masih mencintaiku—jika kau masih percaya pada kita—aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu. Aku akan kembali padamu, secepat mungkin, sebaik mungkin.
Tolong katakan padaku. Tolong jujur padaku. Aku akan menerima apa pun keputusanmu—karena aku mencintaimu terlalu dalam untuk memaksamu melakukan apa pun yang tidak kau inginkan.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Angga mengirimkan surat itu keesokan harinya, dengan perasaan lega yang bercampur dengan ketakutan. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar—ia telah jujur pada Novi, ia telah mengatakan semua yang ia rasakan, ia telah membuka hatinya sepenuhnya. Tetapi di dalam hatinya, kegelisahan itu tetap ada—takut bahwa suratnya akan mengubah segalanya, takut bahwa Novi akan memilih orang lain, takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia hanya bisa menunggu—menunggu jawaban dari Novi, menunggu keputusan Novi, menunggu cinta mereka. Ia hanya bisa berharap—berharap bahwa Novi masih mencintainya, berharap bahwa Novi masih percaya pada mereka, berharap bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati semua ini.
Beberapa hari kemudian, Angga menerima balasan dari Novi—surat yang pendek, tetapi penuh makna, surat yang membuat hatinya berdebar ketika ia membukanya.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu—tidak peduli apa yang terjadi, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita.
Tidak ada orang lain. Hanya kau. Hanya selalu kau. Tidak peduli siapa yang mendekatiku, tidak peduli siapa yang mencoba membuatku tersenyum—hatiku hanya milikmu. Dan itu tidak akan pernah berubah.
Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu. Aku akan menunggu sampai kau kembali padaku—sampai kau berdiri di hadapanku dan berkata bahwa kau di sini untuk selamanya.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Angga membaca surat itu berulang-ulang, merasakan setiap kata seperti pelukan yang hangat, seperti ciuman yang lembut, seperti janji yang akan ditepati. Air mata mengalir di pipinya—air mata kebahagiaan, air mata kelegaan, air mata cinta yang tidak pernah pudar.
Ia tersenyum. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa cinta mereka masih kuat, masih nyata, masih bertahan—bahwa mereka akan bertemu lagi, bahwa mereka akan bersama lagi, bahwa cinta mereka akan melewati semua ini.
"Aku akan kembali padamu, Novi," bisik Angga, dan untuk pertama kalinya, ia merasakan keyakinan yang kuat di dalam hatinya. "Aku berjanji. Aku akan kembali. Dan kali ini, aku tidak akan pernah pergi lagi."
BAB XV
"Aku Suka Kamu"
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang surat dari Angga yang baru saja ia terima. Surat itu pendek, tetapi penuh makna. Angga menulis tentang ketakutannya. Tentang keraguannya. Tentang cintanya yang tidak pernah pudar.
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang sama dengan Angga. Ia juga takut. Ia juga cemas. Ia juga merindukan.
Aku mendengar kabar bahwa kau mulai dekat dengan seseorang... Jika kau menemukan kebahagiaan dengan orang lain, aku akan menerimanya... Tapi jika kau masih mencintaiku, aku akan menunggumu...
Novi memeluk surat itu erat-erat. "Tidak ada orang lain, Angga," bisik Novi. "Hanya kau. Hanya selalu kau."
Ia teringat pada beberapa minggu terakhir. Memang benar ada seorang cowok yang sering mendekatinya di sekolah. Namanya Dimas, anak kelas sebelas yang baru pindah dari kota lain. Dimas ramah, baik, dan selalu berusaha mengajaknya bicara. Tetapi Novi tidak pernah tertarik padanya. Hatinya sudah milik Angga. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempat itu.
Novi mengambil pena dan kertas. Ia ingin menulis balasan untuk Angga. Surat yang pendek, tetapi penuh makna. Surat yang akan meyakinkan Angga bahwa cintanya tidak pernah pudar.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu.
Tidak ada orang lain. Hanya kau. Hanya selalu kau.
Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu. Aku akan menunggu sampai kau kembali padaku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Ia tersenyum. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar.
Ia mengirimkan surat itu keesokan harinya.
Minggu berikutnya, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku merasa sangat bahagia. Aku tahu bahwa cinta kita masih kuat. Aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi.
Terima kasih telah menungguku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku.
Aku akan kembali padamu, Novi. Aku berjanji.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Namun, di balik kebahagiaan itu, Novi masih merasakan kegelisahan. Ia takut. Takut bahwa jarak akan mengubah segalanya. Takut bahwa suatu hari nanti, Angga akan berhenti menulis. Takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia memutuskan untuk berbicara dengan Rina tentang perasaannya.
"Rin," kata Novi suatu hari di kantin. "Aku takut."
"Takut apa?" tanya Rina.
"Takut kehilangan Angga," kata Novi. "Aku takut jarak akan mengubah segalanya. Aku takut bahwa suatu hari nanti, ia akan berhenti mencintaiku."
Rina memegang tangan Novi. "Novi, kau harus percaya pada Angga. Kau harus percaya pada cinta kalian. Angga mencintaimu. Aku bisa melihatnya dari cara ia menulis surat-suratnya."
"Tapi bagaimana jika..." Novi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.
"Tidak ada 'bagaimana jika'," kata Rina. "Kau hanya harus percaya. Dan jika suatu hari nanti segalanya berubah, kau akan kuat. Kau telah melewati banyak hal, Novi. Kau bisa melewati ini juga."
Novi tersenyum. "Terima kasih, Rin. Kau selalu tahu apa yang harus kukatakan."
"Itu tugas seorang sahabat," kata Rina sambil tersenyum.
Suatu malam, hujan turun dengan derasnya. Novi duduk di kamarnya, memandang gelapnya langit di luar jendela. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu masih berkilau meskipun dalam gelap.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia teringat pada hari-hari indah bersama Angga. Cokelat panas di pagi hari. Percakapan di perpustakaan. Senja di bukit. Pelukan di atap sekolah tua. Semua kenangan itu terasa seperti mimpi yang indah.
Novi menangis. Ia merindukan Angga. Ia sangat merindukannya.
Tetapi ia juga tahu bahwa ia harus kuat. Ia harus percaya bahwa mereka akan bertemu lagi. Ia harus percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati jarak ini.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan tekad bulat. Ia akan kuat. Ia akan percaya. Ia akan menunggu Angga.
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Di kelas, ia bertemu dengan Dimas. Dimas tersenyum padanya.
"Hai, Novi," sapa Dimas. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja," kata Novi. "Terima kasih."
"Kau terlihat murung akhir-akhir ini," kata Dimas. "Ada yang bisa aku bantu?"
Novi tersenyum kecil. "Tidak, terima kasih. Aku hanya... aku merindukan seseorang."
Dimas mengangguk. "Aku mengerti. Kalau kau butuh teman bicara, aku di sini."
"Terima kasih, Dimas," kata Novi. "Kau baik."
Novi mulai menyadari bahwa Dimas memang baik. Ia selalu tersenyum padanya. Ia selalu menawarkan bantuan. Ia selalu berusaha membuatnya tersenyum.
Tetapi Novi tidak bisa membalas perasaannya. Hatinya sudah milik Angga. Dan ia tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempat itu.
Suatu hari, Dimas mengajak Novi bicara di taman sekolah.
"Novi," kata Dimas. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku... aku suka kamu," kata Dimas. "Aku tahu kau mungkin tidak merasakan hal yang sama. Tapi aku ingin kau tahu."
Novi terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa.
"Dimas," kata Novi akhirnya. "Aku menghargai perasaanmu. Tapi aku sudah punya seseorang. Aku mencintainya. Dan aku akan menunggunya."
Dimas tersenyum pahit. "Aku tahu. Aku sudah menduganya. Tapi aku hanya ingin kau tahu."
"Terima kasih, Dimas," kata Novi. "Kau adalah orang yang baik. Kau akan menemukan seseorang yang tepat untukmu."
"Semoga," kata Dimas. "Dan aku harap kau bahagia dengan orang yang kau tunggu."
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Ia menceritakan tentang Dimas. Tentang pengakuan Dimas. Tentang bagaimana ia menolaknya dengan lembut.
"Angga tersayang,
Hari ini, seseorang mengaku padaku. Namanya Dimas. Dia baik, ramah, dan selalu berusaha membuatku tersenyum. Tapi aku tidak bisa membalas perasaannya. Hatiku sudah milikmu. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tempat itu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku setia padamu. Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku merasa sangat bangga padamu. Kau telah menunjukkan kesetiaanmu padaku. Kau telah menunjukkan bahwa cinta kita kuat.
Terima kasih telah menolak Dimas. Terima kasih telah menungguku. Terima kasih telah mencintaiku.
Aku akan kembali padamu, Novi. Aku berjanji. Aku akan menjadi orang yang pantas untukmu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga melakukan video call. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat wajah satu sama lain setelah beberapa minggu.
"Novi!" sapa Angga dengan senyum lebar. "Kau terlihat cantik!"
"Angga!" Novi tersenyum. "Kau terlihat... lebih dewasa."
Angga tertawa. "Kuliah di Jepang membuatku lebih dewasa, katanya."
Mereka tertawa bersama. Untuk beberapa saat, mereka melupakan jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya menikmati kebersamaan.
"Aku mendengar tentang Dimas," kata Angga. "Terima kasih telah jujur padaku."
"Tentu," kata Novi. "Aku tidak mau menyembunyikan apa pun darimu."
"Aku percaya padamu, Novi," kata Angga. "Aku selalu percaya padamu."
"Aku juga percaya padamu," kata Novi. "Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi."
Setelah video call, Novi merasa lebih baik. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suatu hari nanti, Angga akan berubah pikiran. Takut bahwa Angga akan menemukan orang lain. Takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia memutuskan untuk menulis puisi tentang perasaannya.
"Aku menunggu di sini. Di bawah langit yang sama. Di bawah bintang yang sama. Aku menunggu kau kembali. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia masih takut. Tetapi ia memilih untuk percaya. Ia memilih untuk menunggu.
Suatu hari, Novi menerima kabar dari Bima. Kabar yang membuatnya terkejut.
"Novi," kata Bima melalui telepon. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
"Apa?" tanya Novi.
"Angga... Angga akan kembali," kata Bima. "Ia mendapat kesempatan untuk magang di Indonesia. Ia akan kembali selama tiga bulan."
Novi terkejut. Dadanya berdebar kencang.
"Benarkah?" tanya Novi dengan suara bergetar.
"Benar," kata Bima. "Ia akan tiba bulan depan."
Novi menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya.
"Terima kasih, Bima," kata Novi. "Terima kasih sudah memberitahuku."
"Tentu," kata Bima. "Aku tahu kau pasti senang."
"Aku sangat senang," kata Novi. "Aku sangat-sangat senang."
Novi segera menulis surat untuk Angga. Surat yang penuh dengan kebahagiaan.
"Angga tersayang,
Aku mendengar kabar bahwa kau akan kembali. Aku sangat bahagia. Aku tidak bisa menahan air mataku saat mendengar kabar ini.
Aku sudah menunggumu. Aku sudah menunggumu sangat lama. Dan sekarang, kau akan kembali.
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk memelukmu. Aku tidak sabar untuk mengatakan betapa aku mencintaimu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan bahagia. Ia merasa bahwa semua penantiannya akan segera berakhir. Ia merasa bahwa mereka akan segera bertemu.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Novi menghitung setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Angga.
Ia mempersiapkan diri. Ia membeli baju baru. Ia memotong rambutnya. Ia merawat dirinya dengan lebih baik. Ia ingin terlihat cantik saat bertemu dengan Angga.
"Aku tidak sabar untuk melihatmu," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku sangat tidak sabar."
Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba. Novi pergi ke bandara dengan Rina. Ia memakai baju terbaiknya. Ia memakai lipstik. Ia memakai gelang yang diberikan Angga.
"Novi, kau terlihat cantik," kata Rina. "Angga pasti terkejut melihatmu."
"Aku harap," kata Novi. "Aku sangat gugup."
"Tenang," kata Rina. "Semua akan baik-baik saja."
Mereka menunggu di ruang kedatangan. Novi menatap pintu dengan penuh harap. Ia mencari wajah Angga di antara kerumunan.
Kemudian, ia melihatnya.
Angga berjalan keluar dari pintu kedatangan dengan koper di tangannya. Ia terlihat lebih dewasa. Lebih tinggi. Lebih tampan.
Novi berlari mendekatinya. Angga melihatnya dan tersenyum.
"Novi!" teriak Angga.
"Angga!" teriak Novi.
Mereka berlari saling mendekat. Mereka berpelukan erat-erat. Air mata mengalir di pipi mereka.
"Aku merindukanmu," bisik Angga. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," bisik Novi. "Aku sangat merindukanmu."
Mereka berpelukan lama. Tidak ada yang perlu diucapkan. Semua sudah terasa sempurna.
"Aku suka kamu, Novi," kata Angga. "Aku selalu menyukaimu."
"Aku juga suka kamu, Angga," kata Novi. "Aku selalu menyukaimu."
Mereka tersenyum satu sama lain. Di bandara yang ramai, di tengah kerumunan orang yang lalu lalang, mereka merasa bahwa mereka telah menemukan kebahagiaan yang sejati.
BAB XVI
Setelah Pengakuan
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, tetapi kali ini bukan karena kesedihan. Ia tersenyum. Ia tidak bisa berhenti tersenyum. Angga telah kembali. Angga ada di sini, di kota yang sama, di udara yang sama, di bawah langit yang sama.
Novi memeluk bantalnya erat-erat. Ia mengingat pertemuan mereka di bandara. Pelukan hangat Angga. Kata-kata yang ia bisikkan di telinganya.
"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."
Novi memejamkan mata dan merasakan kembali kehangatan pelukan itu. Rasanya seperti pulang. Rasanya seperti menemukan bagian dari dirinya yang hilang. Rasanya seperti semua rasa sakit selama berbulan-bulan terhapus dalam satu pelukan.
"Aku tidak percaya kau benar-benar kembali," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku tidak percaya ini nyata."
Ia membuka matanya dan menatap gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela. "Selamanya, A & N." Ukiran itu terasa lebih berarti dari sebelumnya. Bukan lagi janji yang menyakitkan, tetapi janji yang akan ditepati.
"Kita akan bersama selamanya," bisik Novi. "Aku akan memastikannya."
Keesokan paginya, Novi bangun dengan semangat yang luar biasa. Ia tidak bisa mengingat kapan terakhir kali ia merasa seperti ini. Rasanya seperti ada cahaya di dalam dadanya, cahaya yang tidak bisa ia padamkan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya berbinar. Senyumnya mengembang. Bahkan rambutnya yang biasanya kusut terlihat lebih bercahaya.
"Hari ini," bisik Novi pada bayangannya. "Hari ini aku akan bertemu dengan Angga lagi."
Ia memakai seragamnya dengan rapi. Ia menyisir rambutnya dengan teliti. Ia memakai lipstik. Ia ingin terlihat cantik. Ia ingin terlihat seperti seseorang yang pantas dicintai. Ia ingin Angga melihat bahwa ia telah berubah, bahwa ia telah tumbuh, bahwa ia layak untuk dicintai.
"Tapi apakah aku benar-benar berubah?" tanyanya pada bayangannya. "Atau aku masih gadis yang sama yang takut kehilangan?"
Ia tidak menemukan jawaban. Tapi ia memilih untuk percaya bahwa ia telah berubah.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah ringan. Ia menyapa semua orang dengan senyum. Bahkan guru-guru yang biasanya ia hindari, ia sapa dengan ramah.
Rina melihatnya dan tersenyum. "Novi, kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia, Rin," kata Novi. "Angga telah kembali."
"Aku tahu," kata Rina. "Aku melihat kalian di bandara. Kalian berdua sangat romantis."
Novi memerah. "Kami hanya berpelukan."
"Hanya berpelukan?" Rina tertawa. "Kalian berpelukan selama lima menit! Semua orang di bandara melihat kalian."
Novi tertawa. "Aku tidak peduli. Aku sudah menunggunya terlalu lama."
"Aku sudah menunggu terlalu lama," ulang Novi dalam hati. "Dan aku tidak akan membiarkannya pergi lagi."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada pertemuan mereka hari ini. Pada semua yang ingin ia katakan padanya.
Ia menulis catatan kecil di buku catatannya.
"Hari ini, aku akan bertemu denganmu. Aku akan mengatakan semua yang tidak sempat kukatakan. Aku akan memelukmu erat-erat. Aku akan tersenyum padamu. Aku akan mencintaimu, seperti yang selalu kulakukan."
Novi membaca catatan itu dan tersenyum. Ia merasa bahwa hari ini akan menjadi hari yang indah.
Namun di dalam hatinya, ada suara kecil yang bertanya, "Apa kau yakin? Apa kau yakin ia tidak akan pergi lagi?"
Novi menggigit bibirnya. "Aku tidak bisa terus hidup dalam ketakutan," bisiknya. "Aku harus percaya."
Bel pulang berbunyi. Novi segera mengemas tasnya dan berjalan ke gerbang sekolah. Angga sudah menunggunya di sana, bersandar pada tiang pagar dengan senyum di wajahnya. Senyum yang sama seperti dulu. Senyum yang terlalu terang. Senyum yang selalu membuat jantungnya berdebar.
"Novi," sapa Angga. "Kau datang."
"Angga," sapa Novi. "Kau menungguku."
"Tentu," kata Angga. "Aku selalu menunggumu."
Mereka berjalan berdampingan melewati jalanan kota. Matahari masih tinggi di langit, tetapi sinarnya tidak lagi terik. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah dan dedaunan. Novi merasakan tangan Angga yang menggenggam tangannya. Hangat. Aman. Seperti semua yang ia rindukan.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Novi.
"Melelahkan," kata Angga. "Tapi semua terasa sepadan saat aku melihatmu."
Novi memerah. "Kau selalu mengatakan hal-hal manis seperti itu."
"Aku hanya jujur," kata Angga. "Aku tidak bisa berbohong padamu."
"Aku juga tidak bisa berbohong padamu," pikir Novi. "Tapi aku masih takut untuk mengatakan semua yang aku rasakan."
Mereka berjalan ke taman kota dan duduk di bangku dekat kolam air mancur. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah sinar matahari sore. Tempat ini masih sama seperti dulu. Bangku yang sama. Kolam yang sama. Namun semuanya terasa berbeda, karena mereka berbeda. Mereka telah melewati begitu banyak hal.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku ingin berterima kasih padamu," kata Angga. "Karena telah menungguku. Karena telah percaya padaku. Karena tidak pernah menyerah padaku."
Novi tersenyum. "Aku tidak melakukan apa-apa."
"Kau melakukan segalanya," kata Angga. "Kau membuatku percaya bahwa cinta itu nyata. Kau membuatku percaya bahwa aku bisa pulang."
Novi menangis. Angga memeluknya.
"Aku di sini," bisik Angga. "Aku selalu di sini."
"Aku juga di sini," bisik Novi dalam hati. "Dan aku tidak akan pergi. Aku tidak akan pernah pergi."
Mereka duduk diam beberapa saat, menikmati kebersamaan. Burung-burung berkicau di pepohonan. Angin berhembus pelan. Semua terasa sempurna. Namun di balik kesempurnaan itu, Novi merasakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang ingin ia katakan tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatakannya.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau mau menjadi pacarku?" tanya Angga. "Aku tahu kita sudah lama bersama. Tapi aku belum pernah resmi bertanya."
Novi tersenyum. "Kau sudah bertanya, Angga. Di bukit, ingat?"
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi aku ingin bertanya lagi. Dengan lebih resmi."
Novi tertawa. "Baiklah. Aku mau."
Angga tersenyum lebar. "Benarkah?"
"Benar," kata Novi. "Aku selalu mau. Sejak pertama kali kau memberiku cokelat panas."
Mereka tertawa bersama. Angga memegang tangan Novi.
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu."
Namun, sebelum ia bisa menahan diri, kata-kata itu keluar. "Tapi aku takut, Angga."
Angga menatapnya. "Takut apa?"
"Aku takut kau akan pergi lagi," kata Novi, suaranya bergetar. "Aku takut bahwa ini hanya sementara. Aku takut bahwa suatu hari nanti, kau akan menyadari bahwa aku tidak cukup baik."
Angga memegang kedua tangan Novi. "Dengar, Novi. Aku mencintaimu. Aku tidak akan pergi. Aku akan berjuang untuk kita. Tapi aku juga perlu kau percaya padaku. Kau bisa?"
Novi menatap Angga. Matanya penuh dengan keyakinan. Keyakinan yang membuat Novi ingin percaya.
"Aku akan mencoba," kata Novi. "Aku akan mencoba percaya."
"Itu sudah cukup," kata Angga. "Itu sudah lebih dari cukup."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang hari itu. Tentang pertemuan mereka di taman. Tentang pengakuan Angga. Tentang cinta yang tidak pernah pudar. Tentang ketakutannya yang mulai ia lepaskan.
"Hari ini, kau bertanya lagi. Kau bertanya apakah aku mau menjadi milikmu. Dan aku menjawab ya. Seperti yang selalu kulakukan. Sejak pertama kali kau memberiku cokelat panas. Sejak pertama kali kau membacakan puisiku. Sejak pertama kali kau membuatku percaya bahwa cinta itu nyata. Aku selalu menjawab ya. Untukmu. Selamanya. Tapi aku juga mengaku padamu. Aku mengaku bahwa aku takut. Aku takut kau akan pergi. Aku takut bahwa ini hanya sementara. Tapi kau berkata bahwa kau akan berjuang. Kau berkata bahwa aku harus percaya. Dan aku memilih untuk percaya. Untukmu. Untuk kita. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata harapan.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga menghabiskan waktu bersama. Mereka pergi ke bukit, ke museum, ke atap sekolah tua. Mereka mengulangi semua kenangan indah yang pernah mereka bagi. Namun kali ini, semuanya terasa berbeda. Ada ketulusan yang lebih dalam. Ada kepercayaan yang lebih kuat.
"Novi," kata Angga suatu hari di atap sekolah tua. "Aku ingin membuat kenangan baru denganmu."
"Aku juga," kata Novi. "Aku ingin mengisi setiap hari dengan kenangan indah."
"Ayo kita buat daftar baru," kata Angga. "Daftar hal-hal yang ingin kita lakukan bersama sebelum aku kembali ke Jepang."
Novi tersenyum. "Ide yang bagus."
Mereka mengambil selembar kertas dan mulai menulis.
"1. Naik ke atap sekolah tua dan melihat senja.
2. Pergi ke pantai dan bermain air.
3. Menulis puisi bersama.
4. Berjalan di bawah hujan.
5. Menonton film di bioskop.
6. Makan es krim bersama.
7. Membaca buku bersama di perpustakaan.
8. Berpelukan di bawah bintang-bintang.
9. Mengucapkan selamat tinggal dengan senyum."
Novi menatap daftar itu. "Kita sudah melakukan semua ini, Angga."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi kita akan melakukannya lagi. Dengan cara yang berbeda. Dengan perasaan yang berbeda."
Novi tersenyum. "Aku suka itu."
"Dan setelah aku kembali dari Jepang," kata Angga, "kita akan membuat daftar yang lebih panjang. Daftar tentang masa depan kita. Tentang hidup kita bersama."
Novi menatap Angga. "Kau benar-benar percaya bahwa kita akan memiliki masa depan?"
"Aku percaya," kata Angga. "Karena aku tidak bisa membayangkan masa depan tanpamu."
Mereka mulai melakukan semua yang ada di daftar lagi. Mereka naik ke atap sekolah tua dan melihat senja. Mereka pergi ke pantai dan bermain air. Mereka menulis puisi bersama. Mereka berjalan di bawah hujan, tertawa dan basah kuyup. Mereka menonton film di bioskop, berpegangan tangan di dalam gelap. Mereka makan es krim bersama, saling berbagi rasa. Mereka membaca buku bersama di perpustakaan, bersandar satu sama lain. Mereka berpelukan di bawah bintang-bintang, menghitung bintang yang jatuh.
Setiap momen terasa berharga. Setiap momen terasa seperti kenangan yang akan bertahan selamanya. Novi menyimpan setiap momen itu di dalam hatinya, seperti harta yang tidak akan pernah ia lepaskan.
Suatu malam, Novi dan Angga duduk di atap sekolah tua. Langit bertabur bintang. Angin berhembus pelan. Bulan bersinar terang, menerangi wajah mereka.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku tidak pernah mencintai siapa pun sebelumnya. Tapi aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Angga. Aku sangat mencintaimu."
Mereka berpelukan. Di bawah langit berbintang, mereka merasakan cinta yang tidak pernah pudar.
"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan," bisik Novi. "Tapi aku tahu bahwa aku ingin menghabiskannya bersamamu."
"Kita akan menghabiskannya bersama," bisik Angga. "Aku berjanji."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang cinta mereka. Tentang kebahagiaan yang ia rasakan. Tentang semua yang telah mereka lalui bersama. Tentang semua yang akan mereka lalui.
"Kita telah melewati banyak hal. Jarak. Waktu. Keraguan. Tapi cinta kita tetap bertahan. Cinta kita tetap kuat. Dan sekarang, kita bersama. Di bawah langit yang sama. Di bawah bintang yang sama. Selamanya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Tapi aku tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. Dan itu cukup. Itu lebih dari cukup."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Tiga bulan berlalu dengan cepat. Terlalu cepat. Novi merasakan waktu yang semakin sempit, semakin pendek. Angga harus kembali ke Jepang untuk menyelesaikan kuliahnya. Novi dan Angga menghabiskan hari terakhir mereka bersama di bukit. Tempat pertama kali mereka jatuh cinta. Tempat pertama kali Angga mengaku.
"Novi," kata Angga. "Aku harus pergi lagi."
"Aku tahu," kata Novi. "Tapi aku akan menunggumu."
"Kau tidak perlu menungguku," kata Angga. "Kau bisa hidup. Kau bisa bahagia. Aku tidak ingin kau terjebak menunggu."
"Aku tidak terjebak," kata Novi. "Aku memilih untuk menunggu. Aku memilih untuk mencintaimu. Dan aku tidak akan menyesalinya."
Angga menangis. "Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," kata Novi. "Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Tapi kali ini, aku akan menunggu dengan lebih tenang," kata Novi. "Aku akan menunggu dengan lebih percaya diri. Karena aku tahu bahwa kau akan kembali. Karena aku percaya pada cinta kita."
Angga menatap Novi. "Kau benar-benar berubah. Kau lebih kuat. Kau lebih percaya diri."
"Kau yang mengubahku," kata Novi. "Kau yang membuatku percaya bahwa aku layak dicintai."
Mereka berpelukan lama. Tidak ada yang perlu diucapkan. Semua sudah terasa sempurna. Hanya pelukan yang berbicara. Hanya kehangatan yang berarti.
"Kapan kau akan kembali?" tanya Novi.
"Setahun lagi," kata Angga. "Setelah aku lulus."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
"Aku akan kembali," kata Angga. "Aku berjanji."
Mereka berpelukan lagi. Di atas bukit yang indah, di bawah langit senja, mereka berjanji pada satu sama lain bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Aku tidak akan menangis kali ini," bisik Novi dalam hati. "Aku akan tersenyum. Karena aku tahu bahwa ini bukan selamat tinggal. Ini adalah sampai jumpa."
Keesokan harinya, Novi mengantar Angga ke bandara. Mereka berpelukan lama di ruang keberangkatan.
"Aku akan merindukanmu," bisik Novi.
"Aku juga akan merindukanmu," bisik Angga. "Tapi kita akan bertemu lagi. Aku berjanji."
Mereka melepaskan pelukan. Angga melambaikan tangan saat ia masuk ke pintu keberangkatan. Novi melambaikan tangan kembali, dengan senyum di wajahnya.
"Sampai jumpa, Angga!" teriak Novi.
"Sampai jumpa, Novi!" teriak Angga.
Angga menghilang di balik pintu. Novi tetap berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyum.
Dan ketika Angga benar-benar menghilang, Novi menangis. Tetapi ia menangis dengan senyum. Karena ia tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar. Karena ia tahu bahwa mereka akan bertemu lagi.
Malam itu, Novi duduk di kamarnya. Ia menatap gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia mengambil pena dan kertas. Ia menulis surat untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku merindukanmu. Aku sudah merindukanmu sejak kau pergi. Tapi aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi. Aku percaya pada cinta kita.
Aku akan menunggu. Aku akan selalu menunggu. Aku akan menunggu sampai kau kembali padaku.
Tapi kali ini, aku menunggu dengan lebih tenang. Aku menunggu dengan lebih percaya diri. Karena aku tahu bahwa kau akan kembali. Karena aku percaya pada cinta kita.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop. Ia akan mengirimkannya besok.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa cinta mereka akan bertahan. Ia merasa bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu. Tapi aku juga akan terus hidup. Aku akan terus menulis. Aku akan terus menjadi diriku sendiri. Karena aku tahu bahwa aku kuat. Aku tahu bahwa aku bisa bertahan. Aku tahu bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku. Tapi aku juga tahu bahwa kau akan kembali. Dan ketika kau kembali, aku akan menyambutmu dengan senyum. Karena aku mencintaimu. Selamanya."
BAB XVII
Cokelat Panas Tetap Datang
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam kekosongan di dadanya, semacam kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Di luar jendela, burung-burung bernyanyi dengan riang. Matahari bersinar cerah. Tetapi Novi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang.
Ia mengangkat tangannya dan menatap gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah sinar matahari pagi. "Selamanya, A & N." Ia tersenyum kecil. Angga telah pergi seminggu yang lalu. Seminggu sejak ia mengantarnya ke bandara. Seminggu sejak ia mengucapkan selamat tinggal untuk kedua kalinya.
Novi bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin yang retak itu. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya mulai muncul lagi. Ia tidak tidur nyenyak sejak Angga pergi.
"Kau bisa melakukan ini," bisik Novi pada bayangannya. "Kau sudah melakukannya sekali. Kau bisa melakukannya lagi."
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah berat. Ia menyapa Rina dengan senyum tipis. Rina melihatnya dan langsung tahu ada yang salah.
"Novi, kau baik-baik saja?" tanya Rina.
"Aku baik-baik saja," kata Novi. "Hanya sedikit lelah."
"Kau merindukan Angga, ya?" tanya Rina dengan nada lembut.
Novi mengangguk. "Aku merindukannya, Rin. Aku sangat merindukannya."
Rina memeluk Novi. "Aku mengerti, Novi. Tapi kau harus kuat. Kau sudah melaluinya sekali. Kau bisa melaluinya lagi."
"Aku tahu," kata Novi. "Tapi rasanya tidak pernah mudah."
"Memang tidak," kata Rina. "Tapi kau tidak sendirian. Aku di sini."
Novi masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi terkejut. Ia tidak menyangka akan menemukan cokelat panas di mejanya. Angga sudah pergi. Siapa yang meletakkannya?
Ia membuka kertas itu dan membaca.
"Untuk Novi, yang selalu kutunggu. Jangan pernah berhenti tersenyum. — A"
Novi menangis. Angga telah mengatur ini sebelum ia pergi. Angga telah memastikan bahwa cokelat panas akan tetap datang setiap pagi, meskipun ia jauh di sana.
Ia meminum cokelat itu perlahan. Hangat. Manis. Seperti cinta Angga yang tidak pernah pudar.
Novi menatap kertas itu lama. Air mata mengalir di pipinya. Ia tersenyum di tengah air mata.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Terima kasih telah mengingatkanku bahwa kau selalu di sini."
Ia menyimpan kertas itu dengan hati-hati di dalam tasnya. Ia akan menyimpannya bersama dengan semua surat-surat dari Angga.
Sepanjang hari, Novi merasa lebih baik. Cokelat panas itu mengingatkannya bahwa Angga masih mencintainya. Angga masih memikirkannya. Angga masih ada di sisinya, meskipun jarak memisahkan mereka.
Ia menulis pesan untuk Angga.
"Angga, aku menerima cokelat panasmu. Terima kasih. Aku sangat menyukainya. Aku merindukanmu. Tapi aku tahu bahwa kau selalu di sini. Di dalam hatiku. Selamanya."
Ia mengirimkan pesan itu dan tersenyum.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Angga.
"Novi, aku senang kau menyukainya. Aku sudah mengatur semuanya sebelum aku pergi. Aku ingin kau tahu bahwa aku selalu ada untukmu, meskipun jarak memisahkan kita. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia menulis balasan.
"Aku juga mencintaimu, Angga. Selamanya."
Minggu berikutnya, cokelat panas tetap datang setiap pagi. Kadang dengan pesan. Kadang tanpa pesan. Tetapi selalu ada. Selalu hangat. Selalu mengingatkannya pada Angga.
Novi mulai terbiasa dengan rutinitas baru ini. Ia bangun pagi, pergi ke sekolah, dan menemukan cokelat panas di mejanya. Ia meminumnya perlahan, menikmati kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya. Ia merasakan kehadiran Angga di setiap tegukan.
"Kau selalu tahu cara membuatku tersenyum, Angga," bisik Novi suatu pagi. "Aku merindukanmu. Tapi aku tahu bahwa kau ada di sini."
Suatu hari, Novi bertemu dengan Dimas di koridor. Dimas tersenyum padanya.
"Hai, Novi," sapa Dimas. "Kau kelihatan lebih baik hari ini."
"Aku merasa lebih baik," kata Novi. "Terima kasih."
"Aku dengar Angga sudah kembali ke Jepang," kata Dimas. "Aku turut berduka."
Novi tersenyum kecil. "Dia akan kembali. Aku menunggunya."
"Aku tahu," kata Dimas. "Aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua."
"Terima kasih, Dimas," kata Novi. "Kau baik."
Dimas tersenyum dan pergi. Novi menatapnya pergi. Ia merasa lega bahwa Dimas tidak lagi mengejarnya. Ia merasa lega bahwa ia bisa fokus pada Angga.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang cokelat panas. Tentang kehangatan yang selalu datang setiap pagi. Tentang cinta yang tidak pernah pudar meskipun jarak memisahkan.
"Setiap pagi, cokelat panas datang. Hangat. Manis. Seperti cintamu. Kau tidak di sini. Tapi kau ada di setiap tegukan. Kau ada di setiap pesan. Kau ada di setiap senyum. Aku merindukanmu. Tapi aku tahu bahwa kau selalu di sini. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Beberapa minggu kemudian, Novi menerima surat dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan cerita tentang kehidupannya di Jepang.
"Novi tersayang,
Aku harap kau baik-baik saja. Aku harap cokelat panas masih datang setiap pagi. Aku sudah mengatur semuanya dengan Rina. Dia yang akan memberikannya padamu setiap hari.
Kuliahku sibuk. Tapi aku selalu menyempatkan diri untuk memikirkanmu. Aku selalu menyempatkan diri untuk merindukanmu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa cinta mereka masih kuat. Ia merasa bahwa mereka akan bertemu lagi.
Novi mulai menulis balasan untuk Angga dengan lebih teratur. Ia menulis tentang kehidupannya. Tentang sekolah. Tentang Rina. Tentang ayahnya. Tentang cokelat panas yang masih datang setiap pagi.
"Angga tersayang,
Aku baik-baik saja. Cokelat panas masih datang setiap pagi. Rina sangat baik. Aku berterima kasih padanya. Dan aku berterima kasih padamu karena telah mengaturnya.
Aku merindukanmu. Setiap hari. Tapi aku tahu bahwa kau akan kembali. Aku percaya pada cinta kita.
Jangan lupa padaku. Jangan lupa pada kita.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dan merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia menulis puisi tentang cinta dan kerinduan. Tentang harapan dan keyakinan. Tentang bagaimana ia belajar untuk hidup dengan jarak.
Ia juga terus menerima surat dari Angga. Surat-surat itu datang secara teratur. Angga menceritakan tentang kehidupannya di Jepang. Tentang kuliahnya. Tentang teman-temannya. Tentang bagaimana ia merindukan Novi.
Novi membaca setiap surat dengan hati-hati. Ia menyimpan semuanya di dalam kotak kayu yang diberikan Angga. Kotak itu sekarang penuh dengan surat-surat cinta.
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Hujan turun di luar, tetapi kali ini tidak terlalu deras. Ia menatap kotak kayu yang penuh dengan surat-surat.
Ia membuka kotak itu dan membaca beberapa surat. Surat-surat dari Angga. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih kuat. Ia merasa lebih percaya diri. Ia merasa bahwa ia bisa menghadapi apa pun yang datang.
Di sekolah, ia bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda," kata Rina. "Kau kelihatan lebih kuat."
"Aku merasa lebih kuat," kata Novi. "Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun jarak memisahkan, cinta itu tetap ada."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau selalu ada untukku."
"Selamanya," kata Rina. "Aku akan selalu ada untukmu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XVIII
Perlahan Membuka Hati
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam ketenangan di dadanya, semacam penerimaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, mendengarkan suara burung-burung di luar jendela. Hari ini, ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa cemas. Ia hanya merasa... tenang.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya lebih tenang. Senyumnya lebih tulus. Bahkan kulitnya terlihat lebih bersinar.
"Apa yang terjadi padamu?" bisik Novi pada bayangannya. "Kau terlihat berbeda."
Ia tidak menunggu jawaban. Ia bersiap seperti biasa, memakai seragamnya, menyisir rambutnya, dan pergi ke sekolah.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina di gerbang. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda," kata Rina. "Apa yang terjadi?"
"Aku tidak tahu," kata Novi. "Aku hanya merasa... tenang. Seperti semuanya akan baik-baik saja."
Rina memeluk Novi. "Aku senang mendengarnya, Novi. Kau pantas merasa tenang."
Di kelas, Novi duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi membuka kertas itu dan membaca.
"Untuk Novi, yang selalu kuat. Aku bangga padamu. — A"
Novi tersenyum. Ia meminum cokelat itu perlahan, menikmati kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Kau selalu tahu apa yang harus kukatakan."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya terkejut. "Novi, kau menjawab pertanyaan guru! Itu pertama kalinya!"
Novi tersenyum. "Aku merasa lebih percaya diri hari ini."
"Apa yang membuatmu berubah?" tanya Rina.
"Aku tidak tahu," kata Novi. "Mungkin aku mulai menerima bahwa jarak bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin aku mulai percaya bahwa cinta bisa bertahan."
Rina tersenyum. "Aku bangga padamu, Novi."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Tidak ada hujan hari ini. Hanya sinar matahari yang hangat dan angin sepoi-sepoi.
Novi membuka buku catatannya dan mulai menulis.
"Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku belajar bahwa aku bisa kuat. Aku bisa bertahan. Aku bisa tersenyum meskipun hatiku rindu. Aku belajar bahwa aku bisa mencintai tanpa takut kehilangan. Karena cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata penerimaan.
Sore itu, Novi dan Rina berjalan pulang bersama. Mereka melewati jalanan yang sudah mereka kenal dengan baik. Pohon-pohon rindang di sepanjang jalan mulai menguning, menandakan musim gugur akan segera tiba.
"Novi," kata Rina. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau benar-benar percaya bahwa Angga akan kembali?" tanya Rina. "Aku tahu ini mungkin terdengar kasar. Tapi aku hanya ingin tahu perasaanmu yang sebenarnya."
Novi terdiam sejenak. Ia menatap jalan di depannya, berpikir tentang pertanyaan itu.
"Aku percaya," kata Novi akhirnya. "Aku percaya bahwa Angga akan kembali. Aku percaya pada cinta kami. Mungkin ini naif. Mungkin ini terlalu optimis. Tapi aku memilih untuk percaya."
Rina tersenyum. "Aku bangga padamu, Novi. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang kuat dan percaya diri."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan perasaannya.
"Angga tersayang,
Hari ini, aku merasa tenang. Aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Aku merasa bahwa cinta kita akan bertahan.
Aku tidak tahu mengapa. Mungkin karena aku mulai menerima bahwa jarak bukanlah akhir dari segalanya. Mungkin karena aku mulai percaya bahwa cinta bisa bertahan.
Aku merindukanmu. Tapi aku tidak lagi merasa sedih. Aku merasa bersyukur. Bersyukur karena aku telah mencintai. Bersyukur karena aku telah dicintai.
Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku. Terima kasih telah mengajariku tentang cinta.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku merasa sangat bahagia. Aku senang bahwa kau merasa tenang. Aku senang bahwa kau percaya pada cinta kita.
Aku juga percaya, Novi. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Aku percaya bahwa cinta kita akan bertahan.
Terima kasih telah menungguku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menjadi bagian dari hidupku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa cinta mereka masih kuat. Ia merasa bahwa mereka akan bertemu lagi.
Minggu berikutnya, Novi mulai lebih aktif di sekolah. Ia bergabung dengan klub menulis. Ia mengikuti lomba puisi. Ia mulai berbicara lebih banyak di kelas.
Guru-guru mulai memperhatikannya. Teman-teman mulai mengenalnya. Novi merasa bahwa ia mulai ditemukan. Bahwa ia mulai terlihat.
"Novi, kau berbeda," kata Bu Dewi, guru Bahasa Indonesia. "Kau lebih percaya diri. Puisimu semakin bagus."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku mulai percaya pada diriku sendiri."
"Itu yang terpenting," kata Bu Dewi. "Percaya pada diri sendiri."
Suatu hari, Novi mengikuti lomba puisi antar sekolah. Ia membacakan puisinya di depan banyak orang. Tangannya gemetar. Suaranya bergetar. Tetapi ia tetap melanjutkan.
"Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu..."
Ketika ia selesai, semua orang bertepuk tangan. Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa.
Ia memenangkan lomba itu.
"Novi, kau hebat!" seru Rina setelah acara. "Aku sangat bangga padamu!"
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kemenangannya. Tentang bagaimana ia belajar untuk percaya pada dirinya sendiri. Tentang bagaimana ia belajar untuk tampil meskipun takut.
"Aku berdiri di atas panggung. Gemetar. Takut. Tapi aku terus melangkah. Aku membacakan puisiku. Tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang harapan. Dan ketika aku selesai, semua orang bertepuk tangan. Aku menangis. Bukan karena sedih. Tapi karena bangga. Bangga pada diriku sendiri. Karena aku telah berani."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Novi mengirimkan foto dirinya menerima piala kepada Angga. Ia tersenyum lebar di foto itu.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Angga.
"Novi, aku sangat bangga padamu! Kau hebat! Aku tahu kau bisa melakukannya! Aku mencintaimu! Selamanya!"
Novi tersenyum. Ia merasa bahwa Angga ada di sisinya, meskipun jarak memisahkan mereka.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus berkembang. Ia terus percaya pada dirinya sendiri.
Ia juga terus menerima surat dari Angga. Surat-surat itu datang secara teratur. Angga menceritakan tentang kehidupannya di Jepang. Tentang kuliahnya. Tentang teman-temannya. Tentang bagaimana ia merindukan Novi.
Novi membaca setiap surat dengan hati-hati. Ia menyimpan semuanya di dalam kotak kayu yang diberikan Angga. Kotak itu sekarang hampir penuh dengan surat-surat cinta.
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia menatap kotak kayu yang penuh dengan surat-surat. Ia membukanya dan membaca beberapa surat. Surat-surat dari Angga. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan.
Novi tersenyum. Ia merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih siap. Ia merasa lebih kuat. Ia merasa bahwa ia bisa menghadapi apa pun yang datang.
Di sekolah, ia bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda," kata Rina. "Kau kelihatan lebih matang."
"Aku merasa lebih matang," kata Novi. "Aku belajar bahwa hidup terus berjalan. Dan aku harus terus melangkah."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau selalu ada untukku."
"Selamanya," kata Rina. "Aku akan selalu ada untukmu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan hidupnya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa hidup terus berjalan. Dan aku harus terus melangkah. Aku belajar bahwa aku bisa kuat. Aku bisa bertahan. Aku bisa bahagia. Aku belajar bahwa cinta tidak pernah sia-sia. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XIX
Angga Bernyanyi untuk Novi
Pagi itu, Novi menerima kabar yang membuatnya terkejut dan bahagia sekaligus. Sebuah pesan dari Angga masuk di ponselnya.
"Novi, ada kejutan untukmu. Nanti malam, jam 7, buka YouTube. Aku akan menyanyi untukmu. Jangan lupa. Aku mencintaimu."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Dadanya berdebar kencang. Angga akan bernyanyi untuknya. Angga akan menyanyi untuknya dari seberang lautan.
"Apa yang akan ia nyanyikan?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Apa maksudnya semua ini?"
Ia tidak bisa berkonsentrasi sepanjang hari. Pikirannya terus pada Angga. Pada malam hari. Pada kejutan yang akan ia berikan.
Di sekolah, Rina melihat Novi yang gelisah. "Novi, ada apa? Kau kelihatan tidak fokus."
"Angga akan menyanyi untukku malam ini," kata Novi dengan mata berbinar. "Dia mengirimiku pesan tadi pagi."
Rina terkejut. "Apa? Serius? Dia akan menyanyi? Dari Jepang?"
"Aku tidak tahu detailnya," kata Novi. "Tapi dia bilang ada kejutan."
Rina tersenyum lebar. "Wah, romantis sekali! Aku pasti akan menonton!"
"Aku juga," kata Novi. "Aku sangat tidak sabar."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Ia membayangkan Angga bernyanyi. Ia membayangkan suaranya yang merdu. Ia membayangkan lagu yang akan ia nyanyikan.
Ia menulis catatan kecil di buku catatannya.
"Malam ini, kau akan bernyanyi untukku. Aku tidak sabar mendengarnya. Aku tidak sabar melihatmu. Aku mencintaimu."
Novi membaca catatan itu dan tersenyum. Ia merasa bahwa malam ini akan menjadi malam yang indah.
Pulang sekolah, Novi segera pulang ke rumah. Ia mandi, memakai baju terbaiknya, dan duduk di depan laptopnya. Jam menunjukkan pukul setengah tujuh. Ia masih punya waktu tiga puluh menit.
Ia menatap layar laptopnya dengan penuh harap. Ia tidak sabar menunggu.
"Novi, kau sudah siap?" tanya ayahnya dari ruang tamu.
"Ya, Ayah," kata Novi. "Angga akan menyanyi untukku malam ini."
Ayahnya tersenyum. "Wah, romantis sekali. Aku ikut menonton, boleh?"
Novi tertawa. "Boleh, Ayah."
Jam menunjukkan pukul tujuh tepat. Novi membuka YouTube dan mencari nama Angga. Di sana, ada sebuah video dengan judul "Untuk Novi, dari Angga."
Novi mengklik video itu. Tangannya gemetar.
Video dimulai. Angga duduk di sebuah ruangan dengan gitar di tangannya. Di belakangnya, ada pemandangan kota Tokyo yang gemerlap di malam hari. Angga tersenyum ke kamera.
"Halo, Novi," kata Angga. "Aku tahu ini mungkin garing. Tapi aku ingin melakukan sesuatu yang spesial untukmu. Aku ingin menyanyikan sebuah lagu. Lagu yang aku tulis sendiri. Untukmu."
Novi menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya.
Angga mulai memetik gitar. Melodi yang lembut dan indah mengalun. Ia mulai bernyanyi.
"Di seberang lautan, kau menungguku. Di seberang waktu, kau mencintaiku. Aku di sini, merindukanmu. Aku di sini, mencintaimu. Suatu hari nanti, aku akan pulang. Suatu hari nanti, kita akan bersama. Jangan pernah berhenti menunggu. Jangan pernah berhenti mencintai. Karena aku akan kembali. Untukmu. Selamanya."
Novi menangis histeris. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Lagu itu indah. Lagu itu penuh dengan cinta. Lagu itu untuknya.
Ayahnya datang dan memeluk Novi. "Dia mencintaimu, Nak. Sangat mencintaimu."
Setelah lagu selesai, Angga tersenyum ke kamera. "Novi, aku mencintaimu. Aku akan kembali padamu. Tunggu aku."
Video itu berakhir. Novi masih menangis. Ia tidak bisa berkata apa-apa.
Ia mengambil ponselnya dan menekan nomor Angga. Telepon berdering beberapa kali, lalu Angga menjawab.
"Novi?" sapa Angga. "Kau menontonnya?"
"Aku menontonnya," kata Novi dengan suara bergetar. "Aku sangat menyukainya, Angga. Aku sangat menyukainya. Lagu itu indah. Kau indah."
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu," kata Novi. "Aku sangat mencintaimu."
Mereka berbicara lama malam itu. Tentang lagu. Tentang perasaan. Tentang masa depan. Novi merasa bahwa cinta mereka semakin kuat. Ia merasa bahwa mereka akan bertemu lagi.
Keesokan harinya di sekolah, semua orang membicarakan video Angga. Video itu menjadi viral. Banyak siswa yang menontonnya dan terharu.
"Novi, aku nonton video Angga!" seru Rina bersemangat. "Itu sangat romantis! Aku menangis!"
"Aku juga menangis," kata Novi. "Aku tidak bisa menahan air mataku."
"Kau sangat beruntung, Novi," kata Rina. "Angga adalah cowok yang sempurna."
"Aku tahu," kata Novi. "Aku sangat beruntung."
Bima mendekati Novi dengan senyum lebar. "Novi, Angga benar-benar hebat. Aku tidak tahu dia bisa menulis lagu."
"Aku juga tidak tahu," kata Novi. "Dia selalu penuh kejutan."
"Dia melakukan itu semua untukmu," kata Bima. "Kau tahu kan?"
"Aku tahu," kata Novi. "Dan aku sangat berterima kasih padanya."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang lagu Angga. Tentang melodi yang indah. Tentang kata-kata yang penuh cinta. Tentang perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kau bernyanyi untukku. Di seberang lautan. Dengan gitar di tanganmu. Dengan cinta di hatimu. Melodi itu mengalun. Indah. Lembut. Penuh perasaan. Kata-katamu menyentuh hatiku. Membuatku menangis. Membuatku tersenyum. Aku tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata. Betapa aku mencintaimu. Betapa aku merindukanmu. Tapi kau tahu. Karena kau merasakan hal yang sama. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Novi mengirimkan puisi itu kepada Angga. Ia ingin Angga tahu betapa ia menghargai lagu itu. Betapa ia menghargai cinta Angga.
Beberapa jam kemudian, Angga membalas.
"Novi, puisimu indah. Aku menangis membacanya. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak sabar untuk kembali padamu. Tunggu aku. Aku akan segera pulang. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca balasan itu berulang-ulang. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa cinta mereka semakin kuat. Ia merasa bahwa mereka akan bertemu lagi.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang lagu itu. Tentang puisi Novi. Tentang masa depan.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku akan pulang lebih cepat," kata Angga. "Aku menyelesaikan kuliahku lebih cepat dari jadwal. Aku akan pulang tiga bulan lagi."
Novi terkejut. "Benarkah?"
"Benar," kata Angga. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Novi menangis. "Aku juga tidak sabar, Angga. Aku sangat tidak sabar."
Setelah video call, Novi merasa sangat bahagia. Ia tidak bisa berhenti tersenyum. Angga akan pulang lebih cepat. Mereka akan segera bertemu.
Ia menulis pesan untuk Rina.
"Rin, Angga akan pulang tiga bulan lagi! Aku sangat bahagia!"
Rina membalas dengan cepat.
"Apa? Serius? Aku sangat senang untukmu, Novi! Kita harus merayakannya!"
Novi tertawa. Ia merasa bahwa hidupnya semakin indah.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Novi menghitung setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Angga.
Ia mempersiapkan diri. Ia membeli baju baru. Ia merawat dirinya dengan lebih baik. Ia ingin terlihat cantik saat bertemu dengan Angga.
"Aku tidak sabar untuk melihatmu," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku sangat tidak sabar."
Suatu malam, Novi menulis puisi tentang penantiannya. Tentang kebahagiaan yang akan segera datang. Tentang cinta yang tidak pernah pudar.
"Tiga bulan lagi. Kau akan pulang. Aku tidak sabar. Aku sangat tidak sabar. Aku akan memelukmu. Aku akan menciummu. Aku akan mengatakan betapa aku mencintaimu. Tiga bulan lagi. Kau akan pulang. Dan aku akan menunggumu. Seperti yang selalu kulakukan."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Malam itu, Novi tidur dengan senyum di wajahnya. Ia bermimpi tentang Angga. Tentang pertemuan mereka. Tentang pelukan hangat. Tentang cinta yang tidak pernah pudar.
Ia terbangun dengan perasaan bahagia. Ia tahu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia tahu bahwa cinta mereka akan bertahan. Ia tahu bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XX
Menulis Puisi Lagi
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kegembiraan di dadanya, semacam inspirasi yang tidak bisa ia tahan. Ia duduk di tepi tempat tidurnya, mengambil buku catatan baru yang masih kosong, dan mulai menulis.
Sudah lama ia tidak menulis puisi. Sejak Angga pergi, ia lebih banyak menulis surat daripada puisi. Tetapi pagi ini, kata-kata mengalir seperti air. Ia tidak bisa menghentikannya.
"Angga akan pulang," bisik Novi sambil menulis. "Angga akan pulang tiga bulan lagi."
Ia menulis tentang kebahagiaan. Tentang harapan. Tentang cinta yang tidak pernah pudar. Tentang semua yang ia rasakan.
Aku tidak bisa berhenti tersenyum. Aku tidak bisa berhenti bermimpi. Kau akan pulang. Tiga bulan lagi. Aku tidak sabar. Aku sangat tidak sabar.
Novi membaca tulisannya sendiri. Ia tersenyum. Puisi itu sederhana, tetapi jujur. Itu adalah perasaannya yang sebenarnya.
Ia memutuskan untuk menulis lebih banyak puisi. Ia ingin mengisi buku catatan baru itu dengan puisi-puisi tentang kebahagiaan. Tentang cinta. Tentang masa depan.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah ringan. Ia menyapa semua orang dengan senyum. Bahkan guru-guru yang biasanya ia hindari, ia sapa dengan ramah.
Rina melihatnya dan tersenyum. "Novi, kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia, Rin," kata Novi. "Aku menulis puisi lagi."
"Wah, bagus!" seru Rina. "Aku sudah lama tidak melihatmu menulis puisi."
"Aku juga," kata Novi. "Tapi pagi ini, kata-kata mengalir begitu saja. Aku tidak bisa menghentikannya."
"Itu pertanda baik," kata Rina. "Itu berarti kau sedang bahagia."
Di kelas, Novi duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi membuka kertas itu dan membaca.
"Untuk Novi, yang selalu menginspirasi. Tuliskan semua perasaanmu. Aku akan membacanya suatu hari nanti. — A"
Novi tersenyum. Ia meminum cokelat itu perlahan, menikmati kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya.
"Aku akan menulis untukmu, Angga," bisik Novi. "Aku akan menulis semua perasaanku."
Sepanjang pelajaran, Novi terus menulis. Ia menulis puisi tentang cokelat panas. Tentang senyum Angga. Tentang jarak yang tidak lagi terasa jauh.
Cokelat panas di pagi hari. Mengingatkanku padamu. Kehangatan yang kau berikan. Meskipun kau jauh di sana. Aku merasakanmu. Di setiap tegukan. Di setiap kata. Di setiap senyum.
Rina melihat Novi menulis dengan penuh semangat. Ia tersenyum. Ia senang melihat sahabatnya bahagia.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis lebih banyak puisi. Ia ingin mengisi buku catatannya dengan kata-kata yang indah.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya.
Novi mulai menulis. Kata-kata mengalir dengan lancar. Ia menulis tentang masa lalu. Tentang pertemuan mereka di perpustakaan. Tentang cokelat panas pertama. Tentang semua kenangan indah yang mereka bagi.
Aku ingat pertama kali kau datang. Di perpustakaan yang sepi. Kau membaca puisiku. Dan kau berkata itu indah. Sejak saat itu, aku tahu. Bahwa kau berbeda. Bahwa kau istimewa. Bahwa kau adalah cintaku.
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali cintanya pada puisi. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali dirinya sendiri.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan terus menulis. Ia menulis tentang masa depan. Tentang pertemuan mereka nanti. Tentang semua yang ingin ia katakan pada Angga.
Aku akan memelukmu erat-erat. Aku akan menciummu lembut. Aku akan mengatakan semua yang tidak sempat kukatakan. Aku akan mencintaimu. Seperti yang selalu kulakukan. Selamanya.
Novi menutup buku catatannya dan tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang berarti.
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku merindukanmu. Aku mendengar kau menulis puisi lagi. Aku ingin membacanya suatu hari nanti. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum. Ia membalas pesan Angga.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku merindukanmu juga. Aku menulis banyak puisi hari ini. Aku akan mengirimkannya padamu suatu hari nanti. Aku mencintaimu."
Novi mulai mengirimkan puisi-puisinya kepada Angga. Setiap hari, ia mengirimkan satu puisi. Puisi tentang perasaannya. Puisi tentang kerinduannya. Puisi tentang cintanya.
Angga membalas setiap puisi dengan kata-kata yang hangat.
"Novi, puisimu indah. Aku menangis membacanya. Aku sangat merindukanmu."
"Novi, kau adalah inspirasiku. Puisimu membuatku ingin pulang lebih cepat."
"Novi, aku mencintaimu. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Novi membaca setiap balasan dengan hati-hati. Ia menyimpan semuanya di dalam kotak kayu yang diberikan Angga. Kotak itu sekarang penuh dengan surat-surat dan puisi-puisi cinta.
Suatu hari, Novi menulis puisi tentang pertemuan mereka nanti. Ia membayangkan bagaimana rasanya bertemu dengan Angga setelah sekian lama.
Aku akan berlari ke arahmu. Aku akan memelukmu erat-erat. Aku akan menangis di bahumu. Aku akan mengatakan betapa aku merindukanmu. Dan kau akan tersenyum. Kau akan mencium keningku. Kau akan berkata, "Aku juga merindukanmu, Novi. Aku sangat merindukanmu."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia membayangkan saat itu. Saat yang akan segera tiba.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang puisi-puisi Novi. Tentang perasaan mereka. Tentang masa depan.
"Novi," kata Angga. "Aku sangat menyukai puisi-puisimu. Mereka membuatku merasa dekat denganmu, meskipun jarak memisahkan kita."
"Aku senang kau menyukainya," kata Novi. "Menulis puisi membuatku merasa dekat denganmu juga."
"Kau tahu," kata Angga. "Suatu hari nanti, kita akan mengumpulkan semua puisi ini. Kita akan membuat buku. Buku tentang cinta kita."
Novi tersenyum. "Aku suka ide itu."
"Kita akan melakukannya," kata Angga. "Aku berjanji."
Setelah video call, Novi merasa lebih bersemangat. Ia mulai menulis lebih banyak puisi. Ia ingin mengisi buku catatannya dengan kata-kata yang indah. Ia ingin membuat buku tentang cinta mereka.
Ia menulis tentang perjalanan cinta mereka. Tentang pertemuan pertama. Tentang cokelat panas. Tentang perpisahan. Tentang kerinduan. Tentang harapan.
Ini adalah kisah kita. Tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang cinta dan kerinduan. Tentang harapan dan keyakinan. Ini adalah kisah kita. Dan aku akan menuliskannya. Untukmu. Untuk kita. Selamanya.
Novi mulai berbagi puisinya dengan Rina. Rina sangat menyukainya.
"Novi, puisimu luar biasa!" seru Rina. "Kau harus menerbitkannya suatu hari nanti."
"Aku ingin," kata Novi. "Angga juga bilang begitu."
"Kalian berdua benar-benar cocok," kata Rina. "Aku iri."
Novi tertawa. "Kau akan menemukan seseorang, Rin. Suatu hari nanti."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia menulis tentang kebahagiaan. Tentang cinta. Tentang masa depan.
Ia juga terus menerima surat dari Angga. Surat-surat itu datang secara teratur. Angga menceritakan tentang kehidupannya di Jepang. Tentang kuliahnya. Tentang bagaimana ia merindukan Novi.
Novi membaca setiap surat dengan hati-hati. Ia menyimpan semuanya di dalam kotak kayu. Kotak itu sekarang hampir penuh.
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia menatap kotak kayu yang penuh dengan surat-surat dan puisi-puisi. Ia membukanya dan membaca beberapa surat. Surat-surat dari Angga. Puisi-puisi yang ia tulis.
Novi tersenyum. Ia merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Malam itu, Novi menulis puisi terakhir di buku catatannya. Puisi tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
Aku telah menulis tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang kerinduan. Tentang harapan. Aku telah menulis tentang kita. Tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang jarak dan waktu. Tentang cinta yang tidak pernah pudar. Dan sekarang, aku akan menutup buku ini. Bukan karena aku berhenti menulis. Tapi karena aku akan memulai babak baru. Babak baru bersama mu. Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi menutup buku catatannya. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang berarti. Ia merasa bahwa ia telah menuliskan cintanya dengan indah.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XXI
Novi Bertanya pada Dirinya Sendiri
Malam itu, Novi duduk di kamarnya dalam keheningan yang dalam. Hujan turun di luar, mengetuk-ngetuk genteng dengan ritme yang menenangkan. Ia memandang buku catatan yang sudah penuh dengan puisi-puisi tentang Angga. Buku itu sekarang terasa berat di tangannya, tidak hanya karena ketebalannya, tetapi juga karena semua perasaan yang tertuang di dalamnya.
Novi meletakkan buku itu di atas meja dan menatapnya lama. Ia telah menulis begitu banyak tentang Angga. Tentang cinta mereka. Tentang kerinduan mereka. Tentang semua yang mereka lalui. Tetapi ada satu pertanyaan yang belum pernah ia tanyakan pada dirinya sendiri.
"Siapa aku tanpa Angga?"
Novi terkejut dengan pertanyaan itu. Ia tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Selama ini, ia selalu mendefinisikan dirinya melalui hubungannya dengan Angga. Ia adalah gadis yang dicintai Angga. Ia adalah gadis yang menunggu Angga. Ia adalah gadis yang menulis puisi untuk Angga.
Tetapi siapa Novi tanpa semua itu?
Novi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke jendela. Di luar, hujan masih turun dengan derasnya. Ia menatap genangan air di halaman rumahnya yang kecil. Air hujan memantulkan cahaya lampu jalan, menciptakan kilauan kecil yang berkedip-kedip.
"Aku tidak tahu siapa aku," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku tidak pernah benar-benar memikirkannya."
Ia teringat pada masa kecilnya. Sebelum ibunya pergi. Sebelum ia belajar untuk takut. Sebelum ia membangun tembok di sekeliling hatinya. Novi kecil adalah gadis yang ceria, yang suka tertawa, yang suka bermain di halaman belakang rumahnya. Novi kecil adalah gadis yang percaya bahwa dunia adalah tempat yang indah.
Tetapi Novi kecil itu hilang. Hilang bersama kepergian ibunya. Hilang bersama semua rasa aman yang ia miliki.
"Kemana perginya gadis itu?" bisik Novi. "Kemana perginya Novi yang dulu?"
Novi kembali duduk di meja tulisnya. Ia membuka buku catatan kosong yang baru ia beli. Buku itu masih bersih, tidak ada coretan, tidak ada kata-kata. Halaman-halaman putih yang menunggu untuk diisi.
"Aku ingin menulis tentang diriku sendiri," bisik Novi. "Bukan tentang Angga. Bukan tentang cinta kami. Tapi tentang aku. Tentang siapa aku sebenarnya."
Ia mengambil pena dan mulai menulis.
"Siapa aku? Aku adalah Novi. Gadis yang lahir di kota kecil ini. Gadis yang tumbuh tanpa ibunya. Gadis yang belajar untuk bertahan hidup sendirian. Gadis yang menemukan pelipur lara dalam puisi. Gadis yang jatuh cinta pada seorang anak baru dengan senyum yang terlalu terang. Gadis yang menunggu. Gadis yang berharap. Gadis yang mencintai. Tapi siapa aku di luar semua itu?"
Novi berhenti menulis. Ia menatap kata-katanya sendiri. Pertanyaan itu masih belum terjawab.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kegelisahan di dadanya, semacam pertanyaan yang tidak bisa ia abaikan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri.
"Kau harus mencari tahu siapa dirimu," bisik Novi pada bayangannya. "Kau tidak bisa terus mendefinisikan dirimu melalui orang lain."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan pertanyaan itu. Siapa aku? Apa yang membuatku menjadi diriku? Apa yang aku inginkan dalam hidup ini?
Di sekolah, Rina melihat Novi yang termenung. "Novi, ada apa? Kau kelihatan bingung."
"Aku sedang berpikir, Rin," kata Novi. "Tentang diriku sendiri. Tentang siapa aku sebenarnya."
Rina terkejut. "Itu pertanyaan yang dalam, Novi. Apa yang membuatmu berpikir tentang itu?"
"Aku tidak tahu," kata Novi. "Tiba-tiba saja aku menyadari bahwa aku selalu mendefinisikan diriku melalui orang lain. Melalui ibuku. Melalui Angga. Tapi aku tidak pernah benar-benar bertanya pada diriku sendiri, siapa aku?"
Rina memegang tangan Novi. "Itu pertanyaan yang penting, Novi. Dan aku pikir kau harus menemukan jawabannya."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada pertanyaan itu. Siapa aku? Apa yang membuatku menjadi diriku?
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Tetapi semacam jurnal. Catatan tentang dirinya sendiri.
"Aku suka puisi. Aku suka menulis. Aku suka membaca. Aku suka hujan. Aku suka senja. Aku suka cokelat panas. Aku suka perpustakaan. Aku suka tempat-tempat yang tenang. Aku tidak suka keramaian. Aku tidak suka berteriak. Aku tidak suka konflik. Aku adalah orang yang pendiam. Aku adalah orang yang pemalu. Tapi aku juga orang yang berani. Aku berani menulis. Aku berani mencintai. Aku berani menunggu."
Novi membaca tulisannya sendiri. Ia tersenyum kecil. Ini adalah awal yang baik. Ini adalah langkah pertama untuk mengenal dirinya sendiri.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis lebih banyak tentang dirinya sendiri. Ia ingin menemukan siapa dirinya sebenarnya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya.
Novi mulai menulis. Kali ini, ia menulis tentang mimpinya.
"Aku bermimpi menjadi penulis. Aku bermimpi menerbitkan buku. Aku bermimpi membuat orang lain merasakan apa yang aku rasakan melalui kata-kataku. Aku bermimpi membuat perbedaan. Aku bermimpi meninggalkan jejak di dunia ini."
Novi berhenti menulis. Ia menatap kata-katanya sendiri. Mimpi-mimpi ini adalah bagian dari dirinya. Bagian dari siapa dirinya sebenarnya.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa bahwa ia mulai mengenal dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia mulai menemukan siapa dirinya sebenarnya.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang nilai-nilainya. Tentang apa yang penting baginya.
"Aku percaya pada cinta. Aku percaya pada kebaikan. Aku percaya pada kejujuran. Aku percaya bahwa setiap orang punya cerita. Aku percaya bahwa kata-kata memiliki kekuatan. Aku percaya bahwa kita bisa membuat perbedaan. Aku percaya bahwa tidak ada yang mustahil jika kita berani mencoba."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata penemuan. Penemuan tentang siapa dirinya sebenarnya.
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku merindukanmu. Ada yang ingin kuceritakan padamu. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum. Ia membalas pesan Angga.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku sedang belajar tentang diriku sendiri. Aku mulai menemukan siapa aku sebenarnya. Aku mencintaimu."
Beberapa menit kemudian, Angga membalas.
"Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah perjalanan yang penting. Aku juga sedang belajar tentang diriku sendiri di sini. Kita bisa belajar bersama. Aku mencintaimu."
Novi dan Angga melakukan video call malam itu. Mereka berbicara tentang perjalanan mereka masing-masing. Tentang apa yang mereka pelajari tentang diri mereka sendiri.
"Novi," kata Angga. "Aku menyadari sesuatu selama di sini. Aku menyadari bahwa selama ini aku selalu berusaha menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Aku selalu berusaha menjadi populer, menjadi sempurna, menjadi yang terbaik. Tapi aku tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri."
"Aku juga," kata Novi. "Aku selalu berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Aku selalu berusaha untuk tidak terlihat. Aku selalu berusaha untuk tidak mengecewakan siapa pun. Tapi aku tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri."
"Kita sama, ya?" kata Angga.
"Kita sama," kata Novi.
Mereka tersenyum satu sama lain. Mereka merasa bahwa mereka sedang tumbuh bersama. Mereka sedang belajar bersama.
Setelah video call, Novi merasa lebih tenang. Ia merasa bahwa ia sedang dalam perjalanan yang benar. Perjalanan untuk menemukan dirinya sendiri.
Ia menulis puisi tentang perjalanan itu.
Aku sedang dalam perjalanan. Perjalanan untuk menemukan diriku sendiri. Aku belajar tentang mimpiku. Aku belajar tentang nilai-nilaiku. Aku belajar tentang siapa aku sebenarnya. Ini bukan perjalanan yang mudah. Tapi ini adalah perjalanan yang penting. Dan aku bersyukur. Karena aku tidak sendirian. Ada seseorang yang berjalan bersamaku. Seseorang yang mencintaiku. Seseorang yang percaya padaku.
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang berharga. Bukan hanya tentang dirinya sendiri. Tetapi juga tentang cinta mereka.
Minggu berikutnya, Novi terus menulis tentang dirinya sendiri. Ia menulis tentang masa lalunya. Tentang masa kecilnya. Tentang semua yang membentuknya menjadi dirinya sekarang.
"Aku adalah anak yang kehilangan ibunya. Aku adalah anak yang belajar untuk bertahan. Aku adalah anak yang menemukan pelipur lara dalam puisi. Aku adalah anak yang tumbuh menjadi gadis yang kuat. Gadis yang berani mencintai. Gadis yang berani menunggu. Gadis yang berani bermimpi."
Novi membaca tulisannya sendiri. Ia merasa bahwa ia mulai memahami dirinya sendiri. Ia mulai menerima semua bagian dari dirinya. Baik yang indah maupun yang menyakitkan.
Suatu hari, Novi berbagi tulisannya dengan Rina. Rina membacanya dengan penuh perhatian.
"Novi, ini luar biasa," kata Rina. "Kau benar-benar mengenal dirimu sendiri."
"Aku mulai mengenal," kata Novi. "Aku masih dalam proses. Tapi aku merasa bahwa aku mulai menemukan siapa aku sebenarnya."
"Aku bangga padamu," kata Rina. "Banyak orang tidak pernah melakukannya. Mereka hidup tanpa pernah benar-benar mengenal diri mereka sendiri."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau selalu mendukungku."
Novi mulai menulis tentang hal-hal lain. Tentang dunia di sekitarnya. Tentang orang-orang yang ia temui. Tentang hal-hal kecil yang membuat hidup terasa indah.
Ia menulis tentang bunga-bunga di taman. Tentang burung-burung yang bernyanyi di pagi hari. Tentang senyum anak-anak kecil. Tentang kebaikan orang-orang di sekitarnya.
Aku melihat keindahan di sekitarku. Bunga-bunga yang mekar. Burung-burung yang bernyanyi. Senyum anak-anak. Kebaikan orang-orang. Aku menyadari bahwa dunia ini indah. Bahwa ada banyak hal yang patut disyukuri. Bahwa hidup ini berharga.
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan cerita tentang perjalanannya.
"Angga tersayang,
Aku ingin bercerita tentang perjalananku. Tentang apa yang aku pelajari tentang diriku sendiri. Aku belajar bahwa aku lebih kuat dari yang aku kira. Aku belajar bahwa aku memiliki mimpi-mimpi yang ingin aku kejar. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku. Bukan karena aku tidak membutuhkanmu. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri.
Aku mencintaimu, Angga. Tapi aku juga belajar mencintai diriku sendiri. Dan itu adalah pelajaran yang paling berharga.
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk berbagi semua yang aku pelajari.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan lega. Ia merasa bahwa ia telah berbagi sesuatu yang penting dengan Angga. Ia merasa bahwa ia telah membuka hatinya dengan lebih dalam.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku merasa sangat bangga padamu. Kau telah menemukan sesuatu yang penting. Kau telah menemukan dirimu sendiri.
Aku juga sedang belajar banyak hal di sini. Aku belajar bahwa aku tidak perlu menjadi sempurna. Aku belajar bahwa aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam.
Kita sedang tumbuh bersama, Novi. Kita sedang belajar bersama. Dan itu adalah hal yang indah.
Aku mencintaimu. Dan aku tidak sabar untuk bertemu denganmu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu. Tapi kali ini, aku akan menunggu dengan lebih tenang. Karena aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu bahwa cinta kita nyata."
BAB XXII
Ayah dan Novi Berbicara
Malam itu, suasana di rumah Novi terasa berbeda. Biasanya, rumah itu sunyi. Ayahnya pulang larut, dan Novi menghabiskan waktu sendirian di kamarnya. Tetapi malam ini, ayahnya pulang lebih awal. Ia memasak makan malam, sesuatu yang jarang ia lakukan. Aroma sayur asem dan ikan goreng tercium dari dapur, mengingatkan Novi pada masa kecilnya ketika ibunya masih ada.
Novi keluar dari kamarnya dan melihat ayahnya sedang menyiapkan meja makan. Dua piring, dua gelas, dua sendok. Meja yang biasanya kosong kini terlihat hangat dan mengundang.
"Ayah pulang lebih awal," kata Novi dengan nada bertanya.
Ayahnya tersenyum. "Aku ingin makan malam bersama mu, Novi. Sudah lama kita tidak melakukannya."
Novi tersenyum kecil. "Iya, Ayah. Sudah lama sekali."
Mereka duduk di meja makan. Ayahnya mengambil nasi dan sayur untuk Novi, lalu untuk dirinya sendiri. Mereka makan dalam diam beberapa saat, menikmati kehangatan makanan dan kebersamaan yang jarang mereka rasakan.
"Novi," kata ayahnya akhirnya. "Aku ingin bicara denganmu."
Novi mengangkat kepalanya. "Tentang apa, Ayah?"
"Tentang banyak hal," kata ayahnya. "Tentang masa lalu. Tentang ibumu. Tentang dirimu. Tentang Angga."
Novi meletakkan sendoknya. Ia menatap ayahnya dengan penuh perhatian. Ada sesuatu di mata ayahnya yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Ada semacam kerinduan. Ada semacam penyesalan. Ada semacam cinta yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan.
"Novi," kata ayahnya. "Aku tahu aku bukan ayah yang baik. Aku selalu sibuk. Aku selalu pergi. Aku tidak pernah benar-benar ada untukmu setelah ibumu pergi."
Novi menunduk. "Ayah tidak perlu meminta maaf, Ayah. Ayah bekerja keras untuk kita."
"Bukan itu masalahnya," kata ayahnya. "Aku bekerja keras karena aku tidak tahu cara lain untuk menunjukkan cintaku. Aku tidak tahu cara menjadi ayah yang baik. Aku tidak tahu cara mengisi kekosongan yang ditinggalkan ibumu."
Novi menatap ayahnya. Air mata menggenang di matanya.
"Ayah," kata Novi pelan. "Aku tidak pernah menyalahkan Ayah. Aku tahu Ayah melakukan yang terbaik."
"Tapi aku bisa melakukan lebih baik," kata ayahnya. "Aku bisa lebih sering ada untukmu. Aku bisa lebih sering berbicara denganmu. Aku bisa lebih sering bertanya bagaimana kabarmu."
Novi menangis. "Ayah, aku tidak butuh Ayah menjadi sempurna. Aku hanya butuh Ayah ada."
Ayahnya mengulurkan tangan dan memegang tangan Novi. "Aku di sini, Novi. Aku akan selalu di sini. Mulai sekarang, aku akan berusaha lebih baik."
Mereka diam beberapa saat. Suara sendok dan garpu berdentang pelan. Ayahnya mengambil napas dalam-dalam, seolah sedang mengumpulkan keberanian.
"Novi," kata ayahnya. "Aku ingin bercerita tentang ibumu."
Novi terkejut. Ayahnya tidak pernah berbicara tentang ibunya. Selama bertahun-tahun, nama ibunya adalah sesuatu yang tidak pernah disebutkan. Sebuah rahasia yang terkubur dalam-dalam.
"Ayah... Ayah mau bercerita tentang Ibu?" tanya Novi dengan suara bergetar.
Ayahnya mengangguk. "Sudah waktunya. Kau sudah dewasa. Kau berhak tahu."
Ayahnya menatap ke luar jendela, seolah melihat masa lalu yang jauh. "Ibumu adalah wanita yang luar biasa, Novi. Ia cantik, cerdas, dan penuh cinta. Aku mencintainya dengan segenap hatiku."
"Lalu kenapa ia pergi?" tanya Novi. "Kenapa ia meninggalkan kita?"
Ayahnya menghela napas panjang. "Ibumu pergi karena ia sakit, Novi. Ia menderita depresi berat setelah melahirkanmu. Ia berjuang bertahun-tahun, tetapi ia tidak pernah benar-benar pulih."
Novi terkejut. "Aku tidak tahu. Aku tidak pernah tahu."
"Aku tidak pernah memberitahumu karena aku ingin melindungimu," kata ayahnya. "Aku pikir jika kau tidak tahu, kau tidak akan terbebani. Tapi aku salah. Aku seharusnya jujur padamu."
Novi menangis. "Jadi Ibu tidak pergi karena aku? Ibu tidak pergi karena aku tidak cukup baik?"
Ayahnya memegang tangan Novi erat-erat. "Tidak, Novi. Ibumu pergi karena ia sakit. Ia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia mencintaimu. Ia selalu mencintaimu. Tapi ia tidak bisa melawan penyakitnya."
Novi menangis histeris. Semua beban yang ia pikul selama bertahun-tahun akhirnya terangkat. Semua rasa bersalah yang ia simpan akhirnya hilang. Ibunya tidak pergi karena ia tidak cukup baik. Ibunya pergi karena ia sakit.
"Aku sangat lega, Ayah," isak Novi. "Aku selalu berpikir bahwa itu salahku. Aku selalu berpikir bahwa aku tidak cukup baik untuk membuat Ibu tinggal."
"Kau cukup baik, Novi," kata ayahnya. "Kau selalu cukup baik. Ibumu tahu itu. Aku tahu itu. Dan Angga juga tahu itu."
Novi memeluk ayahnya erat-erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia dipahami.
"Terima kasih, Ayah," bisik Novi. "Terima kasih sudah jujur padaku."
"Maafkan aku karena tidak jujur lebih awal," kata ayahnya. "Maafkan aku karena membiarkanmu menanggung beban itu sendirian."
"Aku memaafkan Ayah," kata Novi. "Aku memaafkan Ayah. Dan aku memaafkan Ibu."
Malam itu, Novi dan ayahnya berbicara berjam-jam. Mereka berbicara tentang masa lalu. Tentang ibunya. Tentang semua yang terjadi setelah kepergian ibunya. Novi mendengarkan dengan penuh perhatian, menyerap setiap kata yang diucapkan ayahnya.
"Ibumu adalah wanita yang kuat, Novi," kata ayahnya. "Ia berjuang melawan penyakitnya dengan segenap kekuatannya. Tapi kadang, penyakit itu terlalu kuat. Dan ia tidak bisa melawannya lagi."
"Aku mengerti, Ayah," kata Novi. "Aku tidak marah lagi. Aku hanya... aku hanya sedih. Sedih karena Ibu harus melalui semua itu sendirian."
"Ia tidak sendirian," kata ayahnya. "Aku ada di sisinya. Sampai akhir. Dan ia pergi dengan damai, karena ia tahu bahwa kau akan tumbuh menjadi gadis yang kuat."
Novi menangis lagi. "Aku berharap aku bisa mengatakannya padanya. Bahwa aku mencintainya. Bahwa aku memaafkannya."
"Ia tahu, Novi," kata ayahnya. "Ia tahu. Dan ia bangga padamu."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Beban yang ia pikul selama bertahun-tahun akhirnya terangkat.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Ada semacam kedamaian di matanya. Ada semacam penerimaan di hatinya.
"Aku memaafkan Ibu," bisik Novi pada bayangannya. "Aku memaafkan Ayah. Dan aku memaafkan diriku sendiri."
Ia tersenyum. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia merasa bahwa ia benar-benar bebas.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina langsung melihat perubahan pada dirinya.
"Novi, ada yang berbeda padamu," kata Rina. "Kau kelihatan lebih... tenang."
"Aku merasa lebih tenang, Rin," kata Novi. "Ayahku bercerita tentang ibuku tadi malam. Tentang penyakitnya. Tentang mengapa ia pergi."
Rina terkejut. "Benarkah? Bagaimana perasaanmu?"
"Aku merasa lega," kata Novi. "Aku tahu bahwa itu bukan salahku. Ibu pergi karena ia sakit. Bukan karena aku tidak cukup baik."
Rina memeluk Novi. "Aku senang mendengarnya, Novi. Kau pantas merasa lega."
Sepanjang hari, Novi merasa lebih ringan. Ia tidak lagi membawa beban yang selama ini ia pikul. Ia tidak lagi merasa bersalah atas kepergian ibunya. Ia tidak lagi merasa bahwa ia tidak cukup baik.
Di kelas, ia menulis puisi tentang ibunya. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia rasakan.
"Ibu pergi bukan karena aku. Ibu pergi karena ia sakit. Ia berjuang dengan segenap kekuatannya. Tapi penyakit itu terlalu kuat. Aku memaafkannya. Aku memaafkan kepergiannya. Aku memaafkan semua yang tidak ia berikan. Karena aku tahu bahwa ia mencintaiku. Dan cintanya tidak pernah pudar."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata pelepasan.
Malam itu, Novi menulis surat untuk ibunya. Surat yang tidak akan pernah ia kirimkan. Tetapi ia menulisnya untuk dirinya sendiri. Untuk melepaskan semua perasaannya.
"Ibu tersayang,
Aku menulis surat ini untukmu. Meskipun aku tahu kau tidak akan pernah membacanya. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Aku memaafkanmu karena pergi. Aku memaafkanmu karena tidak pernah memberi penjelasan. Aku memaafkanmu karena semua hal yang tidak kau berikan padaku.
Aku tahu sekarang bahwa kau pergi bukan karena aku. Kau pergi karena kau sakit. Kau berjuang sekuat tenaga. Tapi penyakitmu terlalu kuat.
Aku mencintaimu, Ibu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku bangga menjadi putrimu.
Novi"
Novi melipat surat itu dan menyimpannya di dalam kotak kayu bersama dengan surat-surat dari Angga. Ia ingin menyimpan semua surat cinta di tempat yang sama. Surat dari ibunya. Surat dari Angga. Semua cinta yang pernah ia terima.
Beberapa hari kemudian, Novi dan ayahnya pergi ke makam ibunya. Ini adalah pertama kalinya mereka pergi bersama sejak ibunya meninggal.
Mereka berdiri di depan makam yang sederhana itu. Batu nisan putih dengan nama ibunya terukir di atasnya. Bunga-bunga segar yang mereka bawa diletakkan di atas makam.
"Ibu," kata Novi pelan. "Aku datang. Aku datang untuk mengunjungimu. Aku ingin kau tahu bahwa aku memaafkanmu. Dan aku mencintaimu."
Ayahnya memegang tangan Novi. "Ia mendengarmu, Novi. Ia selalu mendengarmu."
Novi menangis. Tetapi kali ini, ia menangis dengan senyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah melepaskan semua beban yang ia pikul.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kunjungan ke makam ibunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Di makam ibu, aku berdiri. Dengan bunga di tanganku. Dengan cinta di hatiku. Aku berkata padanya bahwa aku memaafkannya. Aku berkata padanya bahwa aku mencintainya. Dan untuk pertama kalinya, aku merasa bebas. Bebas dari rasa bersalah. Bebas dari rasa takut. Bebas untuk mencintai tanpa beban."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kedamaian yang sejati.
Novi mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku ingin kau tahu bahwa aku bangga padamu. Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Gadis yang berani. Gadis yang penuh cinta."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku juga bangga pada Ayah. Ayah telah berjuang sendirian selama bertahun-tahun. Dan Ayah tidak pernah menyerah."
Ayahnya tersenyum. "Kita sama, ya?"
"Kita sama," kata Novi.
Mereka berpelukan. Untuk pertama kalinya, mereka merasa bahwa mereka adalah keluarga yang utuh. Meskipun tanpa ibu. Meskipun dengan semua luka masa lalu. Mereka adalah keluarga. Dan mereka saling mencintai.
Novi mulai menulis puisi tentang keluarganya. Tentang ibunya yang telah pergi. Tentang ayahnya yang selalu ada. Tentang cinta yang mengikat mereka bersama.
"Keluarga adalah tempat kita pulang. Meskipun ada yang pergi. Meskipun ada yang tinggal. Cinta tetap ada. Mengikat kita bersama. Menghangatkan hati kita. Aku bersyukur memiliki keluarga. Meskipun tidak sempurna. Meskipun penuh luka. Tapi cinta kami nyata. Dan itu cukup."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Suatu malam, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku merindukanmu. Aku mendengar kau pergi ke makam ibumu. Bagaimana perasaanmu? Aku mencintaimu."
Novi tersenyum. Ia membalas pesan Angga.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku merasa lega. Aku merasa bebas. Aku akhirnya memaafkan ibuku. Dan aku memaafkan diriku sendiri. Aku mencintaimu."
Beberapa menit kemudian, Angga membalas.
"Aku bangga padamu, Novi. Kau telah melakukan hal yang sulit. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku mencintaimu."
Malam itu, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang perjalanan Novi. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Novi," kata Angga. "Kau telah berubah. Kau terlihat lebih tenang. Lebih percaya diri. Lebih... utuh."
"Aku merasa lebih utuh," kata Novi. "Aku akhirnya mengenal diriku sendiri. Aku akhirnya menerima semua bagian dari diriku. Baik yang indah maupun yang menyakitkan."
"Dan bagaimana dengan aku?" tanya Angga. "Apakah aku masih menjadi bagian dari hidupmu?"
Novi tersenyum. "Kau adalah bagian terpenting dari hidupku, Angga. Kau mengajariku tentang cinta. Kau mengajariku tentang keberanian. Kau mengajariku bahwa aku layak dicintai."
Angga tersenyum. "Dan kau mengajariku tentang kejujuran. Tentang ketulusan. Tentang bagaimana menjadi diriku sendiri."
Mereka saling memandang. Meskipun jarak memisahkan mereka, mereka merasa bahwa mereka lebih dekat dari sebelumnya.
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga.
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Selamanya."
BAB XXIII
Angga Mulai Lelah Menunggu
Malam itu, di sebuah kamar kos di Tokyo, Angga duduk termenung di depan meja belajarnya. Buku-buku kuliah terbuka di hadapannya, tetapi matanya kosong, tidak benar-benar membaca. Pikirannya jauh melayang, melintasi samudra, kembali ke Indonesia. Kembali pada Novi.
Sudah delapan bulan sejak ia meninggalkan Indonesia. Delapan bulan sejak ia mengucapkan selamat tinggal pada Novi di stasiun. Delapan bulan sejak ia berjanji untuk kembali. Dan selama delapan bulan itu, ia telah menunggu. Menunggu waktu berlalu. Menunggu kuliahnya selesai. Menunggu saat ia bisa kembali ke pelukan Novi.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya, Angga merasa lelah.
Bukan lelah fisik. Bukan lelah karena belajar atau bekerja. Tetapi lelah karena menunggu. Lelah karena merindukan. Lelah karena jarak yang terus membentang di antara mereka.
Angga menghela napas panjang dan menutup buku-bukunya. Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Di luar, kota Tokyo masih hidup. Lampu-lampu gedung bertingkat berkelap-kelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi. Kereta-kereta melintas di kejauhan dengan suara yang teredam. Angga menatap semua itu dengan mata kosong.
"Kenapa rasanya semakin sulit?" bisik Angga pada dirinya sendiri. "Kenapa rasanya semakin berat?"
Angga teringat pada awal hubungan mereka. Saat semuanya terasa baru dan indah. Saat ia masih bisa melihat Novi setiap hari. Saat ia masih bisa mendengar tawa Novi. Saat ia masih bisa merasakan hangatnya pelukan Novi.
Ia teringat pada cokelat panas yang ia berikan setiap pagi. Pada senyum Novi yang perlahan muncul. Pada puisi-puisi Novi yang ia baca dengan penuh perhatian. Pada semua kenangan indah yang mereka bagi bersama.
Tetapi kenangan-kenangan itu sekarang terasa seperti mimpi. Mimpi yang semakin kabur seiring berjalannya waktu.
Angga menutup matanya dan membayangkan Novi. Wajahnya. Senyumnya. Matanya. Tetapi semakin ia berusaha mengingat, semakin kabur bayangan itu. Seperti foto yang mulai pudar dimakan waktu.
"Apa yang terjadi padaku?" bisik Angga. "Kenapa aku mulai melupakan wajahnya?"
Ia membuka ponselnya dan melihat foto-foto Novi yang ia simpan. Foto-foto itu masih sama. Novi masih tersenyum di dalamnya. Tetapi Angga merasa bahwa ada jarak yang semakin lebar antara dirinya dan foto-foto itu. Seolah Novi bukan lagi bagian dari hidupnya yang nyata. Hanya kenangan. Hanya foto. Hanya cerita masa lalu.
Angga memutuskan untuk menelepon Novi. Ia ingin mendengar suaranya. Ia ingin merasa bahwa Novi masih nyata.
Telepon berdering beberapa kali, lalu Novi menjawab.
"Halo, Angga," sapa Novi dengan suara yang hangat. "Aku sedang menulis puisi. Kau tepat waktu."
Angga tersenyum mendengar suara Novi. Tetapi ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
"Novi," kata Angga. "Aku merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," kata Novi. "Aku baru saja menulis puisi tentangmu. Tentang bagaimana aku merindukan cokelat panasmu."
Angga tersenyum kecil. "Aku juga merindukanmu, Novi. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan tawamu. Aku merindukan caramu memanggil namaku."
Mereka berbicara selama beberapa menit. Novi bercerita tentang puisinya. Tentang ayahnya. Tentang Rina. Angga mendengarkan dengan sabar, tetapi pikirannya terus melayang.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku... aku lelah," kata Angga. "Aku lelah menunggu. Aku lelah merindukan. Aku lelah jarak ini."
Novi terdiam. Angga bisa mendengar napasnya yang berubah menjadi lebih berat.
"Angga," kata Novi pelan. "Apa maksudmu?"
"Aku tidak tahu," kata Angga. "Aku hanya merasa bahwa jarak ini semakin berat. Aku merasa bahwa kita semakin jauh, meskipun kita masih berkomunikasi."
"Tapi aku di sini, Angga," kata Novi. "Aku masih di sini. Aku masih menunggumu."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi rasanya berbeda, Novi. Rasanya seperti ada sesuatu yang berubah. Dan aku tidak tahu apa itu."
Setelah menutup telepon, Angga duduk termenung. Ia merasa bersalah. Ia tidak bermaksud menyakiti Novi. Ia hanya jujur tentang perasaannya.
Tetapi ia juga merasa bahwa ada sesuatu yang salah. Sesuatu yang tidak bisa ia perbaiki dengan kata-kata.
Ia memutuskan untuk berbicara dengan Bima. Bima selalu bisa memberinya perspektif yang berbeda.
"Bi," kata Angga melalui telepon. "Aku ingin bicara."
"Ada apa, Angga?" tanya Bima. "Kau kelihatan murung."
"Aku merasa lelah, Bi," kata Angga. "Aku lelah menunggu Novi. Aku lelah jarak ini. Aku merasa bahwa kita semakin jauh."
Bima terdiam sejenak. "Angga, aku mengerti perasaanmu. Jarak memang sulit. Tapi kau harus ingat bahwa Novi masih menunggumu. Ia masih mencintaimu."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi rasanya berbeda. Rasanya seperti ada dinding di antara kami. Dan aku tidak tahu bagaimana cara meruntuhkannya."
"Mungkin kau hanya perlu bersabar," kata Bima. "Semua akan baik-baik saja pada akhirnya."
"Apakah kau yakin?" tanya Angga. "Apakah kau yakin bahwa kami akan baik-baik saja?"
Bima terdiam. "Aku tidak bisa menjawab itu, Angga. Hanya kalian berdua yang bisa menjawabnya."
Malam itu, Angga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang asing. Pikirannya terus pada Novi. Pada percakapan mereka. Pada semua ketakutannya.
Ia memutuskan untuk menulis surat untuk Novi. Surat yang jujur. Surat yang mengungkapkan semua perasaannya.
"Novi tersayang,
Aku menulis surat ini dengan hati yang berat. Aku ingin jujur padamu. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Tapi aku juga merasa lelah. Lelah karena jarak ini. Lelah karena menunggu. Lelah karena merindukan.
Aku tidak tahu apakah ini hanya perasaanku sendiri. Tapi aku merasa bahwa ada jarak yang semakin lebar di antara kita. Aku merasa bahwa kita semakin jauh, meskipun kita masih berkomunikasi.
Aku tidak ingin kehilanganmu, Novi. Kau adalah segalanya bagiku. Tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengatasi perasaan ini.
Tolong katakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tolong katakan padaku bahwa kita akan bertemu lagi.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Angga mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah jujur pada Novi. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suratnya akan mengubah segalanya. Takut bahwa Novi akan kecewa padanya. Takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia hanya bisa menunggu. Menunggu jawaban dari Novi. Menunggu keputusan Novi. Menunggu cinta mereka.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima surat Angga. Ia membacanya berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya.
"Angga lelah," bisik Novi. "Angga lelah menunggu."
Ia merasakan sakit yang sama dengan Angga. Ia juga lelah. Ia juga merindukan. Ia juga ingin bertemu.
Tetapi ia juga tahu bahwa mereka harus kuat. Mereka harus bertahan. Mereka harus percaya bahwa cinta mereka cukup kuat untuk melewati semua ini.
Novi mengambil pena dan menulis balasan.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku merasakan sakit yang sama denganmu. Aku juga lelah. Aku juga merindukan. Aku juga ingin bertemu.
Tapi aku percaya pada cinta kita. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Aku percaya bahwa semua ini akan berakhir dengan indah.
Jangan menyerah, Angga. Jangan menyerah pada kita. Aku di sini. Aku selalu di sini. Aku akan menunggu sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah meyakinkan Angga bahwa cintanya nyata. Ia telah meyakinkan Angga bahwa mereka akan bertemu lagi.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suratnya tidak cukup. Takut bahwa kata-katanya tidak cukup. Takut bahwa cintanya tidak cukup.
Ia memutuskan untuk berbicara dengan Rina tentang perasaannya.
"Rin," kata Novi. "Aku menerima surat dari Angga. Dia bilang dia lelah menunggu."
Rina terkejut. "Apa maksudnya?"
"Dia merasa bahwa jarak ini semakin berat," kata Novi. "Dia merasa bahwa kita semakin jauh."
Rina memegang tangan Novi. "Novi, kau harus percaya pada Angga. Kau harus percaya pada cinta kalian."
"Aku percaya," kata Novi. "Tapi aku takut. Takut bahwa Angga akan menyerah. Takut bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Kau tidak boleh takut," kata Rina. "Kau harus kuat. Untuk dirimu sendiri. Untuk Angga. Untuk cinta kalian."
Novi mengangguk. "Aku akan mencoba, Rin. Aku akan mencoba untuk kuat."
Minggu berikutnya, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang surat-surat mereka. Tentang perasaan mereka. Tentang masa depan.
"Angga," kata Novi. "Aku membaca suratmu. Dan aku merasakan sakit yang sama denganmu. Aku juga lelah. Aku juga merindukan."
"Aku tahu," kata Angga. "Dan aku minta maaf. Aku tidak bermaksud menyakitimu."
"Kau tidak menyakitiku," kata Novi. "Kau hanya jujur. Dan aku menghargai kejujuranmu."
"Tapi aku takut, Novi," kata Angga. "Aku takut bahwa kita tidak akan pernah bertemu lagi."
"Kita akan bertemu, Angga," kata Novi. "Aku percaya pada cinta kita. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi."
Angga tersenyum. "Terima kasih, Novi. Kau selalu membuatku percaya."
Setelah video call, Novi merasa lebih baik. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suatu hari nanti, Angga akan berubah pikiran. Takut bahwa Angga akan menemukan orang lain. Takut bahwa mereka tidak akan pernah bertemu lagi.
Ia memutuskan untuk menulis puisi tentang perasaannya.
"Aku menunggu di sini. Di bawah langit yang sama. Di bawah bintang yang sama. Aku menunggu kau kembali. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya. Meskipun aku lelah. Meskipun aku merindukan. Meskipun aku takut. Aku akan menunggu. Untukmu. Untuk kita."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia masih takut. Tetapi ia memilih untuk percaya. Ia memilih untuk menunggu.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis surat untuk Angga. Ia menulis tentang kehidupannya. Tentang sekolah. Tentang Rina. Tentang ayahnya. Tentang semua yang ia rasakan.
Angga membalas surat-suratnya. Surat-surat itu singkat, tetapi penuh dengan cinta. Angga menceritakan tentang kehidupannya di Jepang. Tentang kuliahnya. Tentang teman-temannya. Tentang bagaimana ia merindukan Novi.
Novi membaca setiap surat dengan hati-hati. Ia menyimpan semuanya di dalam kotak kayu. Kotak itu sekarang hampir penuh.
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga yang membuatnya terkejut.
"Novi tersayang,
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku sudah berpikir tentang ini selama beberapa minggu. Dan aku ingin jujur padamu.
Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Tapi aku tidak tahu apakah kita bisa bertahan dengan jarak ini. Aku tidak tahu apakah kita bisa terus seperti ini.
Aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu menderita. Kau pantas bahagia, Novi. Kau pantas dicintai dengan cara yang nyata. Bukan hanya melalui surat dan panggilan telepon.
Mungkin kita perlu berpikir tentang masa depan kita. Mungkin kita perlu mengambil keputusan yang sulit.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya.
"Angga ingin mengakhiri hubungan kita," bisik Novi. "Angga ingin pergi."
Ia tidak bisa menahan tangisnya. Ia menangis histeris di kamarnya. Ayahnya mendengar dan datang menghampirinya.
"Novi, ada apa?" tanya ayahnya cemas.
"Ayah, Angga... Angga ingin mengakhiri hubungan kami," isak Novi. "Dia bilang dia tidak tahu apakah kita bisa bertahan dengan jarak ini."
Ayahnya memeluk Novi erat-erat. "Tenang, Novi. Semua akan baik-baik saja."
"Tapi Ayah, aku tidak mau kehilangan dia," kata Novi. "Aku mencintainya. Aku sangat mencintainya."
"Kalau begitu, kau harus berjuang," kata ayahnya. "Kau harus menunjukkan padanya bahwa cinta kalian cukup kuat untuk melewati semua ini."
Novi mengangguk. "Aku akan berjuang, Ayah. Aku tidak akan menyerah."
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan perasaannya.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku merasakan sakit yang luar biasa. Tapi aku juga mengerti perasaanmu. Aku juga merasakan hal yang sama.
Tapi aku tidak ingin menyerah, Angga. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku percaya bahwa cinta kita cukup kuat untuk melewati semua ini. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi.
Jika kau mau menyerah, aku akan menerimanya. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kapan pun.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dengan perasaan lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan cinta.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku menangis. Aku tidak bisa membayangkan kehilanganmu. Kau adalah segalanya bagiku.
Aku minta maaf karena membuatmu khawatir. Aku tidak akan menyerah. Aku akan berjuang. Untukmu. Untuk kita.
Aku akan kembali padamu, Novi. Aku berjanji. Aku akan menjadi orang yang pantas untukmu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Angga tidak akan menyerah. Mereka akan berjuang bersama. Mereka akan bertahan. Mereka akan bertemu lagi.
BAB XXIV
Pertemuan di Taman Kota
Hari itu, langit Jakarta mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi berdiri di depan cermin yang retak di kamarnya, menatap bayangannya sendiri. Ia sudah membaca surat Angga berkali-kali. Surat yang mengatakan bahwa Angga akan kembali ke Indonesia untuk sementara waktu. Tiga minggu. Hanya tiga minggu.
Novi merasakan campuran perasaan yang rumit. Senang karena ia akan bertemu Angga. Cemas karena pertemuan itu akan terasa singkat. Takut karena setelah tiga minggu, Angga akan pergi lagi. Dan yang paling mengganggu pikirannya adalah kegelisahan yang ia rasakan sejak menerima surat terakhir Angga. Ada sesuatu dalam tulisan Angga yang terasa berbeda. Ada semacam keraguan yang tersembunyi di balik kata-kata manisnya.
Ia menarik napas dalam-dalam. "Ini adalah kesempatan kita," bisiknya pada bayangannya. "Kesempatan untuk berbicara langsung. Kesempatan untuk memperbaiki semua yang mungkin retak."
Ia memakai baju terbaiknya. Sebuah gaun sederhana berwarna biru muda. Ia memakai gelang yang diberikan Angga, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di pergelangan tangannya. Ia memakai sedikit lipstik dan menyisir rambutnya dengan rapi.
"Aku siap," bisiknya. "Aku siap bertemu denganmu."
Novi dan Angga sepakat bertemu di taman kota. Tempat di mana mereka dulu sering menghabiskan waktu bersama.
Novi datang lebih awal. Ia duduk di bangku dekat kolam air mancur. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah sinar matahari yang mulai menembus awan. Ia menatap air mancur itu, mengingat semua kenangan yang mereka bagi di tempat ini.
Ia ingat saat Angga pertama kali mengajaknya ke taman ini. Saat itu, Angga masih anak baru yang penuh senyum. Angga membawa dua gelas cokelat panas dan mereka duduk di bangku ini sambil berbicara tentang mimpi-mimpi mereka.
"Kita sudah jauh pergi sejak saat itu," bisik Novi. "Kita sudah melewati begitu banyak hal. Dan kita masih di sini. Masih bersama."
Beberapa menit kemudian, Novi melihat sesosok pria berjalan mendekat. Pria itu tinggi, dengan rambut yang sedikit lebih panjang, dan senyum yang masih sama seperti dulu.
Angga.
Novi berdiri. Dadanya berdebar kencang. Ia hanya berdiri di sana, menatap Angga yang semakin mendekat.
Angga berhenti beberapa langkah di hadapannya. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. Ada sesuatu di balik senyum itu.
"Novi," sapa Angga dengan suara lembut. "Kau cantik."
Novi tersenyum kecil. "Kau juga. Rambutmu lebih panjang."
Angga tertawa kecil. "Aku malas potong rambut di Jepang. Mahal."
Mereka tertawa bersama, tetapi tawa itu terasa canggung. Ada jarak di antara mereka yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Ayo duduk," kata Angga.
Mereka duduk di bangku dekat kolam air mancur. Angga membawa dua gelas cokelat panas. Novi menerima gelas itu dengan tangan gemetar. Hangatnya cokelat menyebar di telapak tangannya.
"Aku merindukan ini," kata Novi pelan. "Cokelat panasmu."
"Aku juga merindukan ini," kata Angga. "Merindukanmu."
Mereka diam beberapa saat. Hanya suara air mancur dan kicauan burung yang terdengar.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
Novi menatapnya. Dadanya berdebar kencang. "Apa?"
Angga menghela napas panjang. Ia menatap air mancur di depannya, seolah mencari kata-kata yang tepat.
"Aku sudah berpikir tentang ini selama beberapa minggu," kata Angga. "Tentang kita. Tentang masa depan kita."
Novi tidak menjawab. Ia hanya menunggu.
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu. Tapi aku juga lelah. Aku lelah dengan jarak ini. Aku lelah dengan kerinduan ini. Aku lelah dengan semua ketidakpastian ini."
Dadanya sesak. "Apa maksudmu, Angga?"
"Aku tidak tahu apakah kita bisa terus seperti ini," kata Angga. "Aku tidak tahu apakah kita bisa bertahan dengan jarak yang semakin jauh."
"Tapi kita sudah melewati semua ini," kata Novi, suaranya mulai meninggi. "Kita sudah melewati jarak. Kita sudah melewati waktu. Kita masih di sini. Masih bersama. Kenapa sekarang?"
Angga menatapnya. "Karena aku takut, Novi. Aku takut bahwa jika kita terus seperti ini, kita akan saling menyakiti."
Novi menatap Angga. Matanya tajam. "Kau tahu, Angga, kau selalu bilang kau takut. Tapi kau tidak pernah bertanya apakah aku juga takut. Kau tidak pernah bertanya apakah aku juga lelah."
Angga terkejut. "Novi..."
"Kau pikir hanya kau yang lelah?" suara Novi semakin keras. "Kau pikir hanya kau yang merindukan? Aku juga, Angga. Aku juga lelah. Aku juga merindukan. Tapi aku tetap di sini. Aku tetap bertahan. Dan kau? Kau datang ke sini dengan surat-surat manis yang sudah kau tulis dari jauh, lalu kau bilang kau lelah?"
Angga terdiam. Rahangnya mengeras.
"Kau bilang kau mencintaiku," lanjut Novi, air mata mulai mengalir di pipinya. "Tapi setiap kali kau harus memilih, kau selalu memilih pergi. Kapan kau akan memilihku, Angga? Kapan?"
Angga membuang muka. Tangannya mengepal di pangkuannya.
"Aku sudah memilihmu," katanya pelan. "Aku di sini, bukan?"
"Kau di sini karena kau sedang libur," kata Novi, nadanya tajam. "Bukan karena kau memilihku. Kau akan pergi lagi dalam tiga minggu. Dan aku akan kembali menunggu. Lagi. Seperti biasa."
Angga menarik napas dalam-dalam. Ketika ia menatap Novi lagi, ada sesuatu di matanya yang tidak pernah Novi lihat sebelumnya. Bukan kesedihan. Bukan cinta. Tetapi sesuatu yang lebih mentah.
"Kau selalu bilang aku yang pergi," kata Angga, suaranya rendah dan dingin. "Tapi kau tahu, Novi, kau juga tidak pernah benar-benar ada. Aku di Jepang, sendirian, dan kau selalu bilang kau menungguku. Tapi siapa yang kau tunggu? Aku, atau bayangan tentang aku yang kau buat di kepalamu? Kau takut kehilangan, tapi kau juga takut untuk benar-benar memiliki."
Novi tersentak. Kata-kata itu menusuk tepat di hatinya. Ia tidak pernah mendengar Angga bicara seperti ini sebelumnya. Ia tidak pernah melihat sisi Angga yang marah. Yang kecewa. Yang juga sakit.
"Apa maksudmu?" tanya Novi, suaranya bergetar.
Angga menghela napas. Ia menatap air mancur, lalu kembali menatap Novi.
"Aku mencintaimu, Novi. Aku sungguh mencintaimu. Tapi aku juga butuh kau memilih. Bukan hanya menunggu. Bukan hanya bertahan. Tapi benar-benar memilihku. Seperti aku memilihmu."
Mereka duduk diam dalam waktu yang lama. Hanya suara air mancur yang terdengar. Angin berhembus, membawa daun-daun kering yang berguguran.
Novi menggigit bibirnya. Ia menatap air mancur di depannya, tetapi matanya kosong. Pikirannya berputar. Kata-kata Angga mengiang di telinganya.
"Kau takut untuk benar-benar memiliki."
"Aku tidak tahu," kata Novi akhirnya, suaranya pelan. "Aku tidak tahu apakah aku bisa."
"Bisa apa?" tanya Angga.
"Memilih," kata Novi. "Aku tidak pernah benar-benar memilih. Aku selalu menunggu. Menunggu orang lain memilihku. Menunggu orang lain datang. Menunggu orang lain pergi. Aku tidak pernah benar-benar memutuskan."
Angga menatapnya. "Kau bisa memulai sekarang."
Novi menggeleng. "Aku tidak tahu apakah aku cukup berani."
"Novi," kata Angga, menggenggam tangannya. Tangannya dingin. "Aku tidak butuh kau menjadi sempurna. Aku tidak butuh kau menjadi berani setiap saat. Aku hanya butuh kau mencoba."
Novi menangis. "Bagaimana jika aku gagal?"
"Kau tidak akan gagal," kata Angga. "Karena aku akan ada di sini. Kita akan gagal bersama, jika harus gagal. Tapi kita tidak akan gagal karena satu dari kita tidak mencoba."
Novi menatap Angga. Air mata mengalir di pipinya. "Kau benar-benar mau menungguku? Sampai aku siap?"
"Selamanya," kata Angga. "Tapi jangan terlalu lama, Novi. Karena aku juga manusia. Aku juga bisa lelah."
Novi memeluk Angga erat-erat. "Aku minta maaf," bisiknya. "Aku minta maaf karena selalu membuatmu menunggu."
"Aku minta maaf karena selalu pergi," bisik Angga. "Tapi aku akan kembali. Aku berjanji. Aku hanya butuh kau percaya padaku."
"Aku percaya," kata Novi. "Aku percaya padamu."
Mereka berpelukan lama. Air mata mengalir di pipi mereka. Tidak ada yang perlu diucapkan lagi.
Ketika mereka melepaskan pelukan, Angga menatap Novi.
"Novi," katanya. "Aku ingin kita membuat keputusan bersama."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku tidak ingin berpisah," kata Angga. "Aku tidak mau. Tapi aku juga tidak bisa terus seperti ini. Aku ingin kita menemukan cara. Cara untuk tetap bersama meskipun jarak memisahkan."
"Bagaimana?" tanya Novi.
"Aku tidak tahu," kata Angga. "Tapi kita bisa mencari tahu bersama."
Novi tersenyum. "Kita bisa mencari tahu bersama."
"Aku akan kembali ke Jepang," kata Angga. "Tapi aku akan kembali lagi. Untuk selamanya. Dan kali ini, aku ingin kau yakin. Aku ingin kau memilih. Bukan karena kau takut kehilangan, tetapi karena kau benar-benar ingin aku."
Novi menatap Angga. "Aku akan mencoba, Angga. Aku akan mencoba memilih."
"Itu sudah cukup," kata Angga. "Itu lebih dari cukup."
Malam itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Dadanya masih sakit, tetapi ada sesuatu yang baru di dalamnya. Sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Ia duduk di kamarnya, memandang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Ia tidak tahu apakah mereka akan bersama. Tetapi untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa ia tidak hanya menunggu. Ia juga memilih.
Dan itu cukup.
Keesokan harinya, Novi menulis surat untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku masih memikirkan percakapan kita kemarin. Kau mengatakan bahwa aku tidak pernah benar-benar memilih. Dan kau benar. Aku selalu menunggu. Aku selalu bertahan. Tapi aku tidak pernah benar-benar memutuskan.
Kali ini, aku ingin memilih. Aku memilihmu, Angga. Bukan karena aku takut kehilangan. Tetapi karena aku ingin kau ada di hidupku. Karena aku mencintaimu. Karena aku percaya bahwa cinta kita cukup kuat.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama. Tapi aku akan mencoba. Aku akan mencoba untuk tidak hanya menunggu, tetapi juga memilih.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku menangis. Bukan karena sedih, tetapi karena bahagia.
Kau memilihku. Itu semua yang aku inginkan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku tahu bahwa kita akan berjuang bersama. Kita akan mencari cara. Kita akan menemukan jalan.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Minggu berikutnya, Novi dan Angga bertemu lagi di taman kota. Kali ini, mereka lebih tenang. Mereka berbicara tentang masa depan. Tentang mimpi-mimpi mereka.
"Aku ingin menjadi penulis," kata Novi. "Aku ingin menerbitkan buku suatu hari nanti."
"Aku akan membelinya," kata Angga. "Aku akan membeli semua bukumu."
Novi tersenyum. "Dan kau? Apa yang kau inginkan?"
"Aku ingin menyelesaikan kuliahku," kata Angga. "Aku ingin kembali ke Indonesia. Aku ingin membangun masa depan di sini. Bersama orang yang aku cintai."
Novi menatap Angga. "Apakah aku masih menjadi bagian dari masa depanmu?"
Angga memegang tangan Novi. "Kau selalu menjadi bagian dari masa depanku, Novi. Selamanya."
Mereka berpelukan. Di bawah langit yang mulai gelap, di tepi kolam air mancur, mereka berjanji pada satu sama lain bahwa mereka akan tetap bersama. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Mereka akan tetap bersama.
"Aku mencintaimu, Novi," bisik Angga.
"Aku juga mencintaimu, Angga," bisik Novi. "Selamanya."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang pertemuan mereka di taman kota.
"Di taman kota, kita bertemu lagi.
Di bawah langit yang mendung.
Di tepi kolam air mancur.
Kita berteriak.
Kita marah.
Kita menangis.
Tapi kita juga memilih.
Aku memilihmu.
Kau memilihku.
Dan itu cukup.
Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
BAB XXV
Surat Tanpa Nama
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam kegelisahan di dadanya, semacam firasat yang tidak bisa ia jelaskan. Biasanya, ia bangun dengan perasaan tenang setelah keputusan mereka untuk mengambil waktu. Tetapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Ada semacam berat di dadanya, seolah-olah ada tangan tak terlihat yang menekan jantungnya.
Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mencoba memahami apa yang ia rasakan. Di luar jendela, burung-burung bernyanyi dengan riang. Matahari bersinar cerah. Semua tampak normal. Tetapi Novi merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Seperti ada badai yang mendekat, tetapi ia tidak bisa melihatnya.
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin yang retak itu. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari biasanya. Matanya sembab, seolah-olah ia menangis dalam tidurnya. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terus pada Angga. Pada percakapan mereka di taman kota. Pada semua kata-kata yang mereka ucapkan. Pada keputusan mereka untuk mengambil waktu.
"Kenapa aku merasa ada yang salah?" bisik Novi pada bayangannya. "Kenapa aku merasa ada yang akan terjadi?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamar mandi kecil itu. Tetapi di dalam hatinya, ada suara kecil yang berbisik. "Karena kau tahu. Kau tahu bahwa sesuatu akan berubah. Kau tahu bahwa ini bukan akhir yang bahagia."
Novi menggigit bibirnya. "Berhenti," bisiknya pada suara itu. "Aku tidak mau mendengarmu."
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah berat. Kakinya terasa seperti terikat rantai, setiap langkah membutuhkan usaha yang luar biasa. Ia menyapa Rina dengan senyum tipis, tetapi Rina langsung melihat ada yang tidak beres. Wajah Rina berubah dari senyum menjadi kerutan khawatir.
"Novi, ada apa?" tanya Rina. "Kau kelihatan murung. Kau kelihatan seperti baru saja kehilangan sesuatu."
"Aku tidak tahu, Rin," kata Novi. "Aku merasa ada yang salah. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa ada yang akan terjadi. Seperti ada badai yang mendekat."
Rina memegang tangan Novi. Tangannya hangat, tetapi tidak cukup untuk menghilangkan dingin yang menjalar di tubuh Novi. "Mungkin kau hanya cemas. Kau dan Angga baru saja mengambil keputusan besar. Wajar jika kau merasa gelisah. Ini semua baru, Nov. Kalian butuh waktu untuk terbiasa."
"Mungkin," kata Novi. "Tapi rasanya berbeda, Rin. Rasanya seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Aku tidak bisa menjelaskannya. Aku hanya merasakannya."
Rina tersenyum meyakinkan, tetapi matanya juga menunjukkan kekhawatiran. "Semua akan baik-baik saja, Novi. Kau akan lihat. Angga mencintaimu. Kau mencintainya. Itu yang penting."
Novi mengangguk, tetapi di dalam hatinya, ia masih merasa gelisah. "Tapi apakah cinta cukup?" pikirnya. "Apakah cinta cukup untuk membuat seseorang tetap tinggal?"
Di kelas, Novi duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, tidak ada cokelat panas. Tidak ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Angga. Meja itu kosong, seperti hatinya. Novi menatap meja kosong itu dengan perasaan hampa. Sudah beberapa hari sejak Angga kembali ke Jepang, dan cokelat panas itu tidak lagi datang. Rina yang biasanya memberikannya kini tidak lagi melakukannya karena Angga memintanya berhenti. Mungkin itu bagian dari keputusan mereka untuk mengambil waktu. Mungkin itu bagian dari jarak yang mereka butuhkan.
Novi menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa melalui ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku bisa."
Tetapi di dalam hatinya, ia merasakan kehilangan yang mendalam. Cokelat panas itu adalah simbol cinta Angga. Simbol perhatiannya. Simbol bahwa ia selalu ada. Dan sekarang, simbol itu hilang. Seperti semua yang pernah ia cintai, perlahan-lahan menghilang dari hidupnya.
"Apakah ini awal dari akhir?" bisik Novi dalam hati. "Apakah ini cara Angga mengatakan bahwa ia mulai menjauh?"
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Guru menjelaskan rumus matematika yang rumit, tetapi semua kata-katanya terdengar seperti suara latar yang tidak berarti. Pikirannya terus melayang pada Angga. Pada semua yang mereka lalui. Pada semua yang mereka katakan. Pada keputusan mereka untuk mengambil waktu. Pada semua tanda-tanda bahwa ada sesuatu yang berubah.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Tetapi semacam jurnal. Catatan tentang perasaannya. Kata-kata yang tidak akan pernah ia bagikan dengan siapa pun.
"Hari ini, aku merasa hampa. Cokelat panas tidak lagi datang. Rina tidak lagi memberikannya. Aku tahu ini adalah bagian dari keputusan kita. Tapi rasanya berat. Rasanya seperti kehilangan bagian dari diriku sendiri.
Aku merindukan Angga. Aku merindukan cokelat panasnya. Aku merindukan senyumnya. Aku merindukan semua yang ia berikan padaku.
Tapi aku juga tahu bahwa kita butuh waktu. Kita butuh jarak. Kita butuh untuk benar-benar memahami apa yang kita inginkan.
Aku hanya berharap bahwa setelah semua ini, kita masih bersama.
Tapi apa yang terjadi jika kita tidak? Apa yang terjadi jika setelah semua ini, Angga memutuskan bahwa ia tidak lagi mencintaiku?
Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan dari itu."
Novi menutup buku catatannya. Air mata mengalir di pipinya. Ia mengusapnya dengan cepat, takut ada yang melihat.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin melarikan diri dari semua perasaan yang mengganggunya. Ia ingin menyembunyikan diri di antara rak-rak buku, di mana tidak ada yang bisa melihatnya menangis.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai berawan. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi menatap awan-awan itu dan merasa bahwa ia bisa memahami perasaan mereka. Ia juga sedang menahan beban. Beban yang tidak bisa ia lepaskan. Beban yang semakin berat setiap hari.
Ia mulai menulis puisi. Tentang kehilangan. Tentang kerinduan. Tentang semua yang ia rasakan.
"Cokelat panas tidak lagi datang. Senyummu tidak lagi terlihat. Surat-suratmu mulai jarang. Aku di sini, menunggu. Menunggu kabar darimu. Menunggu kepastian. Menunggu cinta kita. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu apakah kita akan bersama. Tapi aku akan menunggu. Selamanya. Meskipun menunggu itu menyakitkan. Meskipun menunggu itu membuatku takut. Aku akan menunggu. Karena aku tidak tahu cara lain untuk mencintaimu."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang mendalam di dadanya. Tetapi ia juga merasakan harapan. Harapan yang kecil dan rapuh, tetapi masih ada. Harapan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berat. Langkahnya lambat, seperti orang yang baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ia berjalan pelan, menikmati setiap langkah, berusaha menunda waktu. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang sepi. Ia tidak ingin duduk di kamarnya sendirian dengan semua perasaannya. Ia tidak ingin menghadapi kenyataan bahwa mungkin, mungkin Angga tidak akan kembali.
Di depan rumahnya, Novi berhenti. Ada sesuatu yang tidak biasa. Di pagar rumahnya, tergantung sebuah amplop putih. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada perangko. Hanya amplop putih polos dengan namanya di bagian depan. Amplop itu terlihat polos dan tidak bersalah, tetapi Novi merasa ada sesuatu yang mengerikan di dalamnya.
Novi mengambil amplop itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdebar kencang, begitu kencang sehingga ia bisa mendengarnya di telinganya. Ia membukanya perlahan, seolah takut dengan apa yang akan ia temukan di dalamnya. Seolah-olah jika ia membuka amplop itu terlalu cepat, dunia akan runtuh.
Di dalam amplop, ada selembar kertas. Hanya satu kalimat.
"Aku akan selalu datang untukmu. Tapi suatu hari, mungkin aku tidak bisa lagi menunggu."
Novi membaca kalimat itu berulang-ulang. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk hatinya berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia tahu tulisan itu. Ia kenal tulisan itu. Setiap goresan, setiap lekukan huruf, adalah milik Angga. Itu adalah tulisan Angga.
"Angga," bisik Novi, suaranya pecah. "Kenapa kau mengirim surat ini? Kenapa kau tidak menunggu?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti halaman rumahnya. Hanya angin yang berhembus pelan, membawa daun-daun kering yang berguguran seperti air matanya.
"Apa ini akhir dari segalanya?" bisik Novi. "Apa ini cara Angga mengatakan bahwa ia lelah menunggu?"
Novi masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya. Ia menutup pintu dengan keras, menguncinya, seolah-olah ia bisa mengunci semua perasaannya di luar. Ia duduk di meja tulisnya, memandang surat itu lama. Surat tanpa nama. Surat yang hanya berisi satu kalimat. Surat yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
"Aku akan selalu datang untukmu. Tapi suatu hari, mungkin aku tidak bisa lagi menunggu."
Novi menangis. Tangisnya pecah, tidak terkendali. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sakit yang membuatnya ingin berteriak, tetapi tidak ada suara yang keluar. Angga mulai lelah menunggu. Angga mulai ragu. Angga mulai berpikir bahwa mungkin mereka tidak akan pernah bersama.
"Tapi aku masih menunggu, Angga," isak Novi, suaranya tercekik. "Aku masih menunggu. Aku akan selalu menunggu. Kenapa kau tidak bisa melakukan hal yang sama?"
Ia memeluk surat itu erat-erat, seolah-olah dengan memeluknya, ia bisa memeluk Angga. Tetapi yang ia rasakan hanyalah kertas yang dingin dan kata-kata yang menusuk.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Apa yang harus aku lakukan untuk membuatmu tetap di sini?"
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Surat itu masih di tangannya. Ia membacanya berulang-ulang, seolah berharap bahwa kata-kata itu akan berubah. Seolah-olah jika ia membaca cukup banyak, kalimat itu akan menjadi "Aku akan selalu datang untukmu. Dan aku akan selalu menunggu."
"Aku akan selalu datang untukmu. Tapi suatu hari, mungkin aku tidak bisa lagi menunggu."
Novi memejamkan mata. Ia membayangkan Angga. Wajahnya. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Ia membayangkan Angga yang lelah menunggu. Angga yang mulai ragu. Angga yang mungkin akan pergi. Ia membayangkan Angga yang menulis surat ini dengan tangan gemetar, dengan air mata di matanya.
"Apakah kau juga menangis saat menulis ini, Angga?" bisik Novi. "Apakah kau juga merasakan sakit yang sama?"
"Aku tidak bisa kehilanganmu, Angga," bisik Novi. "Aku tidak bisa."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan tekad bulat. Matanya merah dan sembab, tetapi ada api di dalamnya. Api yang tidak akan padam. Ia akan menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang. Surat yang jujur. Surat yang akan meyakinkan Angga bahwa ia masih menunggu. Bahwa ia masih mencintai. Bahwa ia tidak akan pernah menyerah.
Ia mengambil pena dan kertas. Tangannya gemetar, tetapi ia memaksa dirinya untuk menulis.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Surat tanpa nama. Surat yang hanya berisi satu kalimat. Dan aku menangis membacanya. Aku menangis seperti aku belum pernah menangis sebelumnya.
Aku tahu kau lelah. Aku tahu kau merindukan. Aku tahu kau mulai ragu. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku masih di sini. Aku masih menunggu. Aku masih mencintaimu.
Aku tidak akan menyerah, Angga. Aku tidak akan pernah menyerah pada kita. Aku percaya bahwa cinta kita cukup kuat. Aku percaya bahwa kita akan bertemu lagi.
Jika kau mau menyerah, aku akan menerimanya. Aku akan menerimanya karena aku mencintaimu terlalu dalam untuk memaksamu tetap di sini. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kapan pun.
Tolong, Angga. Tolong jangan menyerah pada kita. Tolong percaya bahwa kita bisa melewati ini. Tolong percaya bahwa cinta kita cukup kuat.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Ia menambahkan beberapa kata, menghapus beberapa kata, menulis ulang beberapa bagian. Ia ingin surat ini sempurna. Ia ingin surat ini meyakinkan Angga bahwa ia tidak sendirian.
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia pergi ke kantor pos sendiri, tangannya gemetar saat ia menyerahkan amplop itu ke petugas. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suratnya tidak cukup. Takut bahwa kata-katanya tidak cukup. Takut bahwa cintanya tidak cukup. Takut bahwa Angga akan membaca suratnya dan tetap memutuskan untuk pergi.
"Apa yang akan kulakukan jika ia tetap pergi?" bisik Novi. "Apa yang akan kulakukan jika ia memutuskan bahwa kita sudah selesai?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti perjalanannya pulang.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan cinta. Novi membukanya dengan tangan gemetar, jantungnya berdebar kencang. Ia hampir tidak berani membaca isinya.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku menangis. Aku merasakan sakit yang sama denganmu. Tapi aku juga merasakan harapan. Harapan bahwa kita akan bersama lagi.
Aku minta maaf karena mengirim surat tanpa nama itu. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya... aku hanya lelah. Aku hanya merindukan. Aku hanya takut. Aku takut bahwa kau akan melupakanku. Aku takut bahwa kau akan menemukan orang lain. Aku takut bahwa kita tidak akan pernah bersama.
Tapi setelah membaca suratmu, aku ingat mengapa aku mencintaimu. Kau adalah orang yang paling kuat yang pernah aku kenal. Kau tidak pernah menyerah. Kau selalu percaya. Dan kau mengingatkanku bahwa aku juga harus percaya.
Aku juga akan percaya, Novi. Aku akan percaya pada cinta kita. Aku akan percaya bahwa kita akan bertemu lagi. Dan aku berjanji, aku tidak akan mengirim surat seperti itu lagi. Aku akan berjuang untuk kita.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Ini adalah air mata lega.
Angga tidak akan menyerah. Mereka akan berjuang bersama. Mereka akan bertahan. Mereka akan bertemu lagi.
Novi memeluk surat itu erat-erat. Ia menciumnya, seolah-olah dengan mencium kertas itu, ia bisa mencium Angga. "Terima kasih, Angga," bisiknya. "Terima kasih karena tidak menyerah. Terima kasih karena percaya."
Ia menaruh surat itu di dalam kotak kayu bersama dengan surat-surat lainnya. Kotak itu sekarang hampir penuh. Penuh dengan cinta. Penuh dengan harapan. Penuh dengan janji.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga melakukan video call. Ini adalah pertama kalinya mereka berbicara secara langsung setelah surat tanpa nama itu. Novi melihat wajah Angga di layar, dan ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Angga terlihat lelah, tetapi matanya masih sama. Masih penuh cinta.
"Novi," kata Angga. "Aku minta maaf. Aku tidak seharusnya mengirim surat itu. Aku tidak seharusnya membuatmu khawatir."
"Tidak apa-apa, Angga," kata Novi. "Aku mengerti. Aku juga merasakan hal yang sama. Aku juga lelah. Aku juga merindukan."
"Tapi kita akan bertahan," kata Angga. "Kita akan bertahan bersama."
"Kita akan bertahan bersama," kata Novi.
Mereka tersenyum satu sama lain. Meskipun jarak memisahkan mereka, mereka merasa bahwa mereka lebih dekat dari sebelumnya. Lebih kuat dari sebelumnya. Lebih yakin dari sebelumnya.
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga.
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Setelah video call, Novi merasa lebih tenang. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata. Ia merasa bahwa mereka bisa melewati apa pun.
Ia menulis puisi tentang surat tanpa nama itu. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Surat tanpa nama. Hanya satu kalimat. Tapi kata-kata itu menusuk hatiku. Membuatku menangis. Membuatku takut. Membuatku hampir menyerah. Tapi juga membuatku kuat. Karena aku tahu bahwa cinta kita nyata. Bahwa kita akan bertahan. Bahwa kita akan melewati ini bersama. Surat tanpa nama. Bukan akhir dari segalanya. Tapi awal dari perjuangan baru. Perjuangan untuk tetap percaya. Perjuangan untuk tetap mencintai. Perjuangan untuk tetap bersama. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan. Air mata keyakinan. Air mata cinta.
Malam itu, Novi tidur dengan tenang. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, ia tidur tanpa mimpi buruk. Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu. Dan aku akan selalu percaya bahwa kita akan bersama. Karena cinta kita nyata. Karena cinta kita kuat. Karena cinta kita selamanya."
Ia memegang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya bulan yang masuk melalui jendela.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar percaya bahwa selamanya itu mungkin.
BAB XXVI
Novi Mulai Menyadari Perasaannya
Minggu-minggu berlalu sejak surat tanpa nama itu. Novi dan Angga masih berkomunikasi, tetapi ada jarak yang tidak bisa mereka pungkiri. Panggilan telepon menjadi lebih singkat. Surat-surat menjadi lebih jarang. Dan ketika mereka berbicara, ada keheningan yang canggung di antara mereka, seolah-olah mereka sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mengisi ruang kosong yang semakin melebar.
Novi duduk di kamarnya pada suatu malam, memandang langit di luar jendela. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumahnya yang kecil. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya. "Selamanya, A & N." Ukiran itu sekarang terasa seperti beban, bukan lagi janji.
"Apa yang terjadi pada kita?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Kenapa rasanya semakin jauh?"
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia benar-benar merasakan kehadiran Angga. Bukan melalui surat atau panggilan telepon, tetapi melalui perasaan yang mendalam, melalui keyakinan bahwa mereka terhubung meskipun jarak memisahkan. Novi menyadari bahwa perasaan itu mulai memudar. Seperti foto yang terkena air, perlahan-lahan kabur dan menghilang.
Novi menutup matanya dan mencoba membayangkan Angga. Wajahnya. Senyumnya. Matanya. Suaranya. Tetapi bayangan itu semakin kabur. Ia tidak bisa lagi mengingat dengan jelas bagaimana rasanya dipeluk Angga. Bagaimana rasanya mendengar tawa Angga. Bagaimana rasanya dicintai oleh Angga.
"Apa yang terjadi padaku?" bisik Novi. "Kenapa aku mulai melupakanmu?"
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kesadaran yang mulai tumbuh di dalam dirinya, semacam penerimaan yang tidak bisa ia hindari lagi. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lebih dewasa. Ada semacam kebijaksanaan di matanya yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Kau sudah berubah," bisik Novi pada bayangannya. "Kau sudah tidak sama lagi dengan gadis yang dulu menunggu cokelat panas setiap pagi."
Ia teringat pada gadis itu. Gadis yang duduk di pojok belakang kelas, dengan rambut panjang menutupi setengah wajahnya, dengan buku catatan lusuh berisi puisi-puisi tentang kehilangan. Gadis yang takut untuk mencintai. Gadis yang takut untuk percaya. Gadis yang takut untuk hidup.
"Tapi aku sudah berubah," kata Novi pada bayangannya. "Aku sudah tidak takut lagi. Aku sudah berani mencintai. Aku sudah berani percaya. Aku sudah berani hidup."
Novi tersenyum pada bayangannya. Ia bangga pada dirinya sendiri. Ia telah melalui banyak hal. Ia telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat. Dan meskipun ia masih merindukan Angga, ia tahu bahwa ia bisa bertahan.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah lebih percaya diri. Ia menyapa Rina dengan senyum yang lebih tulus. Ia berbicara dengan teman-teman sekelasnya dengan lebih terbuka. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan suara yang lebih jelas.
Rina memperhatikan perubahan itu. "Novi, kau berbeda hari ini," kata Rina. "Kau terlihat lebih... tenang."
"Aku merasa lebih tenang," kata Novi. "Aku mulai menerima bahwa mungkin, mungkin aku harus belajar hidup tanpa Angga."
Rina terkejut. "Apa maksudmu? Kau dan Angga putus?"
"Tidak," kata Novi. "Kami masih bersama. Tapi aku mulai menyadari bahwa aku tidak bisa terus bergantung padanya. Aku harus bisa bahagia dengan diriku sendiri. Aku harus bisa hidup tanpanya."
Rina memegang tangan Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan bertanya ketika ada yang tidak ia pahami. Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu.
"Kau benar-benar berbeda, Novi," bisik Rina. "Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku juga menyukai diriku yang sekarang," kata Novi. "Aku lebih percaya diri. Aku lebih berani. Aku lebih... hidup."
Rina tersenyum. "Itu karena kau sudah menemukan dirimu sendiri, Novi. Kau sudah tidak lagi mendefinisikan dirimu melalui orang lain."
Novi mengangguk. "Aku menyadari bahwa selama ini aku selalu mendefinisikan diriku melalui Angga. Aku adalah gadis yang dicintai Angga. Aku adalah gadis yang menunggu Angga. Aku adalah gadis yang menulis puisi untuk Angga. Tapi aku lupa bahwa aku juga Novi. Aku adalah gadis yang suka menulis. Gadis yang suka hujan. Gadis yang suka senja. Gadis yang punya mimpi-mimpinya sendiri."
"Itu dia," kata Rina. "Itu Novi yang sebenarnya."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi membuka buku catatan barunya, buku yang ia beli untuk menulis tentang dirinya sendiri.
Ia mulai menulis.
"Aku adalah Novi. Aku adalah gadis yang lahir di kota kecil ini. Aku adalah gadis yang tumbuh tanpa ibunya. Aku adalah gadis yang menemukan pelipur lara dalam puisi. Aku adalah gadis yang jatuh cinta pada seorang anak baru dengan senyum yang terlalu terang. Aku adalah gadis yang menunggu. Aku adalah gadis yang berharap. Aku adalah gadis yang mencintai.
Tapi aku juga lebih dari itu. Aku adalah gadis yang suka menulis. Aku adalah gadis yang suka hujan. Aku adalah gadis yang suka senja. Aku adalah gadis yang punya mimpi-mimpi. Aku adalah gadis yang ingin menjadi penulis. Aku adalah gadis yang ingin membuat perbedaan. Aku adalah gadis yang ingin meninggalkan jejak di dunia ini.
Aku adalah Novi. Dan aku bangga menjadi diriku sendiri."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan. Kebanggaan pada dirinya sendiri.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah menemukan sesuatu yang penting. Sesuatu yang selama ini ia cari.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri. Aku belajar bahwa aku tidak bisa bergantung pada orang lain untuk membuatku bahagia. Aku belajar bahwa aku harus mencintai diriku sendiri sebelum aku bisa mencintai orang lain.
Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa Angga di sisiku.
Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku menyadari bahwa cinta sejati adalah tentang kebebasan. Tentang membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri. Tentang tidak mengikat mereka dengan ketakutan dan ketergantungan.
Aku mencintai Angga. Tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Dan itu adalah keseimbangan yang harus aku temukan."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga. Pesan singkat yang membuatnya tersenyum.
"Novi, apa kabar? Aku merindukanmu. Aku sedang belajar banyak hal di sini. Tentang diriku sendiri. Tentang apa yang aku inginkan dalam hidup. Aku mencintaimu."
Novi membalas pesan itu.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku juga sedang belajar banyak hal. Tentang diriku sendiri. Tentang apa yang aku inginkan dalam hidup. Aku juga mencintaimu."
Mereka berbicara sebentar melalui pesan. Novi merasa bahwa ada semacam kedamaian dalam percakapan mereka. Sebuah pengertian yang tidak perlu diucapkan.
Beberapa hari kemudian, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang perjalanan mereka masing-masing. Tentang apa yang mereka pelajari tentang diri mereka sendiri.
"Novi," kata Angga. "Aku menyadari sesuatu selama ini. Aku menyadari bahwa selama ini aku selalu berusaha menjadi seseorang yang diinginkan orang lain. Aku selalu berusaha menjadi sempurna. Tapi aku tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri."
"Aku juga," kata Novi. "Aku selalu berusaha menjadi apa yang orang lain inginkan. Aku selalu berusaha untuk tidak terlihat. Tapi aku tidak pernah benar-benar menjadi diriku sendiri."
"Tapi sekarang kita belajar," kata Angga. "Kita belajar untuk menjadi diri kita sendiri."
"Kita belajar bersama," kata Novi. "Dan itu adalah hal yang indah."
Setelah video call, Novi merasa lebih dekat dengan Angga. Bukan karena mereka berbicara banyak, tetapi karena mereka saling memahami. Mereka sedang dalam perjalanan yang sama. Perjalanan untuk menemukan diri mereka sendiri.
Novi menulis puisi tentang perjalanan itu.
"Kita sedang dalam perjalanan. Perjalanan untuk menemukan diri kita sendiri. Aku belajar tentang mimpiku. Kau belajar tentang mimpimu. Kita belajar bersama. Kita tumbuh bersama. Meskipun jarak memisahkan, kita tetap terhubung. Karena kita berbagi perjalanan yang sama."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kedamaian.
Minggu berikutnya, Novi mulai lebih aktif menulis. Ia menulis tentang berbagai hal. Tentang kehidupan. Tentang cinta. Tentang mimpi. Tentang semua yang ia rasakan.
Ia juga mulai berbagi tulisannya dengan orang lain. Ia mengirimkan puisinya ke majalah sekolah. Ia mengikuti lomba menulis. Ia mulai membangun portofolio untuk masa depannya.
"Novi, kau luar biasa," kata Rina suatu hari. "Kau sudah menjadi penulis sungguhan."
"Aku masih belajar," kata Novi. "Tapi aku senang dengan perkembangan ini."
"Kau harus terus menulis," kata Rina. "Kau punya bakat yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku akan terus menulis."
Novi juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku mulai menemukan jati diriku."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Novi mulai menyadari bahwa ia telah berubah. Ia tidak lagi sama dengan gadis yang duduk di pojok belakang kelas. Ia tidak lagi takut untuk terlihat. Ia tidak lagi takut untuk berbicara. Ia tidak lagi takut untuk hidup.
Ia menulis puisi tentang perubahannya.
"Aku telah berubah. Aku tidak lagi sama. Aku tidak lagi takut. Aku tidak lagi ragu. Aku adalah diriku yang baru. Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih hidup. Aku bangga dengan perubahanku. Aku bangga menjadi diriku sendiri."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan cerita tentang kehidupannya di Jepang. Angga menceritakan tentang kuliahnya. Tentang teman-temannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Novi membaca surat itu dengan penuh perhatian. Ia tersenyum membaca cerita-cerita Angga. Ia merasa bahwa Angga juga sedang berubah. Angga juga sedang tumbuh.
Ia menulis balasan untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan cerita tentang kehidupannya di Indonesia.
"Angga tersayang,
Aku senang mendengar cerita-ceritamu. Aku senang bahwa kau sedang belajar banyak hal. Aku juga sedang belajar banyak hal di sini.
Aku belajar tentang diriku sendiri. Aku belajar tentang mimpiku. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku.
Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri.
Aku mencintaimu, Angga. Tapi aku juga mencintai diriku sendiri. Dan itu adalah keseimbangan yang aku temukan.
Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk berbagi semua yang aku pelajari.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan cinta.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku merasa sangat bangga padamu. Kau telah menemukan sesuatu yang penting. Kau telah menemukan dirimu sendiri.
Aku juga sedang belajar banyak hal di sini. Aku belajar bahwa aku tidak perlu menjadi sempurna. Aku belajar bahwa aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam.
Kita sedang tumbuh bersama, Novi. Kita sedang belajar bersama. Dan itu adalah hal yang indah.
Aku mencintaimu. Dan aku tidak sabar untuk bertemu denganmu.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Dan untuk pertama kalinya, Novi merasa bahwa ia tidak lagi bergantung pada Angga untuk bahagia. Ia bisa bahagia dengan dirinya sendiri. Dan itu adalah perasaan yang paling indah.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Tapi kali ini, aku akan menunggu dengan lebih tenang. Karena aku tahu siapa diriku. Dan aku tahu bahwa cinta kita nyata."
BAB XXVII
Angga Mendapat Beasiswa
Hari itu, Angga menerima kabar yang mengubah segalanya. Sebuah surat resmi dari Universitas Tokyo datang melalui pos, dengan stempel emas dan kop surat yang megah. Angga membuka amplop itu dengan tangan gemetar, jantungnya berdebar kencang. Ia sudah menduga isinya, tetapi tetap saja, ketika matanya membaca kata-kata di atas kertas itu, dunia seolah berhenti berputar.
"Kami dengan senang hati mengumumkan bahwa Anda, Angga Wijaya, telah diterima dalam Program Beasiswa Penuh Universitas Tokyo untuk tahun akademik berikutnya..."
Angga membaca kalimat itu berulang-ulang. Ia tidak percaya. Ia sudah diterima. Beasiswa yang ia impikan sejak kecil akhirnya menjadi kenyataan. Ia akan kuliah di Jepang. Ia akan belajar di universitas terbaik di Asia. Ia akan mewujudkan mimpinya.
Tetapi di tengah kebahagiaannya, ada bayangan yang muncul di benaknya. Novi.
Angga meletakkan surat itu di atas meja dan menatapnya lama. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. Ada kekhawatiran di balik senyum itu. Ada kegelisahan di balik kebahagiaannya.
"Aku akan pergi," bisik Angga. "Aku akan meninggalkan Novi."
Ia memejamkan mata dan membayangkan wajah Novi. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Angga merasakan sakit di dadanya. Ia tidak ingin meninggalkan Novi. Tetapi ia juga tidak bisa melepaskan mimpinya.
Malam itu, Angga tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang gelap, memikirkan tentang masa depan. Tentang Jepang. Tentang kuliah. Tentang Novi.
Ia teringat pada hari pertama ia bertemu Novi. Di perpustakaan. Saat Novi menjatuhkan buku catatannya dan Angga membacanya. Saat ia melihat puisi-puisi Novi dan merasakan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Ia teringat pada cokelat panas yang ia berikan setiap pagi. Pada senyum Novi yang perlahan muncul. Pada puisi-puisi Novi yang ia baca dengan penuh perhatian. Pada semua kenangan indah yang mereka bagi bersama.
"Apa yang akan terjadi pada kita?" bisik Angga. "Apa yang akan terjadi pada Novi?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Keesokan harinya, Angga memutuskan untuk memberi tahu Novi tentang beasiswanya. Ia tidak bisa menyembunyikan ini darinya. Novi berhak tahu. Novi adalah bagian dari hidupnya. Novi adalah bagian dari keputusannya.
Ia menulis surat untuk Novi. Surat yang panjang dan penuh dengan perasaannya.
"Novi tersayang,
Aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Sesuatu yang penting. Sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Aku diterima di Universitas Tokyo. Aku mendapat beasiswa penuh. Aku akan pergi ke Jepang.
Aku tahu ini adalah kabar yang mengejutkan. Aku tahu ini akan mengubah segalanya. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah bermaksud meninggalkanmu. Aku tidak pernah bermaksud menyakitimu.
Ini adalah impianku sejak kecil. Aku tidak bisa menolaknya. Tapi aku juga tidak bisa membayangkan hidup tanpamu.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tolong katakan padaku bahwa kita akan baik-baik saja. Tolong katakan padaku bahwa kau akan menungguku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Angga mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Novi. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa Novi akan kecewa. Takut bahwa Novi akan marah. Takut bahwa Novi akan meninggalkannya.
Ia hanya bisa menunggu. Menunggu jawaban dari Novi. Menunggu reaksi Novi. Menunggu keputusan Novi.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima surat Angga. Ia membacanya berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya.
"Angga akan pergi," bisik Novi. "Angga akan pergi ke Jepang."
Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Ia tahu bahwa ini adalah impian Angga. Ia tahu bahwa Angga tidak bisa menolaknya. Tetapi ia juga tidak bisa membayangkan hidup tanpa Angga.
Novi duduk di kamarnya, memandang surat itu lama. Ia menangis. Ia merasakan kehilangan yang mendalam. Kehilangan yang belum terjadi, tetapi sudah terasa nyata.
"Kenapa harus pergi?" isak Novi. "Kenapa harus sekarang?"
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, memikirkan tentang masa depan. Tentang Angga yang akan pergi. Tentang dirinya yang akan ditinggalkan.
Ia teringat pada ibunya. Ibunya juga pergi. Tanpa pamit. Tanpa penjelasan. Tanpa kabar. Dan Novi ditinggalkan dengan luka yang tidak pernah sembuh.
"Tidak," bisik Novi. "Aku tidak mau seperti itu lagi. Aku tidak mau ditinggalkan lagi."
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke meja tulisnya. Ia mengambil pena dan kertas. Ia menulis surat untuk Angga. Surat yang jujur. Surat yang mengungkapkan semua perasaannya.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Tapi aku juga mengerti. Aku mengerti bahwa ini adalah impianmu. Aku mengerti bahwa kau tidak bisa menolaknya.
Aku tidak akan menghalangimu, Angga. Aku tidak akan memintamu untuk tinggal. Aku mencintaimu terlalu dalam untuk itu.
Tapi aku juga tidak bisa berpura-pura bahwa ini tidak menyakitkan. Ini menyakitkan, Angga. Ini sangat menyakitkan.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi pada kita. Aku tidak tahu apakah kita bisa bertahan dengan jarak sejauh ini. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Pergilah, Angga. Kejarlah mimpimu. Aku akan menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suratnya tidak cukup. Takut bahwa cintanya tidak cukup. Takut bahwa Angga akan pergi dan tidak pernah kembali.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi penuh dengan cinta.
"Novi tersayang,
Aku membaca suratmu. Dan aku menangis. Aku merasakan sakit yang sama denganmu. Tapi aku juga merasakan harapan. Harapan bahwa kita akan bersama lagi.
Aku tidak akan pernah melupakanmu, Novi. Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Aku akan kembali padamu. Aku berjanji.
Terima kasih telah mendukungku. Terima kasih telah mencintaiku. Terima kasih telah menungguku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Angga akan pergi, tetapi ia akan kembali. Angga akan mengejar mimpinya, tetapi ia tidak akan melupakan Novi. Angga akan mencintainya, selamanya.
Dan itu cukup untuk Novi. Itu cukup untuk membuatnya terus bertahan.
Minggu berikutnya, Novi dan Angga bertemu untuk terakhir kalinya sebelum Angga berangkat. Mereka bertemu di taman kota, tempat favorit mereka. Air mancur masih memancar dengan indah. Burung-burung masih berkicau di pepohonan. Tetapi suasana hati mereka berat.
"Novi," kata Angga. "Aku tidak tahu harus berkata apa."
"Kau tidak perlu berkata apa-apa," kata Novi. "Aku sudah tahu."
"Aku akan merindukanmu," kata Angga. "Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku juga akan merindukanmu," kata Novi. "Tapi kita akan bertemu lagi. Aku percaya pada cinta kita."
Angga memeluk Novi erat-erat. "Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Mereka berpelukan lama. Air mata mengalir di pipi mereka. Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi. Mereka tidak tahu apakah mereka akan bertahan. Tetapi mereka tahu bahwa cinta mereka nyata. Dan itu cukup untuk saat ini.
Malam sebelum keberangkatan Angga, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Ia ingin mengingat semua itu. Ia ingin menyimpannya di dalam hatinya selamanya.
Keesokan harinya, Novi mengantar Angga ke bandara. Mereka berpelukan lama di ruang keberangkatan.
"Aku akan merindukanmu," bisik Novi.
"Aku juga akan merindukanmu," bisik Angga. "Tapi kita akan bertemu lagi. Aku berjanji."
Mereka melepaskan pelukan. Angga melambaikan tangan saat ia masuk ke pintu keberangkatan. Novi melambaikan tangan kembali, dengan senyum di wajahnya.
"Sampai jumpa, Angga!" teriak Novi.
"Sampai jumpa, Novi!" teriak Angga.
Angga menghilang di balik pintu. Novi tetap berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyum.
Dan ketika Angga benar-benar menghilang, Novi menangis. Tetapi ia menangis dengan senyum. Karena ia tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kepergian Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau pergi ke seberang lautan. Mengejar mimpimu. Aku di sini, menunggu. Menunggu kau kembali. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya. Karena aku mencintaimu. Karena aku percaya pada cinta kita. Karena aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Hari-hari berlalu. Novi mulai terbiasa dengan kehidupan tanpa Angga. Ia pergi ke sekolah. Ia menulis puisi. Ia menghabiskan waktu dengan Rina dan ayahnya. Ia mencoba untuk tetap sibuk, untuk tidak memikirkan Angga terlalu sering.
Tetapi setiap malam, sebelum tidur, ia selalu memandang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu selalu mengingatkannya pada Angga. Pada semua kenangan indah mereka. Pada semua janji yang mereka buat.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat pertama sejak ia pergi.
"Novi tersayang,
Aku sudah tiba di Jepang dengan selamat. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Kuliahku sibuk. Tapi aku selalu menyempatkan diri untuk memikirkanmu. Aku selalu menyempatkan diri untuk merindukanmu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Angga masih mencintainya. Angga masih merindukannya. Angga masih akan kembali padanya.
Dan itu cukup. Itu cukup untuk membuat Novi terus bertahan.
BAB XXVIII
Novi Ingin Mengatakan, tetapi Terlambat
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang langit di luar jendela. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumahnya yang kecil. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya, seperti api kecil yang tidak pernah padam. "Selamanya, A & N." Ukiran itu sekarang terasa seperti janji yang harus ia pertahankan, meskipun jarak membentang ribuan kilometer di antara mereka.
Sudah tiga bulan sejak Angga pergi ke Jepang. Tiga bulan sejak ia mengantarnya ke bandara. Tiga bulan sejak ia mengucapkan selamat tinggal dengan senyum palsu di wajahnya. Surat-surat masih datang, panggilan telepon masih terjadi, tetapi ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang tidak bisa Novi jelaskan dengan kata-kata.
Ia merasakannya dalam cara Angga menulis. Dalam cara Angga berbicara. Dalam cara Angga menghindari topik-topik tertentu. Ada jarak yang semakin lebar di antara mereka, jarak yang tidak bisa diukur dengan kilometer.
Novi menatap surat terakhir dari Angga yang tergeletak di atas meja. Surat itu pendek, hanya beberapa baris. Angga bercerita tentang kuliahnya, tentang teman-temannya, tentang cuaca di Tokyo yang mulai dingin. Tidak ada kata-kata cinta yang hangat. Tidak ada janji-janji manis. Hanya cerita-cerita biasa yang terdengar seperti laporan.
"Apa yang terjadi padamu, Angga?" bisik Novi. "Kenapa kau berubah?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam firasat di dadanya, semacam kegelisahan yang tidak bisa ia abaikan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari biasanya. Ia tidak tidur nyenyak semalam, pikirannya terus memikirkan Angga dan semua perubahan yang terjadi.
"Ada yang salah," bisik Novi pada bayangannya. "Aku tahu ada yang salah."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan Angga. Tentang surat-suratnya yang semakin dingin. Tentang panggilan teleponnya yang semakin singkat. Tentang semua tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berubah.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina langsung melihat ada yang tidak beres.
"Novi, ada apa?" tanya Rina. "Kau kelihatan murung."
"Aku tidak tahu, Rin," kata Novi. "Aku merasa ada yang salah dengan Angga. Surat-suratnya semakin dingin. Panggilan teleponnya semakin singkat. Aku takut..."
Rina memegang tangan Novi. "Mungkin kau hanya cemas, Novi. Jarak memang sulit. Tapi Angga mencintaimu. Aku yakin."
"Aku juga yakin," kata Novi. "Tapi ada sesuatu yang berbeda. Aku bisa merasakannya."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua tanda-tanda yang menunjukkan bahwa ada sesuatu yang berubah. Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan perasaannya.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini dengan hati yang berat. Aku merasakan ada sesuatu yang berubah di antara kita. Aku merasakan jarak yang semakin lebar. Aku merasakan bahwa kau mulai menjauh.
Aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku tidak tahu apa yang salah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku akan selalu mencintaimu.
Tolong katakan padaku apa yang terjadi. Tolong katakan padaku bahwa semuanya baik-baik saja. Tolong katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa suratnya tidak cukup. Takut bahwa kata-katanya tidak cukup. Takut bahwa cintanya tidak cukup.
Beberapa hari kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu pendek, tetapi isinya membuat jantung Novi berhenti berdetak sejenak.
"Novi,
Aku menerima suratmu. Dan aku ingin jujur padamu. Aku sudah berpikir tentang ini selama beberapa minggu. Aku sudah mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat. Tapi tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan perasaanku.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Tapi aku juga menyadari bahwa jarak ini semakin berat. Aku menyadari bahwa kita semakin jauh. Aku menyadari bahwa mungkin, mungkin kita tidak bisa terus seperti ini.
Aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi aku juga tidak ingin membuatmu menderita. Kau pantas bahagia, Novi. Kau pantas dicintai dengan cara yang nyata. Bukan hanya melalui surat dan panggilan telepon.
Mungkin kita perlu mengambil keputusan yang sulit. Mungkin kita perlu mengakhiri ini.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Angga ingin mengakhiri hubungan kita," bisik Novi. "Angga ingin pergi."
Ia menangis histeris. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Surat itu adalah mimpi buruk yang menjadi kenyataan. Angga, orang yang ia cintai, orang yang ia tunggu, orang yang ia percayai, ingin mengakhiri semuanya.
"Aku tidak bisa kehilanganmu, Angga," isak Novi. "Aku tidak bisa."
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Surat Angga masih di tangannya. Ia membacanya berulang-ulang, berharap bahwa kata-kata itu akan berubah. Berharap bahwa ini hanya mimpi buruk.
"Aku harus bicara dengannya," bisik Novi. "Aku harus mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku harus mengatakan padanya bahwa aku tidak ingin kehilangannya."
Ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya. Ia menekan nomor Angga. Telepon berdering beberapa kali, tetapi tidak ada yang menjawab.
Novi mencoba lagi. Tetapi tetap tidak ada jawaban.
Ia mencoba sekali lagi. Kali ini, telepon diangkat.
"Halo?" suara Angga terdengar dari seberang.
"Angga," kata Novi dengan suara bergetar. "Aku menerima suratmu. Aku ingin bicara denganmu."
"Novi," kata Angga pelan. "Aku juga ingin bicara denganmu. Tapi aku tidak tahu harus berkata apa."
"Katakan padaku bahwa ini tidak benar," kata Novi. "Katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku. Katakan padaku bahwa kita masih bisa bersama."
Angga terdiam. Novi bisa mendengar napasnya yang berat.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Tapi aku juga lelah. Aku lelah dengan jarak ini. Aku lelah dengan kerinduan ini. Aku lelah dengan semua ketidakpastian ini."
"Tapi aku di sini, Angga," kata Novi. "Aku masih di sini. Aku masih menunggumu. Aku masih mencintaimu."
"Aku tahu," kata Angga. "Tapi aku tidak tahu apakah kita bisa terus seperti ini. Aku tidak tahu apakah kita bisa bertahan."
"Kita bisa," kata Novi. "Kita bisa bertahan. Kita sudah melewati banyak hal. Kita bisa melewati ini juga."
"Novi," kata Angga. "Aku tidak bisa berjanji apa-apa. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu."
Mereka berbicara selama berjam-jam. Novi menangis. Angga menangis. Mereka saling mengatakan hal-hal yang tidak pernah mereka katakan sebelumnya. Mereka saling membuka hati. Mereka saling mengungkapkan semua ketakutan dan keraguan mereka.
"Novi," kata Angga akhirnya. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Tapi aku butuh waktu," kata Angga. "Aku butuh waktu untuk berpikir. Aku butuh waktu untuk benar-benar memahami apa yang aku inginkan."
"Aku akan memberimu waktu," kata Novi. "Aku akan menunggumu. Sampai kau siap."
Setelah menutup telepon, Novi duduk termenung. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa Angga akan memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka. Takut bahwa mereka tidak akan pernah bersama lagi. Takut bahwa cinta mereka tidak cukup kuat.
Ia memeluk bantalnya erat-erat. Air mata mengalir di pipinya.
"Aku tidak bisa kehilanganmu, Angga," bisik Novi. "Aku tidak bisa."
Hari-hari berlalu. Novi menunggu. Ia menunggu kabar dari Angga. Ia menunggu keputusan Angga. Ia menunggu cinta mereka.
Surat-surat dari Angga semakin jarang. Panggilan telepon semakin singkat. Novi merasakan jarak yang semakin lebar di antara mereka. Jarak yang tidak bisa ia jembatani.
"Novi," kata Rina suatu hari. "Kau harus kuat. Kau harus siap untuk apa pun yang terjadi."
"Aku tahu, Rin," kata Novi. "Tapi aku takut. Aku sangat takut."
"Aku tahu," kata Rina. "Tapi kau harus percaya pada dirimu sendiri. Kau harus percaya bahwa apa pun yang terjadi, kau akan baik-baik saja."
Novi mengangguk. "Aku akan mencoba, Rin. Aku akan mencoba untuk kuat."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat yang mengubah segalanya.
"Novi,
Aku sudah berpikir tentang ini selama berhari-hari. Aku sudah mencoba untuk menemukan kata-kata yang tepat. Tapi tidak ada kata-kata yang cukup untuk menjelaskan perasaanku.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Tapi aku juga menyadari bahwa kita tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus saling menyakiti. Kita tidak bisa terus saling menunggu tanpa kepastian.
Aku pikir kita perlu mengakhiri ini. Bukan karena aku tidak mencintaimu. Tapi karena aku mencintaimu terlalu dalam untuk terus membuatmu menderita.
Kau pantas bahagia, Novi. Kau pantas dicintai dengan cara yang nyata. Bukan hanya melalui surat dan panggilan telepon.
Aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku juga harus melepaskanmu.
Maafkan aku.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Angga mengakhiri hubungan kita," bisik Novi. "Angga pergi."
Ia menangis histeris. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Surat itu adalah akhir dari segalanya. Akhir dari cinta mereka. Akhir dari mimpi mereka. Akhir dari semua yang mereka bangun bersama.
"Aku tidak bisa, Angga," isak Novi. "Aku tidak bisa melepaskanmu."
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Surat terakhirnya.
"Angga,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis. Aku merasakan sakit yang luar biasa di dadaku. Tapi aku juga mengerti. Aku mengerti bahwa kau melakukan ini karena kau mencintaiku. Aku mengerti bahwa kau melakukan ini karena kau tidak ingin membuatku menderita.
Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak pernah menderita. Aku tidak pernah merasa bahwa ini adalah beban. Aku selalu bahagia menunggumu. Aku selalu bahagia mencintaimu.
Jika ini yang terbaik untukmu, aku akan menerimanya. Aku akan melepaskanmu. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu mencintaimu. Aku akan selalu mengingatmu. Aku akan selalu menghargai semua yang telah kita lalui bersama.
Terima kasih untuk semuanya, Angga. Terima kasih untuk cokelat panasnya. Terima kasih untuk senyumnya. Terima kasih untuk cintanya. Terima kasih untuk semua kenangan indah yang kita bagi.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa hancur. Ia merasa kehilangan bagian dari dirinya sendiri. Tetapi ia juga merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Ia duduk di kamarnya, memandang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia melepas gelang itu dan menyimpannya di dalam kotak kayu bersama dengan surat-surat dari Angga. Ia menutup kotak itu dan menyimpannya di dalam lemari.
"Ini adalah akhir dari segalanya," bisik Novi. "Akhir dari cinta kita."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kepergian Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Kau pergi. Kau meninggalkanku. Aku di sini, sendirian. Menangis. Merindukan. Tapi aku juga belajar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita.
Terima kasih, Angga. Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Untuk semua cinta yang kau berikan padaku.
Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Selamat tinggal, Angga," bisik Novi. "Selamat tinggal."
BAB XXIX
Waktu Terus Berjalan
Hari-hari berlalu seperti mimpi buruk yang tidak pernah berakhir. Novi bangun setiap pagi dengan perasaan hampa di dadanya, seolah ada lubang menganga yang tidak bisa ia isi. Ia pergi ke sekolah, menjalani rutinitasnya, berbicara dengan orang-orang, tetapi semuanya terasa seperti gerakan otomatis. Seperti robot yang diprogram untuk melakukan tugas-tugasnya tanpa benar-benar hidup.
Sudah sebulan sejak Angga mengirim surat terakhirnya. Sebulan sejak ia mengatakan bahwa mereka harus berakhir. Sebulan sejak Novi mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
Novi duduk di kamarnya pada suatu malam, memandang langit di luar jendela. Bulan bersinar terang, tetapi terasa dingin. Tidak ada kehangatan lagi. Tidak ada keajaiban lagi. Hanya kegelapan yang menyelimuti hatinya.
"Aku tidak bisa terus seperti ini," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku harus bangkit. Aku harus melanjutkan hidup."
Tetapi kata-kata itu terasa hampa. Ia tidak tahu bagaimana cara bangkit. Ia tidak tahu bagaimana cara melanjutkan hidup. Yang ia tahu hanya rasa sakit yang mendalam di dadanya. Rasa sakit yang tidak mau pergi.
Keesokan harinya, Novi memutuskan untuk pergi ke sekolah seperti biasa. Ia memakai seragamnya, menyisir rambutnya, dan berjalan keluar rumah dengan langkah berat. Di sepanjang jalan, ia melihat hal-hal yang biasanya membuatnya bahagia. Pohon-pohon rindang. Burung-burung yang bernyanyi. Anak-anak yang bermain. Tetapi semuanya terasa hampa. Semuanya terasa seperti pemandangan dalam film yang tidak ia tonton dengan sungguh-sungguh.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina di gerbang. Rina tersenyum padanya, tetapi senyum itu tidak bisa menghilangkan kesedihan di mata Novi.
"Novi, apa kabar?" tanya Rina dengan nada lembut.
"Aku baik-baik saja, Rin," kata Novi. Tetapi suaranya tidak meyakinkan. Bahkan ia sendiri tidak percaya dengan kata-katanya.
Rina memegang tangan Novi. "Kau tidak baik-baik saja, Novi. Aku bisa melihatnya. Kau masih memikirkan Angga, bukan?"
Novi tidak menjawab. Ia hanya menunduk, berusaha menyembunyikan air mata yang mulai menggenang di matanya.
"Novi," kata Rina. "Aku tahu ini sulit. Tapi kau harus bangkit. Kau tidak bisa terus terpuruk seperti ini. Angga mungkin sudah pergi, tetapi hidupmu masih di sini. Kau masih di sini."
"Aku tahu, Rin," kata Novi. "Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang. Bagian yang tidak bisa aku gantikan."
Rina memeluk Novi erat-erat. "Aku di sini, Novi. Aku akan selalu di sini. Dan suatu hari nanti, kau akan menemukan kembali bagian yang hilang itu. Mungkin bukan dengan cara yang sama. Tapi kau akan menemukannya."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus melayang pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua janji yang mereka buat. Pada semua mimpi yang mereka bangun bersama.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Bukan surat. Hanya coretan-coretan yang tidak berarti. Kata-kata yang tidak membentuk kalimat yang jelas. Hanya ekspresi dari kekacauan di dalam hatinya.
"Angga. Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku? Aku di sini. Aku masih di sini. Aku masih mencintaimu. Aku masih menunggumu. Tapi kau tidak datang. Kau tidak pernah datang. Kau pergi. Kau meninggalkanku. Sendirian."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia menutup buku catatannya dan memeluknya erat-erat.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin melarikan diri dari semua orang. Ia ingin menyendiri dengan perasaannya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai berawan. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi menatap awan-awan itu dan merasa bahwa ia bisa memahami perasaan mereka. Ia juga sedang menahan beban. Beban yang tidak bisa ia lepaskan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis puisi. Puisi tentang kehilangan. Puisi tentang kerinduan. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Aku duduk di kursi favoritku. Di perpustakaan yang dulu kita kunjungi bersama. Aku melihat kursi di depanku. Kosong. Tidak ada yang duduk di sana. Tidak ada senyummu. Tidak ada tawamu. Tidak ada cokelat panas yang kau bawa. Hanya aku. Sendirian. Dengan semua kenangan yang tidak mau pergi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan Angga. Ia merasa bahwa ia akan selamanya terperangkap dalam kenangan-kenangan itu.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berat. Ia berjalan pelan, menikmati setiap langkah, berusaha menunda waktu. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang sepi. Ia tidak ingin duduk di kamarnya sendirian dengan semua perasaannya.
Di depan rumahnya, Novi berhenti. Ia melihat ayahnya sedang duduk di teras, menunggunya dengan secangkir teh di tangannya.
"Novi," sapa ayahnya. "Mari duduk. Aku ingin bicara denganmu."
Novi duduk di samping ayahnya. Ayahnya menatapnya dengan mata yang penuh perhatian.
"Aku tahu kau sedang berjuang, Nak," kata ayahnya. "Aku tahu kau kehilangan seseorang yang sangat kau cintai. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini."
Novi menangis. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Ayah. Aku merasa hancur. Aku merasa kehilangan arah."
Ayahnya memegang tangan Novi. "Kau tidak sendirian, Novi. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Saat ibumu pergi, aku merasa dunia runtuh. Tapi aku belajar bahwa hidup terus berjalan. Dan aku harus terus melangkah."
"Bagaimana Ayah bisa melakukannya?" tanya Novi. "Bagaimana Ayah bisa terus melangkah?"
"Aku melakukannya untukmu, Novi," kata ayahnya. "Aku melakukannya karena aku tahu bahwa kau membutuhkanku. Aku melakukannya karena aku tahu bahwa hidup masih berharga. Meskipun rasanya sulit, aku terus melangkah. Dan sekarang, kau juga harus melakukannya."
Novi memeluk ayahnya erat-erat. "Terima kasih, Ayah. Aku akan mencoba."
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Kata-kata ayahnya terus terngiang di telinganya.
"Hidup terus berjalan. Dan kau harus terus melangkah."
Novi memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan masa depan. Masa depan tanpa Angga. Masa depan yang hanya miliknya sendiri.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi. "Aku bisa bangkit. Aku bisa melanjutkan hidup."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan tekad bulat. Ia akan mencoba untuk bangkit. Ia akan mencoba untuk melanjutkan hidup. Ia akan mencoba untuk menemukan kebahagiaan lagi.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah, tetapi ada semacam tekad di matanya.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi pada bayangannya. "Aku akan kuat. Aku akan terus melangkah."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia mencoba untuk tersenyum. Ia mencoba untuk melihat hal-hal positif di sekitarnya. Pohon-pohon rindang. Burung-burung yang bernyanyi. Anak-anak yang bermain. Ia mencoba untuk mengingat bahwa hidup masih indah. Meskipun rasanya sulit.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya, dan Novi membalas senyum itu.
"Novi, kau kelihatan lebih baik hari ini," kata Rina.
"Aku mencoba untuk lebih baik," kata Novi. "Aku mencoba untuk bangkit."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi mencoba untuk fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang dulu," kata Novi. "Aku mencoba untuk menemukan kembali kebahagiaanku."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai cerah. Awan-awan kelabu mulai menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat. Novi menatap langit itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang kebangkitan. Puisi tentang harapan. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari kehilangan.
"Aku jatuh. Aku hancur. Aku kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari cinta. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bangkit. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku mulai bangkit. Aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku mulai menemukan jati diriku."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di dalam kotak itu. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memakai gelang itu kembali di pergelangan tangannya. Bukan karena ia masih berharap pada Angga. Tetapi karena ia ingin mengingat bahwa cinta itu nyata. Bahwa ia pernah mencintai. Bahwa ia pernah dicintai.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XXX
Novi Menulis Puisi Perpisahan
Malam itu, hujan turun dengan derasnya di luar jendela kamar Novi. Air mengguyur atap rumah seperti ribuan tangan yang mengetuk dengan keras, menciptakan irama yang mengganggu kesunyian yang biasanya ia nikmati. Angin menderu di luar, menerpa dinding-dinding rumah yang sudah tua, membuat jendela-jendela bergetar pelan. Novi duduk di meja tulisnya, memandang gelapnya langit di luar jendela, merasakan dingin yang merambat masuk melalui celah-celah jendela yang tidak sempurna.
Sudah tiga bulan sejak Angga mengirim surat terakhirnya. Tiga bulan sejak ia mengatakan bahwa mereka harus berakhir. Tiga bulan sejak Novi mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya. Dan selama tiga bulan itu, Novi telah berusaha untuk bangkit. Ia telah berusaha untuk melanjutkan hidup. Ia telah berusaha untuk menemukan kembali kebahagiaannya.
Tetapi malam ini, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Novi merasakan kesedihan yang mendalam. Bukan kesedihan karena kehilangan Angga. Tetapi kesedihan karena semua yang telah ia lalui. Semua perjuangan. Semua rasa sakit. Semua pengorbanan.
Novi menarik napas dalam-dalam. Ia membuka buku catatan barunya, buku yang ia beli untuk menulis tentang perasaannya. Buku itu masih kosong, menunggu untuk diisi dengan kata-kata yang akan membantu menyembuhkan hatinya.
"Aku harus menulis," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku harus menuangkan semua perasaanku ke dalam kata-kata. Ini adalah cara terbaik untuk melepaskan semua yang aku rasakan."
Novi mengambil pena dan mulai menulis. Kata-kata mengalir dengan lancar, seolah-olah sudah lama menunggu untuk keluar. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia alami. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku menulis puisi perpisahan ini untukmu, Angga. Bukan karena aku marah. Bukan karena aku kecewa. Tapi karena aku ingin melepaskanmu. Aku ingin melepaskan semua perasaan yang masih aku simpan untukmu. Aku ingin melepaskan semua kenangan yang masih aku simpan dalam hatiku.
Kau adalah cinta pertamaku. Kau adalah cinta terbesarku. Kau adalah cinta yang mengajariku banyak hal. Kau mengajariku tentang keberanian. Kau mengajariku tentang kepercayaan. Kau mengajariku tentang bagaimana rasanya dicintai dengan tulus.
Tapi sekarang, kau telah pergi. Dan aku harus belajar untuk hidup tanpamu. Aku harus belajar untuk bahagia tanpamu. Aku harus belajar untuk mencintai diriku sendiri tanpamu.
Ini adalah puisi perpisahanku untukmu. Bukan karena aku berhenti mencintaimu. Tapi karena aku harus melanjutkan hidupku. Aku harus melangkah maju. Aku harus menemukan kebahagiaanku sendiri."
Novi berhenti menulis. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Menulis puisi perpisahan ini terasa seperti mengucapkan selamat tinggal untuk kedua kalinya. Tetapi kali ini, ia mengucapkan selamat tinggal pada semua kenangan. Pada semua harapan. Pada semua mimpi yang tidak akan pernah terwujud.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi. "Aku bisa melepaskanmu, Angga. Aku bisa melanjutkan hidupku."
Ia melanjutkan menulis.
"Aku ingat pertama kali kita bertemu. Di perpustakaan yang sepi. Kau mengambil buku puisiku yang jatuh. Dan kau membaca puisiku. Kau berkata bahwa puisiku indah. Sejak saat itu, aku tahu bahwa kau berbeda. Bahwa kau istimewa. Bahwa kau akan menjadi bagian penting dari hidupku.
Aku ingat cokelat panas yang kau berikan setiap pagi. Aku ingat senyummu yang terlalu terang. Aku ingat caramu memanggil namaku dengan lembut. Aku ingat semua kenangan indah yang kita bagi bersama.
Tapi sekarang, semua itu telah menjadi masa lalu. Kenangan-kenangan itu tidak akan pernah kembali. Dan aku harus menerima itu. Aku harus melepaskan semua kenangan itu. Aku harus membiarkannya pergi."
Novi terus menulis. Kata-kata mengalir seperti air yang tidak bisa dihentikan. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia alami. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi, karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita.
Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bangkit. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku.
Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri. Aku belajar bahwa aku harus mencintai diriku sendiri sebelum aku bisa mencintai orang lain. Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku berani. Aku belajar bahwa aku bisa menghadapi apa pun yang datang.
Terima kasih, Angga. Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Untuk semua cinta yang kau berikan padaku. Aku akan selalu mengingatmu. Aku akan selalu mencintaimu. Tapi aku juga harus melanjutkan hidupku."
Novi berhenti menulis. Ia menatap puisi yang baru saja ia tulis. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata pelepasan. Ia merasakan bahwa ia telah melepaskan semua perasaan yang selama ini ia simpan. Ia merasakan bahwa ia telah mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang benar.
"Aku sudah siap," bisik Novi. "Aku sudah siap untuk melanjutkan hidupku."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah melepaskan beban yang selama ini ia pikul.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Ada semacam ketenangan di matanya. Ada semacam penerimaan di hatinya.
"Aku sudah siap," bisik Novi pada bayangannya. "Aku sudah siap untuk memulai babak baru dalam hidupku."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia tersenyum. Ia tersenyum pada pohon-pohon rindang. Ia tersenyum pada burung-burung yang bernyanyi. Ia tersenyum pada anak-anak yang bermain. Ia merasa bahwa hidup ini indah. Bahwa ada banyak hal yang patut disyukuri.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Rin," kata Novi. "Aku menulis puisi perpisahan untuk Angga tadi malam. Dan aku merasa seperti telah melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang baru," kata Novi. "Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih bahagia."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang kebangkitan. Puisi tentang harapan. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari kehilangan.
"Aku telah jatuh. Aku telah hancur. Aku telah kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali dirinya sendiri. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali kebahagiaannya.
Ia menutup buku catatannya dan tersenyum. "Aku sudah siap," bisik Novi. "Aku sudah siap untuk memulai babak baru dalam hidupku."
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan membaca puisi perpisahan yang ia tulis tadi malam. Ia membaca setiap kata dengan penuh perhatian. Ia merasakan setiap emosi yang ia tuangkan ke dalam puisi itu.
"Ini adalah puisi perpisahanku untukmu, Angga. Bukan karena aku berhenti mencintaimu. Tapi karena aku harus melanjutkan hidupku. Aku harus melangkah maju. Aku harus menemukan kebahagiaanku sendiri."
Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang indah. Ia telah melepaskan semua perasaan yang selama ini ia simpan.
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku merasa lebih baik. Aku sudah melepaskan Angga. Aku sudah siap untuk memulai babak baru dalam hidupku. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku sudah melepaskan Angga. Aku sudah siap untuk memulai babak baru dalam hidupku."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di dalam kotak itu. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memakai gelang itu kembali di pergelangan tangannya. Bukan karena ia masih berharap pada Angga. Tetapi karena ia ingin mengingat bahwa cinta itu nyata. Bahwa ia pernah mencintai. Bahwa ia pernah dicintai.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XXXI
Hujan di Hari Terakhir Angga di Sekolah
Hari itu, langit Jakarta mendung sejak pagi. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi bangun dari tidurnya dengan perasaan yang aneh, semacam firasat yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat tenang, tetapi ada semacam kegelisahan di matanya.
"Hari ini adalah hari terakhir Angga di sekolah," bisik Novi pada bayangannya. "Hari ini, ia akan pergi untuk selamanya."
Ia teringat pada keputusan Angga untuk pindah sekolah beberapa minggu yang lalu. Angga mengatakan bahwa ia ingin fokus pada persiapan kuliahnya di Jepang. Ia ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya sebelum berangkat. Novi mengerti. Ia mendukung keputusan Angga. Tetapi ia tidak bisa menahan perasaan kehilangan yang mendalam di hatinya.
Novi memakai seragamnya dengan perlahan. Ia menyisir rambutnya dengan hati-hati. Ia memakai lipstik yang sama seperti yang ia pakai saat pertama kali Angga menyatakan cintanya. Ia ingin terlihat baik di hari terakhir ini. Ia ingin Angga mengingatnya dengan senyum.
Di sekolah, suasana terasa berbeda. Ada semacam kesedihan yang menyelimuti ruang kelas. Semua orang tahu bahwa ini adalah hari terakhir Angga di sekolah. Bima terlihat murung, Rina terlihat sedih, dan beberapa gadis yang pernah dekat dengan Angga terlihat menangis.
Novi masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, seperti biasa, ada segelas cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya. Selembar kertas kecil terlipat rapi di samping gelas itu.
Novi membuka kertas itu dan membaca.
"Untuk Novi, yang membuat hari-hariku lebih indah. Terima kasih untuk semuanya. Aku akan merindukanmu. — A"
Novi menahan air mata yang ingin jatuh. Ia meminum cokelat itu perlahan, menikmati setiap tegukan terakhir. Hangatnya cokelat menyebar di seluruh tubuhnya, mengingatkannya pada semua kenangan indah yang mereka bagi bersama.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua yang akan hilang setelah hari ini.
Ia menatap Angga dari kejauhan. Angga sedang duduk di bangkunya, berbicara dengan Bima. Ia tersenyum, tetapi senyum itu tidak sepenuhnya sampai ke matanya. Ada kesedihan di balik senyum itu. Kesedihan yang sama yang dirasakan Novi.
"Novi," bisik Rina dari samping. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Rin," kata Novi. "Aku hanya... aku hanya tidak percaya bahwa ini adalah hari terakhir."
"Aku juga tidak percaya," kata Rina. "Tapi kita harus kuat. Untuk Angga. Untuk diri kita sendiri."
Novi mengangguk. Ia mencoba untuk tersenyum, tetapi senyum itu terasa palsu di wajahnya.
Jam istirahat, semua siswa berkumpul di aula untuk mengadakan perpisahan untuk Angga. Bima menjadi pembawa acara, dan beberapa teman memberikan pidato perpisahan.
"Angga," kata Bima dengan suara bergetar. "Kau adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Kau selalu ada untukku. Kau selalu membuatku tertawa. Kau selalu membuat hari-hariku lebih cerah. Aku akan merindukanmu, sahabat. Semoga sukses di Jepang."
Angga tersenyum. "Terima kasih, Bi. Kau juga sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku akan merindukanmu. Aku akan merindukan semua orang di sini."
Mata semua orang mulai berkaca-kaca. Beberapa gadis mulai menangis. Novi berdiri di belakang, menatap Angga dengan hati yang hancur.
Setelah acara perpisahan, semua orang kembali ke kelas. Novi duduk di tempatnya, menatap meja kosong di depannya. Ia tidak ingin pulang. Ia tidak ingin ini berakhir.
Angga mendekati meja Novi. "Novi, aku ingin bicara denganmu."
Novi mengangkat kepalanya. "Apa?"
"Di atap sekolah," kata Angga. "Seperti dulu."
Novi mengangguk. "Baik."
Mereka berjalan ke atap sekolah bersama. Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis yang membasahi rambut dan seragam mereka. Novi membuka payung yang ia bawa, dan mereka berbagi payung itu.
Di atap sekolah, mereka berdiri berdampingan, memandang kota yang mulai basah oleh hujan. Semuanya terasa sama seperti dulu. Tempat yang sama. Orang yang sama. Tetapi semuanya terasa berbeda.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku minta maaf," kata Angga. "Aku minta maaf karena harus pergi. Aku minta maaf karena meninggalkanmu. Aku minta maaf karena semua yang terjadi."
Novi menatap Angga. "Kau tidak perlu minta maaf, Angga. Ini adalah impianmu. Aku mendukungmu."
"Tapi aku tahu ini menyakitkanmu," kata Angga. "Aku tahu ini sulit untukmu."
"Memang," kata Novi. "Tapi aku akan baik-baik saja. Aku akan kuat. Aku akan terus melangkah."
Angga memegang tangan Novi. "Aku akan merindukanmu, Novi. Aku akan sangat merindukanmu."
"Aku juga akan merindukanmu," kata Novi. "Tapi kita akan bertemu lagi. Aku percaya."
Mereka berdiri diam beberapa saat, menikmati kebersamaan terakhir mereka. Hujan masih turun dengan tenang. Suara tetesan air di atap dan dedaunan menciptakan irama yang menenangkan.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu yang lain."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Mereka berpelukan. Di atas atap sekolah, di bawah hujan yang turun dengan tenang, mereka mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kalinya.
Mereka melepaskan pelukan. Angga menatap Novi dengan mata yang berkaca-kaca.
"Aku harus pergi sekarang," kata Angga. "Keluargaku menunggu."
Novi mengangguk. "Aku mengerti."
Mereka berjalan turun dari atap. Di depan gerbang sekolah, Angga berhenti.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin kau tahu bahwa kau adalah orang yang paling berharga dalam hidupku. Kau mengajariku banyak hal. Tentang cinta. Tentang keberanian. Tentang menjadi diri sendiri."
Novi tersenyum. "Kau juga mengajariku banyak hal, Angga. Tentang cinta. Tentang kepercayaan. Tentang bagaimana rasanya dicintai."
Angga memeluk Novi untuk terakhir kalinya. "Sampai jumpa, Novi."
"Sampai jumpa, Angga," kata Novi.
Angga berjalan pergi. Novi berdiri di gerbang sekolah, memandang Angga yang semakin menjauh. Air mata mengalir di pipinya, tetapi ia tersenyum. Ia tersenyum karena ia tahu bahwa cinta mereka nyata. Dan tidak ada yang bisa menghapus itu.
Novi pulang ke rumah dengan perasaan hampa. Ia duduk di kamarnya, memandang gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia menangis. Ia menangis untuk semua yang telah hilang. Untuk semua yang tidak akan pernah kembali. Untuk semua yang ia cintai tetapi tidak bisa ia pertahankan.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang hari terakhir Angga di sekolah. Tentang hujan yang turun dengan tenang. Tentang perpisahan yang menyakitkan.
"Hujan turun di hari terakhirmu. Gerimis tipis yang membasahi rambut dan seragam kita. Kita berdiri di atap sekolah. Seperti dulu. Tempat yang sama. Orang yang sama. Tapi semuanya berbeda. Kau pergi. Kau meninggalkanku. Aku di sini, sendirian. Menangis. Merindukan. Tapi aku juga tersenyum. Karena aku tahu bahwa cinta kita nyata. Dan tidak ada yang bisa menghapus itu. Sampai jumpa, Angga. Sampai jumpa."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata penerimaan. Ia menerima bahwa Angga telah pergi. Ia menerima bahwa mereka tidak akan bersama lagi. Ia menerima bahwa ia harus melanjutkan hidup.
Minggu berikutnya, Novi mulai menulis lebih banyak puisi. Ia menulis tentang kehilangan. Tentang kerinduan. Tentang harapan. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan Rina dan ayahnya. Mereka memberinya dukungan dan kekuatan untuk terus melangkah.
"Novi," kata Rina suatu hari. "Kau sudah sangat kuat. Aku bangga padamu."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat pertama sejak ia pergi.
"Novi tersayang,
Aku sudah tiba di Jepang dengan selamat. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Kuliahku sibuk. Tapi aku selalu menyempatkan diri untuk memikirkanmu. Aku selalu menyempatkan diri untuk merindukanmu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Angga masih mencintainya. Angga masih merindukannya. Angga masih akan kembali padanya.
Ia menulis balasan untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena kau mengejar mimpimu. Bahagia karena kau bahagia.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang surat Angga. Tentang cinta yang masih bertahan meskipun jarak memisahkan.
"Surat dari seberang lautan. Kata-kata yang penuh cinta. Aku membacanya berulang-ulang. Menangis. Tersenyum. Merindukan. Kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku akan menunggumu. Sampai kau kembali."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XXXII
Angga Pergi dari Sekolah untuk Terakhir Kalinya
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam kekosongan di dadanya, semacam kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mencoba memahami apa yang ia rasakan. Di luar jendela, burung-burung bernyanyi dengan riang. Matahari bersinar cerah. Tetapi Novi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Hari ini adalah hari pertama sekolah tanpa Angga. Hari pertama ia tidak akan melihat senyum Angga di koridor. Hari pertama ia tidak akan mendengar tawa Angga di kelas. Hari pertama ia tidak akan menemukan cokelat panas di mejanya.
Novi menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa melalui ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku bisa."
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin yang retak itu. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari biasanya. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua yang telah hilang.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah berat. Ia melewati koridor yang sama, melewati ruang kelas yang sama, melewati semua tempat yang mengingatkannya pada Angga. Setiap sudut sekolah terasa seperti memiliki kenangan tentang Angga. Di perpustakaan, ia ingat saat pertama kali mereka bertemu. Di taman, ia ingat saat mereka berbicara tentang mimpi. Di atap sekolah, ia ingat saat mereka mengucapkan selamat tinggal.
Novi masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, tidak ada cokelat panas. Tidak ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Angga. Hanya meja kosong yang mengingatkannya pada semua yang telah hilang.
Ia menatap meja itu lama. Air mata menggenang di matanya. Ia berusaha menahannya, tetapi tidak bisa. Air mata itu jatuh, membasahi mejanya.
"Novi," bisik Rina dari samping. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Rin," kata Novi. "Aku hanya... aku hanya merindukannya."
"Aku juga merindukannya," kata Rina. "Tapi kita harus kuat. Kita harus terus melangkah."
Novi mengangguk. Ia mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Tetapi senyum itu terasa palsu di wajahnya.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua yang telah hilang.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Bukan surat. Hanya coretan-coretan yang tidak berarti. Kata-kata yang tidak membentuk kalimat yang jelas. Hanya ekspresi dari kekacauan di dalam hatinya.
"Angga. Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku? Aku di sini. Aku masih di sini. Aku masih mencintaimu. Aku masih menunggumu. Tapi kau tidak datang. Kau tidak pernah datang. Kau pergi. Kau meninggalkanku. Sendirian."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia menutup buku catatannya dan memeluknya erat-erat.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin melarikan diri dari semua orang. Ia ingin menyendiri dengan perasaannya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai berawan. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi menatap awan-awan itu dan merasa bahwa ia bisa memahami perasaan mereka. Ia juga sedang menahan beban. Beban yang tidak bisa ia lepaskan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis puisi. Puisi tentang hari pertama tanpa Angga. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Hari pertama tanpa kau. Aku datang ke sekolah. Melewati koridor yang sama. Melewati ruang kelas yang sama. Melewati semua tempat yang mengingatkanku padamu. Aku duduk di kursi yang sama. Di meja yang sama. Tapi kau tidak ada. Kau tidak pernah ada. Cokelat panasmu tidak lagi datang. Senyummu tidak lagi terlihat. Aku di sini, sendirian. Dengan semua kenangan yang tidak mau pergi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan Angga. Ia merasa bahwa ia akan selamanya terperangkap dalam kenangan-kenangan itu.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berat. Ia berjalan pelan, menikmati setiap langkah, berusaha menunda waktu. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang sepi. Ia tidak ingin duduk di kamarnya sendirian dengan semua perasaannya.
Di depan rumahnya, Novi berhenti. Ia melihat ayahnya sedang duduk di teras, menunggunya dengan secangkir teh di tangannya.
"Novi," sapa ayahnya. "Mari duduk. Aku ingin bicara denganmu."
Novi duduk di samping ayahnya. Ayahnya menatapnya dengan mata yang penuh perhatian.
"Aku tahu hari ini sulit bagimu," kata ayahnya. "Hari pertama tanpa Angga di sekolah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini."
Novi menangis. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Ayah. Aku merasa hancur. Aku merasa kehilangan arah."
Ayahnya memegang tangan Novi. "Kau tidak sendirian, Novi. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Saat ibumu pergi, aku merasa dunia runtuh. Tapi aku belajar bahwa hidup terus berjalan. Dan aku harus terus melangkah."
"Bagaimana Ayah bisa melakukannya?" tanya Novi. "Bagaimana Ayah bisa terus melangkah?"
"Aku melakukannya untukmu, Novi," kata ayahnya. "Aku melakukannya karena aku tahu bahwa kau membutuhkanku. Aku melakukannya karena aku tahu bahwa hidup masih berharga. Meskipun rasanya sulit, aku terus melangkah. Dan sekarang, kau juga harus melakukannya."
Novi memeluk ayahnya erat-erat. "Terima kasih, Ayah. Aku akan mencoba."
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Kata-kata ayahnya terus terngiang di telinganya.
"Hidup terus berjalan. Dan kau harus terus melangkah."
Novi memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan masa depan. Masa depan tanpa Angga. Masa depan yang hanya miliknya sendiri.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi. "Aku bisa bangkit. Aku bisa melanjutkan hidup."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan tekad bulat. Ia akan mencoba untuk bangkit. Ia akan mencoba untuk melanjutkan hidup. Ia akan mencoba untuk menemukan kebahagiaan lagi.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah, tetapi ada semacam tekad di matanya.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi pada bayangannya. "Aku akan kuat. Aku akan terus melangkah."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia mencoba untuk tersenyum. Ia mencoba untuk melihat hal-hal positif di sekitarnya. Pohon-pohon rindang. Burung-burung yang bernyanyi. Anak-anak yang bermain. Ia mencoba untuk mengingat bahwa hidup masih indah. Meskipun rasanya sulit.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya, dan Novi membalas senyum itu.
"Novi, kau kelihatan lebih baik hari ini," kata Rina.
"Aku mencoba untuk lebih baik," kata Novi. "Aku mencoba untuk bangkit."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi mencoba untuk fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang dulu," kata Novi. "Aku mencoba untuk menemukan kembali kebahagiaanku."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai cerah. Awan-awan kelabu mulai menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat. Novi menatap langit itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang kebangkitan. Puisi tentang harapan. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari kehilangan.
"Aku jatuh. Aku hancur. Aku kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari cinta. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bangkit. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku mulai bangkit. Aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku mulai menemukan jati diriku."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di dalam kotak itu. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memakai gelang itu kembali di pergelangan tangannya. Bukan karena ia masih berharap pada Angga. Tetapi karena ia ingin mengingat bahwa cinta itu nyata. Bahwa ia pernah mencintai. Bahwa ia pernah dicintai.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XXXIII
Novi Berlari ke Stasiun
Malam itu, Novi terbangun dari tidurnya dengan jantung berdebar kencang. Ia bermimpi tentang Angga. Tentang stasiun. Tentang kereta yang melaju meninggalkannya. Dalam mimpinya, ia berlari sekencang mungkin, tetapi kakinya terasa berat, seolah terjerat dalam lumpur yang tebal dan lengket. Ia berteriak memanggil nama Angga, tetapi suaranya tidak keluar, hanya bisikan samar yang tertelan oleh deru kereta. Angga berdiri di dalam kereta yang mulai bergerak, melambaikan tangan dengan senyum yang semakin kabur, dan Novi tidak bisa meraihnya. Ia hanya bisa menatap dari kejauhan, menyaksikan orang yang ia cintai menghilang di ujung rel.
Novi duduk di tempat tidurnya, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Keringat dingin membasahi dahinya. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya. "Selamanya, A & N." Ukiran itu terasa seperti janji yang masih ia pegang erat, meskipun segalanya telah berubah.
"Aku harus melihatnya," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku harus melihat Angga sekali lagi. Aku harus mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku harus mengatakan padanya bahwa aku tidak akan pernah berhenti mencintainya."
Novi melihat jam di samping tempat tidurnya. Pukul tiga pagi. Angga akan berangkat jam tujuh pagi. Ia masih punya waktu empat jam. Empat jam untuk memutuskan apakah ia akan pergi atau tidak. Empat jam untuk mengumpulkan keberanian. Empat jam untuk melakukan sesuatu yang mungkin akan mengubah segalanya.
Novi berbaring kembali di tempat tidurnya, tetapi ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada satu keputusan: apakah ia akan pergi ke stasiun atau tidak. Sebagian dari dirinya berkata bahwa ia harus pergi. Ia harus melihat Angga sekali lagi. Ia harus mengatakan semua yang tidak sempat ia katakan. Ia harus menunjukkan padanya bahwa cintanya nyata. Bahwa ia tidak akan pernah berhenti mencintainya, tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan mereka.
Tetapi sebagian lain dari dirinya berkata bahwa ia tidak boleh pergi. Ia harus membiarkan Angga pergi dengan tenang. Ia harus menerima bahwa ini adalah akhir dari segalanya. Ia harus belajar untuk melepaskan. Untuk melanjutkan hidup. Untuk menemukan kebahagiaan tanpa Angga di sisinya.
"Tapi bagaimana aku bisa melepaskannya tanpa mengatakan selamat tinggal?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Bagaimana aku bisa membiarkannya pergi tanpa mengatakan bahwa aku mencintainya?"
Novi menangis. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Sakit yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah kehilangan seseorang yang mereka cintai.
Pukul lima pagi, Novi bangkit dari tempat tidur. Ia sudah memutuskan. Ia akan pergi ke stasiun. Ia akan melihat Angga sekali lagi. Ia akan mengatakan semua yang tidak sempat ia katakan.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah, tetapi ada semacam tekad di matanya. Tekad yang tidak bisa ia abaikan.
"Aku akan pergi," bisik Novi pada bayangannya. "Aku akan melihatnya sekali lagi. Aku akan mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku tidak peduli apa yang akan terjadi. Aku hanya ingin dia tahu."
Ia memakai baju terbaiknya. Sebuah gaun sederhana berwarna biru muda yang pernah ia beli bersama Rina di pasar. Gaun itu tidak mahal, tetapi Novi menyukainya karena warnanya mengingatkannya pada langit cerah. Ia memakai gelang yang diberikan Angga, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di pergelangan tangannya. Ia memakai sedikit lipstik dan menyisir rambutnya dengan rapi.
"Aku siap," bisik Novi pada bayangannya. "Aku siap untuk melihatmu."
Novi meninggalkan rumah dengan langkah cepat. Di luar, hujan mulai turun. Gerimis tipis yang membasahi rambut dan pakaiannya. Novi tidak peduli. Ia tidak membawa payung. Ia tidak peduli jika basah. Yang ia pedulikan hanya satu hal: melihat Angga.
Ia berjalan menuju stasiun dengan langkah cepat. Jalanan masih sepi di pagi buta. Hanya beberapa pedagang yang mulai membuka kiosnya. Beberapa kendaraan yang melintas dengan cepat. Novi terus berjalan, tidak peduli dengan semua yang ada di sekitarnya. Pikirannya hanya pada Angga. Pada stasiun. Pada kereta yang akan membawanya pergi.
"Tunggu aku, Angga," bisik Novi. "Tunggu aku."
Di stasiun, suasana ramai. Orang-orang datang dan pergi dengan tergesa-gesa. Ada yang membawa koper besar, ada yang membawa tas kecil, ada yang berpelukan dengan keluarga mereka. Novi mencari Angga di antara kerumunan itu. Ia melihat ke kiri. Ia melihat ke kanan. Ia mencari wajah yang ia kenal. Wajah yang ia rindukan.
Kemudian, ia melihatnya.
Angga berdiri di peron, dengan koper di tangannya. Ia sedang berbicara dengan keluarganya. Ibunya memeluknya erat-erat. Ayahnya menepuk pundaknya dengan bangga. Adiknya menangis di sampingnya.
Novi berdiri di kejauhan, menatap Angga. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa menatapnya dari kejauhan, menyaksikan momen-momen terakhir Angga sebelum ia pergi.
"Angga," bisik Novi pelan. "Aku di sini. Aku datang."
Angga menoleh. Matanya bertemu dengan mata Novi. Ia terkejut. Ia tidak menyangka Novi akan datang.
"Novi?" panggil Angga. "Kau datang?"
Novi berjalan mendekat. Langkahnya gemetar. Dadanya berdebar kencang.
"Aku datang," kata Novi. "Aku ingin melihatmu sekali lagi. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu."
Angga menatap Novi dengan mata yang berkaca-kaca. "Apa yang ingin kau katakan?"
Novi menarik napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki. Ia tidak bisa membiarkan Angga pergi tanpa mengatakan semua yang ia rasakan.
"Angga," kata Novi. "Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita. Tidak peduli berapa lama waktu yang berlalu. Aku akan selalu mencintaimu."
Angga menangis. "Novi, aku juga mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Mereka berpelukan. Di tengah kerumunan stasiun, mereka berpelukan erat-erat. Air mata mengalir di pipi mereka. Mereka tidak peduli dengan semua orang di sekitar mereka. Yang mereka pedulikan hanya satu sama lain.
"Angga," kata Novi. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku akan selalu menunggumu. Aku akan selalu mencintaimu."
Angga memegang tangan Novi. "Aku juga akan selalu menunggumu, Novi. Aku juga akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi. Aku akan selalu kembali padamu."
Mereka berpelukan lagi. Air mata mengalir di pipi mereka. Mereka tidak ingin melepaskan satu sama lain.
Kereta mulai masuk ke stasiun. Angga harus pergi. Ia melepaskan pelukan Novi.
"Aku harus pergi sekarang, Novi," kata Angga. "Kereta sudah datang."
Novi mengangguk. "Aku tahu."
"Tapi aku akan kembali," kata Angga. "Aku berjanji. Aku akan kembali padamu."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Angga mencium kening Novi. "Sampai jumpa, Novi."
"Sampai jumpa, Angga," kata Novi.
Angga berjalan menuju kereta. Novi berdiri di peron, memandang Angga yang semakin menjauh. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
Kereta mulai bergerak. Angga melambaikan tangan dari dalam kereta. Novi melambaikan tangan kembali dengan senyum di wajahnya.
"Sampai jumpa, Angga!" teriak Novi.
"Sampai jumpa, Novi!" teriak Angga.
Kereta semakin cepat. Angga menghilang di kejauhan. Novi tetap berdiri di peron, melambaikan tangan dengan senyum. Dan ketika kereta benar-benar menghilang, Novi menangis. Tetapi ia menangis dengan senyum. Karena ia tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar. Ia tahu bahwa mereka akan bertemu lagi.
Novi duduk di peron stasiun, menangis dengan senyum di wajahnya. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Ia akan mengingat semua itu. Ia akan menyimpannya di dalam hatinya selamanya.
Novi pulang ke rumah dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia telah mengatakan semua yang ingin ia katakan. Ia telah mengucapkan selamat tinggal dengan cara yang indah.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan menulis puisi tentang pertemuannya dengan Angga di stasiun. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku berlari ke stasiun. Di pagi buta. Di bawah hujan yang turun. Aku mencari wajahmu. Di antara kerumunan. Dan aku menemukannya. Aku melihatmu sekali lagi. Aku mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu. Aku mengatakan padamu bahwa aku akan selalu menunggumu. Kau naik ke kereta. Kau melambaikan tangan. Kereta bergerak. Kau menghilang. Tapi aku tersenyum. Karena aku tahu bahwa cinta kita tidak akan pernah pudar. Bahwa kita akan bertemu lagi. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Minggu berikutnya, Novi mulai menulis lebih banyak puisi. Ia menulis tentang stasiun. Tentang kereta. Tentang perpisahan. Tentang semua yang ia rasakan.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan Rina dan ayahnya. Mereka memberinya dukungan dan kekuatan untuk terus melangkah.
"Novi," kata Rina suatu hari. "Kau sudah sangat kuat. Aku bangga padamu."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat pertama sejak ia pergi.
"Novi tersayang,
Aku sudah tiba di Jepang dengan selamat. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Kuliahku sibuk. Tapi aku selalu menyempatkan diri untuk memikirkanmu. Aku selalu menyempatkan diri untuk merindukanmu.
Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Angga masih mencintainya. Angga masih merindukannya. Angga masih akan kembali padanya.
Ia menulis balasan untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu.
Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena kau mengejar mimpimu. Bahagia karena kau bahagia.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Malam itu, Novi menulis puisi tentang surat Angga. Tentang cinta yang masih bertahan meskipun jarak memisahkan.
"Surat dari seberang lautan. Kata-kata yang penuh cinta. Aku membacanya berulang-ulang. Menangis. Tersenyum. Merindukan. Kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku akan menunggumu. Sampai kau kembali."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XXXIV
Surat yang Tidak Pernah Terkirim
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang tumpukan kertas di atas meja. Di sana, ada sebuah amplop berwarna krem yang sudah lama ia tulis. Amplop itu berisi surat untuk Angga. Surat yang ia tulis beberapa minggu sebelum Angga pergi. Surat yang tidak pernah ia kirimkan.
Novi mengambil amplop itu. Ia membukanya perlahan. Surat itu masih sama seperti saat ia menulisnya.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini dengan hati yang penuh. Aku tidak tahu apakah aku akan pernah mengirimkannya. Tapi aku ingin menulisnya. Aku ingin menuangkan semua perasaanku ke dalam kata-kata.
Aku mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Sejak pertama kali aku melihatmu di perpustakaan. Sejak pertama kali kau membaca puisiku. Sejak pertama kali kau memberiku cokelat panas.
Kau mengajariku banyak hal. Kau mengajariku tentang keberanian. Kau mengajariku tentang kepercayaan. Kau mengajariku tentang bagaimana rasanya dicintai.
Tapi aku juga takut. Aku takut bahwa suatu hari nanti kau akan pergi. Aku takut bahwa kau akan meninggalkanku. Aku takut bahwa aku tidak akan bisa bertahan tanpamu.
Tapi aku juga tahu bahwa aku harus kuat. Aku harus percaya bahwa cinta kita cukup kuat untuk melewati semua ini. Aku harus percaya bahwa kita akan bertemu lagi.
Aku mencintaimu, Angga. Selamanya.
Novi"
Novi membaca surat itu. Air mata mengalir di pipinya. Ia ingat saat menulis surat itu—saat ia masih percaya bahwa Angga akan selalu ada.
"Kenapa aku tidak mengirimkan surat ini?" bisiknya.
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan.
Novi menatap surat itu lama. Tangannya gemetar.
"Apa yang harus aku lakukan dengan ini?" bisiknya.
Ia memikirkan tentang Angga. Tentang semua yang telah hilang. Tentang semua yang tidak akan pernah kembali.
Ia menangis. Sakit yang sama seperti dulu, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu.
Novi berdiri. Ia berjalan ke lemari dan membuka kotak kayu tempat ia menyimpan surat-surat Angga. Ia mengeluarkan semua surat itu dan menyebarkannya di atas meja. Surat-surat dari Angga. Surat-surat yang ia terima selama berbulan-bulan.
Ia membaca satu per satu. Surat pertama, ketika Angga baru tiba di Jepang. Surat kedua, ketika Angga mulai sibuk. Surat ketiga, ketika Angga mulai ragu. Surat keempat, ketika Angga mengatakan bahwa ia lelah.
Novi berhenti pada surat terakhir yang ia terima. Surat yang mengatakan bahwa Angga akan kembali untuk liburan singkat. Surat yang mengatakan bahwa ia ingin bicara.
Ia meletakkan surat itu dan menatap surat yang tidak pernah ia kirimkan. Tangannya memegang amplop krem itu.
"Aku tidak mengirim surat ini," bisik Novi. "Bukan karena aku takut. Tapi karena aku tahu bahwa surat ini bukan untuknya."
Ia membuka amplop itu lagi. Ia membaca surat itu sekali lagi.
"Aku mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu..."
Novi berhenti. Ia menatap kata-kata itu.
"Aku mencintaimu," ulangnya pelan.
Ia tiba-tiba menyadari sesuatu. Surat ini bukan tentang Angga. Surat ini tentang dirinya sendiri. Tentang ketakutannya. Tentang keraguannya. Tentang semua yang tidak pernah ia katakan, bukan karena ia tidak berani, tetapi karena ia belum siap.
Ia tidak mengirim surat ini karena ia tidak ingin Angga melihat betapa takutnya ia. Ia tidak ingin Angga melihat bahwa ia masih gadis yang sama yang duduk di pojok belakang kelas.
Novi memegang surat itu erat-erat. "Aku sudah tidak sama lagi," bisiknya. "Aku sudah tidak takut lagi. Surat ini bukan untuk sekarang. Surat ini untuk Novi yang dulu."
Novi bangkit dari kursinya. Ia mengambil dompetnya dan keluar rumah. Langit malam gelap, tetapi ia tidak takut. Ia berjalan menuju kantor pos—bukan untuk mengirim surat, tetapi untuk melakukan sesuatu yang lain.
Di depan kantor pos, ada kotak surat besar berwarna merah. Novi berhenti di depannya. Ia memegang amplop krem itu.
Ia hampir memasukkannya ke dalam kotak. Tangannya terangkat. Jari-jarinya hampir melepaskan surat itu.
Lalu ia menghentikan tangannya.
Ia membuka amplop itu. Ia mengeluarkan suratnya. Ia membaca baris terakhir sekali lagi.
"Aku mencintaimu, Angga. Selamanya."
Novi menatap kata-kata itu. Ia tersenyum kecil.
"Aku masih mencintaimu," bisiknya. "Tapi aku tidak akan mengirim surat ini. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku sudah tidak perlu lagi."
Ia merobek surat itu.
Pelan-pelan.
Satu per satu.
Potongan-potongan kecil jatuh ke tanah, terbawa angin malam.
Novi berdiri di sana, menyaksikan sisa-sisa surat yang ia tulis bertahun-tahun lalu bertebaran. Surat yang ia tulis saat ia masih takut. Surat yang ia tulis saat ia masih belum percaya bahwa ia layak dicintai.
Ia tidak menangis. Ia tersenyum.
"Selamat tinggal, Novi yang dulu," bisiknya. "Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi."
Novi pulang ke rumah. Di kamarnya, ia duduk di meja tulis. Ia mengambil selembar kertas baru. Ia mulai menulis.
Bukan surat untuk Angga.
Surat untuk dirinya sendiri.
"Untuk Novi,
Aku menulis surat ini untuk diriku sendiri. Bukan karena aku sedih. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku ingin mengingat siapa aku sekarang.
Dulu, aku menulis surat untuk Angga karena aku takut kehilangan. Aku menulis surat itu untuk memintanya bertahan. Aku menulis surat itu karena aku pikir cintaku tidak cukup.
Tapi sekarang aku tahu. Cintaku cukup. Aku cukup.
Surat yang tidak pernah terkirim itu bukan kegagalan. Itu adalah pengingat bahwa aku pernah takut. Dan sekarang aku tidak takut lagi.
Aku sudah tidak membutuhkan surat itu. Aku sudah tidak membutuhkan kata-kata itu. Karena aku sudah mengatakan semua yang perlu aku katakan—pada diriku sendiri.
Terima kasih, Novi. Karena telah bertahan. Karena telah tumbuh. Karena telah menjadi dirimu sendiri.
Terima kasih karena tidak lagi takut.
Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi melipat surat itu. Ia tidak memasukkannya ke dalam amplop. Ia tidak menyimpannya di dalam kotak kayu. Ia meletakkannya di atas meja, di samping buku catatan puisinya.
Ia menatap surat itu. Ia tersenyum.
"Ini adalah surat yang benar-benar kukirimkan," bisiknya. "Untuk orang yang paling penting. Untuk diriku sendiri."
Ia membuka buku catatan puisinya dan menulis satu puisi pendek.
"Aku menulis surat untukmu,
Tapi aku tidak pernah mengirimkannya.
Bukan karena aku takut.
Tapi karena surat itu bukan untukmu.
Surat itu untukku.
Untuk Novi yang dulu.
Untuk Novi yang takut.
Sekarang aku sudah tidak takut lagi.
Surat itu telah pergi.
Dan aku tetap di sini.
Utuh.
Kuat.
Mencintai diriku sendiri."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Seperti ada beban yang telah ia lepaskan semalam.
Ia tidak lagi memikirkan surat itu. Ia tidak lagi memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan. Ia hanya merasa... tenang.
Di sekolah, Rina melihat perubahan pada dirinya.
"Novi, kau berbeda hari ini," kata Rina. "Kau terlihat lebih... bebas."
"Aku merasa bebas, Rin," kata Novi. "Aku melepaskan sesuatu semalam. Sesuatu yang sudah lama aku simpan."
"Apa itu?" tanya Rina.
"Surat untuk Angga," kata Novi. "Surat yang tidak pernah terkirim. Aku merobeknya."
Rina terkejut. "Kenapa?"
Novi tersenyum. "Karena aku menyadari bahwa surat itu bukan untuknya. Surat itu untukku. Untuk Novi yang dulu. Dan aku sudah tidak membutuhkannya lagi."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Kau benar-benar telah berubah."
"Aku telah berubah," kata Novi. "Dan itu hal yang baik."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku merasa lebih baik daripada sebelumnya. Aku melepaskan sesuatu yang sudah lama aku simpan. Dan aku merasa lebih bebas. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Tetapi kini ia menulis untuk dirinya sendiri. Puisi tentang kekuatan. Puisi tentang penerimaan. Puisi tentang kebebasan.
Ia tidak lagi menulis tentang kehilangan Angga. Ia menulis tentang menemukan dirinya sendiri.
"Aku kehilangan seseorang.
Tapi aku menemukan diriku sendiri.
Aku menangis untuknya.
Tapi aku tersenyum untukku.
Aku merindukannya.
Tapi aku mencintai diriku.
Kehilangan bukanlah akhir.
Kehilangan adalah awal.
Awal dari perjalanan.
Awal dari penemuan.
Awal dari mencintai diriku sendiri."
Novi membaca puisinya. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Ia tidak menangis. Ia tidak merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur.
Ia mengambil surat yang ia tulis untuk dirinya sendiri. Ia membacanya sekali lagi.
"Aku sudah tidak membutuhkan surat itu. Aku sudah tidak membutuhkan kata-kata itu. Karena aku sudah mengatakan semua yang perlu aku katakan—pada diriku sendiri."
Novi tersenyum. Ia melipat surat itu dan menyimpannya di dalam kotak kayu—bukan sebagai pengingat rasa sakit, tetapi sebagai pengingat bahwa ia telah bertahan.
Malam itu, Novi menulis puisi terakhir tentang surat yang tidak pernah terkirim.
"Surat itu telah pergi.
Robek.
Terbang.
Hilang.
Tapi aku tetap di sini.
Lebih utuh.
Lebih kuat.
Lebih bebas.
Surat itu bukan tentang kehilangan.
Surat itu tentang menemukan.
Menemukan bahwa aku cukup.
Menemukan bahwa aku berharga.
Menemukan bahwa aku layak dicintai.
Oleh diriku sendiri.
Selamanya."
Novi membaca puisinya. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata. Ia tidak membayangkan Angga. Ia membayangkan dirinya sendiri. Novi yang telah tumbuh. Novi yang telah berubah. Novi yang telah menemukan bahwa ia cukup.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi. "Aku sudah baik-baik saja. Dan aku akan selalu baik-baik saja."
BAB XXXV
Malam Tanpa Angga
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang langit di luar jendela. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumahnya yang kecil. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya. "Selamanya, A & N." Ukiran itu sekarang terasa seperti kenangan, bukan lagi janji. Seperti foto yang mulai pudar, tetapi masih cukup jelas untuk dikenali.
Sudah enam bulan sejak Angga pergi. Enam bulan sejak ia mengucapkan selamat tinggal di stasiun. Enam bulan sejak ia mengatakan bahwa ia akan kembali. Dan selama enam bulan itu, Novi telah menunggu. Menunggu surat. Menunggu kabar. Menunggu janji yang mungkin tidak akan pernah ditepati.
Novi menarik napas dalam-dalam. Ia merasa bahwa malam ini adalah malam yang penting. Malam di mana ia harus membuat keputusan. Malam di mana ia harus memilih antara terus menunggu atau melanjutkan hidup.
"Aku tidak bisa terus seperti ini," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku harus memutuskan. Aku harus memilih."
Novi teringat pada semua yang telah ia lalui. Semua perjuangan. Semua rasa sakit. Semua pengorbanan. Ia teringat pada hari-hari indah bersama Angga. Cokelat panas di pagi hari. Percakapan di perpustakaan. Senja di bukit. Pelukan di atap sekolah tua. Semua kenangan itu terasa seperti mimpi yang indah. Mimpi yang sekarang terasa semakin jauh.
Ia teringat pada hari-hari sulit setelah Angga pergi. Rasa sakit yang mendalam. Kesedihan yang tidak pernah hilang. Kerinduan yang terus mengganggu tidurnya. Ia teringat pada surat-surat yang ia tulis. Puisi-puisi yang ia buat. Semua kata-kata yang ia gunakan untuk mengekspresikan perasaannya.
"Tapi aku juga ingat pada semua yang telah aku pelajari," bisik Novi. "Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa Angga di sisiku."
Novi bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke meja tulisnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka.
"Novi tersayang,
Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena aku mengejar mimpiku. Bahagia karena aku tahu bahwa kau menungguku.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan sakit yang mendalam di dadanya. Sakit yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata.
"Tapi berapa lama aku harus menunggu?" bisik Novi. "Berapa lama aku harus terus berharap?"
Novi meletakkan surat itu dan mengambil surat terakhir yang ia terima dari Angga. Surat itu sudah berusia tiga bulan. Surat yang mengatakan bahwa Angga sibuk dengan kuliahnya. Surat yang mengatakan bahwa ia tidak tahu kapan ia akan kembali. Surat yang tidak lagi penuh dengan kata-kata cinta.
"Novi,
Aku minta maaf karena tidak sering menulis. Kuliahku sangat sibuk. Aku tidak tahu kapan aku bisa kembali ke Indonesia.
Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu.
Tunggu aku, Novi. Aku akan kembali.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Ia merasakan ada yang berbeda. Ada jarak di antara kata-kata itu. Ada ketidakpastian yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Apakah kau masih mencintaiku, Angga?" bisik Novi. "Apakah kau masih akan kembali?"
Novi meletakkan surat itu dan menutup kotak kayu. Ia tidak ingin membaca lebih banyak surat. Ia tidak ingin terus mengingat semua yang telah hilang.
Ia berjalan ke jendela dan menatap langit malam. Bintang-bintang berkelap-kelip di kejauhan. Novi merasakan bahwa ia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, ia bisa terus menunggu Angga. Terus berharap. Terus percaya bahwa mereka akan bertemu lagi. Di sisi lain, ia bisa melepaskan semua harapan itu. Melanjutkan hidupnya. Menemukan kebahagiaan tanpa Angga.
"Apa yang harus aku lakukan?" bisik Novi. "Apa yang harus aku pilih?"
Novi memejamkan mata. Ia mencoba mendengarkan hatinya. Ia mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri.
"Aku mencintai Angga," bisik Novi. "Aku selalu mencintainya. Dan aku akan selalu mencintainya. Tapi aku juga harus mencintai diriku sendiri. Aku harus bahagia. Aku harus melanjutkan hidup."
Novi membuka matanya. Ia merasa bahwa ia telah menemukan jawabannya.
"Aku akan terus menunggu," bisik Novi. "Tapi aku juga akan terus hidup. Aku tidak akan membiarkan hidupku berhenti hanya karena Angga tidak ada di sini. Aku akan terus menulis. Aku akan terus bermimpi. Aku akan terus menjadi diriku sendiri."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang keputusannya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Malam ini, aku membuat keputusan. Aku akan terus menunggu. Tapi aku juga akan terus hidup. Aku tidak akan membiarkan hidupku berhenti. Hanya karena kau tidak ada di sini. Aku akan terus menulis. Aku akan terus bermimpi. Aku akan terus menjadi diriku sendiri. Jika kau kembali, aku akan menyambutmu dengan senyum. Jika kau tidak kembali, aku akan tetap bahagia. Karena aku tahu bahwa aku kuat. Aku tahu bahwa aku bisa bertahan. Aku tahu bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Keesokan harinya, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia telah membuat keputusan. Ia telah memilih untuk terus hidup.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Ada semacam ketenangan di matanya. Ada semacam penerimaan di hatinya.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi pada bayangannya. "Aku akan kuat. Aku akan terus melangkah."
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya, dan Novi membalas senyum itu.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan lebih tenang."
"Aku merasa lebih tenang, Rin," kata Novi. "Aku sudah membuat keputusan. Aku akan terus menunggu Angga, tapi aku juga akan terus hidup. Aku tidak akan membiarkan hidupku berhenti hanya karena dia tidak ada di sini."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah keputusan yang bijaksana."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang baru," kata Novi. "Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih bahagia."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang kebangkitan. Puisi tentang harapan. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari kehilangan.
"Aku jatuh. Aku hancur. Aku kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali dirinya sendiri.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari cinta. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bangkit. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku merasa lebih baik. Aku sudah membuat keputusan. Aku akan terus menunggu Angga, tapi aku juga akan terus hidup. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku sudah membuat keputusan. Aku akan terus menunggu Angga, tapi aku juga akan terus hidup. Aku tidak akan membiarkan hidupku berhenti hanya karena dia tidak ada di sini."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XXXVI
Satu Bulan Tanpa Angga
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam kekosongan di dadanya, semacam kehilangan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian, mencoba memahami apa yang ia rasakan. Di luar jendela, burung-burung bernyanyi dengan riang. Matahari bersinar cerah. Tetapi Novi merasa bahwa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang tidak akan pernah kembali.
Sudah satu bulan sejak Angga pergi. Satu bulan sejak ia mengucapkan selamat tinggal di stasiun. Satu bulan sejak ia mengatakan bahwa ia akan kembali. Dan selama satu bulan itu, Novi telah mencoba untuk bangkit. Ia telah mencoba untuk melanjutkan hidup. Ia telah mencoba untuk menemukan kembali kebahagiaannya.
Novi menarik napas dalam-dalam. "Aku bisa melalui ini," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku bisa."
Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia menatap bayangannya di cermin yang retak itu. Gadis di hadapannya terlihat lelah. Lingkaran hitam di bawah matanya lebih gelap dari biasanya. Ia tidak tidur nyenyak semalam. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua yang telah hilang.
Di sekolah, Novi berjalan dengan langkah berat. Ia melewati koridor yang sama, melewati ruang kelas yang sama, melewati semua tempat yang mengingatkannya pada Angga. Setiap sudut sekolah terasa seperti memiliki kenangan tentang Angga. Di perpustakaan, ia ingat saat pertama kali mereka bertemu. Di taman, ia ingat saat mereka berbicara tentang mimpi. Di atap sekolah, ia ingat saat mereka mengucapkan selamat tinggal.
Novi masuk ke kelas dan duduk di tempat biasanya. Di atas mejanya, tidak ada cokelat panas. Tidak ada selembar kertas kecil dengan tulisan tangan Angga. Hanya meja kosong yang mengingatkannya pada semua yang telah hilang.
Ia menatap meja itu lama. Air mata menggenang di matanya. Ia berusaha menahannya, tetapi tidak bisa. Air mata itu jatuh, membasahi mejanya.
"Novi," bisik Rina dari samping. "Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja, Rin," kata Novi. "Aku hanya... aku hanya merindukannya."
"Aku juga merindukannya," kata Rina. "Tapi kita harus kuat. Kita harus terus melangkah."
Novi mengangguk. Ia mengusap air matanya dan mencoba untuk tersenyum. Tetapi senyum itu terasa palsu di wajahnya.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua kenangan yang mereka bagi bersama. Pada semua yang telah hilang.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Bukan surat. Hanya coretan-coretan yang tidak berarti. Kata-kata yang tidak membentuk kalimat yang jelas. Hanya ekspresi dari kekacauan di dalam hatinya.
"Angga. Kenapa kau pergi? Kenapa kau meninggalkanku? Aku di sini. Aku masih di sini. Aku masih mencintaimu. Aku masih menunggumu. Tapi kau tidak datang. Kau tidak pernah datang. Kau pergi. Kau meninggalkanku. Sendirian."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia menutup buku catatannya dan memeluknya erat-erat.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin melarikan diri dari semua orang. Ia ingin menyendiri dengan perasaannya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai berawan. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah sedang menahan beban yang tidak bisa mereka lepaskan. Novi menatap awan-awan itu dan merasa bahwa ia bisa memahami perasaan mereka. Ia juga sedang menahan beban. Beban yang tidak bisa ia lepaskan.
Ia mengeluarkan buku catatannya dan mulai menulis puisi. Puisi tentang satu bulan tanpa Angga. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Satu bulan tanpa kau. Aku datang ke sekolah. Melewati koridor yang sama. Melewati ruang kelas yang sama. Melewati semua tempat yang mengingatkanku padamu. Aku duduk di kursi yang sama. Di meja yang sama. Tapi kau tidak ada. Kau tidak pernah ada. Cokelat panasmu tidak lagi datang. Senyummu tidak lagi terlihat. Aku di sini, sendirian. Dengan semua kenangan yang tidak mau pergi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia tidak akan pernah bisa melupakan Angga. Ia merasa bahwa ia akan selamanya terperangkap dalam kenangan-kenangan itu.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berat. Ia berjalan pelan, menikmati setiap langkah, berusaha menunda waktu. Ia tidak ingin pulang ke rumah yang sepi. Ia tidak ingin duduk di kamarnya sendirian dengan semua perasaannya.
Di depan rumahnya, Novi berhenti. Ia melihat ayahnya sedang duduk di teras, menunggunya dengan secangkir teh di tangannya.
"Novi," sapa ayahnya. "Mari duduk. Aku ingin bicara denganmu."
Novi duduk di samping ayahnya. Ayahnya menatapnya dengan mata yang penuh perhatian.
"Aku tahu satu bulan ini sulit bagimu," kata ayahnya. "Hari-hari tanpa Angga di sekolah. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini."
Novi menangis. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Ayah. Aku merasa hancur. Aku merasa kehilangan arah."
Ayahnya memegang tangan Novi. "Kau tidak sendirian, Novi. Aku juga pernah merasakan hal yang sama. Saat ibumu pergi, aku merasa dunia runtuh. Tapi aku belajar bahwa hidup terus berjalan. Dan aku harus terus melangkah."
"Bagaimana Ayah bisa melakukannya?" tanya Novi. "Bagaimana Ayah bisa terus melangkah?"
"Aku melakukannya untukmu, Novi," kata ayahnya. "Aku melakukannya karena aku tahu bahwa kau membutuhkanku. Aku melakukannya karena aku tahu bahwa hidup masih berharga. Meskipun rasanya sulit, aku terus melangkah. Dan sekarang, kau juga harus melakukannya."
Novi memeluk ayahnya erat-erat. "Terima kasih, Ayah. Aku akan mencoba."
Malam itu, Novi tidak bisa tidur. Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Kata-kata ayahnya terus terngiang di telinganya.
"Hidup terus berjalan. Dan kau harus terus melangkah."
Novi memejamkan mata. Ia mencoba membayangkan masa depan. Masa depan tanpa Angga. Masa depan yang hanya miliknya sendiri.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi. "Aku bisa bangkit. Aku bisa melanjutkan hidup."
Keesokan harinya, Novi bangun dengan tekad bulat. Ia akan mencoba untuk bangkit. Ia akan mencoba untuk melanjutkan hidup. Ia akan mencoba untuk menemukan kebahagiaan lagi.
Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat lelah, tetapi ada semacam tekad di matanya.
"Aku akan baik-baik saja," bisik Novi pada bayangannya. "Aku akan kuat. Aku akan terus melangkah."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah. Sepanjang perjalanan, ia mencoba untuk tersenyum. Ia mencoba untuk melihat hal-hal positif di sekitarnya. Pohon-pohon rindang. Burung-burung yang bernyanyi. Anak-anak yang bermain. Ia mencoba untuk mengingat bahwa hidup masih indah. Meskipun rasanya sulit.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya, dan Novi membalas senyum itu.
"Novi, kau kelihatan lebih baik hari ini," kata Rina.
"Aku mencoba untuk lebih baik," kata Novi. "Aku mencoba untuk bangkit."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi mencoba untuk fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang dulu," kata Novi. "Aku mencoba untuk menemukan kembali kebahagiaanku."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit mulai cerah. Awan-awan kelabu mulai menghilang, digantikan oleh sinar matahari yang hangat. Novi menatap langit itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang kebangkitan. Puisi tentang harapan. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari kehilangan.
"Aku jatuh. Aku hancur. Aku kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Ia menulis tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa kehilangan adalah bagian dari hidup. Aku belajar bahwa rasa sakit adalah bagian dari cinta. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bangkit. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Bukan karena aku tidak mencintainya. Tapi karena aku menyadari bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Rina.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Rin. Aku mulai bangkit. Aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Aku mencintaimu juga."
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku mulai menemukan jati diriku."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua kenangan indah mereka.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di dalam kotak itu. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memakai gelang itu kembali di pergelangan tangannya. Bukan karena ia masih berharap pada Angga. Tetapi karena ia ingin mengingat bahwa cinta itu nyata. Bahwa ia pernah mencintai. Bahwa ia pernah dicintai.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan cintanya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XXXVII
Pesan dari Angga
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang langit di luar jendela. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumahnya yang kecil. Ia memegang gelang di pergelangan tangannya, liontin berbentuk hati itu terasa hangat di kulitnya. "Selamanya, A & N." Ukiran itu sekarang terasa seperti kenangan yang manis, bukan lagi janji yang menyakitkan. Sudah dua bulan sejak Angga pergi, dan Novi mulai terbiasa dengan keheningan yang ia tinggalkan.
Ia baru saja selesai menulis puisi baru. Puisi tentang langit malam dan bintang-bintang yang bersinar sendirian. Puisi tentang bagaimana ia belajar untuk menikmati kesendirian, bukan lagi meratapinya. Ia merasa bahwa ia telah berkembang. Ia telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih mandiri, lebih utuh.
Novi meletakkan pena dan menatap puisinya dengan bangga. "Aku sudah jauh," bisiknya. "Aku sudah tidak sama lagi dengan gadis yang dulu menangis di peron stasiun."
Ponselnya bergetar. Novi mengangkatnya dengan malas, pikirnya itu mungkin Rina atau ayahnya yang mengirim pesan. Tetapi ketika ia melihat layar, jantungnya berhenti berdetak sejenak.
Sebuah pesan dari Angga.
Novi menatap layar ponselnya dengan tidak percaya. Sudah dua bulan sejak ia menerima pesan terakhir dari Angga. Surat-suratnya berhenti datang. Panggilan teleponnya berhenti. Novi mulai berpikir bahwa Angga telah melupakannya. Bahwa ia telah memulai hidup baru di Jepang tanpa dirinya.
Tetapi sekarang, ada pesan dari Angga.
Novi membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdebar kencang. Ia tidak tahu apa yang akan ia temukan di dalamnya. Apakah ini kabar baik? Kabar buruk? Apakah Angga mengatakan bahwa ia tidak akan kembali? Atau apakah ia mengatakan bahwa ia masih mencintainya?
Pesan itu pendek, hanya beberapa baris. Tetapi kata-kata itu cukup untuk membuat Novi menangis.
"Novi, aku minta maaf karena tidak menghubungimu. Aku sibuk dengan kuliah dan pekerjaan paruh waktu. Tapi aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Bagaimana kabarmu? Aku ingin tahu. Tolong balas pesan ini. Aku mencintaimu. — Angga"
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menahan perasaannya. Angga masih mengingatnya. Angga masih merindukannya. Angga masih mencintainya.
"Angga," bisik Novi. "Aku juga merindukanmu. Aku juga mencintaimu."
Novi segera menulis balasan. Tangannya gemetar, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. Ia ingin mengatakan semua yang ia rasakan. Ia ingin Angga tahu bahwa ia masih di sini. Bahwa ia masih menunggu. Bahwa ia masih mencintai.
"Angga, aku menerima pesanmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Aku baik-baik saja. Aku mulai menulis lebih banyak puisi. Aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Tapi aku tidak pernah berhenti memikirkanmu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Tolong jangan pergi lagi. Tolong jangan menghilang lagi. Aku mencintaimu. Selamanya. — Novi"
Novi mengirimkan pesan itu. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Ia takut. Takut bahwa Angga akan menghilang lagi. Takut bahwa ini hanya sebentar. Takut bahwa ia akan terluka lagi.
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar lagi. Pesan dari Angga.
"Novi, aku minta maaf. Aku tidak seharusnya menghilang seperti itu. Aku hanya... aku hanya bingung. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak tahu bagaimana cara menjaga hubungan ini dari jarak jauh. Tapi aku menyadari bahwa aku tidak bisa kehilanganmu. Kau adalah segalanya bagiku. Aku akan berusaha lebih baik. Aku berjanji. Aku mencintaimu. Selamanya. — Angga"
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
"Angga," bisik Novi. "Aku juga tidak bisa kehilanganmu. Aku juga akan berusaha lebih baik."
Novi dan Angga mulai berkomunikasi lagi. Mereka mengirim pesan setiap hari. Mereka menelepon setiap akhir pekan. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing.
Novi menceritakan tentang puisinya. Tentang lomba yang ia ikuti. Tentang teman-temannya. Tentang ayahnya. Tentang semua yang ia alami.
Angga menceritakan tentang kuliahnya. Tentang pekerjaan paruh waktunya. Tentang teman-temannya di Jepang. Tentang semua yang ia pelajari.
Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan. Mereka saling mencintai.
Suatu malam, Novi dan Angga melakukan video call. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat wajah satu sama lain setelah berbulan-bulan.
"Novi!" sapa Angga dengan senyum lebar. "Kau terlihat cantik!"
"Angga!" Novi tersenyum. "Kau terlihat... lebih dewasa."
Angga tertawa. "Kuliah di Jepang membuatku lebih dewasa, katanya."
Mereka tertawa bersama. Untuk beberapa saat, mereka melupakan jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya menikmati kebersamaan.
"Aku merindukanmu, Novi," kata Angga. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," kata Novi. "Aku merindukan cokelat panasmu. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan pelukanmu."
"Tunggu aku, Novi," kata Angga. "Aku akan kembali. Aku berjanji."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Setelah video call, Novi merasa lebih baik. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata.
Ia menulis puisi tentang percakapan mereka. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau meneleponku. Dari seberang lautan. Suaramu terdengar seperti dulu. Hangat. Lembut. Penuh cinta. Aku menangis mendengarnya. Aku tersenyum mendengarnya. Aku merindukanmu. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya."
Minggu berikutnya, Novi dan Angga terus berkomunikasi. Mereka semakin dekat. Mereka semakin percaya satu sama lain.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi mulai merasa lebih optimis tentang masa depan. Ia percaya bahwa Angga akan kembali. Ia percaya bahwa mereka akan bersama.
Ia mulai menulis lebih banyak puisi tentang cinta dan harapan. Ia mulai berbagi puisinya dengan orang lain. Ia mulai membangun reputasi sebagai penulis muda yang berbakat.
"Novi, kau luar biasa," kata Rina suatu hari. "Kau sudah menjadi penulis sungguhan."
"Aku masih belajar," kata Novi. "Tapi aku senang dengan perkembangan ini."
"Kau harus terus menulis," kata Rina. "Kau punya bakat yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku akan terus menulis."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat fisik yang dikirim melalui pos. Ini adalah pertama kalinya ia menerima surat dari Angga setelah berbulan-bulan.
Novi membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada selembar kertas dengan tulisan tangan Angga yang rapi.
"Novi tersayang,
Aku menulis surat ini dengan tangan. Aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku serius tentang cintaku padamu. Aku serius tentang masa depan kita.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menyerah pada kita. Aku akan selalu berjuang untukmu.
Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji. Aku akan kembali padamu.
Tunggu aku. Aku akan segera pulang.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadanya. Angga serius. Angga tidak akan menyerah. Angga akan kembali.
Ia menulis balasan untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadaku.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku juga tidak akan pernah menyerah pada kita. Aku akan selalu berjuang untukmu.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Angga dan aku mulai berkomunikasi lagi. Kami saling mendukung. Kami saling menguatkan."
"Aku senang mendengarnya," kata ayahnya. "Kau pantas bahagia, Novi."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membaca surat-surat dari Angga. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan harapan. Surat-surat yang mengingatkannya bahwa cinta itu nyata. Bahwa cinta itu kuat. Bahwa cinta itu bisa bertahan, bahkan melintasi lautan dan waktu.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang pesan dari Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Pesan dari seberang lautan. Kata-kata yang penuh cinta. Aku membacanya berulang-ulang. Menangis. Tersenyum. Berharap. Kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku akan menunggumu. Sampai kau kembali."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XXXVIII
Panggilan Telepon
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang ponsel yang tergeletak di atas meja. Sudah seminggu sejak ia menerima pesan terakhir dari Angga. Seminggu sejak mereka mulai berkomunikasi lagi. Seminggu sejak ia merasakan harapan yang telah lama terkubur mulai tumbuh kembali di dalam hatinya.
Ia memegang ponsel itu, menatap layar yang gelap. Ia ingin menelepon Angga. Ia ingin mendengar suaranya. Ia ingin merasakan bahwa ia benar-benar ada. Bukan hanya melalui pesan-pesan singkat atau surat-surat yang membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk sampai. Ia ingin mendengar suaranya yang nyata, yang hangat, yang dulu selalu menenangkannya.
"Haruskah aku menelepon?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Atau aku harus menunggu dia yang meneleponku?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Novi teringat pada hari-hari ketika mereka masih bersama. Saat ia bisa mendengar suara Angga kapan saja. Saat ia bisa meneleponnya tanpa rasa canggung. Saat ia bisa mendengar tawanya dan merasakan kehangatan yang menyebar di seluruh tubuhnya.
"Tapi segalanya sudah berbeda sekarang," bisik Novi. "Jarak telah mengubah segalanya. Aku tidak tahu apakah aku masih bisa berbicara dengannya seperti dulu."
Novi meletakkan ponselnya dan berjalan ke jendela. Di luar, langit malam bertabur bintang. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumahnya yang kecil. Novi menatap bintang-bintang itu dan merasa bahwa ia bisa memahami perasaan mereka. Mereka juga sendirian. Mereka juga bersinar di kejauhan, tanpa ada yang benar-benar memperhatikan mereka.
"Aku merindukanmu, Angga," bisik Novi pada bintang-bintang. "Aku sangat merindukanmu."
Ia mendengar ponselnya bergetar. Ia berbalik dan berjalan ke meja. Di layar ponsel, terlihat nama Angga.
Novi terkejut. Ia tidak percaya. Angga meneleponnya.
Novi mengangkat telepon dengan tangan gemetar. "Halo?" suaranya bergetar.
"Novi?" suara Angga terdengar dari seberang. Suara yang hangat. Suara yang ia rindukan. Suara yang membuat hatinya berdebar kencang.
"Angga," kata Novi. "Aku... aku tidak percaya kau menelepon."
"Aku juga tidak percaya," kata Angga. "Aku sudah ingin meneleponmu sejak lama. Tapi aku takut. Aku takut kau akan marah. Aku takut kau akan kecewa. Aku takut kau akan melupakanku."
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Angga," kata Novi. "Aku tidak akan pernah marah padamu. Aku tidak akan pernah kecewa padamu. Aku hanya... aku hanya merindukanmu."
Mereka berbicara selama berjam-jam. Angga menceritakan tentang kehidupannya di Jepang. Tentang kuliahnya yang sibuk. Tentang pekerjaan paruh waktunya di sebuah kafe kecil di dekat kampus. Tentang teman-teman barunya yang baik hati. Tentang bagaimana ia belajar bahasa Jepang dengan susah payah.
Novi mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia ingin tahu semua tentang kehidupan Angga. Ia ingin merasa bahwa ia masih menjadi bagian dari hidupnya.
"Novi," kata Angga. "Aku rindu mendengar suaramu. Aku rindu bercerita padamu. Aku rindu semua yang kita bagi bersama."
"Aku juga merindukanmu, Angga," kata Novi. "Aku merindukan cokelat panasmu. Aku merindukan senyummu. Aku merindukan caramu memanggil namaku."
Mereka tertawa kecil. Untuk beberapa saat, mereka melupakan jarak yang memisahkan mereka. Mereka hanya menikmati kebersamaan yang tercipta melalui suara.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku minta maaf," kata Angga. "Aku minta maaf karena menghilang. Aku minta maaf karena tidak menulis. Aku minta maaf karena membuatmu khawatir."
"Kau tidak perlu minta maaf," kata Novi. "Aku mengerti. Aku tahu kau sibuk. Aku tahu kau punya banyak hal yang harus dilakukan."
"Tapi aku seharusnya tetap menghubungimu," kata Angga. "Aku seharusnya tetap memberimu kabar. Aku seharusnya tidak membuatmu menunggu tanpa kepastian."
Novi menangis. "Angga, aku hanya ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Aku akan selalu menunggumu."
Mereka berbicara tentang masa depan. Tentang apa yang akan terjadi setelah Angga selesai kuliah. Tentang apakah mereka akan bersama. Tentang bagaimana mereka akan mengatasi jarak.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku serius tentang kita. Aku serius tentang masa depan kita."
"Aku juga serius, Angga," kata Novi. "Aku serius tentang kita. Aku serius tentang masa depan kita."
"Aku akan kembali, Novi," kata Angga. "Aku berjanji. Aku akan kembali padamu."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Setelah menutup telepon, Novi duduk termenung. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bahagia. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata.
Ia menulis puisi tentang panggilan telepon itu. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau meneleponku. Dari seberang lautan. Suaramu terdengar seperti dulu. Hangat. Lembut. Penuh cinta. Aku menangis mendengarnya. Aku tersenyum mendengarnya. Aku merindukanmu. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya."
Minggu berikutnya, Novi dan Angga terus berkomunikasi. Mereka menelepon setiap hari. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau masih mencintaiku?" tanya Angga. "Setelah semua yang terjadi. Setelah semua jarak ini. Setelah semua keraguan ini. Apa kau masih mencintaiku?"
Novi menangis. "Aku selalu mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita."
Angga juga menangis. "Aku juga mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi mulai merasa lebih optimis tentang masa depan. Ia percaya bahwa Angga akan kembali. Ia percaya bahwa mereka akan bersama.
Ia mulai menulis lebih banyak puisi tentang cinta dan harapan. Ia mulai berbagi puisinya dengan orang lain. Ia mulai membangun reputasi sebagai penulis muda yang berbakat.
"Novi, kau luar biasa," kata Rina suatu hari. "Kau sudah menjadi penulis sungguhan."
"Aku masih belajar," kata Novi. "Tapi aku senang dengan perkembangan ini."
"Kau harus terus menulis," kata Rina. "Kau punya bakat yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku akan terus menulis."
Suatu malam, Novi menerima surat dari Angga. Surat fisik yang dikirim melalui pos. Ini adalah pertama kalinya ia menerima surat dari Angga setelah berbulan-bulan.
Novi membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada selembar kertas dengan tulisan tangan Angga yang rapi.
"Novi tersayang,
Aku menulis surat ini dengan tangan. Aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku serius tentang cintaku padamu. Aku serius tentang masa depan kita.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah menyerah pada kita. Aku akan selalu berjuang untukmu.
Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji. Aku akan kembali padamu.
Tunggu aku. Aku akan segera pulang.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadanya. Angga serius. Angga tidak akan menyerah. Angga akan kembali.
Ia menulis balasan untuk Angga.
"Angga tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadaku.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku juga tidak akan pernah menyerah pada kita. Aku akan selalu berjuang untukmu.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Angga dan aku mulai berkomunikasi lagi. Kami saling mendukung. Kami saling menguatkan."
"Aku senang mendengarnya," kata ayahnya. "Kau pantas bahagia, Novi."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membaca surat-surat dari Angga. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan harapan. Surat-surat yang mengingatkannya bahwa cinta itu nyata. Bahwa cinta itu kuat. Bahwa cinta itu bisa bertahan, bahkan melintasi lautan dan waktu.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang panggilan telepon dari Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Panggilan dari seberang lautan. Suara yang penuh cinta. Aku mendengarnya berulang-ulang. Menangis. Tersenyum. Berharap. Kau masih di sini. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku akan menunggumu. Sampai kau kembali."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XXXIX
Surat-Surat yang Tak Terbalas
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang tumpukan surat di atas meja. Surat-surat yang ia tulis untuk Angga selama berbulan-bulan. Surat-surat yang tidak pernah ia kirimkan. Surat-surat yang berisi semua perasaannya, semua kerinduannya, semua harapannya.
Novi mengambil satu surat dari tumpukan itu. Surat yang ia tulis sebulan setelah Angga pergi. Surat yang penuh dengan air mata dan kesedihan. Surat yang mengungkapkan semua rasa sakit yang ia rasakan.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini dengan air mata. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Aku tidak tahu bagaimana cara bertahan tanpamu. Aku tidak tahu bagaimana cara terus melangkah.
Setiap pagi, aku datang ke sekolah dan melihat meja kosong di depanku. Tidak ada cokelat panas. Tidak ada senyummu. Tidak ada suaramu. Aku merasa seperti kehilangan bagian dari diriku sendiri.
Tapi aku juga tahu bahwa aku harus kuat. Aku harus bertahan. Aku harus terus melangkah. Karena itu yang kau inginkan. Karena itu yang terbaik untuk kita.
Aku mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Novi"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia ingat saat ia menulis surat itu. Saat ia masih merasakan sakit yang mendalam. Saat ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Angga telah pergi.
"Tapi aku sudah berubah," bisik Novi. "Aku sudah tidak sama lagi dengan gadis yang menulis surat itu."
Ia meletakkan surat itu dan mengambil surat lain. Surat yang ia tulis tiga bulan setelah Angga pergi. Surat yang lebih tenang, lebih menerima, lebih penuh harapan.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini dengan senyum. Aku mulai menerima bahwa kau telah pergi. Aku mulai menerima bahwa aku harus melanjutkan hidup. Tapi aku juga mulai menyadari bahwa cinta kita tidak pernah pudar.
Aku menulis puisi tentang kita. Tentang cinta kita. Tentang semua yang kita bagi bersama. Aku mulai berbagi puisiku dengan orang lain. Aku mulai menemukan kembali kebahagiaanku.
Aku merindukanmu, Angga. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena aku pernah mencintaimu. Bahagia karena kau pernah mencintaiku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi membaca surat itu dan tersenyum. Ia ingat saat ia menulis surat itu. Saat ia mulai menemukan kembali kekuatannya. Saat ia mulai menerima bahwa ia bisa bahagia, bahkan tanpa Angga di sisinya.
"Aku sudah jauh," bisik Novi. "Aku sudah tidak sama lagi."
Ia meletakkan surat itu dan mengambil surat terakhir dari tumpukan itu. Surat yang ia tulis seminggu yang lalu, setelah ia menerima pesan dari Angga. Surat yang penuh dengan cinta dan harapan.
"Angga tersayang,
Aku menerima pesanmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadaku. Kau masih di sini. Kau masih mencintaiku.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku juga tahu bahwa cinta kita kuat. Cinta kita nyata. Cinta kita akan bertahan.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi membaca surat itu dan merasakan kehangatan di dadanya. Ia merasa bahwa ia telah tumbuh. Ia telah berubah. Ia telah menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih bijaksana, lebih penuh cinta.
"Surat-surat ini adalah perjalananku," bisik Novi. "Perjalanan dari kesedihan menuju penerimaan. Dari kehilangan menuju harapan. Dari rasa sakit menuju cinta."
Ia mengumpulkan semua surat itu dan memasukkannya ke dalam kotak kayu bersama dengan surat-surat dari Angga. Ia ingin menyimpan semua surat cinta di tempat yang sama. Surat dari Angga. Surat dari dirinya sendiri. Semua cinta yang pernah ia rasakan.
Malam itu, Novi menulis surat baru untuk Angga. Surat yang akan ia kirimkan. Surat yang berisi semua yang ia rasakan. Surat yang jujur dan tulus.
"Angga tersayang,
Aku menulis surat ini untukmu. Surat yang akan aku kirimkan. Surat yang berisi semua yang aku rasakan.
Aku mencintaimu, Angga. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Tidak peduli apa yang terjadi. Tidak peduli seberapa jauh jarak yang memisahkan kita.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku juga tahu bahwa cinta kita kuat. Cinta kita nyata. Cinta kita akan bertahan.
Aku akan menunggumu, Angga. Aku akan selalu menunggumu. Sampai kau kembali.
Tapi aku juga ingin kau tahu bahwa aku baik-baik saja. Aku bahagia. Aku menemukan kembali diriku sendiri. Aku menulis puisi. Aku bermimpi. Aku hidup.
Aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Tapi aku juga tidak akan pernah berhenti hidup.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Beberapa minggu kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan cinta.
"Novi tersayang,
Aku menerima suratmu. Dan aku menangis membacanya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadaku. Kau masih di sini. Kau masih mencintaiku.
Aku juga mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Aku tahu jarak ini sulit. Aku tahu kita berdua sering meragukan. Tapi aku juga tahu bahwa cinta kita kuat. Cinta kita nyata. Cinta kita akan bertahan.
Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji. Aku akan kembali padamu.
Tapi aku juga ingin kau tahu bahwa aku bangga padamu. Aku bangga karena kau kuat. Aku bangga karena kau bertahan. Aku bangga karena kau terus hidup.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
"Angga," bisik Novi. "Aku juga bangga padamu. Aku bangga karena kau mengejar mimpimu. Aku bangga karena kau tidak pernah menyerah. Aku bangga karena kau mencintaiku."
Novi dan Angga terus berkomunikasi. Surat-surat mereka menjadi lebih sering, lebih panjang, lebih penuh cinta. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing. Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan.
"Novi," kata Angga dalam salah satu suratnya. "Aku ingin kau tahu bahwa kau adalah alasan aku terus berjuang. Kau adalah alasan aku terus bermimpi. Kau adalah alasan aku terus hidup."
Novi menangis membaca surat itu. "Angga," bisiknya. "Kau juga adalah alasan aku terus berjuang. Kau adalah alasan aku terus bermimpi. Kau adalah alasan aku terus hidup."
Suatu malam, Novi dan Angga melakukan video call. Mereka berbicara tentang surat-surat mereka. Tentang perasaan mereka. Tentang masa depan.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi mulai mengumpulkan semua suratnya. Surat-surat yang ia tulis untuk Angga. Surat-surat yang ia terima dari Angga. Ia ingin menyimpannya sebagai kenangan. Sebagai bukti bahwa cinta itu nyata. Bahwa cinta itu kuat. Bahwa cinta itu bisa bertahan, bahkan melintasi lautan dan waktu.
Ia membeli sebuah kotak kayu yang indah. Kotak itu diukir dengan bunga-bunga kecil dan hati-hati. Ia menaruh semua surat di dalam kotak itu. Surat dari Angga. Surat dari dirinya sendiri. Semua cinta yang pernah ia rasakan.
"Novi," kata Rina suatu hari. "Aku melihat kotak itu. Apa isinya?"
"Surat-surat," kata Novi. "Surat-surat dari Angga. Surat-surat yang aku tulis untuknya. Semua cinta yang pernah aku rasakan."
Rina tersenyum. "Itu indah, Novi. Kau menyimpan semua cinta itu."
"Aku ingin mengingat," kata Novi. "Aku ingin mengingat bahwa cinta itu nyata. Bahwa cinta itu kuat. Bahwa cinta itu bisa bertahan."
"Kau benar," kata Rina. "Cinta itu nyata. Cinta itu kuat. Cinta itu bisa bertahan."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang surat-suratnya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Surat-surat yang tak terbalas. Surat-surat yang penuh cinta. Aku menyimpannya di dalam kotak. Di dalam hatiku. Selamanya. Mereka mengingatkanku pada perjalananku. Dari kesedihan menuju penerimaan. Dari kehilangan menuju harapan. Dari rasa sakit menuju cinta. Aku bersyukur memiliki surat-surat ini. Karena mereka mengingatkanku bahwa cinta itu nyata. Bahwa cinta itu kuat. Bahwa cinta itu bisa bertahan."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan.
"Novi," kata ayahnya suatu hari. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku mulai menerima bahwa Angga telah pergi. Aku mulai menerima bahwa aku harus melanjutkan hidup. Tapi aku juga mulai menyadari bahwa cinta kita tidak pernah pudar."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Malam itu, Novi membuka kotak kayu yang berisi surat-suratnya. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat dari Angga. Surat-surat dari dirinya sendiri. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan harapan.
Novi tersenyum. Ia merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu.
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XL
Novi Jatuh Sakit
Malam itu, Novi terbangun dari tidurnya dengan tubuh yang terasa panas. Kepalanya berdenyut-denyut seperti ada palu kecil yang memukul dari dalam, tenggorokannya terasa kering dan perih seperti tertutup pasir, dan seluruh tubuhnya terasa lemas seperti tidak bertenaga. Ia mencoba untuk bangkit, tetapi tubuhnya tidak mau menurut. Otot-ototnya terasa seperti kapas, tidak ada kekuatan sama sekali. Ia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya, merasakan panas yang menjalar di seluruh tubuhnya.
"Aku sakit," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku benar-benar sakit."
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali ia merasakan sakit seperti ini. Mungkin sudah bertahun-tahun yang lalu, saat ia masih kecil dan ibunya masih ada untuk merawatnya. Sejak ibunya pergi, Novi belajar untuk merawat dirinya sendiri. Tetapi malam ini, ia merasa terlalu lemah untuk melakukan apa pun. Ia bahkan tidak bisa mengangkat tangannya untuk meraih segelas air di samping tempat tidurnya.
Novi memejamkan mata. Ia merasakan dingin yang menggigit di balik panas yang membakar tubuhnya. Ia menggigil, menarik selimut lebih erat di sekeliling tubuhnya, tetapi selimut itu terasa tidak cukup. Pikirannya mulai kabur, bercampur antara kenyataan dan mimpi. Kadang ia melihat Angga. Kadang ia melihat ibunya. Kadang ia melihat semua orang yang pernah ia cintai dan kehilangan, berbaris di hadapannya seperti hantu-hantu masa lalu.
"Angga," bisik Novi. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."
"Tapi kau yang memilih untuk merindukan," bisik suara dalam kepalanya. "Kau yang memilih untuk terus mencintainya meskipun ia pergi. Dan sekarang kau di sini, sakit dan sendirian."
Novi menggigit bibirnya. "Berhenti," bisiknya pada suara itu. "Berhenti menyiksaku."
Keesokan paginya, Novi tidak bisa bangun. Tubuhnya terasa berat seperti ditimpa batu, dan panasnya tidak kunjung turun. Wajahnya memerah, keringat dingin membasahi tubuhnya, dan napasnya terasa pendek. Ayahnya yang hendak pergi bekerja melihat kamar Novi masih gelap dan langsung curiga. Biasanya, Novi sudah bangun dan bersiap-siap untuk sekolah. Tetapi pagi ini, tidak ada suara dari kamarnya.
"Novi? Kau belum bangun?" tanya ayahnya dari balik pintu.
Tidak ada jawaban. Hanya keheningan yang mencekam. Ayahnya mengetuk pintu lebih keras.
"Novi? Kau di sana?"
Masih tidak ada jawaban. Ayahnya membuka pintu dan melihat Novi terbaring di tempat tidur dengan wajah yang memerah karena demam. Selimutnya basah oleh keringat, rambutnya menempel di dahinya. Ia terlihat sangat lemah, sangat rapuh, seperti boneka yang ditinggalkan.
Ayahnya bergegas mendekat dan meletakkan tangannya di kening Novi. Panasnya begitu tinggi sehingga ayahnya menarik tangannya dengan cepat.
"Kau demam, Nak," kata ayahnya dengan cemas, suaranya bergetar. "Aku akan membawamu ke dokter. Sekarang."
Novi membuka matanya dengan susah payah. Matanya terlihat sayu, tidak fokus. "Aku tidak bisa, Ayah. Aku terlalu lemas."
"Kau tidak perlu berjalan," kata ayahnya. "Aku akan menggendongmu."
Tanpa menunggu jawaban, ayahnya mengangkat Novi dengan hati-hati. Tubuh Novi terasa ringan di tangannya, terlalu ringan. Ayahnya merasakan tulang-tulangnya yang menonjol, tanda bahwa ia sudah terlalu lama tidak makan dengan baik.
"Aku telah mengabaikannya," pikir ayahnya dengan penyesalan. "Aku telah mengabaikan putriku sendiri."
Di klinik, dokter memeriksa Novi dengan teliti. Ia memeriksa suhu tubuhnya, mendengarkan napasnya, memeriksa tenggorokannya yang merah. Setelah beberapa menit, ia menatap ayah Novi dengan ekspresi serius.
"Novi mengalami demam yang cukup tinggi," kata dokter, suaranya tegas. "Tubuhnya sangat lemah. Sepertinya ia kelelahan dan kurang istirahat. Juga tampaknya ia kekurangan gizi. Apakah ada sesuatu yang membuatnya stres akhir-akhir ini?"
Ayah Novi menghela napas panjang. Dadanya terasa sesak. "Dia baru saja melalui perpisahan yang sulit. Pacarnya pergi ke Jepang beberapa bulan yang lalu. Dia sangat terpukul. Aku pikir dia sudah mulai pulih, tetapi ternyata..."
Dokter mengangguk, matanya penuh pengertian. "Itu bisa menjadi penyebabnya. Stres emosional dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh secara drastis. Apalagi jika disertai dengan kurangnya asupan makanan bergizi dan kurang tidur. Novi perlu istirahat total, minimal satu minggu. Ia juga perlu makan makanan bergizi dan minum air yang cukup. Saya akan meresepkan beberapa obat untuk menurunkan demamnya dan multivitamin untuk memulihkan kondisi tubuhnya."
Novi mendengar percakapan itu dari tempat tidur klinik. Kata-kata dokter terasa seperti tamparan di wajahnya. Ia merasa bersalah karena telah membuat ayahnya khawatir. Ia juga merasa bersalah karena masih belum bisa move on dari Angga. Ia merasa bersalah karena telah mengabaikan dirinya sendiri.
"Aku telah melakukan ini pada diriku sendiri," pikir Novi. "Aku yang memilih untuk terus meratapi kepergiannya. Aku yang memilih untuk berhenti merawat diriku sendiri. Dan sekarang, aku di sini, lemah dan sakit."
"Maaf, Ayah," bisik Novi, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku tidak bermaksud membuatmu khawatir."
Ayahnya meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Kau tidak perlu minta maaf, Novi. Yang penting sekarang kau sembuh."
Ayah Novi membawanya pulang dan merawatnya dengan penuh perhatian. Ia membuat sup ayam seperti yang dulu sering dibuat oleh ibunya. Ia menyiapkan obat-obatan di atas meja samping tempat tidur dengan rapi. Ia memastikan Novi minum air yang cukup, mengganti kompres di keningnya setiap jam. Ia duduk di samping tempat tidur Novi, menatap putrinya dengan mata yang penuh kasih dan penyesalan.
"Novi," kata ayahnya, suaranya lembut tetapi berat. "Aku ingin kau tahu bahwa aku di sini. Aku selalu di sini. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku minta maaf karena selama ini aku terlalu sibuk. Aku minta maaf karena tidak menyadari bahwa kau menderita."
Novi menangis. Air mata mengalir di pipinya yang panas. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Ayah. Aku merasa begitu lemah. Aku merasa tidak bisa bangkit. Aku merasa bahwa semua yang aku lakukan tidak berarti."
"Kau tidak perlu bangkit sekarang," kata ayahnya, mengusap air mata Novi dengan lembut. "Kau hanya perlu istirahat. Kau hanya perlu sembuh. Dan ketika kau sudah kuat, kau bisa bangkit. Tapi untuk sekarang, biarkan dirimu pulih dulu. Semua akan baik-baik saja."
Novi memegang tangan ayahnya. Tangannya dingin dan lemah, tetapi ada kekuatan di dalam genggamannya. "Terima kasih, Ayah. Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Aku benar-benar tidak bisa."
Malam itu, Novi terbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Obat yang diberikan dokter mulai bekerja, tetapi panasnya masih terasa. Pikirannya terus melayang pada Angga. Ia merindukannya. Ia merindukan cokelat panasnya. Ia merindukan senyumnya. Ia merindukan caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Angga," bisik Novi. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."
Ia mengambil ponselnya dengan susah payah. Tangannya gemetar. Ia menulis pesan untuk Angga.
"Angga, aku sakit. Aku demam. Aku merasa sangat lemah. Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Tolong katakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tolong katakan padaku bahwa kau masih mencintaiku. Aku merasa seperti semuanya runtuh. Aku merasa seperti aku tidak bisa bertahan tanpa kau."
Novi mengirimkan pesan itu dan menunggu. Ia menunggu balasan dari Angga. Ia menunggu kata-kata yang akan menghiburnya. Ia menunggu cinta yang akan menyembuhkannya. Ia menatap layar ponselnya, berharap ada balasan yang segera datang.
"Tapi bagaimana jika ia tidak membalas?" pikir Novi. "Bagaimana jika ia terlalu sibuk? Bagaimana jika ia sudah bosan dengan semua drama ini?"
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar. Balasan dari Angga. Novi membacanya dengan mata berair.
"Novi, aku mendengar kau sakit. Aku sangat khawatir. Sangat khawatir. Tolong jaga dirimu. Tolong istirahat yang cukup. Tolong minum obatmu. Tolong makan yang bergizi. Aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu. Semua akan baik-baik saja. Aku di sini. Aku selalu di sini. Jangan pernah ragu akan cintaku."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasakan kehangatan di dadanya, kehangatan yang menembus demam yang membakar tubuhnya. Angga masih mencintainya. Angga masih peduli padanya. Angga masih ada untuknya. Bahkan dari seberang lautan, ia masih ada.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu."
"Dan aku akan sembuh," bisiknya dalam hati. "Aku akan sembuh untukmu. Aku akan sembuh untuk diriku sendiri. Aku akan sembuh untuk kita."
Keesokan harinya, Novi merasa sedikit lebih baik. Panasnya mulai turun, meskipun masih ada. Ia bisa duduk di tempat tidur dan minum sup yang dibuat ayahnya. Sup ayam yang hangat terasa menenangkan tenggorokannya yang perih. Ia masih lemas, tetapi ia merasa bahwa ia mulai pulih. Ada sedikit cahaya di ujung terowongan.
Rina datang menjenguknya. Ia membawa buah-buahan segar dan buku-buku puisi untuk Novi. Matanya penuh kekhawatiran.
"Novi, aku mendengar kau sakit. Aku langsung datang. Bagaimana perasaanmu?" tanya Rina, duduk di tepi tempat tidur.
"Aku merasa sedikit lebih baik," kata Novi. "Panasku mulai turun. Tapi aku masih lemas."
"Aku senang mendengarnya," kata Rina. "Tapi kau harus istirahat total. Kau tidak boleh memaksakan diri. Dokter bilang kau harus istirahat seminggu penuh."
"Aku tahu," kata Novi. "Aku akan beristirahat."
Rina duduk di samping tempat tidur Novi, menggenggam tangannya. Wajahnya serius. "Novi, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku tahu ini sulit," kata Rina. "Aku tahu kau merindukan Angga. Aku tahu kau sedang berjuang. Tapi kau harus menjaga dirimu sendiri. Kau tidak bisa terus meratapi kepergiannya. Kau tidak bisa terus mengabaikan kesehatannya. Kau harus bangkit. Kau harus terus hidup. Dan kau harus melakukannya untuk dirimu sendiri."
Novi menangis. "Aku tahu, Rin. Aku tahu aku harus bangkit. Tapi rasanya sulit. Rasanya sangat sulit. Aku merasa seperti kehilangan bagian dari diriku sendiri."
"Aku tahu," kata Rina, suaranya lembut. "Tapi kau tidak sendirian. Aku di sini. Ayahmu di sini. Kami akan selalu ada untukmu. Dan Angga? Dia juga ada, meskipun jarak memisahkan. Dia mencintaimu. Dan cintanya tidak akan hilang hanya karena kau sakit."
Novi memeluk Rina. "Terima kasih, Rin. Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan tanpamu."
Novi menghabiskan beberapa hari berikutnya untuk beristirahat. Ia tidak pergi ke sekolah. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya, membaca buku, menulis puisi, dan merenung. Ayahnya memasak untuknya setiap hari. Rina menjenguknya setiap sore. Angga mengirim pesan setiap malam.
Namun di suatu malam, ketika semua orang sudah tidur, Novi terbangun dengan perasaan yang aneh. Bukan demam. Bukan rasa sakit fisik. Tetapi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih dalam.
Ia mulai menyadari bahwa ia telah mengabaikan kesehatannya. Ia telah mengabaikan dirinya sendiri. Ia telah terlalu fokus pada rasa sakitnya, terlalu tenggelam dalam kesedihannya, terlalu sibuk meratapi kepergian Angga sehingga ia lupa untuk merawat dirinya sendiri. Ia lupa makan dengan teratur. Ia lupa tidur yang cukup. Ia lupa bahwa tubuhnya juga butuh perhatian.
"Apa yang telah kulakukan pada diriku sendiri?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku telah menjadi bayangan dari diriku yang dulu."
Ia menatap tangannya yang kurus, tulang-tulangnya yang menonjol. Ia menatap bayangannya di cermin yang retak di seberang kamar. Gadis di hadapannya terlihat asing. Matanya cekung. Pipinya tirus. Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
"Aku harus berubah," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku harus mulai merawat diriku sendiri. Aku harus mulai hidup. Aku tidak bisa terus seperti ini."
Novi mulai makan makanan bergizi. Sup ayam, sayuran, buah-buahan. Ia mulai minum air yang cukup, delapan gelas sehari. Ia mulai tidur lebih awal, tidak begadang memikirkan Angga. Ia mulai merawat dirinya sendiri dengan lebih baik, mandi teratur, mengganti pakaiannya yang kotor.
"Novi, kau terlihat lebih baik," kata ayahnya suatu hari. Wajahnya cerah untuk pertama kalinya dalam beberapa hari. "Aku senang melihatmu merawat dirimu sendiri."
"Aku sadar bahwa aku telah mengabaikan diriku sendiri," kata Novi. "Aku terlalu fokus pada rasa sakitku sehingga aku lupa untuk merawat diriku sendiri. Tapi aku tidak akan lagi. Aku akan merawat diriku sendiri. Aku akan hidup. Aku akan menjadi lebih baik. Untuk diriku sendiri. Untuk Angga. Untuk Ayah."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya, matanya berkaca-kaca. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang bijaksana. Aku sangat bangga."
Suatu malam, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah sembuh? Aku memikirkanmu setiap hari. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Tolong jaga dirimu untukku."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku sudah sembuh, Angga. Aku mulai merawat diriku sendiri. Aku mulai hidup. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu. Dan aku berjanji, aku tidak akan mengabaikan diriku sendiri lagi."
Novi mulai menulis puisi tentang proses penyembuhannya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Ia menulis bukan hanya untuk Angga, tetapi untuk dirinya sendiri.
"Aku jatuh sakit. Tubuhku lemah. Pikiranku kabur. Aku merasa seperti tidak akan pernah bangkit. Tapi aku bangkit. Aku sembuh. Aku belajar. Aku belajar bahwa aku harus merawat diriku sendiri. Aku belajar bahwa aku harus hidup. Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa rasa sakit tidak akan bertahan selamanya. Dan aku belajar bahwa aku pantas bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan. Air mata penyembuhan.
Novi mulai kembali ke sekolah. Udara segar terasa menyegarkan. Ia bertemu dengan Rina di gerbang. Rina tersenyum padanya, senyum yang tulus dan hangat.
"Novi, kau terlihat lebih baik," kata Rina. "Aku senang melihatmu kembali. Kau terlihat seperti dirimu yang dulu."
"Aku merasa lebih baik," kata Novi. "Aku mulai merawat diriku sendiri. Aku mulai hidup. Aku mulai menjadi diriku yang dulu."
"Aku bangga padamu," kata Rina. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Kau adalah alasan aku masih di sini."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri. Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu.
"Novi, kau benar-benar berbeda hari ini," bisik Rina. "Aku suka melihatmu seperti ini. Kau terlihat seperti cahaya."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang baru," kata Novi. "Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih bahagia. Aku lelah menjadi bayangan. Aku ingin menjadi cahaya."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu. Selamanya."
Malam itu, Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan cerita tentang proses penyembuhannya. Tentang semua yang ia pelajari.
"Angga tersayang,
Aku ingin bercerita tentang proses penyembuhanku. Aku jatuh sakit. Aku merasa sangat lemah. Aku merasa seperti semuanya runtuh. Tapi aku bangkit. Aku sembuh. Aku belajar untuk merawat diriku sendiri. Aku belajar untuk hidup.
Aku menyadari bahwa aku telah mengabaikan diriku sendiri. Aku terlalu fokus pada rasa sakitku sehingga aku lupa untuk merawat diriku sendiri. Tapi aku tidak akan lagi. Aku akan merawat diriku sendiri. Aku akan hidup. Aku akan menjadi lebih baik. Untuk diriku sendiri. Untukmu. Untuk kita.
Aku merindukanmu, Angga. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Bahagia karena aku mulai hidup. Bahagia karena aku tahu kau di sana, mencintaiku.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu keesokan harinya. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah jujur pada Angga. Ia telah mengatakan semua yang ia rasakan.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang perjalanan penyembuhannya. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari.
"Aku jatuh sakit. Aku bangkit. Aku sembuh. Aku belajar. Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa rasa sakit tidak akan bertahan selamanya. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku. Aku akan terus melangkah. Aku akan terus hidup. Karena hidup ini berharga. Dan aku pantas bahagia. Aku belajar bahwa mencintai diriku sendiri adalah langkah pertama untuk mencintai orang lain. Dan aku belajar bahwa aku layak dicintai. Oleh diriku sendiri. Olehmu. Oleh dunia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan. Air mata penyembuhan. Air mata cinta untuk dirinya sendiri.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu. Tapi kali ini, aku akan menunggumu dengan lebih kuat. Dengan lebih sehat. Dengan lebih utuh. Karena aku layak bahagia. Dan aku akan bahagia."
BAB XLI
Novi Mulai Menulis Buku
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang tumpukan kertas di atas meja. Di sana, ada puluhan puisi yang ia tulis selama berbulan-bulan. Puisi tentang cinta dan kehilangan. Puisi tentang harapan dan kesedihan. Puisi tentang perjalanannya yang panjang dari rasa sakit menuju penerimaan.
Novi mengambil satu puisi dari tumpukan itu. Puisi yang ia tulis beberapa minggu setelah Angga pergi. Puisi yang penuh dengan air mata dan kerinduan.
"Aku di sini, menunggu. Di bawah langit yang sama. Di bawah bintang yang sama. Menunggu kau kembali. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri dan tersenyum. Ia telah jauh. Ia telah berubah. Ia tidak lagi sama dengan gadis yang menulis puisi itu. Gadis itu masih penuh dengan rasa sakit dan keraguan. Gadis itu masih belum percaya bahwa ia bisa bahagia tanpa Angga di sisinya.
"Tapi aku sudah berubah," bisik Novi. "Aku sudah tidak sama lagi."
Novi mulai mengumpulkan semua puisinya. Ia menyusunnya berdasarkan urutan waktu. Dari puisi pertama yang ia tulis tentang Angga, hingga puisi terakhir yang ia tulis tentang kebangkitan dan harapan. Ia membaca setiap puisi dengan penuh perhatian. Ia merasakan setiap emosi yang ia tuangkan ke dalam kata-kata itu.
"Aku ingin membuat buku," bisik Novi. "Aku ingin mengumpulkan semua puisiku dalam satu buku. Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan."
Ia merasa bahwa ini adalah langkah yang tepat. Ini adalah cara untuk mengabadikan semua yang ia rasakan. Ini adalah cara untuk berbagi ceritanya dengan orang lain. Ini adalah cara untuk menyembuhkan dirinya sendiri.
Novi mulai menulis kata pengantar untuk bukunya. Ia ingin menjelaskan kepada pembaca apa yang mendorongnya untuk menulis puisi-puisi ini. Ia ingin berbagi perjalanannya, semua yang ia alami, semua yang ia pelajari.
"Buku ini adalah tentang perjalananku. Perjalanan dari rasa sakit menuju penerimaan. Dari kehilangan menuju harapan. Dari keraguan menuju cinta.
Aku menulis puisi-puisi ini saat aku sedang merasakan sakit yang mendalam. Saat aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Saat aku merasa bahwa dunia ini runtuh.
Tapi aku juga menulis puisi-puisi ini saat aku mulai bangkit. Saat aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Saat aku mulai menyadari bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku.
Buku ini adalah tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang harapan. Tentang kebangkitan. Tentang semua yang aku pelajari selama perjalananku.
Semoga buku ini bisa menginspirasi kalian. Semoga buku ini bisa menghibur kalian. Semoga buku ini bisa mengingatkan kalian bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kalian rasakan, kalian bisa bangkit. Kalian bisa bertahan. Kalian bisa bahagia."
Novi menghabiskan beberapa minggu berikutnya untuk menyusun bukunya. Ia mengedit puisinya, memilih puisi-puisi terbaik, dan menambahkan beberapa puisi baru yang ia tulis tentang proses penyembuhannya.
"Novi, apa yang kau lakukan?" tanya Rina suatu hari ketika ia mengunjungi rumah Novi.
"Aku sedang menyusun buku," kata Novi. "Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan."
Rina terkejut. "Kau serius? Kau akan menerbitkan buku?"
"Aku akan mencoba," kata Novi. "Aku ingin berbagi ceritaku dengan orang lain. Aku ingin menginspirasi orang lain yang mungkin sedang mengalami hal yang sama."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Novi mulai mencari penerbit untuk bukunya. Ia mengirimkan naskahnya ke beberapa penerbit kecil. Ia tidak berharap banyak. Ia hanya ingin karyanya dibaca. Ia hanya ingin ceritanya didengar.
"Novi, bagaimana kabarmu?" tanya ayahnya suatu hari.
"Aku baik-baik saja, Ayah," kata Novi. "Aku sedang menyusun buku. Buku tentang perjalananku."
Ayahnya tersenyum. "Aku bangga padamu, Nak. Kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Beberapa minggu kemudian, Novi menerima kabar yang membuatnya sangat bahagia. Sebuah penerbit kecil tertarik untuk menerbitkan bukunya.
"Novi, selamat!" seru Rina ketika ia mendengar kabar itu. "Kau akan menjadi penulis sungguhan!"
"Aku tidak percaya," kata Novi. "Aku benar-benar tidak percaya."
"Ini nyata, Novi," kata Rina. "Kau akan menerbitkan buku. Kau akan menjadi penulis."
Novi menangis. Ia tidak bisa menahan air matanya. Ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Ini adalah bukti bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.
Novi mulai bekerja sama dengan penerbit untuk menyelesaikan bukunya. Ia mengedit puisinya, memilih sampul yang tepat, dan menulis bio singkat tentang dirinya. Ia merasa bahwa ini adalah salah satu momen terpenting dalam hidupnya.
"Novi, apa judul bukumu?" tanya Rina.
Novi berpikir sejenak. "Aku akan memberinya judul 'Aku Datang, Kau Pergi'. Itu adalah judul yang sempurna untuk perjalananku."
"Aku suka judul itu," kata Rina. "Itu sangat bermakna."
Novi menulis puisi baru untuk bukunya. Puisi tentang proses penerbitan bukunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menulis buku. Tentang perjalananku. Tentang cinta dan kehilangan. Tentang harapan dan kebangkitan. Aku membagikan ceritaku. Dengan dunia. Aku berharap bisa menginspirasi. Aku berharap bisa menghibur. Aku berharap bisa mengingatkan. Bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kita rasakan, kita bisa bangkit. Kita bisa bertahan. Kita bisa bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Novi mulai mempersiapkan peluncuran bukunya. Ia mengundang Rina, ayahnya, dan beberapa teman dekatnya. Ia ingin berbagi momen bahagia ini dengan orang-orang yang ia cintai.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata Rina. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
"Aku juga bahagia untukmu, Nak," kata ayahnya. "Kau telah membuktikan bahwa kau kuat. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Hari peluncuran buku tiba. Novi berdiri di depan toko buku yang ramai, memegang buku pertamanya dengan tangan gemetar. Ia merasa campuran antara gugup, bahagia, dan tidak percaya.
"Selamat, Novi!" seru Rina dari kerumunan.
"Terima kasih, Rin!" kata Novi.
Novi mulai membacakan beberapa puisinya di depan para pengunjung. Ia membaca tentang cinta, tentang kehilangan, tentang harapan, tentang kebangkitan. Ia membaca dengan penuh perasaan, dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Ketika ia selesai, semua orang bertepuk tangan. Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia telah berbagi ceritanya dengan dunia. Ia telah menginspirasi orang lain.
Setelah acara peluncuran, Novi duduk di kamarnya, memegang buku pertamanya. Ia menatap sampulnya dengan penuh kebanggaan.
"Aku berhasil," bisik Novi. "Aku benar-benar berhasil."
Ia membuka buku itu dan membaca beberapa puisinya. Ia merasakan semua emosi yang ia tuangkan ke dalam kata-kata itu. Ia merasakan semua perjalanan yang telah ia lalui.
Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan cerita tentang bukunya.
"Angga tersayang,
Aku ingin bercerita tentang bukuku. Aku telah menerbitkan buku. Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan.
Aku menulis buku ini untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku ingin kau tahu bahwa cinta kita tidak pernah sia-sia. Cinta kita mengajariku banyak hal. Cinta kita membuatku menjadi diriku yang sekarang.
Aku merindukanmu, Angga. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena aku telah mencapai mimpiku. Bahagia karena aku telah berbagi ceritaku dengan dunia.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dan satu eksemplar bukunya ke Angga. Ia ingin Angga membaca puisinya. Ia ingin Angga tahu bahwa ia telah berhasil. Ia ingin Angga bangga padanya.
Beberapa minggu kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku menerima bukumu. Dan aku membacanya. Aku membacanya dari awal sampai akhir. Aku menangis membacanya. Aku tersenyum membacanya. Aku merasakan semua yang kau rasakan.
Aku sangat bangga padamu, Novi. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Kau telah berbagi ceritamu dengan dunia. Kau telah menginspirasi banyak orang.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang bukunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menulis buku. Tentang perjalananku. Tentang cinta dan kehilangan. Tentang harapan dan kebangkitan. Aku membagikan ceritaku dengan dunia. Aku berharap bisa menginspirasi. Aku berharap bisa menghibur. Aku berharap bisa mengingatkan. Bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kita rasakan, kita bisa bangkit. Kita bisa bertahan. Kita bisa bahagia. Ini adalah bukuku. Ini adalah ceritaku. Ini adalah hidupku."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan.
BAB XLII
Ibu Novi Muncul Kembali
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang aneh. Ada semacam firasat di dadanya, semacam kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat tenang, tetapi ada semacam kegelisahan di matanya.
"Ada sesuatu yang akan terjadi," bisik Novi pada bayangannya. "Aku tidak tahu apa, tapi aku bisa merasakannya."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah seperti biasa. Sepanjang perjalanan, ia terus memikirkan firasat itu. Apa yang akan terjadi? Apakah sesuatu yang baik? Apakah sesuatu yang buruk?
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya, tetapi Novi tidak bisa membalas senyum itu.
"Novi, ada apa?" tanya Rina. "Kau kelihatan gelisah."
"Aku tidak tahu, Rin," kata Novi. "Aku merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Aku tidak tahu apa. Tapi aku merasa gelisah."
Rina memegang tangan Novi. "Mungkin kau hanya cemas. Semua akan baik-baik saja."
"Aku harap begitu," kata Novi.
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada firasat itu. Ia mencoba untuk mengabaikannya, tetapi tidak bisa. Ada sesuatu yang mengganggunya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menenangkan pikirannya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi menatap sinar matahari itu dan mencoba untuk merasa tenang.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang firasatnya. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Ada sesuatu di udara. Sesuatu yang tidak bisa aku jelaskan. Sesuatu yang mengganggu pikiranku. Sesuatu yang membuatku gelisah. Aku tidak tahu apa itu. Tapi aku merasakannya. Di dalam hatiku. Di dalam jiwaku. Ada sesuatu yang akan terjadi."
Novi membaca puisinya sendiri. Ia merasakan bahwa puisi itu adalah ekspresi dari kegelisahannya. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, tetapi ia merasakan bahwa itu akan segera datang.
Pulang sekolah, Novi berjalan pulang dengan langkah berat. Ia masih memikirkan firasatnya. Ia mencoba untuk menenangkan dirinya, tetapi tidak bisa.
Di depan rumahnya, Novi berhenti. Ada sesuatu yang tidak biasa. Di teras rumahnya, duduk seorang wanita. Wanita itu tua, kurus, dengan rambut memutih dan pakaian sederhana. Novi hampir tidak mengenalinya.
"Ibu?" bisik Novi. "Apa itu Ibu?"
Wanita itu berdiri. Matanya berkaca-kaca. "Novi," katanya dengan suara bergetar. "Aku pulang."
Novi terkejut. Ia tidak percaya. Wanita itu adalah ibunya. Ibu yang pergi sepuluh tahun lalu. Ibu yang meninggalkannya tanpa pamit. Ibu yang tidak pernah memberi kabar.
"Kau... apa yang kau lakukan di sini?" tanya Novi dengan suara dingin.
"Aku minta maaf, Novi," kata ibunya. "Aku pulang untuk meminta maaf. Aku tahu aku tidak pantas di sini. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Meskipun aku pergi."
Novi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap ibunya dengan perasaan campur aduk. Marah. Sedih. Bingung. Tidak percaya.
"Kenapa kau pergi, Bu?" tanya Novi akhirnya. "Kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau tidak pernah memberi kabar?"
Ibunya menangis. "Aku tidak berani, Novi. Aku tidak berani berkata jujur padamu. Aku sakit. Aku depresi. Aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku pergi karena aku tidak mau menjadi beban. Tapi aku bodoh. Aku seharusnya tetap di sisimu."
Novi menangis. "Aku tidak percaya, Bu. Aku tidak percaya kau kembali."
"Aku tahu ini sulit," kata ibunya. "Aku tahu kau marah. Aku tahu kau kecewa. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
Novi masuk ke rumah dan duduk di ruang tamu. Ibunya mengikuti di belakangnya. Mereka duduk berhadapan, saling menatap dengan mata yang penuh dengan perasaan.
"Aku tidak tahu harus berkata apa," kata Novi. "Aku sudah memaafkanmu, Bu. Aku sudah memaafkanmu sejak lama. Tapi aku masih merasa sakit. Aku masih merasa kecewa."
"Aku mengerti," kata ibunya. "Aku tidak berharap kau langsung menerimaku. Aku hanya ingin meminta maaf. Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Bu. Aku selalu mencintaimu. Meskipun aku marah. Meskipun aku kecewa. Aku selalu mencintaimu."
Novi dan ibunya berbicara berjam-jam. Mereka berbicara tentang masa lalu. Tentang kepergian ibu. Tentang semua yang terjadi setelah itu.
"Aku pergi karena aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri," kata ibunya. "Aku depresi. Aku tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku tidak bisa merawatmu. Aku merasa bahwa aku adalah ibu yang buruk. Dan aku pikir, jika aku pergi, kau akan lebih baik."
"Tapi aku tidak lebih baik, Bu," kata Novi. "Aku merasa ditinggalkan. Aku merasa tidak dicintai. Aku merasa bahwa aku tidak cukup baik."
"Kau cukup baik, Novi," kata ibunya. "Kau selalu cukup baik. Aku yang tidak cukup baik. Aku yang gagal menjadi ibu."
Novi memegang tangan ibunya. "Kau tidak gagal, Bu. Kau sakit. Kau berjuang. Dan sekarang, kau kembali. Itu yang penting."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kedatangan ibunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Ibu kembali. Setelah sepuluh tahun. Aku tidak percaya. Aku marah. Aku sedih. Aku bingung. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena ibu kembali. Bahagia karena ibu masih mencintaiku. Bahagia karena aku bisa memaafkannya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata pelepasan.
Keesokan harinya, Novi memperkenalkan ibunya pada Rina. Rina terkejut, tetapi ia menyambut ibunya dengan hangat.
"Senang bertemu dengan Ibu," kata Rina. "Novi sering bercerita tentang Ibu."
"Novi bercerita tentang aku?" tanya ibunya terkejut.
"Ibu adalah bagian dari hidup Novi," kata Rina. "Meskipun ibu pergi, Novi tidak pernah melupakan ibu."
Ibunya menangis. "Aku tidak pantas memiliki anak sebaik Novi."
"Kau pantas, Bu," kata Novi. "Kau selalu pantas."
Novi dan ibunya mulai membangun hubungan mereka kembali. Mereka berbicara setiap hari. Mereka berbagi cerita. Mereka saling mendukung.
"Novi," kata ibunya suatu hari. "Aku ingin kau tahu bahwa aku bangga padamu. Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Gadis yang berani. Gadis yang penuh cinta."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu."
Suatu malam, Novi dan ibunya duduk di teras rumah. Langit malam bertabur bintang. Bulan bersinar terang, menyinari halaman rumah mereka.
"Bu," kata Novi. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya ibunya.
"Kenapa Ibu tidak pernah memberi kabar selama sepuluh tahun?" tanya Novi. "Kenapa Ibu tidak pernah menulis? Kenapa Ibu tidak pernah menelepon?"
Ibunya menghela napas. "Aku takut, Novi. Aku takut bahwa jika aku menghubungimu, aku akan menyakitimu lagi. Aku takut bahwa kau akan marah padaku. Aku takut bahwa kau tidak akan mau menerimaku kembali."
"Aku selalu mau menerima Ibu kembali," kata Novi. "Aku selalu menunggu Ibu kembali."
Ibunya menangis. "Aku minta maaf, Novi. Aku sangat minta maaf."
"Aku memaafkan Ibu, Bu," kata Novi. "Aku sudah memaafkan Ibu sejak lama."
Novi mulai menulis puisi tentang ibunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Ibu kembali. Setelah sepuluh tahun. Aku marah. Aku sedih. Aku bingung. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena ibu kembali. Bahagia karena ibu masih mencintaiku. Bahagia karena aku bisa memaafkannya. Aku belajar bahwa cinta tidak pernah pudar. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Cinta tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Novi mulai berbicara lebih sering dengan ibunya. Mereka makan malam bersama. Mereka pergi berbelanja bersama. Mereka berbagi cerita tentang kehidupan mereka masing-masing.
"Novi," kata ibunya suatu hari. "Aku ingin kau tahu bahwa aku tidak akan pernah pergi lagi. Aku akan tetap di sini. Untukmu. Selamanya."
"Aku senang mendengarnya, Bu," kata Novi. "Aku juga akan tetap di sini. Untuk Ibu. Selamanya."
Novi mulai menulis puisi tentang keluarganya. Tentang ibunya yang kembali. Tentang ayahnya yang selalu ada. Tentang semua cinta yang mengikat mereka bersama.
"Keluarga adalah tempat kita pulang. Meskipun ada yang pergi. Meskipun ada yang tinggal. Cinta tetap ada. Mengikat kita bersama. Menghangatkan hati kita. Aku bersyukur memiliki keluarga. Meskipun tidak sempurna. Meskipun penuh luka. Tapi cinta kami nyata. Dan itu cukup."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Suatu malam, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku mendengar ibumu kembali. Bagaimana perasaanmu? Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Ibu kembali. Dan aku memaafkannya. Aku mencintaimu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang semua yang telah terjadi. Tentang ibunya yang kembali. Tentang cinta yang tidak pernah pudar. Tentang semua yang ia pelajari.
"Ibu kembali. Setelah sepuluh tahun. Aku memaafkannya. Aku menerimanya. Aku mencintainya. Aku belajar bahwa cinta tidak pernah pudar. Meskipun jarak memisahkan. Meskipun waktu berlalu. Cinta tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku bersyukur. Untuk semua yang telah terjadi. Untuk semua yang telah kulewati. Untuk semua yang telah kuperoleh. Aku bersyukur."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XLIII
Novi Memaafkan Ibunya
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam ketenangan di dadanya, semacam kedamaian yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, mendengarkan suara burung-burung di luar jendela. Hari ini, ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa cemas. Ia hanya merasa... tenang.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya lebih tenang. Senyumnya lebih tulus. Bahkan kulitnya terlihat lebih bersinar.
"Hari ini," bisik Novi pada bayangannya. "Hari ini aku akan berbicara dengan ibu. Hari ini aku akan memaafkannya sepenuhnya."
Ia memakai seragamnya dan pergi ke sekolah seperti biasa. Sepanjang perjalanan, ia merasa lebih ringan. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang penting. Hari di mana ia akan melepaskan semua beban yang selama ini ia pikul.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan lebih tenang."
"Aku merasa lebih tenang, Rin," kata Novi. "Aku akan berbicara dengan ibuku hari ini. Aku akan memaafkannya sepenuhnya."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian. Ia mencatat dengan rapi. Ia bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri. Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu.
"Novi, kau benar-benar berbeda hari ini," bisik Rina. "Aku suka melihatmu seperti ini."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang baru," kata Novi. "Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih bahagia."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata sebelum ia berbicara dengan ibunya.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang memaafkan. Puisi tentang melepaskan. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Hari ini, aku akan memaafkan. Aku akan melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul. Aku akan membiarkan luka itu sembuh. Aku akan membiarkan hati ini pulih. Karena memaafkan bukan tentang melupakan. Memaafkan adalah tentang melepaskan. Melepaskan rasa sakit. Melepaskan kemarahan. Melepaskan semua yang menghalangiku untuk bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Sore itu, Novi pulang lebih awal. Ia ingin berbicara dengan ibunya sebelum ayahnya pulang. Ia ingin melakukannya dalam suasana yang tenang, tanpa gangguan.
Di rumah, ibunya sedang duduk di ruang tamu, membaca buku puisi Novi. Ia mengangkat kepalanya ketika Novi masuk.
"Novi," sapa ibunya dengan senyum. "Kau pulang lebih awal."
"Aku ingin bicara dengan Ibu," kata Novi. "Aku ingin bicara tentang banyak hal."
Ibunya menutup buku itu dan menatap Novi dengan penuh perhatian. "Tentu, Novi. Aku siap mendengarkan."
Novi duduk di samping ibunya. Ia mengambil napas dalam-dalam. Ia mengumpulkan semua keberanian yang ia miliki.
"Bu," kata Novi. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya ibunya.
"Aku memaafkan Ibu," kata Novi. "Aku memaafkan Ibu karena pergi. Aku memaafkan Ibu karena meninggalkanku. Aku memaafkan Ibu karena semua yang tidak Ibu berikan padaku."
Ibunya menangis. "Novi, aku..."
"Tunggu, Bu," kata Novi. "Aku belum selesai."
Ibunya diam. Novi melanjutkan.
"Aku memaafkan Ibu, bukan karena aku lupa. Aku memaafkan Ibu karena aku ingin melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul. Aku memaafkan Ibu karena aku ingin bahagia. Aku memaafkan Ibu karena aku mencintai Ibu."
Ibunya menangis histeris. Ia memeluk Novi erat-erat. "Aku minta maaf, Novi. Aku sangat minta maaf. Aku tidak pantas memiliki anak sebaik kau."
"Kau pantas, Bu," kata Novi. "Kau selalu pantas. Aku hanya ingin Ibu tahu bahwa aku mencintai Ibu. Dan aku akan selalu mencintai Ibu."
Mereka berpelukan lama. Air mata mengalir di pipi mereka. Semua beban yang selama ini mereka pikul mulai terlepas. Semua rasa sakit yang selama ini mereka simpan mulai sembuh.
"Novi," kata ibunya akhirnya. "Aku tidak bisa membalas semua yang kau berikan padaku. Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu."
"Aku juga mencintai Ibu, Bu," kata Novi. "Aku selalu mencintai Ibu. Dan aku tidak akan pernah berhenti mencintai Ibu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang memaafkan ibunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Hari ini, aku memaafkan ibu. Aku melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul. Aku membiarkan luka itu sembuh. Aku membiarkan hati ini pulih. Aku belajar bahwa memaafkan bukan tentang melupakan. Memaafkan adalah tentang melepaskan. Melepaskan rasa sakit. Melepaskan kemarahan. Melepaskan semua yang menghalangiku untuk bahagia. Aku belajar bahwa memaafkan adalah tentang cinta. Cinta yang tidak pernah pudar. Cinta yang selalu ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Keesokan harinya, Novi dan ibunya bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kedamaian di antara mereka. Ada semacam kehangatan yang tidak pernah ada sebelumnya.
"Novi," kata ibunya. "Aku ingin melakukan sesuatu untukmu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku ingin membuatkan sarapan untukmu," kata ibunya. "Seperti yang dulu sering aku lakukan."
Novi tersenyum. "Aku suka itu, Bu."
Ibunya membuat sarapan untuk Novi. Nasi goreng dengan telur mata sapi dan sayuran. Aroma masakan ibunya mengingatkan Novi pada masa kecilnya. Saat ia masih kecil dan ibunya masih ada untuknya.
"Ini enak, Bu," kata Novi. "Aku kangen masakan Ibu."
"Aku juga kangen memasak untukmu," kata ibunya. "Aku berjanji akan memasak lebih sering untukmu."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku senang."
Novi dan ibunya mulai menghabiskan lebih banyak waktu bersama. Mereka memasak bersama. Mereka menonton film bersama. Mereka berbicara tentang banyak hal.
"Bu," kata Novi suatu hari. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya ibunya.
"Kenapa Ibu tidak pernah memberi kabar selama sepuluh tahun?" tanya Novi. "Kenapa Ibu tidak pernah menulis? Kenapa Ibu tidak pernah menelepon?"
Ibunya menghela napas. "Aku takut, Novi. Aku takut bahwa jika aku menghubungimu, aku akan menyakitimu lagi. Aku takut bahwa kau akan marah padaku. Aku takut bahwa kau tidak akan mau menerimaku kembali."
"Aku selalu mau menerima Ibu kembali," kata Novi. "Aku selalu menunggu Ibu kembali."
Ibunya menangis. "Aku minta maaf, Novi. Aku sangat minta maaf."
"Aku memaafkan Ibu, Bu," kata Novi. "Aku sudah memaafkan Ibu sejak lama."
Novi mulai menulis puisi tentang proses memaafkan ibunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku memaafkan ibu. Bukan karena aku lupa. Tapi karena aku ingin melepaskan. Aku ingin melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul. Aku ingin melepaskan semua rasa sakit yang selama ini aku simpan. Aku ingin melepaskan semua kemarahan yang selama ini aku pendam. Karena aku ingin bahagia. Karena aku ingin hidup. Karena aku ingin mencintai."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Novi mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya tentang ibunya. Mereka berbagi cerita tentang masa lalu. Mereka berbagi perasaan tentang masa kini.
"Ayah," kata Novi. "Aku sudah memaafkan Ibu. Aku sudah melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul."
"Aku senang mendengarnya, Nak," kata ayahnya. "Aku juga sudah memaafkan ibumu. Aku sudah melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul."
"Kita semua sudah memaafkan," kata Novi. "Kita semua sudah melepaskan. Dan sekarang, kita bisa memulai lagi."
"Kita bisa memulai lagi," kata ayahnya.
Novi dan keluarganya mulai membangun hubungan yang baru. Mereka makan malam bersama setiap hari. Mereka berbicara tentang banyak hal. Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan.
"Bu," kata Novi suatu hari. "Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Novi," kata ibunya. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Novi mulai menulis puisi tentang keluarganya. Tentang ibunya yang kembali. Tentang ayahnya yang selalu ada. Tentang semua cinta yang mengikat mereka bersama.
"Keluarga adalah tempat kita pulang. Meskipun ada yang pergi. Meskipun ada yang tinggal. Cinta tetap ada. Mengikat kita bersama. Menghangatkan hati kita. Aku bersyukur memiliki keluarga. Meskipun tidak sempurna. Meskipun penuh luka. Tapi cinta kami nyata. Dan itu cukup."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Suatu malam, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku mendengar kau sudah memaafkan ibumu. Bagaimana perasaanmu? Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku sudah memaafkan ibuku. Aku sudah melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul. Aku mencintaimu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang semua yang telah terjadi. Tentang memaafkan ibunya. Tentang melepaskan semua beban. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku memaafkan ibu. Aku melepaskan semua beban. Aku membiarkan luka itu sembuh. Aku membiarkan hati ini pulih. Aku belajar bahwa memaafkan bukan tentang melupakan. Memaafkan adalah tentang melepaskan. Melepaskan rasa sakit. Melepaskan kemarahan. Melepaskan semua yang menghalangiku untuk bahagia. Aku belajar bahwa memaafkan adalah tentang cinta. Cinta yang tidak pernah pudar. Cinta yang selalu ada. Di dalam hatiku. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya."
BAB XLIV
Novi Menyelesaikan Buku
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam kegembiraan di dadanya, semacam antisipasi yang tidak bisa ia jelaskan. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya berbinar. Senyumnya mengembang. Bahkan kulitnya terlihat lebih bercahaya.
"Hari ini," bisik Novi pada bayangannya. "Hari ini aku akan menyelesaikan bukuku."
Ia telah bekerja selama berbulan-bulan. Ia telah mengumpulkan puisinya, mengeditnya, dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang utuh. Dan hari ini, ia akan menyelesaikannya. Hari ini, ia akan menulis kata pengantar dan kata penutup. Hari ini, ia akan mengirimkan naskah finalnya ke penerbit.
Novi memakai seragamnya dan pergi ke sekolah seperti biasa. Sepanjang perjalanan, ia merasa lebih ringan. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang penting. Hari di mana ia akan menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai sejak lama.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia."
"Aku bahagia, Rin," kata Novi. "Hari ini aku akan menyelesaikan bukuku."
Rina memeluk Novi. "Aku bangga padamu, Novi. Itu adalah langkah besar."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada bukunya. Pada kata pengantar yang akan ia tulis. Pada kata penutup yang akan ia selesaikan. Pada semua yang telah ia lalui untuk sampai di titik ini.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Bukan surat. Tetapi sebuah catatan tentang perasaannya saat ini.
"Hari ini, aku akan menyelesaikan bukuku. Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan. Aku tidak percaya bahwa aku sampai di sini. Aku tidak percaya bahwa aku telah melewati semua ini. Tapi aku di sini. Aku telah melewatinya. Dan aku akan menyelesaikannya."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis kata pengantar untuk bukunya. Ia ingin menjelaskan kepada pembaca apa yang mendorongnya untuk menulis puisi-puisi ini. Ia ingin berbagi perjalanannya, semua yang ia alami, semua yang ia pelajari.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis kata pengantar untuk bukunya.
"Buku ini adalah tentang perjalananku. Perjalanan dari rasa sakit menuju penerimaan. Dari kehilangan menuju harapan. Dari keraguan menuju cinta.
Aku menulis puisi-puisi ini saat aku sedang merasakan sakit yang mendalam. Saat aku kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Saat aku merasa bahwa dunia ini runtuh.
Tapi aku juga menulis puisi-puisi ini saat aku mulai bangkit. Saat aku mulai menemukan kembali diriku sendiri. Saat aku mulai menyadari bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku.
Buku ini adalah tentang cinta. Tentang kehilangan. Tentang harapan. Tentang kebangkitan. Tentang semua yang aku pelajari selama perjalananku.
Semoga buku ini bisa menginspirasi kalian. Semoga buku ini bisa menghibur kalian. Semoga buku ini bisa mengingatkan kalian bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kalian rasakan, kalian bisa bangkit. Kalian bisa bertahan. Kalian bisa bahagia."
Novi membaca kata pengantarnya. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia telah berhasil menangkap semua yang ia rasakan. Ia telah berhasil berbagi perjalanannya dengan orang lain.
"Novi," kata Rina ketika ia kembali ke kelas. "Apa yang kau tulis?"
"Kata pengantar untuk bukuku," kata Novi. "Aku menulis tentang perjalananku. Tentang semua yang aku alami. Tentang semua yang aku pelajari."
"Aku ingin membacanya," kata Rina.
"Kau akan membacanya," kata Novi. "Ketika bukunya terbit."
Rina tersenyum. "Aku tidak sabar."
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang penting.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan mulai menulis kata penutup untuk bukunya. Ia ingin menutup bukunya dengan pesan yang kuat. Pesan yang akan menginspirasi pembacanya.
"Perjalanan ini tidak mudah. Ada banyak air mata. Ada banyak rasa sakit. Ada banyak keraguan. Tapi ada juga banyak cinta. Ada banyak harapan. Ada banyak kebangkitan.
Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita.
Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku.
Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri. Aku belajar bahwa aku harus mencintai diriku sendiri sebelum aku bisa mencintai orang lain.
Terima kasih untuk semua yang telah mendukungku. Terima kasih untuk semua yang telah percaya padaku. Terima kasih untuk semua yang telah mencintaiku.
Semoga buku ini bisa menginspirasi kalian. Semoga buku ini bisa menghibur kalian. Semoga buku ini bisa mengingatkan kalian bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kalian rasakan, kalian bisa bangkit. Kalian bisa bertahan. Kalian bisa bahagia."
Novi membaca kata penutupnya. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia telah berhasil menutup perjalanannya dengan indah. Ia telah berhasil menyelesaikan bukunya.
"Aku sudah selesai," bisik Novi. "Aku sudah menyelesaikan bukuku."
Ia mengambil naskahnya dan menatapnya dengan penuh kebanggaan. Buku itu adalah hasil dari semua perjuangannya. Buku itu adalah bukti bahwa ia telah bertahan. Buku itu adalah hadiah untuk dirinya sendiri.
Novi mengirimkan naskah finalnya ke penerbit. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai sejak lama.
"Novi, bagaimana kabarmu?" tanya ayahnya ketika ia melihat Novi duduk di ruang tamu.
"Aku baik-baik saja, Ayah," kata Novi. "Aku baru saja mengirimkan naskah final bukuku ke penerbit."
Ayahnya tersenyum. "Aku bangga padamu, Nak. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku mendengar kau sudah menyelesaikan bukumu. Aku sangat bangga padamu. Aku tidak sabar untuk membacanya. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku sudah menyelesaikan bukuku. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku mencintaimu."
Novi mulai menulis puisi tentang menyelesaikan bukunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku menyelesaikan bukuku. Setelah berbulan-bulan bekerja. Setelah berbulan-bulan berjuang. Aku menyelesaikannya. Aku menulis tentang perjalananku. Tentang cinta dan kehilangan. Tentang harapan dan kebangkitan. Aku menulis tentang semua yang aku alami. Aku menulis tentang semua yang aku pelajari. Aku merasa bangga. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Aku telah membuktikan bahwa aku kuat. Aku telah membuktikan bahwa aku bisa."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan.
Novi mulai mempersiapkan peluncuran bukunya. Ia mengundang Rina, ayahnya, ibunya, dan beberapa teman dekatnya. Ia ingin berbagi momen bahagia ini dengan orang-orang yang ia cintai.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata Rina. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
"Aku juga bahagia untukmu, Nak," kata ayahnya. "Kau telah membuktikan bahwa kau kuat. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
"Aku juga bahagia untukmu, Novi," kata ibunya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu."
Hari peluncuran buku tiba. Novi berdiri di depan toko buku yang ramai, memegang buku pertamanya dengan tangan gemetar. Ia merasa campuran antara gugup, bahagia, dan tidak percaya.
"Selamat, Novi!" seru Rina dari kerumunan.
"Terima kasih, Rin!" kata Novi.
Novi mulai membacakan beberapa puisinya di depan para pengunjung. Ia membaca tentang cinta, tentang kehilangan, tentang harapan, tentang kebangkitan. Ia membaca dengan penuh perasaan, dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Ketika ia selesai, semua orang bertepuk tangan. Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia telah berbagi ceritanya dengan dunia. Ia telah menginspirasi orang lain.
Setelah acara peluncuran, Novi duduk di kamarnya, memegang buku pertamanya. Ia menatap sampulnya dengan penuh kebanggaan.
"Aku berhasil," bisik Novi. "Aku benar-benar berhasil."
Ia membuka buku itu dan membaca beberapa puisinya. Ia merasakan semua emosi yang ia tuangkan ke dalam kata-kata itu. Ia merasakan semua perjalanan yang telah ia lalui.
Novi menulis surat untuk Angga. Surat yang panjang dan penuh dengan cerita tentang bukunya.
"Angga tersayang,
Aku ingin bercerita tentang bukuku. Aku telah menerbitkan buku. Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan.
Aku menulis buku ini untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku ingin kau tahu bahwa cinta kita tidak pernah sia-sia. Cinta kita mengajariku banyak hal. Cinta kita membuatku menjadi diriku yang sekarang.
Aku merindukanmu, Angga. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena aku telah mencapai mimpiku. Bahagia karena aku telah berbagi ceritaku dengan dunia.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Novi"
Novi mengirimkan surat itu dan satu eksemplar bukunya ke Angga. Ia ingin Angga membaca puisinya. Ia ingin Angga tahu bahwa ia telah berhasil. Ia ingin Angga bangga padanya.
Beberapa minggu kemudian, Novi menerima balasan dari Angga. Surat itu panjang dan penuh dengan kebahagiaan.
"Novi tersayang,
Aku menerima bukumu. Dan aku membacanya. Aku membacanya dari awal sampai akhir. Aku menangis membacanya. Aku tersenyum membacanya. Aku merasakan semua yang kau rasakan.
Aku sangat bangga padamu, Novi. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Kau telah berbagi ceritamu dengan dunia. Kau telah menginspirasi banyak orang.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Tunggu aku. Aku akan kembali.
Aku mencintaimu. Selamanya.
Angga"
Novi membaca surat itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang menyelesaikan bukunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menyelesaikan bukuku. Aku menulis tentang perjalananku. Aku menulis tentang cinta dan kehilangan. Aku menulis tentang harapan dan kebangkitan. Aku membagikan ceritaku dengan dunia. Aku berharap bisa menginspirasi. Aku berharap bisa menghibur. Aku berharap bisa mengingatkan. Bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang kita rasakan, kita bisa bangkit. Kita bisa bertahan. Kita bisa bahagia. Ini adalah bukuku. Ini adalah ceritaku. Ini adalah hidupku."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan.
BAB XLV
Novi Menerbitkan Buku
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang tidak bisa ia jelaskan. Ada semacam kegembiraan di dadanya, semacam antisipasi yang membuatnya tidak bisa diam. Ia berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya berbinar. Senyumnya mengembang. Bahkan kulitnya terlihat lebih bercahaya.
"Hari ini," bisik Novi pada bayangannya. "Hari ini bukuku akan terbit."
Ia tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Selama berbulan-bulan, ia telah bekerja keras untuk menyelesaikan bukunya. Ia telah mengumpulkan puisinya, mengeditnya, dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang utuh. Ia telah menulis kata pengantar dan kata penutup. Ia telah mengirimkan naskah finalnya ke penerbit. Dan sekarang, hari itu akhirnya tiba. Semua perjuangan, semua air mata, semua malam tanpa tidur, semua keraguan—semuanya bermuara pada hari ini.
"Aku tidak percaya," pikir Novi. "Setelah semua yang terjadi, aku akhirnya di sini."
Novi memakai seragamnya dan pergi ke sekolah seperti biasa. Sepanjang perjalanan, ia merasa lebih ringan. Langkahnya terasa melayang. Ia merasa bahwa hari ini adalah hari yang penting. Hari di mana ia akan melihat hasil dari semua perjuangannya.
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina. Rina tersenyum padanya dengan mata berbinar.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan sangat bahagia. Seperti ada cahaya di sekitarmu."
"Aku bahagia, Rin," kata Novi. "Hari ini bukuku akan terbit. Setelah semua yang kulalui, akhirnya hari ini tiba."
Rina memeluk Novi erat-erat. "Aku sangat bangga padamu, Novi. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Dari gadis di pojok belakang yang takut bicara, menjadi penulis yang bukunya akan dibaca banyak orang."
"Terima kasih, Rin," kata Novi, matanya berkaca-kaca. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Kau adalah sahabat yang selalu ada, bahkan saat aku ingin menyerah."
Sepanjang pelajaran, Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada bukunya. Pada saat-saat ketika ia akan memegang buku pertamanya. Pada saat-saat ketika ia akan melihat namanya di sampul buku. Pada saat-saat ketika ia akan berbagi ceritanya dengan dunia.
Ia membuka buku catatannya dan mulai menulis. Bukan puisi. Bukan surat. Tetapi sebuah catatan tentang perasaannya saat ini.
"Hari ini, bukuku akan terbit. Buku tentang perjalananku. Buku tentang cinta dan kehilangan. Buku tentang harapan dan kebangkitan. Aku tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi. Aku tidak percaya bahwa aku sampai di sini. Tapi aku di sini. Aku telah melewati semua ini. Aku telah jatuh dan bangkit berkali-kali. Aku telah menangis dan tertawa. Aku telah kehilangan dan menemukan. Dan hari ini, aku akan melihat hasil dari semua perjuanganku. Hari ini, aku akan memegang bukuku di tanganku."
Novi membaca tulisannya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan. Air mata yang mengatakan bahwa semua perjuangan tidak sia-sia.
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis puisi tentang hari ini. Puisi tentang menerbitkan bukunya. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Kursi yang sama tempat ia pertama kali bertemu Angga. Kursi yang sama tempat ia menulis puisi-puisi pertamanya tentang cinta dan kehilangan. Di luar jendela, langit cerah. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya seperti cahaya harapan. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang menerbitkan bukunya. Puisi tentang semua yang ia rasakan.
"Hari ini, bukuku terbit. Setelah berbulan-bulan bekerja. Setelah berbulan-bulan berjuang. Setelah jatuh dan bangkit berkali-kali. Hari ini, bukuku terbit. Aku menulis tentang perjalananku. Tentang cinta dan kehilangan. Tentang harapan dan kebangkitan. Aku menulis tentang semua yang aku alami. Aku menulis tentang semua yang aku pelajari. Tentang bagaimana jatuh tidak berarti kalah. Tentang bagaimana bangkit adalah kemenangan sejati. Hari ini, bukuku terbit. Dan aku merasa bangga. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Aku telah membuktikan bahwa aku kuat. Aku telah membuktikan bahwa aku bisa. Bahwa dari puing-puing kehancuran, aku bisa membangun sesuatu yang indah."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah tiba di tempat yang selama ini ia impikan.
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bebas. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang penting. Sesuatu yang akan mengubah hidupnya.
Di rumah, sebuah paket sudah menunggunya. Penerbit telah mengirimkan salinan pertama bukunya. Paket itu tergeletak di meja ruang tamu, polos dan tidak mencolok, tetapi bagi Novi, itu adalah segalanya.
Novi membuka paket itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdebar kencang. Di dalamnya, ada beberapa eksemplar buku dengan sampul yang indah. Sampulnya berwarna biru laut dengan tulisan putih yang elegan. Di sampulnya, tertera judul "Aku Datang, Kau Pergi" dan namanya sebagai penulis.
Novi memegang buku itu dengan penuh kebanggaan. Ia menatap sampulnya, membaca judulnya, melihat namanya. Jari-jarinya menyusuri huruf-huruf di sampul, seolah-olah ia perlu memastikan bahwa ini nyata.
"Aku berhasil," bisik Novi, suaranya pecah. "Aku benar-benar berhasil."
Ia memeluk buku itu erat-erat, seperti ia dulu memeluk bantalnya saat menangis karena Angga. Tapi kali ini, pelukannya bukan untuk kesedihan. Pelukannya untuk kebahagiaan.
Novi memanggil ayahnya dan ibunya untuk melihat buku pertamanya. Mereka datang dengan cepat, wajah mereka penuh dengan kebanggaan dan air mata kebahagiaan.
"Novi, ini luar biasa!" seru ayahnya, matanya berbinar. "Kau telah menerbitkan buku! Putriku telah menjadi penulis!"
"Aku sangat bangga padamu, Nak," kata ibunya, suaranya bergetar. "Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Dari semua yang kau lalui, kau tetap berdiri dan sekarang kau di sini."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Terima kasih, Bu. Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan kalian. Tanpa Ayah yang merawatku saat aku sakit. Tanpa Ibu yang kembali dan memberi maaf. Tanpa semua cinta yang kalian berikan."
Novi memeluk ayahnya dan ibunya erat-erat. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang penting. Ia telah mewujudkan mimpinya. Ia telah membuktikan bahwa ia bisa.
"Ayah, Ibu," kata Novi. "Aku ingin kalian tahu bahwa aku mencintai kalian. Terima kasih karena tidak pernah menyerah padaku."
Novi mengirimkan foto bukunya ke Rina. Rina langsung membalas dengan penuh antusiasme.
"Novi! Aku tidak percaya! Bukumu sudah terbit! Aku sangat bangga padamu! Aku harus segera membacanya! Ini adalah momen bersejarah!"
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Terima kasih, Rin. Aku akan memberimu satu eksemplar besok. Dengan tanda tangan khusus untuk sahabat terbaikku."
Novi juga mengirimkan foto bukunya ke Angga. Ia ingin Angga tahu bahwa ia telah berhasil. Ia ingin Angga bangga padanya. Ia menulis pesan singkat.
"Angga, ini dia. Bukuku akhirnya terbit. Aku menulisnya untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama."
Beberapa jam kemudian, Angga membalas. Pesannya panjang dan penuh emosi.
"Novi, aku tidak percaya! Bukumu sudah terbit! Aku sangat bangga padamu! Aku tidak sabar untuk membacanya! Kau adalah orang paling kuat yang pernah aku kenal. Dari semua yang kau lalui, kau tetap berdiri. Dan sekarang, kau di sini, dengan buku di tanganmu. Aku mencintaimu! Selamanya!"
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa semua yang ia lakukan berarti.
Novi mulai mempersiapkan acara peluncuran bukunya. Ia mengundang Rina, ayahnya, ibunya, dan beberapa teman dekatnya. Ia juga mengundang beberapa guru dan penulis lokal yang ia kagumi, termasuk Bu Dewi, guru Bahasa Indonesia yang pertama kali melihat bakatnya.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata Rina. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Dari gadis yang takut bicara di kelas, menjadi penulis yang karyanya dibaca banyak orang."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Kau adalah sahabat yang selalu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri."
"Aku juga bahagia untukmu, Nak," kata ayahnya. "Kau telah membuktikan bahwa kau kuat. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa. Aku melihatmu tumbuh dari gadis kecil yang kehilangan ibunya menjadi wanita yang luar biasa ini."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah. Tanpa Ayah yang selalu ada, bahkan saat aku jatuh sakit dan lemah."
"Aku juga bahagia untukmu, Novi," kata ibunya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Aku minta maaf karena tidak ada untukmu saat kau kecil. Tapi aku di sini sekarang. Dan aku tidak akan pergi lagi."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu. Tanpa Ibu yang kembali dan memberi maaf, aku mungkin masih terjebak dalam rasa sakit."
Hari peluncuran buku tiba. Novi berdiri di depan toko buku yang ramai, memegang buku pertamanya dengan tangan gemetar. Ia merasa campuran antara gugup, bahagia, dan tidak percaya. Di hadapannya, puluhan orang datang untuk merayakan momen ini. Ada yang ia kenal, ada yang tidak. Semua datang untuk mendukungnya.
"Selamat, Novi!" seru Rina dari kerumunan. "Kau hebat!"
"Terima kasih, Rin!" kata Novi.
Novi mulai membacakan beberapa puisinya di depan para pengunjung. Ia membaca tentang cinta, tentang kehilangan, tentang harapan, tentang kebangkitan. Ia membaca dengan penuh perasaan, dengan air mata yang mengalir di pipinya. Setiap kata terasa seperti melepaskan bagian dari dirinya, berbagi luka dan kebahagiaannya dengan dunia.
"Aku menulis ini untuk semua yang pernah kehilangan," kata Novi. "Untuk semua yang pernah merasa tidak cukup baik. Untuk semua yang pernah meragukan diri mereka sendiri. Aku di sini untuk mengatakan bahwa kalian bisa bangkit. Kalian bisa bertahan. Kalian bisa bahagia."
Ketika ia selesai, semua orang bertepuk tangan. Beberapa orang menangis. Beberapa orang tersenyum. Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia telah berbagi ceritanya dengan dunia. Ia telah menginspirasi orang lain.
"Ini adalah awal dari sesuatu yang baru," pikir Novi. "Bukan akhir dari perjalananku, tetapi awal dari babak baru."
Setelah acara peluncuran, Novi duduk di kamarnya, memegang buku pertamanya. Ruangan terasa hening setelah keramaian tadi, tetapi keheningan itu terasa damai. Ia menatap sampulnya dengan penuh kebanggaan.
"Aku berhasil," bisik Novi, suaranya nyaris tidak terdengar. "Aku benar-benar berhasil. Aku tidak menyangka akan sampai di sini."
Ia membuka buku itu dan membaca beberapa puisinya. Ia merasakan semua emosi yang ia tuangkan ke dalam kata-kata itu. Ia merasakan semua perjalanan yang telah ia lalui. Rasa sakit saat Angga pergi. Kebahagiaan saat ia kembali. Keputusasaan saat ia jatuh sakit. Kebanggaan saat ia bangkit.
"Setiap kata," bisik Novi. "Setiap kata adalah bagian dari diriku."
Novi mulai menerima pesan-pesan dari orang-orang yang telah membaca bukunya. Mereka mengucapkan selamat padanya. Mereka mengatakan bahwa puisinya menginspirasi mereka. Mereka mengatakan bahwa ceritanya menghibur mereka. Bahkan ada yang mengatakan bahwa buku itu menyelamatkan hidup mereka.
"Novi, aku membaca bukumu," kata salah satu temannya. "Puisimu sangat menyentuh. Aku menangis membacanya. Aku juga pernah kehilangan seseorang, dan kata-katamu membuatku merasa tidak sendirian."
"Terima kasih," kata Novi, matanya berkaca-kaca. "Aku senang kau menyukainya. Aku menulisnya untuk orang-orang seperti kita. Untuk mereka yang pernah merasa patah."
"Novi, aku tidak tahu bahwa kau memiliki bakat sebesar ini," kata teman lainnya. "Puisimu luar biasa. Kau harus terus menulis."
"Terima kasih," kata Novi. "Aku senang bisa berbagi ceritaku dengan kalian. Aku akan terus menulis. Aku berjanji."
Novi merasa bahwa ia telah menemukan panggilannya. Ia adalah seorang penulis. Ia ingin terus menulis. Ia ingin terus berbagi ceritanya dengan dunia. Ia ingin menjadi suara bagi mereka yang tidak bisa bersuara, harapan bagi mereka yang kehilangan harapan.
Ia mulai menulis puisi baru. Puisi tentang perasaannya saat ini. Puisi tentang kebahagiaan dan kepuasan.
"Aku telah menemukan panggilanku. Aku adalah seorang penulis. Aku menulis tentang cinta dan kehilangan. Aku menulis tentang harapan dan kebangkitan. Aku menulis tentang semua yang aku alami. Aku menulis tentang semua yang aku pelajari. Aku ingin terus menulis. Aku ingin terus berbagi ceritaku dengan dunia. Aku ingin menginspirasi orang lain. Aku ingin menghibur orang lain. Aku ingin mengingatkan orang lain bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang mereka rasakan, mereka bisa bangkit. Mereka bisa bertahan. Mereka bisa bahagia. Karena jika aku bisa, mereka juga bisa. Dan itu adalah hadiah terbesar yang bisa kuberikan."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah menemukan tujuan hidupnya.
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, aku sudah menerima bukumu. Aku sudah membacanya dari awal sampai akhir. Aku menangis membacanya. Aku tersenyum membacanya. Aku merasakan semua yang kau rasakan. Aku merasakan sakitmu. Aku merasakan kebahagiaanmu. Aku merasakan perjalananmu. Aku sangat bangga padamu, Novi. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Dari gadis yang takut berbicara, menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa cinta mereka nyata.
Ia membalas pesan Angga.
"Angga, terima kasih. Aku senang kau menyukai bukuku. Aku menulis buku ini untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama. Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah menulis. Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah menemukan kekuatanku. Terima kasih karena telah datang. Terima kasih karena telah menunggu. Terima kasih karena telah mencintaiku. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi mulai merencanakan buku keduanya. Ia ingin menulis tentang proses penyembuhannya. Tentang bagaimana ia belajar untuk bangkit dari rasa sakit. Tentang bagaimana ia belajar untuk bahagia. Tentang bagaimana ia belajar untuk mencintai dirinya sendiri.
"Aku akan menulis buku kedua," kata Novi pada Rina. "Tentang proses penyembuhanku. Tentang bagaimana aku belajar untuk bangkit. Tentang bagaimana aku belajar bahwa aku layak dicintai."
"Aku yakin buku keduamu akan sama hebatnya dengan buku pertamamu," kata Rina. "Aku tidak sabar untuk membacanya. Kau tahu, aku akan selalu menjadi penggemar nomor satumu."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Kau adalah sahabat yang selalu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang menerbitkan bukunya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menerbitkan buku. Aku berbagi ceritaku dengan dunia. Aku menginspirasi orang lain. Aku menghibur orang lain. Aku mengingatkan orang lain bahwa tidak peduli seberapa dalam rasa sakit yang mereka rasakan, mereka bisa bangkit. Mereka bisa bertahan. Mereka bisa bahagia. Ini adalah bukuku. Ini adalah ceritaku. Ini adalah hidupku. Aku bersyukur. Untuk semua yang telah terjadi. Untuk semua yang telah kulewati. Untuk semua yang telah kuperoleh. Aku bersyukur. Untuk rasa sakit yang membuatku kuat. Untuk cinta yang membuatku percaya. Untuk kehilangan yang membuatku menghargai. Aku bersyukur. Untuk semua orang yang telah mendukungku. Untuk Rina, sahabat yang selalu ada. Untuk Ayah dan Ibu, yang tidak pernah menyerah padaku. Untuk Angga, cinta yang mengajariku bahwa aku layak dicintai. Aku bersyukur. Untuk hidup ini. Untuk semua yang telah kuberikan dan kuterima. Aku bersyukur."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Ia membayangkan semua orang yang telah membantunya sampai di sini.
"Terima kasih, Angga," bisik Novi. "Untuk semua yang kau berikan padaku. Untuk semua yang kau ajarkan padaku. Untuk semua cinta yang kau berikan padaku. Aku akan selalu mencintaimu. Selamanya. Terima kasih telah datang. Terima kasih telah menunggu. Terima kasih telah mengajariku bahwa aku layak dicintai."
BAB XLVI
Angga Membaca Buku Novi
Di sebuah kamar kos di Tokyo, Angga duduk di depan meja kecilnya, memandang buku yang baru saja ia terima dari Indonesia. Buku itu dikirim oleh Novi, dengan tulisan tangan yang ia kenal di halaman pertama.
"Untuk Angga, yang selalu menjadi inspirasiku. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku mencintaimu. Selamanya. — Novi"
Angga memegang buku itu. Ia sudah menunggu ini selama berbulan-bulan. Ia sudah mendengar tentang buku Novi, tentang perjuangannya untuk menerbitkannya. Dan sekarang, buku itu ada di tangannya.
"Novi," bisik Angga. "Aku sangat bangga padamu."
Ia membuka buku itu. Halaman pertama adalah kata pengantar. Angga membacanya.
"Buku ini adalah tentang perjalananku. Perjalanan dari rasa sakit menuju penerimaan. Dari kehilangan menuju harapan. Dari keraguan menuju cinta..."
Angga merasa air mata menggenang. Kata-kata Novi begitu kuat.
Angga terus membaca. Ia membaca puisi demi puisi. Puisi tentang pertemuan mereka di perpustakaan. Puisi tentang cokelat panas yang ia berikan setiap pagi. Puisi tentang perpisahan di stasiun.
Ia menangis. Ia tersenyum. Ia merasakan semua yang Novi rasakan.
Tetapi ketika ia mencapai halaman tentang kebangkitan Novi, ia berhenti.
"Aku jatuh. Aku hancur. Aku kehilangan segalanya. Tapi aku bangkit. Aku belajar. Aku tumbuh. Aku menemukan bahwa kekuatan ada di dalam diriku. Bahwa aku bisa bertahan. Bahwa aku bisa bahagia. Meskipun tanpa kau di sisiku."
Angga membaca baris itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan hanya kesedihan. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih mentah.
"Aku membuatmu jatuh," bisik Angga. "Aku membuatmu hancur. Aku yang meninggalkanmu."
Ia menutup buku itu. Tangannya gemetar.
"Aku melakukan ini padamu," bisiknya, suaranya pecah. "Aku yang menulis luka itu di hatimu. Aku yang pergi. Aku yang membuatmu menunggu. Aku yang membuatmu merasa tidak cukup."
Ia meletakkan buku itu dan menekan telapak tangannya ke matanya.
"Aku pikir aku pergi untuk mengejar mimpiku. Tapi aku meninggalkanmu. Aku meninggalkan orang yang paling aku cintai."
Angga berdiri. Ia berjalan ke jendela kamarnya dan menatap keluar. Di luar, lampu-lampu Tokyo berkelap-kelip di malam hari. Ia selalu menyukai pemandangan ini. Sekarang, ia hanya melihat kekosongan.
"Ia menulis tentang rasa sakit," bisik Angga. "Setiap kata dalam buku itu adalah rasa sakit yang aku sebabkan."
Ia teringat pada saat-saat ketika ia memutuskan untuk pergi. Ketika ia menerima beasiswa dan memilih Jepang. Ketika ia berhenti menulis surat. Ketika ia mengatakan bahwa ia lelah.
"Aku selalu bilang aku mencintainya," bisik Angga. "Tapi aku tidak pernah cukup mencintainya untuk tinggal."
Ia kembali ke meja dan membuka buku itu lagi. Ia mencari puisi tentang perpisahan. Ia membacanya lagi.
"Aku berlari ke stasiun. Di pagi buta. Di bawah hujan yang turun. Aku mencari wajahmu. Di antara kerumunan. Dan aku menemukannya. Aku melihatmu sekali lagi. Aku mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu. Aku mengatakan padamu bahwa aku akan selalu menunggumu."
Angga tidak bisa menahan tangisnya. Ia ingat saat itu. Ia melihat Novi berlari ke stasiun. Ia melihatnya basah kuyup oleh hujan. Ia melihatnya berteriak namanya.
Dan ia tetap naik ke kereta.
"Kenapa aku naik ke kereta itu?" bisik Angga. "Kenapa aku tidak turun?"
Angga membaca halaman berikutnya. Puisi tentang kesedihan dan kerinduan.
"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Setiap malam, aku memandang bintang. Dan aku berharap kau juga memandang bintang yang sama. Aku berharap kau juga merindukanku. Aku berharap kau juga mencintaiku."
Angga menutup mata. Ia juga memandang bintang yang sama. Ia juga merindukan Novi. Tetapi ia tidak pernah mengatakan itu dengan cukup jelas. Ia selalu menyimpan perasaannya, selalu menjaga jarak, selalu berpikir bahwa ia bisa kembali kapan saja.
"Kau menulis tentang kerinduanmu," bisik Angga. "Dan aku hanya membacanya. Aku tidak pernah benar-benar mendengarmu. Aku tidak pernah benar-benar melihat betapa kau menderita."
Ia membuka halaman lain. Puisi tentang memaafkan ibunya.
"Aku memaafkan ibu. Bukan karena aku lupa. Tapi karena aku ingin melepaskan. Aku ingin melepaskan semua beban yang selama ini aku pikul."
Angga berhenti. Ia menatap kata-kata itu.
"Kau memaafkan ibumu," bisiknya. "Kau melepaskan bebanmu. Dan aku? Aku adalah beban yang lain. Aku adalah orang yang pergi. Aku adalah orang yang membuatmu menunggu."
Ia meletakkan buku itu dan menutup matanya.
"Maafkan aku, Novi," bisiknya. "Aku tidak seharusnya pergi. Aku tidak seharusnya membuatmu menunggu. Aku tidak seharusnya membuatmu menulis semua ini sendirian."
Angga membuka buku itu lagi. Ia membaca puisi tentang menulis buku.
"Aku menulis buku. Tentang perjalananku. Tentang cinta dan kehilangan. Tentang harapan dan kebangkitan. Aku membagikan ceritaku dengan dunia."
Angga tersenyum di tengah air matanya.
"Kau menulis buku," bisiknya. "Kau menjadi penulis. Kau mencapai mimpimu. Dan aku tidak ada di sana untuk melihatnya."
Ia ingat bagaimana Novi selalu berbicara tentang mimpinya menjadi penulis. Bagaimana ia selalu berkata bahwa ia ingin menerbitkan buku suatu hari nanti. Dan sekarang, mimpi itu menjadi kenyataan. Tanpa Angga di sisinya.
"Kau tidak membutuhkanku untuk menjadi hebat," bisik Angga. "Kau hebat sendirian. Kau selalu hebat. Aku hanya... aku hanya yang pergi."
Angga mencapai halaman terakhir. Kata penutup yang ditulis Novi.
"Perjalanan ini tidak mudah. Ada banyak air mata. Ada banyak rasa sakit. Ada banyak keraguan. Tapi ada juga banyak cinta. Ada banyak harapan. Ada banyak kebangkitan.
Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku.
Terima kasih untuk semua yang telah mendukungku. Terima kasih untuk semua yang telah percaya padaku. Terima kasih untuk semua yang telah mencintaiku."
Angga menutup buku itu. Air mata mengalir di pipinya.
"Kau belajar bahwa kau bisa bahagia tanpaku," bisiknya. "Kau belajar bahwa kau tidak membutuhkanku."
Ia merasakan sakit yang aneh di dadanya. Bukan cemburu. Bukan kesedihan. Tetapi sesuatu yang lain. Rasa bangga yang bercampur dengan penyesalan yang mendalam.
"Aku bangga padamu, Novi," bisiknya. "Tapi aku juga menyesal. Aku menyesal karena tidak ada di sana. Aku menyesal karena membuatmu melalui semua itu sendirian. Aku menyesal karena tidak menjadi orang yang pantas untukmu."
Angga duduk diam beberapa saat. Ia memandang buku itu di tangannya. Buku yang berisi semua perasaan Novi. Semua rasa sakit. Semua harapan. Semua kebangkitan.
Ia tiba-tiba teringat sesuatu. Sebuah percakapan dengan Bima berbulan-bulan lalu.
"Angga, kau tahu, aku tidak pernah melihat Novi sebahagia ini. Tapi aku juga tidak pernah melihatnya seteluka ini. Aku pikir kau perlu kembali. Bukan karena ia membutuhkanmu, tetapi karena kau membutuhkannya."
Angga menutup mata. Bima benar.
Ia tidak kembali ke Novi karena ia membutuhkannya. Ia kembali karena ia menyadari bahwa Novi tidak pernah membutuhkannya untuk menjadi utuh. Tetapi ia membutuhkan Novi. Ia membutuhkan orang yang membuatnya ingin menjadi lebih baik. Ia membutuhkan orang yang mengajarinya bahwa cinta bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang kehadiran.
"Aku kembali bukan karena kau membutuhkanku," bisik Angga. "Aku kembali karena aku membutuhkanmu. Aku kembali karena aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpamu."
Angga mengambil ponselnya. Ia ingin menelepon Novi. Ia ingin mendengar suaranya. Ia ingin mengatakan semua yang ia rasakan.
Ia menekan nomor Novi. Telepon berdering beberapa kali.
Novi mengangkat. "Halo?"
"Novi," kata Angga. "Aku sudah membaca bukumu."
Novi terdiam. "Kau... kau membacanya?"
"Aku membacanya dari awal sampai akhir," kata Angga. "Aku menangis membacanya. Aku tersenyum membacanya."
"Angga, aku..."
"Aku minta maaf, Novi," potong Angga. Suaranya bergetar. "Aku minta maaf. Aku minta maaf karena pergi. Aku minta maaf karena tidak ada untukmu. Aku minta maaf karena membuatmu menulis semua itu sendirian."
Novi menangis. "Angga..."
"Aku membaca puisimu tentang rasa sakit," kata Angga. "Aku membaca tentang bagaimana kau jatuh. Dan aku menyadari bahwa aku yang membuatmu jatuh. Aku yang pergi. Aku yang meninggalkanmu."
"Tapi aku bangkit, Angga," kata Novi. "Aku bangkit. Aku menulis buku. Aku menjadi penulis."
"Dan aku tidak ada di sana untuk melihatnya," kata Angga. "Aku tidak ada di sana untuk mendukungmu. Aku tidak ada di sana untuk mengatakan betapa bangganya aku padamu."
Novi terdiam beberapa saat.
"Angga," katanya akhirnya. "Aku tidak menulis buku itu karena aku marah padamu. Aku menulisnya karena aku ingin sembuh. Aku menulisnya karena aku ingin menjadi kuat. Dan aku menjadi kuat. Aku sembuh. Aku menulis buku."
"Aku tahu," kata Angga. "Dan itu membuatku bangga. Tapi juga membuatku menyesal. Karena aku tidak ada di sana."
"Kau ada di sana," kata Novi. "Kau selalu ada di sana. Dalam puisiku. Dalam kata-kataku. Dalam setiap baris yang aku tulis. Kau adalah inspirasiku, Angga. Bukan karena kau pergi, tetapi karena kau datang. Karena kau mengajariku bahwa aku layak dicintai."
Angga menangis. "Aku tidak layak mendapatkanmu, Novi. Aku tidak layak mendapatkan kata-kata itu."
"Kau layak," kata Novi. "Kau selalu layak. Aku menulis buku itu untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama. Tanpamu, aku tidak akan pernah menulis. Tanpamu, aku tidak akan pernah menemukan kekuatanku."
"Novi," kata Angga, suaranya serak. "Aku ingin kembali. Aku ingin kembali padamu."
"Aku tahu," kata Novi. "Aku sudah menunggumu."
"Tapi aku tidak ingin kembali karena kau membutuhkanku," kata Angga. "Aku ingin kembali karena aku membutuhkanmu. Karena aku menyadari bahwa aku tidak bisa menjadi diriku sendiri tanpamu. Karena kau adalah bagian dari diriku, Novi. Dan aku tidak ingin kehilangan bagian itu lagi."
Novi menangis. "Aku juga tidak ingin kehilanganmu, Angga. Aku sudah menunggumu sangat lama."
"Aku akan kembali," kata Angga. "Aku akan segera kembali. Dan kali ini, aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tetap di sini. Untukmu. Untuk kita. Untuk selamanya."
"Tunggu aku, Novi," kata Angga. "Aku akan kembali."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Setelah menutup telepon, Angga duduk termenung. Ia memandang buku Novi yang masih terbuka di meja.
Ia mengambil buku itu dan membukanya lagi ke halaman kata pengantar.
"Untuk Angga, yang selalu menjadi inspirasiku. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku mencintaimu. Selamanya. — Novi"
Angga menatap kata-kata itu. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata penyesalan. Ini adalah air mata tekad.
"Aku akan kembali, Novi," bisiknya. "Aku akan kembali dan menjadi orang yang pantas untukmu. Aku akan kembali dan membuktikan bahwa cintaku nyata. Aku akan kembali dan tidak akan pernah pergi lagi."
Angga mulai mempersiapkan kepulangannya. Ia menghubungi pihak universitas untuk mengurus administrasi. Ia memesan tiket pesawat untuk minggu depan. Ia mengemas barang-barangnya.
Tetapi ada satu hal yang ia lakukan sebelum semua itu.
Ia duduk di meja dan mengambil selembar kertas. Ia mulai menulis surat. Surat untuk Novi. Surat yang akan ia berikan langsung ketika ia tiba.
"Novi,
Aku menulis surat ini bukan untuk dikirim. Aku menulisnya untuk kuberikan langsung padamu. Karena aku ingin melihat matamu ketika kau membacanya.
Aku telah membaca bukumu. Aku telah membaca semua puisi yang kau tulis. Aku telah membaca tentang rasa sakitmu, tentang perjuanganmu, tentang kebangkitanmu. Dan aku menyadari bahwa aku adalah bagian dari semua itu. Aku adalah bagian dari rasa sakitmu. Dan aku minta maaf.
Tapi aku juga ingin menjadi bagian dari kebahagiaanmu. Aku ingin menjadi bagian dari kebangkitanmu. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, Novi. Bukan karena aku pantas, tetapi karena aku ingin berusaha pantas.
Aku akan kembali. Dan kali ini, aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Untukmu. Untuk kita. Untuk selamanya.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Angga"
Angga melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam saku. Ia tidak akan mengirimnya. Ia akan memberikannya langsung. Ketika ia tiba di Indonesia. Ketika ia melihat Novi.
Ia menatap buku Novi yang masih terbuka di meja.
"Aku akan menjadi orang yang pantas untukmu," bisiknya. "Aku berjanji."
Ia menutup buku itu dan memasukkannya ke dalam tasnya. Buku itu akan ia bawa pulang. Buku itu akan ia simpan selamanya. Buku yang ditulis oleh orang yang ia cintai. Buku yang mengajarinya bahwa cinta bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang keberanian untuk kembali.
Beberapa hari kemudian, Angga mengirim pesan ke Novi.
"Novi, aku akan kembali. Aku sudah memesan tiket. Aku akan tiba minggu depan."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Ia tidak percaya. Angga akan kembali. Angga akan segera kembali.
"Benarkah?" balas Novi.
"Benar," balas Angga. "Aku akan kembali padamu, Novi. Aku berjanji."
Novi menangis. Tetapi kali ini, ia menangis dengan senyum.
"Aku akan menunggumu," balas Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang Angga yang akan kembali.
"Kau akan kembali.
Bukan karena aku memintamu.
Bukan karena aku membutuhkanmu.
Tapi karena kau memilihku.
Kau membaca bukuku.
Dan kau memilih untuk kembali.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi.
Tapi aku tahu bahwa aku mencintaimu.
Dan aku akan menunggumu.
Seperti yang selalu kulakukan.
Karena aku percaya.
Bahwa kau akan kembali.
Dan kali ini, kau akan tinggal."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya.
"Angga," bisik Novi. "Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu."
BAB XLVII
Angga Menelepon Lagi
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang ponsel yang tergeletak di atas meja. Sudah tiga hari sejak ia menerima pesan Angga bahwa ia akan kembali. Tiga hari sejak ia merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadanya. Tiga hari sejak ia mulai menghitung hari, jam, dan menit hingga ia bisa bertemu dengan Angga lagi.
Novi memegang ponsel itu, menatap layar yang gelap. Ia ingin menelepon Angga. Ia ingin mendengar suaranya. Ia ingin memastikan bahwa semua ini nyata. Ia ingin merasakan bahwa Angga benar-benar akan kembali.
"Haruskah aku menelepon?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Atau aku harus menunggu dia yang meneleponku?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Novi teringat pada panggilan telepon terakhir mereka. Saat Angga mengatakan bahwa ia telah membaca bukunya. Saat Angga mengatakan bahwa ia bangga padanya. Saat Angga mengatakan bahwa ia mencintainya.
"Angga," bisik Novi. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu."
Ponsel Novi bergetar. Ia menatap layar dengan jantung berdebar. Di layar ponsel, terlihat nama Angga.
Novi mengangkat telepon dengan tangan gemetar. "Halo?"
"Novi?" suara Angga terdengar dari seberang. Suara yang hangat. Suara yang ia rindukan. Suara yang membuat hatinya berdebar kencang.
"Angga," kata Novi. "Aku... aku tidak percaya kau menelepon."
"Aku juga tidak percaya," kata Angga. "Tapi aku harus meneleponmu. Aku harus mendengar suaramu."
"Aku juga ingin mendengar suaramu," kata Novi. "Aku merindukanmu, Angga. Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu, Novi," kata Angga. "Aku sangat merindukanmu."
Mereka berbicara selama berjam-jam. Angga menceritakan tentang persiapan kepulangannya. Tentang bagaimana ia mengurus administrasi di universitas. Tentang bagaimana ia mengemas barang-barangnya. Tentang bagaimana ia tidak sabar untuk segera kembali.
Novi mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia ingin tahu semua tentang persiapan Angga. Ia ingin merasa bahwa ia masih menjadi bagian dari hidupnya.
"Novi," kata Angga. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk memelukmu. Aku tidak sabar untuk mengatakan betapa aku mencintaimu."
"Aku juga tidak sabar, Angga," kata Novi. "Aku sudah menunggumu selama berbulan-bulan. Dan sekarang, kau akan kembali."
"Aku akan kembali, Novi," kata Angga. "Aku berjanji. Aku akan kembali padamu."
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku minta maaf," kata Angga. "Aku minta maaf karena pergi. Aku minta maaf karena meninggalkanmu. Aku minta maaf karena semua yang terjadi."
"Kau tidak perlu minta maaf, Angga," kata Novi. "Aku mengerti. Aku tahu kau harus pergi. Aku tahu kau harus mengejar mimpimu."
"Tapi aku seharusnya tetap menghubungimu," kata Angga. "Aku seharusnya tetap memberimu kabar. Aku seharusnya tidak membuatmu menunggu tanpa kepastian."
"Kau sudah kembali sekarang," kata Novi. "Itu yang penting."
Mereka berbicara tentang masa depan. Tentang apa yang akan terjadi setelah Angga kembali. Tentang bagaimana mereka akan memulai kembali hubungan mereka.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku serius tentang kita. Aku serius tentang masa depan kita."
"Aku juga serius, Angga," kata Novi. "Aku serius tentang kita. Aku serius tentang masa depan kita."
"Aku akan kembali, Novi," kata Angga. "Dan kali ini, aku tidak akan pergi lagi. Aku akan tetap di sini. Bersamamu."
"Aku akan menunggu," kata Novi. "Aku akan selalu menunggu."
Setelah menutup telepon, Novi duduk termenung. Ia merasa lebih ringan. Ia merasa lebih bahagia. Ia merasa bahwa hubungan mereka masih kuat. Ia merasa bahwa cinta mereka masih nyata.
Ia menulis puisi tentang panggilan telepon itu. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau meneleponku. Dari seberang lautan. Suaramu terdengar seperti dulu. Hangat. Lembut. Penuh cinta. Aku menangis mendengarnya. Aku tersenyum mendengarnya. Aku merindukanmu. Tapi aku juga bahagia. Bahagia karena kau akan kembali. Bahagia karena kita akan bersama lagi. Bahagia karena cinta kita tidak pernah pudar."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Keesokan harinya, Novi berbagi kabar bahagia ini dengan Rina. Rina sangat senang mendengarnya.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu!" seru Rina. "Angga akan kembali! Kau pasti sangat senang!"
"Aku sangat senang, Rin," kata Novi. "Aku tidak percaya bahwa ini benar-benar terjadi."
"Kau pantas bahagia, Novi," kata Rina. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kebahagiaan itu datang padamu."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Novi juga berbagi kabar ini dengan ayahnya dan ibunya. Mereka juga sangat senang mendengarnya.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata ayahnya. "Angga adalah pemuda yang baik. Aku yakin kalian akan bahagia bersama."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku juga berharap begitu."
"Aku juga bahagia untukmu, Novi," kata ibunya. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kebahagiaan itu datang padamu."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu."
Novi mulai mempersiapkan diri untuk pertemuan dengan Angga. Ia memilih baju yang akan ia kenakan. Ia merawat dirinya dengan lebih baik. Ia ingin terlihat cantik saat bertemu dengan Angga.
"Aku tidak sabar untuk melihatmu," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku sangat tidak sabar."
Novi juga mulai menulis puisi tentang pertemuan mereka nanti. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku akan bertemu denganmu. Setelah berbulan-bulan menunggu. Setelah berbulan-bulan merindukan. Aku akan bertemu denganmu. Aku akan memelukmu. Aku akan menciummu. Aku akan mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku akan mengatakan betapa aku merindukanmu. Aku akan bertemu denganmu. Dan aku akan bahagia. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Novi menghitung setiap hari. Setiap jam. Setiap menit. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Angga.
"Novi, kau kelihatan sangat bersemangat," kata Rina suatu hari.
"Aku sangat bersemangat, Rin," kata Novi. "Angga akan segera kembali. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."
"Aku mengerti," kata Rina. "Aku juga tidak sabar untuk melihat kalian bersama lagi."
Suatu malam, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, aku sudah di bandara. Aku akan segera terbang. Aku akan segera bertemu denganmu."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya. Angga akan segera kembali. Angga akan segera bertemu dengannya.
"Angga," bisik Novi. "Aku akan menunggumu. Aku akan selalu menunggumu."
Novi tidak bisa tidur malam itu. Ia terlalu bersemangat. Ia terlalu bahagia. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Angga.
Ia berbaring di tempat tidurnya, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Ia membayangkan pertemuan mereka. Ia membayangkan pelukan Angga. Ia membayangkan ciuman Angga. Ia membayangkan semua yang akan mereka lakukan bersama.
"Angga," bisik Novi. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu."
Keesokan harinya, Novi pergi ke bandara dengan Rina. Ia memakai baju terbaiknya. Ia memakai lipstik. Ia memakai gelang yang diberikan Angga.
"Novi, kau terlihat cantik," kata Rina. "Angga pasti terkejut melihatmu."
"Aku harap," kata Novi. "Aku sangat gugup."
"Tenang," kata Rina. "Semua akan baik-baik saja."
Mereka menunggu di ruang kedatangan. Novi menatap pintu dengan penuh harap. Ia mencari wajah Angga di antara kerumunan.
Kemudian, ia melihatnya.
Angga berjalan keluar dari pintu kedatangan dengan koper di tangannya. Ia terlihat lebih dewasa. Lebih tinggi. Lebih tampan.
Novi berlari mendekatinya. Angga melihatnya dan tersenyum.
"Novi!" teriak Angga.
"Angga!" teriak Novi.
Mereka berlari saling mendekat. Mereka berpelukan erat-erat. Air mata mengalir di pipi mereka.
"Aku merindukanmu," bisik Angga. "Aku sangat merindukanmu."
"Aku juga merindukanmu," bisik Novi. "Aku sangat merindukanmu."
Mereka berpelukan lama. Tidak ada yang perlu diucapkan. Semua sudah terasa sempurna.
"Aku sudah kembali, Novi," kata Angga. "Dan kali ini, aku tidak akan pergi lagi."
"Aku sudah menunggumu," kata Novi. "Aku selalu menunggumu."
Angga menatap Novi dengan mata yang penuh cinta. "Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Mereka berpelukan lagi. Di bandara yang ramai, di tengah kerumunan orang yang lalu lalang, mereka merasa bahwa mereka telah menemukan kebahagiaan yang sejati.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang pertemuan mereka di bandara. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau kembali. Setelah berbulan-bulan menunggu. Setelah berbulan-bulan merindukan. Kau kembali. Aku memelukmu. Aku menciummu. Aku mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku mengatakan betapa aku merindukanmu. Kau kembali. Dan aku bahagia. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku mencintaimu, Angga," bisik Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
BAB XLVIII
Menunggu yang Tak Pasti
Minggu pertama setelah kepulangan Angga terasa seperti mimpi yang indah. Novi dan Angga menghabiskan setiap waktu bersama, seolah berusaha mengganti semua waktu yang hilang selama berbulan-bulan berpisah. Mereka pergi ke bukit, ke museum, ke atap sekolah tua. Mereka mengulangi semua kenangan indah yang pernah mereka bagi. Mereka tertawa, mereka bercerita, mereka berpelukan, mereka menikmati setiap detik kebersamaan.
Novi merasakan kebahagiaan yang luar biasa di dadanya. Ia merasa bahwa semuanya telah kembali seperti dulu. Ia merasa bahwa cinta mereka masih sama kuatnya. Ia merasa bahwa mereka akan bersama selamanya.
Tetapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tidak bisa ia hilangkan. Angga hanya bisa tinggal di Indonesia selama tiga bulan. Setelah itu, ia harus kembali ke Jepang untuk menyelesaikan kuliahnya. Dan Novi tidak tahu apa yang akan terjadi setelah itu.
Novi berbaring di tempat tidurnya pada suatu malam, memandang langit-langit kamar yang retak di beberapa bagian. Pikirannya terus pada Angga. Pada semua yang telah mereka lalui. Pada semua yang masih harus mereka hadapi.
"Apa yang akan terjadi setelah tiga bulan?" bisik Novi pada dirinya sendiri. "Apakah kau akan pergi lagi? Apakah kau akan meninggalkanku lagi?"
Ia tidak menemukan jawaban. Hanya keheningan yang menyelimuti kamarnya.
Keesokan harinya, Novi dan Angga bertemu di taman kota. Mereka duduk di bangku dekat kolam air mancur, tempat favorit mereka. Air memancar dengan indah, menciptakan percikan-percikan kecil yang berkilau di bawah sinar matahari sore.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin bicara tentang masa depan."
Novi menatap Angga dengan jantung berdebar. "Tentang apa?"
"Tentang kita," kata Angga. "Tentang apa yang akan terjadi setelah tiga bulan."
Novi menunduk. "Aku tidak tahu, Angga. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi."
"Aku juga tidak tahu," kata Angga. "Tapi aku ingin kau tahu bahwa aku serius. Aku serius tentang kita. Aku serius tentang masa depan kita."
"Tapi bagaimana?" tanya Novi. "Bagaimana kita bisa melanjutkan hubungan ini jika kau harus kembali ke Jepang?"
Angga memegang tangan Novi. "Aku akan kembali, Novi. Tapi aku juga akan kembali lagi. Aku akan menyelesaikan kuliahku, dan kemudian aku akan kembali untuk selamanya."
"Tapi berapa lama?" tanya Novi. "Berapa lama aku harus menunggu?"
Angga menghela napas. "Aku tidak tahu, Novi. Mungkin satu tahun. Mungkin dua tahun. Tapi aku janji akan kembali."
Novi menangis. "Aku tidak bisa, Angga. Aku tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian. Aku sudah menunggu selama berbulan-bulan. Aku tidak tahu apakah aku bisa menunggu lebih lama lagi."
Angga memeluk Novi. "Aku tahu ini sulit, Novi. Aku juga tidak ingin pergi. Tapi aku harus menyelesaikan kuliahku. Aku harus mengejar mimpiku."
"Dan bagaimana dengan mimpiku?" tanya Novi. "Bagaimana dengan mimpiku untuk bersama denganmu?"
Angga menatap Novi dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku juga ingin bersama denganmu, Novi. Tapi kita harus kuat. Kita harus percaya bahwa cinta kita cukup kuat untuk melewati semua ini."
Novi menangis di pelukan Angga. Ia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Ia tidak ingin kehilangan Angga lagi. Ia tidak ingin menunggu lagi. Tetapi ia juga tidak bisa memaksa Angga untuk tinggal.
"Aku akan menunggu, Angga," bisik Novi akhirnya. "Aku akan menunggu sampai kau kembali. Tapi tolong, jangan membuatku menunggu terlalu lama."
"Aku berjanji," kata Angga. "Aku akan kembali secepat mungkin."
Minggu-minggu berlalu dengan cepat. Novi dan Angga terus menghabiskan waktu bersama. Mereka pergi ke tempat-tempat favorit mereka. Mereka menciptakan kenangan-kenangan baru. Mereka mencoba untuk menikmati setiap momen, meskipun mereka tahu bahwa waktu mereka terbatas.
"Novi," kata Angga suatu hari. "Aku ingin membuat sesuatu untukmu."
"Apa?" tanya Novi.
Angga mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya. Kotak itu terbuat dari kayu, dengan ukiran bunga-bunga kecil di permukaannya.
"Ini untukmu," kata Angga. "Sebagai kenangan."
Novi membuka kotak itu. Di dalamnya, ada sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati. Di bagian belakang liontin itu, terukir kata-kata kecil.
"Selamanya, A & N"
Novi menangis. "Ini indah, Angga. Terima kasih."
"Kau adalah cinta pertamaku," kata Angga. "Dan kau akan menjadi cinta terakhirku."
Novi memeluk Angga erat-erat. "Aku akan menyimpannya selamanya."
Novi mulai menulis puisi tentang menunggu. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menunggu. Aku selalu menunggu. Menunggu kau kembali. Menunggu kau di sini. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya. Karena aku mencintaimu. Karena aku percaya pada cinta kita. Karena aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Suatu malam, Novi dan Angga duduk di atap sekolah tua. Langit bertabur bintang. Angin berhembus pelan.
"Novi," kata Angga. "Aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Aku mencintaimu," kata Angga. "Aku tidak pernah mencintai siapa pun sebelumnya. Tapi aku mencintaimu dengan sepenuh hatiku."
Novi menangis. "Aku juga mencintaimu, Angga. Aku sangat mencintaimu."
Mereka berpelukan. Di bawah langit berbintang, mereka merasakan cinta yang tidak pernah pudar.
Hari-hari berlalu semakin cepat. Novi merasakan bahwa waktu semakin sempit. Ia tidak ingin Angga pergi. Ia tidak ingin kehilangannya lagi.
"Angga," kata Novi suatu hari. "Aku takut. Aku takut kau akan pergi dan tidak pernah kembali."
Angga memegang tangan Novi. "Aku akan kembali, Novi. Aku berjanji. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu."
"Tapi bagaimana jika kau bertemu orang lain?" tanya Novi. "Bagaimana jika kau lupa padaku?"
"Aku tidak akan pernah melupakanmu, Novi," kata Angga. "Kau adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan pernah bertemu orang lain. Aku hanya akan mencintaimu."
Novi mulai mempersiapkan diri untuk kepergian Angga. Ia tahu bahwa ini akan terjadi. Ia tahu bahwa ia harus kuat. Ia tahu bahwa ia harus percaya bahwa mereka akan bertemu lagi.
"Aku bisa melakukan ini," bisik Novi pada dirinya sendiri. "Aku kuat. Aku bisa bertahan. Aku bisa menunggu."
Suatu malam, Novi menulis puisi tentang kepergian Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau akan pergi. Aku tahu. Tapi aku juga tahu bahwa kau akan kembali. Aku akan menunggu. Aku akan selalu menunggu. Sampai kau kembali padaku."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Hari terakhir Angga di Indonesia tiba. Novi mengantarnya ke bandara. Mereka berpelukan lama di ruang keberangkatan.
"Aku akan merindukanmu," bisik Novi.
"Aku juga akan merindukanmu," bisik Angga. "Tapi kita akan bertemu lagi. Aku berjanji."
Mereka melepaskan pelukan. Angga melambaikan tangan saat ia masuk ke pintu keberangkatan. Novi melambaikan tangan kembali, dengan senyum di wajahnya.
"Sampai jumpa, Angga!" teriak Novi.
"Sampai jumpa, Novi!" teriak Angga.
Angga menghilang di balik pintu. Novi tetap berdiri di sana, melambaikan tangan dengan senyum.
Dan ketika Angga benar-benar menghilang, Novi menangis. Tetapi ia menangis dengan senyum. Karena ia tahu bahwa cinta mereka tidak akan pernah pudar.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang kepergian Angga. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Kau pergi. Tapi aku tahu kau akan kembali. Aku akan menunggu. Aku akan selalu menunggu. Sampai kau kembali padaku. Karena aku mencintaimu. Karena aku percaya pada cinta kita. Karena aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus menunggu. Ia terus percaya.
Ia juga terus berbicara dengan Angga melalui surat dan panggilan telepon. Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan. Mereka saling mencintai.
"Novi," kata Angga dalam salah satu suratnya. "Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu. Tapi aku juga tahu bahwa kita akan bertemu lagi. Aku percaya pada cinta kita."
Novi menangis membaca surat itu. "Aku juga merindukanmu, Angga. Aku juga percaya pada cinta kita."
Novi mulai menulis buku kedua. Buku tentang menunggu. Buku tentang harapan. Buku tentang cinta yang tidak pernah pudar.
"Aku akan menulis buku kedua," kata Novi pada Rina. "Tentang menunggu. Tentang harapan. Tentang cinta yang tidak pernah pudar."
"Aku yakin buku keduamu akan sama hebatnya dengan buku pertamamu," kata Rina. "Aku tidak sabar untuk membacanya."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Novi mulai mengirimkan puisinya ke majalah dan koran. Beberapa puisinya dimuat. Ia mulai dikenal sebagai penyair muda yang berbakat.
"Novi, kau semakin terkenal," kata Rina. "Puisimu dimuat di mana-mana."
"Aku senang," kata Novi. "Aku senang bisa berbagi karyaku dengan orang lain."
"Kau pantas mendapatkan semua ini," kata Rina. "Kau telah bekerja keras."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang menunggu yang tak pasti. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Aku menunggu. Aku selalu menunggu. Menunggu kau kembali. Menunggu kau di sini. Aku tidak tahu kapan. Aku tidak tahu bagaimana. Tapi aku akan menunggu. Selamanya. Karena aku mencintaimu. Karena aku percaya pada cinta kita. Karena aku tahu bahwa kita akan bertemu lagi."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB XLIX
Novi Menulis Epilog untuk Bukunya
Malam itu, Novi duduk di kamarnya, memandang tumpukan kertas di atas meja. Di sana, ada naskah buku keduanya yang hampir selesai. Buku tentang menunggu. Buku tentang harapan. Buku tentang cinta yang tidak pernah pudar.
Novi telah menulis puluhan puisi untuk buku keduanya. Puisi tentang rindu, tentang jarak, tentang keyakinan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya. Ia telah menulis tentang proses menunggu yang panjang, tentang bagaimana ia belajar untuk sabar, tentang bagaimana ia belajar untuk percaya bahwa Angga akan kembali.
Tetapi ada satu hal yang belum ia tulis. Epilog. Penutup untuk bukunya. Penutup untuk perjalanannya.
Novi mengambil pena dan mulai menulis. Ia ingin menulis epilog yang sempurna. Epilog yang akan menginspirasi pembacanya. Epilog yang akan mengingatkan mereka bahwa tidak peduli seberapa lama mereka harus menunggu, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya.
"Epilog: Untuk yang Menunggu"
"Aku menulis buku ini untuk semua yang pernah menunggu. Untuk semua yang pernah merindukan. Untuk semua yang pernah bertanya-tanya apakah cinta mereka akan pernah terbalas.
Menunggu adalah hal yang sulit. Aku tahu. Aku telah melakukannya selama berbulan-bulan. Aku telah duduk di kamar yang sama, memandang langit yang sama, bertanya-tanya apakah orang yang aku cintai masih mengingatku.
Tapi aku juga belajar bahwa menunggu bukanlah hal yang sia-sia. Menunggu mengajariku tentang kesabaran. Menunggu mengajariku tentang kekuatan. Menunggu mengajariku bahwa cinta sejati tidak pernah pudar, meskipun jarak dan waktu memisahkan.
Jika kau sedang menunggu seseorang, jangan pernah menyerah. Jangan pernah berhenti percaya. Karena cinta sejati selalu menemukan jalannya. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Tapi suatu hari nanti, cinta itu akan kembali padamu.
Dan ketika itu terjadi, kau akan tahu bahwa semua penantianmu tidak sia-sia."
Novi membaca epilog yang ia tulis. Air mata mengalir di pipinya. Ia merasa bahwa ia telah berhasil menangkap semua yang ia rasakan. Ia telah berhasil menulis penutup yang sempurna untuk perjalanannya.
"Aku sudah selesai," bisik Novi. "Aku sudah menyelesaikan buku keduaku."
Ia meletakkan pena dan menatap naskahnya dengan penuh kebanggaan. Buku itu adalah hasil dari semua perjuangannya. Buku itu adalah bukti bahwa ia telah bertahan. Buku itu adalah hadiah untuk dirinya sendiri.
Novi mengirimkan naskah buku keduanya ke penerbit. Ia merasa lega. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang benar. Ia telah menyelesaikan sesuatu yang telah ia mulai sejak lama.
"Novi, bagaimana kabarmu?" tanya ayahnya ketika ia melihat Novi duduk di ruang tamu.
"Aku baik-baik saja, Ayah," kata Novi. "Aku baru saja mengirimkan naskah buku keduaku ke penerbit."
Ayahnya tersenyum. "Aku bangga padamu, Nak. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, apa kabar? Aku mendengar kau sudah menyelesaikan buku keduamu. Aku sangat bangga padamu. Aku tidak sabar untuk membacanya. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku sudah menyelesaikan buku keduaku. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku mencintaimu."
Novi mulai menulis puisi tentang menyelesaikan buku keduanya. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari.
"Aku menyelesaikan buku keduaku. Tentang menunggu. Tentang harapan. Tentang cinta yang tidak pernah pudar. Aku menulis tentang perjalananku. Tentang semua yang aku alami. Tentang semua yang aku pelajari. Aku merasa bangga. Aku merasa lega. Aku merasa bahagia. Aku telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Aku telah membuktikan bahwa aku kuat. Aku telah membuktikan bahwa aku bisa."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebanggaan.
Novi mulai mempersiapkan peluncuran buku keduanya. Ia mengundang Rina, ayahnya, ibunya, dan beberapa teman dekatnya. Ia juga mengundang beberapa penulis dan penggemar yang telah mendukungnya.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata Rina. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa lagi."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
"Aku juga bahagia untukmu, Nak," kata ayahnya. "Kau telah membuktikan bahwa kau kuat. Kau telah membuktikan bahwa kau bisa."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah."
"Aku juga bahagia untukmu, Novi," kata ibunya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu."
Hari peluncuran buku kedua tiba. Novi berdiri di depan toko buku yang ramai, memegang buku keduanya dengan tangan gemetar. Ia merasa campuran antara gugup, bahagia, dan tidak percaya.
"Selamat, Novi!" seru Rina dari kerumunan.
"Terima kasih, Rin!" kata Novi.
Novi mulai membacakan beberapa puisinya di depan para pengunjung. Ia membaca tentang menunggu, tentang harapan, tentang cinta yang tidak pernah pudar. Ia membaca dengan penuh perasaan, dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Ketika ia selesai, semua orang bertepuk tangan. Novi tersenyum. Ia merasa bahwa ia telah melakukan sesuatu yang luar biasa. Ia telah berbagi ceritanya dengan dunia. Ia telah menginspirasi orang lain.
Setelah acara peluncuran, Novi duduk di kamarnya, memegang buku keduanya. Ia menatap sampulnya dengan penuh kebanggaan.
"Aku berhasil," bisik Novi. "Aku benar-benar berhasil."
Ia membuka buku itu dan membaca epilog yang ia tulis. Ia merasakan semua emosi yang ia tuangkan ke dalam kata-kata itu. Ia merasakan semua perjalanan yang telah ia lalui.
Novi mulai menerima pesan-pesan dari orang-orang yang telah membaca buku keduanya. Mereka mengatakan bahwa epilognya sangat menyentuh. Mereka mengatakan bahwa kata-katanya menginspirasi mereka untuk terus menunggu. Mereka mengatakan bahwa ceritanya memberi mereka harapan.
"Novi, aku membaca buku keduamu," kata salah satu penggemarnya. "Epilognya sangat menyentuh. Aku menangis membacanya."
"Terima kasih," kata Novi. "Aku senang kau menyukainya."
"Novi, kata-katamu memberiku harapan," kata penggemar lainnya. "Aku sedang menunggu seseorang. Dan puisimu mengingatkanku bahwa cinta sejati tidak pernah pudar."
"Terima kasih," kata Novi. "Aku senang bisa menginspirasimu."
Novi merasa bahwa ia telah menemukan panggilannya. Ia adalah seorang penulis. Ia ingin terus menulis. Ia ingin terus berbagi ceritanya dengan dunia.
Ia mulai menulis puisi baru. Puisi tentang perasaannya saat ini. Puisi tentang kebahagiaan dan kepuasan.
"Aku telah menemukan panggilanku. Aku adalah seorang penulis. Aku menulis tentang cinta dan kehilangan. Aku menulis tentang harapan dan kebangkitan. Aku menulis tentang menunggu dan percaya. Aku ingin terus menulis. Aku ingin terus berbagi ceritaku dengan dunia. Aku ingin menginspirasi orang lain. Aku ingin menghibur orang lain. Aku ingin mengingatkan orang lain bahwa tidak peduli seberapa lama mereka harus menunggu, cinta sejati akan selalu menemukan jalannya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga.
"Novi, aku sudah menerima buku keduamu. Aku sudah membacanya. Aku menangis membacanya. Aku tersenyum membacanya. Epilognya sangat menyentuh. Aku sangat bangga padamu, Novi. Kau telah mencapai sesuatu yang luar biasa. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan.
Ia membalas pesan Angga.
"Angga, terima kasih. Aku senang kau menyukai buku keduaku. Aku menulis epilog itu untukmu. Untuk kita. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi mulai merencanakan buku ketiganya. Ia ingin menulis tentang pertemuan kembali. Tentang kebahagiaan setelah penantian panjang. Tentang cinta yang akhirnya menemukan jalannya.
"Aku akan menulis buku ketiga," kata Novi pada Rina. "Tentang pertemuan kembali. Tentang kebahagiaan setelah penantian panjang. Tentang cinta yang akhirnya menemukan jalannya."
"Aku yakin buku ketigamu akan sama hebatnya dengan buku-buku sebelumnya," kata Rina. "Aku tidak sabar untuk membacanya."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Novi juga mulai berbicara lebih sering dengan Angga tentang masa depan. Mereka berbicara tentang kapan Angga akan kembali untuk selamanya. Mereka berbicara tentang bagaimana mereka akan membangun kehidupan bersama.
"Novi," kata Angga dalam salah satu panggilan teleponnya. "Aku akan kembali. Aku sudah hampir menyelesaikan kuliahku. Aku akan kembali untuk selamanya."
"Kapan?" tanya Novi. "Kapan kau akan kembali?"
"Dalam enam bulan," kata Angga. "Aku akan kembali dalam enam bulan."
Novi menangis. "Aku tidak sabar, Angga. Aku sangat tidak sabar."
"Aku juga tidak sabar," kata Angga. "Tapi kita harus sabar. Kita harus percaya bahwa semua ini akan berakhir dengan indah."
Novi mulai menghitung hari. Enam bulan. Seratus delapan puluh hari. Empat ribu tiga ratus dua puluh jam. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan Angga lagi.
"Novi, kau kelihatan sangat bersemangat," kata Rina suatu hari.
"Aku sangat bersemangat, Rin," kata Novi. "Angga akan kembali dalam enam bulan. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya."
"Aku mengerti," kata Rina. "Aku juga tidak sabar untuk melihat kalian bersama lagi."
Malam itu, Novi menulis puisi tentang menunggu yang akan segera berakhir. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Enam bulan lagi. Kau akan kembali. Aku tidak sabar. Aku sangat tidak sabar. Aku akan memelukmu. Aku akan menciummu. Aku akan mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku akan mengatakan betapa aku merindukanmu. Enam bulan lagi. Kau akan kembali. Dan aku akan bahagia. Selamanya."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata harapan.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu."
BAB L
Penerimaan
Pagi itu, Novi bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada semacam ketenangan di dadanya, semacam kedamaian yang tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Ia berbaring di tempat tidurnya beberapa saat, mendengarkan suara burung-burung di luar jendela yang bernyanyi dengan riang. Hari ini, ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa cemas. Ia tidak merasa khawatir tentang masa depan. Ia hanya merasa... tenang. Seperti lautan yang tenang setelah badai besar berlalu.
Novi berdiri di depan cermin yang retak itu dan menatap bayangannya sendiri. Gadis di hadapannya terlihat berbeda. Matanya lebih tenang, tidak lagi penuh dengan keraguan. Senyumnya lebih tulus, tidak lagi dipaksakan. Bahkan kulitnya terlihat lebih bersinar, seolah-olah ada cahaya dari dalam yang mulai muncul. Ia telah melalui begitu banyak hal. Ia telah jatuh, bangkit, jatuh lagi, dan bangkit lagi. Ia telah menangis, tertawa, berharap, dan kecewa. Dan sekarang, ia berdiri di sini, lebih kuat dari sebelumnya.
"Aku sudah sampai di sini," bisik Novi pada bayangannya, suaranya lembut tetapi penuh keyakinan. "Aku sudah melewati semua ini. Aku sudah melewati semua rasa sakit, semua keraguan, semua ketakutan. Dan aku masih di sini. Aku masih berdiri. Aku masih hidup."
Ia tersenyum pada bayangannya. Senyum yang tulus, yang datang dari tempat yang dalam di hatinya. Ia bangga pada dirinya sendiri. Ia telah melalui banyak hal. Ia telah tumbuh menjadi seseorang yang lebih kuat, lebih bijaksana, lebih penuh cinta. Dan meskipun ia masih menunggu Angga, ia tahu bahwa ia bisa bertahan. Ia tahu bahwa ia tidak akan hancur jika ia harus menunggu lebih lama.
"Kau telah berubah, Novi," bisiknya. "Kau telah menjadi seseorang yang tidak pernah kau bayangkan sebelumnya."
Novi memakai seragamnya dan pergi ke sekolah seperti biasa. Sepanjang perjalanan, ia merasa lebih ringan. Langkahnya terasa lebih enteng, seperti ada beban yang telah terangkat dari pundaknya. Ia tidak lagi terbebani oleh masa lalu. Ia tidak lagi terbebani oleh ketakutan akan masa depan. Ia hanya menikmati perjalanan, menikmati setiap langkah, menikmati setiap momen. Angin berhembus lembut di wajahnya, dan ia menarik napas dalam-dalam, merasakan udara segar yang memenuhi paru-parunya.
"Ini rasanya," pikir Novi. "Ini rasanya hidup. Bukan hanya bertahan, tetapi benar-benar hidup."
Di sekolah, Novi bertemu dengan Rina di gerbang. Rina tersenyum padanya, tetapi kali ini senyum Rina berbeda. Bukan senyum khawatir yang biasa ia berikan, tetapi senyum bangga, senyum yang mengatakan bahwa ia melihat perubahan pada sahabatnya.
"Novi, kau kelihatan berbeda hari ini," kata Rina. "Kau kelihatan sangat tenang. Seperti ada cahaya di sekitarmu."
"Aku merasa tenang, Rin," kata Novi, suaranya lembut tetapi pasti. "Aku merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bukan karena aku tahu apa yang akan terjadi, tetapi karena aku percaya bahwa apa pun yang terjadi, aku bisa menghadapinya."
"Aku senang mendengarnya," kata Rina. "Kau pantas merasa tenang. Kau sudah berjuang terlalu lama."
"Terima kasih, Rin," kata Novi, memegang tangan Rina. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu. Kau adalah sahabat yang selalu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri."
Sepanjang pelajaran, Novi merasa lebih fokus daripada biasanya. Ia mendengarkan guru dengan penuh perhatian, mencatat dengan rapi, dan bahkan menjawab pertanyaan guru dengan percaya diri. Tidak ada lagi pikiran yang melayang ke masa lalu atau masa depan. Ia benar-benar hadir di saat ini, menikmati setiap momen.
Rina yang duduk di sampingnya tersenyum melihat perubahan itu. "Novi, kau benar-benar berbeda hari ini. Aku suka melihatmu seperti ini. Kau seperti... versi terbaik dari dirimu."
"Aku mencoba untuk menjadi diriku yang baru," kata Novi. "Diriku yang lebih kuat. Diriku yang lebih berani. Diriku yang lebih bahagia. Diriku yang tidak lagi takut pada ketidakpastian."
"Kau bisa melakukannya," kata Rina. "Aku percaya padamu. Dan aku selalu di sini untukmu."
Jam istirahat, Novi pergi ke perpustakaan. Ia ingin menulis. Ia ingin menuangkan semua perasaannya ke dalam kata-kata. Tetapi kali ini, ia tidak menulis tentang Angga. Ia tidak menulis tentang cinta atau kehilangan. Ia menulis tentang dirinya sendiri. Tentang perjalanannya. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang siapa dirinya sekarang.
Di perpustakaan, ia duduk di kursi favoritnya. Kursi yang sama tempat ia pertama kali bertemu Angga bertahun-tahun lalu. Kursi yang sama tempat ia menulis puisi-puisi pertamanya tentang cinta dan kehilangan. Di luar jendela, langit cerah tanpa setitik awan. Sinar matahari masuk melalui jendela, menerangi meja di depannya seperti cahaya keemasan. Novi menatap sinar matahari itu dan merasa bahwa ia juga bisa menjadi cerah. Ia juga bisa menemukan kembali cahaya di dalam dirinya. Cahaya yang mungkin pernah redup, tetapi tidak pernah benar-benar padam.
Ia mulai menulis puisi. Puisi tentang penerimaan. Puisi tentang kedamaian. Puisi tentang semua yang ia pelajari dari perjalanannya yang panjang.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Aku telah jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar, meskipun jarak dan waktu memisahkan. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi, karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri. Bukan dari orang lain. Bukan dari keadaan. Tapi dari keputusan untuk bahagia."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah tiba di tempat yang selama ini ia cari.
Ia menutup buku catatannya dan tersenyum. Senyum yang tenang, yang datang dari tempat yang dalam.
"Aku sudah siap," bisik Novi, suaranya pasti. "Aku sudah siap untuk melanjutkan hidupku. Aku sudah siap untuk menerima apa pun yang akan terjadi. Aku sudah siap untuk bahagia, apa pun yang terjadi."
Sore itu, Novi pulang dengan perasaan yang berbeda. Ia merasa lebih ringan, lebih bebas, lebih utuh. Ia merasa bahwa ia telah menemukan kembali dirinya sendiri. Bukan versi dirinya yang dulu sebelum Angga datang, tetapi versi dirinya yang baru, yang lebih kuat, yang lebih bijaksana.
Di rumah, ia duduk di kamarnya dan melanjutkan menulis. Bukan puisi, tetapi semacam jurnal. Catatan tentang semua yang ia rasakan, semua yang ia pelajari, semua yang ia inginkan dalam hidup.
"Aku belajar bahwa hidup adalah tentang perjalanan. Bukan tentang tujuan akhir. Aku belajar bahwa setiap langkah, setiap air mata, setiap senyum, adalah bagian dari perjalanan itu. Aku belajar bahwa aku tidak perlu takut. Aku tidak perlu ragu. Aku hanya perlu percaya. Percaya pada diriku sendiri. Percaya pada cinta. Percaya pada hidup. Aku belajar bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang ditemukan, tetapi sesuatu yang diciptakan. Diciptakan dari keputusan untuk bahagia, dari pilihan untuk melihat kebaikan, dari keberanian untuk terus melangkah meskipun takut."
Malam itu, Novi menerima pesan dari Angga. Pesan singkat yang selalu membuatnya tersenyum.
"Novi, apa kabar? Aku memikirkanmu. Aku merindukanmu. Aku mencintaimu."
Novi tersenyum membaca pesan itu. Ia membalasnya dengan cepat, kata-katanya mengalir dengan mudah.
"Aku baik-baik saja, Angga. Aku merasa tenang. Aku merasa damai. Aku menerima bahwa aku harus menunggu. Aku menerima bahwa kita harus berpisah untuk sementara waktu. Tapi aku juga percaya bahwa kita akan bersama lagi. Bukan karena aku tahu, tetapi karena aku memilih untuk percaya. Aku mencintaimu."
Beberapa menit kemudian, Angga membalas. Pesannya panjang dan penuh emosi.
"Aku bangga padamu, Novi. Kau telah tumbuh menjadi seseorang yang luar biasa. Dari gadis yang takut bicara di pojok kelas, menjadi wanita yang penuh keyakinan dan kedamaian. Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk melihat siapa dirimu sekarang. Aku mencintaimu. Selamanya."
Novi membaca pesan itu berulang-ulang. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah mencapai sesuatu yang penting, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk orang yang ia cintai.
Novi mulai menulis puisi tentang penerimaan. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia pelajari. Tentang semua yang telah ia capai.
"Aku menerima. Aku menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Aku menerima bahwa aku harus menunggu. Aku menerima bahwa aku harus berpisah dengan orang yang aku cintai. Tapi aku juga menerima bahwa cinta tidak pernah pudar. Aku menerima bahwa aku kuat. Aku menerima bahwa aku bisa bertahan. Aku menerima bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Aku menerima bahwa kebahagiaan bukanlah hadiah yang diberikan orang lain, tetapi pilihan yang aku buat setiap hari. Aku menerima. Dan aku merasa damai. Bukan damai yang datang dari ketiadaan masalah, tetapi damai yang datang dari keyakinan bahwa aku bisa menghadapi apa pun."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah tiba di tempat yang selama ini ia cari.
Novi mulai berbicara lebih sering dengan ayahnya dan ibunya. Mereka makan malam bersama setiap hari, sesuatu yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mereka berbicara tentang banyak hal. Tentang sekolah. Tentang mimpi. Tentang masa depan. Tentang semua yang telah mereka lewati bersama.
"Novi," kata ayahnya suatu hari, menatap putrinya dengan penuh kebanggaan. "Aku melihat perubahan padamu. Kau lebih percaya diri. Kau lebih bahagia. Kau seperti... versi terbaik dari dirimu."
"Aku merasa lebih bahagia, Ayah," kata Novi. "Aku menerima bahwa aku harus menunggu. Aku menerima bahwa aku harus berpisah dengan Angga untuk sementara waktu. Tapi aku juga percaya bahwa kita akan bersama lagi. Bukan karena aku tahu, tetapi karena aku memilih untuk percaya."
"Aku bangga padamu," kata ayahnya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang kuat. Dari gadis kecil yang kehilangan ibunya, menjadi wanita yang penuh keyakinan."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ayah. Tanpa Ayah yang selalu ada, bahkan saat aku jatuh sakit dan lemah."
"Aku juga bangga padamu, Novi," kata ibunya. "Kau telah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa. Aku minta maaf karena tidak ada untukmu saat kau kecil. Tapi aku di sini sekarang. Dan aku tidak akan pergi lagi."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu. Tanpa Ibu yang kembali dan memberi maaf, aku mungkin masih terjebak dalam rasa sakit. Aku mencintaimu, Bu. Aku mencintai kalian berdua."
Novi mulai mempersiapkan diri untuk kedatangan Angga. Ia tahu bahwa ia akan kembali dalam enam bulan. Ia tahu bahwa mereka akan bersama lagi. Dan ia tidak sabar untuk itu. Tetapi berbeda dengan sebelumnya, ia tidak lagi merasa cemas. Tidak lagi merasa khawatir. Ia hanya merasa tenang, yakin bahwa apa pun yang terjadi, ia akan baik-baik saja.
"Novi, kau kelihatan sangat bersemangat," kata Rina suatu hari di kantin.
"Aku sangat bersemangat, Rin," kata Novi. "Angga akan kembali dalam enam bulan. Aku tidak sabar untuk bertemu dengannya. Tapi aku juga tidak lagi takut. Aku tahu bahwa aku bisa bertahan, apa pun yang terjadi."
"Aku mengerti," kata Rina. "Aku juga tidak sabar untuk melihat kalian bersama lagi. Tapi yang lebih penting, aku senang melihatmu bahagia, Novi. Benar-benar bahagia."
"Terima kasih, Rin," kata Novi. "Kau adalah sahabat yang selalu percaya padaku, bahkan saat aku tidak percaya pada diriku sendiri. Aku tidak akan pernah bisa membalas semua yang kau berikan padaku."
"Kau tidak perlu membalasnya," kata Rina. "Cukup bahagia. Itu semua yang aku inginkan untukmu."
Novi mulai menulis puisi tentang pertemuan mereka nanti. Tentang semua yang ia rasakan. Tentang semua yang ia harapkan.
"Enam bulan lagi. Kau akan kembali. Aku tidak sabar. Aku sangat tidak sabar. Aku akan memelukmu. Aku akan menciummu. Aku akan mengatakan betapa aku mencintaimu. Aku akan mengatakan betapa aku merindukanmu. Tapi aku juga akan mengatakan betapa aku telah berubah. Betapa aku telah tumbuh. Betapa aku telah menemukan diriku sendiri. Enam bulan lagi. Kau akan kembali. Dan aku akan bahagia. Bukan karena kau kembali, tetapi karena aku telah memilih untuk bahagia. Dan kebahagiaanku akan semakin lengkap saat kau di sini."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata harapan. Air mata yang mengatakan bahwa ia siap untuk apa pun yang akan terjadi.
Hari-hari berlalu. Novi terus menulis. Ia terus belajar. Ia terus tumbuh. Ia mulai menemukan kembali kebahagiaannya. Ia mulai menemukan kembali dirinya sendiri.
Ia juga terus berbicara dengan Angga melalui surat dan panggilan telepon. Mereka saling mendukung. Mereka saling menguatkan. Mereka saling mencintai. Tetapi berbeda dengan sebelumnya, percakapan mereka tidak lagi penuh dengan keraguan dan ketakutan. Sekarang, mereka berbicara tentang masa depan dengan keyakinan, tentang mimpi dengan semangat, tentang cinta dengan kepastian.
"Novi," kata Angga dalam salah satu panggilan teleponnya. "Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu. Aku tidak sabar untuk memelukmu. Aku tidak sabar untuk mengatakan betapa aku mencintaimu. Tapi yang paling penting, aku tidak sabar untuk melihat siapa dirimu sekarang. Aku bisa mendengar perubahannya dalam suaramu. Kau terdengar lebih tenang. Lebih percaya diri. Lebih... utuh."
"Aku juga tidak sabar, Angga," kata Novi. "Aku sudah menunggumu selama berbulan-bulan. Dan sekarang, kau akan segera kembali. Tapi aku juga sudah berubah. Aku bukan lagi gadis yang sama yang kau tinggalkan. Aku lebih kuat. Aku lebih berani. Aku lebih bahagia."
"Aku akan kembali, Novi," kata Angga. "Aku berjanji. Aku akan kembali padamu. Dan aku akan mencintaimu, bukan karena kau membutuhkanku, tetapi karena kau memilihku."
Suatu malam, Novi duduk di kamarnya. Ia membuka kotak kayu yang berisi surat-surat dari Angga dan puisinya sendiri. Ia membaca beberapa surat. Surat-surat yang penuh dengan cinta dan kerinduan. Surat-surat yang mengingatkannya pada semua perjalanan yang telah ia lalui. Semua rasa sakit, semua kebahagiaan, semua pelajaran.
Novi tersenyum. Ia tidak lagi menangis. Ia tidak lagi merasa sedih. Ia hanya merasa bersyukur. Bersyukur karena ia telah mencintai. Bersyukur karena ia telah dicintai. Bersyukur karena cinta itu tidak pernah sia-sia. Bersyukur karena semua yang terjadi telah membawanya ke tempat ini, ke tempat di mana ia bisa berdiri dengan tenang dan berkata bahwa ia baik-baik saja.
Ia mengambil gelang di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah cahaya lampu. "Selamanya, A & N."
"Selamanya, A & N," bisik Novi. "Selamanya."
Ia mencium gelang itu, bukan dengan rasa sakit, tetapi dengan rasa syukur. Gelang itu bukan lagi simbol janji yang menyakitkan, tetapi simbol perjalanan yang telah ia lalui.
Malam itu, Novi menulis puisi tentang penerimaan. Tentang semua yang telah ia lalui. Tentang semua yang telah ia pelajari. Tentang semua yang telah ia capai.
"Aku telah melalui banyak hal. Kehilangan. Kesedihan. Keraguan. Aku telah jatuh ke dalam jurang yang paling dalam. Tapi aku juga menemukan cinta. Cinta yang membuatku kuat. Cinta yang membuatku percaya. Cinta yang tidak pernah pudar. Aku belajar bahwa cinta tidak selalu tentang kebersamaan. Kadang, cinta adalah tentang melepaskan. Kadang, cinta adalah tentang membiarkan orang yang kita cintai pergi. Karena kita mencintai mereka terlalu dalam untuk membuat mereka menderita. Tapi cinta itu tetap ada. Di dalam hatiku. Selamanya. Aku belajar bahwa aku kuat. Aku belajar bahwa aku bisa bertahan. Aku belajar bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa orang yang aku cintai di sisiku. Aku belajar bahwa kebahagiaan sejati datang dari dalam diri sendiri. Aku menerima. Aku menerima semua yang telah terjadi. Aku menerima semua yang akan terjadi. Aku menerima. Dan aku merasa damai. Bukan damai yang pasif, tetapi damai yang aktif. Damai yang datang dari keputusan untuk tidak lagi melawan arus, tetapi mengalir bersamanya. Damai yang datang dari keyakinan bahwa apa pun yang terjadi, aku akan baik-baik saja. Karena aku memiliki diriku sendiri. Karena aku memiliki cinta di dalam hatiku. Dan itu sudah cukup. Itu lebih dari cukup."
Novi membaca puisinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya, tetapi kali ini bukan air mata sedih. Ini adalah air mata kebahagiaan. Air mata penerimaan. Air mata harapan. Air mata yang mengatakan bahwa ia telah tiba di tempat yang selama ini ia cari.
Ia memejamkan mata dan membayangkan Angga. Senyumnya. Matanya. Caranya memanggil namanya dengan lembut. Tetapi kali ini, ia tidak membayangkan Angga sebagai bagian dari dirinya yang hilang. Ia membayangkan Angga sebagai bagian dari perjalanannya, bagian dari ceritanya, bagian dari hidupnya yang indah.
"Aku akan menunggumu, Angga," bisik Novi. "Aku akan selalu menunggumu. Tapi aku juga akan terus hidup. Aku akan terus menulis. Aku akan terus bermimpi. Aku akan terus menjadi diriku sendiri. Karena aku tahu bahwa aku kuat. Aku tahu bahwa aku bisa bertahan. Aku tahu bahwa aku bisa bahagia, bahkan tanpa kau di sisiku. Tapi aku juga tahu bahwa kau akan kembali. Dan ketika kau kembali, aku akan menyambutmu dengan senyum. Bukan senyum yang dipaksakan, tetapi senyum yang tulus. Senyum dari seseorang yang telah menemukan dirinya sendiri. Senyum dari seseorang yang mencintaimu, bukan karena ia membutuhkanmu, tetapi karena ia memilihmu. Karena aku mencintaimu. Selamanya."
EPILOG
Lima Tahun Kemudian
Toko buku di Jakarta ramai pada hari itu. Pengunjung datang dan pergi, ada yang sekadar melihat-lihat, ada yang sungguh-sungguh mencari buku, dan ada pula yang datang untuk acara spesial yang diadakan di sudut ruangan. Di tengah keramaian itu, seorang wanita muda berdiri di depan meja panjang yang ditutupi kain hitam elegan, dengan tumpukan buku di hadapannya. Wanita itu mengenakan gaun sederhana berwarna krem, rambut panjangnya terurai rapi di bahu, dan senyumnya merekah hangat menyambut setiap orang yang mendekat.
Wanita itu adalah Novi. Novi Ardhani, penulis terkenal yang bukunya telah dicetak ulang puluhan kali dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Namanya sudah dikenal di seluruh negeri, bahkan di luar negeri. Puisinya dibaca oleh jutaan orang, kata-katanya menginspirasi banyak hati yang patah, ceritanya menjadi harapan bagi mereka yang sedang menunggu.
Tiga tahun telah berlalu sejak buku pertamanya terbit. Dua tahun sejak buku keduanya menjadi best seller nasional. Dan satu tahun sejak buku ketiganya memenangkan penghargaan sastra bergengsi. Tetapi di antara semua pencapaian itu, Novi tetap menjadi dirinya yang dulu. Sederhana, rendah hati, dan penuh cinta.
Namun, ada satu hal yang berbeda dari acara hari ini.
Novi sesekali menatap pintu toko buku. Ia tidak mencari siapa pun secara khusus—atau mungkin ia mencari. Ada kegelisahan kecil di dadanya yang tidak bisa ia jelaskan. Angga seharusnya masih di Jepang. Angga seharusnya masih menyelesaikan kuliahnya. Tetapi ada firasat aneh yang membuatnya terus menatap pintu, berharap melihat sesuatu—atau seseorang.
"Kau mencari sesuatu?" tanya Rina dari samping.
"Tidak," kata Novi cepat. "Hanya... melihat-lihat."
Rina tersenyum tipis. Ia tahu Novi sedang berbohong. Tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.
Novi menandatangani buku untuk seorang gadis muda bernama Sarah. Setelah Sarah pergi dengan senyum lebar, Rina mendekat dan berbisik di telinga Novi.
"Novi, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu setelah acara ini selesai."
Novi mengerutkan kening. "Siapa?"
"Seseorang yang sangat kau kenal," kata Rina. "Seseorang yang sudah lama tidak kau lihat. Aku bilang padanya untuk menunggu sampai acara selesai."
"Rin, apa maksudmu?" tanya Novi, jantungnya mulai berdebar lebih cepat.
"Kau akan lihat nanti," kata Rina dengan senyum misterius. "Fokus pada acaramu dulu. Aku janji, ini akan sepadan dengan penantianmu."
Novi menatap Rina dengan bingung. Ada sesuatu di mata Rina yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Sesuatu seperti kegembiraan yang tertahan. Sesuatu seperti rahasia yang hampir meledak.
"Rin..." Novi mencoba lagi.
"Novi," potong Rina. "Percayalah padaku. Aku tidak akan pernah menyakitimu. Ini adalah kejutan yang sudah lama aku rencanakan. Dan aku tahu kau akan menyukainya."
"Novi, bisa tanda tangan buku saya?" seorang gadis muda mendekat dengan mata berbinar.
"Tentu," kata Novi dengan senyum. "Siapa nama kamu?"
"Sarah," kata gadis itu. "Aku sangat suka buku-bukumu. Puisimu membuatku menangis. Tapi juga memberiku harapan."
Novi menuliskan nama Sarah di halaman depan buku itu, lalu menambahkan sebuah kalimat kecil di bawahnya.
"Untuk Sarah, semoga kau selalu menemukan harapan dalam setiap kata."
Sarah memeluk buku itu erat-erat. "Terima kasih, Mbak Novi. Kau adalah inspirasiku."
"Terima kasih kembali," kata Novi. "Teruslah bermimpi. Dan jangan pernah berhenti percaya."
Sarah pergi dengan senyum lebar. Novi menatapnya pergi dan tersenyum. Ia ingat dirinya sendiri bertahun-tahun lalu. Gadis yang duduk di pojok belakang kelas. Gadis yang tidak percaya bahwa ia bisa menjadi apa pun.
"Kau sudah jauh, Novi," bisik Rina di sampingnya. "Lihatlah gadis itu. Kau menginspirasinya."
"Aku hanya menulis apa yang aku rasakan," kata Novi. "Aku tidak pernah berpikir itu akan berarti bagi orang lain."
"Tapi itu berarti," kata Rina. "Dan itu yang membuatmu luar biasa."
Rina berdiri di samping Novi, membantu mengatur antrean dan memastikan semuanya berjalan lancar. Rina telah menjadi sahabat terbaik Novi selama bertahun-tahun, dan kini ia juga menjadi manajernya.
"Novi, kau luar biasa," bisik Rina. "Lihatlah betapa banyak orang yang mencintaimu."
"Semua ini karena dukunganmu, Rin," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpamu."
Rina tersenyum. "Kau selalu mengatakan itu. Tapi kau tahu, kau yang melakukannya sendiri. Aku hanya ada di sini untukmu."
"Dan itu sudah cukup," kata Novi. "Itu lebih dari cukup."
Rina menepuk pundak Novi. "Novi, aku ingin mengatakan sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Kau tahu, aku sudah menjadi sahabatmu selama bertahun-tahun," kata Rina. "Aku melihatmu jatuh cinta, patah hati, bangkit, dan menjadi penulis sukses. Aku melihat semua perjuanganmu. Dan aku tahu bahwa kau pantas mendapatkan kebahagiaan."
"Rin..." Novi merasa air mata menggenang di matanya.
"Jadi percayalah padaku," kata Rina. "Apa pun yang terjadi hari ini, aku melakukannya untuk kebahagiaanmu."
Acara tanda tangan buku berlangsung selama dua jam. Novi menandatangani puluhan buku, berfoto dengan penggemar, dan mendengarkan cerita-cerita mereka. Ada yang datang untuk mengucapkan terima kasih karena puisinya menyelamatkan mereka dari depresi. Ada yang datang untuk mengatakan bahwa bukunya mengingatkan mereka pada cinta pertama mereka. Ada yang datang hanya untuk mengatakan bahwa mereka bangga padanya.
Setiap cerita menyentuh hati Novi. Ia merasa bahwa semua perjuangannya tidak sia-sia.
Tetapi di sela-sela itu, ia terus menatap pintu. Ia terus mencari sosok yang mungkin tidak akan datang. Ia tidak tahu mengapa. Angga seharusnya masih di Jepang. Angga seharusnya tidak ada di sini. Tetapi ia tidak bisa menghentikan harapan kecil di dalam hatinya.
"Mungkin aku terlalu berharap," pikir Novi. "Mungkin aku harus berhenti."
Tetapi ia tidak bisa berhenti. Ada sesuatu yang mengatakan padanya bahwa hari ini adalah hari yang istimewa. Dan kata-kata Rina terus terngiang di kepalanya.
"Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu..."
Novi menggigit bibirnya. Jantungnya berdebar lebih cepat setiap kali pintu toko terbuka.
Di antara kerumunan, Novi melihat dua sosok yang sangat ia kenal. Ayahnya dan ibunya berdiri di pojok ruangan, tersenyum bangga padanya. Mereka telah menjadi pendukung setia Novi sejak awal. Ayahnya yang dulu sibuk bekerja, kini selalu meluangkan waktu untuk hadir di setiap acara Novi. Ibunya yang dulu pergi, kini selalu ada di sisinya.
Novi melambaikan tangan pada mereka. Ayahnya mengangkat ibu jari, ibunya mengirimkan ciuman dari kejauhan. Novi merasa hangat di dadanya. Ia telah memiliki keluarga yang utuh lagi.
Tetapi ketika ia melambaikan tangan pada orang tuanya, ia melihat sesuatu di belakang mereka. Sosok lain yang berdiri di sudut ruangan, setengah tersembunyi di balik tiang. Sosok itu tinggi, dengan rambut yang sedikit lebih panjang dari yang ia ingat. Sosok itu mengenakan jaket hitam sederhana dan celana jeans, dan ia berdiri dengan tenang, menatap Novi dari kejauhan.
Novi berhenti melambaikan tangan. Jantungnya berdebar lebih cepat.
"Apa itu..." bisiknya.
Tetapi ketika ia berkedip, sosok itu sudah tidak ada. Mungkin hanya bayangan. Mungkin hanya imajinasinya. Tetapi untuk sesaat, ia bisa bersumpah bahwa ia melihat senyum yang terlalu terang. Senyum yang selalu membuat jantungnya berdebar.
"Novi?" Rina menatapnya dengan khawatir. "Kau baik-baik saja?"
"Aku... ya," kata Novi. "Aku hanya lelah."
"Kau pucat," kata Rina. "Mau istirahat sebentar?"
"Mungkin sebentar lagi," kata Novi. "Setelah antrean ini selesai."
Ketika antrean mulai menipis, Novi menghela napas lega. Ia menatap tumpukan buku yang sudah ia tandatangani.
"Novi, mau istirahat sebentar?" tanya Rina. "Aku akan menjaga meja."
"Baik, Rin," kata Novi. "Aku hanya perlu minum air sebentar."
Novi berjalan ke sudut ruangan. Ia mengambil segelas air dan menyesapnya perlahan. Di depannya, keramaian masih berlangsung. Orang-orang berbicara tentang bukunya, tentang puisinya, tentang ceritanya.
"Aku sudah sampai di sini," bisik Novi. "Aku sudah melewati semua ini. Dan aku masih di sini."
Ia menatap gelas di tangannya. Airnya bening dan dingin. Tetapi ia tiba-tiba merindukan sesuatu yang hangat. Cokelat panas. Seperti yang dulu selalu diberikan Angga setiap pagi.
"Sudah bertahun-tahun," bisik Novi. "Tapi aku masih merindukannya."
Ia meletakkan gelas itu dan hendak kembali ke meja. Tetapi ketika ia berbalik, ia melihat sesuatu di tepi meja. Sebuah gelas berisi cokelat panas. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya.
Novi berhenti. Dadanya berdebar kencang.
"Apa..." bisiknya.
Ia melihat ke sekeliling ruangan. Tidak ada yang memperhatikannya. Semua orang sibuk dengan urusan mereka sendiri. Tetapi gelas itu ada di sana. Cokelat panas. Hangat. Seperti dulu.
Novi mengambil gelas itu dengan tangan gemetar. Aromanya sama. Rasanya pasti sama. Ia meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan. Seperti cinta yang tidak pernah pudar.
Ia menoleh ke Rina. Rina tersenyum misterius dari kejauhan.
"Rin..." bisik Novi.
Rina hanya mengangkat bahu dan tersenyum.
Novi menaruh gelas cokelat panas itu. Matanya menyapu ruangan. Ia mencari. Ia berharap. Ia tidak tahu apa yang ia cari, tetapi ia tahu bahwa ada sesuatu yang telah berubah.
Kemudian, ia melihatnya.
Di pojok ruangan, seorang pria berdiri dengan tenang. Pria itu tinggi, dengan rambut yang sedikit lebih panjang dari yang ia ingat, dan senyum yang masih sama seperti dulu. Senyum yang terlalu terang. Senyum yang selalu membuat jantungnya berdebar. Pria itu mengenakan jaket hitam yang sama seperti yang ia lihat sebelumnya—bukan bayangan. Bukan imajinasi.
Angga.
Novi berhenti. Dadanya berdebar kencang. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa berbicara. Ia hanya bisa menatap.
Angga berjalan mendekat. Langkahnya tenang. Matanya tidak pernah lepas dari Novi. Ia membawa sesuatu di tangannya—sebuah amplop kecil berwarna krem, sama seperti amplop yang pernah Novi tulis untuknya bertahun-tahun lalu. Amplop itu tampak tua dan kusut, seolah-olah sudah lama disimpan.
Angga berhenti di hadapannya. Ia tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama. Senyum yang selalu membuat Novi jatuh cinta.
"Kau..." Novi tidak bisa menyelesaikan kalimatnya. "Kau yang tadi di balik tiang?"
"Aku tidak bisa menahan diri," kata Angga, suaranya lembut. "Aku sudah di sini sejak pagi, menunggu. Melihatmu dari kejauhan. Melihat betapa bahagianya kau. Melihat betapa banyak orang yang mencintaimu."
"Sudah selesai," kata Angga. "Kuliahku selesai. Aku di sini. Untuk selamanya."
Novi menangis. "Angga... kau... kenapa kau tidak bilang?"
"Aku ingin memberi kejutan," kata Angga. "Rina membantuku. Aku sudah di sini sejak pagi, menunggu acaramu selesai. Aku melihatmu dari kejauhan, dan aku tidak bisa berhenti tersenyum."
"Kau melihatku?" tanya Novi.
"Aku melihatmu dari kejauhan," kata Angga. "Aku melihat betapa bahagianya kau. Betapa banyak orang yang mencintaimu. Dan aku bangga. Aku sangat bangga padamu."
Novi tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya berdiri di sana, menatap Angga dengan air mata yang mengalir di pipinya. Semua perasaan yang ia simpan selama bertahun-tahun tumpah sekaligus. Ia ingin memeluknya. Ia ingin memukulnya karena membuatnya menunggu. Ia ingin tertawa. Ia ingin menangis. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu.
Angga mengulurkan amplop itu padanya.
"Apa ini?" tanya Novi, suaranya bergetar.
"Buka saja," kata Angga. "Aku sudah menyimpannya selama bertahun-tahun. Menunggu waktu yang tepat untuk memberikannya padamu."
Novi membuka amplop itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, ada selembar kertas dengan tulisan tangan Angga yang rapi. Kertas itu sudah menguning di tepinya, seolah-olah sudah lama disimpan.
"Novi,
Aku menulis surat ini bukan untuk dikirim. Aku menulisnya untuk kuberikan langsung padamu. Karena aku ingin melihat matamu ketika kau membacanya.
Aku telah membaca bukumu. Aku telah membaca semua puisi yang kau tulis. Aku telah membaca tentang rasa sakitmu, tentang perjuanganmu, tentang kebangkitanmu. Dan aku menyadari bahwa aku adalah bagian dari semua itu. Aku adalah bagian dari rasa sakitmu. Dan aku minta maaf.
Tapi aku juga ingin menjadi bagian dari kebahagiaanmu. Aku ingin menjadi bagian dari kebangkitanmu. Aku ingin menjadi bagian dari hidupmu, Novi. Bukan karena aku pantas, tetapi karena aku ingin berusaha pantas.
Aku akan kembali. Dan kali ini, aku tidak akan pergi. Aku akan tetap di sini. Untukmu. Untuk kita. Untuk selamanya.
Aku mencintaimu, Novi. Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu.
Angga"
Novi membaca surat itu sekali, dua kali, tiga kali. Air mata mengalir deras di pipinya. Ia tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya memeluk surat itu erat-erat.
"Angga..." bisiknya. "Kau menyimpan surat ini selama bertahun-tahun?"
"Aku menulisnya sebelum aku pergi ke Jepang," kata Angga. "Aku ingin memberikannya padamu saat aku kembali. Sebagai janji bahwa aku akan kembali. Dan sekarang, aku di sini."
"Aku kembali," kata Angga. "Dan kali ini, aku tidak akan pergi."
Angga mengulurkan tangannya. Di tangannya, ada gelas cokelat panas lainnya. Gelas itu sama seperti yang ia berikan bertahun-tahun lalu. Bahkan uapnya masih sama—tipis dan mengepul di udara.
"Ini untukmu," kata Angga. "Seperti dulu. Untuk mengingatkanmu bahwa aku selalu ada. Bahwa aku selalu mencintaimu."
Novi menerima cokelat itu. Ia meminumnya perlahan. Hangat. Manis. Seperti pelukan yang tidak pernah ia dapatkan. Seperti cinta yang tidak pernah pudar.
"Angga," kata Novi. "Aku sudah menunggumu. Aku sudah menunggumu sangat lama."
"Aku tahu," kata Angga. "Dan aku minta maaf. Aku minta maaf karena membuatmu menunggu. Aku minta maaf karena semua yang terjadi. Aku minta maaf karena membaca bukumu dan menyadari bahwa aku adalah sumber rasa sakitmu."
"Kau bukan sumber rasa sakitku," kata Novi, suaranya tegas. "Kau adalah inspirasiku. Kau adalah alasan aku menulis. Kau adalah alasan aku menjadi kuat. Tanpamu, aku mungkin tidak akan pernah menemukan kekuatanku."
"Aku tidak pantas mendapatkan kata-kata itu," kata Angga, matanya berkaca-kaca.
"Kau pantas," kata Novi. "Kau selalu pantas. Dan aku tidak akan pernah berhenti mengatakan itu padamu."
Mereka berpelukan. Di tengah kerumunan orang, di tengah toko buku yang ramai, mereka berpelukan erat-erat. Air mata mengalir di pipi mereka. Semua orang di sekitar mereka tersenyum melihat adegan itu. Beberapa penggemar bahkan menangis.
"Aku mencintaimu, Novi," bisik Angga. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," bisik Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Rina melihat adegan itu dari kejauhan. Ia tersenyum dan menangis pada saat yang sama.
"Akhirnya," bisik Rina, mengusap air matanya. "Setelah bertahun-tahun. Akhirnya."
Ayah dan ibu Novi mendekati mereka. Mereka tersenyum melihat kebahagiaan di wajah putri mereka.
"Novi, aku sangat bahagia untukmu," kata ayahnya, matanya berbinar. "Angga adalah pemuda yang baik. Aku yakin kalian akan bahagia bersama."
"Terima kasih, Ayah," kata Novi. "Aku juga berharap begitu."
"Aku juga bahagia untukmu, Novi," kata ibunya, suaranya bergetar. "Kau telah melewati banyak hal. Dan sekarang, kebahagiaan itu datang padamu. Aku minta maaf karena tidak ada untukmu saat itu. Tapi aku di sini sekarang. Dan aku akan selalu di sini."
"Terima kasih, Bu," kata Novi. "Aku tidak bisa melakukannya tanpa dukungan Ibu."
Angga membungkuk sopan pada orang tua Novi. "Terima kasih telah menerima saya, Pak, Bu. Saya akan menjaga Novi dengan sebaik-baiknya. Saya berjanji tidak akan pernah meninggalkannya lagi."
Ayah Novi menepuk pundak Angga dengan bangga. "Aku percaya padamu, Nak. Kau telah membuktikan bahwa kau pantas mendapatkan putriku. Dan aku melihat bagaimana kau membuatnya bahagia. Itu semua yang aku inginkan sebagai seorang ayah."
Ibu Novi juga tersenyum. "Selamat datang di keluarga, Angga."
Acara tanda tangan buku dilanjutkan, tetapi Novi tidak bisa fokus. Pikirannya terus pada Angga. Pada surat yang ia baca. Pada cokelat panas yang masih ia pegang.
"Novi," bisik Angga dari samping. "Aku akan menunggu di sini sampai acaramu selesai. Dan kemudian, kita akan bicara. Tentang masa depan. Tentang kita."
Novi mengangguk. "Aku tidak sabar, Angga. Aku sangat tidak sabar."
Angga tersenyum. "Aku juga tidak sabar. Tapi aku bisa menunggu. Aku sudah belajar menunggu. Dari yang terbaik."
Novi tertawa. "Kau belajar dari aku?"
"Ya," kata Angga. "Kau mengajariku bahwa menunggu bukanlah hal yang sia-sia. Bahwa cinta sejati selalu layak untuk ditunggu. Dan kau benar."
Acara tanda tangan buku akhirnya selesai. Novi mengemas barang-barangnya dan berjalan keluar toko buku bersama Angga, Rina, ayahnya, dan ibunya. Matahari mulai terbenam di ufuk barat, menciptakan gradasi warna yang indah—jingga, merah, ungu, dan emas bercampur menjadi satu lukisan di langit.
"Novi," kata Angga ketika mereka berjalan keluar. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Apa?" tanya Novi.
"Apa kau mau menjadi pacarku?" tanya Angga. "Untuk yang terakhir kalinya. Karena kali ini, aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi."
Novi tersenyum. "Kau sudah bertanya padaku bertahun-tahun yang lalu, Angga. Dan jawabanku masih sama."
"Apa?" tanya Angga.
"Aku mau," kata Novi. "Aku selalu mau. Sejak pertama kali kau memberiku cokelat panas. Dan sekarang, aku akan mengatakan ya selamanya."
Mereka tertawa bersama. Angga memegang tangan Novi. Tangannya hangat dan akrab.
"Aku mencintaimu, Novi," kata Angga. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu, Angga," kata Novi. "Aku selalu mencintaimu. Dan aku akan selalu mencintaimu."
Mereka berjalan bersama menuju matahari terbenam. Angga memegang tangan Novi, dan Novi memegang gelas cokelat panas yang masih hangat di tangannya. Di belakang mereka, Rina, ayah Novi, dan ibu Novi tersenyum melihat kebahagiaan mereka.
"Novi," kata Angga. "Aku tidak sabar untuk memulai hidup baru bersama mu."
"Aku juga tidak sabar, Angga," kata Novi. "Aku sudah menunggumu selama bertahun-tahun. Dan sekarang, kita akhirnya bersama."
"Kita akhirnya bersama," kata Angga.
Mereka berhenti di atas bukit kecil yang menghadap ke kota. Dari sana, mereka bisa melihat seluruh kota. Matahari terbenam di ufuk barat.
"Aku ingat tempat ini," kata Novi. "Ini adalah tempat pertama kali kau membawaku."
"Aku ingat," kata Angga. "Aku membawamu ke sini untuk menunjukkan bahwa dunia ini indah. Dan sekarang, aku di sini lagi. Bersamamu."
Novi menatap Angga. "Angga, aku tidak tahu harus berkata apa."
"Kau tidak perlu berkata apa-apa," kata Angga. "Cukup tersenyum. Karena aku di sini. Dan aku tidak akan pergi."
Novi tersenyum. Senyum yang tulus. Senyum yang datang dari tempat yang paling dalam di hatinya.
"Aku mencintaimu, Angga," katanya.
"Aku juga mencintaimu, Novi," kata Angga.
Mereka berpelukan di atas bukit. Di bawah langit senja yang indah. Angin berhembus pelan, membawa aroma rumput dan tanah.
Novi memegang cokelat panas di tangannya. Masih hangat. Seperti cinta yang tidak pernah pudar.
Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap langit senja. Ia mengingat semua yang telah ia lalui. Semua rasa sakit. Semua keraguan. Semua air mata. Dan sekarang, ia ada di sini. Dengan Angga. Dengan cinta yang telah menemukan jalannya.
"Cinta tidak selalu datang di waktu yang tepat," bisik Novi pelan. "Tetapi jika ia nyata, ia akan kembali. Di waktu yang tepat untuk dipertahankan."
Angga menatapnya. "Apa itu?"
"Kata-kata dari buku pertamaku," kata Novi. "Kata-kata yang aku tulis bertahun-tahun lalu. Dan sekarang, aku mengalaminya sendiri."
Angga tersenyum. "Kau menulis tentang kita, Novi. Tentang semua yang kita lalui."
"Aku menulis tentang harapan," kata Novi. "Harapan bahwa cinta sejati akan selalu menemukan jalannya."
Novi mengangkat tangan kirinya, memperlihatkan gelang yang masih melingkar di pergelangan tangannya. Liontin berbentuk hati itu berkilau di bawah sinar matahari senja.
"Kau masih memakainya," kata Angga, suaranya penuh emosi.
"Aku tidak pernah melepasnya," kata Novi. "Selamanya, A & N. Itu adalah janji yang aku pegang selama bertahun-tahun."
Angga mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Sebuah buku kecil dengan sampul yang sudah usang. Buku pertama Novi, "Aku Datang, Kau Pergi." Ia membuka halaman pertama. Di sana, ada tulisan Novi: "Untuk Angga, yang selalu menjadi inspirasiku. Untuk semua yang kita lalui bersama. Aku mencintaimu. Selamanya."
"Aku selalu membawanya," kata Angga. "Ke mana pun aku pergi. Di setiap malam yang sulit. Di setiap pagi yang sepi. Aku membacanya dan mengingat bahwa aku harus kembali padamu."
Novi menangis. "Angga..."
"Kau adalah inspirasiku, Novi," kata Angga. "Bukan hanya puisimu, tetapi dirimu. Keteguhanmu. Kekuatanmu. Cintamu. Aku belajar dari semua itu. Dan aku akan menghabiskan sisa hidupku untuk menjadi pantas bagimu."
Mereka berpelukan. Di atas bukit yang indah, di bawah langit senja yang sempurna, mereka merasakan cinta yang tidak pernah pudar. Cinta yang telah melewati segalanya. Cinta yang akhirnya menemukan jalannya.
"Selamanya, A & N," bisik Novi.
"Selamanya," bisik Angga.
Malam itu, Novi dan Angga duduk di sebuah kafe kecil dekat rumah Novi. Di depan mereka, dua gelas cokelat panas mengepulkan uap tipis. Di luar, hujan mulai turun dengan tenang, menciptakan irama yang menenangkan di atap kafe.
"Novi," kata Angga, memegang tangannya di atas meja. "Aku ingin membicarakan masa depan. Masa depan kita."
"Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya Novi.
"Rumah," kata Angga. "Aku sudah mencari rumah di sini. Di dekat toko buku favoritmu. Di dekat bukit tempat kita pertama kali melihat senja."
Novi terkejut. "Kau sudah mencari rumah?"
"Aku sudah merencanakan ini sejak lama," kata Angga. "Aku tidak ingin kembali tanpa kepastian. Aku ingin membangun kehidupan bersama mu. Di sini. Di Indonesia. Selamanya."
"Dan pekerjaanmu?" tanya Novi.
"Aku sudah diterima di sebuah perusahaan teknologi di Jakarta," kata Angga. "Aku akan bekerja di sana. Dan kau akan terus menulis. Kita akan bangun pagi bersama, minum cokelat panas, dan menjalani hari-hari kita. Sederhana. Tapi bersama."
Novi menangis. "Angga, aku tidak tahu harus berkata apa. Ini semua seperti mimpi."
"Ini bukan mimpi," kata Angga. "Ini adalah kenyataan. Lima tahun yang lalu, aku memilih pergi. Hari ini, aku memilih tinggal. Untuk selamanya."
Seminggu kemudian, Novi dan Angga berdiri di depan sebuah rumah kecil dengan halaman yang rindang. Rumah itu memiliki pagar kayu putih yang baru dicat, dan di teras depan, ada dua kursi kayu yang menghadap ke taman.
"Ini rumah kita," kata Angga. "Aku membelinya untuk kita."
Novi menatap rumah itu dengan air mata kebahagiaan. "Angga... ini indah. Ini sangat indah."
"Aku ingin kita memiliki tempat yang bisa kita sebut rumah," kata Angga. "Tempat di mana kita bisa tumbuh bersama. Tempat di mana kita bisa menulis dan bermimpi. Tempat di mana kita bisa bahagia."
Novi memeluk Angga erat-erat. "Aku sudah memiliki rumah, Angga. Selama aku bersamamu, aku sudah memiliki rumah."
"Aku juga," kata Angga. "Selama aku bersamamu, aku sudah memiliki rumah."
Mereka masuk ke rumah itu bersama. Di dalam, semuanya masih kosong, menunggu untuk diisi dengan kenangan. Di dinding ruang tamu, Novi melihat sebuah rak buku yang sudah terpasang.
"Aku akan mengisinya dengan semua bukumu," kata Angga. "Setiap buku yang kau tulis. Dan setiap buku yang akan kau tulis."
Novi tersenyum. "Dan aku akan mengisinya dengan buku-bukumu. Semua buku yang kau baca di Jepang. Semua cerita yang kita bagi bersama."
Malam itu, mereka duduk di teras depan, memandang langit berbintang. Di tangan mereka, dua gelas cokelat panas. Di pergelangan tangan Novi, gelang dengan liontin berbentuk hati berkilau di bawah cahaya bulan.
"Selamanya, A & N," bisik Novi.
"Selamanya," bisik Angga.
Dan di bawah langit yang luas, di atas tanah yang mereka sebut rumah, mereka memulai babak baru dalam hidup mereka. Babak tentang kebersamaan. Babak tentang cinta yang tidak pernah pudar. Babak tentang selamanya.
TAMAT
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...