BUKU III
LANGIT BIRU DI BALIK KOTA
Roman tentang Perantauan, Pengorbanan, dan Mimpi Anak Desa yang Hampir Padam
Oleh: Slamet Riyadi
DISCLAIMER
Novel ini adalah karya fiksi. Seluruh nama tokoh, tempat, latar, peristiwa, dialog, lembaga, serta rangkaian kejadian yang terdapat dalam cerita ini merupakan hasil imajinasi penulis.
Apabila terdapat kesamaan nama, tempat, pekerjaan, peristiwa, atau keadaan dengan kehidupan nyata, hal tersebut semata-mata merupakan kebetulan dan tidak dimaksudkan untuk menggambarkan pihak tertentu.
Roman ini mengangkat kisah perjuangan anak-anak desa dalam menghadapi perantauan, pendidikan, keterbatasan ekonomi, persahabatan, keluarga, cinta pertama, dan cita-cita. Cerita ini juga memuat nilai tentang pentingnya pendidikan, kerja keras, gotong royong, keberanian, serta kesetiaan untuk tetap mengingat tempat asal.
Tokoh-tokoh dalam novel ini bukanlah gambaran dari individu tertentu. Desa Wanasari, kota kecil, sekolah, rumah singgah, dan seluruh tempat yang disebutkan dalam cerita ini merupakan latar fiktif yang dibangun untuk kepentingan cerita.
PROLOG
Lampu Kota dari Ujung Jalan
Malam itu, Desa Wanasari terasa lebih sunyi daripada biasanya.
Angin dari arah sungai bergerak perlahan melewati kebun-kebun warga. Daun-daun pisang bergesekan pelan. Dari kejauhan, suara jangkrik terdengar bersahut-sahutan, seolah sedang mengisi ruang kosong yang tidak mampu diisi oleh kata-kata.
Di halaman sekolah dasar yang telah lama menjadi bagian dari hidup mereka, pohon beringin tua berdiri dalam diam.
Pohon itu masih sama.
Batangnya besar dan kasar. Akar-akarnya menjalar ke tanah seperti tangan-tangan tua yang menjaga halaman sekolah. Daun-daunnya menaungi tempat yang dahulu sering menjadi ruang belajar, tempat bermain, tempat bertengkar, dan tempat empat sahabat membuat janji tentang masa depan.
Di bawah pohon itulah Rantaka berdiri sambil memegang tas lusuh berwarna cokelat.
Tas itu tidak besar.
Di dalamnya hanya ada beberapa helai pakaian, buku-buku sekolah, sebuah buku catatan, dan surat beasiswa yang sudah berkali-kali ia baca. Surat itu menjadi alasan ia harus berangkat ke kota kecil pada pagi hari.
Ia akan melanjutkan SMA.
Ia akan tinggal jauh dari rumah.
Jauh dari ibunya yang selalu menyiapkan sarapan sederhana sebelum ia berangkat sekolah.
Jauh dari ayahnya yang sering duduk di dekat jendela sambil memandangi kebun.
Jauh dari jalan tanah merah yang setiap musim hujan berubah menjadi lumpur.
Dan jauh dari sahabat-sahabatnya.
Rantaka menatap jalan kecil yang membelah halaman sekolah. Jalan itu menuju arah rumahnya. Jalan yang selama ini ia lewati hampir setiap hari.
Besok, jalan itu tidak lagi menjadi jalan menuju sekolah.
Jalan itu akan menjadi jalan perpisahan.
“Jadi benar-benar berangkat besok pagi?”
Suara Liris membuat Rantaka menoleh.
Gadis itu datang dari arah perpustakaan kecil sekolah. Ia membawa buku hijau yang selalu ia simpan di dekat dadanya. Buku itu sudah semakin tebal oleh puisi, catatan, potongan cerita, dan kalimat-kalimat yang sering ditulisnya ketika tidak mampu menyampaikan perasaan secara langsung.
Rantaka mengangguk pelan.
“Bus pertama berangkat setelah matahari terbit.”
Liris berdiri beberapa langkah darinya.
“Tidak bisa ditunda?”
Rantaka tersenyum kecil.
“Kalau ditunda, aku bisa terlambat masuk sekolah.”
Liris menunduk.
Ia tahu jawaban itu.
Namun, kadang seseorang tetap bertanya bukan karena tidak tahu jawabannya, melainkan karena berharap jawaban itu berubah.
Tidak lama kemudian, suara sepeda terdengar dari arah jalan desa.
Banyu datang dengan sepeda tuanya. Di bagian belakang sepeda, tergantung sebuah tas kain berisi beberapa alat kecil. Ia baru pulang dari bengkel Pak Hendra di kecamatan.
Wajahnya tampak lelah, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Aku hampir tidak jadi datang,” katanya sambil menurunkan sepeda. “Ada rantai sepeda pelanggan yang putus. Pak Hendra minta bantu memperbaiki.”
“Kau tetap datang,” kata Liris.
“Ya, masa aku tidak mengantar Rantaka pergi.”
Banyu memandang tas cokelat di tangan Rantaka.
“Bawaanmu cuma itu?”
“Cukup,” jawab Rantaka.
“Kalau kurang, nanti aku kirim alat-alat.”
“Untuk apa?”
“Siapa tahu di kota kau ingin memperbaiki sesuatu.”
Rantaka tertawa kecil.
“Di kota banyak bengkel.”
“Bengkel tidak selalu punya orang yang mengerti alat dari anak desa,” jawab Banyu dengan bangga.
Liris tersenyum mendengar jawaban itu.
Namun, senyum mereka perlahan menghilang ketika melihat seseorang berjalan dari arah sungai.
Jagra datang paling akhir.
Ia membawa sebuah bungkusan daun pisang yang diikat rapi dengan tali. Di dalamnya terdapat ikan sungai yang sudah diasinkan oleh ibunya. Bekal itu disiapkan agar Rantaka tidak terlalu banyak membeli makanan pada hari-hari pertama di kota.
“Aku membawa ini,” kata Jagra sambil menyerahkan bungkusan itu.
Rantaka menerimanya.
“Terima kasih.”
“Jangan bilang makanan kota lebih enak,” kata Jagra.
“Aku belum pernah mencoba makanan kota.”
“Kalau sudah mencoba, jangan lupa ikan sungai Wanasari.”
Rantaka mengangguk.
“Aku tidak akan lupa.”
Mereka kemudian duduk di bawah pohon beringin.
Tidak ada tikar.
Tidak ada buku pelajaran.
Tidak ada Gerobak Buku Langit Biru yang biasa diparkir di dekat perpustakaan.
Hanya ada empat sahabat yang sama-sama berusaha terlihat biasa saja.
Padahal, malam itu tidak biasa.
Malam itu adalah malam terakhir sebelum salah satu dari mereka pergi lebih jauh dari yang pernah mereka bayangkan.
Banyu mengambil sebuah benda dari tas kainnya.
Benda itu berbentuk kecil, terbuat dari potongan kayu, kawat, dan roda bekas. Belum selesai sepenuhnya, tetapi terlihat seperti alat sederhana yang sedang ia rancang.
“Apa itu?” tanya Rantaka.
“Belum jadi,” jawab Banyu.
“Untuk apa?”
“Entahlah. Mungkin alat untuk mengangkat air. Mungkin alat untuk membantu kolam ikan. Mungkin juga tidak berguna.”
“Kenapa kau bawa ke sini?”
Banyu menatap alat itu.
“Supaya aku ingat kalau aku juga harus terus belajar. Kau pergi sekolah ke kota. Liris menulis puisi. Jagra mengurus ikan. Aku tidak mau hanya menjadi orang yang suka membongkar barang, tetapi tidak pernah menyelesaikan apa-apa.”
Jagra menepuk bahu Banyu.
“Alatmu akan jadi.”
“Kalau gagal?”
“Buat lagi.”
Jawaban Jagra sederhana.
Namun, Banyu mengangguk seperti baru menerima sesuatu yang penting.
Liris membuka buku hijaunya.
Ia membalik beberapa halaman, lalu membaca puisi yang baru ia tulis.
Di ujung jalan, lampu kota menyala,
seperti bintang yang turun ke tanah.
Namun di antara cahaya yang ramai,
ada hati yang membawa rumahnya sendiri.
Tidak ada yang langsung berbicara setelah Liris selesai membaca.
Rantaka memandangi tanah.
Ia tahu puisi itu tentang dirinya.
Tentang perjalanan yang akan dimulainya.
Tentang kota yang selama ini hanya terlihat sebagai cahaya kecil dari kejauhan.
“Kau takut?” tanya Liris pelan.
Rantaka menarik napas.
“Takut.”
Banyu dan Jagra menoleh kepadanya.
“Takut tidak bisa mengikuti pelajaran,” lanjut Rantaka. “Takut tidak punya teman. Takut uang beasiswa tidak cukup. Takut orang-orang di kota melihatku hanya sebagai anak desa.”
“Kau memang anak desa,” kata Jagra.
Rantaka memandangnya.
“Tapi itu bukan sesuatu yang harus membuatmu malu,” lanjut Jagra. “Kau pergi karena kau belajar. Bukan karena kau ingin menjadi orang lain.”
Banyu mengangguk.
“Kalau ada yang mengejekmu, ingat saja. Mereka mungkin punya jalan aspal, tapi belum tentu punya pohon beringin seperti kita.”
Liris tersenyum.
“Kau selalu punya cara aneh untuk memberi semangat.”
“Yang penting benar,” jawab Banyu.
Mereka tertawa kecil.
Tawa itu singkat.
Namun, cukup untuk mengurangi rasa berat yang sejak tadi memenuhi malam.
Rantaka kemudian mengeluarkan surat beasiswanya dari dalam tas.
Kertas itu sudah sedikit kusut karena terlalu sering dibuka dan dilipat kembali.
“Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di kota,” katanya. “Tapi aku ingin pulang suatu hari nanti dengan membawa sesuatu yang berguna.”
“Apa?” tanya Liris.
“Ilmu,” jawab Rantaka. “Mungkin juga cara agar anak-anak desa tidak perlu takut berhenti sekolah hanya karena tidak punya uang.”
Jagra memandang ke arah sungai.
“Kalau aku tetap di desa, apakah aku juga bisa berguna?”
“Tentu,” kata Rantaka cepat.
“Tapi kalian akan pergi lebih jauh.”
“Jauh bukan berarti lebih tinggi,” kata Liris. “Kadang orang yang tetap tinggal justru menjadi alasan orang lain bisa pulang.”
Jagra terdiam.
Ia tidak menjawab.
Namun, kata-kata Liris tinggal cukup lama dalam pikirannya.
Malam semakin larut.
Di kejauhan, lampu-lampu rumah warga mulai satu per satu padam. Hanya beberapa cahaya kecil yang masih terlihat dari arah jalan menuju kecamatan.
Rantaka berdiri.
“Aku harus pulang. Ibu pasti masih menyiapkan barang-barang.”
Liris ikut berdiri.
Banyu mengangkat sepedanya.
Jagra merapikan bungkusan bekal yang sudah dimasukkan Rantaka ke dalam tas.
Sebelum mereka berpisah, Rantaka mengulurkan tangannya ke tengah.
Gerakan itu mengingatkan mereka pada janji lama yang pernah dibuat ketika masih kecil.
“Untuk Langit Biru,” katanya.
Liris meletakkan tangannya di atas tangan Rantaka.
Banyu menyusul.
Jagra menjadi yang terakhir.
“Untuk Langit Biru,” ucap mereka bersama.
Namun, kali ini janji itu memiliki arti yang berbeda.
Dulu, Langit Biru adalah nama kelompok belajar anak-anak desa.
Sekarang, Langit Biru adalah ikatan yang akan diuji oleh jarak.
Oleh kota.
Oleh kesibukan.
Oleh kesalahpahaman.
Oleh mimpi-mimpi yang tidak lagi sama.
Rantaka berjalan pulang dengan tas cokelat di pundaknya.
Di belakangnya, pohon beringin tua tetap berdiri.
Di atasnya, langit malam terbentang luas.
Jauh di ujung jalan, ke arah kota kecil yang belum pernah ia kenal, cahaya lampu terlihat berkelip seperti bintang-bintang yang jatuh ke bumi.
Rantaka memandang cahaya itu untuk terakhir kalinya sebelum berbelok menuju rumah.
Ia belum tahu bahwa kota akan mengajarinya banyak hal.
Tentang kesepian.
Tentang harga diri.
Tentang perjuangan yang tidak selalu terlihat.
Tentang perasaan yang tumbuh diam-diam di antara surat-surat yang terlambat sampai.
Dan tentang kenyataan bahwa mimpi anak desa tidak hanya diuji oleh jalan yang jauh, tetapi juga oleh keberanian untuk tetap pulang.
Malam itu, di bawah langit Desa Wanasari, perjalanan baru mereka dimulai.
BAB 1
BUS PAGI DARI WANASARI
Pagi di Desa Wanasari belum benar-benar terang ketika Rantaka terbangun.
Suara ayam jantan terdengar dari kandang belakang rumah. Dari dapur, terdengar bunyi kayu dibelah dan api tungku yang mulai menyala. Udara pagi terasa dingin, membawa aroma tanah basah dari kebun yang semalam diguyur hujan ringan.
Rantaka membuka mata perlahan.
Untuk beberapa saat, ia hanya menatap atap rumah yang terbuat dari papan. Ia masih ingin percaya bahwa hari itu sama seperti hari-hari sebelumnya. Ia ingin bangun, mencuci muka di sumur, lalu berjalan menuju sekolah seperti biasa.
Namun, tas cokelat yang diletakkan di sudut kamar membuatnya kembali mengingat semuanya.
Hari itu ia akan pergi.
Ia akan meninggalkan Desa Wanasari untuk melanjutkan sekolah di kota kecil.
Ia akan naik bus pagi dari jalan utama kecamatan.
Ia akan tinggal di rumah singgah pelajar.
Ia akan memasuki sekolah baru.
Dan untuk pertama kalinya, ia akan menjalani hari-hari tanpa dapat pulang ke rumah setiap sore.
Rantaka duduk di tepi tempat tidur.
Di samping tasnya, terdapat beberapa buku pelajaran yang sudah dibungkus plastik agar tidak basah jika hujan turun. Ada dua pasang seragam sekolah, sebuah handuk, pakaian ganti, sandal jepit, buku catatan, dan surat beasiswa yang dimasukkan ke dalam map bening.
Ia mengambil map itu.
Surat beasiswa tersebut sudah berkali-kali dibaca.
Namun, pagi itu ia kembali membukanya.
Di bagian atas surat, terdapat lambang sekolah dan nama program bantuan pendidikan. Di bawahnya tertulis bahwa Rantaka diterima sebagai salah satu siswa penerima beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di SMA kota kecil.
Surat itu seharusnya membuatnya bahagia.
Dan memang, ia bahagia.
Namun, di balik rasa bahagia itu, ada ketakutan yang sulit ia jelaskan.
Bagaimana jika ia tidak mampu mengikuti pelajaran?
Bagaimana jika uang beasiswa tidak cukup?
Bagaimana jika ia tidak memiliki teman?
Bagaimana jika orang-orang di kota menertawakan cara bicaranya?
Bagaimana jika ia tidak bisa menjadi anak yang dibanggakan oleh ayah dan ibunya?
Rantaka menutup surat itu kembali.
Ia memasukkannya ke dalam tas dengan hati-hati.
“Rantaka,” terdengar suara ibunya dari dapur. “Sudah bangun?”
“Sudah, Bu.”
“Cuci muka dulu. Sarapan sudah hampir siap.”
Rantaka berdiri.
Ia berjalan keluar kamar menuju sumur di belakang rumah. Embun masih menempel di rumput. Pohon singkong di dekat pagar bergerak perlahan terkena angin pagi.
Ia mengambil air dengan gayung, lalu membasuh wajahnya.
Air sumur terasa dingin.
Dingin itu membuatnya benar-benar sadar bahwa hari itu bukan mimpi.
Setelah mencuci muka, ia kembali ke dalam rumah.
Ibunya sedang duduk di dekat tungku. Di atas meja kayu, sudah tersedia nasi hangat, ikan asin, sambal sederhana, dan sayur daun singkong.
Makanan itu bukan makanan istimewa.
Namun, pagi itu Rantaka memandanginya lebih lama dari biasanya.
Ia tahu, mungkin beberapa hari ke depan ia akan makan makanan yang berbeda. Mungkin makanan dari warung. Mungkin nasi bungkus. Mungkin mie instan ketika uangnya menipis.
Ia duduk di dekat ibunya.
“Makannya yang banyak,” kata ibunya.
Rantaka mengangguk.
Namun, baru beberapa suap, tenggorokannya terasa berat.
Ibunya memperhatikan wajahnya.
“Kau tidak enak badan?”
“Tidak, Bu.”
“Lalu kenapa?”
Rantaka menggeleng.
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Namun, ibunya tetap dapat melihat sesuatu yang ia sembunyikan.
“Kau takut pergi?” tanya ibunya pelan.
Rantaka menunduk.
Beberapa saat ia tidak menjawab.
Lalu ia berkata, “Sedikit.”
Ibunya tersenyum tipis.
“Takut itu wajar. Tapi jangan sampai takut membuatmu berhenti melangkah.”
Rantaka menatap ibunya.
“Di kota, kau akan bertemu banyak orang. Ada yang baik. Ada yang mungkin tidak memahami keadaanmu. Ada yang mungkin meremehkanmu karena kau berasal dari desa.”
Rantaka diam.
“Kau tidak perlu malu,” lanjut ibunya. “Kau pergi bukan karena kita lebih hebat dari orang lain. Kau pergi karena kau diberi kesempatan belajar. Gunakan kesempatan itu sebaik mungkin.”
Mata Rantaka mulai terasa hangat.
Ia cepat-cepat mengambil nasi lagi agar ibunya tidak melihat.
Tidak lama kemudian, ayahnya keluar dari kamar.
Langkah ayahnya masih belum sepenuhnya kuat. Namun, pagi itu ia mengenakan baju terbaiknya, kemeja putih yang hanya dipakai pada saat-saat tertentu.
Ayah Rantaka duduk di kursi dekat jendela.
Ia memandangi anaknya cukup lama.
“Kau sudah siap?” tanyanya.
“Sudah, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Kalau di kota nanti ada orang bertanya dari mana asalmu, jawab dengan jelas.”
“Dari Desa Wanasari,” jawab Rantaka.
“Jangan menunduk saat mengatakannya.”
Rantaka memandang ayahnya.
“Kenapa, Yah?”
“Karena desa kita mungkin kecil. Jalannya mungkin belum bagus. Orang-orangnya mungkin hidup sederhana. Tapi kita tidak hidup dengan mengambil hak orang lain. Kita bekerja dengan tangan sendiri.”
Ayahnya berhenti sebentar.
“Kau boleh belajar di kota. Kau boleh punya cita-cita tinggi. Tapi jangan pernah merasa harus menjadi orang lain agar diterima.”
Kata-kata itu masuk ke dalam hati Rantaka.
Ia mengangguk perlahan.
“Aku ingat, Yah.”
Setelah sarapan, ibunya memasukkan bekal ke dalam tas kain kecil. Ada nasi, ikan asin, dan sambal yang dibungkus daun pisang. Ada juga bungkusan ikan asin dari Jagra yang diberikan malam sebelumnya.
“Ini untuk perjalanan,” kata ibunya.
“Banyak sekali, Bu.”
“Lebih baik banyak daripada kau kelaparan.”
Rantaka tersenyum.
Ia tahu ibunya sengaja membuat lebih banyak makanan karena tidak tahu kapan lagi dapat menyiapkan bekal untuknya.
Ketika matahari mulai muncul dari balik pepohonan, Rantaka mengenakan seragam sekolah barunya.
Seragam itu masih terasa kaku.
Kemejanya putih bersih. Celananya biru abu-abu. Sepatunya hitam, hasil membeli dari toko di kecamatan menggunakan sebagian uang beasiswa.
Ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding.
Untuk pertama kalinya, ia melihat dirinya sebagai siswa SMA.
Bukan lagi anak SD yang membawa buku lusuh.
Bukan lagi anak SMP yang duduk di bawah pohon beringin bersama sahabat-sahabatnya.
Kini ia akan memasuki dunia yang lebih besar.
Namun, jauh di dalam dirinya, ia masih merasa seperti anak Desa Wanasari yang selalu takut salah ketika berbicara di depan orang banyak.
Di depan rumah, Liris sudah datang.
Ia membawa buku hijau dan sebuah amplop kecil.
Banyu datang tidak lama kemudian dengan sepeda tuanya. Di bagian belakang sepeda, terdapat tas kain berisi beberapa barang kecil.
Jagra menyusul sambil membawa topi lusuhnya.
Mereka berdiri di halaman rumah Rantaka.
Tidak ada yang langsung berkata-kata.
Mereka hanya memandangi Rantaka yang sudah mengenakan seragam baru.
“Cocok,” kata Banyu akhirnya.
“Seperti anak kota,” tambahnya.
“Jangan bilang begitu,” kata Rantaka.
“Kenapa?”
“Aku tetap anak desa.”
Banyu tersenyum.
“Ya, anak desa yang pakai seragam baru.”
Liris mendekat.
Ia menyerahkan amplop kecil kepada Rantaka.
“Apa ini?” tanya Rantaka.
“Buka nanti saja.”
“Kenapa tidak sekarang?”
“Karena kalau kau buka sekarang, mungkin kau tidak jadi berangkat.”
Rantaka memandang Liris.
Gadis itu berusaha tersenyum, tetapi matanya tampak menyimpan sesuatu yang tidak ingin ia katakan.
Rantaka memasukkan amplop itu ke dalam saku seragamnya.
“Terima kasih.”
Jagra lalu mengeluarkan sebuah benda kecil dari sakunya.
Itu adalah gelang sederhana dari tali nilon berwarna biru.
“Aku buat dari tali jaring,” katanya.
Rantaka menerimanya.
“Untuk apa?”
“Supaya kau ingat sungai.”
Rantaka mengikat gelang itu di pergelangan tangannya.
“Terima kasih, Jagra.”
Banyu kemudian memberikan sebuah pensil mekanik yang sudah sedikit lecet.
“Aku dapat dari Pak Hendra,” katanya. “Masih bisa dipakai.”
Rantaka tertawa kecil.
“Ini pensilmu?”
“Sekarang pensilmu. Jangan hilang. Kalau hilang, aku tidak punya uang untuk membeli lagi.”
“Aku akan jaga.”
Mereka berjalan bersama menuju jalan utama.
Ayah Rantaka membawa tas besar. Ibunya membawa bekal dan sebotol air minum. Rantaka berjalan di tengah, sementara Liris, Banyu, dan Jagra mengikutinya.
Jalan tanah pagi itu masih lembap.
Beberapa bagian terasa licin karena hujan semalam. Di sisi kanan dan kiri, kebun warga terlihat hijau. Ada suara burung dari arah pepohonan. Ada warga yang menyapa ketika melihat mereka berjalan.
“Mau berangkat sekolah ke kota, Rantaka?” tanya seorang ibu yang sedang menyapu halaman.
“Iya, Bu,” jawab Rantaka.
“Belajar yang rajin.”
Rantaka mengangguk.
Semakin dekat ke jalan utama, semakin banyak warga yang mengetahui keberangkatannya.
Ada yang mengucapkan selamat.
Ada yang memberi nasihat.
Ada yang hanya tersenyum dan mengangkat tangan.
Rantaka merasa malu karena terlalu banyak orang memperhatikannya.
Namun, ia juga merasa ada sesuatu yang menguatkan.
Ternyata, kepergiannya bukan hanya tentang dirinya.
Ada banyak orang di desa yang berharap ia berhasil.
Mereka berharap anak dari Desa Wanasari juga dapat melanjutkan sekolah.
Mereka berharap beasiswa itu tidak sia-sia.
Mereka berharap Rantaka dapat menjadi jalan bagi anak-anak lain untuk percaya bahwa pendidikan bukan hanya milik orang yang tinggal di kota.
Ketika mereka sampai di jalan utama, bus belum datang.
Di sana hanya ada sebuah warung kecil, halte sederhana dari kayu, dan beberapa warga yang menunggu kendaraan menuju kecamatan.
Rantaka meletakkan tasnya di dekat bangku halte.
Ibunya duduk di sampingnya.
Ayahnya berdiri sambil memandangi jalan.
Liris berdiri sedikit menjauh.
Banyu sibuk memeriksa rantai sepedanya meski rantai itu sebenarnya tidak bermasalah.
Jagra memandang ke arah kebun tanpa banyak bicara.
Mereka semua menunggu bus.
Namun, sebenarnya mereka sedang menunggu keberanian untuk mengucapkan perpisahan.
Tidak lama kemudian, terdengar suara mesin dari kejauhan.
Bus berwarna putih dan biru muncul dari tikungan jalan.
Debu tipis terangkat ketika bus mendekat.
Rantaka berdiri.
Dadanya mulai berdebar.
Bus itu berhenti di depan halte dengan suara rem yang panjang.
Pintu terbuka.
Seorang sopir menoleh keluar.
“Ke kota?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Iya, Pak.”
Ayahnya mengangkat tas besar dan menyerahkannya kepada Rantaka.
Ibunya memegang tangan Rantaka cukup lama.
“Jaga diri baik-baik,” katanya.
“Iya, Bu.”
“Jangan lupa makan.”
“Iya.”
“Kalau ada masalah, jangan dipendam sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Namun, ia tidak yakin dapat selalu melakukan itu.
Ayahnya mendekat.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya menepuk bahu Rantaka.
“Belajarlah,” katanya. “Dan pulanglah jika sudah waktunya pulang.”
Rantaka menatap ayahnya.
“Iya, Yah.”
Liris kemudian maju.
Ia tidak mengucapkan banyak kata.
“Jangan lupa menulis surat,” katanya.
“Aku akan menulis.”
“Jangan hanya sekali.”
“Tidak hanya sekali.”
Banyu mengangkat tangan.
“Kalau ada sepeda rusak di kota, jangan langsung bawa ke bengkel. Kirim kabar dulu.”
Rantaka tersenyum.
“Baik.”
Jagra memandangnya dengan wajah serius.
“Kalau ada yang bilang anak desa tidak bisa apa-apa, jangan percaya.”
Rantaka mengangguk.
“Aku tidak akan percaya.”
Akhirnya, Rantaka naik ke dalam bus.
Ia memilih duduk di dekat jendela.
Tas cokelat diletakkan di pangkuannya. Tangannya menggenggam erat tali tas. Dari balik kaca, ia melihat ibu, ayah, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di pinggir jalan.
Bus mulai bergerak perlahan.
Ibunya mengangkat tangan.
Ayahnya berdiri tegak.
Liris menahan air mata sambil tersenyum.
Banyu melambaikan tangan tinggi-tinggi.
Jagra hanya mengangguk, tetapi Rantaka tahu sahabatnya itu sedang menahan perasaan yang sama.
Bus semakin jauh.
Halte kayu mulai mengecil.
Rumah-rumah warga berubah menjadi titik-titik kecil.
Kebun, jalan tanah, dan pohon-pohon yang dikenalnya sejak kecil perlahan tertinggal di belakang.
Ketika bus melewati tikungan terakhir, Rantaka masih dapat melihat pohon beringin tua di halaman sekolah.
Pohon itu tampak kecil dari kejauhan.
Namun, bagi Rantaka, pohon itu tetap terasa besar.
Di bawah pohon itu, ia pernah belajar membaca.
Ia pernah membuat janji bersama sahabat-sahabatnya.
Ia pernah merasa takut.
Ia pernah merasa kuat.
Ia pernah jatuh dan bangkit kembali.
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia kemudian mengeluarkan amplop dari Liris.
Di bagian depan amplop itu hanya tertulis satu kalimat:
Untuk dibuka saat kau mulai merasa sendiri.
Rantaka tidak membukanya.
Belum.
Ia memasukkan kembali amplop itu ke dalam saku seragam.
Di luar jendela, jalan menuju kota terbentang panjang.
Ada bukit kecil.
Ada jembatan.
Ada kebun-kebun yang perlahan berubah menjadi rumah-rumah lebih rapat.
Di kejauhan, Rantaka mulai melihat bangunan-bangunan yang lebih besar daripada rumah-rumah di Desa Wanasari.
Itulah arah kota.
Arah sekolah baru.
Arah kehidupan baru.
Arah perjuangan yang belum ia mengerti.
Rantaka menatap ke depan.
Ia masih takut.
Ia masih rindu, bahkan sebelum benar-benar jauh.
Namun, di dalam tasnya ada surat beasiswa.
Di pergelangan tangannya ada gelang dari Jagra.
Di sakunya ada surat dari Liris.
Dan di dalam hatinya, ada suara ayahnya yang terus mengingatkan:
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
Bus pagi dari Wanasari terus melaju.
Membawa Rantaka menuju kota.
Membawa seorang anak desa menuju jalan panjang yang akan menguji persahabatan, keberanian, cinta pertama, dan cita-citanya.
BAB 2
KOTA YANG TIDAK PERNAH DIAM
Bus yang membawa Rantaka dari Desa Wanasari tiba di kota kecil menjelang siang.
Perjalanan yang semula terasa panjang akhirnya berakhir di sebuah terminal sederhana yang jauh lebih ramai daripada jalan utama di kecamatan. Begitu bus berhenti, suara mesin kendaraan, teriakan kernet, dan panggilan para pedagang langsung memenuhi telinganya.
“Turun, turun! Terminal kota!”
Rantaka berdiri perlahan dari kursinya.
Ia meraih tas cokelat di pangkuannya, lalu mengambil tas besar yang diletakkan di bawah kursi. Kakinya terasa sedikit kaku setelah duduk selama berjam-jam. Namun, yang membuatnya lebih sulit bergerak bukanlah rasa lelah.
Ia hanya belum siap menghadapi tempat baru.
Ketika turun dari bus, Rantaka berdiri beberapa saat di dekat pintu terminal.
Di hadapannya, kendaraan datang dan pergi tanpa berhenti. Ada angkot berwarna kuning yang menunggu penumpang. Ada becak motor yang melintas sambil membunyikan klakson. Ada sepeda motor yang bergerak cepat di antara kendaraan lain. Di sisi jalan, pedagang menjual air minum, gorengan, koran, buah, dan makanan dalam bungkus plastik.
Orang-orang berjalan cepat.
Sebagian membawa tas.
Sebagian membawa barang dagangan.
Sebagian berbicara melalui telepon genggam.
Tidak ada yang tampak punya waktu untuk berhenti dan memandangi kota seperti yang dilakukan Rantaka.
Ia memegang tali tasnya lebih erat.
Di Desa Wanasari, ia mengenal hampir semua orang yang ditemuinya. Ia tahu rumah siapa yang berada di dekat kebun singkong. Ia tahu suara motor siapa yang biasanya melintas di jalan tanah. Ia tahu di mana anak-anak bermain ketika sore hari.
Namun, di kota ini, semua wajah terasa asing.
Tidak ada yang mengenalnya.
Tidak ada yang tahu bahwa ia baru saja meninggalkan desa.
Tidak ada yang tahu bahwa ia membawa surat beasiswa di dalam tas.
Tidak ada yang tahu bahwa ia sedang berusaha keras agar tidak terlihat takut.
Rantaka mengeluarkan secarik kertas dari saku.
Di sana tertulis alamat rumah singgah pelajar yang diberikan oleh pihak sekolah.
Rumah Singgah Pelajar Harapan, Jalan Melati Nomor 17.
Ia membaca tulisan itu sekali lagi.
Lalu ia mendekati seorang tukang becak motor yang sedang duduk di bawah pohon dekat terminal.
“Pak,” kata Rantaka pelan. “Apakah Bapak tahu Jalan Melati?”
Tukang becak itu menoleh.
“Jalan Melati yang dekat pasar lama?”
Rantaka memandangi kertas di tangannya.
“Ada rumah singgah pelajar di sana.”
“Oh, tahu. Naik saja. Tidak terlalu jauh.”
“Berapa, Pak?”
Tukang becak menyebutkan harga.
Rantaka terdiam sebentar.
Jumlah itu terasa cukup besar baginya.
Di Desa Wanasari, uang sebanyak itu dapat digunakan untuk membeli beberapa kebutuhan rumah. Namun, ia tidak tahu jalan menuju rumah singgah. Ia juga tidak ingin tersesat pada hari pertama.
Akhirnya, ia mengangguk.
“Baik, Pak.”
Tas besarnya diletakkan di bagian belakang becak. Rantaka duduk dengan hati-hati. Mesin dinyalakan. Kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan terminal.
Dari tempat duduknya, Rantaka melihat kota kecil itu lebih jelas.
Bangunan-bangunan berdiri rapat di sisi jalan. Ada toko pakaian, toko alat tulis, bengkel sepeda motor, warung makan, kios pulsa, dan rumah-rumah dengan pagar besi. Di beberapa tempat, terdapat papan reklame besar yang menampilkan gambar produk dan tulisan berwarna-warni.
Rantaka membaca beberapa tulisan di papan itu.
Ada yang menawarkan kursus komputer.
Ada yang menawarkan bimbingan belajar.
Ada yang menawarkan pekerjaan.
Ada pula iklan sekolah-sekolah yang menjanjikan masa depan cerah bagi siswanya.
Ia memandangi semuanya dengan perasaan campur aduk.
Di kota, kesempatan tampak lebih banyak.
Namun, kota juga terasa seperti tempat yang menuntut orang untuk selalu bergerak.
Tidak ada jalan tanah yang lengang.
Tidak ada suara sungai.
Tidak ada pohon-pohon besar yang menaungi halaman sekolah.
Yang ada hanya jalan beraspal, kendaraan, toko, dan orang-orang yang berjalan cepat seolah takut tertinggal.
Becak motor berbelok ke sebuah jalan yang lebih sempit.
Di ujung jalan, Rantaka melihat sebuah bangunan berpagar kayu. Cat dindingnya berwarna hijau muda, meski beberapa bagian sudah mulai pudar. Di depan bangunan itu terdapat papan kecil bertuliskan:
RUMAH SINGGAH PELAJAR HARAPAN
“Ini tempatnya,” kata tukang becak.
Rantaka turun.
Ia membayar ongkos perjalanan, lalu mengangkat tasnya.
Tukang becak itu menatap Rantaka sebentar.
“Sekolah di kota?”
“Iya, Pak.”
“Belajar yang rajin. Jangan mudah ikut-ikutan orang.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Setelah becak motor itu pergi, Rantaka berdiri di depan pagar rumah singgah.
Bangunannya tidak besar.
Halaman depannya dipenuhi tanah keras yang sebagian ditumbuhi rumput. Di dekat pagar, ada pohon jambu yang tumbuh miring. Beberapa sandal dan sepatu tersusun di teras. Dari dalam rumah, terdengar suara orang berbicara dan suara sendok beradu dengan piring.
Rantaka menarik napas.
Lalu ia membuka pagar perlahan.
Seorang perempuan paruh baya keluar dari dalam rumah sambil membawa ember kecil.
“Cari siapa, Nak?” tanyanya.
Rantaka segera berdiri lebih tegak.
“Saya Rantaka, Bu. Saya siswa baru penerima beasiswa. Saya diminta tinggal di rumah singgah ini.”
Perempuan itu memandangi Rantaka dari ujung kepala hingga kaki.
Kemudian wajahnya melunak.
“Oh, kamu Rantaka?”
“Iya, Bu.”
“Saya sudah diberi tahu oleh pihak sekolah. Masuklah. Saya Bu Ratmi.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Bu Ratmi.”
Bu Ratmi membantu membuka pintu.
“Taruh tasmu di dalam. Kamar untukmu ada di belakang. Kamu akan tinggal bersama satu anak lagi.”
Rantaka mengikuti Bu Ratmi masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, terdapat beberapa meja kayu, rak buku sederhana, dan papan pengumuman yang ditempel di dinding. Di atas papan itu tertulis jadwal piket, aturan rumah singgah, jadwal belajar malam, serta jam keluar dan masuk penghuni.
Rantaka membaca aturan itu pelan-pelan.
Bangun pukul lima pagi.
Piket kebersihan dilakukan bergantian.
Belajar malam dimulai setelah magrib.
Lampu kamar dimatikan pukul sepuluh malam.
Tidak boleh pulang terlambat tanpa izin.
Tidak boleh membawa masalah dari luar ke dalam rumah singgah.
Aturan itu membuat Rantaka merasa seperti memasuki dunia baru.
Di rumah, ia terbiasa membantu ibunya tanpa jadwal tertulis. Ia terbiasa tidur ketika pekerjaan selesai. Ia terbiasa berjalan ke sungai atau ke rumah sahabatnya tanpa harus meminta izin kepada banyak orang.
Di sini, semuanya memiliki waktu.
Semuanya memiliki aturan.
Semuanya harus dilakukan dengan tertib.
Bu Ratmi membawa Rantaka ke kamar di bagian belakang rumah.
Kamar itu tidak luas.
Di dalamnya terdapat dua tempat tidur kayu, dua lemari kecil, sebuah meja belajar, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang. Di sudut ruangan, ada rak sederhana untuk menyimpan buku.
Salah satu tempat tidur sudah terisi.
Di atasnya terdapat selimut yang dilipat rapi, beberapa buku pelajaran, dan sebuah tas sekolah berwarna hitam.
“Teman sekamarmu sedang keluar membeli kebutuhan,” kata Bu Ratmi. “Namanya Damar. Dia juga sekolah di SMA yang sama denganmu.”
“Dia dari kota ini, Bu?”
“Bukan. Dia dari desa lain. Sudah tinggal di sini sejak tahun lalu.”
Rantaka meletakkan tasnya di tempat tidur yang kosong.
“Kalau butuh apa-apa, bilang kepada saya,” lanjut Bu Ratmi. “Makan siang nanti di dapur. Jangan sungkan, ya.”
“Iya, Bu.”
Setelah Bu Ratmi pergi, Rantaka duduk di tepi tempat tidur.
Ia memandangi kamar itu.
Tidak ada dinding papan rumahnya.
Tidak ada suara ibunya dari dapur.
Tidak ada ayahnya yang duduk dekat jendela.
Tidak ada sahabat-sahabatnya yang datang tanpa perlu mengetuk pintu.
Hanya ada tempat tidur kayu, lemari kecil, dan jendela yang menghadap ke halaman belakang.
Rantaka membuka tas cokelatnya.
Ia mengeluarkan buku-buku sekolah dan menyusunnya di rak.
Kemudian ia mengeluarkan bungkusan ikan asin dari Jagra, bekal dari ibunya, gelang biru di pergelangan tangan, dan amplop kecil dari Liris.
Amplop itu masih belum dibuka.
Tulisan di depannya masih sama.
Untuk dibuka saat kau mulai merasa sendiri.
Rantaka memegang amplop itu cukup lama.
Ia memang mulai merasa sendiri.
Namun, ia belum ingin membuka surat itu.
Belum.
Ia menyimpannya di dalam buku catatan, lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela.
Dari sana, ia dapat melihat halaman belakang rumah singgah. Ada jemuran pakaian, sumur kecil, dan pagar bambu yang memisahkan rumah singgah dengan rumah warga di sebelahnya.
Di balik pagar, terdengar suara anak-anak bermain.
Mereka tertawa.
Mereka berlari.
Mereka memanggil satu sama lain.
Suara itu mengingatkan Rantaka pada anak-anak Desa Wanasari yang sering menunggu Gerobak Buku Langit Biru.
Ia membayangkan Liris sedang membuka buku hijaunya.
Ia membayangkan Banyu berada di bengkel Pak Hendra.
Ia membayangkan Jagra sedang membantu ayahnya di kolam ikan.
Rantaka baru menyadari bahwa pergi bukan hanya tentang meninggalkan tempat.
Pergi juga berarti meninggalkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama ini membuat hidup terasa akrab.
Menjelang sore, terdengar suara pintu kamar dibuka.
Rantaka menoleh.
Seorang anak laki-laki masuk sambil membawa kantong plastik berisi sabun, buku tulis, dan beberapa makanan ringan. Usianya tidak jauh berbeda dengan Rantaka. Tubuhnya kurus, rambutnya sedikit panjang di bagian depan, dan wajahnya tampak lelah seperti seseorang yang sudah terbiasa menjalani banyak hal sendiri.
Anak itu berhenti ketika melihat Rantaka.
“Kamu anak baru?” tanyanya.
Rantaka berdiri.
“Iya. Namaku Rantaka.”
Anak itu mengangguk.
“Aku Damar.”
Mereka saling berjabat tangan.
“Katanya kamu dari Desa Wanasari,” ujar Damar.
“Iya.”
“Aku pernah dengar. Desa yang dekat sungai itu, ya?”
Rantaka sedikit terkejut.
“Kau tahu?”
“Di rumah singgah ini banyak anak dari desa. Kadang kami saling cerita.”
Damar meletakkan kantong plastik di atas tempat tidurnya.
“Kamu masuk SMA Harapan Bangsa?”
“Iya.”
“Besok mulai daftar ulang?”
“Iya.”
Damar mengangguk.
“Sekolah itu bagus. Tapi jangan kaget.”
“Kaget kenapa?”
Damar menatap Rantaka sebentar.
“Di sana banyak anak yang sudah terbiasa hidup di kota. Ada yang keluarganya punya toko. Ada yang orang tuanya pegawai. Ada yang sudah punya telepon genggam sendiri. Mereka tidak selalu jahat, tapi tidak semua mengerti hidup anak desa.”
Rantaka duduk kembali di tepi tempat tidur.
Damar melanjutkan.
“Dulu aku juga seperti kamu. Baru datang, takut salah bicara, takut salah memakai seragam, takut ditertawakan. Aku pikir kalau aku diam, semua akan baik-baik saja.”
“Lalu?”
“Diam kadang membuat orang mengira kita mudah diinjak.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata itu membuatnya teringat pesan ayahnya.
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
“Apa kau pernah diejek?” tanya Rantaka.
Damar tersenyum tipis.
“Pernah. Karena logatku. Karena sepatuku dulu sudah sobek. Karena aku tidak punya uang untuk ikut makan di kantin setiap hari.”
“Lalu apa yang kau lakukan?”
“Aku belajar,” jawab Damar. “Bukan untuk membalas mereka. Tapi supaya aku tidak punya alasan untuk menyerah.”
Jawaban itu membuat Rantaka memandang Damar dengan lebih hormat.
Damar membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah buku.
“Kalau kamu bingung soal pelajaran atau aturan sekolah, tanya saja. Aku tidak tahu semuanya, tapi aku sudah satu tahun di sana.”
“Terima kasih.”
“Tidak perlu terlalu banyak berterima kasih. Kita sama-sama anak rantau.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Rantaka, kalimat itu terasa seperti pintu kecil yang mulai terbuka.
Malam hari di rumah singgah berbeda dengan malam di Desa Wanasari.
Tidak ada suara sungai.
Tidak ada jangkrik yang terdengar jelas.
Suara kendaraan dari jalan depan masih terdengar meski malam sudah semakin larut. Kadang ada motor melintas cepat. Kadang ada orang berbicara di warung dekat ujung jalan. Kadang terdengar suara televisi dari rumah tetangga.
Kota seperti tidak benar-benar tidur.
Setelah makan malam, penghuni rumah singgah berkumpul di ruang tengah untuk belajar. Ada beberapa anak yang membaca buku. Ada yang mengerjakan tugas. Ada yang menyalin catatan. Bu Ratmi duduk di dekat meja sambil memperhatikan mereka.
Rantaka duduk di samping Damar.
Ia membuka buku pelajaran SMA yang baru dibelinya.
Halaman-halaman pertama saja sudah membuatnya merasa asing.
Materinya lebih banyak.
Kalimat-kalimatnya lebih rumit.
Ada rumus yang belum pernah ia lihat.
Ada istilah-istilah yang belum ia pahami.
Damar menoleh.
“Sulit?”
“Sedikit.”
“Wajar. Aku dulu juga begitu.”
Rantaka mengangguk.
Ia mencoba membaca lagi.
Namun, pikirannya masih melayang ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan ibunya sedang mencuci piring di dapur.
Ia membayangkan ayahnya sudah tidur lebih awal.
Ia membayangkan Liris mungkin sedang menulis.
Ia membayangkan Banyu mungkin sedang memikirkan alat yang belum selesai dibuat.
Ia membayangkan Jagra sedang duduk di dekat kolam sambil mendengar suara air.
Ketika waktu belajar selesai, Rantaka kembali ke kamar.
Damar sudah lebih dulu berbaring di tempat tidurnya.
“Kamu belum tidur?” tanya Damar.
“Belum mengantuk.”
“Rindu rumah?”
Rantaka terdiam.
Damar tidak memaksanya menjawab.
Namun, setelah beberapa saat, Rantaka berkata, “Iya.”
Damar memandangi langit-langit kamar.
“Aku juga dulu begitu. Bahkan sekarang kadang masih.”
“Bagaimana caranya supaya tidak terlalu rindu?”
Damar tersenyum kecil.
“Tidak ada caranya. Rindu tidak harus dihilangkan. Kadang cukup dibawa saja sambil tetap berjalan.”
Rantaka mengingat kalimat itu.
Ia kemudian membuka buku catatannya.
Di antara halaman buku, ia menemukan amplop dari Liris.
Kali ini, ia memutuskan untuk membukanya.
Di dalam amplop itu terdapat selembar kertas kecil.
Tulisan Liris rapi dan halus.
Rantaka,
Jika suatu hari kau merasa sendiri, ingatlah bahwa langit yang kau lihat dari kota adalah langit yang juga kami lihat dari Desa Wanasari.
Mungkin kita tidak lagi duduk di bawah pohon beringin yang sama. Mungkin kita tidak lagi mendorong Gerobak Buku bersama-sama. Tetapi kita masih berada di bawah langit yang sama.
Jangan takut menjadi anak desa di kota.
Jangan takut berjalan pelan.
Yang penting, jangan berhenti.
— Liris
Rantaka membaca surat itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Setelah itu, ia melipat kertas tersebut dengan hati-hati dan menyimpannya kembali.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala.
Cahaya itu tampak banyak.
Sebagian terang.
Sebagian redup.
Sebagian bergerak mengikuti kendaraan yang melintas di jalan.
Rantaka berdiri di dekat jendela.
Ia memandangi kota kecil yang tidak pernah benar-benar diam.
Kota itu terasa asing.
Kota itu terasa besar.
Kota itu membuatnya takut.
Namun, malam itu ia mulai memahami bahwa kota bukan hanya tempat untuk ditakuti.
Kota adalah tempat yang harus ia pelajari.
Tempat yang akan menguji keberaniannya.
Tempat yang mungkin akan membuatnya jatuh.
Tetapi juga tempat yang dapat memberinya kesempatan untuk tumbuh.
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia mengingat suara ayahnya.
Ia mengingat surat Liris.
Ia mengingat pesan Damar.
Kemudian ia kembali ke tempat tidur.
Sebelum memejamkan mata, ia berkata pelan kepada dirinya sendiri.
“Aku tidak akan berhenti.”
Di luar rumah singgah, kota terus bergerak.
Kendaraan masih melintas.
Lampu-lampu masih menyala.
Orang-orang masih berjalan menuju tujuan mereka masing-masing.
Dan di salah satu kamar kecil di Rumah Singgah Pelajar Harapan, seorang anak dari Desa Wanasari mulai belajar bahwa perantauan bukan hanya tentang pergi jauh.
Perantauan adalah tentang menemukan kekuatan untuk tetap menjadi diri sendiri di tempat yang tidak mengenal namamu.
BAB 3
SERAGAM BARU, TATAPAN LAMA
Pagi pertama Rantaka sebagai siswa SMA dimulai sebelum matahari benar-benar muncul.
Suara ketukan pintu kamar membangunkannya.
“Bangun,” suara Bu Ratmi terdengar dari luar. “Jangan sampai terlambat hari pertama.”
Rantaka membuka mata.
Untuk beberapa detik, ia lupa bahwa dirinya berada di rumah singgah. Langit-langit kamar yang asing, suara kendaraan dari jalan depan, dan tempat tidur kayu yang bukan miliknya membuat ia kembali mengingat kenyataan.
Ia sudah berada di kota.
Ia sudah jauh dari Desa Wanasari.
Di tempat tidur sebelah, Damar sudah duduk sambil mengenakan seragam.
“Kau tidur nyenyak?” tanya Damar.
Rantaka menggeleng pelan.
“Tidak terlalu.”
“Wajar. Hari pertama selalu membuat orang sulit tidur.”
Rantaka bangkit dari tempat tidur.
Ia mengambil seragam putih abu-abu yang sudah digantung rapi sejak malam. Seragam itu masih baru. Lipatannya masih terlihat jelas. Kainnya belum lembut seperti seragam lama yang biasa ia pakai ketika masih sekolah di desa.
Setelah mandi dan bersiap, ia berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamar.
Kemeja putihnya sudah rapi.
Celana abu-abunya pas di tubuhnya.
Sepatu hitamnya masih mengilap.
Namun, ketika melihat bayangannya sendiri, Rantaka tidak merasa seperti anak kota.
Ia tetap merasa seperti anak Desa Wanasari yang membawa terlalu banyak harapan di dalam tas.
Di saku seragamnya, ia menyimpan surat kecil dari Liris.
Di pergelangan tangannya, gelang biru dari Jagra masih terikat.
Di dalam tas, ada pensil mekanik pemberian Banyu.
Benda-benda kecil itu membuatnya merasa bahwa ia tidak benar-benar pergi sendiri.
Di ruang makan rumah singgah, beberapa penghuni lain sudah duduk sambil menyantap sarapan. Ada nasi hangat, telur dadar, tempe goreng, dan teh manis.
Bu Ratmi berjalan dari dapur membawa piring.
“Makan dulu,” katanya. “Sekolah tidak jauh, tetapi hari pertama biasanya ramai.”
Rantaka duduk bersama Damar.
Di seberang mereka, seorang anak laki-laki berkacamata menatap Rantaka dengan ramah.
“Kamu siswa baru?” tanyanya.
“Iya,” jawab Rantaka.
“Namaku Iqbal. Aku kelas sebelas. Kalau nanti bingung mencari ruang tata usaha atau perpustakaan, tanya saja.”
“Terima kasih, Kak.”
Iqbal tersenyum.
“Jangan panggil kakak terus. Di rumah singgah ini kita sama-sama belajar hidup jauh dari rumah.”
Kalimat itu membuat Rantaka sedikit lebih tenang.
Setelah sarapan, Damar mengajak Rantaka berjalan menuju sekolah.
Jalan menuju SMA Harapan Bangsa tidak terlalu jauh dari rumah singgah. Mereka melewati beberapa toko, sebuah warung fotokopi, pasar kecil, dan lapangan yang digunakan warga untuk berolahraga pada pagi hari.
Semakin dekat ke sekolah, semakin banyak siswa berseragam putih abu-abu berjalan di jalan yang sama.
Sebagian datang dengan sepeda motor.
Sebagian diantar mobil.
Sebagian berjalan sambil membawa telepon genggam dan berbicara dengan teman-temannya.
Rantaka memperhatikan semuanya diam-diam.
Di Desa Wanasari, siswa biasanya berjalan kaki atau bersepeda. Tidak banyak yang memiliki kendaraan sendiri. Tidak ada yang datang ke sekolah sambil membawa tas mahal atau berbicara tentang tempat makan di kota.
Di sini, semuanya terasa berbeda.
Damar menoleh kepadanya.
“Jangan terlalu memperhatikan mereka,” katanya.
“Aku tidak apa-apa.”
“Kau sedang membandingkan.”
Rantaka tidak menjawab.
Damar benar.
Ia memang sedang membandingkan.
Membandingkan sepatu.
Tas.
Cara berbicara.
Kendaraan.
Bahkan cara mereka tertawa.
SMA Harapan Bangsa berdiri di tepi jalan besar. Gerbangnya tinggi dengan cat putih dan biru. Di bagian depan terdapat halaman luas yang sudah dipenuhi siswa. Di tengah halaman berdiri tiang bendera. Gedung sekolahnya bertingkat dua, dengan jendela-jendela besar dan lorong panjang.
Rantaka berhenti sebentar di depan gerbang.
Ia pernah melihat sekolah itu ketika datang untuk mengurus beasiswa beberapa waktu lalu. Namun, melihatnya sebagai calon siswa dan melihatnya sebagai siswa sungguhan adalah dua hal yang berbeda.
Hari itu, ia bukan lagi tamu.
Hari itu, ia harus masuk.
Hari itu, ia harus membuktikan bahwa ia pantas berada di sana.
Damar menepuk bahunya.
“Ayo.”
Mereka masuk ke halaman sekolah.
Di dekat papan pengumuman, banyak siswa baru berkerumun. Kertas besar ditempel di papan, berisi daftar nama dan pembagian kelas.
Rantaka ikut mendekat.
Ia mencari namanya perlahan.
Matanya bergerak dari atas ke bawah.
Kelas X-A.
Kelas X-B.
Kelas X-C.
Kemudian ia menemukan namanya.
Rantaka Pradana — X-B
Di bawah namanya, ia melihat nama Damar.
Damar Prasetyo — X-B
Rantaka menoleh.
“Kita satu kelas.”
Damar mengangguk.
“Bagus. Setidaknya kau tidak sendirian.”
Mereka berjalan menuju ruang kelas X-B yang berada di lantai dua.
Lorong sekolah sudah ramai. Ada siswa yang berlari kecil karena takut terlambat. Ada yang bercanda. Ada yang sibuk memotret teman-temannya. Ada pula yang duduk di dekat jendela sambil memandangi halaman sekolah.
Rantaka mengikuti Damar.
Ketika sampai di depan kelas, ia berhenti.
Ruangan itu lebih besar daripada kelas-kelas yang pernah ia tempati sebelumnya. Meja dan kursinya tersusun rapi. Di bagian depan ada papan tulis putih. Di sisi kiri terdapat jendela besar yang menghadap ke lapangan sekolah.
Beberapa siswa sudah duduk di tempat masing-masing.
Saat Rantaka dan Damar masuk, beberapa kepala menoleh.
Tatapan itu tidak lama.
Namun, cukup untuk membuat Rantaka merasa seperti sedang diperiksa.
Ada yang melihat seragamnya.
Ada yang melihat tas cokelatnya.
Ada yang melihat gelang biru di pergelangan tangannya.
Ada yang berbisik pelan kepada temannya.
Rantaka tidak dapat mendengar seluruh kalimatnya.
Namun, ia menangkap beberapa kata.
“Anak baru.”
“Dari desa.”
“Penerima beasiswa, katanya.”
Damar berjalan menuju bangku kosong di bagian tengah belakang.
“Duduk di sini saja,” katanya.
Rantaka mengikuti.
Ia meletakkan tas di bawah meja.
Saat ia duduk, seorang siswa laki-laki di bangku depan menoleh ke belakang.
Rambutnya rapi. Tasnya tampak baru. Di pergelangan tangannya terdapat jam tangan yang terlihat mahal.
“Kamu Rantaka?” tanyanya.
“Iya.”
“Dari Wanasari?”
“Iya.”
Siswa itu mengangguk kecil.
“Aku Arvin.”
Rantaka mengulurkan tangan.
“Rantaka.”
Arvin menjabat tangannya sebentar.
“Jauh juga, ya, dari Wanasari.”
“Lumayan.”
“Kau tinggal di rumah singgah?”
“Iya.”
Arvin menoleh kepada temannya yang duduk di sebelahnya.
“Katanya rumah singgah itu banyak anak dari desa.”
Temannya, seorang anak laki-laki bernama Reno, tersenyum kecil.
“Pantas.”
Rantaka memandangi mereka.
“Pantas apa?” tanyanya.
Reno mengangkat bahu.
“Tidak apa-apa.”
Damar yang duduk di sebelah Rantaka menatap Reno dengan tajam.
“Kalau ada yang mau dikatakan, katakan saja,” ujar Damar.
Reno tersenyum tipis.
“Aku cuma bilang, tidak apa-apa.”
Suasana menjadi sedikit tegang.
Rantaka tidak ingin masalah pada hari pertama. Ia menarik napas dan memilih diam.
Tidak lama kemudian, seorang guru perempuan masuk ke kelas.
Ia mengenakan seragam guru berwarna cokelat muda. Rambutnya disanggul sederhana. Wajahnya tampak tegas, tetapi tidak dingin.
“Selamat pagi,” katanya.
“Selamat pagi, Bu,” jawab seluruh siswa.
“Saya Bu Maya. Saya wali kelas kalian.”
Bu Maya berdiri di depan kelas sambil memegang daftar nama.
“Hari ini kita belum mulai pelajaran penuh. Kita akan saling mengenal, membicarakan aturan kelas, dan memahami bahwa kalian sudah memasuki masa sekolah yang berbeda.”
Beberapa siswa mulai duduk lebih tenang.
Bu Maya memandang seluruh kelas.
“Di sini, kalian datang dari latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari kota. Ada yang dari kecamatan. Ada yang dari desa. Ada yang tinggal bersama orang tua. Ada yang tinggal di rumah singgah.”
Rantaka mendengar kalimat itu dengan lebih saksama.
“Namun, ketika kalian sudah duduk di kelas ini, kalian memiliki hak yang sama untuk belajar,” lanjut Bu Maya. “Tidak ada yang lebih tinggi hanya karena rumahnya besar. Tidak ada yang lebih rendah hanya karena rumahnya jauh.”
Kelas menjadi lebih hening.
Rantaka menunduk sedikit.
Ia tidak tahu apakah Bu Maya sengaja mengatakan itu karena mengetahui ada beberapa siswa penerima beasiswa. Namun, kata-kata itu terasa seperti perlindungan kecil di tengah ruang yang masih asing.
Setelah menjelaskan beberapa aturan sekolah, Bu Maya meminta siswa memperkenalkan diri satu per satu.
Siswa pertama berdiri.
“Nama saya Arvin Mahendra. Saya dari kota. Hobi saya futsal. Cita-cita saya ingin menjadi pengusaha.”
Beberapa siswa bertepuk tangan.
Berikutnya, Reno berdiri.
“Nama saya Reno Saputra. Saya suka bermain musik dan ingin masuk sekolah kedinasan.”
Lalu beberapa siswa lain memperkenalkan diri.
Ada yang ingin menjadi dokter.
Ada yang ingin menjadi polisi.
Ada yang ingin menjadi atlet.
Ada yang ingin bekerja di perusahaan besar.
Ketika giliran Rantaka tiba, jantungnya mulai berdebar.
Ia berdiri perlahan.
Semua mata kembali mengarah kepadanya.
“Nama saya Rantaka Pradana,” katanya.
Suaranya terdengar sedikit lebih pelan daripada yang ia inginkan.
“Saya dari Desa Wanasari.”
Beberapa siswa saling pandang.
Rantaka mengingat kata ayahnya.
Jangan pernah menunduk saat mengatakan dari mana asalmu.
Ia mengangkat wajahnya.
“Saya tinggal di Rumah Singgah Pelajar Harapan. Saya suka membaca dan ingin menjadi guru.”
Kelas hening sejenak.
Lalu Bu Maya tersenyum.
“Bagus. Mengapa ingin menjadi guru?”
Rantaka sempat terdiam.
Ia tidak menyangka akan ditanya lebih jauh.
Namun, kemudian ia menjawab, “Karena di desa saya masih banyak anak yang sulit melanjutkan sekolah. Saya ingin suatu hari nanti bisa membantu mereka belajar.”
Kali ini, tidak ada yang tertawa.
Beberapa siswa hanya memandangnya dengan wajah berbeda.
Ada yang tampak biasa saja.
Ada yang tampak berpikir.
Ada pula yang masih tersenyum kecil seolah menganggap jawaban itu terlalu sederhana.
Bu Maya mengangguk.
“Cita-cita yang baik.”
Rantaka duduk kembali.
Damar menepuk meja pelan sebagai tanda dukungan.
Setelah semua siswa memperkenalkan diri, Bu Maya membagikan jadwal pelajaran dan buku panduan sekolah. Kemudian ia meminta setiap siswa memilih tempat duduk yang akan digunakan selama satu semester.
Beberapa siswa langsung membentuk kelompok dengan teman-teman yang sudah mereka kenal.
Arvin dan Reno duduk di bagian depan bersama dua siswa lain.
Beberapa siswi memilih duduk dekat jendela.
Rantaka dan Damar tetap berada di bangku tengah belakang.
Rantaka tidak keberatan.
Ia justru merasa lebih aman duduk di dekat Damar.
Saat jam istirahat tiba, siswa-siswa keluar kelas menuju kantin.
Rantaka membawa bekal dari rumah singgah. Ia tidak ingin menghabiskan uang untuk membeli makanan pada hari pertama.
Damar juga membawa bekal.
Mereka duduk di bawah pohon kecil dekat lapangan.
“Kenapa tidak ke kantin?” tanya Rantaka.
“Kadang ke kantin. Kadang tidak,” jawab Damar. “Kalau uang sedang cukup, baru beli.”
Rantaka membuka kotak bekalnya.
Isinya nasi dan tempe goreng.
Damar membuka bekalnya.
Isinya nasi dan telur rebus.
Mereka makan sambil memandangi siswa lain yang ramai di kantin.
Dari kejauhan, terdengar suara tawa.
Rantaka menoleh.
Arvin, Reno, dan beberapa siswa lain sedang duduk di meja kantin. Mereka membeli minuman dingin dan makanan ringan.
Reno melihat Rantaka.
Kemudian ia berkata cukup keras agar beberapa orang di sekitarnya mendengar.
“Anak rumah singgah memang rajin bawa bekal, ya. Hemat sekali.”
Beberapa temannya tertawa.
Rantaka berhenti mengunyah.
Damar menatap ke arah mereka.
Namun, Rantaka menggeleng pelan.
“Sudah,” katanya.
“Kalau kau diam terus, mereka akan semakin berani.”
“Aku tidak mau bertengkar.”
Damar menarik napas.
“Bukan berarti kau harus bertengkar. Tapi jangan sampai kau percaya bahwa membawa bekal adalah sesuatu yang memalukan.”
Rantaka menatap kotak makan di tangannya.
Ia teringat ibunya yang bangun sebelum matahari terbit untuk menyiapkan makanan.
Ia teringat bagaimana ibunya berkata bahwa lebih baik membawa banyak bekal daripada kelaparan.
Tiba-tiba, ejekan Reno tidak lagi terasa sebesar tadi.
Rantaka menutup kotak makannya setelah selesai.
“Kau benar,” katanya pelan.
Damar tersenyum kecil.
“Di kota ini, banyak orang menilai dari apa yang terlihat. Tas, sepatu, kendaraan, tempat tinggal. Tapi itu bukan seluruh hidup seseorang.”
Rantaka mengangguk.
Pelajaran hari pertama berjalan perlahan.
Guru-guru datang memperkenalkan mata pelajaran masing-masing. Ada yang memberi gambaran tentang tugas dan ujian. Ada yang menjelaskan aturan disiplin. Ada yang langsung memberikan latihan sederhana.
Rantaka berusaha mencatat semuanya.
Tangannya tidak berhenti menulis.
Ia tidak ingin tertinggal.
Ia tidak ingin membuat beasiswanya terlihat sebagai kesalahan.
Namun, semakin banyak pelajaran yang dijelaskan, semakin ia menyadari bahwa SMA akan jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan.
Ada materi yang belum pernah ia dengar.
Ada buku yang harus dibeli.
Ada tugas kelompok.
Ada kegiatan ekstrakurikuler.
Ada biaya-biaya kecil yang disebutkan satu per satu.
Rantaka mencatat semuanya di buku kecilnya.
Di bagian belakang buku, ia menulis daftar pengeluaran yang harus dipikirkan.
Buku.
Fotokopi.
Seragam olahraga.
Iuran kelas.
Alat tulis.
Transportasi jika ada kegiatan di luar sekolah.
Daftar itu membuat dadanya terasa sesak.
Beasiswa memang membantu.
Namun, beasiswa tidak menjawab semua kebutuhan.
Ketika bel pulang berbunyi, siswa-siswa keluar kelas dengan wajah lebih santai.
Ada yang dijemput orang tua.
Ada yang pulang naik motor.
Ada yang berjalan bersama teman-temannya.
Rantaka dan Damar berjalan kembali ke rumah singgah.
Di gerbang sekolah, Rantaka sempat menoleh ke arah gedung kelas.
Seragamnya masih baru.
Sepatunya masih bersih.
Tasnya masih sama.
Namun, hari itu ia sudah memahami satu hal.
Masuk ke sekolah baru bukan berarti semua orang melihatmu sebagai orang baru yang harus dibantu.
Sebagian orang akan melihat asal-usulmu.
Sebagian orang akan melihat kekuranganmu.
Sebagian orang akan mengingatkanmu bahwa kau datang dari tempat yang mereka anggap lebih rendah.
Tatapan mereka mungkin tidak selalu tajam.
Kata-kata mereka mungkin tidak selalu keras.
Namun, bagi Rantaka, semuanya terasa seperti tatapan lama yang pernah ia lihat dalam bentuk lain.
Tatapan yang mempertanyakan apakah anak desa benar-benar pantas punya mimpi besar.
Di perjalanan pulang, Damar berjalan di sampingnya.
“Kau menyesal datang?” tanya Damar.
Rantaka memandangi jalan di depan.
Tidak.
Ia tidak menyesal.
Ia takut.
Ia lelah.
Ia merasa kecil.
Namun, ia tidak menyesal.
“Tidak,” jawabnya akhirnya. “Aku hanya harus belajar lebih kuat.”
Damar mengangguk.
“Itu jawaban yang benar.”
Rantaka menyentuh gelang biru di pergelangan tangannya.
Ia membayangkan sungai Desa Wanasari.
Ia membayangkan pohon beringin.
Ia membayangkan sahabat-sahabatnya.
Kemudian ia melangkah lebih mantap.
Hari pertama di sekolah belum memberinya teman baru yang banyak.
Hari pertama itu juga belum membuat kota terasa ramah.
Namun, hari pertama itu telah memberinya alasan baru untuk bertahan.
Bukan untuk membuktikan bahwa ia lebih hebat daripada siapa pun.
Melainkan untuk membuktikan bahwa anak desa tidak harus menunduk ketika mengenakan seragam baru di tengah kota.
BAB 4
SURAT PERTAMA UNTUK LIRIS
Malam di Kota Arunika selalu terasa lebih panjang bagi Rantaka.
Di Desa Wanasari, malam datang perlahan. Sesudah matahari tenggelam di balik pepohonan dan suara burung mulai menghilang dari tepian sungai, kampungnya akan tenggelam dalam kesunyian yang akrab. Dari rumah-rumah warga, terdengar suara piring dicuci, suara orang tua memanggil anak-anaknya, atau suara radio kecil yang memutar lagu lama.
Setelah itu, desa menjadi tenang.
Tenang yang tidak membuat takut.
Tenang yang membuat seseorang tahu bahwa di sekelilingnya ada orang-orang yang dikenalnya.
Di kota, malam tidak pernah benar-benar sunyi.
Dari kamar kecil di rumah singgah, Rantaka masih bisa mendengar suara kendaraan yang melintas di jalan raya. Kadang ada motor yang melaju terlalu cepat. Kadang terdengar suara klakson dari persimpangan. Kadang pula suara orang berbicara dari warung makan di ujung jalan, meski waktu sudah semakin larut.
Lampu-lampu kota menyala di mana-mana.
Lampu toko.
Lampu jalan.
Lampu kendaraan.
Lampu rumah-rumah bertingkat yang berdiri rapat.
Dari jauh, semuanya tampak indah.
Namun, bagi Rantaka, cahaya itu justru membuatnya semakin sadar bahwa ia berada di tempat yang asing.
Ia duduk di meja belajar yang sederhana.
Di depannya terbuka buku pelajaran matematika. Namun, sejak tadi ia tidak benar-benar membaca. Matanya bergerak mengikuti angka-angka di halaman buku, tetapi pikirannya melayang ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan pohon beringin di halaman SD.
Ia membayangkan gerobak buku yang dulu mereka dorong bersama.
Ia membayangkan Banyu yang selalu sibuk membongkar benda-benda bekas.
Ia membayangkan Jagra yang sering bicara keras, tetapi paling cepat datang jika ada warga membutuhkan bantuan.
Dan ia membayangkan Liris.
Liris yang selalu membawa buku catatan hijau.
Liris yang sering diam lebih lama daripada orang lain, tetapi ketika berbicara, kata-katanya membuat siapa pun ingin mendengarkan.
Rantaka menarik buku tulis kosong dari dalam tasnya.
Di halaman pertama, ia menulis tanggal.
Lalu ia menulis nama yang sudah beberapa kali muncul dalam pikirannya sejak ia tiba di kota.
Untuk Liris,
Tangannya berhenti beberapa saat.
Ia tidak terbiasa menulis surat panjang.
Selama di desa, jika ingin berbicara dengan Liris, ia cukup berjalan ke rumahnya atau menunggu sore di bawah pohon beringin. Jika ada sesuatu yang ingin ia ceritakan, mereka bisa duduk di dekat Gerobak Buku Langit Biru sambil melihat anak-anak memilih bacaan.
Namun, sekarang jarak membuat semua hal sederhana terasa sulit.
Ia tidak bisa datang ke rumah Liris.
Ia tidak bisa melihat apakah Liris sedang tersenyum atau sedang menyimpan sesuatu dalam pikirannya.
Ia hanya memiliki selembar kertas.
Dan beberapa kata yang harus menempuh perjalanan jauh sebelum sampai.
Rantaka mulai menulis.
Liris,
Aku sudah beberapa hari di Kota Arunika. Aku masih sering merasa seperti orang yang salah turun di tempat yang terlalu ramai. Jalan-jalannya lebar, kendaraan banyak, dan orang-orang berjalan cepat seperti selalu dikejar waktu.
Sekolahku besar. Kelasnya lebih banyak daripada yang pernah kubayangkan. Ada perpustakaan yang cukup luas, laboratorium, lapangan, dan banyak siswa yang datang dari berbagai tempat. Aku seharusnya senang melihat semua itu. Aku memang senang. Tetapi kadang aku juga takut.
Di kelas, aku masih belum banyak bicara. Aku belum tahu bagaimana harus memulai percakapan dengan teman-teman baru. Mereka tampak sudah terbiasa dengan kota. Mereka tahu tempat-tempat yang belum pernah kudengar. Mereka bicara tentang banyak hal yang membuatku hanya bisa mendengarkan.
Aku tinggal di rumah singgah bersama beberapa siswa lain. Tempatnya tidak buruk. Bu Ratmi yang mengurus rumah singgah cukup baik. Ada seorang teman sekamar bernama Damar. Dia berasal dari desa juga, tetapi lebih lama tinggal di kota daripada aku. Dia sering bilang bahwa aku akan terbiasa.
Aku ingin percaya kepadanya.
Tetapi malam hari adalah waktu yang paling sulit. Saat lampu kota menyala dan suara kendaraan masih terdengar, aku sering teringat Desa Wanasari. Aku rindu suara sungai. Aku rindu jalan tanah. Aku rindu pohon beringin. Aku rindu Gerobak Buku Langit Biru.
Aku juga rindu kalian.
Bagaimana keadaanmu? Bagaimana Banyu dan Jagra? Apakah Gerobak Buku masih berjalan? Apakah anak-anak masih datang untuk membaca?
Aku ingin tahu semua kabar dari desa, bahkan kabar kecil sekalipun. Ceritakan kepadaku tentang sore di Wanasari, tentang langitnya, tentang jalan menuju balai desa, atau tentang buku apa yang sedang dibaca anak-anak.
Aku tidak tahu kapan surat ini sampai. Tetapi jika kamu membacanya, anggap saja aku sedang duduk di bawah pohon beringin bersama kalian.
Sahabatmu,
Rantaka.
Setelah selesai, Rantaka membaca ulang surat itu.
Ia merasa beberapa kalimat terdengar terlalu jujur.
Terlalu terbuka.
Namun, ia tidak menghapusnya.
Untuk pertama kalinya sejak berangkat dari Desa Wanasari, ia mengakui kepada seseorang bahwa ia merasa sepi.
Bukan karena ia tidak bersyukur mendapat kesempatan sekolah di kota.
Bukan karena ia ingin menyerah.
Tetapi karena ternyata mengejar mimpi juga dapat membuat seseorang merasa kehilangan rumahnya sendiri.
Ia melipat surat itu dengan hati-hati.
Besok, setelah pulang sekolah, ia akan pergi ke kantor pos kecil dekat pasar untuk mengirimkannya.
Malam itu, sebelum tidur, Rantaka memandangi amplop surat tersebut cukup lama.
Nama Liris tertulis di bagian depan.
Di bawahnya, alamat sederhana yang ia hafal sejak kecil.
Desa Wanasari, Kecamatan Sungai Jernih.
Alamat itu tampak begitu jauh dari kota.
Namun, bagi Rantaka, alamat itu adalah jalan pulang.
Dua hari kemudian, Rantaka mengirim surat itu.
Ia berdiri di depan loket kantor pos dengan perasaan aneh. Petugas menerima amplopnya, menimbangnya, lalu menempelkan perangko di sudut kanan atas.
Begitu surat itu masuk ke dalam kotak pengiriman, Rantaka merasa seperti baru saja menyerahkan sebagian dari dirinya kepada perjalanan yang tidak bisa ia lihat.
Ia tidak tahu kapan surat itu sampai.
Ia tidak tahu apakah Liris sedang sibuk membantu ibunya.
Ia tidak tahu apakah Liris akan langsung membacanya atau menyimpannya lebih dulu.
Ia juga tidak tahu apakah Liris akan membalas.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa.
Rantaka berangkat sekolah pagi-pagi.
Ia belajar mengenali jalan dari rumah singgah menuju sekolah.
Ia mulai tahu warung mana yang menjual nasi murah.
Ia mulai hafal jam kendaraan ramai di depan gerbang sekolah.
Ia mulai mengenal beberapa teman sekelas, meski belum benar-benar dekat.
Damar beberapa kali mengajaknya belajar bersama di rumah singgah.
“Kau harus mulai membiasakan diri,” kata Damar suatu malam.
“Aku sedang mencoba,” jawab Rantaka.
“Tidak perlu sekaligus. Kota ini tidak akan langsung terasa seperti rumah. Tetapi kau akan menemukan caramu sendiri.”
Rantaka mengangguk.
Ia ingin percaya.
Namun, setiap sore saat pulang sekolah, ia selalu memeriksa meja kecil di ruang tamu rumah singgah. Di sana biasanya surat-surat penghuni rumah singgah diletakkan oleh Bu Ratmi.
Hari pertama, tidak ada surat.
Hari kedua, tidak ada surat.
Hari ketiga, masih tidak ada surat.
Rantaka mulai merasa bodoh karena menunggu.
Mungkin Liris sibuk.
Mungkin suratnya belum sampai.
Mungkin Liris tidak tahu harus membalas apa.
Atau mungkin, pikirnya, surat itu memang terlalu panjang.
Terlalu penuh dengan kerinduan.
Pada hari kelima, ketika ia pulang dari sekolah dengan langkah lelah, Bu Ratmi memanggilnya.
“Rantaka.”
“Iya, Bu?”
“Ada surat.”
Rantaka berhenti.
Bu Ratmi mengangkat sebuah amplop putih dari meja.
Di bagian depan tertulis namanya.
Tulisan tangan itu kecil, rapi, dan miring sedikit ke kanan.
Rantaka langsung mengenalinya.
Tulisan Liris.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia menerima surat itu dengan kedua tangan.
“Terima kasih, Bu.”
“Dari desa?” tanya Bu Ratmi.
Rantaka mengangguk.
“Dari sahabat.”
Bu Ratmi tersenyum tipis.
“Bacalah. Surat dari rumah sering kali lebih menguatkan daripada yang kita kira.”
Rantaka masuk ke kamar.
Ia menutup pintu pelan-pelan.
Lalu duduk di meja belajar yang sama, tempat ia menulis surat pertamanya beberapa hari lalu.
Tangannya gemetar saat membuka amplop.
Di dalamnya ada dua lembar kertas.
Lembar pertama berisi surat.
Lembar kedua adalah sebuah puisi.
Rantaka membaca surat itu lebih dahulu.
Rantaka,
Suratmu sudah sampai. Aku membacanya sore tadi di bawah pohon beringin. Angin cukup kencang, jadi aku harus menahan kertasnya agar tidak terbang.
Aku senang kamu mau bercerita. Jangan merasa aneh karena merasa sepi. Mungkin kota memang besar, tetapi orang yang baru datang bisa merasa kecil di dalamnya.
Di desa, kami semua baik. Banyu masih sibuk dengan benda-benda bekasnya. Kemarin ia membawa roda tua dan berkata ingin membuat sesuatu yang bisa membantu kebun warga. Jagra masih sering membantu ayahnya di kolam ikan. Ia juga masih suka mengeluh, tetapi sebenarnya ia tetap datang saat Gerobak Buku berjalan.
Gerobak Buku Langit Biru masih ada. Kami tetap membukanya setiap sore tertentu. Anak-anak masih datang, meski mereka sering bertanya kapan kamu pulang. Ada yang bilang kamu pasti sedang belajar di gedung sekolah yang sangat besar. Ada juga yang bilang kamu akan pulang membawa banyak buku.
Aku tidak tahu apakah itu benar. Tetapi aku percaya kamu sedang berjuang.
Aku mengirimkan sebuah puisi. Jangan tertawa jika menurutmu puisinya terlalu sederhana. Aku hanya ingin kamu ingat bahwa cahaya tidak selalu berarti hangat. Kadang, orang yang berada di bawah banyak lampu justru membutuhkan seseorang untuk mengingatkan bahwa ia tidak sendirian.
Tetaplah belajar, Rantaka. Tetapi jangan lupa pulang dalam cerita-cerita kecilmu.
Sahabatmu,
Liris.
Rantaka membaca surat itu sekali lagi.
Lalu ia mengambil lembar kedua.
Di bagian atasnya, tertulis judul puisi dengan tinta biru.
Lampu-Lampu Kota
Dari jauh, kota tampak seperti langit
yang menurunkan bintang-bintang ke jalan.
Lampunya banyak,
berbaris di jendela,
berkilau di kaca kendaraan,
dan menyala di sudut yang tidak dikenal.
Tetapi di bawah cahaya yang ramai itu,
ada hati yang berjalan sendiri,
membawa rindu dalam tas sekolah,
membawa rumah di dalam ingatan.
Jika malam terasa terlalu panjang,
ingatlah sungai yang pernah mengajar kita
bahwa air selalu menemukan jalan pulang.
Jika kota membuatmu merasa kecil,
ingatlah langit di desa
tetap luas di atas kepalamu.
Sebab seseorang yang membawa mimpi
tidak pernah benar-benar sendirian,
selama masih ada sahabat
yang menyebut namanya dalam doa.
Rantaka menatap puisi itu lama sekali.
Lampu-lampu kota.
Bintang-bintang yang turun ke jalan.
Hati yang berjalan sendiri.
Rindu dalam tas sekolah.
Setiap baris terasa seperti Liris benar-benar melihat keadaan yang sedang ia alami, meski mereka terpisah begitu jauh.
Ia tidak tahu bagaimana Liris dapat memahami kesepiannya hanya dari surat yang ia kirim.
Mungkin karena Liris selalu memperhatikan hal-hal kecil.
Mungkin karena mereka sudah berteman cukup lama untuk memahami apa yang tidak ditulis.
Atau mungkin karena sahabat tidak selalu harus berada di dekat seseorang untuk mengetahui bahwa hatinya sedang lelah.
Rantaka menyandarkan punggung ke kursi.
Untuk beberapa saat, suara kendaraan dari jalan depan rumah singgah tidak lagi terasa terlalu mengganggu.
Lampu-lampu kota yang terlihat dari jendela juga tidak lagi tampak dingin.
Ia membayangkan Liris menulis puisi itu di bawah pohon beringin.
Ia membayangkan angin sore di Desa Wanasari menggerakkan halaman buku catatan hijaunya.
Ia membayangkan Gerobak Buku Langit Biru tetap berdiri di dekat balai desa, meski tanpa dirinya.
Ada rasa sedih karena ia tidak berada di sana.
Namun, ada pula rasa hangat karena ia tahu mereka masih mengingatnya.
Rantaka mengambil buku catatan kecil dari tasnya.
Di halaman kosong, ia menyalin beberapa baris puisi Liris.
Bukan seluruhnya.
Hanya bagian yang paling melekat di hatinya.
Jika kota membuatmu merasa kecil,
ingatlah langit di desa
tetap luas di atas kepalamu.
Setelah menulisnya, ia menutup buku catatan.
Malam itu, ia kembali membuka buku pelajaran.
Ia masih belum memahami semua materi di kelas.
Ia masih belum terbiasa dengan ritme kota.
Ia masih merasa rindu pada desa.
Namun, kini ia tidak lagi merasa sepenuhnya sendirian.
Surat Liris tidak mengubah kota menjadi lebih sepi.
Tidak pula membuat jalan-jalan kota menjadi lebih mudah dipahami.
Tetapi surat itu memberi Rantaka sesuatu yang selama beberapa hari terakhir ia cari.
Keyakinan.
Bahwa di Desa Wanasari, ada orang-orang yang menunggu kabarnya.
Ada sahabat-sahabat yang tetap menjaga Gerobak Buku Langit Biru.
Ada seorang gadis dengan buku catatan hijau yang mengirimkan puisi agar ia tidak menyerah.
Rantaka menaruh surat dan puisi itu di dalam laci meja.
Ia menyimpannya di tempat yang mudah dijangkau.
Ia tahu, mungkin ada malam-malam lain ketika kota kembali terasa terlalu ramai dan terlalu asing.
Pada malam seperti itu, ia akan membuka surat Liris.
Ia akan membaca puisinya.
Dan ia akan mengingat bahwa sejauh apa pun ia pergi, langit Desa Wanasari tetap ada di atas kepalanya.
Di bawah cahaya lampu kota, Rantaka kembali belajar.
Bukan hanya belajar matematika, bahasa, atau pelajaran sekolah lainnya.
Ia sedang belajar bahwa rindu tidak selalu melemahkan.
Kadang, rindu justru menjadi alasan seseorang untuk tetap bertahan.
BAB 5
GEROBAK BUKU TANPA RANTAKA
Sore di Desa Wanasari datang dengan langit yang sedikit kelabu.
Sejak siang, awan menggantung rendah di atas pepohonan. Angin bergerak pelan melewati halaman balai desa, membawa bau tanah dan daun-daun kering dari jalan setapak. Di dekat pohon beringin yang sudah lama berdiri di halaman SD Wanasari, sebuah gerobak kayu tampak terparkir.
Cat biru di sisi gerobak itu mulai memudar.
Di bagian depannya masih tertulis dengan huruf putih yang dibuat tangan:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Liris berdiri di samping gerobak sambil merapikan buku-buku yang tersusun di dalamnya.
Ia mengelap sampul sebuah buku cerita anak dengan kain kecil. Kemudian ia menyusun kembali beberapa buku pelajaran yang tercampur dengan majalah lama. Di bawah tumpukan buku, ada beberapa lembar kertas gambar dan pensil warna yang sudah tidak lengkap.
Dulu, pekerjaan itu terasa ringan.
Rantaka biasanya datang paling awal membawa kunci gudang kecil tempat gerobak disimpan. Banyu akan memeriksa roda gerobak dan memastikan pegangan kayunya tidak longgar. Jagra akan membantu mendorongnya dari halaman sekolah menuju balai desa. Sedangkan Liris menata buku-buku sambil menyambut anak-anak yang datang.
Mereka membagi tugas tanpa banyak bicara.
Seolah-olah semuanya sudah mengerti apa yang harus dilakukan.
Namun, sejak Rantaka berangkat ke Kota Arunika, gerobak itu terasa lebih berat.
Bukan hanya karena salah satu orang yang biasa mendorongnya sudah tidak ada.
Tetapi karena ada ruang kosong yang tidak mudah diisi.
“Buku cerita yang bergambar itu taruh di depan,” kata sebuah suara dari arah jalan.
Liris menoleh.
Banyu datang sambil membawa tas kain yang tampak penuh. Seragam sekolahnya masih melekat di tubuhnya, tetapi bagian lengannya terlihat sedikit terkena noda hitam. Rambutnya juga tampak berantakan seperti baru saja terkena angin atau debu.
“Kau baru pulang dari mana?” tanya Liris.
“Dari bengkel.”
“Bukankah hari ini kau sekolah?”
“Sekolah, lalu ke bengkel sebentar.”
“Untuk apa?”
Banyu meletakkan tas kainnya di bawah pohon beringin.
“Membantu Pak Darto membersihkan alat. Katanya ada beberapa pekerjaan kecil yang bisa kukerjakan setelah pulang sekolah.”
Liris memandang noda hitam di lengan seragam Banyu.
“Kau bekerja lagi?”
“Belum benar-benar bekerja. Baru membantu. Kalau cocok, mungkin aku bisa datang beberapa kali dalam seminggu.”
“Banyu, kau juga harus belajar.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau terlalu lelah, bagaimana?”
Banyu tersenyum kecil.
“Kalau aku tidak mulai mencari pengalaman dari sekarang, kapan lagi? Aku ingin punya uang untuk membeli beberapa alat.”
Liris sudah tahu maksudnya.
Banyu masih menyimpan keinginan membuat alat pertanian sederhana. Ia sering berbicara tentang pompa air, alat pengolah tanah, atau roda kecil yang bisa membantu warga membawa hasil kebun. Di dalam tasnya, selalu ada buku catatan berisi gambar-gambar rancangan yang belum selesai.
Namun, Liris juga tahu bahwa keinginan itu membutuhkan banyak hal.
Waktu.
Tenaga.
Uang.
Dan Banyu belum memiliki semuanya.
“Kalau begitu, kau masih sempat membantu Gerobak Buku?” tanya Liris.
Banyu memandang gerobak itu.
“Aku sempat. Hanya mungkin tidak selama dulu.”
Jawaban itu sederhana.
Tetapi Liris merasakan sesuatu yang berat di baliknya.
Tidak selama dulu.
Kalimat itu seolah menjadi kenyataan baru bagi mereka semua.
Tidak ada lagi waktu sepanjang sore untuk duduk bersama.
Tidak ada lagi kesempatan mudah untuk membicarakan buku, mimpi, atau rencana-rencana kecil mereka.
Sekarang, setiap orang memiliki urusannya sendiri.
Setiap orang harus membagi waktu antara sekolah, rumah, pekerjaan, dan tanggung jawab keluarga.
Liris mengangguk.
“Baik. Kau periksa rodanya saja. Sepertinya sebelah kiri agak berat.”
Banyu segera jongkok di samping gerobak.
Ia memutar roda perlahan, lalu menekan bagian kayu di dekat porosnya.
“Ini perlu dikencangkan,” katanya. “Tapi belum parah.”
“Bisa diperbaiki?”
“Bisa. Nanti aku cari baut yang cocok.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau Rantaka di sini, dia pasti sudah membawa tali atau kayu cadangan.”
Banyu berhenti sejenak.
“Rantaka memang selalu punya cara membuat semuanya terasa mudah.”
“Padahal sebenarnya dia juga sering bingung.”
“Iya,” kata Banyu. “Tapi dia tetap datang.”
Mereka terdiam.
Nama Rantaka selalu membawa perasaan yang sama.
Rindu.
Bangga.
Dan sedikit kesepian.
Tidak lama kemudian, Jagra datang dari arah sungai.
Ia membawa ember kecil di tangan kanan dan jaring yang digulung di bahunya. Celana bagian bawahnya sedikit basah dan penuh lumpur. Wajahnya tampak lelah.
“Kalian sudah mulai?” tanyanya.
“Belum,” jawab Liris. “Kami menunggu kau.”
Jagra meletakkan ember di dekat pohon.
“Maaf terlambat. Ayah minta aku membantu memberi makan ikan.”
“Kolamnya bagaimana?” tanya Banyu.
“Masih baik. Tapi airnya mulai agak keruh karena hujan dua hari lalu.”
“Apakah ikan-ikannya banyak?”
“Lumayan. Tapi kalau tidak dijaga, bisa sakit.”
Jagra mengusap keningnya.
“Ayah juga bilang aku harus lebih sering membantu. Katanya, sekarang aku sudah cukup besar untuk mengerti usaha keluarga.”
Liris memandangnya.
“Kau keberatan?”
Jagra tidak langsung menjawab.
“Aku tidak keberatan membantu ayah,” katanya akhirnya. “Tapi kadang aku juga ingin punya waktu seperti dulu.”
“Untuk Gerobak Buku?” tanya Liris.
“Untuk semuanya.”
Jagra menatap gerobak yang terparkir di bawah pohon beringin.
“Dulu, setelah sekolah, kita bisa langsung berkumpul. Sekarang aku harus ke kolam. Banyu ke bengkel. Kau membantu ibumu. Rantaka di kota.”
Banyu berdiri setelah selesai memeriksa roda.
“Memang sudah berubah.”
“Bukan hanya berubah,” kata Jagra. “Kadang rasanya seperti kita mulai berjalan sendiri-sendiri.”
Liris menggenggam kain lap di tangannya.
Ia ingin menyangkal.
Ia ingin berkata bahwa mereka masih sama seperti dulu.
Namun, ia tidak bisa.
Karena yang dikatakan Jagra memang benar.
Mereka masih sahabat.
Mereka masih peduli satu sama lain.
Tetapi kehidupan mulai meminta lebih banyak dari mereka.
Dan setiap permintaan itu perlahan mengambil waktu yang dulu mereka miliki bersama.
“Gerobak Buku tetap harus jalan,” kata Liris akhirnya.
Jagra memandangnya.
“Kenapa?”
“Karena anak-anak menunggu.”
“Kalau yang datang sedikit?”
“Sedikit pun tetap anak-anak yang ingin membaca.”
“Kalau kita semua lelah?”
Liris menatap tulisan di sisi gerobak.
Gerobak Buku Langit Biru.
Nama itu bukan sekadar tulisan.
Nama itu adalah janji yang pernah mereka buat bersama.
“Kalau kita lelah,” kata Liris pelan, “kita tetap datang sebisanya.”
Banyu mengangguk.
“Setuju.”
Jagra menghela napas.
Lalu ia mengambil pegangan gerobak.
“Baik. Kita dorong.”
Mereka bertiga mulai mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju halaman balai desa.
Banyu berada di sisi kiri untuk menjaga roda yang sedikit longgar. Jagra mendorong dari belakang. Liris berjalan di depan sambil memegang pegangan gerobak.
Gerobak itu bergerak perlahan di atas jalan tanah.
Roda kayunya berbunyi pelan.
Krek.
Krek.
Krek.
Dulu, suara roda itu selalu terdengar ramai karena disertai tawa mereka berempat.
Rantaka sering mengajak anak-anak yang berpapasan untuk datang membaca. Banyu kadang berjalan sambil membawa buku-buku baru. Jagra sering mengeluh karena jalan menanjak, tetapi ia tetap mendorong paling kuat. Liris akan tersenyum sambil mengingatkan mereka agar buku-buku tidak jatuh.
Kini, jalan yang sama terasa lebih panjang.
Saat mereka tiba di balai desa, hanya beberapa anak yang sudah menunggu.
Ada Sari, anak kelas tiga SD yang suka membaca cerita rakyat.
Ada Miko, anak kecil yang selalu memilih buku bergambar kendaraan.
Ada dua anak lain yang duduk di anak tangga balai desa sambil memegang buku tulis.
“Ka Liris!” seru Sari. “Kak Rantaka belum pulang?”
Liris tersenyum lembut.
“Belum, Sari. Kak Rantaka masih sekolah di kota.”
“Kenapa lama sekali sekolahnya?”
“Karena sekolah di kota juga banyak pelajarannya.”
Miko mendekat sambil memandang ke dalam gerobak.
“Kalau Kak Rantaka pulang, apakah dia bawa buku baru?”
Banyu menoleh kepada Liris.
Liris mengangguk kecil.
“Mungkin nanti Kak Rantaka akan membawa banyak cerita untuk kalian.”
Anak-anak tampak senang mendengarnya.
Namun, Liris tahu bahwa mereka semua juga merindukan Rantaka.
Gerobak Buku Langit Biru masih ada.
Buku-bukunya masih tersusun.
Pohon beringin masih menaungi halaman.
Tetapi ada sesuatu yang berbeda.
Anak-anak dapat merasakannya.
Mereka juga dapat merasakannya.
Liris membuka beberapa buku cerita dan meletakkannya di atas tikar.
“Siapa yang mau membaca cerita tentang hutan?” tanyanya.
Beberapa tangan terangkat.
“Siapa yang mau belajar menulis cerita pendek?”
Sari mengangkat tangan paling tinggi.
“Kalau aku mau gambar mobil,” kata Miko.
“Boleh,” jawab Banyu. “Tapi setelah itu, kau harus cerita tentang mobilmu.”
Miko mengangguk serius.
Jagra duduk di dekat anak-anak yang membawa buku tulis.
Ia membantu mereka membaca beberapa kalimat pendek. Sesekali ia terlihat melamun ke arah sungai, tetapi ketika salah satu anak bertanya tentang arti kata, ia kembali memperhatikan.
Banyu mengeluarkan pensil dan beberapa kertas gambar dari tasnya.
Ia mengajak Miko dan dua anak lain menggambar alat-alat yang mereka lihat di rumah atau kebun.
“Kalau kalian ingin membuat sesuatu untuk membantu orang tua, kalian akan membuat apa?” tanya Banyu.
“Aku mau buat mesin yang bisa mengangkat air,” jawab seorang anak.
“Aku mau buat mobil yang bisa masuk ke sawah,” kata Miko.
Banyu tersenyum.
“Itu ide yang bagus.”
Liris duduk di tengah anak-anak perempuan yang membaca buku cerita.
Ia meminta mereka menceritakan kembali isi buku dengan kata-kata sendiri. Sari membaca dengan suara pelan, lalu berhenti di beberapa bagian untuk bertanya.
“Ka Liris, apakah orang yang tinggal jauh dari rumah bisa tetap bahagia?”
Liris terdiam sejenak.
Pertanyaan itu muncul dari cerita tentang seorang anak yang pergi merantau.
Ia teringat Rantaka.
Ia teringat suratnya.
“Bisa,” jawab Liris akhirnya. “Tapi mungkin dia akan tetap rindu rumah.”
“Kalau rindu, kenapa tidak pulang saja?”
“Karena kadang seseorang pergi supaya suatu hari bisa pulang membawa sesuatu yang baik.”
Sari tampak berpikir.
“Seperti Kak Rantaka?”
Liris tersenyum.
“Seperti Kak Rantaka.”
Menjelang sore, anak-anak mulai pulang satu per satu.
Jumlah mereka tidak sebanyak dulu.
Beberapa anak tidak datang karena membantu orang tua di kebun. Ada pula yang harus menjaga adik di rumah. Sebagian lainnya mungkin memilih bermain di lapangan karena cuaca cukup cerah setelah beberapa hari hujan.
Ketika tikar sudah hampir kosong, Liris mulai mengumpulkan buku-buku.
Banyu membantu memasukkan pensil warna ke dalam kotak.
Jagra menutup tutup gerobak dengan perlahan.
“Hanya tujuh anak hari ini,” katanya.
“Dulu bisa belasan,” jawab Banyu.
“Kadang lebih dari dua puluh,” tambah Liris.
Jagra mengangguk.
“Nah, itu maksudku. Tidak seramai dulu.”
Liris tidak menjawab.
Ia tahu Jagra tidak bermaksud menyalahkan siapa pun.
Ia hanya menyebutkan kenyataan.
Gerobak Buku Langit Biru memang masih berjalan.
Tetapi langkahnya tidak lagi sama.
Bukan karena mereka tidak peduli.
Bukan karena mereka ingin berhenti.
Namun, karena hidup mulai membagi mereka ke dalam banyak arah.
Banyu harus memikirkan bengkel dan peralatan yang ingin dibelinya.
Jagra harus membantu ayahnya menjaga kolam ikan.
Liris harus membantu ibunya di rumah, memasak, mencuci, dan mengurus beberapa pekerjaan kecil yang tidak bisa ditinggalkan.
Sementara Rantaka berada di kota, berusaha bertahan di sekolah baru yang jauh dari desa.
Mereka semua tumbuh.
Dan pertumbuhan itu ternyata tidak selalu mudah.
“Besok kau ke bengkel lagi?” tanya Liris kepada Banyu.
“Mungkin.”
“Kau ke kolam?” tanya Liris kepada Jagra.
“Pasti.”
Liris mengangguk.
“Aku harus membantu ibu menyiapkan pesanan kue.”
Jagra menatap mereka berdua.
“Lalu kapan kita membuka Gerobak Buku lagi?”
Banyu memandang langit yang mulai berubah jingga.
“Sabtu sore?”
“Aku bisa,” kata Liris.
Jagra berpikir sebentar.
“Aku akan coba selesai dari kolam lebih awal.”
“Kalau tidak bisa?” tanya Banyu.
Jagra menarik napas.
“Kalau tidak bisa, kalian buka dulu. Aku menyusul.”
Liris memandang kedua sahabatnya.
Tidak ada janji besar.
Tidak ada kata-kata yang terdengar hebat.
Hanya kesediaan untuk tetap datang, meski waktu mereka semakin sedikit.
“Baik,” kata Liris. “Sabtu sore.”
Mereka kembali mendorong gerobak menuju gudang kecil di samping sekolah.
Jalan pulang terasa lebih sepi.
Matahari hampir tenggelam.
Bayangan pohon beringin memanjang di atas tanah.
Ketika mereka sampai di gudang, Banyu kembali memeriksa roda gerobak. Jagra membantu mengangkat beberapa buku yang hampir jatuh. Liris mengunci pintu gudang setelah semuanya tersimpan rapi.
Sebelum pergi, mereka berdiri sejenak di depan pintu gudang.
Tidak ada yang langsung berjalan pulang.
Mungkin karena mereka semua memahami bahwa sore itu bukan hanya tentang Gerobak Buku.
Sore itu tentang perubahan.
Tentang sahabat yang mulai memiliki jalan masing-masing.
Tentang tanggung jawab yang datang lebih cepat daripada yang mereka harapkan.
Tentang rindu kepada seorang sahabat yang sedang mengejar mimpi di kota.
Liris memandang tulisan kecil di papan kayu dekat pintu gudang.
Tulisan itu dibuat Rantaka beberapa waktu lalu.
Buku adalah jendela. Persahabatan adalah jalan pulang.
Liris membaca kalimat itu dalam hati.
Banyu dan Jagra ikut memandanginya.
“Rantaka pasti menulis itu sebelum berangkat,” kata Banyu.
“Iya,” jawab Liris.
“Dia memang suka membuat kalimat seperti itu,” kata Jagra, meski suaranya terdengar lebih pelan dari biasanya.
Liris tersenyum.
“Dan kita harus menjaga apa yang sudah ia mulai bersama kita.”
Jagra mengangguk.
Banyu juga mengangguk.
Kemudian mereka berjalan pulang ke arah yang berbeda.
Banyu menuju jalan ke bengkel kecil.
Jagra menuju arah sungai dan kolam ikan.
Liris menuju rumahnya, tempat ibunya mungkin sudah menunggu bantuan.
Di belakang mereka, Gerobak Buku Langit Biru tersimpan di dalam gudang.
Tidak lagi seramai dulu.
Tidak lagi didorong oleh empat sahabat.
Namun, belum berhenti.
Masih ada.
Masih menunggu sore berikutnya.
Masih menyimpan buku-buku, cerita-cerita, dan harapan kecil anak-anak Desa Wanasari.
Dan selama masih ada seseorang yang mau membuka pintu gudang, mengeluarkan gerobak itu, lalu mengajak anak-anak membaca, Langit Biru belum benar-benar kehilangan cahayanya.
BAB 6
UANG SAKU YANG TIDAK CUKUP
Pagi itu, Rantaka membuka dompetnya lebih lama daripada biasanya.
Dompet kain berwarna cokelat itu sudah agak kusam di bagian sudut. Di dalamnya, tersimpan beberapa lembar uang kertas, kartu pelajar, dan secarik kertas kecil yang berisi catatan pengeluaran. Sejak tinggal di Kota Arunika, Rantaka mulai terbiasa mencatat hampir semua uang yang keluar.
Harga buku tulis.
Harga sabun.
Harga makan siang.
Harga fotokopi tugas.
Harga ongkos jika suatu hari ia harus naik kendaraan karena hujan turun terlalu deras.
Ia tidak pernah melakukan hal seperti itu ketika masih tinggal di Desa Wanasari.
Di desa, banyak kebutuhan dapat disiasati. Jika tidak ada uang untuk membeli sayur, ibunya bisa mengambil daun singkong dari kebun. Jika sandal putus, kadang bisa dijahit atau dipakai lagi setelah diperbaiki. Jika buku tulis hampir habis, ia masih bisa menggunakan halaman kosong dari buku lama.
Namun, kota tidak memberi banyak ruang untuk menyiasati kebutuhan.
Di kota, hampir semua hal membutuhkan uang.
Rantaka menghitung lembar uang yang ada di tangannya.
Lalu ia membuka kembali catatan kecilnya.
Di bagian atas, ia menulis:
Uang beasiswa bulan ini.
Di bawahnya, ia menulis beberapa pengeluaran.
Iuran rumah singgah.
Buku latihan matematika.
Fotokopi bahan pelajaran.
Biaya kegiatan sekolah.
Makan siang beberapa hari.
Sabun dan kebutuhan pribadi.
Ia menarik napas pelan.
Jumlah uang yang tersisa semakin sedikit.
Padahal bulan belum berakhir.
“Sedang menghitung kekayaan?” tanya Damar dari tempat tidurnya.
Rantaka menoleh.
Damar baru saja bangun. Rambutnya masih berantakan. Ia menguap, lalu duduk sambil mengusap wajah.
“Bukan kekayaan,” jawab Rantaka. “Justru sebaliknya.”
Damar tertawa kecil.
“Uangmu menipis?”
Rantaka tidak langsung menjawab.
Namun, Damar sudah melihat catatan di atas meja.
“Biaya hidup di kota memang begitu,” katanya. “Awalnya semua orang merasa uangnya cukup. Lalu tiba-tiba tinggal sedikit.”
“Aku kira uang beasiswa bisa untuk semua kebutuhan.”
“Bisa, kalau kebutuhanmu sedikit.”
“Aku sudah berusaha hemat.”
“Aku tahu. Kau bahkan sering membawa air minum dari rumah singgah.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Itu bukan masalah besar.”
“Yang besar itu biaya sekolah,” kata Damar. “Buku, fotokopi, kegiatan kelas, tugas kelompok. Kadang hal-hal kecil itu yang membuat uang habis.”
Rantaka menutup dompetnya.
Ia tidak ingin mengeluh.
Beasiswa yang ia terima sudah menjadi kesempatan besar. Tidak semua anak dari desa mendapat peluang untuk melanjutkan sekolah di kota. Ia tahu keluarganya bangga. Ia tahu ibunya pasti berharap ia dapat belajar dengan baik dan kelak memiliki kehidupan yang lebih baik.
Karena itu, ia tidak ingin mengirim kabar bahwa uangnya mulai tidak cukup.
Ia tidak ingin ibunya memikirkan biaya tambahan.
Ia tidak ingin keluarga di Desa Wanasari merasa terbebani oleh kepergiannya.
“Aku akan mencari cara,” katanya.
Damar memandangnya.
“Cara apa?”
“Aku belum tahu.”
Di sekolah, persoalan uang itu terus mengikuti pikiran Rantaka.
Saat guru matematika meminta siswa membeli buku latihan tambahan, ia langsung memikirkan harga buku tersebut.
Saat ketua kelas mengumumkan biaya untuk kegiatan kebersihan kelas, ia kembali menghitung uang yang tersisa.
Saat seorang teman mengajak membeli makanan di kantin, ia menolak dengan alasan sudah membawa bekal.
Padahal, bekal yang dibawanya hanya nasi dan telur dadar dari dapur rumah singgah.
Ia tidak malu dengan bekal itu.
Namun, ia mulai merasa bahwa setiap hari ada saja kebutuhan baru yang datang.
Pada jam istirahat, Rantaka duduk di bawah pohon dekat lapangan sekolah sambil membuka buku pelajaran. Beberapa siswa berjalan menuju kantin. Ada yang tertawa, ada yang membawa minuman dingin, ada pula yang membicarakan rencana akhir pekan.
Rantaka mencoba membaca materi fisika.
Namun, angka-angka di halaman buku terasa seperti deretan biaya yang belum selesai ia pikirkan.
Damar datang membawa dua gelas teh hangat dalam plastik.
“Satu untukmu,” katanya.
“Aku tidak minta.”
“Aku tahu. Tapi aku beli dua.”
Rantaka menerima minuman itu.
“Terima kasih.”
Damar duduk di sampingnya.
“Kau masih memikirkan uang?”
“Tidak.”
“Kau berbohong dengan wajah yang terlalu jelas.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Memangnya wajahku seperti apa?”
“Seperti orang yang sedang menghitung berapa hari lagi sampai akhir bulan.”
Rantaka terdiam.
Damar meminum tehnya perlahan.
“Aku dulu juga begitu,” katanya. “Waktu pertama tinggal di kota, aku kira yang sulit hanya pelajaran. Ternyata yang sulit juga cara bertahan.”
“Kau bagaimana dulu?”
“Aku bekerja sedikit-sedikit.”
Rantaka menoleh.
“Bekerja?”
“Tidak setiap hari. Hanya membantu di warung makan dekat pasar. Mencuci gelas, membersihkan meja, mengantar pesanan, kadang membantu menutup warung.”
“Bukankah itu mengganggu sekolah?”
“Kalau terlalu banyak, iya. Tapi kalau diatur, bisa membantu.”
Rantaka memandang Damar dengan ragu.
“Aku tidak pernah bekerja di warung.”
“Tidak perlu langsung bisa. Yang penting mau belajar.”
“Aku tidak tahu apakah aku sanggup.”
“Tidak ada yang tahu sebelum mencoba.”
Damar menatap lapangan sekolah yang mulai ramai.
“Pemilik warung itu baik. Namanya Bu Sari. Ia tidak suka mempekerjakan anak-anak yang malas sekolah. Kalau kau mau bekerja, ia akan bertanya dulu apakah nilaimu tetap bagus.”
Rantaka menunduk.
Nilainya memang belum turun.
Namun, ia tahu jika harus bekerja malam, waktunya untuk belajar akan berkurang.
Ia teringat surat Liris.
Ia teringat kalimat dalam puisi itu.
Jika kota membuatmu merasa kecil, ingatlah langit di desa tetap luas di atas kepalamu.
Rantaka tidak ingin menyerah hanya karena uang sakunya tidak cukup.
Tetapi ia juga takut mengambil keputusan yang salah.
“Aku pikirkan dulu,” katanya.
Damar mengangguk.
“Pikirkan. Aku tidak memaksa.”
Sore hari, setelah pulang sekolah, Rantaka berjalan bersama Damar menuju pasar kecil di dekat jalan utama.
Pasar itu selalu ramai menjelang malam. Pedagang sayur mulai membereskan dagangan. Penjual gorengan menyalakan lampu di gerobaknya. Bau makanan bercampur dengan bau hujan yang masih tersisa di jalanan.
Di salah satu sisi pasar, berdiri warung makan sederhana dengan papan nama yang mulai pudar.
WARUNG MAKAN BU SARI
Di depan warung, beberapa meja plastik tersusun rapi. Ada orang-orang yang sedang makan. Ada sopir angkutan yang duduk sambil berbicara. Ada pekerja toko yang datang setelah selesai bekerja.
Damar berhenti di depan warung.
“Ini tempatnya.”
Rantaka memandang ke dalam.
Seorang perempuan paruh baya sedang mengaduk masakan di dapur kecil. Wajahnya terlihat tegas, tetapi gerakannya cepat dan teratur. Di dekatnya, seorang anak laki-laki sedang menyusun piring.
“Itu Bu Sari,” kata Damar.
“Apa kita langsung masuk?”
“Masuk saja.”
Rantaka mengikuti Damar.
Begitu melihat Damar, perempuan itu menoleh.
“Damar, kau datang,” katanya. “Besok kau bisa masuk lebih awal? Orang yang biasa membantu mencuci piring sedang pulang kampung.”
“Bisa, Bu,” jawab Damar. “Tapi saya membawa teman.”
Bu Sari memandang Rantaka.
“Teman sekolah?”
“Iya, Bu. Namanya Rantaka.”
Rantaka segera menundukkan kepala dengan sopan.
“Sore, Bu.”
“Sore,” jawab Bu Sari. “Kau tinggal di rumah singgah?”
“Iya, Bu.”
“Sekolah di mana?”
Rantaka menyebutkan nama sekolahnya.
Bu Sari mengangguk.
“Damar bilang kau anak beasiswa.”
Rantaka sedikit terkejut.
“Iya, Bu.”
“Kalau begitu, kau harus hati-hati. Anak beasiswa tidak boleh sampai sekolahnya terganggu karena kerja.”
Rantaka mengangguk.
“Saya mengerti, Bu.”
Bu Sari meletakkan sendok sayur di atas meja.
“Apa kau ingin bekerja?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Namun, bagi Rantaka, pertanyaan itu seperti pintu yang membuka jalan baru.
Jika ia menjawab iya, hidupnya akan berubah.
Ia harus membagi waktu antara sekolah, tugas, rumah singgah, dan pekerjaan malam.
Ia mungkin akan lebih lelah.
Ia mungkin akan lebih sulit belajar.
Namun, jika ia menjawab tidak, ia belum tahu bagaimana akan memenuhi kebutuhan sampai akhir bulan.
“Aku…” Rantaka berhenti sejenak.
Damar tidak berkata apa-apa.
Ia membiarkan Rantaka memutuskan sendiri.
Rantaka memandang meja-meja warung yang masih dipenuhi pelanggan. Ia melihat piring-piring kotor. Ia melihat orang-orang yang bekerja tanpa banyak bicara. Ia melihat Bu Sari yang tetap memasak meski tangannya bergerak cepat dan wajahnya tampak lelah.
Kemudian ia teringat ibunya di Desa Wanasari.
Ia teringat bagaimana ibunya selalu berusaha agar ia dapat sekolah.
Ia teringat bahwa keluarganya tidak pernah mengeluh meski hidup mereka sederhana.
Ia tidak ingin menambah beban mereka.
Akhirnya, Rantaka mengangkat wajah.
“Kalau Ibu mengizinkan, saya mau mencoba.”
Bu Sari menatapnya beberapa saat.
“Kau yakin?”
“Saya akan tetap mengutamakan sekolah.”
“Itu harus.”
“Saya janji, Bu.”
Bu Sari mengangguk.
“Baik. Kau bisa mulai besok malam. Datang setelah magrib. Tugasmu belum banyak. Awalnya membantu membersihkan meja, mencuci gelas, dan menyusun piring. Kalau sudah terbiasa, baru kita lihat lagi.”
Rantaka mengangguk.
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Bu Sari. “Bekerja itu bukan hanya menerima uang. Bekerja berarti belajar bertanggung jawab.”
“Iya, Bu.”
“Dan kalau nilaimu turun, kau harus bilang. Aku tidak mau menjadi alasan seorang anak berhenti mengejar sekolah.”
Kata-kata itu membuat Rantaka terdiam sejenak.
Bu Sari tidak mengenalnya.
Namun, perempuan itu berbicara seolah mengerti bahwa sekolah adalah hal paling penting bagi dirinya.
“Saya akan ingat, Bu,” kata Rantaka.
Malam itu, Rantaka kembali ke rumah singgah dengan langkah yang lebih lambat.
Di kamar, ia membuka dompetnya lagi.
Uang di dalamnya belum bertambah.
Kebutuhan yang harus dibayar juga belum berkurang.
Namun, kini ia memiliki jalan untuk berusaha.
Ia menulis catatan baru di bawah daftar pengeluaran.
Mulai bekerja di warung makan.
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Ada rasa takut.
Ada rasa ragu.
Ada pula rasa lega.
Damar yang sedang membaca buku di tempat tidurnya menoleh.
“Jadi?”
“Aku mulai besok.”
Damar mengangguk.
“Bagus. Tapi jangan lupa, kau harus tetap belajar.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau terlalu lelah, bilang.”
“Aku akan berusaha mengatur waktu.”
Damar tersenyum kecil.
“Selamat datang di kehidupan kota.”
Rantaka tertawa pelan.
“Apakah semua anak kota harus bekerja?”
“Tidak. Tapi banyak yang harus belajar bertahan.”
Rantaka memandang jendela kamar.
Di luar, lampu-lampu kota masih menyala.
Suara kendaraan masih terdengar.
Kota itu tetap ramai, tetap asing, dan tetap penuh kebutuhan yang tidak pernah selesai.
Namun, malam itu Rantaka tidak lagi hanya memandang kota sebagai tempat yang membuatnya takut.
Ia mulai melihatnya sebagai tempat yang menuntutnya untuk tumbuh.
Besok malam, ia akan bekerja di Warung Makan Bu Sari.
Ia belum tahu apakah tubuhnya akan sanggup.
Ia belum tahu apakah ia dapat membagi waktu dengan baik.
Ia belum tahu apakah keputusan itu akan membuat hidupnya lebih mudah atau justru lebih berat.
Tetapi ia tahu satu hal.
Ia tidak ingin menyerah.
Ia ingin tetap sekolah.
Ia ingin menjaga beasiswanya.
Ia ingin suatu hari pulang ke Desa Wanasari bukan sebagai anak yang gagal bertahan, melainkan sebagai seseorang yang membawa harapan.
Rantaka menutup buku catatannya.
Lalu ia mengambil surat Liris dari dalam laci.
Ia membaca kembali satu kalimat yang paling ia ingat.
Jika malam terasa terlalu panjang, ingatlah sungai yang pernah mengajar kita bahwa air selalu menemukan jalan pulang.
Rantaka melipat surat itu kembali.
Ia menyimpannya dengan hati-hati.
Besok, malamnya mungkin akan lebih panjang daripada sebelumnya.
Tetapi ia akan menjalaninya.
Karena bagi Rantaka, uang saku yang tidak cukup bukan alasan untuk berhenti.
Itu adalah ujian pertama yang harus ia lewati di kota.
BAB 7
TELEPON UMUM DI SUDUT PASAR
Hari Sabtu sore, Kota Arunika tampak lebih ramai daripada biasanya.
Sejak siang, jalan menuju pasar dipenuhi orang-orang yang membawa tas belanja, keranjang sayur, dan kantong-kantong plastik. Pedagang buah meneriakkan harga dagangannya dari balik meja kayu. Penjual gorengan sibuk membalik tempe dan bakwan di dalam minyak panas. Di dekat pintu masuk pasar, suara kendaraan bercampur dengan suara orang-orang yang saling memanggil.
Rantaka berjalan perlahan di antara keramaian itu.
Di dalam saku celananya, ia menyimpan beberapa keping uang logam.
Ia sudah menghitungnya sejak berangkat dari rumah singgah.
Jumlahnya tidak banyak.
Namun, ia berharap cukup untuk melakukan satu hal yang sejak beberapa hari terakhir terus ia pikirkan.
Menelepon Desa Wanasari.
Sejak menerima surat dari Liris, Rantaka merasa rindu itu tidak lagi bisa hanya disimpan dalam hati. Surat memang dapat membawa kabar. Puisi dapat membuat seseorang merasa lebih kuat. Tetapi ada saat ketika tulisan di atas kertas tidak cukup.
Ia ingin mendengar suara.
Ia ingin mendengar suara Liris.
Ia ingin mendengar apakah di desa sedang hujan, apakah Gerobak Buku masih berjalan, apakah Banyu masih sibuk di bengkel, dan apakah Jagra masih sering mengeluh ketika harus membantu ayahnya di kolam ikan.
Damar pernah memberitahunya bahwa di sudut pasar ada sebuah telepon umum yang bisa digunakan untuk menelepon ke kecamatan dekat Desa Wanasari. Dari sana, seseorang biasanya dapat menyambungkan panggilan ke rumah-rumah yang memiliki telepon atau ke warung yang menjadi tempat warga menerima kabar dari luar desa.
Rantaka tidak yakin sambungan itu akan berhasil.
Namun, ia tetap datang.
Di sudut pasar, dekat kios penjual jam tangan dan toko kecil yang menjual baterai, berdiri sebuah bilik telepon umum.
Catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Kaca pintunya sedikit buram. Di sisi dalam, gagang telepon hitam tergantung pada tempatnya. Di bawahnya terdapat lubang untuk memasukkan uang logam.
Di samping bilik, ada tulisan kecil yang sudah mulai pudar.
GUNAKAN UANG LOGAM. WAKTU TERBATAS.
Rantaka berdiri beberapa saat di depan bilik itu.
Ia menggenggam uang logam di dalam saku.
Tiba-tiba, semua keberaniannya terasa berkurang.
Bagaimana jika Liris tidak ada?
Bagaimana jika sambungannya salah?
Bagaimana jika ia tidak tahu harus mengatakan apa setelah mendengar suara Liris?
Ia menarik napas.
Lalu masuk ke dalam bilik telepon.
Pintu kaca ditutup perlahan.
Suara pasar yang ramai masih terdengar dari luar, tetapi kini lebih samar.
Rantaka mengangkat gagang telepon.
Ia memasukkan uang logam pertama.
Kemudian ia menekan nomor warung kecil di dekat kantor kecamatan Sungai Jernih, nomor yang pernah ditulis Liris dalam suratnya. Menurut Liris, warung itu milik Pak Hadi, dan warga Desa Wanasari kadang menerima telepon di sana jika ada kabar penting dari keluarga yang berada jauh.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rantaka menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Halo?” terdengar suara laki-laki dari seberang.
Rantaka hampir tidak langsung menjawab.
“Halo, Pak. Saya Rantaka. Saya ingin bicara dengan Liris dari Desa Wanasari.”
“Liris?” suara itu terdengar sedikit jauh. “Tunggu sebentar. Kau telepon dari mana?”
“Dari Kota Arunika, Pak.”
“Oh, dari kota. Sebentar, ya. Kebetulan tadi Liris ke sini mengantar pesanan ibunya. Saya panggilkan.”
Rantaka menutup matanya sejenak.
Dadanya terasa berdebar.
Ia mendengar suara Pak Hadi memanggil dari kejauhan.
“Liris! Ada telepon dari kota!”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah.
Lalu suara yang sudah sangat ia rindukan.
“Halo?”
Rantaka terdiam.
Suara itu terdengar lebih dekat daripada yang ia bayangkan.
Lebih lembut.
Lebih nyata.
“Liris?” akhirnya ia berkata.
“Rantaka?”
“Iya. Ini aku.”
Di seberang, Liris terdiam sesaat.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Benarkah? Kau menelepon?”
“Iya. Aku di telepon umum dekat pasar.”
“Bagaimana kabarmu?”
Pertanyaan sederhana itu membuat Rantaka ingin mengatakan banyak hal.
Ia ingin menceritakan tentang sekolahnya.
Tentang rumah singgah.
Tentang pekerjaan malam di warung makan.
Tentang uang yang semakin sedikit.
Tentang kota yang selalu ramai.
Tentang betapa ia rindu pada Desa Wanasari.
Namun, ia tahu uang logam di dalam telepon tidak akan memberi banyak waktu.
“Aku baik,” jawabnya. “Sekolahku juga baik. Aku mulai bekerja sedikit di warung makan setelah magrib.”
“Kau bekerja?” suara Liris berubah khawatir. “Apakah itu tidak membuatmu lelah?”
“Tidak apa-apa. Aku hanya membantu beberapa jam.”
“Rantaka, kau harus tetap belajar.”
“Aku tahu.”
“Kau jangan memaksakan diri.”
Rantaka tersenyum, meski Liris tidak bisa melihatnya.
“Kau terdengar seperti Bu Laras.”
“Kalau Bu Laras yang bicara, kau pasti lebih patuh.”
“Aku juga patuh padamu.”
Liris kembali tertawa kecil.
Suara tawanya membuat pasar yang ramai di luar bilik terasa jauh.
“Gerobak Buku bagaimana?” tanya Rantaka.
“Masih berjalan.”
“Anak-anak masih datang?”
“Masih. Tapi tidak sebanyak dulu.”
Rantaka terdiam.
“Kenapa?”
“Bukan karena mereka tidak mau membaca. Hanya saja sekarang kami semua lebih sibuk. Banyu mulai membantu di bengkel. Jagra lebih sering ke kolam ikan. Aku juga harus membantu ibu.”
Rantaka membayangkan mereka bertiga mendorong gerobak tanpa dirinya.
Ia membayangkan Liris merapikan buku-buku seorang diri.
Ia membayangkan Banyu datang dengan seragam bernoda oli.
Ia membayangkan Jagra pulang dari kolam dengan celana penuh lumpur.
Ada rasa bersalah yang muncul di dalam dirinya.
“Aku seharusnya ada di sana,” katanya pelan.
“Tidak,” jawab Liris cepat. “Kau harus berada di sana.”
“Tapi Gerobak Buku…”
“Gerobak Buku bukan hanya tentang siapa yang mendorongnya, Rantaka. Gerobak Buku juga tentang alasan kita memulainya.”
Rantaka menunduk.
Kata-kata Liris selalu membuatnya melihat sesuatu dari arah yang berbeda.
“Kau benar,” katanya.
“Aku tahu,” jawab Liris, lalu tertawa pelan lagi.
Rantaka ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, ia lupa bahwa ia berada di bilik telepon umum yang sempit.
Ia lupa pada suara pasar.
Ia lupa pada pekerjaan malam yang akan dijalaninya.
Ia lupa pada uang yang selalu harus dihitung.
Ia hanya mendengar suara Liris.
Suara dari Desa Wanasari.
Suara yang membawa pulang sebagian hatinya.
“Liris,” katanya kemudian.
“Iya?”
“Aku rindu desa.”
Di seberang, tidak ada jawaban beberapa detik.
Lalu suara Liris terdengar lebih pelan.
“Kami juga rindu kau.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, Rantaka merasakan sesuatu menghangat di dadanya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia juga rindu Liris.
Bukan hanya rindu pada desa.
Bukan hanya rindu pada Gerobak Buku.
Tetapi rindu pada Liris yang menulis puisi tentang lampu kota.
Rindu pada suara Liris yang kini terdengar melalui telepon.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan apa pun, suara dari telepon berubah berderak.
“Halo?” kata Liris. “Rantaka, suaramu—”
Suara itu terputus-putus.
Rantaka menekan gagang telepon lebih erat.
“Liris? Aku dengar. Halo?”
Yang terdengar hanya bunyi berdesis.
Kemudian suara Liris muncul kembali, sangat samar.
“Rantaka, uangmu mungkin—”
Tiba-tiba terdengar bunyi pendek dari telepon.
Sambungan terputus.
Rantaka menatap gagang telepon di tangannya.
Ia segera memasukkan uang logam lain.
Tangannya bergerak cepat menekan nomor yang sama.
Nada sambung terdengar.
Namun, kali ini tidak ada yang menjawab.
Ia mencoba sekali lagi.
Masih tidak ada jawaban.
Mungkin Pak Hadi sedang melayani pembeli.
Mungkin Liris sudah pulang.
Mungkin sambungan ke kecamatan memang sedang terganggu.
Rantaka memasukkan uang logam terakhir.
Ia mencoba menelepon sekali lagi.
Nada sambung berbunyi.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Lalu suara perempuan tua menjawab dari seberang.
“Halo?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Maaf, Bu. Apakah ini warung Pak Hadi?”
“Bukan. Salah sambung.”
Klik.
Sambungan berakhir.
Rantaka menurunkan gagang telepon perlahan.
Uang logam di sakunya sudah habis.
Waktu bicara yang ia dapatkan hanya beberapa menit.
Namun, beberapa menit itu cukup untuk membuat rindu yang selama ini ia tahan menjadi semakin besar.
Ia keluar dari bilik telepon.
Suara pasar langsung menyambutnya kembali.
Pedagang masih berteriak menawarkan dagangan.
Orang-orang masih berjalan tergesa-gesa.
Kendaraan masih membunyikan klakson di jalan depan pasar.
Tidak ada yang tahu bahwa di dalam bilik kecil itu, seorang anak desa baru saja mendengar suara sahabatnya dari tempat yang jauh.
Rantaka berjalan perlahan melewati kios-kios pasar.
Ia tidak langsung pulang.
Ia berhenti di dekat penjual gorengan dan membeli satu potong tempe dengan uang kecil yang tersisa di saku bajunya. Ia memakannya sambil berdiri di bawah lampu jalan.
Langit Kota Arunika mulai gelap.
Lampu-lampu toko menyala satu per satu.
Dari kejauhan, kota itu kembali tampak seperti lautan cahaya.
Rantaka teringat puisi Liris.
Dari jauh, kota tampak seperti langit yang menurunkan bintang-bintang ke jalan.
Ia menatap lampu-lampu itu.
Indah.
Ramai.
Tetapi tetap tidak sama dengan langit Desa Wanasari.
Ia ingin segera menelepon lagi.
Ia ingin mendengar kelanjutan kata-kata Liris.
Ia ingin tahu apa yang hendak dikatakannya sebelum sambungan terputus.
Namun, ia tahu ia harus menunggu.
Mungkin sampai minggu depan.
Mungkin sampai ia memiliki uang logam lagi.
Mungkin sampai Liris kembali datang ke warung Pak Hadi pada waktu yang tepat.
Rantaka berjalan pulang menuju rumah singgah.
Langkahnya terasa lebih lambat daripada ketika ia berangkat.
Bukan karena lelah.
Tetapi karena setelah mendengar suara Liris, ia merasa jarak antara kota dan desa menjadi lebih nyata.
Ia tahu Desa Wanasari masih ada.
Gerobak Buku masih berjalan.
Liris, Banyu, dan Jagra masih menjalani hari-hari mereka.
Namun, ia tidak bisa lagi hadir setiap sore.
Ia tidak bisa ikut mendorong gerobak.
Ia tidak bisa duduk di bawah pohon beringin.
Ia tidak bisa langsung datang ketika sahabat-sahabatnya membutuhkan bantuan.
Jarak telah membuat semua hal sederhana menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan.
Sesampainya di rumah singgah, Damar sedang duduk di ruang tamu sambil membaca koran lama.
“Berhasil menelepon?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Berhasil. Tapi sebentar sekali.”
“Memang begitu telepon umum.”
“Aku baru bicara beberapa menit. Lalu sambungannya putus.”
Damar menatapnya.
“Kau kecewa?”
Rantaka berpikir sejenak.
“Tidak. Aku senang bisa mendengar suaranya.”
“Lalu?”
“Setelah mendengar suaranya, aku justru semakin rindu.”
Damar tersenyum kecil.
“Itu berarti orang-orang di desa masih penting bagimu.”
“Mereka selalu penting.”
Rantaka masuk ke kamar.
Ia mengambil buku catatan kecil dari dalam tas.
Di halaman kosong, ia menulis:
Hari ini aku mendengar suara Liris. Hanya beberapa menit, tetapi rasanya seperti pulang sebentar ke Desa Wanasari.
Ia menutup buku itu.
Kemudian ia berbaring di tempat tidur.
Di luar jendela, lampu-lampu kota masih menyala.
Namun, malam itu, Rantaka tidak hanya memikirkan kota.
Ia memikirkan suara Liris.
Ia memikirkan Gerobak Buku.
Ia memikirkan sahabat-sahabatnya yang tetap bertahan di Desa Wanasari.
Dan ia memikirkan satu kenyataan yang mulai ia pahami.
Jarak bukan hanya tentang berapa jauh seseorang berada.
Jarak adalah tentang betapa sulitnya menyampaikan rindu ketika waktu, uang, dan keadaan selalu membatasi.
Tetapi selama masih ada surat, suara, dan kenangan yang dijaga, Rantaka percaya bahwa persahabatan mereka belum benar-benar terputus.
Seperti sambungan telepon yang sempat hilang, suatu hari mereka akan menemukan cara untuk saling terhubung kembali.
BAB 8
NAMA LIRIS DI MAJALAH KOTA
Pagi di Desa Wanasari dimulai dengan suara ayam berkokok dari belakang rumah-rumah warga.
Kabut tipis masih menggantung di atas kebun ketika Liris membantu ibunya menjemur kain di halaman. Tangan ibunya bergerak cepat, memasang satu per satu kain pada tali jemuran yang dibentangkan di antara dua batang kayu.
“Yang itu jangan terlalu rapat,” kata ibunya. “Nanti lama keringnya.”
“Iya, Bu,” jawab Liris.
Ia memindahkan satu kain ke bagian yang lebih terkena matahari.
Pekerjaan rumah selalu datang lebih dulu sebelum hal-hal lain.
Menyapu halaman.
Mencuci piring.
Membantu menyiapkan makanan.
Mengantar pesanan kecil jika ibunya membuat kue.
Kadang Liris merasa hari-harinya seperti halaman buku yang penuh tulisan, tetapi tidak semuanya dapat ia pilih sendiri.
Namun, di sela-sela pekerjaan itu, ia selalu menyimpan waktu untuk menulis.
Buku catatan hijau miliknya tidak pernah jauh dari tas sekolah.
Di dalamnya ada puisi-puisi tentang sungai, jalan tanah, anak-anak yang membaca di bawah pohon beringin, serta cerita-cerita kecil tentang desa yang sering dianggap jauh dari mana-mana.
Liris tidak pernah merasa bahwa menulis adalah pekerjaan yang sia-sia.
Baginya, menulis adalah cara untuk menjaga hal-hal kecil agar tidak hilang.
Suara hujan di atap rumah.
Tangan ibunya yang selalu sibuk.
Gerobak Buku Langit Biru yang berjalan perlahan di jalan tanah.
Rantaka yang kini tinggal di kota.
Banyu yang pulang dengan noda oli di seragam.
Jagra yang semakin sering pergi ke kolam ikan.
Semua itu ingin ia simpan dalam kata-kata.
Setelah membantu ibunya, Liris masuk ke rumah untuk mengambil buku pelajaran. Saat itulah ia melihat seorang anak kecil berdiri di depan pagar.
Anak itu bernama Sari.
Di tangannya, ia membawa sebuah majalah tipis dengan sampul berwarna cerah.
“Ka Liris!” panggil Sari.
Liris keluar ke halaman.
“Ada apa, Sari?”
Sari mengangkat majalah itu tinggi-tinggi.
“Namamu ada di sini!”
Liris mengernyit.
“Namaku?”
“Iya. Aku tadi ikut kakakku ke kecamatan. Di toko buku kecil dekat pasar ada majalah ini. Kakakku bilang ada tulisan dari Desa Wanasari.”
Liris menerima majalah itu.
Di bagian atas sampul tertulis:
MAJALAH LITERASI KABUPATEN
SUARA MUDA
Jantung Liris berdetak lebih cepat.
Ia membuka halaman demi halaman dengan tangan yang mulai gemetar.
Ada cerpen.
Ada berita kegiatan sekolah.
Ada gambar hasil lomba pelajar.
Kemudian, di salah satu halaman tengah, ia melihat judul yang sangat dikenalnya.
Sungai yang Menyimpan Langit
Di bawah judul itu, tertulis nama:
Liris Wanasari
Liris menahan napas.
Puisi itu adalah puisi yang ia kirim beberapa bulan lalu melalui guru Bahasa Indonesia. Saat itu, ia tidak terlalu berharap. Ia hanya ingin mencoba. Ia hanya ingin tahu apakah kata-katanya dapat sampai ke tempat yang lebih jauh daripada Desa Wanasari.
Kini, puisinya benar-benar tercetak.
Bukan di buku catatan hijau.
Bukan di kertas yang disimpan di dalam laci.
Tetapi di majalah yang bisa dibaca banyak orang.
“Benar namamu, kan?” tanya Sari.
Liris masih memandangi halaman itu.
“Iya,” jawabnya pelan. “Itu puisiku.”
Sari melompat kecil.
“Berarti Kak Liris penulis?”
Liris tersenyum.
Ia belum tahu apakah dirinya pantas disebut penulis.
Namun, untuk pertama kalinya, kata itu tidak lagi terasa terlalu jauh.
“Mungkin,” jawabnya.
Sari menunjuk bagian bawah puisi.
“Di sini ada tulisan Desa Wanasari.”
Liris melihatnya.
Di bawah namanya memang tercantum:
Siswa SMP, Desa Wanasari
Dua kata terakhir itu membuat dadanya terasa hangat.
Desa Wanasari.
Desa yang sering disebut jauh.
Desa yang jalannya belum semuanya baik.
Desa yang tidak memiliki toko buku besar.
Desa yang anak-anaknya masih bergantian membaca buku dari Gerobak Buku Langit Biru.
Kini, nama desa itu ikut tercetak di majalah kabupaten.
“Boleh aku pinjam majalahnya?” tanya Liris kepada Sari.
“Boleh. Tapi nanti dikembalikan. Kakakku juga mau baca.”
“Tentu.”
Liris membawa majalah itu masuk ke rumah.
Ia membaca puisinya perlahan.
Setiap baris terasa berbeda ketika tercetak dengan huruf rapi di halaman majalah. Kata-kata yang dulu ia tulis di malam hari, saat rumah sudah sepi, kini menjadi sesuatu yang bisa dibaca orang lain.
Ia teringat Rantaka.
Ia ingin sekali mengirim kabar kepadanya.
Ia ingin menulis surat dan berkata bahwa puisinya dimuat di majalah kota.
Ia ingin tahu apakah Rantaka akan tersenyum saat membacanya.
Namun, sebelum ia sempat mengambil buku catatan, suara ibunya terdengar dari dapur.
“Liris, bantu Ibu sebentar.”
“Iya, Bu.”
Liris menutup majalah itu dengan hati-hati.
Ia menyimpannya di atas meja.
Lalu pergi membantu ibunya.
Menjelang siang, ayah Liris pulang dari kebun.
Bajunya basah oleh keringat. Di pundaknya tergantung cangkul. Wajahnya tampak letih. Beberapa hari terakhir, hasil kebun mereka tidak sebanyak yang diharapkan. Hujan yang datang tidak menentu membuat beberapa tanaman tumbuh kurang baik.
Liris sedang menyusun piring di meja makan ketika ayahnya masuk.
“Sudah makan, Yah?” tanya Liris.
“Belum.”
“Ibu sedang menyiapkan.”
Ayahnya duduk di kursi kayu dekat jendela.
Matanya menangkap majalah yang terletak di atas meja.
“Itu majalah dari mana?” tanyanya.
“Dari kecamatan,” jawab Liris.
“Untuk apa?”
“Ada puisiku yang dimuat.”
Ayahnya memandang Liris.
“Puisimu?”
“Iya, Yah.”
Liris mengambil majalah itu dan membuka halaman puisinya.
“Ini. Judulnya Sungai yang Menyimpan Langit.”
Ayahnya menerima majalah tersebut.
Ia membaca beberapa baris dengan wajah datar.
Liris berdiri di sampingnya.
Ia berharap ayahnya akan tersenyum.
Atau setidaknya berkata bahwa puisinya bagus.
Namun, setelah beberapa saat, ayahnya menutup majalah itu.
“Jadi, ini yang sering kau tulis di buku-buku itu?”
“Iya, Yah.”
“Menulis puisi.”
“Iya.”
Ayahnya menghela napas.
“Liris, rumah ini tidak bisa hidup dari puisi.”
Kalimat itu terdengar pelan.
Tetapi terasa berat.
Liris menunduk.
“Aku tahu, Yah.”
“Kalau kau punya waktu setelah sekolah, lebih baik bantu Ibu. Pesanan kue makin banyak. Kebun juga butuh diperhatikan. Jangan terlalu banyak membuang waktu dengan menulis.”
“Aku tidak membuang waktu.”
Ayahnya menatapnya.
“Kalau begitu, apa yang kau dapat dari puisi itu?”
Liris tidak langsung menjawab.
Ia ingin berkata bahwa ia mendapat keberanian.
Ia ingin berkata bahwa puisi membuatnya bisa melihat desa mereka dengan cara yang lebih indah.
Ia ingin berkata bahwa suatu hari, menulis mungkin dapat membawanya ke tempat yang belum pernah mereka bayangkan.
Namun, ia melihat wajah ayahnya.
Wajah yang lelah karena bekerja sejak pagi.
Wajah yang menyimpan kekhawatiran tentang hasil kebun.
Wajah yang mungkin tidak punya cukup ruang untuk memikirkan mimpi yang belum menghasilkan uang.
“Belum ada apa-apa,” jawab Liris pelan.
“Nah,” kata ayahnya. “Itulah maksud Ayah.”
Ibu Liris keluar dari dapur membawa piring.
Ia mendengar percakapan itu.
“Jangan terlalu keras pada anak,” kata ibunya.
“Aku tidak keras,” jawab ayahnya. “Aku hanya ingin dia mengerti keadaan.”
Liris menggenggam ujung bajunya.
Ia mengerti keadaan.
Ia tahu ibunya bekerja menerima pesanan kue agar ada tambahan uang.
Ia tahu ayahnya pergi ke kebun sejak pagi dan pulang dengan tubuh lelah.
Ia tahu Banyu harus bekerja di bengkel.
Ia tahu Jagra harus membantu usaha ikan keluarganya.
Ia tahu Rantaka bahkan harus bekerja malam di kota agar uang beasiswanya cukup.
Mimpi memang tidak datang ke rumah mereka dengan jalan yang mudah.
Namun, apakah itu berarti mimpi harus ditinggalkan?
“Aku akan tetap membantu Ibu,” kata Liris. “Aku tidak akan melupakan pekerjaan rumah.”
Ayahnya tidak menjawab.
Ia mengambil air minum dan meminumnya perlahan.
Liris membawa majalah itu kembali ke kamarnya.
Ia menutup pintu pelan-pelan.
Lalu duduk di tepi tempat tidur.
Majalah itu masih terbuka pada halaman puisinya.
Nama Liris Wanasari masih tercetak di sana.
Tetapi kini, nama itu terasa seperti sesuatu yang harus dipertahankan.
Bukan hanya dibanggakan.
Sore harinya, Liris pergi ke halaman sekolah membawa majalah tersebut.
Gerobak Buku Langit Biru tidak dibuka hari itu. Banyu sedang membantu di bengkel. Jagra berada di kolam ikan bersama ayahnya. Liris hanya ingin duduk sebentar di bawah pohon beringin.
Angin sore bergerak pelan.
Daun-daun berguguran di tanah.
Liris membuka majalah itu sekali lagi.
Ia membaca puisinya dalam hati.
Sungai menyimpan langit
bukan untuk dimiliki,
melainkan agar anak-anak desa
tahu bahwa biru
juga dapat tinggal di air yang keruh.
Ia berhenti membaca.
Ia teringat kata-kata ayahnya.
Rumah ini tidak bisa hidup dari puisi.
Mungkin ayahnya benar.
Puisi tidak bisa langsung membeli beras.
Tidak bisa langsung memperbaiki atap rumah.
Tidak bisa langsung membayar kebutuhan sekolah.
Namun, puisi juga bukan sesuatu yang kosong.
Puisi membuatnya berani mengirim tulisan ke majalah.
Puisi membuat nama Desa Wanasari dikenal oleh orang-orang yang mungkin belum pernah datang ke sana.
Puisi membuatnya percaya bahwa anak desa juga dapat memiliki suara.
Liris mengambil buku catatan hijau dari tasnya.
Ia membuka halaman kosong.
Tangannya sempat berhenti.
Untuk beberapa saat, ia merasa takut menulis.
Takut karena ayahnya mungkin benar.
Takut karena menulis hanya akan membuatnya kecewa.
Takut karena mimpi yang terlalu tinggi dapat membuat seseorang lupa pada keadaan rumah.
Namun, kemudian ia menulis satu kalimat.
Aku ingin menulis bukan untuk lari dari rumah, tetapi agar rumahku tidak hilang dari cerita.
Setelah menulis kalimat itu, Liris merasa dadanya sedikit lebih lega.
Ia tidak tahu apakah suatu hari ia benar-benar dapat menjadi penulis.
Ia tidak tahu apakah puisinya akan dimuat lagi.
Ia tidak tahu apakah ayahnya akan pernah memahami mengapa menulis begitu penting baginya.
Tetapi ia tahu, ia tidak ingin berhenti hanya karena jalan di depannya belum jelas.
Beberapa hari kemudian, kabar tentang puisi Liris mulai menyebar di Desa Wanasari.
Guru Bahasa Indonesia di sekolah memanggilnya setelah jam pelajaran.
“Liris, saya membaca puisimu di Suara Muda,” kata gurunya.
Liris tersenyum malu.
“Terima kasih, Bu.”
“Kau menulis dengan baik. Teruskan.”
Liris menunduk.
“Saya akan mencoba, Bu.”
“Bukan hanya mencoba,” kata gurunya. “Kau harus belajar lebih banyak. Membaca lebih banyak. Menulis lebih tekun. Bakat perlu dirawat.”
Kata-kata itu membuat Liris kembali bersemangat.
Namun, saat pulang ke rumah, ia melihat ibunya sedang duduk di dapur dengan wajah lelah. Di depannya ada beberapa wadah kue yang belum selesai dibungkus.
“Banyak pesanan, Bu?” tanya Liris.
“Lumayan. Besok harus diantar ke kecamatan.”
“Aku bantu.”
Liris segera menggulung lengan baju.
Ia membantu membungkus kue, menyusun kotak, dan membersihkan meja dapur. Pekerjaan itu berlangsung sampai malam.
Saat semua selesai, Liris masuk ke kamar dengan tubuh lelah.
Buku catatan hijau terletak di atas meja.
Majalah Suara Muda berada di sampingnya.
Liris duduk dan memandang keduanya.
Di satu sisi, ada mimpi yang ingin ia kejar.
Di sisi lain, ada rumah yang membutuhkan bantuannya.
Ia tidak ingin memilih salah satu dan meninggalkan yang lain.
Ia ingin tetap menjadi anak yang membantu orang tua.
Ia ingin tetap menjadi sahabat bagi Banyu, Jagra, dan Rantaka.
Ia ingin tetap menjalankan Gerobak Buku Langit Biru.
Dan ia ingin tetap menulis.
Namun, semakin lama ia memikirkannya, semakin ia sadar bahwa semua itu membutuhkan tenaga yang tidak sedikit.
Malam semakin larut.
Dari luar kamar, terdengar suara ayahnya berbicara pelan dengan ibunya tentang kebutuhan rumah.
Liris tidak mendengar semua kalimatnya.
Tetapi ia mendengar kata-kata tentang uang, hasil kebun, dan biaya sekolah.
Ia menutup buku catatan hijau.
Bukan karena ingin berhenti menulis.
Tetapi karena malam itu, ia merasa mimpinya sedang berhadapan dengan kenyataan yang tidak dapat diabaikan.
Di halaman majalah, namanya memang sudah tercetak.
Orang-orang mungkin mulai mengenalnya sebagai penulis muda dari desa.
Namun, di rumahnya sendiri, Liris masih harus membuktikan bahwa mimpinya tidak membuatnya melupakan keluarga.
Ia mematikan lampu meja.
Lalu berbaring sambil memeluk buku catatan hijau di dadanya.
Di dalam hati, ia berjanji akan mencari jalan.
Jalan agar ia tetap dapat menulis.
Jalan agar ia tetap dapat membantu rumah.
Jalan agar nama Liris Wanasari di majalah kota bukan menjadi akhir dari sebuah mimpi, melainkan awal dari perjuangan yang lebih panjang.
BAB 9
BENGKEL DAN TANGAN YANG TERLUKA
Sore di Desa Wanasari selalu datang dengan cara yang hampir sama.
Matahari perlahan turun di balik deretan pohon karet. Jalan tanah di depan sekolah mulai lengang. Anak-anak kecil pulang sambil membawa tas yang tampak terlalu besar di punggung mereka. Dari kejauhan, suara burung terdengar bersahutan sebelum akhirnya digantikan oleh bunyi jangkrik.
Namun, bagi Banyu, sore tidak lagi berarti waktu untuk duduk di bawah pohon beringin atau membantu menjalankan Gerobak Buku Langit Biru.
Sejak beberapa minggu terakhir, sore adalah waktu untuk bekerja.
Begitu bel sekolah berbunyi, Banyu tidak langsung pulang. Ia berjalan cepat menuju sebuah bengkel sepeda motor kecil di pinggir jalan kecamatan. Bengkel itu tidak besar. Atapnya terbuat dari seng yang mulai kusam. Di bagian depan, terdapat papan nama sederhana yang bertuliskan:
BENGKEL MAJU JAYA
SERVIS MOTOR DAN SEPEDA
Di dalamnya, selalu ada bau oli, bensin, besi panas, dan karet ban.
Banyu sudah mulai mengenal bau itu.
Awalnya, ia hanya datang untuk melihat-lihat. Ia suka memperhatikan cara Pak Roni, pemilik bengkel, membongkar mesin sepeda motor. Ia senang melihat baut-baut kecil disusun dalam wadah. Ia tertarik pada suara mesin yang berubah setelah diperbaiki.
Baginya, mesin bukan hanya benda yang berisik.
Mesin adalah sesuatu yang dapat dipahami.
Jika ada yang rusak, pasti ada penyebabnya.
Jika ada yang macet, pasti ada bagian yang perlu dibersihkan.
Jika ada yang tidak berfungsi, mungkin ada cara sederhana untuk membuatnya kembali berjalan.
Itulah sebabnya Banyu ingin membuat alat pertanian sederhana.
Ia sering membayangkan alat pemotong rumput yang lebih ringan untuk warga desa. Ia juga membayangkan pompa air kecil yang dapat membantu kebun ketika musim kemarau datang. Ia ingin membuat sesuatu yang tidak mahal, mudah diperbaiki, dan bisa digunakan oleh petani di Desa Wanasari.
Namun, untuk membuat alat-alat itu, ia membutuhkan peralatan.
Tang.
Kunci pas.
Obeng.
Bor kecil.
Bahan-bahan bekas.
Dan semua itu membutuhkan uang.
Karena itulah ia bekerja di bengkel.
“Banyu, ambilkan kunci ukuran dua belas,” kata Pak Roni dari dekat motor yang sedang dibongkar.
“Iya, Pak.”
Banyu segera mengambil kunci yang diminta.
Tangannya sudah mulai terbiasa memegang alat-alat bengkel. Ia tahu tempat menyimpan obeng, kunci ring, kabel, baut, dan ban bekas. Ia juga sudah belajar membedakan suara mesin yang hanya perlu disetel dengan mesin yang harus dibongkar lebih jauh.
Pak Roni bukan orang yang banyak bicara. Namun, ia cukup sabar mengajari Banyu.
“Jangan buru-buru,” katanya suatu kali. “Mesin itu tidak suka tangan yang tergesa-gesa.”
Banyu selalu mengingat kalimat itu.
Ia bekerja setelah pulang sekolah sampai menjelang magrib. Upahnya tidak besar. Kadang hanya cukup untuk membeli makan atau menyimpan sedikit uang di dalam kaleng bekas biskuit di rumah.
Tetapi bagi Banyu, setiap lembar uang yang ia simpan terasa seperti bagian dari mimpi.
Mimpi untuk membeli peralatan.
Mimpi untuk membuat alat pertanian.
Mimpi untuk membuktikan bahwa anak desa tidak hanya bisa memakai barang buatan orang lain, tetapi juga bisa menciptakan sesuatu.
Suatu sore, bengkel lebih ramai daripada biasanya.
Seorang warga membawa sepeda motor yang rantainya lepas. Tidak lama kemudian, datang pula seorang petani dengan mesin pemotong rumput yang tidak bisa menyala. Di sudut bengkel, sebuah sepeda tua sedang menunggu diperbaiki.
Pak Roni tampak sibuk.
“Banyu, kau bantu bersihkan bagian mesin itu,” katanya sambil menunjuk mesin pemotong rumput.
“Yang ini, Pak?”
“Iya. Hati-hati. Jangan dekatkan tangan ke bagian pemutar sebelum mesinnya benar-benar mati.”
“Iya, Pak.”
Banyu mengangguk.
Ia mengambil kain lap dan mulai membersihkan bagian luar mesin. Mesin itu sudah tua. Banyak lumpur kering menempel di bawahnya. Beberapa bagian terlihat berkarat.
Banyu memeriksa kabel dan baut-baut kecil.
Ia membayangkan bagaimana mesin itu bekerja.
Ia membayangkan jika suatu hari ia dapat membuat mesin yang lebih ringan dan lebih aman untuk petani.
“Pak, kalau mesin ini dipasang roda kecil, apakah bisa lebih mudah didorong?” tanyanya.
Pak Roni menoleh sebentar.
“Bisa saja. Tapi harus dihitung dulu kekuatannya.”
“Kalau pakai rangka bekas sepeda?”
“Bisa. Tapi jangan asal pasang. Mesin itu punya getaran. Kalau rangkanya lemah, bisa lepas.”
Banyu mengangguk serius.
Ia menyimpan jawaban itu di dalam pikirannya.
Saat itulah salah satu pelanggan datang tergesa-gesa.
“Pak Roni, motor saya bisa selesai hari ini? Saya harus ke kecamatan sebelum malam.”
Pak Roni menghela napas.
“Sebentar lagi, Pak.”
Kemudian ia menoleh kepada Banyu.
“Banyu, tolong hidupkan mesin pemotong rumput itu sebentar. Saya mau dengar suaranya setelah dibersihkan.”
Banyu berdiri.
“Iya, Pak.”
Ia memeriksa bagian mesin seperti yang diajarkan Pak Roni. Ia menarik tali starter sekali.
Mesin belum menyala.
Ia menarik lagi.
Mesin batuk-batuk kecil.
Banyu mencoba untuk ketiga kalinya.
Kali ini mesin menyala dengan suara keras.
Banyu tersenyum.
Namun, suara mesin itu terdengar tidak stabil.
Seperti ada bagian yang bergetar terlalu kuat.
Banyu menunduk untuk melihat bagian bawah.
Ia ingin memastikan tidak ada baut yang longgar.
Pak Roni sedang sibuk melayani pelanggan lain.
“Banyu, jangan terlalu dekat!” teriaknya dari kejauhan.
Tetapi suara mesin terlalu keras.
Banyu tidak mendengar jelas.
Ia mencoba menahan rangka mesin dengan tangan kiri sambil memeriksa bagian pemutar.
Dalam sekejap, mesin bergetar lebih kuat.
Salah satu bagian logam bergerak cepat.
Tangan Banyu terkena sisi tajam yang berputar.
“Ah!”
Banyu menarik tangannya.
Mesin hampir jatuh ke samping.
Pak Roni segera berlari dan mematikan mesin.
“Astaga, Banyu!” katanya.
Banyu memegang tangan kirinya.
Darah mulai keluar dari bagian dekat telapak tangan.
Lukanya tidak terlalu dalam, tetapi cukup membuatnya merasa perih dan terkejut.
Pak Roni membawa Banyu ke dalam bengkel.
“Duduk!”
“Aku tidak apa-apa, Pak.”
“Jangan bilang tidak apa-apa kalau tanganmu berdarah.”
Pak Roni mengambil kotak obat dari lemari kecil. Ia membersihkan luka Banyu dengan cairan antiseptik.
Banyu menggigit bibir.
Rasa perih menjalar sampai ke lengan.
“Kau tidak dengar aku bilang jangan terlalu dekat?” tanya Pak Roni.
Banyu menunduk.
“Maaf, Pak. Aku ingin melihat bagian bawahnya.”
“Keinginan tahu itu bagus. Tapi kalau tidak hati-hati, bisa mencelakakan.”
“Iya, Pak.”
Pak Roni membalut tangan Banyu dengan kain kasa.
“Besok jangan kerja dulu.”
“Aku masih bisa, Pak.”
“Tidak.”
“Tapi—”
“Tidak ada tapi. Tanganmu harus istirahat.”
Banyu menatap balutan di tangannya.
Ia merasa malu.
Bukan hanya karena terluka.
Tetapi karena ia merasa ceroboh.
Ia ingin belajar mesin.
Ia ingin menjadi orang yang bisa membuat alat.
Namun, baru membantu di bengkel saja, ia sudah melukai dirinya sendiri.
Mungkin ia belum cukup mampu.
Mungkin ia terlalu banyak bermimpi.
Pak Roni seolah membaca pikirannya.
“Jangan merasa gagal,” katanya lebih pelan. “Orang belajar memang bisa salah. Yang penting, kau ingat kesalahanmu dan tidak mengulanginya.”
Banyu mengangguk.
Namun, kata-kata itu belum sepenuhnya menghapus rasa kecewa di dalam dirinya.
Menjelang magrib, Banyu pulang ke rumah.
Ia menutupi tangan kirinya dengan lengan baju seragam yang belum sempat diganti. Jalan menuju rumah terasa lebih panjang dari biasanya.
Di depan rumah, ibunya sedang menyiram tanaman.
“Kau pulang terlambat,” kata ibunya.
“Di bengkel ramai, Bu.”
“Kau sudah makan?”
“Belum.”
“Cuci tangan dulu. Ibu sudah masak.”
Banyu terdiam sesaat.
Ia tidak ingin ibunya melihat luka itu.
Jika ibunya tahu, mungkin ia akan melarangnya bekerja di bengkel.
Padahal, ia membutuhkan pekerjaan itu.
Ia membutuhkan uang untuk membeli peralatan.
“Aku mau mandi dulu,” katanya.
Ia segera masuk ke rumah dan menuju kamar.
Setelah pintu tertutup, ia membuka balutan dari Pak Roni sedikit.
Luka itu masih terasa perih.
Darahnya sudah berhenti, tetapi bagian kulit di dekat telapak tangan terlihat memerah.
Banyu mengambil kain bersih dan membalutnya kembali dengan lebih rapi.
Kemudian ia memakai baju lengan panjang.
Saat makan malam, ia menggunakan tangan kanan untuk mengambil nasi.
Ibunya memperhatikannya.
“Tangan kirimu kenapa tidak dipakai?”
“Tidak apa-apa, Bu. Tadi kena oli.”
Ibunya mengangguk, meski wajahnya tampak belum sepenuhnya percaya.
Banyu menunduk dan melanjutkan makan.
Ia tidak ingin membuat ibunya khawatir.
Ia juga tidak ingin mendengar nasihat untuk berhenti bekerja.
Ia tahu keluarganya tidak punya banyak uang.
Ia tahu jika ingin membeli peralatan, ia harus berusaha sendiri.
Keesokan harinya, Liris datang ke rumah Banyu.
Ia membawa beberapa buku dari Gerobak Buku Langit Biru yang harus dirapikan. Jagra menyusul beberapa saat kemudian, masih mengenakan sandal jepit dan celana yang bagian bawahnya terkena lumpur dari kolam ikan.
“Kau tidak ke bengkel?” tanya Jagra.
“Tidak hari ini,” jawab Banyu.
“Kenapa?” tanya Liris.
“Pak Roni sedang tidak terlalu ramai.”
Banyu menjawab cepat.
Terlalu cepat.
Liris memandangnya.
“Kau sakit?”
“Tidak.”
“Wajahmu pucat.”
“Aku hanya kurang tidur.”
Jagra duduk di teras.
“Kurang tidur karena memikirkan mesin lagi?”
Banyu tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Liris memperhatikan tangan kiri Banyu yang terus ia sembunyikan di balik tubuhnya.
“Banyu,” katanya pelan. “Tanganmu kenapa?”
Banyu langsung menarik tangannya lebih dekat.
“Tidak kenapa-kenapa.”
“Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa kau sembunyikan?”
Banyu tidak menjawab.
Jagra ikut menoleh.
“Ada apa dengan tanganmu?”
Banyu berdiri.
“Aku mau ambil minum.”
Ia masuk ke dalam rumah.
Liris dan Jagra saling pandang.
Tidak lama kemudian, Banyu kembali membawa tiga gelas air.
Saat meletakkan gelas di meja, lengan bajunya tersingkap sedikit.
Balutan kain kasa terlihat di dekat telapak tangannya.
Liris langsung berdiri.
“Kau terluka!”
Banyu segera menarik lengan bajunya.
“Tidak parah.”
“Bagaimana bisa?”
“Di bengkel.”
Jagra menatapnya dengan wajah serius.
“Kenapa kau tidak bilang?”
“Untuk apa?”
“Karena kami sahabatmu,” kata Liris.
Banyu mengalihkan pandangan.
Ia tidak ingin mereka melihatnya sebagai anak yang tidak mampu menjaga diri.
Ia tidak ingin mereka merasa kasihan.
Ia tidak ingin Jagra berkata bahwa bekerja di bengkel terlalu berbahaya.
Ia tidak ingin Liris menatapnya dengan kekhawatiran.
“Aku hanya ceroboh,” katanya. “Tidak perlu dibesar-besarkan.”
Liris mendekat.
“Kami tidak membesar-besarkan. Kami hanya peduli.”
Banyu terdiam.
Jagra menghela napas.
“Kau selalu ingin terlihat kuat.”
“Aku tidak ingin terlihat lemah.”
Kalimat itu keluar begitu saja.
Setelah mengatakannya, Banyu langsung menunduk.
Liris tidak langsung menjawab.
Angin sore bergerak pelan di halaman.
Dari kejauhan, terdengar suara anak-anak kecil bermain.
“Apa menurutmu terluka itu berarti lemah?” tanya Liris akhirnya.
Banyu masih menunduk.
“Aku ingin membuat alat untuk petani. Aku ingin bisa membantu orang. Tapi baru bekerja di bengkel saja aku sudah melukai tangan sendiri.”
“Orang yang belajar memang bisa terluka,” kata Jagra. “Aku juga pernah kena duri ikan waktu membantu Ayah. Bukan berarti aku berhenti ke kolam.”
“Beda.”
“Tidak beda jauh,” jawab Jagra. “Kau sedang belajar.”
Liris duduk kembali di kursinya.
“Dan kalau kau punya mimpi, kau tidak harus menjalankannya sendirian.”
Banyu memandang mereka.
Liris melanjutkan, “Kau boleh bekerja. Kau boleh belajar mesin. Kau boleh punya rencana membuat alat pertanian. Tapi jangan menyembunyikan semuanya dari kami hanya karena takut dianggap lemah.”
Banyu menggenggam tangan kanannya.
Ia ingin membantah.
Namun, ia tahu Liris benar.
Sejak Rantaka pergi ke kota, banyak hal terasa berubah.
Gerobak Buku tidak lagi berjalan seperti dulu.
Mereka bertiga lebih sibuk dengan urusan masing-masing.
Kadang Banyu merasa jika ia tidak berusaha lebih keras, ia akan tertinggal.
Ia ingin punya sesuatu yang bisa dibanggakan.
Ia ingin membuktikan bahwa dirinya bukan hanya anak desa yang bekerja di bengkel.
“Aku hanya tidak ingin menjadi beban,” katanya pelan.
“Kau bukan beban,” kata Liris.
Jagra mengangguk.
“Kalau tanganmu belum sembuh, aku bisa bantu mengantar buku ke rumah-rumah anak kecil.”
“Aku juga,” kata Liris. “Kita bisa atur Gerobak Buku beberapa hari lagi.”
Banyu menatap balutan di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak terluka, rasa perih di tangan itu tidak terasa sendirian.
Namun, ia belum benar-benar siap menceritakan semuanya.
Ia belum ingin mereka tahu betapa takutnya ia saat mesin itu berputar.
Ia belum ingin mereka tahu bahwa ia sempat berpikir mimpinya mungkin terlalu besar.
“Terima kasih,” katanya.
Liris tersenyum.
“Besok jangan ke bengkel dulu.”
Banyu mengangguk.
“Pak Roni juga bilang begitu.”
Jagra tertawa kecil.
“Berarti untuk sekali ini, kau harus mendengarkan dua orang sekaligus.”
Banyu ikut tersenyum.
Sore itu, mereka tidak membuka Gerobak Buku.
Mereka hanya duduk di teras rumah Banyu, membicarakan buku-buku yang perlu diperbaiki, anak-anak yang mulai bertanya kapan gerobak akan berjalan lagi, dan kabar dari Rantaka di kota.
Namun, di dalam hati Banyu, ada sesuatu yang mulai berubah.
Ia masih ingin bekerja di bengkel.
Ia masih ingin mengumpulkan uang.
Ia masih ingin membuat alat pertanian sederhana.
Ia masih ingin membuktikan bahwa anak desa juga bisa menciptakan sesuatu.
Tetapi ia mulai mengerti bahwa menjadi kuat bukan berarti selalu menyembunyikan luka.
Menjadi kuat juga berarti berani mengakui bahwa dirinya membutuhkan orang lain.
Malamnya, Banyu membuka kaleng bekas biskuit yang ia simpan di bawah tempat tidur.
Di dalamnya, ada beberapa lembar uang hasil bekerja di bengkel.
Jumlahnya belum banyak.
Masih jauh dari cukup untuk membeli peralatan yang ia inginkan.
Namun, Banyu tidak menutup kaleng itu dengan kecewa.
Ia memasukkan satu lembar kertas kecil ke dalamnya.
Di kertas itu, ia menulis:
Alat pertanian sederhana untuk Desa Wanasari.
Belajar pelan-pelan. Jangan terburu-buru. Jangan menyerah.
Ia menutup kaleng itu kembali.
Tangan kirinya masih terasa perih.
Tetapi di dalam dadanya, mimpi itu belum padam.
Mimpi itu justru mulai tumbuh dengan cara yang lebih hati-hati.
BAB 10
JAGRA YANG TETAP TINGGAL
Pagi di Desa Wanasari belum benar-benar terang ketika Jagra sudah berdiri di tepi kolam ikan.
Kabut masih menggantung rendah di atas permukaan air. Rumput-rumput di pinggir kolam basah oleh embun. Dari kejauhan, suara ayam dan burung kecil bersahutan, sementara air kolam bergerak pelan ketika ikan-ikan mendekati tempat pakan.
Jagra membawa ember berisi pelet.
Di belakangnya, ayahnya sedang memeriksa jaring yang dipasang di salah satu sisi kolam.
“Jangan terlalu banyak,” kata ayahnya tanpa menoleh. “Kalau kebanyakan, air cepat kotor.”
“Iya, Yah.”
Jagra menaburkan pakan sedikit demi sedikit.
Ikan-ikan bergerak mendekat. Riak kecil muncul di permukaan air. Pemandangan itu sudah sangat biasa baginya. Sejak kecil, ia sering ikut ayahnya ke kolam. Kadang hanya untuk melihat. Kadang untuk membawa ember. Kadang untuk membantu membersihkan pinggiran kolam.
Dulu, Jagra merasa kolam ikan adalah tempat yang menyenangkan.
Ia suka melihat ikan-ikan kecil tumbuh besar.
Ia suka mendengar ayahnya menjelaskan cara menjaga air agar tidak terlalu keruh.
Ia suka ketika panen tiba dan warga datang membantu mengangkat jaring.
Namun, sejak Rantaka pergi ke kota, perasaan Jagra terhadap kolam itu perlahan berubah.
Kolam yang dulu terasa seperti bagian dari rumah, kini kadang terasa seperti alasan mengapa ia tidak bisa pergi ke mana-mana.
“Jagra,” panggil ayahnya.
“Iya?”
“Setelah sekolah nanti, kau bantu Ayah memperbaiki saluran air di belakang.”
“Baik, Yah.”
“Ada pipa yang bocor. Kalau dibiarkan, airnya terus berkurang.”
Jagra mengangguk.
Ia ingin berkata bahwa sore ini ia mungkin ingin bertemu Liris dan Banyu. Ia ingin ikut mengurus Gerobak Buku. Ia ingin duduk di bawah pohon beringin seperti dulu.
Tetapi kata-kata itu tidak keluar.
Ia tahu ayahnya membutuhkan bantuan.
Usaha perikanan keluarga mereka bukan usaha besar. Kolam-kolam itu menjadi sumber penghasilan utama. Jika air berkurang, ikan bisa sakit. Jika ikan sakit, panen gagal. Jika panen gagal, rumah mereka akan kesulitan.
Jagra memahami semua itu.
Namun, memahami tidak selalu membuat hati terasa ringan.
Di sekolah, Jagra duduk di bangkunya sambil menatap halaman buku pelajaran.
Guru sedang menjelaskan materi tentang cita-cita dan pekerjaan di masa depan. Beberapa teman diminta menyebutkan pekerjaan yang ingin mereka lakukan setelah lulus sekolah.
“Ada yang ingin menjadi guru?” tanya guru.
Beberapa tangan terangkat.
“Ada yang ingin menjadi perawat?”
Tangan lain terangkat.
“Polisi?”
“Dokter?”
“Pengusaha?”
Suara siswa memenuhi kelas.
Ketika giliran Jagra, guru menatapnya.
“Kalau kamu, Jagra? Kamu ingin menjadi apa?”
Jagra terdiam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Dulu, ia mungkin akan berkata ingin menjadi nelayan sungai seperti pamannya, atau ingin membantu ayahnya mengembangkan kolam ikan. Namun, setelah melihat Rantaka berangkat ke kota dengan beasiswa, setelah mendengar nama Liris dimuat di majalah kabupaten, dan setelah mengetahui Banyu bekerja sambil mengumpulkan uang untuk membuat alat pertanian, jawaban itu terasa kecil.
Ia merasa cita-citanya tidak cukup besar.
“Aku…” Jagra berhenti.
Beberapa siswa menoleh.
“Aku ingin punya usaha ikan yang besar,” katanya akhirnya. “Supaya bisa membantu banyak orang di desa.”
Guru tersenyum.
“Itu cita-cita yang baik.”
Namun, Jagra tidak merasa bangga.
Ia justru merasa seperti sedang menjawab sesuatu yang sudah ditentukan oleh keadaan.
Seolah-olah karena ia tinggal di desa, maka ia hanya boleh bermimpi tentang desa.
Seolah-olah anak yang membantu kolam ikan tidak boleh memiliki mimpi lain.
Saat jam istirahat, Jagra duduk sendirian di bawah pohon dekat lapangan sekolah.
Ia mengeluarkan surat dari Rantaka yang sudah beberapa kali ia baca.
Di dalam surat itu, Rantaka menceritakan tentang Kota Arunika, sekolah yang besar, rumah singgah, serta pekerjaan malamnya di warung makan. Rantaka memang tidak menulis bahwa hidupnya mudah. Justru sebaliknya, ia menulis bahwa kota membuatnya sering lelah dan rindu desa.
Tetapi bagi Jagra, kota tetap tampak seperti tempat yang membuka banyak kemungkinan.
Di kota, Rantaka bisa belajar di sekolah yang lebih lengkap.
Di kota, ada perpustakaan.
Ada tempat kursus.
Ada banyak orang yang mungkin dapat membantu seseorang mengejar cita-cita.
Sementara di Desa Wanasari, Jagra merasa hari-harinya selalu berputar di tempat yang sama.
Sekolah.
Kolam ikan.
Rumah.
Sekolah.
Kolam ikan.
Rumah.
Ia melipat surat itu kembali.
Lalu menatap lapangan sekolah yang mulai ramai oleh anak-anak bermain.
“Kenapa kau sendirian?” suara Liris terdengar dari sampingnya.
Jagra menoleh.
Liris membawa buku catatan hijau di dada. Wajahnya tampak sedikit lelah, tetapi matanya tetap tenang seperti biasa.
“Tidak apa-apa,” jawab Jagra.
Liris duduk tidak jauh darinya.
“Kau sedang membaca surat Rantaka?”
“Iya.”
“Ada kabar baru?”
“Tidak banyak. Dia bilang pekerjaan malamnya melelahkan.”
“Dia selalu bilang baik-baik saja, padahal mungkin tidak.”
Jagra tersenyum tipis.
“Itu memang Rantaka.”
Liris memandang ke arah lapangan.
“Banyu juga tidak masuk hari ini. Tangannya masih sakit.”
“Katanya cuma luka kecil.”
“Tapi dia tetap harus istirahat.”
Jagra mengangguk.
Untuk beberapa saat, mereka diam.
Kemudian Liris berkata, “Kau kelihatan seperti sedang memikirkan sesuatu.”
Jagra menarik napas.
“Lis, menurutmu, kalau kita tetap tinggal di desa, apakah kita bisa punya masa depan besar?”
Liris menoleh.
“Kenapa kau bertanya begitu?”
“Rantaka pergi ke kota. Kau puisimu masuk majalah. Banyu sudah punya pekerjaan dan punya rencana membuat alat pertanian. Sementara aku…”
“Kau membantu kolam ikan keluargamu.”
“Ya. Itu saja.”
Liris tidak langsung menjawab.
Jagra melanjutkan, “Kadang aku merasa semua orang bergerak maju. Aku saja yang tetap di sini.”
“Jagra,” kata Liris pelan, “tinggal di desa bukan berarti tidak bergerak.”
“Tapi aku merasa begitu.”
“Karena kau melihat langkah orang lain dari jauh.”
Jagra menatap tanah.
“Aku tidak tahu apa yang bisa kubanggakan.”
Liris membuka buku catatan hijaunya.
“Aku menulis puisi, tetapi aku juga harus membantu Ibu membungkus kue sampai malam. Rantaka tinggal di kota, tetapi ia harus bekerja di warung makan. Banyu bekerja di bengkel, tetapi tangannya terluka. Tidak ada yang benar-benar berjalan tanpa kesulitan.”
“Itu berbeda.”
“Berbeda, tetapi bukan berarti lebih tinggi atau lebih rendah.”
Jagra menghela napas.
Liris menutup bukunya.
“Kau tahu banyak hal tentang ikan, air, kolam, dan cara hidup di desa. Itu bukan hal kecil. Banyak orang di kota mungkin tidak tahu bagaimana menjaga ikan agar tidak mati ketika air berubah. Banyak orang tidak tahu bagaimana panen bisa gagal hanya karena saluran air bocor.”
Jagra diam.
“Kalau suatu hari kau bisa membuat usaha perikanan yang lebih baik,” lanjut Liris, “kau tidak hanya membantu keluargamu. Kau bisa membantu warga lain juga.”
“Kedengarannya mudah saat kau yang mengatakan.”
“Tidak mudah,” jawab Liris. “Tetapi bukan berarti tidak mungkin.”
Bel sekolah berbunyi.
Liris berdiri.
“Kita masuk, yuk.”
Jagra mengangguk, tetapi pikirannya belum benar-benar tenang.
Sepulang sekolah, Jagra tidak langsung menuju rumah.
Ia berjalan ke arah pohon beringin di dekat lapangan SD Wanasari.
Gerobak Buku Langit Biru terparkir di bawah pohon. Cat birunya mulai pudar di beberapa bagian. Roda sebelah kiri tampak sedikit miring. Di atasnya, beberapa buku tersusun tidak serapi dulu.
Dulu, hampir setiap sore mereka berkumpul di sana.
Rantaka mengatur buku.
Liris membacakan puisi.
Banyu memperbaiki roda gerobak atau membuat rak kecil dari kayu bekas.
Jagra mengajak anak-anak bermain sambil belajar.
Sekarang, semuanya berubah.
Rantaka berada di kota.
Liris semakin sibuk membantu ibunya.
Banyu bekerja di bengkel.
Dan Jagra harus membantu ayahnya di kolam.
Ia berdiri di depan gerobak itu cukup lama.
Kemudian seorang anak kecil bernama Dito datang membawa buku tulis.
“Kak Jagra, Gerobak Buku kapan buka lagi?”
Jagra menatapnya.
“Sebentar lagi, Dit.”
“Kenapa sekarang jarang?”
Jagra tidak tahu harus menjawab apa.
Ia ingin berkata bahwa mereka semua sibuk.
Ia ingin berkata bahwa hidup menjadi lebih sulit ketika mulai beranjak remaja.
Ia ingin berkata bahwa kadang seseorang ingin membantu banyak hal, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Namun, Dito hanya anak kecil.
Ia hanya ingin membaca buku.
“Kakak-kakak lagi banyak urusan,” jawab Jagra akhirnya.
Dito mengangguk, meski wajahnya tampak kecewa.
“Kalau sudah buka, panggil aku, ya.”
“Iya.”
Dito pergi.
Jagra memandangi punggung anak itu sampai menghilang di ujung jalan.
Kemudian ia melihat roda gerobak yang miring.
Ia berjongkok dan mencoba menggerakkannya.
Roda itu berbunyi pelan.
Mungkin perlu diperbaiki.
Mungkin Banyu bisa membantu jika tangannya sudah sembuh.
Namun, Jagra tiba-tiba berpikir bahwa ia juga bisa belajar memperbaikinya.
Ia tidak harus selalu menunggu orang lain.
Ia mengambil sebuah batu kecil dan menahan roda agar tidak bergerak. Lalu ia memeriksa baut yang longgar.
Tangannya kotor oleh debu dan tanah.
Tetapi ia terus mencoba.
Tidak lama kemudian, Banyu datang dari arah jalan desa.
Tangan kirinya masih dibalut kain kasa.
“Kau sedang apa?” tanyanya.
“Memeriksa roda gerobak.”
“Rusak?”
“Longgar.”
Banyu mendekat dan berjongkok.
“Kau punya kunci?”
“Tidak.”
Banyu mengeluarkan kunci kecil dari saku celananya.
“Aku bawa ini.”
“Kau masih kerja?”
“Tidak. Pak Roni menyuruhku istirahat. Tapi aku tidak bisa diam saja di rumah.”
Jagra tersenyum tipis.
Banyu membantu memeriksa roda gerobak menggunakan tangan kanannya.
“Bautnya tidak hilang,” katanya. “Hanya perlu dikencangkan.”
Jagra memperhatikan cara Banyu bekerja.
“Banyu,” katanya tiba-tiba, “menurutmu aku tertinggal?”
Banyu berhenti sejenak.
“Maksudmu?”
“Rantaka di kota. Liris mulai dikenal. Kau kerja di bengkel. Aku tetap di sini, mengurus kolam.”
Banyu menatapnya.
“Kau pikir aku tidak pernah merasa tertinggal?”
Jagra terdiam.
Banyu melanjutkan, “Aku bekerja di bengkel karena aku belum punya peralatan. Aku ingin membuat alat pertanian, tapi sekarang bahkan tanganku terluka. Kadang aku juga merasa orang lain lebih jauh dariku.”
“Lalu kenapa kau tetap bekerja?”
“Karena kalau aku berhenti, aku tidak akan pernah tahu apakah aku bisa.”
Jagra menatap roda gerobak.
Banyu mengencangkan baut terakhir.
“Kau juga begitu,” kata Banyu. “Kalau kau ingin usaha ikan keluargamu lebih baik, kau harus belajar. Bukan hanya membantu memberi pakan.”
“Belajar dari mana?”
“Dari ayahmu dulu. Dari warga. Dari buku. Dari orang yang pernah gagal. Dari mana saja.”
Jagra tidak menjawab.
Banyu berdiri perlahan.
“Dan jangan menganggap tinggal di desa itu berarti kalah. Desa juga butuh orang yang mau membangunnya.”
Kata-kata itu tinggal di kepala Jagra.
Sore menjelang malam, Jagra akhirnya pergi ke kolam ikan.
Ayahnya sudah berada di sana, sedang memeriksa saluran air yang bocor.
“Kau terlambat,” kata ayahnya.
“Maaf, Yah.”
“Ambilkan pipa itu.”
Jagra mengambil pipa yang diminta.
Mereka bekerja dalam diam.
Ayahnya menggali tanah di sekitar saluran. Jagra membantu mengangkat tanah yang basah. Setelah itu, mereka mengganti bagian pipa yang retak.
Tangan Jagra penuh lumpur.
Kakinya masuk ke tanah yang lembek.
Namun, kali ini ia tidak langsung merasa kesal.
Ia memperhatikan cara ayahnya menyambung pipa.
Cara ayahnya mengatur aliran air.
Cara ayahnya memeriksa warna air kolam.
“Ayah,” kata Jagra.
“Hm?”
“Kalau kolam ini ingin dibuat lebih besar, apa yang paling sulit?”
Ayahnya berhenti bekerja.
“Kenapa bertanya begitu?”
“Aku hanya ingin tahu.”
Ayahnya menatap permukaan kolam.
“Yang sulit bukan hanya membuat kolam lebih besar. Yang sulit adalah menjaga air, pakan, modal, dan pasar. Kalau ikan banyak tetapi tidak ada yang membeli, kita rugi. Kalau air rusak, ikan mati. Kalau pakan mahal, hasil panen tidak cukup.”
Jagra mendengarkan dengan sungguh-sungguh.
“Berarti banyak yang harus dipelajari.”
“Banyak,” jawab ayahnya. “Kenapa? Kau mau belajar?”
Jagra menatap ayahnya.
Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa pertanyaan itu sebagai beban.
Ia justru merasa seperti sedang diberi pintu.
“Iya, Yah,” katanya. “Aku mau belajar.”
Ayahnya tidak tersenyum lebar.
Namun, wajahnya tampak sedikit lebih ringan.
“Kalau begitu, jangan hanya datang saat disuruh. Mulai besok, kau ikut Ayah menghitung pakan dan melihat catatan panen.”
Jagra mengangguk.
“Baik.”
Matahari sudah hampir tenggelam.
Langit di atas kolam berubah jingga.
Permukaan air memantulkan warna sore yang perlahan memudar.
Jagra berdiri di tepi kolam dengan kaki berlumpur dan tangan kotor.
Ia masih belum memiliki jawaban pasti tentang masa depannya.
Ia masih kadang merasa tertinggal ketika membayangkan Rantaka di kota, Liris dengan puisinya, dan Banyu dengan alat-alat bengkel.
Namun, sore itu ia mulai memahami sesuatu.
Masa depan tidak selalu dimulai dari tempat yang jauh.
Kadang, masa depan dimulai dari kolam kecil di belakang rumah.
Dari pipa yang bocor.
Dari catatan pakan.
Dari keberanian untuk belajar hal yang selama ini dianggap biasa.
Jagra menatap air kolam yang bergerak pelan.
Ia belum pergi ke kota.
Ia belum dikenal banyak orang.
Ia belum memiliki pekerjaan sendiri.
Tetapi ia tidak ingin lagi menganggap dirinya hanya sebagai anak yang tertinggal.
Ia adalah Jagra dari Desa Wanasari.
Dan mungkin, tinggal bukan berarti diam.
Mungkin, tinggal adalah cara lain untuk memulai perjalanan.
BAB 11
PESAN YANG SALAH DIBACA
Malam di Kota Arunika selalu terasa lebih panjang bagi Rantaka.
Setelah pulang sekolah, ia tidak langsung kembali ke rumah singgah untuk beristirahat. Ia mengganti seragamnya dengan kaus sederhana, lalu berjalan menuju warung makan tempat ia bekerja. Warung itu berada di dekat jalan raya, tidak jauh dari terminal kecil yang selalu ramai oleh angkutan kota, truk pengangkut barang, dan orang-orang yang datang atau pergi tanpa sempat saling mengenal.
Lampu warung menyala terang.
Di depan, beberapa meja plastik sudah dipenuhi pelanggan. Ada sopir yang baru berhenti untuk makan malam. Ada pekerja bangunan yang datang bersama teman-temannya. Ada mahasiswa yang duduk lama sambil berbicara tentang tugas kuliah. Dari dapur, suara wajan, piring, dan sendok terus terdengar.
“Rantaka, meja nomor tiga belum dibersihkan,” panggil Bu Sari, pemilik warung.
“Iya, Bu.”
Rantaka segera mengambil lap.
Tangannya bergerak cepat membersihkan sisa makanan, mengangkat gelas, lalu menyusun kursi yang bergeser. Setelah itu ia membawa pesanan ke meja lain, mengisi air minum, dan membantu mencuci piring ketika dapur mulai terlalu penuh.
Malam itu pelanggan lebih banyak daripada biasanya.
Hujan turun sejak petang. Banyak orang memilih berhenti dan makan sebelum melanjutkan perjalanan. Warung menjadi semakin ramai. Lantai dekat pintu masuk basah oleh jejak sandal dan sepatu. Uap dari dapur membuat udara terasa hangat dan sesak.
Rantaka bekerja tanpa banyak bicara.
Tubuhnya sudah lelah sejak siang.
Pelajaran matematika di sekolah terasa sulit karena ia beberapa kali mengantuk. Saat guru menjelaskan rumus di papan tulis, kepalanya sempat terasa berat. Ia berusaha mencatat semua yang ditulis, tetapi beberapa angka seperti bergerak sendiri di hadapannya.
Namun, ia tidak punya banyak pilihan.
Ia membutuhkan pekerjaan itu.
Uang beasiswanya tidak cukup untuk semua kebutuhan. Ada buku pelajaran, kebutuhan rumah singgah, ongkos kecil untuk keperluan sekolah, dan biaya lain yang sering datang tanpa diduga.
Maka malam demi malam, ia tetap bekerja.
Meski lelah.
Meski rindu desa.
Meski kadang ia hanya ingin duduk diam di bawah pohon beringin bersama Liris, Banyu, dan Jagra.
Sekitar pukul sembilan malam, saat warung mulai sedikit lengang, Bu Sari memanggilnya dari dekat meja kasir.
“Rantaka, tadi ada surat untukmu.”
Rantaka menoleh.
“Surat?”
“Iya. Ada petugas pengantar yang menitipkannya siang tadi. Ibu simpan supaya tidak basah.”
Bu Sari mengambil sebuah amplop dari laci meja kasir.
Amplop itu berwarna putih kusam. Sudutnya sedikit terlipat. Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan yang langsung ia kenali.
Untuk Rantaka
Rumah Singgah Pelajar Harapan
Kota Arunika
Di sudut kiri atas, tertulis nama pengirim.
Liris
Desa Wanasari
Rantaka menerima surat itu dengan tangan yang tiba-tiba terasa lebih ringan.
Untuk sesaat, suara warung seperti menjauh.
Ia memandangi tulisan Liris di amplop tersebut.
Sudah berapa lama ia menunggu surat darinya?
Setelah telepon umum di sudut pasar, Rantaka berharap Liris akan menulis lagi. Ia sendiri sudah mengirim surat beberapa hari sebelumnya. Dalam surat itu, ia menceritakan bahwa ia mulai bekerja malam di warung makan, bahwa sekolah di kota semakin sulit, dan bahwa ia masih memikirkan Gerobak Buku Langit Biru.
Namun, balasan dari Liris tidak kunjung datang.
Hari berganti hari.
Setiap sore, ketika pulang sekolah, ia sering bertanya kepada penjaga rumah singgah apakah ada surat untuknya.
Jawabannya selalu sama.
“Belum ada.”
Lama-kelamaan, Rantaka mulai berpikir macam-macam.
Mungkin Liris terlalu sibuk.
Mungkin Liris tidak sempat menulis.
Mungkin Liris sudah tidak ingin bercerita seperti dulu.
Mungkin jarak memang membuat seseorang perlahan-lahan menjadi asing.
Kini surat itu ada di tangannya.
Tetapi Rantaka belum bisa langsung membacanya.
“Baca saja,” kata Bu Sari. “Warung sudah tidak terlalu ramai.”
Rantaka mengangguk.
Ia membawa surat itu ke bagian belakang warung, dekat pintu kecil yang mengarah ke tempat mencuci piring. Di sana ada bangku kayu pendek. Ia duduk sambil mengusap tangannya pada celana.
Tangannya masih berbau sabun dan minyak goreng.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya ada dua lembar kertas.
Tulisan Liris memenuhi halaman pertama dengan rapi.
Rantaka menarik napas sebelum mulai membaca.
Rantaka,
Maaf surat ini baru kukirim. Beberapa hari terakhir Ibu banyak menerima pesanan kue, jadi aku lebih sering membantu di rumah. Aku juga harus mengurus beberapa buku Gerobak Buku yang mulai rusak dan membantu Jagra menata buku-buku yang berdebu.
Aku sering memikirkanmu di kota. Bukan hanya karena kau jauh, tetapi karena aku membayangkan kau harus menjalani banyak hal sendiri. Aku ingat kau pernah berkata bahwa kota tampak besar dan ramai, tetapi kadang membuatmu merasa sendirian.
Aku berharap kau tetap kuat. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Aku ingin sekali membalas suratmu lebih cepat. Tetapi kadang aku tidak tahu harus menulis apa. Hidup di desa tetap berjalan seperti biasa, tetapi banyak hal berubah sejak kau pergi. Gerobak Buku masih ada, tetapi tidak seramai dulu. Banyu sibuk di bengkel. Jagra semakin sering membantu ayahnya di kolam. Aku juga mulai membantu Ibu lebih banyak.
Kadang aku merasa kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda. Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita masih bisa berkumpul seperti dulu.
Jaga dirimu.
Liris
Rantaka membaca surat itu sekali.
Lalu dua kali.
Kemudian ia membacanya lagi, lebih pelan.
Pada awalnya, dadanya terasa hangat ketika membaca kalimat, Aku sering memikirkanmu di kota.
Namun, semakin lama ia membaca, semakin banyak kata yang terasa berbeda di kepalanya.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Banyak hal berubah sejak kau pergi.
Kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti kita masih bisa berkumpul seperti dulu.
Rantaka menunduk.
Kertas surat itu masih berada di tangannya.
Ia tahu Liris tidak menulis bahwa ia ingin menjauh.
Ia tahu Liris mungkin hanya sedang jujur tentang keadaan di desa.
Namun, malam itu tubuh Rantaka terlalu lelah untuk memahami semuanya dengan tenang.
Seharian ia menahan kantuk di kelas.
Malamnya ia bekerja tanpa henti.
Di dalam kepalanya, ada kekhawatiran tentang nilai sekolah, uang yang semakin sedikit, dan pekerjaan yang harus dijalani lagi besok malam.
Maka kalimat-kalimat Liris yang seharusnya menjadi penguat justru berubah menjadi sesuatu yang membuatnya takut.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Apakah itu berarti Liris tidak lagi ingin bercerita dengannya?
Banyak hal berubah sejak kau pergi.
Apakah itu berarti keberadaannya sudah tidak penting lagi bagi mereka?
Kita semua sedang berjalan ke arah yang berbeda.
Apakah itu berarti Liris sudah mulai menerima bahwa mereka tidak akan sedekat dulu?
Rantaka melipat surat itu perlahan.
Ia merasa ada sesuatu yang sesak di dalam dada.
Bukan marah.
Bukan juga kecewa sepenuhnya.
Lebih seperti rasa takut kehilangan tempat pulang.
Bu Sari datang membawa beberapa piring kotor.
“Kau sudah baca suratnya?” tanyanya.
Rantaka mengangguk.
“Dari rumah?”
“Dari sahabat di desa.”
“Bagus, kan? Pasti mereka rindu.”
Rantaka berusaha tersenyum.
“Mungkin.”
Bu Sari menatapnya sebentar.
“Kau kelihatan tidak senang.”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Kau capek?”
“Iya.”
Bu Sari tidak bertanya lagi.
Ia kembali ke dapur.
Rantaka memasukkan surat itu ke saku baju.
Lalu kembali bekerja.
Namun, sejak saat itu, pikirannya tidak lagi berada di warung.
Saat mengantar makanan, ia teringat kalimat Liris.
Saat mencuci piring, ia teringat kalimat Liris.
Saat menyapu lantai, ia kembali memikirkan apakah Liris sebenarnya sudah mulai menjauh.
Ia ingin langsung membalas surat itu.
Ia ingin menulis bahwa ia juga sering memikirkan Liris.
Ia ingin bertanya mengapa suratnya terlambat.
Ia ingin bertanya apakah Liris masih menganggapnya sahabat seperti dulu.
Tetapi ia juga takut jawaban yang akan diterimanya.
Akhirnya, malam itu ia tidak menulis apa-apa.
Ketika Rantaka pulang ke rumah singgah, jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.
Rumah itu sudah sepi.
Lampu ruang tamu dimatikan. Hanya lampu kecil di lorong yang masih menyala. Dari beberapa kamar, terdengar suara napas orang-orang yang sudah tertidur.
Rantaka masuk ke kamarnya.
Damar sudah tidur di ranjang sebelah.
Tas sekolah Rantaka tergeletak di bawah meja. Buku-buku pelajaran masih terbuka, menunggu dibaca. Namun, ia tidak memiliki tenaga untuk belajar.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Lalu mengeluarkan surat Liris dari saku.
Kertas itu sudah sedikit kusut karena tersimpan selama ia bekerja.
Rantaka membukanya kembali.
Kali ini, ia mencoba membaca dengan lebih tenang.
Ia berhenti pada kalimat:
Aku sering memikirkanmu di kota.
Kalimat itu seharusnya cukup membuatnya merasa bahagia.
Tetapi kemudian matanya kembali jatuh pada bagian lain.
Kadang aku tidak tahu harus menulis apa.
Rantaka memejamkan mata.
Mungkin Liris memang sibuk.
Mungkin ia membantu ibunya.
Mungkin Gerobak Buku benar-benar membutuhkan perhatian.
Mungkin surat itu terlambat karena perjalanan dari desa ke kota memang tidak mudah.
Namun, hati Rantaka tidak sepenuhnya mau menerima penjelasan itu.
Ia merasa seperti seseorang yang berdiri di tepi sungai saat air mulai naik.
Ia tahu belum tentu ada bahaya.
Tetapi ia tidak bisa berhenti membayangkan bahwa air itu akan menenggelamkannya.
“Belum tidur?” suara Damar terdengar pelan dari ranjang sebelah.
Rantaka menoleh.
“Kau belum tidur juga?”
“Baru bangun sebentar. Kau pulang lama.”
“Warung ramai.”
Damar duduk dan mengusap wajahnya.
“Kau dapat surat?”
Rantaka mengangguk.
“Dari Liris.”
“Bagus. Kau senang?”
Rantaka terdiam cukup lama.
“Aku tidak tahu.”
Damar memandangnya.
“Kenapa?”
“Dia bilang banyak hal berubah di desa. Dia bilang kami semua berjalan ke arah yang berbeda.”
Damar tidak langsung menjawab.
Rantaka melanjutkan, “Mungkin dia sudah tidak ingin dekat seperti dulu.”
“Dia menulis begitu?”
“Tidak persis.”
“Lalu?”
“Entahlah.”
Damar menghela napas pelan.
“Kau sedang lelah, Rantaka.”
“Aku tahu.”
“Kalau sedang lelah, kadang kita membaca kata-kata biasa seperti sesuatu yang menyakitkan.”
Rantaka menatap surat itu.
“Bagaimana kalau aku salah?”
“Bisa saja.”
“Bagaimana kalau aku benar?”
“Kalau kau tidak bertanya, kau tidak akan tahu.”
Rantaka tidak menjawab.
Damar berbaring kembali.
“Jangan membalas surat saat kau sedang marah atau sedih,” katanya sebelum memejamkan mata. “Tidur dulu. Besok baca lagi.”
Rantaka memandang punggung Damar.
Nasihat itu sederhana.
Namun, malam itu ia belum mampu melakukannya.
Ia menyimpan surat Liris di dalam buku catatan.
Lalu mematikan lampu.
Di dalam gelap, suara kendaraan dari jalan raya masih terdengar samar.
Kota Arunika belum tidur.
Namun, Rantaka justru merasa semakin sendiri.
Ia teringat telepon umum di sudut pasar.
Ia teringat suara Liris yang sempat terputus.
Ia teringat bagaimana sambungan mereka berhenti sebelum ia sempat mengatakan banyak hal.
Mungkin surat ini juga seperti telepon itu.
Ada kata-kata yang sampai.
Ada kata-kata yang hilang di tengah jalan.
Ada perasaan yang ingin disampaikan, tetapi tidak sepenuhnya terbaca oleh orang yang menerimanya.
Pagi berikutnya, sebelum berangkat sekolah, Rantaka membuka surat itu sekali lagi.
Ia membaca bagian terakhir.
Jaga dirimu.
Liris
Ia menggenggam kertas itu cukup lama.
Kemudian ia memasukkannya kembali ke dalam buku catatan.
Ia belum menulis balasan.
Ia belum bertanya langsung kepada Liris.
Ia belum mampu mengatakan bahwa surat itu membuatnya rindu sekaligus takut.
Namun, sejak pagi itu, ada sesuatu yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
Sebuah kesalahpahaman kecil.
Belum cukup besar untuk disebut pertengkaran.
Belum cukup jelas untuk diucapkan.
Tetapi cukup kuat untuk membuat Rantaka mulai menjaga jarak dalam pikirannya sendiri.
Ia berjalan menuju sekolah dengan tas di punggung dan surat Liris tersimpan di antara buku-bukunya.
Di luar, Kota Arunika kembali ramai seperti biasa.
Namun, di dalam dirinya, sebuah pesan yang sebenarnya penuh perhatian telah berubah menjadi pertanyaan yang tidak berhenti mengganggu.
Apakah Liris masih menunggunya?
Ataukah jarak telah mulai membawa mereka ke jalan yang berbeda?
BAB 12
NILAI YANG MULAI TURUN
Pagi di Kota Arunika datang terlalu cepat bagi Rantaka.
Langit di luar jendela rumah singgah masih berwarna kelabu ketika suara alarm dari ponsel Damar berbunyi. Bunyi itu pendek, tetapi cukup untuk memecah sisa tidur yang belum benar-benar nyenyak.
Rantaka membuka mata perlahan.
Tubuhnya terasa berat.
Kedua kakinya masih pegal karena semalam ia berdiri cukup lama di warung makan. Tangannya masih seperti menyimpan bau sabun cuci piring dan minyak goreng, meskipun sebelum tidur ia sudah membasuhnya berkali-kali.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
Pukul lima lewat sepuluh menit.
“Bangun,” kata Damar sambil duduk di ranjang sebelah. “Kalau terlambat lagi, Pak Juna pasti mencatat namamu.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Iya.”
Namun, ia belum langsung bangun.
Matanya terasa panas.
Kepalanya seperti penuh oleh suara-suara yang belum selesai: bunyi piring di warung, suara kendaraan di jalan raya, kalimat-kalimat dalam surat Liris, dan bayangan angka-angka matematika yang kemarin tidak mampu ia pahami.
Ia menarik selimut sebentar lagi.
Hanya sebentar.
Tetapi Damar sudah berdiri dan menarik tirai jendela.
Cahaya pagi masuk ke kamar.
“Kalau kau tidur lagi, kau benar-benar terlambat,” kata Damar.
Rantaka akhirnya duduk.
Ia mengusap wajah.
“Semalam warung ramai?”
“Seperti biasa,” jawab Rantaka.
Damar menatapnya.
“Kalau seperti ini terus, kau bisa jatuh sakit.”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau selalu bilang begitu.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia mengambil seragam yang tergantung di belakang pintu. Seragam itu sudah disetrika seadanya. Di bagian lengan, ada sedikit lipatan yang tidak hilang. Ia mengenakannya sambil menahan kantuk yang terus datang.
Di meja kecil dekat tempat tidur, buku matematika dan fisika masih terbuka.
Semalam ia berniat belajar setelah pulang dari warung.
Namun, saat sampai di rumah singgah, ia hanya sempat membuka beberapa halaman sebelum akhirnya tertidur dengan kepala di atas buku.
Pensilnya masih tergeletak di antara rumus-rumus yang belum selesai ia kerjakan.
Rantaka memandang buku itu cukup lama.
Lalu ia memasukkannya ke dalam tas.
“Aku belajar nanti di sekolah,” gumamnya.
Namun, di dalam hati, ia tahu kalimat itu sudah terlalu sering ia ucapkan.
Jam pertama adalah matematika.
Pak Arman, guru matematika, berdiri di depan kelas sambil menulis beberapa soal di papan tulis. Angka-angka dan tanda-tanda rumus memenuhi bagian tengah papan.
Hari itu mereka membahas persamaan kuadrat.
“Siapa yang bisa menyelesaikan soal nomor tiga?” tanya Pak Arman.
Beberapa siswa menunduk.
Sebagian yang lain melihat buku catatan.
Pak Arman memandang ke seluruh kelas.
“Rantaka.”
Rantaka tersentak.
Ia baru saja menundukkan kepala beberapa detik. Kelopak matanya terasa sangat berat. Suara Pak Arman membuatnya langsung duduk tegak.
“Iya, Pak?”
“Coba ke depan. Kerjakan soal nomor tiga.”
Rantaka berdiri.
Kakinya terasa lemah ketika berjalan menuju papan tulis.
Ia mengambil kapur.
Soal itu sebenarnya tidak terlalu sulit. Jika ia cukup fokus, mungkin ia bisa mengerjakannya. Namun, di hadapan papan tulis, angka-angka itu terasa seperti saling bertukar tempat.
Ia menulis langkah pertama.
Kemudian berhenti.
Pak Arman menunggu.
Kelas menjadi sunyi.
Rantaka mencoba mengingat rumus yang pernah ia pelajari. Ia tahu ada cara untuk mencari nilai x. Ia tahu ada langkah-langkah yang harus diikuti.
Tetapi pikirannya kosong.
Ia memandang tulisan di papan.
Lalu memandang kapur di tangannya.
“Ayo, Rantaka,” kata Pak Arman. “Lanjutkan.”
Rantaka menarik napas.
Ia mencoba menulis lagi.
Namun, angka yang ia tulis salah.
Beberapa siswa di belakang mulai berbisik.
Pak Arman berjalan mendekat.
“Coba perhatikan lagi tanda negatifnya.”
Rantaka menghapus bagian yang salah.
Tangannya sedikit gemetar.
Ia mencoba sekali lagi, tetapi tetap tidak yakin.
Akhirnya Pak Arman mengambil kapur dari tangannya.
“Duduk dulu,” katanya.
Rantaka kembali ke bangku.
Wajahnya terasa panas.
Ia tidak tahu apakah teman-temannya benar-benar menertawakannya atau tidak. Namun, suara bisik-bisik di kelas sudah cukup membuatnya ingin menghilang.
Damar, yang duduk tidak jauh darinya, menoleh.
“Kau tidak apa-apa?” bisiknya.
Rantaka mengangguk.
Tetapi setelah itu, ia tidak lagi benar-benar mendengar penjelasan Pak Arman.
Ia hanya menatap buku catatan.
Di sana ada rumus-rumus yang terlihat seperti bahasa asing.
Pelajaran fisika berlangsung setelah jam istirahat.
Hari itu Bu Ratih menjelaskan tentang gaya, usaha, dan energi. Ia membawa sebuah benda kecil untuk memperagakan arah gerak dan tekanan.
Biasanya Rantaka cukup menyukai fisika.
Ia senang ketika pelajaran itu berhubungan dengan benda-benda yang dapat dilihat langsung. Ia suka membayangkan bagaimana alat sederhana bekerja. Ia pernah berdiskusi cukup lama dengan Banyu tentang pompa air, roda gerobak, dan mesin kecil.
Namun, siang itu, ia tidak mampu mengikuti penjelasan Bu Ratih.
Setiap kali Bu Ratih menulis rumus, Rantaka berusaha menyalinnya.
Tetapi ia tidak mengerti hubungan antara satu angka dan angka lainnya.
Kepalanya kembali terasa berat.
Matanya beberapa kali tertutup tanpa ia sadari.
“Rantaka.”
Suara Bu Ratih terdengar.
Rantaka tersentak lagi.
“Iya, Bu.”
“Kamu mengantuk?”
“Tidak, Bu.”
Bu Ratih memandangnya cukup lama.
“Kamu terlihat sangat lelah.”
“Maaf, Bu.”
“Kalau ada masalah, kamu bisa bicara setelah pelajaran.”
Rantaka mengangguk.
Namun, ia tidak berniat bercerita.
Ia tidak ingin guru-gurunya tahu bahwa ia bekerja malam.
Ia takut mereka menganggapnya tidak sanggup menjaga beasiswa.
Ia takut mereka menyuruhnya berhenti bekerja tanpa memberi jawaban tentang bagaimana ia harus memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Ia hanya ingin bertahan.
Tetapi semakin ia mencoba bertahan sendiri, semakin sulit semuanya terasa.
Seminggu kemudian, hasil ulangan matematika dibagikan.
Pak Arman berjalan dari meja ke meja sambil membawa setumpuk kertas.
Beberapa siswa tampak lega ketika melihat nilai mereka.
Beberapa yang lain langsung menunduk.
Ketika kertas ulangan Rantaka diletakkan di mejanya, ia tidak langsung membukanya.
Ia sudah bisa menebak.
Namun, tetap saja, ketika melihat angka merah di bagian atas kertas, dadanya terasa jatuh.
48
Nilainya jauh di bawah batas ketuntasan.
Ia membalik kertas itu.
Banyak jawaban yang salah.
Ada soal yang bahkan tidak sempat ia kerjakan sampai selesai.
Rantaka menatap angka itu cukup lama.
Ia teringat beasiswa.
Ia teringat surat penerimaan yang dulu membuat ibunya menangis haru.
Ia teringat perjalanan pagi dari Desa Wanasari menuju kota.
Ia teringat ayahnya yang berkata agar ia belajar sungguh-sungguh karena kesempatan seperti itu tidak datang dua kali.
Nilai 48 itu terasa seperti bukti bahwa ia sedang mengecewakan semua orang.
Dua hari kemudian, hasil ulangan fisika dibagikan.
Nilainya tidak jauh berbeda.
52
Rantaka menggenggam kertas itu sampai bagian ujungnya berkerut.
Saat jam pelajaran berakhir, Damar mendekatinya.
“Kau harus mulai belajar lagi,” katanya.
“Aku tahu.”
“Kalau kau mau, kita bisa belajar bersama malam ini.”
Rantaka tertawa kecil tanpa rasa lucu.
“Malam ini aku kerja.”
“Besok?”
“Besok juga.”
“Lalu kapan?”
Rantaka tidak menjawab.
Damar duduk di sampingnya.
“Rantaka, pekerjaanmu memang penting. Tapi beasiswamu juga penting.”
“Aku tahu.”
“Kau bisa bicara dengan Bu Ratih atau Pak Arman.”
“Untuk apa?”
“Mungkin mereka bisa membantu.”
Rantaka menggeleng.
“Aku tidak mau dikasihani.”
“Tidak semua bantuan berarti kasihan.”
Rantaka menatap Damar.
Kalimat itu mengingatkannya pada Banyu.
Ia teringat bagaimana Banyu menyembunyikan luka di tangannya karena tidak ingin dianggap lemah.
Mungkin mereka tidak jauh berbeda.
Sama-sama ingin terlihat mampu.
Sama-sama takut menjadi beban.
Namun, Rantaka belum siap mengakuinya.
“Aku akan memperbaiki sendiri,” katanya.
Damar menghela napas.
“Baik. Tapi jangan terlambat.”
Pada hari Jumat, setelah jam pelajaran terakhir, seorang petugas sekolah datang ke kelas.
“Rantaka, kamu diminta ke ruang Bu Mira,” katanya.
Rantaka mengangkat wajah.
Bu Mira adalah guru pembimbing beasiswa.
Beliau mengurus siswa-siswa yang menerima bantuan pendidikan, memantau perkembangan belajar, serta menjadi penghubung antara sekolah dan pihak pemberi beasiswa.
Jantung Rantaka berdetak lebih cepat.
Ia memasukkan buku ke dalam tas dengan tangan yang terasa dingin.
Damar menatapnya.
“Semoga tidak apa-apa,” katanya.
Rantaka hanya mengangguk.
Koridor sekolah terasa panjang saat ia berjalan menuju ruang Bu Mira.
Di luar ruangan, ada beberapa pot tanaman yang tertata rapi. Pintu kayunya terbuka sedikit.
“Masuk, Rantaka,” suara Bu Mira terdengar dari dalam.
Rantaka masuk.
Bu Mira duduk di balik meja. Di depannya ada beberapa map berwarna biru. Salah satu map terbuka, dan Rantaka melihat namanya tertulis pada label kecil di bagian depan.
“Duduk,” kata Bu Mira.
Rantaka duduk di kursi yang tersedia.
Tangannya diletakkan di atas lutut.
Bu Mira tidak langsung berbicara.
Ia membuka beberapa lembar kertas.
Kemudian ia menatap Rantaka dengan wajah tenang.
“Bagaimana keadaanmu di sekolah?”
“Baik, Bu.”
“Benarkah?”
Rantaka terdiam.
Bu Mira menggeser dua lembar hasil ulangan ke arahnya.
Nilai matematika dan fisika.
Angka merah yang sama.
“Aku mendapat laporan dari guru mata pelajaran,” kata Bu Mira. “Nilaimu mulai menurun.”
Rantaka menunduk.
“Maaf, Bu.”
“Aku tidak memanggilmu hanya untuk mendengar kata maaf.”
Rantaka mengangkat wajah perlahan.
Bu Mira melanjutkan, “Kamu mendapat beasiswa karena sekolah melihat kemampuan dan kesungguhanmu. Kami tahu kamu berasal dari keluarga yang harus berjuang keras. Kami juga tahu kamu datang dari desa dengan membawa harapan besar.”
Kata-kata itu membuat Rantaka semakin sulit bernapas.
“Namun, beasiswa memiliki aturan,” lanjut Bu Mira. “Nilai akademik harus dijaga. Jika penurunan ini terus terjadi, beasiswamu dapat dievaluasi.”
Kata dievaluasi terdengar lebih menakutkan daripada kata dicabut.
Karena kata itu tidak memberi kepastian.
Ia seperti pintu yang perlahan mulai tertutup.
“Apakah ada masalah?” tanya Bu Mira.
Rantaka ingin menjawab tidak ada.
Ia ingin tetap terlihat kuat.
Namun, wajah Bu Mira tidak tampak seperti orang yang ingin menghakimi.
Ia tampak seperti seseorang yang benar-benar menunggu jawaban.
Rantaka membuka mulut.
Tetapi kata-kata itu sulit keluar.
“Aku… akhir-akhir ini sulit belajar, Bu.”
“Kenapa?”
Rantaka menunduk lagi.
“Karena aku bekerja malam.”
Ruangan menjadi sunyi.
Bu Mira tidak langsung bereaksi.
“Bekerja malam?” tanyanya pelan.
“Iya, Bu. Di warung makan.”
“Setiap malam?”
“Tidak selalu. Tapi cukup sering.”
“Kenapa kamu bekerja?”
Rantaka menggenggam kedua tangannya.
“Uang beasiswa tidak cukup untuk semua kebutuhan. Aku tidak ingin meminta terlalu banyak dari keluarga di desa.”
Bu Mira menarik napas panjang.
“Kenapa kamu tidak bicara dari awal?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia sendiri tidak tahu.
Mungkin karena malu.
Mungkin karena takut dianggap tidak mampu.
Mungkin karena ia ingin membuktikan bahwa dirinya bisa menyelesaikan semuanya sendiri.
Bu Mira menatapnya dengan lembut, tetapi serius.
“Rantaka, bekerja untuk bertahan hidup bukan kesalahan. Tetapi jika pekerjaan itu membuat sekolahmu runtuh, kamu harus mencari jalan lain.”
“Aku tidak tahu jalan lain, Bu.”
“Kita bisa mencari.”
Rantaka memandangnya.
“Kamu bisa ikut bimbingan tambahan untuk matematika dan fisika,” kata Bu Mira. “Aku akan bicara dengan Pak Arman dan Bu Ratih. Kamu juga perlu mengatur jadwal kerja. Jangan sampai kamu bekerja setiap malam.”
“Kalau aku mengurangi jam kerja, uangku tidak cukup.”
“Kita akan lihat kemungkinan bantuan kebutuhan rumah singgah. Tidak semua bisa selesai dalam sehari, tetapi kamu tidak boleh membiarkan masalah ini terus berjalan.”
Rantaka menunduk.
Ia merasa malu karena harus dibantu.
Namun, di sisi lain, ia merasa lega karena akhirnya ada seseorang yang mengetahui keadaannya.
Bu Mira membuka map lagi.
“Aku ingin kamu menganggap ini sebagai peringatan, bukan hukuman. Kamu masih punya kesempatan memperbaiki nilai. Tetapi kamu harus serius.”
Rantaka mengangguk.
“Iya, Bu.”
“Dua minggu lagi ada evaluasi belajar. Aku ingin melihat perubahan. Kalau tidak ada perbaikan, pihak sekolah akan meninjau kembali status beasiswamu.”
Rantaka merasakan tenggorokannya mengering.
“Iya, Bu.”
“Kamu boleh kembali ke kelas.”
Rantaka berdiri.
Sebelum ia keluar, Bu Mira memanggilnya lagi.
“Rantaka.”
“Iya, Bu?”
“Kamu tidak datang sejauh ini untuk menyerah hanya karena kamu sedang lelah.”
Rantaka mengangguk pelan.
Namun, saat berjalan keluar dari ruang itu, kata-kata Bu Mira justru membuat matanya terasa panas.
Ia tidak ingin menyerah.
Tetapi ia juga tidak tahu bagaimana harus terus berjalan.
Sore itu, Rantaka tidak langsung pulang ke rumah singgah.
Ia berjalan tanpa tujuan melewati jalan kecil di belakang sekolah. Langit Kota Arunika mulai berubah warna. Kendaraan masih ramai. Orang-orang berjalan cepat membawa urusan masing-masing.
Rantaka berhenti di dekat jembatan kecil yang melintasi saluran air.
Ia duduk di bangku semen.
Tasnya diletakkan di samping.
Di dalam tas itu, ada buku matematika, buku fisika, dan surat Liris.
Tiga hal yang kini terasa sama-sama berat.
Ia mengeluarkan surat Liris.
Kali ini, ia membaca bagian yang dulu membuatnya gelisah.
Aku sering memikirkanmu di kota.
Kemudian ia membaca lagi:
Aku berharap kau tetap kuat. Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Rantaka memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya, ia mulai melihat surat itu dengan cara yang sedikit berbeda.
Mungkin Liris tidak sedang menjauh.
Mungkin Liris justru sedang berusaha menguatkannya.
Tetapi rasa takut yang sudah tumbuh di dalam dirinya belum benar-benar hilang.
Ia memasukkan surat itu kembali ke dalam tas.
Lalu mengeluarkan buku matematika.
Ia membuka halaman rumus persamaan kuadrat.
Angka-angka itu masih terlihat sulit.
Namun, ia mencoba membaca satu baris.
Lalu satu baris lagi.
Beberapa menit kemudian, ia menutup buku itu.
Bukan karena mengerti.
Tetapi karena kepalanya kembali terasa berat.
Matahari semakin tenggelam.
Tidak lama lagi ia harus berangkat ke warung.
Rantaka menatap jalan di depannya.
Ia merasa hidupnya seperti jalan itu.
Ramai.
Panjang.
Penuh arah yang tidak ia pahami.
Di satu sisi, ada sekolah dan beasiswa yang harus ia pertahankan.
Di sisi lain, ada pekerjaan malam yang membuatnya bisa bertahan hidup.
Di kejauhan, ada Desa Wanasari, Liris, Banyu, Jagra, dan Gerobak Buku Langit Biru yang semakin jarang berjalan.
Rantaka merasa seperti sedang berdiri di tengah persimpangan.
Ia tidak tahu jalan mana yang harus dipilih lebih dulu.
Ia tidak tahu bagaimana cara menjaga semuanya agar tidak runtuh.
Namun, ia tahu satu hal.
Jika beasiswanya hilang, maka mimpi untuk melanjutkan sekolah bisa ikut hilang.
Dan jika itu terjadi, ia tidak tahu bagaimana harus menjelaskan semuanya kepada keluarganya di desa.
Rantaka berdiri perlahan.
Ia mengangkat tasnya.
Langit Kota Arunika sudah mulai gelap.
Ia kembali berjalan menuju warung makan.
Langkahnya terasa berat.
Bukan hanya karena lelah.
Tetapi karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa bahwa hidupnya mulai kehilangan arah.
BAB 13
ANAK DESA YANG DIPERMALUKAN
Pagi itu, Rantaka datang ke sekolah dengan langkah yang lebih lambat dari biasanya.
Semalam ia pulang dari warung makan hampir pukul sebelas. Setelah membersihkan meja terakhir dan membantu Bu Sari menutup warung, ia masih harus berjalan kembali ke rumah singgah dengan tubuh yang terasa seperti tidak lagi memiliki tenaga.
Sesampainya di kamar, ia berniat membuka buku matematika.
Bu Mira telah memberinya waktu untuk memperbaiki nilai. Pak Arman juga sudah menawarkan bimbingan tambahan sepulang sekolah. Namun, ketika buku itu terbuka di atas meja, mata Rantaka tidak mampu lagi membaca barisan angka.
Ia tertidur dengan kepala bersandar pada lengan.
Pagi ini, ia bangun dengan rasa takut yang belum hilang.
Takut pada nilai yang turun.
Takut pada beasiswa yang dapat dievaluasi.
Takut pada surat Liris yang belum ia balas.
Dan takut pada dirinya sendiri yang semakin sulit ia kenali.
Di halaman sekolah, siswa-siswa berjalan menuju kelas dengan wajah cerah. Sebagian berbicara tentang tugas. Sebagian lagi tertawa sambil membawa bekal. Beberapa siswa tampak sibuk membicarakan kegiatan sekolah yang akan datang.
Rantaka berjalan melewati mereka tanpa banyak bicara.
Ia hanya ingin duduk di bangkunya.
Ia hanya ingin hari itu segera selesai.
Namun, keinginan itu tidak terjadi.
Saat Rantaka baru saja masuk kelas, Arga sudah duduk di meja dekat jendela bersama dua orang temannya, Fikri dan Yuda. Mereka dikenal sebagai siswa yang cukup populer. Nilai mereka baik. Seragam mereka selalu rapi. Mereka juga sering berbicara tentang rencana melanjutkan sekolah ke kota besar setelah lulus.
Arga menatap Rantaka yang sedang meletakkan tas.
“Wah, anak beasiswa datang juga,” katanya cukup keras.
Beberapa siswa menoleh.
Rantaka tidak menjawab.
Ia menarik kursi dan duduk.
Namun, Arga belum berhenti.
“Kemarin katanya dipanggil Bu Mira, ya?” lanjutnya. “Ada masalah dengan nilai?”
Fikri tertawa kecil.
“Mungkin beasiswanya mau diperiksa.”
Yuda menimpali, “Kalau nilainya jelek, bagaimana? Masa sekolah ini terus memberi belas kasihan?”
Kata belas kasihan terdengar tajam di telinga Rantaka.
Tangannya yang sedang membuka buku berhenti.
Ia mencoba mengabaikan mereka.
Namun, Arga berdiri dan berjalan mendekati mejanya.
“Jangan salah paham, Rantaka,” katanya. “Kami hanya heran saja. Ada orang yang masuk sekolah ini karena beasiswa, tetapi malah nilainya turun.”
“Sudah, Ga,” kata seorang siswa lain pelan. “Jangan begitu.”
Arga menoleh sebentar, lalu kembali memandang Rantaka.
“Aku cuma bicara kenyataan. Banyak orang ingin sekolah di sini. Tapi ada yang dapat tempat karena dikasihani.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Aku tidak masuk karena dikasihani.”
Suasana kelas mendadak lebih sunyi.
Arga tersenyum tipis.
“Oh, begitu? Lalu karena apa?”
“Karena aku ikut seleksi.”
“Seleksi?” Arga tertawa kecil. “Kalau bukan karena cerita anak desa yang berjuang, mungkin kau tidak akan dipilih.”
Beberapa siswa tampak tidak nyaman.
Namun, tidak ada yang benar-benar menghentikan Arga.
Rantaka merasakan darahnya naik ke wajah.
Ia ingin berdiri.
Ia ingin berkata bahwa ia belajar dengan lampu minyak di Desa Wanasari ketika listrik sering padam. Ia ingin berkata bahwa ibunya menjual hasil kebun sedikit demi sedikit agar ia bisa membeli buku. Ia ingin berkata bahwa ayahnya pernah berjalan jauh hanya untuk mengantar berkas pendaftaran.
Ia ingin berkata bahwa beasiswa bukan hadiah.
Beasiswa adalah hasil dari perjuangan.
Tetapi semua kata itu seperti tersangkut di tenggorokannya.
Arga mendekat sedikit.
“Kau tahu, Rantaka,” katanya, “kalau beasiswamu dicabut, mungkin kau bisa kembali saja ke desa. Bantu orang tuamu di kebun atau apa saja. Tidak semua orang harus memaksakan diri jadi anak kota.”
Kalimat itu membuat tangan Rantaka mengepal.
Kursinya bergeser sedikit.
Damar, yang duduk beberapa bangku di belakang, langsung berdiri.
“Arga, cukup,” katanya tegas.
Arga menoleh.
“Aku hanya bicara.”
“Bicara bukan berarti menghina.”
“Aku tidak menghina. Aku cuma bilang dia harus tahu diri.”
Rantaka berdiri.
Kelas benar-benar sunyi.
Ia menatap Arga.
Wajahnya tegang. Dadanya naik turun. Di dalam dirinya, ada kemarahan yang sudah lama tertahan.
Kemarahannya pada nilai yang turun.
Pada pekerjaan malam yang melelahkan.
Pada beasiswa yang hampir hilang.
Pada surat Liris yang belum ia balas.
Dan kini, pada kata-kata Arga yang membuatnya seolah tidak pantas berada di sekolah itu.
Untuk sesaat, ia ingin mendorong Arga.
Ia ingin membalas semua penghinaan itu dengan sesuatu yang lebih keras.
Namun, ia teringat wajah Bu Mira.
Ia teringat peringatan tentang beasiswa.
Ia teringat bahwa satu kesalahan kecil dapat membuat semuanya semakin buruk.
Rantaka menarik napas panjang.
Lalu ia berkata dengan suara pelan, tetapi jelas.
“Aku memang dari desa. Aku memang mendapat beasiswa. Tapi aku tidak pernah meminta dikasihani.”
Arga tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Aku datang ke sini untuk belajar. Bukan untuk meminta izin darimu agar boleh punya cita-cita.”
Setelah mengatakan itu, Rantaka mengambil tasnya.
Ia keluar dari kelas sebelum guru masuk.
Damar memanggilnya.
“Rantaka!”
Namun, Rantaka tidak berhenti.
Ia berjalan cepat melewati koridor sekolah. Suara bel masuk berbunyi di belakangnya. Beberapa guru mulai berjalan menuju kelas.
Tetapi Rantaka terus melangkah.
Ia keluar dari gerbang sekolah.
Lalu berjalan tanpa tahu ke mana.
Hari itu, Rantaka tidak kembali ke kelas.
Ia duduk cukup lama di taman kecil dekat terminal. Tasnya diletakkan di samping. Buku-buku pelajaran tetap berada di dalamnya, tidak disentuh sama sekali.
Orang-orang datang dan pergi.
Angkutan kota berhenti, menurunkan penumpang, lalu kembali berjalan.
Pedagang minuman menawarkan dagangannya.
Anak kecil berlari mengejar temannya.
Semua orang tampak memiliki tujuan.
Hanya Rantaka yang merasa tidak tahu harus pergi ke mana.
Kata-kata Arga terus berputar di kepalanya.
Anak beasiswa.
Dikasihani.
Kembali saja ke desa.
Ia tahu Arga salah.
Ia tahu beasiswa bukan belas kasihan.
Namun, kata-kata itu tetap menyakitkan karena menyentuh ketakutan yang selama ini ia simpan sendiri.
Bagaimana jika memang benar ia tidak cukup pantas berada di sekolah itu?
Bagaimana jika nilainya terus turun?
Bagaimana jika beasiswanya dicabut?
Bagaimana jika ia benar-benar harus pulang tanpa membawa apa-apa selain kegagalan?
Rantaka menutup wajah dengan kedua tangan.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di kota, ia merasa sangat ingin pulang.
Bukan pulang karena berhasil.
Bukan pulang karena rindu.
Tetapi pulang karena ingin bersembunyi.
Namun, ia tahu ia tidak bisa begitu saja kembali ke Desa Wanasari.
Di sana, keluarganya menunggu kabar baik.
Di sana, Liris, Banyu, dan Jagra mungkin masih percaya bahwa ia sedang berjuang dengan baik.
Ia tidak ingin mereka tahu bahwa di kota, ia justru merasa semakin kecil.
Menjelang sore, Rantaka berjalan menuju warung makan.
Ia datang lebih awal dari jadwal kerja.
Bu Sari yang sedang menyiapkan bahan makanan tampak terkejut melihatnya.
“Kau tidak sekolah?” tanyanya.
“Sudah selesai, Bu.”
Bu Sari menatap jam dinding.
“Sekolahmu selesai jam segini?”
Rantaka menunduk.
“Aku ingin kerja lebih awal saja.”
Bu Sari tidak langsung menjawab.
Ia memandang wajah Rantaka yang tampak pucat.
“Kau ada masalah?”
“Tidak, Bu.”
“Kau lagi-lagi bilang tidak apa-apa.”
Rantaka diam.
Bu Sari menghela napas.
“Kalau mau membantu, silakan. Tapi jangan memaksa diri.”
Rantaka mengangguk.
Hari itu ia bekerja lebih lama.
Ia menyapu lantai.
Mengangkat kursi.
Mencuci piring.
Mengantar pesanan.
Mengisi air minum.
Ia melakukan semua pekerjaan tanpa berhenti, seolah-olah jika tangannya terus bergerak, pikirannya tidak akan sempat mengingat penghinaan Arga.
Namun, semakin lama ia bekerja, semakin lelah tubuhnya.
Dan semakin lelah tubuhnya, semakin sulit ia menahan perasaan.
Malam itu, saat warung mulai sepi, Bu Sari menemukan Rantaka duduk di belakang dapur sambil memandangi ember kosong.
“Kau pulanglah,” katanya.
“Aku masih bisa bantu.”
“Tidak. Kau pulang.”
“Aku tidak apa-apa.”
Bu Sari menatapnya tajam.
“Kalau kau terus memaksa diri, suatu hari tubuhmu yang akan berhenti.”
Rantaka tidak membalas.
Ia hanya mengangguk.
Tetapi setelah itu, ia tetap membantu sampai warung benar-benar tutup.
Keesokan harinya, Rantaka tidak masuk sekolah.
Ia bangun pagi, mengenakan seragam, lalu duduk cukup lama di tepi tempat tidur.
Damar sudah bersiap pergi.
“Kau tidak berangkat?” tanyanya.
Rantaka menggeleng.
“Aku tidak enak badan.”
“Kau sakit?”
“Sedikit.”
Damar menatapnya dengan khawatir.
“Karena kemarin?”
Rantaka tidak menjawab.
Damar mendekat.
“Jangan biarkan Arga membuatmu berhenti sekolah.”
“Aku tidak berhenti.”
“Tapi kau tidak masuk.”
“Aku cuma butuh waktu.”
Damar ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya mengangguk.
“Kalau begitu, istirahatlah. Jangan malah pergi ke warung.”
Rantaka tidak menjawab.
Setelah Damar pergi, ia duduk sendirian di kamar.
Di atas meja, buku matematika dan fisika masih terbuka.
Ia mencoba membaca.
Namun, kalimat-kalimat Arga kembali datang.
Ia menutup buku.
Menjelang siang, Rantaka pergi ke warung makan.
Bu Sari kembali terkejut melihatnya.
“Kau tidak sekolah lagi?”
“Aku sedang libur,” jawab Rantaka singkat.
Bu Sari tidak percaya.
Tetapi ia tidak memaksa Rantaka bercerita.
Hari kedua itu, Rantaka bekerja lebih lama daripada biasanya.
Ia membantu sejak siang hingga malam.
Tubuhnya semakin lelah.
Namun, ia merasa lebih mudah berada di warung daripada berada di sekolah.
Di warung, orang-orang tidak tahu ia penerima beasiswa.
Mereka tidak tahu nilainya turun.
Mereka tidak tahu ia berasal dari Desa Wanasari.
Di warung, ia hanya Rantaka yang membawa piring, membersihkan meja, dan membantu pelanggan.
Tidak ada yang bertanya apakah ia pantas berada di sana.
Tidak ada yang menyebutnya anak desa dengan nada merendahkan.
Tetapi ketika malam semakin larut, rasa lelah itu berubah menjadi kesunyian.
Rantaka berdiri di depan warung yang hampir tutup.
Lampu jalan memantulkan cahaya pucat di aspal basah. Hujan kecil baru saja berhenti. Kendaraan melintas satu per satu.
Ia mengeluarkan surat Liris dari saku tas.
Surat itu sudah mulai kusut karena sering ia bawa ke mana-mana.
Ia membaca satu kalimat yang paling sering ia ulang.
Kalau kau lelah, ingatlah bahwa di Desa Wanasari masih ada orang-orang yang mengingatmu.
Rantaka memejamkan mata.
Ia ingin percaya pada kalimat itu.
Namun, ia merasa terlalu malu untuk membalas.
Bagaimana ia bisa menulis kepada Liris bahwa ia dipermalukan di depan kelas?
Bagaimana ia bisa mengaku bahwa ia tidak masuk sekolah selama dua hari?
Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ia lebih memilih mencuci piring daripada menghadapi teman-teman sekelas?
Ia melipat surat itu kembali.
Kemudian memasukkannya ke dalam tas.
Di kejauhan, suara azan malam terdengar dari sebuah musala kecil.
Rantaka menatap langit kota yang gelap.
Ia teringat langit di Desa Wanasari.
Langit yang lebih luas.
Lebih tenang.
Lebih dekat dengan rumah.
Namun, malam itu, Kota Arunika terasa seperti tempat yang terlalu besar bagi seorang anak desa yang sedang berusaha mempertahankan mimpinya.
Rantaka berdiri cukup lama di depan warung.
Ia tahu besok ia harus kembali ke sekolah.
Ia tahu ia tidak bisa terus bersembunyi.
Tetapi untuk saat itu, ia belum memiliki keberanian.
Yang ia miliki hanya rasa lelah, rasa malu, dan ketakutan bahwa mimpi yang dibawanya dari Desa Wanasari mungkin benar-benar akan padam sebelum sempat menjadi kenyataan.
BAB 14
SURAT YANG TIDAK DIBALAS
Pagi di Desa Wanasari datang dengan kabut tipis yang menggantung di atas kebun-kebun warga.
Dari dapur rumahnya, Liris mendengar suara ibunya menumbuk bumbu. Di halaman, ayam-ayam mengais tanah yang masih basah oleh embun. Sementara dari kejauhan, suara sungai terdengar pelan, mengalir di antara pepohonan dan rumah-rumah kayu.
Liris duduk di dekat jendela.
Di pangkuannya ada selembar kertas putih yang sudah ia tulisi sejak malam sebelumnya.
Ia membaca ulang surat itu untuk kesekian kalinya.
Tulisan tangannya rapi, tetapi beberapa bagian tampak dicoret lalu ditulis kembali. Ada kalimat-kalimat yang terlalu panjang, ada pula kata-kata yang ia hapus karena takut terdengar berlebihan.
Di bagian awal surat, ia menulis tentang keadaan Desa Wanasari.
Tentang Gerobak Buku Langit Biru yang masih mereka jalankan meskipun tidak seramai dulu.
Tentang Banyu yang semakin sering pulang dengan tangan kotor oleh oli dari bengkel.
Tentang Jagra yang sibuk membantu ayahnya di kolam ikan.
Tentang anak-anak kecil yang kadang masih bertanya kapan Rantaka akan pulang.
Namun, bagian paling sulit adalah ketika ia ingin menulis tentang dirinya sendiri.
Liris memegang ujung kertas itu lebih erat.
Akhirnya, ia menambahkan satu kalimat.
Aku sering memikirkanmu di kota, Rantaka. Bukan karena aku meragukanmu, tetapi karena aku tahu tempat baru kadang membuat seseorang merasa sendirian.
Setelah itu, ia berhenti menulis.
Kalimat tersebut terasa terlalu jujur.
Ia hampir mencoretnya.
Namun, ia teringat suara Rantaka ketika terakhir kali mereka berbicara lewat telepon umum. Suaranya terdengar terburu-buru, lelah, dan seperti menyimpan sesuatu yang tidak ingin diceritakan.
Liris melipat surat itu perlahan.
Ia memasukkannya ke dalam amplop cokelat.
Pada bagian depan, ia menulis alamat rumah singgah tempat Rantaka tinggal di Kota Arunika.
Tulisan itu ia salin dari surat Rantaka yang pertama.
Setelah sarapan, Liris berjalan menuju kantor pos kecil di kecamatan bersama Banyu. Banyu membawa beberapa barang dari bengkel yang harus diantar kepada pelanggan. Ia mengendarai sepeda tua yang rantainya kadang berbunyi jika jalan terlalu menanjak.
“Surat lagi?” tanya Banyu ketika melihat amplop di tangan Liris.
Liris mengangguk.
“Rantaka belum membalas surat yang kemarin.”
“Mungkin suratnya belum sampai.”
“Sudah hampir dua minggu.”
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia mengayuh sepeda lebih pelan.
“Mungkin dia sibuk sekolah,” katanya kemudian.
“Bisa jadi.”
“Tapi kau kelihatan tidak yakin.”
Liris memandang jalan tanah di depan mereka.
“Aku hanya merasa dia berbeda sejak tinggal di kota.”
Banyu menoleh sebentar.
“Berbeda bagaimana?”
“Entahlah. Dulu, kalau ada masalah, ia selalu menulis. Sekarang, suratnya semakin jarang. Saat menelepon pun, ia seperti ingin cepat-cepat menutup pembicaraan.”
Banyu menghela napas.
“Kota memang bisa membuat orang sibuk.”
“Atau membuat orang lupa.”
“Kau pikir Rantaka lupa pada kita?”
Liris tidak menjawab.
Ia tidak ingin mengatakan bahwa ketakutan itu mulai tumbuh dalam hatinya.
Bukan karena ia tidak percaya kepada Rantaka.
Justru karena ia terlalu percaya.
Ia tahu Rantaka membawa mimpi besar ketika pergi ke Kota Arunika. Ia tahu beasiswa itu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya, untuk Desa Wanasari, bahkan untuk anak-anak yang sering mendengar cerita tentang sekolah kota dari mulutnya.
Namun, semakin lama tidak ada kabar, semakin sulit bagi Liris untuk menenangkan pikirannya.
Di kantor pos kecil kecamatan, Liris menyerahkan surat itu kepada petugas.
“Untuk Kota Arunika,” katanya.
Petugas memeriksa alamat di amplop.
“Biasanya sekitar lima sampai tujuh hari,” katanya.
Liris mengangguk.
Ia menatap amplop itu ketika dimasukkan ke dalam kotak surat.
Selembar kertas kecil.
Namun, di dalamnya ada banyak hal yang tidak mampu ia katakan secara langsung.
Hari-hari berikutnya berjalan lambat.
Setiap sore, Liris selalu bertanya kepada ibunya apakah ada surat datang.
Setiap kali terdengar suara sepeda petugas pos melewati jalan depan rumah, ia segera keluar.
Namun, tidak ada surat untuknya.
Yang datang hanya tagihan listrik untuk tetangga, surat undangan rapat untuk ketua RT, dan kiriman kecil untuk toko kelontong di ujung jalan.
Liris mencoba tidak memperlihatkan kekecewaannya.
Ia tetap membantu ibunya mencuci pakaian.
Ia tetap mengajar anak-anak yang datang ke Gerobak Buku Langit Biru.
Ia tetap menulis puisi di buku catatan hijaunya.
Tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.
Suatu sore, saat anak-anak sudah pulang, Liris duduk di bawah pohon beringin dekat tempat Gerobak Buku biasa berhenti.
Gerobak itu tampak lebih sepi daripada dulu.
Beberapa buku tersusun rapi di dalam kotak kayu. Sebagian sudah mulai kusam di bagian sampul karena sering dibaca bergantian. Di salah satu sisi, ada gambar matahari dan awan yang dibuat anak-anak dengan pensil warna.
Banyu sedang memperbaiki roda gerobak yang sedikit longgar.
Jagra datang membawa ember kecil berisi ikan hasil tangkapan dari sungai.
“Anak-anak sudah pulang?” tanyanya.
“Sudah,” jawab Liris.
Jagra melihat wajah Liris.
“Kau masih menunggu surat?”
Liris tersenyum kecil.
“Kelihatan sekali, ya?”
“Tidak juga,” jawab Jagra. “Tapi setiap hari kau melihat jalan depan rumah seperti sedang menunggu seseorang.”
Banyu menghentikan pekerjaannya.
“Belum ada balasan?”
Liris menggeleng.
Jagra duduk di dekat gerobak.
“Mungkin Rantaka benar-benar sibuk.”
“Semua orang bilang begitu,” kata Liris pelan. “Tapi kalau sibuk, apa sulit menulis beberapa baris?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Angin sore menggerakkan daun-daun beringin.
Banyu kembali memutar baut roda gerobak.
Jagra memandangi ember ikan di sampingnya.
Liris menunduk.
Ia merasa bersalah karena mulai marah kepada Rantaka.
Namun, ia juga merasa lelah menunggu.
“Aku tidak meminta surat panjang,” katanya. “Aku hanya ingin tahu dia baik-baik saja.”
Banyu mengangguk.
“Itu wajar.”
Jagra menatap jalan menuju desa.
“Mungkin suatu hari nanti kita harus ke kota,” katanya. “Bukan untuk mencari Rantaka. Tapi untuk melihat sendiri bagaimana hidupnya di sana.”
Liris tidak menanggapi.
Kota Arunika terasa terlalu jauh.
Dan jarak itu terasa semakin panjang karena tidak ada jawaban.
Sementara itu, di Kota Arunika, Rantaka duduk di meja kecil rumah singgah dengan selembar kertas di hadapannya.
Malam sudah larut.
Damar telah tertidur di ranjang sebelah. Dari luar jendela, suara kendaraan masih terdengar, meskipun tidak seramai siang hari.
Lampu meja menyala redup.
Rantaka memegang pensil.
Di atas kertas, ia telah menulis:
Untuk Liris,
Setelah itu, ia berhenti.
Sudah beberapa kali ia mencoba menulis surat.
Namun, setiap kali mulai menuliskan keadaan sebenarnya, tangannya tidak mampu melanjutkan.
Ia ingin menceritakan tentang Arga.
Tentang penghinaan di kelas.
Tentang dua hari ia tidak masuk sekolah.
Tentang pekerjaannya di warung makan.
Tentang nilai matematika dan fisika yang membuat Bu Mira memperingatkannya.
Tetapi semua itu terasa seperti pengakuan bahwa ia gagal.
Ia tidak ingin Liris membayangkan dirinya sebagai anak desa yang datang ke kota lalu tidak sanggup bertahan.
Ia tidak ingin Liris merasa kasihan.
Ia tidak ingin Banyu dan Jagra tahu bahwa di kota, ia lebih sering mencuci piring daripada belajar.
Rantaka menulis beberapa kalimat.
Aku baik-baik saja di sini. Sekolah berjalan seperti biasa. Kota Arunika memang ramai, tetapi aku mulai terbiasa.
Ia membaca kalimat itu.
Lalu menghapusnya.
Itu bukan kebenaran.
Ia menulis lagi.
Liris, akhir-akhir ini aku bekerja malam di warung makan karena uang beasiswa tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Aku takut beasiswaku dicabut karena nilainya turun.
Tangannya berhenti.
Ia memandang kalimat itu cukup lama.
Kemudian ia meremas kertas tersebut.
Bola kertas itu dilemparkannya ke sudut meja.
Di sana sudah ada beberapa kertas lain yang sama-sama kusut.
Rantaka menyandarkan punggung ke kursi.
Ia menutup mata.
Dalam kepalanya, ia membayangkan Liris membaca surat itu.
Ia membayangkan Liris merasa sedih.
Ia membayangkan Liris mungkin akan berkata bahwa ia seharusnya bercerita sejak awal.
Ia membayangkan Liris akan merasa kecewa karena selama ini ia tidak jujur.
Rantaka tidak sanggup menghadapi semua itu.
Lebih mudah diam.
Lebih mudah menunda.
Lebih mudah membiarkan surat-surat itu tidak pernah terkirim.
Namun, diam ternyata tidak membuat hatinya lebih ringan.
Setiap malam, ia semakin merasa jauh dari Desa Wanasari.
Dua minggu kemudian, surat dari Liris tiba di rumah singgah.
Petugas pos menyerahkannya kepada penjaga rumah singgah pada siang hari. Ketika Rantaka pulang dari sekolah, amplop cokelat itu sudah berada di atas meja dekat pintu masuk.
Ia langsung mengenali tulisan tangan Liris.
Rantaka berdiri cukup lama di depan meja.
Ia tidak langsung mengambil surat itu.
Ada rasa rindu yang tiba-tiba datang begitu kuat hingga membuat dadanya sesak.
Akhirnya, ia mengambil amplop tersebut.
Ia membawanya ke kamar.
Damar sedang belajar di meja kecil.
“Surat dari desa?” tanya Damar.
Rantaka mengangguk.
“Kau tidak buka?”
“Nanti.”
Damar menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa lagi.
Rantaka duduk di ranjang.
Ia membuka amplop dengan hati-hati.
Kertas di dalamnya berbau samar seperti lemari kayu dan daun kering. Mungkin hanya perasaannya saja, tetapi aroma itu membuatnya teringat rumah-rumah di Desa Wanasari.
Ia membaca surat Liris perlahan.
Liris bercerita tentang Gerobak Buku.
Tentang Banyu yang sibuk di bengkel.
Tentang Jagra yang semakin banyak membantu di kolam ikan.
Tentang anak-anak yang masih bertanya kapan Rantaka pulang.
Lalu ia sampai pada bagian yang membuatnya berhenti.
Aku sering memikirkanmu di kota, Rantaka. Bukan karena aku meragukanmu, tetapi karena aku tahu tempat baru kadang membuat seseorang merasa sendirian.
Rantaka menunduk.
Matanya terasa panas.
Ia membaca kalimat itu berulang kali.
Liris tidak menuduhnya.
Liris tidak meminta penjelasan dengan marah.
Liris hanya ingin tahu apakah ia baik-baik saja.
Dan justru karena itulah, Rantaka semakin malu.
Ia mengambil kertas baru.
Kali ini, ia berusaha menulis lebih jujur.
Liris, maaf karena aku belum membalas suratmu. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Kota ini tidak seindah yang kubayangkan. Aku bekerja malam di warung makan. Nilai matematikaku dan fisikaku turun. Bu Mira berkata beasiswaku bisa dievaluasi kalau aku tidak memperbaikinya.
Rantaka berhenti.
Ia membaca tulisan itu.
Kata-kata tersebut terasa berat, tetapi juga terasa lebih dekat pada kebenaran.
Ia melanjutkan.
Aku juga dipermalukan di kelas karena berasal dari desa dan menerima beasiswa. Aku ingin melawan, tetapi aku takut melakukan kesalahan. Aku takut kehilangan semuanya.
Tangannya mulai gemetar.
Ia membayangkan surat itu sampai ke Desa Wanasari.
Ia membayangkan Liris membacanya di dekat jendela rumah.
Ia membayangkan Liris merasa kasihan.
Rantaka tidak ingin dikasihani.
Ia melipat surat itu.
Namun, bukan untuk dimasukkan ke dalam amplop.
Ia memasukkannya ke dalam buku matematika.
Kemudian ia menutup buku itu rapat-rapat.
Surat itu kembali tidak terkirim.
Beberapa hari setelahnya, Liris kembali menunggu.
Ia tidak tahu bahwa suratnya sudah dibaca.
Ia tidak tahu bahwa Rantaka sudah menulis balasan.
Ia hanya tahu bahwa tidak ada kabar.
Di rumah, ibunya mulai memperhatikan perubahan sikapnya.
“Kau sedang memikirkan sesuatu?” tanya ibunya suatu malam.
Liris sedang mengiris sayur di dapur.
“Tidak, Bu.”
“Kau akhir-akhir ini sering melamun.”
Liris tersenyum kecil.
“Mungkin karena banyak yang ingin kutulis.”
Ibunya mengangguk.
Namun, Liris tahu ibunya tidak sepenuhnya percaya.
Setelah makan malam, Liris masuk ke kamar.
Ia membuka buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis beberapa baris puisi.
Suratku berjalan jauh
melewati jalan tanah dan kota yang ramai
tetapi pulangnya selalu terlambat
seperti jawaban yang tak pernah tiba.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
Mungkin seseorang di ujung sana
sedang belajar menjadi asing
pada rumah yang pernah ia rindukan.
Liris menutup buku catatan itu.
Ia tidak ingin percaya bahwa Rantaka melupakan mereka.
Namun, dalam hatinya, keraguan mulai tumbuh.
Mungkin kota benar-benar mengubah seseorang.
Mungkin Rantaka sudah memiliki kehidupan baru.
Mungkin surat-surat dari desa hanya menjadi bagian kecil dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.
Di sisi lain Kota Arunika, Rantaka duduk di meja kecil rumah singgah.
Buku matematika terbuka di hadapannya.
Di dalamnya, surat untuk Liris tersimpan di antara halaman rumus yang belum ia pahami.
Ia ingin mengirimkannya.
Ia ingin mengatakan bahwa ia masih mengingat Desa Wanasari.
Ia masih mengingat Gerobak Buku Langit Biru.
Ia masih mengingat suara Liris saat membacakan puisi di bawah pohon beringin.
Namun, rasa malu membuatnya tetap diam.
Malam semakin larut.
Damar sudah tidur.
Lampu kamar mulai berkedip karena listrik di rumah singgah tidak stabil.
Rantaka menutup buku matematika.
Ia menyimpan surat itu kembali.
Dan sekali lagi, surat yang seharusnya menjadi jembatan antara dua hati hanya menjadi kertas yang tersimpan dalam kesunyian.
Di Desa Wanasari, Liris menunggu jawaban.
Di Kota Arunika, Rantaka menunggu keberanian.
Sementara jarak di antara mereka perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih besar daripada sekadar jalan panjang antara desa dan kota.
BAB 15
HUJAN YANG MEROBOHKAN HARAPAN
Sejak tiga hari terakhir, hujan turun tanpa benar-benar memberi kesempatan kepada Desa Wanasari untuk mengering.
Pada pagi hari, hujan datang sebagai gerimis halus yang membuat daun-daun pisang berkilau. Menjelang siang, langit berubah semakin gelap. Awan tebal menggantung rendah di atas desa. Lalu ketika sore tiba, hujan turun lebih deras, seperti seseorang menumpahkan air dari langit tanpa henti.
Sungai Wanasari yang biasanya mengalir tenang mulai berubah warna.
Airnya keruh.
Arusnya semakin cepat.
Di beberapa bagian, ranting-ranting besar dan daun-daun kering terbawa dari hulu. Warga yang tinggal dekat sungai mulai memperhatikan permukaan air dengan cemas.
Jagra berdiri di tepi kolam ikan milik keluarganya.
Hujan membasahi rambut dan bajunya. Lumpur melekat di kaki celananya. Di sampingnya, ayahnya sedang memperkuat tanggul kolam dengan karung-karung tanah.
“Air sungai naik terus, Yah,” kata Jagra.
Ayahnya tidak menjawab langsung.
Ia menancapkan sekop ke tanah yang mulai lembek.
“Kita harus menahan air sebelum masuk ke kolam,” katanya.
Jagra mengangguk.
Ia mengambil karung kosong dan mulai mengisinya dengan tanah. Tangannya kotor. Bajunya basah. Namun, ia terus bekerja.
Kolam ikan itu bukan hanya tempat memelihara ikan.
Kolam itu adalah sumber penghasilan keluarga mereka.
Dari kolam itulah ayahnya membeli beras, membayar kebutuhan rumah, membeli pakan ikan, dan sesekali menyisihkan uang untuk biaya sekolah Jagra.
Jika kolam itu rusak, keluarga mereka akan kehilangan lebih dari sekadar ikan.
Mereka akan kehilangan harapan.
Menjelang malam, hujan semakin deras.
Suara air menghantam atap rumah seperti ribuan kerikil dijatuhkan dari langit. Angin bertiup kencang. Beberapa pohon kecil di halaman rumah warga mulai membungkuk diterpa angin.
Di rumahnya, Liris duduk bersama ibunya di ruang tengah.
Lampu listrik berkedip-kedip.
Di atas meja, ada ember yang menampung air dari atap yang bocor.
“Semoga sungai tidak meluap,” kata ibunya.
Liris memandang ke arah jendela.
Di luar, halaman rumah sudah mulai tergenang.
“Rumah Jagra dekat sungai,” kata Liris pelan.
Ibunya mengangguk.
“Semoga mereka baik-baik saja.”
Liris ingin pergi melihat keadaan sahabatnya. Namun, hujan terlalu deras dan jalan menuju rumah Jagra sudah mulai sulit dilalui.
Ia hanya bisa menunggu.
Di dalam hatinya, ia mengingat Rantaka.
Andai Rantaka ada di desa, mungkin ia juga akan berdiri di tepi kolam bersama Jagra. Mungkin mereka akan membawa karung tanah, membantu warga, atau mencari cara agar air tidak masuk ke pemukiman.
Namun, Rantaka berada jauh di Kota Arunika.
Dan surat-suratnya masih belum mendapat jawaban.
Tengah malam, suara teriakan terdengar dari arah sungai.
“Air naik!”
“Banjir!”
“Semua keluar!”
Warga berlarian dari rumah masing-masing.
Lampu-lampu senter menyala di tengah gelap. Ada yang membawa anak kecil. Ada yang mengangkat barang-barang penting. Ada yang mencoba menyelamatkan beras, pakaian, dan dokumen dari rumah yang mulai dimasuki air.
Jagra terbangun ketika ayahnya membuka pintu kamar.
“Bangun, Gra!” kata ayahnya dengan suara tegang. “Tanggul kolam jebol!”
Jagra langsung berdiri.
Ia mengenakan jaket seadanya dan berlari keluar.
Hujan masih turun deras.
Di luar rumah, air sudah setinggi mata kaki. Dari arah kolam, terdengar suara gemuruh air yang bercampur dengan suara orang-orang berteriak.
Jagra berlari bersama ayahnya.
Ketika sampai di kolam, dadanya seperti berhenti bernapas.
Tanggul yang mereka perkuat sejak sore telah runtuh.
Air sungai menerobos masuk dengan deras. Kolam ikan yang selama ini dirawat keluarganya berubah menjadi genangan besar yang menyatu dengan aliran banjir.
Ikan-ikan yang siap dipanen hanyut terbawa air.
Jaring-jaring yang dipasang di pinggir kolam tersangkut di batang pohon dan sebagian robek.
Beberapa papan penahan air terbawa arus.
Jagra berdiri tanpa bergerak.
“Ayah…” suaranya hampir tidak terdengar.
Ayahnya mencoba mendekat ke sisi kolam.
Namun, arus terlalu kuat.
“Jangan ke sana!” teriak seorang warga.
Ayah Jagra tetap berusaha mengambil salah satu jaring yang tersangkut di dekat tanggul. Jagra ingin menyusul, tetapi dua warga menahannya.
“Jangan, Gra! Bahaya!”
“Ayahku di sana!”
“Ayahmu tahu apa yang dia lakukan!”
Namun, beberapa saat kemudian, ayah Jagra terpeleset.
Tubuhnya jatuh ke lumpur di dekat tanggul yang runtuh.
Jagra berteriak.
Beberapa warga segera berlari membantu. Mereka menarik ayah Jagra menjauh dari arus. Untungnya, ia tidak hanyut, tetapi kakinya terbentur batu dan terluka cukup parah.
Jagra berlutut di samping ayahnya.
“Yah, sakit?” tanyanya dengan suara gemetar.
Ayahnya mencoba tersenyum.
“Tidak apa-apa,” katanya, meski wajahnya tampak menahan nyeri.
Namun, Jagra tahu keadaan mereka tidak baik-baik saja.
Kolam rusak.
Ikan hanyut.
Peralatan hilang.
Dan ayahnya terluka.
Hujan masih terus turun.
Seolah-olah langit belum selesai mengambil apa yang mereka miliki.
Pagi harinya, Desa Wanasari tampak seperti desa yang baru saja dilanda mimpi buruk.
Air mulai surut di beberapa tempat, tetapi lumpur tertinggal di halaman rumah, jalan desa, dan ruang-ruang kecil yang biasanya dipenuhi kehidupan.
Banyak warga keluar rumah dengan wajah letih.
Ada yang membersihkan lantai.
Ada yang menjemur pakaian basah.
Ada yang memeriksa kebun.
Ada yang berdiri di depan rumah sambil memandangi barang-barang yang rusak.
Di kebun dekat rumah Liris, beberapa tanaman sayur roboh. Batang-batangnya patah. Daunnya tertutup lumpur. Sebagian bibit yang baru ditanam hanyut terbawa air.
Ayah Liris berdiri di tengah kebun dengan wajah muram.
Liris mendekat sambil membawa sapu.
“Banyak yang rusak, Yah?” tanyanya.
Ayahnya mengangguk.
“Sebagian besar.”
“Masih bisa diselamatkan?”
Ayahnya memandang tanaman yang tersisa.
“Entahlah. Kita lihat beberapa hari lagi.”
Nada suaranya membuat Liris memahami bahwa keadaan mereka akan sulit.
Kebun bukan hanya tempat menanam sayur.
Kebun adalah sumber uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari.
Jika panen gagal, maka dapur rumah mereka juga akan semakin sepi.
Di rumah Banyu, keadaan tidak jauh berbeda.
Atap bengkel kecil tempat ia membantu bekerja bocor. Beberapa peralatan terkena air. Jalan menuju bengkel tergenang lumpur, membuat pelanggan sulit datang.
Banyu membantu pemilik bengkel memindahkan perkakas ke tempat yang lebih kering.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih dari luka beberapa waktu lalu, tetapi ia tetap bekerja.
“Kalau begini terus, bengkel bisa tutup beberapa hari,” kata pemilik bengkel.
Banyu mengangguk.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, dalam pikirannya, ia menghitung berapa upah yang mungkin tidak akan ia dapatkan jika bengkel tidak buka.
Uang itu penting baginya.
Ia sedang menabung untuk membeli beberapa alat dan bahan agar dapat membuat rancangan alat pertanian sederhana.
Tetapi sekarang, ia bahkan tidak tahu apakah pekerjaan di bengkel akan tetap ada.
Sore hari, Liris dan Banyu pergi ke rumah Jagra.
Jalan menuju rumah sahabat mereka penuh lumpur. Beberapa bagian harus mereka lewati dengan hati-hati karena tanahnya masih licin.
Ketika sampai, mereka melihat beberapa warga sedang membantu membersihkan halaman.
Kolam ikan di belakang rumah tampak rusak parah.
Tanggulnya runtuh.
Airnya keruh.
Jaring-jaring yang tersisa tergantung di pagar bambu dalam keadaan robek.
Jagra duduk di teras rumah.
Wajahnya pucat. Matanya merah seperti tidak tidur semalaman. Di dekatnya, ayahnya berbaring dengan kaki dibalut kain.
Liris mendekat perlahan.
“Bagaimana keadaan Pak?” tanyanya.
Jagra menoleh.
“Lukanya tidak terlalu parah. Tapi harus istirahat.”
Banyu memandang kolam di belakang rumah.
“Banyak ikan yang hilang?”
Jagra tertawa kecil, tetapi tidak ada rasa lucu di dalamnya.
“Bukan banyak lagi. Hampir semuanya.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Liris duduk di samping Jagra.
“Aku ikut sedih, Gra.”
Jagra menunduk.
“Sedih tidak akan membuat kolam itu kembali.”
Kalimat itu terdengar keras.
Liris terdiam.
Jagra segera menyadari nada suaranya.
“Maaf,” katanya pelan. “Aku bukan marah pada kalian.”
“Kami tahu,” jawab Banyu.
Jagra menatap kolam yang rusak.
“Ayah sudah merawat ikan itu berbulan-bulan. Tinggal menunggu waktu panen. Kami sudah menghitung uangnya untuk membeli pakan berikutnya, memperbaiki rumah, dan membayar beberapa kebutuhan sekolah.”
Ia berhenti sebentar.
“Kini semuanya hilang.”
Liris memegang ujung bajunya.
“Apa yang bisa kami bantu?”
Jagra menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Itulah jawaban yang paling membuat mereka diam.
Bukan karena Jagra menolak bantuan.
Tetapi karena ia benar-benar tidak tahu harus mulai dari mana.
Hari-hari setelah banjir menjadi lebih berat bagi banyak keluarga di Desa Wanasari.
Kebun-kebun yang rusak membuat sebagian warga kehilangan hasil panen. Kolam ikan yang terdampak banjir membuat beberapa keluarga kehilangan sumber pendapatan. Jalan-jalan desa yang berlumpur menyulitkan warga membawa hasil kebun atau membeli kebutuhan ke kecamatan.
Di sekolah, beberapa bangku mulai kosong.
Bu Laras memperhatikan hal itu.
Pada hari Senin, ia berdiri di depan kelas dan memanggil nama beberapa murid yang tidak hadir.
“Roni?”
Tidak ada jawaban.
“Siti?”
Tidak ada jawaban.
“Fahri?”
Tidak ada jawaban.
Seorang murid mengangkat tangan.
“Roni membantu ayahnya membersihkan kebun, Bu.”
“Kalau Siti?”
“Ibunya sakit setelah kebanjiran. Siti menjaga adiknya.”
“Fahri?”
“Katanya ikut pamannya mencari ikan yang hanyut.”
Bu Laras menunduk sejenak.
Ia memahami keadaan mereka.
Namun, ia juga tahu bahwa semakin lama anak-anak tidak masuk sekolah, semakin besar kemungkinan mereka tertinggal dan akhirnya berhenti.
Sepulang sekolah, Bu Laras berjalan menuju tempat Gerobak Buku Langit Biru biasa berhenti.
Gerobak itu masih ada, tetapi tampak tidak terurus.
Roda-roda kayunya tertutup lumpur.
Beberapa buku di dalam kotak terkena lembap.
Tidak ada suara anak-anak membaca.
Tidak ada tawa seperti biasanya.
Bu Laras berdiri cukup lama di sana.
Ia teringat Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra ketika pertama kali membawa gerobak itu berkeliling desa.
Mereka tidak punya banyak hal.
Namun, mereka punya semangat.
Kini, semangat itu sedang diuji oleh sesuatu yang lebih besar daripada tugas sekolah atau kesalahpahaman antarsahabat.
Banjir telah datang.
Dan banjir tidak hanya membawa air serta lumpur.
Banjir juga membawa kekhawatiran.
Membawa kehilangan.
Membawa pilihan-pilihan sulit bagi keluarga yang sudah sejak awal hidup dalam keterbatasan.
Malam itu, Jagra duduk sendiri di tepi kolam yang rusak.
Hujan sudah berhenti, tetapi langit masih dipenuhi awan kelabu.
Di tangannya, ia memegang senter kecil.
Cahayanya menyapu permukaan air yang keruh.
Ia teringat saat ayahnya pertama kali mengajarinya memberi makan ikan.
Ia masih kecil waktu itu.
Ayahnya berkata bahwa merawat ikan membutuhkan kesabaran.
“Kita tidak bisa meminta ikan tumbuh besar dalam satu malam,” kata ayahnya dulu. “Kita harus memberi makan, menjaga air, dan menunggu.”
Jagra dulu menganggap kalimat itu hanya tentang ikan.
Kini ia mulai mengerti bahwa kalimat itu juga tentang hidup.
Namun, malam itu, kesabaran terasa seperti sesuatu yang sangat sulit dilakukan.
Ia tidak tahu bagaimana keluarganya akan memulai lagi.
Ia tidak tahu apakah ayahnya bisa kembali bekerja seperti biasa setelah kakinya pulih.
Ia tidak tahu apakah ia harus lebih banyak membantu di rumah dan mengurangi waktu sekolah.
Ia tidak tahu apakah Gerobak Buku Langit Biru masih bisa berjalan ketika semua orang sedang sibuk menyelamatkan kehidupan masing-masing.
Jagra menunduk.
Di dalam hatinya, ada rasa marah yang tidak tahu harus ditujukan kepada siapa.
Marah kepada hujan.
Marah kepada sungai.
Marah kepada keadaan.
Marah kepada dirinya sendiri karena tidak mampu menyelamatkan kolam itu.
Di kejauhan, suara katak mulai terdengar.
Desa Wanasari kembali sunyi.
Namun, kesunyian malam itu tidak sama seperti biasanya.
Kesunyian itu dipenuhi oleh rumah-rumah yang sedang menghitung kerugian.
Oleh orang tua yang memikirkan besok pagi.
Oleh anak-anak yang mungkin harus memilih antara sekolah dan membantu keluarga.
Oleh kebun-kebun yang roboh.
Oleh kolam-kolam yang kosong.
Dan oleh harapan yang, untuk sementara waktu, terasa seperti ikut hanyut bersama arus banjir.
Jagra mematikan senter.
Dalam gelap, ia hanya bisa mendengar air mengalir pelan di sisa kolam yang rusak.
Ia tahu hujan telah berhenti.
Tetapi bagi keluarganya, badai baru saja dimulai.
BAB 16
LIRIS DAN PILIHAN YANG BERAT
Sejak banjir surut, halaman rumah Liris tidak pernah benar-benar kembali seperti semula.
Lumpur masih menempel di sela-sela papan teras. Beberapa pot bunga milik ibunya pecah terbawa air. Di belakang rumah, kebun kecil yang biasanya dipenuhi cabai, kangkung, dan sayuran lain kini tampak seperti tanah yang baru saja diinjak banyak orang.
Daun-daun tanaman menguning.
Batang-batangnya rebah.
Sebagian besar bibit yang baru ditanam ayahnya hanyut bersama air banjir.
Pagi itu, Liris berdiri di dekat kebun sambil membawa ember. Ia mencoba menyiram tanaman yang masih tersisa, meskipun ia tahu air tidak akan serta-merta membuat semuanya kembali hidup.
Ayahnya sedang mencangkul tanah yang mengeras oleh lumpur.
Gerakannya lambat.
Tidak seperti biasanya.
Dulu, ayah Liris selalu bekerja sambil bersenandung kecil. Ia sering bercerita tentang musim tanam, tentang harga sayur di pasar kecamatan, atau tentang rencana membeli bibit baru jika panen berikutnya berhasil.
Namun, sejak banjir datang, ayahnya lebih banyak diam.
“Kau tidak perlu menyiram yang itu,” katanya tanpa menoleh.
Liris berhenti.
“Masih ada yang bisa diselamatkan, Yah.”
Ayahnya menancapkan cangkul ke tanah.
“Kalau akarnya sudah busuk, disiram sebanyak apa pun tidak akan tumbuh.”
Liris menunduk.
Ia tahu ayahnya tidak hanya berbicara tentang tanaman.
Beberapa hari terakhir, ia sering melihat ayahnya duduk sendirian di teras rumah setelah magrib. Di hadapannya ada buku catatan kecil berisi perhitungan hasil kebun, harga pupuk, dan kebutuhan rumah tangga.
Setiap kali Liris mendekat, ayahnya segera menutup buku itu.
Namun, Liris sudah bisa menebak isinya.
Penghasilan yang menurun.
Utang pupuk yang belum lunas.
Biaya sekolah.
Beras yang harus dibeli.
Dan kebutuhan rumah yang tidak mungkin ditunda.
Siang itu, Liris pulang dari sekolah dengan membawa sebuah amplop putih.
Amplop tersebut berasal dari Komunitas Kata Nusantara, sebuah kelompok literasi di kota kabupaten yang beberapa bulan sebelumnya pernah memuat salah satu puisinya dalam majalah kecil mereka.
Ia mendapat surat itu melalui Bu Laras.
“Buka saja di rumah,” kata Bu Laras ketika menyerahkannya. “Baca baik-baik.”
Sejak menerima amplop itu, Liris tidak bisa berhenti memikirkannya.
Ia berjalan lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, ia masuk ke kamar dan menutup pintu. Dengan hati-hati, ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat selembar surat resmi.
Komunitas Kata Nusantara mengundangnya mengikuti pelatihan menulis selama lima hari di kota kabupaten.
Pelatihan itu akan diisi oleh beberapa penulis, guru, dan pegiat literasi. Peserta akan belajar menulis puisi, cerpen, artikel, serta cara mengirimkan karya ke media.
Liris membaca surat itu berkali-kali.
Dadanya berdebar.
Selama ini, menulis hanya menjadi tempatnya menyimpan perasaan. Ia menulis ketika rindu, ketika marah, ketika takut, atau ketika ingin berbicara tanpa harus menjelaskan semuanya kepada orang lain.
Namun, undangan itu membuat menulis terasa lebih besar.
Seolah-olah kata-kata yang selama ini ia simpan dalam buku hijau ternyata bisa membawanya ke tempat yang tidak pernah ia bayangkan.
Liris memeluk surat itu.
Ia ingin segera menunjukkan kepada ayah dan ibunya.
Namun, ketika keluar kamar, ia melihat ayahnya sedang duduk di ruang tengah dengan wajah lelah.
Di atas meja ada beberapa lembar uang yang jumlahnya tidak banyak.
Ibunya sedang menghitung beras di dalam wadah plastik.
Liris berhenti di ambang pintu.
Kegembiraannya mendadak terasa tidak pantas.
“Ada apa?” tanya ibunya.
Liris memegang amplop itu lebih erat.
“Aku dapat surat dari komunitas literasi di kota kabupaten.”
Ayahnya mengangkat wajah.
“Komunitas apa?”
“Komunitas Kata Nusantara. Mereka mengundang aku ikut pelatihan menulis.”
Ayahnya terdiam.
Liris melanjutkan dengan hati-hati.
“Lima hari saja, Yah. Aku bisa belajar menulis puisi dan cerita. Kata Bu Laras, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.”
Ibunya tersenyum kecil.
“Itu bagus, Lis.”
Namun, ayahnya tidak ikut tersenyum.
“Pelatihannya di kota kabupaten?”
“Iya.”
“Naik apa?”
“Bisa naik bus dari kecamatan.”
“Biayanya?”
Liris terdiam.
Di surat itu tertulis bahwa pelatihan tidak dipungut biaya. Namun, peserta harus menanggung sendiri ongkos perjalanan, makan, dan tempat tinggal selama kegiatan berlangsung.
“Aku belum tahu,” jawab Liris pelan. “Tapi mungkin bisa dicari jalan.”
Ayahnya menghela napas.
“Jalan dari mana?”
Liris tidak menjawab.
Ayahnya memandang kebun yang terlihat dari jendela.
“Banjir baru saja merusak kebun kita. Uang untuk kebutuhan rumah saja belum cukup. Sekarang kau bicara pergi ke kota untuk menulis.”
“Menulis bukan hanya main-main, Yah.”
“Ayah tidak bilang itu main-main.”
“Lalu?”
Ayahnya menatap Liris dengan wajah yang lebih keras dari biasanya.
“Ayah bilang kita sedang susah.”
Kalimat itu membuat ruangan menjadi sunyi.
Ibunya berhenti menghitung beras.
Liris menunduk.
Ayahnya melanjutkan, kali ini dengan suara lebih pelan.
“Kau sudah besar, Lis. Kau harus mulai melihat keadaan rumah. Menulis itu bagus. Puisi itu indah. Tapi puisi tidak bisa membeli beras.”
Liris menggigit bibir.
Ia ingin membantah.
Ia ingin mengatakan bahwa mimpi juga penting. Bahwa hidup tidak hanya tentang bertahan dari satu hari ke hari berikutnya. Bahwa menulis mungkin bisa membuka jalan yang selama ini tidak terlihat.
Namun, ia melihat wajah ayahnya.
Wajah seorang lelaki yang sejak pagi mencangkul kebun rusak, lalu pulang dengan tangan kosong.
Ia melihat ibunya yang sedang menghitung beras dengan hati-hati agar cukup sampai beberapa hari ke depan.
Dan tiba-tiba, kata-kata yang ingin ia ucapkan terasa terlalu berat.
“Ayah ingin aku tidak ikut?” tanya Liris.
Ayahnya tidak langsung menjawab.
“Ayah ingin kau membantu keluarga dulu.”
“Bagaimana caranya?”
Ayahnya memandang ke arah meja.
“Pak Darto, pemilik toko sembako di kota kabupaten, sedang mencari pegawai. Anak sepupunya bilang mereka butuh anak perempuan untuk membantu menjaga toko dan mencatat barang.”
Liris mengangkat wajah.
“Bekerja di toko?”
“Ya.”
“Di kota kabupaten?”
“Ya.”
“Setiap hari?”
“Kalau diterima, mungkin kau tinggal di tempat saudaramu yang dekat pasar. Atau pulang seminggu sekali.”
Liris merasa dadanya sesak.
Ia baru saja menerima undangan pelatihan menulis.
Dan kini, ia mendapat tawaran bekerja di kota yang sama.
Namun, dua kesempatan itu tidak membawa arah yang sama.
Pelatihan menulis menawarkan mimpi.
Pekerjaan di toko menawarkan uang.
Pelatihan menulis hanya berlangsung lima hari.
Pekerjaan di toko bisa membantu keluarganya lebih lama.
Liris menatap surat undangan di tangannya.
Kertas itu terasa ringan.
Tetapi keputusan yang dibawanya terasa sangat berat.
Sore hari, Liris pergi ke rumah Bu Laras.
Ia membawa surat undangan itu di dalam tas. Langkahnya pelan. Jalan menuju rumah guru tersebut masih berlumpur di beberapa bagian, tetapi Liris hampir tidak memperhatikannya.
Bu Laras sedang menyusun buku-buku yang berhasil diselamatkan dari Gerobak Buku Langit Biru.
Beberapa buku dijemur di atas tikar.
“Masuklah, Liris,” kata Bu Laras. “Kau sudah membaca suratnya?”
Liris mengangguk.
“Sudah, Bu.”
“Bagaimana? Kau senang?”
Liris duduk di kursi kayu dekat teras.
“Aku senang. Tapi aku juga bingung.”
Bu Laras memperhatikan wajahnya.
“Ada masalah?”
Liris menyerahkan surat itu.
“Pelatihannya tidak dipungut biaya, Bu. Tapi aku harus menanggung ongkos, makan, dan tempat tinggal. Ayah bilang keadaan rumah sedang sulit.”
Bu Laras membaca surat itu kembali.
“Memang tidak mudah.”
“Ayah juga mendapat kabar ada pekerjaan di toko sembako di kota kabupaten. Kalau aku bekerja, aku bisa membantu keluarga.”
“Dan kalau kau ikut pelatihan?”
“Aku tidak tahu. Mungkin aku hanya pulang membawa pengalaman. Mungkin tidak ada yang berubah.”
Bu Laras meletakkan surat itu di meja.
“Liris, setiap pilihan memang membawa risiko.”
Liris menunduk.
“Aku takut dianggap egois kalau memilih menulis.”
“Menulis bukan egois.”
“Tapi kalau rumah sedang kekurangan beras, apakah aku masih pantas memikirkan puisi?”
Bu Laras tidak segera menjawab.
Ia memandang buku-buku yang sedang dijemur.
“Kau tahu kenapa Gerobak Buku Langit Biru dulu dibuat?”
“Karena kami ingin anak-anak desa suka membaca.”
“Bukan hanya itu. Kalian membuatnya karena kalian percaya anak-anak desa berhak memiliki harapan. Berhak melihat dunia yang lebih luas.”
Liris diam.
“Menulis adalah bagian dari harapanmu,” lanjut Bu Laras. “Tetapi membantu keluarga juga bagian dari tanggung jawabmu. Yang perlu kau cari bukan sekadar pilihan mana yang paling mudah. Kau perlu mencari jalan agar keduanya tidak saling mematikan.”
“Memangnya ada jalan seperti itu?”
“Ada kalanya jalan belum terlihat. Tapi itu tidak berarti jalan itu tidak ada.”
Liris memandangi surat undangan itu.
Kata-kata Bu Laras tidak langsung menyelesaikan masalahnya.
Namun, kata-kata itu membuatnya tidak ingin menyerah begitu saja.
Malamnya, Liris membuka buku catatan hijau.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar dari kebun. Lampu minyak kecil menyala di sudut meja karena listrik kembali padam setelah hujan beberapa hari sebelumnya.
Ia menulis tanpa banyak berpikir.
Ada jalan yang bercabang
di antara rumah yang kekurangan beras
dan langit yang memanggil namaku.
Ia berhenti.
Lalu menulis lagi.
Satu jalan mengajariku bertahan
satu jalan mengajariku bermimpi
dan aku berdiri di antara keduanya
dengan tangan yang belum tahu
mana yang harus dilepas.
Liris membaca puisi itu.
Matanya mulai berkaca-kaca.
Ia tidak ingin meninggalkan keluarga dalam keadaan sulit.
Tetapi ia juga tidak ingin meninggalkan mimpinya hanya karena keadaan sedang gelap.
Di luar, suara ayahnya terdengar sedang berbicara dengan ibunya.
Liris tidak mendengar seluruh percakapan mereka.
Namun, ia menangkap beberapa kata.
“Biaya…”
“Banjir…”
“Sekolah…”
“Kerja…”
Liris menutup buku catatan.
Ia berbaring, tetapi tidak bisa tidur.
Di kepalanya, ia membayangkan toko sembako di kota kabupaten. Rak-rak penuh barang. Buku catatan pesanan. Pelanggan yang datang dan pergi. Hari-hari panjang menjaga toko.
Kemudian ia membayangkan ruang pelatihan menulis. Meja-meja sederhana. Kertas-kertas penuh tulisan. Orang-orang yang berbicara tentang puisi dan cerita. Kesempatan untuk belajar dari dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat buku.
Dua bayangan itu bergantian hadir.
Keduanya sama-sama penting.
Keduanya sama-sama menuntut sesuatu darinya.
Menjelang tengah malam, Liris duduk kembali di depan meja.
Ia mengambil surat undangan pelatihan menulis.
Lalu ia mengambil selembar kertas kosong.
Ia mulai menulis daftar kecil.
Pelatihan Menulis
- Kesempatan belajar.
- Bertemu penulis dan pegiat literasi.
- Membawa pengalaman untuk Desa Wanasari.
- Tidak ada kepastian uang untuk keluarga.
Bekerja di Toko
- Membantu kebutuhan rumah.
- Mendapat penghasilan.
- Tinggal atau sering pergi ke kota.
- Waktu menulis mungkin semakin sedikit.
Liris memandangi daftar itu cukup lama.
Tidak ada jawaban yang terasa mudah.
Namun, satu hal mulai ia pahami.
Ia tidak boleh memilih hanya karena takut.
Ia tidak boleh menyerah hanya karena keadaan sedang sulit.
Ia harus berbicara lagi kepada ayahnya.
Bukan untuk melawan.
Bukan untuk memaksa.
Tetapi untuk menjelaskan bahwa menulis bukan sekadar kesenangan yang ingin ia pertahankan.
Menulis adalah bagian dari dirinya.
Menulis adalah cara ia memahami dunia.
Dan mungkin, suatu hari nanti, menulis juga dapat menjadi jalan untuk membantu keluarga serta desanya.
Liris melipat surat undangan itu dengan rapi.
Ia menyimpannya kembali di dalam amplop.
Kemudian ia memeluk buku catatan hijaunya.
Malam itu, Liris belum mengambil keputusan.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat pilihan itu sebagai pertarungan antara mimpi dan keluarga.
Ia mulai percaya bahwa mungkin ada cara untuk tetap mencintai keduanya.
Meski jalan menuju ke sana belum terlihat jelas.
Di luar rumah, angin malam bergerak pelan melewati kebun yang rusak.
Di dalam kamar kecilnya, Liris menutup mata.
Besok, ia akan mencoba mencari jawaban.
Bukan jawaban yang paling mudah.
Melainkan jawaban yang tidak membuatnya kehilangan dirinya sendiri.
BAB 17
MALAM TERAKHIR DI WARUNG MAKAN
Malam di Kota Arunika tidak pernah benar-benar sunyi.
Ketika lampu-lampu rumah mulai padam, jalanan di sekitar pasar justru masih dipenuhi suara kendaraan. Sepeda motor melintas dengan cepat. Pedagang kaki lima membereskan gerobak. Orang-orang pulang dari tempat kerja dengan wajah lelah. Dari kejauhan, suara klakson bersahutan seperti tidak pernah kehabisan tenaga.
Di antara deretan toko yang mulai menutup pintu, Warung Makan Sederhana milik Pak Rahman masih menyala.
Lampu putih di depan warung membuat papan nama yang sudah kusam tampak lebih jelas. Dari dapur, asap tipis keluar bersama aroma nasi goreng, tumisan sayur, dan kuah soto yang masih mengepul.
Rantaka berdiri di dekat tempat cuci piring.
Tangannya bergerak pelan membersihkan piring-piring kotor yang menumpuk. Air sabun mengalir di sela jemarinya. Punggungnya terasa nyeri. Kepalanya berat. Sejak sore, tubuhnya sudah tidak enak.
Namun, ia tetap bekerja.
Ia tidak berani berhenti.
Sejak nilai matematikanya dan fisikanya menurun, bayangan tentang beasiswa yang mungkin dicabut terus mengikuti pikirannya. Ia tahu uang dari warung makan itu tidak besar. Tetapi tanpa uang itu, ia tidak tahu bagaimana harus membeli buku, membayar kebutuhan rumah singgah, dan memenuhi biaya sekolah yang tidak seluruhnya ditanggung beasiswa.
Malam itu, ia datang ke warung setelah pulang sekolah.
Ia tidak sempat tidur.
Ia tidak sempat belajar dengan tenang.
Ia hanya sempat makan sepotong roti yang dibelinya di dekat gerbang sekolah.
Kini, perutnya terasa kosong.
“Rantaka,” panggil Pak Rahman dari arah dapur.
Rantaka menoleh.
“Iya, Pak?”
“Kau sudah makan?”
“Sudah, Pak.”
Jawaban itu keluar terlalu cepat.
Pak Rahman memandangnya beberapa saat.
“Kau yakin?”
Rantaka mengangguk.
“Yakin, Pak.”
Padahal sejak siang, yang masuk ke perutnya hanya roti kecil dan segelas teh hangat.
Pak Rahman tidak langsung membantah. Ia hanya mengambil satu piring nasi, sedikit sayur, dan sepotong tempe goreng. Kemudian ia meletakkannya di meja dekat dapur.
“Makan dulu,” katanya.
“Tidak usah, Pak. Saya masih bisa kerja.”
“Makan dulu.”
Rantaka memandang piring itu.
Ada rasa malu yang muncul dalam dirinya. Ia tidak ingin terlihat seperti anak yang selalu membutuhkan belas kasihan. Ia tidak ingin orang lain tahu bahwa ia bekerja bukan hanya untuk mencari pengalaman, tetapi karena benar-benar membutuhkan uang.
Namun, tubuhnya tidak mampu terus melawan.
Ia duduk perlahan.
Tangannya gemetar saat mengambil sendok.
Pak Rahman kembali ke dapur tanpa banyak bicara.
Rantaka makan pelan-pelan.
Nasi hangat itu seharusnya membuat tubuhnya lebih kuat. Tetapi setelah beberapa suap, kepalanya justru terasa semakin berat. Pandangannya mulai berkunang-kunang.
Ia berhenti makan.
“Kau sakit?” tanya Pak Rahman yang kembali keluar dari dapur.
“Tidak, Pak. Hanya sedikit pusing.”
“Pulanglah kalau begitu.”
Rantaka segera menggeleng.
“Jangan, Pak. Saya masih bisa membantu.”
“Kau sudah beberapa malam terlihat tidak sehat.”
“Saya tidak apa-apa.”
Pak Rahman menghela napas.
“Kerja itu penting. Tapi badanmu juga penting.”
Rantaka menunduk.
Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa ia tidak punya banyak pilihan.
Jika ia tidak bekerja malam itu, mungkin ia kehilangan upah.
Jika ia kehilangan upah, ia harus mengurangi uang makan.
Jika uang makan berkurang, ia akan semakin sulit belajar.
Jika nilainya semakin turun, beasiswanya benar-benar bisa hilang.
Semua ketakutan itu berputar di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti.
“Saya akan selesai sampai warung tutup, Pak,” katanya pelan. “Setelah itu saya pulang.”
Pak Rahman menatapnya cukup lama.
Akhirnya, ia mengangguk kecil.
“Baik. Tapi kalau kau semakin pusing, berhenti. Jangan memaksa.”
Rantaka mengangguk.
Ia kembali berdiri.
Namun, langkahnya sudah tidak lagi sekuat sebelumnya.
Menjelang pukul sepuluh malam, pelanggan mulai berkurang.
Beberapa meja kosong.
Kursi-kursi plastik mulai disusun.
Sisa makanan dimasukkan ke dalam wadah.
Pak Rahman menghitung uang di dekat kasir, sementara seorang pegawai lain menyapu lantai depan warung.
Rantaka membawa ember berisi air kotor ke belakang.
Gang sempit di belakang warung gelap dan lembap. Di sana ada tempat sampah, beberapa kardus bekas, dan keran air yang digunakan untuk mencuci peralatan besar.
Udara malam terasa dingin.
Rantaka meletakkan ember.
Saat ia membungkuk untuk mengambil baskom, kepalanya mendadak berputar.
Dinding di depannya seperti bergerak.
Suara dari dalam warung terdengar semakin jauh.
Ia mencoba memegang tembok.
Namun, tangannya tidak kuat.
“Tidak apa-apa,” bisiknya kepada dirinya sendiri.
Ia menarik napas.
“Sedikit lagi.”
Tetapi tubuhnya tidak mendengarkan.
Pandangan Rantaka semakin gelap.
Kakinya lemas.
Ember di dekatnya jatuh dan menimbulkan suara keras.
Air kotor mengalir di lantai semen.
Rantaka mencoba berdiri kembali.
Namun, sebelum sempat melangkah, tubuhnya roboh di samping tumpukan kardus.
Damar datang ke warung sekitar setengah jam kemudian.
Ia sebenarnya tidak berniat mampir malam itu. Tetapi ketika pulang dari perpustakaan sekolah, ia melewati jalan pasar dan melihat lampu Warung Makan Sederhana masih menyala.
Damar teringat Rantaka.
Beberapa hari terakhir, sahabatnya itu terlihat semakin pendiam. Di kelas, Rantaka sering menguap dan menatap buku dengan mata kosong. Saat jam istirahat, ia jarang makan bersama teman-teman. Begitu bel pulang berbunyi, ia selalu segera pergi tanpa banyak bicara.
Damar pernah bertanya apakah semuanya baik-baik saja.
Rantaka hanya menjawab singkat.
“Aku hanya sedang banyak tugas.”
Namun, Damar tidak sepenuhnya percaya.
Ia masuk ke warung.
Pak Rahman sedang menutup kasir.
“Permisi, Pak,” kata Damar. “Apa Rantaka masih di sini?”
Pak Rahman menoleh.
“Tadi ada. Dia ke belakang membawa ember.”
Damar melihat ke arah dapur.
“Sudah lama, Pak?”
Pak Rahman tampak berpikir.
“Mungkin dua puluh menit. Kenapa?”
Damar merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia berjalan cepat menuju belakang warung.
Begitu melewati pintu dapur, ia melihat ember terjatuh di lantai. Air mengalir di dekat keran. Di samping tumpukan kardus, Rantaka terbaring diam.
“Rantaka!” seru Damar.
Ia berlari mendekat.
Wajah Rantaka pucat. Bibirnya kering. Napasnya pelan, tetapi masih teratur.
“Pak Rahman!” teriak Damar. “Tolong!”
Pak Rahman dan pegawai lain segera berlari keluar.
Mereka mengangkat Rantaka ke dalam warung. Pak Rahman mengambil minyak angin dan air hangat. Setelah beberapa menit, Rantaka mulai membuka mata.
“Rantaka,” kata Damar. “Kau dengar aku?”
Rantaka mengangguk lemah.
“Kau pingsan.”
“Aku… hanya pusing.”
“Pusing sampai jatuh di belakang warung?”
Rantaka memejamkan mata.
Pak Rahman berdiri di dekatnya.
“Kau harus pulang dan istirahat,” katanya tegas. “Malam ini cukup.”
“Maaf, Pak,” kata Rantaka.
“Tidak usah minta maaf. Tapi kau tidak boleh bekerja malam ini lagi.”
Rantaka membuka mata.
“Apa?”
“Kau butuh istirahat. Kalau kau terus begini, kau bisa sakit lebih parah.”
“Tapi, Pak, saya—”
Pak Rahman mengangkat tangan.
“Besok jangan datang dulu. Istirahat beberapa hari.”
Wajah Rantaka berubah.
Ia langsung duduk, meskipun tubuhnya masih lemah.
“Jangan, Pak. Saya masih bisa kerja.”
“Kau baru saja pingsan.”
“Saya butuh pekerjaan ini.”
Pak Rahman menatapnya dengan serius.
“Pekerjaan ini tidak akan lari. Tapi kalau kau terus memaksa diri, badanmu yang bisa habis.”
Rantaka menunduk.
Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak bisa berhenti.
Ia ingin menjelaskan bahwa ia membutuhkan upah.
Namun, kata-kata itu tidak keluar.
Damar memegang bahunya.
“Aku akan antar kau pulang,” katanya.
Rantaka menggeleng pelan.
“Aku bisa pulang sendiri.”
“Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar.”
“Aku tidak mau merepotkanmu.”
“Sudah,” kata Damar. “Jangan keras kepala.”
Pak Rahman memberikan uang upah Rantaka untuk malam itu.
“Ini untuk kerja yang sudah kau lakukan,” katanya. “Dan ambil makanan ini.”
Ia menyerahkan sebungkus nasi dan lauk.
Rantaka menerima bungkusan itu dengan tangan gemetar.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Rahman mengangguk.
“Besok kau tidak perlu datang. Kalau sudah sehat, baru bicara lagi.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia hanya menunduk.
Dalam hatinya, ketakutan baru tumbuh.
Bagaimana jika Pak Rahman benar-benar tidak mempekerjakannya lagi?
Bagaimana jika ia kehilangan satu-satunya pekerjaan yang bisa membantunya bertahan di kota?
Damar membawa Rantaka pulang ke rumah singgah dengan berjalan pelan.
Jalanan Kota Arunika masih ramai, tetapi bagi Rantaka, semua suara terdengar seperti datang dari tempat yang jauh.
Lampu-lampu toko memantul di genangan air di pinggir jalan.
Damar berjalan di sampingnya sambil memegang lengan Rantaka agar tidak jatuh.
“Kau sejak kapan bekerja di warung itu?” tanya Damar.
Rantaka tidak menjawab.
“Sejak kapan?” ulang Damar.
“Beberapa minggu.”
“Kenapa kau tidak bilang?”
Rantaka menatap jalan.
“Aku tidak ingin semua orang tahu.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau dianggap lemah.”
Damar berhenti berjalan.
Rantaka ikut berhenti.
“Lemah?” kata Damar. “Kau bekerja malam setelah sekolah, lalu tetap mencoba belajar. Itu bukan lemah. Tapi menyimpan semuanya sendirian sampai kau pingsan, itu bukan kuat juga.”
Rantaka menunduk.
Damar melanjutkan dengan suara lebih pelan.
“Ada masalah apa sebenarnya?”
Rantaka diam cukup lama.
Mereka berdiri di bawah lampu jalan yang cahayanya redup.
Di kejauhan, suara kendaraan terus bergerak.
Akhirnya, Rantaka berkata, “Nilai matematikaku dan fisikaku turun.”
Damar tidak menyela.
“Bu Mira memanggilku. Katanya beasiswaku bisa dievaluasi kalau nilainya tidak membaik.”
Wajah Damar berubah.
“Kenapa kau tidak cerita?”
“Aku malu.”
“Malu kepada siapa?”
“Kepada semua orang.”
Rantaka menarik napas panjang.
“Aku datang ke kota dengan beasiswa. Orang-orang di desa berharap aku berhasil. Ibuku menjual perhiasan peninggalan nenek untuk membantu biaya awal. Bu Laras percaya kepadaku. Liris, Banyu, Jagra… mereka semua mengira aku sedang mengejar mimpi.”
“Kau memang sedang mengejar mimpi.”
“Tapi aku merasa malah semakin jauh.”
Damar menatap sahabatnya.
“Bekerja malam membuatmu tidak bisa belajar. Tidak belajar membuat nilaimu turun. Nilaimu turun membuat kau semakin takut. Lalu kau bekerja lebih keras. Itu lingkaran yang tidak akan selesai kalau kau terus diam.”
Rantaka menutup mata sebentar.
Ia tahu Damar benar.
Namun, mengetahui sesuatu tidak selalu membuatnya mudah dilakukan.
“Aku tidak tahu harus bagaimana,” katanya.
Damar menepuk bahunya.
“Besok kita cari cara.”
“Cara apa?”
“Kita bicara dengan Bu Mira. Kita cari tahu apakah ada bantuan lain, atau jadwal belajar tambahan. Aku bisa bantu kau belajar matematika dan fisika.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau membantu?”
“Tentu.”
“Tapi aku tidak ingin merepotkanmu.”
Damar tersenyum kecil.
“Kau sahabatku. Kalau sahabat sedang jatuh, ya dibantu berdiri.”
Kalimat itu sederhana.
Namun, bagi Rantaka, kalimat itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama tidak ia dengar.
Ia teringat Liris.
Ia teringat surat-surat yang belum dibalas.
Ia teringat Banyu dan Jagra.
Ia teringat Desa Wanasari.
Untuk sesaat, rasa rindu dan rasa bersalah datang bersamaan.
Sesampainya di rumah singgah, Damar membantu Rantaka masuk ke kamar.
Ia menyuruh Rantaka berbaring.
“Kau makan dulu,” katanya sambil membuka bungkus nasi dari Pak Rahman.
“Aku tidak lapar.”
“Kau harus makan sedikit.”
Rantaka menurut.
Ia makan beberapa suap, lalu minum air hangat.
Setelah itu, tubuhnya terasa semakin lelah.
Damar duduk di kursi dekat ranjang.
“Kau punya obat?”
“Ada di tas.”
Damar mengambil obat penurun panas dan menyuruhnya minum.
Sebelum tidur, Rantaka membuka tasnya.
Ia mencari buku matematika.
Damar memperhatikannya.
“Kau mau belajar sekarang?”
Rantaka menggeleng.
Ia membuka buku itu pada halaman tengah.
Di antara halaman rumus dan catatan pelajaran, terselip surat yang ia tulis untuk Liris.
Damar melihat kertas itu.
“Surat untuk siapa?”
“Untuk Liris.”
“Sudah kau kirim?”
Rantaka menggeleng.
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus berkata apa.”
Damar memandangnya.
“Katakan yang sebenarnya.”
“Aku takut dia kecewa.”
“Kalau kau terus diam, mungkin dia justru lebih kecewa.”
Rantaka menatap surat itu.
Kata-kata Damar terasa seperti membuka sesuatu yang selama ini ia tutup rapat.
Ia membayangkan Liris menunggu surat di Desa Wanasari.
Ia membayangkan Liris mengira dirinya berubah.
Ia membayangkan sahabat-sahabatnya yang mungkin tidak tahu bahwa ia sedang berjuang sendirian.
Rantaka melipat surat itu kembali.
Namun, kali ini ia tidak memasukkannya ke dalam buku matematika.
Ia meletakkannya di atas meja kecil, di samping amplop kosong.
Damar melihat tindakan itu, lalu tersenyum tipis.
“Besok pagi,” katanya, “kalau kau sudah sedikit lebih baik, kita kirim.”
Rantaka tidak menjawab.
Tetapi untuk pertama kalinya setelah beberapa minggu, ia tidak menolak gagasan itu.
Malam semakin larut.
Damar mematikan lampu utama dan menyisakan lampu kecil di dekat meja.
Rantaka berbaring dengan tubuh masih lemah.
Di luar, Kota Arunika tetap ramai.
Namun, di dalam kamar rumah singgah yang sempit itu, ia mulai memahami satu hal.
Ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.
Ia masih takut kehilangan pekerjaan.
Ia masih takut beasiswanya dicabut.
Ia masih takut mengecewakan orang-orang yang percaya kepadanya.
Tetapi malam ketika tubuhnya jatuh di belakang warung makan itu telah membuatnya melihat batas yang selama ini ia abaikan.
Ia tidak bisa terus memaksa diri sampai hancur.
Ia tidak bisa terus menyimpan semua luka di dalam diam.
Di atas meja, surat untuk Liris menunggu.
Seperti sebuah jalan kecil yang belum ia tempuh.
Seperti keberanian yang belum sepenuhnya ia miliki.
Dan malam itu, sebelum tertidur, Rantaka berjanji dalam hati bahwa ia akan mencoba membuka jalan itu.
Bukan karena semua masalahnya telah selesai.
Melainkan karena ia mulai mengerti bahwa mimpi tidak akan bertahan jika ia terus berjalan sendirian.
BAB 18
JAGRA MENUTUP GEROBAK BUKU
Pagi di Desa Wanasari datang dengan langit yang pucat.
Matahari memang sudah muncul dari balik pepohonan di ujung kampung, tetapi sinarnya belum cukup kuat untuk mengeringkan tanah yang masih basah oleh hujan beberapa hari terakhir. Di beberapa bagian jalan, lumpur menempel pada sandal warga. Bekas banjir masih terlihat di dinding rumah-rumah yang berada dekat sungai.
Di halaman rumah Jagra, beberapa jaring ikan dijemur di atas bambu.
Jaring-jaring itu robek di banyak bagian.
Ada yang kusut oleh ranting, ada yang putus karena terbawa arus, dan ada pula yang masih berbau lumpur sungai. Di dekatnya, ayah Jagra sedang memperbaiki papan pembatas kolam yang rusak.
Tangan ayahnya bergerak perlahan.
Sesekali ia berhenti untuk mengusap keringat.
Jagra berdiri di pinggir kolam dengan celana yang sudah terkena lumpur sampai lutut. Ia membawa ember kecil berisi pakan ikan, tetapi jumlah ikan di kolam itu kini jauh lebih sedikit dari sebelumnya.
Banjir telah membawa banyak hal pergi.
Sebagian ikan hanyut.
Beberapa alat kerja rusak.
Papan pembatas kolam roboh.
Dan yang paling membuat Jagra sulit bernapas adalah wajah ayahnya yang semakin hari semakin muram.
“Jagra,” panggil ayahnya.
“Iya, Yah.”
“Setelah ini, kau ikut ke sungai.”
“Ada apa?”
“Kita cari bambu untuk memperbaiki bagian belakang kolam. Kalau tidak segera diperbaiki, air dari parit bisa masuk lagi kalau hujan turun.”
Jagra mengangguk.
Hari-harinya kini hampir selalu seperti itu.
Pagi membantu kolam.
Siang mengangkat kayu.
Sore memperbaiki jaring.
Malam menghitung ikan yang tersisa dan memikirkan bagaimana keluarga mereka bisa bertahan sampai musim berikutnya.
Sekolah masih ia datangi, tetapi pikirannya tidak pernah benar-benar berada di dalam kelas.
Saat guru menjelaskan pelajaran, Jagra sering membayangkan kolam di rumah.
Saat teman-temannya membicarakan tugas, ia memikirkan harga pakan ikan.
Saat bel pulang berbunyi, ia langsung berlari pulang karena ayahnya pasti sudah menunggu bantuan.
Di tengah semua itu, Gerobak Buku Langit Biru menjadi sesuatu yang semakin sulit ia jalankan.
Dulu, setiap sore tertentu, Jagra akan membantu mendorong gerobak tua itu bersama Liris dan Banyu. Mereka membawa buku-buku ke bawah pohon beringin, ke teras balai desa, atau ke halaman rumah warga yang cukup luas.
Anak-anak kecil akan datang berlarian.
Ada yang membawa tikar.
Ada yang membawa pensil pendek.
Ada yang hanya datang untuk mendengar cerita.
Namun, sejak banjir datang, gerobak itu lebih sering diam di gudang kecil belakang balai desa.
Roda kirinya mulai berkarat.
Kain penutupnya masih menyimpan bau lembap.
Beberapa buku belum sempat dijemur kembali.
Dan anak-anak yang dulu selalu menunggu, mulai bertanya-tanya mengapa kakak-kakak Langit Biru tidak datang lagi.
Menjelang siang, ketika Jagra baru selesai membantu ayahnya memperbaiki papan kolam, Liris datang ke rumahnya.
Ia membawa tas kain berisi beberapa buku yang sudah dikeringkan.
Bajunya sederhana. Sandalnya masih terkena lumpur. Wajahnya tampak lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
“Jagra,” panggilnya dari dekat pagar bambu.
Jagra menoleh.
“Kau dari mana?”
“Dari balai desa. Aku mengecek buku-buku Gerobak Buku.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Liris melangkah mendekat.
“Besok sore anak-anak sudah bertanya lagi. Mereka ingin kegiatan membaca dimulai.”
Jagra mengambil kain lap dan membersihkan tangannya.
“Mulai saja kalau kau mau.”
Liris terdiam.
“Maksudmu?”
“Aku tidak bisa ikut.”
“Kenapa?”
Jagra memandang kolam yang rusak.
“Kau lihat sendiri.”
“Aku tahu keadaanmu sedang sulit.”
“Kalau tahu, jangan tanya lagi.”
Nada suara Jagra membuat Liris tersentak.
Ia menarik napas pelan.
“Aku tidak bermaksud menambah bebanmu.”
“Gerobak Buku itu butuh waktu. Butuh tenaga. Aku tidak punya keduanya sekarang.”
“Kita bisa membagi tugas.”
“Dengan siapa?” Jagra menatap Liris. “Rantaka di kota. Banyu bekerja di bengkel. Kau juga harus membantu keluargamu. Yang tinggal di sini hanya kita, tetapi semua orang punya masalah sendiri.”
Liris memegang tas kainnya lebih erat.
“Anak-anak masih menunggu, Jag.”
Jagra tertawa kecil, tetapi tidak ada kegembiraan dalam suaranya.
“Anak-anak menunggu buku. Di rumahku, ayah menunggu kolam ini selesai. Kalau aku memilih pergi mendorong gerobak buku, siapa yang membantu keluarga?”
Liris tidak bisa segera menjawab.
Jagra melanjutkan.
“Aku bukan tidak peduli pada Gerobak Buku. Aku juga tidak lupa kenapa kita membuatnya. Tapi sekarang aku harus memilih apa yang paling dekat dengan rumahku.”
“Jadi, kau mau menghentikannya?”
Jagra menunduk.
Ia melihat lumpur yang menempel di telapak tangannya.
“Aku mau menutupnya sementara.”
Kata-kata itu terdengar pelan.
Namun, bagi Liris, kata-kata itu seperti sesuatu yang jatuh keras di antara mereka.
“Menutup?” ulangnya.
“Untuk sementara.”
“Berapa lama?”
“Aku tidak tahu.”
Liris memandang Jagra.
“Kalau kita berhenti sekarang, anak-anak bisa tidak kembali lagi.”
“Kalau aku tidak membantu ayah sekarang, kami bisa kehilangan kolam ini sepenuhnya.”
Suara Jagra meninggi.
Ayahnya yang sedang bekerja di dekat kolam menoleh sebentar, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.
Liris menunduk.
Ia tahu Jagra benar.
Tetapi ia juga tahu Gerobak Buku bukan sekadar kegiatan sore.
Gerobak itu adalah satu-satunya tempat bagi beberapa anak desa untuk membaca buku cerita, mengerjakan tugas, atau sekadar duduk bersama tanpa merasa tertinggal.
“Baik,” kata Liris akhirnya. “Aku akan bicara dengan Banyu.”
Jagra mengangguk tanpa menatapnya.
Liris berjalan pergi.
Di sepanjang jalan, ia merasa langkahnya lebih berat daripada ketika datang.
Sore itu, Banyu datang ke balai desa dengan membawa tas kecil dari bengkel.
Tangannya masih dibalut kain tipis karena luka yang belum sepenuhnya sembuh. Ia tampak lebih kurus dari biasanya. Wajahnya penuh bekas minyak dan debu, seolah ia langsung datang setelah bekerja.
Liris sudah menunggu di dekat gudang tempat Gerobak Buku Langit Biru disimpan.
Gerobak itu berdiri diam.
Cat birunya mulai pudar.
Tulisan LANGIT BIRU di bagian samping hampir tertutup lumpur yang mengering.
“Kenapa kau menyuruhku datang?” tanya Banyu.
Liris memandang gerobak itu.
“Jagra ingin menghentikan sementara kegiatan ini.”
Banyu mengerutkan dahi.
“Menghentikan?”
“Dia bilang harus membantu keluarganya. Kolam ikan mereka rusak. Ayahnya juga sedang kesulitan.”
Banyu mendekat ke gerobak.
Ia menyentuh roda yang berkarat.
“Lalu kita bagaimana?”
“Aku tidak tahu.”
Banyu menatap Liris.
“Kalau Jagra tidak bisa, kita tetap jalan.”
“Dengan siapa?”
“Dengan kita.”
“Rantaka di kota.”
“Aku masih ada.”
“Kau juga bekerja di bengkel. Tanganmu masih terluka.”
Banyu menghela napas.
“Bukan berarti kita harus menyerah.”
Liris tidak menjawab.
Banyu membuka pintu kecil gerobak. Beberapa buku tampak tersusun tidak rapi. Ada buku yang sampulnya mengelupas karena terkena air. Ada buku cerita yang halamannya mengerut.
“Lihat ini,” katanya. “Kita dulu mengumpulkan buku-buku ini satu per satu. Ada yang dari Bu Laras, ada yang dari sekolah, ada yang dari warga. Kita pernah janji tidak akan membiarkannya berhenti hanya karena keadaan sulit.”
“Jagra tidak bilang ingin berhenti selamanya.”
“Tapi kalau dibiarkan, sementara bisa berubah menjadi selamanya.”
Liris menunduk.
Ia teringat surat dari komunitas literasi di kota kabupaten. Ia teringat tawaran bekerja di toko. Ia teringat ayahnya yang mengatakan bahwa puisi tidak bisa membeli beras.
Setiap orang sedang berhadapan dengan masalahnya sendiri.
Rantaka di kota sedang berjuang dengan sekolah dan pekerjaan.
Jagra menghadapi kolam ikan yang rusak.
Banyu bekerja di bengkel sambil menahan luka.
Dan dirinya sendiri sedang berdiri di antara mimpi menulis dan kebutuhan keluarga.
Namun, justru karena semua orang sedang kesulitan, Gerobak Buku terasa semakin penting.
“Besok aku akan bicara lagi dengan Jagra,” kata Banyu.
“Jangan marah,” kata Liris cepat. “Dia sedang tertekan.”
“Aku tidak akan marah.”
Tetapi dari cara Banyu mengucapkannya, Liris tahu bahwa ia sedang marah.
Keesokan harinya, Banyu mendatangi rumah Jagra.
Matahari baru naik ketika ia tiba di halaman rumah itu. Jagra sedang mengangkat papan kayu bersama ayahnya.
“Jag!” panggil Banyu.
Jagra menoleh.
“Kau datang pagi-pagi?”
“Aku mau bicara.”
“Kalau soal Gerobak Buku, aku sudah bicara dengan Liris.”
“Aku tahu.”
Jagra menurunkan papan kayu.
“Aku tidak bisa ikut.”
“Kau tidak harus ikut setiap hari.”
“Aku juga tidak bisa janji kapan bisa ikut lagi.”
Banyu menatapnya.
“Kau mau membiarkan semuanya berhenti begitu saja?”
Jagra mengeraskan rahangnya.
“Tidak ada yang berhenti begitu saja.”
“Gerobak itu sudah berhari-hari tidak jalan.”
“Karena banjir, Banyu!”
“Bukan hanya karena banjir. Karena kau memilih menutupnya.”
Jagra melangkah mendekat.
“Dan kau pikir aku senang mengambil keputusan itu?”
“Aku pikir kau terlalu cepat menyerah.”
Kalimat itu membuat wajah Jagra berubah.
“Apa?”
“Kita semua punya masalah. Aku juga bekerja di bengkel. Tanganku terluka. Liris juga sedang punya masalah di rumah. Rantaka di kota bahkan harus bekerja malam. Tapi kita tidak langsung menutup Langit Biru.”
Jagra menatap Banyu dengan mata yang mulai memerah.
“Kau tidak tahu apa yang terjadi di rumahku.”
“Aku tahu kolammu rusak.”
“Kau tahu dari cerita. Aku hidup di dalamnya.”
Banyu terdiam.
Jagra melanjutkan dengan suara bergetar.
“Kau datang ke sini lalu bicara tentang janji, tentang anak-anak, tentang Gerobak Buku. Kau pikir aku tidak memikirkan mereka? Kau pikir aku tidak rindu melihat mereka duduk di bawah pohon beringin?”
Banyu menunduk sedikit, tetapi tidak mundur.
“Kalau begitu, jangan tutup.”
“Lalu siapa yang memperbaiki kolam? Siapa yang ikut ayah ke sungai? Siapa yang mencari bambu? Siapa yang membantu memperbaiki jaring? Kau?”
Banyu tidak menjawab.
Jagra menunjuk kolam di belakang rumah.
“Kalau kolam itu tidak diperbaiki, kami tidak punya penghasilan. Kalau tidak ada penghasilan, kami makan apa? Buku?”
Kata terakhir itu terdengar tajam.
Banyu menarik napas.
“Aku tidak bermaksud begitu.”
“Tapi itu yang kau katakan.”
“Aku hanya tidak mau Langit Biru mati.”
Jagra memandangnya cukup lama.
“Langit Biru tidak mati hanya karena aku tidak bisa mendorong gerobak selama beberapa waktu.”
“Kalau semua orang berpikir begitu, ya mati.”
Jagra mengalihkan wajah.
“Kalau kau mau menjalankannya, jalankan sendiri.”
Banyu terdiam.
Jagra kembali mengangkat papan kayu.
Percakapan itu berakhir tanpa kata damai.
Banyu berdiri beberapa saat di halaman rumah Jagra. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak tahu kata apa yang tidak akan terdengar seperti tuduhan.
Akhirnya, ia berbalik dan pergi.
Sore harinya, beberapa anak kecil datang ke bawah pohon beringin.
Mereka datang membawa buku tulis dan pensil.
Ada Nisa yang duduk sambil memeluk buku cerita lusuh.
Ada Rendi yang membawa dua pensil pendek.
Ada pula Sari, anak kelas dua SD, yang bertanya kepada Liris ketika melihatnya lewat.
“Kak Liris, Gerobak Buku jadi datang, kan?”
Liris berhenti.
Anak-anak itu memandangnya dengan harapan sederhana.
Harapan yang justru membuat jawabannya terasa sangat sulit.
“Belum hari ini,” kata Liris pelan.
“Besok?”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kenapa, Kak?”
“Gerobaknya sedang diperbaiki.”
Itu bukan sepenuhnya bohong.
Namun, Liris tahu yang rusak bukan hanya roda gerobak.
Ada sesuatu yang mulai retak di antara mereka.
Anak-anak itu saling memandang.
Nisa membuka buku cerita yang dibawanya sendiri.
“Tapi aku sudah mau dengar cerita,” katanya.
Liris duduk di bawah pohon beringin.
Ia mengambil buku dari tangan Nisa.
“Baik,” katanya. “Hari ini kita membaca satu cerita saja.”
Anak-anak kecil itu segera duduk mengelilinginya.
Liris mulai membaca.
Suaranya pelan pada awalnya.
Namun, ketika melihat mata anak-anak yang mendengarkan dengan sungguh-sungguh, ia mulai membaca lebih jelas.
Cerita itu tentang seekor burung kecil yang kehilangan sarangnya setelah hujan besar. Burung itu terbang dari satu pohon ke pohon lain, mencari tempat berteduh. Banyak pohon yang patah. Banyak ranting yang hanyut. Tetapi akhirnya, burung itu menemukan dahan baru dan mulai menyusun sarangnya kembali.
Saat cerita selesai, Rendi mengangkat tangan.
“Burungnya tidak takut?”
“Takut,” jawab Liris.
“Terus kenapa dia tetap membuat sarang?”
Liris memandang langit sore.
“Karena ia tahu, kalau tidak mulai lagi, ia tidak akan punya tempat untuk pulang.”
Anak-anak itu terdiam.
Liris menutup buku.
Di dalam hatinya, ia berharap Jagra mendengar jawaban itu.
Namun, ia juga tahu bahwa setiap orang punya waktu sendiri untuk memahami luka dan tanggung jawabnya.
Malam hari, Jagra duduk di depan rumahnya.
Ayahnya sudah tidur lebih awal karena lelah bekerja seharian. Ibunya sedang menyiapkan makan untuk esok pagi.
Di halaman, suara katak terdengar dari arah parit.
Jagra memandang ke arah jalan desa.
Ia teringat Banyu yang datang pagi tadi.
Ia teringat wajah Liris ketika mendengar keputusan tentang Gerobak Buku.
Ia teringat anak-anak kecil yang selalu berebut memilih buku cerita.
Dulu, ia mengira Gerobak Buku hanya sebuah kegiatan tambahan.
Tetapi setelah semua berhenti, ia mulai menyadari bahwa gerobak itu juga menjadi tempat mereka merasa berguna.
Tempat mereka merasa tidak hanya menjadi anak desa yang menunggu keadaan berubah.
Mereka pernah mendorong gerobak itu dengan tangan sendiri.
Mereka pernah membawa buku ke anak-anak yang tidak punya banyak pilihan.
Mereka pernah percaya bahwa sesuatu yang kecil bisa memberi cahaya.
Jagra mengusap wajahnya.
Ia tidak ingin menghentikan Gerobak Buku.
Ia hanya merasa tidak sanggup menjalankannya sekarang.
Namun, tidak ada seorang pun yang benar-benar memahami bagaimana rasanya melihat ayah sendiri bekerja sampai punggungnya membungkuk, sementara rumah kehilangan sumber penghasilan.
Tidak ada seorang pun yang tahu bagaimana rasanya harus memilih antara membantu keluarga atau menjaga janji kepada anak-anak desa.
Ia ingin marah kepada Banyu.
Ia ingin berkata bahwa sahabatnya itu terlalu mudah menilai.
Tetapi jauh di dalam hati, ia juga tahu Banyu tidak sepenuhnya salah.
Gerobak Buku memang tidak boleh mati.
Hanya saja, Jagra belum tahu bagaimana menjaganya tetap hidup ketika hidupnya sendiri sedang terasa runtuh.
Dari kejauhan, angin membawa suara anak-anak yang masih bermain di dekat pohon beringin.
Jagra memejamkan mata.
Di dalam bayangannya, ia melihat gerobak biru itu kembali bergerak di jalan desa.
Rantaka mendorong dari depan.
Banyu memperbaiki roda.
Liris membawa buku-buku.
Dan dirinya berjalan di samping mereka.
Namun, bayangan itu perlahan memudar.
Karena saat ini, mereka tidak lagi berjalan bersama.
Rantaka berada jauh di kota.
Liris menyimpan kesedihannya sendiri.
Banyu pergi dengan kemarahan yang belum reda.
Dan Jagra duduk sendirian di depan rumah, di antara kolam yang rusak dan janji yang terasa semakin berat.
Malam itu, Gerobak Buku Langit Biru benar-benar ditutup sementara.
Pintu gudangnya dikunci.
Roda tuanya berhenti bergerak.
Tetapi di bawah langit Desa Wanasari yang gelap, harapan itu belum sepenuhnya padam.
Ia hanya sedang menunggu seseorang untuk kembali menyalakan cahaya.
BAB 19
SURAT DARI BU LARAS
Pagi itu, langit Desa Wanasari masih diselimuti awan tipis.
Hujan tidak turun sejak malam sebelumnya, tetapi tanah di halaman rumah-rumah warga masih basah. Daun-daun pisang menunduk karena menyimpan air. Dari arah sungai, angin membawa bau lumpur yang belum sepenuhnya hilang sejak banjir datang.
Liris sedang membantu ibunya menjemur pakaian ketika suara sepeda berhenti di depan rumah.
“Surat!” terdengar suara Pak Darto, petugas pengantar surat dari kantor desa.
Liris menoleh.
Pak Darto berdiri di dekat pagar bambu sambil membawa beberapa amplop.
“Ada surat untukmu, Ris,” katanya.
“Untuk saya?”
Pak Darto mengangguk.
“Dari kecamatan.”
Liris segera menghampiri.
Amplop itu berwarna putih gading. Di bagian depan tertulis namanya dengan tulisan tangan yang rapi.
Untuk Liris, Desa Wanasari.
Di sudut kiri atas amplop, tertulis nama pengirim.
Bu Laras.
Liris terdiam beberapa saat.
Sudah cukup lama ia tidak menerima surat dari Bu Laras. Guru yang dulu membantu mereka membangun Gerobak Buku Langit Biru itu kini lebih sering berada di kecamatan untuk mengikuti pelatihan pendidikan dan kegiatan pendampingan sekolah.
Namun, meskipun jarang datang, Bu Laras selalu mengetahui kabar tentang Desa Wanasari.
Entah dari guru-guru SD, dari warga, atau dari anak-anak yang masih sering menyebut nama Gerobak Buku Langit Biru.
Liris membawa surat itu ke dalam rumah.
Ia duduk di dekat jendela.
Tangannya perlahan membuka lipatan amplop.
Kertas surat di dalamnya bersih dan berbau samar seperti buku baru.
Tulisan Bu Laras memenuhi dua halaman.
Liris yang Ibu banggakan,
Ibu mendengar bahwa Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti berjalan. Ibu juga mendengar bahwa keadaan di Desa Wanasari tidak mudah setelah banjir. Kolam ikan rusak, kebun warga gagal panen, dan banyak keluarga sedang berusaha bertahan.
Ibu tidak menulis surat ini untuk menyalahkan siapa pun. Ibu tahu kalian semua sedang menghadapi beban masing-masing. Rantaka berjuang di kota. Jagra membantu keluarganya. Banyu bekerja sambil mengejar mimpinya. Dan kamu sendiri sedang berusaha menjaga cita-citamu di tengah kebutuhan rumah.
Tetapi pagi tadi, seorang anak dari Wanasari bertanya kepada Ibu, “Kapan Kak Liris dan teman-temannya membawa buku lagi?”
Pertanyaan itu membuat Ibu teringat pada hari pertama kalian mendorong gerobak biru itu melewati jalan tanah. Kalian tidak membawa banyak buku. Kalian tidak punya uang banyak. Kalian juga belum tahu apakah anak-anak akan datang. Tetapi kalian tetap berjalan karena percaya bahwa satu buku bisa membuka satu jendela kecil bagi masa depan.
Jangan biarkan jarak, kesalahpahaman, dan kesulitan membuat kalian lupa alasan awal kalian membangun Langit Biru. Persahabatan bukan berarti selalu kuat setiap hari. Persahabatan adalah keberanian untuk kembali saling mencari ketika jalan hidup membuat kalian berjauhan.
Jika gerobak itu belum bisa berjalan seperti dulu, mulailah dari hal kecil. Satu buku. Satu anak. Satu sore. Satu percakapan yang jujur.
Ibu percaya Langit Biru belum padam. Ia hanya tertutup awan.
Salam hangat,
Bu Laras
Liris membaca surat itu dua kali.
Setelah selesai, ia tidak langsung bergerak.
Kata-kata Bu Laras terasa seperti mengetuk sesuatu yang selama ini ia simpan rapat di dalam hati.
Ia teringat anak-anak kecil di bawah pohon beringin.
Ia teringat Nisa yang membawa buku cerita lusuh.
Ia teringat Rendi yang bertanya apakah burung kecil dalam cerita itu takut kehilangan sarang.
Ia juga teringat Jagra yang berdiri di depan kolam rusak dengan wajah penuh lelah.
Dan Banyu yang marah karena merasa Gerobak Buku tidak boleh berhenti.
Semua orang benar dengan luka masing-masing.
Namun, mungkin mereka juga sama-sama salah karena terlalu sibuk menjaga luka itu sendirian.
Liris melipat surat tersebut.
Kemudian ia mengambil buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis beberapa kalimat.
Langit tidak selalu biru.
Kadang ia tertutup awan.
Tetapi awan tidak pernah benar-benar memiliki langit.
Ia berhenti menulis.
Matanya kembali jatuh pada surat Bu Laras.
Di dalam hati, ia membuat keputusan.
Ia harus menemui Banyu dan Jagra.
Bukan untuk memaksa mereka.
Bukan untuk mengatakan siapa yang benar.
Tetapi untuk mengingatkan bahwa mereka pernah berjalan bersama.
Di Kota Arunika, surat lain tiba di rumah singgah tempat Rantaka tinggal.
Surat itu datang melalui Pak Wardi, penjaga rumah singgah yang biasa menerima kiriman dari kantor pos kecil di dekat pasar.
“Rantaka,” panggil Pak Wardi dari depan kamar. “Ada surat.”
Rantaka yang sedang duduk di meja belajar segera menoleh.
Sudah beberapa hari tubuhnya mulai membaik setelah pingsan di belakang warung makan. Ia belum kembali bekerja. Pak Rahman menyuruhnya beristirahat, dan Damar terus mengingatkan agar ia tidak memaksakan diri.
Namun, meskipun tubuhnya sedikit lebih kuat, pikirannya masih dipenuhi banyak hal.
Nilai yang menurun.
Beasiswa yang terancam.
Surat-surat Liris yang belum ia balas.
Dan rasa malu yang membuatnya sulit menceritakan keadaan sebenarnya kepada siapa pun.
Ia menerima amplop dari Pak Wardi.
Nama Bu Laras tertulis di bagian pengirim.
Rantaka membuka surat itu dengan hati berdebar.
Isi suratnya hampir sama dengan surat yang diterima Liris. Bu Laras menceritakan bahwa Gerobak Buku Langit Biru sedang berhenti. Ia menulis tentang anak-anak yang masih menunggu. Ia juga menulis tentang persahabatan yang tidak boleh hilang hanya karena mereka berada di tempat yang berbeda.
Namun, ada satu bagian yang membuat Rantaka berhenti membaca cukup lama.
Rantaka,
Kota mungkin mengajarkanmu banyak hal. Kota bisa membuatmu merasa kecil, asing, dan sendirian. Tetapi jangan sampai semua itu membuatmu lupa bahwa di desa ada orang-orang yang pernah percaya kepadamu sebelum siapa pun mengenal namamu.
Kamu tidak harus menjadi kuat setiap saat. Tetapi kamu harus berani jujur ketika sedang lemah.
Rantaka menatap kalimat itu.
Ia teringat malam ketika Damar menemukannya pingsan di belakang warung makan.
Ia teringat wajah Pak Rahman yang menyuruhnya berhenti bekerja sementara.
Ia teringat surat untuk Liris yang masih tersimpan di meja.
Selama ini, ia mengira diam adalah cara untuk melindungi sahabat-sahabatnya dari masalahnya.
Tetapi mungkin diam justru membuat mereka semakin jauh.
Rantaka mengambil kertas dan pena.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia mulai menulis surat baru.
Bukan surat tentang sekolah yang baik-baik saja.
Bukan surat tentang kota yang tampak indah.
Bukan surat yang hanya berisi kabar aman agar orang lain tidak khawatir.
Ia menulis tentang pekerjaan malam di warung makan.
Ia menulis tentang nilai yang turun.
Ia menulis tentang beasiswa yang hampir dievaluasi.
Ia menulis tentang rasa takut yang selama ini membuatnya tidak berani membalas surat Liris.
Namun, sebelum surat itu selesai, ia berhenti.
Tangannya masih ragu.
Ia belum tahu apakah dirinya benar-benar siap mengirimkannya.
Tetapi kali ini, ia tidak lagi menyembunyikan kertas itu di antara buku pelajaran.
Ia meletakkannya di atas meja.
Di samping amplop kosong.
Di Desa Wanasari, Banyu menerima surat dari Bu Laras melalui adik sepupunya yang pulang dari sekolah.
Saat itu, Banyu sedang duduk di depan bengkel kecil tempat ia bekerja.
Tangannya masih dibalut kain, meskipun luka di telapak tangannya sudah mulai mengering. Di depannya terdapat beberapa potongan pipa bekas, baut, dan besi kecil yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit.
Ia sedang mencoba menggambar rancangan alat pengatur air sederhana.
Namun, pikirannya tidak benar-benar tenang.
Sejak bertengkar dengan Jagra, ia merasa kesal.
Ia merasa Jagra terlalu cepat menyerah.
Ia merasa Gerobak Buku Langit Biru ditinggalkan begitu saja.
Tetapi di sisi lain, ia juga tidak bisa mengabaikan wajah Jagra ketika berkata bahwa keluarganya membutuhkan bantuan.
Banyu membuka surat Bu Laras.
Ia membacanya dalam diam.
Ketika sampai pada bagian tentang persahabatan, ia mengembuskan napas panjang.
Banyu,
Keinginanmu untuk menjaga Gerobak Buku adalah sesuatu yang baik. Tetapi jangan sampai semangat itu berubah menjadi kemarahan yang melukai sahabatmu sendiri.
Kadang-kadang orang yang terlihat menyerah bukan karena tidak peduli, melainkan karena sedang memikul beban yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Banyu menatap surat itu lama.
Kalimat itu membuatnya teringat pada halaman rumah Jagra.
Kolam yang rusak.
Papan kayu yang harus diangkat.
Wajah ayah Jagra yang tampak letih.
Dan suara Jagra yang berkata, “Kau tahu dari cerita. Aku hidup di dalamnya.”
Banyu menunduk.
Ia merasa bersalah.
Ia memang datang untuk mempertahankan Gerobak Buku.
Tetapi ia tidak benar-benar datang untuk memahami sahabatnya.
Ia terlalu sibuk membela sesuatu yang mereka bangun bersama, sampai lupa bahwa orang-orang yang membangunnya juga sedang terluka.
Banyu melipat surat itu.
Kemudian ia memandang potongan-potongan pipa di depannya.
Tiba-tiba ia memikirkan sesuatu.
Mungkin ia tidak bisa memperbaiki semua masalah Jagra.
Namun, mungkin ia bisa membantu memperbaiki aliran air ke kolam.
Mungkin alat yang selama ini ia gambar bisa dicoba untuk membantu keluarga Jagra.
Ia belum tahu apakah rancangan itu akan berhasil.
Tetapi untuk pertama kalinya, ia tidak memikirkan alat itu hanya sebagai impian pribadi.
Ia mulai memikirkannya sebagai jalan untuk kembali mendekati sahabatnya.
Surat terakhir sampai ke tangan Jagra menjelang sore.
Pak Darto menyerahkannya ketika Jagra baru pulang dari sungai bersama ayahnya.
Bajunya basah oleh keringat dan air sungai. Di pundaknya masih tergantung gulungan tali. Tangannya penuh lumpur.
“Dari Bu Laras,” kata Pak Darto.
Jagra menerima surat itu tanpa banyak bicara.
Ia membukanya setelah selesai membersihkan diri.
Di dalam kamar kecilnya, ia duduk di tepi tempat tidur.
Surat itu dibaca perlahan.
Bu Laras tidak menulis tentang kewajiban.
Ia tidak menulis bahwa Jagra harus segera membuka Gerobak Buku.
Ia tidak menulis bahwa Jagra salah karena memilih membantu keluarga.
Namun, justru karena itu, surat tersebut terasa lebih berat.
Jagra,
Ibu tahu kamu sedang berjuang untuk keluargamu. Tidak ada yang salah dengan membantu ayahmu. Tidak ada yang salah dengan merasa lelah.
Tetapi jangan biarkan rasa lelah membuatmu percaya bahwa kamu harus memikul semuanya sendiri. Sahabat bukan orang yang datang hanya ketika keadaan mudah. Sahabat adalah orang yang tetap bisa diajak bicara ketika keadaan sedang sulit.
Jika kamu belum sanggup membuka Gerobak Buku seperti dulu, katakanlah dengan jujur. Jangan menutup pintu untuk orang-orang yang mungkin ingin membantumu.
Langit Biru tidak dibangun oleh satu orang. Ia dibangun oleh kalian bersama-sama.
Jagra membaca bagian terakhir itu berulang kali.
Langit Biru tidak dibangun oleh satu orang.
Ia menatap dinding kamar.
Di luar, suara ibunya terdengar sedang memanggil ayahnya untuk makan.
Jagra memegang surat itu erat.
Selama ini, ia merasa semua orang menuntutnya untuk tetap menjalankan Gerobak Buku, padahal ia sedang kesulitan membantu keluarga.
Ia merasa Banyu tidak memahami.
Ia merasa Liris hanya melihat anak-anak yang menunggu.
Ia merasa Rantaka terlalu jauh di kota untuk tahu apa yang terjadi di desa.
Namun, surat Bu Laras membuatnya memikirkan kemungkinan lain.
Mungkin mereka memang tidak memahami seluruh bebannya.
Tetapi mungkin ia juga tidak pernah benar-benar memberi kesempatan kepada mereka untuk memahami.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia takut kolam keluarganya tidak bisa pulih.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia takut ayahnya jatuh sakit karena bekerja terlalu keras.
Ia tidak pernah berkata bahwa ia merasa malu karena tidak mampu menjaga Gerobak Buku ketika anak-anak masih menunggu.
Jagra menutup surat itu.
Matanya terasa panas.
Ia tidak menangis.
Namun, untuk pertama kalinya sejak banjir datang, ia mengizinkan dirinya mengakui bahwa ia lelah.
Sangat lelah.
Dan ia tidak ingin terus merasa sendirian.
Malam itu, empat surat dari Bu Laras berada di tempat yang berbeda.
Satu di meja Liris, di samping buku catatan hijau.
Satu di meja Rantaka, di rumah singgah Kota Arunika.
Satu di dalam tas Banyu, dekat rancangan alat pengatur air.
Dan satu lagi di tangan Jagra, di kamar kecil rumahnya.
Surat-surat itu tidak langsung menyelesaikan masalah.
Kolam ikan masih rusak.
Gerobak Buku masih terkunci di gudang.
Nilai Rantaka belum membaik.
Liris masih harus menghadapi tekanan dari keluarganya.
Banyu masih harus bekerja dan menyembuhkan lukanya.
Jagra masih harus membantu ayahnya setiap hari.
Namun, ada sesuatu yang mulai berubah.
Liris mulai berani menulis pesan untuk Banyu dan Jagra.
Rantaka mulai menyelesaikan surat yang selama ini tertunda.
Banyu mulai memikirkan cara membantu kolam ikan Jagra.
Dan Jagra mulai mempertimbangkan untuk membuka pintu rumahnya bagi sahabat-sahabatnya.
Di bawah langit malam yang sama, meskipun dipisahkan kota, sungai, jalan tanah, dan kesalahpahaman, mereka kembali mengingat satu hal.
Langit Biru bukan hanya gerobak tua yang membawa buku.
Langit Biru adalah janji.
Janji bahwa mereka tidak akan membiarkan satu sama lain berjalan sendirian.
Janji bahwa ketika salah satu dari mereka hampir menyerah, yang lain akan mencoba memanggilnya pulang.
Dan malam itu, surat dari Bu Laras menjadi panggilan pertama yang kembali menyatukan langkah mereka.
BAB 20
PENGAKUAN DI BAWAH LAMPU KOTA
Malam di Kota Arunika tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika sebagian besar toko mulai menutup pintunya, suara kendaraan masih melintas di jalan utama. Lampu-lampu warung makan menyala kuning. Pedagang kaki lima masih menawarkan gorengan, mi rebus, dan kopi panas kepada orang-orang yang baru pulang bekerja.
Di ujung pasar, dekat deretan kios yang sudah tertutup, berdiri sebuah telepon umum tua.
Kotaknya berwarna biru pudar.
Kaca kecil di sisinya retak.
Tombol-tombol angka pada telepon itu sudah tidak semuanya jelas. Ada angka yang tulisannya hampir hilang. Ada pula tombol yang harus ditekan lebih keras agar berfungsi.
Namun, bagi Rantaka, telepon umum itu terasa seperti satu-satunya jalan pulang.
Ia berdiri beberapa langkah dari sana sambil menggenggam beberapa keping uang logam.
Tangannya dingin.
Bukan karena udara malam.
Melainkan karena sejak menerima surat dari Bu Laras, ia terus memikirkan satu nama.
Liris.
Di saku bajunya, ada surat yang sudah ia tulis berkali-kali.
Surat itu belum dikirim.
Ia sudah mencoba menuliskan semua yang ingin ia katakan: tentang pekerjaan malam di warung makan, tentang tubuhnya yang sempat jatuh sakit, tentang nilai matematika dan fisika yang terus menurun, serta tentang beasiswa yang hampir dievaluasi oleh sekolah.
Namun, setiap kali ingin memasukkan surat itu ke dalam amplop, ia selalu berhenti.
Ada terlalu banyak kata yang terasa berat.
Ada terlalu banyak rasa malu yang sulit ia tulis.
Malam ini, ia tidak ingin lagi bersembunyi di balik kertas.
Rantaka melangkah mendekati telepon umum.
Ia memasukkan satu keping uang logam.
Kemudian ia menekan nomor rumah Liris yang selama ini ia hafal di luar kepala.
Nada sambung terdengar.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Rantaka hampir menutup telepon ketika akhirnya terdengar suara dari seberang.
“Halo?”
Suara itu pelan.
Tetapi Rantaka langsung mengenalinya.
“Liris?”
Di seberang, ada jeda cukup lama.
“Rantaka?”
Suara Liris berubah.
Seperti seseorang yang tidak yakin apakah ia benar-benar mendengar suara yang selama ini ditunggu.
“Iya,” jawab Rantaka. “Aku.”
Beberapa detik berlalu.
Di sekitar telepon umum, suara kendaraan terus bergerak. Seorang pedagang menutup terpal dagangannya. Dari warung di seberang jalan, terdengar suara sendok beradu dengan gelas.
Namun, bagi Rantaka, semua suara itu seolah menjauh.
Yang tersisa hanya suara Liris.
“Kau baik-baik saja?” tanya Liris.
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi Rantaka tidak langsung mampu menjawab.
Selama berbulan-bulan, ia selalu menjawab pertanyaan itu dengan kalimat yang sama.
Aku baik-baik saja.
Padahal, ia tidak baik-baik saja.
Ia lelah.
Ia takut.
Ia malu.
Dan ia merasa semakin jauh dari semua orang yang pernah membuatnya percaya bahwa hidupnya bisa berubah.
“Aku tidak tahu,” katanya akhirnya.
Di seberang, Liris terdiam.
Rantaka menutup mata sebentar.
“Aku tidak baik-baik saja, Ris.”
Kalimat itu keluar perlahan.
Namun, setelah mengucapkannya, dada Rantaka justru terasa sedikit lebih lega.
“Apa yang terjadi?” tanya Liris, kini dengan suara cemas.
Rantaka menatap lampu jalan yang memantulkan cahaya pada genangan air di dekat pasar.
“Aku bekerja malam di warung makan.”
Liris tidak langsung menjawab.
“Kau bekerja malam?”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
“Sudah cukup lama.”
“Kenapa kau tidak pernah cerita?”
Rantaka menggenggam gagang telepon lebih erat.
“Uang beasiswa tidak cukup. Ada buku, kebutuhan rumah singgah, biaya sekolah, dan banyak hal lain. Aku tidak ingin minta uang dari rumah. Aku juga tidak ingin membuat kalian khawatir.”
“Rantaka…”
“Aku pikir aku bisa menjalani semuanya. Sekolah siang, kerja malam, belajar setelah pulang. Tapi ternyata aku tidak kuat.”
Liris masih diam.
Rantaka melanjutkan, seolah jika ia berhenti, keberaniannya akan kembali hilang.
“Nilai matematikaku turun. Fisikaku juga. Guru pembimbing beasiswa memanggilku. Katanya beasiswaku bisa dievaluasi kalau nilainya tidak membaik.”
“Kenapa kau tidak bilang dari awal?”
“Aku malu.”
Jawaban itu keluar begitu saja.
“Aku malu karena aku datang ke kota dengan beasiswa. Semua orang mengira aku beruntung. Semua orang mengira aku punya kesempatan besar. Tapi ternyata aku malah hampir gagal.”
Suara Rantaka mulai bergetar.
“Aku bahkan sempat pingsan di belakang warung makan.”
“Pingsan?” suara Liris meninggi. “Kau sakit?”
“Sekarang sudah lebih baik. Damar yang menemukan aku. Pak Rahman juga menyuruhku istirahat.”
“Kau tidak boleh bekerja sampai seperti itu.”
“Aku tahu.”
“Kalau kau tahu, kenapa tetap memaksa diri?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu pertanyaan itu bukan kemarahan.
Itu adalah kekhawatiran.
Namun, justru karena ada kekhawatiran dalam suara Liris, ia merasa semakin bersalah.
“Aku takut,” katanya akhirnya.
“Takut apa?”
“Takut pulang sebagai orang yang gagal.”
Di seberang, Liris menarik napas pelan.
Rantaka melanjutkan.
“Dulu aku pergi dari Wanasari dengan banyak orang percaya padaku. Bu Laras percaya. Keluargaku percaya. Kalian percaya. Aku takut kalau aku tidak bisa mempertahankan beasiswa, semua orang akan berpikir aku tidak pantas mendapatkannya.”
“Tidak ada yang berpikir begitu,” kata Liris.
“Aku sendiri berpikir begitu.”
Kalimat itu membuat percakapan kembali hening.
Lampu kota terus menyala di atas kepala Rantaka.
Cahayanya tidak terang seperti matahari.
Tetapi cukup untuk membuat jalan yang gelap terlihat.
Rantaka memandang cahaya itu.
Tiba-tiba ia teringat puisi Liris tentang lampu kota yang terlihat indah dari jauh, tetapi menyimpan kesepian bagi orang yang hidup di bawahnya.
Kini ia mengerti maksud puisi itu.
Kota memang tampak seperti tempat penuh kesempatan.
Namun, bagi seseorang yang datang dari desa dengan uang pas-pasan dan harapan yang terlalu besar, kota juga bisa menjadi tempat yang membuat seseorang merasa sangat kecil.
“Rantaka,” suara Liris terdengar lagi. “Kau bukan gagal hanya karena sedang kesulitan.”
Rantaka menunduk.
“Kau tidak tahu rasanya.”
“Aku mungkin tidak tahu seluruhnya,” kata Liris. “Tapi aku juga sedang kesulitan.”
Rantaka terdiam.
“Ayah ingin aku berhenti menulis,” lanjut Liris.
“Apa?”
“Keadaan di rumah makin sulit setelah banjir. Ayah bilang menulis tidak membantu membeli kebutuhan rumah. Aku mendapat tawaran kerja di toko di kota kabupaten.”
“Kau mau menerimanya?”
“Aku belum tahu.”
Suara Liris terdengar semakin pelan.
“Aku ingin ikut pelatihan menulis. Aku ingin tetap mengirim puisi. Aku ingin suatu hari punya buku sendiri. Tapi setiap kali melihat ibu menghitung uang belanja, aku merasa mimpiku terlalu egois.”
“Menulis bukan egois.”
“Bagi ayah, itu hanya kesenangan.”
“Bukan.”
“Kau bilang begitu karena kau selalu percaya padaku.”
Rantaka tersenyum tipis, meskipun Liris tidak bisa melihatnya.
“Karena aku tahu kau sungguh-sungguh.”
“Kadang-kadang aku sendiri tidak yakin.”
“Kau yang dulu membuatku berani menulis surat.”
“Itu surat yang lama sekali tidak kau balas.”
Rantaka terdiam.
Nada suara Liris tidak marah.
Namun, ada luka yang tersimpan di dalamnya.
“Aku minta maaf,” kata Rantaka. “Aku menulis beberapa surat. Tapi aku tidak pernah mengirimnya.”
“Kenapa?”
“Aku takut kau tahu aku sedang hancur.”
Liris tidak langsung menjawab.
“Aku juga takut,” katanya kemudian.
“Takut apa?”
“Takut kau benar-benar berubah setelah tinggal di kota. Takut kau tidak lagi membutuhkan kami. Takut aku hanya menjadi bagian dari desa yang ingin kau tinggalkan.”
Rantaka memejamkan mata.
“Tidak pernah begitu.”
“Lalu kenapa kau diam?”
“Karena aku bodoh.”
Liris tertawa kecil.
Tawa itu singkat, tetapi cukup membuat suasana sedikit lebih ringan.
“Kau memang kadang-kadang bodoh,” katanya.
“Terima kasih.”
“Tapi aku juga salah. Aku terlalu cepat berpikir yang buruk.”
“Kita sama-sama salah.”
“Iya.”
Setelah itu, keduanya diam lagi.
Namun, diam kali ini tidak terasa seperti jarak.
Diam itu terasa seperti ruang bagi dua orang yang akhirnya berhenti menyembunyikan luka.
Di rumah Liris, lampu minyak menyala di atas meja.
Ia duduk di dekat telepon rumah sederhana milik tetangganya, karena rumahnya sendiri tidak memiliki sambungan telepon. Ia meminta izin kepada Bu Ratna, tetangga yang baik hati, untuk menerima telepon malam itu setelah sebelumnya mendapat pesan dari kantor desa bahwa Rantaka mungkin akan menghubungi.
Di luar rumah, suara jangkrik terdengar.
Angin malam membawa bau tanah basah.
Liris memegang ujung jilbabnya dengan tangan yang gemetar kecil.
Ada banyak hal yang ingin ia katakan.
Tentang surat-surat yang ia tunggu.
Tentang rasa rindu yang tumbuh diam-diam.
Tentang kekhawatiran setiap kali mendengar kabar kota.
Namun, kata-kata itu terasa terlalu besar untuk diucapkan.
“Rantaka,” katanya akhirnya.
“Iya?”
“Aku senang kau menelepon.”
Rantaka tersenyum.
“Aku juga senang mendengar suaramu.”
“Kau harus janji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau ada masalah, jangan menghilang lagi.”
Rantaka menatap telepon di tangannya.
“Aku janji akan mencoba.”
“Bukan mencoba.”
“Baik. Aku janji.”
Liris menghela napas.
“Dan kau harus belajar lebih serius.”
“Aku tahu.”
“Kurangi kerja malam.”
“Aku sedang memikirkan caranya.”
“Jangan sampai pingsan lagi.”
“Iya, Bu Guru.”
“Jangan bercanda.”
“Maaf.”
Liris tersenyum kecil.
Kemudian suasana kembali tenang.
Di bawah lampu kota yang kekuningan, Rantaka memandang jalan di depannya.
Di bawah lampu minyak di rumah tetangga, Liris memandang halaman gelap Desa Wanasari.
Mereka berada jauh.
Dipisahkan oleh jalan panjang, pasar, sungai, sekolah, dan kehidupan yang tidak mudah.
Namun, malam itu, jarak terasa sedikit berkurang.
“Liris,” panggil Rantaka.
“Iya?”
“Aku mau mengatakan sesuatu.”
Liris menahan napas.
Rantaka sendiri merasa jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia sudah berkali-kali ingin mengatakan kalimat itu dalam surat.
Namun, malam ini, di bawah lampu kota, ia merasa tidak ingin lagi menyimpannya sendiri.
“Aku…” Rantaka berhenti.
“Aku apa?”
“Aku sering memikirkanmu.”
Di seberang, Liris tidak menjawab.
Rantaka melanjutkan.
“Bukan hanya sebagai sahabat. Aku tidak tahu sejak kapan. Mungkin sejak dulu. Mungkin sejak kita masih duduk di bawah pohon beringin. Tapi aku baru benar-benar mengerti ketika aku jauh dari desa.”
Suara kendaraan lewat di dekat telepon umum.
Rantaka menunggu.
Tangannya mulai berkeringat.
Kemudian suara Liris terdengar sangat pelan.
“Aku juga.”
Rantaka terdiam.
“Aku juga sering memikirkanmu,” lanjut Liris. “Dan aku juga takut mengakuinya.”
“Kenapa?”
“Karena hidup kita sedang terlalu rumit.”
Rantaka mengangguk, meskipun Liris tidak melihatnya.
“Iya.”
“Kalau kita membuat janji sekarang, aku takut janji itu justru menjadi beban.”
“Aku tidak mau menjadi bebanmu.”
“Aku juga tidak mau menjadi bebanmu.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Apa kita tetap bisa seperti sekarang?”
“Maksudmu?”
“Bukan berpura-pura tidak ada apa-apa. Tapi juga tidak memaksa semuanya harus segera punya jawaban.”
Liris terdiam sejenak.
“Kita bisa saling menjaga,” katanya. “Kita bisa saling jujur. Tapi kita harus menyelesaikan perjuangan kita masing-masing dulu.”
“Sekolahmu. Menulismu.”
“Beasiswamu. Cita-citamu menjadi guru.”
“Dan Langit Biru.”
“Dan Langit Biru.”
Mereka mengulang nama itu hampir bersamaan.
Nama yang sejak kecil menjadi bagian dari hidup mereka.
Nama yang kini terasa seperti pengingat bahwa mereka tidak boleh menyerah hanya karena berada di tempat yang berbeda.
“Aku akan pulang saat libur,” kata Rantaka.
“Benarkah?”
“Iya. Aku ingin melihat Wanasari. Aku ingin bertemu kalian.”
“Jagra juga sedang sulit.”
“Aku tahu. Bu Laras menulis tentang itu.”
“Banyu juga sedang membuat sesuatu untuk membantu kolam.”
“Kalau begitu, mungkin kita bisa mulai memperbaiki semuanya.”
“Pelan-pelan,” kata Liris.
“Pelan-pelan.”
Tiba-tiba, terdengar bunyi pendek dari telepon umum.
Rantaka melihat sisa uang logamnya.
Waktunya hampir habis.
“Liris,” katanya cepat.
“Iya?”
“Terima kasih.”
“Untuk apa?”
“Karena masih mau mendengarkan.”
“Terima kasih juga karena akhirnya jujur.”
Rantaka tersenyum.
“Selamat malam, Liris.”
“Selamat malam, Rantaka.”
Sambungan terputus.
Telepon umum kembali sunyi.
Rantaka masih berdiri di sana beberapa saat.
Lampu kota memantulkan bayangannya di jalan yang basah.
Ia tidak tiba-tiba menjadi kuat.
Nilainya belum membaik.
Beasiswanya masih terancam.
Uang di sakunya masih sedikit.
Dan masa depannya masih penuh pertanyaan.
Namun, malam itu, ia tidak lagi merasa harus menghadapi semuanya sendirian.
Di Desa Wanasari, Liris keluar dari rumah Bu Ratna.
Ia berjalan pulang dengan langkah pelan.
Langit malam di atas desa tampak luas.
Bintang-bintang muncul di antara awan yang mulai menipis.
Ia memegang buku catatan hijaunya erat-erat.
Di dalam hatinya, masih ada rasa takut.
Masih ada tekanan dari rumah.
Masih ada pilihan berat yang harus diambil.
Tetapi malam itu, ia juga membawa sesuatu yang baru.
Keberanian untuk tetap menulis.
Keberanian untuk tetap menunggu.
Dan keberanian untuk percaya bahwa perasaan tidak selalu harus menjadi janji besar agar bisa tetap berarti.
Di kota, Rantaka mulai berjalan kembali menuju rumah singgah.
Ia melewati warung makan tempat ia pernah bekerja sampai jatuh sakit.
Lampu warung itu masih menyala.
Pak Rahman terlihat sedang membereskan meja.
Rantaka berhenti sebentar.
Kemudian ia melanjutkan langkah.
Besok, ia harus kembali belajar.
Ia harus memperbaiki nilainya.
Ia harus mencari cara agar beasiswanya tidak hilang.
Ia harus membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa kesulitan tidak selalu berarti akhir.
Di bawah lampu kota yang masih menyala, Rantaka menyimpan satu keputusan di dalam hati.
Ia tidak akan lagi membiarkan rasa takut membuatnya diam.
Karena ada seseorang di Desa Wanasari yang menunggu kabarnya.
Dan ada sebuah janji bernama Langit Biru yang masih harus mereka jaga bersama.
BAB 21
MESIN UNTUK SAWAH YANG KERING
Pagi di Desa Wanasari datang tanpa suara hujan.
Langit tampak cerah, tetapi tanah di beberapa kebun warga masih menyimpan bekas banjir yang belum lama surut. Lumpur mengering di pinggir jalan. Rumput-rumput liar tumbuh di sela parit. Di beberapa tempat, batang padi yang sempat terendam berdiri lemah dengan warna kuning pucat.
Banjir memang telah pergi.
Namun, kesulitannya belum.
Air sungai yang beberapa minggu lalu meluap hingga merusak kolam ikan dan kebun warga kini kembali surut. Anehnya, setelah air surut, sebagian lahan justru menjadi sulit dialiri. Parit-parit kecil tertutup lumpur. Saluran air yang biasa digunakan warga tersumbat ranting, batu, dan tanah yang terbawa arus.
Kebun sayur di bagian atas desa mulai mengering.
Sawah kecil milik beberapa warga tidak lagi mendapatkan aliran air yang cukup.
Bagi warga yang hidup dari kebun dan ladang, keadaan itu bukan persoalan kecil.
Tanah yang tidak dialiri air berarti tanaman tidak tumbuh.
Tanaman yang tidak tumbuh berarti tidak ada hasil panen.
Dan tanpa hasil panen, dapur rumah-rumah warga akan semakin sulit mengepul.
Banyu berdiri di pinggir parit dekat kebun Pak Karta.
Di tangannya, ia membawa buku tulis bekas yang sudah penuh coretan.
Di halaman pertama, ada gambar-gambar pipa, roda kecil, ember, dan saluran air.
Beberapa gambar dicoret.
Beberapa angka ditulis lalu dihapus.
Ada pula halaman yang sobek karena terlalu sering dilipat.
Pak Karta berdiri di sampingnya sambil memegang cangkul.
“Airnya tidak bisa naik ke kebun atas,” kata Pak Karta sambil menunjuk parit di bawah. “Kalau hanya mengandalkan ember, sehari penuh pun belum tentu cukup.”
Banyu mengangguk.
Ia memandang arah kebun yang letaknya lebih tinggi dari parit.
Jaraknya tidak terlalu jauh.
Tetapi permukaan tanahnya menanjak.
Air dari parit tidak mungkin mengalir sendiri ke sana.
“Kalau ada alat yang bisa menarik air dari bawah,” kata Banyu pelan, “lalu mengalirkannya lewat selang ke kebun atas, mungkin tanaman tidak akan terlalu kering.”
Pak Karta tersenyum kecil.
“Kau mau membuat mesin lagi?”
Banyu tidak langsung menjawab.
Ia teringat ledakan kecil di bengkel sekolah beberapa waktu lalu. Ia teringat tangannya yang terluka. Ia teringat bagaimana beberapa orang menganggap ia terlalu banyak bermimpi dengan barang-barang bekas.
Namun, kali ini ia tidak ingin membuat sesuatu hanya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu.
Ia ingin membuat sesuatu karena melihat warga benar-benar membutuhkan bantuan.
“Aku ingin mencoba,” jawabnya.
Pak Karta menepuk bahu Banyu.
“Kalau kau butuh bahan bekas, lihat saja di gudang belakang rumahku. Ada pipa, kaleng, dan beberapa roda tua.”
Banyu mengangguk.
“Terima kasih, Pak.”
Ia berjalan pulang dengan langkah cepat.
Di kepalanya, gambar-gambar dalam buku tulis mulai bergerak.
Ia membayangkan pipa kecil yang dapat menghisap air.
Ia membayangkan roda yang diputar dengan tenaga sederhana.
Ia membayangkan air yang mengalir melalui selang menuju kebun-kebun yang kering.
Namun, ia juga tahu bahwa membayangkan sesuatu jauh lebih mudah daripada membuatnya benar-benar bekerja.
Di belakang rumah Banyu, terdapat sebuah bangunan kecil beratap seng.
Bangunan itu dulunya digunakan ayahnya untuk menyimpan peralatan kebun. Kini, sebagian ruangnya dipenuhi barang-barang yang dikumpulkan Banyu: baut, mur, potongan besi, roda sepeda bekas, selang yang sudah tidak terpakai, kaleng cat kosong, kabel, dan beberapa pipa plastik.
Orang-orang menyebut tempat itu gudang rongsok.
Banyu menyebutnya bengkel kecil.
Di sudut ruangan, terdapat meja kayu yang permukaannya penuh bekas goresan.
Di atas meja itu, Banyu meletakkan buku catatannya.
Ia membuka halaman baru.
Dengan pensil pendek, ia menggambar rancangan sederhana.
Sebuah roda sepeda bekas akan dipasang pada rangka kayu.
Roda itu akan dihubungkan dengan pompa kecil dari bekas mesin semprot yang sudah rusak.
Selang plastik akan dimasukkan ke parit.
Ketika roda diputar, pompa diharapkan dapat menarik air dan mendorongnya ke selang lain yang menuju kebun atas.
Rancangannya tidak sempurna.
Bahkan Banyu sendiri belum yakin apakah alat itu bisa bekerja.
Tetapi ia percaya bahwa setiap alat besar selalu dimulai dari gambar kecil.
Sore itu, ia mulai bekerja.
Ia memotong kayu.
Ia membersihkan roda sepeda tua.
Ia memasang baut yang ukurannya tidak sama.
Ia mengikat pipa dengan kawat.
Tangannya masih belum sepenuhnya pulih, tetapi ia berusaha berhati-hati.
Saat matahari mulai turun, Liris datang membawa botol air minum.
“Aku dengar kau sedang membuat sesuatu,” katanya.
Banyu tidak menoleh.
“Aku hanya mencoba.”
“Untuk kebun Pak Karta?”
“Iya.”
Liris duduk di bangku kayu dekat pintu.
Ia memperhatikan Banyu yang sedang memasang selang.
“Apakah alat itu akan berhasil?”
Banyu tersenyum kecil.
“Aku tidak tahu.”
“Kalau gagal?”
“Aku coba lagi.”
Liris terdiam sejenak.
“Kau masih marah kepada Jagra?”
Tangan Banyu berhenti.
Ia memandang roda sepeda di depannya.
“Tidak semarah dulu.”
“Kau sudah bicara dengannya?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
Liris menunduk.
“Aku juga belum bicara banyak dengannya.”
Banyu menghela napas.
“Bu Laras benar. Kita semua terlalu sibuk dengan masalah sendiri.”
Liris mengangguk.
“Jagra juga sedang berat.”
“Aku tahu.”
Banyu menatap selang yang tergeletak di lantai.
“Kalau alat ini berhasil, mungkin bisa membantu kolam keluarganya juga. Airnya bisa dialirkan ke tempat yang sulit dijangkau.”
Liris menatap Banyu.
“Itu alasanmu membuat alat ini?”
Banyu mengangkat bahu.
“Awalnya untuk kebun warga. Tapi mungkin juga untuk Jagra.”
Liris tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kau harus benar-benar membuatnya berhasil.”
Banyu ikut tersenyum.
“Jangan memberi tekanan.”
“Aku hanya mengingatkan.”
Dua hari kemudian, alat pertama Banyu siap diuji.
Warga yang mendengar kabar tentang mesin buatan Banyu mulai datang ke parit dekat kebun Pak Karta.
Tidak banyak.
Hanya Pak Karta, Pak Hendra, Liris, beberapa anak kecil, dan dua orang pemuda desa yang penasaran.
Banyu membawa alat itu dengan bantuan Pak Hendra.
Rangkanya terbuat dari kayu bekas.
Roda sepeda tua dipasang di bagian samping.
Selang plastik menjulur dari pompa kecil menuju parit.
Di bagian lain, selang yang lebih panjang diarahkan ke kebun atas.
Bentuknya sederhana.
Bahkan terlihat agak aneh.
Salah satu anak kecil tertawa kecil.
“Seperti sepeda yang tidak bisa jalan,” katanya.
Banyu tidak marah.
Ia hanya tersenyum.
“Memang bukan untuk jalan.”
Pak Karta membantu menahan rangka kayu agar tidak bergeser.
Banyu memasukkan ujung selang ke dalam parit.
Kemudian ia mulai memutar roda.
Awalnya, tidak terjadi apa-apa.
Roda berputar.
Pompa bergerak.
Namun, air belum keluar dari selang bagian atas.
Banyu memutar lebih cepat.
Keringat mulai muncul di dahinya.
Masih tidak ada air.
Pak Hendra mendekat.
“Mungkin ada udara di dalam pipa.”
Banyu berhenti.
Ia memeriksa sambungan selang.
Benar.
Ada bagian yang tidak rapat.
Air dari parit justru masuk sedikit demi sedikit ke dalam rangka pompa.
Banyu membongkar kembali ikatan kawat.
Ia mengencangkannya.
Kemudian ia mencoba lagi.
Roda diputar.
Pompa bergerak.
Beberapa orang menunggu dengan diam.
Tiba-tiba, terdengar suara kecil.
Gluk... gluk... gluk...
Air mulai naik ke dalam selang.
Anak-anak mendekat.
Namun, sebelum air mencapai kebun atas, selang bagian tengah terlepas.
Air menyembur ke samping.
Mengenai celana Banyu.
Anak-anak tertawa.
Pak Karta menahan senyum.
Banyu berdiri diam beberapa saat.
Kemudian ia ikut tertawa.
“Berarti airnya mau naik,” katanya. “Hanya belum mau lewat jalan yang benar.”
Pak Hendra mengangguk.
“Itu sudah kemajuan.”
Tetapi bagi Banyu, kegagalan itu tetap terasa seperti beban.
Malamnya, ia duduk sendiri di bengkel kecil.
Roda sepeda dan selang tergeletak di lantai.
Buku catatan terbuka di depannya.
Ia mencoret beberapa bagian rancangan.
Menghapus.
Menggambar ulang.
Menghitung panjang selang.
Memikirkan cara agar tekanan air tidak membuat sambungan terlepas.
Ia bekerja sampai lampu minyak hampir habis.
Ibunya beberapa kali memanggil dari rumah.
“Banyu, istirahatlah.”
“Nanti, Bu.”
“Kau sudah sejak sore di sana.”
“Sebentar lagi.”
Namun, “sebentar lagi” berubah menjadi hampir tengah malam.
Banyu baru berhenti ketika tangannya kembali terasa nyeri.
Ia menatap telapak tangannya.
Bekas luka dari mesin bengkel masih tampak.
Ia menutup buku catatan.
Untuk sesaat, ia merasa ingin menyerah.
Mungkin orang-orang benar.
Mungkin ia hanya anak desa yang terlalu banyak membayangkan sesuatu.
Mungkin barang-barang bekas tidak bisa menjadi alat yang berguna.
Mungkin semua usahanya hanya akan berakhir seperti alat-alat lain yang gagal dibuatnya.
Namun, saat ia hendak mematikan lampu, ia melihat surat Bu Laras yang terselip di bawah buku catatan.
Ia mengambilnya.
Kalimat dalam surat itu kembali teringat.
Kadang-kadang orang yang terlihat menyerah bukan karena tidak peduli, melainkan karena sedang memikul beban yang terlalu berat untuk dijelaskan.
Banyu memejamkan mata.
Ia teringat Jagra.
Ia teringat kolam ikan yang rusak.
Ia teringat anak-anak yang tidak lagi belajar karena Gerobak Buku berhenti berjalan.
Ia teringat Liris yang tetap berusaha menulis meskipun keluarganya tidak selalu mendukung.
Ia teringat Rantaka yang bekerja malam di kota tanpa banyak bercerita.
Mereka semua sedang berjuang.
Kalau mereka belum menyerah, ia juga tidak ingin menyerah.
Banyu menyalakan lampu kembali.
Ia membuka buku catatan.
Dan malam itu, ia menggambar rancangan baru.
Percobaan kedua dilakukan tiga hari kemudian.
Kali ini, Banyu tidak hanya memperkuat sambungan selang.
Ia juga menambahkan katup sederhana dari karet bekas sandal agar air tidak kembali turun ke parit ketika roda berhenti diputar.
Ia memasang pipa lebih pendek di bagian awal agar tekanan air lebih kuat.
Ia juga mengubah posisi roda agar lebih mudah diputar oleh dua orang.
Pak Hendra datang membawa beberapa baut.
“Ini dari mesin pompa tua,” katanya. “Mungkin bisa dipakai.”
Banyu menerima baut itu dengan wajah cerah.
“Terima kasih, Pak.”
Pak Hendra memandang alat tersebut.
“Kau tidak takut gagal lagi?”
Banyu tersenyum.
“Takut, Pak.”
“Lalu kenapa tetap mencoba?”
“Karena kalau tidak mencoba, alat ini pasti tidak akan pernah berhasil.”
Pak Hendra mengangguk pelan.
“Jawaban yang baik.”
Saat alat kembali dipasang di pinggir parit, lebih banyak warga datang melihat.
Ada ibu-ibu yang membawa anak kecil.
Ada beberapa petani yang baru pulang dari kebun.
Ada pula Jagra.
Ia berdiri agak jauh di bawah pohon kecil, tidak banyak bicara.
Banyu melihatnya.
Namun, ia tidak menghampiri.
Ia belum tahu apakah Jagra datang untuk melihat alatnya atau hanya kebetulan lewat.
Liris yang berdiri di dekat Pak Karta juga melihat Jagra.
Ia tersenyum kecil, tetapi tidak berkata apa-apa.
Banyu memasukkan selang ke dalam parit.
Pak Hendra membantu memegang rangka.
Kemudian Banyu mulai memutar roda.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Pompa bergerak.
Air mulai masuk ke selang.
Kali ini, suara air terdengar lebih kuat.
Selang bergetar.
Semua orang menunggu.
Banyu memutar roda lebih cepat.
Tiba-tiba, air keluar dari ujung selang yang mengarah ke kebun atas.
Awalnya hanya sedikit.
Seperti aliran kecil yang ragu-ragu.
Kemudian air mengalir semakin lancar.
Membasahi tanah kering di antara tanaman cabai dan sayur.
Beberapa warga bersorak kecil.
Pak Karta tertawa lega.
“Berhasil!”
Anak-anak bertepuk tangan.
Liris tersenyum lebar.
Banyu berhenti memutar roda.
Dadanya naik turun karena lelah.
Namun, untuk beberapa saat, ia hanya memandang air yang mengalir.
Air itu tidak deras.
Alat itu tidak besar.
Rangkanya masih tampak kasar.
Roda sepedanya masih berkarat.
Tetapi air benar-benar naik dari parit ke kebun yang lebih tinggi.
Dan bagi Banyu, itu cukup untuk membuatnya merasa bahwa semua kegagalan sebelumnya tidak sia-sia.
Pak Karta menghampiri.
“Kau harus menunjukkan alat ini kepada warga lain,” katanya. “Kalau bisa dipakai di kebun-kebun lain, kita tidak perlu mengangkut air dengan ember setiap hari.”
Banyu mengangguk.
“Alat ini masih harus diperbaiki, Pak.”
“Memang harus diperbaiki,” jawab Pak Karta. “Tapi sekarang kita sudah tahu bahwa ia bisa bekerja.”
Di kejauhan, Jagra mulai berjalan mendekat.
Banyu menatapnya.
Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling diam.
Kemudian Jagra memandang alat itu.
“Airnya bisa dialirkan lebih jauh?” tanyanya.
Banyu mengangguk.
“Mungkin bisa. Kalau selangnya ditambah dan pompa diperkuat.”
“Kalau untuk kolam ikan?”
Banyu menatap wajah Jagra.
“Bisa dicoba.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ia melihat air yang mengalir ke kebun.
Wajahnya masih menyimpan kelelahan.
Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Bukan kemarahan.
Bukan penolakan.
Melainkan harapan kecil.
“Ayahku sedang mencari cara untuk mengisi kolam yang bagian pinggirnya kering,” kata Jagra pelan. “Kalau alat ini bisa membantu, mungkin…”
Kalimatnya terhenti.
Banyu mengerti maksudnya.
“Kita bisa lihat bersama,” kata Banyu.
Jagra mengangguk.
“Terima kasih.”
Banyu ingin mengatakan bahwa ia juga harus meminta maaf.
Bahwa ia salah karena terlalu cepat marah.
Bahwa ia tidak benar-benar memahami beban Jagra.
Namun, kata-kata itu belum keluar.
Ia hanya mengangguk.
“Besok sore aku bisa datang ke kolammu.”
Jagra menatapnya sebentar.
Kemudian ia berkata, “Baik.”
Itu bukan percakapan panjang.
Bukan pula penyelesaian dari semua kesalahpahaman.
Tetapi bagi mereka, percakapan itu seperti aliran air pertama yang berhasil naik dari parit.
Kecil.
Pelan.
Namun, membawa kemungkinan baru.
Menjelang sore, warga mulai pulang.
Kebun Pak Karta telah basah oleh aliran air dari mesin sederhana buatan Banyu.
Matahari turun perlahan di balik pepohonan.
Cahayanya memantul di genangan kecil dekat parit.
Liris duduk di batu sambil memperhatikan Banyu membereskan alatnya.
“Kau berhasil,” katanya.
Banyu menggeleng.
“Belum sepenuhnya.”
“Airnya sudah naik ke kebun.”
“Masih banyak yang harus diperbaiki.”
“Itu memang cara kerjamu,” kata Liris. “Kau tidak pernah merasa cukup.”
Banyu tersenyum kecil.
“Kalau sudah cukup, mungkin aku berhenti belajar.”
Liris menatap kebun yang mulai basah.
“Menurutmu, alat ini bisa membantu banyak orang?”
“Aku tidak tahu,” jawab Banyu. “Tapi kalau satu kebun bisa terbantu, mungkin kebun lain juga bisa.”
“Dan kalau satu orang mulai percaya, mungkin orang lain juga akan percaya.”
Banyu memandang Liris.
“Kau sedang bicara tentang alat ini atau tentang kita?”
Liris tersenyum.
“Mungkin dua-duanya.”
Banyu tertawa kecil.
Di kejauhan, Jagra berjalan pulang menuju rumahnya.
Ia tidak lagi menundukkan kepala seperti beberapa hari sebelumnya.
Langkahnya masih berat.
Masalah keluarganya belum selesai.
Kolam ikan belum pulih.
Gerobak Buku masih belum berjalan.
Namun, sore itu, ia membawa satu bayangan baru dalam pikirannya.
Bayangan tentang air yang bisa naik ke tempat yang lebih tinggi.
Bayangan tentang sahabat yang mungkin masih ingin membantunya.
Dan bayangan tentang Langit Biru yang mungkin belum benar-benar padam.
Di bengkel kecilnya malam itu, Banyu kembali membuka buku catatan.
Ia menggambar rancangan baru.
Kali ini, ia menambahkan jalur selang yang lebih panjang.
Ia menulis beberapa kata di bawah gambar tersebut.
Untuk kebun. Untuk sawah. Untuk kolam. Untuk Wanasari.
Kemudian ia menutup buku itu.
Di luar, langit malam membentang luas di atas desa.
Tidak selalu cerah.
Tidak selalu tenang.
Tetapi tetap ada.
Seperti mimpi yang tidak berhenti hanya karena beberapa kali gagal.
Seperti air yang terus mencari jalan.
Dan seperti Langit Biru yang perlahan mulai menemukan alirannya kembali.
BAB 22
KEMBALI KE WANASARI
Bus dari Kota Arunika berhenti di terminal kecil kecamatan menjelang siang.
Rantaka turun dengan sebuah tas lusuh di pundaknya dan kardus bekas di tangan kanan. Kardus itu tidak besar, tetapi cukup berat. Di dalamnya terdapat beberapa buku pelajaran bekas, majalah anak-anak, dua kamus kecil, serta beberapa alat tulis yang ia kumpulkan sedikit demi sedikit dari teman sekolah dan warung makan tempat ia pernah bekerja.
Ia berdiri sebentar di pinggir terminal.
Udara di kecamatan terasa berbeda dari udara kota.
Tidak ada deretan bangunan tinggi.
Tidak ada kendaraan yang bergerak tanpa henti.
Tidak ada lampu-lampu toko yang menyala sepanjang malam.
Di hadapannya hanya ada jalan raya kecil, warung sederhana, pohon-pohon besar, dan beberapa ojek yang menunggu penumpang.
Namun, setelah berbulan-bulan tinggal di Kota Arunika, pemandangan itu terasa seperti sesuatu yang sangat ia rindukan.
“Ke Wanasari, Nak?” tanya seorang tukang ojek.
Rantaka mengangguk.
“Berapa, Pak?”
Setelah menyebutkan harga, tukang ojek itu membantu mengikat kardus di bagian depan motor.
Rantaka duduk di belakang.
Motor mulai berjalan meninggalkan terminal.
Jalan menuju Desa Wanasari tidak seluruhnya mulus.
Di beberapa bagian, aspalnya retak.
Di bagian lain, jalan berubah menjadi tanah padat yang masih menyimpan lumpur sisa banjir.
Motor beberapa kali berguncang ketika melewati lubang-lubang kecil.
Rantaka memegang tasnya erat-erat.
Semakin dekat ke desa, semakin banyak tanda yang mengingatkannya pada banjir yang diceritakan dalam surat-surat Liris dan Bu Laras.
Beberapa pagar bambu miring.
Tumpukan kayu hanyut masih tersangkut di pinggir sungai.
Ada kebun warga yang tanahnya tertutup lumpur.
Di beberapa halaman rumah, tampak jemuran pakaian, tikar, dan peralatan dapur yang dijemur di bawah matahari.
Rantaka memandang semua itu dengan dada terasa berat.
Selama ini, ia mengetahui keadaan desa dari surat.
Ia membaca tentang kolam ikan yang rusak.
Tentang kebun yang gagal panen.
Tentang anak-anak yang mulai jarang datang belajar.
Namun, membaca kabar dan melihat kenyataan adalah dua hal yang berbeda.
Ketika motor memasuki jalan utama Desa Wanasari, Rantaka merasa seperti sedang melihat rumahnya sendiri dengan mata yang baru.
Desa itu masih sama.
Pohon beringin di dekat SD masih berdiri.
Balai desa masih memiliki cat putih yang mulai pudar.
Warung Bu Murni masih membuka pintu lebar-lebar.
Tetapi ada kelelahan yang terasa di wajah warga.
Ada kesunyian yang tidak biasa di halaman sekolah.
Dan ada jalan-jalan yang tampak lebih lengang dari sebelumnya.
“Sudah sampai,” kata tukang ojek.
Rantaka turun di dekat rumahnya.
Ibunya yang sedang menyapu halaman langsung menoleh.
Sapu lidi di tangannya berhenti bergerak.
“Rantaka?”
Rantaka tersenyum.
“Bu.”
Ibunya berjalan cepat mendekat.
Tanpa banyak bicara, ia memeluk anaknya.
Pelukan itu tidak lama.
Namun, cukup membuat Rantaka menundukkan kepala agar ibunya tidak melihat matanya yang mulai basah.
“Kau pulang tanpa memberi kabar,” kata ibunya setelah melepaskan pelukan.
“Aku ingin memberi kejutan.”
“Kejutanmu membuat Ibu hampir tidak percaya.”
Rantaka tertawa kecil.
Ibunya memandang wajahnya lebih dekat.
“Kau kurusan.”
“Tidak, Bu.”
“Jangan bohong. Wajahmu lebih tirus.”
Rantaka tidak menjawab.
Ia tahu ibunya akan segera memahami jika ia menceritakan semuanya.
Tentang pekerjaan malam.
Tentang pingsan di belakang warung makan.
Tentang nilai yang menurun.
Tentang beasiswa yang hampir dievaluasi.
Namun, hari itu ia tidak ingin langsung membawa kecemasan kota ke rumahnya.
Ia ingin menikmati kepulangan lebih dulu.
“Aku bawa buku,” katanya sambil menunjuk kardus.
Ibunya menatap kardus itu.
“Untuk sekolah?”
“Untuk Gerobak Buku.”
Ibunya terdiam sebentar.
Kemudian ia tersenyum.
“Berarti kau masih mengingat Langit Biru.”
Rantaka memandang halaman rumahnya.
“Aku baru sadar, Bu. Selama di kota, aku terlalu sibuk takut pada hidupku sendiri.”
Ibunya mengusap bahu Rantaka.
“Setiap orang bisa lelah. Yang penting, kau tidak lupa jalan pulang.”
Kalimat itu membuat Rantaka teringat surat Bu Laras.
Ia mengangguk pelan.
Setelah makan siang dan beristirahat sebentar, Rantaka berjalan menuju pohon beringin di dekat SD Wanasari.
Dulu, tempat itu selalu ramai setiap sore.
Anak-anak datang membawa buku tulis.
Ada yang membaca cerita bergambar.
Ada yang belajar mengeja.
Ada yang hanya ingin mendengarkan Liris membacakan puisi atau Banyu menjelaskan cara kerja alat-alat sederhana.
Gerobak Buku Langit Biru biasanya diparkir di bawah pohon itu.
Gerobak tua berwarna biru dengan roda yang sering berbunyi ketika didorong.
Namun, sore itu, tempat tersebut kosong.
Tidak ada gerobak.
Tidak ada buku.
Tidak ada suara anak-anak.
Hanya daun-daun beringin yang bergerak pelan diterpa angin.
Rantaka berdiri cukup lama.
Ia merasa bersalah.
Bukan karena Gerobak Buku berhenti hanya karena dirinya pergi.
Ia tahu Liris, Banyu, dan Jagra memiliki beban masing-masing.
Namun, ia tetap merasa bersalah karena selama ini terlalu sibuk menghadapi masalah di kota sampai tidak benar-benar hadir ketika sahabat-sahabatnya membutuhkan.
“Rantaka?”
Suara itu datang dari arah jalan kecil.
Rantaka menoleh.
Liris berdiri beberapa langkah darinya.
Ia membawa buku catatan hijau di dada.
Wajahnya tampak sedikit terkejut, lalu perlahan berubah menjadi senyum.
“Kau benar-benar pulang,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Aku bilang akan pulang saat libur.”
“Aku kira kau masih sibuk memperbaiki nilai.”
“Aku memang harus belajar. Tapi aku juga harus pulang.”
Liris mendekat.
Mereka berdiri di bawah pohon beringin yang sama, tetapi kini terasa berbeda dari masa-masa ketika mereka masih lebih muda dan tidak banyak memikirkan masa depan.
“Aku membawa buku,” kata Rantaka.
“Untuk Gerobak Buku?”
“Iya.”
Liris menatap tempat kosong di bawah pohon.
“Anak-anak masih sering bertanya.”
“Apa yang mereka tanyakan?”
“Kapan Gerobak Buku berjalan lagi.”
Rantaka menunduk.
“Jagra masih marah?”
“Tidak seperti dulu,” jawab Liris. “Tapi dia masih berat. Kolam keluarganya belum pulih sepenuhnya.”
“Banyu?”
“Sedang sibuk dengan alat pengatur air. Kemarin alatnya berhasil mengalirkan air ke kebun Pak Karta.”
Rantaka tersenyum.
“Banyu memang tidak pernah berhenti mencoba.”
“Tidak,” kata Liris. “Dia hanya kadang terlalu keras pada dirinya sendiri.”
Rantaka mengangguk.
“Kita semua begitu, sepertinya.”
Liris memandangnya.
“Kau sudah bicara dengan Damar tentang pekerjaan malam itu?”
“Sudah. Dia bilang aku harus berhenti bekerja terlalu keras.”
“Dan kau akan mendengarnya?”
“Aku sedang berusaha.”
Liris tersenyum kecil.
“Bagus.”
Mereka terdiam beberapa saat.
Rantaka ingin mengatakan bahwa ia rindu.
Ia ingin mengatakan bahwa suara Liris di telepon umum malam itu terus teringat dalam kepalanya.
Namun, mereka sudah sepakat untuk tidak membuat janji besar sebelum menyelesaikan perjuangan masing-masing.
Maka, ia memilih mengatakan sesuatu yang lebih sederhana.
“Aku ingin memperbaiki Gerobak Buku.”
Liris memandangnya.
“Bukan hanya gerobaknya,” lanjut Rantaka. “Aku ingin kita memperbaiki semuanya.”
Menjelang sore, Liris mengajak Rantaka menuju rumah Banyu.
Bengkel kecil di belakang rumah Banyu tampak lebih ramai daripada biasanya.
Di depan bangunan beratap seng itu, beberapa pipa plastik, roda sepeda bekas, dan potongan kayu tersusun rapi.
Banyu sedang membungkuk di dekat alat pengatur airnya.
Tangannya masih memiliki bekas luka, tetapi kini ia tampak lebih berhati-hati saat bekerja.
Ketika mendengar langkah kaki, ia menoleh.
Wajahnya langsung berubah.
“Rantaka?”
Rantaka tersenyum.
“Halo, Banyu.”
Banyu berdiri.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling memandang.
Kemudian Banyu berjalan mendekat dan menepuk bahu Rantaka cukup keras.
“Kau pulang juga.”
“Iya.”
“Kota tidak membuatmu lupa jalan ke desa?”
“Nyaris,” jawab Rantaka sambil tersenyum. “Tapi aku ingat lagi.”
Banyu tertawa kecil.
Liris berdiri di samping mereka.
“Aku sudah cerita tentang alatmu,” katanya kepada Rantaka.
“Alat itu berhasil?” tanya Rantaka.
“Belum sempurna,” jawab Banyu cepat. “Tapi air bisa naik ke kebun Pak Karta.”
“Itu sudah luar biasa.”
Banyu mengangkat bahu, tetapi wajahnya tampak senang.
“Masih harus banyak diperbaiki.”
Rantaka melihat rancangan di atas meja.
Ada gambar pipa, pompa sederhana, dan jalur air menuju kebun yang lebih tinggi.
“Kau mau mencoba untuk kolam Jagra?” tanya Rantaka.
Banyu mengangguk.
“Jagra datang waktu alatnya diuji. Dia bilang mungkin alat ini bisa membantu kolam keluarganya.”
“Berarti kalian sudah bicara?”
“Belum banyak.”
“Tidak apa-apa,” kata Rantaka. “Kadang satu kalimat sudah cukup untuk memulai.”
Banyu menatap Rantaka.
“Kau bicara seperti orang kota sekarang.”
“Jangan mulai.”
Mereka tertawa.
Tawa itu sederhana.
Namun, setelah sekian lama, tawa tersebut terasa seperti sesuatu yang kembali pulang.
Liris kemudian mengeluarkan surat Bu Laras dari buku catatan hijaunya.
“Aku membawa ini,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Aku juga menerima surat yang sama.”
Banyu memandang surat itu.
“Surat itu membuatku sadar bahwa aku terlalu cepat marah kepada Jagra.”
“Aku juga,” kata Liris. “Aku terlalu banyak diam.”
Rantaka menatap keduanya.
“Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.”
Banyu menghela napas.
“Berarti kita semua punya bagian.”
“Kalau begitu,” kata Liris, “mungkin kita juga semua bisa memperbaikinya.”
Rantaka menatap kardus buku yang ia bawa dari rumah.
“Kita mulai dari Gerobak Buku.”
Banyu memandang jalan ke arah gudang kecil di belakang balai desa, tempat gerobak itu biasanya disimpan.
“Gerobaknya masih ada,” katanya. “Tapi rodanya macet. Catnya juga mengelupas.”
“Aku bisa memperbaiki roda,” kata Banyu.
“Aku bisa memilah buku dan membuat jadwal belajar,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Aku bisa mengajak anak-anak kembali datang. Aku juga bisa membantu mereka belajar.”
“Dan Jagra?” tanya Liris.
Rantaka menatap langit sore yang mulai berubah warna.
“Kita harus menemuinya.”
Rumah Jagra berada tidak jauh dari sungai.
Ketika Rantaka, Liris, dan Banyu tiba, Jagra sedang membantu ayahnya mengangkat jaring yang sudah kering.
Di halaman rumah, beberapa ember dan peralatan kolam masih tersusun. Sebagian tampak rusak. Ada papan kayu yang retak. Ada jaring yang tambalannya lebih banyak daripada bagian utuhnya.
Jagra melihat mereka datang.
Wajahnya berubah kaku.
Rantaka melangkah lebih dulu.
“Halo, Jagra.”
Jagra menatapnya.
“Kau pulang.”
“Iya.”
“Kapan?”
“Siang tadi.”
Jagra mengangguk.
Tidak ada sambutan panjang.
Tidak ada pelukan.
Namun, Rantaka tidak merasa tersinggung.
Ia tahu sahabatnya sedang membawa terlalu banyak hal di dalam hati.
Banyu berdiri sedikit di belakang.
Tangannya menggenggam topi yang ia pakai.
“Aku membawa rancangan alat,” katanya akhirnya. “Untuk mengalirkan air. Mungkin bisa membantu kolam.”
Jagra menatap Banyu.
“Aku tahu. Aku lihat alatmu di kebun Pak Karta.”
“Kalau kau mau, besok kita bisa mencoba.”
Jagra tidak langsung menjawab.
Ayah Jagra yang sejak tadi diam kemudian berkata, “Kalau memang bisa membantu, tidak ada salahnya dicoba.”
Jagra memandang ayahnya.
Lalu ia kembali memandang Banyu.
“Baik,” katanya pelan.
Liris mengeluarkan surat Bu Laras.
“Kami juga ingin bicara tentang Gerobak Buku.”
Jagra menarik napas.
“Aku belum bisa ikut seperti dulu.”
“Kami tidak datang untuk memaksamu,” kata Liris.
Rantaka mengangguk.
“Kami datang karena kami ingin mulai lagi. Pelan-pelan.”
“Anak-anak masih menunggu,” tambah Liris.
Jagra menunduk.
“Aku tahu.”
“Kalau kau belum bisa hadir setiap sore, tidak apa-apa,” kata Rantaka. “Tapi jangan menutup pintu untuk Langit Biru.”
Jagra memandang tanah di bawah kakinya.
Angin dari sungai berembus pelan.
Suara air terdengar dari kejauhan.
“Aku marah,” katanya akhirnya. “Aku marah karena semua orang bicara tentang Gerobak Buku, sementara aku harus memikirkan kolam, ayah, dan rumah.”
“Kami tahu,” kata Banyu.
“Tidak,” jawab Jagra cepat. “Kalian tidak tahu sepenuhnya.”
Banyu mengangguk.
“Kami memang tidak tahu sepenuhnya. Tapi kami ingin tahu. Kalau kau mau cerita.”
Jagra terdiam.
Rantaka memandang sahabatnya.
“Kami juga salah karena terlalu cepat menilai,” katanya. “Aku pergi ke kota dan sibuk dengan masalahku. Liris sibuk dengan keluarganya. Banyu sibuk dengan alatnya. Tapi itu bukan alasan untuk membiarkanmu sendirian.”
Jagra menatap mereka satu per satu.
Wajahnya masih lelah.
Namun, kali ini ia tidak berpaling.
“Aku tidak tahu apakah Gerobak Buku bisa berjalan lagi,” katanya.
“Bisa,” jawab Liris. “Mungkin tidak langsung seperti dulu.”
“Tidak harus ramai,” tambah Rantaka. “Tidak harus sempurna.”
“Cukup mulai dari satu sore,” kata Banyu.
Jagra memandang sungai.
Kemudian ia mengangguk pelan.
“Satu sore.”
Kalimat itu sederhana.
Tetapi bagi mereka, kalimat tersebut terasa seperti pintu yang akhirnya terbuka.
Keesokan paginya, mereka berkumpul di gudang kecil belakang balai desa.
Pintu gudang berderit ketika dibuka.
Di dalamnya, Gerobak Buku Langit Biru berdiri dalam keadaan diam.
Cat birunya mengelupas di beberapa bagian.
Salah satu roda depan macet.
Rak bukunya berdebu.
Ada daun-daun kering terselip di antara buku-buku lama.
Liris mengusap debu di permukaan gerobak.
“Kasihan sekali,” katanya pelan.
Rantaka menaruh kardus buku di samping gerobak.
“Tidak apa-apa,” jawabnya. “Kita bersihkan.”
Banyu langsung memeriksa roda.
“Bukan rusak parah,” katanya. “Hanya berkarat dan bautnya longgar.”
Jagra berdiri di dekat pintu gudang.
Awalnya ia hanya memperhatikan.
Namun, ketika melihat Rantaka mengangkat tumpukan buku yang berat, ia ikut mendekat.
“Taruh yang itu di sini,” katanya.
Rantaka menoleh.
Jagra menunjuk rak bagian bawah.
“Buku cerita anak-anak sebaiknya dipisahkan. Yang kecil-kecil biasanya mencari itu dulu.”
Liris tersenyum.
“Kau masih ingat.”
Jagra tidak menjawab, tetapi tangannya mulai membantu menyusun buku.
Mereka bekerja hampir sepanjang pagi.
Rantaka membersihkan rak dan memilah buku.
Liris mencatat judul-judul yang masih layak dipakai serta membuat daftar sederhana untuk jadwal belajar.
Banyu membongkar roda gerobak, membersihkan bagian berkarat, lalu memasang kembali baut yang lebih kuat.
Jagra menyusun buku cerita, buku pelajaran, dan majalah anak-anak.
Sesekali, mereka berbicara.
Sesekali, mereka diam.
Namun, diam itu tidak lagi penuh kemarahan.
Diam itu adalah diam orang-orang yang sedang mencoba memperbaiki sesuatu dengan tangan mereka sendiri.
Menjelang siang, gerobak itu tampak berbeda.
Belum seperti baru.
Catnya masih pudar.
Kayunya masih memiliki bekas goresan.
Tetapi rodanya sudah bisa bergerak.
Rak bukunya telah bersih.
Buku-buku baru dari Rantaka tersusun rapi.
Di bagian depan, Liris menempelkan selembar kertas bertuliskan:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
KEMBALI BERJALAN
Banyu mendorong gerobak sedikit.
Rodanya berbunyi pelan.
Namun, roda itu bergerak.
Jagra memandang gerobak tersebut cukup lama.
“Kapan kita mulai?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Sore ini.”
Menjelang sore, mereka mendorong Gerobak Buku Langit Biru menuju pohon beringin di dekat SD Wanasari.
Awalnya, jalan terasa sepi.
Hanya beberapa anak yang melihat dari halaman rumah.
Seorang anak kecil bernama Nisa berlari mendekat lebih dulu.
“Kak Liris!” serunya.
Liris tersenyum.
“Halo, Nisa.”
Nisa memandang gerobak itu dengan mata berbinar.
“Gerobak Buku kembali?”
“Iya,” jawab Liris.
Tidak lama kemudian, anak-anak lain mulai datang.
Ada yang membawa buku tulis.
Ada yang datang tanpa membawa apa-apa.
Ada yang hanya berdiri di kejauhan karena masih ragu.
Namun, ketika melihat buku-buku tersusun di gerobak, mereka perlahan mendekat.
Rantaka duduk di tikar yang digelar di bawah pohon.
“Siapa yang mau belajar membaca?” tanyanya.
Beberapa tangan kecil terangkat.
Liris mengajak anak-anak lain memilih buku cerita.
Banyu menunjukkan kepada beberapa anak cara kerja roda gerobak dan menjelaskan mengapa roda harus diberi minyak agar tidak macet.
Jagra duduk di dekat anak-anak yang lebih kecil.
Ia mengambil sebuah buku bergambar tentang ikan sungai.
“Siapa yang tahu ikan apa ini?” tanyanya.
Anak-anak menjawab ramai-ramai.
Suara mereka memenuhi halaman sekolah.
Suara tawa.
Suara membaca.
Suara bertanya.
Suara halaman buku yang dibuka.
Rantaka memandang semua itu dengan dada hangat.
Ia teringat hari ketika ia pertama kali pergi ke kota.
Saat itu, ia merasa masa depan hanya ada di tempat yang jauh.
Di sekolah besar.
Di jalan-jalan ramai.
Di bangunan-bangunan kota.
Namun, sore itu ia mengerti bahwa masa depan juga bisa tumbuh di bawah pohon beringin.
Di atas tikar sederhana.
Di antara buku-buku bekas.
Di tangan anak-anak yang baru belajar mengeja.
Liris duduk di dekatnya.
“Terima kasih sudah pulang,” katanya pelan.
Rantaka menoleh.
“Terima kasih karena kalian tidak membiarkan Langit Biru hilang.”
Liris tersenyum.
“Langit Biru tidak hilang.”
“Tidak?”
“Tidak,” jawab Liris. “Ia hanya menunggu kita kembali melihatnya.”
Rantaka memandang langit sore.
Warna biru mulai berubah keemasan.
Di dekat gerobak, Banyu sedang membantu seorang anak membuka buku sains bergambar.
Jagra sedang bercerita tentang ikan sungai kepada anak-anak kecil.
Liris memegang buku catatan hijaunya, mungkin sedang menulis sesuatu yang kelak menjadi puisi.
Dan Rantaka duduk di bawah pohon beringin, dikelilingi anak-anak yang membaca dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Masalah mereka belum selesai.
Nilai Rantaka masih harus diperbaiki.
Beasiswanya masih belum aman.
Liris masih harus menentukan pilihan antara bekerja atau mengikuti pelatihan menulis.
Banyu masih harus menyempurnakan alat pengatur airnya.
Jagra masih harus membantu memulihkan kolam keluarganya.
Namun, sore itu mereka tidak lagi berdiri sendiri-sendiri.
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan.
Pelan.
Dengan roda yang pernah macet.
Dengan cat yang pernah mengelupas.
Dengan buku-buku yang pernah berdebu.
Tetapi tetap berjalan.
Seperti persahabatan mereka.
Tidak sempurna.
Pernah retak.
Pernah berhenti.
Namun, selama masih ada keberanian untuk kembali, selalu ada jalan untuk memulainya lagi.
BAB 23
PENTAS DARI DUA DUNIA
Gerobak Buku Langit Biru kembali berjalan selama hampir dua minggu.
Setiap sore, anak-anak Desa Wanasari mulai datang lagi ke bawah pohon beringin dekat SD. Mereka membawa buku tulis, pensil pendek, atau sekadar rasa ingin tahu yang besar. Ada yang belajar membaca. Ada yang belajar berhitung. Ada yang memilih buku cerita bergambar. Ada pula yang duduk diam mendengarkan Liris membacakan puisi.
Namun, Rantaka tahu bahwa Gerobak Buku saja belum cukup.
Banjir telah meninggalkan luka yang terlalu besar bagi Desa Wanasari.
Kolam ikan keluarga Jagra belum sepenuhnya pulih. Kebun-kebun warga masih membutuhkan aliran air yang lebih baik. Banyak keluarga masih berusaha memperbaiki rumah dan mencari penghasilan setelah panen mereka gagal. Anak-anak memang kembali belajar, tetapi buku dan alat tulis mereka semakin sedikit.
Suatu sore, setelah kegiatan Gerobak Buku selesai, Rantaka duduk bersama Liris, Banyu, dan Jagra di bawah pohon beringin.
Anak-anak sudah pulang.
Gerobak Buku diparkir di dekat pagar sekolah.
Langit sore berwarna jingga. Angin membawa bau tanah basah dari arah sungai.
“Aku berpikir,” kata Rantaka.
Banyu menoleh.
“Biasanya kalau kau bilang begitu, ada pekerjaan tambahan.”
Rantaka tersenyum tipis.
“Mungkin.”
Liris menutup buku catatan hijaunya.
“Apa yang kau pikirkan?”
“Kita perlu membuat kegiatan yang lebih besar.”
Jagra memandang Rantaka.
“Kegiatan apa?”
“Pentas Langit Biru.”
Nama itu membuat mereka terdiam.
Mereka pernah mengadakan kegiatan serupa sebelumnya. Saat itu, mereka masih lebih muda. Mereka membuat acara kecil di balai desa, mengajak anak-anak membaca puisi, bercerita, dan bermain sambil belajar.
Namun, kali ini keadaan berbeda.
Desa sedang kesulitan.
Mereka sendiri sedang menghadapi banyak masalah.
“Apa kita mampu?” tanya Jagra.
Rantaka tidak langsung menjawab.
“Kita mungkin tidak mampu menyelesaikan semua masalah,” katanya. “Tapi kita bisa mengajak lebih banyak orang melihat keadaan desa kita.”
Liris mengangguk pelan.
“Kalau warga datang, kita bisa mengajak mereka kembali memikirkan pendidikan anak-anak.”
“Dan perikanan,” kata Jagra.
“Dan kebun,” tambah Banyu.
Rantaka tersenyum.
“Itulah maksudku. Pentas ini bukan hanya untuk hiburan. Kita bisa menunjukkan bahwa desa masih punya harapan.”
Banyu menatap alat pengatur air yang tersimpan di samping rumahnya dalam bayangan pikirannya.
“Aku bisa membawa alat itu,” katanya. “Bukan untuk pamer, tapi untuk menjelaskan bahwa alat sederhana bisa membantu kebun warga.”
Jagra memandang sungai di kejauhan.
“Aku bisa bicara tentang kolam ikan. Tentang apa yang rusak setelah banjir. Tentang rencana membentuk kelompok perikanan remaja.”
Liris memegang buku catatan hijaunya lebih erat.
“Aku bisa membacakan puisi.”
“Puisi tentang apa?” tanya Banyu.
Liris tersenyum kecil.
“Perantauan. Tentang kota dan desa. Tentang orang-orang yang pergi, lalu sadar bahwa mereka tetap membawa rumahnya di dalam hati.”
Rantaka menunduk.
Ia tahu puisi itu mungkin juga tentang dirinya.
Tentang Kota Arunika.
Tentang rumah singgah.
Tentang telepon umum di sudut pasar.
Tentang rasa sepi yang tidak pernah ia ceritakan kepada siapa pun selain Liris.
“Aku akan menghubungi teman-temanku di kota,” kata Rantaka.
“Untuk apa?” tanya Jagra.
“Aku ingin meminta bantuan buku dan alat tulis. Tidak harus banyak. Buku bekas yang masih layak. Pensil, penghapus, buku tulis. Apa saja yang bisa digunakan anak-anak di sini.”
Banyu menatapnya.
“Mereka mau membantu?”
“Aku belum tahu,” jawab Rantaka. “Tapi aku harus mencoba.”
Malam itu, Rantaka menulis surat kepada Damar.
Ia menulis di meja kecil rumahnya dengan lampu minyak yang menyala redup. Ibunya sudah tidur. Dari luar rumah, terdengar suara jangkrik dan aliran sungai yang jauh.
Surat itu berbeda dari surat-surat yang dulu sering ia tulis lalu tidak pernah kirim.
Kali ini, Rantaka tidak menulis untuk menyembunyikan kesedihan.
Ia menulis untuk meminta bantuan.
Ia menceritakan tentang banjir di Desa Wanasari.
Tentang kolam ikan yang rusak.
Tentang kebun yang mengering setelah air surut.
Tentang Gerobak Buku Langit Biru yang sempat berhenti berjalan.
Ia juga menceritakan bahwa bersama Liris, Banyu, dan Jagra, ia ingin mengadakan kegiatan di balai desa.
Di bagian akhir surat, ia menulis:
Kalau teman-teman di kota memiliki buku atau alat tulis yang sudah tidak dipakai, kami akan sangat terbantu. Tidak perlu baru. Tidak perlu banyak. Anak-anak di desa akan senang jika memiliki sesuatu untuk dibaca dan ditulis.
Setelah selesai, Rantaka membaca ulang surat itu.
Ia sempat merasa ragu.
Apakah teman-temannya di kota akan mengerti?
Apakah mereka akan menganggapnya terlalu berharap?
Namun, ia teringat sesuatu yang dikatakan Bu Laras dalam suratnya.
Jangan malu meminta bantuan ketika bantuan itu bukan hanya untuk dirimu sendiri.
Keesokan paginya, Rantaka pergi ke kantor pos kecamatan.
Ia memasukkan surat itu ke dalam amplop.
Kemudian ia menyerahkannya kepada petugas.
Saat surat itu menghilang di balik meja petugas, Rantaka merasa seperti sedang mengirim sebagian harapan Desa Wanasari ke kota.
Persiapan Pentas Langit Biru dimulai.
Balai desa yang selama ini digunakan untuk rapat warga dibersihkan bersama-sama. Lantai disapu. Jendela dibuka agar udara masuk. Kursi-kursi kayu yang tersimpan di gudang dikeluarkan. Panggung kecil dari papan disusun di bagian depan ruangan.
Liris membuat tulisan besar di karton bekas.
PENTAS LANGIT BIRU
DARI DUA DUNIA
UNTUK DESA WANASARI
Tulisan itu ditempel di depan balai desa.
Banyu membantu membuat tiang sederhana untuk memasang kain latar panggung. Ia menggunakan bambu dan tali rafia. Di bagian samping panggung, ia menyiapkan alat pengatur air buatannya.
Alat itu kini terlihat lebih rapi.
Rangkanya masih dari kayu bekas.
Rodanya masih roda sepeda tua.
Namun, pipa dan selangnya sudah dipasang lebih kuat. Banyu juga menambahkan penyangga agar alat itu tidak mudah bergeser saat digunakan.
Jagra sibuk mendatangi beberapa pemuda desa.
Awalnya, ia merasa canggung.
Selama beberapa bulan terakhir, ia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan di kolam. Ia merasa tidak punya hak untuk mengajak orang lain ketika dirinya sendiri hampir menyerah.
Namun, ia teringat air yang berhasil mengalir ke kebun Pak Karta.
Ia teringat kata-kata Rantaka bahwa sesuatu tidak harus sempurna untuk bisa dimulai.
Maka, ia mendatangi rumah demi rumah.
Ia berbicara kepada pemuda yang biasa membantu orang tua di kebun.
Ia berbicara kepada anak-anak remaja yang sering memancing di sungai.
Ia berbicara kepada beberapa teman sekolah yang dulu pernah membantu Gerobak Buku.
“Kita tidak bisa menunggu semuanya pulih sendiri,” katanya. “Kalau kolam rusak, kita perbaiki bersama. Kalau alat kurang, kita cari cara. Kalau hasil ikan belum banyak, kita mulai dari yang ada.”
Beberapa pemuda mengangguk.
Sebagian masih ragu.
Namun, ada yang mulai tertarik.
Terutama ketika Jagra mengatakan bahwa kelompok itu tidak hanya akan mengurus ikan, tetapi juga belajar cara merawat kolam, membuat pakan sederhana, dan membantu keluarga yang kolamnya rusak akibat banjir.
Perlahan, nama-nama mulai dicatat.
Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Nama itu belum resmi.
Belum memiliki seragam.
Belum memiliki uang kas.
Namun, sudah memiliki sesuatu yang penting.
Keinginan untuk bergerak.
Tiga hari sebelum pentas, sebuah kendaraan bak terbuka berhenti di depan balai desa.
Di atas bak kendaraan itu terdapat beberapa kardus.
Anak-anak yang sedang bermain di halaman langsung berlari mendekat.
Rantaka yang sedang membantu memasang kursi menoleh.
Seorang pemuda turun dari kendaraan.
Ia membawa tas ransel dan tersenyum lebar.
“Rantaka!”
Rantaka terkejut.
“Damar?”
Damar berjalan cepat menghampirinya.
Mereka saling berjabat tangan, lalu berpelukan singkat.
“Kau datang?”
“Aku membawa titipan.”
Damar menunjuk kardus-kardus di atas kendaraan.
“Teman-teman di sekolah mengumpulkan buku. Ada buku pelajaran, cerita anak, majalah ilmu pengetahuan, dan beberapa buku tulis. Tidak banyak, tapi kami berharap berguna.”
Rantaka memandang kardus-kardus itu.
Dadanya terasa hangat.
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih dulu,” kata Damar. “Angkat dulu kardusnya.”
Banyu dan Jagra segera datang membantu.
Liris keluar dari balai desa sambil membawa karton.
Ketika melihat tumpukan kardus, wajahnya berubah cerah.
“Buku?”
“Dari kota,” jawab Rantaka.
Anak-anak mulai berkerumun.
Mereka melihat kardus-kardus itu seperti melihat peti harta karun.
Damar membuka salah satu kardus.
Di dalamnya terdapat buku cerita bergambar, buku pengetahuan umum, buku pelajaran, pensil, penghapus, dan beberapa kotak krayon.
Seorang anak kecil mengambil buku bergambar tentang tata surya.
“Ini untuk kami?” tanyanya.
Rantaka tersenyum.
“Iya. Tapi nanti dibaca bersama-sama.”
Anak itu memeluk buku tersebut.
Pemandangan itu membuat Damar terdiam.
Mungkin baru saat itu ia benar-benar memahami maksud surat Rantaka.
Di kota, buku sering menjadi barang biasa.
Di Desa Wanasari, sebuah buku baru bisa membuat mata anak-anak berbinar seperti melihat sesuatu yang sangat berharga.
“Teman-temanmu baik,” kata Liris kepada Rantaka.
Rantaka mengangguk.
“Mereka juga anak-anak yang sedang berjuang.”
Damar menatap Liris.
“Kau Liris?”
Liris tampak sedikit terkejut.
“Iya.”
“Rantaka sering menyebut namamu.”
Rantaka langsung menoleh tajam.
“Damar.”
Damar tertawa.
“Aku hanya bilang yang benar.”
Liris menunduk, menahan senyum.
Banyu dan Jagra saling pandang.
Namun, tidak ada yang menambah godaan.
Mereka tahu bahwa beberapa hal tidak perlu dijelaskan terlalu banyak.
Hari Pentas Langit Biru akhirnya tiba.
Sejak pagi, balai desa sudah ramai.
Ibu-ibu membawa makanan sederhana untuk dijual atau dibagikan. Beberapa bapak membantu memasang tikar di halaman. Anak-anak datang dengan pakaian terbaik mereka. Ada yang memakai baju seragam sekolah. Ada yang memakai kemeja lama yang sudah disetrika rapi.
Di depan balai desa, Gerobak Buku Langit Biru diparkir dengan buku-buku baru tersusun di dalamnya.
Di sampingnya, Banyu menata alat pengatur air.
Di dekat pintu masuk, Jagra menempelkan kertas besar bertuliskan:
DAFTAR PEMUDA YANG BERSEDIA BERGABUNG
KELOMPOK PERIKANAN REMAJA WANASARI
Rantaka berdiri di dekat panggung.
Ia mengenakan kemeja putih sederhana yang sudah disetrika oleh ibunya.
Tangannya masih sedikit gemetar.
Ia tidak terbiasa berdiri di depan banyak orang.
Di Kota Arunika, ia sering merasa kecil di hadapan siswa-siswa lain.
Namun, hari itu, ia tidak berdiri untuk dirinya sendiri.
Ia berdiri untuk desa.
Liris datang mengenakan baju sederhana berwarna biru muda.
Di tangannya, ia membawa buku catatan hijau.
“Kau gugup?” tanyanya.
“Sedikit.”
“Bagus.”
“Bagus?”
“Kalau gugup, berarti kau menganggap ini penting.”
Rantaka tersenyum.
“Kau sendiri?”
“Aku lebih gugup.”
“Karena akan membaca puisi?”
“Karena ayahku datang.”
Rantaka menoleh ke arah kursi warga.
Di barisan belakang, ayah Liris duduk dengan wajah tenang. Ia tidak banyak bicara. Namun, kehadirannya saja sudah membuat Liris merasa tegang.
“Ayahmu mau datang?” tanya Rantaka.
“Ibu yang mengajaknya. Aku tidak tahu apakah ia datang untuk mendukung atau hanya ingin melihat.”
“Setidaknya ia datang.”
Liris mengangguk.
Di dekat panggung, Banyu sedang memeriksa sambungan pipa untuk terakhir kali.
Jagra berdiri bersama beberapa pemuda yang sudah menuliskan nama mereka di daftar kelompok perikanan.
Wajahnya masih serius.
Namun, tidak lagi tertutup seperti sebelumnya.
Ketika semua warga mulai duduk, Pak Lurah Desa Wanasari naik ke panggung kecil.
Ia membuka acara dengan sambutan singkat.
Ia berbicara tentang banjir yang telah menguji warga.
Tentang anak-anak yang membutuhkan dukungan agar tidak berhenti belajar.
Tentang pentingnya pemuda desa untuk tidak hanya menunggu bantuan datang.
Setelah itu, ia mempersilakan Rantaka maju.
Rantaka berjalan ke depan panggung.
Ia memegang selembar kertas.
Namun, ketika melihat wajah anak-anak di barisan depan, ia menurunkan kertas itu.
Ia ingin berbicara dari hati.
“Bapak, Ibu, dan teman-teman semua,” katanya.
Suara Rantaka sempat bergetar.
Namun, perlahan ia menemukan keberaniannya.
“Kami memberi nama kegiatan ini Pentas Langit Biru dari Dua Dunia. Bukan karena kota lebih baik dari desa. Bukan juga karena desa lebih kecil daripada kota.”
Warga mendengarkan.
“Kota memberi kami pengalaman. Kota memberi kami buku, teman, dan kesempatan belajar. Tetapi desa memberi kami rumah. Desa memberi kami keluarga, tanah, sungai, dan alasan untuk pulang.”
Ia menatap Gerobak Buku yang berdiri di samping balai desa.
“Anak-anak Desa Wanasari tidak boleh kehilangan kesempatan belajar hanya karena keadaan sedang sulit. Mereka tidak boleh merasa bahwa mimpi hanya milik orang-orang yang tinggal jauh dari sini.”
Beberapa warga mengangguk.
Rantaka melanjutkan.
“Kami mungkin belum bisa memperbaiki semua yang rusak. Kami belum bisa mengembalikan panen yang gagal. Kami belum bisa mengisi kembali semua kolam ikan. Tetapi kami bisa mulai dari hal kecil. Dari buku. Dari alat tulis. Dari kebun yang dialiri air. Dari pemuda yang mau bekerja bersama.”
Tepuk tangan terdengar dari beberapa arah.
Rantaka menunduk.
Ketika ia kembali ke tempat duduk, Liris memandangnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kau bicara bagus,” katanya pelan.
“Aku hampir lupa setengahnya.”
“Tapi kau tidak lupa yang penting.”
Acara berikutnya adalah pembacaan puisi oleh Liris.
Liris naik ke panggung dengan buku catatan hijau di tangan.
Ia berdiri beberapa saat di depan mikrofon sederhana.
Angin sore masuk dari jendela balai desa.
Kertas di tangannya bergerak pelan.
Kemudian ia mulai membaca.
Puisi itu berjudul “Dari Dua Dunia.”
Ia bercerita tentang seorang anak desa yang naik bus pagi menuju kota.
Tentang lampu-lampu kota yang terlihat seperti bintang, tetapi tidak selalu menghangatkan.
Tentang jalan tanah di desa yang penuh lumpur, tetapi selalu mengenal langkah kaki orang yang pulang.
Ia menulis tentang surat yang terlambat.
Tentang telepon umum yang suaranya putus-putus.
Tentang ibu yang menunggu di halaman rumah.
Tentang sahabat-sahabat yang tetap menjaga gerobak buku meskipun hidup mereka tidak mudah.
Suara Liris tidak keras.
Namun, setiap kata terdengar jelas.
Balai desa menjadi sunyi.
Bahkan anak-anak yang biasanya sulit diam ikut mendengarkan.
Ketika Liris sampai pada bagian akhir, ia mengangkat wajahnya.
“Bukan kota yang membuat kita jauh,” bacanya. “Bukan pula desa yang membuat kita kecil. Yang membuat kita hilang adalah ketika kita lupa bahwa ada jalan pulang di dalam hati.”
Liris menutup buku catatannya.
Tepuk tangan terdengar.
Awalnya pelan.
Kemudian semakin ramai.
Rantaka melihat ayah Liris di barisan belakang.
Lelaki itu tidak bertepuk tangan terlalu keras.
Namun, ia menatap Liris cukup lama.
Di wajahnya, ada sesuatu yang tidak bisa dibaca dengan mudah.
Bukan sepenuhnya setuju.
Bukan pula sepenuhnya menolak.
Tetapi mungkin, untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa tulisan anaknya bukan hanya permainan.
Tulisan itu bisa membuat orang-orang diam dan berpikir.
Liris turun dari panggung.
Tangannya sedikit gemetar.
Rantaka berdiri di dekat tangga panggung.
“Itu puisi terbaikmu,” katanya.
Liris menggeleng.
“Belum tentu.”
“Bagiku, iya.”
Liris tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Setelah pembacaan puisi, Banyu membawa alat pengatur air ke depan balai desa.
Beberapa warga mendekat.
Ada yang penasaran.
Ada yang masih ragu.
Banyu berdiri di samping alatnya.
Ia tidak membawa naskah.
Ia hanya membawa selembar gambar rancangan.
“Alat ini dibuat dari barang-barang sederhana,” katanya. “Ada roda sepeda bekas, pipa plastik, selang, dan pompa kecil yang diperbaiki.”
Ia menunjukkan bagian-bagian alat tersebut.
“Alat ini tidak menggunakan listrik. Roda diputar dengan tenaga manusia. Air dari parit bisa dinaikkan melalui selang ke kebun yang lebih tinggi.”
Pak Karta yang hadir di antara warga berdiri.
“Alat ini sudah dicoba di kebun saya,” katanya. “Airnya memang tidak besar, tetapi cukup membantu menyiram tanaman.”
Beberapa warga mulai berbicara pelan.
Banyu melanjutkan.
“Alat ini masih sederhana. Masih banyak kekurangannya. Tapi kalau kita membuatnya bersama-sama, mungkin kita bisa membantu kebun yang sulit mendapat air setelah banjir.”
Seorang petani bertanya, “Apakah alat itu mahal dibuat?”
“Tidak terlalu,” jawab Banyu. “Banyak bahannya bisa memakai barang bekas. Yang penting adalah kemauan untuk mencoba dan memperbaiki.”
Pak Hendra yang berdiri di samping Banyu menepuk bahunya.
“Anak ini sudah beberapa kali gagal,” katanya. “Tapi dia tidak berhenti.”
Banyu menunduk malu.
Namun, beberapa warga mulai bertepuk tangan.
Bagi Banyu, tepuk tangan itu bukan karena alatnya sudah sempurna.
Melainkan karena orang-orang mulai percaya bahwa usaha kecil pun bisa berguna.
Menjelang akhir acara, Jagra maju ke depan panggung.
Ia tidak membawa kertas.
Ia hanya membawa daftar nama pemuda yang sudah bersedia bergabung.
Wajahnya tampak tegang.
Namun, ketika ia melihat ayahnya duduk di dekat pintu balai desa, ia menarik napas dan mulai berbicara.
“Banjir merusak banyak kolam ikan di desa kita,” katanya. “Keluarga saya juga mengalami itu.”
Suasana menjadi hening.
“Dulu saya berpikir bahwa masalah ini hanya beban keluarga saya. Saya marah kepada banyak orang. Saya merasa tidak ada yang mengerti.”
Ia berhenti sejenak.
“Namun, saya mulai sadar bahwa banyak keluarga lain juga mengalami hal yang sama. Kalau kami menghadapi semuanya sendiri-sendiri, kami akan lebih mudah menyerah.”
Jagra mengangkat daftar nama.
“Karena itu, saya mengajak pemuda Desa Wanasari membentuk Kelompok Perikanan Remaja Wanasari. Kami ingin belajar bersama tentang merawat kolam, membuat pakan sederhana, memperbaiki saluran air, dan membantu keluarga yang kolamnya rusak.”
Beberapa pemuda berdiri di belakangnya.
Mereka maju satu per satu.
Ada yang masih memakai pakaian kerja.
Ada yang datang dengan sandal penuh lumpur.
Namun, mereka berdiri dengan wajah serius.
“Kami tidak menjanjikan hasil besar dalam waktu cepat,” lanjut Jagra. “Tapi kami berjanji tidak akan membiarkan usaha perikanan desa ini mati.”
Tepuk tangan terdengar lagi.
Kali ini lebih kuat.
Ayah Jagra berdiri dari kursinya.
Ia tidak berkata apa-apa.
Namun, ia mengangkat tangan dan menepuk bahu anaknya ketika Jagra turun dari panggung.
Jagra menunduk.
Matanya tampak basah.
Rantaka, Liris, dan Banyu menghampirinya.
“Kau hebat,” kata Banyu.
Jagra menggeleng.
“Aku hanya bicara.”
“Kadang-kadang bicara itu yang paling sulit,” jawab Liris.
Rantaka menatap sahabatnya.
“Langit Biru mulai hidup lagi.”
Jagra memandang Gerobak Buku.
Kemudian ia melihat kelompok pemuda yang berdiri di dekat panggung.
“Bukan hanya Langit Biru,” katanya. “Mungkin Wanasari juga.”
Menjelang magrib, acara hampir selesai.
Warga mulai membawa pulang makanan yang tersisa. Anak-anak masih memilih buku dari Gerobak Buku. Beberapa ibu menanyakan apakah buku tulis dan pensil bisa dibagikan untuk anak-anak mereka.
Damar membantu Rantaka mencatat buku-buku yang akan dipinjamkan.
“Kau benar,” kata Damar. “Di kota, kami sering tidak sadar bahwa buku yang kami anggap biasa bisa sangat berarti di tempat lain.”
Rantaka mengangguk.
“Di desa, kami juga sering berpikir bahwa kota punya semua jawaban.”
“Padahal tidak?”
“Tidak semua.”
Damar tersenyum.
“Berarti dua dunia itu memang harus saling belajar.”
“Ya,” jawab Rantaka. “Bukan saling merendahkan.”
Di dekat pintu balai desa, seorang lelaki berpakaian rapi berbicara dengan Pak Lurah.
Ia adalah Pak Surya, staf dari kantor kecamatan yang datang mewakili camat. Bersamanya hadir pula Bu Laras, yang datang dari sekolah membawa beberapa guru.
Bu Laras menghampiri keempat sahabat.
Wajahnya tampak bangga.
“Kalian sudah membuat sesuatu yang penting,” katanya.
“Kami hanya mengadakan pentas kecil, Bu,” kata Liris.
“Tidak,” jawab Bu Laras. “Kalian sedang menunjukkan bahwa anak-anak muda desa bisa melihat masalah, lalu memilih bergerak.”
Pak Surya mengangguk.
“Kecamatan akan mencoba membantu menghubungkan kegiatan ini dengan program kepemudaan dan pendidikan. Kami juga akan menyampaikan kebutuhan buku serta perbaikan sarana belajar kepada pihak yang terkait.”
Jagra memandangnya.
“Bagaimana dengan kelompok perikanan, Pak?”
“Kalian buat dulu daftar kebutuhan dan rencana kegiatan,” jawab Pak Surya. “Kalau kelompoknya serius, akan lebih mudah untuk mencari pendampingan.”
Banyu bertanya, “Kalau alat pengatur air?”
Pak Surya tersenyum.
“Kalian bisa tunjukkan lagi pada pertemuan kecamatan. Mungkin ada pihak yang bisa membantu pengembangan alat itu.”
Rantaka memandang Liris, Banyu, dan Jagra.
Mereka tidak berkata apa-apa.
Namun, masing-masing memahami bahwa pentas hari itu telah membuka sebuah pintu.
Pintu itu belum tentu langsung membawa mereka ke jalan yang mudah.
Tetapi setidaknya, pintu itu tidak lagi tertutup.
Malam turun di Desa Wanasari.
Balai desa mulai sepi.
Kursi-kursi sudah disusun kembali.
Panggung kecil dibongkar perlahan.
Gerobak Buku Langit Biru didorong menuju gudang.
Namun, sebelum pulang, Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra berdiri di halaman balai desa.
Lampu kecil di depan kantor desa menyala kekuningan.
Di atas mereka, langit malam tampak luas.
“Pentas dari Dua Dunia,” kata Banyu. “Namanya terdengar besar.”
“Karena masalah kita memang besar,” jawab Jagra.
“Dan karena harapan juga harus dibuat besar,” tambah Liris.
Rantaka memandang sahabat-sahabatnya.
“Kita belum selesai.”
“Belum,” jawab Jagra.
“Masih ada kolam,” kata Banyu.
“Masih ada pelatihan menulis,” kata Liris.
“Masih ada beasiswa,” kata Rantaka.
Mereka saling memandang.
Kemudian Liris berkata, “Masih ada Langit Biru.”
Rantaka tersenyum.
“Selalu ada Langit Biru.”
Di kejauhan, suara sungai terdengar pelan.
Sungai itu pernah membawa banjir.
Pernah membawa lumpur.
Pernah merusak banyak hal.
Namun, sungai itu juga tetap mengalir.
Seperti kehidupan mereka.
Seperti mimpi yang pernah hampir padam.
Dan seperti persahabatan yang kini kembali menemukan alasan untuk bertahan.
BAB 24
BEASISWA YANG HAMPIR HILANG
Bus yang membawa Rantaka kembali ke Kota Arunika berangkat ketika matahari belum tinggi.
Desa Wanasari perlahan tertinggal di balik kaca jendela. Jalan tanah berubah menjadi jalan beraspal. Pohon-pohon karet dan kebun warga berganti dengan deretan warung, bengkel, dan rumah-rumah yang semakin rapat.
Di pangkuannya, Rantaka membawa sebuah tas kain.
Di dalamnya ada beberapa buku catatan, selembar foto kegiatan Pentas Langit Biru dari Dua Dunia, serta surat kecil dari Liris.
Surat itu tidak panjang.
Liris hanya menulis:
Jangan pulang membawa rasa takut. Pulanglah nanti membawa kabar bahwa kau masih bertahan.
Rantaka membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia tahu bahwa setelah kembali ke kota, masalahnya belum selesai.
Nilai matematikanya masih rendah.
Nilai fisikanya juga belum membaik seperti yang diharapkan.
Pekerjaan malam di warung makan telah membuatnya kehilangan banyak waktu belajar. Meski ia sudah berhenti bekerja setelah jatuh sakit, ketertinggalan pelajaran tidak bisa hilang dalam beberapa hari.
Yang paling membuatnya takut adalah beasiswa.
Beasiswa itu bukan sekadar bantuan biaya sekolah.
Beasiswa itu adalah jalan yang membawanya keluar dari kesulitan.
Beasiswa itu membuat ibunya tidak perlu menjual lebih banyak barang di rumah.
Beasiswa itu membuatnya bisa tinggal di rumah singgah dan tetap belajar di sekolah yang selama ini hanya berani ia lihat dari jauh.
Jika beasiswa itu dicabut, Rantaka tidak tahu apa yang harus ia lakukan.
Pada hari pertama masuk sekolah, Rantaka datang lebih pagi.
Halaman sekolah sudah ramai oleh siswa yang kembali dari libur. Ada yang bercerita tentang perjalanan mereka. Ada yang membahas tugas sekolah. Ada pula yang mengeluh karena libur terasa terlalu singkat.
Rantaka berjalan melewati mereka dengan langkah pelan.
Ia merasa seperti membawa beban yang tidak terlihat.
Di depan kelas, Damar sudah menunggu.
“Kau sudah kembali,” katanya.
Rantaka mengangguk.
“Baru tiba kemarin sore.”
“Bagaimana desamu?”
Rantaka terdiam sejenak.
“Masih banyak yang harus diperbaiki. Tapi kami mengadakan kegiatan di balai desa.”
“Pentas itu?”
“Iya.”
Damar tersenyum.
“Teman-teman yang mengirim buku senang melihat fotonya. Mereka bilang ingin mengumpulkan buku lagi nanti.”
Rantaka menatap Damar.
“Terima kasih karena sudah membantu.”
“Bukan aku saja,” jawab Damar. “Kau yang membuat kami tahu bahwa ada orang-orang yang membutuhkan.”
Bel masuk berbunyi.
Mereka masuk ke kelas.
Rantaka duduk di bangkunya seperti biasa. Namun, baru beberapa menit pelajaran dimulai, seorang petugas tata usaha datang ke depan kelas.
“Rantaka,” katanya.
Rantaka berdiri.
“Iya, Pak.”
“Kamu diminta ke ruang wakil kepala sekolah setelah jam pelajaran kedua.”
Dada Rantaka langsung terasa sesak.
Ia tahu alasan panggilan itu.
Damar yang duduk di sebelahnya menoleh.
“Masalah beasiswa?”
Rantaka tidak menjawab.
Ia hanya menatap papan tulis, tetapi tidak benar-benar melihat apa yang ditulis guru.
Waktu berjalan lebih lambat dari biasanya.
Setiap menit terasa seperti menambah berat di dadanya.
Setelah jam pelajaran kedua selesai, Rantaka berjalan menuju ruang wakil kepala sekolah.
Lorong sekolah tampak panjang.
Suara siswa dari kelas-kelas lain terdengar samar.
Di depan pintu ruang wakil kepala sekolah, ia berhenti.
Tangannya dingin.
Ia menarik napas, lalu mengetuk pintu.
“Masuk,” terdengar suara dari dalam.
Di ruangan itu sudah ada Pak Hadi, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. Di sampingnya duduk Bu Ratna, guru pembimbing beasiswa. Di atas meja terdapat beberapa berkas.
Rantaka langsung mengenali map berwarna biru yang memuat data nilainya.
“Silakan duduk, Rantaka,” kata Bu Ratna.
Rantaka duduk dengan punggung tegak.
Namun, kedua tangannya saling menggenggam di bawah meja.
Pak Hadi membuka map.
“Kami memanggilmu karena ingin membicarakan perkembangan belajarmu.”
Rantaka menunduk.
“Saya tahu, Pak.”
“Nilaimu pada beberapa mata pelajaran menurun cukup jauh,” lanjut Pak Hadi. “Terutama matematika dan fisika.”
Bu Ratna menunjukkan lembar hasil belajar.
“Pada awal semester, nilaimu cukup baik. Bahkan kamu termasuk siswa yang rajin. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, kamu sering terlambat mengumpulkan tugas dan terlihat mengantuk di kelas.”
Rantaka tidak bisa membantah.
Semua itu benar.
“Kami juga menerima laporan bahwa kamu beberapa kali tidak mengikuti kelas tambahan,” kata Bu Ratna.
Rantaka menelan ludah.
Saat kelas tambahan berlangsung, ia sering harus pergi ke warung makan.
Ia tidak pernah menceritakan alasan itu kepada sekolah.
Ia takut dianggap tidak mampu mengatur waktu.
Ia takut dianggap tidak layak menerima beasiswa.
“Beasiswa yang kamu terima memiliki syarat,” kata Pak Hadi dengan suara tenang. “Salah satunya adalah menjaga prestasi belajar dan kedisiplinan.”
Rantaka mengangguk pelan.
“Saya mengerti, Pak.”
“Dalam rapat evaluasi, ada usulan agar beasiswamu dihentikan pada semester berikutnya.”
Kalimat itu terdengar seperti palu yang jatuh di dalam kepala Rantaka.
Ia menatap meja.
Dadanya terasa kosong.
Untuk beberapa saat, ia tidak mampu berkata-kata.
Ia membayangkan rumah singgah.
Ia membayangkan ibunya di Desa Wanasari.
Ia membayangkan dirinya harus pulang sebelum menyelesaikan sekolah.
Ia membayangkan semua mimpi yang selama ini ia jaga akan berhenti di tengah jalan.
“Pak,” katanya akhirnya, suaranya pelan. “Apakah saya sudah tidak bisa melanjutkan sekolah?”
Bu Ratna menatapnya.
“Tidak ada yang mengatakan begitu.”
Rantaka mengangkat wajah.
Pak Hadi menutup map di depannya.
“Kami belum mengambil keputusan akhir.”
Harapan kecil muncul dalam diri Rantaka.
Namun, ia masih takut berharap terlalu jauh.
“Lalu apa yang harus saya lakukan, Pak?” tanyanya.
Bu Ratna diam sejenak sebelum menjawab.
“Kami ingin mendengar penjelasanmu terlebih dahulu. Kami tidak ingin hanya melihat angka-angka di kertas.”
Rantaka menatap kedua gurunya.
Selama ini, ia selalu menyimpan semuanya sendiri.
Ia menyembunyikan pekerjaan malamnya.
Ia menyembunyikan rasa lelahnya.
Ia menyembunyikan ketakutannya kehilangan beasiswa.
Ia bahkan tidak memberi tahu Liris sampai akhirnya mereka berbicara melalui telepon umum.
Namun, kali ini ia merasa tidak bisa lagi bersembunyi.
“Saya bekerja malam di warung makan, Bu,” katanya.
Bu Ratna tampak terkejut.
“Sejak kapan?”
“Beberapa bulan lalu.”
“Kenapa kamu tidak bicara kepada sekolah?”
Rantaka menunduk.
“Saya takut.”
“Takut apa?”
“Saya takut dianggap tidak mampu. Saya takut beasiswa saya dicabut. Saya takut ibu saya semakin terbebani kalau saya tidak bisa bertahan di sini.”
Pak Hadi menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Apakah pekerjaan itu membuatmu tidak bisa belajar?”
“Iya, Pak.”
“Apakah sekarang kamu masih bekerja?”
“Tidak. Saya berhenti setelah saya sakit.”
Bu Ratna memandang Rantaka dengan wajah serius, tetapi tidak keras.
“Rantaka, beasiswa bukan hadiah untuk orang yang tidak pernah mengalami kesulitan. Beasiswa diberikan agar siswa yang memiliki kemampuan dan kemauan tetap bisa belajar meskipun hidupnya tidak mudah.”
Rantaka terdiam.
Kalimat itu terasa berbeda dari semua ketakutan yang selama ini ia simpan.
“Kamu memang salah karena tidak terbuka,” lanjut Bu Ratna. “Kamu juga harus bertanggung jawab atas nilai yang turun. Tetapi kami perlu melihat apakah kamu masih memiliki keinginan untuk memperbaiki keadaan.”
Rantaka mengangguk cepat.
“Saya mau, Bu.”
“Kenapa kamu ingin tetap sekolah?” tanya Pak Hadi.
Pertanyaan itu membuat Rantaka terdiam lebih lama.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin keluar dari kemiskinan.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin membantu ibunya.
Ia bisa menjawab bahwa ia ingin membuktikan bahwa anak desa mampu belajar di kota.
Semua itu benar.
Namun, setelah pulang ke Wanasari dan melihat anak-anak kembali menunggu Gerobak Buku, ada jawaban lain yang terasa lebih kuat.
“Saya ingin menjadi guru, Pak.”
Pak Hadi dan Bu Ratna saling pandang.
Rantaka melanjutkan.
“Di desa saya, masih banyak anak yang hampir berhenti sekolah karena keluarganya kesulitan. Ada yang tidak punya buku. Ada yang harus membantu orang tua. Ada yang merasa sekolah bukan jalan untuk mereka.”
Ia menarik napas.
“Saya ingin menjadi guru supaya anak-anak seperti mereka tidak merasa bahwa mimpi hanya milik orang yang punya uang atau tinggal di kota.”
Bu Ratna memandang Rantaka cukup lama.
“Apakah itu yang kamu lakukan saat pulang ke desa?”
Rantaka mengangguk.
“Saya dan sahabat-sahabat saya menjalankan kembali Gerobak Buku Langit Biru. Kami mengadakan kegiatan di balai desa. Kami mengajak anak-anak belajar lagi.”
Pak Hadi mengambil foto dari dalam tas kain Rantaka yang tadi ia letakkan di samping kursi.
Rantaka sempat lupa bahwa foto itu ada di sana.
Foto tersebut memperlihatkan anak-anak Desa Wanasari yang duduk di depan Gerobak Buku. Ada Liris yang membacakan puisi. Ada Banyu di samping alat pengatur air. Ada Jagra bersama pemuda desa.
Pak Hadi memandang foto itu.
“Kamu membawa ini?”
“Saya ingin mengingat alasan saya harus bertahan, Pak.”
Ruangan itu kembali hening.
Namun, kali ini keheningan itu tidak terasa menakutkan.
Setelah beberapa saat berdiskusi, Pak Hadi membuka kembali map biru di atas meja.
“Kami akan memberikanmu kesempatan terakhir,” katanya.
Rantaka menatapnya.
“Kamu tidak akan langsung kehilangan beasiswa. Tetapi status beasiswamu akan masuk masa evaluasi.”
Rantaka mengangguk.
Ia tidak sepenuhnya mengerti, tetapi ia tahu itu berarti masih ada harapan.
Bu Ratna menjelaskan lebih lanjut.
“Selama tiga bulan ke depan, kamu harus memperbaiki nilai matematika dan fisika. Kamu juga wajib mengikuti kelas tambahan. Tidak boleh ada tugas yang terlambat tanpa alasan yang jelas.”
“Saya siap, Bu.”
“Kamu juga harus melapor kepada saya setiap minggu,” kata Bu Ratna. “Bukan hanya tentang nilai, tetapi juga tentang keadaanmu. Jika kamu memiliki masalah biaya atau kesulitan belajar, kamu harus bicara.”
Rantaka menunduk.
“Saya akan bicara, Bu.”
Pak Hadi melanjutkan.
“Selain itu, sekolah sedang memilih beberapa siswa untuk mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan. Program itu memberi pembinaan bagi siswa yang ingin melanjutkan kuliah, terutama pada bidang pendidikan dan pengabdian masyarakat.”
Rantaka menatapnya dengan terkejut.
“Apakah saya bisa ikut, Pak?”
“Kamu belum otomatis masuk,” jawab Pak Hadi. “Kamu harus membuktikan bahwa nilaimu membaik. Namun, kami melihat bahwa kamu memiliki tujuan yang jelas.”
Bu Ratna tersenyum tipis.
“Dan kami melihat bahwa kamu tidak hanya ingin berhasil untuk dirimu sendiri.”
Rantaka merasa tenggorokannya tercekat.
Selama ini, ia mengira sekolah hanya akan melihat nilai yang jatuh.
Ia tidak menyangka bahwa ada orang yang mau melihat alasan di balik perjuangannya.
“Terima kasih, Pak. Terima kasih, Bu,” katanya.
“Jangan berterima kasih dulu,” kata Pak Hadi. “Buktikan dengan kerja keras.”
“Saya akan berusaha.”
“Bukan hanya berusaha,” kata Bu Ratna lembut. “Kamu harus membuat rencana.”
Sepulang sekolah, Rantaka tidak langsung kembali ke rumah singgah.
Ia pergi ke perpustakaan sekolah.
Di sana, ia memilih buku matematika dasar dan buku fisika yang selama ini jarang ia buka. Ia juga meminjam beberapa soal latihan.
Damar datang ketika Rantaka sedang menyalin rumus di buku catatan.
“Kau tidak pulang?” tanyanya.
“Nanti.”
“Kau dipanggil karena beasiswa?”
Rantaka mengangguk.
Damar duduk di kursi sebelahnya.
“Bagaimana?”
“Beasiswaku hampir dicabut.”
Damar terdiam.
“Tapi aku diberi kesempatan tiga bulan.”
“Itu kabar baik.”
“Kalau aku gagal memperbaiki nilai, kesempatan itu hilang.”
Damar menatap buku di meja.
“Kau tidak harus belajar sendirian.”
Rantaka mengangkat wajah.
“Aku tidak ingin merepotkan.”
“Kau selalu bilang begitu,” kata Damar. “Padahal saat kami mengirim buku ke desamu, kau tidak menganggap kami direpotkan.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Itu berbeda.”
“Tidak berbeda. Kau membantu anak-anak di desamu. Sekarang biarkan temanmu membantu.”
Damar mengambil buku matematika Rantaka.
“Kita mulai dari yang paling membuatmu bingung.”
Rantaka menatapnya.
“Kau mau mengajariku?”
“Aku tidak menjamin kau langsung pintar. Tapi setidaknya kita bisa sama-sama tidak mengerti dulu.”
Rantaka tertawa kecil.
Itu adalah tawa pertama yang keluar dari dirinya sejak dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah.
Mereka mulai belajar.
Damar menjelaskan beberapa soal yang sulit. Rantaka mencoba mengerjakan ulang. Ketika salah, Damar tidak mengejek. Ia hanya menunjukkan bagian mana yang harus diperbaiki.
Matahari mulai tenggelam di balik gedung sekolah.
Namun, Rantaka masih duduk di perpustakaan.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, ia merasa tidak sedang berlari sendirian.
Malam itu, di rumah singgah, Rantaka menulis surat untuk Liris.
Ia tidak menunggu sampai rasa takutnya hilang.
Ia tidak menyembunyikan kenyataan.
Ia menulis bahwa beasiswanya hampir dicabut.
Ia menulis bahwa sekolah memberinya kesempatan tiga bulan.
Ia menulis bahwa ia harus memperbaiki nilai matematika dan fisika.
Ia juga menulis tentang keinginannya mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan.
Di bagian akhir surat, ia menulis:
Hari ini aku hampir percaya bahwa semua perjuanganku akan berhenti. Tetapi aku teringat Gerobak Buku, anak-anak yang memegang buku baru, dan kata-katamu agar aku tidak pulang membawa rasa takut. Aku belum berhasil, Liris. Tetapi aku belum menyerah.
Setelah menulis surat itu, Rantaka tidak memasukkannya ke laci.
Ia langsung memasukkannya ke dalam amplop.
Keesokan paginya, sebelum berangkat sekolah, ia pergi ke kantor pos.
Ia menyerahkan surat itu kepada petugas.
Ketika amplop itu berpindah dari tangannya, ia merasa seperti sedang mengirim sebuah janji.
Janji untuk tidak lagi menyimpan semua luka sendirian.
Janji untuk tidak lari dari kesulitan.
Dan janji untuk membuktikan bahwa beasiswa yang hampir hilang itu masih layak diperjuangkan.
Hari-hari berikutnya menjadi lebih berat.
Rantaka bangun lebih pagi.
Sebelum sekolah, ia membaca kembali materi matematika.
Saat jam istirahat, ia mengerjakan soal latihan.
Sepulang sekolah, ia mengikuti kelas tambahan.
Malam hari, ia belajar bersama Damar atau membaca buku di rumah singgah.
Kadang-kadang kepalanya terasa penuh.
Kadang-kadang ia ingin menyerah ketika rumus-rumus fisika tidak juga masuk ke pikirannya.
Kadang-kadang ia masih merasa malu karena harus bertanya pada teman-teman yang lebih cepat memahami pelajaran.
Namun, setiap kali rasa malu itu datang, ia mengingat anak-anak Desa Wanasari.
Ia mengingat seorang anak kecil yang memeluk buku tentang tata surya.
Ia mengingat Jagra yang berdiri di depan warga dan mengajak pemuda membangun kelompok perikanan.
Ia mengingat Banyu yang terus memperbaiki alatnya meskipun pernah gagal berkali-kali.
Ia mengingat Liris yang tetap menulis meskipun ayahnya belum sepenuhnya percaya pada mimpinya.
Mereka semua sedang berjuang.
Tidak ada alasan baginya untuk berhenti.
Suatu sore, Bu Ratna datang ke kelas tambahan.
Ia melihat Rantaka sedang mengerjakan soal di papan tulis.
Jawabannya belum sepenuhnya benar.
Namun, langkah-langkahnya sudah jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Bu Ratna tidak langsung membetulkan jawabannya.
Ia menunggu sampai Rantaka selesai.
“Kamu sudah mulai memahami caranya,” katanya.
Rantaka menoleh.
“Masih banyak yang salah, Bu.”
“Kesalahan bisa diperbaiki. Yang penting kamu tidak lagi menghindari pelajaran ini.”
Rantaka tersenyum.
Kalimat itu sederhana.
Namun, baginya, itu seperti cahaya kecil di jalan yang panjang.
Pada akhir minggu, Rantaka menerima surat balasan dari Liris.
Tulisan tangan Liris memenuhi dua lembar kertas.
Ia menulis bahwa Pentas Langit Biru masih dibicarakan warga.
Beberapa anak kini datang lebih awal untuk meminjam buku.
Kelompok perikanan remaja mulai membersihkan salah satu kolam bersama-sama.
Banyu sedang mencoba memperbaiki alat pengatur air agar lebih mudah digunakan.
Liris juga menulis bahwa ayahnya belum banyak bicara tentang puisinya, tetapi suatu malam ayahnya bertanya apakah ia masih memiliki salinan puisi yang dibacakan di balai desa.
Di bagian akhir surat, Liris menulis:
Tidak apa-apa jika langkahmu lambat. Yang penting kau tetap berjalan. Aku percaya kau akan menjadi guru yang baik, karena kau sudah belajar memahami kesulitan orang lain sebelum berdiri di depan kelas.
Rantaka membaca surat itu di bawah lampu rumah singgah.
Matanya terasa hangat.
Ia menyimpan surat itu di dalam buku catatan.
Lalu ia membuka kembali buku matematika.
Malam itu, ia belajar lebih lama.
Bukan karena ia tidak lagi takut.
Ia masih takut.
Tetapi kini ia tahu bahwa rasa takut tidak harus membuatnya berhenti.
Kadang-kadang, rasa takut hanya perlu dijadikan alasan untuk belajar lebih keras.
Di luar rumah singgah, lampu-lampu Kota Arunika menyala seperti bintang yang tidak pernah tidur.
Rantaka memandangnya dari jendela.
Dulu, lampu-lampu itu membuatnya merasa sendirian.
Kini, ia melihatnya sebagai pengingat.
Bahwa di balik kota yang ramai, ada jalan panjang yang harus ia tempuh.
Dan di ujung jalan itu, ada sebuah desa yang selalu menunggunya pulang.
BAB 25
LANGIT BIRU DI BALIK KOTA
Tiga bulan berlalu sejak Rantaka dipanggil ke ruang wakil kepala sekolah.
Tiga bulan itu tidak berjalan mudah.
Setiap pagi, sebelum matahari muncul di balik atap-atap rumah Kota Arunika, Rantaka sudah bangun. Ia mencuci muka dengan air dingin, merapikan buku-buku, lalu duduk di meja kecil rumah singgah.
Matematika menjadi pelajaran pertama yang ia buka.
Setelah itu, fisika.
Dulu, angka-angka dan rumus-rumus itu seperti dinding tinggi yang membuatnya takut. Ia sering membaca satu halaman berulang kali tanpa memahami maksudnya. Namun, perlahan ia mulai mengerti bahwa pelajaran tidak bisa ditaklukkan hanya dengan rasa takut.
Pelajaran harus dihadapi.
Soal yang sulit harus dikerjakan.
Kesalahan harus diperiksa.
Dan jika tidak mengerti, ia harus berani bertanya.
Damar tetap menjadi teman belajarnya.
Mereka sering duduk di perpustakaan sekolah sampai sore. Kadang-kadang Damar menjelaskan rumus. Kadang-kadang Rantaka yang menjelaskan kembali dengan caranya sendiri. Jika salah satu dari mereka mulai lelah, mereka berhenti sebentar, membeli teh hangat di kantin, lalu kembali membuka buku.
“Kau sudah jauh lebih cepat mengerjakan soal,” kata Damar suatu sore.
Rantaka menggeleng.
“Masih sering salah.”
“Dulu kau bahkan tidak mau mencoba.”
Rantaka tersenyum kecil.
“Sekarang aku takut kalau tidak mencoba.”
Damar tertawa.
“Itu perkembangan yang bagus.”
Namun, Rantaka tahu bahwa ia tidak belajar hanya karena takut kehilangan beasiswa.
Ia belajar karena ia mulai melihat masa depan dengan lebih jelas.
Ia ingin menjadi guru.
Ia ingin kembali ke Desa Wanasari suatu hari nanti, bukan hanya sebagai anak desa yang pulang membawa cerita dari kota, melainkan sebagai seseorang yang membawa ilmu untuk dibagikan.
Ia ingin berdiri di depan kelas.
Ia ingin mengajar anak-anak yang datang dengan sandal berlumpur, buku lusuh, dan mata penuh rasa ingin tahu.
Ia ingin mengatakan kepada mereka bahwa mereka boleh lahir di desa kecil, tetapi mimpi mereka tidak harus kecil.
Hari pengumuman hasil evaluasi beasiswa tiba pada pagi yang cerah.
Rantaka datang ke sekolah lebih awal.
Halaman sekolah masih sepi. Beberapa siswa baru berdatangan. Petugas kebersihan sedang menyapu daun-daun kering di dekat lapangan.
Rantaka berdiri di depan papan pengumuman.
Tangannya terasa dingin.
Di sampingnya, Damar datang membawa dua gelas teh hangat.
“Minum dulu,” katanya.
Rantaka menerima gelas itu.
“Aku tidak bisa minum.”
“Kau bisa. Kau hanya terlalu tegang.”
“Aku takut melihat hasilnya.”
Damar menatapnya.
“Kalau hasilnya belum sesuai harapan, kita cari jalan lain. Tapi kalau kau tidak melihatnya, hasilnya tidak akan berubah.”
Rantaka menarik napas.
Beberapa menit kemudian, Bu Ratna datang membawa map berwarna biru.
Beberapa siswa penerima beasiswa mulai berkumpul.
Bu Ratna menempelkan selembar kertas di papan pengumuman.
Suasana mendadak hening.
Rantaka melangkah mendekat.
Matanya mencari namanya.
Satu per satu nama ia baca.
Kemudian ia melihatnya.
Rantaka Pradana — Beasiswa Dipertahankan dengan Catatan Pembinaan Berkelanjutan.
Rantaka tidak langsung bergerak.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi.
Lalu sekali lagi.
Dadanya terasa sesak, tetapi bukan karena takut.
Ia menutup mulut dengan tangan.
Damar menepuk bahunya.
“Selamat.”
Rantaka menoleh.
Matanya berkaca-kaca.
“Aku masih bisa sekolah.”
“Iya,” jawab Damar. “Kau masih bisa sekolah.”
Bu Ratna menghampiri Rantaka.
“Kamu berhasil memperbaiki nilai matematika dan fisika,” katanya. “Belum sempurna, tetapi kemajuannya jelas. Kamu juga mengikuti kelas tambahan dengan baik.”
“Terima kasih, Bu.”
“Jangan berhenti di sini,” kata Bu Ratna. “Beasiswa dipertahankan bukan berarti perjuangan selesai.”
“Saya mengerti, Bu.”
Bu Ratna kemudian menyerahkan sebuah formulir kepada Rantaka.
“Ini formulir seleksi program pendidikan lanjutan.”
Rantaka memandang formulir itu.
“Apakah saya boleh ikut, Bu?”
“Kamu boleh mendaftar. Kami merekomendasikanmu.”
Rantaka memegang formulir tersebut dengan hati-hati.
Di bagian atas tertulis nama program pembinaan calon mahasiswa bidang pendidikan.
Ia belum diterima.
Ia belum tentu lolos.
Namun, untuk pertama kalinya, jalan menuju kuliah keguruan tidak lagi terasa seperti mimpi yang terlalu jauh.
Jalan itu masih panjang.
Tetapi kini ia bisa melihat arahnya.
Sore hari, Rantaka pergi ke kantor pos.
Ia membawa dua surat.
Surat pertama untuk ibunya.
Surat kedua untuk Liris.
Kepada ibunya, ia menulis bahwa beasiswanya tidak jadi dicabut. Ia menulis bahwa nilainya mulai membaik dan ia mendapat kesempatan mengikuti seleksi program pendidikan lanjutan.
Ia tidak menulis terlalu banyak.
Namun, pada bagian akhir, ia menulis:
Ibu, aku belum berhasil menjadi apa-apa. Tapi aku masih diberi kesempatan untuk terus belajar. Aku akan menjaga kesempatan ini sebaik mungkin.
Kepada Liris, ia menulis lebih panjang.
Ia menceritakan tentang papan pengumuman.
Tentang Damar yang datang membawa teh hangat.
Tentang Bu Ratna yang memberikan formulir seleksi.
Ia juga menulis bahwa setiap kali hampir menyerah, ia mengingat surat Liris dan Gerobak Buku Langit Biru.
Di bagian akhir, Rantaka menulis:
Dulu aku melihat kota sebagai tempat yang jauh dari desa. Sekarang aku mengerti bahwa kota tidak harus membuatku lupa dari mana aku berasal. Kota hanya mengajariku agar suatu hari aku bisa pulang membawa sesuatu yang lebih berarti.
Surat itu ia masukkan ke dalam amplop.
Lalu ia menyerahkannya kepada petugas pos.
Ketika keluar dari kantor pos, Rantaka memandang langit Kota Arunika.
Di antara gedung-gedung dan kabel listrik, langit itu tampak lebih sempit daripada langit Desa Wanasari.
Namun, warnanya tetap biru.
Ia tersenyum.
Langit yang sama.
Hanya dilihat dari tempat yang berbeda.
Di Desa Wanasari, surat Rantaka tiba ketika Liris sedang membantu ibunya menjemur pakaian di halaman rumah.
Seorang anak kecil dari rumah sebelah berlari membawa surat.
“Kak Liris, ada surat dari kota!”
Liris segera mengambilnya.
Ia mengenali tulisan tangan Rantaka di bagian depan amplop.
Jantungnya berdebar.
Ia masuk ke kamar dan membaca surat itu perlahan.
Ketika sampai pada kalimat bahwa beasiswa Rantaka dipertahankan, Liris menutup mulutnya dengan tangan.
Matanya basah.
Ia duduk di tepi tempat tidur.
Selama ini, ia selalu mencoba terlihat kuat dalam surat-suratnya kepada Rantaka. Ia selalu menulis agar Rantaka tidak menyerah. Ia selalu mengatakan bahwa langkah kecil tetap berarti.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia juga takut.
Ia takut Rantaka harus pulang sebelum menyelesaikan sekolah.
Ia takut sahabatnya kehilangan jalan menuju cita-cita.
Kini, ketakutan itu belum hilang sepenuhnya.
Tetapi ada ruang baru bagi harapan.
Liris membuka buku catatan hijaunya.
Di halaman kosong, ia menulis:
Ada anak desa yang belajar membaca langit dari kota.
Ia tidak lupa jalan pulang,
sebab di dalam dadanya
masih ada suara sungai,
jalan tanah,
dan sahabat-sahabat yang menunggu.
Ia berhenti menulis ketika mendengar suara ayahnya dari ruang depan.
“Liris.”
“Iya, Yah.”
“Ada surat?”
Liris keluar membawa surat itu.
“Ada dari Rantaka.”
Ayahnya menatap surat tersebut.
“Bagaimana sekolahnya?”
Liris tersenyum.
“Beasiswanya dipertahankan.”
Ayah Liris diam beberapa saat.
Kemudian ia mengangguk.
“Bagus.”
Hanya satu kata.
Namun, bagi Liris, kata itu terasa cukup besar.
Ayahnya lalu duduk di kursi kayu dan berkata, “Kau jadi ikut pelatihan menulis itu?”
Liris terdiam.
Selama beberapa minggu terakhir, ia masih menunggu kabar dari komunitas literasi kabupaten. Ia sudah mengirim beberapa puisi dan tulisan pendek. Namun, ia belum berani berharap terlalu tinggi.
“Belum ada kabar, Yah.”
Ayahnya menatap halaman rumah.
“Kalau ada kabar baik, bilang.”
Liris memandang ayahnya.
Ia tidak tahu apakah itu berarti ayahnya sudah benar-benar mendukung.
Tetapi setidaknya, ayahnya tidak lagi mengatakan bahwa menulis hanya membuang waktu.
Dua minggu kemudian, sebuah surat datang dari kota kabupaten.
Amplopnya berwarna putih dengan lambang komunitas literasi di bagian depan.
Liris memegang surat itu cukup lama sebelum membukanya.
Tangannya gemetar.
Ibunya berdiri di dekatnya.
“Buka saja,” kata ibunya.
Liris menarik napas.
Ia membuka amplop itu perlahan.
Di dalamnya terdapat surat pemberitahuan.
Liris membaca satu baris pertama.
Kemudian ia berhenti.
Matanya membesar.
“Apa isinya?” tanya ibunya.
Liris membaca lagi, kali ini dengan suara pelan.
“Liris Wulandari dinyatakan menerima beasiswa pelatihan menulis muda tingkat kabupaten.”
Ibunya langsung memeluknya.
Liris tidak segera menangis.
Ia hanya berdiri diam beberapa saat, seperti belum percaya bahwa kalimat itu benar-benar tertulis di hadapannya.
Beasiswa pelatihan itu tidak hanya memberi kesempatan mengikuti kelas menulis.
Ia juga mendapat pendampingan, buku-buku, serta kesempatan mengirim karya ke majalah literasi daerah.
Liris memandang buku catatan hijaunya.
Buku itu sudah penuh dengan puisi, cerita pendek, dan catatan tentang desa.
Dulu, ia menulis karena ingin menyimpan perasaan.
Kini, ia mulai percaya bahwa tulisannya bisa menjadi jalan.
Jalan untuk mengenalkan desa.
Jalan untuk menyuarakan anak-anak yang sering tidak didengar.
Jalan untuk membuat orang lain memahami bahwa di balik jalan tanah dan rumah-rumah sederhana, ada banyak mimpi yang sedang tumbuh.
Sore itu, Liris menunjukkan surat tersebut kepada ayahnya.
Ayahnya membaca perlahan.
Lama sekali.
Liris berdiri di depannya dengan jantung berdebar.
Kemudian ayahnya menyerahkan surat itu kembali.
“Kalau kau sudah diberi kesempatan,” katanya, “jangan setengah-setengah.”
Liris menahan napas.
Ayahnya melanjutkan, “Belajarlah sungguh-sungguh. Tapi jangan lupa membantu ibumu.”
Liris mengangguk cepat.
“Iya, Yah.”
Ayahnya berdiri dan berjalan ke halaman.
Namun, sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh, “Puisimu di balai desa waktu itu… bagus.”
Liris memejamkan mata.
Kali ini, air matanya benar-benar jatuh.
Di rumah Banyu, suara alat-alat bengkel terdengar sejak pagi.
Banyu sedang memperbaiki rancangan alat pengatur airnya.
Setelah Pentas Langit Biru, beberapa warga mulai tertarik mencoba alat itu. Namun, ketika digunakan di kebun yang lebih luas, alat tersebut masih memiliki kelemahan.
Putaran roda terlalu berat.
Selang kadang-kadang tersumbat lumpur.
Pipa yang digunakan belum cukup kuat.
Banyu tidak kecewa.
Ia justru mencatat semua kekurangan itu.
Ia meminjam beberapa peralatan dari bengkel tempat ia dulu bekerja. Ia juga meminta saran kepada Pak Hendra dan beberapa petani muda.
“Kalau rodanya terlalu berat, bagaimana kalau memakai ukuran yang lebih besar?” tanya Pak Hendra.
“Kalau lebih besar, tenaga untuk memutarnya juga bertambah,” jawab Banyu.
“Lalu cari cara agar putarannya lebih ringan.”
Banyu berpikir.
Ia membongkar alatnya.
Ia mengganti beberapa bagian.
Ia menggunakan rantai sepeda yang lebih kuat. Ia menambahkan penyangga dari besi bekas. Ia membuat saringan sederhana di ujung selang agar lumpur tidak mudah masuk.
Beberapa kali alat itu kembali gagal.
Sekali, rantainya lepas saat diputar.
Sekali lagi, air hanya naik sedikit lalu berhenti.
Namun, Banyu tidak berhenti.
Ia teringat luka di tangannya saat bekerja di bengkel.
Ia teringat rasa malu ketika alat pertamanya dianggap seperti mainan.
Ia teringat kata-kata Rantaka bahwa pengetahuan dari bengkel bisa berguna bagi desa.
Pada percobaan berikutnya, beberapa petani berkumpul di dekat parit.
Banyu berdiri di samping alatnya.
Jagra membantu memegang selang.
Pak Karta berdiri di dekat kebun yang lebih tinggi.
“Putar pelan-pelan,” kata Banyu.
Jagra mulai memutar roda.
Rantai bergerak.
Pompa sederhana mulai bekerja.
Air dari parit masuk ke selang.
Beberapa detik pertama, tidak ada yang berbicara.
Kemudian air keluar dari ujung selang.
Awalnya kecil.
Lalu semakin stabil.
Air mengalir ke tanah kebun yang kering.
Pak Karta berjongkok dan menyentuh air itu.
Wajahnya berubah cerah.
“Berhasil,” katanya.
Banyu masih menatap alatnya, seolah takut aliran air itu berhenti kapan saja.
Namun, air tetap mengalir.
Tidak deras seperti sungai.
Tidak cukup untuk mengairi seluruh sawah.
Tetapi cukup untuk membantu kebun-kebun kecil yang selama ini sulit mendapat air.
Beberapa petani bertepuk tangan.
Jagra memukul bahu Banyu.
“Anak bengkel ternyata bisa jadi penolong kebun.”
Banyu tertawa.
“Belum penolong. Baru pembuat alat yang tidak langsung rusak.”
“Sudah cukup,” jawab Jagra.
Banyu memandang air yang mengalir ke kebun.
Di dalam hatinya, ia tahu bahwa alat itu masih perlu diperbaiki.
Namun, kini ia memiliki bukti bahwa idenya bukan sekadar angan-angan.
Alat sederhana itu bisa membantu petani.
Dan jika terus dikembangkan, mungkin suatu hari bisa digunakan oleh lebih banyak warga.
Sementara itu, Jagra mulai sibuk dengan Kelompok Perikanan Remaja Wanasari.
Setelah Pentas Langit Biru, semakin banyak pemuda yang datang untuk bergabung.
Mereka belum memiliki banyak modal.
Mereka belum memiliki kolam baru.
Namun, mereka memiliki tenaga, waktu, dan keinginan untuk bekerja.
Setiap akhir pekan, mereka berkumpul di kolam yang rusak akibat banjir.
Mereka membersihkan lumpur.
Mereka memperbaiki tanggul yang jebol.
Mereka mengangkat kayu-kayu yang terbawa arus.
Mereka membuat saluran kecil agar air tidak langsung meluap ketika hujan datang.
Jagra membawa buku catatan.
Di dalamnya, ia menulis pembagian tugas.
Ada yang bertugas membersihkan kolam.
Ada yang mencari bahan untuk memperbaiki tanggul.
Ada yang belajar membuat pakan ikan sederhana dari bahan yang tersedia di desa.
Ada yang mendata warga yang ingin bergabung.
Awalnya, beberapa orang tua masih ragu.
Mereka menganggap anak-anak muda itu hanya akan bersemangat beberapa hari, lalu berhenti ketika pekerjaan menjadi berat.
Namun, minggu demi minggu, kelompok itu tetap datang.
Mereka tetap bekerja meskipun tangan mereka kotor oleh lumpur.
Mereka tetap berkumpul meskipun tidak ada upah.
Mereka mulai membuktikan bahwa mereka tidak sedang bermain-main.
Suatu sore, ayah Jagra datang membawa beberapa karung pakan ikan.
Ia meletakkannya di dekat kolam.
“Ini untuk kolam percobaan,” katanya.
Jagra menatap ayahnya.
“Dari mana, Yah?”
“Ayah masih punya sedikit simpanan.”
“Tapi itu untuk kebutuhan rumah.”
“Ayah tahu,” jawabnya. “Tapi kalau kalian benar-benar mau membangun lagi, usaha ini juga perlu diberi kesempatan.”
Jagra terdiam.
Ayahnya memandang kolam yang sedang diperbaiki.
“Dulu ayah berpikir kau hanya membantu karena tidak punya pilihan. Sekarang ayah tahu kau memilih bertahan.”
Jagra menunduk.
Ia tidak ingin ayahnya melihat matanya yang mulai basah.
“Terima kasih, Yah.”
Ayahnya mengangguk.
“Jangan buat ayah menyesal.”
Jagra tersenyum.
“Saya tidak akan berhenti.”
Beberapa minggu kemudian, surat-surat kembali bertemu di antara kota dan desa.
Rantaka mengirim kabar tentang formulir seleksi program pendidikan lanjutan yang sudah ia isi.
Liris mengirim kabar tentang beasiswa pelatihan menulis yang diterimanya.
Banyu mengirim gambar alat pengatur air yang kini sudah berhasil digunakan di kebun Pak Karta.
Jagra mengirim daftar anggota Kelompok Perikanan Remaja Wanasari yang semakin bertambah.
Mereka tidak lagi menulis surat hanya untuk mengabarkan kerinduan.
Mereka menulis untuk berbagi kemajuan.
Untuk menceritakan kegagalan.
Untuk meminta pendapat.
Untuk saling mengingatkan bahwa masing-masing sedang berjalan di jalannya sendiri.
Suatu malam, Rantaka menerima surat dari Liris.
Di dalam surat itu, Liris menulis:
Dulu kita takut jarak akan membuat kita berubah. Ternyata kita memang berubah. Kau belajar bertahan di kota. Aku belajar percaya pada tulisan. Banyu belajar bahwa kegagalan bisa diperbaiki. Jagra belajar bahwa tinggal di desa bukan berarti tertinggal. Tetapi mungkin perubahan itu tidak selalu buruk, selama kita masih tahu ke mana harus pulang.
Rantaka membaca surat itu di dekat jendela rumah singgah.
Di luar, Kota Arunika masih ramai.
Kendaraan berlalu-lalang.
Lampu toko masih menyala.
Suara orang-orang dari jalan terdengar sampai ke dalam kamar.
Namun, malam itu, Rantaka tidak lagi merasa bahwa kota sedang menelannya.
Ia merasa bahwa kota sedang mengajarinya.
Mengajarinya tentang disiplin.
Tentang ketahanan.
Tentang orang-orang yang datang dari latar belakang berbeda.
Tentang kesempatan yang harus diperjuangkan.
Tetapi ia juga tahu bahwa kota tidak bisa menggantikan desa.
Desa Wanasari adalah tempat pertama yang mengajarinya membaca.
Tempat ia belajar bermain di sungai.
Tempat ia mengenal Liris, Banyu, dan Jagra.
Tempat ia memahami bahwa persahabatan bisa menjadi kekuatan ketika hidup terasa berat.
Kota memberinya pengalaman.
Kota memberinya ilmu.
Kota memberinya kesempatan.
Namun, desa memberinya akar.
Desa memberinya alasan.
Desa memberinya tempat untuk pulang.
Pada hari terakhir sebelum libur sekolah berikutnya, Rantaka berdiri di halaman sekolah Kota Arunika.
Di tangannya, ia membawa map berisi berkas seleksi beasiswa kuliah keguruan.
Bu Ratna menghampirinya.
“Kamu sudah siap mengumpulkan berkas?”
Rantaka mengangguk.
“Saya masih gugup, Bu.”
“Gugup itu wajar.”
“Kalau saya tidak lolos?”
“Kalau tidak lolos, kamu belajar lagi dan mencoba jalan lain. Tetapi jangan gagal sebelum mencoba.”
Rantaka tersenyum.
Kalimat itu mengingatkannya pada banyak hal.
Pada alat Banyu yang pernah gagal.
Pada Gerobak Buku yang sempat berhenti.
Pada kolam Jagra yang rusak karena banjir.
Pada puisi Liris yang pernah dianggap tidak penting.
Pada dirinya sendiri yang pernah hampir kehilangan beasiswa.
Ia menyerahkan map itu kepada Bu Ratna.
Berkas tersebut menjadi langkah kecil menuju masa depan.
Belum ada kepastian.
Belum ada jawaban.
Namun, Rantaka tidak lagi berdiri di tempat yang sama seperti beberapa bulan lalu.
Ia sudah bergerak.
Ia sudah belajar.
Ia sudah bertahan.
Sore itu, sebelum pulang ke rumah singgah, Rantaka berjalan ke halte bus.
Ia memandang langit di antara bangunan-bangunan kota.
Langit itu biru.
Tidak seluas langit Desa Wanasari.
Tidak sebersih langit di atas pohon beringin.
Namun, tetap biru.
Rantaka teringat pada sahabat-sahabatnya.
Liris dengan buku catatan hijaunya.
Banyu dengan tangan yang pernah terluka tetapi tidak berhenti membuat alat.
Jagra dengan lumpur kolam di kakinya dan daftar anggota kelompok perikanan di tangannya.
Mereka berada di tempat yang berbeda.
Mereka menempuh jalan yang tidak sama.
Namun, mereka masih membawa satu nama dalam hati.
Langit Biru.
Nama itu bukan lagi sekadar nama gerobak buku.
Bukan pula hanya nama persahabatan mereka.
Langit Biru adalah pengingat bahwa mimpi bisa tumbuh di mana saja.
Di desa yang jauh.
Di kota yang ramai.
Di kebun yang kering.
Di kolam yang rusak.
Di halaman sekolah.
Di dalam surat yang terlambat.
Dan di hati anak-anak muda yang memilih untuk tidak menyerah.
Rantaka tersenyum.
Bus datang dari kejauhan.
Ia melangkah naik.
Di balik jendela bus, Kota Arunika terus bergerak.
Namun, di dalam diri Rantaka, Desa Wanasari tetap hidup.
Karena langit biru tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya menunggu untuk dilihat dari tempat yang berbeda.
EPILOG
CAHAYA YANG PULANG KE DESA
Beberapa bulan setelah tahun ajaran baru dimulai, Rantaka kembali berdiri di jalan tanah menuju Desa Wanasari.
Pagi itu, langit masih dipenuhi sisa kabut. Embun menggantung di ujung rumput. Suara ayam terdengar dari halaman rumah warga, sementara asap tipis mulai naik dari dapur-dapur yang menyiapkan sarapan.
Bus dari Kota Arunika telah menurunkannya di pertigaan jalan kecamatan sejak subuh.
Dari sana, Rantaka melanjutkan perjalanan dengan mobil bak terbuka yang membawa beberapa warga pulang dari pasar. Setelah itu, ia berjalan kaki melewati jalan tanah yang dulu selalu ia lewati menuju sekolah.
Di punggungnya tergantung tas sederhana.
Tas itu tidak besar.
Namun, isinya terasa sangat berarti.
Di dalamnya ada beberapa buku pelajaran, pakaian, surat-surat dari sekolah, serta sebuah amplop putih yang sudah beberapa kali ia baca sepanjang perjalanan.
Surat itu berisi pemberitahuan bahwa ia dinyatakan lolos tahap awal seleksi program beasiswa kuliah keguruan.
Ia belum diterima sebagai mahasiswa.
Ia belum benar-benar mencapai cita-citanya.
Namun, ia sudah berada satu langkah lebih dekat.
Satu langkah yang dulu terasa mustahil.
Rantaka berhenti sejenak di dekat jembatan kecil yang melintasi Sungai Wanasari.
Air sungai mengalir lebih tenang daripada beberapa bulan sebelumnya. Bekas banjir masih terlihat pada beberapa batang pohon dan pagar rumah warga. Namun, di sepanjang tepian sungai, beberapa warga sudah mulai menanam kembali tanaman kecil.
Ada kehidupan yang perlahan tumbuh lagi.
Rantaka memandang air sungai itu cukup lama.
Ia teringat malam ketika Jagra pergi meninggalkan mereka di jembatan. Ia teringat bagaimana persahabatan mereka pernah retak oleh kesalahpahaman, rasa malu, dan kesulitan hidup.
Ia juga teringat bagaimana mereka akhirnya kembali.
Bukan karena semua masalah selesai.
Melainkan karena mereka memilih untuk tidak membiarkan masalah memisahkan mereka selamanya.
Rantaka melanjutkan langkah.
Dari kejauhan, ia melihat pohon beringin besar di halaman SD Wanasari.
Pohon itu masih berdiri seperti dulu.
Akarnya menjulur ke tanah.
Daunnya bergoyang ditiup angin pagi.
Di bawah pohon itulah, dulu mereka sering berkumpul.
Di bawah pohon itu pula, Gerobak Buku Langit Biru pertama kali lahir.
Ketika Rantaka mendekat, ia mendengar suara anak-anak.
“Kak Rantaka datang!”
Seorang anak kecil berlari dari arah halaman sekolah.
Anak itu membawa sebuah buku cerita bergambar di tangannya.
Beberapa anak lain ikut berlari.
Rantaka tersenyum.
Ia menurunkan tasnya dan berjongkok.
“Kalian sudah datang dari pagi?” tanyanya.
“Iya, Kak,” jawab seorang anak perempuan. “Kami mau pinjam buku.”
“Gerobak bukunya sudah dibuka?”
“Sudah. Kak Jagra sama Kak Banyu lagi di sana.”
Rantaka menoleh ke arah pohon beringin.
Di bawahnya, Gerobak Buku Langit Biru berdiri.
Gerobak itu tampak berbeda dari dulu.
Cat birunya sudah diperbarui. Roda-roda kayunya diperkuat dengan besi sederhana. Di sisi kanan gerobak terdapat kotak kecil untuk alat tulis. Di sisi kiri terdapat papan jadwal kegiatan.
Di atas papan itu tertulis:
GEROBAK BUKU LANGIT BIRU
Membaca, Menulis, Belajar, dan Bermimpi
Di bawahnya, terdapat jadwal kegiatan:
Senin: Membaca Bersama
Rabu: Belajar Matematika
Jumat: Menulis Cerita dan Puisi
Minggu: Kelas Keterampilan Desa
Rantaka berdiri tanpa berkata-kata.
Dulu, mereka hanya memiliki beberapa buku lusuh dan sebuah gerobak tua.
Kini, gerobak itu membawa lebih banyak buku.
Ada buku cerita anak.
Ada buku pelajaran.
Ada buku pengetahuan tentang pertanian, perikanan, dan kesehatan.
Ada buku tulis dan pensil yang tersusun rapi di dalam kotak.
Gerobak itu tidak lagi hanya menjadi tempat meminjam buku.
Gerobak itu telah menjadi tempat anak-anak belajar, bertanya, dan membayangkan masa depan.
“Lama sekali kau berdiri di situ.”
Suara Jagra membuat Rantaka menoleh.
Jagra datang dari belakang gerobak dengan senyum lebar. Wajahnya tampak lebih matang. Lengannya sedikit lebih berotot karena sering bekerja di kolam ikan. Di tangannya, ia membawa sebuah buku catatan tebal.
Rantaka tertawa kecil.
“Aku baru sampai.”
Jagra memeluk bahu Rantaka.
“Kami kira kau datang siang.”
“Busnya lebih cepat.”
“Bagus. Berarti kau bisa membantu mengajar anak-anak.”
Rantaka menatap buku catatan di tangan Jagra.
“Itu apa?”
“Daftar anggota kelompok perikanan remaja.”
Jagra membuka buku itu.
Di dalamnya terdapat beberapa nama yang ditulis rapi. Ada pembagian tugas, jadwal kerja, daftar kebutuhan kolam, serta catatan hasil pertemuan kelompok.
“Sekarang sudah ada dua puluh tiga anggota,” kata Jagra. “Kami mulai dari satu kolam percobaan. Kalau hasilnya bagus, warga mau ikut menambah kolam lagi.”
“Bagaimana ayahmu?”
“Sudah mulai sering tersenyum,” jawab Jagra. “Itu berarti usaha kami tidak sepenuhnya gagal.”
Rantaka tersenyum.
Ia tahu betapa berat perjuangan Jagra untuk sampai pada titik itu.
Dulu, Jagra hampir berhenti sekolah karena merasa tidak memiliki masa depan. Kini, ia justru mengajak pemuda desa untuk membangun masa depan bersama-sama.
Tidak lama kemudian, suara alat logam terdengar dari samping sekolah.
Banyu muncul sambil membawa sebuah benda yang ditutupi kain.
“Kau akhirnya pulang juga,” katanya.
“Aku baru tiba,” jawab Rantaka.
“Bagus. Aku punya sesuatu yang harus kau lihat.”
Banyu membuka kain tersebut.
Di bawahnya terdapat rancangan alat pengatur aliran air yang sudah lebih rapi daripada sebelumnya. Alat itu memiliki roda pemutar, pipa, selang, dan saringan sederhana. Beberapa bagian dibuat dari besi bekas, rantai sepeda, serta kayu yang diperkuat.
“Ini versi baru,” kata Banyu. “Sekarang alirannya lebih stabil. Aku juga membuat saringan lumpur supaya tidak mudah tersumbat.”
Rantaka mendekat dan memperhatikan alat itu.
“Sudah dipakai?”
“Sudah. Di kebun Pak Karta dan kebun Pak Darman. Belum sempurna, tapi cukup membantu.”
“Bagus sekali, Banyu.”
Banyu tersenyum, tetapi wajahnya tetap sederhana seperti biasa.
“Aku masih mau memperbaikinya. Kalau nanti ada kesempatan, aku ingin belajar lebih banyak tentang mesin dan pertanian.”
“Pasti ada kesempatan,” kata Rantaka.
Banyu menatapnya.
“Kau juga. Kau jadi ikut seleksi kuliah keguruan, kan?”
Rantaka mengangguk.
“Aku lolos tahap awal.”
Jagra langsung menepuk punggungnya.
“Anak rumah singgah akhirnya hampir jadi calon guru.”
“Belum jadi,” jawab Rantaka.
“Belum, tapi sudah di jalan,” kata Banyu.
Mereka bertiga tertawa.
Tawa itu terasa seperti tawa lama yang pernah hilang, lalu kembali menemukan tempatnya.
Menjelang siang, Liris datang membawa sebuah tas kain berwarna cokelat.
Ia berjalan dari arah rumahnya sambil memeluk beberapa buku di dada.
Rantaka melihatnya dari kejauhan.
Ada sesuatu yang membuat langkahnya terasa lebih lambat.
Liris masih seperti yang ia kenal.
Rambutnya diikat sederhana.
Wajahnya tenang.
Matanya selalu menyimpan banyak kata yang belum sempat diucapkan.
Namun, ada perubahan dalam dirinya.
Ia tampak lebih yakin.
Lebih teguh.
Seolah ia telah belajar bahwa mimpinya tidak perlu lagi disembunyikan.
“Selamat datang kembali di Wanasari,” kata Liris ketika sampai di bawah pohon beringin.
“Terima kasih,” jawab Rantaka.
Liris menyerahkan salah satu buku yang dibawanya.
Sampulnya berwarna hijau muda.
Di bagian depan tertulis:
SUARA DARI JALAN TANAH
Kumpulan Puisi Liris Wulandari
Rantaka memegang buku itu dengan hati-hati.
“Ini kumpulan puisimu?”
Liris mengangguk.
“Komunitas literasi membantu mencetaknya dalam jumlah terbatas. Sebagian akan dibagikan ke perpustakaan sekolah dan Gerobak Buku.”
Rantaka membuka halaman pertama.
Di sana tertulis sebuah pengantar singkat.
Tentang desa.
Tentang sungai.
Tentang anak-anak yang tumbuh dengan buku di tangan.
Tentang mimpi yang tidak boleh padam hanya karena jalan menuju sekolah terlalu jauh.
“Kau benar-benar berhasil,” kata Rantaka.
Liris menggeleng.
“Belum. Aku baru mulai.”
“Kau sudah membuat buku.”
“Dan kau sudah lolos tahap awal beasiswa kuliah.”
Mereka saling diam beberapa saat.
Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.
Justru karena ada terlalu banyak hal yang tidak perlu dijelaskan dengan kata-kata.
Rantaka memandang buku puisi itu.
“Puisimu akan dibaca banyak anak.”
“Semoga mereka percaya bahwa menulis bukan hanya untuk orang kota,” jawab Liris.
“Dan semoga mereka percaya bahwa sekolah bukan hanya untuk orang yang punya uang,” kata Rantaka.
Liris menatapnya.
“Karena itu kau ingin menjadi guru?”
Rantaka mengangguk.
“Karena itu.”
Liris tersenyum.
Senyum itu sederhana.
Namun, cukup untuk membuat Rantaka merasa bahwa perjalanan panjangnya tidak sia-sia.
Siang hari, Gerobak Buku Langit Biru mulai ramai.
Anak-anak duduk di atas tikar yang dibentangkan di bawah pohon beringin. Sebagian membaca buku cerita. Sebagian lain menulis huruf-huruf di buku tulis baru.
Banyu mengajak beberapa anak melihat cara kerja alat pengatur air mini yang ia buat dari botol bekas dan selang kecil.
Jagra mengajak anak-anak lain menggambar ikan dan menuliskan nama-nama ikan sungai yang mereka kenal.
Liris duduk di depan mereka sambil memegang buku puisinya.
“Siapa yang mau menulis puisi?” tanyanya.
Beberapa anak mengangkat tangan.
“Puisi itu sulit, Kak?” tanya seorang anak laki-laki.
“Tidak selalu,” jawab Liris. “Puisi bisa dimulai dari apa yang kalian lihat.”
“Kalau saya melihat ayam, bisa jadi puisi?”
“Bisa.”
“Kalau melihat hujan?”
“Bisa.”
“Kalau melihat Kak Jagra yang bajunya kena lumpur?”
Anak-anak tertawa.
Jagra mengangkat tangan.
“Kalau puisinya bagus, aku tidak marah.”
Liris tersenyum.
“Lihat? Apa saja bisa menjadi puisi. Yang penting kalian berani memperhatikan dan berani menulis.”
Sementara itu, Rantaka duduk bersama beberapa anak yang belajar matematika.
Ia menulis angka-angka di papan kecil.
“Kalau satu keranjang berisi lima buku, lalu ada tiga keranjang, jumlah bukunya berapa?”
“Lima belas!” jawab beberapa anak bersamaan.
“Bagus. Kalau buku itu dibagikan kepada lima anak, masing-masing mendapat berapa?”
“Tiga!”
Rantaka tersenyum.
Ia menikmati saat-saat itu.
Dulu, ia hanya seorang anak yang duduk di bawah pohon beringin sambil membaca buku lusuh.
Kini, ia duduk di tempat yang sama, tetapi berada di sisi yang berbeda.
Ia bukan lagi hanya penerima ilmu.
Ia mulai belajar menjadi pemberi ilmu.
Saat melihat mata anak-anak yang berbinar ketika berhasil menjawab soal, ia semakin yakin pada pilihannya.
Ia ingin menjadi guru.
Bukan karena pekerjaan itu mudah.
Bukan karena pekerjaan itu menjanjikan kehidupan yang mewah.
Tetapi karena seorang guru bisa menyalakan cahaya di tempat yang mungkin selama ini dianggap gelap.
Menjelang sore, kegiatan Gerobak Buku selesai.
Anak-anak pulang satu per satu sambil membawa buku pinjaman. Beberapa anak masih menoleh ke belakang, seolah belum ingin meninggalkan pohon beringin.
Gerobak Buku Langit Biru kembali ditutup.
Namun, tidak seperti dulu, penutup gerobak itu tidak berarti kegiatan berhenti.
Di papan jadwal, sudah ada kegiatan untuk hari berikutnya.
Rantaka, Liris, Banyu, dan Jagra duduk di bawah pohon beringin.
Matahari mulai condong ke arah barat.
Langit sore berwarna biru pucat dengan sedikit warna jingga di ujungnya.
Jagra membuka buku catatannya.
“Aku mau menambah kegiatan perikanan dasar untuk anak-anak yang sudah lebih besar,” katanya. “Biar mereka tahu cara merawat kolam.”
Banyu mengangguk.
“Aku bisa bantu membuat alat sederhana untuk memberi makan ikan.”
Liris berkata, “Aku mau membuat kelas menulis cerita tentang desa. Anak-anak bisa menulis tentang sungai, kebun, atau keluarga mereka.”
Rantaka memandang ketiga sahabatnya.
“Aku bisa membuat kelas belajar tambahan untuk anak-anak yang kesulitan matematika dan membaca.”
Jagra tersenyum.
“Berarti Gerobak Buku kita semakin besar.”
“Bukan hanya gerobak,” kata Liris. “Ini sudah seperti tempat belajar kecil.”
“Suatu hari bisa jadi perpustakaan desa,” ujar Banyu.
Rantaka memandang gerobak biru itu.
“Mungkin suatu hari nanti.”
Mereka terdiam sejenak.
Angin sore berembus pelan.
Daun-daun beringin bergerak di atas kepala mereka.
Rantaka kemudian membuka tasnya.
Ia mengeluarkan amplop putih dari dalamnya.
“Aku membawa sesuatu,” katanya.
Liris, Banyu, dan Jagra menoleh.
Rantaka menyerahkan surat itu kepada mereka.
Jagra membaca bagian atas surat dengan suara keras.
“Pemberitahuan Lolos Tahap Awal Seleksi Program Beasiswa Kuliah Keguruan.”
Banyu langsung tersenyum lebar.
Liris memegang surat itu dengan hati-hati.
“Ini langkah besar, Rantaka.”
“Aku masih harus mengikuti tahap berikutnya,” jawab Rantaka.
“Tapi kau sudah sampai di sini,” kata Liris.
Jagra menepuk bahu Rantaka.
“Dulu kau takut tidak bisa bertahan di kota. Sekarang kau hampir jadi calon mahasiswa.”
“Belum tentu,” kata Rantaka.
“Jangan terlalu sering bilang belum tentu,” jawab Jagra. “Kadang-kadang kau harus percaya bahwa kau bisa.”
Rantaka tertawa.
Banyu kemudian mengeluarkan beberapa lembar gambar dari tasnya.
“Itu rancangan alat pertanian?” tanya Liris.
Banyu mengangguk.
“Aku ingin mengembangkan alat pengatur air ini. Kalau bisa, nanti bukan hanya untuk kebun Pak Karta. Aku ingin alatnya bisa dipakai lebih banyak petani.”
Jagra mengangkat buku catatannya.
“Kalau kelompok perikanan terus berkembang, kami ingin punya kolam bersama. Bukan hanya untuk mencari ikan, tapi juga untuk belajar usaha.”
Liris memeluk buku puisinya.
“Aku ingin terus menulis. Aku ingin menulis tentang desa-desa seperti Wanasari. Tentang anak-anak yang tetap sekolah meskipun hidup mereka tidak mudah.”
Rantaka memandang mereka satu per satu.
Di hadapannya bukan lagi sahabat-sahabat kecil yang dulu berlari di jalan tanah sambil membawa buku.
Mereka masih muda.
Mereka masih memiliki banyak ketakutan.
Mereka masih akan menghadapi jalan panjang.
Namun, mereka telah tumbuh.
Liris menemukan suaranya melalui kata-kata.
Banyu menemukan jalannya melalui alat-alat sederhana.
Jagra menemukan harapannya melalui kolam ikan dan kerja bersama.
Dan Rantaka menemukan cita-citanya melalui anak-anak yang belajar di bawah pohon beringin.
Mereka tidak lagi berjalan ke arah yang sama.
Tetapi mereka tetap membawa tujuan yang serupa.
Membawa cahaya bagi desa.
Matahari semakin rendah.
Anak-anak kecil sudah tidak terlihat di halaman sekolah. Suara burung mulai terdengar dari pepohonan.
Rantaka berdiri dan memandang langit.
Langit di atas Desa Wanasari terasa luas.
Lebih luas daripada langit yang ia lihat dari sela-sela gedung Kota Arunika.
Namun, kini ia mengerti bahwa langit tidak pernah benar-benar berbeda.
Langit yang ia lihat di kota dan langit yang ia lihat di desa tetaplah langit yang sama.
Yang berbeda hanyalah tempat ia berdiri.
Di kota, langit mengajarinya bertahan.
Di desa, langit mengajarinya mengingat alasan untuk pulang.
Rantaka teringat dirinya sendiri ketika masih kecil.
Seorang anak desa dengan buku lusuh di tangan.
Seorang anak yang tidak tahu apakah ia bisa melanjutkan sekolah.
Seorang anak yang hanya memiliki mimpi sederhana untuk belajar lebih lama.
Kini, ia masih belum mencapai semua cita-citanya.
Ia belum menjadi guru.
Ia belum masuk kuliah.
Ia belum mampu mengubah seluruh keadaan Desa Wanasari.
Namun, ia sudah tidak lagi merasa sendirian.
Ia memiliki sahabat.
Ia memiliki orang-orang yang percaya padanya.
Ia memiliki anak-anak kecil yang menunggu buku dibuka.
Dan ia memiliki alasan untuk terus melangkah.
Rantaka menatap Liris, Banyu, dan Jagra.
“Kita dulu membuat janji,” katanya.
“Janji apa?” tanya Banyu.
“Janji untuk tidak menyerah.”
Jagra mengangguk.
“Dan kita masih memegangnya.”
Liris tersenyum.
“Bukan janji untuk selalu berada di tempat yang sama.”
“Bukan juga janji bahwa hidup akan selalu mudah,” kata Rantaka.
“Lalu janji apa?” tanya Jagra.
Rantaka memandang Gerobak Buku Langit Biru.
“Janji untuk selalu membawa cahaya pulang ke desa.”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Namun, ketiganya berdiri.
Liris mengulurkan tangannya lebih dahulu.
Banyu meletakkan tangannya di atas tangan Liris.
Jagra menyusul.
Rantaka menaruh tangannya paling atas.
Di bawah pohon beringin Desa Wanasari, mereka kembali membuat janji.
Bukan janji untuk selalu bersama setiap hari.
Bukan janji untuk tidak pernah berubah.
Melainkan janji untuk tetap saling mengingatkan ketika salah satu dari mereka hampir menyerah.
Janji untuk tetap melihat desa sebagai tempat yang layak diperjuangkan.
Janji untuk membawa ilmu, pengalaman, dan harapan kembali kepada orang-orang yang menunggu.
Angin sore berembus pelan.
Gerobak Buku Langit Biru berdiri di dekat mereka.
Cat birunya memantulkan cahaya matahari terakhir.
Di kejauhan, suara anak-anak masih terdengar.
Mereka berlari pulang sambil membawa buku di dada.
Rantaka memandang mereka sampai bayangan kecil itu hilang di tikungan jalan.
Lalu ia tersenyum.
Ia tahu bahwa mimpi tidak selalu tumbuh di tempat yang mudah.
Mimpi bisa tumbuh dari jalan tanah.
Dari banjir yang merusak kolam.
Dari kebun yang kering.
Dari kesepian di kota.
Dari surat yang terlambat.
Dari nilai yang hampir membuat beasiswa hilang.
Dan dari sahabat-sahabat yang tetap saling menunggu.
Di bawah langit sore yang biru, cahaya itu akhirnya pulang ke desa.
BERSAMBUNG KE BUKU IV “LANGIT BIRU PULANG KE DESA”
Anang
30 Januari 2025 19:28:34
Lanjutkan mas... Semoga website desa pian semakin maju...